
Menelisik arus dinamika gereja kontemporer yang sering kali tergoda oleh pragmatisme, efisiensi teknologi, dan pencapaian kuantitatif dan fenomena popularitas, suara hikmat alkitabiah sering kali teredam atau bahkan terlupakan. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan para pelayan Tuhan yang tetap setia, berakar pada prinsip-prinsip kekekalan: doa, hikmat ilahi, dan kesetiaan pada warisan rohani untuk terus melakukan kehendak dan rencana Allah bagi “dunia” yang berdosa. Tulisan ini mengaitkan konteks tersebut dengan Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th.—pendiri Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, seorang penginjil pedesaan yang memulai pelayanannya dengan kerinduan untuk menjangkau yang tidak terjangkau, mengasihi yang belum terkasihi, dan mencari yang terhilang. Dalam guliran waktu, Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. telah menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin rohani yang menjadikan doa sebagai nafas dan kekuatan utama dalam seluruh aspek pelayanannya.
Artikel ini didasarkan pada refleksi kitab Pengkhotbah. Dalam khazanah Perjanjian Lama, kitab Pengkhotbah (Qoheleth) menyingkapkan realitas kehidupan yang sarat paradoks: keindahan dan kesia-siaan, sukacita dan penderitaan, kerja keras dan kefanaan. Di tengah-tengah refleksi eksistensial ini, Pengkhotbah menegaskan peran hikmat sebagai anugerah Allah yang menuntun umat dalam menjalani kehidupan. Pengkhotbah 7:11 menyatakan: “Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.”
Pengkhotbah 7:11 menegaskan dua hal pokok: (1) hikmat dipandang sejajar dengan warisan materi, bahkan lebih unggul karena bernilai kekal, dan (2) hikmat memberi keuntungan bagi mereka yang hidup—“orang yang melihat matahari.” Hikmat bukan sekadar pengetahuan, tetapi merupakan anugerah Ilahi yang mengarahkan manusia kepada takut akan Tuhan (bdk. Ams. 1:7). Di sisi lain, ayat ini, meskipun singkat, mengandung kedalaman teologis yang luar biasa—menghubungkan tiga realitas penting: hikmat, warisan, dan penglihatan terhadap terang (metafora bagi kehidupan di bawah kehendak Allah). Dalam konteks pelayanan Pdt. Mangentang, ketiga elemen ini tidak hanya relevan, tetapi menjadi pilar eksistensial dari seluruh perjalanan rohaninya.

Kitab Pengkhotbah (Qohelet dalam bahasa Ibrani) merupakan salah satu kitab hikmat dalam Perjanjian Lama yang paling kompleks dan paradoksal. Penulisnya—yang menyebut dirinya “pengkhotbah”—menyelidiki makna hidup “di bawah matahari” (baca: dalam realitas duniawi yang terbatas dan fana). Tema utama kitab ini adalah “kesia-siaan”, atau “hal yang fana”. Namun, di balik nada skeptisisme ini, Pengkhotbah tidak menolak kehidupan, melainkan mengajak pembacanya untuk menemukan makna sejati dalam takut akan Tuhan dan dalam penerimaan terhadap batas-batas manusiawi.
Pasal 7 Pengkhotbah berisi serangkaian amsal yang kontras dengan pasal-pasal sebelumnya yang lebih reflektif. Di sini, Qohelet memberikan nasihat praktis tentang kehidupan bijak, termasuk nilai duka cita dibanding tawa (ay. 2–4), pentingnya kesabaran (ay. 8–9), dan keunggulan hikmat atas kebodohan (ay. 10–12). Ayat 11 muncul dalam rangkaian ini sebagai pernyataan sintetis: hikmat tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan beriringan dengan warisan.
Makna Kata Kunci dalam Pengkhotbah 7:11
Hikmat (ḥokmāh)
Dalam tradisi hikmat Israel, ḥokmāh bukan sekadar pengetahuan intelektual, melainkan kemampuan praktis untuk hidup selaras dengan tatanan ciptaan Allah. Hikmat mencakup keadilan, kehati-hatian, ketakwaan, dan pengenalan akan kehendak Allah (lih. Amsal 1:7; 9:10). Dalam Pengkhotbah, hikmat dihargai tinggi, meskipun pengkhotbah juga menyadari keterbatasannya (Pengkhotbah 1:18; 8:17).
Warisan (naḥălāh)
Kata ini secara harfiah berarti “milik pusaka” atau “warisan”, sering digunakan dalam konteks tanah perjanjian yang diberikan kepada Israel (misalnya, Ulangan 4:21; Yosua 13:33). Namun, dalam Pengkhotbah, naḥălâ memiliki makna yang lebih luas: warisan rohani, tradisi, atau bahkan kehidupan itu sendiri sebagai anugerah dari Allah (Pengkhotbah 2:24; 3:22). Warisan bukan hanya sesuatu yang diterima, tetapi sesuatu yang harus dijaga dan diwariskan.
Dari perspektif biblika, warisan iman yang paling berharga bagi gereja adalah hikmat yang tertanam dalam kehidupan umat. Hikmat itu diwujudkan melalui pengajaran, teladan, dan doa. Pdt. Dr. Matheus Mangentang, dengan dedikasi pelayanan pedesaan dan penekanan pada doa, telah memberikan warisan hikmat yang melampaui institusi formal. Warisan itu hidup dalam generasi lulusan SETIA Jakarta yang melayani di berbagai pelosok Indonesia.
Memberi Keuntungan
Kata kerja ini berarti “bermanfaat”, “menguntungkan”, atau “memberi kekuatan”. Dalam konteks ini, hikmat yang dipadukan dengan warisan tidak hanya informatif, tetapi transformatif—ia memberi kekuatan eksistensial bagi mereka yang “melihat matahari”.
Melihat matahari (rō’ê haššāmeš)
Frasa ini adalah idiom khas Pengkhotbah untuk menyatakan “hidup di dunia ini” atau “mengalami kehidupan dalam realitas fana”. Melihat matahari berarti berada dalam cahaya kehidupan yang diberikan Allah, meskipun sementara.
Pengkhotbah 7:11 menyatakan bahwa hikmat mencapai potensi penuhnya ketika diintegrasikan dengan warisan. Hikmat tanpa akar dalam tradisi dan konteks komunal berisiko menjadi abstrak atau individualistik. Sebaliknya, warisan tanpa hikmat dapat menjadi tradisionalisme yang kaku dan tidak relevan. Gabungan keduanya menghasilkan kehidupan yang bermakna, kuat, dan berdampak—terutama bagi mereka yang hidup dalam realitas dunia yang fana. Dalam terang ini, pelayanan Pdt. Dr. Matheus Mangentang dapat dipahami sebagai perwujudan nyata dari prinsip ini: hikmat teologis yang ia miliki tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari warisan rohani gereja Reformed-Injili, tradisi penginjilan pedesaan, dan komitmen pada kebenaran Alkitab. Dan justru karena keduanya menyatu, pelayanannya “memberi keuntungan”—memberi kekuatan, arah, dan pengharapan—bagi banyak orang yang “melihat matahari”, baik di desa terpencil maupun di kota metropolitan.

Hikmat sebagai Karunia Allah
Secara teologis, hikmat bukanlah hasil spekulasi rasional semata, melainkan pemberian Allah. Kitab Suci menegaskan bahwa “hikmat berasal dari Tuhan” (Ams. 2:6). Dalam Pengkhotbah, hikmat diposisikan sebagai harta sejati yang mengatasi warisan duniawi. Hikmat memampukan manusia menilai kehidupan secara benar, menimbang nilai kekekalan di balik kefanaan. Bagi seorang teolog dan pelayan, hikmat menjadi fondasi dalam pelayanan. Pdt. Dr. Matheus Mangentang dikenal sebagai seorang yang menaruh doa sebagai dasar setiap langkah. Dalam doa, seorang hamba Allah tidak hanya meminta kekuatan, tetapi juga menerima hikmat surgawi (Yak. 1:5). Dengan demikian, doa dan hikmat saling terkait secara organik: doa membuka jalan bagi hikmat, dan hikmat meneguhkan doa agar selaras dengan kehendak Allah.
Hikmat dalam Tradisi Teologi Kristen
Dalam teologi Kristen, hikmat tidak hanya dipahami sebagai kebijaksanaan praktis, tetapi juga sebagai manifestasi pribadi Allah. Dalam Perjanjian Lama, Hikmat (Sophia) sering dipersonifikasikan (Amsal 8; Sirakh 24), dan dalam tradisi patristik, Hikmat ini diidentifikasi dengan Firman Allah (Logos), yaitu Yesus Kristus (1 Korintus 1:24, 30; Kolose 2:3). Pdt. Dr. Matheus Mangentang, sebagai seorang teolog dan pelayan, memahami hikmat bukan sebagai hasil spekulasi filosofis, tetapi sebagai anugerah yang dinyatakan dalam Kristus Yesus dan diungkapkan melalui firman-Nya. Dalam konteks pendidikan teologi di SETIA Jakarta, hikmat bukanlah akumulasi pengetahuan, melainkan transformasi karakter melalui penyerahan diri kepada Kristus, Sang Hikmat Allah.
Gagasan “warisan” dalam Pengkhotbah 7:11 memiliki resonansi kuat dalam eklesiologi Kristen. Gereja bukan hanya komunitas masa kini, tetapi juga penjaga warisan iman yang diwariskan oleh para rasul (Yudas 1:3). Warisan ini mencakup doktrin, praktik sakramental, disiplin rohani, dan komitmen pada misi. Pdt. Matheus Mangentang memahami bahwa mendirkan SETIA Jakarta bukan sebagai proyek inovatif semata, tetapi sebagai tanggung jawab untuk melestarikan dan meneruskan warisan Injili yang berakar pada Reformed Evangelical tradition—dengan penekanan pada otoritas Alkitab, kedaulatan Allah, dan panggilan untuk menginjili. Warisan ini tidak statis; ia harus diolah dengan hikmat agar tetap relevan bagi generasi kini.

Hikmat, Eksistensi Manusia & Warisan Iman
Pengkhotbah 7:11 menggunakan istilah “orang yang melihat matahari,” sebuah ungkapan yang menunjuk pada mereka yang masih hidup. Hikmat hanya bermakna bila dijalani dalam eksistensi yang nyata. Seorang hamba Allah yang berakar pada hikmat tidak membatasi imannya pada ruang privat, melainkan menjadikannya nyata dalam tindakan sosial, pastoral, dan misi. Dalam konteks pelayanan pedesaan, sebagaimana ditekuni Pdt. Dr. Matheus Mangentang, hikmat memampukan seorang penginjil untuk memahami konteks budaya, ekonomi, dan spiritual jemaat. Hikmat inilah yang membuat Injil dapat dihadirkan secara relevan tanpa kehilangan kebenaran kekal.
Dogmatisasi hikmat berarti menegaskan bahwa warisan terbesar gereja bukanlah institusi atau struktur, melainkan pengajaran yang berakar pada hikmat Allah. Gereja sebagai tubuh Kristus dipanggil untuk mewariskan hikmat itu kepada generasi berikutnya. Pdt. Dr. Matheus Mangentang mewujudkan hal ini dengan mendirikan SETIA Jakarta. Lembaga pendidikan teologi tersebut menjadi instrumen pewarisan hikmat, tempat generasi muda diperlengkapi dengan pengajaran yang setia kepada Kitab Suci, sembari dibentuk untuk hidup dalam doa dan pelayanan. Dengan demikian, visi beliau adalah penggenapan dari prinsip dogmatis bahwa hikmat harus diwariskan sebagai inti iman gereja.
Pengkhotbah 7:11 membuka pemahaman bahwa hikmat adalah warisan ilahi yang lebih bernilai daripada segala harta duniawi. Dalam perspektif teologis, hikmat adalah karunia Allah yang terwujud dalam doa dan kehidupan umat. Dalam perspektif dogmatis, hikmat adalah atribut Allah yang dinyatakan dalam Kristus, yang harus diwariskan kepada gereja. Dalam perspektif biblika, hikmat adalah inti kehidupan yang melampaui kekayaan materi, memberikan keuntungan bagi mereka yang hidup di bawah matahari.
Dalam konteks pelayanan di dunia pendidikan teologi dan gerjea, Pdt. Dr. Matheus Mangentang, menjadi contoh nyata bagaimana hikmat itu dijalani: sebagai pelayan yang mengutamakan doa, penginjil yang melayani pedesaan, dan pendiri lembaga teologi yang mewariskan hikmat bagi generasi mendatang. Dengan demikian, hidup beliau menggemakan seruan Pengkhotbah, bahwa hikmat adalah warisan sejati bagi “orang yang melihat matahari.”
Doa bukan sekadar ritual, melainkan ekspresi relasional dengan Allah yang hidup. Dalam Perjanjian Lama, doa sering dikaitkan dengan pencarian hikmat (1 Raja-raja 3:9; Amsal 2:6). Dalam Perjanjian Baru, doa adalah napas kehidupan orang percaya (1 Tesalonika 5:17) dan sumber kekuatan dalam pelayanan (Kisah Para Rasul 6:4; Efesus 6:18). Pdt. Matheus Mangentang dikenal sebagai pemimpin yang “mengutamakan doa sebagai kekuatannya”. Ini bukan retorika, melainkan praksis teologis yang mendalam: ia percaya bahwa tanpa persekutuan dengan Allah, pelayanan—seberapa pun terorganisir dan strategisnya—akan menjadi hebel, sia-sia.
Dalam tradisi gereja, doa juga merupakan bentuk pewarisan spiritual. Para bapa gereja seperti Agustinus dan Yohanes Krisostomus menekankan bahwa doa menghubungkan generasi orang percaya dalam satu tubuh Kristus. Ketika Pdt. Mangentang melatih mahasiswa teologi untuk berdoa, ia tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi menanamkan warisan rohani: ketergantungan total pada Allah. Di SETIA Jakarta, doa bukan hanya bagian dari kurikulum, tetapi denyut jantung komunitas. Ini mencerminkan prinsip Pengkhotbah 7:11: hikmat teologis (yang diajarkan di kelas) hanya menjadi “menguntungkan” ketika dihidupi dalam persekutuan doa—warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam teologi Reformed, kuasa pelayanan tidak berasal dari karisma pribadi, melainkan dari Roh Kudus yang bekerja melalui firman dan doa. Pdt. Matheus Mangentang memahami hal ini dengan jelas. Pelayanannya di di desa-desa—tempat di mana sumber daya terbatas dan tantangan besar—bertahan dan berbuah karena fondasi doa. Hal ini selaras dengan ajaran Yakobus 5:16: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Doa bukan pelarian dari realitas, tetapi senjata rohani yang mengubah realitas. Doa menjadi wujud konkret dari hikmat yang “memberi keuntungan” bagi mereka yang “melihat matahari”.

Menuju Gereja yang Bijak, Setia, dan Berdoa
Pengkhotbah 7:11 mengingatkan kita bahwa kehidupan yang bermakna lahir dari integrasi hikmat dan warisan. Hikmat menekankan pemahaman teologis yang mendalam, berakar pada firman Allah. Warisan menekankan kesetiaan pada iman yang disampaikan, diwariskan melalui gereja sepanjang sejarah. Sedangkan keuntungan menekankan dampak transformatif bagi dunia yang fana, melalui kuasa doa dan Roh Kudus. Pdt. Dr. Matheus Mangentang, adalah teladan hidup dari prinsip ini. Ia bukan sekadar pendiri lembaga teologi, tetapi seorang pelayan yang memahami bahwa kekuatan sejati pelayanan bukan pada strategi, tetapi pada lutut yang bertelut. Ia mengajarkan kita bahwa hikmat tanpa doa adalah keangkuhan, dan warisan tanpa hikmat adalah beban. Tetapi ketika keduanya menyatu dalam persekutuan dengan Allah, mereka menjadi terang bagi dunia yang gelap.
Kiranya gereja masa kini—termasuk para pemimpin, pengajar, dan pelayan—belajar dari teladan Pdt. Matheus Mangentang: untuk menjadi bijak seperti ular, tetapi tetap tulus seperti merpati (Matius 10:16); untuk menghargai warisan iman, tetapi tidak terpenjara oleh tradisi; dan di atas segalanya, untuk menjadikan doa sebagai nafas kehidupan pelayanan. Sebab, hanya dalam terang doa, hikmat menjadi hidup, warisan menjadi berkat, dan pelayanan menjadi berkenan di mata Allah yang hidup.
Selamat Tambah Umur buat Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. yang ke-70 tahun. Kasih dan kemurhan Kristus Yesus senantiasa mengiringi langkah hidup dan pelayanan, serta keluarga, kini, besok, dan seterusnya.
Salam Bae….
Bacaan Lebih Lanjut
Barth, Karl. Church Dogmatics. Edinburgh: T&T Clark, 1956–1975.
Calvin, John. Institutes of the Christian Religion. Ed. John T. McNeill. Philadelphia: Westminster Press, 1960.
Crenshaw, James L. Qoheleth: The Ironic Wink. Atlanta: Scholars Press, 2013.
Frame, John M. The Doctrine of the Knowledge of God. Phillipsburg: P&R Publishing, 1987.
Murphy, Roland E. Ecclesiastes. Word Biblical Commentary, Vol. 23A. Dallas: Word Books, 1992.
Poythress, Vern S. Redeeming Philosophy: A God-Centered Approach to the Big Questions. Wheaton: Crossway, 2019.
Vanhoozer, Kevin J. Faith Speaking Understanding: Performing the Drama of Doctrine. Louisville: Westminster John Knox, 2014.
Whybray, R. N. Ecclesiastes. New Century Bible Commentary. Grand Rapids: Eerdmans, 1989.









