
Tergerus oleh waktu, ditepis oleh keadaan, berharap terurai menjadi alunan lagu terindah, tapi akhirnya tercipta sebuah keadaan yang menyakitkan. Kita bergulat melawan letih, berjuang melawan kecewa. Langkah demi langkah memijaki bumi, untuk sebuah keinginan terbaik.
Masalah muncul tapi tanda diundang, menghilang tanpa pamit. Tangan Tuhan membentuk hidup kita menjadi seperti pejuang yang tak terkalahkan. Untaian tantangan, jalinan hambatan, ikatan kesempatan, terpampang di depan mata, membisikkan nada-nada yang harus dimainkan. Kita beryanyi dalam sedih, bergumam dalam demam. Harap demi harap diuji dalam temaram pikiran.
Kekalutan hati, membangunkan rintih. Kecemasan mengundang tanya; kekecewaan menabuh gendang, membuat kita menari dalam pedih. Apa mau dikata? Itulah juang, itulah keadaan, itulah hidup. Tersisa nada yang dapat kita mainkan, tertatih-tatih menyaringkan suara, berucap pada langit: beri aku secercah, agar mata meneteskan embun iman, di mana bongkahan persoalan dihancurkan berkeping-keping.

Kita terperanjat melihat keajaiban hidup. Tuhan menciptakan pelangi bagi mata kita: indah dan menawan, menghibur lara. Ia menyediakan makanan; Ia memberi kita minum; Ia menyediakan tempat pembaringan yang nyaman, damai, dan penuh kasih. Kita bangun dan beranjak pergi; pergi menapaki janji, untuk hidup dari hari ke hari. Ada tanjakan yang harus dilalui. Alas kaki mulai menipis, keringat menetes dalam hempasan langkah; tak mengapa, demi sebuah kebahagiaan.
Kisah hidup dalam gumul dan juang, dituliskan dalam secarik kertas; sebuah fenomena terbaik, memberi kita pikulan agar bahu menjadi kekar. Goresan luka, sayatan hinaan, lebam pukulan, wajah memerah kesakitan, mata perih akibat percikan caki maki, menyatu, membentuk sosok tangguh. Itulah “KITA”; ya, KITA yang telah merasakan getir, pahit, dan sempoyongan. Ketangguhan hanya lahir dari sikap berani menenteng masalah dan membuangnya di tempat sampah.
Tuhan tak membiarkan kita sendiri; Ia ada, tak terlihat, tapi kuasa-Nya mendorong, membalut, memulihkan, mengobati, menyembuhkan, menguatkan. Ia tetap melihat perjuangan kita; Ia tahu memberi yang terbaik; dan kita tahu, Dialah yang melatih kita untuk bertanding dalam hidup. Dan kita menyanyikan nyanyian kehidupan.

Tak perlu kecewa; sedu sedan – isak, tangisan yang tertahan-tahan – akan menjadi nyanyian kebahagiaan, asal waktunya genap. Tak ada manusia yang bebas dari gumul juang; kita sama; sama-sama hidup dan berjuang; tak perlu iri hati; kita mendapatkan bagian sesuai kadar masing-masing. Tuhan menakar sesuai kehendak-Nya.
Jangan berhenti bersyukur; melaluinya, hati tenang, jiwa tenteram, pikiran damai, tubuh segar, kaki tegar, tangan kuat, prinsip kokoh. Banyak hadiah yang kita terima akibat dari hati yang senantiasa bersyukur. Bukankah kita tercerahkan oleh kebaikan dan kemurahan Tuhan? Bukankah kita tahu bahwa setiap orang menikmati hidup sesuai dengan apa yang dia kerjakan?
Nyanyian kehidupan adalah cerminan proses; proses itu tak bisa ditolak, tak bisa dihindari, tak bisa diabaikan; kita hanya dapat mendalami proses, menikmatinya, dan berusaha menempuh perjalanan menuju kebahagiaan sejati. Tuhan menempa setiap hati agar harap terpatri dalam integritas.
Nyanyian kehidupan dicipta dalam waktu, dalam proses yang panjang, dalam gumul dan juang, dalam keletihan; mungkinkah nyanyian kita terdengar indah? Mungkinkah nyanyian kita memberi penghiburan bagi mereka yang lebih sedih dari kita? Mungkinkah nyanyian kita memberi kebahagiaan kepada yang lain? Itu semua dapat terwujud!

Kita menapaki tangga-tangga kehidupan; di dalam waktu, kaki kita dilatih untuk menjadi kuat, beranjak di antara tangga-tangga itu. Kita, waktu, dan nyanyian kehidupan adalah kesatuan rasa, fakta, dan masa depan. Semua dapat ditempuh; iman yang diberikan Sang Khalik melekatkan ketiganya, menyatu, kuat, menuju hidup yang berarti; hidup yang layak di hadapan-Nya; hidup berkenan kepada-Nya.
Kita terus berharap agar langkah yang tertatih-tatih, tergopoh, memijaki tangga terakhir di mana kita bertemu dengan kumpulan kebahagiaan yang telah lama menunggu kita untuk bertegur sapa dalam rasa yang kuat berbalut damai sorgawi.
KITA, WAKTU, DAN NYAYIAN KEHIDUPAN adalah realita. Yang terpenting adalah mengucap syukur dalam segala hal, berjuang dalam harap pada-Nya, menyandarkan diri pada Dia yang berkuasa, dan menitipkan keletihan pada-Nya dalam doa siang malam.
Salam Bae…..





































