TEOLOGI SEBAGAI DEPIKSI IMAN

Segala ihwal kehidupan, relasi, dan pengharapan Kristen di masa mendatang terjalin erat — tak terpisahkan — dengan “iman”. Teologi juga demikian. Proses kehidupan dalam ruang teologi (spiritualitas), sosiologi (humanitas), dan eklesiologi (pelayanan), membutuhkan iman sebagai fondasinya. Iman itu sendiri digambarkan sebagai ‘dasar’ dari segala sesuatu untuk tujuan yang ditetapkan Tuhan Allah.

Teologi itu sendiri merupakan depiksi (penggambaran) dari iman yang sejati. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah teologi yang sehat (alkitabiah) dan kredibel. Teologi merupakan gerakan logika yang berbalutkan karunia Roh Kudus untuk memberi warna pada kehidupan, relasi, dan pengharapan. Tak dapat dipungkiri, teologi membentuk kita untuk suatu tujuan. Tujuan itu seringkali mendobrak “gagasan duniawi” untuk digantikan dengan “gagasan alkitabiah”.

Pada alurnya, teologi memberikan rasa aman dan keseriusan untuk memperhatikan berbagai pengajaran yang membentuk karakter spiritualitas kita. Dari sini kita beranjak untuk melihat bahwa teologi yang benar lahir dari iman yang benar. Riak-riak penyesatan – perumusan teologi yang salah [menyimpang] – dihasilkan oleh mereka yang memang tumpul dan gegabah dalam ‘membaca teks’, mengkorelasikan secara komprehensif tentang prinsip-prinsip doktrinal, memasukkan sesuatu ke dalam teks. Alhasil, label bidat diberikan kepada mereka.

Logika yang kuat terbentuk dari teologi yang kredibel dan alkitabiah. Meski hampir semua denominasi menyandang gelar ‘doktrinnya’ sebagai yang alkitabiah, toh pada akhirnya setelah diuji malahan menjadi hancur dan roboh. Kesalahpahaman, ketidakterdidikan, salah membaca, menarik kesimpulan yang gegabah (terburu-buru), adalah riak-riak yang marak terjadi. Kenyataannya ada yang merasa ‘nyaman’ dengan segala kesesatan yang tak disadarinya. Meski ia merasa sadar, tetap saja makin menyesatkan.

Teologi adalah ‘ruang publik’ di mana setiap orang dapat melewatinya, ikut antrian, atau bahkan melemparinya dengan kerikil ‘kesombongan’, ‘sok tahu’, ‘iri hati’, dan ‘merasa tersaingi’. Dari fakta yang terjadi, teologi yang membuat pemisahan tajam di berbagai denominasi. Akan tetapi, teologi yang sehat tetap bersinar dan memberikan dampak positif bagi iman dan gereja. Kehidupan yang bermakna tentu tak lepas dari peran teologi yang benar.

Sebagai depiksi iman, teologi menjembatani kehidupan, relasi, dan pengharapan untuk menyatukannya menjadi ramuan spiritualitas, yang memandu kembara humanitas di kolong langit ini. Teologi perlu mengaitkan dirinya dengan kehidupan, relasi, dan pengharapan. Teologi yang telah dirumuskan perlu dipahami dengan baik dan tuntas, sehingga menghindari kesalahpahaman dan penyimpangan makna.

Depiksi (penggambaran) iman memperlihatkan lima aspek fundamental yang membuat kehidupan, relasi, dan pengharapan kita menjadi kuat di dalam Dia.

Pertama, aspek pembacaan teks. Membaca memang mudah. Tetapi menemukan maknanya tidaklah mudah. Membaca teks perlu memperhatikan konteks. Jika proses ini dilakukan, maka kita mendapatkan pemahaman yang mendasar tentang makna teks. Teologi yang sehat bersumber dari pembacaan teks yang sehat pula.

Kedua, aspek penafsiran teks. Pembacaan teks dilanjutkan dengan proses menafsir. Menafsir membutuhkan alat-alat bantu. Kita dapat memilihnya sesuai keperluan penafsiran. Akan tetapi, penafsiran terhadap teks tidak dapat mengabaikan pemahaman korelasional (antar pasal atau antar kitab, bahkan antar perjanjian [PL dan PB).

Ketiga, aspek pemahaman korelasional. Konteks ini mengetengahkan prinsip penafsiran bahwa sebuah pemahaman yang korelasional menghadirkan teologi yang sehat. Misalnya ketika kita memahami ‘keselamatan’ maka korelasional tak dapat diabaikan, sebab dalam PL konsep keselamatan dibicarakan, dan dalam PB konsep keselamatan menyuguhkan pemahaman yang sama dengan peristiwa yang berbeda (PL: binatang; PB: Yesus Kristus; sama-sama dinyatakan dengan ‘darah’).

Keempat, aspek pemahaman komprehensif. Konteks ini adalah penggabungkan dari aspek pembacaan teks, penafsiran teks, dan pemahaman korelasional. Komprehensifitas menghasilkan teologi yang kuat sebab karya Allah tidak dapat dipahami secara fragmentaris. Hal ini tampak, misalnya, dalam doktrin Providensia dan Predestinasi. Mereka yang alergi dengan doktrin predestinasi, secara mendasar tidak memahami secara komprehensif doktrin ini, melainkan hanya sepotong, dan itu pun salah paham, memiliki paham yang salah, dan salah tafsir.

Kelima, aspek teologi yang alkitabiah. Dari semua pemahaman teks, penafsiran, pemahaman korelasional dan komprehensif, akan menghasilkan teologi yang alkitabiah. Inilah yang menyehatkan jantung spiritualitas kita, menyehatkan pelayanan kita. Tidak hanya itu, kehidupan, relasi, dan pengharapan kita pun menjadi sehat bugar penuh semangat.

Jika melihat deskripsi tentang teologi sebagai depiksi iman, maka kita tentu dapat menjadi terang bagi sesama, menjadi para pelaku firman Tuhan, dan hidup secara benar di hadapan-Nya. Dari teologi yang benar kita dapat hidup di dalam iman kepada Yesus Kristus dan bertahan menghadapi tantangan. Dari iman yang benar, lahirlah teologi yang sehat. Oleh sebab itu, cintailah teologi yang sehat, buanglah teologi yang menyimpang dan menyesatkan, karena dengan itulah kita dapat melayani Tuhan dengan benar dan sesuai firman-Nya.

Selamat beriman: hidup dan bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus. Berteologilah dengan benar dan sehat, agar orang lain menjadi sehat bugar, bahagia, dan mengamalkan kasih persaudaraan dengan tulus ikhlas. Tuhan Yesus menopang kita semua.

Salam Bae….

SIKAP HIDUP DALAM MELAYANI

Menyadari bahwa pelayanan yang kita kerjakan adalah bagian dari iman, semestinya kita tetap konsisten untuk setia melayani Tuhan. Persoalan-persoalan yang tampak ke permukaan bukan menjadi pemicu tawarnya iman kita, atau bahkan menjadikan kita pesimis terhadap segala sesuatu yang “berbau” pelayanan. Kenyataan telah menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan di dalam Tuhan Yesus tak terpisahkan dari (1) sikap hidup yang benar, (2) sikap hidup yang mau melayani, (3) sikap hidup yang rela berkorban, (4) sikap hidup yang berani menghadapi tantangan dan persoalan dalam pelayanan, dan (5) sikap hidup yang pantang menyerah dalam melayani.

Sikap hidup yang semacam itu dapat membentuk karakter kita menjadi semakin kuat, berbobot, dan berpengaruh. Tak dapat dipungkiri bahwa seringkali kita menjadi batu sandungan dalam hal “sikap hidup”. Yang satu merusak yang lain, dan yang lain merusak yang lain lagi. Pelayanan yang telah membaik, diubah menjadi memburuk. Rasanya nilai kredibilitas dan integritas tak digubris; hanya ingin memuaskan hawa nafsu dan keinginan duniawi; mengorbankan pelayanan “demi sesuatu” yang dianggap bernilai.

Barangkali kita belum seberapa memahami apa itu pelayanan. Yang lain memahaminya sebagai ajang menonjolkan kehebatan diri; yang lain mengharapkan imbalan; yang lain melihatnya sebagai kesempatan untuk memulai apresiasi karunia dan talenta yang Tuhan berikan; yang lain lagi masih mempertahankan nilai integritas dan kredibilitas. Ada banyak sudut pandang dalam memahami pelayanan. Kita yang melayani dapat mendaftarkannya sesuai dengan pengalaman dan panggilan.

Di setiap momen hari raya gereja, para pelayan memang terlibat sibuk. Mulai dari pembentukan panitia, proses pembuatan proposal pencarian dana, dekorasi, memasak, dan menyiapkan segala sesuatunya agar acaranya berjalan dengan baik. Tak sedikit kendala yang dihadapi, tetapi karena komitmen untuk melayani, semuanya teratasi, meski menyisahkan sedikit masalah.

Melayani memang unik. Pula menghasilkan pengalaman yang berharga. Kita mengumpulkan fragmen pelayanan menjadi satu “buku bacaan kehidupan” yang dapat dibagikan kepada sesama kita. Kita pun menjadi berkat bagi mereka. Tak sedikit dari kita yang telah menorehkan hasil pelayanan yang terbaik. Ada jiwa-jiwa yang dimenangkan; ada jiwa-jiwa yang dipuaskan dengan pemberitaan firman Tuhan; mereka dipulihkan dari kehidupan yang rusak, relasi yang hancur, dan kekecewaan yang mendalam. Kita sebagai pelayan Tuhan Yesus, pun harus memperhatikan hal ini. Kita dipanggil untuk melayani tidak hanya menciptakan narasi terbaik, gaya retorika yang mumpuni, tetapi harus benar-benar menyederhanakan berita Injil ke dalam proses kehidupan orang percaya.

Kita mendorong orang-orang percaya untuk hidup dalam iman dan bagaimana mempertahankan iman. Kita tahu bahwa zaman sekarang ini memiliki sejumlah tantangan yan besar. Jika kita kurang berhikmat, Injil yang diberitakan akan terkikis habis oleh tantangan zaman. Kita perlu menciptakan berbagai terobosan dalam berkhotbah, dalam melayani, dalam berelasi, dan dalam menyusun program-program pelayanan gereja.

Dengan demikian, kita siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas iman kita, siap untuk hidup dalam iman dan siap mempertahankan iman. Keduniawian dan kesulitan yang muncul seringkali melemahkan pengharapan kita kepada Kristus Tuhan. Akan tetapi, sebagaimana kita telah hidup dalam iman, doa dan pengharapan kepada Kristus Yesus tetap menjadi senjata kita untuk melawan keduniawian dan kesulitan tersebut. Kristus senantiasa memberikan kita kekuatan dan hikmat untuk dapat menghadapinya.

Sikap hidup yang benar mewarnai bentuk-bentuk pelayanan kita. Pelayanan terhubung erat dengan sikap hidup yang benar. Itulah panduan iman; itulah kekuatan iman yang sejati. Sikap hidup yang mau melayani adalah sebuah kerelaan iman. Iman mengarahkan kita kepada pelayanan yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita diberikan karunia untuk melayani, maka melayanilah dengan baik dan setia.

Sikap hidup yang rela berkorban adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan. Semua orang percaya yang melayani harus berkorban. Jangan hanya mau menikmati hal-hal yang enak dan menyenangkan saja. Sikap hidup yang berani menghadapi tantangan dan persoalan dalam pelayanan sangatlah diperlukan. Ada yang menyerah dan akhirnya merusak pelayanan. Berani berhadapan dengan tantangan adalah tanda dari iman yang kuat.

Sikap hidup yang pantang menyerah dalam melayani merupakan bukti bahwa kita mencintai pelayanan yang diberikan kepada kita. Memang, masalah dan tantangan selalu ada saat kita melayani. Tetapi itu bukan berarti kita kecewa dan kemudian meninggalkan pelayanan. Kita dihimpit oleh berbagai kepentingan dan kebutuhan. Tawaran demi tawaran yang menggiurkan mungkin saja mencoba menarik kita untuk meninggalkan pelayanan yang dirasa tidak menguntungkan, merugikan diri sendiri, dan terkesan kita menjadi miskin dan kekurangan. Kita punya perbedaan perspektif tentang hal ini. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah “kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pilihan kita di masa mendatang”. Tuhan yang memanggil kita untuk melayani pastilah Ia akan menolong dan memberkati kita. Tinggal bagaimana kekuatan iman kita untuk bertahan dan setia.

Ada rekan sepelayanan saya yang pernah ditawarkan dengan jenis pelayanan yang menarik, memiliki jaminan ekonomi yang mantap, dan bahkan jika bergabung bisa langsung pergi ke Israel. Tawaran semacam ini tampaknya menggiurkakan, tetapi pilihan semacam itu terkesan “diukur” dari kemapanan sedangkan hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Pro kontra tentang pelayanan telah membuat perbedaan bahkan mengerucut sampai kepada hal-hal personal.

Bukan itu poin saya. Jika kita terpanggil untuk melayani, maka kita tentu yakin bahwa Tuhan yang kita layani sanggup memberikan “yang terbaik” menurut Dia  dan bukan menurut kita. Seringkali kita mengukur “yang terbaik” versi kita sendiri dan menafsirkannnya seolah-olah itulah versi Tuhan. Hati-hatilah dengan pemahaman semacam ini.

Marilah kita melayani Tuhan dengan setia, siap berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tuhan yang telah memanggil kita untuk melayani, Dialah yang “menyediakan segala sesuatu” yang perlu untuk kita. Tetaplah hidup dalam iman kepada Kristus Yesus dan tetap mempertahankan iman di sepanjang kehidupan dan pelayanan kita.

Salam Bae….

Sumber gambar: Unsplash dan lainnya.

ANTARA HIKMAT DAN IMAN: Refleksi Mazmur 107:43 dan Ibrani 11:1

Kehidupan manusia ditandai dengan dua hal yaitu menilai segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu. Seringkali, apa yang dinilai tidak dilakukan. Apa yang dilakukan manusia bukanlah berdasarkan penilaian bahwa hal itu benar. Pengabaian semacam ini telah menggejala di kalangan Kristen, baik para pendeta, majelis, maupun jemaat. Akibat dari lemahnya hikmat dan iman, orang Kristen terjebak (atau terjerumus) ke dalam kubangan dosa. Anehnya, ada yang senang berenang dalam kubangan tersebut tanpa memikirkan bagaimana mencari cara atau jalan keluar dari kubangan dosa.

Ada satu kisah, di mana seorang gadis disukai oleh dua orang pria. Pria yang pertama memang berpacaran dengan gadis tersebut. Namun, karena alasan bahwa sang gadis sering disakiti, maka ia memutuskan hubungan dengannya dan beralih ke pria lainnya. Pria kedua lebih perhatian dan “cool”. Sang gadis sangat jatuh cinta dengannya. Akan tetapi, pria pertama cemburu dan adu mulut dengan sang gadis. Sang gadis bersikeras untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan pria tersebut. Akibatnya, sang pria memutuskan bahwa jika ia tidak mendapatkan cinta sang gadis, maka tak seorang pun dapat memiliki sang gadis. Akhirnya, sang pria mencekik mantan pacarnya sampai mati.

Dari kisah di atas, sang pria memiliki penilaian terhadap kasus yang menimpanya. Namun ia melakukan sesuatu di luar kontrolnya karena tergores oleh emosi yang sangat tinggi. Maklum, sang gadis adalah wanita yang sangat dicintainya. Lalu, mengapa ia membunuhnya padahal ia sangat cinta? Apakah orang lain tidak berhak mendapatkan cinta sang gadis jika hubungan mereka telah putus? Apakah sang gadis tidak berhak memutuskan hubungan mereka ketika sang pria selalu menyakitinya?

Jika kita analogikan kisah di atas dengan konteks hikmat dan iman, maka peran hikmat adalah melakukan berbagai pertimbangan. Hasil pertimbangan harus selaras dengan firman Tuhan. Ketika selaras maka di situlah peran iman untuk segera melakukannya atau mewujudkannya. Pertimbangan sang pria dalam kasus di atas bukanlah pertimbangan yang matang. Ia bersifat egois dengan anggapan bahwa dari pada sang gadis dinikmati oleh laki-laki lain lebih baik sang gadis dibunuh saja agar tak seorang pun dapat menikmatinya termasuk dirinya karena dirinya tidak mendapat kesempatan menikmati sang gadis dikarenakan sang gadis tidak lagi menyukainya.

Siapa yang berhikmat, pasti memegang sesuatu. Sesuatu itu adalah prinsip-prinsip Alkitab. Apa yang dipegang tentu haruslah dilakukan. Tidak hanya sekadar ada dalam genggaman tangan, tetapi harus dibagikan kepada semua orang. Itulah prinsip relasi antara hikmat dan iman. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 107:43, “Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN.” seseorang harus memegang segala sesuatu yang terkait dengan hikmat itu sendiri dan tak lupa pula, ia harus memperhatikan segala kemurahan Tuhan. Ketika telah memperhatikannya, maka bagikanlah kemurahan Tuhan kepada semua orang. Itulah iman.

HIKMAT: MEMEGANG SEGALA SESUATU

Dari teks Mazmur 107:43 di atas, maka saya mencatat beberapa hal yang dikaitkan dengan pegangan dari seorang yang berhikmat dalam konteks yang dibicarakan pemazmur.

Pertama, seorang berhikmat perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan-Nya dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan. Ini adalah pegangan seumur hidup. Mereka yang diberikan hikmat oleh Tuhan haruslah tunduk dan taat pada aturan main-Nya. Dan pemazmur menegaskan bahwa yang menyatakan syukur kepada Tuhan adalah mereka yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jika demikian, setiap orang Kristen yang telah ditebus-Nya, “harus” bersyukur kepada Tuhan sebab Ia sangat baik dan tak tertandingi kebaikan-Nya. Jadi, pegangan pertama adalah “selalu mengucap syukur”. Ini adalah harga mati.

Kedua, seorang berhikmat perlu mempersembahkan korban syukur. Korban syukur di zaman Musa merujuk pada persembahan hewan yang dikurbankan. Namun, pemazmur kemudian merujuk kepada jiwa hancur hancur: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mzm. 51:19), “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan” (Mzm. 107:9) dan “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Rat. 3:25).

Ketiga, seorang berhikmat perlu menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai! Tidak ada halangan yang berarti bagi mereka yang berhikmat untuk bersaksi dan menceritakan segala pekerjaan Tuhan. Apalagi cari menyampaikannya dengan sorak-sorai. Suatu situasi dan kondisi yang luar biasa menyenangkan dan menguatkan mereka yang mendengarnya. Di sini, penekanannya adalah “siapa yang hidup di dalam Tuhan, pasti memiliki pengalaman pribadi bersama-Nya. Dan itulah yang akan menjadi rujukan utama sebagai ‘isi’ dari kesaksian seseorang.” Di bagian lain Alkitab, juga memberikan rujukan yang sama mengenai “menceritakan tentang Tuhan dan kemuliaan-Nya.

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa (1 Taw. 16:24)

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa (Mzm. 96:3)

Keempat, seorang berhikmat perlu meninggikan dan memuji-muji Dia. Meninggikan Tuhan berarti “bersandar dan mengandalkan dia dalam segala hal.” Memuji-muji Tuhan berarti menyerahkan dan mengakui bahwa hanya Dialah yang patut disembah, diagungkan, disandarkan, dan diandalkan. Meninggikan dan memuji-muji Tuhan adalah buah dari pengalaman bersama Dia. Seperti kata pemazmur: “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mzm. 103:5). Kalau Tuhan telah memuaskan hasrat kita dengan kebaikan, bukanlah selayaknya kita meninggikan dan memuji-muji Dia?

Kelima, seorang berhikmat berarti memelihara dirinya dalam kebenaran. Kebenaran firman-Nya [Kitab Suci] adalah penuntun, penopang, penghibur, dan sumber kuasa dan kekuatan dalam menghadapi berbagai hal termasuk menghadapi kuasa kegelapan yang seringkali menyamar menjadi malaikat terang. Memelihara diri dalam kebenaran berarti seseorang selalu menggunakan hikmat dan imannya agar terhindar dan terjaga dari segala jenis goda dan cobaan.

Dari kelima hal di atas, iman menjadi salah satu di antaranya. Seorang beriman perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan; perlu mempersembahkan korban syukur yaitu jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk; menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai; meninggikan dan memuji-muji Dia; dan memelihara dirinya dalam kebenaran. Baik hikmat maupun iman, kedua haruslah seimbang dan selaras. Apa yang dirujuk oleh hikmat, itu pula yang dirujuk oleh iman.

Dalam catatan penulis Ibrani, iman diartikan sebagai: (1) dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan; dan (2) bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan”, iman mengutarakan sebuah komitmen dan keyakinan serta kesabaran menanti kehendak Tuhan tergenapi di waktu kemudian. Berbicara mengenai harapan, pasti melibatkan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran”. Sebagai “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”, iman mengutarakan sebuah implikasi dari komitmen dan keyakinan serta kesabaran yang tertuang dalam bentuk nyata. Iman memang melihat hal-hal yang secara gambaran saja, yang kemudian terwujud dalam kenyataan. Dalam mempertahankan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” dibutuhkan hikmat yang tinggi dan mempertimbangkan segala sesuatu agar “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” tidak luntur di telan waktu dan godaan.

Antara hikmat dan iman terdapat hubungan yang erat. Antara menilai dan melakukan terdapat titik temu yang kuat antara pertimbangan dan perbuatan. Ibarat seorang nelayan yang melihat pulau kecil. Ia harus mempertimbangkan [hikmat] bagaimana bisa tiba di pulau itu, dengan cara “melakukan [iman] apa yang dipertimbangkannya”. Jika hanya mendayung tanpa mempertimbangkan bagaimana caranya bisa tiba di pulau tersebut, pasti akan menemui jalan buntu. Dengan demikian, hikmat dan iman adalah dua dasar untuk mencapai satu tujuan.

Dalam bagian lain Alkitab, hikmat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, mereka yang berhikmat adalah mereka yang takut [hormat dan patuh] pada Tuhan: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik….” (Mzm. 111:10). Orang berhikmat berarti memiliki akal budi yang baik.

Kedua, mereka yang berhikmat adalah mereka yang berbahagia dan sejahtera: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia (Ams. 3:13, 17-18).

Ketiga, mereka yang berhikmat adalah mereka yang memiliki pengertian: “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Ams. 10:13); “Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal” (Ams. 14:33)

Keempat, mereka yang berhikmat adalah mereka yang benar (melakukan dan mengatakan apa yang benar): “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat” (Ams. 10:31).

Kelima, mereka yang berhikmat adalah mereka yang rendah hati: “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2)

Keenam, mereka yang berhikmat adalah mereka yang bersedia mendengarkan nasihat: “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat” (Ams. 13:10).

Ketujuh, mereka yang berhikmat adalah mereka yang cerdik dan mengerti jalannnya sendiri (berdasarkan pertimbangan akal sehatnya): “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya” (Ams. 14:8).

Lalu bagaimana dengan iman? Dalam kitab Ibrani pasal 11, peran dan fungsi (dampak) iman sangat beragam. Berikut saya mencatatnya di sini.

Pertama, mereka yang beriman bersaksi kepada sesama tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Kedua, mereka yang beriman mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Ketiga, mereka yang beriman mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik. Memberikan yang terbaik kepada Allah adalah ciri khas orang beriman. Ia tidak merasa rugi sekalipun.

Keempat, mereka yang beriman berkenan kepada Allah. Apa yang dilakukannya selaras (sesuai) dengan apa yang dikehendaki Allah.

Kelima, mereka yang beriman sungguh-sungguh mencari Dia.

Keenam, mereka yang beriman tidak hanya peduli pada diri sendiri melainkan peduli pada keluarganya.

Ketujuh, mereka yang beriman taat pada firman Tuhan.

Kedelapan, mereka yang beriman yakin akan pertolongan dan kepedulian Tuhan di mana pun mereka berada (tinggal).

Kesembilan, mereka yang beriman kuat menghadapi kesakitan dan penderitaan.

Kesepuluh, mereka yang beriman berani mati demi Tuhan dan memiliki keyakinan bahwa mereka akan bersama dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya.

Kesebelas, mereka yang beriman taat kepada kehendak Allah.

Kedua belas, mereka yang beriman yakin akan masa depan sebab Tuhanlah yang menetapkan masa depan mereka.

Ketiga belas, mereka yang beriman berbuat baik meski berada dalam ambang kematian.

Keempat belas, mereka yang beriman berani menolak kenikmatan dosa.

Kelima belas, mereka yang beriman aberani mengambil risiko.

Keenam belas, mereka yang beriman berjuang meski merasa lelah.

Ketujuh belas, mereka yang beriman berbuat baik kepada utusan-utusan [pelayan-pelayan] Tuhan.

Jadi, berdasarkan uraian tentang mereka yang berhikmat dan beriman, maka patutlah kita mempertimbangkan di mana posisi kita dan apa identitas kita. Kemudian kita berkomitmen untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebagai orang berhikmat dan beriman. Dan ingat, dalam mempertimbangkan (berhikmat) segala sesuatu dan telah memutuskan mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka segeralah untuk melakukannya sebagai wujud nyata dari iman kita.

Salam Bae…..

FILSAFAT SEPATU

Sepatu tidak pernah malu dan tak pernah mengeluh. Yang malu dan mengeluh adalah pemakainya. Kita bangga menggunakan sepatu mahal di depan umum, tetapi pada saat sama ada orang yang malu menggunakan sepatu rusak. Kita malu karena pikiran kita beranggapan bahwa orang lain akan menganggap saya aneh padahal tidak sesederhana itu.

Mungkin ada orang yang merasa terhibur ketika kita menggunakan sepatu rusak apalagi sepatu yang menganga seperti buaya membuka mulutnya. Kita malu dan bangga dan perasaan tersebut kita lekatkan pada orang lain. Tapi tidak semua orang berpikir seperti yang kita pikirkan. Kita menggunakan sepatu sesuai dengan keperluannya. Ada sepatu kerja, ada sepatu roda. Ada sepatu olahraga, ada sepatu ke gereja. Ada sepatu santai, ada sepatu style. Ada sepatu perang, ada sepatu gunung.

Sepatu memiliki beragam warna. Sepatu memiliki beragam model. Sepatu memiliki beragam ukuran. Sepatu memiliki beragam harga, dan sepatu memiliki beragam kualitas dan merek. Jika kita memahami filsafat sepatu dalam korelasinya dengan pelayanan Kristen, kadang kita merasa malu dan berpikir bahwa orang lain berpikir itu adalah pelayanan yang kurang mantap. Namun, kita lupa bahwa definisi dan jenis pelayanan tidak diukur berdasarkan apa yang disukai orang lain sebab tidak ada pelayanan yang dapat memuaskan semua pihak. Jadi, pelayanan Kristen itu tumbuh dari kesadaran iman dan pola pikir kita. Kadang, pikiran kita yang kerdil membuat kita malu dan mengeluh sama seperti pemakai atau pengguna sepatu.

Kadang pula, dari konteks sepatu, kita mengukur sukses tidaknya seseorang dengan sepatu yang dikenakannya. Padahal, siapa saja bisa membeli sepatu dengan harga 2 juta atau 3 juta dan seterusnya. Tetapi perlu diingat, sepatu jenis apapun dan harga berapa pun, tetap menginjak tanah yang sama, tetap menaiki tangga yang sama, dan menuruni bukit yang sama. Sepatu mencerminkan jati diri kita tetapi bukan diukur dari harganya yang mahal tetapi diukur dari kepuasan bahwa sepatu yang kita kenakan pas di kaki kita.

Dapat dibayangkan jika ada sepatu yang harganya 5 juta tetapi sempit atau longgar di kaki kita. Orang-orang mungkin tidak akan berfokus pada harga sepatu tetapi pada kaki dan sepatu yang tidak sinkron. Bahkan mungkin saja menjadi hiburan atau lelucon yang memuaskan. Filsafat sepatu ini perlu kita pahami secara baik. Sepatu yang pas membawa kepuasan bagi pemakainya berapa pun harganya. Demikian pula dengan pelayanan kita. Pelayanan yang pas membawa kepuasan bagi mereka yang melayani.

Filsafat sepatu perlu dilihat melalui aspek-aspek berikut ini:

Ada orang yang berniat menggunakan sepatu mahal

Ada orang yang berniat membeli sepatu mahal atau murah meriah

Ada orang yang berniat memerlukan sepatu

Ada orang yang berniat meminjam sepatu

Ada orang yang berniat meminjam sepatu dan tak mau mengembalikannya

Ada orang yang berniat melempar orang lain dengan sepatu

Ada orang yang bermimpi punya sepatu roda

Ada orang yang ingin membelikan sepatu buat pasangannya atau orang yang dikasihinya, dan sejumlah niat, keinginan, dan rencana dengan sepatu yang diinginkannya.

Sepatu tak pernah malu dan mengeluh. Ia setia menemani pemakainya selama pemakainya menggunakannya. Sepatu tidak pernah meminta dirinya untuk dilepaskan. Ia tidak pula meminta undur diri dalam pertemuan atau pun pertempuran.

Sepatu tak meminta dirinya untuk mencelakai orang lain apalagi pemakainya. Meski kita tahu bahwa sepatu kadang menjadi alat untuk melempar orang yang atau menendang orang lain. Setelah manusia memakainya, ia pun dibiarkan sendiri, tanpa hiburan. Ia ditempatkan di sudut ruangan atau bahkan digantung di mana saja.

Sepatu adalah pahlawan tanpa tanda jasa setelah para guru menerima julukan tersebut. Guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa juga menggunakan sepatu. Ia setia menemani. Sepatu adalah teman setia yang menunjang penampilan dan rasa percaya diri di depan umum.

Filsafat sepatu adalah refleksi dari cara berpikir manusia untuk menemukan makna di balik sepatu yang adalah teman setia; sepatu yang meningkatkan harga diri sekaligus merendahkan harga diri; sepatu yang tidak mengomel. Ia menemani sampai ia sendiri tak lagi dibutuhkan.

Sepatu, engkau adalah sahabatku yang dapat memberiku berkat melimpah dalam pekerjaan dan pelayanan. Pelayanan adalah ladang untuk saya bekerja dengan menggunakan sepatu, entah sepatu bagus, sepatu yang sudah rusak kulitnya atau sepatu yang pas di kaki. Terima kasih sepatuku. I love You.

Stenly R. Paparang. “SEPATU TIDAK PERNAH MALU DAN MENGELUH: MEMAHAMI FILSAFAT SEPATU”

Salam Bae…..

Sumber gambar: Pinterest

CINTA DUA WAJAH

Umumnya, manusia hidup dalam lingkungan multi wajah. Maksudnya, ada orang-orang di sekitar kita yang memiliki dua atau tiga wajah. “Wajah” dipahami sebagai bentuk ungkapan perasaan hati, pikiran, dan emosi. Dalam penerapannya, ungkapan semacam itu menghadirkan identitas wajah entah yang sesungguhnya, atau semaunya (ada maksud di baliknya).

Dua wajah manusia adalah realita yang tak dapat dipungkiri. Seringkali wajah hidup dipoles sedemikian rupa untuk menghasilkan efek samping. Ada yang terpukau karenanya. Ada yang muak terhadapnya. Ada yang penasaran dengannya. Ada yang hati-hati menafsirkannya. Ada yang segera mempercayainya. Ada yang mengabaikannya. Ada yang meludahinya. Bahkan, ada pula yang mengutuknya.

Kita melihat jenis permainan ini dalam fase-fase hidup seseorang. Wajah memiliki dua implikasi. Pertama, ditunjukkannya wajah yang baik, tetapi semestinya tidak demikian. Ada satu wajah yang disimpan di baliknya. Kedua, ditunjukkannya wajah yang sesungguhnya atas nama kejujuran. Wajah kedua adalah persiapan untuk menjelaskan wajah pertama jika ada yang merendahkannya, meremehkannya, atau membuangnya.

Dalam rumah cinta, kita mengunci identitas kita dalam hubungannya dengan upaya menjaga nama baik, menjaga rasa cinta, dan menjamin rasa aman pada kedua belah pikak. Meski tetap terbuka peluang untuk menciptakan dua wajah, bagi mereka yang memegang teguh komitmen cinta kasih, tidak akan menciptakannya untuk kepentingan tertentu.

Terjebak dalam cinta dua wajah kadangkala terjadi karena situasi dan kondisi yang membuka cela terhadapnya. Dua wajah itu “hidden agenda”. Wajah pertama dibuat menjadi dua konteks: di depan wajah lain yang pertama, ia berbuat baik; di depan wajah lain yang kedua, ia lebih berbuat baik (prinsip melampaui untuk tujuan tertentu). Taburan kebaikan pada dua wajah lain yang dicintai atau disukai, rentan terhadap manipulasi.

Bersembunyi dalam manipulasi membendung rasa jujur yang sebenarnya. Menyembunyikan wajah asli untuk tujuan negatif-manipulatif menghasilkan beban perasaan yang dapat merusak kebahagiaan dan iman. Kita berpura-pura baik untuk terlihat lebih baik dari yang lain. Kita berpura-pura peduli untuk tujuan tertentu. Dan pada akhirnya yang tersisa adalah kemunafikan dan cara-cara kotor untuk memuluskan semua agenda penyimpangan rasa.

Cinta dua wajah sangatlah merugikan, meskipun ada yang menganggapnya sebagai keuntungan diri dan nafsu. Pada kenyataannya, semua rasa dan nafsu menjadi satu dalam kedurhakaan dan ketidaknyamanan. Berbagai upaya untuk menutupi wajah yang kedua, memang harus dilakukan jika menginginkan wajah pertama tetap aman dan terkendali. Akan tetapi, yang perlu dicatat adalah kertas-kertas kehidupan yang telah dituliskan kisah cinta dua wajah, toh pada akhirnya akan basah dan sobek jika hujan dari Tuhan turun membasahinya.

Kita tidak boleh melupakan bahwa adalah hujan dari Tuhan yang membasahi kertas-kertas kehidupan yang kotor, entah dengan tujuan membasahi untuk menghapus semua kekotoran itu, ataukah memang Tuhan bermaksud untuk memusnahkannya.

Dalam proses waktu yang panjang atau pendek, upaya untuk memperlihatkan cinta dua wajah tak akan bertahan lama. Akhirnya, kesadaran dan pertobatanlah yang dapat mengakhirinya. Kesadaran akan kesetiaan pada cinta satu wajah, dan pertobatan dari cinta dua wajah.

Muara cinta pada satu sungai hati, tetap dialirkan pada alur sungai itu sendiri. Itu sebabnya, bertahanlah pada cinta satu wajah. Tantangan dan godaan sering datang dengan wajah-wajah baru yang menawan, menarik, dan menggoda. Mereka yang tahu bahwa cinta butuh komitmen dan saling pengertian, perhatian, dan saling menjaga, akan bertahan dalam waktu, bertahan dalam perasaan-perasaan yang muncul, dan bertahan saat wajah-wajah baru mulai bermunculan.

Salam Bae……

Sumber gambar: Pinterest

MENCINTAI HINGGA TERLUKA: Melukis Perasaan Cinta di atas Kertas Kehidupan

Ungkapan hati ditampilkan dalam bentuk perasaan cinta atau sayang kepada seseorang. Dalam keadaan itu, kita mengupayakan sesuatu untuk dapat membuktikan ungkapan hati tersebut melalui tindakan dan perkataan. Tindakan diwujudkan dalam bentuk perhatian dan kepedulian. Sedangkan perkataan diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan dan nada-nada cinta kasih yang indah, berkesan, dan sedikit merayu.

Perjalanan cinta seringkali menempuh kerikil-kerikil tajam. Berbalut “materi” mentah ataupun yang sudah jadi, cinta melangkahkan kakinya menuju tujuan bersama; kadang tak punya tujuan, hanya sekadar “happy” saja. Asalkan hati senang, itu cukup.

Lidah – yang memuji-muji kekasih hati – ibarat pena yang menuliskan syair atau puisi, alunan lagu dan apa pun itu, di atas kertas kehidupan. Banyak hal dan banyak cara telah dilakukan untuk “memurnikan perasaan cinta” agar sang kekasih hati dapat memegang teguh perasaan cinta itu.

Semestinya goresan-goresan lidah di atas kertas kehidupan terwakilkan dengan ungkapan hati. Tapi, kadangkala tidaklah demikian adanya. Lain di hati, lain di lidah. Segala usaha telah dicoba untuk memastikan bahwa hati sang kekasih tidak diambil orang , “berpindah tangan”, atau pun ia tertarik dengan yang lain. Usaha itu kadang mengorbankan banyak hal: tenaga, waktu, pikiran, uang, keluarga, sahabat (teman), pekerjaan, dan lain sebagainya. Cinta memang butuh hal-hal itu sebagai pembuktiannya.

Perasaan cinta yang terlampau tinggi dapat mengabaikan nalar dan kondisi diri. Upaya memang perlu, tetapi tampak bahwa upaya seringkali tak berpihak pada kita. Barangkali, ada hal-hal yang perlu dipikirkan secara mendalam tentang apa dan bagaimana menjaga, mempertahankan, dan memurnikan perasaan cinta.

Goresan-goresan masalah dan kesalahpahaman, emosi, tak dihargai, direndahkan, disalahmengerti, membuat luka di atas luka. Kesabaran adalah alat bayarnya agar tak membuat kita gelap mata bahkan bertindak tak seharusnya.

Terluka karena cinta banyak ragamnya. Ada yang rela terluka demi cinta. Ada yang mencintai hingga terluka. Ada yang menyerah pada luka cinta, dan ada yang mengobati luka cinta itu, menunggunya sembuh. Bahkan, jika terluka lagi, usaha yang sama tetap dilakukan. Hingga kematian tak terbendung, cinta tetap terluka, rasa cinta masih tetap tersimpan dalam relung hati.

Adakah kita memahami cinta yang sejati? Adakah kita melihat kedalaman cinta, menyelami rahasia hati? Setiap kita memiliki waktu dan kesempatan untuk melukis perasaan cinta di atas kertas kehidupan. Tak ada yang mendukung kita sepenuhnya, kecuali karena kepentingan. Jika demikian, kitalah “tuan” yang melukis lukisan cinta kita. Buatlah lukisan itu sesuai dengan harapan, potensi diri, dan kondisi diri.

Memang cinta harus diperjuangkan. Tetapi juga harus dipertahankan. Itu pun tidak cukup. Cinta butuh pengertian dan perhatian. Bahkan itu juga tidak cukup. Cinta butuh pengorbanan segala sesuatu. Kita rela “menjual” sesuatu sebagai “harga yang harus dibayar demi cinta”.

Bukankah hal-hal tersebut menciptakan luka di hati? Ataukah kita dengan mudah menyembuhkan luka cinta itu? Tak jarang, beberapa orang mengakhirinya dengan “membunuh cinta dan diri”. Sebegitu kuatkah perasaan cinta, hingga seseorang rela bahkan nekat kehilangan segala sesuatunya?

Memang, mencintai hingga terluka adalah bagian kehidupan dan perjalanan cinta. Tidak semua orang mengalaminya. Tetapi ini bisa menjadi pelajaran kehidupan. Apalagi lembar demi lembar kertas kehidupan telah terisi dengan cerita cinta, jatuh bangun, upaya, kegagalan, kemarahan, kesabaran, emosi, kesalahpahaman, kesalahmengertian, pengkhianatan, penipuan, dan masih banyak lagi.

Mungkinkah kita telah meyakini bahwa cinta yang kita upayakan adalah cinta yang murni, kuat, dan penuh kasih? Ataukah kita masih ragu menafsirkan rasa cinta yang ada? Biarlah guliran waktu menghempaskan semua keraguan, semua kebodohan, semua keegoisan. Dan yang tersisa adalah “cinta yang tulus.”

Dengan tenaga yang ada, kita pun tetap melukis perasaan cinta kita di atas kertas kehidupan. Semua manusia memiliki waktu dan kesempatan untuk melukiskan kehidupan dan cintanya. Kita punya pena sendiri; kita punya kertas; kita punya cinta; kita punya usaha; kita punya kerinduan menyusun kembali kisah cinta.

Kita membangun rumah bagi cinta; di situlah tempat ternyaman bagi kumpulan kertas kehidupan di mana kisah cinta telah tertulis di sana.

Jangan abaikan komitmen. Jangan abaikan cinta kasih. Di mana ada cinta kasih yang murni di situ ada cerita dan kisah terbaik. Apalagi jika itu dilukiskan di atas kertas kehidupan. Terluka karena cinta adalah fakta yang tak dapat dipungkiri, tetapi mengobati luka cinta adalah usaha yang berani.

Itulah yang dapat menjadi catatan kehidupan cinta yang pernah ada, dan lembar-lembar catatan tersebut dapat dibaca oleh banyak orang. Lukisan perasaan cinta di atas kertas kehidupan merupakan daya ingat abadi: kita, cinta, dan luka, semuanya membentuk karakter cinta yang sesungguhnya.

Salam Bae……

Sumber gambar: Unsplash dan Pinterest

BERTUMBUH BERSAMA DALAM PENGETAHUAN: Catatan Singkat Kolose 1:9-14

Kolose, kota di Frigia, di provinsi Romawi (Asia Kecil), terkenal dengan perdagangan wol dan tekstilnya. Umat Kolose pada umumnya terdiri dari orang-orang Kristen asal kafir. Kolose agaknya subur bagi berbagai macam ajaran sesat yang ditentang oleh Paulus. Agama Romawi tidak membuang pemujaan Frigia lama dan dewi kesuburan memiliki tempat pemujaan di kota tetangganya, Hierapolis. Kesannya, masyarakat begitu toleran, yang di dalamnya terjadi perkawinan campur Yahudi dan bukan Yahudi dan berbaurnya ibadah Yahudi yang ketat dengan unsur penyembahan berhala Helenistik. Budaya Helenistik (penyebaran peradaban Yunani pada bangsa non-Yunani yang ditaklukkan oleh Alexander Agung) berkembang dan pada aspek-aspek tertentu mempengaruhi masyarakat—dan mungkin termasuk pada masyarakat kota Kolose. Kota Kolose ini runtuh oleh gempa bumi tahun 60 M (Tacitus, Ann. 14.27). hal ini tidak disebutkan dalam surat Paulus, yang mungkin ditulis sebelum berita bencana ini tiba di Roma.

Surat Kolose adalah salah satu di antara surat-surat yang ditulis Paulus dari dalam penjara. Isinya terkait upaya menghadapi ajaran sesat yang merembes masuk ke Kolose. Salah satunya adalah pengetahuan spekulatif maupun yang mengandalkan bentuk-bentuk askese tertentu dan mengusahakan penghormatan atau memuja para malaikat. Paulus menunjukkan bahwa kekuasaan Kristus di atas segalanya.

Ajaran sesat yang berkembang di Kolose memberikan tempat utama kepada kuasa-kuasa dari dunia roh, sehingga merugikan tempat yang seharusnya diberikan kepada Yesus Kristus (bdk. 2:18). Orang terlalu mementingkan ihwal lahiriah, misalnya hari-hari raya dan puasa, bulan baru dan sabat (2:16) dan sebagainya. Para guru penyesat itu membual bahwa mereka mempunyai filsafat yang lebih tinggi. Hal ini jelas  dari pasal 2:4, 8, 18.

Dari latar belakang di atas, upaya untuk meredam, menolak, dan menafikan ajaran sesat adalah bertumbuh dalam pemahaman dan pengetahuan tentang Allah. Alasannya, karena berbagai bentuk ajaran sesat selalu dimulai dari “pemahaman” (cara berpikir, menalar, dan menyimpulkan), yang kemudian berkembang menjadi “pengetahuan” (dikonsumsi sebagai dasar melakukan segala sesuatu termasuk ritual). Rasul Paulu menghendaki bahwa “pemahaman dan pengetahuan” adalah substansi dari iman kepada Yesus Kristus.

Sebagai umat yang kudus, orang-orang percaya di Kolose, perlu bagi mereka untuk terus memahami dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Yesus Kristus. Mendudukkan (menempatkan) Yesus Kristus sebagai “Raja” dalam hidup sebagai bentuk penolakan terhadap ilah-ilah duniawi dan hawa nafsunya yang dapat saja menjerat iman orang-orang percaya. Itu sebabnya, Rasul Paulus dan rekan-rekannya terus berdoa, mengucap syukur kepada Tuhan karena umat Kolose memiliki dan menjaga iman mereka.

Harapan Rasul Paulus dan rekan-rekannya adalah supaya umat di Kolose menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Mereka juga hidup layak di hadapan Tuhan serta berkenan kepadaNya dalam segala hal dan “berbuah dalam segala pekerjaan baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Tuhan.” Ketika ajaran sesat mulai menunjukkan eksistensinya, pemahaman dan pengetahuan orang percaya haruslah semakin teguh dan tangguh. Proses berpikir memang cepat mempengaruhi seseorang ketimbang perilaku. Itu sebabnya, Paulus menghendaki agar umat Kolose harus, selain dari berbuah dalam pekerjaan baik, mereka dapat bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Sang Khalik yang telah menebus dan menyelamatkan mereka.

Bertumbuh bersama dalam pengetahuan mencakup beberapa hal: pertama, memahami pribadi Tuhan; kedua, memahami dan merasakan perbuatan-perbuatan Tuhan; dan ketiga, bertumbuh dalam pengetahuan tentang Tuhan (pribadi dan perbuatan-perbuatanNya) sebagai bentuk pertahanan diri melawan ajaran-ajaran sesat. Semuanya dilakukan dengan “menalar” lalu diperbuat dalam konteks hidup yang luas termasuk akan berhadapan dengan berbagai ajaran sesat. Berpikir memang sangat dibutuhkan bagi orang-orang percaya sebab lawan-lawan mereka menyuguhkan berbagai proses berpikir, sehingga lawan yang sebanding adalah melalui proses berpikir juga. Pertentangan antara ajaran yang benar (ajaran dari Yesus Kristus) dengan ajaran sesat (ajaran yang menyimpangkan ajaran Yesus dan memang ajaran yang berdasar pada pemahaman akan alam dan ilah-ilah yang dipercaya) merupakan kondisi yang akan terus terjadi.

Hingga saat ini, orang Kristen di seluruh dunia berhadapan dengan musuh yang memiliki substansi yang sama: mengganggu atau mempengaruhi orang-orang percaya dengan berbagai gagasan, opini, dan klaim-klaim yang bertolak belakang dengan ajaran-ajaran Kitab Suci, di mana semuanya bermain dalam ranah “logika” (proses berpikir, menalar). Meski demikian, sebagaimana yang Paulus tuliskan bahwa setiap orang percaya harus menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ay. 11) karena ada jaminan yang diberikan Tuhan (ay. 12-13), sebab dasarnya adalah: “di dalam Dia (Yesus Kristus) kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (ay. 14).

Apa tantangannya bagi gereja masa kini? Melihat berbagai perkembangan teknologi, membuka peluang bagi segala bentuk ajaran sesat dan penyesatan masuk ke dalam lingkungan Gereja. Bahkan, di sekolah-sekolah tinggi teologi dan sejenisnya, ajaran-ajaran sesat dapat menyelinap dan tumbuh di dalamnya. Di sini dibutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi dan serius untuk melawan ajaran-ajaran sesat. Cara menalar yang baik dalam memahami pengetahuan yang berlimpah tentang Tuhan dan karya-Nya dalam Yesus Kristus menghasilkan iman yang teguh dan tangguh, siap melawan ajaran-ajaran sesat, dan siap menghantamnya sampai hancur.

Jangan remehkan cara berpikir sebab dengan berpikirlah seseorang dapat tersesat atau menjadi semakin teguh dalam imannya kepada Tuhan. Kitab Suci adalah tulisan yang dibaca dan kemudian dipahami dengan pikiran kita. Berpikir tidak salah, tetapi apa yang perlu dipikirkan, itu yang menjadi pertanyaan mendasarnya. Karena Kitab Suci, termasuk teks di atas, memberikan peran penting pada sebuah pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang Tuhan dan karya-karyaNya yang ajaib, sehingga darinya, kita bertumbuh bersama dalam pengetahuan yang benar Tuhan.

Apa yang dialami oleh umat di Kolose dapat menggambarkan situasi kita sekarang. Karena itu bertumbuhlah dalam pengetahuan tentang Allah di dalam Kristus Yesus. Rajinlah membaca dan merenungkan firmanNya agar pikiran kita disibukkan dengan bagaimana menanggapi dan mensyukuri kebaikan Tuhan yang tak habis-habisnya kita rasakan.

Mereka yang terus menutup Kitab Sucinya, akan menjadikan pikirannya tertutup juga dan sangat kecil kemungkinan untuk dapat memahami tentang kasih dan kebaikan Tuhan, serta bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Dia. Mereka yang merenungkan firman-Nya, membaca, serta menalar, akan dituntun Roh Kudus—jika motivasinya bersih dan tulus di hadapan Tuhan—untuk menemukan makna teks tentang apa yang telah dan akan Tuhan nyatakan dalam kehidupan setiap kita, serta memampukan kita bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, hari demi hari, hingga akhir hayat kita.

Tetap setialah kepada Tuhan dan renungkan firman-Nya. Jagalah pikiran kita dari hal-hal yang tidak memberikan faedah, dan tidak memberikan pertumbuhan bagi relasi dengan Tuhan dan iman kita kepada-Nya. Jadilah pemikir-pemikir Tuhan agar bertumbuh dalam pengetahuan tentang Dia; bagikanlah pengetahuan itu kepada semua orang melalui perkataan, perbuatan, dan buah pikiran kita yang benar.

Salam Bae…..

TAPAK-TAPAK IMAN YANG TAK PERNAH PUDAR: Refleksi Ulang Tahun Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. ke-66

Kita memiliki sejumlah alasan untuk melihat kepada Sang Khalik, bagaimana Ia dengan kuasa, kedaulatan, dan kasih-Nya membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Proses kehidupan di mana iman kita dibentuk adalah bagian dari keputusan kehendak Allah atas umat pilihan-Nya. Tak dapat dipungkiri bahwa proses kehidupan itu sendiri memberi kita pengharapan, kekuatan, ketabahan, dan kita pun menemukan jatidiri kita yang sesungguhnya di dalam kasih Kristus.

Menjalani proses kehidupan, jatuh-bangun, perjuangan, air mata, penerimaan atas apa yang terjadi, adalah bagian dari iman kepada Yesus Kristus. Hal ini tampak dari perjalanan misi Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. Rentang waktu yang panjang hingga sekarang ini, beliau telah dan terus memberi jejak misi yang sesungguhnya. Tapak-tapak imannya tak pernah pudar sampai sekarang. 

Di usianya yang ke-66, tidak hanya teladan imannya yang kita lihat, melainkan juga teladan kasih (kemurahan hati untuk menolong dan memberi kepada mereka yang membutuhkan), teladan integritas di hadapan Tuhan, dan teladan “doa”. Ia tahu bahwa iman, kasih, integritas, dan doa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari prinsip percaya, mengikuti, dan melayani Sang Juru Selamat, Yesus Kristus.

Ia sendiri telah menempuh kehidupan dan pelayanan sejak ia memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan. Suka-duka mengiringi langkahnya. Kesulitan dalam melayani dan bermisi tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap “setia di jalan Tuhan”. Proses kehidupan telah membentuknya menjadi seperti sekarang ini. Kita pun melihat apa yang telah ia taburkan dulu, kini telah memberi buah-buah yang lebat yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Melayani kaum papa (miskin, sengsara) bukanlah hal yang mudah. Tidak banyak orang yang peduli dengan pelayanan jenis ini. Akan tetapi, prinsip melayani kaum papa – termasuk melayani yang tak terlayani, menjangkau yang tak terjangkau, melayani yang belum terlayani, dan menjangkau yang belum terjangkau – menorehkan sejarah pelayanan di Indonesia. Anak-anak Didik Arastamar yang telah mendirikan berbagai gereja dan sekolah, adalah buah dari karya misi beliau.

Meski tampak sederhana, tetapi kekuatan iman dan doanya tak pernah tumbang sedikit pun. Bagi beliau, melayani tak perlu kebanyakan bicara, tetapi langsung bergerak dan memberi buah bagi misi Kristus. Kita yang dipanggil Tuhan untuk turut serta dalam pekerjaan-Nya tak boleh mementingkan diri sendiri, bahkan juga tak boleh mencari nama atau popularitas. Buanglah itu semua. Itu tak berguna di hadapan Kristus.

Kita selayaknya menjadi pelayan dan hamba Yesus Kristus. Melakukan apa yang dikehendaki-Nya yaitu memberitakan Injil. Rasul Paulus pernah berkata: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor. 9:16). Hal inilah yang terus dipegang oleh beliau hingga sekarang, dan kita dapat mengikuti teladan beliau.

Sebagai seorang pelayan, pemberita Injil, dan pemimpin, beliau telah mewariskan banyak hal kepada kita. Pada tanggal 1 Oktober 2016, saya pernah menulis catatan singkat di Facebook tentang warisan seorang pemimpin yang ditujukan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, sebagai berikut:

“Pemimpin yang sederhana tapi berjiwa dan bervisi besar, selalu mewariskan empat hal: 

(1) Mengandalkan Tuhan dalam setiap perencanaan. Tuhan adalah di atas segalanya. Apa pun yang dikerjakan, selalu mengandalkan Tuhan. Kita tidak mampu mengerjakan pekerjaan-Nya jika Ia tidak memberi kita kekuatan.

(2) Mendasari segala sesuatu dengan doa dan yakin akan kuasa Tuhan. Tampak bahwa sikap beliau selalu mengandalkan Tuhan dalam “doa”. Apa pun yang akan dikerjakan bagi pekerjaan Tuhan, ia selalu mengawalinya dengan doa. Prinsip “kita doa saja” telah menjadi kekuatan iman beliau. Ia tahu bahwa kuasa Tuhan akan terjadi untuk menggenapi maksud dan rencana-Nya bagi mereka yang mengasihi Dia.

(3) Kesabaran dan ketenangan hati dalam menghadapi ancaman, caci maki, hinaan, tuduhan, fitnah, dan sering dengan senyuman menghadapi ujian hidup. Apa yang telah beliau alami tentu merupakan bagian dari proses iman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup beliau. Namun, kita tidak berfokus pada apa yang dialaminya, melainkan pada bagaimana cara beliau menghadapi hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Ia tetap sabar dan bersandar kepada Tuhan. Itulah yang terjadi.

(4) Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi justru mendoakan musuhnya yang telah memfitnah, mencela, merendahkan, membenci, dan mencoba  mencelakakannya. Dalam setiap percakapan dengan beliau, pesannya adalah “jangan membalas mereka yang telah berbuat jahat kepadamu. Doakan saja. Biarkan Tuhan yang memprosesnya dan kehendak Tuhan yang jadi atas mereka yang membenci dan mencelakakan kita.

Apa yang telah ditaburkan beliau sungguh-sungguh telah memberkati banyak orang di berbagai pelosok Indonesia. Sama halnya dengan Pdt. DR. Stephen Tong yang telah menorehkan sejarah pelayanan di berbagai tempat di seluruh dunia, tempat-tempat tersulit sekalipun tidak mengecilkan iman Pdt. Stephen Tong untuk melayani. Itu sebabnya, Pdt. Matheus juga belajar banyak hal dari Pdt. Stephen Tong tentang prinsip-prinsip melayani, prinsip integritas, dan prinsip mengabarkan Injil.

Mengakhiri tulisan ini, saya memberikan beberapa aspek penting:

Pertama, orang percaya tidak terlepas dari berbagai proses kehidupan karena Tuhan Yesus menghendaki kita tetap setia dan beriman kepada-Nya. Kesulitan dan tantangan hidup adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk mendidik kita menjadi kuat dalam iman dan pengharapan.

Kedua, setiap orang percaya perlu melihat teladan para hamba Tuhan, para pemimpin, para pelayan sebab kita mendapatkan banyak hal dari teladan mereka. Itu sebabnya, seorang pelayan dan hamba Tuhan harus menjaga kehidupannya untuk tetap berada dalam firman-Nya.

Ketiga, setiap pemimpin dan hamba Tuhan tak boleh menyerah dengan keadaan, karena apa pun yang terjadi, tidak lepas dari kehendak Tuhan. Itu sebabnya, apa yang telah kita lihat dari pribadi Pdt. Dr. Matheus Mangentang, tentang semangat beliau dalam bermisi di pedalaman, dan di berbagai tempat yang sulit, perlu kita ikuti, agar Injil Kristus terus tersebar dan kita terus berupaya untuk memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan-Nya.

Akhirnya, tapak-tapak iman yang telah beliau torehkan dalam sejarah, tak pernah pudar. Teruslah melayani Tuhan.

SELAMAT ULANG TAHUN KEPADA PDT. DR. MATHEUS MANGENTANG YANG KE-66

Sehat selalu. Tuhan Yesus Memberkati. Semoga Umur Panjang.

Salam Bae…..

MEMBANGUN RUMAH KEHIDUPAN

Relasi humanitas umumnya tercipta dalam sebuah konteks mikro dan kemudian meluas ke konteks makro. Relasi tersebut bertujuan untuk menjalin relasi yang biasa atau membangun sebuah relasi yang kuat. Setiap relasi yang tercipta, selalu didasarkan pada sebuah keinginan maupun tujuan tertentu. Kerinduan kita untuk terus membangun relasi yang lebih akrab bertolak dari kasih yang tulus dan hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Membangun sebuah relasi membutuhkan proses. Di dalam proses tersebut kita senantiasa berupaya untuk menampilkan gaya hidup tertentu yang tentu merupakan luapan dari karakter kita sendiri. Setiap proses menghadirkan perjuangan dan pergumulan, komitmen dan doa, harapan dan keberanian. Dan pada akhirnya, proses tersebut adalah jalan menuju tindakan “membangun rumah kehidupan”.

Manusia membutuhkan banyak hal untuk menjalani kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan merawat kehidupan. Kebutuhan-kebutuhan hidup mendorong manusia untuk bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin. Tidak kerja tidak makan. Itulah peringatan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika: “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tesalonika 3:10). Selain kita bekerja untuk Tuhan (pelayanan, persekutuan, dll), kita juga bekerja untuk kehidupan. Kedua hal ini terangkum dalam pernyataan Yesus: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4), yang merujuk pada Ulangan 8:3, “… untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”

Kehidupan yang terbangun dari dua prinsip Teologi Kerja di atas, yaitu: bekerja untuk Tuhan dan bekerja untuk kehidupan, akan menghasilkan kesadaran bahwa “kita hidup dan bergerak adalah karena kemurahan Tuhan, yang dengannya kita harus hidup dalam firman-Nya, melayani-Nya, dan bekerja untuk kehidupan kita sendiri berdasarkan potensi yang telah Ia berikan kepada kita untuk direalisasikan”. Hal ini adalah bagian dari tindakan “membangun rumah kehidupan”.

Rumah kehidupan adalah tempat perteduhan kita dari berbagai hal yang ada di dunia. Rumah kehidupan adalah tempat bagi kita untuk saling menyatakan kasih dan firman Allah dalam persekutuan yang erat dengan sesama kita, dengan sesama orang beriman. Rumah kehidupan melindungi kita dari segala ancaman dunia, godaan dunia, dan dosa.

Rumah kehidupan terbangun karena sebuah proses yang menampilkan gaya hidup selaras dengan Kitab Suci, menampikan karakter yang terbaik dari diri kita sendiri, menampilkan kekuatan doa, perjuangan, kekuatan komitmen, mengandalkan Tuhan dalam setiap pergumulan, dan menaruh harapan kepada-Nya, serta berani bertindak dengan bijaksana yang Tuhan berikan.

Konteks membangun rumah kehidupan tidak lepas dari bagaimana kita bertindak dengan benar berdasarkan pengetahuan kita tentang firman Allah. Dengan perkataan lain, kita yang mendengar dan memahami firman Allah, akan mempengaruhi bagaimana kita membangun rumah kehidupan. Saya teringat dengan depiksi (gambaran) yang diberikan oleh Yesus mengenai “dua macam dasar” untuk membangun rumah. Berikut petikannya:

“Setiap orang yang ‘mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya’, ia sama dengan ‘orang yang bijaksana’, yang ‘mendirikan rumahnya di atas batu’. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang ‘mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya’, ia sama dengan ‘orang yang bodoh’, yang ‘mendirikan rumahnya di atas pasir’. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius 7:24-27).

Dalam hal membangun rumah kehidupan, ada dua dasar yang perlu kita perhatikan. Apakah kita hendak membangun rumah kehidupan di atas batu atau di atas pasir, kita sendiri yang menentukannya. Di sini, konteks membangun rumah kehidupan dikaitkan dengan bagaimana tindakan kita “mendengar firman-Nya dan melakukannya” atau “mendengar firman-Nya dan tidak melakukannya”. Kita dapat menetapkan berada pada posisi mana. Kita tinggal memilihnya dan mulai membangun rumah kehidupan.

Tentu, kita dianjurkan untuk mendengar firman Allah dan melakukannya agar bangunan rumah kehidupan kita kokoh dan bertahan saat badai menyerang. Membangun rumah kehidupan tidaklah mudah. Ada ragam aspek yang harus menyatu dalam konsep berpikir kita untuk direalisasikan. Proses mendengar firman Allah bukanlah perkara “mendengar saja”, tetapi butuh kesadaran dan kerinduan untuk mendengar dengan baik. Proses melakukan firman Allah juga bukanlah perkara mudah. Telinga yang mendengar, pikiran yang memproses pendengaran agar dapat memahami dengan benar, hati yang menetapkan komitmen, menyatu untuk segera melakukan firman Allah itu.

Mereka yang membangun rumah kehidupan harus melihat peryataan Rasul Yakobus berikut ini: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Yakobus 1:22-25).

Dengan demikian, MEMBANGUN RUMAH KEHIDUPAN mendorong kita untuk dapat menyatakan rasa syukur kepada Sang Khalik, memuji, dan melayani-Nya. Kita tidak dapat membangun sendiri. Kita sangat membutuhkan Tuhan dan kuat kuasa-Nya. Salomo menyatakan: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mazmur 127:1). Perpaduan antara bekerja bagi Tuhan dan bekerja untuk kehidupan begitu nyata dalam konteks kehidupan kita sebagaimana yang diungkapkan Yesus dan Salomo.

Kita memiliki tanggung jawab untuk membangun rumah kehidupan kita sendiri. Orang tertarik dengan kita atau muak dengan kita, bergantung pada seberapa bagus dan kuat rumah kehidupan kita. Dunia melihat dan menilai kita ― orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus ― dan menghasilkan ragam pemahanam dan penghakiman. Jika kita memperlihatkan rumah kehidupan yang dibangun di atas pasir, pastilah kita ambruk, tak berdaya, dan menjadi incaran Iblis untuk dipermainkannya, menjadi budak dosa, hidup dalam dosa, dan mati dalam dosa. Jika kita memperlihatkan keindahan rumah kehidupan yang dibangun di atas batu, pastilah kita kokoh, berpengharapan, dan menjadi sahabat Allah untuk bersekutu dengan-Nya, serta memuliakan nama-Nya, bahkan menjadi saksi-Nya dalam mewartakan Kabar Baik.

 

Membangun rumah kehidupan sungguh indah. Belum ada kata terlambat. Jangan menyerah! Kita pun belum terlambat untuk membangunnya. Kita sama-sama berjuang, bergumul, dan berharap. Kita harus merealisasikan Teologi Kerja: sama-sama bekerja bagi Tuhan dan bekerja bagi kehidupan kita. Tugas kita adalah mendengar dan melakukan firman Allah, dan Allah akan memberkati kita, mengokohkan rumah kehidupan kita. Dan pada akhirnya kita menjadi berkat: mengajak mereka yang hidup dalam kegelapan untuk kembali kepada Kristus Yesus, kita menjadi tempat perteduhan bagi mereka yang membutuhkan ― di rumah kehidupan kita ― dan menyatakan segala kebaikan dan kemurahan Tuhan sepanjang masa.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/rgJ1J8SDEAY
  2. https://unsplash.com/photos/bjej8BY1JYQ
  3. https://unsplash.com/photos/yKRdX-kY8TE
  4. https://unsplash.com/photos/178j8tJrNlc
  5. https://unsplash.com/photos/U6Q6zVDgmSs

MEMBAWA API DALAM PELUKAN: Konsekuensi Berteologi

Ruang berpikir tentang teologi sangatlah terbuka lebar. Siapa saja dapat menuliskan gagasannya tentang sesuatu hal baik untuk tujuan publikasi maupun aplikasi, bahkan gengsi intelektual. Setiap pemikiran mengisi banyak konteks, denominasi, diskusi, dan perdebatan. Pemikiran biasanya lahir dari kondisi hayati dan relasi humanitas yang menyeruak ke permukaan. Setiap pemikiran yang menyeruak harus siap mendapatkan “respons”: pujian, kritikan, koreksi, negasi, dan lain sebagainya.

Dunia teologi memiliki banyak faset yang dengannya ruang diskusi dan menegasikannya terbuka lebar. Tidak ada karcis masuk untuk ikut di dalamnya. Tidak pula sejumlah persyaratan lainnya. Apa yang terpublis, siap dilahap, didiskusikan, diterima, dan dinegasikan. Entah seseorang hendak menonjolkan argumentasi teologinya, atau hanya menampilkan tarian teologi yang indah meski tanpa isi doktrinal yang alkitabiah.

Semua tarian teologi diciptakan oleh mereka yang memang tertarik untuk berteologi. Entah tarian itu diiringi dengan musik yang terbaik, ataukah hanya menabuh botol plastik yang kosong, tidak menarik, dan menyebalkan. Kita semua dapat memilih mana tarian yang baik dan mana tarian yang buruk. Ini lumrah, tetapi jangan sampai salah memilih. Itu adalah kebodohan.

Berteologi sama halnya kita membawa api dalam pelukan. Penulis Amsal menyebutkan: Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya? (Amsal 6:27, TB). Terjemahan Lama berbunyi demikian: “Bolehkah orang mengambil api dalam kandungannya, maka tiada hangus kain bajunya?” Kata gelumbung dan kandungan dapat dipahami sebagai pelukan atau bagian dalam pakaian (bagian dada seseorang), di mana ketika api kita masukkan dalam pakaian, pastilah kita menjadi hangat, panas, atau terbakar. Tergantung besar kecilnya api.

Gambaran tersebut ibarat berteologi. Setiap orang harus siap merasakan panasnya kritikan, negasi, bahkan panasnya pujian yang menyimpang (antifrasis). Teologi yang miring akan menjadi sasaran empuk. Meski demikian, semua jenis teologi terbuka untuk dikritisi, dinegasikan, diterima, dan dipuji. Bahkan ada pula yang menjadi terbakar dengan api pujian terhadap teologinya, bersorak-sorak di dalam ketidaktahuan dan kebodohan.

Teologi yang alkitabiah maupun teologi yang miring keduanya tidak luput dari panasnya kritikan dan negasi. Kondisi ini menandai prinsip kedewasaan berteologi dan kematangan isi teologi yang dianut. Mereka yang terlalu lihai beranalogi dan bahkan berimajinasi akan menghasilkan teologi yang terpisah dari iman Kristen dan doktrin alkitabiah. Mereka membuat api asing untuk dipesembahkan kepada dewa Pujangga. Retorika “ngeles” akan menjadi kartu terakhir yang disodorkan ketika kritikan datang. Ada saat di mana mereka melicinkan ‘ngelesnya’, dan ada saat di mana mereka berkoar-koar seolah-olah itulah yang benar menurut Alkitab, tanda bahwa mereka adalah para akademisi handal.

Imajinasi liar pasti menciptakan jenis teologi yang tidak terhubung dengan iman dan doktrin alkitabiah. Mencari sensasi teologi pun tak terhindarkan. Di dalam gorong-gorong pun mereka menyaringkan suaranya, menciptakan nada dering yang sumbang dan menyebalkan. Mereka merasa tidak terbakar meski ada api dalam gelumbung pakaian mereka. Mereka berpura-pura senyum meski sedang merasa panas dan hampir terbakar. Mereka memadamkannya dengan api asmara: perpaduan antara cinta ‘ngeles’ [kelicinan perkataan] dengan cinta gengsi intelektual.

Fenomena ini menarik dan membuat kita mengerutkan kening. Kita pun tahu bahwa rumusan teologi tidak semudah menggoreng tempe atau tahu. Rumusan teologi didasarkan pada pemahaman komprehensif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Teologi adalah api yang menerangi perjalanan iman kita. Kita dapat membawa api kecil di dalam pakaian kita supaya tidak terbakar. Itu adalah api semangat yang mendorong kita untuk bekerja bagi Tuhan dan bekerja bagi kehidupan. Kita pun harus membuat api yang besar di depan kita untuk memberikan semangat kepada yang lain agar tetap mencintai pekerjaan Tuhan dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati. Api itu tidak hanya menerangi kita tetapi juga orang lain yang ada di sekitar kita. Api dalam gelumbung pakaian kita hanya menerangi dada kita dan bukan mata kita untuk melihat ke depan. Sedangkan api di depan kita akan menjadi tanda ‘terang’ yang lebih luas.

Setiap orang membawa apinya sendiri. Bahkan ada yang terbakar dengan apinya sendiri meski belum ada yang menegasikan atau mengkritiknya. Dia senang dengan teologinya meski ‘jauh panggang dari api’, tak ada isi substansial dan tak ada dukungan Alkitab. Semarak berteologi semakin memuncak. Tak dapat dipungkiri juga bahwa hal itu menyita waktu dan perhatian kita, baik internal maupun eksternal.

Konsekuensinya adalah nada-nada dering dengan berbagai variannya turut membuat banyak orang menari-nari dengan teologinya meski nada deringnya hanya 2 not saja. Posisi api menjadi terbalik: api besar ditaruh di dalam pakaian, dan api kecil ditaruh di depan (di luar pakaian). Pada akhirnya ia akan terbakar dengan api yang besar di dalam pakaiannya.

Membawa api dalam pelukan dapat kita lakukan. Besar kecilnya api kita juga yang membuatnya. Api besar dalam gelumbung pakaian, berpotensi melukai dan membakar kita. Berteologi selalu memiliki konsekuensi. Kadang, kita ingin mendapatkan pujian saja ketimbang orang memahami isi teologi kita. Orang-orang lebih fokus pada gaya retorika ketimbang isinya. Kita cuap-cuap saja tanpa substansi. Konsekuensi berteologi tidak hanya tercipta teologi yang alkitabiah, tetapi juga penyimpangan doktrinal dan retorika ‘ngeles’.

Wajah teologi alkitabiah bisa ditafsirkan beragam, tergantung tingkat pemahaman kita tentang Alkitab. Jangan buru-buru berselancar di atas pasir yang tidak membawamu ke mana-mana. Itu hanya ‘gaya doang’. Jangan pula menyiram bensin di dalam pakaian karena ketika engkau menyalakan api, engkau akan terbakar.

Berteologilah dengan memahami secara menyeluruh PL dan PB. Tidak perlu merumuskan teologi yang ‘ngeles’ supaya terkesan berbeda, meski menyimpang dari iman dan doktrin alkitabiah. Jangan membakar diri dengan teologi yang miring.

Suarakanlah kebenaran, bukan ketenaran. Suarakanlah doktrin yang alkitabiah, bukan doktrin yang murah meriah. Suarakanlah integritas, bukan ambiguitas. Suarakanlah komitmen, bukan eksperimen. Dan suarakanlah Kristus yang benar, bukan Kristus yang “memar” – Kristus yang telah dipukuli (ditinju) dengan teologi-teologi yang kurang ajar.

Jujurlah. Apa yang kita cari dalam berteologi?

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/BdTtvBRhOng
  2. https://unsplash.com/photos/wnF27F85ZKw
  3. https://unsplash.com/photos/-98jVaVuGv0
  4. https://unsplash.com/photos/wCKzi8nDkw8
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai