MENGAMPUNI DAN PENGAMPUNAN: Pemahaman Aplikatif Kejadian 33:1-20

Puncak dari teologi seseorang adalah bagaimana ia “mengampuni orang lain” dan bagaimana ia “mengajarkan tentang pengampunan”. Akhir dari kehidupan para teolog dan pelayan Tuhan adalah bagaimana mereka “mengampuni orang lain” dan bagaimana mereka “mengajarkan tentang pengampunan”.

Proses kehidupan manusia memiliki ragam makna. Makna “baik” bergantung pada apa yang dirasakan seseorang yang mendatangkan sukacita dan berkat. Makna “buruk” bergantung pada apa yang dirasakan seseorang yang mendatangkan keburukan, kesedihan, kecelakaan, kegelisahan, penderitaan, dan sebagainya. Pada konteks ini, setiap orang dapat merasakan pahit-manisnya kehidupan berbarengan dengan pemahamannya tentang apa dan bagaimana seharusnya hidup itu. Iman Kristen yang kuat adalah iman yang dilandasi dengan kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi dan dirasakan adalah berkat campur tangan Tuhan. Merasakan kasih dan sayang Tuhan adalah mereka yang tahu dan percaya kepada Tuhan.

Perjalanan panjang yang dilalui, menghadirkan berbagai hal. Dua di antaranya adalah kasih dan pengampunan. Pada kasih, manusia menampilkan sikap hidup yang peduli, pengasih, penyayang, dan menampilkan pola hidup yang penuh kedamaian, kebahagiaan, dan sukacita. Pada pengampunan, manusia menghadirkan rasa kasih yang kuat untuk dapat mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepadanya. Pengampunan memang tidak mudah dilakukan, tetapi karena Yesus Kristus telah mengajarkan tentang pengampunan, maka mengampuni menjadi sebuah keharusan mutlak bagi setiap orang Kristen. Seperti yang ditegaskan oleh Ibu Teresa, seorang biarawati Katolik yang sangat terkenal karena kasih dan kepedualiannya kepada kaum papa, menyatakan bahwa “Bila kita ingin mengasihi, kita harus belajar bagaimana mengampuni”.

Apa yang didapatkan dari mengampuni? Meski kita tidak mendapatkan apa-apa, namun Tuhan akan memberikan upah bagi mereka yang telah sanggup dan kuat untuk mengampuni. Sebagaimana yang ditegaskan Ibu Teresa di atas, mengasihi tanpa mengampuni adalah mustahil. Mengampuni tanpa mengasihi itu bisa saja dilakukan, tetapi secara mutlak, ketika seseorang mau menyatakan bahwa ia mengasihi orang yang telah berbuat salah kepadanya, maka ia harus mengampuni. Kasih dan pengampunan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan—ya, tak bisa dipisahkan dari kehidupan Kristen yang sesungguhnya.

Josh Billings, penulis dari Amerika pernah berujar, “Tidak ada pembalasan yang lebih sempurna selain mengampuni”. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak ada bedanya. Tetapi ketika kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka itu baru luar biasa. Meski dalam sejarah misi Kristen, para misionaris mengalami berbagai tekanan, hambatan, ancaman, dan bahkan kematian yang mengerikan, mereka tetap memiliki kasih yang tulus; mereka rindu orang-orang yang mereka layani mendapatkan keselamatan dari Tuhan Yesus; mereka ingin bahwa orang-orang yang mereka layani diampuni dosa-dosanya oleh Tuhan Yesus. Kasih yang sedemikian besar membawa mereka kepada keberanian yang luar biasa: rela mati demi Kristen, demi Injil-Nya, dan demi kasih mereka kepada orang-orang berdosa. Seperti yang dinyatakan oleh Rasul Paulus bahwa “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:17-21).

Teolog asal Amerika, Reinhold Niebuhr berujar, “Pengampunan adalah wujud terakhir dari cinta”. Apa yang hendak ia maksudkan? Menurut saya, semua cinta yang dimiliki manusia harus melibatkan, bahkan tujuan akhirnya adalah mengampuni. Mengapa harus mengampuni? Perlu kita sadari bahwa tak ada manusia yang tidak melakukan kesalahan. Bukan berarti kesalahan harus sengaja dilakukan untuk mendapatkan pengampunan, melainkan kadang-kadang kita dapat melakukan kesalahan secara sadar ataupun tidak. Dengan begitu, cinta atau kasih yang kita miliki tidaklah relevan ketika tidak mengampuni. Baik kasih maupun pengampunan adalah koheren (melekat). Seperti yang diungkapkan Paul Boese, seorang penulis dari Belanda, “Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tapi menjamin masa depan”. Meski saat mengampuni kita tidak mendapatkan apa-apa tetapi di masa depan akan mendapatkan hasilnya. Seperti benih yang ditabur hari ini, tidak tumbuh seketika, tetapi di kemudian hari ia akan bertunas, bertumbuh, dan berbuah.

Semua teologi dan para pelayan serta teolog akan berurusan dengan “bagaimana mengampuni” dan “bagaimana mengajarkan tentang pengampunan”. Yang mengajarkan tentang pengampunan haruslah terlebih dahulu melakukannya (bdk. Lukas 6:37; 11:4; secara konsisten Tuhan mengampuni mereka yang mengampuni sesamanya – Mat 6:12-14, Bapa akan mengampuni orang yang juga mengampuni kesalahan orang. Jika tidak mengampuni, maka Bapa juga tidak mengampuni [Mat. 6:15; 18:35; Mrk. 11:25], Yesus menegaskan pengampunan yang tanpa batas Mat. 18:21, Lukas 17:4; Lukas 23:34, Yesus mengampuni saat Dia disalibkan; Lukas 11:4; Kolose 3:13, Paulus menegaskan pengampunan itu perlu; Efesus 4:32, manusia baru berarti mengampuni; pengampunan terjadi karena seseorang mengasihi. Petrus menegaskannya. 1 Petrus 4:8; 1 Petrus 2:17; Yakobus juga menegaskan bahwa kita harus saling mengasihi Yakobus 2:8; Galatia 5:14, Paulus mengutip konteks mengasihi sesama [Roma 13:9]; Yesus menegaskannya – Yohanes 15:17, 6:35, 6:27. Yesus mengutip teks PL Mat. 22:37-39; supremasi mengasihi – Mat. 5:44; dalam PL disebutkan dalam Imamat 19:18, 34, Ulangan 6:5; Allah mengampuni. Kel. 32:32, 34:7, Bil. 14:18, 19, 1 Raj. 8:30, 34, 36, 39, 50; 2 Taw. 6:21, 25, 27, 30, 39. 2 Taw. 7:14. Neh. 9:17. Ayub 7:21. Mzm. 32:5, 78:38; 85:3; 86:5; 99:8; 103:3. Yeremia 33:8. Mikha 7:18.

Apa yang didapatkan dari mengampuni? Bagaimana Esau bisa mengampuni adiknya, Yakub? Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Pergumulan yang panjang pada akhirnya menyisahkan kasih yang mendalam di antara keduanya. Inilah yang akan saya uraikan dalam artikel ini. Tentu, ada campur tangan Tuhan dalam pertemuan antara Yakub dan Esau. Esau memilih mengampuni dan tidak memperpanjang masalah di antara mereka berdua yang dengannya masa depan mereka berdua menjadi terjamin. Tidak ada warisan balas dendam dari generasi mereka berdua. Apa yang dinyatakan Ibu Teresa di atas dapat dilekatkan pada peristiwa Esau dan Yakub yaitu Esau mengasihi adiknya melalui “pengampunan”. Esau memilih membalas bukan dengan kejahatan melainkan dengan “mengampuni”. Pernyataan Josh Billings dikutip di sini. Karena kasih kepada Yakub, Esau memiliki mengampuni, dan di sini pengampunan adalah wujud terakhir dari kasih Esau kepada Yakub. Pernyataan Reinhold Niebuhr dikutip di sini. Dan pada akhirnya, berkat pengampunan itulah, masa depan keduanya menjadi aman dan damai. Tidak ada lagi rasa gelisah dan takut; kasih telah mengubah masa depan mereka. pernyataan Paul Boese dikutip di sini.

Konteks Esau dan Yakub

Kata “kasih” bernada lembut dan mengesankan. Kata ini menjadi sangat popular di semua kalangan dan agama. Kata kerja “mengasihi” menjadi sangat kuat ketika diterapkan ke dalam kolam kehidupan manusia yang multi kultural, multi agama, multi identitas, multi ideologi, dan multi-multi lainnya. Pada tataran praktis, “mengasihi” biasa dilakukan, tetapi untuk “mengampuni” itu terkesan jarang sekali. Memang ada yang melakukannya, tetapi dalam pengamatan saya, masih terlalu sedikit dilakukan. Di kalangan Kristen sendiri, mengasihi itu menjadi biasa sekali, sedangkan mengampuni menjadi jarang sekali. Mengapa? Karena biasanya, mengampuni tak semudah mengasihi. Dalam proses perjalanan Esau dan Yakub, keduanya menyisahkan dan menyimpan luka masa lalu. Esau terbawa emosi dan dendam, sedangkan Yakub terbawa perasaan bersalah dan takut. Keduanya hidup di bawah bayang-bayang ketakutan, rasa bersalah, dan dendam. Kemungkinan di awal peristiwa tertipunya Esau, dendam Esau terhadap Yakub sangat membara. Biasanya, awal kejadian membuat emosi atau perasaan seseorang menjadi kental dan besar.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan Esau dan Yakub, secara singkat saya menjelaskan substansi dan pengertian tentang dua kata yaitu “kasih” dan “pengampunan”. Kasih (mengasih) dan pengampunan (mengampuni) adalah dua tindakan yang koheren, sebagaimana tampak dari pernyataan Ibu Teresa di atas. Meski seseorang dapat saja mengampuni tanpa mengasihi tetapi seseorang tidak dapat mengasihi tanpa mengampuni. Tuhan sendiri telah berulang kali menyatakan kasih dan pengampunan-Nya bagi manusia. Di sini, Tuhan hendak memperlihatkan satu tindakan tunggal yaitu: “Ia mengasihi dan sekaligus mengampuni.” Setiap orang dapat melakukan dua hal ini secara tunggal (terpisah) maupun secara bersamaan. Pilihan kita atas kedua hal tersebut menentukan siapa kita sebenarnya. Koherensi antara kasih dan pengampunan adalah ciri khas “kekristenan”. Mungkin kita pernah mendengar klausa: “Gue gak akan maafin elu”. “Gue gak bakalan memaafkanmu”, “Gue sangat sulit memaafkanmu”. Klausa-klausa tersebut menyatakan bahwa “sudah tidak ada pintu pengampunan”. Akibatnya, kasih terhadap seseorang menjadi pudar dengan sendirinya. Memang, ketika tersakiti, rasanya sulit sekali untuk mengampuni. Tetapi ketika ada imbalan yang besar yang diberikan sebagai barter dari pengampunan, mungkin saja seseorang dengan mudahnya mengampuni karena ingin menerima imbalan. Hal inilah yang terjadi antara Yakub dan Esau. Yakub seolah-olah mau “menyogok” kakaknya untuk mendapatkan kasih dan pengampunannya.

Pasca Esau ditipu oleh Yakub (dan ibunya, Ribka), Esau menaruh dendam. Penipuan seringkali menghasilkan sebuah dendam; dan ini terjadi pada Esau. Yakub akhirnya pergi ke rumah Laban, pamannya (di Padan-Aram) untuk menghindari pertikaian dengan kakaknya yang bisa saja mengancam nyawanya. Maklum, karena Esau ditipu soal hak kesulungan, kemungkinan terbesarnya adalah ia menaruh dendam terhadap adiknya. Dalam perjalanan pasca kasus penipuan dan rekayasa yang dilakukan Ribka (ibu dari Esau dan Yakub), saya merenungkan bahwa Yakub bergumul dengan kesalahan masa lalunya; ia dibayang-bayangi oleh kesalahan fatal yang mungkin menurutnya ia akan dibunuh oleh kakaknya, Esau. Tentu, Yakub akan berupaya agar bisa berdamai dengan kakaknya, dan melupakan masa lalu dengan cara memperbaiki hubungan di masa kini. Seperti yang diungkapkan Paul Boese di atas bahwa “Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tapi menjamin masa depan”. Dengan mendapatkan pengampunan dari Esau, Yakub berharap dapat memperbaiki masa depan. Dan sebagaimana tampak kemudian bahwa Yakub mengharapkan pembalasan terhadap dirinya adalah dengan mendapat “kasih” dari kakaknya. Atau dengan perkataan lain, Yakub menginginkan “pengampunan” dari kakaknya. Inilah substansi yang terkandung dalam pernyataan Josh Billings bahwa “Tidak ada pembalasan yang lebih sempurna selain mengampuni”.

Dalam kisah mereka, penekanan pada kasih dan pengampunan menjadi sangat kental dan bermakna. Upaya Yakub memberikan segala sesuatu sebagai barter untuk mendapatkan kasih dan pengampunan kakaknya atas perbuatannya (bersama ibunya) – dalam melakukan rekayasa penerimaan berkat hak kesulungan yang seharusnya diterima Esau – menjadi titik balik kesadaran bahwa hanya pengampunanlah yang akan menyelesaikan masalah kehidupan. Inilah yang mungkin dipahami oleh Yakub, sehingga ia bersedia mengupayakan pertemuan dengan kakaknya.


Sebelum masuk pada pokok pasal 33, kita lihat dulu konteks Pasal 32: pertama, Yakub ketakukan untuk bertemu Esau (32:6-7, 11) karena ia masih ingat bagaimana ibunya dan dirinya menipu Esau untuk mendapatkan berkat dari Ishak, ayahnya; kedua, untuk menghilangkan ketakutannya, Yakub melakukan empat hal: (a) melakukan pembagian bagi orang-orangnya, kambing domba, lembu sapi dan unta (32:7); (b) Yakub berdoa kepada Tuhan (32:9-12); (c) Yakub berencana mempersembahkan 200 kambing betina, 20 kambing jantan, 200 domba betina, 20 domba jantan, 30 unta yang sedang menyusui, 40 lembu betina, 10 lembu jantan, 20 keledai betina, 10 keledai jantan (32:14-15, 20); dan (d) Yakub juga bergumul melawan Tuhan (32:22-32). Yakub meminta berkat dari TUHAN melalui seorang yang bergulat dengan dia (32:24-29).

Yakub masih mengingat kejadian yang telah lama terjadi dan anggapannya bahwa Esau masih menaruh dendam terhadapnya. Namun, menariknya, Yakub berikhtiar untuk menemui Esau; setidaknya “mendapatkan kasih” dari Esau. Frasa “mendapatkan kasih” mengisyaratkan adanya “pengampunan” di dalamnya. Ketika Esau memberikan (menyatakan) kasihnya kepada Yakub, secara langsung “pengampunan” mengikutinya. Dalam peristiwa pertemuan antara Yakub dan Esau, kasih dan pengampunan menjadi koheren.

Ketika hendak bertemu, Yakub bersujud sampai tujuh kali (33:3), dan kemudian Esau berlari dan mendekap Yakub (33:4). Apa yang terjadi dengan Esau? Dendam puluhan tahun seketika itu berlalu begitu saja, malahan Esau mendekap adiknya, mencium, dan mereka bertangis-tangisan. Ada keharuan dan sukacita yang tak terkira. Ketika kasih dan pengampunan menyatu, itu sungguh indah. Pertanyaanya: apa yang menyebabkan Esau tidak lagi menaruh dendam kepada adiknya?

Dari keempat hal yang dilakukan Yakub, menurut saya dua tindakan yang menjadikan pertemuan Yakub dan Esau berjalan mulus: bahwa “doa” Yakub (32:11) telah dikabulkan Tuhan sebelum ia bertemu dengan Esau; tidak hanya doa, permohonan Yakub untuk “diberkati” oleh seorang yang bergulat dengannya di sungai Yabok menjadi kunci baginya dirinya untuk bertemu dengan Esau. Tuhan telah mengubah hati Esau, dan Tuhan pula mengubah ketakutan Yakub dengan cara “memberkatinya”. Jadi, Tuhan mengubah keduanya. Pertemuan antara Yakub dan Esau, dan kemudian Esau memberikan kasih atau pengampunannya kepada Yakub membuktikan bahwa pengampunan adalah mewujudkan kasih yang murni. Tepatlah apa yang diungkapkan Reinhold Niebuhr bahwa “Pengampunan adalah wujud terakhir dari cinta”.


Dari kisah di atas, saya memberikan kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, mengasihi orang lain harus dibarengi dengan pengampunan. Tuhan telah memberikan contoh bagi kita bahwa Ia begitu mengasihi manusia dan sekaligus mengampuni dari dosa-dosanya melalui pengurbanan binatang, dan puncaknya pengurbanan Yesus di kayu salib. Kematian Yesus adalah wujud dari kasih Tuhan dan darah Yesus adalah wujud dari pengampunan Tuhan. ketika kasih dan pengampunan itu koheren, sukacita dan kelegaan dapat kita rasakan.

Kedua, mereka yang mengasihi sesamanya, tidak lagi memikirkan dendam berlarut-larut; mereka yang mengasihi selalu berusaha menjadi cara agar bisa berdamai dengan orang lain, orang yang pernah disakitinya atau ditipunya.

Ketiga, mereka yang mengasihi dan diberkati Tuhan harus mampu menunjukkan kasihnya dengan cara mengampuni mereka yang pernah bersalah kepadanya dan meminta maaf kepada mereka yang pernah disakiti atau ditipu.

Keempat, kasih dan pengampunan seyogianya menjadi tindakan dan gagasan tunggal dalam prinsip hidup kita: “mengasihi sekaligus mengampuni”.

Pengampunan berarti “menjahit luka-luka kehidupan”, mengobati, dan berusaha untuk memulihkannya di dalam kasih yang tulus, yakni kasih Kristus Yesus.

Soli Deo Gloria.

Salam Bae…..

REFLEKSI ULANG TAHUN “SETIA [ARASTAMAR] JAKARTA” KE-37

Secara pribadi, saya mengapresiasi warisan dan sejarah Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta (dulunya bernama SEMINARI THEOLOGIA INJILI ARASTAMAR), sejak didirikan hingga sekarang ini. SETIA Jakarta telah menjadi tempat yang penting bagi pengembangan teologi Reformed-Injili dan perpaduan dengan filsafat pendidikan Kristen di Indonesia, dan mengupayakannya senantiasa dalam totalitas pelayanan dan pendidikan di bumi Nusantara tercinta. Melalui pengajaran, penelitian, dan pelayanan (pengabdian kepada masyarakat), SETIA Jakarta telah berkontribusi secara signifikan dalam membentuk pemimpin rohani, guru profesional, yang berkualitas dan memberdayakan gereja-gereja lokal, sekolah-sekolah dengan berbagai jenjang pendidikan, maupun ikut berkontribusi dalam pemerintahan.

Seperti yang diungkapkan Yesus dalam Yohanes 4:35, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”, SETIA Jakarta telah mengambil bagian di dalam menabur benih-benih Injil di “ladang-ladang pelayanan” hingga menghasilkan pelayanan dan pendidikan yang berkembang pesat. Ini adalah bukti bahwa kesadaran iman dan panggilan dari Kristus Yesus, mendorong dan memampukan SETIA Jakarta untuk setia dalam melayani, apa pun tantangannya. Itulah sebabnya, pemahaman akan firman Allah membawa api Injil ke seluruh Nusantara, dan tetap berpegang pada pesan pendiri SETIA Jakarta, Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., yang melandasi filosofi pelayanannya dari teks Wahyu 2:10b, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”. Teks ini menjadi rujukan penting bagi seluruh pelayanan SETIA Jakarta dan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang beliau pimpin.

Evaluasi atas pencapaian dan tantangan yang dihadapi selama ini telah memberikan semangat baru untuk semakin meningkatkan budaya mutu dalam menerapkan Tridarma PT. Meninjau perjalanan SETIA Jakarta selama bertahun-tahun dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang keberhasilan yang telah dicapai dan area-area yang masih perlu diperbaiki. Tantangan seperti pengembangan kurikulum yang relevan, peningkatan fasilitas, serta memperluas jaringan kerja sama dengan institusi-institusi lain, menjadi fokus dalam evaluasi kami.

Namun, yang paling penting adalah menatap masa depan dengan penuh harapan dan visi yang jelas. Ulang tahun SETIA Jakarta ke-37, 11 Mei 2024, adalah waktu yang tepat untuk merenungkan visi dan misi institusi ke depan. Ini adalah kesempatan untuk mengidentifikasi peluang baru, merumuskan strategi untuk pertumbuhan yang berkelanjutan, dan menetapkan tujuan yang jelas dan strategis. SETIA Jakarta dapat terus menjadi agen perubahan yang menginspirasi, memberdayakan, dan mempersiapkan generasi muda untuk melayani gereja, sekolah, dan masyarakat dengan keberanian dan keunggulan akademis.

SETIA Jakarta telah menempuh perjalanan yang luar biasa sepanjang tahun pelayanannya dalam menyebarluaskan Injil Kristus Yesus. Hal ini telah terbukti dengan berdirinya berbagai sekolah dan gereja di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, para lulusannya juga telah memberikan berbagai jenis kontribusi di pemerintahan.

Dalam merayakan ulang tahunnya, adalah suatu kesempatan yang baik untuk merenungkan pencapaian serta tantangan yang dihadapi, serta merumuskan solusi-strategis yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Salah satu pencapaian yang patut disyukuri adalah kontribusi SETIA Jakarta dalam mempersiapkan para pemimpin gereja dan sekolah, serta masyarakat, yang berkualitas, berlandaskan nilai-nilai Alkitab (Kitab Suci). Kehadiran SETIA Jakarta telah membantu membentuk karakter generasi-generasi pelayan Tuhan yang mampu menghadapi berbagai tantangan dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks.

Namun, tidak dapat diabaikan bahwa SETIA Jakarta juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diatasi:

Pertama: Tantangan Finansial: Pendidikan tinggi sering kali memerlukan dana yang besar. SETIA Jakarta mengalami tantangan dalam memperoleh dana yang cukup untuk mendukung operasional dan pengembangan ke depannya. Akan tetapi, berbagai upaya dan dukungan dari berbagai pihak, hingga saat ini, SETIA Jakarta masih berjalan. Ke depannya juga, kebutuhan dana operasional tentang sangatlah penting, mengingat persaingan dunia pendidikan dan pelayanan menyita bahwa waktu, tenaga, dan biaya yang cukup besar.

Kedua: Perubahan Lingkungan Sosial: Perubahan-perubahan dalam masyarakat, seperti pergeseran nilai-nilai atau tuntutan yang lebih tinggi terhadap kualitas pendidikan, bisa menjadi tantangan tersendiri, apalagi perkembangan teknologi dan informasi sekarang ini menuntut upaya serius dalam menanggapi berbagai perubahan tersebut. Perkembangan teknologi tentu telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan. SETIA Jakarta perlu beradaptasi dengan teknologi-teknologi baru untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di kemudian hari yang mendukung peningkatan Tridarma Perguruan Tinggi.

Ketiga: Tantangan Akademik dan Teologis: Lingkungan akademik yang kompetitif menuntut agar SETIA Jakarta terus berinovasi dan mengikuti tren-tren terbaru dalam ilmu teologi dan pendidikan Kristen, dengan melihat perkembangan pelayanan, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Hal ini mendorong pemutakhiran kurikulum guna mencapai visi dan misi SETIA Jakarta.

    Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, SETIA Jakarta memerlukan solusi-strategis yang berkelanjutan:

    Pertama: Diversifikasi Sumber Pendanaan: Upaya untuk mencari dana dari berbagai sumber, seperti donasi, kerja sama dengan lembaga-lembaga lain, atau pengembangan program-program yang menghasilkan pendapatan tambahan.

    Kedua: Penguatan Hubungan dengan Komunitas: SETIA Jakarta perlu memperkuat hubungannya dengan gereja-gereja dan lembaga-lembaga lain dalam masyarakat untuk memastikan relevansi program-programnya dengan kebutuhan di lapangan.

    Ketiga: Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran: Memperkenalkan dan mengintegrasikan teknologi-teknologi terbaru dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan.

    Keempat: Pembaharuan Kurikulum dan Penelitian: Menyusun kurikulum yang responsif terhadap perkembangan teologi dan konteks sosial, serta mendorong penelitian-penelitian yang relevan dan inovatif.

    Kelima: Pengembangan Sumber Daya Manusia: Melakukan investasi yang berkelanjutan dalam pengembangan dosen-dosen dan tenaga kependidikan/staf, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan profesional mereka.

      Dengan mengambil langkah-langkah strategis seperti ini, SETIA Jakarta dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembentukan pemimpin gereja dan sekolah serta masyarakat, yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman.

      Dengan demikian, melalui refleksi ini, SETIA Jakarta dapat memperkuat komitmen untuk terus memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan teologi dan pendidikan Kristen, serta pembentukan karakter dan spiritualitas pemimpin rohani, guru profesioanl, di Indonesia dan di seluruh dunia.

      Salam Bae….

      FILSAFAT KEMUNAFIKAN: Sebuah Peran Negatif Manusia dan Penanganannya

      Kehidupan manusia ditandai dengan berbagai hal dan peristiwa. Pribadi setiap orang memiliki ragam latar belakang, yang sekaligus melandasi perangai (karaknternya) dalam kesehariannya. Salah satu hal yang sering kita amati dan alami adalah “kemunafikan” seseorang. Di sini, kita dapat melihat pemaknaan, dasar, pengaruh, dan akibat dari tindakan kemunafikan. Ditinjau dari konteks filsafat, tulisan singkat ini memberikan pemahaman yang sederhana tapi faktual, yang mungkin pernah kita alami dalam proses bekerja, berelasi, melayani, atau hal lainnya. Setiap peristiwa yang terjadi memiliki makna dan pelajaran. Demikian halnya dengan kemunafikan.

      Filsafat kemunafikan membahas tentang sifat dan implikasi dari perilaku yang bertentangan dengan nilai atau keyakinan yang dianut oleh seseorang secara tersembunyi atau pura-pura. Ini melibatkan refleksi tentang apa yang mendasari perilaku munafik, bagaimana memahami dan mengidentifikasi kemunafikan, serta implikasi etis dan sosialnya.

      Filsafat kemunafikan merupakan cabang pemikiran yang mendalami hakikat kemunafikan, motivasi di baliknya, dan dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Berbeda dengan pandangan moral yang mendefinisikan kemunafikan sebagai tindakan yang salah dan tercela, filsafat kemunafikan berusaha memahami kompleksitas fenomena ini dari berbagai sudut pandang.

      Filsafat kemunafikan menggambarkan perilaku dan sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut seseorang secara tersembunyi atau pura-pura. Ini adalah peran negatif manusia karena kemunafikan melanggar prinsip-prinsip integritas, kejujuran, dan autentisitas dalam interaksi manusia. Berikut adalah beberapa cara di mana kemunafikan berperan sebagai aspek negatif dalam kehidupan manusia:

      Pertama: Kehilangan Kepercayaan: Kemunafikan merusak kepercayaan dalam hubungan interpersonal. Ketika seseorang menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan keyakinan atau nilai-nilai yang mereka deklarasikan, itu dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan keraguan terhadap mereka. Ini mengganggu hubungan yang sehat dan memengaruhi dinamika sosial.

      Kedua: Ketidakstabilan Hubungan: Kemunafikan dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam hubungan. Ketika seseorang pura-pura menjadi sesuatu yang mereka tidak, itu menciptakan ketidakcocokan antara apa yang diharapkan oleh orang lain dan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Ini bisa menyebabkan konflik dan ketegangan dalam hubungan.

      Ketiga: Kehilangan Integritas Pribadi: Kemunafikan merusak integritas individu. Ketika seseorang secara terus-menerus bertindak dengan tidak jujur atau mengesampingkan nilai-nilai mereka untuk kepentingan pribadi, mereka kehilangan integritas dan kredibilitas. Ini dapat merusak citra diri mereka sendiri dan mempengaruhi harga diri mereka.

      Keempat: Ketidakstabilan Sosial: Kemunafikan dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam masyarakat. Ketika pemimpin atau tokoh penting bertindak secara munafik, itu dapat menciptakan ketidakpercayaan dan ketidakstabilan sosial. Ini dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

      Kelima: Kehilangan Keseimbangan Emosional: Kemunafikan juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan emosional. Menyembunyikan perasaan atau berpura-pura menjadi seseorang yang kita tidak benar-benar adalah, bisa menyebabkan tekanan emosional dan konflik internal. Ini dapat mengganggu kesejahteraan mental dan emosional seseorang.

      Filsafat kemunafikan menyoroti peran negatifnya dalam kehidupan manusia karena dapat merusak hubungan, mengganggu integritas pribadi, menyebabkan ketidakstabilan sosial, dan menyebabkan ketidakseimbangan emosional. Penting untuk mengenali dan mengekang perilaku kemunafikan dalam upaya untuk membangun hubungan yang sehat, masyarakat yang stabil, dan kesejahteraan pribadi yang baik.

      Di sisi lain, filsafat kemunafikan menyelidiki hakikat kemunafikan, motifnya, dan dampaknya pada individu dan masyarakat. Kemunafikan umumnya dianggap sebagai tindakan yang tercela karena melibatkan ketidakkonsistenan antara keyakinan dan perilaku. Aliran utama dalam filsafat kemunafikan: Filsafat Moral Klasik: Menganggap kemunafikan sebagai kebohongan dan pengkhianatan yang merusak kepercayaan dan hubungan. Filsafat Utilitarianisme: Mempertimbangkan konsekuensi tindakan munafik, apakah membawa manfaat atau kerugian. Filsafat Eksistensialisme: Menekankan tanggung jawab individu untuk memilih dan bertindak secara otentik, bahkan jika itu berarti bersikap munafik dalam situasi tertentu.

      Dampak negatif kemunafikan adalah sebagai berikut: (1) Merusak kepercayaan: Kemunafikan dapat menghancurkan kepercayaan dalam hubungan interpersonal, komunitas, dan institusi. (2) Menghambat komunikasi: Orang yang munafik sulit dipercaya dan dikomunikasikan secara terbuka dan jujur. (3) Menciptakan budaya kebohongan: Kemunafikan dapat memperkuat budaya kebohongan dan penipuan, di mana orang merasa tidak aman untuk mengungkapkan pendapat dan keyakinan mereka yang sebenarnya. (4) Merugikan integritas moral: Kemunafikan dapat melemahkan integritas moral individu dan masyarakat, dan membuat orang mempertanyakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral. (4) Menimbulkan stres dan kecemasan: Orang yang munafik sering kali merasa bersalah dan cemas karena takut ketahuan dan dihakimi.

      Contoh peran negatif kemunafikan: (1) Politisi yang berjanji untuk mewakili rakyat, tetapi kemudian bertindak demi kepentingan pribadi. (2) Pemimpin agama yang mengajarkan moralitas, tetapi kemudian terlibat dalam skandal dan pelanggaran moral. (3) Teman yang berpura-pura mendukung, tetapi kemudian menyebarkan gosip dan rumor di belakang punggung orang lain. (4) Orang tua yang mengajarkan anak-anak mereka untuk jujur, tetapi kemudian berbohong kepada mereka sendiri.

      Mitigasi (tindakan mengurangi dampak sesuatu) kemunafikan: (1) Meningkatkan kesadaran diri: Memahami motivasi dan konsekuensi dari kemunafikan. (2) Berlatih kejujuran dan otentisitas: Berusaha untuk konsisten dalam kata-kata dan perilaku. (3) Menerima kritik dan saran: Terbuka untuk belajar dan berkembang dari kesalahan. (4) Membangun budaya akuntabilitas: Mendorong kejujuran dan transparansi dalam semua aspek kehidupan. (5) Mempromosikan integritas moral: Menekankan pentingnya nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip etika.

      Filsafat kemunafikan menawarkan wawasan penting tentang perilaku manusia dan dampaknya pada masyarakat. Dengan memahami peran negatif kemunafikan, kita dapat berusaha untuk menjadi lebih jujur, otentik, dan bertanggung jawab.

      Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang dibahas dalam filsafat kemunafikan: Apa itu kemunafikan? Apa saja bentuk kemunafikan? Apa motivasi seseorang untuk melakukan kemunafikan? Apakah sikap munafik selalu buruk? Apa pengaruh dari kemunafikan? Bagaimana cara mengatasi sikap yang munafik? 

      Kemunafikan adalah perilaku atau sikap yang bertentangan dengan nilai, keyakinan, atau prinsip yang dianut seseorang, yang sering kali ditunjukkan secara tersembunyi atau pura-pura. Ini adalah bentuk ketidakjujuran atau ketidaksetiaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Berikut adalah beberapa bentuk kemunafikan yang umum:

      Kemunafikan Moral: Ini terjadi ketika seseorang berperilaku sesuai dengan norma-norma moral atau agama secara terbuka, tetapi bertindak bertentangan dengan nilai-nilai ini secara diam-diam, misalnya, berpura-pura bertindak baik di depan orang lain tetapi melakukan hal-hal yang tidak etis secara tersembunyi.

      Kemunafikan Sosial: Ini terjadi ketika seseorang menyembunyikan perasaan atau pendapat sesungguhnya untuk mendapatkan persetujuan atau menghindari konflik. Contohnya adalah bersikap ramah atau setuju dengan seseorang di depannya, tetapi kemudian mengkritiknya di belakang.

      Kemunafikan Politik: Ini terjadi ketika politisi atau pemimpin berbicara tentang tujuan dan nilai-nilai tertentu di depan publik, tetapi bertindak bertentangan dengan mereka di belakang layar untuk kepentingan politik atau pribadi mereka.

      Kemunafikan Pribadi: Ini terjadi ketika seseorang berperilaku secara berbeda di depan orang lain dan di tempat lain. Misalnya, bersikap santun dan sopan di tempat umum tetapi kasar dan tidak sopan di rumah.

      Bentuk-bentuk kemunafikan yang lain: (1) Kebohongan: Menyampaikan informasi yang tidak benar dengan sengaja untuk menipu atau memanipulasi orang lain. (2) Penipuan: Melakukan tindakan yang bertujuan untuk menipu atau mengambil keuntungan dari orang lain. (3) Pura-pura: Berperilaku atau menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan diri sendiri untuk mencapai tujuan tertentu. (4) Bermuka dua: Menunjukkan sikap yang berbeda kepada orang lain di situasi yang berbeda. (5) Hipokrisi: Mengklaim memiliki nilai-nilai atau prinsip-prinsip tertentu, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

      Motivasi untuk menjadi munafik dapat bervariasi tergantung pada individu dan situasi, tetapi beberapa faktor umum yang dapat memotivasi kemunafikan termasuk keinginan untuk menyembunyikan kelemahan atau kekurangan diri, mendapatkan keuntungan pribadi, atau menghindari konflik atau kritik dari orang lain. Motivasi di balik kemunafikan mencakup: (1) Ketakutan: Takut akan konsekuensi negatif jika menunjukkan diri yang sebenarnya. (2) Keinginan untuk mendapatkan keuntungan: Berusaha untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan cara yang tidak jujur. (3) Tekanan sosial: Merasa tertekan untuk conforming dengan norma dan ekspektasi sosial. (4) Kurangnya integritas moral: Tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai moral dan etika. (5) Gangguan kepribadian: Pada beberapa kasus, kemunafikan dapat menjadi ciri khas dari gangguan kepribadian tertentu.

      Kemunafikan tidak selalu buruk, tergantung pada konteks dan konsekuensinya. Dalam beberapa kasus, kemunafikan mungkin diperlukan untuk melindungi diri sendiri atau orang lain, atau untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Namun, dalam banyak kasus, kemunafikan dianggap negatif karena dapat merusak hubungan, mengganggu integritas pribadi, dan menyebabkan ketidakpercayaan dalam masyarakat.

      Tidak semua bentuk kemunafikan selalu buruk. Dalam beberapa situasi, berpura-pura atau bermuka dua dapat digunakan untuk melindungi diri sendiri atau orang lain dari bahaya. Contohnya, seorang aktivis yang  berpura-pura menjadi orang lain untuk menghindari penangkapan. Namun, kemunafikan yang disengaja dan terencana umumnya memiliki konsekuensi negatif. Kemunafikan dapat merusak kepercayaan, menimbulkan kebingungan, dan menyakiti orang lain.

      Kemunafikan dapat memengaruhi individu dan masyarakat dengan menciptakan ketidakpercayaan, ketidakstabilan hubungan, dan ketidakseimbangan emosional. Ini juga dapat merusak integritas sosial dan politik, dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan di masyarakat. Dampak lain  dari kemunafikan pada individu dan masyarakat adalah:

      Pertama: Pada individu: (a) Merusak harga diri dan kepercayaan diri: Seseorang yang munafik mungkin merasa malu dan bersalah atas tindakannya. (b) Menciptakan stres dan kecemasan: Ketakutan ketahuan dan dihakimi dapat menyebabkan stres dan kecemasan. (c) Merusak hubungan interpersonal: Kemunafikan dapat merusak kepercayaan dan hubungan dengan orang lain.

      Kedua: Pada masyarakat: (a) Merusak kepercayaan publik: Kemunafikan para pemimpin dan tokoh masyarakat dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi dan sistem. (b) Menciptakan budaya kebohongan dan penipuan: Kemunafikan dapat memperkuat budaya di mana orang merasa tidak aman untuk mengungkapkan pendapat dan keyakinan mereka yang sebenarnya. (c) Menghambat kemajuan sosial: Kemunafikan dapat menghambat kemajuan sosial dengan menghalangi diskusi dan solusi yang terbuka dan jujur.

      Ada beberapa cara untuk mengatasi kemunafikan, termasuk meningkatkan kesadaran diri tentang nilai-nilai dan prinsip yang penting bagi kita, menjadi lebih jujur dengan diri sendiri dan orang lain, dan mempraktikkan kejujuran dalam segala hal. Mendukung komunikasi terbuka dan transparan dalam hubungan dan masyarakat juga dapat membantu mengurangi kemunafikan. Cara lainnya dalam mengatasi kemunafikan adalah: (1) Meningkatkan kesadaran diri: Memahami motif dan konsekuensi dari kemunafikan. (2) Berlatih kejujuran dan otentisitas: Berusaha untuk konsisten dalam kata-kata dan perilaku. (3) Menerima kritik dan saran: Terbuka untuk belajar dan berkembang dari kesalahan. (4) Membangun budaya akuntabilitas: Mendorong kejujuran dan transparansi dalam semua aspek kehidupan. (5) Mempromosikan integritas moral: Menekankan pentingnya nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip etika.

      Kemunafikan adalah fenomena kompleks yang memiliki dampak negatif pada individu dan masyarakat. Dengan memahami makna, bentuk, motivasi, dampak, dan cara mengatasi kemunafikan, kita dapat berusaha untuk menjadi lebih jujur, otentik, dan bertanggung jawab.

      Konsep-konsep Penting dalam Filsafat Kemunafikan: (1) Kejujuran: Keberanian untuk mengatakan kebenaran dan bertindak sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai. (2) Keaslian: Kemampuan untuk menjadi diri sendiri dan bertindak secara konsisten dengan identitas dan prinsip-prinsip individu. (3) Integritas: Keteguhan dalam menjaga prinsip-prinsip moral dan bertindak dengan konsisten, bahkan ketika menghadapi tekanan atau godaan untuk bersikap munafik. (4) Kepentingan diri sendiri: Motivasi untuk bertindak demi keuntungan pribadi, yang dapat mendorong perilaku munafik. (5) Tekanan sosial: Pengaruh norma dan ekspektasi sosial yang dapat mendorong individu untuk bersikap munafik untuk menghindari konsekuensi negatif.

      Filsafat kemunafikan memiliki implikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk: (1) Etika dan moral: Membantu individu untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip moral dengan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. (2) Hubungan interpersonal: Meningkatkan kepercayaan dan keaslian dalam hubungan antara individu. (3) Politik dan masyarakat: Mendorong budaya politik yang lebih transparan dan akuntabel, di mana kemunafikan dikritik dan dihindari. (4) Psikologi: Memahami motivasi di balik perilaku munafik dan membantu individu untuk mengatasi kecenderungan tersebut.

      Filsafat kemunafikan menawarkan perjalanan intelektual dan moral yang kompleks untuk memahami fenomena yang penuh dengan kontradiksi dan ambiguitas. Dengan menjelajahi berbagai perspektif filosofis tentang kemunafikan, kita dapat meningkatkan kesadaran diri, memperkuat integritas moral, dan berkontribusi pada masyarakat yang lebih adil dan otentik.

      Aspek-aspek dalam filsafat kemunafikan mencakup:  (1) Sifat dan Penyebab Kemunafikan: Filsafat kemunafikan membahas tentang apa yang mendorong seseorang untuk bertindak secara munafik. Apakah karena ketidakjujuran pada diri sendiri atau untuk memenuhi harapan orang lain? Apakah ada faktor-faktor psikologis, sosial, atau budaya yang memengaruhi perilaku ini?

      (2) Pengidentifikasian Kemunafikan: Salah satu fokus utama filsafat kemunafikan adalah bagaimana mengidentifikasi kemunafikan dalam diri sendiri dan orang lain. Ini melibatkan pengembangan kepekaan terhadap tanda-tanda kemunafikan, baik dalam ucapan maupun tindakan, serta kemampuan untuk melihat di balik topeng yang dipakai oleh orang munafik.

      (3) Konsekuensi Etis: Filsafat kemunafikan mempertimbangkan konsekuensi etis dari perilaku munafik. Bagaimana kemunafikan memengaruhi integritas moral individu dan hubungan antara individu dengan masyarakat? Apakah kemunafikan selalu merugikan, atau apakah ada situasi di mana kemunafikan dapat dianggap sebagai kebijaksanaan atau perlindungan diri?

      (4) Hypocrisy dalam Konteks Sosial dan Politik: Filsafat kemunafikan juga mempertimbangkan peran kemunafikan dalam konteks sosial dan politik yang lebih luas. Bagaimana kemunafikan muncul dalam kehidupan masyarakat dan politik? Apakah kemunafikan sering kali terjadi dalam sistem-sistem kekuasaan atau ketidaksetaraan sosial?

      (5) Strategi Penanggulangan: Filsafat kemunafikan tidak hanya mengeksplorasi fenomena kemunafikan, tetapi juga mencari cara untuk mengatasi atau mencegahnya. Ini mungkin melibatkan pengembangan kejujuran diri, peningkatan kesadaran etis, atau reformasi sosial yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan antara retorika dan tindakan.

      Filsafat kemunafikan mengajak kita untuk merenungkan tentang kejujuran, integritas, dan kesesuaian antara nilai-nilai yang dianut dan perilaku yang ditunjukkan. Dengan memahami sifat dan implikasi kemunafikan, kita dapat menjadi lebih sadar akan konsekuensi moral dari tindakan-tindakan kita dan mempromosikan sikap yang lebih jujur dan konsisten dalam kehidupan kita.

      Salam Bae…..

      Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/two-face

      MENJELAJAHI KEDALAMAN FILSAFAT CINTA: Sebuah Perjalanan Menuju Makna dan Pemahaman

      Filsafat cinta adalah cabang filsafat yang mempertimbangkan fenomena cinta dari berbagai sudut pandang filosofis. Ini melibatkan refleksi mendalam tentang sifat, makna, dan implikasi dari pengalaman emosional dan interpersonal yang kompleks ini. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam filsafat cinta:

      Definisi Cinta: Salah satu pertanyaan mendasar dalam filsafat cinta adalah tentang apa sebenarnya cinta itu. Apakah cinta hanyalah sebuah emosi, sebuah keadaan pikiran, atau sesuatu yang lebih dalam dan universal? Pendekatan filsafat cinta mencoba untuk mengeksplorasi esensi cinta dan cara-cara di mana kita dapat memahaminya.

      Aspek Psikologis dan Emosional: Filsafat cinta mempertimbangkan dimensi psikologis dan emosional dari cinta. Ini melibatkan pertanyaan tentang perasaan, keinginan, dan motivasi yang mendasari pengalaman cinta manusia.

      Aspek Moral dan Etika: Pertanyaan tentang etika cinta juga menjadi fokus dalam filsafat cinta. Bagaimana kita harus berperilaku dalam konteks cinta? Apakah ada nilai moral yang melekat dalam hubungan cinta, seperti kejujuran, kesetiaan, atau pengorbanan?

      Aspek Metafisika dan Spiritual: Beberapa pendekatan dalam filsafat cinta mengeksplorasi dimensi metafisika atau spiritual dari cinta. Ini melibatkan pertanyaan tentang apakah cinta memiliki dimensi yang melebihi dunia fisik, dan apakah ada kekuatan atau entitas spiritual yang mendasari pengalaman cinta.

      Hubungan dengan Realitas: Filsafat cinta juga mempertimbangkan hubungan antara cinta dan realitas. Bagaimana pengalaman cinta memengaruhi persepsi kita tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar kita? Apakah cinta membawa kita lebih dekat kepada kebenaran atau justru melengkapi kita dalam ilusi?

      Kreativitas dan Ekspresi: Beberapa pendekatan dalam filsafat cinta mengeksplorasi hubungan antara cinta dan kreativitas. Bagaimana cinta memengaruhi imajinasi dan karya seni manusia? Apakah cinta memicu penciptaan atau inovasi?

      Filsafat cinta mengundang kita untuk merenungkan aspek-aspek yang mendalam dan kompleks dari pengalaman manusia yang paling mendasar dan puitis. Dengan mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang cinta, kita dapat mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang diri kita sendiri, hubungan kita dengan orang lain, dan makna kehidupan secara keseluruhan.

      Filsafat cinta merupakan cabang pemikiran yang mendalami hakikat cinta, maknanya, dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Berbeda dengan pendekatan ilmiah yang fokus pada aspek biologis dan psikologis cinta, filsafat cinta menelusuri pertanyaan mendasar tentang: Apa itu cinta? Apa yang membuat suatu hubungan cinta sejati? Apakah cinta itu universal atau dipengaruhi oleh budaya dan pengalaman individu? Bagaimana cinta dapat memengaruhi kebahagiaan dan kesejahteraan manusia? Apakah cinta itu kebajikan atau dapat membawa konsekuensi negatif?

      Aliran Utama Filsafat Cinta

      Filsafat Cinta Platonik: Menekankan cinta platonis, cinta ideal yang melampaui ketertarikan fisik dan fokus pada keindahan spiritual dan intelektual.

      Filsafat Cinta Aristotelian: Menggabungkan cinta platonis dengan cinta agape, cinta kasih universal yang tidak mementingkan diri sendiri.

      Filsafat Cinta Romantis: Berfokus pada cinta romantis, cinta penuh gairah dan keintiman antara dua individu.

      Filsafat Cinta Feminis: Menantang pandangan tradisional tentang cinta dan mengkritik peran gender yang tidak setara dalam hubungan cinta.

      Filsafat Cinta Eksistensialis: Menekankan kebebasan dan tanggung jawab individu dalam menciptakan makna dan nilai dalam cinta.

      Konsep-konsep Penting dalam Filsafat Cinta

      Kekasih: Individu yang dicintai.

      Cinta: Perasaan kasih sayang, perhatian, dan rasa sayang yang kuat terhadap kekasih.

      Keinginan: Hasrat untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu yang dicintai.

      Kehendak bebas: Kemampuan individu untuk membuat pilihan tanpa paksaan.

      Komitmen: Kesepakatan atau janji untuk tetap bersama kekasih dalam suka dan duka.

      Pengorbanan: Kesediaan untuk melepaskan sesuatu yang berharga demi kebahagiaan kekasih.

      Kepercayaan: Keyakinan bahwa kekasih setia, jujur, dan dapat diandalkan.

      Pengampunan: Kesediaan untuk memaafkan kesalahan dan pelanggaran kekasih.

      Filsafat cinta memiliki implikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk:

      Pertama, hubungan pribadi: Membantu individu untuk memahami dan membangun hubungan cinta yang sehat dan bahagia.

      Kedua, moralitas: Memberikan panduan tentang bagaimana berperilaku dengan penuh kasih dan hormat dalam hubungan.

      Ketiga, politik: Mendorong masyarakat yang lebih adil dan setara, di mana cinta dan kasih sayang menjadi fondasi interaksi antar individu.

      Keempat, seni dan sastra: Memberikan inspirasi bagi penciptaan karya seni dan sastra yang mengeksplorasi keindahan dan kompleksitas cinta.

      Filsafat cinta menawarkan perjalanan intelektual dan emosional yang kaya untuk memahami salah satu perasaan paling fundamental dalam kehidupan manusia. Dengan menjelajahi berbagai perspektif filosofis tentang cinta, kita dapat meningkatkan pemahaman diri, memperkuat hubungan, dan berkontribusi pada dunia yang lebih penuh kasih dan bermakna.

      Salam Bae….

      Sumber gambar: Unsplash (https://unsplash.com/photos/a-man-and-a-woman-kissing-in-the-ocean-Q5tPJcH_vQ0)

      DALAM HINAAN TERDAPAT KEMULIAAN

      Kekristenan “lahir, tumbuh, dan berkembang, karena Yesus Kristus.” Ia adalah tokoh historis yang telah mengubah dunia. Ia memulai pelayanan-Nya di Israel. Ia, kemudian menjadi pribadi yang dipuji dan disembah, dan bahkan nama-Nya dipakai untuk mengusir setan, menyembuhkan berbagai jenis penyakit, dan terlebih, diucapkan ketika mereka yang percaya kepada-Nya mengalami tekanan dan mati dalam kesetiaan kepada-Nya.

      Dale T. Irvin dan Scott W. Sunquist menjelaskan hal ini. Mereka melihat bahwa pengaruh misi Yesus dan para pengikut-Nya telah menjadi dasar pertama tentang bagaimana kepedulian Yesus kepada semua lapisan masyarakat, yang mana hal itu diberlakukan bagi semua “Gereja” yang setia kepada-Nya. Berikut penuturan mereka:

      “Dua ribu tahun silam, di negeri Israel belahan barat Asia, seorang laki-laki bernama Yesus dari Nazaret mulai mengumpulkan di sekitar diri-Nya sebuah kelompok kecil penganut. Selama kurun waktu singkat (barangkali hanya satu atau dua tahun) Ia melaksanakan sebuah pelayanan keliling menyembuhkan berbagai macam penyakit, mengusir roh-roh jahat dan berkhotbah di sebuah wilayah di seputar Danau Galilea dan di sekitar kota Yerusalem. Amanat-Nya dialamatkan terutama kepada orang-orang pinggiran masyarakat-Nya, termasuk kaum miskin dan cacat. Mereka akan menjadi yang pertama dalam zaman yang akan segera tiba ketika Allah akan memerintah atas seluruh muka bumi, kata-Nya.” Dale T. Irvin dan Scott W. Sunquist, Kekristenan: Gerakan Universal, Sebuah Ulasan Sejarah. Jilid 1, terj. Yosef M. Florisan dan Alex Armanjaya (Maumere: Ledalero, 2004), 1.

      Pelayanan misi Yesus menjadi “dasar” bagi para pengikut-Nya dan bagi Gereja segala abad. Nama Yesus terus bergema di sepanjang sejarah, baik yang bersifat konfirmatif terhadap kuasa dan kasih-Nya, maupun yang bersifat penghinaan. Nama Yesus menjadi mujarab ketika para pengikut-Nya menggunakan nama-Nya untuk kepentingan penginjilan, pengajaran, dan dalam hal melakukan mukjizat (menyebuhkan berbagai penyakit, dan masih banyak lagi). Yesus, sekaligus menjadi sosok yang fenomenal, frontal (secara terbuka) diagungkan dan dihina sedemikian rupa, bahkan dipuji dan disembah, dan tokoh yang menarik perhatian dunia. Nama-Nya menjadi popular di mana-mana.

      Ada apa di balik nama Yesus? Bukankah Ia adalah seorang Anak Manusia yang mati disalibkan? Bukankah penyaliban adalah lambang kehinaan dan titik terendah Yesus? Bukankah Ia mengalami hinaan yang paling mengerikan dalam sejarah: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya” (Mat. 27:42).

      Ternyata, untuk percaya kepada Yesus, tidak perlu Ia turun dari salib itu; ternyata untuk mengubah dunia, Yesus tidak perlu turun dari salib; ternyata untuk mendapatkan banyak pengikut, Yesus tidak perlu turun dari salib itu. Lantas apa? Cukup dengan Ia bangkit dari kematian [yang mengerikan], dunia diubahkan-Nya dengan sangat spektakuler. Ia hanya menunjukkan bahwa kehinaan yang Ia terima [melalui penderitaan, penyaliban, hinaan, dan kematian di kayu salib] terdapat kemuliaan yang sangat luar biasa. Apa buktinya? Buktinya sudah kita lihat sendiri: Kekristenan adalah agama terbesar di dunia. Dan pengikut-Nya tidak pernah diperintahkan untuk membunuh orang lain; Ia mau, mereka yang percaya kepada-Nya hidup dalam kasih, pengampunan, mendoakan musuh, dan meminta berkat kepada yang mengutuk mereka. Luar biasa bukan? Carilah ajaran seperti itu di dunia. Tidak akan ditemukan, kecuali hanya dalam ajaran Yesus Kristus.

      Hal ini kemudian diwariskan kepada pengikut-Nya. Yesus pernah dihina—bahkan hingga sekarang hinaan tersebut masih dikumandangkan oleh mereka yang memiliki “otak sejengkal” dan merasa paling tahu daripada pengikut Yesus. Perkataan Yesus pun relevan di zaman ke zaman: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Mat. 12:32).

      Para penghina Yesus [terutama para mualaf, semisal Muhammad Yahwa Waloni, Irena Handono, dan sejenisnya] adalah orang-orang yang tidak paham soal personalitas Yesus. Mereka berlagak seperti sudah tahu semuanya. Ini sangat menggelikan. Para pengikut Yesus dicap sebagai penyembah manusia belaka, yaitu Yesus, yang menurut mereka hanyalah nabi utusan. Lalu apakah itu dapat dijadikan dasar untuk menolak kuasa-Nya yang dahsyat itu? Tentu fakta berbicara lebih kuat ketimbang omong kosong ria mereka. Memahami Kristologi dengan modal kebencian, modal dengkul, modal kumur-kumur ayat, modal tafsir sesuka hati, modal “mualaf”, dan modal negative thinking, tentu menghasilkan pemahaman yang menyesatkan dan pembodohan publik.

      Pada kenyataannya, rekayasa dan pemalsuan ajaran mengenai Kristologi tidak dapat menghambat lajunya para petobat baru yang merasakan jamahan kuasa dan kasih Yesus Kristus. Sumpah serapah yang keluar dari para pencaci Yesus yang merasa tahu segalanya, tak berdaya melihat fenomena spektakuler di mana Yesus mengubah mereka yang jahat menjadi pribadi yang baik. Perilaku mereka yang diubahkan Yesus justru mendoakan musuh dan mengasihi sesama. Itulah yang mereka terima dari Yesus Kristus.

      Hingga kini, meski selama ribuan tahun, Kristen—yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat—dicap sebagai “kafir” dan lebih parahnya lagi: “penghuni neraka jahanam”, justru tidak berdampak apa-apa bagi persebaran kekristenan di muka bumi ini. Malahan, hampir setiap saat kita mendengar bahwa ada orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Apakah ini berlebihan? Tentu tidak. Percaya kepada Yesus berarti “mengalami secara pribadi lawatan kuasa dan kasih-Nya”. Tidak ada yang dapat menghalangi seseorang ketika ia sendiri secara sadar mengalami lawatan kuasa Yesus Kristus.

      Para mualaf—dari Kristen berpindah ke Islam—memiliki pola yang sama dari dulu hingga sekarang. Mereka selalu menyuarakan: “Yesus bukan Tuhan” dengan sejumlah comotan ayat-ayat Perjanjian Baru ala “kumur-kumur ayat”, menggunakan ilmu cocokologi, comotologi, yakinilogi, dan dengan gegabah—seenak dengkulnya—menafsirkan teks-teks itu sesuka hati. Anehnya, ada yang percaya hasil kibulan para mualaf tersebut. Mereka pikir, konsep negasi terhadap ketuhanan Yesus hanya diukur dengan jenis kebodohan mereka yang direkayasa sedemikian rupa—jika tidak mau dikatakan bodoh dalam hal hermeneutik dan historikal—untuk menciptakan efek samping agar banyak orang percaya kepada mereka. Anehnya, orang-orang di tempat lain justru mengalami kesembuhan, dan kehidupan mereka diubahkan: dari pembunuh—misalnya—menjadi orang yang penuh cinta kasih.

      Sudah ribuan tahun, manusia-manusia yang percaya kepada Yesus telah merasakan lawatan kasih dan kuasa Yesus Kristus, mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, sementara para mualaf—baik yang karbitan maupun yang oplosan, dan selebihnya tipu-tipu demi mencari sesuap nasi—masih sibuk membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan, dan sederet gagal paham soal Kristologi yang mereka rancang untuk memuaskan telinga orang-orang bodoh.

      “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini, dan sampai selama-selamanya.” Itulah penegasan dari sang penulis Kitab Ibrani (13:8). Apa yang Yesus lakukan di zaman-Nya, itu juga terjadi di sepanjang zaman. Para pengikut-Nya menggunakan nama-Nya untuk menyembuhkan segala penyakit, membangkitkan orang mati, mengampuni musuh-musuh, mendoakan musuh-musuh, dan berbagai hal lain yang sesuai dengan kehendak Allah. Itu baru “nama-Nya”, belum lagi jika Yesus “turun tangan” secara langsung.

      Dunia telah diubahkan oleh Yesus, yang dulu pernah dihina, sehina-hinanya, tetapi Ia kemudian membuktikan bahwa dari hinaan itu, kemuliaan terbit. Para pengikut-Nya pun dihina, dicap sebagai “orang kafir” dan penghuni neraka jahanam. Tetapi justru hinaan cap seperti tidak menjadikan Kristen sebagai agama yang kecil, sebaliknya, Kristen menunjukkan jatidirinya sebagai agama kasih dan mengampuni mereka yang memusuhinya. Ajaran Yesus sungguh luar biasa. Jika bukan itu, maka Kristen tak mungkin bertahan. Para pengikut-Nya yang dihina juga menerima kemuliaan.

      Yesus adalah Tuhan, dan itu buktikan melalui kuasa-Nya yang mengubahkan manusia, kuasa yang membangkitkan orang mati, kuasa yang menyebuhkan orang buta, tuli, dan lumpuh, dan berbagai jenis penyakit lainnya. Siapa Yesus? Ia adalah tokoh sejarah, Firman Allah yang mewujud menjadi manusia dan hidup di dalam dunia ciptaan-Nya sendiri. Ini adalah sebuah kuasa yang sangat besar. Yesus telah membuktikan bahwa mereka yang percaya akan merasakan (mengalami) kuasa dan kasih-Nya, bahkan kemuliaan dalam Kerajaan-Nya.

      Para pencaci Yesus, akan mengakhiri celoteh dan kebodohannya ketika Yesus datang kepada mereka dengan kuasa-Nya. Tidak ada yang dapat menolak kuasa-Nya yang dahsyat itu. Seperti kata Rasul Paulus: “…supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” – dan itu telah terbukti sepanjang sejarah.

      Di dalam kehinaan terdapat kemuliaan. Di dalam kehinaan, terbit kemuliaan. Para pengikut Yesus, meski dianggap kafir, tidak menjadikan mereka membunuh mereka yang mencap sebagai kafir, malahan mendoakan mereka yang merasa suci dan tak berdosa, merasa menyembah Tuhan, tetapi perilaku mereka justru merusak, membunuh, mencaci maki, menghina, bahkan berbuat maksiat tanpa merasa berdosa. Sungguh luar biasa ajaran Yesus: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:44-45).

      Salam Bae……

      Sumber gambar: Unsplash

      TWO-FACED LOVE

      Generally, humans live in a multi-faceted environment. That is, there are people around us who have two or three faces. “Face” is understood as a form of expression of heart feelings, thoughts, and emotions. In practice, such expressions present either a true or arbitrary facial identity (there is an intention behind it).

      Two human faces are an undeniable reality. Often the face of life is polished in such a way as to produce a side effect. Some are mesmerized by it. Some are disgusted by it. Some are curious about it. Some are careful to interpret it. Some immediately believe it. Some ignore it. Some spit on it. Some even curse it.

      We see this type of play in the phases of one’s life. Face has two implications. First, it shows a good face, but it shouldn’t be. There is a face that is kept underneath. Second, it is showing the true face in the name of honesty. The second face is a preparation to explain the first face if anyone belittles it, undermines it, or discards it.

      In the house of love, we lock down our identities in relation to maintaining goodwill, preserving love, and ensuring security for both parties. While the opportunity to create two faces remains open, those who are committed to love will not create them for any particular purpose.

      Being trapped in a two-faced love sometimes happens because of situations and conditions that expose her. The two faces have a “hidden agenda”. The first face is made into two contexts: in front of the first other face, he does good; in front of the second other face, he does more good (the principle of going beyond for a certain purpose). The sprinkling of kindness on the other two faces that are loved or liked, is vulnerable to manipulation.

      Hiding in manipulation stifles true honesty. Hiding the true face for negative-manipulative purposes produces emotional baggage that can undermine happiness and faith. We pretend to be good to look better than others. We pretend to care for some purpose. And at the end of the day what we are left with is hypocrisy and dirty ways to smoothen out all our distorted agendas.

      Two-faced love is extremely detrimental, although some consider it to be self-benefit and lust. In reality, all feelings and passions become one in disobedience and discomfort. Attempts to cover the second face must be made if the first face is to remain safe and in control. However, what needs to be noted is that the papers of life on which the love story of two faces has been written, will eventually get wet and torn if the rain from God falls on them.

      We must not forget that it is God’s rain that soaks the dirty papers of life, whether with the purpose of soaking to remove all the filth, or whether God intends to destroy it.

      For long or short periods of time, the attempt to show two-faced love will not last. Ultimately, it is awareness and repentance that can end it. Awareness of loyalty to one-faced love, and repentance from two-faced love.

      The estuary of love in a river of the heart, remains flowing in the flow of the river itself. That’s why, stick to one-face love. Challenges and temptations often come with new faces that are charming, attractive, and seductive. Those who know that love requires commitment and mutual understanding, attention, and care for each other, will endure the time, endure the feelings that arise, and endure when new faces begin to appear.

      Salam Bae….

      CINTA KUNANG-KUNANG (THE LOVE OF FIREFLIES)

      Apa yang menarik dari kunang-kunang? Adakah sesuatu hal yang dapat kita petik dari kunang-kunang, apalagi tentang CINTA? Ketika melihat ciri-ciri aktivitas kunang-kunang di malam hari, kita dapat membuat pemaknaan tertentu tentang cinta.

      Jika memahami cinta seperti kunang-kunang yang berkilauan di kegelapan malam, terlintas makna bahwa cinta menghadirkan pesona yang memikat dan menggoda hati manusia, cahanya terlihat menarik. Di malam yang sunyi, kunang-kunang menyala, menghadirkan keindahan cahaya tersendiri. Cinta juga demikian; ia datang dengan kilauannya sendiri, kasih, perhatian, menggugah dan menari di dalam hati manusia, mengisinya dengan kehangatan yang tiada tara, memaknai hal-hal tertentu secara imajinasi dan kiasan.

      Di malam hari, cahaya kunang-kunang menjadi simbol cahaya cinta yang kerlap-kerlip. Romantisme yang dihiasi perasaan dan pemaknaan akan segala sesuatu, menjadikan cinta itu unik, menarik, dan menggairahkan. Cinta memiliki keajaiban dan keindahan, memiliki kekuatan yang mempesona; mampu menerangi kegelapan hati yang penuh dengan duka, kesedihan, keletihan, dan kekuatiran; memberikan harapan dan kehangatan di saat-saat yang paling kelam dan suram. Cinta adalah pancaran terang dalam kegelapan, memberikan arah dan makna bagi kehidupan manusia yang mengalaminya.

      Lalu apa itu kunang-kunang? Kunang-kunang adalah salah satu dari berbagai kumbang nokturnal (yang beraktivitas pada malam hari) bersayap (terutama famili Lampyridae) yang menghasilkan cahaya intermiten (berjeda) lembut yang terang melalui oksidasi luciferin terutama untuk tujuan pacaran. Oksidasi luciferin adalah proses kimia yang terjadi dalam tubuh kunang-kunang dan beberapa organisme lain yang menghasilkan cahaya bioluminesen. Luciferin adalah senyawa kimia yang terdapat dalam tubuh kunang-kunang dan berbagai organisme bioluminesen lainnya (bioluminesensi adalah kemampuan organisme hidup untuk menghasilkan cahaya melalui reaksi kimia dalam tubuh mereka).

      Yang menarik dari kunang-kunang adalah kerlap-kerlip cahayanya. Ini pertanda kesetiaan untuk terus bersinar, kesediaan untuk tetap bergerak, berjalan, dan bersinar. Meskipun terbang bebas di malam yang gelap, kunang-kunang bisa kembali pada titik asalnya. Begitu juga dengan cinta: membangun ikatan yang kuat di antara dua hati yang saling mencintai, tetap bersama dalam suka dan duka, senang dan sedih, bahagia dan kecewa. Seperti kunang-kunang yang mampu membuat malam yang sunyi menjadi indah, cinta juga mampu mengubah kehidupan yang terpuruk menjadi berwarna dan penuh bahagia.

      Seperti kunang-kunang yang hanya bersinar di malam hari, cinta juga terbatas pada situasi dan kondisi tertentu. Ia tak selalu hadir dalam kehidupan manusia, dan terkadang memudar seiring berjalannya waktu. Namun demikian, sisa-sisa kilauan cahayanya meninggalkan jejak di hati dan pikiran, mengingatkan akan keindahan yang pernah dirasakan pada momen-momen tertentu.

      Ada yang mengatakan bahwa cinta kunang-kunang adalah cinta yang misterius dan sulit dipahami. Seperti kunang-kunang yang tersembunyi di dalam kegelapan, cinta kadang-kadang datang tanpa diduga, seketika hinggap dalam mata, hati, perasaan, dan pikiran, hingga kelamin. Cinta menghadirkan rasa ingin tahu dan kekaguman luar biasa terhadap yang disukai, dicintai, atau dikasihi.

      Cinta kunang-kunang dapat dianggap sebagai simbol dari keindahan alam. Di tengah gemerlapnya cahaya kunang-kunang, kita seringkali merasa dekat dengan alam, merasakan keajaiban ciptaan Sang Khalik yang tak terduga dan mengagumkan itu. Demikian halnya dengan cinta; ia mengajak kita untuk mengagumi keindahan hubungan, menghargai setiap momen yang dilewati bersama, momen saling pengertian, bergandengan tangan, saling berucap, saling membelai, hingga saling meraba.

      Namun, seperti kunang-kunang yang hanya bersinar di malam hari, cinta juga seringkali hadir dalam momen-momen yang gelap dalam kehidupan manusia. Cinta menjadi sumber kekuatan bagi yang tengah berjuang melawan kegalauan, kegelapan, dan memberikan semangat untuk terus maju meski tertatih-tatih.

      Cinta kunang-kunang sebagai lambang dari keabadian, cahayanya tetap diingat, menginspirasi; cinta juga demikian: dampaknya terus hidup dalam perasaan, emosi, ingatan, dan pengalaman manusia yang pernah terlibat di dalam cinta itu sendiri. Kunang-kunang bebas berjalan membawa sinarnya, begitu juga dengan cinta, ia bebas membawa cahaya cinta sebagai tanda kepemilikan. Kunang-kunang yang terbang bebas di malam yang gelap, berkorban membawa cahayanya, cinta juga seringkali menuntut pengorbanan untuk tetap membawa cahaya di hati, pikiran, emosi, dan aktivitas.

      Kemudian, apa yang kita dapatkan dari Cinta Kunang-kunang?  Cinta kunang-kunang adalah metafora yang menarik untuk menggambarkan berbagai segi dari cinta. Kita dapat mengambil beberapa pesan penting dari Cinta Kunang-kunang:

      Seperti kunang-kunang yang bersinar kerlap-kerlip di malam hari, cinta seringkali bersinar dalam momen-momen tertentu. Seperti kunang-kunang yang kembali pada titik asalnya, cinta sejati pasti akan kembali ke pangkuan hati dari seseorang  yang layak menerima cinta sejati itu. Kunang-kunang yang terbang bebas di malam hari membawa cahayanya, sama halnya dengan cinta yang memberikan kebebasan untuk membawa perasaan cinta yang diungkapkan melalui kesetiaan, penantian, rela berkorban.

      Cinta kunang-kunang memberi pesan penting kepada kita untuk menghargai keindahan dalam kesederhanaan, cahaya cinta, cahaya perhatian, cahaya perngorbanan, cahaya kesetiaan, membangun hubungan yang kuat dalam kasih dan kepercayaan, serta menghargai cinta dan menempatkannya pada tahta hati yang dipenuhi dengan kejujuran, ketulusan, dan kemurnian.

      Salam Bae…..

      KRISTUS BANGKIT KETAKUTAN MELANDA?

      Teks Yohanes 20:19 menyatakan: “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu’”. Narasi tersebut menggambarkan sebuah kondisi psikologis para murid tentang apa yang baru saja terjadi: penyiksaan Yesus yang begitu sadis, kematian-Nya, dan penguburan-Nya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan perkataan nubuatan Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga mereka dilanda ketakutan. Mungkin saja dalam benak mereka bahwa orang-orang yang telah berhasil menyalibkan Yesus, dapat melakukan hal yang sama kepada mereka: menyiksa hingga membunuh. Alasannya bahwa Yesus adalah Guru mereka.

      Pada peristiwa kebangkitan Yesus yang dikisahkan oleh Lukas dalam pasal 24:1-12, para perempuan: Maria dari Magdala, Yohana, Maria Ibu Yakobus, dan perempuan-perempuan lain menceritakan apa yang mereka lihat. Mereka datang ke kubur Yesus membawa rempah-rempah. Mereka mendapati batu kubur sudah terguling. Mereka tidak menemukan mayat Yesus di dalam kubur. Malaikat berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketika.”  Mereka kembali dari kubur dan menceritakan kepada para murid Yesus dan semua saudara yang lain.

      Apa responsnya? Ayat 11 menyatakan: “Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” Petrus bangun dan cepat-cepat pergi ke kubur itu sebagai tindakan meminta bukti apakah benar Yesus itu bangkit.

      Dua narasi pada teks Yohanes dan Lukas merupakan suatu kondisi yang melingkupi tiga fakta penting yang [mungkin] dipikirkan oleh para murid:

      Pertama, teks Yohanes 20:19 menjelaskan bahwa para murid ketakutan dan merasa tidak percaya akan peristiwa yang mengikuti pasca kematian Yesus, masih ragu apakah Yesus akan bangkit atau tidak. Mereka mengunci pintu-pintu tempat mereka berada; takut akan serangan mendadak dari pihak orang-orang Yahudi yang mengetahui bahwa mereka adalah murid-murid Yesus. Sebagaimana diungkapkan di atas, bahwa peristiwa yang dialami Yesus dapat menjadi alasan melanda para murid-Nya.

      Kedua, teks Yohanes dan Lukas adalah dasar mengapa para murid tidak percaya akan peristiwa kebangkitan, dan mengapa mereka ketakutan. Dalam gambaran psikologi maupun fakta penyaliban, para murid mengira bahwa tidak mungkin Yesus yang telah disiksa dan dicambuk sedemikian rupa, sehingga tubuh-Nya penuh luka dan hancur (teringat akan narasi Yesaya pasal 53:2-8), lemah tak berdaya, tanpa perlawanan, bahkan [mungkin] wajah dan tubuh-Nya tak bisa dikenali lagi, dapat bangkit dari antara orang mati?

      Ketiga, para murid merasa “terancam” karena lawan-lawan Yesus memiliki kesempatan untuk meneror, mengancam, bahkan membunuh mereka. Tidak ada lagi figur yang dapat diandalkan, karena Yesus telah mati. Semasa Ia melayani, para murid merasa nyaman, aman, dan bahkan berani, sebab Ia memiliki kuasa yang tak tertandingi.

      Indikasi tersebut—bagi saya—mungkin menjadi dasar bagi para murid mengapa mereka ketakutan dan bahkan tidak percaya akan apa yang disampaikan oleh perempuan-perempuan yang telah pergi ke kubur Yesus (Luk. 24:11).  Peristiwa kebangkitan Yesus justru menggugurkan dua asumsi: tidak ada kebangkitan, dan tubuh-Nya hancur karena siksaan, tidak mungkin dapat dibarui atau bangkit lagi. Kondisi psikologis yang dipandang benar oleh lawan-lawan Yesus berdasarkan dua asumsi tersebut, dibalas dengan kondisi psikologis juga oleh Yesus. Para murid mendapat pelajaran penting dari “perang psikologis” ini. Perang ini pun terus berlanjut hingga sekarang, tetapi Yesus tetaplah jadi PEMENANG YANG KEKAL. KEBANGKITAN ITU NYATA DAN MENGHASILKAN CATATAN SEJARAH PANJANG TENTANG KEMENANGAN DEMI KEMENANGAN YESUS KRISTUS ATAS UMAT MANUSIA.

      Apa yang kita pahami dari peristiwa kebangkitan Yesus di atas?

      Pertama, Yesus secara konsisten menggenapi apa yang dinubuatkan-Nya tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

      Kedua, kondisi apa pun yang dialami Yesus tidak menggugurkan apa yang telah dinubuatkan-Nya, termasuk kondisi tubuh-Nya yang hancur karena siksaan dan cambukkan. Ia tetap bangkit dengan gemilang, tanpa ada satu pun yang sanggup menghalangi.

      Ketiga, hinaan dan ejekan, perendahan terhadap Yesus, misalnya: Matius 27:42, Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya; Markus 15:31, Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!; Lukas 23:35, Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah”, TIDAK BERKUTIK SAMA SEKALI DI DEPAN KEBANGKITAN YESUS DARI ANTARA ORANG MATI.

      Ejekan yang bernada merendahkan dan menghina—secara psikologis ini sangat menyakitkan—dibalas oleh Yesus dengan kebangkitan-Nya sendiri, yang menggangu psikologis para lawan-Nya. Dengan kata lain, para lawan Yesus “kena mental”. Menyelamatkan diri dari salib bukanlah sebuah peristiwa spektakuler, itu bahkan hanyalah hal yang receh bagi Yesus. Justru Yesus menampar para pengejek-Nya dengan satu peristiwa jauh lebih spektakuler: bangkit dari antara orang mati dengan tubuh yang hancur! Luar biasa bukan?

      Matius mencatat peristiwa imam-imam kepala dan tua-tua yang “kena mental” dari peristiwa kebangkitan Yesus. Perang psikologis dimainkan oleh Yesus dengan sangat rapi, elegan, dan tidak ada tandingannya:

      Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini (Mat. 28:11-15)

      Kita mungkin juga bertanya: “Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa menyelamatkan diri-Nya dari salib, bagaimana mungkin orang yang telah disiksa sedemikian rupa, BANGKIT DARI KONDISI TERSEBUT?” Tetap saja mungkin, karena Yesus telah menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya, dan itulah konsistensi yang ditampilkan Yesus sebagai bagian dari perang psikologis. Betapa bahagianya para murid Yesus, bahkan kita yang telah menjadi murid-Nya mengetahui hal ini. Cara Yesus sungguh di luar dugaan para lawan-Nya, bahkan oleh murid-murid-Nya sendiri. Yesus itu hebat, luar biasa, dan menakjubkan. Jangan bermain-main dengan dunia psikologi. Yesus adalah pakar yang tak terkalahkan!

      SELAMAT PASKAH

      Salam Bae…..

      MENYEDUH RASA MENGAPAI ASA

      Berbagai hal telah kita alami, jalani, dan maknai. Semuanya dirasakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses kehidupan, bertahan hidup, dan mengembangkan kehidupan. Ada ruas-ruas logika dalam setiap peristiwa yang patut dimaknai untuk hari ini dan esok. Kita bergegas dari waktu ke waktu mendamba sesuatu yang memberikan kita kekuatan jati diri, harga diri, reputasi, dan keuntungan finansial. Kita berjuang untuk sesuatu hal dan dihabiskan untuk sesuatu hal.

      Peristiwa yang kita alami adalah mutlak; kita ada di dalam waktu, peristiwa yang lain, merespons, dan bergerak untuk menikmati kehidupan, mewaspadai sesuatu, dan menjaga sesuatu. Mengalami setiap peristiwa adalah bagian dari kehidupan. Kita tak mungkin menghindar dari peristiwa-peristiwa alami yang terjadi. Kita menafsirkannya, kita menarik kesimpulan.

      Pada gilirannya, kita terbiasa dengan peristiwa-peristiwa yang alami. Hingga akhirnya kita menjadi kuat dan mampu memahaminya; bahkan menjadikannya sebagai operasi logika dan rasa hati untuk masa depan yang gemilang. Begitulah keadaan dan proses yang kita jalani alami dari hari ke hari.

      Peristiwa yang kita jalani merupakan gambaran umum dari kehidupan normal umat manusia. Sebuah lirik lagu menyebutkan: “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah: Kisah Mahabharata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura.” Depiksi semacam ini memang merupakan realita yang bisa saja pernah kita alami, misalnya: “kita suka mengubah cerita diri kita supaya terkesan baik atau cerita orang lain supaya terkesan buruk.” Kita memainkan peran kita sendiri, entah sebagai pribadi yang lugu, lucu, luluh, beringas, berwibawa, berintegritas, hipokrit, atau yang lainnya. Kita memerankan itu secara wajar dan bahkan menciptakan peran yang berpura-pura sebagai korban.

      Fakta kehidupan memang multi rasa, multi paham, dan multi makna. Kita menyeduh rasa pada kehidupan untuk suatu tujuan tertentu, termasuk menggapai asa yang kuat. Lambat laun, kita terbiasa dengan peran yang kita mainkan. Sejatinya, sebagai orang yang beriman kepada Sang Khalik, proses tempuh rasa dan harga diri dalam rentang waktu yang panjang, telah membentuk pola pikir kita menjadi seperti sekarang ini. Dan itulah yang menghasilkan karakter dan identitas kita yang sesungguhnya. Kita dihargai atau tidak, bergantung pada fakta ini.

      Dari berbagai peristiwa yang kita alami dan jalani, kita memaknainya sebagai alasan kehidupan kini dan mendatang. Semua makna menatang langkah-langkah kecil kita dari waktu ke waktu untuk menggapai tujuan kehidupan. Kita mulai merancang asa, menata strategi, mengoperasikan logika, menyiapkan tenaga dan dana, rasa dan potensi, serta keberanian dan eksekusi. Semua fragmen ini sejatinya menyatu, menjadi bangunan kehidupan kita sendiri. Kita pun bersedia dan bertahan untuk menjaga agar bangunan kehidupan tersebut tidak goyah atau pun roboh.

      Rangkaian peristiwa mengikutsertakan tindakan menyeduh rasa, entah rasa hati, rasa pikiran, rasa komitmen, rasa keberanian, dan lain sebagainya. Menyeduh rasa bertujuan untuk menggapai asa. Bagaimana bisa? Semuanya bisa, tergantung dari tindakan dan langkah-langkah kecil kita, yang secara perlahan menunjukkan kemajuan demi kemajuan.

      Namun, kita tetap mengingat bahwa penulis Amsal telah memberikan kita wejangan yang sangat berarti: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang, yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”.

      Salam Bae….

      GEREJA, TEOLOGI, DAN ATEOLOGI: Pelayanan yang Menguras Pikiran

      Tak ada pelayanan yang bebas dari proses berpikir; bagaimana pelayanan itu dapat dapat berjalan dengan baik sesuai harapan atau tidak, bertantung pada cara berpikir yang meliputi konteks, waktu, dan tindakan. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari pun kita melibatkan proses berpikir — entah karena alasan untuk mendapatkan sesuatu, atau karena alasan bertahan hidup dan menggapai kebahagiaan, kedamaian, serta penghiburan. Alhasil, setiap orang dapat merasakan manfaat dari proses berpikir tersebut. Dalam pelayanan pun demikian.

      Semua pelayanan Gereja melibatkan kurasan pikiran. Melalui pikiran, kita merumuskan konsep pelayanan, membaca zaman, membaca peluang, mengantisipasi kegagalan, hambatan dan tantangan, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, segala bentuk pelayanan mengutarakan maksud dan tujuan di baliknya. Gereja yang sadar akan panggilannya, tentu tak akan abai pada pelayanan. Gereja hadir untuk melayani dengan berbagai cara yang berkenan kepada Kristus Yesus, Sang Kepala Gereja. Teologi dan ungkapan-ungkapan doktrinal dikemas dalam bentuk-bentuk tertentu untuk disuguhkan kepada jemaat. Gereja dan teologi berjalan berdampingan.

      Seiring dengan upaya gereja dalam berteologi, yang mengusung ajaran-ajaran penting untuk diketahui anggota jemaatnya, gereja berhadapan dengan ungkapan-ungkapan atau pernyataan-pernyataan yang bernada sumbang: “ateologi” — sebuah bentuk penyimpangan ajaran-ajaran Alkitab yang dibungkus dengan kebodohan dan kemunafikan. Kebodohan — para pengusung dan pengajar “ateologi” secara terbuka mempertontonkan penyimpangannya kepada publik, sementara yang lainnya secara sembunyi-sembunyi. Pada gilirannya, bentuk ateologi adalah racun yang menghentikan secara perlahan aliran darah spiritual anggota jemaat hingga akhirnya mati kering (rohani).

      Kemunafikan — para pengusung dan pengajar ateologi secara terbuka mempertontonkan rayuan-rayuan mautnya dalam mengelabui anggota jemaatnya dengan perkataan-perkataan munafik agar dapat menggapai keuntungan tertentu, misalnya soal persepuluhan atau sumbangan-sumbangan khusus yang dilakukan dengan paksaan atau menakut-nakuti. Fenomena ini mungkin pernah kita lihat, mungkin saja terjadi di gereja kita sendiri. Para pendeta munafik memang selayaknya mendapat hukuman dari Tuhan.

      Gereja kadang menaburkan racun pada makanan dan minuman rohani anggota jemaat. Mereka terbius oleh rayuan gombal para gembala dungu, munafik, dan manipulatif. Gereja yang abai terhadap teologi yang sehat, ajaran-ajaran yang membangun, menguatkan iman, harapan, dan kasih, telah menimbulkan banyak masalah dalam gereja maupun masyarakat. Nama baik gereja dirusak oleh segelintir “penjahat rohani berjubah”. Tampak terhormat, tetapi bertindak seperti predator. Ateologi yang mereka usung telah mengaburkan kebenaran Alkitab, telah merusak tatanan iman jemaat, dan mengelabui jemaat dengan cerita-cerita dongeng belaka.

      Gereja, teologi, dan ateologi, adalah fakta yang dapat memberikan pelajaran positif dan sekaligus menghindarkan kita dari tindakan menaburkan ateologi, racun yang menghambat aliran darah spiritualitas. Kini, kita dapat berbenah diri; memulai untuk mengamati, memeriksa, apakah teologi yang ditaburkan di gereja sudah benar atau tidak. Kewaspadaan terhadap para pengajar palsu, yang berbicara penuh dusta dan kemunafikan, adalah cara terbaik. Kita pun harus senantiasa memperlengkapi diri dan mengupayakan proses pembelajaran doktrin secara benar dan serius. Jangan beri kesempatan kepada Iblis yang menyamar sebagai malaikat terang.

      Gereja yang benar tentu mengupayakan ajaran-ajaran teologi yang benar dan alkitabiah, mengupayakan antisipasi munculnya para pemalsu kebenaran, pengusung dan pengajar ateologi, yang berpotensi meracuni pikiran anggota jemaat. Gereja yang sehat berarti ia berteologi yang benar dan dilakukan secara benar; para pengajar palsu, bagaimana pun bagusnya penampilannya, jangan dipercayai. Usir mereka dari pikiran kita; usir mereka dari lingkungan spiritualitas kita. Singkirkan mereka!

      Jangan mengundang ajaran yang beracun masuk ke dalam pikiran dan tubuh rohani kita. Jauhkanlah itu dari hadapan kita. Sebaliknya, bertekunlah dalam ajaran-ajaran yang benar, sembari berjaga-jaga atas segala penyesatan yang dapat muncul kapan saja. Kita perlu membentengi diri dengan iman yang teguh, menghardik para pengajar palsu, pengajar yang sesat!

      Kita harus siap menguras pikiran, demi kemajuan bersama. Menguras pikiran untuk pelayanan ini sangatlah penting. Tak jadi soal kita berjerih lelah dengan perlawanan terhadap para pemalsu kebenaran. Yang utama kita utamakan, yang tidak penting kita singkirkan. Menguras pikiran untuk hal-hal yang baik tentu memiliki manfaat yang luar biasa. Gereja perlu membiasakan diri untuk tampil sibuk menguras pikiran agar pelayanan dan pengajarannya tetap sehat dan terjaga dari segala bentuk penyimpangan ateologi — pengajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci.

      Dengan demikian, kita bersama-sama hadir dan tampil di depan publik, menyuarakan kebenaran dengan hati yang tulus, komitmen yang teguh, dan integritas yang kuat. Bergandengan tangan untuk menguras pikiran bagi kemajuan pelayanan gereja, agar olehnya kita menerima manfaat, kini, esok, dan selamanya.

      Salam Bae….

      Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/church

      Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
      Mulai