Pleoneksia adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani, yang secara harfiah berarti “keserakahan” atau “ketamakan”. Istilah ini merujuk pada hasrat yang tidak terkendali untuk memiliki lebih dari yang dibutuhkan atau pantas dimiliki. Dalam konteks modern, pleoneksia dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari perilaku individu hingga kebijakan ekonomi dan sosial.
Dalam Perjanjian Baru digunakan kata “πλεονεξία” yang dipahami atau diartikan sebagai perilaku yang buruk, kecenderungan untuk memiliki lebih dari yang seharusnya, keserakahan, ketamakan, ketamakan, misalnya dalam Lukas 12.15, “Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Kata ini juga dipahami sebagai sesuatu yang dipaksakan, sebagai sesuatu yang dengan berat hati diberikan, misalnya dalam 2 Korintus 9:5, “Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan [πλεονεξίαν]. Dalam beberapa teks lainnya, kata πλεονεξία diartikan sebagai keserakahan, ketidakpuasan, ketamakan, ketamakan, ekspresi atau pameran keserakahan, tindakan serakah, pemerasan, kekuatan pendorong untuk mendapatkan sesuatu yang melebihi standar yang dapat diterima (Mrk. 7:22; Rm. 1:29; Ef. 4:19; 5:3; Kol. 3:5; 1Tim. 2:5; 2Ptr. 2:3, 14; 1Tes. 2:5).
Pleoneksia sering kali dikaitkan dengan hilangnya rasa empati. Orang yang serakah biasanya lebih fokus pada kepentingan diri sendiri daripada kesejahteraan orang lain. Mereka mungkin tidak peduli jika tindakan mereka merugikan orang lain, asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Rasa empati yang tumpul ini membuat mereka sulit untuk merasakan penderitaan orang lain atau menyadari dampak negatif dari tindakan mereka.
Pleoneksia juga bisa diartikan sebagai gejolak nafsu yang tak terkendali. Orang yang menderita pleoneksia selalu merasa tidak pernah cukup. Mereka selalu menginginkan lebih, baik itu harta, kekuasaan, atau pengakuan. Gejolak nafsu ini mendorong mereka untuk terus berusaha mendapatkan lebih, seringkali dengan cara yang tidak etis atau melanggar norma sosial.
Di tingkat individu, pleoneksia dapat merusak hubungan pribadi dan sesama yang lain. Orang yang serakah mungkin mengkhianati teman atau rekan kerja demi keuntungan pribadi. Mereka juga mungkin mengabaikan tanggung jawab sosial dan moral, yang pada akhirnya merusak reputasi dan kepercayaan orang lain terhadap mereka.
Di tingkat masyarakat, pleoneksia dapat menyebabkan ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Kebijakan yang didorong oleh kepentingan pribadi atau kelompok tertentu seringkali merugikan masyarakat luas. Misalnya, kebijakan ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang kaya sementara mengabaikan kebutuhan masyarakat miskin dapat meningkatkan kesenjangan sosial dan ekonomi.
Mengatasi pleoneksia memerlukan kesadaran diri dan perubahan nilai-nilai yang mendasarinya. Pendidikan moral dan etika sejak dini sangat penting untuk membentuk individu yang lebih peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Selain itu, kebijakan publik yang adil dan transparan dapat membantu mengurangi keserakahan di tingkat masyarakat.
Pleoneksia adalah gejolak nafsu yang tak terkendali dan tumpulnya rasa empati yang dapat merusak hubungan pribadi dan sosial. Mengatasi pleoneksia memerlukan usaha kolektif dari individu dan masyarakat untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan peduli terhadap kesejahteraan bersama.
Alkitab memberikan pedoman kehidupan untuk dapat mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita. Ibrani 13:5 menyatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’” 1 Timotius 6:8, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Yesus menyatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34).
Akhirnya, Yesus mengajari kita untuk berdoa, memohon: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Matikan gejolak nafsu, nikmati berkat dan kemurahan Tuhan setiap hari. Pertajam rasa syukur, bukan menambah ketumpulan rasa syukur. Hanya mereka sadar dan merasa bahwa hidup adalah karunia Allah, yang dapat menyatakan syukur di setiap musim dan waktu.
Dalam memahami cinta, hampir setiap orang memiliki definisi tersendiri. Ada kalanya memiliki kesamaan makna, perspektif, kasus, atau pengertian lingkup perasaan cinta. Tampak bahwa cinta adalah sebuah perjalanan yang penuh warna, rasa, kesenangan, dengan semua kesalahpahaman, kesalahan, dan keindahannya. Namun, terkadang, cinta bisa salah jalan, membawa kita ke arah yang tidak diinginkan atau tidak sehat.
Mengapa Cinta Bisa Salah Jalan? Salah satu alasan utama adalah kurangnya komunikasi yang efektif antara sepasang kekasih. Ketika kita tidak berbicara tentang kebutuhan, harapan, atau masalah dalam hubungan, kesalahpahaman dan ketidakpuasan bisa muncul, menyebabkan hubungan menjadi tidak sehat.
Keterbukaan adalah kunci dalam hubungan yang sehat. Ketika kita tidak jujur atau tidak terbuka tentang perasaan kita, kita mungkin menekan atau menyembunyikan masalah yang sebenarnya, yang pada akhirnya dapat merusak hubungan cinta.
Terkadang, cinta bisa salah jalan karena kurangnya kompatibilitas antara pasangan. Ini bisa mencakup perbedaan nilai-nilai, tujuan hidup, atau kebutuhan yang mendasar. Meskipun ada cinta, ketidakcocokan ini bisa membuat hubungan sulit dipertahankan. Salah satu efek paling merugikan dari cinta yang salah jalan adalah ketidakbahagiaan dan kekacauan emosional. Bahkan lebih dari itu, membuat hati terluka, tersayat, dan tertekan. Ketika hubungan kita tidak sehat, kita mungkin merasa stres, kecewa, atau terjebak dalam siklus konflik yang tidak berujung.
Cinta yang salah jalan juga dapat menyebabkan kehilangan kepercayaan dan keterhubungan antara keduanya. Ketika ada pengkhianatan, ketidaksetiaan, atau kebohongan dalam hubungan, ikatan emosional bisa terganggu, bahkan hancur.
Pengalaman cinta yang salah jalan dapat menjadi pelajaran berharga. Melalui refleksi dan kesadaran diri, kita dapat mengidentifikasi pola-pola negatif atau kesalahan yang mungkin kita lakukan dalam hubungan, dan belajar bagaimana menghindari mereka di masa depan.
Melalui dukungan profesional atau bantuan dari teman dan keluarga, kita dapat terlibat dalam proses pembelajaran dan pertumbuhan pribadi. Terapi atau konseling individu maupun pasangandapat membantu memahami dan mengatasi masalah yang mungkin muncul dalam sebuah hubungan.
Akhirnya, pengalaman cinta yang salah jalan dapat menjadi sebuah catatan evaluatif untuk memberi kita jalan terbaik bagi kondisi hubungan cinta yang sehat dan bahagia di masa depan. Dengan lebih memahami kebutuhan, harapan, dan nilai-nilai kita sendiri, serta belajar untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang yang kita cintai, kita dapat membangun fondasi yang kuat untuk hubungan yang berkelanjutan.
Cinta yang salah jalan adalah bagian alami dari perjalanan cinta manusia. Meskipun bisa menyakitkan, pengalaman ini dapat menjadi pelajaran penting dan berharga, membantu kita tumbuh dan berkembang sebagai individu yang memiliki perasaan dan rasa kebersamaan, serta kehangatan. Dengan belajar dari kesalahan dan membangun kembali hubungan dengan kebijaksanaan dan kesadaran, kita dapat menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam hubungan yang sehat dan penuh kasih, serta harapan di masa yang akan datang.
Diskusi dan percakapan doktrinal merupakan sebuah ruang pemahaman untuk memahami, mendalami, dan menggali berbagai aspek kebenaran dalam teks-teks Kitab Suci dengan didukung oleh catatan-catatan sejarah yang memiliki koherensi faktual. Dalam konteks Kristologi, satu konsep yang menonjol adalah “Christodeiktik”. Konsep ini tidak hanya menyoroti identitas Kristus, tetapi juga mengungkap otoritas-Nya dalam ajaran dan karya yang Dia nyatakan.
Christodeiktik berasal dari gabungan dua kata Yunani: “Christos”, yang berarti Kristus, dan “ἐπιδείκνυμι” (epideiknumi) yang secara harfiah berarti “menyebabkan terlihat, menunjukkan, mendemonstrasikan, memperlihatkan, menunjukkan melalui peragaan visual (Matius 16:1 – digunakan kata “epideiksai”). Secara kiasan kata “epideiknumi”, berarti membuktikan kebenaran menunjukkan tanpa keraguan, mendemonstrasikan dengan meyakinkan (Kisah Para Rasul 18:28 – digunakan kata “epideiknus”: membuktikan, menyatakan), tunjukkan – “epideiksate” (Matius 22:19), menunjukkan – epideiksai (Matius 24:1), perlihatkanlah, tunjukkan – epideiksate (Lukas 17:14), memperlihatkan [atau menunjukkan] – epideiknumenai (Kisah Para Rasul 9:39), “memberikan bukti untuk suatu kesimpulan”, mendemonstrasikan, membuktikan (Kisah Para Rasul 18:28), dan pengokohan, penegasan (Ibrani 6:17).
Dari pengertian di atas, Christodeiktik merujuk pada sebuah konteks mengenai Yesus Kristus di mana apa yang termaktub di dalam Alkitab menjadi bukti atau kebenaran yang memberikan keyakinan kepada kita. Hal ini dilandasi pada natur dari kitab-kitab Perjanjian Baru yang berbicara secara nyata tentang Kristus. Para penulis PB memperlihatkan, menunjukkan, membuktikan, mengokohkan, dan menegaskan Yesus Kristus, baik karya, pribadi, kekuasaan, ontologi-Nya, dan kedaulatan-Nya. Di sini kita melihat bahwa memahami Kristus dalam terang Christodeiktik memberikan kepada kita pengetahuan-pemahaman yang kuat; bahwa semua hal tentang Dia adalah sebuah kebenaran hakiki. Dari sinilah “iman” kita dibangun secara kokoh.
Kristus bukanlah figur sejarah biasa atau guru moral seperti yang dinyatakan oleh beberapa orang. Ia lebih dari itu. Dalam Christodeiktik, kita mengakui-Nya sebagai Anak Allah yang kudus, Tuhan yang berkuasa, Yang Diurapi, Tuhan yang hidup, dan Juruselamat dunia. Identitas-Nya yang unik dan tak terbantahkan sebagai Penebus umat-Nya dari dosa, dan pemberi kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya, menjadi fokus dari dogmatika (Kristologi).
Kemestian identitas Kristus mengacu pada kepastian dan keabsahan dari identitas-Nya sebagai Anak Allah, Tuhan, dan Juruselamat. Konteks ini mencakup keyakinan bahwa identitas Kristus tidak bisa disangsikan atau ditantang, dan bahwa apa yang diungkapkan oleh Kitab Suci tentang siapa Kristus adalah mutlak dan tak terbantahkan. Kemestian identitas Kristus memiliki beberapa dimensi penting:
Pertama, Anak Allah yang Diurapi: Kristus adalah Anak Allah yang kudus, diurapi, menjadi Juruselamat umat manusia. Kemestian identitas-Nya sebagai Anak Allah menegaskan bahwa Dia memiliki hubungan yang unik dengan Bapa Surgawi, dan bahwa Dia adalah Logos Yang Kekal, Pencipta segala sesuatu (Yohanes 1:1-3). kehendak-Nya sempurna bagi tujuan kekal-Nya.
Kedua, Tuhan dan Pencipta Alam Semesta. Kristus adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta. Kemestian identitas-Nya sebagai Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah sumber dari segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu tunduk kepada-Nya. Ini juga menegaskan keilahian-Nya yang tak terbatas dan kekal. Yohanes 1:3 menegaskan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Ketiga, Juruselamat dan Penebus Dosa. Matius 1:21 menyebutkan: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Kristus adalah Juruselamat yang diutus oleh Bapa Surgawi untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan maut. Kemestian identitas-Nya sebagai Juruselamat menegaskan bahwa Dia adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup, dan bahwa keselamatan hanya bisa ditemukan melalui iman kepada-Nya. Yesus berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Keempat, Pemenuhan Nubuat-Nubuat. Kristus memenuhi nubuat-nubuat tentang Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Kemestian identitas-Nya sebagai “Mesias” yang Agung dan Gemilang, menegaskan bahwa Dia adalah yang dinantikan dan Dia adalah jawaban atas semua harapan umat manusia.
Kelima, Kemestian Kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian Kristus di kayu salib adalah pusat dari karya penyelamatan-Nya. Ini adalah peristiwa yang pasti dan tak terbantahkan, dan melalui kematian-Nya, Kristus membayar dosa umat manusia dan membuka jalan bagi keselamatan yang abadi. Kebangkitan Kristus dari kematian adalah bukti pasti dari kuasa-Nya atas dosa dan maut. Ini menegaskan bahwa Kristus adalah Tuhan yang hidup dan bahwa kehidupan yang kekal tersedia bagi mereka yang percaya kepada-Nya.
Kemestian identitas Kristus memberi kita keyakinan yang kokoh bahwa Kristus adalah Sang Mesias yang dijanjikan, Tuhan yang berkuasa atas alam semesta, dan Juruselamat yang menyelamatkan umat manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Ia memanggil kita untuk mengakui-Nya sebagai Raja dan Tuhan kita, dan untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya dalam segala hal.
Ajaran Kristus bukanlah sekadar pandangan atau nasihat manusiawi, tetapi firman ilahi yang otoritatif. Christodeiktik menegaskan bahwa segala ajaran-Nya berasal dari Allah dan memiliki kepastian yang kokoh. Oleh karena itu, kita harus tunduk dan patuh terhadap firman-Nya sebagai pedoman hidup kita. Kemestian otoritas ajaran Kristus merujuk pada keabsahan dari ajaran-ajaran Kristus sebagai firman Allah yang otoritatif, dan bahwa segala sesuatu yang Dia ajarkan memiliki kekuatan untuk mengarahkan, membimbing, dan mengubah hidup kita. Kemestian otoritas ajaran Kristus memiliki beberapa dimensi penting:
Pertama, Kemestian Firman Ilahi: Ajaran Kristus merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada manusia. Kristus adalah Firman (Logos) yang hidup dan kekal, dan segala sesuatu yang Dia ajarkan memiliki keabsahan yang kokoh. Rasul Yohanes menyatakan: “dalam Dia ada hidup”.
Kedua, Otoritas: Kristus memiliki otoritas yang mutlak dalam mengajarkan kebenaran. Dia bukan sekadar seorang guru atau nabi, tetapi Anak Allah yang kekal, memberikan ajaran yang membawa keselamatan bagi umat-Nya.
Ketiga, Kemestian Kebenaran: Ajaran-ajaran Kristus adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa disangsikan. Segala sesuatu yang Dia ajarkan tentang Allah, kehidupan, keselamatan, dan masa depan serta jaminan, memberikan kita keyakinan bahwa Ia benar, layak diimani, disembah, diikuti, dan dipuji selama-lamanya (Roma 9:5).
Keempat, Kemestian dalam Pengaruh: Ajaran-ajaran Kristus memiliki kekuatan untuk mengubah hati dan pikiran manusia. Firman-Nya adalah seperti pedang yang tajam, yang mampu menembus bahkan pemikiran dan niat terdalam manusia.
Kelima, Otoritas atas Alam Semesta: Kristus sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta memiliki kekuasaan yang tidak terbatas atas segala sesuatu yang ada. Dia adalah sumber dari segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada kehendak-Nya.
Keenam ,Otoritas atas Kehidupan dan Kematian: Kristus memiliki otoritas untuk memberikan hidup yang kekal kepada mereka yang percaya kepada-Nya, dan Dia juga memiliki kuasa atas kematian. Kematian dan kebangkitan-Nya adalah bukti dari kemestian-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan dan kematian. Ia berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup….” (Yoh. 11:25).
Ketujuh, Otoritas atas Gereja: Kristus adalah Kepala Gereja, dan otoritas-Nya atas gereja adalah mutlak. Firman-Nya adalah otoritas tertinggi dalam kehidupan gereja, dan segala sesuatu yang dilakukan oleh gereja harus sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedelapan, Otoritas atas Sejarah: Kristus adalah penguasa sejarah, dan Dia memiliki kuasa untuk mempengaruhi jalannya sejarah sesuai dengan rencana-Nya. Semua peristiwa dalam sejarah, baik yang besar maupun yang kecil, terjadi di bawah otoritas-Nya yang tak terbatas.
Kemestian otoritas ajaran Kristus memberi kita keyakinan yang kokoh bahwa apa yang Dia ajarkan adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Ia memanggil kita untuk menerima ajaran-Nya dengan iman yang teguh dan untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang Dia ajarkan. Kemestian otoritas Kristus memberi kita keyakinan yang kuat bahwa Kristus adalah Raja yang berdaulat dan penguasa yang adil atas alam semesta, memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya dalam segala hal, karena kita tahu bahwa Dia memiliki kuasa untuk memimpin dan melindungi kita dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kemestian karya Kristus merujuk pada kepastian dan keabsahan dari karya-karya Kristus, khususnya dalam konteks penyelamatan umat manusia. Ini mencakup keyakinan bahwa karya-karya Kristus, seperti kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian, adalah fakta yang tak terbantahkan dan memiliki implikasi yang mendalam bagi keselamatan umat manusia.
Kemestian karya Kristus memiliki beberapa dimensi penting: Pertama, Keyakinan yang Kokoh. Christodeiktik memperkuat keyakinan kita dalam iman kepada-Nya. Kita yakin bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang Gemilang dan telah membuktikan kegemilangan-Nya dalam sejarah. Kedua, Ketaatan yang Tulus. Otoritas Kristus memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan terhadap-Nya. Firman-Nya menjadi pedoman yang tak terbantahkan dalam setiap langkah kita. Ketiga, Penginjilan yang Berani: Christodeiktik memberi kita keberanian untuk bersaksi tentang Kristus dengan tegas. Kita tahu bahwa hanya melalui Kristus lah keselamatan tersedia bagi semua umat pilihan-Nya. Keempat, Kehidupan yang Dikuduskan: Memahami kemestian Kristus dalam Christodeiktik mengilhami kita untuk hidup dalam kesucian dan ketaatan kepada-Nya, mencerminkan karakter Kristus dalam setiap aspek kehidupan kita, kini, besok, dan seterusnya.
Dalam Christodeiktik, kita menemukan penegasan yang pasti tentang otoritas, kebenaran, dan kemestian Kristus dalam lingkup dogmatika (Kristologi). Ini tidak hanya meneguhkan keyakinan kita dalam iman, tetapi juga memberi arahan yang kokoh dalam hidup dan pelayanan kita sebagai pengikut Kristus. Dengan memahami Christodeiktik, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus, menjadi saksi-saksi yang berani dan menjadi berkat, serta teladan bagi orang lain.
Era digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita sekarang ini. Bahkan dapat dikatakan sebagia “tonggak sejarah dalam evolusi teknologi manusia.” Perubahan “massive” dalam cara kita berkomunikasi, bekerja, dan bahkan beribadah telah mengubah lanskap (tata ruang) kehidupan kita secara menyeluruh. Di tengah perubahan ini, komunitas Kristen tidak terkecuali.
Melalui aplikasi, situs web, dan platform digital lainnya, umat Kristen memiliki akses mudah terhadap sumber daya rohani seperti Alkitab digital, renungan harian, dan khotbah online dari seluruh dunia. Internet memungkinkan gereja dan organisasi Kristen untuk berkomunikasi dengan anggota jemaat dan misionaris di seluruh dunia dengan cepat dan efisien, memfasilitasi kerja sama global dalam misi dan pelayanan.
Media sosial dan platform konten digital lainnya memberikan kesempatan bagi umat Kristen untuk menyebarkan pesan Injil kepada orang-orang yang belum terjangkau secara geografis, menciptakan ruang untuk dialog dan kesaksian iman Kristen. Namun, tantangan dalam mengelola ketergantungan terhadap teknologi digital, dapat mengganggu waktu doa, kesepian rohani, dan interaksi langsung dengan sesama.
Dalam menggunakan berbagai media sosial, ada potensi untuk memecah belah komunitas Kristen dalam berbagai aspek pengajaran ataupun denominasi, memperkeruh perbedaan, memicu konflik, dan memperkuat “filter gelembung” ideologis. Pula timbul risiko kehilangan keaslian dalam ibadah dan pengalaman rohani karena menggantikannya dengan pengalaman digital yang sering kali kurang mendalam.
Dibutuhkan komitmen untuk menggunakan teknologi digital dengan bijaksana, mengakui potensinya untuk menyebarkan pesan Injil sambil menjaga keseimbangan dengan kebutuhan rohani kita, mendorong kebangkitan spiritual di era digital dengan mengutamakan waktu dalam doa, meditasi, dan studi Alkitab yang mendalam, serta memperkuat komunitas iman offline. Juga memperkuat dialog antaragama dan kesatuan di tengah tantangan dan perbedaan pandangan yang muncul dalam dunia digital, mempromosikan toleransi, pengertian, dan kasih dalam semua interaksi online.
Era digital membawa berbagai berkat bagi komunitas Kristen, mulai dari akses terhadap sumber daya rohani hingga kemampuan untuk mencapai orang-orang di seluruh dunia dengan pesan Injil. Namun, tantangan pun ada dalam menghadapi dampak ketergantungan teknologi, pemecahan komunitas, dan risiko kehilangan keaslian dalam ibadah.
Dengan memahami berbagai berkat dan tantangan ini, serta mempraktikkan kebijaksanaan dan kebangkitan rohani, kita dapat menjelajahi perjumpaan dengan era digital dengan iman yang kokoh dan visi yang jernih, terus memperkaya pengalaman keagamaan, menyatakan kasih Kristus dalam setiap interaksi online, tanpa harus menjadi pecandu digital, sehingga menurunkan atau bahkan merusak spiritualitas kita dengan Tuhan, relasi kita dengan Tuhan dan sesama, hingga menjadi hidup terpenjara dengan godaan fitur-fitur digital yang tidak semestinya.
It illustrates the dialogue of the interest penny according to Mt 22: 15–22 LUT, in which Jesus answers the trick question whether the Jews should pay taxes to the Roman emperor: Give the emperor what is the emperor’s and God what is God’s. Illustration from 19th century
Teologi Kristen menyediakan ragam epignosis tentang Allah, manusia, dosa dan keselamatan, penyataan diri Allah, moralitas, masa depan (eskatologi), dan cara hidup orang benar. Kekayaan dogmatis dari Teologi Kristen tak dapat dipisahkan pemahaman, pengkajian, dan proses kerja hermeneutik yang kredibel atas teks-teks Kitab Suci. Mereka yang bergelut di bidang Teologi, mendorong dirinya untuk terlibat dalam pembacaan dan analisis atas berbagai sumber dogmatika, historika, biblika, dan praktika; mengembangkannya secara berintegritas agar dapat memberikan wacana segar bagi para jemaat atau anggota Gereja. Singkatnya: umat Kristen.
Dalam landasan teologi Kristen, konsep epignosis membawa dimensi yang kuat dalam memahami pengetahuan tentang “Yang Ilahi”, yang telah menyatakan diri dalam sejarah. Epignosis mengacu pada pengetahuan yang tidak sekadar intelektual, tetapi juga pengalaman yang hidup dan kuat tentang Allah. Dalam konteks teologi sistematika, epignosis memainkan peran penting dalam memperdalam pemahaman akan karya Allah dalam sejarah keselamatan.
Epignosis, dalam terang kekristenan, tidak sekadar merujuk pada pengetahuan teoretis tentang Allah. Lebih jauh dari itu, epignosis menyoroti pengalaman hidup yang berkesan dan penuh cinta kasih. Epignosis menekankan pengalaman yang kaut dengan Allah, di dalam Kristus Yesus. Seseorang yang mengenal-Nya tidak hanya dalam tataran pengajuan saja, atau hanya sebagai konsep, tetapi melalui hubungan yang hidup dan berkesinambungan, mengasihi Dia: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 22:37-40).
Pemahaman akan epignosis membawa transformasi dalam kehidupan rohani seseorang. Ini bukan sekadar pengetahuan yang mengisi pikiran, tetapi pengalaman yang mengubah hati, jiwa, dan tindakan. Dalam teologi sistematika, epignosis memainkan peran sentral dalam memperdalam pemahaman akan karya Allah dan maksud-Nya dalam sejarah keselamatan.
Epignosis membawa kita ke dalam pemahaman yang kuat dan historis tentang sifat, atribut, dan karakter Allah. Hal ini mengarahkan kita untuk tetap berada pada alur Firman-Nya dan menumbuhkembangkan kepercayaan kita pada-Nya melalui tindakan-tindakan yang lahir dari iman yang sejati. Melalui epignosis, kita mengalami kebenaran karya keselamatan Allah secara pribadi, memahami implikasi dan relevansinya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Epignosis membawa kita ke dalam pemahaman tentang kehendak dan rencana Allah bagi umat-Nya, hidup dalam ketaatan dan persekutuan dengan-Nya. Pemahaman akan epignosis membantu kita membangun fondasi iman yang kokoh dan stabil dalam teologi sistematika. Epignosis memberikan kekuatan pada keyakinan kita, karena kita mengenal Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Melalui epignosis, hubungan kita dengan Allah menjadi lebih berarti, hidup dalam persekutuan yang erat dengan-Nya sepanjang hidup kita.
Epignosis membawa transformasi dalam kehidupan rohani, yang tercermin dalam pelayanan kita kepada orang lain, menjadi saksi yang berbuah dari pengalaman hidup kita dengan Allah, membawa terang dan harapan kepada dunia di sekitar kita, serta menjadi garam dunia.
Dalam teologi sistematika, epignosis berfungsi sebagai landasan yang kokoh, mengarahkan kita untuk menggali dimensi-dimensi kebenaran yang reliabel dan berdampak dalam iman kita. Dalam teologi sistematika, epignosis menjadi dasar yang kokoh untuk memahami kebenaran ilahi: Pertama, Mengungkap Dimensi Kebenaran yang Reliabel – Epignosis menggali dimensi-dimensi kebenaran ilahi yang dapat diandalkan, memisahkan antara kebenaran sejati dan pemahaman yang terdistorsi atau terbatas.
Kedua, Menghubungkan Karya Allah dalam Sejarah Keselamatan – Melalui epignosis, kita dapat menghubungkan karya Allah dalam sejarah keselamatan dengan pemahaman yang lebih dalam tentang kehendak dan rencana-Nya bagi umat manusia. Ketiga, Memperkaya Kehidupan Rohani – Epignosis membawa kekayaan spiritualitas dalam kehidupan dan pelayanan yang kita kerjakan. Epignosis membawa transformasi, mengubah cara kita berpikir, bertindak, dan merespons kehendak Allah berdasarkan pengalaman spiritual bersama-Nya. Dengan memahami epignosis, kita memperdalam hubungan dengan Allah, hidup dalam persekutuan yang erat dengan-Nya di sepanjang hidup yang dijalami.
Dengan mengadopsi kerja epignosis Teologi Sistematika, kita dapat memperkecil penyimpangan-penyimpangan doktrinal yang dilakukan oleh orang-orang yang “sombong” tapi miskin literatur. Benturan-benturan antar keyakinan pribadi dan ditambah dengan maraknya bidat yang bermunculan, memaksa kita untuk melihat kepentingan dan kekuatan epignosis Teologi Sistematika, sehingga kita tidak mudah ditipu oleh “teolog berkedok sontoloyo” yang tanpa keilmuan yang mumpuni berlagak “tahu segalanya”. Masuk ke dalam dunia teologi harus siap “dikritik”.
Keilmuan itu sendiri memang layak diperbincangkan, tetapi arogansi pengetahuan, meski hanya secuil tapi “ngomongnya terlalu tinggi” justru mencurahkan kesontoloyoan yang tidak ada “template”-nya di dunia akademik. Pergulatan teologis-dogmatis tidak melepaskan diri dari “filsafat ilmu” yang dapat menjadi acuan dalam mengutarakan keyakinan dogmatis seseorang. Tapi perlu diingat, seringkali kita hendak “menggantikan kebenaran alkitabiah” dengan kompromi politis-ekonomis berbalutkan “teologi abu-abu.” Ini sangat berbahaya!
Dalam pengembangannya, epignosis Teologi Sistematika menyematkan proses berkehidupan yang benar di hadapan Allah. Itu sebabnya, Epignosis bukanlah sekadar konsep teologis, tetapi panggilan untuk hidup dalam cinta kasih-Nya, kemurahan-Nya, dan kebenaran-Nya. Dalam teologi sistematika, pemahaman akan epignosis membawa pembaruan dan pengalaman hidup yang berlimpah, memperdalam fondasi iman kita, membawa kita ke dalam persekutuan yang lebih kuat dengan Allah. Dengan melibatkan diri dalam pencarian yang berkelanjutan akan pengetahuan ilahi dalam Kitab Suci, kita dapat mengalami kebenaran yang menguatkan hidup kita, iman, kasih, pengharapan, dan kemerdekaan dalam Kristus.
Dalam Kejadian 3:19, terdapat sebuah pernyataan yang dikatakan Allah kepada manusia yang telah berdosa, yang melawan perintah-Nya: “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Pernyataan ini memberi kesan yang kuat bahwa konsekuensi dosa membawa manusia ke dalam berbagai masalah kehidupan hingga kematian.
Pernyataan tersebut di atas mengingatkan kita akan keterbatasan fisik dan temporal kita sebagai manusia, ciptaan Allah. Manusia diciptakan dari debu tanah, sebuah bahan yang sementara dan mudah retak atau hancur. Hal ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia memang terbatas: ada batasan umur, batasan hidup, batasan pikiran, batasan makanan, batasan minuman, dan sebagainya. Itulah natur ciptaan. Kita terikat oleh ruang dan ruang, serta rentan terhadap perubahan dalam proses kehidupan.
Dalam mengakui bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu, kita diingatkan untuk rendah hati, memahami makna hidup yang dikehendaki Allah, dan mengucap syukur atas apa yang telah Allah kerjakan dalam hidup kita. Meskipun kita mungkin memiliki kecenderungan untuk merasa superior atau berkuasa, kenyataannya kita semua memiliki keterbatasan tertentu, baik materi maupun kehidupan itu sendiri, yang pada akhirnya akan kembali menjadi “tanah” – debu kembali menjadi debu.
Fakta tentang kehidupan dan kematian adalah bagian koheren dengan realisasi potensi diri dan respons atas segala sesuatu yang tampak. Pernyataan ini menyoroti siklus alamiah kehidupan dan kematian di dunia ini. Manusia lahir ke dunia, dan kembali menjadi debu saat hidupnya berakhir, meskipun tetap ada pengecualian natur eskatologis dalam pandangan teologi Kristen. Hal Ini menggambarkan bahwa kematian adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia; itulah keterbatasan natural; itu hadiah terindah dari Sang Khalik sejak Ia menciptakan manusia pertama: Adam dan Hawa.
Dalam memahami filsafat “dari debu kembali menjadi debu,” kita juga diundang untuk merenungkan keharmonisan dengan alam. Kita sebagai manusia tidak terpisah dari alam, dan merupakan bagian integral dalam relasi kehidupan, pekerjaan, pelayanan, dan aktivitas kesehariannya. Allah sendiri telah memerintahkan untuk berkuasa atas seluruh ciptaan yang ada di alam semesta ini (Kejadian 1:25-31).
Mencari makna dan kehidupan yang bermakna menyoroti keterbatasan dan kerentanan kita sebagai manusia, sekaligus menantang kita untuk mencari makna dan tujuan yang lebih tinggi dalam kehidupan yang dijalani. Kita diingatkan bahwa meskipun kita ini debu, kita juga memiliki kemampuan untuk menciptakan kehidupan yang bermakna dan bermanfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi alam semesta. Kita diundang untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan sifat atau natur keterbatasan kita, tetapi juga dengan tekad untuk mencari makna dan tujuan yang lebih kuat dan berkesan.
Dalam filsafat “dari debu kembali menjadi debu” menurut Kejadian 3:19, kita diingatkan tentang keterbatasan, kerendah-hatian, dan keterhubungan kita sebagai manusia Sang Pencipta, maupun dengan sesama dan alam semesta. Konteks ini mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kesadaran akan sifat kesementaraan kita, dan dengan tekad untuk mencari makna atau tujuan yang lebih tinggi dalam kehidupan. Dengan demikian, filsafat “dari debu kembali menjadi debu” mengajak kita untuk merenungkan hakikat kehidupan dan tempat kita di alam semesta ini dengan penuh kebijaksanaan dan rasa hormat kepada Sang Pencipta, kini, besok, dan selamanya.
Perkembangan teologi di era digital cukup signifikan. Di Indonesia publikasi doktrin-doktrin Kristen mengalami kemajuan yang luar biasa, terlepas apakah doktrin-doktrin itu menyimpang atau tidak. Sejatinya, publikasi iman Kristen melalui berbagai media sosial (dalam jaringan), merupakan bagian penting dari sikap iman itu sendiri. Tujuannya jelas, “mewartakan kebenaran Allah di dalam Kristus Yesus.”
Ada disparitas zaman dan konteks antara para rasul dan kita yang hidup sekarang ini, tentang bagaimana mempublikasikan “berita” keselamatan dari Yesus Kristus. Yang menarik adalah kita—sekarang ini—dipengaruhi oleh dua metode pekabaran Injil klasik Alkitab yaitu: lisan (verbal) dan tulisan (script). Metode verbal adalah konteks di mana orang-orang pilihan Tuhan “berbicara” tentang personalitas-Nya dan karya-karya-Nya. Metode tulisan adalah konteks “menuliskan” ajaran-ajaran Alkitab ke dalam benda-benda tertentu agar pesan dan makna yang penting—termasuk metode verbal itu, terjaga dan terwariskan dengan baik. Dua metode tersebut kemudian dikembangkan ke berbagai bidang, maka muncullah “ilmu komunikasi” dan “ilmu menulis”.
Pada konteks kini, orang Kristen masih melakukan dan memberlakukan dua metode klasik tersebut. Tetapi, media yang digunakan sudah berbeda. Dulu, media tulisan hanya terbatas pada beberapa benda saja, misalnya papyrus, kulit binatang, dan sebagainya. Tetapi sekarang, ada berbagai media yang bisa digunakan untuk mempublikasikan berita tentang keselamatan dari Yesus Kristus. Media digital adalah yang paling laris digunakan di berbagai belahan dunia. Faktanya, penggunaan media digital merambah ke berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk gereja dan teologi.
Teologi dalam dunia digital adalah fenomena perkembangan teknologi dan informasi di mana media digital (atau media sosial) menjadi produktif untuk persebaran gagasan teologis pada umumnya, dan doktrin-doktrin Kristen pada khususnya. Akibatnya, para rohaniwan dan teolog terdorong untuk bersama-sama memikirkan bagaimana langkah-langkah penginjilan dan diseminasi Injil Yesus Kristus melalui media-media digital.
Data teologi dan teologi data adalah bagian dari publikasi (diseminasi) gagasan teologis dan doktrin-doktrin Kristen. Data teologi adalah substansi dari iman Kristen yang disimpan untuk dipublikasikan. Teologi data adalah rancangan yang digunakan orang Kristen untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi teologi (iman Kristen), termasuk doktrin-doktrin fundamental untuk dipublikasikan. Tentunya, publikasi dimaksudkan untuk penyebarluasan pengajaran iman Kristen secara masiv (global). Berita keselamatan itu tidak bisa menjadi sesuatu yang dinikmati sendiri. Ingatlah perkataan Yesus: “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku….” Perintah ini menjadi lambar (alas) iman Kristen hingga sekarang ini.
Berita keselamatan yang terbungkus dalam teologi Kristen perlu mendapat perhatian khusus dalam hal publikasinya. Sebagaimana saya nyatakan di atas bahwa ada disparitas zaman dan konteks antara para rasul dan kita di zaman ini. Itulah yang kemudian kita pahami sebagai “[ber]teologi dalam dunia digital”. Digital itu sendiri dimaknai sebagai sebuah sistem yang canggih, terhubung dengan koneksi jaringan internet, dan sebagainya. Ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk berkarya bagi-Nya. Sikap kita tidak perlu berubah karena menggunakan teknologi digital, melainkan bagaimana kita menggunakannya sebagai media pemberitaan Injil, doktrin, dan lainnya.
Bebeerapa hal penting berikut ini perlu diperhatikan: pertama, publikasi teologi sebagai cara berteologi di dunia digital berarti memahami secara kredibel dan solid tentang doktrin-doktrin alkitabiah; kedua, menuangkan ide atau gagasan teologi untuk menjelaskan (mengelaborasikan) doktrin-doktrin ke dalam tulisan berbasis digital; ketiga, mempublikasikannya ke berbagai media sosial; dan keempat, mengarsipkan semua konteks [ber]teologi tadi. Inilah yang saya sebut dengan “Teologi Data”.
Profesor Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia”, menyebutkan tentang “agama data”. Teologi data terinspirasi dari konsep agama data yang disinggung Harari, dan kemudian saya komparasikan dengan teologi data versi Kristen. Teologi data adalah sebuah konteks di mana iman Kristen dijelaskan (didukung, dilegkapi) dengan menggunakan metode atau sistem data untuk memperkuatnya. Data yang dimaksud adalah semua hasil riset/penelitian, pemikiran, devosi (ketaatan), dan sebagainya, tentang teologi Kristen dari zaman dulu hingga sekarang ini. Teologi data sifatnya ekspansif dan masiv (massive). Sebagaimana internet menjadi konsumsi tanpa batas, maka Teologi data juga memiliki natur yang sama.
[Ber]teologi dalam dunia digital mau tidak mau harus kita cermati dan lakukan. Mengapa? Karena kita telah ditetapkan Tuhan untuk hidup di zaman digital. Para nabi dan rasul memiliki keunggulan zaman dan situasi di masa mereka melayani; mereka telah melakukan tugasnya dengan baik: verbal maupun tulisan. Lalu kita? Tak perlu tinggal diam dan berpuas diri dengan digital tanpa menghasilkan apa-apa. Tugas kita tentu bertambah satu yaitu masuk ke dalam dunia digital dan menghasilkan karya-karya tulisan yang merepresentasikan iman Kristen (gagasan, apologi, hermeneutik, riset doktrinal).
Para nabi dan rasul menuliskan apa yang mereka alami dan apa yang Tuhan inspirasikan, termasuk ejawantah kehendak dan rencana Allah dalam totalitas pelayanan dan kehidupan mereka, orang-orang yang dilayani, dan kepentingan penginjilan untuk sebuah masa depan yang gemilang bersama Kristus dalam Kerajaan-Nya. Dulu, tulisan-tulisan para nabi dan rasul terbatas hanya pada jemaat yang mereka layani—meski sekarang ini tulisan-tulisan mereka dapat dikonsumsi oleh semua manusia—tanpa hambatan—di dunia, secara masiv. Ini adalah bagian dari digitalisasi (proses pemberian sistem digital): Teologi Data.
Problem yang dijumpai adalah ada orang-orang tertentu yang hanya berpuas diri dengan imannya tanpa mempedulikan sesamanya. Teologi yang dimilikinya dinikmati sendiri; puas sendiri; senang sendiri; ngoceh sendiri, raup keuntungan, dan tipu jemaat soal keuangan. Ada berbagai kejadian yang dapat kita tarik untuk mendapatkan “wacana berbenah diri”. Kita dipanggil untuk menjadi berkat, bukan menipu berkat orang lain. Media digital yang ada sekarang ini adalah bagian yang dapat dijadikan sebagai saluran pewartaan ajaran-ajaran Kitab Suci. Media-media digital sudah tersedia di depan mata, masihkah kita lalai dalam mempublikasikan iman Kristen? Tapi ingat, jangan pamer! Jangan sombong! Tetap rendah hati! Jangan mencari popularitas karena kehebatan yang kita klaim sendiri! Jauhkan itu dari diri kita.
Teologi Data
Saya mencatat ada tujuh cakupan dari Teologi Data sebagai implikasi dari [ber]teologi dalam dunia digital yaitu:
Pertama, Teologi data adalah upaya diseminasi melalui digitalisasi pengajaran iman Kristen secara masiv, global—tanpa hambatan yang sulit. Hampir semua platform digital mudah digunakan.
Kedua, Upaya tersebut harus didukung oleh reliabilitas (ketelitian dan dapat diandalkan) gagasan/pemikiran teologis yang alkitabiah. Hal ini menunjukkan integritas hermeneutika yang sejati. Dengan maraknya penyesatan, bidat-bidat yang muncul kembali, telah menimbulkan gejolak di gereja dan masyarakat Kristen secara umum. Dibutuhkan upaya serius untuk memperhatikan pola kerja hermeneutika atas teks-teks Alkitab, sehingga menghasilkan ajaran yang sehat.
Ketiga, Upaya mengarsipkan Teologi Data dalam dunia digital sebagai bentuk “defense of mechanism”dan memudahkan pencarian topik-topik yang relevan ketika hendak didiskusikan.
Keempat, Mendorong para teolog, pemerhati teologi, guru, dosen, dan semua lapisan masyarakat Kristen untuk berteologi secara sehat, melalui verbalisme (percakapan/perkataan), konatifisme (perilaku), spiritualisme (kerohanian), dan melalui tulisan-tulisan.
Kelima, Memberikan ruang yang luas bagi proses penelitian teologi yang melihat konteks perkembangan zaman, sehingga teologi tidak menjadi kerdil di dunia yang serba berkembang, teologi tidak menjadi kaku di tengah semaraknya pemikiran, dan teologi tidak menjadi sempit ruang geraknya di dunia yang sangat luas.
Keenam, Teologi Data menghadirkan berbagai penelitian mutakhir untuk menjawab berbagai kritik dan kebutuhan semua lapisan masyarakat.
Ketujuh, Media digital sangat produktif untuk menjangkau sebanyak mungkin orang. Hal ini dimaksudkan agar Injil Yesus Kristus (berita keselamatan) tersebar luas dan memberikan pengaruh pertobatan bagi siapa saja di mana Roh Kudus dapat bekerja dengan tanpa batas sesuai kehendak dan kedaulatan-Nya. Kita adalah “media” Tuhan untuk menyalurkan berkat-berkat-Nya (melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan).
Teologi Data (tulisan dan penelitian) merupakan hal yang signigikan karena melaluinya pengajaran-pengajaran iman Kristen dapat dipublikasikan secara luas, tanpa hambatan, tanpa batas, sejauh yang dapat dijangkau. Tiga dasar utama mengapa kita perlu menerapkan pengetahuan (kekayaan intelektual) ke dalam sebuah karya tulis adalah: pertama, “VERBA VOLANT SCRIPTA MANENS [yang diucapkan dengan kata akan lenyap, yang dituliskan akan tetap berlaku]”, kedua, “WARISAN PALING BERHARGA ADALAH TULISAN”, dan ketiga, “TRADISI YANG TETAP BERTAHAN ADALAH TULISAN”. Teologi data mengutamakan analisis tulisan (kajian, kritik, respons) dan gambar-gambar (visualisasi) untuk mendukung kekuatan tulisan.
Teologi menggenggam dunia
Kemajuan digital tak dapat menggantikan dua metode klasik: verbal dan tulisan, sebab dalam digitalisasi juga memuat tentang ucapan (seseorang) dan tulisan. Gambar tidak lebih hebat dari keterangan gambar tersebut. Dalam video pun ada percakapan dan tulisan. Dua metode klasik yang Tuhan berikan kepada manusia akan selamanya digunakan meski kemajuan teknologi semakin canggih. Apalagi dengan teknologi Artificial Intellingence (AI), “kecerdasan artifisial (buatan)”, manusia semakin terbantu dengan teknologi tersebut. Tetapi, tentu ada bahaya-bahaya tersendiri. AI hanyalah sebuah alat bantu, bisa menjadi sebuah hiburan, dapat memberi kepuasan tersendiri, dan atau menjadi sebuah lelucon. Oleh sebab itu, secanggih-canggihnya teknologi, dua metode klasik tetap digunakan: “verba” dan “scripta”.
Dengan melihat fenomena AI, teologi masih tetap hidup dan mengarahkan kita untuk hidup kudus dalam kebenaran Kristus, tidak terpengaruh dengan bahaya-bahaya yang muncul dari gejala AI itu sendiri. Kita dapat mempergunakannya sejauh itu bermanfaat dan memberikan kepuasaan. Sisanya, AI bisa menjadi lelucon dan hiburan bagi manusia. Ada yang beranggapan bahwa AI akan menggantikan manusia. Lah, AI saja diciptakan oleh manusia, tentu tidak dapat menggantikan manusia. Memang benar, sistem AI dengan menggunakan robot sudah digunakan di beberapa negara untuk menggantikan tenaga manusia, tetapi proses perawatan robot-robot tersebut toh juga dilakukan oleh manusia. Kekuatan robot-robot dengan teknologi AI juga tidak bertahan lama jika tidak ada manusia yang mengontrolnya.
Teologi harus mengedepankan sistem berpikir bahwa kemajuan teknologi AI bukanlah sarana untuk meninggalkan Tuhan, melainkan kita semakin disadarkan bahwa semuanya hanyalah media untuk membantu dan mendukung manusia untuk mempermudah pekerjaannya. Selebihnya, AI hanyalah hiburan tersendiri, atau bisa menjadi bencana moralitas manusia jika salah menggunakannya. Misalnya robot seks telah menjadikan laki-laki enggan menikah dengan perempuan.
Kita harus ingat bahwa apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita—termasuk ilmu teologi—seyogianya diwartakan melalui media-media digital, dapat menjangkau banyak orang. Usaha ini akan berbuahkan hasil ketika menyadari bahwa kita adalah “saluran berkat”-Nya.
Signifikansi teologi data adalah untuk menyatakan kebenaran Injil. Teologi data tetap menjadi bagian dari tugas pelayanan kita untuk mempublikasikan iman Kristen. Teologi yang kita miliki siap dipublikasikan, jangan dinikmati sendiri, dan jangan memuaskan kesombongan diri. Bagikanlah itu kepada orang lain, selagi masih ada waktu.
Para nabi dan rasul adalah manusia biasa. Tetapi mereka menyadari bahwa apa yang Tuhan berikan kepada mereka, digunakan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana dengan kita? Masih santai dan menikmati “egoisme” semu atau turut berkontribusi dalam konteks “berteologi di [dalam] dunia digital?” Hanya kita yang bisa menjawabnya.
Konteks menafsir memiliki sejumlah langkah dan pemahaman tertentu untuk memberi nilai atau bobot pada hasil tafsiran. Hal ini adalah sebuah bingkai hermeneutika yang penting. Pasalnya, kita tidak dianjurkan menafsir sesuka hati tanpa ada landasan atau pijakan, langkah, dan pemahaman yang kuat atas sesuatu yang ditafsirkan.
Hermeneutika Alkitab adalah studi yang membahas tentang cara memahami dan menafsirkan teks-teks. Alkitab, sebagai Kitab Suci bagi umat Kristen, merupakan sumber ajaran tentang kasih, iman, teologi, pengharapan, dan inspirasi bagi kehidupan dan masa depan yang gemilang. Namun, menafsirkan Alkitab bukanlah tugas yang mudah, karena teks-teksnya memiliki latar belakang budaya, bahasa, dan sejarah yang beragam.
Makna ontologis adalah pemahaman tentang makna teks dalam konteks ontologi atau eksistensi yang melibatkan pemahaman tentang keberadaan, hakikat, dan sifat-sifat dasar dari realitas yang dipaparkan dalam Alkitab. Pendekatan ini menekankan aspek-aspek teologis dan spiritual dari teks Alkitab, serta mencari makna yang lebih dalam di balik narasi dan ajaran-ajaran yang disampaikan.
Dalam makna ontologis, teks Alkitab tentang keselamatan bisa dipahami sebagai pemberian Allah bagi umat pilihan-Nya melalui Yesus Kristus (lih. Efesus 1:4; Yohanes 10:27-28; Roma 8:28-30, dan lainnya). Hal ini mengarah pada pemahaman bahwa keselamatan bukan hanya konsep teologis, tetapi juga realitas yang dinyatakan Allah dalam sejarah sebagaimana termaktub dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (kurban binatang yang tak bercacat cela, dan kurban manusia Yesus Kristus yang sempurna).
Makna kultural melibatkan studi tentang budaya, masyarakat, dan konteks historis dari tempat dan waktu penulisan teks Alkitab. Pendekatan ini membantu para pembaca memahami bagaimana teks Alkitab diresapi oleh konteks kulturalnya, serta bagaimana pengaruhnya dalam budaya modern. Soal relevan atau tidak makna kultural, tergantung dari bagaimana kita “membacanya” dalam perspektif tertentu.
Dalam makna kultural, perumpamaan-perumpamaan Yesus dapat dipahami dalam konteks budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Yahudi pada zaman itu. Misalnya, perumpamaan tentang dua macam dasar yang digambarkan dalam bentuk “membangun rumah” (Matius 7:24-27) dapat lebih dipahami ketika kita memperhatikan konteks budaya dan pekerjaan pembangunan rumah pada zaman Yesus.
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Makna berikutnya adalah visual. Makna ini melibatkan penggunaan gambar, simbol, dan visualisasi untuk membantu memahami teks Alkitab, termasuk studi tentang gambar-gambar yang digunakan dalam teks Alkitab, serta penggunaan seni, arsitektur, dan simbolisme dalam memvisualisasikan narasi dan ajaran-ajaran Alkitab.
Melalui makna visual, kita dapat melihat bagaimana seniman-seniman dari berbagai budaya dan periode sejarah menggambarkan kisah-kisah Alkitab melalui lukisan, patung, dan seni rupa lainnya. Misalnya, lukisan “The Last Supper” karya Leonardo da Vinci merupakan salah satu contoh visualisasi yang terkenal dari perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya.
Makna visual juga menyentuh pembacaaan teks-teks secara harfiah. Apa yang dilihat pembaca atas teks-teks tertentu, secara langsung “dipahami-dibaca” secara literal, dan jarang sekali mengabaikan pendalaman konteks historis, budaya, bahasa, dan sebagainya. Meskipun memang ada teks-teks tertentu yang dapat dipahami secara harfiah, tetapi jika sering menggunakan metode ini, maka akan menimbulkan masalah serius pada teks-teks yang bersifat simbolis dan sebagainya.
Pendekatan-pendekatan hermeneutika ini tidaklah terpisah satu sama lain, tetapi saling terkait dan melengkapi. Dengan mengintegrasikan makna ontologis, kultural, dan visual, pembaca Alkitab dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif tentang teks Alkitab.
Hermeneutika Alkitab melibatkan berbagai pendekatan, termasuk makna ontologis, kultural, dan visual. Dengan memadukan pendekatan-pendekatan ini, pembaca Alkitab dapat memperoleh pemahaman yang lebih kaya dan komprehensif tentang teks Alkitab.
Penafsiran semacam ini juga dapat membantu kita menggali kekayaan makna dari teks Alkitab serta menerapkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, hermeneutika Alkitab tidak hanya menjadi latihan intelektual dan emosi, tetapi juga perjalanan rohani yang kuat menuju pemahaman akan kehendak dan kebijaksanaan Allah, bagi masa depan yang gemilang.
Pretty girl with long hair in knitted hat and warm sweater on wooden background. She holds christmas present with phone in gloves and looks astonished to camera
Parfum telah lama menjadi simbol keanggunan, kepercayaan diri, dan keindahan. Namun, di balik aroma yang memikat dan berkelas, terdapat kisah yang lebih dalam tentang bagaimana parfum dapat mempengaruhi persepsi kita terhadap diri sendiri dan orang lain.
Parfum memiliki bau yang khas sesuai bahan-bahan yang digunakan, memiliki aroma dan kemampuan yang kuat untuk membangkitkan emosi, mengingatkan kita pada kenangan dan pengalaman yang berhubungan dengan cinta. Aromanya dapat memicu perasaan romantis, keintiman, semangat, dan gairah, menciptakan ikatan yang mendalam antara pasangan (kekasih hati).
Pemilihan parfum juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri yang dalam dalam konteks cinta. Aroma yang kita pilih mencerminkan kepribadian, preferensi (prioritas), dan bahkan nilai-nilai dalam hubungan yang kita jalani. Ini merupakan cara yang intim untuk berkomunikasi tanpa kata-kata.
Parfum yang disukai oleh pasangan dapat menjadi pengingat yang kuat akan cinta dan kasih sayang di pupuk selama ini. Aromanya dapat menjadi identitas olfaktori (indra penciuman) dari hubungan mereka, yang memperkuat ikatan emosional dan romantisme yang mendalam. Parfum tidak hanya mempengaruhi cara orang lain melihat kita, tetapi juga cara kita melihat diri sendiri. Aroma yang kita kenakan dapat memperkuat rasa percaya diri dan bahkan mengubah persepsi kita tentang diri sendiri.
Parfum dapat menjadi bagian integral dari identitas kita, membantu kita merasa unik dan dihargai. Aromanya dapat menciptakan kesan tertentu pada orang lain, mengidentifikasi atau memberi penilaian terhadap kita dengan sesuatu yang mungkin berbeda. Di samping itu, menentukan bagaimana kita ingin dilihat, didekati, dan diajak bicara.
Lalu bagaimana dengan nama baik? Nama baik mencerminkan karakter dan integritas seseorang yang meliputi perilaku, tindakan, dan interaksi dengan orang lain. Nama baik mencerminkan kejujuran, kebaikan hati, dan nilai-nilai moral yang kuat dan berkelas.
Nama baik juga mempengaruhi citra diri dan identitas seseorang. Memiliki nama baik cenderung percaya diri yang lebih tinggi dan pandangan yang lebih positif tentang diri kita, merasa dihormati, dihargai, dan diperhatikan oleh orang lain.
Penulis kitab Amsal menyebutkan, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Amsal 22:1). Kekayaan yang dimiliki seseorang bukanlah pertanda bahwa ia memiliki nama baik. Itu sebabnya, nama baik tidak sebanding dengan kekayaan yang besar. Nama baik itu lebih kuat pengaruhnya, lebih berharga dari kekayaan besar.
Di sisi lain, penulis kitab Pengkhotbah mencantumkan fenomena tentang nama baik juga. Ia menulis “Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran. Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya” (Pengkhotbah 7:1-2).
Minyak yang mahal tidak dapat menutupi nama yang buruk. Nama baik yang harum “lebih harum” dari pada parfum yang mahal. Begilah faktanya. Mungkin ada orang yang hendak mencari dan membentuk nama baiknya di sebuah pesta, tapi justru mereka yang peduli dengan dukacita orang lain dapat membentuk nama baiknya, asalkan pergi ke rumah duka dengan tujuan menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap mereka yang sedang bersedih. Datang untuk memberikan penghiburan dan penguatan.
Dengan melihat kepentingan nama baik, maka patutlah kita memperhatikannya. Mereka yang memiliki cinta yang kuat harus juga menjaga nama baiknya. Terkadang, kita menjadi incaran orang lain untuk memperburuk nama baik kita. Kewaspadaan sangatlah dibutuhkan.
Apa hubungan antara nama baik, cinta, dan parfum? Yang jelas ada hubungan analogis yang dapat kita tarik di sini. Hubungan antara nama baik, cinta, dan parfum adalah bahwa ketiganya saling terkait dalam membentuk identitas, relasi, dan karakter kita. Parfum yang dipilih dengan bijak mencerminkan nilai-nilai (kualitas) tertentu dan memberi kesan yang baik pada orang lain, yang pada gilirannya dapat memperkuat nama baik kita. Di sisi lain, nama baik menciptakan fondasi yang kuat untuk hubungan yang sehat dan cinta yang berkelanjutan.
Dalam perpaduan antara cinta, parfum, dan nama baik, kita menemukan kompleksitas yang kaya akan pengaruh, dan berimplikasi bagi identitas dan karakter kita sendiri. Parfum tidak hanya sekadar aroma yang memikat, tetapi juga sebagai luapan ekspresi dari siapa kita dan apa yang kita nilai dalam hubungan dan interaksi sosial.
Sementara itu, nama baik adalah cerminan dari karakter dan integritas kita, membentuk dasar dari hubungan yang sehat dan cinta yang berkelanjutan. Dengan memahami keterkaitan antara cinta, parfum, dan nama baik, kita dapat lebih bijaksana dalam merawat identitas dan karakter kita, serta memperkuat hubungan yang kita bangun dengan orang lain.
Term “epilusis” adalah sebuah konteks yang memperlihatkan upaya logika untuk memahami dan menyimpulkan sesuatu. Dalam konteks teologi dan filsafat, epilusis memainkan peran penting dalam memahami dan menginterpretasikan doktrin-doktrin fundamental dalam hubungannya dengan iman, kehidupan, dan jati diri keagamaan.
Ἐπίλυσις secara harfiah berarti melepaskan, pembebasan; secara kiasan, seperti menjelaskan apa yang tidak jelas, explanation (penjelasan), eksposisi, interpretation (penafsiran atau tafsiran) (2 Petrus 1.20). Kata ini juga dapat dipahami sebagai “klarifikasi” atas sesuatu hal. Dalam konteks teologi, epilusis merujuk pada proses memberikan penjelasan yang baik mengenai suatu doktrin atau ajaran, yang melibatkan analisis tekstual, kerja hermeneutik, interpretasi simbolik-kontekstual, serta eksplanasi konsep-konsep yang mungkin tampak sulit atau ambigu.
Apakah kerja epilusis dalam eksplanasi doktrin sangat penting? Tentu! Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan makna dan pesan pada teks-teks yang dikaji, dianalisis, dan atau ditafsirkan. Langkah kerja epilusis berpotensi mengatasi ambiguitas karena doktrin-doktrin itu sendiri sering kali bersifat simbolik dan multi-interpretatif sehingga membutuhkan usaha yang serius. Epilusis membantu kita dalam mengatasi ambiguitas ini dengan memberikan penjelasan yang lebih akurat dan berbobot.
Epilusis juga dapat memperkaya pemahaman terhadap doktrin-doktrin fundamental. Konteks ini tidak hanya terbatas pada interpretasi literal, tetapi juga mencakup makna dan pesan mendalam yang terkandung di dalamnya. Dalam komunitas keagamaan, epilusis dapat membantu membangun konsensus atau negosiasi ilmiah mengenai pemahaman dan pengajaran doktrin yang benar, menghindari adanya dikotomi doktrinal, perpecahan dan atau kesalahpahaman terhadap teks-teks Kitab Suci.
Untuk mencapai hal tersebut kita perlu menganalisis teks-teks Kitab Suci, yang melibatkan studi bahasa asli teks, konteks historis, kultural, dan struktur naratif. Kita dapat mengidentifikasi tema atau ide sentral yang termaktub dalam teks tersebut. Karena di dalam doktrin itu sendiri ada yang mengandung simbolisme, epilusis diperlukan untuk menginterpretasi simbol-simbol tersebut dan mengungkap makna atau pesannya.
Kita juga perlu melakukan kontekstualisasi, di mana dalam proses memahami doktrin dalam konteks budaya dan sosial di mana doktrin tersebut berkembang, membutuhkan korelatifisme praktikal agar dapat memberikan penjelasan yang relevan dengan keadaan saat ini. Selain itu, penggunaan penalaran logis dan filosofis untuk menjelaskan dan membela doktrin, membantu pembaca dalam membuat argumen yang koheren dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Epilusis merupakan alat yang penting dalam eksplanasi dan interpretasi doktrinal. Melalui analisis yang mendalam dan penjelasan yang jelas, epilusis membantu mengungkap makna yang lebih dalam dari doktrin-doktrin Kitab Suci, memperkaya pemahaman, dan membangun konsensus atau negosiasi ilmiah dalam komunitas keagamaan. Epilusis tidak hanya berfungsi sebagai metode interpretasi, tetapi juga sebagai jembatan untuk menghubungkan pemahaman masa lalu dengan konteks kekinian.
Epilusis dalam Kristologi
Dalam konteks Kristologi, epilusis merujuk pada proses memberikan eksplanasi dan klarifikasi tentang doktrin-doktrin yang berkaitan dengan Yesus Kristus. Epilusis dalam Kristologi adalah metode interpretatif yang digunakan untuk mengeksplanasikan konsep-konsep yang berkaitan dengan personalitas Yesus Kristus, yang melibatkan analisis teks-teks Alkitab, penafsiran simbolis, serta penggunaan penalaran teologis dan historis untuk menguraikan doktrin-doktrin yang kompleks.
Diperlukan langkah-langkah untuk menganalisis teks-teks Injil, perumpamaan dan simbol, latar belakang historis dan budaya pada zaman Yesus (memahami praktik keagamaan Yahudi, situasi politik Romawi, dan konteks sosial masyarakat Palestina pada abad pertama), doktrin Inkarnasi (menjelaskan bagaimana doktrin ini dipahami dalam konteks Alkitab dan tradisi gereja), dan menjelaskan makna teologis dari kematian dan kebangkitan Kristus (penafsiran teologis tentang pengorbanan Kristus dan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian).
Langkah-langkah di atas dapat merujuk pada teks-teks representatif berikut ini: Epilusis digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep seperti Logos (Firman) yang menjadi manusia (Yohanes 1:1-14), dan hubungan antara Yesus dan Bapa (Yohanes 10:30). Juga dapat melirik pada teks-teks lain yang serupa yang menegaskan identitas Yesus, sebagaimana yang Ia klaim sendiri. Paulus dalam surat-suratnya memberikan penjelasan teologis tentang karya Kristus. Misalnya, dalam Filipi 2:6-11.
Epilusis dalam Kristologi dipandang penting untuk memahami dan mengklarifikasi doktrin-doktrin yang berkaitan dengan Yesus Kristus. Melalui analisis teks-teks Alkitab, penafsiran simbolis, dan pemahaman konteks historis, epilusis membantu memperdalam pemahaman tentang pribadi dan karya Kristus. Epilusis tidak hanya berfungsi sebagai metode interpretasi, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat iman dan pengajaran Kristen.
Epilusis Trinitas
Trinitas adalah salah satu doktrin sentral dalam teologi Kristen yang menyatakan bahwa Allah adalah satu, yang menyatakan diri dalam tiga pribadi: Bapa (wujud Allah), Putra (Yesus Kristus) yang adalah Firman Allah, dan Roh Kudus (Roh Allah yang kekal). Doktrin ini sering kali menimbulkan kebingungan, negasi, dan perdebatan karena sifatnya yang kompleks dan misterius. Epilusis sangat penting dalam memahami dan mengklarifikasi doktrin Trinitas.
Epilusis dalam konteks Trinitas adalah proses memberikan penjelasan rinci dan analitis tentang doktrin Trinitas. Ini melibatkan penafsiran teks-teks Alkitab, penggunaan analogi dan metafora, serta penalaran teologis untuk menjelaskan bagaimana satu Allah dapat terdiri dari tiga pribadi yang berbeda namun esensialnya sama.
Trinitas sering kali disalahpahami sebagai politeisme (percaya pada banyak dewa atau allah). Di sini, epilusis membantu mengatasi kebingungan ini dengan menjelaskan bahwa Trinitas adalah satu Allah dalam tiga pribadi, bukan tiga dewa yang berbeda. Epilusis membantu memperdalam pemahaman teologis tentang hubungan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus, yang mencakup bagaimana ketiganya menyatakan karya dalam sejarah, menyatakan kesatuan dan kesetaraan, sekaligus berdistingsi.
Dengan melihat pada langkah analisis teks Alkitab, kita dapat melihat secara faktual dalam teks mengenai doktrin ini, misalnya Matius 28:19 (“…baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”), 2 Korintus 13:14 (“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”). Kita perlu juga memahami bagaimana doktrin Trinitas dikembangkan dalam sejarah gereja, termasuk perdebatan teologis dan keputusan konsili gereja seperti Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M).
Penggunaan analogi? Menggunakan analogi dan metafora untuk menjelaskan konsep Trinitas mungkin sedikit membantu, tetapi hal ini bukanlah keputusan final, misalnya, analogi matahari yang memiliki cahaya dan panas, namun tetap satu matahari, dapat membantu menjelaskan bagaimana tiga pribadi Trinitas berbeda namun satu dalam esensi.
Penalaran teologis? Dengan menggunakan logika dan penalaran teologis, dapat membantu menjelaskan hubungan antara ketiga pribadi Trinitas, termasuk konsep “perichoresis” atau “saling berdiam [keberdiaman] satu sama lain”, yang menggambarkan kesatuan dan interpenetrasi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Konsili Nicea adalah contoh klasik dari epilusis dalam sejarah gereja. Konsili ini menetapkan bahwa Yesus adalah “sehakikat” (homoousios) dengan Bapa, menjelaskan bahwa Putra bukanlah makhluk ciptaan tetapi sepenuhnya Allah. St. Athanasius adalah salah satu teolog yang paling berpengaruh dalam menjelaskan dan mempertahankan doktrin Trinitas. Dalam karyanya, ia menjelaskan bagaimana Yesus sebagai Putra Allah adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Di samping itu, teolog kontemporer terus menggunakan epilusis untuk menjelaskan Trinitas. Misalnya, Karl Rahner dengan “Trinitarian Theology” menekankan bahwa cara kita berbicara tentang Allah sebagai Trinitas harus berakar dalam pengalaman kita akan penyelamatan yang diberikan oleh Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Epilusis adalah alat penting dalam memahami dan menjelaskan doktrin Trinitas. Melalui analisis teks-teks Alkitab, penafsiran historis, penggunaan analogi, dan penalaran teologis, epilusis dapat membantu kita untuk mengklarifikasi konsep dan ajaran yang kompleks ini. Dengan demikian, epilusis tidak hanya berfungsi sebagai metode interpretasi, tetapi juga sebagai jembatan untuk menghubungkan iman Kristen dengan pemahaman rasional.
Epilusis Soteriologi
Soteriologi adalah cabang teologi yang mempelajari doktrin tentang keselamatan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam teologi Kristen, soteriologi berfokus pada bagaimana manusia diselamatkan melalui karya Yesus Kristus dengan memahami akar soteriologi Perjanjian Lama. Epilusis sangat penting dalam memahami soteriologi, mengklarifikasi konsep-konsep keselamatan yang kompleks dan sering kali kontroversial.
Epilusis dalam soteriologi adalah proses memberikan penjelasan rinci dan analitis tentang doktrin keselamatan, yang melibatkan penafsiran teks-teks Alkitab, penjelasan konsep-konsep teologis, dan penggunaan analogi dan penalaran logis untuk menjelaskan bagaimana keselamatan diperoleh dan diterima oleh manusia.
Pentingnya Epilusis dalam Memahami Soteriologi
Pertama, Mengatasi Kesalahpahaman. Konsep keselamatan sering kali disalahpahami atau disederhanakan. Epilusis membantu kita untuk mengatasi kesalahpahaman ini dengan memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang berbagai aspek keselamatan.
Kedua, Memperdalam Pemahaman Teologis. Epilusis memperkaya pemahaman teologis tentang bagaimana keselamatan bekerja, termasuk peran iman, anugerah, dan karya Kristus.
Ketiga, Menjembatani Perbedaan Doktrinal. Dalam sejarah gereja, terdapat berbagai pandangan tentang keselamatan. Epilusis membantu menjembatani perbedaan ini dengan menjelaskan secara kredibel pandangan-pandangan yang berbeda dan dasar teologisnya.
Proses Epilusis dalam Soteriologi
Pertama, Analisis Teks Alkitab. Langkah ini termasuk memahami ayat-ayat seperti Yohanes 3:16 dan Efesus 2:8-9 (“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”).
Kedua, Penafsiran Konseptual. Kita perlu menjelaskan konsep-konsep teologis seperti anugerah (grace), iman (faith), pertobatan (repentance), dan pengampunan dosa (forgiveness of sins). Epilusis membantu dalam menggali makna yang lebih dalam dari konsep-konsep ini dan bagaimana mereka saling terkait.
Ketiga, Kontekstualisasi Historis. Kita perlu memahami bagaimana doktrin keselamatan dikembangkan dalam sejarah gereja, termasuk perdebatan teologis selama Reformasi Protestan dan kontribusi dari teolog-teolog.
Keempat, Penalaran Teologis. Kita perlu menggunakan logika dan penalaran teologis untuk menjelaskan hubungan antara aspek-aspek yang berbeda dari keselamatan, yang mencakup konsep “penebusan” (redemption), “pembenaran” (justification), dan “pengudusan” (sanctification).
Reformasi Protestan membawa berbagai pandangan baru tentang keselamatan, termasuk doktrin “sola fide” (hanya [oleh] iman) dan “sola gratia” (hanya [oleh] anugerah). Epilusis membantu menjelaskan dasar-dasar biblis dan teologis dari pandangan-pandangan ini serta bagaimana mereka berbeda dari pandangan Katolik tradisional. Di sisi lain, teolog kontemporer terus menggunakan epilusis untuk menjelaskan konsep keselamatan. Misalnya, pandangan Karl Barth tentang keselamatan sebagai tindakan Allah yang sepenuhnya melalui Yesus Kristus dan pandangan N.T. Wright tentang “perspektif baru tentang Paulus” yang menekankan keselamatan sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar untuk pemulihan seluruh ciptaan.
Melalui analisis teks-teks Alkitab, penjelasan konseptual, konteks historis, penggunaan analogi, dan penalaran teologis, epilusis membantu mengklarifikasi konsep-konsep yang kompleks, memperdalam pemahaman teologis, dan menjembatani perbedaan doktrinal. Dengan demikian, epilusis tidak hanya berfungsi sebagai metode interpretasi, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkaya iman dan pengajaran Kristen.