
Salah satu doktrin paling mendasar dan sekaligus paling rumit dalam Kekristenan adalah doktrin Trinitas — bahwa Allah adalah satu secara hakikat (essentia) namun bereksistensi kekal dalam tiga pribadi (hypostaseis): Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tradisi Reformed–Injili menegaskan bahwa doktrin Trinitas bukan hanya spekulasi metafisik, melainkan pusat pengenalan Allah, penciptaan, penebusan dan kehidupan gereja. Sebagaimana akan ditunjukkan bahwa analogi-analogi manusiawi sering digunakan sebagai pintu masuk pemahaman, tetapi harus dibatasi agar tidak melampaui wahyu atau menjerumuskan menjadi kesalahan teologi. Pada saat yang sama, doktrin Trinitas memiliki implikasi ontologis yang kuat: Allah sebagai realitas yang mendasari semua yang ada, epistemologis: bagaimana manusia tahu Allah, dan hermeneutik: bagaimana kita menafsir wahyu tentang Allah.
Analogi Trinitas: Peluang dan Batas
Analogi-analogi untuk Trinitas telah lama digunakan dalam pengajaran Kristen sebagai “jembatan” menuju pengertian atas misteri Allah. Misalnya, analogi “matahari, sinar, dan panas” yang dikaitkan dengan John Calvin: “Bayangkan Bapa sebagai matahari abadi, Anak sebagai sinar yang memancar dari matahari, dan Roh sebagai kehangatan yang menjangkau manusia.” Namun, tradisi Reformed sekaligus memperingatkan bahwa analogi selalu memiliki keterbatasan. Sebagaimana Carl R. Trueman mensinyalir: “The problem with such an analogy — indeed, with any analogy — for the Trinity is … more misleading than helpful” [Masalah dengan analogi semacam itu — memang, dengan analogi apa pun — bagi Tritunggal adalah … lebih menyesatkan daripada membantu].
Analoginya dapat memancing pemahaman awal, tetapi jika dipakai tanpa batas, bisa menyeret kita ke heresi seperti modalisme atau partisisme. Sebagai contoh, analogi atom yang pecah untuk menjelaskan ke-“tiga-an” dalam satu Allah: sebagaimana Gerald Bray menulis, “When we enter into the inner life of God, we see him in a way that we did not previously imagine” [Ketika kita memasuki kehidupan batin Allah, kita melihat-Nya dengan cara yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan]. Analogi ini menggambarkan bahwa satu esensi bisa menampakkan diri dalam tiga pribadi, namun dengan keras dikatakan bahwa analogi tersebut memang terbatas, sebab “there is nothing in the universe like Him in this respect” (Benjamin B. Warfield).
Dari perspektif Reformed, analogi boleh digunakan sebagai alat pedagogis, tetapi bukan sebagai definisi akhir. Sebagaimana artikel membahas, analogi harus selalu ditempatkan dalam kerangka wahyu alkitabiah dan pengakuan ortodoks : satu substance, tiga persons, sama kekal, sama berkuasa, sama hakikatnya. Tanpa kerangka tersebut, analogi bisa menggiring kita ke subordinationisme ataupun tritheisme.
Realitas Ontologis Trinitas: Kesatuan hakikat dan keanekaan pribadi
Secara ontologis, doktrin Trinitas menegaskan bahwa Allah memiliki satu hakikat atau esensi (ousia/substantia) tetapi nyata dalam tiga pribadi (hypostaseis). Pengakuan tradisional (misalnya dalam Athanasian Creed) menyatakan: “One God in Trinity, and Trinity in Unity”. Dari perspektif Reformed, hal ini tidak sekadar abstraksi metafisik, tetapi menyangkut realitas bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sepenuhnya Allah – tidak tiga dewa – dan masing-masing pribadi berbeda, tetapi tidak terpisah.
Kitab Suci memberikan beberapa titik terang: misalnya pada Yohanes 1:1 (“Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama Allah dan Firman itu adalah Allah”), dan kemudian pada Matius 28:19 (“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”). Implikasi ontologisnya adalah bahwa Allah bukanlah monad pasif tanpa relasi, melainkan keberadaan yang dalam diri-Nya memiliki relasi kekal (perichoresis). Istilah klasik ini menunjukkan saling memasuki di antara pribadi-pribadi Ilahi.
Hubungan antara Trinitas Imanen (Ontologis) dan Trinitas Ekonomi
Dalam literatur Reformed, perhatian pada relasi antara “immanent” (ontologis) dan “economic” (oikonomia) Trinity penting. Immanent Trinity (Trinitas imanen atau Trinitas ontologis) mengacu pada realitas internal Allah sebagaimana Ia ada dalam diri-Nya sendiri, ad intra — yaitu kehidupan dan relasi antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang kekal, sebelum dan tanpa kaitan dengan ciptaan. Ini adalah Trinitas sebagaimana Allah ada (being of God). Economic Trinity (Trinitas ekonomi) mengacu pada cara Allah menyatakan diri dalam sejarah keselamatan (ad extra), yakni bagaimana Bapa mengutus Anak dan Roh Kudus dalam karya penciptaan, penebusan, dan penyempurnaan. Ini adalah Trinitas sebagaimana Allah bertindak. Sebagaimana Seung Goo Lee menulis:
“The economic Trinity is the epistemological ground of the immanent Trinity whereas the immanent Trinity is the ontological ground of the economic Trinity” [Trinitas Ekonomi merupakan dasar epistemologis dari Trinitas Immanen, sedangkan Trinitas Immanen merupakan dasar ontologis dari Trinitas Ekonomi]. Artinya, apa yang Allah lakukan dalam sejarah (Penciptaan, Penebusan, Penyucian) mencerminkan siapa Allah secara kekal. Kegiatan Allah dalam sejarah bukan tambahan terhadap hakikat-Nya, melainkan penyingkapan hakikat-Nya. Dengan demikian, doktrin Trinitas tidak hanya relevan bagi salib Kristen, tetapi juga bagi seluruh kosmos.
Wahyu Alkitab Perjanjian Lama dan Baru
Walaupun Perjanjian Lama tidak secara eksplisit menyatakan Trinitas dalam formulasi “Tiga Pribadi”, Reformed teologi melihat bahwa “riwayat” dan “bayangan” Trinitas sudah ada di dalamnya. Warfield menggambarkan:
“The Old Testament may be likened to a chamber richly furnished but dimly lighted… the mystery of the Trinity underlies the Old Testament revelation, and here and there almost comes into view” [Perjanjian Lama dapat diibaratkan sebagai sebuah ruangan yang dihiasi dengan mewah namun diterangi dengan redup… misteri Trinitas mendasari wahyu Perjanjian Lama, dan sesekali hampir terlihat]. Contoh‐contoh seperti Mazmur 110:1 (“Tuhan berfirman kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku…’”) atau Kejadian 1:26 (“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kami…’”) menjadi bagian dari fondasi untuk pengenalan lebih lanjut dalam Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru kemudian menegaskan bahwa Anak adalah Allah (Yohanes 1:1-3; Kolose 2:9) dan Roh Kudus adalah Allah (Kisah Para Rasul 5:3-4). Dengan demikian, realitas ontologis Trinitas tidak bisa diabaikan oleh teologi Reformed—melainkan menjadi pusat pengenalan Allah.
Analogi dalam Tradisi Reformed: Penggunaan dan Kritik
Tidak sedikit teolog Reformed yang menggunakan analogi untuk membantu pemahaman. Calvin sendiri menggunakan analogi matahari–sinar–kehangatan sebagai ilustrasi (sebagaimana disebut di atas). Analogi ini menekankan bahwa satu hakikat Allah memancarkan diri-Nya dalam tiga pribadi yang berbeda tetapi satu hakikat. Analogi dari Gereja turut berkembang: analogi “luber” kasih/agape (lover–beloved–love), sebagaimana ditemukan dalam tradisi Augustinian. Namun, Reformed juga berhati-hati. Warfield menegaskan bahwa analogi, pada akhirnya, tidak mencukupi:
“In His trinitarian mode of being, God is unique; … so there is nothing which can help us to comprehend Him” [Dalam mode keberadaan-Nya yang trinitarian, Allah adalah satu-satunya; … sehingga tidak ada yang dapat membantu kita untuk memahami-Nya]. Vern S. Poythress pun, dalam artikelnya, menunjukkan bagaimana analogi untuk Trinitas juga dapat mempengaruhi logika dan ontologi manusiawi (“Reforming Ontology and Logic in the Light of the Trinity”).
Kritik terhadap analogi yang tidak terkendali
Carl Trueman memperingatkan bahwa analogi-analogi mudah jatuh ke arah kesalahan: “The problem with such an analogy … is more misleading than helpful” [Masalah dengan analogi semacam itu … lebih menyesatkan daripada membantu]. Kesalahan umum: analogi yang menyamakan tiga pribadi Allah dengan tiga fungsi, tiga manifestasi, atau tiga bagian dari satu substansi (modalisme atau partisisme) — yang sudah ditolak oleh ortodoksi Reformed. Teologi Reformed menekankan bahwa analogi boleh digunakan “hanya” sebagai “media pemahaman” sementara, dengan selalu menegaskan bahwa Allah melampaui semua analogi manusiawi, melampaui segala akal dan pikiran. Oleh karena itu, analogi harus bersandar pada wahyu dan dikendalikan oleh pengakuan keempat konsili dan reformasi klasik.
Kesimpulan Logis dari Realitas Ontologis Trinitas
Berdasarkan bom wahyu dan tradisi Reformed, kita dapat menarik beberapa kesimpulan logis yang penting: Pertama, Keesaan dan keanekaan Allah tidak saling bertentangan: Allah satu dalam esensi, tiga dalam pribadi. Keesaan esensi memastikan bahwa Allah bukan tiga dewa; keanekaan pribadi memastikan bahwa Bapa bukanlah Anak; Anak bukanlah Roh Kudus, tanpa menodai satu hakikat. Kedua, Pribadi-pribadi Ilahi tidak terpisah secara eksistensial: Karena hakikat-Nya satu, terdapat perichoresis (saling memasuki; saling meresapi satu dengan yang lain) di antara pribadi-Nya. Ini bukan hanya relasi fungsional tetapi relasi nyata dalam hakikat. Ketiga, Realitas penciptaan, penebusan, dan penyucian mengungkapkan hakikat Allah: Karena “economic Trinity” mencerminkan “immanent Trinity”, maka karya-Allah mengundang manusia untuk masuk ke dalam pengenalan Allah yang lebih dalam.
Analogis manusiawi memiliki fungsi tapi juga batas: Kita boleh berbicara “Bapa seperti matahari, Anak seperti sinar, Roh seperti kehangatan”, tetapi harus diakui bahwa analogi itu tidak bisa menyamai realitas Ilahi. Implikasi praktis teologi Reformed: Trinitas bukan hanya soal dogma fundamental tetapi dasar untuk ibadah, kehidupan jemaat, dan misi — karena Bapa mengutus Anak, Anak menyerahkan diri, Roh Kudus menyertai dan menguatkan. Oleh karena itu, mengenal Allah sebagai Trinitas berarti ikut ambil bagian dalam kehidupan trinitarian yang berbuah dalam kasih, komunio dan pelayanan.
Dalam tradisi Reformed–Injili, doktrin Trinitas adalah “summa theologiae” — bukan karena kita bisa memahami segala-galanya tentang Allah, tetapi karena di dalam Trinitas kita diperkenalkan kepada Allah sebagai Dia yang mengutus, menyatakan diri, berelasi dan memberi kehidupan atas dunia ciptaan-Nya. Analogi manusiawi dapat membantu, namun tetap perlu diingat oleh teolog bahwa segala analogi selalu terbatas.
Relasi (Koherensi) Antara Analogi-Analogi Trinitas dan Realitasi Ontologi
1. Analogi Sebagai Jembatan antara Transendensi dan Immanensi
Analogi merupakan bahasa epistemologis yang menjembatani jarak antara Allah yang transenden dan manusia yang terbatas. Dalam teologi Trinitas, analogi tidak dimaksudkan untuk mengidentifikasi Allah dengan ciptaan, melainkan untuk menunjukkan keserupaan relasional yang bersifat analogis (analogia entis – “analogi keberadaan”/analogy of being). Analogia Entis adalah konsep klasik (terutama dalam teologi Thomas Aquinas) yang menyatakan bahwa antara Allah dan ciptaan terdapat keserupaan yang analogis dalam hal keberadaan. Artinya, keberadaan ciptaan merefleksikan keberadaan Allah, meski tidak identik. Allah adalah ipsum esse subsistens (keberadaan itu sendiri yang subsisten), sedangkan ciptaan hanya memiliki keberadaan secara partisipatif (esse participatum).
Dalam konteks Reformed, konsep ini sering dikritik (misalnya oleh Karl Barth) karena dianggap membuka jalan bagi natural theology yang terlalu rasionalistik, tetapi banyak teolog Reformed skolastik (seperti Bavinck) menerima bentuknya yang dimodifikasi: bahwa analogi keberadaan harus dibaca dalam terang wahyu, bukan otonomi rasio. Melalui analogi, manusia dapat memahami struktur relasional Allah tanpa meniadakan misteri ilahi-Nya. Dengan demikian, analogi berfungsi sebagai medium antara mysterium tremendum [“misteri yang menggentarkan”] dan ratio humana [akal manusia atau rasio manusiawi], di mana realitas ontologis Trinitas diterangi oleh kiasan konseptual tanpa direduksi olehnya.
Mysterium Tremendum adalah istilah dari Rudolf Otto (Das Heilige) yang menggambarkan pengalaman religius manusia di hadapan Yang Kudus (numinous experience). Ia menekankan aspek tremendum (kengerian dan keagungan yang mengguncang) dan fascinans (daya tarik yang mempesona) dalam relasi manusia dengan Allah. Dalam konteks Trinitarian, Allah adalah mysterium tremendum et fascinans: misteri yang tidak terjangkau, tetapi sekaligus memanggil manusia ke dalam persekutuan kasih-Nya. Sedangkan “ratio humana” menunjuk pada kemampuan intelektual manusia sebagai imago Dei yang memungkinkan manusia berpikir, mengenal, dan menilai. Namun, dalam teologi Reformed, ratio humana telah rusak akibat dosa, sehingga hanya melalui gratia Dei (anugerah Allah) manusia dapat mengenal Allah dengan benar. Seperti dinyatakan oleh Calvin dalam Institutes: Pikiran manusia, sekecil apa pun kecerdasannya, hanyalah labirin kesalahan tanpa cahaya Roh.
2. Ontologi Trinitarian dan Fondasi Realitas Relasional
Realitas ontologis Trinitas menegaskan bahwa keberadaan Allah adalah being-in-communion [ada di dalam persekutuan]. Ini adalah ungkapan modern yang berakar dari refleksi teologi ortodoks Timur (John Zizioulas) dan diadopsi pula oleh teolog Reformed seperti Colin Gunton. Maknanya: keberadaan sejati (being) tidak dapat dipahami secara individualistik, tetapi secara relasional—karena Allah sendiri adalah being-in-communion, Trinitas yang hidup dalam persekutuan kasih antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Manusia sebagai gambar Allah juga menemukan eksistensinya dalam relasi, bukan isolasi.
Allah bukanlah monad statis, melainkan communio personarum [“persekutuan pribadi-pribadi”]—keberadaan yang bersifat relasional dalam diri-Nya sendiri. Ada relasi ontologis di dalam Trinitas—tiga Pribadi (Bapa, Anak, Roh Kudus) hidup dalam kesatuan esensi dan persekutuan kasih yang sempurna. Istilah ini digunakan oleh para teolog seperti Augustine, kemudian dikembangkan oleh John Paul II dalam teologi personalistiknya. Dalam konteks Reformed, ini menegaskan bahwa dasar bagi relasi manusia (keluarga, gereja, masyarakat) adalah communio personarum ilahi yang menjadi arketipe semua bentuk relasi sejati.
Analogi seperti matahari–cahaya–panas (Agustinus) atau pikiran–pengetahuan–kasih (Anselmus) tidak menciptakan realitas Trinitas, tetapi merefleksikan pola ontologis yang melekat pada seluruh ciptaan sebagai vestigia Trinitatis [“jejak-jejak Trinitas]. Menurut Agustinus (De Trinitate), dalam ciptaan terdapat jejak atau pantulan Trinitas—misalnya dalam struktur jiwa manusia: memori, intelek, dan kehendak. Vestigia bukan berarti kehadiran langsung Allah, melainkan cerminan parsial dari realitas Trinitarian. Dalam teologi Reformed, konsep ini diterima sejauh dipahami bahwa jejak-jejak itu tidak memberi pengetahuan penyelamatan, tetapi hanya menunjuk pada keberadaan Sang Pencipta. Dengan demikian, setiap analogi yang benar bersumber dari struktur ontologis yang ada di dalam Allah sendiri dan bukan hasil konstruksi manusia yang otonom.
3. Analogi dan Partisipasi dalam Kebenaran Ontologis
Dalam kerangka metafisika teologis, analogi memiliki fungsi partisipatif: ia memungkinkan ciptaan berpartisipasi dalam kebenaran ontologis Sang Pencipta. Analogi bukanlah bentuk representasi penuh, melainkan partim similitudinis [bagian dari keserupaan]—keserupaan sebagian yang menunjukkan hubungan dependensi ontologis antara yang dicipta dan yang mencipta. Ungkapan partim similitudinis menandakan bahwa antara ciptaan dan Allah terdapat keserupaan “sebagian”, bukan total. Keserupaan ini bersifat analogis, bukan univokal. Artinya, ciptaan menampilkan sebagian kemuliaan dan sifat Allah, tetapi tidak dalam derajat yang sama. Herman Bavinck menegaskan: “Ciptaan bukan Allah, tetapi tidak dapat dilepaskan dari Allah—ia adalah cerminan sebagian dari realitas ilahi.” Ketika manusia menggunakan analogi untuk memahami Trinitas, ia sebenarnya terlibat dalam gerak epistemik menuju realitas Allah, karena setiap analogi yang sah adalah refleksi dari realitas ilahi yang memancar dalam ciptaan.
4. Koherensi Analogi dan Realitas dalam Wahyu
Koherensi antara analogi dan realitas ontologis Trinitas tidak bersumber dari rasionalitas manusia, melainkan dari inisiatif wahyu Allah. Wahyu bukan sekadar informasi teologis, tetapi actus revelatorius Dei [tindakan pewahyuan Allah]—tindakan Allah yang menyatakan diri dalam sejarah dan bahasa. Dalam tradisi Reformed, wahyu bukan hanya informasi, melainkan tindakan (actus) Allah yang menyapa, mengundang, dan memperbarui. Sebagaimana dinyatakan oleh Barth, wahyu adalah event di mana Allah menjadi Subjek, Objek, dan Medium pengetahuan-Nya sendiri—“God reveals Himself through Himself.” Oleh karena itu, analogi-analogi yang digunakan dalam Kitab Suci (seperti Bapa–Anak, Firman–Roh, Kasih–Persekutuan) memiliki koherensi intrinsik dengan realitas ontologis yang diwahyukan. Analoginya bukan sekadar pedagogis, tetapi ontologis: ia menyatakan sesuatu yang benar tentang esse divinum.
Istilah esse divinum berasal dari bahasa Latin. Esse berarti “ada” atau “keberadaan/eksistensi.” Kata ini berasal dari akar kata Latin sum, esse, fui, futurus yang berarti “menjadi” atau “ada.” Divinum adalah bentuk netral dari divinus, yang berarti “ilahi” atau “yang berkaitan dengan Allah.” Maka literal esse divinum adalah keberadaan ilahi (“being of God”), yakni keberadaan yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Aquinas menyebut Allah sebagai ipsum esse subsistens — “keberadaan itu sendiri yang subsisten.” Maka esse divinum adalah modus eksistensi Allah, berbeda secara ontologis dari esse creatum (keberadaan ciptaan). Esse divinum adalah keberadaan yang absolut, tak terbatas, dan identik dengan esensi-Nya sendiri. Esse creatum adalah keberadaan yang terbatas, diterima, dan tergantung pada Allah. Allah adalah sumber segala “ada.” Segala sesuatu “ada” karena berpartisipasi dalam esse divinum secara analogis: Di dalam Dia kita hidup, bergerak, kita ada (Kis. 17:28)
Allah tidak memiliki keberadaan; Ia adalah keberadaan itu sendiri. Dalam istilah skolastik: In Deo esse et essentia sunt idem — dalam Allah, keberadaan dan esensi adalah satu dan sama. Allah tidak berada pada tingkat yang sama dengan ciptaan (bukan “makhluk tertinggi”), tetapi pada tataran keberadaan yang transenden dan absolut. Dalam konteks analogia entis, esse divinum menjadi sumber dari segala esse analogicum (keberadaan ciptaan), sehingga semua realitas memantulkan, dalam cara yang terbatas, keberadaan Allah yang sejati.
5. Rasionalitas Trinitarian sebagai Logika Ontologis
Teologi dogmatis Reformed menegaskan bahwa rasionalitas manusia harus ditundukkan pada logika Trinitarian yang menjadi struktur ontologis seluruh realitas. Ketika kita berbicara tentang Allah sebagai satu esensi dalam tiga pribadi, kita tidak memaksakan kategori manusia kepada Allah, melainkan menyesuaikan akal dengan bentuk realitas ilahi. Analogi berfungsi dalam kerangka fides quaerens intellectum—iman yang mencari pengertian. Maka, koherensi antara analogi dan realitas ontologis tidak bersifat simetris, melainkan asimetris: realitas ilahi adalah sumber logika, bukan hasilnya.
6. Misteri Ontologis dan Batas Bahasa Analogi
Bahasa analogis selalu mengandung keterbatasan, sebab ia beroperasi dalam tataran ciptaan untuk membicarakan realitas yang tak tercipta. Namun keterbatasan itu bukanlah kekurangan, melainkan bentuk penghormatan epistemik terhadap misteri ontologis Allah. Dalam tradisi Reformed, pengakuan terhadap batas analogi justru menjadi bentuk iman sejati, karena teologi bukan usaha mendefinisikan Allah, melainkan mengakui Dia sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya. Dengan demikian, analogi berkoherensi dengan realitas ontologis bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kesetiaannya pada pola wahyu.
7. Koherensi Final: Analogi dalam Partisipasi Esensial
Pada akhirnya, koherensi antara analogi dan realitas ontologis mencapai puncaknya dalam partisipasi ontologis melalui Kristus dan Roh Kudus. Kristus sebagai cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3) dan Roh sebagai donum Dei [karunia Allah] membuka ruang partisipasi manusia dalam kehidupan Trinitarian. Segala sesuatu yang diterima manusia—kehidupan, iman, kasih, keselamatan—adalah donum Dei, pemberian anugerah Allah. Paulus menulis dalam Efesus 2:8, “Itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Dalam konteks Trinitarian, donum Dei juga menunjuk kepada Roh Kudus sendiri sebagai Pemberian Allah kepada Gereja (lih. Yoh. 14:16–17). Analogi tidak berhenti pada level kognitif, tetapi mengantar manusia pada persekutuan eksistensial dengan Allah. Dengan demikian, seluruh analogi teologis menemukan kesatuannya dalam realitas ontologis yang mengalir dari, melalui, dan kepada Allah Tritunggal—ex Deo, per Deum, ad Deum [“dari Allah, melalui Allah, kepada Allah – berakar pada Roma 11:36 — “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia” – segala keberadaan (ens), pengetahuan (scientia), dan tujuan (telos) berpusat pada Allah Tritunggal sebagai causa prima et finis ultimus—penyebab pertama dan tujuan akhir]—yang adalah dasar segala realitas dan tujuan akhir segala pengetahuan.
Penutup
Realitas ontologis dari Trinitas harus selalu kembali kepada wahyu Alkitab dan pengakuan iman ortodoks. Memahami bahwa Allah adalah satu dalam hakikat-Nya sekaligus tiga Pribadi kekal membawa implikasi besar bagi segala aspek kehidupan Kristen: ibadah, etika, teologi, dan hubungan kita dengan ciptaan. Semoga elaborasi dalam artikel ini memberi kerangka pemahaman teologis yang kuat, sekaligus menumbuhkan kekaguman dan ketundukan sejati kepada Allah yang “ada oleh diri-Nya sendiri” dan bereksistensi secara trinitarian.
Salam Bae….
Referensi
- Warfield, Benjamin B. The Biblical Doctrine of the Trinity. In The Works of Benjamin B. Warfield, Vol. 2. Oxford/New York: Oxford University Press, 1932.
- Poythress, Vern S. “Reforming Ontology and Logic in the Light of the Trinity.” Westminster Theological Journal 57/1 (1995): 187-219.
- Trueman, Carl R. “Problematic Analogies and Prayerful Adoration.” Ligonier Ministries, November 1, 2011.
- Moga, Dinu. “The Importance of the Doctrine of the Trinity in Reformed Theology.” Semanatorul 3.1 (2022).
WWW
- https://fpcasheville.org/the-trinity/
- https://learn.ligonier.org/articles/problematic-analogies-and-prayerful-adoration
- https://rekindle.co.za/content/2022-02-10-trinitarian-analogies-gerald-bray
- https://www.apuritansmind.com/the-christian-walk/the-biblical-doctrine-of-the-trinity-by-dr-benjamin-b-warfield/
- https://en.wikipedia.org/wiki/Athanasian_Creed
- https://en.wikipedia.org/wiki/Perichoresis
- https://brill.com/view/journals/jrt/3/1/article-p90_4.xml?language=en&srsltid=AfmBOopL_cK4_N_fhXX9MEB7dlsyuCJdVz3QvUqItk-ISF5Hwgl39gQN&utm
- https://www.thegospelcoalition.org/blogs/justin-taylor/b-b-warfields-analogy-for-the-trinity-in-the-old-testament/
- https://www.apuritansmind.com/the-christian-walk/the-biblical-doctrine-of-the-trinity-by-dr-benjamin-b-warfield/
- https://frame-poythress.org/reforming-ontology-and-logic-in-the-light-of-the-trinity-an-application-of-van-tils-idea-of-analogy/
- https://learn.ligonier.org/articles/problematic-analogies-and-prayerful-adoration













