DEMARKASI DAN DISPARITAS PEMIKIRAN: Kehidupan dan Kebenaran

Spektrum konteks tentang “fakta kehidupan” adalah jendela di mana setiap orang dapat menunjukkan kemampuan pemahaman secara demarkasi dan kemudian menghasilkan “disparitas pemikiran”. Aktivitas logika tak berhenti hanya pada pengamatan atas fakta yang terjadi, melainkan juga diteruskan dan dirampungkan melalui fragmen-fragmen penting, sehingga terkesan menarik, utuh, dan memuaskan bagi diri dan hidup kita di masa kini dan mendatang.

Konstelasi (keadaan, gambaran) semacam ini, memberikan kita pengalaman yang rekursif (bersifat berulang atau mengulang) dari waktu ke waktu. Pasalnya, kita — selagi masih mampu — terlalu sering menunjukkan aktivitas logika di setiap waktu, baik untuk tujuan kehidupan di masa sekarang, maupun untuk tujuan di masa mendatang. Itu sebabnya, kita seringkali menarik diri dari situasi tertentu, mencoba merenung untuk menciptakan demarkasi pemahaman tentang sesuatu hal untuk sesuatu hal yang lain. Meskipun demikian, berbagai pertimbangan turut serta di dalamnya. Hal ini dilakukan karena kita menghendaki sesuatu yang baik datang pada kita.

Ada beragam cara yang dilakukan untuk membentuk hasil akhir dari pemikiran-pemikiran kita, yang berguna — utamanya bagi kehidupan yang dijalani. Tentunya, proses demarkasi dan disparitas ikut tertuang di dalamnya, meneropong masa depan. Abstraksi — proses memisahkan atau mendapatkan pengertian melalui seleksi — faktual dari tindakan-tindakan kita, memberi kesan bahwa sejauh ini kita masih menunjukkan komitmen diri untuk “mencintai hikmat, bergumul dengan keadaan, agar hidup menjadi lebih baik dan berpengaruh.”

Kita membentuk wacana —  potensi berpikir sistematis, memberikan pertimbangan berdasarkan logika — tentang kehidupan. Di satu sisi, kita berhadapan dengan segala sesuatu yang ditujukan untuk diri kita, dan di sisi lain, segala sesuatu yang ditujukan bagi orang lain. Kita merangkum keduanya, meramunya, dan menyuguhkannya secara sadar atau manipulatif. Harapannya adalah agar hadir kebahagiaan, kedamaian, dan kesenangan, tanpa melupakan Allah yang menopang dan memberkati kita dari waktu ke waktu.

Kita seringkali melakukan negosiasi dengan kehidupan ini. Mencoba menyusun menara pengertian untuk menjadikannya sebagai bangunan yang kokoh dalam menghadapi pertempuran perasaan, relasi yang tak diinginkan, dan perlawanan dari pihak lain — dalam bentuk kebencian, iri hati, atau permusuhan. Ternyata, demarkasi kehidupan telah menyita waktu dan perhatian kita, ditafsirkan berdasarkan rasa dan asa, sehingga terbentuklah opini tentang kehidupan, orang lain, diri kita, dan relasi. Di sini, kita turut bertanya: apakah memang segala peristiwa bertujuan untuk kebaikan kita? Jika ya, maka kita perlu menahan diri untuk tidak segera memberi label  negatif pada proses kehidupan yang memaksa kita untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Epistemik iman dan harapan telah kita miliki — diberikan oleh Tuhan — untuk kebaikan kita. Sejatinya, refleksi kritis atas kehidupan ini memacu kita untuk tetap bertahan, menjaga integritas, dan hidup dalam pengharapan di dalam Tuhan. Kita sadar, bahwa waktu yang ada sangatlah berguna untuk menarasikan iman kita ke dalam perbuatan-perbuatan kebajikan, dan menjadi magnet cinta kasih bagi orang lain.

Proses kehidupan adalah spektrum — rangkaian yang bersinambung — aktivitas logika yang termaktub dalam tindakan-tindakan. Kita menabur setiap saat, entah baik, entah jahat. Kita berelasi dengan yang lain; kita berpikir setiap waktu, tentang apa dan bagaimana hidup ini disertai dengan kesadaran akan ‘nyawa’ yang membutuhkan sentuhan-sentuhan kuasa dari Sang Khalik. Tanpa Dia, kita lemah tak berdaya, hilang harapan, dan terkungkung dalam kemelaratan dosa sebagai hasil dari kepongahan, keburukan pikiran dan tindakan kita.

Dengan demikian, demarkasi dan disparitas pemikiran yang tampak pada narasi di atas, membawa kita kepada cakrawala kehidupan yang luas dan menjatuhkan pesan-pesan langit bak air hujan, membasahi logika kita untuk merancang bahwa “Tuhan tetap ada dan menyertai kita untuk menerima kebaikan dan masa depan yang bahagia”.

Setelah kita melihat kesadaran kehidupan yang terpampang dalam narasi di atas, kita beralih kepada prinsip kebenaran. Tampak bahwa demarkasi dan disparitas pemahaman akan kebenaran — di samping kehidupan — membutuhkan fragmen-fragmen penting sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.

Pertama, pendekatan atau perspektif. Kita memiliki alasan mengapa berbeda dengan yang lain dalam hal pemikiran. Hal itu disebabkan oleh karena ada pendekatan yang melatarinya. Setiap fakta kebenaran bisa ditinjau dari perspektif yang berbeda, dan hasilnya berbeda—sesuai dengan tujuan dari pendekatan yang digunakan. Memang, perspektif dilakukan untuk melihat berbagai sisi. Namun, seringkali pendekatan justru berujung pada negasi, penyimpangan, dan penyesatan. Di sini, navigasi perspektif dilakukan dengan motivasi tertentu untuk tujuan tertentu.

Kedua, sumber/data yang digunakan. Tak dapat dipungkiri bahwa bentuk-bentuk komunikasi, pernyataan kebenaran, penelusuran, menggunakan sumber atau data. Hal ini menjadi dasar untuk sebuah penegasan, pembuktian, dan penjelasan. Sumber atau data dalam kajian ilmiah sangatlah penting. Apalagi jika berbicara tentang kebenaran dalam Kitab Suci.

Ketiga, evidensi. Bukti adalah adalah pendukung argumentasi. Bukti bisa berupa suguhan sumber atau data, penalaran yang benar, penggunaan analogi, dan lain sebagainya. Bukti adalah sesuatu yang ‘sah’, digunakan dalam situasi tertentu untuk menegaskan fakta atau kebenaran. Perkataan dan pemikiran kita seringkali dihubungkan dengan evidensi untuk penguatannya.

Keempat, argumentasi. Di sini, rangkuman kebenaran yang mencakup sumber atau data sebagai evidensi, bisa menjadi sebuah argumentasi yang kuat. Argumentasi tanpa bukti akan menjadi kosong. Bukti tanpa argumentasi (maksudnya, penjelasan yang terang) akan menjadi lemah, atau bahkan tak berdaya. Kadang, argumentasi bisa membunuh bukti, dan bukti bisa membunuh argumentasi. Kebenaran Kitab Suci memuat keduanya.

Kelima, konsistensi logis. Sebuah pernyataan kebenaran, sepanjang ia menyuguhkan dirinya kepada publik, harus tetap konsisten. Kitab Suci memberikan data soal ini. Misalnya Yesus pernah mengatakan bahwa: “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. (Yohanes 5:21). Juga: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25), dan kemudian secara konsisten Ia buktikan: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Yohanes 11:43-44).

Keenam, penalaran logis. Fakta bahwa penalaran logis mengimplikasikan sesuatu hal masuk akal, disertai pembuktian dan penjelasannya. Penalaran logis tidak hanya menegaskan kemasuk-akalan, tetapi juga penjelasan yang mendukungnya. Bukankah hampir segala sesuatu memerlukan penjelasan lebih lanjut?

Ketujuh, konsekuensi logis. Fragmen ini menjelaskan akibat dari suatu hal. Kebenaran, apapun bentuknya, selalu memiliki konsekuensi logis, entah sebagai pengaruh, sebagai tujuan, atau hal lain. Setiap tindakan kita memiliki konsekuensi. Setiap perkataan kita memiliki konsekuensi. Kitab Suci terlalu sering menunjukkan konteks ini. Yesus Kristus pernah membuktikan hal ini:

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu :”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia. (Matius 9:1-8).

Markus 2:7-10 dan Lukas 5:21-24  menekankan konteks yang sama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (bdk. Kel. 32:32; 1Raj. 8:34, 36; 2Taw. 6:25, 27; 7:14; Mikha 7:18, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa….”).

Akhirnya, kita memerlukan kesadaran untuk melihat bahwa kehidupan diinterpretasikan secara demarkasi dan menghasilkan disparitas pemikiran, demikian juga dengan kebenaran. Tetapi, ketika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menerima dan menikmati kebenaran-Nya, maka kita adalah orang-orang yang berbahagia, karena memang ada jaminan yang sediakan-Nya.

Memahami kebenaran dalam Kitab Suci memerlukan fragmen-fragmen penting sebagaimana yang disebutkan di atas. Kita adalah pelaku kebenaran-Nya dan di waktu yang bersamaan, kita memancarkan terang kasih-Nya dan membawa terang itu ke dalam totalitas kehidupan kita, mengawetkan relasi sosial, persekutuan, di mana kita menyalurkan fungsi sebagai garam dunia!

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/man-holding-a-smartphone-near-the-window-J2e34-1CVVs

TEOLOGI FILSAFAT: Kita, Esok, dan Masa Depan

“Segala sesuatu dapat diinterpretasikan berdasarkan demarkasi konteks”. Kita menempuh perjalanan logika yang terus bergulir di ruang publik. Ini-itu, sana-sini, baik-buruk, jatuh-bangun, adalah pilihan dan fenomena yang sering terjadi. Kita berjuang untuk sebuah kehidupan dan harga diri. Di dalam prosesnya, kita menampilkan karakter diri, potensi, dan komunikasi sebagai modal untuk dihargai, diterima, dan dihormati. Kita belajar, dan kita pun tak luput dari kesalahan. Kita bekerja keras, dan kita pun tak luput dari kegagalan. Kita mencintai dengan tulus, dan kita pun tak luput dari akal bulus pengkhianatan cinta. Kita mengharapkan yang terbaik datang, dan kita pun tak luput dari hal-hal buruk yang datang tanpa diduga.

Dalam guliran waktu, kita terus melihat kepada kehidupan yang sekarang sembari berharap dalam menggapai yang terbaik di waktu yang akan datang. Di sinilah peran kesadaran logika diperlukan untuk dapat melihat berbagai sisi kehidupan. Kita terus menyadari akan keterbatasan, kelemahan, dan kekurangan kita; berharap semuanya akan baik-baik saja. Akan tetapi, kita dipimpin oleh situasi agar secara sadar mengambil tindakan agar yang baik datang.

Logika kita — jika tidak karena terpaksa — memikirkan banyak hal untuk dapat bertahan hidup, mengelola hidup, dan mengembangkan potensi diri. Itulah sebabnya, kita melihat kepentingan dari Teologi Filsafat (selanjutnya disebut TF) untuk kesadaran diri, kehidupan, dan masa depan. TF itu sendiri adalah sebuah konteks yang familiar dan bahkan memberikan kita kesadaran yang tinggi. Artikel singkat ini hendak menjelaskan dua perspektif yakni materi filsafat secara umum dan materi TF yang dimaksudkan untuk menawarkan gagasan teologis dan filosofis tentang kita, hidup, dan masa depan.

Sebelum saya memaparkan tujuh aspek signifikan dari TF, terlebih dahulu saya menguraikan secara singkat materi filsafat berikut ini.

Materi yang pertama dari filsafat “ciptaan”. Ketika seseorang mencermati “ciptaan” dari perspektif non-biblikal, ia akan mungkin menarik kesimpulan yang berbeda, bahwa alam semesta dan segala isinya adalah sebuah evolusi tertentu dari waktu ke waktu, atau mungkin dalam bentuk kesimpulan yang lain. Intinya, kesimpulan yang ditarik memiliki disparitas dengan konteks Kitab Suci.

Filsafat mencermati dan menampilkan berbagai gagasan sebagai hasil dari olah logika terhadap ciptaan yang ada. Meski masih tersisa perbedaan pemahaman soal dunia ciptaan ini, yang pasti olah logika telah memberikan dampak yang besar bagi kemaslahatan manusia. Ciptaan dilihat dari berbagai segi untuk memberikan manusia sebuah prinsip yang akan memandu proses relasi dan hidupnya kini, esok, dan seterusnya.

Materi yang kedua adalah “waktu”. Para filsuf telah membahas soal filsafat waktu yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang penting dan tak terpisahkan dari kehidupan manusia secara mutlak. Di dalam waktu kita bergerak, bekerja, dan melakukan berbagai hal. Di dalam waktu kita berpikir untuk mempertahankan kehidupan; bahkan lebih dari itu, di dalam waktu kita menemukan banyak hal, membuang banyak hal, merelakan banyak hal, atau bahkan kehilangan banyak hal. Tetapi “waktu” telah mengajar kita tentang pentingnya kehidupan, cinta kasih, kedamaian, dan relasi penuh bahagia.

Materi yang ketiga adalah “ruang”. Ruang mendapat perhatian logika manusia untuk dipahami. Perspektif soal ruang juga telah memberi manusia banyak manfaat. Selain kita bergerak di dalam waktu, secara bersamaan kita bergerak dalam ruang. Tentu ada manfaat-manfaat tertentu bagi manusia yang memahami peran dan fungsi ruang dalam hidupnya. Kita tidak perlu memperdebatkan soal ini.

Materi dasar yang keempat adalah “manusia”. Filsafat memperbincangkan apa dan bagaimana manusia dapat bertindak, berpikir, dan turut serta dalam pertarungan kehidupan, suka dan duka, hidup dan mati. Tentu, kita tidak dapat memungkiri peran manusia dalam kehidupannya, sebab setiap manusia memperjuangkan kehidupannya sendiri, jika bukan orang yang ia kasihi dan cintai. Manusia menyelidiki manusia. Logika manusia memikirkan logika manusia lainnya. Dan begitu seterusnya.

Manusia yang diciptakan Tuhan telah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Ia jatuh dan bangun untuk sebuah kehidupan yang lebih baik; sebuah kehidupan yang menyenangkan, membahagiakan, atau memuaskan, entah positif atau negatif. Manusia adalah makhluk yang unik. Manusia telah menciptakan banyak hal untuk “kehidupan, relasi, dan masa depan”. Cintailah sesama manusia! Itulah pesan kehidupan yang Allah berikan bagi kita semua.

Materi dasar yang kelima adalah “imajinasi”. Imajinasi juga menjadi bagian penting dalam proses kehidupan manusia, entah tujuannya untuk memperkuat narasi perasaan, cinta kasih, hawa nafsu, atau yang lainnya. Yang pasti, imajinasi adalah gerakan logika yang mencoba mendemarkasikan objek atau subjek tertentu untuk suatu tujuan yang tertentu pula. Pernahkah Anda berimajinasi dengan kekasih, pasangan, atau selingkuhan Anda? Pernahkah Anda berimajinasi mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak? Pernahkah Anda berimajinasi jalan-jalan ke luar daerah atau negeri? Pernahkah Anda berimajinasi ingin menjadi presiden atau orang terkenal?

Materi dasar yang keenam adalah “peristiwa”. Kehidupan manusia tak lepas dari berbagai peristiwa yang terjadi. Pasalnya, setiap kita diperhadapkan dengan banyak peristiwa dalam satu hari. Barangkali, kita pun adalah pelaku dari peristiwa-peristiwa tersebut. Peristiwa yang terjadi atau fenomena telah menjadi objek logika dalam filsafat kehidupan manusia. Para filsuf memperhatikan peristiwa atau kejadian tertentu untuk bekal bagi diri sendiri, orang lain, atau perdebatan yang tak ada habisnya. Apa pun dapat diperdebatkan, terutama soal peristiwa. Pro dan kontra adalah hal biasa. Yang pasti, setiap peristiwa dapat memberi kesan yang baik atau buruk pada kehidupan kita; tergantung bagaimana kita menafsirkannya!

Materi dasar yang ketujuh adalah “perasaan”. Filsafat tidak lepas dari asumsi “saya rasa”! Saya rasa, kita dapat menarik banyak manfaat dari perasaan. Setiap manusia yang diperlakukan tidak baik, akan merasa tersakiti. Setiap laki-laki dan perempuan yang putus cinta, akan merasa kecewa, sakit hati, terbuang, dikhianati, atau bahkan terbuang dari arena percintaan. Perasaan tidak bisa diabaikan. Kita senang atau sedih, tergantung perasaan. Kita hina, diejek, direndahkan, pasti merasakan “sakit”. Karena kita adalah manusia berperasaan, maka yang terpenting adalah menjaga perasaan kita dan menghargai perasaan orang lain.

Jangan suka menyakiti orang lain. Mereka tentu akan merasa sakit hati atau pikiran. Jagalah lidah dan mulut kita; jangan melukai perasaan orang lain dengan kata-kata yang melecehkan. Alkitab memberi kita pesan terbaik untuk hal ini: “Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu” (Amsal 4:24). “Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong” (Amsal 6:12). “Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19). “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” (Amsal 13:3). “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya” (Ibrani 13:15).

Dari pemaparan materi filsafat di atas, saya menarik demarkasi konteks tentang TF sebagai berikut:

Pertama, TF memahami naturnya sendiri sebagai bagian dari dunia di mana kita tinggal. Sebab dengan memahami dunia ini, kita semua, termasuk para filsuf hendak menginterpretasikan segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing. Namun, demarkasi konteks menjadi tanda bahwa kita hidup dalam batasan-batasan tertentu yang patut dihargai, bukan diabaikan atau dikhianati. Sebagai bagian dari dunia ini, kita perlu memperhatikan dan melestarikan alam; kita tentu dapat menikmati hasilnya.

Kedua, TF memberi ruang bagi kita untuk mengeksplorasi segala sesuatu yang terhubung dengan kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita turut menafsirkannya untuk memberi rasa pada hidup, logika, relasi, cinta, dan kasih sayang. Eksplorasi dibutuhkan karena memang natur manusia adalah bergerak mencari sesuatu – utamanya untuk dirinya sendiri.

Ketiga, TF membuka wawasan kehidupan bahwa kita tidak hidup sendiri, tidak hidup untuk diri sendiri, dan tidak hidup untuk memuaskan hawa nafsu, sebab pada kenyataannya, semua peristiwa, termasuk mereka yang memiliki hawa nafsu dan terbakar olehnya, binasa dengan cara yang berbeda, yang mungkin tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Keempat, TF memberikan jembatan pemahaman bahwa segala sesuatu yang terjadi ada dalam kedaulatan Allah. Bagi orang yang percaya, Allah berdaulat atas hidup mereka. Ia bertindak sesuai kehendak-Nya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga” (Kisah Para Rasul 17:28). “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya” (Pengkhotbah 7:14). “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yesaya 45:7).

Kelima, TF memberikan berbagai solusi normatif-filosofis yang koheren dengan kehidupan praktis umat manusia. Kita tidak meminta masalah itu datang kepada kita, tetapi ketika masalah datang dalam hidup kita, maka kita belajar berpikir dan mencari solusi. Bukankah kita seringkali berpikir untuk menyudahi masalah ketika ternyata masalah itu membuat kita tersiksa, sakit kepala, sakit hati? Bukanlah kita harus berjuang untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, bukan?

Keenam, TF membawa kita kesadaran bahwa hidup itu adalah soal pilihan-pilihan yang terbatas. Mungkin ada yang mengatakan bahwa dengan kehendak bebas manusia dapat memilih apa saja. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah pilihan-pilihan manusia selalu terbatas, entah karena ia membatasinya sendiri (karena alasan tertentu) atau karena yang dipilih itu terbatas dan bahkan yang dipilih itu memberikan makna “membatasi”. Misalnya, tidak ada manusia yang memilih untuk dapat memakan makanan yang ditaruh di dalam sepuluh tong air yang besar dalam satu hari. Kondisi fisik kita yang membatasinya.

Ketujuh, TF menyadarkan kita akan masa depan. Kita tidak hidup untuk hari ini saja. Tuhan telah memberikan kita potensi untuk hidup, bekerja, dan menghasilkan segala sesuatu untuk kehidupan itu sendiri. Filsafat, bagaimana pun bentuknya, rasanya, dan tujuannya, selalu terhubung dengan “waktu yang akan datang”. Itu sebabnya TF memberikan kita lebih dari cukup tentang kesadaran bahwa kita dapat menikmati segala sesuatu di hari ini adalah karena alasan masa yang akan datang. Bukankah kita berupaya untuk dapat menikmati hari ini sekaligus berharap dapat menikmatinya di kemudian hari?

Marilah kita belajar dari kehidupan ini. Tuhan begitu baik; Ia menyediakan segala sesuatu untuk dapat kita nikmati dan rasakan sesuai kepentingannya. Bahkan Ia juga memberi kita segala yang terbaik untuk hari ini dan esok, dan seterusnya. Nikmatilah hidup ini dengan rasa syukur, bahagia, dan damai. Hindari konflik, hindari omongan yang melukai, hindari caci maki, dan hindari orang-orang yang berpotensi melukai perasaan orang lain, “bibir karlota [cerewet, bocor mulut] mulut parabola”.

Belajarlah dari kehidupan karena kehidupan itu sendiri adalah “guru terbaik untuk membentuk karakter, harapan, dan hidup kita, kini, esok, dan seterusnya”.

Salam Bae…..

ATRIBUSI TEOLOGI, FILSAFAT, ANALOGI, DAN OMONG KOSONG RIA

Berhadapan dengan kerja hermeneutik, orang Kristen memposisikan dirinya dalam sketsa atribusi, entah atribusi teologi, atribusi filsafat, atribusi analogi, atau atribusi omong kosong ria. Atribusi dipahamai dalam beberapa makna: tindakan mengaitkan sesuatu; kualitas, karakter, atau hak yang dianggap berasal dari sesuatu/seseorang (misalnya teologi, argumentasi, kekuatan pengaruh, dan lain sebagainya). Dalam pendekatan psikologi, atribusi dipahami sebagai sebuah proses interpretasi di mana orang membuat penilaian tentang penyebab perilaku mereka sendiri dan perilaku orang lain.

Dari beberapa makna di atas, atribusi teologi yang dibicarakan di sini dipahami sebagai sebuah proses penafsiran di mana seseorang membuat penilaian tentang penyebab tindakan-tindakan yang dilakukan atau yang orang lain lakukan untuk suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, tindakan-tindakan tersebut dilakukan sebagai proses mengaitkan, menghubungkan satu dengan lainnya. Artinya, atribusi teologi memperlihatkan fenomena yang terjadi dan ditafsir sebagai sebuah fakta yang tak terpisahkan. Utamanya dengan kedaulatan Allah atas diri seseorang.

Di sini, penilaian tentang penyebab tindakan-tindakan personal dihubungkan dengan konsep teologi, bahwa ada Allah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri; demikian juga bagi orang lain. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Atribusi teologi semacam ini menentukan posisi teologis seseorang sebagai sebuah pilihan pemahaman yang biblikal karena dikaitkan dengan kedaulatan Allah.

Atribusi filsafat berbicara tentang proses penafsiran di mana seseorang membuat penilaian berdasarkan filosofi tertentu tentang penyebab tindakan-tindakan yang dilakukannya atau yang orang lain lakukan. Penalaran secara filosofis membawa seseorang kepada pertimbangan tertentu, untung-rugi, menarik-tidak menarik, bermanfaat atau tidak bermanfaat, berguna atau tidak berguna, berkesan atau tidak berkesan, berpengaruh atau tidak berpengaruh, berhasil atau tidak berhasil, baik atau tidak baik, menyenangkan atau menyakitkan, mendamaikan atau menghancurkan, dan masih banyak lagi.

Atribusi filsafat lebih menekankan kepada penalaran logis dari sebuah tindakan, mengapa tindakan itu dilakukan, bagaimana melakukannya, apa tujuannya, apa dampaknya, dan apa kepentingannya bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Pada akhirnya, atribusi ini melemahkan prinsip-prinsip fundamen dari Kitab Suci ketika seseorang hanya bermain di ranah penalaran logis tanpa melibatkan prinsip-prinsip kebenaran Kitab Suci. Misalnya, secara praktis, orang mungkin berpikir bahwa “saya harus membalas dendam kepada orang-orang yang membenciku”. Masuk akal! Tetapi Yesus Kristus berkata lain: “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lukas 6:35). “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).

Prinsip mengasihi sesama manusia sebenarnya telah disinggung dalam Perjanjian Lama: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN” (Imamat 19:18), hanya saja Yesus memberikan prinsip pelampauan dari konteks Imamat di atas. Selain dari pada mengasihi sesama, Yesus menambahkan kualitas sikap “mendoakan mereka yang menganiaya”, “mengasihi musuh”, “berbuat baik kepada mereka yang membenci”, dan “meminjamkan sesuatu dengan tidak mengharapkan balasan”. Prinsip ini terlampau tinggi, dan sulit dilakukan bagi mereka yang bukan murid Yesus Kristus.

Atribusi filsafat mungkin menempatkan sebuah prinsip bahwa jika Anda ingin orang lain tidak memperlakukan secara buruk kepada Anda, maka jangan berlaku buruk kepada mereka. Yesus menempatkan hal ini sebagai sebuah standar ganda yang positif yang dilandasi dengan “kasih”, Kasih itulah dasar dari semua tindakan orang percaya terhadap orang lain, dan itu adalah perwujudan hukum “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 7:12: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Lukas 6:31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Rasul Paulus menekankan hal yang sama: Roma 13:3, “…. Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Semua tindakan kita, dilakukan sebagai wujud iman kita kepada Tuhan. Bahkan Yesus menegaskan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Atribusi analogi berbicara tentang proses penafsiran di mana seseorang membuat analogi tertentu tentang penyebab tindakannya atau tindakan orang lain. Hal ini sama saja dengan mengatakan: “Jika kamu berbuat jahat, maka saya akan lebih jahat daripada kamu”. Tindakan buruk menghasilkan tindakan yang lebih buruk. Jelas, hal ini bertentangan dengan apa yang Yesus nyatakan: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Konteks ini sebenarnya menempatkan Yesus sebagai Sang Pembalas kepada mereka yang berbuat jahat. Kitab Suci jelas memberikan ruang yang luas kepada pernyataan bahwa Allah akan membalas semua bentuk tindakan kejahatan. Yesus pun melakukan hal yang sama: Matius 16:27, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yohanes 5:27-28).

Atribusi omong kosong ria berbicara tentang proses penafsiran di mana seseorang membuat omong kosong berdasarkan kebodohannya, kesombongannya, kemunafikannya, dan kesesatannya tentang hasil tindakan-tindakan penafsiran yang dilakukannya dan dalam waktu bersamaan mengumumkan bahwa tindakan penafsiran yang benar yang dilakukan oleh mereka yang paham doktrin dan konteks biblika, adalah SALAH.

Atribusi ini dilakukan oleh mereka yang tidak belajar secara baik, mengoleksi sumber-sumber yang tidak kredibel, miskin referensi, dan mencoba memberikan penafsiran yang tidak biasa atau berlawanan dengan ajaran resmi gereja yang diwariskan sepanjang sejarah. Mereka menafsir sesuka hati, dan menyingkirkan konteks komprehensif dari doktrin Alkitab, dan semuanya omong kosong ria.

Fenomena ini terjadi di gereja-gereja yang para pendetanya hanya mengandalkan kemampuan berpikirnya yang praktis-praktis saja, mengutamakan nilai-nilai normatif dan memperjuangkan motivasi kehidupan, tanpa dibarengi dengan prinsip iman yang konkret. Ini bahaya besar bagi gereja. Atribusi omong kosong ria, sesuai konteksnya, berisi bualan-bualan teologis yang tanpa isi, menyesatkan, dan bebal. Otak kosong, omong kosong, dan menafsir tanpa mekanisme biblikal-relasional teks-teks doktrinal. Alhasil, pengikutnya akan menjadi manusia-manusia bebal, otak tumpul, miskin literasi, logika stagnan, dan beria-ria di atas kebodohan dan kebebalannya sendiri.

Kita membutuhkan atribusi teologi yang kredibel dan konsisten. Kualitas, dan karakter yang kuat dipandang sebagai berasal dari Allah yang berkuasa mendidik orang percaya menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Kita menaruh pemahaman kita tentang Allah yang berdaulat pada lokus yang sesungguhnya, di mana pemahaman yang benar berasal dari lokus yang benar: Alkitab, merangkum dasar dan identitas hermeneutika yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah (eksegesis).

Umumnya, atribusi omong kosong ria didasarkan pada pola “eisegesis” – memasukkan sesuatu yang salah, sesat, menyimpang, ke dalam teks-teks Alkitab. Prinsip korelasi tekstual diperlukan untuk memandu kita ke dalam pemahaman yang komprehensif tentang doktrin-doktrin Kitab Suci. Atribusi teologi dibutuhkan karena kita sendiri, dalam kesadaran penuh, menilai dan menafsir bahwa semua tindakan kita memiliki alasan (atau sebab) untuk dilakukan (dinyatakan).

Sama seperti yang diungkapkan Yesus: bahwa apa yang engkau kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, menyadarkan kita bahwa atribusi teologi yang kita pegang, menyarankan sebuah pemahaman yang konkrit bahwa: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:17).

Milikilah atribusi teologi yang sehat, kredibel, dan biblikal, sehingga semua bentuk penafsiran atau penilaian kita tentang dasar atau alasan tindakan-tindakan kita, senantiasa diarahkan kepada Allah yang menetapkan, mempersiapkan, dan memperlengkapi orang-orang pilihan-Nya untuk hidup dalam kasih-Nya, melakukan perbuatan-perbuatan baik, selaras dengan kehendak-Nya.

Salam Bae…..

“AMA A TUA VIDA”

Guliran waktu menyentakkan perasaan dan logika kita untuk melihat apa yang sedang terjadi pada diri kita, pada orang di sekitar kita, dan pada kondisi dunia saat ini. Di dalam waktu kita bergumul, bekerja, menangis, berdoa, melakukan apa yang kita kehendaki maupun yang tidak kita kehendaki. Di dalam waktu kita melihat orang-orang menikmati kehidupan yang layak dan tidak layak. Di dalam waktu kita melihat kejadian-kejadian terjadi di bawah kolong langit ini.

Kita semua memiliki pilihan. Pilihan untuk mengarahkan hidup kita pada apa yang kita inginkan, meksi tak sejalan dengan berbagai situasi yang mengelilingi kita. Sembari berdoa kepada Tuhan, kita pun dipaksa untuk melihat konteks kehidupan dan terus bekerja dan bekerja untuk suatu tujuan yang hendak dicapai.

Tak peduli seberapa berat kehidupan yang dijalani. Itulah prinsip dari mereka yang hendak mengembangkan kehidupannya sendiri dan orang-orang yang dicintainya. Lebih baik menyerah kepada keadaan daripada melanjutkannya. Itulah pilihan dan keputusan dari mereka yang merasa gagal sebelum berjuang.

Prinsip kehidupan memandu setiap kita untuk eksis dan menunjukkan nafas kehidupan melalui serangkaian tindakan yang berpotensi menghasilkan, memenuhi kebutuhan hidup, dan mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan. Mencintai diri dan hidup memang tak dapat dipisahkan. Di dalam hidup itu sendiri kita melihat keadaan kita seperti apa; di dalam diri kita tampil keinginan untuk bertahan hidup dan menikmatinya sesuai kadar, tak lebih, tak kurang; jika melewatinya, masalah-masalah akan bermunculan; mencoba melawannya akan mengakhiri kehidupan itu sendiri.

Prinsip umum yang perlu dipahami di sini adalah “ama a tua vida” (bh. Portugis) yang berarti “Cintailah hidupmu atau cintai hidupmu” (ungkapan lainnya adalah: “Amar a vida” dan “Amar a sua vida”). Prinsip ini mengisyaratkan bahwa kehidupan mendorong kita untuk mencintai apa yang kita miliki, termasuk hidup yang dijalani. Membenci kehidupan sama halnya dengan mengakhirinya. Selalu ada jalan, meski tak sejalan dengan pikiran dan kehendak kita; selalu ada jalan, meski tak selalu mulus berjalan; selalu ada jalan, meski bukan yang terbaik versi kita.

Hingga kita menyadari bahwa kita perlu mencintai kehidupan kita sendiri, kita mendapatkan apa yang semestinya, layak ataupun tidak layak. Kita bergulat dengan waktu, tetapi tetap ““ama a tua vida” – cintailah hidupmu. Tuhan telah memberikan banyak hal kepada kita, lalu kita tinggal diam? Tentu tidak! Gerakan-gerakan kecil lahir dari semangat untuk berjuang dan mempertahankan kehidupan.

“Ama a tua vida” – menyediakan banyak manfaat, asalkan kita menyadari betapa pentingnya kehidupan yang telah Tuhan karuniakan kepada kita. Seberapa penting usaha kita untuk bertahan hidup? Sangat penting. Potensi kita miliki, apa yang kurang? Logika masih berdiam dalam diri kita, apa yang perlu menghalangi kita untuk berpikir kritis menggapai tujuan? Harapan dan semangat menjadi sahabat karib di dalam hidup kita. Ikatlah mereka menjadi sahat sejatinya, kini, besok, dan nanti.

Mintalah hikmat dari Allah agar kita ditopang-Nya, dijaga-Nya, dan diberkati untuk mendapatkan apa yang kita upayakan dengan sepenuh hati, dan tidak melanggar firman-Nya.

“Ama a tua vida” perlu menjadi wejangan dan pegangan. Kita menapaki hidup dan berjuang untuknya. Tak ada kata terlambat. Kita masih hidup; kita masih memiliki kekuatan, harapan, dan semangat. Jangan menangis secara berlebihan; jangan bermalas-malasan; jauhkan orang-orang pecundang dari hidupmu; jauhkan para penipu dan pembohong; jauhkanlah segala pikiran yang menghambat kemajuanmu.

Berharaplah selalu kepada Sang Khalik. Mintalah bimbingan dan pertolongan-Nya; engkau akan merasakan lawatan ajaib-Nya, menjadikan dirimu bahagia dan lega. Cintailah hidupmu sendiri – “ama a tua vida” – jangan larut dalam kekecewaan. Semua akan baik-baik saja, semua akan indah pada waktunya. Tuhanlah pandu kita; Dialah sumber kebahagiaan yang sejati.

Salam Bae….

KEMUDAAN DAN FAJAR HIDUP ADALAH KESIA-SIAAN

Rentang waktu yang berlalu, membekas dalam ingatan bahwa peristiwa-peristiwa telah dilalui dan menghasilkan kondisi-kondisi, entah baik entah buruk. Dalam setiap peristiwa terkandung makna positif dan negatif. Setiap orang, baik yang kecil maupun besar, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mendapatkan kesempatan untuk dapat menyadari fakta kehidupan di mana ia harus bertindak atas peristiwa atau terlibat dalam peristiwa atau menolak perstiwa yang akan terjadi pada dirinya.

Tak dapat dipungkiri – dan memang demikian adanya – bahwa manusia menerima, menjalani, dan tak bisa menolak, tiga hal berikut: pertama, fakta hidup; kedua, pilihan hidup; dan ketiga, konsekuensi hidup. Ketiga hal ini diberikan Tuhan untuk dapat dimaknai dan disadari, apapun alasannya.

Dalam proses kehidupan, manusia menunjukkan apa yang seharusnya ia lakukan, meski kadang ada motif terselubung di baliknya. Itu berlaku bagi mereka yang memiliki tujuan untuk meraup berbagai keuntungan terselubung. Tidak demikian dengan mereka yang hidup benar di hadapan Tuhan. Mereka tahu dan sadar bahwa Tuhan menghendaki anak-anak-Nya bertindak selaras dengan kehendak-Nya dalam seluruh proses hidup mereka.

Itu sebabnya, fakta hidup yang dialami, pilihan hidup yang diambil, dan konsekuensi yang akan diterima, adalah jalinan yang begitu kuat untuk mendidik, mengajar, dan menyadarkan kita akan bahagia dan bahaya yang datang menghampiri kita. Salah memilih, pasti ada konsekuensinya. Begitu juga dengan benar dalam memilih.

Kemudaan yang kita rasakan sekarang ini bukanlah dasar untuk menyatakan bahwa kita hidup lebih lama dari mereka yang telah menua usianya. Fajar hidup yang terpampang di hadapan kita bukanlah alasan bahwa kita dapat melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan segala konsekuensinya.

Bukan jaminan dan alasan, ketika kita menganggap bahwa kita masih muda, masih menikmati matahari di usia muda, bahwa kita akan dapat merasakan berbagai jenis kebahagiaan. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa kita terbatas, lemah, dapat mengalami banyak hal yang dapat saja menghambat kehidupan, dan butuh bantuan orang lain.

Mungkin kesombongan menjadi salah satu penghambat bagi kita untuk menyadari segala keterbatasan kita. Orang-orang yang merasa kuat memilih orang-orang yang lemah dan menganggap bahwa dialah yang kuat dan berkuasa, padahal ia hanya menutupi kelemahannya sendiri. Dia melupakan keterbatasannya dan bertindak sesuka hatinya. Dia pikir dia hebat, padahal hanyalah angin yang berlalu.

Fakta hidup memperlihatkan kepada kita bahwa ada kesenangan, ada kesusahan, ada penderitaan, ada kesulitan, ada kesedihan, ada tragedi. Sebagaimana munculnya kesombongan, maka muncullah akibatnya. Kita tahu bahwa kekuatan kita di masa muda, tidak selamanya bertahan, karena ketika kita tua nanti, kita tidak lagi kuat.

Mereka yang lemah dan merasa paling kuat justru adalah orang-orang yang malang. Ia mengumpulkan orang-orang lemah dan bodoh untuk dijadikan umpan makanan dalam segala situasi. Hingga akhirnya ia terpapar tak berdaya, mengharapkan uluran tangan.

Fakta hidup begitu jelas di depan mata kita. Pilihan-pilihan hidup menentukan langkah kita selanjutnya. Mereka yang munafik mendapati di ujung jalan ada banyak masalah dan berbagai jenis kesakitan. Mereka akan menerima upah yang sepantasnya. Sedangkan mereka yang setia berada di jalan yang benar, mendapati para sahabat menyambutnya dengan senyum kebahagiaan, dan Tuhan memberkati senantiasa.

Pilihan hidup adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses tarikan nafas kita. Di setiap waktu kita diperhadapkan dengan pilihan, dan pilihan itu sendiri menentukan apakah kita bergerak atau stagnan (malas). Perasaan muda bisa saja menjadi pemicu gerakan untuk berhasil, tetapi merasa bahwa usia muda dan masih kuat sebagai upaya untuk mempertontonkan kesombongan, kemunafikan, kejahatan, dan berbagai jenis penipuan, malahan akan memperburuk keadaan, menjadikan tulang-tulang pada tubuh tampak menyeramkan: kurus kering.

Konsekuensi hidup menyatu dengan fakta dan pilihan hidup. Semua tindakan yang dilakukan akan menerima konsekuensinya. Sebagai contoh, Raja Salomo menuliskan: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik” (Pengkhotbah 11:6). Dari tindakan “menabur”, seseorang menerima hasil (konsekuensinya). Di samping itu, ia perlu mengingat hari-hari yang gelap atau malang, hari-hari di mana manusia bergumul, menghadapi berbagai situasi atau kejadian yang tak diinginkannya sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri yang diizinkan Tuhan Allah.

Salomo melanjutkan: “Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata; oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang adalah kesia-siaan” (Pengkhotbah 11:7-8). Kita berhadapan dengan kesia-siaan; menarik makna dari setiap peristiwa; mengambil pelajaran, dan bertindak hati-hati.

Dalam gumul juang, manusia berlomba-lomba dengan cara yang adil dan biadab, memilih untuk bertahan hidup dengan cara yang dikendaki Tuhan, atau cara yang dikehendaki Iblis dan diri sendiri (ambisi). Hingga akhirnya kita dapat menilai dan melihat hasilnya sebagai konsekuensinya.

Memang, usia muda memiliki banyak pilihan. Ketika yang muda masih merasa hebat karena perbuatan-perbuatannya yang jahat, karena pergaulannya dengan orang-orang yang sekarakter, memberi mereka kesempatan untuk terus hidup dalam dosa, kemunafikan, dan kebebalan. Tak ada yang dapat dibanggakan dari jenis kehidupan semacam itu, kecuali mereka sendiri yang membanggakannya.

Hingga kita tersadar, seperti yang diungkapkan Salomo: “KEMUDAAN DAN FAJAR HIDUP ADALAH KESIA-SIAAN”. Gambaran ini menarik, selain dari pada sebuah fakta yang tak bisa dibantah. Konteks ini adalah wujud dari kehidupan manusia, bahwa mereka yang merasa muda dan kuat menemukan bahwa mereka bukanlah apa-apa di hadapan Sang Khalik. Berikut gambaran fakta yang diungkapkan Salomo: “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan” (Pengkhotbah 11:9-10). Tentu, setiap tindakan ada konsekuensinya. Itulah penekanan Salomo. Bahwa kita semua akan menghadap Allah di pengadilan. Ia mengadili dengan adil dan menghakimi dengan adil pula.

Lalu, apa yang dapat kita banggakan? “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” (Pengkhotbah 12:1). Selagi masih ada waktu dan kesempatan, ingatlah senantiasa kepada Sang Khalik. Jangan sombong! Engkau akan menerima konsekuensinya. Fakta hidup menunjukkan hal itu. Pilihan hidup menentukan apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan konsekuensi hidup adalah hasil dari semua pilihan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan.

Sadarlah, sebelum terlambat. Jangan merasa hebat ketika engkau muda. Engkau hanyalah debu tanah. Engkau pun tak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Berharaplah pada Tuhan. Bersandarlah pada-Nya. Berpeganglah pada firman-Nya dan senantiasa hidup benar di hadapan-Nya, kini, besok, dan seterusnya.

Salam Bae….

BAGAIMANA MEMBANGUN TEOLOGI?

Teologi adalah respons dan interpretasi tentang Allah (tindakan-tindakan atau karya-karya-Nya) dan interpretasi terhadap wahyu (penyataan) Allah dalam Yesus Kristus. Dalam pemahaman yang lebih spesifik, teologi mengacu kepada hubungan pribadi (kita) dengan Allah yang didasarkan pada pengetahuan, pengenalan, dan iman kepada-Nya. Teologi itu sendiri berarti upaya kesadaran iman dalam membangun komunikasi antara Allah dan manusia.

Konteks berteologi memiliki ragam fitur, lokus, kepentingan, tujuan, dan harapan. Semua gerak berteologi menawarkan aspek-aspek tertentu entah yang terhubung dengan kehidupan, relasi, atau masa depan. Teologi itu sendiri menghasilkan tindakan-tindakan untuk dilakukan dalam bentuk tanggung jawab iman, kesadaran iman, upah iman, dan harapan iman.

Membangun teologi adalah sikap interaksi kita dengan Alkitab, ada tanya jawab antara kita dan Alkitab (dialogis). Dengan tindakan tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa hal itu merupakan fondasi teologi kita. Jika pengalaman kita tidak sesuai dengan Alkitab, maka perlu dikoreksi, ditinggalkan, diubah ke arah yang benar. Itu sebabnya, kekeliruan dogmatis yang terjadi di kalangan Gereja disebabkan karena melemahnya interpretasi dan demarkasi tentang prinsip-prinsip pemahaman doktrinal yang alkitabiah.

Membangun sebuah teologi berarti menjadikan Allah sebagai subjeknya dan bukan diri kita. Dari situlah mengalir ajaran-ajaran yang membenamkan diri kita pada cinta kasih, kemurahan, kehendak dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Teologi yang dibangun dari atas ke bawah adalah di mana Allah sendiri yang menjadi subjeknya, sedangkan teologi yang dibangun dari bawah ke atas berarti kita membicarakan tentang Allah yang telah berkarya bagi kita.

Dua prinsip tersebut tentu berbeda tetapi saling berkaitan erat. Teologi dari bawah ke atas bergantung pada point of view seseorang (perespons atau penafsir) yang dilatarbelakangi oleh pendidikan, daerah, budaya, status, tradisi, Gereja, dan sebagainya. Teologi dari atas bergantung pada Allah sendiri (atau Alkitab – wahyu Allah yang sempurna). Tipe teologi seseorang tergantung dari apakah dia memilih “dari atas ke bawah”, “dari bawah ke atas”, atau gabungan keduanya. Tolok ukurnya adalah bahwa semua teologi harus mencerminkan ajaran-ajaran Alkitab yang ditempuh melalui proses interpretasi yang kredibel, korelatif, dan demarkatif.

Seorang teolog biasanya membangun teologi hampir selalu dari pengalamannya (dari bawah ke atas) tentang Allah. Akan tetapi, proses berteologi dari bawah ke atas, jika dinilai secara benar, maka konteks itu dilatari oleh kesadaran iman bahwa Allah telah terlebih dathulu berkarya bagi kita, Ia telah lebih dahulu mengasih kita, barulah kita mengasihi Dia.

Rasul Yohanes menyatakan (dalam 1 Yohanes 4:10): “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”. Konteks berteologi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, keduanya saling berkait erat.

Meskipun membangun teologi sebagai bentuk tanya jawab atau dialogis antara kita dengan Alkitab, tetapi dalam memahami pesannya harus melihat pada kaidah hermeneutis yang bertanggung jawab. Dialogis antara kita dengan Alkitab (yang kemudian ditafsirkan), perlu juga dibicarakan dalam ruang “komunal”. Hal ini menjaga kemungkinan adanya kekeliruan penafsiran, sehingga ketika dibicarakan dalam ruang komunal, kita dapat saling meluruskan kekeliruan (penafsiran atau pandangan teologi), saling melengkapi, saling memberikan ketegasan penafsiran yang bertanggung jawab dan sebagainya.

Dalam berdialog antara kita dan teks (Alkitab), perlu dilakukan pendalaman bahasa (Ibrani, Aram dan Yunani) dan hal itu akan membawa kita kepada penerjemahan teks-teks. Maka, menerjemahkan adalah sama dengan menafsir (sesuai konteksnya) dan menafsir Alkitab adalah sama dengan membangun sebuah teologi. Itu sebabnya, teologi yang baik berarti pemahaman, penafsiran, dan pemaknaannya berdasarkan konteks-konteks dalam Alkitab itu sendiri.

Dalam proses berdialog dengan teks, sebenarnya kita juga sedang membangun teologi kita. Bangunan teologi tersebut, dasarnya hanyalah Alkitab. Teologi yang baik berdasar pada Alkitab. Jika keluar dari Alkitab, maka prinsip teologi seseorang, kelompok, atau Gereja akan membawa kepada penyesatan, kekeliruan, penyimpangan, dan pengabaian doktrin-doktrin yang benar.

BAGAIMANA MEMBANGUN TEOLOGI? Saya mencatat tiga hal:

Pertama, kita perlu mendasari semua interpretasi (penafsiran) terhadap teks-teks Alkitab secara komprehensif-korelatifisme, yaitu makna dan pesan teks PL dan PB terhubung atau terkait satu dengan lainnya. Tek-teks PL dan PB, sejarah, penyataan Allah, providensia Allah, semuanya memiliki korelasi tekstual, historis, dan tujuan Allah atas umat-Nya.

Kedua, kita perlu mengkaji semua teks Alkitab yang dihubungkan dengan konteks kehidupan kekinian. Artinya, pesan dan makna teks harus memberikan pengaruh bagi kehidupan yang kita jalani sekarang ini. Firman Allah pasti mempengaruhi kehidupan kita, membentuk iman dan karakter kita seperti yang Allah kehendaki. Artinya, tidak ada alasan bagi kita untuk membuang teks-teks tertentu tanpa makna bagi kehidupan kita. Apa yang Allah nyatakan dalam Alkitab, pasti dapat memberikan makna iman, hidup, pastoral, eskatologis, tanggung jawab, hukuman, larangan, bagi pribadi kita masing-masing.

Ketiga, kita perlu mengkomunikasikan semua interpretasi (penafsiran) Alkitab, baik itu doktrin-doktrin fundamental, relasi hidup yang benar dengan Tuhan Yesus, sikap hidup yang kudus, dan bagaimana tanggung jawab iman yang tertuang dalam turut kata (ucapan-ucapan), pemikiran, dan tindakan-tindakan nyata, agar orang-orang dapat menikmati kasih dan kemurahan Tuhan, diselamatkan, dan merasakan lawatan kuasa-Nya yang dahsyat.

Ruang berteologi menyediakan konstruksi teologi kita untuk dipublikasikan dalam narasi tekstual, narasi logika, narasi tindakan, narasi perkataan, dan narasi teladan kehidupan. Semuanya menyatu menjadi satu bangunan teologi yang kokoh. Dari situ kita menghasilkan buah-buah kebenaran dan memberikan pengaruh kepada sesama.

Salam Bae…..

PENGHUJUNG TAHUN BUKANLAH AKHIR KARYA DAN PELAYANAN

Sekarang kita berada di penghujung (penghabisan) tahun, yang tak mungkin kembali lagi, tetapi kenangan yang dialami akan tetap diingaat—dikenang selalu, baik suka maupun duka. Berbagai hal telah kita hasilkan, baik itu yang bermanfaat, maupun yang mengecewakan, melukai orang lain, dan membuat hidup mereka menderita. Atau barangkali hidup kita tertekan selama menjalani tahun ini, banyak drama dan hasutan, sayatan, dan luka batin. Pula, mungkin ada yang merasakan tahun ini sebagai tahun berkat Tuhan yang luar biasa. Apa pun pengalamannya, kita tahu bahwa tiga hal yang perlu disyukuri: nafas, waktu, dan kehidupan.

Semua yang dialami manusia tentu berbeda-beda. Pengalaman berharga di tahun ini akan menjadi kenangan abadi hingga ia menutup mata. Kesedihan, kebahagiaan, kedukaan, kesenangan, kepuasan, kenikmatan, kemarahan, semuanya menjadi kenangan terindah atau kenangan yang menyesakkan dada. Hidup yang kita jalani adalah hasil keputusan-keputusan yang kita ambil. Berbagai spekulasi pun muncul. Keyakinan menjadi sesuatu yang kuat, mengikat, dan hidup berjalan apa adanya. Terkadang ada mukjizat-mukjizat—kecil dan besar—atau pertolongan Tuhan yang sederhana yang kita alami, dan melaluinya kita bersyukur kepada Tuhan.

Karya-karya pun tak kalah menariknya. Kita mungkin telah menghasilkan sekian banyak karya, dan mungkin ada pula yang baru menghasilkan satu dua karya, atau lebih sedikit dari itu. Tak mengapa. Yang terpenting adalah pengaruh dan manfaat dari karya-karya tersebut. Bahkan mungkin juga ada yang belum menyelesaikan karya di akhir ini. Barangkali terkendala dengan berbagai kesibukan, pelayanan, atau kegiatan yang menyita waktu dan perhatian.

Tuhan melihat semua yang kita kerjakan. Entah dengan motivasi mencari keuntungan pribadi, atau mencari nama (popularitas), atau juga menjadi berkat bagi orang lain. Kita sendiri tahu apa motivasi dari semua jenis perbuatan yang dilakukan. Tuhan telah berkarya di dalam hidup kita, dan kita pun dituntut berkarya bagi Tuhan dan sesama. Nilai-nilai perbuatan dan karya tak terhindarkan. Orang lain menilai kita, karya, dan pelayanan kita. Semua nilai yang diberikan tidak lepas dari karakter dan motivasi kita.

Lalu apa yang dapat kita wariskan dan teruskan di tahun mendatang? Apakah kita berhenti dari karya dan pelayanan kita? Mungkinkah kita merasa bosan dengan hidup di tahun ini, lalu kita menghindar dan menjauh, bahkan meninggalkan Tuhan? Apa  yang telah kita buat untuk Tuhan, dan apakah itu didasarkan pada kasih kita kepada-Nya? Berapa banyak dari kita yang kecewa dengan Tuhan?

Pada akhirnya, kita hanya menerima dari taburan-taburan perbuatan dan pelayanan kita; kita menuai apa yang kita tabur. Tidak lebih dari itu. Dan Tuhan tahu segala sesuatu yang kita lakukan. Ketika kita memutuskan berkarya bagi Tuhan, maka kita pun harus konsisten dengan apa yang kita putuskan tadi. Kita dapat meminta kekuatan dan kemampuan dari Tuhan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Ketika karya itu belum terselesaikan di tahun ini, kita tetap berkomitmen untuk dapat menyesaikannya di tahun mendatang. Komitmen menentukan masa depan karya kita. Menyingkirkan atau mengabaikan komitmen untuk berkarya menjadikan kita sebagai pencundang yang tak layak diteladani. Ingatlah, kita berjuang di hari ini pasti terkait erat dengan masa depan. Ketika kita  berkarya bagi Tuhan, maka hasilnya akan kita rasakan.

Tuhan tak lalai menepati janji-Nya. Ia memberkati orang-orang yang tulus berkarya bagi kemuliaan nama-Nya. Meskipun rugi, mereka yang berkomitmen berkarya tak merasa kecewa atau marah. Mereka tahu bahwa karya yang bermanfaat lebih berharga dibanding karya yang hanya mengutamakan penampilan dan kesombongan diri, termasuk kesombongan akademis. Jauhlah hal itu dari pada kita.

Penghujung tahun ini bukanlah akhir dari karya kita. Masih ada kelanjutannya. Episode hidup masih diteruskan di tahun mendatang. Kita—semoga—dapat melakukan tujuh hal penting berikut ini:

Pertama, terus mewujudkan kehidupan yang benar di hadapan Allah. inilah yang Allah kehendaki. Kehidupan yang benar lahir dari iman kepada Yesus Kristus. Makna hidup kita ditaruhkan pada-Nya. Dengan demikian, totalitas kehidupan yang kita nampakkan koheren dengan iman kepada Tuhan Yesus. Tak ada kehidupan yang buruk yang lahir dari iman kepada Yesus. Sebaliknya, kehidupan yang baik dan benar, lahir dari iman kepada Yesus Kristus.

Kedua, teruslah berkarya. Karya adalah bagian pengembangan potensi diri. Potensi itu ada pada kita, tinggal bagaimana kita mengolahnya dan mengupayakan kerja keras yang mendatangkan hasil. Karya dan hasil adalah koheren di dalam konteks “menjadi berkat bagi orang lain”. Tuhan menghendaki kita untuk pergi menghasilkan buah.

Ketiga, teruslah berelasi. Relasi menjadikan kita semakin dikenal, berpengaruh, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Relasi itu indah sejauh kita dapat mengupayakannya dan mempertahankannya. Relasi yang terbangun harus dilandasi dengan kasih Kristus, dan dengan demikian kita berusaha untuk menunjukkan hal baik dalam relasi itu.

Keempat, teruslah melayani. Melayani itu indah karena kita mengerjakan pekerjaan Tuhan, Sang Khalik. Di dalam melayani kita menemukan makna kebersamaan, kepedulian, dan mengasihi. Kita dipanggil untuk saling melayani satu dengan lainnya. Kasih menjadi dasar pelayanan kita.

Kelima, teruslah menerima. Kita masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menerima kemurahan-Nya, dan dengan demikian, kita pun menjadi berkat bagi sesama. Kita meneladani Tuhan. Maka tak ada alasan untuk menolak menjadi teladan. Alangkah indahnya menjadi teladan dalam kata, perbuatan, dan pemikiran.

Keenam, teruslah menjalani. Ketika kesempatan hidup masih diberikan Tuhan maka di situlah kita harus menjalaninya. Hidup memang harus dijalani. Tetapi, bagaimana menjalaninya, mungkin menjadi pertanyaan penting bagi kita. Alkitab menegaskan bahwa kehidupan kita jalani haruslah berdasar pada kehendak Allah. Kita secara serius melakukan kehendak Allah: hidup kudus, menampik dosa, menyingkirkan dosa, dan menanggalkan manusia lama, manusia yang najis dan kotor karena dosa. Kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang kudus, karena Allah kita adalah kudus.

Ketujuh, teruslah bersyukur. Tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Segala sesuatu adalah anugerah. Dari situlah kita mengucap syukur. Kebaikan Tuhan tak dapat kita hitung dan kita ukur. Kita hanya dapat mensyukurinya sambil hidup berkenan kepada-Nya. Bersyukur adalah obat bagi hati yang gunda gulana. Bersyukur adalah obat bagi hati yang marah dan sedih. Bersyukur adalah obat bagi mereka yang sedang mengalami kegagalan dan tekanan. Selama kita masih diberikan nafas kehidupan, maka selama itulah kita mengucap syukur kepada-Nya.

Tahun yang baru akan kita tapaki bersama Tuhan. Harapan akan kita gapai. Ukiran-ukiran pelayanan dan karya haruslah tampak di tahun tersebut. Kita melanjutkan yang sudah ada, kita mengembangkan yang telah berjalan, atau kita menciptakan hal-hal baru, semuanya dilandasi dengan kesadaran bahwa itu akan terwujud karena kasih dan kemurahan Allah.

Semoga di tahun yang baru, Tuhan memampukan kita untuk berkarya dan melayani, melanjutkan karya dan pelayanan, atau menciptakan karya dan pelayanan yang baru. Tuhan memberkati kita yang memiliki motivasi yang benar untuk menjadi berkat bagi sesama, menjadi teladan, dan menjadi terang dan garam dunia, kapan pun, dan di mana pun.

Salam Bae……

HAMBA DAN TUHAN: DIALOG IMAJINATIF

HAMBA: Tuhan, aku sakit. Mengapa Engkau tidak menyembuhkanku?

TUHAN: Jalani saja prosesnya.

HAMBA: Ah Tuhan, hamba sudah berdoa kepada-Mu dengan sungguh-sungguh, tetapi mengapa hamba tak kunjung sembuh

TUHAN: Minum obat!

HAMBA: Sudah!

TUHAN: Pergi ke rumah sakit

HAMBA: Nah, itu Dia Tuhan. Engkau pasti tahu!

TUHAN: Pergi saja. Jangan buat alasan

HAMBA: Uangku tidak cukup untuk ke rumah sakit

TUHAN: Aku tahu engkau ada uang banyak, jutaan lagi

HAMBA: Ya, memang hamba ada uang, tapi “nol”-nya saya tambah supaya terkesan banyak

TUHAN: Cek rekeningmu. Ada berapa nol di sana

HAMBA: Ah Tuhan, hamba sudah cek tapi sudah berkurang, banyak kebutuhan

TUHAN: Sudah, pergi periksa dulu supaya tahu apa penyakitmu

HAMBA: Okelah Tuhan, hamba pergi periksa dulu

Setelah melakukan pemeriksaan, disuntik, dan diberi obat oleh dokter……..

TUHAN: Ehem…. sudah periksa ke dokter?

HAMBA: hehehe…. sudah Tuhan.

TUHAN: Bagaimana kondisimu sekarang?

HAMBA: Aku jadi malu Tuhan…..

TUHAN: Ngapain kamu malu?

HAMBA: Aku harusnya dari sejak awal ke dokter supaya bisa segera pulih. Sekarang kondisi hamba sudah berangsur pulih

TUHAN: Begini hamba-Ku. Engkau tidak perlu kuatir. Aku selalu mengawasi dan memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Ku.  Engkau tidak perlu kuatir soal kekurangan. Selalu ada jalan yang Aku berikan dan tunjukkan. Rambut di kepalamu terhitung semuanya. Burung pipit Aku pelihara, masakan engkau tidak?

HAMBA: Maafkan hamba, Tuhanku. Kadang, kekuatiranku melemahkan imanku kepada-Mu. Seringkali, kegelisahan, perasaan tidak cukup, banyak pertimbangan, membuat harapan dan kasihku tidak lagi mengarahkanku kepada-Mu, tetapi justru ditujukan kepada kegelisahan yang berlebihan. Mohon ampuni hamba, ya Tuhan.

TUHAN: Sekarang engkau sudah belajar dari kesakitanmu.

HAMBA: Benar Tuhan. Eh…. ngomong-ngomong, kapan Tuhan mau menambahkan “nol” pada tabungan hamba?

TUHAN: Ah… itu lagi…itu lagi. Hanya satu syaratnya

HAMBA: Apa itu Tuhan?

TUHAN: KERJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

HAMBA: Ah, Tuhan… maksud saya apakah ada cara lain supaya lebih cepat gitu?

TUHAN: Halaaaah…….. udah, kerja sana…..

HAMBA: Ya…. penonton kecewa, Tuhan

TUHAN: Hussss….. jangan bawa-bawa penonton ya!

HAMBA: Baiklah Tuhan. Hamba akan bekerja semaksimal mungkin. Topanglah aku, kuatkan aku, sehatkan aku terus, dan berkati aku senantiasa.

TUHAN: Udah….. udah…. sebelum engkau meminta, Aku sudah siapkan semuanya untukmu. Jangan lalai dalam melayani. Tetap semangat dalam bekerja. Jangan lupa berdoa!

HAMBA: Baiklah Tuhanku. Terima kasih atas cinta kasih dan kemurahan-Mu bagiku. Hamba akan semangat dalam melayani dan bekerja

TUHAN: Pergilah, dan jangan kuatir lagi!

HAMBA: Bungkusssss (siap laksanakan dengan penuh semangat)

SALAM BAE……

AGENDA KOMITMEN MELAYANI

Melayani Tuhan adalah hal yang terindah. Kita dapat berbagi berkat, pengalaman, talenta, dan berbagi karunia yang diberikan Tuhan kepada kita. Pelayanan yang telah dikerjakan selama ini sangat memuaskan, atau mungkin kurang baik an kurang maksimal. Kita dapat menilai pelayanan yang telah kita kerjakan. Apa pun hasil dan kondisinya, kita harus tetap bersyukur karena kesempatan melayani itu masih ada.

Apa yang kita tabur dalam pelayanan, itulah yang akan kita tuai di kemudian hari. Pelayanan-pelayanan yang telah dikerjakan tentu mendatangkan sukacita tersendiri. Kita merasakan bahwa tangan Tuhan yang kuat telah menyertai kita. Dalam keadaan-keadaan yang sulit sekalipun, kita merasakan kuasa-Nya bekerja atas pelayanan yang kita kerjakan. Ini adalah pengalaman menarik. Tak sedikit dari kita yang—pada akhirnya—merasakan jamahan dan lawatan kuasa Allah dalam pelayanan. Kita tentu sangat bersyukur dan berterima kasih, sambil memuji Dia yang telah berkarya dalam pelayanan kita.

Selain iman, pelayanan juga perlu mendapat perhatian serius terutama dalam hal merealisasikan perbuatan-perbuatan baik yang Tuhan Allah kehendaki untuk kita lakukan sehari-hari. Kita dapat mewariskan pelayanan yang baik itu kepada orang lain yang ingin melayani Tuhan, sama seperti kita. Mereka juga perlu dilatih untuk melayani. Dan kita dapat menjadi “pengajar” yang mengajarkan mereka bagaimana melayani Tuhan secara benar, dengan motivasi yang benar pula, berkomitmen, berintegritas, dan menyelesaikan tugas pelayanan dengan penuh tanggung jawab.

Itu sebabnya, kita dapat membuat agenda komitmen melayani di masa depan. Ini dapat dijadikan sebagai komitmen untuk semakin giat melayani, meningkatkan pelayanan, dan semakin menyadari bahwa melayani itu indah dan mengesankan.

Pertama, melayani dengan sepenuh hati. Pelayanan yang sesungguhnya adalah pelayanan dengan sepenuh hati, bukan setengah hati, atau tanpa hati. Di dalam pelayanan yang sesungguhnya, kita memberikan hati kita untuk “berbagi” dengan sesama. Jika di tahun ini kita telah melakukannya, maka di tahun yang akan datang, kita juga tetap melakukannya dan semakin giat melakukannya. Pelayanan yang telah dikerjakan tidak pernah terbuang percuma.

Kedua, melayani dengan kasih. Selain melayani dengan sepenuh hati, pelayanan itu sendiri harus dilandasi dengan kasih. Ini adalah komitmen yang baik. Sebagaimana Yesus Kristus telah mengasihi kita, maka kita harus menunjukkan sikap mengasihi kepada sesama kita dalam konteks pelayanan. Kasih adalah dasar dari segala sesuatu. Itulah yang Allah nyatakan kepada kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Rasul Paulus menandaskan: “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Ketiga, melayani bersama dan membangun bersama. Ketika kita melayani dengan sepenuh hati yang dilandasi dengan kasih Kristus, maka kita—secara substansial—sedang melayani bersama dan membangun pelayanan yang dipercayakan Tuhan Allah kepada kita. Kita tidak melayani sendiri. Kalau pun kita pernah melayani sendiri dan meletakkan dasar pelayanan itu, maka pasti ada orang lain yang Tuhan persiapkan untuk melanjutkan pelayanan itu. Tuhan tak membiarkan pelayanan bagi-Nya hilang begitu saja. Dan dengan demikian, kita melayani bersama dan membangun bersama.

Berapa banyak dari kita yang telah melayani dan membangun bersama? Tentu sangat banyak. Kita pun berbahagia akan pencapaian itu. Kiranya pencapaian-pencapaian yang telah terwujud di tahun ini, akan terus berkembang dan meluas di tahun-tahun yang akan datang.

Melayani itu indah. Kita terpanggil untuk itu dan dipersiapkan Allah untuk menyatakan kasih dan kemurahan-Nya dalam berbagai bentuk pelayanan. Tak ada alasan untuk tidak mau melayani Tuhan. Kita telah diselamatkan, dan ungkapan syukur atas hal itu adalah dengan melayani Tuhan kita dengan komitmen dan integritas yang kuat.

Betapa bahagianya melayani Tuhan. Mereka yang telah puluhan tahun melayani, atau yang baru beberapa bulan dan tahun, dapat merasakan bahwa pelayanan itu adalah membawa berkat bagi orang lain. Kita dapat merealisasikan iman dan kasih dalam pelayanan. Semua pelayanan bagi Tuhan sama pentingnya, sama berkatnya, dan sama kasihnya. Kasih tidak membeda-bedakan pelayanan. Pelayanan yang kecil dan besar, keduanya sama-sama dilakukan untuk Tuhan.

Kita teringat akan pesan Rasul Paulus, bahwa: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 3r:17), “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Luar biasa bukan?

Jangan bersedih hati ketika pelayanan kita dipandang sebelah mata. Bersyukurlah, karena mereka yang memandang dengan sebelah mata membuktikan dua hal: pertama, mereka masih punya mata untuk memandang pelayanan kita, dan kedua, mereka melihat bahwa kita masih melayani. Oleh sebab itu, tetaplah semangat dalam melayani Tuhan.

Ingatlah, bahwa: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28) sebab “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

Mari, kita melayani bersama dan membangun bersama pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan kepada kita. Saling bekerja sama untuk memajukan pelayanan yang dilandaskan pada kasih Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk bekerja bagi-Nya karena Dialah kemuliaan kita, Dialah kehidupan kita, kini, dan sampai selama-lamanya.

Melayanilah dengan kasih; lanjutkanlah pelayanan yang telah kita kerjakan, di tahun yang akan datang, dengan penuh semangat, dan sepenuh hati. Kasih Tuhan menyertai kita semua.

Salam Bae….

KEMULIAAN BAGI ALLAH DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI

Peristiwa kelahiran Sang Juruselamat Dunia, Yesus Kristus, telah menguncang dan mengubah dunia. Dalam peristiwa tersebut, pertama-tama kita melihat dalam narasi Lukas 2:13-14 menyebutkan bahwa seorang malaikat bersama-sama sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Sorga adalah bukti pertama menyatakan sukacita Natal Yesus Kristus. Setelah itu, para gembala bersukacita karena berita yang disampaikan malaikat, benar adanya.

Kemuliaan Allah dinyatakan pada manusia. Yohanes menulis: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Paulus juga menuliskan bahwa: “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan” (1Tim. 3:16).

Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah. Demikian yang diungkapkan penulis kitab Ibrani: “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka” (Ibr. 1:3-4).

Kristus adalah “pengetahuan tentang kemuliaan Allah”. Hal ini sebagai bukti penggenapan dari kitab Nabi Habakuk: “Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut” (Hab. 2:14) yang terungkap dalam tulisan Rasul Paulus: “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6).

Kristus membawa pengetahuan tentang kemuliaan Allah. Dialah yang menyatakan Allah bagi kita. Kemuliaan itu telah bersinar dan menerangi dunia yang berdosa, dunia yang gelap. Dari gelap terbitlah terang kemuliaan Tuhan. Ingatlah apa yang disampikan oleh Nabi Yesaya: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1). “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yes. 60:2).

Yesus adalah Terang Dunia [ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου – egō eimi to phōs tou kosmou] (Yoh. 12:8). Terang itu bersinar dan menyinari. Memberikan kehangatan dan sukacita surgawi. Yesus telah melakukannya. Semua orang yang percaya kepada-Nya, diterangi hatinya dan menerima berkat yang luar biasa. Terang itu juga memberikan damai sejahtera. Baik kemuliaan, terang, dan sukacita, semuanya diberikan kepada kita yang berkenan kepada-Nya. Dialah yang menjadikan kita berkenan kepada-Nya. Damai sejahtera yang Kristus berikan pertanda hadirnya keselamatan yang Allah karuniakan kepada umat-Nya. Lukas menyatukan narasi “kemuliaan bagi Allah” dan “damai sejahtera” dalam satu peristiwa tunggal di kolong langit ini. Itu sebabnya, dengan berani Petrus mengatakan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12). Lukaslah yang mencatat pernyataan Rasul Petrus tersebut.

Menurut Darrell L. Bock, teks Lukas 2:14 mengusung dua konteks yang besar: pertama, surga bersukacita dan memuji Allah atas karya keselamatan, kedua, orang-orang yang dikenan Allah melalui Yesus Kristus akan mengalami harmoni (keselarasan) dan keuntungan yang Allah anugerahkan kepada mereka. Itu sebabnya, nyanyian pujian bala tentara sorga: “kemuliaan bagi Allah”, merujuk pada suatu atribut Allah, menggambarkan keagungan-Nya, keperkasaan, otoritas, terang  yang menyinari, kehadiran, dan kualitas diri Allah yang patut dihormati, dipuji, dan dimuliakan.

Allah adalah sumber kemuliaan. Dialah yang memberikan kemuliaan kepada kita. Kita mencerminkan kemuliaan Tuhan (2Kor. 3:18). Kita dipanggil kepada kemuliaan Kristus dan Allah (1Ptr. 5:10; Ibr. 2:10; 1Tes. 2:12). Kita menerima mahkota kemuliaan (1Ptr. 5:4). Kita memiliki Roh kemuliaan (1Ptr. 4:14). Kita memperoleh kemuliaan (1Ptr. 1:7; 2Tes. 2:14). Kita akan menerima kemuliaan Allah (Rm. 5:2). Allah tidak saja memberikan kemuliaan kepada kita, tetapi juga damai sejahtera. Itulah yang kita lihat dalam peristiwa Natal.

Teks Lukas 2:14 memiliki nada yang sama dengan bagian lain yang dituliskan oleh Lukas: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38). Artinya penyatuan kemuliaan dan damai sejahtera telah menjadi bagian penting dalam narasi keselamatan. Allah yang mulia, di tempat yang tinggi, datang, turun menjadi manusia, memberikan damai sejahtera yang luar biasa.

Nabi Yesaya telah menulis bagi kita: “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk’” (Yes. 57:15). Teks ini secara tegas memperlihatkan bahwa Allah yang bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus, memberi diri-Nya dikenal, diimani, dan disembah oleh umat-Nya; Ia, yang berada di tempat yang mahatinggi, tapi juga datang “bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati”; Ia melawat mereka, memberkati dan menopang. Ia pula yang menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan menghidupkan hati orang-orang yang remuk. Sunguh luar biasa.

Kristus Yesus telah menunjukkan kepada kita, bahwa Ia yang adalah Allah yang kekal, datang memberikan kemuliaan-Nya, memberikan damai sejahtera-Nya (Ef. 2:14; Kol. 3:15; 2Tes. 3:16; Yoh. 14:27). Natal-Nya telah mengubah dunia, membarui dunia dengan kuasa damai sejahtera-Nya. Damai sejahtera itu membunuh perselisihan, pertikaian, dan iri dengki. Tanpa damai sejahtera, kehidupan manusia menjadi kacau-balau, tanpa arah, dan hidup dalam kubangan dosa.

Bersyukurlah karena Yesus Kristus telah menghadirkan kemuliaan Allah bagi dunia yang berdosa, menghadirkan damai sejahtera sorgawi untuk mengarahkan diri kita kepada kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Kita harus hidup dalam damai sejahtera-Nya, bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Dia, Juruselamat kita, yaitu Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, hormat, dan kuasa, sekarang dan sampai selama-lamanya. Dan oleh pimpinan Roh Kudus, kita bertumbuh dan berbuah dalam pengenalan akan kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.

SELAMAT NATAL

Salam Bae….

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai