ORANG MUDA YANG LUPA BAHWA DIRINYA AKAN TUA KELAK: Refleksi tentang Hidup dan Kurangnya Etika kepada Orang yang Telah Berusia Lanjut

“Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban” – Salomo – (Amsal 20:29). [Tulisan ini telah diterbitkan pada buku ulang Tahun Pdt. Dr. Kembong Mallisa’ yang diterbitkan oleh Penerbit DELIMA, tahun 2013].

Aksentuasi tulisan ini berorientasi pada hidup dan etika terhadap orang yang telah berusia lanjut. Hidup dan etika adalah dua hal yang krusial. Bisa dikatakan bahwa dua hal tersebut adalah suatu dikotomi dalam perspektif agama. Perjalanan hidup manusia selalu menekankan “etika” dalam berbagai perspektif masing-masing, entah personal, agama, pemerintah, organisasi, Gereja dan sebagainya. Mengapa etika itu penting? Penting, karena etika merefleksikan citra diri manusia yang adalah gambar dan rupa Allah, tahu yang benar dan jahat, tahu kebaikan, keadilan, hormat kepada TUHAN dan sesama manusia. Tanpa etika, hidup manusia tidak memiliki “keteraturan tatanan hidup yang memadai” sesuai dengan naturnya yang diberikan oleh Tuhan. Pada akhirnya, dedikasi tulisan ini ditujukan kepada Opa Kembong, begitulah panggilan akrab saya kepada beliau, sebagai bentuk penghormatan saya selaku “anak didiknya” sejak beliau mengajar saya dalam kelas teologi tahun 2003, dan hingga sekarang di Delima STT SETIA Jakarta, beliau masih mengajar saya dan sering bertukar pendapat.

Introduksi

Berbicara mengenai hidup, tentu ada beragam pendapat dalam memahami dan memaknai hidup itu. Hidup itu penting dan bermakna, meskipun ada orang yang menganggap bahwa hidup itu tidak bermakna, tapi itulah maknanya bagi orang tersebut, yakni “tidak bermakna”. Bermakna tidaknya hidup itu, bergantung kepada situasi dan kondisi yang dialami atau angle (segi pandangan) seseorang. Dalam konteks ini, saya tidak bermaksud untuk tidak menyinggung soal hidup itu bermakna karena Tuhanlah yang memberi makna dan memampukan manusia untuk dapat menikmati hidup serta berjuang mempertahankan hidup. Maksud saya mengatakan bahwa hidup itu bergantung pada situasi kondisi hanya dalam konteks faktual yang diamati. Tentu sebagai orang Kristen, kedua hal itu juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap makna hidup selain daripada bahwa Tuhanlah yang menjadikan diri kita mampu untuk memahami dan memaknai hidup itu sendiri.

Ketika seseorang merasakan sukacita, gajinya besar, dihargai orang lain, kaya, punya kedudukan, keluarga bahagia, punya usaha, harta benda banyak, disayangi suami atau istri, disayangi oleh anak-anak, disayangi oleh Opa dan Oma (Kakek dan Nenek), punya suami ganteng dan istri yang cantik jelita, maka “tentu” seseorang tersebut menganggap bahwa hidup itu bahagian dan bermakna. Sigmund Freud menulis, “Kebahagiaan dalam artinya yang paling sempit berasal dari kepuasan – sering hal ini berarti terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang terpendam, yang sangat kuat, dan biasanya berlangsung sementara saja.” Sigmund Freud, Dictionary of Psychoanalysis (New York: Fawcett Publications, n.d.), dikutip oleh Cecil G. Osborne, Seni Mengasihi Diri Sendiri (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 89.

Akan tetapi, hidup itu juga tidak bergantung pada hal-hal lahiriah. Seorang pengusaha kaya raya, pemilik sebuah perusahaan besar di seluruh dunia pun mati karena bunuh diri. Apa yang kurang dari hidupnya? Ketenaran? Harta? Uang? Perusahaan? Karyawan? Tidak tahu apa sebab yang sebenarnya, padahal uangnya berlimpah ruah. Ketika seseorang merasa putus asa, kecewa, ditinggalkan suami atau istri, dibenci anak-anak, tidak dihargai, tidak mendapat kedudukan, gaji kecil, penuh tekanan, stres, menderita, dihina, dicaci maki dan hal-hal semacamnya, maka dapat dipastikan seseorang itu bisa menganggap hidupnya tidak bermakna atau merasa kecewa dengan hidupnya.

  • PENTINGNYA HIDUP DAN MASALAH DALAM HIDUP

“Kebahagiaan adalah tujuan hidup dari setiap manusia. Jenis kebahagiaannya berbeda. Cara mendapatkannya berbeda. Waktu untuk menikmatinya berbeda pula. Hanya satu yang tidak berbeda secara esensi: ‘Mensyukurinya’. Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup (Talaud, 2010).

“Orang yang menganggap hidup adalah kebebasan untuk berbuat dosa menjadikan pintu kehidupannya menuju kepada kematian.” Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup (Talaud, 2010).

Saya akan menjelaskan terlebih dahulu beberapa hal penting. Pertama, kita hidup adalah karena anugerah TUHAN. Kedua, kita diberikan hidup sejauh TUHAN berkehendak memberikan kepada kita umur panjang. Ketiga, kita harus mensyukuri atau menghargai hidup itu, dan keempat, kita harus berjuang mempertahankan hidup itu.

Keempat hal di atas adalah krusial. Saya hanya memberi aksentuasi pada hal yang pertama dan kedua dan kedua hal inilah yang memiliki kaitan erat dengan judul yang saya ambil sebagai refleksi tentang hidup dan kurangnya etika kepada orang yang telah berusia lanjut.

Hidup adalah anugerah TUHAN. Dan umur kita ditentukan TUHAN. Mati hidup kita ada di tangan TUHAN. Ini prinsip iman Kristen. Tetapi, tidak semua orang Kristen memiliki pemahaman yang demikian. Bagi mereka hidup adalah pesta pora, hidup adalah kesenangan dan sebagainya, hidup hanya membenci dan iri hati kepada sesama, munafik, suka mencari kelemahan orang lain untuk dijatuhkan martabatnya, kadang berani mengatakan bahwa “sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan dia” padahal Alkitab jelas mengajarkan bahwa “ampunilah orang yang berbuat salah kepadamu tujuh puluh kali tujuh kali”. Baru dua atau tiga kesalahan yang diperbuat orang lain kepadanya, eh… sudah tidak mau mengampuni lagi.

Akibat dari hal-hal jahat di atas, tentu hidup mereka tidak dibentuk dengan aturan-aturan Alkitab, tidak dibentuk oleh etika Alkitab dan menjadi manusia yang mencintai dirinya sendiri (egoisme).

Prinsip etika adalah hal yang mendasar untuk menjadi orang Kristen selain daripada iman, kasih dan pengakuan kita kepada Tuhan sebagai Pencipta (atau hal-hal lainnya yang fundamental). Kurangnya kesadaran etika tidak juga dilakukan oleh orang muda melainkan juga oleh orang tua, orang yang berpendidikan, atau orang-orang yang duduk di suatu lembaga atau pemerintahan. Kita berharap bahwa yang duduk atau bekerja di suatu lembaga adalah orang-orang yang beretika dan bermoral. Akan tetapi, hal ini kadang-kadang muncul terbalik. Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tidak beretika, semakin mencari keuntungan yang tidak benar, tidak tahu sopan santun, seenaknya berbicara di depan orang, bahkan tidak tahu diri. Hal-hal yang demikian bukanlah “hal baru” yang terjadi di sekitar kita.

  • ORANG MUDA DAN ETIKA

Judul tulisan saya terinspirasi ketika saya membaca buku R. C. Sproul, di mana saya membaca kisah yang menarik tentang seorang profesor yang sangat terkenal lalu ia menjadi tua dan dilupakan. Berikut tuturan cerita (kisah) Sproul (The Hunger for Significance [Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Co., copyright © 1983, 1991, reprinted 2001]. Edisi bahasa Indonesia “Mendambakan Makna Diri, diterjemahkan oleh Lana Asali Sidharta [Surabaya: Momentum, 2005]).

“Saya berkunjung ke almamater saya untuk berbicara pada acara penyerahan penghargaan akademis. Seusai acara, saya berjalan melintasi halaman kampus ke arah menara “Old Main”. Di sana saya melihat seorang laki-laki berambut putih berjalan dengan hati-hati, tertatih-tatih sambil memegang tongkatnya, sementara para mahasiswa yang tergesa-gesa lalu lalang di sekelilingnya, sehingga membahayakan dirinya.

Ia sudah berusia amat lanjut, hampir 90 tahun. Sebuah jas yang sudah ketinggalan mode menutupi punggungnya yang bungkuk. Saya segera mengenali dia sebagai seorang mantan profesor di universitas itu, seorang yang pernah disanjung di seluruh dunia dalam dekade 30-an untuk karyanya yang merupakan terobosan baru di bidang filsafat. Ia dahulu amat terkenal karena inteleknya yang cemerlang dan wawasannya yang luas.

Kini saya mengamati dia ketika ia berjalan dan tidak seorang pun mengenalinya, para mahasiswa yang bahkan tidak layak untuk membawakan tasnya itu bergegas melewati dia begitu saja. Saya berpikir, “Anak-anak muda ini tidak mengenal dia, tetapi Allah tahu siapa dia.” R. C. Sproul, Mendambakan Makna Diri,  terj. Lana Asali Sidharta, (Surabaya: Momentum, 2005), 140-141.

Ketika selesai membaca kisah Sproul, saya sangat sedih dan berpikir bahwa “orang muda sekarang, jika ia tidak menghargai dan menghormati orang yang telah berusia lanjut, adalah orang yang lupa bahwa dirinya akan tua kelak.” Begitu pula dengan para mahasiswa yang dikisahkan di atas, di mana mereka tidak lagi mengenali seorang profesor yang ternama di kampus itu. Sedih rasanya ketika kita tidak dihargai. Sedih rasanya ketika orang lain tidak menghormati kita. Apalah arti sebuah kedudukan, sebuah kepintaran, sebuah kesuksesan, namun orang-orang tidak menghargai kita? Rasanya hancur, sakit dan perih. Siapa yang pernah mengalami hal ini, pastilah ia tahu, bagaimana rasanya ketika tidak dihargai.

Orang muda yang tidak pernah menghargai jasa-jasa orang-orang yang pernah memberikan suatu terobosan, suatu prinsip hidup, apalagi tidak menghargai orang yang telah tua, ia sama sekali menghilangkan bagian penting dalam hidupnya yakni “etika”. Seorang profesor yang dulunya pernah disanjung karena sumbangsih pemikirannya, kini ia tidak dikenali lagi, bahkan tidak dihargai lagi. Ironis memang.

Kemudian, saya kembali merenungkan: Apakah Opa Kembong, di kampus STT SETIA akan mengalami hal yang sama? Akankah mahasiswa di kampus tersebut masih mengenali beliau, atau paling tidak menghargai dan menghormati beliau? Saya tidak yakin akan hal itu, karena menurut saya, orang-orang (termasuk mahasiswa) di STT SETIA pun tidak menjalankan etika Kristen dengan sepenuhnya. Bahkan justru melakukan hal yang berlawanan dengan etika.

Dalam kondisi seperti ini, perlunya kesadaran menilai diri adalah penting. Tidak ada gunanya menyandang “gelar” tertentu tetapi tidak mencerminkan sikap hidup Kristen yang baik dan benar. Mulut penuh hujatan, penuh kemunafikan, penuh kelicikan dan penuh “gosip miring”. Etika perlu ditegakkan, karena TUHAN menciptakan manusia sebagai makhluk yang bermoral dan beretika. Kucing tidak dianugerahi etika dan moral, sapi tidak, monyet tidak, anjing juga tidak, apalagi ayam kampung.

Orang muda perlu beretika, baik di dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun di lingkungan sekolah. Bagaimana dengan orang muda di STT SETIA? Menurut Sproul, ditinjau dari stigma kebudayaan, kita diyakinkan bahwa dunia adalah milik kaum muda yang agresif, sedangkan orang-orang tua dianggap sudah usang dan tak berguna. Sproul, Mendambakan Makna Diri,  139.

Saya dapat menduga bahwa “kebanyakan” anak muda (termasuk di SETIA) berpendapat sama dengan apa yang dinyatakan oleh Sproul. Bagi mereka, orang tua istirahat saja dan biarkan anak muda yang berkarya. Tak heran, ada yang berkata: “Saatnya yang muda untuk memimpin”.

  • PESAN ALKITAB BAGI ORANG MUDA

“Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Ams. 22:15).

Zaman sekarang, orang (atau anak) muda adalah anak yang berprestasi, baik di sekolah, maupun di jalanan (tawuran dan mengamen). Anak muda identik dengan hura-hura, pesta pora, kebebasan, lincah, kreatif, inspiratif, suka berkelompok (dan membuat geng), seks bebas, penuh nafsu, aborsi, preman, dan sebagainya. Terlepas dari angle positif atau negatif, anak muda juga mendapat perhatian Alkitab. Dalam Alkitab, ada berbagai prinsip pengajaran dan pedoman kepada orang muda. Orang muda akan menjadi baik jika dididik sesuai dengan apa yang patut baginya. Benar sekali. Penulis kitab Amsal mengerti akan kondisi kejiwaan orang muda.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6). Jikalau orang muda dididik maka tentu akan menjadi baik, dan konten dari didikan itu sesuai dengan yang patut, yang layak, yang sesuai dengan perintah TUHAN, sesuai dengan kehendak TUHAN.

Orang muda akan menjadi baik, santun, dan menghargai hidup dan orang lain adalah karena hasil “didikan”. Bahkan sampai masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang. Jika pada masa mudanya ia dididik, maka ia akan menghargai dan mengakui betapa berharganya hidup itu. Pemazmur mengatakan, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu” (Mzm. 119:9). Paulus menasihati Timotius: “Janganlah seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” (1 Tim. 4:12). Semua aspek teladan yang disebutkan Paulus, merangkum totalitas hidup dan pergaulan orang (anak) muda.

Paulus menyatakan: “Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Petrus juga menasihati, “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Ptr. 5:5).

Peran orang muda memang penting, tetapi jika ia tidak dididik untuk menjadi lebih baik, mencintai Tuhan dan menghargai hidup, sopan, santun, penuh etika dan bermoral baik, tahu menghargai sesama (termasuk orang yang telah tua). Ingatlah hai engkau yang masih muda: “Belajarlah menghargai sesama dan orang yang telah berusia lanjut, karena dengan demikian engkau telah melakukan suatu hal yang bermakna dan engkau pun akan mengalami hal yang sama ketika engkau tua kelak.”

  • KRITERIA HIDUP, ETIKA DAN APLIKASINYA BAGI ORANG YANG TELAH BERUSIA LANJUT

Apa yang diharapkan dari perbuatan baik kita? Melatih kita untuk terus melakukannya. Apa yang diharapkan dari terus melakukannya? Melatih kita untuk tidak bosan melakukannya. Apa yang diharapkan untuk tidak bosan melakukannya? Melatih kita untuk bertanggung jawab kepada Tuhan. Apa yang diharapkan dari bertanggung jawab kepada Tuhan? Melatih kita untuk tetap tinggal dalam kebenaran-Nya. Apa yang diharapkan dari tetap tinggal dalam kebenaran-Nya? Melatih kita untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya. Apa yang diharapkan dari bertahan sampai pada akhirnya? Untuk memberikan kepada kita upah dan mahkota kehidupan. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup.

Kriteria Hidup

Hidup memang perlu dijalani. Cara menjalaninya memiliki beragam cara. Inilah yang akan membawa kita kepada kriteria hidup. Tanyakanlah kepada puluhan orang, dan Anda akan menerima beragam kriteria tentang hidup. Hidup adalah anugerah, hidup adalah perjuangan, hidup adalah kepuasan perjalanan yang melelahkan, hidup adalah kebahagiaan, dan hidup penuh dengan kesukaran dan penderitaan. Itulah kriteria hidup, menurut saya.

Kriteria Etika

Kriteria etika (dari perspektif Kristen), dalam pemahaman saya mencakup beberapa hal, yakni: Pertama, takut akan Tuhan dan menghormati kekudusan nama-Nya; kedua, mengasihi Tuhan dan sesama; ketiga, melakukan hal-hal baik sesuai dengan prinsip Alkitab; keempat, mencintai lingkungan; kelima, bertanggung jawab dalam segala aspek hidup dan keenam, mempertahankan prinsip-prinsip Alkitab sampai Tuhan memanggil kita.

Korelasinya [dengan Opa Kembong]

Penghormatan kepada Orang yang Telah Berusia Lanjut

Menghormati orang yang lebih tua, saya rasa, hampir semua suku, bangsa dan budaya di dunia menerapkannya dalam kehidupan yang dijalani. Menghormati orangtua kandung adalah perintah TUHAN seperti yang termaktub dalam kitab Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Prinsip ini mendasari semua point of view orang Kristen karena itu adalah perintah TUHAN. Di samping itu, “mengasihi sesama” juga adalah perintah Tuhan. Rasul Paulus menulis, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

Lalu di mana ayat Alkitab untuk menghormati orang yang tua yang telah ubanan atau berusia lanjut? Dalam Imamat 19:32 dituliskan, “Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.” Kepada setiap anak muda, belajarlah untuk menaruh rasa hormat kepada orang yang telah ubanan, orang yang telah berusia lanjut. Jika hal tersebut jelas, masihkah kita tidak menghargai orang tua  (telah ubanan)? Akankah hal ini terjadi di STT SETIA? Mungkin!

Belajar dari Pengalaman dan Bertukar Pendapat dalam Menanggapi Persoalan Hidup

Saya selalu belajar dari pengalaman orang tua termasuk Opa Kembong. Orang tua lebih banyak “makan garam”. Saya menyerap hal-hal yang baik yang bisa dijadikan pedoman hidup saya ke depan. Bagi saya, jika anak muda ingin mendapatkan banyak hal, entah pengalaman, prinsip, suka duka, penderitaan dan kesukaran hidup, bertukar pendapatlah dengan orang tua. Saya seringkali menanyakan banyak hal kepada Opa Kembong tentang hidup dan prinsip hidup. Pengalaman beliau waktu studi pun dia ceritakan kepada saya. Menanggapi persoalan hidup, seringkali memicu perbedaan pendapat, akan tetapi, kita perlu untuk jeli untuk berpikir dalam mengatasi persoalan hidup dengan cara-cara yang layak. Banyak cara dalam mengatasi persoalan hidup tetapi tidak semua dikategorikan sebagai yang “layak” untuk dilakukan.

Pengalaman bersama Tuhan: Kesetiaan-Nya Tak Pernah Redup Sekalipun

Hidup bersama Tuhan pasti melewati berbagai tantangan, hambatan, penderitaan, kebahagiaan, dukacita dan sebagainya. Opa Kembong telah melaluinya dan itu menjadi pengalaman berharga baginya. Sebagai seorang Pendeta, tentu beliau lebih tahu suka duka hidup bersama Tuhan. Kesetiaan Tuhan tak pernah redup bagi umat pilihan-Nya, bagi hamba-hamba-Nya. Yosua, pada masa tuanya (dan sangat lanjut umur) masih memberikan pengarahan, semangat dan kekuatan kepada seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya (Yos. 23:1-16). Ingatlah perkataan Daud yang menguatkan kita, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti (Mzm. 37:25).

Belajar Menghargai Orang yang Berusia Lanjut

Sproul menyatakan bahwa Allah menuntut kita untuk menghormati dan menghargai warga lansia [lanjut usia] kita secara khusus (lihat Im. 19:32; Ams. 23:22; 1 Tim. 5:1). Setiap kali saya melihat kepala beramput putih atau wajah yang keriput, saya merasakan kekaguman yang timbul di dalam sanubari saya. Seorang lansia layak mendapat respek saya, sekalipun tak ada alasan lain di samping usianya itu. Ia telah bertahan.  Sproul, Mendambakan Makna Diri, 141-42.

Inilah yang seharusnya kita, sebagai anak muda lakukan yakni memberikan hormat (respek) dan kesantunan terhadap orang yang berusia lanjut sebab sudah jelas apa perintah Alkitab bagi kita.

Sproul juga menjelaskan bahwa “para lansia berhak atas penghormatan. Adalah hak sakral mereka untuk memperolehnya, dan kewajiban mutlak kita untuk memberikannya. Merekalah kekuatan dan kontinuitas keluarga, ibu bapa dari akar-akar martabat kita sendiri.”  Sproul, Mendambakan Makna Diri, 142.

  • BEBERAPA TITIK LEMAH PADA DIRI ORANG MUDA

Orang muda yang lupa bahwa ia akan menjadi tua kelak.

Konteks ini adalah konteks umum, di mana para anak muda ketika melihat orang yang telah tua, kurang menaruh rasa santun dan hormat. Anak muda kadang malu menolong orang yang telah tua bahkan suka menghindar dan pura-pura tidak tahu, karena gengsi. Anak muda lupa, bahwa ia akan tua kelak.

Orang muda yang tidak terdidik dalam soal etika.

Terdidik tidaknya anak muda dalam soal etika, menurut saya berawal dari keadaan dalam keluarganya sendiri. Ketika orangtuanya tidak mengajar dan mempraktikan “etika” dalam kehidupan keluarga, maka ia pun akan melakukan hal yang sama di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pengamatan saya, banyak anak muda dan tidak tahu etika, sopan santun dan hormat kepada orang yang lebih tua. Itu sebabnya, perlunya orangtua mendidik anaknya sejak dini tentang etika dan menghargai hidup.

Orang muda yang menganggap bahwa ia juga terpelajar dan hebat.

Konteks ini sering terjadi dan menganggap orang tua itu kuno pemikirannya dan sayalah yang hebat karena sudah terpelajar, sudah sekolah tingkat tinggi sehingga ia mendasari dan menilai hidupnya hanya pada ranah “akademik” untuk menghakimi orang tua dan menganggap mereka kuno, kolot dan sebagainya.

Orang muda yang menganggap hidup itu biasa-biasa saja.

Orang muda yang menganggap hidup itu biasa-biasa saja akan merasa tersiksa ketika ia tua kelak. Masa mudanya hanya melakukan hal-hal yang tidak pantas, hal-hal yang kurang berarti. Untuk apa menghargai orang tua dan yang telah berusia lanjut, dan untuk apa belajar etika? Percuma! Saya hidup apa maunya saya lakukan.

  • PENUTUP

Nabi Musa mengungkapkan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh  hati yang bijaksana. Jika kita menghitung hari-hari kita, itu berarti kita menaruh perhatian penting atas hidup kita. Beroleh bijaksana dikarenakan kita menilai, mengamati, mengevaluasi, mengoreksi hidup kita dan mengisinya dengan hal-hal yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua orang mengakui bahwa hidup itu sulit. Bahkan ketika menghadapi kematian, manusia kadang merasa takut.

Manusia tidak boleh sombong karena pada akhirnya ia akan mati dan dikubur. Apa yang ditabur itu juga yang dituai. Saya berpikir, bahwa mungkin manusia jarang memikirkan tentang “penghakiman” TUHAN pada waktu yang Ia tentukan sehingga mereka sesuka hati mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat tanpa merasa bahwa TUHAN tidak akan menghukum mereka.

Marilah kita belajar menghargai hidup ini. TUHAN telah memberikan kehidupan kepada kita untuk dijalani dengan penuh hikmat dan rasa hormat kepada-Nya. Tuhan pun memerintahkan kita untuk saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati. Hormatilah orang tua atau yang berusia lanjut. Jangan menganggap rendah nasihat ini. Saudara akan merasakannya sendiri ketika saudara tua kelak. Hidup, jika menerapkan etika secara bertanggung jawab, akan menjadikan hidup kita disiplin, dihargai dan menghargai, dikasihi dan mengasihi, dihormati dan menghormati. Amin.

“Selamat Ulang Tahun yang ke-63 bagi Opa Kembong. Tuhan tetap menyertai Opa dalam hidup yang dijalani, terlebih dalam melayani Tuhan.”

Salam Bae……

TEOLOGI TANPA RAGI

Upaya untuk mengembangkan pelayanan, pengajaran, semangat memberitakan Injil, dan mengatur para pelayan yang sesuai dengan potensinya, merupakan tindakan yang memang seharusnya dilakukan oleh para hamba Tuhan. Mengembangkan hal-hal tersebut membutuhkan semangat dan pemikiran yang baik.

Di sini, saya menyoroti tentang upaya mengembangkan pengajaran. Hal ini penting karena pengajaran Alkitab memiliki begitu banyak manfaat bagi kehidupan spiritualitas kita, bahkan kehidupan relasional kita di dalam keluarga, gereja, tempat, kerja, lingkungan masyarakat mikro maupun makro. Jika demikian halnya, pengajaran yang kita pahami dengan baik, seyogianya dikembangkan dengan baik pula. Pengajaran atau teologi internal gereja harus disuarakan, digemakan, dikembangkan, disebarluaskan, memberikan pengaruh bagi gereja itu sendiri, maupun dunia secara global. Kita menolak gagasan “teologi tanpa ragi”.

Ketika teologi atau pengajaran iman Kristen tidak berkembang, dan tidak dikembangkan, itu dinamakan dengan teologi tanpa ragi, keras. Fakta ini memang bukan pilihan kita. Mereka yang telah menyadari panggilannya untuk melayani Tuhan Yesus, seharusnya memahami apa peran dan tugasnya dalam melayani. Tak dapat dipungkiri bahwa mengembangkan teologi atau pengajaran Alkitab adalah tugas semua orang percaya. Mereka tidak saja mengajarkan tentang ajaran Alkitab, tetapi juga menghidupinya, menjadi teladan dalam perkataan, pemikiran, dan perbuatan.

Tentu kita harus memahami bagaimana seharusnya menumbuhkan iman jemaat dalam konteks pemberitaan firman, pemberitaan Injil dalam pekerjaan misi lintas budaya, dan lain sebagainya. Kita memerlukan ragi dalam melayani. Ragi sebagai pengembang adonan pada roti (Hosea 7:4). Ragi adalah bahan yang dipakai dalam adonan roti atau kue untuk mengkhamirkan atau mengembangkan adonan itu. Ragi adalah gambaran tindakan dan usaha untuk terus melayani dan mengembangkan pekerjaan Tuhan.

Untuk lebih jelasnya, saya merangkum dari berbagai sumber yang menjelaskan mengenai ragi. Berikut penjelasannya. Ragi adalah segumpal adonan yang sudah agak lama dalam keadaan khamir, dengan maksud untuk meragikan gumpalan yang besar yang sudah tersedia. Dalam beberapa teks, ragi mengkiaskan pengajaran yang busuk atau tidak bagi (Matius 16:6; 1 Korintus 5:6-7). Yang menarik, ragi melukiskan hal Kerajaan Sorga (Mat 13:33; Lukas 13:21), pengajaran orang Farisi (Matius 16:6, 12), orang yang mengaku Kristen, tetapi tidak beribadah (1Kor. 5:6-7), guru-guru palsu (Gal. 5:8-9), niat jahat (1Kor. 5:8). Secara kiasan, ragi dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang kecil atau tidak terlihat tetapi memiliki pengaruh yang besar.

Ragi dipahami dari berbagai konteks. Di satu sisi, kehidupan spiritual tanpa ragi dalam 1 Korintus 5:8 menekankan sebuah tindakan yang tidak memasukkan hal-hal busuk dan buruk ke dalam diri orang percaya, sehingga digambarkan sebagai “tanpa ragi”. Di sisi lain, ragi dipakai sebagai gambaran Kerajaan Allah dalam hubungannya dengan pewartaan Injil Kristus ke seluruh dunia.

Salah satu sumber (Kamus Alkitab, karangan W. R. F. Browning) menjelaskan bahwa dalam Alkitab ragi mempunyai dua arti yang saling bertentangan. Sebagai adonan khamir yang tersisa dari gumpalan adonan yang terpakai, biasanya dicampurkan pada tepung untuk mengkhamirkannya lebih lanjut lagi. Oleh karena itu, adonan ragi itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang hidup yang tidak boleh ikut dibakar dengan korban bakaran di atas mezbah. Atau adonan ragi itu dipandang memiliki pengaruh merusak yang menyebabkan pembusukan. Para rabi Yahudi terutama mempunyai pengertian terakhir ini. Ragi melambangkan perusakan wujud manusia. Demikianlah Yesus mengutuk ragi orang Farisi dan lain-lain (Mrk. 8:15) dan begitu pula Paulus mencela kecongkakan orang Korintus (1Kor. 5:6-8) dan tipu muslihat lawan-lawannya di Galatia (Gal. 5:9). Pada lain pihak, ragi sebagai pemberi hidup digunakan pada perumpamaan tentang ragi dalam Matius 13:33 dan Lukas 13:20-21.

J. D. Douglas, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, menjelaskan, bahwa dalam kehidupan orang Ibrani ragi memainkan peranan penting, tidak hanya dalam pembuatan roti, tapi juga di bidang hukum, upacara dan agama. Ragi dibuat dari dedak halus putih di remas dengan bibit ragi, dari tepung tumbuhan seperti kacang polong, atau dari jelai dicampur air yang tinggal diam hingga menjadi asam. Karena cara membuat roti makin maju, ragi dibuat dari tepung roti di remas tanpa garam, disimpan sampai timbul peragian.

Ragi dalam konteks hukum dan upacara agama tampak pada peraturan Musa (Kel. 23:18; 34:2) yang melarang pemakaian ragi selama Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi (Yunani azumos) (Kel. 23:15; Mat 26:17, dst). Hal ini mengingatkan Israel tentang keberangkatan buru-buru dari Mesir, tatkala tidak ada waktu untuk memanggang roti beragi. Mereka membawa adonan dan tempat meremas tepung dan memanggang roti sambil berkelana (Kel. 12:34 dst; Ul. 16:3 dst).

Douglas menjelaskan, larangan memakai ragi dan madu (Im 2:11), mungkin dibuat karena peragian melibatkan penghancuran dan pembusukan, dan bagi Israel keadaan membusuk menimbulkan kesan kenajisan. Para penulis rabi sering menggunakan ragi sebagai lambang kejahatan dan kebusukan manusia turun temurun (bdk Kel. 12:8, 15-20). Plutarkhus mengulangi pendapat kuno ini tatkala menggambarkan ragi sebagai “benih kebusukan yang membusukkan adonan yang dicampurinya”. Istilah fermentum digunakan Persius untuk “kebusukan”. Mungkin dengan alasan ini pula ragi tidak dipakai dalam korban di mezbah Yahweh; yang diizinkan hanya roti dibuat dari tepung tanpa ragi (masysyot, Im. 10:12). Ada dua kekecualian terhadap peraturan ini (Im 7:13; bnd Am 4:5). Roti bundar beragi menyertai korban syukur, roti batangan beragi dipersembahkan sebagai persembahan unjukan pada Hari Raya Pentakosta.

Douglas menjelaskan, bahwa dalam Perjanjian Baru ragi dipakai dengan arti kiasan yang mencerminkan pendapat lama tentang “busuk dan menimbulkan kebusukan”. Yesus memperingatkan murid mengenai ragi orang Farisi, Saduki dan Herodes (Mat. 16:6; Mrk 8:15). Maksud-Nya, kemunafikan Farisi dan pemahaman yang berlebihan akan yang lahiriah (Mat. 23:14, 16; Luk. 12:1), skeptisisme dan ketidaktahuan Saduki (Mat. 22:23, 29), kebencian dan tipu daya politik Herodes (Mat. 22:16-21; Mrk. 3:6).

Pengertian yang sama terdapat dalam 1 Korintus 5:6 dst, dan Galatia 5:9. Yang pertama menonjolkan pertentangan antara “ragi keburukan dan kejahatan”  dengan “roti yang tak beragi kemurnian dan kebenaran”, tapi mengingat arti baru dari pesta lama yaitu bahwa “Kristus, Paskah kita telah dipersembahkan bagi kita”. Maksud ragi dalam perumpamaan Yesus yang membandingkan Kerajaan Allah dengan “ragi yang diambil seorang wanita, dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya” (Mat. 13:33; Luk. 13:21) mengikuti perumpamaan biji sesawi kecil dan lambat tumbuhnya. Makna dari perumpamaan ragi menunjuk pada “pengaruh ragi dalam tepung, tersembunyi, diam-diam, penuh rahasia tapi mempengaruhi seluruhnya secara merata”.

Berdasarkan penjelasan tentang ragi dalam berbagai konteks, tampak bahwa ragi menjadi gambaran penting mengenai banyak hal. Di sini, penekanan saya mengenai teologi tanpa ragi menyiratkan sebuah pesan bahwa teologi tanpa ragi yang baik, menghasilkan kelanusan (ketidakmampuan), tak berdaya, mudah dipengaruhi, lemah pemikiran, iman, dan pengharapan, dan akan berdampak negatif bagi iman, spiritualitas, dan pemahaman Alkitab. Segera terlintas, bahwa hal ini mirip dengan perumpamaan yang Yesus jelaskan yaitu mengenai kisah seorang penabur benih, yang menaburkan benihnya di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan tanah yang subur (Matius 13:1-23).

Tanah di pinggir jalan, berbatu-batu, dan di semak duri adalah gambaran dari mereka yang “tidak beragi” – suatu jenis kehidupan yang tidak berkembang, selalu layu, malas, dan tidak mau bersemangat dalam melayani dan belajar tentang firman Tuhan. Itulah teologi tanpa ragi – tahu tapi tidak mau bertindak.

Teologi tanpa ragi menegaskan tiga fakta utama:

Pertama, kehidupan orang Kristen adalah rangkuman dari hidup beriman dan bertindak. Iman bersifat aktif, dan karena itu iman tidak dapat dipendam, dikuburkan, melainkan dinyatakan dari segala jenis tindakan yang selaras dengan firman Allah. Artinya, iman itu mendorong kita untuk terus aktif dalam mengajar orang lain, berteologi secara sehat, dan mewartakan Injil Kristus kapan pun dan di mana pun. Iman tanpa ragi berarti mati terkapar secara perlahan-lahan. Demikian juga dengan teologi tanpa ragi, dinikmati sendiri, dan pada akhirnya tidak berbuah lebat.

Kedua, menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan adalah dua hal yang koheren. Ragi dalam konteks ini menegaskan bahwa perkataan dan tindakan yang beragi berarti akan berkembang dan diterapkan dalam segala aspek pelayanan, kehidupan, keluarga, dan pekerjaan. Teologi tanpa ragi adalah mereka yang tahu tentang ajaran-ajaran Alkitab, tetapi hanya berani kandang, tak mau keluar untuk memberitakan Injil.

Ketiga, teologi tanpa ragi mengabaikan kerinduan untuk orang lain bertumbuh; ia hanya ingin bertumbuh sendiri, egoisme, dan suka memamerkan potensi diri secara negatif. Teologi tanpa ragi juga menjelaskan siapa kita di hadapan Tuhan dan manusia. Kita dinilai oleh siapa saja. Dan untuk mendapatkan nilai yang baik, kita dapat menampilkan gaya hidup yang terbaik. Memang ada yang memperlihatkan gaya hidup yang terbaik dan rohani, tetapi di baliknya menyimpan sikap hipokrit (munafik). Kita tidak perlu memelihara motivasi semacam itu.

Akhirnya, teologi yang benar berisi pengajaran-pengajaran Alkitab yang menegaskan tiga aspek, yaitu: (1) aspek kepercayaan kepada Allah Tritunggal dalam proses pelayanan dan kehidupan secara keseluruhan. Aspek ini menjadi tanda bahwa kita adalah orang yang beriman tidak sembarang beriman. (2) aspek menjalani kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dan manusia. Faktanya, hukum yang pertama dan yang terutama memberikan poin korelasional dan konsekuensi logis yaitu bahwa ketika kita mengasihi Allah maka kita juga harus mengasihi sesama kita. (3) aspek realisasi tanggung jawab iman dalam hubungannya dengan menjadi saksi Kristus (Matius 28:19-20; Kisah Para Rasul 1:8).

Menjadi saksi itu tidak mudah. Ada harga yang harus dibayar. Menjadi saksi berarti mampu menyerap berbagai pengajaran atau teologi yang alkitabiah dan secara sadar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelayan atau hamba Tuhan, kita terpanggil untuk mengembangkan pengajaran atau teologi yang telah kita pelajari dan pahami. Kita tidak menciptakan teologi tanpa ragi karena kemalasan kita, atau keegoisan kita. Justru kita senantiasa hadir untuk memberikan pengajaran iman dan teladan hidup, mengembangkan semua potensi yang Tuhan berikan, mengembangkan pengajaran/teologi yang alkitabiah, mengembangkan pelayanan gereja, dan lain sebagainya.

Jika kita beriman, dan memiliki tanggung jawab iman, maka kita layak menjadi saksi Kristus Yesus dalam dunia ini. Iman itu bersifat melanus (kelihatan, dapat dilihat) bukan disembunyikan, bukan ditindas, tanpa ragi, justru iman itu harus beragi, berkembang, dan mengupayakan Injil Kristus berjaya di muka bumi ini.

Salam Bae…..

TEOLOGI RUPIAH: Para Perampok yang Berjubah Rohani

Pelayan Kristen memiliki sejumlah opini, perspektif, dan pengalaman. Opini berbicara tentang bagaimana pendapat atau pendirian seseorang mengenai pelayanan, bagaimama mendapatkan upah dari pelayanan, dan bagaimana bertahan dalam pelayanan. Pada faktanya, “lahan basah” menjadi salah satu alasan mengapa seseorang berjuang dan berusaha untuk bertahan dalam pelayanan. Jika menguntungkan, pertahankan; jika merugikan (secara finansial), tinggalkan.

Perspektif atau sudut pandang, berbicara tentang bagaimana pandangan tertentu seseorang seseorang mengenai pelayanan yang berkenan kepada Allah, bagaimama seharusnya mendapatkan upah yang layak dari pelayanan, dan bagaimana bertahan dalam pelayanan, dalam keadaan apa pun. Perspektif demikian hanya dapat ditemukan pada mereka yang menyadari bahwa panggilan untuk melayani bukanlah mencari keuntungan, bukanlah mencari popularitas, dan bukanlah menipu jemaat dengan iming-iming sorga, bayar persepuluhan supaya diberkati, dan lain sebagainya.

Pengalaman berbicara tentang bagaimana seseorang menceritakan tentang hal-hal yang berharga sebagai pembelajaran, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain. Artinya, pengalaman dalam melayani, suka-duka yang dirasakan, dapat menjadi catatan imannya dalam mewariskan teladan itu kepada orang lain. Setidaknya, pengalaman yang baik dalam pelayanan adalah buah-buah iman yang sangat berharga.

Tentu, kita tidak mengesampingkan pengalaman lain yang mana seseorang dengan kepiawaiannya mengolah “korupsi iman dan korupsi dana pelayanan” dengan begitu apik, sehingga pada kesempatan lain, ia menggunakan jurus yang sama untuk melanjutkan keberdosaannya yang biadab itu. Alhasil, kehidupannya jelas mencerminkan karakter setan dan berusaha merusak tatanan pelayanan yang ada.

Teologi Rupiah adalah sebutan bagi mereka yang mengupayakan dirinya untuk hidup dari korupsi dana gereja, atau dana jenis lain, yang seharusnya bukan menjadi haknya. Upaya mencari keuntungan yang tidak semestinya, telah menjadi fakta yang menyedihkan. Ada pendeta yang menggertak jemaatnya untuk segera memberikan persepuluhan. Ada pendeta yang menggunakan dana gereja untuk judi online. Ada pula yang menggunakannya untuk kemewahan dirinya sendiri dan keluarganya.

Para perampok ini berjubah rohani memang tampil menarik. Mulut mereka manis, dan menjanjikan hal-hal baik bagi jemaatnya. Penekanan pada persepuluhan yang terkesan memaksa, membuat para perampok ini semakin kaya. Giliran menggelindingkan dana untuk pekerjaan misi di berbagai pedalaman, mereka seolah-olah buta warna atau hilang ingatan.

Teologi Rupiah menampilkan wajah asli para perampok rohani. Mereka menjadi semakin kaya, jemaatnya yang hidup biasa-biasa saja tetap semangat menopang “hura-hura perampok rohani” tersebut. Mereka segar dan gemuk, meskipun mengunyah uang jemaat. Di satu sisi, mereka begitu idealis, di sisi lain, ketika bencana datang melanda, mereka seperti kucing basah tak berdaya, memohon uluran tangan jemaatnya.

Khotbah-khotbah mereka lebih berat ke arah motivasi ketimbang doktrin-doktrin fundamental yang harus dipertahankan sepanjang hayat. Memang tidak keberatan soal itu, akan tetapi, memberi porsi berlebihan terhadap motivasi rohani, akan menimbulkan bahaya tersendiri di zaman digital ini. Apologetika Kristen semakin mencuat akhir-akhir ini, karena disibukkan dengan para pencemooh iman dan ajaran Kristen. Di situlah Gereja harus berbenah diri; memberi porsi yang besar bagi pemahaman doktrin-doktrin yang alkitabiah. Serangan-serangan terhadap iman Kristen semakin gencar, bahkan membabi buta.

Para perampok rohani hanya terus berkumur-kumur ayat-ayat motivasi; tak tertarik pada kepentingan doktrin Alkitab. Jemaat hanya sibuk bagaimana mengatur hidup, tapi mengabaikan ajaran-ajaran yang membangun iman, pengharapan, dan kasih. Asal jemaat senang, persepuluhan lancar, lelucon dan lawakan dalam khotbah terus diupayakan, sembari berdoa, semoga persembahannya banyak yang terkumpul dan dalam jumlah besar.

Motivasi dalam melayani Tuhan menjadi dasar bagaimana kita melihat kebutuhan jemaat. Tidak condong kepada rupiah-rupiah yang harus disabet secepat mungkin. Kita menolak hal semacam itu. Kita mengutamakan upah yang selaras dengan integritas dan aturan main yang berlaku. Kita boleh menerima ucapan terima kasih dari jemaat, tetapi jangan menipu mereka untuk sebuah teologi rupiah. Jangan merampoki jemaat; bangunlah iman mereka, terimalah apa yang mereka berikan, seadanya. Syukurilah. Buatlah diri kita menjadi teladan dalam integritas, dalam kata, dan perbuatan yang berkenan kepada Allah.

Teologi rupiah menjelaskan tiga hal: Pertama, motivasi para pendeta atau pelayanan adalah hanyalah uang semata; bagaimana mendapatkan keuntungan dengan cara-cara tertentu. Motivasi untuk mendapatkan keuntungan dari pelayanan menimbulkan ide-ide kreatif yang jahat untuk meraup kekayaan yang diinginkan. Motivasi sangat menentukan pelayanan kita. Ketika motivasinya negatif, maka tindakan-tindakan yang dihasilkan pastilah yang dibenci Tuhan.

Kedua, upaya untuk mengkorupsi dana gereja dilakukan dengan taktik dan teknik tertetnu. Kerja sama untuk mendapatkan keuntungan negatif, seringkali menjadi masalah dalam jemaat. Kemurnian hati dalam melayani dan mengelola keuangan gereja adalah hal yang penting. Para perampok rohani akan merasa senang jika ada proyek-proyek besar gereja yang mengeluarkan dana yang besar pula. Mereka dengan berbagai cara menentukan pilihan-pilihan untuk bergerak dan memanipulasi berbagai hal, demi tercapainnya cita-cita mereka.

Ketiga, upaya mendapatkan uang yang banyak dengan cara mengutamakan motivasi ketimbang ajaran-ajaran fundamen iman Kristen. Ketidakseimbangan antara keduanya akan menimbulkan problem pada momen-momen tertentu. Juga, mereka dengan semangat mengolah kata-kata agar terkesan rohani dan keren, padahal tujuan mereka adalah supaya jemaat terpanah (terpesona), dan kemudian tergerak memberikan persembahan dalam jumlah besar. Jika jemaat senang, kemungkinan besar mereka tidak segan-segan memberikan persembahan, meski di luar sana masih ada utang yang belum dilunasi. Pemaksaan kepada jemaat agar memberikan persepuluhan telah menjadi hal buruk dalam gereja.

Memberi itu indah, asalkan dengan motivasi yang benar. Para perampok rohani memiliki kemampuan berkata-kata dengan baik agar jemaat termotivasi untuk memberi. Its Ok! Tetapi, jemaat yang tertipu, para perampok yang untung. Itulah Teologi Rupiah: asal ada jalan untuk menipu, di situlah pasti ada duit yang banyak.

Jangan sampai kita terjebak dalam rayuan para perampok yang berjubah rohani. Kita perlu waspada dengan mereka, membaca gerak-gerik mereka, melihat kehidupan mereka sehari-hari; jika mereka sering keluar negeri, padahal sebelumnya tidak, kita patut curiga, tetapi tidak dengan nada menghakimi. Kita perlu mencari tahu fakta yang sesungguhnya agar mendapatkan informasi yang valid.

Jika dana yang mereka miliki hasil dari pelayanan yang jujur (berintegritas), itu hal yang baik. Akan tetapi, jika para pendeta yang sering mengutamakan jalan-jalan santai, bareng keluarganya, sedangkan pelayanan diabaikan, patut dicurigai juga. Hingga akhirnya, jika kita sudah memiliki banyak bukti tentang kecerobohan para pendeta tersebut, maka ambilah langkah seribu alias lari tinggalkan mereka.

Mungkin ada yang menyarankan: jangan lari atau pindah gereja, karena para perampok mungkin saja telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Saran itu bisa diterima, tetapi dengan catatan khusus: kita tetap menilai pola hidupnya setiap hari.

Dengan demikian, dari apa yang telah saya paparkan di atas, kiranya dapat memberi kita pengertian dan pelajaran bahwa teologi rupiah bisa menjadi perusak pelayanan, bahkan keluarga. Teologi rupiah menghasilkan para perampok berjubah rohani. Kita tidak boleh terjebak; tetapi senantiasa mengasihi Tuhan, dan tetap menilai pelayanan para pendeta secara benar, agar kita dapat bertumbuh dalam iman dan pengajaran Alkitab.

Salam Bae….

BAIT [DARI] TUBUH-NYA: Sebuah Pemahaman Retrospektif bagi Pembaca Injil Yohanes

Dalam “Reformed Dogmatics: A Bridged in One Volume” (2015), Herman Bavinck menyebut bahwa Yesus menubuatkan kebangkitan-Nya sendiri (Matius 16:21; 20:19) dan mengatakan bahwa Ia akan mendirikan bait tubuh-Nya dalam tiga hari (Yohanes 2:19-21), bahwa Ia berkuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya dan mengambilnya kembali (Yohanes 10:18), dan bahwa Ia sendirilah yang adalah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25).

Penjelasan Bavinck sangat singkat mengenai hal ini karena motif dari pemahaman beliau bukan berada tataran tafsir melainkan pada tataran dogmatika. Meski demikian, Bavinck merujuk pada dua motif kebangkitan Yesus: Ia, dengan kuasa ilahi-Nya menghidupkan tubuh-Nya yang mati, dan kebangkitan Yesus diatribusikan kepada kuasa Bapa (Mat. 16:21; Kis. 2:24, 32; 3:26; 5:30; 13:37; Rm. 4:25; 8:11, 34; 1Kor. 6:14; 15:13; dll.).

Menurut Bavink, kebangkitan adalah niscaya bukan hanya sehubungan dengan kuasa, otoritas, dan hak Kristus sendiri, tetapi yang sama niscayanya karena keputusan dan kehendak Allah. Dengan demikian, gagasan doktrinal Bavinck merujuk kepada kebangkitan Yesus dari diri-Nya sendiri melalui kuasa ilahi-Nya, dan dari Bapa.

Pemahaman lain dipaparkan oleh Craig S. Keener dalam “The Gospel of John: A Commentary” (2003) menekankan diskusi menarik mengenai konteks dan konsep Bait Allah, dan bahkan mengusung retrospektif mengenai perkataan Yesus dalam Yohanes 2:19. Keener tidak memfokuskan ulasannya tentang apakah teks Yohanes 2:19 merujuk kepada kebangkitan Yesus melalui kuasa-Nya sendiri melainkan lebih kepada diskusi retrospektif mengenai identitas dan perkataan Yesus yang dikerjakan oleh Parakletos (Yohanes 2:22; 14:26). Seperti yang dinyatakan Keener, bahwa para murid mengingat baik Kitab Suci maupun perkataan Yesus (2:22); bahwa keduanya berada pada tingkat yang sama, sebagai firman Allah, yang sesuai dengan teologi Yohanes. Pembaca Yohanes akan mengetahui bahwa penerangan retroaktif bagi para murid berasal dari Roh Kudus (14:26).

Pemaparan berikut ini adalah diskusi Keener dengan beragam sumber dalam membicarakan tentang Bait Allah dan perkataan Yesus dalam Yohanes 2:19 dalam kesatuan konteks hermeneutika.

Keener menjelaskan, ada kemungkinan bahwa Yesus memaksudkan tindakan-Nya di Bait Allah secara simbolis dalam arti tertentu. Sepanjang sejarah, orang-orang Mediterania kuno mengakui nilai dari tindakan-tindakan simbolis, pemecahan periuk oleh Yeremia di lingkungan Bait Allah merupakan salah satu contoh yang penting (Yer. 19:10-14). Akan tetapi, makna dari simbol tersebut telah menimbulkan perdebatan yang cukup besar. Beberapa usulan hanya mendapat sedikit dukungan di antara para sarjana saat ini, misalnya bahwa Injil menggunakan pembersihan bait suci untuk melambangkan penggantian sistem pemujaan bait suci dengan pengorbanan Yesus yang baru untuk dosa-dosa.

Beberapa orang mengusulkan bahwa Yesus menentang eksploitasi ekonomi di Bait Allah, tetapi bukti-bukti untuk hal ini masih dipertanyakan. Yerusalem adalah pusat perdagangan dan industri pariwisata yang makmur; sementara aristokrasi lokal mungkin tidak mendapatkan keuntungan secara langsung dari aktivitas perdagangan di Bait Allah, mereka berada di puncak piramida ekonomi yang curam (para pengrajin mungkin berada di bagian bawahnya) yang mengambil keuntungan dari kekuatan ekonomi Yerusalem, terutama dari industri pariwisata yang didorong dan diakomodasi oleh pendirian bait suci.

Namun demikian, mengambil keuntungan dari sebuah sistem yang menguntungkan semua orang bukanlah eksploitasi ekonomi itu sendiri. Abraham berargumen bahwa, menurut tradisi, para penukar uang bekerja di pelataran luar selama kurang lebih satu minggu dan tidak mendapat keuntungan (Abrahams, Studies 1 Abrahams, I. Studies in Pharisaism and the Gospels. 1st series. Prolegomenon by Morton S. Enslin. Library of Biblical Studies. 1917. Repr., New York: Ktav, 1967). Bahkan, teks yang ia kutip merujuk secara khusus kepada kegiatan-kegiatan di sekitar pajak setengah syikal yang harus dibayarkan beberapa saat sebelum Paskah.

Abraham mengakui bahwa dalam praktiknya beberapa orang mungkin telah menyalahgunakan sistem ini, dan bahwa Yesus mungkin telah bereaksi secara adil terhadap penyalahgunaan tersebut; tetapi ia meragukan bahwa penyalahgunaan telah merasuk ke dalam sistem itu. Jika tradisi tersebut dapat diandalkan, penggunaan komersial dari istana bangsa-bangsa lain, yang mengubahnya menjadi semacam agora Helenistik, dimulai tak lama sebelum masa Yesus, yang mungkin telah mengundang kecaman dari beberapa orang penganut paham pietisme.

Beberapa orang mengusulkan bahwa masalahnya bukanlah penggunaan hewan dan pengorbanan, tetapi pembayaran uang di Bait Allah. Tetapi sulit untuk melihat bagaimana sistem pengorbanan dapat dilaksanakan tanpa penjualan, uang, dan penukaran uang. Karena diasumsikan bahwa hanya para perampok yang paling tidak bermoral yang akan merampok tempat-tempat suci, yang kemudian menimbulkan kemarahan para dewa, Bait Allah seringkali digunakan sebagai bank untuk menyimpan uang simpanan.

Bait Suci Yerusalem, seperti bait suci lainnya, berfungsi sebagai bank dalam pengertian ini. Meskipun ada profesi-profesi lain yang masuk dalam daftar cara yang tidak bermoral untuk mendapatkan keuntungan, para penukar uang tidak banyak mendapat keluhan, dan seringkali merupakan orang-orang yang memiliki reputasi moral yang tinggi dan terkemuka.

Mengingat mata uang kota yang berbeda-beda, penukar uang juga diperlukan, bahkan di kota-kota di Galilea. Tentu saja di Bait Allah, di mana para peziarah datang dengan berbagai macam mata uang tetapi perlu membeli kurban untuk menaati hukum Taurat, penukar uang sangat diperlukan. Agaknya para pendengar Yohanes akan menyadari faktor-faktor ini.

Mungkin yang paling penting, hanya ada sedikit bukti bahwa kaum bangsawan Yerusalem mendapat keuntungan langsung dari kegiatan komersial di Bait Allah, baik dari penjualan atau penukaran uang. Teks-teks polemik yang sering mengeluhkan tentang aristokrasi imam tidak menyebutkan bahwa mereka mengambil keuntungan dari penjualan di Bait Allah membuat mereka tidak mungkin melakukannya.

Memang, menurut tradisi, beberapa orang bijak bangsawan mengambil keuntungan dari penjualan barang dagangan di bait suci. Lebih jauh lagi, bahkan jika mereka terlibat dalam perdagangan, teks-teks kita tidak dapat mengungkapkan motif dari mereka yang terlibat dalam perdagangan semacam itu; orang bijak abad kedua memperingatkan mereka yang berurusan dengan barang dagangan suci seperti gulungan Taurat untuk mendapatkan keuntungan dan bukan merupakan bukti bahwa eksploitasi ekonomi merupakan pusat kegiatan di Bait Allah atau protes Yesus di sana.

Beberapa penafsir berpikir lain, tetapi mungkin ada benarnya dalam bentuknya yang lebih bernuansa; para pedagang tidak menghalangi orang-orang bukan Yahudi untuk berdoa, tetapi struktur Bait Allah menunjukkan sebuah ideologi pemisahan “yang mengecualikan orang-orang bukan Yahudi secara umum”, dan yang ditolak oleh Yesus. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa pemisahan orang-orang bukan Yahudi setidaknya merupakan salah satu sumber protes Yesus; kemungkinan besar setidaknya Markus memahami tindakan Yesus dengan cara ini (Markus 11:17)

Namun, meskipun perkataan dalam Markus sangat meyakinkan, tidak mungkin pembelaan terhadap orang-orang bukan Yahudi merupakan satu-satunya alasan Yesus untuk menentang Bait Allah; dan sudah pasti bahwa ini bukanlah alasan yang ditekankan dalam Injil Keempat.

Yohanes mengurung tambahan teologis yang bersifat tafsiran terhadap peristiwa ini (2:17-22) dengan sebuah inclusio: para murid “mengingat” Kitab Suci dan pengajaran (perkataan) Yesus di samping Kitab Suci (2:17, 22). Dengan pergi kepada Bapa dalam kematian dan kebangkitan, Yesus “mempersiapkan” jalan bagi murid-murid-Nya untuk bergabung dengan-Nya (14:3); oleh karena itu, kematian dan kebangkitan-Nya menjadi fondasi bagi bait suci yang baru dalam teologi Yohanes.

Bahasa “rumah” dan “bait suci” dalam Injil Keempat mengundang perbandingan antara bait suci yang lama dan yang baru. Bait Suci Herodes adalah tempat kehadiran Yesus (10:23), pengajaran (7:14, 28; 8:20; 18:20), penyembuhan (5:14), dan penolakan (8:59; 11:56). Tetapi sang Anak akan tetap tinggal di “rumah” Bapa (8:35), dan akan menyediakan “tempat-tempat kediaman [tinggal]” bagi para pengikut-Nya untuk tinggal bersama-Nya di sana (14:2, 23); pada dasarnya Yesus akan menjadi bait suci yang baru (2:14-21), tempat hadirat Allah bersama umat-Nya (Why. 21:22).

Pengajaran yang bersifat penjelasan biasanya menyertai tindakan kenabian dalam tradisi Alkitab, sehingga Yesus mungkin mengucapkan sebuah pernyataan sambil memprotes kegiatan di Bait Allah, dan sangat mungkin bahwa proklamasi ini mencakup Kitab Suci. Namun, tidak seperti Markus, Yohanes tidak mengutip Yesaya 56:7 dan Yeremia 7:11.

Beberapa orang berpendapat bahwa Yohanes mengambil dari Zakaria 14:21. Namun, kaitan di antara kedua teks ini tidak cukup meyakinkan untuk mendukung adanya kiasan verbal yang spesifik. Lebih jauh lagi, Yohanes 2:16 jika ditekan secara penuh mungkin mendasarkan permusuhan Yesus dalam pelanggaran yang agak berbeda dengan catatan Markus; di sini mereka yang mencemarkan rumah Bapa, melakukannya dengan barang dagangan, sedangkan dalam Markus mereka mencemarkannya dengan memperlakukannya sebagai tempat perlindungan bagi dosa dan bukannya menjadi saksi bagi bangsa-bangsa.

Namun demikian, Yohanes mengulangi substansi dasar dari tradisi di balik proklamasi Markan: mereka yang memerintah Bait Allah telah menajiskan Bait Allah, dan Yesus menantang otoritas mereka. Dalam Injil Keempat, Yesus sendiri akan menjadi Bait Allah yang baru (2:19-21), konsisten dengan tradisi batu penjuru Markan.

Tradisi Yahudi menekankan semangat untuk hukum Allah dan bait Allah, sebuah semangat yang terkadang diekspresikan dengan kekerasan (Bil. 25:11). Dengan demikian, “orang-orang yang bersemangat” dapat membunuh siapa saja yang mencuri bejana dari Bait Allah. Orang dapat berargumen bahwa tradisi tentang “semangat” Yesus ini berasal dari periode sebelumnya di mana orang-orang Kristen Yahudi dapat berbagi istilah ini dengan mereka yang kadang-kadang mendefinisikan “semangat” dalam hal tindakan pembalasan dendam Pinehas dalam Bil. 25:11 – mungkin periode sebelum istilah ini dikooptasi oleh kelompok revolusioner yang menyebut diri mereka “fanatik” dalam perang melawan Roma. Seperti banyak kaum revolusioner (atau pada beberapa rekonstruksi, perampok petani), Yesus menantang tatanan politik yang sudah mapan.

Namun, terutama setelah tahun 70 M, orang-orang Kristen Yahudi akan lebih mudah melihat perbedaan antara “semangat” Yesus dan semangat para fanatik. Lebih jauh lagi, meskipun semangat dapat diekspresikan dalam patriotisme yang penuh dengan kekerasan, tidak ada periode di mana “semangat” bagi Allah terbatas pada sentimen revolusioner. Hal ini berlaku terutama untuk pengabdian kepada hukum Allah. Yesus mendemonstrasikan semangat untuk kehormatan Bapa-Nya di sepanjang Injil (misalnya, 5:43; 8:29, 49; 17:4).

Semangat pemazmur untuk rumah Allah (Mzm. 69:9, 68:10 LXX) menyebabkan penderitaannya, dan dengan demikian memberikan sebuah model untuk semangat Yesus. Sebagaimana semangat ini “menghanguskan” pemazmur, demikian juga Yesus akan “dihanguskan” – memberikan kehidupan kepada orang lain melalui kematian-Nya (6:51-53). “Orang-orang Kristen Yohanes” (pembaca Injilnya) akan mengingat bahwa Tuhan mereka tidak menentang warisan Yahudi mereka sendiri, tetapi mereka yang Ia anggap sebagai para wali yang tidak sah.

Di sepanjang Injil, Yesus sangat bersemangat untuk melakukan kehendak Bapa-Nya dan pada akhirnya mati dalam ketaatan kepada-Nya (10:17-18; 14:31). Hal ini sesuai dengan tradisi sejarah, yang juga tersirat dalam Injil Sinoptik, bahwa Yesus tidak hanya meramalkan kematian-Nya tetapi dengan sengaja memprovokasi kematian-Nya; tidak ada seorang pun yang dapat bertindak melawan Bait Allah seperti yang dilakukan Yesus dan tidak mengharapkan pembalasan yang keras dari para penguasa. Para penguasa Bait Allah, yang posisinya diketahui bergantung pada pemeliharaan perdamaian antara orang Romawi dan rakyat, diizinkan untuk menghukum pelanggaran terhadap kesucian Bait Allah — dan hanya pelanggaran ini —  dengan hukuman mati.

Menjungkirbalikkan meja oleh Yesus, merupakan tantangan terhadap kekuasaan para penguasa yang dapat mengundang mereka untuk menemukan dakwaan yang memadai untuk eksekusi Yesus. Tampaknya mereka tidak menyadari bahwa tanda Yesus sebelumnya telah diketahui oleh para pendengar Yohanes (2:1-11), para penguasa sekarang menuntut suatu tanda (2:18; bandingkan dengan 6:30). Menurut logika orang-orang sezamannya, apabila Yesus bertindak atas otoritas Allah, Ia harus dapat mendemonstrasikannya secara supernatural. (Yohanes kemungkinan besar meminjam tuntutan akan tanda ini dari tradisi Yesus yang otentik, seperti yang muncul dalam Markus 8:11, yang sudah diterapkan pada kebangkitan, mungkin sejak tradisi Q dalam Lukas 11:30 dan Matius 16:1-4.)

Akan tetapi, secara paradoksal, mereka yang tidak memiliki kuasa (2:9) dan mereka yang berpikiran terbuka di antara mereka yang berkuasa (3:2) telah mengetahui tentang tanda-tanda yang membuktikan kuasa Yesus. Demikian juga, beberapa tokoh dalam konteks ini hanya membutuhkan tanda-tanda yang sangat kecil untuk percaya (1:48-49; 4:18-19, 29), berbeda dengan orang-orang Yudea yang sangat membutuhkan tanda-tanda.

Dengan mengundang mereka untuk “menghancurkan” bait tubuh-Nya [the temple of his body] (2:19), yaitu membunuh-Nya (bdk. 8:28), Yesus berdiri dalam tradisi kenabian dengan sebuah perintah yang ironis (mis. Mat. 23:32). Namun, tanpa penerangan khusus, para pendengar-Nya pasti akan menafsirkan teka-teki ini dengan salah, sebagaimana para penentang Yesus dalam Injil Keempat biasanya salah memahami Dia, sehingga mengharuskan penulis Injil untuk menawarkan penafsiran yang diilhami.

Kata-kata Yesus dapat dipahami sebagai merujuk kepada bait suci alamiah, dan begitulah “saksi-saksi palsu” dalam tradisi Markus tampaknya memahaminya (Mrk. 15:29; bdk. Kis. 6:14). Seseorang dapat berbicara tentang membangun bait suci kedua sebagai “membangunnya kembali”. Dengan demikian, kata “egeiroo” berfungsi sebagai sebuah kiasan Yohanes yang lain, yang disalahpahami oleh para lawan bicara dalam dunia cerita, namun jelas bagi para pendengarnya.

“Dalam tiga hari” setara dengan “pada hari ketiga”; bagian dari satu hari dihitung sebagai satu kesatuan. Dalam beberapa tradisi yang tidak pasti tanggalnya, jiwa melayang-layang di dekat mayat selama “tiga hari” setelah kematian; seseorang mungkin juga berpikir tentang kebangkitan atau resusitasi [resuscitation] dalam Hosea 6:2; Yunus 1:17. Tetapi “tiga hari” memiliki begitu banyak kemungkinan rujukan sehingga, selain pemahaman retrospektif (yang berhubungan dengan waktu lampau), lawan-lawannya di dalam dunia cerita tidak dapat menangkap singgungan pada kebangkitan-Nya.

Namun, bagi para pembaca Yohanes, singgungan ini jelas, yang semakin menguatkan ketidaksukaan mereka akan ketidaktahuan para penentang Yesus yang tidak memiliki pengetahuan pewahyuan yang kritis seperti yang dimiliki oleh para pembaca Yohanes. Klaim bahwa Yesus akan membangun kembali Bait Allah sendiri mungkin menyinggung beberapa harapan mesianis, tetapi pengesahan untuk potret seorang pembangun Bait Allah yang baru ini jauh lebih jarang daripada pengesahan untuk peran tersebut bagi Allah sendiri.

Para penentang Yesus bisa saja mendengar klaim ini, seperti beberapa klaimnya di kemudian hari dalam Injil (5:18; 8:58-59; 10:33), secara implisit menghujat dan menyinggung hukum mereka. Namun, pada titik ini, mereka hanya salah paham (2:20; bdk. 3:4). Yesus sendiri adalah fondasi dari bait suci yang baru (bdk. Bait Allah yang baru), tempat ibadah (lih. 4:23-24) dan wahyu (1:51). Dan dengan karakteristik ironi dari Injil ini, penafsiran mereka yang keliru tentang Yesus terbukti sebagian benar: dengan membunuh Yesus, mereka juga akan mengundang penghancuran Bait Suci Herodes (lihat 11:48)

Guru-guru dan nabi-nabi bijak lainnya juga dikatakan memberikan perkataan-perkataan yang benar yang hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang; dengan demikian, pembaca zaman dahulu akan mengenali Yesus setidaknya sebagai seorang guru atau nabi yang agung di sini. Pada saat yang sama, Yohanes memaksudkan lebih dari itu dalam konteks keseluruhan Injilnya: murid-muridnya sendiri tidak akan memahami perkataan Yesus kecuali melalui penerangan retrospektif dari Parakletos (2:22; 14:26).

Para murid mengingat baik Kitab Suci maupun perkataan Yesus (2:22); bahwa keduanya berada pada tingkat yang sama, sebagai firman Allah, yang sesuai dengan teologi Yohanes (3:34; 5:47; 6:63, 68; 8:47; 14:10, 24; 17:8). Namun, walaupun Kitab Suci sangat penting dalam memahami identitas Yesus (1:45, 49), Kitab Suci tidaklah cukup tanpa kesaksian tentang kebangkitan Yesus yang berlaku surut (12:16; 20:9; bdk. Lukas 24:8). Pembaca Yohanes akan mengetahui bahwa penerangan retroaktif bagi para murid ini berasal dari Roh Kudus (14:26).

Salam Bae…..

PERTARUNGAN DAN TANTANGAN MISI DI ERA DIGITAL: Refleksi 36 Tahun Dies Natalis STT SETIA Arastamar Jakarta

Perkembangan misi Kristen telah memberikan hasil yang luar biasa di mana kekristenan menjadi salah satu arus dunia yang ditakuti. Perkembangannya unik memang. Tidak saja karena pewartaan Injil dibarengi dengan perbuatan-perbuatan mukjizat yang Tuhan Yesus nyatakan kepada “dunia”, tetapi juga pewartaan melalui tindakan-tindakan iman yang menebar keharuman kasih, pengampunan, dan kedamaian.

Pertarungan melawan keberdosaan, ketidakbenaran, pemalsuan, kejahatan, telah berlangsung lama. Yesus menunjukkan tindakan-tindakan ini yang kemudian diikuti oleh para rasul. Yesus sendiri telah memberi perintah: “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Artinya, sebelum para rasul mengajarkan orang lain tentang segala sesuatu yang diperintahkan Yesus, mereka terlebih dahulu melakukannya karena mereka adalah murid-murid Yesus, saksi-saksi Yesus Kristus (Yohanes 13:34-35; Kisah Para Rasul 1:8).

Era digital mengumandangkan fakta bahwa “sesuatu telah berubah”. Meski demikian, gagasan misi tetap dilakukan, menerobos tantangan dan hambatan. Suara-suara kebenaran tetap terdengar, dan itu menjadi bagian kita untuk turut di dalamnya. Sebenarnya, era digital memberi kita peluang untuk konsisten dalam pewartaan Injil. Berbagai kemungkinan dapat terjadi, tetapi satu hal yang perlu kita pegang, bahwa apa pun yang kita kerjakan di dalam misi Kristus, tetap akan berbuahkan hasil. Ia senantiasa memberkati dan menyertai kita semua sebagaimana Ia berjanji akan menyertai senantiasa sampai kepada akhir.

Dalam prosesnya, kekristenan senantiasa memperlihatkan sikap hidup yang benar berbarengan dengan Injil yang Benar. Sebagaimana kita ketahui bahwa kekristenan itu memberikan pengaruh melalui dua aspek: berita Injil dan sikap hidup orang Kristen. Jika berita Injil ditolak, kita dapat memperlihatkan sikap hidup kita selaras dengan Injil.

Di samping itu, kekristenan yang sejati memang memperlihatkan tiga aspek yang saling koheren: kasih, pengampunan, dan kedamaian. Kasih, karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya (Sang Logos) yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Perjalanan sejarah pekabaran Injil, adalah bagian dari pertarungan melawan kejahatan dan sekaligus menerobos tantangan. Tiga aspek yang telah disinggung di atas menjadi dasar mengapa Injil harus diberitakan kepada segala makhluk (Mat. 28:19-20; Mrk. 16:15; Kis. 1:8).

PERTAMA: Mengasihi Allah (Yakobus 2:5) dipadankan secara mutlak dengan mengasihi sesama (Matius 5:44; 19:19; 22:37-39; Markus 12:30-31; Lukas 6:27; 6:35; Yohanes 15:17; 13:34-35; Roma 13:9; Galatia 5:14; Yakobus 2:8; 1 Petrus 2:17; 4:8; Markus 12:33; Yohanes 16:27; Roma 12:10; 13:8; 1 Petrus 1:22; 3:8; 1 Yohanes 2:10; 3:10, 11, 14, 18, 23; 4:7-8, 10, 11-12, 20-21; 5:1-2). Prinsip mengasihi diteladani dari kasih Bapa kepada Yesus Kristus (Anak-Nya yang tunggal) dan sebaliknya (Yohanes 3:35; 5:20; 10:17; 14:31; 15:9; 17:23-24, “…sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan”. Tanda bahwa kita mengasihi Yesus Kristus adalah menuruti dan memegang perintah-Nya (Yohanes 14:15, 21, 23-24, 28; 15:12).

Seperti yang Rasul Paulus tegaskan dalam Roma 8:28, bahwa “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (bdk. 1 Korintus 2:9). Mereka yang mengasihi Dia pasti mendapatkan sesuatu yang luar biasa dari Allah sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Dialah yang telah mengasihi kita (Roma 8:37; 2Kor. 9:7; Gal. 2:20; Ef. 5:2; 2Tes. 2:16, “Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita”; 1 Yohanes 4:10, 19; Wahyu 1:5). Kita dikenal oleh Allah (1 Korintus 8:3). Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata! (1 Korintus 16:22).

Kasih atau mengasihi adalah salah satu dasar bagi pemberitaan Injil. Kristus mengasihi orang berdosa, demikianlah umat-Nya mengasihi mereka, dan membawa mereka kepada-Nya, untuk menerima pengampunan dosa, pertobatan, dan hidup di dalam kasih-Nya.

KEDUA: Pengampunan. Pengampunan dalam arti praktisnya adalah melepaskan semua hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan perkataan lain: “membuang atau mengeluarkan sampah dari dalam hati kita.” Orang Kristen mengampuni karena ia tahu bahwa Allah akan mengampuninya ketika ia siap dan sanggup untuk mengampuni. Itulah sebabnya, kekristenan dipandang sebagai sebuah komunitas yang memberi konteks pengampunan selaras dengan firman Allah.

Tanpa pengampunan, kekristenan tidaklah menjadi seperti sekarang ini. Pada Tuhan ada pengampunan, dengan demikian, pada kita diberikan pengampunan, maka kita pun harus mengampuni, meneladani Tuhan kita (Mazmur 130:4; Yesaya 55:7; Matius 26:28; Lukas 24:47; Kisah Rasul 2:38; 5:31; 10:43; 13:38; 26:18; Efesus 1:7; Kolose 1:14; Bilangan 14:18; 1 Raja-raja 8:30; 8:34; 8:36; 8:39; 8:50; 2 Tawarikh 6:21, 25, 27, 30, 39; 2 Tawarikh 7:14; Nehemia 9:17c, … Tetapi Engkaulah Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya….; Mazmur 32:5; 78:38; 85:3; 86:5  Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu; 99:8; Yeremia 31:34; 33:8; Mikha 7:18, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?”; Matius 6:12; 6:14-15; 9:6; 18:35; Markus 1:4; 2:7; 2:10; 11:25; Lukas 5:21; 5:24; 11:4; Kisah Rasul 8:22; Efesus 4:32; Kolose 2:13; 3:13; 1 Yohanes 1:9).

Pengampunan atau mengampuni adalah salah satu dasar bagi pemberitaan Injil. Yesus Kristus telah mengampuni kita, demikianlah kita saling mengampuni, dan hidup di dalam terang firman-Nya, saling menopang dan saling mendoakan.

KETIGA: Kedamaian. Hidup damai dapat memperlihatkan kedamaian dalam segala hal. Seseorang dapat menunjukkan sikap dan hidup damai ketika ia memahami apa itu damai dan bagaimana ia mendapatkan kedamaian itu. Kekristenan jelas memiliki keduanya. Kita adalah manusia berdosa, dan kehidupan yang diperlihatkannya adalah permusuhan, kebencian, dan berbagai kejahatan. Akan tetapi, Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya melalui Kristus Yesus:

2 Korintus 5:18, “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.”

2 Korintus 5:19, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”

Ibrani 2:17, “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”

Ketika kita didamaikan, hidup kita berubah dan menjadi sahabat Allah. Kita menaburkan kedamaian itu dalam proses waktu sembari tetap mewartakan Kabar Baik melalui berita Injil maupun sikap hidup. Tuhan adalah sumber damai sejahtera kita: “TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bilangan 6:26; Yes. 26:12). “Kekuasaan dan kedahsyatan ada pada Dia, yang menyelenggarakan damai di tempat-Nya yang tinggi” (Ayub 25:2), ada masa depan bagi orang yang suka damai (Mzm. 37:37).

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes. 32:17). Mereka yang memperhatikan dan melakukan perintah-perintah Allah, akan menerima damai sejahtera yang tak pernah kering (Yes. 48:18). Bahkan, perjanjian damai dari Allah atas umat-Nya tidak akan bergoyang: “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau” (Yes. 54:10).

Allah senantiasa memberkati umat-Nya dan memberikan damai sejahtera dalam segala aspek kehidupan mereka. Yang membawa damai disebut sebagai anak-anak Allah (Mat. 5:9). Yesus memberikan damai sejahtera dan Dialah damai sejahtera kita (Yoh. 14:27; Ef. 2:14-15; 2Tes. 3:16), dan meskipun akan berhadapan dengan penderitaan dan penganiayaan, damai sejahtera yang Yesus berikan akan menguatkan orang-orang percaya (Yoh. 16:33; bdk. Kis. 10:36). Yang beriman, hidup dalam damai sejahtera (Rm. 5:1; 14:19).

Hidup dalam damai sejahtera adalah salah satu buah dari hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5:22; Ef. 4:3; 1Tes. 5:13; 2Tim. 2:22). Oleh karena itu, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kol. 3:14). Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14). Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik! (Yes. 48:22; Yer. 57:21). 

Kabar baik yang datang, sungguh indah, karena itulah yang dikehendaki Allah (Yes. 52:7). Dan pada akhirnya, kita diberitahu bahwa damai sejahtera adalah rancangan Tuhan: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Kedamaian atau damai sejahtera adalah salah satu dasar bagi pemberitaan Injil. Allah di dalam Kristus Yesus telah memberikan damai sejahtera bagi dunia yang kacau balau karena dosa dan pemberontakan manusia, demikianlah kita harus hidup bagi-Nya di dalam damai sejahtera, membawa damai bagi dunia yang gelap, menghadirkan damai sejahtera di mana pun.

PERTARUNGAN DAN TANTANGAN MISI DI ERA DIGITAL masih menjadi fakta menarik bagi gereja atau sekolah-sekolah Kristus untuk tetap berjuang dalam memberitakan Injil. Era digital menjadi sarana bagi kita untuk dapat memperluas pengaruh Injil. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta adalah salah satu pejuang Misi Kristus sejak awal berdirinya. Perjuangan yang usaha serta kerja keras yang telah dibuktikan oleh STT SETIA, menorehkan kemenangan Injil di hampir seluruh Indonesia.

Dengan berdirinya Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) dan STT SETIA serta cabang-cabangnya, menjadi bukti bahwa perjuangan misi yang dikerjakan, memberi nilai sejarah dan bahkan pengaruh. Di momen Dies Natalis ke-36, STT SETIA (Arastamar) tetap berkomitmen untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan misi yang besar ini.

STT SETIA (Arastamar) siap bertarung di era digital, dengan berbagai cara yang positif, agar Injil Kristus Yesus tetap berkumandang, dan dari itu semua, banyak jiwa yang dimenangkan bagi Dia. STT SETIA (Arastamar) siap menghadapi tantangan di era digital ini. Tak sedikit pun kami gentar, justru tetap semangat dalam melayani Tuhan, tetap setia pada panggilan-Nya, dan tetap berkomitmen untuk turut serta dalam pekabaran Injil, sampai maksud dan rencana Tuhan tergenapi dalam dunia ini.

Selamat Ulang Tahun almamaterku tercinta: Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta. Kiranya kasih, kuasa, dan damai sejahtera Kristus senantiasa menanungi, memberkati, dan menopang STT SETIA dalam melayani, mengabarkan Injil, mendirikan Gereja, mendirikan sekolah-sekolah, dan membangun iman jemaat, kini, besok, dan selamanya.

Salam Bae…..

KRISTUS DIBANGKITKAN: Sebuah Narasi Mesianik

Perjanjian Baru memperlihatkan potret kebangkitan Kristus dalam hubungannya dengan narasi mesianik. Hal ini menjadi tanda utama karena lokus pemberitaan Injil dari para rasul adalah Yerusalem. Dengan mengikuti perintah Yesus: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8), para murid mewartakan tentang “Kristus dibangkitkan” dan “Allah telah membangkitkan Yesus” sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan narari mesianik.

Perintah Yesus di atas tidak lepas dari tiga hal yang mendahuluinya seperti yang dimaksudkan oleh Lukas: Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup, menampakkan diri, dan berbicara tentang Kerajaan Allah di mana para rasul mengaitkannya dengan Kerajaan Israel (Kis. 1:3-6):

Pertama, Yesus membuktikan bahwa apa yang dikatakan-Nya benar, bahwa Anak Manusia akan dibangkitkan (Mat. 16:21; 17:9; 17:23; 20:19; Lukas 9:22).

Kedua, pasca kebangkitkan-Nya, Yesus menampakkan diri sebagai bukti bahwa apa yang dikatakan-Nya mengenai kebangkitan-Nya adalah “benar”, bukan sebuah dusta atau nubuatan yang gagal. Kebangkitan dan penampakkan diri adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Konfirmasi kebangkitan adalah penampakan diri (Mrk. 16:9; 16:12; 16:14; Yoh. 21:1; 21:14; 1Kor. 15:3-8).

Ketiga, dalam pelayanan-Nya Yesus seringkali menyinggung soal Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga yang merujuk pada diri-Nya sendiri dan kerajaan di mana Allah adalah Raja yang berkuasa (Mat. 4:23; 6:33; 12:28; 19:24; 21:31; 21:43; Mrk. 1:15; 4:11; 4:26; 4:30; 9:1; 9:47; 10:14; 10:15; 10:23; 10:24; 10:25; 12:34; 14:25; Luk. 4:43; 6:20; 7:28; 8:1; 8:10; 9:2; 9:11; 9:27; 9:60; 9:62; 10:9; 10:11;  11:20; 13:18; 13:20; 13:28; 13:29; 16:16; 17:20; 17:21; 18:16; 18:17; 18:24; 18:25; 18:29; 19:11; 21:31; 22:16; 22:18; Yoh. 3:3; 3:5; Mat. 3:2; 4:17; 5:3; 5:10; 5:19; 5:20; 7:21; 8:11; 9:35; 10:7; 11:11; 13:11; 13:19; 13:24; 13:31; 13:33; 13:44; 13:45; 13:47; 13:52; 16:19; 18:3; 18:4; 18:23; 19:12; 19:14; 19:23; 20:1; 22:2; 23:13; 25:1; 5:14; Mat. 13:41; 16:28; Luk. 12:31; Mat. 13:43; 25:34; 26:29, …Kerajaan Bapa-Ku; Luk. 11:2; 22:29).

Karena tiga alasan tersebut, maka narasi mesianik dalam kaitannya dengan kebangkitakan sangatlah dominan dalam pemberitaan Injil yang dilakukan para rasul. Dalam pemahaman para rasul, harus ada pemulihan kerajaan bagi Israel (Kis. 1:6). Tetapi apakah itu yang hendak dilakukan Yesus? Atau pemulihan kerajaan terhubung dengan ekspansi kekuasaan Sang Mesias di seluruh dunia sampai ke ujung-ujung bumi? Jika ini benar, maka hal tersebut menyatu dengan konteks Mesias sebagai Raja (bdk. Mikha 5:1, dan teks lainnya yang senada).

Atas pertanyaan para murid tersebut, Yesus menjawab mereka: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (Kis. 1:7). Mungkin ini yang dimaksudkan Yesus bahwa pemulihan itu menggenapi nubuatan bahwa “keselamatan yang dari pada Allah sampai ke ujung bumi (Yes. 49:6), dan wilayah kekuasaan Sang Raja Mesias akan terbentang terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi (Zak. 9:9-10)? (bdk. Yes. 62:11; 52:10; 48:20; 45:22-25; 41:1-5; Mzm. 98:2; 67:8; 65:5; 59:14; 48:11; 22:28; 2:8; Mikha 5:3-4, “sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera [bdk. Ef. 2:14; Ibr. 13:20; Filemon 1:3; 2Tim. 1:2; 2Tes. 3:16; 1:2; 1Tes. 5:23; Flp. 4:9b; 4; Efe. 2:17; Gal. 5:22; 2Kor. 13:11; 1:2; lih. juga Kis. 13:47; Rm. 10:18; hal ini dikaitkan dengan pengumpulan orang-orang pilihan Yesus Kristus – Markus 13:27; Matius 24:31).

Terkait dengan Kristus dibangkitkan, berita yang menegaskan narasi mesianik. Dalam Kisah Para Rasul 5:42, dikatakan: “Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” Pasal 8:5, “Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.” Pasal 9:22, “Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.” 17:3, … Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: “Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu.” Pasal 18:5, “Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias.” Pasal 18:28, “Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Narasi mesianik di atas, mengetengahkan konfirmasi nubuatan dan memang hal itulah yang dibutuhkan oleh orang-orang Yahudi yang mempercayai gagasan nubuatan mesias dalam Kitab Suci mereka. Jadi, isu utama dalam pemberitaan para rasul adalah Sang Mesias yang telah dijanjikan Allah, menderita, dibangkitkan dari antara orang mati.

Penegasan dan konfirmasi bahwa Yesus adalah Mesias tidak dapat dipisahkan dari penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Itu sebabnya, narasi kebangkitan dalam potret Kisah Para Rasul selalu ditekankan bahwa “Mesias dibangkitkan” atau “Allah telah membangkitkan Mesias” sangatlah mencolok.

Mari kita memperhatikan teks-teks berikut ini yang mempertegas narasi penderitaan, kematian, dan kebangkitan Mesias dari antara orang mati:

Kisah Rasul 17:3, Ia (Paulus) menerangkannya kepada mereka dan menunjukkan, bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu.

Kisah Rasul 26:22-23, Tetapi oleh pertolongan Allah aku (Paulus) dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.

Kisah Rasul 2:31-32, Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami (Petrus, dan lainnya) semua adalah saksi. 

Kisah Rasul 3:18, Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita (catatan: ini dikatakan oleh Petrus).

Bangkitnya Yesus dari antara orang mati lebih mengarah kepada narasi mesianik Perjanjian Lama karena di situlah titik temu (teologis-dogmatis-biblikal) antara pengikut Yesus dengan orang-orang Yahudi, imam-imam besar, dan lainnya.

Melihat penekanan para rasul pada peristiwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati yang dilakukan Allah, tidak menyingkirkan konteks pekerjaan Trinitas. Justru Alkitab memberikan alur bukti mengenai hal tersebut. Kita perlu melihat isu dan kepentingan pemberitaan tentang Mesias ketimbang memperdebatkan apakah tubuh manusiawi dibangkitkan oleh Allah (Yesus dipandang pasif), atau Yesus membangkitkan tubuh-Nya sendiri (dipandang sebagai tindakan aktif Yesus).

Isu ini tidak mencuat ke permukaan untuk diperbincangkan di kalangan para rasul karena mereka memandang bahwa narasi mesianik menjadi potret penting untuk memenangkan orang-orang Yahudi, serta memperlihatkan bukti kuat bahwa Yesus adalah Mesias yang harus menderita, mati, dan bangkit dari antara orang mati sebagaimana yang ditegaskan oleh para rasul.

Mereka adalah saksi kebangkitan dan sekaligus mempercayai narasi mesianik dalam tradisi iman Yahudi (Petrus mengutip Mazmur 16:8-11 dalam Kis. 2:24-25; mengutip Mazmur 132:11 dalam Kis. 2:30-31; mengutip Mazmur 110:1 dalam Kis. 2:34-35 – yang mendengarnya terharu dan kemudian mereka percaya dan dibaptis [Kis. 2:37-41]; mengutip Mazmur 118:22 dalam Kis. 4:10-11; Stefanus mengutip Ulangan 18:15, 18 dalam Kis. 7:37; Paulus mengutip Mazmur 2:7 dan 16:10 dalam Kis. 13:32-37; mengutip Yesaya 49:6 dalam Kis. 13:47; mengutip Yesaya 42:6; 49:6 dalam Kis. 26:22-23; Paulus berbicara dengan orang-orang Yahudi dalam jumlah besar, tentang Kerajaan Allah, hukum Musa dan kitab para nabi dalam upaya untuk meyakinkan mereka tentang Yesus, dan hal itu berlangsung dari pagi sampai sore – Kis. 28:23-29, dan hasilnya adalah “perbedaan paham”).

Karena isu tentang mesianik menjadi potensial untuk memberi pintu masuk kepada Yesus Kristus yang telah menderita, mati, dan bangkit, maka tidak heran para rasul menekankan bahwa “Yesus dibangkitkan Allah”, dari antara orang mati.

17th century. Oil on canvas. 40,5 x 31 cm. Musée Fabre, Montpellier. 2012.19.44.

Kisah Rasul 2:32  Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.   

Kisah Rasul 4:10  maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati  —  bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.   

Kisah Rasul 10:40  Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri

Kisah Rasul 13:37  Tetapi Yesus, yang dibangkitkan Allah, tidak demikian.   

Kisah Rasul 2:24  Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.   

Kisah Rasul 3:15  Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.   

Kisah Rasul 3:26  Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.”   

Kisah Rasul 5:30  Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.   

Kisah Rasul 13:30  Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.   

Kisah Rasul 13:34  Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan dalam firman ini: Aku akan menggenapi kepadamu janji-janji yang kudus yang dapat dipercayai, yang telah Kuberikan kepada Daud.   

Kisah Rasul 17:31  Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Teks-teks tersebut di atas menegaskan tiga aspek penting:

Pertama, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus merupakan nubuatan Perjanjian Lama. Di sini, Yesus adalah sebagai Mesias yang dijanjikan.

Kedua, Yesus sendiri menubuatkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

Ketiga, Mesias yang dibangkitkan dari antara orang mati lebih dipahami oleh orang-orang Yahudi karena memang hal itu menjadi pengharapan mereka bahwa Mesias itu adalah Pemimpin (Kis. 6:7; 5:30-31, 42), berkuasa, dan hidup selama-lamanya. Beberapa alusi PL yang dikutip oleh para rasul menegaskan fakta ini.

Dalam pemberitaan para rasul, narasi mesianik menjadi sangat penting, dan itulah isi kesaksian mereka (lih. Kis. 1:8; Mat. 28:19-20). Karena pertama-tama Injil harus diberitakan di wilayah Yerusalem, maka tentu pergulatan dogmatis dan narasi biblikal menjadi dasar penting bagi para rasul, tidak saja menjadi momen pemberitaan Injil mereka, tetapi juga sebagai dasar berpikir biblikal-dogmatis bahwa memang pengharapan Israel akan Sang Mesias begitu kuat (bdk. Kis. 24:15; 26:6-11; 28:20).

Sebagai catatan tambahan, pada zaman Kisah Para Rasul, belum ada kitab-kitab Perjanjian Baru, sehingga pembicaraan mengenai “Yesus bangkit sendiri” bukanlah isu utama. Tetapi tema berita Injil bahwa “Yesus dibangkitkan” menimbulkan gesekan teologis dengan orang-orang Yahudi; para rasul sangatlah memahami situasi ini dengan menawarkan dan bahkan mempertegas narasi mesianik (lih. Rm. 4:24-25; 6:4; 7:4; 10:9; 1Kor. 6:14; 15:4; 15:20; 2Kor. 4:14; 5:15; Kol. 2:12; 1Tes. 1:10; Gal. 1:1; Ef. 1:20; 1Ptr. 1:21).

Bukan saja orang-orang Yahudi diyakinkan bahwa Mesias yang dialusikan para rasul dalam kitab suci mereka yaitu “dibangkitkan Allah”, tetapi mereka juga percaya kepada Sang Mesias itu. Mereka tidak mempertanyakan apakah Mesias bangkit sendiri atau tidak. Oleh sebab itu, narasi teologis tentang kebangkitan Yesus perlu melihat signifikansi pemberitaan Injil. Demarkasi konteks sangatlah diperlukan di sini.

Ketika kita memahami bahwa Kristus dibangkitkan, hal itu tidak mengurangi fakta bahwa Ia adalah Allah dan Tuhan. Satu fakta dalam narasi mesianik, bahwa Kristus dibangkitkan tidak menjadi bukti bahwa “tiba-tiba Yesus menjadi ‘bukan’ Tuhan”. Ini bukanlah gagasan dogmatis-biblikal. Memahami natur ilahi dan natur manusia Yesus memberi kita dasar berpikir secara demarkatif, sehingga kita tidak “menyapurata” teks-teks untuk disesuaikan dengan keyakinan kita sendiri.

Dalam terang Kristologi, pemahaman dwi natur (hypostatic union) memiliki ragam implikasi teologis, dogmatis, dan filosofis. Begitu juga dengan konteks perikhoresis. Ada banyak pertanyaan yang muncul ketika membahas kedua hal tersebut. Namun, orang-orang Yahudi di zaman para rasul melihat ada signifikansi biblikal tentang Sang Mesias yang dibangkitkan dari antara orang mati (Mzr. 16:8-11; Yoh. 12:34).

Para rasul tidak merasa dirugikan ketika berbicara tentang Kristus dibangkitkan, justru dari pemberitaan itulah, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus terus bertambah.

Salam Bae….

Sumber gambar: Pinterest dan flickr

Keterangan Pribadi Stenly R. Paparang

Stenly Reinal Paparang atau Stenly R. Paparang adalah seorang teolog yang membidangi Teologi Sistematika dan Apologetika Kristen. Paparang lahir pada tahun 1979 di desa Langowan, Sulawesi Utara.

Beliau menempuh studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar atau lebih dikenal dengan sebutan STT SETIA Jakarta untuk studi strata satu, strata dua, dan strata tiga.

Selain itu, Paparang adalah seorang penulis aktif, editor, facebooker, dan Youtuber. Channel yang dikelolanya bernama VIA SALUTIS. Beberapa karya beliau adalah “Apologetika: Diskursus dan Vindikasi Iman Kristen”, “Natur dan Identitas Apologetika”, “Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa”, “Yesus Zaman Old dan Yesus Zaman Now: Warisan Iman yang Tak Pernah Pudar”, “Menjawab dan Menertawakan Argumen Teolog Kelas Teri” (sebuah buku apologetika yang menegasikan pandangan teologi amburadul versi Muhammad Yahya Waloni.

Juga masih banyak karya beliau serta artikel-artikel singkat yang beliau tuliskan di wordpress milik pribadi.

KUPU-KUPU LUKISAN

Dalam banyak hal, kita seringkali menilai dan tertarik pada segala sesuatu yang tampak baik dalam pandangan kita, tampak indah, memiliki konfigurasi (bentuk) yang menggugah perasaan, tampak menarik, berwibawa, atau bahkan yang tampak jelek sekalipun.

Ada alasan-alasan tertentu mengapa kita memberi nilai dan merasa tertarik dengan hal-hal semacam itu. Akan tetapi, kita pun perlu memiliki kepekaan, pembacaan (penafsiran) lebih lanjut, pemahaman yang mendalam mengenai hal-hal tersebut. Kita dapat saja terjebat dengan “kupu-kupu lukisan”.

Kupu-kupu memiliki warna yang keren, indah, dan perpaduan warna-warnanya membentuk sebuah desain dirinya yang menarik. Kupu-kupu memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka melihatnya terbang-bermain di halaman rumah kita, atau halaman rumah tetangga.

Tetapi bagaimana dengan kupu-kupu lukisan? Meski tampak indah dan menarik, kupu-kupu tersebut tidak bisa terbang-bermain. Ia hanya terpampang pada dinding ruang tamu atau pun kamar pribadi. Mungkin kita merasa tertarik kepada orang lain ibarat kupu-kupu lukisan. Orang itu kelihatannya menarik, tetapi rasa tertarik itu dibungkus dengan kepentingan tertentu.

Anehnya, kupu-kupu lukisan tersebut ‘disembah sebagai pemberi harapan dan penjaga keamanan kita’. Bahkan lebih dari itu, kita berlagak aneh dan menunjukkan sikap yang tidak biasanya demi memuaskan dan mencari perhatian dari kupu-kupu lukisan. Apa yang terjadi? Kita diperbudak dengan itu. Kita melukai pikiran dan hati kita untuk hal-hal yang sifatnya sementara. Kita melupakan prinsip integritas.

Kupu-kupu lukisan adalah mereka yang tampak menarik di luar saja, sedangkan di dalam hatinya (yang tersembunyi), tersimpan kemunafikan, kebohongan, dan hawa nafsu yang liar, rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan; setelah puas, kemudian pergi tanpa bekas, entah pergi karena hendak menghilangkan jejak kejahatan-kejahatannya, atau hilang diambil Tuhan.

Mereka yang menaruh harapan kepada kupu-kupu lukisan, sebenarnya sedang melukai hati dan pikiran mereka sendiri. Mereka berupaya seolah-olah dengan gelagat aneh yang muncul tiba-tiba, dapat memberi rasa perekat supaya mereka dianggap sebagai bagian dari kupu-kupu lukisan. Sayangnya, tipe penjilat semacam ini sedang membawa dirinya ke dalam situasi yang membahayakan. Tidak hanya berbahaya bagi prinsip integritas, melainkan berbahaya bagi relasi yang semu ini.

Tuhan menilik hidup dan hati manusia. Ia tahu kemunafikan manusia; Ia tahu kepura-puraan manusia; Ia tahu sebagai kejahatan dan kebohongan yang dilakukan. Hingga saatnya, setiap manusia yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan, menerima akibatnya. Kita yang hidup jujur harus tetap berada dan berdiri pada integritas. Tuhan menopang kita!

Kemunafikan hanya menyisahkan luka hati dan relasi. Orang rela mengorbankan dirinya demi menciptakan rasa aman agar tidak menjadi sasaran kemunafikan dan kebohongan berikutnya. Ia menjadikan dirinya munafik, aneh, dan culun. Lebih dari itu, ia sedang membentuk dirinya menjadi berpribadi ganda. Tetapi semuanya akan berakhir tragis.

Kupu-kupu lukisan adalah imajinasi kita untuk berusaha menghidupkannya. Padahal, kupu-kupu lukisan adalah ciri khas karakter dari orang yang dianggap memberikan kenyamanan, keamanan dan masa depan, tetapi pada kenyataannya ia hanyalah tanah kering. Bagaimana mungkin kita hendak menghidupkannya padahal kita juga dalam keadaan mati rohani?

Kita perlu mewaspadai orang-orang semacam ini. Ia akan terus menunjukkan kemunafikannya di tempat lain, karena ia telah menyuguhkan dirinya sendiri kepada publik. Hingga suatu waktu, penyesalan yang ditawarkan, tak dapat mengubah sesuatu menjadi indah seketika. Butuh proses untuk mendidik dan ‘mengetok pikiran’ orang-orang semacam ini, entah para pengukung kupu-kupu lukisan maupun kupu-kupu lukisan itu sendiri.

Tampaknya hidup yang mereka jalani dirasakan sebagai kondisi yang tidak menghadirkan tantangan untuk memperlihatkan integritas. Malahan mereka menguburkan integritas – dan berharap akan bangkit lagi – setelah mereka puas dengan segala kemunafikan dan dosa-dosa terkeren versi mereka.

Barangkali, dari kisah tersebut kita mendapatkan hal-hal yang perlu dimaknai sebagai sebuah pelajaran penting tentang: (1) menularkan integritas; (2) integritas berubah karena alasan mencari aman; (3) bertindak aneh dan culun untuk menunjukkan keberpihakan seseorang kepada kupu-kupu lukisan; (4) menciptakan relasi yang rusak dengan orang lain, menciptakan relasi aneh dengan kupu-kupu lukisan; dan (5) melihat segala kesudahan kupu-kupu lukisan dan para pengagungnya.

Akhirnya, kehidupan yang ada hendaknya mendidik kita untuk menjadi dewasa dalam integritas, dan setia pada panggilan iman yang diberikan Tuhan. Kita akan menjadi teladan terbaik jika mampu melakukan hal-hal tersebut. Jangan takut dihindari atau dibenci oleh kupu-kupu lukisan dan para pengagungnya, tetapi takutlah jika Tuhan telah meninggalkan kita karena kecerobohan yang kita lakukan.

Tetap setia dalam kebenaran, integritas, dan relasi yang baik. Kita akan menuai hasilnya di kemudian hari. Ada baiknya kita tetap menjadi diri dari kemunafikan dan kompromi tak berujung. Kita adalah anak-anak terang; nyatakanlah terang dalam pikiran, ucapan, perbuatan, dan relasi, niscaya pengaruh yang baik dapat menjadi kesuksesan yang disediakan Tuhan bagi kita.

Salam Bae….

JANGAN MENTANG-MENTANG: Refleksi Singkat Keluaran 18:1-12

SONY DSC

“Kesadaran” adalah bagian dari kehidupan kita. Dengan kesadaran kita dapat menempuh jalan hidup kita, menjaganya, dan mempertahankannya. Kita tidak dapat memisahkan identitas kita dengan bagaimana caranya kita bersikap. Artinya, meskipun kita memiliki identitas yang terpandang dan terhormat, tetapi moralitas dan sikap rendah hati tak bisa tidak harus dilakukan dan ditunjukkan. Itulah makna kesadaran diri. Antara kesadaran diri dan identitas sangatlah koheren jika ditinjau dari aspek biblika.

Judul di atas hendak menegaskan sebuah sikap agere contra (bertindak atau melakukan hal sebaliknya), di mana kesadaran dan identitas tidak digunakan sebagai “alat pembenaran diri” dan “alat untuk menyombongakan diri. Jangan karena “mentang-mentang” maka kita bertindak melampaui batas dan menunjukkan sikap yang tidak terpuji.

Musa adalah contohnya. Ia tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” melainkan justru menunjukkan identitas moral dan hormatnya kepada Yitro, mertuanya. Musa sadar akan statusnya sebagai menantu. Hal inilah yang kemudian menjadi warisan bagi kita sebagai orang Kristen hingga sekarang sebagai sebuah kesadaran iman. Kita tak mungkin melepaskan moralitas kita ketika kita menjadi orang yang memiliki jabatan tinggi. Kitab Suci justru menunjukkan bahwa siapa pun kita, sikap “bermoral” dan “rendah hati” tetap menjadi hal yang utama dan tak bisa disingkirkan begitu saja.

Ketika manusia menunjukkan sikap “mentang-mentang” maka ia sedang merendahkan dirinya sendiri dan tidak menampilkan gaya hidup Kristen yang bermartabat, bermoral, dan rendah hati. Ia justru tidak menyadari identitas dan statusnya yang sebenarnya.

SONY DSC

Teks Keluaran 18:1-12 hendak menegaskan Musa dan sikap hidupnya yang sangat baik dan menunjukkan kesadarannya bahwa meski ia adalah seorang nabi, tetapi ia juga sadar bahwa statusnya adalah sebagai menantu Yitro.

INTISARI

PERTAMA. “Jangan mentang-mentang” hendak menjelaskan makna kebalikkannya yaitu Musa yang adalah seorang nabi, menunjukkan sikap hormat dan rendah hati. Musa sebagai nabi yang dipilih Tuhan telah menunjukkan sikap hidup yang baik dan bermoral (berintegritas). Itulah kesadaran Musa.

KEDUA. Musa tidak melihat jabatannya sebagai nabi untuk dijadikan “kesombongan” diri.

KETIGA. Musa tidak melupakan statusnya sebagai seorang menantu dari Yitro. Musa tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” (yaitu hanya karena merasa Nabi, maka ia tidak menghargai mertuanya). Musa tidak melakukan hal itu. Ia tahu, bahwa orangtua harus tetap dihargai meski ia dihargai oleh begitu banyak orang Israel. Musa sadar secara moral.

KEEMPAT. Sikap Musa yang terlihat adalah ia sujud dan mencium mertuanya ketika mereka bertemu (ay. 7). Sungguh sikap yang rendah hati.

KELIMA. Baik Musa maupun Yitro, keduanya sama-sama menunjukkan sikap saling menghargai.

KEENAM. Yitro turut bersukacitalah tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir melalui Musa (ay. 9).

KETUJUH. Musa dan mertuanya, Yitro, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Tuhan; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Tuhan (ay. 12).

APLIKASI

Kesadaran akan identitas dan status, akan menunjukkan bahwa diri kita bermoral dan rendah hati. Kesadaran menjadikan hidup kita tertib dan selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita tahu bahwa kita adalah umat Tuhan, seyogianya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. 

Musa adalah teladan dalam bersikap bermoral dan rendah hati. Ia tidak menunjukkan sikap mentang-mentang melainkan menunjukkan kebalikkannya; ia memperlihatkan rasa hormat kepada mertuanya, Yitro.

Sikap Musa yang menghargai dan memperlihatkan rasa hormatnya, dapat kita contohi untuk diterapkan kepada orangtua atau siapa saja yang berhak menerima penghormatan kita.

Kita harus sadar dan menunjukkan identitas kita tanpa meninggalkan cara hidup yang menghormati, bermoral, dan rendah hati.

BERNYANYILAH BAGI TUHAN

Mengucap syukur dapat diungkapkan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui nyanyian. Alkitab menggambarkan sekaligus membuktikan bahwa umat Allah diperintahkan untuk memuji Allah melalui nyanyian (atau bermazmur – memuji Allah dengan puji-pujian). Alasan memuji Allah adalah karena Ia menunjukkan kasih, kebaikan, dan kemurahan-Nya, yang tampak dari pertolongan, penyertaan, berkat, pengampunan, penebusan, dan penyelamatan.

Tak dapat dipungkiri bahwa kebaikan, kasih, dan kemurahan Allah memenuhi keseluruhan kehidupan manusia. Ia dengan sabar mendidik dan membentuk umat-Nya menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Ia tahu apa yang terbaik bagi mereka; Ia tahu memberikan yang terbaik bagi kehidupan mereka. Dalam konteks ini, kita melihat bahwa Tuhan Allah senantiasa mencurahkan segala perbuatan baik-Nya melingkupi sendi-sendi kehidupan, pelayanan, dan pekerjaan manusia.

Itu sebabnya, menyanyikan puji-pujian kepada-Nya merupakan sikap iman. Kesadaran kita untuk menyatakan syukur kepada Tuhan melalui nyanyian begitu kental dituliskan dalam Alkitab. Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! (1 Tawarikh 16:9; Mazmur 105:2). Bernyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari (1 Tawarikh 16:23). Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! (Mazmur 147:7). Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya! (Mazmur 68:5).

Ketika bangsa Israel, dibawah kepemimpinan Musa, melewati laut Teberau dan selamat dari pengejaran tentara raja Firaun, Miryam segera memimpin Israel dan berkata: “Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut” (Keluaran 15:21). Pemazmur mengajak kerajaan-kerajaan bumi untuk menyanyi bagi Allah, bermazmur bagi Tuhan (Mazmur 68:33). Pemazmur mengajak untuk menyanyikan nyanyian baru bagi TUHAN, dan segenap bumi menyanyilah bagi Dia (Mazmur 96:1).

Nyanyian dikaitkan dengan tindakan pengabaran [berita] keselamatan dari pada-Nya dari hari ke hari (Mazmur 96:2). Tindakan pertolongan TUHAN atas orang miskin perlu dinyanyikan (Yeremia 20:13, “Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat”).

Ada banyak hal yang perlu disyukuri: “Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu” (Mazmur 18:50). Bangkitlah, ya TUHAN, di dalam kuasa-Mu! Kami mau menyanyikan dan memazmurkan keperkasaan-Mu (Mazmur 21:14), supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu (Mazmur 30:13). Aku mau menyanyikan syukur kepada-Mu dalam jemaah yang besar, di tengah-tengah rakyat yang banyak aku mau memuji-muji Engkau (Mazmur 35:18).

Karena kasih setia-Nya, pemazmur bernyayi: “TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku” (Mazmur 42:9). “Tetapi aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku” (Mazmur 59:17). Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian (Mazmur 66:17). Akupun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel. Bibirku bersorak-sorai sementara menyanyikan mazmur bagi-Mu, juga jiwaku yang telah Kaubebaskan (Mazmur 71:22-23).

Hanya oleh kasih setia TUHAN manusia dapat menikmati segala kebahagiaan, keberkatan, dan kesinambungan hidup. Bahkan manusia dapat merasakan segala kenikmatan, itu pun adalah pemberian-Nya. Dalam nyanyian, kita mengungkapkan iman kita, memperkenalkan kesetian Tuhan yang begitu luar biasa: “Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun (Mazmur 89:2).

Pemazmur mengakui bahwa: “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi (Mazmur 92:2). Daud sendiri menyanyikan kasih setia dan hukum, bermazmur bagi TUHAN (Mazmur 101:1). Israel yang telah merasakan lawatan dan kuasa Allah, percaya kepada-Nya, percaya akan firman-Nya, dan mereka memuji Dia: “Ketika itu percayalah mereka kepada segala firman-Nya, mereka menyanyikan puji-pujian kepada-Nya” (Mazmur 106:12).

Kehidupan orang percaya haruslah menyanyikan pujian kepada Tuhan karena Ia baik dan sangat baik. “Biarlah lidahku menyanyikan janji-Mu, sebab segala perintah-Mu benar” (Mazmur 119:172). “Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagi-Mu” (Mazmur 144:9). “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu” (Yesaya 25:1).

Perjanjian Baru melihat kepentingan ini sebagai bagian dari sikap iman dan percaya kepada Tuhan karena rahmat-Nya dan kasih-Nya. “dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu” (Roma 15:9).

Akibat dari kehidupan yang penuh kasih, kehidupan yang ada di dalam Kristus Yesus, kehidupan yang melimpah dengan syukur, maka sepatutnyalah orang percaya menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Rasul Paulus menegaskan: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kolose 3:16).

Memang, kehidupan yang melimpah dengan syukur adalah wujud dari iman yang sehat, kehidupan yang menyadari betapa Tuhan melimpahkan cinta kasih, kemurahan, dan rahmat-Nya bagi kita. Sementara itu, kita terus menikmati kekayaan kasih karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya kepada kita, agar kita tahu bahwa Dialah yang memanggil kita untuk hidup dalam firman-Nya, bekerja dan melayani Dia dengan sepenuh hati.

Segala kemenangan atas kesulitan, kesukaran, pergumulan yang berat, selalu dituangkan dalam ucapan syukur dan puji-pujian (bdk. 2 Tawarikh 20:21, “… Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”). Orang-orang yang dikasihi TUHAN patut bersyukru dan menyanyikan mazmur bagi-Nya: “Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!” (Mazmur 30:5).

Ajakan untuk menyanyi dikaitkan dengan ibadah dan pengakuan akan kekuatan, kuasa, dan kemuliaan Allah atas ciptaan-Nya. “Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!” (Mazmur 33:3). “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!” (Mazmur 96:1). “Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus” (Mazmur 97:12). “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus” (Mazmur 98:1). “Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh” (Mazmur 149:1), dan “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya” (Yesaya 42:10).

Puji-pujian kepada Tuhan Allah memang layak dan patut bagi-Nya: “Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu” (Mazmur 147:1). Jika demikian, masihkah kita lupa untuk memuji, bernyayi bagi Dia? Atau kita hendak mengabaikan puji-pujian kepada Dia yang telah mengasihi dan memberkati kita? Marilah dengan kesadaran penuh untuk melihat bahwa kebaikan dan cinta kasih Tuhan layak untuk dinyanyikan dalam syukur sehari-hari. Ia baik dan sungguh baik. Dari situlah alasan kita untuk mengucap syukur, bernyanyi, bermazmur, dan memuji, serta memuliakan Dia, kini, dan selamanya.

Salam Bae…..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai