
Natal Yesus Kristus menjadi percakapan global. Percakapan tersebut didasarkan pada “cara seseorang memahami” fakta historis Natal, dan proses memaknainya secara teologis. Terlepas dari fenomena disparitas pemahaman—misalnya soal tanggal kelahiran Yesus, soal apakah orang-orang Majus berasal dari Mesopotamia atau Yunani, dan lainnya—di sini saya menyuguhkan konteks pemahaman Natal berdasarkan mikroteks Matius 2:1-2 (dan korelasi konteks dengan teks lainnya [ay. 3-12]), terutama pada kisah orang-orang majus dari Timur yang datang mencari Yesus dan berkeinginan menyembah-Nya, di mana, dalam pemahaman saya, mereka memiliki makrofidēs terhadap ramalan mengenai lahirnya seorang raja berdasarkan petunjuk bintang di Timur.
Perjanjian Baru (PB) menyuguhkan data historis mengenai peristiwa kelahiran Sang Logos—yang menjadi manusia—ke dalam dunia. Sang Logos menyejarah dan dengan demikian, kita dapat memahaminya melalui catatan-catatan PB. Peristiwa Natal Yesus melalui perawan Maria, baik pra maupun pasca-Natal, menghadirkan tiga fakta menarik.
PERTAMA, pra-Natal Yesus, malaikat Tuhan memberitakan bahwa “anak yang di dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20). Petunjuk utama dari “Logos menjadi daging” adalah bahwa hal itu didasarkan pada kuasa Allah Roh Kudus. Singkatnya, Allah menunjukkan kuasa-Nya di awal inkarnasi Logos. Allah memulainya dengan “kuasa-Nya”, karena Ia berkuasa. Konsistensi Allah tampak di sini. Ia menunjukkan identitas ontologi-Nya.
KEDUA, pasca Natal Yesus, para gembala mendapat berita istimewa dari malaikat Tuhan: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:10-12). Berita itu mengantarkan mereka kepada bayi yang baru lahir terbaring di palungan (Lukas 2:15-16). Mereka memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dari malaikat Tuhan, telah mereka lihat sendiri, sesuai—tanpa rekayasa—dengan apa yang dikatakan malaikat itu kepada mereka (Lukas 2:12, 20).

Klausa “kesukaan besar untuk seluruh bangsa” merupakan realisasi dari kekuasaan Allah atas dunia ciptaan-Nya. Allah juga konsisten dengan kuasa-Nya yang dimiliki-Nya, maka berita tentang Natal merupakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Dalam beberapa waktu kemudian, orang-orang Majus pun mendapat bagian dari kabar kesukaan besar ini; mereka melihat bintang dan meyakini lahirnya seorang raja. Mungkin apa yang mereka rasakan sama dengan yang dirasakan oleh para gembala.
KETIGA, pasca Natal Yesus, orang-orang majus dari Timur datang untuk melihat “Raja orang Yahudi” yang baru dilahirkan itu. Ternyata, mereka secara terang-terangan datang untuk melihat bayi itu sekaligus “menyembah Dia” (Mat. 2:2). Mengapa harus menyembah Yesus yang dilahirkan itu? Seharusnya yang mereka sembah adalah raja Herodes, malahan mereka membuat Herodes terkejut (Mat. 2:3). Pasalnya, mereka mengatakan akan menyembah raja itu dengan berpatokan pada bintang yang mereka lihat, di depan raja Herodes (Mat. 2:7-8). Tentu Herodes sangat sakit hatinya karena ia tidak disembah sebagai raja, malahan Yesus, yang baru dilahirkan itu yang akan mereka sembah. Akhirnya, Herodes juga ikut-ikutan ingin menyembah-Nya, meski dengan motivasi yang berbeda.
Tidak hanya itu, orang-orang majus bertanya-nyata ikhwal “Raja yang baru dilahirkan itu” di wilayah Yerusalem yang justru menggemparkan seluruh Yerusalem (Mat. 2:3). Herodes sangat terpukul hatinya ketika mendengar berita lahirnya seorang Raja Yahudi (Mat. 2:1-3) di wilayah kekuasaannya. Di kemudian hari, dialah yang memerintah untuk membunuh bayi laki-laki di Betlehem (Mat. 2:16). Alasan pembunuhannya, selain merasa ditipu oleh orang-orang majus, ia tak mau disaingi oleh Raja yang baru dilahirkan itu, yaitu Yesus Kristus, sebagaimana yang dia dapatkan dari pengakuan orang-orang majus. Masakan dia raja di wilayahnya lalu ada raja yang disembah selain dirinya? Ini terlihat baginya sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Maka jalan keluarnya adalah “membunuh anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah (Mat. 2:16). Di satu sisi ada kebahagiaan tentang lahirnya Juruselamat dan Raja, di sisi lain ada ratapan dan tangisan—pasca kelahiran Yesus—yang begitu mendalam karena anak-anak dibunuh atas perintah raja Herodes.

Dari mikroteks Matius 2:1-2 (dan ay. 11), kita melihat konteks “penyembahan” orang-orang majus dari Timur dikaitkan dengan sistem kepercayaan mereka terhadap astrologi. Dengan berbekal pada kepercayaan terhadap bintang-bintang (makrofidēi), mereka harus mengidentifikasi sekaligus membuktikan bahwa apa yang mereka “imani” terhadap tanda “bintang” di langit, benar adanya. Menurut Leon Morris, dalam Injil Matius (Surabaya: Momentum, 2016), “Orang-orang Majus bukanlah orang-orang yang berhikmat dalam pengertian umum, tetapi orang-orang yang mempelajari perbintangan: “orang bijak dan imam (Persia…tetapi kemudian juga Babel), yang ahli dalam astrologi”.
Bagi mereka, munculnya bintang yang begitu cemerlang di langit, pertanda lahirnya (datangnya) seorang pemimpin yang besar. Logisnya, keyakinan yang besar (makrofidēi) ini harus dibuktikan, baik secara politik identitas mereka, iman dan tradisi mereka, maupun secara geografis. Mereka menanti, entah di mana pun ada bintang yang bersinar, maka pasti ada “Raja” (pemimpin) yang datang memberikan harapan baru (Matius 2:9).
Gleason L. Archer, Jr., dalam Encyclopedia of Bible Difficulties, menjelaskan: “Karena itu, bintang tersebut pasti telah muncul ketika Yesus lahir, dan pastilah orang-orang Majus itu memerlukan lebih dari satu tahun untuk bisa sampai di Yerusalem dan kemudian berbincang-bincang dengan Herodes. Bintang itu bukanlah suatu peringatan yang datang mendahului, melainkan pemberitahuan mengenai satu fakta yang sudah terjadi. Perjalanan orangp-orang Majus untuk berziarah ini tidak ada hubungannya dengan penyembahan terhadap allah-allah palsu atau terhadap kuasa-kuasa penentu nasib. Mereka sekadar menerima pemberitahuan Allah lewat bintang tersebut, yang memerintahkan mereka untuk mencari Raja yang baru lahir, sebab mereka mengerti bahwa Dia telah ditetapkan menjadi Penguasa atas seluruh dunia—termasuk negeri mereka sendiri (yang kemungkinan adalah Persia, sebab ilmu nujum beredar sangat aktif di sana pada zaman kuno).”

IDENTITAS ORANG-ORANG MAJUS, BINTANG DI TIMUR, & PENYEMBAHAN KEPADA YESUS
Dalam penjelasan mengenai idenitas dan asal dari orang-orang Majus, saya menyuguhkan data dari berbagai sumber. Sedapat mungkin kita mendapatkan informasi yang berharga mengenai mereka, termasuk menyinggung mengenai “bintang”, ramalan, keyakinan, dan penyembahan mereka kepada Yesus Kristus.
PERTAMA: Craig L. Blomberg, The New American Commentary: Matthew (Broadman Press, Nashville Tennessee, 1992).
Blomberg, sarjana Alkitab Perjanjian Baru memberikan penjelasan mengenai para Magi (orang-orang Majus). Menurutnya: “Orang Majus bukan raja tetapi kombinasi orang bijak dan imam; mungkin dari Persia. Mereka menggabungkan pengamatan astronomi dengan spekulasi Astrologi. Mereka memainkan peran politik dan keagamaan dan merupakan figur yang menonjol di tanah mereka.”
Pertanyaan orang-orang Majus (Magi) kepada Herodes menekankan kata “lahir.” Konstruksi tata bahasa membuat jelas bahwa mereka bertanya tentang siapa anak yang memiliki “klaim yang sah untuk takhta Israel dengan kebajikan kelahirannya.” Herodes dipandang sebagai perampas takhta.
Herodes memang berkuasa, tetapi ketika mendengar pertanyaan para Magi, ia terkejut, ia merasa takut, merasa tersaingi, dan merasa terancam. Kita melihat bahwa “A new star in the sky was often believed to herald the birth of a significant person in the land over which the star shone. So the Magi’s question is a natural inference from their observation” [Sebuah bintang baru di langit sering diyakini pembawa berita kelahiran orang yang signifikan di tanah di mana bintang bersinar. Jadi, pertanyaan para Magi adalah kesimpulan alami dari pengamatan mereka].

KEDUA: Frederick Dale Bruner A Commentary Matthew 1-12. Revised and Expanded Edition (Grand Rapids, Wm. Eerdmans, 2004).
Brunes menjelaskan mengenai bintang yang bersinar di Timur dengan mengaitkannya pada teks Bilangan 24:17: “Sebuah bintang akan keluar dari Yakub, dan tongkat kerajaan akan bangkit dari Israel” (Bil. 24:17). 2:1, sekarang ketika Yesus dilahirkan di Betlehem dari Yudea pada zaman Raja Herodes, lihat! Magi dari Timur tiba di Yerusalem. Tiga tokoh utama (Yesus, Herodes, dan orang Majus) diperkenalkan dalam ayat pembukaan Matius 2: Yesus yang adalah “Emmanu-El”, Allah dengan kita, sekarang menjadi Yesus “Emmanu-Adam”, Allah dengan manusia.
Dalam bahasa doktrin Kristen, Matius 2 menunjukkan bahwa orang yang datang kepada Kristus dengan motivasi “dalam iman”, yaitu orang-orang Majus, dan motivasi “dalam pemberontakan”, yaitu Herodes.
KETIGA: Herbert W. Basser dan Marsha B. Cohen, A Relevance-based Commentary. The Gospel of Matthew and Judaic Traditions (Leiden: Brill, 2015).
Kata “Magos” (magoi) adalah kata Yunani untuk “astrolog.” Seorang astrolog adalah siapa pun yang bisa ilahi masa depan menggunakan pesona. seorang penyihir, kemudian, adalah seseorang yang dapat membedakan kejadian tersembunyi atau memprediksi peristiwa yang belum terjadi. Versi Suryani Matius menyebut mereka “magoshei”. Philo merujuk kepada Bileam, sebagai Magos.
Ada banyak kisah orang Yahudi yang menceritakan tentang astrolog dan/atau para juru bahasa mimpi yang mengungkapkan makna dari para isyarat ajaib terkait dengan kelahiran para penyelamat Israel.
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa kedatangan para magi untuk melihat dan menyembah Yesus terkait erat dengan keyakinan mereka tentang isyarat ajaib—bintang yang di Timur—bahwa ada seorang yang lahir dan diyakini sebagai pemimpin dan raja.

KEEMPAT: Frank E. Gaebelein (ed.), Matthew, Mark, Luke. The Expositor’s Bible Commentary’ Volume 8 (Grand Rapids, Michigan, Zondervan Corporation, 1984)
“Magi” (magoi) tidak mudah diidentifikasi dengan presisi (tepat). Beberapa abad sebelumnya istilah ini digunakan untuk kasta imam Medes yang menikmati kekuasaan khusus (p. 84). Menurut tradisi, orang Majus adalah raja, dapat ditelusuri sampai masa Tertullian (meninggal sekitar tahun 225). Ini mungkin dikembangkan di bawah pengaruh kutipan PL yang mengatakan bahawa raja akan datang dan menyembah Mesias (rujukannya adalah Mazmur 68:29, 31; 72:10-11; Yesaya 49:7; 60:1-6).
Pada akhir abad keenam, orang bijak diberi nama: Melkon (kemudian Melchior), Balthasar, dan Gasper. Matius tidak memberikan nama. Mereka datang ke Yerusalem (seperti Betlehem, memiliki hubungan Daud yang kuat [2 Sam. 5:5-9]), tiba, dari Timur-mungkin dari Babel, di mana yang cukup besar pemukiman Yahudi memegang pengaruh yang cukup besar, tetapi mungkin dari Persia atau dari gurun Arab.
Orang Majus melihat bintang “apabila ia terbit”. Apa yang mereka lihat tetap tidak pasti. Kepler (–630) menunjukkan bahwa pada tahun Romawi a.u.c. [“ab urbe condita”] 747 (atau 7 BC), terjadi konjungsi planet Jupiter dan Saturnus dalam rasi bintang Pisces, sebuah tanda yang terkadang terhubung dalam Astrologi kuno dengan orang Ibrani. Informasi tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian tarikh mengenai kapan bintang itu bersinar, memungkinkan keingintahuan Herodes untuk mendapatkan keterangan mengenai kapan bintang itu tampak (Mat. 2:7).
Matius menggunakan bahasa hampir pasti menyinggung Bilangan 24:17: “bintang akan keluar [terbit] dari Yakub; tongkat kerajaan akan bangkit dari Israel.” Firman ini, yang diucapkan oleh Bileam, yang datang “dari Pegunungan Timur” (Bilangan 23:7), secara luas dianggap sebagai Mesianik Targum Jonathan dan Onkelos; dari Cairo (Genizah text of the) Damascus (Document) 7:19–20; 1QM Milhamah (War Scroll) 11:6; 1QSb Appendix B (Blessings) to 1QS 5:27; 4QTest Testimonia text from Qumran Cave 4 12-13; Talmud Yehuda 24:1).
Dari korelasi dengan dokumen yang dianggap memiliki singgungan langsung dengan teks Bilangan 23:7 di atas, merupakan sebuah data historis yang dipandang—dalam keyakinan saya—mendukung peristiwa historis kelahiran Yesus dan bintang yang bersinar di Timur, juga sebagai nubuatan Sang Mesias (konsep Mesianik) yang digenapi oleh Yesus Kristus. Dalam penalaran teologis, sesuatu yang ajaib untuk dilakukan hanya dapat dipenuhi (digenapi) oleh Allah sendiri. Itulah sebabnya, Yesus disebut sebagai Mesias Ilahi karena Ia sendiri “keluar” dari diri Allah, Logos Allah itu sendiri yang berdiam sejak kekekalan (Yoh. 1:1).

KELIMA: Ulrich Luz, Hermeneia: A Critical and Historical Commentary on the Bible. Matthew 1–7: A Commentary. Translated by James E. Crouch. Edited by Helmut Koester (Augsburg: Fortress Press, 2007)
“Magoi” awalnya berarti anggota kelas imam Persia, tetapi maknanya meluas, dan dimulai dengan periode Hellenistik juga mencakup perwakilan lain dari teologi Timur, filsafat, dan ilmu pengetahuan alam. Menurut tradisi kuno, para magician juga memprediksi peristiwa besar.
Dimulai dengan Sophocles dan Euripides, “magos” juga digunakan dalam arti negatif: penyihir/Magi adalah penyihir dan penipu. Namun, pada zaman Hellenistik, orang Majus lebih cenderung dianggap positif, sehingga ada yang memandang bahwa kebijaksanaan Timur dinikmati pada hari itu.
Menurut Martin Hengel, Yudaisme, yang di bawah pengaruh PL alergi terhadap segala bentuk sihir, memiliki pandangan yang umumnya negatif, tetapi tidak sepenuhnya mampu menolak pengaruh baik dari astrologi atau orang majus yang sangat tinggi dan sangat Hellenistik. Martin Hengel, Judaism and Hellenism: Studies in Their Encounter in Palestine during the Early Hellenistic Period (trans. John Bowden; 2 vols.; Philadelphia: Fortress Press, 1981) 1.89, 91–92; 2.60, n. 243. (dikutip Luz, 112).
Secara sosial prestise orang-orang majus itu mulia (tinggi); mereka sering bertemu satu sama lain di pengadilan kerajaan. Prestise mereka sesuai dengan hadiah yang mereka bawa kepada bayi Yesus, yaitu emas, kemenyan, dan mur. Kemenyan, adalah pohon dupa yang tumbuh di tenggara Arabia, India, dan Somalia, dan mur, damar dari pohon mur yang juga tumbuh di Arabia dan Ethiopia, digunakan terutama dalam kultus, tetapi juga untuk praktek magis, di pernikahan upacara, untuk tujuan kosmetik, dan sebagai bumbu atau obat. Keduanya dianggap sebagai barang mewah yang sangat mahal.
Mereka membawanya dalam perjalanan mereka yang sangat jauh mencapai tempat di mana Yesus dilahirkan. Pada akhirnya, dalam perjalanan yang jauh itu, menurut Luz, “God’s guidance alone is decisive” (hanya bimbingan Allah yang menentukan). Bimbingan Allah tampak dari petunjuk sinar bintang itu. Matius 2:9 “…Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.”
Selain dari memberikan persembahan (bdk. Yesaya 60:6), para magi menyembah Anak itu. Luz menjelaskan, bahwa “menurut pemahaman Timur Dekat, penyembahan dilakukan terhadap orang yang mulia (tinggi), terutama raja”. Yesus, selain mulia, Ia juga adalah Raja. Maka di sini kita melihat bagaimana keyakinan para magi dengan mengatakan: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” (Mat. 2:2), mengantarkan mereka pada fakta yang sesungguhnya: “mereka menyembah Yesus” (Mat. 2:11).

KEENAM: Raymond E. Brown, The Anchor Bible Reference Library: The Birth Of The Messiah. A Commentary On the Infancy Narratives in the Gospels of Matthew and Luke (New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc. & Broadway, 1540)
Pertanyaan yang diajukan Brown mengenai teks Matius 2 adalah: “Apa yang Matius maksudkan dengan “magoi”? Brown menjelaskan, dalam sejarahnya, orang-orang Majus golongan yang memiliki kekuatan khusus untuk menafsirkan Mimpi.
Sekitar tahun 550 BC, orang majus dipandang sebagai imam Zoroastrian. Pada abad berikutnya ada diversifikasi (keragaman) mengenai fungsi orang Majus, yang mana istilah itu juga diterapkan pada seorang yang mahir dalam berbagai bentuk pengetahuan rahasia dan sihir. Bahkan mereka dianggap memiliki kekuatan menafsirkan mimpi dan pesan visioner (Daniel 1:20; 2:2; 4:4; 5:7).
Josephus menulis tentang Atomas, seorang Magus Siprus yang berfungsi di Caesarea Maritima di Palestin pada tahun 50-an. Dengan demikian, istilah “Magi” mengacu pada mereka yang terlibat dalam seni okultisme dan mencakup berbagai astronom, peramal keberuntungan, pendeta ahli nujum, dan para penyihir dari berbagai kemungkinan (G. Delling, “Magos”, 356-57).
Orang-orang majus yang dianggap berlatar belakang Zoroastrian diusulkan oleh Bapa Gereja yaitu Clement dari Alexandria (Stromata I 15). Memang, ada keyakinan patristik bahwa Zoroaster adalah seorang nabi yang telah meramalkan kedatangan Mesias.
Clement, “Stromata VI 5”, mengutip Rasul Paulus yang menyatakan bahwa dalam “Oracles of Hystapes” (campuran apokaliptik Persia dan pengetahuan Yahudi dari abad pertama sebelum Masehi atau Masehi) ada rujukan yang jelas kepada Anak Allah dan kedatangan-Nya. The later “Arabic Gospel of the Infancy”, 7:1, reports that “some magi came to Jerusalem according to the prediction of Zoroaster” [“Injil Arab tentang Masa Kanak-kanak”, 7:1, melaporkan bahwa “beberapa orang majus datang ke Yerusalem sesuai dengan nubuat Zoroaster”] [Clement, “Stromata VI 5”, mengutip Rasul Paulus untuk efek yang Oracles of Hystapes (abad pertama B.C. atau AD campuran kumpulan apokaliptik dan Yahudi) ada rujukan jelas kepada anak Allah dan kedatangannya. “Arabic Gospel of the Infancy” yang kemudian, 7:1, melaporkan bahwa “orang Majus datang ke Yerusalem menurut ramalan Zoroaster.”
Messina, “Una profezia,” menganalisa perkembangan legenda ini di kalangan Kristen yang pada akhirnya mengidentifikasi Zoroaster dan Bileam. Ia melihat kemungkinan asal usul seluruh gagasan dalam doktrin Avesta mengenai harapan Sauiyant, seorang putra yang dilahirkan setelah kematian Zoroaster. Benih Zoroaster dipelihara di sebuah danau; dan ketika seorang perawan yang telah ditahbiskan akan mandi di sana, ia akan dihamili oleh itu.) Sosok langgeng ini adalah untuk membangkitkan orang mati dan menghancurkan kekuatan jahat. Namun, tidak ada bukti bahwa orang Kristen di zaman Matius tahu tentang pengharapan ini.

KETUJUH: Albert de Jong, “Matthew’s Magi as Experts on Kingship” dalam Peter Barthel and George van Kooten (eds.), The Star of Bethlehem and the Magi: Interdisciplinary Perspectives from Experts on the Ancient Near East, the Greco-Roman World, and Modern Astronomy (Leiden, Netherlands: Koninklijke Brill, 2015)
De Jong menjelaskan, kata Yunani “Magos”, secara umum diakui sebagai kata dari bahasa Persia kuno “Magu”, memiliki dua arti yang berbeda dalam bahasa Yunani. Di satu sisi, kata tersebut mengidentifikasi Imam Zoroastrian, dan di sisi lain, mengacu pada jenis spesialis yang terkenal untuk menjadi ahli dalam hal “sihir”. De Jong menyebutkan, bahwa “ada pula yang beranggapan bahwa orang-orang majus berasal dari Helenis” seperti Molnar, Bidez, dan Cumont.
Dalam bukunya “The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi”, Dr. Michael R. Molnar, seorang astronom, menyatakan bahwa “kita bertemu dengan orang Majus dalam dua kapasitas yang berbeda: pertama, diklaim sebagai kepentingan sejarah saja—adalah para imam Zoroastrian; dan kedua, lebih baik sesuai dengan tujuannya—adalah bahwa dari astrolog Helenis (Molnar, Star of Bethlehem, 32–33). Akan tetapi, menurut de Jong, hampir segala sesuatu yang Molnar tuliskan tentang Magi Persia dan perkembangan semantik dari kata “Magos”, secara historis bermasalah (de Jong, “Matthew’s Magi as Experts on Kingship”, 275, pada catatan kaki).
Alasan mengapa astrolog ini harus dianggap Helenis adalah kenyataan bahwa astrologi Molnar telah disimpulkan dari narasi Matius—yang ia sarankan sebagai latar belakang yang paling masuk akal untuk cerita, dan memang, dengan maksud menopang sejarah narasi entah bagaimana—adalah bahasa Yunani daripada Mesopotamia. Pada kenyataannya, menurut D. Pingree, The Yavanajātaka of Spujidhvaja (Harvard Oriental Series 48; Cambridge MA: Harvard University Press, 1978), astrologi Yunani menyebar jauh dan luas dalam tiga abad pertama dari Common era, sepanjang jalan sampai India.
Pendapat bahwa para magi berasal dari Yunani juga dinyatakan oleh J. Bidez & F. Cumont, dan buku “Les mages hellénisés. Zoroastre, Ostanès et Hystaspe d’après la tradition grecque” (Paris: Les Belles Lettres, 1938; 2 vols., repr. 1973).
KEDELAPAN: H. Leo Boles, A Commentary On the Gospel According to Matthew. In One Volume (Nashville, Tennessee: Gospel Advocate Company, 1976)
Menurut Boles, “Timur”—maksudnya orang-orang majus—dapat berarti baik Arabia, Persia, Kasdim, atau Parthia dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Palestina. Jumlah mereka bukanlah tiga orang. Ada kemungkinan mereka dalam jumlah banyak (rombongan).
Nama orang Majus menjadi popular di masyarakat pada masa itu. Orang-orang Majus adalah mereka yang mengabdikan diri untuk mempelajari obat, astrologi, dan rahasia alam. Ada yang mengira bahwa orang-orang Majus ini adalah raja dan bahwa ada tiga dari mereka yang mewakili tiga keluarga Sem, Ham, dan Yafet, tetapi asumsi ini harus diabaikan.
Ada pula anggapan bahwa orang-orang majus berasal dari satu kasta agama (golongan masyarakat tertentu). Mereka dianggap memiliki keunggulan dalam hal ramalan. Dan mereka memandang bahwa peristiwa bersinarnya bintang di Timur mengisyaratkan ada sesuatu yang terjadi, termasuk keyakinan mereka akan datangnya (lahirnya) seorang pemimpin (raja) yang besar.
Orang-orang bijak ini datang ke Yerusalem. Kota ini dikenal di seluruh Timur. Orang Yahudi pada waktu itu telah tersebar di berbagai belahan dunia. Sepuluh suku Israel yang terserak sebagian besar berada di Parthia, walaupun ide dan harapan mereka tentang Mesias yang dijanjikan tidak begitu jelas. Yerusalem adalah pusat agama Yahudi dan pusat politik untuk provinsi itu. Adalah wajar bahwa orang-orang majus ini akan datang ke Yerusalem untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai raja yang baru dilahirkan itu.

KESEMBILAN: Robert H. Gundry, A Commentary on His Literary and Theological Art: MATTHEW (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1983).
Gundry berpendapat bahwa, kedatangan orang-orang majus untuk datang menyembah Yesus membuka pintu masuk bagi para murid dari semua bangsa untuk mengakui Yesus sebagai Raja orang Yahudi dan menyembah Dia sebagai Allah (p. 26). Menurut saya, hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan malaikat Tuhan: “…sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Lukas 2:10) dan perintah Yesus di kemudian hari meneguhkan hal yang sama: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.
KESEPULUH: R. T. France, The New International Commentary On The New Testament. The Gospel of Matthew (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2007)
France berpendapat, bahwa bintang yang memainkan peranan penting dalam cerita ini mengundang refleksi tentang nubuatan Bileam dalam Bilangan 24:17-19 tentang kebangkitan (LXX “anatelei”, yang disebutkan dalam Matius, 2:9, anatolē) dari “bintang terbit dari Yakub dan tongkat dari Israel”.
Teks Bilangan 24:17-19 juga dirujuk oleh beberapa penafsir lain untuk menghubungkannya dengan bintang yang dilihat oleh para magi di Timur (sudah saya sebutkan di atas). Jika pola penafsiran ini dianggap akurat, maka pertanyaan penting di sini yang dapat diajukan adalah “apakah pasca penulisan teks Bilangan tersebut, “bintang terbit dari Yakub” telah tergenapi sebelum Yesus dilahirkan? Memang, setiap penafsir perlu melihat konteks dari teks yang ditulis, tetapi kita juga tak dapat memungkiri penggenapan dari setiap teks yang ditulis, apalagi yang mengandung nubuatan. Korelasi antara teks nubuatan dengan penggenapannya adalah konsekuensi sekaligus konsistensi logis.

Dari berbagai penjelasan di atas mengenai identitas orang-orang majus—berdasarkan perluasan dari mikroteks Matius 2:-12 sebagaimana terlihat pada sumber-sumber rujukan yang telah disebutkan—bintang di Timur, yang dikorelasikan dengan nubuatan dalam PL, maupun maksud kedatangan mereka untuk menyembah Yesus, dapat disimpulkan bahwa:
Pertama, peristiwa kelahiran Yesus adalah fakta historis (baik dalam mikroteks Matius 2:1-2, maupun makroteks inkarnasi Yesus dalam Injil Lukas dan Yohanes), termasuk mengenai bintang yang dilihat oleh para magi di Timur yang menuntun mereka sampai di tempat di mana Yesus berada. Kelahiran Yesus terjadi secara ajaib yang menghimpun para gembala, dan orang-orang majus, bahkan menghimpun kita semua dari segala suku, bahasa, dan bangsa.
Kedua, bintang di Timur mengisyaratkan kepada orang-orang majus bahwa telah lahir seorang Raja berdasarkan waktu yang ditetapkan Allah, meski di sisi lain mereka memiliki ramalan dan makrofidēi (keyakinan [iman] yang besar) mengenai datangnya seorang pemimpin besar melalui petunjuk bintang yang bersinar di Timur.
Ketiga, identitas orang majus mengisyaratkan bahwa mereka adalah orang-orang mulia yang secara sosial memiliki prestise. Persembahan mereka adalah tanda bahwa mereka bukanlah orang-orang biasa. Dari mana pun mereka berasal, tidak menjadi soal, tetapi yang terpenting adalah adalah ramalan dan keyakinan mereka—makrofidēi—akan lahirnya seorang raja (pemimpin) yang besar yang ditandai dengan bintang di Timur, telah mengantarkan mereka pada fakta bahwa keyakinan mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka menemukan Yesus, dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur, serta menyembah Dia (Mat. 2:11), sesuai perkataan mereka (Mat. 2:2).
Keempat, bintang Raja Yahudi yang terlihat di Timur, menuntun orang-orang majus untuk datang menyembah-Nya. Keyakinan akan ilmu ramalan mereka, setidaknya harus dibuktikan bahwa apa yang mereka yakini (makrofidēi) soal “bintang” itu, adalah benar: seorang Raja telah lahir. Apa yang dinyatakan malaikat Tuhan bahwa: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” adalah pembuktian bahwa memang Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Keyakinan orang-orang majus mengenai lahirnya seorang Raja yang lahir berdasarkan petunjuk bintang di Timur, mengkonfirmasi berita dari malaikat Tuhan.
Keyakinan orang-orang majus untuk datang menyembah Raja yang baru dilahirkan itu, bukanlah usaha coba-coba. Mereka benar-benar yakin bahwa seorang Raja telah lahir, dan oleh karena itu mereka sekaligus membawa harta benda mereka: emas, kemenyan, dan mur. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Hati mereka terisi dengan keyakinan, maka tangan mereka juga terisi dengan harta benda yang akan dipersembahkan kepada Raja yang baru lahir itu. Mereka yakin bahwa ramalan mereka tidak meleset, benar, dan tepat. Keyakinan itu berbuahkan hasil: benar, ada seorang Raja yang baru dilahirkan.
Kelima, apa yang dikatakan oleh malaikat Tuhan kepada para gembala: “…sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa….” dibuktikan oleh datangnya orang-orang majus dari Timur, berbekal makrofidēi mereka atas ramalan. Tidak hanya itu, berita malaikat itu tidak berhenti pada peristiwa Natal Yesus saja, tetapi hingga sekarang ini, kesukaan besar untuk seluruh bangsa telah terpenuhi. Dengan demikian, kita pun melihat bahwa berita itu, dikonfirmasi oleh Yesus sendiri: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.

Keenam, Natal Yesus Kristus menghadiahkan hal-hal luar biasa dan spektakuler bagi Maria dan Yusuf, bagi Elizabeth (Lukas 1:39-45), para gembala, bala tentara sorga, bagi orang-orang majus (berdasarkan mikroteks Matius 2:1-2), dan bagi kita, yang memahami sekaligus mengimani bahwa kelahiran Sang Logos dalam wujud manusia adalah karena dilandasi oleh kasih-Nya yang tak terkira itu (bdk. Yoh. 3:16).
Sudahkah kita benar-benar menyembah Raja Damai, yaitu Yesus Kristus? Sudahkah kita datang pada-Nya dan mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya? Sudahkah kita meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Raja dan Juruselamat dunia? Apakah kita siap berjuang untuk tetap mempertahankan iman kepada Yesus Kristus, bahkan memiliki makrofidēi, sama seperti orang-orang majus yang memiliki makrofidēi dan mempertahankannya, bahwa ramalan mereka mengenai lahirnya seorang raja, adalah benar berdasarkan petunjuk bintang-Nya di Timur.
Mikroteks Matius 2:1-2 dan makrofidēi orang-orang majus adalah kisah yang menarik, yang sekaligus memberikan kita kenangan historis bahwa Natal Yesus Kristus adalah suatu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Makrofidēi akan mengarahkan hidup kita—sama seperti para magi—kepada kehidupan yang berkenan kepada-Nya yaitu mempersembahkan yang terbaik pada-Nya, dan sujud menyembah-Nya, kini dan selamanya.
Salam Bae…
Bibliografi
Albert de Jong, “Matthew’s Magi as Experts on Kingship” dalam Peter Barthel and George van Kooten (eds.), The Star of Bethlehem and the Magi: Interdisciplinary Perspectives from Experts on the Ancient Near East, the Greco-Roman World, and Modern Astronomy (Leiden, Netherlands: Koninklijke Brill, 2015).
Craig L. Blomberg, The New American Commentary: Matthew (Broadman Press, Nashville Tennessee, 1992).
Frank E. Gaebelein (ed.), Matthew, Mark, Luke. The Expositor’s Bible Commentary’ Volume 8 (Grand Rapids, Michigan, Zondervan Corporation, 1984).
Frederick Dale Bruner A Commentary Matthew 1-12. Revised and Expanded Edition (Grand Rapids, Wm. Eerdmans, 2004).
Gleason L. Archer, Jr., Encyclopedia of Bible Difficulties, terj. Suhadi Yeremia (Malang: Gandum Mas, 2014).
H. Leo Boles, A Commentary On the Gospel According to Matthew. In One Volume (Nashville, Tennessee: Gospel Advocate Company, 1976).
Herbert W. Basser dan Marsha B. Cohen, A Relevance-based Commentary. The Gospel of Matthew and Judaic Traditions (Leiden: Brill, 2015).
R. T. France, The New International Commentary On The New Testament. The Gospel of Matthew (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2007).
Raymond E. Brown, The Anchor Bible Reference Library: The Birth Of The Messiah. A Commentary On the Infancy Narratives in the Gospels of Matthew and Luke (New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc. & Broadway, 1540).
Robert H. Gundry, A Commentary on His Literary and Theological Art: MATTHEW (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1983).
Ulrich Luz, Hermeneia: A Critical and Historical Commentary on the Bible. Matthew 1–7: A Commentary. Translated by James E. Crouch. Edited by Helmut Koester (Augsburg: Fortress Press, 2007).
REFERENSI TAMBAHAN untuk memahami Magi dan Injil Matius, termasuk sumber-sumber yang digunakan oleh A. de Jong.
Ahmadi, A. “The magoi and daimones in Column VI of the Derveni Papyrus.” Numen 61 (2014): 484–508.
Aus, R. D. “The Magi at the Birth of Cyrus, and the Magi at Jesus’ Birth in Matthew 2:1–12.” Pages 99–114 in Religion, Literature, and Society in Ancient Israel: Formative Christianity and Judaism. Edited by J. Neusner. Lanham, MD: University Press of America, 1987.
Beck, R. L. “History into Fiction: The Metamorphoses of the Mithras Myths.” Ancient Narrative 1 (2001–2002): 283–300.
Beck, R. L. “Thus Spake Not Zarathuštra: Zoroastrian Pseudepigrapha of the Greco-Roman World.” Pages 491–565 A History of Zoroastrianism III: Zoroastrianism under Macedonian and Roman Rule, by M. Boyce and F. Grenet. Leiden: Brill, 1991.
Bidez, J., and F. Cumont. Les mages hellénisés. Zoroastre, Ostanès et Hystaspe d’après la tradition grecque. Paris: Les Belles Lettres, 1938.
Boyce, M. A History of Zoroastrianism II. Under the Achaemenians. Leiden: Brill, 1982.
Bremmer, J. N. “Persian Magoi and the Birth of the Term ‘Magic.’ ”, Pages 235–48 in Greek Religion and Culture, the Bible and the Ancient Near East. Edited by J. N. Bremmer. Leiden/Boston: Brill, 2008.
Brown, R. E. The Birth of the Messiah: A Commentary on the Infancy Narratives in Matthew and Luke. Garden City, NY: Doubleday, 1977.
Buckley, J. J. “The Mandaean Appropriation of Jesus’ Mother, Miriai.” Novum Testamentum 35 (1993): 181–96.
Burkert, W. Babylon, Memphis, Persepolis: Eastern Contexts of Greek Culture. Cambridge, MA/London: Harvard University Press, 2004.
Cumont, F. “L’iniziazione di Nerone da parte di Tiridate d’Armenia.” Rivista di Filologia 11 (1933): 145–54.
Derrett, J. D. M. “Further Light on the Narratives of the Nativity.” Novum Testamentum 17 (1975): 81–108.
Dorival, G. “ ‘Un astre se lève de Jacob’: L’interprétation ancienne de Nombres 24,17.” Annali di storia dell’esegesi 13 (1996): 295–352.
Ferrari, F. “Rites without Frontiers: Magi and Mystae in the Derveni Papyrus.” Zeitschrift für Papyrologie und Epigraphik 179 (2011): 71–83.
Gordon, R. “Magian Lessons in Natural History: Unique Animals in Graeco-Roman Natural Magic.” Pages 249–69 in Myths, Martyrs, and Modernity. Studies in the History of Religions in Honour of Jan N. Bremmer. Edited by J. Dijkstra, J. Kroesesn, and Y. Kuiper. Numen Book Series 127. Leiden: Brill, 2010.
Gordon, R. “Magic as a Topos in Augustan Poetry: Discourse, Reality, and Distance.” Archiv für Religionsgeschichte 11 (2009): 209–29.
Gyselen, R. “Les sceaux des mages dans l’Iran sassanide.” Pages 121–50 in Au carrefour des religions. Mélanges offerts à Philippe Gignoux. Edited by R. Gyselen. Res Orientales 7. Bures-sur-Yvette: Peeters, 1995.
Hegedus, T. “The Magi and the Star in the Gospel of Matthew and Early Christian Tradition.” Laval Theologique et Philosophique 59 (2003): 81–95.
Hegedus, T. “The Magi and the Star of Matthew 2:1–12 in Early Christian Tradition.” Studia Patristica 39 (2006): 213–17.
Hengel, M., and H. Merkel. “Die Magier aus dem Osten und die Flucht nach Agypten (Mt. 2) im Rahmen der antiken Religionsgeschichte und der Theologie des Matthäus.” Pages 136–69 in Orientierung an Jesus: zur Theologie der Synoptiker. Edited by P. Hoffmann, N. Brox, and W. Pesch. Freiburg i.Br.: Herder, 1973; rev. edition: M. Hengel, Jesus und die Evangelien. Vol. 5 of Kleine Schriften. Tübingen: Mohr Siebeck, 2007, 323–46.
Henkelman, W. The Other Gods Who Are: Studies in Elamite-Iranian Acculturation Based on the Persepolis Fortification Tablets. Leiden: NINO, 2008.
Hjerrild, B. “The Survival and Modification of Zoroastrianism in Seleucid Times.” Pages 140–50 in Religion and Religious Practice in the Seleucid Kingdom. Edited by P. Bilde. Aarhus, Denmark: Aarhus University Press, 1990.
Holtmann, T. Die Magier vom Osten und der Stern: Mt 2, 1–12 im Kontext fruhchristlicher Traditionen. Marburg: Elwert, 2005.
Horky, P. S. “Persian Cosmos and Greek Philosophy: Plato’s Associates and the Zoroastrian magoi.” Oxford Studies in Ancient Philosophy 37 (2009).
Horsley, R. A. “Messiah, Magi, and Model Imperial King.” Pages 139–61 in Christmas Unwrapped: Consumerism, Christ, and Culture. Edited by R. A. Horsley and J. Tracy. Harrisburg, PA: Trinity Press International, 2001.
Hultgard, A. “Prêtres juifs et mages zoroastriens: Influences religieuses à l’époque hellénistique.” Revue d’Histoire et de Philosophie Religieuses 68 (1988): 415–28.
Huyse, Ph. Die driesprachige Inschrift Šābuhrs I. an der Ka’ba-i Zardušt. London: School of Oriental and African Studies, 1999.
Jenkins, R. M. “The Star of Bethlehem and the Comet of AD 66.” Journal of the British Astronomy Association 114 (2004): 336–43.
Jong, A. de. Traditions of the Magi: Zoroastrianism in Greek and Latin Literature. Religions in the Graeco-Roman World 133. Leiden: Brill, 1997.
Jong, A. de. “The Contribution of the Magi.” Pages 85–99 in Birth of the Persian Empire, vol. 1. Edited by V. S. Curtis and S. Stewart. London/New York: I. B. Tauris, 2005.
Jong, A. de.. “Religion at the Achaemenid Court.” Pages 533–58 in Der Achämenidenhof. The Achaemenid Court. Edited by B. Jacobs and R. Rollinger. Classica et Orientalia 2. Wiesbaden: Harrassowitz, 2010.
Kingsley, P. “Meetings with Magi: Iranian Themes among the Greeks, from Xanthus of Lydia to Plato’s Academy.” Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland 5 (1995).
Koch, H. Die religiösen Verhältnisse der Dareioszeit. Untersuchungen an Hand der elamischen Persepolistäfelchen. Wiesbaden: Harrassowitz, 1977.
Kotansky, R. “The Star of the Magi: Lore and Science in Ancient Zoroastrianism, the Greek Magical Papyri, and St Matthew’s Gospel.” Annali di storia dell’esegesi 24 (2007): 379–421.
Maalouf, T. T. “Were the Magi from Persia or Arabia?” Bibliotheca Sacra 156 (1999): 423–42.
Markschies, C. “Does It Make Sense to Speak about a ‘Hellenisation of Christianity’ in Antiquity?” Church History and Religious Culture 92 (2012): 5–34.
Mayer, G. Und das Leben ist siegreich. Ein Kommentar zu den Kapiteln 18–33 des Johannesbuches der Mandäer: Der Traktat über Johannes den Täufer. Ph.D. diss, University of Heidelberg, 1996.
Merkt, A. “Augustinus, die Magie und die ‘Magi ex Oriente.’ ” Annali di storia dell’esegesi 24 (2007): 463–83.
Molnar, M. R. The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi. New Brunswick, NJ/London: Rutgers University Press, 1999.
Momigliano, A. Alien Wisdom: The Limits of Hellenization. Cambridge: Cambridge University Press, 1975.
Monneret de Villard, U. Le leggende orientali sui magi evangelici. Studi e Testi 163. Citta del Vaticano: Biblioteca Apostolica Vaticana, 1952.
Nesselrath, H.-G., B. Babler, M. Forschner, and A. de Jong. Menschliche Gemeinschaft und göttliche Ordnung: Die Borysthenes-Rede. Darmstadt: Wissenschaftliche Buchgesellschaft, 2003. New York/ Cologne: Brill, 1997.
Nicklas, T. “Balaam and the Star of the Magi.” Pages 233–46 in The Prestige of the Pagan Prophet Balaam in Judaism, Early Christianity and Islam. Edited by G. H. van Kooten and J. van Ruiten. Leiden/Boston: Brill, 2008.
Nock, A. D. “Greeks and Magi.” Journal of Roman Studies 30 (1940): 191–98.
Nock, A. D. “Greeks and Magi.” Pages 516–26 in Essays on Religion and the Ancient World. Edited by Z. Stewart. Oxford: Clarendon Press 1972 (1940).
Nolland, J. “The Sources for Matthew 2:1–12.” Catholic Biblical Quarterly 60 (1998): 283–300.
Otto, B.-C. Magie: Rezeptions- und diskursgeschichtliche Analysen von der Antike bis zur Neuzeit. Religionsgeschichtliche Versuche und Vorarbeiten 57. Berlin: De Gruyter, 2011.
Panaino, A. I magi e la loro stella: Storia, scienza e teologia di un racconto evangelico. Milano: Edizioni San Paolo, 2012.
Pesch, R. Die matthäischen Weihnachtsgeschichten: Die Magier aus dem Osten, König Herodes und der bethlehemitische Kindermord; Mt 2 neu übersetzt und ausgelegt. Paderborn: Bonifatius, 2009.
Powell, M. A. “The Magi as Wise Men: Re-examining a Basic Supposition.” New Testament Studies 46 (2000): 1–20.
Quack, J. F. “Les Mages Egyptianises? Remarks on Some Surprising Points in Supposedly Magusean Texts.” Journal of Near Eastern Studies 65 (2006): 267–82.
Reiser, M. “ ‘Siehe, da kamen Magier aus dem Osten nach Jerusalem . . .’: Zu welcher literarischen Gattung gehört die Geschichte in Mt 2?” Trierer Theologische Zeitschrift 122 (2013): 34–47.
Rives, J. B. “Magus and Its Cognates in Classical Latin.” Pages 53–77 in Magical Practice in the Latin West. Edited by R. L. Gordon and F. M. Simon. Religions in the Graeco-Roman World 168. Leiden: Brill, 2010.
Robinson, B. P. “Matthew’s Nativity Stories: Historical and Theological Questions for Today’s Readers.” Pages 110–31 in New Perspectives on the Nativity. Edited by J. Corley. London/New York: T&T Clark, 2009.
Russell, J. R. Zoroastrianism in Armenia. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1987.
Styers, R. Making Magic: Religion, Magic, and Science in the Modern World. New York: Oxford University Press, 2004.
West, S. R. “Lo, Star-led Chieftains . . . : Aeneas and the Magi.” Omnibus 30 (1995).
Zaehner, R. C. The Teachings of the Magi: A Compendium of Zoroastrian Belief. London: Allen & Unwin, 1956.
























