
Berubah dan terpisah adalah dua hal yang sering kita amati, bahkan mungkin pernah kita alami sendiri. Sesuatu yang berubah memiliki penyebab-penyebab khusus yang korelatif. Di samping itu, terpisah merupakan fakta lain dari sebuah perubahan. Kita dapat melihat bahwa fenomena perubahan tampak dari penggunaan berbagai media berbasis digital, sebagaimana yang terjadi sekarang ini.
Media-media sosial menjamur di mana-mana; secara masiv menimbulkan berbagai respons dari penggunanya. Berbagai motivasi melatari penggunaan media-media sosial. Ada yang jualan, pamer diri, nyinyir, berbagi perjalanan hidup, ingin dipuji, memamerkan masalah pribadi, tetangga, musuhnya, atau masalah keluarganya sendiri. Ada juga yang ngalor ngidul soal teologi, cuap-cuap ajaran sesat, pamer kekayaan, pamer kekuasaan. Tak ketinggalan, ada pula yang mencari perhatian, jodoh, mencari jati diri, membuka diri hingga celana, membuka wawasan, berbagi pengetahuan, dan masih banyak lagi.
Fenomena ini mencuat ke permukaan dan menghasilkan pengaruh yang luar biasa. Yang jauh terasa dekat, dan yang dekat terasa jauh. Misalnya, tetangga berulang tahun, tapi kita hanya menyampaikan ucapan selamat lewat pesan WhatsApp. Ini tentu terlihat lucu bin ajaib; dan begitulah ceritanya. Padahal tinggal ketuk pintunya, dan ucapkan selamat secara langsung; atau bisa bertemu langsung di tempat kerja, dan lainnya untuk mengucapkan selamat.
Tampak bahwa media sosial telah mengubah lanskap hubungan antarpribadi, membawa kita ke era di mana kita dapat merasa dekat dengan orang lain meskipun secara geografis terpisah. Namun, di balik keterhubungan yang terus-menerus, ada tantangan baru bagi relasi humanitas kita.
Media sosial memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang jauh, bahkan juga yang dekat meski hanya lewat pesan-pesan singkat, tetapi kadang-kadang, hal ini dapat mengaburkan batas antara kebersamaan dan keterpisahan. Meskipun kita mungkin merasa dekat dengan seseorang secara virtual, interaksi ini sering kali bersifat dangkal dan tidak memperdalam relasi humanitas yang alami dan kuat.
Di balik fasilitas yang ditawarkan oleh media sosial, terdapat kecenderungan menuju individualisme dalam hubungan. Kita cenderung fokus pada diri sendiri dan membangun citra diri yang ideal di media sosial, kadang-kadang mengorbankan jati diri dan pesan moral yang sesungguhnya. Berbalut kulit mulus, wajah ganteng dan cantik, kumis tipis memukau, brewokan yang tak beraturan, bola mata tajam, bibir merona menyala, dan sederet keunggulan diri yang dirasa layak untuk mendapat perhatian bahkan pujian. Saya sendiri seringkali bermain di ranah “potensi”, “karya”, dan terkadang dibalut dengan lelucon, candaan, kekisruhan teologis, dan “bacaan diri” terhadap perkembangan teknologi-informasi sekarang ini. Setiap orang memiliki “lapaknya sendiri” untuk menunjukkan “giginya” di depan publik.
Apa tantangan bagi relasi humanitas kita dalam era digital? Media sosial sering kali menampilkan versi yang disunting atau diedit dari diri kita sendiri dan orang lain, membuat kita sulit untuk melihat dan memahami keseluruhan gambar diri atau gambar kehidupan. Media sosial memicu perbandingan sosial yang merugikan, di mana kita cenderung membandingkan kehidupan dan prestasi kita dengan orang lain, yang dapat menyebabkan rasa rendah diri, kecemburuan, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Ketergantungan pada media sosial dapat mengganggu kemampuan kita untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain di dunia nyata. Kita mungkin merasa sulit untuk mengatasi konflik atau menavigasi dinamika sosial dalam situasi langsung. Penting bagi kita untuk menyadari dampak media sosial terhadap relasi humanitas dan memilih untuk menggunakan platform tersebut dengan bijaksana.
Kita bisa memprioritaskan hubungan yang bermakna dan mendalam daripada sekadar koneksi yang dangkal atau jumlah teman atau pengikut. Carilah kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain di dunia nyata, tanpa gangguan media sosial; dan itu sering saya lakukan bersama para sahabat dan kenalan. Itu tentu sangat berkesan.
Terkadang, dengan adanya media sosial, yang dekat terasa terpisah; mungkin karena kesibukan dengan “dunia digital”, sehingga kurang tertarik untuk bertemu secara langsung. Bahaya juga adalah saat bertemu, malahan kita menjadi individualistis, sibuk dengan dunia kita dan melupakan orang lain yang ada di depan kita. Teman asyik bercerita tentang kehidupannya, kita sibuk dengan media sosial atau lainnya. Ini memang sering terjadi.
Ada satu buku yang saya baca tentang mengenal pribadi seseorang. Jika ia meletakkan handphone dengan posisi layar ke atas, itu berarti dia menjaga kemungkinan ada panggilan penting atau info terkait pekerjaan, dan sebagainya. Ia yang meletakkan handphone dengan posisi layar menghadap meja, menandakan bahwa ia menghargai kebersamaan dengan para sahabatnya. Namun, setiap posisi handphone kita saat diletakkan di meja, memiliki makna tersendiri sesuai kondisi, karakter, dan kepentingannya.
Media sosial telah membawa perubahan besar dalam cara kita berhubungan dengan orang lain, memberikan kesempatan untuk berkoneksi dengan orang lain secara luas. Namun, kita juga perlu waspada terhadap dampak negatifnya dan mengambil langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan antara keterhubungan virtual dan kualitas relasi humanitas yang sejati. Dengan kesadaran yang sadar dan tindakan yang tepat, kita dapat menjaga hubungan manusiawi yang kuat dan bermakna di era digital ini.
Salam Bae…..
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/woman-leaning-back-on-white-wall-and-using-smartphone-EcWOVYEe87s









