“Salah Paham” adalah kondisi yang sering terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan “agama”, salah paham telah menjadi “trending topic” di berbagai media sosial, dan mungkin juga di masyarakat, tempat kita berada. Salah paham ini bisa menjurus kepada situasi yang ‘chaos’, dan konflik berdarah-darah. Akibatnya, suara-suara sumbang dan celoteh-celoteh jalanan dapat menjadi alat untuk membesar-besarkan kesalahpahaman tadi, apalagi jika kesalahpahaman itu terkait dengan iman Kristen.
Seorang mualaf yang mulutnya kotor (saya temukan dalam bukunya), yaitu Muhammad Yahya Waloni, adalah seorang yang mengatakan bahwa Rasul Paulus masuk neraka. Tentu perkataan tersebut sama sekali tidak berdasar. Omong kosong ini, entah dia dapat dari mana, sampai ia berani menuliskan di dalam bukunya. Dari semua isi buku Waloni, hampir 100 persen salah paham, bahkan salah total.
Kesalahannya menggaungkan iman Kristen yang dikiranya “benar” menurut pemahamannya ternyata ketika diuji secara ilmiah, mengandung kebohongan-kebohongan yang dirancang untuk memperbesar omong kosong dan kesalahpahamannya tentang iman Kristen, baik Kristologi, Alkitab, nubuatan Mesias yang dikaitkan dengan Muhammad, dan masih banyak lagi.
Ia pun mengajukan pernyataan yang kurang lebih sama dengan para mualaf lainnya: “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah.” Pernyataan tersebut memang benar, tetapi tidak secara komprehensif dipahami, baik berdasarkan historis, logis, dan dogmatis. Untuk menjawab pernyataan tersebut, saya memulai dengan menilainya berdasarkan pada “cara memahami”.
Pertama, Pernyataan “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah” dipahami secara fragmentaris oleh para mualaf. Saya memakluminya.
Kedua, para mualaf menganggap bahwa Allah yang mengutus Yesus adalah “Allah” yang sama dengan “Allah” Islam.
Ketiga, para mualaf akan selalu memahami secara fragmentaris dan tidak membuka peluang bagi proses atau cara memahami secara komprehensif berdasarkan konteks hermeneutika Alkitab yang kredibel, dengan mengikuti rambu-rambu penafsirannya.
Bagi mereka, Yesus diutus Allah. Itu saja. Padahal, cara memahaminya tidak demikian. Saya memakluminya. Namanya juga mualaf, ya, pasti tidak mau membuka pikiran dalam konteks cara memahami Yesus secara komprehensif berdasarkan Alkitab. Karena ini berbicara mengenai historisitas, maka ada korelasi yang dapat dipahami, meski kita tahu ada jurang pemisah antara pemahaman Islam dengan pemahaman Kristen mengenai pribadi Yesus.
Para mualaf mengira bahwa jika Yesus utusan Allah maka Ia adalah Rasul. Pola ini diadopsi dari konsep quranik. Menurut Kristen, Yesus bukan Rasul. Tidak ada rumusan dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Rasul. Yesus itu berbeda dengan apa yang dipikirkan para mualaf. Pola pikir quranik tidak bisa dipakai untuk mengukur pola pikir biblikal karena keduanya memiliki perbedaan yang fundamental, baik iman, doktrin, dan historis.
Untuk memperteguh klaim mereka bahwa Yesus adalah utusan, maka mereka menyuguhkan sederet ayat Alkitab, terutama dalam Injil Yohanes. Anehnya, tak satupun yang memahami konteksnya. Ini kelemahan yang sangat mendasar. Padahal, sejak prolog Injilnya, Rasul Yohanes menuliskan:
“Firman menjadi daging [manusia; Yun. sarks]” (Yoh. 1:14). Yesus adalah Logos Allah yang berdiam sejak kekal. Jadi, seluruh Injil Yohanes yang berbicara mengenai natur kemanusiaan Yesus, termasuk Ia diutus Bapa-Nya, Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya jika Bapa tidak mengaruniakannya, TETAP DAN HARUS melihat pada pasal 1 (prolog Injil Yohanes). Memisahkan tulang dari daging menjadikan tubuh manusia lemah tak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Ini cara-cara yang sama sekali “salah” sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.
Ilmu “comotologi” atau ilmu mencomot-comot ayat-ayat Alkitab tanpa memahami konteksnya adalah kelihaian para mualaf secara mayoritas. Karena lihai menampilkan ilmu “comotologi”, maka mereka asyik dan puas mengajukan dalil bahwa memang Yesus adalah utusan, Ia bukan Tuhan, dan masih banyak lagi. Sayangnya, impotensi kehendak berimbas kepada impotensi logika mereka yang tidak mau memahami teks dan konteks secara utuh. Model tafsir comotologi sudah membudaya di kalangan mualaf, termasuk mualaf “abal-abal” (dari aspek ilmu dan kajian Kristologi) yaitu Yahya Waloni.
Kondisi psikologi “IGNORANCE IS SATISFACTION” (kebodohan adalah kepuasan) para mualaf ini tidak tanggung-tanggung ditampilkan. Yahya Waloni, mantan pendeta yang mulutnya penuh ucapan-ucapan kotor dan omong kosong, merasa puas dengan kebodohannya sendiri mengenai salah pahamnya tentang iman Kristen. Yang ada hanyalah bualan-bualan tanpa dasar sama sekali. Tentunya, Waloni cs, menganggap sudah tahu segalanya tentang iman Kristen, terutama soal Kristologi, kian merasakan diri mereka berada di atas angin buatan sendiri.
Berbagai celoteh para mualaf yang terlampau luar biasa, maksudnya luar biasa “ngalor ngidulnya” cukup membuat riuh suasana di Nusantara. Kebebasan berpendapat menjadi tidak terbendung. Padahal, kebebasan berpendapat yang seperti apa yang dijunjung tinggi, menjadi pertanyaan mendasar kita.
Dalam dunia penelitian ilmiah, siapa saja yang menyodorkan gagasan mengenai iman Kristen, itu sah-sah saja, tetapi harus dibarengi dengan ulasan, kajian, kritik, sumber, metodologi, pendekatan, dan hal lain yang dapat menunjang penelitian itu sendiri. Sebaliknya, setiap respons atau sanggahan (apologetis) atas ulasan mengenai iman Kristen, bernatur sama. Hal ini dipandang biasa dalam dunia akademis.
Mengingat ada orang-orang tertentu yang mudah salah paham dengan iman Kristen, maka sedapat mungkin para rohaniwan, pendeta, pastor, pemerhati teologi, haruslah bergerak untuk memberikan respons atau kajian yang mengarahkan siapa saja yang membaca atau melihatnya, mendapatkan pengajaran yang benar tentang iman Kristen yang biblikal. Meresponsnya bukan dengan cara membabi buta, melainkan dengan cara yang akademis, tajam, dan solid. Memberikan respons bukan berarti kita tersinggung, tetapi lebih bersifat mengklarifikasi berbagai bentuk kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen.
Suara-suara kebenaran adalah suara-suara klarifikasi. Mereka yang tergerak berbagi berkat dengan sesama dalam konteks “memberikan respons terhadap kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen”, adalah orang-orang yang berniat untuk berbagi, ketimbang “pelit ilmu”. Daripada ilmu dipendam dan dinikmati sendiri (bermasturbasi teologis), lebih baik berbondong-bondong berbagi berkat melalui tulisan apologetis, klarifikatif, dogmatis, historis, dan logis.
Suasana makin memanas karena isu-isu agama mudah digoreng dengan minyak pelumas. Orang Kristen pun tidak boleh tinggal diam. Ia harus menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk menyatakan kebenaran, ketimbang diam dan merasa puas sendiri. Kita dipanggil untuk berbicara—tentunya dengan berbagai cara—apalagi ditunjang dengan berbagai media sosial yang marak digunakan oleh masyarakat secara luas.
Salah paham iman Kristen akan tetap ada dan terus berkembang. Apakah kita tetap tinggal diam? Mungkin ada yang mengatakan: “Ah, itu tidak penting”, dan saya harus katakan: “WOW GITU?” Sebaiknya potensi yang Tuhan berikan kepada kita, disalurkan untuk memberikan pengarahan, pemahaman, klarifikasi, penjelasan, penerangan, dan konfirmasi mengenai isu-isu iman Kristen yang digoreng sedemikian rupa, apalagi panci dan minyaknya berada di tangan para mualaf yang tidak jujur secara akademis, semisal Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.
Silakan saja mengkritisi iman Kristen, tetapi jangan “asal bunyi” dan “salah paham”. Gunakan akal sehat, dan bukan mulut penuh caci maki; gunakan kajian ilmiah dan bukan “ngalor ngidul disoraki”. Iman Kristen adalah iman yang didasari pada pemahaman bahwa Allah yang mengasihi manusia berdosa, dan Ia menetapkan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan, dibenarkan, dikuduskan, diampuni, dan ditebus. Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Allah saja yang sanggup melakukannya, dan Yesus Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang begitu besar, yang menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Itulah inti iman Kristen.
Lihatlah pada Allah yang mengasihi manusia; lihatlah pada Allah yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus manusia; lihatlah pada Allah yang peduli dengan moralitas umat-Nya; lihatlah pada Allah yang mengarahkan manusia untuk hidup kudus. Ketika ada Allah yang telah berbuat demikian, maka ikutilah Dia. Dan Kristen telah melihat semuanya itu. Allah yang penuh kasih, mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (yaitu Yesus Kristus), tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Yang tidak paham secara utuh soal iman Kristen, tidak perlu kebakaran jenggot, apalagi mewartakan “salah paham” Yesus Kristus. Yahya Waloni dan lainnya boleh saja mengkritik iman Kristen, asalkan dengan cara-cara akademis, bukan dengan cara memaki, menyebarkan kebohongan dan memalsukan dokumen historis.
Tuhan kiranya memberkati pelayanan kita di segala bidang kehidupan. Dan wartakanlah kebenaran Alkitab selagi masih ada kesempatan.
Selamat berpikir, dan selamat beragama secara dewasa.
Sebuah fakta yang menarik sekaligus mengerutkan kening terkait dengan pernyataan Gerung bahwa “Kitab Suci” adalah fiksi. Ini menarik karena sang penutur adalah seorang pembelajar filsafat. Ketika bermain di dunia filsafat, sandi diksi atau penggunaan term-term sesuai dengan dunianya, sehingga para pendengar harus perlu memahami apa makna di balik pernyataan Gerung tersebut.
Tetapi, term-term tertentu dalam dunia filsafat yang masuk ke dalam dunia agama, kadang memiliki similaritas dan kadang sebaliknya, memunculkan disimilaritas konteks. Gerung adalah seorang pengamat politik. Pernyataannya yang berani, diungkapkan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa, 10 April 2018. Menurutnya, kata “fiksi” dianggap negatif karena dibebani kehobongan, sehingga fiksi itu selalu dimaknai sebagai kehobongan.
Karena Gerung menyebut bahwa Kitab Suci adalah fiksi—entah Kitab Suci agama mana yang dia maksudkan—yang pasti hanya Gerung yang tahu. Jika demikian, gagasan Gerung sangat “liar” dan tidak terkonteks. Pada kasus ini, Gerung ceroboh. Penggunaan diksi dalam dunia filsafat dimungkinkan dan bersifat bebas—tetapi harus memiliki definisi, konteks, dan klasifikasi. Meski di atas Gerung telah memberikan definisi, tetapi definisi tersebut tak mampu mengakomodasi Kitab Suci sebab frasa “Kitab Suci” merujuk kepada pluralitas kitab-kitab dari agama-agama dan yang pasti berbeda pula.
Definisi, konteks, dan klasifikasi adalah substansi dari filsafat logika. Saya akan menguji pernyataan Gerung berdasarkan tiga substansi filsafat logika. Kita lihat dulu beberapa pernyataan Gerung berikut ini. Menurutnya,
Kitab Suci adalah fiksi. Untuk memperkuat pernyataannya, Gerung membuat definisi fiksi secara berlawanan dengan definisi pada umumnya. Menurut Gerung, “Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah “fiction”, dan itu berbeda dengan “fiktif”. Telos sendiri dalam bahasa Yunani berarti “akhir”, “tujuan”, atau “sasaran.” Contoh yang diusungnya adalah Mahabharata. Menurutnya, Mahabharata adalah fiksi, tapi itu bukan fiktif. Fiksi itu kreatif. Sama seperti orang beragama yang terus kreatif dan ia menunggu telosnya. Gerung menambahkan, “dalam agama, fiksi adalah energi untuk meng ydaktifkan imajinasi. Gerung mendefinisikan fiksi sebagai “narasi yang bersifat imajiner”—mengarah ke masa depan hingga para pembaca bisa berimajinasi tentang hal itu (keterangan ini diambil salah satu sumber).
Sampai di sini, saya memahami ketika Gerung mendefinisikan fiksi sebagai sebuah “narasi” dan berbeda dari fiktif. Tetapi, Gerung menciptakan definisi sendiri yang tak lazim, sebab narasi bisa bersifat fiksi tetapi fiksi tak selalu bersifat narasi, karena ketika Gerung merujuk ke Kitab Suci yang menurutnya adalah sebuah fiksi, Gerung sendiri tidak memahami kajian mendalam soal latar belakang setiap kitab dalam Kitab Suci (jika dalam Kitab Suci terdiri dari kitab-kitab). Kegagalan pendefinisian yang dilakukan Gerung, menjadikan dirinya gegabah dan terlalu dini bermasturbasi dengan menggunakan diksi yang tak lazim (soal pendefinisiannya). Bisa saja definisi fiksi diterima berdasarkan dunia filsafat yang mana Gerung berdiam di dalamnya. Tetapi, ketika diksi tersebut digulingkan ke dunia agama, Gerung harusnya berpikir dua kali untuk merumuskan gagasan yang tidak lebih dari fiktif belaka.
Untuk memperkuat gagasannya, Gerung menyodorkan sebuah contoh (contoh berikut, saya dikutip dari salah satu sumber). Gerung bertutur mengenai keindahan surga sebagai contohnya. Menurutnya, keindahan surga diperuntukkan oleh orang yang beramal baik, kita belum mengalami dan merasakan tapi kita bisa membayangkan seperti apa keindahan surga. Sah-sah saja contoh yang disodorkan Gerung, tetapi ada beberapa kesalahan dalam kalimat tersebut: Pertama, “keindahan surga diperuntukkan oleh orang yang beramal baik”. Berdasakan klausa ini, tampak bahwa Gerung tak mengerti tentang keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Masuk surga tidak hanya berbicara amal baik—kecuali jika yang Gerung maksudkan adalah salah satu agama yang memang doktrinnya hanya menetapkan bahwa masuk surga hanyalah mereka yang beramal baik—tetapi hanya Gerunglah yang tahu agama mana yang dia maksudkan. Kedua, “kita belum mengalami dan merasakan tapi kita bisa membayangkan seperti apa keindahan surga”. Bagaimana bisa membayangkan keindahan surga jika Kitab Sucinya adalah fiksi? Apa yang mau dibayangkan, seolah-olah manusia bisa berimajinasi tentang surga sesuai dengan keinginannya? Bukankah Gerung sedang memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk membayangkan keindahan surga? Bagaimana jika yang dibayangkan adalah mengenai seks di surga, atau kenikmatan makan minum? Ini semakin menjurus kepada kondisi fiksi logika yang liar.
Dari pernyataan Gerung, tampak bahwa filsafat yang diusungnya adalah filsafat fiksi—di mana Gerung menciptakan narasi yang dia sendiri sedang berimajinasi dengan fiksinya sendiri. Mungkin Gerung baru bangun dari tidurnya dan belum tersadar dari fiksi imajinernya. Gerung sedang berimajinasi tentang masa depan hingga ia bisa berimajinasi tentang Kitab Suci adalah fiksi dan keindahan surga yang dapat dibayangkan sendiri sesuai keinginannya karena tidak ada dukungan dokumentasi dan historisitasnya. Gerung hanya bisa “berargumentasi” tanpa didukung oleh dokumentasi dan historisitas dari konteks-konteks yang dia rujuk.
Berikut ini adalah ukuran untuk mengukur gagasan Gerung melalui tiga substansi Filsafat Logika. Filsafat Logika adalah sebuah tatanan pemikiran tentang cara berpikir, cara menggunakan term-term (diksi-diksi), cara berargumentasi, dan cara melihat konteks-konteks yang mengikat dari sebuah fakta yang hendak dikaji. Di samping itu, Filsafat Logika adalah sebuah metodologi untuk menemukan berbagai hal—entah menyimpang atau tidak, entah sesuai fakta kebenaran atau hanya bersifat fiksi (khayalan), dan beragama makna dari sebuah narasi faktual baik yang bersifat sinkronis maupun diakronis.
Filsafat Logika berbicara mengenai bagaimana mengukur sesuatu berdasarkan tiga substansinya yakni: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi. Berikut ini adalah deskripsi singkat mengenai tiga substansi Filsafat Logika untuk mengukur gagasan Gerung
TERDEFINISI
Ada beberapa tulisan yang telah saya baca sebagai sanggahan terhadap gagasan Gerung mengenai hal ini—termasuk soal definisi dari kata “fiksi”. Dari kamus yang mereka kutip, secara definisi fiksi diartikan sebagai cerita rekaan, khayalan, pernyataan yang hanya berdasarkan khayalaun atau pikiran, tidak berdasarkan kenyataan. Dari penjelasan definisi fiksi versi Gerung, tampak ada disparitas dan Gerung sendiri menciptkan demarkasi makna yang tak lazim. Apakah ini hanyalah akal-akalan Gerung untuk melakukan “self-defense mechanism” atau tidak, hanya Gerung yang tahu.
Jika kita mengacu pada definisi umum tentang fiksi, maka gagasan Gerung perlu disingkirkan alias gugur dalam kategori “terdefinisi”. Entah gagasan filsafat apa yang menjadi landasannya sehingga definisi umum bisa berubah menjadi definisi pribadi. Atau bisa saja, kamus yang digunakan Gerung berbeda dengan kamus pada umumnya. Atau barangkali, filsafat yang dipelajar Gerung adalah filsafat yang eksklusif yang dapat menciptakan definisi secara mandiri. Meski demikian, adalah tak wajar bagi Gerung untuk menyatakan bahwa Kitab Suci adalah fiksi berdasarkan definisi yang tak lazim, karena mereka yang percaya kepada Kitab Suci memiliki definisi tersendiri yang bertolak belakang dengan definisi Gerung. Sebaiknya Gerung membuat kitab sucinya sendiri yang diberi nama “Kitab Suci Fiksi” sebagai tandingannya.
TERKONTEKS
Untuk subtansi ini, Gerung menyinggung beberap konteks. Tetapi, konteks-konteks tersebut tidak dapat mengakomodasi konteks Kitab Suci secara komprehensif. Di sini Gerung sedang melakukan jukstaposisi fiksi dari pikirannya yang tak memiliki dasar apa pun yang kredibel dan solid. Ini saya sebut dengan filsafat fiksi versi Gerung yang menciptakan diksi fiksi sesuai dengan keinginannya. Sekali lagi, konteks-konteks yang diusung Gerung, tidak dapat mengakomodasi kitab-kitab dalam Kitab Suci agama-agama karena satu atau dua konteks bukanlah ukuran untuk menjadikan Kitab Suci itu fiksi.
TERKLASIFIKASI
Dari definisi fiksi yang disebutkan Gerung, saya mencatat ada beberapa klasifikasi makna diksi fiksi itu: pertama, fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos; kedua, itu sifatnya fiksi; ketiga, itu baik; keempat, fiksi adalah “fiction”, dan itu berbeda dengan “fiktif”. Klasifikasi makna yang disebutkan Gerung memang berbeda dengan makna pada umumnya. Itu sebabnya saya katakan bahwa Gerung menciptakan definisi yang tak lazim (sebagaimana saya jumpai dari beberapa tulisan yang mengulas soal definisi fiksi). Memang setiap narasi memiliki telosnya masing-masing sesuai konteks. Tetapi setiap telos harus terkonteks dan terklasifikasi. Klausa “fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos” yang digagas Gerung tidak dapat mengakomodasi setiap telos dalam narasi Kitab Suci. Gerung gagal dalam melihat secara komprehensif dari natur Kitab Suci.
Dari klasifikasi makna ala Gerung, maka dalam konteks subtansi “terklasifikasi”, gagasan Gerung gugur. Kegagalan Gerung adalah menggunakan frasa “Kitab Suci” di mana frasa tersebut sangatlah luas sekali. Jumlah kitab-kitabnya sangat banyak dalam satu Kitab Suci. Bagaimana seorang pakar filsafat lalu bermasturbasi dengan istilah fiksi yang salah tempat dengan merujuk pada frasa “Kitab Suci” yang sangat luas? Saya kira, Gerung perlu merenung sejenak dan belajar menggunakan kata, frasa, klausa, kalimat, dan perikop untuk menetapkan definisi, konteks, dan klasifikasi atas setiap gagasan yang memuat kata, frasa, klausa, kalimat, dan perikop.
KESIMPULAN
Pertama, pernyataan Gerung bahwa “Kitab Suci” adalah fiksi, bukanlah sebuah gagasan yang pada tempatnya. Gerung keliru dalam menempatkan diksi dan makna diksi kepada objek yang dituju yaitu Kitab Suci. Frasa Kitab Suci sangat luas, sehingga gagasan fiksi yang dilekatkan pada Kitab Suci sangatlah prematur dan hanya merupakan fiksi ala Gerung. Gerung menikmati definisi fiksi dengan fiksinya sendiri berdasarkan filsafat fiksi.
Kedua, ketika bermain di dunia filsafat, sandi diksi atau penggunaan term-term harus sesuai dengan dunianya, sehingga pernyataan Gerung tersebut perlu ditolak karena diksi dunia agama lain dengan definisi fiksi yang dimaksud Gerung.
Ketiga, gagasan Gerung sangat “liar” dan tidak terkonteks (karena hanya menyebutkan Kitab Suci dan bukan salah satu narasi Kitab Suci). Penggunaan diksi dalam dunia filsafat dimungkinkan dan bersifat bebas—tetapi harus memiliki definisi, konteks, dan klasifikasi. Meski Gerung telah memberikan definisi, tetapi definisi tersebut tak mampu mengakomodasi Kitab Suci sebab frasa “Kitab Suci” merujuk kepada pluralitas kitab-kitab dari agama-agama dan yang pasti berbeda pula.
Keempat, klausa “dalam agama, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi” bersifat prematur karena ia menggeneralisasi semua agama. Gerung mendefinisikan fiksi sebagai “narasi yang bersifat imajiner”—mengarah ke masa depan, merupakan kesimpulan yang tidak solid.
Kelima, Gerung menciptakan definisi sendiri yang tak lazim, sebab narasi bisa bersifat fiksi tetapi fiksi tak selalu bersifat narasi, karena ketika Gerung merujuk ke Kitab Suci yang menurutnya adalah sebuah fiksi, Gerung sendiri tidak memahami kajian mendalam soal latar belakang setiap kitab dalam Kitab Suci (jika dalam Kitab Suci terdiri dari kitab-kitab). Kegagalan pendefinisian yang dilakukan Gerung, menjadikan dirinya gegabah dan terlalu dini bermasturbasi dengan menggunakan diksi yang tak lazim (soal pendefinisiannya).
Keenam, filsafat yang diusung Gerung adalah filsafat fiksi—di mana Gerung menciptakan narasi yang dia sendiri sedang berimajinasi dengan fiksinya sendiri. Gerung hanya bisa “berargumentasi” tanpa didukung oleh dokumentasi dan historisitas dari konteks-konteks yang dia rujuk.
Ketujuh, dalam kategori TERDEFINISI, penjelasan definisi fiksi versi Gerung, tampak ada disparitas dan Gerung sendiri menciptkan demarkasi makna yang tak lazim dan sebaiknya hanya Gerung yang layak menggunakan definisi tersebut dan bukan kaum beragama yang Kitab Sucinya dikatakan fiksi
Kedelapan, dalam kategori TERKONTEKS, konteks-konteks yang disebut Gerung tidak dapat mengakomodasi konteks Kitab Suci secara komprehensif. Gerung melakukan jukstaposisi fiksi dari pikirannya yang tak memiliki dasar apa pun yang kredibel dan solid. Inilah filsafat fiksi versi Gerung. Satu atau dua konteks yang disebutkan Gerung bukanlah ukuran untuk menjadikan Kitab Suci itu fiksi.
Kesembilan, dalam kategori TERKLASIFIKASI, klasifikasi makna yang disebutkan Gerung memang berbeda dengan makna pada umumnya. Gerung menciptakan definisi yang tak lazim. Kegagalan Gerung adalah menggunakan frasa “Kitab Suci” yang tidak terklasifikasi menjadikan Gerung sebagai seorang imajiner yang ingin menularkan gagasan fiksi ke dalam konteks yang begitu luas yang termaktub dalam Kitab Suci.
Ngomong-ngomong, Kitab Suci siapa yang dimaksudkan Gerung? Hanya Gerung yang tahu. Itulah filsafat fiksi: hanya sang penutur yang tahu. Karena gagasan Gerung sangat tidak terkonteks, tidak terdefinisi, dan tidak terklasifikasi soal Kitab Suci, maka siapa pun berhak menyatakan responsnya sebagai orang yang ber-Kitab Suci; dan saya adalah salah satunya.
Sumber rujukan:
Endah Lismartini, “Rocky Gerung: Kitab Suci adalah Fiksi”, dalam VIVA.co.id, 11 April 2018
Martomo Wahyudianto, “Fiksi Disejajarkan dengan Wahyu Allah (Firman Allah)? Sebuah Apologtika Singkat, Batam 14 April 2018
Hanny Setiawan, “Kitab Suci adalah Fiksi, Narasi Politis Rocky Gerung, dalam BeritaMujizat.co, 11 April 2018
Artikel ini pernah saya posting di Facebook beberapa tahun yang lalu.
“Yesus yang bangkit tanda bahwa semua hinaan, caci maki, dan kematian-Nya (yang dianggap sebagai kekalahan Yesus–di mana Ia tidak melakukan perlawanan), luntur seketika, maut tak berkutik. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian-Nya adalah awal terbitnya pengharapan iman. Kebangkitan Yesus sebagai fakta bahwa maut bukanlah hal yang menakutkan bagi para pengikut-Nya, melainkan awal dari kehidupan yang penuh kebahagiaan.”
PENDAHULUAN
Kebangkitan Yesus tidak dapat dipisahkan dari kematian-Nya di kayu salib. Teologi Kristen menempatkan kematian dan kebangkitan sebagai dua peristiwa yang utuh dan menunjukkan bahwa keduanya adalah fakta sejarah. Islam yang menolak kematian Yesus bukanlah sebuah opini yang perlu ditakutkan. Kita paham saja, bahwa memang Islam tidak memahami teologi Kristen secara utuh dan kita maklumi saja, teologi Islam bukanlah teologi yang mandiri melainkan teologi yang memiliki banyak penyimpangan ketika ia hendak memahami teologi Kristen dan Yudaisme.
Fakta sejarah tak dapat dilindas hanya dengan bermodalkan “wahyu” dari Allah yang isinya justu menabrak wahyu yang lainnya. Kita tahu bahwa ketidakdewasaan beriman, membawa Islam kepada pemikiran yang sama sekali tidak historis: menolak penyaliban tetapi menerima kenaikan Yesus ke surga, di mana peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga, juga merupakan peristiwa yang tak dapat dipisahkan dari kematian dan kebangkitan Yesus. Apa hendak dikata? Proses berteologi yang tidak sehat ini telah menciptakan jurang pemisah yang mungkin tak terjembatani—kecuali bagi mereka yang sadar diri bahwa penyaliban adalah fakta historis—dan berakibat rusaknya tatanan relasi antar agama dan sering berujung pada sentimen anarkis atas nama agama. Intinya, penolakan mayoritas Islam terhadap penyaliban bukan soal historisitas tetapi lebih bersifat menjaga kewibawaan quran. Kita tahu bahwa penolakan quran terhadap penyaliban bukanlah didasari pada “saksi mata penyaliban” tetapi pada konsep ketimpangan pemahaman teologi Kristen—di mana Muhammad sendiri tidak secara utuh menerima asupan teologi yang sehat; ia mendapatkan asupan teologi dari Kristen bidat.
Tapi sudahlah. Kristen tidak perlu ambil pusing dengan teologi yang menolak peristiwa historis hanya demi kebahagiaan dan kebanggaan semu. Fakta sejarah adalah tetap sebuah fakta. Untuk meneguhkan hal ini, saya hendak menyebutkan teks penyaliban dalam Injil-Injil sebagai bukti bahwa para saksi mata penyaliban itu sendiri. Matius 27:32-61; Markus 15:33-47; Lukas 23:44-55; dan Yohanes 19:28-42, secara sepakat mencatat peristiwa penyaliban dan kematian Yesus hingga proses penguburan-Nya. Untuk membuktikan fakta historis, setidaknya setiap suguhan data mencakup: dokumentasi, argumentasi, dan fakta yang didokumentasikan dan diargumentasikan. Teologi Islam tentang negasi penyaliban tidak memenuhi satu pun dari cakupan tersebut.
Terkait dengan keterangan teks penyaliban, John Walvoord menjelaskan, “catatan Alkitab mengenai kematian Kristus merupakan penyajian yang lengkap baik dari segi nubuatan maupun sejarah. Banyak nas dalam Perjanjian Lama dan Injil meramalkan kematian Kristus, seperti Mazmur 22, Yesaya 53, Markus 8:31, Lukas 9:22 dan ayat-ayat serupa.” Menurutnya, “seluruh Injil dan seluruh surat-surat Kiriman memberikan pernyataan atau menerima fakta kematian-Nya” (John F. Walvoord, Yesus Kristus Tuhan Kita [Surabaya: Yakin, tth.], 142).
KEMATIAN YESUS: TIDAK ADA SAKSI MATA DARI PARA MURID?
Jika penyaliban Yesus menurut PB ditafsirkan kaum liberal dan Islam bahwa Yesus tidak mati dengan alasan-alasan eksegetis terhadap tulisan-tulisan Injil-Injil PB, bahwa tidak ada saksi mata penyaliban berdasarkan catatan Markus 14:50 disebutkan, “semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”, akan tetapi, kisah tersebut tidak berhenti sampai di situ, karena dalam ayat 54 dikatakan:
“Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh, sampai ke dalam halaman Imam besar….”
Jika menganggap bahwa orang Kristen salah menafsirkannya (tentang penyaliban Yesus), pertanyaannya adalah: bagaimana mungkin murid-murid (Rasul Yohanes, Petrus, dan lainnya) Yesus yang dianggap “tidak” menyaksikan kisah penyaliban, dapat menuliskan bahwa Yesus telah mati untuk menebus manusia, memberikan kehidupan kekal, mendamaikan manusia berdosa dengan Allah yang suci dan kudus, dan dengan darahnya Ia telah memberikan penebusan? Bukanlah lebih masuk akal jika orang Kristen menerima informasi dari para murid yang melihat Guru mereka ditangkap dan disalibkan, ketimbang mempercayai informasi yang tidak jelas mengenai penyaliban Yesus?
Berikut daftar saksi mata penyaliban, termasuk para murid:
“Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu” (Luk. 23:49)
“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya [Rasul Yohanes] berada di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya’” (Yoh. 19:26-27).
Perhatikan keterangan Lukas 23:49. Dikatakan bahwa “semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan…” adalah keterangan yang multi tafsir. Setidaknya, kita dapat memahami bahwa frasa “semua orang yang mengenal Yesus dari dekat” juga berarti murid-murid Yesus atau orang-orang lain yang mengikut Yesus selama Ia melayani. Namun, menurut saya, frasa tersebut lebih kuat acuannya kepada murid-murid Yesus sebagaimana terbukti dari tulisan-tulisan dan kesaksian-kesaksian mereka sendiri mengenai kematian dan dampak kematian Yesus Kristus:
Kisah Para Rasul 2:29-32, “…Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi”;
Kisah Para Rasul 3:12-15, “… Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu. Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi”;
Kisah Para Rasul 5:29-32, “… Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia”;
Kisah Para Rasul 10:39-43, “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati….”
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Ptr. 1:3).
Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah (1 Ptr. 1:21)
Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh (1 Ptr. 3:18)
1 Yohanes 1:1-4, “…. Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus….”
1 Yohanes 2:2, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (bdk 1 Yoh. 3:16; 4:10)
Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya (Why. 1:5)
Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut (Why. 1:17-18).
KEMATIAN YESUS: PENEBUSAN DOSA DISELESAIKAN
Kematian Yesus dikaitkan dengan penebusan sebagaimana persembahan kurban-kurban dalam PL mengindikasikan adanya penebusan yang dikerjakan Allah Bapa. Jaminan penebusan yang dikerjakan Yesus memberikan implikasi bagi penebusan yang sempurna dan hak untuk didengar—segala permintaan kita—oleh Bapa di surga. Charles Hodge, sebagaimana dikutip oleh James Boice, menyatakan bahwa,
Kita diterangi dalam pengetahuan akan kebenaran; kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya yang berkorban; dan kita dibebaskan dari kuasa Iblis dan dimasukkan ke dalam kerajaan Allah; semuanya ini memiliki dasar pandangan bahwa bagi kita Penebus kita adalah sekaligus Nabi, Imam, dan Raja. Oleh karena itu, ini bukan hanya sebuah klasifikasi yang mudah dari isi misi dan karya-Nya, tetapi masuk ke dalam natur dari misi dan karya tersebut, dan harus dipertahankan dalam teologi kita jika kita ingin menerima kebenaran sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah (Charles Hodge, Systematic Theology, II, [London: James Clarke & Co., 1960], 461. Dikutip oleh James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen, terj. Lanna Wahyuni [Surabaya: Momentum, 2011], 334).
Dua pernyataan di atas terkait dengan tujuan kematian Yesus disalib, didasari pada maksud dan rencana Allah untuk menebus dengan ‘cara-Nya sendiri’ karena manusia telah jatuh dalam dosa dan natur keberdosaan manusia harus ditebus oleh sesuatu yang ditentukan Allah. Allah berdaulat penuh dalam proses penebusan manusia dari dosa-dosa. Menurut Profesor Gerald Bray, “Jesus did not sin, but on the cross he became sin for us (2 Cor. 5:21; Gal. 3:13)” (Gerald Bray, God Is Love: A Biblical and Systematic Theology [Wheaten Illinois: Crossway, 2012], 585).
Yesus jelas tidak mati karena dosa-dosa-Nya. Alkitab menegaskan bahwa Ia tidak berdosa. Yang tidak berdosa layak untuk mengampuni orang berdosa. Bray menegaskan, “He was not put to death for anything he had done wrong, but for the sins of those for whom he died (1 Pet. 3:18). His sinlessness exempted him from death and therefore made him suitable to be a sacrifice for the sins of others (Heb. 10:11-14)” (Bray, God Is Love, 586). Bray menambahkan pula bahwa,
Jesus bore the punishment for our sins, took our place on the cross, and paid the price for us by his suffering and death. If he had not died for us, we would have had to die for our own sins, and would have been destroyed by their unbearable weight. Instead, we have been forgiven and promised that, just as Jesus was raised from the dead, we shall be raised with him to share in his eternal glory (Rom. 6:4-11) (Bray, God Is Love, 587).
Alkitab secara tegas menyebutkan dan menetapkan fakta bahwa Yesus benar-benar menanggung hukuman atas dosa-dosa manusia. Melalui salib, ia membayar harga. Melalui penderitaan dan kematian-Nya, orang yang percaya kepada-Nya disadarkan bahwa harga untuk penebusan dosa-dosa mereka sangat mahal. Sebaliknya, kita telah diampuni dan bahkan dijanjikan bahwa, sama seperti Yesus telah dibangkitkan dari antara orang mati, kita akan dibangkitkan bersama-sama dengan Dia.
Elaborasi Profesor Robert L. Reymond berikut ini, saya kutip untuk melihat secara sistematis tentang kematian Yesus secara eksegetis yang mencakup: (1) The Body of Christ; (2) The Blood of Christ; (3) The Cross of Christ; (4) The Death of Christ. Ini menarik sekali, sebab elaborasi mendalam yang diamati Reymond memberikan gambaran yang sangat tajam dan sistematis mengenai karya Yesus di kayu salib (Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith [Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1998], 624-25).
PB menegaskan dampak atau pencapaian yang dihasilkan dari “tubuh” Kristus terkait penyaliban (kematian-Nya). Reymond menjelaskan:
Romans 7:4, Christian “died [ἐθανατώθητε, ethanatōthēte] to the law through the body of Christ.”
Colossians 1:22, God “reconciled [ἀποκατήλλαξεν, apokatēllaxen] you by the body of [Christ’s] flesh through death to present you holy and umblemished and blameless in his sight.”
Hebrews 10:10, Christians “have been made holy [ἡγιασμένοι, hēgiasmenoi] through the offering of the body of Jesus Christ once for all.”
1 Peter 2:24, Jesus “bore [ἀνήνεγκεν, anēnenken] our sins in his body on the tree, in order that we might die to sins and live for righteousness—by whose wounds you have been healed [ιαθητε, iathēte].”
PB menegaskan dampak atau pencapaian yang dihasilkan dari “darah” Kristus terkait penyaliban (kematian-Nya). Reymond menjelaskan:
Acts 20:28, God “acquired [περιεποιήσατο, periepoiēsato], [the church] through his own blood” (or “through the blood of his own [Son].”
Romans 3:25: God “publicly set Christ forth [προέθετο, proetheto] as a propitiation [ιλαστηριον, hilastērion], through faith in his blood, to demonstrate his justice because of the passing over of sins committed beforehand in God’s forebearenca.” (see also Heb. 2:17; 1 John 2:2; 4:10)
Romans 5:9, Christians “have been justified [δικαιωθέντες, dikaiōthentes, that is, pardoned and constituted righteous] by his blood.”
Ephesians 1:7, Christians “have redemption [ἀπολύτρωσιν, apolytrōsin] through his blood, the forgiveness of trespasses.”
Ephesians 2:12-13, Gentile Christians “who once were far away have been brought near [ἐγενήθητε ἐγγὺς, egenēthēte engys] [to Christ, to citizenship in Israel, to the benefits of the covenants of the promise, to hope, and to God himself] by the blood of Christ.”
Colossians 1:20, God was pleased through Christ “to reconcile [ἀποκαταλλάξαι, apokatallaxai] all things to himself, having made peace [ειρηνοποιησας, eirenopoiēsas] through the blood of his cross.”
Hebrews 9:12, Christ “entered the Most Holy Place once for all through his own blood, having obtained [εὑράμενος, heuramenos] eternal redemption [λυτρωσιν, lytrōsin].”
Hebrews 9:14, The blood of Christ “will cleanse [καθαριεῖ, kathariei] our consciences from acts that lead to death, so that we may serve the living God.”
1 Peter 1:2, 18-19, God’s elect were chosen “for sprinkling by the blood of Jesus Christ,” which figure portrays Christ’s death as a sacrificial death in fulfillment of the Old Testament typical system of sacrifice in which the blood of bulls and goats was ceremonially sprinkled on the persons and objects to be cleansed. Furthermore, it is by his “precious blood” that the believers “were redeemed [ἐλυτρώθητε, elytrōthēte]” from their former empty way of life.
1 John 1:7, “The blood of Jesus, his Son, cleanses [καθαρίζει, katharizei] us from all sin.”
Revelation 1:5, Christ “loved us and freed [λύσαντι, lysanti] us from our sins by his blood.”
Revelation 5:9-10, Christ “purchased [ἠγόρασας, egorasas] for God by his blood men from every tribe and language and people and nation, and made [εποιησας, epoiēsas] them for God a kingdom and priests, and they will reign on the earth.”
Rasul Paulus menyatakan tentang pencapaian salib melalui kurban Yesus Kristus. Reymond menjelaskan:
Ephesians 2:16: God “has reconciled [ἀποκαταλλάξῃ, apokatallaxe] both [Jews an Gentiles] in one body to God through the cross, having put to death [αποκτεινας, apokteinas] [God’s] enmity by [or “on”] it.”
Colossians 1:20: Christ “made peace [εἰρηνοποιήσας, eirēnopoiēsas] through the blood of his cross.”
Colossians 2:14-15: God “canceled [ἐξαλείψας, exaleipsas] the written code, with its regulations, that was against us and stood opposed to us; he took it out of the way [ἦρκεν ἐκ τοῦ μέσου, ērken ek tou mesou], nailing it fast to the cross. Having disarmed [ἀπεκδυσάμενος, apekdysamenos] the rulers and authorities, he exposed [them] publicly [ἐδειγμάτισεν ἐν παρρησίᾳ, edeigmatisen en parrēsia], triumphing [θριαμβεύσας, thriambeusas] over them by it.”
PB menegaskan dampak atau pencapaian yang dihasilkan dari “kematian” Kristus di salib. Reymond menjelaskan:
Roma 5:10: “When we were enemies, we were reconciled [κατηλλάγημεν, katēllagēmen] to God through the death of his Son.”
Kolose 1:21-22: “Once you were alienated and enemies in your minds as shown by evil works, but now God has reconciled [ἀποκατήλλαξεν, apokatēllaxen] you … through [Christ’s] death, to present you holy and unblemished and blameless in his sight.”
Ibrani 2:9-10: “We see Jesus, through the suffering of death, being crowned with glory and honor, so that by the grace of God in behalf of all the might taste death. For it was fitting for [God] … in bringing many sons to glory to perfect the Author of their salvation through suffering.”
Ibrani 2:14: Christ “shared in their humanity in order that through his death he might destroy [καταργήσῃ, katargēsē] the one who has the power of death, that is, the devil, and free [ἀπαλλάξῃ, apallaxē] those who all their lives were held in slavery by their fear of death.”
Ibrani 9:15: “He is the Mediator of a new covenant in order that, by means of death as a ransom to set them free [εἰς ἀπολύτρωσιν, eis apolytrōsin] from the trespasses under the first covenant, the ones who have been called might receive the promise of the eternal inheritance.”
KEBANGKITAN YESUS, KONFIRMASI KEMATIAN-NYA: MAUT DIKALAHKAN, TERBITLAH PENGHARAPAN IMAN
Rasul Paulus secara tegas menyatakan tentang kemenangan Yesus atas maut. Dalam 1 Korintus 15:54-57 dinyatakan,
Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Kita melihat bahwa betapa teologi salib: “kematian dan kebangkitan” adalah peristiwa historis yang membawa kemenangan dan harapan iman dari para pengikut Yesus sepanjang sejarah. Kebangkitan Yesus adalah sebuah “KONFIRMASI” kematian Yesus. Dengan segera, orang Kristen yang percaya akan kebangkitan Yesus Kristus tahu bahwa peristiwa kebangkitan tersebut didasari pada kematian Yesus di salib. Jika mengatakan bahwa ada orang yang bangkit dari kematian, maka seseorang tersebut dipastikan telah mati secara sungguh-sungguh. Dalam konteks ini pula, kebangkitan Yesus telah menjadi pokok utama atas peristiwa yang mendahuluinya: penyaliban dankematian di kayu salib. Untuk membuktikan kebangkitan Yesus, perlu menegaskan bahwa Ia benar-benar mati.
J. Knox Chamblin menegaskan, “signifikansi peristiwa yang satu [kebangkitan] hanya bisa dipahami dalam keterkaitan dengan peristiwa lainnya [kematian Yesus di salib]. Kedua peristiwa ini penting untuk mencapai tujuan penyelamatan Allah” (J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi [Surabaya: Momentum, 2011], 77).
“I confess the Cross, because I know of the Resurrection”, demikian pernyataan St. Cyril of Jerusalem (St. Cyril of Jerusalem, The Catechetical Lectures, 13:4, in A Select Library of the Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Chruch, 2d series, vol. 7 [Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1978], p. 83, dikutip oleh Vigen Guroian, The Melody of Faith: Theology in an Orthodox Key (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2010), 94).
Yang lebih menarik lagi, Vigen Guroian menjelaskan, “the Crucifixion could not possibly have led to the demise of Jesus Christ, but only to his resurrection. For indeed, the power of the Resurrection is the power of the Cross” (Vigen Guroian, The Melody of Faith: Theology in an Orthodox Key [Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2010], 97). Karena kebangkitanlah yang mempengaruhi kematian Yesus. Dan saya setuju dengan Guroian bahwa “kekuatan Kebangkitan adalah kekuatan Salib.” Guroian menambahkan, “the Crucifixion did not the Resurrection necessary; rather, in order that the Resurrection might come to pass, the Crucifixion had to be. The aim and goal of Christ’s suffering and death is resurrection” (Guroian, The Melody of Faith, 97-98).
Dari penuturan Guroian bahwa agar “kebangkitan mungkin terjadi, penyaliban harus harus terjadi. Maksud dan tujuan dari penderitaan dan kematian Kristus adalah kebangkitan.” Jika kebangkitan tidak terjadi, maka konsekuensinya adalah kematian Yesus di salib tak mungkin terjadi. Inilah yang Paulus tegaskan dalam 1 Koristus 15:12-20:
Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus — padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Fakta bahwa Yesus benar-benar mati di salib, juga dijelaskan oleh para sarjana dan teolog berikut ini. Gordon Thomas menjelaskan argumentasi Dr. Robert Fleming, seorang sarjana kitab suci, bahwa Fleming mendasarkan temuannya (maksudnya dengan mengatakan bahwa Yesus kemungkinan lebih tua pada saat Dia disalib) pada kajiannya mengenai manuskrip-manuskrip Siria yang bertanggal pada saat sensus digelar di Yudea pada tahun 12 sebelum Masehi—dan disimpulkan bahwa itulah zaman ketika Yesus dilahirkan sehingga berumur empat puluh tahun ketika Yesus disalib, seorang laki-laki tua pada zamannya. Fleming sendiri mengemukakan, “Ia [Yesus] mungkin bukanlah pria yang sehat. Dalam ukuran manusia, Yesus sudah berada pada puncak fisiknya. Tak ada implikasi teologis dalam merevisi usia Yesus. Namun, itu membantu menjelaskan mengapa Yesus meninggal dengan begitu cepat.” Thomas menjelaskan, pada tahun 1955, Robert Smalhout, Profesor Anestesiologi di University Hospital, Utrecht, dan juga seorang sarjana kitab suci terkemuka, memberikan pandangan tentang penyaliban Yesus. Menurut Smalhout, “ribuan tahanan perang dan budak dieksekusi dengan cara disalibkan. Setelah kekalahan Spartakus pada tahun 71 sebelum Masehi, hampir 7.000 salib berdiri berjajar di Appian Way. Di setiap salib, tergantung seorang budak pemberontak.” Berangkat dari fakta tersebut, Smalhout mengatakan bahwa “penyaliban itu sangat biasa sehingga para penulis Injil tidak membuang-buang waktu untuk menggambarkan proses itu secara detail. Setiap orang di wilayah Romawi telah mengetahui dengan sangat baik” (Gordon Thomas, The Jesus Conspiracy: Salib yang Tak Terelakkan, terj. Harris Hermansyah Setiajid [Yogyakarta: Kanisius, 2013], 430-41).
Selaras dengan pernyataan Smalhout, Zannoni menilai bahwa, “tradisi Yahudi mengaku bertanggung jawab atas penyaliban Yesus pada malam Paskah karena Ia menyesatkan Israel (Talmud, Sanhedrin 43a). Bagaimana pun juga tidak adil untuk meletakkan semua kesalahan atas kematian Yesus pada pundak orang Yahudi. Ada yang mungkin ikut terlibat dalam tuduhan melawan Yesus. Merupakan kebenaran bahwa pemerintahan Roma yang bertanggung jawab atas eksekusi (Arthur E. Zannoni, , Jesus of the Gospels: Apa Kata Injil tentang Dia [Jakarta: OBOR, 2014], 2-3).
Penegasan lainnya tentang penyaliban, dikemukakan oleh Craig A. Evans, seorang profesor Perjanjian Baru, “Kematian Yesus bukan fiksi. Kematian Yesus adalah realitas sejarah yang suram. Hal itu diketahui oleh orang bukan Kristen, dan merupakan suatu peristiwa yang meruntuhkan semangat para pengikut Yesus—paling tidak pada awalnya—dan masih merupakan aib berkelanjutan ketika gereja memproklamirkan Yesus sebagai Juruselamat dan Putra Allah di seluruh kerajaan Romawi. Tidak dapat diragukan bahwa Yesus dihukum mati (Craig A. Evans, “Teriakan Kematian”, dalam Craig A. Evans & N. T. Wright, Hari-hari Terakhir Yesus: Apa yang Sesungguhnya Terjadi? editor Troy A. Miller, penerjemah Paus S. Hidayat [Jakarta: Literatur Perkantas, 2010], 16).
Berbagai data historis dan pemahaman teologis akan salib Yesus seperti yang telah diuraikan di atas, mengukuhkan bahwa Yesus sungguh-sungguh mati di salib. Dan kejadian spektakuler berikutnya yaitu kebangkitan, merupakan konfirmasi dari kematian Yesus. Berikut adalah ulasan mengenai kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus, dalam perspektif Stanley J. Grenz, membentuk dasar pemahaman Kristen awal tentang identitas Kristus dan kebangkitan adalah pusat dari semua pengajaran apostolik. “The resurrection formed the foundation for the early Christian understanding of the identity of Jesus. The testimony to Jesus’ resurrection was central to all apostoloc preaching” (Stanley J. Grenz, Theology for the Community of God [Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 2000], 259).
Gerald Bray menegaskan, faktanya adalah bahwa ada cukup banyak orang yang mengaku menjadi saksi mata dari kebangkitan Yesus, dan yang siap mempertaruhkan hidup mereka pada kebenaran dari peristiwa yang diceritakan dalam Injil (Bray, God Is Love: A Biblical and Systematic Theology, 594). Dalam pemahaman Gordon Thomas, “kebangkitan itu merupakan pembenaran akan Kristus. Kebangkitan itu menunjukkan kemenangannya atas dosa dan maut. Yesus tidak dibunuh tanpa tujuan, namun Ia menyerahkan hidupnya bagi dunia. Kebangkitan Kristus memberi kita tujuan hidup yang kita butuhkan di bumi ini, memberi jaminan kepada kita bahwa ada tempat lain setelah kehidupan di dunia ini (Gordon Thomas, The Jesus Conspiracy: Salib yang Tak Terelakkan, terj. Harris Hermansyah Setiajid [Yogyakarta: Kanisius, 2013], 420).
Kebangkitan Yesus selalu dikaitkan dengan “tubuh”-Nya. Artinya, kebangkitan Yesus bukanlah sebuah metafora yang direkayasan oleh para murid Yesus. Jika kebangkitan hanyalah sebuah metafora, maka dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk merekonstruksi kembali kisah kematian dan kebangkitan metafora tersebut. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang bertubuh layaknya manusia. Dia tidak berubah menjadi pribadi yang bersifat roh tetapi benar-benar memiliki tubuh (Hal ini secara jelas diungkapkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:42-57). Menurut N. T. Wright, kata “kebangkitan” tidak pernah berarti ‘pengalaman kebahagiaan tanpa tubuh’” (N. T. Wright, “Kejutan Kebangkitan”, dalam Craig A. Evans & N. T. Wright, Hari-hari Terakhir Yesus: Apa yang Sesungguhnya Terjadi? editor Troy A. Miller, penerjemah Paus S. Hidayat [Jakarta: Literatur Perkantas, 2010], 82).
Kebangkitan adalah cara untuk merujuk kepada suatu kehidupan bertubuh secara baru di suatu waktu di balik kematian (Wright, “Kejutan Kebangkitan”, dalam Evans & Wright, Hari-hari Terakhir Yesus, 87). Yesus bangkit tanda bahwa semua hinaan, caci maki, dan kekalahan-Nya yang tanpa perlawanan itu, luntur seketika, tak berkutik. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian-Nya adalah awal terbitnya pengharapan iman. Kebangkitan Yesus sebagai fakta bahwa maut bukanlah hal yang menakutkan bagi para pengikut-Nya, melainkan awal dari kehidupan yang penuh kebahagiaan. Korelasi antara kebangkitan Yesus dengan kebangkitan orang percaya adalah implikasi makna teologis dan merupakan janji-Nya. Luis M. Bermejo menjelaskan hal ini, “Tidak perlu ditekankan lagi bahwa kebangkitan orang Kristen berpola pada kebangkitan Kristus. Apa yang terjadi pada Yesus akan terjadi pada diri kita. Yesus dibangkitkan dengan tubuh-Nya yang sebelumnya tetapi sama sekali diubah, berubah, dan kita juga akan dibangkitkan dalam tubuh yang “penuh Roh Kudus” (1 Kor. 15:44), yang tidak ada kaitan dengan jenazah yang ditempatkan dalam kubur (Bermejo, Luis M., Makam Kosong: Misteri dan Makna Kebangkitan Yesus [Yogyakarta: Kanisius, 2013], 337).
Deskripsi pemahaman dan pemikiran dari para teolog di atas, menjelaskan tentang kematian Yesus dan implikasinya. Di samping itu, penjelasan tersebut mengukukuhkan fakta historis bahwa Yesus benar-benar mati di salib dan pada hari ketiga Ia bangkti dari antara orang mati. Lalu apa kaitannya dengan perspektif Islam? Secara faktual, Islam melompati berbagai peristiwa historis. Boleh saja mereka berpendapat bahwa Yesus tidak mati. Tetapi catatan Injil-Injil menyebutkan bahwa kematian Yesus berakhir pada pemakaman-Nya. Hasilnya adalah “kebangkitan” dan “kenaikan-Nya” ke surga. Tiga peristiwa besar yang dilewati Islam boleh jadi sebagai gambaran bahwa Muhammad hanya mempersingkat data historis bahwa Isa naik ke surga, seperti yang nyata dari teks Qur’an berikut ini, jika dilihat dari kacamata historisitas Injil-Injil PB:
(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan” (QS. 3:55)
Benar, bahwa Isa naik ke surga. Akan tetapi, peristiwa naiknya Isa ke surga bukanlah terjadi pada saat penyaliban tetapi pasca kebangkitan-Nya. Di sini ada yang misinterpretasi historis yang dilakukan Muhammad dan para pengikutnya. Lagipula, range (jarak) waktu antara Muhammad dengan kisah penyaliban sangat jauh dan telah melewati berbagai proses termasuk proses “lisan”. Proses ini tidaklah memadai sebab tradisi lisan harus bercermin pada tradisi tulisan sebagaimana yang diwariskan oleh para penulis Injil-Injil PB. Zanoni berpendapat, Injil Sinoptik menggambarkan peristiwa salib penuh dengan kejadian luar biasa seperti terbelahnya tirai Kenisah, gemba bumi, terbukanya kubur, pengakuan iman kepala prajurit (Zannoni, Jesus of the Gospels, 190).
Ada yang menarik dari peristiwa-peristiwa (tanda-tanda) yang menyertai penyaliban Yesus. Jika menyimak pendapat mayoritas Islam bahwa Yesus digantikan dengan seorang yang lain untuk disalibkan, maka sangat tidak mungkin ada tirai Bait Allah (Kenisah) yang terbelah. Lagipula, orang yang menggantikan Yesus tidak memiliki posisi yang penting atau kuasa, atau otoritas khusus untuk membuat tirai Bait Allah terbelah; apalagi terjadi gempa bumi, kubur terbuka, dan pengakuan iman kepala prajurit. “Allah” yang dibajak oleh Muhammad untuk mengakomodasi penyaliban Yesus sekaligus menyelamatkan Dia dari salib, menghasilkan sisi ketidakmungkinan historis dan peristiwa-peristiwa spektakuler yang menyertai penyaliban tersebut.
Dalam pemahaman saya, indikasi untuk melakukan penyelamatan Isa dari salib oleh Muhammad — sebagai konsekuensi logisnya — adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang menyertai penyaliban tersebut tidak diperhitungkan sebagai bagian dari fakta historis. Fokus Muhammad hanya pada pembelaan seorang pribadi yang bernama Yesus, yang sangat tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang brutal, dengan mengorbankan peristiwa lainnya yang ikut terjadi pada saat penyaliban. Tabrakan persepsi teologis dengan fakta sejarah tidak bisa menjadi “kesenangan akademis” apalagi “kesenangan agamais–quranik”, seolah-olah “Allah” setuju dengan cara-cara seperti itu. Tendensi agamais ikut bermain dalam ranah ini — atau yang penulis sebut dengan paradigma solipsisme: kerangka berpikir yang didasari pada kesimpulan bahwa apa yang dikatakan “Muhammad” pasti benar adanya”, tanpa merujuk dan menyelidiki kesimpulan tersebut secara historis berdasarkan klasifikasi (pembagian) penentuan mana fiktif, mana persepsi teologis, mana persepsi politis, dan mana fakta historis. Dengan begitu, perdebatan ini dapat diakhiri bukan dengan cara “menimbulkan sentimen agamais atau partikularisme” melainkan menempatkannya pada tata cara penyelidikan objektif dari fakta sejarah yang sebenarnya terjadi. Meskipun salah satu di antaranya dinyatakan “salah” atau “keliru” – tetap tidak harus ditolak dengan cara yang tidak etis: menuduh “kafir” atau “Alkitabmu palsu”, atau “Al-Qur’an adalah firman Allah yang sempurna tanpa salah”.
Seperti yang telah penulis ungkapkan di atas, salah satu peristiwa yang dilupakan Islam adalah “kebangkitan” – artinya, untuk meneguhkan argumentasi bahwa Yesus tidak disalibkan, maka Islam harus menambah daftar rujukan pendapat para ahli mengenai “penguburan”, “kebangkitan” dan “penjengukkan mayat” Yesus. Tetapi ada indikasi lainnya bahwa ketika Al-Qur’an “membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil), maka pertanyaannya adalah: apakah ada siginifikansi teologis atau historis dari klaim itu sendiri? Ada teks-teks quranik yang berbicara mengenai “kematian” Yesus secara implisit, namun semuanya dibantah oleh para ilmuan dan teolog Islam untuk mengakomodasi Surat 4:157-158 sebagaimana yang menjadi poros perdebatannya.
Namun, kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa Ia telah mati sebagai manusia. Ia taat sampai mati. Seperti yang Rasul Paulus ungkapkan: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Dalam catatan Injil-Injil PB, peristiwa kebangkitan Yesus dicatat dalam Matius 27:1—28:15; Markus 16:1-8; Lukas 23:56b—24:12; dan Yohanes 20:1-10. Selain dari pada kebangkitan, bukti kuat lainnya adalah penampakkan Yesus pasca kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian Yesus dilihat oleh banyak orang. Tak mungkin Ia pura-pura mati atau pingsan, sebab hukuman cambuk bagi yang akan disalib sangat sadis, juga ketika ditambah dengan proses penyaliban, kehabisan darah adalah konsekuensi logisnya.
Berikut ini adalah analisis dan penelitian Gary R. Habermas & Michael R. Licona tentang kebangkitan Yesus sebagai fakta sejarah sekaligus menggugurkan teori substitusi versi Islam untuk menegasikan kematian Yesus di salib. Habermas dan Licona memulai dengan pemahaman akan kekuatan kesaksian sebagai bukti bahwa sebuah peristiwa itu benar-benar terjadi atau memiliki bobot historisitas yang kredibel. Menurut Habermas dan Licona, para sejarawan memanfaatkan sejumlah prinsip berdasarkan akal sehat untuk menilai bobot sebuah kesaksian. Berikut ini dari antara prinsip-prinsip itu:
Pertama, kesaksian yang diberikan saksi-saksi independen dan ganda biasanya dinilai lebih berbobot daripada kesaksian oleh satu saksi saja.
Kedua, pengukuhan oleh sumber yang netral atau bersifat memusuhi biasanya dinilai lebih berbobot daripada pengukuhan oleh sumber yang bersahabat, sebab tidak ada kecenderungan untuk memihak pada orang atau posisi tertentu.
Ketiga, orang biasanya tidak merekayasa rincian cerita, yang cenderung melemahkan posisi mereka.
Keempat, kesaksian oleh para saksi mata biasanya dinilai lebih berbobot daripada kesaksian yang didengar dari sumber kedua atau ketiga.
Kelima, kesaksian dini dari waktu yang sangat dekat dengan peristiwa yang bersangkutan biasanya dinilai lebih dapat dipercaya daripada kesaksian yang diperoleh bertahun-tahun setelah peristiwa itu (Gary R. Habermas & Michael R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus [Jakarta: Literatur Perkantas, 2013], 40).
Berangkat dari prinsip-prinsip tersebut, Habermas dan Licona menyimpulkan bahwa, “Hampir-hampir ada suatu konsensus di antara para pakar yang meneliti kebangkitan Yesus, yakni: setelah kematian Yesus di salib, para murid-Nya benar-benar percaya bahwa ia menampakkan diri-Nya kepada mereka sebagai yang bangkit dari antara orang mati. Kesimpulan ini dicapai dengan data yang menginsyaratkan: (1) para murid sendiri mengklaim bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada mereka, dan (2) setelah kematian Yesus di salib, murid-murid-Nya diubah secara radikal. Orang-orang yang penakut dan pengecut, yang menyangkal dan meninggalkan Dia pada saat penangkapan dan eksekusi-Nya diubah menjadi orang-orang yang berani memberitakan Injil tentang Tuhan yang bangkit. Mereka tetap teguh menghadapi pemenjaraan, penyiksaan, dan kematian sebagai martir. Sangatlah jelas, mereka sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati (Habermas & Licona, The Case for the Resurrection of Jesus, 43).
BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN
Pertama, kebangkitan Yesus adalah konfirmasi bahwa Ia benar-benar mati disalibkan.
Kedua, fakta penyaliban memiliki dukungan dokumentasi, argumentasi, dan fakta yang didokumentasikan dan diargumentasikan.
Ketiga, Yesus bangkit tanda bahwa semua hinaan, caci maki, dan kekalahan-Nya yang tanpa perlawanan itu, luntur seketika, tak berkutik. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian-Nya adalah awal terbitnya pengharapan iman. Kebangkitan Yesus sebagai fakta bahwa maut bukanlah hal yang menakutkan bagi para pengikut-Nya, melainkan awal dari kehidupan yang penuh kebahagiaan.
Keempat, kebangkitan Yesus memberikan harapan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya, bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan mereka di dunia. Kebangkitan Yesus menghasilkan terbitnya pengharapan iman Kristen sepanjang sejarah hingga saat ini.
Kelima, penyiksaan terhadap Yesus yang dilakukan oleh tentara Romawi dan disaksikan oleh orang-orang Yahudi yang membenci-Nya luntur dan tak berkutik ketika Yesus bangkit dari antara orang mati. Artinya, mereka yang merasa bangga dan menang karena Yesus disiksa dan mati, tidak dapat berkata apa-apa ketika Yesus bangkit dari kematian.
Keenam, kebangkitan Yesus adalah tanda sukacita abadi bagi mereka yang percaya. Yesus menjamin bahwa mereka yang percaya kepada-Nya, meski mengalami berbagai penderitaan, caci maki, pembunuhan, ancaman, diskriminasi, ketidakadilan, akan menerima mahkota kehidupan dan kehidupan kekal bersama dengan Dia di dalam kerajaan kekal-Nya.
Ketujuh, kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa maut telah dikalahkan, dan tak ada yang perlu ditakuti. Yesus telah mengalahkan maut. Yesus telah menjamin kehidupan umat-Nya. Yesus sungguh ajaib dan perkasa. Jika maut dikalahkan, apalagi para pencaci-Nya dan para penghina kekristenan? Pasti mereka tak berkutik ketika Yesus menunjukkan kehebatan kuasa-Nya.
Memahami personalitas Yesus tidaklah hanya diukur dari sebuah ‘pemikiran sejengkal’ yang hanya memahami Yesus dari aspek kemanusiaan-Nya. Perdebatan dwi natur Yesus masih menyita perhatian para pemerhati dan pembenci Yesus hingga sekarang. Kitab-Kitab Perjanjian Baru menyuguhkan data tentang personalitas Yesus yang bersumber dari pengalaman mereka hidup bersama dengan Yesus, dari tradisi oral yang dekat dengan sumber utama, dan keyakinan iman dari mereka yang telah mendengar, mengalami, dan diubahkan oleh Yesus.
Peristiwa kenaikan Yesus adalah bagian dari karya Yesus dalam inkarnasi-Nya ke dunia. Peristiwa tersebut ditandai dengan beberapa konteks penting terkait dengan keilahian-Nya. Perjanjian Baru mencatat bahwa:
Pertama: Matius 28:16-20 menyatakan: Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Dari teks-teks di atas, murid-murid Yesus menyembah Dia. Meski ada beberapa orang yang ragu-ragu, hal itu tidaklah mengurangi substansi penyembahan dari murid-murid lainnya. Yesus kemudian meneguhkan identitas-Nya dengan mengatakan: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ἐδόθη μοι πᾶσα ἐξουσία ἐν οὐρανῷ καὶ ἐπὶ [τῆς] γῆς). Sebagaimana Allah berkuasa baik di sorga dan di bumi, Yesus juga meneguhkan identitas-Nya bahwa Dia memiliki kuasa di sorga dan di bumi. Maka, penyembahan kepada diri-Nya tidaklah merupakan sebuah penghujatan kepada Allah.
Kedua: Markus 16:17-19 menyatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
Teks-teks di atas menyebutkan bahwa pra kenaikan Yesus, Ia melengkapi para murid dengan kuasa untuk mengusir setan-setan, dan kemampuan berbicara dengan bahasa-bahasa yang baru, memegang ular, minum racun maut tetapi tetap aman, dan menyembuhkan orang sakit. Kuasa yang diberikan Yesus membuktikan bahwa Ia berhak dan berkuasan memberikan kuasa kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Allah dalam PL memberikan kuasa kepada mereka yang dipilih dan dikehendaki-Nya.
Ketiga: Lukas 24:50-52 menyatakan, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah [προσκυνέω – proskuneo] kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.”
Teks-teks di atas menyebutkan bahwa Yesus “memberkati” [εὐλόγησεν, dari kata εὐλογέω – eulogeo] para murid. Dari data Matius dan Markus, sepertinya sejalan dengan apa yang dilakukan Yesus. Ia memberkati dan memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Injil. Meski ada tantangan, namun hal itu bukanlah alasan yang perlu ditakutkan karena Yesus telah memperlengkapi dengan kuasa dan mukjizat untuk melakukan tanda-tanda yang ajaib dan besar.
Dikatakan pula bahwa para murid menyembah [προσκυνέω] Yesus. Selaras dengan data dari Matius, Lukas memiliki penekanan yang sama bahwa “Yesus disembah” sebagai Tuhan dan Allah karena klaim dan perbuatan-perbuatan lampau yang dilakukannya di depan mata para murid orang-orang yang menerima perbuatan ajaib-Nya.
Keempat: Kisah Para Rasul 1:6-11, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Teks-teks di atas menyebutkan beberapa hal penting: 1) Murid-murid memanggil dia sebagai “Tuhan” [κύριος]. Mengapa harus “Tuhan?” pasalnya, para murid adalah saksi mata dari setiap perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan, setan diusir, setan mengakui Yesus sebagai Anak Allah yang Maha Tinggi [υἱὲ τοῦ θεοῦ τοῦ ὑψίστου. Lih. Markus 5:7].
Jawaban Yesus merujuk kepada Bapa-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Akan tetapi, jika kita kaitkan dengan teks dalam Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Hal ini menunjukkan kesetaraan antara Bapa dan Yesus. Yesus pun menegaskan bahwa Ia datang dan keluar dari Bapa (Yoh. 8:42):
Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”
Keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ] menunjukkan sumber eksistensi Yesus. Allah adalah kekal (bdk. Yoh. 1:1), maka substansi yang keluar dari diri Allah bersifat [bernatur] kekal sesuai dengan dari mana eksistensi-Nya keluar, yaitu dari Allah yang kekal. Kata ἐκ [ek] memiliki beragam arti, dan tergantung konteksnya. F. Wilbur Gingrich dalam Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, mencatat arti dari kata ἐκ [ek]:
ἐκ; before vowels ἐξ prep. w. gen. from, out of, away from—1. to denote separation Mt 2:15; 26:27; Mk 16:3; J 12:27; 17:15; Ac 17:33; Gal 3:13; Rv 14:13; from among Lk 20:35; Ac 3:23.—2. to denote the direction from which something comes from, out from Mt 17:9; Mk 11:20; Lk 5:3; in answer to the question where? at, on Mt 20:21, 23; Ac 2:25, 34.—3. to denote origin, cause, motive reason from, of, by Mt 1:3, 5, 18; J 1:13, 46; 1 Cor 7:7; 2 Cor 5:1; Gal 2:15; 4:4; Phil 3:5. Because of, by Mk 7:11; 2 Cor 2:2; Rv 8:11. By reason of, as a result of, because of Lk 12:15; Ac 19:25; Ro 4:2; with Lk 16:9. Of, from of source or material Mt 12:34; J 19:2; 1 Cor 9:13; Rv 18:12. According to, in accordance with Mt 12:37; 2 Cor 8:11, 13. ἐκ τούτου for this reason, therefore J 6:66. οἱ ἐκ νόμου partisans of the law Ro 4:14.—4. in periphrasis for the partitive gen. Mt 10:29; 25:2; Lk 11:15, which may even function as subject of a sentence ἐκ τ. μαθητῶν some of the disciples J 16:17; used with εἶναι = belong to someone or something Mt 26:73; Ac 21:8; 1 Cor 12:15f. After verbs of filling with Lk 15:16; J 12:3; Rv 8:5. For the gen. of price or value for Mt 20:2; 27:7; Ac 1:18.—5. of time from, from this or that time on Mt 19:12; Mk 10:20; J 9:1, 32; for Lk 23:8; after 2 Pt 2:8.
Eksistensi Yesus yang adalah keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ] meneguhkan perkataan-Nya sendiri bahwa kuasa yang dimiliki-Nya setara dengan Allah Bapa, sebagaimana tampak dari dua teks di atas yakni Kisah Para Rasul 1:7 dan Matius 28:18. Yesus kemudian menjelaskan bahwa ketika para murid menerima kuasa, melalui turunnya Roh Kudus, berimplikasi kepada identitas dan tanggung jawab mereka untuk menjadi saksi Yesus Kristus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Hal ini selaras dengan data dari Markus 16:17-20.
Setelah Yesus naik ke surga, berdirilah dua orang yang berpakaian putih dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” Penegasan identitas KEILAHIAN Yesus ditambahkan oleh dua malaikat yang menyatakan bahwa Yesus akan datang kembali. Perlu dicatat bahwa, para saksi mata yang melihat Yesus naik ke surga merupakan bukti yang sangat kuat dan akurat. Ketika mereka yang meragukan peristiwa ini, juga harus menyodorkan saksi-saksi mata yang ‘TIDAK’ melihat Yesus naik ke surga. Artinya, menolak Yesus tidak naik ke surga harus sebanding dengan saksi-saksi mata yang melihat Yesus naik ke surga.
Peristiwa kenaikan Yesus ke surga adalah peristiwa historis. Dari data PB, kita menemukan peristiwa kenaikan Yesus ke surga, dan beberapa bukti lain meneguhkan peristiwa tersebut.
Pertama. Lukas 24:50-51, Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.
Kedua. Yohanes 3:13, Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
Ketiga. Kisah Para Rasul 1:9, Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Keempat. 1 Petrus 3:21-22 “… oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.
Kelima. Efesus 4:10, Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.
Teks-teks di atas memberi kesaksian tentang identitas Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa Yesus yang telah turun [inkarnasi] adalah Yesus yang naik ke surga. “Oὗτος ὁ Ἰησοῦς ὁ ἀναλημφθεὶς ἀφ᾽ ὑμῶν εἰς τὸν οὐρανὸν οὕτως ἐλεύσεται ὃν τρόπον ἐθεάσασθε αὐτὸν πορευόμενον εἰς τὸν οὐρανόν” [Outos ho Insous ho analemphtheis aph humon eis ton ouranon outos eleusetai hon tropon ethasasthe auton poreuomenon eis ton ouranon].
Teks Yohanes 3:13 sebagaimana yang merupakan judul dari artikel singkat ini menguatkan peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga. Rasul Paulus memiliki pandangan yang sama terkait dengan peristiwa turunnya Yesus ke dunia dan peristiwa Yesus naik ke surga karena Ia telah turun: “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” [καὶ οὐδεὶς ἀναβέβηκεν εἰς τὸν οὐρανὸν εἰ μὴ ὁ ἐκ τοῦ οὐρανοῦ καταβάς, ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου — kai oudeis anabebeken eis ton ouranon ei me ho ek tou ouranou katabas, ho uios tou anthropou].
Kesimpulannya adalah kenaikan Yesus merupakan penegasan identitas-Nya. Ia dari surga. Ia datang dan keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ]. Ia memiliki kuasa yang setara dengan Allah (teks Matius 28:18 dan Kisah Para Rasul 1:7). Ia memberi perintah sebagai Allah dan Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya melalui para murid yang telah diperlengkapi dengan kuasa dan mengadakan tanda-tanda mukjizat. Yesus yang naik adalah Yesus yang telah turun ke dunia, berinkarnasi menjadi sama dengan manusia. Yesus yang naik adalah membuktikan bahwa eksistensi-Nya telah Ia perlihatkan. Yesus tidak menutup-nutupi pra eksistensi-Nya. Dengan gamblang Ia membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya, di langit dan di bumi.
Jika pembaca secara cermat memperhatikan tiga status Elia Hanafi (di facebook) dalam gambar di tulisan ini, pembaca (yang memahami Alkitab) akan dengan segera dapat mengetahui apa makna dari status Hanafi tersebut. Sekilas memang tidak menyinggung Alkitab Kristen, namun pembaca yang pernah belajar hermeneutika, akan menemukan sebuah “hidden agenda” dalam status Hanafi. Pertanyaannya: ada apa dengan Hanafi? Tentu ada ‘apanya’.
Mencermati ‘mind set’ Hanafi, tentu ada landasan pijak (persepsi) yang hendak disuguhkan kepada para pembaca. Kita tidak tahu apa motif di balik ‘mind set’ Hanafi. Akan tetapi, karena statusnya Hanafi berbau tafsir Alkitab, maka saya selaku pembaca Alkitab dapat dengan segera mengetahui apa yang hendak dimaksudkan Hanafi: ia menyamar di balik ayat Alkitab.
Dalam dunia hermeneutika, sebuah objek yang yang diamati, diteliti, dan dibaca, menimbulkan berbagai prasangka, presumsi, asumsi, persepsi, untuk menafsirkannya. Jika demikian, Hanafi bisa saja memiliki sejumlah alasan entah prasangka, presumsi, asumsi, atau persepsi dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab dengan cara “menyamar” di balik ayat-ayat itu sendiri.
Untuk menghindari prasangka, presumsi, asumsi, dan persepsi dalam memahami Alkitab, saya sedikit menyuguhkan poin-poin penting dalam dunia tafsir [hermeneutika] sehingga pembaca dapat memahaminya sebagai dasar dalam membaca dan menafsirkan status Hanafi akhir-akhir ini.
Pertama. Setiap orang yang menyampaikan sesuatu, memikirkan sesuatu dan menuliskan sesuatu memiliki indikasi interpretasi makna
Kedua. Makna dari sebuah maksud akan ditafsirkan dari berbagai perspektif, tergantung siapa yang menafsirkan.
Ketiga. Dalam menafsirkan sesuatu, ada aspek-aspek yang mempengaruhinya: aspek ideologi, aspek konsep, aspek subjektivitas, aspek similaritas, aspek disimilaritas, aspek objektivitas, aspek situasional
Keempat. Dalam dunia Alkitab, kita menerima tulisan-tulisan sejarah yang tentunya memiliki makna baik di zaman penulisan, atau pun di zaman kita sekarang ini. Dalam konteks ini, interpretasi [penafsiran] seseorang harus difokuskan pada aspek situasional di mana penulis menuliskan sesuatu yang dikaitkan dengan kondisi di mana ia berada atau distansi yang dekat dengan kehidupan si penulis
Kelima. Hermeneutika, dilihat dari aspek umum adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana memahami sesuatu [menafsirkan] sesuai naturnya atau makna aslinya. Hermeneutika tidak dapat dipengaruhi (dalam arti hakikinya) oleh para penafsir sebab makna asli adalah salah satu aspek penting di dalam hermeneutika itu sendiri. Selain itu, hermeneutika mengharuskan seorang penafsir menghargai bukti-bukti penunjang makna asli dari sebuah objek yang diteliti, dibaca, dan ditafsirkan
Keenam. Dalam konteks literalistik, setiap pembaca atau penulis buku, harus selalu mengutamakan “makna” dari sebuah bacaan atau buku. Signifikansi hermeneutika melibatkan unsur ketilitian, kecermatan, keakuratan, fokus, pengkajian ilmiah dan eksgesis dalam konteks biblikal, eksegesis adalah tindakan hermeneutika terhadap teks-teks yang diteliti. Dengan demikian, maka setiap orang yang mempelajari Alkitab, harus melewati proses eksegesis yang cermat, solid dan memadai.
Ketujuh. H. A. Van Dop, dalam tulisannya “Hermeneusis dan Anamnesis” menjelaskan: Dalam dunia teologi modern ilmu hermeneutik merupakan suatu disiplin yang tidak dapat diremehkan. Tentunya istilah hermêneutikê tekhnê sudah lama dikenal dan digunakan, tetapi sejak Schleiermacher dan Dilthey pengertiannya menjadi lebih spesifik dengan menekankan keharusan bahwa ilmu ini harus dapat diuji validitasnya menurut standar-standar yang juga diberlakukan pada disiplin-disiplin ilmiah lainnya. H. A. Van Dop menjelaskan, istilah “hermeneusis” berasal dari nama dewa Yunani, Hermes. Tugas terutama dewa Hermes ini ialah menjadi pengantar pesan dari para dewa, khususnya pesan-pesan dari dewa Zeus – dewa tertinggi – kepada manusia. Di dalam dunia modern, Hermes menjadi simbol komunikasi. Ada aspek profetis padanya, karena ia menyampaikan hal-hal yang hakiki, yang perlu diketahui. Dengan demikian ia harus dapat menginterpretasikan maksud para dewa. Segala kabar angin, kabar burung dan info, dialah yang memungkinkannya.
Kedelapan. H. A. Van Dop menguraikan: Kata Ibrani yang digunakan dalam hubungan ini ialah bentuk-bentuk turunan dari kata kerja “lits” yang berarti “berfungsi sebagai jurubicara atau penyambung lidah”, “menerjemahkan”, tetapi juga dengan konotasi kecurigaan apakah terjemahannya mungkin dimanipulasi, sehingga menjadi “mengolok-olok”: siapa yang mengetahui persis apa yang dikatakan oleh jurubahasa? Maka teringatlah kita pada pepatah Perancis, “menerjemahkan adalah memperdayakan”. Anamnesis (peringatan), dari kata Yunani “anamimniskein” yang berarti “mengingat”.
Kesembilan. Hermeneutik tidak dapat berfungsi dengan baik, jika tidak menghasilkan inspirasi untuk mengekpresikan iman. Tidak semua orang harus sanggup untuk memahami hasil studi para teolog, tetapi semua orang sanggup menghayati suatu pesan “kerygmatis”, entah mereka menerima atau menolaknya. Pesan itu, jika sudah diterima, perlu dihayati dan dirayakan, tidak kurang dari penghayatan dan perayaan yang kita perhatikan di dalam seremoni adat. Hermeneusis dan anamnesis bersama-sama mempunyai aspek pastoral.
Kesepuluh. Martin Lukito Sinaga, dalam “Sekelumit Hermenetik Paul Ricoeur”, menyatakan, “Dari fungsinya memang hermeneutik mau membawa orang dari situasi ketidaktahuan menjadi mengerti, dari sesuatu yang relatif gelap ke dalam bentuk ungkapan yang jelas dan terang, dari teks yang semula didengar di masa lampau dengan nyaringnya menjadi teks yang masih punya gemanya di telinga pembaca masa kini. Karena itu hermeneutik adalah suatu teori penafsiran, yang berniat mengajak orang menafsir dengan benar dan bernas.”
Kesebelas. Martin Lukito Sinaga menambahkan, Hermeneutik adalah suatu upaya menyelam ke dalam warisan dan serat-serat kultural manusia – melalui teks-teks kebudayaan – dan juga upaya menemukannya secara baru (artinya: membacanya secara baru) demi memperoleh kekuatan untuk hidup di belantara masa kini. Melalui hermeneutik, seseorang dapat bertemu secara kreatif dengan warisan masa lalunya, bahkan ia akan ditolong dalam upayanya membentangkan lintasan cakrawala di hadapan kehidupannya.
Kedua belas. R. C. Sproul menjelaskan bahwa tujuan hermeneutika adalah menetapkan garis-garis pedoman dan aturan- aturan menafsir. Hermeneutika telah berkembang menjadi ilmu yang teknis dan rumit. Dokumen tertulis mana saja adalah subjek salah tafsir. Karena itu kita telah mengembangkan aturan-aturan untuk menjaga kita dari kesalahpahaman seperti itu. Penelitian ini akan kita batasi hanya sampai pada aturan-aturan dan garis-garis pedoman yang dasar saja.
Ketiga belas. Christian de Jonge, dalam “Sola Scriptura: Alkitab pada Zaman Reformasi, Terutama dalam Teologi Calvin” menyatakan: Seorang Humanis terkemuka dari Perancis, Jacques Lefèvre d’Étaples (1455-1536), berpendapat bahwa Roh Kudus berbicara melalui huruf-huruf Alkitab dan oleh sebab itu tidak benar kalau orang hanya memperhatikan arti harfiah tanpa merenungkan apa yang hendak disampaikan oleh Roh Kudus melalui huruf-huruf itu. Ia tidak mau melepaskan arti rohani dari teks Alkitab, tetapi ia menolak tafsiran harfiah yang hanya melihat teks dalam konteks historisnya (yang disebutnya sensus literalis historicus), seakan-akan Gereja dalam renungannya terhadap Perjanjian Lama tidak dapat maju lebih jauh dari orang-orang Yahudi. Yang penting bagi Lefèvre d’Étaples adalah sensus literalis propheticus, yaitu tafsiran yang mampu melihat dalam Perjanjian Lama nubuat mengenai Kristus dan amanat yang penting untuk Gereja sekarang. Mendengarkan suara Roh Kudus melalui huruf Alkitab akan membarui Gereja sesuai dengan maksud Allah.
Keempat belas. Christian de Jonge menyimpulkan: Kenyataan membuktikan bahwa prinsip bahwa Alkitab menafsirkan diri sendiri, walaupun mungkin berguna dalam pertikaian teologis, dalam praktek tidak dapat berfungsi. Para penafsir dalam mendekati teks selalu dipengaruhi oleh praduga-praduga dan prapaham-prapaham yang ditentukan oleh konteks mereka sendiri, bukan oleh teks. Oleh sebab itu seorang penafsir dalam proses penafsiran bertugas untuk mengeliminasikan praduga-praduga yang menghalangi pemahaman yang tepat mengenai teks.
Kelima belas. Dalam dunia hermeneutka, ada sejumlah tantangan: Kesejangan Waktu, Kesejangan budaya, Kesenjangan geografis, Kesenjangan bahasa.
Keenam belas. Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi penafsiran Alkitab: 1) Pluralitas membaca; 2) Ideologi personal; 3) “mind set” personal; 4) pengaruh pola pikir dari kitab suci lain yang dibawa ke dalam Alkitab.
Ketujuh belas. Hermeneutika yang tepat bertujuan: pertama, untuk menemukan berita dari Allah. Hermeneutika melindungi Alkitab dari penyalahgunaan, baik secara sengaja atau tidak, yang mengubah pengajaran Alkitab demi mencapai tujuan pribadinya. Hermeneutika yang benar menyediakan kerangka konsep untuk menafsirkan secara tepat dengan memakai alat-alat bantu eksegesis yang akurat (Yun. exegeomai, berarti “mengeluarkan” makna dari sebuah teks atau bagian tulisan). Kedua, untuk menghindari atau menyingkirkan kesalahpahaman atau perspektif dan kesimpulan yang salah tentang ajaran Alkitab. Ketiga, mampu menerapkan berita Alkitab dalam kehidupan kita. Seperti yang dikatakan E. J. Carnell, “Sebuah istilah dapat digunakan dalam salah satu dari tiga cara berikut ini: hanya memiliki satu makna pasti (univocally [makna tunggal]), dengan berbagai makna yang berbeda (equivocally), dan dengan sebuah makna proporsional – sebagian sama dan sebagian lagi beda (analogically).” E. J. Carnel, An Introduction to Christian Apologetics, (Grand Rapids: Eerdmans, 1948), p. 144. Dengan kata lain, pada bagian-bagian tertentu Allah berbicara kepada kita secara univokal. Yakni, meskipun beritanya ditulis kepada orang-orang di zaman kuno, sebagian besar unsurnya tetap sama – sebut saja beberapa contoh: eksistensi manusia, realitas dari malaikat, setan-setan, Allah, dan Yesus sebagai Anak Allah.
Kembali soal penyamaran Hanafi di balik ayat-ayat Alkitab. Hanafi sendiri memunculkan sejumlah asumsi bahwa ayat-ayat yang dikutipnya dipahami Kristen sebagaimana ia memahaminya. Ketika ia menyuguhkan ayat-ayat yang berbau ‘pedang’, dan membandingkannya dengan demo umat Islam yang santun, seolah-olah bahwa Kristen yang berdemo menggunakan ayat-ayat pedang, dan Islam menggunakan ayat-ayat yang santun. Asumsi ini adalah sebuah tindakan “jukstaposisi opini” personal Hanafi dengan opini Kristen.
Saya mengamati bahwa Hanafi sendiri menggunakan metode tafsir “visual harfiah” yang menyingkirkan “konteks”. Ini saya namakan dengan “Teks Tanpa Konteks” [TTK]. Pola pemikiran tafsir Hanafi jelas berdasar pada TTK yang diusung dalam setiap statusnya. Ketika pembaca tidak secara teliti memperhatikan gagasan TTK Hanafi, maka secara tidak langsung, pembaca dapat berpikir bahwa gagasan TTK Hanafi adalah benar. Akan tetapi, tentu tidaklah demikian adanya. Ketika gagasan yang sama kita terapkan kepada quran, maka Hanafi sendiri mengalami kesulitan. Sebut saja beberapa teks berikut ini yang bisa diajukan kepada Hanafi untuk ditafsirkan berdasarkan gagasan TTK sebagaimana ia terapkan kepada Alkitab:
AYAT-AYAT KERAS:
Surah 8:12 (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
Surah 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
Surah 2:191 Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.
Surah 4:89 Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong
Su 4:91 Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.
Surah 9:5 Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.
Surah 5:38 Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
CURI ISTRI (?)
Surah 33:37 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
ISTRI EMPAT
Surah 4:3 Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
BIDADARI SURGA
Surah 37:48 Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya
Surah 37:49 seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.
Surah 38:52 Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.
Surah 55:56 Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.
Surah 55:58 Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.
Surah 55:70 Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.
Surah 55:72 (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.
Surah 56:35 Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
Surah 56:36 dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
Surah 56:37 penuh cinta lagi sebaya umurnya.
Surah Al-Baqarah 2:25, Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.
Surah Âli ‘Imran 3:15, Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
Surah An-Nisa’ 4:57, Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.
Surah Yasin 36:55, 56, Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.
Surah As-Saffaat 37:48-50, Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik. Lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.
Surah Az-Zukhruf 43:70-71, Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.
Surah At-Tur 52:20, Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami memberikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.
Surah Ar-Rahman 55:56,72-74, Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Bidadari-bidadari dipelihara di dalam kemah-kemah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.
Surah Al-Waqi’ah 56:22-23,34-37, Dan ada bidadari-bidadari bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. (Ayat 34) dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Ayat 35) Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, (ayat 36) lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, (ayat 37) yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya.
Sura An-Naba’ 78:31-34, Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis montokyang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
Sura Ad-Dukhan 44:51-55, Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, [52] (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. [53] mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadapan, [54] demikianlah, kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. [55] Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram.
Bagaimana pendapat Hanafi? Silakan menafsirkan teks-teks quran di atas berdasarkan metodologi TEKS TANPA KONTEKS sebagaimana yang anda lakukan pada Alkitab.
Pengalaman hidup manusia menjadikan dirinya sebagai penentu internal atas apa yang akan ia lakukan. Atau dengan perkataan lain, pengalaman adalah bagian kohesif dengan masa depan yang akan diraih. Pengalaman percaya kepada Tuhan memiliki indikasi yang sama. Namun, dalam segala aspek hidupnya, Tuhan mengatur dan menetapkan jalan hidup manusia. Artinya, dalam kebebasan manusia menentukan, memilih, dan merangkum semua jalan hidupnya, TUHAN tetap berintervensi (campur tangan) atas segala sesuatunya.
Alkitab menegaskan hal ini; bahwa Tuhanlah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Kita yang hidup bagi Tuhan, tetap percaya bahwa Dialah yang memutuskan dan menetapkan segala sesuatu. Raja Sulaiman menuliskan konteks ini secara jelas:
Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 16:2)
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)
Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:2)
Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 21:2)
Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6)
Dari ayat-ayat di atas, tampak jelas bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu dan memungkinkan segala sesuatu dapat terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Ia campur tangan atas hidup manusia. Tentulah Tuhan memperhatikan hidup orang-orang pilihan-Nya, dan menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan, dan yang membenci umat-Nya. Dari ayat-ayat tersebut, kita belajar bahwa Tuhan itu peduli dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Hal ini pula yang ditegaskan oleh Raja Daud ketika ia menuliskan, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak ,sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24). Mereka yang hidup bagi Tuhan dan berkenan kepada-Nya tentu akan diberkati, disertai, dan ditopang oleh-Nya. Jaminan Tuhan adalah bahwa “Ia menetapkan—dan Ia menjaga umat pilihan-Nya dari segala kesesakan dan godaan dunia.” Tuhan pula yang menjamin bahwa umat pilihan-Nya akan tetap bersandar kepada-Nya sebagai Pribadi yang layak dipercaya dan diandalkan.
Hidup bagi Tuhan adalah hidup yang: pertama, beriman; kedua, berserah; dan ketiga, berdoa. Beriman, berarti kita meyakini akan semua janji Tuhan dan apa yang Ia janjikan pasti dikabulkan. Beriman berarti tangguh menghadapi badai kehidupan, tangguh menghadapi kesulitan dan problem kehidupan. Beriman, berarti kita siap menanggung segala risiko yang datang sebagai konsekuensi dari iman kepada Yesus Kristus. Orang Kristen adalah “sasaran caci maki dan perendahan, baik kepada Tuhannya, kepada orang Kristennya, kepada Kitab Sucinya, dan kepada ajarannya”. Tidak ada ruang di mana Kristen tidak dihina dan dikritisi. Anehnya, Kristen adalah agama terbesar di dunia. Ada apa? Dalam pengamatan saya, Kristen adalah agama yang menjalankan ajaran-ajarannya secara dewasa, dan lebih siap menghadapi badai kritikan, perendahan, caci maki, dan hinaan ketimbang lainnya. Itulah kehebatan Kristen: hidup bagi Tuhan melakukan kehendak-Nya dan siap menerima segala risiko dengan tidak melalukan “balas dendam”.
Lebih dahsyatnya, Yesus Kristus malahan memerintahkan untuk berdoa bagi musuh: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:44-45). Adakah yang dapat menandingin ajaran Yesus Kristus? Tidak ada. Itulah sebabnya, Kristen menjadi agama terbesar sekaligus menjadi incaran dan sasaran empuk untuk dihina dan direndahkan. Mengapa demikian? Ingatlah perkataan Yesus berikut ini:
Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu (Yohanes 158)
Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yohanes 15:19)
Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (Yohanes 17:14)
Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yohanes 3:13-16)
Tidak ada yang dapat menandingi ajaran Yesus dan kehidupan Kristen. Dibenci tetapi membenci. Direndahkan tetapi tidak merendahkan; dikutuk tetapi tidak mengutuk, justru memberkati: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” (Roma 12:14). Hidup bagi Tuhan berarti beriman, yang siap menerima segala risiko sebagai konsekuensi dari percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.
Hidup bagi Tuhan berarti berserah. Berserah kepada Yesus berarti mengakui kekuasaan dan kedaulatan-Nya atas hidup semua manusia, atas hidup orang-orang benar (percaya), dan atas hidup orang-orang jahat. Sikap pasrah adalah sikap di mana manusia terbatas dan ia membutuhkan Tuhan dalam totalitas hidupnya. Mereka yang sombong tentu tidak membutuhkan Tuhan. Sekuat dan sehebat bagaimana pun orang Kristen, haruslah memiliki sikap pasrah kepada Tuhan. Ialah yang empunya kehidupan. Maka, tidak perlu kuatir. Cukup serahkan kekuatiran dan problem kehidupan kepada Yesus Kristus:
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:5)
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah (Mazmur 55:23)
Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3)
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)
Kepasrahan berarti menempatkan dan menyerahkan hak pembalasan kepada Tuhan saja. Seperti yang dialami dan ditegaskan Rasul Paulus bahwa: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan (Roma 12:17-19).
Yang terakhir, hidup bagi Tuhan berarti berdoa. Yesus menegaskan demikian: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Berdoa berarti kita membutuhkan pertolongan Tuhan dan berkat Tuhan. Ia dengan penuh kasih mendengar doa-doa yang disampaikan kepada-Nya. Berdoa adalah pekerjaan yang paling ringan sekaligus paling berat. Ringan, karena setiap waktu seseorang dapat berdoa kepada Tuhan. Berat, karena manusia yang merasa hebat dan memiliki segala sesuatu merasa berat untuk mengakui dan berdoa kepada Tuhan. Ia mengakui bahwa apa yang didapatkan adalah usahanya, dan tidak ada urusan dengan Tuhan apalagi berkat Tuhan.
Namun, sebagai prinsip hidup bagi Tuhan, berdoa adalah bagian yang kohesif dengan beriman dan pasrah. Berdoa melatih kita berkomunikasi dengan Tuhan. berdoa tak membutuhkan biaya; doa melintasi ruang dan waktu; tak ada hambatan sedikitpun karena di mana pun, kita dapat berdoa. Hiduplah bagi Tuhan dan tunjukkan iman dan sikap pasrah kepada Tuhan dengan cara berdoa: berdoa bagi orang lain, berdoa bagi mereka yang melakukan penginjilan, berdoa bagi musuh-musuh yang menghina Yesus, ajaran Kristen, Kitab Suci, dan orang Kristen. Tuhan itu berdaulat atas kehidupan, dan jika Ia berkenan, doa kita pasti dijawab. Meski kita dibenci, tidak perlu membalas kebencian. Cukup dengan doa dan memohon agar Tuhan memberkati orang yang membenci kita. Itu saja. Tidak lebih dari itu. Tuhan tentu punya rencana yang akan diwujudkan dalam kehidupan kita maupun dalam kehidupan para pembenci kita.
Ada tiga fundamen iman Kristen tentang personalitas Logos yang menjadi daging [sarks] dalam terang Kristologi, yakni: Kristologi Biblika, Kristologi Definisi, dan Kristologi Solidisme. Tiga fundamen ini secara biblikal—teologis—historis, adalah warisan iman yang begitu kuat dan tetap berdiri, tampil keren di antara semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).
Dalam memahami Kristologi, tak jarang riak-riak lelucon, kebodohan, kesesatan, muncul untuk mencari “panggung”nya sendiri, memperlihatkan akrobat yang dapat menyita perhatian kita. Bahkan ketika ada yang mengaku sebagai “Kristolog”, sebenarnya ia hanyalah memerankan “Doraemon”. Apa yang dihasilkannya pasti “suka-sukanya”, tak memenuhi kriteria hermeneutik bibikal.
Kita melihat bahwa riak-riak bidat Kristologi telah muncul di abad-abad awal perkembangan kekristenan. Secara historis, riak-riak tersebut mendapat panggung karena dicatat dalam buku-buku sejarah Gereja. Sebut saja Kaum Ebionit. Kemudian disusul dengan bidat-bidat lainnya, yang juga diadopsi, diracik kembali, diolah kembali oleh para pengusung Kristologi Doraemon di zaman ini.
Menariknya, tiga fundamen Kristologi yang seiring-sejalan dengan kekuatan pekabaran Injil dan menghasilkan ekspansi pertumbuhan Gereja di seluruh dunia, secara simultan memunculkan reaksi terhadapnya sehingga berbagai jenis kesesatan Kristologi mencuri perhatian. Alhasil, perdebatan Kristologi menjadi “panggung utama” dalam dua posisi: bagi Kristologi Biblika, tetap mempertahankan rumusan biblikanya, sedangkan Kristologi Sesat merumuskan sesuatu yang menyimpang dengan olahan bumbu-bumbu logika sesuka hati mereka.
Bahkan hingga sekarang ini, para peramu Kristologi Sesat mengubah bentuknya menjadi Kristologi Doraemon: Rumusan Kristologi sesat memang sangatlah variatif. Teks-teks rujukan mereka selalu menampilkan pola hermeneutik “doraemon”—dengan perkataan lain: “suka-suka gue”.
Tipe Kristologi Doraemon telah menjamur di mana-mana. Tipe ini memang eksis dan diadopsi oleh orang-orang Kristen yang tidak matang dalam hal logika, atau cacat bernalar untuk memahami konteks doctrinal, biblical, logical, dan historical. Di samping itu, tipe ini selalu menampilkan berbagai kebodohan dan inkonsistensi yang secara demarkatif salah, sehingga tidak dapat mengakomodasi Kristologi secara komprehensif dan jukstaposisi.
Kristologi Doraemon adalah jenis pemikiran yang salah dan menyesatkan, baik dalam kategori tiga fundamen Kristologi (Biblikal, Definisi, dan Solidisme), maupun dalam kategori doctrinal, logical, dan historical. Jika kita mengadaptasi lirik lagu “Doraemon”, maka akan jadi begini rumusan tipe penganut Kristologi Doraemon:
Aku ingin begini, aku ingin begitu
Ingin ini, ingin itu, banyak sekali
Semua, semua, semua, dapat dikabulkan
Dapat dikabulkan dengan “otak yang bodoh”
Aku ingin terbangkan kesesatan di angkasa
Hey, “kumur-kumur ayat”
La, la, la, aku sayang sekali: “kebodohan”
Kristologi Doraemon diusung oleh mereka yang memang bernafsu paralogisme untuk mengabulkan semua rumusan teologis (non biblical) Kristologi dengan otak [cara berpikir] yang bodoh. Kita dapat menilai sendiri mana tipe Kristologi Doraemon yang diusung oleh para penyesat, para penyombong kebodohan, dan para pemalsu kebenaran.
Kebodohan itu sendiri secara klasifikasi terbagi atas tiga: kebodohan secara logika (cara bernalar memahami pengetahuan tertentu), kebodohan secara moralitas (perilaku keseharian), dan kebodohan secara spiritual (tindakan beragama yang salah menggunakan teks-teks kitab suci). Kaum penganut Kristologi Doraemon mengusung kebodohan jenis pertama dan ketiga.
Dan akhirnya, saya menyebut lima prinsip penganut Kristologi Doraemon.
PERTAMA, mereka dengan sesuka hati menafsirkan teks-teks Kitab Suci tanpa melihat dua aspek mendasar dari hermeneutic: konteks dan korelasi (satu teks yang memiliki korelasi dengan teks yang lain).
KEDUA, seperti adaptasi lirik lagu Doraemon yang saya tuliskan di atas, mereka ingin apa saja bisa, hanya dengan modal “otak yang bodoh”, bodoh dalam hal logika dan bodoh dalam hal spiritual.
KETIGA, mereka menciptakan rumusan Kristologi yang parsial dan fragmentaris, dan bukan rumusan Kristologi yang demarkatif (konteks-konteks), komprehensif, dan jukstaposisi.
KEEMPAT, mereka pada akhirnya memiliki rumusan Kristologi yang menumbuhkan semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).
KELIMA, mereka ingin menerbangkan kesesatan di angkasa (kepada publik) dengan modal ‘kumur-kumur ayat’. Artinya, ayat-ayat yang digunakan tidak memenuhi konteks hermeneutik yang dapat dipertanggungjawabkan secara korelasional, historis, dan doktrinal.
Apa yang dapat kita tarik dari fenomena penganut Kristologi Doraemon? Kita didorong untuk memahami secara demarkatif, komprehensif, dan juktaposisi perihal Kristologi Biblikal, Definisi, dan Solidisme.
Kita diajak untuk memahami secara benar apa yang dinyatakan kepada kita dalam Kitab Suci, dan kita disadarkan bahwa ternyata perlawanan kita terhadap ajaran-ajaran sesat tidak akan pernah berhenti, tetapi justru—fakta itu—memberikan kepada kita sebuah pengharapan bahwa “ajaran-ajaran yang benar tentang Yesus, selalu memiliki tandingan sebagaimana tampak dalam sejarah Kekristenan.
Akan tetapi, fakta itu membuat kita untuk tetap berjuang ‘mempertahankan iman kepada Yesus Kristus’, dan ‘mempertaruhkan segala sesuatu bagi Dia’—dan dengan demikian kita menunjukkan kesetiaan yang kuat kepada-Nya.
Sejatinya, kesetiaan kepada Yesus Kristus hanya dapat dibuktikan melalui dua hal: apa yang kita pertahankan dan apa yang kita pertaruhkan. Tetaplah setia pada kebenaran, dan jangan menjualnya. Milikilah cara memahami Kristologi secara Biblika, Definisi, dan Solidisme.
Beberapa waktu lalu, tanggal 19 Mei 2020, kita kehilangan seorang teolog (sekaligus apolget) yang ternama, Ravi Zacharias. Beliau telah melalang buana untuk memberikan berbagai ceramah ataupun kuliah. Lebih dari itu, tidak hanya soal “apa yang ia ucapkan dan ajarkan”, sikap hidupnya telah menjadi “teladan”. Antara teologi dan sikap hidupnya, selaras. Itu adalah sebuah daya tarik yang seimbang, tidak berat sebelah.
Ada fakta menarik yang mungkin telah kita lihat, atau bahkan kita alami sendiri, bahwa adanya ketimpangan antara teologi dan sikap hidup. Seringkali, orang sulit memisahkan antara personalitas seseorang dengan teologi yang dia anut. Kesulitan ini disebabkan karena soal “sikap hidup” tadi.
Ketika seseorang yang memiliki pandangan teologi tertentu yang dinilai cukup atau sangat baik, namun sikap hidupnya tidak menjadi teladan, maka penilaian tersebut akan bermuara pada empat fakta: pertama, orang-orang tetap menerima ajarannya (teologinya) dan menyingkirkan “sikap hidupnya”; kedua, orang-orang menerima sikap hidupnya, dan menyingkirkan teologinya (yang miring itu); ketiga, tidak menerima keduanya; dan keempat, ini yang lebih ekstrem lagi, yaitu ada orang-orang “menerima keduanya”.
Dalam sejarah, empat fakta di atas muncul dalam setiap agama mana pun. Dalam tubuh Kristen, tampak kerancuan dalam berteologi telah memunculkan sejumlah respons positif maupun negatif, termasuk “orang-orang” memperlihatkan salah satu dari fakta empat fakta yang telah saya sebutkan di atas.
Saat ini, proses berteologi masih BERLANJUT, SEMAKIN HANGAT, dan SEMAKIN MESRA. BERLANJUT, menunjukkan bahwa ajaran-ajaran rasuli yang diwariskan dari zaman ke zaman, tetap dipertahankan oleh orang-orang percaya. Ajaran-ajaran tersebut dihidupi dalam totalitas hayati sebagai tanggung jawab iman.
SEMAKIN HANGAT, menunjukkan bahwa ada perbedaan paham (pemikiran)—jika tidak dikatakan sebagai kontradiksi total—mengenai aspek-aspek substansial maupun non-substansial. Riak-riak keributan teologi seringkali berkutat pada aspek-aspek non-substansial. Misanya, apakah Yudas masuk neraka atau tidak?; apakah penganut ajaran Calvin (Calvinisme) itu sesat dan masuk neraka atau tidak?; apakah penganut Arminian (Arminianisme) sesat dan masuk neraka atau tidak? Adakah kontribusi Pak Stephen Tong bagi negara? (ini celoteh seorang Kristen beberapa waktu lalu); mengapa orang Kristen tidak dapat menghafal Alkitab; dan masih banyak lagi.
Ada sejumlah aspek non-substansial yang diributkan, bahkan diobok-obok, sehingga menimbulkan “busa-busa” kotor pada riak-riak tersebut. Ada pula yang membela “tokoh-tokoh” tertentu—meski pengajarannya sesat, menyesatkan, dan tersesat, bahkan menyimpang—dengan cara “memuji-mujinya” ibarat calon anggota dewan menang dalam pemilihan dengan cara memanipulasi data pemilih. Entah ini disebut seimbang atau pincang, biarlah publik yang menilainya.
Kebutaan dalam berteologi telah membuat orang-orang Kristen salah sasaran. Yang dicari adalah “superioritas teolog” ketimbang sikap hidupnya. Seorang buta tentu meraba-raba; ia kehilangan arah dan tak tahu arah pulang. Kebutaan dalam berteologi memperlihatkan “pukulan-pukulan” untuk meninju tidak tepat sasaran. Bahayanya adalah ketika “pukulan-pukulan” itu ditujukan pada pohon Aras dari Libanon, batu besar, atau angin.
Maraknya “teologi-teologi” angin—yakni teologi-teologi yang hanya ditiupkan untuk menghibur pada pendengar tanpa menyentuh aspek-aspek spiritual, moralitas, dan relasional (kita dengan Tuhan dan sesama [dalam persekutuan]). Lalu, apa yang tersisa dari teologi?
Berteologi itu asyik dan menyenangkan. Tetapi ketika teologi itu tidak semestinya dilakukan, maka hasilnya tidak memuaskan. Meski berteologi itu asyik dan menyenangkan, kita tidak boleh melupakan sikap hidup sebagaimana yang Yesus ajarkan: Kamu adalah Garam dan Terang Dunia. Koherensi antara teologi dengan sikap hidup adalah sebuah niscaya.
Berteologi adalah realisasi dari apa yang kita “tahu” tentang Yesus Kristus berdasarkan warisan iman yang termaktub dalam Alkitab (hal ini masuk dalam kategori “BERLANJUT”). Sedangkan sikap hidup adalah realisasi dari iman kepada Yesus Kristus. Beriman tidak hanya “mengetahui” apa yang diajarkan Alkitab, melainkan juga “melakukan” apa yang diajarkan Alkitab. Ini sangat seimbang.
Terakhir, SEMAKIN MESRA menunjukkan kualitas antara teologi dengan sikap hidup secara seimbang, konsisten, dan ekspansif. Teknologi informasi yang sedemikian maju, dapat dipakai secara media untuk menunjukkan KEMESRAAN antara teologi dan sikap hidup, sehingga menjadi sangat ekspansif. Teologi yang kita bangun dan kita kabarkan hanya menyisahkan “sikap hidup” untuk menjadi teladan. Sikap hidup mencerminkan apa yang kita tahu, termasuk teologi. Teologi—yang terus dikembangkan dan digumuli—sangat menentukan sikap hidup seseorang.
Konsistensi dalam berteologi juga penting. Konsistensi bukan mengacu pada serangkaian konsep atau pemikiran yang terpisah dari konteks Alkitab, melainkan sebuah kondisi di mana teologi yang kita bangun dan kembangkan (ajarkan) didasarkan pada pemahaman yang komprehensif.
Alkitab menjadi “media utama” untuk melihat berbagai ajaran yang akan membimbing, mengarahkan, dan memimpin kita menuju kehidupan yang dikehendaki Allah. Teologi bukan hanya sekadar bagaimana kita berbicara, menyampaikan argumentasi, meluruskan pandangan yang keliru, tetapi juga menekankan sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan sesama kita.
Kita tidak hanya berurusan dengan Tuhan yang tak kelihatan itu, tetapi juga berurusan dengan sesama kita di mana kita dapat mengajarkan mereka untuk mengikuti ajaran Alkitab dan membentuk kehidupan mereka menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.
Yang tersisa dari teologi—seperti yang terjadi pada Ravi Zacharias—adalah sikap hidupnya yang selaras dengan apa yang ia pahami dari Alkitab. Ia telah menjadi teladan tidak hanya pemikirannya (teologinya), melainkan juga sikap hidupnya.
Jangan jadikan teologi untuk memenuhi “nafsu-nafsu” yang terselubung; jangan gunakan teologi untuk menyerempet warisan-warisan yang telah diberikan kepada kita di sepanjang sejarah; jangan jadikan teologi sebagai landasan kesombongan kita untuk mencuatkan “diri” ketimbang sikap hidup kita sendiri. “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia”—“Kamu adalah Penjala Manusia”, dan itulah yang menjadi sikap hidup kita dalam berteologi. Teologi adalah alat untuk “memberitakan Injil” melalui kata (pewartaan) dan sikap hidup (perbuatan).
Waspadalah, jangan sampai teologi kita hanyalah sebuah upaya menjaring angin.
Teologi memiliki faset-faset yang dapat mengkorelasikan satu dengan lainnya dengan melihat pada “big picture” [gambar besar] dari karya Allah bagi umat manusia. Hal ini kemudian menjadi ajang debat antara mereka yang benci dengan doktrin Kristen, mereka yang memiliki “a priori” terhadap Alkitab Kristen, dan lain sebagainya. Faset-faset teologi Kristen kemudian akan menjadi terdengar aneh ketika ada mualaf yang mencoba menunjukkan aksi diri supaya terlihat pintar di depan para pendengarnya yang bodoh.
Ketika seorang Kristen yang berstatus pendeta beralih ke agama lain, maka secara hasrat ia akan memberikan ruang kuliah yang isinya hanyalah sebuah “celoteh jalanan” bernatur “paralogisme” tentang iman Kristen yang dulunya dia percayai. Sebut saja Muhammad Yahya Waloni, dan atau seorang wanita bernama Irena Handono, yang mana keduanya memiliki konstruksi teologi yang sangat amburadul.
Mereka mengais rezeki dari jenis paralogisme tentang doktrin Kristen dan sesuka hati mengkritik dengan pendekatan “negative thinking”. Kita tahu bahwa Kristen adalah agama yang terbuka untuk diperdebatkan. Siapa pun bebas mengkitiknya. Namun lain halnya dengan agama tertentu yang mendapat respons negatif dari sekelompok orang yang tersinggung ketika kritik yang sama digunakan untuk mengkritik historis doktrinal mereka.
Pada faktanya para pelaku paralogisme secara bebas bergentayangan di Indonesia. Bahkan mereka dianggap sebagai pembicara handal. Tapi mereka handal di antara orang-orang bodoh yang mudah dibodohi. Mereka mendapat panggung yang luas untuk mencaci maki iman Kristen, Paulus, dan juga Yesus, menafsirkan teks-teks Alkitab secara buta [teks tanpa konteks].
Yahya Waloni, dengan pendekatan “negative thinking”-nya terhadap iman Kristen membawa dirinya kepada sebuah kondisi paralogisme tingkat tinggi. Beliau adalah teolog kelas teri yang hanya bermodalkan kumur-kumur doktrin Kristen tanpa memiliki substansi biblika, historis, dan eksegetis. Irena Handono juga sama. Dengan metode salah kaprah [seperti judul bukunya: BIBEL BUKAN INJIL] menjadikan dirinya sendiri sebagai seorang penganut paralogisme yang buta sejarah dan doktrin Kristen.
Mereka berdua adalah representatif paralogisme dari semua mualaf di Indonesia. Mereka seringkali mencuatkan provokasi cuci otak kepada para pendengarnya supaya meyakini paralogisme mereka yang tiada taranya itu. Dari kondisi tersebut kita dapat menilai bahwa gejala psikologis yang bertujuan mendapat nama dan keuntungan hasil pembodohan dan penyesatan, cukup berhasil di kalangan para mualaf kelas teri tersebut.
Ketika paralogisme doktrin Kristen [yang dikumandangkan oleh para mualaf], dipercayai oleh orang-orang bodoh, mereka terhibur dan sangat bahagia sekali. Anggapan mereka Kristen adalah agama yang telah disesatkan oleh Paulus dan ajaran-ajarannya tidak masuk di akal. Masih banyak tuduhan dan lelucon yang ditujukan kepada Kristen.
Lebih parahnya lagi, ada yang beranggapan bahwa tidak mungkin percaya Yesus adalah Tuhan yang bisa makan dan buang air besar. Bahkan seorang yang lahir dari vagina perempuan pasti bukan Tuhan. Di sini, paralogisme yang muncul adalah mereka memahami “Tuhan” sebagai “fisik” dan bukan sebagai gelar. Atau alasan klasik mereka: “Jika Yesus itu Tuhan, mengapa Dia mati? Tuhan kok mati?”.
Mereka sama sekali tidak cerdas, bahkan sangat ignoran [saya maklumi] dan tetap bahagia dalam ketidakcerdasan dan ignoran mereka. Kemanusiaan Yesus tidak dipahami secara utuh. Bahwa ketika Yesus makan, maka wajar saja karena Ia adalah manusia yang sempurna seperti kita. Begitu pula dengan buang air besar dan lahir dari vagina perempuan, karena Ia dilahirkan sebagai manusia. Masakan manusia dilahirkan oleh sapi? Bahkan alquran pun menyebutkan kisah kelahiran Isa dari perawan Maria meski kisah kelahiran Isa bernatur dongeng.
Jika mengikuti pola paralogisme mereka soal Yesus mati, maka analogi ini bisa dipikirkan: “ketika seorang bupati mati, apakah yang mati jabatannya atau orang yang menjabat sebagai bupati?” Kalau mau konsisten maka menurut para penganut paralogisme, jabatan bupati juga ikut mati. Jika Yesus Tuhan, ketika Ia mati, maka Tuhannya pun ikut mati. Begitulah cara berpikir mereka. Sesat dan tidak tahu bahwa mereka sedang sesat. Tentu apa yang dipahami oleh kaum paralogisme di atas, bukanlah pemahaman iman Kristen.
Ada lagi yang cukup membuat kita tertawa geli. Menurut mereka, Yesus dan Bapa adalah satu. Yesus berdoa kepada Bapa, maka Yesus berdoa kepada diriNya sendiri. Inilah jenis paralogisme. Padahal dalam kemanusiaanNya, Yesus berdoa kepada BapaNya tidak ada masalah, karena Dia manusia. Titik persoalannya adalah muslimer tidak dapat memahami dua natur Yesus yang ada dalam diriNya sehingga mereka bingung dan dalam kebingungannya, merumuskan suatu pemahaman yang sama sekali bukanlah pemahaman iman Kristen.
Pada konsep Trinitas juga tak kalah menakjubkan. Bagi mereka Trinitas adalah ajaran setan dan menyesatkan. Sayangnya mereka tidak bisa membuktikan setan mana yang mengajarkan Trinitas, kapan diajarkan dan mana bukti dokumen ajaran setan. Perlu dicatat, bahwa sejatinya setan juga bernatur Trinitas: setan [nama yang diberikan kepadanya], rohnya, dan pikirannya. Islam juga menyembah Trinitas: Allah, Kalam, Dzat. Ketika Islam menyembah Allah, maka mereka sekaligus menyembah dzat Allah dan kalam dalam diri Allah.
Tidak mungkin Islam menyembah Allah yang tidak punya kalam dalam diriNya. Mereka tentu tidak berpikir bahwa Allah adalah esa yang kosong, tanpa dzat dan kalam. Justru sebaliknya, ketika mereka berbicara tentang Allah maka secara simultan mereka meyakini bahwa ada dzat dan kalam selain Allah. Ketiganya adalah satu dan tak bisa dipisahkan. Ketiganya adalah pribadi sebab tanpa dzat, Allah tak mungkin disebut pribadi.
Jadi, jika para mualaf dengan beraninya mengkritik Trinitas Kristen maka mereka juga memiliki iman kepada Allah SWT yang bernatur trinitas: Allah, kalam, dzatNya. Bedanya dengan Trinitas Kristen ada pada Logos Allah yang menjadi daging [manusia]. Itulah hebatnya Allah Kristen. Logos Ilahi menjadi manusia itu luar biasa sekaligus mengkonfirmasi bahwa Allah berkuasa. Logos mengenakan materi terbatas tetapi Ia sendiri tidak terbatas. Di samping itu, Logos yang menjadi “sarks” [daging] memiliki agenda penebusan dan penyelamatan Allah. Manusia berdosa kepada Allah dan hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana caranya menebus manusia. Itulah yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus.
Ketika paralogisme merajai pikiran para mualaf maka berbagai celoteh jalanan akan terus terdengar. Kesesatan demi kesesatan akan terus mereka lakukan sampai kematian menjemput mereka. Tepatlah dikatakan bahwa paralogisme menutup logika mereka untuk berpikir cerdas. Malahan mereka bahagia dengan paralogisme mereka sendiri.
Akhir kata, kita hanya perlu menyuguhkan kepada para pelaku paralogisme dengan tiga jenis “pan de muerto” (bread of the dead) yaitu: terkonteks, terdefinisi dan terklasifikasi, terhadap semua tuduhan absurd yang dikumandangkan oleh para mualaf dan dipercayai oleh orang-orang bodoh. Niscaya mereka akan tersedak dan menelan bukti-bukti historis yang kredibel tentang Yesus Kristus.
Kita tetap harus waspada terhadap gelagat para mualaf yang hanya bermodalkan kumur-kumur ayat dan logika yang absurd dalam memahami iman Kristen. Ketika paralogisme para mualaf dipercayai, maka relasi Islam-Kristen akan semakin tawar, retak, dan memunculkan kebencian serta sentimen agama. Itulah yang terjadi. Akan tetapi, sedapat mungkin kita terus belajar dan memberikan pertanggung jawaban terhadap semua kesesatan yang mereka munculkan. Tuhan Yesus memberkati usaha dan kerja keras kita untuk memberitakan kebenaran, memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia yang telah menebus, memberikan jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16).
Salam Bae
Untuk melihat lebih juah buah pemikiran paralogisme Yahya Waloni, silakan beli dan baca buku yang berjudul: MENJAWAB DAN MENERTAWAKAN ARGUMEN TEOLOG KELAS TERI: Klarifikasi Atas Klaim-Klaim Muhammad Yahwa Waloni dalam Bukunya Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta.
Tulisan ini adalah bagian Pendahuluan dari buku saya: “Yesus Zaman Old dan Yesus Zaman Now: Warisan Iman yang Tak Pernah Pudar”, 2019.
Semua manusia memiliki potensi untuk memahami sesuatu. Memahami sesuatu memiliki dasar atau titik pijak. Saya menyebut enam aspek: Pertama, memahami secara parsial. Artinya seseorang hanya melihat sepotong (sebagian) dari sesuatu yang dipahaminya, melihat satu bagian tertentu dan mengabaikan (atau menolak) bagian yang lainnya. Adakalanya konteks parsial itu lebih mendukung keyakinan dan pra-pemahamannya maka seseorang tidak menerima parsial lainnya (yang bertentangan). Hal ini sering terjadi pada aspek informasi, dokumen historis, keyakinan, berita, perkataan, dan fakta dari suatu peristiwa, padahal dalam satu peristiwa atau dokumen, rangkaian yang utuh dapat saja dapat merupakan akumulasi di mana yang satu sesuai dengan a priori dan lainnya tidak, meski keduanya berada dalam satu peristiwa atau dokumen. Hal ini terlihat, misalnya pada konteks Kristologi; ada yang membagi Yesus historis dan Yesus iman; ada yang percaya Yesus lahir dari perawan (Maria) dan menegasikan penyaliban-Nya; ada yang mengakui Yesus mati tetapi menegasikan kebangkitan-Nya.
Kedua, memahami secara fragmentaris. Pemahaman jenis ini memiliki kaitan dengan pemahaman yang pertama. Pada pemahaman fragmentaris, keutuhan konteks diabaikan; seseorang hanya berfokus pada salah satu hal dan tidak melihat korelasi dengan hal-hal lainnya di mana secara substansial sesuatu hal itu saling terkait.
Ketiga, memahami secara demarkasi. Pemahaman ini melihat batasan-batasan ketika memahami sesuatu. Jika tidak ada kaitannya, maka demarkasi diperlukan (membatasinya). Selain itu, demarkasi dilakukan untuk tidak mengalirkan logika ke semua arah yang tak ada kaitannya sama sekali. Artinya, spekulasi-spekulasi liar tidak perlu mendapat perhatian. Maka demarkasi adalah solusinya.
Keempat, memahami secara jukstaposisi. Pemahaman ini berarti menempatkan dua hal atau objek secara berdampingan atau sejajar, antara objek yang satu dan objek lainnya memiliki dua konten yang sangat terkait, saling mendukung, saling mengkonfirmasi, dan saling mengisi, sehingga pemahamannya menjadi utuh.
Kelima, memahami secara komprehensif. Pemahaman ini mengutamakan kesadaran untuk melihat sesuatu secara utuh (penuh). Rangkaian peristiwa yang terjadi dapat dan harus dilihat secara berkesinambungan, sehingga tidak ada kisah yang terpotong. Di samping itu, pemahaman ini menegaskan posisi penyelidikan terhadap sesuatu yang menghasilkan data dan bukti sebagai kekuatan objektivitasnya.
Yang terakhir, keenam, memahami secara paralogisme. Jenis ini sejak dari awal sudah memiliki a priori, asumsi negatif (dari sumber lain atau dari berbagai klaim-klaim miring), dan pemahaman yang salah yang dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Memahami secara paralogisme tentu menyatakan kondisi seseorang bahwa sejak dari awal dia telah [memiliki paham] sesat dan dia tidak tahu bahwa dia telah berada dalam kesesatan itu. Tidak ada peluang bagi dia untuk melihat secara utuh mengenai sesuatu yang disalahpahami itu, sehingga berdampak pada konteks “sesat yang menyesatkan” baik orang lain maupun dirinya sendiri.
Berangkat dari cara memahami di atas, ranah iman dan teologi Kristen pun didasarkan pada bagaimana kita memahami apa yang diwariskan kepada kita hingga sekarang ini. Alkitab—yang dengannya bangunan iman dan teologi Kristen terbangun—adalah dokumen historis yang memiliki kekuatan data dan bukti, yang menyuguhkan sebuah fakta penyataan Allah, kasih karunia, anugerah, rahmat, penghukuman, pengampunan, dan penyelamatan Allah atas umat-Nya.
Dalam konteks penyataan, Allah menyatakan diri-Nya melalui Logos yang (berinkarnasi) menjadi daging (manusia). Ia menunjukkan kekuatan kuasa Allah yang dapat menyelamatkan manusia dengan kondisi terendah: menjadi manusia. Jika Allah menyelamatkan manusia dengan kekuasaan yang dimiliki-Nya, tanpa menjadi manusia, itu tidak ada persoalaan. Toh, hampir semua manusia mengakui bahwa Allah itu Mahakuasa. Tetapi jika Logos Allah menjadi manusia dan menyelamatkan manusia, bukankah hal itu menunjukkan bahwa betapa hebat dan dahsyatnya Allah kita? Melalui inkarnasi, kita dapat melihat betapa Allah datang dengan kasih-Nya, melawat kita dan membersihkan segala kekotoran dosa. Di sini, Yesus adalah fokus utama, yang dulunya telah membuktikan kuasa-Nya, hingga kini kuasa itu tetap sama, tidak berubah.
Yesus yang kita kenal melalui Alkitab, adalah Yesus yang sama dengan yang dikenal oleh para murid. Seperti yang penulis kitab Ibrani tegaskan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Yesus yang kita imani dan taati adalah Yesus yang sama dengan yang diimani dan taati oleh para pemimpin Kristen yang telah mati bagi Kristus (bdk. Ibr. 13:7). Yesus zaman Now (sekarang) adalah Yesus yang sama di zaman Old(dulu). Mengenai aspek “sama” antara Yesus Now dan Yesus Old akan saya bahas pada bab tujuh di bagian akhir. Apa yang nanti dijelaskan mengenai aspek “sama” tersebut mengantarkan kita pada cara memahami sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.
Sejatinya, memahami Yesus memberikan gambaran yang kuat mengenai apa yang Dia perbuat di zaman-Nya, meski tidak sepenuhnya dituliskan—seperti yang Rasul Yohanes tuliskan: “Masih banyak hal-hal lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25).
Kita yang percaya hanya dapat menambah pengetahuan kita tentang Yesus Kristus melalui pengalaman (empiris) pribadi sebagai bentuk konfirmasi dari apa yang dituliskan dalam Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Tak ada yang dapat berbicara lebih kuat dari pengalaman hidup bersama Yesus. Alkitab memberikan petunjuk kepada kita bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan disertai-Nya (bdk. Mat. 28:20) hingga akhir zaman. Memang teks itu ditujukan kepada para murid-Nya, tetapi perkataan Yesus itu mencakup semua orang yang percaya karena pemberitaan Injil di segala zaman dan tempat, yang disampaikan oleh para murid Yesus sampai kepada kita sekarang ini; mereka dan kita telah membuktikan bahwa penyertaan Yesus Kristus sangat nyata dan sungguh luar biasa. Mereka dan kita telah melihat dan merasakan kuasa Yesus bekerja sedemikian ajaib, sehingga iman menjadi kuat, bertumbuh, dan berbuah.
Mengenal Yesus haruslah membawa kita kepada tindakan mengasihi sesama secara tulus. Jika Yesus zaman Old begitu memperlihatkan kasih dan kuasa-Nya, maka kita yang hidup di zaman sekarang harus mengumandangkan dan memper-dengarkan bahwa Yesus di zaman Now – adalah Yesus yang sama dengan Yesus zaman Old; Ia mengasihi, berkuasa, dan mencintai orang yang mengarahkan diri pada hidup kudus, dan penuh kasih. Berita tentang Yesus zaman Now mengandung pokok-pokok iman yang dapat menyadarkan, mengarahkan, menguatkan, membimbing kita untuk melihat kasih dan pengampunan-Nya yang begitu luar biasa. Belenggu-belenggu dosa harus diputuskan dan dilepaskan tatkala seseorang mengikut Yesus. Segala penghalang jangan dijadikan sahabat saat kita mengikut Yesus. Justru penghalang-penghalang itu harus dilepaskan, dibuang jauh-jauh, dan menjadikan Yesus sebagai “Raja di hati kita” tanpa ada hal lain yang mengganjalnya. Mereka yang pernah mengalami kuasa Tuhan Yesus, tak mungkin menukar imannya dengan sesuatu yang lain. Iman kepada Yesus itu mahal, bukan murahan.
Oleh sebab itu, memahami dan mengenal Yesus serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya adalah sesuatu yang sangat berharga dan membahagiakan. Kita melihat ke masa depan dan meyakini bahwa ada kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan kekal yang diberikan oleh Yesus bagi mereka yang percaya, mengasihi, dan setia kepada-Nya sampai akhir hayat. Mereka yang memahami Yesus hanya didasarkan pada teori dari Alkitab tanpa mengalami kuasa, kasih, dan tuntutan-Nya, adalah suatu kondisi yang sama sekali tidak biblikal, bahkan tidak dianjurkan.
Lihatlah para martir Kristen di sepanjang sejarah. Mayoritas di antara mereka mati secara sadis dan mengenaskan. Kita mungkin terharu bahkan meneteskan air mata ketika membayangkan bagaimana mereka begitu tangguh dalam iman meski penyiksaan dan kematian di depan mata mereka. Warisan iman mereka tak pernah pudar hingga sekarang. Kita yang hidup beriman kepada Yesus Kristus adalah karena warisan imannya mereka. Roh Kudus bekerja meneguhkan warisan iman mereka kepada kita sekarang ini.
Abad pertama, para rasul mengalami penganiayaan yang luar biasa. Abad-abad berikutnya, orang-orang Kristen juga mengalami hal serupa. Namun, keyakinan kepada Yesus Kristus yang mengubahkan hidup mereka tertanam kuat dalam diri. Iman mereka tidak hanya sebatas pengetahuan saja; tidak sebatas pada pengakuan saja; tetapi iman mereka ditunjukkan dan dibuktikan secara total melalui perbuatan-perbuatan, melalui kesetiaan dan ketaatan, bahkan mereka tetap setia dan taat sampai mati. Hal inilah yang dinyatakan John R. W. Stott, bahwa
Fakta bahwa salib menjadi simbol Kristen, dan bahwa orang-orang Kristen, meskipun diolok-olok, dengan keras kepala menolak untuk membuangnya dan menggantinya dengan sesuatu yang kurang ofensif, hanya mungkin dijelaskan dengan satu alasan. Itu berarti bahwa sentralitas salib berasal dari pikiran Yesus sendiri. Oleh karena kesetiaan kepada Dialah para pengikut-Nya dengan gigih mempertahankan tanda ini.[1]
Teladan iman yang sedemikian tangguh dari para rasul dan orang percaya di sepanjang zaman, patut kita teladani. Zaman boleh berganti dan berubah, zaman boleh mengalami kemajuan di berbagai bidang, namun Yesus Kristus tetap sama; Ia tetap menyertai orang-orang yang percaya dan bersandar pada-Nya. Kita tetap memiliki iman yang sama dengan para murid Yesus, para martir, dan semua orang percaya di seluruh dunia di sepanjang zaman dan sejarah. Kita berbeda suku, bahasa, dan budaya, namun iman kita satu, yaitu [ber]iman kepada Yesus Kristus. Berita tentang Yesus tetap berkumandang di seantero dunia.
Di zaman ini, berita itu tetap sama dan dikabarkan kepada semua jenis generasi, entah generasi “tempo doeloe”, Z, Alpa, Millennial, dan sebutan lainnya. Berita tentang Yesus adalah berita damai, kasih, dan pengampunan dosa. Berita itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa dan membutuhkan pengampunan Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus: Logos Allah yang kekal. Mengapa harus pengampunan? Ingatlah bahwa pengampunan itu adalah tindakan meredam dan menggagalkan bencana yang lebih besar terjadi. Ketika pengampunan tidak ada, dunia dalam bencana besar dan kemudian dunia (baca: manusia) akan bertindak sesuka hati, bersaing, saling membenci, membunuh, dan kemudian musnah secara perlahan.
Di zaman Old, Yesus menunjukkan pengampunan yang luar biasa. Dosa, kesalahan, dan pemberontakan mendapat peng-ampunan dari Allah. Pengampunan-Nya memberitahukan kepada kita bahwa Allah membenci dosa, pemberontakan, dan kesalahan yang bertentangan dengan kehendak dan hukum-hukum-Nya. Dalam Perjanjian Lama (PL), Allah menyatakan pengampunan-Nya kepada mereka yang berkenan mengakui kesalahannya, dan kepada mereka yang ditegur langsung oleh Allah. Allah menyapa umat-Nya melalui pengampunan, dan mereka merasakan sukacita yang luar biasa; merasakan bahwa hidup mereka menjadi kuat dan berarti, baik di hadapan Allah maupun sesama.
Efek dari pengampunan Allah pun (dalam PL) berlanjut sampai kepada inkarnasi Logos menjadi daging (sarks [manusia]). Melalui inkarnasi, Yesus—Logos Allah—mem-perlihatkan jangkauan kuasa-Nya yang dahsyat. Dalam inkarnasi, Yesus menampilkan kuasa dan otoritas-Nya atas manusia berdosa, setan-setan, orang-orang yang kerasukan, atas alam, dan lain sebagainya. Fakta ini—meski ada yang melihatnya sebagai mitos (dalam arti negatif) atau pun omong kosong—telah menjadi pembuktian kemudian, bahwa ternyata orang-orang percaya diberikan “kuasa” oleh Yesus Kristus untuk mengusir setan (pada orang-orang yang dirasukinya), menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menyembuhkan orang lumpuh, dan masih banyak lagi. Dengan demikian kuasa Yesus zaman Now(selanjutnya disebut Yesus Now), masih tetap sama dengan kuasa Yesus zaman Old(selanjutnya disebut Yesus Old). Zaman berganti, kuasa-Nya tetap sama. Yesus memberikan kuasa kepada setiap generasi, dan itu membuktikan siapa Dia sebenarnya: Dia adalah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat.
Kalau ada orang yang ‘otaknya setengah’—maksudnya berpikirnya hanya parsial, fragmentaris, dan paralogisme—mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Tuhan’ yang kalah (maksudnya Yesus Old), Ia adalah Yesus yang lemah, manusia biasa, Dia kalah (entah maksudnya apakah Yesus kalah ketika disalib, atau penekannya pada aspek manusiawi Yesus lainnya), maka itu merupakan sebuah pernyataan tanpa dasar, hanya sebuah imajinasi, asumsi, dan sebuah celoteh jalanan. Maksudnya? Otak (cara berpikir) model begini hanya bermaksud melihat sebuah objek tertentu sesuai dengan apa yang dia inginkan untuk ditafsirkan dan bukan apa yang hendak dia ketahui untuk mendapatkan tafsiran yang objektif terhadap objek yang dilihat (diamati). Alhasil, pernyataan di atas adalah bentuk lain dari kesesatan logika, tanpa bukti, tapi hanya berimajinasi, sebuah a priori.
Mengatakan Yesus sebagai Tuhan yang kalah—maksudnya “Yesus yang disalibkan”—bukanlah sebuah pernyataan yang valid pada dirinya sendiri melainkan “memotong” fakta penyaliban (memberhentikan personalitas Yesus pada peristiwa salib) tanpa melihat fakta sesudahnya, untuk memenuhi nafsu otak parsial tadi. Dia lupa bahwa Yesus bangkit dari kematian; dan kemudian Ia menampakkan diri kepada banyak orang (termasuk kepada para murid). Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Yesus kemudian terangkat ke surga. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Yesus pun menegaskan bahwa: “Aku menyertai kamu (para murid dan semua orang yang percaya atas pemberitaan Injil oleh para murid Yesus) senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Apakah Yesus adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Kuasa Yesus Now masih tetap sama dengan kuasa Yesus Old. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Telah begitu banyak orang diubahkan oleh Yesus. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Bahkan Yesus akan datang pada hari kiamat. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak.
Yesus dan kematian-Nya di salib, bukanlah tanda kekalahan, tetapi justru membuktikan bahwa Dia berkuasa: berkuasa menebus, mengampuni, dan berkuasa atas maut dan kehidupan. Dia tidak dikuasai maut. Dia justru bangkit dari kematian. Luar biasa bukan? Ingatlah, bahwa sebelum Dia disalibkan, Dia telah menubuatkan kematian-Nya. Bukankah itu pertanda ucapan Yesus penuh kuasa? Bukankah Yesus konsisten dengan ucapan-Nya? Lihatlah teks-teks berikut. Yesus telah menyatakan kematian dan kebangkitan-Nya: Markus 8:31, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Markus 9:31, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit. Lukas 9:22, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Lukas 24:7, “Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.
Menariknya, malaikat yang turun dari langit (Mat. 28:2-3) justru juga konsisten dengan fakta yang terjadi. Dia mengatakan bahwa: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring (Mat. 28:5-6). Lukas 24:6-8 juga mencatat hal yang sama: “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.
Konfirmasi kebangkitan Yesus sebagaimana yang ditegaskan malaikat merujuk kepada “ucapan Yesus” di mana seperti tampak pada teks-teks di atas, menyebutkan bahwa Yesus telah menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya. Bagaimana mungkin kemudian Dia dipahami sebagai Tuhan yang kalah? Sebenarnya bukan Yesus yang kalah, melainkan orang yang mengatakan Dia kalah adalah yang kalah—tidak sanggup menerima fakta Alkitab secara komprehensif. Sejatinya, orang-orang yang memupuk rasa menang berdasarkan kekalahan yang diterimanya mengindikasikan “kelainan jiwa dan otak” dalam bingkai ketidakpuasan menerima fakta dan iman Kristen terhadap Yesus Kristus yang adalah Tuhan, berkuasa atas hidup dan maut, berkuasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman. Lebih dari itu, kelainan jiwa dan otak tersebut bersumber dari a priori dan negasi-negasi mereka terhadap iman Kristen yang dianggap tidak masuk akal, padahal sejatinya otak mereka yang tidak dapat menerima fakta yang sebenarnya. Fakta adalah fakta, negasi terhadap fakta tidak menggagalkan fakta. Justru otak yang menolak fakta adalah sesat (paralogisme).
Apakah Yesus adalah Tuhan yang kalah? Yang mengatakan bahwa Dia kalah jelas memiliki model berpikir parsial-kondisional, yaitu memahami sesuatu secara sebagian untuk mengkondisikannya sesuai dengan apa yang dia yakini tentang Yesus, berdasarkan penalaran yang tidak sah. Dia lupa bahwa Yesus bangkit, menampakkan diri, naik ke surga, menyertai semua orang-orang percaya hingga akhir zaman. Bukankah PB menyebutkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang menang atas maut? Siapa bilang Dia kalah? Pasti yang mengatakan Dia kalah adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang kerdil tentang Yesus.
Masih ingat dengan pernyataan Rasul Paulus mengenai kemenangan Yesus atas maut? Apakah Dia kalah? Tentu tidak.
Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Kor. 15:54-57
Bagaimana mungkin Yesus disebut sebagai Tuhan yang kalah padahal Ia bangkit dari kematian, Ia mengalahkan maut, Ia menampakkan diri (sebagai bukti kebangkitan-Nya) dan Ia naik surga? Ia tetap menunjukkan kuasa-Nya dari zaman ke zaman. Apakah Ia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Yesus yang kalah adalah “Yesus yang lain, Yesus yang disesuaikan dengan keyakinan seseorang” yang tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Yesus versi Alkitab.
Hingga sekarang ini, warisan iman para rasul masih tetap sama, tidak pernah pudar. Yesus yang menunjukkan kuasa Allah; Yesus yang diakui oleh setan-setan sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, dan masih banyak lagi pengakuan dan demonstrasi kuasa Yesus. Yesus yang disembah bukanlah Yesus yang kalah, tetapi Yesus yang menang. Tidak ada konsep Yesus yang kalah dalam iman Kristen.
Cara berpikir demikian (melihat fakta secara parsial) sebenarnya mendaur ulang peristiwa hoax di zaman Yesus di mana pasca kebangkitan-Nya (Mat. 28:1-10), imam-imam kepala dan tua-tua bersepakat menyebarkan hoax.
Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini. (Mat. 28:11-15)
Bukankah imam-iman kepala dan tua-tua sedang membuat Yesus sebagai orang yang kalah? Mari kita mundur sejenak untuk melihat ketakutan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bahwa Yesus akan bangkit sebagaimana yang Ia katakan. Perhatikan narasi berikut ini:
Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.” Kata Pilatus kepada mereka: “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.” Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya (Mat. 27:62-66)
Ketakutan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tentang kebangkitan Yesus, diasumsikan bahwa para murid Yesus akan datang mengambil mayat-Nya supaya terkesan bahwa apa yang Yesus ucapkan itu tergenapi. Memang masuk akal asumsi mereka setidaknya jika ditinjau dari penempatan Yesus sebagai penyesat seperti yang mereka tuduhkan (ay. 63: … Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit). Akan tetapi, pada faktanya, Yesus bangkit dari kematian. Apa buktinya? Kubur kosong, penampakkan diri, kenaikan Yesus ke surga dan penyertaan Yesus kepada semua orang-orang yang percaya pada-Nya (termasuk percaya kepada kuasa-Nya yang dahsyat), sampai sekarang ini.
Dengan demikian, Yesus Now adalah Yesus yang masih tetap sama dengan Yesus Old. Yesus bukanlah Tuhan yang kalah, tetapi Tuhan yang menang. Melihat personalitas Yesus haruslah secara komprehensif. Kuasa-Nya tetap sama, sebagaimana kita melihat bahwa banyak orang yang telah diubahkan oleh Yesus menjadi orang-orang yang cinta damai, suka mengampuni, dan menebarkan kasih Kristus dalam totalitas kehidupan mereka. Yesus disembah karena Ia adalah Tuhan yang memiliki kuasa. Ia telah membuktikan hal itu.
Hingga kini, semua orang yang pernah mengalami kuasa Yesus Kristus tak terhitung jumlahnya. Pengalaman hidup bersama Yesus—merasakan kuasa-Nya yang luar biasa—telah menjadi kekuatan iman dan tidak dapat digantikan oleh hal-hal yang lainnya, seperti yang diungkapkan Stott di atas. Pengalaman iman berbicara lebih kuat; dan melaluinya, kita tahu bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab tentang Yesus adalah benar. Tepatlah yang dituliskan oleh penulis kitab Ibrani: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Berangkat dari pemahaman tersebut, maka buku ini hendak menyuguhkan pemahaman-pemahaman tentang Yesus baik di zaman old maupun di zaman now. Ada konsistensi logis dari apa yang diperbuat dan yang dikatakan Yesus. Yesus tetap sama; Ia tak berubah.
Meski berbagai asumsi negatif dan kritik, hal itu tidak mengubah kuasa-Nya. Orang-orang begitu tergugah ketika dilawat oleh Yesus. Tak ada yang dapat menahan dan melawan kuasa-Nya. Maut saja dikalahkan, apalagi hanya segelintir mulut pencaci dan penista Yesus. Terlalu kecil bagi-Nya untuk menyingkirkan mereka itu. Tak bisa terbayangkan betapa dahsyatnya kuasa Yesus. Ada yang kemudian bertobat dan berlutut mengakui-Nya. Tanyakanlah kepada mereka yang dulunya hidup dalam kejahatan dan ketika mereka bertobat, diubahkan Yesus, apakah hidup mereka ada sukacita atau tidak? Dari berbagai kesaksian yang saya dengar, semuanya merasakan sukacita, kelegaan, dan damai. Mereka hidup mengadakan damai, mereka mengampuni musuh-musuh bahkan mendoakan mereka. Ajaran-ajaran Yesus tetap segar dalam pikiran, mulut, dan totalitas hidup mereka. Itulah tandanya, bahwa kuasa Yesus tetap sama. Mereka yang dulunya menghina Yesus, kini berlutut memohon ampun dan memuji Dia. Benarlah apa yang dikatakan Paulus: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).
Di samping itu, buku ini menegaskan bagaimana cara memahami personalitas Yesus secara jukstaposisi, komprehensif, demarkasi konteks, dan hendak menyatakan tiga hal. Pertama, Yesus yang kita imani zaman now berdasarkan kesaksian Alkitab dan pengalaman iman kita, adalah Yesus yang sama yang diimani oleh para murid di zaman old. Artinya, empirikal para murid meneguhkan bahwa apa yang Yesus katakan adalah benar. Di zaman ini, hanya mereka yang pernah merasakan jamahan kasih dan mengalami kuasa Yesus yang dapat mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kedua, Yesus adalah pribadi yang membuktikan konsistensi dari ucapan-Nya. Sekarang, semua orang percaya menikmati dan merealisasikan ucapan-Nya yang berkuasa itu. Dari aspek filsafat, konsistensi logis dan konsekuensi logis adalah dua hal yang substansial di mana keduanya dibuktikan oleh Yesus. Ketiga, Yesus Now memiliki korelasi yang sangat kuat dan faktual dengan Yesus Old, yang dalam konteks yang lebih luas, perdebatan dan negasi terhadap personalitas Yesus dalam bingkai pluralisme agama, tidak dapat menyuguhkan gagasan berdasar historis, dokumen, dan argumentasi logis.
Dalam tiga dunia pemikiran: empirikal, filsafat, dan pluralisme, Yesus Now dapat menampilkan kepiawaiannya berselancar untuk menghadapi serangan-serangan terhadapnya, melalui pemahaman jukstaposisi, komprehensif, dan demarkasi konteks. Dengan demikian, apa yang kita dapatkan dalam pemahaman yang benar tentang Yesus dan pengalaman hidup (mengalami kasih, kuasa, dan pengampunan) bersama Yesus, membawa kita kepada hidup yang berkemenangan, penuh damai, kasih, dan pengampunan. Tak ada yang dapat menandingi teladan Yesus dalam hal “mengampuni”. Meski Ia dalam keadaan disalibkan—dan sebelumnya Ia disiksa, dicaci maki, dihina, dipukul—Ia malahan mengatakan: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Pengampunan Yesus sungguh luar biasa. Ia tidak mewariskan sikap balas dendam, melainkan sikap yang mengampuni dan mendoakan musuh. Dia bukanlah Tuhan yang kalah. Semua yang menyalibkan Yesus sudah mati, tetapi Yesus yang bangkit, telah naik ke surga, dan Ia akan datang kembali di akhir zaman.
Mengalahkan Yesus mutlak tidak bisa dilakukan. Dunia malahan diubah oleh Dia. Dunia yang berusaha untuk menyingkirkan Yesus, termasuk para teolog liberal, justru semua sudah mati, mereka gagal—meskipun pengaruhnya terasa, tetapi hal itu tidaklah menjadi bencana bagi dunia kekristenan, mereka kadang berkhayal, mereka berparalogisme ria, tetapi pengaruh Yesus masih saja dialami oleh semua orang percaya, yang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang mati dibangkitkan, yang buta melihat, dan masih banyak lagi. Yesus mengajarkan cinta damai, menebarkan kasih dan pengampunan agar dunia menjadi aman dan tenteram. Lihatlah para pengikut Yesus yang sungguh-sungguh mengasihi dan percaya kepada-Nya; mereka hidup dalam kasih, dan benar-benar memperlihatan pengampunan. Mereka meneladani dan mengakui kehebatan Yesus Old.
Kita menyadari bahwa hidup beriman kepada Yesus bukanlah perkara mudah. Ada saja tantangan, hambatan, perendahan, caci maki, persekusi terhadap orang-orang percaya. Salah satu contoh adalah ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang kalah. Masih banyak pernyataan dan klaim yang didasarkan pada gangguan kejiwaan dari mereka yang tidak menyukai dan membenci orang Kristen. Pola paralogisme begitu kental dan bahkan telah menjadi habitat harian mereka, seperti surat kabar harian.
Lebih dari itu, cara memahami tentang Yesus, merupakan fakta utama dari berbagai bentuk kesesatan, penyesatan, kebodohan, dan kesalahpahaman. Sebagaimana di atas telah dijelaskan mengenai enam cara memahami. Dengan demikian, kesalahan-kesalahan dan penyesatan-penyesatan pemahaman Kristologi berangkat dari bagaimana memahaminya.
Akhirnya, beriman kepada Yesus tidak pernah salah. Pilihan kita sangat tepat. Mengapa? Kita telah memiliki bukti tertulis: Alkitab. Dan kita pun memiliki bukti empiris: merasakan dan mengalami kasih dan kuasa Yesus Kristus. Tidak hanya itu, warisan iman dari mereka yang percaya, setia, dan mati demi Yesus Kristus, tidak pernah pudar hingga sekarang ini. Masihkah kita ragu mengikuti-Nya dan mengakui-Nya? Masihkah kita membenci mereka yang memaki dan membenci Yesus Kristus? Masihkah kita ragu memberitakan Injil? Masihkah kita membenci mereka yang membenci kita? Tinggalkan semuanya, dan biarkan Yesus yang mengatur hidup kita, dan berdoalah bagi mereka yang membenci serta menganiaya kita. Tuhan bersama kita.
[1] John R. W. Stott, Salib Kristus. Terj. Grace Purnamasari(Surabaya: Momentum, 2015), 29.