
Mazmur 90:12, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
Hari ini, Minggu tanggal 6 Oktober 2024 adalah hari berbahagia bagi Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. karena atas kemurahan Tuhan, ia boleh bertambah usia setahun menjadi 69 tahun. Beliau mendapat kesempatan menyampaikan khotbah yang terambil dari Mazmur 90:1-17, dan berfokus pada ayat 12, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Sukacita yang ia rasakan, dilekatkan pada narasi iman dan pengharapan dalam khotbah yang disampaikan Minggu pagi di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Jemaat Imanuel Kampus Arastamar Jakarta. Beberapa poin penting tentang kefanaan hidup, kesadaran hidup, dan pengharapan hidup menjadi buah pemikiran beliau termasuk pelekatan pengalaman pelayanan beliau semasa hidup.
Teks tersebut memberikan sebuah keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai umat-Nya, dalam berbagai penderitaan, kesukaran, dan tantangan. Musa menyadari bahwa kehidupan itu sendiri adalah anugerah Allah dan di dalamnya harus melewati proses demi proses untuk memurnikan iman. Hidup itu sendiri adalah sebuah misteri. Kalau pun kita masih hidup sekarang ini, itu adalah kasih karunia dari Tuhan.
Perayaan ulang tahun berlangsung khidmat dan penuh sukacita. Beliau didampingi isteri terkasih, Ibu Ester Kristanto. Momen berbahagia ini disambut dengan penuh kegembiraan oleh para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa SETIA Jakarta, mahasiswa Akper Arastamar, siswa/siswi SMTK Setia Jakarta, para hamba Tuhan GKSI, juga para alumni SETIA di seluruh Indonesia. Yang menarik adalah, secara fakta beliau lahir tahun 1955, tetapi karena ada kesalahan penulisan pada dokumen-dokumen penting, beliau dituliskan lahir pada tahun 1956. Berdasarkan KTP, beliau berumur 68 tahun, tetapi secara faktual, beliau sudah berumur 69 tahun. Menarik bukan? Tapi bukan itu poinnya, melainkan apa dan bagaimana menjalani kehidupan bersama Tuhan.

Dalam pengalaman pelayanan, beliau telah menunjukkan keteguhan dan ketulusan dalam melayani. Pdt. Dr. Matheus Mangentang, dalam setiap langkah dan hembusan napasnya, telah menorehkan jejak pelayanan yang penuh dengan dedikasi, cinta kasih yang tulus, dan iman yang teguh. Pelayanan pedesaan menjadi ciri khas dari kerja keras beliau selama melayani Tuhan Yesus Kristus kepada jemaat-jemaat GKSI seluruh Indonesia.
Mazmur 90:12 mengajarkan kita untuk menghitung hari-hari kita dan memohon kepada Tuhan agar kita beroleh hati yang bijaksana (berhikmat). Pesan ini menjadi sangat relevan ketika kita merenungkan perjalanan hidup Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Beliau telah menjalani hidup yang penuh hikmat, dengan iman yang kokoh dan semangat yang tidak pernah surut, bahkan ketika menghadapi tantangan yang berat.
Sejak awal pelayanannya, Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan komitmen yang luar biasa terhadap prinsip-prinsip iman Kristen. Tidak pernah goyah oleh arus perubahan zaman, beliau berdiri teguh dalam kebenaran Injil. Ketika dunia menawarkan berbagai kompromi, beliau tetap setia pada panggilan Tuhan untuk menjadi saksi Injil yang murni. Wahyu 2:10b menjadi pegangan beliau: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengarunikan kepadamu mahkota kehidupan.”

Keteguhannya dalam memegang prinsip iman adalah inspirasi bagi kita semua. Dalam dunia yang semakin kompleks dan serba cepat ini, beliau menjadi teladan tentang bagaimana kita seharusnya berpegang pada kebenaran Firman Tuhan, tanpa takut menghadapi tantangan atau kesulitan.
Pdt. Dr. Matheus Mangentang bukan hanya seorang teolog dan pemimpin yang bijaksana, tetapi juga seorang pengkhotbah yang setia. Dalam memberitakan Injil Kristus, beliau tidak pernah kenal lelah. Di berbagai kesempatan, baik di gereja, di mimbar-mimbar kecil di pedalaman, maupun dalam pengajaran akademis, beliau selalu bersemangat menyampaikan kabar baik keselamatan. Kesetiaan beliau dalam memberitakan Injil mengingatkan kita bahwa panggilan utama kita sebagai orang Kristen adalah untuk menjadi saksi-Nya, setia hingga akhir. Dalam usia yang ke-69 tahun, semangat beliau tidak pernah padam, melainkan semakin membara. Ini adalah cerminan dari kasih yang dalam terhadap Tuhan Yesus, dan oleh karena itulah, ia begitu mengasihi jiwa-jiwa yang membutuhkan keselamatan dan pengharapan di dalam Kristus Yesus.
Tidak sedikit tantangan yang dihadapi Pdt. Dr. Matheus Mangentang dalam pelayanannya. Beliau rela menderita bagi Injil, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Tantangan-tantangan ini, entah itu jarak, medan yang berat, atau bahkan ancaman bagi keselamatan diri, tidak pernah menghalangi langkah beliau. Sebaliknya, semua itu justru memperkuat komitmennya untuk mengabarkan Injil di tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Kerelaan beliau untuk menderita bagi Injil mengajarkan kita tentang arti dari pelayanan sejati. Pelayanan yang tidak selalu nyaman, tetapi tetap harus dilakukan karena panggilan Tuhan jauh lebih besar daripada rasa takut atau kelelahan.

Salah satu ciri yang paling menonjol dari pelayanan Pdt. Dr. Matheus Mangentang adalah semangatnya untuk melayani di daerah-daerah pedesaan dan pedalaman. Beliau melihat bahwa Kabar Baik Injil harus sampai kepada setiap orang, termasuk mereka yang tinggal di tempat-tempat yang terabaikan. Dengan penuh kerendah-hatian, beliau terjun ke ladang pelayanan yang tidak banyak dilirik orang lain, membangun komunitas iman yang kokoh di tengah-tengah tantangan sosial dan ekonomi yang tidak mudah.
Semangat beliau dalam melayani di pedesaan dan pedalaman mengingatkan kita bahwa pelayanan bukanlah soal popularitas atau kenyamanan, melainkan soal keberanian dan pengorbanan untuk menjangkau mereka yang belum mengenal Tuhan.
Pada usia 69 tahun, Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menjalani hidup yang penuh makna dan hikmat. Melalui refleksi ini, kita melihat bagaimana Tuhan telah bekerja dalam hidup beliau, memberikan hati yang bijaksana, dan memberkati banyak orang melalui pelayanannya. Kita berdoa agar Tuhan terus memberikan kekuatan dan semangat bagi beliau, sehingga dalam setiap hari yang tersisa, beliau tetap menjadi terang dan garam bagi dunia, seperti yang telah ditunjukkan selama ini.
Sebagai penutup artikel singkat ini, saya memaparkan makna dari berbagai tafsiran terkait teks Mazmur 90:12. Rabbi Abraham Ibn Ezra’s dalam Commentary On Books 3–5 of Psalms: Chapters 73–150 (New York: Touro College Press, 2016), 76, menyatakan, bahwa klausa “jadi ajarkanlah kami menghitung hari-hari kami” sama artinya artinya dengan Tuhan, beritahukanlah kepadaku kesudahanku (Mzm. 39:5). Berilah kami hikmat untuk menghitung hari-hari kami, yaitu mengetahui betapa sedikitnya hari-hari kami, sehingga kami dapat memperoleh hati yang berhikmat di dalam diri kami.
Pernyataan tersebut memberikan kita kesadaran bahwa hidup kita fana, tetapi bersama dengan Tuhan, apalagi mengharapkan uluran tangan kemurahan-Nya, kita senantiasa diberikan kekuatan untuk dapat menjalani hidup, menghadapi tantangan hidup, dan menyelesaikan tugas pelayanan kita dengan setia hingga akhir.

Mayer L. Gruber, dalam Rashi’s Commentary on Psalms. The Brill Referensce Library of Judaisme (Leiden, The Netherlands: Koninklijke Brill NV, 2004), 577, menyatakan, “Dia mengajarkan” [hôda] kita untuk menghitung hari-hari kita dengan benar ketika pada awalnya Dia memberi tahu [hôda] kepada kita jumlah hari kita yang panjang. Pernyataan ini memberi kita pemahaman bahwa hari-hari yang dilalui perlu dimaknai dengan tetap berhadap, bersandar, dan memohon kepada Tuhan agar hidup yang dikaruniakan-Nya dijalani dengan rasa takut akan Dia, sadar bahwa Dialah Sumber Kehidupan itu sendiri. Kita dikarunia untuk menikmati hidup, bergumul, dan senantiasa menyadari akan kefanaan hidup, sehingga tidak perlu menyombongkan diri.
Tremper Longman III, dalam Psalms: An Introduction and Commentary. Tyndale Old Testament Commentaries Volumes 15–16 (InterVarsity Press, 2014) memberikan penjelasan berikut ini:
“Setelah membuat pernyataan umum tentang kefanaan manusia, pemazmur mengungkapkan ketakutannya, ketika ia menghubungkan kesengsaraan dan kehidupan yang singkat dari komunitasnya dengan murka Allah. Allah tidak melupakan dosa-dosa mereka; Ia mengetahui semuanya, bahkan yang tersembunyi sekalipun, dan dengan demikian menjelaskan murka-Nya. Hidup ini sulit (yang terbaik [dari hari-hari kita] hanyalah kesusahan dan kesedihan) dan singkat (semuanya berlalu dengan cepat, dan kita terbang). Permintaan pertama pemazmur bukanlah untuk mencegah kematian atau menghilangkan kesengsaraan, tetapi lebih kepada kesadaran diri. Ia tidak ingin hidup seolah-olah ia akan hidup selamanya, tetapi lebih kepada kesadaran akan kefanaannya. Mengapa? Untuk memiliki hati yang bijaksana. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menjalani hidup dengan cara yang otentik. Orang yang bijaksana tahu bagaimana membuat pilihan yang tepat pada waktu yang tepat.”
Tampaknya, bijaksana menjadi sebuah pegangan hidup yang memandu diri kita, dan semua yang kita harapkan untuk tetap menyadari bahwa tangan Tuhanlah yang merajut kehidupan kita, memberi kita iman dan kekuatan untuk menghadapi badai-badai kehidupan, bahkan yang ganas sekalipun. Di dalam Dia ada ketenangan. Seperti kata Daud: “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (Mazmur 62:2-3). Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku (Mazmur 62:6).
Barry C. Davis dalam Commentary on Psalms. The Baker Illustrated Bible Commentary (Grand Rapids, MI.: Baker Books, 2019), menyatakan, Musa berkontribusi pada percakapan yang sedang berlangsung tentang kematian (bdk. 88:3-6, 11, 15; 89:47-48) dengan konsep-konsep tentang kembali menjadi debu (90:3), menjadi fana seperti rumput (90:5-6), dan memiliki masa hidup yang singkat dengan kesedihan yang mendalam (90:9-10). Dengan pembahasan tentang kematian ini, Musa menjalin pujian kepada Allah (90:1-2), pengakuan dosa Israel sebagai penyebab murka Allah (90:7-11), dan pengharapan agar Allah mengizinkan mereka untuk menjalani hidup yang bermakna (90:12-17).
Hidup bersama dengan Tuhan, pasti bermakna. Mereka yang bijaksana tentu akan segera menyadari bahwa segala sesuatu yang dialami dalam hidup ada dalam tangan Tuhan (kedaulatan-Nya). Kefanaan hidup memberi kita nilai-nilai kehidupan itu sendiri, dan bahwa ada pengharapan yang disediakan Tuhan bagi mereka yang bijaksana, percaya, dan setia hingga akhir hayat.

C. Hassell Bullock dalam Encountering the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2018) memaparkan, bahwa
“Mazmur ini memiliki cara untuk menenangkan jiwa. Ketika manusia merasakan tempat mereka yang lemah di alam semesta dan keberadaan mereka yang fana, mereka perlu melihat diri mereka sendiri dalam pandangan Allah yang memiliki waktu dan kekekalan. Itulah efek dari Mazmur 90. Mazmur ini adalah mazmur Israel, yang dikaitkan dengan Musa, yang berbicara bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Israel. Sebagai mazmur kepercayaan komunitas, mazmur ini berisi penegasan yang kuat akan kehadiran Allah yang tetap bersama Israel (ayat 1-2): Tuhan, Engkaulah tempat kediaman kami dari generasi ke generasi. Sebelum gunung-gunung lahir atau Engkau melahirkan seluruh dunia, dari kekekalan sampai kekekalan Engkaulah Allah. Kata-kata kepercayaan ini muncul dengan latar belakang ratapan yang serius (ayat 3-11) di mana singkatnya hidup ini dihadapkan pada cara pandang Allah yang sama sekali berbeda terhadap waktu:
Engkau mengembalikan manusia menjadi debu, dengan berkata: ‘Kembalilah kepada debu, hai manusia fana.’ Seribu tahun dalam pandangan-Mu adalah seperti satu hari yang baru saja berlalu, atau seperti jam di malam hari. Engkau menyapu bersih manusia dalam tidurnya yang nyenyak- mereka seperti rumput baru di pagi hari: Pada pagi hari ia bertunas baru, tetapi pada petang hari ia menjadi kering dan layu (ayat 3-6). Kemudian dilanjutkan dengan transisi di ayat 12-13, yang memohon kepada Tuhan untuk membantu Israel menilai panjangnya umur mereka, sehingga mereka dapat menjalaninya dengan bijaksana. Kesimpulan dari mazmur ini adalah serangkaian permohonan di mana Musa berdoa agar sukacita mereka dapat mengimbangi penderitaan mereka dan agar kemurahan Tuhan dapat membedakan kehidupan mereka (ay. 14-17).
Semua perjalanan hidup manusia, mengarahkan hati dan pikiran kita untuk menjadi bijaksana dan membawa bijaksana itu dalam gumul juang kehidupan. Bijaksana menjadi bagian terpenting untuk memahami betapa kita bergantung sepenuhnya kepada Sang Khalik, Sumber Kehidupan dan Keselamatan.
James H. Waltner, dalam Psalms. Believers Church Bible Commentary (Scottdale, Canada: Herald Press, 2006), 43-44, menjelaskan,
“Kembalilah, hai manusia fana,” menyatakan undangan Allah untuk kembali ke rumah (ayat 3), karena dosa telah memisahkan manusia dari Allah. Bagi penulis mazmur, murka Allah dan kesalahan manusia dalam dosa mereka adalah penyebab singkatnya kehidupan. Kita menemukan tujuan dari mazmur ini dalam ayat 12. Hati yang berhikmat akan muncul ketika kita bersikap realistis terhadap singkatnya dan keberdosaan keberadaan manusia, dan ketika kita mengetahui bahwa rumah sejati manusia ada di dalam pemerintahan Allah. Banyak kisah dalam Kejadian 1-11 berhubungan dengan manusia yang melampaui batas yang telah ditetapkan bagi mereka (Kej. 3; 4; 6:1-8; 9:20-27; 11:1-9). Dengan merenungkan kematian, seseorang dapat belajar bagaimana cara hidup.”

Benar, memandang kehidupan sebagai sesuatu yang fana membawa kita kepada kesimpulan bahwa menjalaninya membutuhkan bijaksana (atau hikmat) dari Tuhan agar tidak mempergunakannya dengan gegabah, apalagi sembarangan. Tentu akibatnya fatal! Bersyukur adalah jalan terbaik untuk menikmati kehidupan yang dikaruniakan Tuhan!
Menurut Claus Westermann, hati yang bijaksana adalah “hadiah bagi orang yang mengetahui batas-batasnya sendiri karena ia sadar akan batas-batas keberadaan manusia”. Claus Westermann, The Living Psalms. Translated by J. R. Porter (Grand Rapids: Eerdmans, 1989), 163. Tuhan mengaruniakan bijaksana kepada mereka yang dikasihi-Nya; mereka dituntun untuk mengerti fananya kehidupan dan berlalunya buru-buru (bdk. Mzmr. 90:10).
Marvin Tate dalam Psalms 51-100, Volume 20. Word Biblical Commentary (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Academic, 1991), 442, menyatakan
“Kebutuhan manusia adalah memiliki pikiran yang cukup bijaksana untuk memilah-milah hari-hari, dengan segala peristiwa, respons, dan kesempatan yang ada, sehingga mereka dapat menghadapi kefanaan dan kejahatan dalam kehidupan manusia (ay. 10). Hikmat adalah anugerah Allah, suatu kekuatan untuk membedakan yang bukan merupakan hasil usaha manusia, tetapi harus diajarkan oleh Allah (bdk. Ams. 2:6-15). Lihat Ef 5:16, ‘pergunakanlah waktu sebaik-baiknya, karena hari-hari ini adalah jahat’ (rsv), dan Kol 4:5, ‘hiduplah dengan bijaksana…pergunakanlah waktu sebaik-baiknya’ (rsv). Secara tradisional dipahami sebagai ‘menghitung hari’ dalam arti menyadari betapa sedikitnya hari-hari dalam kehidupan manusia; yaitu kesadaran dan respons yang konstan terhadap kesementaraan hidup.”

Memang, kesementaraan hidup adalah fakta. Tetapi kita yang percaya diberikan pengharapan akan kehidupan yang akan datang. Meski pergulatan yang berat dalam menjalani hidup sebagaimana yang diungkapkan Nabi Musa dalam Mazmur 90, kita pun menyadari bahwa bijaksana yang diberikan Tuhan adalah proses pengetahuan dan pengalaman serta kesadaran kita tentang tangan Tuhan yang menenum kehidupan kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.
Allen P. Ross, dalam A Commentary on the Psalms. Volume 3 (90-150) (Grand Rapids, Michigan: Kregel Publications, 2016), 36-37, memberikan tafsirannya sebagai berikut:
Karena manusia tidak mengetahui kekuatan penuh dari murka Allah, mereka perlu mengetahui bagaimana menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah. Dan karena hikmat dimulai dengan wahyu ilahi, maka permintaannya adalah agar Allah mengajar mereka (secara harfiah, ‘buatlah kami tahu’). Bagaimana cara Allah membuat mereka tahu? Tentu saja melalui firman-Nya, tetapi komunikasi kebenaran firman sering kali datang melalui para imam dan nabi yang ditugaskan untuk mengajarkan hukum-hukum Allah kepada bangsa Israel (misalnya, orang Lewi menurut Ul. 33:9-10).
Tujuan dari pengajaran ini adalah ‘menghitung hari-hari kami’ (yang diletakkan di urutan pertama untuk memberikan penekanan). Kata “hari-hari” berarti peristiwa atau kegiatan pada hari-hari tersebut. Dan kata kerja infinitif “menghitung” berarti lebih dari sekadar menghitung hari; kata kerja ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan-kegiatan tersebut dalam jangka waktu 70 atau 80 tahun.

Dengan mengajarkan mereka untuk menghitung hari-hari mereka, Tuhan akan membuat mereka menyadari betapa singkatnya, betapa cepatnya, hidup ini, dan betapa pentingnya merencanakan bagaimana menggunakan waktu tersebut. Dan hasil dari pengajaran ini adalah hati yang berhikmat.
Kata kerja yang diterjemahkan “memperoleh” secara harfiah berarti “supaya kita dapat mendatangkan”. Kata “hikmat” (Mzm. 19:7) memiliki arti “keahlian”; dalam literatur hikmat, kata ini menggambarkan kehidupan yang disiplin, taat, dan produktif. Orang-orang yang menjalani hidup mereka dengan keterampilan moral dan etika akan menghasilkan hal-hal yang memuliakan Allah dan bermanfaat bagi masyarakat. Hati (Mazmur 111:1) yang dicirikan oleh hikmat menandakan seseorang yang memiliki kasih sayang yang benar dan membuat pilihan yang tepat – ini adalah kehidupan yang beriman.
Maka, doanya adalah agar mengingat singkatnya kehidupan, orang-orang perlu belajar bagaimana menggunakan apa yang telah Allah berikan kepada mereka untuk menjalani kehidupan yang benar dan produktif. Inilah esensi hikmat yang berasal dari atas, hikmat yang akan memampukan manusia berdosa untuk hidup di luar pengaruh kutuk dan menghasilkan kehidupan yang berkenan kepada Allah. Sebaliknya, hikmat dunia tidak dapat menyenangkan Allah.

Tafsiran Ross memiliki beberapa aspek penting: Pertama, Allah mengajar manusia melalui proses kehidupan sehari-hari. Dan untuk memperoleh bijaksana, maka manusia perlu “menghitung” hari-hari yang dilalui, di mana menurut Ross, kata kerja infinitif “menghitung” mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan-kegiatan dalam kehidupan yang dijalani. Kedua, menghitung hari berarti menyadari bahwa hidup itu singkat, berlalunya buru-buru, dan dengan demikian mengajarkan kita untuk secara bijaksana menggunakan waktu yang ada. Ketiga, menjalani kehidupan membutuhkan keahlian, disiplin, taat, produktif, keterampilan moral, beretika selaras dengan firman-Nya, dan menghasilkan hidup yang memuliakan Allah serta bermanfaat bagi masyarakat. Keempat, seseorang yang memiliki kasih sayang yang benar adalah ciri khas orang yang berhikmat dan beriman kepada Tuhan. Kelima, apa yang Allah berikan harus digunakan untuk mengembangkan kehidupan yang benar dan produktif, atau menghasilkan segala sesuatu yang bermanfaat, berkenan kepada Allah.
Terakhir, Artur Weister, dalam The Psalms: A Commentary (Oxford Road, Manchester: Manchester University Press, 1998), 601, memberikan pemahaman sebagai berikut:
“Mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya, permohonan ini tentu saja hanya dapat berarti bahwa ia bertujuan untuk menilai dan memanfaatkan masa hidupnya secara positif, yang berbeda dengan sikap pesimis, sejauh di dalamnya kehendak Allah di masa depan akan dihormati dan dihargai. Hikmat yang dibicarakan dalam ayat ini, dalam konteksnya, adalah ‘hikmat ilahi’, yang berasal dari Allah dalam bentuk pengetahuan tentang ‘sifat kehidupan manusia yang terbatas’, tetapi dalam isinya, hikmat ini menandakan penanggulangan sikap negatif terhadap kehidupan dengan sebuah penegasan yang merupakan anugerah dari Allah dan yang muncul dari iman dan kepercayaan.”

Hikmat ilahi memberi rasa pada logika orang percaya untuk memahami bahwa kehidupan manusia itu terbatas. Tetapi Tuhan sendiri menopangnya dalam menjalani kehidupan, dengan memberikan anugerah dan kasih karunia agar orang percaya tetap bersandar dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya, menjalani hidup dengan bijaksana (berhikmat), memaknai bahwa seluruh proses kehidupan mengarahkan mereka kepada kehidupan yang berkelimpahan dalam kasih, pengampunan, dan damai sejahtera.
Apa yang dipaparkan di atas, memberi kita pemahaman yang kuat bahwa kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, adalah memahami bahwa Dialah yang memberkati, menopang, dan menolong kita dalam setiap pergumulan, terlebih memberi kita hati yang bijaksana. Orang bijak dikelilingi dengan pergumulan, penderitaan, dan cinta kasih Tuhan, karena demikianlah kita dididik untuk menjadi kuat dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan bijak dalam menilai kehidupan.

Akhir kata, “Selamat ulang tahun, Pdt. Dr. Matheus Mangentang.” Semoga Tuhan Yesus terus memberkati, menyertai, menopang, dan memimpin setiap langkah dalam pelayanan, keluarga, dan pemberitaan Injil, hingga hari di mana kita semua dapat bersama-sama di hadapan-Nya, dengan hati yang bijaksana, bersyukur dan memuji Dia, selamanya….
Salam Bae….


















