Hamil Straw Man, Mengandung Petitio Principi, dan Melahirkan Paralogisme
Di sepanjang sejarah, tidak ada orang-orang tertentu yang suka mengurusi agama lain selain dari mereka yang menganut agama Islam. Hal ini disebabkan karena dalam kitab mereka, bersinggungan langsung dengan Kitab Suci Yudaisme dan Kristen, untuk konteks penciptaan, kisah-kisah tertentu, para nabi, dan lain sebagainya. Tak dapat dipungkiri bahwa konflik teologis ini menjalar ke konteks relasi bahkan ritual.
Yudaisme dan Kristen memiliki satu Kitab Suci (sebutan Yahudi adalah Kitab Ibrani, dan sebutan Kristen adalah Perjanjian Lama), tetapi keduanya tidak terlalu saling mengurusi satu sama lain, kecuali soal “tafsir” atas kitab-kitab PL (Kitab Ibrani). Ini dimaklumi, karena kitab sucinya sama. Keduanya memiliki perbedaan tafsir tetapi mempercayai satu historis tunggal. Lain halnya dengan Qur’an: menciptakan sejarah tokoh-tokoh Alkitab secara tersendiri dan mengklaim itu adalah benar.
Dari sini kita tahu apa motivasinya. Dan kemudian, terciptalah berbagai gagasan yang menuduh bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir, pemalsu kitab suci mereka sendiri, bangsa jahanam, penghuni neraka, dan sebutan lainnya yang tak kalah menariknya. Dari sini kita juga tahu apa motivasinya. Bahkan mereka juga mengklaim bahwa Islam adalah agama penyempurna meski kita tidak tahu apa yang disempurnakan. Pula mengklaim bahwa al-Qur’an adalah kitab penutup, meski kita tidak tahu apa yang ditutup. Dari sini kita juga tahu apa motivasinya.
Lebih dari itu, surganya sangat berbeda: ada bidadari—bidadari yang cantik. Konteks ini mengandung dualisme tafsir. Ada yang percaya bahwa memang di surga ada bidadari-bidadari, dan ada yang memahaminya sebagai sebuah gambaran perumpamaan saja. Sampai di sini kita tahu apa motivasinya.
Karena berbenturan dengan historisitas yang dipercayai Yudaisme dan Kristen, maka Islam secara serta merta mengklaim bahwa kitab suci Yahudi dan Kristen telah dikorupsi, diubah, diedit dan sebagainya. Singkatnya, dipalsukan.
Yang menarik adalah pada saat yang sama Islam (baca: Qur’an) membenarkan kitab-kitab sebelumnya dengan harapan bahwa ia mendapat legitimasi wahyu. Kita tahu apa motivasinya. Jika kita cermat memahami hal ini, akan ketahuan bahwa sebenarnya konteks historis Yahudi dan Kristen disalahpahami oleh Islam (zaman Muhammad dan selanjutnya, dalam konteks penulisan Qur’an) karena memang mereka berangkat dari ahistoris mereka sendiri.
Di satu sisi, Quran menampilkan tokoh-tokoh historis tetapi kisah yang dipaparkan adalah ahistoris. Sebut saja Yesus dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa, dapat membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung, kemudian ditiup, lalu bentuk itu menjadi burung (lih. Surat Al-Ma’idah [5]:110; bdk. Surat Ali Imran [3]:49). Padahal, kisah ini adalah dongeng semata. Mari kita lihat bukti referensinya.
Burung yang dibuat Isa dari tanah sebagaimana disebutkan di ayat 49 surat Ali Imran, memiliki kesamaan dengan naskah Injil Thomas pasal 2:2-5, di mana Yesus membuat dua belas burung pipit hidup dari tanah liat yang lunak pada hari Sabat. Yesus bertepuk tangan dan burung-burung pipit tersebut terbang. Kisah-kisah ajaib mengenai masa remaja Yesus yang membuat burung dari tanah liat, dimuat dalam The Gospel of Thomas (Injil Apokrif Tomas) berbahasa Yunani. Injil tersebut berasal dari abad ke-3 Masehi. Kisah-kisah ini sangat populer di kalangan sekte-sekte heretik Kristen di tanah Arab menjelang dan saat kelahiran Islam. Injil tersebut disebut juga “Kabar Baik Tomas Orang Israel” (Arab: Bisyarat Tuma al-Isra’ili). Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen – Islam, edisi revisi, (Yogyakarta: ANDI, 2009), 106-07, dan Noorsena, “Melacak Sumber-sumber Narasi Al-Qur’an, 14.
Noorsena menjelaskan, Injil Thomas ini harus dibedakan dengan “Injil” Thomas Gnostik yang ditemukan di Nag Hamadi Mesir pada tahun 1948, yang tidak dalam bentuk narasi tetapi dalam bentuk “logia Yesu” (aqwal al-Ilahiyah, “kata-kata Yesus”). Marvin W. Meyer (ed.), The Secret Teachings of Jesus: Four Gnostic Gospels, (New York: Vintage Books, 1986).
Terkait dengan hal ini, Deshi Ramadhani menyatakan, sesudah kanon resmi Perjanjian Baru ditetapkan, ternyata proses penulisan kisah-kisah tentang Yesus tidak berhenti. Masih ada banyak tulisan lain yang dihasilkan. Tulisan-tulisan ini menjadi bukti yang memperlihatkan adanya banyak usaha yang terus dilanjutkan untuk melengkapi atau menggantikan kisah-kisah tentang Yesus yang sudah termuat dalam keempat Injil kanonik. Deshi Ramadhani, Menguak Injil-injil Rahasia, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 76.
Ramadhani menambahkan, Injil Masa Kecil dalam bahasa Arab berkisah tentang kelahiran Yesus, mukjizat-mukjizat di Mesir yang dilakukan Yesus dan Maria, serta mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh kanak-kanak Yesus. Bagian tentang mukjizat yang dilakukan oleh kanak-kanak Yesus ini memperlihatkan adanya kedekatan dengan Injil Masa Kecil menurut Tomas. Ramadhani, Menguak Injil-injil Rahasia, 76.
Menurut Willis Barnstone, sebagaimana dikutip Ramadhani, bahwa naskah yang sekarang tersedia pada umumnya dipahami sebagai sebuah terjemahan dari sebuah teks dalam bahasa Siria (abad ke-6 M.) karena diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, tulisan ini akhirnya dikenal di negeri Arab dan juga menjadi bagian dari kumpulan cerita-cerita legenda di Persia dan India. Willis Barnstone, ed., The Other Bible: Ancient Alternative Scriptures, (New York: HarperCollins, 1984), 407. Dikutip oleh Ramadhani, Menguak Injil-injil Rahasia, 76.
Berikut kutipan Injil Tomas yang mengisahkan Yesus membuat burung dari tanah:
Tomas 2:1-7: 1Ketika kanak-kanak Yesus ini berumur lima tahun, ia sedang bermain di tepi sebuah wadi. 2Ia mengumpulkan air yang mengalir itu ke dalam kolam-kolam dan seketika itu juga membersihkannya; Ia melakukan semua ini hanya dengan kata-kata perintah-Nya. 3Ia membuat lumpur lunak dan darinya Ia membuat dua belas burung pipit. Itu adalah Sabat ketika Ia melakukan ini. Ada banyak anak lain yang bermain dengan-Nya. 4Seorang Yahudi, ketika melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Yesus ketika sedang bermain pada hari Sabat, bergegas pergi dan memberi tahu bapak-Nya, Yusuf, “Lihatlah kemari, anakmu ada di wadi, dan Dia mengambil lumpur dan membuat dua belas burung pipit. Ia telah melanggar haris Sabat!” 5Yusuf pergi ke tempat itu. Ia melihat dan berseru, “Mengapa Engkau melakukan apa yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 6Yesus menepukkan tangan-Nya dan berseru kepada burung-burung pipit itu, “Enyahlah pergi!” Burung-burung pipit itu menjadi hidup terbang sambil mencicit. 7Ketika orang-orang Yahudi melihat ini, mereka menjadi takjub. Mereka pergi dan melaporkan pada orang-orang yang memimpin mereka apa yang telah mereka lihat dilakukan oleh Yesus. Bart D. Ehrman, Lost Scriputures: Books that Did Not Make It into the New Testament, (Oxford: Oxford University Press, 2003), 58. Dikutip oleh Ramadhani, Menguak Injil-injil Rahasia, 73.
Dalam penilaian Noorsena, kisah yang Al-Qur’an sebutkan di atas mengenai Isa membuat burung, kutipan berikut ini, sebagai “dongeng rakyat”, dalam versi bahasa Arab, yang merupakan saduran masa kemudian dari naskah berbahasa Syriac/Suryani, menjadi pembandingnya:
Konon kanak-kanak Yesus ketika berusia 5 tahun sedang bermain-main di gerbang jalan, Ia mengumpulkan air yang kotor dan dibuatnya menjadi jernih, dan dilakukan-Nya hanya dengan satu kata. Lalu diambilnya sebagian tanah itu dan dibuatnya 12 bentuk burung-burung. Padahal hari itu adalah hari Sabat, ketika Yesus melakukan itu. Bersama dengan Dia, banyak anak-anak kecil bermain-main, sampai ada seorang Yahudi yang mengetahui apa yang diperbuat Yesus pada hari Sabat. Maka pergilah orang Yahudi itu kepada Yusuf dan berkata: “Lihat, anakmu! Dia bermain-main di genangan air, dan mengambil lumpur tanah dan dijadikan-Nya 12 burung, padahal perbuatan itu jelas melanggar kesucian hari Sabat.” Lalu datanglah Yusuf ke tempat di mana Yesus bermain-main, sambil berteriak katanya: “Mengapa kamu membuat hal ini pada hari Sabat, hari yang melarang kita mengerjakan sesuatu?” Maka Yesus melepaskan dari tangan-Nya satu demi satu bentuk burung-burungan itu, dan berkata: “Pergilah!”, maka terbanglah dan menjadi burung sungguh-sungguh. Terceganglah orang Yahudi itu ketika melihat semua kejadian ini, dan ketika ia meninggalkan tempat tersebut, dikabarkannya semua yang telah dilakukan oleh Yesus. ‘Abd al-Masîh Basith Abû al-Khair, Injîl Barnâbâ: Hal huwa Injîl Shahih? Dirasat Tahliliyyat hi hadza al-Kitab, (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2002), 85. Dikutip oleh Noorsena, “Melacak Sumber-sumber Narasi Al-Qur’an, 14-15.
Melihat referensi historis yang dijelaskan oleh Noorsena, Meyer, Ramadhani, Barnstone, Ehrman, dan al-Khair, kita tahu bahwa kisah Isa dalam Quran lebih mencerminkan kisah dongeng (folklorisme) dan bukan historis.
Di zaman sekarang, tipikal muslimer’s pesorak doktrin Kristen menjamur di mana-mana. Terutama para mualaf abal-abal, kelas teri, dan kelas pencemooh seperti Muhammad Y. Waloni. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan seadanya tetapi menyoraki doktrin Kristen sangat besar. Lebih besar soraknya ketimbang otaknya. Kira-kira demikian kondisi kejiwaan tipikal pesorak. Kita tahu apa motivasinya.
Berikut ini saya merangkum ciri-ciri muslimer’s pesorak:
Pertama, suka mengutip ayat Alkitab tetapi tidak tahu konteksnya. Lebih dari itu, menafsirkan “sesuka hati”. Dengan kantong ajaibnya (otaknya), tipe pesorak ini mengumandakan kebodohan tingkat tinggi. Malaikat Gabriel mungkin sulit memahami tafsiran mereka atas teks-teks Alkitab.
Kedua, memahami doktrin Kristen tetapi menggunakan iman (kepercayaan) Islam. Ini disebut dengan sesat pikir “straw man”. Mereka mengira bahwa apa yang mereka pahami adalah iman Kristen. Mereka berharap bahwa apa yang Kristen pahami haruslah sesuai dengan yang mereka pahami. Ini jelas bertolak belakang secara substansial dan logis.
Ketiga, mereka sudah memiliki kesimpulan terlebih dahulu meski premis-premis muncul kemudian. Tetapi anehnya, premis-premis yang disuguhkan tidak mendukung kesimpulan mereka. Ini disebut sebagai sesat pikir “petitio principi”.
Keempat, mereka suka menafsirkan teks-teks sesuka hati. Meski sering ditafsirkan dan pasti hasilnya sesat, mereka percaya diri dengan model tafsir “terjun bebas tanpa parasut”. Mereka ini sebenarnya sakit jiwa paralogisme yaitu jenis kesesatan logika di mana mereka tidak tahu bahwa mereka itu sesat.
Kelima, mereka menyoraki doktrin Kristen tanpa metodologi atau pendekatan yang sah. Mereka suka bermain seperti anak-anak yang hanya sorak-sorak saja tetapi tanpa isi (pengetahuan) di otak mereka.
Keenam, mereka suka menghina, mengejek, dan merendahkan doktrin Kristen. Tak jarang, suka menertawakan. Padahal yang mereka tertawakan adalah kesesatan mereka sendiri. Maklum, memahami kitab suci mereka mungkin rendah sekali, dan tidak paham apa-apa soal konteks historis nabi-nabi dalam Alkitab yang dimuat dalam kitab suci mereka.
Ketujuh, mereka tidak dapat menjawab ketika diminta klarifikasi atas klaim yang mereka bangun. Ditanya lain, dijawab lain. Maklum, namanya juga pesorak, ya, hanya modal “copy paste” tanpa tahu apa yang diklaimnya.
Kedelapan, mereka hanya modal kumur-kumur pengetahuan seadanya dan merasa seolah-olah benar padahal ada gangguan kejiwaan paralogisme.
Kesembilan, mereka suka mengabaikan ulasan atau kajian ilmiah yang dilakukan pihak Kristen. Maklum, namanya juga pesorak, jadinya hanya menyoraki tanpa ada isi di otak mereka. Kita tahu apa motivasi mereka.
Kesepuluh, mereka sangat yakin dengan kebodohan mereka tentang doktrin Kristen dan merasa di atas angin. Padahal kita tahu bahwa gangguan jiwa paralogisme sudah mendarah daging di pikiran mereka.
Kesebelas, mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan yang aneh tentang doktrin Kristen yang lahir dari straw man, petitio principi dan paralogisme. Meski bertanya, mereka tidak tertarik dengan jawaban ilmiah dan biblika.
Keduabelas, mereka suka menuduh orang Kristen itu kafir padahal mereka tidak tahu menahu soal doktrin Kristen. Namanya juga pesorak; asal soraki, beres. Karena kebencian mereka terhadap Kristen maka apa yang dijelaskan oleh Kristen dianggap tidak benar padahal pemahaman mereka yang salah.
Dengan demikian, tipikal muslimer’s pesorak sebenarnya sedang hamil Straw Man, mengandung Petitio Principi, dan melahirkan Paralogisme. Bahkan, kelahiran paralogisme pun disoraki, disanjung-sanjung. Itulah yang terjadi dengan Waloni, penipu dan pembohong soal doktrin Kristen, tetapi disoraki. Kita tahu apa motivasinya.
Kesesatan akan melahirkan kesesatan, sedangkan kebenaran akan terus melahirkan kebenaran. Ajaran hasil penipuan akan menghasilkan penipuan sepanjang sejarah. Jadi, berpikirlah secara logis. Jika kelogisan tidak dipahami secara logis, maka pikiran seseorang sudah tersesat dan terpasung kebodohan.
Manusia menjalani kehidupannya dengan sebuah pemahaman bahwa hidup itu harus ditempuh (dijalani) dengan sebaik-baiknya, mempergunakan potensi yang ada, berani melakukan sesuatu, dan melakukan relasi yang dapat dia ciptakan atau yang telah dia diciptakan sebelumnya.
Berangkat dari pemahaman tersebut, setiap orang dapat menentukan apakah ia mampu mengetahui, memahami, atau mampu melakukan apa yang dipahaminya. Dalam konteks teologi, dasar pemikirannya sama, yaitu: setiap orang dapat menentukan apakah ia akan menjalani dan menikmati hidupnya berdasarkan apa yang dia ketahui (pahami).
Berteologi tidak sekadar mengetahui apa-apa saja yang menjadi bagian penting dari teologi itu sendiri, melainkan ditempuh dengan cara memahaminya secara baik dan dapat melakukan “apa-apa” yang dipahaminya. Tentu, yang dapat dilakukan adalah hal-hal yang memperlihatkan relasi etis antara manusia dan sesamanya, sikap hidup benar di hadapan Tuhan, tatanan iman dan perilaku.
Melihat berbagai fenomena “iman” dan “perbuatan” di lingkungan Gereja atau persekutuan Kristen, maka kita perlu mendorong diri sendiri dan orang lain sejauh yang dapat kita lakukan, untuk menerapkan TEOLOGI APROPOSISME.
APA ITU TEOLOGI APROPOSISME?
Pertama-tama, kita perlu memahami makna kata “apropos”. Kata tersebut berasal dari kata à Propos, “à”: untuk. dan “propos”, tujuan (Latin, prōpōnere, untuk berniat). Kata apropos memiliki beberapa arti, baik arti mendasar maupun arti konteks, sebagai berikut: tepat atau berkaitan dengan sesuatu hal, untuk suatu tujuan (yang ditetapkan), di titik fakta yang sesungguhnya, terkait dengan masalah yang dihadapi, pada waktu yang tepat.
Jika melihat pada arti mendasar maupun arti konteks (yang dibicarakan), maka aproposisme dapat dipahami sebagai sebuah pemahaman yang “tepat” pada konteks yang “tepat” untuk menghasilkan tindakan yang “tepat” pula (tujuannya). Teologi Aproposisme berbicara mengenai langkah-langkah yang tepat sesuai konteks yang sedang diamati, untuk menyuguhkan “ruang pemahaman dan pemikiran yang kritis” dalam mengkaji sesuatu, agar menghasilkan bentuk perilaku-perilaku faktual sesuai dengan prinsip Alkitab dan iman. Semuanya dilakukan “untuk tujuan” yang telah ditetapkan. Teologi dan berteologi itu memiliki tujuan di zaman di mana kita hidup.
Zaman ini perlu kita baca. Membaca zaman dilakukan dengan mencermati perubahan-perubahan, baik itu perubahan paradigma, perilaku, relasi, doktrin, dan rutinitas. Hasil bacaan perlu ditindaklanjuti dengan menerapkan Teologi Aproposisme.
Langkah-langkah yang dapat kita tempuh adalah:
Pertama: memperkuat signifikansi dan substansi teologi, sehingga kita yang berupaya menyebar luaskan konsep-konsep teologi tersebut dapat menekankan bagaimana seseorang harus memahami, dan bukan hanya berada pada level “mengetahui”. Mereka yang terpengaruh dengan teknologi di zaman ini, diduga kuat bahwa hanya berada pada level mengetahui konseop teologi, ketimbang memahami teologi dan menerapkannya.
Kedua: menyuguhkan ruang pemahaman dan pemikiran kritis dalam mengkaji konteks zaman—dalam hal ini pengaruh teknologi—tanpa melupakan dasar-dasar iman. Artinya, berpikir kritis berarti selalu melihat kondisi diri dan kondisi di luar diri kita kemudian mencari solusi yang tepat untuk tujuan tertentu (apropos). Jangan alergi dengan kritikan, melainkan anggaplah itu sebagai bagian dari berteologi. Pada tahap ini, kita dapat menentukan posisi kita berada pada tahap “memahami” teologi, dan bukan “mengetahui” teologi.
Ketiga: berpikir kritis tidak hanya bermain di ranah logika, melainkan di ranah verbal (perkataan) dan gesta (tindakan), yang selaras dengan firman Tuhan, di mana iman itu bertumbuh dan berbuah. Perilaku-perilaku faktual harus memperlihatkan dasar-dasar yang tepat untuk tujuan yang tepat (apropos), sehingga tidak terjerumus dalam sikap kompromi terhadap dosa yang tampak (melalui perilaku) dan yang tak tampak (dalam pikiran dan hati).
Teologi Aproposisme menyuguhkan teologi yang relevan dan tepat di konteks tertentu, dan mengupayakan sikap nyata dari pemahaman akan teologi yang telah dipelajari. Jadi, berteologi itu tidak hanya sekadar tahu sesuatu hal, apakah itu penting atau tidak penting, apakah itu berguna atau tidak berguna, apakah itu berpengaruh dan tidak berpengaruh, apakah itu mengarahkan atau menjerumuskan, melainkan “melakukan” (mewujudkan) pemahaman itu ke dalam fakta zaman di mana kita hidup. Itulah bacaan zaman kita.
Berteologi itu asyik dan menghibur, mengarahkan diri kita kepada Tuhan dan hidup di dalam kasih-Nya. Memang terdapat godaan-godaan yang dapat saja menurunkan level iman dan pemahaman kita mengenai teologi tertentu. Namun, dengan iman dan pemikiran kritis (dilihat dari aspek positifnya untuk meraup makna-makna kekudusan hidup di hadapan Tuhan), kita dapat menerapkan Teologi Aproposisme: teologi yang bertindak tepat [sesuai dengan Alkitab], pada konteks yang tepat, untuk menghasilkan pengaruh sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Jadilah pelaku-pelaku firman yang tepat sasaran; jangan menyimpang.
Terapkan teologi Anda untuk tujuan tertentu (apropos). Kembangkan potensi berteologi Anda ke dalam keragaman hayati dan konteks, niscaya Anda akan berbahagia karena menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai orang beriman. Teologi Aproposisme adalah bagian kita; kita juga yang mengembangkan dan mempertahankannya dalam “bacaan zaman” di mana kita hidup.
Setiap manusia terlahir dengan segala potensi yang tersimpan dalam dirinya. Potensi tersebut dapat dikembangkan berdasarkan pola pikir (logika). Soal bagaimana hasil yang diperlihatkan, yang terpenting di sini adalah kesadaran memahami potensi diri. Tidak ada manusia yang terlahir tanpa potensi. Perbedaannya terletak pada setiap konteks kehidupan manusia itu sendiri.
Potensi manusia itu beragam dan terbagi dalam lima kategori: pertama, potensi mengembangkan fisik atau otot (misalnya berolahraga); kedua, potensi mengembangkan otak (berpikir, menulis, membuat buku dan sebagainya), membaca, berfilsafat, berargumentasi dan berkomunikasi; ketiga, potensi menciptakan, membuat (kreasi) dan mengembangkan bahan-bahan atau benda-benda dari alam semesta (membuat kerajinan tangan, mobil, motor, dan sebagainya); keempat, potensi untuk mengembangkan pendidikan, pekerjaan, usaha, bisnis; dan kelima, potensi untuk menyenangkan, menolong, membantu, dan menghibur orang lain.
Dari kelima kategori potensi tersebut, manusia menghasilkan segala sesuatu untuk kehidupannya. Potensi-potensi tersebut membangun kehidupan manusia itu sendiri yang dengannya manusia membuat demarkasi logis—potensialitas atas hidupnya masing-masing yakni:
(1) potensi mempertahankan hidup (diri);
(2) potensi mengembangkan;
(3) potensi memisahkan [memecahkan];
(4) potensi menyatukan;
(5) potensi memelihara;
(6) potensi menghancurkan; dan
(7) potensi menciptakan sesuatu.
Demarkasi logis—pontesialitas tersebut tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia, yang pada gilirannya manusia menunjukkan potensi dirinya demi “mempertahankan hidup”, demi “popularitas diri”, demi “kenikmatan hidup”, dan demi “kekuasaan diri”.
Dari sini kita belajar bagaimana menyadari, mengembangkan, dan mempertahankan potensi diri. Kadang, potensi kita tidak diperhitungkan sebagai sebuah potensi yang bernilai tinggi. Kadang pula, potensi kita tidak dianggap sebagai potensi berskala nasional. Meski begitu, kita tak perlu memusingkan berbagai anggapan negatif dan sikap merendahkan terhadap potensi kita. Semua manusia memiliki potensinya yang tumbuh berkembang sesuai konteksnya (situasi dan kondisi).
Ingatlah bahwa setiap potensi haruslah mencakup tujuh demarkasi logis—potensialitas sebagaimana telah saya sebutkan di atas yakni: (1) potensi mempertahankan hidup (diri); (2) potensi mengembangkan; (3) potensi memisahkan [memecahkan]; (4) potensi menyatukan; (5) potensi memelihara; (6) potensi menghancurkan; dan (7) potensi menciptakan sesuatu.
Pengungkapan potensi dilakukan oleh lima level manusia yakni:
(1) manusia miskin;
(2) manusia biasa (yang sering tidak dianggap, atau disebut dengan orang-orang kecil);
(3) manusia menengah (memiliki cukup kekayaan);
(4) manusia level atas (punya banyak harta dan kekayaan); dan
(5) manusia pemikir (filsuf, penulis, penceramah, profesor, guru, dosen).
Lima level manusia tersebut ada di sekitar kita. Meski kita berada pada level manusia nomor (2), jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa, “Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil, sehingga sekaligus Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata”.
Saya sendiri bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah seorang yang biasa dan tergolong orang-orang kecil. Tetapi yang membedakannya adalah “karya”. Karya apa yang kita hasilkan itulah yang membuat hidup kita merasa puas, bahagia, diberkati, dihargai, dan dipuji.
Sebagai manusia yang berpotensi, seyogianya potensi tersebut digunakan untuk kebaikan diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Bukan soal berapa harga yang dikeluarkan untuk mengembangkan potensi kita, melainkan berapa banyak waktu yang digunakan untuk belajar, menyelidiki diri kita sendiri agar dapat terus berkembang dan bertahan dalam kanca perlombaan kemanusiaan, pendidikan, dan kerohanian (spiritualitas). Yakinlah bahwa potensi itu ada di dalam diri kita.
Saya merasa perlu menjelaskan bagaimana potensi dalam diri manusia dibentuk. Potensi diri dibentuk dari beberapa kondisi: pertama, kesulitan; kedua, menghadapi tantangan; ketiga, terjebak; keempat, terpuruk; kelima, titik terendah; keenam, berjuang; dan ketujuh, bersaing atau berkompetensi.
Pada kondisi kesulitan, manusia berjuang untuk mencari dan menemukan solusi agar bisa keluar dari kesulitan-kesulitan hidupnya yang sangat beragam dan kontekstual. Potensi akan muncul dan bahkan terbentuk ketika kesulitan-kesulitan datang. Mereka yang pernah menghadapi kesulitan dan berhasil keluar dari kesulitan tersebut, pasti mereka adalah manusia yang memiliki potensi.
Pada kondisi menghadapi tantangan, manusia berjuang dan bagaimana mencari solusi untuk menghadapinya. Jenis tantangan tentulah variatif dan kontekstual. Intinya, tantangan kehidupan dapat saja menghampiri setiap manusia. Mereka yang berani keluar dari atau menyelesaikan tantangan tersebut, pastilah mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi.
Pada kondisi terjebak, manusia kadang merasa panik dan sering hilang kendali. Mereka yang kemudian berani memikirkan bagaimana bisa keluar dari jebakan orang lain atau musuh, adalah mereka yang berpotensi untuk memikirkan kehidupan mereka selanjutnya. Potensi-potensi yang muncul bisa bervariasi tergantung “cara apa” yang digunakan untuk keluar dari jebatan tersebut.
Pada kondisi terpuruk, manusia mengalami depresi—bisa depresi ringan, maupun depresi berat. Akan tetapi, mereka yang kembali bangun dari keadaan terpuruk adalah mereka yang luar biasa. Keterpurukan hidup seringkali menghilangkan rasa kehidupan, bahkan bisa berakhir dengan PHK (Pemutusan Hak Kehidupan). Kebangkitan pasca keterpurukan adalah sebuah tindakan dan potensi yang patut dibanggakan dan diteladani.
Pada kondisi titik terendah, manusia mengalami depresi yang paling berat. Dengan perkataan lain, manusia mengalami “sisa kehidupan” dan ia hanya mengecap sedikit demi sedikit untuk bertahan hidup. Titik terendah sering terjadi pada seseorang di mana ekonomi dan hartanya ludes (habis) karena bangkrut, kecelakaan, bencana alam,dan sebagainya. Seperti Ayub, yang mengalami kondisi terparah, terpuruk, dan bahkan di ambang kematian. Ia sendiri terkena penyakit yang membuat tubuhnya tak dikenali, harta kekayaannya ludes; anak-anaknya mati; dan istrinya mencela dia. Apa yang terjadi? Ayub menyerah? Tidak! Ia kemudian bangkit dan menyadari bahwa ada potensi-potensi yang bisa membawa dirinya kepada kemuliaan yang hebat di mana Tuhan memberkatinya secara luar biasa.
Pada kondisi berjuang, manusia mengulang potensi yang pernah ia miliki, yang pernah ia latih, yang pernah digunakan sebelumnya. Berjuang adalah sebuah pertandingan. Jenis pertandingan berbeda-beda. Berjuang menghasilkan pelipatgandaan potensi diri. Mereka yang pernah berjuang dan menang, pastilah mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi.
Pada kondisi bersaing atau berkompetensi, manusia memunculkan atau menciptakan berbagai potensi—meski potensi yang sama—tetapi cara mengerjakannya, melakukannya, waktu yang digunakana, tentulah berbeda. Dibutuhkan semangat, strategi pencapaiannya, cara kerjanya, pemanfaatan waktu dan kesempatan, serta pembacaan situasi yang bisa memberi keuntungan atau kemenangan.
Dari uraian di atas, tampak bahwa setiap manusia memiliki potensi. Tinggal bagaimana memahami dan mempergunakan potensi itu dengan sebaik mungkin. Manusia dapat mengendalikan dan mengembangkan potensi-potensi diri. Hal itu bergantung pada bagaimana berpikir untuk menghasilkan kebahagiaan hidup. Mereka yang mempergunakan logikanya secara baik, akan menghasilkan manfaat hidup yang luar biasa; tidak hanya membentuk, memperkaya, dan membahagiakan diri sendiri, tetapi juga membentuk, memperkaya, dan membahagiakan orang lain, entah mereka yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.
Tuhan kiranya memberkati kita dalam mengembangkan dan mempertahankan potensi diri dan menjadi berkat dan teladan bagi sesama kita. Melakukan hal-hal baik adalah biasa; menunjukkan potensi-potensi dalam konteksnya masing-masing seyogianya dapat memberi nilai tambah bagi kehidupan dan kepribadian sendiri dan orang lain.
Jangan menghina orang lain apalagi berniat untuk mencelakakannya. Engkau tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena setiap potensi dapat mengubah seseorang. Jangan menyombongkan diri dengan potensi uang yang anda miliki sebab baik orang yang berduit dan tidak berduit, sama-sama mati dan dikubur.
Milikilah cara hidup yang memuliakan Tuhan dan bukan memuliakan diri sendiri. Gunakanlah potensi-potensi dalam dirimu bagi kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk memuaskan hawa nafsu yang liar.
Mereka yang mengasihi Tuhan akan menunjukkan segala potensinya untuk tujuan memenuhi kehidupan yang secukupnya. Mereka yang membenci Tuhan akan menunjukkan segala potensinya untuk tujuan mencelakakan orang lain dan memenuhi kesombongan hatinya.
Sudahkah kita mempergunakan potensi kita untuk memuliakan Tuhan?
Teologi adalah nyanyian pikiran. Pikiran menghasilkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Lirik dan makna lirik tergantung pada apa yang kita pahami tentang Tuhan dan apa yang kita alami bersama Tuhan”. Teologi yang menyanyikan “Tuhan dan karya-Nya” adalah teologi yang hidup. (S. R. Paparang)
Ruang pemikiran teologi sangatlah luas, dan upaya untuk memuaskan telinga para pendengar bukanlah hal yang mudah. Tetapi teologi yang benar tidak peduli apakah pendengar puas atau tidak, melainkan berupaya menjelaskan apa yang Tuhan kehendaki dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya, dalam sendi-sendi kehidupan mereka. (S. R. Paparang)
Ada banyak faset (segi) dalam teologi yang dapat kita amati, dalami, kembangkan, kritisi, dan imani. Pengamatan, pendalaman, pengembangan, pengkritisan, dan pengimanan adalah konteks berteologi untuk menghasilkan teologi. Teologi dan berteologi adalah dua aspek iman yang tak dapat dipisahkan. Sejatinya, teologi itu sendiri adalah pemahaman tentang Allah dan karya-Nya yang kita lihat dalam pewahyuan nama-Nya, Firman-Nya, dan Eksistensi-Nya. Ketika berbicara tentang Allah, maka kita berbicara tentang nama, firman (logos), dan eksistensi.
Prinsip logis ini tidak saja nyata dan bersifat historis (penyataan) tetapi secara ontologi juga merupakan substansi hakiki dari kebenaran personalitas diri Allah. Pengetahuan kita tentang Allah bergantung pada Allah. Ketika Allah menyatakan diri-Nya, Ia secara simultan menyatakan eksistensi-Nya—bahwa Dia ada—, kehendak-Nya yang tertuang dalam firman-Nya, dan identitas-Nya, yang melekat pada nama-Nya.
Secara perlahan, iman memimpin kita kepada kekayaan kasih, kemurahan, dan kuasa Allah yang nyata pada setiap langkah kehidupan kita. Dari iman lahirlah teologi yang kuat. Kita diperkenankan Allah untuk memahami dan menikmati kasih-Nya di sepanjang hidup; tak terkecuali penderitaan dan pergumulan, Allah tetap berkarya.
Melangkah pada puncak teologi harus menapaki pada anak tangga pertama. Dalam dunia teologi sistematika, dua aspek fundamen yang perlu dipahami yaitu prolegomena dan bibliologi. Prolegomena berbicara tentang pemahaman teologi, iman, dan sikap hidup, sedangkan bibliologi berbicara tentang apa dan bagaimana Alkitab itu.
Pada konteks prolegomena atau pengantar ke dalam teologi sistematika, kita mempelajari tentang apa itu teologi, bagaimana prinsip mengenal Allah, iman, berteologi, hidup dan teologi, sikap hidup (doa, kesetiaan, pertobatan, kerendahhatian), pergumulan hidup, mengasihi Allah dan sesama, dan mencintai Firman Allah.
Apa yang kita pelajari akan membawa kita kepada luasnya dan dalamnya pengetahuan tentang Allah, di mana kita hidup dan bergerak dituntun oleh Dia melalui pengetahuan yang telah diejawantahkan kepada kita melalui firman-Nya dan pengalaman iman kita bersama-Nya.
Mengapa Belajar Teologi?
“Teologi yang baik bertujuan untuk membebaskan kehidupan orang lain”. Kalimat singkat ini adalah parafrase dari Kelly M. Kapic, Profesor Studi Teologi (khususnya teologi sistematika dan historika) di Covenant College, Lookout Mountain, Georgia. Pertanyaannya: “apa yang dibebaskan dari kehidupan orang lain?” Saya mencatat setidaknya ada tujuh hal: pertama, membebaskan orang lain dari ketidaktahuan tentang personalitas dan karya Tuhan; kedua, membebaskan orang lain dari kesesatan dan penyesatan tentang iman Kristen, ajaran-ajaran Alkitab yang telah disalahpahami, disalahtafsirkan, dan disalahaplikasikan; ketiga, membebaskan orang lain dari hati yang keras dan tidak mau bertobat kepada Tuhan; keempat, membebaskan orang lain dari segala macam penderitaan yang disebabkan oleh keengganan berserah kepada Tuhan, Sang Khalik yang memelihara kehidupan umat yang percaya; kelima, membebaskan orang lain dari sikap arogansi beragama (tanpa mengerti apa itu iman yang sesungguhnya) dan egoisme diri yang berlebihan dan liar; keenam, membebaskan orang lain dari karakter buruk dan kebodohan yang melekat dalam hati orang yang acuh tak acuh terhadap persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang percaya; dan ketujuh, membebaskan orang lain dari keraguan (skeptisisme) akan pernyertaan dan perlindungan Tuhan tatkala berbagai problem kehidupan menyita waktunya untuk bergumul.
Dari ketujuh “pembebasan” yang saya sebutkan di atas, “teologi” juga memberikan fungsi yang baik bagi iman dan perilaku kita setiap hari. Teologi yang hidup pasti bertumbuh; teologi yang hidup berarti teologi yang dipahami secara benar dan kemudian memperbaiki diri lalu beranjak untuk memperbaiki orang lain dalam konteks relasinya dengan Tuhan dan sesama. Setiap hari ada pertumbuhan dalam iman dan perbuatan—layaknya tanaman yang disiram dan terus menampilkan pertumbuhan dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah.
Fungsi teologi adalah: pertama, memberikan pemahaman yang baik tentang hal-hal substansial iman Kristen dan personalitas Tuhan dalam proses menempuh kehidupan beriman dan beragama; kedua, membuka wawasan atau cakrawala berpikir orang percaya untuk terus mendalami dan merasakan makna mengikut (percaya) Tuhan dalam totalitas hayatinya; ketiga, memasukkan berbagai gagasan teologis—bilblikal ke dalam iman dan pemikiran orang percaya untuk semakin menyebarluaskan gagasan-gagasan tersebut dalam konteks komunikasi, relasi, dan penginjilan; keempat, mengeluarkan berbagai kesalahpahaman tentang iman dan personalitas Tuhan dari pikiran orang percaya, atau dengan perkataan lain, menanggalkan pola hidup dan pola berpikir lama yang bukan merupakan prinsip iman itu sendiri; dan kelima, menutup segala pintu penyesatan dan kesesatan yang berpotensi masuk ke dalam pemikiran, pemahaman, dan iman orang percaya. Memahami teologi memang tidak mudah tetapi dengan melihat pada fungsi-fungsi teologi di atas, kita semakin didorong untuk terus mendalami, merasakan, dan mengaplikasikan teologi itu dalam pluralitas hayati dan humanitas.
Profesor Kapic menjelaskan, teologi tidak hanya dicadangkan bagi mereka yang ada dalam dunia pendidikan tinggi; teologi adalah aspek pemikiran dan percakapan untuk semua yang hidup dan bernafas, yang bergumul dan takut, yang berharap dan berdoa.[1] Kepentingan teologi membuka berbagai peluang bagi gerbang pemikiran manusia yang bebas, yang dapat mengarahkan manusia untuk melihat kepada Allah yang Mahabesar dan Maha Berdaulat atas kehidupan manusia. Pencarian manusia akan Allah menyita banyak perhatian bagi para teolog dan para atheis dalam diskusi mereka tentang Allah ada dan Allah tidak ada. Sebagaimana dinyatakan secara skeptis oleh Ludwig Feuerbach (1804-1872), seorang filsuf ateis abad sembilas belas bahwa, bicara tentang Allah tidak lebih daripada penguatan bicara tentang diri sendiri: “Allah” hanya proyeksi tentang pemikiran dan hasrat manusia.[2]
Pernyataan Feuerbach memiliki dua implikasi, pertama implikasi faktual dan kedua implikasi substansial. Pada implikasi faktual, pernyataan Feuerbach ada benarnya, sebab ada kasus di mana orang(-orang) Kristen dapat mengakui bahwa ia percaya kepada Allah dan sekaligus menonjolkan bahwa “dirinyalah Allah itu.” Artinya, dengan tujuan meraup keuntungan yang tidak semestinya, peribadatan dan proses “berimannya” tidaklah murni untuk kemuliaan Allah, melainkan hanyalah topeng belaka: memuji diri sendiri dan mengagungkan diri sendiri, layaknya seorang yang haus kekuasaan dan kepopuleran. Pada akhirnya, topeng mereka terbuka, dan terlihat dengan jelas bahwa mereka telah melakukan penipuan berkedok “agama Kristen”. Pada implikasi substansialnya, pernyataan Feuerbach adalah salah dan bernatur opini, tanpa bukti apa pun. “Allah” seperti apa yang diproyeksikan oleh pemikiran dan hasrat manusia, dan “Allah” yang mana yang diproyeksikan, apakah Allah versi Kristen atau Allah dalam imajinasi Feuerbach? Allah Alkitab adalah Allah yang menyatakan diri. Jadi, tidak bisa diaggap sebagai proyeksi diri sendiri (manusia). Jelas, Allah versi Feuerbach adalah imajinasinya sendiri.
Teologi yang baik adalah teologi yang memuaskan jiwa kita akan kebaikan Tuhan, kasih dan sayang Tuhan, pemeliharaan dan kepedulian, serta pengampunan Tuhan yang di dalam itu semua, jiwa kita dipandang berharga oleh Tuhan dan menjadikan kita sebagai duta-duta firman-Nya untuk terus mewartakan kabar baik kepada dunia sekitar. Kapic menilai bahwa “teologi menyangkut soal hidup, dan bukan percakapan yang dapat dihindari oleh jiwa kita.”[3] Menurut Alexander dari Halles bahwa, teologi lebih merupakan kebajikan daripada seni, hikmat ketimbang pengetahuan faktual, teologi lebih terdiri dari kebajikan dan perwujudnyataan ketimbang kontemplasi dan pengetahuan.[4]
Dalam pemahanan tentang mengapa belajar teologi? Kapic menyebutkan dua hal sebagai landasannya yaitu “mengenal dan menikmati Allah menjadi bijak” dan “teologi sebagai ziarah”. Pada “mengenal dan menikmati Allah menjadi bijak”, Kapic menyatakan beberapa hal berikut ini:
Kita menikmati [merasakan kasih, kuasa, pemeliharaan] Allah setara dengan kita menyembah Dia dengan setia. Ibadah yang setia—termasuk pujian, doa, ketaatan dan iman—penting adanya, sebab berhala dalam segala bentuknya, tidak memuaskan Allah maupun kita. Ibadah tidak menuntut kita mengerti segala sesuatu tentang Allah dengan sempurna, tetapi respons murni kita kepada Allah sejati yang menyatakan diri-Nya kepada kita.[5]
Di bawah kehangatan karya kreatif-Nya dan perhatian-Nya, umat manusia diundang untuk berjalan dengan Allah, untuk mengenal dan mengasihi Dia. Inilah ibadah, atau penyembahan.[6]
Teologi sepenuhnya adalah tentang mengetahui bagaimana menyanyikan pujian penyelamatan; tahu kapan bersorak, kapan meratap, kapan diam dan kapan berharap.[7]
“Pengetahuan” dalam teologi tidak kognitif semata tetapi juga bersifat personal dengan unsur hubungan dan komitmen. Adalah suatu kesalahmengertian serius bila orang menegaskan bahwa kita hanya dapat menyembah Allah sesudah mengerti semua doktrin penting. Pengetahuan dan penikmatan akan Allah tidak terpisahkan.[8]
Kita tidak pernah dapat mengerti diri kita, arti kita atau kepuasan hidup manusia yang sejati dengan benar lepas dari pengenalan akan Allah.[9] Sebagaimana yang ditulis oleh John Calvin (1509-1564), “Hampir semua hikmat yang kita miliki, maksudnya, hikmat yang benar dan sehat, terdiri dari dua bagian: pengetahuan akan Allah dan akan diri kita sendiri. Tetapi, meski disatukan oleh banyak ikatan, yang mana yang mendahului dan menghasilkan yang lain tidak mudah untuk dibedakan.”[10] Menurut Kapic, pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri tumbuh dalam persekutuan ini: kita tidak akan pernah mengerti diri sendiri jika kita berusaha melakukannya lepas dari pengenalan akan Allah.[11]
Ibadah yang benar kepada Allah membebaskan dan menyanggupkan kita untuk mengasihi ciptaan-Nya dengan benar dari untuk meratap ketika kita melihat ciptaan disalahgunakan.[12]
Dengan datang kepada Allah yang hidup dan membawa hidup, pertanyaan, ketakutan serta pengharapan kita, kita tumbuh dalam pengenalan akan Allah. Pengenalan ini bukan intelektual semata; pengenalan ini juga penuh gairah, menyentuh baik pengertian maupun afeksi kita.
Sedangkan pada “teologi sebagai ziarah”, Kapic menyatakan beberapa hal berikut ini:
Ada dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan asli (archetypal) dan pengetahuan duplikat (ectypal) tentang Allah. Pengetahuan yang archetypal akan Allah adalah pengetahuan sempurna yang Allah miliki tentang diri-Nya sendiri. Kefanaan atau dosa tidak membatasi Dia. Ia tahu segala sesuatu. Yang paling utama, Allah tahu diri-Nya sendiri sepenuhnya. Pengetahuan ectypal adalah pengertian yang kita miliki tentang Allah melalui cara penyataan diri-Nya, yang paling jelas dinyatakan dalam Alkitab dan puncaknya adalah dalam inkarnasi sang Firman. Dengan demikian kita bisa memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah, meski itu bukan pengetahuan yang lengkap. Bahkan dengan Alkitab yang dikaruniakan secara ilahi, manusia yang terbatas dan berdosa perlu pencerahan dari Roh Kudus untuk mengertinya dengan benar dan menyambut pesannya.[13]
Mengenal Allah berarti mengenal yang Esa yang datang dalam Firman dan Roh. Pengetahuan Allah dalam diri-Nya murni dan penuh, sedangkan pengetahuan kita akan Dia bersifat derivatif (turunan) dan tidak lengkap. Karena pengetahuan kita akan Allah harus bertumbuh sambil kita berjalan bersama-Nya melalui waktu, tidak heran bahwa sebagian dari imaji terbaik yang dipakai untuk menggambarkan usaha teologis adalah ziarah. Alkitab memaparkan kita orang Kristen sebagai orang yang ada di “Jalan” (bdk. Kis. 9:2; 19:9, 23; 24:14, 22), karena kita adalah para “pendatang” (1 Ptr. 2:11) yang dipanggil untuk “berjalan” dalam Roh yang membawa terang bahkan ke dalam kegelapan (bdk. 2 Kor. 5:2; Gal. 5:16, 25; Ef. 5:8, 15; Kol. 2:6; 1 Yoh. 1:6-7; 2 Yoh. 6).[14]
Kita ada dalam suatu pengembaraan, kita sedang menuju ke suatu tempat, sambil kita makin setia menyaksikan dan menyesuaikan diri dengan Allah dan kemuliaan-Nya. Pengetahuan kita akan Allah dan perenungan teologis kita tidak dapat terhindar dari sifat fana, derivatif dan mengalami perkembangan.[15]
Semua teologi yang baik dan setia datang dari Allah, yang adalah teolog utama—satu-satunya yang dapat bicara tentang diri-Nya tanpa kelemahan diri dan kesalahmengertian. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Thomas Aquinas, “Teologi diajarkan oleh Allah, mengajarkan tentang Allah dan memimpin kepada Allah” (Theologia a Deo Docetur, Deum docet, et ad Deum ducit).[16]
Ketika kita menyadari adanya relasi antara teologi dan ibadah, kita pindah dari keingintahuan intelektual ke perjumpaan yang terlibat dengan Allah yang hidup.[17]
DEFINISI TEOLOGI
Secara umum teologi dipandang sebagai sebuah pemikiran dan pemahaman yang sifatnya lebih luas di samping pengetahuan tentang personalitas Allah. Bahkan seluk-beluk iman Kristen dan perdebatannya, dipandang sebagai ranah teologis untuk menetapkan formula iman yang ortodoks dan sekaligus menentukan hal-hal yang menyimpang dari iman Kristen. Hal ini pula yang diamati Daniel L. Lukito berikut ini: “Istilah ‘teologia’ memang tidak mudah didefinisikan. Sekalipun jelas bahwa teologia merupakan kombinasi dari dua kata Yunani theos (Allah) dan logos (kata, pemikiran, uraian, ilmu), namun istilah tersebut telah dipergunakan secara luas.[18] Kadang-kadang kata ini, menurut Lukito, dimengerti sebagai istilah yang menggambarkan lingkup seluruh pokok studi, penelitian, dan aplikasi dalam pendidikan atau sekolah teologia. Dengan pengertian itu berarti teologia mencakup segala penelitian tentang PL, PB, sejarah gereja, teologi sistematika, ilmu berkhotbah, pendidikan agama Kristen dan konseling.
Dalam pengertian lebih sempit, maka “theologia”, menurut Lukito, menunjuk pada usaha untuk meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya. Ini berarti mencakup divisi seperti teologia sistematika, teologi biblika, teologia historika, dan teologi filosofika. Juga apabila dimengerti secara lebih sempit, “teologia” menunjuk pada teologia sistematika.[19] Jadi, teologia adalah suatu pembicaraan secara rasional tentang Allah dan pekerjaan-Nya. Dalam hal ini, “teologia Kristen” berarti bahwa pembicaraan yang rasional itu merupakan hasil yang diperoleh dari Alkitab sebagai titik tolak penemuan yang sine qua non ([kondisi] yang tidak boleh tidak ada; kondisi yang harus ada untuk sesuatu) dan prima facie (based on immediate impression, atau hal yang langsung atau dengan sendirinya terpikir sebagai titik acuan).[20] Lukito juga menjelaskan, bahwa “dari sudut lain, teologia juga menunjuk pada respons manusia terhadap firman yang disampaikan Allah melalui Alkitab.[21]
Beberapa definisi tentang teologia berikut ini dijelaskan Lukito untuk melihat konteks latar belakang para teolog dan gagasan mereka masing-masing.
Pertama, menurut Benyamin B. Warfield (1851-1921), seorang teolog ortodoks dari Princeton, teologia adalah “ilmu yang membicarakan tentang Allah dan hubungan antara Allah dan alam semesta.” Penekanan Warfield di sini adalah “Allah itu ada, dan seandainya tidak ada Allah, teologia tidak pernah ada. Demikian pula seandainya Allah yang berada itu tidak berhubungan dengan ciptaan-Nya, teologia juga tidak pernah ada.
Kedua, guru besar teologia sistematika di Union Theological Seminary, William G. T. Shedd, berpendapat bahwa, “Teologia adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan Yang Tak Terbatas dan yang terbatas, dengan Allah dan alam semesta.”
Ketiga, teolog Baptis, A. H. Strong berpendapat, “Teologia adalah ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta.”
Keempat, menurut Charles Hodge (1797-1878), “Teologia … mengetengahkan fakta-fakta Kitab Suci dalam urutan dan hubungan yang tepat dengan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum yang ada dalam fakta-fakta itu sendiri dan yang meliputi dan menyelaraskan seutuhnya.” Hodge menempatkan Alkitab sebagai salah satu sumber atau kategori fakta-fakta atau kebenaran yang tidak diwahyukan di mana pun juga. Sedangkan alam merupakan sumber atau kategori fakta lainnya yang makin diperjelas oleh Alkitab sendiri. Jadi, teologia berkenaan dengan yang alamiah dan yang diwahyukan. Yang alamiah itu berhubungan dengan fakta-fakta tentang alam sejauh mana fakta-fakta itu mengungkapkan tentang Allah serta relasi manusia dengan Dia; sedangkan Alkitab menyatakan segalanya itu dengan lebih lengkap dan lebih otoritatif.[22]
Kelima, F. Schleiermacher berpendapat bahwa, teologia sebagai usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, yaitu perasaan ketergantungan yang mutlak (the feeling of absolute dependence).[23] Bagi Schleiermacher, apabila kita berbicara tentang “Allah”, dengan mempergunakan bahasa dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan “knowing” (mengetahui) dan “doing” (melakukan), kita sebenarnya sedang mengartikulasikan “self-consciuosness” (kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya).[24] Kesimpulan Schleiermacher adalah bahwa apabila suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan di dalam perasaan, maka tidak ada pernyataan yang bisa dibuat berkenaan dengan itu.[25] Dengan perkataan lain, menurut Lukito, kita tidak dapat menguraikan tentang manusia, atau tentang karya Allah, apabila formula doktrinalnya tidak datang dari hasil refleksi pada kesadaran diri yang religius (religious self-consciousness).[26]
Keenam, menurut Paul Tillich (1886-1965), teologia adalah interpretasi metodikal dari materi pokok iman Kristen.[27] Tillich menganggap istilah “Allah” tidaklah terlalu penting karena “Allah” adalah sebuah simbol yang diperoleh dari kesadaran religius. “Allah” bukan sosok Pribadi Yang Ada; Ia adalah Yang Ada itu sendiri (Being Itself, not a Being). Jadi, “Allah” itu melingkupi segala sesuatu dan Ia berada di dalam segala sesuatu. Karena “Allah” melampaui dan di luar dari esensi dan eksistensi, maka segala usaha untuk membuktikan eksistensi “Allah” tidak dapat diterima; masalah eksistensi “Allah” tidak dapat dipertanyakan atau dijawab.[28] Bagi Tillich, hanya ada satu titik mula berteologia yang sah, yakni dimulai dari manusia dan pengalaman manusia atas realita. Teologia barulah dapat membangun sebuah jembatan yang berarti (memiliki arti) dengan inti kebenaran berita Kristen apabila berita itu sendiri dinilai atau diinterpretasikan sesuai dengan “keprihatinan puncak” (ultimate concerns) dalam pengalaman manusia[29], dan Lukito menilai, Tillich memilih untuk memulai penjabaran teologinya hanya dari pengalaman manusia.
Ketujuh, menurut Choan-Seng Song, definisi teologia yang sering diberikan oleh teolog-teolog Barat tidaklah tepat. Menurutnya, teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia. Urusan teologia bukanlah untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah.[30] Bagi Song, teologia Kristen yang tradisional yang terlalu banyak membicarakan tentang Allah (dengan eksistensi-Nya, atribut-Nya, dan segala perdebatan tentang karya-Nya) menjadi sangat terbatas, karena bagian terbesar masalah yang bertalian dengan kehidupan manusia terabaikan begitu saja. Teologia seharusnya dimengerti sebagai antropologi: “theo-logy must be anthropo-logy”.[31] Untuk memperkuat argumennya, menurut Song, bukankah Allah sendiri, di dalam Yesus Kristus, datang dan berkecimpung di tengah manusia sebagai suatu tindakan yang teo-logis?[32]
Kedelapan, Lukito menilai bahwa definisi dan pengertian teologia yang dinyatakan Schleiermacher, Tillich, dan Song mengandung kelemahan, oleh karena dengan demikian teologia menjadi independen atau tercerai dari Alkitab. Menurutnya, teologia seharusnya berkenaan dengan Allah dan ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Alkitab. “Teologia adalah pengetahuan yang sistematis tentang Allah dan hubungannya dengan ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan dalam Alkitab.”[33] Tentu saja, menurut Lukito, dalam definisi tersebut sudah tercakup pengertian bahwa teologia juga merupakan respons manusia terhadap inisiatif Allah dalam wahyu-Nya. Respons tersebut dapat berwujud dalam bentuk usaha-usaha untuk mengerti wahyu/penyataan Allah tentang manusia dari dan dunia, serta bagaimana menerapkannya ke setiap bagian kehidupan dan pemikiran manusia.[34]
Kesembilan, tanggapan saya atas berbagai definisi teologi di atas adalah sebagai berikut: (1) teologia berbicara pribadi Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta, Penebus, dan Pewahyu; (2) teologia berbicara tentang karya-karya Allah yang mencakup belas kasih-Nya, pengampunan-Nya, penghukuman-Nya, kasih karunia, dan anugerah-Nya. Dalam karya-karya tersebut apa yang didefinisikan para teolog di atas sudah termasuk; (3) teologia berbicara mengenai kesadaran akan diri sendiri (manusia) yang terikat dengan imannya untuk mengenal lebih jauh tentang Allah dan firman-Nya serta mengalami hidup bersama-Nya. (4) apa yang digagas Warfield bersifat konsekuensi logis yang menilai bahwa tanpa “sumber teologi” (yaitu Allah) tak mungkin ada “proses berteologi”. (5) apa yang digagas Shedd, bersifat logis dan naturiah, dan ada kesamaan dengan gagasan Strong. (6) gagasan Hodge merupakan sebuah proses (yaitu mengetengahkan) dan hasil (urutan dan hubungandengan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umumyang ada dalam fakta-fakta itu sendiri) dari memahami teologi alkitabiah. (7) gagasan Schleiermacher merupakan cara berteologi yaitu usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, dan menempatkan pengetahuan dan tindakan sebagai mengartikulasikan (menjelaskan dengan kata-kata) self-consciuosness (kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya) yang pada esensinya kuranglah sempurna karena hanya mengartikulasikan kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya dan bukan yang dialami dalam proses beriman.
Di samping itu, gagasannya mengenai “suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan di dalam perasaan, maka tidak ada pernyataan yang bisa dibuat berkenaan dengan itu” menjadikan “perasaan” melampaui dari fakta tentang providensia Allah atas manusia. (8) gagasan Tillich justru berkontradiksi. Kontradiksinya terlihat dari pernyataan bahwa “segala usaha untuk membuktikan eksistensi ‘Allah’ tidak dapat diterima”, padahal ia sendiri telah membuktikan eksistensi Allah itu sendiri dan ia menerima apa yang ia nyatakan. Berikutnya, kontradiksi terlihat pada frasa “masalah eksistensi ‘Allah’ tidak dapat dipertanyakan atau dijawab”, padahal ia sendiri telah menjawab eksistensi Allah itu sendiri. Di sini Tillich berkesimpulan terlalu sederhana sekali tanpa melihat konsekuensi logis dari apa yang ia nyatakan sendiri. (9) gagasan Song terlihat berat sebelah. Pada sisi lain ia berpikir bahwa “teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia” dan “bukan untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah.” Alangkah baiknya jika keduanya disatukan, karena di saat kita memikirkan tentang bagaimana Allah memperhatikan kita, secara bersamaan kita juga sedang memperhatikan Allah yang memperhatikan kita. Ini disebut dengan konsekuensi logis secara bersamaan. Memang benar apa yang dinyatakan Song, “teologia Kristen yang terlalu banyak membicarakan tentang Allah melupakan atau mengabaikan kehidupan manusia. Teologi secara substansial seyogianya menyentuh tiga wilayah yaitu kognitif (pengetahuan setiap orang percaya tentang Allah dan karya-Nya), konatif (perilaku atau sikap orang percaya kepada sesama dan kepada Tuhan), dan keterampilan dalam menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Teologi yang tidak menghasilkan perubahan, buah, dan pengaruh, bukanlah teologi yang baik dan sehat, melainkan teologi yang kering dan kekurangan gizinya. (10) benar apa yang digagas Lukito bahwa “teologia seharusnya berkenaan dengan Allah dan ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Alkitab.” Gagasan ini menjawab tiga definisi teologi sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas yaitu: teologia berbicara pribadi Allah, berbicara tentang karya-karya Allah, dan berbicara mengenai kesadaran akan diri sendiri (manusia).
[1] Kelly M. Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi: Mengapa dan Bagaimana Studi Teologi, alih bahasa Paul S. Hidayat (Jakarta: Waskita Publishing, 2014), 7-8.
[2] Ludwig Feuerbach, The Essence of Christianity (1841, cetak ulang, New York: Barnes & Noble, 2004), dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 9.
[10] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, terj. Ford Lewis Battle, 2 vol., Library of Christians Classic (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 1.1.1-2, dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 17.
[23] F. Schleiermacher, The Christian Faith, ed. H. R. Mackintosh dan J. S. Stewart (Edinburg: T. & T. Clark, 1956), 12 dst. dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,15-16.
[24] Schleiermacher, The Christian Faith, 17, 76 (ps. 15), dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.
[25] Schleiermacher, The Christian Faith, 78, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.
[29] Tillich, Systematic Theology, 12, Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16-17.
[30] C. S. Song, “New Perspective of Theology in Asia: Ten Theological Theses”, SEAJT 20, No. 1 (1979): 15, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.
[31] C. S. Song, Tell Us Our Names: Story Theology from An Asian Perspective (Maryknoll: Orbis, 1984), 37, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.
[32] Song, Tell Us Our Names, 9, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.
“Menjaring angin” adalah sebuah frasa yang memuat dua diksi filosofis. Diksi “menjaring” secara umum dipahami sebagai usaha manusia untuk mendapatkan sesuatu. Jaring sering dipakai dalam dunia nelayan atau pelaut untuk menangkap ikan. Jaring juga bisa dipakai dalam dunia jebakan untuk menangkap burung dan binatang lain yang diinginkan. Diksi “angin” adalah udara atau gerakan udara yang nyata, dirasakan, tetapi tidak terlihat wujudnya. Angin itu bereksistensi tetapi tak terlihat secara kasat mata.
Frasa “menjaring anging” memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia, entah baik atau jahat, bisa berpotensi untuk tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Berbagai usaha dan upaya, perjuangan tak kenal lelah, kerja keras, perencanaan dan komitmen, sering tak berbuahkan apa-apa. Ini terjadi di dua jenis orang: baik dan jahat. Raja Salomo sendiri mengakui kondisi ini. Ia mengamati bahwa: “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 1:14). Secara umum kondisi adalah kondisi riil yang mungkin sering kita lihat atau bahkan kita alami.
Akan tetapi, bagi mereka yang beriman teguh, segala upaya harus terus dikerjakan dengan baik dan penuh integritas. Tetap percaya bahwa apa yang Tuhan buat itu [akan] indah pada waktunya. Nah, menjaring angin ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki, jabati, alami, dan rasakan. Sebuah kalimat bijak menegaskan:
“Semasa hidup, kitalah tuan dan orang yang paling berkuasa di rumah mewah kita. Saat meninggal, tidak ada yang setuju jasad kita disimpan, walaupun hanya di garasi di belakang rumah kita. Semasa hidup, kita duduk gagah di kursi direktur utama di kantor kita. Saat meninggal, tak ada yang setuju kita didudukkan di kursi manapun di kantor kita.”
Kondisi seperti ini, bisa dikategorikan sebagai usaha “menjaring angin” tetapi dalam konotasi yang lebih luas dan bijak. Kita begitu dihargai semasa hidup, tapi tak seorangpun dari pendukung kita yang bersedia ruang tamunya sebagai tempat untuk menaruh jenazah kita selama-lamanya. Bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah harta kekayaan kita yang banyak tidak dapat lagi dinikmati, malahan orang lain yang menikmatinya. Mungkin juga dicuri orang lain. Dalam perspektif dunia, tentu apa yang kita dapatkan sekarang ini, harta benda, kedudukan, jabatan, uang, kemewahan, tidak akan dibawa ke dalam peti mati untuk digenggam, seperti digenggam saat kita masih hidup. Ini adalah usaha menjaring angin. Apa yang kita dapatkan selama hidup dalam bentuk benda, tidak akan dibawa bersama dengan kematian kita.
Tetapi, dari perspektif iman, apa yang kita miliki yang didapati dengan cara yang benar, akan dibawa sampai bertemu Tuhan. Apa yang dibawa? Yang dibawa adalah iman kita, sikap hidup kita di hadapan Tuhan, rasa hormat kita kepada Tuhan selama hidup. Kecantikan, kegantengan, ketenaran, kemasyhuran dan sebagainya, hanyalah tinggal kenangan. Bagi mereka yang telah berbuat baik, kenangan tentang mereka akan menjadi pelajaran hidup.
Melihat kondisi hidup yang dijalani manusia, Raja Salomo berucap: “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 4:6). Hidup perlu ketenangan—ketenangan dalam berusaha juga dibutuhkan, ketimbang bernafsu ingin mendapatkan dan menghalalkan segala sesuatu. Iri hati lahir dari motivasi yang tidak baik. Hawa nafsunya menguasai untuk mempertontonkan kebenciannya (ketidaksukaannya) kepada orang lain.
Manusia bekerja untuk mendapatkan ketenangan. Ketenangan didapatkan dari hasil pekerjaan, memuaskan. Bekerja memiliki tujuan. Bekerja dengan cara asal bekerja adalah wujud dari usaha menjaring angin. Tak ada hasil. Kalau pun ada, tidak bertahan lama. Jerih payah demi jerih payah, membawa seseorang untuk tidak mendapatkan apa-apa; itu adalah usaha menjaring angin.
Kondisi-kondisi kehidupan manusia yang beragam, seringkali menimbulkan dampak-dampak negatif. Persaingan demi persaingan muncul untuk menunjukkan eksistensi masing-masing. Setiap orang membuat tariannya sendiri. Menciptakan warna musiknya sendiri. Menciptakan jaringnya sendiri. Mengundang penonton dengan caranya sendiri, dan menciptakan alat musiknya sendiri, mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan hatinya. Perjuangan tak kenal lelah berujung penyesalan dan air mata. Perjuangan tak kenal lelah berujung pada kebencian dan iri hati kepada sesamanya: “ini adalah usaha menjaring angin.”
Raja Salomo pun mengungkapkan: “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 4:4). Jerih payah dan segala kecakapan adalah iri hati seorang terhadap yang lain dibuktikan dari cara seseorang bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Kebencian menimbulkan permusuhan dalam bekerja. Kecapakan-kecakapan palsu dapat muncul ketika iri hati seseorang terhadap yang lain begitu kuat. Penipuan-penipuan pun turut serta dalam kancah ini. Jerih payah berbungkus iri hati tampak dalam pekerjaan seseorang yang lebih banyak berkata-kata dari pada menggerakkan tangan, kaki, dan otak. Mulutnya lebih banyak berbicara hal-hal yang tidak penting, ketimbang memikirkan tujuan hidup dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, sesamanya, dan keluarganya.
Kebencian dan iri hati adalah usaha menjaring angin. Mereka yang lebih banyak membenci dan iri hati tak akan pernah maju dalam bekerja. Alasannya sederhana: mereka terlalu sibuk membicarakan orang lain, sehingga mengabaikan pekerjaannya sendiri. Menjaring angin bukanlah tujuan hidup kita. Kita perlu menjaring, tetapi yang dijaring adalah “hasil” dari pekerjaan kita. Pekerjaan harus dikerjakan dengan kredibilitas, integritas, dan sikap hidup yang takut akan Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan bisa menunjukkan kredibilitas dan integritas, tetapi sikap hidupnya akan menjerumuskannya ke dalam berbagai kemunafikan, penipuan, kerusakan moral, kerusakan relasi, dan kerusakan pikirannya.
Mereka yang takut akan Tuhan, bisa saja menjaring angin. Artinya apa yang mereka upayakan tidak berbuahkan hasil, gagal panen, dan lain sebagainya. Namun, perjuangan mereka tidak berakhir sampai di situ. Mereka bangkit dan terus menunjukkan tiga eksistensi: eksistensi diri mereka (kekuatan); eksistensi kebaikan mereka; dan eksistensi komitmen untuk tetap takut akan Tuhan.
Marilah kita mencermati hidup ini dan menilai apakah yang kita kerjakan akan menghasilkan “angin”? Ataukah kita perlu menambahkan bijaksana dengan memintannya kepada Tuhan? Nilailah diri kita sebelum kita menilai orang lain. Sebab prinsip “nilai-menilai” bukan hanya ada pada kita, tetapi ada juga pada orang lain. Inti dari semua yang dikerjakan dalam hidup ini adalah seperti yang ditegaskan Raja Salomo bahwa:
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:13-14)
Takut akan Tuhan mendatangkan kehidupan dan ketenteraman (Ams. 14:26), mendatangkan kekudusan dan kesucian (Mzm. 19:10). Mereka yang takut akan Tuhan akan dipelihara Tuhan (Mzm. 25:12) dan memiliki akal budi yang baik (Mzm. 111:10). Mereka yang takut akan Tuhan tidak mempublikasikan iri hati; mereka membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Mereka yang takut akan Tuhan, akan mendapatkan kehidupan yang kekal (Ams. 10:27). Mereka yang takut akan Tuhan adalah orang yang jujur (Ams. 14:2). Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat maut (Ams. 14:27). Takut akan Tuhan menghilangkan kecemasan (Ams. 15:16). Mereka yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan (Ams. 16:6), dan mereka yang rendah hati dan takut akan TUHAN mendapatkan upah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Ams. 22:4).
Bijaklah dalam bertindak dan berpikir. Buanglah iri hati dan kebencian. Ingatlah bahwa Tuhan tetap berpihak kepada orang-orang benar, kepada mereka yang takut akan Dia, dan kepada mereka yang menjalankan kehendak-Nya. Usaha menjaring angin bukanlah tujuan hidup kita. Tugas kita adalah terus berusaha untuk melakukan pekerjaan yang baik, suatu usaha yang disertai dengan bijaksana, agar dapat mendatangkan kebaikan dan kepuasan bagi hidup kita sendiri. Mereka yang puas dengan hidup ini adalah mereka yang bersyukur dan mengandalkan Tuhan setiap hari. Tuhan telah memberikan pengetahuan tentang hidup kepada kita melalui serentetan kejadian di mana di dalamnya juga terkandung kebaikan dan kemurahan-Nya yang patut disyukuri dan diwartakan.
Kekristenan bertumbuh dan berkembang didasari pada beberapa aspek penting. Aspek-aspek penting tersebut membentuk karakter dan iman menjadi semakin hari semakin menarik dan mantap. Orang Kristen yang sesungguhnya (percaya kepada Tuhan Yesus) menampakkan pola hidup yang selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Alkitab mengatur, mengarahkan, mengontrol, menguasai, dan memerintah dalam totalitas hidup orang percaya.
Aspek-aspek yang telah membentuk karakter dan iman Kristen terdiri atas diktum (ucapan), perilaku, dan logika (cara berpikir). Ketiganya disatukan untuk menyatakan bahwa seorang Kristen adalah “Pelaku Firman”. Prinsip menjadi pelaku firman adalah sebuah keharusan yang secara substansial selaras dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Pasalnya, perintah-perintah, titah-titah, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum yang ditetapkan Tuhan, harus dilaksanakan dan diatati. Ketika orang Kristen melakukan itu semua, maka ia dapat dikategorikan sebagai “pelaku firman”.
Menjadi pelaku firman tentu tidaklah mudah. Ada cukup alasan bagi orang Kristen untuk tidak menjadi pelaku firman. Di antaranya adalah karena kurangnya pengetahuan tentang Alkitab, kurangnya persekutuan dengan saudara-saudara seiman, kurangnya relasi dengan sesama orang percaya, dan adanya tekanan perilaku duniawi yang menyita banyak waktu, sehingga memikirkan pelayanan, ibadah, persekutuan, doa, merenungkan Alkitab, menjadi semakin sulit, dan bahkan diabaikan. Singkatnya, lebih penting mengurus hal-hal duniawi ketimbang mengurus hal-hal surgawi.
Alangkah indahnya menjadi pelaku firman. Menjadi pelaku firman berarti memiliki komitmen. Akan tetapi, tentu ada tantangan, godaan dan hambatan. Kadang, ketika seseorang baru memulai melakukannya, godaan dan hambatan datang silih berganti. Alih-alih ingin menjadi pelaku firman yang baik, tetapi justru terjebak dalam kolam duniawi.
Dalam melihat tipe orang Kristen terkait dengan kehidupannya sehari-hari, menurut pengamatan saya terdapat lima kelompok.
Kelompok pertama adalah mereka yang hidup biasa-biasa saja. Tak ada angin, tak ada hujan, mereka hidup seolah-olah tahu tentang Tuhan tetapi lupa melakukan firman-Nya.
Kelompok kedua adalah mereka yang hidup separuh hati dan jiwa. Kadang ibadah kadang tidak. Mereka mengikuti arah angin. Mereka selalu ikut-ikutan. Tergantung “mood” (suasana hati). Kristen model ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi. Dalam melayani atau beribadah pun tergantung pada orang lain dan kondisi.
Kelompok ketiga adalah mereka yang benar-benar malas. Semuanya serba malas. Tidak pernah merasakan dan menghayati hidup ini sebagai anugerah dari Tuhan. Bagi mereka selama masih ada waktu untuk bermalas-malasan, maka harus dipergunakan sebaik mungkin. Kristen jenis ini sulit bertumbuh dalam iman. Ada cukup alasan yang dibuat untuk menolak beribadah, berdoa, dan sebagainya.
Kelompok keempat adalah mereka yang rohaninya berlapis. Maksudnya, mereka memang tampak rohani di luar, tetapi perilaku (afektif), tutur kata (diktum), dan cara berpikir (logika) mereka tidaklah sama sekali mencerminkan prinsip-prinsip Alkitab (berlapis antara yang baik dan buruk).
Dari mulut mereka keluar pujian dan kata-kata rohani dan dari mulut yang sama keluar kutuk, caci maki, penghinaan, kata-kata kotor, fitnah, sumpah serapah. Mulut mereka penuh kemunafikan. Mereka melapisi keburukan dengan kerohanian. Mereka lihai merangkai kata untuk mengelabui orang lain. Dan tak lupa pula, mulut mereka penuh ancaman ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Kelompok ini cukup banyak berdomisili di gereja-gereja dan pelakunya terdiri dari berbagai tingkatan. Tingkat bawah adalah jemaat biasa, tingkat menengah adalah para majelis atau pengerja gereja, dan tingkat atas adalah para pendeta.
Kelompok kelima adalah mereka yang murni, tulus hatinya, tidak munafik dan justru menonjolkan sikap sabar dan mengasihi musuh-musuhnya. Antara diktum, perilaku, dan logika seimbang. Mereka menjaga keseimbangan perkataan, sikap, dan pemikiran. Dari mereka lahir berbagai karya yang memberkati orang lain.
Mereka dikagumi karena kesalehan, ketulusan, kesabaran, dan kasih mereka. Mereka inilah para pelaku firman yang sesungguhnya. Melakukannya tanpa ada tendensi untuk dibayar terutama dibayar untuk mencaci maki, merendahkan, menghina, memprovokasi orang lain. Kalau yang rohaninya berlapis, mereka siap dibayar meski harus menjual harga diri dan identitas.
Orang yang murni dan tulus hatinya menampilkan gaya hidup yang dapat diteladani. Warisan-warisan karya dan iman mereka menjadi rebutan banyak orang. Merekalah para pelaku firman yang sesungguhnya. Peran diktum sangat mencerminkan keindahan hati dan pemikiran mereka. Perilaku mereka sangat menonjol siap dijadikan teladan. Logika atau cara berpikir mereka menghadirkan damai sejahtera, bersifat menguatkan dan mengarahkan.
Menjadi pelaku firman adalah tugas kita semua. Setiap kita ditempa oleh-Nya dan kemudian dituntun untuk mengikuti firman-Nya, menghadirkan kasih, damai, dan pengampunan; menjembatani dua tebing perbedaan agar menjadi satu dalam ikatan damai sejahtera.
Kita perlu melatih bagaimana menerapkan diktum yang baik dan berbobot. Jika sudah terlatih, maka latihlah orang lain untuk melakukan hal yang sama. Perilaku kita bersumber dari pengetahuan kita tentang firman Tuhan. Kita berkata-kata karena kita memiliki pengetahuan. Di sini, keseimbagan antara berkata-kata dan berperilaku menjadi seimbang.
Akhirnya, peran logika haruslah menandai sebuah kesinambungan atau korelasi antara iman dan perbuatan. Cara berpikir kita perlu membaca konteks kehidupan. Kita dapat menawarkan “kue-kue kehidupan” di setiap konteks kehidupan, kapan pun dan di mana pun.
Sudahkah kita menjadi pelaku firman? Jika sudah, kembangkanlah terus kualitas diktum, perilaku, dan logika. Jangan berhenti, jangan merasa puas dengan apa yang telah dicapai dan dilakukan selama ini. Berbuat baik tak ada habisnya. Dengan demikian, layaklah kita mengikuti pernayataan Rasul Paulus bahwa: “Kasih tidak berkesudahan”.
Konflik yang sering terjadi dalam relasi hayati humanitas disebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Konflik dengan sesama kita (sahabat, keluarga, rekan kerja) sebagaimana yang sering kita lihat, bahkan kita alami berawal dari sebuah relasi yang ternodai (rusak) akibat dari hal-hal yang substansial maupun yang non-substansial. Hal-hal tersebut terjadi karena adanya pelanggaran, penipuan, atau kompromi, sehingga akibatnya, relasi menjadi rusak dan menimbulkan konflik berkelanjutan. Perasaan kemanusiaan kita juga turut terluka karena relasi yang rusak itu. Kondisi inilah yang terjadi antara Esau dan Yakub.
Kejadian 27 dan 28 menceritakan tentang konteks yang sedang dibicarakan. Dari konteks ini, saya mencatat dua sikap yang mencederai kemanusiaan—singkatnya, mencederai relasi humanitas, yang digambarkan dalam sebuah peristiwa dari keluarga Ishak dan Ribka.
Pertama, menipu. Sesuai konteksnya (pasal 27), Ribka memanipulasi olahan makanan enak buat suaminya, supaya Yakub, diberkati oleh Ishak (27:5-11). Ribka merancang penipuan agar Yakub diberkati oleh Ishak. Dengan jaminan masakan enak olahan Ribka, Yakub pasti akan diberkati oleh Ishak, ayahnya. Akibat dari rancangan penipuan oleh Ribka, Yakub pun ikut menipu bapaknya dengan menggunakan nama Tuhan (ay. 20). Kadang menipu atas nama Tuhan dianggap sebagai senjata yang ampuh untuk membuat orang lain percaya dengan perkataan kita. Padahal, tindakan itu merupakan tindakan yang berdosa.
Pengaruh dari penipuan adalah orang yang tertipu mengalami kepedihan hati. Kepedihan hati akan melahirkan dendam membara. Esau meraung-raung setelah mendengar bahwa Yakub telah mengambil berkat yang seharusnya dia terima (27:30-34). Pengaruh penipuan juga membuat orang tertipu itu menangis karena kecewa ia telah tertipu. Esau menangis karena kesal dan marah terhadap Yakub (27:38). Menangis mengimplikasikan tiga hal: (1) menangis karena terharu; (2) menangis karena kesakitan (tubuh); (3) menangis karena sakit hati (kondisi/keadaan), akibat ditipu, dikecewakan, dan sebagainya. Esau tentu menangis karena sakit hati.
Kedua, dendam. Esau menaruh dendam kepada Yakub. Dendam bisa berlanjut kepada “pembunuhan”. Itulah yang direncanakan Esau terhadap Yakub (ay. 41). Pada faktanya, karena penipuan, orang kemudian menaruh dendam dan ingin membalaskan dendamnya dengan berbagai cara, dan “membunuh” adalah salah satu cara yang sering dilakukan. Mungkin kita pernah mendendam kepada orang lain yang pernah menyakiti hati kita, bahkan merobek-robek harga diri kita. Dan hingga sekarang mungkin masih mendendam. Buanglah dendam itu. Kita hanya menyimpan “sampah hati” dan akan membusukkan hidup kita.
Seorang pastor berkhotbah: “Kita semua mempunyai musuh dalam hidup ini”. Lalu seorang pendengar berdiri dan hendak protes. “Pak pastor, saya ini tidak punya musuh”. Mengapa bisa begitu? Tanya pastor keheranan. Jawabnya: “Semua musuh saya sudah mati, jadi saya tidak punya musuh lagi.” Ya, benar, kalaupun musuh kita sudah mati, ada satu musuh lagi yang harus ditaklukkan yaitu “diri kita sendiri”. Sudahkah kita melihat diri kita dan menilai apakah kita pernah menipu dan berencana membunuh orang lain? Segera memohon ampun kepada Tuhan. Atau masihkah kita mau menipu orang lain dan menaruh dendam kepada mereka yang telah menyakiti kita? Semua itu harus ditanggalkan. Nikmati hidup baru bersama Tuhan, niscaya kebahagiaan yang sejati akan dirasakan sepanjang hayat.
Jangan sampai kita menjadi pencetus konflik kemanusiaan sebagaimana yang terjadi dalam keluarga Ishak: Esau menaruh dendam kepada Yakub karena Yakub telah menipunya (hasil dari ide ibunya sendiri). Baik menipu dan mendendam bukanlah perilaku yang harus kita lakukan, sebaliknya menipu dan mendendam hendaklah dibuang jauh-jauh dari hidup kita, dan biarkan Tuhan yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya agar kita dapat menikmati kasih dan kemurahan-Nya. Ketika kita mau hidup dalam kekudusan, menjauhkan segala prasangka buruk terhadap orang lain, Tuhan akan membalasnya dengan cara-Nya yang ajaib. Tuhan kiranya memberkati, menopang, dan menyertai kita semua dalam melakukan kehendak-Nya dalam totalitas hayati kita.
Secara faktual, setiap orang mewakili karakter yang ada dalam dirinya sendiri. Seseorang tidak mewakili karakter orang lain. Lain orang lain karakter. Imbasnya, setiap orang bertanggung jawab atas karakter yang dimilikinya. Melihat fakta dalam kehidupan Kristen, seringkali kita disuguhkan atau dipertontonkan dengan berbagai macam karakter. Di gereja misalnya; para jemaat akan dengan mudah melihat dan mengasesmen karakter pendetanya atau gembala jemaatnya. Pendeta/Gembala Jemaat yang baik akan dipuji dan diteladani. Tak lupa pula, jemaat siap mempublikasikan dan mengkomunikasikan kepada orang lain. Maklum, itu kan pendeta/gembala jemaat yang diidolakan.
Tetapi, ada pilihan lain yang tak kalah pentingnya. Pendeta/Gembala Jemaat yang tidak baik akan direndahkan, ditinggalkan, dan dihina. Apa alasannya? Sudah jelas bahwa pendeta/gembala jemaat model demikian tak layak dipuji atau diteladani. Apalagi sehari-harinya hanya sibuk mengurusi orang lain yang dia anggap bahwa dialah yang suci dan tak berdosa. Jemaat akan dengan sangat mudah melihat gelagat sang pendeta/gembala jemaat. Mereka adalah “juri” dalam perlombaan pertunjukan karakter. Namun, satu hal tak boleh dilupakan bahwa pendeta/gembala jemaat juga dapat mengasesmen jemaatnya. Bedanya, jemaat tersebut harus dikonselingkan dan ditegur, dididik, dibina, dan dirangkul, sedangkan pendeta yang bermulut “ember” dan berkarakter buruk akan segera ditinggalkan.
Fenomena ini mencuat ke permukaan di mana berbagai akses teknologi dengan mudah untuk segera mempublikasikan atau mengetahui gerak gerik pendeta maupun jemaat. Ada pendeta yang selalu mempublikasikan dirinya sendiri ketika hendak berkhotbah atau melayani. Ada pula jemaat yang ber”selfie ria” di dalam gereja. Tidak hanya saat sebelum ibadah, tetapi ketika ibadah sedang berlangsung pun ikut ber”selfie ria”. Aneh tapi nyata. Nyata tapi lucu. Itulah carut marut karakter pendeta dan jemaatnya. Masing-masing mempublikasikan diri sendiri dalam konteks ibadah. Bukankah harusnya Tuhan dan cinta kasihNya yang dipublikasikan?
Tidak ada salahnya ketika seseorang mempublikasikan pelayanannya. Bukankah itu adalah dorongan bagi orang lain untuk melayani Tuhan juga? Benar. Di satu sisi ketika seseorang mempublikasikan pelayanannya maka orang lain dapat terhibur, termotivasi, dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama meski di tempat yang berbeda. Tentu ini sangat bermanfaat dan memberikban pengaruh yang luar biasa. Di sisi lain, ada orang yang mempublikasikan pelayanannya dengan tujuan supaya mendapat pujian. Jadinya ia menjadi “besar kepala”. Syukur jika tidak demikian. Tetapi mengingat media sosial menjadi ajang berbagai informasi, berbagi cerita, ajang adu pamer dan adu keunggulan maka baik pendeta dan jemaat juga tak mau ketinggalan. Kesempatan harus dimanfaatkan. Tetapi apakah karakter kita dapat terbangun dengan cara demikian?
Ada orang yang saat melayani tak tertarik untuk mempublikasikan pelayanannya seperti yang dilakukan oleh yang lain sampai meluap-luap. Sedangkan ada pula orang yang senang berbagi cerita tentang pelayanannya dan memberkati banyak orang. Lain pula dengan mereka yang hanya pamer pelayanan dan berharap mendapatkan pujian. Sudah pasti itu. Tetapi motivasinya kurang mantap. Karakter seseorang dapat terbangun bukan melalui publikasi personal dengan tujuan tertentu tetapi terbangun dengan publikasi oleh dan dari orang lain, orang yang meneladaninya.
Pada kasus tertentu, ada orang yang hanya mempublikasikan kebodohan dan keburukan moralitas. Mulutnya menjadi “besar” tatkala yang dibicarakan dan dipublikasikan adalah orang lain yang dijelek-jelekkan sedangkan otaknya mengecil. Perangainya terlihat jelas bahwa memang otaknya yang kecil terisi dengan hal-hal negatif dan berharap dialah yang tersuci dan terkudus seantero bumi. Apalagi jika orang model begini berstatus pendeta.
Celakanya, memang pendetalah yang sering mempertontonkan kebodohan dan keburukan moralitasnya. Yang dia pikir adalah bagaimana menghina orang dan jemaatnya menjadi penonton setia. Jemaat berkata: “Apa tidak salah dengan pendeta kami? Bukankah dia sering berkhotbah di kebaktian minggu dan kebaktian lainnya? Apakah pendeta kami masih waras dan sehat sedangkan ucapan mulutnya penuh sumpah serapah dan caci maki? Apa bedanya mulutnya dengan kloset? Gawat kalau begini terus pendeta kami. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana jalan keluarnya. Semoga Tuhan menghukumnya.” Mungkin seperti itulah curahan hati para jemaat dari berbagai tingkatan umur.
Karakter seseorang adalah surat terbuka. Setiap orang akan dengan mudah mencari alamat sang karakter sebab dari totalitas hidupnya sangat terlihat jelas kebaikan, kesantunan, kemurahan, dan kehangatan kasihnya. Membangun karakter adalah tindakan bijaksana dan memberi dampak yang luar biasa. Membangun karakter berarti kita memberi diri untuk belajar; belajar dari pengalaman, belajar dari orang lain, belajar dari Tuhan melalui firmanNya.
Karakter yang terbangun tampak dari beberapa hal berikut ini:
Pertama. Berjuang untuk terus membangun diri dalam hal kata, pikiran dan perbuatan selaras dengan kehendak Tuhan.
Kedua. Berjuang untuk terus mendorong dan menolong orang lain agar menemukan kebahagiaan.
Ketiga. Berjuang menjadi teladan dan panutan bagi orang lain. Pengaruh yang ditampilkan di depan umum adalah karakter yang solid dan mantap.
Keempat. Berjuang mewujudkan cinta kasih dan damai sejahtera di mana pun ia berada. Dengan cinta kasih dan damai sejahtera yang ditaburkan di lahan-lahan hati sesama, akan tercipta kerukunan dan rasa saling menghormati dan menghargai. Dengan demikian, kebencian dan caci maki reda dengan sendirinya.
Kelima. Berjuang melayani Tuhan dalam berbagai bidang kehidupan dan pekerjaan. Dengan bekerja yang baik kita menampilkan sosok yang pemurah dan kredibel. Dengan melayani kita menunjukkan kesetiaan dan ketaatan kita kepada Sang Khalik.
Keenam. Berjuang mempertahankan hidup dengan cara-cara yang sesuai prosedur. Mendapatkan keuntungan dari kerja keras menuntun seseorang menemukan kebahagiaan yang sejati. Mereka yang meraup dan mencari keuntungan dari cara-cara yang licik dan saling memperalat akan terjatuh ke dalam berbagai-bagai duka.
Ketujuh. Berjuang untuk berusaha mewariskan sesuatu yang bernilai tinggi kepada generasi berikutnya. Karakter seseorang yang baik mewajibkan dirinya untuk mewariskan sesuatu. Sebab dengan warisan yang bernilai tinggilah kita mendapatkan penghargaan yang tak ternilai harganya.
Membangun karakter ibarat menaiki anak-anak tangga. Proseslah yang akan membentuk seseorang hingga menjadi pribadi yang kuat dan solid. Kepadanya layak disematkan piagam penghargaan hidup yang dengan tulus dan rendah hati serta penuh kemurahan membangun diri sendiri dan orang lain. Para jemaat harus meneladani pendetanya dan pendeta juga perlu meneladani Tuhannya. Pendeta yang bermulut sampah layak ditinggalkan sedangkan pendeta yang bermulut pemurah layak diteladani. Karakterlah yang menentukan seperti apa diri kita yang sebenarnya. Dan seorang yang berkarakter baik dan solid, lihat pula sahabat-sahabatnya.
Mereka yang telah membangun karakter pasti memiliki sahabat-sahabat yang berkarakter sama. Pendeta yang berkarakter buruk, lihatlah pula sahabat-sahabatnya. Dari sahabat-sahabatnyalah kita dapat menilai seperti apa pendeta kita. Akhirnya, marilah membangun karakter sejak dini dan nantikanlah hasilnya di kemudian hari. Hanya mereka yang berhasil membangun karakter yang akan disebut berbahagia, sebab merekalah pelaku-pelaku firman Tuhan.
Kondisi kehidupan manusia seringkali menjadi alasan mengapa seseorang bisa tetap bertahan untuk mencintai kondisi tersebut, atau sebaliknya, seseorang justru meninggalkan kondisi yang bisa menyenangkannya seumur hidupnya. Dalam banyak kasus, ketika kondisi ‘kekayaan’ dirasa dapat memberikan nilai lebih bagi dirinya atau orang yang dikasihinya, maka ia bisa menetapkan untuk berpegang teguh pada kondisi tersebut. Artinya, kekayaan dapat mengikat seseorang untuk tetap setia kepada apa yang dikerjakannya.
Bertolak belakang dengan hal tersebut, ada pula orang yang berpikir melawan arus—berpikir sebaliknya—rela meninggalkan zona nyaman yang ia rasa dapat memberikan kesejahteraan lebih. Zona di mana ia nyaman dengan segala yang ia dapati: jabatan, kedudukan, gaji, dan sebagainya. Ini adalah kejadian yang langka. Seorang dengan gaji 1 milyar per tahun, rela meninggalkan pekerjaannya untuk tujuan yang lain—sebuah tujuan yang berlawanan dengan pola pikir kebanyakan orang. Ia memilih melayani Tuhan meski dengan gaji yang kecil. Tak mengapa, karena baginya, ia dapat berbagi dengan sesama dan menyenangkan hati Tuhan.
Berpikir melawan arus tidak hanya terjadi pada kondisi pekerjaan seseorang. Konteks ini dapat terjadi pula dalam bidang-bidang yang lain. Ketika seseorang (atau sekelompok orang) sibuk mempergunjingkan orang lain maka jangan berharap dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Jika tindakan tersebut dipelihara, justru malah dapat berpotensi mengerami kejahatan, kesombongan, dan kebencian yang siap menetas untuk bereksistensi melawan kebenaran dan kebajikan. Hasilnya adalah menetaskan pertikaian, perselisihan, perkelahian, kematian, dan caci maki tiada tara. Bahkan ia (mereka) hidup dalam kandang keberdosaan yang begitu kotor.
Pokok pelayanan Kristen tidaklah mengizinkan orang-orang yang bertelur kesombongan, kejahatan, dan kebencian untuk hidup bersama dengan orang-orang percaya. Mereka tidak termasuk dalam “gereja” yang mana di dalamnya adalah orang-orang yang telah ditebus dan rela meninggalkan keduniawian mereka. Kedamaian ada pada mereka. Tak mungkin Tuhan memberikan damai kepada mereka yang bermulut sampah, kotor, najis, dan suka mencaci. Tak ada harapan pada bibir mulut penuh sumpah serapah.
Pelayanan Kristen adalah pelayanan yang penuh tantangan sekaligus mengaharuskan penyangkalan diri, pelepasan kebebasan diri yang liar dan mau dibentuk oleh Tuhan menjadi pribadi yang mendatangkan sukacita dan berkat bagi sesamanya. Pelayan Kristen adalah mereka yang kesehariannya memuji Tuhan, bukan memuji manusia pendusta dan najis. Pelayan Kristen adalah mereka yang kesehariannya membicarakan kasih dan kuasa Tuhan, serta kebaikan-Nya.
Tuhan terlalu agung dan baik bagi mereka yang mengasihi-Nya. Tuhan Tuhan terlalu rendah bagi mereka yang meninggikan dirinya dan memegahkan diri. Tuhan terlalu aneh bagi mereka yang merasa hebat dan memiliki segalanya. Tuhan begitu hebat dan penuh kasih bagi pelayan yang setia.
Pelayanan Kristen adalah pengorbanan. Apa yang dikorbankan bukanlah untuk kehebatan diri, bukanlah untuk kemasyhuran diri, dan bukanlah menambahkan kemuliaan diri, melainkan berkorban supaya nama Tuhan dimuliakan. Mereka yang meninggalkan zona nyaman dan bertaruh hidup di ladang Tuhan, berlomba untuk menyenangkan hati Tuhan; mereka menabung (mengumpulkan) karya-karya bernilai kekal. Pelayanan Kristen berorientasi pada kekekalan. Apa yang mereka cari? Tentu bukan harta, melainkan jiwa baru yang dibawa kepada Tuhan. Apa yang mereka dapatkan? Tentu bukan harta kekayaan, melainkan semangat memberitakan Injil untuk terus menyuarakan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia. Segala sesuatu yang mereka terima, semuanya adalah anugerah dan kemurahan Tuhan.
Tak ada yang mereka banggakan untuk dipamerkan. Mereka yang selalu menuduh dan curiga kepada orang-orang yang tulus melayani Tuhan sebenarnya memupuk iri hati yang berlebihan. Mereka pikir bahwa apa yang mereka pikir tentu benar, padahal tidaklah demikian. Meski tantangan dan hambatan datang pada mereka yang melayani Tuhan dengan tulus hati, mereka tetap maju dan semangat. Tuhan menjaga sahabat-sahabat-Nya, menjaga mereka yang taat dan setia kepada-Nya. Mereka yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan duniawi, pastilah tidak memiliki waktu membicarakan kebaikan Tuhan; mereka terbuang dari hadapan Tuhan. Tetapi kita yang menetapkan diri untuk melayani Tuhan meski tantangannya berat, tak usah berkecil hati sebab Ia yang menjanjikannya adalah setia. Ia setia bukan sekadar setia, tetapi melindungi mereka yang tulus dan percaya kepada-Nya.
Pengorbanan yang telah dinyatakan sebagai bagian dari berpikir melawan arus, tentu akan berbuahkan hasil. Komitmen untuk setia kepada Tuhan bukan hanya di saat hidup serba ada, serba berlimpah, tetapi di saat hidup berkekurangan, mengalami tantangan dan hambatan. Para pelayan Tuhan dengan serta merta akan tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka; Tuhan tidak pernah berdusta akan janji-Nya. Ia begitu luar biasa melawat umat-Nya. Sekali Ia bertindak, dunia gemetar. Sekali Ia murka, para pendusta dan peleter serta penabur kebencian, akan tumbang, bertekuk lutut, atau bahkan terlempar dari muka bumi ini.
Para pelayan Tuhan tahu bahwa bukan kehendak mereka yang terjadi, melainkan kehendak Tuhan saja. Berpikir melawan arus adalah komitmen para pelayan Tuhan untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati. Mereka bangga tatkala mereka melayani.
Sungguh, Tuhan itu luar biasa. Ia tahu bahwa mereka yang berpikir melawan arus—berpikir untuk meninggalkan zona nyaman demi pelayan dan kesempatan mengajar orang lain—adalah mereka yang siap diberkati secara luar biasa. Mereka, meski menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Mereka yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih kebenaran Tuhan, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6).
Adakah kita ragu melayani Tuhan? Pastikan pilihan hidupmu untuk melayani Tuhan adalah sebuah komitmen yang teguh. Yakinlah bahwa Tuhan itu memperhatikan, memberkati, menyertai, dan menopang orang-orang pilihan-Nya, yang setia melayani di mana saja Ia utus. Melakukan kehendak-Nya adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman kita. Apa yang kita terima dari Sang Khalik seyogianya dibagikan kepada sesama. Kita dipanggil oleh-Nya untuk melayani dengang setia dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, sampai akhir hayat.
Jiwa agama dan sosiologi di Indonesia kurang lebih merepresentasikan pernyataan Karl Marx bahwa “agama adalah candu bagi masyarakat.” Pernyataan Marx memiliki dua implikasi: pertama, implikasi positif. Artinya, ketika masyarakat mengalami penindasan, tidak mendapat perlakukan yang layak dari dunia (pemerintah), kehilangan perasaan hidup, maka agama menjadi penyembuh luka-luka batin dan menawarkan kedamaian dan kesabaran. Masyarakat menjadi nyaman ketika agama berhasil men-”candu”-i mereka; kedua, implikasi negatif. Misalnya ketika masyarakat memasuki pesta demokrasi, isu agama akan seketika menjadi candu yang dapat membius penganut agama tertentu untuk menyatakan sikap protes, ketidaksetujuan, dan kebencian kepada mereka yang berbeda agama dengannya. Dan itu terjadi di Indonesia.
Dalam memahami agama, kita dapat meninjau beberapa aspek: pertama, aspek pengajaran; kedua, aspek tafsiran teologis; ketiga, aspek fenomenologis; keempat; aspek relasional; kelima; aspek pemahaman; keenam, aspek ritual; ketujuh, aspek cita-cita. Semua aspek ini dapat terjadi dan berkembang dalam kelompok sosial.
ASPEK PENGAJARAN berbicara tentang bagaimana manusia mengimplementasikan ajaran-ajaran Kitab Suci dalam relasinya dengan Sang Pencipta dan sesamanya. Pengajaran-pengajaran agama dalam berkembang menjadi perekat sekaligus pemisah dalam konteks relasi antar agama dan sosial masyarakat yang lebih masiv.
ASPEK TAFSIRAN TEOLOGIS sering memunculkan berbagai spekulasi pemikiran yang cenderung menyesatkan. Akan tetapi, gagasan tafsiran teologis perlu dikumandangkan asalkan tidak melenceng dari maksud asli Kitab Suci. Memang sulit merealisasikannya namun hal ini sangat perlu bagi kesinambungan keimanan pemeluk agama masing-masing.
ASPEK FENOMENOLOGIS diwujudkan dalam sejumlah empiris penganut agama yang mengulang berbagai fenomena yang terjadi di masa lampau. Tetapi, ada bahaya-bahaya yang dapat muncul ke permukaan ketika perubahan beradaban agama telah begitu terbuka bagi ilmu pengetahuan dan teknologi.
ASPEK RELASIONAL adalah hal-hal praktis yang dapat dipahami secara rasional tanpa memerlukan tafsiran teologis.
ASPEK PEMAHAMAN adalah aspek dasar bagi setiap orang beragama dalam mengkaji dan mengaplikasikan ajaran-ajaran dalam Kitab Suci.
ASPEK RITUAL merupakan aplikasi dari pemahaman keagamaan yang tertuang dalam bentuk ibadah, sembahyang, doa, dan sebagainya.
ASPEK CITA-CITA adalah perwujudan harapan agama-agama akan masa depan yang lebih baik. Apa yang dilakukan di masa kini dengan berangkat pada peristiwa historis dijadikan sebagai wacana (pemikiran) bahwa ajaran-ajaran agamanya tetap menjadi prioritas iman dan pemikiran dalam membentuk manusia menjadi berkarakter baik dan relasional.
Orang yang beragama secara prinsipil memiliki beberapa kelompok. Ada yang memahami agama secara artifisial (positif dan negatif). Ada yang memahaminya secara parsial (positif dan negatif). Ada yang memahaminya secara historis—radikal. Ada yang memahaminya secara historis—teologis. Ada yang memahaminya secara historis—aplikatif. Ada yang memahaminya secara harfiah. Ada yang memahaminya secara maknawi—relasional—humanis.
Franz Magnis Suseno menjelaskan, dalam tulisannya Karl Marx menyatakan bahwa pada dasarnya manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia. Agama adalah perealisasian hakikat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa manusia justru belum berhasil merealisasikan hakikatnya. Agama adalah tanda keterasingan dari dirinya sendiri. Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisioner (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), 72. Berangkat dari hal-hal tersebut, antropologi sosial agama berbicara mengenai tujuh hal yakni:
Pertama, MANUSIA YANG BERSOSIAL TERIKAT DENGAN SISTEM AGAMA YANG DIANUTNYA. Aspek-aspek normatif, moralitas, iman, ibadat, dan sebagainya, semuanya diatur dalam agama itu sendiri. Terikat dalam arti bahwa manusia perlu “mengikuti” pola historis yang tertuang dalam ajaran agama itu sendiri. Sebagai makhluk sosial, manusia berkesempatan memilih agama tertentu sebagai pilihan bebasnya atau dengan cara lain, sehingga kesinambungan konsep sosial agama dapat terus dijaga dan dilestarikan serta terus menjaga dan menciptakan perdamaian di lingkungan sosialnya.
Kedua, MANUSIA MEMILIKI TANGGUNG JAWAB SOSIAL TERHADAP SESAMANYA SEBAGAI PERWUJUDAN AJARAN AGAMANYA MASING-MASING. Konteks ini kadang lebih mengedepankan aspek-aspek kesamaan paham atau ideologi ketimbang adanya perbedaan dengan paham atau ideologi yang dipercaya dalam agama tersebut. Tetapi, pada faktanya, justru seringkali perbedaan agama tidak menjadikan seseorang atau kelompok sosial untuk menutup diri dan bersifat curiga melainkan turut mengimplementasikan ajaran agamanya sebagai ajaran yang baik yang dapat diuji ketika mereka berbuat kepada orang lain meski berbeda iman.
Ketiga, MANUSIA MEMILIKI TANGGUNG JAWAB UNTUK MENYEBARKAN AJARAN AGAMANYA. Dalam banyak kasus, konflik internal maupun eksternal dalam setiap agama muncul atau diakibatkan oleh aspek ini. Konflik antar agama, antar suku, antar ras seringkali dipicu karena ada pihak-pihak tertentu yang mau menonjolkan ajaran agama mereka tanpa memikirkan dampak yang timbuk karenanya. Kasus Ahok tahun 2017 lalu telah menyita perhatian masyarakat Indonesia yang berimbas kepada generalisasi bahwa Kristen itu kafir dan layak masuk neraka. Gagasan-gagasan sepihak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan telah merusak relasi antar agama dalam kelompok sosial. Dengannya, kita dapat bercermin bahwa meski manusia yang beragama memiliki kewajiban atau tanggung jawab dalam menyebarkan ajaran agamanya, tetapi ada konteks-konteks khusus yang perlu diperhatikan sehingga tidak menibulkan gejala-gejala kecurigaan atau gejala-gejala konflik antar agama dalam kelompok sosial.
Keempat, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP PENGEMBANGAN BUDAYA YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AGAMANYA. Agama dan budaya dapat saling berdampingan untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang mandiri, peduli, pekerja keras, dan rohani. Budaya-budaya yang ada di masyarakat perlu mendapat perhatian khusus dan melihat (menilainya) berdasarkan kacamata agama. Yang baik diteruskan, yang buruk ditinggalkan.
Kelima, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA TATANAN LINGKUNGAN (ALAM). Agama tidak hanya melulu berhubungan dengan Tuhan tetapi juga berhubungan dengan lingkungan. Mereka yang percaya kepada Tuhan tentu tahu bahwa alam semesta diciptakan Tuhan untuk didiami manusia. Tidak hanya mendiami alam, manusia diberikan tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan mengola lingkungan bagi keberlangsungan hayati mereka. Tanggung jawab manusia beragama justru kadang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak kurang beragama atau tidak beragama (secara resmi). Itu sebabnya, antroplogi sosial agama mengidentifikasi pokok-pokok persoalan manusia ke dalam berbagai kategori sehingga manusia dapat melihat dirinya berada pada kategori yang mana. Ketika manusia bertanggung jawab terhadap lingkungan, maka hal itu membuktikan bahwa ia sadar dan peduli terhadap hidupnya sendiri dan sesamanya.
Keenam, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB MEMPERTAHANKAN AJARAN AGAMANYA. Sudah menjadi kewajiban penganut agama untuk mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam konteks ini, keyakinan terhadap agamanya, menjadi sebuah pegangan hidup. Kehidupannya telah dibentuk oleh ajaran-ajaran agamanya, dan menjadi teladan dalam kata, pikiran, dan perbuatan. Ini telah menjadi sejarah bagi mereka yang telah berjuang mempraktikan ajaran-ajaran agamanya dan memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain dan keberlangsungan hayati orang banyak.
Ketujuh, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS DIRINYA SENDIRI BERDASARKAN AJARAN AGAMANYA. Manusia yang telah mempercayai ajaran-ajaran agamanya, bergerak, bertindak, berpikir, dan bertanggung jawab harus sesuai dengan ajaran-ajaran itu sendiri. Potensi diri dibarengi dengan keseimbangan dan pemenuhan ajaran-ajaran agamanya. Pribadi yang baik berangkat dari konsep agama yang baik pula. Akan tetapi, konsep “baik” menurut agama yang satu, berbeda definisi dan aktualisasinya (penerapannya) dengan agama lain. Tanggung jawab pribadi terhadap agama adalah hal umum terjadi di lingkungan masyarakat.