NATAL DAN BINTANG TIMUR: Memahami Mikroteks Matius 2:1-2 dan Makrofidēs Para Magi

Natal Yesus Kristus menjadi percakapan global. Percakapan tersebut didasarkan pada “cara seseorang memahami” fakta historis Natal, dan proses memaknainya secara teologis. Terlepas dari fenomena disparitas pemahaman—misalnya soal tanggal kelahiran Yesus, soal apakah orang-orang Majus berasal dari Mesopotamia atau Yunani, dan lainnya—di sini saya menyuguhkan konteks pemahaman Natal berdasarkan mikroteks Matius 2:1-2 (dan korelasi konteks dengan teks lainnya [ay. 3-12]), terutama pada kisah orang-orang majus dari Timur yang datang mencari Yesus dan berkeinginan menyembah-Nya, di mana, dalam pemahaman saya, mereka memiliki makrofidēs terhadap ramalan mengenai lahirnya seorang raja berdasarkan petunjuk bintang di Timur.

Perjanjian Baru (PB) menyuguhkan data historis mengenai peristiwa kelahiran Sang Logos—yang menjadi manusia—ke dalam dunia. Sang Logos menyejarah dan dengan demikian, kita dapat memahaminya melalui catatan-catatan PB. Peristiwa Natal Yesus melalui perawan Maria, baik pra maupun pasca-Natal, menghadirkan tiga fakta menarik.

PERTAMA, pra-Natal Yesus, malaikat Tuhan memberitakan bahwa “anak yang di dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20). Petunjuk utama dari “Logos menjadi daging” adalah bahwa hal itu didasarkan pada kuasa Allah Roh Kudus. Singkatnya, Allah menunjukkan kuasa-Nya di awal inkarnasi Logos. Allah memulainya dengan “kuasa-Nya”, karena Ia berkuasa. Konsistensi Allah tampak di sini. Ia menunjukkan identitas ontologi-Nya.

KEDUA, pasca Natal Yesus, para gembala mendapat berita istimewa dari malaikat Tuhan: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:10-12). Berita itu mengantarkan mereka kepada bayi yang baru lahir terbaring di palungan (Lukas 2:15-16). Mereka memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dari malaikat Tuhan, telah mereka lihat sendiri, sesuai—tanpa rekayasa—dengan apa yang dikatakan malaikat itu kepada mereka (Lukas 2:12, 20).

Klausa “kesukaan besar untuk seluruh bangsa” merupakan realisasi dari kekuasaan Allah atas dunia ciptaan-Nya. Allah juga konsisten dengan kuasa-Nya yang dimiliki-Nya, maka berita tentang Natal merupakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Dalam beberapa waktu kemudian, orang-orang Majus pun mendapat bagian dari kabar kesukaan besar ini; mereka melihat bintang dan meyakini lahirnya seorang raja. Mungkin apa yang mereka rasakan sama dengan yang dirasakan oleh para gembala.

KETIGA, pasca Natal Yesus, orang-orang majus dari Timur datang untuk melihat “Raja orang Yahudi” yang baru dilahirkan itu. Ternyata, mereka secara terang-terangan datang untuk melihat bayi itu sekaligus “menyembah Dia” (Mat. 2:2). Mengapa harus menyembah Yesus yang dilahirkan itu? Seharusnya yang mereka sembah adalah raja Herodes, malahan mereka membuat Herodes terkejut (Mat. 2:3). Pasalnya, mereka mengatakan akan menyembah raja itu dengan berpatokan pada bintang yang mereka lihat, di depan raja Herodes (Mat. 2:7-8). Tentu Herodes sangat sakit hatinya karena ia tidak disembah sebagai raja, malahan Yesus, yang baru dilahirkan itu yang akan mereka sembah. Akhirnya, Herodes juga ikut-ikutan ingin menyembah-Nya, meski dengan motivasi yang berbeda.

Tidak hanya itu, orang-orang majus bertanya-nyata ikhwal “Raja yang baru dilahirkan itu” di wilayah Yerusalem yang justru menggemparkan seluruh Yerusalem (Mat. 2:3). Herodes sangat terpukul hatinya ketika mendengar berita lahirnya seorang Raja Yahudi (Mat. 2:1-3) di wilayah kekuasaannya. Di kemudian hari, dialah yang memerintah untuk membunuh bayi laki-laki di Betlehem (Mat. 2:16). Alasan pembunuhannya, selain merasa ditipu oleh orang-orang majus, ia tak mau disaingi oleh Raja yang baru dilahirkan itu, yaitu Yesus Kristus, sebagaimana yang dia dapatkan dari pengakuan orang-orang majus. Masakan dia raja di wilayahnya lalu ada raja yang disembah selain dirinya? Ini terlihat baginya sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Maka jalan keluarnya adalah “membunuh anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah (Mat. 2:16). Di satu sisi ada kebahagiaan tentang lahirnya Juruselamat dan Raja, di sisi lain ada ratapan dan tangisan—pasca kelahiran Yesus—yang begitu mendalam karena anak-anak dibunuh atas perintah raja Herodes.

Dari mikroteks Matius 2:1-2 (dan ay. 11), kita melihat konteks “penyembahan” orang-orang majus dari Timur dikaitkan dengan sistem kepercayaan mereka terhadap astrologi. Dengan berbekal pada kepercayaan terhadap bintang-bintang (makrofidēi), mereka harus mengidentifikasi sekaligus membuktikan bahwa apa yang mereka “imani” terhadap tanda “bintang” di langit, benar adanya. Menurut Leon Morris, dalam Injil Matius (Surabaya: Momentum, 2016), “Orang-orang Majus bukanlah orang-orang yang berhikmat dalam pengertian umum, tetapi orang-orang yang mempelajari perbintangan: “orang bijak dan imam (Persia…tetapi kemudian juga Babel), yang ahli dalam astrologi”.

Bagi mereka, munculnya bintang yang begitu cemerlang di langit, pertanda lahirnya (datangnya) seorang pemimpin yang besar. Logisnya, keyakinan yang besar (makrofidēi) ini harus dibuktikan, baik secara politik identitas mereka, iman dan tradisi mereka, maupun secara geografis. Mereka menanti, entah di mana pun ada bintang yang bersinar, maka pasti ada “Raja” (pemimpin) yang datang memberikan harapan baru (Matius 2:9).

Gleason L. Archer, Jr., dalam Encyclopedia of Bible Difficulties, menjelaskan: “Karena itu, bintang tersebut pasti telah muncul ketika Yesus lahir, dan pastilah orang-orang Majus itu memerlukan lebih dari satu tahun untuk bisa sampai di Yerusalem dan kemudian berbincang-bincang dengan Herodes. Bintang itu bukanlah suatu peringatan yang datang mendahului, melainkan pemberitahuan mengenai satu fakta yang sudah terjadi. Perjalanan orangp-orang Majus untuk berziarah ini tidak ada hubungannya dengan penyembahan terhadap allah-allah palsu atau terhadap kuasa-kuasa penentu nasib. Mereka sekadar menerima pemberitahuan Allah lewat bintang tersebut, yang memerintahkan mereka untuk mencari Raja yang baru lahir, sebab mereka mengerti bahwa Dia telah ditetapkan menjadi Penguasa atas seluruh dunia—termasuk negeri mereka sendiri (yang kemungkinan adalah Persia, sebab ilmu nujum beredar sangat aktif di sana pada zaman kuno).”

IDENTITAS ORANG-ORANG MAJUS, BINTANG DI TIMUR, & PENYEMBAHAN KEPADA YESUS

Dalam penjelasan mengenai idenitas dan asal dari orang-orang Majus, saya menyuguhkan data dari berbagai sumber. Sedapat mungkin kita mendapatkan informasi yang berharga mengenai mereka, termasuk menyinggung mengenai “bintang”, ramalan, keyakinan, dan penyembahan mereka kepada Yesus Kristus.

PERTAMA: Craig L. Blomberg, The New American Commentary: Matthew (Broadman Press, Nashville Tennessee, 1992).

Blomberg, sarjana Alkitab Perjanjian Baru memberikan penjelasan mengenai para Magi (orang-orang Majus). Menurutnya: “Orang Majus bukan raja tetapi kombinasi orang bijak dan imam; mungkin dari Persia. Mereka menggabungkan pengamatan astronomi dengan spekulasi Astrologi. Mereka memainkan peran politik dan keagamaan dan merupakan figur yang menonjol di tanah mereka.”

Pertanyaan orang-orang Majus (Magi) kepada Herodes menekankan kata “lahir.” Konstruksi tata bahasa membuat jelas bahwa mereka bertanya tentang siapa anak yang memiliki “klaim yang sah untuk takhta Israel dengan kebajikan kelahirannya.” Herodes dipandang sebagai perampas takhta.

Herodes memang berkuasa, tetapi ketika mendengar pertanyaan para Magi, ia terkejut, ia merasa takut, merasa tersaingi, dan merasa terancam. Kita melihat bahwa “A new star in the sky was often believed to herald the birth of a significant person in the land over which the star shone. So the Magi’s question is a natural inference from their observation” [Sebuah bintang baru di langit sering diyakini pembawa berita kelahiran orang yang signifikan di tanah di mana bintang bersinar. Jadi, pertanyaan para Magi adalah kesimpulan alami dari pengamatan mereka].

KEDUA: Frederick Dale Bruner A Commentary Matthew 1-12. Revised and Expanded Edition (Grand Rapids, Wm. Eerdmans, 2004).

Brunes menjelaskan mengenai bintang yang bersinar di Timur dengan mengaitkannya pada teks Bilangan 24:17: “Sebuah bintang akan keluar dari Yakub, dan tongkat kerajaan akan bangkit dari Israel” (Bil. 24:17). 2:1, sekarang ketika Yesus dilahirkan di Betlehem dari Yudea pada zaman Raja Herodes, lihat! Magi dari Timur tiba di Yerusalem. Tiga tokoh utama (Yesus, Herodes, dan orang Majus) diperkenalkan dalam ayat pembukaan Matius 2: Yesus yang adalah “Emmanu-El”, Allah dengan kita, sekarang menjadi Yesus “Emmanu-Adam”, Allah dengan manusia.

Dalam bahasa doktrin Kristen, Matius 2 menunjukkan bahwa orang yang datang kepada Kristus  dengan motivasi “dalam iman”, yaitu orang-orang Majus, dan motivasi “dalam pemberontakan”, yaitu Herodes.

KETIGA: Herbert W. Basser dan Marsha B. Cohen, A Relevance-based Commentary. The Gospel of Matthew and Judaic Traditions (Leiden: Brill, 2015).

Kata “Magos” (magoi) adalah kata Yunani untuk “astrolog.” Seorang astrolog adalah siapa pun yang bisa ilahi masa depan menggunakan pesona. seorang penyihir, kemudian, adalah seseorang yang dapat membedakan kejadian tersembunyi atau memprediksi peristiwa yang belum terjadi. Versi Suryani Matius menyebut mereka “magoshei”. Philo merujuk kepada Bileam, sebagai Magos.

Ada banyak kisah orang Yahudi yang menceritakan tentang astrolog dan/atau para juru bahasa mimpi yang mengungkapkan makna dari para isyarat ajaib terkait dengan kelahiran para penyelamat Israel.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa kedatangan para magi untuk melihat dan menyembah Yesus terkait erat dengan keyakinan mereka tentang isyarat ajaib—bintang yang di Timur—bahwa ada seorang yang lahir dan diyakini sebagai pemimpin dan raja.

KEEMPAT: Frank E. Gaebelein (ed.), Matthew, Mark, Luke. The Expositor’s Bible Commentary’ Volume 8 (Grand Rapids, Michigan, Zondervan Corporation, 1984)

“Magi” (magoi) tidak mudah diidentifikasi dengan presisi (tepat). Beberapa abad sebelumnya istilah ini digunakan untuk kasta imam Medes yang menikmati kekuasaan khusus (p. 84). Menurut tradisi, orang Majus adalah raja, dapat ditelusuri sampai masa Tertullian (meninggal sekitar tahun 225). Ini mungkin dikembangkan di bawah pengaruh kutipan PL yang mengatakan bahawa raja akan datang dan menyembah Mesias (rujukannya adalah Mazmur 68:29, 31; 72:10-11; Yesaya 49:7; 60:1-6).

Pada akhir abad keenam, orang bijak diberi nama: Melkon (kemudian Melchior), Balthasar, dan Gasper. Matius tidak memberikan nama. Mereka datang ke Yerusalem (seperti Betlehem, memiliki hubungan Daud yang kuat [2 Sam. 5:5-9]), tiba, dari Timur-mungkin dari Babel, di mana yang cukup besar pemukiman Yahudi memegang pengaruh yang cukup besar, tetapi mungkin dari Persia atau dari gurun Arab.

Orang Majus melihat bintang  “apabila ia terbit”. Apa yang mereka lihat tetap tidak pasti. Kepler (–630) menunjukkan bahwa pada tahun Romawi a.u.c. [“ab urbe condita”] 747 (atau 7 BC), terjadi konjungsi planet Jupiter dan Saturnus dalam rasi bintang Pisces, sebuah tanda yang terkadang terhubung dalam Astrologi kuno dengan orang Ibrani. Informasi tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian tarikh mengenai kapan bintang itu bersinar, memungkinkan keingintahuan Herodes untuk mendapatkan keterangan mengenai kapan bintang itu tampak (Mat. 2:7).

Matius menggunakan bahasa hampir pasti menyinggung Bilangan 24:17: “bintang akan keluar [terbit] dari Yakub; tongkat kerajaan akan bangkit dari Israel.” Firman ini, yang diucapkan oleh Bileam, yang datang “dari Pegunungan Timur” (Bilangan 23:7), secara luas dianggap sebagai Mesianik Targum Jonathan dan Onkelos; dari Cairo (Genizah text of the) Damascus (Document) 7:19–20; 1QM Milhamah (War Scroll) 11:6; 1QSb Appendix B (Blessings) to 1QS 5:27; 4QTest Testimonia text from Qumran Cave 4 12-13; Talmud Yehuda 24:1).

Dari korelasi dengan dokumen yang dianggap memiliki singgungan langsung dengan teks Bilangan 23:7 di atas, merupakan sebuah data historis yang dipandang—dalam keyakinan saya—mendukung peristiwa historis kelahiran Yesus dan bintang yang bersinar di Timur, juga sebagai nubuatan Sang Mesias (konsep Mesianik) yang digenapi oleh Yesus Kristus. Dalam penalaran teologis, sesuatu yang ajaib untuk dilakukan hanya dapat dipenuhi (digenapi) oleh Allah sendiri. Itulah sebabnya, Yesus disebut sebagai Mesias Ilahi karena Ia sendiri “keluar” dari diri Allah, Logos Allah itu sendiri yang berdiam sejak kekekalan (Yoh. 1:1).

KELIMA: Ulrich Luz, Hermeneia: A Critical and Historical Commentary on the Bible. Matthew 1–7: A Commentary. Translated by James E. Crouch. Edited by Helmut Koester (Augsburg: Fortress Press, 2007)

“Magoi” awalnya berarti anggota kelas imam Persia, tetapi maknanya meluas, dan dimulai dengan periode Hellenistik juga mencakup perwakilan lain dari teologi Timur, filsafat, dan ilmu pengetahuan alam. Menurut tradisi kuno, para magician juga memprediksi peristiwa besar.

Dimulai dengan Sophocles dan Euripides, “magos” juga digunakan dalam arti negatif: penyihir/Magi adalah penyihir dan penipu. Namun, pada zaman Hellenistik, orang Majus lebih cenderung dianggap positif, sehingga ada yang memandang bahwa kebijaksanaan Timur dinikmati pada hari itu.

Menurut Martin Hengel, Yudaisme, yang di bawah pengaruh PL alergi terhadap segala bentuk sihir, memiliki pandangan yang umumnya negatif, tetapi tidak sepenuhnya mampu menolak pengaruh baik dari astrologi atau orang majus yang sangat tinggi dan sangat Hellenistik. Martin Hengel, Judaism and Hellenism: Studies in Their Encounter in Palestine during the Early Hellenistic Period (trans. John Bowden; 2 vols.; Philadelphia: Fortress Press, 1981) 1.89, 91–92; 2.60, n. 243. (dikutip Luz, 112).

Secara sosial prestise orang-orang majus itu mulia (tinggi); mereka sering bertemu satu sama lain di pengadilan kerajaan. Prestise mereka sesuai dengan hadiah yang mereka bawa kepada bayi Yesus, yaitu emas, kemenyan, dan mur. Kemenyan, adalah pohon dupa yang tumbuh di tenggara Arabia, India, dan Somalia, dan mur, damar dari pohon mur yang juga tumbuh di Arabia dan Ethiopia, digunakan terutama dalam kultus, tetapi juga untuk praktek magis, di pernikahan upacara, untuk tujuan kosmetik, dan sebagai bumbu atau obat. Keduanya dianggap sebagai barang mewah yang sangat mahal.

Mereka membawanya dalam perjalanan mereka yang sangat jauh mencapai tempat di mana Yesus dilahirkan. Pada akhirnya, dalam perjalanan yang jauh itu, menurut Luz, “God’s guidance alone is decisive” (hanya bimbingan Allah yang menentukan). Bimbingan Allah tampak dari petunjuk sinar bintang itu. Matius 2:9 “…Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.”

Selain dari memberikan persembahan (bdk. Yesaya 60:6), para magi menyembah Anak itu. Luz menjelaskan, bahwa “menurut pemahaman Timur Dekat, penyembahan dilakukan terhadap orang yang mulia (tinggi), terutama raja”. Yesus, selain mulia, Ia juga adalah Raja. Maka di sini kita melihat bagaimana keyakinan para magi dengan mengatakan: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” (Mat. 2:2), mengantarkan mereka pada fakta yang sesungguhnya: “mereka menyembah Yesus” (Mat. 2:11).

KEENAM: Raymond E. Brown, The Anchor Bible Reference Library: The Birth Of The Messiah. A Commentary On the Infancy Narratives in the Gospels of Matthew and Luke (New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc. & Broadway, 1540)

Pertanyaan yang diajukan Brown mengenai teks Matius 2 adalah: “Apa yang Matius maksudkan dengan “magoi”? Brown menjelaskan, dalam sejarahnya, orang-orang Majus golongan yang memiliki kekuatan khusus untuk menafsirkan Mimpi.

Sekitar tahun 550 BC, orang majus dipandang sebagai imam Zoroastrian. Pada abad berikutnya ada diversifikasi (keragaman) mengenai fungsi orang Majus, yang mana istilah itu juga diterapkan pada seorang yang mahir dalam berbagai bentuk pengetahuan rahasia dan sihir. Bahkan mereka dianggap memiliki kekuatan menafsirkan mimpi dan pesan visioner (Daniel 1:20; 2:2; 4:4; 5:7).

Josephus menulis tentang Atomas, seorang Magus Siprus yang berfungsi di Caesarea Maritima di Palestin pada tahun 50-an. Dengan demikian, istilah  “Magi” mengacu pada mereka yang terlibat dalam seni okultisme dan mencakup berbagai astronom, peramal keberuntungan, pendeta ahli nujum, dan para penyihir dari berbagai kemungkinan (G. Delling,  “Magos”, 356-57).

Orang-orang majus yang dianggap berlatar belakang Zoroastrian diusulkan oleh Bapa Gereja yaitu Clement dari Alexandria (Stromata I 15). Memang, ada keyakinan patristik bahwa Zoroaster adalah seorang nabi yang telah meramalkan kedatangan Mesias.

Clement, “Stromata VI 5”, mengutip Rasul Paulus yang menyatakan bahwa dalam “Oracles of Hystapes” (campuran apokaliptik Persia dan pengetahuan Yahudi dari abad pertama sebelum Masehi atau Masehi) ada rujukan yang jelas kepada Anak Allah dan kedatangan-Nya. The later “Arabic Gospel of the Infancy”, 7:1, reports that “some magi came to Jerusalem according to the prediction of Zoroaster” [“Injil Arab tentang Masa Kanak-kanak”, 7:1, melaporkan bahwa “beberapa orang majus datang ke Yerusalem sesuai dengan nubuat Zoroaster”] [Clement, “Stromata VI 5”, mengutip Rasul Paulus untuk efek yang Oracles of Hystapes (abad pertama B.C. atau AD campuran kumpulan apokaliptik dan Yahudi) ada rujukan jelas kepada anak Allah dan kedatangannya. “Arabic Gospel of the Infancy” yang kemudian, 7:1, melaporkan bahwa “orang Majus datang ke Yerusalem menurut ramalan Zoroaster.”

Messina,  “Una profezia,” menganalisa perkembangan legenda ini di kalangan Kristen yang pada akhirnya mengidentifikasi Zoroaster dan Bileam. Ia melihat kemungkinan asal usul seluruh gagasan dalam doktrin Avesta mengenai harapan Sauiyant, seorang putra yang dilahirkan setelah kematian Zoroaster. Benih Zoroaster dipelihara di sebuah danau; dan ketika seorang perawan yang telah ditahbiskan akan mandi di sana, ia akan dihamili oleh itu.) Sosok langgeng ini adalah untuk membangkitkan orang mati dan menghancurkan kekuatan jahat. Namun, tidak ada bukti bahwa orang Kristen di zaman Matius tahu tentang pengharapan ini.

KETUJUH: Albert de Jong, “Matthew’s Magi as Experts on Kingship” dalam Peter Barthel and George van Kooten (eds.), The Star of Bethlehem and the Magi: Interdisciplinary Perspectives from Experts on the Ancient Near East, the Greco-Roman World, and Modern Astronomy (Leiden, Netherlands: Koninklijke Brill, 2015)

De Jong menjelaskan, kata Yunani “Magos”, secara umum diakui sebagai kata dari bahasa Persia kuno “Magu”, memiliki dua arti yang berbeda dalam bahasa Yunani. Di satu sisi, kata tersebut  mengidentifikasi Imam Zoroastrian, dan di sisi lain, mengacu pada jenis spesialis yang terkenal untuk menjadi ahli dalam hal “sihir”. De Jong menyebutkan, bahwa “ada pula yang beranggapan bahwa orang-orang majus berasal dari Helenis” seperti Molnar, Bidez, dan Cumont.

Dalam bukunya “The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi”, Dr. Michael R. Molnar, seorang astronom, menyatakan bahwa “kita bertemu dengan orang Majus dalam dua kapasitas yang berbeda: pertama, diklaim sebagai kepentingan sejarah saja—adalah para imam Zoroastrian; dan kedua, lebih baik sesuai dengan tujuannya—adalah bahwa dari astrolog Helenis (Molnar, Star of Bethlehem, 32–33). Akan tetapi, menurut de Jong, hampir segala sesuatu yang Molnar tuliskan tentang Magi Persia dan perkembangan semantik dari kata “Magos”, secara historis bermasalah (de Jong, “Matthew’s Magi as Experts on Kingship”, 275, pada catatan kaki).

Alasan mengapa astrolog ini harus dianggap Helenis adalah kenyataan bahwa astrologi Molnar telah disimpulkan dari narasi Matius—yang ia sarankan sebagai latar belakang yang paling masuk akal untuk cerita, dan memang, dengan maksud menopang sejarah narasi entah bagaimana—adalah bahasa Yunani daripada Mesopotamia. Pada kenyataannya, menurut D. Pingree, The Yavanajātaka of Spujidhvaja (Harvard Oriental Series 48; Cambridge MA: Harvard University Press, 1978), astrologi Yunani menyebar jauh dan luas dalam tiga abad pertama dari Common era, sepanjang jalan sampai India.

Pendapat bahwa para magi berasal dari Yunani juga dinyatakan oleh J. Bidez & F. Cumont, dan buku “Les mages hellénisés. Zoroastre, Ostanès et Hystaspe d’après la tradition grecque” (Paris: Les Belles Lettres, 1938; 2 vols., repr. 1973).

KEDELAPAN: H. Leo Boles, A Commentary On the Gospel According to Matthew. In One Volume (Nashville, Tennessee: Gospel Advocate Company, 1976)

Menurut Boles, “Timur”—maksudnya orang-orang majus—dapat berarti baik Arabia, Persia, Kasdim, atau Parthia dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Palestina. Jumlah mereka bukanlah tiga orang. Ada kemungkinan mereka dalam jumlah banyak (rombongan).

Nama orang Majus menjadi popular di masyarakat pada masa itu. Orang-orang Majus adalah mereka yang mengabdikan diri untuk mempelajari obat, astrologi, dan rahasia alam. Ada yang mengira bahwa orang-orang Majus ini adalah raja dan bahwa ada tiga dari mereka yang mewakili tiga keluarga Sem, Ham, dan Yafet, tetapi asumsi ini harus diabaikan.

Ada pula anggapan bahwa orang-orang majus berasal dari satu kasta agama (golongan masyarakat tertentu). Mereka dianggap memiliki keunggulan dalam hal ramalan. Dan mereka memandang bahwa peristiwa bersinarnya bintang di Timur mengisyaratkan ada sesuatu yang terjadi, termasuk keyakinan mereka akan datangnya (lahirnya) seorang pemimpin (raja) yang besar.

Orang-orang bijak ini datang ke Yerusalem. Kota ini dikenal di seluruh Timur. Orang Yahudi pada waktu itu telah tersebar di berbagai belahan dunia. Sepuluh suku Israel yang terserak sebagian besar berada di Parthia, walaupun ide dan harapan mereka tentang Mesias yang dijanjikan tidak begitu jelas. Yerusalem adalah pusat agama Yahudi dan pusat politik untuk provinsi itu. Adalah wajar bahwa orang-orang majus ini akan datang ke Yerusalem untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai raja yang baru dilahirkan itu.

KESEMBILAN: Robert H. Gundry, A Commentary on His Literary and Theological Art: MATTHEW (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1983).

Gundry berpendapat bahwa, kedatangan orang-orang majus untuk datang menyembah Yesus membuka pintu masuk bagi para murid dari semua bangsa untuk mengakui Yesus sebagai Raja orang Yahudi dan menyembah Dia sebagai Allah (p. 26). Menurut saya, hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan malaikat Tuhan: “…sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Lukas 2:10) dan perintah Yesus di kemudian hari meneguhkan hal yang sama: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.

KESEPULUH: R. T. France, The New International Commentary On The New Testament. The Gospel of Matthew (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2007)

France berpendapat, bahwa bintang yang memainkan peranan penting dalam cerita ini mengundang refleksi tentang nubuatan Bileam dalam Bilangan 24:17-19 tentang kebangkitan (LXX “anatelei”, yang disebutkan dalam Matius, 2:9, anatolē) dari “bintang terbit dari Yakub dan tongkat dari Israel”.

Teks Bilangan 24:17-19 juga dirujuk oleh beberapa penafsir lain untuk menghubungkannya dengan bintang yang dilihat oleh para magi di Timur (sudah saya sebutkan di atas). Jika pola penafsiran ini dianggap akurat, maka pertanyaan penting di sini yang dapat diajukan adalah “apakah pasca penulisan teks Bilangan tersebut, “bintang terbit dari Yakub” telah tergenapi sebelum Yesus dilahirkan? Memang, setiap penafsir perlu melihat konteks dari teks yang ditulis, tetapi kita juga tak dapat memungkiri penggenapan dari setiap teks yang ditulis, apalagi yang mengandung nubuatan. Korelasi antara teks nubuatan dengan penggenapannya adalah konsekuensi sekaligus konsistensi logis.

Dari berbagai penjelasan di atas mengenai identitas orang-orang majus—berdasarkan perluasan dari mikroteks Matius 2:-12 sebagaimana terlihat pada sumber-sumber rujukan yang telah disebutkan—bintang di Timur, yang dikorelasikan dengan nubuatan dalam PL, maupun maksud kedatangan mereka untuk menyembah Yesus, dapat disimpulkan bahwa:

Pertama, peristiwa kelahiran Yesus adalah fakta historis (baik dalam mikroteks Matius 2:1-2, maupun makroteks inkarnasi Yesus dalam Injil Lukas dan Yohanes), termasuk mengenai bintang yang dilihat oleh para magi di Timur yang menuntun mereka sampai di tempat di mana Yesus berada. Kelahiran Yesus terjadi secara ajaib yang menghimpun para gembala, dan orang-orang majus, bahkan menghimpun kita semua dari segala suku, bahasa, dan bangsa.

Kedua, bintang di Timur mengisyaratkan kepada orang-orang majus bahwa telah lahir seorang Raja berdasarkan waktu yang ditetapkan Allah, meski di sisi lain mereka memiliki ramalan dan makrofidēi (keyakinan [iman] yang besar) mengenai datangnya seorang pemimpin besar melalui petunjuk bintang yang bersinar di Timur.

Ketiga, identitas orang majus mengisyaratkan bahwa mereka adalah orang-orang mulia yang secara sosial memiliki prestise. Persembahan mereka adalah tanda bahwa mereka bukanlah orang-orang biasa. Dari mana pun mereka berasal, tidak menjadi soal, tetapi yang terpenting adalah adalah ramalan dan keyakinan mereka—makrofidēi—akan lahirnya seorang raja (pemimpin) yang besar yang ditandai dengan bintang di Timur, telah mengantarkan mereka pada fakta bahwa keyakinan mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka menemukan Yesus, dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur, serta menyembah Dia (Mat. 2:11), sesuai perkataan mereka (Mat. 2:2).

Keempat, bintang Raja Yahudi yang terlihat di Timur, menuntun orang-orang majus untuk datang menyembah-Nya. Keyakinan akan ilmu ramalan mereka, setidaknya harus dibuktikan bahwa apa yang mereka yakini (makrofidēi) soal “bintang” itu, adalah benar: seorang Raja telah lahir. Apa yang dinyatakan malaikat Tuhan bahwa: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” adalah pembuktian bahwa memang Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Keyakinan orang-orang majus mengenai lahirnya seorang Raja yang lahir berdasarkan petunjuk bintang di Timur, mengkonfirmasi berita dari malaikat Tuhan.

Keyakinan orang-orang majus untuk datang menyembah Raja yang baru dilahirkan itu, bukanlah usaha coba-coba. Mereka benar-benar yakin bahwa seorang Raja telah lahir, dan oleh karena itu mereka sekaligus membawa harta benda mereka: emas, kemenyan, dan mur. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Hati mereka terisi dengan keyakinan, maka tangan mereka juga terisi dengan harta benda yang akan dipersembahkan kepada Raja yang baru lahir itu. Mereka yakin bahwa ramalan mereka tidak meleset, benar, dan tepat. Keyakinan itu berbuahkan hasil: benar, ada seorang Raja yang baru dilahirkan.

Kelima, apa yang dikatakan oleh malaikat Tuhan kepada para gembala: “…sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa….” dibuktikan oleh datangnya orang-orang majus dari Timur, berbekal makrofidēi mereka atas ramalan. Tidak hanya itu, berita malaikat itu tidak berhenti pada peristiwa Natal Yesus saja, tetapi hingga sekarang ini, kesukaan besar untuk seluruh bangsa telah terpenuhi. Dengan demikian, kita pun melihat bahwa berita itu, dikonfirmasi oleh Yesus sendiri: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.

Keenam, Natal Yesus Kristus menghadiahkan hal-hal luar biasa dan spektakuler bagi Maria dan Yusuf, bagi Elizabeth (Lukas 1:39-45), para gembala, bala tentara sorga, bagi orang-orang majus (berdasarkan mikroteks Matius 2:1-2), dan bagi kita, yang memahami sekaligus mengimani bahwa kelahiran Sang Logos dalam wujud manusia adalah karena dilandasi oleh kasih-Nya yang tak terkira itu (bdk. Yoh. 3:16).

Sudahkah kita benar-benar menyembah Raja Damai, yaitu Yesus Kristus? Sudahkah kita datang pada-Nya dan mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya? Sudahkah kita meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Raja dan Juruselamat dunia? Apakah kita siap berjuang untuk tetap mempertahankan iman kepada Yesus Kristus, bahkan memiliki makrofidēi, sama seperti orang-orang majus yang memiliki makrofidēi dan mempertahankannya, bahwa ramalan mereka mengenai lahirnya seorang raja, adalah benar berdasarkan petunjuk bintang-Nya di Timur.

Mikroteks Matius 2:1-2 dan makrofidēi orang-orang majus adalah kisah yang menarik, yang sekaligus memberikan kita kenangan historis bahwa Natal Yesus Kristus adalah suatu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Makrofidēi akan mengarahkan hidup kita—sama seperti para magi—kepada kehidupan yang berkenan kepada-Nya yaitu mempersembahkan yang terbaik pada-Nya, dan sujud menyembah-Nya, kini dan selamanya.

Salam Bae…

Bibliografi

Albert de Jong, “Matthew’s Magi as Experts on Kingship” dalam Peter Barthel and George van Kooten (eds.), The Star of Bethlehem and the Magi: Interdisciplinary Perspectives from Experts on the Ancient Near East, the Greco-Roman World, and Modern Astronomy (Leiden, Netherlands: Koninklijke Brill, 2015).

Craig L. Blomberg, The New American Commentary: Matthew (Broadman Press, Nashville Tennessee, 1992).

Frank E. Gaebelein (ed.), Matthew, Mark, Luke. The Expositor’s Bible Commentary’ Volume 8 (Grand Rapids, Michigan, Zondervan Corporation, 1984).

Frederick Dale Bruner A Commentary Matthew 1-12. Revised and Expanded Edition (Grand Rapids, Wm. Eerdmans, 2004).

Gleason L. Archer, Jr., Encyclopedia of Bible Difficulties, terj. Suhadi Yeremia (Malang: Gandum Mas, 2014).

H. Leo Boles, A Commentary On the Gospel According to Matthew. In One Volume (Nashville, Tennessee: Gospel Advocate Company, 1976).

Herbert W. Basser dan Marsha B. Cohen, A Relevance-based Commentary. The Gospel of Matthew and Judaic Traditions (Leiden: Brill, 2015).

R. T. France, The New International Commentary On The New Testament. The Gospel of Matthew (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2007).

Raymond E. Brown, The Anchor Bible Reference Library: The Birth Of The Messiah. A Commentary On the Infancy Narratives in the Gospels of Matthew and Luke (New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc. & Broadway, 1540).

Robert H. Gundry, A Commentary on His Literary and Theological Art: MATTHEW (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1983).

Ulrich Luz, Hermeneia: A Critical and Historical Commentary on the Bible. Matthew 1–7: A Commentary. Translated by James E. Crouch. Edited by Helmut Koester (Augsburg: Fortress Press, 2007).

REFERENSI TAMBAHAN untuk memahami Magi dan Injil Matius, termasuk sumber-sumber yang digunakan oleh A. de Jong.

Ahmadi, A. “The magoi and daimones in Column VI of the Derveni Papyrus.” Numen 61 (2014): 484–508.

Aus, R. D. “The Magi at the Birth of Cyrus, and the Magi at Jesus’ Birth in Matthew 2:1–12.” Pages 99–114 in Religion, Literature, and Society in Ancient Israel: Formative Christianity and Judaism. Edited by J. Neusner. Lanham, MD: University Press of America, 1987.

Beck, R. L. “History into Fiction: The Metamorphoses of the Mithras Myths.” Ancient Narrative 1 (2001–2002): 283–300.

Beck, R. L. “Thus Spake Not Zarathuštra: Zoroastrian Pseudepigrapha of the Greco-Roman World.” Pages 491–565 A History of Zoroastrianism III: Zoroastrianism under Macedonian and Roman Rule, by M. Boyce and F. Grenet. Leiden: Brill, 1991.

Bidez, J., and F. Cumont. Les mages hellénisés. Zoroastre, Ostanès et Hystaspe d’après la tradition grecque. Paris: Les Belles Lettres, 1938.

Boyce, M. A History of Zoroastrianism II. Under the Achaemenians. Leiden: Brill, 1982.

Bremmer, J. N. “Persian Magoi and the Birth of the Term ‘Magic.’ ”, Pages 235–48 in Greek Religion and Culture, the Bible and the Ancient Near East. Edited by J. N. Bremmer. Leiden/Boston: Brill, 2008.

Brown, R. E. The Birth of the Messiah: A Commentary on the Infancy Narratives in Matthew and Luke. Garden City, NY: Doubleday, 1977.

Buckley, J. J. “The Mandaean Appropriation of Jesus’ Mother, Miriai.” Novum Testamentum 35 (1993): 181–96.

Burkert, W. Babylon, Memphis, Persepolis: Eastern Contexts of Greek Culture. Cambridge, MA/London: Harvard University Press, 2004.

Cumont, F. “L’iniziazione di Nerone da parte di Tiridate d’Armenia.” Rivista di Filologia 11 (1933): 145–54.

Derrett, J. D. M. “Further Light on the Narratives of the Nativity.” Novum Testamentum 17 (1975): 81–108.

Dorival, G. “ ‘Un astre se lève de Jacob’: L’interprétation ancienne de Nombres 24,17.” Annali di storia dell’esegesi 13 (1996): 295–352.

Ferrari, F. “Rites without Frontiers: Magi and Mystae in the Derveni Papyrus.” Zeitschrift für Papyrologie und Epigraphik 179 (2011): 71–83.

Gordon, R. “Magian Lessons in Natural History: Unique Animals in Graeco-Roman Natural Magic.” Pages 249–69 in Myths, Martyrs, and Modernity. Studies in the History of Religions in Honour of Jan N. Bremmer. Edited by J. Dijkstra, J. Kroesesn, and Y. Kuiper. Numen Book Series 127. Leiden: Brill, 2010.

Gordon, R. “Magic as a Topos in Augustan Poetry: Discourse, Reality, and Distance.” Archiv für Religionsgeschichte 11 (2009): 209–29.

Gyselen, R. “Les sceaux des mages dans l’Iran sassanide.” Pages 121–50 in Au carrefour des religions. Mélanges offerts à Philippe Gignoux. Edited by R. Gyselen. Res Orientales 7. Bures-sur-Yvette: Peeters, 1995.

Hegedus, T. “The Magi and the Star in the Gospel of Matthew and Early Christian Tradition.” Laval Theologique et Philosophique 59 (2003): 81–95.

Hegedus, T. “The Magi and the Star of Matthew 2:1–12 in Early Christian Tradition.” Studia Patristica 39 (2006): 213–17.

Hengel, M., and H. Merkel. “Die Magier aus dem Osten und die Flucht nach Agypten (Mt. 2) im Rahmen der antiken Religionsgeschichte und der Theologie des Matthäus.” Pages 136–69 in Orientierung an Jesus: zur Theologie der Synoptiker. Edited by P. Hoffmann, N. Brox, and W. Pesch. Freiburg i.Br.: Herder, 1973; rev. edition: M. Hengel, Jesus und die Evangelien. Vol. 5 of Kleine Schriften. Tübingen: Mohr Siebeck, 2007, 323–46.

Henkelman, W. The Other Gods Who Are: Studies in Elamite-Iranian Acculturation Based on the Persepolis Fortification Tablets. Leiden: NINO, 2008.

Hjerrild, B. “The Survival and Modification of Zoroastrianism in Seleucid Times.” Pages 140–50 in Religion and Religious Practice in the Seleucid Kingdom. Edited by P. Bilde. Aarhus, Denmark: Aarhus University Press, 1990.

Holtmann, T. Die Magier vom Osten und der Stern: Mt 2, 1–12 im Kontext fruhchristlicher Traditionen. Marburg: Elwert, 2005.

Horky, P. S. “Persian Cosmos and Greek Philosophy: Plato’s Associates and the Zoroastrian magoi.Oxford Studies in Ancient Philosophy 37 (2009).

Horsley, R. A. “Messiah, Magi, and Model Imperial King.” Pages 139–61 in Christmas Unwrapped: Consumerism, Christ, and Culture. Edited by R. A. Horsley and J. Tracy. Harrisburg, PA: Trinity Press International, 2001.

Hultgard, A. “Prêtres juifs et mages zoroastriens: Influences religieuses à l’époque hellénistique.” Revue d’Histoire et de Philosophie Religieuses 68 (1988): 415–28.

Huyse, Ph. Die driesprachige Inschrift Šābuhrs I. an der Kaba-i Zardušt. London: School of Oriental and African Studies, 1999.

Jenkins, R. M. “The Star of Bethlehem and the Comet of AD 66.” Journal of the British Astronomy Association 114 (2004): 336–43.

Jong, A. de. Traditions of the Magi: Zoroastrianism in Greek and Latin Literature. Religions in the Graeco-Roman World 133. Leiden: Brill, 1997.

Jong, A. de. “The Contribution of the Magi.” Pages 85–99 in Birth of the Persian Empire, vol. 1. Edited by V. S. Curtis and S. Stewart. London/New York: I. B. Tauris, 2005.

Jong, A. de.. “Religion at the Achaemenid Court.” Pages 533–58 in Der Achämenidenhof. The Achaemenid Court. Edited by B. Jacobs and R. Rollinger. Classica et Orientalia 2.  Wiesbaden: Harrassowitz, 2010.

Kingsley, P. “Meetings with Magi: Iranian Themes among the Greeks, from Xanthus of Lydia to Plato’s Academy.” Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland 5 (1995).

Koch, H. Die religiösen Verhältnisse der Dareioszeit. Untersuchungen an Hand der elamischen Persepolistäfelchen. Wiesbaden: Harrassowitz, 1977.

Kotansky, R. “The Star of the Magi: Lore and Science in Ancient Zoroastrianism, the Greek Magical Papyri, and St Matthew’s Gospel.” Annali di storia dellesegesi 24 (2007): 379–421.

Maalouf, T. T. “Were the Magi from Persia or Arabia?” Bibliotheca Sacra 156 (1999): 423–42.

Markschies, C. “Does It Make Sense to Speak about a ‘Hellenisation of Christianity’ in Antiquity?” Church History and Religious Culture 92 (2012): 5–34.

Mayer, G. Und das Leben ist siegreich. Ein Kommentar zu den Kapiteln 1833 des Johannesbuches der Mandäer: Der Traktat über Johannes den Täufer. Ph.D. diss, University of Heidelberg, 1996.

Merkt, A. “Augustinus, die Magie und die ‘Magi ex Oriente.’ ” Annali di storia dell’esegesi 24 (2007): 463–83.

Molnar, M. R. The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi. New Brunswick, NJ/London: Rutgers University Press, 1999.

Momigliano, A. Alien Wisdom: The Limits of Hellenization. Cambridge: Cambridge University Press, 1975.

Monneret de Villard, U. Le leggende orientali sui magi evangelici. Studi e Testi 163. Citta del Vaticano: Biblioteca Apostolica Vaticana, 1952.

Nesselrath, H.-G., B. Babler, M. Forschner, and A. de Jong. Menschliche Gemeinschaft und göttliche Ordnung: Die Borysthenes-Rede. Darmstadt: Wissenschaftliche Buchgesellschaft, 2003. New York/ Cologne: Brill, 1997.

Nicklas, T. “Balaam and the Star of the Magi.” Pages 233–46 in The Prestige of the Pagan Prophet Balaam in Judaism, Early Christianity and Islam. Edited by G. H. van Kooten and J. van Ruiten. Leiden/Boston: Brill, 2008.

Nock, A. D. “Greeks and Magi.” Journal of Roman Studies 30 (1940): 191–98.

Nock, A. D. “Greeks and Magi.” Pages 516–26 in Essays on Religion and the Ancient World. Edited by Z. Stewart. Oxford: Clarendon Press 1972 (1940).

Nolland, J. “The Sources for Matthew 2:1–12.” Catholic Biblical Quarterly 60 (1998): 283–300.

Otto, B.-C. Magie: Rezeptions- und diskursgeschichtliche Analysen von der Antike bis zur Neuzeit. Religionsgeschichtliche Versuche und Vorarbeiten 57. Berlin: De Gruyter, 2011.

Panaino, A. I magi e la loro stella: Storia, scienza e teologia di un racconto evangelico. Milano: Edizioni San Paolo, 2012.

Pesch, R. Die matthäischen Weihnachtsgeschichten: Die Magier aus dem Osten, König Herodes und der bethlehemitische Kindermord; Mt 2 neu übersetzt und ausgelegt. Paderborn: Bonifatius, 2009.

Powell, M. A. “The Magi as Wise Men: Re-examining a Basic Supposition.” New Testament Studies 46 (2000): 1–20.

Quack, J. F. “Les Mages Egyptianises? Remarks on Some Surprising Points in Supposedly Magusean Texts.” Journal of Near Eastern Studies 65 (2006): 267–82.

Reiser, M. “ ‘Siehe, da kamen Magier aus dem Osten nach Jerusalem . . .’: Zu welcher literarischen Gattung gehört die Geschichte in Mt 2?” Trierer Theologische Zeitschrift 122 (2013): 34–47.

Rives, J. B. “Magus and Its Cognates in Classical Latin.” Pages 53–77 in Magical Practice in the Latin West. Edited by R. L. Gordon and F. M. Simon. Religions in the Graeco-Roman World 168. Leiden: Brill, 2010.

Robinson, B. P. “Matthew’s Nativity Stories: Historical and Theological Questions for Today’s Readers.” Pages 110–31 in New Perspectives on the Nativity. Edited by J. Corley. London/New York: T&T Clark, 2009.

Russell, J. R. Zoroastrianism in Armenia. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1987.

Styers, R. Making Magic: Religion, Magic, and Science in the Modern World. New York: Oxford University Press, 2004.

West, S. R. “Lo, Star-led Chieftains . . . : Aeneas and the Magi.” Omnibus 30 (1995).

Zaehner, R. C. The Teachings of the Magi: A Compendium of Zoroastrian Belief. London: Allen & Unwin, 1956.

BINTANG TIMUR DALAM KAITANNYA DENGAN YESUS KRISTUS

Matius 2:2 mencatat mengenai kerinduan orang-orang Majus untuk menyembah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu karena mereka telah melihat bintang-Nya di Timur. Dari catatan Matius kita mengetahui bahwa orang-orang Majus menafsirkan bintang yang di timur itu adalah tanda bahwa seorang raja telah lahir. Fenomena ini mungkin baru pertama kali terjadi dalam sejarah penafsiran mereka terhadap perbintangan.

Di sini tampak bahwa Allah mengundang sekaligus menegaskan kepada orang-orang Majus bahwa Allah sangat berkuasa untuk memperlihatkan bahwa bintang dapat digunakan sebagai “media” penyataan Allah atas diri dan kehendak-Nya yang dalam konteks ini adalah lahirnya Sang Logos Allah yang kekal (bdk. Yoh. 1:1-3, 14). Allah hendak memberitakan tanda kepada orang-orang Majus bahwa apa yang mereka tafsirkan dan yakini mengenai bintang yang bersinar terang di timur merupakan tanda bahwa Raja yang Kekal lahir ke dalam dunia. Jika orang-orang Majus merindukan sebuah bintang yang bersinar terang dalam sepanjang sejarah penafsiran perbintangan mereka, kini Allah meneguhkannya dalam sejarah mereka maupun dalam sejarah dunia secara global.

Fenomena bintang di Timur yang bersinar terang sekaligus menancapkan keyakinan orang-orang Majus bahwa mereka harus datang menyembah dan mempersembahkan kepada Sang Raja yang telah lahir itu sebagai konfirmasi bahwa kerinduan mereka untuk mendambakan seorang Raja berdasarkan tafsir perbintangan telah dipenuhi, dipuaskan Allah, dan dipakai Allah untuk menjadi catatan sejarah yang sangat penting. Yesus sendiri kemudian meneguhkan identitas-Nya sebagai “bintang timur yang gilang-gemilang” (Why. 22:16). Sang Bapa meneguhkan bahwa bintang timur adalah tanda Sang Raja telah lahir dalam rupa manusia yaitu Yesus Kristus, dan Yesus Kristus meneguhkan diri-Nya sebagai bintang timur yang gilang-gemilang. Sinar bintang timur telah memikat hati para orang Majus. Betapa tidak, cahaya gilang-gemilang itu begitu indah dipandang dan memuaskan kerinduan mereka. Ini sulit dibayangkan betapa bahagianya orang-orang Majus. Mungkin—dalam pemahaman saya—sebagai ungkapan sukacita dan terpikatnya mereka terhadap cahaya bintang timur itu, maka mereka datang “menyembah” Yesus dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur.

Memang tidak disebutkan berapa banyak persembahan emas, kemenyan dan mur yang diberikan kepada Yesus (Mat. 2:11), tetapi yang pasti apa yang mereka berikan tidak sedikit karena mereka sangat bersukacita dan terpuaskan karena keyakinan tafsir mereka tentang bintang timur yang bercahaya itu.

Mengenai bintang yang dilihat oleh orang Majus, dapat dijelaskan sebagai berikut: Frasa “‘bintang-Nya’ bukan berarti Yesus memiliki bintang itu, tetapi berarti ‘sebuah bintang yang mengabarkan/mengisyaratkan kelahiran-Nya atau bintang yang menunjukkan bahwa Dia sudah lahir. Matthew E. Carlton, Injil Matius: Terjemahan Khusus untuk Penerjemahan dan Pendalaman Alkitab, Jakarta: Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia [Kartidaya], 2002, 14. Profesor J. H. Bavink menjelaskan bahwa orang-orang Majus dipanggil oleh bintang dan gembala-gembala dipanggil oleh malaikat-malaikat. Allah membawa orang-orang kepada Yesus dari segala jurusan agar Yesus mendapat kehormatan yang selayaknya. J. H. Bavink, Sejarah Kerajaan Allah: Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, 75. Bavink menjelaskan bukan saja di Babel, akan tetapi juga di Mesir dan di seluruh Timur, sejak dulu kala dianut pendapat bahwa bintang-bintang menyatakan kehendak langit kepada manusia…dalam konteks yang dibicarakan oleh Matius adalah orang-orang Majus tahu bahwa dengan adanya tanda di langit yaitu “bintang” mengisyaratkan bahwa ada sesuatu hal yang besar yang terjadi. Dan hal besar itu adalah kelahiran seorang Raja yaitu Yesus (Bavink, Sejarah Kerajaan Allah, 76).

ORANG-ORANG MAJUS YANG DATANG DAN MEMBERIKAN PERSEMBAHAN

Siapakah orang-orang Majus? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mengutip beberapa hal penting yang menjelaskan sedikit identitas mereka. Pakar Perjanjian Baru, Leon Morris dalam tafsiran “Injil Matius” (Surabaya, Momentum: 2016, 38) mejelaskan bahwa orang-orang majus bukanlah orang-orang berhikmat dalam pengertian umum, tetapi orang-orang yang mempelajari perbintangan, yaitu “orang bijak dan imam (Persia … tetapi kemudian juga Babel), yang ahli dalam astrologi, tafsir mimpi, dan beragam seni rahasia lainnya” (dikutip dari Walter Bauer, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, diperluas oleh William F. Arndt, F. Wilbur Gingrich, dan Frederick W. Danker [BAGD], dari edisi ke-5 [Chicago, 1979]).

Orang Majus adalah astrolog-astrolog, yaitu orang yang mencoba menentukan arti bintang-bintang di langit untuk sejarah dunia (J. J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius, Pasal 1-22, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003, 22). Menurut  Matthew E. Carlton, orang Majus (bijak) adalah ahli perbintangan atau orang yang mengamati bintang-bintang dari negeri babel yang merupakan keturunan murid-murid nabi Daniel (Dan. 2:48). Bertrand Russell menjelaskan, Babel (Babilonia), lebih mengutamakan kesejahteraan di dunia … Ilmu sihir, pernujuman, dan astrologi, meski bukan yang khas Babilonia, lebih banyak dikembangkan di sini…. Dari babilonia pun lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian hari-hari menjadi 24 jam, dan lingkaran menjadi 360 derajat, juga ditemukannya siklus gerhana, yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat, dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan. Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, 6.

Menurut Morris, banyak penafsir menganggap bahwa orang-orang Majus berasal dari Babel, dan mereka bisa jadi benar, meski hal ini tidak bisa dipastikan. Studi perbintangan membuat mereka percaya bahwa seorang pemimpin besar telah lahir di Yudea. Karena itu, wajar jika pencarian mereka dimulai dari Yerusalem sebagai ibu kota (Morris, 2016: 38). Sebagaimana disebutkan di atas, orang-orang Majus adalah mereka yang mempelajari perbintangan (astrologi) tentu mengaitkan ilmu perbintangan dengan dunia tafsir yang dengan demikian membawa mereka kepada sebuah kesimpulan bahwa “bintang yang mereka lihat di timur bukanlah bintang biasa; bintang itu menampilkan cahaya yang lain dari yang lain sehingga mereka meyakini bahwa ada seorang Raja yang dilahirkan.” Hal ini selaras dengan catatan Matius 2:1-2, “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: ‘Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.’”

Keyakinan akan Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu berdasarkan petunjuk bintang di timur mendorong orang-orang Majus untuk pergi menyembah Sang Raja tersebut. Mengapa mereka yakin untuk menyembah-Nya? Hal ini sangat bergantung pada tafsir mereka tentang bintang di timur itu. Morris menjelaskan, “Sangat mungkin Matius memasukkan kisah orang Majus [magos] untuk menyingkapkan kebenaran bahwa Yesus adalah Tuhan atas semua orang; karena Yesus adalah Tuhan atas semua orang, adalah sesuai jika di saat kelahiran-Nya, orang-orang dapat dari negeri yang jauh untuk memberikan penghormatan” (Morris, 2016: 36-37). Orang-orang Majus diundang Allah untuk diperlihatkan kepada mereka bahwa ada Raja yang telah lahir di Betlehem sesuai dengan nubuatan Nabi Mikha (5:1). Allah memperlihatkan bahwa metode perbintangan dan ramalan dari manusia—yang dalam hal ini adalah suku “Magoi” yang terwakili oleh orang-orang Majus dari Timur, membawa mereka kepada sebuah fenomena langka yaitu bintang yang bersinar di timur dan diyakini mereka sebagai datangnya [lahirnya] seorang Raja.

Istilah “magos”, menurut Morris, pertama-tama berarti anggota dari suku Magoi. Di kemudian hari, kata ini dipakai untuk menyebut anggota dari sekte sakral yang menjalankan praktik-praktik sihir dan setelah itu, dipakai untuk menyebut penyihir pada umumnya (Kis. 13:6, 8). Kata “magic” (sihir) berasal dari kata ini (Morris, 2016: 38). Orang-orang Majus yang hendak menjumpai Raja yang dilahirkan di Betlehem memiliki kerinduan yang kuat bahwa apa yang mereka ramalkan sangatlah benar. Menurut Morris, orang-orang Majus melaporkan suatu fenomena astronomi yang mereka kaitkan dengan raja tertentu, raja orang Yahudi (2016: 39). Itulah yang tertuang dalam teks Matius 2:2, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Implikasi dari bintang timur itu adalah “penyembahan kepada Yesus”—Sang Raja yang telah lahir. Menurut Morris, penyembahan kepada Kristus merupakan hal penting bagi Matius. Ia merujuk penyembahan ini sebanyak 10 kali (2:2, 8, 11; 8:2; 9:18; 14:33; 15:25; 20:20; 28:9, 17). Penyembahan kepada Yesus menandakan bahwa Ia bukanlah manusia biasa; Ia adalah Allah dalam arti substansial-Nya. Fakta ini menunjukkan keilahian Yesus dan sekaligus pra-eksistensi Yesus yang adalah Allah yang sejati, Logos Allah yang kekal menunjukkan kuasa-Nya menjadi manusia. Tak ada yang mustahil bagi Dia.

Masih terkait dengan mengenai kaitan antara bintang timur dan orang-orang Majus. Gleason L. Archer, Jr. Menjelaskan bahwa,

Dalam hal bintang Natal Kristus, orang-orang Majus yang melihat bintang tersebut merupakan pemberitahuan bahwa bayi Kristus telah lahir. Kita mengetahui hal ini sebab jangkauan dari perintah Herodes kepada satuan pembantai yang dikirimnya ke Betlehem: “Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang Majus itu, ia sangat marah. Lalu, ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang Majus itu (Mat. 2:16). Karena itu, bintang tersebut pasti telah muncul ketika Yesus lahir, dan pastilah orang-orang Majus itu memerlukan lebih dari satu tahun untuk bisa sampai di Yerusalem dan kemudian berbincang-bincang dengan Herodes. Bintang itu bukanlah suatu peringatan yang datang mendahului, melainkan pemberitahuan satu fakta yang sudah terjadi (Archer Jr., Encyclopedia of Bible Difficulties. Malang: Gandum Mas, 2014, 539).

Dari penjelasan Archer Jr. di atas, orang-orang Majus datang bukan pada saat Yesus lahir, tetapi lama setelah itu. Kira-kira Yesus sudah berumur satu tahun lebih. Hal ini dipertegas oleh perintah pembunuhan terhadap anak-anak di Betlehem dan sekitarnya, yang berumur dua tahun ke bawah (Mat. 2:16). Kemudian, orang-orang Majus bukan hanya terdiri atas tiga orang yang mungkin dihitung berdasarkan jumlah persembahan mereka yaitu emas, kemenyan, dan mur. Jika perjalanan orang-orang Majus lebih dari satu tahun, tidak mungkin yang pergi ke Betlehem hanya tiga orang. Kemungkinan besar mereka dalam jumlah yang banyak (rombongan), apalagi yang pergi adalah orang-orang penting, pasti mereka memiliki pelayan-pelayan yang membawa bekal yang banyak.

Menurut Archer Jr., orang-orang Majus menerima pemberitahuan Allah lewat bintang tersebut, yang memerintahkan mereka untuk mencari Raja yang baru lahir, sebab mereka mengerti bahwa Dia telah ditetapkan menjadi Penguasa atas seluruh dunia – termasuk negeri mereka sendiri (yang kemungkinan adalah Persia, sebab ilmu nujum beredar sangat aktif di sana pada zaman kuno). Oleh karena itu mereka membentuk kafilah untuk rombongan tersebut dan melakukan perjalanan suci ke kerajaan bangsa Yahudi. (Archer Jr., Encyclopedia of Bible Difficulties, 2014, 539-40). Archer Jr., menambahkan, mereka ingin datang untuk menyembah dan memberikan penghormatan kepada Sang Bayi yang diutus Allah untuk menjadi Raja atas bangsa Yahudi dan juga atas seluruh bumi. Matius (2:9) mencatat: “Bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.” Jelas bahwa ini adalah bintang adikodrati yang dikirim oleh Allah untuk memberikan petunjuk khusus bagi mereka. (Archer Jr., Encyclopedia of Bible Difficulties, 540).

Bintang timur yang ditafsir oleh orang-orang Majus sebagai lahirnya seorang Raja dibarengi dengan dua tindakan yaitu menyembah Sang Raja itu dan memberikan persembahan kepada-Nya sebagai tanda penghormatan, tanda kegembiraan, tanda kepuasan pengharapan, dan tanda bahwa Raja itu berkuasa atas kehidupan dunia. Persembahan orang-orang Majus bukanlah persembahan biasa tetapi persembahan yang bernilai tinggi. Kemungkinan persembahan tersebut digunakan untuk biaya perjalanan ke Mesir (Mat. 2:13) karena Herodes akan membunuh Yesus, perjalanan dari Mesir ke tanah Israel (Mat. 2:21), perjalanan ke Galilea (Mat. 2:22) dan tinggal di kota Nazaret, juga kebutuhan lainnya.

MAKNA BINTANG TIMUR

Bintang timur dipakai Allah untuk mengundang orang-orang Majus datang menyembah Yesus, Sang Logos Ilahi yang menjadi manusia, serta memberikan persembahan kepada-Nya sebagai tanda penghormatan. Allah Bapa memiliki cara yang unik namun suprematif. Bapa ingin memperlihatkan bahwa bintang yang adalah ciptaan-Nya dapat dipakai sebagai media untuk membawa manusia mengenal dan menyembah Dia. Dalam hal ini, Sang Bapa mengutus Logos-Nya menjadi manusia untuk tujuan penyelamatan manusia yang berdosa.

Jika memperluas penjelasan F. F. Bruce yang menulis tentang kejadian orang-orang Majus datang dari Timur untuk menyembah bayi Raja orang Yahudi, yang secara tradisional dianggap sebagai “epiphani” atau “manifestasi” Kristus kepada orang-orang kafir, maka menurut saya, bintang timur memiliki makna yang sangat dalam dan kuat, bahwa bintang timur memberikan tafsir perbintangan secara baru dalam dunia astrologi mereka yang kemudian menghasilkan penyembahan kepada Sang Raja, Yesus Kristus itu sebagai tanda penghormatan yang luar biasa. Tidak hanya itu, bintang timur membawa masuk orang-orang di luar Israel (non Israel) yang adalah umat pilihan Tuhan, yaitu orang-orang Majus, sebagaimana yang dijelaskan Bruce di atas.

Bintang timur bermakna bahwa Allah Bapa memperluas jangkauan keselamatan-Nya kepada bangsa-bangsa lain selain Israel. Bintang timur membawa kepuasan, kehormatan, dan penyembahan (diikuti dengan persembahan orang-orang Majus).

Bintang timur adalah Yesus Kristus itu sendiri (Why. 22:16). Yesus adalah cahaya kemualian Allah (sebagai analogi dari cahaya bintang timur yang bersinar; bdk. Ibrani 1:3, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan”). Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat KEMULIAAN-Nya, yaitu KEMULIAAN yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.   

Bintang timur adalah petunjuk yang mengarahkan manusia kepada Allah; Yesus Kristus adalah jalan menuju Bapa: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6:40). “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh. 6:44). “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya” (Yoh. 6:65). “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Bintang timur adalah pemberi kehidupan dan pengharapan, sebagaimana orang-orang Majus yakin bahwa ada harapan di balik bintang timur yang menjadi petunjuk bagi mereka. Jika ada harapan pasti ada kehidupan.

Bintang timur mengarahkan manusia untuk menghormati Sang Bapa, yang dari-Nya Logos Ilahi keluar dan menjadi manusia: “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia” (Yoh. 5:22-23).

Bintang timur menegaskan bahwa untuk mengenal Sang Raja, kita harus diubahkan oleh cahaya kuasa Yesus yang menerangi hati yang gelap dan pikiran yang keliru. Yesus Kristus adalah “Terang Dunia” [Lux Mundi]. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Teks tersebut merupakan penggenapan nubuat Yesaya 9:1 yang dikutip kembali oleh Matius (4:16), “Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.”

Bintang timur adalah hadiah kepada dunia yang berdosa tanpa memandang batasan wilayah, bangsa, dan sebagainya. Tepatlah apa yang dituliskan Rasul Yohanes: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Undangan Allah sungguh luar biasa. Ia menggunakan “bintang timur” untuk membawa orang-orang Majus menyembah Sang Logos Ilahi, Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia. Kekuasaan Allah dinyatakan tidak hanya melalui alam semesta sebagai media pertunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa itu, tetapi Allah menggunakan diri-Nya sendiri untuk membuktikan bahwa “tidak ada yang mustahil bagi-Nya”: Logos [Firman] menjadi daging [manusia] dan diam di antara kita. Bukankah menarik dan sungguh luar biasa ketika Allah datang mengunjungi manusia dan bersahabat dengan manusia? Bukankah sungguh luar biasa ketika Allah menghadirkan diri-Nya dalam kondisi terbatas secara daging, tetapi tetap menunjukkan bahwa Ia tidak terbatas dalam ruang dan waktu?

Yesus Kristus adalah “hadiah” bagi manusia dalam rupa manusia, mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia, mati bagi manusia yang berdosa, tetapi bangkit, menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan dalam keilahian dan otoritas-Nya. Dwi natur Yesus menyatu dalam peristiwa Natal-Nya. Bintang timur menyatukan kasih dan kuasa Allah bagi manusia yang dikehendaki-Nya untuk diselamatkan. Bintang timur itu adalah Yesus Kristus, Penguasa dan Pencipta langit dan bumi (Yoh. 3:16) yang menunjukkan “sedikit cahaya” kepada orang-orang Majus agar mereka tunduk menyembah kepada Sang Raja yaitu Yesus Kristus.

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/66776-jpg?query=religious

NATAL SEBAGAI BERITA INJIL YANG MENYELAMATKAN: Refleksi Roma 1:16-17

Dalam ruang iman Kristen terdapat berbagai hal mendasar yang menunjang kehidupan dan proses beriman kepada Yesus Kristus; salah satunya adalah berita Injil. Injil adalah sebuah konfirmasi historis mengenai bagaimana Allah menyatakan kehendak dan kedaulatan-Nya untuk menebus, mengampuni, dan menyelamatkan umat pilihan-Nya.

Penyataan kehendak Allah untuk menebus, mengampuni, dan menyelamatkan umat-Nya, dimulai dari peristiwa Natal Yesus: “FIRMAN MENJADI DAGING”. Hal inilah yang ditegaskan oleh Malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpinya: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:20-21).

Yesus yang mewartakan Injil—Kabar Baik—mengajak manusia untuk melihat Allah sebagai Pengasih dan Penyayang, Penebus dan Penyelamat umat manusia yang berdosa kepada-Nya. Misi untuk menyelamatkan manusia berdosa berbarengan dengan misi untuk menebus dan mengampuni manusia. Injil dipandang sebagai “berita” kemenangan, yang mengarahkan manusia—yang terpisah dari Allah karena dosa dan pemberontakan—untuk kembali kepada-Nya. Manusia digerakkan Allah untuk “membuka tangannya” menerima berkat dan anugerah dari-Nya. Berkat Allah mengarahkan manusia untuk menyadari keberdosaannya termasuk perlawanannya terhadap Allah, dan anugerah Allah memberikan kelepasan (kebebasan) dari belenggu-belenggu dosa.

Meskipun demikian, penolakan terhadap Injil—termasuk penolakan terhadap Yesus Kristus dan karya-Nya—masih terus terjadi. Di zaman para rasul, penolakan tersebut begitu tampak jelas datang dari kalangan Yahudi tertentu, yang berpegang pada Hukum Taurat dan sunat. Lebih dari itu, ketika para rasul dibunuh, secara langsung ajaran-ajaran mereka tentang “Injil yang menyelamatkan” pun ditolak dan dianggap sebagai ajaran sesat.

Itu sebabnya, Rasul Paulus memberikan penegasan dalam suratnya kepada jemaat di Roma sebagaimana tampak dalam pasal 1:16-17, bahwa “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua manusia.” Injil merujuk kepada personal yaitu Yesus Kristus yang telah lahir, mati, bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga. Tidak hanya itu, pesan di dalam Injil mengenai karya penebusan Yesus Kristus menjadi titik berangkat keselamatan itu sendiri.

Berita Injil itu, pada perkembangannya dalam konteks penginjilan, menjadi penentu pemahaman tentang keselamatan. Manusia yang tak lagi mampu membentengi dirinya dari serangan dan kuatnya pengaruh dosa bagi diri dan kehidupannya membutuhkan “berita Injil” untuk keluar dari masalah dosa. Begitu Injil itu sangat kuat, sangat tegas, bahwa manusia yang berdosa membutuhkan pertolongan Sang Khalik. Tidak hanya itu, Sang Khalik justru menyediakan “jalan” untuk datang kepada-Nya. Dia adalah Yesus Kristus.

Manusia yang menolak Dia merasa bahwa ia benar dengan pilihannya, atau pilihan atas “agama” yang dianutnya. Di sini, kita hanya perlu melihat substansi dari ajaran-ajaran Yesus yang melampaui dari pemahanan dan pengajaran agama “Yahudi” di zaman-Nya mengenai keselamatan, sikap hidup di hadapan Allah dan sesama, mengasihi, dan mengampuni. Ketika seorang Kristen percaya kepada Yesus Kristus, ia sedang melihat dan mengakui bahwa pengajaran Yesus sangatlah kuat dan tegas mengenai keselamatan, sikap hidup di hadapan Allah dan sesama, mengasihi, dan mengampuni.

Keimanan kepada Yesus berbarengan dengan pemahanan kita terhadap berita Injil yang utuh: mulai dari peristiwa Natal Yesus (inkarnasi Sang Logos Allah yang kekal), pelayanan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke surga. Maka, dapat disimpulkan bahwa “Natal sebagai berita Injil yang menyelamatkan”.

Berita keselamatan menjadi dasar dan sukacita iman Kristen. Sebagai dasar, berita keselamatan adalah pekerjaan Tuhan yang dinyatakan kepada manusia yang berdosa. Keberdosaan manusia menjadikan mereka mengalami jatuh bangun dalam menerapkan (melakukan) perintah Allah. Akibatnya, manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari murka-Nya. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan manusia karena manusia telah berdosa kepada-Nya.

Sebagai sukacita iman, berita keselamatan menghasilkan kondisi manusia yang terbebas dari belenggu legalisme hukum Torat, belenggu dosa (kejahatan). Allah—yang menebus itu, telah memberikan kemerdekaan kepada orang percaya untuk hidup dalam firman-Nya, hidup dalam kasih yang tulus.

Teks Roma 1:16-17 merupakan sebuah konfirmasi, keyakinan, dan pengalaman dari Rasul Paulus. Konfirmasi Injil terletak pada pesan mendalam dari sebuah karya Allah bagi keselamatan, penebusan, pembenaran, dan pengampunan di dalam Kristus Yesus. Keyakinan terhadap Injil terletak pada pengaruh yang ditimbulkannya, yang mengubahkan hidup orang berdosa (hidup lama), menjadi “hidup yang baru di dalam Kristus Yesus”, dan pengalaman iman di dalam dan melalui Injil terletak pada kesadaran diri bahwa hidup yang berdosa tak mungkin berkenan kepada Allah, kecuali hidup yang diubahkan oleh Injil Yesus Kristus. Pengalaman itu kemudian dituangkan ke dalam sikap “memberitakan Injil”, menjadi saksi Kristus, dalam pelayanan di mana pun berada.

Injil harus diberitakan; tidak dinikmati sendiri; tidak hanya untuk kalangan sendiri, melainkan Injil itu harus disebarluaskan dengan berbagai cara, baik melalui perkataan, pikiran, maupun perilaku kita dalam totalitas kehidupan yang dijalani.

Kita melihat bahwa berita Injil yang menyelamatkan itu ternyata efektif bagi pekabaran Injil. Hal ini sebenarnya merupakan perwujudan dari perintah Yesus: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:16); “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam Bapa, Anak, dan Roh Kudus….” (Matius 28:19-20); “…dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Lukas 24:47); dan “…Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21).

Para pemberita Injil diberikan kuasa untuk melakukan segala sesuatu sebagai konfirmasi bahwa “Injil” itu kuat dan tegas, memberikan pengaruh bagi pertobatan dan pengampunan manusia-manusia yang berdosa. Kuasa Roh Kudus menyertai mereka (lihat Yohanes 20:22, dan Kisah Para Rasul 1:8).

Injil itulah yang mengarahkan manusia untuk melihat kepada Yesus Kristus, melihat karya-Nya, melihat kasih dan kuasa-Nya. Injil adalah kekuatan Allah yang membawa manusia Terang-Nya yang ajaib, menjadikan manusia bertobat, hidup dalam kasih-Nya, dan hidup berkemenangan.

Natal sebagai berita Injil yang menyelamatkan dapat dipahamami sebagai berikut:

Pertama. Injil adalah berita keselamatan dari Allah yang menyatakan bahwa manusia membutuhkan Juruselamat, dan mereka—melalui Juruselamat itu, diselamatkan, ditebus, diampuni, didamaikan dengan Allah dan dibenarkan.

Kedua. Juruselamat itu adalah Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan yang menyatakan kuasa-Nya untuk menebus, menyelamatkan, mengampuni, mendamaikan, dan membenarkan.

Ketiga. Injil adalah kekuatan Allah yang “menyelamatkan”. Injil yang menyelamatkan itu tentu diperkuat dengan dua hal, yaitu perkataan tentang isi Injil, dan kuasa Allah yang menyertai pemberitaan Injil itu sebagaimana tampak dari teks yang disebutkan di atas (Yohanes 20:22, dan Kisah Para Rasul 1:8).

Keempat. Injil menyatakan kebenaran Allah yang bertolak (berpangkal) dari iman. Kebenaran Allah hanya bisa dipahami, dipercaya berdasarkan “iman” yang Dia berikan. Itulah makna “bertolak dari iman dan memimpin kepada iman”. Semua karena anugerah-Nya: Ia menyelamatkan manusia, Ia memberikan kebenaran, Ia memberikan iman agar orang-orang yang percaya kepada-Nya dapat memahami kebenaran itu dan mengimaninya sebagai kebenaran yang mengubahkan.

Kelima. Injil yang menyelamatkan manusia adalah Injil yang memiliki kuasa. Injil bukan hanya sekadar kata-kata semata, melainkan di dalam kata-kata tersebut, ada kuasa yang mengubahkan, mengarahkan, mempertobatkan, dan menyadarkan manusia dari segala dosa dan pemberotakannya di hadapan Tuhan.

Keenam. Injil adalah kekuatan Allah yang mengarahkan kita untuk mewartakan Injil itu sendiri, berbagi dengan sesama, peduli kepada mereka, dan membawa mereka kepada Yesus Kristus, yang adalah Juruselamat yang Ajaib.

Ketujuh. Natal adalah totalitas penyataan diri Allah sekaligus penyataan tentang keselamatan yang “satu-satunya datang dari Allah”. Memahami Natal haruslah secara utuh. Kita tidak melihatnya hanya sebagai sebuah peristiwa historis bahwa Juruselamat Dunia telah lahir bagi kita, melainkan juga melihatnya sebagai perwujudan kuasa, kasih, dan pengampunan Allah yang dilakukan-Nya melalui Yesus Kristus.

Adakah kita sanggup keluar dari masalah dosa? Pasti tidak ada sanggup. Oleh sebab itu, Alkitab menegaskan bahwa hanya Yesuslah—Sang Logos [Firman] Allah—yang sanggup menyelamatkan kita dari problem dosa. Bukankah kita percaya bahwa ketika Allah menyatakan Firman-Nya, maka di dalamnya ada berita keselamatan?

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibrani 1:1-2).

Semua bentuk keselamatan bergantung pada “Firman Allah”. Maka tepat, ketika Yesus Kristus menyatakan diri sebagai “Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa jika tidak melalui Aku.” Firman Allah itu menyelamatkan kita.

Memahami bahwa Firman Allah yang menyelamatkan kita, maka tepat pula ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat. Bagaimana kita mengenal Allah jika Ia tidak berfirman? Bagaimana kita mengenal Allah jika Ia tidak menyatakan diri-Nya? Allah yang menyatakan diri-Nya adalah Allah yang memiliki Firman dan berfirman. Allah yang memiliki Firman itu, juga pasti dan mutlak sebagai Allah yang menyatakan diri-Nya.

Itu sebabnya, peristiwa Natal Yesus Kristus diteguhkan oleh malaikat Tuhan yang berkata: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:11). Para rasul yang telah melihat Yesus dan semua perbuatan ajaib-Nya, pun mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat: “Dialah yang ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kisah Para Rasul 5:31). Petrus pun menuliskan kesaksian yang sama dalam suratya (2 Petrus 1:1, 11; 2:20; 3:18). Rasul Yohanes menuliskan, “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia” (1 Yohanes 4:14).

Sudahkah kita memahami bahwa Natal memiliki makna yang lebih luas dari sekadar seremoni belaka, apalagi jika perayaan Natal yang memusingkan bagaimana menyediakan babi kecap, brenebon (kacang merah), opor ayam, nasi, dan sambel kecap? Sudahkan kita memahami bahwa Natal itu adalah berita Injil yang menyelamatkan?

Sudahkah kita beriman kepada Yesus Kristus yang telah datang sebagai Terang yang Ajaib dan Juruselamat? Marilah menikmati anugerah keselamatan yang Allah berikan melalui Firman-Nya, dengan sikap hidup yang kudus dan berkenan kepada-Nya.

Selamat menyambut Natal.

Salam Bae….

ALLAH DAN MANUSIA: Penebusan – Pengampunan

Dosa, kejahatan, dan pemberontakan terhadap Allah hanya dapat dibereskan melalui penebusan dan pengampunan dari Allah saja. Manusia sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari dosa jika Allah tidak memberikan kemampuan kepadanya. Kemampuan yang Allah berikan tidak hanya kemampuan iman untuk tetap kuat menghadapi godaan dan cobaan, melainkan juga kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatu, baik-buruknya.

Iman mengarahkan kita kepada bagaimana kita melihat Tuhan sebagai “Yang Kudus” dan menerapkan hal itu kepada diri kita. Allah pernah menegaskan: “Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah kudus”. Manusia yang memilih—dengan bebebasannya—untuk berdosa kepada Allah karena ia menolak untuk taat kepada perintah Allah, termasuk untuk hidup dalam kekudusan. Hidup kudus adalah “tanggung jawab iman” yang tak boleh diabaikan.

Kekudusan menuntun kita untuk pulang kepada Bapa melalui “jalan pulang” yang ditetapkan Bapa bagi kita yaitu Yesus Kristus. Dalam proses melewati jalan pulang itu, Allah menyediakan kita kedamaian dan kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Tak jarang, kita berjuang mati-matian menghadapinya. Bersama Allah kita dapat melewatinya, melakukan perkara-perkara yang besar setelah kita “setia” kepada Allah di dalam perkara-perkara yang kecil.

Jalan pulang yang disediakan Allah bagi manusia berdosa menuntun mereka kepada penebusan dan pengampunan yang sejati. Pasca menerima dan merasakan penebusan dan pengampunan, manusia harus mengikuti apa yang dikehendaki-Nya: “hidup kudus”. Dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap dosa; dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap pemberontakan; dan dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap tindak kejahatan.

Ketika Allah memulihkan kita, Ia mendorong kita untuk hidup di dalam firman-Nya (kehendak-Nya). Kita yang hidup di dalam firman-Nya mustahil untuk hidup bagi dosa, mustahil untuk hidup terpisah dari Allah, mustahil untuk hidup dalam kejahatan dan pemberontakan. Ketika kita berkomitmen hidup bagi Allah, maka secara konsisten kita pun harus menjaga diri dari segala kenajisan, kemunafikan, kejahatan, dan berbagai perilaku menyimpang. Allah adalah kudus, maka Ia akan memuji kita yang hidup dalam kekudusan. Kita “meneladani” Allah.

Penebusan dan pengampunan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus menggiring kita kepada kehidupan yang benar, kehidupan yang bersih dan suci. Kita tidak sedang menggiring tanggung jawab ke pinggir jurang dan mendorongnya jatuh, melainkan kita menggiring dosa, kejahatan, dan pemberontakan ke pinggir jurang yang sama, dan mendorongnya jatuh. Itulah tanggung jawab iman. Tanggung jawab yang benar; tanggung jawab yang bebas mendorong “dosa” menemukan tempat yang seharusnya, yaitu “jurang maut”.

Kita hidup bagi Dia. Kita hidup dan bergerak karena Dia, dan kita hidup untuk menyenangkan Dia melalui realisasi tanggung jawab yang benar yaitu menolak dosa dan kejahatan “masuk ke dalam hati dan pikiran”; kita hidup untuk memuliakan Dia melalui perbuatan-perbuatan baik kita supaya setiap orang yang melihatnya memuliakan Bapa yang di surga (Matius 5:16).

Hanya Allah yang dapat menyediakan segala sesuatu untuk kepentingan kita. Segala sesuatu tersedia, tinggal kita yang datang menjemputnya. Allah telah menyediakan “kendaraan” bagi kita, tinggal kitalah yang bergegas untuk menaikinya menuju kasih yang sejati dan sempurna. Allah telah menebus dan mengampuni kita dari segala dosa kita, masihkah kita menolak untuk merealisasikan tanggung jawab iman? Masihkah kita menolak untuk hidup merdeka dalam kasih dan kemurahan-Nya?

Penebusan dan pengampunan Allah yang mengubah hidup kita adalah fakta yang tak terbantahkan. Setiap orang yang merasakan kasih dan kemurahan Allah melingkupi hidupnya adalah orang yang sadar (menyadari) bahwa Allah telah menebus dan mengampuninya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain kita tahu bahwa kita telah ditebus dan diampuni Allah melalui Yesus Kristus.

Yesus Kristus datang memperlihatkan kasih dan kepedulian Allah atas manusia yang berdosa. Untuk memulihkan manusia yang berdosa, Allah tidak hanya menggunakan satu cara saja. Justru dengan cara-cara yang berbeda tetapi substansinya sama, Allah menunjukkan bahwa Ia tak kehilangan cara atau kekurangan cara. Cara-cara tersebut menggiring manusia untuk berhadapan langsung dengan “kasih karunia-Nya” yang dahsyat itu.

Inkarnasi Logos ke dalam dunia adalah puncak cara Allah untuk menebus dan mengampuni manusia. Inkarnasi bersifat suprematif dan melaluinya, Allah dengan leluasa menyatakan kehendak-Nya kepada manusia. Ketika Allah menyampaikan Logos-Nya secara langsung, melalui para malaikat, melalui bapa-bapa leluhur, melalui nabi-nabi, hakim-hakim, raja-raja, dan orang-orang pilihan-Nya, Allah juga menyampaikan firman-Nya melalui konsep “menjadi”: “Logos “menjadi” daging (“ho Logos sarks egeneto”). Allah begitu luar biasa memperlihatkan cara-cara yang ajaib di sepanjang sejarah dan berpuncak pada Yesus Kristus.

Allah benar-benar memperlihatkan finalitas kasih-Nya melalui “menjadikan” Logos-Nya sendiri hadir dalam sejarah manusia dalam wujud “manusia”. Bukankah ini sangat luar biasa? Jika Allah hanya berfirman (berbicara) melalui para malaikat dan orang-orang yang ditetapkan-Nya, itu sudah biasa, tetapi ketika Ia datang dan berbicara melalui Logos-Nya yang menjadi manusia, maka itu luar biasa. Allah menunjukkan cara yang lain yang tidak biasanya dan tidak pernah terjadi dalam sejarah Israel, bahkan dalam sejarah umat manusia. Inkarnasi Allah adalah finalitas cara Allah untuk memperlihatkan kemahakuasaan-Nya. Allah menggabungkan dua cara menjadi satu: “Firman Allah” yang dibuat menjadi Kitab Suci dan “Firman Allah” yang menjadi manusia.

Pada “Firman Allah” menjadi Kitab Suci dapat terjadi pada agama-agama lain, sebab mereka juga memiliki kitab suci yang dipercayai sebagai “sabda” Tuhan atau Dewa yang mereka imani, dan kemudian menjadi kitab suci. Akan tetapi pada “Firman Allah” yang menjadi manusia, tidak terdapat pada agama manapun, kecuali dalam agama Kristen, agama yang lahir dari rahim Yudaisme yang bertitik tolak dari inkarnasi Logos menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Inilah letak keunikan agama Kristen, agama yang berpusat pada Yesus Kristus.

Melalui Yesus Kristus, manusia sejati dan Allah sejati, kita mendapatkan ketenangan dan menikmati kebenaran Allah dalam rasa takut akan Allah, dalam sikap menghormati dan mengasihi Allah dengan sepenuh hati. “Jalan” yang ditawarkan Allah melalui Yesus hanya dapat ditempuh melalui keputusan untuk “beriman” dan “percaya” kepada-Nya (bdk. Yohanes 3:16). Tawaran-tawaran menarik di dalam “jalan” itu, mendidik kita untuk tetap setia dan hidup benar di hadapan-Nya.

Kita telah menemukan “jalan pulang” kepada Bapa melalui Yesus Kristus. Dialah yang menunjukkan “jalan menuju Bapa” (Yoh. 14:6). Jalan itu adalah jalan kebenaran, jalan kehidupan, jalan kekudusan. Kita yang telah ditebus dan diampuni-Nya layak melewati jalan itu dengan kebebasan yang sudah dikuduskan melalui darah Kristus.

Oleh sebab itu, kita dapat memahami betapa besar kasih Allah bagi kita, sejauh kita tetap berada di “jalan pulang” itu. Yakinlah bahwa kita tak mungkin tersesat karena Yesus menjamin kita; kita tak mungkin terhilang; kita ada di dalam tangan-Nya, berada dalam kedaulatan-Nya. Tetaplah berada di jalan pulang, dan temukanlah berkat-berkat melimpah karena Yesus Kristus telah berjanji bahwa Ia akan menyertai kita “senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Salam Bae….

ALLAH DAN MANUSIA: Kejahatan – Pemberontakan

Ketika manusia memilih untuk terpisah dari Allah, maka kejahatan dan pemberontakan menjadi bagian dalam hidupnya. Bukan Allah yang memusuhi manusia melainkan manusialah yang memusuhi Allah. Allah mengasihi manusia tetapi membenci dosa-dosanya. Sebaliknya, manusia memusuhi Allah karena peraturan-peraturan-Nya dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasannya. Manusia yang memusuhi Allah “membuang tanggung jawabnya” untuk setia dan taat pada Allah.

Kejahatan adalah fakta bahwa manusia “bebas” memilih apa yang dikehendakinya. Kejahatan adalah dibuangnya tanggung jawab terhadap Allah, yaitu tanggung jawab untuk tetap berada pada jalur Allah. Kejahatan adalah “jalan baru” yang diciptakan manusia untuk menunjukkan bahwa ia bebas dan menentukan jalannya sendiri; ia merasa otonom terhadap hidupnya.

Dengan kekuatannya, kegemilangan diri pun dapat diraih (dicapai) manusia. Lebih dari itu, kegemilangannya dirasakan sebagai bagian dari kebebasannya untuk menentukan pilihan yang terlepas dari Allah. Kondisi ini menumpuk kesombongan manusia menjadi sebuah “bukit pemberontakan”. Mengikuti pendahulunya, yaitu manusia-manusia pembuat “Menara Babel”, menumpuk kesombongan mereka untuk “mencari nama” dan supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kejadian 11:4).

Ide untuk tetap “bersatu” justru dibuat Allah menjadi terbalik. Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka menjadi “terserak”. Kesombongan manusia untuk mencari “nama” bertujuan agar mereka tidak ke mana-mana; mereka inging terkenal dan berkembang di satu wilayah saja, dan mengabaikan tanggung jawab yang penting: “beranak cuculah dan penuhilah bumi” yang Allah berikan kepada nenek moyang mereka: Adam dan Hawa.

Melupakan tanggung jawab yang Allah berikan adalah sebuah kejahatan dan pemberontakan. Kebebasan untuk melakukan kejahatan dan pemberontakan adalah wujud dari perlawanan terhadap tanggung jawab yang Allah berikan. Kebebasan jenis ini sangat merusak diri manusia itu sendiri.

Setiap kejahatan menemukan dirinya sebagai bentuk perlawanan terhadap Allah dan kehendak-Nya. Perlawanan berdampak pada keburukan hidup, terpisah dari Allah. Lambat laun, kejahatan yang akan berbuahkan kelaliman dan kesesatan; manusia “lupa jalan pulang”. Ketika tersesat, jalan menuju kebahagiaan dan kedamaian “ditutup” oleh kebebalan hati manusia. Allah telah menyediakan jalan yang terbaik untuk menikmati kebahagiaan dan kedamaian yang luar biasa, berbeda dengan kebahagiaan dan kedamaian yang dunia berikan.

Allah menjamin mereka yang hidup dalam lingkup firman-Nya. Allah menyediakan apa yang kita butuhkan bagi “kebaikan” kita (kehidupan dan masa depan). Allah memperhatikan kehidupan umat-Nya. Dibanding “dunia”, Allah menyediakan kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki, yang mendorong manusia untuk hidup dalam kasih karunia-Nya, menikmati apa yang layak dinikmati sesuai keperluan yang telah Allah sediakan bagi kita. Ingatlah apa yang dinyatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Allah mendandani kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi sempurna di dalam kasih-Nya. Tak ada yang dapat menggantikan “kasih Allah” bagi kehidupan manusia. Kasih Allah bersifat “membalut” luka batin, membalut luka relasi dengan orang-orang terdekat, dan membalut goresan-goresan hidup. Kasih Allah bersifat “mengarahkan” kehidupan kita seperti yang apa yang dikehendaki-Nya. Kasih Allah bersifat “memurnikan” hidup kita, sehingga menjadi kuat dan dewasa dalam iman.

Kasih Allah menjadikan manusia mengingat kebaikan-Nya dan menjauhkan diri dari segala kejahatan. Kejahatan semata-mata memisahkan diri kita dari Allah. Apalagi ketika kejahatan dibarengi dengan pemberontakan terhadap perintah-perintah Allah. Itu sangat mematikan, mendatangkan maut selama-lamanya.

Kasih Allah menguatkan kita untuk menempuh hari-hari yang penuh misteri. Kasih Allah menyertai kita sepanjang jalan, dan setiap tapak-tapak kaki yang kita jejaki di bumi ini meninggalkan warisan berharga bagi generasi berikutnya.

Finalnya, kasih Allah dicurahkan bagi manusia melalui inkarnasi Logos Allah ke dalam dunia dengan “menjadi manusia”—hidup bersama-sama dengan kita, penuh kasih karunia dan kuasa. Yesus Kristus—Logos Allah yang kekal—mengarahkan hidup kita untuk setia kepada Allah dan firman-Nya, dan menjamin bahwa “mereka yang percaya kepada-Nya [Yesus Kristus] beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Adakah hatimu penuh kejahatan? Adakah perilakumu memberontak terhadap Allah? Kembalilah kepada-Nya. Ia akan menyambutmu dengan kelembuhan kasih dan kemurahan-Nya; Ia menjamin hidupmu, menjamin masa depanmu, dan menjamin kehidupanmu dalam kerajaan-Nya.

Yesus Kristus adalah Logos Allah yang “keluar” dari diri Allah. Ia (Logos) diutus ke dalam dunia untuk menawarkan kehidupan yang penuh damai dalam kerajaan-Nya, kehidupan yang bebas dari kejahatan dan pemberontakan. Manusia yang dulunya terhilang dan terpisah dari Allah, kini, di dalam Yesus Kristus, semuanya disatukan dan disempurnakan di dalam kasih-Nya yang kekal.

Di dalam Yesus ada kasih yang sempurna; kasih yang memberi ketimbang menerima; kasih yang menolong yang lemah; kasih yang mengampuni; kasih yang menguatkan sesama; kasih yang dewasa menyikapi caci maki dan hinaan terhadap Yesus maupun terhadap firman-Nya. Tak perlu ragu dan takut jika kita hidup dalam kasih-Nya.

Percayalah, Yesus itu berkuasa dan mahakuasa. Ia lebih dari sanggup untuk menghancurkan para pembenci diri-Nya dan pembenci pengikut-Nya. Tak ada yang dapat melawan-Nya. Maut saja Dia kalahkan apalagi mengalahkan manusia yang dikalahkan maut? Kejahatan Dia kalahkan dan mereka yang menjadi umat pilihan-Nya, tidak akan dikuasai kejahatan, apalagi pemberontakan. Umat-Nya hidup dalam kasih dan kuasa-Nya, dijamin dan dipuaskan dalam menikmati kemurahan dan kebaikan-Nya.

Jangan lagi membiarkan hidup kita dikuasai kejahatan dan pemberontakan. Jauhkan itu dari hadapan kita, dan hiduplah dalam kasih Tuhan Yesus, kasih yang begitu kuat dan mengarahkan kita untuk hidup dalam kekudusan dan kebenaran-Nya. Jangan menjadi pelaku kejahatan tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan; kebaikan yang lahir dari kasih yang murni, kasih yang berasal dari Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah “jalan pulang” kepada Bapa. Hal ini diteguhkan oleh Yesus sendiri: “Aku jalan, kebenaran, dan hidup, tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Firman (Logos) Bapa adalah “jalan pulang”. Logos itu telah menjadi manusia dan mengajak kita kembali “pulang” menuju kerajaan-Nya. “Jalan pulang” itu masih tersedia di depan mata kita, dan kita diberikan kebebasan untuk memilih ke berjalan “melalui” jalan pulang itu. Yesus Kristus adalah “jalan” yang mengarahkan manusia menemukan “kebenaran” Allah Bapa, yang di dalamnya terkandung sebuah kualitas “kehidupan” yang tidak seperti dunia berikan.

Bersediakah kita kembali kepada Allah melalui “jalan pulang” yaitu Yesus Kristus?

Salam Bae…

DOSA DAN KETERPISAHAN

Keterpisahan manusia dengan Allah “karena” dosa tidak dipahami sebagai terpisah dari Allah dalam konteks kedaulatan-Nya. Allah tetap berdaulat atas manusia, dan mendorong manusia untuk bertanggung jawab atas hidupnya, masa depannya, dan ihwal kebertahanan-hidupnya.

Meski kebebasan dimiliki manusia, bukan berarti tanggung jawabnya terhadap Allah dan hidupnya hilang sama sekali, melainkan tanggung jawab itu, terlepas dari baik-jahatnya manusia, jujur-munafiknya manusia, tetap harus direalisasikan, entah bertujuan baik, maupun buruk.

Dosa mengakibatkan keterpisahan. Manusia merasa bebas menentukan pilihan hidupnya dan mengesampingkan—atau barangkali tidak mempedulikan Allah sama sekali—tanggung jawab terhadap Allah. Allah menuntut manusia untuk mengarahkan hidupnya kepada Dia; Allah menuntut manusia untuk bersandar kepada Dia. Tetapi, ada manusia yang justru membuang kesempatan itu, dan memilih jalannya sendiri.

Bukan Allah yang memisahkan diri dari manusia, melainkan manusia itulah yang memisahkan dirinya dengan Allah. Dalam catatan Nabi Yesaya, dikatakan bahwa: “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:2).

Dari catatan Nabi Yesaya di atas, jelas bahwa Allah sama sekali tidak memisahkan diri-Nya dengan manusia karena dunia ini ada dalam pengawasan dan kedaulatan-Nya. Sebaliknya, manusialah yang—karena jahat dan berdosa—memisahkan diri atau “memilih secara bebas” untuk tidak mendengar dan taat pada perintah Allah. Boleh saja manusia merasa bebas dari tuntutan Allah, tetapi jangan lupa, Allah berdaulat atas hidup dan matinya, dan Dia akan meminta pertanggunggan jawab atas semua yang dilakukannya semasa hidupnya.

Relasi Allah dan manusia menjadi rusak karena dosa dan kejahatan manusia. Allah mengulurkan tangan-Nya dan memberikan solusi bagi manusia. Ketika manusia—Adam dan Hawa—jatuh dalam dosa, justru Allahlah yang berinisiatif untuk menutupi ketelanjangan manusia. Memang mereka telanjang tetapi mereka malu melihat ketelanjangan mereka. Dosa berdampak pada rasa malu ketika “ketahuan”.

Allah menutupi tubuh mereka dengan kulit binatang. Cara inilah yang secara terus-menerus dilakukan Allah untuk menutupi manusia dari dosa dan menebus mereka dari dosa-dosa. Allah sedemikian baik mempedulikan manusia yang justru menjauhi dan memisahkan dirinya dengan Allah. Kurang apa Allah? Kurang kasih, kurang perhatian dan kepedulian? Kita juga harus bertanya pada diri kita sendiri: kurang apa kita terhadap Allah? apakah kurang mengasihi-Nya, kurang mendengar dan melakukan kehendak-Nya? Jika jawabannya “semua kurang”, maka kita telah bertindak memisahkan diri dengan Allah.

Keterpisahan dengan Allah adalah kondisi yang menyedihkan dan menakutkan. Mereka yang terus-menerus memisahkan diri dari Allah, akan menikmati hukuman pada saat yang ditentukan-Nya. Apa yang hendak kita persembahkan kepada Allah? Tentu yang layak kita persembahkan kepada Allah adalah hidup yang benar dan kudus, yang setia pada firman-Nya.

Jika kita memisahkan diri dari Allah, kita terhilang dan tersesat. Kita—dengan kebebasan—selalu merasa benar di hadapan Allah, padahal yang kita lakukan adalah “melawan” kehendak Allah; bukankah kita sedang memberontak? Keterpisahan manusia dari Allah menjadikan hidupnya tanpa harapan yang pasti. Memang dunia menyediakan kepastian, tetapi siapa menjamin kepastian itu berdampak pada kehidupan yang berbahagia dalam kerajaan Allah? Memang kita sendiri—dengan kebebasan—dapat menentukan masa depan dengan melakukan segala cara, tetapi jangan lupa bahwa “hidup-mati” kita ada di dalam kuasa-Nya; kita dapat berjuang mati-matian untuk mencapai tujuan hidup, tetapi apa yang dapat dilakukan jika kita sakit dan menderita? Apalagi jika sudah di ambang kematian? Adakah harapan di dalamnya? Jangan memisahkan diri dari Allah yang kuat dan berdaulat.

Jangan membuka peluang bagi dosa. Jika membukanya, kita memisahkan diri dari Allah dan kita terhilang karena ulah kita sendiri. Hawa adalah contoh bagi kita. Ia membuka peluang bagi Iblis yang menggodanya, dan ia, dengan kebebasannya, melupakan tanggung jawabnya terhadap perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Konsekuensinya adalah “manusia mati” menurut definisi Allah, ketika mereka melanggar perintah Allah. “Mati” di sini bukanlah mati fisik karena Allah tahu persis bahwa manusia, secara natural pasti mati fisiknya sebagaimana yang kita tahu sekarang. Akan tetapi “mati” yang disebutkan di sini adalah “mati” dalam pengertian “relasional” antara manusia dengan Allah.

Manusia memilih “mati” yaitu memisahkan dirinya dari perintah Allah dan Allah sendiri, karena mengabaikan tanggung jawabnya untuk “mematuhi” dan memilih menggunakan “kebebasannya” menentukan perlawanan terhadap tanggung jawab diri, perlawanan terhadap perintah Allah, dan perlawanan terhadap Allah sendiri. Akibat penyalahgunaan kebebasan, manusia menjadi “mati”—mati tanggung jawab, mati kesetiaan, mati ketaataan, mati kepatuhan, mati relasional. Manusialah yang “mematikan” tanggung jawab, kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, dan relasinya dengan Allah. Manusia justru menghidupkan kebebasannya sendiri, kebebasan untuk membiarkan Iblis masuk dalam celah yang dibuka Hawa, kebebasan untuk bertindak “melawan kehendak Allah”, kebebasan untuk menjerumuskan orang lain (dalam hal ini Hawa menjerumuskan suaminya), dan kebebasan untuk mendengar ajakan berbuat dosa melawan kehendak Allah (dalam hal ini Adam mendengar dan mengikuti ajakan istrinya untuk memakan buah yang dilarang Allah).

Pada akhinya, akibat dosa dan keterpisahan itu, manusia dihukum Allah; meresa diusir dari taman Eden; mereka terpisah dari Allah dalam arti relasi spiritual. Namun, Allah tetap memperhatikan mereka; Allah masih mengasihi mereka dengan memberikan kehidupan, keturunan, dan umur panjang. Allah adalah setia; Ia—dengan kasih-Nya yang besar—mengajak manusia untuk kembali kepada-Nya agar dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan, dan berkat-berkat-Nya.

Dosa harus dilawan, dosa harus disingkirkan; jangan biarkan dia masuk ke dalam hati dan hidup kita. Jangan ciptakan keterpisahan dari Allah karena kebebasan yang liar yang kita gunakan untuk melawan Allah. Sebaliknya, gunakanlah kebebasan dalam tanggung jawab di hadapan Allah, yaitu dengan mendengar serta mematuhi segala perintah-Nya.

Dalam segala upaya manusia untuk tetap bertanggung jawab kepada Allah, dosa menjadi penghalang dan penghambat. Mereka yang taat kepada Allah dan “menerima” kehendak Allah membentuk kehidupan mereka, memilih untuk “menolak” dosa; sedangkan mereka yang merasa bebas atas hidupnya dan “menolak” Allah, justru memilih “menerima” dosa datang dalam hati dan pikiran mereka.

Allah—di sepanjang sejarah—selalu menawarkan penebusan dan pengampunan, yang didasarkan pada kasih-Nya yang besar itu. Secara terus-menerus, tangan Allah terulur bagi umat-Nya untuk menerima penebusan dan pengampunan-Nya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa umat-Nya selalu melakukan pemberontakan, yaitu dengan cara menolak kasih Allah, menolak hukum-hukum Allah. Singkatnya, menolak kehendak Allah.

Allah tidak berhenti sampai di situ; Ia pun tetap menyatakan kasih dan kemurahan-Nya. Penebusan dan pengampunan adalah hadiah terindah dari Allah. Kita patut bersyukur karena hadiah itu terus disediakan dan ditawarkan Allah bagi kita. Hingga terjadilah peristiwa yang bersejarah yang telah mengubah dunia: “Allah—dengan kebebasan-Nya—menetapkan untuk memberikan hadiah bagi manusia yang berdosa, yaitu ‘penebusan’ dan ‘pengampunan’. Allah menggenapi hal ini dengan menghadiahkan Yesus Kristus (Logos Allah) kepada dunia yang berdosa. Secara hakiki, Yesus Kristus memberikan apa yang dibutuhkan manusia: “penebusan dan pengampunan. Itulah sukacita yang begitu besar yang dirasakan manusia di sepanjang sejarah, dan Yesus Kristuslah yang melalukannya bagi kita.

Salam Bae….

KEJUTAN NATAL DARI SAHABAT YANG BAIK

Sahabat yang satu ini, selain terkenal baik, dia juga unik dan lucu. Santi Meilawati namanya. Dia adalah sahabat saya semenjak bekerja sebagai dosen dan Wakil Ketua I Bidang Akademik di Sekolah Tinggi Teologi Moriah, Tangerang. Waktu itu beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan.

Kebaikan beliau adalah keunikannya. Begitu juga kelucuannya. Semenjak bersahabat, beliau mengirimkan kepada saya kartu ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru setiap tahun. Hingga di tahun ini, saya mendapat kejutan: menerima kiriman parsel Natal (kue-kue, minuman, dan kartu ucapan). Hati kami sungguh bahagia. Istri dan anak-anak saya pun menyambut gembira kiriman dari Ibu Santi. Ini adalah Kado Natal pertama dalam keluarga saya.

Setelah menerima parsel tersebut, seperti biasa, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Santi via akun Facebook saya. Sebelumnya saya sudah menyampaikan terima kasih kepada beliau via WhatsApp, begitu juga dengan ucapan terima kasih kepada sekretaris beliau, Mba Cindy, yang dipercayakan untuk mengirimkannya kepada saya.

Sebagai seorang penulis, rasanya tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih via WA dan FB. Sejak saya bergegas pulang dari Gading Serpong, sore tadi, saya berencana untuk membuat satu tulisan singkat mengenai hal ini. Setibanya di kampus Arastamar, saya menyempatkan waktu untuk menulis tulisan singkat ini, tentang Kejutan Natal dari Ibu Santi.

Ini adalah tulisan kedua tentang beliau. Tulisan pertama saat saya pindah dari STT Moriah ke STT SETIA (Arastamar) Jakarta. Perjanjiannya adalah kami berdua tetap bersahabat meski saya sudah pindah ke alamamater saya, kampus Arastamar.

Apa yang telah ditaburkan Ibu Santi, tentu tetap diingat. Kebaikan itu sendiri, pasti akan kembali kepada tuannya. Harapan saya, kebaikan yang telah ditaburkan Ibu Santi, akan kembali kepadanya dalam bentuk-bentuk serupa atau yang lain. Itulah prinsip saya pegang sampai sekarang. Dengan menerima kejutan dari beliau, sukacita dalam menyambut Natal Yesus Kristus memberi kesan yang mendalam bagi kami sekeluarga.

Kiranya, kebersamaan, persahabatan, dan saling mendoakan, tetap menjadi wajah keberimanan kita, dalam membangun kehidupan yang indah, kehidupan yang berkilau gemilang, dan bahkan kehidupan yang menaburkan berkat bagi sesama. Momen Natal di tahun ini, memanggil kita untuk senantiasa memancarkan terang Kristus dalam segala situasi, kapan pun dan di mana pun.

Akhirnya, saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas KEJUTAN NATAL dari Ibu Santi yang juga merupakan Kado Natal pertama yang kami terima di bulan Desember ini. Cinta kasih dan kemurahan Tuhan Yesus, kiranya senantiasa menaungi dan melingkupi Ibu Santi sekeluarga. Untuk anak terkasih, Petra, kiranya juga dapat mengikuti jejak Mami Santi yang keren. Tuhan Yesus memberkati!

Terima kasih sahabatku yang baik, unik, dan lucu.

Salam Bae…..

MANUSIA YANG “INFRUCTUOSUS”

Manusia dapat melakukan apa saja, sejauh yang dapat ia lakukan, sesuai keinginan, keperluan, rencana, siasat, dan politik, baik yang berguna maupun yang tidak berguna, yang menguntungkan atau tidak menguntungkan, mencelakakan, sengaja, merusak, atau menghancurkan, hingga membunuh dirinya sendiri. Perbuatan-perbuatan manusia jelas mencerminkan dirinya sendiri yang mencakup karakter, integritas, dan jati dirinya (identitas).

Tindakan-tindakan manusia mewakili dirinya sendiri, meski di lain kesempatan, mewakili diri orang lain, agama, bahasa, dan lain sebagainya. Kita perlu melihat lima fakta berikut ini:

Pertama. Manusia bertindak (melakukan segala sesuatu) berdasarkan keyakinan diri (di luar agama). Perbuatannya dianggap bebas dan liar karena tidak menurut berbagai pertimbangan moralitas melainkan dengan konsep, gagasan, dan fakta yang terjadi (lokal, nasional, dan global). Tetapi dia pun berpikir bahwa perbuatannya benar berdasarkan keyakinannya. Ini adalah dualisme logika dalam bentuk demarkasi.

Kedua. Manusia bertindak berdasarkan hubungan darah (keluarga). Apa yang dilakukan “dibenarkan” karena merasa bahwa membela keluarga adalah penting.

Ketiga. Manusia bertindak berdasarkan kesamaan suku dan bahasa. Tindakan-tindakan tersebut kadang benar dan kadang salah. Memang perlu bertindak atas nama suku dan bahasa tetapi duduk persoalannya haruslah dipahami secara benar.

Keempat. Manusia bertindak atas nama bangsa atau negaranya. Biasanya hal ini terkait dengan nasionalisme atau bela negara ketika negaranya dilanda perang atau serangan dari pihak luar.

Kelima. Manusia bertindak atas nama agama. Ajaran agama dilakukan dengan penuh semangat, meski kadang salah sasaran, salah tempat dan salah pemahaman. Tetapi tindakan tersebut bisa dianggap tetap benar sesuai dengan pengajaran agama tersebut.

Berangkat dari kelima dasar tindakan di atas, semuanya dapat menghasilkan – di samping hal-hal yang berguna dan berpengaruh baik – “manusia-manusia [yang] infructuosus” (atau manusia yang fruitless/unprofitabel – tidak berbuah atau tidak menguntungkan) yang pada gilirannya hanya menghasilkan kekacauan, pembunuhan, peperangan, sikap main hakim sendiri dan lain sebagainya; pada akhirnya merugikan banyak pihak. Alhasil, tindakan-tindakan tersebut ternyata tidak berbuah (unfruitful) atau tidak menghasilkan buah-buah kebaikan, kebajikan, keadilan, kedamaian, kerukunan, dan kebersamaan dalam toleransi; sia-sia/tidak berhasil (fruitless), dan tak menguntungkan (unprofitable).

Secara khusus, pada ranah agama, tindakan-tindakan yang tidak berguna dan tidak menguntungkan, justru sedang menonjol dan bahkan menghalalkan segala cara untuk menunjukkan supremasi agamanya. Ya, memang itu yang terjadi, tetapi sayangnya, bukan itu substansi agama. Ada yang mau mengambil konteks lampau untuk dimasukkan ke dalam konteks sekarang terutama konteks perang dan berharap model atau cara perang dulu diterapkan di masa sekarang. Padahal, konteksnya sudah berbeda.

Agama tidak lagi mengulang bagaimana proses pemunculannya melainkan melakukan pembaharuan seiring kemajuan zaman. Mereka yang masih berpikir kolot akan terus mengupayakan gagasan tafsir provokatif polemis untuk membakar emosi massa bagi kepentingan kelompok tertentu.

Manusia yang tidak berguna dan tidak menguntungkan (secara baik) adalah mereka yang mengutamakan nafsu kekuasaan ketimbang pola hidup yang aman dan sejahtera dan mengajak orang lain untuk bersama membangun bangsa dan negara. Mereka akan menggunakan “agama” untuk memuluskan agenda perpecahan, pertikaian, permusuhan, dan semacamnya. Mereka tidak berguna memang! Mereka hanyalah menjadi beban bagi bangsa dan negara; mereka mengacau dan suka main hakim sendiri. Mereka tidak berguna memang! Tidak menghasilkan buah kedamaian, tidak pula buah keadilan, tetapi tindakan-tindakan main hakim sendiri, brutal, dan suka mengkafir-kafirkan orang lain yang berbeda pandangan!

Siapakah manusia yang infructuosus – tidak berbuah atau tidak menguntungkan? Mereka adalah orang yang bernafsu gila terhadap kekuasaan, melegalkan korupsi, membunuh, mencelakakan orang lain, menista nilai-nilai humanitas dan nasionalisme, merendahkan manusia lain hanya karena dirinya dirasa tak berdosa dan berjuang di jalan “Dewa Tertinggi”-nya: UANG.

Manusia yang infructuosus hanyalah tahu bahwa dirinya benar dan berada di jalan Tuhan, padahal perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan manusia berakhlak dan berTuhan – bahkan menjadi musuh Tuhan. Itulah manusia yang infructuosus, manusia yang tidak berguna, tidak memberikan keuntungan yang baik bagi sesama, baik di masa kini maupun di masa depan. Ia patut dihindari; tidak dapat dijadikan sahabat atau teman curhat (curahan hati), apalagi dijadikan rekan kerja.

Berhati-hatilah dalam menilai sesuatu, termasuk relasi atau persahabatan. Bahaya munculnya manusia yang infructuosus diantisipasi sebab ia akan sangat merugikan kita, kehidupan, pekerjaan, dan bahkan pelayanan kita. Marilah menjadi manusia-manusia yang menghasilkan buah-buah kebenaran, dan bukan manusia-manusia yang infructuosus – tidak berbuah, tidak menguntungkan, malahan membuat rugi karena kelalaian dan kesalahan diri sendiri.

Bahaya akan senantiasa mengancam kita ketika berhadapan atau bersahabat dengan manusia-manusia yang infructuosus. Dia bertindak berdasarkan keyakinan diri yang berlebihan, tanpa ada hasil yang memuaskan. Akan tetapi, lebih baik kita membangun relasi dengan mereka yang benar-benar menunjukkan jati diri yang baik, berintegritas, dan memiliki kerohanian yang baik. Alhasil, kita sesungguhnya turut memberikan kontribusi bagi terciptanya relasi dan konteks yang lebih bersahabat, sederhana, dan solid.

Salam Bae…

KEHIDUPAN DAN HARAPAN

Berbagai peristiwa yang terjadi, baik pada orang lain, pada diri kita sendiri, atau pada alam, barangkali menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya, meskipun di satu sisi – tergantung pada jenis peristiwanya – kita menarik makna untuk menjadi bekal teguran, harapan, atau koreksi, agar diri dan hidup menjadi lebih bergairah, memiliki tujuan yang jelas.

Gelanggang kehidupan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses kembara dan kehidupan. Di waktu yang bersamaan, gerak dan potensi diri ikut dalam memeriahkan proses kehidupan itu sendiri. Mereka yang malas, terseret dalam pusaran kemiskinan, ketidakberdayaan, atau bahkan keputusasaan. Mereka yang rajin menerima upah yang sepadan, melampaui, atau secukupnya. Ternyata, kehidupan dan peristiwa membuahkan banyak hal, termasuk bagaimana kita membangun jembatan hari ini dengan masa depan.

Kehidupan dan harapan tidak dapat dipisahkan. Manusia yang hidup pasti memiliki harapan. Harapan dimiliki oleh mereka yang hendak berjuang untuk sesuatu yang menguntungkan, mencukupkan kebutuhan diri, atau bahkan untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Kehidupan terkadang rumit, terkadang bahagia, terkadang sulit, terkadang menyesakkan dada.

Bagaimanapun keadaannya, kita memiliki pilihan-pilihan untuk ditindaklanjuti. Demi kehidupan yang bahagia, kita rela menambah waktu kerja, waktu berelasi, atau waktu untuk mengembangkan potensi internal. Di satu sisi, kita bertemu dengan banyak kesulitan, tetapi di balik itu semua, iman dan kemampuan dilatih untuk menanggapi berbagai problem kehidupan, berusaha keluar, dan membebaskan diri dari cengkeramannya.

Lambat laun, kita terbiasa dengan keadaan, meski goresan luka hidup belum sembuh sempurna. Waktu demi waktu kita hanya melihat keadaan, berharap ada perubahan di kemudian hari. Kehidupan menampilkan wajah harapan dan harapan memperteguh kehidupan. Menyusuri lorong waktu, tampilan hidup kita tidak boleh pudar, tergerus keadaan, atau bahkan stagnan di tengah jalan.

Ungkapan perasaan terdalam menyeruak; kepastian menjadi keyakinan; harapan menjadi penunjuk arah, dan iman memperkokoh perjuangan. Selalu tersedia berbagai kesempatan, dan kita meraupnya untuk bertahan hidup, memperteguh identitas, dan berjuang untuk bahagia.

Berharap bahwa apa yang telah terjadi selama ini, cukup untuk memberi tanda dan bahwa kehidupan tak boleh diabaikan; harapan tak boleh dianggap remeh; baik kehidupan maupun harapan, keduanya saling mengikat dan mengkokohkan komitmen kehidupan kita. Hingga kita dapat mengetahui bahwa Tuhan senantiasa mengulurkan tangan kasih-Nya untuk membalut luka kehidupan, memulihkan luka terdalam, menyembuhkan perasaan yang tersakiti, membangkitkan semangat yang telah mati, dan memperkuat integritas.

Kita terus menikmati hidup, tetapi tak boleh lengah; perlu kekuatan dan kesadaran, agar kita dapat memahami, melewati, dan memaknai proses kehidupan yang bervariasi. Tanamkan rasa percaya diri untuk menggapai harapan kehidupan. Andalkan Tuhan senantiasa; jangan sombong; jangan meremehkan ujian kehidupan sebab dari situlah terpancar kehidupan yang kuat, berwibawa, dan berpengaruh, kini, besok, dan seterusnya.

Salam Bae…..

MENDEKAP ASA, MERAJUT BAHAGIA

Kembara asa menyusuri ruas-ruas waktu, kesempatan, dan keadaan. Asa hadir di dalam waktu, pada suatu keadaan, dan dapat merupakan sebuah kesempatan untuk memaksa kita berjalan, menuju suatu titik.

Waktu mengajarkan kepada kita betapa berharganya tindakan-tindakan kecil yang nyata. Kesempatan mengajarkan kita betapa pentingnya mengambil keputusan untuk bertindak, berhikmat, dan berharap. Sedangkan keadaan mengajarkan kita betapa kuatnya asa untuk berjuang keluar dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan, tidak berguna dan percuma!

Kita bergerak dari waktu ke waktu, dari kesempatan ke kesempatan lainnya, dan dari keadaan ke keadaan yang berikutnya. Kita menyatukan kepingan-kepingan hidup, menjadi suatu torehan komitmen menuju integritas sejati. Hingga akhirnya bahagia mencerahkan hidup.

Mendekap asa mengharuskan sebuah proses dan guratan hati. Pikiran memandu jalannya komitmen untuk sebuah asa terbaik, kuat, dan berpengaruh. Dari dekapan asa itulah, kita merajut bahagia di setiap sela kesempatan yang ada, pada setiap keadaan, kapan pun dan di mana pun.

Merajut bahagia adalah ungkapan dan nada kehidupan yang terbaik. Ia – Tuhan – memberikan konteks hidup di mana kita mendapat kesempatan untuk memperlihatkan potensi diri, diasa sedemikian rupa, berjuang membalut lupa perasaan, dan bahkan relasi.

Kita ada untuk melihat bahwa segala sesuatu disediakan Tuhan untuk suatu tujuan. Kita memutuskan untuk mendekap asa; asa itulah yang menyiapkan lahan untuk ditanami bibit-bibit cinta kasih. Kita berharap bahwa apa yang ditanam akan berbuah lebat, memberikan rasa kenyang bagi mereka yang lapar.

Waktu demi waktu, bergulir; mengajarkan kita arti kehidupan. Kita memainkan akrobat perkataan, di mana setiap perkataan yang kita ucapkan akan menjadi desakan bagi orang lain dan diri kita sendiri. Mendamba harap tidak cukup. Perlu mendekapnya. Itu akan berlanjut dalam sebuah tindakan merajut bahagia ketika kita sadar bahwa kita memiliki tanggung jawab!

Mendekap asa, merajut bahagia adalah pilihan terbaik kita! Mengambil keputusan untuk berjuang, menghadapi tantangan, adalah bagian tak terpisahkan dari mendekap asa, merajut bahagia. Bagaimana pun, kita berada di dalam waktu yang panjang, tetapi fisik kita terbatas. Apa yang harus diperbuat?

Bahagia itu memang sangat sederhana. Kita cukup menyadari bahwa bersyukur adalah tanda utama bahwa kita bahagia, akan bahagia, dan tetap bahagia. Bersyukur adalah komitmen untuk menerima segala sesuatu yang tidak diinginkan. Meski demikian, bersyukur menciptakan siklus kebahagiaan yang sederhana tapi memuaskan jiwa dan pikiran kita.

Dekaplah asa, rajutlah bahagia. Kitalah yang menciptakan kebahagiaan itu. Asal hati penuh syukur, mulut penuh pujian kepada Sang Khalik, pikiran mengarahkan kita pada asa terbaik, niscaya kehidupan yang dijalani akan menjadi berkat tersendiri, bernas, dan berkualitas.

Salam Bae…..

Sumber gambar: Unsplash

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai