Ibadah dalam arti sempit adalah sebuah bentuk pelayanan di mana di dalamnya terdapat berbagai hal seperti puji-pujian, pemberitaan firman Tuhan, dan hal-hal lainnya yang disesuaikan dengan kondisi ibadah. Ibadah memiliki kondisi atau konteks tertentu. Ada ibadah syukur, kedukaan, pengutusan, dan lain sebagainya.
Penyembahan adalah bagian dari ibadah. Namun penyembahan tidak selalu terikat dengan ibadah. Sebenarnya ibadah juga demikian. Akan tetapi, ibadah sudah dianggap sebagai sesuatu yang tersusun secara rapi. Sering, dalam ibadah, ada penyembahan yang hanya berfokus pada “puji-pujian”. Ya, hanya puji-pujian, sehingga dalam ibadah itu sering disebut: “pujian dan penyembahan.” Maka, penyembahan disempitkan maknanya hanya pada “tutup mata sambil menyanyi lagu yang bernatur [dianggap] penyembahan.”
Penyembahan tidak sesederhana itu, tidak pula dipahami secara sempit. Penyembahan dapat memiliki arti yang lebih luas. Penyembahan kepada Tuhan berarti adanya ketundukan, kesetiaan, dan penghormatan kepada-Nya. Ketika seseorang telah menganggap dirinya menyembah Tuhan dalam ibadah tetapi tingkah laku, pikiran, dan perkataannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, maka yang dia lakukan adalah tidak menyembah tetapi hanya merasakan bahwa dia menyembah.
Berikut ini saya menyertakan informasi dari salah satu sumber yang menjelaskan ibadah dan penyembahan. Menurut J. G. S. S. Thomson, kosa kata ibadat dalam Alkitab sangat luas, tapi konsep asasinya baik dalam PL maupun PB ialah ‘pelayanan’. Kata Ibrani ‘avoda, dan Yunani “latreia” pada mulanya menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan. Dan dalam rangka mempersembahkan ‘ibadat’ ini kepada Allah, maka para hamba-Nya harus meniarap — Yunani “proskuneo” — dan dengan demikian mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja.
Thomson menjelaskan, bahwa dalam PL ada beberapa contoh ibadat pribadi (Kej. 24:26; Kel. 33:9-34:8). Tapi tekanannya adalah pada ibadat dalam jemaat (Mzm. 42:3; 1Taw. 29:20). Ibadat umum yang sudah demikian berkembang, dilaksanakan dalam kemah pertemuan dan Bait Suci, berbeda sekali dari ibadat pada zaman yang lebih awal ketika para Bapak leluhur percaya, bahwa Tuhan dapat disembah di tempat mana pun Dia pilih untuk menyatakan diriNya. Tapi bahwa ibadat umum di Bait Suci merupakan realitas rohani, jelas dari fakta bahwa ketika tempat suci itu dibinasakan, dan masyarakat Yahudi terbuang di Babel, ibadat tetap merupakan kebutuhan dan untuk memenuhi kebutuhan itu ‘diciptakanlah’ kebaktian sinagoge, yang terdiri dari:
(1) Shema‘, (2) doa-doa, (3) pembacaan Kitab Suci, dan (4) penjelasan. Tapi kemudian di Bait Suci yang kedua kebaktian-kebaktian harian, sabat, perayaan-perayaan tahunan dan puasa-puasa, serta pujian dan buku puji-pujian (Kitab Mzm) memastikan, bahwa ibadat tetap merupakan faktor amat penting dalam kehidupan nasional Yahudi.
Demikian juga dalam PB, menurut Thomson, pula muncul ibadat di Bait Suci dan di sinagoge. Kristus mengambil bagian dalam keduanya, tapi Dia selalu menekankan bahwa ibadat adalah sungguh-sungguh kasih hati terhadap Bapak sorgawi. Dalam ajaran-Nya, mendekati Allah melalui perantaraan ritual dan imamat bukan saja tidak penting lagi, bahkan sekarang tidak perlu. Pada akhirnya ‘ibadat’ adalah ‘avoda atau “latreia” yang sebenarnya, suatu pelayanan yang dipersembahkan kepada Allah tidak hanya dalam arti ibadat di Bait Suci, tapi juga dalam arti pelayanan kepada sesama (Luk. 10:25 dab; Mat. 5:23 dab; Yoh. 4:20-24; Yak. 1:27). Namun pada permulaannya gereja tidak meninggalkan kebaktian di Bait Suci; dan mungkin orang Kristen terus mengikuti kebaktian di sinagoge juga. Dan ketika akhirnya terjadi perpisahan antara Yahudisme dan gereja, ada kemungkinan ibadat Kristen meniru kebaktian di sinagoge.
Ibadah sebagaimana dijelaskan di atas dipahami dalam arti liturgis atau kegiatan resmi. Penyembahan dipahami tidak hanya dalam arti sempit misalnya dalam ibadah saja, tetapi penyembahan adalah terwujudkan dalam sikap, perkataan, dan pemikiran seseorang yang selaras dengan Alkitab. Jadi, baik ibadah dan penyembahan keduanya menyatakan sikap tunduk, hormat, setia kepada Tuhan, hanya bentuk pengungkapannya sedikit berbeda. Ada yang resmi (misalnya dalam ibadah), dan ada juga yang tidak resmi (dalam kehidupan sehari-hari), tanpa mencari muka atau memamerkan diri bahwa dia adalah penyembah yang benar.
Teks-teks dalam kitab-kitab Injil yang menyinggung penggunaan ‘Standar Sumber’ yang dilakukan Yesus, adalah salah satu model berapologetika. Pembaca yang jeli melihat percakapan Yesus dengan mereka yang ragu dan yang membenci-Nya, akan mengundang pemikiran lain dari yang biasanya. Pasalnya, model yang biasa digunakan dalam diskusi atau debat sering bertumpu pada eksplanasi argumentasi dan pernyataan dengan didukung oleh data dan fakta, atau dengan cara saling mengumbar argumentasi secara acak dan tak beraturan.
Sering pula, dalam diskusi atau debat, setiap pembicara mengemukakan pendapat yang didukung oleh sumber primer maupun sekunder (data dan fakta) lalu direspons oleh pembicara lain dalam bentuk negasi, keraguan, dan penerimaan. Akan tetapi, dalam teks-teks yang menjelaskan penggunaan standar sumber, Yesus menciptakan ‘kebingungan’ yang tak terpuaskan dari mereka yang bertanya dan kemudian dari pertanyaan mereka tersebut, Ia meneguhkan identitas-Nya dan menjadi sebuah ‘pernyataan’ penegasan. Ini menarik!
Teks-teks tersebut adalah Matius 26:63-64; 27:11; Lukas 22:70; Markus 15:2. Berikut kutipannya:
Matius 26:63-64, Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
Matius 27:11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.”
Lukas 22:70, Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
Markus 15:2 Pilatus bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” (lih. Juga Luk. 23:3)
Dari teks-teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan standar sumber, maka kalimat: “Engkau sendiri mengatakannya”, adalah juga sebuah pernyataan atau pengakuan [klaim] Yesus. Ini adalah model ‘peneguhan ganda’. Artinya, pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja Orang Yahudi dilakukan dengan model berlapis.
Kehidupan manusia ditandai dengan berbagai hal dan ditentukan oleh konteks kehidupan itu sendiri. Di dalam segala hal dan konteks, selalu ada makna dan tujuan yang dialami, dirasakan, dihadapi, dan dijalani. Semua hal dalam hidup, memiliki makna tersendiri bagi setiap orang. Begitu juga dengan tujuan hidup. Manusia berusaha untuk mencapai tujuan yang telah dirancang sebelumnya.
Siapa pun kita, tidak dapat mengabaikan “makna” hidup, karena makna itu lahir dari proses kehidupan yang dijalani, suka duka yang dialami, gumul juang yang dihadapi, dan berbagai masalah serta keinginan yang menghasilkan banyak buah dalam kehidupan kita sendiri.
Memahami hidup, ditentukan dari kondisi seseorang. Konteks ini sifatnya normatif – semua orang, ketika menilai hidupnya, selalu dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang dialaminya. Ada yang kecewa dengan hidup, bosan dengan nasihat, muak dengan ketidakadilan, gelisah dengan sekuritas hidup, takut mati, putus asa, stres dan depresi, murung, pesimis, benci terhadap sesama, dan berbagai macam hal lainnya; semuanya ditentukan oleh situasi dan kondisi di sekitarnya atau yang dialami sendiri.
Kita tidak dapat menghindar dari berbagai persoalan hidup. Itu adalah fakta yang perlu dimaknai, dihadapi, dan direnungkan. Mereka yang beriman akan melihat kehidupan sebagai proses yang dizinkan Tuhan untuk dilalui dengan penuh rasa syukur kepada-Nya. Mereka yang berpengetahuan akan melihat kehidupan sebagai pembelajaran dan penguat wawasan tentang segala sesuatu dan dapat memberikan kebahagiaan, kewaspadaan, sekuritas, dan langkah-langkah antisipatif. Mereka yang beriman dan berpengetahuan, memandang kehidupan sebagai proses perealisasian tangung jawab di hadapan Tuhan untuk tetap melakukan apa yang dikehendaki-Nya, dan hidup dalam kebenaran firman-Nya.
Tak dapat dipungkiri, iman dan pengetahuan seringkali terpisah ketika direalisasikan dalam sebuah tindakan. Bahkan, setiap pengetahuan tentang sesuatu hal, entah baik, entah jahat, bisa disetir oleh “iman” yang salah kaprah. Tampak bahwa tindakan kejahatan dapat dilakukan dengan cara (teknik) pengetahuan dengan cara dipengaruhi oleh iman tertentu (misalnya dari ajaran agamanya sendiri). Memang terkesan aneh jika orang yang merasa beriman, atau dipandang [tampak] beriman, kemudian membunuh demi imannya kepada “tuhan”; atau orang yang berpengetahuan melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral, kotor, merusak kepentingan banyak orang, dan lain sebagainya. Keanehan tersebut dapat ditelusuri sampai kepada akar utamanya.
Orang Kristen pasti dapat mengetahuai secara tepat, bahwa akibat dari semua tindakan kejahatan baik tingkat rendah sampai kepada tingkat tinggi adalah karena “dosa” dan penyimpangan terhadap kebenaran Allah. Seperti yang Alkitab utarakan: “Semua orang telah berbuat dosa. Tidak ada yang benar, satu pun tidak ada. Semua telah menyeleweng.” Pernyataan tersebut menjadi standar dari Tuhan bahwa siapa pun dia, telah dikuasai, diikat, dipengaruhi, dan dipaksa oleh “kuasa” dosa yang sangat kuat, sehingga ia tidak dapat melawannya – dan akhirnya, tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum dan aturan TUHAN diperbuatnya dengan senang hati, atau karena desakan lainnya.
Dosa, meskipun orang seringkali tidak merasakan “ada” apa-apa dari satu kata tersebut, tetapi dampaknya sangat luar biasa. Siapakah yang dapat menyangka bahwa Hitler melakukan pembantaian (pembunuhan masal) terhadap jutaan orang Yahudi? Siapakah yang dapat menyangka bahwa demi agama, seseorang bisa membunuh sesamanya? Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang guru bisa mencabuli muridnya? Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang ibu berani membunuh anaknya sendiri? Siapa yang bisa menyangka seorang anak berbuat khianat terhadap orangtuanya? Siapa bisa menyangka bahwa para pendeta berebut aset gereja? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen saling memaki dan membenci? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen memiliki dendam dan kebencian yang tak pernah ia leburkan ke dalam pengampunan sejati?
Bukankah manusia sudah menjadi pemangsa sesamanya seperti yang dilakukan binatang? Lalu di mana moral dan etika? Di mana rasa takut manusia terhadap TUHAN dan hukuman-Nya? Di mana rasa hormat manusia terhadap hukum-hukum TUHAN? Bukankah neraka merupakan tempat yang sangat mengerikan, tempat siksaan kekal, tetapi tidak dihiraukan oleh manusia yang berbuat kebejatan moral, kekejian di mata TUHAN?
Sungguh luar biasa jahatnya tindakan manusia yang beriman dan berpengetahuan. Tidak disangka-sangka, tidak dapat dipikirkan secara akal sehat tindakan-tindakan seperti itu. Tetapi itulah faktanya; itu sering terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Demikian seterusnya. Mungkin kita pernah menjadi bagian di dalamnya bahkan senang melakukannya karena merasa bahwa tidak ada hukuman langsung dari Tuhan. Iman yang salah tempat, membawa manusia kepada tindak kejahatan. Pengetahuan yang salah juga memiliki dampak yang sama. Seharusnya iman dan pengetahuan yang benar membawa manusia ke jalan yang terang, jalan Tuhan, jalan kedamaian.
Apakah ada kaitan antara iman dan pengetahuan dalam kaitannya dengan kondisi hidup manusia yang telah berdosa? Tentu ada.
Dalam Alkitab, pengetahuan – atau yang seringkali disebut dengan “pengenalan akan TUHAN” – memiliki kaitan erat dengan iman. Iman itu pemberian Allah untuk mengenal pribadi-Nya, karya, kuasa, kasih, kemurahan, anugerah, dan rencana-Nya. Iman membutuhkan pengetahuan; dalam konteks ini “pengetahuan tentang Dia dan firman-Nya”. Aspek pengetahuan memang luas tetapi perlu dipahami atau dibatasi pada konteksnya. Dengan demikian, iman bisa bertumbuh karena pengetahuan tentang Dia dan firman-Nya.
Dalam Efesus 4:13, Rasul Paulus menegaskan bahwa “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan PENGETAHUAN yang benar tentang Anak Allah….”. Dalam 2 Korintus 4:6, Paulus menegaskan akan pentingnya pengetahuan: “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Demikian juga dalam Kolose 3:8-10, Paulus menulis bahwa: “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Setiap orang yang beriman dan berpengetahuan memiliki jatidiri dan moralitas yang baik di hadapan Tuhan – jika ia mau menghidupi imannya secara bertanggung jawab dan selaras dengan firman-Nya.
Pengetahuan, secara umum merupakan tindakan aktif manusia untuk mengetahui sesuatu, yang tahu sesuatu, memikirkan sesuatu, menganalis sesuatu, dan menghasilkan sesuatu. Pengetahuan sifatnya tidak terbatas. Yang terbatas adalah keingintahuan manusia dan sesuatu yang diketahui manusia. Terbatas karena natur manusia terbatas. Pengetahuan mencakup segala sesuatu yang diciptakan TUHAN. Wilayah pengetahuan tentu sangatlah luas. Eksplorasi manusia tidak sanggup mendalaminya atau memahaminya secara utuh dan memadai. Yang dapat dipahami dari eksplorasi dan penelitian manusia hanyalah pengetahuan yang sifatnya faktual dan tidak menutup kemungkinan, imajinatif.
Pengetahuan tentang TUHAN yang kekal dan tidak terbatas, dapat dibuktikan sejauh TUHAN menyatakan diri-Nya – dan jika tidak, pengetahuan manusia tentang Dia, mengalami stagnasi.
“Iman” – dalam pengertian praktis – merupakan tindakan yang mencakup kepada tiga fakta: kepercayaan seseorang terhadap objek [sesuatu] yang diakui lebih berkuasa darinya, rasa percaya terhadap diri sendiri, dan kekuatan keyakinan terhadap ambisi hidup. Pengetahuan adalah kegiatan pikiran. Pikiran dapat bereksplorasi, berekspansi, dan berkomparasi dengan objek lainnya dan menghasilkan sebuah “statement” [pernyataan], pertanyaan, kesimpulan [tentatif dan definitif], konsepsi, prinsipil [benar dan salah], kebenaran, hukum, aturan, etika, dan kaidah.
Iman adalah keyakinan pikiran dan kegiatan pikiran yang berorientasi kepada masa depan [setelah tahu tentang karya Allah dalam Kristus Yesus di masa lalu], dan bersandar pada objek yang dipercaya dapat memberikan solusi atau kuasa dari apa yang diyakini. Iman adalah pemberian Tuhan, jika orientasi iman itu berdasar pada kehendak dan rencana-Nya. Iman dapat bertumbuh melalui dua hal: penderitaan dan demonstrasi kuasa Tuhan.
Orang yang beriman berarti ia termasuk orang yang berpengetahuan. Orang yang berpengetahuan memiliki “iman” yang dibagi ke dalam dua bagian: iman kepada diri sendiri [di luar Tuhan] dan iman kepada Tuhan. Orang beriman adalah ia yang terus belajar dari Tuhan melalui firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya. Orang yang “beriman” pada dirinya sendiri, membuang firman Tuhan, hendak menciptakan kekuatan dan pengaruhnya sendiri, agar ia mendapat “nama dan kehormatan” di mata mereka yang menjadi budaknya.
Namun, perlu diingat bahwa dalam pandangan Alkitab, iman berkorelasi dengan pengetahuan. Pengetahuan tentang Tuhan menghasilkan iman kepada Tuhan, meskipun kita tahu bahwa tidak semua orang yang belajar dan mau mengenal Tuhan, menjadi percaya kepada-Nya.
Hingga pada akhirnya, iman dan pengetahuan yang kita miliki harus terejawantahkan ke dalam lautan kehidupan yang terbatas tetapi berpotensi meluas. Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara internal mencakup tentang bagaimana bersikap dalam keseharian kita; bagaimana kita berkontribusi, bekerja dan melayani, dan bagaimana kita memberikan pengaruh—“menjadi teladan”—dalam pikiran, kata, dan perbuatan.
Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara eksternal mencakup tentang bagaimana kita bersikap melalui media waktu dan kesempatan. Di media waktu, berarti kita siap sedia pada segala waktu untuk berekspresi; ya, mengekspresikan pengetahuan dan iman kita. Di media kesempatan, berarti kita—dalam setiap kesempatan yang kita miliki dan kita dapatkan dari orang lain—digunakan untuk juga berekspresi.
Secara tepat, di zaman sekarang ini, ada ruang realisasi yang begitu besar di mana kita dapat merealisasikan pengetahuan dan iman melalui berbagai media. Tidak perlu lagi merasa harus mengeluarkan banyak uang untuk memperluas pengetahuan dan [kesaksian] iman kita. Medianya sudah ada, tinggal kita yang mempergunakannya. Jangan sampai kita sibuk dengan segala sesuatu yang hanya memperkaya diri, kemudian menjadi tamak, dan melupakan tanggung jawab iman dan pengetahuan kita.
Iman dan pengetahuan perlu direalisasikan dalam kehidupan. Tujuannya jelas, yaitu untuk mencapai tingkat pemahaman yang selaras dengan firman Tuhan. Diperlukan sebuah pemahaman yang baik tentang hidup dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Pada setiap kesempatan, keduanya terlihat jelas, sebuah konfirmasi jati diri dan identitas yang sebenarnya.
Hasil-hasil dari proses realisasi iman dan pengetahuan adalah pengaruh terhadap orang lain di mana diri kita sekaligus menjadi teladan utama. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan di setiap sendi kehidupan. Persoalan hidup tetap ada; mumpung ada waktu dan kesempatan, kita datang kepada-Nya untuk mengharapkan kekuatan, hikmat, dan bijaksana, serta tuntunan-Nya.
Ada berbagai tindakan yang disebabkan oleh realisasi iman dan pengetahuan, entah baik, entah buruk. Dosa menjadi penghalang bagi mereka yang ingin merealisasikan iman dan pengetahuan yang benar dan pada tempatnya; dosa menjadi pendorong bagi mereka yang sombong dengan iman dan pengetahuan yang dimilikinya, yang tujuannya hanya menyombongkan diri, meraup keutungan, egoisme, dan sikap tidak bersahabat.
Pengetahuan dan iman adalah pedoman untuk menjadikan hidup semakin baik berdasarkan firman Allah, dan mengarahkan hidup kepada-Nya. Dan yang terpenting adalah—sekali lagi: “Orang beriman dan berpengetahuan seharusnya terus belajar dari Tuhan dan firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya, sehingga dapat menjadikan dirinya berkenan kepada Tuhan, pula menjadi teladan dan berkat bagi sesamanya.”
Tampak bahwa cara melihat doktrin sebagai cerminan wajah Kristen—pengikut Kristus—masih merupakan masalah serius, tidak hanya di kalangan jemaat awam, tetapi juga di kalangan teolog. Tentunya “teolog” yang saya maksudkan di sini memiliki perbedaan identitas pada luapan iman yang benar yang dituangkan dalam doktrin, dan luapan imajinasi, spekulasi, skeptisisme, kedunguan, yang dituangkan dalam “a-doktrinal”. Teolog jenis kedua adalah yang saya maksudkan dalam tulisan singkat ini.
Sejatinya, proses keberimanan kita tidak lepas dari sebuah “doktrin”. Itulah pemandu kita untuk tetap melihat kepada subjek iman—yakni Kristus Yesus—secara benar, serius, dan dogmatis. Kita jatuh dan bangun semuanya tergantung pada cara memahami Kitab Suci dan ajaran di dalamnya. Juga tak bisa dipungkiri, di kemudian hari, dalam perkembangannya, kita berkelahi soal doktrin. Pola dan peristiwa ini terus berulang di sepanjang sejarah.
Yang menarik adalah ketika muncul teolog-teolog kelas teri yang menyemburkan air liurnya yang bau itu, kepada para pendengarnya. Dia mulai dengan imajinasi tentang segala sesuatu, kemudian diarahkan kepada sentralisme pemikirannya yang tidak seberapa itu. Lelucon, kebodohan, kedunguan, teologisme, dan ambisiusisme a-doktrinal dimuncratkan bersama air liurnya kepada jemaat yang hidungnya pampat (mampet).
Jelaslah, dengan hidung jemaat yang pampat tadi, tidak bisa mencium bau busuk muncratan air liur sang teolog kelas teri. Alhasil, jemaat meninggal dalam keadaan hidungnya yang disodok pakai kapas pembalut. Fenomena ini sering terjadi di setiap zaman dan generasi. Apakah kita merasakan aroma ini di zaman kita? Yang hidungnya tidak pampat pasti bisa mencium aroma kebusukan teologisme, ambisiusisme, dan amburadulnya a-doktrinal dari para teolog kelas teri.
Dari sini kita belajar, bahwa memahami doktrin tidak semudah mengklaim mendapat inspirasi dari roh kudis, tetapi benar-benar mempelajari sejarah perkembangan doktrin Kristen yang telah dimulai dari zaman para rasul. Jangan tetiba muncul dan mengklaim—karena merasa ‘punya’—pemahaman yang nyeleneh, ngaco, dan beracun. Jemaat pun harus waspada dengan jenis teologisme—ambisiusisme yang dimuncratkan oleh para teolog (para pendeta) kelas teri.
Ini lebih menarik lagi, bahwa ketika teolog kelas teri memuncratkan air liur a-doktrinalnya kepada jemaat awam yang hidungnya pampat tadi, mereka tetap merasa aman dan sejahtera. Lebih dari itu, mereka “bahagiaaaaaaa…iaaaaaaa…..iaaaaaaaa” banget tiada duanya, mengalahkan kacang dua kelinci dan kacang dua bungkus milikku sendiri. Mereka berada pada lingkaran “KITAISME”. Alhasil, bersatulah lingkaran Kitaisme, Teologisme, dan Ambisiusisme.
KITAISME, adalah sebuah konteks perasaan jemaat awam yang tetap merasa hangat dalam pelukan a-doktrinal para pendeta kelas teri. Meski pendeta mereka otaknya miring dan sedikit bergeser—maksudnya ajarannya yang menyimpang dan nyeleneh—mereka tetap merasa bagian darinya. Kitaisme memang begitu kuat, apalagi para pendeta mereka orang berduit. Ngomong apa saja pasti didengarkan. Kitaisme memang masih menguat di gereja-gereja yang “berduit”. Bagi mereka, tidak apalah jika pendeta kami ajarannya bersifat a-dogmatis, yang penting dia baik, murah hati, suka memberi, dan bermoral.
TEOLOGISME, adalah sebuah konteks tentang teologi dan cara berteologi yang mengusung independensi pemikiran seseorang yang cenderung melawan ajaran-ajaran resmi gereja yang telah diwariskan dari zaman ke zaman. Bagi pengusung dan penganut teologisme, yang terpenting adalah kemandirian berteologi tanpa mengaitkan dengan narasi doktrinal yang dipertahankan gereja di sepanjang sejarah.
AMBISIUSISME, adalah sebuah konteks tentang teologi dan cara berteologi seseorang yang mengutamakan ambisinya untuk mendapatkan perhatian, tepuk tangan para peserta, pengagungan, dan pujian-pujian semu. Dengan modal a-doktrinalnya, ia mencoba memperkuat pengaruh ke jemaat awam dengan ambisinya yang besar itu. Alhasil, yang meluber ke permukaan jalanan adalah kesesatan, kekosongan biblika, dan kekusutan dogmatika.
Apakah kita berada dalam lingkungan dan lingkaran ini? Masihkah kita memiliki narasi kitaisme, teologisme, dan ambisiusisme? Jangan menceburkan diri kita ke dalam lingkungan dan lingkaran semacam itu. Kita adalah orang-orang yang diberikan iman dan pengertian oleh Kristus Yesus. Dan oleh karena itu, kita harus tunduk pada kebenaran yang sesungguhnya yang telah diperjuangkan oleh para rasul, para bapa gereja, dan orang-orang yang telah dipakai Allah di sepanjang zaman.
Tinggalkan para pendeta kelas teri yang mengusung teologisme dan ambisiusisme. Mereka adalah perusak iman Kristen; mereka melacurkan dirinya pada narasi dan imajinasi a-doktrinal untuk memuaskan hawa nafsunya. Semoga kita tetap setia pada kebenaran sejati; kebenaran Kristus, Juruselamat kita, yang telah memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kematian kekal.
Kepada Dialah kita berpaut dan mengharapkan kemurahan. Kita jangan seperti orang-orang yang berpikir bahwa ketika ‘tuhan’ mereka dihina, segera mereka menolongnya. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Penolong, Penyelamat, dan Penebus. Kita tidak dipanggil untuk menolong Dia, tetapi dipanggil untuk hidup bagi Dia, mengasihi-Nya, melayani-Nya, dan mewartakan Injil-Nya. Jangan mencoba menolong ‘Tuhan’. Apalagi menolong para pendeta kelas teri karena dianggap bahwa dia adalah bagian dari “kitaisme.” Itu salah! Itu keliru! dan itu berdosa!
Jadilah orang Kristen yang kuat dalam iman, pengharapan, dan kasih, sembari tetap memahami, menghidupi, dan mempertahankan ajaran-ajaran Alkitab yang sejati. Jangan sampai hidung kita mampet dan kemudian para pendeta kelas teri sesuka hati memuncratkan air liurnya yang bau, kotor, dan membuat denyut jantung kita terkena racun, kemudian mengalami gangguan bernapasan.
Berbijaksanalah, hidup dalam kebenaran sejati. Jangan lagi dihipnotis dengan air liur yang bau racun, melainkan hiruplah aroma kebenaran Kristus, kekudusan hidup, dan doktrin-doktrin yang benar, yang telah dipertahankan di sepanjang sejarah.
Kita berada di dalam kehidupan, menjalaninya, mempercakapkannya, merenungkannya, memperjuangkannya, bertahan agar dapat beralih dari satu hari ke hari lainnya, merancang masa depan, menikmati kebahagiaan, merasakan kesedihan, keletihan, kekecewaan, luka batin, dan bahkan bergumul dengan tantangan, hambatan, tekanan, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Kita pun menafsirkan berbagai gejolak atau kemelut dalam hidup dengan berbagai referensi, pengalaman, doa, iman, agar dapat menemukan suatu “harapan” bertahan hidup dan menikmatinya dengan kelegaan, tanpa beban. Kita dapat menyebut fakta ini sebagai “ombak kehidupan”.
Tetapi, kita terus berhadapan dengan “waktu” dan “kesempatan”. Waktu terus bergulir, tiada henti, sementara kita kadang berhenti sejenak untuk menatap langit sembari berucap permohonan, harapan, dan protes. Sesekali kita menelan ludah, pertanda bahwa ada beban-beban hidup yang berat untuk dipikul, ditanggung, dan dirasakan.
Kesempatan seringkali tiba di depan mata, tapi kita berada dalam posisi tak berdaya, lemah terkulai. Kembali kita menatap langit sembari berucap permohonan, pertolongan, dan topangan dari Sang Khalik. Kita bergegas untuk menjemput kesempatan itu, menjalani prosesnya, menikmati hasilnya.
Pertarungan untuk memecah ombak kehidupan pun tak dapat dihindari. Kekuatan, pertimbangan, dan kesadaran, mendorong kita untuk bertarung bagi kehidupan, mewujudkan masa depan. Dengan lankah tergopoh-gopoh, kita terus saja melangkah menuju titik kesenangan. Sesekali kita tak mempedulikan seberapa besar tantangan yang kita hadapi. Kita masih saja berhadap akan datang pertolongan tepat pada waktunya.
Ombak Kehidupan terkadang kecil, terkadang besar. Kita berada dalam perahu, memegang dayung, menjaga keseimbangan, menatap sekitar, berpikir untuk mendayung ke arah yang tepat. Akan tetapi, seringkali kita salah arah, kurang tenaga untuk mendayung, tertidur pulas di dalam perahu, dan tersadar kembali untuk mendayung.
Pemaknaan terhadap hidup dan ombak kehidupan adalah bagian kita. Tuhan telah memberikan segala potensi kepada kita untuk berjuang menghadapi ombak kehidupan. Keyakinan kita semakin kuat tatkala kita telah melihat pelabuhan semakin dekat. Kegirangan terus memacu dan kekuatan mendayung dipertahankan. Hingga akhirnya kita pun sampai di tujuan.
Ternyata, ombak kehidupan melatih dan menyadarkan kita bahwa masih ada harapan. Tuhan tak meninggalkan kita. Ia hadir memberi kekuatan dan pertolongan agar kita menjadi kuat. Ia tahu batas kemampuan kita. Ia tahu bahwa kita tak sanggup; maka Ia bertindak menolong, menopang, dan menunjukkan kemurahan-Nya.
Ombak kehidupan memberi kita pelajaran tentang apa dan bagaimana kehidupan itu. Kita yang telah memecah ombak kehidupan dapat bersyukur bahwa pada saat yang tepat, Tuhan memperlihatkan kemenangan dan kebahagiaan bagi kita yang tak putus asa menghadapi badai-badai kehidupan.
Memecah ombak kehidupan melibatkan lima aspek penting: Pertama, Keberanian. Kita harus berani menjalani hidup yang dikaruniakan Tuhan. Dan memang adalah tugas kita untuk menjalaninya. Tuhan telah memberikan potensi kepada kita untuk “ada”, “hidup”, “bergerak”, dan “berjuang” dalam hidup ini. Sejak awal Ia berfirman: …. supaya mereka [manusia] “berkuasa” atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” … berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. … Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Kejadian 1:26-29). Semua telah disediakan Allah. Dan potensi juga Ia berikan. Dengan demikian, kita harus berani mengembangkan potensi untuk berkuasa dan “mencari makan” karena Ia telah menyediakan segala sesuatunya.
Kedua, Pengharapan. Kita terus berhadap kepada-Nya; kita pasti dapat memecah ombak kehidupan. Pengharapan kita hanyalah pada-Nya. Roma 12:12 menyebutkan: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Alkitab menyediakan bahan pemahaman tentang pengharapan. Tujuannya agar kita terus berhadap kepada Tuhan. Pemazmur mencatat: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 12; 43:5). “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan” (Mazmur 130:7).
Alkitab juga menegaskan bahwa hanya Tuhanlah pengharapan, sumber air hidup orang percaya (Yeremia 14:22; 17:13; Kisah Para Rasul 24:15; 15:13; 2 Tesalonika 2:16; 1 Timotius 4:10; Ibrani 10:23; 1 Petrus 1:3; 1 Yohanes 3:3). Memecah ombak kehidupan membutuhkan pengharapan. Ya, pengharapan kepada Allah yang hidup.
Ketiga, Keyakinan (iman). Iman memandu kita untuk tetap berharap kepada Tuhan. Dari Dialah kita menerima iman, dan oleh karenanya “kita beriman”. Dalam menempuh perjalanan kehidupan dengan segala suka-dukanya, imanlah yang membantu kita untuk tetap berdiri tegak, menatap langit sembari berkata: “Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi ombak kehidupan.”
Keempat, Berserah kepada Kristus Yesus. Ada kalanya kita terkapar tak berdaya, dan pada situasi semacam itu, kita berserah kepada-Nya. Memang, tindakan berserah bukan pada momen-momen terkaparnya kita pada konteks tertentu, melainkan berserah dalam totalitas kehidupan kita. Berserah dapat dipahami sebagai kesadaran akan segala keterbatasan kita untuk menjalani suka-duka hidup, dan membutuhkan Dia, Sang Khalik, untuk menopang, menguatkan, dan membimbing kita menuju keberhasilan, kebahagiaan, dan kesukacitaan.
Kelima, Relasi: Tuhan dan Sesama. Membangun relasi itu penting! Relasi spiritual dengan Tuhan, dan relasi humanitas dengan sesama. Ombak kehidupan dapat kita hadapi bersama, dan Tuhan seringkali memakai sesama kita untuk dapat memberikan pertolongan tatkala menghadapi ombak kehidupan. Memecah ombak kehidupan dapat dilakukan secara bersama. Kebersamaan itu indah. Bangunlah relasi yang kuat dengan Tuhan dan sesama. Itulah yang Ia kehendaki.
Pada akhirnya, kita dilatih oleh-Nya untuk menunjukkan kesadaran kita bahwa Dialah yang merancang kehidupan terbaik kita, merancang masa depan kita, merancang proses kehidupan, termasuk menyuguhkan ombak-ombak kehidupan, supaya kita menjadi kuat, dewasa, dan setia kepada-Nya—yang tetap ada—memberikan yang terbaik menurut kerelaan kehendak-Nya.
Demarkasi dikaitkan dengan proses inferensi (penyimpulan) dari isu yang dibahas. Term “demarkasi” dipahami sebagai: garis batas (memisahkan), penandaan batas-batas sesuatu hal, atau perbedaan yang ditandai kategori tertentu, baik itu suatu peristiwa, prinsip penalaran logis, teks, hermeneutika, konfigurasi, evolusi pemikiran, dan lain sebagainya.
Daniel Cohnitz & Luis Estrada-González dalam An Introduction to the Philosophy of Logic (Cambridge: Cambridge University Press, 2019), 103, melihat kriteria demarkasi dalam konteks logika untuk memberi tahu tentang garis antara ekspresi logis dan non-logis. Istilah demarkasi juga dipahami Gillian Russell sebagai bagian dari argumentasi [Filippo Casati & Daniel O. Dahlstro, Heidegger On Logic (Cambridge: Cambridge University Press, 2022), 15].
Menurut Mario Bunge [dalam Massimo Pigliucci and Maarten Boudry, Philosophy of Pseudoscience: Reconsidering the Demarcation Problem (Chicago: The University of Chicago, 2013), 36], langkah dalam menggunakan demarkasi adalah memilih unit analisis yang paling komprehensif yang mencakup bidang epistemik (pengetahuan). Kriteria demarkasi dalam ruang filosofi, menurut Pigliucci and Boudry, memberi tahu kita apa yang masuk akal untuk dipercaya dan apa yang tidak (Pigliucci and Boudry: 2013, 20).
Secara demarkatif, isu atau fakta yang disuguhkan perlu melihat ekspresi logis dengan didukung oleh argumentasi-argumentasi hermeneutis-historis, kualifikasi epistemik (pengetahuan) tentang segala sesuatu secara solid.
Teori demarkasi memiliki tujuh aspek koheren, yang dapat digunakan dalam proses penarikan kesimpulan, proses pemahaman, dan proses meyakini sesuatu:
Pertama, aspek batasan tindakan. Tindakan seringkali dibatasi pada perspektif saksi mata, para pembaca, para pelaku. Karena adanya perbedaan dalam hal ini, maka demarkasi dibutuhkan.
Kedua, aspek batasan proses. Segala sesuatu memiliki proses, yang kemudian dapat dipahami, dimaknai, diketahui, dan alami. Proses itu terbatas pada kepentingan sesuatu hal. Proses belajar di sekolah tinggi teologi, berbeda dengan proses belajar berenang di kolam renang. Itu sebabnya, dibutuhkan demarkasi proses.
Ketiga, aspek batasan pada hasil penyimpulan. Penyimpulan segala sesuatu terbatas pada cara pandang seseorang akan suatu peristiwa, teks, gerak, visualisasi, bunyi, sejarah, dan lainnya. Hasil penyimpulan dibatasi pada tujuan, keimanan, keberlanjutkan, dan kemanfaatannya bagi kehidupan manusia.
Keempat, aspek konteks. Segala sesuatu memiliki konteks. Singkatnya, “ada konteks” yang mengikat dari semua peristiwa (kejadian) atau hal lainnya. Demarkasi selalu dilihat dari konteksnya. Artinya, konteks adalah navigasi pemahaman, penalaran, dan penyimpulan. Itu sebabnya, demarkasi itu sendiri melibatkan konteks.
Kelima, aspek kategorial. Demarkasi tidak hanya memperlihatkan konteks, tetapi juga aspek kategorial: peristiwa, iman, Kitab Suci, teologi, budaya, pendidikan, golongan, pangkat, identitas, potensialitas, tendensi keilmuan, tendensi kesukuan, tendensi bahasa, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Demarkasi dalam aspek kategorial, sangat mengental dalam hal iman, agama, teologi, dan kitab suci. Perang agama, seringkali disebabkan oleh adanya demarkasi ini.
Keenam, aspek lokus. Demarkasi juga terikat pada lokus. Sejarah Israel berbeda dengan Sejarah berdirinya negara Amerika. Lokusnya berbeda, dan kepentingannya berbeda. Lokus seringkali menjadi dasar pemahaman bahwa evolusi peristiwa dan pemaknaannya, menjadi kekuatan sejarah dan hermeneutik, ketika dikaitkan dengan evolusi agama tertentu.
Ketujuh, selektivitas sumber (peristiwa, identitas pelaku, perspektif, dan lain sebagainya). Suka atau tidak, selektivitas sumber juga menjadi salah satu penggunaan teori demarkasi. Para musuh Kristen, misalnya, menyeleksi sumber-sumber yang menguntungkan bagi mereka. Ketika hendak menyerang iman Kristen, maka mereka menggunakan sumber-sumber dari teolog liberal sebagai acuan kebenaran, padahal justru demarkasi semacam ini bisa berlaku juga untuk agama mereka.
Dengan demikian, teori demarkasi dapat menyelimuti pada mayoritas konteks, baik itu sifatnya historis, tekstual, ucapan, keyakinan, dan lain sebagainya. Demarkasi adalah bukti bahwa kita didorong untuk melihat bahwa selalu ada sisi lain yang bisa digunakan, entah sebagai standar ganda, sebagai siasat mengelabui, sebagai cara untuk mengantisipasi keadaan, atau sebagai cara untuk meneguhkan kebenaran yang diyakini seseorang.
Yang menarik, sebagai penutup tulisan singkat ini, demarkasi secara sederhana bisa dianalogikan seperti berikut: ketika kita melihat seorang perempuan dari depan, kita melihat wajahnya. Sementara yang melibat dari belakang, ia melihat punggung, rambut, dan pinggul atau bokong. Mereka yang melihat dari samping kanan dan kiri, sesuai dengan apa yang mereka lihat. Yang pasti, mereka melihat wajah perempuan separuh (sebelah saja).
Menulis tentang kehidupan setidaknya membutuhkan tiga aspek: pikiran, kesadaran, dan refleksi. Pikiran menyusun rangkaian kata menjadi satu makna atau perspektif; kesadaran menunjukkan tentang apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang seharusnya tidak dilakukan; refleksi menunjukkan sebuah penarikan kesimpulan, pemahaman tentang realitas hidup: baik-buruknya hidup, pasti mendapatkan konsekuensinya. Ketiga aspek tersebut tertuang dalam “Kertas Kehidupan”.
Kertas kehidupan menyuguhkan rangkaian makna atau perspektif kita tentang kehidupan. Di dalam kehidupan itu sendiri terdapat beragam konteks. Kita ada di dalam konteks dan mengembangkannya dengan tujuan agar segala yang baik, menyenangkan, dan membahagiakan, menjadi milik kita.
Siapa yang menulis di atas kertas kehidupan? Tampaknya kita perlu menyebutkan tiga pribadi: pertama, Tuhan; kedua, diri kita sendiri; dan ketiga, orang lain. Dengan iman kita menyadari bahwa Tuhan itu Mahatahu (Mzm. 139); di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup (Ayub 12:9-10); Ia mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk kita (Nehemia 9:6; Mzm. 37:24-25). Ia memberi makan (Mzm. 145:16): Ia adil dan penuh kasih (Mzm. 145:17); Ia mengawasi orang jahat dan orang baik (Ams. 15:3). Tuhan melukis (mengukir) umat-Nya di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16; bdk. Rm. 8:28-30).
Tuhan pemilik kertas kehidupan. Pada-Nya kita berserah. Dialah yang kita sandari dan kasihi-Nya. Ia mengasihi kita, menopang, menolong, dan mengarahkan kita menuju ke kehidupan yang berkenan kepada-Nya.
Kertas kehidupan telah disediakan-Nya. Kita pun menulis di atasnya. Tulisan dan goresan tinta iman, pengharapan, dan kasih, yang dituangkan pada kertas kehidupan, adalah sebuah pemikiran, kesadaran, dan refleksi tentang apa dan bagaimana seharusnya kita hidup di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Menulis di atas kertas kehidupan adalah wujud dari ketaatan dan kesetiaan kita kepada Sang Khalik.
Paragraf demi paragraf mungkin telah kita hasilkan. Kita bergelut, bergumul, berjuang, menangis, jiwa tertekan, putus asa, datang kebahagiaan, datang kelegaan, datang bencana, kita berseru, kita berharap, dan masih banyak lagi kisah menarik, kita menantang, kita menyedihkan, yang mendidik kita untuk tetap setia kepada-Nya, bertahan, dan tetap kuat di dalam iman kepada-Nya.
Betapa mengagumkan! Kertas kehidupan yang telah terisi goresan-goresan iman, ternyata membawa kita sampai kepada “titik ini” — titik di mana kita telah ada “di sini”, bersama Dia yang mengasihi kita. Ini sugnguh di luar nalar, luar biasa, dan tak terkira, tak terbayangkan.
Bukankah kita perlu mengucap syukur kepada-Nya karena kita masih ada di “titik ini?” Janganlah gegabah! Janganlah pongah! Janganlah takabur (sombong, angkuh, merasa diri mulia, hebat, pandai)! Nikmati hari-hari ini dengan penuh syukur, kerendah-hatian, dan sukacita. Tuhan tahu apa yang kita kerjakan! Janganlah merasa bisa menipu-Nya. Kita hanyalah debu tanah di hadapan-Nya.
Kertas kehidupan terpampang dan dipampang, di hadapan kita dan orang lain. Kita sendiri diberikan kemampuan untuk menulis kisah-kisah di atas kertas kehidupan. Menulis dengan iman dan perbuatan baik, atau menulis dengan kemunafikan dan kejahatan, adalah pilihan kita masing-masing. Tetapi ingatlah, Allah akan membawa kita ke “pengadilan” (lih. Pengkhotbah 11:9). Tulislah kita menarikmu di kertas kehidupan.
Terakhir, orang lain juga dapat menulis pada kertas kehidupan kita. Kita perlu membedakannya dari dua aspek: pertama, kisah kita adalah gabungan antara keputusan dan komitmen kita untuk menjalani hidup dengan bantuan orang lain; kedua, kisah kita adalah komitmen pribadi untuk meraih masa depan dalam pengertian bahwa segala upaya dan kerja keras diputuskan oleh diri sendiri, dan bukan orang lain, tetapi di dalam kertas kehidupan, kita mencantumkan ejekan-ejekan orang lain yang kita ubah menjadi sebuah motivasi untuk berhasil.
Jadi, orang lain yang ada dalam catatan kertas kehidupan kita memiliki dua kutub: positif dan negatif. Yang satu memberikan dukungan, sementara yang satunya lagi meruntuhkan komitmen dan merusak perjuangan kita. Orang lain boleh ikut dalam tulisan-tulisan pada kertas kehidupan kita, tetapi jangan sampai keseluruhan kertasnya dipenuhi kisah orang lain, atau aturan main yang dibuat orang lain atas diri kita. Sebaliknya, kitalah yang menulis kisah kita, keputusan yang kita ambil, komitmen hidup di hadapan Tuhan, perjuangan yang tak kenal lelah, kerja keras, dan gumul juang, yang membentuk karakter kita sendiri.
Menutup tulisan singkat ini, perlu saya tegaskan kembali bahwa Tuhan, kita, dan orang lain, sama-sama menulis pada kertas kehidupan, tetapi ada perbedaan substansial antara kita dengan Tuhan. Sebab Tuhanlah yang memberi kita kehidupan, sehingga kita dapat menjalaninya.
Kita patut merenungkan apa yang termaktub dalam Kitab Ayub: “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayb. 23:10). Tuhan memberikan yang terbaik. Didikan-Nya membawa kita kepada kebaikan, kemenangan, dan kebahagiaan.
Pada akhirnya, kita patut merenungkan apa yang diungkapkan oleh Pemazmur bahwa kita ini fana, jika Tuhan memberitahukan batas umur kita. Itu sebabnya, jangan sombong atas semua pencapaianmu, semua hal yang engkau miliki. Itu semua akan sirna, jika Tuhan “turun tangan”. Inilah pernyataan dari Pemazmur yang membuat kita untuk senantiasa merenungkan hidup ini dan menuliskannya pada kertas kehidupan:
“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan.
Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.
Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (Mazmur 39:5-8)
“Pikiran membawa kita ke mana saja.” Ungkapan ini bisa dimaknai sesuai selera perspektif kita. Kenyataannya, perspektif kita terhadap segala sesuatu adalah bukti bahwa “pikiran membawa kita ke mana saja”. Entah pikiran kita sendiri, atau pikiran orang lain (dalam berbagai bentuk seperti: perkataan langsung, tulisan [buku, majalah, dll.], gambar, suara, gaya, video).
Proses kehidupan yang kita jalani, hasilnya, buahnya, pengaruhnya, konsekuensinya, juga dipengaruhi oleh pikiran. Kekuatan pikiran menemukan jalan yang semestinya ia lalui dan temui. Pikiran memberi kita selera; pikiran memberi kita hasil dan manfaat; pikiran memberi kita rasa (cinta, rindu, benci, dendam, kecewa); pikiran memberi kita air mata (meratapi, mengingat peristiwa atau kenangan tertentu); pikiran memberi kita kesadaran, entah akan kesalahan dan kemunafikan kita, ataukah kebaikan dan kemurahan hati kita yang perlu dikembangkan; pikiran memberi kita tanjakan kehidupan, juga turunan kehidupan; pikiran memberi kita kehancuran, kebahagiaan, kesedihan, sukacita, dan penyesalan.
Pikiran adalah “peta kehidupan”. Kita membawa diri kita bersamanya; kita tumbuh berkembang bersama pikiran; kita layu dan mati bersama pikiran; kita dihempaskan oleh pikiran kita sendiri. Jika pikiran adalah “peta kehidupan”, maka kita perlu membaca peta itu, jangan tersesat, jangan salah pilih rute hidupan. Kitalah yang membedah pikiran kita sendiri, sebelum membedah pikiran orang lain.
Dalam proses pembedahan pikiran itu, kita dapat memberikan analogi-analogi tentang kehidupan, yang mengarahkan kepada pilihan-pilihan yang tepat, antisipasi, dan kewaspadaan. Analogi kehidupan diperlukan karena beberapa alasan:
Pertama, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk melihat kepentingannya bagi kehidupan kita sendiri. Utamanya memang “bagi kita sendiri”, sebelum pindah tangan ke orang lain. Kita ingat perkataan Yesus: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ada prioritas, yaitu diri kita sendiri.
Kedua, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk mendorong kita memilih yang terbaik bagi tindakan saat ini, besok, yang berdampak bagi kebahagiaan. Pilihan-pilihan kehidupan memang harus ada, dan kita yang harus juga memilih salah satunya. Sebagai peta jalan, pikiran kita mengarahkan ke arah yang kita pilih, kehendaki, dan antisipasi. Pikiran memang membawa kita ke mana saja, dan dalam hal ini, “ke mana” kita melangkah dalam sebuah pilihan, ditentukan oleh iman, kasih, dan pengharapan kita di dalam Kristus Yesus.
Ketiga, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk memaksa kita mengambil keputusan untuk sesuatu yang mendesak. Ada fase dalam hidup, di mana kita diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang mendesak. Fase ini memaksa kita untuk memilih dan mengambil keputusan yang sulit. Di sini, pikiran kita bekerja secara keras untuk mempertimbangkan untung-rugi, sehat-sakit, rusak-tidaknya, benar-salahnya, sampai-tidaknya, bahagia-kecewa, sakit hati-merelakan, putus asa-menahan rindu, dan lain sebagainya.
Pilihan-pilihan itu dibedah dalam pikiran dengan proses yang cepat. Analogi tentang pilihan-pilihan hidup merupakan bagian dari proses membedah pikiran kita sendiri. Apa yang kita hasilkan, bergantung dari kecermatan dan ketelitiannya.
Keempat, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk memberikan pilihan terbaik bagi orang lain dengan menerima segala konsekuensinya. Dalam hal tertentu, kita memutuskan sesuatu untuk orang lain, dan tentu, menerima segala konsekuensinya. Fakta ini umumnya terjadi pada konteks “percintaan”, “pacaran”, “pertemanan”, “persahabatan”, “perselingkuhan”, dan “perceraian”. Pada akhirnya, kita membedah pikiran kita untuk kepentingan orang lain, merelakan, mengikhlaskan, menangisi, dan rela sakit hati demi “dia”. Atau sebaliknya.
Beberapa contoh berikut ini mungkin memperkuat pemahaman kita mengenai konteks ini. Satu penggalan kalimat dalam sebuah lagu: “Relakanlah, kupergi darimu, usah kau tangisi perpisahan ini. Biarkanlah kupendam di hati, kan kubawa semua, cerita kita ini.” Atau sepenggal lahu lawas yang dinyanyikan oleh Chrisye: “Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu. Jangan hiraukan diriku. Aku rela berpisah, demi untuk dirimu. S’moga tercapai, s’gala keinginanmu.”
Kelima, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk merelakan sesuatu yang mungkin berpotensi melukai hati, hidup, dan relasi, sebagai pertimbangan logis dan atau spekulatif. Kurang lebih saling terkait dengan beberapa contoh di atas. Kita membanding-bandingkan (dalam analogi) antara satu dengan lainnya meski hasilnya melukai hati, hidup, dan relasi kita. Pilihan-pilihan, apa pun itu, selalu memiliki konsekuensinya. Kita mungkin bebas berkata-kata, bebas bertindak, bebas berekspresi, bebas ke mana saja, tetapi kita juga musti ingat bahwa ada konsekuensi dari setiap tindakan-tindakan atau pilihan-pilihan kita.
Memang pikiran membawa kita ke mana saja karena ia adalah peta kehidupan. Akan tetapi, kita pun perlu tetap waspada dalam membedah pikiran kita, menawarkan analogi-analogi tertentu bagi masa depan dan untuk sesuatu yang lebih baik. Membedah pikiran, menganalogikan kehidupan sangat penting, tidak saja bagi diri kita, spiritualitas dan moralitas kita, tetapi juga bagi orang lain.
Pikiran dan kehidupan tak terpisahkan. Itu sebabnya ketika membedaH pikiran, jangan lupa juga menganalogikan kehidupan yang kita jalani, karena memang kita ada dalah kehidupan yang sekarang, dan kebutuhan analogi-analogi penting untuk melihat peluang (kesempatan), masa depan, implikasi, konsekuensi, dan apa pun itu, sejauh yang dapat memberikan manfaat bagi kita.
Dalam kesemuanya itu, kenakanlah Tuhan Yesus Kristus, seluruh perlengkapan senjata Allah, belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih.
Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:14)
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Efesus 6:11)
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12).
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14).
Paulus menempatkan kuasa Injil berbarengan dengan pengaruh “diri” (si pemberita Injil) sebagai kesatuan yang koheren. Alasan ini dipahami sebagai daya timbal-balik Injil-[dan]-Diri (pemberita) untuk ditampilkan kepada khalayak. Dalam 1 Korintus 9:27, ia menyatakan demikian: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Ini bisa dipahami sebagai sebuah kesadaran diri bahwa apa yang dilakukan dalam konteks pemberitaan Injil, si pemberita Injil juga perlu menjaga sikapnya dalam hal: pertama, respons terhadap kritikan (1Kor. 9:2-26, [ayat 26: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul”]); kedua, penyelarasan berita Injil dan tindakan menghidupi berita Injil dalam proses kehidupan dan relasinya di dalam masyarakat atau gereja; ketiga, tidak menunjukkan secara radikal hak-hak yang layak didapatkan sebagai “hasil” dari pemberitaan Injil (1Kor. 9:1).
Memberitakan Injil memberikan berbagai makna bagi diri dan pelayanan kita. Ada aspek-aspek yang mungkin tidak selaras dan tidak disukai oleh orang lain, tetapi aspek-aspek tersebut justru tidak menjadi masalah, bahkan hal itu merupakan “hak-hak” hidup yang normal dan tidak berbenturan dengan prinsip kekudusan (1Kor. 9:4-9).
Semua pekerjaan kita dilakukan dalam pengharapan. Demikian ungkap Paulus: “pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihank kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus” (1Kor. 9:9-12).
Yang menarik adalah prinsip pengharapan tersebut, dimaknai oleh Paulus sebagai “lakukan—dapatkan”. Ini tampak dari pernyataan berikut: “Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1Kor. 9:13-14).
Semakin menarik! Paulus memperlihatkan hak-hak sang pemberita Injil, tanggung jawab dalam bekerja dan melayani, dan memberikan pengertian bahwa para pelayan Injil berhak mendapatkan bagian darinya, meski pada praktiknya tidaklah dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Itulah yang Paulus tegaskan: “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga!” (1Kor. 9:15).
Justru Paulus menilai dan memutuskan bahwa yang terpenting bukanlah menerima hak-hak itu sebagai upah yang layak, melainkan bagaimana keberanian dan tanggung jawabnya dalam memberitakan Injil itulah yang lebih penting. Paulus sendiri menyatakan: “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor. 9:18).
Ia tidak memegahkan dirinya karena berhak menerima semua itu. Tetapi ia dengan rendah, tegas, bahwa Injil adalah lebih utama dari apa pun: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku” (1Kor. 9:16-17).
Jadi, memberitakan Injil tidak melulu soal bagaimana kita memenangkan orang lain untuk dibawa kepada Kristus Yesus, tetapi juga berbicara tentang respons konteks dan teladan (sikap) yang baik. Menurut Paulus,
“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor. 9:19-22).
Injil memang dapat memberikan dampak. Dampak pertama adalah orang-orang dapat menerima Injil. Dampak kedua, orang-orang dapat menolak Injil. Dampak ketiga, orang-orang dapat menerima sang pemberita Injil, dan dampak keempat, orang-orang dapat menolak sang pemberita Injil. Jika demikian, sang pemberita Injil perlu memperhatikan sikap hidupnya, apakah selaras dengan Injil atau tidak.
Dalam hal adanya keselarasan antara berita Injil dan sikap hidup berpotensi dapat ditolak, apalagi jika tidak ada keselarasan di antara keduanya? Inilah yang Paulus ungkapkan. Bagi Paulus, “Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya” (1Kor. 9:23). Ada hasil dari Injil; tidak saja hasilnya adalah mereka yang menerima dan percaya kepada Injil Kristus, tetapi juga penerimaan terhadap si pemberita Injil. Bukankah ini sangat harmonis dan luar biasa? Jangan sampai berita Injil diterima, tetapi diri kita tidak diterima atau ditolak.
Paulus memberikan analogi yang bersifat dorongan untuk menguasai diri dan berlari pada tujuan: memperoleh mahkota yang abadi: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1Kor. 9:24-25).
Sebagai gambaran terakhir, Paulus menyatakan bahwa dirinya tidak berlari tanpa tujuan dan bukanlah seorang petinju yang sembarangan saja memukul (1Kor. 9:26). Memberitakan Injil pasti memiliki tujuan. Demikian pula tindakan-tindakan kita (totalitas sikap hidup) pun memiliki tujuan. Jangan mengabaikan salah satu darinya. Memberitakan Injil dan menjadi teladan adalah kesepadanan yang sungguh harmonis, kuat, dan logis. Itulah tawaran “Teologi Injil-Diri” yang disuguhkan Paulus kepada kita di zaman ini.
Pada akhirnya, mengikuti Paulus, kita perlu melatih tubuh dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah kita memberitakan Injil kepada orang lain, jangan kita sendiri yang ditolak, ditinggalkan, dan tidak dijadikan teladan lagi. Berusahalah untuk menyeimbangkan antara Injil dan diri kita agar keduanya menjadi koheren, harmonis, dan memiliku kuasa dan pengaruh bagi orang lain. Teologi “Injil-Diri” hanya dimiliki oleh mereka yang menyadari akan keseimbangan antara Injil dan teladan diri yang berpatokan pada Injil itu sendiri.
Manusia adalah makhluk berpikir yang di dalamnya ia dapat memahami, menilai, memutuskan, mempertimbangkan, mengabaikan, menolak, dan menerima segala sesuatu yang diamati, dirasakan, direspons, diminati, diteliti, dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, proses berpikir manusia mengalami perkembangan yang ditentukan oleh lima aspek: pertama, aspek penyerapan pengetahuan di dalam konteks khusus; kedua, aspek empirikal terbatas; ketiga, aspek relasi; keempat, aspek otodidak; dan kelima, aspek belajar dalam konteks tertentu (melalui guru, dan sebagainya).
Dari lima jenis perkembangan, tentu cakrawala berpikir manusia menjadi berubah. Tanda perubahan dapat dinilai berdasarkan perkataan, pemikiran, tindakan, relasi, dan karya. Itu sebabnya, memahami makna cakrawala berpikir, dan bagaimana mengembangkannya merupakan tindakan yang sangat baik.
Cakrawala berpikir manusia dinilai berdasarkan tujuh aspek: pertama, cakrawala spiritual; kedua, cakrawala kultural; ketiga, cakrawala pengetahuan umum yang didapatkan melalui otodidak; keempat, cakrawala doktrin agama; kelima, cakrawala imajinasi; keenam, cakrawala analitikal melalui penelitian, kajian ilmiah; ketujuh, cakrawala komunikasi, di mana seseorang mendapatkan sesuatu dari hasil komunikasinya (dialog, debat, diskusi, bertukar pikiran, dan bentuk lainnya).
Setiap aspek dalam cakrawala tersebut memiliki keuntungan tersendiri, tantangan dan hambatan tersendiri pula. Ketika manusia menempatkan dirinya dalam salah satu aspek cakrawala tersebut, ia dapat memberi dirinya asupan pengetahuan umum dan khusus yang memberikan pengaruh bagi tindakan, ucapan, dan harapan.
Sejatinya, proses berpikir manusia dalam ruang lingkup aspek-aspek cakrawala tadi, dapat membentuk jatidiri seseorang. Apa dan bagaimana dirinya ditentukan bagaimana ia memanfaatkan aspek-aspek cakrawala tadi. Alhasil, nilai diri dan kehidupan menjadi terikat pada cakrawala berpikir.
Zaman modern sekarang ini membentuk pola pemahaman kita bahwa manusia, dengan cakrawala berpikirnya dapat menyentuh teknologi dengan level kesadaran dan pemberian diri untuk menggunakannya. Cakrawala kesadaran diri untuk menggunakan segala sesuatu termasuk teknologi canggih menawarkan dampak positif dan negatif atas diri seseorang.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa orientasi cakrawala berpikir manusia tidak melepaskan dirinya dari “konteks” di mana konteks itu sendiri menyiratkan sebuah perspektif (cara pandang) seseorang akan segala sesuatu yang terjadi di dalam konteks tersebut. Alih-alih memahaminya sebagai sebuah nuansa (kemampuan memahami adanya sesuatu yang terjadi) faktual di dalam ruang dan waktu, cakrawala berpikir pun dapat menjembatani konsep dan tafsir kita untuk menentukan langkah-langkah kehidupan.
Cakrawala —cara pandang atau keluasan pandangan terhadap sesuatu hal — berpikir kita ikut andil dalam upaya mencapai kesuksesan hidup. Benturan-benturan kecil maupun besar pada ruas-ruas jalanan kasar, melatih pikiran dan pemahaman kita untuk merasakan didikan dari benturan-benturan itu agar kaki kita diarahkan kepada tujuan yang hendak kita capai.
Latihan-latihan kehidupan di dalam konteksnya masing-masing, berpotensi menjerumuskan cakrawala berpikir kita dalam kerugian, keberdosaan, dan kesedihan. Tetapi juga berpotensi memberi dan merangkul kita dalam kesuksesan, kebahagiaan, dan kepuasan. Ternyata, cakrawala berpikir memberikan nilai dan rasa pada kehidupan yang kita jalani.
Dengan begitu, upaya untuk tetap menghargai potensi dari cakrawala berpikir, menjadi landasan kehidupan di masa kini, besok, dan masa depan. Kita tidak boleh menjerumuskan diri kepada hal-hal yang tak bermanfaat dan merugikan diri sendiri, di mana cakrawala berpikir menjadi penentunya.
Kita siap berhadapan dengan tantangan. Akan tetapi, keberanian tidaklah cukup. Dibutuhkan ketelitian, komitmen, dan iman kepada Sang Khalik agar dapat menjalani tapak demi tapak pada jalanan kasar di depan kita. Keyakinan akan bermanfaatnya cakrawala berpikir kita adalah hasil dari kerja keras, kekritisan, dan relasi kita dengan dunia yang luas ini.