KITA, WAKTU, DAN NYANYIAN KEHIDUPAN

Tergerus oleh waktu, ditepis oleh keadaan, berharap terurai menjadi alunan lagu terindah, tapi akhirnya tercipta sebuah keadaan yang menyakitkan. Kita bergulat melawan letih, berjuang melawan kecewa. Langkah demi langkah memijaki bumi, untuk sebuah keinginan terbaik.

Masalah muncul tapi tanda diundang, menghilang tanpa pamit. Tangan Tuhan membentuk hidup kita menjadi seperti pejuang yang tak terkalahkan. Untaian tantangan, jalinan hambatan, ikatan kesempatan, terpampang di depan mata, membisikkan nada-nada yang harus dimainkan. Kita beryanyi dalam sedih, bergumam dalam demam. Harap demi harap diuji dalam temaram pikiran.

Kekalutan hati, membangunkan rintih. Kecemasan mengundang tanya; kekecewaan menabuh gendang, membuat kita menari dalam pedih. Apa mau dikata? Itulah juang, itulah keadaan, itulah hidup. Tersisa nada yang dapat kita mainkan, tertatih-tatih menyaringkan suara, berucap pada langit: beri aku secercah, agar mata meneteskan embun iman, di mana bongkahan persoalan dihancurkan berkeping-keping.

Kita terperanjat melihat keajaiban hidup. Tuhan menciptakan pelangi bagi mata kita: indah dan menawan, menghibur lara. Ia menyediakan makanan; Ia memberi kita minum; Ia menyediakan tempat pembaringan yang nyaman, damai, dan penuh kasih. Kita bangun dan beranjak pergi; pergi menapaki janji, untuk hidup dari hari ke hari. Ada tanjakan yang harus dilalui. Alas kaki mulai menipis, keringat menetes dalam hempasan langkah; tak mengapa, demi sebuah kebahagiaan.

Kisah hidup dalam gumul dan juang, dituliskan dalam secarik kertas; sebuah fenomena terbaik, memberi kita pikulan agar bahu menjadi kekar. Goresan luka, sayatan hinaan, lebam pukulan, wajah memerah kesakitan, mata perih akibat percikan caki maki, menyatu, membentuk sosok tangguh. Itulah “KITA”; ya, KITA yang telah merasakan getir, pahit, dan sempoyongan. Ketangguhan hanya lahir dari sikap berani menenteng masalah dan membuangnya di tempat sampah.

Tuhan tak membiarkan kita sendiri; Ia ada, tak terlihat, tapi kuasa-Nya mendorong, membalut, memulihkan, mengobati, menyembuhkan, menguatkan. Ia tetap melihat perjuangan kita; Ia tahu memberi yang terbaik; dan kita tahu, Dialah yang melatih kita untuk bertanding dalam hidup. Dan kita menyanyikan nyanyian kehidupan.

Tak perlu kecewa; sedu sedan – isak, tangisan yang tertahan-tahan – akan menjadi nyanyian kebahagiaan, asal waktunya genap. Tak ada manusia yang bebas dari gumul juang; kita sama; sama-sama hidup dan berjuang; tak perlu iri hati; kita mendapatkan bagian sesuai kadar masing-masing. Tuhan menakar sesuai kehendak-Nya.

Jangan berhenti bersyukur; melaluinya, hati tenang, jiwa tenteram, pikiran damai, tubuh segar, kaki tegar, tangan kuat, prinsip kokoh. Banyak hadiah yang kita terima akibat dari hati yang senantiasa bersyukur. Bukankah kita tercerahkan oleh kebaikan dan kemurahan Tuhan? Bukankah kita tahu bahwa setiap orang menikmati hidup sesuai dengan apa yang dia kerjakan?

Nyanyian kehidupan adalah cerminan proses; proses itu tak bisa ditolak, tak bisa dihindari, tak bisa diabaikan; kita hanya dapat mendalami proses, menikmatinya, dan berusaha menempuh perjalanan menuju kebahagiaan sejati. Tuhan menempa setiap hati agar harap terpatri dalam integritas.

Nyanyian kehidupan dicipta dalam waktu, dalam proses yang panjang, dalam gumul dan juang, dalam keletihan; mungkinkah nyanyian kita terdengar indah? Mungkinkah nyanyian kita memberi penghiburan bagi mereka yang lebih sedih dari kita? Mungkinkah nyanyian kita memberi kebahagiaan kepada yang lain? Itu semua dapat terwujud!

Kita menapaki tangga-tangga kehidupan; di dalam waktu, kaki kita dilatih untuk menjadi kuat, beranjak di antara tangga-tangga itu. Kita, waktu, dan nyanyian kehidupan adalah kesatuan rasa, fakta, dan masa depan. Semua dapat ditempuh; iman yang diberikan Sang Khalik melekatkan ketiganya, menyatu, kuat, menuju hidup yang berarti; hidup yang layak di hadapan-Nya; hidup berkenan kepada-Nya.

Kita terus berharap agar langkah yang tertatih-tatih, tergopoh, memijaki tangga terakhir di mana kita bertemu dengan kumpulan kebahagiaan yang telah lama menunggu kita untuk bertegur sapa dalam rasa yang kuat berbalut damai sorgawi.

KITA, WAKTU, DAN NYAYIAN KEHIDUPAN adalah realita. Yang terpenting adalah mengucap syukur dalam segala hal, berjuang dalam harap pada-Nya, menyandarkan diri pada Dia yang berkuasa, dan menitipkan keletihan pada-Nya dalam doa siang malam.

Salam Bae…..

TEOLOGI PIKIRAN

Manusia adalah pribadi yang berpikir dan pikiran yang dihasilkan mencakup berbagai hal tentang kehidupan itu sendiri. Sebagai pribadi yang hidup dan diberikan kehidupan oleh Tuhan, manusia mampu menciptakan, memahami, menjalani, menghasilkan, dan memeluk segala sesuatu yang memberinya kemudahan, kesenangan, dan kepuasan.

Pikiran manusia digunakan untuk banyak hal, bahkan keseluruhan hal yang membuat manusia bertahan hidup, agar dapat menikmati hidup. Untuk dapat menikmati hidup, manusia harus berpikir. Untuk dapat bertahan hidup, manusia juga harus berpikir. Pikiran memandu diri manusia untuk mengeluarkan potensinya di dalam waktu yang terbatas.

Kehidupan memberi manusia banyak pelajaran berharga, selebihnya, memberikan kesadaran bahwa hidup itu perlu diperjuangkan, dipertahankan, dijaga, diwarnai, digumulkan, dan direnungkan. Manusia berjuang dari waktu ke waktu untuk meneguhkan identitas dan harkat (derajat) dan martabat (harga diri). Akan tetapi, dalam proses kehidupan, manusia terikat pada waktu dan dapat dihentikan oleh waktu.

Memang, pikiran dapat memandu kita untuk mencapai tujuan hidup, bahkan kesenangan. Kita merancang segala sesuatu dengan berbagai motivasi. Yang satu berpikir tentang bagaimana mendapatkan keuntungan, yang satu berpikir tentang bagaimana mendapatkan uang secukupnya; yang satu berpikir tentang bagaimana menyenangkan orang lain, yang satu berpikir tentang bagaimana menyusahkan atau menjatuhkan orang lain; yang satu berpikir tentang bagaimana membalas dendam, yang satu berpikir tentang bagaimana mengampuni; yang satu berpikir tentang bagaimana membalas kebaikan orang lain, yang satu berpikir tentang bagaimana memanfaatkan orang lain; yang satu berpikir tentang bagaimana memuaskan hasrat seksual, yang satu berpikir tentang bagaimana menahan hawa nafsu; yang satu berpikir tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Tuhan, yang satu berpikir tentang bagaimana menjauh dari Tuhan; yang satu berpikir tentang bagaimana membangun relasi dengan sesama, yang satu berpikir tentang bagaimana memelihara egoisme yang semu; yang satu berpikir tentang bagaimana berbagi dengan yang lain, yang satu berpikir berpikir tentang bagaimana memelihara sikap pelit; yang satu berpikir tentang bagaimana berlomba dalam kebajikan, yang satu berpikir tentang bagaimana berlomba dalam berbuat kejahatan, dan masih banyak lagi.

Pikiran memang rumit. Manusia tertekan karena terlalu banyak yang dipikirkan; manusia stres karena pikiran membebaninya; pikiran kacau, tak terkendali, dan lebih dari itu, karena pikiranlah beberapa orang memilih mengakhiri hidupnya; baginya, caci maki, kesalahpahaman, dan perendahan martabat dirinya, cukup diakhiri dengan kematiannya, agar – menurut dia – para pembencinya merasa puas.

Hampir semua hal yang menyedihkan dan memilukan disebabkan oleh keputusan pikiran; hati yang terluka, hidup terasing, perlakuan tidak adil, dan sederet kejadian yang memuakkan, dipengaruhi oleh ‘jalan pikiran orang lain dari jalan pikiran diri sendiri’. Ini juga berlaku bagi semua hal yang menyenangkan dan memuaskan.

Kitab Suci memberikan gambaran menarik tentang fenomena dan aktivitas pikiran manusia. Bahkan, bahaya-bahaya pikiran perlu dihindari. Artinya kebahagiaan dan keburukan dipengaruhi oleh pikiran manusia itu sendiri. Pengambilan keputusan untuk melakukan yang baik atau buruk, dipengaruhi oleh pikiran. Inilah yang saya sebut dengan Teologi Pikiran (selanjutnya disebut TP).

Pertama, TP menegaskan prinsip kehati-hatian dalam mempergunakan pikiran. Hindari pikiran dursila, pikiran jahat (lih. Matius 9:4; Markus 7:21) dan sesat pikir (yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar). Pikiran manusia memang bersifat bebas, apa saja dapat dipikirkan. Akan tetapi, kita perlu mempertimbangkan aspek baik-buruknya, dan apa keuntungan dan kepentingannya. Dengan demikian, kita dapat lebih dewasa dalam berpikir dan memikirkan bahaya-bahaya dari pikiran yang jahat, dursila, dan sesat.

Kedua, TP menegaskan prinsip ketepatan menjawab segala sesuatu pada waktu yang tepat (Kisah Para Rasul 6:4; 15:7; 26:25): Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Kita dapat berpikir bahwa waktu yang tepat dalam menyampaikan sesuatu hal memberikan manfaat yang baik. Kita tidak boleh membuang-buang kesempatan dalam menyampaikan kebenaran. Saat Tuhan mendorong kita untuk mengatakannya, katakanlah dengan berani!

Ketiga, TP menegaskan aspek spiritualitas bahwa segala titah Tuhan itu menyenangkan, termasuk penghiburan dari Tuhan (Mazmur 94:19). Pikiran kita senantiasa disegarkan oleh firman Tuhan yang mendorong kita untuk taat pada titah-Nya, perintah, dan larangan-Nya. Firman Tuhan itu menyegarkan pikiran dan kehidupan, bahkan mengarahkan hidup kita kepada kebahagiaan yang sejati.

Keempat, TP menegaskan prinsip kesadaran bahwa pikiran Allah tak terselami. Apa yang Ia kerjakan dalam kehidupan kita adalah bagian dari rancangan kuasa-Nya bagi kebaikan kita semata (Mazmur 139:17; Lukas 1:17; 24:45; Roma 1:20): Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:34); Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16). Allah menghendaki yang terbaik, dan kita mendapatkan yang terbaik dari Allah (Roma 8:28-30).

Kelima, TP menegaskan prinsip kesadaran bahwa pikiran-pikiran kita diketahui oleh Tuhan (Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku”). Kita tidak dapat bersembunyi dari hadapan Tuhan; Ia mengetahui pikiran kita dari jauh (Mazmur 139:2). Itu sebabnya, marilah kita menjaga pikiran!

Keenam, TP mengarahkan kita untuk menghindari pikiran-pikiran negatif yang menggelisahkan hati dan hidup kita (bdk. Daniel 4:19; 5:6, 10; 7:28); mengarahkan kita untuk berpikir selaras dengan kehendak Tuhan (Filipi 2:5; 1 Petrus 4:1). Pikiran negatif mengganggu kita; pikiran jahat menghancurkan kita; pikiran yang dilandasi firman-Nya, menciptakan kelegaan dan sukacita!

Ketujuh, TP memperlihatkan bahwa Allah membuka segala bentuk kejahatan manusia karena pikirannya (Roma 1:21, 28; 2:15; Efesus 2:3; Filipi 3:19; Kolose 1:21; Titus 1:10; Yakobus 2:4). Pada akhirnya, segala pikiran jahat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, kita harus hidup dengan benar, berpikir benar, berkata benar, dan bertindak benar.

TP adalah wajah manusia. Kita dikenal dan disayangi karena buah-buah pemikiran kita. Masa depan yang Tuhan rancang bagi kita, dapat ditempuh dengan pikiran yang benar sesuai dengan firman-Nya, di mana dengan pikiran semacam itu, kita dapat meraih masa depan yang gemilang. TP adalah fakta bahwa kita bergulat dengan pikiran. Berbagai fenomena di sekitar kita dapat mempengaruhi dan memburukkan kita, tetapi bisa juga mempengaruhi dan menyadarkan kita.

Mereka yang menjaga pikirannya tidak mudah jatuh dalam dosa dan kesesatan. Pikiran yang sehat adalah buah dari iman yang benar. Kita diperhadapkan dengan dunia yang carut-marut, tetapi pikiran kita senantiasa ditujukan kepada Kristus Yesus: kini, besok, dan selamanya…..

Salam Bae….

KESETIAAN

Kesetiaan memiliki makna terdalam. Kehidupan dan relasi manusia mencerminkan sikap ‘setia’ kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan tampak dalam totalitas hidup yang dijalani. Setia menenkankan prinsip ketaatan, komitmen, dan kesediaan menerima segala sesuatu dari Tuhan—apa pun itu—bagi kebaikan kita.

Ada fakta menarik yang dapat kita lihat di kehidupan kita sendiri. Terkadang, fakta itu sering diabaikan, sering dianggap remeh bahkan tak pernah terlintas di pikiran kita. Apakah itu? Kita merasakan bagaimana kehidupan ini baik-baik saja; bagaimana kita meraih segala sesuatu yang kita inginkan dan kehendaki. Kita mendapati diri kita masih bernafas, mendapati diri kita masih bergerak, membuka mulut untuk makan dan minum, kita bekerja untuk menyambung hidup. Dari semuanya itu, sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan? Sudahkah kita menyadari bahwa hidup itu adalah anugerah?

Dapatkah kita sejenak merenung bahwa hidup itu penting dan berharga dan mengakui bahwa ada ‘tangan Tuhan yang kuat’ yang sedang menopang, memberkati, dan menyertai kita setiap waktu? Apakah Tuhan pernah alpa menolong dan memelihara kita? Apakah Tuhan lalai menepati janji-Nya? Apakah Tuhan hanya menjadi tujuan doa ketika kita sedang sekarat, tak berdaya? Bukankah dalam situasi suka dan duka kita tetap mengucap syukur kepada-Nya?

Hanya mereka yang setia kepada Tuhan yang dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Hanya mereka yang menyadari dengan hikmatnya bahwa kebaikan Tuhan itu tak pernah pudar dan kemurahan Tuhan selalu baru tiap hari, selalu mengiringi langkah hidup kita.

Tak ada yang dapat kita berikan kepada-Nya selain rasa syukur dan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati-Nya. Kesetiaan membawa hidup kita semakin dekat dengan Tuhan. Kesetiaan memberi kita sukacita yang luar biasa. Tuhan telah menyuguhkan kehidupan yang bermakna bagi kita; kita tinggal menyantapnya sambil mengucap syukur.

Kesetiaan kepada Tuhan mahal harganya. Kita terpanggil untuk melihat dan menyadari bahwa kasih Tuhan tak terbatas pada saat kita senang, melainkan juga saat kita dalam keadaan sedih, berduka, dan kecewa. Kita datang kepada-Nya dalam berbagai kondisi—dan Tuhan tetap menerima kita, menerima keluh kesah. Tuhan itu setia akan janji-Nya. Sudahkah kita menyatakan kesetiaan kita kepada-Nya?

Kesetiaan kita kepada Tuhan mencakup dua aspek: pertama, apa yang kita pertahankan; dan kedua, apa yang kita pertaruhkan.

Kita harus memperlihatkan iman kita dan lebih dari itu, mempertahankannya. Godaan dan cobaan adalah bumbu-bumbu kehidupan yang dapat mendorong kita untuk memperlihatkan kesetiaan iman kita kepada Tuhan.

Kita harus bertaruh segala sesuatu: waktu, tenaga, pikiran, uang, harta benda, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita setia kepada Tuhan karena Dialah yang mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.

Kesetiaan Tuhan kepada kita dibuktikan melalui tiga hal: pertama, Ia berdaulat atas hidup dan mati manusia; kedua, Ia memelihara semua ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya; dan ketiga, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Tuhan adalah setia; Ia telah menyatakan kesetiaan-Nya, dan Ia mengasihi kita. Ya, kita yang senantiasa berharap dan bersandar kepada-Nya.

Salam Bae….

MENCARI “WAKTU” DI DALAM WAKTU

Kita bergerak di dalam waktu; bergegas dari waktu ke waktu; berharap, mendamba, bergumul, menanti, menangis, bersukacita, dan bersedih dari waktu ke waktu. Kita ada di dalam waktu, dan di waktu yang bersamaan kita pun mencari “waktu” untuk sesuatu hal.

Berbagai kemungkinan yang kita dapatkan, baik untuk menjadikan hidup kita nyaman, atau menjadikan proses mencapai tujuan berjalan mulus, bahkan kita dapat keluar dari masalah-masalah yang telah menyita waktu, tenaga, relasi, keuarga, dan uang. Kemungkinan-kemungkinan itu sejatinya adalah bentuk lain dari bagaimana kehidupan itu menyediakan hal-hal yang dapat melatih diri kita untuk menatap, bergerak, dan berjuang mencapai sebuah tujuan akhir.

Hingga kita terperanjat (terkejut) menatap langit menerima segala yang ada; kadang-kadang tidak seperti yang kita inginkan. Kita mengubah rencana, mengubah arah, dan mengubah pola pikir untuk segera mendapatkan hasil. Tetapi yang kita terima adalah menjaring angin. Kewewa dan sedih menyatu. Kita bangun dan bergegas mencari “waktu” yang tepat untuk melangkah kembali. Di dalam waktu kita mencari “waktu”. Itulah yang kita lakukan hampir setiap hari.

Aktivitas telah menghasilkan patrian potensi diri menjadi bentuk yang lebih baik. Dan kemudian, kita menyadari bahwa Tuhan menyediakan segala sesuatu lebih dari apa yang kita harapkan. Di situlah kita dapat mengambil manik-manik kehidupan yang berkilau. Tampilan diri kita adalah gambaran cerminan hati kita sendiri. Di dalam waktu kita membentuk hati, dan di dalam waktu jualah kita memancarkan cahaya dari hati yang terbaik, hasil patrian hidup.

Mencari “waktu” di dalam waktu mencakup aktivitas yang dapat memberi kita sebuah kekuatan, kesenangan, kebahagiaan, atau bahkan kepuasan dan kemenangan tak didamba selama ini.

Pertama: mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. Waktu tak bisa diputar kembali. Gagal tidaknya mengungkapkan sesuatu, bergantung pada waktu yang kita gunakan. Pemaknaan atas ungkapan-ungkapan kehidupan di waktu tepat, tentu dapat memberikan pengaruh yang baik bagi kita dan orang lain.

Kedua: mencari waktu untuk menyelesaikan berbagai hal. Pikiran dan hati kita mungkin ditumpuki dengan ragam masalah atau persoalan hidup; kita ingin keluar darinya; kita dibebankan dengan banyak aktivitas, bahkan kesibukan yang tak terkontrol dengan baik, dan pada akhirnya, belum ada waktu yang tepat untuk menyelesaikan berbagai hal yang mengganggu jalan pikiran.

Ketiga: mencari waktu untuk menunjukkan kualitas diri. Di sini, pertunjukkan egoisme dan kesombongan diri, serta kualitas (potensi) diri dapat bagiannya masing-masing, tergantung dari siapa yang menunjukkannya. Kelebihan dan kekurangan diri bersama-sama tampil di dalam waktu dan pada ‘waktunya’ sendiri. Kita diberikan waktu untuk tampil, dan kita pun mencari ‘waktu’ yang tepat untuk menyatakan potensi atau kualitas diri. Keduanya, waktu yang diberikan dan waktu pertunjukkannya saling terkait.

Keempat: mencari waktu untuk ‘healing’, pemulihan diri, menyendiri, bertapa. Ada waktunya untuk merenungkan kehidupan, memulihkan hati yang terluka, memulihkan semangat yang patah, menenangkan hati dan pikiran, serta mencoba membalut luka-luka kehidupan. Waktu yang tetap berpotensi mempercepat pemulihan.

Kelima: mencari waktu untuk mengembangkan kualitas kehidupan. Manusia berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan, dan berbagai cara dapat dilakukan untuk menerima hasil kerja keras. Mereka yang berusaha dan bekerja untuk mengembangkan kualitas kehidupan tentu mencurahkan waktunya di dalam waktu yang terus berjalan, untuk mendapatkan hasil atau keuntungan.

Waktu itu sangat berharga. Waktu adalah kesempatan untuk bertindak, bukan bermalas-malasan. Waktu adalah jalan yang mengantarkan kita sampai tujuan. Waktu adalah perahu yang membawa kita mengarungi lautan kehidupan. Waktu adalah pena yang mendorong kita untuk menuliskan kisah hidup kita. Waktu adalah penghapus yang memaksa kita untuk melupakan – menghapus – semua peristiwa yang melukai dan merugikan kita. Waktu adalah api yang membakar kertas-kertas hidup yang telah mencoreng nama baik kita akibat ulah dari mereka yang membenci kita tanpa alasan. Waktu adalah kuas yang mendorong kita untuk melukiskan betapa indahnya hidup yang Tuhan karuniakan, dan waktu adalah harapan di mana kita semua berharap bahwa semua akan indah pada waktunya…..

Salam Bae….

BAGAIMANA MENGHILANGKAN SIFAT EGOISME?

Sifat egois mungkin ada dalam diri kita atau mungkin orang yang kita kenal. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi egois dan bagaimana mengatasinya? Egoisme bisa dikikis atau bahkan dihilangkan dengan melihat secara cermat pada lima substansi hidup:

Pertama, setiap manusia harus melihat bahwa ia dan orang lain memiliki kesamaan hidup. Artinya, sama-sama menikmati hidup dan udara, atau bumi yang sama. Bedanya adalah soal kesempatan. Ketika seseorang dapat memahami hal ini, maka egoisme dalam konteks memandang kehidupan, akan segera luntur atau menurun, karena seseorang dapat menyadari bahwa dirinya adalah sama dengan orang lain: mendapat kesempatan hidup yang sama tetapi soal kesempatan menikmati hidup dengan berbagai cara adalah pembedanya.

Kedua, setiap manusia harus melihat bahwa dirinya dan orang lain sama-sama mempertahankan hidup. Setiap manusia memiliki potensi untuk mempertahankan hidupnya dan orang-orang yang dikasihi serta dicintainya. Jadi, egoisme terhadap konteks mempertahankan hidup membawa seseorang kepada rasa puas diri yang semu sebab ia sendiri tak bisa hidup tanpa orang lain. Jika seseorang merasa bahwa hanya dia yang dapat berbuat ini dan itu, seseorang tersebut melupakan prinsip substansial ini. Uang yang didapati, dimiliki, dicari, toh bukanlah karena usaha sendiri melainkan adanya kontribusi dari orang lain. Sebut saja seorang guru atau dosen. Mereka mengajar mendapatkan upah (gaji) dari penyelenggara pendididikan atau para murid/mahasiswa yang menyetor uang bayaran sebagai kewajibannya. Maka, di sini hendak ditegaskan bahwa sehebat-hebatnya dosen atau guru, jika tanpa murid atau mahasiswa, maka dosen atau guru bukanlah apa-apa, bahkan tak menghasilkan apa-apa.

Ketiga, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain sama-sama akan mati. Keegoisan untuk mau menang sendiri dalam hal hidup, mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Apa bedanya seorang direktur yang memiliki gaji besar, dengan seorang pemulung di jalanan? Mereka berbeda dalam hal pendapatan hidup, tetapi mereka sama dalam hal substansi hayatinya dan sama-sama akan mati. Entah direktur, entah pemulung semuanya akan mati. Soal siapa duluan mati, itu adalah kehendak Tuhan. Tidak ada jaminan bahwa karena pemulung adalah orang yang tidak terhormat, maka ialah yang dahulu mati. Memahami hal ini, akan menjadikan diri kita untuk tidak egois dengan apa yang kita miliki untuk disombongkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki haruslah menjadi berkat bagi orang lain dengan berbagai cara.

Keempat, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki potensi yang berbeda. Potensi-potensi menghasilkan karya-karya. Baik direktur dan pemulung, keduanya memiliki potensi. Seorang pemulung jika ia berhenti menjadi pemulung dan kemudian belajar dan berusaha, maka terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang direktur. Seorang direktur yang ketika bangkrut dan jatuh miskin, terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang pemulung. Potensi-potensi yang dimiliki manusia tidak perlu disombongkan atau menjadi sebuah egoisme yang tinggi. Memahami bahwa kita dan orang lain memiliki potensi yang berbeda, akan menghilangkan rasa egoisme.

Kelima, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Namun, setiap manusia juga memiliki prinsip hidup yang mengukuhkan iman dan pengharapannya. Di samping itu, kekurangan dan kelebihan adalah hal yang bersifat natural dalam diri manusia. Lalu untuk apa egois jika kita tahu bahwa setiap manusia memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan? Seorang yang memiliki uang banyak tidak lebih lama hidupnya dibanding seorang yang miskin. Seorang yang menggunakan uangnya untuk menghalalkan segala cara dan dianggap hebat oleh para pendukungnya, tidak lebih hebat dari seorang ibu yang penuh kesabaran merawat, mendidik, mengasuh, dan mengajar anak-anaknya meski ia sendiri tidak memiliki uang dalam jumlah banyak.

Orang yang berduit banyak memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan para pedagang asongan. Mereka yang berbuat jahat memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan mereka yang berbuat baik. Pembedanya adalah substansi dari kekurangan dan kelebihan dari masing-masing manusia.

Seringkali, egoisme lahir dari empat hal: pertama, karena seseorang merasa lebih kaya dari orang lain sehingga ia dapat mengendalikan, mengatur, dan menetapkan sesuka hati karena ia merasa bahwa karena dialah maka semuanya terjadi dan terwujud; kedua, karena seseorang merasa bahwa ia lebih berpengalaman dibanding lainnya, sehingga ia mau bahwa pendapatnya saja yang diterima; ketiga, karena seseorang merasa bahwa hanya dialah yang hebat dan pintar maka semua orang harus melihat kepada dirinya dan harus menerima setiap hal yang diusulkannya. Karena kepintarannya, maka pendapat dan gagasan orang lain dianggap tidaklah bermutu atau berguna; dan keempat, karena seseorang merasa bahwa dirinya adalah paling beriman, paling dekat dengan Tuhan, dan paling sering tampil di depan umum. Konteks ini memberikan data faktual bahwa seringkali mereka yang merasa paling dekat dengan Tuhan justru bertindak melawan Tuhan. Mereka yang merasa paling beriman justru yang melakukan hal-hal di luar iman. Keegoisan lahir dari kesombongan rohani dan menganggap bahwa hanya dia yang layak didengar dan ditakuti.

Untuk menghindari, meredam, dan mengikis sifat-sifat egois dalam diri, kelima hal yang substansial di atas adalah solusinya.

Selamat memahami, merenungkan, dan mencobanya, sehingga mendapatkan perubahan yang berarti dalam hidup.

Salam Bae…..

REFLEKSI 67 TAHUN PDT. DR. MATHEUS MANGENTANG, M.TH.

Dalam “waktu” kita bergumul, berjuang, dan tetap berada pada jalan Tuhan untuk membuktikan tugas dan panggilan yang Kristus nyatakan kepada kita. Dari situlah kita benar-benar menyadari bahwa hidup adalah anugerah terindah, di mana kemurahan dan cinta kasih Kristus Yesus senantiasa kita rasakan, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Inilah yang menjadi dasar tentang bagaimana kita melayani Dia di sepanjang hidup, yang dapat kita lihat juga pada seorang Pdt. Dr. Matheus Mangentang.

Di momen yang berbahagia ini, Pdt. Dr. Matheus Mangentang memberikan sebuah implikasi penting dari teks Lukas 17:17-18, “Lalu Yesus berkata: ‘Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?’”

Teks tersebut memberikan sebuah pengajaran agar kita menyadari bahwa semua yang kita terima dari Tuhan patut disyukuri. Kealpaan kita dalam mengucap syukur atas perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan, justru membuktikan bahwa kita bukanlah tipe orang yang “tahu berterima kasih” dan bukan pula tipe orang yang “tahu mengucap syukur”. Itu pertanda bahwa ada yang bermasalah dengan diri kita, cara pandang kita, dan sikap kita di hadapan Tuhan.

Teks tersebut juga mengajarkan bahwa kita jangan melupakan hamba-hamba Tuhan yang telah mengajari kita apa artinya beriman kepada Kristus, apa artinya mengikut Kristus, dan apa artinya hidup dalam kebenaran-Nya, di mana dari semuanya itu, kita bersyukur kepada Sang Khalik bahwa Dia telah memakai hamba-hamba-Nya untuk mengajari dan mendidik kita dalam mengenal Dia. “Jangan melupakan mereka yang telah membimbing dan mengajarimu tentang kebenaran Tuhan.”

Teks Ibrani 13:7 memberikan pemahaman bahwa kita perlu mengingat pada pemimpin yang telah menyampaikan firman Allah, mencontoh iman mereka selama mereka berjuang di jalan kebenaran. Kristus memanggil kita untuk menjadi pelayan-Nya, memberitakan Injil, dan senantiasa hidup bersandar pada-Nya. Tantangan yang dihadapi bukanlah penghalang untuk menjauh dari Tuhan, melainkan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya dalam hal menyadari akan keterbatasan kita, sehingga kita sadar bahwa kita membutuhkan Tuhan, bersandar dan senantiasa berharap pada-Nya.

Di usianya yang ke-67 tahun, Pdt. Dr. Matheus Mangentang masih tetap segar dan bersemangat dalam melayani Tuhan. Ia tak gentar sedikitpun untuk melayani di pedesaan-pedesaan. Semangat pelayanannya masih tetap sama, meski fisik mulai terbatas karena usia terus bertambah. Para muridnya yang mengikuti jejak beliau, telah menorehkan semangat dan jejak pelayanan yang sama, karena mereka “meneladani beliau”.

Apa yang dapat saya ungkapkan di sini tetap terbatas. Akan tetapi, beberapa hal penting perlu saya catat sebagai refleksi 67 tahun usia Pdt. Dr. Matheus Mangentang (tanggal 6 Oktober 2023) dengan menyajikan prinsip-prinsip spiritual dan pelayanan yang diturunkan dari beliau:

Pertama, melayani adalah sebuah panggilan yang harus dikerjakan dengan konsisten. Pdt. Dr. Matheus Mangentang tidak saja mengajarkan hal ini, tetapi ia sendiri telah menunjukkan teladan panggilan dan melayani Kristus

Kedua, kesetiaan kepada Kristus menjamin bahwa apa yang kita kerjakan pasti akan menghasilkan buah-buah yang manis. Apa yang telah dikerjakan Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan buah-buah yang manis. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang tersebar di seluruh Indonesia, dan buah-buah pelayanan beliau melalui pengajaran, pendidikan, dan pembinaan, telah menunjukkan kesetiaannya kepada Yesus Kristus.

Ketiga, selalu berdoa dan berserah adalah buah dari iman yang taat kepada Yesus Kristus. Pdt. Dr. Matheus Mangentang bukan saja sebagai pelayan, pengkhotbah, penginjil, teolog, atau pengajar, tetapi juga seorang pendoa. Ini membuktikan bahwa semua pencapaian dalam pelayanan beserta buah-buahnya adalah hasil yang nyata dari “doa”.

Keempat, prinsip rendah hati adalah bagian yang tak terpisahkan dari semua bentuk pelayanan Kristen. Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan sikap rendah hati sejak awal mengikuti Yesus Kristus. Prinsip inilah yang beliau wariskan dan ajarkan selama ia melayani. Artinya, prinsip rendah hati tidak hanya menjadi sebuah wacana teologis dan ucapan-ucapan pengajaran, melainkan beliau sendiri juga telah melakukannya dengan penuh iman.

Kelima, semangat dalam melayani adalah pilihan untuk tetap menjaga panggilan yang kita terima dari pada Kristus. Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan semangat dalam melayani hingga sekarang ini. Di usianya yang ke-67 tahun, semangat untuk melayani tak pernah hilang dari wajahnya. Ia senantiasa mendidik mahasiswa, para majelis, para penginjil, dan para pendeta dalam jajaran Sinode GKSI yang dipimpinnya, agar tetap semangat, melawan semua bentuk tantangan yang menghalangi atau menghambat proses melayani Tuhan. Dari situlah kita melihat bahwa panggilan pelayanan senantiasa terkonfirmasi dari waktu ke waktu untuk membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki Kristus.

Kita melihat bahwa proses kehidupan Kristen tak dapat mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab tentang melayani Tuhan. Dan kita juga tahu bahwa semua hal yang kita kerjakan, tak luput dari proses Dia membentuk kita. Pdt. Dr. Matheus Mangentang adalah seorang pelayan Kristus yang mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan hingga sekarang ini. Kita dapat belajar darinya; kita dapat meneladani semangat bermisi dari beliau, dan lebih dari itu semua, kita dapat bersama-sama beliau untuk berjuang bagi Injil Kristus, hidup dalam ketaatan, kesetiaan, cinta kasih, dan pengampunan selama kita diberikan kesempatan oleh Yesus Kristus untuk hidup di muka bumi ini.

Salam Bae……

BERPIKIR: Menyusun Konsep Menata Konteks

Proses komunikasi (interaksi) dan relasi mengundang “pikiran” untuk menyusun konsep dan menata konteks. Di setiap komunikasi, kita menyusun konsep: apa yang hendak kita sampaikan, dan berbarengan dengan itu, kita tetap menjaga tatanan konteks agar tidak keluar dari pokok pembicaraan.

Berpikir adalah aktivitas dalam waktu yang terus bergulir. Berpikir menginsyaratkan sebuah komunikasi: internal dan eksternal. Dalam berbagai bentuknya, berpikir mengungkapkan sebuah konteks untuk dapat dikorelasikan dan dikembangkan hingga mencapai pemaknaan yang utuh. Tanpa makna, berpikir menjadi percuma. Tanpa konteks, berpikir hanya “membuang-buang” waktu saja!

Berpikir memungkinkan terjadinya jalinan konteks, menjadi satu kesatuan makna. Kekeliruan makna melalui daya tangkap dan daya paham orang lain terhadap pemikiran kita atau pemahamn yang baik (daya tangkap maksimal) orang lain terhadap apa yang kita komunikasikan, bergantung pada tiga aspek sebagai berikut:

Pertama. KONFIGURASI KONTEKS. Apa yang dibahas, dikaji, dikomunikasi, dianalisis, menjadi dasar dari tindakan atau bahkan pemahaman akan sesuatu (objek). Konfigurasi (bentuk) konteks adalah syarat utama dalam berpikir sebab itulah yang akan dikomunikasikan atau disampaikan. Singkatnya, pokok pikiran kita yang menjadi landasan komunikasi adalah sebuah konfirmasi dari konfigurasi konteks. Bukankah segala sesuatu memiliki konteks?

Kedua. REALITAS KORELASIONAL. Setiap fragmen dari topik bahasan atau kajian, memenuhi alur korelasi. Realitas ini tak bisa dihindari atau diabaikan. Dalam komunikasi kita sebenarnya mengkorelasikan pemaknaan yang satu dengan pemaknaan yang lainnya untuk menjadikan satu konstruksi konteks, sehingga dapat menghindari kesalahpahaman. Realitas korelasional adalah kesatuan pemikiran yang dengannya kita menawarkan gagasan (ide), maksud dan tujuan, dan lainnya, melalui tutur kata (komunikasi), atau bisa juga dalam sebuah tulisan.

Ketiga. EVOLUSI KONTEKS. Pokok bahasan senantiasa mengalami evolusi dalam pembahasan, analis, atau kajiannya. Awal sampai akhir konsisten dengan pokok pikiran. Apa yang kita ucapkan di awal, itu juga yang terkonfirmasi di akhir. Ingatlah slogan: “Mulutmu, harimaumu”. Atau seperti yang ditegaskan Yesus: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37). Penekannya di sini adalah: “Konsitensi melahirkan konsekuensi.”

Berdasarkan tiga aspek di atas: Konfigurasi Konteks, Realitas Korelasional, dan Evolusi Konteks, kita mendapatkan sebuah depiksi dari proses berpikir yang dituangkan dalam satuan komunikasi (diskusi, interaksi, mengkritik, menegasikan, menyetujui, mempertimbangkan). Satu contoh yang penting saya suguhkan di sini. Pernyataan: “Aku cinta padamu” adalah sebuah konsep perasaan. Pernyataan ini diungkapkan dalam konteks “rasa suka, rasa sayang, rasa ingin memiliki”, sehingga pernyataan tersebut mendapatkan sandaran yang pas, tepat, dan tajam – menusuk hati, menggetarkan jiwa. Contoh ini menegaskan prinsip menyusun konsep menata konteks.

Berpikir berarti kita hendak menyusun konsep dan menata konteks. Menyusun konsep adalah dasar komunikasi. Apa yang hendak kita sampaikan? Kemudian, tindakan menata konteks dipahami sebagai proses menjaga agar tetap konsisten pada konteks yang dibicarakan (disampaikan), tidak bias, tidak menyimpang, tidak ‘kutu luncat’, dan tidak kabur.

Dengan demikian, proses berpikir membuat makna dan maksud dari perkataan kita dapat dipahami – dan secara kontinu – berevolusi menjadi kesatuan makna. Konsep dan makna adalah dua hal yang koheren. Kitalah yang menentukan konsep, dan kita pulalah yang menata konteksnya menjadi bangunan makna yang elegan dan menarik hati.

Salam Bae……

MENAKAR EGO – MENJARING ANGIN?

“Menilai”—apa pun bentuknya—adalah fakta umum yang terjadi dalam kehidupan manusia. Segala sesuatu dapat dinilai berdasarkan perspektif atau kriteria—singkatnya—keinginan seorang. Penalaran manusia dalam berbagai variasinya menciptakan fitur-fitur tertentu untuk dijadikan pedoman, pegangan, dan harapan. Tak sedikit dari kita bertumpu pada prinsip penalaran hidup untuk satu tujuan tertentu.

Terkadang, hasil penalaran itu sendiri bertolak belakang dengan kenyataan. Hal ini disebabkan oleh “ego” yang mengendalikan pikiran untuk menilai segala sesuatu. Kita tahu bahwa hidup itu tak sesederhana yang kita lihat. Ada fakta menarik lainnya yang tak terjangkau oleh mata-indrawi kita. Itu sebabnya, dibutuhkan sebuah prinsip kehidupan untuk dapat menyerap sesuatu yang dikaitkan dengan kegunaan bagi hidup yang dijalani.

Kita bergerak, berpikir, berbicara, dan merealisasikan potensi diri tidak lepas dari konteks “ego”. Menakar ego itu penting sejauh bertumpu pada sebuah prinsip kesadaran dan demarkasi. Menjaring angin terjadi karena proses menakar ego melampaui ambang batas kesadaran dan fakta penilaian. Baik hidup kita maupun hidup orang lain layak dinilai. Perbedaannya adalah: penilaian diri sendiri dimaksudkan untuk melihat apakah potensi internal kita memiliki manfaat bagi perubahan, perbaikan, peningkatan, dan pengembangan kehidupan diri sendiri. Sedangkan penilaian terhadap hidup orang dimaksudkan untuk memberi kita pelajaran berharga untuk menegur, menyadarkan, atau mendorong kita untuk menjadi lebih baik, seperti yang Tuhan kehendaki.

Analogi-analogi “diri sendiri dan orang lain” bisa berpotensi positif atau negatif. Positif berarti kita menarik pelajaran penting dari hidup orang lain. Negatif berarti kita membenarkan diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Ego itu menyimpang ke kiri, sedangkan hati nurani ke kanan. Yang tersisa berjalan lurus adalah: kesombongan.

Ego dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang “sadar akan diri sendiri atau konsepsi seseorang tentang dirinya sendiri”. Ego yang berlebihan pertanda ekspektasinya melenceng. Ada empat jenis ego.

Pertama. Ego alien atau egodistonik, yaitu suatu konsep ideal diri seseorang yang tidak dapat diterima oleh egonya. Ekspektasi melampaui potensi diri atau kemampuan diri. Menaruh harap yang tinggi terhadap diri sendiri tetapi potensi tidaklah mendukung, sama saja dengan merusak dan memburukkan diri. “Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”.

Kedua. Ego sintonik, yaitu sebuah perilaku, perasaan, dan nilai-nilai yang sejalan dengan konsep diri seseorang. Di sini tampak adanya keseimbangan. Kita boleh menakar ego, tetapi jangan sampai kita menjaring angin. Sejalan itu pasti lebih baik ketimbang: ego dan fakta, dua-duanya seimbang (sejalan). Ada banyak manfaat dari hal ini. Kitab Suci sangat jelas menekankan prinsip keseimbangan, sebagaimana tampak dari sebuah komitmen berikut ini: “Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” Inilah prinsip terbaik yang diberikan Allah kepada kita.

Imamat 19:18, “… melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Imamat 19:34, “… kasihilah dia seperti dirimu sendiri”. Matius 22:39, “… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Markus 12:31, “… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yohanes 15:17,  Inilah perintah-Ku kepadamu: “Kasihilah seorang akan yang lain.” Roma 13:9, “… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Galatia 5:14, “ Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Yakobus 2:8, “… ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’”. 1 Petrus 2:17, “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!” 1 Petrus 4:8  Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

Prinsip keseimbangan kasih di atas, tidak dapat dilepaskan dari prinsip untuk mengasihi Allah: Ulangan 6:5, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Matius 22:37, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Mazmur 31:24, “Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!” Markus 12:30, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Bahkan Yesus Kristus memberikan suatu prinsip pelampauan dari apa yang semestinya kita lakukan, yaitu: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27), “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lukas 6:35). Prinsip-prinsip di atas hanya dapat dilakukan oleh mereka yang percaya kepada Yesus Kristus.

Ketiga. Egodiakronik, yaitu perilaku atau perasaan seseorang serta nilai-nilai diri yang didapatkan berdasarkan akumulasi serangkaian fakta kehidupan seseorang. Tentu, rangkaian peristiwa dapat diakumulasi untuk membentuk kepribadian kita. Sejalan dengan itu, ada proses sejarah yang dilalui untuk mewujudkan harapan hidup. Kita menaruh harapan pada diri kita, dan menunjukkan bahwa potensi diri telah ditaburkan di sepanjang tapak-tapak perjuangan dan pergumulan.

Dari sini kita mengetahui bahwa ternyata proses hidup itu menempa kita menjadi pribadi yang seimbang, dan meraup berbagai manfaat dari setiap peristiwa yang diakumulasikan. Menjaring angin tampaknya tidak masuk dalam proses ini. Memang, dalam perjalanan hidup, kita dapat saja mengalami hal yang tak diinginkan, mengalami kerugian, difitnah, direndahkan, tidak dianggap, dan bahkan tidak dihargai (dihormati). Akan tetapi, egodiakronik pasti menjadi alasan untuk menghasilkan kehidupan yang terbaik.

Keempat. Egosinkronik, yaitu perilaku atau perasaan seseorang serta nilai-nilai diri yang muncul dan dinilai berdasarkan satu peristiwa penting. Pada ego jenis ini, seseorang mengalami perubahan mendadak karena satu peristiwa penting. Itu bisa bermakna perubahan positif atau negatif. Perubahan negatif ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang akhirnya membawanya kepada kesombongan, keangkuhan, merasa lebih baik dan lebih hebat dari yang lain, merasa ingin dihargai dan dihormati, padahal sebenarnya tidak layak.

Perubahan negatif seringkali tampak dari perilaku, perkataan, dan pemikirannya. Tidak perlu jauh-jauh menilainya. Cukup dengan perubahan mendadak, kita langsung mengerti apa dan bagaimana seseorang berubah. Sudah pasti, dari perubahan negatif, seseorang sedang “menjaring angin”. Ia hanya menakar egonya ketika merasa lebih baik atau bahkan lebih berkuasa dari yang lain. Sedangkan perubahan positif, terkait dengan erat juga dengan pemikiran, perkataan, dan perilaku. Kita dapat mendaftarkannya berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci.

Dari keempat jenis ego di atas, kita pasti berada pada salah satu di antaranya, atau bahkan mungkin dua jenis ego pernah kita miliki dan beralih pada jenis ego yang lain. Kita sendirilah yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menapaki kehidupan. Perhatikan apa yang dituliskan oleh Pemazmur: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mazmur 37:23-24).

Bersyukurlah bahwa kita ada dalam kekuasaan Tuhan. Kita yakin bahwa setiap pemberian yang baik datang dari Dia. Jauhkanlah dari diri kita untuk berbuat segala sesuatu yang berlawanan dengan firman-Nya, menjaring angin, bahkan menjaring orang lain untuk merusak nama baiknya, merusak citra dan harga dirinya. Ego perlu dijaga.

Kita dapat menghindari tindakan ego alien atau egodistonik, sebab kita perlu untuk menilai diri kita apakah selaras dengan potensi atau sebaliknya. Kita dapat memilih ego sintonik (prinsip yang sejalan dengan konsep kita) asalkan memiliki natur positif, untuk kemajuan dan pencapaian tujuan terbaik dari hidup kita. Kita bisa menilik apakah egodiakronik telah mengalaminya atau justru membuat kita semakin jauh dari Sang Khalik. Akumulasi fakta dalam proses kehidupan kita, seyogianya menciptakan perubahan atau perbaikan bagi diri, relasi, dan kehidupan yang kita jalani.

Atau barangkali kita pun pernah mengalami egosinkronik, di mana satu peristiwa penting mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik. Ini dapat menjadi satu tampilan jati diri yang kuat yang dapat menghindarkan kita dari tindakan menjaring angin. Menakar ego seharusnya menjaring potensi-potensi terbaik, ketimbang menakar ego menjaring angin.

Salam Bae….

YESUS NAIK KE SURGA: Supremasi Pribadi Yesus di Antara Henokh dan Elia

“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kisah Para Rasul 1:9)

Pasca kebangkitan-Nya, Yesus, selang beberapa waktu, naik ke surga “disaksikan” oleh banyak saksi. Mengapa harus ada saksi? Ya, saksi mata haruslah menjadi catatan penting di sini. Seperti bunyi teks Kisah Para Rasul di atas bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke langit [baca: surga] “disaksikan” oleh para murid. Ini tentu sangat spektakuler bagi para murid Yesus, bagi para saksi mata peristiwa tersebut. Iman mereka diteguhkan dan betapa terpukau, terheran, dan sangat bersukacita, serta semangat mereka berkobar-kobar. Mengapa berkobar-kobar? Lihatlah peristiwa yang menyusul setelah itu: para murid dengan semangat “mengabarkan Injil”: Yesus yang lahir, mati, bangkit, dan naik ke surga menjadi inti pemberitaan mereka; mereka tidak takut mati; mereka siap mati demi Yesus dalam proses mengabarkan Injil. Mengapa mereka begitu berani dan tidak takut mati? Catatan penegesan yang penting di sini adalah karena “melihat secara langsung bagaimana Yesus naik ke surga”.

Peristiwa naik ke surga atau “diangkat” ke surga dialami oleh tiga pribadi: Henokh, Elia, dan Yesus. Henokh menjadi “tidak ada lagi” (di dunia) sebab ia telah diangkat oleh Allah (Kejadian 5:24, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah”). Elia terangkat ke surga dengan kereta berapi dengan kuda berapi:“Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai” (2 Raja-raja 2:11). Yesus yang naik ke surga disaksikan oleh para murid-Nya: “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Markus 16:19); “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Lukas 24:50-51).

Yesus memiliki supremasi dari Henokh dan Elia. Supremasi pertama, Yesus melebihi Henokh, karena Henokh tidak melalui proses kehidupan yang berjuang melawan kematian terlebih dahulu, Elia pun demikian. Yesus mati dulu baru terangkat ke surga. Secara substansial, ketiga pribadi memiliki latar belakang yang berbeda sekaligus misi yang berbeda; kedua Yesus melebihi Henokh dan Elia, di mana para saksi mata kenaikan-Nya ke surga disaksikan oleh banyak saksi. Saksi mata naiknya Elia ke surga adalah Elisa. Saksi mata Henokh diangkat ke surga, memang tidak disebutkan, tetapi jika pun ada saksi (meski tidak dituliskan dalam Alkitab) tentu tidak melebihi Yesus; ketiga, kenaikan Yesus ke surga adalah “menyediakan tempat bagi orang-orang percaya” sedangkan Henokh dan Elia tidak: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu (Yohanes 14:1-2); keempat, Yesus naik ke surga menjadi “Pengatara” [Jurusyafaat]: “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr. 7:25); “Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi” (Ibr. 8:6); “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama” (Ibr. 9:15).

Supremasi Yesus di antara Henokh dan Elia mengindikasikan bahwa personalitas mereka berbeda. Yesus adalah “Logos Ilahi” yang datang ke dunia menggunakan “tubuh” [daging] manusia—dan Ia menyatakan sebagai Imanuel: “Allah dengan Kita”—sebuah penegasan bahwa Allah menggunakan sebuah cara “persahabatan” untuk mengunjungi dunia ciptaan-Nya. Ia layak dan berdaulat bahkan mutlak untuk menentukan bagaimana cara untuk mengunjungi, peduli, bersahabat, dan menebus manusia ciptaan-Nya. Ialah yang berhak atas ciptaan-Nya. Cara-Nya tidak perlu dipersoalkan sebab Allah tidak berhutang kepada manusia, tetapi sebaliknya, manusia berhutang kepada Allah.

Kenaikan Yesus ke surga tidak hanya merupakan peristiwa spektakuler, melainkan ada pesan-pesan yang signifikan yang Dia berikan [wariskan] kepada para murid dan para generasi selanjutnya, hingga kepada kita sekarang ini. Saya mencatat dari keempat Injil dan Kisah Para Rasul yang menegaskan hal-hal substantif terkait dengan pesan Yesus pra-kenaikan-Nya ke surga.

Pertama: Pesan-pesan dalam Injil Matius 28

Yesus menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa baik di sorga maupun di bumi. Yesus memerintahkan para murid untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajarkan mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada para murid. Yesus menegaskan bahwa Ia akan menyertai para murid senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Kedua: Pesan-pesan dalam Injil Markus 16

Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya untuk pergilah ke seluruh dunia, dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Yesus menegaskan bahwa dalam proses pekabaran Injil itu, para murid harus meyakinkan bahwa Injil itu memberikan perubahan, pertobatan sehingga mereka menjadi percaya dan dibaptis. Yesus melengkapi para murid dengan kuasa-kuasa untuk mengusir setan-setan demi nama-Nya, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, mereka akan minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.

Ketiga: Pesan-pesan dalam Injil Lukas 24

Yesus menegaskan kembali pesan-pesan penting bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Yesus menegaskan bahwa dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Yesus menegaskan bahwa para murid adalah saksi dari semuanya ini. Yesus menggenapi janji-Nya dengan mengirim Roh Kudus kepada para murid dalam proses pemberitaan Injil, dan para murid akan diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.

Keempat: Pesan-pesan dalam Injil Yohanes 21

Yesus memerintahkan Petrus untuk “Menggembalakan domba-domba Yesus.” Yesus kembali menegaskan pesan penting kepada Petrus untuk “mengikuti-Nya” yang berimplikasi logis kepada semua orang percaya untuk tetap mengikuti Yesus meski banyak cobaan dan tantangan, bahkan maut sekalipun

Kelima: Pesan-pesan dalam Kisah Para Rasul 1

Yesus pasca kebangkitan-Nya berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada para murid tentang Kerajaan Allah. Yesus menjanjikan bahwa para murid akan dibaptid dengan Roh Kudus. Yesus meneguhkan iman para murid dengan mengatakan: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Supremasi Yesus di antara Henokh Elia dapat juga dinilai berdasarkan pesan-pesan dan prinsip-prinsip signifikan (tentang personalitas dan karya Yesus Kristus) pra-kenaikan dan terangkatnya mereka ke surga. Dengan demikian, kenaikan Yesus ke surga menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:18); Ia memiliki dua natur yakni Ilahi dan manusiawi; Ia memiliki saksi mata atas peristiwa kenaikan-Nya; Ia meninggalkan pesan-pesan substantif tentang Injil dan Kerajaan Allah; Ia memberkati para murid; Ia mempersiapkan para murid; Ia memperlengkapi para murid dengan kuasa-kuasa; dan Ia menyatakan diri-Nya sebagai “Allah dan Tuhan” yang layak disembah.

Kenaikan Yesus ke surga adalah harapan dan peneguhan iman Kristen bahwa Yesus yang adalah manusia tidak berhenti menjadi manusia dan memiliki natur Ilahi tidak berhenti memiliki natur Ilahi itu, melainkan kedua natur itu begitu menyatu dan tidak saling bercampur, tidak saling tertukar, dan tidak saling tumpang tindih. Inilah kehebatan dan kedahsyatan Allah yang luar bisa dalam sejarah kekristenan. Ini adalah “KISAH TUNGGAL” yang tak ada tandingannya di dunia ini. Yesus memang hebat dan berkuasa; Ia adalah Tuhan dan Juruselamat manusia yang memberikan kedamaian, sukacita, dan kehidupan kekal.

Jika para negator menolaknya, mereka hanya perlu mengingat beberapa hal berikut ini:

Pertama, Yesus itu tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan;

Kedua, Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk berperang, membunuh, dan mencaci maki orang lain;

Ketiga, Yesus tidak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk membenci orang lain, membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru malah Ia memerintahkan untuk mengasihi musuh-musuh dan berdoa bagi mereka.

Keempat, Yesus menjamin para pengikutnya dengan kehidupan kekal dan klaim-klaim-Nya sangat luar biasa dan dapat dibuktikan.

Jika ada pribadi yang dapat melebihi Yesus, saya siap percaya kepada Yesus dan sujud menyembah-Nya. Mengapa menyembah-Nya? Karena memang tak ada seorang pun yang dapat menyamai dan menyaingi Yesus

Salam Bae….

Sumber gambar:

https://nancysblog-seeker.blogspot.com/2009/05/dangerous-ascension-day.html

https://confirmandoellibrodeurantia.blogspot.com/2017/03/la-ascension-de-jesus-40-dias-o-50-dias.html

YESUS SANG APOLOGET: Tinjauan Atas Matius 22:41-46 [Markus 12:35-37]

Gagasan Mesias dalam Perjanjian Baru merupakan perwujudan dari nubuatan datangnya seorang Mesias yang ideal yang dijanjikan TUHAN untuk membebaskan umat-Nya. Dalam pelayanan-Nya, Yesus mendapat berbagai pertanyaan dan pernyataan dari lawan-lawan-Nya yang selalu mencari kelemahan Yesus. Dalam Matius 22:41-46, Yesus menyodorkan pertanyaan tentang Mesias orang-orang Farisi yang dikaitkan dengan teks Mazmur 110:1.

“Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.” Kata-Nya kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya.

Perjanjian Baru memberikan bukti-bukti perdebatan Yesus dan ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, Imam-imam kepada dan lainnya. Dalam perdebatan atau pun tanya jawab yang terjadi, Yesus seringkali memberikan suatu apologet kepada para ahli Taurat dan sekutunya dan tidak bisa dijawab oleh mereka. Meskipun demikian, gelagat dari para ahli Taurat dan sekutunya, tidak pernah mengalah. Dalam beberapa kesempatan, mereka mau melempari Yesus dengan batu, mau membunuh dan rencana tindakan kriminal lainnya. Mengapa demikian? Mereka malu, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan Yesus, penafsiran mereka tentang Taurat berbeda dengan penafsiran Yesus dan masih banyak lagi.

Penulis akan memaparkan kisah perdebatan atau tanya jawab Yesus dan yang melawan-Nya, dalam konteks apologetik Yesus, baik terhadap pertanyaan yang ditujukan kepada Yesus atau pun jawaban dan pertanyaan Yesus yang ditujukan kepada pelawan-Nya.

Memahami, mengenal, dan percaya kepada Yesus (Kristologi) membutuhkan waktu seumur hidup. Pasalnya, Kristologi menempati ruang akademis sekaligus ruang empiris dari orang-orang Kristen yang percaya di mana keduanya kadang bisa sejalan dan kadang tidak sejalan, hingga manusia mati. Yesus yang datang ke dunia meninggalkan legasi historis di mana Ia menyatakan dua hal: pertama, Ia datang sebagai “Tuhan”, dan kedua, Ia datang sebagai “manusia”. Sebagai “Tuhan” (Kurios), Ia berkuasa (memiliki kuasa) sebagaimana tampak dalam seluruh pelayanan-Nya yang dicatat dalam keempat Injil Kanonik. Ia berkuasa mengampuni dosa; Ia berkuasa membangkitkan orang mati, dan lain sebagainya. Sebagai “Manusia” (Anthropos), Ia menjalani proses hidup layaknya manusia pada umumnya dan dapat mati.

Rentetan peristiwa yang dicatat para penulis Injil berkonteks pada sifat “Ke-Tuhan-an” Yesus dan natur “kemanusiaan-Nya”. Berangkat dari dua konteks ini, maka bacaan kita dalam Markus 12:35-37, sebenarnya menyatakan dua konteks ini pula. Sebelum saya menjelaskan kisah dalam Markus, saya mengkorelasikannya dengan dua bagian yang sama yang ditulis oleh Matius (22:41-46) dan Lukas (20:41-44). Matius mencatat bahwa “Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi yang sedang berkumpul: ‘Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?’ Kata mereka kepada-Nya: ‘Anak Daud’” Lukas mencatat, sebelum Yesus mengajukan pertanyaan tentang hubungan Mesias dengan Daud, ada ahli-ahli Taurat, Imam-iman kepala, dan orang-orang Saduki (20:20-40) yang mengamat-amati (membuntuti) Yesus untuk menjerat Dia. Dengan demikian, pertanyaan Yesus di ayat 41 “kepada mereka” ditujukan kepada ahli-ahli Taurat, imam-imam kepala dan orang-orang Saduki. Pertanyaannya, “di mana orang-orang Farisi” sebagaimana yang dicatat Matius? Apakah ada kesalahan penulisan, perbedaan penekanan ataukah Yesus melakukan jukstaposisi (penjajaran) identitas? Untuk mendalami hal ini, saya menganjurkan untuk mengikuti “Bible Study” yang diampu oleh Pastor Thobias Messakh.

Kembali ke teks-teks Markus. Kisah Yesus mengajar di Bait Tuhan menghasilkan sebuah gagasan yang menarik yang membuat para pendengar-Nya antusias (penuh minat). Saya mengamati bahwa pola pengajaran Yesus selalu dibarengi dengan pertanyaan-pernyataan kritis dan bahkan mengguncang iman. Dan pertanyaan-pernyataan Yesus sebenarnya ingin menunjukkan dan menegaskan identitas-Nya yang sesungguhnya. Dengan demikian, memahami personalitas Yesus tidak cukup hanya dalam ranah empiris, tetapi juga dalam ranah akademis. Keduanya harus seimbang: antara kognitif dan empiris harus sejalan.

Yesus tidak hanya menampilkan kuasa-Nya sebagai Tuhan, namun Ia menampilkan sisi logis dari pertanyaan-pertanyaan yang menggoncangkan logika manusia agar mereka tahu mempergunakan otaknya. Iman Kristen dibangun bukan hanya dari penglihatan-penglihatan, mukjizat-mukjizat, dan sebagainya, melainkan juga dibangun berdasarkan pemahaman logis tentang Pribadi-Nya yang adalah Tuhan dan manusia sejati. Pertanyaan Yesus kepada orang-orang Farisi adalah sisi lain dan pemahaman akan diri-Nya dari sisi logis yang luar biasa dan menggiring kepada kesimpulan akhir bahwa “meski Yesus adalah manusia, namun Ia bersifat Ilahi, melebihi Daud yang dalam peristiwa sejarah humanitas, Daud lebih dulu lahir, tetapi dalam konteks substansial, Yesus adalah “Tuan”-nya Daud. Hal ini selaras dengan perkataan Yesus kepada orang-orang Yahudi dan ahli-ahli Torat: “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada”.

Berangkat dari teks-teks Markus di atas, maka saya mencatat tiga pokok penting sebagai bentuk pemahaman akan pribadi Yesus. Hal ini bertujuan untuk memberikan semangat untuk terus mengasihi Yesus, mengenal-Nya, menyembah-Nya, dan mewartakan-Nya dalam tugas misi dan pelayanan kita semua.

Pertama, Yesus hendak menegaskan diri-Nya bahwa Ia adalah Mesias dengan menghubungkan diri-Nya dengan Daud. Pertanyaan Yesus adalah pertanyaan yang tak mungkin dijawab dengan menggunakan rumusan  biologis kecuali “hanya mengakui” bahwa Mesias yang dimaksudkan adalah “Mesias yang Ilahi” (yang harus disembah). Yesus menunjuk kepada diri-Nya bahwa Ia adalah Mesias tersebut dan layak disembah. Ini adalah penggabungan antara sifat ke-Ilahian (disembah) dan ke-Tuhan-an Yesus (berkuasa). Hubungan antara Yesus dan Daud menegaskan bahwa Yesus sah berdasarkan catatan nubuatan dan bukan datang dan mengakui diri-Nya secara sembarangan. Jika sah, tak ada yang bisa menggugat

Kedua, meski Yesus adalah Mesias yang Ilahi, Ia hendak menegaskan sisi kemanusiaan-Nya untuk tujuan penebusan. Artinya, dengan kematian-Nya, Ia menaklukkan maut sebagai musuh yang paling ditakuti manusia. Ketika ada yang mengatakan bahwa: “Mengapa ‘Tuhannya’ orang Kristen kok bisa mati? Apakah Tuhan bisa mati? Jawabannya adalah: “yang mati bukan Tuhan, tetapi natur kemanusiaan Yesus (bdk. Flp. 2:8). Tidak ada bukti bahwa Tuhan itu mati sebab Tuhan bukanlah fisik tetapi substansi.

Ketiga, Yesus hendak mengajarkan bahwa membuat pertanyaan tentang diri-Nya haruslah menantang logika supaya timbul minat yang tinggi. Mengapa demikian? Jika orang Kristen hanya sibuk dengan mendengarkan khotbah tentang bagaimana Yesus baik kepada mereka, dan melupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari iman Kristen, bisa berpeluang untuk mengabaikan pelayanan dan bahkan iman. Markus mencatat: “Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” Mengapa mereka berminat? Karena pertanyaan Yesus begitu menantang dan tak bisa dijawab.

Bertanya atau mempertanyakan iman Kristen bukanlah hal yang keliru tetapi justru membangunkan mereka yang sedang tidur meski menyatakan diri Kristen. Berapa banyak orang Kristen yang tidur secara rohani? Pertanyaan-pertanyaan yang menantang logika kadang mendorong orang Kristen untuk belajar semakin giat dan bahkan rajin membaca Alkitab.

Tidak sedikit pertanyaan Yesus yang diucapkan, baik kepada musuh-musuh yang membenci-Nya, maupun kepada pengikut-pengikut-Nya. Karena alas an inilah, maka saya juga mengajukan pertanyaan kepada saudara-saudara untuk dijawab secara pribadi: Pertama, apakah Yesus yang selama ini dipercaya adalah Yesus dalam Kitab Suci atau “Yesus” yang Saudara proyeksikan sendiri berdasarkan pikiran Anda? Kedua, jika Yesus sudah menebus dosa kita, mengapa kita masih saja berdosa dan makin berdosa? Ketiga, apakah Yesus yang pernah mati disalibkan, layak disembah dan diagungkan? Keempat, apakah iman kepada Yesus bertumbuh setiap kali beribadah atau hanya sebagai rutinitas belaka yang tak mengubah apa pun dari sikap dan perilaku Saudara? Kelima, apakah Yesus yang tidak kelihatan membuat Saudara semakin yakin bahwa Ia ada atau hanya karena Saudara yang meng-‘ada’-kannya.

Kesimpulan

Pertanyaan Yesus tentang hubungan diri-Nya dengan Daud adalah wujud dari perluasan pemahaman akan identitas Yesus yang sesungguhnya. Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Mesias Ilahi yang sah berdasarkan catatan nubuatan PL. Dengan identitas tersebut, Yesus hendak memberitahukan bahwa diri-Nya datang sebagai manusia untuk tujuan penebusan melalui kematian-Nya (sebagai manusia) dan sekaligus menunjukkan bahwa meski Ia mati, Ia akan bangkit untuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Tuhan. Jika pengetahuan dan pengalaman kita bersama Yesus telah memenuhi dua pokok ini, maka berbahagialah. Sebab Yesus yang kita sembah dan puji selama kita hidup adalah benar-benar Yesus yang pernah datang ke dunia—Yesus yang Ilahi dan Yesus yang manusiawi—untuk membawa perubahan hidup yang tertuju kepada Sang Bapa, di mana kita akan bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Shalom

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai