VERSI TERBAIK VERSUS VERSI TERBURUK

Setiap orang menunjukkan “versi” dirinya masing-masing, “menilai” dan “dinilai”. Tak bisa terhindar dari konteks tersebut. Tak bisa menutup mata bahwa dinilai oleh orang lain adalah fakta natural. Tak bisa lari dari kenyataan bahwa menilai diri sendiri adalah kemampuan internal untuk melihat sejauh mana kebaikan, kesadaran, kesombongan, dan kemunafikan diri yang telah terurai dalam konteks-konteks kehidupan.

Tanpa disadari bahwa tapak-tapak “versi” tadi telah menjadikan diri setiap orang memiliki “nilai” dan “harga”. Kadang kala nilai dan harga diri diukur dari seberapa baik dan buruk “versi” diri kita. Gelombang-gelombang kehidupan cukup bagi setiap orang untuk berselancar, menentukan seberapa lincah dirinya, entah lincah dalam hal perbuatan baik, atau lincah dalam hal perbuatan buruk – piawai dalam bersilat lidah, menipu, dan membentuk harga dirinya yang tidak seberapa itu.

Versi ― suatu varian atau deskripsi dari sudut pandang tertentu untuk menciptakan analogi dengan deskripsi yang lain ― terbaik dari diri kita tak dapat dipisahkan dari identitas dan karya. Demikian juga versi terburuk kita. Menilai dan dinilai adalah konsekuensi dari versi diri kita masing-masing. Identitas atau karakter (kepribadian yang membedakan kita dengan yang lain) melekat pada diri setiap orang. Baik-buruknya kita, ditentukan oleh identitas kita sendiri. Identitas diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Akan tetapi, Allah juga menyediakan kehidupan agar manusia dapat mengembangkan identitasnya, merespons setiap kejadian, menjalani kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan mengakhiri kehidupan dengan takut akan Dia.

Di sisi lain, manusia menempatkan dirinya di dalam dan di hadapan serangkaian proses kehidupan untuk memperkokoh identitas atau karakternya. Identitaslah yang membentuk dan membedakan kita dengan yang lain. Kita dinilai, dibedakan, dipisahkan, direndahkan, dimuliakan, diabaikan, disebabkan oleh identitas kita sendiri. Kita menonjolkan apa yang menjadi “andalan” kita sendiri. Mereka yang berbuat baik akan senantiasa menunjukkan kebaikannya. Mereka yang menipu akan selalu menunjukkan bagaimana caranya untuk menipu. Mereka yang munafik akan selalu membentuk kemunafikan mereka menjadi batu dalam setiap konteks kehidupan. Mereka yang hanya memperalat seseorang akan menunjukkan bagaimana lidah dan perbuatannya ikut membentuk opini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kita dinilai dan dihargai sesuai dengan kualitas, sesuai dengan versi kita sendiri. Itu sebabnya, kita tak dapat lari dari kenyataan, tidak dapat lari dari penilaian. Itu alamiah, entah sesuai dengan fakta ataupun sesuai dengan kepentingan terselubung.

Karya adalah salah satu aspek yang membentuk diri kita menjadi versi terbaik atau versi terburuk. Karya itu memang bermanfaat untuk merealisasikan harga diri, potensi, keilmuan, kesukaan, talenta, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seringkali – untuk memuaskan ego, seseorang mencuri karya orang lain, menipu untuk mendapatkan sebuah karya, menggunakan trik tertentu agar ia mendapat “harga dirinya” dari sebuah karya yang tidak diusahakannya. Ini sangat menyedihkan memang.

Tuhan menghendaki kita berkarya dengan cara yang baik, dengan penuh kesadaran bahwa Ia telah memberikan kita potensi untuk dikembangkan ke dalam fitur-fitur kehidupan. Versi terbaik dari diri kita, salah satunya adalah karya. Kita adalah versi terbaik dari karya kita sendiri. Kita adalah versi terbaik dari karakter kita sendiri.

Lalu bagaimana dengan mereka yang memang tidak berkarya, yang dianggap berkarya tapi dengan cara-cara yang tidak pantas? Itu akan menjadi luka kehidupan; mereka yang tidak jujur tidak akan menang dalam perlombaan kehidupan dan jaminan kehidupan. Kita harus bersabar untuk melihat kejatuhan orang-orang yang menggunakan cara-cara yang tak jujur, tak pantas, hanya untuk menunjukkan “versi terbaik mereka” dengan “cara yang buruk”.

Penulis Amsal memberikan pedoman, fakta, dan arah kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Hal ini mendukung kehidupan kita dan mengarahkan kita untuk menjadi versi terbaik seperti apa yang Allah kehendaki. Tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar (2:20). Versi terbaik diri kita tidak lepas dari usaha yang kita lakukan untuk diri kita sendiri: Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri (11:17). Yakinlah bahwa orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya (12:2). Tidak hanya tindakan yang baik yang membentuk versi terbaik diri kita, tetapi juga perkataan dari mulutnya: “Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya (12:14).

Semua versi terburuk seseorang dilandari oleh suatu rencana. Rencana membentuk opininya untuk berbuat yang tidak baik. Rencana mengarahkan seseorang untuk hidup dalam dosa penipuan dan kemunafikan. “Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia” (Ams. 14:22). Kita tidak dapat menipu Tuhan. Ia tahu jalan hidup kita. Tindakan-tindakan buruk yang terjadi jangan dianggap terlewat dari pandangan dan pengamatan-Nya. Baik versi terbaik maupun versi terburuk kita, semuanya diawasi-Nya.

Kita sendiri membentuk diri kita. Meskipun seringkali kita dibentuk menjadi baik dan jahat karena orang lain. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tinggalkanlah mereka yang memburuk keadaanmu. Jauhilah mereka yang munafik dan yang mengajarkanmu tentang hal-hal yang tidak sejalan dengan firman Tuhan. Kita harus memberikan yang terbaik dari versi kita: identitas dan karya yang memang ditempuh dengan cara-cara yang layak. “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar” (Ams. 13:22).

Pada akhirnya, kita harus mengingat apa yang dituliskan ini: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams. 22:1) dan kita pun diberitahu bahwa “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin” (Ams. 22:9).

Versi terbaik versus versi terburuk dari setiap orang ditentukan oleh identitas (karakter) dan karya. Hendaklah setiap orang memperhatikan hal ini. Tuhan tidak mengarahkan hidup kita untuk mendapatkan harga dan nilai yang rendah. Ia ingin kita timbul seperti emas, dan bukan “batu apung”. Ia menghendaki kita hidup dalam kebenaran-Nya dan bukan hidup dalam dusta, kesombongan, dan kemunafikan. Ia menghendaki kita untuk jujur dalam berkarya, bukan mencuri karya orang lain, memalsukan karya orang lain, dan menipu untuk mendapatkan “nama baik” berdasarkan “pikiran buruk”.

Kita mendambakan identitas terbaik; pula karya terbaik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kita harus mengembangkan potensi yang Tuhan berikan – tentu untuk hal-hal terbaik, termanis, dan terjujur. Dari situlah kita “memuji dan memuliakan-Nya” melalui identitas dan karya. Itulah versi terbaik dari kehidupan kita.

Salam Bae……

Sumber gambar: Unsplash, Google Image, Pinterest

KEBENCIAN DAN PENGAMPUNAN

Ada satu kisah yang menarik. Ini kisah fiktif, tetapi cukup memberi kita pelajaran berharga tentang kebencian dan pengampunan. Ada seorang pendeta perempuan yang menikah dengan seorang pria pilihannya. Awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Lama-kelamaan, muncullah berbagai masalah. Suaminya tidak menjadi “suami” seperti yang dia harapkan. Kesalahan demi kesalahan dilakukan suaminya. Seiring waktu berjalan menumpuklah kekesalan sang pendeta itu terhadap suaminya.

Bahkan hingga suatu waktu, terjadilah percekcokan yang besar di antara keduanya. Kejadian tersebut terus berbekas dalam benak sang pendeta. Ia hidup dalam kebencian terhadap suaminya; suaminya – karena tak punya pekerjaan – hidup dalam tekanan. Meski suaminya tak punya pekerjaan, dia selalu mengampuni istrinya dari setiap perkataan tidak mengenakan perasaannya. Hari demi hari, jika tidak mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak baik, pasti terjadi kesalahpahaman, perkelahian, perselisihan, dan pengutaraan kebencian. Hidup mereka memang tidak ideal, tidak pula menjadi berkat bagi yang lain. Pelayanan sang pendeta terus berjalan, dan demikian juga dengan kebenciannya terhadap suaminya. Si pendeta hidup dalam kepura-puraan.

Selang waktu berjalan, matilah si ibu pendeta ini. Ia menghadap Sang Khalik. Waktu diadili oleh Sang Hakim Yang Adil, ia diputuskan untuk masuk ke dalam neraka. Si pendeta protes: Tuhan, mengapa saya masuk neraka, padahal saya adalah pelayan-Mu, saya berjuang untuk melayani-Mu dengan sekuat tenaga. Saya rajin dan semangat dalam berkhotbah, saya mendoakan orang sakit, saya mendamaikan keluarga yang berkelahi, saya membimbing anak-anak yang melawan orangtuanya. Tapi apa balasan-Mu? Aku malahan dimasukkan ke dalam neraka.

Tuhan pun menjawab: “Aku tahu semua pekerjaanmu dan pelayananmu, semua usahamu untuk orang-orang yang kau layani. Tetapi mengapa engkau dimasukkan ke dalam neraka? Mau tahu alasannya?” Sang pendeta menjawab: “Iya, saya mau tahu alasannya!” Tuhan menjawabnya: “Memang engkau terlihat baik dalam melayani, tetapi engkau sendiri tak dapat ‘mengampuni’ suamimu. Engkau bisa mendamaikan keluarga yang berkelahi, tetapi engkau sendiri tak mampu mendamaikan dirimu sendiri dan mendamaikan dirimu dengan suamimu. Engkau tampak saleh di luar tetapi hatimu penuh kepahitan. Engkau tampak kalem di luar tetapi di hadapan suamimu engkau mencelanya, menghinanya, dan mengata-ngatainya. Engkau tidak mampu mengampuninya sama sekali!”

Dan kisah pun berakhir. Apa yang dapat kita pahami dari kisah di atas? Begini. Kita tahu bahwa Tuhan Maha Pengampun. Ia mengampuni kita meski kita adalah pendosa-pendosa terlatih ataupun baru mau berlatih. Begitu besar dosa-dosa kita, tetapi Ia dengan kerelaan mengampuni kita. Kita tidak layak di hadapan-Nya, tetapi Ia melayakkan kita.

Masih ingat “Doa Bapa Kami”? Yesus berkata: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Bagaimana mungkin kita meminta pengampunan dari Tuhan untuk diri kita sedangkan kita sendiri tak dapat mengampuni orang lain? Bukan Tuhan yang tidak adil melainkan kitalah yang tidak adil. Kita meminta keadilan tetapi kita sendiri tidak menunjukkan keadilan. Kita meminta orang lain memperlakukan kita dengan baik, tetapi kita sendiri memperlakukan orang lain dengan tidak baik. Kita meminta orang lain untuk menghormati kita, tetapi kita justru merendahkan orang lain. Kita meminta bantuan orang lain, tetapi kita tidak mau membantu orang lain.

“Jangan bermimpi mendapatkan bintang di langit, rumput di bumi engkau tidak tahu. Jangan berharap mendapatkan mutiara di lautan, pasir di pantai engkau lupakan”. Demikian sebuah pepatah. Jangan bermimpi mendapatkan surga jika engkau tak sanggup mengikuti teladan Tuhan Yesus yang penuh pengampunan. Jangan bermimpi mendapatkan penghormatan dari orang lain, sedangkan engkau sendiri tak sanggup menghormati orang yang menjadi bawahanmu. Jangan bermimpi mendapatkan kasih dari Tuhan padahal engkau sendiri kerap kali berbuat jahat. Jangan bermimpi mendapatkan pengampunan dari Tuhan padahal engkau sendiri kerap kali memupuk kebencianmu hingga menjadi pohon yang besar. Tumbangkanlah pohon itu, tanamilah lahan hatimu dengan benih-benih cinta kasih, agar ia dapat bertumbuh subur, berbuah lebat, dan menjadi berkat bagi sesamamu.

Kebencian akan menggerogoti kedamaian dalam hidupmu. Kebencian menghilangkan sukacita. Kebencian melahirkan kepahitan dan keburukan hidup. Jangan bersahabat dengan orang-orang yang menebarkan kebencian. Ketika kita mengharapkan pengampunan, maka kita pun lebih dahulu mengampuni. Jangan bermimpi sanggup menghadapi perkara-perkara besar sedangkan perkara-perkara kecil engkau tak lulus uji.

Tuhan Yesus sungguh mengampuni kita. Ia berkuasa mengampuni manusia (Mat. 9:6; Mrk. 2:10; Luk. 5:24). Ia pun mengajarkan kita untuk saling mengampuni: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:14-15; lih. juga Mrk. 11:25, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”; bdk. 2Kor. 2:10; Paulus menerapkan prinsip yang sama: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” [Ef. 4:32]).

Petrus pernah bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:21-22). Paulus menyatakan: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol. 3:13). Ia pun menegaskan bahwa Kristus telah mengampuni kita: “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol. 2:13-15).

Prinsip yang sama juga dinyatakan oleh Rasul Yohanes bahwa: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya” (1Yoh. 2:12).

KEBENCIAN dan PENGAMPUNAN adalah fakta kehidupan yang sering terjadi atau bahkan kita lakukan. Kita memilih membenci atau mengampuni bergantung pada identitas kita yang sesungguhnya. Ketika kita telah menjadi milik Kristus, maka Ia menghendaki dan mengarahkan hidup kita untuk saling mengampuni. Mengampuni adalah bukti bahwa kita mengasihi. Bukankah Yesus Kristus telah mengasihi kita dan Ia telah mengampuni kita?

Hiduplah dalam kasih dan pengampunan. Buanglah kebencian. Dekatkan diri kepada Sang Khalik. Ia akan menguatkan kita untuk menjalani kehidupan ini. “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat” (2Tes. 3:3). “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (1Ptr. 5:10).

Salam Bae……

Foto-foto: dari berbagai sumber

TETAPLAH SETIA: Refleksi Wahyu 2:8-11

Tuhan selalu menunjukkan kepedualian-Nya melalui berbagai cara, dan dalam konteks ini, Tuhan memberikan “firman”—sebuah konfirmasi faktual dan solusi yang diberikan-Nya—kepada Gereja di Smirna (modern: Izmir). Alasan pemberian firman kepada mereka adalah karena Tuhan ingin mengingatkan tentang bagaimana proses mempertahankan dan menjaga iman secara konsisten kepada-Nya dalam lingkungan (dunia) di mana mereka hidup; lingkungan bisa menjadi media bagi pertumbuhan iman sekaligus menjadi media yang merusak iman—tergantung dari apa yang terjadi di sana.

Dari konteks tersebut, kita dapat bercermin melihat diri (baca: Gereja) kita; apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita lalaikan. Sejatinya, proses mempertahankan iman dalam bentuk konsistensi. Memang tidak mudah, tetapi komitmen dan kesetiaan, serta pandangan kita ke depan akan sangat menentukan bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan ini. Iman memang akan terus berhadapan dengan “dunia” dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Pertarungan iman akan menjadi kondisi yang menegangkan sekaligus menentukan; seperti apa komitmen dan kesetiaan kita kepada Yesus Kristus sangat bergantung pada konteks relasi, tantangan, dan hambatan.

Dengan melihat pada Gereja di Smirna, setidaknya kita dapat mengambil beberapa kesimpulan mengenai kehidupan, kondisi, dan perjuangan mereka dalam mempertahankan kesetiaan (keimanan) mereka kepada Yesus Kristus.

Pertama: Smirna terletak di pantai barat Asia Kecil, memiliki pelabuhan dan menjadi kota perniagaan, maju pesat. Menurut Simon J. Kistemaker, penduduk Yahudi di Smirna cukup besar dan memusuhi Gereja lokal (bdk. ay. 9). Permusuhan ini membuat mereka terlibat dalam kematian Polikarpus (yang menjadi Uskup Smirna selama bertahun-tahun) pada 23 Februari 155 karena dia (Polikarpus) menolak menyangkal nama Yesus Kristus. Polikarpus tetap setia hingga akhir hayatnya. Ini adalah sebuah fakta yang menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Yesus tidak hanya diluapkan melalui kata-kata atau pelayanan semata, tetapi ketika berhadapan dengan penderitaan, tantangan, hingga kematian.

Kedua: Ay. 8 membuktikan bahwa konfirmasi sumber firman itu sangatlah menentukan. Bukan hanya soal isi, tetapi otoritas dari yang memberikan firman. Sumber firman berasal dari “Yang Awal dan Yang Akhir”, yang telah mati dan hidup kembali. Keutuhan dari personalitas sumber firman merujuk kepada Yesus Kristus. Ia yang mati dan bangkit menunjukkan otoritas-Nya atas semua Gereja termasuk Smirna.

Ketiga: Ay. 9. Yesus tahu kesusahan dan kemiskinan Gereja di Smirna. Namun mereka kaya, meski difitnah. Kesusahan berarti hidup dalam penganiayaan dan berbagai kesulitan. Kemiskinan yang dialami oleh Gereja Smirna merujuk pada kemiskinan yang hina dari seorang pengemis. Meski demikian, mereka “kaya” secara rohani.

Keempat: Orang Yahudi di Smirna menolak dan tidak mengakui Yesus sebagai Mesias; mereka memaki Yesus dan pengikut-Nya. Itu sebabnya Yesus menyebut mereka (orang Yahudi) sebagai jemaat Iblis.

Kelima: Ay. 10, Yesus memberikan penguatan kepada Gereja Smirna: “Jangan takut”. Orang Kristen di Smirna sedang berhadapan dengan peperangan rohani melawan Iblis. Mereka diminta waspada karena Iblis akan menghasut penguasa supaya beberapa anggota Gereja dipenjara dan kemungkinan besar akan dibunuh. Meski demikian, iman kepada Yesus harus tetap dipertahankan. Meski mengalami tekanan dan kesusahan, namun Tuhan tetap ada di pihak mereka dan menjamin kehidupan kekal bagi mereka yang mati bagi Dia.

Keenam: Menderita “selama sepuluh hari” adalah simbol bagi lengkapnya periode penderitaan, yang bukannya lama atau singkat tetapi ‘penuh’, karena akhirnya sudah pasti (menurut Isbon T. Beckwith).

Ketujuh: Penguatan dari “Sumber Kekuatan” adalah dengan berkata: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Mereka diperintahkan bukan setia kepada pengauasa Yunani atau pemerintahan Romawi, melainkan kepada Kristus Yesus.

“Hendaklah engkau setia sampai mati” adalah konfirmasi bahwa baik hidup maupun mati, ada dalam kehendak dan kedaulatan Yesus Kristus. Ada jaminan yang teramat luar biasa dari mereka yang setia sampai mati, yaitu “Mahkota Kehidupan”—sebuah kepenuhan hidup, melambangkan sukacita dan kegembiraan kemuliaan dan kekekalan yang paling tinggi (Richard C. Trench, Synonyms of the New Testament). Menurut Kistemaker, jika orang-orang kudus di Smirna membayar kesaksian Kristus dengan hidup mereka, maka mereka akan beroleh hidup yang tidak bisa binasa dalam kemuliaan kekal.

Kedelapan: Ay. 11, konsekuensi logis dari orang percaya yang memiliki telinga adalah “mendengar apa yang dikatakan Roh kepada Gereja-Gereja.” Mendengar adalah salah satu bagian penting dari bagaimana seseorang menjadi “paham” mengenai beriman kepada Yesus. Ya, mendengar firman-Nya, tentunya, dan bukan yang lain, yaitu ajaran-ajaran yang menyesatkan. Telinga dipakai untuk mendengar firman dan lebih dari itu, memahaminya, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Gereja Smirna yang telah menunjukkan kesetiaannya kepada Yesus, tentu kesetiaan itu juga didasarkan pada bagaimana mereka mendengar ajaran-ajaran yang benar mengenai Yesus Kristus. Siapa yang setia pasti akan menang, dan meski ia menderita, bahkan mati pada proses merealisasikan iman di dunia di mana ia tinggal, ia tidak akan mengalami penderitaan pada kematian yang kedua.

Gereja Smirna adalah salah satu gambaran penting yang bisa diteladani oleh Gereja di masa sekarang. Tantangan yang dihadapi Gereja, bahkan hambatan yang dialami seharusnya mendorong Gereja untuk tetap setia, semangat, dan berjuang melayani Tuhan. Kita dapat belajar dari mereka, belajar dari Polikarpus; kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus telah meninggalkan jejak-jejak iman untuk kita teladani dan wartakan.

Melayani tak pernah tanpa hambatan dan tantangan. Justru melalui hal-hal tersebut, Gereja semakin kuat, setia, dan menunjukkan identitasnya kokoh dalam firman Tuhan. Gereja adalah agen pelayanan, agen kesetiaan, dan agen keteladanan.

Amin. Salam Bae……

TEOLOGI  KEHIDUPAN

Kita diperhadapan dengan berbagai konteks kehidupan. Dalam perjalanannya, setiap konteks setidaknya memberikan kita tiga hal: Pertama, kita didorong untuk membaca dan menafsirkan konteks itu, kemudian mengaitkannya dengan konteks-konteks lainnya yang terhubung dengan Tuhan, dengan diri kita sendiri, orang yang kita kasihi, dan terhubung dengan orang lain.

Kedua, kita didorong untuk melihat bagaimana sesuatu di dalam konteks itu terjadi atau mengapa itu terjadi. Kita berusaha mencari tahu, mencari informasi, kemudian mengolahnya menjad sebuah rumusan, entah rumusan kehidupan, rumusan teologi, rumusan iman, dan atau rumusan untuk mengkritik.

Ketiga, kita didorong untuk bertindak atas nama “iman kepada Tuhan” atau bertindak atas nama “kemanusiaan”. Tindakan-tindakan semacam ini menjadi penting karena pengetahuan (teologi) yang kita miliki mendorong untuk bertindak dalam koridor yang Tuhan kehendaki. Di sini tampak bahwa ungkapan “iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati” sebagaimana yang dituliskan oleh Rasul Yakobus ditranmutasikan ke dalam bentuk tindakan-tindakan nyata. Artinya, orang-orang beriman tidak hanya sibuk menyatakan bahwa dia beriman, melainkan harus sibuk untuk bertindak, berbuat baik, dan lain sebagainya.

Tiga hal di atas: membaca dan menafsirkan konteks, melihat bagaimana sesuatu terjadi atau mengapa itu terjadi, dan bertindak atas nama “iman kepada Tuhan” atau bertindak atas nama “kemanusiaan”, adalah aspek-aspek TEOLOGI KEHIDUPAN. Hal ini menyadarkan kita bahwa kehidupan yang dikehendaki Tuhan adalah bagaimana kita bertindak selaras dengan dengan firman-Nya. Ia telah membentuk kita menjadi manusia baru; Ia telah memanggil kita untuk menjadi pelayan-Nya; Ia telah memanggil kita untuk menjadi penjala manusia; dan Ia telah memanggil kita untuk menjadi pelaku-pelaku firman-Nya.

Dalam ruang sosial, kita melihat konteks-konteks tertentu dan memberi nilai terhadapnya. Tidak hanya nilai, kita malahan menafsirnya dan bergegas untuk berbuat sesuatu. Keprihatinan akan konteks sosial memunculkan sejumlah pemahaman tertentu, opini, dan imajinasi teologi. Hal-hal ini menjadi dasar bagi kita untuk bertindak: apakah kita bertindak untuk merealisasikan iman ke dalam perbuatan nyata, apakah kita hanya memberi rumusan teologi tapi tidak memberikan solusi biblikal, apakah kita hanya menafsir teks-teks secara “baru” dan berimajinasi melampaui batas – tidak pada tempatnya, dan berlebihan, atau kita terdorong untuk melihat bahwa perintah Yesus untuk saling mengasihi, berbuat baik, dan lainnya, secara faktual haruslah diterapkan dengan penuh iman dan kasih.

Rumusan-rumusan teologi dalam memandang kehidupan berangkat dari tiga hal: Pertama, kesadaran [akan pentingnya] transmutasi pengetahuan [tentang] iman ke dalam “gesta” (tindakan) epistemik. Ini sangatlah dianjurkan. Dan memang demikian adanya. Tanpa transmutasi teologi ke dalam “gesta”, kita hanyalah seorang yang kaku, yang tidak kemana-mana untuk menampilkan gaya hidup Kristen yang dikehendaki Tuhan. Ketika kita sibuk memperlihatkan “kepiawaian retorika atau berucap” dan lupa bertindak, maka orang-orang akan segera memberi “nilai” kepada kita, entah baik, entah buruk. Konteks transmutasi ini semata-mata didasarkan pada iman yang benar yang dituangkan ke dalam tindakan-tindakan yang benar.

Kedua, kesadaran sosial-teologis untuk turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini memberi ruang untuk menafsirkan “sosial” dan menafsirkan “teologi teks” untuk saling dihubungkan. Mencari dasar teks untuk melihat fenomena sosial adalah ciri dari mereka yang mencoba memberi pemahaman terhadap fenomena sosial. Seringkali, orang-orang tertentu mengakui akan adanya fenomena sosial, mencoba bertindak, memberi pemaparan teologis, tapi sejatinya tidak memberikan solusi biblikal untuk “membawa orang-orang yang berdosa untuk tidak berdosa lagi”. Pengakuan akan fenomena sosial adalah hal lumrah, tetapi bagaimana mengubah identitas seseorang – misalnya “banci” – menjadi seperti identitasnya semula: laki-laki normal.

Kesadaran sosial-teologis adalah percampuran teologi dan imajinasi dan membentuk suatu rumusan teologi tertentu. Peduli sosial memang penting, tetapi mencari dasar teks untuk mendukung kepedulian sosial dengan cara “menafsir di luar konteksnya” sangat tidak dianjurkan. Intinya, setiap orang percaya tidak dapat mengurung atau mengkerangkeng imannya untuk tidak berbuat sesuatu; justru setiap orang percaya harus bertindak atas nama iman dan kemanusiaan untuk menolong, mengasihi, dan menopang orang-orang yang memang membutuhkannya. Di sini, tidak ada upaya untuk menciptakan rumusan teologi yang baru yang menyimpang dari maksud Kitab Suci.

Ketiga, kesadaran teologis-imaniah. Kesadaran jenis ini merupakan ungkapan kehidupan yang benar-benar didasarkan pada iman yang benar. Secara teologis, kita tidak dapat berdiam diri untuk menjadi penonton kehidupan. Sebab  dari kehidupanlah kita belajar dan memperkuat teologi. Teologi Kehidupan adalah – sederhananya – bagaimana melihat fenomena (tertentu) yang terjadi, peduli, dan bertindak. Tindakan iman yang benar bersumber dari pemahaman teologi yang benar.

Kesadaran teologis-imaniah memberi ruang yang luas kepada kita untuk berekspresi dan menampilkan gaya hidup yang menjadi berkat bagi sesama. Kisah-kisah pelayanan Yesus yang dituliskan dalam Injil-Injil Perjajian Baru dapat menjadi dasar tindakan iman dan tindakan sosial kita dalam hal mengasihi, mengampuni, memberi makan, menolong, menyembuhkan, peduli, memberi kelegaan, memberi pengertian tentang hidup yang benar di hadapan Allah, memberikan pengajaran-pengajaran yang benar yang Allah, Kerajaan Allah, kehidupan, dan lain sebagainya.  

TEOLOGI KEHIDUPAN patut mendapat perhatian yang serius, sebab di dalamnya terkandung banyak kekayaan dokrinal, kekayaan kehidupan itu sendiri, dan kekayaan iman yang ditransmutasikan ke dalam gesta epistemik.

Membaca dan menafsirkan konteks kehidupan memang menjadi ciri khas orang-orang yang beriman dan bertindak. Kita hidup dalam lingkungan sosial dan memberi pengaruh di dalamnya. Sebagai seorang Kristen yang sejati, kita tidak hanya memiliki peluang untuk membaca menafsirkan konteks kehidupan, tetapi juga mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk menyatakan iman kita kepada sesama (Mat. 19:19; 22:39; Mrk. 12:31; Luk. 10:27). Pernyataan iman itu juga ditujukan kepada Tuhan: mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan dengan segenap kekuatan (Mat. 22:37; Mrk. 12:30; Luk. 10:27-28).

Dengan melihat bagaimana sesuatu di dalam konteks itu terjadi atau mengapa itu terjadi, kita mengupayakan untuk memberikan solusi doktrinal untuk membawa mereka kembali kepada Kristus dan mengenakan manusia baru, hidup dalam kasih, mengasihi, mengampuni, bersekutu dengan orang-orang beriman, terlebih menjadi pelaku-pelaku firman.

Bertindak atas nama “iman kepada Tuhan” atau bertindak atas nama “kemanusiaan” sangatlah dianjurkan karena setiap orang percaya harus menyeimbangkan konteks mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama sebagaimana yang dikatakan Kitab Suci. 

Semua tindakan teologi, tindakan iman, tindakan sosial, tidak boleh dilepaskan dari kedua hukum Allah, yakni:  

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”  (Mat. 22:37-40).

TEOLOGI KEHIDUPAN menyediakan kepada kita sajian untuk disantap, yaitu Firman Allah – dan setelah kenyang, kita harus “memberi makan” sesama kita.

Salam Bae……

Sumber gambar:

  1. tumblr
  2. Google Image
  3. Unsplash
  4. Pinterest
  5. Dokumen Pribadi

DEPIKSI KEHIDUPAN

Setiap orang menyuguhkan (memperlihatkan) dirinya sendiri kepada konteks kehidupan yang luas, yang mencakup potensi, relasi, dan komunikasi. Ketiga hal tersebut disuguhkan untuk kepentingannya masing-masing, entah baik entah buruk, hingga akhirnya setiap orang “dinilai” apakah dipandang sebagai sosok yang berperangai baik atau buruk, berintegritas atau berwajah dua, berkomitmen pada kebenaran atau kompromi dengan kejahatan, bersikap jujur atau bersikap “mencukur orang lain”, dan lain sebagainya.

Adapun potensi setiap orang merupakan gambaran kehidupannya sendiri. Potensi digunakan untuk membuktikan bahwa seseorang dapat bertahan hidup, menikmati hidup, merusak hidup, berbagi hidup, dan mencelakakan hidupnya sendiri. Potensi dapat menghasilkan banyak karya. Karya adalah buah tangan seseorang, tinggal bagaimana kita jujur pada diri sendiri apakah karya yang dihasilkan memang murni hasil keringat sendiri ataukah hasil “tipu-tipu”, apakah memang seseorang berjuang untuk menghasilkan karyanya sendiri, atau hanya berharap orang lain yang berkarya dan ia “nebeng” dalam karya tersebut.

Potensi adalah identitas diri kita. Potensi entah bernada positif maupun negatif, semuanya akan tampak ke permukaan. Bukankah potensi itu yang memberikan hasil bagi proses pencapaian tujuan kita? Bukankah potensi itu yang mendorong kita untuk semakin hidup dalam kebenaran, hidup dalam kejujuran? Bukankah potensi itu membawa kita kepada pengakuan dan penghargaan? Tapi, berhati-hatilah dengan potensi Anda dan potensi orang lain. Ketika potensi Anda diperalat oleh orang lain untuk tujuan tertentu yang “buruk” dan “jahat”, habislah Anda.

Potensi itu harus tetap dijaga agar tetap pada alurnya. Kita sedemikian rupa membentuk kehidupan kita sendiri dengan berbagai cara, dan salah satunya adalah bagaimana potensi itu diterapkan ke dalam lima ruang kehidupan: etika (relasi kehidupan), integritas (pembuktian jati diri), karya (pembuktian kepedulian dan pemikiran terhadap sesuatu), spiritualitas (menerapkan hubungan dengan Tuhan), dan pengajaran (mewartakan kebenaran Tuhan).

Relasi adalah aspek penting dari kehidupan. Depiksi (gambaran atau penggambaran) diri sering diukur dari seberapa baik relasi seseorang dengan sesamanya. Memang, relasi ini mencakup berbagai jenis, sebagai berikut: relasi pekerjaan, relasi kompromistis, relasi hipokrisi, relasi kekeluargaan, relasi persahabatan, relasi tujuan, relasi bisnis, relasi politis, relasi penipuan, relasi spiritualitas, relasi karya, relasi menjatuhkan, relasi membangun, dan relasi penguatan. Relasi terbentuk untuk suatu tujuan. Apa pun bentuknya, selalu ada tujuan di baliknya. Bahkan, seseorang bisa secara hipokrit membangun relasi untuk memuluskan agendanya. Artinya, relasi itu hanya sebagai alat untuk mewujudkan agenda seseorang.

Depiksi kehidupan memang unik dan sekaligus menarik perhatian kita. Beragam cara kita dilakukan untuk memenuhi hasrat terpendam dan agenda tersembunyi. Baik, relasi, komunikasi, maupun potensi, semuanya tercipta untuk mendukung kehidupan pribadi, keluarga, kelompok, organisasi, dan lain sebagainya. Bahkan kita dibentuk oleh depiksi-depiksi tersebut.

Komunikasi adalah kegiatan manusia dalam memproses maksud dan tujuan kehidupan. Komunikasi tercipta melandasi sebuah realisasi potensi dan hasil yang akan didapatkan. Komunikasi menjadi penting terkait dengan agenda tertentu. Semua jenis komunikasi, entah formal maupun non formal, memiliki potensi untuk menghasilkan sesuatu: baik dan buruk; bahagia dan menyedihkan; senang dan marah; kesabaran dan emosi; penghiburan dan penghinaan.

Depiksi kehidupan yang menyuguhkan potensi, relasi, dan komunikasi menjadi ajang mendapatkan hasil dari perjuangan, pengakuan dari orang lain, penghargaan, penghormatan, dan pengkultusan (pemujaan). Para pemimpin yang hendak merancang untuk menjadi pribadi yang dapat diteladani, diikuti, dan didengar, haruslah memperkuat depiksi potensinya, relasi, dan komunikasinya. Kita pun demikian. Meski hanya orang-orang biasa, pun harus menunjukkan depiksi potensi diri dalam karya-karya bermanfaat, karya-karya yang jujur dibuat oleh diri sendiri, membangun relasi yang sehat dan bermartabat, dan mengembangkan komunikasi yang memiliki tujuan mulia, berpengaruh, dan memberkati orang lain.

Diri kita adalah cermin bagi depiksi kehidupan kita sendiri. Kita dinilai: dimuliakan, dipuji atau direndahkan dan dihina, bergantung pada bagaimana kita meracik depiksi kehidupan kita sendiri. Kembangkan potensi, relasi, dan komunikasi sebaik mungkin dengan dilandasi karakter dan integritas yang darinya kita turut serta menerapkan prinsip-prinsip Kitab Suci berikut ini:

Mazmur 33:1, Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.   

Mazmur 37:37, Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan.

Mazmur 50:23, Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.

Mazmur 64:11, Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.   

Mazmur 119:7, Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.   

Mazmur 119:128, Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci.   

Mazmur 140:14, Sungguh, orang-orang benar akan memuji nama-Mu, orang-orang yang jujur akan diam di hadapan-Mu.   

Amsal 2:7, Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya.

Amsal 3:32, Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.   

Amsal 11:3, Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.   

Amsal 11:6, Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.   

Amsal 11:11,  Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.   

Amsal 12:6, Perkataan orang fasik menghadang darah, tetapi mulut orang jujur menyelamatkan orang.   

Amsal 14:2, Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.   

Amsal 14:9, Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan.   

Amsal 14:11, Rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah orang jujur akan mekar.   

Amsal 15:8, Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.   

Amsal 15:19, Jalan si pemalas seperti pagar duri, tetapi jalan orang jujur adalah rata.   

Amsal 16:13, Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya.   

Amsal 16:17, Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya.   

Amsal 21:8, Berliku-liku jalan si penipu, tetapi orang yang jujur lurus perbuatannya.   

Amsal 21:29, Orang fasik bermuka tebal, tetapi orang jujur mengatur jalannya.

Amsal 29:10, Orang yang haus akan darah membenci orang saleh, tetapi orang yang jujur mencari keselamatannya.   

Yesaya 33:15-16, Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan,  dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.

Jadilah teladan dalam potensi, relasi, dan komunikasi. Tuhan menopang kita yang hidupnya jujur dan berusaha untuk tampil menjadi berkat bagi orang lain dalam perkataan yang benar, sikap yang benar, karya yang benar, relasi yang benar, dan komunikasi yang benar. Semuanya terwujud jika potensi yang Tuhan berikan dipakai sesuai dengan maksud dan tujuannya yang benar.

Salam Bae…..

Sumber gambar: Google Image

SUPREMASI ALKITAB DALAM SEJARAH: Sebuah Implikasi

Supremasi Alkitab terletak pada tiga aspek: Pertama, pengaruhnya yang mengubah manusia (dari jahat menjadi baik) yang percaya kepada Yesus Kristus, Juruselamat Dunia. Kedua,  beritanya, yaitu mengembalikan manusia kepada Sang Khalik, hidup kudus, benar, adil, penuh kasih, dan suka mengampuni. Ketiga,  penyebarannya  yang sangat masiv dilakukan oleh murid, orang-orang percaya, penginjil, teolog, pelayan Gereja, guru, dan lain sebagainya.

Supremasi tersebut tetap konsisten dan bertahan hingga sekarang ini. Miliaran umat Kristen menerapkan konteks suprematif Alkitab pada dunia mereka masing-masing, mempengaruhi budaya, menata kehidupan yang kudus dan benar, dan masih banyak lagi. Kita sendiri mungkin menyadari bahwa tanpa Alkitab, hidup kita menjadi liar, tak terkendali, atau bahkan hilang dari jalan Tuhan.

Jika Alkitab sedemikian rupa mengubah kita, sudah selaknyalah kita hidup dalam perenungan akan firman-Nya, hidup di dalam-Nya dan mengikuti anjuran serta prinsip iman yang ditetapkan oleh Alkitab. Tuhan mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya harus hidup di dalam firman-Nya, bertumbuh, berakar, dan berbuah lebat, dalam seluruh aspek kehidupan yang dijalani.

W. Gary Crampton menyatakan, “hanya Alkitab yang menyatakan jalan keselamatan (1 Kor. 15:3, 4; Kis. 11:13, 14). Alkitab memberi seseorang pengetahuan tentang Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12). Alkitab juga merupakan firman Allah yang membawa individu untuk menyetujui kebenaran dari berita Alkitab (Yoh. 4:41; Kis. 17:11, 12). Alkitab adalah apa yang meyakinkan manusia tentang dosa mereka dan memimpin mereka kepada Kristus, menyebabkan mereka beriman kepada Kristus (Ibr. 4:12; Gal. 3:22-24). Melalui Alkitab seseorang lahir kembali (1 Ptr. 1:23; Yak. 1:18).”

Prinsip-prinsip Alkitab selalu menekankan cara hidup yang berkenan kepada Allah. Bagi Crampton, Alkitab merupakan sarana utama pengudusan dalam kehidupan orang Kristen. Roh Kudus bekerja di dalam dan melalui Alkitab yang dihembuskan Allah untuk menguduskan anak-anak Allah (2 Tes. 2:13). Tanpa suatu pemahaman mengenai firman Allah tidak mungkin seorang Kristen mengetahui bagaimana ia harus dengan suatu sikap yang menyenangkan Tuhan. Crampton juga menegaskan bahwa Alkitab memberi aturan iman dan hidup bagi kita. Alkitab merupakan sumber dari semua pengetahuan (Mzr. 19:7; Ams. 2:6). Alkitab mengajar orang kudus bagaimana berjalan dalam jalur kebenaran (Mzr. 23:3). Alkitab menjadi sumber kekuatannya (Mat. 4:4; Kis. 20:32).

Michael Keene menegaskan: Alkitab merupakan batu pijakan dari dua agama, Yudaisme dan Kristianitas, dan merupakan satu karya sastra klasik agung dunia…. Pengaruh Alkitab terhadap dunia tak dapat terhitung banyaknya. Alkitab berisi puisi-puisi sangat indah, kisah-kisah sengsara, dan karakter yang mengesankan. Pengaruhnya atas seni dan sastra Barat meluas melampaui bidang agama. Alkitab merupakan buku yang paling luas diterjemahkan, dicetak, didistribusikan, dan paling laku sepanjang segala masa. Alkitab telah bertahan ribuan tahun. Dan providensia Tuhan atasnya telah menjadia bagian terhadap bertahannya Alkitab. Alkitab adalah pesan Tuhan bagi seluruh umat manusia dan oleh karena itu, Alkitab telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa agar makna dan pesan-pesan moral serta keselamatan dapat dipahami oleh semua orang di seluruh dunia. Menurut Keene, Alkitab adalah sekumpulan buku yang ditulis pada zaman berbeda dan oleh banyak pengarang yang berbeda. Tidak satu pun dari manuskrip asli masih bertahan. Para ahli telah mencoba menemukan teks Alkitab yang paling awal dan paling dapat dipercaya.

Berkenaan dengan konteks tersebut, Keene menjelaskan signifikansi dari terjemahan Alkitab:

Terjemahan kitab suci Yahudi paling awal adalah Septuaginta (juga dikenal dengan LXX), yakni terjemahan dari bahasa Ibrani ke Yunani untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia yang berbicara bahasa Yunani dan sudah tidak dapat berbicara bahasa Ibrani. Terjemahan ini menjadi dasar bagi banyak penerjemahan sesudahnya, terutama versi Vulgata dari bahasa Latin oleh St. Hieronimus tahun 382 SM yang begitu berpengaruh. Penerjemahan kitab suci Yunani yang menggunakan teks Ibrani secara umum diambil dari versi Masoretes. Masoretes adalah sekelompok ahli Yahudi yang bekerja antara tahun 500 – 1000 M, yang menambah huruf-huruf vokal pada teks Ibrani yang, sampai saat ini, terdiri dari huruf konsonan. Untuk mempertahankan kemurnian teks kuno para ahli Masorete menambah tanda baca di atas dan di bawah baris-baris tulisan sehingga tidak mengganggu teks. Karya Masorete dapat diuji dengan membandingkannya pada beberapa gulungan-gulungan Kitab dari Laut Mati – manuskrip-manuskrip yang kira-kira 1000 tahun lebih tua daripada versi kitab suci Ibrani apa pun. Perbandingan itu hanya berfungsi untuk mempertinggi penghormatan kita bagi kepercayaan akan teks lain, yang jauh lebih tua, yakni teks Ibrani yang kita miliki.

Berkenaan dengan teks PB, Keene mengemukakan:

Ada beribu-ribu manuskrip Perjanjian Baru. Sebenarnya manuskrip yang sungguh-sungguh paling tua sampai sekarang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Ada juga penggalan-penggalan papirus yang berasal dari abad ke-2 dan ke-3 M. Manuskrip-manuskrip lain terdapat pada perkamen dan semuanya itu dijilid dalam bentuk buku (naskah kuno/codex). Manuskrip-manuskrip itu melengkapi teks terus-menerus, baik dalam bentuk huruf kapital (upper-case-letters) maupun huruf kecil (lower-case-letters). Dalam naskah-naskah kuno ini tidak ada ruang antarkatam tanpa tanda-tanda baca, dan tanpa pemisahan ke dalam bab dan ayat. Huruf kapital yang paling penting adalah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus dari abad ke-4. Codex Bezae berisi teks keempat Injil dan Kisah Para Rasul berbahasa Yunani maupun Latin. Penggalan-penggalan paling awal dari manuskrip papirus adalah kutipan singkat dalam Yohanes 18 yang ditemukan di Mesir dan diterbitkan tahun 1935; penggalan ini kira-kira berasal dari tahun 135 M.

Mengenai penerjemahan Alkitab, Keene menguraikan:

Setiap terjemahan Alkitab merupakan suatu interpretasi. Tidak ada naskah tunggal asli yang oleh para penerjemah diterjemahkan secara sama. Bahkan teks-teks yang paling awal pun sering memberikan beberapa kemungkinan terjemahan kata-kata, frase atau bagian tunggal. Para ahli terus-menerus membuka kemungkinan baru. Para penerjemah selalu perlu membuat penilaian yang didasarkan pada kejelasan yang ada. Inilah salah satu alasan mengapa begitu banyak terjemahan yang berbeda telah dibuat.

Terjemahan-terjemahan Awal

Lama sebelum kanon-kanon Perjanjian Lama dan Baru disetujui, terjemahan telah dibuat ke dalam bahasa-bahasa lain. Yang paling penting adalah Septuaginta (dari Ibrani ke Yunani), Peshitta (dari Ibrani ke Syria), dan Vulgata (dari Ibrani ke Latin). Targum adalah terjemahan dari Ibrani ke Aram.

Terjemahan ke dalam Bahasa Inggris

Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris memberi perhatian besar pada karya William Tyndale (1494–1536). Persaingan antara Alkitab Para Uskup dan Alkitab Geneva telah membawa Raja James I ke komisi Versi Alkitab yang Berwibawa, yang muncul tahun 1611. Versi yang direvisi, tahun 1881, mencoba memperbaiki Versi yang Berwibawa, dan Versi Standar yang Direvisi, pada tahun 1952, yang menyingkirkan beberapa arkhaisme. Jerusalem Bible, yang digunakan Gereja Katolik Roma, diterbitkan tahun 1966, sementara Alkitab Inggris Baru, pertama kali diterbitkan 1961, kemudian direvisi sebagai Alkitab Inggris yang Direvisi tahun 1989. Good News Bible (1976) dan New International Version (1978) keduanya terbukti menjadi begitu populer di antara para pembaca Evangelis.

Hingga sekarang ini, Alkitab memiliki banyak terjemahan. Pesan dan maknanya tidak berubah. Perbedaan terjemahan adalah lazim dalam dunia tulis-menulis. Namun, fokusnya bukan pada perbedaan satu atau dua kata, melainkan pada skema besar yang mengandung pesan dan makna dari kasih, kuasa, dan kemurahan Allah di dalam Kristus Yesus bagi manusia berdosa.

Fenomena perbedaan varian bukanlah ancaman bagi Alkitab. Para penulis diberikan keahlian tersendiri oleh Tuhan agar firman-Nya tersampaikan kepada generasi demi generasi. Alkitab telah mengubah milyaran manusia. Alkitab adalah pengarah kehidupan orang percaya, penggerak misi, dan sebagai panduan dalam menerapkan cinta kasih Allah kepada semua manusia, karena mereka membutuhkan “kasih Allah” untuk membawa mereka kepada Yesus Kristus, Firman Allah yang kekal.

Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa Alkitab memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memberikan pengaruh kepada banyak orang untuk datang kepada Yesus, mengubah perilakunya sesuai dengan prinsip dan ajaran Alkitab. Dan Alkitab memiliki implikasi kokoh bagi kehidupan orang percaya. Alkitab ditulis oleh manusia, diberikan oleh Allah untuk manusia, menata hidup, memperingatkan, menyadarkan, dan mengarahkan manusia kepada Allah melalui suatu kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Tidak ada dosa yang tertutup di mata-Nya. Semua tindak-tanduk manusia dan dosa-dosanya, diperlihatkan Allah dalam Alkitab.

Implikasi yang terlihat dari konteks ini adalah bagaimana Alkitab mengubah manusia berdosa menjadi pribadi yang harus hidup benar di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Implikasi kedua adalah bagaimana Alkitab menjadi pedoman iman dan kehidupan. Implikasi ketiga adalah bagaimana Alkitab memperlihatkan prinsip-prinsip kehidupan yang berkenan kepada Allah. Implikasi yang keempat adalah bagaimana Alkitab menawarkan hikmat yang dari atas untuk menapaki hidup dengan segala permasalahannya, dan implikasi yang terakhir adalah bagaimana Alkitab menuntun orang-orang percaya untuk tetap setia kepada Yesus Kristus, bertahan dalam segala penderitaan dan pergumulan.

Kita tahu bahwa Allah berlimpah rahmat, kasih, belas kasihan, dan damai sejahtera. Semua itu telah dilimpahkan-Nya kepada kita dalam sepanjang sejarah. Lebih dari itu, kita mendapatkan kelimpahan pengharapan di dalam Kristus, kelimpahan damai sejahtera (1Ptr. 1:2), kelimpahan syukur (2Kor. 9:12; Kol. 2:7), dilimpahi kekayaan kasih karunia-Nya (Ef. 2:7; 2Kor. 9:8; Kis. 4:33).

Alkitab memberikan kita kekuatan untuk melangkah, memperbaiki kehidupan, hidup dalam firman-Nya, bertindak selaras dengan kehendak-Nya, dan senantiasa bergantung kepada-Nya. Di dalam segala hal, kita mendapatkan pemeliharaan, pertolongan, dan topangan-Nya, sehingga hingga detik ini kita aman dalam naungan kasih-Nya.

Salam Bae….

Sumber gambar: pinterest

AKU, SETIA, DAN MISI: Refleksi 35 Tahun STT SETIA

Teologi yang berguna berarti memperlihatkan sebuah tindakan iman dan kesadaran spiritual tentang bagaimana bermisi melalui pewartaan Kabar Baik (Injil Yesus Kristus), melalui tindakan-tindakan iman, dan melalui karya-karya literatur. Dalam konteks ini, Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar atau yang dikenal dengan sebutan SETIA (atau STT SETIA Jakarta), telah memperlihatkan “teologi yang berguna” tersebut. Hal ini tampak pada prinsip misi dan pelayanan gerejawi yang dikerjakannya. Bersama dengan Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), STT SETIA terus berupaya mengembangkan berbagai bentuk pelayanan dan gerakan misi di pedesaan sampai saat ini.

Dari buah-buah misi dan pelayanan pedesaan yang telah dikerjakannya, SETIA berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan desa, bahkan desa tertinggal sekalipun. Teologi yang berguna itu, telah memberi dampak yang luas di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah pedesaan. Goresan-goresan pelayanan gerejawi yang dihasilkannya, menambah daftar panjang prestasi gemilang STT SETIA Jakarta.

Karya misi SETIA sudah terkenal sampai ke luar negeri. Militansi para mahasiswa dan alumninya tak bisa diabaikan begitu saja. Ketika uji nyali soal misi pedalaman, SETIA masuk dalam daftar itu. Wilayah terpencil bukanlah halangan bagi SETIA untuk mengembangkan pelayanan dan misinya. Keyakinan akan pimpinan Tuhan Yesus membawa SETIA ke puncak prestasinya yang luar biasa. Dengan membawa karakter pendoa, pekerja, pemberani, dan pejuang, SETIA semakin di depan dalam konteks melayani, merintis gereja, merintis sekolah, mewujudkan misi lintas suku, budaya, dan bahasa. Kesadaran misi inilah yang terus dikumandangkan hingga detik ini.

Bermisi melalui pewartaan Kabar Baik (Injil Yesus Kristus) telah mendarah-daging di benak para mahasiswa dan alumni SETIA. Tindakan-tindakan iman turut mewarnai kancah misi dan pelayanan pedesaan. Karya-karya literatur pun meramaikan dunia perteologian di Indonesia maupun di kancah internasional. SETIA jangan dianggap remeh!

Ada suara-suara yang menyepelehkan SETIA. Entah bagaimana sampai suara-suara itu bisa mencuat ke permukaan. Tapi, sudahlah. Pembuktiannya bukan hanya soal akademis saja, tapi bagaimana sebuah sekolah tinggi teologi dan sejenisnya dapat berkontribusi di berbagai bidang termasuk misi dan pelayanan pedesaan (di sanalah kaum papa yang harus kita perhatikan).

Berteologi itu bukan melulu pamer ijazah dan nilai akreditasi, tetapi juga bagaimana konteks pelayanan dan misi itu dapat dikerjakan dengan serius. Sejak awal berdirinya, Pdt. Dr. Matheus Mangentang, pendiri SETIA (dulunya disebut dengan Seminari Theologia Injili Arastamar), menfokuskan sekolah ini untuk misi dan pelayanan pedesaan. Karakter misi ini menjadi kuat dari tahun ke tahun hingga menghasilkan banyak “gereja” dan “sekolah” (berbagai jenjang).

Tak dapat dipungkiri bahwa Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:19-20) telah menjadi patron abadi bagi SETIA. Perjuangan yang tak kenal lelah, meski dengan segala keterbatasan, SETIA tetap eksis, dinamis, dan misioner. SETIA terus berkarya bagi Tuhan Yesus. SETIA berkomitmen untuk terus menghasilkan buah-buah dari misi dan pelayanan pedesaan. SETIA telah menuai pekerjaan misi dan pelayanan yang telah puluhan tahun dikerjakan. Dengan begitu, kekuatan dan hasil yang telah dicapai, menjadi wacana teologi lokal untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di bumi Nusantara ini.

Di usianya yang ke-35, SETIA tetap berdiri, kuat, dan solid dalam memajukan baik pelayanan pendidikan teologi dan pendidikan agama Kristen, misi di pedalaman-pedalaman, dan pelayanan pedesaan di seluruh Indonesia. Militansinya tetap terjaga. Mahasiswanya dilatih untuk melayani di gereja-gereja dan sekolah-sekolah. Para alumninya menjadi pemimpin Gereja dan sekolah-sekolah, dan masih banyak lagi. Ternyata, mereka yang setia melayani Tuhan akan menerima hasil yang berlimpah. Dan itu telah berbukti.

Aku menjadi bagian yang tak terpisahkan dari SETIA. Sebagai alumnus, semangat melayani tetap berkobar. Semangat untuk mendidik, mengajar, dan mendorong mahasiswa tetap dilakukan. Pelayanan di berbagai tempat terus dilakukan, tak menyerah, tetapi tetap semangat. “Melayani di ladang Tuhan sungguh manise”. Tantangan demi tantangan tak memupuskan semangat untuk bermisi dan melayani. Hambatan demi hambatan menjadikan aku semakin kuat di dalam iman. Aku tahu bahwa bekerja bagi Tuhan tidak akan menjadi sia-sia.

Aku, SETIA, dan Misi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. “Aku” – yaitu semua orang yang menjadi bagian dari SETIA – perlu untuk tetap berkomitmen dalam bermisi, mencintai pekerjaan Tuhan dan hidup dalam terang firman-Nya. Ada jaminan yang disediakan Tuhan Yesus Kristus. Suka-duka melayani selalu ada. Tetapi Yesus Kristus senantiasa menopang, menghibur, dan menguatkan kita semua.

Setialah dalam melayani-Nya. Setialah dalam pekerjaan-Nya. Ucapkanlah syukur atas berkat yang diberikan-Nya di dalam hidup kita. Beritakan Injil-Nya, selamatkanlah jiwa-jiwa yang tehilang. Tetap setia pada-Nya, meski badai hidup kan menerjangmu.

SELAMAT TAMBAH UMUR BUAT ALMAMATERKU TERCINTA: STT SETIA JAKARTA. Tuhan Yesus memberkati, menopang, menolong, dan menyertai senantiasa, sampai maksud dan rencana Tuhan tergenapi.

Salam Bae……

MENARUH HARAP: Sebuah Perspektif

Pada setiap perjuangan hidup manusia, ada “harap” yang menjadi tujuannya. Harap tersebut adalah bagian dari keyakinan manusia untuk mendapatkan atau menemukan sesuatu yang membuatnya puas, bahagia, sejahtera, aman, sentosa, dan merdeka. Akan tetapi, harap itu juga bisa bernada positif maupun negatif, tergantung dari siapa yang berharap. Orang yang munafik memiliki banyak harapan yang terhubung dengan kelicikan dan kesombongannya. Orang baik dan berintegritas memiliki beberapa harapan (yang berkualitas, jujur, dan bermanfaat bagi banyak orang).

Ruas-ruas kehidupan manusia diisi dengan banyak keinginan untuk menunjukkan identitas diri maupun kesombongan diri. Sejalan dengan itu, manusia berlomba-lomba untuk tampil menarik agar dapat dibaca oleh khalayak. Konteks tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki dua sisi kehidupannya: satu sisi mengandung harap, dan sisi lain mengandung tindakan-tindakan yang mendukung harap itu sendiri.

Tak ada yang dapat ditawarkan manusia selain identitasnya dan tindakan-tindakannya. Itulah yang tampak ke permukaan. Kita bergegas untuk bekerja menghasilkan buah, kita berharap semuanya akan baik-baik saja, kita berpikir tentang bagaimana keluar dari berbagai persoalan kehidupan, dan kita beriman bahwa tangan Tuhanlah yang senantiasa menjaga dan menopang: Ia mengasihi kita yang setia kepada-Nya.

Setiap peristiwa membentuk perspektif kita tentang fakta lampau di mana kita menghubungkannya dengan kuasa Tuhan, iman, dan harapan kita. Yang menarik adalah, ketika kita memiliki perspektif tentang fakta lampau dari aspek-aspek yang mengikatnya, kita mendapatkan makna dan pesan di dalanmnya. Makna kehidupan terbentuk bukan hanya satu alasan, tetapi banyak alasan, banyak peristiwa, banyak kejadian, dan bagaimana Tuhan turut campur tangan di dalamnya. Ialah yang senantiasa memberkati dan menguatkan kita menghadapi bertangan tantangan dan pergumulan. Tanpa-Nya, sia-sialah hidup yang kita jalani, tanpa harapan yang pasti. Dialah yang menggenggam masa depan kita: “masa depan sungguh ada dan harapan tak akan hilang” jika kita hidup di dalam firman-Nya.

Kita membentuk sebuah perspektif tentang kehidupan. Perspektif itulah yang akan memandu bagaimana caranya kita akan hidup, bagaimana mencapai harapan, menyenangkan diri sendiri dan orang-orang terdekat kita, bagaimana meraup keuntungan sebanyak mungkin, menyingkirkan orang lain, menjadi penjilat, memuaskan birahi kemunafikan, bagaimana cara menipu orang lain untuk kepentingan diri sendiri, bagaimana bermuka dua, mencari muka di depan banyak orang, berpura-pura bersikap rohani, bagaimana menunjukkan integritas, kebaikan, kasih, iman, dan bagaimana menunjukkan kualitas tindakan-tindakan.

Menaruh harap pada Tuhan adalah tindakan yang tepat. Inilah kesaksian yang dituangkan dalam Alkitab:

Ratapan 3:21-25, Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

Mazmur 31:25, Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!   

Mazmur 33:18, Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya

Mazmur 33:22, Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Mazmur 39:8, Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.   

Mazmur 71:14, Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu

Mazmur 119:43, Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.   

Mazmur 119:74, Orang-orang yang takut kepada-Mu melihat aku dan bersukacita, sebab aku berharap kepada firman-Mu.   

Mazmur 119:81, Habis jiwaku merindukan keselamatan dari pada-Mu, aku berharap kepada firman-Mu.   

Mazmur 119:114, Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.

Mazmur 119:147, Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu.   

Mazmur 147:11, TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.   

Yeremia 17:7-8, Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Menaruh harap pada manusia, adalah tindakan yang ceroboh. Apa yang Alkitab katakan tentangnya?

Yesaya 2:22, Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?   

Yeremia 17:5-6, Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Yesaya 36:6  Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya.   

Selalu ada konteks pembeda di antara berhadap kepada Tuhan dan berharap kepada manusia. Tapi ada jenis ketiga yaitu mereka yang berharap pada Tuhan sekaligus berharap sesuatu dari kekuatan penipuan dan kemunafikannya. Adalah hal yang sangat menakutkan jika kita berada pada posisi ini. Mengerikan! Mereka yang berada pada posisi ini seringkali tidak membaca bagaimana cara Tuhan menegur. Jika kecelakaan tidak membuat mereka bertobat dan menyesali dosa-dosa penipuan dan kemunafikan, kematianlah yang akan mengakhiri kehidupan mereka.

Ada orang yang memang sudah terbiasa hidup dengan cara menipu. Tuhan menegurnya, tetapi masih juga belum sadar dan tetap melakukan cara-cara menipu seperti yang dilakukannya. Kondisi ini sangatlah menyedihkan, sebab jika ia tak sadar akan tindakan-tindakannya, pasti ada cara lain yang Tuhan sediakan untuknya. Kita dapat belajar dari fenomena ini. Kita pun harus menjaga diri, jangan sampai hidup dalam segala kepahitan, dendam kesumat, kemunafikan, penipuan, dan kesombongan. Tuhan punya banyak cara untuk menegur ataupun membentuk pribadi kita.

Menaruh harap pada Tuhan menghasilkan berkat yang luar biasa. Menaruh harap pada manusia menghasilkan kesedihan dan kecelakaan semata. Anda ingin berharap pada manusia? Temukanlah hasil-hasilnya. Anda ingin hidup dengan terus menipu orang lain? Temukanlah hasil-hasilnya. Hidup Anda berada dalam bahaya.

Berharaplah kepada Tuhan sebab Ia baik. Pada Dia ada hidup dan harapan. Pada Dia adalah keselamatan dan sukacita. Ia sungguh baik dan teramat baik.

“TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (Mazmur 25:8).

“Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mazmur 100:5).

“Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!” (Mazmur 135:3).

“TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mazmur 145:9).

“… Bersyukurlah kepada TUHAN semesta alam, sebab TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya! …” (Yeremia 33:11).

“TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (Nahum 1:7)

Jika kita tahu bahwa Tuhan itu baik, mengapa masih menipu dan melakukan tindak kejahatan? Jika kita menaruh harap pada Tuhan, mengapa masih ragu akan pemeliharaan-Nya? Kita selalu punya pilihan. Kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Jika kita salah memilih, itu akan berdampak buruk.

Harapan kita kepada Tuhanlah yang membuat hidup kita bermakna, menjadi berkat, hidup dalam kebenaran, menjadi teladan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Kita senantiasa memperkatakan kebenaran dan bukan dusta. Kita melakukan kebenaran Tuhan, dan bukan kebenaran dari dusta yang kita ciptakan. Harapan hidup adalah salah satu aspek penting yang perlu kita renungkan. Orang yang munafik memiliki banyak harapan yang terhubung dengan kelicikan dan kesombongannya (mencakup bagaimana ia dapat menyingkirkan orang lain, menikmati hasil kemunafikannya, mencari cara menjatuhkan orang lain, berpura-pura sibuk dan menawarkan sejumlah opini supaya terkesan dia bekerja paling sibuk dari yang lain, suka mencari kambing hitam, berpura-pura jadi pahlawan, berpura-pura baik untuk tujuan menjilat, dan itu, dan lain sebagainya). Orang baik dan berintegritas memiliki beberapa harapan yang berkualitas, yang jujur, dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia berharap bahwa tindakan-tindakannya telah selaras dengan firman Tuhan. Itu saja!

Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Masih adakah waktu untuk mengubah hal-hal buruk yang telah kita lakukan? Tentu ada! Waktu yang Tuhan berikan adalah berharga. Jangan menundanya. Jangan menjadi semakin beringas dengan tindak kejahatan serta penipuan kita setelah kita mengalami kecelakaan. Stop, dan lakukanlah kebenaran Tuhan, sebelum terlambat. Tangan Tuhan selalu terulur bagi kita. Ia mengasihi orang-orang yang mengasihi-Nya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Jangan menunda untuk bertobat. Jangan menunda untuk berbuat baik. Hargai waktu yang Tuhan berikan sebelum terlambat. Berharaplah kepada Tuhan: Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6)

Salam Bae….

Sumber gambar:

https://unsplash.com/s/photos/hope

https://unsplash.com/photos/Mu3T3DmvQQw

DI UJUNG RASA: TEOLOGI YANG KONSISTEN

Saat kita memiliki sejumlah harapan ataupun keinginan untuk menjalani kehidupan, saat itu pula kita berpikir tentang apa dan bagaimana kita bertindak dengan mempertimbangkan masa lalu, masa kini, dan harapan di masa depan; atau barangkali hanya memikirkan tindakan di hari ini untuk mencapai tujuan secepat mungkin.

Kita merangkum hal-hal penting yang dapat dilakukan: semampunya. Barangkali ada di antara kita yang menghalalkan segala cara untuk suatu tujuan terselubung. Semuanya tidak lepas dari “karakter dan pontensi masing-masing”. Potensi dapat disetir sesuai keinginan, entah baik, entah buruk.

Merangkum sesuatu kadang terkesan sulit, kadang terkesan mudah. Begitu pula yang terjadi dengan “teologi”. Ada orang-orang tertentu yang merangkum (merumuskan) teologi dengan tujuan tertentu untuk mencari keuntungan terselubung. Ada yang hanya menaburkan ideologi pribadi yang dicampur dalam teologinya. Juga ada yang merumuskan teologi dengan arogansi sentimen terhadap doktrin denominasi lainnya. Pun tidak lepas dari ramuan teologi ala kadarnya, tanpa dasar, hanya modal kumur-kumur “ocehan yang hilang ingatan”.

Fenomena variasi perumusan teologi menawarkan sejumlah konteks berpikir dan menilai mana teologi yang sehat, mana teologi yang beracun, dan mana teologi yang merusak identitas iman Kristen. Sejatinya, teologi yang kita miliki dapat dengan mudah terhubung pada konteks kehidupan sehari-hari. Seringkali kebaikan seseorang menutupi keburukan teologinya, pula menutupi teologinya yang miring dan sesat.

Orang-orang tersebut jauh dari konsisten (memahami secara benar ajaran-ajaran Alkitab) untuk sebuah kekuatan teologinya. Yang ada hanya sebuah fenomena yang menonjolkan ambisi diri, membabi buta dalam berteologi, menunjukkan wajah kebodohan, dan tak pernah menghasilkan argumentasi yang bersinggungan langsung dengan “konteks Alkitab yang sesungguhnya” (tidak memahami natur hermeneutika secara kredibel), kecuali berpikir absurd dan ignoran, memuaskan kebodohan yang melekat di pikirannya.

Perjalanan berteologi menjadi rekam jejak kita masing-masing. Ada di antara kita yang tidak berniat untuk merangkum secara salah sebuah [konsep] teologi, melainkan hanya karena kurang mendalami sesuatu, sehingga pada titik tertentu melakukan kesalahan perangkuman, penafsiran, dan analogi. Biasanya, tipe orang seperti ini akan sadar bahwa apa yang dirumuskannnya adalah keliru, dan kemudian mengubahnya. Sekali lagi, orang seperti ini tidak berniat untuk menyesatkan dan tersesat, melainkan karena kurangnya mendalami (sesuatu) atau barangkali keterbatasannya dalam memahami sesuatu. Perubahan pemahaman itulah yang disebut dengan “di ujung rasa”.

Ada suatu perasaan bersalah pada “teologi” yang telah dirumuskan, bahkan dipercayai sebagai “kebenaran absolut”. Hal itu dapat terjadi karena seseorang tidak cukup paham tentang dogmatika, historika, biblika, dan praktika. Ia secara berani berurusan dengan konteks berteologi yang mana dalam berteologi ada fase “limitasi logika pada ruang ontologi eksistensi Allah”. Bahkan lebih dari itu, pola penafsiran “harfiah” menjadi lubang-lubang kebodohan yang membuat mereka terperosok tanpa sadar.

Perubahan berteologi di kemudian hari sebagai “di ujung rasa” lumrah terjadi. Namun, poin saya adalah: “bagaimana kita belajar tentang sesuatu hal secara komprehensif dan mengedepankan penafsiran koherensi (misalnya PL dan PB atau teks-teks tertentu dengan konteks yang kurang lebih sama)”. Kelemahan dari mereka yang memiliki rumusan teologi menyimpang dan bahkan menyesatkan hanya berada pada dua opsi: penafsiran harfiah tanpa melihat konteks secara utuh, dan membuang koherensi konteks mengenai sesuatu hal.

Mereka yang memiliki perumusan, pemahaman, dan penafsiran yang salah, sesat, dan menyimpang dari Alkitab, menafsirkan teks-teks Alkitab “sesuka hati” tanpa memperhatikan rambu-rambu hermeneutika, terutama masalah “konteks”. Skema utama dalam dunia hermeneutik adalah “konteks”. Konteks itu sendiri menarik semua fitur dalam penafsiran (mencakup: kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, perikop), sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Di sinilah letak kelemahan dan kesalahan paling mendasar dari para bidat dalam memahami Alkitab.

Apakah ada fakta “di ujung rasa” pada mereka yang benar-benar bidat? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi mayoritas dari para bidat adalah hidupnya berakhir dalam kebidatannya sendiri. Teologi miring mereka tetap berada pada alur konsistensi sebagaimana yang mereka percayai. Akan tetapi, peluangnya menjadi besar ketika di ujung rasa ada perubahan pemahaman pada dogma (ajaran) dan prinsip menafsir yang kredibel. Mereka pasti mendapatkan banyak manfaat dari keputusan “di ujung rasa” tadi.

“Di ujung rasa” menempatkan sebuah wajah teologi dan perkembangan teologi. Seseorang yang “ngotot” menafsir secara harfiah dan mengabaikan koherensi teks-teks, serta pemahaman secara komprehensif, sebenarnya telah membuang prinsip-prinsip dasar dalam penafsiran itu sendiri. Karena perasaan dan kebodohan mereka terlampau tinggi, maka mereka menindas kebenaran, dan menghasilkan “kebenaran” yang “dianggap benar”.

Teologi itu sendiri sedari awal muncul sebagai respons manusia terhadap sesuatu, dan merangkumnya menjadi pijakan iman, logika, etika, dan lain sebagainya. Teologi tertancap kuat di sanubari seseorang ketika didasarkan pada kebenaran Alkitab yang kredibel. Ini adalah awal dari teologi yang konsisten. Tidak hanya kekonsistenan teologi yang harus dipegang dan dipertahankan, tetapi juga bagaimana perjuangan teologi dalam menebarkan keharumannya kepada khalayak di pasar ide, dan juga di pasar kebodohan.

Teologi yang konsisten adalah prinsip yang benar dan harus dipegang teguh. Kita sendiri dalam meracik bentuk-bentuk teologi asalkan dasarnya harus jelas dengan mempertimbangkan penafsiran yang solid dan koherensi teks dan konteks. Niscaya, posisi teologi kita menjadi semakin kokoh dan membawa perubahan bagi kehidupan kita sendiri.

Di ujung rasa akan melabuhkan posisi teologinya kepada “aspek-aspek iman yang konsisten”. Kita berpijak harus kepada teologi yang konsisten. Kita harus mewartakan teologi yang konsisten. Kita harus menghidupi teologi yang konsisten. Para peramu teologi dan pelaku teologi haruslah hidup di dalamnya dan terus berdoa, bersandar pada Tuhan Yesus yang telah memberikan hikmat, akal budi, dan pengertian untuk dapat melakukan kehendak-Nya.

Mereka yang pada akhirnya berada “di ujung rasa” untuk menetapkan diri berada pada teologi yang konsisten akan mendapatkan sebuah kesadaran yang fundamental bahwa doktrin-doktrin yang telah diwariskan dari generasi ke generasi adalah sebuah upaya berpikir sekuat mungkin dalam memahami “misteri Allah” yang meskipun telah dinyatakan dalam sejarah umat manusia, tetap masih tersisa “ruang misteri”. Limitasi logika pada ruang ontologi eksistensi Allah adalah penegasannya. Kita tidak dapat masuk ke dalam eksistensi atau substansi Allah untuk mengetahui apa-apa saja yang ada di sana. Tidak sama sekali. Limitasi logika harus berakhir di sini. Yang kita tahu dan pahami hanyalah “penyataan Allah dalam sejarah” dengan seluruh fragmennya (Ia berfirman, Ia mencipta, Ia membuat mukjizat, Ia memilih, Ia menghukum, Ia menetapkan, Ia memelihara ciptaan-Nya, Ia berdaulat dan berkuasa atas segala sesuatu, dan masih banyak lagi).

Teologi yang konsisten – selaras dengan Alkitab patut mendapat perhatian dari iman kita. Kita dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah di dalam Kristus Yesus dan juga melalui hubungan pribadi dengan-Nya dalam doa, penyembahan, ibadah, dan melakukan segala perintah-Nya. Kita akan terus berhadapan dengan rancangan-rancangan teologi yang berkilau-kilauan. Akan tetapi, seperti “lumen”, ia akan redup dan larut dalam penyesatan dan ketidaksadaran diri. Tugas kita sangatlah berat: memberi pertanggungjawaban kepada setiap orang yang meminta pertanggungjawaban.

Kita harus berteologi secara konsisten, mengaminkan segala karya Allah di dalam Kristus Yesus, memuliakan Dia yang telah menebus, mengampuni, dan menyelamatkan kita, manusia yang berdosa. Kita harus hidup secara konsisten di dalam firman-Nya. Kita terus bekerja bagi Dia yang memberi hikmat, akal budi, dan pengertian.

Tuhan telah memanggil kita untuk melayani-Nya. Lakukanlah itu semua dan tunaikanlah tugas pelayananmu di hadapan Dia, Sang Pemilik pelayanan dan kehidupan kita semua. Selalu tersedia waktu dan harapan bagi mereka yang telah hidup dalam kesesatan, kembali kepada teologi yang benar dan konsisten. Di ujung rasa adalah momen terbaik bagi seseorang untuk kembali kepada ajaran-ajaran yang benar. Jangan ngoceh sana ngoceh sini hanya menawarkan ajaran-ajaran yang beracun, merusak otak dan iman. Kembalilah kepada ajaran yang benar dan temukanlah Yesus Kristus yang sejati, kini, besok, dan selamanya. Amin!

Salam Bae…..

Sumber gambar: Pinterest

UKURAN KUALITAS DIRI

Manusia menempati ruang kehidupan di mana ia dan “sesamanya” bersama-sama berjalan menapaki ruas-ruas hidup, merealisasikan diri, menciptakan segala sesuatu yang terhubung dengan prinsip bertahan hidup, dan meluapkan apa pun yang dipandang dapat mendukung kehidupan itu sendiri.

Sejatinya, setiap orang mendapatkan dirinya dalam keadaannya seperti sekarang ini. Keadaan tersebut adalah akumulasi dari banyak hal yang memperkuat, memperlemah, menghancurkan, mengecewakan, memulihkan, mengembangkan, meruntuhkan, membinasakan, dan lain sebagainya. Hampir setiap orang juga menginginkan hidupnya mengalami sesuatu yang tampak baik menurut dirinya sendiri. Segala sesuatu dapat dilakukan untuk memperlihatkan “identitas”.

Di sana sini, manusia bergulat dengan kehidupan. Di sana sini, manusia meracik waktu dan kehidupannya. Di sana sini, manusia menghembuskan ucapan lidahnya, kesombongannya, kemunafikannya, kebenciannya, keberdosaannya, kenajisannya, kebaikannya, kelemahannya, karyanya, dan masih banyak lagi, di mana hal-hal tersebut meluap dari “hati dan pikiran” manusia.

Tak jarang, orang-orang tertentu menjual integritasnya, menjual harga dirinya, menjual relasinya yang baik, hingga berubah menjadi relasi – dengan orang-orang tertentu – yang penuh kemunafikan dan sikap “nyaman sendiri”. Apa pun bisa dilakukan untuk mengamankan diri sendiri. Kompromi dan pelanggaran etis pun rela dilakukan hanya karena ingin terlihat “wow” di mata kenalan-kenalannya.

Lambat laun, kualitas diri seolah-olah terukur hanya karena seseorang tampil aneh dan “wow” di mata mereka yang brengsek dan munafik. Padahal, integritaslah yang membawa seseorang ke puncak karakternya, namun, demi sesuap nasi dan jabatan, ia rela membentuk dan memperlihatkan dirinya sebagai “orang yang sealiran dengan mereka yang munafik”.

Ada banyak hal yang terangkum untuk menentukan kualitas diri seseorang. Di dalam waktu, kita semua berjuang untuk merealisasikan harga diri. Di dalam waktu, kita semua memperlihatkan kualitas diri. Di dalam waktu, kita semua berjuang untuk bertahan hidup, berjuang untuk dihargai, dihormati, dicintai, dikasihi. Di dalam waktu, kita semua berharap tidak dibenci oleh orang lain. Di dalam waktu kita menaburkan kebaikan, kebencian, kebohongan, hipokrit, kecerobohan, kebodohan, sumpah palsu, penipuan, pemalsuan, keadilan, kebenaran, cinta kasih, racun lidah, gosip, dan kesombongan.

Di dalam waktu kita melihat bahwa ada orang-orang yang setia sampai mati dalam pekerjaan Tuhan, taat akan perintah-Nya, dan bersedia berjuang bagi pekerjaan Tuhan. Di dalam waktu pula, kita akhirnya disadarkan bahwa masih ada orang-orang penjilat dan munafik yang rela melacuri dirinya demi jabatan, harta kekayaan, popularitas, dan kenyaman diri sendiri (mencari zona aman agar tetap diakui sebagai bagian dari para pelaku kejahatan).m Ada banyak hal yang tak dapat kita selami; ada banyak hal yang tak dapat kita kerjakan; ada banyak hal yang tak dapat kita mengerti. Ternyata, ada hal-hal dapat memberi kita kedamaian, kenyamanan, sukacita, atau sebaliknya: peperangan (konflik), keresahan, dan kesedihan. Baik buruknya kondisi kita, ditentukan oleh kualitas diri. Kualitas itu sendiri ada yang positif, ada yang negatif.

Pada akhirnya, sisi positif dari kualitas diri mencakup tujuh aspek penting. Saya menyebutnya sebagai berikut:

Pertama, lidah. Lidah adalah salah satu anggota tubuh yang kecil, tetapi memiliki pengaruh yang besar. Karena alasan inilah, lidah dikaitkan dengan ucapan (perkataan) dan kemudian dalam skema yang lebih besar, lidah (perkataan) terkait erat dengan iman dan perbuatan. Lidah memainkan peran penting dalam hidup manusia. Identitas, karakter, dan personalitas manusia, seringkali diukur oleh lidah (perkataan).

Dengan lidah manusia meminta sesuatu kepada Tuhan dalam doa, kita memuji Dia. Lidah membentuk sikap dan jati diri kita. Lidah dapat berucap untuk menuduh Tuhan, mengutuk sesama manusia, mengucapkan saksi dusta. Lidah yang belum beres adalah pabrik dosa setiap hari.

Lidah adalah salah satu ukuran kualitas diri kita. Ketika seseorang membiasakan lidah untuk berkata dusta, maka ia akan dibesarkan oleh dusta. Kebenaran bagi dia hanyalah sebuah polesan kemunafikan dan bungkusan yang memalsukan dirinya yang pendusta. Jika ingin menjadi pribadi yang berkualitas terbaik, jagalah lidahmu dan senantiasalah berucap kepada Tuhan untuk memohon pertolongan, penyertaan, berkat, dan kemampuan untuk mengolah lidah agar menjadi berkat bagi sesama.

Kedua, karakter. Karakter adalah gambaran diri seseorang, yang memperlihatkan aspek sikap, perkataan, pemikiran, dan ungkapan-ungkapan diri sendiri. Karakter yang baik akan tampak dari perbuatan-perbuatan yang baik selaras dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Ketiga, relasi. Salah satu ukuran kualitas diri seseorang adalah relasi. Ada satu pepatah kuno yang berbunyi demikian: “Jika karakter seseorang tampak kurang jelas bagi Anda, lihatlah sahabat-sahabatnya.” Pepatah ini menjelaskan bahwa relasi seseorang sangatlah menentukan karakter dan harga dirinya, dan kita dapat menilai seseorang dari siapa sahabat-sahabatnya. Salomo dalam amsalnya menuliskan: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20). “Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19). “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri” (Amsal 22:24-25). “Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka” (Amsal 24:1). Jagalah relasi kita. Kita harus selektif untuk membangun relasi. Jangan merusak integritasmu untuk bergaul dengan para penipu dan orang-orang yang sombong.

Keempat, karya. Manusia memiliki potensi untuk berkarya. Karya adalah salah satu ukuran kualitas diri manusia. Karya memiliki nuansa relasional dan pengaruh. Karya yang berpengaruh memiliki dua aspek: positif dan negatif. Karya positif terkait erat dengan humanitas yang sejalan dengan kehendak Tuhan. Karya negatif terkait erat dengan pengrusakan, penipuan, mencari keuntungan diri sendiri, dan memaksa orang lain untuk setuju dengan karyanya, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, teruslah berkarya, termasuk berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan.

Kelima, kasih. Ini adalah prinsip yang sering didengungkan Alkitab. Kasih menempati ruang kehidupan manusia dan membuatnya menjadi orang-orang terbaik di mata Tuhan. Yesus pernah berkata – dengan mengkonfirmasi Perjanjian Lama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” Matius 22:37-40).

Di bagian lain, Yesus mengatatakan: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43-44).

Keenam, rohani. Kerohanian seseorang dapat menjadi salah satu ukuran kualitas dirinya. Tampaknya, kerohanian ini mencakup bagaimana mempergunakan lidah dengan baik, berkarakter baik, memiliki relasi yang baik, menghasilkan karya yang bermafaat secara positif, dan memiliki kasih yang tulus dan murni di hadapan Allah dan sesama. Seringkali, kerohanian seseorang yang disulap menjadi baik, merupakan luapan dari hipokritisasi dan penipuan seseorang. Ia memalsukan identitasnya. Janganlah kita meniru kerohanian semacam itu.

Ketujuh, sikap menghadapi tantangan. Hampri segala sesuatu memiliki tantangan. Akan tetapi, mereka yang memiliki sikap kuat dalam menghadapi tantangan, mencerminkan dirinya yang beriman. Ia akan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Tuhan adalah perisainya; Tuhan adalah Penolong dan sandaran hidupnya. Orang seperti ini adalah pribadi yang benar-benar tahu bahwa hidupnya ada dalam rencana dand kehendak Tuhan.

Jadilah manusia-manusia yang memiliki kualitas-kualitas hidup sebagaimana yang telah digambarkan di atas. Kiranya Tuhan Yesus memampukan kita untuk merealisasikannya di sepanjang hidup kita. Soli Deo Gloria

Salam Bae……

Sumber gambar: Pinterest

dan lainnya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai