FILSAFAT TEOLOGI: Karakter sebagai Empirikal Iman Kristen

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/52635889384629542/

Filsafat teologi yang sesungguhnya hanya dapat dijelaskan secara memuaskan oleh mereka yang telah mengalami kasih, kuasa, dan firman Tuhan, hidup dalam “kebenaran [doktrin]” yang sesungguhnya (tanpa ada penyimpangan doktrinal), dan oleh mereka yang telah diubahkan Tuhan (bertobat) dan hidup dalam kejujuran, keadilan, dan ketulusan.

Secara umum, filsafat teologi—khususnya teologi Kristen—dapat dirumuskan, dipikirkan, dikembangkan, dianalisis, oleh setiap orang Kristen. Akan tetapi, identitas “Kristen” tidak menjamin hasil dari sebuah filsafat teologi yang sesungguhnya. Filsafat teologi tidak hanya berangkat dari berbagai gagasan logikalisme dan doktrinal Kristen, melainkan juga dari “natur empirikal” iman Kristen dari mereka yang benar-benar hidup dalam firman dan berlaku jujur di hadapan Allah.

Jadi, filsafat teologi mencakup tiga aspek penting yaitu: gagasan logikalisme, doktrin, dan empirikal. Bagian-bagian dari tiga aspek ini akan dijelaskan kemudian, setelah saya menjelaskan sedikit tentang natur dari filsafat teologi.

NATUR FILSAFAT TEOLOGI

Natur atau ciri khas dari filsafat teologi adalah sebagai berikut:

Pertama, filsafat teologi memiliki harta karun yang sangat banyak yang bisa mencukupi—ketika semua manusia yang mengambil harta karun itu untuk kesinambungan kehidupan mereka. Harta karun itu memiliki kegunaannya masing-masing: berguna untuk memperbaiki hidup di hadapan Tuhan, berguna untuk memperbaiki hidup di hadapan sesama manusia, berguna untuk menyelaraskan diri dengan firman Tuhan, dan berguna untuk menampilkan sikap hidup yang benar kepada semua orang.

Kedua, filsafat teologi memiliki PESAN dan MAKNA yang beragam sesuai konteksnya masing-masing. Pada setiap konteks pesan dan makna mendorong setiap orang untuk bergerak dan berjuang mempertahankan hidup. Pada faktnya, para teolog menjadi tidak berguna ketika ia mengabaikan peran dan tanggung jawabnya untuk berjuang mempertahankan hidup. Teologi tidak hanya “berbicara tentang Tuhan” tetapi juga “berbicara tentang tanggung jawab bertahan hidup” sebab hidup itu sendiri adalah pemberian Tuhan dan tanggung jawab kita untuk menjalani dan mempertahankannya.

Ketiga, filsafat teologi memiliki POTENSI untuk MENGUBAHKAN ARAH HIDUP (tujuan) seseorang, dan doktrin yang menyimpang. Fakta lampau telah memperlihatkan kepada kita mengenai para martir yang hidupnya diubahkan Tuhan Yesus Kristus dan mereka berani berjuang bahkan rela mati bagi dan demi Dia. Fakta lampau juga telah memperlihatkan kepada kita mengenai berbagai doktrin yang menyimpang yang dipercayai oleh orang-orang yang menyesatkan, tersesat, dan disesatkan, sehingga terbukti bahwa pemahaman mereka tentang teologi yang menyoroti teks-teks Alkitab begitu dan sangat menyimpang.

Ada orang-orang yang mereka sesatkan dan mereka tidak tahu bahwa mereka itu sesat. Ini adalah sebuah paralogisme. Para penyesat ini masih ada hingga sekarang. Dengan keyakinan seadanya tetapi “ngotot”, mereka mempublikasikan gagasan-gagasan “unyil” dengan suara lantang, bahkan lebih menggelegar. Secara substansi isi dari publikasi gagasan-gagasan mereka telah gagal menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika dan historikal. Akibatnya, mereka semakin tersesat dan menyesatkan.

Peran filsafat teologi sangat dibutuhkan di zaman ini, mengingat maraknya doktrin-doktrin yang menyesatkan berseliweran (berjalan kian kemari) di berbagai tempat. Para teolog, penafsir, pemerhati teologi, dan pelayan Tuhan, memilik tugas yang berat: harus berjuang untuk berperang melawan serigala-serigala yang menyamar menjadi domba upahan. Bawa kembali domba-domba yang direbut mereka; bawa pulang ke tempat yang seharusnya yaitu “Gereja”.

Ketiga, filsafat teologi memiliki PEDOMAN untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Ada narasi-narasi teologis-filosofis, narasi-narasi etis-teologis, narasi-narasi humanitas hayati, narasi-narasi iman dan relasional, narasi-narasi kredibilitas iman, dan narasi-narasi eskatologis. Semua narasi tersebut merupakan narasi doktrinal. Jiwa kita dibentuk menurut narasi-narasi itu. Berbagai kesulitan tentu akan ditemui apabila memahami dan menerapkan narasi-narasi tersebut. Namun, yang pasti Tuhan akan menopang, menuntun, dan memberikan kekuatan untuk menghadapi dan keluar dari berbagai kesulitan.

Keempat, filsafat teologi memiliki CINTA KASIH TUHAN yang telah dinyatakan kepada manusia berdosa. Teologi seyogianya membicarakan dan merealisasikan cinta kasih Tuhan yang luar biasa itu.

Kelima, filsafat teologi memiliki HARAPAN untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih maju, mandiri, dan kredibel. Setiap orang percaya dicerahkan dan dikuatkan imannya karena ada harapan pasti dan petualangan mengikut dan percaya kepada Tuhan Yesus.

BAGIAN-BAGIAN FILSAFAT TEOLOGI:

Pertama, respons terhadap penyataan Allah (logikalisme dan doktrinal). Allah telah menyatakan diri-Nya baik dalam sejarah Bapak-Bapak leluhur, bangsa Israel, para hakim dan nabi, maupun kepada para rasul melalui Yesus Kristus. Secara logis, orang yang percaya kepada Allah haruslah merespons kebaikan-Nya dan penyataan-Nya melalui Yesus Kristus. Secara doktrinal, penyataan Allah adalah bagian terpenting dari iman Kristen yang menegaskan bahwa Allah—secara ajaib—menunjukkan kuasa-Nya yaitu “LOGOS menjadi daging [sarks] dan diam di antara manusia”.

Kedua, Iman yang bersandar pada Allah yang pra-historis dan pasca empirikal (logikalisme, doktrinal dan empirikal). Secara logis iman harus melihat pada Allah yang berkarya pra-historis dan pasca empirikal secara kontinu. Melihat pada Allah berarti mengandalkan Dia secara serius dan konsisten. Bersandar pada Allah adalah sebuah doktrin yang perlu dipahami dan dilakukan, serta dipertahankan. Secara empirikal, apa yang baik yang pernah dilakukan haruslah tetap dilakukan, apa yang terjadi di masa lampau haruslah tetap dipegang dan dipahami sehingga dapat diterapkan di masa kini dalam konteks relasi humanitas dan relasi spiritual dengan Tuhan. Ini adalah karakter yang substansial dari iman Kristen dan sebagai empirikal yang patut diperhatikan.

Ketiga, Kuasa Allah yang Mahaberdaulat: Solusi yang Suprematif (doktrinal). Kuasa Allah—ketika dinyatakan—maka tidak ada satu manusia pun yang dapat menahannya. Kuasa Allah harus dipegang sebagai doktrin; keyakinan bahwa Allah berkuasa dan Ia Mahaberdaulat atas semua ciptaan-Nya adalah bersifat doktrinal. Jika tidak, narasi-narasi doktrinal akan menjadi tak berarti karena kehilangan kuasa Allah yang hebat dan dahsyat itu.

Keempat, Logika: Pemahaman akan kebenaran (logikalisme dan doktrinal). Secara logis, kebenaran harus dipahami dan dihidupi. Kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam Alkitab adalah doktrin-doktrin yang dapat dipertanggung jawabkan. Dari padanya kita menyerap berbagai hal subsntasial untuk tetap menjaga dan melindungi diri kita dari serangan ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan. Karakter iman Kristen mengedepankan pemahaman akan kebenaran secara kredibel.

Kelima, Supremasi kasih yang tulus (doktrinal). Kasih terhadap Allah harus terealisasi ke dalam konteks kasih terhadap sesama. Secara substansial, supremasi kasih dipandang sebagai doktrin yang menghasilkan tatanan kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan. Doktrin yang benar adalah doktrin yang mengandung prinsip kasih Allah kepada manusia dan kasih manusia kepada Allah. Mengasihi Allah dan sesama adalah dasar dari karakter iman Kristen dan itu menjadi empirikal yang krusial.

Keenam, Konatif yang Unik (empirikal). Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Demikian pernyataan tegas Rasul Yakobus. Tindakan-tindakan etis-teologis adalah sebuah desakan empiris yang dengannya kita tahu dan menilai bahwa percaya kepada Tuhan Allah tak mungkin jika tidak menampilkan karakter dan konatif (kemauan untuk berbuat sesuatu) yang telah ditetapkan Tuhan. Konatif yang unik ada dua yaitu: “mengasihi musuh” dan “berdoa bagi musuh.” Filsafat teologi harus berani menunjukkan konatif yang unik ini, sehingga menjadi empirikal yang perlu diwariskan.

Ketujuh, Pengurbanan Kristus yang diteladani (doktrinal dan empirikal). Pengurbanan Yesus Kristus tidak hanya menjadi narasi doktrinal melainkan merupakan narasi empirikal. Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus tentu memiliki pengalaman tersendiri di mana mereka merasakan kasih, kuasa, dan jamahan Tuhan. Doktrin seharusnya menjadi sebuah empiris orang percaya, termasuk empiris di mana mendatang.

AKHIRNYA…

Filsafat teologi menjelaskan tentang prinsip dan pengajaran tentang Allah dan karya-Nya di dalam Yesus Kristus, menjelaskan tentang kasih dan kuasa Tuhan. Filsafat teologi mencakup tiga aspek penting yaitu: gagasan logikalisme, doktrin, dan empirikal dan ketiganya memiliki bagian-bagian signifikan yakni:

(1) respons terhadap penyataan Allah (logikalisme dan doktrinal). (2) Iman yang bersandar pada Allah yang pra-historis dan pasca empirikal (logikalisme, doktrinal dan empirikal). Secara logis iman harus melihat pada Allah yang berkarya pra-historis dan pasca empirikal secara kontinu. (3) Kuasa Allah yang Mahaberdaulat: Solusi yang Suprematif (doktrinal). Kuasa Allah harus dipegang sebagai doktrin; keyakinan bahwa Allah berkuasa dan Ia Mahaberdaulat atas semua ciptaan-Nya adalah bersifat doktrinal. (4) Logika: Pemahaman akan kebenaran (logikalisme dan doktrinal). Secara logis, kebenaran harus dipahami dan dihidupi. (5) Supremasi kasih yang tulus (doktrinal). Kasih terhadap Allah harus terealisasi ke dalam konteks kasih terhadap sesama. (6) Konatif yang unik (empirikal). Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Konatif yang unik ada dua yaitu: “mengasihi musuh” dan “berdoa bagi musuh”, dan (7) Pengurbanan Kristus yang diteladani (doktrinal dan empirikal). Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus tentu memiliki pengalaman tersendiri di mana mereka merasakan kasih, kuasa, dan jamahan Tuhan.

Filsafat teologi memiliki harta karun yang sangat banyak yang bisa mencukupi—ketika semua manusia yang mengambil harta karun itu untuk kesinambungan kehidupan mereka. Filsafat teologi memiliki PESAN dan MAKNA yang beragam sesuai konteksnya masing-masing.

Filsafat teologi memiliki POTENSI untuk MENGUBAHKAN ARAH HIDUP (tujuan) seseorang, dan doktrin yang menyimpang. Filsafat teologi memiliki PEDOMAN untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Filsafat teologi memiliki CINTA KASIH TUHAN yang telah dinyatakan kepada manusia berdosa.

Filsafat teologi memiliki HARAPAN untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih maju, mandiri, dan kredibel. Jika memiliki harapan, bergegaslah dari zona nyaman dan bergerak mencari jiwa-jiwa terhilang; ajar mereka, arahkan mereka, dan panggil mereka untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.

Filsafat teologi bukan hanya sebagai wacana (percakapan) intelektual (pengetahuan tentang doktrin-doktrin) saja, melainkan pula sebagai wacana empirikal yang dengannya kita telah menyeimbangkan dan menyelaraskan antara iman dan perbuatan. Dan itu menjadi fakta empirikal iman Kristen yang sangat berkesan, solid, dan patut dipertahankan sepanjang hayat.

Salam Bae.

FILSAFAT “WAKTU” (Philosophy of Time)

Manusia berpikir di dalam waktu. Manusia hidup dan bergerak di dalam waktu. Manusia berelasi dan bahagia di dalam waktu. Manusia menderita dan berjuang di dalam waktu. Manusia lahir dan mati di dalam waktu. Manusia berperang dan berdamai di dalam waktu. Di dalam waktu manusia berfilsafat. “Waktu” menciptakan “filsafat” dan dalam berfilsafat, manusia dapat memahami signifikansi “waktu.”

“Waktu” memiliki dua indikasi yakni: pertama, waktu yang menunjuk pada ketentuan yang tetap seperti jam, hari; dan kedua, waktu yang menunjuk pada suatu masa, saat, atau momentum yang tidak secara teratur terjadi dalam kehidupan manusia. Di sini, saya hendak menekankan pada jenis waktu yang kedua.

Filsafat waktu berbicara mengenai apa yang perlu dilakukan oleh manusia dalam waktu yang singkat ini. Artinya, kita dapat menduga atau bahkan meyakini bahwa hidup manusia itu sangat singkat. Alkitab menjelaskan bahwa hidup manusia itu sama seperti uap, sebentar saja kelihatan lalu hilang lenyap. Semarak manusia itu juga bersifat sementara. Namun ada perbedaan antara manusia yang dikenan Tuhan dan manusia yang tidak dikenan Tuhan.

Pada umumnya, setiap manusia perlu melakukan sesuatu. Sesuatu yang akan dilakukan, dilakukannya di dalam waktu. Bahkan, segala sesuatu memiliki tendensi waktu yang terbatas atau dibatasi. Karenanya, manusia berlomba-lomba mengerjakan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan, baik bagi dirinya sendiri, bagi orangtuanya, bagi keluarganya, bagi orang yang dikasihi dan dicintainya, dan bagi sahabatnya.

Filsafat waktu mendukung sepenuhnya mengenai unsur-unsur moralitas dan spiritualitas yang terkandung di dalam segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh setiap manusia. Tulisan ini akan mengkaji tiga hal: pertama, substansi filsafat waktu; kedua, unsur moralitas yang terkandung di dalam waktu sebagai bentuk kredibilitas manusia terhadap sesama; dan ketiga, unsur spiritualitas yang terkandung di dalam waktu sebagai bentuk kredibilitas manusia terhadap Tuhan, Sang Pencipta waktu.

Pertama: SUBSTANSI FILSAFAT WAKTU

Secara substansial, filsafat dipahami sebagai bentuk pemikiran yang memikirkan, mengkaji, dan menilai kebijaksaan. Kebijaksanaan itu sendiri bersifat abstrak dan mencakup keluasan materi baik tentang alam semesta, manusia, dan Sang Pencipta. Di dalam waktu, para filsuf bergelut tentang tiga hal tersebut. Ketiga-tiganya masih menjadi bahan perbincangan hingga sekarang ini. Alam semesta dipahami sebagai hasil ciptaan Tuhan di satu sisi, dan di sisi lain merupakan hasil nonpersonal (secara alamiah). Yang kedua merupakan bentuk pemikiran yang gagal total memahami substansi waktu dari materi yang menciptakan alam semesta secara kebetulan atau bersifat potensialitas.

Jadi, filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami alam semesta sebagai “rumah” bagi manusia untuk berkreasi, berdaya cipta, beranak cucu, berbahagia, berelasi, dan melakukan segala sesuatu, entah baik, entah buruk.

Filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami “manusia” sebagai “kawan” sekerja dalam segala hal dan “teman” yang memiliki rasa kemanusiaan, rasa memiliki, rasa memerlukan, rasa kebergantungan, rasa melindungi, rasa menghormati, dan rasa solidaritas.

Filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami personalitas Tuhan sebagai Sang Pencipta yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Dialah yang menciptakan alam semesta dan manusia di muka bumi ini. Dialah yang berhak menentukan segala sesuatu untuk dapat terjadi dalam totalitas proses kesinambungan alam semesta dan proses kehidupan manusia sejak ia dalam kandungan sampai ia menutup mata.

Ketiga hal tersebutlah yang mendasari substansi dari filsafat waktu. Manusia harus menjaga alam semesta; manusia harus saling mengasihi sesamanya; dan manusia harus bersyukur kepada Tuhan sebagai Pribadi yang memungkinkan manusia dapat melakukan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi manusia itu sendiri.

Kedua: UNSUR MORALITAS

Moralitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari substansi filsafat waktu sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Filsafat waktu mendorong manusia untuk menjaga tatanan hidup (konatif), pikiran, dan perkataan yang menciptakan sebuah moralitas yang agung yang dapat dinilai dan dirasakan manfaatnya oleh sesamanya. Itu sebabnya, moralitas menjadi tanggung jawab yang agung untuk menghasilkan karakter yang agung pula. Menenun moralitas membutuhkan ‘waktu’. Karenanya, filsafat waktu memberi desakan agar tenunan moralitas segera dikerjakan—dan bukan ditunda-tunda.

Ketiga: UNSUR SPIRITUALITAS

Spiritualitas adalah sahabat dari moralitas. Spiritualitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari substansi filsafat waktu. Filsafat waktu mendorong manusia untuk menjaga tatanan kerohanian (spiritualitas), pikiran, dan perkataan dalam hubungannya dengan Tuhan. Spiritualitas menciptakan sebuah karakter dan integritas yang agung yang dapat dinilai dan dirasakan manfaatnya oleh sesamanya. Itu sebabnya, spiritualitas menjadi tanggung jawab yang agung untuk menghasilkan karakter dan integritas yang agung pula. Menenun spiritualtias membutuhkan ‘waktu’. Karenanya, filsafat waktu memberi desakan agar tenunan spiritualtitas segera dikerjakan—dan bukan ditunda-tunda.

Relasi dengan Tuhan adalah bersifat personal. Setiap manusia memiliki rahasia tersendiri soal hubungannya dengan Tuhan. Ia dapat menciptakan “waktu” yang terbaik di mana ia hidup bersama Tuhan dalam arti bahwa ia mematuhi hukum-hukum Tuhan dan segala perintah-perintah-Nya. Bagaimana baiknya hubungan seseorang dengan Tuhan, bergantung pada seberapa banyak “waktu” yang ia gunakan untuk menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama-Nya.

Filsafat waktu dapat juga berarti bagaimana manusia mempergunakan waktu selama ia hidup untuk berkontribusi bagi alam semesta, bagi sesama, dan bagi pekerjaan atau pelayanan Tuhan. Dengan waktu yang digenggam manusia, ia perlu menumbuhkembangkan sikap menghargai waktu, dan di dalam waktu tersebut, ia terkubur di dalamnya. Kesadaran menilai dan mempergunakan waktu adalah sebuah kebijaksanaan, sebuah filsafat waktu. Manusia harus memahami, menghargai, dan mempergunakan waktu yang ada.

Konklusinya adalah bahwa filsafat waktu mendorong setiap manusia untuk memahami signifikansi waktu, menghargai waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi alam semesta dan sesama manusia, dan mempergunakan waktu yang dikaruniakan Tuhan untuk melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya dan memuliakan nama-Nya.

Di dalam waktu manusia memikirkan dan memahami filsafat waktu. Di dalam waktu , manusia menerapkan filsafat waktu, dan di dalam waktu, tulisan filsafat waktu saya akhiri.

Salam Bae…

Sumber gamba: https://id.pinterest.com/pin/827747606507369386/

LOGIKA ANALOGIKAL—KLASIFIKASI

Secara hakiki, cara berpikir manusia bersifat analogikal—klasifikasi. Bentuk ini adalah umum berlaku di segala bidang. Ada indikasi persamaan dalam suatu hal tetapi sekaligus dibedakan berdasarkan kategori-kategori internal maupun eksternal bahkan berdasarkan fakta. Manusia pada umumnya juga sering melakukan cara berpikir analogikal—klasifikasi yang pada gilirannya dia sendiri dapat memahami secara mendalam ketika ia berada dalam kasus yang sama.

Sampai di sini, pembaca masih belum memahami apa sebenarnya yang saya maksudkan dengan logika analogikal—klasifikasi. Saya pun tidak tahu. Jadi kita berhenti di sini saja. Ok? Anda tersenyum. Lalu—mungkin—berguman: “buat apa membahas atau menulis tentang logika analogikal—klasifikasi sedangkan anda/kamu (maksudnya ‘saya’ sebagai penulis) mau menulisnya? Kalau begitu, akhirnya saya pun jadi, malahan sebenarnya saya tahu tetapi bermain dalam komposisi penulisan untuk menggiring kuriositas-jika pembaca membaca sampai tulisan ini berakhir.

Saya lanjutkaan. Logika analogikal—klasifikasi adalah pola pikir manusia yang melihat persamaan kasus, sekaligus membuat klasifikasi dari apa yang dia lihat dari persamaan kasus tersebut. Sebagai contoh konkrit, saya membuat perumpamaan yang bersifat faktual, berikut ini:

“Jika kita melihat anak kecil berumur dua tahun, kencing dipinggir jalan, maka mayoritas yang melihatnya akan memiliki respons yang berbeda. Pertama, kita akan berkata, anak itu lucu ya, kencing di pinggir jalan. Kedua, kita berpikir bahwa tidak apa-apa anak kecil itu kencing di pinggir jalan. Ketiga, kita berpikir bahwa untuk apa dipikirkan ketika anak kecil kencing di pinggir jalan. Keempat, kita mungkin berkata: ‘di mana orangtuanya? mengapa anaknya dibiarkan kencing di pinggir jalan’”.

Sampai di sini, kadang kita tidak memusingkan apakah anak dua tahun itu melanggar etika atau tidak. Maklum, namanya juga anak kecil, jadi tidak apa-apa kencing di pinggir jalan. Kapan pun dan di mana pun, anak berumur dua tahun bisa kencing di mana saja. Tidak ada halangan. Toh, burungnya masih kecil, tidak mengganggu pemandangan mata, dan tidak menimbulkan hawa nafsu. Lalu bagaimana jika orang dewasa berumur tiga puluh tahun kencing di pinggir jalan?

Jika kita melihat orang dewasa berumur tiga puluh tahun, kencing dipinggir jalan, maka mayoritas yang melihatnya akan memiliki respons yang berbeda juga. Pertama, kita akan berkata, orang itu tidak tahu diri, kencing di pinggir jalan. Kedua, kita berpikir bahwa tidak baik orang itu kencing di pinggir jalan. Ketiga, orang itu tidak tahu malu. Keempat, dasar, kencing sembarangan. Kelima, dasar, orangtuanya mungkin tidak pernah mendidiknya dengan baik. Keenam, orang itu tidak punya perasaan, bagaimana jika ada orang lain melihat alat kelaminnya?”

Jika anak kecil berumur dua tahun bisa kencing di mana saja, maka tidak demikian dengan orang dewasa. Orang dewasa akan kencing berdasarkan klasifikasi tempat dan situasi. Jika malam hari, di tempat gelap, orang dewasa bisa kencing sepuasnya. Tidak demikian ketika di siang hari di tempat yang sama. Orang dewasa merasa malu kencing sembarangan karena “burungnya”, sedangkan anak kecil tidak.

Dari dua kisah di atas, yang secara faktual mungkin pernah atau sering kita lihat di sekitar kita atau di mana saja, adalah bentuk logika analogikal—klasifikasi. Kita melihat dua kasus yang sama yakni “kencing di pinggir jalan” dan sekaligus melakukan klasifikasi faktual—psikologi terhadap dua orang yang berbeda secara umur dan pengetahuan. Dengan demikian, ada banyak hal atau peristiwa yang memiliki natur logika analogikal—klasifikasi.

Contoh lain adalah: “Ada seorang pendeta berkata kepada jemaatnya: ‘sebagai orang percaya, tidak boleh merokok, tidak boleh mabuk-mabukkan.’ Di lain pihak, pendeta tersebut malah merokok dan mabuk-mabukan. Ketika sang pendeta ketahuan merokok dan mabuk-mabukan, ia berkata: ‘kalau pendeta merokok dan mabuk-mabukan, tidak apa-apa, dan tidak jadi masalah.’” Si pendeta sedang melakukan logika analogikal—klasifikasi. Ia mengklasifikasikan dirinya dengan jemaatnya dalam soal merokok dan mabuk-mabukan, bahkan dirinya dianalogikan sebagai “anak kecil yang kencing di pinggir jalan”, sedangkan jemaatnya dianalogikan sebagai “orang dewasa yang kecil di pinggir jalan.”

Contoh lainnya adalah: seorang pendeta mengatakan kepada jemaatnya: “janganlah kita berkata sombong, berkata kotor, berkata tipu muslihat, merendahkan orang lain dengan fitnah, dan menghina orang yang belum tentu orang yang dihina dan difitnah melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduh oleh si penuduh dan pemfitnah.” Namun, pada kenyataannya, para jemaat menemukan pendetanya justru melakukan hal-hal yang dilarangnya (sesuai Alkitab), seperti: ia berkata sombong, ia berkata kotor, ia berkata dengan penuh tipu muslihat, ia merendahkan orang lain dengan fitnah, dan ia menghina orang yang belum tentu orang yang dihina dan difitnah melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduh oleh si pendeta tersebut.

Ketika diklarifikasi, si pendeta berkata, “Tidak apa-apa, saya kan pendeta, jadi tidak masalah, karena Tuhan bisa mengampuni saya.” Akan tetapi, ketika dilihatnya para jemaat melakukan hal yang sama, ia menjadi marah dan geram, dan mengatakan bahwa: “Tuhan akan menghukum kalian karena telah berbuat yang tidak benar.” Mengenai contoh di atas, saya teringat dengan kisah Raja Daud yang mengambil istri Uria dengan cara yang tidak wajar. Nabi Natan memberikan perumpamaan soal kisah Daud, dan Daud menjadi sangat marah dan berkata: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati….” Daud mengklasifikasikan dirinya denga orang lain, padahal yang dimaksudkan Nabi Natan adalah Daud sendiri. Daud tidak menyadari tindakannya sehingga ia ditegur Tuhan. Sama halnya dengan pendeta yang merasa suci meski menghina dan merendahkan orang, dan berharap bahwa jemaat yang melakukan hal yang sama, haruslah dihukum. Lalu dirinya? Dirinya sendiri tidak masuk dalam kategori tersebut adalah dia sedang melakukan analogikal—klasifikasi.

Ketika seseorang memahami persoalan orang lain tetapi fokus pada orangnya dan bukan pada persoalannya, seseorang telah melakukan “argumentum ad hominen”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membedakan diri orang lain dengan dirinya)

Ketika seseorang memiliki anggapan buruk sebelum mengetahui sesuatu secara pasti dan faktual, seseorang telah melakukan hukum “a priori” (beranggapan sebelum mengetahui secara pasti). Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengganggap orang lain buruk dan dirinya tidak)

Ketika seseorang memfitnah dan kemudian menyadari bahwa apa yang difitnahkan tidaklah sesuai dengan kenyataan, maka seseoang telah mengalami “a posteriori”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa diri paling suci dan benar dibanding orang lain)

Ketika seseorang merasa benar hanya dari dirinya sendiri (baik hal negatif dan positif), ia telah melalukan “solipsisme”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa benar dibanding orang lain dan merasa tahu segala hal yang benar dibanding orang lain)

Ketika seseorang merasa suci dan benar di antara para pencemooh, ia telah mengkondisikan berada di “dunia khayalan yang di dalamnya ada bidadari yang kapan saja disetubuhi”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa suci dari semua pelaku fitnah dan suka membenci orang lain dan merasa bahwa orang lain dapat diperalat sesuai keingingan [nafsu])

Ketika seseorang merasa percaya dengan pengakuan orang yang berhalusinasi dengan kekayaan yang tak terbukti, ia telah “diperalat-memperalat” untuk tujuannya masing-masing. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membedakan dan membandingkan diri orang yang punya kekayaan dengan orang lain yang lebih miskin)

Ketika seseorang yang menjadi penjilat sana sini, ia telah menjadikan dirinya sebagai “pelacur sosial—religiositas”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengklasifikan orang-orang yang telah memberinya segalanya baik materi maupun uang)

Ketika seseorang mengukur dirinya yang diangap suci dengan orang yang dirasa paling kotor, maka ia telah melakukan “pelacuran-rasio-egoistik”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengklasifikasikan dirinya dengan orang lain yang dirasa paling kotor dan rendah)

Ketika seseorang berkoar-koar dengan sesuatu yang dia sendiri bermain di dunia sandi diksi, maka ia sebenarnya sedang mempublikasikan “ignorantiam—perspektivisme”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membandingkan orang lain dengan orang lain dengan menggunakan sandi diksi)

Ketika seseorang melakukan logika analogikal—klasifikasi terhadap kasus-kasus yang dilarang dan dia sendiri melakukan hal tersebut, maka seseorang tersebut telah melakukan “aproval—personalistik” (pembenaran pribadi).

Sampai di sini, konsep logika analogikal—klasifikasi telah menjerumuskan orang-orang dalam dunia yang kecil. Di dunia yang kecil manusia menganggap diri besar. Persamaan yang diklasifikasikan oleh seseorang dapat menjadi “standar ganda” .

Konsep logika analogikal—klasifikasi bisa kita terapkan sejauh hal itu masih berada di lingkungan analogi psikologi umur dan karakter antara anak kecil dan orang dewasa dalam hal “kencing di pinggir jalan.” Akan tetapi, ketika konsep logika analogikal—klasifikasi diterapkan kepada sesama orang dewasa, maka orang dewasa akan mengalami standar ganda. Jika seseorang mengatakan kepada seseorang: “Anda yang jangan menyalahkan orang lain”, maka standar gandanya adalah: “Anda juga yang menyalahkan saya (yang adalah lain dari diri anda).”

Oleh sebab itu, berhentilah melakukan konsep logika analogikal—klasifikasi terhadap orang lain dalam hal negatif, tetapi lakukanlah konsep logika analogikal—klasifikasi dalam hal tatanan moralitas, spiritualitas, kedudukan, jabatan, dalam relasi saling memahami, saling mengerti, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menopang.

Shalom. Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/5629568273793910/

PUPUR DAN SMENGKEN

Dulu, pupur (bedak) dan smengken adalah idola anak kecil dan anak remaja. Anak kecil, termasuk saya, selalu dipakaikan pupur oleh ibu saya. Pupur tersebut bermerek “Marcks”, “Purol”, “Herocyn” dan “Viva Cosmetics”. Keempat jenis pupur ini popular di zaman saya dulu. Penggunaannya tergantung kondisi. Marcks adalah pupur yang sering saya gunakan hingga sekolah menengah atas. Biar tampak putih (meski sedikit saja), pupur telah membawa pesona diri dari anak desa yang sering tak memakai kaos kaki ketika berangkat ke sekolah. Pupur memang hebat.

Pupur adalah pewarna wajah. Pupur telah menjadikan anak desa tampil bersinar meski kadang antara pipi kanan dan pipi kiri kurang seimbang. Kadang pupur di pipi sebelah kanan terlalu tebal. Tak jarang, pupur dipakai sampai di telinga, dan dipakai juga buat pengharum kile-kile (ketiak). Menarik bukan?

Lalu bagaimana dengan smengken? Smengken (lipstik) di kalangan anak remaja adalah pewarna bibir yang bisa menjadi daya tarik agar orang terpikat karenanya. Smengken menghasilkan gelora diri yang harus ditonjolkan demi meraup perhatian dari para anak muda; tak jarang lelaki tua ikut melihat penampilan remaja bersmengken.

Smengken memiliki citarasa tersendiri. Apalagi ketika malam minggu tiba. Sekejap, smengken menjadi popular. Untuk apa? Untuk menarik perhatian. Meski bentuk bibir kelihatan kurang menarik, tapi karena warna smengken yang terlampau merah, membuat mata para pelihat tersepona; tak jarang, banyak yang tertawa geli dan aneh. Para remaja putri memang suka menggunakan smengken meski kadang bibir terasa gatal akibat smengken dengan harga sepuluh ribu dapat empat. Tetapi, smengken telah membuat puas diri karena dianggap telah memberikan hasil yang maksimal. Smengken punya kisah tersendiri bagi mereka yang pernah merasa percaya diri ketika memakainya.

Lalu makna apa yang dapat kita petik dari kisah pupur dan smengken? Tentu ada. Berikut maknanya (dalam pemahaman saya):

Pertama, pupur adalah benda yang bisa memberikan rasa tersendiri pada wajah kita.

Kedua, pupur adalah tanda bahwa ibu kita mengasihi dan sayang kepada kita yang dengan setia memberikan pupur di pipi meski kadang tampak tak seimbang (sebelah tipis, sebelah tebal).

Ketiga, pupur adalah tanda bahwa kita tampil beda, wangi, menawan, dan menarik.

Keempat, smengken adalah benda yang memberikan rasa percaya diri.

Kelima, smengken adalah tanda bahwa kita sayang pada diri kita sendiri—sesuai takaran penggunaannya—untuk menunjukkan kecantikan wajah secara utuh.

Keenam, smengken adalah tanda bahwa kita ingin tampil beda dan memberikan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi, dan bagi para pelihat di mana pun mereka berada.D

Ketujuh, dari pupur dan smengken kita dapat belajar bahwa segala sesuatu yang kita gunakan adalah bagian dari realisasi diri untuk diperlihatkan kepada khalayak. Jika demikian, yang paling menarik dari hidup kita bukanlah pupur dan smengken, melainkan perilaku dan perkataan kita sehari-hari. Pupur dan smengken bisa menimbulkan daya tarik, akan tetapi ketika para pemakainnya memiliki perilaku yang buruk, maka pupur dan smengken akan menjadi luntur dari penilaian khalayak.

Jadikan diri kita menarik dengan mengembangkan potensi diri yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://cdn.idntimes.com/content-images/community/2018/06/55469a414a078fca25095cccf6c85bba.jpg

INFEKSI MORALITAS: Aproksimasi Impotensi Krestologia dan Karakter

Moralitas adalah ukuran umum yang dapat diamati oleh mayoritas manusia di bumi ini. Dengan mengamati moralitas, seseorang dapat menentukan asesmen atau aproksimasi (approximation, perkiraan) terhadap personal seseorang. Dengan begitu, biasanya asesmen tidak meleset jauh dari pengamatan yang dilakukan. Ukuran untuk menentukan moralitas seseorang tampak dalam empat hal: pertama, perkataan; kedua, pemikiran (tulisan[-tulisan]); ketiga, perbuatan; dan keempat, sahabat-sahabat dekatnya.

Alkitab sendiri menegaskan bahwa “pohon dikenal dari buahnya”. Frasa tersebut mengindikasikan bahwa faktalah yang menjadi ukuran asesmen. Fakta yang dimaksud adalah tindakan sehari-hari yang dilakukan oleh seseorang. Ketika seseorang menampilkan bentuk pemikirannya yang tertuang dalam tulisan atau perkataan, maka asesmen mengikutinya. Jika karakter seseorang baik, maka dampak dari pemikirannya juga baik. Atau dengan kata lain, pemikirannya baik disertai gagasan-gagasan normatif maupun edukatif, dan tak jarang bernada spritualisme.

Aproksimasi terhadap krestologia juga sebagai dampak dari pemikiran dan karakter seseorang. Krestologia [dalam bahasa Inggris disebut dengan dengan friendly speech yang berarti kemampuan berbicara ramah, atau cara berbicara (yang) ramah] menjadi daya tarik tersendiri dan sering memikat hati orang lain. Namun, potensi krestologia tidak menjamin karakter seseorang itu baik. Sebaliknya, karakter baik seseorang tidaklah diukur dari sebuah potensi krestologia. Karakter memasukkan potensi krestologia dan empat hal penentu moralitas (perkataan, pemikiran [tulisan(-tulisan), perbuatan, dan sahabat-sahabat dekatnya). Itu berarti, karakter menjadi ‘tajuk rencana’ gagasan kehidupan manusia pada umumnya. Dengan karakterlah, ‘value’ kehidupan seseorang diukur.

Dari deskripsi di atas, ada persoalan umum yang sering terjadi yaitu ‘infeksi moralitas’. Mengapa infeksi? Begini: infeksi bermakna “kemasukan bibit penyakit”. Dari makna tersebut, infeksi moralitas bermakna “pemikiran, perkataan, karakter, sifat, dan perbuatan kemasukan gagasan buruk, kebiasaan buruk, hipokrit, dan memiliki habitualisme invektiv (kebiasaan memaki, mencerca, atau mencacimaki). Infeksi moralitas mungkin merupakan pengamatan sehari-hari kita, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan organisasi, lingkungan pemerintahan, maupun lingkungan gereja.

Akibat dari infeksi moralitas, relasi dengan sesama, keluarga, rekan sejawat, dan relasi dengan Tuhan menjadi terhambat atau bahkan menjadi rusak. Infeksi moralitas menyeret sejumlah opini busuk yang tersistem, terencana dan bahkan berbayar. Implikasinya, identitas dan karakter seseorang menjadi lahan empuk untuk memicu munculnya asesmen terhadapnya. Hasil asesmen berbeda-beda. Bagi rekan sejawat dari mereka yang terinfeksi moralitasnya, dianggap sebagai kebanggaan, kesukaan, dan kesenangan. Mereka bangga dengan kubangan dosa infeksi moralitas di mana yang tidak menyadari dan ada pula yang menyadari bahwa hal itu bernada jelek atau busuk. Bagi mereka yang berkarakter baik dan memiliki hubungan baik dengan Tuhan, menganggap bahwa orang-0rang yang terinfeksi moralitasnya adalah alat setan, alat manusia penipu dan penghasut, alat dari oknum-oknum yang memiliki kepentingan, dan alat dari sesamanya yang saling menguntungkan (mutual simbiosis). Mereka itu perlu didoakan agar Tuhan menyatakan kehendak-Nya. Entah mereka dibuat-Nya bertobat, sakit, atau diakhiri hidupnya.

Infeksi moralitas telah cukup menyita waktu dan perhatian kita karena di sekitar kita – mungkin – hal itu menjadi makanan siap saji. Jika kita tidak memakannya, maka kita aman. Tetapi jika kita mencoba mencicipinya, di kemudian hari akan menjadi ketagihan. Kekristenan tidaklah mengajari dan merekomendasikan gagasan infeksi moralitas karena hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Alkitab. Ada fakta bahwa mereka yang mencoba mencicipi sedikit dari infeksi moralitas, pada akhirnya terjerumus ke jurang yang dalam di dasarnya terdapat “Sekolah Infeksi Moralitas”. Di sekolah tersebut mereka dididik, saling mendidik, saling menopang, dan saling melatih bagaimana melakukan serangan cemooh, hipokrit, dan menjalankan program habitualisme invektiv. Di sekolah itu, para murid tidak membayar tetapi mendapat beasiswa. Akibatnya, “Sekolah Infeksi Moralitas” menghasilkan lulusan-lulusan yang siap pakai oleh pengguna lulusan di lingkungan mereka yang adalah cabang dari “Sekolah Infeksi Moralitas”.

Hal ini bertolak belakang dengan identitas Kristen di mana identitas yang substansial dari kekristenan adalah menghadirkan “Eirēnē” dan “Kerajaan Allah” bagi sesamanya ketimbang menghadirkan infektiv, kutuk [iusiurandum], kutukan [maledictionem; a curse] dan aib [obprobrium; a taunt] orang lain yang bersifat fitnah. Kebiasaan menghadirkan dan menaburkan infektiv, kutuk, kutukan, dan aib menjadi makanan atau santapan harian dari mereka yang terinfeksi moralitasnya. Ketika situasi seperti ini terus-menerus terjadi dan dilakukan oleh mereka yang terinfeksi moralitasnya, maka akan menimbulkan bahaya pandemik (tersebarnya secara luas penyakit [penyakit kerusakan moral, karakter, dan iman]). Kita yang waras dan memiliki hidup kudus akan menolak secara tegas hal tersebut dan bahkan melawan mereka yang menyebarkan infeksi moralitas di lingkungan kita, sebab kekristenan substansial (asali) tidaklah mengajarkan hal tersebut.

Kekristenan yang asali memasukkan dan mewariskan sifat dan potensi krestologia, karakter, dan moralitas yang murni, tulus, dan kudus. Alkitab secara tegas menekankan kekudusan hidup dibarengi dengan potensi krestologia, karakter dan moralitas sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup kudus. Berikut adalah teks-teks pendukungnya:

Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan yang ramah itu suci (Ams. 15:26)

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Ef. 4:32).

Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya (1 Tes. 2:7).

Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar (2 Tim. 2:24)

Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati (Mzm. 7:11)

Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya (Mzm. 11:7)

Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati! (Mzm. 36:11)

Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya (Mzm. 73:1)

Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati (Mzm. 97:11)

Lakukanlah kebaikan, ya TUHAN, kepada orang-orang baik dan kepada orang-orang yang tulus hati (Mzm. 125:4)

Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat (Ams. 10:29)

Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Im. 19:2)

Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 20:7)

Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku (Im. 20:26)

Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Ptr. 1:16)

Dari teks-teks di atas tampak bahwa Alkitab mengajarkan pentingnya memiliki potensi krestologia, karakter yang baik, hati yang tulus, dan hidup yang kudus. Semuanya saling terkait (koherensi) dan saling menopang, melengkapi, dan menguatkan. Identitas Kristen ternilai dari hal-hal tersebut. Infeksi moralitas merusak tatanan relasi sesama dan relasi dengan Tuhan. Ketika relasi dengan Tuhan menjadi rusak, maka secara otomatis, relasi dengan sesamanya menjadi rusak. Mereka yang terinfeksi moralitasnya adalah mereka yang lemah iman, lemah pemikiran, dan minimnya pengetahuan. Bahkan pengaruh terbesarnya disebabkan oleh sahabat-sahabatnya yang memiliki infeksi moralitas.

Kita dapat menetapkan aproksimasi impotensi krestologia kepada mereka yang telah menampilkan secara akrobatik sikap, sifat, perkataan, pemikiran (tulisan), dan perilaku yang jauh dari prinsip-prinsip Alkitab. suka mencemooh dan menghina orang lain adalah “kesukaan” mereka, bahkan telah menjadi kekasih hati mereka. Kita juga dapat menetapkan aproksimasi impotensi karakter kepada mereka yang telah menampilkan sikap, sifat, perkataan, pemikiran (tulisan), dan perilaku yang jauh dari prinsip-prinsip Alkitab. Karakter atau sifat adalah alasan mengapa topik karakter menjadi menarik karena dari situlah lahir manusia-manusia tangguh, hebat, baik, ramah, brutal, hipokrit, pencemooh, pemfitnah, dan penghina Tuhan dan sesama.

Infeksi moralitas disebabkan karena “karakole” (melompatkan) dan mengabaikan (underestimate) empat aspek signifikan yakni: hidup kudus, teman yang berkarakter baik, relasi dengan Tuhan dalam ibadah, potensi krestologia. Untuk potensi krestologia, menghasilkan cara berpikir yang baik yang dihasilkan oleh cara berpikir yang baik pula. Maka, cara berpikir seseorang menentukan apa yang akan tampak dalam sikap, sifat (karakter), relasi dengan sesama dan Tuhan, dan potensi krestologia.

Milikilah cara berpikir yang baik dan didasari pada prinsip-prinsip Alkitab, niscaya gaya dan cara hidup Anda menghasilkan pengaruh yang luar biasa. Teladan adalah buah darinya. Potensi krestologia adalah warisan yang tak ternilai harganya. Karakter yang baik memberi dampak kepada mereka yang mengikuti Anda. Jadilah ‘terang’ dalam perilaku, perkataan, dan pemikiran. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Shalom.

Salam Bae

Sumber Gambar: Pinterest (https://id.pinterest.com/pin/103512491419730534/)

TERSAKITI KARENA CINTA: Sebuah Catatan bagi Mereka yang Hancur Hati

Tertarik dengan seseorang dan kemudian terpenuhilah niat, emosi, rasa tertarik, kehendak, dan keinginan hati, maka seseorang dapat mengkategorikan hal itu dengan sebutan “CINTA”. Namun, penamaan tersebut dapat saja menuai pro dan kontra. Tak selamanya niat, emosi, rasa tertarik, kehendak, keinginan hati ingin memilikinya dapat disebut dengan perasaan “CINTA”. Terserah apa yang dapat didefinisikan oleh setiap orang. Gagasan perasaan “CINTA” pada prinsipnya bernatur alamiah sebagai luapan emosional seseorang. Jika hal ini dibawa ke dalam konsep agama, maka “CINTA” pada prinsipnya bernatur kehendak atau anugerah Tuhan.

Keinginan dan rasa untuk mencintai merupakan implikasi dari gejolak hati yang bisa saja tak terkendali, baik oleh waktu, harta, tenaga, pikiran, dan faktor-faktor lainnya. Karena “CINTA” didapatkan dari berbagai cara, maka banyak cara pula untuk mengakhirinya. Terkadang, “CINTA” yang diakhiri, tak dapat diduga sebelumnya. Bahkan, beberapa orang menganggapnya aneh ketika “CINTA” yang mereka jalani selang waktu yang lama, kemudian berakhir begitu saja.

Pengertian dan pemahaman tentang “CINTA” sangat beragam. Hal itu tergantung dari pola pikir, pengalaman seseorang, iman seseorang, pergaulan seseorang, keluarga dan tetangga seseorang. Konstruksi pengertian dan pemahaman “CINTA” paling murni dibangun berdasarkan pola pikir dan pengalaman seseorang. Seringkali, konsep “CINTA” yang dihasilkan berujung sama. Bila konsep “CINTA” berangkat dari pola pikir yang kudus (terpisah dari gagasan duniawi dan hawa nafsu) maka tiang-tiang penyanggah “CINTA” dipastikan kuat dan tahan lama. Bila konsep “CINTA” berangkat dari pola pikir yang didasari pada gagasan duniawi dan hawa nafsu maka tiang-tiang penyanggah “CINTA” dipastikan tidak tahan lama. Kalau pun tahan lama, itu sangat jarang.

Mereka yang mandi dan berenang di dalam kolam “CINTA” tentu akan menikmati air jernih sebagaimana mereka melihat “CINTA” itu jernih. Mereka (dua insan yang saling mencintai) dapat saling bercanda, tersenyum, dan saling menunjukkan kebahagiaan hati mereka. Di sini, hati mereka belum patah alias hancur berkeping-keping. Di kemudian hari, kolam “CINTA” ternyata memiliki air yang kotor dan keruh. Kotor dan keruhnya air disebabkan oleh proses cuaca dari waktu ke waktu. Perasaan “CINTA” juga demikian. Proses dan waktu akan mengujinya dan menjadikan—apakah hati itu tetap jernih atau hati itu menjadi kotor dan keruh seperti air kolam “CINTA”—yang kemudian hati seseorang akan menjadi “sesuatu”.

Dalam perjalanan “CINTA”, segala sesuatu dapat dirasakan indah dan berkesan tatkala suasana hati terpenuhi dengan segala keingingan atau kehendak. Apa saja yang diinginkan dalam menjalani “CINTA” adalah wajar bagi sebagian orang, dan tidak wajar bagi sebagian orang, jika yang diinginkan melampaui batas-batas normatif dan prinsip-prinsip Kitab Suci. “CINTA” dapat membuat dunia menjadi indah; jarak tempuh yang jauh terasa dekat; kesulitan yang sulit dirasa mudah; dan tantangan yang berat dirasa ringan. Ya, semuanya disebabkan karena “CINTA”. “CINTA” dapat menimbulkan kekuatan emosi yang melebihi dari emosi biasa. “CINTA” dapat menimbulkan kekuatan pikiran dan taktik untuk memikirkan berbagai cara untuk “menyenangkan”, “memenuhi”, dan “memuaskan” rasa “CINTA”.

Namun, ada saja orang-orang yang terjebak dalam definisi “CINTA” yang disusunnya. Ketika seseorang salah mendefisikan “CINTA” maka konsekuensi harus diterima. Di sini, definisi “CINTA” kita tempatkan pada porsinya yang murni dan kudus sebagaimana yang kita dapatkan dan kita pahami dari pemahaman “CINTA” berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci. Pada faktanya, ada yang mencoba melanggar definisi “CINTA” yang sebenarnya ia sendiri tahu. Tetapi karena alasan keselamatan hawa nafsu, maka pengkhianatan “CINTA” dapat terjadi.

Pengkhianatan terhadap “CINTA” terjadi karena komitmen seseorang dapat saja berubah di tengah jalan. Berbagai alasan dapat dipahami secara logis yaitu: (1) dia lebih ganteng; (2) dia lebih cantik; (3) dia lebih seksi; (4) dia lebih montok; (5) dia lebih mapan; (6) dia lebih perhatian; (7) dia lebih kaya; (8) dia/saya sudah hamil/menghamili; (9) dia/saya sudah dijodohkan; (10) dia/saya sudah ditunangankan; (11) dia/saya terpaksa (untuk alasan apa saja); dan (12) dia/saya dijebak/terjebak).

Mereka yang berkhianat dan mereka yang dikhinati, atau dengan kata lain, mereka yang menyakiti dan mereka yang tersakiti adalah fakta yang menjadi catatan pemikiran kita untuk menafsirkan ada latar dari peristiwa tersebut. Namun, saya coba mengkondisikan diri saya untuk turut merasakan “hati yang hancur” atau “hati yang tersakiti” karena pengkhianatan “CINTA”.

Hati memang tidak berbuat dari semen, kayu, batu, kaca, atau plastik. Hati adalah sebuah totalitas tubuh manusia di mana ketika hati tersakiti, maka seluruh tubuh  ikut merasakan sakit tersebut. Ketika hati dirasakan hancur (tersakiti), tak dapat dibayangkan bagaimana rasa sakit itu didefinisikan. Memang, hati yang hancur atau tersakiti tak dapat dibandingkan dengan ketika durian jatuh di kepala kita. Lain sakitnya, lain rasanya, lain kasusnya, lain pelakunya.

Mereka yang tersakiti karena “CINTA” tentu memiliki sejumlah alasan untuk hancur hati atau sakit hati. Kemarahan, dendam, jengkel, emosi meledak-ledak, lepas kendali, pikiran panas, balas dendam, hilang ingatan, stress berat, adalah implikasi dari hancur hati karena “CINTA”. Ketika mereka yang tersakiti karena “CINTA” baik laki-laki maupun perempuan dapat mengontrol diri, maka mereka sudah dapat pasrah dan memiliki pemikiran ke depan untuk menerima kenyataan dan bergerak untuk secara perlahan melupakan gundah gulana dan sakit hati akibat pengkhianatan.

Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa mereka yang mengalami pengkhianatan (tersakiti) mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara dan salah satunya adalah “BUNUH DIRI”. Bunuh diri—dalam anggapan mereka—adalah sebuah langkah terakhir untuk membunuh rasa tersakiti dan hati yang hancur. Dengan kondisi mati, tentu tidak ada lagi rasa luka dalam hati. Ini sudah berakhir. Begitu kira-kira keputusan terakhirnya.

Bagi mereka yang tidak memilih jalan bunuh diri—dapat mengontrol diri—dan memandang bahwa masih ada harapan dan kehidupan di masa mendatang, adalah mereka yang masih dapat menahan diri dan memaksa untuk merangkul kepingan-kepingan rasa hati yang sakit dan hancur itu. Mereka berusaha untuk sabar, pasrah, dan berkomitmen. Itulah hiburan mereka.

Tersakiti karena “CINTA” bukanlah hal yang diinginkan oleh seseorang. Namun peristiwa tersebut dapat berpeluang terjadi bagi mereka yang sedang menjalin cinta, berpacaran, dan akan bertunangan. Faktanya ada yang berpacaran dengan seseorang tetapi akhirnya menikah dengan orang lain, padahal masih terasa segar suasana hati mereka dengan “CINTA” yang selama ini dipupuk dan dipetik untuk dibagikan satu sama lain.

Tapi sudahlah Pak Stenly. Anda tidak mengerti dan memahami hati mereka yang hancur dan tersakiti. Pak Stenly tidak perlu protes. Cukup mengerti saja apa yang mereka alami. Ya, memang saya tidak punya hak untuk protes. Memang saya tidak mengerti apa yang mereka alami. Akan tetapi, apa yang hendak saya paparkan dalam tulisan ini setidaknya mewakili atau menjawab kebutuhan, perasaan, suasana hati dari mereka yang hancur lebur karena “CINTA”.

Di balik “CINTA” ada banyak peristiwa terjadi. Di dalam “CINTA”, ada proses pendewasaan, proses pembacaan karakter dan sifat dari masing-masing pelaku pacaran, proses saling mengenal dan saling memahami, proses saling pengertian, proses menunjukkan kemampuan dan kelebihan diri, dan proses lainnya. Di luar “CINTA” ada pengkhianatan terjadi. “CINTA” yang dekat dan jauh melibatkan emosi dan perasaan untuk menuangkan rasa rindu di dalam gelas-gelar kebahagiaan agar dapat dinikmati bersama.

Namun, pada akhirnya “CINTA” yang sejati dan “CINTA” yang tulus adalah milik dari mereka yang berkomitmen, setia, dan saling melengkapi dari berbagai perbedaan yang ada. Kalau begitu, apa definisi “CINTA” menurut Pak Stenly? “CINTA” itu adalah: “Cukupkan Impianmu dan Naimkan Tujuan Akhirmu” [Naim berarti nikmat, nyaman, senang]. Itu jika didefinisikan berdasarkan huruf per huruf.

Jika ingin mendapatkan gambaran yang lebih soal “CINTA”, saya perlu menjelaskan sedikit di sini. Ada berbagai definisi “cinta” – semuanya bergantung pada apa yang pernah dialami oleh seseorang atau bagaimana seseorang itu menilai kisah cinta dari sesamanya. Biasanya, kita mendefinisikan cinta sebagai suatu perasaan [suka – sayang] terhadap seseorang dan disertai dengan ungkapan cinta, tindakan cinta dan perhatian cinta. Semuanya berawal dari suatu pertemuan tatap muka atau dengan cara yang lain, lalu kita menjadi tertarik, suka, senang, simpati, kagum dan terpesona dengannya.

Cinta adalah suatu ketertarikan yang kuat terhadap seseorang dengan latar belakang yang beragam – tergantung dari masing-masing orang yang merasakannya

Cinta adalah perasaan suka sesaat – jika tidak disertai dengan penyelidikan terhadap pribadi yang disukai – dan kemudian menjadi suatu perasaan yang kuat lalu menghasilkan cinta yang sejati

Cinta adalah bentuk pembuktian akan jati diri kita, dan kemampuan kita untuk mencintai seseorang meskipun belum sepenuhnya dibuktikan

Cinta adalah suatu tindakan amoral bagi orang yang terbiasa dengan tindakan amoral

Cinta adalah bentuk rasa penasaran terhadap seseorang ketika baru saja melihatnya lalu tiba-tiba menghilang

Cinta adalah bentuk pertanggungjawaban sikap seseorang kepada orang yang disukai; sebagai rasa kesetiaan dan kejujuran dalam membina suatu hubungan; sebagai suatu keputusan yang terburu-buru dalam menentukan pilihan seseorang – ini disebut dengan cinta prematur

Cinta adalah kekuatan perasaan untuk menyayangi dan mengasihi orang yang kita cintai dan berusaha untuk dapat dibuktikannya secara terus-menerus; sebagai tindakan keterpaksaan dikarenakan situasi dan kondisinya; sebagai suatu perasaan suka karena didasari pada hawa nafsu seks

Dalam cinta, penyesalan adalah bagian di dalamnya, atau bisa merupakan dampak dari sebuah cinta. Sakit hati, kecewa, cemburu, putus asa, marah, geram, menangis, tidak mau mengampuni adalah juga merupakan serangkaian dampak dari cinta. Jadi, memaknai cinta bergantung pada dampak yang dirasakan atau dialami oleh seseorang, terlepas dari dampak positif atau negatif – makna cinta bergantung padanya

Memang cinta menghadirkan berbagai kerumitan dan kesulitan tersendiri. Ada yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang ia kagumi, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Cinta itu unik. Cinta itu murni. Cinta itu sifatnya mengubah. Cinta itu sifatnya mencerdaskan. Berusahalah untuk tetap setia terhadap pilihan cinta kita – dan kita akan tahu kemudian, setelah melewati semua tantangan, apa artinya “cinta sejati”

Cinta yang pantas dinikmati adalah cinta yang “memberi”. Memberi sesuatu untuk cinta ada batasannya. Batasan itu adalah batasan moral, hukum dan kebenaran. Moral, berkenaan dengan aspek seksualitas yang semestinya; hukum, berkenaan aspek peraturan yang mengikatnya dan kebenaran adalah pengontrol semuanya apakah sudah sesuai dengan “tindakan yang benar” tanpa menyalahi aturan yang ada.

Pada prinsipnya, manusia memiliki cinta – terlepas dari murni tidaknya cinta itu. Cinta memang menghadirkan beragam makna, dampak dan tujuan akhir dan dengannya banyak kisah cinta yang menginspirasi banyak orang, banyak kisah yang membuat orang lain sedih, geram, marah, kecewa, memfitnah, membunuh, cemburu dan lain-lain. Begitu beragamnya cinta itu sehingga sulit bagi kita untuk dapat menilai dengan cermat apa yang ada di balik cinta itu. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak cinta yang putus di tengah jalan. Mencoba bertahan – tapi karena keegoisan dan kecemburuan, juga pengkhianatan cinta dan kesakithatian terhadapnya, membuat semua berakhir dengan berbagai situasi dan kondisi

Kita semestinya berbuat baik terhadap kekasih kita – menjaganya sebaik mungkin. Menjalaninya pun harus dengan penuh pemahaman yang matang tentang apa itu cinta, yang dengannya, setiap orang dapat memenangkan semua tantangan cinta ketika ia dan kekasihnya bertemu dalam suatu ikatan yang khusus.

Cinta perlu dimaknai sebagaimana ia harus dimaknai dengan makna yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut harus dinilai dari perspektif yang jujur dan setia. Memaknai cinta perlu bijaksana yang cukup, bahkan pula dibutuhkan suatu pengalaman berharga. Artinya, pengalaman bisa dijadikan pedoman untuk memaknai cinta itu dan selalu tidak mengulang kesalahan yang sama dan mengulang kebaikan yang sama. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam mempertahankan cinta – kemudian tindakan tersebut harus dilandasi dengan cinta dan kasih yang murni. Murni tidaknya bersumber dari hati dan pikiran kita masing-masing. Cara-cara untuk mendapatkan cinta juga bersumber dari hati dan pikiran kita. Tak banyak yang dapat dilakukan jika kita tidak mempunyai kemamuan yang tinggi untuk menggapai dan menggenggam cinta itu erat-erat

Setiap pasangan memiliki berbagai kenangan manis dan pahit. Keduanya berdiri berdampingan dengan cinta. Yang manis menjadikan kita bahagia; yang pahit menjadikan kita sakit hati, marah dan sedih.

Tak jadi soal, seberapa banyak kita mendapatkan kenangan yang manis dan berbuahkan kebahagiaan, tak jadi soal seberapa banyak kita mendapatkan kenangan pahit dan berbuahkan perpisahan, air mata, sakit hati dan kebencian – yang paling penting adalah: menjalani cinta dengan hati yang bersyukur dan merasa puas dengan apa yang ada, tetap setia pada pasangan kita dan menghargainya.

Mereka yang tersakiti oleh “CINTA” mungkin perlu menyediakan waktu untuk memaknai cinta. Memaknai cinta biasanya didasari pada pengalaman pribadi. Memaknai cinta, memungkinkan kita dapat berkiprah dalam cinta kasih yang murni, menghasilkan tingkat kesadaran dan penghargaan terhadap cinta itu sendiri, dan berdampak pada seberapa banyak kita memberi perhatian, menolong, menopang, mengasihi, mengampuni, mencari solusi, bersikap bijak hati, bertindak sesuai norma etis. Yakinlah, segala sesuatu dapat kita nikmati dalam terang kasih dan cinta Tuhan. Milikilah “CINTA” sejati dan saling mengasihi di antara kedua pasangan.

Semoga, mereka yang tersakiti karena cinta yang berdampak pada hancur hati dan sakit hati, dapat memberi diri untuk sabar dan pasrah serta memaknai kejadian pengkhianatan sebagai langkah awal memulai langkah baru menapaki “CINTA” yang sedang menunggu Anda di tempat pemberhentian “BUS CINTA” berikutnya.

Salam

Sumber Gambar: https://i.pinimg.com/originals/19/a7/4e/19a74e003c75c6c5822f559499f9d716.jpg

TRITUGAS ORANG KRISTEN

Menjadi Kristen tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai hal akan dialami, entah baik, entah buruk. Di satu sisi, menjadi Kristen adalah sebuah “gaya hidup kudus, mengasihi, mengampuni, peduli, dan berkorban bagi orang lain.” Ketika orang Kristen tidak menampakkan kelima hal tersebut, maka nilai kekristenannya tidaklah memenuhi syarat untuk menjadi pengikut Yesus Kristus yang sejati, sungguh-sungguh, dan setia. Dalam terapannya, kelima hal tersebut telah menjadi bagian dari salah satu dari tiga tugas orang Kristen, yang akan saya paparkan berikut ini.

Untuk melihat hal-hal substansial dalam hidup dan perilaku Kristen, saya mencatat ada tiga hal yang menjadi “TRITUGAS” orang Kristen. Tiga tugas tersebut adalah akumulasi dari semua inti iman Kristen. Berikut pemaparannya.

PENGERTIAN

Pengertian mencakup mengerti kehendak Tuhan, perintah, hukuman, dan larangan. Apa yang kita lakukan seyogianya berangkat dari pengertian yang benar tentang Tuhan dan kehendak-Nya. Tugas ini adalah tugas yang penting mengingat bahwa semua tindak-tanduk orang Kristen, berangkat dari pengertiannya tentang Tuhan dan kehendak, perintah, hukuman, dan larangan-Nya. Baik buruknya perilaku Kristen, bergantung pada pengertiannya. Pengertian berimplikasi pada dua hal yaitu meloloskan pengertian yang salah untuk melakukan dosa (memuaskan hawa nafsu), dan menjaga diri dari tindakan-tindakan salah (berlawanan dengan kehendak Tuhan).

PEMBACAAN (membaca)

Pembacaan mencakup pembacaan Kitab Suci, pembacaan diri (pribadi) Yesus Kristus, kesaksian orang-orang kudus, kehidupan orang lain, kehidupan diri sendiri, dan buku-buku pelajaran. Pembacaan Kitab Suci melatih kita untuk memahami firman-Nya dan menerapkan prinsip-prinsip di dalamnya, pada perjalanan kehidupan kita. Membaca pribadi Yesus Kristus berarti kita belajar dan mengikuti teladan ketaatan Yesus. Di samping itu, kita dapat belajar dari pengajaran-pengajaran Yesus tentang sikap hidup di hadapan Allah, dan sikap hidup di hadapan manusia yang selaras dengan kehendak Allah.

Membaca kesaksian orang-orang kudus memberi kita harapan dan kekuatan untuk berjalan bersama Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kudus. Kita belajar dari sikap hidup mereka, pengajaran dan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus. Sikap hidup belajar dari orang-orang kudus adalah hal yang sangat baik dan membangun iman kita. Kita mengikuti teladan mereka karena mereka telah mengikitu teladan Yesus Kristus dan setia kepada-Nya hingga akhir hayat mereka.

Membaca kehidupan orang lain juga perlu sebab dengannya kita dapat belajar memahami dan menerapkannya dalam kehidupan kita, entah sebagai proses pembelajaran, atau sebuah sikap kehati-hatian untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang orang lain lakukan. Kita dapat membuat demarkasi di sini. Orang lain adalah ladang pembentukan diri kita, selain dari pada usaha untuk membentuk diri sendiri.

Membaca kehidupan diri sendiri merupakan tanggung jawab setiap orang. Diri kita bisa secara mandiri melakukan segala sesuatu, atau bergantung pada orang lain ketika melakukan sesuatu. Diri sendiri perlu menyadari bahwa ada tangung jawab dan tugas yang menjadi “daya tarik” untuk maju dan mandiri. Kurang paham dengan tugas pribadi menjadikan kita pincang dan tak berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Tugas kita adalah menyadari diri dan tugas yang melekat pada diri kita.

Membaca buku-buku pelajaran adalah hal juga penting. Meski tidak semua orang suka membaca buku-buku tetapi ada manfaat yang luar biasa bagi mereka yang suka dan tertarik membaca buku. Kita bisa mengembangkan potensi pikiran, perilaku, dan komunikasi dengan membaca buku-buku pelajaran. Ada korelasi antara kemajuan berpikir, berkata, dan bertindak dengan kesukaan dan proses membaca buku-buku.

Pada konteks teologi, mereka yang tertarik dan serius membaca buku-buku teologi (tentang Allah dan manusia) akan memberi nilai tambah pengetahuan dan wawasan dalam memperlihatkan jati diri—yang tentunya harus sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Ada buku-buku yang sifatnya membangun iman dan mendorong penggunaan talenta dan potensi yang direalisasikan dalam sikap hidup sehari-hari.

Pembacaan akan kehidupan kita dan orang lain, Kitab Suci dan Yesus Kristus, memberikan keuntungan yang tiada taranya. Kita akan menikmati kebahagiaan yang diberikan Tuhan. Meski dunia seringkali menawarkan kebahagiaan, tetapi mereka yang paham tentang bagaimana membaca sesuatu, akan terhindar dari segala kenikmatan dan kebahagiaan yang dunia yang sifatnya menjerumuskan dan menjadikan kita berdosa di hadapan Tuhan.

PENGUNGKAPAN (realiasasi)

Pengungkapan mencakup kesaksian iman, hidup bersyukur, bertahan dalam pergumulan, bersukacita, hidup kudus, mengasihi, mengampuni, peduli, dan berkorban bagi orang lain. Pengungkapan adalah realisasi dari PENGERTIAN dan PEMBACAAN. Setiap orang yang beriman tak bisa tidak menampilkan imannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Tuhan. Dalam segala hal, kita harus bersyukur kepada Tuhan, baik suka maupun duka, ungkapan syukur tetap disuarakan kepada-Nya.

Pergumulan dalam hidup tentu ada dan mungkin akan menguji diri kita. Mereka yang percaya kepada-Nya akan bertahan dalam menghadapi pergumulan; mereka meyakini pula bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan menghadapinya. Jika Tuhan menguji kita, ia akan memberikan kekuatan dan keberanian untuk menghadapinya. Tuhan punya rencana tersendiri. Ia ingin kita hidup dalam ketekunan dan kepasrahan kepada-Nya dalam segala hal.

Bersukacita adalah sahabat dari bersyukur. Di dalam Tuhan adalah sukacita. Meskipun yang diinginkan tidak terjadi, tetaplah bersukacita.

Hidup kudus adalah upaya menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Yang Tuhan dikehendaki adalah umat-Nya hidup kudus, tidak melakukan dosa-dosa yang dibenci Tuhan, dan menjauhkan diri dari segala kejahatan dan kecemaran. Mengasihi adalah realisasi dari iman yang sesungguhnya. Tuhan telah mengasihi kita maka kita pun harus saling mengasihi.

Mengampuni adalah realisasi dari pengampunan Tuhan kepada kita, manusia yang berdosa. Tuhan telah mengampuni kita, maka kita pun harus saling mengampuni. Sikap peduli terhadap sesama dibarengi dengan sikap berkorban bagi orang lain. Tak ada kasih yang tanpa pengorbanan dan kepedulian. Jika kita peduli, maka kita telah menunjukkan kasih yang tulus dan murni. Itulah tugas yang kita terima dari Tuhan Yesus Kristus.

Melakukan Tritugas tentu ada tantangan. PENGERTIAN, PEMBACAAN, dan PENGUNGKAPAN harus menjadi “pakaian baru” yang dikenakan ke mana pun kita pergi. Hambatan dan tantangan akan selalu ada. Kita melihat bahwa dosa-dosa yang terjadi diakibatkan karena “mata [penglihatan] dan telinga [pendengaran]” kita tertuju pada kenikmatan dosa yang jelas-jelas bisa menjerumuskan dan membelenggu kita.

Kita perlu menguasai diri dari jeratan dosa-dosa. Lingkungan yang buruk bisa mempengaruhi kita; pengajaran-pengajaran sesat bisa menggoda kita untuk mengikutinya dan hidup kita dihantui rasa bersalah dan menjadi penyesat. Pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan baik kita.

AKHIRNYA…

Ketika menerapkan Tritugas (menjadikan nyata), kita membutuhkan Tuhan untuk menguatkan, menopang, dan memberkati, agar Tritugas tersebut dapat terealisasi secara baik. Tak ada perjuangan tanpa hambatan dan tantangan. Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana kita bersandar dan berhadap kepada Tuhan untuk dapat menyelesaikan sampai tuntas Tritugas tersebut, yang dengannya kita dapat menikmati dan merasakan sukacita dan kebahagiaan dari Tuhan—hati kita pun dihibur-Nya; iman kita pun dikuatkan; dan perbuatan-perbuatan kita dibalas-Nya dengan segala kebaikan.

Perjuangan untuk merealisasikan Tritugas bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan semangat dan keyakinan bahwa Tuhan yang memampukan kita mencapai apa yang Dia kehendaki. Dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Dia yang menguji kita, Dia juga yang menguatkan kita untuk menghadapinya. Oleh Dia kita sanggup melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya; dan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya, kita berikan kepada-Nya: memuliakan Dia dan menyenangkan hati-Nya.

Salam Bae.

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/p90szoOBYgk (Cassidy Dickens. @cassidykdickens [Graphic designer at Workshop])

P-21: JANGAN BERGABUNG DENGAN PARA PELETER DAN PEMFITNAH

Kehidupan di dunia mengisyaratkan banyak hal. Tatanan tentang krama dan norma-norma adalah bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan. Di samping itu, eksistensi kejahatan dalam berbagai bentuknya hadir di dalam kehidupan itu sendiri. Celakanya, mereka yang hidup dalam berbagai bentuk kejahatan malahan lebih giat mengumandangkan gelagat nista dan noda serta dosa-dosa yang tak disadari oleh mereka.

Perjuangan para pelaku kejahatan, baik melalui tindakan dan perkataan tampak bagaikan tumpukan sampah di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya di di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah gereja pun tumpukan manusia-manusia bejat dengan berbagai motif kejahatan “verbal” dan “gesta” pun makin eksis dan terpelihara dengan baik oleh “Sang Bapa Segala Dusta.” Berangkat dari persoalan ini, orang-orang yang lemah imannya yang matanya “menyala” ketika melihat uang dan tawaran uang dengan jumlah yang banyak, akan dengan mudah menjadi bagian dari manusia-manusia bejat yang berjubahkan spiritualisme—kompromistis.

Hal yang umum dilihat setiap hari adalah eksistensi para peleter dan pemfitnah. Mereka masuk dalam kelompok kejahatan verbal. Kelompok ini sering berbagi informasi atau menyatakan klaim yang “aneh” dan penuh keyakinan pada kebenaran diri sendiri. Maklum, namanya juga peleter dan pemfitnah; naturnya adalah menggiring opini dusta yang dirasa benar supaya para pengikutnya yang adalah “sapi-sapi rodi” bisa ikut meluapkan emosi, kemarahan, dan caci maki yang teratur rapi di hati, pikiran, dan di pintu mulut mereka.

Dari mereka kita dapat belajar bahwa begitu giatnya mereka mempublikasikan segala sesuatu yang bersifat fitnah, caci maki, dan bualan-bualan yang kurang lebih sama kotornya dengan kloset yang penuh kotoran. Dari mereka kita belajar bahwa pada suatu saat bencana akan berpihak kepada mereka. Dari mereka kita belajar bahwa apa yang ditabur orang, itu juga akan dituainya. Dari mereka kita belajar bahwa Iblis tak pernah diam untuk mengumpulkan para pengikutnya dari berbagai kalangan. Tak lupa, para pendeta pun ikut bermain di taman bunga Sang Iblis dan menghirup wangi semerbak bunga-bunga bangkai.

Bagi para pelaku kejahatan verbal, sesuatu yang busuk akan tercium wangi. Apalagi jika “uang yang berbicara”. Seperti sebuah slogan yang sudah lama terdengar: “tahi kucing rasa cokelat”—itulah yang tepat bagi mereka yang melakukan kejahatan verbal (leter dan fitnah)—kejahatan dirasakan manis sebab ada bahan pemanis buatan yang ampuh yakni “uang”. Uang ini bisa berbicara di telinga orang-orang durhaka, sombong rohani, dan orang-orang yang tidak beres rohaninya. Mereka akan dengan mudah mendengar bisikan sang penguasa: uang, yang menawarkan sejumlah kenikmatan duniawi, mulai kenikmatan seksual, kenikmatan makanan, kenikmatan minuman, kenikmatan benda-benda, dan kenikmatan janji-janji manis. Semuanya itu dapat dicicipi hanya jika seseorang mau tunduk kepada keinginan “Sang Pembayar”, sebab dialah yang punya uang. Dia bisa mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya.

Alkitab menjelaskan bahwa mereka yang memburu uang jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Seperti yang diamati oleh Rasul Paulus: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim. 6:10). Uang dapat mengubah pola pikir seseorang; uang dapat melemahkan iman; uang dapat menjadikan para pendeta menjadi munafik dan bermulut sampah. Sampah harus keluar dari mulut dan apa yang keluar dari mulut keluar dari hati. Hati yang penuh dengan kebusukan dan fitnah, akan keluar dan memperanakkan dua saudara kembar: “kebohongan dan kesombongan level 9.”

Kita akan terus berhadapan dengan kelompok jenis ini. Menghadapi para peleter dan pemfitnah yang berasal dari kelompok kejahatan verbal adalah sebagai berikut:

Pertama, jangan ingin bergaul dengan mereka. Ketika kita bergaul (bergabung) maka pengaruh buruk akan segera merampas akal sehat dalam pikiran kita. Hardik mereka. Kecam mereka. Penulis kitab Amsal menyuguhkan nasihat dengan berkata: “Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka. Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana” (Amsal 24:12). Mulut penuh leter dan fitnah adalah mulut yang selalu membicarakan bencana. Padahal, bencana yang akan menimpa mereka pada akhirnya.

Kedua, jangan terpengaruh dengan ocehan-ocehan sampah yang keluar dari mulut mereka. Suara mereka tercecer (terdengar) di mana-mana. Kebodohan mereka ditampilkan di muka umum. Tanpa malu sedikitpun sebab itulah perangai mereka yang sesungguhnya.

Ketiga, waspadai gerakan mereka. Karena rencana-rencana  jahat adalah “blue print” dari “mapping concept” mereka maka kewaspadaan perlu ditingkatkan. Kebaikan dan cinta kasih Tuhan perlu kita sebarkan setiap hari untuk memberikan pengaruh baik kepada orang lain di mana orang lain juga menjadi sasaran mereka untuk mempengaruhinya. Ingatlah tulisan Rasul Paulus: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:17, 21).

Keempat, doakan mereka. Biarkanlah Tuhan yang berperkara dengan mereka. Apa yang akan terjadi dengan kehidupan mereka adalah Hak Tuhan. Yesus menegaskan: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:44-45). Rasul Paulus menegaskan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya” (Roma 12:19-20)

Kelima, ampuni mereka jika mereka bertobat dan berubah [berbalik] (“metanoia”) ke arah yang lebih baik. Sebab Yesus Kristus telah mengampuni kita, maka kita pun harus mengampuni mereka yang bertobat dan kembali kepada Tuhan Yesus. Arahkanlah hati mereka kepada kehidupan yang kudus dan mulia. Ajarkanlah mereka tentang bagaimana hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Jika mereka tidak mau bertobat dan tetap mandi di kubangan kandang dosa leter dan fitnah, maka jangan sampai kita bergabung dengan mereka. Ini adalah “P-21”. Jangan bergaul dengan para peleter dan pemfitnah, jika demikian, engkau akan menjadi sama dengan mereka. Ingatlah pesan-pesan yang keras dari firman Tuhan berikut ini:

Pemfitnah tidak akan diam tetap di bumi; orang yang melakukan kekerasan akan diburu oleh malapetaka (Mazmur 140:12)   

Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib (Amsal 16:28)

Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran (Amsal 26:20)

Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah (Yeremia 9:4)

Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya (Roma 1:30-32)

Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama (1 Korintus 5:10)

Pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 6:10)

Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (2 Timotius 3:2-5)

Pergaulan di dunia ini sebenarnya tak bertuan dan bebas. Siapa saja bisa menjadi bagian di dalamnya. Hanya dibutuhkan hikmat untuk menilai dan mempertimbangkan segala baik dan buruknya pergaulan. Jangan bergaul dan bergabung dengan para peleter dan pemfitnah. “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Amsal 13:20). Para peleter dan pemfitnah yang sudah berulang kali ditegur dan tidak berubah, tinggalkanlah mereka. Seperti nasihat pemazmur:

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” (Mazmur 1:1-6).

Jadilah manusia-manusia Allah yang penuh kemurahan, kekudusan, kejujuran, kebaikan, keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kolose 3:12). Itulah yang berkenan kepada Allah, Bapa kita. Jadilah kawan sekerja Allah yang melakukan kehendak-Nya dan menjadi berkat, menjadi garam dan terang dunia dalam proses kehidupan ini.

Shalom

Catatan: tulisan ini dibuat pada tanggal 6 Januari 2018

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/757660337287152385/

INVOLMEN—DISIMILARITAS ANTARA ANJING KUDIS DENGAN ANJING PELIHARAAN: Analogikal—Klasifikasi Korelasional Dualisme Spesifik Identitas

Anjing kudis dan anjing peliharaan, sama-sama memiliki tuan. Bedanya, anjing peliharaan diberi makan dan diobati, sedangkan anjing kudis, diberi makan tapi tidak diobati” (S.R. Paparang, ‘LAKONISME’)

PENDAHULUAN

Sebelum saya menjelaskan tentang anjing dalam pandangan Alkitab, terlebih dahulu saya memberikan sebuah fakta dalam bentuk analogi atau perumpamaan yang bisa dipahami sebagai sesuatu yang faktual dan mewakili situasi dan kondisi di sekitar kita. Analogi yang saya jelaskan memiliki diksi yang keras tetapi diksi tersebut merupakan sebuah data yang diamati.

Anjing kudis diidentikan dengan seorang yang berkarakter buruk, dan diperalat oleh ‘tuannya’. Anjing peliharaan adalah anjing kesayangan tuannya. Anjing jenis ini adalah anjing yang dipelihara dan diberi makan. Tidak hanya itu, ketika anjing tersebut sakit dan terluka, ia pun diobati. Ketika seseorang melakukan kesalahan, ada nasihat yang diberikan oleh tuannya untuk memperbaiki karakter dan moralnya. Namun, lain halnya dengan anjing kudis. Ketika seseorang yang berkarakter buruk diperalat oleh tuannya, maka tuannya hanya memberi makan (membayar), tetapi tidak berpotensi untuk mengubah karakter dan moralitasnya yang buruk. Itulah anjing kudis.

Orang yang karakternya pemfitnah, suka merendahkan dan menghina orang lain, merepresentasikan anjing kudis. Tuannya yang memakainya sebagai alat buruan, hanyalah menggunakan tenaganya dan dibayar, tetapi tidak mengobati kudisnya, karena sang tuan berpikir: “Setelah anjing kudis ini melaksanakan apa yang saya inginkan, dan kemudian dia mati, maka biaya kematiannya tidak sebanding dengan biaya pembayaran tenaganya ketika masih hidup.”

Alkitab memberikan gambaran menarik tentang anjing. Penekanan yang dijelaskan Alkitab tentang anjing terkait dengan moralitas seseorang dan sering dikaitkan dengan “perendahan” martabat manusia. Dalam konteks sekarang, term ‘anjing’ adalah diksi yang digunakan oleh seseorang untuk menjelaskan identitas moralitas orang lain, sehingga dengan mengatakan ‘anjing’ kepada orang lain—tergantung konteksnya—akan memiliki indikasi perendahan atau dalam pengertian lainnya.

IDENTITAS ANJING KUDIS

Dalam konteks tafsir Analogikal—Klasifikasi, ‘anjing kudis’ dan ‘anjing peliharaan’, memiliki involmen (persangkutan, keterlibatan) sekaligus disimilaritas. Sandi diksi ini berangkat dari pemahaman seseorang bahwa relasi atau hubungan antara pemimpin dan para pengikutnya digambarkan seperti ‘tuan’ dan ‘anjing’ dan bermuara pada kondisi: anjing peliharaan dan anjing kudis. Anjing kudis adalah seseorang yang tingkah lakunya mencerminkan kudis yang ada pada tubuhnya. Mulutnya penuh sumpah serapah, penuh sampah atau kotoran alias caci maki, dan senang merendahkan orang lain. Anjing kudis tersebut memiliki tuan yang selalu dan rela membayarnya asalkan dirinya dipuji-dipuji dan orang lain direndahkan (maksudnya orang lain yang adalah musuh bersama).

Model relasi kepemimpinan bernatur “tuan” dan “anjing kudis” adalah gambaran bahwa tuan dan anjingnya memiliki karakter yang sama sehingga tidak ada keinginan untuk saling mengubah. Malahan, anjing kudis tetap dibiarkan berkudis yang penting diberi makanan lezat; sang tuan pemiliki anjing kudis ini, tak mau mengobati kudis-kudis, karena memiliki karakter yang sama. Anjing kudis yang menggongong akan disenangi tuannya, dan selalu diberi makan. Tuannya tak peduli seberapa parah kudisnya. Anjing peliharaan yang menggongong tetap disayang tuannya karena tuannya tahu bahwa ia sedang menjaga dirinya. Anjing kudis yang kebanyakan menggonggong, akan dilempar batu. Anjing peliharaan yang berbadan indah akan dipuji walaupun ia menggonggong.  Anjing peliharaan yang menggonggong, akan didiamkan oleh tuannya tetapi tidak dilempari batu.

Kehidupan yang kita lihat dan jalani sekarang ini, memiliki gambaran yang sama dengan dua jenis anjing di atas. Involmen dan disimilaritas kedua anjing menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki tuan. Ada tuan yang baik, ada tuan yang jahat, ada tuan yang suka memperalat dan memberi makan tanpa peduli dengan kesehatan anjingnya; ada tuan yang pura-pura baik tetapi pada akhirnya mencelakakan anjingnya. Tuan dan anjing kudisnya selalu berkoar-koar merendahkan orang lain dengan maksud menghina dan menganggap remeh. Gelar anjing kudis berjalan ke sana kemari untuk mempertontonkan—meski ia sendiri tidak bermaksud mempertontonkannya—tubuhnya yang penuh kudis. Anjing kudis tidak dapat menyembunyikan kudisnya karena ia sendiri tak mampu mengobatinya. Tuannya hanya memberinya makan, tanpa mengobati.

Anjing peliharaan selalu diperhatikan, dielus, dan diberi makan. Jika ia terluka, segera tuannya mengobatinya, karena tuannya tahu bahwa anjing tersebut telah banyak berbuat hal baik kepada tuannya. Tuan pemilik anjing kudis tahu bahwa memang anjingnya berkudis. Maka dari itu, sang tuan hanyalah memberinya makan, tetapi kudisnya dibiarkan melekat pada tubuhnya sampai ia yakin bahwa anjing kudis akan mati dengan sendirinya karena penyakit kudisan.

Moralitas anjing kudis digambarkan seperti kekotoran dan kenajisan duniawi yang melekat pada dirinya. Yang bangga kepada anjing kudis adalah mereka yang sama-sama memiliki kudis. Mereka saling mendukung dan mendoakan supaya tetap diberkati oleh sang tuan, yang sanggup membayar. Mereka tak mendoakan perubahan moralitas karena hal itu sama saja membunuh diri mereka secara perlahan.

IDENTITAS KRISTEN DAN PANDANGAN ALKITAB TENTANG ‘ANJING’

Identitas Kristen tidak hanya terlihat dari tindakan positif, tetapi juga dari tindakan negatif. Hal itu mewarnai pola pergaulan dan kehidupan manusia pada umumnya. Dari aspek Kristen, tingkah laku negatif merupakan pelanggaran terhadap perintah dan ajaran Alkitab atau bentuk perlawanan manusia terhadap Tuhan. Jika demikian halnya, maka tak salah, jika Alkitab memberikan suatu penekanan penting bagi penyebutan “anjing” kepada orang-orang yang telah melalukan pelanggaran moral – etis, harkat dan martabat.

Dalam Alkitab, anjing mendapat perhatian berkenaan dengan status martabat dan identitas manusia. Di berbagai budaya, mengucapkan kepada orang lain sebagai “anjing” sama dengan merendahkan martabatnya sebagai orang bernilai dan berharkat. Setiap perkataan yang menggunakan nama binatang tersebut, didasari pada “fakta” ataupun hanya sekadar “luapan emosi” seseorang karena ia sakit hati, iri hati, kecewa, marah, dendam, tidak senang, dongkol, geram dan murka.

Berikut adalah teks-teks yang menyangkut kedua binatang tersebut.

Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perem-puan cantik yang tidak susila (Ams. 11:22).

Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu (Mat. 7:6).

Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat. Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan…. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” (2 Ptr. 2:17-22).

Lalu sangat marahlah Abner karena perkataan Isyboset itu, katanya: Kepala anjing dari Yehudakah aku? …. (2 Sam. 3:8).

Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menye-berang dan memenggal kepalanya” (2 Sam. 16:9).

…. Sesudah itu berkatalah Hazael: “Tetapi apakah hambamu ini, yang tidak lain dari anjing saja, sehingga ia dapat melakukan hal sehebat itu?” Jawab Elisa: “TUHAN telah memperlihatkan kepadaku, bahwa engkau akan menjadi raja atas Aram” (2 Raj. 8:12-13).

Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku…. Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing (Mzm. 22:16-20)

Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya (Ams. 26:11)

Seperti anjing hutan di tengah-tengah reruntuhan, begitulah nabi-nabimu, hai Israel! (Yeh. 13:4)

Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu (Mat. 7:6)

Sebab pengawal-pengawal umat-Ku adalah orang-orang buta, mereka semua tidak tahu apa-apa; mereka semua adalah anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak; mereka berbaring melamun dan suka tidur saja; anjing-anjing pelahap, yang tidak tahu kenyang…. (Yes. 56:10-11)

Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah (Flp. 3:2-3)

Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah ber-hala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar (Why. 22:15)

Sama seperti yang diungkapkan Rasul Petrus: “Anjing kembali ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” – yang dapat dipahami dari aspek moral, harkat (derajat, mutu) dan martabat dengan penekanan pada tindakan etis – relasional seseorang sebagai identitasnya yang melekat.

Harkat dan martabat manusia menjadi merosot jika ambisi pribadi menguasai pikiran dan hidupnya dengan menghalalkan segala cara. Tuan pemilik anjing kudis mempunyai agenda-agenda tersembunyi yang tidak diketahui oleh anjing kudisnya. Tindakan kita menunjukkan identitas kita.

Berikut ini adalah deskripsi tentang anjing:

Anjing, umumnya di daerah Timur Tengah, pada dasarnya adalah binatang pemakan bangkai; dan kendati anjing sangat berguna untuk menghabiskan hidangan yang terbuang, pada kodratnya memang anjing adalah kotor dan merupakan pembawa penyakit, justru tak dapat dijamah tanpa yang menjamahnya menjadi najis. “Anjing-anjing” dalam Filipi 3:2 ialah orang-orang yang bermaksud men-Yahudi-kan, yang menyelusup masuk dan mengganggu kesejahteraan Gereja; ‘anjing-anjing’ yang dikucilkan dari Yerusalem Baru dalam Wahyu 22:15, ialah orang-orang yang hidupnya najis (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I: A – L, [Jakarta: YKBK, 2011], 54).

Menurut Herbert Haag, di Israel anjing sudah dikenal sejak kuno sebagai binatang berburu dan binatang piaraan di rumah. Anjing yang tidak bertuan, yang berkeliaran dan makan bangkai busuk (Mzm. 68:24) dipandang najis (Kel. 22:30) dan membahayakan (Ams. 26:17; Kel. 11:7). Anjing menjadi kata maki (1 Sam. 17:43; 2 Sam. 3:8; Yes. 56:10-11 dan lain-lain). Anjing menjadi ungkapan bagi seorang laki-laki homoseks (Ul. 23:19; Why. 22:15). Anjing menjadi ungkapan bagi sampah masyarakat (Ams. 26:11; 2 Ptr. 2:22). Di dalam PB setiap orang yang tidak pantas disamakan dengan anjing (Mat. 7:6). Paulus memanggil orang-orang Yudais dengan sebutan itu (Flp. 3:2), sebab mereka mengacaukan umat. Matius 15:26 membandingkan hak-hak anak dengan hak-hak anjing (Herbert Haag, Kamus Alkitab dalam Software SABDA4 versi elektronik).

Anjing adalah binatang yang dibenci oleh orang Yahudi (2 Sam. 3:8). Anjing adalah binatang yang najis (Luk. 16:21; 2 Ptr. 2:22). Galak apabila terluka (Ams. 26:17). Anjing melukiskan orang kafir (Mat. 15:22, 26), pelayan-pelayan Tuhan yang loba (Yes. 56:11), orang bodoh (Ams. 26:11), orang yang murtad (2 Ptr. 2:22), para penganiaya (Mzm. 22:17, 21), orang berdosa yang keras kepala (Mat. 7:6; Why. 22:15), guru-guru palsu (Flp. 3:2), (bisu) pelayan-pelayan Tuhan yang tidak setia (Yes. 56:10), (mati) kehinaan (1 Sam. 24:15; 2 Sam. 9:8). Anjing juga sebagai lambang atau metafora dari musuh-musuh umat Allah. Anjing biasanya galak dan hidup dengan mengorek-ngorek sampah. Orang Yahudi sering menerapkan kiasan ini untuk non Yahudi. Paulus menerapkan ungkapan ini untuk orang Yahudi yang telah menjadi Kristen tapi merusak Injil dan gereja, dengan menuntut semua orang Kristen non Yahudi harus “diyahudikan” (Mzm. 22:16, 20; Ams. 26:11; Mat. 7:6; Flp. 3:2; 2 Ptr. 2:22; Why. 22:15). Anjing juga adalah semacam ungkapan penghinaan bila diterapkan kepada orang lain, tapi menyatakan kerendahhatian bila diterapkan kepada diri sendiri (1 Sam. 17:43; 24:14; 2 Sam. 3:8; 9:8; 16:9; 2 Raj. 8:13; Mat. 15:27; Mrk. 7:28, dll.) (Software SABDA4 versi elektronik).

Di kalangan orang Yahudi anjing dikenal sebagai pemakan bangkai. Anjing disebut dalam perum-pamaan Yesus untuk menandaskan penderitaan Lazarus si pengemis itu (Luk. 16:21). Karena pemakan bangkai, maka anjing termasuk najis, dan orang-orang bukan Yahudi disebut anjing-anjing sebagai ungkapan kejijikan. Namun demikian, anjing-anjing kecil sering kali dibiarkan di dalam rumah sebagai kawan bermain anak-anak (implikasi Mrk. 7:28). Dalam Filipi 3:2, Paulus memaki orang-orang Yahudi, atau mungkin orang-orang Yahudi Kristen yang menentangnya, karena mereka menolak orang-orang bukan Yahudi. Para penentangnya seperti anjing-anjing ganas yang sedang mencari mangsa di sekitar jemaat Kristen untuk menarik kembali orang-orang bukan Yahudi yang telah bertobat (W. R. F. Browning, Kamus Alkitab dalam Software SABDA4 versi elektronik).

Sahabat dari anjing adalah babi. Babi kurang lebih memiliki gambaran yang hampir sama dengan anjing sebagainya yang dituliskan oleh Rasul Petrus: “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” (2 Ptr. 2:22). Baik anjing maupun babi, keduanya merupakan gambaran tentang rendahnya dan rusaknya moral – etis, harkat dan martabat manusia, gambaran dari perilaku yang menyimpang dari hukum-hukum TUHAN, karena manusia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah TUHAN tetapkan untuk dijalankan oleh manusia.

MENGHARDIK ANJING DAN BABI

Kita tidak hanya melihat gambaran dari anjing (dan babi) yang diterapkan kepada manusia yang melawan Tuhan dan sebagainya, melainkan kita juga diperlihatkan dengan sebuah “kata kerja” bagi kasus pelanggaran moral – etis, harkat dan martabat manusia. Kita harus menyeimbangkan aspek-aspek penting dalam Alkitab. Meskipun kita tahu bahwa “kasih itu tidak pemarah”, tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita tidak boleh marah atau pun menghardik orang-orang yang telah melakukan dosa. Tuhan Yesus marah ketika orang-orang mempergunakan Bait Allah sebagai lahan bisnis. Ini marah kudus. Kita harus marah yang ada dasarnya. Kalau orang Kristen selalu loyo dan selalu mengandalkan kesabaran, tanpa melihat aspek “ketegasan” sebuah prinsip Alkitab, maka hal tersebut menjadi tidak seimbang.

Kita harus menghardik “anjing dan babi” di kalangan orang Kristen yang dengan entengnya menganggap bahwa penghinaan, penipuan, perzinaan rohani adalah tindakan yang benar. Orang Kristen yang berperilaku buruk, suka menjilat kepada orang kaya, pemfitnah, sombong, angkuh, pendengki, pemecah belah, tidak tahu sopan santun, suka melawan orangtua, adalah ciri-ciri dari orang Kristen seperti babi dan anjing.

Dalam Alkitab, kedua binatang ini diidentikan dengan perilaku-perilaku di atas. Meskipun terkesan kasar dan keras, tapi orang Kristen yang demikian justru tidak baik jika tidak dihardik – di sisi lain, kita perlu menegur dan memberikan arahan; dan jika sudah keterlaluan dan merugikan banyak orang, maka hardiklah ANJING DAN BABI dari kumpulan Kristen, sebab ketegasan diperlukan bukan diabaikan. Ketegasan akan menurunkan kesombongan dan menurunkan hati orang yang tinggi hatinya.

Dalam Alkitab ada dua kata kerja berkenaan dengan sikap yang dilakukan terhadap orang lain yang telah berbuat salah atau semacamnya yakni: menegur (tegur) dan menghardik (hardik). Kata “tegur” sifatnya agak halus (tetapi juga sesuai dengan konteksnya). Teguran diartikan sebagai ucapan untuk mengajak bercakap-cakap (bertanya dsb.); menyapa; mencela; mengkritik; memperingatkan; menasihatkan. Kata “hardik” (kata benda; [menghardik, kata kerja]) merupakan kata yang keras.

Alkitab memeritahkan kita untuk menegur mereka yang hidupnya tidak benar di hadapan Tuhan. Bahkan TUHAN sendiri juga menghardik orang-orang berdosa:

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktu-nya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Tim. 4:2)

Kesaksian itu benar. Karena itu tegurlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran (Tit. 1:13-14)

Engkau menghardik orang-orang yang kurang ajar, terkutuklah orang yang menyimpang dari perintah-perintah-Mu (Mzm. 119:21)

Tugas utama kita adalah menyatakan kebenaran Tuhan. Tetapi, di sisi lain, jika ada orang Kristen yang hidupnya tidak beres, sombong, angkuh, meremehkan sesamanya, kita harus menegur dan menghardik mereka sesuai dengan prinsip Alkitab.

MENEMPATKAN DIRI BERDASARKAN KEYAKINAN DIRI

Pada prinsipnya, orang-orang yang tindak tanduknya seperti babi dan anjing, mendasari keyakinannya pada dirinya sendiri. Ia tidak mau diatur, pikirannya buntu dan tidak mau menerima masukan. Setiap masukan yang diberikan, dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap prinsip hidupnya. Ini ibarat melempar mutiara kepada babi (lih. Mat. 7:6). Babi tidak akan pernah menghargai mutiara, berapa pun atau semahal apa pun harga mutiara tersebut, tetap itu tidak berharga di mata babi. Babi hanya butuh “kotoran” atau “ampas [sisa-sisa makanan] untuk mengisi perutnya. Tak ada gunanya memberikan nasihat kepada orang yang selalu melakukan kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Ia sudah keras kepala seperti batu. Tidak ada gunanya memberikan nasihat kepada orang yang hatinya sudah memiliki niat jahat untuk menjatuhkan orang lain. ANJING juga demikian: ia kembali memakan muntahnya—kembali memakan perkataan kotornya sendiri tanpa menyadari identitasnya. Ketika identitas ‘anjing’ dilekatkan pada mereka yang mengenakan jubah kebesaran lalu mencintai kebohongan, intimidasi, dan melakukan masturbasi teologi dan rohani, maka murka Tuhan ada atas mereka.

Mereka yang “sakit hati” terhadap keberhasilan seseorang, terhadap mereka yang telah berhasil mempengaruhi orang lain dengan teladan iman dan moralitas, maka mereka akan berjang mati-matian untuk menjatuhkan dengan cara “MEMFITNAH”. Hati menjadi penentu baik tidaknya seseorang. Jika seseorang sakit hati, maka ia dapat melakukan hal-hal di luar dugaan kita. Ia akan melakukan hal-hal yang tidak etis lagi, merendahkan martabat orang lain demi mencapai tujuannya yang penuh ambisi itu. Dengan demikian, maka orang tersebut perlu dihardik. Jika tidak, ia akan terus melalukan dosa dan pelanggaran etis lainnya dalam seluruh aspek etis – relasionalnya.

Orang yang menempatkan dirinya pada kebenaran akan dicap sebagai orang benar, dan orang yang menempatkan dirinya pada kelompok pencaci maki, akan dicap sebagai anjing kudis yang memiliki luka-luka pada tubuhnya. Kadang, anjing kudis suka menggonggong dan merasa paling keras suaranya. Tetapi ingatlah, anjing kudis akan mati dengan kudisnya yang semakin merambat ke seluruh tubuhnya. Ia akan tersiksa dengan kudis yang menjadi penyakit moral dan tak bisa dikendalikan. Sang tuan hanya memberi makan, tanpa mengobati karena ia hanya diperalat untuk menggonggong sesuai perintah tuannya dan bahkan menggonggong di luar prosedur yang telah ditetapkan.

Anjing peliharaan diberi makan dan dirawat dengan baik. Ia menjaga tuannya dengan baik dan terus mendapatkan asupan gizi yang terbaik. Tuannya senang ketika anjingnya sehat dan setia kepadanya. Dengan demikian, klasifikasi korelasional kehidupan manusia dibagi menjadi dua dua kategori: anjing peliharaan dan anjing kudis – di mana kedua anjing tersebut dapat hidup berdampingan bahkan berelasi tetapi memiliki jurang pemisah karena keduanya tidak harus hidup bersamaan; akan ada penyakit dan virus yang dapat ditularkan oleh anjing kudis kepada anjing sehat. Itu sebabnya, dosa tidak bisa hidup berdampingan dengan kebenaran. Mereka yang mencintai kebenaran, tidak dapat mencintai dosa secara bersamaan.

Usirlah anjing kudis dari kehidupan kita. Usirlah dosa dalam kehidupan kita. Rawatlah kebenaran. Berikan asupan gizin bagi diri kita sendiri untuk memelihara kebenaran Tuhan selama kita hidup. Antara orang baik dan orang jahat, keduanya mencerminkan dualisme spesifik orang Kristen.

PENUTUP

Karakter dan aplikasi iman seseorang terlihat dari apa yang ia lakukan. Keseharian kita, atau apa yang kita kerjakan, bicarakan, pikirkan, dan publikasikan, secara mendasar merefleksikan siapa diri kita. Ketika “caci maki”, “ancaman”, “fitnah” yang dikumandangkan setiap hari, kita pasti dapat menilai siapa orang itu. Anjing kudis adalah anjing yang menunjukkan bahwa dirinya gatal—yang ketika dilekatkan pada seseorang, terlihat dari apa yang dikerjakannya setiap hari yaitu: “MENGGARUK KUDISNYA” diibaratkan dengan orang yang setiap hari hanya menunjukkan eksistensinya melalui kudis di tubuhnya.

Anjing peliharaan diberi makan oleh tuannya dengan makanan bergizi, sedangkan anjing kudis mendapat makanan dari dua jenis tuan: tuan yang memperalatnya, dan tuan kondisional, di mana anjing kudis tersebut mendapat makanan di pinggir jalan dan di tempat-tempat strategis (yang tanpa dia duga sebelumnya). Anjing kudis yang diperalat akan mati dengan kudisnya, tidak diobati, meski diberi makan seadanya, asal hidup dan mengganggu orang lain. Anjing peliharaan diberi makan, dijaga tuannya, menjaga tuannya, dan menyenangkan orang lain.

Sudahkah kita mencerminkan diri kita sendiri? Ingatlah pepatah tua: “KETIKA KARAKTER SESEORANG TIDAK JELAS BAGI ANDA, LIHATLAH SAHABATNYA”. Siapa teman kita, menunjukkan siapa diri kita. Bersahabatlah dengan mereka yang baik dan berbudi luhur. Jauhilah mereka—dan jangan bersahabat dengan mereka yang berkarakter buruk, pemfitnah, pencaci, penipu, cinta uang, haus kekuasaan. Mereka hanya merusak karakter kita. Belajarlah dari Yesus Kristus. Ia diteladani karena pengajarannya dan karya-karyanya.

Kita harus belajar dari mereka yang mengajar hal-hal baik, tanpa menjatuhkan orang lain; melakukan hal-hal yang luhur tanpa memfitnah orang lain. Kita harus belajar dari mereka yang telah MENGHASILKAN KARYA-KARYA yang luar biasa. Jangan ikut mereka yang hanya bemodalkan gagasan bernuansa hipokrit; jangan ikut dan belajar dari mereka yang berjiwa preman (free man: manusia yang bebas [melakukan sesuatu sesuka hati]); jangan ikut dan belajar dari mereka yang hidupnya luntang lantung yang tidak punya prinsip.

Belajarlah dari mereka yang telah membentuk karaktermu menjadi karakter yang mulia. Belajar dari mereka yang pemfitnah menjadikan seseorang seperti anjing kudis. Mari, kita melihat diri kita, sejauh mana kita telah belajar dan meneladani orang lain; sejauh mana kita telah berkontribusi bagi pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.

Dualisme spesifik Kristen: orang baik, bermoral, dan orang buruk, brutal, penfitnah, akan terus menunjukkan eksistensinya di dunia persilatan ini. Yakinkan diri Anda berada pada posisi sebagai orang baik dan bermoral. Tolak semua kemunafikan dan tawaran uang yang bertujuan mengelabui iman Anda.

Mereka yang tidak mampu mempengaruhi Anda dengan karakter dan teladan, akan menggunakan uang untuk mempengaruhi Anda. Ketika Anda tidak terpengaruh dengan uang yang ditawarkan, maka mereka akan menggunakan intimidasi (ancaman). Ketika ancaman tidak berpengaruh, maka mereka akan menggunakan FITNAH. Berhati-hatilah. Andalkan Tuhan senantiasa.

Tuhan memberkati kita semua

Beberapa paragraf dan parafrase dari tulisan ini, dikutip dari Stenly R. Paparang, “MARTABAK VERSUS MARTABAT: IDENTITAS KRISTEN DALAM TINDAKAN ETIS – RELASIONAL”

Sumber Gambar: https://www.onegreenplanet.org/news/puppy-with-mange-rescued/

LEBIH BESAR MULUTNYA KETIMBANG OTAKNYA: Fenomena Peleter dan Pemfitnah

Secara faktual, dunia tak mungkin tanpa peleter dan pemfitnah. Namun, eksistensi para peleter dan pemfitnah perlu diwaspadai dan jangan sampai kita terjerumus ke dalam jebakan mereka. Dalam berbagai bidang kehidupan hampir dapat dipastikan bahwa eksistensi para peleter dan pemfitnah ada di sana. Mereka adalah bagian dari eksistensi kebenaran dan keadilan. Berbarengannya kebenaran—keadilan dengan leter—fitnah menghadirkan konsistensi dan inkonsistensi faktual yang merasuk ke dalam karakter, identitas, dan status seseorang atau sebuah kelompok.

Pada kelompok peleter dan pemfitnah, tampak bahwa orang-orang yang menjadi bagian dalam kandang leter dan fitnah adalah mereka yang memiliki mulut besar ketimbang otaknya. Mulut (baca: perkataan/ucapan) mereka tercecer di mana-mana. Tidak jelas apa yang dibicarakan. Tidak jelas pula kerohanian mereka seperti apa. Mayoritas orang menilai bahwa mereka ini sebenarnya sakit jiwa dan rohani. Jiwa mereka suka memberontak dan mencari-cari perkara yang sebenarnya tidak esensial untuk dibahas. Kelompok peleter dan pemfitnah adalah mereka yang cakap dalam segala hal, sampai-sampai kebenaran dan kebijaksanaan sulit untuk mendekat dan menginap dalam otak mereka.

Pada kelompok peleter dan pemfitnah, berhamburan semua caci maki, identitas paslu, kepalsuan-kepalsuan ayat-ayat suci Alkitab, dan kemunafikan berbalutkan teks-teks biblika yang sering dikutipnya. Kelompok ini hidup dan berkembang karena diberi makan oleh “Sang Gladiator” yang kurang lebih sama: mulutnya juga besar tetapi otaknya kecil. Modal demi modal dikucurkan untuk mempublikasikan mulut besar mereka. Semakin berkoar-koar, maka semakin lebarlah mulut mereka. Apa yang keluar dari mulut besar tersebut adalah representasi dari isi hati dan pikiran yang penuh fitnah dan caci maki. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang suci dan benar menurut aturan main mereka sendiri. Dengan membonceng gagasan yang dianggap alkitabiah, mereka menggunakan toa di segala tempat. Rayuan demi rayuan dikumandangan. Tak jarang, mereka yang otaknya kecil dan imannya lemah ikut terbuai dan menjadi pengikut mereka.

Pada kelompok kebenaran dan keadilan, tampak bahwa orang-orang yang menjadi bagian dalamnya adalah mereka yang memiliki kebijaksanaan yang selaras dengan isi pikirannya. Mulut (baca: perkataan/ucapan) mereka menjadi berkat di mana-mana. Apa yang dibicarakan secara jelas menunjuk pada substansi kehidupan, kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab hidup di hadapan Tuhan. Kerohanian mereka sangat jelas. Mereka dapat jadi teladan dan panutan dalam segala hal. Mulut mereka penuh doa dan berkat. Mereka selalu memikirkan bagaimana hidup ini dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Kelompok kebenaran dan keadilan hidup berdampingan dengan kelompok peleter dan pemfitnah. Keduanya saling menunjukkan eksistensinya masing-masing. Yang satu mengandalkan mulutnya yang besar, dan yang satu mengandalkan otaknya yang cerdas dan bijaksana. Sama-sama memiliki pengikut, dan sama-sama makan dari hasil pekerjaannya masing-masing. Lalu apa bedanya? Bedanya adalah pada kelompok peleter dan pemfitnah menjadi bangga ketika mulut mereka tercecer kemana-mana. Mulut mereka dan kloset kurang lebih hampir sama. Kebanggaan mereka didukung oleh orang-orang bodoh yang secara substansi hanya mengandalkan “keramaian beropini”, yang penting saku (kantong) terisi dengan uang jaminan. Bagi mereka, diri atau pemimpin mereka yang patut ditinggikan dan disanjung sampai di langit bawah tanah. Sedangkan kelompok kebenaran dan keadilan tidak membanggakan apa-apa dari kebaikan yang mereka taburkan. Bagi mereka, biarlah Tuhan yang perlu ditinggikan dan dimuliakan, dan bukan diri mereka atau kebaikan mereka.

Kelompok peleter dan pemfitnah sering menampilkan gagasan fitnah bercampur “obat bius” bagi para pendengarnya. Mereka yang terbius adalah mereka yang hanya berbaju seadanya, tanpa rompi anti peluru. Ketika pencobaan datang, kelompok peleter dan pemfitnah kembali menggunakan leter dan fitnah untuk menjatuhkan satu sama lain. Karena hanya itulah keunggulan mereka yang patut dibanggakan di kolong brankas “Sang Gladiator”. Tak ada yang dikuatirkan dari kelompok jenis ini. Tunggulah saat di mana Tuhan berperkara dengan mereka. Tuhan tak bisa dibendung dengan leteran atau fitnahan. Arus leter dan fitnah tak akan mampu membendung kuatnya kuasa Sang Khalik. Sang Gladiator pasti akan tersungkur tersipu malu dan mengakui kebesaran, kehebatan, dan kekuasaan Sang Khalik. Apa yang ditaburkan oleh Sang Gladiator dan para pengikutnya yang menyandang status para peleter dan pemfitnah, akan dituai secara perlahan, kalau tidak secara cepat.

Tuhan itu Mahaadil dan Mahabenar. Ia tahu eksistensi para peleter dan pemfitnah yang meresakan masyarakat gereja. Di mana-mana mereka menancapkan bibit-bibit fitnah yang berpeluang menimbulkan gesekan dan konflik internal. Tak lupa pula, mereka meninggalkan uang jaminan untuk membeli pupuk kandang agar persekutuan mereka menjadi semakin tumbuh subur di tanah sengketa. Namun, perlu diingat bahwa ada pula yang memanfaatkan kesempatan ini. Dari pada tidak mendapatkan apa-apa, lebih baik mengikuti kemauan Sang Gladiator, apalagi dia dapat menjamin segala sesuatu. Apalagi menjamin untuk dibuatkan warung serba ada, atau pusat pertokoan yang menjual alat-alat perang untuk memperkokoh benteng pertahanan leteran dan fitnahan. Eksistensi mereka harus dipertahankan agar uang jaminan terus mengalir. “Pergunakanlah kesempatan dari Iblis ini karena uang jaminan cukup lumayan untuk menghidupi ‘sapi-sapi’ yang tenaganya siap pakai.”

Ketika Sang Khalik turun tangan, mungkinkah mereka angkat tangan? Bisa ya, bisa tidak. Ya, bagi mereka yang sadar akan dosa leter dan fitnah. Pertobatan di depan mata dan mereka yang siap mengendalikan hati dan pikiran mereka untuk bergerak maju memasuki mahligai kebenaran dan keadilan, akan disambut dengan kemegahan dan kemuliaan Sang Khalik. Mereka akan dipulihkan dari dusta leter dan fitnah. Mereka akan dibersihkan dari kekotoran mulut besar yang tak ada ujung pangkalnya. Mereka akan dimurnikan di dapur peleburan untuk merontokkan benalu-benalu leter dan fitnah yang telah sekian lama menempel (melekat) di langit-langit mulut mereka. Segeralah ambil tindakan sebelum Tuhan menikung di tengah jalan. Cara Tuhan menikung tak bisa dibaca atau diprediksi. Caranya adalah: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selagi Ia dekat.” Simpel bukan?

Mereka yang cinta kebenaran dan keadilan akan dengan bangga mempublikasikan hal-hal baik dan bermanfaat bagi sesamanya. Tak ragulah mereka yang masuk dalam kelompok ini. Malahan harus bersyukur dengan segenap hati dan pikiran sebagaimana mereka mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran. Pilihan ada di tangan kita. Mau jadi peleter dan pemfitnah yang lebih besar mulutnya ketimbang otaknya, atau mau jadi duta kebenaran dan keadilan yang lebih besar otak dan hikmatnya ketimbang mulutnya. Artinya, mereka yang mencintai kebenaran dan keadilan akan mengumandangkan hikmat yang tinggi dengan mulut yang penuh syukur dan berkat. Tidak banyak kata-kata hiasan untuk menyatakannya. Cukup dengan kata-kata hikmat, maka orang lain dapat diberkati. Lain halnya dengan para peleter dan pemfitnah. Mulut mereka tidak bisa tidak, harus berbusa-busa untuk menonjolkan identitas kebodohan tingkat tinggi dan tingkat dasar.

Keseharian mereka adalah “mempublikasikan dosa-dosa fitnah” dan menganggap bahwa mereka telah berbuat benar pada jalur kereta api buatan Sang Gladiator. Entah mereka ini terbuat dari tepung terigu atau kedondong. Terbuat dari tepung fungsinya adalah untuk membungkus pisang Sang Gladiator agar Sang Gladiator tidak merasa panas terlebih dahulu ketika masuk ke dalam minyak panas. Para tepung terigu ini siap melapisi dan membentengi pisang yang sudah lembek dan sebenarnya layak dibuang di tempat sampah. Sedangkan mereka yang terbuat dari kedondong berfungsi sebagai penabur dan penebar kelicinan budi pekerti dan pelayanan mereka yang dianggap sesuai dengan firman Tuhan, padahal dalam hati mereka penuh duri yang menusuk. Kemunafikan bersembunyi di balik kelicinan kata-kata dari mulut besar mereka.

Sebagaimana Alkitab katakan bahwa “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”. Secara prinsipil, di antara kelompok peleter dan pemfitnah, ada orang-orang yang dulunya baik. Tetapi setelah bergabung, malah menjadi manusia berkarakter tepung terigu dan kedondong. Manusia model begini pekerjaannya adalah membuang “sampah mulut” melalui saluran yang besar yakni “mulut besar”. Ketika mulut mereka menjadi besar, otak mereka mengecil. Ketika otak mengecil, maka lama kelamaan mereka akan tidak punya otak. Dan ketika tidak punya otak, maka segala cara akan dihalalkan untuk memuaskan hawa nafsu akan kekuasaan dan kekayaan yang dibungkus dengan kata-kata bijak alkitabiah.

Sayangnya, manusia model begini mudah sekali dibaca. Apa yang dikatakan kadang bagus dan meyakinkan tetapi jika dicerna secara baik, langsung terbaca kandungan racun dan obat bius di dalamnya. Jika kita mengingingkan hidup di dalam kebenaran dan keadilan, maka melangkahlah dengan iman kepada Tuhan dan memohon hikmat agar dengan hikmat tersebut, apa yang keluar dari mulut kita adalah berkat, pedoman, kata-kata bijak, puji syukur, kebenaran, keadilan, kasih, dan pengampunan agar orang lain mendapatkan ketenangan dan kelegaan. Singkatnya, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”

Fenomena peleter dan pemfinah adalah fenomena alami. Sejak awal Iblis menjadi tuan rumah soal leter dan fitnah. Dengan demikian, mereka yang masuk dalam kelompok peleter dan pemfitnah menjadi orang-orang satu rumah dengan sang pemilik rumah tersebut yaitu: Iblis. Seperti yang dikatakan Yesus: “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Maka, mereka yang berkata dusta (peleter dan pemfitnah), mereka berkata atas kehendak mereka sendiri, sebab mereka adalah peleter dan pemfitnah demi keuntungan semu.

Tuhan telah memberikan banyak waktu dan kesempatan kepada kita untuk berbenah diri, mengoreksi diri kita, dan mengintrospeksi diri. Pembenahan diri adalah pembersihan dan penyucian karakter: pikiran dan perbuatan. Selaraskan pikiran dan tindakan kita dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan adalah jalan kedamaian dan kekekalan. Di jalan tersebut terdapat sukacita dan damai sejahtera. Mereka yang melakukan dan mengusahakan damai sejahtera adalah murid-murid Tuhan. Mengusahakan damai sejahtera tidak dengan cara meleter dan memfitnah seperti yang dilakukan oleh kelompok tepung terigu dan kedondong, tetapi dengan cara-cara yang berhikmat dan mengedepankan gagasan yang luhur, bijak, benar, adil, dan tidak mementingkan diri sendiri.

Menjadi murid-murid Tuhan adalah melakukan kebenaran dan keadilan. Suka akan kedamaian dan keselarasan antara kata dan perbuatan. Ketika kita memilih menjadi murid-murid Tuhan, maka segeralah membuka hati dan pikiran kita untuk berbagi berkat dengan orang lain meskipun mereka memusuhi kita. Jadikan otak kita lebih besar dari mulut kita. Jangan mengikuti tingkah laku peleter dan pemfitnah yang menonjolkan mulutnya yang besar ketimbang otaknya. Pergunakanlah otak kita untuk kemajuan bersama dalam kasih dan karunia Tuhan agar setiap orang yang melihat perbuatan kita, memuliakan Bapa yang di surga.

Dan ingatlah perkataan Yesus berikut ini: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16).

Sudahkah kita melihat diri kita? Berdiri di manakah kita?

Salam Bae. Shalom

Sumber Gambar:

hifructose.com/2017/12/19/the-unsettling-illustrations-murals-of-nemos/

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai