
Perkembangan teologi di era digital cukup signifikan. Di Indonesia publikasi doktrin-doktrin Kristen mengalami kemajuan yang luar biasa, terlepas apakah doktrin-doktrin itu menyimpang atau tidak. Sejatinya, publikasi iman Kristen melalui berbagai media sosial (dalam jaringan), merupakan bagian penting dari sikap iman itu sendiri. Tujuannya jelas, “mewartakan kebenaran Allah di dalam Kristus Yesus.”
Ada disparitas zaman dan konteks antara para rasul dan kita yang hidup sekarang ini, tentang bagaimana mempublikasikan “berita” keselamatan dari Yesus Kristus. Yang menarik adalah kita—sekarang ini—dipengaruhi oleh dua metode pekabaran Injil klasik Alkitab yaitu: lisan (verbal) dan tulisan (script). Metode verbal adalah konteks di mana orang-orang pilihan Tuhan “berbicara” tentang personalitas-Nya dan karya-karya-Nya. Metode tulisan adalah konteks “menuliskan” ajaran-ajaran Alkitab ke dalam benda-benda tertentu agar pesan dan makna yang penting—termasuk metode verbal itu, terjaga dan terwariskan dengan baik. Dua metode tersebut kemudian dikembangkan ke berbagai bidang, maka muncullah “ilmu komunikasi” dan “ilmu menulis”.
Pada konteks kini, orang Kristen masih melakukan dan memberlakukan dua metode klasik tersebut. Tetapi, media yang digunakan sudah berbeda. Dulu, media tulisan hanya terbatas pada beberapa benda saja, misalnya papyrus, kulit binatang, dan sebagainya. Tetapi sekarang, ada berbagai media yang bisa digunakan untuk mempublikasikan berita tentang keselamatan dari Yesus Kristus. Media digital adalah yang paling laris digunakan di berbagai belahan dunia. Faktanya, penggunaan media digital merambah ke berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk gereja dan teologi.
Teologi dalam dunia digital adalah fenomena perkembangan teknologi dan informasi di mana media digital (atau media sosial) menjadi produktif untuk persebaran gagasan teologis pada umumnya, dan doktrin-doktrin Kristen pada khususnya. Akibatnya, para rohaniwan dan teolog terdorong untuk bersama-sama memikirkan bagaimana langkah-langkah penginjilan dan diseminasi Injil Yesus Kristus melalui media-media digital.
Data teologi dan teologi data adalah bagian dari publikasi (diseminasi) gagasan teologis dan doktrin-doktrin Kristen. Data teologi adalah substansi dari iman Kristen yang disimpan untuk dipublikasikan. Teologi data adalah rancangan yang digunakan orang Kristen untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi teologi (iman Kristen), termasuk doktrin-doktrin fundamental untuk dipublikasikan. Tentunya, publikasi dimaksudkan untuk penyebarluasan pengajaran iman Kristen secara masiv (global). Berita keselamatan itu tidak bisa menjadi sesuatu yang dinikmati sendiri. Ingatlah perkataan Yesus: “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku….” Perintah ini menjadi lambar (alas) iman Kristen hingga sekarang ini.
Berita keselamatan yang terbungkus dalam teologi Kristen perlu mendapat perhatian khusus dalam hal publikasinya. Sebagaimana saya nyatakan di atas bahwa ada disparitas zaman dan konteks antara para rasul dan kita di zaman ini. Itulah yang kemudian kita pahami sebagai “[ber]teologi dalam dunia digital”. Digital itu sendiri dimaknai sebagai sebuah sistem yang canggih, terhubung dengan koneksi jaringan internet, dan sebagainya. Ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk berkarya bagi-Nya. Sikap kita tidak perlu berubah karena menggunakan teknologi digital, melainkan bagaimana kita menggunakannya sebagai media pemberitaan Injil, doktrin, dan lainnya.
Bebeerapa hal penting berikut ini perlu diperhatikan: pertama, publikasi teologi sebagai cara berteologi di dunia digital berarti memahami secara kredibel dan solid tentang doktrin-doktrin alkitabiah; kedua, menuangkan ide atau gagasan teologi untuk menjelaskan (mengelaborasikan) doktrin-doktrin ke dalam tulisan berbasis digital; ketiga, mempublikasikannya ke berbagai media sosial; dan keempat, mengarsipkan semua konteks [ber]teologi tadi. Inilah yang saya sebut dengan “Teologi Data”.
Profesor Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia”, menyebutkan tentang “agama data”. Teologi data terinspirasi dari konsep agama data yang disinggung Harari, dan kemudian saya komparasikan dengan teologi data versi Kristen. Teologi data adalah sebuah konteks di mana iman Kristen dijelaskan (didukung, dilegkapi) dengan menggunakan metode atau sistem data untuk memperkuatnya. Data yang dimaksud adalah semua hasil riset/penelitian, pemikiran, devosi (ketaatan), dan sebagainya, tentang teologi Kristen dari zaman dulu hingga sekarang ini. Teologi data sifatnya ekspansif dan masiv (massive). Sebagaimana internet menjadi konsumsi tanpa batas, maka Teologi data juga memiliki natur yang sama.
[Ber]teologi dalam dunia digital mau tidak mau harus kita cermati dan lakukan. Mengapa? Karena kita telah ditetapkan Tuhan untuk hidup di zaman digital. Para nabi dan rasul memiliki keunggulan zaman dan situasi di masa mereka melayani; mereka telah melakukan tugasnya dengan baik: verbal maupun tulisan. Lalu kita? Tak perlu tinggal diam dan berpuas diri dengan digital tanpa menghasilkan apa-apa. Tugas kita tentu bertambah satu yaitu masuk ke dalam dunia digital dan menghasilkan karya-karya tulisan yang merepresentasikan iman Kristen (gagasan, apologi, hermeneutik, riset doktrinal).
Para nabi dan rasul menuliskan apa yang mereka alami dan apa yang Tuhan inspirasikan, termasuk ejawantah kehendak dan rencana Allah dalam totalitas pelayanan dan kehidupan mereka, orang-orang yang dilayani, dan kepentingan penginjilan untuk sebuah masa depan yang gemilang bersama Kristus dalam Kerajaan-Nya. Dulu, tulisan-tulisan para nabi dan rasul terbatas hanya pada jemaat yang mereka layani—meski sekarang ini tulisan-tulisan mereka dapat dikonsumsi oleh semua manusia—tanpa hambatan—di dunia, secara masiv. Ini adalah bagian dari digitalisasi (proses pemberian sistem digital): Teologi Data.
Problem yang dijumpai adalah ada orang-orang tertentu yang hanya berpuas diri dengan imannya tanpa mempedulikan sesamanya. Teologi yang dimilikinya dinikmati sendiri; puas sendiri; senang sendiri; ngoceh sendiri, raup keuntungan, dan tipu jemaat soal keuangan. Ada berbagai kejadian yang dapat kita tarik untuk mendapatkan “wacana berbenah diri”. Kita dipanggil untuk menjadi berkat, bukan menipu berkat orang lain. Media digital yang ada sekarang ini adalah bagian yang dapat dijadikan sebagai saluran pewartaan ajaran-ajaran Kitab Suci. Media-media digital sudah tersedia di depan mata, masihkah kita lalai dalam mempublikasikan iman Kristen? Tapi ingat, jangan pamer! Jangan sombong! Tetap rendah hati! Jangan mencari popularitas karena kehebatan yang kita klaim sendiri! Jauhkan itu dari diri kita.
Teologi Data
Saya mencatat ada tujuh cakupan dari Teologi Data sebagai implikasi dari [ber]teologi dalam dunia digital yaitu:
Pertama, Teologi data adalah upaya diseminasi melalui digitalisasi pengajaran iman Kristen secara masiv, global—tanpa hambatan yang sulit. Hampir semua platform digital mudah digunakan.
Kedua, Upaya tersebut harus didukung oleh reliabilitas (ketelitian dan dapat diandalkan) gagasan/pemikiran teologis yang alkitabiah. Hal ini menunjukkan integritas hermeneutika yang sejati. Dengan maraknya penyesatan, bidat-bidat yang muncul kembali, telah menimbulkan gejolak di gereja dan masyarakat Kristen secara umum. Dibutuhkan upaya serius untuk memperhatikan pola kerja hermeneutika atas teks-teks Alkitab, sehingga menghasilkan ajaran yang sehat.
Ketiga, Upaya mengarsipkan Teologi Data dalam dunia digital sebagai bentuk “defense of mechanism” dan memudahkan pencarian topik-topik yang relevan ketika hendak didiskusikan.
Keempat, Mendorong para teolog, pemerhati teologi, guru, dosen, dan semua lapisan masyarakat Kristen untuk berteologi secara sehat, melalui verbalisme (percakapan/perkataan), konatifisme (perilaku), spiritualisme (kerohanian), dan melalui tulisan-tulisan.
Kelima, Memberikan ruang yang luas bagi proses penelitian teologi yang melihat konteks perkembangan zaman, sehingga teologi tidak menjadi kerdil di dunia yang serba berkembang, teologi tidak menjadi kaku di tengah semaraknya pemikiran, dan teologi tidak menjadi sempit ruang geraknya di dunia yang sangat luas.
Keenam, Teologi Data menghadirkan berbagai penelitian mutakhir untuk menjawab berbagai kritik dan kebutuhan semua lapisan masyarakat.
Ketujuh, Media digital sangat produktif untuk menjangkau sebanyak mungkin orang. Hal ini dimaksudkan agar Injil Yesus Kristus (berita keselamatan) tersebar luas dan memberikan pengaruh pertobatan bagi siapa saja di mana Roh Kudus dapat bekerja dengan tanpa batas sesuai kehendak dan kedaulatan-Nya. Kita adalah “media” Tuhan untuk menyalurkan berkat-berkat-Nya (melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan).
Teologi Data (tulisan dan penelitian) merupakan hal yang signigikan karena melaluinya pengajaran-pengajaran iman Kristen dapat dipublikasikan secara luas, tanpa hambatan, tanpa batas, sejauh yang dapat dijangkau. Tiga dasar utama mengapa kita perlu menerapkan pengetahuan (kekayaan intelektual) ke dalam sebuah karya tulis adalah: pertama, “VERBA VOLANT SCRIPTA MANENS [yang diucapkan dengan kata akan lenyap, yang dituliskan akan tetap berlaku]”, kedua, “WARISAN PALING BERHARGA ADALAH TULISAN”, dan ketiga, “TRADISI YANG TETAP BERTAHAN ADALAH TULISAN”. Teologi data mengutamakan analisis tulisan (kajian, kritik, respons) dan gambar-gambar (visualisasi) untuk mendukung kekuatan tulisan.
Teologi menggenggam dunia
Kemajuan digital tak dapat menggantikan dua metode klasik: verbal dan tulisan, sebab dalam digitalisasi juga memuat tentang ucapan (seseorang) dan tulisan. Gambar tidak lebih hebat dari keterangan gambar tersebut. Dalam video pun ada percakapan dan tulisan. Dua metode klasik yang Tuhan berikan kepada manusia akan selamanya digunakan meski kemajuan teknologi semakin canggih. Apalagi dengan teknologi Artificial Intellingence (AI), “kecerdasan artifisial (buatan)”, manusia semakin terbantu dengan teknologi tersebut. Tetapi, tentu ada bahaya-bahaya tersendiri. AI hanyalah sebuah alat bantu, bisa menjadi sebuah hiburan, dapat memberi kepuasan tersendiri, dan atau menjadi sebuah lelucon. Oleh sebab itu, secanggih-canggihnya teknologi, dua metode klasik tetap digunakan: “verba” dan “scripta”.
Dengan melihat fenomena AI, teologi masih tetap hidup dan mengarahkan kita untuk hidup kudus dalam kebenaran Kristus, tidak terpengaruh dengan bahaya-bahaya yang muncul dari gejala AI itu sendiri. Kita dapat mempergunakannya sejauh itu bermanfaat dan memberikan kepuasaan. Sisanya, AI bisa menjadi lelucon dan hiburan bagi manusia. Ada yang beranggapan bahwa AI akan menggantikan manusia. Lah, AI saja diciptakan oleh manusia, tentu tidak dapat menggantikan manusia. Memang benar, sistem AI dengan menggunakan robot sudah digunakan di beberapa negara untuk menggantikan tenaga manusia, tetapi proses perawatan robot-robot tersebut toh juga dilakukan oleh manusia. Kekuatan robot-robot dengan teknologi AI juga tidak bertahan lama jika tidak ada manusia yang mengontrolnya.
Teologi harus mengedepankan sistem berpikir bahwa kemajuan teknologi AI bukanlah sarana untuk meninggalkan Tuhan, melainkan kita semakin disadarkan bahwa semuanya hanyalah media untuk membantu dan mendukung manusia untuk mempermudah pekerjaannya. Selebihnya, AI hanyalah hiburan tersendiri, atau bisa menjadi bencana moralitas manusia jika salah menggunakannya. Misalnya robot seks telah menjadikan laki-laki enggan menikah dengan perempuan.
Kita harus ingat bahwa apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita—termasuk ilmu teologi—seyogianya diwartakan melalui media-media digital, dapat menjangkau banyak orang. Usaha ini akan berbuahkan hasil ketika menyadari bahwa kita adalah “saluran berkat”-Nya.
Signifikansi teologi data adalah untuk menyatakan kebenaran Injil. Teologi data tetap menjadi bagian dari tugas pelayanan kita untuk mempublikasikan iman Kristen. Teologi yang kita miliki siap dipublikasikan, jangan dinikmati sendiri, dan jangan memuaskan kesombongan diri. Bagikanlah itu kepada orang lain, selagi masih ada waktu.
Para nabi dan rasul adalah manusia biasa. Tetapi mereka menyadari bahwa apa yang Tuhan berikan kepada mereka, digunakan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana dengan kita? Masih santai dan menikmati “egoisme” semu atau turut berkontribusi dalam konteks “berteologi di [dalam] dunia digital?” Hanya kita yang bisa menjawabnya.
Salam Bae…..
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/woman-looking-at-monitors-with-light-decor-xXJ5xPcknRA









