Logika dapat digunakan sebagai “senjata” kebenaran, dan dapat juga digunakan sebagai “senjata” ketidakbenaran, kepalsuan, dan penyesatan. Penggunaan logika bergantung pada aspek diri seseorang, pengalaman, pengamatan, relasi, dan perenungan. Manusia merumuskan segala sesuatu, menetapkan, memikirkan, mempertimbangkan, menganalisis, menguji, mempertanyakan, menolak, mengkonfirmasi, mempercayai, dan meragukan sesuatu.
Dunia teologi pun mengalami hal yang serupa. Ada orang-orang tertentu yang mengakui kebenaran Kitab Suci, ada yang meragukan (dalam konteks-konteks tertentu), ada yang menolak (dalam konteks tertentu bahkan secara keseluruhan), ada yang ragu (dalam konteks tertentu), ada yang mempertimbangkan, ragu, menguji, menganalisis, dan lain sebagainya.
Terlepas dari konteks teologi di atas, Kitab Suci memberikan arah yang jelas bagi setiap orang percaya, yaitu mereka harus memiliki “sikap hidup” yang benar—sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan—di hadapan-Nya (Coram Deo) dan di hadapan manusia (Coram Mundo). Tidak hanya hidup benar, mereka perlu menunjukkan sikap mengasihi dan mengampuni.
Di sini, kita hendak diarahkan bahwa antara teologi (pemikiran) kita tentang Tuhan dan sesama tidak menjadi sesuatu yang terpisah atau hidup menyendiri tanpa kasih dan pengampunan (realisasi dari iman kepada Tuhan). Sejatinya, orang-orang percaya perlu menampilkan “gaya hidup” yang selaras dengan Kitab Suci.
Kendala-kendala yang muncul dan yang dihadapi dapat dipandang sebagai “bumbu-bumbu” kehidupan yang bisa saja menjadi sesuatu yang mengarahkan dan meneguhkan iman kita kepada Yesus Kristus dan memimpin kita kepada hidup yang benar, hidup yang mengasihi, dan mengampuni. Fenomena berteologi dapat kita lihat pada situasi di zaman ini. Akan tetapi, secara substansial, kita melihat bahwa teologi dan sikap hidup (realisasi dari teologi itu sendiri) sangatlah koheren.
Pemikiran-pemikiran (teologi) yang dihasilkan seyogianya membawa dan mengarahkan kita kepada kehidupan yang dikehendaki Tuhan, kehidupan yang menunjukkan kasih yang kuat dan pengampunan yang tulus. Teologi itu memang luas jangkauan dan pemahamannya, tetapi muara dari teologi itu tetap hanya berfokus pada “bagaimana kita hidup benar di hadapan Tuhan selaras dengan firman-Nya, sekaligus bagaimana melalukan kehendak-Nya.”
Hanya mereka yang mengasihi dan mengampunilah yang mengenal Allah sebab mereka yang mengenal-Nya akan dengan sukarela dan tulus mengejawantahkan kasih—pengampunan kepada siapa saja termasuk musuh-musuh yang mengkafirkannya, mengatakannya sebagai manusia jahanam, dan lain sebagainya. Bagi mereka yang mengenal Allah, kehidupan yang dijalani diwarnai dengan sikap bijak, waspada, hidup kudus, dan mengajarkan perilaku yang benar, selaras dengan firman-Nya.
Apa yang harus kita lakukan ketika kita telah memahami teologi? “CARPE DIEM”—(Petiklah [nikmatilah] hari [ini]). Jangan membuang kesempatan yang telah Tuhan berikan kepada kita; lakukanlah yang baik, dan jauhilah yang jahat. Pemikiran yang baik menghasilkan perilaku yang baik. Kasih dan pengampunan bersumber dari pikiran yang menempatkan Allah sebagai satu-satunya Sang Mahakasih dan Sang Pengampun. Jika demikian, bukankah kita harus meneladani-Nya? Jika sudah meneladani-Nya, maka kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang membenci kamu.
Hidup ini, baik tidak baik, senang-disenangi, segan-disegani, mengutuk-dikutuki, memfitnah-difitnahkan, mendendam-didendamkan, memarahi-dimarahi, membohongi-dibohongi, menyakiti-disakiti, ditentukan oleh dua hal, yaitu: Perkataan dan Perbuatan.
Perbuatan seringkali tidak sesuai dengan perkataan, atau sebaliknya. Ada orang yang yakin terhadap seseorang karena perkataannya begitu kuat pesannya, dan pada gilirannya kecewa, sebab perbuatannya tidak sesuai dengan apa yang ia katakan. Begitu pula sebaliknya, ada orang yang perbuatannya sangat baik, tetapi perkataannya menyakiti orang lain, menikam hati orang lain, berbisa, dan meracuni pikiran orang lain.
Kebahagiaan dalam hidup juga dapat ditempuh dengan perkataan dan perbuatan. Orang Kristen dapat dinilai dari dua hal itu juga. Perkataan bisa menipu tetapi perbuatan tidak bisa menipu. Itu sebabnya, Yesus mengatakan bahwa “Dari buahnyalah engkau mengenal mereka”. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, dan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula.
Hidup itu menjadi bernilai ketika kata dan perbuatan kita (dicta dan gesta) selaras, harmonis, konsisten, dan teguh pada pendirian yang benar. Hidup menjadi berarti ketika kata dan perbuatan kita memberkati orang lain, menyenangkan orang lain. Demikian pula, Tuhan akan senang, jika kata dan perbuatan kita selaras dengan firman-Nya – prinsip-prinsip Alkitab.
Ada orang yang terluka hanya dengan perkataan. Mungkin perbuatan tidak terlalu melukai seseorang, tetapi perkataan seringkali memicu pertengkaran, perkelahian, percekcokan, perselisihan, fitnah memfitnah dan tipu menipu. Akhirnya, terciptalah dendam dan sakit hati, berujung pada tindakan “balas dendam”.
Kata-kata seseorang dikendalikan oleh lidah dan perbuatan seseorang dikendalikan oleh pikiran. Pikiran akan terlihat dari setiap perkataan seseorang yang dapat juga berarti bahwa pikiran dituangkan dalam perkataan lidah, entah baik atau tidak baik, entah munafik atau jujur.
Ada satu lagu (dinyanyikan oleh vokal grup anak-anak) yang menyatakan tentang dosa lidah, yang saya muat dalam buku antologi berjudul “Berilah Dirimu Didamaikan dengan TUHAN” yang menyoroti tentang identitas Kristen:
Jangan sia-siakan hari hidup, bergulir waktu tak mungkin kembali
Refrein: Adalah lidah panas laksana petir, leburkan kedamaian menjadi kebencian. Tajam bagai belati berselimut salju, gores menjadi luka berujung derita
Jangan kalungkan kebencian kar’na perkataan
Cintailah hidup ini saudaraku…
Jangan taburkan dendam, kalungkan kedamaian
Dari lagu “Dosa Lidah” di atas, tampak bahwa lidah menjadi semacam organ yang sangat penting yang dapat menentukan posisi atau identitas kita di hadapan publik. Lidah laksana petir yang meleburkan kedamaian menjadi kebencian.
Lidah tajam bagai belati tetapi dibungkus dengan salju yang dingin, dan menggores lalu menjadi luka yang berujung derita. Perkataan seseorang tampaknya lembut, sejuk, dingin, rasanya enak didengar, membuat terbuai orang yang mendengarnya, tapi ternyata, di balik perkataan manis itu tersimpan pisau belati yang dapat membunuh orang lain.
Ada orang yang bunuh diri dan membunuh orang lain karena kata atau ucapan seseorang – rasanya sakit minta ampun dan bukan main. Sebuah lagu juga mengatakan:
Memang lidah memang tak bertulang, tak terbatas kata-kata
Tinggi s’ribu janji lain di bibir lain di hati
Aku pergi takan lama, hanya satu hari saja
S’ribu tahun tak lama, hanya sekejap saja, kita kan berjumpa pula
Sebuah pepatah mengatakan: “Titip uang bisa kurang, titip kata-kata tidak pernah berkurang (bertambah)”. Lidah memang tak dapat diduga. Hari ini berkata baik, besok berkata kotor dan lusa memaki-maki orang lain.
Hari ini lidah berdoa, besok lidah berdosa, dan lusa lidah memperkosadiri, kehidupan, dan hak orang lain. Hari ini lidah menyanyi, besok mencaci maki, dan lusa bersaksi di depan jemaat.
Hari ini lidah jujur, besok mencukur, dan lusa dikubur. Hari ini lidah bersyukur, besok memfitnah dan lusa bertengkar.
Hari ini lidah berbohong, besok memohon ampun, dan lusa berbohong lagi. Lidah, kata Alkitab, tidak dapat dikendalikan.
Lalu, apa kata Alkitab mengenai lidah? Adakah petunjuk Alkitab mengenai bagaimana menggunakan lidah? Alkitab menulis banyak hal tentang lidah yang berkorelasi erat dengan “perkataan”, yang di dalamnya ada unsur pikiran, hati dan mulut. Apa yang diucapkan lidah keluar dari hati dan pikiran manusia – dan apa yang dikatakan lidah, bersumber dari identitas atau status seseorang.
Dalam Yakobus 3:1-12, dituliskan demikian:
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.
Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.
Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.
Dari kedua belas ayat, terdapat hal penting yang biasanya menjadi bagian integral dari hidup manusia apalagi sebagai umat Tuhan, yaitu: delapan analogi; empat analogi untuk bagian pertama, dan empat analogi lainnya untuk bagian kedua. Ada banyak analogi tentang lidah. Problem utama adalah bahwa lidah tidak dapat dijinakkan – sebab lidah memegang peranan penting dalam hidup manusia, entah baik atau jahat.
MENJADI GURU (Ayat 1–9)
Dalam ayat 1 sampai 9, terdapat 4 analogi. Saya akan jelaskan berurutan setelah melihat penekanan Yakobus tentang guru berikut ini: “Jangan di antara kamu yang banyak menjadi guru.” Apa sebabnya? Karena hukumannya lebih berat. Mengapa berat? Karena “perkataan” seorang guru mengungkapkan hal-hal yang esensial. Jika salah, maka semua salah. Jika benar, maka semua benar. Ini adalah sebuah peringatan. Menjadi guru bukanlah asal-asalan.
Analogi (1, 2) yang diberikan adalah kuda dan kapal. Di hidung kuda dimasukkan tali yang berfungsi untuk mengendalikan kuda. Kapal dikendalikan oleh kemudi kapal yang kecil. Demikian juga lidah – ia dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Maka, dari kedua analogi tersebut, Lidah adalah jurumudi. Jurumudi adalah penentu ke mana arah langkah hidup manusia. Kebaikan dan keburukan bergantung pada lidah sebagai jurumudi kita.
Analogi ketiga adalah api – meskipun kecil, dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api. jika lidah ibarat api, maka seperti sifat api, lidah dapat membakar. Lidah dapat membakar situasi damai menjadi pertengkaran dan perselisihan. Lidah dapat membakar hati yang remuk redam menjadi hati yang bersemangat.
Lidah adalah dunia kejahatan. Lidah dapat menodai seluruh tubuh. Lidah dapat menyalakan roda kehidupan kita. Lidah mendapat hukumannya di api neraka.
Analogi keempat adalah “penjinakkan”. Menurut Yakobus, sifat manusia dapat menjinakkan segala jenis binatang liar. Lidah tidak dapat dijinakkan. Hari ini berkata lain, besok lain, lusa juga lain. Hari ini berdusta, besok menyangkal, lusa berdoa dan memuji Tuhan, lalu seterusnya memfitnah, berbohong, menipu dan kembali memuji Tuhan dan berdoa. Lidah adalah sesuatu yang buas. Lidah tak dapat terkuasai. Lidah penuh racun yang mematikan.
MEMUJI TUHAN, BAPA KITA
Yakobus menjelaskan fenomena kehidupan rohani, di mana secara kasat mata, setiap orang percaya dapat memuji Tuhan dan dalam kondisi yang sama, orang percaya tersebut mengutuk manusia yang lain. Hal demikian, kata Yakobus, tidak boleh terjadi sebab hal itu bertentangan dengan natur dari iman kepada Yesus Kristeus. Yang memuji Tuhan seharusnya menjadi teladan dalam kata dan perbuatan, menjadi teladan dalam seluruh aspek iman dan kerohaniannya.
Terdapat 4 analogi yakni: (1) Sumber air tawar tidak dapat memancarkan air pahit; (2) Pohon ara tidak dapat menghasilkan buah zaitun; (3) Pokok anggur tidak dapat menghasilkan buah ara; dan (4) Mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. Lidah tidak boleh mengeluarkan kutuk dan berkat sebab keduanya bertentangan. Dari satu lidah tidak boleh keluar pujian kepada Tuhan dan kemudian memfitnah dan berbohong demi uang dan kepentingan pribadi. Ini berbahaya, dan menjadi racun yang mematikan.
Menjaga hidup berarti menjaga lidah. Orang yang setia dan taat pada perintah Tuhan, adalah dia yang menjaga hidup dan lidahnya, menjadi berkat, bukan menjadi kutuk dan mengutuki orang lain yang tidak bersalah. Menyampaikan kebenaran, bukan kehobongan dan fitnah.
Kita harus berani menjadi Kristen. Kristen yang tahu diri, posisi, status dan tahu Tuhannya. Jangan menggunakan lidah sebagai alat pemicu konflik, perselisihan, perkelahian atau pembunuhan. Lidah yang baik berarti memuji Tuhan, mengatakan kebenaran, dan menjaganya sesuai dengan ajaran Alkitab.
Berhentilah menyombongkan diri dengan lidahmu. Jujurlah dan setialah sampai mati. Hidup yang terjaga adalah hidup yang dituntun oleh firman Tuhan dan hidup yang dinyatakan dari buah perkataan kita – lidah kita. Tuhan memberkati hidup. Dengan lidah kita menjadi berkat bagi banyak orang melalui perkataan-perkataan kebenaran, yang membangun dan mengarahkan orang lain untuk hidup dalam firman-Nya, berbuah dalam cinta kasih, pengampunan, dan kemurahan hati. Jauhkanlah diri kita dari segala jenis kejahatan karena “lidah”. Teruslah memperkatakan kebenaran firman-Nya, memuji-Nya, dan menguasai diri dalam segala hal.
Pergunakanlah lidah sesuai prinsip Alkitab, apa pun profesi kita, sebagai guru, hamba Tuhan, dan lainnya. Perkataan yang benar menghasilkan tindakan yang benar. Lidah harus dipakai untuk menjadi berkat, memuliakan Tuhan, bukan untuk menyebarkan fitnah dan kesombongan. TUHAN MENGASIHI ORANG-ORANG YANG BERKATA BENAR DAN HIDUP BENAR DI HADAPAN-NYA. LIDAH YANG BAIK KELUAR DARI PRIBADI YANG BAIK.
Dalam salah satu tulisan saya, ada tiga teladan yang ditunjukkan oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang, yaitu: teladan komitmen pelayanan, teladan kepemimpinan, dan teladan kemurahan hati. Tiga teladan ini dengan segera akan tampak ketika seseorang bertemu dengan beliau. Bagi kami yang adalah ‘anak didik’ beliau, ketiganya selalu kami rasakan, baik dalam percakapan maupun dalam pelayanan bersama beliau.
Rentetan peristiwa yang telah terjadi membuat beliau mengalami banyak tekanan dan beban berat, terutama dengan kasus yang menimpa beliau, hingga beliau dinyatakan “BEBAS MURNI” oleh Pengadilan. Berbagai upaya untuk menjatuhkan beliau, merusak nama baiknya, memfitnah, membuat buku putih tentang dosa-dosa beliau, dan lain sebagainya, tidak membuat beliau tumbang. Dalam lelahnya menghadapi berbagai serangan yang berusaha memojokkan dan mencermarkan nama baiknya, Matheus Mangentang tetap memperlihatkan ketabahannya, sementara komitmen pelayanan, kepemimpinan, dan kemurahan hati terus digelorakan.
“Mereka” yang tidak secara langsung bercakap-cakap atau melayani bersama beliau, memiliki pemahaman dan penafsiran yang kurang lebih belum memadai. Apalagi ketika “mereka” mendapatkan berita yang “miring” tentang beliau. Faktanya, semua tuduhan yang ditujukan kepada beliau tidak benar adanya. BEBAS MURNI dari kasus yang menimpanya cukup menjadi bukti bahwa TUHAN ITU BAIK. Ungkapan syukur atas kejadian ini sungguh tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tak dapat dilukiskan dengan air mata sekalipun. Tuhan baik karena tentu Ia lebih tahu ISI HATI MANUSIA. Ia tahu apa yang akan terjadi kepada manusia. Bahkan sebelum manusia berkata-kata, Ia sudah mengetahuinya. Kehendak-Nyalah yang terjadi. Ialah yang menetapkan langkah-langkah manusia.
Penulis Amsal dan Pemazmur dengan tegas menyatakan hal-hal tersebut:
“Dunia orang mati dan kebinasaan terbuka di hadapan TUHAN, lebih-lebih hati anak manusia!” (Amsal 15:11).
“Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN” (Amsal 16:1).
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9).
“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Amsal 19:21).
“Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?” (Amsal 20:24).
“Kalau engkau berkata: ‘Sungguh, kami tidak tahu hal itu!’ Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya? (Amsal 24:12).
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN” (Mazmur 139:1-4)
“Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” (Mazmur 1:6).
“TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia” (Mazmur 33:13).
“TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka” (Mazmur 94:11).
“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mazmur 37:23-24).
Alkitab secara tegas mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak tinggal diam atas apa yang menimpa hamba-hamba-Nya. Ada balasan yang Ia berikan kepada mereka yang mengasihi-Nya, dan kepada mereka yang memusuhi-Nya. Tuhan tak mungkin lupa. Ia selalu ada buat anak-anak-Nya, dan dengan cara-Nya sendiri, Ia menunjukkan kuasa-Nya, memulihkan kehidupan yang hancur, membalut luka hati, mengobati kehidupan yang porak-poranda, dan menggendong mereka yang letih dan penat menapaki hidup ini.
Selalu ada cara Tuhan untuk mengangkat kita ke level kehidupan yang berkelas dan berkualitas. Itulah yang terjadi dengan Pdt. Matheus Mangentang. Pelayanan yang dikerjakannya telah memberkati banyak orang, mulai dari kota-kota hingga desa-desa. Sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia dan Pendiri STT Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, ia menorehkan misi di berbagai pedalaman, dan para muridnya (anak-anak didiknya) dilatih dan diutus untuk melakukan hal yang sama.
Kepemimpinan beliau menekankan prinsip “hamba”. Ia tahu bahwa sebagai hamba Tuhan, perlu menunjukkan kualitas rohani dalam kepemimpinannya. Ia tidak menunjukkan sikap diri sebagai “bos” tetapi justru menunjukkan sikap rendah hati dalam pelayanan dan kepemimpinannya.
Kemurahan hatinya tak perlu diragukan. Mereka yang telah merasakan dan melihat kemurahan hati beliau, tentu menjadi saksi-saksi yang akan terus menceritakan kemurahan hati beliau. Ia meneladani Kristus. Kemurahan hati Kristus Yesus telah membuka mata iman beliau bahwa hal yang sama harus tetap dilakukan kepada mereka yang benar-benar membutuhkannya.
Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Itulah dasar kemurahan hati beliau kepada banyak orang. Hal yang sama juga dilakukan oleh istrinya yang terkasih, Ibu Ester Kristanto. Hingga sekarang, keduanya tetap berkomitmen untuk berbelas kasih kepada mereka yang membutuhkannya. Yesus Kristus dimuliakan dalam setiap tindakan-tindakan kasih mereka.
Pada akhinya, keteladan beliau dalam pelayanan, kepemimpinan, kemurahan hati dapat menjadi catatan iman bagi kita untuk dapat turut serta di dalamnya. Pdt. Matheus Mangentang adalah pelayan Tuhan yang rendah hati dan konsisten untuk melayani Tuhan di mana pun Ia mengutus beliau. Itu sebabnya, STT SETIA Jakarta hingga sekarang terus menggelorakan semangat melayani di pedesaan, menjangkau yang belum terjangkau, mengasihi yang belum terkasih. Di situlah Injil diwartakan, banyak jiwa dimenangkan bagi Yesus Kristus. Tuhan itu baik, dan sungguh baik.
Salam Bae…..
Stenly R. Paparang adalah dosen tetap di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta. Menjabat sebagai Koordinator Nasional Cabang-cabang SETIA Seluruh Indonesia, dan Wakil Sekretaris Umum II Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (BPS-GKSI).
Ia [Tuhan] yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Tuhan oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Tuhan (2 Korintus 9:10-12)
Kutipan ayat-ayat di atas menegaskan prinsip pelayanan di mana Tuhanlah yang menjadi sumbernya. Tuhan sendiri yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan. Jika demikian, setiap orang yang menjadi pelayan-Nya adalah mereka yang “menabur” Injil Yesus Kristus. Hal ini tampak pada pribadi Bapak Haryoseno, yang bukan saja “menjadi seorang penabur” (kebaikan, kasih, dan kemurahan yang ia terima dari Tuhan Yesus), tetapi juga seorang yang “memberi makan bagi kaum papa (miskin, sengsara)” melalui berbagai bantuan. Genaplah firman Tuhan: “Siapa yang berbelas kasihan kepada orang miskin, ia memiutangi YAHWEH, apa yang telah ia berikan, YAHWEH akan membalasnya” (Amsal 19:17).
Bapak Haryoseno dikenal sangat baik, perhatian, dan rendah hati di kalangan sekolah-sekolah dalam wadah SETIA-ARASTAMAR. Beliau adalah orang yang sederhana tetapi memiliki hati yang begitu mencinta misi, dan membuktikan bahwa pelayanan yang dikerjakan baik oleh gereja-gereja maupun sekolah-sekolah, ditopang oleh beliau dengan berbagai cara. Gambaran kebaikan hati beliau tampak ke permukaan bukan tanpa alasan. Tentu, didikan orangtua kepada beliau menjadi dasar bagaimana ia seharusnya bertindak terhadap misi dan pelayanan Kristus Yesus yang dikerjakan oleh gereja-gereja dan sekolah-sekolah.
Di usianya yang ke-79 (tanggal 20 Januari 2023), benih-benih yang ditaburkan Bapak Haryoseno telah menghasilkan banyak buah; banyak orang diberkati oleh pelayanan beliau; banyak orang yang mendoakan beliau; banyak orang yang ditolong dan ditopangnya. Semua dilakukannya semata-mata karena kemurahan Tuhan yang dinyatakan kepada beliau.
Melihat pada ayat-ayat di atas, tampak bahwa Tuhan “juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu” – dan jika itu dinyatakan kepada jemaat di Korintus, maka sebagai orang percaya kita juga mendapatkan alasan yang sama bahwa Tuhan yang “akan” dan “telah” menyediakan benih bagi kita dan kita melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran di mana nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Bapak Haryoseno telah memperlihatkan hal ini, bahwa ia telah menyediakan baginya benih, dan ia telah melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran melalui tindakan mencintai misi dan menopang pelayanan.
Anak-anak Didik Arastamar sangat mengenal kebaikan dan kemurahan hati beliau. Beliau telah banyak memberi waktu dan tenaga untuk pekerjaan misi Kristus, pelayanan gereja dan sekolah-sekolah. Beliau telah banyak menabur benih kasih; hal itu dilakukannya karena ia begitu mencintai misi; hatinya terpaut pada Kristus Yesus yang telah mengasihi, menopang, dan memberkatinya di sepanjang hidupnya.
Bapak Haryoseno tahu bahwa “tangan Tuhan selalu menolong, menopang, dan memberkatinya” dalam segala usaha, pekerjaan, pelayanan, dan keluarga. Ia tahu bahwa hidup itu bukan tentang siapa yang lebih terkenal, melainkan siapa yang lebih murah hati dan penuh kasih. Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Bapak Haryoseno telah menerima kemurahan Tuhan, dan itulah alasan baginya untuk terus berbuat baik, menabur cinta kasih, mencintai misi, menopang pelayanan, dan terus menghasilkan buah bagi Kerajaan Bapa di surga.
Tuhan juga akan memperkaya orang-orang yang setia melayani-Nya “dalam segala macam kemurahan hati”. Sebagaimana Paulus menyatakan hal ini kepada jemaat di Korintus, maka kita dapat menarik makna dari pernyataan tersebut bahwa Bapak Haryoseno telah menunjukkan kemurahan hatinya di dalam misi dan pelayanan gerejawi serta pelayanan di bidang pendidikan. STT SETIA dan seluruh cabangnya di seluruh Indonesia telah merasakan manfaat dan berkat dari pelayanan beliau. Tak bisa dipungkiri bahwa kebaikan dan kemurahan hati beliau telah menorehkan sejarah panjang dalam dunia pendidikan dan kerohanian di STT SETIA dan Sinode GKSI. Beliau telah menunjukkan kebaikan hati dan turut serta dalam “mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus” – sama seperti yang dilakukan oleh jemaat di Korintus.
Ternyata, setiap kebaikan dan kemurahan hati yang beliau taburkan, telah menolong, menguatkan, dan memberikan sukacita kepada semua orang yang merasakan sentuhan “tangan kasih” Bapak Haryoseno. Apa yang telah beliau taburkan akan tetap menjadi “tinta kehidupan” yang dikenang senantiasa.
Dengan limpah syukur kepada Yesus Kristus, kami berdua (Yosia Belo dan Stenly R. Paparang) mengucapkan: “Selamat Ulang Tahun orang tua kami Bapak Haryoseno yang ke-79”. Cinta kasih dan kemurahan Tuhan senantiasa tercurah kepada Bapak dalam menjalani kehidupan ini. Kesehatan dan kekuatan selalu diberikan Tuhan Yesus. Berkat-Nya tercurah atas Bapak dan keluarga.
Terima kasih atas segala kebaikan dan kemurahan hati yang telah Bapak berikan kepada kami di STT SETIA Jakarta dan seluruh caabangnya, mulai dari PAUD, TK, SD, SDTK, SMP, SMPTK, SMTK, SMAK, sampai STT dan STAK di seluruh Indonesia sehingga sampai saat ini tetap eksis menjalankan misi Tuhan. Juga bantuan Bapak kepada Sinode GKSI. Tuhan akan membalas semua kebaikan hati Bapak. Terima kasih juga atas “pelajaran kehidupan [keteladanan]” yang telah kami lihat secara langsung dari pribadi Bapak Haryoseno.
Akhir kata, kami berdua menyadari bahwa semua yang Tuhan berikan dan perbuat bagi kita, sepatutnyalah kita terapkan juga kepada orang lain. Jika Tuhan sudah memberkati kita, maka kita seharusnya menjadi berkat bagi orang lain: “Diberkati untuk menjadi berkat”. Itulah pernyataan yang menggerakkan kita untuk hidup bagi Tuhan dan menjadi berkat. Hal itu pula yang tampak pada pribadi Bapak Haryoseno: “menjadi berkat melalui sikap hidup yang mencintai misi dan menopang pelayanan, untuk menghasilkan buah-buah bagi Yesus Kristus, kini, besok, dan selamanya.
Barangkali kita kerap menengadah ke langit, menyapa Sang Khalik untuk sebuah “ceramah kehidupan”, entah menawarkan sebuah harapan dan konsekuensi, atau mengungkapkan protes diri terhadap apa yang telah terjadi. Ceramah kehidupan itu sendiri mencakup dua hal: kebahagiaan dan kesedihan.
Kebahagiaan menambah gairah kehidupan, sehingga isi ceramahnya pun diwarnai dengan diksi-diksi keren dan menarik. Di sisi lain, kesedihan justru menambah kekecewaan dan sakit hati, sehingga isi ceramahnya pun diwarnai dengan diksi-diksi kacau, tuduhan, buruk, dan memuakkan. Dua hal ini, ketika diceramahkan, sering ditujukan kepada ‘langit’.
Tak dapat disangkal bahwa kehidupan itu sendiri mematri diri (pikiran) kita untuk melihat seluk-beluknya, apa dan bagaimana seharusnya kita bertindak dan berkata. Apa dasar tindakan kita supaya bahagia? Apa dasar tindakan supaya keluar dari kesedihan? Bagaimana tindakan-tindakan yang semestinya kita lakukan untuk menemukan dan merasakan kebahagiaan atau menyingkirkan kesedihan dan kemelut hidup? Apakah perkataan kita membangun atau meruntuhkan? Bagaimana perkataan-perkataan kita dapat mempengaruhi proses pencarian kebahagiaan dan kesedihan kita?
Kita menarik pesan dan makna dari kehidupan; kita bahkan menyobek kertas-kertas hidup yang telah kotor oleh karena kesembronoan (kecerobohan); kita membeli kertas-kertas baru untuk melukis apa yang hendak kita lakukan, hadapi, dan nikmati. Lukisan itu kemudian terpampang dalam diri kita hari lepas hari; dilihat dan dilai orang. Mungkin bagus pada tampak luar lukisan. Tetapi siapa sangka, alat pewarna lukisan justru adalah hasil curian, kesombongan dan penipuan kita?
Setiap manusia melukis dirinya sendiri, entah dengan alat pewarna yang dibeli sendiri, dipinjam, atau bahkan hasil curian dan penipuan. Kita melukis diri karena kita ingin mencari jati diri, memperkenalkan diri, menunjukkan kualitas diri, dan mungkin hendak memamerkan diri. Pada akhirnya, diri yang “berkelaslah” yang mampu diteladani. Bila kita cermat memahami kehidupan, ada banyak faset yang dapat dijalin satu sama lain. Di situ kita membentuk istana integritas menjadi sebuah “sekolah kehidupan” tempat orang lain mendapatkan sesuatu yang berharga, atau menjadi sebuah “wisata kebahagiaan” di mana banyak orang berkerumun untuk menikmati keindahannya. Setelahnya, kita menyapa langit dan bersyukur atas semua pencapaian yang telah diraih.
Namun, tak disangka-sangka, muncul goresan-goresan hidup: kesakitan, kekecewaan, keputus-asaan, kesedihan, kemaharan, dendam, iri hati, dan sederet sahabat-sahabatnya, yang menciptakan narasi ceramah kehidupan terus menguap ke permukaan. Akhirnya, kita menyapa langit, menggerutu tertatih-tatih, mengeluh menggebu-gebu.
Ada apa gerangan? Semua ceramah kehidupan adalah gambaran dari lukisan diri kita sendiri. Setiap orang mendapatkan jatah dari Sang Khalik, mengelola jatah, mengembangkan jatah, membuang jatah, mengubur jatah, dan menikmati jatah. Jatah itu adalah: jatah makan, jatah nafas kehidupan, dan jatah kesempatan.
Mereka yang sama sekali tidak bersyukur atas jatah yang diberikan, akan terus menyapa langit dengan nada sinis atau pesimis. Atau mungkin setelah menikmati jatah-jatah tersebut, tak pernah menyapa langit untuk berterima kasih, malahan terus mengunyah kebohongan, penipuan, dan ketamakan; kenyang, kenyang, dan perutnya buncit penuh keserakahan. Ini menyedihkan sekali.
Tetapi, langit tetap menyapa manusia. Ia memperlihatkan kepeduliannya dengan mengubah bentuk-bentuk awam-gemawan agar tidak hanya memberikan sensasi menakjubkan, tetapi juga sensasi kehidupan. Di satu sisi, langit menceritakan kemuliaan Allah, di sisi lain langit menceritakan kedaulatan Allah: “Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat” (Yehezkiel 34:26). “Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering” (Amos 4:7). “Mintalah hujan dari pada TUHAN pada akhir musim semi! TUHANlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikan-Nya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang” (Zakharia 10:1).
Maka, menyapa langit dan mengungkapkan ceramah kehidupan sebagai lukisan diri sang penceramah, adalah baik dan berguna, ketimbang menyapa sesama untuk menipu tapi melupakan langit. Ceramah kehidupan kita memang dapat dipublikasikan kepada dua hal: untuk kebaikan (kepedulian dan cinta kasih) atau untuk penipuan (kehobongan, kejahatan). Keduanya adalah realisasi dari lukisan diri manusia.
Menyapa langit adalah tindakan yang menjelaskan tiga hal.
Pertama, menyatakan ungkapan keletihan pikiran, hati, dan emosi. Kedua, menyatakan ungkapan kekecewaan atas hidup, orang, pekerjaan, dan perasaan. Ketiga, menyatakan ungkapan syukur dalam segala hal yang terjadi. Sapaan terhadap langit selalu terkait dengan ‘kehidupan’, entah baik, entah buruk. Syukur-syukur masih bisa menyapa langit. Betapa celakanya mereka yang lupa menyapa ‘langit’. Acuh tak acuh terhadap langit. Bahkan, meski terkesan menyapa langit, orang-orang jahat hanya berpura-pura tampil rohani dan menunjukkan diri sebagai pribadi berhati gembala, tapi pada kenyataannya ia adalah serigala yang buas dan penuh kudis dalam hatinya; ia nista, bau, dan menjijikkan.
Kita dapat terus belajar dari kehidupan kita sendiri dan kehidupan orang lain. Kita menemukan jejak-jejak sejarah iman dalam balutan integritas untuk dijadikan sebagai alas kaki kerelaan untuk setia melayani Sang Khalik.
Dari-Nya kita menerima segala sesuatu. Seperti Ayub yang menampik istrinya yang salah paham dan memerintahkan Ayub untuk mengutuki Allah: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Seperti Salomo yang menulis: “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya” (Pengkhotbah 7:14). Dan seperti yang dikatakan Nabi Yesaya: “…. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasih mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini. Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini” (Yesaya 45:6-8).
“Langit”, kumenyapamu sebab aku tahu dari Engkaulah aku menerima segala sesuatu malang dan mujur untuk mendidikku menjadi seperti yang Engkau kehendaki. Pada akhirnya, sapaan-sapaanku terhadap Engkau telah melatih diriku untuk menyusun ceramah kehidupan di mana Engkau juga yang telah memampukanku untuk melukis diriku sendiri dalam terang firman-Mu.
Langit, bila kumenyapa-Mu, berikanlah keadilan dan kebahagiaan, berikanlah kelegaan agar nikmat hidup yang Engkau karuniakan, dapat dirasakan dengan penuh syukur dan kesadaran diri. Ceramah kehidupan yang terbentuk adalah hasil patrian di mana Engkau turut campur tangan di dalamnya. Langit, kuatkanlah aku untuk menjalani kehidupan, menelusuri lorong-lorong waktu, menerobos berbagai kesempatan, sebab Engkau pula yang memperlengkapi diriku dengan segala kebaikan dan kemurahan agar dalam ‘semua tentang kehidupan’ ada nama-Mu disebut, dimuliakan, dan diagungkan.
Frasa “manusia baru” digunakan Paulus untuk merujuk kepada sebuah implikasi logis dari “perbuatan moralitas” dan “perbuatan spiritualitas”. Dua hal ini merupakan konsep “dualisme spesifik” — yang mana Rasul Paulus secara terang-terangan membedakan dan mendefinisikan bahkan mengklasifikasikan jenis-jenis perbuatan [hasil pemikiran] dari kedua perbuatan tersebut.
Perbuatan moralitas di sini bernada negatif, yakni berbagai perbuatan daging yang mencemarkan diri seseorang dan dengannya identitasnya dicap sebagai seorang yang mengenakan “manusia lama”. Perbuatan spiritualitas bernada positif, yakni berbagai perbuatan rohani, berdasarkan ketentuan hukum Tuhan yang mencerminkan diri seseorang dan dengannya identitas seseorang dicap sebagai seorang yang mengenakan “manusia baru”.
Dualisme spesifik (perbuatan moralitas dan spiritualitas) merujuk kepada dua hal yang saling bertentangan. Artinya, secara spesifik, dualisme tersebut terdefinisi secara jelas berdasarkan data faktualnya. Paulus melakukan pengamatan terhadap keduanya berdasarkan pengalamannya. Dengan begitu, Paulus tidak sedang menuduh secara sepihak. Jemaat Efesus tentu masuk dalam klasifikasi dualisme tersebut. Ada tingkatan-tingkatan perbuatan moral dan perbuatan spiritual yang terjadi di lingkungan jemaat Efesus. Oleh sebab itu, nasihat-nasihat Paulus membuktikan kepeduliannya untuk membentuk sebuah jemaat yang sadar dan kuat. Kuat dalam iman kepada Yesus Kristus, dan sadar akan tanggung jawab bahwa mereka telah menjadi murid Kristus dan melakukan apa yang menjadi pedoman iman sesuai dengan kehendak Tuhan.
Frasa τὸν καινὸν ἄνθρωπον (ton kainon anthrōpon – manusia baru) atau ἐνδύσασθαι τὸν καινὸν ἄνθρωπον (endusasthai ton kainon anthrōpon – mengenakan [berpakaian] manusia baru) adalah pendefinisian secara analogis di mana “manusia baru” dipadankan dengan “manusia lama”. Analogi ini adalah sebuah data faktual yang dapat atau sering dijumpai di sekitar kita. Rasul Paulus mendefinisikan manusia baru karena dalam tulisannya mengindikasikan bahwa jemaat Efesus dinilai telah mengalami hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan sebagai umat Kristus. Dengan begitu, gagasan manusia baru adalah gagasan pencerah, penentu, dan pengarah tujuan hidup jemaat Efesus.
Indikasi tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan natur orang-orang percaya dijelaskan Paulus, yakni: hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, berpikir sia-sia, berpengertian gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, bodoh, degil hati, perasaan tumpul [tidak peka, tidak menguasai diri], serakah dan cemar, sesat, dusta, kemarahan tak beralasan, mencuri, berkata kotor, mendukakan Roh Kudus, akar pahit, pertikaian, fitnah, dan dendam.
Dari penjabaran perbuatan-perbuatan manusia lama di atas, maka Paulus menyelaraskan secara seimbang melalui analogi pembanding: “manusia baru” (τὸν καινὸν ἄνθρωπον). Menjadi manusia baru adalah sebuah tujuan pembersihan dan pembasuhan diri dari jemaat Efesus yang telah terjebak dalam arus duniawi—arus pemikiran yang menggerogoti iman mereka. Dari situlah, Paulus mendapat kesempatan baik untuk memberikan sebuah pemikiran untuk mengubah “mindset”[kerangka berpikir] dari jemaat Efesus. Mengubah “mindset” ternyata didasari pada fakta bahwa jemaat Efesus telah atau sedang atau akan [ada tanda-tanda] terpengaruh dengan “cara berpikir yang sia-sia [ματαιότητι – omong kosong, kekosongan, tanpa tujuan – Ef. 4:17] dari mereka yang tidak mengenal Allah.”
Oleh sebab itu, menjadi manusia baru adalah sebuah harapan iman dan perubahan pikiran untuk menyelaraskan pikiran jemaat Efesus dengan pikiran Kristus. Secara jelas bahwa Paulus menuliskan pesan-pesan pastoral—dogmatis untuk mencegah tindakan-tindakan yang duniawi terjadi di kalangan orang percaya (jemaat Efesus). Pola pikir sering menjadi sasaran utama Paulus, sebagaimana yang tampak dalam surat-suratnya yang lain. Dalam pasal 4:17-18, Paulus menegaskan bahwa:
Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
Dark Hand in Heavy Chains
Pola pikir orang-orang yang tidak mengenal Allah, adalah sia-sia atau hampa sama sekali. Tentu, penetapan bahwa pikiran mereka “sia-sia” berangkat dari buah-buah pemikiran mereka yang tampak pada perbuatan mereka. Artinya, alat ukur untuk mengamati dan menetapkan seseorang bahwa ia memiliki pola pikir yang hampa atau sia-sia, adalah dilihat dari “buahnya” atau perbuatannya. Pikiran yang sia-sia dan pengertian yang gelap dihasilkan dari dua hal yaitu kebodohan dan kedegilan. Kebodohan adalah sebuah sikap seseorang yang bersumber dari pemikiran yang tidak melibatkan pertimbangan yang baik untuk menghasilkan perbuatan-perbuatan baik dan mengabaikan tatanan moralitas dan spiritualitas sesuai dengan kehendak Allah.
Dibutuhkan upaya untuk bekerja dalam alur iman yang benar. Tatanan kerja adalah sebuah prinsip ketegasan iman untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Paulus dengan baik dan penuh perhatian kepada jemaat Efesus untuk hidup berdasarkan firman Allah dan hidup di dalamnya.
Beberapa prinsip hidup berikut ini, yang ditegaskan Paulus terkait dengan upaya untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru perlu diperhatikan dan dimaknai, kemudian dilakukan dalam kehidupan kita (meneladani jemaat Efesus):
Petama: ἐμάθετε (dari kata μανθάνω) (Ef. 4:20 – Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus): belajar, yaitu mengarahkan pikiran seseorang pada sesuatu dan menghasilkan efek eksternal, sebagai pembelajaran melalui inkuiri (memastikan, menemukan, mencari tahu), belajar melalui praktek atau pengalaman menjadi tahu, menjadi sadar, atau belajar mencapai pemahaman. Di sini, Paulus menegaskan bahwa jemaat Efesus telah belajar mengenal (memahami) Kristus, maka itulah yang terus dipertahankan, tidak boleh ditukar dengan keinginan duniawi. Kristus tetaplah yang utama.
Kedua: Aποτιθημι [apotithēmi] (Ef. 4:22, 25): membuang, menanggalkan, pakaian dilepas (gambaran bahwa moralitas jahat harus dilepaskan), secara kiasan menyingkirkan, berhenti dari. Jemaat Efesus harus benar-benar menyingkirkan manusia lama, membuang, melepaskan, berhenti dari perbuatan-perbuatan daging (jahat). Pula, jemaat Efesus harus membuang dusta, dan hidup dalam perkataan yang benar.
Ketiga: Eνδυοω [enduō] (Ef. 4:24): ἐνδύσασθαι (dari kata ἐνδύω): secara harfiah; (a) berpakaian aktif, mendandani seseorang; (b) menggambar, mengenakan sesuatu; (2) secara kiasan, mengambil atau diperlengkapi dengan karunia atau kualitas spiritual yang diterima (Luk. 24:49 – “diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi”). Paulus menegaskan bahwa jemaat Efesus harus mengenakan manusia baru, menggambar diri mereka dengan kehidupan yang baru, mendandani kehidupan dengan firman Allah dan menerima karunia Allah sebagai ‘kelengkapan’ iman dalam melayani dan hidup di hadapan-Nya.
Keempat: λαλεῖτε ἀλήθειαν (Ef. 4:25): berkata benar, berbicara seperti menyampaikan pesan, menceritakan, fokus pada berbicara ketimbang penalaran logis, mengungkapkan diri berbicara (keluar), berbicara secara transitif (memerlukan objek), menegaskan, menyatakan sesuatu. Penegasan Paulus tentu terhubung dengan bagaimana jemaat Efesus berkata benar menyangkut “Kabar Baik” yang melebur ke dalam kehidupan dan relasi mereka sehari-hari. Berkata benar berarti tidak berdusta, jujur (berintegritas), dan menampilkan perkataan pengajaran yang bersumber dari firman Allah yang telah mereka terima.
Berkata atau berbicara benar menafikan kompromistis yang merusak iman, mengungkapkan apa yang benar, menegaskan apa yang benar dan salah, menyatakan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari (ditanggalkan). Ini merupakan realisasi dari iman yang sejati. Allah adalah kebenaran, maka orang percaya harus hidup dalam kebenaran dan berkata benar dalam segala situasi.
Kelima: μὴ λυπεῖτε τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον τοῦ θεοῦ – (Ef. 4:30 – janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah). λυπεῖτε (dari kata λυπέω), diartikan sebagai: aktif: (menyebabkan) sakit, berduka, membuat sedih, berduka cita, melukai perasaan, mendukakan; pasif: sedih, tertekan. Paulus menasihati bahwa “jangan mendukakan [membuat sedih, atau membuat berduka] Roh Kudus Allah melalui tindakan-tindakan yang jahat, tidak benar, dan melawan Dia. Tindakan-tindakan tersebut seperti: kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, segala kejahatan. Semuanya harus dibuang dari antara jemaat Efesus. Itu tidak membuat mereka bertumbuh dalam iman, malahan merusak iman mereka, merusak kehidupan dan relasi dengan Allah dan sesama. Paulus melanjutkan bahwa jemaat Efesus harus menunjukkan sikap ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Eph. 4:31-32). Ajaran ini sungguh luar biasa, tak tertandingi. Menjadi pengikut Kristus haruslah demikian.
Intisari dari ‘mengenakan manusia baru’ adalah mengikuti apa yang Allah kehendaki. Di sini dibutuhkan peringatan sebagaimana yang diutarakan Paulus. Peringatan untuk menanggalkan manusia lama perlu mendeteksi dua inti dari perbuatan manusia lama yakni: (a) ayat 25: ψεῦδος (pseudos: dusta, palsu, kebohongan, tipuan; dan (b) ayat 29: πᾶς λόγος σαπρὸς ἐκ τοῦ στόματος ὑμῶν (janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu). Kata σαπρὸς (sapros) diartikan sebagai: ikan atau buah yang membusuk tidak lagi berguna untuk makanan; tidak berharga, tidak layak; (sebagai substantif) τὰ σαπρά: yang tidak dapat digunakan (Mat. 13.48); secara kiasan, ucapan yang tidak mendidik, berbahaya, buruk, tidak menguntungkan.
Screaming and suffering woman with terrible rope on her neck
Penegasan bahwa jemaat Efesus tidak boleh mengeluarkan “perkataan kotor” adalah tanda bahwa hidup dan diri mereka telah diubahkan Kristus. Perkataan kotor itu (sapros) ibarat ikan atau buah yang busuk, yang tidak dapat dimakan. Artinya, perkataan kotor itu tidak membangun, tidak berfaedah, tidak membangun, tetapi merusak dan menciptakan pertikaian. Perkataan kotor itu tidak berharga dan tidak layak diucapkan oleh orang-orang percaya. Ucapan-ucapan kotor itu sejatinya tidak mendidik, berbahaya, buruk, dan tidak menguntungkan. Tidak ada didikan dalam perkataan kotor (busuk); justru malahan berbahaya, menunjukkan keburukkan penutur maupun hasil tuturan, bahkan tidak memberikan keuntungan sama sekali.
Jemaat Efesus benar-benar diberikan dasar tindakan yang luar biasa sebagai umat Allah. Dan itulah yang dapat kita teladani dari mereka. Menjadi manusia baru memiliki tantangan tersendiri, tetapi membuat diri dan kehidupan kita bersinar seperti bintang-bintang (supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia [Flp. 2:15]; bdk. Matius 5:16, Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga; Matius 13:43, Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!; 2 Korintus 4:6. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!,” Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus; Efesus 5:14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu”).
Dengan demikian, menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru membutuhkan kuasa Tuhan. Dialah yang menjadikan kita ‘baru’ di dalam firman-Nya, kasih-Nya, dan di dalam damai-Nya. Kita dimampukan Tuhan untuk mengerjakan hal-hal yang mengarahkan kita kepada perubahan pola pikir atau mindset.
Prinsip-prinsip hidup yang telah dijelaskan di atas perlu diperhatikan sebaik mungkin agar kita betul-betul melakukannya — kita sebagai manusia baru di dalam Kristus — mengandalkan Dia. Manusia baru berarti kita telah berubah dari yang lama menuju (mengenakan) yang baru. Pola pikir kita juga harus bersih, tidak berkata kotor, tetapi justru menunjukkan perkataan yang membangun. Menjadi Kristen sejati berangkat dari kuasa Roh Kudus yang mengubahkan kita. Kita disadarkan untuk tidak mendukakan Roh Kudus. Hanya Tuhanlah yang telah mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik—pribadi yang baru, manusia yang bersinar kapan pun dan di mana pun.
Menjadi manusia baru adalah sebuah sukacita manusia di mana diri kita dilepaskan dari belenggu dosa-dosa dunia, dosa-dosa personal maupun komunal. Manusia baru berarti “membuang” dan menjadikan sampah segala dosa-dosa lampau, dan segala perbuatan buruk yang dibenci Tuhan.
Berkatalah benar, berucaplah selaras dengan prinsip-prinsip Kitab Suci, selaras dengan kehendak Tuhan, dan jangan mengabaikan karunia yang telah diberikan Roh Kudus; jangan mendukakan Dia; jangan menganggap enteng pekerjaan Tuhan. Seyogianya, karunia yang diberikan-Nya tertuang dalam perkataan, percakapan, dan pemberitaan tentang Yesus Kristus dan firman-Nya.
Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan kita untuk hidup sebagai manusia baru (τὸν καινὸν ἄνθρωπον) agar dapat melakukan kehendak-Nya, mengatakan yang benar dan tidak mendudukan Roh Kudus Allah. Amin.
Iman mendapati “ruang” untuk menunjukkan kualitasnya melalui beberapa hal, misalnya ruang untuk berelasi dengan kemajemukan agama, ras, dan budaya, ruang menunjukkan nilai tindakan dan perkataan, serta ruang untuk sebuah toleransi. Iman yang dewasa akan melihat ruang-ruang tersebut bukan sebagai ‘ancaman’ melainkan sebuah kesempatan untuk memperlihatkan kualitasnya – sebab secara umum nilai yang diberikan kepada iman seseorang adalah para perkataan, tindakan (yang selaras dengan iman), serta relasi – sebuah tindakan ‘berani’ untuk tampil beda di dalam kepelbagaian narasi iman yang lain.
Beriman secara dewasa tidak dapat dihayati oleh mereka yang bersumbu pendek (pendek pikiran, pendek emosi). Kedewasaan iman tampil untuk memberikan nuansa warna-warna kehidupan yang mencakup moralitas dan spiritualitas yang murni dan tulus, bukan dengan ‘mencari muka’ atau ‘mencari nama’. Ada banyak orang yang merasa ‘paling beriman’ ketika berdoa di tengah jalan, dilihat banyak orang. Merasa bahwa ketika berdoa yang tidak lazim, itu menambah rasa percaya diri bahwa dia orang beriman. Penipuan dan kesombongan semacam ini telah menyulap pikiran orang-orang dan segera memberi nilai bahwa ‘inilah ciri-ciri orang beriman, berdoa di tengah jalan, menonjolkan diri, dan setelah itu kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya besok dan seterusnya.’
Kita terbiasa menilai dan melihat rohani tidaknya seseorang dari bagaimana ia menampilkan dirinya berdoa, pamer berdoa dan lain sebagainya. Yesus mengecam tipe orang semacam ini:
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:5-6)
Dewasa iman sesungguhnya tampil dalam beberapa fakta (akan dijelaskan kemudian). Pada dasarnya, pluralisme dan pluralitas agama telah memecahkan pemahaman iman agama satu dengan iman agama lain. Seolah-olah ada jurang pemisah yang begitu dalam, sehingga mereka yang imannya cetek berulah dan merusak tatanan sosial dan tatanan relasional antar-iman. Barangkali, mereka yang bertindak demikian adalah orang-orang yang begitu alergi dengan ‘iman agama lain’ dan merasa harus disingkirkan, dan jika perlu dimusnahkan. Pemikiran semacam ini memang berpotensi merusak kemajemukan, dan tergolong sebagai ‘kaum intoleran’. Mereka memiliki iman yang unik – yaitu iman yang alergi dan berpotensi menciptakan konflik.
Melihat fenomena semacam itu, kita perlu waspada dan mengupayakan untuk beriman secara dewasa. Meski kita tahu bahwa kesalahpahaman sering terjadi. Di lingkup doktrin Kristen, tak sedikit penyesatan, kesalahpahaman, pemahaman yang salah, dan perendahan terhadap doktrin Kristen yang dilakukan oleh mereka yang merasa beriman tapi tak ada otaknya (tak mampu menilai secara sehat, berpikir secara kritis, dan memahami prinsip hermeneutika). Alhasil, penyimpangan dan keyakinan misterius berbalutkan bidat menjadi makanan siap saji bagi mereka yang mencintai ‘dusta’ (kebohongan).
Oleh sebab itu, jangan lekatkan dalam hatimu pemahaman dan konsep yang keliru tentang doktrin-doktrin Kristen (biblika) yang digulirkan dan dikumandangkan oleh mereka yang membenci Kekristenan, yang skeptis terhadap Kekristenan, dan yang menegasikan Yesus, karena hal itu akan membawamu kepada sikap brutalisme dan berdampak pada saling membunuh dan mencaci maki. Lekatkanlah pada dirimu pemahaman dan konsep biblika terkait doktrin-doktrin Kristen yang didasarkan pada fakta dan dokumentasi. Iman dari Tuhan akan menuntunmu pada kehidupan yang berkenan kepada-Nya.
Iman akan membentuk karaktermu sepanjang hayat, menghindarkan dirimu dari sikap membunuh sesama atas nama agama, membenci dan bertindak keras atas nama agama. Itulah makna “beriman secara dewasa”.
Ketika ada orang lain yang mengusik, menghina, merendahkan, dan menegasikan imanmu, jangan terbawa emosi. Kita tahu bahwa iman kita berdasar pada penyataan Allah yang peduli terhadap manusia berdosa dan menebusnya dengan cara-Nya sendiri; jangan membalas kejahatan dengan kejahatan; kita tahu bahwa mereka tersesat dalam kebodohannya dan kepada mereka kita dapat menyebutkan sebagai orang-orang yang merasa bahwa “ignorance is bliss”: kebodohan adalah kebahagiaan. Yang perlu kita tegaskan adalah sikap beriman secara dewasa.
Beriman secara dewasa tampak pada tujuh hal: Pertama, memiliki pemikiran yang solid tentang doktrin-doktrin fundamental. Kedewasaan ini akan selalu siap sedia dalam memberi pertanggungan jawab kepada mereka yang mempertanyakan iman Kristen, meragukan atau menegasikannya.
Kedua, memiliki relasi yang baik dengan sesamanya. Relasi ini bukanlah bentuk kompromi terhadap berbagai ajaran yang menyimpang dari mereka yang menganutnya, melainkan tetap menegur dan menghardik segala bentuk ajaran yang menyimpang (menyesatkan). Relasi dipahami dalam konteks humanitas dan sosiologi.
Ketiga, memiliki sikap hidup yang solid dalam menanggapi berbagai problem kehidupan. Sikap yang solid mampu menolak dosa, mampu menolak kemunafikan, dan mampu menolak berbagai bentuk “tawaran menarik” yang berpotensi merusak nama baik dan pelayanannya di hadapan Tuhan.
Keempat, memiliki peran bagi kemaslahatan banyak orang, baik di keluarga, gereja, dan masyarakat (lingkungan makro). Peran ini dilihat dari bentuk kewajiban sebagai warga negara dan menjamin terciptanya relasi yang harmonis di antara sesama manusia. Peran dari mereka yang percaya kepada Tuhan tidak hanya berurusan dengan aspek spiritualitas, melainkan juga dengan aspek moralitas, relasional, dan kemasyarakatan.
Kelima, membangun jembatan iman dalam konteks disparitas doktrinal di kalangan Kristen. Berbagai denominasi memungkinkan terciptanya disparitas doktrinal. Meski demikian, penegasan doktrinal untuk melawan dan menghardik ajaran-ajaran yang menyimpang perlu dilakukan dan sedapat mungkin tidak menyerang “pribadi” melainkan pada “pemikirannya”.
Keenam, berusaha memberi jawab terhadap berbagai penyesatan, penyimpangan, dan tuduhan terhadap iman (doktrin) Kristen dengan prinsip eksegetikal dan dogmatik yang kredibel, sehingga – setidaknya – kita telah memberi tahu apa yang benar. Selebihnya, biarlah Roh Kudus yang bekerja atas kebenaran yang telah kita sampaikan. Ia akan menggerakkan siapa pun yang dikehendaki-Nya untuk dapat memahami dan menerima kebenaran itu.
Ketujuh, dengan iman yang berhadapan dengan ‘iman yang lain’, kita tetap menunjukkan spirit toleransi secara bertanggung jawab dan memberi ruang kepada keadilan untuk menjalankan perannya. Di sini, segala sesuatu yang terhubung dengan relasi sosial, biarlah ‘keadilan’ yang dipegang oleh pemerintah dapat dihormati, dihargai, dan didukung. Hal ini dapat kita lihat, misalnya, pada bagaimana intimidasi dan diskriminasi bagi orang Kristen untuk melakukan ibadah minggu maupun ibadah pada perayaan-perayaan yang besar, misalnya Jumat Agung, Paskah, dan Natal.
Akhirnya, beriman secara dewasa menjadi tujuan kita bersama. Kedewasaan dalam beriman membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang senantiasa membawa damai dan sejahtera kepada “dunia” secara luas. Yesus Kristus telah memanggil kita untuk tugas yang mulia ini. Yesus berkata:
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:5-10)
Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk menunjukkan kedewasaan iman dalam perkataan, perbuatan (tindakan) dan pemikiran untuk menghasilkan solusi-solusi majemuk dan toleransi. Sebelum terlambat, segeralah berbalik kepada Allah dan tunaikanlah tugas pelayananmu. Tetaplah beriman secara dewasa, baik atau tidak baik waktunya.
Manusia menempatkan dan menampilkan dirinya pada suatu konteks dan sekaligus menentukan jati dirinya. Dalam ruang kehidupan, manusia menceritakan dirinya dengan perkataan, tindakan (positif atau negatif), relasi dan karya. Jati diri yang ditampilkan adalah wajah asli manusia. Jika demikian, kita dapat dengan leluasa — sesuai dengan kemampuan dan kemauan — untuk menyatakan sesuatu melalui perkataan, tindakan, relasi, dan karya dalam faset-faset kehidupan. Ini adalah kenyataan manis maupun pahit.
Kita dapat saja terpengkap dalam kemasan kemunafikan, kemalasan, pengabaian dan penjualan integritas pada waktu-waktu (situasi) tertentu di sebuah ruangan kehidupan yang terbatas. Di saat itulah kita perlu memberanikan diri menunjukkan bagaimana caranya untuk keluar dari perangkap semacam itu, agar kita tidak dilabeli dengan sebutan-sebutan “nyeleneh” ataupun “nyentrik”. Kita terpaksa menerimanya karena kita telah gagal di dalam hal-hal tersebut.
Seiring berjalannya waktu, kita dapat memperbaikinya secara perlahan. Merangkak menggapai kesadaran dan kejujuran diri seperti yang Tuhan kehendaki. Perlu upaya untuk tiba pada gapaian itu. Tanpa usaha kita jatuh tergeletak tak berdaya, diinjak-injak oleh keadaan yang kita ciptakan sendiri yakni sebuah konsekuensi logis dari tindakan-tindakan kita.
Dalam ruang kehidupan, kita bergerak, bertegur sapa, menyapa sahabat, acuh tak acuh, terus berkarya, terus hidup dalam kunkungan dosa, atau terus bersemangat dalam melayani Sang Khalik. Pilihan terakhir tampaknya adalah kebahagiaan dari mereka yang menyadari bahwa pelayanan adalah sebuah ikatan emosional, iman, dan kasih yang ditujukan kepada-Nya. Kita tertegun melihat bagaimana Ia — dengan kuasa dan kemurahan-Nya menenun kehidupan iman kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.
Hal terbaik yang dapat kita persembahkan kepada-Nya adalah bertindak dan hidup di dalam firman-Nya. Itulah tampilan yang menarik, indah, cantik (“nauli”) — dari sebuah jati diri orang-orang yang terpanggil untuk melayani Tuhan — di mana selalu ada sukacita ketika tampilan itu mendapat sambutan dari setiap konteks. Ternyata, kita yang menempatkan dan menampilkan diri pada suatu konteks sekaligus menentukan jati diri, menemukan jalan bahagia, yang mengundang aroma-aroma terbaik dari kehidupan yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.
Harapan yang dapat kita pegang adalah bahwa perkataan, tindakan, relasi dan karya sebagai “wajah asli” pada akhirnya tidak hanya memberi kita sukacita sorgawi, tetapi juga membawa kita kepada kemuliaan yang telah Tuhan sediakan. Di sinilah nilai-nilai pelayanan menjadi kokoh. Itu sebabnya, pelayanan yang kita kerjakan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang tak berharga, tak berdampak, atau tak bernilai. Pada kenyataannya, Tuhan menyediakan segala sesuatu melampaui dari apa yang kita pikirkan dan harapkan. Pelayanan kepada Tuhan adalah prinsip hidup yang paling terbaik. Jangan diabaikan!
Di kemudian hari, kita sendirilah yang terus mandiri dan membangun pelayanan yang dipercayakan kepada. Ingatlah, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Kita melayani karena kita terpanggil. Pelayanan yang bukan karena panggilan tak dapat memberikan hasil terbaik. Panggilan adalah dasar pelayanan. Dengan kesadaran inilah, kita bergerak dan berkarya bagi-Nya, memuliakan nama-Nya serta menyenangkan hati-Nya. Berani menghadapi tantangan dan hambatan sebab kita dilatih oleh-Nya.
Pada akhirnya, kita menceritakan kisah pelayanan kita sendiri kepada dunia di mana kita berpijak. Semuanya dicatat oleh Tuhan, dan kemudian kita mendapatkan upah dari segala pelayanan yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Perkataan, tindakan, relasi dan karya yang telah ditaburkan, pasti akan membuahkan hasil. Wajah kita hanya tampak pada taburan benih pelayanan dan buah-buahnya. Kemampuan dan kemauan yang kita miliki membebaskan kita dari ancaman perangkap kemasan kemunafikan, kemalasan, pengabaian dan penjualan integritas. Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu sejalan dengan firman-Nya.
Tetaplah semangat dalam melayani-Nya. Tetap setia dan jagalah integritas. Tuhan akan memberi sukacita dan kehidupan yang manis kepada mereka yang setia dan jujur di setiap ruang kehidupan.
Kita berada di dalam waktu. Kita bekerja dan bergumul di dalam waktu. Apa yang kita lakukan selalu terkait dengan waktu dan batas waktu. Setiap momen selalu dikaitkan dengan waktu. Di dalam waktu, Tuhan memampukan kita untuk mendapatkan segala sesuatu bagi kehidupan yang kita jalani. Tuhan turut serta bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.
Ada fase-fase yang kita lalui (tapaki) di dalam waktu-waktu tertentu. Kita mencari dan menemukan. Kita dicari dan ditemukan. Kita dicari dan tidak ditemukan. Kita ditemukan tapi tak dianggap; atau kita dianggap tapi tak pernah dicari; jika dicari pun, itu hanya karena saat dibutuhkan saja. Ada luapan-luapan emosi yang terpancar pada setiap konteks waktu. Pada fase khusus kita berhenti dan menikmati “waktu” yang berharga. Kita melewatinya dan beranjak pada jenis waktu yang berbeda.
Kita dan waktu, pada sebuah kesempatan dapat memberikan kebahagiaan, kesedihan, keletihan, air mata, kesenangan, sukacita, dan lainnya. Kita diikat oleh hal-hal tersebut dan menarik makna terdalamnya. Kita bergegas dari lokus satu ke lokus lainnya; menyapa relasi, menyalami konteks.
Ada didikan di balik setiap peristiwa; kita bahkan terpukau karenanya. Kita mendorong kehidupan kita sendiri untuk suatu tujuan yang dianggap penting. Kita mengupayakan proses untuk tiba di tujuan, meraup kemenangan dan kelegaaan. Tuhan menyediakan kepada kita “hidangan kehidupan” yang dapat dinikmati dengan sukacita saat tiba di tujuan. Bahkan sebelum tiba di tujuan, Ia pun mencurahkan berkat-Nya untuk menyapa kita.
Kesadaran akan fakta ini menggiring kita kepada kehendak Allah, yang mana Ia membentuk kehidupan kita menjadi begitu indah, berlandaskan firman-Nya, dan penuh dengan ucapan syukur. Kehidupan semacam ini menempatkan lima aspek tentang bagaimana kita mengucap syukur.
Pertama, mengucap syukur dalam kehidupan, yang mencakup kekuatan dan kesehatan yang Tuhan berikan, sebab dengan kekuatan dan kesehatanlah kita bergerak, bekerja, dan melayani-Nya.
Kedua, mengucap syukur dalam pekerjaan, yang mencakup upah dan kerja keras. Kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil (upah) bagi keberlangsungan kehidupan. Usaha kita membutuhkan topangan Tuhan Yesus, agar dapat menunjukkan kualitas diri yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.
Ketiga, mengucap syukur dalam pelayanan, yang mencakup tindakan bermisi, mengajar, melakukan pelayanan pastoral, dan lain sebagainya. Dalam kesulitan bermisi, kita harus tetap mengucap syukur. Dalam mengajar dan melakukan pastoral, kita pun harus bersyukur, meski menghadapi berbagai kesulitan.
Keempat, mengucap syukur dalam kepemilikan, yang mencakup usaha (bisnis) dan harta kekayaan (harta milik). Mengucap syukur dalam kelimpahan itu biasa, tetapi mengucap syukur dalam kekurangan itu luar biasa. Yang terpenting adalah harta milik apa pun yang kita miliki, harus disyukuri. Jangan mengambil yang bukan milik kita; nikmati milik kita sendiri. Apa yang kita kerjakan untuk suatu bisnis atau usaha, harus ditopang dengan rasa ucapan syukur. Semua milik kita adalah kepunyaan Tuhan.
Kelima, mengucap syukur dalam [segala] keadaan, yang mencakup dukacita, sukacita, tekanan, gelisah, dan lain sebagainya. Kita mungkin berpikir bahwa mengucap syukur cukup dilakukan ketika berada dalam keadaan damai dan tenteram, berkelimpahan, tetapi itu bukan prinsip Alkitab. Justru dalam segala keadaan, kita harus senantiasa mengucap syukur: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18)
Ungkapan-ungkapan syukur semacam itu, merupakan kesadaran bahwa Tuhan adalah di atas segala-galanya, Tuhan adalah pemilik hidup ini, dan Tuhan adalah sumber segala berkat dan kehidupan. Itulah alasan mengapa kita mengucap syukur kepada-Nya.
Bagaimana pun juga, waktu menjadi bagian terpenting dari totalitas proses kehidupan kita, kini, dan seterusnya. Tuhan yang melawat kita, ternyata menerbitkan cahaya kemuliaan agar kita menjadi turut bersinar dalam menampilkan “wajah Kristus” dari waktu ke waktu. Lawatan-lawatan Tuhan mengajari kita bahwa semua diperbuat-Nya untuk kebaikan dan tanggung jawab iman kita.
Hingga kita menemukan kekuatan dan kesadaran dari setiap konteks di dalam waktu, di mana Tuhan hadir dan menunjukkan kasih, kuasa, dan kemurahan-Nya bagi kita yang menaruh harap dan iman pada-Nya. Kita dan waktu yang merangkul kita, memberi lebih dari cukup apa yang kita pikirkan dan harapkan, dan Tuhan ada di baliknya.
Apa yang ada dan kita genggam sekarang ini, merupakan kumpulan hasil yang didapatkan dari usaha, kerja keras, penipuan, kebohongan, pencurian, banting tulang, dan lain sebagainya. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang didapatkan dari tindakan-tindakan yang tak berkenan kepada Sang Khalik akan dihembuskan (menjadi berkurang atau hilang) dalam bingkai waktu yang Tuhan tetapkan baginya.
Marilah kita menyadari bahwa kehidupan yang benar membawa kita kepada jalan terbaik – di sana ada damai dan sukacita yang luar biasa, membalut setiap luka-luka kehidupan, dan pada waktunya, kita menikmati segala kebaikan dan kemurahan Tuhan dengan hati yang penuh ucapan syukur.
Kita berhadapan dengan banyak kejadian; kejadian di mana kita ada di dalamnya, atau kejadian tentang orang lain, siapa pun dia. Lambat laun, dari setiap jejak, kita mengharapkan pijakan pada tujuan terakhir. Di situlah terungkap sukacita dan damai yang memuncak. Dalam prosesnya, jejak-jejak kehidupan itu sendiri telah memperlihatkan kepada kita apa arti kesabaran, kesulitan, kesedihan, pengkhianatan, kesakithatian, kesetiaan, pengabaian, acuh tak acuh, kemarahan, air mata, doa, dan lainnya.
Rangkuman kehidupan telah menjadi catatan nafas kehidupan. Di situ kita menorehkan sejarah kita sendiri, menitipkan warisan kepada yang lain, mengharapkan sebuah kehidupan yang lebih baik, menuliskan kemelut dan cinta yang kita alami, menelusuri kejadian demi kejadian, memahami penderitaan dan tantangan. Di satu sisi, kita terlena dengan segala sesuatu, di sisi lain kita terdiam karena segala sesuatu. Apa yang kita taburkan dalam berbagai konteks, menghasilkan makna baik dan buruk.
Kita menjauh dari berbagai jenis kejahatan. Kita berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran Allah; kita menancapkan prinsip hidup sebagai pegangan untuk melangkah dari waktu ke waktu. Kita tahu bahwa ada tangan Tuhan yang menopang, melawat, memulihkan, membalut setiap luka kehidupan. Adalah Dia yang senantiasa memberkati dan menggendong kita dalam segala keadaan. Di setiap jejak kehidupan kita, Dialah yang memelihara untuk memberikan kasih yang luar biasa.
Terpukau dengan keindahan providensia-Nya, kita pun menciptakan nada-nada iman dalam sebuah lagu ucapan syukur. Kesadaran ini senantiasa merawat kehidupan kita sendiri, bahwa sikap yang mengutamakan Tuhan sebagai wujud dari iman, ternyata memberi lebih dari cukup, tentang segala sesuatu yang terhubung dengan penghidupan dan kesinambungan kata, karya, dan relasi.
Di setiap jejak kehidupan tercipta sebuah pengakuan bahwa “kita tanpa Tuhan, tak berarti”. “Kita tanpa Tuhan, tak berdaya”. Kesombongan justru memberi kita banyak kehancuran diri, karya, dan relasi. Tak ada yang perlu kita banggakan untuk sebuah kesombongan kecuali membuangnya ke tempat sampah, sebab di situlah tempat kesombongan.
Tepian-tepian hidup menyudahi kembara jejak-jejak kehidupan kita; kita lelah dan penat; bergerak dan terus bergerak; mencari dan terus mencari; bangkit dari keterpurukan dan kesedihan, duka mendalam, dan berjalan menuju pengharapan. Air mata menjadi tanda kerapuhan; tak hanya itu, air mata itu juga menjadi tanda bahwa kita adalah manusia yang membutuhkan uluran tangan Tuhan.
Dalam permenungan kehidupan, kita senantiasa melihat jejak-jejak lampau; mencatat atau mengingatnya — entah sebagai sebuah kenangan manis atau kenangan buruk, menyedihkan atau menyenangkan, menyakitkan atau membahagiakan, menyesakkan dada, mematahkan semangat, mengeringkan tulang, memperburuk keadaan, atau justru menjadi cambuk untuk maju, bangkit, bergerak dan berkarya. Itulah yang menjadi bagian dari proses kehidupan.
Kita berhadapan dengan berbagai keadaan. Tidak hanya membuat kita harus berinteraksi dengannya, menolak, menghindar, lari, atau berdoa memohon kekuatan, petunjuk, dan hikmat dari Sang Khalik. Mungkin kita juga terbiasa dengan keadaan yang membuat kita nyaman dalam kemunafikan; berusaha berpura-pura melupakan sahabat-sahabat yang dulu pernah memberi kita kenyamanan, kebahagiaan, dan pertolongan. Kita bahkan melupakannya dan menggantikannya dengan teman-teman berjiwa preman, pembohong, penipu, dan penjilat.
Adakah kita terus menjilat? Kehidupan yang demikian akan juga ambruk dengan segala kepura-puraannya, menggores batin, menciptakan luka yang membuat malu seumur hidup. Itu pun termasuk jejak-jejak kehidupan pada lembaran kotor seseorang. Ada orang-orang yang membungkus banyak kenyataan dengan dua wajah: hipokrit dan menjilat. Mereka berupaya terlihat menawan, rupawan, dan seksi; pula mereka berharap ada banyak yang ikut terlibat dalam “lingkaran setan” ini.
Apa yang dicari? Bukankah kebaikan dan kejahatan sama-sama menghasilkan sesuatu dalam jejak-jejak kehidupan? Kita yang berhenti menjejaki kehidupan ini dapat merenung dan bertanya: apa dan bagaimana? Sejenak kita memerlukan sedikit catatan tentang apa arti hidup ini, apa arti karya, apa arti relasi, dan apa arti integritas. Seyogianya kita menampar pikiran kita ketika telah tersesat dan hendak menyesatkan orang.
Bukankah kehidupan adalah catatan tentang kita, sesama, dan Tuhan? Bukanlah kita harus berbuah dalam kehidupan ini? Bukanlah kita harus hidup benar dan berkarya bagi Tuhan? Itu sebabnya tidak banyak yang menyadari bahwa hidup itu adalah sebuah misteri, di mana setiap kita perlu berhati-hati dalam melangkah, bertindak, dan berkata-kata.
Jejak-jejak kehidupan adalah sebuah ungkapan dari fakta bahwa kita adalah manusia yang potensial. Jika kita membunuh potensi kita hanya karena kita pandai memperalat orang lain, maka kita terkurung dalam duka mendalam, dirantai dengan kelemahan, dan diselimuti dengan ketidakberdayaan.
Apa mau dikata? Kita hidup untuk menikmati segala sesuatu, menciptakan segala sesuatu, menghasilkan segala sesuatu, menopang, mempengaruhi. Kita tentu dapat menyelami kehidupan ini dengan tiga realitas yang suprematif: berkarya dalam kejujuran, berelasi untuk kehidupan yang lebih baik, dan terus mengajari diri sendiri untuk setia kepada Sang Khalik, Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kehidupan di mana kita menorehkan jejak-jejak kehidupan.