
“Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban” – Salomo – (Amsal 20:29). [Tulisan ini telah diterbitkan pada buku ulang Tahun Pdt. Dr. Kembong Mallisa’ yang diterbitkan oleh Penerbit DELIMA, tahun 2013].
Aksentuasi tulisan ini berorientasi pada hidup dan etika terhadap orang yang telah berusia lanjut. Hidup dan etika adalah dua hal yang krusial. Bisa dikatakan bahwa dua hal tersebut adalah suatu dikotomi dalam perspektif agama. Perjalanan hidup manusia selalu menekankan “etika” dalam berbagai perspektif masing-masing, entah personal, agama, pemerintah, organisasi, Gereja dan sebagainya. Mengapa etika itu penting? Penting, karena etika merefleksikan citra diri manusia yang adalah gambar dan rupa Allah, tahu yang benar dan jahat, tahu kebaikan, keadilan, hormat kepada TUHAN dan sesama manusia. Tanpa etika, hidup manusia tidak memiliki “keteraturan tatanan hidup yang memadai” sesuai dengan naturnya yang diberikan oleh Tuhan. Pada akhirnya, dedikasi tulisan ini ditujukan kepada Opa Kembong, begitulah panggilan akrab saya kepada beliau, sebagai bentuk penghormatan saya selaku “anak didiknya” sejak beliau mengajar saya dalam kelas teologi tahun 2003, dan hingga sekarang di Delima STT SETIA Jakarta, beliau masih mengajar saya dan sering bertukar pendapat.
Introduksi
Berbicara mengenai hidup, tentu ada beragam pendapat dalam memahami dan memaknai hidup itu. Hidup itu penting dan bermakna, meskipun ada orang yang menganggap bahwa hidup itu tidak bermakna, tapi itulah maknanya bagi orang tersebut, yakni “tidak bermakna”. Bermakna tidaknya hidup itu, bergantung kepada situasi dan kondisi yang dialami atau angle (segi pandangan) seseorang. Dalam konteks ini, saya tidak bermaksud untuk tidak menyinggung soal hidup itu bermakna karena Tuhanlah yang memberi makna dan memampukan manusia untuk dapat menikmati hidup serta berjuang mempertahankan hidup. Maksud saya mengatakan bahwa hidup itu bergantung pada situasi kondisi hanya dalam konteks faktual yang diamati. Tentu sebagai orang Kristen, kedua hal itu juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap makna hidup selain daripada bahwa Tuhanlah yang menjadikan diri kita mampu untuk memahami dan memaknai hidup itu sendiri.
Ketika seseorang merasakan sukacita, gajinya besar, dihargai orang lain, kaya, punya kedudukan, keluarga bahagia, punya usaha, harta benda banyak, disayangi suami atau istri, disayangi oleh anak-anak, disayangi oleh Opa dan Oma (Kakek dan Nenek), punya suami ganteng dan istri yang cantik jelita, maka “tentu” seseorang tersebut menganggap bahwa hidup itu bahagian dan bermakna. Sigmund Freud menulis, “Kebahagiaan dalam artinya yang paling sempit berasal dari kepuasan – sering hal ini berarti terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang terpendam, yang sangat kuat, dan biasanya berlangsung sementara saja.” Sigmund Freud, Dictionary of Psychoanalysis (New York: Fawcett Publications, n.d.), dikutip oleh Cecil G. Osborne, Seni Mengasihi Diri Sendiri (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 89.

Akan tetapi, hidup itu juga tidak bergantung pada hal-hal lahiriah. Seorang pengusaha kaya raya, pemilik sebuah perusahaan besar di seluruh dunia pun mati karena bunuh diri. Apa yang kurang dari hidupnya? Ketenaran? Harta? Uang? Perusahaan? Karyawan? Tidak tahu apa sebab yang sebenarnya, padahal uangnya berlimpah ruah. Ketika seseorang merasa putus asa, kecewa, ditinggalkan suami atau istri, dibenci anak-anak, tidak dihargai, tidak mendapat kedudukan, gaji kecil, penuh tekanan, stres, menderita, dihina, dicaci maki dan hal-hal semacamnya, maka dapat dipastikan seseorang itu bisa menganggap hidupnya tidak bermakna atau merasa kecewa dengan hidupnya.
- PENTINGNYA HIDUP DAN MASALAH DALAM HIDUP
“Kebahagiaan adalah tujuan hidup dari setiap manusia. Jenis kebahagiaannya berbeda. Cara mendapatkannya berbeda. Waktu untuk menikmatinya berbeda pula. Hanya satu yang tidak berbeda secara esensi: ‘Mensyukurinya’. Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup (Talaud, 2010).
“Orang yang menganggap hidup adalah kebebasan untuk berbuat dosa menjadikan pintu kehidupannya menuju kepada kematian.” Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup (Talaud, 2010).
Saya akan menjelaskan terlebih dahulu beberapa hal penting. Pertama, kita hidup adalah karena anugerah TUHAN. Kedua, kita diberikan hidup sejauh TUHAN berkehendak memberikan kepada kita umur panjang. Ketiga, kita harus mensyukuri atau menghargai hidup itu, dan keempat, kita harus berjuang mempertahankan hidup itu.
Keempat hal di atas adalah krusial. Saya hanya memberi aksentuasi pada hal yang pertama dan kedua dan kedua hal inilah yang memiliki kaitan erat dengan judul yang saya ambil sebagai refleksi tentang hidup dan kurangnya etika kepada orang yang telah berusia lanjut.
Hidup adalah anugerah TUHAN. Dan umur kita ditentukan TUHAN. Mati hidup kita ada di tangan TUHAN. Ini prinsip iman Kristen. Tetapi, tidak semua orang Kristen memiliki pemahaman yang demikian. Bagi mereka hidup adalah pesta pora, hidup adalah kesenangan dan sebagainya, hidup hanya membenci dan iri hati kepada sesama, munafik, suka mencari kelemahan orang lain untuk dijatuhkan martabatnya, kadang berani mengatakan bahwa “sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan dia” padahal Alkitab jelas mengajarkan bahwa “ampunilah orang yang berbuat salah kepadamu tujuh puluh kali tujuh kali”. Baru dua atau tiga kesalahan yang diperbuat orang lain kepadanya, eh… sudah tidak mau mengampuni lagi.
Akibat dari hal-hal jahat di atas, tentu hidup mereka tidak dibentuk dengan aturan-aturan Alkitab, tidak dibentuk oleh etika Alkitab dan menjadi manusia yang mencintai dirinya sendiri (egoisme).

Prinsip etika adalah hal yang mendasar untuk menjadi orang Kristen selain daripada iman, kasih dan pengakuan kita kepada Tuhan sebagai Pencipta (atau hal-hal lainnya yang fundamental). Kurangnya kesadaran etika tidak juga dilakukan oleh orang muda melainkan juga oleh orang tua, orang yang berpendidikan, atau orang-orang yang duduk di suatu lembaga atau pemerintahan. Kita berharap bahwa yang duduk atau bekerja di suatu lembaga adalah orang-orang yang beretika dan bermoral. Akan tetapi, hal ini kadang-kadang muncul terbalik. Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tidak beretika, semakin mencari keuntungan yang tidak benar, tidak tahu sopan santun, seenaknya berbicara di depan orang, bahkan tidak tahu diri. Hal-hal yang demikian bukanlah “hal baru” yang terjadi di sekitar kita.
- ORANG MUDA DAN ETIKA
Judul tulisan saya terinspirasi ketika saya membaca buku R. C. Sproul, di mana saya membaca kisah yang menarik tentang seorang profesor yang sangat terkenal lalu ia menjadi tua dan dilupakan. Berikut tuturan cerita (kisah) Sproul (The Hunger for Significance [Phillipsburg, New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Co., copyright © 1983, 1991, reprinted 2001]. Edisi bahasa Indonesia “Mendambakan Makna Diri, diterjemahkan oleh Lana Asali Sidharta [Surabaya: Momentum, 2005]).

“Saya berkunjung ke almamater saya untuk berbicara pada acara penyerahan penghargaan akademis. Seusai acara, saya berjalan melintasi halaman kampus ke arah menara “Old Main”. Di sana saya melihat seorang laki-laki berambut putih berjalan dengan hati-hati, tertatih-tatih sambil memegang tongkatnya, sementara para mahasiswa yang tergesa-gesa lalu lalang di sekelilingnya, sehingga membahayakan dirinya.
Ia sudah berusia amat lanjut, hampir 90 tahun. Sebuah jas yang sudah ketinggalan mode menutupi punggungnya yang bungkuk. Saya segera mengenali dia sebagai seorang mantan profesor di universitas itu, seorang yang pernah disanjung di seluruh dunia dalam dekade 30-an untuk karyanya yang merupakan terobosan baru di bidang filsafat. Ia dahulu amat terkenal karena inteleknya yang cemerlang dan wawasannya yang luas.
Kini saya mengamati dia ketika ia berjalan dan tidak seorang pun mengenalinya, para mahasiswa yang bahkan tidak layak untuk membawakan tasnya itu bergegas melewati dia begitu saja. Saya berpikir, “Anak-anak muda ini tidak mengenal dia, tetapi Allah tahu siapa dia.” R. C. Sproul, Mendambakan Makna Diri, terj. Lana Asali Sidharta, (Surabaya: Momentum, 2005), 140-141.
Ketika selesai membaca kisah Sproul, saya sangat sedih dan berpikir bahwa “orang muda sekarang, jika ia tidak menghargai dan menghormati orang yang telah berusia lanjut, adalah orang yang lupa bahwa dirinya akan tua kelak.” Begitu pula dengan para mahasiswa yang dikisahkan di atas, di mana mereka tidak lagi mengenali seorang profesor yang ternama di kampus itu. Sedih rasanya ketika kita tidak dihargai. Sedih rasanya ketika orang lain tidak menghormati kita. Apalah arti sebuah kedudukan, sebuah kepintaran, sebuah kesuksesan, namun orang-orang tidak menghargai kita? Rasanya hancur, sakit dan perih. Siapa yang pernah mengalami hal ini, pastilah ia tahu, bagaimana rasanya ketika tidak dihargai.
Orang muda yang tidak pernah menghargai jasa-jasa orang-orang yang pernah memberikan suatu terobosan, suatu prinsip hidup, apalagi tidak menghargai orang yang telah tua, ia sama sekali menghilangkan bagian penting dalam hidupnya yakni “etika”. Seorang profesor yang dulunya pernah disanjung karena sumbangsih pemikirannya, kini ia tidak dikenali lagi, bahkan tidak dihargai lagi. Ironis memang.
Kemudian, saya kembali merenungkan: Apakah Opa Kembong, di kampus STT SETIA akan mengalami hal yang sama? Akankah mahasiswa di kampus tersebut masih mengenali beliau, atau paling tidak menghargai dan menghormati beliau? Saya tidak yakin akan hal itu, karena menurut saya, orang-orang (termasuk mahasiswa) di STT SETIA pun tidak menjalankan etika Kristen dengan sepenuhnya. Bahkan justru melakukan hal yang berlawanan dengan etika.
Dalam kondisi seperti ini, perlunya kesadaran menilai diri adalah penting. Tidak ada gunanya menyandang “gelar” tertentu tetapi tidak mencerminkan sikap hidup Kristen yang baik dan benar. Mulut penuh hujatan, penuh kemunafikan, penuh kelicikan dan penuh “gosip miring”. Etika perlu ditegakkan, karena TUHAN menciptakan manusia sebagai makhluk yang bermoral dan beretika. Kucing tidak dianugerahi etika dan moral, sapi tidak, monyet tidak, anjing juga tidak, apalagi ayam kampung.
Orang muda perlu beretika, baik di dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun di lingkungan sekolah. Bagaimana dengan orang muda di STT SETIA? Menurut Sproul, ditinjau dari stigma kebudayaan, kita diyakinkan bahwa dunia adalah milik kaum muda yang agresif, sedangkan orang-orang tua dianggap sudah usang dan tak berguna. Sproul, Mendambakan Makna Diri, 139.

Saya dapat menduga bahwa “kebanyakan” anak muda (termasuk di SETIA) berpendapat sama dengan apa yang dinyatakan oleh Sproul. Bagi mereka, orang tua istirahat saja dan biarkan anak muda yang berkarya. Tak heran, ada yang berkata: “Saatnya yang muda untuk memimpin”.
- PESAN ALKITAB BAGI ORANG MUDA
“Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Ams. 22:15).
Zaman sekarang, orang (atau anak) muda adalah anak yang berprestasi, baik di sekolah, maupun di jalanan (tawuran dan mengamen). Anak muda identik dengan hura-hura, pesta pora, kebebasan, lincah, kreatif, inspiratif, suka berkelompok (dan membuat geng), seks bebas, penuh nafsu, aborsi, preman, dan sebagainya. Terlepas dari angle positif atau negatif, anak muda juga mendapat perhatian Alkitab. Dalam Alkitab, ada berbagai prinsip pengajaran dan pedoman kepada orang muda. Orang muda akan menjadi baik jika dididik sesuai dengan apa yang patut baginya. Benar sekali. Penulis kitab Amsal mengerti akan kondisi kejiwaan orang muda.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6). Jikalau orang muda dididik maka tentu akan menjadi baik, dan konten dari didikan itu sesuai dengan yang patut, yang layak, yang sesuai dengan perintah TUHAN, sesuai dengan kehendak TUHAN.
Orang muda akan menjadi baik, santun, dan menghargai hidup dan orang lain adalah karena hasil “didikan”. Bahkan sampai masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang. Jika pada masa mudanya ia dididik, maka ia akan menghargai dan mengakui betapa berharganya hidup itu. Pemazmur mengatakan, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu” (Mzm. 119:9). Paulus menasihati Timotius: “Janganlah seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” (1 Tim. 4:12). Semua aspek teladan yang disebutkan Paulus, merangkum totalitas hidup dan pergaulan orang (anak) muda.
Paulus menyatakan: “Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Petrus juga menasihati, “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Ptr. 5:5).
Peran orang muda memang penting, tetapi jika ia tidak dididik untuk menjadi lebih baik, mencintai Tuhan dan menghargai hidup, sopan, santun, penuh etika dan bermoral baik, tahu menghargai sesama (termasuk orang yang telah tua). Ingatlah hai engkau yang masih muda: “Belajarlah menghargai sesama dan orang yang telah berusia lanjut, karena dengan demikian engkau telah melakukan suatu hal yang bermakna dan engkau pun akan mengalami hal yang sama ketika engkau tua kelak.”

- KRITERIA HIDUP, ETIKA DAN APLIKASINYA BAGI ORANG YANG TELAH BERUSIA LANJUT
Apa yang diharapkan dari perbuatan baik kita? Melatih kita untuk terus melakukannya. Apa yang diharapkan dari terus melakukannya? Melatih kita untuk tidak bosan melakukannya. Apa yang diharapkan untuk tidak bosan melakukannya? Melatih kita untuk bertanggung jawab kepada Tuhan. Apa yang diharapkan dari bertanggung jawab kepada Tuhan? Melatih kita untuk tetap tinggal dalam kebenaran-Nya. Apa yang diharapkan dari tetap tinggal dalam kebenaran-Nya? Melatih kita untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya. Apa yang diharapkan dari bertahan sampai pada akhirnya? Untuk memberikan kepada kita upah dan mahkota kehidupan. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup.
Kriteria Hidup
Hidup memang perlu dijalani. Cara menjalaninya memiliki beragam cara. Inilah yang akan membawa kita kepada kriteria hidup. Tanyakanlah kepada puluhan orang, dan Anda akan menerima beragam kriteria tentang hidup. Hidup adalah anugerah, hidup adalah perjuangan, hidup adalah kepuasan perjalanan yang melelahkan, hidup adalah kebahagiaan, dan hidup penuh dengan kesukaran dan penderitaan. Itulah kriteria hidup, menurut saya.
Kriteria Etika
Kriteria etika (dari perspektif Kristen), dalam pemahaman saya mencakup beberapa hal, yakni: Pertama, takut akan Tuhan dan menghormati kekudusan nama-Nya; kedua, mengasihi Tuhan dan sesama; ketiga, melakukan hal-hal baik sesuai dengan prinsip Alkitab; keempat, mencintai lingkungan; kelima, bertanggung jawab dalam segala aspek hidup dan keenam, mempertahankan prinsip-prinsip Alkitab sampai Tuhan memanggil kita.
Korelasinya [dengan Opa Kembong]
Penghormatan kepada Orang yang Telah Berusia Lanjut
Menghormati orang yang lebih tua, saya rasa, hampir semua suku, bangsa dan budaya di dunia menerapkannya dalam kehidupan yang dijalani. Menghormati orangtua kandung adalah perintah TUHAN seperti yang termaktub dalam kitab Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Prinsip ini mendasari semua point of view orang Kristen karena itu adalah perintah TUHAN. Di samping itu, “mengasihi sesama” juga adalah perintah Tuhan. Rasul Paulus menulis, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”
Lalu di mana ayat Alkitab untuk menghormati orang yang tua yang telah ubanan atau berusia lanjut? Dalam Imamat 19:32 dituliskan, “Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.” Kepada setiap anak muda, belajarlah untuk menaruh rasa hormat kepada orang yang telah ubanan, orang yang telah berusia lanjut. Jika hal tersebut jelas, masihkah kita tidak menghargai orang tua (telah ubanan)? Akankah hal ini terjadi di STT SETIA? Mungkin!
Belajar dari Pengalaman dan Bertukar Pendapat dalam Menanggapi Persoalan Hidup
Saya selalu belajar dari pengalaman orang tua termasuk Opa Kembong. Orang tua lebih banyak “makan garam”. Saya menyerap hal-hal yang baik yang bisa dijadikan pedoman hidup saya ke depan. Bagi saya, jika anak muda ingin mendapatkan banyak hal, entah pengalaman, prinsip, suka duka, penderitaan dan kesukaran hidup, bertukar pendapatlah dengan orang tua. Saya seringkali menanyakan banyak hal kepada Opa Kembong tentang hidup dan prinsip hidup. Pengalaman beliau waktu studi pun dia ceritakan kepada saya. Menanggapi persoalan hidup, seringkali memicu perbedaan pendapat, akan tetapi, kita perlu untuk jeli untuk berpikir dalam mengatasi persoalan hidup dengan cara-cara yang layak. Banyak cara dalam mengatasi persoalan hidup tetapi tidak semua dikategorikan sebagai yang “layak” untuk dilakukan.
Pengalaman bersama Tuhan: Kesetiaan-Nya Tak Pernah Redup Sekalipun
Hidup bersama Tuhan pasti melewati berbagai tantangan, hambatan, penderitaan, kebahagiaan, dukacita dan sebagainya. Opa Kembong telah melaluinya dan itu menjadi pengalaman berharga baginya. Sebagai seorang Pendeta, tentu beliau lebih tahu suka duka hidup bersama Tuhan. Kesetiaan Tuhan tak pernah redup bagi umat pilihan-Nya, bagi hamba-hamba-Nya. Yosua, pada masa tuanya (dan sangat lanjut umur) masih memberikan pengarahan, semangat dan kekuatan kepada seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya (Yos. 23:1-16). Ingatlah perkataan Daud yang menguatkan kita, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti (Mzm. 37:25).
Belajar Menghargai Orang yang Berusia Lanjut
Sproul menyatakan bahwa Allah menuntut kita untuk menghormati dan menghargai warga lansia [lanjut usia] kita secara khusus (lihat Im. 19:32; Ams. 23:22; 1 Tim. 5:1). Setiap kali saya melihat kepala beramput putih atau wajah yang keriput, saya merasakan kekaguman yang timbul di dalam sanubari saya. Seorang lansia layak mendapat respek saya, sekalipun tak ada alasan lain di samping usianya itu. Ia telah bertahan. Sproul, Mendambakan Makna Diri, 141-42.
Inilah yang seharusnya kita, sebagai anak muda lakukan yakni memberikan hormat (respek) dan kesantunan terhadap orang yang berusia lanjut sebab sudah jelas apa perintah Alkitab bagi kita.
Sproul juga menjelaskan bahwa “para lansia berhak atas penghormatan. Adalah hak sakral mereka untuk memperolehnya, dan kewajiban mutlak kita untuk memberikannya. Merekalah kekuatan dan kontinuitas keluarga, ibu bapa dari akar-akar martabat kita sendiri.” Sproul, Mendambakan Makna Diri, 142.
- BEBERAPA TITIK LEMAH PADA DIRI ORANG MUDA
Orang muda yang lupa bahwa ia akan menjadi tua kelak.
Konteks ini adalah konteks umum, di mana para anak muda ketika melihat orang yang telah tua, kurang menaruh rasa santun dan hormat. Anak muda kadang malu menolong orang yang telah tua bahkan suka menghindar dan pura-pura tidak tahu, karena gengsi. Anak muda lupa, bahwa ia akan tua kelak.
Orang muda yang tidak terdidik dalam soal etika.
Terdidik tidaknya anak muda dalam soal etika, menurut saya berawal dari keadaan dalam keluarganya sendiri. Ketika orangtuanya tidak mengajar dan mempraktikan “etika” dalam kehidupan keluarga, maka ia pun akan melakukan hal yang sama di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pengamatan saya, banyak anak muda dan tidak tahu etika, sopan santun dan hormat kepada orang yang lebih tua. Itu sebabnya, perlunya orangtua mendidik anaknya sejak dini tentang etika dan menghargai hidup.
Orang muda yang menganggap bahwa ia juga terpelajar dan hebat.
Konteks ini sering terjadi dan menganggap orang tua itu kuno pemikirannya dan sayalah yang hebat karena sudah terpelajar, sudah sekolah tingkat tinggi sehingga ia mendasari dan menilai hidupnya hanya pada ranah “akademik” untuk menghakimi orang tua dan menganggap mereka kuno, kolot dan sebagainya.
Orang muda yang menganggap hidup itu biasa-biasa saja.
Orang muda yang menganggap hidup itu biasa-biasa saja akan merasa tersiksa ketika ia tua kelak. Masa mudanya hanya melakukan hal-hal yang tidak pantas, hal-hal yang kurang berarti. Untuk apa menghargai orang tua dan yang telah berusia lanjut, dan untuk apa belajar etika? Percuma! Saya hidup apa maunya saya lakukan.

- PENUTUP
Nabi Musa mengungkapkan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Jika kita menghitung hari-hari kita, itu berarti kita menaruh perhatian penting atas hidup kita. Beroleh bijaksana dikarenakan kita menilai, mengamati, mengevaluasi, mengoreksi hidup kita dan mengisinya dengan hal-hal yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua orang mengakui bahwa hidup itu sulit. Bahkan ketika menghadapi kematian, manusia kadang merasa takut.
Manusia tidak boleh sombong karena pada akhirnya ia akan mati dan dikubur. Apa yang ditabur itu juga yang dituai. Saya berpikir, bahwa mungkin manusia jarang memikirkan tentang “penghakiman” TUHAN pada waktu yang Ia tentukan sehingga mereka sesuka hati mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat tanpa merasa bahwa TUHAN tidak akan menghukum mereka.
Marilah kita belajar menghargai hidup ini. TUHAN telah memberikan kehidupan kepada kita untuk dijalani dengan penuh hikmat dan rasa hormat kepada-Nya. Tuhan pun memerintahkan kita untuk saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati. Hormatilah orang tua atau yang berusia lanjut. Jangan menganggap rendah nasihat ini. Saudara akan merasakannya sendiri ketika saudara tua kelak. Hidup, jika menerapkan etika secara bertanggung jawab, akan menjadikan hidup kita disiplin, dihargai dan menghargai, dikasihi dan mengasihi, dihormati dan menghormati. Amin.
“Selamat Ulang Tahun yang ke-63 bagi Opa Kembong. Tuhan tetap menyertai Opa dalam hidup yang dijalani, terlebih dalam melayani Tuhan.”
Salam Bae……





















































