
Setiap orang menunjukkan “versi” dirinya masing-masing, “menilai” dan “dinilai”. Tak bisa terhindar dari konteks tersebut. Tak bisa menutup mata bahwa dinilai oleh orang lain adalah fakta natural. Tak bisa lari dari kenyataan bahwa menilai diri sendiri adalah kemampuan internal untuk melihat sejauh mana kebaikan, kesadaran, kesombongan, dan kemunafikan diri yang telah terurai dalam konteks-konteks kehidupan.
Tanpa disadari bahwa tapak-tapak “versi” tadi telah menjadikan diri setiap orang memiliki “nilai” dan “harga”. Kadang kala nilai dan harga diri diukur dari seberapa baik dan buruk “versi” diri kita. Gelombang-gelombang kehidupan cukup bagi setiap orang untuk berselancar, menentukan seberapa lincah dirinya, entah lincah dalam hal perbuatan baik, atau lincah dalam hal perbuatan buruk – piawai dalam bersilat lidah, menipu, dan membentuk harga dirinya yang tidak seberapa itu.

Versi ― suatu varian atau deskripsi dari sudut pandang tertentu untuk menciptakan analogi dengan deskripsi yang lain ― terbaik dari diri kita tak dapat dipisahkan dari identitas dan karya. Demikian juga versi terburuk kita. Menilai dan dinilai adalah konsekuensi dari versi diri kita masing-masing. Identitas atau karakter (kepribadian yang membedakan kita dengan yang lain) melekat pada diri setiap orang. Baik-buruknya kita, ditentukan oleh identitas kita sendiri. Identitas diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Akan tetapi, Allah juga menyediakan kehidupan agar manusia dapat mengembangkan identitasnya, merespons setiap kejadian, menjalani kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan mengakhiri kehidupan dengan takut akan Dia.
Di sisi lain, manusia menempatkan dirinya di dalam dan di hadapan serangkaian proses kehidupan untuk memperkokoh identitas atau karakternya. Identitaslah yang membentuk dan membedakan kita dengan yang lain. Kita dinilai, dibedakan, dipisahkan, direndahkan, dimuliakan, diabaikan, disebabkan oleh identitas kita sendiri. Kita menonjolkan apa yang menjadi “andalan” kita sendiri. Mereka yang berbuat baik akan senantiasa menunjukkan kebaikannya. Mereka yang menipu akan selalu menunjukkan bagaimana caranya untuk menipu. Mereka yang munafik akan selalu membentuk kemunafikan mereka menjadi batu dalam setiap konteks kehidupan. Mereka yang hanya memperalat seseorang akan menunjukkan bagaimana lidah dan perbuatannya ikut membentuk opini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kita dinilai dan dihargai sesuai dengan kualitas, sesuai dengan versi kita sendiri. Itu sebabnya, kita tak dapat lari dari kenyataan, tidak dapat lari dari penilaian. Itu alamiah, entah sesuai dengan fakta ataupun sesuai dengan kepentingan terselubung.
Karya adalah salah satu aspek yang membentuk diri kita menjadi versi terbaik atau versi terburuk. Karya itu memang bermanfaat untuk merealisasikan harga diri, potensi, keilmuan, kesukaan, talenta, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seringkali – untuk memuaskan ego, seseorang mencuri karya orang lain, menipu untuk mendapatkan sebuah karya, menggunakan trik tertentu agar ia mendapat “harga dirinya” dari sebuah karya yang tidak diusahakannya. Ini sangat menyedihkan memang.
Tuhan menghendaki kita berkarya dengan cara yang baik, dengan penuh kesadaran bahwa Ia telah memberikan kita potensi untuk dikembangkan ke dalam fitur-fitur kehidupan. Versi terbaik dari diri kita, salah satunya adalah karya. Kita adalah versi terbaik dari karya kita sendiri. Kita adalah versi terbaik dari karakter kita sendiri.
Lalu bagaimana dengan mereka yang memang tidak berkarya, yang dianggap berkarya tapi dengan cara-cara yang tidak pantas? Itu akan menjadi luka kehidupan; mereka yang tidak jujur tidak akan menang dalam perlombaan kehidupan dan jaminan kehidupan. Kita harus bersabar untuk melihat kejatuhan orang-orang yang menggunakan cara-cara yang tak jujur, tak pantas, hanya untuk menunjukkan “versi terbaik mereka” dengan “cara yang buruk”.

Penulis Amsal memberikan pedoman, fakta, dan arah kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Hal ini mendukung kehidupan kita dan mengarahkan kita untuk menjadi versi terbaik seperti apa yang Allah kehendaki. Tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar (2:20). Versi terbaik diri kita tidak lepas dari usaha yang kita lakukan untuk diri kita sendiri: Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri (11:17). Yakinlah bahwa orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya (12:2). Tidak hanya tindakan yang baik yang membentuk versi terbaik diri kita, tetapi juga perkataan dari mulutnya: “Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya (12:14).
Semua versi terburuk seseorang dilandari oleh suatu rencana. Rencana membentuk opininya untuk berbuat yang tidak baik. Rencana mengarahkan seseorang untuk hidup dalam dosa penipuan dan kemunafikan. “Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia” (Ams. 14:22). Kita tidak dapat menipu Tuhan. Ia tahu jalan hidup kita. Tindakan-tindakan buruk yang terjadi jangan dianggap terlewat dari pandangan dan pengamatan-Nya. Baik versi terbaik maupun versi terburuk kita, semuanya diawasi-Nya.
Kita sendiri membentuk diri kita. Meskipun seringkali kita dibentuk menjadi baik dan jahat karena orang lain. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tinggalkanlah mereka yang memburuk keadaanmu. Jauhilah mereka yang munafik dan yang mengajarkanmu tentang hal-hal yang tidak sejalan dengan firman Tuhan. Kita harus memberikan yang terbaik dari versi kita: identitas dan karya yang memang ditempuh dengan cara-cara yang layak. “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar” (Ams. 13:22).

Pada akhirnya, kita harus mengingat apa yang dituliskan ini: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams. 22:1) dan kita pun diberitahu bahwa “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin” (Ams. 22:9).
Versi terbaik versus versi terburuk dari setiap orang ditentukan oleh identitas (karakter) dan karya. Hendaklah setiap orang memperhatikan hal ini. Tuhan tidak mengarahkan hidup kita untuk mendapatkan harga dan nilai yang rendah. Ia ingin kita timbul seperti emas, dan bukan “batu apung”. Ia menghendaki kita hidup dalam kebenaran-Nya dan bukan hidup dalam dusta, kesombongan, dan kemunafikan. Ia menghendaki kita untuk jujur dalam berkarya, bukan mencuri karya orang lain, memalsukan karya orang lain, dan menipu untuk mendapatkan “nama baik” berdasarkan “pikiran buruk”.

Kita mendambakan identitas terbaik; pula karya terbaik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kita harus mengembangkan potensi yang Tuhan berikan – tentu untuk hal-hal terbaik, termanis, dan terjujur. Dari situlah kita “memuji dan memuliakan-Nya” melalui identitas dan karya. Itulah versi terbaik dari kehidupan kita.
Salam Bae……
Sumber gambar: Unsplash, Google Image, Pinterest












































