
Dalam arus deras diskursus teologi kontemporer, sering kali kita terjebak dalam diksi-diksi abstrak yang mengagungkan kebenaran doktrinal namun mengabaikan realitas konkret penderitaan manusia. Di tengah retorika moralitas yang menggema di mimbar-mimbar gereja, muncul sebuah pepatah yang menusuk: “Jangan berkhotbah tentang moralitas kepada orang yang kelaparan, tetapi berilah ia makan. Itu yang paling dibutuhkannya.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat humanis, melainkan sebuah imperatif etis yang menggema dalam narasi Injil—khususnya dalam perikop Matius 14:13–21 (paralelnya dalam Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:1-13), di mana Yesus tidak hanya mengajar, tetapi memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.
Peristiwa mukjizat pemberian makan ini bukan hanya demonstrasi kuasa ilahi, melainkan manifestasi teologis dari kenosis—pengosongan diri Allah dalam wujud solidaritas nyata terhadap kebutuhan dasar manusia. Dalam konteks ini, makanan bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan simbol dari keadilan, martabat, dan kehadiran Allah yang menyelamatkan.
Konteks Naratif: Ketika Yesus Melihat dan Mengasihani
Matius 14:13–21 membuka dengan narasi pelarian Yesus ke tempat yang sunyi setelah mendengar kematian Yohanes Pembaptis. Namun, rencana-Nya untuk menyendiri terganggu oleh kerumunan besar yang mengikuti-Nya. Alih-alih merasa terganggu atau marah, “Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada mereka dan menyembuhkan orang-orang sakit di antara mereka” (Mat. 14:14). Kata kunci di sini adalah “tergerak oleh belas kasihan” (Yunani: esplagchnisthē), yang secara harfiah berarti “merasa iba, memiliki belas kasihan, bersimpati, mengasihani seseorang, tergerak hati oleh suatu keadaan atau kondisi atau secara harfiah tergerak dari dalam hati-Nya [totalitas tubuh]”—suatu ekspresi empati yang mendalam, visceral (mendalam), dan personal.
Dalam tradisi Ibrani, “perut” atau “rahim” (Heb. rechem) sering dikaitkan dengan belas kasihan ilahi (misalnya, Kel. 34:6; Yes. 49:15). Dengan demikian, reaksi Yesus bukan sekadar respons emosional, melainkan manifestasi dari hesed—kasih setia Allah yang tak berkesudahan. Ketika murid-murid menyarankan agar Yesus menyuruh orang banyak pulang untuk membeli makanan, Yesus justru berkata: “Mereka tidak perlu pergi. Kamu harus memberi makan mereka.” (Mat. 14:16).
Perintah ini mengandung dimensi teologis yang radikal: tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan sesama bukanlah pilihan, melainkan mandat ilahi. Yesus tidak mengalihkan tanggung jawab kepada mekanisme pasar (“biar mereka beli sendiri”) atau kepada otoritas politik (“serahkan pada pemerintah”), tetapi menempatkannya langsung di pundak para murid—dan secara ekstensif, pada Gereja sepanjang zaman.
Roti sebagai Simbol Teologis: Dari Ekaristi ke Etika Sosial
Dalam narasi Injil Sinoptik, roti memiliki dimensi teologis yang kaya. Dalam Perjamuan Terakhir, roti menjadi tubuh Kristus yang dipecahkan bagi banyak orang (Mat. 26:26). Namun, jauh sebelum itu, dalam peristiwa pemberian makan lima ribu orang, roti telah menjadi medium penyataan kerajaan Allah. Di sini, roti bukan hanya makanan fisik, melainkan sakramen sosial—tanda nyata kehadiran Allah yang memelihara, membebaskan, dan menyatukan umat-Nya.
Teolog Jerman, Jürgen Moltmann, dalam “Theology of Hope”, menekankan bahwa kerajaan Allah bukanlah realitas eskatologis yang hanya menunggu di akhir zaman, melainkan kekuatan transformatif yang hadir di tengah sejarah. Pemberian makan oleh Yesus adalah prolepsis—penggambaran awal—dari perjamuan mesianik yang dijanjikan dalam Yesaya 25:6, di mana “TUHAN semesta alam akan menyediakan jamuan bagi segala bangsa.” Dengan demikian, setiap tindakan memberi makan orang lapar adalah partisipasi dalam realitas eskatologis tersebut.
Lebih jauh, roti dalam Matius 14:19 digambarkan melalui gerakan liturgis: “Yesus mengambil roti itu, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-murid.” Bahasa ini identik dengan Perjamuan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa liturgi tidak terpisah dari etika. Gereja yang merayakan Ekaristi tetapi mengabaikan kelaparan di sekitarnya melakukan disonansi sakramental—merayakan tubuh Kristus sambil mengabaikan tubuh-tubuh yang kelaparan yang juga adalah anggota Kristus (1 Kor. 12:27).
Dalam perspektif ini, memberi makan bukan hanya tindakan karitatif, melainkan ibadah sosial—ekspresi iman yang integral. Seperti dikatakan Yakobus: “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak. 2:17). Roti yang diberikan Yesus adalah roti yang membangkitkan iman, karena di dalamnya terkandung kasih yang nyata.
Filosofi Tanggung Jawab
Dalam Matius 14, Yesus tidak melihat kerumunan sebagai massa anonim, melainkan sebagai wajah-wajah yang membutuhkan. Ia tidak bertanya tentang latar belakang politik mereka, afiliasi agama, atau moralitas pribadi mereka. Ia melihat kebutuhan mereka—dan bertindak. Ini adalah paradigma etika yang radikal: tanggung jawab mendahului kebebasan, dan kasih mendahului penilaian.
Perintah Yesus—“Kamu harus memberi makan mereka”—bukan hanya instruksi praktis, melainkan panggilan eksistensial untuk keluar dari egoisme ontologis menuju solidaritas etis. Gereja yang mengabaikan kelaparan sedang mengabaikan wajah Kristus yang hadir dalam setiap orang miskin (Mat. 25:40).
Dalam terang kritik terhadap moralisme abstrak ketika khotbah menggantikan roti, pepatah: “Jangan berkhotbah tentang moralitas kepada orang yang kelaparan”—mengandung kritik tajam terhadap bentuk teologi yang terlalu intelektual dan moralistik. Dalam sejarah Gereja, sering kali ajaran moral digunakan untuk menyalahkan korban: orang miskin disebut malas, lapar dianggap akibat dosa, dan struktur ketidakadilan diabaikan demi penekanan pada “pertobatan pribadi.”
Namun, Yesus dalam Matius 14 tidak menanyakan dosa orang-orang yang lapar. Ia tidak memberi khotbah tentang tanggung jawab pribadi atau etos kerja. Ia memberi makan. Ini adalah paradigma teologis yang membalikkan logika moralisme: keadilan sosial adalah prasyarat bagi pertobatan yang otentik. Seperti dikatakan Oscar Romero, uskup martir El Salvador: “Kita tidak boleh menawarkan roti surgawi kepada orang yang kelaparan roti duniawi.”
Dalam konteks Indonesia—di mana ketimpangan ekonomi masih tinggi, dan jutaan orang hidup di bawah garis kemiskinan—Gereja dipanggil untuk tidak hanya berkhotbah tentang “keluarga sejahtera” atau “etika kerja”, tetapi untuk menjadi saluran berkat konkret: memberi makan, menyediakan air bersih, memperjuangkan keadilan agraria, dan menentang sistem ekonomi yang menindas.
Teolog Latin Amerika, Gustavo Gutiérrez, dalam Teologi Pembebasan, menegaskan bahwa iman Kristen harus berpihak pada los pobres—bukan hanya secara simpatik, tetapi melalui analisis struktural dan tindakan transformasional. Memberi makan dalam Matius 14 bukan tindakan amal sesaat, melainkan bagian dari proyek pembebasan ilahi yang menentang logika kelangkaan dan menegaskan kelimpahan kerajaan Allah.
Lima Roti dan Dua Ikan: Teologi Kelimpahan dalam Dunia Kelangkaan
Salah satu aspek menarik dalam narasi Matius 14 adalah ketidakcukupan sumber daya: lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang. Murid-murid melihat dari logika kelangkaan (“Itu tidak cukup!”), tetapi Yesus bertindak dari logika kelimpahan. Ia tidak menunggu sampai sumber daya mencukupi; Ia mulai dengan apa yang ada, dan Allah menggandakannya. Ini adalah kritik terhadap mentalitas kapitalistik yang menganggap sumber daya sebagai komoditas langka yang harus diperebutkan.
Sebaliknya, Injil menawarkan ekonomi anugerah (economy of grace), di mana berbagi—bukan menimbun—adalah prinsip utama. Yesus, dalam tindakan-Nya, merealisasikan prinsip tersebut: semua makan dan kenyang, bahkan tersisa dua belas bakul penuh. Dua belas bakul (Yunani: kophinos – κόφινος) melambangkan kelimpahan yang melampaui kebutuhan—cukup untuk dua belas suku Israel, simbol umat Allah secara utuh. Konteks ini menunjukkan bahwa kehendak Allah bukan hanya memenuhi kebutuhan minimal, tetapi memberikan kelimpahan agar semua dapat hidup dalam martabat.
Gereja harus menolak logika akumulasi dan merangkul logika berbagi. Memberi makan bukan hanya soal amal, tetapi soal keadilan distributif. Perintah Yesus—“Kamu harus memberi makan mereka”—bukan hanya ditujukan kepada murid-murid abad pertama, tetapi kepada Gereja sepanjang zaman. Kata “kamu” di sini bersifat kolektif dan imperatif. Ini bukan undangan, melainkan perintah. Dalam terang ini, Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas roti—komunitas yang tidak hanya berkumpul untuk beribadah, tetapi untuk berbagi, memelihara, dan membebaskan.
Di tingkat lokal, ini berarti gereja-gereja harus aktif dalam pelayanan sosial: dapur umum, bank pangan, program pemberdayaan ekonomi, dan advokasi kebijakan publik yang pro-rakyat miskin. Di tingkat global, Gereja harus menjadi suara bagi yang tak bersuara, menentang perdagangan senjata, spekulasi pangan, dan kebijakan yang memperlebar jurang ketimpangan.
Lebih dalam lagi, memberi makan adalah bentuk kenosis sosial—pengosongan diri dari hak istimewa untuk masuk ke dalam penderitaan sesama. Seperti Kristus yang “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan” (Flp. 2:6), demikian pula Gereja harus rela kehilangan kenyamanannya demi keadilan bagi yang terpinggirkan.
Roti yang Mengubah Dunia
Matius 14:13–21 bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan manifesto teologis tentang kasih yang konkret. Di tengah dunia yang penuh retorika moral namun minim solidaritas, Injil menantang kita dengan satu perintah sederhana namun revolusioner: “Kamu harus memberi makan.” Memberi makan adalah bentuk doa yang paling autentik. Memberi makan adalah ekspresi iman yang paling radikal. Memberi makan adalah cara kita mengenal wajah Kristus dalam wajah orang lapar.
Seperti kata Dietrich Bonhoeffer: “Hanya oleh kasih yang nyata, bukan oleh kata-kata, dunia ini akan diselamatkan.” Maka, jangan hanya berkhotbah. Berilah makan. Karena di sanalah Injil menjadi nyata—bukan dalam abstraksi, tetapi dalam roti yang dipecahkan, dibagikan, dan dimakan bersama. Dan ketika kita memberi makan, kita bukan hanya memenuhi perut yang lapar, tetapi ikut serta dalam pembentukan kerajaan Allah—di mana tidak ada yang kelaparan, karena semua telah diberi makan oleh kasih yang tak pernah habis.
Salam Bae….










