“Uang bisa membuka mulut untuk berucap sumpah serapah dan makian. Uang bisa menutup mulut agar tak menyuarakan kebenaran, tetapi beradu argumentasi hipokrit agar sang pembayar merasa puas. Uang bisa membeli celana dan membuka celana. Uang bisa membuat perahu kehidupan dan merusakkan perahu kehidupan pula. Uang bisa menciptakan integritas palsu dan menjual integritas palsu. Uang bisa mempublikasikan kebohongan dan menjual kebohongan. Uang hampir bisa memuluskan segala sesuatu”
Akhir-akhir ini, orang-orang marak memperbincangkan integritas. Integritas yang dipahami dan diperbincangkan sangatlah variatif. Masing-masing memiliki definisi tersendiri. Dari definisi tersebut mereka mulai mendayung perahu mereka. Di sekitar mereka ada banyak perahu, baik yang modelnya sama, ukurannya sama, maupun model yang berbeda dan ukuran yang berbeda. Tidak hanya itu, penumpang dalam perahu-perahu tersebut juga berbeda. Perahu boleh sama, tetapi integritas bisa berbeda.
Dalam proses pembentukan integritas, ada cukup banyak halangan, hambatan, kuman-kuman yang hendak datang melekatkan dirinya pada karakter kita. Di dalam proses tersebut, seseorang akan menunjukkan dirinya apakah ia seorang yang mudah dipengaruhi, mudah dihasut, mudah dikelabui, mudah ditipu, mudah menyerah, mudah emosi, mudah dendam, atau justru sebaliknya, ia menjadi seorang yang kuat dalam prinsip, dalam iman, dalam komitmen, dalam karaktar, dalan konsistensi, dan dalam karakternya.
Di banyak konteks, integritas dapat melekatkan atau dilekatkan pada setiap orang. Entah bagaimana prosesnya sampai integritas dalam melekat atau dilekatkan dalam karakter seseorang, kita tidak terlalu memperhatikannya, kecuali bila kita berada di sekeliling mereka dan mengamatinya secara sadar dan konsisten. Secara fakta, integritas dalam menjadi “sahabat” bagi mereka yang memikiki karakter yang sepadan dengan prinsip-prinsip kebenaran yang dianutnya. Di berbagai kalangan, integritas adalah sesuatu yang dijunjung tinggi. Namun, tentu ada saja orang-orang yang gagal mempertahankan integritasnya.
Mereka yang gagal mempertahankan integritasnya adalah mereka yang sering jatuh pada perangkap “uang”. Ketika tawaran uang diperhadapkan pada seseorang dan kemudian ia merelakan hati nurani dan integritasnya dikorbankan, maka itu adalah awal mula kehancuran karakter seseorang. Dalam banyak kasus, para pendeta pun ikut bermain dalam kasus-kasus tertentu. Tawaran demi tawaran mengalir deras. Tidak main-main, tawaran untuk saling menjatuhkan, saling berebut kursi di “parlemen gereja”, saling mencaci maki, saling merendahkan, saling menghina, saling menggertak, saling membenci, dan saling meluapkan emosi dosa terselubung sampai kepada dosa ketelanjangan moralitas pun menjadi sajian siap saji di meja yang bernama “hari”. Setiap “hari” ada saja yang mengumandangkan gelagat “Sang Provokator” berperasaan paling suci tak tak berdosa seantero dunia. Uang pun mengucur deras tanda kepuasan “masturbasi politik denominasi”. Slogan persona hipokrit yang paling popular di zaman “now” adalah: Ayo dukung saya, saya menawarkan politik denominasi, dan kita akan bermasturbasi bersama-sama menikmati hasilnya.”
Mengapa politik denominasi? Politik denominasi adalah kumpulan dari berbagai karakter, latar belakang sosial, latar belakang ekonomi, dan latar belakang identitas. Tak pandang gelar, jabatan, harta, dan harga diri (ada yang harganya murah dan ada yang harganya mahal). Mereka bersatu padu untuk memajukan agenda induk dari Sang Pendosa Besar dan pemimpin perkumpulan. Agenda-agenda besar dipertontonkan untuk meneguhkan dukungan dari berbagai denominasi agar semakin yakin dengan tujuannya. Tak lupa, uang pun menjadi senjata yang siap disarungkan dan dibawa ke mana-mana. Kegagalan integritas pasti membanjiri kelompok politik denominasi. Integritas menjadi barang yang dibuang di tempat sampah, atau bahkan ada yang menyimpannya di gudang rumahnya, untuk bahan makanan yang kapan saja digunakan ketika ia gagal dalam politik denominasi. Artinya, sekadar memperalat saja ketika dibutuhkan asalkan “uang jatah” diturunkan dari langit yang sedang cerah.
Perahu semakin kencang didayung. Integritas-integritas rela ditinggalkan di pelabuhan rumah mereka dan berucap: “Selamat Tinggal Integritas”. Mereka kemudian menentukan arah politik denominasi dan mencari pulau sebagai persinggahan dalam penyusunan rencana-rencana jahat. Mereka semakin yakin dengan identitas mereka yang telah terjual oleh janji-janji manis dari bibir sang hipokrit. Tapi, mengapa mereka semakin bersinar di kala cuaca sedang mendung? Itu pertanda bahwa mereka kuat. Kuat karena ditopang oleh uang. Tak ada kekuatan lain selain uang. Uang bisa membuka mulut untuk berucap sumpah serapah dan makian. Uang bisa menutup mulut agar tak menyuarakan kebenaran, tetapi beradu argumentasi hipokrit agar sang pembayar merasa puas. Uang bisa membeli celana dan membuka celana. Uang bisa membuat perahu kehidupan dan merusakkan perahu kehidupan pula. Uang bisa menciptakan integritas palsu dan menjual integritas palsu. Uang bisa mempublikasikan kebohongan dan menjual kebohongan. Uang hampir bisa memuluskan segala sesuatu.
Bilakah kita terbuai dengan uang? Semoga tidak, dan sebaiknya jangan sama sekali. Bilakah kita menjual integritas kita hanya karena satu partai? Semoga tidak. Bilakah kita menjual diri dengan harga yang murah demi sesuap nasi yang bernama “popularitas”? Semoga tidak. Bilakah kita berkata tidak pada “Bapa segala Dusta” yang menawarkan uang dalam jumlah banyak? Semoga tidak. Bilakah kita mengorbankan gereja untuk menghancurkan gereja orang lain? Semoga tidak. Bilakah kita ikut-ikutan mencaci maki dan merendahkan orang lain dengan bayaran yang murah? Semoga tidak. Bilakah kita terpesona dengan janji-janji manis kampanye dalam politik denominasi? Semoga tidak. Bilakah kita bersama satu perahu dengan wajah-wajah garang yang telah menjual integritas mereka demi uang? Semoga tidak. Bilakah kita terus mengumangkan kebencian dan caci maki sedangkan kita adalah orang yang dihormati? Semoga tidak. Bilakah kita main kucing-kucingan untuk memperalat orang lain agar mendapatkan sesuatu? Semoga tidak. Bilakah kita menampilkan persona hipokrit demi uang? Semoga tidak.
Wadah kehidupan adalah sesama kita. Ketika kita tidak memperhatikan perahu integritas kita, maka kita akan terjerumus ke dalam berbagai-bagai duka. Kita melihat perahu kita dan perahu orang lain. Kadang, perahu yang dinaiki tidaklah diperhatikan, tetapi sibuk melihat dan menilai perahu orang lain. Ikutilah slogan integritas yaitu: “Cerdas Berpikir, Jujur Berkata, Tulus Berbuat.” Dan jangan pedulikan slogan hipokrit yaitu: “Ayo dukung saya, saya menawarkan politik denominasi, dan kita akan bermasturbasi bersama-sama menikmati hasilnya.” Lupakan mereka. Jangan terpengaruh dengan mereka. Mereka adalah para pemalsu kebenaran dan sering bermasturbasi sendiri dan ingin menularkan hawa nafsunya kepada mereka yang siap meninggalkan integritas mereka demi “seonggok uang”. Integritas tidak berubah ketika warna-warni uang di depan mata. Integritas adalah barang langka di tengah kemeriahan caci maki dan “money politic”.
Ada berbagai cara manusia untuk menciptakan segala sesuatu. Dengan menciptakan segala sesuatu terkait dengan kemajuan teknologi yang mutakhir, menjadikan “agama” sebagai racun rasio yang tidak lagi dibutuhkan. Pada faktanya, yang cukup menyita perhatian adalah orang-orang beragama yang membuat ulah dalam relasi kemanusiaan. Baru saja dituduh mencuri amplifier, pelakunya langsung dikejar, dipukuli secara keroyokan, lalu disiram bensin, dan akhirnya dibakar sampai mati. Inilah ulah orang-orang yang bertuhan dan menyatakan diri dekat dengan Allah, tetapi Allah yang seperti apa yang didekati atau yang disembah?
Tak kalah menariknya adalah ada orang yang membunuh dengan mengatasnamakan agama; dan kita pun tahu bahwa “agama” pasti melibatkan pribadi yang dipercaya dan yang disembah. Lalu di saat yang sama, mereka menyatakan bahwa: DIA maha pengampun, DIA maha penyayang, DIA maha pengasih, dan bunga-bunga perkataan atau julukan lainnya. Di sisi lain teknologi semakin maju, dan para penganut agama berkelahi memperebutkan siapa yang masuk surga dan siapa yang dituduh masuk neraka; juga menuduh orang lain yang tidak sepaham dan seagama sebagai “kafir”, dan agamanya adalah penentu siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka. Akan tetapi, klaim-klaim agamais (religius) tersebut tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka lakukan. Perkataan memang manis, tetapi pahitnya muncul di permukaan melalui perbuatan dan mulut penuh sumpah serapah.
Para ilmuwan kemudian menilai bahwa mereka yang bertuhan sibuk mencari pembenaran diri dengan mengklaim “ini dan itu”—seolah-oleh mereka lebih benar dan lebih tahu dari Sang Pencipta. Bahkan lebih parahnya adalah mereka membenarkan membunuh dengan mengatasnamakan agama. Bertolak belakang dengan hal ini, Yesus telah menegaskan kepada para murid-Nya bahwa: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yoh. 16:2). Dari pernyataan tersebut, terbukti bahwa para murid Yesus (para rasul) di kemudian hari banyak yang mati martir dengan berbagai cara. Bahkan hingga sekarang ini, para pengikut Yesus mengalami hal yang sama. Bedanya dengan agama lain, para pengikut Yesus lainnya tidak menuntut pembalasan dengan melakukan kejahatan serupa sebab Yesus tidak memerintahkan hal tersebut.
Sepanjang sejarah, pembunuhan dengan berkedok agama telah menjadi tren konflik kemanusiaan. Saling membakar rumah orang-orang yang tak bersalah, dan saling menyerang antar suku yang beda agama. Konflik di satu tempat kemungkinan besar [dan itu sering terjadi] berimbas di tempat lain tatkala konflik tersebut adalah konflik agama. Manusia menjadi seperti harimau kelaparan yang siap memangsa siapa saja yang lewat.
Dari serangkaian peristiwa buruk yang dilakukan oleh para rohaniwan atau para pemuka agama dan pengikut-pengikutnya, telah menjadi sasaran empuk kaum atheis untuk merendahkan mereka. Mereka pun semakin bangga menyatakan bahwa kami pun tak bertuhan, malahan memajukan dunia ketimbang kaum beragama. Namun, penilaian seperti itu tentu berat sebelah. Pasalnya, para agamawan juga menjadi berkat bagi sesamanya. Mereka rela berkorban bagi sesamanya. Ada nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh mereka yang beragama. Tapi seringkali hal-hal baik tersebut ditekan oleh berbagai keburukan dari agama yang sama ataupun agama yang berbeda.
Lalu apa kaitannya dengan rencana manusia untuk membuat gen manusia? Kaitannya adalah ketika manusia dapat menciptakan gen manusia, yang dalam arti bahwa mereka bisa menciptakan manusia, maka agama menjadi imbas; agama diprediksi akan mengalami kolaps. Apalagi ketika agama selalu bikir onar dan kekacauan kemanusiaan. Agama dianggap tidak memiliki kontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan mutakhir dan mungkin dianggap kolot. Ukuran kemajuan diukur dari seberapa berkembangnya teknologi itu dan imbasnya pula, agama dianggap semakin ketinggalan, dan ilmu pengetahuan semakin di depan, mirip iklan motor Yamaha.
Pemikiran di atas mungkin ada benarnya, tetapi tidak sesederhana itu. Tentu, anggaplah benar jika manusia dapat membuat gen manusia lalu menciptakan manusia sama seperti kita sekarang ini. Jika demikian, maka manusia mengumumkan bahwa “kita tidak membutuhkan agama atau Tuhan, atau sejenisnya untuk mempercayai bahwa Tuhan menciptakan manusia, tetapi kita hanya butuh kepercayaan bahwa manusia bisa menciptakan manusia lain dengan cara yang spektakuler”. Anggaplah demikian pernyataan para pembuat gen manusia.
Mari kita analisis soal ini. Saya akan mengulas hal ini dengan sistem pemikiran yang tajam agar kesombongan tersebut dapat segera diredam. Sekali lagi, anggaplah manusia berhasil membuat gen manusia dan dengan demikian mereka disebut “para pencipta manusia” untuk menyingkirkan gagasan agama tentang Tuhan yang menciptakan manusia. Ada yang menyebutnya dengan “Generasi Alpha”. Artinya generasi pertama yang diciptakan manusia melalui kemajuan teknologi. Bersiaplah menerima tantangan ini.
Berikut ini adalah analisis dan hipotesis terkait dengan kehebatan manusia dalam membuat gen baru untuk menciptakan manusia (anggaplah ini benar).
Pertama, ketika para pembuat gen manusia menciptakan manusia (melalui cara teknologis) lalu mengklaim “kita tidak butuh Tuhan, karena Tuhan telah kalah”, maka kita harus bersabar menunggu apakah manusia gen tersebut akan bertumbuh besar bahkan sampai ia mati.
Kedua, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, maka kita harus bertanya apakah materi yang mereka gunakan untuk membuat gen adalah ciptaan mereka sendiri?
Ketiga, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, maka siapa yang menciptakan para pembuat gen?
Keempat, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, apakah mereka menggunakan unsur kualifikasi manusiawi atau di luar unsur kualifikasi manusiawi?
Kelima, jika menggunakan unsur di luar unsur kualifikasi manusiawi, maka siapa yang menciptakan unsur tersebut?
Keenam, jika menggunakan unsur kualifikasi manusiawi, maka siapa yang menciptakan unsur tersebut?
Ketujuh, jika bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, barulah bisa mengatakan: “Kami tidak membutuhkan Tuhan karena kami bisa menciptakan manusia”.
Kedelapan, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, maka dari mana ide untuk menciptakan manusia dengan jenis yang sama? Dari Alkitab?
Kesembilan, jika ide membuat manusia dengan jenis yang sama, maka itu bukan hebat namanya, tetapi “copy paste” dari pencipta sebelumnya.
Kesepuluh, ketika para pembuat “gen baru” untuk menciptakan manusia, maka mereka tidak lebih hebat dari orangtua mereka yang telah membuat mereka melalui hubungan biologis (laki-laki dan perempuan) dan berproses selama sembilan bulan.
Kesebelas, kaum ilmuwan tidak boleh menyombongkan diri di atas bukit sebab pengguna teknologi sekarang ini adalah orang-orang yang beragama yang menguntungkan menguntungkan mereka.
KESIMPULAN
Kau beragama tetap menghargai teknologi dan ilmu pengetahuan karena mereka masih manusia yang tingga di bumi yang sama. Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan dan dikembangkan atau ditemukan, diperuntukkan bagi manusia dan lainnya. Ajaran agama dikembangkan dan ditafsir untuk memperbaiki moralitas dan spiritualitas manusia juga. Soal ajaran agama yang diperkosa dan dijadikan alat untuk menghancurkan sesama dan bahkan saling membunuh sesama, bukanlah sesuatu yang dijadikan jukstaposisi terhadap seluruh kaum beragama. Sama halnya dengan ilmu pengehuan dan teknologi. Itu berguna bagi sesama, tapi dalam waktu yang bersamaan, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membunuh dan menghancurkan sesama manusia. Jadinya impas bukan?
Para ilmuwan tak boleh sombong dengan menyatakan bahwa: “Kami tidak butuh Tuhan”, atau menganggap bahwa mereka yang beragama itu kolot. Ukuran kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa berkembangnya teknologi itu tetapi diukur dari para penggunanya. Secanggih-canggihnya teknologi tidak lebih canggih dari para PENCIPTAN, pengguna atau pemakainya. Agama tak mungkin kolaps karena kemajuan teknologi. Penganut agama yang skeptis dan menjadi tidak beragama sangat mungkin terjadi. Yang menjadi “TUAN” dari ilmu pengetahuan dan teknologi adalah “PEMAKAINYA”.
Para pembuat gen untuk menciptakan manusia tidak dapat dikatakan hebat karena ia menciptakan jenis yang sudah ada. Hebat itu jika manusia bisa membuat jenis yang sama seperti orang atau pribadi yang menciptakannya. Tetapi hal ini mustahil. Seorang anak tak mungkin menciptakan Ayahnya. Jika demikian, para pembuat gen perlu “berkaca di sendok” dan mulai merenungkan bahwa “kami tidak hebat”, dan “kami membutuhkan Tuhan” yang telah menciptakan segala sesuatu untuk dinikmati manusia. Jika mereka tidak percaya adanya Tuhan, urungkan niat untuk mengatakan “kami tidak butuh Tuhan” sebab dengan menyebut “Tuhan” maka anda sedang meneguhkan keberadaan-Nya.
Ketika agama dianggap semakin ketinggalan, dan ilmu pengetahuan semakin di depan, maka para ilmuwan juga harus “berkaca di sondok” sebab semaju-majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak lebih hebat dari mereka yang menggunakan ilmu pengetahuan, sebab apalah sendok jika tidak digunakan; ia akan menjadi karat dan terkapar sampai tertimbun debu atau reruntuhan akibat gempa bumi atau bencana alam. Jika ilmuwan hebat, maka mereka harus bisa mengalahkan tanah longsor, tsunami, gempa bumi, atau membuat matahari tidak bisa bersinar. Jika itu terjadi, maka pasti itu hanyalah mimpi di siang hari.
Jadi, beragamalah yang baik dan santun. Hargai sesama dan jadilah pelopor pengguna teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kepentingan bersama. Jadiah ilmuwan yang tahu diri bahwa sehebat-hebatnya temuan mereka tidak lebih hebat dari “MATERI” yang mereka gunakan untuk menciptakan teknologi dan menemukan ilmu pengetahuan, termasuk para pembuat gen manusia. Jika para ilmuwan mengakui bahwa materi sangat penting bagi dasar menciptakan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, maka ingatlah pesan Sang Pencipta: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1), sebab “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” dan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1-3, 14). Siapakah Firman itu dan yang menjadi manusia? Dialah YESUS KRISTUS, JURUSELAMAT DUNIA.
SELAMAT MENIKMATI HIDUP DENGAN BIJAKSANA DAN BERINTEGRITAS
Mazmur 139 merupakan wujud dari segala rahasia kehidupan manusia yang berada dalam pengawasan TUHAN. Pasal ini juga merupakan elaborasi dari kemahatahuan dan kepedulian TUHAN atas hidup manusia – siapa pun itu – yang pada gilirannya akan mengetahui bahwa hidup itu bernilai, hidup itu bermakna, hidup itu diawasi, dan hidup itu perlu dipertanggungjawabkan.
Berangkat dari hal inilah, Raja Daud menjelaskan mengenai keterkaitan antara pengawasan TUHAN dan hidup yang dijalani manusia pada umumnya, dan umat TUHAN pada khususnya. Segala sesuatu – itu yang menjadi penekanan Daud – bahwa TUHAN sanggup dan menguasai segala hal yang dilakukan [telah terjadi] dan “pikirkan” [belum terjadi]. Di sini, Daud menggambarkan TUHAN sebagai Pencipta, sekaligus Pemelihara yang bertanggung jawab atas hidup matinya manusia. Semuanya ada dalam kuasa dan kedaulatan-Nya; Ia bertanggung penuh atas kehidupan di dunia ini.
Bagaimana konsep ini bisa sedemikian indah digambarkan oleh Daud? Konsep ini jelas merupakan bukti nyata dari apa yang dialami Daud sendiri, di samping hal-hal yang lain yang di luar jangkauannya. Sementara Daud menjelaskan betapa hebatnya dan mahatahunya TUHAN itu, ia juga sedang memberikan kesimpulan iman bahwa semua manusia harus “sadar” bahwa apa yang dilakukannya ada dalam pandangan mata [pengawasan] dan pikiran TUHAN [rencana-Nya].
Di balik proses kehidupan yang rumit sekalipun, tangan TUHAN selalu menopang. Di balik proses kehidupan yang tertekan, kecewa, tidak seperti yang diharapkan, Daud menegaskan bahwa ada TUHAN yang bertanggung jawab dan memproses semua bentuk ketidakadilan, kejahatan, perlawanan terhadap-Nya, dan lain sebagainya. “TUHAN” – dalam keyakinan dan pengalaman Daud – adalah Pribadi yang peduli, pengasih, dan pembalas terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
Kita akan melihat beberapa hal penting dari beberapa ayat Mazmur 139, yang memberi penegasan dan rasa tanggung jawab kita di hadapan TUHAN dalam menjalani hidup.
Latar Belakang Kitab Mazmur
Dalam kitab ini dicerminkan idealisme keagamaan yang saleh dan persekutuan dengan Allah, penyesalan karena dosa dan pencarian akan kesempurnaan, berjalan dalam kegelapan, tanpa ketakutan, oleh terang iman; tentang ketaatan kepada hukum Taurat Allah, gairah berbakti kepada Allah, persekutuan dengan sesama pengikut Allah, penghormatan terhadap Firman Allah; tentang kerendahan hati di bawah cambuk yang mengajar, kepercayaan yang teguh kendati kejahatan merajalela dan berjaya dan ketenangan di tengah-tengah kebalauan.
Para penyair Ibrani diilhami untuk menerima pengetahuan-pengetahuan rohani dan pengalaman-pengalaman keagamaan di atas, dan menjadikannya tema nyanyian-nyanyian mereka. Tapi harus diingat bahwa ‘Mazmur adalah syair, dan syair dimaksudkan untuk dinyanyikan, bukan risalah doktrin, juga bukan khotbah’ (C. S Lewis, Reflections on the Psalms, 1958, p. 2).
Karena itulah judul Mazmur dalam bahasa Ibrani ialah “tehillim”, ‘nyanyian-nyanyian pujian’ — dan mazmur-mazmur itu juga mengungkapkan agama Israel, yakni agama yang menjadi warisan para pemazmur itu, bukan hanya pengalaman-pengalaman keagamaan mereka secara pribadi. Justru Kitab Mazmur adalah milik semua ‘orang beriman’, baik Yahudi maupun non-Yahudi (J.G.S.S. Thompson dan F. D. Kider, Kitab Mazmur, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: YKBK, 2011, 41).
I S I
1Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; 2Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 3Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. 4Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
Tujuan: Pemimpin Biduan
Mengapa? Karena kitab Mazmur adalah sebuah nyanyian, maka tema-tema tentang pengetahuan tentang Tuhan dan pengalaman religius “harus” dinyanyikan. Dalam menyanyi dibutuhkan seorang pemimpin pujian [nyanyian] – yang dengan begitu, pemimpin tersebut dapat dengan leluasa menjelaskan makna dari teks-teks yang akan dinyanyikan itu. Simpel saja, dalam menyanyikan sebuah lagu, dibutuhkan sebuah usaha “latihan” irama dan menghafal nada. Hal ini dimaksudkan TUHAN bahwa semua bentuk penyataan akan kuasa dan karya-Nya patut dinyanyikan, dijadikan sebagai sebuah simfoni yang indah tatkala seseorang menyanyikan sebuah lagu. Lagu dimaksudkan untuk menghibur, menguatkan, mencerahkan, memberikan semangat dan terlebih, lagu adalah sebuah wadah bagi manusia untuk mengeluarkan semua potensi yang ada, semua keinginan dan hasrat kepada seseorang atau siapa saja yang dijadikan tujuan lagu tersebut.
Konsep ini sebenarnya berasal dari TUHAN. TUHAN itu menyukai puji-pujian. Ia bertakhta di atas puji-pujian umat-Nya. Semua harmonisasi ada dalam lagu atau kidung pujian.
Tugas pemimpin biduan [kor] adalah memberikan pelatihan teks-teks lagu, melatih nada lagu, dan lain sebagainya sehingga teks-teks dalam lagu tersebut tidak hanya dijadikan hafalan tetapi dapat termaktub secara kuat dalam hati sanubari manusia yang mencitai dan mengasihi TUHAN.
Alasan: karena pemimpin memiliki berbagai hak yang tidak dimiliki oleh pengikutnya. Mengapa? Pemimpin lebih banyak tahu, lebih banyak tanggung jawab, dan lebih banyak pengalaman.
Dampak: dapat dirasakan secara langsung karena pemimpin selalu bersama dengan pengikutnya. Pemimpin memiliki waktu yang lebih banyak dari pada pengikutnya dan seorang pemimpin dapat kapan saja memberikan sesuatu kepada pengikutnya.
Kedua: Tanggung jawab TUHAN: Menyelidiki dan mengenal umat-Nya; Mengerti pikiran manusia (discern [mengetahui dengan jelas], discernest, understand, understandest; Memeriksa; Memberitahukan (acquanted, maklumi): jalan-jalan atau “mengetahui” (acquanted with) dan familiar with: mengetahui, tahu tentang.
Ketiga: Tanggung jawab manusia. Menghitung atau mengakui semua berkat dan karya TUHAN (ay. 18); Memohon pertolongan TUHAN dalam menghadapi kerasnya hidup (ay. 19-20).
Keempat: Kesadaran diri manusia: Mengakui TUHAN (ay. 6): tidak sanggup mencapai pengetuhuan-Nya; Mengakui bahwa TUHAN ada di mana-mana; Mengakui bahwa TUHANlah yang membentuknya di dalam kandungan ibunya (ay. 13-16); Sadar akan bahaya pembenaran diri dan memohon agar TUHAN menuntun ke jalan yang kekal (ay. 24)
Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah semua tindakan manusia yang tidak baik, juga merupakan kendali TUHAN? Kita harus memperhatikan bahwa Tuhan telah memberikan otonomi berpikir kepada manusia dan dengan pikirannya, manusia dapat melakukan, mengontrol, melanggar, dan tindakan-tindakan lainnya. Contohnya: Di akun FB, ada foto yang diposting mengenai seorang ayah membunuh anaknya yang masih kecil. Jika diprediksi, anak tersebut kira-kira berumur 1 tahun 5 bulanan. Saya melihat foto tersebut dan sedih dan hampir menangis. Saya melihat bahwa di bagian leher anak tersebut ada bekas gorokan, bekas irisan, atau tusukan yang cukup lebar membentuk sebuah garis lurus dan lukanya agak terbuka. Dari pengamatan saya, dugaan saya mengapa seorang anak membunuh anaknya adalah:
a) Suami istri bertengkar dan istri lari dari rumah;
b) Adu mulut dengan istri dan suami naik pitam lalu anak jadi sasaran;
c) Suami dihina oleh istri secara berlebihan, mungkin karena miskin atau tidak punya pekerjaan sehingga suami naik pitam lalu membunuh anaknya;
d) Masalah ekonomi;
e) Masalah istri tidak kembali dari bepergian;
f) Masalah istri tinggalkan suami karena ada orang ketiga (selingkuh);
g) Anak menangis terlalu lama; dan
h) Ada masalah dengan tetangga atau keluarga lainnya
Tentu kita harus memahami pembagian atau lebih tepatnya “tanggung jawab”. Tuhan bertanggung jawab penuh atas totalitas hidup manusia. Manusia diberikan tanggung jawab oleh Tuhan melalui: totalitas tubuhnya. Di dalam tubuh ada: mata, telinga, pikiran, tangan, kaki, hati, hasrat, emosi, kehendak, kemarahan, kebencian, kedengkian, sukacita, damai, ketenangan, cinta, kasih, nafsu. Dan dalam kesemuanya itu, dua bagian tubuh yang penting adalah: HATI dan PIKIRAN. Baik tidaknya manusia bergantung kepada dua bagian tubuh ini.
Jika hati dan pikiran kita dikuasai kemarahan, kebencian, tindakan apa saja yang dapat dilakukan akan dapat dilakukan dengan nekat dan terpaksa.
Kembali ke Mazmur 139. Dalam bagian Mazmur 139, lima aspek yang dilakukan TUHAN:
Pertama: Tuhan mengenal Daud: hati (ay. 1)
Kedua: Tuhan mengerti pikiran Daud (ay. 2)
Ketiga: Tuhan mengetahui perkataan lidah: berasal dari hati dan pikiran (ay. 4)
Dengan demikian, perlu ditekankan bahwa: TUHAN mengawasi dan peduli dengan kita, TUHAN mengetahui semua tindak tanduk kita, TUHAN meminta pertanggungan jawab atas semua perbuatan kita. Apa yang kita lakukan bergantung pada hati dan pikiran. Tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak dan ajaran TUHAN bukanlah menyalahkan TUHAN tetapi lebih kepada tanggung jawab hati dan pikiran yang telah TUHAN berikan sejak ia menciptakan manusia di Taman Eden dan menciptakan manusia sejak dalam rahim ibu.
Kalau TUHAN mengenal kita dan jalan-jalan hidup kita, seharusnya kita juga bercermin dari tindakan itu yaitu mengenal diri kita sendiri dan jalan-jalan hidup kita masing-masing agar hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan dan melalui perbuatan-perbuatan kita, nama Tuhan dimuliakan, dan diri kita dimuliakan Tuhan.
Dunia berpikir adalah dunia di mana manusia menuangkan berbagai hal yang dipikirkan, dirasakan, diamati, diselidiki, diteliti, disiasati, dan dialami. Semua hal ini dapat dengan mudah dipublikasikan, terutama melalui media sosial. Media sosial yang cukup populer adalah “Facebook”, di samping WhatsApp, Instagram, BBM, Messenger, Twoo, Twitter, Zorpia, dan lain sebagainya. Seseorang dengan “sesuka hati” mempublikasikan—maklum, namanya juga media sosial—sebuah media yang dapat dilihat banyak orang. Namun, apakah semua yang dipublis memiliki batasan-batasan?
Akhir-akhir ini, publikasi segala sesuatu melalui media Facebook dinilai cukup masiv. Publikasi tersebut sudah tidak lagi memiliki batasan kecuali otoritas Facebook telah membatasinya. Namun, karena setiap orang memiliki potensi berpikir yang independen maka apa yang dipublikasikan tidak dapat diganggu gugat. Bercermin dari hal ini, sebagai pengguna Facebook, saya meneliti dan menyimak apa saja sebenarnya yang dipublikasikan. Seperti yang saya katakan bahwa setiap orang memiliki potensi berpikir yang independen, namun independensi berpikir sering dipengaruhi oleh aspek lain di luar pikiran seseorang seperti pengaruh pikiran orang lain, pengaruh publikasi orang lain, pengaruh emosional orang lain, pengaruh persaingan. Sedangkan dari aspek pribadi, publikasi independen pikiran yang tertuang dalam Facebook dilatari oleh berbagai tipe (akan saya jelaskan kemudian).
Berbagai kasus terjadi akibat kurang cerdasnya menggunakan media Facebook. Pemerkosaan, penculikan, pembunuhan, penganiayaan, perang antar agama, kisruh politik, pelecehan agama, pembunuhan karakter, caci maki, fitnah, ujuran kebencian, dan sebagianya, terjadi karena penggunaan media sosial Facebook yang tidak bijaksana dan tidak cerdas. Media sosial bisa berdampak positif tetapi sekaligus dampak negatif mengikutinya. Memang kita tidak bermaksud buruk, tetapi orang lain yang menafsirkan apa yang dipublikasikan dapat saja menganggapnya sebagai perbuatan buruk terhadapnya. Apalagi status yang menyudutkan orang lain yang belum tentu benar dan sesuai fakta. Fitnah menjadi makanan sehari-hari. Siapa pelaku fitnah? Pastinya adalah mereka yang memiliki karakter yang tidak beres, mereka yang dibayar untuk itu, mereka yang pernah tersakiti, dan lain sebagianya.
Dari penelitian media sosial Facebook yang saya lakukan sejak tahun 2015, saya merangkum berbagai pandangan umum dan tipe dari pengguna Facebook. Untuk penjelasan tipe pengguna Facebook, tentu terkait dengan pandangan umum tentang Facebook di mana setiap orang dapat mempublikasikan sesuatu.
Pandangan umum soal media sosial (tertuang dalam bentuk publikasinya):
Mempublikasikan iklan (jualan berbagai jenis barang dan jasa)
Mempublikasikan diri sendiri (foto-foto kegiatan)
Mempublikasikan tulisan-tulisan kritis dan satiris terkait isu sosial, ekonomi, agama, kemanusiaan, negara, pemerintahan, konflik global, dan sebagainya
Mempublikasikan karya-karya orang lain (buku, artikel, dan sebagainya)
Mempublikasikan karya-karya sendiri (buku, artikel, dan sebagainya)
Mempublikasikan kegiatan terkini (kuliah, berangkat ke tempat lain [naik kapal, perahu, pesawat, motor, mobil, dan sebagainya], olahraga, ceramah, diskusi, seminar, lokakarya, hari raya keagamaan, tamasya dan sebagainya)
Mempublikasikan kegiatan yang telah lampau
Berkomunikasi dengan sahabat dan orang lain (membicarakan soal kabar terkini, tinggal di mana, kerja di mana, sudah berkeluarga atau belum, sudah punya pacar atau belum, sudah menikah atau belum, siapa yang sudah meninggal, siapa yang sudah berhasil, dan sebagainya)
Mempublikasikan kemarahan terhadap sesama, keluarga, anak, pimpinan
Ajang pameran kegiatan, diri sendiri, organisasi, atau hewan-hewan peliharaan dan sebagainya
Ajang curhat (kadang curhat kepada Tuhan, curhat kepada temannya, curhat kepada siapa saja yang mau melihat statusnya)
Ajang menjelekkan orang lain, suami, istri, anak, tetangga, dan organisasi atau lembaga lainnya
Suka cari perhatian (membuat status yang menggantung, bertanya yang tidak jelas, foto sehabis mandi, pakai bedak dan lipstik, dan sebagainya)
Pamer keindahan bagian tubuh tertentu
Ajang memuaskan hawa nafsu (mempublis gambar-gambar senonoh)
Ajang penipuan (mempublikasikan sesuatu untuk tujuan menipu)
Ajang publikasi kejahatan (menyombongkan diri dengan tindakn kejahatan yang dilakukan secara pribadi atau komunal)
Ajang perkenalan (memperkenalkan diri)
Ajang cari pacar (jodoh)
Ajang berkelahi lewat kata-kata (ancam-mengancam)
Ajang mencari dukungan (politik, pilkada, organisasi, dan dalam situasi konflik)
Promosi program dan kegiatan yang sedang berjalan
Ajang mencari popularitas diri
Ajang untuk mengukur berapa jumlah orang yang LIKE statusnya
Ajang berdialog, berdiskusi dan berdebat
Ajang berbagi informasi, berita duka, berita kelahiran, dan sebagainya
Dari berbagai pandangan umum di atas yang tertuang dalam bentuk publikasinya, semuanya dilakukan dalam bentuk: kata, foto/gambar, situs/website/link, video, audio (tanpa tampilan menarik) dan simbol-simbol tertentu.
Berdasarkan pandangan umum di atas, maka saya mengelompokkannya ke dalam berbagai “tipe psikologi” Facebook. Pengelompokkan ini akan berimplikasi pada dua hal yakni implikasi positif dan implikasi negatif. Dari sini kita dapat belajar memahami karakter kita sendiri dan karakter orang lain (setidaknya asesmen terhadap pengguna Facebook terbuka lebar, maklum, namanya juga media sosial, pasti melibatkan banyak orang, pengguna, penilai, dan pengamat). Berbagai tipe psikologi Facebook saya sebutkan berikut ini:
TIPE MARKETING. Tipe jenis ini adalah mempublikasikan hal-hal yang berbau ekonomis dan keuntungan. Segala sesuatu dipasarkan asalkan menguntungkan dan memberi pemasukan. Lumayan, untuk bertahan hidup dan memperjuangkan hidup.
TIPE BERBAGI. Tipe jenis ini adalah tipe yang selalu membagikan segala sesuatu terkait: Cerita Petualangan, Cerita Anak yang lucu (entah anak sendiri atau anak orang lain), Cerita Keluarga, Cerita Kesaksian hidup (pribadi, keluarga, dan orang lain), Ayat-ayat Alkitab, Artikel (kehidupan, kesehatan, agama, dan sebagainya, entah menyejukkan maupun yang menyesakkan).
TIPE KURANG KERJAAN. Tipe jenis ini adalah tipe yang selalu berorientasi pada pola meramaikan Facebook. Dari pada sepi, mendingan diramaikan dengan publikasi-publikasi dalam bentuk-bentuk yang disukai.
TIPE HANDPHONE BARU. Tipe jenis ini adalah tipe yang oleh karena memiliki handphone (smarphone) yang baru, maka niat mempublikasikan segala sesuatu tak terbendung lagi. Apa saja dipublikasikan, entah kenang-kenangan, kegiatan, dan sebagainya.
TIPE MEKANIS. Tipe jenis ini tergolong unik dan kadang dinilai membosankan. Tipe ini dikatakan mekanis karena pikiran dan hatinya tertuju kepada segala sesuatu itu harus dipublikasikan. Ketika memasak, dipublis. Ketika makan dipublis. Sehabis makan dipublis. Mau mandi dipublis. Setelah mandi dipublis. Berangkat kerja dipublis. Macet di jalan dipublis. Sampai di tempat kerja, kantor, sekolah, dan sebagainya, dipublis. Sedang bekerja dipublis. Sedang mengajar dipublis. Sedang ujian dipublis. Sedang istirahat makan dipublis. Pulang kerja dipublis. Jalanan macet dipublis. Sampai di rumah dalam keadaan letih dipublis. Mau mandi malam dipublis. Makan malam dipublis. Sebelum “bobo” [tidur] dipublis. Tempat tidur dipublis. Bangun pagi dipublis. Mandi pagi dipublis. Sarapan pagi dipublis, meski hanya makan “IndoeMie” dan rekan-rekannya satu kelas, seperti “SuperMIe, “SariMie”, dan “PopMie”. Minum teh/kopi/susu/air putih dipublis. Berangkat kerja/sekolah dipublis, dan seterusnya, dan setiap harinya.
Segala jenis kegiatan selalu dipublis. Jika dalam seminggu, segala sesuatu dipublis, maka pengguna Facebook yang lain sudah dapat mengetahui, jadwal kehidupan dan jadwal pekerjaan seseorang, karena ternyata Facebook menjadi “media mencatat kegiatan sehari-hari” tanpa ada batasan privasi yang dapat saja dibaca orang lain.
Dalam kasus yang lain, biasanya tipe ini, misalnya mempublikasikan foto dalam jumlah yang banyak tetapi foto yang sama (gayanya, senyumnya dan sebagainya) dalam jumlah yang banyak pula. Foto dengan gaya yang sama—entah ada motif apa di dalamnya—kadang atau selalu membuat orang menilai bahwa “lain kali kalau publis foto, dipilih dulu mana yang bagus. Jangan semua foto yang sama dipublis. Bosan lihatnya”. Kira-kira itulah curahan hati para penilai foto-foto yang dipublis dalam bentuk yang sama.
TIPE CURHAT. Tipe jenis ini adalah tipe yang suka mencurahkan isi hatinya. Pokoknya segala kejadian yang terjadi di dunia ini, dipublikasikan. Kaki kesenggol batu, dipublis. Kaki kena knalpot dipublis. Mata merah dipublis. Badan lemas dipublis. Tangan kena air panas dipublis. Terbaring di rumah sakit dipublis. Terbaring di jalanan dipublis. Pantat tumbuh bisul dipublis. Kaki bisulan, dipublis. Anak sakit dipublis (“cepat sembuh ya anak kesayangan mami….”). Konflik keluarga dipublis. Salah paham dengan teman atau tetangga dipublis. Ada masalah dipublis. Kadang curhatnya ke Tuhan, kadang pula ke teman[-teman] lama, kadang ke siapa saja yang perhatian kepada curhatannya di Facebook.
TIPE SOK JAGOAN. Tipe jenis ini adalah tipe yang “berani” sekaligus “konyol”. Penggunanya menggunakan kata-kata, gambar-gambar, atau video untuk menunjukkan kebolehannya, kejagoannya, dan agamanya. Kadang, tipe model ini beraninya keroyokan, dianggap karena mayoritas, dianggap hebat karena banyak dukungan dan sebagainya. Tipe ini bisa terjadi di kalangan geng, anak sekolahan, ormas-ormas yang tidak jelas, suku-suku tertentu, kelompok atau organisasi tertentu. Tipe ini bisa menimbulkan gesekan dan konflik sosial.
TIPE CAPER (CARI PERHATIAN). Tipe jenis ini adalah tipe yang lucu dan kadang tidak jelas. Biasanya suka mempublikasikan pribadinya yang sedang dirundung masalah, sedang sakit flu, batuk, dan pilek. Atau dalam kondisi senang dan ingin orang lain tahu bahwa ia sedang gembira. Setelah mandi dipublis. Setelah pake bedak dan lipstik dipublis. Sedang berkhotbah di hari Minggu dipublis. Melayani di hari Minggu dipublis. Sebelum berkhotbah “selfie dulu” lalu dipublis, dan hal-hal lain yang terjadi pada hari itu juga.
TIPE PAMER. Tipe ini beda-beda tipis dengan tipe cari perhatian. Ada yang pamer sepatu baru, baju baru, pacar baru, motor baru, mobil baru, cincin batu akik maupun batu kali. Pamer di sini dalam arti bahwa “substansi” dari publikasinya sangat kelihatan (mencolok). Banyak hal yang menjadi ajang pamer di media sosial. Bahkan belakangan, pamer agama pun turut meramaikan media sosial Facebook.
TIPE KRITIS (kritik-kritik terhadap kesenjangan sosial, pemerintah, diskriminasi, dan sebagainya). Tipe ini sering menunjukkan pemikirannya (dalam bentuk tulisan dan atau gambar disertai penjelasan) dan kritik terhadap hal-hal yang dinilai menyimpang dan menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan.
TIPE INFORMATIF. Tipe ini suka berbagi informasi terkait dengan berbagai hal.
TIPE MUSIMAN. Tipe ini muncul sesuai dengan musimnya. Jarang muncul di Facebook. Jika musim hujan, dia “nongol”.
TIPE SITUASIONAL. Tipe ini hampir sama dengan tipe musiman. Namun tipe bisa muncul lebih cepat dari musiman. Ketika situasi berubah, pengguna Facebook tipe ini langsung muncul.
TIPE GAYA-GAYAAN. Tipe ini mirip dengan tipe pamer dan caper. Suka bergaya di mana-mana dan dipublis. Gaya di tempat tidur, di kamar mandi, di ruang tamu, di wastafel, di toilet, di atap rumah, di pinggir pantai, dan sebagainya. Tipe ini beranggapan bahwa “saya ingin berbagi cerita dan pengalaman”. Tapi jika keseringan mempublikasikan segala sesuatu yang bermotif “gaya” maka ia termasuk pada tipe ini.
TIPE PENIPUAN. Tipe ini jelas sekali motifnya. Namun sering orang-orang tertipu karenanya. Substansi dasarnya adalah menipu dan meraup keuntungan, jika bermotif jualan dan pemasaran; ingin memperkosa dan mencelakai perempuan, jika motifnya pasang foto ganteng dan curi perhatian, berkenalan, memuji-muji perempuan, buat janji, dan “sikat” jika sudah ketemu.
TIPE ESKATOLOGIS. Tipe ini memiliki pemikiran ke masa depan. Apa yang dipublikasikan adalah cerminan dari buah pemikirannya tentang kegelisahan, dan keresahan, bahkan antisipasi terhadap sesuatu yang bisa menjadi ancaman. Dengan berbagai publikasi, tipe ini berharap bahwa para pembaca dapat memahami bahwa di masa depan perlu kehati-hatian dan kesiapan. Jika tidak, bencana, situasi yang tidak diinginkan dapat terjadi.
Dari berbagai tipe pengguna Facebook di atas, saya menutup deskripsi ini dengan fungsi media sosial dan implikasinya. Fungsi (positif dan negatif) Facebook: 1) Mempengaruhi orang lain dengan kata-kata bijaksana maupun dengan kata-kata hujatan, caci maki, dan provokatif; 2) Mempengaruhi orang lain dengan tulisan atau artikel; 3) Mempengaruhi orang lain dengan foto-foto/gambar-gambar tentang kehidupan atau kepedulian atau kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan (penganiayaan); 4) Mempengaruhi orang lain dengan kata-kata motivasi; 5) Mempengaruhi orang lain dengan rasa kepedulian dan rasa kebencian; dan 6) Mempengaruhi orang lain dengan foto-foto lucu (menghibur) atau foto-foto sindiran, hinaan, dan perendahan martabat.
Implikasi Facebook terdiri atas implikasi positif dan negatif. Apa yang kita kira berimplikasi positif, tetapi bisa juga sebaliknya. Apa yang kita publikasikan bisa saja menurut kita itu tidak membosankan, tetapi di sisi lainnya, membuat orang bosan melihat publikasi yang hanya itu-itu saja. Bisa saja menurut kita apa yang dipublis tidak menyinggung perasaan orang lain, tetapi dalam waktu bersamaan, hal itu dapat menyinggung perasaan orang lain. Intinya, kita perlu memahami “makna” dan “substansi” dari apa yang kita publikasikan, sebab yang melihat, menilai, dan mengomentari adalah masyarakat luas. Jika tidak mau dilihat, dinilai, dan dikomentari, maka buatlah Facebook sendiri yang tidak ada teman sama sekali.
Jika demikian, bijaksanalah dalam menggunakan Facebook. Tak ada salahnya mempublikasikan segala sesuatu karena itu bersifat pribadi. Namun, bentuk-bentuk kejahatan dan pembunuhan serta kesalahpahaman dapat terjadi melalui publikasi tersebut.
Sebagai penutup dari tulisan ini, saya hendak menyimpulkan lima hal implikasi dari menggunakan Facebook. Pertama, menggunakan Facebook itu bersifat preokupi (memeras pikiran); kedua, menggunakan Facebook itu bersifat menghibur; ketiga, menggunakan Facebook itu bersifat prosaik (menjenuhkan, membosankan); keempat, menggunakan Facebook itu bersifat berbagi (sharing); dan kelima, menggunakan Facebook itu bersifat mempengaruhi.
Setiap manusia yang hidup di zaman tertentu, menemukan atau bahkan mengalami adanya asosiasi-asosiasi tertentu dengan zaman yang lampau. Zaman sekarang ini adalah zaman di mana gempita agama, politik, teknologi [industri], dan informasi—yang pada konteks tertentu memiliki asosiasi dengan konteks lampau. Asosiasi tersebut diberlakukan oleh manusia untuk membangun jembatan pemikiran, empirikal, dan pemaknaan atas fakta telah terjadi, dan kemudian, ketiganya dijadikan sebagai “pedoman” untuk bertindak di hari ini dan di masa mendatang agar dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Pada tataran agama dan politik, justru asosiasi-asosiasi (yang dirancang atau dipikirkan sendiri) begitu kental dan bahkan sangat mengikat seseorang atau sekelompok orang. Sedangkan pada tataran teknologi, tentu kita hanya dapat menilai, menikmati (menggunakan) teknologi terbarukan, kecanggihan industri di segala bidang, dan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan—termasuk penelitian di berbagai bidang—dan informasi. Produk hoax juga menyita banyak perhatian kita. Tak sedikit yang menjadi korbannya. Hoax seolah-olah telah menjadi “budaya baru” yang secara masiv dikaitkan dengan sederet kisah yang juga hoax: hoax melahirkan hoax baru.
Dari fakta persebaran dan pandemik hoax, agama tidak lepas dari jenis ini. Hoax atas nama agama pun marak terjadi. Agama—di satu sisi—menjadi buah bibir yang laris manis di pasaran, menjadi kekuatan yang memikat hati, dan di sisi lain, agama menjadi minuman keras yang memabukkan, menghasilkan berbagai tindakan kekerasan, radikalisme, paralogisme, diskriminasi, intimadasi, persekusi, dan lain sebagainya. Agama menampilkan dualisme spesifik tindakan yang dilakukannya: menunjukkan supremasi kebaikan (ajaran-ajaran moralitas) dan menunjukkan supremasi keradikalannya (yang berakhir dengan konflik dan gesekan sosio-politik).
Dalam konteks pemahaman tentang Yesus Kristus, historis tentang Dia tak lepas dari hoax. Para penutur hoax memiliki alasan-alasan terselubung untuk menggaungkan hoax tersebut. Opini, solipsisme, dan sentimen keyakinan, memungkinkan alasan dari tindakan menggaungkan hoax tentang Yesus. Hingga saat ini, ada orang-orang tertentu yang termakan hoax dan berjuang untuk terus menyebarkan hoax tentang Yesus. Politik juga ikut bermain dalam ranah ini.
Peristiwa penyaliban Yesus di kalangan Islam dan Kristen menuai pro dan kontra. Hal ini sekaligus merupakan dikotomi yang tidak mencapai “meeting point” karena keduanya memiliki serangkaian bukti sebagai dalilnya. Di pihak Islam, menafsirkan Surat An-Nisa [4]:157 sebagai bentuk pertolongan Allah kepada Isa dari penyaliban dengan cara membuat wajah seseorang mirip Isa. Ada yang menyebut orang tersebut sebagai salah satu murid Yesus yakni Yudas Iskariot (Yahuza) dan lainnya menyebutnya sebagai Simon dari Kirene. Yang pasti, mayoritas Muslim menolak bahwa Isa mati disalib. Di pihak Kristen, sebagai pemilik sejarah tersebut, menyuguhkan bukti-bukti historis dalam catatan Injil-injil kanonik. Mereka sepakat bahwa “Yesus benar-benar mati di kayu salib”, sekaligus mempercayai kematian-Nya sebagai media Allah untuk keselamatan umat-Nya.
Data yang disuguhkan mayoritas Muslim (teolog dan penafsir), tidaklah memadai secara historis, justru memunculkan data yang ahistoris ditambah dengan persepsi teologis. Pasalnya, terbukti bahwa kristologi Muhammad dibangun berdasarkan pengaruh yang didapatkan dari ajaran-ajaran bidat-bidat Kristen yang jelas-jelas merupakan bentuk ajaran-ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran resmi Gereja. Teori penggantian Isa disalib lebih merupakan pandangan gnostisisme dan doketisme sebagaimana disebutkan dalam sumber-sumber yang tergolong apokrif atau bidat. Data Kristen yang disuguhkan justru mendeteksi semua bentuk-bentuk penyimpangan kristologi Muhammad termasuk penyangkalannya terhadap kematian Isa di kayu salib serta teori penggantian.
Berdasarkan penelusuran sumber-sumber dan analisis historis-teologis tentang kristologi Muhammad yang dikemas dalam dialog apologetika, ternyata dapat dibuktikan bahwa konsepsi tentang penyaliban Isa dan teori penggantian Isa merupakan bentuk penyimpangan historis. Dari analisis kritis pula, semua teori (penafsiran) dan persepsi teologis tentang penyaliban Isa, dengan mudah digagalkan dan dibantah secara ilmiah. Dengan begitu, persepsi teologis bahwa Isa tidak mati disalib dan ada orang yang menggantikannya, merupakan sebuah kegagalan dalam memahami fakta sejarah dan memunculkan sikap ketidakjujuran akademis demi sebuah pembelaan kehormatan Isa sebagai Nabi Allah atau pun Al-Qur’an sebagai firman Allah.
Melalui kajian historis-teologis dengan pendekatan Appellate Court, beberapa temuan penting dapat disajikan dalam buku ini yaitu:
1) Legitimasi kenabian Muhammad didapatkan dari penganut Kristen heretis yakni Pendeta Bahirah dan Waraqa ibn Naufal, yang berkembang menjadi keyakinan diri Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa agama Islam yang diklaim berasal dari Allah;
2) Legitimasi tersebut berimbas kepada pemahamannya tentang kristologi menjadi ikut tercemar karena bersumber bukan dari tradisi tulisan melainkan tradisi lisan;
3) Banyaknya data historis yang terkait dengan pandangan bahwa Yesus tidak disalib tetapi ada penggantinya, sebagai bentuk ajaran-ajaran sesat Kristen yang terdeteksi secara kuat ditemukan dalam teks Surat An-Nisa [4]:157. Dari bukti-bukti yang ada, Muhammad telah mengikuti ajaran-ajaran non-biblikal dan non-historikal;
4) Maraknya data Al-Qur’an terkait dengan kristologi yang sama sekali tidak mencerminkan data historis tetapi lebih kepada persepsi teologis;
5) Muhammad memiliki lebih banyak relasi sosial, religius, ekonomi, dan politik, dengan komunitas Kristen heretis sehingga di dalamnya ada pengaruh-pengaruh pemahaman kristologi sebagaimana disebutkan pada nomor 4; dan
6) Dengan adanya dialog apologetik, ditemukan kelemahan-kelemahan persepsi teologis dari mayoritas teolog/penafsir Muslim. Munculnya tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan membuktikan kelemahan mereka bahwa hal itu tidak didasarkan pada pengamatan historis yang kredibel dan akuntabel tetapi lebih kepada asumsi umum yang berkembang di kalangan Islam sebagai iklim tetap dari iman dan kepercayaan mereka yang merupakan warisan kristologi yang kaku dan ahistoris.
Dunia menjadi berkualitas ketika gerakan “menafsir” mendapat tempat yang layak. Pada setiap konteks kehidupan, relasi, dan komunikasi, manusia bergumul dan berbahagia dengan proses hermeneutik. Fakta ini menavigasikan pola berpikir, menilai, merumuskan, dan menetapkan, menuju kepada tujuan yang hendak dicapai.
Menafsir bukanlah hal mudah, meski seringkali dipandang mudah. Ada sejumlah fitur yang signifikan—sebagai rambu lalu lintasnya—membuat proses menafsir mendapatkan kualitasnya (fakta, konsep, korelasi, analogi, teologis, dogma, historis). Hasil tafsiran menentukan navigasi iman, harapan, dan tindakan. Berbagai kesesatan berpikir dan penyesatan verbal, konsep, teori, doktrinal (ajaran) adalah buah-buah dari bagaimana proses menafsir dilakukan.
Gegap gempita pengajaran yang tidak karuan, memunculkan sejumlah kumur-kumur emosi, arogansi hermeneutik. Sebagai lawannya, dokumen sejarah dikeluarkan dari brankas yang lama tersimpan sebagai arsip pembuktian kebenaran. Pada kondisi sekarang, alun-alun hermeneutika ramai pengunjung. Ada yang hendak belajar, ada yang hendak bertanya, ada yang hendak mendengar saja, dan ada yang kebanyakan bicara. Semakin bicara, semakin salah.
Kita dapat menilai dan kemudian memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Menafsir menentukan nilai akhir, bahkan kondisi akhir dari iman kita. Penafsiran-penafsiran menjadi fitur logika. Kebebasan menafsir—meski di satu sisi merupakan hak asasi manusia—menghasilkan ragam “doktrin”—bahkan membentuk sebuah “dogma”, tetapi di sisi lain, penafsiran yang bebas itu, jika tidak melihat dan memahami rambu-rambu penafsiran, akan berujung pada “jalan buntu ahistoris”.
Para teolog mengundang kaum awam untuk hadir di alun-alun hermeneutik. Para teolog harus menunjukkan proses navigasi hermeneutik dan mengundang dokumen sejarah untuk hadir sebagai tamu istimewa. Artinya, proses hermeneutik tak dapat berbuat apa-apa ketika “sejarah” tidak diundang untuk hadir di alun-alun hermeneutik sebagai panggung “adu kualitas”.
Sejatinya, pada proses hermeneutik, para teolog dengan berbagai latar pendidikan, empirikal, dan karya, menampilkan gayanya masing-masing untuk mendapatkan dukungan, pujian, sanjungan, atau bahkan pengaruh. Tersedia lahan yang luas bagi para teolog untuk memenuhinya dengan “ajaran-ajaran yang sehat dan bergizi bagi kaum awam”. Para teolog harus meramu ajaran-ajaran Alkitab untuk disuguhkan kepada para pembaca yang jinak maupun liar.
Alun-alun hermeneutik memang tanpa pagar, tetapi logika dan prinsip menjadi pembatas dan tiang penopang untuk memperkuat gagasan, pemikiran, dan elaborasi historis—konteks dari setiap teks-teks Kitab Suci. Terdapat disparitas hasil dari proses menafsir; bahkan cara memahami teks-teks juga variatif, dan di satu sisi ada yang memahami secara keliru, lalu dilabeli dengan “sesat”, dan “tersesat”.
Keributan yang terjadi menandakan bahwa urgensi teks-teks Kitab Suci menavigasikan proses menafsir, berteologi, dan proses berkehidupan. Tak jarang, kesombongan (arogansi) menjadi dasar untuk memperlihatkan “isi otak” yang tak seberapa itu, kepada publik, dan sekaligus mengumumkan bahwa “isi otak saya” luar biasa. Itulah sekelumit fakta dunia teologi dalam konteks menafsirkan teks-teks Kitab Suci.
Apa yang dapat kita pelajari dari fenomena yang lucu ini? Ketika para teolog bertemu di alun-alun hermeneutik, sejatinya mereka menunjukkan tiga aspek hermeneutik dan satu skema dari teologi—hermeneutik, sebagai berikut:
PERTAMA: Konteks. Di dalam “konteks” terdapat alur berpikir sederhana, mengaitkan teks dengan penutur, penulis, konteks budaya, masyarakat, penerima, dan lain sebagainya. Artinya, pada pemahaman mendasar ini, kita harus terbiasa menafsir dengan melihat konteks. Tak ada teks tanpa konteks.
KEDUA: Pemahaman Komprehensif. Konteks adalah bagian dari cara memahami komprehensif. Para penafsir yang mengabaikan pemahaman komprehensif akan menghasilkan pemahanan yang prematur dan bahkan sangat spekulatif, jika tidak dikatakan “menyesatkan konteks”. Setiap teks hadir dalam bingkai pemahaman komprehensif yang diajukan oleh penutur atau bahkan penulis.
KETIGA: Korelasi Tekstual. Hal ini mengindikasikan bahwa ada teks-teks yang memiliki korelasi dengan konteks (teks) yang lain. Kita dapat melihatnya pada Injil-Injil PB, surat-surat Paulus, dan juga kitab-kitab lainnya yang menyingung pemahaman (dan historis) dari PL. Korelasi tekstual dalam Alkitab adalah lumrah karena mayoritas natur kitab-kitab memiliki korelasi substansial dari karya Allah bagi umat pilihan-Nya.
Sedangkan SKEMA utama dari proses menafsir: Mengarahkan manusia berdosa kepada Allah yang kudus, untuk hidup kudus, benar, adil, dan jujur, agar dari semua proses kehidupan manusia, kehendak Allah dilakukan dan kemudian manusia—di antara sesamanya—menjadi “berkat” dalam kata, perbuatan, dan pemikiran.
Ketika para teolog duduk di alun-alun hermeneutik, jangan mengumbar nafsu arogansi dan emosi yang tak terkendali, melainkan pamerkanlah intelektualisme dan spiritualisme yang sehat dan aplikatif supaya mereka yang melihatnya “memuliakan Allah” karena perbuatan-perbuatanmu yang baik itu.
Konteks “memahami” adalah upaya logis dalam menafsir segala sesuatu, sesuai dengan gerak hati. Proses memahami memiliki beberapa bentuk. Pertama, memahami berdasarkan penglihatan (atau pembacaan). Kedua, menafsir [berdasarkan] pengalaman (ikut di dalam konteks yang sedang ditafsir). Ketiga, menafsir dari pengalaman orang lain. Keempat, menafsir dari hasil tafsiran. Dengan demikian, memahami memiliki banyak faset karena setiap konteks menghasilkan beragama pemahaman.
Dalam konteks teologi, menafsir adalah lazim dilakukan. Selain dari menafsir teks-teks Alkitab, kita dapat menafsir hasil tafsiran para penafsir (teolog). Pada lingkup ini, pemahaman menjadi dua jalan: jalan menuju pada makna teks, dan jalan menuju tendensi teologi para penafsir. Dari sini kita dapat bergerak menuju pada “pemilihan” dan “pemilahan”. Pemilihan mencakup keputusan untuk menerima hasil tafsiran (bahkan dengan beberapa poin yang kita tambahkan pada hasil tafsiran), sedangkan pemilahan mencakup keputusan untuk memisahkan hasil tafsiran yang terkesan spekulatif dan menyimpang.
Teologi menjadi objek penafsiran yang marak dilakukan. Pasalnya, terdapat pokok-pokok yang menjadi percakapan di berbagai kalangan. Teologi bisa menjadi baik dan berpengaruh, tetapi juga menjadi jelek, membosankan, dan menyebalkan. Kita adalah pengolah “teologi”. Sebagai pengolah, sedapat mungkin kita memiliki potensi memahami dan menafsir secara baik dan kredibel, sehingga menghasilkan teologi yang baik dan solid.
Wajah teologi menjadi merona atau memuakkan tergantung pada kita sendiri. Akhir-akhir ini, teologi menjadi jelek karena berada di tangan-tangan yang tidak memiliki potensi mengolah teologi. Justru yang muncul adalah kekisruhan yang menonjolkan arogansi teologi (doktrinal) dan saling memaki-maki. Tak jarang, identitas “studi” ikut mencuat ke permukaan. Dendam kesumat dalam sejarah, kembali dibangkitkan untuk didaur ulang sebagai senjata untuk menyerang orang lain. Akhirnya, wajah teologi menjadi buruk, memuakkan, dan menyebalkan.
Ada tawaran menarik yang saya suguhkan di sini. Saya hendak mendorong pembaca untuk menyemayamkan teologi pada tempat yang seharusnya. Teologi yang sehat berarti juga menyehatkan. Ketika teologi dijadikan alat untuk menyombongkan diri, maka keburukan menjadi milik dari mereka yang memperalat teologi.
Saya menyuguhkan semayam teologi yang mencakup lima aspek:
PERTAMA: teologi yang memenuhi kaidah penafsiran yang kredibel: konteks, korelasi, dan komprehensivitas tema atau pesan.
KEDUA: teologi yang menempatkan kesadaran bahwa masih tersimpan misteri pada pokok-pokok tertentu dan sedapat mungkin kita tidak berspekulasi terhadapnya.
KETIGA: teologi yang melihat bahwa kehidupan yang kita jalani dan keselamatan yang kita terima adalah semata-mata anugerah dan kemurahan Allah.
KEEMPAT: teologi yang memposisikan antara ontologi dan historis secara berdampingan dan menyatukan keduanya ketika membahas pokok-pokok tertentu, semisal Kristologi.
KELIMA: teologi yang mengarahkan hidup manusia—tak terkecuali—kepada kehidupan yang dikehendaki Allah (penuh kasih, pengampunan, dan kekudusan).
Dari kelima prinsip semayam teologi di atas, kita dimampukan untuk melihat bahwa apabila teologi itu sehat dan menyehatkan, maka teologi itu mengandung penafsiran yang kredibel, kesadaran bahwa ada misteri pada pokok-pokok tertentu, mengandung pemahaman bahwa kehidupan dan keselamatan adalah anugerah dan kemurahan Allah, teologi yang melihat konteks (antara ontologi dan historis), dan teologi mengarahkan hidup manusia kepada kehidupan yang dikehendaki Allah.
Selamat berteologi secara sehat, solid, dan semaja (sahaja).
Dalam skema besar iman Kristen terdapat berbagai fitur (karakteristik khusus) pada setiap doktrin, baik doktrin yang substansial maupun yang suplementatif dan praksis. Setiap doktrin memiliki korelasi satu dengan lainnya. Proses memahaminya haruslah secara komprehensif, jukstaposisi (dalam konteks-konteks tertentu), dan secara demarkasi (juga dalam konteks tertentu).
Kebenaran dapat diyakini akibat dari proses memahami. Kesesatan muncul akibat salah memahami. Proses memahami adalah upaya logis-faktual yang dilakukan setiap orang pada semua konteks kehidupan, ilmu pengetahuan, relasi, komunikasi, agama, penyembahan, dan politik. Memahami adalah penelitian yang tertinggi dan hasil yang tertinggi. Tidak ada bukti ilmiah yang paling memadai selain dari pada “memahami” apa yang diteliti, diamati, dilihat, dirasakan, diraba, dan dialami.
Semua konteks penelitian ilmu pengetahuan harus menunjukkan proses memahami segala sesuatu yang menjadi objek penelitian. Ruang agama juga demikian. Memahami unsur-unsur penting dalam bingkai agama, adalah jalan terbaik yang tersedia untuk ditempuh hingga mencapai tujuan akhir.
Saya menyuguhkan materi dasar dan substansial ini untuk masuk ke dalam skema besar iman Kristen dan fitur-fitur dari skema besar tersebut. Skema besar iman Kristen berangkat dari Historical of Redemption—Sejarah Penebusan—yang dengannya kita dapat melihat komprehensivitas karya Allah bagi manusia. Iman Kristen tidak bisa dipahami dari perspektif parsial atau demarkasi. Hal ini sering terjadi pada pemahaman terhadap Kristologi. Tak heran, jika pihak-pihak tertentu, hanya berkutat pada negasi terhadap ke-Tuhanan Yesus, sementara mereka mengusung teori humanitas Yesus yang terpisah, bahkan secara total, dari inkarnasi-Nya.
Di sini kita melihat bahwa pemahaman akan skema besar iman Kristen sangatlah signifikan. Iman Kristen itu sendiri didasarkan pada theorema—apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami—sebagaimana tampak dalam tulisan Rasul Yohanes, dan tulisan-tulisan lainnya dalam Perjanjian Baru.
“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1 Yohanes 1:1-4)
Konteks yang sama dituliskan oleh penulis Ibrani:
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka. Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’ dan ‘Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?’ Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’ Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: ‘Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.’ Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu’” (Ibrani 1:1-8)
Kesalahan melihat dan memahami skema besar iman Kristen berbuahkan berbagai bentuk penyesatan dan kesesatan termasuk di dalamnya tidak memahami Historical Redemption. Kerangka pikir dari skema besar iman Kristen ditempuh dengan melakukan pendalaman historis, biblikal, dan komprehensivitas karya Allah bagi manusia berdosa. Ketika seseorang memisahkan dari skema besarnya, maka tak heran, “logical fallacy”, kesalahan hermeneutik, dan “kumur-kumur ayat” (ilmu cocokologi dan comotologi) menjadi makanan yang lahap dimakan oleh mereka yang berjiwa paralogisme.
Kesalahan-kesalahan tersebut di atas terus berulang dari waktu ke waktu. Negasi terhadap ke-Tuhanan Yesus tak henti-hentinya dikumandangkan oleh pemikir-pemikir yang tak berpikir secara komprehensif, oleh para mualaf kacangan yang hanya mencari sensasi, para negator dari berbagai kalangan, sementara orang-orang Kristen sepanjang sejarah telah merasakan, melihat, dan mengalami kuasa dan kasih Yesus Kristus dalam kehidupan mereka. Kekristenan terus berjalan dengan mengalami kasih dan kuasa Tuhan Yesus, sementara para negator masih terus berjuang mencari-cari dalil yang membantah ke-Tuhanan Yesus. Perang “pikiran” yang mengolah data yang ada, bahkan mengolah pikiran yang tak pernah terpikirkan pun mencuat ke permukaan. Apalagi mengolah data yang tak pernah ada di dunia ini, juga ikut bermain-main; data yang tak pernah ada hanya ada di otak para negator, menipu dan membabi buta, menyerang iman Kristen.
Kita melihat—dalam terang epistemologi—ada dasar-dasar bagi pengetahuan dan batasan-batasannya. Hal ini dapat berlaku bagi Kristologi yang diserang mati-matian oleh para negator. Apa dasar-dasarnya? Tentu yang utama adalah fakta, apa yang diamati, diteliti, dirasakan, dialami, lalu logika menyimpulkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ‘kebenaran’. Sedangkan batasannya adalah konteks, definisi, dan demarkasi.
Di samping itu, epistemologi berbicara mengenai hakikat pengetahuan, justifikasi (pembenaran), dan kelogisan dari sebuah keyakinan (apa yang diyakini). Aspek klarifikasi adalah bagian dari epistemologi. Semua yang diketahui, dirasa benar, diyakini, diragukan, haruslah diklarifikasi. Dalam kaitannya dengan fakta epistemologi berdampingan dengan theorema. Kedua hal ini akan dijelaskan kemudian.
Jika hal ini diterapkan, maka skema besar dari iman Kristen akan menjadi pokok pembahasan yang menarik sekaligus terjustifikasi, bukan berdasarkan keyakinan yang buta, melaikan berdasarkan hakikat fakta, theorema, dan epistemologi: memiliki dasar dan konteks (demarkasi). Theotemologi adalah pendekatan yang saya gunakan untuk mengkorfirmasi, mengklarifikasi, dan menjustifikasi apa yang diimani oleh orang-orang Kristen.
Dalam ranah ini, skema besar iman Kristen mendapatkan “pengakuan” bukan karena teori-teori belaka, melainkan “theōréō”—aku melihat, memeriksa; dengan perkataan lain, “aku mengalami sendiri”, dan kita tahu pengalaman (empirikal) adalah aspek penting dalam filsafat, logika, bahkan dalam konteks agama-agama atau berbagai sistem keyakinan secara universal.
Theotemologi mengedepankan keakuratan pemahaman akan data historis, hermenetik, dan empirikal. Suatu empirikal bukanlah ‘karangan’ yang direkayasa untuk dijadikan sebuah kebenaran, melainkan karangan yang hendak menyatakan bahwa apa yang dilihat, diamati, dan dialami adalah benar. Keraguan dan negasi terhadap karangan-karangan orang-orang percaya tentu tak lepas dari kritik dan sentimen, akan tetapi karangan-karangan tersebut merupakan sebuah ungkapan empiris atas apa yang mereka lihat dari “Sang Juruselamat”.
Meskipun masih menyisahkan ruang perdebatan, pesan dan makna utama dari karangan-karangan mereka, tetap dipertahankan. Hingga pada titik tertentu, karangan-karangan mereka terkonfirmasi dalam “iman” di kehidupan nyata. Yesus Kristus yang mereka tuliskan dalam kitab[-kitab] mereka adalah bukti bahwa sosok Yesus telah mengubahkan mereka menjadi pelaku-pelaku firman Allah, dan bahkan hingga akhir hidup mereka, iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus tak pernah pudar.
Menalar ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο(ho logos sarks egeneto) dengan menunjukkan aspek konteks, definisi, dan klasifikasi, adalah bagian dari theotemologi. Konteks inkarnasi—Logos menjadi daging—dalam skema besar iman Kristen merupakan perwujudan kasih dan kuasa Allah atas manusia berdosa. Allah tak kekurangan cara dan tentu kedaulatan-Nya adalah penentu “mau seperti apa Ia menebus umat-Nya”. Ada banyak protes terhadap cara Allah menebus melalui Yesus Kristus.
Kesalahan memahami ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο akan berimbas kepada pemahaman yang parsial, fragmentaris, dan paralogisme. Ketika kita memeriksa berbagai bentuk pemikiran dan pemahaman dari para negator, ketiga bentuk pemahaman tersebut sudah pasti mereka lakukan. Tiga pemahaman tersebut bertolak belakang dengan theorema dan epistemologi.
Dalam ruang filsafat logika, iman Kristen memenuhi kriteria “terdefinisi”, “terkonteks”, dan “terklasifikasi”. Skema besar iman Kristen selalu terkait dengan tiga hal tersebut. Ambil contoh tentang “pengampunan”. Secara definisi, pengampunan adalah tindakan Allah bagi manusia yang telah berbuat dosa di hadapan-Nya. Secara konteks, pengampunan diberikan Allah kepada setiap orang yang telah melakukan dosa (pelanggaran dan kesalahan). Setiap dosa memiliki konteksnya masing-masing. Hal ini tampak pada konsekuensi yang diterima. Sedangkan secara klasifikasi, pengampunan diberikan kepada Allah untuk semua klasifikasi dosa, tetapi dengan cara mengikuti aturan main Allah yang membedakan tata cara untuk setiap dosa yang dilakukan umat-Nya.
APA ITU THEOTEMOLOGY?
Theotemology adalah istilah yang terdiri dari dua kata gabungan, yakni: “theorema” dan “epistemology”. Kata “theorema” berasal dari kata Yunani Kuno: “theōrēma”, “speculation, proposition to be proved” [spekulasi, proposisi yang akan dibuktikan]), dari kata θεωρέω [theōréō], aku melihat, mempertimbangkan, memeriksa.
Kata θεωρέωberarti “seeing” (melihat) melalui persepsi akal, apa yang ditonton (as a spectator), melalui “persepsi mental [untuk] mengerti, memahami, memperhatikan, melalui persepsi rohani [untuk] melihat”; tahu, mengalami. Dalam pengertian lain, theorema dapat diartikan sebagai “dalil” yang berangkat dari apa yang diamati (dilihat), dirasakan, diketahui. Jika konteks pengampunan dikaitkan ‘theorema’, maka pengampunan yang dialami dan dilihat sendiri (bagaimana Tuhan bekerja atas diri seseorang), dapat menjadi fakta utama bagaimana skema iman Kristen dapat diungkapkan secara epistemologi.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan. Dasar-dasar pengetahuan selalu dikaitkan dengan proses penalaran yang melibatkan theorema (apa yang dilihat, dirasakan [dialami]), dan diketahui. Sedangkan batas-batas pengetahuan dikaitkan dengan konteks, definisi, dan klasifikasi, atau yang saya sebut dengan filsafat logika.
Theotemologi (“Theorema-Epistemologi”) adalah sebuah konteks logika yang menilai segala sesuatu dengan cara membuktikan apa yang dilihat, yang dipersepsikan oleh akal, yang dirasakan, berdasarkan analisis epistemologi dengan mengedepankan cara bernalar melalui proses mendefinisikan, mengkontekskan (berdasarkan konteksnya), dan mengklasifikasikan.
Proses mendefinisikan, mengkontekskan, dan mengklasifikasikan ditunjang oleh dokumen, historisitas, dan prinsip logis dari sesuatu (yang terjadi atau yang diperdebatkan). Theotemologi adalah bentuk akurasi dari logika manusia untuk menghasilkan sebuah konsep maupun fakta tentang segala sesuatu (yang diamati, diteliti, diperdebatkan).
Theotemologi adalah serangkaian langkah-langkah antisipatif-logis untuk menjembatani berbagai penyimpangan, kesalahan bernalar (logical fallacy), kesalahan pengungkapan (fault disclosure), kesalahan memahami (error understanding), kesalahan merujuk pada dokumen historis (errors refer to historical documents), dan kesalahan titik pijak (memahami berdasarkan pendapat sendiri dan bukan berdasarkan pada natur dari sesuatu yang diamati, dikritik).
Dengan menggunakan pendekatan Theotemologi—terutama dalam penelusuran dan pemahaman mengenai skema besar iman Kristen—kita akan mendapatkan gambaran yang komprehensif, konsisten, terjustifikasi, dan reliabel. Pemahanan akan iman Kristen tidak bisa menggunakan pola pemahanan parsial, fragmentaris, atau paralogisme, sebab tindakan tersebut hanya menghasilkan sesat pikir kepada sesat pikir sebelum dan sesudahnya (pasca menafsir). Inilah yang kita jumpai pada para mualaf “ecek-ecek” dan “kacangan” dalam memahami Kristologi, Trinitas, Hermeneutik-Biblikal, dan Bibliologi.
Pendekatan Theotemologi dalam konteks “pengampunan”—sebagaimana telah disebutkan di atas—kita melihat bahwa Allah yang menyatakan pengampunan itu (kepada orang-orang berdosa), memiliki alasan teologis dan konsekuensi. Teologis, karena Allah hendak menyatakan kemurahan-Nya, dan konsekuensi karena manusia “mengakui dosa-dosanya”. Apa yang diperbuat manusia (segala jenis kejahatan dan perlawanannya terhadap Allah), semuanya terbuka di depan mata-Nya (bdk. Amsal 15:3), dan Allah, dengan kemurahan-Nya, mengampuni mereka yang mengakui dosa-dosanya (bdk. 1 Yohanes 1:8-10).
Pengampunan dapat dilihat, dirasakan, dan dialami oleh mereka yang mengakui dosa-dosanya kepada Allah. Pengakuan kepada Allah haruslah terdefinisi secara jelas. Ketika kita mengatakan: “Aku telah berdosa kepada-Mu, ya Allah”, maka pertanyaannya adalah: “dosa apa yang dilakukan?” sebab jenis-jenis dosa ada banyak sekali. Dengan logika kita menilai apa yang Allah kerjakan bagi kita—yaitu mengampuni—dan hal itu dapat kita rasakan (alami) sendiri. Kita dapat menceritakan dalam konteks apa kita berdosa, dalam konteks apa Allah mengampuni kita; dosa yang kita akui harus terdefinisi secara baik, dan perlu diklasifikasikan (misalnya mencuri: apa yang dicuri? uang? berapa banyak?).
Pengampunan yang kita terima—berdasarkan pemahaman Theotemologi—adalah bentuk konfirmasi bahwa pengampunan itu faktual, yang dirasakan (dialami) dan dilihat sendiri. Dengan demikian Theotemologi menjembatani berbagai kesalahan pemahaman tentang pengampunan yang Allah berikan. Apalagi pengampunan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, Logos Allah yang kekal.
Itulah yang menjadi bagian dari skema besar iman Kristen: ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο. Inkarnasi Logos yang menjadi manusia juga adalah perwujudan kasih Allah yang luar biasa untuk mengampuni umat-Nya. Pengampunan Allah dapat Ia lakukan dengan cara apa saja. Ia berdaulat menentukannya. Kita yang berdosa, tak perlu merasa cukup syarat untuk mengajukan keberatan terhadap apa yang Allah lakukan. ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο adalah tanda kedaulatan Allah, yang bertujuan agar “kita diampuni, ditebus, didamaikan, dikuduskan dan diselamatkan”.
Skema ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο akan menjadi pokok penting dari iman Kristen, dan karenanya penalaran atas fakta bahwa Logos telah menjadi manusia untuk tujuan pengampunan, penebusan, dan penyelamatan, sangatlah dibutuhkan. Penelusuran dan pemahaman terhadap ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο dilakukan dengan menggunakan prinsip Theotemologi.
Memahami pengampunan tidaklah mudah. Konteks ini sangatlah dalam dan luas. Kita harus melihatnya dari PL dan PB secara komprehensif. Theotemologi dapat memampukan kita untuk memahami pengampunan Allah, termasuk fitur-fitur iman Kristen yang lainnya, seperti Trinitas, Kristologi, dan lainnya.
Akhirnya, Theotemologi mengajak kita untuk mengafirmasi setiap keberatan yang wajar, ataupun “logical fallacy”, bahkan paralogisme akut yang muncul dari pikiran mereka yang “sentimen” dan “benci” terhadap skema besar maupun fitur-fitur iman Kristen yang suplementatif dan praksis.
Salam Bae.
Catatan: Tulisan ini masih tahap awal. Masih diperlukan penelusuran biblika dan filsafat yang mendalam. Semoga!
Secara umum, manusia memiliki empat jenis hubungan: pertama, dengan Tuhan; kedua, dengan sesama; ketiga, dengan alam (lingkungan); dan keempat, dengan diri sendiri. Keempat jenis hubungan ini bisa menjadi baik, bisa menjadi rusak. Baik-rusaknya suatu hubungan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu: pemahaman akan kehidupan, pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi), dan pemahaman akan iman.
Pemahaman akan kehidupan berbicara mengenai apa maka kehidupan bagi manusia. Manusia menjadi baik ketika ia memahami hidup secara baik pula; dan manusia menjadi rusak ketika ia memahami hidup hanya sebagai pemuasan nafsu belaka. Pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi) berbicara mengenai bagaimana sikap dan perilaku manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya; dan pemahaman akan iman berbicara tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan manusia yang beriman kepada-Nya.
Mazmur 90:12 mengandung tiga aspek di atas. Umat Tuhan menyadari bahwa mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di bawah pimpinan dan kuasa-Nya, melalui Musa, nabi-Nya. Umat-Nya beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari lokus-lokus di mana mereka lewat atau pun menetap. Dan mereka juga bergumul untuk melakukan kehendak Allah agar hidup mereka tertuju hanya kepada Allah.
Tiga aspek di atas tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan, tetapi juga berbicara mengenai spiritualitas. Hari-hari yang dilalui, justru mengajar umat Tuhan untuk melihat bahwa Tuhan tetap mengasihi mereka dan menghajar ketika mereka melawan, memberontak, dan berdosa di hadapan-Nya.
Klausa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami” adalah sebuah spiritualitas yang menyadarkan umat-Nya bahwa setiap hari, ada tangan Tuhan yang menuntun mereka. Manusia dididik Tuhan untuk menjadi “bijaksana”—tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya segala sesuatu. Dari situ, umat Tuhan bergerak dari spiritualitas kepada realitas—melihat kehidupan secara bijaksana—dan menemukan konsistensi penyertaan Tuhan bagi mereka sendiri.
Konteks tersebut menyuguhkan dua fakta bahwa dalam hari-hari yang dilalui manusia, mereka melihat apa yang dilakukan Allah, dan melihat apa yang mereka lakukan bagi Allah.
Allen P. Ross dalam A Commentary On The Psalms menyatakan bahwa, selama sekitar 3000 tahun Mazmur telah menjadi inti dari kehidupan rohani umat Allah. Susunan doa, pujian, nyanyian pujian, renungan, dan liturgi dalam koleksi mencakup semua aspek hidup bagi Allah di dunia yang “antagonistic [menentang] to the faith”.[1] Bagi orang Kristen awal, Mazmur juga dihargai karena nilai mereka dalam doa dan pujian dari umat, tap i lebih lagi karena aplikasi mereka kepada Kristus dalam tulisan perjanjian baru.[2]
Mazmur 90 adalah ungkapan “Doa Musa, Abdi Allah” di mana ia, dalam proses mengikut Tuhan Allah dan memimpin Israel, memiliki sejumlah pengalamaan yang berharga. Doa yang benar, lahir dari pengalaman bersama Tuhan, di mana manusia mengungkapkan apa yang ia rasakan (alami), gumuli, dan apa yang akan diharapkan.
Ayat 12 sebagai bagian dari spiritualitas Kristen—maksudnya sebagai dasar bahwa hanya Tuhan yang dapat mengajar kita tentang kehidupan, pergumulan, sukacita, dukacita, tekanan hidup, dan lain sebagainya. Doa adalah solusi dan sekaligus merupakan ungkapan spiritualitas antara manusia dengan Tuhan.
Di bagian berikutnya—setelah menjelaskan substansi Mazmur secara umum dan secara khusus—saya akan menyebutkan tiga aspek spiritualitas terkait dengan Mazmur 90:12.
SUBSTANSI MAZMUR 90
Augustinus, J. Calvin, C. S. Lewis, N.T. Wright, dan para teolog lainnya telah memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka rasakan dari kitab Mazmur. Tidak hanya soal tafsiran mereka, melainkan kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh kitab Mazmur. Spiritualitas mereka menjadi kuat tatkala memahami dan melakukan teks-teks dari kitab Mazmur dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan sesamanya.
James Hely Hutchinson (teolog asal Irlandia), menyatakan bahwa, Mazmur adalah ungkapan hati yang menjauhkan keegoisan dan mengarahkan diri pada objek kenikmatan tertinggi yaitu Allah Pencipta, Penebus Israel, Yahweh sendiri.[3] Berangkat dari pernyataan Hutchinson
Profesor Perjanjian Lama, Rolf A. Jacobson dan Karl N. Jacobson, dalam Invitation to the Psalm : A Reader’s Guide for Discovery and Engagement menyatakan bahwa, kitab Mazmur adalah, pertama dan terutama, merupakan kumpulan puisi Ibrani. Dalam membaca mazmur, kita melatih pemikiran kita secara logis — dalam arti bahwa kata, frasa, dan kalimat disatukan menurut asas yang diatur oleh cara berpikir (logika).[4] Puisi secara keseluruhan adalah jenis bahasa yang memiliki logika yang berbeda dari jenis tulisan lainnya. Dan puisi Ibrani, khususnya, memiliki set yang lebih khusus.[5]
Mazmur adalah puisi alkitabiah. Kata bahasa Inggris “Mazmur” berasal dari bahasa Yunani psalmos, yang pada gilirannya digunakan untuk menerjemahkan kata mizmor Ibrani, yang secara harfiah berarti “lagu.” Jadi dalam pengertian yang paling mendasar, Mazmur adalah sebuah nyanyian atau puisi alkitabiah.[6]
Dalam sejarah Israel, ketika mereka menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, mereka melakukannya dengan dua cara: berdoa (memohon, menyampaikan) dan menyanyi. Dua hal ini dapat dilakukan di berbagai kondisi (krisis, bahagia, sukacita, tertekan, dll), dan kitab Mazmur mencerminkan dua tindakan ini. Nyanyian syukur mencerminkan pengalaman orang-orang percaya yang telah melewati berbagai krisis.
Kitab Mazmur itu sendiri memiliki beberapa genre. Genre Mazmur yang diklasifikasikan menurut konten tematiknya:
Mazmur kerajaan (Royal psalms) yang ada hubungannya dengan raja Israel.
Mazmur penobatan atau pelantikan (Enthronement psalms) ada hubungannya dengan Tuhan sebagai raja Israel.
Mazmur kebijaksanaan atau hikmat (Wisdom psalms) menggambarkan tradisi hikmat Israel dan berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca (atau khalayak).
Mazmur penciptaan (Creation psalms), berbicara tentang Allah sebagai Pencipta dan bumi sebagai ciptaan Tuhan.
Mazmur sejarah (Historical psalms) menceritakan kembali sebagian sejarah Israel.
Mazmur Sion (Zion psalms) berbicara tentang Yerusalem (dan khususnya tentang Bait Suci) sebagai tempat di mana Allah berdiam.
Mazmur kutukan (Imprecatory psalms) yaitu meminta Tuhan untuk menghukum mereka yang menindas pemazmur atau komunitas pemazmur.
Mazmur penitensial (Penitential psalms) yaitu meminta pengampunan.
Mazmur liturgi (Liturgical psalms) memberikan petunjuk untuk ritual penyembahan.[7]
Mazmur Taurat. Sebuah jenis Mazmur kebijaksanaan yang memuji Torat Allah yang diberikan kepada kita. (Taurat berarti “hukum” atau “instruksi.”) Mazmur 1 adalah Mazmur Taurat.[8]
Setiap pasal dalam kitab Mazmur dapat kita identifikasi berdasarkan genrenya.
C. Hassell Bullock menjelaskan bahwa, dalam kitab mazmur tertuang sisi kemanusiaan (humanitas) kita. Masalah pribadi, krisis, dan ketika kegembiraan tak terungkapkan, rasa sakit kita tak terucapkan. Dalam kondisi demikian, kita merasa benar-benar ditinggalkan, ketika ke tegangan hidup datang ke kehidupan kita dan tak terelakkan, atau ketika jiwa kita mengatasi puncak pencapaian manusia.[9] John Calvin berpendapat bahwa mengenali Mazmur akan memaksa kita untuk menjadi jujur tentang diri kita di hadapan Tuhan.[10] Memang, konteks yang disuguhkan dalam kitab Mazmur sangatlah kental dengan kehidupan nyata manusia, relasinya dengan Tuhan dan sesama, dan pergumulan, permusuhan, kebencian terhadap musud, dan permohonan.
James L. Mays menyatakan bahwa, Mazmur adalah puisi keagamaan dari komunitas tertentu (the religious poetry of a particular community).[11] Komunitas tersebut tentu adalah umat Tuhan itu sendiri yang melihat kehidupan (dengan suka dukanya) dan sekaligus melihat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia, termasuk mereka sendiri. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, orang percaya (Gereja) menggumulkan berbagai konteks kehidupan dan dari hal tersebut, Gereja melihat bagaimana tangan Tuhan menopang dan menolong mereka.
Gereja dituntut dengan mendorong kehidupan doa, membantu orang yang berdoa mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kesadaran yang lebih luas akan apa yang dibutuhkan dunia. Satu rintangan untuk berdoa yang setia semacam itu adalah gagasan yang lazim diadakan bahwa doa hendaknya bebas dari kemarahan dan frustrasi.[12] Lalu bagaimana gereja dapat berdoa dalam keadaan trauma dan ketidakadilan? Gereja—meskipun dalam kondisi tersulit—harus tetap berdoa dan menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Allah.
Walter Brueggemann berpendapat. Pertama, Mazmur menyatakan bahwa kita harus melihat dunia dan kehidupan kita dengan cara yang sebenarnya, tidak berpura-pura, tidak ada penyangkalan. Dan kedua, mereka bersikeras bahwa semua pengalaman seperti kekacauan dan kekecewaan adalah subjek yang tepat dari wacana dengan Allah. “Realitas dunia, kebenaran tentang diri kita sendiri dapat dibawa dalam doa.[13]
Dalam konteks penafsiran, kitab Mazmur diteropong dari berbagai konteks. Pertama, Historical Interpretations (problem Interpretasi): “Interpretasi lain dari Mazmur yang tidak tepat adalah bahwa mereka (para pemazmur) hanyalah produk dari konteks sejarah. Mereka tidak selalu memaksudkan untuk mengajarkan apa-apa, atau setidaknya tidak perlu menjadi model untuk doa hari ini.” Artinya, pola doa-doa dalam Mazmur tidak menjadi contoh bagi kita sekarang ini. Model penafsiran historis (menyangkal inpirasi Kitab Suci)[14] Kedua, penafsiran alegoris: dijelaskan dalam istilah fenomenologis. Ketiga, penafsiran sosio-historis yang menyangkal pewahyuan Kitab Suci.
Bagi kita, penafsiran Mazmur tidak dapat dipisahkan dari pengakuan bahwa kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. Singkat kata, kitab Mazmur diwahyukan oleh Allah sendiri.
SPIRITUALITAS DALAM AYAT 12
Melihat hari-hari hidup kita, tidak lepas dari gumul juang serta bahagia yang diberikan Allah. Kesadaran akan betapa fananya hidup kita mengantar kita pada sebuah pemahaman dan keputusan bahwa “kita membutuhkan Tuhan”. Itulah spiritualitas sejati. Ketika kita merasa kuat dan hebat, maka spiritualitas menjadi hilang sama sekali. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa kita fana dalam waktu, dan Tuhan kekal dan hebat, maka spiritualit as kita terkonfirmasi dalam fakta hidup.
Spiritualitas kita tak bisa tampak kuat ketika menghindari dari gumul juang hidup. Justru ayat 12 menegaskan konteks ini. Mengitung hari-hari sama berarti memohon kepada Tuhan bahwa dalam hari-hari yang dilalui, kiranya Tuhan menguatkan, menopang, menuntun, dan memberkati. Apa pun yang kita terima dari Allah, baik atau buruk, harus mengakui bahwa itu adalah kehendak-Nya. Kita berdoa, Allah menjawab. Menurut N. T. Wright, nilai apa pun yang mungkin kita miliki datang dari kebaikan Allah, bukan kendali kita terhadap keadaan kita.[15] Doa lahir dari pengalaman, dan melalui doa, iman kita mendorong untuk menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Allah berdaulat, dan Ia menghendaki agar kita secara bijaksana menilai hidup kita sendiri.
Melalui bijaksana dari Tuhan, kita “menghitung”—dengan perkataan lain: memperhatikan dan menilai hari-hari hidup mengenai apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang kita buat bagi Tuhan. Yang kita buat bagi Tuhan mencakup dua aspek: aspek menyenangkan hati Tuhan—bertindak sesuai dengan firman-Nya, dan aspek menyakiti hati Tuhan—bertindak sesuka hati tanpa peduli dengan firman-Nya.
Robert Alter menyatakan bahwa, ayat 12 menggambarkan keterbatasan eksistensi manusia yang kontras dengan keberadaan Allah yang abadi.[16] Karena terbatas, maka manusia membutuhkan Allah untuk memberinya pengajaran dalam menilai, mengamati, menghitung hari-hari yang dijalani, mencapai bijaksana yaitu tahu bahwa dalam hari-hari itu, manusia melihat apa yang Tuhan buat bagi diri mereka, dan melihat (mengakui) apa yang mereka buat bagi Tuhan, entah baik, entah buruk. Seperti di ayat 9, “kami menghabiskan tahun-tahun kami “like a sigh” [seperti keluh, ungkapan kesusahan] (Ibr. hegeh also means “murmur”—bisikan).[17]
Menghitung hari-hari berarti dalam hari-hari tersebut—sebagaimana tercatat pada ayat 9—mengandung suka dan duka. Dengan demikian, manusia bergantung pada Allah sepenuhnya untuk melihat hari-hari hidup yang ada dalam kedaulatan-Nya. Pengalaman untuk melihat perbuatan Tuhan adalah bagian dari spiritualitas (ay. 16). Pengalaman turunannya adalah “perbuatan-perbuatan tangan manusia” (ay. 17). Jadi, spiritualitas mencakup merasakan dan menikmati perbuatan tangan Tuhan dan sekaligus menikmati perbuatan tangan kita yang selaras dengan kehendak-Nya.
Hidup itu berlalu buru-buru (ay. 10). Ada penderitaan, kesukaraan, dan lain sebagainya. Kematian bisa disebabkan oleh kemarahan Allah (ay. 11). Kemarahan Allah memang mengagumkan bagi orang percaya dan menyedihkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Ay. 13 adalah permohonan untuk memohon kemurahan Tuhan (bdk. ay. 11). Permohonan tersebut sekaligus mencakup: mengenyangkan manusia dengan kasih setia di waktu pagi (ay. 14), supaya ada sorak-sorai. Memohon agar Tuhan membuat manusia bersukacita seimbang dengan hari-hari saat mana Tuhan mengajar (mendidik) mereka (ay. 15). Spiritualitas orang percaya menempatkan diri mereka sebagai manusia yang lemah, bergumul, berjuang, dan dengan demikian, membutuhkan Allah. Spiritualitas berarti “menyadari” kondisi hidup, sekaligus “menginginkan” intervensi Allah dalam hidup.
Hidup manusia di dunia hanya sementara (fana). Kesadaran inilah yang hendak ditegaskan Musa. Karena fana, maka Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memberikan jaminan dan kebahagiaan, serta kekuatan untuk menjalani, menghadapi suka-duka hidup.
ASPEK SPIRITUALITAS
Berdasarkan elaborasi di atas, kita sampai pada aspek spiritualitas. Ada beberapa aspek spiritualitas yang perlu kita cermati berikut ini:
Pertama, tetap beriman di masa sukar; tidak hanya memanfaatkan masa yang bahagia, tetapi juga menyeimbangkan “iman” dalam dua, tiga, atau bahkan empat kondisi (bahagia, duka, gelisah, tekanan).
Kedua, spiritualitas yang benar adalah menyeimbangkan antara iman dan pengalaman hidup bersama Tuhan dalam konteks bijaksana menilai, memahami, menghitung “hari-hari” yang dijalani, yaitu mengakui dan melihat apa yang Tuhan buat bagi kita, dan mengakui dan menilai apa yang kita buat untuk Tuhan.
Ketiga, menyanyi (memuji-muji Tuhan) merupakan perintah Tuhan, sebab ekspresi iman tidak hanya melalui tindakan untuk berjalan pada jalan Tuhan, tetapi juga “menyanyikan” syukur, kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, permohonan kepada Tuhan, dan lain sebagainya.
Keempat, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dalam hari-hari yang dijalani.
Kelima, selalu mengandalkan (membutuhkan) Tuhan dalam segala hal, dalam hari-hari yang dilalui, melalui doa dan pujian. Dari sini kita menemukan konsistensi penyertaan Tuhan di sepanjang hidup.
Berdasarkan elaborasi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa spiritualitas Kristen adalah aspek signifikan yang terbentuk dari kualitas iman dan pengalaman yang diterapkan dalam konteks empat hubungan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Spiritualitas Kristen adalah level iman yang membawa seseorang kepada sikap hidup yang mengakui apa yang Tuhan buat bagi kita dan mengakui serta menyadari apa yang kita buat untuk Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari pada firman dan disadari sebagai tanggung jawab iman.
Hari-hari yang kita lalui—sama seperti Musa dan umat Israel yang dipimpinnya—tidak hanya merasakan manisnya hidup, tetapi juga pahitnya hidup. Artinya, Tuhan mendidik umat-Nya untuk menikmati keseimbangan hidup—suka dan duka—di mana Tuhanlah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Spiritualitas Kristen adalah jalan yang ditempuh dan dihasilkan dari berbagai kondisi di mana Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk dapat “menghitung”, dan menilai” kehidupan sebagai karunia dari Tuhan yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh iman kepada-Nya.
Referensi
[1] Allen P. Ross, Kregel Exegetical Library: A Commentary On The Psalms. Volume 1 (1—41) (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 2011), 25.
[3] James Hely Hutchinson, “The Psalms And Praise”, dalam David Firth and Philip S. Johnston (eds.), Interpreting The Psalms: Issues and Approaches (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2005), 85-86.
[4] Rolf A. Jacobson and Karl N. Jacobson, Invitation to the Psalm:A Reader’s Guide for Discovery and Engagement (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), versi pdf.
[5] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[6] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[7] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[8] Jerome F. D. Creach, Six Themes Everyone Should Know: Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).
[9] C. Hassell Bullock, Encountering the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2018)
[10] John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, trans. Henry Beveridge (Grand Rapids: Baker, 1979), 1:xxxvii.
[11] James L. Mays, PsalmsInterpretation:A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), 8, dikutip Creach, Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).
[13] Walter Brueggemann, The Message of the Psalms (Minneapolis: Fortress, 2002), 52 dikutip Daniel Michael Nehrbass, Praying Curses: The Therapeutic and Preaching Value of the Imprecatory Psalms (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 2013)
Artikel ini masih bersifat bahan mentah, belum dilakukan pengkajian eksegetis, melainkan hanya pada tataran aplikatif. Artikel ini bisa digunakan sebagai bahan perenungan atas hidup, iman, pengalaman, dan spiritualitas Kristen.