Setiap orang selalu menunjukkan “dicta” (perkataan-perkataan) dan “gesta” (perbuatan-perbuatan) dalam totalitas hayati humanitas yang dijalani. Ada yang suka berkata-berkata dan berbuat selaras dengan perkataannya; ada yang berbuat tidak selaras dengan perkataannya; ada yang berkata tetapi tidak melakukannya sama sekali. Firaun adalah contohnya. Dalam Kejadian 8:8, Firaun berjanji bahwa jika katak-katak itu dijauhkan TUHAN darinya, maka ia (Firaun) akan melepaskan bangsa Israel. Apa yang terjadi? Sampai tulah kesembilan, Firaun tidak melepaskan bangsa Israel.
Teks Keluaran 9:13-35 menjelaskan kelanjutan dari kekerasan hati Firaun (ketidakkonsistenannya) dengan tidak melepaskan bangsa Israel meskipun ia telah berjanji kepada Musa. Teks ini pula menjelaskan dua hal, teguran TUHAN melalui tulah “hujan es” dan “kekerasan hati Firaun”.
Pokok-pokok Penting
Pertama, frasa “Berfirmanlah TUHAN” menandakan bahwa Ia hendak menyatakan sesuatu (ay. 13). Frasa “Berfirmanlah TUHAN” kadang hanya dilewati begitu saja seolah-olah tidak ada apa-apa dengannya. Padahal, justru di situlah letak inti dari semua kejadian yang mengikutinya (bdk. ay. 22 “Berfirmanlah TUHAN” kepada Musa yang menjelaskan peristiwa turunnya tulah). Musa diperintahkan untuk bangun pagi-pagi, berdiri menantikan Firaun, dan mengatakan “Beginilah firman TUHAN”, biarkanlah umat-Ku ‘pergi’ supaya mereka ‘beribadah’ kepada-Ku. Perintah TUHAN yang ditujukan kepada Firaun sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk beribadah kepada TUHAN.
Kedua, tulah “hujan es” ditujukan kepada Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Tujuan diberikan tulah adalah supaya Firaun mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN di seluruh bumi. Maksud di balik tujuan tersebut adalah TUHAN hendak menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang hebat, berkuasa, berdaulat, berotoritas di antara ilah-ilah lain termasuk ilah yang dipercayai oleh Firaun. Di sini TUHAN sedang membandingkan—selain dari pada menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak—diri-Nya dengan ciptaan. Dalam konteks ini, memahami pribadi TUHAN bersumber dari dua hal yakni dalam kaitannya dengan ciptaan dan dalam kaitannya dengan ontologis (eksistensi personal TUHAN).
Ketiga, setiap tulah (tulah sebelumnya: air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah) hingga tulah ketujuh tidak menyadarkan Firaun akan teguran TUHAN. Dia ayat 27-28 Firaun menyesal tetapi untuk sementara waktu, sebagaimana Musa menegaskannya (ay. 30), bahwa Firaun dan para pegawainya, belum takut kepada TUHAN. Mengenai teguran TUHAN kepada Firaun juga dibuktikan dengan tulah-tulah berikutnya yang menyatakan bahwa Firaun masih belum sadar akan teguran TUHAN sebab di pasal 10-12 masih ada tiga tulah (belalang, gelap gulita selama tiga hari, dan anak sulung orang Mesir, mati). Bahkan, di ayat 34-35 dijelaskan bahwa Firaun dan para pegawainya, terus berbuat dosa, berkeras hati. Ia pun tidak melepaskan orang Israel pergi.
Kematian menyadarkan Firaun?
Hingga akhirnya, “kematian” menyadarkan Firaun (12:29-33). Teguran TUHAN melalui tulah-tulah (pertama sampai kesembilan) belum menyadarkan Firaun. Ia berkeras hati, ia terus berbuat dosa, ia terus tidak menepati janjinya untuk melepaskan bangsa Israel sebagaimana yang dikatakan Musa kepadanya. Dan pada akhirnya, pasca kematian anak sulungnya dan semua anak sulung rakyatnya, barulah ia sadar dan mengakui bahwa memang TUHAN orang Israel itu hebat.
Firaun sebenarnya banyak mendapat kemurahan dari TUHAN, hanya saja karena ia berkeras hati dan ingin menunjukkan kekuasaannya yang hanya secuil untuk menantang kekuasaan TUHAN atas seluruh bumi. Firaun malahan diberikan kesempatan sampai sembilan kali oleh TUHAN, tetapi ia membungnya dengan percuma.
Refleksi
Ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam.
“Keras hati” adalah sebuah frasa yang menegaskan bahwa niat seseorang untuk mengabaikan TUHAN, masa bodoh dengan teguran TUHAN, bahkan lebih dari itu, ada orang yang merasa “nyaman” dalam dosa, disimpan rapi dalam dirinya.
Jangan sampai kita asyik dengan dosa “keras hati” dan tidak mau berbalik kepada TUHAN (metanoia). Teguran TUHAN itu ada bermacam-macam. Tinggal bagaimana kita memahami dan memaknainya serta mengkorelasikan dengan apa yang telah kita buat selama ini. Sebagaimana kebaikan tidak pernah terbuang percuma, maka kejahatan juga tidak pernah terbuang percuma. Kebaikan yang kita buat akan dibalas oleh TUHAN, demikian juga dengan kejahatan.
Taburlah kebaikan selagi masih ada waktu. Buanglah keras hati dan masa bodoh terhadap TUHAN; jadilah pelaku-pelaku firman yang menyelaraskan antara dicta dan gesta seumur hidup kita. Amin.
“Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” – Daud, Mazmur 40:10 –
Pendahuluan
Orang Kristen yang sejati adalah pribadi yang memahami identitasnya, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Identitas, dalam pandangan umum merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan hidup, nilai etis-relasional, etis-edukasional, dan etis-spiritual yang paling dibutuhkan dan dianggap krusial. Betapa tidak, identitas seseorang akan memberi nilai kepada dirinya sendiri, memberi kekuatan kepercayaan dalam sebuah komunitas masyarakat mikro maupun makro.
Dalam konteks ini, identitas seseorang memainkan peran penting bagi suatu keberlangsungan hidup, bahkan sistem kepercayaan seseorang. Memahami identitas kita bukanlah merupakan perkara elusif (sukar), sebab setiap orang pasti tahu siapa dirinya sendirinya karena ia adalah makhluk yang berpikir. Identitas adalah bersifat inheren (melekat) dengan personalitas manusia. Jika ia inheren, maka tentu dapat dipahami dan diterapkan.
Melihat perkembangan zaman sekarang ini, dalam penilaian saya, identitas merupakan sesuatu yang hampir langka, mengingat maraknya kasus-kasus yang terjadi (korupsi, KDRT, pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, narkoba, pembunuhan) di berbagai bidang kehidupan manusia. Ada orang-orang yang mempertaruhkan identitasnya hanya demi sebuah “tujuan” yang menurutnya dapat menjadikan hidupnya lebih baik. Persoalan perebutan harta kekayaan gereja, perebutan kekuasaan, dan lain sebagainya, sering mengorbankan identitas. Pendeta tidak terkecuali. Bahkan ada pendeta yang begitu lihai dalam mempermainkan identitasnya, sampai-sampai ia lupa identitasnya tersebut.
Dalam pandangan Alkitab, identitas memiliki makna yang dalam. Identitas tersebut akan menampakkan siapa diri kita sebenarnya. Identitas bahkan merupakan “emblematic” (symbol) spiritualitas tatkala Tuhan menyebut kita sebagai “umat pilihan-Nya”, dan “biji mata-Nya”. Menyimak akan kutipan ayat di atas, saya menyoroti dan mengkajinya dari perspektif identitas sebab menurut saya, perkataan-perkataan Daud dalam pasal 40 tersebut, kental dengan berbagai wujud identitas yang semestinya kita pahami secara mendalam sehingga ketika secara tepat memahami identitas tersebut, maka dalam menerapkan konasi spiritualitas kita, tanpa ragu, kita dapat memberikan pengaruh positif bagi orang lain di mana pun kita berada.
Kajian Mazmur 40
Jika kita membaca secara keseluruhan, maka kita akan mendapati banyak hal yakni: apa yang TUHAN lakukan dan apa yang Daud lakukan. Di sini, penekanan saya terletak pada dua identitas yaitu identitas TUHAN dan identitas Daud. Identitas TUHAN terdiri dari dua hal yaitu siapa [diri] TUHAN dan apa yang dikerjakan TUHAN. Sedangkan identitas Daud juga terdiri dari dua hal yaitu siapa [diri] Daud dan apa yang dikerjakan atau dilakukan Daud. Dua orientasi identitas ini, akan menjadi kajian saya dalam tulisan singkat ini. Perlu dicatat bahwa ayat 10 yang telah saya kutip di atas tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari kedua identitas (TUHAN dan Daud) yang akan saya kaji kemudian.
Pertama: Identitas TUHAN
Seperti yang telah saya singgung di atas, bahwa orang Kristen adalah pribadi yang memahami identitasnya. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, seorang Kristen secara sadar harus memahami dan mengenai siapa TUHAN [identitasnya]. Dalam perjalanan hidup Daud, ia telah banyak bergumul dan berujuang melawan musuh-musuhnya yang mengejek dan menghinanya, bahkan menghina TUHANnya Daud. Tidak segan-segan pula, para musuhnya berikhtiar untuk membunuhnya dan menginginkan ia mati binasa selama-lamanya. Kisah hidpnya ia tungkan dalam bentuk tulisan yang kita sebut dengan “Mazmur”. Ia hidup mengalami pahit getirnya hidup. Ia terus mengandalkan TUHAN dan bersandar sepenuhnya kepada TUHAN. Dalam tulisan-tulisan Daud, ia memperkenalkan siapa TUHAN itu dan apa yang telah diperbuat-Nya. Berikut penjelasannya.
Siapa TUHAN
Mengenal dan memahami TUHAN, tidak dapat dicapai oleh pikiran dan pengetahuan manusia. Alasan klasiknya adalah “karena manusia terbatas”. Alasan tersebut ada benarnya, namun dalam keterbatasan manusia, kita juga perlu tahu bahwa itu juga adalah “hasil” ciptaan TUHAN. Dari sini kita berangkat dan memahami bahwa “TUHAN itu adalah Pencipta”. Sebagai Pencipta, Ia memiliki hak atau kedaulatan penuh atas ciptaan-Nya. Dengan begitu, Ia dengan kehendak-Nya sendiri dapat “memperkenalkan” diri-Nya kepada manusia yang terbatas itu. Kekristenan percaya bahwa manusia tidak bisa dapat mengenal TUHAN tanpa Ia memperkenalkan – atau sebutan normatifnya adalah: “mewahyukan diri-Nya” – kepada manusia. Alasan ini bersumber dari Alkitab – firman Allah.
Dalam pasal 40 kitab Mazmur, Daud memperkenalkan identitas TUHAN kepada kita. Saya menyebutkannya berikut ini:
(a) TUHAN itu lebih tinggi dari siapa pun dari segala ciptaan-Nya (ay. 6, tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau). Itu berarti, Ia tidak ada bandingan dan tandingan-Nya. Hal ini dapat dipahami sebagai konsekuensi logisnya.
(b) TUHAN itu mahatahu. Ia mengetahui apa pun di dunia ini (ay. 10, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN) (bdk. Mzm 37:18; 38:10; 39:5; 44:22; 69:6; 94:11; 139:2; 142:4; 103:14).
(c) TUHAN itu Pengasih, Penolong, adil, penuh rahmat, setia, dan sumber keselamatan kebenaran (ay. 11, keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatika, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan….). Ayat berbicara mengenai “apa yang diterima Daud dari pada TUHAN”, dan apa yang diterimanya itu, ia “lakukan” secara bertanggung jawab. Keadilan tidaklah disembunyikan Daud. Artinya, TUHAN itu telah berlaku adil kepadanya, dan ia juga harus berlaku adil kepada orang lain. Dengan demikian, semua yang telah diberikan TUHAN yakni yang telah disebutkan di atas, harus menjadi bagian integral dalam diri Daud yang patut dikerjakan (dilakukan) dalam sepanjang hidupnya.
Selain itu, “Keadilan adalah salah satu atribut Allah yang paling menonjol dalam Alkitab. Berkali-kali Allah diperlihatkan sebagai suara keadilan, khususnya dalam kitab para nabi (Yes. 28:6; 51:4-5; 61:8; Yer. 9:24; 21:12; Yeh. 34:16). Segala jalan Allah adalah adil: ‘Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia’ (Ul. 32:4; lih. Juga Neh. 9:13, 33; Yes. 58:2; Yoh. 5:30; 2 Tes. 1:6). Orang benar dipanggil untuk mencerminkan keadilan Allah, sebab Tuhan mengasihi oran adil (Mzm. 37:28)” (Leland Ryken, James C. Wilhoit, dan Tremper Longman III, The Dictionary of Biblical Imagery. Kamus Gambaran Alkitab, terj. Elifas Gani, Grace Purnamasari, Irwan Tjulianto, dan Peter Suwadi Wong [Surabaya: Momentum, 2011], 12). Pernyataan yang bersifat biblis ini, selaras dengan pernyataan Daud “Aku mengabarkan keadilan.”
(d) TUHAN itu [maha] besar (ay. 17, … TUHAN itu besar). TUHAN itu besar berarti Ia tidak dapat dipahami, dijangkau, dan dimengerti oleh akal budi manusia (bdk. Mzm 40:6; 139:17). Tidak hanya pribadi-Nya saja, tetapi sifat-sifat-Nya (atau atribut-atribut-Nya), dan semua pekerjaan TUHAN itu besar. Jadi, pengakuan Daud bahwa TUHAN itu besar berarti mencakup totalitas diri, sifat, kuasa, dan karya TUHAN.
Beberapa bukti bahwa TUHAN itu besar yang mengacu pada pribadi-Nya, sifat-sifat-Nya, kuasa, dan karya-karya-Nya: Mzm 96:4 Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah (lih. Mzm 99:2; 135:5; 35:27; 95:3; 96:4). Mzm 70:5 Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: “Allah itu besar!” (lih. Mzm 77:14; 86:10; 104:1). Mzm 5:8 Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau (lih. Mzm 57:11; 69:14; 86:13). Mzm 18:51 Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya…. Mzm 47:3 Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (lih. Mzm 48:3). Mzm 51:3 Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! (lih. Mzm. 69:17). Mzm 66:3 Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Mzm 71:19 Keadilan-Mu, ya Allah, sampai ke langit. Engkau yang telah melakukan hal-hal yang besar, ya Allah, siapakah seperti Engkau? Mzm 99:3 Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Mzm 108:5 sebab kasih-Mu besar mengatasi langit, dan setia-Mu sampai ke awan-awan. Mzm 111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Mzm 126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Mzm 136:4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Mzm 138:5 mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN. Mzm 145:8 TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
Apa yang dikerjakan [karya] TUHAN
Dalam keseluruhan pasal 40, Daud memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan TUHAN, termasuk pekerjaan TUHAN yang dapat ia rasakan semasa hidupnya: Ia menjenguk dan mendengar (ay. 2); mengangkat, menempatkan, dan menetapkan (ay. 3); memberikan (ay. 4); melepaskan dan menolong (ay. 14, 18); memperhatikan dan meluputkan (ay. 18). Semua pekerjaan TUHAN berbentuk kata kerja. Itu berarti bahwa TUHAN aktif dalam memelihara, menjaga, menopang, memperhatikan, menolong, mengawasi dan memberikan berkat-berkat-Nya kepada umat pilihan – umat yang berserah dan bersandar kepada-Nya. mungkinkah TUHAN pasif? Sangat tidak mungkin. Daud tahu siapa TUHAN.
Kedua: Identitas Daud
Daud adalah seorang raja yang besar dan hebat. Ia adalah raja pilihan TUHAN dan bukan manusia. Dengan demikian, ia harus bertanggung jawab penuh kepada TUHAN semasa pemerintahannya dan semasa hidupnya. Ia harus mewariskan segala sesuatu yang dia alami bersama dengan TUHAN kepada keturunannya dan kepada kita sekarang ini melalui sebuah kitab. Dalam pasal 40, identitas Daud sangat unik, padahal ia adalah seorang raja yang hebat dan diurapi TUHAN. Meskipun demikian, ia tetap tidak patah semangat dan mau meninggalkan TUHAN tetapi dalam identitasnya tersebut, ia terlibat begitu kuat dalam mempertahankan imannya kepada TUHAN.
Siapa Daud
Daud mengidentifikasikan dirinya sebagai berikut: ia terlihat sebagai seorang yang penuh pergumulan sehingga mengancam nyawanya (ay. 2-3); ia terlihat sebagai seorang yang memiliki kerinduan memuji Allah di tengah himpitan pergumulan, tekanan, dan masalah (ay. 4); ia terlihat sebagai seorang yang kuat kepercayaannya kepada TUHAN, dan konsisten dengan apa yang ia yakini. Ia tidak mudah terpengaruh meskipun dalam kondisi yang sangat terdesak sekalipun (ay. 5); ia terlihat sebagai seorang melakukan pekerjaan, tahu melihat pekerjaan dan bahkan merasakan kuasa TUHAN (ay. 6-11); ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang yang sengsara dan miskin (NKJV, AV, ESV, dan RSV menerjemahkan ‘poor’ [malang, sial, miskin] dan ‘needy’ [miskin]).
Apa yang dikerjakan Daud (terkait dengan hubungannya dengan TUHAN dan identitas TUHAN)
Daud menyebutkan hal-hal yang ia lakukan (dalam pasal 40), di mana identitasnya sebagai hamba TUHAN memberinya kesadaran penuh untuk dapat melakukannya meskipun dalam tekanan berat sekalipun dan nyawanya menjadi taruhnnya. Di samping itu, ia juga menyandarkan diri kepada TUHAN dalam menjalani dan menggumuli segala persoalan yang ia hadapi. Dalam pasal 40, ia memperlihatkan dirinya, memperlihatkan tanggung jawabnya, dan mempelihatkan TUHAN yang bertindak.
Berikut segala tindakan Daud: ia sabar menantikan pertolongan TUHAN (ay. 2); ia memuji Allah (ay. 4); ia percaya kepada TUHAN dan konsisten (ay. 5); ia melakukan kehendak dan Taurat TUHAN (ay. 9); ia memberitakan [melakukan] keadilan (ay. 10); ia membicarakan keadilan, kesetiaan, keselamatan, kasih, dan kebenaran TUHAN kepada orang banyak (ay. 11); ia setia kepada TUHAN dalam kondisi apa pun (ay. 13-18).
IDENTITAS KRISTEN
Di atas telah saya sebutkan identitas Daud di mana dalam pergumulan dan perjuangannya menjalani hidup yang penuh tantangan, hambatan, ancaman, dan sebagainya, ia tetap menunjukkan identitasnya di hadapan TUHAN dan sekaligus ia dengan penuh semangat dan kerendahhatian memperkenalkan identitas TUHAN. Tidak biasanya– ketika kita diperhadapkan dengan kondisi dan situasi yang sangat mencekam, nyawa kita terancam, harga diri kita tercoreng, integritas dan iman kita dipertaruhkan – lalu kita menunjukkan identitas kita sekaligus menunjukkan identitas TUHAN.
Dalam kondisi yang demikian, kita justru makin jauh dari identitas kita yang sebenarnya. Bahkan TUHAN pun tidak lagi menjadi prioritas kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dan sulit untuk diselesaikan. Namun, sebesar apa pun ujian bagi hidup kita, jangan melupakan TUHAN. Sehebat apa pun musuh kita, jangan lupa bahwa TUHAN lebih hebat – Ia tak tersaingi, tak terkalahkan, dan terbandingkan. Identitas Kristen akan menjadi semakin kuat dan bernilai ketika itu dibawa ke ranah relasi dan konatif. Seperti kata Rasul Yakobus: “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (2:17); “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (2:26).
Identitas terbaca ketika manusia berelasi dan berperilaku (konatif). Identitas memberi pengaruh ketika manusia berelasi dan berperilaku. Daud menunjukkan identitasnya dalam bentuk relasi dan konatif. Ia berelasi dengan TUHAN karena ia tahu identitasnya dan identitas TUHANnya. Bahkan identitas musuhnya ia juga tahu. Tetapi ia lebih mengutamakan identitas TUHAN disbanding yang lain karena ia tahu hanya TUHANlah yang sanggup menyelamatkannya, meluputkannya, membebaskannya dari jerat maut dan malapetaka bahkan ancaman musuh-musuhnya.
Relasi kita dengan TUHAN menjadikan identitas kita semakin kuat dan kita diberkati. Relasi kita dengan sesama manusia menjadikan identitas kita bernilai dan membangun orang lain – memberikan pengaruh positif dalam setiap komunitas di mana pun kita berada. Konatif kita di hadapan TUHAN menunjukkan ketataan dan kesetiaan kita kepada kehendak dan perintah TUHAN yang termaktub dalam Alkitab. Perilaku kita di hadapan TUHAN membentuk karakter kita menjadi semakin baik, semakin rohani, dan semakin memperkokoh iman. Perilaku kita di hadapan manusia membentuk relasi sosio-spiritual dalam menjalin hubungan keakraban, menunjukkan cinta kasih yang murni, kebenaran dan keadilan TUHAN diperbincangkan dan diberitakan sehingga orang lain dapat mengenal dan percaya kepada TUHAN.
“MENGABARKAN KEADILAN”: IDENTITAS ETIS-YURIDIS
Secara khusus, ayat 10 yang berbunyi: “Aku mengabarkan keadilan” menjadi arti yang kuat bagi identitas Kristen. Mengabarkan keadilan membutuhkan objek, dan Daud menulis, “dalam Jemaah yang besar”. Alasannya sederhana, bahwa karena Allah itu adil, dan Dia telah menyatakan keadilan-Nya, maka ‘saya’ harus berlaku adil. Daud pun menegaskan bahwa “tidak kutahan bibirku”. Berarti kerinduan yang tinggi akan keadilan yang harus dikabarkan, diberitakan, dilakukan, menjadi sifat konatif mutlak dari seorang hamba TUHAN, kapan pun dan di mana pun.
Paul Enns menegaskan, “Keadilan Allah berarti bahwa Allah secara keseluruhan benar dan adil dalam semua urusan-Nya dengan umat manusia; lebih dari itu, tindakan keadilan ini sesuai dengan hukum-Nya. Hukum Allah merefleksikan standar Allah, maka Allah adalah benar dan adil pada waktu Ia menghakimi manusia pada waktu mereka melanggar hukum Allah yang diwahyukan” (Paul Enns, The Moody Handbook if Theology, alih bahasa Rahmiati Tanudjaja [Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003], 240). Daud telah belajar banyak dari TUHAN soal keadilan. Jika ia mau menyatakan keadilan yang adil, maka ia harus mencari sumber keadilan yang paling adil yakni TUHAN.
Seperti yang diungkapkan Cornelius van Til, “Allah mendistribusikan keadilan di antara manusia dan pada akhirnya akan mendistribusikan keadilan seutuhnya di antara mereka. Dia menghukum ketidakadilan dan memberikan imbalan kepada keadilan. Jika menginginkan adanya keadilan di dalam dunia orang-orang berdosa, keadilan itu dengan demikian harus diberikan kepada mereka. Ini pastilah merupakan karunia dari anugerah Allah (Cornelius van Til, Pengantar Theologi Sistematik: Prolegomena, dan Doktrin Wahyu, Alkitab, dan Allah, ed. Edisi bahasa Inggris Willam Edgar, terj. Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2010], 444).
Keadilan versi dunia telah terkontaminasi dengan dosa dan kerusakan manusia, meskipun tetap ada usaha untuk adil. Namun masih ada “keadilan” yang sifatnya bisa mengambang dan bahkan menciptakan ketidakadilan itu sendiri. Sedangkan keadilan versi TUHAN, adalah keadilan di atas semua keadilan, supremasinya mengungguli semua keadilan yang manusia buat dan usahakan. Tentu Daud mengabarkan keadilan bukanlah keadilan dari dirinya sendiri tetapi keadilan “hasil” dari persekutuannya dengan TUHAN.
Catatan: artikel ini pernah diterbitkan di salah satu jurnal sekolah tinggi teologi.
BERDASARKAN PANGGILAN (tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya)
Abraham “dipanggil” Tuhan untuk bekerja bagi Dia.
Panggilan tersebut mengarahkan Abraham untuk taat, setia, dan tunduk kepada Tuhan. Jika bukan karena panggilan Tuhan, mungkin Abraham tidak akan patuh dan taat pada perintah Tuhan.
KEDUA:
MEMILIKI KERINDUAN BERBAGI “berkat”: potensi, pengetahuan, sikap hidup
Pelayanan tak mungkin tanpa potensi, pengetahuan dan sikap hidup, sebab ketiganya merupakan fakta yang paling mendasar dari mereka yang turun ke ladang pelayanan.
Potensi digunakan untuk bekerja, mengembangkan pelayanan.
Pengetahuan digunakan untuk mengajarkan hal-hal yang benar, kasih Tuhan, pengampunan dan keselamatan dari Tuhan.
Sikap hidup adalah finalisasi dari potensi dan pengetahuan. Sikap hidup seorang pelayan haruslah berpadanan dengan Alkitab.
KETIGA:
MENGANDALKAN TUHAN dalam segala hal (mengutamakan Dia untuk melakukan segala sesuatu dalam pelayanan.
Tidak ada jaminan bahwa pelayanan kita akan mulus dan tanpa tantangan. Oleh karena itu, kita harus bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Di sini, kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Dialah yang memberikan kuasa dan kemampuan kepada kita untuk melayani, menghadapi segala tantangan dan hambatan yang datang.
Karena kita melayani ‘Tuhan’ di hadapan manusia, maka kita harus mengandalkan Dia. Dialah yang memberikan kekuatan, waktu, kesempatan, perlindungan, pemeliharaan, dan penghiburan dalam segala situasi saat kita melayani-Nya
KEEMPAT:
MEMAHAMI FIRMAN-NYA dengan baik dan bertanggung jawab (pengajaran [doktrin], pemahaman tentang karya Allah, keselamatan, dan penebusan).
Tak ada pelayanan tanpa pemberitaan firman Tuhan. •Firman Tuhan adalah dasar iman dan perbuatan kita. Pemahaman yang baik terhadap firman-Nya memberi kita tanggung jawab yang besar untuk terus mengabarkannya
KELIMA:
TETAP SETIA
Kesetiaan itu mahal harganya.
Melayani tanpa kesetiaan [kepada Tuhan] bukanlah pelayanan yang sesungguhnya, bahkan mengabaikan “panggilan” dari Tuhan.
Kesetiaan berarti tetap konsisten pada janji dan pengakuan iman bahwa kita terpanggil untuk melayani manusia di hadapan Tuhan dan melayani Tuhan di hadapan manusia.
Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Purnama Pasande, Pelayan Muda yang Berhasil
“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.
Hampir sekitar 4000 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, diundang untuk menghadiri acara PERTEMUAN PIMPINAN PERGURUAN TINGGI SE-INDONESIA dengan tema “AKSI KEBANGSAAN PERGURUAN TINGGI MELAWAN RADIKALISME, di mana dalam kegiatan tersebut dihadiri Bapak Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Pertemuan itu membahas isu dan agenda kebangsaan dalam menghadapi arus radikalisme dan terorisme “berwajah agama” yang “membonceng agama” dalam ideologi separatisnya. Pertemuan diadakan di Nusa Dua Bali tanggal 25-26 September 2017.
Ada yang menarik dari pertemuan tersebut di samping isu-isu terorisme berwajah agama dan isu kebangsaan dalam wadah musyawarah dan kebersamaan. Hal menarik itu adalah diundangnya Purnama Pasande, M.Th. selaku Ketua Sekolah Tinggi Teologi STAR’S Lub Luwuk Banggai yang mewakili deretan Sekolah-sekolah Arastamar dalam wadah PRESTASI (Perhimpunan Sekolah-Sekolah Tinggi Arastamar Setia Indonesia). Arastamar yang dulu pernah diuji coba untuk dibumihanguskan oleh mereka yang berlatar “infeksi moralitas” kini membuahkan hasil dan menorehkan sejarah bahwa Arastamar layak diacungi jempol.
Di tengah maraknya hasutan, hinaan, cacian, dan upaya merusak nama baik pendiri Arastamar, yaitu Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., Ketua STT STAR’S Lub, Purnama Pasande sebagai anak didik dan asuhan Pendeta Matheus Mangentang justru memunculkan sebuah cahaya gemilang di level nasional – dan bahkan level internasional. Dengan diundangnya Purnama Pasende selaku ketua STT STAR’S Lub, menambah daftar panjang prestasi yang ditoreh oleh anak didik dan asuhan Pendeta Matheus Mangentang. Hampir semua pimpinan perguruan tinggi dalam wadah PRESTASI dipimpin oleh anak-anak muda. Purnama Pasande adalah salah satunya, dan menjadi pemimpin termuda di level nasional dalam wadah PRESTASI. Saya menyebut rekan-rekan saya yang memimpin perguruan tinggi yang adalah buah dari pelayanan Pendeta Matheus Mangentang: Sensius Amon Karlau, Jeffrit K. Ismail, Jansakti Saddu Saly, Jimmy Novianto, Narsing L. Marriba, Aris D. Rimbe, Marinus Gulo, Terah Y. Manu, Yos Adoni Sesatonis, Nataeli Gea, Yusuf L. Marriba, Yahya Mailani, dan lain-lain.
Apa yang dapat dilihat dari perwakilan Arastamar oleh STT STAR’S Lub di tanah Bali? Selain mengikuti kegiatan sebagai agenda resmi, bendera sebagai lambang identitas STT STAR’S Lub ditancapkan di tanah Bali di antara ribuan bendera perguruan tinggi seluruh Indonesia. Di bendera tersebut tergambar “salib”. Maknanya adalah “kasih Yesus memungkinkan kita melakukan hal-hal yang pernah kita pikirkan.” STT STAR’S Lub sebagai bagian dari Arastamar telah membuktikan bahwa meski sering dipandang sebelah mata, toh akhirnya buah pekerjaan yang membuktikannya.
Lagipula, sosok Purnama Pasande dapat disebut sebagai pelayan dan pemimpin muda yang berhasil. Ia mewujudkan berbagai kegiatan di Kampus STT STAR’S Lub sebagai bukti bahwa sekolah tersebut memiliki keragaman kegiatan yang mengundang rasa kagum dari masyarakat Luwuk, meski di satu sisi, nama beliau menjadi pergunjingkan di Kota Luwuk dalam konteks pendidikan tinggi. Beliau yang masih tergolong muda, tidak membuat dirinya dihambat oleh tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh untuk menghambatnya, malahan justru tumbuhan-tumbuhan penghambat itu, lambat laun mulai layu.
Kehadiran Purnama Pasande di tanah Bali sebagai perwakilan dari wadah PRESTASI membuat rekan-rekannya turut berbangga hati. Merasakan bahwa Arastamar semakin merambatkan akarnya, memunculkan semangat baru bagi rekan-rekan untuk terus berprestasi meski hambatan datang silih berganti. Pendeta Matheus Mangentang tentu bangga melihat anak-anak didiknya berhasil di usia muda. Sebagai orang tua, beliau sangat dihormati oleh anak-anak didiknya yang berhasil memimpin sekolah tinggi. Yang lain sibuk menjatuhkan beliau, anak-anaknya justru terus mengangkat beliau dengan buah karya yang tidak main-main.
Arastamar yang terus berbuah di mana-mana membuktikan bahwa visi yang beliau sosialisasikan dan tanamkan di hati para alumni SETIA telah berbuahkan hasil. Purnama Pasende sebagai anak muda juga telah membuktikannya. Tak mudah menjadi pemimpin. Tetapi ketika pola kepemimpinan dinikmati dengan penuh rasa percaya diri, kredibel, dan integritas, kepemimpinan dilakukan ibarah berselancar di atas ombak hambatan duniawi. Ada makna di balik keberhasilan kepemimpinan Purnama Pasande. Beliau yang selalu sibuk dengan kegiatan kampus untuk menggali potensi para mahasiswa, kini ia pun dihargai oleh lembaga-lembaga lain dalam bentuk diundang sebagai pembicara di berbagai acara di kota Luwuk. Ia pun terus menggali potensi kepemimpinannya dengan belajar dan belajar.
Sebagai sahabat dan rekan kerja, saya pun turut berbangga hati atas keberhasilan yang diraihnya. STT STA’RS Lub yang dipimpinnya telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) baik Program Studinya maupun Institusinya. Ini justru sangat membanggakan. Ada lain yang lebih membanggakan. Purnama Pasande telah meluluskan mahasiswa hingga angkatan yang ke-6 yang diselenggarakan dalam acara Wisuda ke-6 dan Dies Natalis STT STAR’S Lub ke-10 tanggal 27 September 2017 dengan tema: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mazmur 136:1), di mana saya dipercayakan menyampaikan orasi ilmiah untuk menggantikan Pendeta Matheus Mangentang.
Masih ada lagi prestasi yang dicapai dan ditorehkan Purnama Pasande. Namun yang saya catat di sini hanyalah beberapa di antaranya. Jika ingin menyusun daftar prestasi, bisa langsung berkomunikasi dengannya atau langsung berkunjung ke Kampus STT STAR’S Lub di Kota Luwuk. Sembari memberikan dukungan bagi peningkatan kualitas dan pengembangan ke depannya. Percayalah, “ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata.” Itulah yang dialami Purnama Pasande. Dulu beliau dipandang sebelah mata, kini ia dipandang dengan dua mata.
Sebagai penutup dari catatan singkat saya, tak lupa pula saya menyampaikan terima kasih kepada Purnama Pasande di mana beliau telah memberikan testimoni pada kamus saya. Saya mengutipnya: “KamusMulti Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa ini merupakan karya yang mengagumkan oleh karena menjawab kebutuhan para dosen/guru dan siswa/mahasiswa dalam mengajar dan belajar.” (Purnama Pasande, M.Th., Ketua [termuda] STT STAR’S LUB Luwuk Banggai Sulawesi Tengah). Testimoni tersebut ditulis tahun 2013. Itu berarti, beliau berumur kurang lebih 28 tahun. Waktu memimpin STT STAR’S Lub tahun 2007, Purnama Pasande berumur 22 tahun (kelahiran 1985). Beliau masih sangat muda, tetapi memiliki potensi untuk memimpin meski harus dimulai dari awal. Ia telah membuktikan bahwa apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya, telah ia kerjakan dan akan terus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.
Intinya, bendera STT STAR’S Lub yang berkibar di tanah Bali, mengungkapkan makna bahwa orang yang dipakai Tuhan pasti diberkati. Diberkati tidak melulu materi, tetapi sering bertentuk karya, kepercayaan, jabatan, harkat dan martabat yang dimuliakan, dan lain sebagainya. Sebagai Pelayan dan Pemimpin Muda yang berhasil, ada banyak agenda yang telah ia siapkan untuk kemajuan dan peningkatan mutu (kualitas) STT STAR’S Lub. Kami dan rekan-rekan siap menanti gebrakan baru dari sosok Purnama Pasande, “Yang Muda Yang Berani Menembus Batas.”
Sukses selalu dalam karya dan kepemimpinan. Tuhan Yesus Memberkati kita semua, pelayan yang setia hingga akhir. Jayalah Arastamar di bumi Nusantara tercinta.
Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Jeffrit K. Ismail: Pemimpin yang Bepikir Cepat, Bergerak Cepat
“Tulisan ini diterbitkan beberapa tahun lalu di Facebook saya. Jika ada perubahan konteks dalam di masa sekarang, bukan berarti apa yang dituangkan dalam tulisan singkat ini adalah salah, melainkan hanya karena adanya perubahan situasi dan kondisi”
“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.
Ketika misi tertancap kuat di hati, maka segera pekerjaan nyata ada hasilnya. Inilah yang dikerjakan oleh Jeffrit K. Ismail, pemimpin muda berdarah Rote. Dengan berbekal pengalaman melayani di berbagai pedalaman Papua bersama rekannya, Sensius Karlau, Jeffrit menunjukkan bahwa pengalaman di berbagai pedalaman tersebut, tidaklah sia-sia. Ia kemudian “banting stir” (tepa di bok) dan masuk ke dunia pelayanan pendidikan.
Ia masih tergolong muda, sama halnya dengan “Anak-Anak Arastamar” lainnya seperti Gihon, Purnama, Jansakti, Sensius, Yopi, Yosia, Adi, James, Heri, Yahya, dan lainnya (yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu), tetapi semangat melayani begitu tinggi—tak sebanding dengan mereka yang hanya memburukkan nama “Arastamar” dan berharap Arastamar lenyap. Mereka—yang adalah pengganggu dan perusak pelayanan Arastamar tentu tidaklah menyurutkan motivasi pelayanan dari Anak-Anak Arastamar, dan Jeffrit salah satunya.
Ia melayani di bidang pendidikan di tanah Papua bersama Sensius dengan tujuan membangun masyarakat Papua dan mengharapkan bahwa akan berkembangnnya perekonomian dan tingkat pemikiran yang mapan, mumpuni, konstruktif, dan aplikatif. Dengan segudang pelayanan bersama rekannya, Jeffrit menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk bersaing di dunia pendidikan.
Tak kalah penting dari itu, Jeffrit dikenal dengan berbagai gagasan yang mendasar di bidang pendidikan. Pelayanan ini telah dibuktikan dengan dibentuknya SMTK Firdaus Jayapura di Grimenawa dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenewa. Kepiawaian dalam bekerja mencuatkan sejumlah opini bahwa memang sahabat saya yang satu ini layak disebut sebagai seorang “Pemimpin yang Bepikir Cepat, Bergerak Cepat”. Nyatanya, hasil goresan tangannya dan didukung oleh rekan-rekannya yang memiliki spirit dan kerja keras, menghasilkan akreditasi bagi STAK Arastamar Grimenewa. Bukankah ini adalah perjuangan yang luar biasa?
Bercermin dari hal ini, saya semakin menyadari bahwa “Anak-Anak Arastamar” didikan dan arahan Bapak Pendeta Matheus Mangentang, semakin di depan mengalahkan motor Yamaha. Anak-Anak Arastamar adalah anak-anak desa yang sederhana tetapi memiliki pemikiran yang perlu diperhitungkan. Mereka yang hanya iri kepada Anak-Anak Arastamar hanyalah menyisahkan duka yang mendalam karena tak tahu harus berbuat apa. Mereka yang tidak giat bagi pekerjaan Tuhan hanyalah sibuk mengganggu dan merusak pekerjaan Tuhan. Anak-Anak Arastamar akan selalu membuktikan komitmen pelayanan (melayani Tuhan) dan bahkan menyingkirkan orang-orang yang mengganggu pekerjaan Tuhan.
Jeffrit siap menggulingkan “batu raksana pendidikan” yang akan melindas mereka yang hanya pintar bicara tapi otak “tra ada isi”. Ia telah membuktikan bahwa pelayanan yang dirintis di tanah Papua bersama rekan-rekannya telah membuahkan hasil. Yang pasti, dari fakta ini, menambah deretan prestasi “Anak-Anak Arastamar” yang patut dibanggakan.
Saya sendiri menaruh respek terhadap beliau. Bagi saya, apa yang telah dihasilkan dari pelayan kita seyogianya “memuliakan Tuhan”—dan itu telah terbukti. Jeffrit, dengan kepiawaiannya dalam mengolah “masakan dan bumbu-bumbu pendidikan” membangkitkan semangat juang bagi rekan-rekan saya yang akan melakukan hal yang sama pada institusi yang mereka pimpin.
Saya berharap, kita semua dapat bergandeng tangan untuk memajukan misi di tanah Papua sebagai bukti bahwa kita mengasihi mereka sebagaimana Yesus mengasihi mereka. Saya sendiri kagum dengan Jeffrit atas prestasi yang telah dicapainya. Dan dari fakta ini, tentunya berbagai pemikiran dan gagasan ideal bagi dunia pendidikan akan terus digulirkan dan dikembangkan bagi kemajuan Arastamar yang kita cintai. “Jikalau bukan kita yang memberitakan Injil, lalu siapa lagi? Jikalau bukan kita yang melayani Tuhan di bidang pendidikan, siapa lagi? Jikalau Tuhan sudah memberikan talenta dan potensi diri yang luar biasa kepada kita, masihkah kita melalaikannya?
Bekerjalah selagi ada waktu. Jangan bersantai-santai. Anak-Anak Arastamar adalah bukti dari kepedulian terhadap saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan kita—dan Grimenawa telah menerima sentuhan tangan Tuhan melalui hambaNya, Jeffrit Ismail, yang telah membangun sekolah-sekolah sebagai bagian dari kepeduliannya. Marilah bekerja, selagi masih siang.
Semoga catatan singkat ini dapat menjadi pendorong semangat bagi kita semua untuk semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama yang diwujudkan melalui dunia pendidikan.
Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Sensius Amon Karlau: Pemimpin Kecil, Bernalar Besar
“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.
Sahabat yang satu ini tergolong unik. Apa yang unik? Uniknya adalah meski ia berbadan kecil tetapi memiliki penalaran yang besar. Sensius Amon Karlau, pemimpin muda berdarah Alor ini, masuk dalam daftar “ANAK-ANAK ARASTAMAR” yang sukses dan berhasil. Sensius Karlau adalah kakak tingkat saya di SETIA. Beliaulah yang membawa saya dan rekan-rekan ke tanah Papua untuk menjalani masa pelayanan selama satu tahun. Dari tangan beliaulah, hasil misi di tanah Papua terus berkembang.
Arastamar pertama kali menancapkan misinya (secara khusus bidang pendidikan), di Kota Merauke tahun 2005. Dengan rekan-rekannya, Sensius Karlau memustuskan untuk membuka sekolah tinggi teologi. Misi terus berlanjut. Beliau sebagai tenaga survei [lapangan] dari salah satu yayasan, telah banyak menorehkan hasil dalam membangun desa. Sebelum pemerintah memiliki program membangun dari desa, SETIA Arastamar telah memiliki misi ke pedesaan dan membangunnya melalui pendidikan, kesehatan, dan kerohanian, dan Sensius Karlau adalah salah satu “tokoh kota yang peduli desa”.
Apa yang ia tabur dulu, kini sudah menuai hasil. Bersama rekannya, Jefrit K. Ismail, Sensius Karlau membangun dan mengembangkan tanah Papua. Apa yang menarik dari misi yang dikerjakan Sensius Karlau? Saya mengamati bahwa substansi misi yang sedang dikerjakan (ia bersama Jefrit K. Ismail bersama rekan-rekan lainnya) adalah menciptakan potensi kemanusiaan (masyarakat Papua) untuk memahami pentingnya hidup, pentingnya pendidikan, dan pentingnya percaya kepada Tuhan sebagai Sang Pemilik dan Sang Pencipta alam semesta. Jika pengamatan saya ini benar, maka saya patut menaruh hormat kepada beliau. Jika pengamatan saya ini kurang benar, toh apa yang dikerjakan beliau tidak jauh dari pengamatan saya selama ini. Saya pun tetap menaruh hormat kepada beliau.
Dengan strategi sepuluh langkah lebih cepat dari rekan-rekannya, Sensius Karlau mencontohkan gagasan-gagasan yang selama ini ia kaji dan terapkan yang kemudian membuahkan hasil alias “berhasil”. Ia sangat peduli dengan pelayanan dan pendidikan yang kemudian ia tuangkan dalam kebijakan-kebijakan pelayanan dan pendidikan di institusi yang ia pimpin. Rekan-rekannya pun memuji kepiawaian beliau. Tapi beliau selalu merendah, apalagi tubuhnya tidak terlalu tinggi. Jadi untuk apa meninggikan diri? (hehehe). Kerendah-hatian beliau patut dicontohi. Maka tak salah jika saya menyebut beliau dengan sebutan: “PEMIMPIN BERBADAN KECIL TETAPI MEMILIKI PENALARAN YANG BESAR”. Apa yang ia gagas, berbuahkan hasil yang besar. Tidak hanya itu, masyarakat Papua yang ia bantu, pun merasakan manfaatnya.
Sekilas dari kisah hidupnya, Sensius Karlau pernah mengalami depresi yang berat. Ia pun memutuskan untuk bunuh diri. Tetapi apa yang terjadi dengannya? Tuhan menolongnya dan kemudian “memuliakannya” dengan agenda-agenda yang telah ia pikirkan, kerjakan, raih, bahkan ia tularkan kepada rekan-rekannya; salah satunya adalah Jefrit K. Ismail. Kita tidak tahu rencana Tuhan sepenuhnya atas hidup kita, dan hidup sahabat saya ini, pun dibentuk dan dijadikan indah oleh-Nya. Saya pun merasa terhormat ketika menjadi bagian dari agenda-agenda beliau. Merasakan manfaat dari buah pikiran dan strategi beliau adalah sebuah kehormatan.
Tentu, apa yang dicapai sekarang ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Proses-proses awal yang begitu menyakitkan dan menyedihkan adalah makanan yang ia nikmati bersama rekan-rekan dan keluarganya. Ia pun bertutur kepada saya bahwa awal mendirikan Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Wamena (STT SARANA) adalah pergumulan yang sangat berat. Berhadapan dengan berbagai caci maki dan kondisi yang merendahkan dan menjatuhkan beliau, adalah duri-duri pelayanan yang kemudian ia sendiri telah “membersihkan” duri-duri tersebut dengan cara memangkas duri-duri tersebut dan kemudian menjadi tumpul.
Berbagai tanaman duri yang dulunya mengganggu pertumbuhan STT SARANA, kini menjadi tumbuhan yang mencoba bergabung dan mencoba memberikan kontribusi baginya. Mata terbuka bukan dengan cara bagaimana menyuap orang-orang yang menutup mata terhadap STT SARANA, melainkan mata tersebut dibuka dengan buah karya yang indah dan mulia. Bukankah ini sebuah strategi yang sangat baik dan berwibawa?
Sebagai seorang pemimpin, Sensius Karlau terus memikirkan, mengkaji, dan mengaplikasikan buah-buah pemikirannya yang semata-mata bertujuan untuk kemajuan dan perluasan misi dan pendidikan Kristen di tanah Papua. Meski kecil tapi jangan anggap enteng pemikiran dan strateginya. Badan bukanlah ukuran keberhasilan tetapi pikiranlah yang menentukan arah langkah hidup seseorang. Itulah yang dilakukan dan dibuktikan oleh Sensius Karlau.
Seperti yang saya nyatakan dalam tulisan saya tentang “FILSAFAT “WAKTU” bahwa “Filsafat waktu berarti bagaimana manusia mempergunakan waktu selama ia hidup untuk berkontribusi bagi alam semesta, bagi sesama, dan bagi pekerjaan atau pelayanan Tuhan. Dengan waktu yang digenggam manusia, ia perlu menumbuhkembangkan sikap menghargai waktu. Kesadaran menilai dan mempergunakan waktu adalah sebuah kebijaksanaan, sebuah filsafat waktu. Manusia harus memahami, menghargai, dan mempergunakan waktu yang ada.” Apa yang saya tuliskan di atas secara faktual terlihat dalam proses kehidupan sabahat saya yang berbadan kecil ini, Sensius Karlau.
Saya menilai bahwa apa yang dikerjakan Sensius Karlau adalah bagian penting dari pemahamannya tentang memahami dan menggunakan waktu, menghargai waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesamanya secara khusus bagi masyarakat Papua. Ia telah “berbuah” dan buahnya telah dinikmati banyak orang. Tapi ia tidak menahan dirinya untuk berpuas diri dengan buah yang telah dihasilkannya, melainkan terus “membeli bibit baru” untuk menjadi tumbuh-tumbuhan pelayanan dan pendidikan di mana depan yang dengannya masyarakat Papua dapat diberkati, dapat mengembangkan potensi alam Papua yang sangat kaya dan mengembangkan serta meningkatkan potensi sumber daya manusia Papua yang luar biasa.
Semoga buah pelayanan dan pendidikan yang telah dikerjakan dan dihasilkan oleh Sensius Karlau, dapat diserap dan diteladani oleh rekan-rekan yang tergabung dalam “ANAK-ANAK ARASTAMAR” untuk mengembangkan Visi dan Misi SETIA di mana pun kita berada.
Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Petrus Yopi Karhom: Sahabat dan Pemimpin yang Membaca dan Memanfaatkan Peluang
“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.
Sahabat yang satu ini adalah sosok yang terkenal di kalangan alumni SETIA. Pasalnya, beliau sendiri adalah ketua Persekutuan Kasih Antar Keluarga dan Alumni SETIA (PERKAKAS) yang dipilih berdasarkan rekam jejak, karya, dan komitmennya untuk membangun misi di tanah Indonesia. Saya sendiri mengenal beliau cukup lama. Dalam Seminar Sepekan bagi Staf Dosen Cabang-Cabang Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) di Seluruh Indonesia dengan tema “MEMPERTAJAM AZAS-AZAS PENGAJARAN REFORMED dengan para pembicara dari negeri Belanda, perwakilan Groninger Zendings Deputaten (GZD) yang diselenggarakan pada tanggal 7-11 Mei 2007 bertempat di Wisma Pondok Remaja PGI Cipayung, Petrus Yopi Karhom hadir bersama istri tercinta (Handayani Telaumbanua). Dalam seminar tersebut kami bertukar pikiran bagi kemajuan misi di Indonesia dan mulai membangun komunikasi dengan beliau. Maklum, saya adalah peserta temuda saat itu karena baru saja lulus ujian skripsi yang belum memiliki pengamalan.
Sebelum datang ke Jakarta untuk menghadiri Seminar Sepekan tahun 2007, Yopi Karhom bersama rekan-rekannya telah merintis Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) Arastamar Soe yang secara resmi berdiri pada tanggal 4 September 2006. SMTK yang dirintis penuh pergumulan dan perjuangan. Yopi Karhom dan rekan-rekannya masuk kampung keluar kampung untuk mensosialisasikan, mempromosikan, dan meyakinkan orangtua dan masyarakat Soe dan sekitarnya, bahkan sampai di tempat yang sangat jauh, mereka pun pergi.
Dengan semangat misi yang kental, mereka pun menuai hasil. Seringkali, “PERJUANGAN YANG BERAT DIBARENGI DENGAN HASIL YANG MANIS” dan Yopi Karhom telah telah membuktikannya. Saya teringat tentang sedikit kisah beliau. Ketika datang di Soe, beliau menumpang di rumah seorang kenalan, kurang lebih selama dua minggu. Ia membawa keluarganya untuk bermisi dan “membaca serta memanfaatkan peluang”. Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari situ, ia melangkah terus bersama Tuhan dan berharap Tuhan memampukannya untuk bekerja di ladang misi. Buah-buah pelayanan beliau telah dinikmati banyak orang.
Selang tujuh tahun kemudian, beliau dan rekan-rekannya memulai Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Arastamar Soe yang resmi berdiri pada tanggal 20 Juli 2013. Ini adalah “buah yang manis dari misi yang manis dan dikerjakan oleh mereka yang berhati manis”. Mengapa manis? Saya melihatnya pada ‘buah’ dari sekolah ini. Selain SMTK Arastamar, STAK Arastamar Soe telah berbuah lebat dan manis. Anak-anak desa yang kurang mampu ditolong dan ditopang selama proses pembelajaran. Membaca dan memanfaatkan peluang yang ada bukanlah slogan semata-mata melainkan sebuah kebijaksaan untuk bermisi di mana Tuhan menempatkan kita untuk bekerja bagi-Nya.
Dengan prestasi tersebut, menambah daftar panjang torehan prestasi “ANAK-ANAK ARASTAMAR” yang adalah anak-anak didik dan asuhan Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Anak-anak muda seperti Sensius A. Karlau, Jeffrit K. Ismail dan Yahya Mailani telah menorehkan hasil di tanah Papua; Pdt. Markus Amid menorehkan hasil di tanah Borneo; Purnama Pasande menorehkan hasil di tanah Luwuk, Sulawesi Tengah; Matius Bongngi menorehkan hasil di tanah Talaud dan Siau, Sulawesi Utara; Marinus Gulo (bersama rekan-rekannya) menorehkan hasil di tanah Nias; Aris D. Rimbe menorehkan hasil di tanah Mamuju, Sulawesi Barat. Masih banyak lagi anak-anak Arastamar yang telah menorehkan karya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui berbagai jenis pelayanan di bidang teologi dan pendidikan, bahkan pemerintahan.
Karena kekompakan dan saling menopang, Arastamar kian melesat bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya, sementara itu, masih ada orang-orang yang ingin menghambat pekerjaan Tuhan yang telah dan sedang dikerjakan oleh “ANAK-ANAK ARASTAMAR”.
Dalam perkembangannya, Yopi Karhom adalah salah satu pemimpin muda berdarah Alor, yang terus menuangkan gagasan dan idenya dalam sebuah “karya nyata”. Karya nyata yang dihasilkan adalah karena keyakinan beliau dalam “membaca dan memanfaatkan setiap peluang.” Apa yang disampaikan Pendeta Matheus melalui diskusi pribadi, diaplikasikan dalam karya nyata di tanah Soe. Visi dan misi yang ditanamkan oleh Pendeta Matheus Mangentang menginspirasi Yopi Karhom untuk mengembangkan misi di tanah Soe pada khususnya dan NTT pada umumnya.
Meski Yopi Karhom tahu bahwa orang tua rohaninya, Pendeta Matheus Mangentang, terus digerus oleh caci maki dan hinaan, ia berusaha menjaga hubungannya dengan orang tua rohaninya agar tetap terjalin indah. Beliau pernah mengatakan kepada saya bahwa “kita harus menghargai orang tua, meski kita tahu ia punya kelemahan”. Kelemahan orang tua bukanlah senjata bagi kita untuk mencaci maki, menghina, dan merendahkannya. Saya meyakini bahwa gagasan yang diusung Yopi Karhom untuk tetap menghargai orang tua yang telah mendidik dan membuat kita berhasil adalah bagian dari didikan kedua orangtuanya. Setahu saya, mayoritas budaya Indonesia Timur adalah “menaruh penghormatan tertinggi pada orangtua.”
Ketika yang lain sibuk merendahkan, memfitnah, mencaci maki, meludahi Pendeta Matheus Mangentang, Yopi Karhom justru tetap menghargai karya dan nasihat dari orang tua rohaninya. Dia pun tahu kondisi yang dialami oleh Pendeta Matheus Mangentang. Ia tetap mendoakan dan mendukung pelayanan Pendeta Matheus Mangentang. Dari kondisi tersebut, tampak bahwa “MEREKA YANG TIDAK MELUPAKAN JASA ORANG TUA, ADALAH MEREKA YANG BERHASIL DAN DIBERKATI TUHAN.” Sering Yopi Karhom menyampaikan kepada saya “Kita jangan melupakan jasa orang tua yang telah membawa kita sampai kepada keberhasilan saat ini.” Apa yang dirasakan dan dialami, serta dimiliki oleh Yopi Karhom saat ini, tidak lepas dari proses awal yang penuh pergumulan dan nasihat dari Pendeta Matheus Mangentang. Sebagai alumni SETIA, ia tetap mencintai alamamaternya yang telah membesarkan namanya. Sementara di sisi lain, ada alumni SETIA malah ikut-ikutan untuk menghina dan merendahkan almamaternya sendiri.
Kini, ARASTAMAR TELAH BERGEMA DI TANAH SOE. Yopi Karhom adalah salah satu pribadi yang menjadikannya bergema. Sebagai seorang sahabat, Yopi Karhom adalah “Kakak” bagi saya. Dengan gaya bicaranya yang meyakinkan, membuat ia dikagumi oleh istri dan anak-anaknya, bahkan rekan-rekan sejawatnya. Sebagai pemimpin, Yopi Karhom telah menorehkan hasil. Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah mengumpulkan pengikut dengan cara dibayar supaya memuji-muji pemimpinnya setinggi langit, tetapi ukurannya adalah menghasilkan karya nyata yang dapat bermanfaat bagi banyak orang dalam bidang pendidikan, sosial, dan kerohanian.
Dengan kepiawannya “Membaca dan Memanfaatkan Peluang”, hasilnya telah terlihat. Saya selalu berbicara tentang “hasil” dan bukan “wacana”. Wacana tinggal wacana ketika seseorang hanya terus berupaya menggunakan uangnya untuk mempengaruhi orang lain untuk menjadi salah satu pengikut tanpa menorehkan hasil yang bermanfaat bagi banyak orang. Kalau pun ada, itu adalah bagian dari strategi. Antara hasil dan karakter seorang pemimpin ada korelasinya. Pemimpin berkarakter, memiliki visi. Visi yang ditampilkan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Pemimpin tidak perlu menggunakan uang untuk meraup pengikut agar ambisi terpuaskan. Sebab dengan cara demikian, justru kejahatan dan kebodohan yang muncul sebagai hasilnya. Ketika seseorang menabur kasih, pasti ia menuai jiwa. Gagasan ini sangat melekat dengan jiwa “ANAK-ANAK ARASTAMAR”. Meski dalam kondisi serba kekurangan, “ANAK-ANAK ARASTAMAR” tetap maju dan berjuang untuk merintis sekolah-sekolah. Saya rasa, Yopi Karhom sudah banyak “makan garam” dalam perjuangannya (bersama rekan-rekannya) di bidang pendidikan terutama dalam hal merintis sekolah-sekolah di tanah Soe.
Sosok Yopi Karhom adalah sahabat dan pemimpin yang membuahkan hasil yang manis. Sebagai sahabat, ia ramah dan menghormati orang lain. Ia sangat dihormati karena ia pun menghormati orang lain. Bukan tugasnya untuk mencaci dan merendahkan orang lain. Tugasnya adalah bekerja bagi Tuhan. Secara pribadi, saya pun menaruh hormat kepadanya dan menghargai buah-buah karya yang dihasilkan. Sebagai pemimpin, ia merangkul yang lain dan bekerja sama bagi pekerjaan Tuhan. Berbekal kegigihan dalam melayani dan bekerja, ARASTAMAR TELAH BERGEMA DI TANAH SOE. STAK Arastamar Soe pun telah diakreditasi. Bukankah ini adalah buah yang manis?
Bersama-rekannya, Yopi Karhom berkomitmen untuk terus mengumandangkan Misi Arastamar di bidang pendidikan terus digulirkan di seluruh Indonesia untuk mendidik putra-putri desa yang kurang mampu secara ekonomi. Komitmennya adalah menolong dan menopang masyarakat, meski di satu sisi ada orang yang memperalat orang lain sebagai alat politik untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Di tengah kesibukannya sebagai pejabat pemerintahan, beliau tetap mencintai pekerjaan Tuhan yang terus dikerjakannya. Beliau tetap meluangkan waktu untuk bekerja di ladang Tuhan. Sebagai Ketua PERKAKAS, ada harapan-harapan yang telah terwujud dan ada pula harapan-harapan yang belum terwujud. Namun hal itu menjadi tugas bersama untuk dapat mewujudkannya.
Kiranya tulisan ini dapat menginspirasi alumni SETIA untuk semakin mencintai almamaternya dan bukan menghinanya. Jangan lupa pada orang yang telah berjasa atas hidupmu. Kebaikan masa lalu itu manis rasanya. Kebencian masa kini merusak kebaikan masa lalu. Jangan mudah terprovokasi. Hal inilah yang sering disampaikan Yopi Karhom kepada saya. Ada suara-suara yang ingin mempengaruhi Yopi Karhom tetapi beliau tetap pada prinsipnya untuk mendukung SETIA dan GKSI pimpinan Pendeta Matheus Mangentang. Memang ini adalah pertaruhan kita dengan musuh dari dalam, musuh dari alumni SETIA yang telah dipengaruhi. Tetapi kita harus tahu bahwa musuh dari dalam itu sangat berbahaya. Cara yang digunakannya adalah selalu ‘berteriak’ karena ia merasa kesepian, kurang pendukung. Ciri-ciri orang-orang yang kesepian adalah ‘berteriak’. Berteriak dengan cara menghina orang lain adalah ciri khas mereka yang memiliki kebencian di dalam hatinya.
Sosok Yopi Karhom tidak banyak suara supaya kelihatan berteriak. Ia sedikit bicara banyak bekerja, dan ada hasilnya pula. Di banding mereka yang banyak berteriak tapi “sonde ada hasil”, Yopi Karhom memilih untuk terus fokus pada pekerjaan Tuhan dan memberkati banyak orang. Ia tahu bahwa ia berada pada jalur yang benar dan terus mengerjakan bagiannya yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya. Meski tawaran demi tawaran terus berdatangan, ia selalu menolak. Sebab kekayaan dan uang bukanlah syarat untuk bahagia. Kekayaan dan uang bukanlah syarat untuk dicintai dan dikasihi. Kekayaan dan uang bukanlah syarat untuk menciptakan integritas di hadapan Tuhan. Kekayaan dan uang adalah syarat yang digunakan oleh mereka yang ingin mendapatkan dukungan untuk mulianya yakni “menghancurkan diri mereka sendiri.”
Kiranya Tuhan Yesus memberkati pelayanan Yopi Karhom. Kami siap mendukung pengembangan pendidikan di tanah Soe. Apalagi bersama rekan-rekan yang handal seperti Sensius A. Karlau, Jefftrit K. Ismail, Purnama Pasande, Yahya Mailani, Markus Amid, Marinus Gulo, Pendeta Waharman, Syarah Faot, dan rekan-rekan lainnya dalam wadah PRESTASI.
Teruslah maju bersama Tuhan, Pak Yopi Karhom. Singkirkan debu yang ditiup ke muka hamba-Nya. Kibaskan dan tendang kekayaan dan uang yang mencoba mempengaruhi karakter dan dedikasi hamba-Nya. Jadilah mercu suar di tanah Soe dan bagi alumni SETIA di seluruh Indonesia. Kami bangga memiliki sahabat dan pemimpin seperti Anda.
Pernah ada salah seorang yang mengajukan pertanyaan demikian: “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya.”
Ketika membaca pertanyaan ini, saya tertawa. Mengapa? Karena secara substansial, yang menanyakan “telah” menjawab “pertanyaannya sendiri”. Bagaimana bisa? Jawabannya, bisa! Ketika seseorang membaca secara logis pertanyaan di atas, maka akan menemukan jawaban dan kontradiksi dalam pertanyaan tersebut.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan membaginya dalam tiga kategoi: (1) Kategori Logika (kontruksi kalimat pertanyaan); (2) Kategori Analogi Dokumentatif—Faktual; dan (3) Kategori Biblikal. Setiap kategori, saya mengutip kembali pertanyaan di atas supaya alur pemahaman akan jawabannya, akan dengan mudah dicerna.
“Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya”
Secara logis, pertanyaan di atas sudah terjawab. Jawaban tersebut mengandung makna logis dan teologis. Untuk mencerna secara baik, saya akan membagi pertanyaan di atas tiga bagian:
Pertama, “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan”. Pertanyaan ini menggiring opini bahwa Tuhan memiliki cara lain untuk mengampuni (memaafkan) manusia dari dosa mereka. pertanyaannya: Manusia berdosa kepada siapa? Ini pertanyaan mendasar. Ketika pertanyaan mendasar dipahami, maka pertanyaan di atas tak akan muncul. Manusia tentu berdosa kepada Allah, dan oleh sebab itu, manusia secara pasif menerima cara Allah mengampuninya. Karena manusia berdosa kepada Allah, maka Allah secara mutlak dan berdaulat menentukan “bagaimana caranya” mengampuni manusia. Implikasinya, penebusan adalah “cara” Allah untuk mengampuni manusia karena manusia berdosa kepada Allah.
Allah dapat saja hanya “memaafkan” manusia. Akan tetapi, cara memaafkan akan tergolong murahan dan sangat tidak manusiawi. Coba bayangkan, ada seorang yang membantai satu keluarga, dan sanak keluarganya hanya perlu “memaafkan” saja orang yang membunuh keluarganya. Lalu di mana keadilan dan hukum? Bukankah meski kita telah memaafkan pembunuh, proses hukum tetap berjalan? Jadi, penebusan itu memuaskan Allah secara keadilan, hukum, dan kasih, dan memuaskan manusia secara keadilan dan hukum. Manusia tidak dipuaskan secara kasih, karena kasih itu hanya milik Allah. Ingatlah tulisan Yohanes: “Karena Allah begitu ‘mengasihi’ dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3;16).
Kedua, “kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya”. Nah, secara logis, pernyataan ini sudah menjawab pertanyaan tersebut. Jawabannya ada pada klausa “tidak ada yang mustahil bagi-Nya”. Bukankah ketika mengatakan “tidak ada yang mustahil bagi-Nya”, penanya sedang menjawab pertanyaannya sendiri? Karena “tidak ada yang mustahil bagi-Nya” maka kita harus menerima “cara” Allah menebus dosa melalui “pengurbanan Yesus Kristus”. Bukankah “tidak ada yang mustahil bagi-Nya?” Tuhan tentu berhak menentukan cara apa pun untuk menebus karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya bukan?
Ketiga, “kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya”. Pernyataan ini juga menjawab pertanyaan si penanya. Kalau Allah itu Imanen dan Transenden, bukanlah Yesus adalah Allah yang imanen (di dalam) ciptaan-Nya untuk menebus dosa manusia? Frasa “tidak terbatas ruang dan waktu” justru meneguhkan bahwa cara penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, karena Allah tidak terbatas ruang dan waktu; Ia dapat melakukan cara-cara yang tidak dapat diintervensi manusia. Karena Ia tidak terbatas ruang dan waktu, maka Ia berhak mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk tujuan menebus umat-Nya dari dosa-dosa mereka.
Frasa “di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya” juga menjawab pertanyaan si penanya. Mengapa? Karena Allah bisa di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya, maka keberadaan Yesus di dalam dunia meneguhkan imanensi Allah itu sendiri. Allah ingin menyapa manusia secara relasional tanpa ada batasan ruang dan waktu; dan Yesus Kristus adalah bukti bahwa Allah peduli kepada dunia dengan cara yang tidak lazim, “INKARNASI”. Dengan demikian, penebusan itu adalah hak mutlak Allah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa yang mengikatnya. Manusia berdosa dan berutang kepada Allah, maka Ia berhak menebus manusia dengan cara-Nya sendiri dan membayar utang dosa dengan cara-Nya sendiri pula.
(2) KATEGORI ANALOGI DOKUMENTATIF—FAKTUAL
Pertanyaan “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya” secara analogi dokumentatif—faktual sebenarnya telah “gagal” pada dirinya sendiri. Pertama, setiap pertanyaan harus melihat apakah peristiwa itu sudah terjadi atau belum. Mengatakan “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan” sebenarnya tidak perlu karena peristiwa “pengurbanan Yesus di kayu salib” sudah terjadi. Sama halnya dengan mengatakan “mengapa Adam dan Hawa makan buah yang dilarang Tuhan”? Peristiwa berdosanya Adam dan Hawa karena makan buah yang dilarang Tuhan adalah peristiwa yang telah terjadi, maka tidak perlu membuat pertanyaan semacam itu, karena tidak akan mengubah sejarah itu sendiri. Kedua, berdasarkan pemahaman pertama, maka pernyataan berikutnya dari pertanyaan di atas mengalami hal yang sama.
(3) KATEGORI BIBLIKAL
Pertanyaan “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya” adalah pertanyaan bersayap. Di satu sisi mempertanyakan dan sekaligus menawarkan cara lain untuk menghindar dari cara Allah yaitu “pengurbanan”, dan di sisi lain, memahami pengurbanan Yesus sebagai cara yang tidak perlu karena ada cara lain yang lebih baik yaitu hanya dengan cara “memaafkan” saja dosa-dosa manusia.
Penebusan adalah tata cara Allah untuk mengajar manusia bahwa dosa berakitab fatal. Ketika dosa hanya diampuni dengan cara memaafkan, maka sebenarnya itu bukan cara Allah, melainkan cara manusia untuk memperingan hukuman atas dosanya. Sebagaimana manusia berdosa kepada Allah, maka tentu kedaulatan menentukan bagaimana cara menebus manusia dari dosa-dosa terletak pada kedaulatan dan hak Allah itu sendiri.
Alkitab secara gamlang menjelaskan bahwa kurban-kurban dalam PL merupakan tata cara penebusan dosa, kesalahan, dan pelanggaran mausia. Kurban-kurban dalam PL diwujudnyatakan dalam diri Yesus Kristus. Darah dan nyawa dipersembahkan kepada Allah sebagai syarat untuk menunjukkan kasih, keadilan, dan hukum Allah, sehingga dengan itu, manusia dapat melakukan keadilan dan hukum bagi manusia yang telah berbuat dosa, kesalahan, dan pelanggaran. Sebagaimana yang kita lihat bahwa ketika manusia melanggar hukum, maka ia harus dihukum. Ketika manusia melanggar hukum dan hanya dimaafkan saja, maka kejahatan manusia akan bertambah banyak. Dengan cara menebus saja manusia makin berdosa, bagaimana nasibnya jika dosa manusia hanya dimaafkan saja?
Pengurbanan Yesus saja kadang tidak dihargai, bagaimana nasibnya dengan pengampunan dengan cara memaafkan yang tidak ada sesuatu pun yang dikorbankan?