
Dalam ruang ‘pembacaan tekstual’, setiap orang memiliki sejumlah pemahaman, prapemahaman, dan imajinasi. Hal ini menuntut setiap pembacaan memberikan “hasil”, entah selaras dengan makna teks atau merumuskan nalar imajinasi, ahistoris, ahermeneutik, dan abiblikal. Konteks ini tampak pada beberapa fakta pembacaaan yang dilakukan oleh “orang-orang luar” terhadap Alkitab.
Kita terbiasa melihat gelagat “sok tahu” dari sejumlah orang yang merasa “tahu segalanya” mengenai Kristologi. Misalnya Irena Handono, Yahya Waloni, Ikhsan Mokoginta, Ust. Kainama, dan masih banyak lagi. Mereka ini tergolong unik; unik karena metode paralogisme sebagai bagian dari gerakan “vario lectio” begitu kental dan bahkan sudah seperti pasangan hidup mereka masing-masing.
Mereka terbiasa bercumbu dan mencumbui “paralogisme” Kristologi yang mengulang konsep ignoransi liar: teks tanpa konteks. Atau dengan perkataan lain, disebut sebagai penganut “tekstualisme”. Pada kenyataannya kita menjumpai berbagai kesesatan berpikir yang diusung oleh mereka yang mengurung diri mereka pada konsep “vario lectio”.
Vario lectio diartikan sebagai suatu teks yang lain, atau suatu kondisi bahwa ada pembacaan yang menyimpang. Dalam konteks ini, tindakan vario lectio terhadap iman Kristen dipandang menyimpang sebagaimana yang dilakukan oleh para mualaf. “Teks yang lain” dapat dipahami sebagai “paham yang lain” atau “sumber yang lain” yang sengaja dilekatkan pada iman Kristen—jika itu bernada negatif, misalnya Alkitab telah dipalsukan, Isa tidak mati, Injil-Injil tidak memiliki landasan yang kuat mengenai penyaliban, orang Kristen dan Yahudi salah dalam memahami penyaliban, dan lainnya. Hal ini adalah sebuah pembacaan yang menyimpang—Vario Lectio.
Sedangkan paralogisme adalah sebuah a priori, asumsi negatif (dari sumber lain atau dari berbagai klaim-klaim miring), dan pemahaman yang salah yang dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Memahami secara paralogisme tentu menyatakan kondisi seseorang bahwa sejak dari awal dia telah [memiliki paham] sesat dan dia tidak tahu bahwa dia telah berada dalam kesesatan itu. Tidak ada peluang bagi dia untuk melihat secara utuh mengenai sesuatu yang disalahpahami itu, sehingga berdampak pada konteks “sesat yang menyesatkan” baik orang lain maupun dirinya sendiri. Dengan semangat paralogisme akut (gawat, berbahaya), para mualaf mengumandangkan celoteh-celoteh tanpa isi, baik aspek teologis, historis, maupun hermeneutika. Sayangnya, tipe seperti demikian, justru laris di “pasar agama”.
Semangat paralogisme yang akut ini telah menjamur di mana-mana. Mereka tergolong berani mencaci maki iman [ajaran] Kristen. Sebut saja Muhammad Yahwa Waloni, Ustadz Kainama. Koaran mereka penuh rumput duri yang bernada provokatif. Kita pun tahu apa motivasinya. Para mualaf jika tidak “menjual Yesus dalam kemasan”, mereka tidak akan laku dipasaran.
Berikut ini saya mendaftarkan beberapa konteks “vario lectio” mengenai Kristologi:
Pertama, tujuannya telah diseting terlebih dahulu. Artinya, tujuan berargumentasi sudah ada, sudah ditetapkan yaitu “menegasikan” Ke-Tuhanan Yesus. Negasi tersebut sudah menjadi keyakinan terdalam karena didasarkan pada sejumlah opini dan keyakinan dogmatis kitab suci mereka. Karena tujuannya sudah direkayasa sesuai keyakinan dogmatis, maka bagaimanapun metodologi dan pendekatan yang digunakan—bahkan pendekatan historis sekalipun—tetap hasilnya akan sama: “Yesus bukan Tuhan”. Menempuh jalur penelitian historis seseorang perlu mengesampingkan terlebih dahulu keyakinan dogmatis, presaposisi-presaposisi negatif mengenai Yesus, lalu berjalan sesuai alur dan ranah penelitian itu sendiri. Hasilnya pasti berbeda. Kisah penyaliban dan kematian Yesus yang historis itu tidak dapat menjadi ahistoris seketika karena sekelompok orang yang meyakini berdasarkan konsep dogmatisnya bahwa Yesus tidak mati disalibkan. Padahal, Qur’an adalah wahyu Allah, tetapi pada kenyataannya kontradiksi dengan sejarah penyaliban yang sesungguhnya. Sampai di sini, pembaca sudah tahu apa kesimpulannya.
Kedua, metodologinya salah. Ruang penelitian akademik menempatkan langkah-langkah metodologis sebagai bagian terdepan dalam melakukan penelitian.
Ketiga, pendekatannya salah. Sebuah pendekatan adalah bagian dari penggunaan metodologi.
Keempat, isi pemahamannnya salah. Sejak awal para muslimers tipikal diletantis memiliki paham yang salah mengenai Kristologi. Kalau soal salah paham itu biasa; tapi yang berbahaya adalah kalau menganut paham yang salah dan menyerang paham yang benar lalu menganggapnya salah karena didasarkan pada paham mereka yang salah itu. Terlalu sulit mengubah mereka yang menganut paham yang salah ketimbang salah memahami paham Kristen.
Kelima, cara menafsirkannya salah. Kaum islamis diletan sering menggunakan teks-teks selektif lalu menafsirkannya sesuka hati. Maksudnya, mereka menafsirkan untuk memuaskan presaposisi-presaposisi yang telah mereka miliki, padahal dalam dunia hermeneutik, presaposisi-presaposisi penafsir harus dikesampingkan.
Keenam, melepaskan teks dari konteks. Seperti kebiasaan para islamis diletan, yaitu mereka menggunakan atau mengutip teks tetapi tanpa memahami konteks. Seperti dijumpai pada Ahmed Deedat, Zakir Naik, Yahya Waloni, Munsir Situmorang, dan sejenisnya (memiliki model berpikir yang serupa).
Ketujuh, tidak memahami secara komprehensif. Bermain di ranah ayatiah dan bukan alkitabiah. Hal ini meneguhkan poin keenam di atas.
Pada komunitas mualaf, konteks “vario lectio” telah menjadi semangat untuk terus mengumandangkan gagasan ‘sampah’: adoktrinal, ahistoris, ahermeneutik, abiblikal, dan mengusung imajinasi sesat. Semangat ini merangkul paralogisme — yaitu sesat pikir yang tidak disadari oleh para pemikir tentang sesuatu hal yang dibicarakan, dipahami, atau diyakini. Penekanannya adalah “salah memahami”, sehingga memiliki paham yang salah — yang bersifat akut (gawat). Dengan demikian, diperlukan sebuah upaya untuk memahami secara konteks, biblikal, dan hermeneutis. “Vario Lectio” yang dilakukan oleh para mualaf terhadap teks-teks Alkitab telah memperlihatkan semangat paralogisme akut, dan menjadikan mereka “salah memahami” dan memiliki “paham yang salah” tentang iman Kristen, baik itu pewahyuan, doktrin Allah, keselamatan, Yesus Kristus, Roh Kudus, dan karya-karya Yesus dalam sejarah.
Bertolak belakang dengan tipe Vario Lectio para mualaf soal doktrin Kristen (terutama Kristologi), maka untuk memberikan penjelasan yang baik dan solid, maka metodologi yang saya gunakan adalah “historis-teologis” dengan pendekatan klarifikasi. Metode ini menempuh tindakan penelusuran historis mengenai personalitas Yesus yang terkait dengan Historical of Redemption yang merupakan rencana Allah, dan kemudian diwujudkan sepenuhnya melalui Yesus Kristus. Jadi, peristiwa inkarnasi, penderitaan, kematian, kebangkitan, Yesus adalah rangkaian peristiwa yang tidak lepas dari konteks karya penebusan Allah dalam PL. Kematian Yesus di salib bukan soal mati begitu saja, melainkan mengandung dasar utama bahwa “Allah menebus manusia [umat-Nya] dari dosa-dosa mereka dengan cara-Nya sendiri” yang sempurna, konfirmatif, dan eskatologis.
Sempurna menunjuk pada kurban yaitu Yesus Kristus yang tak bercacat cela, tak berdosa, dan kurban yang kudus yang berkenan kepada Allah. Kesempurnaan kurban tersebut juga berdampak pada karya Allah yang sempurna, tanpa kurang suatu apa pun.
Konfirmatif menunjuk pada gagasan dan fakta penebusan dalam PL yang direalisasikan melalui kurban: darah dan kematian.
Eskatologis menunjuk pada jaminan keselamatan itu sendiri, bahwa mereka yang dipilih Allah, ditetapkan Allah, mereka juga yang dikasihi dan ditebus-Nya, bahkan diselamatkan untuk menerima kehidupan yang kekal.
Akhirnya, tindakan “Vario Lectio” sebagaimana yang dilakukan oleh para mualaf dan mereka yang memiliki gagal paham terhadap doktrin Kristen, sejatinya tidak dapat memasuki pintu gerbang dogmatika Kristen jika mereka tidak memenuhi syarat untuk masuk dan menikmati jamuan makan teologi Kristen yang kredibel, solid, dan akuntabel.
Salam Bae.
Catatan: Untuk melihat penjelasan tentang konteks Vario Lectio dalam Kristologi, bisa membaca artikel saya yang berjudul: “Kristologi Diletantis: Islam dan Vario Lectio terhadap Historical Jesus” yang dimuat di buku KRISTOLOGI MIRING. Buku ini sudah selesai diedit, tinggal menunggu proses cetak. Buku ini adalah kumpulan artikel (antologi) dari sahabat-sahabat saya yang memiliki minat pada bidang studi agama-agama, dogmatika, biblika, dan apologetika.
Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/e7/e7/5e/e7e75e4b008e2946b64f83ffcde31ca9.jpg















