
Spektrum konteks tentang “fakta kehidupan” adalah jendela di mana setiap orang dapat menunjukkan kemampuan pemahaman secara demarkasi dan kemudian menghasilkan “disparitas pemikiran”. Aktivitas logika tak berhenti hanya pada pengamatan atas fakta yang terjadi, melainkan juga diteruskan dan dirampungkan melalui fragmen-fragmen penting, sehingga terkesan menarik, utuh, dan memuaskan bagi diri dan hidup kita di masa kini dan mendatang.
Konstelasi (keadaan, gambaran) semacam ini, memberikan kita pengalaman yang rekursif (bersifat berulang atau mengulang) dari waktu ke waktu. Pasalnya, kita — selagi masih mampu — terlalu sering menunjukkan aktivitas logika di setiap waktu, baik untuk tujuan kehidupan di masa sekarang, maupun untuk tujuan di masa mendatang. Itu sebabnya, kita seringkali menarik diri dari situasi tertentu, mencoba merenung untuk menciptakan demarkasi pemahaman tentang sesuatu hal untuk sesuatu hal yang lain. Meskipun demikian, berbagai pertimbangan turut serta di dalamnya. Hal ini dilakukan karena kita menghendaki sesuatu yang baik datang pada kita.
Ada beragam cara yang dilakukan untuk membentuk hasil akhir dari pemikiran-pemikiran kita, yang berguna — utamanya bagi kehidupan yang dijalani. Tentunya, proses demarkasi dan disparitas ikut tertuang di dalamnya, meneropong masa depan. Abstraksi — proses memisahkan atau mendapatkan pengertian melalui seleksi — faktual dari tindakan-tindakan kita, memberi kesan bahwa sejauh ini kita masih menunjukkan komitmen diri untuk “mencintai hikmat, bergumul dengan keadaan, agar hidup menjadi lebih baik dan berpengaruh.”
Kita membentuk wacana — potensi berpikir sistematis, memberikan pertimbangan berdasarkan logika — tentang kehidupan. Di satu sisi, kita berhadapan dengan segala sesuatu yang ditujukan untuk diri kita, dan di sisi lain, segala sesuatu yang ditujukan bagi orang lain. Kita merangkum keduanya, meramunya, dan menyuguhkannya secara sadar atau manipulatif. Harapannya adalah agar hadir kebahagiaan, kedamaian, dan kesenangan, tanpa melupakan Allah yang menopang dan memberkati kita dari waktu ke waktu.
Kita seringkali melakukan negosiasi dengan kehidupan ini. Mencoba menyusun menara pengertian untuk menjadikannya sebagai bangunan yang kokoh dalam menghadapi pertempuran perasaan, relasi yang tak diinginkan, dan perlawanan dari pihak lain — dalam bentuk kebencian, iri hati, atau permusuhan. Ternyata, demarkasi kehidupan telah menyita waktu dan perhatian kita, ditafsirkan berdasarkan rasa dan asa, sehingga terbentuklah opini tentang kehidupan, orang lain, diri kita, dan relasi. Di sini, kita turut bertanya: apakah memang segala peristiwa bertujuan untuk kebaikan kita? Jika ya, maka kita perlu menahan diri untuk tidak segera memberi label negatif pada proses kehidupan yang memaksa kita untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
Epistemik iman dan harapan telah kita miliki — diberikan oleh Tuhan — untuk kebaikan kita. Sejatinya, refleksi kritis atas kehidupan ini memacu kita untuk tetap bertahan, menjaga integritas, dan hidup dalam pengharapan di dalam Tuhan. Kita sadar, bahwa waktu yang ada sangatlah berguna untuk menarasikan iman kita ke dalam perbuatan-perbuatan kebajikan, dan menjadi magnet cinta kasih bagi orang lain.
Proses kehidupan adalah spektrum — rangkaian yang bersinambung — aktivitas logika yang termaktub dalam tindakan-tindakan. Kita menabur setiap saat, entah baik, entah jahat. Kita berelasi dengan yang lain; kita berpikir setiap waktu, tentang apa dan bagaimana hidup ini disertai dengan kesadaran akan ‘nyawa’ yang membutuhkan sentuhan-sentuhan kuasa dari Sang Khalik. Tanpa Dia, kita lemah tak berdaya, hilang harapan, dan terkungkung dalam kemelaratan dosa sebagai hasil dari kepongahan, keburukan pikiran dan tindakan kita.
Dengan demikian, demarkasi dan disparitas pemikiran yang tampak pada narasi di atas, membawa kita kepada cakrawala kehidupan yang luas dan menjatuhkan pesan-pesan langit bak air hujan, membasahi logika kita untuk merancang bahwa “Tuhan tetap ada dan menyertai kita untuk menerima kebaikan dan masa depan yang bahagia”.
Setelah kita melihat kesadaran kehidupan yang terpampang dalam narasi di atas, kita beralih kepada prinsip kebenaran. Tampak bahwa demarkasi dan disparitas pemahaman akan kebenaran — di samping kehidupan — membutuhkan fragmen-fragmen penting sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.
Pertama, pendekatan atau perspektif. Kita memiliki alasan mengapa berbeda dengan yang lain dalam hal pemikiran. Hal itu disebabkan oleh karena ada pendekatan yang melatarinya. Setiap fakta kebenaran bisa ditinjau dari perspektif yang berbeda, dan hasilnya berbeda—sesuai dengan tujuan dari pendekatan yang digunakan. Memang, perspektif dilakukan untuk melihat berbagai sisi. Namun, seringkali pendekatan justru berujung pada negasi, penyimpangan, dan penyesatan. Di sini, navigasi perspektif dilakukan dengan motivasi tertentu untuk tujuan tertentu.
Kedua, sumber/data yang digunakan. Tak dapat dipungkiri bahwa bentuk-bentuk komunikasi, pernyataan kebenaran, penelusuran, menggunakan sumber atau data. Hal ini menjadi dasar untuk sebuah penegasan, pembuktian, dan penjelasan. Sumber atau data dalam kajian ilmiah sangatlah penting. Apalagi jika berbicara tentang kebenaran dalam Kitab Suci.
Ketiga, evidensi. Bukti adalah adalah pendukung argumentasi. Bukti bisa berupa suguhan sumber atau data, penalaran yang benar, penggunaan analogi, dan lain sebagainya. Bukti adalah sesuatu yang ‘sah’, digunakan dalam situasi tertentu untuk menegaskan fakta atau kebenaran. Perkataan dan pemikiran kita seringkali dihubungkan dengan evidensi untuk penguatannya.
Keempat, argumentasi. Di sini, rangkuman kebenaran yang mencakup sumber atau data sebagai evidensi, bisa menjadi sebuah argumentasi yang kuat. Argumentasi tanpa bukti akan menjadi kosong. Bukti tanpa argumentasi (maksudnya, penjelasan yang terang) akan menjadi lemah, atau bahkan tak berdaya. Kadang, argumentasi bisa membunuh bukti, dan bukti bisa membunuh argumentasi. Kebenaran Kitab Suci memuat keduanya.
Kelima, konsistensi logis. Sebuah pernyataan kebenaran, sepanjang ia menyuguhkan dirinya kepada publik, harus tetap konsisten. Kitab Suci memberikan data soal ini. Misalnya Yesus pernah mengatakan bahwa: “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. (Yohanes 5:21). Juga: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25), dan kemudian secara konsisten Ia buktikan: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Yohanes 11:43-44).
Keenam, penalaran logis. Fakta bahwa penalaran logis mengimplikasikan sesuatu hal masuk akal, disertai pembuktian dan penjelasannya. Penalaran logis tidak hanya menegaskan kemasuk-akalan, tetapi juga penjelasan yang mendukungnya. Bukankah hampir segala sesuatu memerlukan penjelasan lebih lanjut?
Ketujuh, konsekuensi logis. Fragmen ini menjelaskan akibat dari suatu hal. Kebenaran, apapun bentuknya, selalu memiliki konsekuensi logis, entah sebagai pengaruh, sebagai tujuan, atau hal lain. Setiap tindakan kita memiliki konsekuensi. Setiap perkataan kita memiliki konsekuensi. Kitab Suci terlalu sering menunjukkan konteks ini. Yesus Kristus pernah membuktikan hal ini:
Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu :”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia. (Matius 9:1-8).
Markus 2:7-10 dan Lukas 5:21-24 menekankan konteks yang sama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (bdk. Kel. 32:32; 1Raj. 8:34, 36; 2Taw. 6:25, 27; 7:14; Mikha 7:18, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa….”).
Akhirnya, kita memerlukan kesadaran untuk melihat bahwa kehidupan diinterpretasikan secara demarkasi dan menghasilkan disparitas pemikiran, demikian juga dengan kebenaran. Tetapi, ketika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menerima dan menikmati kebenaran-Nya, maka kita adalah orang-orang yang berbahagia, karena memang ada jaminan yang sediakan-Nya.
Memahami kebenaran dalam Kitab Suci memerlukan fragmen-fragmen penting sebagaimana yang disebutkan di atas. Kita adalah pelaku kebenaran-Nya dan di waktu yang bersamaan, kita memancarkan terang kasih-Nya dan membawa terang itu ke dalam totalitas kehidupan kita, mengawetkan relasi sosial, persekutuan, di mana kita menyalurkan fungsi sebagai garam dunia!
Salam Bae…..
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/man-holding-a-smartphone-near-the-window-J2e34-1CVVs

































