TIMBUL SEPERTI EMAS: Bersyukur Dua Tahun Bebasnya Matheus Mangentang

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayub 23:10)

Tanggal 9 Maret 2020 adalah tanggal bebasnya Pdt. Dr. Matheus Mangentang (dari Lapas Cipinang) dan Pdt. Ernawaty Simbolon (dari Lapas Pondok Bambu). Fakta tersebut didasarkan pada Putusan Peninjauan Kembali (PK) Para Pemohon PK, I. Matheus Mangentang, S.Th dan II. Ernawaty Simbolon dikabulkan serta Putusan Mahkamah Agung (MA) No. 3319 K/Pid.Sus/2018 tanggal 13 Februari 2019 dibatalkan, maka dengan demikian dinyatakan, lepas dari segala segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging); memulihkan hak Para Terpidana dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya; memerintahkan Para Terpidana dibebaskan seketika.

Keputusan PK tersebut diputuskan melalui rapat musyawarah Majelis Hakim Pada Hari Kamis tanggal 20 Februari 2020, No. 45 PK/Pid. Sus/ 2020 oleh Dr. Sofyan Sitompul, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Maruap Dohmatiga Pasaribu, S.H., M.Hum dan Dr. Desnayeni M., S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota.

Hingga sekarang, sudah dua tahun Pdt. Dr. Matheus Mangentang dan Pdt. Ernawaty Simbolon bebas dan menikmati segala kasih serta kemurahan Tuhan Yesus. Rasa syukur karena berkat pertolongan-Nya masih tetap dinyatakan. Rasa syukur itu tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Sukacita yang meluap-luap adalah bukti bahwa rasa syukur itu tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Pdt. Dr. Matheus Mangentang dan Pdt. Ernawaty Simbolon.

Jika kita melihat cara Tuhan membentuk kehidupan orang percaya, selalu ada makna terdalam dari setiap peristiwa yang Dia izinkan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya, meskipun peristiwa itu bukanlah keinginan mereka untuk terjadi. Tuhan selalu “punya cara terbaik” untuk membentuk orang-orang percaya menjadi seperti “emas”. Proses pembentukan emas sangatlah rumit dan panjang. Logam emas akan melebur pada suhu sekitar 1.000 derajat celcius. Ditambah lagi proses lainnya yang mendukung terbentuknya emas yang bernilai tinggi. Karena nilai yang tinggi dan estetikanya, membuat emas sebagai logam mulia yang digunakan sebagai perhiasan, bahkan sebagai bahan investasi. Untuk sampai kepada “emas yang bernilai” – prosesnya harus dilalui.

Kutipan teks Ayub 23:10 di awal tulisan ini, adalah bukti bahwa Tuhan tahu jalan hidup Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Ia telah mengujinya dan pada akhirnya, beliau timbul seperti emas. Emas itu berharga. Hidup orang percaya itu berharga. Tuhan memberi harga yang terbaik bagi setiap orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Sama seperti emas, demikianlah Tuhan membentuk Pdt. Dr. Matheus Mangentang.

Ayub mengidentifikasikan dirinya sebagai “emas” ketika ia “diuji” oleh Tuhan. Artinya, Ayub tahu bahwa ketika Tuhan membentuk dan mengujinya, pasti hal yang terbaik adalah hasil akhirnya. Terbaik bukan berdasarkan pandangannya, melainkan berdasarkan pandangan Tuhan. Hal itulah yang dialami oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Meskipun beliau diuji oleh Tuhan dengan sesuatu hal yang tak diinginkannya, tetapi hasil akhir telah membuktikan bahwa beliau tetap dipercaya, tetap dihargai, tetap dijadikan teladan, tetap dihormati, dan tetap menjadi patron (pola, suri [teladan]) sebagai “seorang pelayan yang setia, misiolog, pemimpin, visioner, pengajar, dan teolog yang berintegritas.” Beliau telah “timbul seperti emas” – setelah ditempa dengan peristiwa-peristiwa yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya.

Jika Saudara ingin menemukan pengakuan tersebut, tanyakanlah kepada mereka yang telah mengecap kebaikan, teladan, dan kemurahan hati beliau. Mungkin Saudara dapat mendaftarkannya melebihi dari apa yang saya tuliskan di atas.

Apa yang beliau alami telah menjadi bukti betapa Tuhan Yesus itu berkuasa dan penyertaan-Nya sempurna: “Selalu baru tiap hari, kasih dan setia-Nya”. Kita menginginkan sesuatu, tetapi kehendak Tuhanlah yang jadi. Kebebasan yang beliau rasakan cukup memberi bukti bahwa “Tuhan tidak tidur”. Ia senantiasa mengawasi dan menjaga anak-anak-Nya yang setia. Pdt. Dr. Matheus Mangentang bebas karena pertolongan Tuhan yang luar biasa. Rasa syukur atas hal tersebut masih tetap terucap dari bibir mulut beliau hingga sekarang ini.

Dalam pengamatan saya, untuk membuktikan pengakuan Ayub dalam korelasinya dengan kehidupan Pdt. Dr. Matheus Mangentang yang “timbul seperti emas” adalah dengan melihat apa yang beliau kerjakan selama berada di Lapas Cipinang. Beliau tetap menebarkan integritas, relasi, dan spiritualitasnya kepada para tahanan lainnya melalui Pendalaman Alkitab (PA) dan konseling. Hasilnya? Ada banyak di antara mereka yang bertobat. Tuhan punya cara tersendiri untuk membentuk dan membawa seseorang kepada kehendak-Nya yang sempurna. Lawatan tangan kuasa-Nya tak luput sedikit pun dari kehidupan anak-anak-Nya. Itulah yang dirasakan oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang. “Emas tetaplah emas, meskipun diletakkan di berbagai tempat”.

Beliau telah “timbul seperti emas” setelah melewati ujian dari Sang Khalik, ujian yang berat (ibarat suhu yang panas dalam proses melebur emas). Akan tetapi, dalam ujian yang berat itu, ternyata ada kehendak Tuhan bagi beliau, dapat memenangkan sebanyak mungkin orang di dalam Lapas Cipinang, supaya mereka menyerahkan dirinya kepada Tuhan, bertobat, dan hidup dalam terang firman-Nya. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Tuhan Yesus menggunakan sesuatu yang tidak kita sukai untuk mewujudkan kehendak-Nya yang terbaik bagi orang-orang yang membutuhkan lawatan kuasa dan pengajaran firman-Nya. Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menjadi bagian dalam kehendak Tuhan bagi mereka yang berada di dalam Lapas Cipinang.

Apa yang dialami Ayub, telah menjadi pelajaran bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah salah membentuk dan mendidik anak-anak-Nya. Tuhan tidak pernah salah mendidik dan membentuk Pdt. Dr. Matheus Mangentang melalui ujian yang berat. Yang pasti, Tuhan selalu menyediakan yang terbaik bagi kita. Ia membuat “segala sesuatu indah pada waktunya”. Ini sungguh luar biasa, dan beliau telah merasakannya.

“Karena Tuhan tahu jalan hidup kita, maka seandainya Ia menguji kita, pasti kita akan timbul [setelah melalui proses ujian] seperti emas [diri dan hidup yang menjadi teladan dan berkat]”. Dari kehidupan dan pengalaman Pdt. Dr. Matheus Mangentang, kita dapat melihat tiga hal penting:

Pertama, beliau telah menandaskan sebuah prinsip “kesetiaan kepada Tuhan” meski sesuatu yang dialaminya sangat berat. Kesetiaan itu mencakup aspek: tetap menjadi teladan, tetap mewartakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus, dan tetap menunjukkan spiritualitas yang selaras dengan firman-Nya.

Kedua, beliau telah mewariskan kepada kita sikap “sabar dalam menghadapi segala sesuatu dan senantiasa berdoa”. Tuhan selalu berpihak kepada orang-orang yang dengan sabar menjalani segala ujian yang datang dan selalu berdoa memohon pertolongan-Nya. Apa yang dialami oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang, termasuk kesabarannya dalam menjalani ujian tersebut dan doa yang menjadi kekuatannya, telah membuat beliau “timbul seperti emas” ― tetap berkualitas, tetap mencintai misi Tuhan, tetap rendah hati, tetap melayani dengan setia, tetap menyatakan kebaikan dan kemurahan hati, dan tetap menjadi pemimpin yang berintegritas.

Ketiga, beliau telah menanamkan prinsip melayani Tuhan dengan penuh komitmen, konsistensi, dan kepedulian. Tidak ada seorang pelayan Tuhan yang dikatakan sebagai seorang yang peduli sampai ia sendiri memberi dirinya, waktunya, harganya, tenaganya, dan pikirannya untuk pekerjaan Tuhan baik di kota maupun di desa. Pdt. Dr. Matheus Mangentang adalah teladan dalam melayani di kota-kota maupun di desa-desa. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang dipimpin beliau, mayoritas berada di desa-desa. Itulah bukti bahwa melayani Tuhan dengan penuh komitmen, konsistensi, dan kepedulian akan berbuahkan hasil yang melimpah ruah.

Salam Bae…..

TRILOGI TELADAN: Bersyukur Atas Dua Tahun Bebasnya Matheus Mangentang

Semua pencapaian hidup yang ditempuh melalui proses yang panjang dan bagaimana mengembangkan potensi diri yang mencakup konteks berteologi, berelasi, mengajar, dan mewartakan Injil Kristus menghasilkan “teladan hidup”. Orang percaya sejatinya memberi dirinya menjadi teladan bukan terpaksa menjadi teladan.

Matheus Mangentang adalah seorang pelayan, teolog, pengajar, pemimpin, dan penginjil yang telah mendedikasikan hidupnya bagi Kristus Yesus. Dalam rentang waktu yang panjang beliau telah memperlihatkan “trilogi teladan” kepada Gereja, kepara para pelayan, kepada anak-anak didiknya, dan kepada zamannya.

Sebagai pemimpin, beliau menulis tulisan singkat yang berbicara tentang “Pemimpin yang Membentuk Zaman”. Menurutnya, pemimpin yang membentuk zaman adalah manusia-manusia yang mampu memberdayakan “roh keberhasilan” dalam diri mereka. Spirit of the Success adalah core mereka. Di dalam spirit yang menyala-nyala, mereka mengubah, mencipta dan membuat perbedaan yang signifikan. Akhirnya, Mangentang berkesimpulan bahwa pemimpin yang membentuk zaman dalam Alkitab dan sejarah Gereja adalah “tentang kelemahan” (1 Korintus 27-28). Mereka ini adalah pribadi-pribadi yang memiliki kelemahan tetapi pengaruh mereka sungguh luar biasa: pertama, Yusuf: sudah tamat riwayat hidupya, sudah terkubur masa depannya dalam penjara; kedua, Musa: sudah tidak dianggap apa-apa lagi, terbuang ke padang gurun; ketiga, Petrus: siapa yang memperhitungkan dia yang hanya seorang nelayan; keempat, Yohanes: terbuang ke pulau Patmos, yaitu pulau penuh ular. Mereka berani membayar harga, mereka berani percaya di tempat tidak ada iman. Mereka tetap terjaga ketika yang lain terlelap. Mereka melihat yang dilihat Tuhan. (Matheus Mangentang, “Sebuah Refleksi tentang Pemimpin yang Membentuk Zaman”, dalam Pemimpin yang Membentuk Zaman, editor Kembong Mallisa’, Marianus T. Waang, Aprianus Moimau, Deky H. Y. Nggadas [Jakarta: Delima, 2009], 2-4).

Dari pernyataan di atas, tampak bahwa “kelemahan” bukanlah bukti bahwa seseorang itu tidak berguna, tidak berarti, atau tidak dipakai Tuhan. Kita tahu bahwa semua manusia memiliki kelemahan. Tetapi seringkali – dalam penilaian beberapa orang – kelemahan dijadikan “senjata penghakiman” bahwa seseorang itu tidak layak untuk ini dan itu. Anehnya, tokoh-tokoh yang disebutkan Mangentang di atas justru sebagai bukti bahwa kelemahan dan kekurangan mereka justru membawa mereka ke puncak yang gemilang dan pengaruh pada zamannya, serta teladan pada generasi dan zaman-zaman berikutnya.

Itulah sebabnya, “teladan hidup adalah salah satu aspek yang dapat kita wariskan selain dari pada iman, pengajaran, dan kesetiaan kepada Tuhan Yesus.” Teladan adalah wajah kita sendiri karena darinya orang menilai, entah baik, entah buruk. Mangentang mengalami dua fakta tersebut. Ada orang yang menilai buruk tentangnya, dan ada yang menilai baik tentangnya. Namun, pada akhirnya, buah pelayanan, kesetiaan, dan konsistensi terhadap panggilan Tuhanlah yang menjadikannya gemilang di mata Tuhan.

Kita yang setia dan taat pada firman-Nya tidak perlu kuatir terhadap penilaian orang lain. Tak peduli seberapa buruk kita dalam pandangan manusia, tetapi di mata Tuhan, kita sangatlah berharga. Itulah yang dirasakan oleh Bapak Matheus Mangentang.

Mesyukuri dua tahun bebasnya beliau (bersama Pdt. Ernawati Simbolon, pada tanggal 20 Februari 2022), saya menuliskan goresan singkat yang menjejaki konteks teladan dari kehidupan dan pengalaman beliau dalam melayani Tuhan serta bagaimana pergumulan beliau dalam menghadapi berbagai hambatan dan tantangan.

Oleh sebab itu, Trilogi Teladan (tiga hal yang saling bertaut dan penting) Matheus Mangentang yang digoreskan dalam tulisan singkat ini, setidaknya dapat memberikan makna bagi para pembaca untuk merenungkan bahwa tangan Tuhan selalu terulur bagi mereka yang senantiasa berseru dan berharap pada-Nya, dan bahkan Ia menyertai mereka yang setia pada panggilan-Nya.

Pertama, teladan komitmen pelayanan yang mencakup iman, pengharapan, kasih dan doa. Beliau begitu bersemangat dalam melayani di kota maupun di desa-desa. Apa yang beliau taburkan sejak dulu, kini telah tumbuh dan berbuah-buah lebat. Pelayanan Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta dan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang terus berkembang telah menjadi bukti bahwa taburan-taburan kasih, pengajaran, teladan, iman, doa, penghadapan, kini menjadi fakta sejarah di mana beliau menjadi pelopornya.

Bahkan pada saat beliau diminta untuk memimpin ibadah pemakaman dari salah satu pengusaha kaya yang meninggal karena Covid-19, beliau pun bersedia. Beliau ditelepon sekitar pukul 04.30 subuh untuk memimpin ibadah tersebut pada pukul 10.00 WIB pagi di hari yang sama. Beberapa pendeta menolak untuk memimpin ibadah dimaksud karena satu dan lain hal. Tetapi beliau bersedia tanpa rasa kuatir. Di sini, bukan berarti karena nekat yang tak terkendali untuk pergi ke ibadah pemakaman seseorang karena Covid-19, tetapi ada prinsip dan komitmen pelayanan yang memang harus dilakukan oleh seorang hamba Tuhan. Ingatlah pesan firman Tuhan berikut ini: “Sungguh Ia mengasihi umat-Nya; semua orang-Nya yang kudus  —  di dalam tangan-Mulah mereka, pada kaki-Mulah mereka duduk, menangkap sesuatu dari firman-Mu” (Ulangan 33:3).

Beliau selalu berdoa untuk memohon pimpinan dan penyertaan Tuhan dalam seluruh pelayanan yang dikerjakannya, kapan pun dan di mana pun. Doa menjadi kekuatan tak terukur pengaruhnya. Kasih terus ditaburkan. Pengharapan kepada Kristus adalah jawaban atas segala kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Iman menjadi dasar pengharapan kepada Kristus dan meyakini pimpinan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

Kedua, teladan kepemimpinan yang mencakup integritas dan relasi. Integritas adalah dasar dari kepemimpinan dan relasi. Tanpa integritas, rusaklah kepemimpinan, rusaklah relasi. Teladan integritas Matheus Mangentang telah memperlihatkan hasil pelayanan yang telah beliau kerjakan bersama dengan hamba-hamba Tuhan yang benar-benar menjaga “panggilan Tuhan” dengan hati yang penuh syukur dan integritas.

Ketiga, kemurahan hati yang mencakup suka menolong, menopang, dan membantu yang lemah. Apa yang beliau taburkan dalam pelayanan selalu dibarengi dengan kemurahan hati. Beliau suka memberi dan menolong para alumni di berbagai pedalaman. Apalagi beliau didukung sepenuhnya oleh istri terkasih, Ibu Ester Kristanto yang juga memiliki kemurahan hati dan suka menolong orang lain. Teladan ini telah menjadi patron dan nilai tersendiri bagi para alumnus SETIA Jakarta dan para hamba Tuhan GKSI di seluruhh Indonesia.

Pernah satu waktu, ketika beliau ada dalam masalah yang berat, saya dan beliau bercakap-cakap melalui telepon selular mengenai misi ke tanah Papua. Kami berdua membicarakan banyak hal dan kadang dibumbui dengan sedikit lelucon; kami pun tertawa lepas. Di tengah tekanan masalah yang berat, beliau masih tetap menunjukkan ketegaran dan sukacita yang luar biasa. Saya tahu bahwa beliau tidak gentar sedikit pun dalam menghadapi persoalan yang terjadi. Kekuatan dan keberanian tampak dalam setiap percakapan kami. Meski serangan bertubi-tubi datang kepadanya, ia tetap meyakini akan pimpinan Tuhan.

Beberapa waktu lalu, bulan Januari 2022, beliau berkunjung ke daerah Alor, Kupang, dan Rote, NTT. Beliau ditemani sang istri terkasih, dan mengikuti berbagai pelayanan dan kunjungan kepada alumni SETIA Jakarta dan para hamba Tuhan yang setia. Tentu ada sukacita yang dirasakan saat berkunjung ke tanah Alor, Kupang, dan Rote. Tuhan telah menjukkan kemurahan-Nya kepada hamba-Nya yang tetap semangat dalam melayani.

Para alumni SETIA merasa bahagia bisa bertemu dengan orang tua mereka yang telah memberikan kesempatan untuk menempuh studi di SETIA Jakarta hingga akhirnya mereka dapat mengikuti jejak-jejak pelayanannya. Ada banyak rasa syukur yang diungkapkan oleh para alumnus SETIA Jakarta. Kiranya hal itu tetap menjadi fakta sejarah bahwa pelayanan yang dikerjakan Bapak Matheus Mangentang akan terus menghasilkan buah-buah yang manis dan segar.

Trilogi Teladan beliau, yakni: teladan komitmen pelayanan, teladan kepemimpinan, dan teladan kemurahan hati akan menjadi warisan berharga bagi para alumnus SETIA dan para hamba Tuhan GKSI di mana pun berada. Hanya mereka yang berintegritas yang dapat mengambil teladan dari pribadi yang berintegritas. Itulah prinsip kepemimpinan yang sejati. Dan hanya orang yang setia pada firman Tuhan yang dapat memahami secara benar panggilannya di dalam Kristus, dan mengambil pelajaran berharga dari para hamba Tuhan yang terkenal setia dalam melayani.

Matheus Mangentang telah membuktikan Trilogi Teladannya kepada kita. Melayanilah dengan komitmen yang benar di hadapan Tuhan. Pimpinlah dirimu sendiri sebelum memimpin orang lain, dan nyatakan kemurahan hatimu agar nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Ingatlah pesan-pesan firman Tuhan berikut ini:

Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

Roma 15:14, “Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati.”

Filipi 4:5, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!”

Ibrani 12:10, “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”

1 Petrus 2:1-3, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.”

Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Salam Bae…..

Tulisan terkait:

  1. https://stenlyreinalpaparang.home.blog/2021/03/09/memberi-tanpa-merasa-rugi-bersyukur-satu-tahun-bebasnya-matheus-mangentang/
  2. https://stenlyreinalpaparang.home.blog/2021/02/10/bendera-arastamar-tertancap-di-tanah-bali/
  3. https://stenlyreinalpaparang.home.blog/2021/02/10/arastamar-bergema-di-tanah-grimenawa-papua/
  4. https://stenlyreinalpaparang.home.blog/2021/02/10/arastamar-menancapkan-misi-di-tanah-wamena-papua/
  5. https://stenlyreinalpaparang.home.blog/2021/02/10/arastamar-bergema-di-tanah-soe/
  6. https://stenlyreinalpaparang.home.blog/2021/03/12/teladan-pelayanan-membuahkan-hasil-catatan-singkat-untuk-pdt-matheus-mangentang/

THEOLOGI, THEOCOSMOS, THEOREMA

Kita dapat menangkap makna dalam setiap peristiwa. Rasa makna akan ditentukan oleh keyakinan, empirikal, dan pengetahuan yang kita miliki. Lambat laun, daya tangkap kita akan sesuatu hal menjadi kuat dan kontekstual.

Rentang waktu yang kita jalani, memberi banyak pengalaman indrawi (mendengar, melihat), emosional, dan spiritual, di mana ada makna teologis yang mendukung pencarian dan pengukuhan identitas iman kita di hadapan Tuhan. Ia sendiri mendidik kita untuk semakin hari semakin dekat dan akrab dengan-Nya. Firman-Nya adalah bentuk yang lebih mudah didapatkan, dibaca, dipahami, dan pada akhirnya mudah atau pun sulit untuk dilakukan.

the year I embraced change man repeller

Theologi menggiring kita kepada suatu ruang berpikir di mana Tuhan, kita, dan sesama ada dalam ruang itu sendiri. Theologi harus berbicara tentang Tuhan, kita, dan sesama. Itulah theologi yang baik dan solid. Ketika luapan-luapan akademis dari para teolog menyingkapkan berbagai pemikiran mereka, jika tanpa terhubung dengan Tuhan, kita, dan sesama, maka hal itu tidak perlu mendapat tempat di dalam hidup kita.

Theologi menempatkan manusia di hadapan Tuhan, menempatkan dunia di hadapan Tuhan, menempatkan manusia di hadapan dunia, dan menempatkan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan. Menempatkan dunia di hadapan Tuhan itulah namanya “Theocosmos” – Theologi yang berbicara tentang “cosmos” sebagai pemberian Allah bagi manusia.

the world and coronavirus

Theocosmos adalah sebuah dasar pemikiran iman Kristen bahwa dunia – sebagai ciptaan Allah – memberi empat makna:

Pertama, bahwa manusia diciptakan Allah untuk menempati dunia ciptaan-Nya dengan cara menaklukan dan mengusahakannya (Kejadian 1:28, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 2:4-8, Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu).

Kedua, bahwa dunia diciptakan Allah untuk menempatkan manusia di dalamnya, menikmati segala keberkahan yang diberikan Allah bagi mereka. Kejadian 1:29, Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” Allah peduli kepada manusia dengan menyediakan dunia [bumi] bagi mereka, dan Allah peduli terhadap dunia dengan memberikan manusia kepadanya agar dikelola, dikuasai, dan diusahakan. Kejadian 2:15, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Ketiga, bahwa manusia dan dunia bergantung sepenuhnya kepada Sang Khalik. Keduanya ada dalam genggaman tangan-Nya yang berkuasa. Ialah yang empunya semuanya; Ialah Penciptanya. Mazmur 24:1 menyatakan bahwa “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Mazmur 50:12 menegaskan pula, “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya”, dan Mazmur 89:12 menegaskan prinsip yang sama, bahwa “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.”

Di bagian lain, dasar pemahaman bahwa manusia dan dunia ciptaan adalah dalam kuasa Tuhan dan bergantung kepada-Nya, tampak pada beberapa teks berikut ini, seperti:

Mazmur 98:4-99, Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN! Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Collection Of Amazing Sunrays In The Forest In The Netherlands

Yeremia 10:12,  Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya (lih. Yer. 51:15)

2 Samuel 22:16, Lalu kelihatanlah dasar-dasar laut, alas-alas dunia tersingkap karena hardikan TUHAN karena hembusan nafas dari hidung-Nya.

Mazmur 9:9, Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Keempat, bahwa Allah memelihara dunia dan segala ciptaan-Nya, juga umat-Nya. Mazmur 55:23, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” Mazmur 97:10, “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.” Mazmur 148:6, “Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar”.

Providentia (Lat.) diartikan sebagai tindakan kekuatan Ilahi yang berkelanjutan, setelah tindakan penciptaan, dengan sarana di mana Allah memelihara segala sesuatu dalam wujud, mendukung tindakan mereka, mengatur mereka sesuai dengan tatanannya yang mapan, dan mengarahkan mereka menuju tujuan yang telah Allah ditetapkan. Richard A. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms: Drawn Principally Ffom Protestant Scholastic Theology (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 1985). Dalam hal decretum (dekrit atau keputusan) abadi dan voluntas Dei (will of God), penciptaan dan pemeliharaan adalah satu tindakan. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms. 

Collection Of Amazing Sunrays In The Forest In The Netherlands

Menurut John Calvin, semua kejadian adalah bagian dari providensia rahasia Allah (John Calvin, The Secret Providence of God, ed. Paul Helm, trans. Keith Goad [Wheaton, IL: Crossway, 2010]), sehingga dalam cara yang indah dan tak terlukiskan tidak ada yang terjadi bertentangan dengan kehendak-Nya (Calvin, The Secret Providence of God, 81).

Paul Kjoss Helseth berpendapat bahwa kita dipanggil untuk menempatkan keyakinan kita pada karakter dan janji-janji Bapa kita, bahkan ketika kita tidak tahu persis apa yang Dia lakukan saat Dia mengerjakan hal-hal khusus dari kehendak-Nya yang berdaulat. Paul Kjoss Helseth, “God Causes All Things,” in Four Views on Divine Providence, ed. Dennis W. Jowers (Grand Rapids: Zondervan, 2011), 52.

Dalam penjelasan Matt R. Jantzen, kita melihat bahwa providensia berkaitan dengan pelestarian sejarah penciptaan, bukan penyingkapan sejarah keselamatan. Matt R. Jantzen, God, Race, and History Liberating Providence (Lanham, Maryland: Lexington Books, 2021), 20. Jantzen menegaskan, bahwa “doktrin providensia memberikan visi keteraturan yang kuat tentang Allah dan ciptaan, waktu dan ruang, diri dan orang lain.”  Jantzen, God, Race, and History Liberating Providence, 3-4.

David Fergusson berpendapat bahwa dalam sejarah gereja, konsep pemeliharaan Ilahi telah tersebar luas. Ruang lingkupnya meliputi tatanan alam, arah sejarah, cara-cara di mana kehidupan orang-orang tunduk pada bimbingan ilahi, hasil akhir dari alam dan sejarah, dan lainnya. Sebuah tema yang luas, pemeliharaan Allah diilustrasikan oleh kisah-kisah Kitab Suci dan telah diteorikan oleh para teolog sepanjang sejarah gereja. David Fergusson, Current Issues in Theology: The Providence of God A Polyphonic Approach (Cambridge: Cambridge University Press 2018), 1.

Allah memelihara manusia dan segala ciptaan yang lain disebabkan karena Ia menetapkan suatu tujuan atas ciptaan-Nya sendiri. Semua makna yang kita temukan dalam ciptaan ini adalah suatu kesadaran bahwa kita telah melihat Allah mencipta dan berkarya atas ciptaan-Nya. Theocosmos sangatlah kental dengan konteks-konteks tersebut di atas.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa ada sebuah “theorema” yang dapat kita simpulkan. Theorema berbicara tentang proposisi (suatu pernyataan untuk dibuktikan, dijelaskan, atau didiskusikan). Theorema dari kata Yunani “Theorēma” yang diartikan sebagai spekulasi, atau suatu proposisi untuk dibuktikan. Kata tersebut berasal dari kata theōréō, “Saya melihat, melihat, consider [mempertimbangkan], examine [memeriksa]”), dari theōrós, “spectator [penonton (yang melihat atau menyaksikan sesuatu)]”), from théa, “a view [pandangan]”) + horáō, “I see, look”) (lihat: https://en.wiktionary.org/wiki/theorema).

Collection Of Amazing Sunrays In The Forest In The Netherlands

Theorema dapat dipahami sebagai suatu persepsi akal, melihat pada (sebagai penonton) fakta yang sedang dilihat, persepsi mental untuk memahami, persepsi rohani untuk melihat segala sesuatu yang dialami atau diamati. Jika Theologi dan Theocosmos memberi kita petunjuk dan kekuatan pemahaman tentang Tuhan, kita, dan sesama, maka Theorema menawarkan kepada kita ragam persepsi kita untuk melihat fakta yang terjadi di sekitar kita dalam kaitannya dengan Tuhan, kita, dan sesama.

Segala sesuatu memang dapat disaksikan oleh mata jasmani, tetapi ada hal-hal yang tak dapat dilihat dengan mata jasmani. Kita harus melihatnya dengan “mata iman” dan itulah penggabungkan antara Theologi, Theocosmos, dan Theorema. Ketiganya menyatu dalam sebuah kontruksi iman dalam melihat Tuhan, diri kita, dan sesama. Tak ada ruang kosong dalam Theologi, Theocosmos, dan Theorema. Semua diisi untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan-Nya memenuhi seluruh dunia (kosmos).

Mazmur 19:2, Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.

Mazmur 96:3, Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.   

Mazmur 97:6, Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.   

Mazmur 104:31, Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!   

Mazmur 108:6, Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah, dan biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi.   

Mazmur 113:4, TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.

Yesaya 6:3, Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”

Collection Of Amazing Sunrays In The Forest In The Netherlands

Tampak bahwa gerak pengajaran Theologi, Theocosmos, dan Theorema perlu dilekatkan pada pemikiran-pemikiran atau refleksi kita tentang Tuhan, diri kita, dan sesama. Ada berbagai hal yang dapat kita tinjau secara teologis terkait aspek-aspek kehidupan, relasi, spiritualitas, tanggung jawab, dan bagaimana sikap hidup kita terhadap Tuhan, diri kita sendiri, alam semesta, dan sesama kita.

Teologi memberi kita pengertian-pengertian fundamental tentang Tuhan dan karya-karya-Nya, tentang humanitas, dan tentang relasi humanitas dalam bingkai providensia Tuhan. Thecosmos memberi kita dasar pemahaman dan tindakan mengenai bagaimana sikap kita melihat dan memperlakukan dunia ciptaan Tuhan, bagaimana mengelolanya dan bagaimana manusia bergantung kepada Allah agar mereka dapat meneruskan kehidupan di dunia ini. Theorema memberi kita dasar pengertian bahwa apa yang kita lihat di dunia ini tidak lepas dari bagaimana Tuhan membentuk dan mendidik kita. Tuhan telah memperlihatkannya dan kita tinggal menangkap dan memaknainya, sehingga menjadi terhubung dengan konteks relasi kita dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan sesama.

Theologi, Theocosmos, dan Theorema adalah tiga jalan menuju pemahaman dan kedewasaan iman, di mana pengetahuan-pengetahuan yang diterima dari ketiganya membentuk diri kita menjadi serupa dengan Sang Khalik: hidup benar, hidup kudus, dan hidup memuliakan nama-Nya.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://www.behance.net/gallery/49039323/Conceptual-Illustrations
  2. https://repeller.com/fear-and-living-in-the-gray-area/?utm_source=pinterest&utm_medium=social&utm_campaign=mr_owned&utm_term=thoughts-and-things
  3. https://danavento.com/1-thing-the-coronavirus-guarantees-everyone/
  4. https://www.freepik.com/free-vector/multiracial-raised-fists_8622371.htm?epik=dj0yJnU9eVBVTUFCMzRTbm1pR3NlbmlUZ0Q3Yk1DXzF1UXNuUnYmcD0wJm49cnY4bHRWMmx1Q0pOVEw4OHhlSzE3USZ0PUFBQUFBR0lLQmJJ
  5. https://www.boredpanda.com/collection-of-amazing-sunrays-in-the-forest-in-the-netherlands/?media_id=20170618-070727-DSC02435-bewerkt-RAW-5951546a1755e__880&utm_source=id.pinterest&utm_medium=referral&utm_campaign=organic

MURAL KEHIDUPAN: Antara Iman dan Teologi

Lihat gambar sumber

Tampilan menarik dari diri kita adalah melalui tiga aspek: perkataan, tindakan, dan karya. Pada perkataan, kita menyatakan kehendak, informasi, ide atau gagasan, pengajaran, fakta, kebenaran, prinsip logis, ekspresi diri, emosi, perasaan, adaptasi diri, pengenalan diri, hukum, peraturan, keputusan, dan menyatakan makna tertentu dari setiap aspek kehidupan yang kita jalani dan asesmen terhadap itu sendiri.

Pada tindakan, kita memperlihatkan nilai-nilai dari sebuah tindakan, baik kecil maupun besar. Besar-kecilnya sebuah tindakan seringkali menjadi ukuran seberapa besar harga diri kita. Barangkali, kita sering terjebak dalam konteks ini, bahwa tindakan kecil dianggap tidak memiliki makna, sedangkan tindakan besar dianggap memiliki makna yang sangat baik. Akan tetapi, penilaian tersebut terjerumus dalam egoisme dan kepentingan tertentu, yang sejatinya tidak melihat pesan dan makna dari sebuah tindakan.

Pada karya, kita memperlihatkan apa yang “dihasilkan” yang berangkat dari ide atau gagasan yang kemudian dilakukan – lambat laun menjadi sempurna ketika gerak realisasi atas ide tersebut dilakukan secara serius. Karya tidak dihasilkan dari sebuah imajinasi liar – tapi karya selalu memiliki tujuan tertentu, pesan dan makna tertentu, dan ditujukan kepada sesuatu hal. Karya menjadi dasar bahwa kita adalah manusia yang telah mempergunakan “potensi yang Tuhan berikan” – dikembangkan, diasa, digumuli, dan direalisasikan dari waktu ke watu. Potensi diri adalah mahakarya diri kita sendiri, sehingga karya-karya yang dihasilkan memikiki pengaruh yang luar biasa.

Perkataan, tindakan, dan karya adalah “mural” – sebuah lukisan kehidupan kita yang terpampang di depan umum. Kita teringat pernyataan Rasul Paulus, bahwa: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (2 Korintus 3:2). Jika orang Korintus adalah surat pujian yang dapat dibaca oleh semua orang melalui tindakan-tindakan mereka, demikianlah kita dapat menerapkan prinsip yang sama.

Kita adalah “mural” kita sendiri yang memperlihatkan kenyataan diri diri, perkataan, tindakan, dan karya kita. Iman dan teologi yang kita anut atau cetuskan juga adalah mural. Iman direalisasikan dalam perkataan, tindakan, dan karya yang memuliakan nama Tuhan. Teologi direalisasikan dalam perkataan, tindakan, dan karya yang memuliakan namak Tuhan. Mural kehidupan kita begitu penting dan menjadi tolok ukur siapa diri kita sebenarnya.

Mural kehidupan menjadi navigasi dari apa yang kita terima dari Tuhan. Kita adalah kita, dan mural adalah lukisan wajah karakter kita sendiri (perkataan, tindakan, dan karya). Iman dan teologi tak bisa melepaskan diri dari mural diri. Apa yang tampak di depan umum tentu menjadi nilai tersendiri. Oleh sebab itu, kita memperindah dan melukis mural kita sendiri hanya dengan perkataan, tindakan dan karya.

Ketika iman dan teologi yang menavigasikan kehidupan kita dan membawa kita kepada pemahaman dan pengenalan Tuhan yang benar, maka mural kehidupan kita akan menjadi harga tertinggi dari sebuah integritas dan pengabdian kita kepada Sang Khalik.

Mural kehidupan yang mengetengahkan iman dan teologi kita, sejatinya hanya tampak dan dilihat khalayak adalah melalui perkataan, tindakan, dan karya. Dari semua pencapaian hidup kita, pasti terkait dengan ketiga mural kehidupan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.

Benahi diri, koreksi diri, introspeksi diri, kembangkan potensi diri, hasilkan karya-karya terkeren dan serius, hasilkanlah tindakan-tindakan yang memuliakan nama Tuhan Yesus, dan kembangkan potensi komunikasi (perkataan) dalam relasi internal maupun eksternal.

Kita adalah “Mural Terbuka” yang dapat dibaca oleh semua orang. Kita dinilai karena kita menampilkan mural diri kita sendiri. Jadilah bijak, jaga integritas, dan setialah di jalan Tuhan. Ia akan menguatkan, memberkati, dan menopang kita dalam segala hal. Tampilkan mural kehidupan yang terbaik sebab Tuhan Yesus telah memberikan yang terbaik kepada kita.

Salam Bae…….

Sumber gambar:

https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=KgcG8VqS&id=3A131721CE95AC7A87B620366D73A735452E03C1&thid=OIP.KgcG8VqSttF2ElNa3qedtwHaE8&mediaurl=https%3a%2f%2f6tocelebrate.org%2fwp-content%2fuploads%2f2016%2f08%2f3-Soldaderas-b.jpg&exph=2848&expw=4272&q=mural&simid=608039061475247138&FORM=IRPRST&ck=EB047FFC4CAFDED96CAF5F97E30E5AA2&selectedIndex=24

T E O L O G I B E N A N G

Setiap proses kehidupan menyediakan berbagai hal untuk dinilai, dipikirkan (dianalisis) atau dijadikan sebagai pembelajaran di mana proses tersebut memberi nilai-nilai hidup yang perlu kita jalankan dan pegang, dan kemudian menjadi prinsip hidup.

“Benang” adalah kata familiar di telinga kita. Pakaian yang kita kenakan dijahit dengan menggunakan benang. Benang itu sendiri adalah sebuah tali kecil dan halus yang dipintal dari kapas (sutra dan sebagainya) yang digunakan untuk menjahit dan menenun. Baju dan celana yang keren tidak lepas dari peran benang di dalamnya. Tukang jahit menggunakan benang berwarna-warni untuk menjahit kain ketika hendak membuat baju atau celana, dan lain sebagainya.

Benang menjadikan pakaian kita menjadi tampil menarik, kuat, dan keren. Benang yang lepas, membuat pakaian yang dikenakan tampak kurang menarik dan memalukan. Benang, meski kadang tak diperhitungkan saat kita melihat model pakaian, tetapi berkat benanglah, pakaian yang mewah dan cantik, atau keren dan menarik, tampak memuaskan para pembeli dan penggunanya.

Ada aspek penting yang dapat kita tarik dari benang tersebut. Itu sebabnya, saya menulis tentang “Teologi Benang” agar kita dapat melihat pesan dan makna dari benang yang dapat memperindah bentuk dan gaya pakaian kita, dan barang-barang lainnya yang menggukan “jasa benang”.

Teologi Benang berbicara tentang sesuatu yang tak kecil dan kurang diperhatikan, tetapi memberi dampak yang besar. Kita teringat dengan analogi yang diberikan oleh Rasul Paulus tentang jemaat di Korintus. Ia memberikan contoh tentang tubuh dan anggota tubuh. Tampak bahwa ada bagian tubuh yang merasa hebat dan mengambaikan bagian tubuh lainnya yang kurang terhormat dang dianggap paling lemah. Analogi tersebut sangat tepat untuk menggambarkan Teologi Benang.

Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.

Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Korintus 12:21-26).

Memang ada bagian tubuh yang kurang tampak saat kita menggerakkan tubuh; ia tersembunyi tapi memiliki peran tertentu. Misalnya tangan tak bisa bergerak jika tidak ada tubuh. Kaki juga akan salah jalan ketika tidak bersahabat dengan mata. Kita dapat melihat analogi-manfaat pada tubuh kita sendiri, sehingga kita harus mengakui dan menghargai semua anggota tubuh dengan perannya masing-masing. Benang juga demikian saat ia menyatu dengan kain yang dibentuk menjadi pakaian. Ia kecil tapi penampilan pakaian bergantung padanya, meski ia sendiri kurang terlihat atau tak terlihat. Ialah yang menentukan seseorang dihargai atau tidak. Ketika benang jahitan pada pakaian yang kita kenakan terlepas atau rusak, kita tentu akan malu, apalagi ketika jahitan di bagian pantat atau dada sobek seketika.

Teologi Benang mengajarkan kita tentang fungsi dan peran kita dalam keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat mikro atau makro. Teologi Benang mengarahkan kita untuk melihat bahwa dari semua proses terbaik yang dihasilkan diri sendiri, keluarga, gereja, komunitas lainnya, sekolah, masyarakat, tidak lepas dari bantuan orang lain. Sekecil apa pun bantuan orang lain, itu adalah bagian dari proses kehidupan dan keberhasilan kita.

Gedung bertingkat yang mewah sekalipun, tidak lepas dari hasil kerja para tukang yang mungkin tidak dianggap. Semua prestasi gemilang yang kita raih tidak lepas dari orang-orang terdekat kita, sahabat, kenalan, atau siapa saja yang ikut berkontribusi di dalamnya. Tapi yang perlu diingat, bahwa semua pencapaian hidup dan keberhasilan kita adalah berkat campur tangan Tuhan; Ia memimpin, menguatkan, dan memelihara serta memberikan semangat dan kekuatan agar kita dapat bekerja dan menikmati hasil-hasilnya.

Teologi Benang adalah sebuah pemahaman bahwa sebelum menjadi benang, kapas bisa ditiup angin dan pergi entah ke mana; satu buah kapas mungkin dianggap tidak berguna dan tak mungkin menjadi benang. Tapi jika satu buah digabungkan dengan buah-buah yang lainnya, maka akan menjadi banyak, dan kemudian diolah menjadi benang.

Kita sendiri melihat bahwa pakaian yang kita kenakan dengan warna yang menarik perhatian banyak orang, tidak lepas dari jahitan penjahit dengan menggunakan benang berwarna (menyesuaikan warna kain atau menggunakan modifikasi warna tertentu supaya terlihat keren). Itu sebabnya, benang yang kecil, halus dan panjang, telah menjadi benda penting dalam proses pembentukan teologi dan jati diri kita. Pakaian yang kita kenakan telah menjadi penentu harga diri dan bahkan jati diri.

Teologi Benang (TB) sangatlah indah untuk dipahami.

Pertama, TB mengajarkan kita untuk menghargai orang lain yang meskipun ia kecil, tetapi ia memberikan kontribusi bagi kehidupan kita.

Kedua, TB mengarahkan hidup kita untuk selalu menopang orang-orang kecil, hal-hal kecil, relasi-relasi yang kecil, agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi sesama kita di keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat luas.

Ketiga, TB adalah konsep dari gerak iman Kristen yang meskipun kita orang kecil, dianggap minoritas di tempat di mana kita tinggal, dianggap tidak berguna dan lemah, tetapi sejatinya kita menjadikan segala sesuatu menjadi menarik dan dihargai. Potensi kita perlu dikembangkan agar kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Keempat, TB memberi kita pengharapan bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan jika kita bersama-sama mengerjakannya, akan menghasilkan hal-hal yang besar.

Kelima, TB memberi dasar kepada kita bahwa meskipun kita hanyalah pelayan kecil di Gereja, misalnya hanya penerima tamu, tukang bersih gereja, tukang pegang kunci Gereja, tetapi tanpa kita jemaat tak bisa masuk ke dalam gedung Gereja jika pintunya tidak dibuka; jemaat tidak dapat melihat gereja bersih jika tidak ada yang membersihkannya, dan jemaat akan merasa dihargai jika ada yang menyambutnya di depan pintu gereja.

Tetaplah berbuat baik meski hanyalah sebuah tindakan kecil. Tindakan kecil dapat berpotensi menghasilkan pekerjaan besar. Lihatlah api yang kecil dapat membakar hutan yang besar. Jadilah orang yang baik dan bersandar pada Tuhan Yesus, Sang Khalik Semesta.

Salam Bae…..

Gambar: dari berbagai sumber.

TETAP SETIA DI JALAN TUHAN

snow-capped gray mountain during daytime

Manusia tidak diajar apa pun untuk menghasilkan sesuatu hingga Allah menjadi gurunya…. —John Newton

Ketika seorang Kristen masuk ke dunia karena ia melihat hal itu sebagai panggilannya dan sekaligus merasa sebagai salibnya, maka hal itu tidak akan melukainya. —John Newton

Pendahuluan

Kehidupan Kristen seyogianya menunjukkan kualitas, di mana kualitas itu terdiri atas lima aspek: pertama, hidup mengasihi; kedua, hidup mengampuni; ketiga, hidup untuk saling mendoakan; keempat, hidup dalam ketabahan (berserah kepada kehendak Tuhan); dan kelima, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kualitas tersebut tampaknya sederhana, tetapi sejatinya dapat mengubah sejarah. Bahkan kualitas itu pula yang mengarahkan seseorang untuk setia kepada Tuhan, termasuk setia untuk mengikuti jalan-Nya seumur hidupnya.

Kita ingat apa kata Alkitab: “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10). TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Mzm. 37:23-24). Ketika TUHAN menemani kita, itu berarti kita berada di jalan-Nya. Ia mengarahkan kita untuk tetap di jalan-Nya, meski terdapat duri-duri dan kerikil-kerikil. Jaminan perlindungan dan topangan TUHAN lebih berharga dari pada duri-duri dan kerikil-kerikil hidup. Di situlah kualitas hidup menjadi tampak bersinar dan memukau.

Dua kisah berikut ini menggambarkan kualitas-kualitas kehidupan Kristen; dan mungkin kisah-kisah tersebut telah menjadi bagian dalam kehidupan Saudara-saudara. Kita melihat bahwa Yesus mengubah diri dan pemahanan kita tentang hidup.

Kisah pertama adalah tentang Graham Staines. Ia adalah seorang misionaris dari Australia yang melayani di antara orang-orang yang menderita lepra dan suku-suku di Orissa, India Utara. Pada tanggal 22 Januari 1999 ia dibunuh secara kejam di luar sebuah gereja bersama dengan kedua anak laki-lakinya. Orang Kristen maupun bukan Kristen di seluruh dunia marah akan kekejian seperti itu. Namun, istri almarhum yang masih berduka, Gladys Staines, mengatakan kepada seorang wartawan surat kabar pada hari berikutnya, “Saya memang sangat sedih, namun saya tidak marah, karena Yesus telah mengajarkan kami bagaimana mengasihi musuh-musuh kami.” Ia memilih untuk tetap tinggal dan meneruskan pelayanan suaminya, menderita dengan penuh sukacita dalam melayani Kristus. Kata-katanya disiarkan di koran-koran India maupun di luar India. Akibatnya, ratusan bahkan ribuan orang Hindu datang kepada orang-orang Kristen untuk menanyakan Alkitab yang mereka baca, dan banyak orang bertanya, “Mengapa kamu orang-orang Kristen berbeda?” (Jonathan Lamb, Integritas: Memimpin di bawah Pengamatan Tuhan [Jakarta: Literatur Perkantas, 2015], 228.)

Kisah kedua adalah tentang John G. Paton (yang dikutip oleh Jonh Piper). Pada usia tiga puluh dua, Paton menerima panggilan untuk pelayanan misi di New Hebrides (kini bernama Vanuatu) di Pasifik Selatan. Pada bulan Maret 1858 ia menikahi Mary Ann Robson, dan pada tanggal 16 April mereka berlayar ke pulau kanibal Tanna. Dalam waktu kurang dari satu tahun, mereka telah membangun sebuah rumah kecil dan Mary telah melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi pada tanggal 3 April 1859, setahun setelah pernikahan mereka, Mary meninggal karena demam dan dalam waktu tiga minggu, bayi laki-laki itu meninggal. John Paton menguburkan keduanya sendirian, dan menulis, “Jika bukan karena Yesus … saya sudah akan menjadi gila dan mati di sisi kuburan yang sunyi itu.” (John Piper, Kesukaan Allah, terj. Grace Purnamasari [Surabaya: Momentum, 2008], 361-62).

Piper melanjutkan kisah ini: Salah satu karunia yang telah diberikan Yesus, yang menopang Paton pada masa-masa itu adalah kata-kata yang diucapkan istrinya sesaat sebelum meninggal. Ia tidak menggerutu kepada Allah dalam penyakitnya yang tidak dapat disembuhkan, atau marah kepada suaminya karena membawanya ke New Hebrides. Sebaliknya, ia mengucapkan kata-kata yang mengagumkan ini: “Saya tidak menyesal meninggalkan rumah dan sahabat-sahabat. Seandainya saya dapat mengulanginya sekali lagi, saya akan melakukannya dengan kesukaan yang lebih besar, ya, dengan segenap hati saya.” (James Paton, ed., John G. Paton: Missionary to the New Hebrides [Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1965; artikel asli tahun 1891], 85. Dikutip Piper, Kesukaan Allah, 362).

green and brown mountains under white clouds and blue sky during daytime

Dua kisah di atas sungguh menakjubkan. Kematian bukanlah sebuah tragedi yang membuat istri dari Graham Staines terpuruk dan mencela Tuhan; pula John G. Paton tidak menuduh Tuhan sebagai sosok yang ada di balik tragedi yang menimpanya. Apa yang mereka alami adalah bagian dari kesabaran, kekuatan iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka mengasihi Tuhan tentunya. Mereka begitu tabah dan mereka menunjukkan bahwa iman mereka telah membawa mereka kepada kedewasaan memandang kehidupan sebagai anugerah, meski mereka berada dalam duka yang mendalam.

Tepatlah apa yang dikatakan Piper: “Pandangan kita terhadap Allah akan menentukan sikap kita terhadap kehidupan” (Piper, Kesukaan Allah, 212). Melihat dan memahami Allah secara benar, menjadikan kita kuat menghadapi kehidupan. Komitmen dibutuhkan, dan kesetiaan untuk tetap di jalan Tuhan, adalah konfirmasi iman. Ketika seseorang telah berkomitmen untuk melayani Tuhan, maka konsekuensi logisnya adalah ia harus menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan melalui proses hidupnya, pelayanannya, pekerjaannya, dan proses relasinya dengan orang lain. Singkatnya, seseorang harus menunjukkan korelasi antara kata dan perbuatan [tindakan]. Tindakan adalah buah-buah dari jati diri. Dengan perkataan lain, apa yang kita katakan, haruslah dituangkan ke dalam tindakan.

Nilai sebuah kesetiaan bukanlah harga yang murah. Kesetiaan itu tinggi nilainya. Sebuah hubungan hanya dapat dipertahankan jika kesetiaan itu dipupuk dan dijaga dengan baik. Kalau seorang suami atau istri dapat menunjukkan kesetiaannya kepada pasangannya, bukankah orang akan memujinya? Namun, ada hal yang lebih penting dari itu, yakni: setia kepada Tuhan. Ketika seseorang telah setia kepada Tuhan, ia tidak akan mengalami kesulitan untuk setia kepada pasangannya, pelayanannya, pekerjaannya, dan lain sebagainya.

Segala sesuatu yang terjalin indah dan kuat dengan Tuhan menghasilkan sebuah kehidupan yang benar, kudus, dan berkenan kepada-Nya. Kesetiaan juga demikian. Untuk tetap setia kepada Tuhan, berjalan di jalannya bukanlah tanpa hambatan, tantangan, ataupun dukacita. Mereka yang berjuang di jalan Tuhan pasti pernah merasakannya. Pdt. Dr. Edison Djama adalah salah satu dari sekian banyak hamba Tuhan yang telah menunjukkan dedikasinya kepada Tuhan, setia di jalan-Nya, melayani-Nya, dan menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Nya.

Orang dapat menilai kita pada saat ini, tetapi kadangkala mereka tidak tahu bagaimana proses yang kita jalani sehingga kita dapat tiba pada kondisi sekarang ini.

Ada tiga aspek yang menjadi poin dalam tulisan ini. Pertama, mereka yang setia adalah anak-anak Allah. Kedua, mereka yang setia adalah mereka yang mengenal Allah. Ketiga, mereka yang setia adalah mereka yang giat melayani-Nya.

Mereka yang Setia adalah Anak-Anak Allah

Sebagai pelayan, kita disebut juga dengan sebutan “Anak-anak Allah” yang dengannya kita melakukan kehendak Bapa kita. Alkitab seringkali menggunakan istilah tersebut bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian, mereka yang setia di jalan Tuhan, setia melayani, setia dalam segala kesukaran dan kedukaan, setia dalam segala perkara, layak disebut anak-anak Allah. Kita ingat apa yang dikatakan Yesus: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9).

Identitas anak-anak Allah terlihat dari tiga hal: pertama, sikap hidup setiap hari; kedua, sikap pelayanan; dan ketiga, sikap bekerja. Hal pertama berbicara tentang realisasi dari iman kepada Yesus Kristus dalam konteks relasi dan komunikasi di kehidupan sehari-hari. Iman mendorong terciptanya tindakan nyata. Iman tidak hanya ada pada tataran pengakuan, tetapi juga pada tataran tindakan. Mereka yang setia di jalan Tuhan pasti adalah mereka yang telah bertindak atas nama Tuhan dalam bentuk pelayanan, persekutuan, pengampunan, pengasihan, kesabaran menghadapi segala sesuatu, dan lain sebagainya. Singkatnya, semua tindakan yang selaras dengan firman-Nya.

Hal kedua adalah sebuah sikap yang tidak hanya sekadar “melayani” saja, melainkan ada aspek-aspek penting yang menjadi dasar (penopang) dalam pelayanan. Pada umumnya, melayani adalah sebuah gambaran kegiatan yang rohani (dilakukan oleh orang-orang yang dipakai Tuhan), dan kegiatan yang dianggap rohani (dilakukan oleh orang-orang yang merasa dipakai Tuhan). Secara substansial dan empirikal, keduanya jelas berbeda.

Orang-orang yang melayani Tuhan memiliki orientasi pelayanan yang sesuai dengan kehendak Allah. Orientasi tersebut adalah wujud keterpanggilan mereka untuk melayani dalam segala situasi, dan merupakan wujud kesadaran iman dan tanggung jawab mereka kepada Allah yang telah memanggil dan memakai mereka sebagai alat di tangan-Nya. Allah adalah guru terbaik dan suprematif. Allah mengajar kita untuk menghasilkan buah-buah kebenaran, kasih, dan kehidupan.

Mereka yang Setia adalah Mereka yang Mengenal Allah

Mengenal Allah tampak dalam tindakan, bukan hanya sekadar pemikiran. Ada yang menghasilkan pemikiran tentang Allah, tetapi belum tentu ia mengenal Allah. Mengenal Allah berarti memiliki pengalaman bersama-Nya. Menurut Lamb, “Watak Allah dicirikan oleh kasih yang tidak berkesudahan dan selalu setia, penuh rahmat dan kebenaran, kasih dan terang. Jika kita belajar untuk mengenal-Nya, maka kita terpanggil untuk mewujudkan sifat-sifat tersebut, menjalani hidup yang berpadanan dengan panggilan ini, serta hidup sesuai dengan watak Allah” (Lamb, Integritas, 30).

green and brown mountains under white clouds during daytime

Mengenal Allah berarti mewujudkan kasih, kesetiaan, kebenaran Allah, dan terang firman-Nya. Hal-hal itu pula yang akan mewarnai perjalanan kita di jalan Tuhan. Kesetiaan yang tampak dalam pelayanan adalah buah-buah dari komitmen untuk mewujdkan kasih, kesetiaan, kebenaran Allah, dan terang firman-Nya. Kita dapat melakukan itu semua karena kita dipanggil untuk merealisasikannya. Lamb menegaskan, “Kita mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan kristiani ketika kita merasa yakin siapa yang telah memanggil kita, dan apa tugas yang dipercayakan-Nya kepada kita. Kita telah melihat bahwa, dengan kemurahan Allah, Ia memperlengkapi kita untuk pelayanan dan mengundang kita agar kita hidup berpadanan dengan panggilan-Nya yang kudus (Lamb, Integritas, 235).

Mereka yang setia adalah mereka yang mengenal Allah dengan baik. Pengenalan akan Allah membawa orang percaya ke dalam kehidupan dan mengajarinya untuk setia, sabar, dan berserah sepenuhnya kepada kehendak Allah. Allah telah menjadikan diri-Nya dikenal manusia.

Bahkan lebih lagi, Allah memperkenalkan diri-Nya melalui Yesus Kristus. Sebagaimana Allah dikenal dari Firman-Nya, kini Ia memperlihatkan diri-Nya dalam wujud manusia, “Logos [Firman] menjadi daging”—tanda kemahakuasaan-Nya yang suprematif—di mana Allah menjadi lebih dekat, lebih akrab, diam di antara manusia (Yoh. 1:14). Allah menunjukkan kualitas penyataan diri-Nya untuk mengarahkan manusia pada jalan yang dikehendaki-Nya. Kita yang dipanggil Allah untuk melayani, haruslah setia dan tetap di jalan-Nya.

Dua kisah yang saya tuliskan di awal tulisan ini adalah bukti bahwa John G. Paton, dan istri dari Graham Staines benar-benar mengenal siapa yang mereka percayai. Mengenal Allah menjadikan kita kuat, setia, dan tabah menjalani kehidupan.

Mereka yang Setia adalah Mereka yang Giat Melayani

Teks yang saya rujuk untuk menjadi dasar dari bagian ini adalah 1 Korintus 15. Dalam pasal tersebut, tampak bahwa Rasul Paulus menjelaskan mengenai “kebangkitan”. Berdasarkan konteks, Paulus menjelaskan tiga bagian mengenai kebangkitan yang bersifat doktrinal yaitu: kebangkitan Yesus (1 Kor. 15:1-11), kebangkitan manusia (orang percaya; 1 Kor. 15:12-34), dan kebangkitan tubuh (1 Kor. 15:35-57).

Setelah menjelaskan hal-hal yang bersifat doktrinal, maka pada teks 1 Korintus 15:58, Rasul Paulus menyimpulkan dengan pernyataan yang bersifat aplikatif: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Baik “doktrinal” (dasar iman) maupun “aplikatif” (giat melayani Tuhan), keduanya haruslah tertuang dalam totalitas kehidupan dan pelayanan.

Giat melayani Tuhan bukan hanya sekadar terlihat melayani tetapi sungguh-sungguh memperlihatkan substansi pelayanan. Jika kita hanya sekadar terlihat melayani, maka kita akan berpura-pura sibuk melayani padahal isi dan tujuan pelayanannya tidak jelas. Apa saja diperbuat supaya terlihat sibuk melayani; asal terlihat sibuk, pasti dianggap [telah] melayani. Ini jelas pemahaman yang keliru.

Memperlihatkan substansi pelayanan—giat melayani Tuhan—secara faktual memiliki beberapa hal penting sebagai berikut:

Pertama, setiap jenis pelayanan harus menerapkan hal-hal yang bersifat doktrinal untuk menegaskan posisi iman Kristen dibanding ‘iman-iman’ [agama] lainnya. Di sini kita dapat menerapkan pemahaman kita mengenai kebangkitan Kristus, atau yang lainnya sesuai konteks.

Kedua, setiap jenis pelayanan harus menerapkan kemampuan untuk berdiri teguh dan tidak goyah. Pelayanan yang kita kerjakan bukanlah tanpa tantangan dan hambatan. Meski demikian, sikap berdiri teguh dan tidak goyah tetap dilakukan. Ini adalah wujud dari keterpanggilan untuk siap dan giat melayani Tuhan dalam segala hal dan situasi.

Ketiga, setiap jenis pelayanan harus menerapkan kesadaran dan tanggung jawab iman. Kita harus sadar bahwa Tuhan telah memanggil dan memakai kita sebagai alat di tangan-Nya; melalui pelayanan tanggung jawab iman haruslah terwujud dan termaknai.

Keempat, setiap jenis pelayanan harus menerapkan komitmen kepada Tuhan untuk tetap giat melayani, berjerih lelah, dan tetap setia di jalan-Nya.

people hiking on green mountain during daytime

Butir-Butir Permenungan

Kualitas kehidupan Kristen memperlihatkan sikap hidup untuk saling mengasihi; mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Ketika mengasihi Tuhan menjadi beres, maka sikap mengasihi sesama menjadi beres pula. Mengasihi Tuhan adalah pantulan dari mengasihi sesama. Kita teringat apa yang dikatakan Yesus: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-38).

Kualitas berikutnya adalah menunjukkan sikap hidup untuk saling mengampuni, saling mendoakan, hidup dalam ketabahan (berserah kepada kehendak Tuhan), dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Mereka yang setia di jalan Tuhan tidak akan terhindar dari kualitas-kualitas tersebut, tetapi justru mereka menunjukkannya dalam totalitas hidup mereka.

Kebenaran Allah telah menguasai kita tatkala kita hidup bagi Allah. Kebenaran Allah menjadikan kita merdeka dari dosa, bebas dari kekuatiran akan hidup. Benar apa yang diungkapkan Lamb, bahwa “Kebenaran Alkitab memerdekakan kita, memampukan kita untuk menjalani kehidupan sebagaimana yang seharusnya dalam setiap bidang kehidupan kita. Komitmen kita untuk terus mempelajari, menerapkan dan menjalani kehidupan yang mencerminkan kebenaran merupakan satu-satunya resep untuk pembaruan akal budi dan tingkah laku yang diubahkan” (Lamb, Integritas, 236). Allah tidak hanya memerdekakan, tetapi juga menjanjikan kehidupan yang berbahagia di dalam Kerajaan-Nya.

Dari segala yang kita dapatkan dari Tuhan, kita menyadari bahwa kita dimampukan oleh-Nya untuk hidup bagi-Nya dan setia di jalan-Nya. Kita tahu bahwa mereka yang setia adalah anak-anak Allah, mereka yang setia adalah mereka yang mengenal Allah, dan mereka yang setia adalah mereka yang giat melayani-Nya. Ini sangat mengagumkan.

white and brown mountains near lake during daytime

Hanya mereka yang setia, yang akan menerima mahkota kehidupan. Oleh sebab itu: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Jika Allah memanggil kita untuk melayani, Ia menguatkan kita dengan janji-janji-Nya. Ia tidak hanya memberi perintah untuk hidup dan setia di jalan-Nya, tetapi juga menjanjikan sesuatu yang berkualitas. Dengan demikian, bersama J. Knox Chamblin kita mengakui bahwa “Janji Allah harmonis dengan perintah-Nya.

Soli Deo Gloria. Salam Bae….

Artikel ini telah dimuat di buku “TETAP SETIA DI JALAN TUHAN: Kumpulan Tulisan dalam Rangka Mensyukuri Ulang Tahun Pdt. Dr. Edison Djama, M.Pd.K. ke-70”. Editor: Stenly R. Paparang, Pangeran Manurung, Yosia Belo dan Lewi N. Bora. Cet. 1 – Surabaya: Bible Culture Study, 2020. 14.8 x 23 cm. ISBN 978-623-91188-4-6.

Sumber gambar: Unsplash

KURVA TEOLOGI: Bagaimana Menyatukan Fragmen

Pada ruang [berpikir] teologi, setiap orang merasa tertarik mencetuskan – jika bukan karena menawarkan doktrin resmi Gereja lokalnya – ide-ide teologi yang di dalamnya mencakup beberapa fragmen, seperti: ide sosio-ekonomi, ide doktrin mayor dan minor, ide dendam sejarah, ide konstruksi sosio-politik, ide tentang identitas internal, ide sentimen denominasi, dan ide hermeneutik-selektif, hingga pada akhirnya, semua itu menjadi suatu “kurva teologi”, entah kurva yang menunjukkan atau menggambarkan perkembangan di mana hal itu dipengaruhi oleh suatu konteks atau keadaan.

Sementara itu, hampir semua orang yang tertarik dengan ide teologi untuk menawarkan “iman denominasionalnya” kepada publik dengan ramuan tertentu – sebagai sebuah hidangan yang dapat disantap oleh siapa saja yang tertarik menyantapnya. Kenyataannya, kita terbentur dengan “konteks dulu” dan “konteks kini”. Soal bagaimana kita membaca dan menyatukan dua kurva tersebut, itu menjadi catatan penting, karena sejatinya guratan-guratan pena logika akan membuat hidangan teologi menjadi menarik, berkilau, jika tidak dikatakan sebagai racun yang membius orang-orang tak menempuh sekolah teologi.

Berteologi itu sikap, sedangkan isi teologi adalah iman dan pemahaman kita. Berteologi bisa dilakukan “tanpa celana” – artinya kita dengan leluasa menyampaikan aspirasi, racikan teologi, cetusan pemikiran dan perenungan, atau lebih memamerkan identitas akademik ketimbang kekuatan narasi teologi yang solid dan komprehensif. Menyampaikan isi teologi haruslah bercelana karena kita membungkus “kelamin teologi kita” – sebagai identitas dan harga diri yang patut dijaga dan dilestarikan”, karena setiap mazhab atau denominasi wajib hukumnya untuk mempertaruhkan pena logikanya untuk menyatakan kepiawaiannya dalam berselancar di atas ombak zaman.

Luapan-luapan emosi dalam berteologi adalah wajar tatkala kita hendak memiliki ide orisinal atau ide warisan teologi masa lampau. Kita pun wajib menyatakan semuanya dalam konteks berteologi sebagai sikap kedewasaan. Namun, sejatinya, isi teologi akan menjadi senjata pamungkas sebagai bentuk apologetika ataupun sebagai senjata perlawanan terhadap serangan musuh.

Kurva teologi yang selama ini dibangun dan diciptakan perlu disatukan fragmen-fragmennya. Tawaran berteologi dan isi teologi tetap menjadi “wajah denominasi” agar khalayak tahu bahwa kita sedang beranjak dari satu titik ke titik yang lain, sehingga menjadi suatu kurva. Fragmen mayor-minor dari isi teologi denominasi kita perlu disuarakan sejauh yang dapat disuarakan – secara masiv, konstruktif, dan dinamis.

Misi kontekstual pun membutuhkan sikap berteologi dan isi teologi. Namun, pada akhirnya, benturan-benturan doktrinal minor-mayor antar denominasi harus segera diselesaikan secara “narasi historikal-komprehensif”. Kedewasaan dalam berteologi hanya membutuhkan konsistensi menjaga “kelamin teologi kita sendiri” dan merawatnya – bukan supaya kelamin teologi itu menjadi besar, melainkan supaya tetap pada posisinya, tanpa ragi, tanpa aksi tipu-tipu, dan tanpa negosiasi yang menghasilkan konspirasi.

Kita sedang membentuk KURVA TEOLOGI. Kurva itu sendiri terdiri atas fragmen-fragmen teologi minor-mayor. Tugas kita adalah bagaiman menyatukan fragmen-fragmen tersebut. Penyatuan membutuhkan semangat alkitabiah dan imaniah.

Gelombang-gelombang pemikiran kita seyogianya membuat perahu-perahu kaum awam menjadi nyaman dan santai saat menikmati dan melewati gelombang-gelombang tersebut, bukan membuat perahu-perahu itu bocor dan kemudian menenggelamkan mereka.

Campuran pemikiran teologi dengan asumsi yang tak berdasar seringkali membuat jembatan relasi menjadi rusak. Bahkan campuran pemikiran teologi yang dianggap berbasis “biblika” pun bukanlah sesuatu yang kita banggakan sejauh hal itu masih membutuhkan pendalaman dan pemahaman yang komprehensif.

Kesadaran berteologi sangatlah dibutuhkan di zaman ini. Akan tetapi kesadaran tersebut tidak cukup. Diperlukan keberanian mewartakan “isi teologi” yang adalah “kelamin teologi kita sendiri” sebagai prestise (harga diri); itulah yang menjadikan kita dihargai dan dihormati.

Pada akhirnya, kurva teologi adalah proses keberimanan kita yang akan menavigasikan harapan, relasi, dan kepedulian kita kepada sesama. Kita perlu menyatukan fragmen-fragmennya dan membentuk suatu kehidupan yang layak di hadapan Tuhan agar kita menjadi berkat, menjadi saksi, dan menjadi pelaku-pelaku firman, kini, besok, dan seterusnya. Selamat berteologi dan menyampaikan isi teologi yang solid dan komprehensif.

Salam Bae…..

ANUGERAH TUHAN BAGI KITA

pathway between trees

Kita telah menapaki hari pertama di tahun 2022. Kita hidup dan bergerak di hari pertama, itu adalah anugerah Tuhan. Kita yang telah menaburkan kebaikan di akhir tahun 2021 kiranya akan dilanjutkan di hari pertama 2022, dan seterusnya. Sementara itu mereka yang menyeka mulutnya setelah menikmati dosa di akhir tahun 2021 dan awal tahun 2022, merasa bahwa hidup itu nikmat dan menganggap segala dosa yang dilakukannya tidak terlihat oleh Sang Khalik. Tak mengapa dianggap demikian, akan tetapi, tinggal menunggu waktu saja, bencana dan hukuman akan hinggap menampar para pelaku dosa.

Dosa mengabaikan anugerah Allah, dan menghancurkan diri. Kita perlu menyadari bahwa anugerah itu sangatlah berharga, di atas segalanya. Jalan hidup yang kita tempuh perlu dibarengi dengan hati yang bersyukur atas segala kebaikan Tuhan.

Segala sesuatu yang Allah kerjakan mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Tahun 2022 adalah anugerah dari Tuhan. Hadirkanlah segala kemurahan di dalam hati kita. Jangan biarkan dosa merajai hati dan hidup kita; jangan biarkan dosa dipelihara dan disimpan sebagai kekasih gelap. Tuhan tidak menghendaki demikian, malahan Ia membenci hal itu.

empty concrete road covered surrounded by tall tress with sun rays

Yang Tuhan kehendaki adalah kita hidup bagi Dia, melayani dan berkarya dengan sebaik mungkin. Ia memberkati orang-orang yang bekerja keras, jujur, dan hidup dalam kebenaran-Nya. Tapak-tapak hidup haruslah meninggalkan warisan berharga. Dengan perkataan lain, kita meninggalkan teladan yang baik.

Adakah kita berpikir demikian? Semoga! Harapan yang dapat kita raih tentu didahului dengan kebenaran yang kita ikuti. Yesus Kristus adalah kebenaran kita. Ia datang ke dunia supaya kita dapat mengenal Allah lebih dekat, kita dapat mengimani bahwa apa yang dikatakan-Nya adalah benar, kita mengakui Dia, sebagai Tuhan dan Juruselamat yang Ajaib, dan pada akhirnya, kita menyembah Dia.

Tahun 2022 dapat kiranya berkat bagi kita, baik dalam pelayanan, keluarga, pekerjaan, dan lainnya. Kita melakukan itu semua karena diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bekerja, menjadi berkat. Hari ini kita mendapat kesempatan untuk memikirkan apa saja yang akan kita lakukan di hari esok, dan seterusnya. Kita pun tahu bahwa perjuangan untuk mewujudkan harapan tidaklah mudah. Tantangan demi tantangan harus siap kita hadapi.

forest with yellow sunlight

Pergolakan dan permulan bisa menjadi bagian hidup kita. Yang terpenting adalah kita tetap mengakui dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Kekuatiran dapat saja menghantui kita, tetapi seperti Rasul Petrus tegaskan: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7). ada jaminan dari Tuhan. Jika demikian, kekuatiran janganlah mengecilkan iman kita, mengecilkan usaha dan kerja keras kita.

Pencapaian hidup tergantung dari bagaimana kita bersikap dan memutuskannya. Keputusan-keputusan penting sangat menentukan sejauh mana kita bergerak dan mencapai harapan di masa depan. Ketika kita meyakini bahwa Tuhan menjamin hidup kita, apalagi yang kita ragukan dan cemaskan? Apalagi yang harus kita takutkan? Ia bersama kita, Ia adalah “Imanuel”.

eagle-eye view photography of brown pathway

Kebaikan demi kebaikan kita rasakan, dan Tuhan masih tetap menyertai kita. Hidup yang kita jalani tak pernah sepi dari kebaikan dan kasih-Nya. Kasih dan kebaikan-Nya tak terukur dan tak terbatas. Rasul Paulus menulis: “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Efesus 3:18).

Marilah kita berkomitmen di hadapan Tuhan untuk berkarya dan melayani Dia. Segala kelebihan, talenta, dan karunia, kita persembahkan hanya untuk Dia saja. Jangan menjadi sombong dengan apa yang kita miliki. Kita tahu, waktu mati, kita tak membawanya, kecuali perbuatan-perbuatan baik kita (bdk. Wahyu 14:13).

Tuhan mengasihi kita. Ia menghendaki agar kita dapat menikmati kasih dan kebaikan-Nya di sepanjang tahun ini. Sebagai balasannya, kita harus menyenangkan hati-Nya, memuliakan nama-Nya di sepanjang hidup kita. Anugerah-Nya melimpah dan berkat-Nya tercurah bagi mereka yang setia dan mengasihi-Nya.

pathway between of brown leafed trees

Acapkali kita tergiur dengan kemewahan, keindahan, dan kenikmatan “dunia”. acapkali kita melupakan segala kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita hanya karena kita telah mendapatkan sesuatu. Kenikmatan dunia membahayakan hidup kita. Berapa banyak yang telah disesatkannya? Berapa banyak yang berdosa dibuatnya, dan dibunuhnya? Sampai di sini saya teringat dengan pesan Rasul Yohanes, yang berbunyi demikian:

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2:15-17).

Mengasihi Tuhan berarti membenci segala dosa yang disediakan dunia seperti yang dinyatakan oleh Rasul Yohanes (keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup). “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, dan tuliskanlah itu pada loh hatimu” (Amsal 3:3). Pernyataan penulis Amsal tersebut mengindikasikan bahwa kasih dan setia akan menjaga setiap orang yang percaya kepada Allah dari berbagai dosa-dosa. Tidak hanya itu, mereka akan mendapatkan kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia (Amsal 3:4).

forest trail surrounded by trees

Kepada kita telah tersedia jalan-jalan. Kita memilih dan menentukan jalan mana yang harus kita lalui. Jika kuatir tak dapat memilih jalan yang terbaik, serahkanlah pada Tuhan. Ketika kita ragu akan pilihan itu, mintalah hikmat dari Tuhan agar kita dapat memilih jalan yang terbaik. “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN” (Amsal 16:1), “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati” (Amsal 16:2).

Jangan bertindak sendiri: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5). Ingat pula: “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu” (Amsal 16:3), sebab “hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9).

black concrete road surrounded by trees during daytime

Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita memilih yang terbaik, dan bersama Tuhan pula kita dapat melakukan perkara-perkara yang besar yang tak pernah kita duga sebelumnya. Semoga di tahun 2022 banyak hal yang Tuhan nyatakan kepada kita, untuk kebaikan kita, untuk pertumbuhan iman kita.

Ingatlah: Jangan melupakan Tuhan dalam segala hal. “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:6).

SELAMAT TAHUN BARU 2022. TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/3Kv48NS4WUU
  2. https://unsplash.com/photos/74TufExdP3Y
  3. https://unsplash.com/photos/OCXR3-aU4Ss

MELIHAT MATAHARI

“Waktu” adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Menjalani kehidupan di dunia ini tentu ada dalam lintasan waktu; kita telah menikmati “waktu” itu dengan berbagai latar belakang dan alasan.

photo of a body of water and sunrise

Frasa “melihat matahari” menandakan sebuah kehidupan yang masih dijalani setiap orang. Melihat matahari identik dengan sebuah kondisi di mana manusia masih menikmati kehidupan meski terdapat liku-liku, problem, perjuangan, suka-duka, gumul, kesedihan, kekecewaan, tangisan, dan kehancuran. Meski demikian, segala sesuatu yang datang pada kita (yang dialami, dirasakan, dinikmati) tak menghilangkan semangat untuk hidup dan berjuang untuk mempertahankannya. Dibutuhkan hikmat untuk bagaimana menjalani kehidupan ini.

white leaf plants covered with tall trees

Pengkhotbah 7:11 menyatakan, “Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.” Ketika seseorang memiliki warisan tetapi tidak memiliki hikmat atau tidak berhikmat untuk mengelolanya (menikmatinya), maka warisan itu menjadi sesuatu yang terbuang percuma. Orang-orang yang “melihat matahari” harus dengan penuh hikmat menjalani kehidupannya.

Mungkin apa yang telah kita perbuat di sepanjang hidup merupakan serangkaian perbuatan yang berhikmat. Jika demikian, pertahankanlah, kembangkanlah, dan bagikanlah kepada yang lain. Jika apa yang telah diperbuat kurang berhikmat, perbaikilah, dan mintalah hikmat kepada Sang Hikmat, agar kehidupan menjadi lebih baik, bermanfaat, dan menjadi berkat bagi sesama.

photography of sun glaring through the hole of finger

Kepada kita diberikan kesempatan yang sama, waktu dan hidup yang sama, meski apa yang kita miliki berbeda. Tetapi sekalipun berbeda, hikmatlah yang menjadikan kita bersyukur atas semuanya itu. Yesus pernah berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26; bdk. Markus 8:36)

Hikmat sangat dibutuhkan. Bahkan Pengkhotbah menempatkan hikmat sama baiknya dengan warisan. Apa yang kita wariskan dalam hidup kita? Menurut saya, “hikmat”. Hikmat seperti apa yang diwariskan? Hikmat yang dipakai untuk menikmati, menjalani, menjaga, mempertahankan, mengembangkan, mempertanggung jawabkan kehidupan yang Tuhan berikan. Hidup sudah diberi. Tinggal bagaimana kita memaknainya sebagai sebuah anugerah dan kemurahan Tuhan.

Kita telah menerima banyak hal dari Tuhan. Rencana demi rencana mungkin telah kita pikirkan untuk direalisasikan. Lalu, bagaimana kita mencapainya dan mewujudkannya? Sekali lagi: hikmat Tuhanlah yang akan menjadi penuntun, pengarah, bagaimana kita mencapai dan mewujudkan rencana-rencana itu.

clouds and sun during sunset

Pemaknaan atas hidup merupakan tanggung jawab dan kesadaran setiap orang yang masih hidup. Kita semua punya tanggung jawab atas hidup yang dijalani. Soal bagaimana nantinya bentuk kehidupan kita, dan apa yang dihasilkan, bergantung pada tanggung jawab kita masing-masing. Kita semua memiliki kesadaran atas hidup ini. Soal bagaimana nantinya kita jalani dan mempertahankannya, bergantung pada kesadaran.

Antara tanggung jawab dan kesadaran diri terhadap relasi yang sangat koheren, tak bisa dipisahkan. Menjalani hari demi hari adalah tanggung jawab dan kesadaran kita. Kita yang masih “MELIHAT MATAHARI” pasti memiliki tanggung jawab dan kesadaran.

Ada sederet tanggung jawab yang harus dikerjakan dan penuhi. Kesadaran akan tanggung jawab ini mendorong kita semua untuk berhati-hati dan berhikmat dalam melakukannya. Ketika kita memiliki hikmat—kata Pengkhotbah—itu adalah suatu keuntungan, ya, keuntungan bagi kita yang masih “MELIHAT MATAHARI.”

five birds flying on the sea

Dalam terang doktrin Kristen, Yesus Kristus menempatkan umat-Nya dalam dua situasi yaitu situasi sekarang, di dunia, dan situasi kemudian, di dalam Kerajaan-Nya. Sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk hidup bagi Kristus dan tinggal di dalam firman-Nya.

Ada banyak tantangan dan hambatan; tak jarang caci maki dan intimidasi, di samping ancaman dan teriakan “kafir” dari mereka yang merasa suci. Dengan modal secuil dan fragmentaris, mereka suka menghakimi menurut kebodohan mereka tentang iman Kristen padahal itu adalah “kebodohan yang dipelihara” dan “kebodohan yang memuaskan kebodohan mereka”—sebuah PARALOGISME yang nyata.

Orang Kristen perlu dan harus menjalani hidup dengan penuh hikmat yang Tuhan berikan. Ia akan berhadapan dengan berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Orang Kristen yang masih “MELIHAT MATAHARI” memiliki tanggung jawab dan kesadaran iman.

sunset over the horizon

Hari-hari yang baru perlu menjadi lahan di mana iman itu ditaburkan dalam damai sejahtera. Inilah tanggung jawab kita yang ‘melihat matahari’. Di bawah matahari kita menabur iman dan menegaskan bahwa Tuhan Yesus begitu mengasihi orang-orang berdosa dan menebusnya. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi umat-Nya (Yoh. 10:11; bdk. Mat. 1:21).

Mengikut Yesus bukan tanpa risiko. Pengikut-Nya akan dibenci oleh dunia karena dunia terlebih dahulu membenci Yesus. Bahkan, ada ancaman yang berat yaitu “kematian”. Meski demikian, sebagaimana telah saya jelaskan di atas bahwa Yesus Kristus menempatkan umat-Nya dalam dua situasi yaitu situasi sekarang, di dunia, dan situasi kemudian, di dalam Kerajaan-Nya. Pada situasi sekarang, di dunia, orang-orang percaya akan mengalami hambatan, tantangan, cacian, bahkan kematian. Mengenai hal ini, Yesus telah memperingatkan sekaligus memberikan jaminan dan penguatan penghiburan:

mountain range under golden hour

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 9:24)

“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 17:33)

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yohanes 12:25)

“Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Markus 8:35)

view of mountain being shine with sunlight

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 10:39)

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:25)

Semua pengikut Yesus Kristus yang masih ‘MELIHAT MATAHARI’ memiliki tanggung jawab kesadaran untuk bersaksi bagi-Nya meskipun ada ancaman yang akan dihadapi. Meskipun demikian, dari teks-teks di atas, tampak bahwa Yesus tidak meninggalkan dan membiarkan kita berjuang sendiri tanpa hasil, melainkan justru Dia memberikan jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang setia kepada-Nya.

mountain pass during sunrise

Tuhan telah memberikan “waktu” yang cukup bagi kita untuk menyatakan kasih, kemurahan, dan pengampunan Tuhan bagi mereka yang membenci kita. Melihat matahari berarti kita berada dalam “lintasan waktu” yang Tuhan buat, yang dengannya kita menjalani semua kondisi hidup.

Keyakinan akan kuasa dan kasih Tuhan tentu tidak akan mengecilkan tanggung jawab dan kesadaran kita untuk menjadi saksi-Nya. Hidup kita ada dalam tangan Tuhan; Ia memberikan jaminan yang luar biasa. Perjuangan melawan ketidakbenaran, kepalsuan dan kebohongan adalah tugas kita di sepanjang waktu, di sepanjang tahun-tahun hidup kita.

Hikmat adalah bagian kita untuk menjalani hidup. Tak lupa, di dalam hikmat terkandung tanggung jawab dan kesadaran iman yang seyogianya diwujudkan dalam kehidupan nyata. Orang-orang yang “melihat matahari” harus dengan penuh hikmat menjalani kehidupan ini, dan itu adalah “kita.” Hikmat Tuhanlah yang akan menjadi penuntun, pengarah, bagaimana kita mencapai dan mewujudkan setiap rencana.

sun over the sea during sunset

Jadilah orang-orang yang kuat dalam iman kepada Kristus Yesus dan menjadi pewarta Injil-Nya, menjadi saksi yang setia. Itulah hikmat yang menghasilkan tanggung jawab dan kesadaran iman. Ketika kita mendapati diri kita “MELIHAT MATAHARI” hingga saat ini, maka hal itu dipandang sebagai sebuah ANUGERAH dan KEMURAHAN Tuhan yang besar yang menuntut kita bertanggung jawab, menyadari betapa kasih-Nya serta kuasa-Nya telah membawa kehidupan kita menjadi seperti sekarang ini.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/xP_AGmeEa6s
  2. https://unsplash.com/s/photos/sun
  3. https://unsplash.com/photos/UweNcthlmDc
  4. https://unsplash.com/photos/A4iL43vunlY
  5. https://unsplash.com/photos/o-zOatT4kQw

TAK BERKESUDAHAN KASIH SETIA TUHAN

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. (Ratapan 3:22-25)

“Selamat Tinggal Tahun Baru 2021 dan Selamat Datang Tahun Baru 2022”

Mungkin ada yang mengira bahwa saya keliru menulis kalimat di atas. Mungkin saya dianggap keliru ketika menulis frasa “SELAMAT TINGGAL TAHUN BARU 2021”. Mengapa tidak disebutkan “Selamat Tinggal Tahun yang Lama 2021?” Jika dipahami secara logis, mengatakan atau menyebutkan “Selamat Tinggal Tahun yang Lama 2021” adalah “KELIRU”. Mengapa? Sebab tahun 2021 tidak pernah disebutkan sebagai tahun yang lama karena sejatinya 2021 adalah tahun baru.

Mungkin pembaca ingat ketika memasuki tahun 2021, pasti Anda mengatakan “SELAMAT TAHUN BARU 2021” bukan? Yang ada itu “Tahun Baru” dan bukan “Tanggal Baru”. Jika 2021 disebut dengan Tahun Baru, maka mulai tanggal 1 Januari sampai 31 Desember 2021 adalah jumlah keseluruhan dalam satu tahun yang baru.

Mungkin orang mengira bahwa yang disebut tahun baru adalah hanya pada tanggal “1 JANUARI 2018” saja. Tetapi itu keliru. Justru di sepanjang tahun 2021, semuanya masuk dalam kategori tahun yang baru. Demikianlah sedikit celoteh dari saya.

Tulisan singkat ini hendak mengajar kita bahwa “kasih setia Tuhan itu selalu baru tiap pagi”—sebagaimana yang diungkapkan oleh penulis kitab Ratapan: “Tak  berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habis rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23). Tahun-tahun hidup yang kita lalui dan jalani bahkan nikmati merupakan kasih karunia Tuhan yang luar biasa.

Perjalanan yang kita tempuh di tahun 2021 berakhir di tanggal 31 Desember 2021. Akan tetapi, kasih setia Tuhan tak akan berakhir di tanggal tersebut. Kita tetap merasakan dan menikmati kebahagiaan yang Tuhan berikan ketika kita setia dan tetap pada jalan yang Ia kehendaki.

Menetapkan langkah kita pada jalur (jalan) kehendak Tuhan tidak akan terpengaruh dengan tahun-tahun yang kita lewati (tahun demi tahun). Malahan kasih setia Tuhan dan rahmat-Nya selalu baru tiap pagi. Mereka yang dekat dan setia kepada Tuhan tentu tahu apa makna dari kasih setia Tuhan karena mereka telah merasakannya.

Kesadaran akan kehidupan sebagai anugerah Tuhan, mendorong kita untuk bersikap, berpikir, dan berkata selaras dengan kehendak-Nya. Tak ada tempat dalam hidup orang percaya untuk menyimpan dendam, amarah, iri hati, dengki, kebencian, dan kejahatan, karena hidup dan hati kita telah diubahkan Tuhan agar dapat menyimpan segala sesuatu yang baik menurut kehendak-Nya.

firework display during night time

Pertanyaannya: apakah di sepanjang tahun baru 2021 kita lebih sibuk mengurusi kehidupan orang lain ataukah mengurusi diri kita sendiri? Apakah kita lebih banyak mengurusi hal-hal yang penting atau sebaliknya, mengurusi hal-hal yang tidak penting? Apakah kita telah banyak menyenangkan orang lain atau menyenangkan diri sendiri secara egoistis? Apakah kita telah menyatakan kebaikan kepada orang-orang terdekat kita (Opa, Oma, Papa, Mama, Kakak, Adik, Om, Tante, dan lainnya) ataukah kita justru mengabaikan mereka? Apakah kita telah bersikap melayani Tuhan dengan sepatutnya ataukah kita melayani diri kita sendiri sebagai bentuk kesombongan diri?

Kesadaran untuk bersikap, haruslah tetap dipertahankan jika itu mencerminkan sikap yang selaras dengan firman-Nya. Sikap itu harus menjadi kekuatan identitas kita meskipun tantangan dan hambatan kadang datang menghambatnya atau mungkin ingin membuat kita melepaskannya. Peganglah apa yang baik dan lakukanlah dalam terang firman-Nya.

Kesadaran untuk berpikir tentang hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan, sukacita, berkat, dan kepuasan, haruslah ditandai dengan bagaimana kita memikirkan bahwa tanpa Tuhan kita dapat tersesat dalam merumuskan berbagai pemikiran. Mungkin kita mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi ketika itu dipakai untuk memuaskan hawa nafsu kita, ego kita, maka Tuhan disingkirkan dengan sendirinya.

Kita tidak boleh melupakan bahwa memikirkan bagaimana selama hidup kita harus menyenangkan dan memuliakan Tuhan, akan berdampak pada totalitas sikap, perilaku, dan perkataan kita. Apa yang pernah kita pikirkan dan terealisasi di tahun 2021, patut disyukuri. Tetaplah berdoa dan berharap kepada Tuhan agar di tahun 2022 semua harapan dan karya kita dapat terealisasi dengan sempurna, nama Tuhan dipuji dan dimuliakan.

text

Kesadaran untuk berkata, haruslah mencerminkan identitas kita. Orang dapat menilai kita dari sikap dan perkataan. Keduanya adalah “terang identitas” yang dapat dilihat secara nyata. Apa yang pernah kita katakan dalam bentuk janji, semoga itu dapat ditepati. Jika di tahun 2021 belum ditepati, Tuhan masih memberikan kelanjutan di tahun 2022.

Hendaklah perkataan-perkataan kita sifatnya menguatkan, membangun, menghibur, mencerahkan, dan memberi pengertian terutama tentang personalitas Tuhan dan karya-karya-Nya bagi kita. Ingatlah nasihat Rasul Paulus: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk ‘membangun’, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Kita harus meyakini dan mensyukuri bahwa “kasih setia Tuhan itu selalu baru tiap pagi”. Jangan ragu mengharapkan kasih setia Tuhan. Tetap berdoa dan bersandar pada-Nya; meski gumul dan kemeleut hidup begitu mengganggu, yakinlah bahwa Tuhan Yesus akan menguatkan dan menghibur kita senantiasa.

Ingatlah: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habis rahmat-Nya”. Jika “tak habis-habis rahmat-Nya” mengapa kita masih ragu akan rahmat-Nya? Rahmat-Nya tersedia bagi kita. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Tuhan mengasihi kita. Kasih-Nya tetap sama, tak berubah bagi mereka yang berharap pada-Nya.

Apa yang tetap kita pertahankan di tahun 2022 sebagai warisan dari tahun 2021? Saya menyuguhkan nasihat Rasul Paulus dalam dua suratnya yaitu surat kepada Jemaat di Efesus dan surat kepada Jemaat di Kolose:

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32).

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendah-hatian, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabilah seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:12-13).

Segala yang baik harus kita pegang dan menjadi terang bagi hidup kita, di mana orang-orang melihat segala perbuatan kita yang baik itu dan memuliakan Bapa di surga. Sungguh besar kesetiaan Tuhan. Hari demi hari, tahun demi tahun, Ia tetap setia menjaga dan memberkati kita. Jika kita harus senantiasa berkata: “TUHAN adalah bagianku”. Dengan demikian, kita senantiasa berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Bukanlah ini adalah ungkapan yang memberikan sukacita bagi kita? Bukanlah sangat membahagiakan ketika kita diberikan jaminan dari Tuhan bahwa Ia akan senantiasa mencurahkan kebaikan dan kemurahan-Nya pada kita yang selalu berharap pada-Nya, berharap akan kasih setia-Nya?

Semoga kasih setia Tuhan – yang tak berkesudahan itu – dan rahmat-Nya menyertai dan membentuk diri dan identitas kita menjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya: menjadi manusia baru yang hidup dalam kekudusan, kasih, dan pengampunan.

SELAMAT TAHUN BARU. SOLI DEO GLORIA

Salam Bae…..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai