KITA DAN MASALAH “DUNIAWI” BERTEOLOGI

Sumber gambar: Pinterest

“Rohani” dan “duniawi” adalah dua ciri (identitas) manusia jika dilihat dari perspektif iman Kristen. Manusia rohani menunjukkan perilaku bahwa ia adalah milik Tuhan dan hidup di dalam kasih-Nya, sedangkan manusia duniawi menunjukkan perilaku bahwa ia adalah miliknya sendiri atau milik Iblis, atau milik sesuatu yang ia tentukan sendiri.

Dalam bertelogi, kita dapat melihat dan menilai dua jenis manusia tersebut. Bagi mereka yang rohani, mengutamakan prinsip kredibilitas, integritas, dan kasih, adalah hal yang utama. Dari hal-hal tersebut, mereka mendapatkan upahnya dari Tuhan dan sesama. Bagi mereka yang duniawi, mengutamakan diri sendiri sebagai yang paling penting, dan merasa iri jika ada saingan, mengutamakan kepopuleran semata dan menjadi sombong (egosentris) dalam segala sesuatu, selalu menciptakan masalah, dan sembrono dalam berteologi.

Dua identitas tersebut mewarnai corak berteologi di Indonesia dan juga menjadi ciri khas denominasi. Akan tetapi, dua identitas tersebut lambat laun bisa bertukar tempat. Mereka yang dulunya terlalu rohani, kini berubah menjadi sombong rohani. Mereka yang dulunya sombong rohani, kini berubah menjadi rendah hati dan rohani, menghargai perbedaan pendapat dan menempatkan konteks itu ke dalam ranah “pilihan dan prinsip hermeneutika”.

Pergulatan dogmatis—teologis memperguncingkan sebuah keyakinan denominasi atau bahkan arogansi teologi di mana “nalar” menavigasikan fitur-fitur internal, misalnya emosi, kepuasan, keegoisan, kesombongan akademis (gelar dan keilmuan), lokus studi (misalnya di luar negeri yang bergengsi), yang pada gilirannya “orang-orang” tertentu terjebak dalam rantai “dosa intelektual”. Dosa jenis ini sejatinya memperlihatkan tiga aspek:

Pertama, memamerkan kesombongan akademik yang berimbas kepada “salah kaprah” terhadap semua jenis teologi dan fakta teologi iman tanpa adanya penelitian (pengamatan dan analisis) yang bersifat solidisme.

Kedua, memamerkan penghakiman terhadap orang lain tanpa dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif. Misalnya ketika seseorang dulunya berada dalam kesesatan, lalu ia bertobat, dan kisah pertobatannya belum diketahui secara umum, maka ketika ada penghakiman terhadap orang tersebut, di situlah ia sedang memberikan penghakiman yang keliru.

Ketiga, mengandalkan lokus studinya, seolah-olah lokus tersebut merupakan presentasi dari “kebenaran” yang paling benar. Lokus studi tidak menjamin sebuah prinsip kebenaran. Sebuah analisis terhadap teologi, bersumber dari kecermatan, pemahanan yang mendalam yang mencakup pencarian sumber-sumber terbaik, prinsip hermeneutik, pemaparan berdasarkan historisitas, dogmatis, dan biblikal yang kredibel, dan bukan “pada label lokus studi”.

Berbagai metode (cara mengamati) dan bernalar menghasilkan tumpukan konsep dan data teologi entah yang bernatur historis, eksegetis, maupun eisegesis; bahkan lebih parahnya lagi: paralogisme. Pada arena pertempuran ideologi dan teologi, orang-orang kemudian berlomba untuk menampilkan sejumlah gerakan akrobat agar dilihat oleh khalayak.

Tak jarang kebodohan berjalan beriringan dengan kesombongan popularitas. Asal ada “ide”, siap dijual kepada publik. Perlombaan yang tak berhadiah ini menyeret sejumlah orang untuk ikut meramaikan perlombaan tersebut. Para penonton tentu ikut berpartipasi memberi dukungan kepada “gaco” yang diandalkan. Pada akhirnya, yang tersisa adalah “lelucon-lelucon teologi” yang menciptakan lagu-lagu sumbang ke permukaan bumi ini.

Kemudian, berbagai arogansi makin mengental ketika orang-orang tertentu memperlihatkan berbagai keajaiban emosi diri untuk sekaligus menunjukkan bahwa “inilah saya”, dan “inilah potensi keilmuan saya”; “kalian cukup tahu saja bahwa memang saya bisa diandalkan, bahkan lebih andal dari lawan berpikir saya”. Fakta ini mengarahkan para pendengar dan penonton kepada sebuah lingkungan yang di dalamnya berkerumun para pengamat, pesorak, pendengar, pencemooh, provokator, dan lain sebagainya. Hal ini seringkali menimbulkan riak-riak politik agama dan menyeret berbagai “lidah-lidah sombong” untuk mencuatkan narasi-narasi kekinian yang mengandung — jika bukan arogansi akademis — pasti bumbu “kebodohan konteks”.

Publik menilainya dan kemudian menyuarakan nilai-nilai itu, sementara orang-orang tertentu masih sibuk berlomba memperebutkan popularitas diri. Percampuran nalar teologis dengan popularitas memang sulit diamati; tetapi dari buahnya kita dapat melihatnya.

Kini, kita digerakkan untuk terus melihat diri kita, apa yang kita perbuat kepada Tuhan dan sesama. Mungkin kita telah melupakan tugas dan tanggung jawab iman dan menyeret diri kita untuk masuk dalam lingkungan yang tidak mendukung realisasi tugas dan tanggung jawab iman. Kita mungkin terlalu sibuk untuk menavigasikan egoisme akademik dan melupakan identitas yang diberikan Yesus kepada semua orang percaya.

Apakah kita akan membiarkan diri kita terus-menerus seperti ini? Ataukah kita kembali aktif mendukung gerakan “bekerja dan melayani Tuhan”? Memang, melayani Tuhan memiliki banyak faset (segi). Tetapi motivasi dalam melayani, itulah yang menentukan kualitasnya. Kita terpanggil untuk menjadi saksi melalui perkataan, pikiran, dan perbuatan. Semua yang kita katakan dan perbuat, berasal dari kualitas pemikiran kita sendiri. Ketika pikiran kita didasarkan pada Alkitab dan diarahkan kepada kemuliaan Tuhan, maka pasti berkualitas.

Keilmuan teologi kita seyogianya mengarahkan orang-orang kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah, menguatkan pemahaman mereka tentang Allah, mendorong mereka untuk mengasihi Allah dan sesama, dan menampilkan gaya hidup yang selaras dengan firma-Nya. Bukan untuk gaya-gayaaan, melainkan karena memang tuntutan spiritual yang Tuhan kehendaki memanglah demikian.

Kita diperhadapkan dengan masalah duniawi berteologi yang kemudian menggiring opini publik – dengan menilainya – sebagai dosa intelektual. Tidak hanya itu, dosa intelektual selain dari pada tiga aspek yang telah saya sebutkan di atas, tampak bahwa dosa jenis ini merambah kepada sikap yang ingin menyingkirkan orang lain yang dinilai menjadi “hambatan” atau “saingan” bagi dirinya. Fakta ini telah membuat beberapa orang merasa puas diri dengan yang dimilikinya, sementara meraka yang berjuang untuk tetap maju dalam studi terus menggeluti teologi dan faset-fasetnya dengan tujuan “berbagi kepada yang lain” selagi ia bergerak dan bernafas. Itulah panggilan yang diterimanya dari Sang Khalik.

Sebaiknya, dosa intelektual dibuang jauh-jauh. Marilah kita bersama-sama berbagi berkat dengan yang lain melalui potensi yang diberikan oleh Tuhan, melalui goresan-goresan pena iman yang diberikan Tuhan; jangan pelit ilmu, jangan simpan ilmu, tetapi berbagilah selagi engkau sehat dan kuat, selagi engkau masih dapat berpikir segar. Tuhan telah memberikan hikmat, akal budi, dan pengertian kepada kita, maka selayaknya kita menggunakannya untuk menyenangkan hati Tuhan melalui tindakan-tindakan bermanfaat.

Ingatlah pesan dari Rasul Yohanes, bahwa: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, TETAPI ORANG YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH TETAP HIDUP SELAMA-LAMANYA” (1 Yohanes 2:15-17).

Buanglah kesombongan akademis, sebab hal itu tidak dapat mengerjakan pelayanan terbaik di hadapan Tuhan, justru malah menciptakan ruang kebencian dan caci maki antara satu dengan lainnya. Teolog yang sombong (yang memancarkan dosa intelektualnya) akan menjadi bahan caci maki, dan yakinlah pengikutnya akan semakin berkurang, hari demi hari. Buanglah hal-hal duniawi dalam proses berteologi kita, tetapi arahkanlah hati, pikiran, dan tindakan kita kepada hal-hal yang memuliakan nama-Nya, mendatangkan berkat, memberi teladan, dan terlebih bersaksi bagi kebenaran Yesus Kristus.

Salam Bae……

MENCATAT KEHIDUPAN

Sumber gambar: Unsplash

Ragam makna dan pesan ada pada kehidupan yang kita jalani. Setiap proses dan perjalanan kehidupan memberi kepada kita “catatan-catatan” makna dan pesan hidup. Tugas kita, atau bahkan tanggung jawab kita adalah mencatat kehidupan agar kita dapat menyimpan semuanya dalam pikiran, perasaan, dan emosi.

Suatu saat, catatan kehidupan akan mengingatkan kita bahwa rentetan peristiwa yang dilalui telah membawa sebuah harapan dan fakta hingga kita menemukan kondisi kita sekarang ini.

Ada baiknya, catatan kehidupan itu kita buka setiap hari sembari merenungkan bahwa di setiap detik, ada “tangan yang kuat” menopang, memberkati, dan menyertai kita.

Kita aman, karena Dia melindungi dan mengasihi kita. Kita kuat karena Dia yang menopang kita. Kita bahagia karena Dia bermurah hati kepada kita.

Sungguh, alangkah baiknya jika ucapan syukur diberikan kepada Dia, Sang Khalik. Catatan kehidupan membuat kita menyadari bahwa Dia ada di balik semua peristiwa.

Kekaguman yang mendalam kepada kemurahanNya mengarahkan hidup kita kepada sebuah tujuan, yaitu: “kemuliaan”.

Di dalam kemuliaan tersimpan kekayaan hikmat, kasih, pengampunan, dan teladan. Kita yang dimuliakan Tuhan, seyogianya menunjukkan jati diri terkuat yang telah diberikanNya: hikmat, kasih, pengampunan, dan teladan.

Catatan kehidupan dimiliki setiap orang. Hanya, siapa yang melihat dan melakukan semua catatan kehidupan itulah yang akan menjadi pemenang.

Usahakanlah dirimu memperoleh kertas [hati], pena [iman], dan tinta [kasih] ketika hendak mencatat kehidupan ini.

Niscaya, kehidupanmu akan berbuah lebat, menghasilkan pengaruh, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Salam Bae.

ANTARA GELAR DAN KUALITAS KARYA DAN PEMIKIRAN: Catatan Reflektif atas Riak-Riak Kesombongan

Sumber gambar: Pinterest

Mungkin kita terbiasa dengan penilaian terhadap ‘gelar’ tertentu dari seseorang. Tetapi apakah itu sudah cukup menunjukkan kualitasnya? Kita pun mungkin pernah mendengar bahwa ada orang-orang tertentu yang membeli ijazah untuk mendapatkan “gelar”, meski tak ada kualitasnya sama sekali. Lalu apa yang menjadi ukurannya?

Memang, kategori nilai pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang terpukau dengan seseorang karena gelar akademik yang disandangnya; ada yang terpesona dengan seseorang karena wibawanya; ada yang terperanjat dengan seseorang karena kemampuannya mengelola sesuatu; ada yang kagum dengan seseorang karena kualitas berpikirnya; dan ada yang menyukai seseorang karena menghasilkan berbagai jenis karya.

Dari jenis-jenis kategori nilai di atas, sulit bagi kita untuk dapat objektif—tetapi bagi mereka yang memang matang dalam memahami setiap potensi dan karya seseorang, kategori nilai dapat dilekatkan secara objektif. Seringkali tampilan luar dijadikan tameng untuk menunjukkan potensi meski hanya “seuprit” (secuil).

Yang lebih lucu lagi, ada orang-orang tertentu yang mengkategorikan “gelar” sebagai jaminan bahwa kualitas berpikirnya di atas rata-rata, meski tanpa karya nyata. Di sini, subjektivisme bermain-main dengan berbagai kepentingan di baliknya.

Tuntutan karya seringkali menjadi tidak penting bagi mereka yang telah merasa “hebat” ketika sudah memiliki gelar akademik tertentu. Riak-riak kesombongan pun tak dapat dihindari, malahan semakin tampil ke permukaan. Masing-masing menyusun strategi “puas diri” agar tak terlihat “bodoh-bodoh amat”. Polesan demi polesan diperjuangkan sampai melupakan kualitas dan karya.

Memang, kita kadang tak mampu untuk menebarkan keadilan berpikir, menilai, dan menentukan sejauh mana peran dan kualitas “gelar-gelar akademik” yang disandang oleh orang-orang tertentu. Kenyataannya ada orang-orang yang malahan asyik dengan “gelar-gelar” meskipun tata surya berpikirnya kacau balau.

Gaya menutupi kebodohan diri sendiri menjadi ajang untuk memperlihatkan apa yang dimiliki berbekal gelar-gelar akademik tadi. Tak mampu mengoreksi diri, malahan menutup jendela logika untuk hidup dalam tradisi egoisme yang kumuh dalam logika, terkungkung dalam kesombongan, dan rasa puas diri. Hampir-hampir kita tak sanggup melihat dan berkata ketika melihat kenyataan pahit ini yang menyeret “sepertiga kaum [yang merasa] beriman” untuk ikut bermain sepak takraw di alun-alun fakta hidup.

Hingga akhirnya ada celah yang dalam antara gelar dengan kualitas karya dan pemikiran. Gelar lebih unggul dibanding kualitas karya dan pemikiran. Dalam catatan sejarah, mungkin kita telah menemukan berbagai kehebatan dan kekuatan karya serta pemikiran dari orang-orang biasa, yang telah mengubah dunia.

Mereka tidak bergelar tertentu dibanding “orang-orang di luar sana” yang menganggap gelar-gelar yang disandangnya sebagai prestise tingkat dewa, namun kenyataannya pengaruhnya hanya seluas ledakan bom molotov di alun-alun kota fiktif.
Riak-riak kesombongan memang seringkali muncul. Gelar akademik menjadi perisai untuk menutupi “kebodohan-kebodohan” tertentu agar tampak memukau di depan kaum awam.

Lagi-lagi, tak dapat dipungkiri bahwa kenyataan telah memberikan kita catatan-catatan logika di mana kita dapat menyusun karya dan pemikiran dari mereka yang berdedikasi, tidak mau menyombongkan diri dengan gelar-gelar yang disandangnya, dan terlebih lagi, mau menjadi berkat bagi sesama, melalui kata (relasi), perbuatan (karya), dan pemikiran (arahan atau wejangan).

Meski dunia ini berkeliaran berbagai pemikiran, termasuk dari mereka yang bergelar tadi, namun biarlah publik yang menilai. Tetapi, jika ingin mendapatkan penilaian yang benar-benar berkualitas dan tidak diskriminatif, maka lakukanlah penilaian berdasarkan kualitas karya dan pemikiran, bukan “yang lain”.

Semoga kita dapat berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan, bukan bagi kemuliaan diri sendiri. Marilah kita terus mengasa logika kita, sehingga menghasilkan pemikiran-pemikiran yang konstruktif (membangun), pastoralis (menggembalakan), evolutif (mengubah [mengembangkan]), optative (menyiapkan masa depan), dan efektif—situasional.

Lihatlah dunia! Lihatlah mereka yang berkarya dan berpikir, sebab tanpa karya dan pemikiran, dunia menjadi tempat yang usang, membosankan, dan tak menghasilkan kehidupan yang layak dihidupi.

Teruslah berkarya dan berpikir, yang di dalamnya kita ikut membangun diri sendiri dan membangun orang lain. Lebih dari itu semua, andalkan Tuhan, jauhkan kesombongan, dan utamakan kualitas yang telah diberikan Tuhan.

Salam Bae

NATUR DAN IDENTITAS APOLOGETIKA

Untuk Apa Berapologi?

Secara praksis, setiap orang Kristen berfungsi sebagai seorang apologet; bahkan lebih dari itu, menjadi seorang apologet. Pada tataran ini, ia bisa menyampaikan berbagai hal yang ia tahu untuk menjawab berbagai pertanyaan dan negasi seputar Alkitab dan iman Kristen (Teologi, Kristologi, dan dan lain-lain). Meskipun demikian, pada konteks internal Kristen, menyampaikan apa yang diketahui bisa menghasilkan perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut dilatar-belakangi oleh aspek-aspek seperti denominasi, pemikiran (rasionalisasi), budaya, keilmuan, tendensi personal, hermeneutis, penokohan (mengusung tokoh-tokoh tertentu dan mengikuti alur berpikir dan pemahamannya tentang sesuatu), dan aspek independensi imajinasi personal.

Secara substansial, tidak semua semua orang Kristen yang memiliki kualifikasi—setidaknya secara akademis—untuk menjadi apologet yang terdidik, terpelajar, mumpuni, kredibel, akuntabel, dan berintegritas. Seorang apologet memiliki sejumlah ketentuan aka-demis, keahlian atau kepakaran (penguasaan bidang studi tersendiri atau campuran), ketentuan suplemen pengetahuan dalam konteks korelasi antar bidang studi, dan berbagai empirikalnya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa secara praktis ada saja orang-orang Kristen yang berapologetika dengan baik tanpa memiliki ketentuan akademis, keahlian, dan sebagainya. Di sini, kita harus melihat signifikansi (kepentingan) tanggung jawab iman, tanpa melihat siapa yang berpendidikan (menempuh studi teologi di sekolah tinggi teologi atau sejenisnya) atau tidak. Yang terpenting adalah pemahaman tentang Tuhan dan pengalaman (empirikal) rohani seseorang tidak menyimpang dari konteks Alkitab dan tidak menyesatkan. Setiap kita perlu memiliki kesadaran internal, sebuah kesadaran dan perenungan pribadi akan iman terhadap Tuhan. Kesadaran internal ini mendorong setiap orang Kristen untuk memperkuat dan mempertahankan imannya.

Saya mencatat ada dua kesadaran internal, yaitu: pertama, kredibilitas iman Kristen; dan kedua, akuntabilitas iman Kristen. Kredibilitas iman Kristen berbicara tentang apakah iman Kristen dapat dipercaya atau tidak. Pertanyaan ini mencakup doktrin-doktrin fundamental Kristen yang masih menimbulkan perdebatan (soal pemahaman dan kesimpulan) dan disparitas tafsir (hermeneutika). Sejatinya, dasar dari pemahaman akan doktrin-doktrin Kristen adalah penggunaan pendekatan dan atau metodologi. Sebut saja beberapa di antaranya adalah soal baptisan, bahasa lidah, keselamatan, Tritunggal, yang membutuhkan usaha yang serius dalam memahaminya baik seara komprehensif, tematik—korelasional, konteks, dan historis.

Jadi, secara sederhana dan berdasarkan fakta, persoalan-persoalan tentang iman Kristen masih menjadi trending topic di berbagai denominasi gereja di seluruh dunia. Itu sebabnya, peran apologetika secara internal perlu dan signifikan, mengingat perdebatan dan disparitas tafsir atas persoalan-persoalan tersebut, berdampak pada relasi sosial. Bahkan, komunikasi, spiritualitas, moralitas, dan relasi persekutuan, ikut tercemar dan menjadi terganggu bahkan menjadi rusak. Peran para apologet memang perlu untuk menjembatani jurang pemisah tersebut, dengan cara-cara yang lebih persuasif, santun, dan tegas, serta bersahabat (merangkul).

Akuntabilitas iman Kristen berbicara tentang apakah iman Kristen dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Secara praktis ada topik-topik khusus yang sulit dipertanggungjawabkan. Namun itu tidak berarti bahwa tidak dapat dipertanggungjawabkan sama sekali. Bentuk pertanggungan jawab berbeda-beda, bergantung pada natur dari topik iman Kristen itu sendiri. Perlu diingat bahwa natur iman Kristen memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Ada aspek-aspek tertentu yang tidak bisa dipahami sepenuhnya, dan ada aspek lain yang dapat dipahami.

Dua kesadaran di atas (kredibilitas dan akuntabalitas) merupakan langkah orientasi bagi masa depan dan langkah kontribusi teologi (iman Kristen) bagi masyarakat dan jemaat (dalam lingkungan gereja, lembaga-lembaga). Orientasi mencakup pemikiran-pemikiran eskatologis iman Kristen yang diterapkan ke dalam proses perwujudan iman. Sedangkan kontribusi teologi mencakup tiga aspek yaitu akademis, spiritualitas, dan konatif (sebuah kehidupan yang mewujudkan usaha atau kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkan).

Memahami peran penting apologetika di atas, kita tahu bahwa betapa mendesaknya peran kita untuk berkontribusi dalam dunia apologetika untuk memberikan pemahaman yang benar tentang hal-hal yang diperdebatkan dan hal-hal yang dipandang menyimpang. Dengan begitu, belajar dan memahami peran penting apologetika seharusnya menjadikan kita sebagai duta-duta Injil, pemberita-pemberita Injil, yang seyogianya membekali diri sejak awal bertemu Tuhan (empirikal spiritual) dan sejak awal belajar teologi.

Kita adalah manusia yang berpikir. Dengan pikiran, kita menentukan sesuatu. Sesuatu yang kita tentukan sangat terkait dengan masa lalu (empirisisme), masa kini (kontemporisme, pengamatan sehari-hari tentang objek-objek tertentu), dan masa depan (optatifisme, harapan akan kehidupan yang lebih baik atau ingin mendapatkan, menguasai, memiliki sesuatu, dalam berbagai bentuk atau wujud). Dalam konteks yang lebih sempit, pikiran kita menentukan apa yang kita “imani”. Yang diimani terkait erat dengan sesuatu yang lampau yang diyakini memiliki pengaruh di masa kini dan mendatang. Iman itu adalah iman kepada Yesus Kristus.

Di samping alasan berpikir, dan kemudian beriman, kita berada dan hidup dalam lingkungan yang plural. Plural tidak hanya sebatas agama saja, melainkan plural dalam berbagai aspek seperti budaya, ideologi, adat istiadat, bahasa, dan sebagainya. Karena keberagaman tersebut, maka pikiran juga beragam. Dalam keragaman itu, muncul berbagai ide atau keyakinan yang sering berbenturan dengan apa yang kita imani. Di sini dapat terlihat sebuah problem of interest (persoalan kepentingan). Akibatnya, benturan-benturan logika dan benturan-benturan fisik adalah imbasnya. Namun, semaksimal mungkin benturan-benturan fisik dihindari. Kita lebih mengutamakan sebuah cara berpikir yang lebih jernih, klarifikatif, dan benar berdasarkan kajian-kajian yang kredibel dan solid.

Melihat kebutuhan “berpikir” yang menjadi trending topic, maka tuntutan berpikir kritis juga sangat dibutuhkan untuk mengulas, menanggapi, dan menganalisis konteks berpikir tadi yang sedang popular. Di era teknologi yang semakin canggih, manusia, mau tidak mau harus melayani tuntutan berpikir. Setiap berita, ide, tulisan, informasi, dan sebagainya, semuanya dihasilkan oleh pikiran. Manusia semakin gencar menjual berbagai gagasan dan penemuan di dalam “pasar ide”, baik di dunia cetak maupun di dunia maya. Iman Kristen juga menjadi ajang pertandingan, baik di kalangan Kristen pada khususnya, maupun di kalangan agama-agama lain pada umumnya. Akibatnya, tuntutan untuk terus berpikir menjadi semacam tuntutan yang primer meski kita seringkali tidak suka mengolah pikiran dan bagaimana berpikir untuk menangkal semua arus pemikiran dunia yang mencoba menggerogoti iman Kristen. Di sinilah peran apologetika menjadi aktual dan sangat penting. Penting karena tuntutan pertanyaan dan klaim-klaim yang menyimpang dari iman Kristen atau klaim-klaim yang menyimpang (mencurigai, menuduh, menggugat) tentang iman Kristen, perlu ditanggapi secara serius, solid, dan kredibel. Maka anjuran untuk berapologetika menjadi sangat krusial (penting atau esensial) dan perlu.

Dalam kondisi yang seperti ini, orang Kristen tidaklah harus tinggal diam dan bermasa bodoh. Jika kita hanya berdiam diri, kepalsuan dan penyesatan akan merajalela di mana-mana. Sebagaimana dalam pemahanan yang logis dan faktual bahwa kepalsuan yang terus-menerus digembar-gemborkan, akan menjadi kebenaran bagi mereka yang tidak mengklarifikasi dan tidak mencari tahu apa yang sebenarnya benar. Oleh karena alasan inilah, peran kita sebagai apologet (praksis maupun akademis) menjadi sangat signifikan dan krusial. Dengan demikian, memahami duduk esensial (pijak mendasar) dari apologetika, baik secara teoretikal maupun secara praktikal. Apologetika adalah suatu disiplin ilmu yang dipelajari di berbagai sekolah tinggi teologi. Signifikansi natur apologetika berangkat dari berbagai problematika atau persoalan-persoalan yang dialami oleh orang Kristen [Gereja] pada umumnya, baik dari luar maupun dari dalam yang berimbas kepada munculnya tokoh-tokoh apologetis (melawan kesesatan doktrinal atau tuduhan-tuduhan dari pihak non Kristen) dan denominasi-denominasi seragam namun berbeda sudut pandang tentang pengertian-pengertian Alkitab, iman, dan doktrin-doktrin, yang didasarkan pada independensi hermeneutika dan cara memahami dari masing-masing tokoh Gereja tersebut.

YESUS ANAK ALLAH: Sebuah Tinjauan Filsafat Logika

Setiap fakta atau objek yang diteliti dapat atau perlu ditinjau secara variatif (dengan berbagai metode atau pendekatan), dan harus menghasilkan kesimpulan yang kredibel (atau reliabel; dapat dipercaya) dan solid (berbobot, berisi). Mengapa harus? Bukankah pada faktanya ada berbagai hasil penelitian yang tidak kredibel? Memang fatkta itu ada. Kita pun tahu bahwa dalam berbagai penelitian (dengan meng-gunakan metodologi dan pendekatan tertentu) telah menghasilkan berbagai kesimpulan, entah prematur, gadungan (bohongan), kredibel, penipuan, dan lain sebagainya.

Fakta ini telah merambah—bahkan sejak dulu—ke dalam ranah teologi (agama-agama) yang mencuatkan tiga hal: pertama, perubahan karakter dan moralitas seseorang: dari jahat menjadi lebih baik; kedua, menyalakan api sentimen agama dan kebencian terhadap penganut agama lain; dan ketiga, menyebarluaskan (anggapan) kebohongan-kebohongan dogmatis agama lain yang pada dasarnya disalahmengerti. Secara prinsip, ketiga hal ini masih tetap sejalan dengan proses beriman dari setiap penganut agama di dunia ini.

Dalam konteks Kristologi, ketiga hal di atas merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Pasalnya, ketika seseorang bertobat (secara sungguh-sungguh) dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, ada perubahan karakter dan moralitas yang dialami seseorang: dari jahat menjadi lebih baik. Ia—di kemudian hari, akan memiliki banyak pengalaman bersama Yesus, baik suka maupun duka. Contoh konkretnya adalah Paulus. Paulus, sebelumnya bernama Saulus, adalah seorang yang memusuhi pengikut Yesus Kristus. Ia bahkan tak segan-segan untuk membunuh para pengikut Yesus. Hingga akhirnya, dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 9), ia bertemu Yesus dan diubahkan secara luar biasa. Ia menjadi seorang Rasul yang pemberani, memberitakan Injil Yesus Kristus dan memberikan konstruksi teologi mengenai personalitas Yesus Kristus yang solid, di samping rasul-rasul lainnya. Di sini, Yesus, sebagai “Anak Allah” telah mengubahkan kehidupan dan iman sebelumnya menjadi beriman kepada Yesus, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dan menyelesaikan karya keselamatan bagi manusia yang berdosa, melalui salib.

Pada hal kedua, ada orang-orang yang memahami gelar Yesus sebagai “Anak Allah” secara keliru sehingga menyalakan api sentimen agama mereka dan memunculkan kebencian terhadap penganut ajaran Yesus Kristus. Hingga kini, kekeliruan dan kesalahan fatal menafsirkan gelar Yesus tersebut telah menorehkan sejarah buruk bagi penganut agama-agama yang mencoba menafsir ala kadarnya terhadap personalitas Yesus sehingga pengikut Yesus: Kristen, menerima berbagai perlakukan yang tidak semestinya: dibakar, dibunuh, disiksa, didiskriminasi, dan lain sebagainya.

Pada hal ketiga, berangkat dari kekeliruan dan kesalahan fatal dogmatis Kristologi secara khusus mengenai Anak Allah telah menjadikan “orang-orang tertentu”—yang mengusung “Kristologi Miring yaitu lidah-lidah yang menista Yesus”—menyebarluaskan kebohongan-kebohongan dogmatis agama Kristen. Bahkan mereka sangat bangga dan yakin bahwa apa yang mereka pahami dan sebarluaskan adalah “benar”, padahal secara substansial, historisitas, dan dogmatis, adalah menyesatkan. Hal ini tentu menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan “paralogisme” yaitu kesesatan yang tidak disadari bahwa mereka itu sesat.

Dalam proses beriman, Kristen terus menjaga pemahaman Kristologi mereka berdasarkan Alkitab. Pedoman iman dan pengharapan serta keselamatan, tertuang secara jelas dalam Alkitab; dan dengan demikian, proses beriman lambat laun menjadi “dewasa”. Kedewasaan tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku Kristen yang “mengasihi sesama manusia” dan “mendoakan musuh serta orang-orang yang mencaci maki” mereka.

Apa yang membuat Kristen tetap teguh dalam iman hingga saat ini? Tidak lain, pemahaman mereka tentang Yesus Kristus dibuktikan melalui empirikal mereka. Yesus tidak sekadar manusia belaka seperti yang dipahami oleh Yudaisme dan Islam. Sama sekali tidak. Yesus adalah pribadi yang begitu luar biasa yang dibuktikan dari kuasa-Nya atas segala sesuatu. Ia mengubah manusia-manusia busuk dan kotor menjadi manusia yang mengasihi Tuhan dan sesama. Mereka yang percaya terus mengenal-Nya secara kontinuitas dan membicarakan (mewartakan) Yesus Kristus kepada dunia. Ia adalah Anak Allah yang luar biasa, datang ke dalam dunia dan mengajak manusia berdosa untuk datang dan percaya kepada Allah yang memberikan keselamatan, pengharapan, pengampunan, kekudusan hidup, dan pembenaran.

Kita harus mengakui bahwa pokok bahasan mengenai personalitas Yesus menarik untuk dikaji; menarik karena memiliki latar belakangnya. Ada yang merasa menarik (menyenangkan) karena dipakai sebagai “senjata” untuk menjatuhkan pemahaman Kristologi orang lain; ada yang merasa menarik karena mengganggap bahwa pokok ini mendorong penggalian ilmiah secara memadai sehingga menghasilkan berbagai gagasan yang patut dipertimbangkan, bahkan dapat diterima secara akal sehat. Ada pula yang merasa bahwa Kristologi menarik untuk dikaji karena semakin menimbulkan kekaguman yang luar biasa terhadap Yesus Kristus yang dipercaya dan diyakini sebagai Tuhan, Anak Allah yang Kudus dan Juruselamat manusia.

Dalam dunia iman Kristen, Kristologi adalah doktrin yang menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Bahkan hingga sekarang ini, perdebatan, perumusan, pemahaman, pengkajian, dan penyimpulan tentang personalitas Yesus, masih terus berlanjut. Disparitas pemahaman (perspektif) adalah akar utama di mana semuanya bertumbuh dan menghasilkan buah-buah. Persoalannya, apakah buah-buah itu manis rasanya, atau busuk dan penuh ulat, bergantung dari cara dan proses pertumbuhannya dan mereka yang turut menumbuhkan dan merawatnya.

Pada ranah biblika dan historis, sebenarnya Kristologi telah mencapai puncak pemahamannya, dan sudah final. Artinya, Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat “telah” menjadi kredo Gereja sepanjang zaman. Tak hanya itu, pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat telah berlangsung saat Yesus hadir di dunia. Pada perkembangan gereja abad pertama hingga sekarang ini, pemahanan Kristologi Biblika tetap menjadi pegangan utama Gereja-gereja. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ada perdebatan teologis soal itu. Imbasnya, pemahaman yang keliru atau menyimpang soal personalitas Yesus Kristus—menggunakan tafsir eisegesis (memasukkan sesuatu [asumsi, opini] ke dalam teks), dan menekankan liberalisme logika (kebebasan berpikir hingga melampaui kriteria penafsiran).

Memang, liberalisme logika (berpikir) bisa saja menjadi senjata utama para negator gelar Yesus sebagai Anak Allah. Akan tetapi perlu diingat bahwa liberalisme logika (khususnya memahami dan melihat Yesus) bukanlah merupakan gagasan tunggal. Sama sekali tidak. Beberapa orang yang suka dengan gaya liberalisme sebenarnya merupakan orang-orang yang “konyol” karena merasa bahwa apa yang mereka sampaikan adalah gagasan tunggal. Sesungguhnya, ketika masuk dalam ranah liberalisme logika pada konteks pemahaman Kristologi selalu bersifat dualisme, misalnya ada yang mengatakan: “Yesus mungkin tidak bangkit secara fisik”, maka kita bisa juga mengatakan: “Yesus mungkin bangkit secara fisik.” Berpikir sebaliknya adalah natur dari liberalisme logika. Sayangnya, ketika ada orang yang menggunakan liberalisme logika, serentak para pengikutnya membenarkan apa yang dikatakannya (digagasnya).

Kita melihat bahwa proses menafsir yang menyimpang kadang dianggap sebagai “benar” padahal secara logis dan historis adalah salah. Konteks menafsir yang benar adalah eksegesis yaitu mengeluarkan makna teks. Inilah yang perlu diperhatikan dan dilakukan secara kredibel.

Di zaman sekarang ini, masih ada orang-orang yang tertarik memberikan ruang pemikiran dan pemahaman yang berseberangan atau bahkan menyimpang dari data historis dan biblika tentang personalitas Yesus. Tetapi memang itu menarik perhatian ketika penalaran yang disuguhkan soal Kristologi menyinggung data biblika. Meski kelihatan bahwa si penutur keliru memahami teks, misalnya Zakir Naik yang keliru memahami teks Matius soal tanda Yunus (Matius 12:39-40), yang dikiranya bahwa Yesus tidak mati karena Yunus juga tidak mati, tetapi sangat jelas dan presumsi mendahului teks. Kita tahu bahwa Naik adalah penceramah Islam yang menolak kematian Yesus. Jadi, sebelum membaca teks dia sudah memiliki presumsi terlebih dahulu sebelum menafsir. Dan anehnya, dia mencari teks-teks yang “dia rasa “ mendukung presumsinya sebagai bagian dari imannya yang buta.

Atau semisal David Benjamin Keldani dalam bukunya yang berjudul Mengguak Misteri Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam[1]danMuhammad Yahwa Waloni dalam bukunya Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta yang keliru memahami teks Yohanes 14:16 soal “Parakletos” yang mereka pelintir dengan penuh keyakinan menjadi periklitos yang artinya “Yang Terpuji” di mana kata tersebut diyakini mengacu kepada Muhammad. Padahal secara tekstual dan historis sama sekali tidak menyentuh gagasan nabi mereka. Pembodohan semacam ini dan kebodohan yang disengaja karena presumsi mendahului teks telah menjadi habitat permanen untuk memuluskan iman mereka. Saya memaklumi hal ini. Di samping itu, secara mendasar tujuan mereka adalah mencari kesibukan untuk mengganggu iman Kristen, mencari sensasi, popularitas, dan tak lupa: uang pelumas. Yesus menjadi “obralan” yang laris manis di pasaran. Asal menyemburkan Kristologi yang “aneh” dan “enak didengar” seketika itu juga “opini Kristologi” menjadi muncul ke permukaan.

Pada faktanya, personalitas Yesus Kristus (Kristologi) menjadi topik yang menarik dan menjadi incaran para teolog, pemerhati teologi, kaum skeptis, para negator, dan para pencaci. Kelompok-kelompok yang memahami personalitas Yesus, terbagi atas empat yakni: kelompok kakap, kelompok teri, kelompok skeptis, dan kelompok ortodoks—biblikal.

Kelompok kakap adalah mereka yang mengumandangkan gagasan yang kelihatan akademis dan kemampuan analisis yang mencakup argumentasi dan dokumentasi (kadang hanya argumentasi saja, tanpa didukung dokumentasi dan historisitas, misalnya Dan Brown, Barbara Thiering, Zakir Naik, Jesus Seminar).

Kelompok teri adalah mereka yang hanya berpikir secara artifisial, mengumandangkan opini, presumsi tanpa konteks, omong kosong, dan sering bermasturbasi logika yang menghasilkan kebuntuan dan kesemuan pendapat.

Kelompok skeptis terbagi dua yaitu mereka yang benar-benar skeptis dengan eksistensi Yesus dan kemudian sama sekali tidak menghiraukan data sejarah; kedua adalah mereka yang memiliki serangkaian pemikiran untuk meragukan Yesus, dan memiliki dualisme logika yang di satu sisi mengikuti pengakuan gereja (berpura-pura) dan di sisi lain mengikuti pengakuan diri sendiri berdasarkan logikanya (secara situasional saja).

Kelompok ortodoks—biblikal adalah mereka yang terus mempertahankan ajaran-ajaran para rasul, ajaran-ajaran para nabi—singkatnya, mempertahankan ajaran Alkitab (PL dan PB). Artinya, kelompok ini tetap berpegang teguh pada data biblikal (argumentasi, dokumentasi, dan historisitas [yang saya sebut dengan filsafat iman) dari kajian Kristologi yang solid dan reliabel. Kelompok ini adalah para misionari, teolog, dan apologet yang terus berjuang menyingkirkan berbagai ajaran sesat yang menyesatkan banyak orang. Mereka memiliki tanggung jawab yang besar dalam memperluas (menyebarkan) Kristologi biblika.

Pada setiap kelompok di atas, saya mengelompokkan mereka ke dalam lima kategori: (1) teolog (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, skeptis, atau ortodoks-biblikal); (2) pemerhati teologi atau doktrin Kristen (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, skeptis, atau ortodoks-biblikal); (3) kaum skeptis (termasuk dalam kelompok teri); (4) para negator (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, atau skeptis); dan (5) para pencaci doktrin Kristen (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, atau skeptis). Dari hasil pemikiran mereka, keempat kelompok di atas memiliki motivasi yang berbeda. Dari motivasilah, akan terlihat seperti apa bentuk-bentuk pemikiran dan penyelesaiannya (kesimpulan akhir) terhadap Kristologi yang mereka pikirkan dan pahami. Semua hasil pemahaman, pemikiran, analisis, daur ulang gagasan, opini, dan bahkan perkembangan pemikiran tentang Kristologi, berangkat dari sebuah “motivasi”. Motivasi inilah yang akan menentukan sejauh mana gagasan dan pemikiran seseorang, sejauh mana level pemahaman seseorang, dan metodologi apa yang digunakannya, dan bagaimana hasil akhirnya.

Saya mengamati, empat kelompok di atas (kakap, teri, skeptis, dan ortodoks-biblikal) menghasilkan empat kesimpulan akhir: pertama, menerima personalitas Yesus Kristus sebagai pribadi yang setara dengan Allah Bapa, dengan alasan bahwa Yesus adalah “Logos Ilahi” yang menjadi “daging” dalam konteks penggenapan nubuatan Perjanjian Lama terkait dengan penyelamatan dan penebusan umat pilihan-Nya; kedua, menolak personalitas Yesus sebagai tokoh yang tidak historis sebab tidak ada cukup bukti tentang apakah Dia pernah hadir di dunia atau tidak; ketiga, bersikap skeptis terhadap personalitas Yesus termasuk skeptis tentang keilahian-Nya, dan meragukan-Nya sebagai Allah yang berinkarnasi; dan keempat, menegasikan semua unsur keilahian-Nya, menolak gelar-Nya sebagai Tuhan, dan Anak Allah, tetapi hanya menerima pribadi-Nya sebagai manusia belaka, sebagai Nabi dan Utusan Allah.

Dalam ruang analisis ini, saya menggunakan substansi (isi) filsafat logika yaitu: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi untuk mengukur setiap gagasan tentang Kristologi; hasilnya akan terlihat apakah sesuai dengan data Alkitab (biblikal) atau hanyalah sebuah opini, presumsi dan kesesatan semata. Dalam filsafat logika, informasi dan keakuratan data biblikal (dan konteks-konteks yang mengikatnya) akan menjadi sebuah makanan yang sehat dan memberikan kesegaran yang luar biasa. Sebaliknya, informasi yang keluar jalur, di luar jalur yang ingin masuk jalur, menyimpang dari data dan konteks historis dan biblikal, merupakan sebuah makanan busuk yang mengakibatkan gizi buruk dan pikiran buruk (berdampak pada negasi).

Kita mungkin mengetahui bahwa rumusan Kristologi yang valid dan kredibel (berdasarkan data biblikal) telah dihasilkan oleh Gereja dan para teolog di sepanjang sejarah sejak abad pertama. Itulah yang diwariskan kepada orang Kristen dari zaman ke zaman. Kristologi yang kredibel tidaklah mudah digeser oleh serangkaian analisis dan ulasan yang salah tempat, out of context, dan salah sasaran, apalagi bernada sentimen agama dan berdasarkan presumsi semata.

Filsafat logika hanyalah menegaskan posisi ke-Ilahian dan ke-Tuhanan Yesus berdasarkan definisi, konteks, dan klasifikasi. Mereka yang menggunakan pendekatan konteks kitab suci agama lain, semisal Islam—yang pola pemahaman dan dasar mereka dipandang menyimpang dan ahistoris, tidak mendapat apresiasi yang berarti, malahan mereka mau ikut nimbrung ke dalam lautan Kristologi Biblikal dan mencoba mengobok-obok airnya, padahal riak-riak air hasil obok-obok tidak memiliki dasar yang berarti sama sekali. Secara tegas saya nyatakan di sini bahwa Kristologi Quranik bukanlah bersifat historis melainkan sebuah pandangan teologis yang terdistorsi dan menyimpang, bahkan mengandung dongeng yang beredar sebelum Islam lahir.

Berbagai upaya telah dilakukan para negator, kaum skeptis, untuk merumuskan sebuah pemahaman Kristologi yang dipandang sebagai senjata ampuh untuk meredam dan mengganggu Kristologi Kristen yang telah diwariskan sejak dulu yang didasarkan pada data biblikal dan historis. Para teolog Kristen telah menjelaskan konsep personalitas Yesus dan menghasilkan sebuah pemahaman Kristologi yang memenuhi tiga substansi iman yakni: argumentasi (dalam menjelaskan), dokumentasi (penjelasan didukung oleh bukti-bukti dokumen), dan historisitas (penjelasan dan dokumentatif adalah bukti sejarah yang valid dan kredibel) dan didukung dengan filsafat logika: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi.


[1] Nama lainnya adalah Abdul Ahad Dawud, bukunya diterjemahkan oleh Burhan Wirasubrata, (Jakarta: Sahara Publisher, 2003).

KRISTOLOGI MIRING

Konteks berteologi adalah sebuah upaya orang Kristen dalam memahami, mendalami, mewacanakan, dan memberitakan iman dalam konteks merealisasikan ajaran-ajaran Alkitab, sebagaimana telah dilakukan di sepanjang sejarah.

Teologi itu sendiri bersifat permanen, fleksibel, dan aplikatif. Sejatinya, orang-orang beriman dapat secara cermat menampilkan gaya hidup, gaya bersikap, dan gaya berteologi di zamannya masing-masing. Ada konteks yang mengikat dari semua realisasi teologi di setiap zaman. Kristologi adalah bagian yang tak terpisahkan dari cara berteologi.

Kristologi telah digumuli di sepanjang sejarah, menghadirkan konsep dan ajaran yang permanen (diwariskan dari para rasul), fleksibel (teologi yang mengandung politik—baik iman maupun budaya—di setiap zaman untuk menampilkan sesuatu dan mengisi berbagai kekosongan di zaman itu sendiri), dan aplikatif, di mana ajaran-ajaran dalam Kristologi dapat diterapkan ke dalam relasi humanitas, iman, dan devosi.

Sejarah panjang perdebatan Kristologi merupakan bukti bahwa pokok ini sangatlah menarik. Di samping menarik, orang-orang tertentu dapat menggunakannya sebagai “senjata” atau “alat” untuk mendapatkan berbagai keuntungan, penipuan, penyesatan, dan sederet motivasi di baliknya. Di sini, kita melihat bahwa signifikansi Kristologi tidak melulu soal bagaimana orang Kristen mempertahankan dan mengimani apa yang dituliskan dalam Alkitab, tetapi juga terbuka peluang bagi orang-orang tertentu untuk melakukan paralogisme, pemahaman parsial dan fragmentaris.

Tiga jenis pemahaman tersebut, telah menjadi “benalu” dalam historisitas Kristologi di sepanjang sejarah. Kendati demikian, pemahanan Kristologi yang benar, yaitu memahami secara komprehensif, jukstaposisi, dan demarkasi, menjadi sebuah penegasan kebenaran Kristologi yang pada konteks itu, ajaran-ajaran iman Kristen tetap bertahan dan tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Historical Jesus adalah studi teologi yang menyita banyak waktu. Barangkali, upaya untuk menggali kedalaman dan daya tarik Kristologi akan terus menjadi bahan kajian teologi hingga akhir zaman. Kendati bermunculan “teologi-teologi miring” yang juga menghasilkan “Kristologi Miring”—upaya kita untuk berteologi janganlah pupus di tengah jalan. Kita menyadari bahwa “perang ideologi dan dogmatis” menjadi ajang bernalar yang dengannya manusia mendapatkan manfaat, atau bahkan menyerap berbagai aspek penting bagi keberlangsungan hayati—imaniah.

Kristologi Miring yang kami sajikan ini merupakan sebuah respons iman yang mencakup historis, doktrinal dan apologetika terhadap isu-isu miring—sebuah term teknis yang mengacu pada sebuah konsep atau pemikiran yang tidak lurus [tidak alkitabiah], condong ke arah subjektivisme non-historikal dan non-eksegetikal—di mana Kristologi menjadi rumusan nalar sesuka hati dari mereka yang mempunyai berbagai motivasi. Kristologi para pemikir liberal, para negator iman Kristen, para mualaf, juga kaum intelektual Islam, menghadirkan bentuk nalar Kristologi yang menyimpang; di dalamnya hanya terdapat tiga model pemahanan: parsial, fragmentaris, dan paralogisme. Buku ini hadir untuk memberikan respons yang didasarkan pada historis, doctrinal, dan apologetika.

Ide untuk menuliskan buku di bawah judul “Kristologi Miring” terpikirkan oleh saya pada awal April 2019, dan kemudian saya share di Facebook saya pada tanggal 10 April 2019; saya mengajak teman-teman untuk memulai dan terlibat dalam pembuatan buku dimaksud. Setelah bergelut dengan waktu yang cukup panjang, akhirnya buku ini dapat direalisasikan pada bulan Juni 2020.

Meski sempat mandek selama setahun lebih, upaya untuk menerbitkan buku tetap menjadi prioritas kami (Esar, Deky, Eli, Natan, Samuel, Pangeran, Jimmy, Albert, Bonar, dan saya). Hingga terbentuknya ASASI (Asosiasi Apologis Indonesia), semangat melanjutkan proyek buku Kristologi Miring, kembali membara. Hasilnya, buku ini dapat diterbitkan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya yang luar biasa, yang telah ikut berpartisipasi dalam menyumbang artikel-artikel, sehingga buku ini dapat diterbitkan. Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita dalam tugas dan tanggung jawab iman untuk mengisi zaman ini dengan teologi-teologi yang kredibel, reliabel, dan aplikatif.

Kiranya buku ini memberikan pencerahan di tengah maraknya Kristologi versi miring yang mengganggu tatanan iman, nalar, biblika, dan sejarah. Pula, buku ini dapat menjadi referensi bagi para mahasiswa untuk menggali kekayaan Kristologi.

Salam,

Stenly R. Paparang

Penggagas buku Kristologi Miring

Editor: Stenly R. Paparang, Pangeran Manurung, dan Elia Tambunan

Cetakan 1, 2020. Penerbit Bible Culture Study bekerja sama dengan ASASI (Asosiasi Apologis Indonesia) dan Penerbit Prodi Teologi STT Sumatera Utara

Ukuran Buku: 15.5 cm x 23 cm

ISBN: 978-623-91188-1-5

Kontributor:

KRISTOLOGI ISLAM: Nalar Politik Ilmu Keagamaan tentang Yesus. Elia Tambunan

KRISTOLOGI DILETANTIS: Islam dan Vario Lectio terhadap Historical Jesus. Stenly R. Paparang

PROBLEM KEMESIASAN YESUS DALAM BENAK YUDAISME. Pangeran Manurung

KRISTOLOGI MIRING ALA IOANES RAKHMAT: Respons Apologetik-Filosofis terhadap Hipotesis Deifikasi Kristus. Yosep Belay

TINJAUAN KRITIS ATAS TEORI KENOTISISME DAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO. Samuel T. Gunawan

KRISTOLOGI MIRING: Khotbah yang Lancung. Hasahatan Hutahaean

MENINJAU ULANG MODEL KRISTOLOGI PAUL F. KNITTER. Junior Natan Silalahi

KONSEP ANAK ALLAH YANG ILAHI DARI PAGANISME? Studi Kristologi Historis Gelar Anak Allah. Jimmy Jeffry

EKSISTENSI KRISTUS YANG TERKOYAK: Menjawab Kristologi Saksi-Saksi Yehuwa. Albert Rumampuk

KRISTOLOGI FEMINISME: Sebuah Analisis dan Evaluasi.Adi Putra

DOSA YANG TIDAK MENDATANGKAN MAUT: Tinjauan Atas 1 Yohanes 5:16-17 dan Kaitannya dengan Kristologi. Susten Bako

RESPONS TEOLOGIS-APOLOGETIK TERHADAP TEOLOGI SAKSI YEHUWA: Analisis Yohanes 1:1. Alex Talelu

Pemesan dapat menghubungi Stenly R. Paparang di 0857-3073-1533

Harga Buku: 130.000,- (di luar ongkos kirim)

SEJARAH ASASI

Bermula dari kerinduan Saudara Albert Rumampuk untuk mendalami firman Tuhan, maka tahun 2019 pada tanggal 15 Mei, dikumpulkanlah para hamba Tuhan untuk bergabung dalam satu Grup WhatsApp yang diberi nama: Bible Study.

Saudara Albert mengumpulkan para hamba Tuhan sebagai berikut: Natan, Stenly, Jimmy, Samuel Gunawan, Bonar, Pangeran, Eli, Esar, dan Deky. Mereka saling bergumul, berdebat, berdiskusi, melawak, bahkan saling mengolok-olok satu dengan yang lain. Sesekali berdiskusi serius tentang teologi dan perkembangan seminari di Indonesia.

Diskusi akhirnya berkembang dan melahirkan sebuah ide untuk membuat sebuah wadah yang lebih formal. Cukup lama rencana ini tidak terlaksana karena berbagai hal. Dengan berbekal semangat, pada hari Sabtu 20 Juni 2020 pukul 18.00, Saudara Pangeran menghubungi Natan, Stenly, dan Samuel untuk mengeksekusi kerinduan bersama itu. Dalam rapat berempat via WhatsApp, Natan diminta untuk mendoakan rencana tersebut dan mulai menyusun Pengurus Inti ASASI.

TEOREMA TRINITAS: Penalaran Logis tentang Nama, Logos [Pikiran], dan Eksistensi Allah

Sumber gambar: https://elainajdavidson.blogspot.com/2016/06/update-for-kings-challenge-final.html?spref=pi

Pendahuluan

Eksistensi adalah bagaimana sesuatu itu dipahami sebagai ‘yang ada’ dan ‘bagaimana ia ada’. Singkatnya, eksistensi adalah bagaimana memahami sesuatu dari perspektif ontologi. Keberadaan itu “ada” karena “ada” yang dibuktikan dari perkataan, penyataan, dan pemahaman. Pada perkataan, “ada” bisa disebutkan—apa saja—yang penting, entah itu masuk akal atau tidak, sesuatu yang disebutkan itu “ada”, yaitu ada dalam pikiran. Pada penyataan, “ada” bisa dilihat, dirasakan, diraba, didengar, dan dialami, sehingga “ada” di sini mengandung fakta empiris. Biasanya “barang bukti” diindikasikan sebagai kekuatan bukti itu sendiri karena dapat disuguhkan, baik melalui tulisan, buku, penuturan, persaksian, dan pengisahan ulang apa yang dilihat oleh seseorang. Pada pemahaman, “ada” itu bisa dipahami berdasarkan “iman” atau “keyakinan” seseorang yang seringkali didasari pada tendensi agama tertentu. Apa saja bisa dipahami sebagai “ada”, yang terpenting adalah bagaimana meyakininya itu tetap ada.

“Ada” memiliki dua indikasi eksistensi. Pertama, “ada” secara faktual, yaitu “ada” yang bisa dilihat, diamati, dirasakan, diraba, dan dialami. Konteks ini sebenarnya berbicara mengenai data historis dan empirikal. Kedua, “ada” secara konseptual, yaitu sesuatu yang ada dalam pikiran manusia yang di-“ada”-kan untuk maksud tertentu. Meski secara faktual “ada” itu tidak tampak, tetapi “ada” itu eksis dalam pikiran manusia.

Berangkat dari penalaran logis di atas, maka teorema (dalil) Trinitas mengandung pemahaman dan pembuktian yang sama. Jangan dikira bahwa Trinitas tidak memiliki teorema empirikal dan historis. Trinitas itu berdasar, logis, dan empiris. Orang-orang yang tidak memahaminya merasa bahwa doktrin Trinitas tidak masuk akal (tidak bisa diterima karena dianggap bertentangan dengan logika), dan karenanya, menolaknya. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada yang mengklaim bahwa Trinitas adalah ajaran setan, padahal setan tidak pernah mengajarkan Trinitas, tidak ada bukti apa pun soal itu, karena setan sendiri bernatur trinitas (nama [setan], perkataan/pikiran, dan rohnya [wujud eksistensi]).

Penalaran Logis: Pertanyaan Signifikan

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab untuk mengantarkan kita pada pemahaman yang benar tentang Trinitas.

  1. Setiap orang berdoa kepada “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah”. Jika demikian, bagaimana orang-orang memproyeksikan “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah” dalam pikiran mereka? Maksudnya, bagaimana bentuknya, wajahnya, dan eksistnsinya.
  2. Setiap pribadi (yang utuh) entah “tuhan”, “dewa”, “allah”, atau “ilah” yang memiliki pikiran (logos, kalam), bernatur trinitas. Jika demikian, kepada siapakah manusia berdoa: kepada nama “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah”, atau kepada logos, pikiran, kalam yang ada di dalam diri “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah” itu, atau kepada eksistensinya yaitu roh atau dzat?
  3. Jika Allah membuat mukjizat, maka yang menghasilkan perbuatan mukjizat itu adalah Allah, atau pikiran-Nya, atau eksistensi-Nya?
  4. Jika Allah kekal, maka apakah Logos (pikiran) dan Roh Allah adalah juga kekal?
  5. Apakah Logos dan Roh Allah setara dengan Allah?
  6. Jika Logos Allah diciptakan, maka dengan apa (media atau alat) Logos itu diciptakan?
  7. Apakah Allah bisa dipisahkan dari Logos dan Roh-Nya?

Penalaran logis Nama, Logos, dan Eksistensi Allah: Kepenuhan Kepribadian

Allah yang Mahakuasa itu tentu dapat melakukan segala sesuatu yang terkait dengan rencana dan kehendak-Nya. Inkarnasi Logos menjadi daging [manusia] adalah wujud dan penyataan kuasa Allah yang luar biasa itu. Ketika Logos menjadi manusia, maka secara simultan Allah hendak menegaskan kepada manusia bahwa Ia begitu hebat; tak tertandingi.

Lalu bagaimana dengan kematian Yesus di kayu salib? Bukankah itu sesuatu yang tidak hebat dan memalukan? Bukankah jika Yesus adalah Logos Allah yang menjadi manusia, mengapa Ia mati? Berarti hal itu tidak hebat, bukan? Sabar dulu. Kita tidak dapat melihat satu peristiwa dan mengklaim bahwa satu peristiwa itu adalah final. Kita tahu dari Perjanjian Baru bahwa Yesus—pasca mati-Nya sebagai manusia—bangkit dari antara orang mati. Tidak hanya itu saja, Ia pun naik ke surga, tanpa kendaraan atau alat apa pun (bandingkan dengan peristiwa Nabi Elia naik ke surga). Lalu ada yang bertanya: “Bukankah Yesus ‘dibangkitkan’ oleh Allah?” bagaimana hal itu bisa membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan sedangkan kebangkitan-Nya dilakukan oleh Allah? Kita harus lihat dulu, bahwa yang dibangkitkan Allah adalah tubuh manusia Yesus. Tidak ada persoalan dengan hal itu. Manusia dapat mati. Lalu, apakah dengan inkarnasi Yesus, maka Trinitas terancam? Tentu tidak.

Trinitas adalah kepenuhan kepribadian: Allah, Logos, dan Roh Kudus; ketiganya setara, kekal, tetapi berdistingsi (berbeda). Analoginya begini: tidak ada satu manusia pun yang dapat memisahkan dirinya (manusia) dengan pikirannya (perkataannya), dan rohnya (wujud eksistensi dasariahnya). Manusia hidup sebagai pribadi yang utuh—itulah ciptaan Allah yang sempurna. Keutuhan pribadi manusia merefleksikan kepenuhan kepribadian Allah itu sendiri. Dari kitab Kejadian 1:26 dinyatakan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut Gambar dan Rupa Kita….”

Dari aspek logika, Trinitas sangat rasional (kontra klaim bahwa Trinitas adalah tidak masuk akal). Kerasionalan itu dapat kita pahami—meski bukanlah analogi yang memuaskan—dari diri manusia itu sendiri (lihat teks Kej. 1:26). Sejak kekal Allah tidaklah sendirian; Ia (Allah) kekal bersama eksistensi-Nya dan Pikiran-Nya. Allah tidak mendahului Logos dan Eksistensi-Nya. Ketiga-Nya setara, tetapi berdistingsi. Kesetaraan itu adalah kesetaraan ontologi. “Allah Islam” juga sama; Ia memiliki kalam dan dzat sejak kekal. Jika mereka menganggap bahwa Allah swt lebih dulu kekal dibanding dzat-Nya, maka ada dzat lain yang mendahului dzat kedua. Begitu juga dengan kalam-Nya. Kita tidak dapat menafikan kalam Allah seolah-olah Allah tak butuh kalam. Lalu apakah Allah berpikir sejak kekal? Atau dalam waktu tertentu saja Ia berpikir? Apakah pikiran itu muncul saat Allah hendak berpikir atau pikiran itu sudah ada sejak Allah ada?

Teorema Trinitas

Trinitas adalah perwujudan kepenuhan kepribadian Allah dalam konteks penyataan-Nya. Sejak awal penciptaan, kita melihat bahwa “Allah ber-firman” atau “Allah berkata” karena Ia memiliki “pikiran” [davar, logos]. Kemudian dituliskan bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, suatu wujud eksistensi yang faktual. Allah—demikian kita menyebutnya—adalah sebuah kata yang dipakai sebagai kesatuan eksistensi antara Roh dan Logos. Suatu penyatuan pasti memiliki nama atau sebutan. Bahkan Allah sendiri menyatakan diri-Nya sebagai “Yang Ada”: Aku adalah Aku.

Ketika Allah mengatakan demikian kepada Musa, maka secara faktual kita melihat adanya kesatuan kepribadian yaitu: eksistensi, perkataan, dan wujud nyata (secara utuh) yaitu Aku adalah Aku (nama). Trinitas tidak dapat dihindari tetapi dipahami dan diimani. Semua agama yang mengakui “pribadi yang diakuinya sebagai Tuhan pernah berkata [berpikir] tak bisa tidak harus mengakuinya sebagai “bernatur trinitas” yaitu: nama (yang padanya diberikan atau yang diakuinya), pikiran (yang tampak dari apa yang dikatakannya) dan rohnya (wujud eksistensi yang esensial).

Dari keseluruhan Alkitab, Trinitas seringkali muncul: Allah yang berfirman, Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya (dalam wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dapat dialami, dirasakan kehadiran dan kuasa-Nya), dan Allah yang “berinkarnasi”—Logos menjadi daging—suatu konfirmasi bahwa kuasa-Nya tak terbatas (Ia berdaulat melakukan apa yang dikehendaki-Nya) dan Ia menunjukkan bahwa kuasa-Nya tak terkalahkan, meski menjadi manusia (bdk. Flp. 2:6-11; 1 Kor. 15:54-57).

Dalam Trinitas adalah kesetaraan ontologis, di mana baik Allah, Logos, dan Roh-Nya sama-sama kekal. Sebagaimana yang tampak dalam teks Kejadian 1:1-3, yaitu Allah yang “menciptakan langit dan bumi” melalui davar-Nya, dan Roh-Nya menunjukkan eksistensi esensial yang dinyatakan (diwujudkan). Kesatuan ontologis ini menandakan dan mengkonfirmasi bahwa ketiga-Nya adalah satu, tak bisa dipisahkan, dan setara. Ketika hal ini dibawa ke ranah humanitas, maka tidak ada satu pun manusia yang dapat memisahkan dirinya dengan pikirannya sendiri.

Segala sesuatu memiliki nama. Nama itu sendiri adalah perwujudan dari eksistensi. Segala sesuatu memiliki natur binitarian dan trinitarian. Batu, misalnya, hanya memiliki natur binitarian yaitu: batu (nama yang diberikan), dan eksistensinya (wujudnya). Sedangkan pada Allah, kita memahaminya berdasarkan natur esensial-Nya (self-definition: definisi diri yang mutlak, atau disebut dengan self-condition: kondisi diri yang ontologi) yaitu: Ia secara mutlak (niscaya) memiliki Logos [pikiran] dan Roh [wujud eksistensi]. Ketiganya eksis. Nama itu eksis secara faktual, dan bukan konseptual; Logos itu eksis secara faktual, dan bukan konseptual; dan Roh Kudus itu eksis secara faktual, dan bukan konseptual.

Eksis secara faktual didukung oleh tiga aspek koheren: pertama, melalui penyataan Allah itu sendiri (Ia ada, berfirman, dan bertindak); kedua, melalui kesaksian dan pengalaman (empiris) orang-orang yang mana Allah menyatakan diri-Nya; dan ketiga, melalui tulisan-tulisan (firman-Nya) yang dituliskan oleh orang-orang pilihan-Nya, yang sekarang kita terima sebagai Kitab Suci. Pada aspek kedua, pengalaman bersama Allah tidak dapat dimonopoli oleh satu orang saya. Hal ini berlanjut pada aspek ketiga, bahwa penulisan firman-Nya tak dapat diterima jika hanya ditulis oleh satu orang, seolah-olah Allah menjadi miliknya sendiri. Pada faktanya, Kitab Suci (Alkitab) ditulis oleh lebih dari empat puluh orang penulis dari berbagai profesi dan latar belakang. Allah dialami oleh semua jenis orang, dan bukan oleh satu orang.

Trinitas juga dialami, disaksikan, dan dirasakan oleh banyak orang. Tak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah hanya dialami oleh satu orang. Kita menolak hal itu karena juga tidak ada dasarnya sama sekali. Ketika kesaksian hanya dialami oleh satu orang, maka sifat monopoli dan rekayasa sangatlah kental. Alktab adalah hasil tulisan banyak orang; mereka tidak hanya menulis, tetapi merasakan kuasa dan kasih Allah. Betapa dahsyatnya kuasa Allah yang mengubahkan hidup mereka dan kesaksian mereka “sama”—tangan Tuhan menolong mereka, menguatkan, dan menghibur. Itulah konsistensi Allah menyatakan diri dan mewahyukan firman-Nya, bahkan menyatakan diri-Nya sendiri melalui inkarnasi Logos, yang tentunya juga “dialami” oleh semua orang yang percaya kepada-Nya.

Dalam konteks kasih, Trinitas merupakan contoh yang konkret dan penuh, di mana sejak kekal, kasih itu—hubungan antar pribadi—direalisasikan dari satu pribadi ke pribadi yang lain. Hal ini tampak dalam pernyataan Yesus: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh. 15:9; bdk. 17:23, 24 “Engkau telah ‘mengasihi’ Aku sebelum dunia dijadikan”). Kasih menjadi pengikat Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Kasih itulah yang diejawantahkan kepada dunia (manusia) yang dikasihi-Nya. Ada fakta perikhoresis dalam diri Trinitas, suatu hubungan satu dengan lainnya dalam kekekalan. Tidak salah, jika Ia menyatakan: “Aku mengasiki kamu”, karena Ia sendiri telah membuktikan bahwa kasih itu direalisasikan dalam suatu hubungan (relasi ontologi dan ekonomi [dengan ciptaan-Nya]).[1]

Trinitas adalah tanda dan fakta keagungan Allah. Memahaminya juga adalah sebuah kedewaan logika dan iman. Menolaknya, berarti menolak eksistensi kita sendiri sebagai pribadi yang bernatur trinitas juga—manusia sebagai refleksi dari Allah Trinitas sebagaimana ditegaskan dalam Kejadian 1:26. Jangan merasa stres ketika memahami Trinitas, karena jika itu pilihan Anda, maka Anda juga akan mengalami hal yang sama dengan “tuhan yang baru”, yakni jika tidak bernatur binitarian, pasti bernatur trinitas juga. Ketika Anda menyembah “tuan yang baru” itu, apakah yang Anda sembah adalah eksistensinya (roh atau dzat), atau pikiran yang ada di dalam dirinya, atau nama yang mana ia disebut? Anda tinggal memilihnya. Jika Anda paham soal ini, maka tidak ada alasan untuk menolak Trinitas seperti yang dinyatakan dalam Alkitab.

Allah itu transenden dan sekaligus imanen. “Allah” yang tidak menyatakan diri justru membuktikan ia bukan allah yang mahakuasa. Apa buktinya? Buktinya ia tidak menyatakan diri. Allah yang demikian adalah buatan pikiran manusia. Ketakutan terhadapnya hanyalah perasaan dan desakan logika, serta petimbangan hati nurani. Tidak ada yang dapat diimani dari allah jenis itu. Itulah berhala. Berhala adalah pikiran manusia itu sendiri, sedangkan Trinitas adalah Allah yang sejati, Allah yang menyatakan diri-Nya dan kuasa-Nya. Tidak hanya itu, Allah disaksikan oleh orang-orang yang kepadanya Allah berkenan; Allah dialami dan dirasakan oleh orang-orang pilihan-Nya, dan Allah didokumentasikan dalam tulisan-tulisan (Alkitab).

Penutup

Teorema Trinitas begitu jelas dalam Alkitab. Memahaminya adalah sebuah kesadaran logika dan iman. Pada logika, kita mengakui bahwa penyataan Allah Trinitas adalah logis: dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Jika Ia tidak menyatakan diri, manusia tidak dapat memahami-Nya. Trinitas juga memberikan peluang analogi dengan diri manusia itu sendiri karena manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah. Jika demikian, maka manusia dapat memahami Allah berdasarkan refleksi personal. Pada iman, Trinitas adalah kesaksian yang didasarkan pengalaman dan Kitab Suci. Iman itu berdasar pada sejarah penyataan Allah, sejarah kesaksian dan pengalaman orang-orang pilihan Allah dan yang dipakai Allah, dan sejarah totalitasnya yang dituliskan dalam Kitab Suci.

Dengan demikian, berdasarkan teorema di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Trinitas adalah fakta penyataan (dari Allah) dan empirikal (dari mereka yang dipilih dan dipakai-Nya). Trinitas adalah konsistensi Allah untuk menyatakan diri-Nya secara penuh. Trinitas adalah perwujudan logika (cara memahami) yang suprematif. Trinitas adalah perwujudan kasih yang utuh. Trinitas adalah perwujudan kepribadian yang utuh, dan Trinitas adalah keagungan diri Allah yang dibagikan-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus, Logos Allah yang menjadi manusia, yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus kita. Dia begitu mengasihi kita.

Ketika kita menyembah Allah, maka kita menyembah kepenuhan Kepribadian-Nya; menyembah-Nya bukan berarti memisahkan Allah dari Logos dan Roh-Nya. Itu sebabnya tidak ada persoalan dengan penyembahan kepada Roh Kudus, kepada Yesus Kristus (Logos yang menjadi manusia), dan kepada Allah. Adakah umat beragama yang menyembah “Tuhannya” lalu tidak menyembah substansi ontologinya? Adakah umat beragama yang menyembah “Tuhannya” lalu tidak menyembah firman yang ada dalam diri “Tuhan” tersebut?

Yesus pernah menegaskan bahwa barangsiapa mengormati-Nya, ia menghormati Bapa-Nya; barangsiapa mengasihi-Nya, ia mengasihi Bapa-Nya. Trinitas adalah logis, maka bagaimana menalarnya, tentu didasarkan pada prinsip-prinsip logis sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Jika Yesus—dalam keadaan-Nya sebagai manusia—mengapa Ia berdoa? Di mana letak ke-Tuhanan-Nya? Tentu yang berdoa adalah kemanusiaan Yesus, karena toh Yesus adalah manusia sejati; Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Hal ini adalah logis.

 Adakah Yesus menganggap diri-Nya bagian dari Trinitas dan menganggap bahwa Allah itu esa? Di sini kita harus tahu dulu apa itu esa. Esa itu ada dua arti: esa secara ontologis, dan esa secara relasional (Allah dengan ciptaan-Nya). Esa secara ontologis adalah kesatuan atau kepenuhan kepribadian Allah yaitu diri-Nya, Logos-Nya, dan Roh-Nya. Ketiganya adalah “satu” tetapi berdistingsi. Sedangkan esa secara relasional adalah bahwa hanya Allah saja yang satu-satunya (esa) yang harus “disembah”. Ketika seseorang menyembah Allah, maka Ia sedang menyembah Allah sebagai esa secara ontologis dan esa secara objek penyembahan. Ketika kita taat dan tunduk kepada orang yang lebih tinggi (kedudukannya) dari kita, maka secara faktual kita tunduk kepada eksistensinya (karena dia ada), kepada pikirannya, dan kepada dirinya (yang utuh). Orang tersebut hanya ada satu, dan bukan tiga.

Memahami Trinitas memerlukan analogi-analogi yang telah disediakan Allah dalam ciptaan-Nya. Apalagi jika kita memahami secara analogi dari diri manusia, meskipun analogi tersebut tidaklah sempurna; setidaknya dapat mewakili dan memberikan pemahaman yang mendasar.


[1] Lihat buku Robert Letham, Allah Trinitas, terbitan Momentu, Surabaya.

LOGOS DAN IDENTITASNYA

Sumber gambar: Pinterest

PENDAHULUAN

Pemahaman akan personalitas Allah mencakup natur trinitas: nama, eksistensi, dan realisasi. Nama merupakan kepenuhan kepribadian dari pribadi yang mana dengan nama itu sendiri, pribadi itu dapat dikenal. Sebutan Bapa adalah suatu kepenuhan kepribadian-Nya, menegaskan bahwa Ia eksis dan Ia memiliki “Logos” yang direalisasikan-Nya pada peristiwa penciptaan.

Eksistensi merupakan konfirmasi keberadaan dan nama yang tadi muncul karena eksistensi. Eksistensi itu sendiri terbagi atas dua hal yaitu eksistensi secara faktual (ontologis) dan eksistensi secara konseptual (hanya dalam pemikiran saja). Esensi Bapa adalah “Roh” yang jika dipahami secara logis, Roh itu sendiri adalah Pribadi, sebab Bapa tak mungkin disebut Bapa jika Ia tidak eksis, jika Ia tidak memiliki Roh-Nya.

Realisasi merupakan sebuah penyataan diri Bapa ke dalam sejarah dan secara khusus pada sejarah penciptaan. Logos Bapa adalah realisasi bahwa Ia berpikir, Ia mencipta, dan Ia mewahyukan sesuatu. Dengan Logos-Nya, Bapa mencipta, dan dengan demikian Bapa telah merealisasikan Logos-Nya ke dalam dunia ciptaan.

Memahami prolog Rasul Yohanes mengenai: “Pada mulanya adalah Firman [Logos]; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” perlu melihat pada natur eksistensialnya. Mengatakan bahwa “pada mulanya adalah Logos” menegaskan bahwa Logos itu kekal; Ia ada pada mulanya. Mengatakan bahwa Logos itu bersama-sama dengan Allah menegaskan bahwa Allah itu eksis dan kekal. Allah di sini merujuk kepada Bapa (nama yang merupakan kepenuhan dari personalitas), dan mengatakan bahwa “Firman itu adalah Allah” menegaskan secara logis bahwa yang “ada” bersama-sama Allah, yang “ada” pada mulanya pasti Ia kekal. Di sini, kesetaraan kekal antara Logos dan Allah tak dapat dipungkiri.

Yang menjadi permasalahan kemudian adalah ketika Logos menjadi daging (sarks) (lihat Yoh. 1:14). Barulah perbedaan pemahaman akan personalitas Yesus dan Bapa mencuat ke permukaan. Ada dua hal yang dipahami di sini. Pertama, eksistensi Logos secara ontologis [pra-inkarnasi], dan kedua, eksistensi Yesus secara historis [Logos pasca-inkarnasi]. Kelemahan dari mereka yang melihat Yesus sebagai “bukan Allah”, “bukan setara dengan Bapa”, “Ia adalah ciptaan”, adalah karena melihat eksistensi Yesus pada peristiwa historis. Artinya, pemahaman itu sendiri sudah berat sebelah dan mengabaikan eksistensi ontologis Logos pra-inkarnasi.

Begini. “Allah” atau “Tuhan” dari semua agama yang diakui sebagai pribadi yang “berbicara”, dan “berfirman” tentu akan mengakui pula bahwa Ia memiliki pikiran dan perkataan sejak kekal. Pikiran Allah tidak lebih rendah dari Allah. Pikiran adalah pribadi sebab Allah tak mungkin diakui sebagai pemberi firman (perkataan) jika Ia sendiri tidak memiliki pikiran. Dalam konteks ini, Yesus, Logos Ilahi yang kekal haruslah dilihat secara utuh (komprehensif) sehingga tidak terjebak dalam konsep berpikir parsial dan selektif—apriori.

Ketika berbicara mengenai pribadi Yesus, seseorang perlu memperhatikan dua hal tadi yaitu eksistensi Logos secara ontologis dan eksistensi Logos yang menjadi daging [manusia] yang kita kenal dalam diri Yesus Kristus secara historis. Untuk lebih membantu pemahaman ini, tiga aspek Filsafat Logika perlu diajukan di sini, yaitu: TERDEFINISI, TERKONTEKS, dan TERKLASIFIKASI. Namun, jika Anda tertarik, Anda bisa memulai dengan menjabarkan ketiga aspek Filsafat Logika di atas untuk menambah keyakinan Anda pada konteks Logos yang kita bicarakan di sini.

Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa Logos itu sendiri bersifat kekal (Yoh. 1:1); Ia eksis bersama-sama dengan Bapa. Logisnya, Bapa memiliki Logos sejak kekal. Eksistensi Bapa adalah juga eksistensi Logos. Begitu juga dengan eksistensi Roh. Ketiga-Nya adalah suatu kepenuhan kepribadian. Disebut pribadi (berdasarkan penyataan-Nya sendiri) karena memiliki eksistensi, logos [pikiran], dan nama. Coba Anda pikirkan jika suatu pribadi tanpa “nama” dalam pengertian khusus. “tanpa nama” juga adalah sebuah nama.

Sekarang, saya mengajak kita semua untuk melihat identitas Logos berdasarkan pemahaman biblikal—dan pada beberapa pokok, berdasarkan pemahaman logis. Ketika Logos berinkarnasi ke dalam dunia menjadi “sarks”, itu tidak berarti kemahakuasaan dan kekuatan Allah Bapa belum sempurna. Justru sebaliknya, karena kekuasaan-Nya, maka tidak ada yang mustahi bagi-Nya untuk “menjadi” manusia. Ini adalah bukti kekuasaan Allah.

Yesus sendiri mempublikasikan bahwa antara Diri-Nya dan Bapa adalah satu. Kesatuan ini menegaskan posisi kemanusiaan Yesus yang tidak mengganggu eksistensi ontologis-Nya. Mengambil kemanusiaan Yesus tapi melupakan eksistensi ontologis-Nya, adalah berat sebelah dan menimbulkan kesesatan dogmatis, biblika, dan historis. Di samping itu, Yesus pula menegaskan bahwa kehendak-Nya dan kehendak Bapa bukanlah dua hal yang berbeda (berkontradiksi) melainkan kehendak Bapa tertuang dalam keputusan kekal bahwa mereka yang percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Sang Bapa yang mengutus Logos-Nya menjadi manusia—Logos yang berdiam sejak kekal dalam diri Sang Bapa.

Kesatuan ini mengimplikasikan semua klaim Yesus tentang agenda Inkarnasi sebagai perwujudan kehendak Bapa bagi keselamatan semua orang pilihan-Nya. Yesus menempatkan diri-Nya setara dengan Bapa di mana mereka yang percaya kepada-Nya diartikan sebagai mereka yang percaya kepada Bapa yang mengutus-Nya ke dalam dunia (bdk. Yoh. 3:16). Dalam Yohanes 10:28 dikatakan bahwa, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Ini klaim yang sangat luar biasa.

Otoritas (eksousia) Yesus sangat jelas. Di teks-teks lain dinyatakan adanya kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya dalam hal keselamatan dan mengasihi. Misalnya Yohanes 5:21, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Kesetaraan ini berbicara mengenai otoritas (eksousia) dan kuasa (dunamis) yang dimiliki Bapa dan Yesus. Karena Yesus adalah Logos Ilahi yang berdiam dalam diri Allah Bapa sejak kekal, maka kualitas otoritas (eksousia) dan kuasa (dunamis) adalah sama pula. Yang membedakannya adalah Logos Ilahi telah menjadi manusia. Itu hanya perbedaan luaran (dalam peristiwa historis humanitas Yesus) saja dan bukan perbedaan substansial dan eksistensi.

Keberdiaman korelasi-representatif tampak pula dalam teks Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Klausa “ya Bapa, di dalam Aku” meneguhkan bahwa Logos yang berinkarnasi tidak memisahkan diri-Nya secara mandiri dan melupakan sumber dari mana Logos itu berasal. Ini berarti, Yesus merepresentasikan Bapa (seperti yang muncul dalam teks-teks Injil Yohanes), maka kesetaraan itu mutlak.

Bapa tidak mungkin meninggikan diri dari Logos yang “keluar” dari diri-Nya dan Logos tak mungkin memisahkan diri dan meninggikan diri terhadap sumber dari mana Logos itu “keluar”. Klausa tersebut membuktikan bahwa Yesus setara dengan Bapa dan Yesus adalah Allah. Klausa “Aku [Yesus] di dalam Bapa” meneguhkan bahwa Logos tidak terpisah dari Pribadi Bapa. Cara memahaminya adalah “Allah memiliki Logos sejak kekal; Allah tak mungkin tanpa Logos; ketidakmungkinan itu bukan hanya sebuah gagasan atau wacana, melainkan karena itu tertulis dalam firman-Nya”.

SUBSTANSI BIBLIKA MENGENAI LOGOS

Daniel B. Walace (dalam Mounce, William D., Basics of Biblical Greek, Malang: Literatur SAAT, 2011) menjelaskan tentang identitas “logos” dalam Yohanes 1:1 dilihat dari aspek bahasa. Menurutnya:

“Kasus nominatif adalah kasus di mana subjeknya ada di dalamnya. Ketika subjek menggunakan kata kerja yang menyeimbangkan seperti ‘is’ (yaitu sebuah kata kerja yang mensejajarkan subjek dengan sesuatu yang lain), maka nomina lainnya akan muncul dalam kasus nominatif-nominatif predikat. Dalam kalimat, ‘John adalah seorang pria’, maka ‘John’ adalah subjek dan ‘pria’ adalah nominatif predikat. Dalam bahasa Inggris, subjek dan nominatif predikat dibedakan dari susunannya (subjek muncul lebih dahulu). Tidak demikian halnya dalam bahasa Yunani, karena susunan katanya agak fleksibel dan lebih banyak digunakan sebagai menekankan daripada fungsi tata bahasa saja. Selain itu, susunan kata berfungsi untuk membedakan subjek dari nominatif predikat. Misalnya, jika satu dari dua nomina mempunyai artikel tertentu maka itu pastilah subjek.

Sebagaimana telah dikatakan, susunan kata khususnya berfungsi untuk memberi tekanan. Secara umum, saat sebuah kata ditempatkan di depan klausa maka itu untuk memberi tekanan. Ketika sebuah nominatif predikat diletakkan di depan kata kerja, dalam susunannya, maka itu juga untuk menekankan. Contoh yang baik adalah Yohanes 1:1c. Versi bahasa Inggris umumnya membaca, ‘and the Word was God.’ Namun dalam bahasa Yunani, susunannya terbalik.

kai Theos en ho logos

dan Allah adalah itu Firman

Kita tahu bahwa ‘Firman itu’ adalah subjeknya karena mempunyai artikel tertentu, maka kita menerjemahkannya: ‘and the Word was God.’ Ada dua dampak teologis yang seharusnya dipikirkan: (1) mengapa ‘Theos’ ditempatkan di depan? Dan (2) mengapa tidak memiliki artikel?

Secara ringkas, posisi memang sengaja menekankan inti atau kualitasnya: ‘Apa Allah, begitulah Firman itu.’ Nuansa sebuah terjemahan perlu menekankan ini. Tidak munculnya artikel tertentu mencegah kita menyamakan ‘Pribadi’ sang Firman (Yesus Kristus) dari ‘Pribadi’ Allah (Bapa). Katakanlah, susunan kata memberitahu kita bahwa Yesus Kristus memiliki semua tabiat ilahi yang dimiliki sang Bapa; tidak adanya artikel menyatakan pada kita bahwa Yesus Kristus bukanlah sang Bapa. Cara Yohanes menulis di sini amatlah indah dan padat! Bahkan salah satu pernyataan teologis yang paling agung yang pernah ditemukan. Sebagaimana Martin Luther berkata, tidak adanya artikel ini adalah untuk melawan Sabelianisme; sedangkan susunan katanya melawan Arianisme.

Cara lain menyatakan ini dapat dilihat dari bagaimana kontruksi bahasa Yunani menjelaskannya:

kai ho logos en o Theos

‘dan Firman itu adalah sang Allah’ (yaitu Bapa – pandangan Sabelianisme)

kai ho logos en Theos

‘dan Firman itu adalah suatu allah’ (pandangan Arianisme)

kai Theos en ho logos

‘dan Allah adalah Firman itu’ (pandangan Ortodoks)

Yesus Kristus adalah Allah dan memiliki semua tabiat yang dimiliki Bapa. Namun Dia bukanlah pribadi pertama dalam Trinitas. Semua ini secara singkat dinyatakan dalam ‘kai Theos en ho logos’”.

ELABORASI HISTORIS SIGNIFIKAN SOAL LOGOS

Pertama, menurut Enns (The Moody Handbook of Theology, 263):

Kata “adalah” (Ing. “was”) dalam kalimat, “Pada mulanya adalah Firman” adalah kata Yunani hen, dalam bentuk tense imperfek yang menekankan keberadaan yang terus-menerus pada waktu yang lampau. Frasa itu dapat diterjemahkan, “Pada mulanya adalah Firman yang terus-menerus ada.”

Kedua, menurut Leon Morris, tidak pernah ada suatu waktu di mana Firman itu tidak ada. Tidak pernah ada sesuatu pun yang tidak bergantung pada-Nya untuk keberadaan-Nya. Kata kerja “adalah” secara paling natural dimengerti sebagai keberadaan yang kekal dari Firman itu. ‘Firman it uterus menerus ada” (Morris, The Gospel According to John, Grand Rapids: Eerdmans, 1971, 73, dikutip Enns, Moody Handbook of Theology, 295).

Ketiga, dalam Kolose 1:17, Paulus menyatakan, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia”, menekankan sekali lagi tentang kekekalan dan praeksistensi Kristus melalui penggunaan bentuk tensa waktu sekarang (Enns, Moody Handbook of Theology, 264).

Keempat, Logos dalam Yohanes 1:1, mempunyai makna yang sangat kaya, sebagai sumber dan bukti bahwa Yesus, Logos Ilahi itu datang mengunjungi dunia dengan “menjadi manusia”. Erickson menegaskan bahwa sebenarnya yang dikatakan Yohanes ialah, “Yang Ilahi (atau Allah) adalah Firman” (Theos en ho logos). Dengan mendahulukan ‘Theos” sebagai kontras terhadap susunan kata dari anak kalimat yang sebelumnya, Yohanes menjadikan pernyataan ini sangat kuat. Yohanes menyatakan bahwa Firman itu adalah setara dengan Allah namun berbeda pula dengan Allah (Erickson, Teologi Kristen, 324-25).

Kelima, Linwood Urban mengutip pernyataan Philo soal logos sebagai berikut: “Selagi Allah ada secara ontologis sebagai (nama yang sama) analogi dari Yang Esa Dia sementara itu adalah dua berkenan dengan Kekuasaan, Kebaikan dan Kewenangan-Nya yang paling tinggi dan paling pertama; dengan Kebaikan Dia memperanakkan alam semesta dan dengan otoritas-Nya Dia memerintah apa yang sudah diciptakan-Nya. Dan ada hal ketiga yang – ada di antara mereka – membawa keduanya bersama-sama, yaitu Logos-Nya, karena dengan Logos, Allah adalah pemerintah dan kebaikan, kedua-duanya. …Logos itu dilahirkan di dalam akal budi Allah sebelum segala sesuatu dan dimanifestasikan dalam hubungan dengan semua hal (Philo, The Cherubim, bag. 227 dst., dikutip Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003, 61). Dengan demikian, Philo memiliki konsepsi tentang Allah (Yang Esa dan Ada), yang juga disebutnya Bapa, dan tentang Logos, yang disebutnya Anak (Philo, Husbandry, bag. 50-52. Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61).

Keenam, Philo membedakan antara “logos” dan “akal budi”, dan dengan demikian keduanya dipandang berbeda dan terpisah; “logos” pernah tidak ada, karena “logos” lahir dalam akal budi. Namun, yang menjadi pertanyaannya: kapan “logos” lahir dalam akal budi Allah, dan di sini tidak jelas apakah Allah menciptakan logos dengan menggunakan logos atau menggunakan akal budi-Nya. Urban menganalisis bahwa, Philo membuat hal ini jelas bahwa Logos adalah sumber pemerantaraan yang berdaya cipta dan memerintah. Philo sesekali berbicara tentang Logos sebagai Allah dan terkadang sebagai yang berdiri di tempat Allah. Namun, hubungan yang pasti antara Logos-Anak dan Allah Sang Bapa tidak jelas; juga tidak jelas hubungan apa yang ada antara Bapa dan Anak di satu pihak dengan Roh Kudus di lain pihak yang juga dibicarakan oleh Philo (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61).

Ketujuh, Harry A. Wolfson mengemukakan bahwa, bagi Philo ada tiga tahap temporal dari Logos. Pada tahap pertama Logos itu adalah hikmat Allah yang ada bersama Allah sejak kekal. Pada tahap kedua Logos yang lain diciptakan di dalam suatu masa sebagai “ada” (being) yang independen. Logos ini, yang diciptakan menurut citra Allah, adalah perantara penciptaan itu. Pada tahap ketiga Logos yang lain diproyeksikan ke dalam dunia sebagai tatanan yang rasional atau jiwa dunia. Selain itu, menurut Wolfson, Philo percaya bahwa ada Roh Kudus Allah, yang berbeda dari Logos, yang mengilhami dan mencerahi para nabi (Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Church Fathers, jilid 1, Cambridge: Harvard University Press, 1956, 177, dikutip Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61). Namun, Erwin Goodenough percaya bahwa Philo berpikir tentang Logos sebagai pancaran yang keluar dari Bapa dan bukan suatu ciptaan (E. R. Goodenough, An Introduction to Philo Judaeus, New Heaven: Yale University Press, 1940, 100, dikutip Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61). Goodenough mengajukan teori satu tahap dari Logos – Logos sebagai perantara penciptaan identik dengan hikmat Bapa (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62).

Kedelapan, Philo berpendapat bahwa Logos itu “bukan seperti Allah, yang tidak diciptakan, tetapi bukan pula seperti Anda, yang merupakan ciptaan, melainkan ada di tengah kedua ekstrem tersebut (Philo, Who Is the Heir? Pasal 52, bagian 206, dikutip Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62). Bagi Urban, Philo merasa tidak perlu menyelesaikan ambiguitas semacam ini sebagaimana yang dirasakan Bapa Gereja Kristen ketika mereka berusaha menafsirkan kehadiran ilahi di dalam Kristus sebagai kehadiran Logos atau Hikmat yang mempunyai daya cipta. Bagi mereka adalah penting mengetahui apakah Logos diperanakkan dari Allah, dan dengan demikian Dia adalah Allah, ataukah hanya suatu ciptaan Allah, seperti malaikat (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62). Implikasinya, isu inilah yang mendorong berlangsungnya pertemuan yang kemudian dikenal sebagai Konsili Nicea pada tahun 325 T.U, ketika Arius (yang hidup hingga tahun 336 T.U) menggoncangkan banyak orang dengan mengemukakan semacam “versi Wolfson” (Wolfson, Church Fathers, jilid 1, 585) mengenai pemahaman Philo soal hubungan Bapa dari Anak (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62).

Kesembilan, Charles R. Swindoll menguraikan perihal identitas Yesus sebagai Logos Allah dalam Yohanes 1:1. Menurutnya, “Rasul Yohanes meminjam konsep logos ini untuk memberi suatu arti penting baru kepada konsep ini sebagai sebuah nama kecil, dari berbagai macam arti, untuk Anak Allah… “Pada mulanya adalah Firman” (dalam bahasa Inggris “In beginning was being the logos”, bukan “In the beginning…”) (Charles R. Swindoll, Tokoh Terbesar: Yesus, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2008, 18). Swindoll menambahkan, “dengan menghapus definite article “the”,Yohanes ingin mengemukan bahwa kita dapat mengenali suatu momen di masa lalu untuk kemudian menyebutnya “permulaan.” Ia menunjuk kepada sesuatu yang sudah ada sebelum kekekalan … – di dalam suatu permulaan yang tidak pernah benar-benar mempunyai permulaan, logos sudah ada. Ia tidak mempunyai “titik awal”. Karena ada secara kekal, maka logos ada bersama dengan Allah dan logos itu sendiri adalah Allah (Swindoll, Tokoh Terbesar, 18).

Kesepuluh, Swindoll berpendapat, pada ayat ini (maksdnya Yoh. 1:1), kata “Firman” berasal dari istilah Yunani “logos” yang mengandung arti penting yang luar biasa besar bagi para filosof di zaman Yesus. Logos pertama kali dipopulerkan oleh Heraclitus kira-kira lima ratus tahun sebelum Kristus, dan selanjutnya berkembang menjadi sebuah prinsip yang bersifat universal, tak terbatas dan religius (Swindoll, Tokoh Terbesar, 17). Dalam Stoicism, logos mengekspresikan sifat kormos yang teratur dan berorientasi pada teleologi (studi tentan penyebab akhir). Oleh karena itu, ini dapat disamakan dengan Allah dan dengan kekuatan penalaran kosmik, yang mana dunia materi merupakan sesuatu yang terbuka lebar (Gerhard Kittel dan Gerhard Friedrich [peny.), Theological Dictionary of the New Testament: Abridged in One Volume, terj. Geoffrey W. Bromiley, Grand Rapids: Eerdmans, 1985, p. 506, dikutip Swindoll, Tokoh Terbesar, 17-18).

Kesebelas, dengan pengaruh dari Perjanjian Lama dan pemikiran Yunani kuno, Philo (seorang filosof Yahudi yang hidup di mana Kristus) sering menggunakan istilah logos ini, di mana ke dalam istilah ini ia memberikan arti penting yang sangat berkembang dan tempat sentral untuk ajaran teologisnya. Ia mengembangkan istilah ini dari sumber-sumber kalangan Stoik, dan menurut penemuannya atas pemikiran-pemikiran Yunani di dalam Kitab Suci berbahasa Ibrani, dan menggunakannya berdasarkan ayat-ayat seperti Mazmur 33:6 untuk menyatakan bagaimana cara Allah yang Tak Terbatas itu bisa menjadi Pencipta alam semesta dan yang menyatakan diri- Nya sendiri kepada Musa dan para Bapa Leluhur. Pada sisi Yunani ia menyamakan Logos dengan konsep dari Plato tentang Dunia Ide sehingga ini menjadi rencana Allah dan sekaligus kuasa penciptaan dari Allah sendiri. D. R. W. Wood, penyunting, New Bible Dictionary, Edisi ke-3, Downers Grove, Illinois: InterVarsity, 1996, p. 693, dikutip Swindoll, Tokoh Terbesar, 18).

Keduabelas, dari aspek sejarah, sebelum Yohanes menggunakan istilah “Logos” kepada Yesus, istilah logos itu sendiri sudah popular di zaman Heraklitos dan Philo. Terkait dengan konteks ini, A. Hanafi, A. Epping, Th. C. Stockum dan Juntak, menjelaskan logos yang dikaitkan dengan penciptaan, serta beberapa aspek penting lainnya:

“Bagaimana Tuhan mengatur dunia? Bagaimana ketinggian-Nya (bagi Philo ketinggian Tuhan tidak berarti bahwa dia lumpuh [tidak bergerak-‘inert’] – Tuhan berada di luar sifat-sifat moral, di luar semua pengalaman indera, di luar semua pemikiran, di luar semua hukum-hukum ilmu pengetahuan) dipertalikan dengan alas semesta yang materiil ini? Ini diselesaikan melalui ajaran ‘Logos’ yang merupakan salah satu sumbangan Philo terhadap filsafat. Kita melihat ajarannya telah ada sebelumnya pada Heraclitus  dan aliran Stoa. Tetapi pada Philo selain itu semua, ajaran tersebut mempunyai suatu fungsi methaphisika yang tertentu. Logos tersebut yang abadi digambarkan oleh Philo dengan berbagai jalan: 1). Sebagai hakekat Tuhan (God’s essence); 2) Sebagai sesuatu yang tidak berbenda (incorporeal – being); dan 3) Sebagai pengetahuan (wisdom) yang tetap (A. Hanafi, Filsafat Skolastik, Jakarta: Pustaka Alhusna, 1983, 34).

Ketigabelas, Hanafi menekankan bahwa dalam pemakaian istilah Logos dari Philo terdapat kekacauan yang besar sekali, karena Logos terdapat dalam fikiran Tuhan, sebagai suatu hal (hakekat) yang tidak berbenda, sebagai contoh (rencana – blueprint) alam semesta dan sebagai sifat yang tetap dalam dunia. Selanjutnya, di samping Idee Universal (Universal Ideas) yang menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, kita mendapati malaikat-malaikat yang juga sama, yaitu menjadi utusan Tuhan (Hanafi, Filsafat Skolastik, 34).

Keempatbelas, Epping, Stockum dan Juntak menjelaskan, bahwa ‘logos’ atau ‘kata’ dipahami Philo sebagai pribadi yaitu malaikat yang bertingkat tinggi:

berkatalah Philo selanjutnya: Tuhan menciptakan dunia dengan “kata” (logos)-nya, yang keluar daripadanya sebagai sinar cahaya yang tidak habis-habis. “Kata” dinamakan olehnya “malaikat yang bertingkat tinggi”, sedang Idea-idea yang dianggap mempunyai tingkatan lebih rendah dinamakan “kekuatan-kekuatan” atau “bidadari-bidadari”, “iblis-iblis.” Manusia adalah makhluk yang demikian pula, hanya rohnya yang masih terikat pada raganya. Manusia dapat kembali pada hidupnya yang tanpa raga, dengan menempuh jalan “kebijaksanaan.” Tuhan hanya menampakkan “dirinya” pada seorang yang bijaksana, dan seorang yang mengalami hal demikian merasakan kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan apa pun juga yang pernah dialami manusia (A. Epping, Th. C. Stockum dan Juntak, Filsafat Ensie: Eerste Nederlandse Systematisch Ingerichte Encyclopaedie, Bandung: Jemmars, 1983, 120).

Kelimabelas, dari berbagai uraian di atas, tampak perbedaannya dengan logos yang dituliskan Yohanes. Yohanes mengidentifikasikan logos kepada pribadi Yesus yang adalah “Logos Allah” dalam menciptakan dunia. Yohanes menggunakan konsep “logos” kepada kaum Yunani dengan maksud bahwa logos yang selama ini dibicarakan telah datang ke dunia dan nyata. Logos yang dibicarakan oleh Philo adalah logos yang samar-samar. Berkenaan dengan hal itu, Bruce Milne menjelaskan bahwa, dalam filsafat Yunani, “logos” mempunyai sejarah yang panjang, paling tidak sejak zaman Heraklitos (kira-kira 500 SM. Herakleitos lahir di Ephesus dan merupakan filsuf terbesar sebelum Sokrates, seorang pemikir besar yang meletakkan dasar-dasar filsafat Yunani), yang menganggap “logos” sebagai prinsip yang membentuk, mengatur dan mengendalikan alam semesta. Philo, guru Yahudi yang terkenal di Afrika Utara, yang hidup pada abad pertama, banyak mengambil bahannya dari filsafat Yunani dan sering mengacu pada “logos” dengan mempersonifikasikan kegiatan “logos” (bdk. “logos adalah nahkoda dan pilot alam semesta”; anak sulung Bapa”) (Bruce Milne, Yohanes: Lihatlah Rajamu! Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2010, 40-41). Bagi Milne, kendati pemakaian “logos” oleh orang Yunani agak mempengaruhi Yohanes, pengertian Yohanes menyimpang dari pengertian mereka mengenai satu hal yang sangat asasi dan hakiki. Dalam pemikiran Yunani, “logos” adalah bagian dari tatanan Ilahi; dan karena fakta itu maka “logos” dianggap terpisah dari dunia materi dan sejarah. Sebaliknya, bagi Yohanes, Firman atau Logos itu dinyatakan khas dan gamblang dalam “menjadi daging” atau “menjadi manu-sia” (Milne, Yohanes, 41).

Keenambelas, dari sisi historis, pada awalnya istilah ‘logos’ digunakan oleh Homer, dengan pengertian ‘mitos; atau ‘perkataan’. Selanjutnya, pada abad kelima istilah logos dipakai oleh sejumlah filsuf, antara lain: Heraklitus yang menganggap bahwa logos adalah hukum dunia yang satu dan kekal. Logos itu itu yang menguasai serta mengatur segala perubahan yang terjadi dalam alam semesta. Logos juga dapat berarti pikiran, sehingga lahirlah istilah logika (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181). Heraklitus menyatakan bahwa logos merupakan dasar perbuatan manusia, karena itu akal manusia dituntut untuk mengetahui logos tersebut. Siapa yang menguasai hukum dunia (logos), maka ia harus bertindak sesuai dengan hukum itu dan perbuatannya harus tunduk pada pikirannya (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181).

Ketujuhbelas, kaum Sofistik mengakui bahwa logos merupakan sebuah metode dalam berargumentasi dan berdialog, khususnya dalam mempertahankan keyakinan pribadi atau kelompok. Dengan demikian bagi kelompok Sofisisme, logos merupakan kekuatan dan dasar prinsipil dalam suatu perdebatan. Sedangkan Socrates memandang bahwa diskusi dan perdebatan merupakan aktifitas umum dari setiap manusia untuk mempertahankan sebuah kebenaran dengan tujuan untuk menemukan logos. Plato dan Aristoteles menganggap bahwa pada umumnya manusia sendiri memiliki logos, karena tindakan dan aktifitas manusia ditentukan oleh kata atau logos yang menyebabkan seseorang sanggup untuk berbicara dan mengerti (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181).

Namun kaum Stoik berpandangan bahwa logos merupakan sebuah kekuatan yang setara dengan Allah, itulah yang mengatur kehidupan dunia. Logos tersebut juga memberikan kuasa, kekuatan dan moral kepribadian kepada manusia. Tetapi kelompok tersebut membedakan antara inner logos, yaitu pikiran, dan logos artikulasi, yaitu percakapan (Verlyn D. Verbrugge [peny.] “Parthenos” dalam The New International Theological Dictionary of New Testament Words, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 2000, 759, dikutip Pandensolang, Kristologi Kristen, 181), sedangkan filsuf Yunani menggunakan istilah logos dalam pengajaran filsafat mereka dengan arti percakapan, berita atau kata. Sedangkan kaum Yudaisme memakai logos sebagai sebuah hikmat dalam literatur dan filsafat bangsa tersebut (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181). Maka, Logos yang digunakan oleh Yohanes adalah logos yang terdapat dalam kitab Kejadian, yaitu Logos sebagai pencipta bumi dan segala isinya (Kej. 1:1) (Pandensolang, Kristologi Kristen, 182). Demikian juga perkataan Firman adalah Allah [dalam Yohanes 1:1] menyatakan bahwa Kristus adalah Pribadi kekal, karena Logos adalah Allah yang kekal (R. V. G. Tasker, John, Tyndale New Testament Commentary, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1999, 4:43-45, dikutip Pandensolang, Kristologi Kristen, 181).

Kedelapanbelas, identifikasi mengenai logos dalam pandangan filsafat di atas, secara tepat melekat pada diri Yesus dalam arti bahwa inkarnasi Yesus—Logos menjadi daging [manusia], prinsip-prinsip logos yang dipercakapkan oleh kalangan filsuf terteguhkan dalam diri Yesus. Secara imaniah, saya mengakui bahwa bentuk-bentuk pemahaman mengenai logos bersumber dari wahyu umum yang diberikan Allah kepada manusia yang darinya manusia kemudian menggali potensi-potensi yang dapat dihubungkan dengan eksousia Allah, penciptaan, kedaulatan, dan kuasa Allah atas dunia. Secara langsung, prinsip-prinsip tersebut ada pada diri Yesus. Yesus yang adalah Logos Ilahi, memberikan kuasa karena Ia berkuasa. Ia memberikan kekuatan kepada mereka yang berharap kepada-Nya. Ia memberikan panduan moralitas dan bagaimana menjaga kepribadian yang suci dan kudus di hadapan Allah. Yesus sebagai Pencipta (Yoh. 1:3) adalah kekal (Yoh. 1:1). Ialah yang menguasai dan mengatur dunia dengan kekuasaan-Nya. Tampak bahwa semua percakapan dan pemahaman tentang logos, secara faktual ada dalam diri Yesus. Kesalahan memahami dualisme spesifik personalitas Yesus berujung pada kekeliruan, negasi, dan penyangkalan, bahkan penyesatan.

Kesembilanbelas, Ronald H. Nash menjelaskan: “salah satu aspek yang paling membingungkan dalam ajaran Perjanjian Baru tentang Logos adalah hubungan penggunaan Logos dalam Perjanjian Baru dengan penggunaannya oleh para pemikir sebelumnya, terutama Philo, filsuf Yahudi pada abad pertama. Philo bukanlah orang pertama yang menulis tentang Logos kosmis. Bagi Heraclitus dari Efesus (yang terkenal sekitar tahun 500 SM) dan juga para filsuf Stoik yang muncul agak belakangan, Logos merupakan hukum kosmis dari rasio yang mengendalikan alam semesta dan Logos itu imanen di dalam rasio manusia. Kaum Stoik beranggapan bahwa rasio manusia merupakan perluasan dari Rasio yang menyebar di seluruh kosmos. Penting untuk diperhatikan bahwa Logosnya Heraclitus dan kaum Stoik bukanlah Allah yang berpribadi dan bahkan bukan keberadaan yang berpribadi, melainkan abstraksi metafisis. Philo dipengaruhi baik oleh spekulasi yang telah ada tentang Logos ini dan juga oleh ajaran Plato tentang Forma, yang diinterpretasikan oleh Philo sebagai pemikiran-pemikiran Allah (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 62).

Philo menuliskan Logos itu sebagai “Mediator” (mesitēs) dan “Gambar” (eikon) Allah. Dunia diciptakan melalui perantaraan Logos. Philo melukiskan bahwa Logos itu bukanlah tidak diperanakkan (seperti Allah) bukan pula diperanakkan (seperti manusia) (Philo, Who is the Heir of Divine Things, 205-6, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 68-69). Dengan demikian, Logos itu berada di perbatasan antara Allah dan manusia, menjadi penengah dari Allah kepada manusia seperti seorang duta besar dan dari manusia kepada Allah sebagai pensyafaat (Philo, On the Special Laws 3, 62, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 68-69) Logos dinamai Anak yang Sulung (bdk. Ibr. 1:6) dan yang lahir Pertama. Logos itu adalah Terang sekaligus bayangan Allah (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 69).

Keduapuluh, mengingat bahwa tulisan dan pernyataan Rasul Yohanes soal Yesus yang adalah Logos Ilahi (yang disembah), maka iman Kristen memahami Yesus sebagai Sang Pemberi Hukum kosmis—karena Ia adalah Pencipta dan mengendalikan alam semesta. Yesus, dalam inkarnasi-Nya, imanen di dalam kehidupan manusia. Logos yang ditekankan Yohanes adalah “Pribadi Allah” (kontra Logosnya Heraclitus dan kaum Stoik). Logos yang berinkarnasi digambarkan sebagai Mediator: Allah dengan manusia. Yesus menjadi Pengantara (Mediator) yang sempurna.

Keduapuluh satu, Nash menyimpulkan, bahwa:

kesamaan-kesamaan antara dunia-pemikiran Alexandria kuno dan dua kitab dari Perjanjian Baru (surat Ibrani dan Injil Yohanes), sudah pasti akan memunculkan anggapan bahwa memang ada suatu hubungan ketergantungan. Ada beberapa orang yang sedemikian jauhnya sampai menyatakan bahwa kedua tulisan Perjanjian Baru itu jelas bergantung pada Philo dan merupakan pengakomodasian ajaran Kristen mula-mula tentang Yesus kepada konstruksi yang benar-benar teoretis dari Yudaisme Alexandria. Namun demikian, terlalu banyak perbedaan yang ada sehingga pandangan yang simplistis ini tidak bisa diterima. Pertama-tama, Logos di dalam surat Ibrani dan Injil Yohanes bukanlah abstraksi metafisis dari Philo, melainkan satu individu yang spesifik, satu pribadi yang historis. Logos dari Philo “bukanlah” seorang pribadi. Memang Philo menulis tentang Logos dengan istilah-istilah personal tetapi ini hanya merupakan personifikasi dari abstraksi metafisis. Menurut A. H. Armstrong, taraf yang sesungguhnya dari eksistensi independen yang dimiliki Logos yang diajarkan Philo “harus tetap penuh” (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 69).

Munculnya kecurigaan adalah ketergantungan atau pengaruh filsafat Philo terhadap Yohanes bisa saja dilontarkan. Tetapi poinnya bukan soal keterpengaruhan konsep Logos melainkan pada pembuktian ‘real’ bahwa Logos yang dibicarakan Yohanes adalah Logos Ilahi, Logos Pribadi, dan Logos yang faktual—turun ke dalam dunia, yang berbeda dengan logos yang dipahami oleh para filsuf pra-Yohanes. Logos ini menunjukkan eksistensi-Nya melalui dua hal yaitu perbuatan-perbuatan-Nya dan klaim-klaim-Nya. Jadi, pokok persoalannya bukan pada dugaan keterpengaruhan konsep logos, melainkan pada fakta yang hendak disuguhkan.

Keduapuluhdua, Armstrong mendeteksi bahwa pandangan Philo mengenai hal ini (logos) sangat kabur, dan tentu saja Logos yang diajarkan Philo tidak dapat dikatakan sebagai seorang pribadi, apalagi sebagai Pribadi Ilahi (A. H. Armstrong, An Introduction to Ancient Philosophy, Boston: Beacon Press, 1963, 162, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70). Armstrong menambahkan, Logos yang diajarkan Philo “sama sekali berbeda dengan Logos yang dimaksud dalam prolog Injil Yohanes, yang adalah seorang Pribadi yang benar-benar historis dan juga Ilahi (Armstrong, An Introduction to Ancient Philosophy, 162, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70).

Menurut Nash, sama sekali tidak ada dukungan mutlak bagi posisi bahwa Philo mempercayai Logos itu berpribadi, apalagi seorang pribadi yang hidup dalam sejarah. Logos dalam ajaran Philo benar-benar tidak memiliki ciri-ciri berkepribadian atau mesianis atau soteriologis yang begitu penting dalam penjelasan Kristen tentang Yesus. Logos dalam ajaran Philo bukanlah pribadi atau mesias atau penyelamat, melainkan prinsip kosmis yang didalilkan untuk menyelesaikan berbagai macam problem metafisis dan epistemologis (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70). Dalam pernyataan Frederick Copleston, “di dalam doktrin Philonis tentang Logos, tidak ada rujukan kepada seorang manusia yang historis” (Frederick Copleston, A History of Philosophy, 9 vol., Westminster, Maryland: The Newman Press, 1960, I:459. Dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70).

Keduapuluhtiga, secara umum Logos dalam konteks Perjanjian Baru, sebagaimana yang dijelaskan Nash berikut ini menegaskan tiga hal yaitu Logos kosmologis, Logos epistemologis, dan Logos soteriologis. Perjanjian Baru memperhitungkan tiga fungsi yang berbeda tetapi juga berkaitan kepada Logos Kristen, yang memungkinkan pembahasan mengenai Kristus sebagai Logos kosmologis, Logos epistemologis dan Logos soteriologis. Tanpa Yesus, dunia tidak pernah eksis dan tidak akan eksis sekarang; tanpa Yesus, manusia tidak akan pernah menjadi ciptaan yang mampu berpengetahuan; dan tanpa Yesus, manusia tidak akan pernah diselamatkan dari dosa. Kristus digambarkan sebagai Logos kosmologis dan Logos epistemologis di dalam prolog Injil Yohanes. Rasul Yohanes menggambarkan Kristus sebagai agen yang melalui-Nya Allah menjadikan dunia eksis: “Pada mulanya adalah Firman (Logos); Firman (Logos) itu bersama-sama dengan Allah dan Firman (Logos) itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:1-3). Rasul Paulus juga menggambarkan Kristus yang praeksisten sebagai pengantara penciptaan (1 Kor. 8:6; Kol. 1:16). Logos kosmologis selanjutnya bertindak sebagai penengah dalam hubungan yang terus berkelanjutan antara Allah dan manusia (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 72).

Dalam Yohanes 1:9, Rasul Yohanes menyatakan bahwa Kristus adalah “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang.” Dengan kata lain, Logos epistemologis bukan saja pengantara penyataan khusus ilahi (Yoh. 1:14), Dia juga dasar dari segala pengetahuan manusia (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 73). Juga dalam surat Ibrani, dimulai dengan menggambarkan Kristus sebagai Logos epistemologis yang memperantarai penyataan Allah kepada manusia (Ibr. 1:1-3). Kemudian penulis menggambarkan Yesus sebagai Logos kosmologis yang memperantarai penciptaan baik sebagai Pencipta (Ibr. 1:2) maupun sebagai Penopang (Ibr. 1:3) (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 73). Kesimpulannya, Yesus adalah Logos soteriologis yang, baik sebagai imam maupun sebagai kurban, berfungsi menghasilkan keselamatan. Doktrin Logos menempati tempat yang penting di dalam pikiran beberapa bapa Gereja di abad mula-mula (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 74).

KONKLUSI

Pertama, identitas Yesus sebagai Logos Allah haruslah dipahai secara penuh, baik pra-inkarnasi (eksistensi ontologis), maupun pasca-inkarnasi (eksistensi historis). Di sini, bukan berarti Yesus memiliki dua eksistensi, melainkan satu eksistensi kekal-Nya. Eksistensi historis dimaksudkan bahwa Yesus “ada” [eksis] sebagai manusia sejati yang memiliki dua natur: natur ke-ilahian-Nya dan natur kemanusiaan-Nya. Yesus tentu eksis sebagai manusia tetapi eksistensi ontologis-Nya adalah eksistensi mutlak.

Kedua, sebagai Logos yang kekal, ada [eksis pada mulanya], dan bersama-sama dengan Allah, Yesus tidak lebih rendah dari Bapa. Bapa tak mungkin dipahami sebagai Pribadi yang sedikit lebih tinggi dari Yesus yang adalah Logos yang kekal yang ada bersama-sama dengan Bapa. Yesus setara dengan Bapa dipahami dari aspek ontologis-Nya. Sedangkan sebagai manusia, bukan alasan bagi kita untuk memahami bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa. Secara logis, semua manusia berada di bawah Bapa. Akan tetapi dalam kasus “ho Logos sarks egeneto” tidak dapat dipahami sebagai perendahan personalitas diri Yesus sebagai kita akan kembali kepada sumber eksistensi utama Yesus sebagai Logos, yaitu “Ia ada pada mulanya; Ia bersama-sama dengan Allah, dan Ia adalah Allah”.

Ketiga, dengan mengatakan Yesus sebagai ciptaan akan menimbulkan kerancuan logika. Jika Yesus yang adalah Logos Allah diciptakan, maka dengan “Logos” manakah Allah menciptakan Logos-Nya? Negasi bahwa Yesus tidak setara dengan Bapa, sama halnya dengan mengatakan “pikiran Anda tidak setara dengan Anda”. Apakah hal ini mungkin? Tentu tidak mungkin. Baik pikiran Anda yang telah menjadi catatan atau buku, tetap saja itu setara dengan diri Anda. Ketika Anda berpikir sebaliknya, maka Anda sedang merendahkan diri Anda sendiri. Dalam konteks Trinitas, konsep atau pemikiran semacam itu tidaklah mungkin sebab tidak ada peluang untuk itu. Lagipula, demarkasi konteks sangat diperlukan di sini.

Yesus adalah Logos yang kekal. Logos berdiam dalam diri Bapa, dan eksis sejak kekal bersama dengan Bapa. Ketika Ia menjadi manusia, eksistensi ontologis-Nya tidak menjadi dipahami sebagai eksistensi yang diciptakan. Sama sekali tidak. Kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya, ditemukan di banyak teks dalam PB. Belajar secara baik, akan menghasilkan pemahaman yang baik, asalkan tahu menggunakan logika secara tepat dan benar sesuai konteksnya.

Salam Bae

APOLOGETIKA MISI DAN MISI APOLOGETIKA: Akuntabilitas Kristen dalam Memberitakan Yesus Kristus kepada Dunia

Stenly R. Paparang

PENDAHULUAN

Bermisi adalah tugas yang melekat dalam diri orang Kristen. Sebagai perintah Tuhan yang termaktub dalam Alkitab, orang Kristen memiliki tanggung jawab yang besar untuk bermisi. Tanggung jawab tersebut perlu didukung oleh pemahaman-pemahaman yang baik dan kredibel terkait berita dari misi dan personalitas Tuhan. Dalam pemahaman saya, misi menekankan dua hal: pertama, isi berita, dan kedua, personalitas Allah yang terkandung dalam isi berita. Isi berita terkait erat dengan apa yang Tuhan kerjakan dalam sejarah, tentang apa yang Tuhan janjikan kepada umat-Nya yang percaya, tentang tanggung jawab manusia dan pola hidup yang ‘benar’ di hadapan-Nya. Sedangkan personalitas Allah membahas tentang identitas, karya, rencana, dan kehendak-Nya, secara khusus pribadi Yesus Kristus yang berinkarnasi—Firman menjadi daging [ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο, ho logos sarks egeneto]—dalam mewujudkan rencana keselamatan dari Allah bagi umat yang telah ditetapkan-Nya.

Apologetika [dari kata ἀπολογία, apologia] misi dan misi apologetika adalah dua hal yang signifikan. Pertama, karena misi (berita dan personalitas Tuhan) bersifat “pemberitaan” yang akan mendapatkan respons dari mereka yang mendengarkannya: menerima, ragu, dan menolak. Itu sebabnya, misi mengandung prinsip apologetika praktis maupun akademis, tergantung siapa yang merespons dan menanyakan iman Kristen ketika misi dijalankan (diberitakan). Kedua, mereka yang bermisi—setidaknya—memiliki sejumlah pemahaman dan pengalaman yang perlu disampaikan. Ketika mendapat respons negatif, peran apologetik, entah praktis atau akademis, seorang misionaris perlu menjelaskan berita misi dengan baik meskipun hasilnya bisa diterima, dipertimbangkan, atau ditolak. Pemahaman terkait dengan pengajaran dan prinsip-prinsip Alkitab, baik personalitas Tuhan, maupun kehendak, perintah, ketetapan, dan rencana Tuhan yang terkorelasi dengan keselamatan, prinsip kehidupan, penebusan, ketaatan, kekudusan, dan kesetiaan kepada-Nya. Pengalaman terkait dengan pola hidup Kristen dengan Tuhan. Mereka yang percaya kepada-Nya memiliki beragam pengamalan hidup bersama-Nya. Seringkali, pengalaman menjadi kekuatan bagi setiap pribadi Kristen dalam memberitakan Injil, mewartakan pribadi Tuhan, dan berusaha membawa mereka yang tertarik dengan iman Kristen. Namun, pengalaman bukanlah menjadi inti utama misi.

Dalam apologetika misi, dibutuhkan seorang Kristen yang memiliki pemahaman yang baik tentang berita Alkitab yang akan disampaikan. Sebabnya adalah adanya berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dalam gerakan misi yang dikerjakan. Penolakan-penolakan terhadap berita misi mendorong misionaris untuk mendalami berita Alkitab agar dapat memberikan jawaban yang memadai—setidaknya itulah harapan saya—sehingga para penerima misi bisa diyakinkan. Dalam misi apologetika, dibutuhkan seorang Kristen yang memiliki tanggung jawab dan komitmen dalam memberitakan Injil Yesus Kristus. Ia perlu menyatakan kebenaran tentang Yesus Kristus, menyatakan keberatan atas kesalahan tafsir atau pemahaman akan Alkitab dan Yesus Kristus, menjelaskan natur dosa, penebusan, keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus, dan terlebih, seperti yang ditegaskan Rasul Petrus bahwa seorang yang percaya perlu menunjukkan sikap hidup yang baik (1 Ptr. 3:15-16).

Bermisi akan diperhadapkan dengan berbagai hal yang bisa menjadi pendorong, penyemangat, dan pembelajaran yang baik. Dengan demikian, apologetika misi dan misi apologetika, sebagai tawaran yang saya suguhkan kepada para pembaca, kiranya dapat memberikan pembelajaran, dorongan, dan semangat dalam bermisi, memberitakan Injil, dan menjadi saksi bagi Yesus Kristus.

APOLOGETIKA MISI: MISI YANG BERAPOLOGETIKA

Di atas telah saya singgung sedikit mengenai apologetika misi. Uraian berikut ini membahas mengenai aspek-aspeknya: pertama, kondisi manusia yang berdosa; kedua, mengarahkan manusia kepada Allah; dan ketiga, mewartakan Injil [Kabar Baik], dan keempat, menjelaskan personalitas Yesus.

1. Menyampaikan Kondisi Manusia yang Berdosa

Kehidupan manusia sekarang ini—bahkan pasca Adam dan Hawa berdosa—tidak lepas dari berbagai penyimpangan, penyesatan, kesesatan, kejahatan, kedustaan, kebohongan, pembunuhan, kebencian, perseteruan, permusuhan, dendam kesumat, dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini, dalam pengamatan saya, telah menjadi semacam habit (kebiasaan) di berbagai lapisan masyarakat dan dalam kelompok agama-agama di dunia.

Agama yang dianut oleh setiap manusia, entah yang resmi maupun non resmi, memiliki serentetan ketentuan, norma [aturan] yang sifafnya mengikat dan tidak mengikat. Di dalamnya termuat bentuk-bentuk etis—normatif, larangan-larangan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, secara substansial, hal-hal tersebut masih memiliki kekurangan. Artinya, tidak ada sumber yang dipandang sebagai “pribadi” berkuasa, berdaulat, berotoritas atas kehidupan manusia dan segala tindak-tanduknya. Tidak ada pengakuan bahwa bentuk-bentuk etis—normatif, larangan-larangan, dan lain sebagainya, didasarkan atau berasal dari “Tuhan, Sang Pencipta” sebagai Pribadi yang berdaulat penuh atas hidup manusia. Walaupun ada, keyakinan akan suatu personalitas yang ‘ilahi’ didasari bukan pada penyataan melainkan pada perasaan ilahi yang ada dalam diri manusia. Meskipun agama-agama lain mungkin menolak gagasan ini, namun perlu dicatat bahwa dalam diri manusia ada benih [perasaan] ilahi yang memungkinkan manusia secara sadar mengakui adanya pribadi yang lebih berkuasa dan pencipta alam semesta.

Dalam dugaan saya, setiap agama memiliki kisah-kisah tentang “Pribadi” yang dianggap superior dibandingkan dengan manusia dan alam. Jika dugaan saya benar, maka benih ilahi dalam diri manusia menjadi sangat kuat dan faktual. Jika manusia berdosa, maka pasti ada awal di mana manusia berdosa. Mungkin, dalam berbagai kisah agama-agama dunia, menceritakan kisah tentang manusia yang berdosa dalam beragam definisi sesuai dengan geografis dan budaya dari agama itu sendiri. Akan tetapi, substansi keberdosaan manusia dalam ragam definisi memiliki kesatuan makna yaitu melakukan pelanggaran atau penyelewengan prinsip-prinsip umum yang berlaku di masyarakat (budaya dan adat) dan agama.

Setiap bentuk pelanggaran terhadap prinsip-prinsip yang berlaku di masyarakat dan agama, akan mendapatkan hukuman yang kadang setimpal, kadang tidak (kurang atau melampaui). Jika demikian, maka pesan misi Kristen memiliki korelasi yang cukup baik untuk menyampaikan kabar baik. Artinya, setiap manusia memiliki pemahaman tentang baik buruknya, jahat tidaknya sesuatu tindakan yang dilakukan oleh manusia. Dari sini kita dapat beranjak menyampaikan pesan-pesan Alkitab kepada setiap orang dengan memberikan gambaran umum soal natur keberdosaan manusia yang tak mungkin dipulihkan selama-lamanya jika Allah tidak membereskan dan menetapkan ketentuan-ketentuan untuk memperkokoh dan mengesahkannya.

Menyampaikan kondisi manusia yang telah berdosa kepada Allah, memungkinkan terbukanya peluang bagi siapa saja yang mendengarkannya, agar mereka bisa menyadari bahwa jika hidup keberdosaan mereka semakin menguasai pola dan perilaku kehidupan mereka setiap hari, maka mereka diambang kehancuran dan penghukuman Allah. Sadarkanlah manusia, betapa mereka membutuhkan Allah untuk memberikan jaminan dan sukacita tatkala Allah berkehendak memulihkan dan membangkitkan manusia dari keberdosaaan, kenajisan, dan keterpurukan mereka. Inilah jembatan pertama.

2. Mengarahkan Manusia kepada Allah

Dari jembatan pertama, misionaris melanjutkan pokok pembicaraan bahwa manusia memerlukan Allah. Ini dimaksudkan agar manusia yang sadar akan dosa dan kejahatannya di hadapan Allah untuk meminta pengampunan kepada Allah. Dialah yang mengampuni, mengasihi, menebus, dan menyelamatkan manusia dari dosa. Catatan penting di sini adalah bahwa manusia berdosa kepada Allah, Sang Pencipta dan Pemberi Hidup, sehingga tidak muncul gagasan bahwa Allah berhutang sesuatu pada manusia, tetapi justru sebaliknya, manusia berhutang kepada Allah. Allah telah menentukan bagaimana caranya agar manusia dapat ditebus, diselamatkan, dan diberi jaminan kehidupan kekal.

Mengarahkan manusia kepada Allah berarti memberi dia kesadaran penuh bahwa hanya Allah saja yang dapat diandalkan. Hanya Allah saja yang dapat membenarkan dan menguduskan dia. Hanya Allah saja yang dapat membereskan ketidakberesannya. Itu berarti, kebutuhan akan Allah menjadi semakin besar. Manusia membutuhkan Allah, sebab hanya Dia sajalah yang menjadi tempat perteduhan manusia, tempat perlindungan manusia, dan tempat manusia mendapatkan kedamaian dan sukacita abadi. Musa berdoa: “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun” (Mzm. 90:1). Pemazmur mengakui bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan: “Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan” (Mzm 9:10); “Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” (Mzm. 37:39); “… Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mzm. 46:1); “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita” (Mzm. 62:9).

Jika keyakinan kita kuat bahwa Allah adalah tempat perteduhan dan perlindungan, maka mengarahkan manusia kepada Allah tidak menjadi sebuah keraguan dalam bermisi, melainkan sebagai kekuatan dan keberanian bahwa memang Allah layak disembah dan percayai, sehingga mereka yang mendengar berita misi dapat menjadi yakin dan percaya kepada Allah yang kita beritakan.

3. Mewartakan Injil [Kabar Baik]

Aspek ini memiliki beberapa hal signifikan untuk diberitakan dalam misi Kristen sebagai bagian dari apologetika misi. Berikut penjelasannya.

Penebusan dan Pengampunan Dosa

Alkitab secara jelas memberikan pernyataan bahwa Yesus adalah Redeemer dan Dialah yang menebus, mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka serta mendamaikan. Catatan penting di sini bahwa penebusan dilakukan oleh Allah, dengan cara Allah, dengan kehendak dan kedaulatan-Nya, dan dengan ketetapan yang Ia buat. Kematian Yesus disalib adalah cara Allah menebus, sebagaimana yang tertuang dalam praktik penebusan dosa dalam Perjanjian Lama. “Darah” menjadi emblem yang sangat kuat serta merupakan “sarana” bagi Allah dalam menebus. Allah berhak menebus dan menentukan cara menebus, sebab manusia berdosa kepada Allah. Berikut teks-teks bukti tentang karya penebusan Yesus Kristus.

1 Korintus 1:30, Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita; δικαιοσύνη τε καὶ ἁγιασμός, καὶ ἀπολύτρωσις; dikaiosunē te kai hagiasmos, kai apolutrōsis).

Galatia 3:13, Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat; Χριστὸς ἡμᾶς ἐξηγόρασεν ἐκ τῆς κατάρας τοῦ νόμου; Khristos hēmas eksegorasen ek tēs kataras tou nomou.

Galatia 4:5, Ia diutus untuk menebus mereka; ἵνα τοὺς ὑπὸ νόμον ἐξαγοράσῃ [dari kata ἐξαγοράζω yang berarti redeem]; hina tous hupo nomon eksagorasē.

Ibrani 9:15, … sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran…. (kata ‘menebus’ digunakan kata ἀπολύτρωσιν [apolutrōsin] dari kata ἀπολύτρωσις [apolutrōsis] release [membebaskan, melepaskan, Ibr. 11:35]; redemption [literal ‘buying back’], deliverance [pembebasan, pelepasan], acquittal [pembebasan], ransoming [menebus], bdk. Luk. 21:28; Rm. 3:24; 8:23; Ef. 1:7; Ibr. 9:15).

Matius 20:28, … untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Lih. Markus 10:45 dan 1 Timotius 2:6). Kata ‘tebusan’ digunakan kata λύτρον [lutron] yang berarti price of release (harga atau hadiah kelepasan atau pembebasan), ransom [(uang) tebusan](bdk. Mat. 20:28; Mrk. 10:45.

Roma 3:24, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus; δικαιούμενοι δωρεὰν τῇ αὐτοῦ χάριτι διὰ τῆς ἀπολυτρώσεως τῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ [dikaioumenoi dōrean tē autou khariti dia tēs apolutrōseōs tēs en Khristō Iesou]. ‘Penebusan’ menggunakan kata ἀπολύτρωσις.

Efesus 1:7, Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya. Ἐν ᾧ ἔχομεν τὴν ἀπολύτρωσιν διὰ τοῦ αἵματος αὐτοῦ, τὴν ἄφεσιν τῶν παραπτωμάτων, κατὰ τὸ πλοῦτος τῆς χάριτος αὐτοῦ. En hō ekhomen tēn apolutrōsin dia tou aimatos autou, tēn aphesin tōn paraptōmatōn, kata to pluotos tēs kharitos autou.

Kolose 1:14, di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. ἐν ᾧ ἔχομεν τὴν ἀπολύτρωσιν, τὴν ἄφεσιν τῶν ἁμαρτιῶν. En hō ekhomen tēn apolutrōsin, tēn aphesin tōn hamartiōn.

1 Petrus 1:18-19, Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia…. kata ‘ditebus’ digunakan kata ἐλυτρώθητε dari kata λυτρόω[lutroō] yang berarti free by paying a ransom, redeem.

2 Korintus 5:18, Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan [καταλλάσσω] kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

2 Korintus 5:19, Sebab Allah mendamaikan [καταλλάσσω, reconcile] dunia dengan diri-Nya oleh Kristus…

Ibrani 2:17, Itulah sebabnya … Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan [ἱλάσκομαι, propitiate (propisiasi), be merciful, expiate] dosa seluruh bangsa.

Matius 26:28, Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan [ἄφεσις] dosa. Kata aphesis [ἄφεσις] berarti remission (pengampunan), release (pembebasan, kelepasan), pardon (pengampunan), forgiveness of sins.

Kisah Para Rasul 2:38, … Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan [ἄφεσις] dosamu….

Kisah Para Rasul 10:43, Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan [ἄφεσις] dosa oleh karena nama-Nya.

Kolose 1:14, di dalam Dia kita memiliki penebusan [ἀπολύτρωσις] kita, yaitu pengampunan [ἄφεσις] dosa.

Matius 9:2, … berkatalah Ia [Yesus] kepada orang lumpuh itu: ‘Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni [ἀφίημι].”

Terkait dengan penebusan dan karya Yesus Kristus, Herman Bavink menjelaskan,

Perjanjian Baru memandang kematian Kristus sebagai persembahan korban dan penggenapan kultus persebahan korban Perjanjian Lama. Ia adalah persembahan korban kovenan sejati; sama seperti kovenan lama diteguhkan oleh persembahan korban kovenan (Kel. 24:3-11), maka darah Kristus adalah darah kovenan baru (Mat. 26:28; Mrk. 14:24; Ibr. 9:13). Kristus adalah korban (thusia, zebaH), korban bagi dosa-dosa kita (Ef. 5:2; Ibr. 9:26; 10:12), suatu persembahan (prosfora, dōron, minHäh qorBän; Ef. 5:2; Ibr. 10:10, 14, 18); suatu tebusan (lytron, antilytron); Mat. 20:28; Mrk. 10:45;; 1 Tim. 2:6; terjemahan dari kata-kata Ibrani Ge’ulläh, Pedûyim, Köper, dan dengan demikian bermakna harga bagi pembebasan, tebusan untuk membeli kebebasan seseorang dari penjara, dan dengan demikian adalah alat pendamaian, persembahan korban yang dengannya dosa orang lain ditutupi sehingga menyelamatkan mereka dari kematian (Herman Bavink, Dogmatika Reformed, 417).

Penebusan berarti “pembebasan”, “pelepasan”, “pendamaian”, “pembayaran”, “penjaminan”, dan “pemeliharaan”. Yesus melakukan itu semua melalui kematian-Nya. Rasul Petrus meneguhkan, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus [λυτρόω (lutroō), free by paying a ransom, redeem] dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah [αἷμα, aima] yang mahal [τίμιος (timios), valuable, precious, costly, of great worth or value], yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat [ἄμωμος (amōmos), unblemished, blameless] (1 Ptr. 1:18-19). Penebusan melalui ‘media’ darah adalah penebusan yang merupakan ketentuan yang ditetapkan Allah dalam PL.

Keselamatan dan Kehidupan Kekal

Semua manusia yang dalam kedaulatan Allah ditebus melalui Yesus Kristus, diberikan jaminan keselamatan yakni kehidupan kekal. Kehidupan kekal menandakan bahwa mereka yang diselamatkan akan bertemu dengan “Sang Pemberi Keselamatan”. Ini adalah sukacita yang sangat besar bagi mereka yang diselamatkan. Kehidupan perlu dipahami sebagai bagian dari keselamatan di mana Allah, sebagai Pemrakarsa Penebus, Penyelamat, dan Pemberi Keselamatan kepada mereka yang dikehendaki-Nya. Mereka yang diselamatkan dan yang akan menerima kehidupan kekal, adalah mereka yang telah ditebus dan diampuni oleh Allah. Allah tahu siapa yang Dia tebus dan ampuni. Keselamatan tidak didasari pada setiap manusia yang bertobat sehingga Allah masih tetap membuka peluang kepada setiap orang yang bertobat dan dimasukkan (dalam sejarah sebagai peneguhan rencana-Nya) ke dalam keselamatan-Nya. Keselamatan yang dinyatakan Alkitab adalah keselamatan sesuai dengan rencana Allah, sesuai kedaulatan-Nya untuk memilih siapa yang diselamatkan berdasarkan pemilihan-Nya. Keselamatan tidak dipahami sebagai peluang manusia untuk masuk ke dalam rencana Allah, tetapi keselamatan adalah rencana Allah yang masuk ke dalam kehidupan manusia yang ingin Ia selamatkan berdasarkan ketetapan-Nya yang kekal (bdk. Rm. 8:29-30).

Allah sendiri mempertunjukkan bahwa diri-Nya adalah sumber keselamatan dan pemberi jaminan keselamatan sebagaimana PL menegaskannya (lih. Yes. 49:6; 53:1-12). Zakharia bernubuat (Luk. 1:67-71): “Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu … untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka.” Rasul Petrus menegaskan (Kis. 4:12): “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Keselamatan yang Tuhan berikan berdampak pada penerimaan kehidupan kekal. Mereka yang percaya kepada Tuhan akan menerimanya. Nabi Daniel menyatakan: “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan. 12:2). Rasul Yohanes adalah rasul yang paling banyak menyinggung soal hidup kekal (ζωή αἰώνιος, zōē aiōnios). Berikut ayat-ayatnya:

“… setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal [ζωή αἰώνιος] (Yoh 3:15)

“… setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16)

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal….” (Yoh. 3:36)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum….” (Yoh. 5:24)

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu….” (Yoh. 6:27)

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal….” (Yoh. 6:40)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh. 6:47)

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh. 6:54)

“dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:28)

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25)

“… Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya” (Yoh. 17:2)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3)

“Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal” (1 Yoh. 2:25)

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya” (1 Yoh. 5:11)

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1 Yoh. 5:13)

“… Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (1 Yoh. 5:20)

Dalam teks-teks lainnya juga meneguhkan bahwa yang telah ditetapkan Allah akan menerima kehidupan kekal:

“…dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (Kis. 13:48)

“… setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm. 6:22)

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23)

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Gal. 6:8)

“supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (Tit. 3:7)

“Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal” (Yud. 21)

Jaminan kehidupan kekal dari Allah sebagai bukti bahwa Allah serius mengasihi, menebus, dan menyelamatkan manusia. Kasih Allah tercurah melalui inkarnasi, penderitaan, penyaliban, kematian, kebangkitan, dan kenaikan [ke surga] Yesus. Sebagai orang percaya, bermisi adalah wujud tanggung jawab yang kuat karena kita telah dikasihi, ditebus, dan diselamatkan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Berita inilah yang patut dikabarkan dan juga, pribadi Allah sebagai Sang Penyelamat patut pula diberitakan sebagai pendamping dari berita keselamatan manusia dari dosa-dosa.

Memberitakan Kristus: Menjelaskan Personalitas-Nya

Tugas misi yang paling utama adalah memberitakan Kristus. Memberitakan Kristus berarti menyatakan “apa diri-Nya” dan “apa karya-Nya”. Rasul Paulus dan rekan-rekannya telah melakukan penginjilan sebagai misi utama, dan dalam misi tersebut mereka “memberitakan Kristus”. Filipi 1:15-16 dan 1 Korintus 1:23 adalah wujud dari tugas ini.  Filipi 1:15-16, “Ada orang yang memberitakan Kristus [τὸν χριστὸν κηρύσσουσιν] karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil.” 1 Korintus 1:23, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan [ἡμεῖς δὲ κηρύσσομεν Χριστὸν ἐσταυρωμένον]: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Kata ‘memberitakan’ digunakan kata κηρύσσω [kērussō] yang berarti proclaim aloud [memproklamirkan, menyatakan dengan suara keras], announce [mengumumkan, mempermaklumkan, memberitahukan], mention publicly [mengatakan di depan umum], preach [mengajarkan] most often in reference to God’s saving action (Mat. 10:27; Mrk. 1:4, 39, 45; 5:20; 7:36; 13:10; Luk. 8:39; 9:2; 12:3; 24:47; Kis. 15:21; Rm. 2:21; 1 Kor. 9:27; 15:12; 2 Kor. 4:5; Gal. 2:2; 5:11; 1 Tes. 2:9; 2 Tim. 4:2; Why. 5:2. Proclaim victory [menyatakan kemenangan] 1 Ptr. 3:19. Memberitakan [tentang] Kristus berarti mempermaklumkan di depan umum dengan penuh keberanian dan kesalehan serta menyatakan bahwa mereka yang percaya kepada Kristus diberikan kemenangan atas dosa dan belenggu kejahatan diputuskan. Akuntabilitasi ini menjadi sangat penting sebab iman yang diberikan kepada kita perlu diterapkan ke dalam tingkah laku misi untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Poin utamanya adalah ‘tentang’ Yesus. Elaborasi berikut ini merupakan bagian integral dari tugas ‘memberitakan Kristus’. Tujuan κηρύσσω adalah mewujudkan iman kita melalui perkataan, percakapan, teladan, dan pikiran ke dalam ‘siklus kehidupan’. Memberitakan Kristus didahului dengan pengenalan dan pengudusan Kristus dalam hidup seseorang (bdk. 1 Ptr. 3:15). Ketika seseorang telah mengenal dan menguduskan Kristus, maka ia juga telah menjadi ‘percaya’ sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Jaminanya adalah seperti yang ditegaskan Rasul Yohanes: Siapakah yang mengalahkan [νικάω] dunia, selain dari pada dia yang percaya [πιστεύω], bahwa Yesus adalah Anak Allah? [υἱὸς τοῦ θεοῦ] (1 Yoh. 5:5). Orang percaya dapat mengalahkan dunia. Ini keyakinan kita. Mengalahkan dunia dengan iman kita. Iman itu adalah percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Tentu, tidak menutup kemungkinan bahwa ada tantangan dalam ‘memberitakan Kristus’. Dalam konteks global, personalitas Yesus menjadi sorotan utama dalam pemahaman keagamaan Kristen. Hampir semua agama yang menyoroti Kristen, selalu berkutat dan berporos pada personalitas Yesus. Agama yang paling sering mengumandangkan personalitas Yesus adalah Islam. Dalam catatan quran, pribadi Yesus [Isa Almasih] adalah pribadi yang cukup disinggung. Akan tetapi, meski banyak disinggung, gambaran Islam tentang Isa agak berbeda. Perbedaan ini muncul dalam sejumlah kisah yang menurut saya sebagai ahistoris sebab kisah tersebut tidaklah bersumber dari catatan historis melainkan hanya berasal atau bersumber dari tradisi lisan atau folklor (cerita rakyat). Mengapa demikian? Sebab Alkitab telah selesai mengalami kanonisasi pada abad ke-4 sehingga Alkitab telah beredar di zaman sebelum Muhammad ada di dunia.

J. N. Birdsall, profesor Perjanjian Baru dan Kritik Tekstual menjelaskan,

Abad ke-4 terlihat penetapan kanon dalam batas-batas yang kita kenal, baik bagi umat kristiani di bagian barat maupun di bagian timur. Di timur pokok yang menentukan ialah Surat Paskal ke-39 dari Atanasius pada thn 367. Di sini untuk pertama kali dijumpai satu PB dengan batas-batas terperinci seperti yang kita kenal. Ada perbedaan yang jelas antara tulisan-tulisan dalam kanon yang disebut sebagai satu-satunya sumber pengajaran agama, dan tulisan-tulisan lain yang boleh dibaca, yakni Didakhe (Pengajaran) dan Shepherd (Gembala). Kitab-kitab Apokrifa yang bidaah disebut sebagai pemalsuan-pemalsuan yang dengan sengaja bertujuan menyesatkan orang. Di dunia barat kanon ditetapkan oleh keputusan konsili di Kartago pada thn 397, ketika sebuah daftar yang sama seperti daftar Atanasius disetujui. Kira-kira pada zaman yang sama sejumlah penulis Latin menaruh perhatian terhadap batas-batas kanon PB: Priscilian di Spanyol, Rufinus dari Aquileia di Gaul, Agustinus di Afrika Utara (yang pandangannya memberi sumbangan bagi keputusan-keputusan di Kartago), Innocentius I, uskup Roma, dan penulis Keputusan Pseudo-Gelasius. Semua itu mempunyai pandangan yang sama (J. N. Birdsall, “Kanon Perjanjian Baru”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, 508).

Implikasinya jelas, berdasarkan kanonisasi Alkitab secara lengkap di abad ke-4, umat Kristen di tanah Arab memiliki Kitab Suci yang baku, dan pemahaman Muhammad tentang Isa telah bercampur aduk dengan tradisi-tradisi (cerita-cerita) yang berkembang di wilayah Arab dan sekitarnya termasuk menerima serapan ajaran dari bidat-bidat Kristen. Oleh sebab itu, gambaran Isa dalam quran tidaklah mewakili gambaran Yesus dalam Perjanjian Baru (PB). Bahkan, menurut saya, Isa dalam quran tidaklah menambahkan “apa-apa” bagi Yesus versi PB sebab sangat kontradiksi. Pemahaman Isa dalam quran sangatlah “kerdil”—tetapi justru pihak apologet Islam yang paling banyak bicara Isa menurut versi cerita-cerita rakyat dalam quran, dan bukan versi Alkitab PB. Jelas keduanya berbeda meski merujuk pada pribadi yang sama. Kita tidak dapat menerima dua sumber tentang Isa di mana kedua sumber tersebut saling kontradiksi. Hal ini memicu pemahaman yang beragam di kalangan kedua agama tersebut. Itu sebabnya, menjelaskan personalitas Yesus perlu didasarkan pada catatan historis PB dan bukan catatan ahistoris quran.

Meskipun demikian, kita memiliki “jembatan” penghubung untuk menjelaskan personalitas Isa versi quran dan Yesus versi PB. Setidaknya, ada beberapa data quran yang bersimilaritas dengan PB. Namun, hal itu bukan berarti bahwa kita menerima quran sebagai firman Allah, melainkan hanyalah dipandang sebagai catatan-catatan pemikiran atau pandangan teologis Muhammad dan para pengikutnya. Di sisi lain, kita juga memiliki jembatan untuk menghubungkan pemahaman Mesias versi Kristen dan Mesias versi Yudaisme. Jembatan tersebut adalah Kitab Ibrani (atau Perjanjian Lama). Bergelut dengan pemahaman “Mesias”, Yudaisme dan Kristen memiliki “sumber” yang sama. Hanya persoalannya adalah ‘tafsir’ terhadap gagasan mesianik dalam PL (akan saya jelaskan di bagian tersendiri).

Perbedaan antara Kristen dan Islam dalam hubungannya dengan Yudaisme adalah:

Pertama, Kristen menerima Kitab Suci Yudaisme secara penuh dan mengakui otoritasnya. Soal disparitas tafsir, itu biasa. Kristen tidak mengubah apa-apa dari Kitab Suci Yudaisme. Justru pemahaman PB terkait dengan PL. Kekuatan inilah yang memungkinkan Kristen dapat menjadi agama yang tangguh dan kredibel dalam memahami “historical redemption”.

Kedua, Yudaisme tidak menerima PB apalagi menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Pemahaman mereka berangkat dari ‘kematian’ Yesus disalib yang merupakan lambang kekalahan Mesias. Bagi mereka, Mesias adalah pemimpin perang yang akan membebaskan mereka dari penjajahan. Yesus tidak masuk hitungan mereka. Dalam tulisan apokaliptik Yahudi, ada tiga sumber yang menunjukkan kesamaan dalam hal Mesias:

1 Henokh, 4 Ezra (= 2 Esdras), dan 2 Barukh. 1 Henokh berasal dari abad ke-1 SM dan dikutip di Yudas 14. Topik yang dibahas di kitab ini meliputi pribadi dan tugas Mesias, orang benar yang tinggal selama-lamanya bersama Allah, Mesias dan para malaikat-Nya. Kitab ini menguatkan orang percaya yang menantikan kedatangan Mesias. 4 Ezra (= 2 Esdras) ditulis setelah kehancuran Yerusalem, selama pemerintahan Domitianus. Kitab ini merefleksikan pesimisme hidup orang Yahudi, namun melukiskan pemeritahan Mesias, penghakiman yang akan datang, dan pembangunan kembali Yerusalem Baru. Kitab ini merujuk Mesias yang menghakimi, menghancurkan musuh, dan mengumpulkan suku-suku Israel. 2 Barukh disusun setelah hancurnya Yerusalem dan berisi konsep masa depan yang optimis. Penulis melihat pemerintahan Mesias, penghakiman yang akan memuji orang benar dan menghukum orang jahat, kebangkitan, bumi baru, dan Yerusalem surgawi (Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 53).

Meski pemahaman tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi dikaitkan dengan tulisan Rasul Yohanes yakni kitab Wahyu, namun poinnya adalah pemahaman Yahudi tentang Mesias sangatlah kuat. Setidaknya, selain dari Kitab Ibrani (PL), mereka memiliki referensi lain tentang personalitas Mesias sebagaimana tampak dari penjelasan Kistemaker. Di sisi lain, gambaran Mesias Kristen memiliki referensi dari kitab-kitab Yahudi (Kitab Ibrani). Pengharapan Mesias masih dinantikan oleh umat Yahudi. Bahkan pasca Yesus naik ke surga, dua kitab di atas (4 Ezra dan 2 Barukh) ditulis sekitar tahun 70-an M, di mana di dalamnya ada pengharapan akan Mesias.

Ketiga, Yudaisme juga menolak quran sebagai firman Allah sebab menurut Reuven Firestone, quran memuat kisah-kisah berdasarkan folklorisme (Lihat Reuven Firestone, “Jewish Culture in the Formative Period of Islam”, dalam David Biale (ed.), Cultures of the Jews: A New History, [New York: Schocken Books, 2002]). Menurutnya, “Many of these stories, therefore, like their Jewish or Christian bearers, became ‘Arabized’ as they blended into the local topography and folklore traditions. As a result, uniquely Arabian legends began to emerge that reflected both the biblical and the indigenous heritages” (Firestone, “Jewish Culture in the Formative Period of Islam”, dalam Biale [ed.], Cultures of the Jews: A New History, 273).

Terkait dengan ulasan Firestone, saya menulis salah satu artikel dengan topik “Dialog Al-Qur’an dan Alkitab” yang mengomentari pendapat Firestone:

kandungan historis yang diungkapkan Firestone menegaskan bahwa kisah-kisah tersebut (cerita -cerita Alkitab yang beredar di kalangan orang-orang Yahudi dan Kristen yang tinggal di wilayah Arab di mana mereka juga turut membagikannya kepada masyarakat sekitarnya) memang bersumber dari Yahudi dan Kristen, namun sudah dikemas dalam bentuk ‘Arabisasi’ yang sudah tercampur dengan folklore atau tradisi lokal. Jelas apa yang diungkapkan Firestone bahwa kaum Yahudi dan Kristen mencapurkan cerita rakyat atau tradisi lokal mereka sehingga menyerap ke dalam cerita-cerita Arab yang mencerminkan data biblikal dan warisan adat setempat (Paparang, “Dialog Al-Qur’an dan Alkitab: Sebuah Kolase dan Klarifikasi Wahyu Allah atas Klaim Pemalsuan Alkitab, dalam Kasih Karunia Yesus Kristus, 253).

Muhammad banyak dipengaruhi oleh ‘cerita-cerita’ tersebut dan kemudian pengikutnya menjadikan ‘kitab suci’ tandingan dengan kandungan unsur Kitab Suci Yahudi dan Kristen termuat di dalamnya. Tetapi secara historis berkontradiksi. Alasannya sederhana saja: Yahudi dan Kristen ‘telah’ memiliki Kitab Suci baku, dan tak mungkin dipalsukan. Kitab Suci Yahudi dan Kristen telah menjalani proses panjang dan diakui otoritasnya sehingga quran yang dipandang sebagai ‘firman Allah’ oleh pengikut Muhammad, tidak lebih dari bentuk pemalsuan historis dan doktrinal.

Keempat, Islam tidak menerima Kitab Suci Yahudi dan Kristen sebagai ‘firman Allah’ sebab dengan menerimanya, maka mereka sedang membenturkan diri mereka sendiri. Kandungan biblika dalam quran lebih banyak namun telah mengandung distorsi historis yang cukup masiv (percampuran cerita yang carut-marut). Meski ketiganya mengakui Abraham [Ibrahim] sebagai Bapak Leluhur, namun konsepsi pemahaman tentang ‘Tuhan’ sangatlah berbeda.

Setidaknya, dari konflik internal dan eksternal yang dialami oleh Yudaisme, Kristen, dan Islam, kita masih memiliki ‘jembatan’ untuk menghubungkan narasi historis tentang ‘kasih dan rahmat Tuhan’ yang luar biasa bagi manusia berdosa. Persoalannya, cara menebus dan mengampuni dosa, ketiganya berbeda. Namun elaborasi berikut ini saya fokuskan pada penjelasan tentang personalitas [identitas] Yesus, sedangkan karya-karya-Nya telah saya jelaskan di atas. Perlu diketahui bahwa menjelaskan personalitas Yesus Kristus bersifat signifikan, mengingat personalitas Yesus begitu popular di berbagai kalangan termasuk kalangan akademisi. Ini juga terkait dengan tugas sebagai pemberita Injil dan sebagai orang percaya untuk ‘mengalahkan dunia’ [ὁ νικῶν τὸν κόσμον] yakni dengan mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Tugas misi kita adalah memproklamirkan [κηρύσσω] identitas dan personalitas Yesus kepada dunia, sebab dalam apologetika misi, hal ini bersifat krusial.

Anak Allah

Sebutan atau gelar “Anak Allah” sering salah dipahami. Umumnya, orang berpikir bahwa gelar Anak Allah mengindikasikan bahwa Allah punya Anak yang bernama Yesus. Jika demikian, siapa istri Allah? Orang kemudian berkesimpulan bahwa Maria adalah istri Allah. Hal inilah yang kemudian dipahami secara gegabah oleh kaum Muslim dengan menyatakan: “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Bahkan ada yang mengatakan: ‘Jika Yesus anak Tuhan, bidannya siapa?” atau dalam bahasa yang lebih keren sedikit: “kalau Tuhan beranak, yang jadi bidannya siapa? Keduanya memiliki indikasi yang sama. Ketika Yesus disebut Anak Tuhan, maka siapa yang melayani persalinannya? Kira-kira demikian implikasi dari pernyataan tersebut.

Dalam pandangan saya, model statement seperti di atas masuk dalam kategori ‘celoteh jalanan’ sebab mereka yang berpandangan dan memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] berdasarkan konotasi biologis sebenarnya tidaklah memahami data dan konteks dari gelar tersebut. Ketika mereka mengatakan “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”, maka sebenarnya pernyataan tersebut sedang menegaskan bahwa: Allah Islam tidak beranak secara biologis. Ketika pernyataan itu dilekatkan kepada Yesus sebagai Anak Allah, maka Islam, dengan teori mereka menganggap bahwa Allah Kristus “beranak” secara biologis. Jika anggapan ini benar di mana gagasan bahwa “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan” dituduhkan kepada Kristen, maka Islam sedang melakukan straw man—sebuah jenis kesesatan logika di mana standar iman Islam tersebut mau mengukur standar Kristen yang secara substansial berbeda. Kesimpulannya, kritik Islam “salah tempat”. Allah Islamlah yang ‘tidak beranak’ secara biologis (sesuai dengan pemahaman mereka) sedangkan Allah Kristen ’memiliki’ Anak bukan dengan cara biologis melainkan dengan cara ‘keluar’ dan ‘diperanakkan’. Allah itu roh, maka memahami bahwa Allah beranak secara biologis sudah salah. Kata ‘diperanakkan’ bukan mengindikasikan bahwa Allah beranak seperti dalam pemahaman Islam, melainkan istilah tersebut mengacu kepada natur ‘kemanusiaan’ Yesus dalam inkarnasi-Nya. Istilah ‘keluar’ merujuk kepada ‘sumber’ di mana Anak [Yesus] keluar. Itu berarti, substansi Anak sama dengan sumber di mana Ia ‘keluar’. Ini adalah salah satu indikasi keilahian Yesus.

Kelemahan Islam adalah terlalu memaksakan gagasan mereka kepada doktrin inkarnasi Yesus, padahal landasan pemikirannya jelas berbeda. Islam tak mungkin memiliki pemahanan yang solid, valid, dan kredibel tentang personalitas Yesus sejauh landasan pijaknya didasari pada data quranik. Data quranik, seperti yang saya jelaskan di atas bukanlah data historis melainkan ahistoris (bersumber dari tradisi lisan atau folklor). Jika Islam masih berkeras hati untuk memaksakan prinsip tersebut ke dalam doktrin Kristen, maka Islam sedang melakukan “masturbasi teologi”—berpuas diri dengan doktrinnya yang tidak ada kaitan dengan doktrin Kristen. Beda sumber beda landasan. Beda historis beda pemikiran dan rumusan doktrinnya.

Memahami Yesus sebagai “Anak Allah” dengan penekanan pada unsur biologis bukanlah maksud dari Alkitab. Doktrin Kristen sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Yang memahami “Allah bisa beranak secara biologis” adalah doktrin Islam yang tak pantas dilekatkan pada pemahaman “Anak Allah” dalam doktrin Kristen. Ada dua hal yang perlu dipahami di sini. Pertama, istilah ‘beranak’ seolah-olah manusia menekankan aspek biologis. Padahal, Allah tidaklah dipahami secara fisik. Allah itu Roh. Jadi tidak ada bukti apa pun di dunia ini bahwa Roh bisa beranak. Dengan demikian, Allah Kristen tidak beranak. Kedua, Allah beranak dan Allah memiliki Anak adalah dua hal yang berbeda. Allah memiliki Anak bukanlah dengan cara biologis sebagaimana yang selama ini disalahpahami oleh mereka yang menolak gagasan Anak Allah dilekatkan pada Yesus Kristus. Allah memiliki Anak dengan cara yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipahami oleh manusia yang menekankan aspek biologis. Istilah tersebut adalah istilah antara. Kata “Anak” mewakili manusia dan kata “Allah” mewakili Allah sendiri. Penggabungan dua istilah ini dapat dipahami sejauh seseorang memahaminya dalam bingkai historical redemption. Penolakan istilah “Anak Allah” berangkat dari ketidakmengertian seseorang akan cara Allah menebus manusia dari dosa mereka dengan apa yang telah Ia tetapkan. Tentunya, memahami perkara ini bukan berangkat dari gagasan manusia terhadap apa yang Allah perbuat, melainkan berangkat dari Allah yang melakukan perbuatan-Nya bagi manusia dalam rangka penebusan. Ketika hal ini dipahami, maka berita dari misi Kristen akan—mungkin—dengan mudah dipahami. Misi Kristen adalah membawa manusia yang belum mengenal Yesus untuk mengenal Dia dan apa yang Ia lakukan bagi manusia dan masa depan manusia. Perjanjian Baru menyebutkan pengakuan Yesus sebagai ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] didasarkan pada sejumlah sumber. Perlu dicatat bahwa dalam PB frasa υἱὸς τοῦ θεοῦ memiliki kekayaan makna. Berikut ini adalah teks-teks bukti tentang sebutan υἱὸς τοῦ θεοῦ bagi Yesus.

Pengakuan Iblis [διάβολος]

Matius 4:3, 6, Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” [καὶ προσελθὼν ὁ πειράζων εἶπεν αὐτῷ· εἰ υἱὸς εἶ τοῦ θεοῦ, εἰπὲ ἵνα οἱ λίθοι οὗτοι ἄρτοι γένωνται – kai proselthōn ho peirazōn eipen autō. Ei uios ei tou Theou, eipe hina oi lithoi outoi artoi genōntai]. Lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” (ayat-ayat paralelnya dalam Lukas 4:3, 9). Meskipun teks-teks di atas tidak secara gamblang menyatakan pengakuan Iblis tentang Yesus sebagai υἱὸς τοῦ θεοῦ namun hal tersebut dipahami sebagai pengakuan negatif yang dirancang Iblis untuk membuktikan secara terbalik. Perlu dicatat di sini adalah bahwa Yesus sama sekali tidak memenuhi semua permintaan Iblis. Mengapa? Kita perlu melihat siapa penuturnya. Iblis adalah penutur untuk mencobai Yesus. Iblis itu tidak bisa dipercaya. Jadi mustahil Yesus mendengarkan tantangan atau pencobaan Iblis. Namanya juga ‘si pencoba’, berarti ia hanya mau mencoba dan kata-katanya tidak bisa dipercaya. Yesus tahu siapa penuturnya. Yesus tahu apa motif di balik tawaran-tawaran Iblis. Itu sebabnya, dalam tiga kali pencobaan Iblis, Yesus sama sekali tidak memenuhi permintaannya. Yang ‘tidak bisa dipercaya’, jangan dipercaya. Itulah inti dari kisah pencobaan Iblis terhadap Yesus.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai percakapan Iblis dengan Yesus dan kesimpulannya.

Pencobaan Pertama

Pernyataan Iblis: Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.

Jawaban Yesus: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Kesimpulan: Pembuktian bahwa Yesus adalah Anak Allah, dalam pandangan Iblis, adalah mengubah batu-batu menjadi roti. Yesus menjawabnya dengan mengarahkan Iblis untuk melihat Firman yang telah disampaikan TUHAN (dalam PL). Artinya, dasar memahami personalitas Yesus haruslah didasari pada data Firman TUHAN. Yesus bukanlah menjadi Anak Allah ketika Ia mengubah batu-batu menjadi roti. Iblis menggunakan materi bahan makanan [roti] karena Yesus sedang lapar. Di sini, jika Yesus menuruti perintah Iblis, maka Yesus bukanlah Anak Allah. Ini disebut dengan “pembuktian terbalik” yang dirancangkan Iblis.

Jadi, pembuktian mengubah batu-batu menjadi roti justru melemahkan identitas Yesus sebagai Anak Allah karena tiga hal: pertama, ke-Anak Allah-an Yesus bukan ditentukan oleh diri-Nya sendiri melainkan melalui Iblis yang menyodorkan batu-batu untuk dijadikan roti; kedua, ketika Yesus menjadikan batu-batu menjadi roti, maka Yesus ‘tunduk’ pada Iblis (yang memerintah-Nya) dan implikasinya adalah identitas ‘Anak Allah’ yang dilekatkan pada Yesus pasca Dia menjadikan batu-batu jadi roti bukanlah didapatkan dari diri-Nya sendiri melainkan dari Iblis; dan ketiga, penolakan Yesus atas perintah Iblis membuktikan bahwa Dia tidak layak diperintah oleh Iblis. Sebagai Anak Allah, Ia menunjukkan bahwa perintah Iblis bukanlah apa-apa sebab Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Iblis hanyalah semata-mata mau mencobai bukan dengan maksud meneguhkan keilahian Yesus melainkan justru merendahkan-Nya.

Akan tetapi, Yesus juga membuktikan secara terbalik (kontra Iblis) dengan menegaskan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Artinya, tanpa “makan roti pun” Aku [Yesus] bisa hidup karena “Aku adalah Anak Allah.” Metode “pembuktian terbalik” sering digunakan oleh para penentang ketuhanan Yesus. Mereka—sama halnya dengan Iblis—ingin meminta bukti layaknya Iblis meminta bukti, bahwa “Jika Yesus mengakui dari mulut-Nya sendiri bahwa: ‘Aku [adalah] Allah’, maka Yesus berstatus Allah”. Jadi, penentuan identitas ke-Allah-an Yesus bukanlah berasal dari diri-Nya sendiri melainkan dari mereka yang ‘memasang’ perangkap pembuktian terbalik. Dalam pemikiran mereka, metode ini digunakan karena Alkitab tidak menyebutkan pengakuan demikian. Jadi, mereka seolah-olah yang menentukan apakah Yesus akan jadi Allah atau tidak berdasarkan standar yang mereka tetapkan. Perlu dicatat bahwa identitas Yesus tidaklah diukur dengan cara demikian. Ia memiliki sejumlah alasan untuk membuktikan identitas keilahian, ke-Tuhan-an, dan ke-Allah-an-Nya.

Model ini sangat lemah karena mengukur ketuhanan Yesus ‘hanya dari’ pengakuan personal [dari mulut saja]. Padahal, mengukur dan memahami ketuhanan Yesus tidak hanya didasari pada pengakuan tunggal melainkan dari sumber-sumber lainnya sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini. Sangat jelas bahwa model tersebut tidak memenuhi standar sebuah kebenaran sebab kebenaran tidak hanya diukur dari standar tunggal melainkan dari serentetan standar [tergantung jenis] kebenaran. Sebut saja dalam kasus di pengadilan. Setiap kasus setidaknya mempunyai ‘saksi’. Jika Yesus adalah ‘Anak Allah’, maka kita perlu melihat para saksi lain yang menyatakan bahwa Dia adalah ‘Anak Allah’ yang berimplikasi pada ketuhanan-Nya.

Pencobaan Kedua

Pernyataan Iblis: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

Jawaban Yesus: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Jawaban Yesus juga dibuktikan dengan mengutip Firman dalam Ulangan 6:16, “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.” Yesus mengambil contoh kisah tentang Israel di Masa dan Meriba (Kel. 17:1-7). Dari kisah tersebut, Yesus membalas pernyataan Iblis dengan mengatakan bahwa jangan mencobai Tuhan, Allahmu.

Dalam anggapan saya—Yesus sedang mengatakan kepada Iblis: “Kamu siapa yang berhak memerintah Saya? Gelar Anak Allah yang ada pada diri-Ku bukan akan ‘ada’ dan ‘dibuktikan’ karena Saya melompat dan ditatang oleh para malaikat.” Bukan hak kamu untuk membuktikan Saya adalah Anak Allah tetapi dari diri-Ku sendiri. Kamu tak berhak sama sekali untuk membuktikannya.

Menyimak pernyataan Yesus di atas bahwa “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu”, maka pertanyaannya: siapa yang dimaksudkan dengan “Tuhan, Allahmu?” Sangat mungkin Yesus menunjuk pada diri-Nya sebagai Tuhan dan Allah di mana Iblis harus takluk dan tunduk pada-Nya, bukan memerintah-Nya dan mengaturnya sesuka hati. Arti lain bahwa Ia sedang menyatakan kesetaraan-Nya dengan Allah dalam PL, dan pula Yesus sedang merujuk kepada Bapa-Nya sebagai ‘sumber’ dari mana Ia datang dan keluar. Ini berarti selaras dengan arti yang kedua. Arti yang pertama bahwa: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu” merujuk pada diri-Nya sendiri karena konteksnya adalah Iblis sedang mencobai Yesus untuk membuktikan apakah Ia Ilahi [Anak Allah] atau tidak. Karena alasan inilah, maka saya berpendapat bahwa Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan dan Allah secara implisit—kontekstual. Arti yang kedua sebagai pembuktian bahwa Yesus sedang menyatakan distingsi antara Ia dan Bapa-Nya (dalam PL) sebagaimana PL sering menyatakan adanya suatu distingsi keilahian dari pribadi-pribadi kekal (misalnya Roh Kudus dan Malaikat TUHAN). Arti yang ketiga merujuk pada natur inkarnasi Yesus di mana dalam posisi sebagai manusia, Ia merujuk pada Bapa-Nya sebagai sumber dari mana Ia datang dan keluar. Hal ini pula menegaskan bahwa Ia setara dengan Sang Sumber sebab esensi yang dimiliki-Nya berasal dan sama dengan Sang Sumber.

Jawaban Yesus terkait dengan ‘siapa yang berhak memerintah’. Ketegasan jawaban Yesus membuktikan bahwa ini bukan perkara menjatuhkan atau menatang kaki-Nya sebagai penggenapan nubuatan Mazmur 91:11-12, tetapi soal ‘siapa yang memerintah’. Iblis tidak berhak memerintah Yesus sebagai Yesus adalah Anak Allah. Posisi Yesus sebagai Anak Allah justru jauh lebih tinggi dari pada Iblis. Implikasinya adalah pembuktian identitas Yesus sebagai Anak Allah tidaklah bergantung pada perintah Iblis melainkan hanya melalui kehendak Yesus sendiri sebagaimana yang akan kita lihat dalam kesimpulan berikut ini.

Kesimpulan: Pernyataan Iblis memiliki dua arti, pertama, jika dituruti maka berimplikasi pada Iblis sebagai yang tertinggi dan Yesus sebagai yang terendah. Yang terendah mengikuti perintah yang tertinggi; kedua, dengan membuktikan bahwa Yesus bisa menjatuhkan [melemparkan: βάλλω—throw] diri-Nya ke bawah, Yesus bukanlah apa-apa meski malaikat-malaikat akan menatang-Nya di atas tangan, karena yang membuktikannya bukanlah Yesus melainkan Iblis. Artinya, jika tidak ada Iblis yang mengajukan pernyataan tersebut, maka mustahil Yesus adalah Anak Allah. Jadi, identitas Yesus sebagai Anak Allah bergantung pada Iblis. Inilah yang sering digunakan oleh mereka yang menegasikan ke-Ilahian Yesus. Merekalah yang mempunyai aturan pembuktian dengan cara: “Jika Yesus adalah Tuhan dan Allah, maka Ia harus menyatakan dari diri-Nya sendiri bahwa ‘Akulah Tuhan’”. Rumusan ini yang digunakan Islam sebagai negasi ke-Tuhanan Yesus, yang mengikuti cara Iblis, sebagaimana telah saya sebutkan di atas. Hal ini sama saja dengan menegaskan: “Jika saya adalah manusia, maka saya harus mengeluarkan pernyataan bahwa saya adalah manusia sejati.” Jika demikian, maka esensi kemanusiaan saya bergantung pada ucapan saya. Padahal, tidaklah demikian.

Iblis juga mengajukan pembuktian melalui firman dengan mengutip Mazmur 91:11-12, “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu”; for he will command his angels concerning you to guard you in all your ways; they will lift you up in their hands, so that you will not strike your foot against a stone [NIV]). Teks Mazmur 91:11-12 berbicara nubuatan tentang Yesus dan identitas yang disandang-Nya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia dalam inkarnasi-Nya. Namun, membuktikan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah dengan cara menjatuhkan diri ke bawah tidaklah relevan dengan teks-teks yang diacu sebab dalam teks-teks tersebut tidak ada indikasi soal malaikat-malaikat akan menatang pasca menjatuhkan diri. Benar, bahwa Iblis mengutip firman, tetapi Iblis memberikan arti yang negatif untuk hasil negatif.

Dari teks-teks Matius 4, kita melihat bahwa pasca Iblis pergi, para malaikat [ἄγγελοι] datang (mendekat, προσῆλθον, προσέρχομαιcome or go to, approach) melayani [διακονέω] Yesus (ay. 11). Ada beberapa makna dari ayat 11 tersebut.

Pertama, para malaikat yang datang melayani Yesus menggenapi Mazmur 91:11-12. Mereka datang atas perintah Allah (kontras perintah dan tantangan pencobaan Iblis) (lihat ay. 11 “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu”). Di sini jelas bahwa yang berhak memerintah malaikat adalah Allah sendiri. Dalam kasus pencobaan Yesus di atas, Iblis memberikan tantangan yang berimplikasi pada dua hal yakni jika Yesus menjatuhkan diri ke bawah maka para malaikat akan diperintahkan untuk menatang kaki Yesus dan kedua bahwa kedatangan para malaikat untuk menatang kaki Yesus disebabkan oleh rekomendasi Iblis sehingga Allah mengutus para malaikat menatang kaki Yesus. Jadi kita melihat bahwa Iblislah yang menyebabkan ‘para malaikat’ datang menatang kaki Yesus di mana secara otomatis Allah akan menggenapi nubuatan Mazmur 91:11-12. Akan tetapi, pembuktiannya justru terbalik. Pasca Iblis pergi, baru para malaikat datang melayani Yesus.

Kedua, para malaikat yang melayani [διακονέω] Yesus, dapat diartikan dua hal yaitu menyembah dan menatang. Mengapa harus menatang? Menurut saya, para malaikat yang datang untuk melayani Yesus termasuk menatang kaki-Nya sebab jika tidak, maka nubuatan Mazmur 91:11-12 tidak akan pernah tergenapi. Lagipula, para malaikat yang menatang kaki Yesus selaras dengan pencobaan yang mendahuluinya. Artinya, meski Iblis tidak berhasil membuktikan para malaikat yang menatang, tetapi Allah membuktikan bahwa Ia memerintahkan para malaikat untuk datang melayani Yesus: menatang kaki dan menyembah-Nya. Sebagai pembuktian, kata προσέρχομαι juga berarti “of coming to a deity” (datang kepada yang Ilahi, datang kepada Tuhan, datang kepada Allah). Teks-teks berikut ini menjelaskan penggunaan kata προσέρχομαι.

Ibrani 4:16, Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri [προσερχώμεθα] takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Ibrani 7:25, Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang [προσερχομένους] kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka).

Ibrani 10:22, Karena itu marilah kita menghadap [προσερχώμεθα] Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Ibrani 11:6, Sebab barangsiapa berpaling [προσερχόμενον] kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

1 Petrus 2:4, Dan datanglah [προσερχόμενοι] kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat saja dipahami bahwa para malaikat yang datang melayani Yesus, berarti datang ke pribadi yang ‘Ilahi’, pribadi yang adalah Allah itu sendiri (of coming to a deity) yang kemudian mereka menyembang-Nya. Kita melihat juga dalam Matius 4:3, si pencoba [πειράζω] datang [προσελθὼν] kepada-Nya. Iblis tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ia datang kepada ‘Yang Ilahi’. Hanya saja dalam konteks pencobaan yang dilakukannya, Iblis ingin melihat—setidaknya menurut pemahaman saya—bahwa dalam kondisi Yesus sebagai manusia, mungkinkah Ia masih berstatus dan beridentitas sebagai ‘Anak Allah’ dan ‘Yang Ilahi’? Jelas, dalam pencobaan Iblis terhadap Yesus, membuktikan bahwa Yesus benar-benar ‘Anak Allah’ dan ‘Yang Ilahi’. Tanpa ada pertanyaan “Jika Engkau Anak Allah” dari Iblis, Yesus adalah Anak Allah. Status Yesus sebagai Anak Allah tidaklah ditentukan oleh pertanyaan dan implikasi dari uji coba Iblis terhadap-Nya. Iblis itu tidak bisa dipercaya: yang ‘tidak bisa dipercaya’, jangan dipercaya.

Mungkin saja ada orang yang berpendapat bahwa Iblis datang kepada pribadi yang Ilahi (of coming to a deity) tidaklah merupakan maksud Iblis sebab yang menulis Injil Matius tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Iblis, apakah Iblis telah memiliki prapemahaman bahwa Yesus adalah pribadi yang Ilahi atau tidak. Seolah-olah Matius menegaskan sendiri identitas Yesus meski Iblis tidak memiliki prapemahaman yang demikian. Namun, perlu dicatat di sini bahwa Matius menuliskan kisah ini secara utuh. Artinya, kata ‘datang’ (προσέρχομαι) mengindikasikan Iblis pergi menemui pribadi Yang Ilahi, didasarkan pada cerita yang utuh sebab dikisahkan kemudian, Iblis mengatakan: “Jika Engkau Anak Allah” di setiap niat pencobaannya. Iblis mengutip pernyataan “sebab ada tertulis: ‘Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.’” Siapa Yesus sehingga Allah memerintahkan para malaikat-Nya untuk menatang kaki-Nya di atas tangan mereka? Bukankah dengan mengutip teks PL, Iblis sedang menyatakan bahwa memang Yesus adalah pribadi Yang Ilahi? Meski upaya Iblis gagal dengan tidak mendapatkan bukti bahwa Yesus bisa menjatuhkan diri-Nya, namun, kutipan yang dipakai Iblis justru membuktikan bahwa Yesus benar-benar pribadi Yang Ilahi. Lagipula, dasar bahwa Yesus adalah pribadi yang Ilahi dijelaskan dari jawaban yang diucapkan-Nya, sebagaimana telah saya uraikan di atas.

Ketiga, ada yang menafsirkan bahwa pencobaan di padang gurun sebagai bentuk cara Iblis untuk mempercepat ‘pemuliaan Yesus’ dalam inkarnasi-Nya. Namun, gagasan ini, menurut saya, tidaklah relevan dengan Mazmur 91:14-16. Lagipula, Iblis tidak memiliki hak untuk ‘memuliakan’ Yesus apalagi mempercepat pemuliaan-Nya dengan tidak melalui jalan penderitaan, salib, dan kematian. Pencobaan dalam Matius 4, menurut saya berbicara tentang status dan identitas Yesus sebagai Anak Allah, Allah, dan Tuhan, dalam kondisi Yesus sebagai Anak Manusia untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka melalui salib.

Mazmur 91:14-16 menyatakan: “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” Dari teks-teks tersebut, yang berhak memuliakan Yesus adalah Bapa-Nya. Pemuliaan Yesus terjadi pasca Ia berada dalam kesesakan yang dapat diartikan sebagai peristiwa salib yang harus dilalui-Nya. Hal ini pula ditegaskan Rasul Paulus: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp. 2:8-11).

Keempat, ungkapan “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” dapat diartikan bahwa dalam kondisi apa pun, tanpa ada perintah dari Iblis, Yesus dilindungi dan ditopang Allah dalam menggenapi totalitas ‘rencana keselamatan’ atas umat pilihan-Nya.

Pencobaan Ketiga

Pernyataan Iblis: “Semua itu [kerajaan dunia] akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

Jawaban Yesus: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kesimpulan: Tawaran Iblis yang terakhir tidak main-main. Ia mau, Yesus menyembahnya. Di sini memang terkesan aneh. Iblis seolah-olah merasa menguasai semua kerajaan dunia dan mencoba menawarkannya dengan ada timbal baliknya. Ada beberapa hal yang saya pahami dari tawaran dan permintaan Iblis serta jawaban Yesus:

Pertama, Iblis mungkin melihat bahwa Yesus sebagai Anak Allah dalam wujud manusia yang dipandang status-Nya lebih rendah dari dia, memiliki kemungkinan untuk digoda dengan tujuan menyembah-nya.

Kedua, jika Yesus tergoda untuk menyembahnya, maka betapa kesombongan Iblis memuncak dan dengan bukti tersebut, Iblis memiliki cukup dalil bahwa jika Yesus saja yang adalah Anak Allah tertarik dengan tawaran kerajaan dunia sebagai imbalan dari menyembahnya, apalagi para pengikut-Nya?

Ketiga, Iblis memiliki dasar bahwa untuk menggoda manusia agar tunduk dan menyembahnya adalah dengan cara menawarkan kerajaan dunia, hal-hal yang sifatnya mewah, megah, dan kesenangan lainnya karena dianggap setimpal, cukup menyembahnya dan tunduk padanya. Menyembah Iblis berarti menaklukkan diri di bawah kuasanya.

Keempat, jawaban Yesus memutarbalikkan semua gagasan buruk dan menipu dari Iblis. Yesus menegaskan bahwa: “Kamu [Iblis] tidak layak disembah meski kamu menawarkan kerajaan dunia, sebab itu bukan milikmu, tetapi milik-Ku.” Ini diwujudkan dengan jawaban Yesus: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kelima, jawaban Yesus adalah dalil bagi orang percaya agar tidak mudah digoda dengan tawaran apa saja untuk tunduk dan menyembah Iblis. Jawaban Yesus menjelaskan sebuah ketegasan objek penyembahan yang hanya ditujukan kepada Allah Bapa yang direpresentatifkan melalui Diri-Nya. Ia setara dengan Allah Bapa.

Dari teks-teks Matius di atas, jelas bahwa dengan menyebutkan “Jika Engkau Anak Allah”, Iblis membuktikan—meski dengan tendensi negatif—bahwa Yesus adalah Anak Allah, bukan dalam pengertian biologis seperti yang dipahami oleh mereka yang menolak gelar Anak Allah kepada Yesus. Pengetahuan Iblis bahwa Yesus adalah Anak Allah dibuktikan melalui satu kutipan firman Allah dalam Mazmur 91:11-12. Ketika mereka yang memahami gelar Anak Allah sebagai bentuk pemahaman indikasi biologis, lebih buruk dari Iblis. Pada kesempatan lain, setan pun mengakui bahwa Yesus adalah “Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 8:28) tidak dengan pemahaman biologis. Pembaca pasti tahu apa implikasinya ketika mereka yang memahami gelar ‘Anak Allah’ secara biologis. Dengan melihat tangkisan jawaban Yesus terhadap Iblis, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah yang layak didengar, layak ditaati, dipatuhi, dan disembah.

Pengakuan Setan-setan

Di bagian lain, setan-setan mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Matius 8:29, Dan mereka itupun berteriak, katanya: Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?

Markus 3:11, Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.”

Markus 5:7, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

Lukas 4:41, Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Lukas 8:28 Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.”

Implikasinya, jika Yesus bukan Anak Allah lalu siapa yang bisa membuktikan bahwa setan-setan salah mengidentifikasikan pribadi Yesus? Jelas, gelar ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] yang dikatakan oleh setan-setan tidaklah bermakna ‘biologis’, sebab setan-setan adalah makhluk roh, maka mereka mengetahui bahwa gelar Anak Allah yang ditujukan kepada Yesus tidaklah bermakna biologis. Maka, mereka (para lawan Kristen yang menolak keilahian Yesus) yang memahami gelar υἱὸς τοῦ θεοῦ dengan konotasi biologis adalah ‘salah alamat’ alias ‘sesat’.

Pengakuan Para Murid

Pengakuan para murid bahwa Yesus adalah υἱὸς τοῦ θεοῦ didasarkan pada apa yang mereka lihat. Artinya, pengakuan-pengakuan dari Iblis dan setan-setan tidak mengurangi kuatnya identitas Yesus. Para murid adalah orang terdekat Yesus. Mereka adalah saksi mata apa yang dilakukan Yesus. Kristologi quran yang menolak gagasan υἱὸς τοῦ θεοῦ terhadap Yesus merupakan gambaran buruk dari pemahaman nilai-nilai historis PB. Selain itu, Rasul Paulus adalah salah satu rasul yang diutus untuk menjadi saksi Yesus. Pasca kebutaan matanya karena mau membunuh orang-orang yang percaya kepada Yesus, ia diberikan mandat untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa selain Israel.

Matius 14:33,  Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Matius 16:16, Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Markus 1:1, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Penulisan Yesus sebagai υἱὸς τοῦ θεοῦ didasarkan atau pengakuan Petrus (Markus adalah Injil menurut Petrus). Petrus adalah salah satu murid terdekat Yesus.

Yohanes 1:34, Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: “Ia inilah Anak Allah.”

Yohanes 1:49, Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

Yohanes 11:27, Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Yohanes 20:31, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Kisah Para Rasul 9:20,  Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Roma 1:4, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

2 Korintus 1:19, Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak,” tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”.

Galatia 2:20, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Efesus 4:13, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

Ibrani 4:14, Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Ibrani 6:6, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Ibrani 10:29, Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?

1 Yohanes 3:8, barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

1 Yohanes 4:15, Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.

1 Yohanes 5:5, Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

1 Yohanes 5:10, Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

1 Yohanes 5:13, Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.

1 Yohanes 5:20, Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Wahyu 2:18, Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga.

Pengakuan Para Musuh [Pembenci] Yesus

Tidak hanya para murid, orang-orang yang memusuhi dan membenci Yesus ingin mendapatkan legitimasi bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pernyataan mereka kurang mendapat respons dari Yesus, tetapi Yesus menggunakan “standar sumber” di mana ketika mereka ingin mendapatkan jawaban dari Yesus bahwa “Akulah Anak Allah”, justru malah Yesus menggunakan pertanyaan menjadi pernyataan. Itulah arti dari “standar sumber”. Dua teks yakni Matius 26:3-64 dan Lukas 22:70 menggunakan “standar sumber”. Tiga teks lainnya (Mat. 27:40 dan 43) menyangkut ejekan terhadap Yesus untuk meminta bukti bahwa Ia adalah Anak Allah, yang kurang lebih sama dengan pencobaan Iblis di padang gurun dalam Matius 4:1-11. Satu teks yakni Yohanes 19:7 adalah implikasi dari klaim Yesus bahwa diri-Nya adalah Anak Allah.

Matius 26:63-64, Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”

Lukas 22:70, Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”

Matius 27:40, mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!”

Matius 27:43, Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.

Yohanes 19:7, Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”

Berdasarkan teks-teks tersebut (Mat. 26:63-64 dan Luk. 22:70), dapat disimpulkan bahwa berdasarkan standar sumber, maka kalimat: “Engkau sendiri mengatakannya”, adalah juga sebuah pernyataan atau pengakuan [klaim] Yesus. Artinya, Yesus meneguhkan pertanyaan ‘apakah Engkau Anak Allah?’ dalam bentuk pernyataan. Dasar Yesus mengklaim bahwa Dia adalah Anak Allah berangkat dari pertayaan itu sendiri. Jika tidak ada pertanyaan tersebut, maka jawaban penegasan juga tidak akan muncul. Ini adalah model ‘peneguhan ganda’. Artinya, pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dilakukan dengan model berlapis. Dalam prinsip logika, seseorang dapat saja meneguhkan sebuah identitas tanpa ia sendiri mengakuinya, melainkan berangkat dari apa yang ditanyakan—dan jika itu benar, maka seseorang tinggal meneguhkannya dengan berkata: “Engkau sendiri yang mengatakannya.”

Lalu dari mana para pembenci dan musuh Yesus mendapatkan informasi bahwa Yesus adalah Anak Allah? Tentu mereka banyak mendengar berbagai isu dan informasi yang berkembang, sehingga dengan rasa penasaran, mereka menginginkan agar Yesus mengakuinya di depan umum. Mereka mengharapkan Yesus untuk mengeluarkan statement bahwa: “Akulah Anak Allah”. Namun, justru kenyataannya berbalik arah. Yesus menggukan cara berpikir lain untuk meneguhkan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Luar biasa bukan? Jika ada yang menanyatakan: “Apakah Yesus adalah Tuhan”, maka jawablah: “Engkau sendiri yang mengatakannya”.

Pengakuan Kepala Pasukan Prajurit

Kepala pasukan Romawi memikiki pengakuan sendiri, terkait dengan apa yang ia lihat di peristiwa penyaliban. Tetapi, kepala pasukan menggunakan istilah Anak Allah kepada Yesus dalam perasaan kagum (kontras dengan mereka yang memusuhi dan membenci Yesus) tatkala merasakan ‘gempa bumi’ dan peristiwa yang terjadi di penyaliban. Dua teks berikut ini menceritakan peristiwa yang sama: Matius 27:54, Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Markus 15:39, Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Pengakuan Malaikat

Makhluk roh selain setan-setan adalah malaikat [ἄγγελος]. Malaikat adalah ‘utusan Allah’  yang membawa (dan menyampaikan) pesan Allah bagi manusia. Dalam penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah, malaikat Tuhan ‘lebih tahu’ siapa Yesus ketimbang mereka yang menolak Yesus sebagai Anak Allah. Mengapa? Malaikat adalah makhluk surgawi yang diutus Allah. Ketika malaikat menyampaikan bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, maka kesaksian [pengakuannya] tidaklah diragukan. Lukas 1:32, 35, Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi [Οὗτος ἔσται μέγας, καὶ υἱὸς ὑψίστου κληθήσετα – houtos estai megas, kai huios hupsistou klēthēseta]. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya … Jawab malaikat itu kepadanya: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Ada hal menarik di sini. Di ayat 32 disebutkan: “Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatiggi” dan di ayat 35 disebutkan: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau”. Artinya, sebutan bagi Yesus sebagai υἱὸς ὑψίστου κληθήσεται relevan atau berbanding lurus dengan kuasa yang menaungi Maria yakni kuasa Allah Yang Mahatinggi [δύναμις ὑψίστου] dan Roh Kudus [πνεῦμα ἅγιον] yang ‘turun’ [ἐπέρχομαι] atas Maria. Tampaknya, doktrin Trinitas dapat dipahami di sini (ada dua pribadi berbeda dalam memproses kehamilan Maria untuk mengandung bayi Yesus tanpa indikasi biologis seksual). Di atas telah saya singgung mengenai pencobaan di padang gurun, bahwa jawaban Yesus: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” salah satunya artinya merujuk pada Bapa-Nya sebagai sumber dari mana Ia datang dan keluar yang menegaskan bahwa Ia setara dengan Sang Sumber sebab esensi yang dimiliki-Nya berasal dan sama dengan Sang Sumber. Jika Maria dinaungi oleh kuasa Allah Yang Mahatinggi [δύναμις ὑψίστου] maka Yesus ‘sangat layak’ disebut sebagai Anak Allah Yang Mahatingi (υἱὸς ὑψίστου κληθήσεται) karena Ia berasal dari Allah Yang Mahatinggi.

Pengakuan Yesus Sendiri

Pengakuan Yesus merupakan bukti bahwa Ia adalah Anak Allah. Kita perlu memahami konteksnya. Teks-teks berikut ini menguatkan bahwa Yesus adalah Anak Allah sebagaimana dikuatkan pula dari berbagai pengakuan di atas.

Yohanes 5:25, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.”

Teks tersebut menyatakan kuasa yang dimiliki Yesus sebagai Anak Allah, kuasa yang menghidupkan. Dia sendiri mengaku bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa itu.

Yohanes 10:36, “masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” Pengakuan Yesus sebagai Anak Allah sangat beralasan. Ia dikuduskan oleh Bapa; Ia telah diutus Bapa ke dalam dunia. Ia yang dikuduskan dan diutus memiliki natur yang sama dengan menguduskan dan mengutus-Nya. Artinya, sebutan Anak Allah bukanlah gagasan tunggal, melainkan didukung oleh sejumlah fakta otentik sebagaimana yang kita lihat dari berbagai pengakuan di atas.

Yohanes 11:4, “Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ‘Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.’”

Yesus mengakui dan mengklaim bahwa penyakit seorang anak tidaklah membawa kematian, melainkan membawa kemuliaan bagi Yesus sendiri karena Ia melakukan mukjizat yakni membangkitkan Lazarus. Tetapi perhatikan dalam ayat-ayat berikutnya. Lazarus memang mati, sedangkan Yesus mengatakan bahwa “penyakit yang diderita Lazarus tidak akan membawa kematian”. Bukankah ini kontradiksi? Tidak. Kematian yang dinyatakan Yesus tentu Ia pahami sedangkan kematian dalam arti biasa adalah kematian total. Yesus mengetahui bahwa Ia akan membangkitkan Lazarus dan kematian. Maka, kematian Lazarus bukanlah kematian melainkan hanya ‘tidur’. Meski Yesus sendiri mengatakan bahwa Lazarus telah mati, tetapi pernyataan itu ditujukan kepada mereka yang memahami arti ‘mati’ pada umumnya. Pada akhirnya, kita melihat buktinya: Lazarus dibangkitkan.

Apa yang dikatakan Yesus, kembali diteguhan (ay. 39-40, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (bdk. ay. 4, “… kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan”). Ayat 45 menjelaskan: “Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.” Anak Allah yang dimuliakan melalui mukjizat kebangkitan Lazarus, teraplikasi dalam peristiwa “Banyak di antara orang-orang Yahudi percaya kepada Yesus.” Percaya berarti “mengakui” bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Berbagai pengakuan di atas merupakan sedikit dari sekian banyak pengakuan para saksi mata dan sebagainya. Dengan demikian, gelar (sebutan) ‘Anak Allah’ terhadap Yesus merupakan sebuah kemutlakan sebab ‘natur’ Yesus berasal dari Sang Sumber yaitu Allah Bapa. Dan gelar ‘Anak Allah’ dalam pandangan Alkitab bukanlah ‘anak’ dalam arti biologis sebagaimana yang dipahami oleh umat Islam. Betapa keliru pemahaman mereka. Saya memakluminya karena sumber quranik yang menjadi rujukan mereka bukanlah data historis melainkan hanyalah kumpulan pandangan teologi yang dipengaruhi oleh bidat-bidat Kristen. Hanya sedikit sekali catatan kristologi quranik yang dapat diterima sebagai bagian dari pandangan teologis—similaritas. Sisanya merupakan campuran ‘cerita dongeng’ dan penyimpangan doktrin Kristen.

Saya kembali melanjutkan penjelasan tentang frasa Anak Allah. ‘Anak Allah’ berarti Anak dari Allah. Injil Yohanes dengan gamblang menjelaskannya. Bukan berarti Allah beranak, seperti pemahaman Islam yang dangkal—teks tanpa konteks—melainkan Allah berkenan memberikan Logos-Nya untuk menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο) sesuai dengan cara-Nya sendiri. Allah tidak meminta persetujuan kepada manusia untuk melakukan inkarnasi. Manusia perlu memahami cara kerja Allah, dan bukan mengkritik—karena kedangkalan pemikirannya.

Yesus sebagai Anak Allah menegaskan substansi kekal-Nya, menekankan ke-Ilahian-Nya yang sama dengan Bapa-Nya, menekankan bahwa Ia manusia [Anak], dan Ia adalah Allah [dari substansi yang sama dengan Bapa]. Anak Allah juga mengimplikasikan Allah yang menebus manusia rela menjadi manusia dan dengan menjadi manusia. Darah sebagai tanda penebusan menjadi faktual, sebagaimana darah binatang dalam PL yang faktual, dan bukan darah dalam arti kiasan. Ketika mereka yang beranggapan: “jika Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia mati?” mengenai pertanyaan ini, Rasul Paulus menegaskan: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Yesus mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia, sebab ‘Tuhan tak mungkin mati’. Lagipula, Tuhan yang mati—yang dipahami oleh mereka yang menolak ke-Tuhan-an Yesus—dipandang sebagai ‘Tuhan fisik’ padahal Tuhan itu bukanlah fisik melainkan esensi [atau substansi]. ‘Tuhan fisik’ pasti mati, tetapi ‘Tuhan esensi’ tak mungkin mati. Yang mati pada manusia adalah fisiknya, tetapi esensinya tidak mati.

Dari serangkaian argumentasi, penjelasan, data, dan konteks gelar Yesus sebagai υἱὸς τοῦ θεοῦ berdasarkan data biblika, dari ‘pemahaman yang sangat dangkal’ dan berbagai ‘celoteh jalanan’ yang memahami  gelar Yesus sebagai ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis, membawa kita kepada kesimpulan:

Pertama, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] adalah gelar Ilahi karena konfirmasi pertama penyebutan gelar Anak Allah kepada Yesus adalah Malaikat Gabriel. Implikasinya adalah gelar Anak Allah tersebut bukanlah ‘Anak’ dalam arti biologis melainkan gelar ‘Inkarnatif’ dan gelar ‘Kesetaraan Esensi’ antara Sumber dari mana ‘Anak’ itu keluar.

Kedua, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] adalah sebuah penegasan bahwa inkarnasi Yesus bernuansa ‘Ilahi’ dalam rangka penebusan dan penyelamatan umat pilihan Allah. Tidak ada wakil Allah yang cukup syarat untuk melakukan penebusan dan penyelamatan manusia dari dosa-dosa selain dari pada Yesus yang Ilahi.

Ketiga, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] menegaskan bahwa Ia adalah “Mesias Ilahi” sebagaimana nubuatan tentang datangnya Sang Mesias Ilahi dalam Mikha 5:1, Yesaya 7:14, dan Yesaya 9:5-6.

Keempat, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] adalah gelar kehormatan dan tertinggi meski Yesus berada dalam kondisi sebagai manusia. Meski dalam kondisi sebagai manusia, penyebutan gelar sebagai Anak Allah tidak dapat dipahami sebagai indikasi biologis, sebagaimana yang berakar dalam teologi Islam.

Kelima, teologi Islam yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis membuktikan bahwa level pemikiran dan logika mereka berada di bawah Iblis dan setan-setan, sebab baik Iblis maupun setan-setan menggunakan dan menyebut gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] berakar dari kesamaan esensi Yesus dengan Sang Alah Bapa sehingga nuansa biologis bukanlah maksud dari sebutan ‘Anak Allah’.

Keenam, para apologet dan teolog Islam yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis, bukanlah orang-orang yang terpelajar secara mumpuni dan kredibel dalam memahami kristologi. Alasannya sederhana, karena pola pikir mereka berangkat dari pola pikir kristologi quranik yang mana dengan modal Kristologi “straw man” mereka mengusulkan gagasan teologi quranik untuk diterapkan pada Alkitab (Injil-Injil).

Ketujuh, kristologi quranik bukanlah kristologi yang kredibel karena didasari pada pola pikir ‘rendahan’ di mana data kristologinya berangkat dari data distorsi dan tidak sesuai dengan data historis. Alasan inilah yang membuktikan bahwa para kristolog Islam tidak pernah menghasilkan rumusan kristologi yang eksegetis sejauh analisis mereka didasari pada data quranik. Kristen tidak bisa menggunakan data kristologi quranik versi Arab sebab Injil-Injil ditulis dalam bahasa Yunani. Jadi, untuk memahami Kristologi yang kredibel dan eksegetis, tidak diperkenankan menggunakan data quranik berbahasa Arab melainkan data biblika berbahasa Yunani sebab alasannya jelas, PB ditulis dalam bahasa Yunani. Pemahanan kristologi quranik tidaklah memadai karena mengandung unsur folklorisme dan tidak sesuai dengan catatan historis yang reliabel.

Kedelapan, mereka yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan memadai soal identitas dan personalitas Yesus Kristus berdasarkan data biblika.

Kesembilan, mereka yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis memiliki sejumlah prapaham yang keliru soal ajaran Kristen dan Yesus Kristus. Memahami doktrin Kristen memiliki banyak konteks. Artinya, teks-teks biblika tidak dapat ditafsirkan tanpa ada konteksnya. Semua perkataan, pernyataan, firman, dan sebagainya, harus melihat lokusnya, korelasi tekstual, korelasi konteks, penutur, dan situasi/kondisi. Dari sini, pola hermeneutika yang valid, solid, dan kredibel adalah sebuah keharusan. Kajian eksegetikal memungkinkan penggalian makna asali atas segala sesuatu termasuk frasa “Anak Allah”. Memahami hal ini tak bisa menggunakan dalil Al-Qur’an, sebab materi dasarnya bukanlah itu, melainkan Alkitab [Skripturalistik]. Dengan demikian, memahami frasa “Anak Allah” secara eksegetis menghasilkan sebuah pemahaman yang komprehensif ketimbang fragmentaris. Iman Kristen memiliki banyak konteks, itu sebabnya, jika mencoba mendekati iman Kristen, harus memilih, “kacamata” apa yang akan digunakan sebab Kristen adalah pabrik pembuat kacamata (konteks).

Kesepuluh, pola hermeneutika yang valid, solid, dan kredibel yang diterapkan pada Kristologi quranik tidaklah dapat mengakomodasi Kristologi PL dan PB sebab data yang dimuat dalam quran berdasarkan cerita-cerita rakyat yang sarat dengan bidat-bidat Kristen. Alasannya sederhana, Kristen telah memiliki Alkitab baku dan kristologi PB merupakan standar yang kuat dan tak membutuhkan kristologi lain yang menyimpang dan sarat dengan ‘penyimpangan historis’ dan ‘kesesatan doktrinal’.

Kesebelas, memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis bukanlah produk PB. Alkitab memberikan identitas kepada mereka yang dikenan-Nya atau mereka yang adalah ciptaan-Nya dengan sebutan jamak “Anak-anak Allah”. Artinya, baik tunggal maupun jamak, sebutan ‘Anak Allah’ atau ‘Anak-anak Allah’ tidaklah dipahami dalam aksentuasi atau konotasi biologis sebagaimana yang dipahami oleh Islam. Berikut data PL yang menyebutkan istilah “Anak-anak Allah” (Kej. 6:2, 4; Ayb. 1:6; 2:1; 38:7; Hos. 1:10). Data PB juga demikian: Lukas 6:35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat”; Lukas 20:36, “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan”; Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; Yohanes 11:52; Roma 8:16, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Roma 8:19; 8:21; Roma 9:8, “Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar”; Roma 9:26; Galatia 3:26, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus”; Filipi 2:15; 1 Yohanes 3:1, “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia”; 1 Yohanes 3:2, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”; 1 Yohanes 3:10; 1 Yohanes 5:2, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.”

Kedua belas, Allah Islamlah yang ‘tidak beranak’ secara biologis (sesuai dengan pemahaman mereka) sedangkan Allah Kristen ‘memiliki’ Anak bukan dengan cara biologis melainkan dengan cara ‘keluar’ dan ‘diperanakkan’. Allah itu roh, maka memahami bahwa Allah beranak secara biologis sudah salah. Kata ‘diperanakkan’ bukan mengindikasikan bahwa Allah beranak seperti dalam pemahaman Islam, melainkan istilah tersebut mengacu kepada natur ‘kemanusiaan’ Yesus dalam inkarnasi-Nya. Istilah ‘keluar’ merujuk kepada ‘sumber’ di mana Anak [Yesus] keluar. Itu berarti, substansi Anak sama dengan sumber di mana Ia ‘keluar’. Ini adalah salah satu indikasi keilahian Yesus.

Ketiga belas, Islam tak mungkin memiliki pemahanan yang solid, valid, dan kredibel tentang personalitas Yesus sejauh landasan pijlaknya didasari pada data quranik. Data quranik, seperti yang saya jelaskan di atas bukanlah data historis melainkan ahistoris (bersumber dari tradisi lisan atau folklor). Jika Islam masih berkeras hati untuk memaksakan prinsip tersebut ke dalam doktrin Kristen, maka Islam sedang melakukan “masturbasi teologi”—berpuas diri dengan doktrinnya yang tidak ada kaitan dengan doktrin Kristen. Beda sumber beda landasan. Beda historis beda pemikiran dan rumusan doktrinnya.

Keempat belas, Memahami Yesus sebagai “Anak Allah” dengan penekanan pada unsur biologis bukanlah maksud dari Alkitab. Doktrin Kristen sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Yang memahami “Allah bisa beranak secara biologis” adalah doktrin Islam yang tak pantas dilekatkan pada pemahaman “Anak Allah” dalam doktrin Kristen.

Kelima belas, istilah ‘beranak’ dalam pandangan quran jeals menekankan aspek biologis. Jadi, gagasan ‘beranak’ versi quran dan gagasan ‘Kuperanakkan” [diperanakkan] versi Alkitab (Mzm. 2:7) adalah dua hal yang berbeda dan orientasi pemikirannya juga berbeda. Sejauh pemikiran biologis dilekatkan pada Allah yang adalah “Roh”, sejauh itu pula pemahaman terhadap gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] menyimpang dan kehilangan arah eksegetis. Seyogianya memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] didasarkan pada data Alkitab dan bukan data quran. Kedua sumber tersebut jelas berbeda secara kualitas, historis, dan teologis. Kalau sudah berbeda, maka tidak heran jika muncul ‘celoteh jalanan’: “Kalau Yesus anak Tuhan, bidannya siapa?”

Keenam belas, gagasan Allah beranak dan Allah memiliki Anak adalah dua hal yang berbeda. Allah memiliki Anak bukanlah dengan cara biologis sebagaimana yang selama ini disalahpahami oleh mereka yang menolak gagasan Anak Allah dilekatkan pada Yesus Kristus. Allah memiliki Anak dengan cara yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipahami oleh manusia yang menekankan aspek biologis. Penolakan istilah “Anak Allah” berangkat dari ketidakmengertian seseorang akan cara Allah menebus manusia dari dosa mereka dengan apa yang telah Ia tetapkan.

Ketujuh belas, Perjanjian Baru menyebutkan pengakuan Yesus sebagai ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] didasarkan pada sejumlah sumber. Frasa υἱὸς τοῦ θεοῦ memiliki kekayaan makna, baik berdasarkan pengakuan Iblis [διάβολος], pengakuan setan-setan, pengakuan para murid, pengakuan para pembenci (musuh) Yesus, pengakuan kepala pasukan prajurit Romawi, pengakuan malaikat, dan pengakuan Yesus.

Kedelapan belas, gelar ‘Anak Allah’ terhadap Yesus merupakan sebuah kemutlakan sebab ‘natur’ Yesus berasal dari Sang Sumber yaitu Allah Bapa. ‘Anak Allah’ berarti Anak dari Allah. Injil Yohanes dengan gamblang menjelaskannya. Bukan berarti Allah beranak, seperti pemahaman Islam yang dangkal—teks tanpa konteks—melainkan Allah berkenan memberikan Logos-Nya untuk menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο) sesuai dengan cara-Nya sendiri. Allah tidak meminta persetujuan kepada manusia untuk melakukan inkarnasi.

Kesembilan belas, Yesus sebagai Anak Allah menegaskan substansi kekal-Nya, menekankan ke-Ilahian-Nya yang sama dengan Bapa-Nya, menekankan bahwa Ia manusia [Anak], dan Ia adalah Allah [dari substansi yang sama dengan Bapa]. Anak Allah juga mengimplikasikan Allah yang menebus manusia rela menjadi manusia dan dengan menjadi manusia.

Kedua puluh, implikasi dari semua penjelasan di atas, menyingkirkan segala kemungkinan sesat pikir dan penyimpangan doktrinal dan penyimpangan sumber Kristologi. Semua negasi terhadap gelar Yesus sebagai Anak Allah karena alasan biologis, merupakan bukti bahwa betapa rendahnya pemikiran para apologet dan teolog Muslim yang mencoba ‘memahami’ kekayaan Kristologi biblika, di mana mereka mengukurnya dengan data quranik yang memiliki data kristologi paling ‘miskin’ dan ingin mengumumkan bahwa ia kaya tetapi pada faktanya sangat menyedihkan.

Kedua puluh satu, meski ada ‘jembatan’ penghubung dalam menjelaskan kristologi biblika kepada mereka yang menegasikan ke-Ilahian Yesus berdasarkan data quranik, namun kita tidak bisa berkompromi dengan kebenaran kristologi.

Kedua puluh dua, menolak Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] berdasarkan data boleh-boleh saja. Namun, jika negasi itu ingin menyatakan bahwa data quranik paling superior, minta maaf, data quran yang didasarkan pada cerita rakyat dan telah terdistorsi, dan tak pantas menyatakan bahwa ia lebih superior, lebih valid, dan kredibel. Sudah saya tegaskan bahwa data biblika mengenai kristologi lebih kredibel karena kekuatan historisnya telah terbukti, sedangkan data quranik mengenai kristologi bukanlah data kredibel, tetapi mengungkapkan kerancuan historis, teologis, doktrinal, dan sistem logika “straw man”.

Allah (Yesus mengampuni dosa)

Yesus mengklaim bahwa diri-Nya “berkuasa mengampuni dosa”. Dari klaim tersebut, dapat disimpulkan bahwa inilah klaim eksplisit Yesus bahwa Ia adalah ‘Allah’ yang berkuasa mengampuni dosa meski dalam kondisi inkarnasi-Nya menjadi manusia. Pengakuan ini memiliki beberapa implikasi: pertama, Yesus hendak menyatakan diri-Nya adalah Allah; kedua, Yesus hendak menyatakan bahwa diri-Nya setara dengan Allah dalam hal mengampuni dosa, meski Ia dalam wujud manusia. Ia menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” [ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου, ho uios tou anthrōpou]. Teks Matius 9:6 menyebutkan klaim Yesus sebagai Anak Manusia yang berkuasa mengampuni dosa: “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu —: ‘Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’”. Teks-teks paralelnya adalah Markus 2:10 dan Lukas 5:24.

Dari pengakuan eksplisit Yesus sebagai ‘yang berkuasa mengampuni dosa’ menjelaskan posisi dan kedudukan keilahian-Nya sebagai Allah, meski Ia juga sebagai Anak Manusia. Jika Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, maka implikasi yang muncul adalah pasti Ia adalah Allah sendiri atau setara dengan Allah sebagaimana yang dipikirkan oleh beberapa ahli Taurat: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Mrk 2:7) dan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Luk. 5:21).

Lukas 5:17-26 mengisahkan tentang Yesus mengajar, lalu ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya.  Beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur. Mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk karena banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Yesus berkata (karena melihat iman mereka): “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Karena perkataan Yesus tersebut, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Kemudian Yesus mengklaim sangat keras: “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Implikasinya, “semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: ‘Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.’”

Lukas 7:48-49 mencatat peristiwa pengampunan dosa yang dilakukan Yesus. Lagi-lagi Yesus mengatakan bahwa Ia mengampuni dosa seorang perempuan: “Lalu Ia [Yesus] berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’ Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: ‘Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?’ Apa yang dipikirkan oleh mereka yang duduk makan bersama dengan Yesus adalah pikiran yang sama dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bahwa dalam Kitab Suci mereka menegaskan bahwa hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa, dan bukan manusia.

Lukas 7:41-43 menjelaskan identitas Yesus sebagai pribadi yang dapat mengampuni dosa yang diibaratkan dengan ‘pelepas’: “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” Gambaran yang diberikan Yesus mengenai seorang pelepas yang kemudian dilanjutkan dengan perkataan Yesus kepada seorang perempuan: “Dosamu sudah diampuni” memberikan arah pemikiran bahwa Yesus sedang memposisikan diri-Nya sebagai Allah yang berotoritas “mengampuni dosa”. Dalam pemikiran umum (misalnya oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi), manusia mustahil dapat mengampuni dosa. Akan tetapi, jika Yesus mengklaim secara eksplisit bahwa “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” dan mengatakan “Dosamu sudah diampuni”, maka Ia hendak menegaskan secara eskplisit juga bahwa Ia adalah Allah dan setara dengan Allah dalam Perjanjian Lama yang mengampuni dosa.

Sebagai buktinya, teks-teks PL berikut ini menegaskan bahwa TUHAN Allah berhak dan berotoritas mengampuni dosa: Kejadian 18:26, Keluaran 32:32; 34:7, Bilangan 14:18, 19, 30:5, 1 Raja-raja 8:30, 34, 36, 39, 50, 2 Raja-raja 5:18, 2 Tawarikh 6:21, 25, 26, 30, 39, 2 Tawarikh 7:14, Nehemia 9:17, Mazmur 32:5, 78:38, 85:3, 86:5, 99:8, 103:3, Yeremia 5:1, 31:34, 33:8, 36:3, 50:20, Mikha 7:18. Dalam PB menegaskan bahwa Tuhan, Allah Bapa mengampuni dosa: Matius 6:14, 15, 18:35, Markus 1:4, 11:25, Lukas 3:3, Efesus 4:32, Kolose 2:13, 3:13, 1 Yohanes 1:9. Klaim eksplisit Yesus bahwa: “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” menunjukkan identitas Yesus sebagai Allah. Meski Ia sendiri telah berinkarnasi menjadi manusia, esensi keilahian-Nya tidak hilang. Klaim-klaim-Nya menunjukkan siapa diri-Nya. Tak seorang pun yang berani mengklaim seperti Yesus.

Mesias

Dalam pemahaman PL, Mesias dipahami sebagai “Dia yang diurapi TUHAN”. Mesias adalah pemimpin dan raja orang Yahudi. Hal ini tertuang dalam Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary, “In Jewish thought, the Messiah would be the king of the Jews, a political leader who would defeat their enemies and bring in a golden era of peace and prosperity. In Christian thought, the term Messiah refers to Jesus’ role as a spritual deliverer, setting His people free from sin and death (Youngblood, Bruce & Harrison, Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary, 826).

J. A. Motyer dan F. F. Bruce menjelaskan,

istilah Mesias, yang dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari Yudaisme masa kemudian. Tentu pemakaian istilah itu dikukuhkan oleh PB, tapi dalam PL hanya terdapat dua kali (Dan. 9:25-26). Pemikiran tentang mengurapi, dan pemikiran tentang orang yang diurapi, adalah lazim dalam PL…. Dalam Yesaya 45:1 Koresy, raja Persia, disapa sebagai (mesyikho) ‘yang Ku-urapi’. Di sini ada lima unsur yang jika ditinjau dengan terang Alkitab bagian yang lain, jelas menentukan garis pikiran utama tertentu mengenai mesianisme PL. Koresy ialah orang yang dipilih Allah (Yes. 41:25), ditetapkan untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umat Allah (Yes. 45:11-13), dan menggenapi hukuman terhadap musuh-musuh-Nya (Yes. 47). Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa (Yes. 45:1-3); dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak ialah Yahweh sendiri (Yes. 45:1-7) (Motyer & Bruce, “Mesias”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 57).

Berdasarkan keterangan Motyer dan Bruce, Mesias sejajarkan dengan “Yahweh” dalam semua tindakannya. Jika demikian, PB memahami Mesias sebagai nubuatan PL yang tergenapi dalam diri Yesus. Motyer dan Bruce mengemukakan, “kata Ibrani masyiakh atau Aram mesyikha’ dua kali ditransliterasikan dalam bahasa Yunani dengan messias (Yoh. 1:41; 4:25; dan di kedua tempat itu ditambah keterangan dengan khristos). Di tempat lain kata itu diterjemahkan dengan kata Yunani Khristos, dari kata kerja khrio, yang berarti ‘mengurapi’. Mesias ialah Yesus dari Nazaret, yang pada saat baptisan-Nya diurapi ‘dengan Roh Kudus dan kuat kuasa’ (Kis. 10:38; bdk. maksud dari hal Yesus mengutip Yesaya 61:1 dalam Lukas 4:18). Tapi Yesus sendiri jarang memakai istilah itu, dan tanpa diragukan sebabnya ialah kesalahpahaman yang bisa timbul karena pemakaian istilah itu. Tatkala Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Yesus-lah Kristus, Dia terima Nama pertanda itu, tapi memerintahkan murid-murid-Nya jangan menceritakan itu kepada siapa pun (Mrk. 8:29-30)” (Motyer & Bruce, “Mesias”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 63).

PB memiliki indikasi yang kuat sekali ketika melekatkan gelar Mesias kepada Yesus. Kesejajaran antara Allah dengan Yesus sebagai Mesias ditemukan dalam beberapa teks PL dan penggenapannya dalam PB. Artinya, Mesias PL dapat dipahami sebagai Mesias yang Ilahi (akan dijelaskan kemudian). TUHAN mempunyai maksud untuk mewujudnyatakan rencana dan kehendak-Nya bagi umat Israel, umat pilihan-Nya, melalui seorang Mesias yang dijanjikan. Mesias, dalam penggambaran PL memiiki tiga indikasi: pertama, Mesias yang hebat dan kuat. Mesias ini dipahami sebagai Mesias yang memimpin perang dan ia akan membebaskan Israel dari kekuatan musuh atau penjajah; kedua, Mesias yang menderita. Mesias ini dipahami dari nubuatan Nabi Yesaya (pasal 52:13-15-53:12); dan ketiga, Mesias yang Ilahi. Mesias ini dijumpai dari teks-teks seperti Yesaya 9:5-6 dan Mikha 5:1. Yesus memiliki ketiga indikasi Mesias dalam PL.

Pertama, sebagai Mesias yang hebat dan kuat, Yesus telah “membebaskan manusia” bukan dari penjajahan politik, kuasa, wilayah, dan sebagainya. Kekuatan yang terbesar yang ditumbangkan oleh Yesus adalah “dosa” yang membawa kematian [maut. Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam 1 Kor. 15:54-57]:

Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Yesus layak menumbangkan dosa sebab Ia adalah Allah. Yesus bebas dari dosa dan Ia tidak berbuat dosa. Mesias dalam versi Yahudi adalah manusia biasa, yang bisa berdosa dan bahkan ia sendiri berdosa. Jadi, penekanannya adalah bahwa Yesus sebagai Mesias yang kuat, menumbangkan kuasa yang paling kuat di dunia ini yakni “dosa”. Ia telah membereskannya sehingga manusia diberikan kesadaran bahwa dosa-dosa dapat membawa manusia kepada kematian, keterpurukan, sakit penyakit, rasa malu, saling mendendam, saling menyalahkan, saling memperkosa hak-hak orang lain, saling menjatuhkan dan sebagainya. Lihatlah, mereka yang telah disadarakan oleh Yesus tidak akan terus melakukan hal-hal demikian: Πᾶς ὁ γεγεννημένος ἐκ τοῦ θεοῦ ἁμαρτίαν οὐ ποιεῖ, ὅτι σπέρμα αὐτοῦ ἐν αὐτῷ μένει, καὶ οὐ δύναται ἁμαρτάνειν, ὅτι ἐκ τοῦ θεοῦ γεγέννηται – Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah (1 Yoh. 3:9) (bdk. terj. NIV: No one who is born of God will “continue” to sin, because God’s seed remains in them; they cannot go on sinning, because they have been born of God).

Kedua, sebagai Mesias yang menderita yang menggenapi nubuatan Nabi Yesaya (pasal 52:13-15-53:12) dibuktikan dan digenapi di dalam diri-Nya melalui penderitaan dan penyaliban. Pasca kematian-Nya, Ia bangkit. Ia mengalahkan maut. Ia menebus dosa umat-Nya. Ia memberi kemenangan dan umat-Nya dapat menikmati sukacita dari Allah dalam totalitas kehidupan mereka.

Ketiga, Yesus sebagai Mesias yang Ilahi yang menggenapi nubuatan dalam Yesaya 9:5-6 dan Mikha 5:1. Mesias Ilahi adalah Mesias dari Allah, yang menebus, dan memberikan jaminan kehidupan kekal kepada mereka yang percaya (bdk. Yoh. 3:16). Hanya Allah yang dapat menebus dosa umat-Nya. Implikasinya, Yesus adalah Mesias Ilahi, Allah yang menjadi manusia.

Allah dan Logos

Memahami Kristologi secara mendalam, tidak dapat memisahkan gelar-gelar Yesus yang ada pada diri-Nya. Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menggabungkan dua identitas Yesus: Allah dan Logos: Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος (En arkhe en ho logos, kai ho logos en pros ton Theon, kai Theos en ho logos). Mari kita perhatikan penegasan keilahian Yesus dalam teks tersebut:

Pertama, Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος menegaskan praeksistensi Logos sebelum berinkarnasi (ay. 14). Yohanes menjelaskan bahwa Logos itu kekal, sejak mulanya.

Kedua, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν menegaskan keberdiaman Logos bersama dengan Allah. Dikatakan sebelumnya bahwa “pada mulanya adalah Logos [Firman]” yang menandakan bahwa Ia kekal. Logos itu bersama-sama dengan Allah. kekekalan Logos adalah kekekalan Allah. Logos tak mungkin tanpa Allah dan Allah tak mungkin tanpa Logos. Allah kekal, demikian juga Logos. Dari ayat tersebut, tidak ada saling mendahului baik Allah maupun Logos. Keduanya ada sejak kekal.

Ketiga, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος menegaskan ke-Allah-an Logos. Alasannya jelas: Logos itu ada pada mulanya; Ia bersama-sama dengan Allah sejak mulanya. Kebermulaan Logos adalah kebermulaan Allah yang tak bisa diprediksi. Maka kita menyebutnya sebagai kebermulaan kekal yang tanpa permulaan eksistensi seperti layaknya ciptaan (alam semesta).

Keempat, tiga penjelasan tersebut di atas, memberikan arah pemikiran bahwa Logos yang akan berinkarnasi bukan tanpa alasan. Alasannya jelas ketika kita memahaminya dalam bingkai “Historical Redemption”. Itu sebabnya, berita misi perlu memberitakan bahwa manusia yang telah berdosa perlu ditebus. Dan yang berhak menebus adalah Allah sendiri. Cara menebus telah Allah nyatakan yakni melalui inkarnasi Logos-Nya: Yesus Kristus. Dialah yang disalibkan. Darah-Nya menebus dosa manusia (bdk. 1 Ptr. 1:18-19).

Tuhan (Kurios)

Agenda penegasian ke-Tuhan-an Yesus sering dikaitkan dengan kemanusiaan-Nya. Negasi yang berat sebelah ini tidak melihat secara utuh gagasan personalitas Yesus dalam Alkitab. Perlu disadari bahwa pembuktian personalitas Yesus yang sekaligus juga dinegasikan dengan bukti Injil-Injil, dibuktikan juga melalui data Injil-Injil dan kitab-kitab PB (serta korelasinya dengan PL). Di sini saya hanya menyebutkan beberapa teks sebagai bukti klaim-klaim ke-Tuhan-an Yesus dari diri-Nya sendiri, meski PB memaparkan banyak sekali bukti bahwa Yesus adalah Tuhan, baik dari para murid-Nya maupun para saksi mata perbuatan mukjizat Yesus dan lain sebagainya (lihat penjelasan pengakuan-pengakuan Yesus sebagai Anak Allah di atas).

Pertama, Matius 4:1-11. Kisah Yesus dicobai di padang gurun adalah kisah perlawanan Iblis terhadap Yesus dengan mengemukakan berbagai dalil pembuktian bahwa Yesus adalah Anak Allah. Iblis memahami—jika dilihat dari kisah tersebut—bahwa Yesus adalah Anak Allah bukan secara biologis. Iblis tahu bahwa dirinya adalah roh dan bukan daging. Sedangkan Yesus adalah daging [manusia] namun memiliki eksistensi yang kekal, setara dengan Allah. Hal ini tampak dalam sejumlah pernyataan Iblis untuk mencobai Yesus (lihat penjelasannya di atas pada bagian ‘Anak Allah’).

Kedua, Yohanes 13:13: ὑμεῖς φωνεῖτέ με· ὁ διδάσκαλος, καί· ὁ κύριος, καὶ καλῶς λέγετε· εἰμὶ γάρ [humeis phōneite me ho didaskalos, kai ho kurios, kai kalōs legete eimi gar; Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan]. Beberapa orang menerjemahkan kata κύριος dengan “Tuan” dan bukan “Tuhan”. Yang lainnya menerjemahkan dengan kata “Tuhan”. Kata κύριος memiliki beberapa arti: lord, master, owner, Lord. Perlu diperhatikan, penggunaan kata κύριος diselaraskan dengan dengan empat hal: konteks [terkecil], kepada siapa yang diucapkan, siapa penuturnya, dan latar belakang situasi dan kondisi [konteks terbesar]. Saya hanya menekankan pada ‘siapa penuturnya.’ Mereka yang menerjemahkan κύριος dengan ‘Tuan’ memiliki dua arah: menerjemahkannya berdasarkan pendekatan-pendekatan (bahasa, budaya, dan sebagainya), dan kedua, menerjemahkannya karena adanya tendensi menegasikan ke-Tuhan-an Yesus. Teks tersebut adalah bukti bahwa Yesus sendiri tidaklah mengakui diri-Nya sebagai Tuhan, melainkan sebagai Tuan.

Penjelasan saya berikut ini secara tegas menolak yang kedua sebab ada aspek yang mereka lupakan terkait dengan ke-Tuhan-an Yesus dalam teks tersebut. Meski bentuk penolakan ke-Tuhan-an Yesus didasari pada terjemahan kata κύριος dengan “Tuan”, namun mereka yang menggunakan terjemahan tersebut melupakan aspek “siapa penuturnya”. Dalam teks tersebut, penuturnya adalah Yesus. Jika diterjemahkan “Tuhan”, bagi saya, hal itu wajar karena Yesus sendiri tahu siapa diri-Nya. Guru dan Tuhan adalah terjemahan yang kuat karena penuturnya adalah Yesus yang sebelum mengucapkan kalimat tersebut, telah melakukan banyak hal yang ajaib [mukjizat], tindakan-tindakan spektakuler, tindakan-tindakan yang merujuk bahwa Dia adalah Allah. Para murid tentu tahu bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini tercermin dari kisah-kisah sebelum Yesus mengatakan bahwa Dia adalah “Guru dan Tuhan”. Mereka yang bersikukuh menerjemahkan “Tuan” untuk kata κύριος dalam menegasikan ke-Tuhan-an Yesus, perlu melihat bahwa si penutur tahu siapa dirinya.

Ketiga, Matius 12:8, Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat [κύριος γάρ ἐστιν τοῦ σαββάτου ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου; kurios gar estin tou sabbaton ho huios tou anthrōpou] (Bdk. Markus 2:28 dan Lukas 6:5). Prinsip hari Sabat dalam PL adalah Tuhan sebagai penentu hari Sabat, apa yang dipahami dari hari Sabat sebagaimana yang Tuhan perintahkan, apa yang dilakukan pada hari Sabat, dan larangan-larangannya (Bdk. Keluaran 20:8, 10-11; Keluaran 31:13). Dalam konteks ini, Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya adalah penentu dan pemilik hari Sabat layaknya TUHAN dalam PL. Penegasan Yesus soal diri-Nya adalah “Tuhan atas hari Sabat” membuktikan otoritas-Nya sebagai “Allah” yang sama dengan Allah dalam PL. Kita tahu siapa penuturnya di sini.

Dengan demikian implikasinya adalah ketika Yesus menyatakan bahwa diri-Nya sebagai “Tuhan atas hari Sabat” maka Dia juga mengklaim bahwa diri-Nya adalah Tuhan.

Keempat, Matius 20:28 (Bdk. Markus 10:45), “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” [ὥσπερ ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου οὐκ ἦλθεν διακονηθῆναι ἀλλὰ διακονῆσαι καὶ δοῦναι τὴν ψυχὴν αὐτοῦ λύτρον ἀντὶ πολλῶν]. Kata λύτρον, price of release (harga dari pembebasan, kepelapasan), ransom (tebusan) mengacu kepada totalitas karya Yesus. Jelas bahwa Yesus memberi diri-Nya sebagai λύτρον dalam konteks perwujudan finalisasi rencana Allah untuk menebus manusia dari dosa.

Penebusan dalam PL mengandung unsur “darah.” Binatang-binatang yang dipakai sebagai kurban, ada darahnya. Ketika Allah menggunakan cara yang sama—yakni adanya aspek ‘darah’ dalam peristiwa penebusan’—maka Allah berinkarnasi menjadi daging [manusia] [σὰρξ ἐγένετο, sarks egeneto]. Sebagai manusia berarti darah harus dicurahkan sebagaimana binatang-binatang dibunuh dan darahnya dicurahkan.  Sebagai Tuhan berarti Ia menebus dengan cara-Nya sendiri [yakni inkarnasi menjadi daging yang dapat mencurahkan darah]. Konsep ini kemudian terealisasi dalam diri Yesus. Dua teks berikut ini merepresentasikan makan penebusan yang digenapi dalam diri Yesus:

Ibrani 2:10, “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan —, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.”

1 Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Dalam PL, Allah berperan aktif menebus manusia. Penebusan itu digunakan berbagai “media sebagai “sarana” penebusan. Dari situ terklarifikasi bahwa ketentuan-ketentuan yang Allah buat terpenuhi dalam sarana penebusan tersebut. Sebut saja “anak domba sebagai sarana penebusan. Lalu Yohanes mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia [ἴδε ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ ὁ αἴρων τὴν ἁμαρτίαν τοῦ κόσμου – ide ho amnos tou Theo ho airōn tēn hamartian tou kosmou]. Allah sebagai Pencipta memiliki hak prerogatif mutlak untuk menebus manusia. Penebusan itu dikerjakan Allah melalui Yesus bagi semua umat pilihan-Nya selain dari pada Israel. Jika PL menyebutkan tata cara penebusan, itu hanya berlaku pada Israel saja.

Tetapi, ketika PB mendeklarasikan maksud dan rencana Allah untuk menebus semua orang yang telah ditetapkan-Nya (bdk. Rm. 8:29-30) melalui kematian Yesus di salib, maka itu berarti Allahlah yang menebus manusia. Itu sebabnya, Yesus dalam berbagai kesempatan mengklaim, memperlihatkan, dan menegaskan bahwa diri-Nya memang manusia tetapi Ia adalah Allah yang kekal yang menempati ruang manusia di dunia dan menjadi sama seperti manusia pada umumnya. Yesus adalah “Theo-Antrophos” [Allah-Manusia]—Allah menebus, manusianya mati [selaras dengan kematian anak domba dalam PL]—bagi kepentingan umat-Nya. Dengan demikian, ke-Tuhan-an Yesus ditegaskan dari klaim-Nya sendiri: “Anak Manusia memberikan nyawa-Nya menjadi λύτρον bagi banyak orang” dan hal adalah bentuk konfirmasi dari pernyataan Malaikat Gabriel bahwa “… karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Yesus pula yang menegaskan bahwa “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10).

Juruselamat

PL menegaskan bahwa TUHAN Allah adalah Juruselamat. Nabi Yesaya menyatakan “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku” (Yes. 43:11); “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat” (Yes. 45:15); “…. Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (Yes. 45:21). Nabi Hosea juga menegaskan “Tetapi Aku adalah TUHAN, Allahmu sejak di tanah Mesir; engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku” (Hos. 13:4). Dari dasar PL itulah, kemudian ditegaskan malaikat Tuhan [Utusan Allah] ketika menyampaikan berita besar kepada para gembala (Luk. 2:10-11): Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Berita tersebut mengimplikasikan bahwa keselamatan Allah diperluas bukan karena baru diperluas melainkan telah Ia rencanakan sebelumnya.

Seperti dalam PL bahwa kurban keselamatan, dosa, dan penebus salah diperuntukkan bagi bangsa Israel. Dan itu berarti bersifat terbatas. Namun, ketika Allah mengutus Anak-Nya (Yoh. 3:16) ke dunia sebagai perwujudan penegasan perluasan keselamatan (tidak bertumpu pada satu bangsa saja), maka kematian Yesus bersifat luas—kepada seluruh bangsa—sebagaimana yang dinyatakan malaikat Tuhan. Beberapa bukti perlu disimak terkait. Misalnya Kisah Para Rasul 13:47 “Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi”, Kisah Para Rasul 15:11 “Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga”, Kisah Para Rasul 28:28 “Sebab itu kamu harus tahu, bahwa keselamatan yang dari pada Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya”, Roma 11:11 “Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu”, 1 Tesalonika 5:9 “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”, 2 Timotius 2:10 “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal”, dan Ibrani 9:28 “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”

Teks-teks tersebut secara kuat dan tegas menyatakan bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Penebus. Ketika gagasan ini dikaitkan dengan PL, kita akan menemukan bahwa keduanya saling meneguhkan identitas Allah dan Yesus. Dengan demikian, ketika Yesus menegaskan dan ditegaskan bahwa diri-Nya adalah Juruselamat, hal tersebut tidak bertentangan dengan PL. Yesus sebagai σωτήρ menunjukkan identitas-Nya sebagai Allah, sebab Allah saja yang dapat menebus manusia. Ketika misi Kristen disebarkan, Yesus sebagai Juruselamat menjadi berita utamanya. Pasca Yesus ke surga, berita tersebut menjadi berita utama para murid [rasul] bahwa Yesus adalah Juruselamat. Implikasinya, Yesus adalah Allah dan Tuhan kita—selaras dengan pernyataan PL (Lihat Kis. 5:31; 13:23; Flp. 3:20; 1 Tim. 1:1; 4:10; 2 Tim. 1:10; Tit. 1:3-4; 2:10; 2:13; 3:4; 3:6; 2 Ptr. 1:1; 1:11; 2:20; 3:2; 3:18; 1 Yoh. 4:14; Yud 1:25).

Alfa dan Omega

Dalam kitab Wahyu disebutkan bahwa Yesus adalah “Alfa dan Omega” [Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ] – Yang Awal dan Yang Akhir [ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος]. Pernyataan ini membuktikan bahwa Yesus telah ‘ada’ sebelum inkarnasi-Nya ke dunia (praeksistensi). Pernyataan Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ adalah wujud nyata ke-Tuhan-an Yesus.

Simon J. Kistemaker menjelaskan Wahyu 1:8, “inilah pernyataan pertama Allah tentang diri-Nya sendiri, yang Yohanes ulangi di 21:6, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Baik Allah maupun Kristus menyebut diri “Aku adalah Alfa dan Omega” (Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 92). Itu berarti, ada kesetaraan antara Allah dengan Yesus (mengenai hal ini, Kistemaker menjelaskannya dalam tafsirannya pada 21:6 dan 22:13 yang akan saya paparkan kemudian). Kistemaker berpendapat, Kristus kekal dan bisa menyebut diri-Nya Yang Awal dan Yang Akhir, Sumber dan Penggenap karya penciptaan dan penebusan (Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 93). Bagi Richard Bauckham, “Kristus adalah agen ilahi dalam penciptaan Allah atas segala sesuatu maupun dalam penggenapan eskatologis Allah atas segala sesuatu” (Bauchkam, Theology of the Book of Revelation, New Testament Theology, 56-57, dikutip Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 93). Sebagai agen Allah [logos], memungkinkan Allah menciptakan segala sesuatu. Allah tak mungkin tanpa ‘logos’. Keberdiamana logos secara kekal dalam diri Allah mengimplikasikan kekekalan logos dan esensi yang dimiliki logos berasal dari Allah yang kekal. Itu sebabnya, sebagai agen Allah, Yesus memiliki natur kekal dan kesetaraan dengan Allah.

Pemahaman Yesus sebagai agen Allah tidaklah menggiring opini bahwa Dia hanyalah ‘pesuruh’ Allah. Kita mengetahui bahwa karena inkarnasi-Nya, maka Yesus disebut sebagai logos yang menjadi daging [manusia]. Tanpa inkarnasi, sebutan ‘agen’, ‘Anak Manusia’, ‘Anak Allah’, ‘Anak Daud’, dan sebagainya, tak pernah terucap.

Dalam teks Wahyu 1:8, pernyataan Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ dikatakan oleh Yesus. Meskipun dalam pasal 1:1 dituliskan, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya…” seolah-olah Yesus tidak memiliki otoritas untuk menyatakan identitas-Nya. Namun, sebagaimana yang tampak dalam Injilnya, Yohanes melihat adanya kesetaraan antara Allah dan Yesus.

Lebih jelasnya, Yohanes secara gamblang menjelaskan tentang identitas Yesus berdasarkan apa yang dilihatnya. Ia adalah saksi mata atas apa yang dilakukan Yesus. Ia pun menulis bahwa Yesus setara dengan Allah Bapa, meski secara situasional, Ia dalam keadaan sebagai manusia (bdk. Yoh. 1:14). Berikut teks-teks kesetaraan Yesus dengan Bapa dan konteks bahwa Yesus merepresentasikan Bapa kepada manusia.

3:17-18, Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Allah yang mengutus Yesus. Bahkan yang percaya diberikan jaminan: ‘tidak dihukum’. Itu berarti, Yesus menyatakan diri sebagai Hakim (bdk. Mzm 7:12 dan 9:5, “Allah adalah Hakim yang adil”).

3:36, Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya. Percaya kepada Yesus yang adalah Anak Allah, diberikan jaminan kehidupan kekal. Hanya Allah yang dapat memberikan jaminan kehidupan kekal. Ini pernyataan kesetaraan Yesus dengan Allah.

5:21, Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya (bdk. 6:54). Ketegasan Yesus di sini mengungkapkan kesetaraan kuasa antara Dia dengan Bapa-Nya, untuk menghidupkan orang-orang mati. Artinya, kuasa yang dimiliki Bapa, adalah juga kuasa yang sama dimiliki-Nya sebab Yesus datang dan keluar dari Bapa (bdk. Yoh. 6:46, “Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa”; 7:29, “Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”; 8:42, “… sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku”; 16:27, “… karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah”; 16:28, “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia….”; 17:8, “…bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

3:31, Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanyaSiapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Penegasan bahwa Yesus dari surga [atas] membuktikan bahwa Ia di atas semuanya. Hanya Allah di atas semuanya.

5:23, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Kesetaraan penghormatan ditujukan kepada Bapa dan Yesus. Yesus [Anak] adalah representatif Bapa. Konsekuensinya, menghormati Yesus, sama halnya menghormati Bapa. Ini wujud dari kesetaraan kehormatan.

5:24, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Ini adalah bentuk kesetaraan Yesus dengan Bapa yang mengutus-Nya: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku” dan “percaya kepada Dia yang mengutus Aku” adalah dua hal yang setara. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa (bdk. 5:23). Yang mendengar dimungkinkan untuk percaya. Yang percaya kepada Yesus pasti mereka yang mendengar perkataan-Nya. Jika demikian, Bapa yang mengutus direpresentasikan oleh Yesus dan segala perkataan-Nya. Tentu Yesus tidak menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Bapa yang mengutus-Nya.

6:57, Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Ayat ini dapat berarti demikian, “Bapa hidup, dan Aku hidup oleh Bapa yang hidup sebab jika Yesus hidup maka itu disebabkan karena yang mengutus-Nya adalah hidup.” Hidup di sini bermakna eksistensi kekal yang tentunya secara hakiki bahwa baik Bapa maupun Yesus memiliki eksistensi yang tak dapat dipahami sepenuhnya karena Bapa, yang mengutus Yesus adalah kekal. Maka ayat di atas melampaui dari apa yang kita pahami tentang ‘hidup’ Bapa dan ‘hidup’ Yesus. Selanjutnya, kalimat “Aku [Yesus] hidup, dan kamu akan hidup oleh Aku” adalah konsekuensi dari yang pertama. Ini adalah sebuah analogi yang konsisten. Yang percaya akan hidup selama-lamanya sebagaimana Yesus hidup selama-lamanya dalam kekekalan, meski mengalami kehidupan sementara di bumi. Oleh sebab itu, esensi Yesus yang dari Bapa, menegaskan kesetaraan [kesamaan] esensi. Bapa hidup, maka Yesus juga hidup dalam esensi-Nya.

8:12, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Penegasan Yesus sebagai ‘terang dunia’ menyamakan kesetaraan identitas-Nya dengan Allah dalam PL sebagai ‘terang’: Mazmur 27:1, “…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku…”; Mikha 7:8, “… sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.

8:51-52  “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya….”. Menuruti firman [yang dikatakan] Yesus sama halnya menuruti firman Allah [yang mengutus-Nya]. Meski mendapat penolakan dari lawan-lawan-Nya, namun perkataan Yesus ini dinyatakan secara tegas. Kesetaraan firman Yesus dan firman Allah membuktikan bahwa Ia dan Allah adalah setara dalam hal menyampaikan firman yang memberikan dampak pada kehidupan kekal (selama-lamanya) sebagai jaminan dari mereka yang mendengar dan menurutinya.

11:25,  Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Ini adalah klaim yang menyatakan bahwa baik Bapa maupun Yesus, memiliki kuasa memberikan kehidupan kekal maupun kehidupan bagi mereka yang telah mati (dibangkitkan).

12:26, Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Bukti bahwa seseorang dihormati Bapa adalah melayani Yesus dalam bentuk ‘mengikuti-Nya’: mengikuti firman-Nya dan mengikuti teladan-Nya, sebab dengan mengikuti [melayani] Yesus, di situ Bapa dipermuliakan dan ditinggikan sebab siapa yang percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Pribadi yang mengutus-Nya.

12:44, “… ‘Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku.’” Ini adalah penegasan Yesus tentang identitas-Nya yang merepresentasikan Bapa dalam diri-Nya. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa sebab apa yang dilakukan dan dikatakan Yesus adalah apa yang dikehendaki Bapa.

12:45, dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Ayat ini selaras dengan 12:44. Yesus merepresentasikan Bapa-Nya. Bapa yang tidak kelihatan menjadi ‘terlihat’ dalam pribadi Yesus. Kata ‘melihat’ tidaklah dimaksudkan melihat pribadi-Nya secara kasat mata, melaikan melihat mengenai apa yang ‘dikatakan-Nya [difirmankan dan diklaim-Nya]’ dan apa yang ‘dilakukan-Nya’. Apa yang ‘terlihat’ dalam pribadi Yesus (perkataan, klaim, dan tindakan-Nya) adalah sesuai dengan apa yang dikehendaki Bapa. Jadi, tidak ada perbedaan antara kehendak Yesus dan kehendak Bapa (bdk. 14:9, 24).

15:23, Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Ayat ini juga menjelaskan kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya. Mereka yang membenci Yesus karena apa yang dikatakan, diklaim dan dilakukan Yesus (bdk. penjelasan 12:45 di atas). Makna “membenci Yesus berarti membenci Bapa-Nya” disebabkan karena apa yang dilakukan, dikerjakan, dikatakan, difirman, diklaim Yesus, adalah selaras dengan kehendak Bapa. Tidak ada pertentangan antara kehendak Yesus dengan kehendak Bapa-Nya. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, justru Yesus menyatakan bahwa “tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Mat. 26:39, 42; Mrk. 14:36; Luk. 22:42).

Dari bukti-bukti di atas, maka saya berkesimpulan bahwa Yesus memiliki kesetaraan hak untuk menyatakan firman dan klaim bahwa Ia adalah Alfa dan Omega, seperti yang nyata dalam Wahyu 1:8. Konkritnya, Wahyu 1:7 menegaskan bahwa ayat 8 benar-benar diklaim oleh Yesus: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.” Kata ganti ‘Ia’ dan ‘Dia’ merujuk kepada Yesus. Indikasi utamanya adalah “juga mereka yang telah menikam Dia” melihat Ia datang dengan awan-awan. Artinya, tidak hanya setiap mata akan melihat Yesus, tetapi mereka yang telah membunuh-Nya juga akan melihat kedatangan-Nya.

Oleh sebab itu, dari penjelasan di atas, maka bentuk penegasian ke-Tuhan-an Yesus yang diukur dari ‘ucapan’ [pengakuan Yesus sendiri] telah dibuktikan melalui Wahyu 1:8 dan juga ayat-ayat berikut ini: 1:17; 2:8; 21:6; 22:13:

1:8, “Aku adalah Alfa dan Omega [Εγώ εἰμι τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ], firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Ayat ini menegaskan beberapa hal tentang keilahian Yesus: pertama, keseteraan-Nya dengan Allah sebagai Pencipta, Yang Awal dan Yang Akhir, Allah yang ada pada mulanya (bdk. Kej. 1:1 dan Yoh. 1:1) menciptakan segala sesuatu, dan Allah yang akan mengakhiri segala sesuatu; kedua, kalimat ‘firman Tuhan Allah’ menyatakan bahwa firman yang disampaikan Yesus kepada Rasul Yohanes adalah firman dari diri-Nya sendiri sebagai ‘Tuhan Allah’. Hal ini selaras dan sebagai konsekuensi dari pernyataan awal Yesus: “Εγώ εἰμι τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ”. Yang Awal dan Yang Akhir mutlak sebagaipribadi yang kekal yaitu Tuhan Allah. Dialah Yesus; ketiga, kalimat “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” menyatakan kekekalan Yesus. Yohanes mendapatkan legitimasi tentang apa yang ditulis dalam Injilnya (Yoh. 1:1): In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God (ASV); Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος. Yesus juga menegaskan bahwa Ia adalah “Yang Mahakuasa” [the Almighty, ὁ παντοκράτωρ – ho pantokrator]. Yesus meneguhkan apa yang ditulis oleh Rasul Yohanes. Dua pernyataan yakni Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος dan ὁ ὢν καὶ ὁ ἦν καὶ ὁ ἐρχόμενος [yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang] saling meneguhkan, saling mendukung, saling menguatkan dan saling mengkonfirmasi. Yesus adalah Allah dan kekal; keempat, kalimat “Yang Mahakuasa” juga membuktikan bahwa sebagai Alfa dan Omega, Tuhan Allah, dan Yang Kekal, mengimplikasikan kekuasaan yang tertinggi di antara segala kuasa yang ada. Kita teringat akan perkataan Yesus sebelum Ia naik ke surga: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Mat. 28:18). Dalam PL, sebutan “Yang Mahakuasa” ditujukan kepada Allah [Yahweh] yang kekal: Kejadian 17:1; 28:3; 35:11; 43:14; 48:3; 49:25; Keluaran 6:3; Bilangan 24:4, 16; Rut 1:20-21; Ayub 5:17; 6:4, 14; 8:3, 5; 11:7; 13:3; 15:25; 21:15, 20; 22:3, 17, 23, 25, 26; 23:16; 24:1; 27:2, 10, 11, 13; 29:5; 31:2, 35; 32:8; 33:4; 34:10, 12; 35:13; 37:23; 39:35; Mazmur 50:1; 68:15; 91:1; Yesaya 13:6; 60:16.

Lalu kitab Wahyu menegaskan hal yang sama kepada Yesus: 4:8, Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang”; 11:17, sambil berkata: “Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja; 15:3, Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!”; 16:7, Dan aku mendengar mezbah itu berkata: “Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu”; 16:14, Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa; 19:6, Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”; 19:15, Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa; 21:22, Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.

1:17-18, ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

2:8, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.

21:6, Firman-Nya lagi kepadaku: Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

22:13, Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.

Pernyataan “Yang Pertama dan Yang Terkemudian” yang diklaim oleh Yesus, selaras dengan pernyataan Yahweh dalam PL. Nabi Yesaya menuliskan: “Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga” (41:4); “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku’” (Yes. 44:6) dan “Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian!” (Yes. 48:12).

G. K. Beale, dalam The Book of Reveation, menegaskan, τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ(“the Alpha and the Omega) is a figure of speech called a merism (a merism states polar opposites in order to highlight everything between the opposites). Similar merism are ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος (“the Beginning and the End”, 21:6; 22:13) and ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος (“the First and the Last”, 22:13; cf. 1:17). These merisms express God’s control of all history, especially by bringing it to an end in salvation and judgment (Beale, The Book of Reveation. The New International Greek Testament Commentary, 199).

Tampak bahwa pernyataan τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ (“the Alpha and the Omega) dan ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος (“the Beginning and the End”) mengindikasikan (mengekpresikan) pengontrolan Allah atas keseluruhan sejarah, yang di dalamnya include misi penyelamatan Allah dan penghukuman-Nya atas dosa-dosa manusia. Jika demikian, ada aspek kesetaraan antara Allah dan Yesus—jika teks di atas merujuk kepada Allah—namun jika teks tersebut sangat kuat merujuk pada Yesus, maka implikasinya juga sama: Ia dan Allah memiliki kesetaraan. Beale menambahkan,

These divine speaker identifies himself as “the Alpha and the Omega, the beginning and the end” (τὸ ἄλφα καὶ τὸ ὦ, ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος). We have seen that the titles “Alpha and Omega” and “first and last” (1:8, 17) are synonymous with the similar expressions “the beginning and the end, the first and the last” (ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος, ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος) at the end of the book (in 22:13, with a repetition of “Alpha and Omega”). All these titles express God’s sovereignty over history, especially by bringing it to an end in salvation and judgment. That God is the beginning and end of history means that he rules over all events in between. The two “beginning and end” merisms of 21:6 might have been formulated through reflection on the similar clauses in Isaiah 41-48, since ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος in 1:17b is based on the same Isaianic wording. Indeed, the Masoretic Text of Isa. 41:4; 44:6, and 48:12 has variant forms of “I am the first an the last” (Beale, The Book of Reveation. The New International Greek Testament Commentary, 1055).

Rujukan Rasul Yohanes tentang gagasan “the Alpha and the Omega, the beginning and the end” adalah Yesaya 41:4, 44:6, dan 48:12 sebagaimana tampak dari penjelasan Beale di atas. Beale menafsirkan Wahyu 22:13, “the Apocalypse has already called God “the Alpha and the Omega” (1:8, 21:6) and “the Beginning and the End” (21:6), and Christ has been called “the First and the Last” (1:17; 2:8). Now all these titles, which are used in the Old Testament of God, are combined and applied to Christ to highlight his deity” (Beale, The Book of Reveation, 1138). Menurut Beale, semua titel (gelar) yang digunakan dalam Perjanjian Lama kepada Allah, dikombinasikan dan diaplikasikan kepada Yesus untuk menyoroti ke-Ilahian-Nya.

Dasar-dasar ini boleh menjadi referensi kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa-Nya. Yang tampak dari peristiwa historis, Allah membawa dan menganugerahkan keselamatan kepada manusia melalui Yesus. Ada perbedaan kualitas dan identitas antara para nabi dan Yesus. Para nabi adalah mereka yang menyampaikan pesan-pesan keselamatan dan penghukuman Allah, tetapi mereka tidak dapat bertindak atas nama Allah untuk mengampuni dan menyelamatkan umat Allah yang berdosa dengan diri mereka sendiri. Sedangkan Yesus, Ia bertindak atas nama Allah untuk mati, mencurahkan darah-Nya bagi pengampunan dosa-dosa umat-Nya. Tidak hanya itu, Ia bangkit dari kematian dan kembali ke surga—tempat di mana Ia berasal sesuai dengan yang diklaim semasa hidup-Nya.

MISI APOLOGETIKA

Setelah kita melihat elaborasi Apologetika Misi, kita beranjak kepada topik mengenai Misi Apologetika. Beberapa poin penting yang menjadi bagian dari Misi Apologetika akan saya paparkan. Dengan begitu, memahami misi, sebagaimana telah saya jelaskan di bagian awal tulisan ini yakni isi berita, dan personalitas Allah yang terkandung dalam isi berita. Elaborasi di atas mencakup keduanya. Apologetika Misi berarti berita misi dan personalitas Allah dalam misi tersebut perlu dipahami secara baik dan memadai sehingga ketika mendapat respons dari para pendengar, kita bisa memberi pertanggungan jawab (bdk. 1 Ptr. 3:15-16). Sedangkan Misi Apologetika berbicara mengenai tanggung jawab dan komitmen Kristen dalam memberitakan Injil.

Menyatakan Kebenaran Alkitab tentang Yesus Kristus

Apologetika bukanlah melulu ‘berdebat’, melainkan seni bagaimana mempertahankan iman Kristen, seni bagaimana memberikan jawaban yang baik kepada setiap orang, seni bagaimana mempertanggung jawabkan spiritual dan moralitas Kristen, dan seni meluruskan kesimpangsiuran, kesesatan, kesalahpahaman orang-orang terhadap ajaran [doktrin] Kristen dan data Alkitab. Menyatakan kebenaran Alkitab adalah wujud dari kesaksian kita dan iman kita pada Yesus. Sebagai saksi Kristus, patutlah kita memahami bahwa tanggung jawab misi adalah hal yang mulia. Dari situlah kita membuktikan bahwa kita adalah orang yang setia dan taat akan firman-Nya.

Menyatakan Keberatan Atas Sesat Tafsir Alkitab

Alkitab adalah kitab yang paling banyak dikritik. Namun, dalam kritik yang keras sekalipun, orang Kristen tidak kehilangan nyali. Tidak hanya kritik dari pada atheis, kaum liberal, kaum rasional dan sebagainya, namun Islam juga mengkritik Alkitab melalui kitab sucinya. Meski demikian, kita tahu bahwa semua kitab suci agama-agama di dunia terbuka peluang untuk dikritik. Artinya, setiap kitab suci memiliki natur untuk dikritik, baik oleh lawan maupun oleh penganut agama tersebut. Misi apologetika perlu memahami kritik dan sekaligus menjawabnya. Ketika Alkitab ditafsir sesuka hati oleh mereka yang mengkritiknya, para misonaris dapat menjawab keberatan atasnya dan menyuguhkan cara yang akademis dan kredibel.

Sesat tafsir atas Alkitab memang menjadi marak terjadi baik di kalangan Kristen sendiri maupun dari kalangan liberal, rasional, penentang, maupun dari kalangan agama lain. Akan tetapi, Alkitab memiliki sejumlah panduan dasar untuk menjawabnya. Dibutuhkan pemahaman yang kuat terlebih dahulu dari pihak Kristen (misionaris) tentang ajaran-ajaran Alkitab, baru bisa memberikan jawaban yang kurang lebih menampik berbagai bentuk kesesatan tafsir atas Alkitab.

Beberapa contoh berikut ini bisa menjadi panduannya. Misalnya dosa. Dalam doktrin Kristen, Yesus mati menebus manusia dari dosa. Namun, ada halangan dalam memahaminya, yakni di satu sisi Yesus adalah Tuhan, dan di sisi lain, Yesus adalah manusia. Ketika Yesus mati, maka orang mengira, ‘Tuhan’ juga mati. Padahal hal itu salah. ‘Tuhan’ bukanlah dipahami secara fisik. Gelar ‘Tuhan’ tidak menekankan fisik tapi pada substansinya. Ketika Yesus mati, yang mati adalah raga manusia-Nya. Rasul Paulus dengan tegas menyatakan hal ini: “Dan dalam keadaan sebagai manusia [ἄνθρωπος], Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat [ὑπήκοος] sampai mati [θάνατος], bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Yesus taat [ὑπήκοος] kepada Bapa-Nya. Ia [ὑπήκοος] karena Ia manusia. Ia bisa menebus manusia dari dosa karena Ia adalah Allah.

Doktrin keselamatan dan penebusan melalui penyaliban juga merupakan sasaran empuk kritik. Namun, sama seperti gagasan dosa di atas, mereka yang keliru memahami kedua doktrin ini sering terjebak pada ketidaktahuan secara komprehensif soal data Alkitab dan bahkan lebih parahnya adalah tidak memiliki alur pemikiran tentang “historical redemption”. Jadi, keselamatan, penebusan dosa, selalu dikaitkan dengan rencana dan cara Allah menebus serta peduli kepada manusia. Ketika mengkritik doktrin-doktrin fundamental ini, para lawan Kristen sering merasa sombong dengan teori-teori mereka, padahal secara natur, teori-teori tersebut adalah “salah kamar”.

Keselamatan dari Allah disebabkan manusia adalah ciptaan-Nya. Manusia berdosa kepada Allah dan secara keturunan, manusia tercemar oleh dosa tersebut. Lalu apakah manusia berakhir di situ? Tidak. Allah tetap menggenapi rencana kekal-Nya dan memperkenankan manusia sesuai kedaulatan-Nya untuk menikmati keselamatan itu. Keselamatan yang di dalamnya mencakup penebusan, pengampunan, pendamaian, dan pengudusan itulah yang diwujudkan Allah atas manusia. Tidak hanya itu, jaminan memperoleh kehidupan kekal adalah bentuk finalnya. Aspek-aspek inilah yang sering menjadi percakapan dalam bermisi. Perlu bagi kita untuk memahaminya.

Soal lain lagi adalah Kristologi. Sering, orang menilai bahwa untuk membuktikan Yesus adalah Tuhan, maka Ia harus mengakui dari mulut-Nya sendiri bahwa ‘Aku adalah Tuhan’. Ini mirip dengan strategi Iblis. Artinya, beban pembuktian ada pada ‘pengakuan’. Dengan demikian, ‘pengakuan’ adalah standar tunggal dan standar lainnya tidak masuk hitungan. Apakah benar demikian? Jelas bahwa hal tersebut adalah keliru karena beban pembuktian bersifat tunggal. Metode ini sering dipakai Islam untuk menolak ke-Ilahian Yesus. Namun, beberapa teks yang telah saya jelaskan di atas adalah bukti bahwa Yesus mengklaim diri-Nya adalah ‘Tuhan’. Misalnya ketika Yesus mengatakan: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” dan “Akulah Guru dan Tuhan” sudah cukup membuktikan bahwa Ia mengakui-Nya (bdk. Yoh. 10:36; 11:4).

Tidak hanya itu, beberapa teks berikut ini membuktikan hal yang sama. Mereka yang mengakui Yesus sebagai Anak Allah adalah orang-orang terdekat, para saksi mata, dan bahkan dari cara menjawab Yesus yang menggunakan pengakuan orang lain sebagai bukti bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kesaksian Yohanes: Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah (Yoh. 1:34; bdk. 20:31)

Kesaksian Natanael: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh. 1:49)

Kesaksian Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh. 11:27)

Kesaksian Pilatus: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya” (Luk. 23:3)

Kesaksian Imam Besar dan kesaksian Yesus: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”

Kesaksian para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah” (Luk. 22:70)

Poin-poin utama dari seni menafsir adalah memperhatikan konteksnya yang terdiri atas: situasi dan kondisi, penutur, penerima, korelasi tekstual dan korelasi konteks. Kelemahan dari mereka yang menegasikan ke-Ilahian Yesus dengan menggunakan dalil Injil-Injil, selalu melupakan unsur penutur, analisis konteks dan teks, serta memiliki persepsi yang buruk terhadap Alkitab.

Memenangkan Orang Lain melalui Sikap Hidup

Secara substansial, Kristen adalah sebuah ‘ekspos hidup’ melalui tiga hal: pertama, melalui cara berucap, kedua, melalui cara berbuat, dan ketiga, melalui cara berpikir. Ketiga prinsip ini tertuang dalam nasihat Petrus: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab [cara berucap] kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu [cara berpikir], tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni [cara berbuat], supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Ptr. 3:15-16).

Kehidupan Kristen tidak akan lepas dari ketiga hal tersebut. Seyogianya kehidupan spiritual dan moral ditampakkan dalam totalitas kehidupan. Tak ada yang perlu ditutupi. Kita adalah “surat terbuka” yang dapat dibaca oleh semua orang. Ketika kita menampakkan sikap hidup yang seperti itu, mungkin saja mereka yang melihatnya akan dipengaruhi. Yesus juga pernah mengatakan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16). Jika demikian, kita perlu menjadi ‘teladan terang’ dalam sikap, pemikiran, dan perkataan. Misi Kristen: apologetika misi dan misi apologetika, melibatkan ketiga unsur di atas. Misi juga berbicara mengenai pengaruh melalui ‘teladan terang’, selain dari pada perkataan isi berita dan personalitas Tuhan.

Penutup

Apologetika Misi dan Misi Apologetika merupakan dua implikasi akuntabilitasi (tanggung jawab) iman dan moral. Bermisi merupakan panggilan yang mulia di mana kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mewartakan diri-Nya dan apa yang dikehendaki-Nya.

Dalam tugas misi tersebut, kita perlu mendorong diri kita untuk terus belajar Alkitab dan berusaha memahami pengajaran-pengajaran iman Kristen. Ketika bermisi, ada berbagai tantangan untuk menyampaikan iman Kristen dan personalitas Yesus Kristus. Kadang ada respons yang negatif, ada penolakan, dan bahkan ada respons yang terlampau kasar. Apologetika misi mengandung berita pekerjaan Tuhan dalam sejarah yang terus dikumandangkan terkait dengan penebusan, keselamatan, dan jaminan-Nya. Dengan begitu, personalitas Tuhan juga ikut diberitakan. Sebab Tuhanlah yang memungkinkan manusia dapat ditebus, diselamatkan, dan menerima jaminan-Nya.

Apologetika misi mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya kita memahami Alkitab secara benar dan kredibel sehingga ketika doktrin-doktrin penting yang disampaikan dalam misi, kita dapat dengan lebih meyakinkan memberikan penjelasan, dan bahkan mungkin memberi pengaruh yang sangat baik kepada mereka yang mendengarkannya. Seorang Kristen patut bersekutu dengan Tuhan. Ia perlu memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan. Atau dengan kata lain, ia mempunyai kehidupan doa, kehidupan rohani, dan kehidupan yang kudus di hadapan-Nya. Dengan demikian, mengikuti nasihat Petrus, akan menjadi lebih mudah.

Misi Apologetika lebih menekankan pada cara membereskan, meluruskan kesimpangsiuran pemahaman doktrin Kristen oleh mereka yang mengkritik, merendahkan, menghina, dan menegasikannya. Tanggung ini membutuhkan kesiapan yang matang, di mana orang Kristen telah mendorong dirinya untuk belajar dan belajar Alkitab sehingga darinya, ia dapat menjelaskan secara baik, meyakinkan, dan berwibawa tentang pengajaran-pengajaran Alkitab dan dapat membawa pengaruh yang baik kepada mereka yang mendengarkannya. Dan tak boleh dilupakan, tanpa kuasa dan campur tangan Tuhan, pekerjaan misi kita—sebagus apa pun—akan menjadi sia-sia, sebab hanya Tuhanlah yang memungkinkan pekerjaan misi baik apologetika misi dan misi apologetika, dapat menghasilkan sukacita karena banyak orang yang dimenangkan bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus.

Soli Deo Gloria

Bibliografi

Bavink, Herman. Dogmatika Reformed Jilid 3: Dosa dan Keselamatan di dalam Kristus, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum: 2016.

Beale, G. K. Beale. The Book of Reveation. The New International Greek Testament Commentary (NIGTC). Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Com., 1999.

Birdsall, J. N. “Kanon Perjanjian Baru”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, terj. Harun Hadiwijono. Jakarta: YKBK, 2011.

Firestone, Reuven. “Jewish Culture in the Formative Period of Islam”, dalam David Biale (ed.), Cultures of the Jews: A New History. New York: Schocken Books, 2002.

Gingrich, F. Wilbur. Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, dalamBibleWork9.

Kistemaker, Simon J. Tafsiran Kitab Wahyu, terj. Peter Suwadi Wong dan Baju Widjotomo. Surabaya: Momentum, 2011.

Motyer, J. A. Motyer & F. F. Bruce. “Mesias”, diterjemahkan oleh M. H. Simanungkalit & H. A. Oppusunggu, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jilid II: M–Z, (peny.) J. D. Douglas dkk. Jakarta: YKBK, 2011.

Paparang, Stenly R. “Dialog Al-Qur’an dan Alkitab: Sebuah Kolase dan Klarifikasi Wahyu Allah atas Klaim Pemalsuan Alkitab, dalam Kasih Karunia Yesus Kristus, editor Adi Putra, Darwin T. Zega, dan Lewi N. Bora. Jakarta: VIEWS, 2016. Youngblood, Ronald F., F. F. Bruce & R. K. Harrison. Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary. Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, 1995.

Artikel ini adalah artikel saya yang telah diterbitkan dalam buku “Berjuanglah Sampai Akhir: Kumpulan Tulisan dalam Rangka Dies Natalis SETIA ke-30, editor Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Yosia Belo, Moses Wibowo, & Lewi N. Bora. Copyright © 2017–cet. 1 – Jakarta: DELIMA, 2017; 15,5 cm x 23 cm. ISBN: 978-602-1605-83-7

MATRA KARISMATIK IMAN KRISTEN

Kerangka berpikir manusia pada umumnya dilandasi pada perilaku yang tampak dalam relasi dan komunikasi yang terjadi di masyarakat fisikal maupun masyarakat digital. Perilaku menjadi matra (ukuran, dimensi) untuk melihat kadar karismatik dari seseorang. Baik-buruknya, dinilai melalui perilaku. Singkatnya, manusia memperlihatkan karakternya melalui perilaku, dan perilaku yang dilakukan, bergantung pada pemikirannya dan konteks di mana manusia itu berada.

“Kehidupan” menyediakan berbagai jenis konteks yang harus kita hadapi, jalani, dan maknai. Ada koherensi yang terjadi antara pikiran dan perilaku. Dalam ruang iman, perilaku (perbuatan) adalah wujud dari iman itu sendiri. Apa yang diimani terlihat jelas dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang.

Perbuatan-perbuatan adalah matra karismatik bagi seseorang. Iman juga demikian. Matra iman adalah perbuatan-perbuatan yang direalisasikan dalam kehidupan (relasi dan komunikasi). Semua bentuk perbuatan baik, dilandasi dengan prinsip KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya), KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]), dan prinsip BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena seseorang mengasihi Dia). Iman Kristen bergerak dari ketiga aspek tersebut.

Pada tahap ini, kita dapat memahami apa itu matra karismatik iman Kristen. Tiga aspek yang saya sebut di atas, adalah matranya. Untuk lebih jelasnya, saya menguraikannya secara singkat berikut ini.

Matra Pertama: KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, menampilkan sikap “kesetiaan” pada ajaran-ajaran-Nya, terutama tentang “mengasihi Dia dan sesama, mendoakan musuh, dan memberkati orang yang mengutuk”. Kesetiaan ini tampil ke permukaan dalam hal beribadah, berdoa, dan menyatakan kepedulian kepada sesama. Inilah tanggung jawab iman.

Jangan bicara soal iman jika tidak bertanggung jawab. Jangan bicara soal iman, jika tidak setia kepada Yesus Kristus. Para martir Kristen sepanjang abad, menunjukkan matra karismatik dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Meski mereka disiksa dan bunuh, mereka tetap setia kepada Yesus dan tahu bahwa ada jaminan setelah kematian. Mereka juga tahu bahwa para pembunuh mereka, juga akan mati, hanya cara matinya yang mungkin berbeda. Tetapi apakah para pembunuh itu memiliki jaminan setelah kematian?

KESETIAAN adalah tanggung jawab iman. Matra ini begitu kuat terlihat di sepanjang sejarah pada mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Meski dianggap bahwa mereka “menyembah manusia”, tetapi Yesus adalah manusia yang berbeda kualitasnya dengan manusia pada umumnya. Ia datang dan lahir dari Allah—Logos Allah yang kekal—datang ke dalam dunia “menjadi daging” (ho logos sarks egeneto [Yoh. 1:14]), dan menyatakan bahwa Allah yang Mahakuasa itu adalah “Imanuel”, Allah yang “menjadi” dekat dengan manusia, mengenakan daging manusia untuk menunjukkan bahwa Ia mengasihi lebih dari apa yang manusia pikirkan dan pahami.

KESETIAAN kepada Yesus Kristus tidak bertepuk sebelah tangan. JAMINAN disediaan bagi mereka yang percaya dan setia seperti penegasan Rasul Yohanes: “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Allah yang “menjadi” adalah Allah yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya, dan Ia pula menyatakan diri sebagai Allah yang imanen: IMANUEL.

Sebagai matra karismatik iman Kristen, KESETIAAN menjadi taruhan iman sepanjang hayat. Gumul juang adalah bagian dalam proses realisasi kesetiaan itu. KESETIAAN itu mahal harganya; bahkan hidup kita adalah bayarannya. Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan untuk SETIA sampai mati. Matra ini menjadi kualitas dan kemampuan orang Kristen untuk menunjukkan bahwa mereka tidak salah beriman kepada Yesus Kristus. Ia menjamin dan memberkati, serta memberikan kemenangan.

Matra Kedua: KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]). Keberanian ini mengikuti teladan Yesus Kristus. Ia berterus terang menyatakan bahwa “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka [domba-domba-Nya, sebuah arti kiasan bagi orang-orang pilihan-Nya] dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:28-30).

Jika Yesus menyatakan yang benar dengan berani, maka setiap orang percaya pun melakukan hal yang sama. Berani bersaksi bagi dan tentang Yesus adalah realisasi dari lima identitas Kristen yang diikat oleh kasih kepada Yesus Kristus:

(1) Identitas sebagai PENJALA MANUSIA (ἁλιεῖς ἀνθρώπων [halieis anthrōpōn,  fishers of men). Sebagai penjala, orang percaya menjala orang yang belum percaya, orang berdosa dan pendosa, dengan Injil (Kabar Baik); membawanya kepada Yesus Kristus, mengajarkan dan mengarahkan mereka kepada kehidupan yang kudus, mengampuni, dan peduli. BERANI BERSAKSI melalui tindakan menjala manusia.

(2) Identitas sebagai GARAM DUNIA [ἅλας τῆς γῆς]. Sebagai garam dunia, orang percaya, kita mengarahkan pandangan untuk melihat bahwa dunia adalah ladang misi Allah dan mengubahnya menjadi dunia yang tumbuh buah-buah kebenaran, kasih, keadilan, dan kedamaian. Yesus menjadikan kita sebagai garam dunia untuk berjuang dan menghentikan kerusakan karena dosa. Ini menjadi tanggung jawab orang percaya untuk “mengubah” dunia menjadi tempat yang penuh kasih, kebenaran, keadilan, dan kedamaian.

Sebagai matra karismatik, KEBERANIAN menampilkan identitas garam dunia, adalah tindakan yang memang berisiko, tetapi sekaligus menjadi upaya menaburkan benih-benih firman Tuhan, yang dengannya kita memelihara dunia dari pembusukan karena dosa, dan menjadi pengawet relasi dan komunikasi dalam masyarakat mikro maupun makro.

(3) Identitas sebagai TERANG DUNIA [φῶς τοῦ κόσμου]. Menjadi terang dunia berarti menjelaskan pengaruh yang lebih luas. Yesus menjadikan para murid-Nya sebagai terang dunia, bersifat “derivatif” [turunan, yang diturunkan] dari pengakuan Yesus sebagai “Terang Dunia” [Ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου, Egō eimi to phōs tou kosmou; Yoh. 8:12; bdk. Mat. 4:16]. Orang percaya telah diterangi oleh Yesus Kristus dan konsekuensinya adalah mereka memancarkan dan menjadi terang dunia.

Identitas sebagai terang dunia bertujuan agar orang yang melihat perbuatan kita “memuliakan Bapa” (Mat. 5:16). Kita adalah terang dunia dan berani menampilkan gaya hidup yang “terang” [memancarkan] sehingga kita dapat menjadi teladan. Kita menerangi dunia yang “gelap” karena dosa; dunia yang suka memandang pada kegelapan [kejahatan]. Kita harus berani menjadi terang, kapan pun, dan di mana pun. Menurut John Piper, “ketika perbuatan baik kita mendapat cita rasa dari garam dan cahaya dari terang ini, dunia akan disadarkan untuk mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu, kemuliaan Allah di dalam Yesus” (John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, alih bahasa Miriam Santoso [Malang: Literatur SAAT, 2012], 401). Dan menurut Margaret Davies, orang percaya dilarang bersahabat dengan dunia dalam konteks kedagingan yang berlawanan dengan kehendak Allah. Orang percaya—meski dilarang bersahabat dengan dunia—tetapi “para pengikut Yesus tidak harus menjadi terpisah dari dunia, melaikan mereka eksis sebagai terang bagi dunia” (Margaret Davies, Matthew. Second Edition [Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009. Department of Biblical Studies, University of Sheffield], 51).

(4) Identitas sebagai PELAKU FIRMAN. Rasul Yakobus menulis: “Γίνεσθε δὲ ποιηταὶ λόγου, καὶ μὴ μόνον ἀκροαταί, παραλογιζόμενοι ἑαυτούς” [Ginesthe de poiētai logou, kai mē monon akhroatai, paralogizomenoi eautous], “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”. Menjadi pelaku firman harus berani. Matra ini begitu kuat dan jelas dalam konteks penerapannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas menjadi pelaku firman dilahirkan dari pemahaman akan tanggung jawab iman; iman yang berani bertindak, dan bukan iman hanya pada tataran kata-kata belaka. Menjadi pelaku firman, berarti BERANI BERSAKSI.

(5) Identitas sebagai MURID KRISTUS. Aspek ini menegaskan prinsip “saling mengasihi”. Menjadi murid Yesus Kristus, mutlak harus saling mengasihi dan BERANI mengasihi meski musuh sekalipun. Yesus berkata (Yoh. 13:34-35): “Ἐντολὴν καινὴν δίδωμι ὑμῖν, ἵνα ἀγαπᾶτε ἀλλήλους· καθὼς ἠγάπησα ὑμᾶς, ἵνα καὶ ὑμεῖς ἀγαπᾶτε ἀλλήλους. Ἐν τούτῳ γνώσονται πάντες ὅτι ἐμοὶ μαθηταί ἐστε, ἐὰν ἀγάπην ἔχητε ἐν ἀλλήλοις [Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi]. Matra ini menunjukan karismatik iman seseorang, bahkan totalitas jati dirinya, seutuhnya.

Menjadi murid Yesus berarti BERANI BERSAKSI dan juga MENGASIHI, tanpa syarat. Yesus telah mengasihi kita maka kitapun harus saling mengasihi. Bahkan lebih dari itu, Yesus sendiri menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh. 10:11): Ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός· ὁ ποιμὴν ὁ καλὸς τὴν ψυχὴν αὐτοῦ τίθησιν ὑπὲρ τῶν προβάτων [Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya].

BERANI BERSAKSI adalah pernyataan sikap yang jujur—tidak menyembunyikan iman. Jujur berarti melakukan dan mengatakan yang sebenarnya. Pada ranah ini, setiap orang percaya dapat berlaku jujur karena imannya kepada Tuhan Yesus. Iman Kristen menancapkan kualifikasi karakter diri pada sikap jujur yang terkorelasi dengan prinsip “kasih”. Kejujuran yang dipisahkan dari prinsip kasih bukanlah bagian dari iman Kristen. Dan kasih itu mendorong kita memperlihatkan KEBERANIAN untuk BERSAKSI.

Matra Ketiga: BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena mengasihi Dia). Setiap penganut agama membuat komitmen untuk berpegang pada setiap ajaran yang tertulis di dalam kitab sucinya masing-masing. Dalam konteks ini, Kekristenan menunjukkan sikap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Yesus. Ajaran-ajaran-Nya begitu dalam dan kuat, menekankan sikap hidup yang mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat. 22:37-39): “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Matra karismatik untuk BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus diteruskan dan dibuktikan oleh para rasul (Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan lainnya). Dan kita yang hidup di zaman sekarang ini juga menerima dan melakukan matra karismatik tersebut. Sikap berpegang teguh adalah bagian dari iman kepada Yesus Kristus. Konteks ini telah dibuktikan oleh para martir, para pahlawan iman yang telah meninggalkan teladan iman mereka kepada setiap generasi, sampai kepada kita sekarang ini.

Pada akhirnya, kita harus menunjukkan kualitas iman kita melalui KESETIAAN kepada Yesus Kristus, KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran-Nya. Itulah ketiga matra karismatik iman Kristen yang telah dibuktikan, diuji, dan diwartakan dari zaman ke zaman.

Sudahkah kita mengambil bagian untuk merealisasikan matra karismatik iman Kristen tersebut? Kiranya Tuhan memimpin dan menguatkan kita untuk dapat menunjukkan KESETIAAN, KEBERANIAN BERSAKSI, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus, di sepanjang hayat kita: kini, dan selamanya.

Salam Bae

Sumber gambar: Unsplash

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai