
Puncak dari teologi seseorang adalah bagaimana ia “mengampuni orang lain” dan bagaimana ia “mengajarkan tentang pengampunan”. Akhir dari kehidupan para teolog dan pelayan Tuhan adalah bagaimana mereka “mengampuni orang lain” dan bagaimana mereka “mengajarkan tentang pengampunan”.
Proses kehidupan manusia memiliki ragam makna. Makna “baik” bergantung pada apa yang dirasakan seseorang yang mendatangkan sukacita dan berkat. Makna “buruk” bergantung pada apa yang dirasakan seseorang yang mendatangkan keburukan, kesedihan, kecelakaan, kegelisahan, penderitaan, dan sebagainya. Pada konteks ini, setiap orang dapat merasakan pahit-manisnya kehidupan berbarengan dengan pemahamannya tentang apa dan bagaimana seharusnya hidup itu. Iman Kristen yang kuat adalah iman yang dilandasi dengan kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi dan dirasakan adalah berkat campur tangan Tuhan. Merasakan kasih dan sayang Tuhan adalah mereka yang tahu dan percaya kepada Tuhan.
Perjalanan panjang yang dilalui, menghadirkan berbagai hal. Dua di antaranya adalah kasih dan pengampunan. Pada kasih, manusia menampilkan sikap hidup yang peduli, pengasih, penyayang, dan menampilkan pola hidup yang penuh kedamaian, kebahagiaan, dan sukacita. Pada pengampunan, manusia menghadirkan rasa kasih yang kuat untuk dapat mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepadanya. Pengampunan memang tidak mudah dilakukan, tetapi karena Yesus Kristus telah mengajarkan tentang pengampunan, maka mengampuni menjadi sebuah keharusan mutlak bagi setiap orang Kristen. Seperti yang ditegaskan oleh Ibu Teresa, seorang biarawati Katolik yang sangat terkenal karena kasih dan kepedualiannya kepada kaum papa, menyatakan bahwa “Bila kita ingin mengasihi, kita harus belajar bagaimana mengampuni”.

Apa yang didapatkan dari mengampuni? Meski kita tidak mendapatkan apa-apa, namun Tuhan akan memberikan upah bagi mereka yang telah sanggup dan kuat untuk mengampuni. Sebagaimana yang ditegaskan Ibu Teresa di atas, mengasihi tanpa mengampuni adalah mustahil. Mengampuni tanpa mengasihi itu bisa saja dilakukan, tetapi secara mutlak, ketika seseorang mau menyatakan bahwa ia mengasihi orang yang telah berbuat salah kepadanya, maka ia harus mengampuni. Kasih dan pengampunan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan—ya, tak bisa dipisahkan dari kehidupan Kristen yang sesungguhnya.
Josh Billings, penulis dari Amerika pernah berujar, “Tidak ada pembalasan yang lebih sempurna selain mengampuni”. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak ada bedanya. Tetapi ketika kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka itu baru luar biasa. Meski dalam sejarah misi Kristen, para misionaris mengalami berbagai tekanan, hambatan, ancaman, dan bahkan kematian yang mengerikan, mereka tetap memiliki kasih yang tulus; mereka rindu orang-orang yang mereka layani mendapatkan keselamatan dari Tuhan Yesus; mereka ingin bahwa orang-orang yang mereka layani diampuni dosa-dosanya oleh Tuhan Yesus. Kasih yang sedemikian besar membawa mereka kepada keberanian yang luar biasa: rela mati demi Kristen, demi Injil-Nya, dan demi kasih mereka kepada orang-orang berdosa. Seperti yang dinyatakan oleh Rasul Paulus bahwa “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:17-21).

Teolog asal Amerika, Reinhold Niebuhr berujar, “Pengampunan adalah wujud terakhir dari cinta”. Apa yang hendak ia maksudkan? Menurut saya, semua cinta yang dimiliki manusia harus melibatkan, bahkan tujuan akhirnya adalah mengampuni. Mengapa harus mengampuni? Perlu kita sadari bahwa tak ada manusia yang tidak melakukan kesalahan. Bukan berarti kesalahan harus sengaja dilakukan untuk mendapatkan pengampunan, melainkan kadang-kadang kita dapat melakukan kesalahan secara sadar ataupun tidak. Dengan begitu, cinta atau kasih yang kita miliki tidaklah relevan ketika tidak mengampuni. Baik kasih maupun pengampunan adalah koheren (melekat). Seperti yang diungkapkan Paul Boese, seorang penulis dari Belanda, “Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tapi menjamin masa depan”. Meski saat mengampuni kita tidak mendapatkan apa-apa tetapi di masa depan akan mendapatkan hasilnya. Seperti benih yang ditabur hari ini, tidak tumbuh seketika, tetapi di kemudian hari ia akan bertunas, bertumbuh, dan berbuah.
Semua teologi dan para pelayan serta teolog akan berurusan dengan “bagaimana mengampuni” dan “bagaimana mengajarkan tentang pengampunan”. Yang mengajarkan tentang pengampunan haruslah terlebih dahulu melakukannya (bdk. Lukas 6:37; 11:4; secara konsisten Tuhan mengampuni mereka yang mengampuni sesamanya – Mat 6:12-14, Bapa akan mengampuni orang yang juga mengampuni kesalahan orang. Jika tidak mengampuni, maka Bapa juga tidak mengampuni [Mat. 6:15; 18:35; Mrk. 11:25], Yesus menegaskan pengampunan yang tanpa batas Mat. 18:21, Lukas 17:4; Lukas 23:34, Yesus mengampuni saat Dia disalibkan; Lukas 11:4; Kolose 3:13, Paulus menegaskan pengampunan itu perlu; Efesus 4:32, manusia baru berarti mengampuni; pengampunan terjadi karena seseorang mengasihi. Petrus menegaskannya. 1 Petrus 4:8; 1 Petrus 2:17; Yakobus juga menegaskan bahwa kita harus saling mengasihi Yakobus 2:8; Galatia 5:14, Paulus mengutip konteks mengasihi sesama [Roma 13:9]; Yesus menegaskannya – Yohanes 15:17, 6:35, 6:27. Yesus mengutip teks PL Mat. 22:37-39; supremasi mengasihi – Mat. 5:44; dalam PL disebutkan dalam Imamat 19:18, 34, Ulangan 6:5; Allah mengampuni. Kel. 32:32, 34:7, Bil. 14:18, 19, 1 Raj. 8:30, 34, 36, 39, 50; 2 Taw. 6:21, 25, 27, 30, 39. 2 Taw. 7:14. Neh. 9:17. Ayub 7:21. Mzm. 32:5, 78:38; 85:3; 86:5; 99:8; 103:3. Yeremia 33:8. Mikha 7:18.

Apa yang didapatkan dari mengampuni? Bagaimana Esau bisa mengampuni adiknya, Yakub? Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Pergumulan yang panjang pada akhirnya menyisahkan kasih yang mendalam di antara keduanya. Inilah yang akan saya uraikan dalam artikel ini. Tentu, ada campur tangan Tuhan dalam pertemuan antara Yakub dan Esau. Esau memilih mengampuni dan tidak memperpanjang masalah di antara mereka berdua yang dengannya masa depan mereka berdua menjadi terjamin. Tidak ada warisan balas dendam dari generasi mereka berdua. Apa yang dinyatakan Ibu Teresa di atas dapat dilekatkan pada peristiwa Esau dan Yakub yaitu Esau mengasihi adiknya melalui “pengampunan”. Esau memilih membalas bukan dengan kejahatan melainkan dengan “mengampuni”. Pernyataan Josh Billings dikutip di sini. Karena kasih kepada Yakub, Esau memiliki mengampuni, dan di sini pengampunan adalah wujud terakhir dari kasih Esau kepada Yakub. Pernyataan Reinhold Niebuhr dikutip di sini. Dan pada akhirnya, berkat pengampunan itulah, masa depan keduanya menjadi aman dan damai. Tidak ada lagi rasa gelisah dan takut; kasih telah mengubah masa depan mereka. pernyataan Paul Boese dikutip di sini.
Konteks Esau dan Yakub
Kata “kasih” bernada lembut dan mengesankan. Kata ini menjadi sangat popular di semua kalangan dan agama. Kata kerja “mengasihi” menjadi sangat kuat ketika diterapkan ke dalam kolam kehidupan manusia yang multi kultural, multi agama, multi identitas, multi ideologi, dan multi-multi lainnya. Pada tataran praktis, “mengasihi” biasa dilakukan, tetapi untuk “mengampuni” itu terkesan jarang sekali. Memang ada yang melakukannya, tetapi dalam pengamatan saya, masih terlalu sedikit dilakukan. Di kalangan Kristen sendiri, mengasihi itu menjadi biasa sekali, sedangkan mengampuni menjadi jarang sekali. Mengapa? Karena biasanya, mengampuni tak semudah mengasihi. Dalam proses perjalanan Esau dan Yakub, keduanya menyisahkan dan menyimpan luka masa lalu. Esau terbawa emosi dan dendam, sedangkan Yakub terbawa perasaan bersalah dan takut. Keduanya hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, rasa bersalah, dan dendam. Kemungkinan di awal peristiwa tertipunya Esau, dendam Esau terhadap Yakub sangat membara. Biasanya, awal kejadian membuat emosi atau perasaan seseorang menjadi kental dan besar.
Sebelum masuk ke dalam pembahasan Esau dan Yakub, secara singkat saya menjelaskan substansi dan pengertian tentang dua kata yaitu “kasih” dan “pengampunan”. Kasih (mengasih) dan pengampunan (mengampuni) adalah dua tindakan yang koheren, sebagaimana tampak dari pernyataan Ibu Teresa di atas. Meski seseorang dapat saja mengampuni tanpa mengasihi tetapi seseorang tidak dapat mengasihi tanpa mengampuni. Tuhan sendiri telah berulang kali menyatakan kasih dan pengampunan-Nya bagi manusia. Di sini, Tuhan hendak memperlihatkan satu tindakan tunggal yaitu: “Ia mengasihi dan sekaligus mengampuni.” Setiap orang dapat melakukan dua hal ini secara tunggal (terpisah) maupun secara bersamaan. Pilihan kita atas kedua hal tersebut menentukan siapa kita sebenarnya. Koherensi antara kasih dan pengampunan adalah ciri khas “kekristenan”. Mungkin kita pernah mendengar klausa: “Gue gak akan maafin elu”. “Gue gak bakalan memaafkanmu”, “Gue sangat sulit memaafkanmu”. Klausa-klausa tersebut menyatakan bahwa “sudah tidak ada pintu pengampunan”. Akibatnya, kasih terhadap seseorang menjadi pudar dengan sendirinya. Memang, ketika tersakiti, rasanya sulit sekali untuk mengampuni. Tetapi ketika ada imbalan yang besar yang diberikan sebagai barter dari pengampunan, mungkin saja seseorang dengan mudahnya mengampuni karena ingin menerima imbalan. Hal inilah yang terjadi antara Yakub dan Esau. Yakub seolah-olah mau “menyogok” kakaknya untuk mendapatkan kasih dan pengampunannya.
Pasca Esau ditipu oleh Yakub (dan ibunya, Ribka), Esau menaruh dendam. Penipuan seringkali menghasilkan sebuah dendam; dan ini terjadi pada Esau. Yakub akhirnya pergi ke rumah Laban, pamannya (di Padan-Aram) untuk menghindari pertikaian dengan kakaknya yang bisa saja mengancam nyawanya. Maklum, karena Esau ditipu soal hak kesulungan, kemungkinan terbesarnya adalah ia menaruh dendam terhadap adiknya. Dalam perjalanan pasca kasus penipuan dan rekayasa yang dilakukan Ribka (ibu dari Esau dan Yakub), saya merenungkan bahwa Yakub bergumul dengan kesalahan masa lalunya; ia dibayang-bayangi oleh kesalahan fatal yang mungkin menurutnya ia akan dibunuh oleh kakaknya, Esau. Tentu, Yakub akan berupaya agar bisa berdamai dengan kakaknya, dan melupakan masa lalu dengan cara memperbaiki hubungan di masa kini. Seperti yang diungkapkan Paul Boese di atas bahwa “Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tapi menjamin masa depan”. Dengan mendapatkan pengampunan dari Esau, Yakub berharap dapat memperbaiki masa depan. Dan sebagaimana tampak kemudian bahwa Yakub mengharapkan pembalasan terhadap dirinya adalah dengan mendapat “kasih” dari kakaknya. Atau dengan perkataan lain, Yakub menginginkan “pengampunan” dari kakaknya. Inilah substansi yang terkandung dalam pernyataan Josh Billings bahwa “Tidak ada pembalasan yang lebih sempurna selain mengampuni”.

Dalam kisah mereka, penekanan pada kasih dan pengampunan menjadi sangat kental dan bermakna. Upaya Yakub memberikan segala sesuatu sebagai barter untuk mendapatkan kasih dan pengampunan kakaknya atas perbuatannya (bersama ibunya) – dalam melakukan rekayasa penerimaan berkat hak kesulungan yang seharusnya diterima Esau – menjadi titik balik kesadaran bahwa hanya pengampunanlah yang akan menyelesaikan masalah kehidupan. Inilah yang mungkin dipahami oleh Yakub, sehingga ia bersedia mengupayakan pertemuan dengan kakaknya.
Sebelum masuk pada pokok pasal 33, kita lihat dulu konteks Pasal 32: pertama, Yakub ketakukan untuk bertemu Esau (32:6-7, 11) karena ia masih ingat bagaimana ibunya dan dirinya menipu Esau untuk mendapatkan berkat dari Ishak, ayahnya; kedua, untuk menghilangkan ketakutannya, Yakub melakukan empat hal: (a) melakukan pembagian bagi orang-orangnya, kambing domba, lembu sapi dan unta (32:7); (b) Yakub berdoa kepada Tuhan (32:9-12); (c) Yakub berencana mempersembahkan 200 kambing betina, 20 kambing jantan, 200 domba betina, 20 domba jantan, 30 unta yang sedang menyusui, 40 lembu betina, 10 lembu jantan, 20 keledai betina, 10 keledai jantan (32:14-15, 20); dan (d) Yakub juga bergumul melawan Tuhan (32:22-32). Yakub meminta berkat dari TUHAN melalui seorang yang bergulat dengan dia (32:24-29).
Yakub masih mengingat kejadian yang telah lama terjadi dan anggapannya bahwa Esau masih menaruh dendam terhadapnya. Namun, menariknya, Yakub berikhtiar untuk menemui Esau; setidaknya “mendapatkan kasih” dari Esau. Frasa “mendapatkan kasih” mengisyaratkan adanya “pengampunan” di dalamnya. Ketika Esau memberikan (menyatakan) kasihnya kepada Yakub, secara langsung “pengampunan” mengikutinya. Dalam peristiwa pertemuan antara Yakub dan Esau, kasih dan pengampunan menjadi koheren.
Ketika hendak bertemu, Yakub bersujud sampai tujuh kali (33:3), dan kemudian Esau berlari dan mendekap Yakub (33:4). Apa yang terjadi dengan Esau? Dendam puluhan tahun seketika itu berlalu begitu saja, malahan Esau mendekap adiknya, mencium, dan mereka bertangis-tangisan. Ada keharuan dan sukacita yang tak terkira. Ketika kasih dan pengampunan menyatu, itu sungguh indah. Pertanyaanya: apa yang menyebabkan Esau tidak lagi menaruh dendam kepada adiknya?
Dari keempat hal yang dilakukan Yakub, menurut saya dua tindakan yang menjadikan pertemuan Yakub dan Esau berjalan mulus: bahwa “doa” Yakub (32:11) telah dikabulkan Tuhan sebelum ia bertemu dengan Esau; tidak hanya doa, permohonan Yakub untuk “diberkati” oleh seorang yang bergulat dengannya di sungai Yabok menjadi kunci baginya dirinya untuk bertemu dengan Esau. Tuhan telah mengubah hati Esau, dan Tuhan pula mengubah ketakutan Yakub dengan cara “memberkatinya”. Jadi, Tuhan mengubah keduanya. Pertemuan antara Yakub dan Esau, dan kemudian Esau memberikan kasih atau pengampunannya kepada Yakub membuktikan bahwa pengampunan adalah mewujudkan kasih yang murni. Tepatlah apa yang diungkapkan Reinhold Niebuhr bahwa “Pengampunan adalah wujud terakhir dari cinta”.

Dari kisah di atas, saya memberikan kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, mengasihi orang lain harus dibarengi dengan pengampunan. Tuhan telah memberikan contoh bagi kita bahwa Ia begitu mengasihi manusia dan sekaligus mengampuni dari dosa-dosanya melalui pengurbanan binatang, dan puncaknya pengurbanan Yesus di kayu salib. Kematian Yesus adalah wujud dari kasih Tuhan dan darah Yesus adalah wujud dari pengampunan Tuhan. ketika kasih dan pengampunan itu koheren, sukacita dan kelegaan dapat kita rasakan.
Kedua, mereka yang mengasihi sesamanya, tidak lagi memikirkan dendam berlarut-larut; mereka yang mengasihi selalu berusaha menjadi cara agar bisa berdamai dengan orang lain, orang yang pernah disakitinya atau ditipunya.
Ketiga, mereka yang mengasihi dan diberkati Tuhan harus mampu menunjukkan kasihnya dengan cara mengampuni mereka yang pernah bersalah kepadanya dan meminta maaf kepada mereka yang pernah disakiti atau ditipu.
Keempat, kasih dan pengampunan seyogianya menjadi tindakan dan gagasan tunggal dalam prinsip hidup kita: “mengasihi sekaligus mengampuni”.
Pengampunan berarti “menjahit luka-luka kehidupan”, mengobati, dan berusaha untuk memulihkannya di dalam kasih yang tulus, yakni kasih Kristus Yesus.
Soli Deo Gloria.
Salam Bae…..











































