KELUARGA HOSEA DAN KELUARGA MASA KINI

Konteks: Fiman Tuhan datang pada Hosea pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia,-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.

Apa yang terjadi dengan Yehuda dan Israel? Di zaman Uzia dan Yotam, bangsa mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan.

Di zamannya, Ahas, raja Yehuda, anak Yotam melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, hidup menurut kelakukan raja-raja Israel. Ia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang dihalau Tuhan dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.

Di zamannya, Hizkia raja Yehuda, melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Dia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Di zamannya, Yerobeam bin Yoas, raja Israel, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Tetapi Tuhan menolong Israel melalui Yerobeam bin Yoas untuk melepaskan kesenggsaraan Israel.

Berangkat dari kondisi Israel dan Yehuda, maka Tuhan ingin menunjukkan kasih sayang-Nya sekaligus kekecewaan-Nya atas Israel. Dosa-dosa penyembahan berhala dan keserakahan manusia membawa mereka pada level dosa dan kejahatan tingkat tinggi. Untuk menggambarkan situasi ini, Tuhan-melalui pernikahan Hosea dan Gomer-memberikan contoh faktualnya. Gomer dilambangkan sebagai Israel, pelacur rohani, pelaku dosa-dosa zina rohani dan fisik, membelakangi Tuhan, dan Hosea menggambarkan Tuhan yang mau mengasihi Gomer [Israel].

Perhatikan frasa “membelakangi Tuhan”. Ini kondisi yang sangat parah dan menyakitkan. Misalnya, ketika seorang pendeta berkhotbah lalu jemaatnya membelakangi pendeta, meski tahu bahwa ada pendeta di depan yang sedang berkhotbah, tetapi jemaat tidak mengindahkannya. Bukankah ini sangat menyakitkan dan kurang ajar? Itulah yang dilakukan Israel terhadap Tuhan. Tuhan dengan setia menunjukkan cinta kasih-Nya, malahan sering dilupakan. Padahal mereka tahu bahwa Tuhan itu ada, dan berkuasa, dan bahkan menolong umat-Nya. Mungkin kondisi ini dapat diwakilkan dengan kalimat: “Tuhan itu baik, Ia akan mengampuni; itu kan pekerjaan-Nya”

Isi

Hosea menikahi seorang pelacur. Pelacur memiliki dua arti: pertama, pelacur jalanan, dan kedua, pelacur kuil (pelacur bakti)—pelacur di kuil penyembahan berhala. Ada perbedaan tafsir soal ini. Apa pun maksud dari pelacur, yang pasti identitas yang dilekatkan pada Gomer adalah “pelacur”. Artinya, personalitas Gomer dianggap sebagai kondisi di mana Gomer memiliki kedudukan dalam arti relasi sosial yang rendah.

Lalu mengapa Tuhan memilih Gomer untuk dinikahkan dengan Hosea? Apakah tidak ada perempuan cantik lainnya yang lebih terhormat? Begini, kita sering berfokus pada kata “pelacur” sebagaimana yang dilekatkan pada Gomer. Kita lupa, bahwa Tuhan memerintahkan Hosea untuk mengambil Gomer sebagai “istrinya” secara sah. Bukan dengan cara yang sembrono. Hal ini terkait dengan proses “pembelajaran” dan “kode” dari Tuhan untuk memberitahukan bahwa Ia kecewa dengan Israel. Kondisi orang Israel dijelaskan di pasal 4. Sedangkan maksud pernikahan Hosea dengan Gomer dan perempuan lainnya dijelaskan di pasal 3.

NAS  Hosea 1:2 When the LORD first spoke through Hosea, the LORD said to Hosea, “Go, take to yourself a wife of harlotry, and have children of harlotry; for the land commits flagrant harlotry, forsaking the LORD.”

NAB  Hosea 1:2 When the LORD began to speak with Hosea, the LORD said to Hosea: Go, get for yourself a woman of prostitution and children of prostitution, for the land prostitutes itself, turning away from the LORD.

NIV  Hosea 1:2 When the LORD began to speak through Hosea, the LORD said to him, “Go, marry a promiscuous woman and have children with her, for like an adulterous wife this land is guilty of unfaithfulness to the LORD.”

NJB  Hosea 1:2 The beginning of what Yahweh said through Hosea: Yahweh said to Hosea, ‘Go, marry a whore, and get children with a whore; for the country itself has become nothing but a whore by abandoning Yahweh.’

λαβ verb imperative aorist active 2nd person singular from λαμβάνω

BGT  Hosea 1:2 ἀρχὴ λόγου κυρίου πρὸς Ωσηε καὶ εἶπεν κύριος πρὸς Ωσηε βάδιζε λαβ σεαυτῷ γυναῖκα πορνείας καὶ τέκνα πορνείας διότι ἐκπορνεύουσα ἐκπορνεύσει ἡ γῆ ἀπὸ ὄπισθεν τοῦ κυρίου (Hos 1:2 BGT)

Implementasi:

Pertama, tidak ada manusia yang tanpa dosa. Tidak ada keluarga yang tanpa masalah. Tidak ada pasangan kita yang suci dan tak berdosa. Semuanya berstatus orang orang berdosa. Meski Gomer mendapatkan julukan atau sebutan yang kurang baik, karena ia seorang pelacur, lalu siapa kita yang mengusik keluarga Hosea di mana Hosea mendapat firman secara langsung dari Tuhan? Di sini penekannya bukan pada siapa dalam anggota keluarga yang paling bersih, suci, dan kudus, melainkan terletak pada “kehadiran Tuhan dalam keluarga” tanpa memandang status masa lampau. Hosea menikahi Gomer dalam status yang kurang baik di mata masyarakat. Jika demikian, meski menurut kita, istri atau suami kita baik, tetap saja terbuka peluang bagi orang lain untuk menafsirkan yang lain

Kedua, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang diberkati Tuhan. Pernikahan Hosea atas dasar perintah Tuhan sebagai analogis dan pembelajaran bagi Israel bahwa meskipun mereka berzina menyembah ilah lain, namun Tuhan masih menunjukkan belas kasihan kepada mereka dan menerima mereka.

Ketiga, keluarga yang diberkati Tuhan adalah keluarga yang memberi teladan kepada yang lain. Pernikahan dan keluarga Hosea adalah teladan bagi bangsa Israel bahwa meski Gomer mendapat status yang kurang baik, namun itulah faktanya, tak seorang pun yang merasa dirinya paling suci tanpa dosa. Kesadaran inilah yang sehusnya dimiliki keluarga Kristen untuk semakin mencintai dan mengasihi Tuhan. Dampaknya adalah kita dapat mengasihi istri, suami, anak-anak kita, dan sesama kita.

KEEMPAT, keluarga yang diberkati oleh Tuhan adalah keluarga yang mengalami hidup bersama dengan Tuhan: mendoakan orang lain dan menjadi berkat bagi orang lain.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/325525879320518527/

MALAM NATAL DI BANDARA SUPADIO PONTIANAK: Membagikan Damai Sejahtera Kristus kepada Sesama Melalui Tulisan Singkat

Beberapa berita belakangan ini mencuat ke permukaan soal perayaan Natal. Ada yang senang dengan Natal, ada yang sedih, ada yang alergi dan ada yang berbahagia. Yang alergi dengan Natal, baik mengucapkan “Selamat Natal” kepada orang Kristen maupun tulisan ucapan selamat Natal di kue telah menunjukkan bahwa Natal Yesus Kristus menuai dukacita dan kebencian di hati mereka. Alasannya mengikuti ajaran agama, tetapi tidak ada satupun ajaran agama yang secara persis menulis: “Jangan mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen karena kita akan ikut menjadi kafir”. Cari saja di semua kitab suci agama apa pun, kalimat seperti itu tidak akan ditemukan. Sudahlah, tak jadi soal dengan mereka yang alergi dengan Natal dan mengucapkan selamat Natal. Iman Kristen tidak bergantung pada ucapan mereka. Itu hanya soal persepsi dan sentimen agama yang berdiam di hati mereka yang sama sekali tidak mengerti nilai-nilai “damai sejahtera”.

Damai sejahtera adalah sebuah pilihan hidup untuk menghadirkan keindahan hidup dan kualitas hidup dalam relasi dengan sesama manusia, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Natal Yesus justru menyatukan berbagai perbedaan. Ada para gembala—yang bukan orang terpandang—mengunjungi bayi Yesus di palungan dan turut bergembira dengan Yusuf dan Maria. Ada orang Majus dari timur—orang-orang terpandang dan kaya—turut mempersebahkan emas, dupa (kemenyan) dan mur kepada “Sang Raja” yang telah lahir sesuai dengan petunjuk Bintang. Ada lagi para malaikat—ciptaan Tuhan yang berbeda dengan manusia—turut mengambil bagian dalam menyambut Natal Yesus Kristus. Ungkap mereka: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Itu sebabnya, Natal Yesus Kristus adalah penyatuan berbagai perbedaan untuk memuji Allah Bapa, Sang Pemberi Anugerah yang paling besar dalam sejarah dunia ini. Natal Yesus Kristus adalah kehadiran situasi dan kondisi yang baru, yang tidak biasanya. Itulah Bapa kita. Bapa yang berdaulat, berhak menentukan cara apa yang hendak Dia tunjukkan sebagai bukti bahwa Ia mengasihi kita manusia berdosa: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh. 3:16-17).

Natal Yesus Kristus adalah peran Bapa melalui Sang Logos untuk menyelamatkan dengan cara baru. Kita yang dipanggil Tuhan, perlu memahami substansi Natal dengan melihat kepada kasih dan kedaulatan Sang Bapa yang kekal. Melalui hal tersebut, barulah kita dapat memahami sepenuhnya bahwa meski Natal kita disalahpahami, dihina, menimbulkan alergi, kita perlu memberikan obat penawar yaitu: TUNJUKKANLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS YANG TELAH MEMERINTAH (MENGUASAI) HATI KITA kepada semua orang termasuk mereka yang alergi.

Mereka yang mengerti makna Natal Yesus Kristus, Sang Putra Bapa mengunjungi dunia yaitu bukan dengan cara yang telah Dia lakukan pada zaman lampau, melainkan Sang Bapa menetapkan cara yang tak pernah diduga manusia yaitu INKARNASI, suatu cara yang luar biasa hebatnya: “Logos menjadi manusia”.

Apa yang menarik dengan INKARNASI? INKARNASI adalah perwujudan kemahakuasaan Bapa yang dipublikasikan secara terang melalui pribadi Yesus Kristus. Sang Logos yang kekal “menjadi manusia” [ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο]. Cara inilah yang kemudian ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani (1:1-6):

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?” Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”

Perwujudan cara Sang Bapa kepada dunia telah terjadi dalam peristiwa sejarah: Natal Yesus Kristus membawa perubahan, damai, dan pertentangan. INKARNASI Yesus merupakan ketetapan Sang Bapa. Ia [Yesus], meski dalam kondisi-Nya sebagai manusia, masih memiliki kuasa dan kemuliaan. Ini berarti bahwa—sebagaimana yang Yesus nyatakan: “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yoh. 17:5)—bahwa eksistensi Yesus baik sebelum INKARNASI maupun dalam INKARNASI tetap memiliki substansi kekal dan tak mengurangi kualitas kuasa dan kemuliaan-Nya. Bedanya, Ia menjadi manusia.

Penulis Ibrani menegaskan bahwa “oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta”. Ini selaras dengan apa dinyatakan oleh Rasul Yohanes (Yoh. 1:3): “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Sebagai “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”, Yesus Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Kekuasaan yang ada pada diri Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan. Jadi, kelirulah mereka yang suka mencari cara dan membodohi orang lain dengan mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan. Sudahlah, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, tidaklah menjadikan Yesus tiba-tiba berubah menjadi bukan Tuhan. Yang pasti, Ia adalah Logos yang kekal (Yoh. 1:1), pencipta segala yang ada (Yoh. 1:3).

Natal Yesus Kristus juga bertujuan untuk “mengadakan penyucian dosa”. Cara Sang Bapa ini menuai pro dan kontra. Ada yang tidak setuju dengan cara seperti ini. Ya sudahlah. Mungkin mereka yang tidak setuju punya cara lain untuk ditawarkan kepada Sang Pencipta. Pikirku: “Ya sudah, mereka saja yang jadi Tuhan” supaya bisa mengganti cara yang lain untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Yesus Kristus yang telah lahir telah menjadi puji-pujian seluruh umat Kristen. Nama Yesus telah menjadi popular. Popular karena Ia unik dan satu-satunya pribadi yang menyatakan Sang Bapa kepada manusia. Mati dan menebus manusia. Menawarkan damai sejahtera kepada mereka yang mau percaya. Dan satu lagi. Yesus adalah Tuhan yang layak disembah. Ini bukan karangan saya tetapi pernyataan Allah seperti yang dituliskan oleh penulis kitab Ibrani: “Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia’” (Ibr. 1:6). Jadi, mereka yang menegasikan bahwa Yesus bukan Tuhan, tentu harus menyerah karena malaikat-malaikat diperintahkan untuk menyembah Yesus.

Ingat, malaikat-malaikat diperintahkan menyembah Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia saja sudah diperintahkan untuk disembah, apalagi dalam keadaan-Nya sebagai Logos Ilahi yang kekal? Mari berpikir jernih.

Itulah beberapa kualitas Natal Yesus Kristus yang kita rayakan di tahun ini. Meski dalam proses perjalanan kembali ke Jakarta, saya hendak menuliskan sedikit makna Natal agar kita semua diajak untuk melihat kekayaan Alkitab dan kekayaan cara Sang Bapa untuk menunjukkan kasih dan sayangnya. Tulisan ini belumlah cukup untuk menyatakan kekayaan Natal Yesus Kristus.

Selamat Natal saudara-saudaraku di mana pun kalian berada

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Jadilah terang meski dijadikan objek caci maki. Jadilah pembawa damai, meski ada yang alergi untuk mengucapkan selamat Natal. Damai sejahtera Kristus yang telah memerintah dalam hati kita, kiranya menjadi pegangan hidup sampai selama-lamanya.

Shalom

Tulisan ini ditulis pada malam tanggal 24 Desember 2017.

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/26/4b/1a/264b1a986c554fef8060dca0fa799eb1.jpg

KRISTEN DAN ANCAMAN TERORIS DAN PEMBUNUHAN YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA: Menanggapi Tragedi Bom Bunuh Diri di Gereja GKI Diponegoro, Gereja SMTK Ngagel dan Gereja HKY

Kekristenan adalah agama yang paling disering dicaci maki, dihina, direndahkan, dibunuh, dicerca, ditertawakan, didiskriminasikan, dan tak lupa, sering dikritik. Meskipun demikian, Kristen adalah agama terbesar di dunia; berkembangnya Kekristenan bukan melalui ancaman, bukan melalui pembunuhan, bukan melalui fitnah dan kebencian, bukan pula dengan menggunakan bom bunuh diri di sana sini; Kekristenan berkembang karena cinta, kasih, dan sayang Tuhan yang diejawantahkan dalam pemberitaan Injil, pengajaran, pemikiran, dan tindakan.

Secara faktual, sedemikian besar gelombang cobaan dan hambatan tersebut tidak mengecilkan peran untuk “MENDOAKAN MUSUH DAN MENDOAKAN MEREKA”. Mengapa demikian? Karena Yesus Kristus telah mengajarkan bahwa, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:44-45).

Terkait dengan kasus pemboman di gereja-gereja sejak dulu; bahkan hingga hari ini, 13 Mei 2018 di beberapa gereja di Surabaya, para pelakukanya “mengatasnamakan Islam”. Apakah dengan demikian kita menyimpulkan bahwa semua yang beragama Islam memiliki pandangan yang sama dengan para teroris? Tentu tidak! Di sini, kita perlu memahami demarkasi ideologi dan demarkasi iman antara para pelaku teror dan para penyembah yang cinta damai yang ada dalam Islam.

Menyimak maraknya tindakan-tindakan yang mengatasnamakan agama, saya memberikan beberapa alasan (asumsi) berikut ini:

Pertama, para pelaku pembunuhan (bom bunuh diri dan sebagainya) yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang gagal memahami narasi dan konteks Kitab Sucinya. Akibatnya, pikiran mereka diracuni dan dibius oleh kebencian yang membabi buta sehingga menghalalkan segala cara.

Kedua, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang diindoktrinasi oleh para pemimpin mereka yang memiliki “ideologi Iblis” untuk memuluskan agenda rahasia mereka untuk menciptakan sistem pemerintahan—atau sistem keagamaan yang berpusat pada ajaran Islam yang mereka pahami secara keliru.

Ketiga, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang selalu melihat sisi negatif dari agama-agama lain berdasarkan fakta yang tidak berimbang (gagasan tunggal yang diusung oleh para pemimpin mereka) sehingga pikiran mereka dihipnotis untuk membunuh agama lain yang tidak sepaham, tidak seiman, dan tidak se-Tuhan.

Keempat, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang mengingingkan kekerasan dan pembunuhan adalah jalan utama untuk memuluskan agenda rahasia mereka, pahadal justru sebaliknya, kekerasan dalam sepanjang sejarah selalu kalah dengan prinsip “hidup damai dan toleran” terhadap sesama manusia.

Kelima, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang tidak dapat membedakan antara ideologi dan iman.

Keenam, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang gagal paham soal iman agama lain.

Ketujuh, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang dirasuki ujaran-ujaran kebencian terhadap salah satu agama yang menjadi sasaran pembunuhan.

Dari alasan-alasan tersebut, tampak bahwa mereka yang mengatasnamakan agama justru merusak citra Islam di mata publik; sebaliknya, para pecinta Islam yang toleran dan cinta damai harus pula mengumandangkan kedamaian dan rasa kemanusiaan terhadap sesama dan bukan malah mengumandangkan HAM ketika pihak kepolisian menindaki para pelaku teror. Jika demikian, kita sedang beromong kosong ria soal HAM. Yang mati tidak dipikirkan HAM-nya, sedangkan para pelaku bom bunuh diri yang telah membunuh, malahan dibela HAM-nya. Ini negara apa? Syukurlah, dalam beberapa kesempatan saya melihat bahwa para intelektual muslim telah menyatakan sikap bahkan mengutuk tindakan kekerasan dan pembunuhan yang mengatasnamakan Islam atas kasus bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya yaitu Gereja GKI Diponegoro, Gereja SMTK Ngagel dan Gereja HKY.

Kalau seandainya masjid yang dibom, entah apa jadinya pluralisme di negara ini; ketika gereja dibom, orang Kristen tetap tabah dan tak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kalau ada satu ayat saja di mana Yesus berkata: “Bunuhlah mereka yang membunuh umat-Ku; bunuhlah mereka yang menghina nama-Ku”, maka para teroris bukanlah apa-apa. Sayangnya, tidak pernah terucap sedikitpun dari mulut Yesus yang memerintahkan pengikut-Nya untuk membunuh musuh Kristen, membunuh mereka yang menghina dan mencaci maki Yesus dan pengikut-Nya; yang ada malahan Yesus memerintahkan untuk berdoa dan mengasihi mereka yang menganiya dan berbuat jahat kepada pengikut-Nya.

Benarlah apa yang dikatakan Yesus ribuan tahun yang lalu:

“Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu. Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu” (Yohanes 16:2-4)

Tragedi bom bunuh diri diri gereja-gereja di Surabaya adalah “wajah buruk” kehidupan pluralisme di Indonesia. Kalau beberapa hari lalu, di Mako Brimob Kelapa Dua Depok terjadi insiden yang menewaskan beberapa orang, yang juga pelakunya mengatasnamakan agama, kini kasus yang menimpa Kristen juga bermotif sama: “membunuh atas nama agama”. Ancaman demi ancaman dan pembunuhan demi pembunuhan atas nama agama telah mencoreng sifat hakiki dari agama: “membawa manusia kepada Tuhan”.

Saudara-saudaraku, ingatlah selalu ajaran Yesus: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Jika kita menjadi pengikut Yesus Kristus, ingatlah hal-hal ini:

Pertama, Yesus itu tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak pernah memerintahkan para pengikut-Nya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan;

Kedua, Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk berperang, membunuh, dan mencaci maki orang lain;

Ketiga, Yesus tidak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk membenci orang lain, membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru malah Ia memerintahkan untuk mengasihi musuh-musuh dan berdoa bagi mereka.

Keempat, Yesus menjamin para pengikutnya dengan kehidupan kekal dan sukacita yang lua biasa dalam Kerajaan-Nya.

Meski menjadi pengikut Yesus Kristus sering disalahpahami, dan bahkan sering dicaci maki dan diburu untuk dibunuh, namun tidak ada seorang pun yang dapat menyamai dan menyaingi Yesus, baik dalam hal personalitas dan ajaran-ajaran-Nya. Salam Damai Indonesiaku. Semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan kesabaran dari Tuhan; kiranya kejadian ini terwujud solidaritas agama-agama untuk melawan terorisme. Saya turut bersedih atas korban jiwa akibat tindakan bom bunuh diri dari mereka yang mengaku beragama, tetapi otaknya adalah ideologi Iblis dan bukan iman kepada Allah swt. yang penuh kasih dan sayang atas umat manusia.

Shalom. Soli Deo Gloria

Sumber gambar: https://simponinews.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG-20180513-WA0055.jpg

PRINSIP-PRINSIP DASAR APOLOGETIKA

Dunia berpikir, selain luas, juga bersifat bebas. Siapa saja bebas untuk berpikir apa saja (secara luas) — sesuka hatinya. Begitu juga dalam dunia teologi; siapa saja bebas berpikir dan berpendapat dari apa yang dia rasa dan dia pikir itu baik, mengandung sebuah pernyataan bagi posisinya. Kebebasan berpikir dianggap sebagai otonomi manusia untuk menentukan posisinya. Bahkan tak jarang ada orang yang merasa bahwa sistem pemikirannya terhadap iman Kristen dianggap valid dan tak terbantahkan. Ada yang beranggapan bahwa agama Kristen memiliki ‘Allah yang kelihatan’ sedangkan Islam memiliki ‘Allah yang tidak kelihatan’; kemudian ditarik kesimpulan bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan adalah benar’, padahal belum ada bukti bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan itu siapa, dan bagaimana personalitasnya.’ Implikasinya, Allah orang Kristen kelihatan, jadi pasti bukan Tuhan.

Kesimpulan tersebut selain tidak memiliki bukti, juga bersifat imajinatif. Pemahaman akan Allah dalam teologi Kristen selalu bersumber dari penyataan diri-Nya, sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci. Teologi Kristen tidak membicarakan Allah dalam konsep angan-angan dan imajinasi. Sama sekali tidak! Penyataan diri Allah menjadi dasar dan bukti keimanan Kristen terhadap Dia yang menyatakan diri-Nya. Itu sebabnya, iman Kristen memiliki bukti terkuat bukan berdasarkan logika imajinatif, atau logika mengarang bebas, tetapi berdasarkan logika penyataan diri Allah.

Untuk melihat kejelasan mengenai hal ini, ada beberapa pertanyaan sebagai potensi keseimbangan berpikir analogikal.

Pertama: apa keuntungan dan keunggulan jika Tuhan tidak kelihatan, dan apa keuntungan dan keunggulan jika Tuhan kelihatan

Kedua: jika Tuhan tidak kelihatan, maka ‘Tuhan’ seperti apa yang diproyeksikan dalam pikiran Anda ketika Anda berdoa?

Ketiga: apakah mutlak Tuhan itu harus tidak kelihatan?

Keempat: apakah Tuhan yang tidak kelihatan adalah ‘Tuhan yang menyatakan diri-Nya?”

Kelima: jika jawaban dari pertanyaan keempat adalah ‘Ya’ dengan dalil bahwa soal Tuhan menyatakan diri dengan cara tidak kelihatan itu adalah kedaulatan-Nya, maka dari mana Anda tahu bahwa “Tuhan yang tidak kelihatan” diyakini adalah Tuhan yang benar? Apakah Ia telah menyatakan diri-Nya untuk membuktikan bahwa Ia tidak kelihatan?

Keenam: Apakah ukuran atau standar bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah Tuhan yang benar?

Memahami ‘Allah yang kelihatan dan tidak kelihatan’ memiliki problem yang sama yakni: ‘Allah seperti apa yang diproyeksikan pikiran manusia ketika mereka sedang berdoa?’ Setiap manusia, agama apa pun dia, memiliki proyeksi tentang ‘Allah’ atau ‘Tuhan’ yang diyakininya. Jadi, ketika seseorang mengklaim bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan itulah yang benar’ maka dia pun harus membuktikan bahwa ‘Allah seperti apa yang tidak kelihatan?’

Klaim tersebut bermain di ranah ‘logika’ dan ‘analogikal’. Ada pula yang mengklaim bahwa orang Kristen tidak bisa menghapal Alkitab sedangkan orang Islam bisa menghapal al-Qur’an. Padahal, dia tidak tahu bahwa Alkitab dan al-Quran tingkat ketebalannya berbeda. Alkitab ditulis dalam dua bahasa, sedangkan al-Quran hanya satu. Jadi sebenarnya orang Kristen tidak diperintahkan untuk menghapal kitab sucinya, melainkan diperintahkan untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum, perintah-perintah, ketetapan-ketetapan Tuhan Allah, menantikan janji-janji Tuhan, menikmati cinta kasih dan kebaikan-Nya. Domain menghapal bukanlah perintah Tuhan Allah. Jadi, tidak ada kewajiban untuk menghapal Alkitab tetapi ada kewajiban untuk hidup sesuai prinsip-prinsip Alkitab.

Dasar-dasar pemikiran terdiri atas: daya nalar untuk menganalisis (pengamatan), konseptual, faktual, dokumentarial, skriptural atau Kitab Suci, rasionalitas, dan analogikal. Dasar-dasar tersebut memandu kita untuk dapat memahami dan menghidupi kebenaran. Untuk menjawab berbagai keberatan terhadap iman Kristen, maka kita juga harus menyodorkan sesuatu sesuai dengan konsep dasarnya. Misalnya, ketika seseorang mengatakan: “Tidak ada neraka”, maka kita perlu bertanya: apakah “Tidak ada neraka” didasarkan pada “daya nalar untuk menganalisis (pengamatan), konseptual, faktual, dokumentarial, skriptural atau Kitab Suci, rasionalitas, atau analogikal?”

Jika negasi mereka berangkat dari data Kitab Suci atau dokumentarial, maka sebagai pembuktian terbalik adalah mereka yang menegasikan ‘Tidak ada neraka’ harus juga menyuguhkan sumber atau data yang sama. Jika para negator menggunakan data ‘analogikal’ dengan menyatakan: ‘Tidak mungkin Allah yang baik dan maha kasih menciptakan neraka atau menghukum manusia di perapian yang menyala-nyala’.

Kita dapat memberikan sanggahan sebagai berikut: “Kalau tidak mungkin Allah menciptakan neraka karena Ia baik dan maha kasih, lalu bagaimana tanggapan Anda atas berbagai jenis kejahatan yang terjadi di dunia ini?” Menurut Anda, ‘orang-orang yang berbuat jahat seharusnya mendapat hukuman atau tidak, atas segala yang dilakukan terhadap manusia lain, seperti membunuh, mendustai, dan melakukan perbuatan jahat lainnya”? 

Apakah dengan adanya kejahatan di dunia ini maka Anda berkesimpulan bahwa tidak mungkin Allah menciptakan neraka? Pernyataan bahwa Allah tidak mungkin menciptakan neraka tidaklah mendahului fakta bahwa Allah telah menciptakan neraka. Pembuktian bahwa neraka itu ada karena didasarkan pada skriptural yang di dalamnya memuat tentang kesaksian penglihatan-penglihatan dari mereka yang dikenan Tuhan.

Intinya adalah: Pertama. Kita harus memahami terlebih dahulu sumber atau data apa yang digunakan. Jika para negator menolak Kitab Suci [Alkitab] sebagai wahyu Allah, maka para negator diminta untuk menunjukkan dokumen yang sama dengan Kitab Suci [Alkitab] sebagai bukti bahwa di dalamnya membuktikan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah. Dokumen tersebut harus memenuhi unsur keakuratan historis. Kedua. Bedakan antara negasi konseptual atau analogikal dengan negasi faktual dan dokumentarial, dan hal-hal lainnya sebagaimana telah disebutkan di atas.

Ketiga. Setiap bentuk negasi, kita perlu memiliki cara berpikir analogikal. Artinya, setiap bentuk negasi selalu memiliki dua sisi. Jangan terpaku pada satu sisi saja. Misalnya: para negator menyatakan bahwa ‘Yesus itu hanyalah mitos’. Maka kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan: Apa definisi mitos? Apa klasifikasi mitos? Apa saja konteks mitos? Dokumen apa saja yang menolak historisitas Yesus? Apa dasar hakiki yang menguatkan klaim bahwa Yesus hanyalah mitos?

Hal ini juga memiliki natur yang sama dengan mereka yang menegasikan bahwa ‘Yesus bukan Tuhan’: Pertama, kita dapat bertanya, ‘apa definisi Tuhan menurut Anda? Kedua, apa saja yang dilakukan Tuhan? Ketiga, apakah definisi dan perbuatan yang dilakukan Tuhan didukung oleh sebuah dokumen? Keempat, jika seorang pribadi dapat melakukan apa yang bisa dilakukan oleh ‘Tuhan’, maka apakah seorang tersebut dapat disebut Tuhan? Kelima, jika seseorang mengatakan bahwa ‘Tuhan tak mungkin mati’, maka kita dapat bertanya apakah ada bukti bahwa Tuhan pernah mati?

Jika mereka mengatakan: Yesus adalah Tuhan, dan Ia mati disalibkan, bukankah Tuhan itu telah mati? Pertanyaan analogikal: menurut Anda, apakah ‘Tuhan’ itu fisik atau ‘substansial’ [roh]? Apakah ketika manusia mati maka rohnya juga ikut mati? Jika ya, maka apa buktinya bahwa roh manusia itu mati, dan mati seperti apa yang Anda ketahui?

Dalam menjawab setiap pertanyaan, kita dapat menggunakan prinsip klarifikasi dalam bentuk memperjelas klaim atau negasi yang diajukan terhadap iman Kristen. Hal ini disebabkan adanya demarkasi, baik demarkasi negatif, maupun demarkasi positif. Demarkasi negatif adalah bentuk klaim dan negasi yang sama sekali tidak ada hubungannya, seperti iman Islam yang menolak ketuhanan Yesus. Demarkasi positif adalah bentuk klaim dan negasi yang bertolak dari teks-teks Alkitab yang cenderung melakukan penafsiran secara ‘amburadul’ dan ‘sesuka hati’ sehingga menghasilkan nilai berpikir yang tidak doktrinal maupun dogmatis.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/499336677410649266/

APA YANG TERJADI PASCA YESUS MATI?

Sumber gambar: https://www.raulberzosa.com/arte-sacro

Untuk memahami persoalan apa yang dilakukan Yesus pasca kematian-Nya, kita harus menggunakan kerangka berpikir komprehensif dari semua karya Allah di dalam Yesus Kristus. Alkitab menjelaskan bahwa “manusia telah berdosa kepada Allah”—ini ditegaskan karena Allah tidak berhutang dosa kepada manusia, sebaliknya, manusia berhutang dosa pada Allah. Oleh sebab itu, karena manusia berdosa kepada Allah, maka hanya Allah saja yang layak, yang patut, yang mutlak, dan yang berdaulat menetapkan “bagaimana” cara menebus manusia.

Perjanjian Lama menegaskan berbagai tata cara penebusan dosa yang ditetapkan dan disetujui Allah agar bangsa Israel, umat-Nya, mengetahui bahwa untuk mendapatkan pengampunan, penyucian, pembebasan dari segala dosa, kesalahan, dan pelanggaran, mereka harus mempersembahkan kurban-kurban, yang mengindikasikan adanya dua hal yakni “kematian” dan “darah”. Hal inilah yang kemudian digenapi dan dikerjakan Yesus di kayu salib: Ia mencucurkan darah dan kemudian Ia mati sebagai tanda “substitusi”—mengganti manusia dengan diri-Nya agar manusia diselamatkan dari murka Allah.

Inilah yang ditegaskan Rasul Petrus (1 Petrus 1:18-19)

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Dan Rasul Paulus menegaskan konteks ini dalam Roma 8:32:

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Singkatnya, penebusan dilakukan karena ketetapan Allah yakni mempersembahkan kurban-kurban, dilakukan juga oleh Yesus di zaman Perjanjian Baru.

Lalu apa yang terjadi pasca kematian Yesus? Mengenai ini, hanya Rasul Petrus yang menuliskannya yaitu dalam 1 Petrus 3:18-20:

Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

Dari teks di atas, tidak disebutkan kapan harinya di mana Yesus pergi kepada roh-roh dalam penjara untuk “memproklamirkan” kemenangan-Nya atas maut. Kata yang diterjemahkan “memproklamirkan” adakah “ekēruksen” [ἐκήρυξεν] dari kata “kērussō” [κηρύσσω]. Jadi, entah pada hari Jumat malam, atau hari Sabtu secara keseluruhan, yang pasti, atas keterangan Rasul Petrus, Yesus pergi ke penjara di mana terdapat roh-roh manusia yang hidup pada zaman Nuh.

Dengan demikian, apa yang terjadi pada hari Sabtu, pasca kematian Yesus di hari Jumat? Jawabannya adalah “Yesus pergi memproklamirkan kemenangan-Nya atas maut”. Soal berapa lama Ia memproklamirkan kemenangan-Nya di dalam penjara, Alkitab tidak menjelaskannya. Dari sini kita paham, bahwa ketika Allah menyelamatkan manusia, Ia tidak setengah-setengah; Ia secara total menyelesaikan dan mengerjakannya melalui Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus. Hanya mereka yang menyadari betapa ia adalah manusia berdosa yang telah ditetapkan Tuhan, dipanggil, dan ditebus oleh Yesus, yang dapat memahami betapa ajaibnya dan betapa kasihnya Allah pada manusia berdosa.

Salam Bae…

MAKNA “INJIL” DAN “KITAB INJIL KANONIK”

PENDAHULUAN

Berbicara tentang “Injil”, tentunya bukan merupakan hal yang baru bagi orang Kristen, karena dengan Injil-lah orang Kristen tahu dan mengenal siapa Yesus dan karya keselamatan-Nya. Keempat Injil (kitab-kitab) dalam Perjanjian Baru merupakan satu-satunya sumber informasi utama mengenai Yesus Kristus, selain dari pada kitab-kitab lain terutama kitab-kitab yang ditulis oleh Rasul Paulus. Menurut J. I. Packer, Merrill C. Tenney dan William White, keempat Injil [kitab-kitab] itu tidaklah menyajikan sebuah biografi lengkap mengenai kehidupannya, cuma gambaran tentang pribadi-Nya dan pekerjaan-Nya. J. I.  Packer, Merrill C. Tenney dan William White, Dunia Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 1995), 121. Selanjutnya dijelaskan bahwa kitab-kitab Injil, sesungguhnya merupakan penafsiran-penafsiran dari pada sekedar catatan rentetan peristiwa, tetapi tidak ada alasan sedikitpun untuk meragukan bahwa segala hal yang mereka kemukakan adalah sepenuhnya benar. Packer, Tenney dan White, Dunia Perjanjian Baru, 121.

Di samping itu, keempat penulis Injil memberikan aksentuasi yang berbeda-beda, berdasarkan maksud yang hendak disampaikan kepada para penerima Injil itu. Matius menekankan Yesus sebagai Raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai Anak Manusia, dan Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Yesus Kristus adalah tokoh utama dalam Injil-Injil. Penulis-penulis lain selain dari penulis Injil-injil kanonik, yang menekankan Yesus dengan cara yang berbeda, mungkin juga ada yang mencampuradukan ajaran Kristen dengan paham yang lain sehingga menghasilkan sebuah kitab atau injil yang sangat berbeda.

Menurut Joel B. Green, “Sebenarnya ada banyak ‘injil’ yang ditulis pada abad-abad pertama keberadaan Gereja. Lukas sendiri menyadari adanya beberapa upaya untuk menyampaikan kisah Yesus yang telah dilakukan sebelum upayanya ini (Luk. 1:1).” Joel B. Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005), 20. Dengan adanya penyampaian berita-berita yang disampaikan melalui sebuah “Injil” [kitab] yang memfokuskan ajarannya pada pribadi Yesus maka pada abad pertama, Gereja mengalami suatu perlawanan tentang ajaran-ajaran yang berkembang pada saat itu, yang juga termasuk di dalamnya adalah paham-paham Gnostik. Curt Fletemier mengomentari masalah ini dan menyimpulkan, “Tapi satu hal yang kita tahu pasti adalah selama abad kedua, ketika umat Kristen mulai menyebarkan Injil (berita) tentang Yesus di daerah Romawi, Gnostik menjadi salah satu pesaing terberat kekristenan. Beberapa orang Yahudi, Roma, dan Yunani menjadi orang kristen, yang lainnya menjadi Gnostik.” Curt Fletemier, Injil Yudas: Dusta Berkepanjangan, 3. Dalam Perjanjian Baru, Gnostik telah menyebar di kalangan jemaat-jemaat di Kolose, Korintus dan lain-lain. “Bidat Gnostik dalam Perjanjian Baru adalah bidat di Kolose yang menggabungkan spekulasi-spekulasi filosofis, kuasa perbintangan, ketakutan kepada perantara, tabu terhadap makanan dan praktik-praktik bertapa dengan unsur yang dipinjam di Yudaisme (Kolose 2:8-23). Bidat di Korintus menyangkal kenyataan kebangkitan (1 Kor. 15:12). Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes, yang menyangkal kemanusiaan Kristus (1 Yoh. 4:3; 2 Yoh. 1:7). Mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi Gnostik ‘seluk-beluk Iblis’ digunakan (Why. 2:24), surat-surat penggembalaan mencela pengajaran yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah (1 Tim. 1:4 dst, [lih. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, tentang Gnostik, 343]).

Dalam masa pelayanan Yesus selama di bumi, Ia memberitakan kabar keselamatan, kerajaan Allah, berita pengampunan dosa, juga Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit, berjalan berkeliling di kota dan desa dan masih banyak hal yang dilakukan. Pada masa itu juga banyak orang yang mengetahui tentang Yesus, dan apa yang Ia lakukan. Ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, orang-orang Saduki dan orang-orang yang ada sekitar Yesus di mana Ia melayani (Mat. 4:23-25 [Yesus mangajar dan menyembuhkan banyak orang dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh Siria], dan konteks yang sama ditulis oleh Lukas dalam Luk. 6:17-19 [Yesus mengajar dan menyembuhkan orang-orang yang sakit juga yang dirasuk oleh roh jahat].

Konteks yang lebih luas lagi adalah tentang khotbah di bukit, di mana ada begitu banyak orang yang mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Yesus (Mat. 5:1-12; Luk. 6:20-23). Yesus dan orang-orang Farisi (Mat. 12:22-37; Mrk. 3:20-30; Luk. 11:14-23). Yesus dan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (Mat. 15:1-20; Mrk. 7:1-23). Yesus dan orang-orang Farisi dan juga orang-orang Saduki (Mat.16:4; Mrk. 8:11-13). Yesus memberikan kesaksian tentang diri-Nya dan menimbulkan pertentangan di antara orang banyak (Yoh. 7:14-24), dan masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Yesus seperti yang dikatakan oleh Yohanes, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya harus dituliskan satu persatu, maka agaknya dunia tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25). Injil adalah kabar yang baik bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang diutus Bapa ke dalam dunia.

MAKNA “INJIL”

Menurut John Drane: “Kata ‘Injil’ adalah padanan dalam bahasa Indonesia untuk kata Yunani, ‘euanggelion, yang dipakai Markus, dan mula-mula dipilih sebab kedua-duanya mempunyai arti yang sama: “Kabar Baik.” Jadi, Markus menulis mengenai “Permulaan kabar baik.” Apa artinya itu? Markus dan para penulis kitab Injil lainnya telah mendengar “Kabar Baik” tentang Yesus. John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Pengantar Historis – Teologis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 184.

Ola Tulluan berpendapat bahwa Kata euangelium berasal dari bahasa Yunani, artinya adalah “Kabar Baik.” Dalam Perjanjian Baru, istilah ini tidak pernah dipakai untuk kitab-kitab Injil, tetapi senantiasa tentang “berita keselamatan”. Baru pada abad ke-2 istilah ini dipakai dalam arti “Kitab Injil. Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru, (Malang: Departemen Literatur YPPI, 1999), 27.

Gerald O’Colllins dan Edward Farrugia juga menjelaskan tentang kata “Injil”, yaitu: Injil (Yun. “Kabar Gembira”). Warta bahwa kerajaan Allah sudah dekat (Mrk. 1:14-15) dan bahwa Yesus dinyatakan sebagai putera Allah dan Tuhan karena kematian dan kebangkitan-Nya (Rm. 1:3-4; 1 Kor. 15-1-11). Kabar gembira ini mendatangkan keselamatan…. (Rm. 1:16) dan mendorong manusia untuk rela berkorban (Mrk. 8:35; 10:29). Pada abad kedua “Injil” menjadi nama untuk menunjuk empat tulisan dalam Perjanjian Baru yang mengisahkan pengajaran, karya wafat, serta kebangkitan Yesus. Demikianlah kita mempunyai Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Gerald O’ Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), 117.

Joel B. Green juga menjelaskan: “Di dalam dunia Helenistis, istilah Injil atau kabar baik terutama dihubungkan dengan pengumuman kemenangan dalam pertempuran. Dalam Perjanjian Lama terjemahan bahasaYunani yang ditulis sekitar abad ketiga masehi, kata benda eunggelion muncul bebrapa kali. Walaupun demikian…kata tersebut mengandung makna “kabar baik.” (Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 61-62). Sebagai contoh, lihat 2 Samuel 4:10; 18:22, kata ini tidak menampilkan nuansa keagamaan yang eksplisit. Di sisi lain kata kerja euanggelizomai, “memberitakan kabar baik”, di dalam Yesaya 52:7, dihubungkan dengan proklamasi keselamatan … karena itu, Injil adalah berita keselamatan dari Allah….(Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 62).

Kabar Baik memiliki serangkaian perjalanan Yesus dalam “setting” (kejadian atau latar belakang cerita) yang menarik yang menghadirkan perdebatan teologis dengan para ahli Taurat dan lain-lain. Polemik yang berkepanjangan dengan orang-orang Yahudi (atau penganut agama Yahudi) terletak pada diri Yesus yang adalah Mesias yang juga memberi penebusan dosa manusia di mana hal itu tidak mau diakui oleh agama Yahudi. Green menjelaskan bahwa, “Bagi kita, sebuah Injil adalah sebuah buku yang memberikan narasi tentang kehidupan Yesus – yang secara khusus memfokuskan diri pada pelayanan-Nya kepada orang banyak, kematian serta kubur yang kosong” (Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 61).

Profesor Agustinus Gianto memberikan penjelasan tentang kata “Injil.” Dia mengemukakan bahwa, “menjelang zaman Yesus, kata ‘injil’, yang berasal dari bahasa Yunani ‘euaggelion, secara umum dipakai dalam arti kabar baik, berita yang melegahkan karena bala bantuan telah tiba atau musuh telah tersingkir. Di kalangan orang Yahudi zaman itu pengertiannya menjadi lebih khas, yakni kabar baik bahwa sudah dekatlah pembebasan dari pembuangan di negeri asing dan penindasan oleh kuasa asing. Inilah yang melatari pemakaian kata ‘injil’ di kalangan para murid Yesus … yaitu bahwa Yang Mahakuasa kini bertindak memerdekakan seluruh kemanusiaan dari kungkungan keberdosaan. Gagasan yang tadinya berkembang di kalangan umat Yahudi tadi kini mulai meluas menjadi warta rohani bagi semua orang. Untuk itu Yesus memakai gagasan yang mudah dimengerti oleh para pendengarnya waktu itu, yakni ‘kerajaan Tuhan telah datang’ … yakni pemberitahuan mengenai kerahiman ilahi serta ajakan untuk menerimanya. Itulah ‘Injil’ pada mulanya.” Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, dan Gregor Wurst, The Gospel of Judas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), viii-ix.

Gianto menambahkan, di kalangan para murid generasi berikutnnya, gagasan tadi juga dipakai untuk menyebut pelbagai tulisan mengenai tindakan Yesus dalam mewujudkan “Kabar Gembira” tadi, yakni penyembuhan, pengusiran setan, serta pengajaran bagaimana hidup menurut Kabar Gembira itu, termasuk pula kejadian-kejadian menjelang akhir hidup-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya. Kumpulan yang  paling utuh dari semua ini terdapat dalam keempat Injil di dalam Alkitab sekarang. Boleh dikatakan bahwa Injil-Injil dalam Alkitab mengabadikan berita gembira –Injil – yang dibawakan oleh Yesus. Kitab-kitab itu kemudian dikeramatkan dalam pelbagai kalangan umat Kristen sejak awal abad kedua. Kasser, Meyer, dan Wurst, The Gospel of Judas, ix.

Eksplikasi di atas bisa dikaitkan dengan pelayanan Yesus yang menyatakan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga yang diceritakan oleh Matius (5:10; 6:33; 7:21; 9:35), Markus (10:15), Lukas (9:11). Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dalaam pelayanan-Nya. Artinya, kedamaian, kuasa, keadilan, dan kemurahan Allah dinyatakan-Nya. Dengan demikian, Injil juga mewartakan Kerajaan Allah (Mat. 11:28-30) yang penuh kasih, keadilan, damai dan kuasa Allah bagi orang-orang berdosa.

Jacob van Bruggen menjelaskan bahwa, “nama Injil tidak menunjukkan gaya, tetapi mencirikan isinya. Kitab itu berisi kabar baik mengenai Kristus…. Bagaimanapun, di sini istilah Injil mengandung arti: ‘riwayat hidup Yesus Kristus di bumi.’ Riwayat hidup itulah yang dibicarakan sebagai ‘kabar baik.’ Jacob van Bruggen, Markus: Injil  Menurut  Petrus (BPK Gunung Mulia, 2006), 6-7.

Keempat penulis Injil Perjanjian Baru menceritakan riwayat hidup Yesus dengan tujuan yang sama yaitu Yesus sebagai penebus. Dalam riwayat inilah Yesus menjalankan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya (Yohanes 13:3, “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah”; bdk. Yoh. 14:24). Dengan berbagai hal yang Ia lakukan, banyak orang yang percaya akan pengajaran-Nya dan mujizat yang diperbuat-Nya (Yoh. 10:40-42; 2:23; 3:1; 19:39; Mat. 7:28; Luk. 7:16; Mrk. 5:20).

Injil-Injil kanonik menceritakan tentang Yesus. Injil-Injil kanonik ditulis berdasarkan fakta sejarah (ada saksi mata kejadian, dan melalui kuasa Roh Kudus yang mewahyukan kebenaran tersebut, menjadikan Injil-Injil PB bersifat mengubahkan kehidupan dan memberikan informasi tentang Kerajaan Allah  serta keselamatan yang dikerjakan-Nya). Fakta merupakan dasar utama untuk setiap kebenaran yang termaktub dalam Injil-Injil PB. Kemudian fakta tersebut dapat diteguhkan oleh penemuan-penemuan arkeologi, jika fakta itu memiliki keterkaitan dengan sesuatu hal yang disampaikan, baik itu daerah, kota, orang yang memerintah, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu dan lain sebagainya.

Tentang fakta, Bruce Chilton menjelaskan, kata ‘fakta’ dipakai untuk unsur-unsur dalam kitab-kitab Injil yang pertama-tama mencerminkan apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus (setidaknya sejauh kita dapat mengetahuinya). Fakta hanya mengacu pada apa yang ada di dunia pengalaman, pada apa yang didengar orang atau diajarkan oleh Yesus. “Fiksi”, langsung mengacu pada dunia kepercayaan pada bahan yang ditulis orang Kristen untuk mengungkapkan kepercayaannya kepada Kristus. Dokumen yang dianggap berdasarkan fakta dalam menyampaikan laporan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau harus memiliki hubungan yang dapat dibuktikan dengan peristiwa yang bersangkutan…. Tetapi, jika satu dokumen menyajikan pembahasan yang panjang lebar atas nama Yesus – seperti halnya dengan “injil-injil apokrif”, abad ke-2 – tetapi hampir tidak ada kaitannya dengan ajaran-Nya sebagaimana dapat diketahui dari sumber-sumber terdahulu, maka sewajarnya dokumen-dokumen itu dianggap fiksi. Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru bagi Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 23-24. Lebih lanjut Bruce menjelaskan bahwa, “Kitab-kitab Injil tidak sepenuhnya menempati salah satu posisi, sehingga sulit untuk memasukkannya dalam salah satu kategori. Pada satu pihak, dokumen-dokumen ini menyampaikan bahwa atas nama Yesus, tetapi pada pihak lain memberi kesaksian tentang iman Gereja Purba. Bagi kita, untuk mengerti seberapa jauh Injil-injil itu berdasarkan fakta, kita harus tahu bagaimana erat kaitannya dengan Yesus dari sejarah dalam hal tuntutan Injil itu mengenai Dia”. Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula, 24.

Keempat Injil adalah fakta sejarah yang dapat dipercaya dan akurat. Dalam penjelasannya, keempat Injil kanonik bersifat saling melengkapi satu sama lain dan patut disebut sebagai suatu “konklusi” nyata dari Allah.  Lee Strobel mengutip pernyataan Benjamin Warfield, dalam bukunya yang berjudul Introduction to Textual Criticism of the New Testament:

“Jika kita membandingkan keadaan kini dari teks Perjanjian Baru dengan keadaan kini dari teks tulisan kuno lainnya, kita harus … mengumumkannya sebagai sesuatu yang benar secara sungguh-sungguh mengagumkan. Ketelitian dalam bagaimana Perjanjian disalin juga demikian – suatu ketelitian yang pasti bertumbuh dari perujukan yang benar atas kata-kata kudusnya … Perjanjian Baru tak tertandingi di antara tulisan-tulisan kuno dalam kemurnian teksnya sebagaimana yang benar-benar diteruskan dan tetap digunakan. Lee Strobel, Pembuktian atas Kebenaran Kristus (Batam: Gospel Press, 2002), 89.

Kitab-kitab Perjanjian Baru, khususnya kitab-kitab Injil, telah mengalami berbagai bentuk-bentuk kritik yang mencoba menggugurkan kewibawaan Alkitab bahwa di dalamnya memiliki data atau informasi yang kontras satu dengan yang lainnya. Memang ada beberapa teks dari Injil Sinopsis dan Injil Yohanes yang sangat mencolok perbedaanya dan orang langsung mengambil kesimpulan bahwa hal sangat kontradiksi. Padahal, kalau dilihat secara akurat dan berdiri pada prosedur interpretasi obyektif maka dapat sebenarnya isi dalam Injil-Injil memberi keragaman atau keharmonisasian tentang teks (meski dianggap berkontradiksi), dan tetap pada kesimpulan bahwa keempat Injil ini saling melengkapi. Berita “Injil” mengacu pada berita keselamatan, anugerah Allah, kerajaan Allah, pengampunan dosa, pertobatan dan lain sebagainya. Rasul Paulus, dalam teologinya mengelaborasikan mengenai Kristologi yang mendalam. Ia menjadikan Injil sebagai pegangan hidupnya (bdk. Rm. 1:1-4, 16-17; 2 Kor. 6:1-10).

Orang-orang Kristen pada abad pertama mengalami pergolakan iman tentang Yesus. Banyak muncul ajaran-ajaran tentang Yesus yang tujuannya menghancurkan inti kepercayaan Kristen tentang Yesus (bdk. Flp. 3:2-4, Kol. 2:16-20, 2 Tes. 3:6-9, 1 Tim. 1:3-10, 6:9-10 dan lain-lain). Menurut S. T. France, sumber-sumber Kristen di luar Perjanjian Baru juga tidak dapat banyak membantu. Sebagian besar “kitab-kitab Injil” yang dihasilkan selama abad kedua dan sesudahnya jelas-jelas didasarkan atas keempat Injil dalam kanon, kemudian dilengkapi dengan cerita dongeng yang makin bertambah. S. T. France, Yesus Sang Radikal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 181.

Curt Fletemier, dalam Injil Yudas: Dusta Berkepanjangan, halaman 13, menjelaskan bahwa, “ratusan tahun setelah penyaliban Yesus, dan masa setelah para rasul tiada, ada kemungkinan bahwa beberapa orang Kristen dipengaruhi oleh pengajaran Gnostik, menulis beberapa injil baru. Tentu saja mereka akan memalsukan nama mereka dan menaruhkan nama para Rasul yang sudah lama tiada pada tulisan mereka. Mereka tahu bahwa dengan menaruhkan nama para Rasul di dalam tulisannya akan membuat orang menganggapnya lebih serius.”

ANTARA INJIL DAN KITAB-KITAB INJIL

Di atas telah dijelaskan soal makna kata “Injil” [euanggelion] yang berarti kabar baik. Yesus memberitakan Injil bukan berarti Ia memberitakan isi kitab-kitab Injil. Injil yang diberitakan bersifat verbal dan menekankan pada “isi”. Isi Injil adalah terkait dengan berita keselamatan, Kerajaan Allah, dan aspek-aspek penting tentang pertobatan kepada Allah, kasih Allah, dan pengampunan Allah. Sedangkan kitab-kitab Injil adalah dokumen-dokumen yang mengisahkan tentang pribadi Yesus Kristus dalam keseluruhan pelayanan-Nya dalam konteks Inkarnasi-Nya.

Jadi, sangat keliru jika memahami bahwa Injil yang diberikan Yesus adalah Injil yang merupakan kitab-kitab. Ada yang keliru memahami definisi Injil yang diberitakan Yesus. Mereka berpikir bahwa Injil yang diberitakan Yesus adalah sebuah ‘kitab’, padahal antara Injil yang diberitakan Yesus yang menekankan pada ‘isi berita’ dan Injil yang merupakan sebuah kitab, tentulah berbeda dari segi bentuk dan kronologis.

Karena kesalahpahaman inilah, beberapa orang telah “salah kaprah” terhadap Injil, baik yang diberitakan Yesus maupun Injil yang ditulis oleh para murid Yesus (Matius, Yohanes, dan Petrus [melalui Markus]) dan Lukas, seorang dokter dan seorang rekan kerja Rasul Paulus. Persoalan salah kaprah ini mengantarkan kita pada kitab suci Islam: al-Qur’an yang dalam beberapa kitab menyebutkan bahwa ia “membenarkan kitab-kitab sebelumnya” termasuk Injil. Nah, pertanyaannya, Injil yang mana yang dibenarkan al-Qur’an? Untuk menghindari pembenaran al-Qur’an terhadap kitab-kitab Injil PB, beberapa orang berdalih bahwa Injil yang dibenarkan oleh al-Qur’an adalah “Injil Yesus Kristus”, padahal al-Qur’an sendiri berbicara mengenai kitab Injil dan bukan berita Injil. Karena ketidakjujuran muslimers, maka tak ada yang mau mengakui bahwa al-Qur’an membenarkan Injil PB, dengan dalih bahwa Injil PB telah dipalsukan. Jika dipalsukan, mengapa al-Qur’an membenarkannya?

Mungkin mereka berdalih bahwa yang dibenarkan adalah Injil yang asli. Pertanyaannya: Injil asli yang mana? dan kita dapat terus bertanya ketika mereka memberikan jawaban. Pada akhirnya, tak ada yang mengakui keabsahan Injil-Injil PB ketika al-Qur’an membenarkannya, kecuali mereka yang telah mendalami kekayaan dan keakuratan historis. Bagi saya, mereka yang tidak mau jujur dan belajar tentang kekayaan Injil sebagaimana yang dibenarkan al-Qur’an, dan berdampak pada keengganan untuk mencari dan mendalami pengetahuan tentang Injil-Injil PB itu sendiri, menganggap dirinya bahagia meski tidak tahu apa-apa. Kondisi seperti ini saya sebut dengan “IGNORANCE IS BLISS”—ketidaktahuan adalah anugerah [kebahagiaan]. Sudah tidak tahu, tetapi tidak mau belajar dari pengajaran Kristen; suka mengkritik doktrin-doktrin Kristen, tetapi menolak penjelasan ilmiah yang dikemukakan Kristen; suka mengutak-atik teks-teks Alkitab tanpa konteks, tetapi ketika dijelaskan kontesknya, malah menolaknya dan bahkan tidak menerimanya. Itulah makna sesungguhnya dari peribahasa “IGNORANCE IS BLISS”—ketidaktahuan adalah anugerah [kebahagiaan].

Jika ada muslimers yang bertanya mengapa Injil-Injil PB ada banyak terjemahan, kita hanya bertanya: Injil terjemahan yang mana yang dibenarkan al-Qur’an. Ketika para muslimer bertanya: Injil-Injil PB sebenarnya ditulis dalam bahasa apa: Yunani, Aram, atau Ibrani? Kita hanya bertanya: Injil dalam bahasa apa yang dibenarkan al-Qur’an? Dijamin, pasti tidak tahu dan tidak bisa menjawab.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/20/3d/3c/203d3c92fc3e6d720e7571c58cb90fa9.jpg

“YAHWEH” ATAU “ALLAH” [GOD] ATAU KEDUA-DUANYA? (Bagian 2-selesai)

SEKILAS MENGENAI PERNYATAAN PENGAGUNG YAHWEH

Saya mengutip pernyataan salah satu pengagung Yahweh (kutipan ini diambil dari catatan Pendeta Budi Asali), yaitu Kristian Sugiyarto yang berpendapat, “Saya setuju bahwa nama (Yahweh) identik dengan pribadi-Nya itu sendiri, … Jika Nama identik dengan pribadi maka mengganti nama bisa berarti mengganti pribadi atau tidak mungkin melukiskan pribadi Yahweh dengan nama selain Yahweh. .. ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20: “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,… “), sedangkan TUHAN dan ALLAH jelas nama buatan LAI (NIV)”.

Saya sedikit mengomentari pendapat Sugiyarto mengenai pernyataannya bahwa: “ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20)”. Dari pernyataannya tersebut, sebenarnya simpel saja, pertanyaan saya yang kedua di atas layak dijawab: apakah kata “Yahweh” yang diwahyukan-Nya ataukah “YHWH” yang diwahyukan-Nya? Sebagai catatan di sini adalah “Apakah Sugiyarto memiliki bukti manuskrip atau papyrus Yeremia 32:20 yang menegaskan bahwa terjemahan “Yahweh”-lah yang benar-benar diwahyukan, padahal terjemahan ‘Yahweh’ berangkat dari empat huruf mati ‘YHWH’

Kedua, Sugiyarto menyatakan: “kyrios adalah kata Yunani yang salah atau minimal tidak tepat untuk menggantikan YHWH”. Pertanyaannya, apa dasarnya bahwa kata ‘kyrios’ tidak tepat untuk menggantikan YHWH? Lagipula, jika YHWH tidak diterjemahkan atau ditransliterasikan dengan menggunakan tambahan vokal ‘a’ dan ‘e’, maka apakah nama ‘Yahweh’ dapat mewakili empat huruf tersebut sebagai mana yang diwahyukan?

Ketiga, Sugiyarto menyatakan: “Jadi pada mulanya Septuaginta tetap mempertahankan YHWH. Namun belakangan memang diganti dengan Kyrios, Tuhannya orang Yunani!”. Jika dugaan Sugiyarto benar, maka ia harus membuktikan dengan menggunakan data ilmiah bahwa ‘belakangkan memang diganti dengan kyrios’ sehingga tidak menimbulkan klaim semata tanpa ada dasar sama sekali. Kata ‘belakangan’ harus jelas: kapan, di mana, dan oleh siapa yang menggantinya, sehigga Sugiyarto tidak terkesan hanya berasumsi tingkat tinggi di sini.

Keempat, Sugiyarto menyatakan: “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! … Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi/mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority. … Mereka yang memberi atau mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi/diganti nama.”

Pernyataan Sugiyarto sangat kontradiktif. Buktinya adalah: 1) Pernyataan “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti” merupakan kepercayaan yang terlampau tinggi dan melampaui dari data historis itu sendiri. Pertanyaanya: dari mana Sugiyarto yakin bahwa nama ‘Yahweh’ itulah yang diwahyukan padahal dia sendiri menulis nama tersebut berasal dari empat huruf YHWH? Implikasinya, pertanyaan kedua saya di atas belum terjawab. 2) Ini pernyataan yang lebih aneh lagi: “Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi/mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority”. Jika asumsi saya benar, maka pernyataan Sugiyarto di atas mengindikasikan bahwa hanya Yahweh saja yang berotoritas mengubah nama-Nya, akan tetapi, Yahweh tidak mengubah nama-Nya: dengan demikian, terjemahan ‘Yahweh’-lah yang benar karena Yahweh tidak menggantinya sama sekali. Akan tetapi, pertanyaan kedua saya di atas harus dijawab: mana yang diwahyukan, apakah Yahweh atau YHWH? Jika ini terjawab, maka kita semua akan memiliki landasan kuat bahwa Ia sendiri yang menyatakan nama-Nya.

Para Yahwehisme menyuguhkan teks pendukung terkait dengan nama ‘Yahweh’ yang tak boleh diubah:

Keluaran 3:15, Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Yesaya 42:8, Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.

Teks Keluaran 3:15 menegaskan bahwa “itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”. Pertanyaannya: nama yang mana? Yahweh atau YHWH? Jika ada yang mengatakan ‘Yahweh’ implikasinya dia mengakui bahwa nama ‘Yahweh’-lah yang diwahyukan.

Mari kita lihat firman-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3:14:14, “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Jika demikian, nama ‘Dia’ yang original adalah ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh. Harusnya ini yang dipertahankan, bukan dengan arogan memaksakan nama ‘Yahweh’ dipertahankan dengan menuduh nama ‘Allah’ adalah warisan Islam Arab. Untuk hal ini secara khusus saya akan membahas mengenai nama ‘Elohim’ yang digunakan oleh pengagung Yahweh dalam Alkitab terjemahan mereka. Standar ganda akan saya gunakan di sini.

Mari kita lihat berbagai varian terjemahan tentang teks Keluaran 3:14 berikut ini:

NET  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM that I AM.” And he said, “You must say this to the Israelites, ‘I AM has sent me to you.'”

NIV  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM. This is what you are to say to the Israelites: ‘I AM has sent me to you.'”

NJB  Exodus 3:14 God said to Moses, ‘I am he who is.’ And he said, ‘This is what you are to say to the Israelites, “I am has sent me to you.” ‘

NKJ  Exodus 3:14 And God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And He said, “Thus you shall say to the children of Israel,`I AM has sent me to you.'”

RSV  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And he said, “Say this to the people of Israel, `I AM has sent me to you.'”

TNIV  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM. This is what you are to say to the Israelites: ‘I AM has sent me to you.’ “

YLT  Exodus 3:14 And God saith unto Moses, ‘I AM THAT WHICH I AM;’ He saith also, ‘Thus dost thou say to the sons of Israel, I AM hath sent me unto you.’

Nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh adalah nama original Allah. Herman Bavink [Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012)] menyebutkan bahwa nama Allah ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh adalah Dia yang punya nama tetapi sekaligus tidak punya nama. Berikut penjelasannya soal YHWH:

Bangsa Yahudi menyebutnya nama yang terutama, nama yang mendeskripsikan esensi Allah, nama diri Allah, nama yang mulia, nama empat huruf (tetragrammaton), dan yang menyimpulkan dari Imamat 24:16 dan Keluaran 3:15 (di mana mereka membaca kata “selamanya” sebagai kata “menyembunyikannya”, [le‘allēm] sehingga mereka dilarang untuk melafalkannya. Kita tidak tahu kapan persisnya ide ini muncul di antara bangsa Yahudi. Namun yang pasti LXX telah membaca “Adonai” di sini dan karenanya menerjemahkannya dengan “Kurios” (Yun. kyrios). Terjemahan selanjutnya mengikuti contoh ini dan mereproduksinya dengan “Dominus” (Latin), “Lord” (Inggris), “der Herr (Jerman), HEERE (Belanda) (Acts of Synod of Dort, bagian 2), l’Eternal (Prancis). Oleh karena kegentaran orang Yahudi untuk melafalkan nama ini, pengucapan orisinal dan benar telah hilang atau karena cara pelafalan yang benar dalam kenyataannya telah hilang (lih. Bernhard de Moor, Commentarius perpetuus in Johannis Marckii Compendium theologiae christianae didactico-elencticum, I, 534; Johann Franz. Buddeus, Institutiones theologiae dogmaticae variis observationibus illustratae, [Leipzig: T. Fritsch, 1723] I, 188).

Dengan berpegang pada tradisi Yahudi, beberapa pakar, Joachim dari Floris dalam karyanya Evangelium Aeternum, misalkan, melafalkan nama tersebut [YHWH] dengan “Yewe”, dan memang vokalisasi ini dapat ditemukan dalam karya Samuel B. Meir dan kemudian masih dipertahankan oleh Hottinger, Reland, dan yang lainnya (Franz Delitzsch, Neuer Commentar über die Genesis, [Leipzig: Dörffling & Franke, 1887], pp. 546 etc). Pelafalan “Jehovah” memiliki asal-usul yang belum lama. Pelafalan ini diterima secara luas melalui dukungan Peter Galatinus, seorang Fransiscan, namun ia ditentang oleh banyak pakar (lih. Dionysius Petavius, “De Deo”, dalam De theologicis dogmatibus, [Paris: Vivès, 1865-67], VIII, bab 9). Di kemudian hari, Drusius, Amama, Scaliger, Vriemoet, dan yang lain, mempertanyakan bahwa pengucapan “Jehovah” mungkin tidak benar dengan menyatakan bahwa vokalisasi telah diderivasi dari kata “Adonai” (Gisbert Voetius, Selectae disputationes theologicae, [Utrecht, 1648-69], V, 55; Campegius Vitringan, Doctrina christianae religionis, [Leiden: Joannis le Mair, 1761-86], I, 130).

Bahkan vokalisasi ini sangat dipertanyakan. Yang pertama, kata YHWH adalah sebuah “Qere perpetuum” dalam Alkitab Ibrani, yang kadang-kadang memiliki huruf vokal dari “Adonai” dan di waktu lain memiliki huruf vokal dari “Elohim”. Selanjutnya, bentuk “Yehōwāh” adalah tidak-Ibrani dan tidak dapat dijelaskan. Akhirnya, vokalisasi ini berasal dari waktu ketika pendapat bahwa nama itu seharusnya tidak pernah dilafalkan telah mengakar di dalam tradisi Yahudi.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa menurut Friedrich Delitzsch, nama YHWH telah muncul dalam dua nama diri [gabungan] yang ditemukan dalam loh tanah liat dari masa Hammurabi,´”Ya-a’-ve-elu” dan “Ya-u-um-ilu”. Dari penemuan ini dia menyimpulkan bahwa nama YHWH mula-mula berasal dari Kanaan dan bahwa suku Hammurabi membawanya dari Kanaan ke Babel. Delitzsch keliru jika berpikir bahwa nama YHWH berasal dari Kanaan, sebab asal-usul Semitis bangsa Kanaan dan emigrasi suku Hammurabi dari Kanaan ke Babel adalah hipotesis yang tidak dapat dibuktikan, dan kita tidak menemukan jejak dalam masa kuno tersebut tentang satu allah Kanaan yang bernama YHWH. Mengenai etimologi nama tersebut, umumnya diasumsikan bahwa etimologinya merujuk kembali ke akar hwh atau hyh, dan hanya ada ketidaksepakatan mengenai pertanyaan apakah akar itu berbentuk “imperfect tense” orang ketiga dari “Qal” atau “Hiphil”.

Jika penjelasan di atas dipahami secara terang, maka memahami nama ‘Yahweh’ sebagai tindakan pemaksaan maka secara tegas hal itu bertentangan data historis dan data biblika. Kita pun melihat bahwa kaum Israel dan Yahudi menggunakan kata ‘Adonay’ kepada Sang Khalik, Yahwe, untuk menggantikan nama yang kudus itu. Meski mereka juga menggunakan Yahweh, tetapi mereka tidak getol untuk memaksakan—sebagaimana lazimnya para agoran Yahwehisme—penyebutan nama ‘Yahweh’ sebagai yang benar. Implikasinya justru menjadikan nama tersebut menjadi tidak kudus dan terkesan sembarangan.

Hal ini mengingatkan saya pada Keluaran 20:7 yang menyatakan: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Nah, apakah kaum Yahwehisme termasuk mereka yang menyebut nama ‘Yahweh’ dengan sembarangan atau tidak? Bahkan mereka mengumbar-ngumbar nama ‘Yahweh’ dengan sesuka hati sehingga menimbulkan asumsi bahwa ‘mereka telah menyalahgunakan nama Yahweh’ itu sendiri. Jika nama ‘Yahweh’ itu kudus, maka apakah nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh tidak kudus dan perlu dilupakan? Bukankah nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh yang diwahyukan kepada Musa waktu di semak yang terbakar?

Lalu bagaimana dengan kata ‘Allah’ atau ‘God’? Untuk kata ‘Allah’, akan saya jelaskan di akhir tulisan ini setelah melewati beberapa bagian penting termasuk nama ‘Elohim’.

Berikut ini saya memberikan bukti-bukti bahwa penggunaan nama ‘God’ tidak menjadi sebuah keberatan terhadap mereka yang bergelut di dunia historis dan agama, baik dari kalangan non Yahudi maupun Yahudi.

Pertama: dalam NEW EDITION OF THE “BABYLONIAN TALMUD: Original Text, Edited, Corrected, Formulated and Translated into English oleh Michael L. Rodkinson, (Boston: The Talmud Society, 1918), menggunakan kata “God” dan “Lord”.

Kedua: Salah seorang Rabbi Yahudi, Joseph Telushkin, dalam bukunya Jewish Wisdom: Ethical, Spiritual, and Historical Lessons from the Great Works and Thinkers, (New York: William Morrow and Company, 1994), tidak keberatan menggunakan kata God, meski ia sendiri adalah orang Yahudi asli, yang memiliki Kitab Ibrani, sebagai landasan kata YHWH dan Yahweh. Meski demikian, Teluskhin tidak seperti orang Indonesia yang ke-Yahudi-yahudian untuk mengusung gagasan nama ‘Yahweh’ seolah-olah pertanyaan kedua saya di atas “sudah” terjawab.

Saya memberikan beberapa bukti penggunaan kata ‘God’

(halaman 5): Both the Bible’s prophets and the greatest figures of talmudic Judaism have also expressed the view that ethical behavior is God’s central demand of human beings: He has told you, O man, what is good, and what the Lord requires of you: Only to do justice, to love goodness, and to walk modestly with your God. – Micah 6:8 (eighth century B.C.E.)

(halaman 6): That Hillel, one of the greatest figures of talmudic Judaism, was willing to convert a non-Jew on the basis of his accepting this ethical principle surely proves that ethical behavior constitutes Judaism’s essence (in the same way that Protestant fundamentalists would insist on a would-be convert’s acceptance of what they see as Christianity’s essence, that Jesus Christ was the son of God who died to atone for mankind’s sins).

(halaman 9): additional statement of Judaism’s essence the world endures because of three activities: Torah study, worship of God, and deeds of loving-kindness (Ethics of the Fathers 1:2)

(halaman 10) the Torah’s central message is the belief in one universal and moral God. Idolatry, with its insistence on a multitude of gods and its denial of a universal morality, negates Judaism’s essence.

(halaman 129): Rabbi Akiva’s statement notwithstanding, the article on Song of Songs in the Encyclopedia Judaica (15:143-152) clearly suggests the book’s unusual character: “The Song of Songs is unique in the Bible, for nowhere else within it can be found such a sustained paean to the warmth of love between man and woman. It is completely occupied with that one theme. No morals are drawn: no propethic preachments are made. God receives no mention, and theological concerns are never discussed. While the Book of Esther also fails ti mention God, an unmistakable spirit of nationalism permeates its pages; but the Song of Song lacks even this theme.” The Rabbis of the Talmud claimed that Song of Songs was allegorical in nature, that it used the model of a man and a woman to explain the love between God and the Jewish people.  The very use of such a model suggests the high regard Judaism had for male-female love and sexuality.

(halaman 212): God did not build Auschwitz and its crematoria. Men did…. The Holocaust may make faith in God difficult, but it makes faith in man impossible (Dennis Prager and Joseph Telushkin, The Nine Question People Ask About Judaism, page 35).

(halaman 283): if I knew God, I would be God. (Medieval Jewish proverb)

(halaman 287): Evidence of God I have found in the existence of [the people] Israel.

(halaman 287): Sh’ma Yisra’el, Adonai Eloheinu Adonai Ekhad (Hear, O Israel, the Lord is our God, the Lord is One).

(halaman 358): these six Hebrew words come the closest to constituting Judaim’s basic credo; the equivalent of Christianity’s statement that Jesus is the Son of God who died to atone for humankind’s sins, and of Islam’s declaration that “There is no God but God, and Mohammed is his prophet.”

(halaman 397): The Seven No Ahide Laws (Judaism’s basic principles of morality for a non-Jewish Society): 1) Not to deny God (i.e. idolatry); 2) Not to blaspheme God; 3) Not the murder; 4) Not to engage in forbiden sexual activities (e.g. incest); 5) Not to steal; 6) Not to eat a limb torn from a living animal; 7) To set up courts to ensure obedience to the other (See Babylonian Talmud, Sanhedrin 56a).

Ketiga: Jack R. Lundbom dalam bukunya Deuteronomy: A Commentary, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2013), menggunakan dua-duanya (Yahweh dan God). 1) halaman 309: The Shema, taking in at least 6:4-5, sums up and renders positively the first and second commandments, which affirm the oneness of Yahweh and deny the plurality of others gods (P. D. Miller 1984, “The Most Important Word: The Yoke of the Kingdom.” Iliff Review 41/3:18). The two themes dominate the remaining sermonic material in chs. 6-11; 2) halaman 309-310: Yahweh our God, Yahweh is one. The four Hebrew words can be translated in different ways, as one can see from the Targums and modern English Versions:

The Lord is our God, the Lord is one (Targum Onqelos)

The Lord is our God, one Lord (New English Bible)

The Lord is our God, the Lord our one God (Revised English Bible)

The Lord our God, the Lord is one (Targum Pseudo-Jonathan]; New International Version)

The Lord our God is one Lord (Targum Neofiti; Authorized King James Version, 1611; Revised Standard Version)

The Lord is our God, the Lord alone (Tanakh: A New Translation of the Holy Scriptures According to the Traditional Hebrew Text. Philadelphia, 1985; New American Bible; New Revised Standard Version)

Yahweh our God is the one Yahweh (Jerusalem Bible)

Yahweh our God is the one, the only Yahweh (New Jerusalem Bible)

Ketiga: Charles H. H. Scobie, The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology, (Grand Rapids, Michigan: Wm. Eerdmans Publishing Co.: 2003) menggunakan kedua-duanya. Charles H. H. Scobie is Cowan Professor Emeritus of Religious Studies and former head of the Departement of Religious Studies at Mount Allison University, Sackville, New Brunswick:

1) halaman 107-108: “Hear, O Israel” The Lord our God (YHWH ’elōhēnû) is one Lord (YHWH ’echādh); and you shall love the Lord your God with all your heart, and with all your soul, and with all your might” (Deut. 6:4-5 RSV). These key passages take us to the very core of the OT understanding of God:

a God who is known by name,

a God who is one, and

a God who is above all a personal God.

2) halaman 108: God’s name is an expression of his essential nature. God’s nature is made known not only to Israel but also throughout creation: O LORD, our Sovereign how majestic is your name in all the earth! (Ps. 8:1); 3) in both the Decalogue and the Shema, God is named in two ways: (a) by the term ’elōhîm, a word that means “God” in a general sense and can be used with reference to the whole created order to designate the “gods” of peoples other than Israel; (b) by a proper name, YHWH, that is used only within the historical order to denote the God who makes himself known and enters into a special relationship with his people Israel; 4) halaman 108-109: The term ’elōhîm is by far the most common general word for “God”, occuring some 2,500 times in the OT. The word is plural in form, but when used with reference to the God of Israel there is never any doubt that the reference is to the one God. The plural can be regarded as a “plural of majesty” or an “abstract plural” that “corresponds to our word ‘Godhead’ or ‘divinity’ and is thus suited to the task of summing up the whole of divine power in a personal unity” (Walter Eichrodt, Theology of the Old Testament. Vol. 1. Philadelphia: Westminster, 1961: 185).

Teluskhin sama sekali tidak menjadi radikal dengan penulisan atau penyebutan Yahweh dan God. Penggunaan kata yang merujuk pada ‘Allah’ dalam berbagai bahasa tidak menjadi masalah teologis maupun historis karena Allah tidak dibatasi oleh kata-kata tertentu dari suatu bangsa. Penggunaan sebutan lain masih bisa diterima tetapi personalitasnya merujuk kepada Allah Pencipta yang dikenal melalui penyataan diri-Nya hingga—dalam pandangan iman Kristen—kepada Yesus Kristus.

Arogansi kaum Yahweisme mendobrak bukan pada makna dan historis secara substansial melainkan kepada kebodohan relasional yaitu mengabaikan konteks budaya, pesan, dan objek penyembahan.

PENGGUNAAN SECARA VARIATIF: YHWH, YAHWEH, LORD, DAN GOD [ALLAH]

Berikut ini adalah penjelasan dan argumentasi mengenai pemakaian kata ‘Yahweh’, ‘Lord’, LORD dan ‘God’ [Allah] secara variatif. Hal ini merupakan sebuah ‘pintu’ untuk memasuki cakrawala pemahaman tentang personalitas Allah dalam peristiwa historis. Substansinya adalah memahami personalitas Allah [God, Elohim] bukanlah soal ‘nama-Nya’ melainkan ‘Pribadi-Nya’ (mengenai konteks ini, saya menulis artikelnya secara terpisah dengan judul: “Memahami Allah: Antara Nama dan Personalitas: Pemaknaan dan Serapan Nama-nama Allah sebagai Jukstaposisi Identitas dan Karya-karya-Nya”). Hal ini akan saya jelaskan dalam bagian selanjutnya mengenai pengadopsian nama ‘El’ oleh bangsa Israel (bentuknya jamaknya adalah ‘Elohim’) yang digunakan dalam Kitab Ibrani dan juga kitab para pengagung nama Yahweh.

Penjelasan akar kata ‘El’ merupakan ‘standar ganda’ bagi para pengagung nama Yahweh yang ‘menuduh’ sepihak bahwa nama ‘Allah’ adalah nama ‘ilah kafir’, padahal nama ‘El’ juga adalah nama Dewa bangsa Kanaan, bangsa kafir (selengkapnya akan saya ulas di bagian berikutnya). Karena pemahanan yang dangkal dan ignoran, para tokoh pengagung nama Yahweh cenderung menyuguhkan data yang tidak valid kepada pengikutnya sehingga mereka yang awam hanya menerima asupan gizi yang tidak seimbang antara akal atau logika mereka dengan data historis. Wajar saja jika kita mendapati bahwa klaim-klaim golongan awam dari para pengagung nama Yahweh menjadi ‘lepas kendali doktrinal’ dan menjurus kepada sikap arogan terhadap ‘bahasa Yunani’ di mana nama Yesus (terjemahan dari Yunani ‘Iēsou) bukanlah nama sah melainkan “Yeshua”-lah yang sah. Klaim ini mengarah kepada arogansi dan ketidaktetarikkan pada bahasa Yunani. Padahal, PB ditulis dalam bahasa Yunani. Sebagai tambahannya, Alkitab PL dituliskan dalam bahasa Yunani yakni Septuaginta karena naskah-naskah PL itu sendiri telah tiada. Penerjemahan PL (Ibrani) ke Yunani (Septuaginta) merupakan bukti sejarah bahwa bahasa Yunani adalah bahasa “Pemersatu” umat Yahudi (selain Ibrani), yang dalam pemahaman kaum pengagung nama Yahweh, nama Yunani untuk Yesus [‘Iēsou] tidaklah sah, melainkan nama Ibraninya yakni “Yeshua”. Karena kekurangan pengetahuan dan jarangnya belajar secara memadai, membawa kaum awal pengagung nama Yahweh ke dalam ‘lumpur hujat’ yang tak terkendali dan sama sekali menyimpang dari data dan konteks historis.

Terkait dengan penyebutan nama Allah yang variatif, membuktikan bahwa para pakar bukanlah mereka yang cenderung arogan untuk memaksakan penggunaan nama ‘Yahweh’—sebagaimana yang dilakukan para pengagung nama Yahweh—sebagai sebuah “take for granted” yang buta. Mengapa buta? Sebab tetragramaton (YHWH) yang kemudian ada vokal yang ditambahkan ke dalamnya, merupakan sebuah penelurusan historis yang tak berujung. Perbedaan penyebutan YHWH ketika ada vokal masuk di dalamnya bukanlah sebuah gagasan tunggal. Artinya, penyebutan atau pelafalan “Yahweh” bukanlah gagasan tunggal  (satu-satunya) sehingga menggiring para penggagung Yahweh untuk berpendapat bahwa memang pelafalan Yahweh-lah yang diwahyukan. Padahal, ada ragam penyebutan lainnya yang menjadi perbedaan.

Saya telah mengutipnya di “Bagian Kedua” mengenai hal ini. Tapi saya menyebutnya kembali secara singkat (elaborasi dan Herman Bavink):

“Beberapa pakar, Joachim dari Floris dalam karyanya Evangelium Aeternum, misalkan, melafalkan nama tersebut [YHWH] dengan “Yewe”, dan memang vokalisasi ini dapat ditemukan dalam karya Samuel B. Meir dan kemudian masih dipertahankan oleh Hottinger, Reland, dan yang lainnya (Franz Delitzsch, Neuer Commentar über die Genesis, [Leipzig: Dörffling & Franke, 1887], pp. 546 etc) … Di kemudian hari, Drusius, Amama, Scaliger, Vriemoet, dan yang lain, mempertanyakan bahwa pengucapan ‘Jehovah’ mungkin tidak benar dengan menyatakan bahwa vokalisasi telah diderivasi dari kata ‘Adonai’ (Gisbert Voetius, Selectae disputationes theologicae, [Utrecht, 1648-69], V, 55; Campegius Vitringan, Doctrina christianae religionis, [Leiden: Joannis le Mair, 1761-86], I, 130). Bahkan vokalisasi ini sangat dipertanyakan. Yang pertama, kata YHWH adalah sebuah ‘Qere perpetuum’ dalam Alkitab Ibrani, yang kadang-kadang memiliki huruf vokal dari ‘Adonai’ dan di waktu lain memiliki huruf vokal dari ‘Elohim’. Selanjutnya, bentuk ‘Yehōwāh’ adalah tidak-Ibrani dan tidak dapat dijelaskan. Akhirnya, vokalisasi ini berasal dari waktu ketika pendapat bahwa nama itu seharusnya tidak pernah dilafalkan telah mengakar di dalam tradisi Yahudi.

Menurut Friedrich Delitzsch, nama YHWH telah muncul dalam dua nama diri [gabungan] yang ditemukan dalam loh tanah liat dari masa Hammurabi,’Ya-a’-ve-elu’ dan ‘Ya-u-um-ilu’. Dari penemuan ini dia menyimpulkan bahwa nama YHWH mula-mula berasal dari Kanaan dan bahwa suku Hammurabi membawanya dari Kanaan ke Babel. Delitzsch keliru jika berpikir bahwa nama YHWH berasal dari Kanaan, sebab asal-usul Semitis bangsa Kanaan dan emigrasi suku Hammurabi dari Kanaan ke Babel adalah hipotesis yang tidak dapat dibuktikan, dan kita tidak menemukan jejak dalam masa kuno tersebut tentang satu allah Kanaan yang bernama YHWH. Mengenai etimologi nama tersebut, umumnya diasumsikan bahwa etimologinya merujuk kembali ke akar hwh atau hyh, dan hanya ada ketidaksepakatan mengenai pertanyaan apakah akar itu berbentuk ‘imperfect tense’ orang ketiga dari ‘Qal’ atau ‘Hiphil’”.

Sebagai penyeimbang penjelasan Bavink di atas, saya mengutip beberapa dasar mengenai perdebatan ini. Alkitab Edisi Studi (LAI, 2012) menjelaskan dan memberikan argumentasi sebagai berikut:

“Dalam Alkitab Ibrani, Tetragrammaton telah digunakan dalam syair-syair kuno seperti nyanyian Miryam (Kel. 15) dan Nyanyian Debora (Hak. 5) yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-12 SM. Berdasarkan keterangan dalam Alkitab Ibrani, sudah lama diusulkan bahwa YHWH awalnya disembah orang Midian. Musa dikisahkan menggembalakan ternak Yitro, mertuanya, di Midian (Kel. 2:15-22). Di gunung Sinai (atau Horeb) yang berada di wilayah Midian, Musa bertemu dengan YHWH di balik belukar menyala (Kel. 3). Kemungkinan ia mengambil alih kultus Midian itu dari mertuanya yang seorang imam. Salah satu indikasinya ialah pujian dan kurban yang dipersembahkan Yitro kepada YHWH setelah menyaksikan kemajuan yang dicapai menantunya (Kel. 18). Kesamaan kultus ini diperkirakan telah memungkinkan orang Keni, salah satu klan Midian, bersatu dengan orang Yehuda untuk menduduki Kanaan (Hak. 1:16). Akan tetapi, berdasarkan teks-teks lainnya, ada pula yang memperkirakan bahwa YHWH berasal dari Edom dan sekitarnya. YHWH digambarkan berasal dari Edom, Seir, Paran, Sinai atau Téman (Hak. 5:4; Ul. 33:2; Hab. 3:3). Jadi, kendati banyak pakar yang berpendapat bahwa kultus YHWH berasal dari luar Israel, jejaknya yang persis sulit ditelusuri.

Pelafalan yang tepat untuk YHWH tidak diketahui lagi. Bentuk ‘Yahweh’ yang sekarang umum dikenal sebenarnya merupakan hasil rekonstruksi terhadap Tetragrammaton. Rekonstruksi ini didasarkan pada pelafalan kata yang mirip dalam teks-teks Amorit dan pelafalan yang dicatat dalam beberapa teks Yunani. Patut dicatat, setelah masa pembuangan di Babel, umat Yahudi amat segan menyebut Tetragrammaton yang sakral itu secara langsung. Dengan rasa hormat yang mendalam mereka menguncapkan ‘Adonay’ yang berarti Tuanku atau Tuhan(ku) (sebagai sebutan pengganti dari YHWH).

Salah satu bukti tradisi pengucapan ini adalah Septuaginta, Perjanjian Lama berbahasa Yunani yang diterjemahkan dari Alkitab Ibrani. Terjemahan Alkitab perdana ini dikerjakan di Alexandria, Mesir, sejak abad ketiga SM. Pada masa itu, mulai dari masa pemerintahan Aleksander Agung, bahasa Yunani menjadi bahasa pengantar di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk Palestina dan sekitarnya. Dalam Septuaginta, ternyata istilah Yunani yang dipakai sebagai padanan Tetragrammaton adalah ‘Kyrios’ yang berarti ‘Tuan’ atau ‘Tuhan’. padanan ini jelas sekali mencerminkan tradisi pengucapan Tetragrammaton sebagai ‘Adonay’.

Kaum Masoret pun, yang terkenal amat setia menjaga kesahihan teks Ibrani, mempertahankan tradisi yang sama. Para penyalin Yahudi itu menyisipkan vokal a-o-a dari kata ‘A-do-nay’ ke dalam YHWH. Dengan cara itu, mereka ingin mengingatkan para pembaca Yahudi untuk menyebut ‘Adonay’ setiap kali menemukan Tetragrammaton dalam teks Ibrani yang mereka baca. Ironisnya, maksud kaum Masoret ini justru keliru dipahami atau tidak dipedulikan oleh umat Kristen di kemudian hari. Alhasil, YHWH disalin sebagai ‘Yahowa’ atua ‘Yehuwa’. Salah kaprah ini mulai muncul pada abad pertengahan, konon sejak masa Paus Leo X, lalu diikuti oleh berbagai terjemahan Alkitab dari abad-abad lalu.”

Dari penjelasan dan argumentasi historis di atas, tampak bahwa YHWH telah disalahpahami oleh mereka yang memang tidak mempelajari data historis. Jadi, bukan soal ‘nama-Nya’ tetapi ‘personalitas-Nya’ sebagaimana tampak dalam pengucapan Tetragrammaton yang diganti dengan ‘Adonay’. Apakah pribadi Allah berubah ketika umat Israel menggantikannya dengan ‘Adonay’? Tentu tidak. Substansinya jelas dan pribadi yang disembah juga jelas. Maka mereka yang mencoba memunculkan ‘gagasan tunggal’ sebenarnya menciptakan ‘makna dan pribadi yang baru’ yang menggiring kepada perbedaan substansial antara mereka yang mempersoalkan nama ‘YHWH’ dan mereka yang setia kepada ‘Pribadi Yang Ilahi’ meski disebut dengan nama lain, seperti ‘Adonay’ dan sebagainya.

Untuk menambah data terkait dengan penggunaan atau penyebutan nama YHWH  secara variatif, saya mengutip beberapa sumber berikut ini:

Pertama. J. Weingreen, M.A., Ph.D., Emeritus Fellow of Trinity College, Dublin, Emeritus Professor of Hebrew University Of Dublin, dalam bukunya A PRACTICAL GRAMMAR FOR CLASSICAL HEBREW. SECOND EDITION (Oxford: Clarendon Press & New York: Oxford University Press, Great Clarendon Street, 1959) menggunakan varian: Yahweh dan Lord: YHWH Yahweh, the Lord … Menurut Weingreen, “Another type of deliberate change in reading due, in this case, to reverence, is the Divine name Yah¦weh or Yahweh. The Divine name was considered too sacred to be pronounced; so the consonants of this word were written in the text (Kethibh), but the word read (Qere) was Adonay (meaning ‘Lord’). The consonants of the (Kethibh) YHWH were given the vowels of the (Qere) Adonay namely … producing the impossible form Yehōwâ. Since, however, the Divine name occurs so often in the Bible, the printed editions do not put the reading required (Qere) in the margin or footnote; the reader is expected to substitute the Qere for Kethibh, without having his attention drawn to it every time it occurs. For this reason it has been called Qere Perpetuum, i.e. permanent Qere.” Weingreen cenderung menggunakan terjemahan ‘Lord’ ketimbang ‘God’.

Kedua. E. Kautzsch, Professor of Theology in the University of Halle, dalam Gesenius’ Hebrew Grammar, Second English Edition Revised in Accordance with the Twenty-Eighth German Edition (1909) by A. E. Cowley, with a Facsimile of the Siloam Inscription By J. Euting, and a Table of Alphabets by M. Lidzbarski Clarendon Press. Oxford (Oxford University Press, Walton Street, Oxford, 1910), menggunakan penyebutan nama secara variatif: “Yahweh”, “God” dan “Lord”:

the Most Holy (only of Yahweh), Ho 12:1, Pr 9:10, 30:3

Yahweh (the God) of hosts

Godhead, God (to be distinguished from the numerical plural gods, Ex 12:12, & c.)… (whenever it denotes one God), is proved especially by its being almost invariably joined with a singular attribute (cf. § 132 h)…

supremus (of God) is doubtful; according to others it is a numerical plural…

On the other hand, we must regard as doubtful a number of participles in the plural, which, being used as attributes of God, resemble plurales excellentiae

Gn 1:3 and God said, Let there be light: verse 4 and God saw the light

God is not a man, that he should lie, and (i. e. neither) the son of man, that he should repent

.. forasmuch as God hath showed thee all this; Dt 21:16.

it pleased the Lord … to magnifywhich the Lord commanded (that) ye should do

may learn, and fear the Lord, i. e.to fear the Lord

… instance of the same kind is Gn 30:27 I have divined and the Lord hath blessed me, & c., i. e. that the Lord hath blessed me for thy sake.

Ketiga, Mark D. Futato, dalam bukunya Beginning Biblical Hebrew, (Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns, 2003), menyebutkan tiga kata yakni “God”, “Lord” dan “LORD”.

Translate the following from Psalm 136:1–3, 26.

Give thanks to the LORD, for he is good;

for his faithfulness endures forever.
Give thanks to the God of Gods,

for his faithfulness endures forever.
Give thanks to the lord of Lords,

for his faithfulness endures forever
Give thanks to the God of heaven,

for his faithfulness endures forever.

In that day, the holy prophet will pray and prophesy, and the servants of the king will listen. Then they will cling to the commandments and statutes which are written in the book of the law of God.

When they lie down at night, they will not be afraid, because their God will guard their souls.

… The letters hwhy are the Lord’s covenantal name, often translated LORD, in contrast to Lord, and are referred to as the Tetragrammaton, “four letters.” According to Jewish tradition, which wishes to revere the divine name, the Tetragrammaton should not be pronounced. The edition of the Hebrew Bible you are…

Translate the following from Judges 7:4, 5, 7.

(4) The LORD said to Gideon, “The people are still too numerous. Bring them down to the water . . . (5) He brought the people down to the water. (7) The LORD said to Gideon, “With three hundred men I will save you.”

Keempat. Bruce K. Waltke and M. O’Connor dalam An Introduction to Biblical Hebrew Syntax (Eisenbrauns: Winona Lake, Indiana 1990, 2004), menggunakan empat kata yakni “Yahweh”, “YHWH”, “God” dan “Lord”

… because “this is not the way Moses usually addresses Yahweh,” and “the following sentence shows that speech proceeds in the respectful third person, not the second.”…

… despite the standard translation of the hÌy phrase as a protasis and of the Àm clause as its apodosis (‘As Yahweh lives, may … ‘).

The Lord YHWH swears by his holiness: “Surely, the time will come …”

I am YHWH, your God. (Exod. 20:2)

The first of these two utterances represents a situation with God as the agent and the sea as the object of the splitting action. The second utterance represents God as the agent and the rocks as having been caused to be put into the state of being split up.

YHWH … is God of gods and Lord of lords.

YHWH is our Lord (Deut. 10:17).

Teks-teks di atas menggunakan kata terjemahan ke dalam satu bahasa: Inggris. Para penulis tidak menjadi radikal dengan menyingkirkan kata “God” dalam buku atau tulisan mereka. Kesalahan melihat relasi teologis—historis dari sejarah penyataan Allah mengabaikan makna terdalam dari konteks karya Allah di sepanjang perjalanan kehidupan umat-Nya. Kaum Yahweisme adalah sekolompok orang yang mengurung diri dengan ideologi “Yahwe” yang diikat dengan sentimen teologis untuk menyingkirkan nama “Allah” di mana kata itu menjadi tidak bermasalah, malahan telah menorehkan sejarah kuasa dan kepedulian-Nya terhadap umat manusia di dunia ini. Klaim bahwa Yesus adalah Allah (Jesus is God) telah tercatat dalam sejarah kekristenan yang panjang. Sedangkan kaum Yahweisme, anak kemarin sore, mau mencoba menyingkirkan penggunaan kata “Allah”, “God” dan sebagainya, dari dunia teologi.

Akhirnya, kita hanya melihat dualisme jalur devosi: kaum Yahweisme tetap dengan penyebutan kata tersebut, sedangkan Kristen mayoritas tetapi menggunakan nama Allah sesuai dengan konteks budaya, bahasa, dan relasi mereka di sepanjang sejarah, dan tetap merasakan kasih, kemurahan, dan kebaikan Tuhan Yesus, dalam segala situasi. Bukan berarti mereka yang menyebut nama ‘Allah’ tidak diberkati. Toh, sebelum kemunculan kaum Yahweisme, orang-orang percaya di sepanjang zaman telah menikmati buah-buah dari iman mereka kepada Tuhan Yesus, Allah yang menjadi manusia.

Salam Bae.

Sumber gambar: breslovcenter.blogspot.com/2012/10/hitbodedut-and-hashems-name.html

“YAHWEH” ATAU “ALLAH” [GOD] ATAU KEDUA-DUANYA? (Bagian 1)

Persoalan yang muncul di permukaan denominasi Kristen adalah penyebutan nama ‘Yahweh’ dan ‘Allah’ yang dilihat dari berbagai aspek. Penganut Yahwehisme (pengagung nama Yahweh) menyatakan secara tegas bahwa nama “Allah” adalah bukanlah terjemahan yang tepat bagi nama Elohim, karena ada perbedaan antara nama diri dan gelar bagi Sang Pencipta. Bahkan mereka mengusung bahwa empat huruf mati: YHWH harus tetap dipertahankan. Mereka mengusung berbagai dokumen untuk membuktikan asumsi mereka. Kata ‘Allah’ ditetapkan sebagai milik Islam Arab. Meski tidak melakukan penelusuran historis yang memadai, pokoknya mereka tetap bersikukuh bahwa ‘Allah’ adalah milik agama Islam. Benarkah demikian?

Pada proses dan perjalanan ‘beda paham’ ini kemudian mengerucut sampai kepada sedikit atau bahkan parahnya relasi antar denominasi Kristen. Kaum arogansi penentang  kata ‘Allah’ yakni kaum Yahwehisme menegaskan bahwa ‘pemaksaan’ nama Yahweh diterjemahkan menjadi ‘TUHAN’ dan ‘Elohim’ menjadi ‘Allah’ merupakan sebuah langkah yang tidak benar. Namun, perlu diingat bahwa gagasan kaum arogan Yahwehisme tidak memperhitungkan konteks diakronis nama YHWH, di mana empat huruf mati YHWH (tetragramaton) harus diterjemahkan dengan “Yahweh”, memiliki asal asul yang tidak pasti. Saya akan mengajukan enam pertanyaan saya yang mustahil dijawab oleh kaum arogan Yahwehisme. Enam pertanyaan tersebut sebenarnya hanya sebagai bentuk penurunan tensi ‘panas tinggi’ kaum Yahwehisme yang semakin tak terkendali.

Alih-alih menggunakan kata-kata Ibrani, namun pada hakikatnya mayoritas tidak mengerti secara mendalam analisis leksikon dan gramatikal bahasa Ibrani. Pokoknya, jika sudah bunyi bahasa Ibrani, mereka serasa terbang bagaikan burung rajawali. Tapi tidak tahu mereka terbang ke mana. LAI menerjemahkan atau mentransliterasikan YHWH dengan “TUHAN”, namun ditolak secara tegas oleh kaum arogan ini. Meski perdebatan ini hanyalah perdebatan linguistik dan historis, tetapi relasi yang terjadi di antara keduanya menjadi sedikit terganggu. Pasalnya, kaum Yahwehisme bertindak seolah-olah mereka yang menyebut nama “Allah” adalah mereka yang sangat terkutuk, padahal, mereka juga dulunya adalah orang yang menyebut dan menggunakan nama “Allah” sebagai “Bapa” yang Kekal.

Saya mengutip beberapa pernyataan dan penjelasan serta argumentasi penting dari LAI terkait polemik ini:

Pertama: Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dengan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya Gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya?

Kedua: Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik mapun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ‘ELOHIM, ‘ELOAH, dan ‘EL dalam Alkitab Ibrani:

Kejadian 1:1: “Pada mulanya Allah (‘ELOHIM) menciptakan langit dan bumi.”

Ulangan 32:17: “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (‘ELOAH).”

Mazmur 22:2: “Allahku (EL), Allahku, mengapa Engkau menggalkan aku?”

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ‘ELOHIM, ELOAH, dan ‘EL berkaitan dengan akar kata ‘L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU, atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.

Ketiga: Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang berpendapat, kata itu tidak boleh hadir di dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ‘EL, ‘ELOAH, dan ‘ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania, dan Libanon tetap memakai “Allah” dlam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.

Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ‘ELOHIM, ‘ELOAH, dan ‘EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM., merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta menggunakan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: “Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor. 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan polities.

Keempat: Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (‘ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU,’ (‘EHYEH ‘ASHER ‘EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kau katakana kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (“EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.

Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah, umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ‘ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: “KYRIOS menggembalakan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm. 23:1).

Kelima: Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pencobaan di padang gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat. 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ‘ADONAY (‘TUHAN”) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.

Keenam: Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani perdana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mengingatkan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang sengaja dibedakan dengan “Tuhan”  (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ‘ADONAY yang tidak merepresentasikan YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku (‘ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes. 49:14). Perbedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian baru yang tidak mempertahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (EinHeitsubersetzung; die Bible nach der Ubersetzung Martin Luthers); Belanda: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumenique de la Bible).

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

(1) Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjanjian Baru) dan tafsirannya. (2) Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. (3) Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman. (4) Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam perserikatan lembaga-lembaga Alkitab sedunia (United Bible Societies). (5) Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pemimpin dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

Ketujuh: LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampak bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Setelah melihat pernyataan dan penjelasan serta argumentasi LAI di atas, tampak bahwa kaum arogan Yahwehisme memiliki sejumlah asumsi yang belum teruji kebenarannya. Meski mereka menunjukkan sejumlah dokumen pendukung tentang nama ‘Allah’ tetapi mereka sendiri melupakan kata ‘Elohim’ dalam terjemahan Alkitab mereka. Apa sebenarnya latar belakang kata ‘Elohim’ itu? Hal ini juga masuk dalam daftar pertanyaan saya yang akan dituliskan kemudian.

Kita perlu melihat kondisi terkini dari kaum Yahwehisme yang di satu sisi, arogansi yang muncul mendorong para pengikutnya yang awam, menjadi seolah-olah tahu bahasa Ibrani dan merasa bahwa ketika menggunakan bahasa Ibrani, mereka menjadi lebih superior dari yang lain. Padahal, penggunaan bahasa Ibrani yang mereka paparkan, hanyalah secara artifisial, tanpa ada tendensi akademis yang mumpuni. Atau dengan kata lain, mereka yang menggunakan beberapa kata Ibrani, merasa seolah-olah di atas angin ketimbang mereka yang tidak mendukung gagasan Yahwehisme.

Akan tetapi, penelitian yang cermat, menghasilkan berbagai gagasan yang menarik untuk dikaji dan dipikirkan bersama. Terlepas dari setuju atau tidak, penelitian yang cermat tersebut, mengantar kita kepada sikap terbuka secara akademis untuk melihat adanya keragaman terjemahan dan dalil yang dapat menjadi tolok ukur mengapa seseorang bisa menggunakan kata ‘Yahweh’ dan ‘Allah’ di satu sisi, dan pula di sisi lainnya(lihat deskripsi LAI di atas). Saya sendiri pernah mengusulkan beberapa pertanyaan terkait dengan terjemahan YHWH untuk “Yahweh”, baik dari sisi historis atau pun dari sisi logika.

Secara subtansi, teks-teks Alkitab (Kitab Ibrani—Kitab Suci Yudaisme) menyebutkan hanya empat huruf: YHWH [yod, he, waw, he]. Kemudian, empat huruf tersebut ditransliterasikan menjadi “Yahweh”. Nah, terkait soal ini, maka beberapa pertanyaan muncul.

Pertama, dari mana asal usulnya dua vocal ‘a’ dan ‘e’ muncul dalam tetragramaton

Kedua, apakah penyebutan ‘Yahweh’ adalah benar langsung diwahyukan-Nya ataukah hanya empat huruf ‘YHWH’ yang diwahyukan-Nya?

Ketiga, siapa yang menetapkan dua vokal itu dalam tetragramaton. Dan atas dasar apa memasukkannya dalam tetragramaton.

Keempat, jika manusia yang menetapkan dua vokal tersebut maka pertanyaan kedua di atas muncul kembali.

Kelima, apa dasarnya sehingga harus disebut ‘Yahweh’? Mengapa tidak yang lainnya?

Keenam, apakah sebutan ‘elohim’ itu murni milik Israel atau hasil dari asimilasi dewa bangsa lain?

Keenam pertanyaan di atas sebenarnya bertujuan untuk menurunkan ‘sakit panas’ dari para pengagung Yahweisme yang getol memaksakan bahwa memang terjemahan yang tepat adalah ‘Yahweh’ meski mereka tidak mengetahui secara pasti dari mana kedua vokal ‘a’ dan ‘e’ masuk dalam empat huruf mati. Saya sendiri tidak keberatan menyebut nama ‘Yahweh’, namun tidak sefanatik kaum Yahweisme. Alasan saya tidak keberatan untuk menyebut atau menggunakan nama ‘Yahweh’ berangkat dari tradisi yang berkembang dari bangsa Israel itu sendiri, meski tidak ada data yang pasti mengenai masuknya dua vokal ‘a’ dan ‘e’ ke dalam YHWH.

Bisa saja empat huruf tersebut menggunakan vokal lainnya. Alasannya karena tidak ada data pasti mengapa harus “Yahweh” dan bukan yang lainnya. Ketika mereka yang ngotot menyatakan bahwa ‘harus’ Yahweh yang harus diterjemahkan, maka pertanyaan-pertanyaan saya di atas haruslah dijawab. Terkait dengan peryataan kedua di atas, tidak ada data yang pasti apakah terjemahan ‘Yahweh’ yang diwahyukan ataukah hanya ‘YHWH’ yang diwahyukan sebagaimana tampak dalam deskripsi LAI di atas. Semuanya masih menjadi tanda tanya. Namun, untuk alasan warisan historis, mayoritas menggunakan ‘Yahweh’ ketimbang terjemahan yang lainnya.

Jadi, sebenarnya kita berdiri pada posisi yang dual: mengakui bahwa terjemahan Yahwehlah yang benar dan terjemahan YHWH lah yang benar dan diwahyukan. Untuk mengurangi kadar kecurigaan satu sama lain, berikut ini saya akan memaparkan banyak contoh para pakar atau ahli dari berbagai kalangan. Mulai dari pakar Grammar of Biblical Hebrew, pakar doktrin Yudaisme, pakar historis, juga Rabbi Yahudi, dan para teolog lainnya, yang mana penyebutan Yahweh, God, Lord, LORD, Elohim, Allah, (dan terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris lainnya) digunakan atau diterima secara bersamaan, tanpa ada tendensi pemaksaan bahwa terjemahan ‘Yahweh’ lah yang diwahyukan. Artinya, mayoritas menerima penyebutan ‘Yahweh’ tetapi tidak dengan tendensi untuk ‘mengkafirkan’ mereka yang menyebut nama ‘Allah’—seolah-olah kaum arogan Yahwehisme ‘tahu’ bahwa nama ‘Yahweh’-lah yang diwahyukan padahal mereka sendiri mengakui bahwa nama itu didasarkan pada empat huruf (tetragramaton). Lalu yang mana sebenarnya diwahyukan-Nya?

Penggunaan kata “Yahweh” atau “Yahwe” oleh para sejarawan, teolog, penafsir, tidak berada dalam tendensi tertentu, apalagi menekankan arogansi teologis. Paul Joüon dan T. Muraoka, A Grammar of Biblical Hebrew [Subsidia Biblica – 27], Editrice Pontificio Intituto Biblico – Piazza della Pilotta, Roma 2006, menggunakan baik kata ‘Yahweh’ maupun ‘God’ (terjemahan Indonesia adalah “Allah”). Saya akan mengutipnya di sini, dan pembaca bisa melihat penggunaan nama Yahweh, Lord, dan God yang digunakan Paul Joüon dan T. Muraoka. Sebelum saya mengutipnya, saya memperkenalkan salah satu dar keduanya, yakni Profesor Muraoka. Muraoka studi BA (1960) di Tokyo Kyoiku University in English Philosophy; studi MA (1962), bidang Greek, Hebrew and general linguistic dan Ph.D (1970) Hebrew dan Semitic linguistic di Hebrew University in Jerusalem. Tahun 1970-1980, ia belajar bahasa Ibrani, Aramaik, Siria dan Etiopia di University of Manchester, U.K. Ia adalah profesor Bahasa Ibrani di Leiden University, The Netherlands (1991-2003). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Profesor Muraoka bukanlah orang biasa, melainkan pakar di bidang bahasa Ibrani, Aramaik dan sebagainya.

Dalam bukunya, Muraoka menyebutkan “Lord” bagi kata YHWH dalam teks 2 Raja-raja 8:13, “the Lord showed you to me”. Penggunaan kata “Yahweh”, “God”, dan  “Lord” tidak dipandang sebagai arogansi teologis melainkan bermain di tataran elaboratif tekstual—historis dan pemaknaan atas teks dimaksud. Juga tanpa ada tendensi pemaksaan makna literal sebagaimana dijumpai dalam kasus Yahwehisme.

(Bersambung)

Salam Bae…

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8e/YHWH_Goya.jpg

GUSTO HIPOKRIT DAN “VERBAL ABUSE”

“Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela” (Amsal 9:7)

Dunia perkataan bersifat luas, liar, terkontrol, dan longgar. Longgarnya perkataan merupakan hal wajar sekaligus tidak wajar. Kesukaan seseorang untuk berkata-kata bergantung pada karakter dan personalitasnya. Mulut kotor penuh gusto hipokrit dan “verbal abuse” (bahasa [perkataan] kasar dan menghina yang ditujukan pada seseorang) didorong oleh banyak faktor. Faktor utama adalah lingkungan. Seseorang menjadi bermulut kotor dan penuh sumpah serapah ditenggarai berasal dari lingkungan di mana ia berada. Tak heran jika ada pendeta yang bermulut kotor karena disebabkan oleh lingkungan yang mendukung identitasnya sebagai sang pencemooh.

Perkataan yang terkontrol adalah bagian dari penguasaan diri seseorang. Meski bisa saja seseorang memiliki kapabilitas untuk berkata-kata secara longgar tetapi karena penguasaan diri yang tinggi maka setiap perkataannya menjadi terkontrol. Baik perkataan yang longgar dan terkontrol semuanya ditandai oleh aspek-aspek internal seseorang. Sebagaimana kita ketahui bahwa lingkungan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam “baskom demoralitas” dan juga mengangkat martabat seseorang dalam sebuah “baskom moralitas yang tinggi”.

Di lingkungan pencemooh, siapa pun yang tak bisa menguasai dirinya akan termakan oleh arus gusto hipokrit dan “verbal abuse”. Dalam lingkungan tersebut, tak ada personal yang dapat dijadikan panutan karena karakter personal yang ada di sekitarnya memiliki identitas yang sama. Bahkan lebih dari itu. Gusto hipokrit adalah sebuah konteks yang menjelaskan tentang “semangat” (dan antusiasme) sebagai sebuah rasa individual yang mengandung penampilan palsu, sehingga menghasilkan tindakan yang bertentangan dengan keyakinan atau perasaannya yang sesungguhnya. Singkatnya, semangat untuk melakukan kemunafikan.

Gusto hipokrit mengetengahkan sebuah fakta bahwa hipokrit dapat dipupuk dan dilatih oleh pelatih yang tentu memiliki rating tertinggi di antara komunitas mereka. Hipokrit menjadi jualan persuasif yang meyakinkan sembari pikirannya dibumbui dengan hawa nafsu dan keserakahan. Gusto “verbal abuse” adalah gandengan dari gusto hipokrit. Keduanya adalah kakak beradik hanya beda darah dan tanah kelahiran. Keduanya menyatu ibarat rokok dan asbak.

Gusto “verbal abuse” sama dengan “mencemooh” (atau menyalahgunakan perkataan [lisan]), muncul dan dimunculkan oleh orang-orang yang hatinya tidak memiliki kemurnian kasih dan tidak memiliki pengertian yang tinggi alias pencemooh. Gusto “verbal abuse” dilakukan oleh mereka yang otaknya miring dan sering tak terkendali. Mereka kerap mencerminkan pribadi yang suci dan bersih dalam pandangannya sendiri di kandang sendiri. Di antara mereka ada berbagai level jabatab. Ada yang bagian keuangan, ada bagian pendoa sumpah serapah, ada yang provokator, ada yang pengamat, ada yang bagian tagih uang, ada yang bagian pemerataan keuangan, ada yang bagian lobi atau manuver licik dan lainnya adalah bagian “cleaning service” atau bagian sapu-sapu jalan para pelaku gusto “verbal abuse” seolah-olah mereka adalah pelayan yang membersihkan dosa-dosa para pencemooh.

Pencemooh yang lepas kendali sering disebabkan oleh adanya bayaran yang cukup tapi rutin. Setiap kali uang bayaran melekat di tangan dan ditambah bonus, maka secara otomatis gusto “verbal abuse” akan mengalir deras. Sang Hipokrit sering pula tidak tahu bahwa para pencemooh (pelaku “verbal abuse”) bisa berjiwa “hipokrit”. Artinya, dalam lingkungan setan mereka saling memperalat. Yang punya uang senang dan yang dibayar juga senang. Senang dalam dosa adalah “surganya” para pelaku kejahatan dan pelaku cemooh. Di sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa mereka akan bangga dengan kehandalan mereka dan akrab dalam lingkungan keburukan dan kesombongan. Mereka saling mendukung dan menasihati dalam kegelapan logika dan kebutaan rohani.

Agenda mereka hanyalah bagaimana meraup uang, kekuasaan, jabatan, pengikut yang dapat dibeli, dan bagaimana menjatuhkan serta mengancam orang lain. Hati dan pikiran mereka menjadi satu dan diikat oleh gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse”. Karena saling menyatu mereka kemudian mengandung dan melahirkan seorang “anak-anak” ingusan yang siap membabi buta, tabrak sana tabrak sini dan sering tabrak lari. Mereka piawai dengan kelicikan dan omongan manis. Membaca mereka sangatlah mudah. Cukup lihat perilaku dan perkataan mereka setiap hari dan apa yang mereka hasilkan. Sebagaimana Alkitab tegaskan: “Pohon dikenal dari buahnya”.

Selaras dengan fakta di atas, kita perlu menjaga diri dari pengaruh buruk mereka. Hati dan pikiran kita harus tetap murni, mengasihi Tuhan dan sesama. Kita tidak perlu meniru hal-hal buruk yang dikumandangkan oleh para pencemooh. Alkitab memberikan rambu-rambu peringatan, nasihat, kecaman, dan kesinambungan kehidupan manusia yang baik dan yang buruk (para pencemooh alias pelaku “verbal abuse”). Seperti yang ditegaskan oleh Alkitab bahwa kumpulan pencemooh adalah memiliki perilaku yang buruk.

Berikut ini adalah teks-teks selektif menyangkut pelaku “verbal abuse” dan tanggung jawab orang benar yang berperilaku lurus dan baik.

Mazmur 1:1-3. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Melalui pengamatan, di kehidupan yang normal sering muncul perilaku abnormal yang melekat pada dosa. Kurangnya pengetahuan membuat seseorang menjadi pakar dalam hal gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse”. Amsal 1:22 mengutarakan kondisi tersebut: “Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?”

Di konteks pertikaian dan perselisihan yang terjadi dapat muncul secara tiba-tiba atau dengan teknik yang telah dirancang sebelumnya, orang-orang yang berperilaku “verbal abuse” dan “hipokrit”. Mereka ini sebaiknya jangan dididik karena hal itu sama dengan melempar mutiara kepada babi. Karakter pencemooh yang telah mendarah daging menyulitkan perubahan pada seseorang.

Upaya untuk mendidik atau menyadarkan bisa menjadi upaya yang sia-sia. Amsal 9:7 menyatakan: “Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela.” Sulit bagi pencemooh untuk mencari hikmat karena pikirannya telah ditutupi oleh pasir sumpah serapah dan dusta serta tipu muslihat. Amsal 14:6 menegaskannya: “Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.” Bahkan dalam Amsal 15:12 dijelaskan karakter nya: “Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak.”

Ciri khas lainnya dari pencemooh di nyatakan ole Amsal 21:24 sebagai berikut: “Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga.” Memang si pencemooh itu angkuh. Padahal ia sendiri sedang menumpukkan dosa dalam hidupnya. Tetapi perlu diingat bahwa pada saat yang ditentukan Tuhan, si pencemooh akan habis sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Yesaya: “Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan” (29:20).

Ketiga di lingkungan kita muncul para pencemooh yang mengakibatkan pertikaian atau pertengkaran, seyogianya kita melakukan nasihat Salomo: “Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh” (Amsal 22:10).

Kita perlu melihat diri kita dan menilai secara jujur apakah saya termasuk dalam kategori orang yang gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse” atau kita termasuk dalam kategori orang yang berintegritas dan memiliki kasih yang tulus dan murni? Jika kita mengaku sebagai abdi Allah, maka selayaknyalah kita hidup dalam kemurnian kasih dan komitmen. Tidak mudah dibeli oleh para pembeli pengikut untuk menjadi penduduk lingkungan hipokrit dan “verbal abuse” melainkan hidup sebagai warga Kerajaan Allah yang mengenakan senjata terang.

Kita pun dinasihati oleh Rasul Paulus bahwa: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:12-14).

Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/247135098292033016/

ANATOMIKAL HERMENEUTIK: Para Voyager di Kapal Logika

“Pemahaman” dan cara memahami” adalah dasar dari logika. Semua kehidupan, filsafat, ilmu pengetahuan dengan segala bidangnya, konsep, kritik, sikap diri, dan lain sebagainya, bergantung pada sebuah “pemahaman”. Setiap pemahaman menghasilkan berbagai hal: ada yang baik, dan ada yang buruk; ada yang bermanfaat, dan ada merusak; ada yang menguntungkan, dan ada yang merugikan; ada yang melegakan, dan ada yang menyesakkan dada; ada yang menuai pujian, dan ada yang menuai cacian (makian); ada yang memuluskan jalan hidupnya, ada ada yang menghambat jalan hidupnya.

Ada “banyak” kisah manusia yang dihasilkan dari sebuah “pemahaman”—entah pemahaman tunggal, ganda, maupun jamak. Setiap kesempatan yang dimiliki, dapat ditempuh dan diolah melalui sebuah pemahaman tentang “waktu”—yang mendorong setiap kita untuk dapat melakukan apa yang dapat dilakukan. Itulah “pemahaman”.

Di dunia “hermeneutik” [menafsir; memahami], segala sesuatu yang ditempuh perlu memahami aspek-aspek signifikan yang terkandung di dalam hermeneutik itu sendiri. Para Voyager (orang yang mengadakan pelayaran) di kapal logika mengedepankan pemahaman yang utuh dari sebuah konteks yang hendak dibicarakan (dipikirkan). Para Voyager akan dapat menemukan konstruksi yang benar-benar kuat ketika beberapa aspek signifikan dari substansi hermeneutik ditempuh dengan kritis dan jujur.

Ruang pemahaman kadang tak bisa dibendung. Selalu ada saja “ruang baru” di mana para Voyager bermain keluar dari kapal logika. Hingga akhirnya, berbagai kesimpulan atau gagasan bermunculan mempengaruhi para nelayan yang sedang berada di sekitar kapal logika mereka. “Pengaruh” adalah tujuan dari hermeneutik. Jika tanpa pengaruhi, percuma seseorang melakukan penafsiran. Pengaruh itu sendiri ada berbagai bentuknya. “Pengaruh” secara substansial mengandung rasa percaya, pemahaman, rasa yakin, rasa ragu, dan sebagainya—yang semuanya bergantung pada “penafsiran [cara menafsir]”.

Di sini, untuk memahami anatomikal (uraian tentang sesuatu) hermeneutik, diperlukan konstruksi—setidaknya ini yang saya pahami—sebagai dasar untuk mencapai tujuan dari apa yang ditafsirkan, semisal teks Kitab Suci.

Pertama, GERMINAL: TEKS DAN KONTEKS

Sebagai tindakan germinal (mula-mula) dalam menafsir, maka teks (yang dibaca) harus dipahami dengan melihat konteks yang terkandung dalam teks. Tindakan tindakan adalah tindakan umum dalam dunia tafsir Kitab Suci. Dasarnya jelas, teks dan konteks menjadi tindakan logis germinal. Namun, seringkali “prapemahaman” seringkali mendahului konteks dari teks yang sedang ditafsirkan.

Kedua, PERSEPTIVITAS. Tindakan germinal dilanjutkan dengan perseptivitas (daya pemahaman atau pengamatan). Tingkat pemahaman terhadap teks dan konteks berbeda-beda. Para Voyager di dalam kapal logika pasti memiliki tingkatan perseptivitas dalam hal menafsir. Mereka—dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keilmuan mengunggulkan hal-hal tersebut sebagai dasar pijak membangun konstruksi hermenetisnya. Tentu, hasil akhir akan menjadi penentu perseptivitas hermeneutis teks dan konteks.

Ketiga, IMAGINABEL (yang dapat dipikirkan). Kadangkala, gerak imaginabel muncul saat menafsir teks-teks sulit. Imaginabel sebenarnya membuka ruang pemikiran yang lain ketika konteks-konteks yang dipahami dari sebuah teks sulit untuk ditentukan latar belakangnya, budaya, politik, geografis, maksud dan tujuan penulis, dan lain sebagainya. Namun, secara substansial tindakan imaginabel membuka beberapa pemahaman yang tidak lazim untuk menjembatani kurangnya informasi konteks yang terkandung dalam teks.

Keempat, IMPERSONASI (perbuatan meniru; peniruan). Para Voyager tententu kadang melakukan impersonasi yaitu mendaur ulang cara dan hasil menafsir para penafsir pendahulu mereka atau yang sezaman dengan mereka. Tindakan ini dilakukan untuk tetap mempertahankan natur hermeneutik ketika berhadapan dengan berbagai kesulitan menafsir. Meniru bisa memungkinkan terciptanya konsistensi hermeneutis di satu sisi, dan mempertahankan isi kebenaran dari teks dan konteks di sisi lainnya.

Kelima, BAHAYA IMPERTINEN (tidak ada hubungan, tidak mengenai pokok persoalannya; di luar pokok persoalan; menyimpang dari pokok). Dalam proses hermeneutis ada bahaya yang bisa terjadi. Bahaya tersebut adalah impertinen. Dalam kalangan internal Kristen, tindakan impertinen sering terjadi. Bahkan belakangan ini, para teolog, ilmuwan, dan intelektual agama lain, sering melakukan impertinen. Mereka menafsir sesuka hati dengan menonjolkan asumsi dan opini subjektivisme yang liar untuk memuaskan pemahaman dangkal mereka tentang iman Kristen. Ahmed Deedat dan Zakir Naik adalah dua teolog Islam yang ignoran yang menafsir teks-teks Alkitab dan menghasilkan impertinen liar. Anehnya, ada orang-orang yang percaya pada cara menafsir mereka yang sangat impertinen. Bahaya ini akan menjalar ketika germinal (teks dan konteks) dan perseptivitas diabaikan. Apalagi mengabaikan aspek-aspek hermeneutis kredibel.

Keenam, BAHAYA PERMISIF (suka atau serba membolehkan). Permisif memiliki kaitan dengan impertinen. Artinya tindakan permisif dapat mengizinkan terjadinya tindakan impertinen. Namun, secara positif, tindakan permisif juga dapat berpotensi untuk melihat sisi lain dari sisi yang sudah ada—yang lazim. Apa maksudnya? Maksudnya adalah para Voyager dapat mengajukan cara lain untuk melihat kedalaman teks dan membolehkan metodologi atau pendekatan yang berpeluang menghasilkan gagasan baru dari teks yang ditafsirkan.

Dari deskripsi di atas, anatomikal hermeneutis adalah dasar bagi para Voyager yang berada di kapal logika. Meski penjelasannya sangat sederhana, diharapkan dapat membuka ruang diskusi mengenai konteks dan perkembangan hermeneutika saat ini. Yang pasti, hukum internal dari dunia tafsir adalah perlu memahami “konteks”—memahami kedalaman dan jembatan-jembatan yang menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lain, sehingga para Voyager di kapal logika mereka—ketika singgah di salah satu pulau, mereka menemukan bahwa konteks dari sebuah teks telah terdapat di sana, dan kemudian tinggal menggalinya, mengembangkannya, dan membagikannya kepada para nelayan yang mencari ikan di sekitar pulau-pulau hermeneutika.

Para Voyager di kapal logika akan menjadi petualang yang membawa berbagai pengalaman mereka mengarungi lautan “teks dan konteks” untuk dibagikan kepada para nelayan, memberikan “pengaruh”, menciptakan kehidupan yang berkenan kepada Allah, menaburkan benih-benih kebenaran Allah, dan menjadi teladan dalam perbuatan baik di mana perbuatan baik diambil dari teks dan konteks Kitab Suci yang telah mereka kunyah-kunyah menjadi makanan bergizi.

Selamat menafsir!

Salam Bae.

Sumber gambar: https://mymodernmet.com/marek-ruzyk-seascape-paintings/

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai