Pengakuan iman kita adalah bahwa “Tuhan senantiasa melindungi dan memberikan kekuatan dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini”. Pengakuan itu pula memberi kita sebuah harapan bahwa ada Tuhan yang menyertai, menopang, dan menolong kita dalam segala situasi, baik suka maupun duka, dalam tekanan ataupun dalam pergumulan yang berat sekalipun. Hal inilah yang kita lihat dalam kisah Rut berikut ini.
Klausa “di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung” adalah pernyataan iman Boas kepada Rut, orang Moab, yang mengalami pergumulan hidup yang berat, di mana suaminya, Mahlon (4:10), mati di tanah Moab, dan kemudian Rut dengan keyakinannya mengikuti Naomi meski ia disuruh kembali kepada orangtuanya oleh Naomi, ketika Naomi telah menjadi janda dan kedua putranya meninggal tanpa ahli waris. Proses kehidupan Rut memang menyedihkan, tetapi tak sesedih Naomi. Meski demikian, Naomi mengakui akan keteguhan Rut untuk mengikutinya ke mana pun Naomi pergi.
Pilihan Rut untuk mengikuti mertuanya (Naomi) adalah keputusan yang berani; meski mungkin Rut akan lebih nyaman bersama orangtuanya di tanah Moab, bahkan dapat menikmati kehidupan yang lebih bahagia, tetapi Rut memilih untuk menghargai dan mengormati mertuanya yang sudah tua. Ketegaran Naomilah yang menjadikan mengapa Rut begitu yakin mengikuti Naomi (suaminya mati, dua anaknya juga mati, tanpa ahli waris). Belajar dari orang yang begitu tegar dan sabar menghadapi kehidupan, menjadikan karakter dan komitmen Rut sangat kuat, tak tergoyahkan. Tidak hanya karakternya, moralitas Rut juga sangat baik (2:11; 3:11).
Konteks
Naomi memutuskan untuk kembali ke negeri asalnya, Betlehem, dan Rut bertekad mengikutinya. Oleh karena itu, Rut berganti kebangsaan dan ia meninggalkan semua ilahnya, lalu memutuskan hanya menyembah Tuhan (bdk. 1:16). Rut berkeputusan teguh untuk tidak meninggalkan Naomi kemana pun ia pergi.
Rut pergi ke ladang pada musim menuiai untuk memungut bulir-bulir jelai (mungkin semacam gandum; sejenis ercis [tumbuhan kacang-kacangan]) yang tercecer di ladang Boas, orang kaya kerabat (keluarga) Elimelekh. Boas memperhatikan Rut dan melindunginya, sebagai penghargaan atas kesetiannya kepada Naomi. Boas adalah pribadi yang peduli kepada para pekerjanya (para penyabit) (2:4). Kepedulian Boas juga terlihat kepada perhatiannya kepada Rut (2:5-9). Boas mengetahui identitas Rut, kemungkinan besar dari Naomi (bdk. 2:11) yaitu: “segala sesuatu yang dilakukan Rut kepada mertuanya sesudah suaminya mati, kerelaan dan komitmen Rut untuk orangtuanya dari tanah kelahirannya dan pergi kepada bangsa yang dulunya tidak ia kenal.”
Boas kemudian berucap: “TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu; kepadamu dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN.” Boas menilai bahwa Rut tidak salah mempercayai TUHANnya Naomi. Menurut Boas, “di bawah sayap-Nya Rut datang berlindung.” Penilaian ini sangat benar karena kehidupan yang dijalani Rut yang mana Rut belajar banyak hal dari Naomi; kehidupan Naomi begitu menyedihkan (suaminya, Elimelekh mati saat berada di Moab; kira-kira sepuluh tahun kemudian, anak-anak Naomi: Mahlon dan Kilyon, juga mati); dan meski dalam kondisi demikian, TUHAN tetap memelihara dan melindungi Naomi, dan Rut melihat proses kehidupan Naomi.
Memang, Rut telah memilih jalan yang terbaik, meski kesempatan untuk berbahagia sangat terbuka lebar ketika ia berada bersama Naomi di tanah Moab; mungkin Rut lebih baik mengikuti iparnya, Orpa, yang kembali ke tempat asalnya atas perintah Naomi, namun Rut memiliki keyakinan bahwa bersama Naomi ia akan bahagia dan belajar banyak dari pengalaman Naomi. Benarlah apa yang dikatakan Boas, “di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung”. Sayap adalah lambang pemeliharaan dan perlindungan yang diberikan Tuhan kepada mereka yang datang kepada-Nya.
Cerita selanjutnya (pasal 3 dan 4), atas petunjuk Naomi, Rut menjumpai Boas di tempat pengirikan pada malam hari. Ia memohon supaya Boas bertindak sebagai penebus. Menjelang pagi Boas menyuruh Rut kembali kepada Naomi dengan dibekali 6 takar jelai. Boas berjanji, bahwa jika penebus yang paling dekat tidak bersedia menikahi Rut menurut hukum perkawinan levirat, maka ia sendiri akan menikahi Rut (bdk. Im. 25:47-49). Dengan 10 orang tua-tua kota sebagai saksi, Boas mengimbau sanak Naomi untuk menebus tanah milik Elimelekh, yang tidak boleh terjual kepada orang lain yang bukan anggota keluarga mereka (bdk. Im. 25:23). Kepada himbauan ini ditambahkannya kewajiban menikahi Rut sesuai perkawinan Levirat (Rut 4:5). Karena tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut, maka sanak itu menyerahkan haknya kepada Boas. Boas akhirnya menikah dengan Rut, dan melahirkan Obed, yang kemudian menjadi kakek Daud.
Korelasi dengan Konteks Kita
Kalau atas penilaian Boas bahwa “di bawah sayap-Nya Rut datang berlindung”, maka kita juga harus menilai diri kita sendiri—sebagai orang percaya bahwa hanya ““di bawah sayap-Nya kita datang berlindung”; kita datang kepada Allah untuk mendapatkan “pemeliharaan” dan “perlindungan”. Datang kepada Tuhan adalah pilihan terbaik dari semua yang terbaik. Ini pilihan iman yang melihat ke masa depan bahwa Tuhan tak akan meninggalkan kita. Sama seperti Rut yang meyakini bahwa bersama Naomi, ia akan aman karena ia yakin pula bahwa TUHAN yang dipercayai Naomi adalah TUHAN yang hebat, peduli, Pemelihara dan Pelindung.
Ungkapan teologinya adalah: Tuhan membimbing setiap orang, yang percaya kepada-Nya (Rut. 2:12). Ketika percaya, tak ada alasan untuk tidak datang kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan tidak dihalangi oleh batu yang besar yang menutup pintu rumah maupun pintu hati kita; tidak pula dihalangi oleh lautan yang luas; datang kepada Tuhan membutuhkan kerelaan dan kesadaran diri bahwa Tuhan dapat dijumpai di setiap detik, setiap waktu, setiap hari, dan bahkan di setiap nafas kita. Adakah yang melarang kita berjumpa dengan Tuhan di segala tempat? Hati yang keras menjadi penghalang untuk datang kepada Tuhan.
Klausa “di bawah sayap-Nya kita datang berlindung” seyogianya menjadi prinsip dan komitmen iman kita bersama; Tuhan tetap menunggu kita untuk datang berseru kepada-Nya.
Sebagaimana dikatakan di bagian lain di Kitab Suci, bahwa “carilah TUHAN, carilah wajah-Nya selalu; carilah TUHAN, maka kamu akan hidup; carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui dan berserulah kepada-Nya selama Ia dekat” (1 Taw. 16:11; Mzm. 105:4; Am. 5:4, 6; Yes. 55:6).
“Mencari TUHAN” telah dilakukan Rut selama proses hidupnya bersama suaminya, dan mertuanya, bertahun-tahun. Rut telah belajar dari ketegaran dan kerohanian Naomi; ia tahu bahwa ia tidak salah mengikuti Naomi. Kita pun dapat belajar dari Naomi dan Rut, belajar dari kejujuran dan ketulusan Boas, sebab dari merekalah, kita mengetahui ketegaran mengikut TUHAN (Naomi), keyakinan memilih TUHAN (Rut), kerelaan meninggalkan orangtua dan tanah kelahiran (Rut), kesadaran diri atas proses hidup yang dijalani (Naomi), kejujuran dan ketulusan memperlakukan orang lain (Boas), kepedulian terhadap orang lain (Boas), dan objektif dalam menilai orang lain (Boas).
Dengan demikian, bersama Naomi, Rut, dan Boas, kita mengaku bahwa “di bawah sayap-Nya kita datang berlindung”. Keyakinan ini sekaligus menjadi percakapan kita setiap hari, menjadi kesaksian kita bagi orang lain, menjadi doa dan harapan kita setiap waktu. Niscaya Tuhan akan melindungi dan memelihara setiap kita yang dengan penuh kasih datang berserah kepada-Nya.
Klausa “ini aku, utuslah aku” adalah sebuah jawaban Nabi Yesaya terhadap pertanyaan Tuhan kepadanya. Panggilan Tuhan dan pengutusan Yesaya memperlihatkan kondisi sosial yang tidak baik. Ia memperjuangkan keadilan sosial seperti Mikha, rekan sezamannya. Pembunuhan, pemberontakan, penyogokan, ketidak-adilan, pemberontakan, persundalan sebagainya, melanda Yerusalem (pasal 1 dan 2). Dalam kondisi yang tidak sesuai dengan yang Tuhan harapkan, “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah” dimunculkan oleh Tuhan sendiri untuk membendung dan menasihati raja dan rakyatnya agar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan menjalankan hukum dengan baik serta menjaga tataran moralitas dan keadilan sosial.
Tuhan memanggil Yesaya untuk menyuarakan kehendak-Nya. Dalam situasi ini, Yesaya menyadari bahwa dirinya adalah najis bibir (6:5), tinggal di tengah bangsa yang najis bibir. Namun, Tuhan memperkenankan Yesaya untuk menyuarakan kebenaran melalui bibir mulutnya. Melalui seorang Serafim (Malaikat) Tuhan menghapus kesalahan dan mengampuni dosa Yesaya dengan cara bara disentuhkan pada mulut Yesaya (6:6-7). Pasca peristiwa tersebut, Tuhan kemudian bertanya: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Pertanyaan ini dijawab oleh Yesaya: “Ini aku, utuslah aku.” Yesaya diutus pasca diampuni dosanya dan dihapus pelanggarannya.
Apa yang dapat kita maknai dan terapkan dalam kehidupan kita? Apakah kita juga dipanggil menjadi penyuara kebenaran Allah, pembawa kabar baik dan kabar buruk dari Tuhan kepada sesama kita? Nabi dalam PL tidak melulu menyampaikan kabar baik, tetapi juga kabar buruk tentang penghukuman Tuhan kepada mereka yang tidak setia, berubah setia, hidup dalam dosa, hidup dalam kenajisan, dan hidup dalam keserakahan, kesombongan, dan kemunafikan.
Yesaya telah dihapus pelanggaran dan diampuni dosanya karena tugas Yesaya adalah menyuarakan kebenaran dan penghukuman Tuhan bagi mereka yang tidak setia kepada Tuhan. Yesaya diampuni dan kemudian dia diutus Tuhan. Sedangkan kita, telah dihapus pelanggaran dan diampuni dosa-dosa kita oleh Yesus Kristus. Darah-Nya telah menyucikan dan menguduskan kita sehingga kita menjadi duta kebenaran. Peran Nabi Yesaya adalah peran kita. Memang zaman berbeda, tetapi situasi dan kondisi yang terjadi di zaman Yesaya dapat terjadi di zaman kita.
Apakah di zaman kita tidak terjadi keadilan sosial? Secara fakta terjadi. Apakah di zaman kita tidak terjadi pembunuhan? Apakah di zaman kita tidak terjadi pemberontakan? Apakah di zaman kita tidak terjadi penyogokan? Apakah di zaman kita tidak terjadi ketidak-adilan, pemberontakan, perzinaan dan persundalan ? Secara fakta pernah dan sering terjadi. Bahkan para pendeta pun bisa membunuh; membunuh sesama pendeta karena hawa nafsu. Bukankah kita hidup dalam zaman yang seperti ini? Lalu apa tugas kita?
Seperti yang dilakukan Yesaya yaitu berani diutus Tuhan untuk menghadapi zaman dan kondisi yang di dalamnya manusia melakukan berbagai kejahatan yang bertolak belakang dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Kita pun mendapat peran dan tugas yang sama. Jika kita telah ditebus Yesus, mengapa kita masih menolak atau berlambat-lambat atau bahka acuh tak acuh untuk menyatakan kebenaran?
Tugas kita adalah: pertama, menyadari panggilan kita di mana? Tuhan tidak salah menempatkan kita, tetapi kitalah yang sering salah memahami cara kerja Tuhan. Itu berarti, di mana pun kita berada, kitalah menjadi garam dan terang dunia, kitalah menjadi pembawa kabar baik dan kabar buruk (menegur segala kejahatan dan penyimpangan terhadap kehendak Allah); kedua, pergi memberitakan Injil di mana pun dan kapan pun. Totalitas hidup kita adalah bersaksi bagi Tuhan dan hidup bagi Tuhan; ketiga, menjaga pola kehidupan kita agar tetap selaras dengan kehendak Tuhan. Tantangan, cobaan, dan godaan memang selalu ada dan akan kita hadapi, tetapi kita yang telah berkomitmen di hadapan Tuhan harus tetap menjaga moralitas dan spiritualitas agar tetap selaras dengan Firman Tuhan.
Akhirnya, kehidupan yang kita jalani bukanlah kehidupan yang dapat kita atur sedemikian rupa secara bebas. Kita tahu bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Memang kita dapat menjalani kehidupan ini dengan mengatur dan mengarahkannya sesuai dengan firman-Nya tetapi ingatlah, janganlah mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri tetapi andalkanlah Tuhan senantiasa, sebab dengan mengandalkan Tuhan, secara langsung kita hidup bagi Dia dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya termasuk menyampaikan Injil bagi semua orang dan menjadi “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah”.
Sudahkah kita menjadi “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah”? Atau maukah kita diutus karena kita sudah diampuni? Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjadi “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah” dan hidup bagi Tuhan sepanjang hayat kita.
Menjalani kehidupan di dunia dapat ditempuh dengan banyak cara. Artinya, pikiran kita dapat mengontrol seberapa jauh tendensi emosional kita untuk menentukan mana yang harus kita pilih dan mana yang tidak harus kita pilih. Pilihan-pilihan tersebut didasari pada sikap kita dalam menilai apa yang “ada” dalam dunia ini.
Dari sini kita akan melihat dampak-dampak dari pilihan tersebut untuk menentukan, apakah seseorang itu memiliki spiritual yang baik dengan Tuhan, ataukah dia hidup biasa-biasa saja, apakah ia hidup seolah-olah mati segan hidup tak mau, ataukah ia meluapkan kesombongan diri, berpesta pora, semaunya bertindak tanpa pertimbangan yang matang, merasa hidup aman-aman saja, meskipun berbuat dosa dan tahu bahwa itu adalah dosa, toh Tuhan tidak menghukum dan marah, ataukah seseorang merasa bahwa dengan apa yang ia miliki itu telah cukup membuat dirinya senang dan bahagia, bahkan hidup sejahtera, badan sehat, keluarga kaya raya, sehingga tidak perlu lagi menyembah Tuhan, pergi ke Gereja, pelayanan dan sebagainya.
Semua pilihan hidup manusia menentukan akan menjadi seperti “apa” dia nantinya. Seringkali, kekayaan, atau dalam bentuk normatifnya adalah “uang” menyeret manusia ke dalam berbagai-bagai kejahatan, dosa perzinaan, dosa pembunuhan, dosa kemunafikan, kebencian, perseteruan dan sebagainya. Uang bisa membuat orang bahagia dan berkhayal setinggi pohon kelapa, tetapi uang juga dapat membuat orang mati bunuh diri, gantung diri, minum baygon, minum racun serangga, atau melompat dari gedung lantai 5, 6, dan seterusnya. Uang bisa “mengatur” segala sesuatu. Uang bisa membayar pemerintah, kepolisian, hakim, jaksa, pengacara, penjahat, pendeta, majelis, ustadz, rabi, biksu, presiden, camat, bupati, gubernur, pejabat pemerintahan dan sebagainya. Semuanya dapat dimungkinkan dengan uang.
Bahkan yang lebih parah lagi, perempuan-perempuan rela memberikan dirinya menjadi objek seks tak terkendali hanya karena uang. Gereja bisa dijual karena pendeta butuh uang. Jemaat dijual karena pendeta butuh uang. Istri dijual atau ditukar, hanya karena suami butuh uang. Para penari telanjang di bar-bar, rela menari telanjang putar-putar di besi sampai terpeleset, semua demi uang. Para pelacur yang mangkal di pinggir jalan, merayu para lelaki hidung belang, semua karena uang. Seorang pendeta bisa menjadi brutal bahkan main perempuan, semuanya karena ia butuh uang dan banyak uang. Uang bisa memungkinkan kebaikan dan kejahatan terjadi. Maka, berhati-hatilah dengan uang.
Teks Pengkhotbah 5:7–19 menarik. Setidaknya, jika ditinjau dari perspektif sekarang, dengan berbagai perkembangan teknologi dan informasi, uang mendapat peringkat paling atas dalam menerapkan dan menikmati teknologi itu sendiri.
Deskripsi Konteks
Bacaan kita terdiri dari tiga bagian: Pertama, berbicara soal rakyat dan pemerintah. Kedua, kondisi manusia yang cinta uang, dan ketiga, Allah adalah Sang Pemberi kekayaan. Jika melihat konteks di pasal 5 ini, ada beberapa hal penting yang mendahului bacaan kita yakni: Perkataan dan pekerjaan (ay. 1 dan 2).
Perkataan dan pekerjaan [perbuatan] adalah dua hal paling sering dilakukan manusia. Berkata dan bekerja tentu dapat menghasilkan uang. Pendeta “harus berbicara” di depan jemaat baru dia mendapat upah. Kalo pendeta diam saja, ia tidak mendapat upah. Lain halnya dengan petani. Petani “harus bekerja dengan kaki dan tangannya”, bukan dengan mulutnya, sebab mulut tidak memegang cangkul, melainkan tangannya. Tangan harus bergerak dan bekerja untuk menggemburkan tanah. Maka, petani tidak memusatkan pada ucapan tetapi pada tindakan.
Seorang guru atau dosen, juga harus berbicara. Sebab kalau dia diam, sebaiknya diusir saja dari kelas. Tidak usah masuk. Seorang penyanyi harus berbicara sedangkan pemain keyboard harus bergerak memainkan jari jemarinya untuk menghasilkan bunyi yang mantap dan bagus. Maka, dalam konteks ini, perkataan dan tindakan akan menjadi dasar mengapa manusia benar dalam melakukan dan salah dalam melakukan.
DESKRIPSI MAKNA TEKS
Seperti yang saya katakan di awal bahwa bacaan kita terdiri dari tiga bagian. Dengan demikian, saya akan menjelaskan setiap bagian tersebut yang dapat dijadikan pedoman, prinsip hidup, petunjuk hidup baru dan hal-hal penting lainnya.
Bagian pertama, berbicara soal rakyat dan pemerintah.
Ayat 7 menggambarkan sebuah refleksi. Ini menarik. Salomo mengatakan bahwa “jika engkau melihat ketidakadilan”, penindasan, serta pemerkosaan keadilan, kalian tidak perlu heran sebab gejala-gejala tersebut sebenarnya “merefleksikan kondisi pemerintahan” yang ada di daerah tersebut.
Ayat 7 ini juga menegaskan bahwa meskipun dalam keadaan demikian, adalah keuntungan jika rajanya dihormati. Artinya, jika raja dihormati, maka ada kemungkinan untuk dapat “membereskan semua penyimpangan” yang dilakukan oleh bawahannya. Orang yang dihormati berarti disegani. Orang disegani berarti orang itu bisa didengarkan dan dipatuhi. Maka, amanlah rakyatnya jika memiliki raja yang dihormati. Jika raja tidak dihormati, maka habislah rakyat.
Dari kondisi di atas yakni penindasan, pemerkosaan keadilan, hukum diperkosa, semuanya dilakukan oleh manusia hanya untuk “uang”. Banyak ketidakadilan muncul karena orang-orang mau dibayar untuk menyelewengkan kebenaran. Banyak diskriminasi terjadi karena oknum-oknum yang melakukannya telah dibayar atau karena ia ditawarkan dengan uang dalam jumlah banyak. Kejahatan dapat menjadi benar jika dibayar dengan uang. Penipuan dan kepalsuan dapat menjadi benar jika uang yang berbicara. Itulah kondisi hidup kita sekarang ini. Siapa yang lebih besar membayar kepada oknum-oknum tertentu, maka kepalsuan, kebejatan, kenajisan, tipu muslihat, kebrutalan, bisa menjadi benar di mata publik jika uang telah diturunkan dari tahtanya. Hal ini akan membawa kita kepada pembahasan yang kedua.
Bagian kedua, kondisi manusia yang cinta uang.
Salomo menegaskan bahwa: ‘SIAPA YANG MENCINTAI UANG TIDAK AKAN PUAS DENGAN UANG, DAN SIAPA MENCINTAI KEKAYAAN TIDAK AKAN PUAS DENGAN KEKAYAAN.’ Pada faktanya, “orang yang mencintai uang lebih dari segalanya, biasanya ia lupa segalanya”. Uang seringkali membutakan mata rohani manusia. Uang bisa membuat orang menjadi baik sekaligus juga bisa menjadi jahat. Uang itu netral, tetapi para penggunanya yang bisa menentukan mau jadi apa ia nantinya ketika punya uang.
Uang bisa membuat orang disegani, sekaligus dibenci. Uang dan kekayaan bisa membuat orang banyak sahabat sekaligus banyak musuh. Kita melihat apa yang dipaparkan Salomo berkaitan dengan ‘dampak’ dari uang dan kekayaan.
Ayat 10. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya; sang pemilik harta, diberikan keuntungan yakni ‘melihat’ harta terpakai. Entah ia bahagia atau kecewa tergantung sikapnya dalam mengelola hartanya. Orang yang kaya yang makan kenyang seringkali tidak bisa tidur enak. Mungkin alasannya adalah karena ia memikirkan kekayaannya yang banyak itu. Analoginya adalah: enak tidurnya orang yang bekerja, yang makan sedikit atau pun banyak;
Ayat 12-13. Ada juga kemalangan bagi orang kaya yakni kekayaannya menjadi kecelakaannya sendiri. Ini bisa berarti bahwa orang kaya yang terlalu menyandarkan dirinya pada uang dan ia dapat saja membeli dan membayar manusia dengan uangnya (atau hartanya), tetapi kemudian orang-orang yang telah dibayarnya berbalik menyerang dia, sehingga berdampak pada kemalangannya dan anaknya tidak mendapat bagian dari kekayaannya itu;
Ayat 14. Kondisi manusia, baik kaya maupun miskin, sama-sama tidak membawa apa-apa ke dalam kuburan (kematiannya). Ia telanjang keluar dari rahim dan ia akan pergi (mati), telanjang seperti ketika ia lahir. Tak satu pun dari apa yang diperolehnya di dunia akan dibawa ketika ia mati. Ini tanda awas bagi kita semua. Janganlah terlalu menyandarkan diri pada kekayaan sampai lupa berdoa. Mau tidur hanya bermain HP, lupa berdoa. Mau mandi bawa HP, mau berak bawa HP, dan sebagainya;
Ayat 15-16, menegaskan bahwa jika demikian, apakah keuntungan bagi manusia yang telah berlelah-lelah, berjerih lelah mencari kekayaan, tetapi pada saat kematian, tak satu pun yang dapat dibawanya? Ini menyedihkan dan sangat malang. Padahal, dalam mencari uang dan kekayaan ia telah merasakan kegelapan, kelaparan, kesusahaan, penderitaan, dan kekesalan. Proses hidup begitu keras dan bahkan kejam untuk mendapatkan uang dan kekayaan. Atau bahkan dengan cara-cara yang kejam dan jahat, orang-orang lebih suka untuk mendapatkan uang dan kekayaan tersebut.
Ketiga, Allah adalah Sang Pemberi kekayaan.
Salomo menegaskan hal penting dari unsur-unsur yang dialami manusia pada umumnya, termasuk mendapatkan uang dan kekayaan dengan cara-cara yang layak dan baik. Bagi Salomo, hal yang baik adalah kalau orang dapat makan dan minum dalam usaha dan jerih payahnya dalam hidupnya yang singkat yang dikaruniakan Allah adalah bagiannya.
Makan, minum, menikmati kesenangan adalah pemberian Allah (3:13);
Kekayaan, harta benda, kuasa untuk menikmatinya, menikmati jerih payahnya, adalah karunia Allah (ay. 18);
(ay. 19). Seringkali manusia tatkala menikmati kekayaan yang diberikan Allah, ia lupa umur hidupnya. Artinya, kepuasan dalam menikmati kekayaan yang diberikan Allah tidak membuat manusia tertekan karena ia akan mati, melainkan Tuhan memberikan kebahagiaan dari apa yang manusia miliki berkat kerja keras dan berjerih lelah. Tuhan itu Adil.
Jika kita tidak mendasarkan pemahaman kita akan kekayaan bahwa hal itu adalah karunia Allah, kita akan terjebak dalam dosa “CINTA AKAN UANG” yang berakibat kita LUPA SEGALANYA. Dengan uang, kita bisa lupa menghormati orangtua, menghormati Tuhan, menghormati sesama kita, menghormati pendeta, dosen, majelis, dan sebagainya. Cinta akan uang membuat kita lupa segalanya. Untuk memburu uang, aturan-aturan moral seringkali dilanggar. Perhatikan pasal 6 ayat 7: SEGALA JERIH PAYAH MANUSIA ADALAH UNTUK MULUTNYA, NAMUN KEINGINANYA TIDAK TERPUASKAN.
Semua yang kita miliki di dunia ini adalah pemberian Allah. Kita harus tahu menggunakan semua kekayaan yang Tuhan berikan. Jangan disalahgunakan. Gunakanlah dengan hikmat dan bijaksana agar kita tidak terjebak dalam dosa kekayaan dan menghambur-hamburkan uang dan kekayaan untuk memuaskan hawa nafsu kita.
SIGNIFIKANSI APLIKASI
Periksalah hidup dan motivasi kita, apakah kita mendapatkan sesuatu karena kita sendiri ataukah karena pertolongan dan karunia Tuhan. Jika kita mengira dan menyangka bahwa apa yang kita dapatkan dalam hidup ini bukan karena Tuhan, maka orientasi hidup tertuju kepada pemuasan hidup yang berlebihan, menghina Tuhan, hidup semaunya, hidup seenaknya, hidup tanpa memperhatikan batasan-batasan moral, hidup sebebas-bebasnya tanpa peduli dengan doa dan ibadah, tanpa perlu ke Gereja dan memuji Tuhan, mendengarkan khotbah.
Uang dapat menolong kita dalam segala kesusahan; tetapi uang juga dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai-bagai duka, berbagai perbuatan dosa, berbagai kesenangan semu yang berpotensi menghancurkan hidup kita. Uang dapat “membeli” kebohongan untuk tujuan menindas kebenaran, tetapi Tuhan tidak tinggal diam. Ia bertindak, mengembalikan kebenaran pada tempatnya, dan kebohongan akan menjadi olok-olokkan dan dihancurkan. Para pelakunya akan dipermalukan.
Mungkin ada yang berkata: “Kami bahagia tanpa Tuhan; kami kaya dan banyak uang tanpa Tuhan; kami sehat sentosa tanpa Tuhan; kami selalu berhasil dalam hidup; kami pesta pora, pesta seks, pesta narkoba, tapi tidak ada hukuman; kami mabuk-mabukan, merokok sebanyak mungkin, kami bebas membawa perempuan di hotel dan kost-kost-an, tapi aman-aman saja. Tuhan tidak menghukum kami; kami suka menipu orangtua, kami tidak perlu ke Gereja karena membosankan.” Silakan berkata sesuka hati dan merasakan kebahagiaan tanpa Tuhan. Tetapi tunggu saja. Jika saatnya tiba Tuhan mengambil nyawa Anda, maka habislah Anda. Uang tidak dapat membeli nafas hidup ketika Tuhan turun tangan. Tamak uang, pasti tamak nafsu, dan hal itu mencelakakan. Bertobatlah.
Cinta akan uang lupa segalanya. Janganlah mencintai uang dan kekayaan. Cintailah Tuhan dengan sepenuh hati. Meskipun hidup apa adanya, tetapi yakinlah Tuhan tetap mengasihi. Jangan mengukur hidup dengan materi, tetapi ukurlah hidup dengan spiritualitas dan relasimu dengan Tuhan. Itu sangat indah. Ingatlah, Allah adalah Sang Pemberi kekayaan.
Ia kiranya memberkati, menyertai, dan menopang kita.
Salib hanya dapat dipahami dan oleh mereka yang disentuh hatinya oleh Roh Kudus. Roh Kudus yang menggerakan manusia yang berdosa untuk bertobat dan mengakui bahwa “ia dikasihi dan diampuni” oleh Allah melalui Yesus Kristus, yang mati di kayu salib (ay. 18)
Salib, meski dihina, apalagi dikatakan “ada jin kafir”, tetap tidak berubah karena hinaan itu, melainkan Allah memperlihatkan kuasa-Nya melalu penebusan dosa, yaitu kematian Yesus di salib. Faktanya, miliaran orang yang diubahkan hidupnya, hanya karena “kuasa Allah” melalui “salib”—ya, salib Yesus Kristus, sebab di sanalah Allah menyatakan kuasa penebusan, pengampunan, kasih, pembenaran, dan penyelamatan. Karena itu, patutlah kita bermegah di dalam Tuhan.
Salib, meski dipandang sebagai batu sandungan oleh orang-orang Yahudi (ay. 23), dan dipandang sebagai kebodohan oleh orang-orang Yunani (non Yahudi) (ay. 23), ternyata bukanlah batu sandungan dan bukan suatu kebodohan. Dunia—ternyata—diubahkan karena “salib” itu sendiri.
Salib yang dianggap sebagai suatu kebodohan (oleh orang-orang Yunani) disebabkan karena Yesus mati disalib. Jika Ia pahlawan, harusnya tidak mati. Tetapi justru itu pemikiran yang bodoh, karena ternyata “Yesus bangkit dari kematian”. Bukankah itu lebih dan sangat spektakuler? Pahlawan yang gagah perkasa dapat mati, tetapi ia tidak dapat bangkit dalam waktu tiga hari. Yesus membuktikan bahwa yang bodoh adalah orang-orang Yunani. Yesus tidak hanya bangkit, tetapi Ia menampakkan diri, naik ke sorga, dan kuasa-Nya terus menyertai orang-orang percaya di sepanjang zaman hingga akhir zaman (lihat Matius 28:20). Jika demikian, patutlah kita bermegah di dalam Tuhan.
Salib, meski dianggap hina oleh dunia, justru sangat berarti. Yesus mendamaikan manusia dengan Allah. Jikalau saja dunia tidak diubahkan Kristus, pasti kejahatan akan terus memuncak. Yesus Kristus, Raja Damai itu tidak memerintahkan pengikut-Nya untuk mengangkat pedang dan menciptakan permusuhan, justru Dia menegaskan bahwa “berdoalah bagi musuhmu dan kasihilah mereka”. Bukankah ini suatu supremasi kehidupan yang sempurna?
Yesus yang disalibkan itu telah membenarkan, menguduskan, dan menebus kita. Jika status kita telah diubahkan Yesus, dari manusia lama menjadi manusia baru, adakah hambatan bagi kita untuk bermegah di dalam Tuhan? Tentu tidak.
Nikmatilah kasih dan pengampunan Tuhan, jalani kehidupan yang berkemenangan, sebab mereka yang bermegah di dalam Tuhan adalah orang-orang yang menyadari bahwa hidup yang dinikmati dan dijalani sekarang ini adalah karena kasih dan anugerah Allah Bapa melalui Yesus Kristus. Bermegahlah di dalam Tuhan dengan penuh sukacita, semangat, dan kasih yang tulus.
Dalam pemahaman iman Kristen, menjalani hidup memiliki dua implikasi yaitu “menjalani hidup sesuai dengan identitas” dan “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”. Kedua hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.
Pada konteks “menjalani hidup sesuai dengan identitas”, seseorang harus menyadari dirinya sendiri, apa dan bagaimana perannya dalam kehidupan yang dijalani. Identitas akan memperlihatkan kualitas perbuatan, pemikiran, dan perkataan. Ketika identitas dilupakan dan tidak disadari—lalu berbuat yang tidak seharusnya (berdasarkan identitas, misalnya seorang pelayan Gereja yang suka menipu orang lain), maka “dosa” adalah konsekuensi logisnya. Aksentuasinya jelas bahwa “identitas” menghasilkan serangkaian perbuatan, pemikiran, dan perkataan yang selaras dengan “kehendak Allah” sebagaimana yang ditegaskan Alkitab.
Identitas itu sendiri terbagi menjadi lima bagian: Pertama, identitas iman, yang mana semua orang beriman kepada Tuhan harus melayani Tuhan di hadapan manusia dan melayani manusia di hadapan Tuhan. Dua implikasi pelayanan ini sekaligus menjadi identitas mutlak yang diberikan Tuhan, suka atau tidak suka. Identitas iman merupakan kualitas percaya seseorang kepada Tuhan yang tertuang dan tampak dalam perkataan (komunikasi), pemikiran (penalaran), dan perbuatan (konatif).
Kedua, identitas humanitas (kemanusiaan). Identitas ini melihat secara utuh makna relasi humanitas dan relasi hayati (kehidupan). Setiap orang memiliki relasi internal dan eksternal yang mana konsep ini telah ditegaskan Alkitab yaitu: “hendaklah kami saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10). Relasi humanitas tidak memandang perbedaan. Relasi itu netral pada dirinya sendiri: yang kaya dan miskin harus berelasi; masyarakat dan pemerintah harus berelasi; Gereja dan pemerintah harus berelasi. Singkatnya, semua manusia dalam berbagai ragam perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan, harus bereleasi dalam bingkai “humanitas” dan “hayati”. Kita tentu ingat pepatah tua yang menyatakan: “manusia adalah makhluk sosial”. Artinya, manusia tak bisa hidup tanpa (bantuan dan relasi dengan) orang lain (baik secara internal maupun eksternal).
Ketiga, identitas pekerjaan di pemerintahan. Pemerintah adalah “Wakil Allah” di dunia. Dalam pemahaman Kristen, Pemerintah memiliki tugas penting atas rakyatnya (masyarakatnya) yang selalu menerapkan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan keadilan, dan hukum. Seseorang yang memiliki identitas pekerjaan di pemerintahan haruslah secara sacara mengedepankan hak-hak warga negara sebagai sebuah upaya penerapan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan keadilan, dan hukum. Kesadaran identitas ini akan membuka peluang bagi pengembangan sumber daya masyarakat (SDM), potensi sumber daya alam (SDA), dan potensi sumber daya teknologi (SDT). Ketiganya dibutuhkan dan dilakukan oleh mencapai “pembangunan di segala bidang kehidupan masyarakat maupun pemerintah itu sendiri”. Pemerintah yang mengembangkan SDM, SDA, dan SDT adalah pemerintah yang benar-benar “melayani” manusia di hadapan Tuhan dan sekaligus dengan kesadaran identitasnya, pemerintah melayani Tuhan di hadapan manusia.
Pemerintah harus mengejawantahkan program kerja yang pro humanitas, ekspansi (perkembangan atau perluasan) nilai-nilai humanitas, nilai-nilai pembangunan, dan nilai-nilai pendidikan dan spiritualitas. Identitas yang disadari ini, jika diterapkan secara sehat, kredibel, dan transparan, pasti kemajuan dan kesejahteraan akan menjadi konsekuensi logisnya.
Keempat, identitas pekerjaan di dunia pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu tiang penopang pemerintahan yang dengannya—hampir semua kebijakan—dirumuskan, ditempuh dan dipandang berdasarkan sebuah proses pendidikan. Ketika pemerintah dan Gereja mengedepankan pendidikan, baik pendidikan teoretis, praktikal, moralitas, dan spiritualitas, maka kemajuan sebuah kota atau desa sangat dirasakan. Pendidikan tidak dapat diabaikan. Antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan pemerintah seyogianya memiliki relasi yang stabil untuk bersama-sama mengedepankan kemajuan dunia pendidikan di semua jenjangnya. Pendidikan akan menghasilkan percepatan pembangunan di segala bidang, asalkan parapelakunya memahami identitas dan secara sadar menerapkannya.
Kelima, identitas pekerjaan di dunia kerohanian (pelayanan). Konteks ini tentu dipahami secara demarkasi (pembatasan) dalam dunia Kristen. Artinya, konteks pelayanan Kristen, termasuk di dalamnya Gereja, Sekolah-sekolah Tinggi Teologi, dan LSM, memahami terlebih dahulu identitas, fungsi dan perannya bagi lingkungan masyarakat mikro maupun makro. Ketika ketiganya tidak memahami identitasnya, maka yang terjadi adalah penyimpangan-penyimpangan. Itu sebabanya, baik Gereja, STT, dan LSM perlu secara mendalam memahami fungsi dan perannya di masyarakat mikro maupun makro.
Berikutnya. Pada “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”, merupakan sebuah panggilan hidup bahwa Tuhan telah memperkenankan kita untuk menikmati identitasnya masing-masing untuk menghasilkan [berbagai] “kontribusi”. Identitas secara implikatif haruslah menghasilkan kontribusi. Kontribusi ini dilakukan oleh personal, komunal (masyarakat), gereja, dan pemerintah. Imensitas (luasnya atau keluasan) kontribusi tergantung pada setiap jenis identitas. Gereja dan pemerintah tentu memiliki imensitas kontribusi yang terbilang sangat luas (mikro maupun makro) yang secara masiv memiliki pengaruh yang juga luar biasa.
Sebagaimana yang kemudian akan dikorelasikan dengan teks 1 Petrus 5:2-4, maka tugas seseorang—siapa pun dia dan identitasnya, akan menempuh sebuah proses di mana ia akan merawat, memelihara, dan memimpin kepada arah yang sesuai naturnya.
POKOK PEMAHAMAN 1 PETRUS 5
Pertama-tama, pesan atau imbauan Rasul Petrus adalah kepada para penatua. Mereka dimohon dan didorong untuk memahami identitas dan kontribusinya bagi kawanan domba. Jabatan penatua tentu memiliki fungsi dan tanggung jawabnya. Jika demikian, maka mereka haruslah menyadari identitas spiritualitas untuk memberikan fungsinya dan menghasilkan kontribusi bagi pelayanan gerejawi.
Dalam Alkitab PB dalam terjemahan Sederhana Indonesia, (ANDI, 2014) disebutkan dengan “Menggembalakan kawanan domba dengan senang hati”—sebuah kondisi yang tanpa beban dan motivasi yang keliru dan mencari keuntungan, sebagaimana yang Rasul Petrus tegaskan bahwa “Jangan mengambil tanggung jawab untuk mencari keuntungan” (Alkitab PB dalam terjemahan Sederhana Indonesia).
Leland Ryken, James C. Wilhoit dan Tremper Longman III, dalam The Dictionary of Biblical Imagery, (1998: 255) mengaitkan kualitas gembala (yang adalah para penatua) dari tindakan-tindakan mereka untuk menggembalakan kawanan domba.
Ketidakberdayaan domba membantu untuk menjelaskan tindakan-tindakan dan kualitas-kualitas seorang gembala yang baik, yang memeliharanya. Gembala berkewajiban untuk memimpin domba dari tempat perlindungan di waktu malam menuju tempat merumput dan berair melalui jalan-jalan yang aman. Para gembala merupakan orang-orang yang menyiapkan kebutuhan, penuntun, pelindung, dan pendamping setia untuk domba-domba. Para gembala memiliki otoritas dan kepemimpinan bagi domba-domba.
Dari kutipan di atas, tampak bahwa tugas dan tanggung jawab gembala adalah memelihara, memimpin, menyiapkan kebutuhan, menuntun, melindungi dan mendampingi dengan setia kawanan dombanya. Dalam penjelasan Ryken, Wilhoit dan Longman III, ada indikasi bahwa para penatua menggunakan cara-cara yang tamak dan ingin menguasai sesuka hati para kawanan domba mereka: “Konteks imbauan Petrus adalah bahwa ia secara negatif menasihati gembala-penatua yang menjalankan peran mereka dengan cara-cara yang tamak dan mendominasi. Pelayanan yang benar di hadapan Allah adalah pelayanan yang sungguh-sungguh tanpa mencari keuntungan yang semu bahkan liar.
Terkait dengan tugas gembala (para penatua), Profesor P. H. R. Van Houwelingen (dalam bukunya Tafsiran Perjanjian Baru 1 Petrus: Surat Edaran dari Babel, [Surabaya: Momentum, 2018]), menyatakan bahwa “mengawasi ialah tugas yang khas gembala: dia yang memelihara domba-domba, dan menjaga mereka (Yer. 23:2; Za. 10:3; 11;16; Yeh. 34:12). Dengan demikian para penatua mempunyai supervisi (episkope) terhadap kawanan domba milik Allah. Tugas mereka adalah mengorganisasi dan mengawasi kawanan domba, sambil menjaga keutuhannya.” Bagi Van Houwelingen, “Seorang penatua menyediakan dirinya dengan spontan sebagai sukarelawan untuk melayani Allah. Maka pelayanan itu tidak terjadi dengan keluh kesah, melainkan dengan gembira.”
Kita pun mungkin pernah melihat ada orang-orang yang memiliki keinginan untuk memerintah yang sangat kuat (katakurieuo). Kecenderungan untuk berkuasa tak dapat dipungkiri bahwa itu ada dan terjadi di berbagai instansi dan lembaga, sehingga menghambat berbagai program dan tindakan kontibusi yang hendak dicapai dan diejawantahkan. Sebagaimana yang Rasul Petrus tegaskan bahwa tugas menggembalakan dilakukan dengan pengabdian diri (ay. 2). Begitu juga dengan cara menggembalakan kawanan domba, yaitu bukan dengan cara “memerintah” dengan sewenang-wenang (ay. 3). Ketika tugas dan tanggung para penatua untuk menggembalakan kawanan domba selaras dengan kehendak Tuhan, maka ada upah yang akan diterima (ay. 4). Hal-hal inilah yang kemudian dapat kita aplikasikan dalam bentuk jukstaposisi (penyejajaan) dengan empat konteks yaitu: Pemerintahan, Pendidikan, Pembangunan, dan Pelayanan.
APLIKASI JUKSTAPOSISI MAKNA TEKS
Pemerintah
Sebagai pelayan Tuhan, seseorang dapat menerapkan identitas dan kontribusinya dalam konteks “Pemerintahan”—jika ia sekaligus adalah seorang yang memiliki jabatan di pemerintahan. Ia harus menjalani kehidupan yang melayani Tuhan di berbagai bidang, baik khusus maupun umum. Orang percaya bukan hanya menunjukkan identitasnya di gereja, melainkan di semua bidang kehidupannya, tanpa terkecuali.
Pada konteks pemerintahan, pemerintah adalah pelayan masyarakat sebab masyarakatlah yang memilih mereka dan karena ada masyarakat maka ada pemerintah. Pemerintah perlu memahami identitas dan kontribusinya bagi masyarakat yang dipimpinnya. Pemerintah harus menunjukkan kualitas-kualitas tindakannya melalui realisasi program kerjanya. Pemerintah berkewajiban untuk memimpin, memberi rasa nyaman, menyiapkan kebutuhan lapangan pekerjaan, melindungi, mengawasi, memelihara, dan menjaga agar masyarakat tetap utuh (tidak terpecah-pecah karena konflik SARA).
Pendidikan
Orang percaya kepada Tuhan tidak dapat mengabaikan konteks pendidikan. Mengabaikannya berarti membunuh diri secara perlahan. Kita semua dapat menerapkan identitas dan kontribusi kita dalam konteks “Pendidikan”. Membuka, mengembangkan, dan mempertahankan lembaga pendidikan adalah tugas semua elemen masyarakat dan pemerintah dan gereja pun termasuk di dalamnya.
Pendidikan adalah identitas kebangsaan kita. Tidak hanya itu, pendidikan adalah identitas hayati dan humanitas setiap orang. Setiap pemangku kepentingan pada konteks pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar di dalamnya, termasuk peran serta pemerintah. Pemerintah mendukung penuh penerapan dan pengembangan pendidikan di semua jenjangnya. Itu sebabnya, kerja sama dari semua pihak untuk mengembangkan pendidikan dilakukan bukan semata-mata untuk mencari keuntugan yang liar melainkan memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pada konteks pendidikan, semua pihak yang terlibat harus berkontribusi bagi kemajuan kualitas-kualitas pendidikan dan prosesnya ke depan.
Pembangunan
Pembangunan adalah kata netral yang dapat diterapkan pada berbagai konteks. Pembangunan tidak hanya dipahami dari aspek fisik saja misalnya pembangunan rumah, kantor, gedung pertemuan, tempat ibadah, dan sebagainya, melainkan dapat dipahami dalam konteks pembangunan moralitas, pembangunan manusia seutuhnya, pembangunan spiritualitas para pelayan Tuhan, dan sebagainya.
Maka di sini aksentuasinya adalah “pembangunan di segala bidang kehidupan” yang dapat memberikan kontribusi positif di kemudian hari. Kita semua sedang membangun. Ya, membangun kehidupan kita masing-masing agar menjadi berkat bagi sesama kita; membangun relasi dengan orang lain; membangun masyarakat seutuhnya dan mandiri; membangun bidang-bidang khusus bagi kesejahteraan bersama, dan lain sebagainya.
Dalam konteks pemerintahan, pemerintah seyogianya menunjukkan identitas dan fungsinya untuk menerapkan pembangunan secara merata, adil, dan berdampak pada kesejahteraan bersama yaitu masyarakat dan pemerintah itu sendiri. Pemerintah yang adalah wakil Allah di dunia perlu meningkatkan akses pelayanan kepada masyarakat agar “pembangunan” di setiap aspek dan keperluannya dapat terwujud dan menciptakan rasa puas dan rasa sejahtera.
Pelayanan
Bedasarkan teks 1 Petrus 5:2-4 mengenai tugas dan tanggung para penatua, maka setiap kita dipanggil dan terpanggil untuk melayani di segala bidang kehidupan dan pekerjaan. Kita pula tidak bisa melupakan identitas kita yang sesungguhnya di mana dengan identitas itu kita dapat memberikan kontribusi.
Pelayanan tidak hanya melulu di gereja—sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Melayani itu dapat dilakukan di mana saja asalkan selaras dengan kehendak Allah. kita harus menjalani kehidupan yang melayani Tuhan dan hidup dalam terang Firman Tuhan. Setiap pelayan Tuhan perlu memahami identitas dan kontribusinya di mana ia berada. Para pelayan harus menunjukkan kualitas-kualitas tindakannya melalui realisasi pelayanannya yang maksimal dan kredibel.
Penutup
Menjalani hidup yang melayani Tuhan merupakan sebuah kesadaran identitas. Betapa kita menyakiti hati Tuhan ketika kita tidak melakukan tugas, fungsi, dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Kita “menjalani hidup sesuai dengan identitas” dan kita “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”. Bukankah kedua hal ini sangat menyenangkan dan memuaskan? Hanya mereka sadar identitasnya dan memahami makna kehidupan yang Tuhan anugerahkan, yang dapat merasakan kesenangan dan kepuasan dalam “menjalani hidup sesuai dengan identitas” dan “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”.
Kita didorong untuk menjadi pribadi yang menciptakan relasi yang baik dengan sesama. Melalui identitas kita, kita terpanggil untuk menghadikan “Shalom” kepada semua orang. Dengan identitas iman, kita melayani Tuhan di hadapan manusia dan melayani manusia di hadapan Tuhan. Dengan identitas humanitas (kemanusiaan), kita mampu menciptakan jembatan relasi humanitas dan relasi hayati (kehidupan) dengan semua orang. Dengan identitas pekerjaan di pemerintahan,kita memiliki tugas penting atas rakyatnya (masyarakatnya) yang selalu menerapkan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan keadilan, dan hukum.
Dengan identitas pekerjaan di dunia pendidikan, kita mengupayakan kemajuan pendidikan di semua jenjangnya. Pendidikan akan menghasilkan percepatan pembangunan di segala bidang, asalkan parapelakunya memahami identitas dan secara sadar menerapkannya.
Dengan identitas pekerjaan di dunia kerohanian (pelayanan), kita memahami identitas, fungsi dan peran bagi lingkungan masyarakat mikro maupun makro. Tidak hanya di gereja saja, justru ladang pelayanan yang lebih tampak identitasnya adalah di “masyarakat luas” di mana para pelayanan dapat menunjukkan kualitas-kualitas tindakan melalui berbagai program kerja.
“Memahami” adalah salah satu bagian dari ilmu tafsir (hermeneutik). Dalam memahami suatu teks perlu melihat bagaimana perikop dan asosiasi konteks (jika ada dan diperlukan) untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif. Pada setiap konteks, tafsir yang dilakukan perlu menggeluti aspek-aspek penting sebagaimana yang bisa muncul dari konteks itu sendiri. Perlu juga memperhatikan signifikan dan kualitas dari hasil tafsiran tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana cara kita memahami personalitas Yesus Kristus berdasarkan teks Yohanes 5:19. Di sini, saya hendak menjelaskan beberapa hal penting untuk melihat mengenai demarkasi konteks dan dualisme spesifik natur Yesus: Allah [Ilahi] dan Manusia, sehingga duduk persoalan yang sering diperdebatkan di dunia Kristologi dan kritik terhadapnya, sedapat mungkin dijelaskan dan kemudian dipahami sebagaimana yang Injil-Injil katakan.
Hasil dari proses dan cara menafsir Kristologi memang menuai pro dan kontra—dan itu biasa—di berbagai kalangan. Dalam kubu internal Kristen, perbedaan pendapat (yang bergantung pada proses dan cara menafsir) mengenai personalitas Yesus menjadi ajang perdebatan hingga sekarang ini. Kadangkala, demarkasi konteks tidak menjadi perhatian serius, sehingga pemahaman tentang Yesus menjadi salah kaprah, dan menghasilkan tiga kubu: skeptis, negator, dan ortodoksi.
Dua hasil pemahaman Kristologi dikaitkan dengan proses menafsir (memahami, mengambil kesimpulan) berdasarkan eksegesis dan eisegesis. Eksegesis (jamak: eksegese) dari berasal dari beberapa kata Yunani seperti: eksēgēsis, exēgeomai, exēgeisthai yang diartikan sebagai eksposisi (exposition), penjelasan (explanation) atau menjelaskan, menafsirkan, sebuah penjelasan atau penafsiran kritis atas suatu teks tertentu (yang hendak ditafsirkan). Secara harfiah kata tersebut berarti “memimpin keluar atau menggali keluar, menuntun atau membawa keluar [makna sesuatu hal]” yang kemudian dalam dunia penafsiran, kata tersebut diartikal sebagau suatu tindakan untuk memahami dan menafsirkan sesuatu.
Dalam salah satu sumber disebutkan bahwa istilah ini sudah digunakan oleh Papias (sekitar awal abad kedua Masehi) di mana ia menggunakannya dalam tulisannya yang berjudul Exegesis of the Lord’s Sayings. Eksegesis adalah usaha menggali bagian tertentu dari Alkitab supaya menjadi jelas. Dengan perkataan lain, eksegese adalah upaya menemukan arti dari sebuah teks dengan menelusuri konteks atau latar belakang. Dalam pola hermeneutika, teks-teks harus diselidiki secara objektif berdasarkan latar belakangnya (zaman, budaya, politik, bahasa, penutur, dan sebagainya). Dalam perkembangannya, eksegesis diterapkan ke dalam berbagai jenis objek penelitian.
Berangkat dari dua pola penafsiran di atas, konteks Kristologi yang terkandung dalam teks-teks PB (dan juga PL), benar-tidaknya, bergantung pada eksegesis atau eisegesis. Teks Yohanes 5:19, dalam hal ini, disoroti berdasarkan pola eksegetis, memahami secara komprehensif tentang demarkasi konteks natur ke-Ilahian Yesus dan natur kemanusiaan Yesus.
Kristologi merupakan sebuah level pemikiran dan pemahaman tentang personalitas Yesus, Sang Logos yang kekal, pra-eksistensi dan inkarnasi-Nya ke dunia. Setiap orang yang ingin meneliti, mendalami, dan memahami personalitas Yesus berangkat dari sebuah motivasi. Motivasi menghasilkan “penyelesaian” dalam bentuk pernyataan pemikiran, kesimpulan objektif atau subjektif, negasi, skeptisisme mendasar, pengakuan-pengakuan terhadap Yesus, dan penerimaan atas otoritas-Nya. Pada level pengakuan dan penerimaan terhadap Kristus Yesus, motivasi haruslah memenuhi kriteria penafsiran yang kredibel: eksegesis. Seringkali, seseorang telah memiliki persepsi negatif terhadap pemahaman Kristologi biblika yang berangkat dari gagasan “kitab suci” yang lain atau paling tidak pengaruh dari pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai representasi kajian-kajian ilmiah, yang pada gilirannya, ketika diselidiki dan dikaji ulang berdasarkan tata cara hermenetika biblika tadi, ternyata gagal pada dirinya sendiri (out of context) dan mispersepsi terhadap Yesus.
Kristologi mendapat perhatian khusus dari banyak orang. Dua metode tafsir: eksegesis dan eisegesis mewarnai perjalanan pemahaman dan perumusan pribadi dan karya Yesus Kristus. Akibatnya, dua metode ini sering “adu argumentasi” di sepanjang sejarah. Di zaman sekarang, muncul ajaran yang aneh-aneh, nyeleneh, dan asal jadi. Model ajaran aneh ini mendaur ulang tipe eisegesis—yang mana si penafsir, lebih tepatnya teolog—sesuka hati merumuskan ajarannya mengenai Yesus dengan menonjolkan berbagai motivasi, misalnya motivasi ingin popular, ingin menciptakan ajaran baru yang menyesatkan, ingin cepat terkenal, ingin menjadi yang utama, dan ingin dianggap sebagai pemikir. Pada akhirnya, para pendengar dan pembaca (pemikirannya) akan menafsir dan memahami apa yang dirumuskannya, kemudian menilainya sebagai ajaran-ajaran yang menyimpang, menyesatkan, dan mengganggu tatanan iman yang selama ini berjalan dengan baik.
Eksegesis terhadap teks Yohanes 5:19 akan memperlihatkan demarkasi konteks antara natur ke-Ilahian Yesus dan natur kemanusiaan Yesus. Dengan melihat pada “demarkasi konteks” kita akan mengetahui bahwa memahami Yesus tidak semudah yang dipikirkan oleh orang-orang yang suka menghina dengan mengatakan bahwa Yesus itu dianggap sebagai Tuhan oleh orang Kristen, Tuhan yang berkolor. Ada banyak klaim miring tentang Yesus yang berangkat dari kedangkalan pemahaman, bahkan kedunguan teologis yang dimiliki oleh orang-orang yang sama sekali tidak memahami Injil-Injil PB. Mungkin, mereka hanya tahu dari orang-orang yang seagama dengan mereka, sehingga—tanpa mengecek kebenarannya, karena dianggap sealiran—dengan mudah mengklaim secara asal-asalan. Kita pun dapat melihat berbagai kesesatan logika, terutama sebuah tindakan paralogisme terhadap Kristologi.
Yohanes 5:19 juga mengalami masalah yang sama. Pasalnya, Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Perkataan Yesus di atas seolah-olah membuka peluang pemikiran dan penafsiran bahwa Ia bukan Tuhan karena tidak mandiri dalam mengerjakan segala sesuatu. Sepintas memang kelihatan demikian. Akan tetapi, prinsip utama dalam mengkaji hal ini adalah mengetahui terlebih dahulu siapa penuturnya dan identitasnya. Tentu, satu perkataan Yesus tidak menggugurkan apa yang pernah Ia katakan sebelumnya dan sesudahnya. Itu berarti, perkataan Yesus di tempat lain yang menegaskan kemanusiaan-Nya tidak menggugurkan pernyataan-Nya di tempat lain yang menegaskan ke-Ilahian-Nya. Hal ini akan saya simpulkan dalam beberapa poin penegasan.
Memahami Injil Yohanes berangkat dari prolognya, pasal 1:1-3. Oleh sebab itu, saya hendak menyuguhkan perspektif pendahuluan terkait dengan dualisme spesifik natur Yesus dalam sebuah demarkasi konteks sebagaimana yang telah dipublikasikan Rasul Yohanes dalam Injil-Nya, dan di akhir tulisan ini, saya menyuguhkan pernyataan-pernyataan Yesus mengenai “egō eimi” [ἐγώ εἰμι], sebuah pernyataan otoritatif.
Beberapa poin penegasan berikut ini akan memberikan pemahaman tentang pengertian teks Yohanes 5:19.
Pertama, Rasul Yohanes menegaskan bahwa Yesus yang adalah Logos Ilahi—berdiam bersama dengan Allah sejak kekal—tak dapat diketahui kapan Logos bersama-sama dengan Allah. Ini hanya dapat ditempatkan pada kategorial “misteri” ontiologi sebagaimana “manusia tak dapat menjawab kapan ia mulai berpikir dan kapan pikiran itu ada dalam dirinya”.
Kedua, Yesus yang adalah Logos Ilahi (1:1) adalah Pencipta—Allah mencipta “dengan” perantaraan Logos-Nya (1:2-3). Allah dan Logos sama-sama kekal: Allah tak mungkin—sesuai fakta—tanpa Logos-Nya.
Ketiga, Logos Ilahi berinkarnasi menjadi daging (baca: manusia), sehingga dari sinilah berangkat pemahaman mengenai dualisme spesifik natur Yesus dan demarkasi konteks sebagaimana yang tampak dalam keseluruhan PB.
Keempat, memahami inkarnasi Logos, perlu menggunakan demarkasi konteks; saat mana Yesus menekankan identitas ke-Ilahian-Nya, dan saat mana Yesus menekankan identitas kemanusiaan-Nya. Dengan begitu, setiap teks yang menyinggung dualisme spesifik natur Yesus haruslah dipahami berdasarkan demarkasi konteks di atas.
Kelima, sebagai manusia, Yesus seringkali menggunakan analogi, pernyataan, dan klaim-klaim yang menguatkan identitas kemanusiaan-Nya. Hal ini—sesuai demarkasi konteks—mengaksentuasikan sisi kemanusiaan-Nya (misalnya Yohanes 4:34), yang seringkali tampak dalam ordo di mana Ia menegaskan bahwa Bapalah yang mengutus-Nya; Bapalah yang menyatakan kehendak-Nya. Yohanes 5:19 masuk dalam kategori ini.
Keenam, karena fakta kemanusiaan Yesus sering dipersoalkan dalam kerangka menegasikan ke-Ilahian-Nya, maka setiap gagasan tunggal sebenarnya menyingkirkan dualisme spesifik natur Yesus dan menggeser pemahaman demarkasi konteks tadi.
Ketujuh, mereka yang memiliki motivasi yang kurang memenuhi kaidah hermeneutika biblika, menghasilkan bentuk-bentuk penyelesaian yang tidak alkitabiah, skeptis, tidak solid,dan tidak valid, bentuk-bentuk pemahaman yang menyimpang dan bukan yang dimaksud oleh Alkitab itu sendiri.
MEMAHAMI 5:19
Berikut ini adalah pemahaman yang menyinggung dualisme spesifik natur Yesus yaitu “kemanusiaan-Nya” dalam bingkai demarkasi konteks.
Herman N. Ridderbos dalam Injil Yohanes: Suatu Tafsiran Theologis, mengamati bahwa ayat 19 dan 20 terkait erat dengan ayat 17 dan karena itu menggemakan konflik atas hari Sabat. Pada waktu yang sama, permulaan jawaban ini juga membicarakan tuduhan bahwa Yesus akan menjadikan diri-Nya sendiri sama dengan Allah. Ia [Yesus] melihat fakta bahwa sebagai Anak, Ia tidak dapat melakukan apa pun dari kehendak-Nya sendiri jika Ia tidak melihat Bapa melakukannya (ayat 19). Dan bahwa sekali lagi (ayat 20) karena kasih Bapa-Nya keluar kepada-Nya (bdk. 3:35) dan membuah-Nya ikut serta dalam semua yang Ia lakukan. Sebab itu, seluruh nas ini menempatkan “pekerjaan Yesus pada hari Sabat – dengan mutlak menghilangkan setiap bentuk kesombongan – atas dasar hubungan-Nya dengan Bapa (bdk. 2:16).
Ridderbos melanjutkan, “seharusnya tidak ada kesalahpahaman sehubungan dengan tujuan pernyataan ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri….’ Kata-kata ini sering dipahami sebagai ungkapan kesopanan Yesus dan rasa penundukan kepada Bapa dengan cara yang dikatakan bahwa Ia telah membela diri-Nya sendiri terhadap tuduhan ‘orang-orang Yahudi’ bahwa Ia menjadikan diri-Nya sendiri sama dengan Allah. Akan tetapi YESUS TIDAK MENOLAK KESAMAAN DENGAN ALLAH, tetapi gagasan bahwa Ia ‘menjadikan’ diri-Nya sendiri sama dengan Allah. ‘DARI DIRI-NYA SENDIRI’ berarti terpisah dari Bapa, atas otoritas-Nya sendiri.
Terhadap ayat 19 dan 20, menurut Ridderbos, ditempatkan semua penekanan pada persekutuan dan kesatuan Yesus dengan Bapa. Bahwa Anak ‘tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya’ dijelaskan bukan dengan penundukan kepada Bapa tetapi dengan ke-Anakan: ‘Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ayat 19c). Itulah yang menjadikan-Nya Anak. Sama halnya ayat 20a: ‘Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri’. Itulah yang menjadikan-Nya Bapa.
R. Bultmann (mengutip John Calvin), menulis bahwa dalam konflik Arian, yang merujuk ke Yohanes 5:19 secara keliru; menurut Calvin “percakapan ini [maksudnya Yohanes 5:19] tidak berkenaan dengan keilahian Kristus yang sebenarnya” tetapi dengan “Anak Allah selagi Ia dinyatakan dalam daging”.
Dari beberapa tafsir dan pemikiran di atas, tampak bahwa teks Yohanes 5:19 merujuk kepada kemanusiaan Yesus. Sekali lagi, kesimpulan ini berangkat dari data bahwa dualisme spesifik natur Yesus secara gamblang dinyatakan tidak hanya dalam Injil Yohanes tetapi juga dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas—yang dengan demikian “meski beberapa orang menafsir bahwa teks tersebut menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan”, tetapi secara komprehensif pemahaman tidaklah demikian sebagaimana satu teks yang menyatakan sisi kemanusiaan Yesus tidaklah menggugurkan pernyataan Yesus yang lain yang menyatakan ke-Ilahian-Nya sendiri. Itu sebabnya, demarkasi konteks dalam memahami dualisme spesifik natur Yesus sangatlah signifikan. Di sinilah letak keunikan Kristologi.
Namun kita perhatikan juga ayat 21 dari Yohanes pasal 5: “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Teks ini, berdasarkan demarkasi konteks, menyatakan sisi ke-Ilahian Yesus di mana Ia memiliki otoritas untuk menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 3:35 bahwa, “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” juga menunjukkan demarkasi konteks bahwa dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, kuasa dan kemuliaan yang diberikan Bapa kepada Yesus tidak dalam konotasi ordoistik melainkan dalam demarkasi inkarnasi itu sendiri. Jangan salah paham mengenai hal ini karena melihat secara luas demarkasi konteks sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya akan memberikan pemahaman yang objektif (eksegetis).
Ridderbos menjelaskan pasal 5:21 bahwa, “Anak juga seperti Bapa, memberikan hidup kepada ‘barangsiapa yang dikehendaki-Nya’, tentu saja bukan sebagai tindakan kemauan diri, apalagi sewenang-wenang, perilaku yang terpisah dari Bapa, tetapi tepatnya berdasarkan kuasa dan otoritas yang tidak terbatas yang diberikan kepada-Nya oleh Bapa (bdk. 3:35). Hal ini selaras dengan pernyataan Yesus dalam Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” yang mana pernyataan ini merujuk pada kondisi inkarnasi-Nya sebagai manusia dalam kerangka penyelamatan manusia dari dosa-dosa mereka.
Untuk menegaskan hal ini, Ridderbos menjelaskan, “Titik masalahnya adalah satu Allah dapat dikenal dan dihormati tidak dengan cara lain selain dalam Anak dan bahwa hanya dalam wahyu Anak kesatuan Allah nyata dalam keunikannya. Ketidakterpisahan pemujaan kepada Bapa dari pemujaan kepada Anak melarang gagasan apa pun bahwa ‘selanjutnya’ dan ‘di samping’ Allah sebagai Bapa, Anak sebagai ‘pihak kedua’ harus dihormati sebagai Allah. Karena dengan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Anak, Bapa tidak mengundurkan diri ke suatu posisi di belakang Anak, tetapi mendalilkan diri-Nya sendiri sebagai ada di dalam Anak. Allah bukanlah dua tetapi satu. Tetapi pada waktu yang sama dan untuk alasan yang sama Ia dapat dan akan dikenal tidak dengan cara apa pun selain dalam Anak dan dengan demikian dihormati oleh semua yang mengenal dan menghormati Dia sebagai Allah dan Bapa. Sekali lagi, dari pernyataan ini jelas bagaimana kesatuan Anak dengan Bapa, Kristus dengan Allah, merupakan motif dasar akan seluruh pernyataan diri Yesus.”
Dengan demikian, teks Yohanes 5:19 merujuk kepada natur kemanusiaan Yesus dan peran-Nya sebagai “Anak dalam Inkarnasi-Nya”; pernyataan-pernyataan yang bernada “humanitas—temporal” mengaksentuasikan konteks penebusan-Nya; ketika Yesus menyatakan bahwa Ia “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” merujuk pada “ketaatan Yesus sebagai manusia sejatti”, karena berbagai pernyataan Yesus—tidak hanya dalam Injil Yohanes—selalu melibatkan bentuk-bentuk penegasan dualisme spesifik natur-Nya: Ilahi dan manusia.
PERNYATAAN YESUS TENTANG KE-ILAHIAN-NYA
Meski sebagai manusia, Yesus seringkali menegaskan peran-Nya sebagai “Yang diutus Bapa” ke dalam dunia yang kemudian menegaskan juga sisi kemanusiaan-Nya. Di sini, demarkasi konteks selalu menjadi rujukan utama: membedakan saat mana Yesus mengklaim diri-Nya sebagai utusan Bapa, dan saat mana Yesus menunjukkan otoritas-Nya sebagai Firman [Logos] Ilahi yang kekal. Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa harus memerlukan demarkasi konteks? Jawabannya adalah karena Yesus memiliki dua natur, sebagaimana yang diungkapkan Rasul Yohanes: “Firman [Logos Ilahi] menjadi daging”. Lain halnya dengan manusia pada umumnya; mereka dilahirkan dari hubungan biologis. Ada sejumlah disparitas yang dapat diklasifikasikan antara Yesus sebagai Logos Ilahi yang menjadi manusia dan manusia pada umumnya.
Salah satu pernyataan yang menenkankan ke-Ilahian dan ke-Tuhanan-Nya Yesus adalah “egō eimi” [ἐγώ εἰμι]. ἐγώ εἰμι adalah sebuah pernyataan yang sah dari Yesus—sebuah independensi personalitas-Nya yang tampak dalam klaim-klaim spektakuler. Dalam memahhami ego eimi, saya melihatnya dalam tujuh aspek penting: Pertama, pemaknaan konteks. Kedua, pemaknaan personalitas. Ketiga, pemaknaan otoritas. Keempat, pemaknaan konfirmatif. Kelima, pemaknaan tujuan. Keenam, pemaknaan persetujuan. Ketujuh, pemaknaan pengakuan (penjelasan).
Beberapa aspek di atas, tampak dalam penjelasan Verlyn Verbrugge (William D. Mounce, Basics of Biblical Greek. Malang: Literatur SAAT, 2011, 112), bahwa “Dalam Injil Yohanes, mulai Yohanes 6:35, Yesus banyak menggunakan pronominal ‘ego’ dengan verba ‘adalah’ dalam ungkapan ‘ego eimi ho’…(‘Aku adalah…’; lihat juga 6:41; 8:12; 9:5,11,14; 11:25; 14:6; 15:1,5). Dalam setiap pemunculan, Ia menekankan siapa ‘Dia.’ Misalnya, saat Ia mengatakan ‘ego eimi ho artos tes zoes’ (6:35), Ia sedang menunjukkan jari kepada diri-Nya sendiri dan berkata, ‘Jika kamu menginginkan makanan rohani dalam hidupmu, maka pandanglah Aku, hanya Aku saja; karena Aku adalah roti hidup.’ Ayat-ayat ‘ego eimi’ lainnya memiliki penekanan yang sama. Apa pun yang kita inginkan untuk hidup rohani, kita bisa temukan dengan memandang kepada sumber berkat, Juruselamat kita Yesus Kristus.
Lebih dari itu, menurut Verbrugge, “pemakaian ‘ego eimi’ merujuk ke Perjanjian Lama, kepada kisah Musa ketika ia dikunjungi Allah di semak yang terbakar (Kel. 3). Ketika Musa menantang TUHAN agar memberi tahu nama-Nya, Allah menjawab dengan berkata (menurut Septuaginta), ‘ego eimi ho on’ (Aku adalah Aku sebagaimana Aku ada). Yaitu, Yahweh adalah ‘AKU ADALAH’ yang agung (Kel. 3:14). Yesus menggunakan sebutan terkenal untuk Allah ini ketika Ia berkata kepada orang-orang Yahudi, ‘Sebelum Abraham ada, Aku ada (ego eimi)’ (Yoh. 8:58). Ia menggambarkan diri-Nya sendiri dengan nama yang sama seperti yang digunakan Yahweh sendiri dalam Perjanjian Lama. Jadi nama dan ungkapan yang sama ini mendasari semua pernyataan ‘ego eimi’ Yesus dalam Injil Yohanes.
Pernyataan-pernyataan tentang “ἐγώ εἰμι” adalah otoritas yang diungkapkan Yesus bahwa Dia adalah Allah. Perlu dicatat di sini adalah bahwa meskipun dalam pasal 5:19 di mana Yesus menegaskan bahwa, “… sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak”, namun soal “Pengakuan” atau “Kesaksian” yang diungkapkan Yesus, lebih bersifat independensi berdasarkan demarkasi konteks dwi natur-Nya. Pekerjaan dan Pengakuan (kesaksian) yang Yesus ungkapkan tentu memiliki kualifikasi dan kualitas yang berbeda. Hal ini tampak dalam pernyataan Yesus berikut ini:
“Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku” (Yoh. 8:18).
Jadi, pasal 5:19 lebih menekankan pada sifat inkarnasi Yesus sebagai manusia sejati dan pasal 8:18 lebih menekankan pada sifat ke-Ilahian Yesus sebagai Allah yang berkuasa sebagaimana yang ditegaskan Rasul Yohanes pada prolog Injilnya, Yohanes 1:1-3, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Beberapa penegasan terkait ego eimi yang dinyatakan oleh Yesus Kristus: Pertama: Yohanes 6:48, AKULAH ROTI HIDUP (bdk. ay. 51). Kedua: Yohanes 8:12, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “AKULAH TERANG DUNIA; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Ketiga: Yohanes 10:7, Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya AKULAH PINTU ke domba-domba itu” (10:9). Keempat: Yohanes 10:11, AKULAH GEMBALA YANG BAIK. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (10:14). Kelima: Yohanes 11:25 Jawab Yesus: “AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Keenam: Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ketujuh: Yohanes 15:1, “AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR dan Bapa-Kulah pengusahanya” (15:5).
Dalam PL, pernyataan “Aku adalah” atau “Akulah” merupakan yang hanya diucapkan Allah dalam setiap konteks, misalnya Keluaran 6:5, “Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat (bdk. Kel 6:6, 7, 28; 7:5, 17; Yeh. 20:12, 19, 20, 26, 38, 42; Yeh. 22:16; 23: 49; 24:24, 27; 25:5, 7, 11, dan lain-lain).
Pernyataan-pernyataan Yesus perlu dihapami dalam bentuk demarkasi: dualisme spesifik natur Yesus: Ilahi dan manusia, karena memang pola pemahaman yang demikianlah yang disediakan oleh Yesus dalam Injil-Injil Perjanjian Baru. Berdasarkan elaborasi di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:
Pertama: Dualisme spesifik natur Yesus perlu dipahami berdasarkan demarkasi konteks, sebab kontekslah yang dapat menyuguhkan informasi, data, dan kualitas pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya. Ketika Yesus menyatakan bahwa “Ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19), maka pernyataan tersebut yang melibatkan unsur humanitas—temporal merupakan sisi kemanusiaan Yesus tanpa “menyangkal ke-Ilahian-Nya” sebagaimana yang Ia nyatakan di tempat lain dalam konteks yang berbeda.
Kedua: Motivasi sebagai proses pemahaman juga merupakan langkah awal, sebab ketika motivasi seseorang keliru maka penyelesaiannya juga pasti keliru; apalagi ketika demarkasi konteks tidak lagi dibutuhkan; hasilnya adalah “eisegesis”: memasukan sesuatu ke dalam teks.
Ketiga: Motivasi yang benar (berdasarkan kaidah-kaidah hermeneutika [teks dan konteks]), menghasilkan penyelesaian dalam bentuk pernyataan pemikiran, kesimpulan objektif atau pengakuan-pengakuan terhadap Yesus berdasarkan eksegesis (menyatakan makna teks) dan bukan eisegesis.
Keempat: Persepsi negatif terhadap pemahaman Kristologi biblika yang berangkat dari gagasan kitab suci lainnya dan pengaruh dari pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai representasi kajian-kajian ilmiah yang mengambaikan tata cara hermenetika biblika, gagal pada dirinya (out context dan mispersepsi).
Kelima: Meski pada Yohanes 5:19 dinyatakan bahwa Yesus seolah-olah bukan yang Ilahi, akan tetapi pada prolog Injilnya, Rasul Yohanes menegaskan bahwa Yesus yang adalah Logos Ilahi—bersama-sama dengan Allah sejak kekal. Logos Ilahi (1:1) adalah Pencipta—Allah mencipta dengan perantara Logos-Nya (1:2-3). Allah dan Logos sama-sama kekal.
Keenam: Logos Ilahi yang berinkarnasi menjadi daging menghasilkan pemahaman mengenai dualisme spesifik natur Yesus dan demarkasi konteks sebagaimana yang tampak dalam keseluruhan Injil PB dan tulisan-tulisan lainnya dalam PB. Memahami inkarnasi Kristus, haruslah menggunakan demarkasi konteks; saat mana Yesus menekankan identitas ke-Ilahian-Nya, dan saat mana Yesus menekankan identitas kemanusiaan-Nya.
Ketujuh: Sebagai manusia Yesus seringkali menggunakan analogi, pernyataan, dan klaim-klaim yang menguatkan identitas kemanusiaan-Nya. Yohanes 5:19 masuk dalam kategori ini.
Kedelapan: Pernyataan ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri….’ sebagaimana yang diungkapkan Ridderbos bahwa hal itu menjelaskan bukan dengan penundukan kepada Bapa tetapi dengan ke-Anakan: ‘Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ayat 19c). Itulah yang menjadikan-Nya Anak. Sama halnya ayat 20a: ‘Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri’. Itulah yang menjadikan-Nya Bapa. Sebagaimana yang juga dinyatakan Calvin bahwa teks Yohanes 5:19, “tidak berkenaan dengan keilahian Kristus yang sebenarnya” tetapi dengan “Anak Allah selagi Ia dinyatakan dalam daging”.
Kesembilan: Teks Yohanes 5:19 hanya berbicara mengenai apa yang dikerjakan Yesus (dari Bapa), dan tidak berbicara mengenai “Pengakuan” atau “Kesaksian” Yesus. Pengakuan dan Kesaksian Yesus haruslah dipisahkan berdasarkan demarkasi konteks dwi natur-Nya. Pekerjaan dan Pengakuan (kesaksian) yang Yesus ungkapkan tentu memiliki kualifikasi dan kualitas yang berbeda. Teks dalam 5:19 lebih menekankan pada sifat inkarnasi Yesus sebagai manusia sejati dan pasal 8:18 lebih menekankan pada sifat ke-Ilahian Yesus sebagai Allah yang berkuasa.
Kesepuluh: “egō eimi” [ἐγώ εἰμι] adalah sebuah pernyataan yang sah dari Yesus—sebuah independensi personalitas-Nya yang tampak dalam klaim-klaim spektakuler. Pernyataan-pernyataan tentang “ἐγώ εἰμι” adalah otoritas yang diungkapkan Yesus bahwa Dia adalah Allah sebagaimana tampak dari pengakuan-Nya berikut ini: (1) AKULAH ROTI HIDUP; (2) AKULAH TERANG DUNIA; (3) AKULAH PINTU; (4) AKULAH GEMBALA YANG BAIK; (5) AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP; (6) AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP; dan (7) AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR.
“Aku berusaha sekeras mungkin untuk menaati peraturan. Aku biasa bertobat, dan membuat daftar dosa-dosaku. Aku mengakukannya terus-menerus. Dengan skrupel aku menjalankan penitensi yang diberikan padaku. Namun suara hatiku tetap gelisah…. Aku mencoba menyembuhkan keragu-raguan dan rasa skrupel suara hati dengan dengan obat manusiawi, tradisi manusia. Semakin aku mencoba obat-obat ini, semakin kacau dan tidak tenang suara hatiku jadinya.” – Martin Luther –
Pendahuluan
Tidak semua Gereja yang merayakan atau bahkan mengingat lahirnya Reformasi, karena saya tahu, orang Kristen seringkali melupakan sejarah yang telah membentuk imannya hingga saat ini. Saya tidak melulu menyajikan figur Luther secara keseluruhan, sebab jika saya hanya menyajikan figur Luther dan sejarah lahirnya Reformasi, maka terkesan tidak ada hal yang baru. Mengapa? Bisa saja, setiap kita, jika ingin mengetahui sejarah Reformasi dan figur Luther, dapat mengaksesnya melalui internet.
Saya berpikir lain. Saya mau, apa yang telah dikerjakan oleh Luther dapat kita maknai dan mengikuti semangatnya untuk mencintai kebenaran Alkitab, tidak berkompromi, menganggap remeh Alkitab, menghina Yesus, menjual Yesus, menyangkal Alkitab, atau bermalas-malasan untuk mengabarkan Injil. Ada Gereja yang menyangkal (tidak menerima) Injil Yohanes, ada Gereja yang menyangkal keilahian Yesus, ada pula Gereja yang bersifat sekuler, mulai dari pendetanya sampai ke para majelis Gereja. Suatu fenomena yang aneh.
Perlu bagi kita meninjau kembali makna dan semangat Reformasi yang telah memberikan dampak yang berarti bagi iman dan ajaran kita. Reformasi bukanlah sekadar slogan semata. Bukan pula sejarah tanpa arti yang signifikan. Banyak Gereja yang tidak lagi memperhatikan secara serius makna Reformasi. Masing-masing sibuk dengan urusan organisasi, lomba paduan suara, tuding-menuding penggelapan uang, terlibat dalam politik dan masih banyak lagi, sehingga ajaran yang fundamental tidak menjadi sasaran utama.
Memang, dalam bergereja, banyak hal yang perlu kita pelajari dalam Alkitab. Jika Gereja terlalu banyak mengajarkan tentang kehidupan sehari-hari tanpa dibarengi dengan ajaran teologi (Kristologi) yang kuat, maka iman kepada Yesus ‘mungkin’ menjadi tidak kokoh dan “collaps” (runtuh) serta menganggap keilahian Yesus hanya relatif saja. Kehidupan rohani semakin merosot dan bobrok. Salah satu contoh, di daerah Asmat (Papua), seorang Kepala Sekolah Dasar, pergi ke perempuan pelacur untuk melakukan hubungan seks bebas. Anehnya, karena ia tidak punya uang, ia berhutang dulu, dan berjanji, bahwa setelah dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) cair, baru ia pergi lagi ke perempuan pelacur tersebut dan melunasi ongkos ‘bermain seks’. Tentu ini adalah perbuatan yang memalukan, sedangkan ia adalah seorang Kristen. Ironis memang!
Banyak orang Kristen yang menghina Yesus bahkan menjual Yesus dan berpindah agama, menjual Yesus demi politik, demi jabatan (pangkat, kedudukan), kekayaan, bahkan karena ‘perempuan cantik’ – menurut analisis saya adalah karena menganggap Yesus biasa-biasa saja. Apa yang telah dikerjakan Yesus, dianggap tidak berarti apa-apa.
Sekilas sejarah Reformasi Martin Luther
Linda Smith dan William Raeper dalam buku mereka, Ide-ide Filsafat dan Agama: Dulu dan Sekarang menjelaskan tentang sejarah Reformasi Luther.
Pada awal abad keenam belas, suatu jeritan diteriakkan di seluruh Eropa. Jeritan ini adalah ‘pembaruan di kepala dan anggota-anggota’ Gereja Katolik Romawi – dan muncullah perdebatan. Perdebatan bukanlah mengenai kebenaran ajaran Roma Katolik melainkan mengenai cara Gereja bertingkah laku. Akibatnya adalah kawah perubahan dan pembaruan, yang sekarang disebut “Reformasi”.
Para pejabat Gereja memegang jabatan-jabatan negara yang berkuasa. Banyak dari mereka bukan hanya menjadi politikus yang kaya. Mereka mengira untuk memajukan kerajaan Allah tampak menyamakan dengan terlalu dekat dengan dunia ini. Gereja menuntut pajak dan menjual harta-harta rohani demi uang – pengampunan dosa, misa, lilin, upacara-upacara, jabatan uskup, dan bahkan jabatan Paus sendiri.
Paus adalah kepala Gereja Katolik Roma, tetapi bertindak seperti pangeran duniawi. Banyak orang menyebut Gereja bejat. Dalam kondisi seperti ini, gerakan Reformasi diperlukan. Reformasi adalah memperbarui Gereja yang bobrok. Reformasi dimulai dengan letupan yang segera menjadi kebakaran. Ada beberapa kejadian penting yang menjadi latar belakang timbulnya Reformasi. Paus Leo X terus-menerus menghadapi kebangkrutan. Pada tahun 1513 ia berhutang sekurang-kurangnya 125.000 dukat, dan ia perlu juga mengumpulkan uang dengan cepat untuk membayar Katedral St. Petrus. Satu cara untuk mengumpulkan uang adalah menjual indulgensi.
Martin Luther, seorang profesor Kitab Suci di Universitas Wittenberg tidak senang dengan praktek indulgensi. Martin Luther terdorong untuk menerbitkan sembilan puluh lima Tesisnya tentang penjualan dokumen-dokumen indulgensi yang menjamin penyelamatan jiwa-jiwa dari api penyucian. Indulgensi ini dijual untuk mengumpulkan uang bagi pembangunan Katedral St. Petrus Roma. Luther melihat ini sebagai penolakan lengkap atas kebenaran pokok – ia percaya kita selamat hanya dengan menempatkan iman kita pada Yesus.
Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa jiwa-jiwa pergi ke suatu tempat yang disebut “Api Pencucian” setelah kematian. Jiwa-jiwa dibersihkan untuk bisa sampai ke surga. Dengan membeli indulgensi, orang-orang biasa percaya bahwa mereka akan membutuhkan sedikit waktu di api pencucian, dan juga bahwa jiwa seseorang yang telah meninggal dapat dibebaskan dari api pencucian dan langsung pergi ke surga. Menutut Tetlze, “Begitu uang logam di koper berbunyi, jiwa meloncat dari api pencucian.” Uskup Agung Albert dari Mainz menggunakan pertapa Dominikan yang bernama Tetlzel untuk menjual indulgensi. Ia berpendapat bahwa bila orang-orang biasa membeli indulgensi, mereka tidak melihat lagi perlunya mengubah tingkah laku mereka. Luther terkejut ketika salinan dari instruksi Uskup Agung kepada Tetlzel ditunjukkan kepadanya.
Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan sebuah plakat pada pintu Gereja puri di Wittenberg, ditulisi “Sembilan puluh lima Tesis mengenai Indulgensi.” Bahkan Luther sendiri tidak menyadari bahwa pada waktu itu Reformasi telah dimulai. 95 Tesis atau dalil yang dipaparkan Luther dipublikasikan dan diedarkan dan pandangannya memperoleh dukungan massa dan ia menjadi pahlawan hampir dalam waktu semalam. Ia menjadi berbahaya bagi Tetlzel untuk berjalan di jalanan. Pemerintah setempat, Elector Frederick dari Saxony, memutuskan untuk melindungi Luther. Frederick lelah dengan paus-paus Itali yang campur tangan terhadap urusan Jerman dan senang karena dan senang karena menjengkelkan Uskup Agung. Begitulah Reformasi menjadi gabungan yang sangat kuat antara agama dan politik.
Tujuan Luther adalah untuk memurnikan Gereja Katolik Roma dan memelihara kebenarannya. Namun, segera ia terlibat dengan peristiwa-peristiwa dan pandangan barunya menjadi reformasi spiritual dan moral terhadap keseluruhan dunia Kristen. Meskipun begitu, baik Luther maupun temannya, Philip Melanchthon, tidak mengira bahwa mereka sedang mendirikan Gereja baru. Luther tidak mau menarik kembali pandangan-pandangannya. Ia memilih memberontak ketimbang otoritas Paus. Demikian pula dengan perdebatannya dengan John Eck pada tahun 1519 di Leipzig. Eck menyudutkan Luther untuk memilih Roma atau Kitab Suci. Tetapi Luther memilih Kitab Suci.
Luther memang menentang keras kekuasaan Paus. Bagi Luther, Paus adalah antikristus, seperti setan sendiri. Luther mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja, seperti penyelewengan surat penghapusan siksa, dan kepausan. Reformasi menekankan untuk kembali kepada Gereja mula-mula. Luther menyerang ajaran transsubstansiasi, selibat para klerus dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman.
Pada tanggal 15 Juni 1520 Roma mengeluarkan BullaExsurge Domine, yang mengutuk Luther sebagai seorang bidaah. Orang-orang Kristen yang taat diperintah untuk membakar buku-bukunya. Jawaban Luther adalah membakar Bulla, dokumen dari Paus, di depan khalayak ramai. Luther dicekal dan dinyatakan sebagai buron. Ia bersembunyi di sebuah puri yang disebut Wartburg. Di sana ia mulai menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Jerman. Ia menyelesaikan pekerjaan tersebut pada tahun 1534. Luther percaya bahwa setiap orang harus mampu membaca Kitab Suci, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Sebelumnya Kitab Suci dalam bahasa Latin dan hanya diperuntukkan bagi para imam dan ahli. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diterbitkan dengan mesin cetak, sekarang setiap orang Kristen dapat membaca Kitab Suci.
Makna dan Semangat Reformasi
Hal yang dapat kita pelajari dari sejarah Reformasi adalah pentingnya menegakkan kebenaran Tuhan. Luther telah menjadi teladan yang baik bagi kita untuk menindaklanjuti keberanian dan semangatnya dalam menegakkan kebenaran, apa pun yang terjadi. Luther tidak pernah takut untuk dikucilkan atau dianggap sesat, karena ia tahu bahwa Gereja Katolik Roma telah menyimpang dari kebenaran Alkitab.
Konteks indulgensi adalah persoalan serius. Luther menegaskan bahwa dosa-dosa manusia tidak dapat dihapuskan hanya dengan membeli indulgensi. Pengampunan hanyalah milik Tuhan, dan hanyalah Dialah yang dapat mengampuni manusia bukan indulgensi. Penjualan indulgensi adalah karena ada unsur politik. Politik telah merusak prinsip Alkitab.
Karena politik juga, para pendeta bisa terjebak dalam mengatasnamakan Allah. Salah satunya adalah Pendeta Yakob Nahuway, yang pernah mengatakan bahwa ia mendapat wangsit (pesan gaib) dari Allah bahwa Foke (Fuazi Bowo) pasti terpilih jadi gubernur (DKI Jakarta). Tetapi, kenyataannya, Foke pun kalah dalam Pilgub DKI Jakarta. Siapa yang salah? Allah atau Jacob Nahuway? Allah tidak mungkin salah. Jadi, Jacob Nahwaylah yang salah.
Kebanyakan dari kita, jika dalam kondisi yang sama dengan Luther, lebih memilih mempertahankan jabatan meskipun telah terbukti menyimpang dari prinsip Alkitab, lebih memilih kompromi dengan dosa, dengan intrik-intrik (persekongkolan atau taktik untuk menipu) dalam Gereja dari pada tetap menegakkan kebenaran Alkitab. Saya terlalu sedih melihat perkembangan Gereja saat ini. Keprihatinan saya terfokus pada “menganggap murah segala karya Tuhan”. Anggota jemaat menjadi liar.
Pembaruan dalam Gereja itu perlu – tatkala Gereja sudah mulai menyimpang. Luther melihat kebobrokan Gereja terjadi di masanya. Dan, ia harus bertindak bukan berkompromi. Tindakan Luther memacu Gereja untuk semakin giat mencintai Alkitab dan kebenarannya. Belajar melakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.
Apa yang terjadi di zaman Luther, di mana Gereja Katolik Roma, demi mengumpulkan uang untuk pembangunan katedral, harus menipu jemaat dengan menjual indulgensi. Menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Ini juga yang dilakukan Gereja sekarang.
Luther telah mewariskan semangat keberanian dalam menegakkan kebenaran meskipun mendapat tentangan yang hebat dari pihak Paus. Makna Reformasi adalah “berani melawan ketidakbenaran dan penyimpangan terhadap Alkitab”. Semangat Reformasi mendorong kita untuk selalu waspada terhadap perkembangan ajaran di dalam Gereja. Banyak pendeta, para pelayan yang menyebarkan ajaran-ajaran yang tidak beres dan menyimpang – dan ini perlu dinilai secara baik dan kritis, karena Gereja yang teguh dan mandiri adalah Gereja yang mempertahankan ajaran Alkitab secara serius.
Aplikasi bagi Kita
Dari sejarah Reformasi, kita dapat melihat bahwa perjuangan Martin Luther untuk melawan ketidakberesan Gereja Katolik Roma telah membuahkan hasil. Itu berarti, jika dalam Gereja terjadi ketidakberesan ajaran, permainan politik jabatan, monopoli keuangan, monopoli ajaran Alkitab dan kejahatan lainnya, maka harus segera dibereskan.
Para pejabat Gereja yang ikut dalam dunia politik, sebenarnya tidak memberikan dampak yang berarti bagi Gereja. Kita bisa berbeda pendapat mengenai hal ini. Jika Gereja dan politik menyatu, maka kerohanian jemaat akan merosot dan penuh dengan segala penipuan – menghalalkan segala cara.
Ada Gereja-gereja yang hanya mementingkan keuangan (atau mencari uang untuk kepuasan diri), mementingkan paduan suara, mementingkan perpuluhan dan mementingkan bagaimana mendapat uang sebanyak mungkin dari ibadah-ibadah yang dilakukan. Ini adalah penipuan yang luar biasa bobroknya.
Mari kita berbenah diri, berjuang dalam menegakkan kebenaran seperti yang dilakukan Luther. Semangat dan keberanian Luther patut kita contohi. Dan dengan demikian, kita semakin mencintai kebenaran, semakin mencintai Tuhan dan semakin mencerminkan sikap dan karakter sebagai hamba-bamba TUHAN dan meneladani Yesus Kristus serta menjadi serupa dengan Dia.
Gereja perlu juga untuk menilai dirinya sendiri, apakah sudah menyimpang atau tidak, sama seperti pesan Paulus kepada Timotius: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1 Tim. 4:16).
Glosari
Bula:surat resmi dari Paus yang dimeteraikan dengan bulla; dekrit atau perintah dari Paus.
Bulla:berasal dari bahasa Latin yang berarti meterai, biasanya dari timah hitam yang dikenakan pada bula resmi.
Dukat: uang emas dan perak yang nilainya berbeda-beda.
Exsurge Domine:(dari bahasa Latin) adalah kata-kata pertama dari bula paus Leo X, diterbitkan untuk menolak 95 dalil Martin Luther dan yang dibakar Luther pada tanggal 2 Januari 1521.
Indulgensi:surat penghapusan dosa; surat yang menjamin pengurangan hukuman dalam api penyucian yang sebenarnya harus dijalani orang berdosa.
Penitensi: kesedihan dan penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan atau keadaan menyesali dosa. Dalam bahasa Inggris disebut “penitence”. Penitensi diserap dari bahasa Belanda.
Skrupel: kecemasan yang berlebihan tentang baik tidaknya perbuatan tertentu, yang mengganggu seperti batu kecil yang tajam (Lat. scrupulus) dalam sepatu waktu berjalan; pertimbangan etis yang menyebabkan orang tidak bertindak.
Transsubstansiasi:berasal dari bahasa Latin (trans: ‘di atas’dan substantia: ‘hakikat’), adalah ajaran Katolik Roma yang ditentukan Konsili Lateran (tahun 1215) mengenai makna misa, yang mengajarkan bahwa pada kesempatan Ekaristi, ketika roti dan anggur diberkati, maka hakikat (substansi) roti dan anggur menjadi hakikat tubuh dan darah Kristus, sehingga Kristus hadir di atas altar.
Sumber Referensi:
Majalah Warta Bangsa: Warta untuk Semua. Edisi 3 Tahun 1 – 2012
Paparang, Stenly R., Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa (Jakarta: Delima, 2012).
Salim, Peter & Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern English Press, 1991).
Smith, Linda & William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, terj. P. Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanisius, 2004). Judul asli: A Beginner’s Guide to Ideas, (Oxford, England: Lion Publishing, 1991).
ten Napel, Henk, Kamus Teologi Inggris – Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001).
Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, edisi revisi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006).
“Sebuah tindakan yang baik, dimulai ketika kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna.”
“Kebahagiaan yang sejati adalah terletak pada hati, pikiran dan mulut yang bersyukur. Sebelumnya, ada usaha dan kerja keras, semangat yang tinggi dan keyakinan akan kuasa Tuhan. Langkah selanjutnya adalah: “bersyukur.”
“Ketekunan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan terkadang menguras pikiran dan waktu kita tetapi semuanya akan digantikan dengan hasil akhir dari ketekunan itu sendiri.”
– Stenly R. Paparang, Iman, Makna, dan Inspirasi Hidup Kristen, (Batam: Februari 2012) –
“Sesuatu yang baik adalah bertindak. Hasil yang baik dari tindakan kita adalah sukacita. Berkat yang terbesar yang diberikan kepada kita adalah waktu. Waktu yang baik bagi kita adalah belajar. Proses yang terbaik setelah belajar adalah menjadi dewasa. Belajar tidak pernah berhenti. Itu sebabnya kedewasaan tidak akan pernah berhenti.”
“Harapan satu-satunya bagi orang yang rajin dan bijaksana adalah ia boleh menjadi berkat bagi orang lain dalam perbuatannya, pemikirannya, tingkah lakunya, relasinya dan segala yang ia miliki ia jadikan sebagai penolong bagi orang lain pada saat mereka membutuhkannya.”
– Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup, (Talaud, 2009, 2010) –
Pendahuluan
Semua manusia hidup di dalam “waktu.” Semua kegiatan manusia diatur oleh waktu, dibatasi oleh waktu, dan diikat oleh waktu. Segala sesuatu dalam dunia ini berada dalam waktu. Stephen Tong mengatakan bahwa manusia mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus digeser oleh waktu. Secantik apa pun seorang perempuan, tetap akan tua dan keriput karena digeser oleh waktu. Tidak ada seorangpun yang dapat menggeser waktu. Ia hanya dapat mensyukuri waktu yang telah diberikan Tuhan, hidup baik-baik dalam mengatur waktu, tidak menyia-nyiakan waktunya.
Rasul Paulus menekankan pentingnya mempergunakan waktu. Ia menulis: “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 4:16). Banyak tantangan yang akan menghalangi kita dalam melakukan segala sesuatu yang baik. Jika tidak dapat mengatur waktu dengan baik dalam melakukan kehendak Tuhan, maka kita akan diperhadapkan dengan berbagai hambatan, masalah, sehingga waktu kita terbuang percuma; menjadi sia-sia segala perbuatan kita.
Mengapa perlu mengatur (memanajemenkan) waktu? Seberapa pentingkah “waktu” itu? Apakah orang Kristen berkewajiban mengatur waktu? Mungkin masih banyak bentuk pertanyaan serupa berkenaan dengan waktu. Tetapi, yang pasti, waktu itu penting, dan sangat berharga. Memanajemen waktu itu penting. Manajemen adalah proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan (Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer: Edisi Pertama, [Jakarta: Modern English Press, 1991]). Sumber daya menunjang proses manajemen. Tak ada sumber daya, jangan berharap dapat mengatur waktu.
Suatu pepatah mengatakan “Waktu adalah uang.” Tapi uang bukanlah waktu. “Waktu” menopang segala sesuatu dalam hidup manusia. Uang tidak bisa membeli “waktu”. Kita hanya dapat membeli barang-barang tertentu. Sadar atau tidak sadar, waktu berjalan terus; terkadang tanpa kita duga, waktu bergulir terus. Kita terpukau dengan kesombongan dan kemunafikan, sementara itu waktu mengikisnya secara perlahan. Dalam renung kalbu, kita mengakui bahwa Tuhan adalah pemberi waktu yang terbaik. Ia merancang kita untuk menikmati waktu yang Ia berikan. Waktu sangatlah berharga sebab di dalamnya kita bergerak, berkarya, dan berelasi.
Ada satu film yang sangat menarik yang berjudul “IN TIME”. Film tersebut dibintangi oleh Justin Timberlake dan Amanda Seyfried. Film tersebut mengisahkan tentang suatu dunia di mana waktu telah menggantikan uang sebagai kurs yang berlaku; manusia bisa hidup selamanya atau mati karena mencoba bertahan di dalam waktu yang berlimitasi sebagaimana terpampang di tangan mereka; manusia berpacu dengan waktu, bahkan untuk menelpon (di telpon umum), manusia dikenakan biaya “1 detik” dari waktu hidupnya. Pokoknya segala sesuatu serba dibayar dengan waktu.
Makna dari film ini yang dapat saya pelajari adalah: “Waktu begitu berharga, sehingga orang-orang berusaha mempertahankan hidupnya dengan cara yang baik atau dengan cara yang jahat (mencuri waktu [hidup] orang lain untuk ditambahkan ke dalam waktu hidupnya). Orang yang kaya dan kuatlah yang berpeluang besar untuk bertahan lebih lama, bahkan sampai ribuan tahun, sedangkan orang miskin bisa diperalat dan diperdaya oleh yang kuat dan kaya.
Lalu, bagaimana jika hidup kita demikian? Pasti kita akan menjaga baik-baik waktu hidup kita agar jangan sampai orang lain mencuri waktu kita. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Tuhan memberikan kepada kita waktu yang sangat berharga agar kita bisa hidup dan hidup kita seharusnya mengatur waktu dengan baik dan digunakan untuk hal-hal yang berguna dan terlebih bisa berguna bagi sesama kita.
MANAJEMEN WAKTU
Memanajemenkan waktu berarti mengatur, menyusun, dan menetapkan waktu kita untuk dipakai dalam berbagai hal yang akan dilakukan. Jika kita berbicara mengenai “manajemen”, maka ada hal-hal yang penting yang perlu dipertimbangkan berkenaan dengan pekerjaan, uang, waktu, program, proyek, usaha, belajar, bisnis dan sebagainya.
Mengapa perlu manajemen? karena kita dituntut untuk melakukan tindakan “sistematis” dalam segala sesuatu. Seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa “Memanajemenkan waktu berarti “mengatur”, “menyusun” dan “menetapkan” waktu kita untuk dipakai dalam berbagai hal yang akan kita lakukan.” Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga hal tersebut.
Mengatur waktu
Mengatur waktu adalah suatu usaha pembelajaran dan pendisiplinan diri kita agar tidak membuang-buang waktu, misalnya mengatur waktu untuk belajar, waktu istirahat, waktu untuk makan, waktu untuk tidur, waktu untuk bermain, dan sebagainya. Dari langkah “mengatur” waktu, setidaknya kita telah mulai mendisiplinkan diri kita agar hidup kita memiliki tujuan yang bermakna.
Menyusun waktu
Dalam hal ini, menyusun waktu adalah sama dengan menyusun jadwal. Biasanya hal ini berkenaan dengan orang-orang yang sibuk karena begitu banyak pekerjaan yang dilakukan. Misalkan seseorang menyusun waktu (jadwal) kegiatannya selama seminggu tanpa menyebutkan waktu untuk makan, minum dan mandi.
Seringkali “penyusunan waktu” hanya berkenaan dengan hal-hal penting untuk dikerjakan, misalnya: Hari Senin (membaca buku dan analisa masalah); Hari Selasa (menyusun diktat Metode Belajar); Hari Rabu (belajar mengenai ilmu alam); Hari Kamis (belajar menjahit); Hari Jumat (mengajar Sejarah Gereja); Hari Sabtu (latihan Sepak Bola).
Sama halnya dengan menyusun jadwal belajar dalam seminggu bagi anak-anak Sekolah Dasar atau SMP dan SMA atau SMTK dst.
Menetapkan waktu
Menetapkan waktu adalah menetapkan prioritas waktu mengenai suatu kegiatan. Misalnya menetapkan waktu rapat atau pertemuan, menetapkan waktu tamasya, ret-reat atau pergi berlibur di suatu tempat sehingga tidak mengganggu jadwal yang lainnya. Artinya sudah ditetapkan bahwa pada tanggal sekian, saya harus bertemu dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Nazaruddin, Sule, Komeng dan lainnya.
Dari berbagai penjelasan di atas, maka “manajemen” waktu perlu untuk kita lakukan agar kita belajar mempergunakan waktu yang Tuhan berikan. Tindakan ini akan menjadikan kita sebagai orang yang menghargai waktu, mengisi waktu dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, mensyukuri waktu karena kita masih hidup dan menikmati waktu. Kita tentu akan menyesali hidup kita jika hidup kita hanya kita pergunakan dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna, tidak mendidik, tidak membangun, tidak mendisipkan diri dan sebagainya.
Maka, perlu adanya tindakan “memprioritas” waktu bagi pekerjaan kita. Apalagi jika kita adalah seorang pelajar. Pastinya, prioritas waktunya dipakai untuk belajar dan belajar. Setiap pelajar identik dengan “belajar.” Hanya orang yang mempergunakan waktunya dengan belajar secara baik akan dapat mencapai hasil yang dia inginkan.
Tidak ada pelajar yang tidak belajar. Jika ada pelajar yang tidak belajar maka ia tidak disebut sebagai pelajar. Belajar itu perlu. Seorang anak yang belum bisa berjalan, tetapi mau belajar berjalan, biarkan dia belajar berjalan dan pasti ia akan jatuh. Tapi ia akan terus belajar berjalan meskipun harus jatuh. Jika seorang ibu merasa kasihan dengan anak yang baru belajar berjalan dan lebih memilih menggendongnya, maka anak tidak bisa berjalan dengan baik. Seekor burung kecil yang mau belajar terbang pasti ia akan jatuh. Tapi ia akan terus belajar terbang meskipun harus jatuh berulang-ulang.
Demikian juga dengan manusia. Jika kita tidak mau belajar untuk melakukan sesuatu yang berguna dan takut untuk salah, takut untuk jatuh, takut untuk bertindak maka kita tidak akan menjadi orang yang dewasa, kuat dan berpengaruh. Salomo mengatakan: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasannya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Amsal 6:6-8).
“Orang malas adalah orang yang tidak mempergunakan banyak hal. Di antaranya adalah: ia tidak mempergunakan alat yang ada di tangannya; ia tidak mempergunakan pikirannya; ia tidak mempergunakan waktu yang ada; ia tidak mempergunakan kesempatan yang ada dan dibiarkannya lewat begitu saja; ia tidak mempergunakan tangannya untuk berkreatifitas; ia tidak mempergunakan kakinya untuk mencari sesuatu; ia tidak mempergunakan temannya sebagai mitra yang baik yang mungkin bisa menolongnya; ia tidak mempergunakan bahan-bahan yang telah tersedia; ia tidak mempergunakan lahan yang ada di depan matanya. Sebaliknya, ia hanya mempergunakan kursi untuk duduk; kasur untuk tidur; musik untuk hiburan; meja untuk melipat tanggannya; teman untuk diperintahkannya untuk bekerja; hujan sebagai penambah semangat untuk tidur pulas” (Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup, [Talaud, 2009, 2010]).
Kita harus memimpin diri kita sendiri. Kitalah yang mengatur waktu. Semut tidak ada pemimpinnya karena mereka tidak ada rapat untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Lain halnya dengan kita. Kita bisa bermusyawarah dengan diri kita sendiri dan berkata: “Aku harus mampu mengatur waktu.” Di sini menyatakan bahwa Aku (diri) berbicara kepada diri saya sendiri bahwa diri saya harus mempu mengatur waktu.
Oleh karena itu, manajemen waktu merupakan hal yang sangat baik bagi kita, karena waktu itu berharga, waktu tidak dapat diputar kembali, begitu juga dengan kesempatan yang kita miliki. Orang bodoh membuang kesempatan, orang biasa menunggu kesempatan, dan orang bijak mencari kesempatan (Stephen Tong).
Tuhan telah memberikan waktu bagi kita dengan begitu limpahnya sehingga kita bisa menikmati hidup ini. Tuhan telah memberikan kita bijaksana, maka perlu bagi kita untuk menggunakan dan memanajemen waktu agar kita menjadi orang yang tidak ketinggalan dalam segala sesuatu. Orang bodoh adalah orang yang menyia-nyiakan waktu sedangkan orang bijak adalah orang yang mempergunakan waktunya dengan hal-hal yang bernilai. Memikirkan kebodohan adalah dosa (Amsal 24:9). Orang bodoh sangat dekat dengan kemalasan” Kemalasan sangat dekat keterpurukan hidup dan kekurangan segala sesuatu.” Kebodohan memperlambat pencapaian tujuan hidup dan kemalasan menimbulkan pemborosan waktu dan kesempatan (Paparang, Hidup yang Seharusnya).
Buanglah kemalasan dan kebodohan itu dalam dirimu. Jika engkau mau memperkaya diri dengan pelbagai hal yang baik, maka dirimu akan menjadi teladan bagi semua orang. Aturlah waktu sedemikian rupa.
Ada beberapa manfaat dari memanajemenkan waktu:
Belajar mendisiplinkan diri dengan waktu
Mendidik diri kita untuk melakukan hal-hal yang telah ditetapkan
Tidak membuka peluang bagi kita untuk membuang-buang waktu dalam melakukan hal-hal yang tidak berguna
Mengajar kita bahwa waktu itu penting jika diatur dengan baik
Mengajar kita bahwa waktu itu berharga
Menjadikan kita sebagai pribadi yang berhasil jika manajemen waktunya baik
Keberhasilan diukur oleh pemanfaatan waktu untuk bekerja keras, belajar, dan menetapkan tujuan-tujuan utama (prioritas) dalam prinsip-prinsip hidup.
Menjadikan kita terbiasa dan gesit dalam melakukan segala tugas dan tanggung jawab kita, kapan saja diperlukan dan dimintai pertanggungan jawab
Orang yang disiplin dalam waktu lebih dihargai ketimbang orang yang selalu membuang waktu secara percuma
Mengatur waktu, melatih kita menjadi lebih bijaksana dan penuh hikmat dalam menyelesaikan tugas-tugas, persoalan-persoalan, pekerjaan rumah, dan masalah yang dihadapi.
Mengarahkan langkah kita kepada pencapaian tujuan, cita-cita, kesuksesan, kebahagiaan, kesukacitaan dan segala sesuatu yang bernilai tinggi.
RUMUSAN MENGGAPAI CITA-CITA
“Mengarahkan langkah kita pada tujuan yang jelas akan memberikan pengharapan dan sukacitadi setiap langkah yang diayunkan. Kesempurnaan pengharapan dan sukacita akan terjadibila langkah terakhir kita telah mencapai tujuan itu”
“Belajar adalah kebutuhan hidup setiap manusia. Tanpanya, kita tidak pernah tahu apa artinya hidup.Dan manusia hanya diberikan dua pilihan: “Belajar dan bertindak atau diam dan tak berbuat apa-apa” – Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup, (Talaud, 2009, 2010).
Cita-cita adalah sebuah impian dari setiap manusia yang merencanakan hidup dan masa depannya. Terlepas dari cita-cita yang terlampau tinggi tanpa diseimbangkan dengan kualitas dan kapasitas diri manusia atau cita-cita yang sederhana, semuanya didasari pada keinginan manusia untuk menjadikan hidup lebih baik dalam pandangannya sendiri.
Orang yang menghargai waktu adalah orang yang sebenarnya mempunyai cita-cita yang besar. Orang yang membuang-buang waktu, adalah orang yang menghancurkan masa depannya. Bila kita mempunyai suatu cita-cita, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus berjuang dan bekerja keras untuk terus maju, tekun, belajar, berani mengambil resiko dan berdoa. “Ora et Labora” adalah istilah dari bahasa Latin yang artinya “Berdoalah dan bekerjalah.” Ini adalah termasuk prinsip hidup orang Kristen yang mengasihi dan mengandalkan Tuhan.
Ora et labora mengandung pengertian bahwa sambil berdoa Anda harus bekerja, bekerjalah untuk menolang doa Anda. Kata ora dari kata orare, kata kerja yang artinya ‘berdoa, memohon’; ‘ora’ adalah bentuk perintah tunggal. ‘Et’ adalah kata sambung yang artinya ‘dan.’ Kata ‘labora’ dari kata ‘laborare’, kata kerja yang artinya bekerja, berjerih payah; ‘labora’ adalah bentuk perintah tunggal. Semboyan ini semula dipakai oleh para rahib Kristen ordo Benediktin di Abad Pertengahan (Rayner Hardjono, Kamus Saku: Istilah Bahasa Asing [Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001]).
Rumusan menggapai suatu cita-cita tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak orang telah berhasil menggapai cita-cita mereka dan banyak hal yang mereka lakukan untuk mencapai cita-cita mereka. Mereka telah berjuang di dalam waktu, menguras tenaga mengorbankan banyak waktu. Hanya orang yang berani mengorbankan banyak waktu untuk bisa mencapai cita-cita mereka dengan gemilang. Tidak ada pengusaha yang sukses tanpa mengorbankan lebih banyak waktu untuk bekerja, berusaha dan berpikir. Jika ia seorang yang cinta Tuhan, maka ia juga perlu mengorbankan waktu untuk berdoa, berpikir, berusaha dan bekerja.
Sebagai seorang pelajar Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) SETIA Jakarta, Saudara perlu mengerti manajemen waktu dan menghargai waktu. Meskipun akan mengawali proses pendidikan, Saudara sudah berkesempatan untuk mulai mendisiplinkan diri, mengatur waktu, menyusun waktu dan menetapkan waktu. Prioritas waktu untuk belajar dan jangan lupa atur juga waktu untuk berdoa karena hanya kuasa dan penyertaan Tuhan, Saudara dapat mengerjakan segala sesuatu dan meraih cita-cita Saudara.
Meskipun nantinya banyak sekali kegiatan, namun jika Saudara dapat memanajemenkan waktu sebaik mungkin, Saudara bisa melewati itu semua dengan baik dan bertanggung jawab. Saya tahu akan ada hambatan dan tantangan yang dilalui dalam mencapai cita-cita. Selalu andalkan Tuhan dalam segala hal. Tidak perlu kecut-ciut ketika menghadapi tantangan dan hambatan. Semakin banyak tantangan dan hambatan yang kita hadapi, semakin kuat iman dan pengharapan kita. Kita akan menjadi manusia tangguh dan mantap dalam menapaki hidup ini.
Tantangan itu perlu untuk mengiring kita dalam mencapai cita-cita. Tantangan adalah bagian dari cita-cita kita. Setiap pelajar harus mengikuti ujian agar dapat diketahui kemampuan mereka. Ujian di sekolah itu perlu sebab jika tidak ada ujian maka semuanya akan dianggap sama entah pintar, entah bodoh semuanya lulus. Aneh bukan? Tanyakanlah kepada orang-orang yang telah sukses di berbagai bidang bagaimana kisah mereka meraih sukses. Pasti ada tantangan dan hambatan, tetapi tentu mereka terus maju dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan tersebut.
Penutup
Setelah kita mengetahui betapa penting dan berharganya waktu dalam menggapai cita-cita, maka persiapkanlah diri kita untuk memulai memanajemen waktu sebaik mungkin. Mungkin pada awalnya terasa sulit, banyak tantangan dan hambatan dan kadang gagal dalam menjalankan program kerja yang telah disusun dan ditetapakan. Tetapi tidak perlu menyerah dan kecewa. Tetap bangkit dan biasakanlah untuk mendisiplinkan diri dan waktu kita sehingga hidup kita menjadi lebih berarti dan berguna bagi orang lain.
Tuhan telah memberikan kepada kita bijaksana dan kemampuan untuk menghadapi tantangan dan hambatan. Hanya dari diri kitalah yang perlu mengembangkan kemampuan dan bijaksana tersebut. Meraih cita-cita adalah impian setiap orang. Dibutuhkan kerja keras, manajemen waktu, berusaha, pantang menyerah, belajar dari kesalahan, berdoa dan jangan lupa berbagi kasih dengan sesama. Jangan sampai lupa diri ketika kita berhasil. Bantulah sesama kita, saling mengasihi dan saling menolong karena kita adalah anak-anak Tuhan.
Selamat belajar. Pergunakanlah waktu dengan sebaik mungkin. Raihlah cita-cita dengan terus mengandalkan Tuhan, belajar, bekerja keras dan terus maju.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Soli Deo Gloria!
Kepada kita diberikan waktu dan kesempatan. Artinya waktu dan kesempatan bukanlah milik kita secara mutlak. Kita hanya dapat menikmati dan menjalaninya, memahami maknanya dan hidup di dalamnya. Sejalan dengan itu, kita juga diberi keluasan dan kelapangan hati untuk menerima segala sesuatu yang mungkin tidak kita harapkan.
Harapan kita bertumpuk. Bahkan mungkin lebih menumpuk ketimbang apa yang harus kita kerjakan. Harapan memang menjadi sebuah kesenangan dan kebahagiaan tersendiri. Akan tetapi, apa yang terjadi jika harapan yang begitu kuat di hati kita, tiba-tiba tidak terwujud? Ada banyak rasa yang dapat diekspresikan. Sejak mendengar engkau mengalami kecelakaan, siang-malam doa diucapkan kepada Tuhan. Tebersit harapan dalam doa bahwa “kiranya Tuhan menyembuhkanmu dan engkau mengikuti jejakku, menjadi pelayan Tuhan yang setia.”
Tetapi kehendak Tuhan menang dan mengalahkan harapanku. Aku tahu bahwa kehendak Tuhan di atas segala-galanya dan Tuhanlah yang mengajari kita tentang apa artinya berserah.
Adikku, Kakak tidak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Tetapi doaku telah mendahuluiku sebelum engkau mengakhiri hidupmu. Sang Khalik telah melakukan apa yang terbaik. Doaku, dan doa semua keluarga dan sahabat, tak mampu memahami kedalaman kehendak Allah. Allah telah menunjukkan kasih setia-Nya. Allah berbuat sesuai kehendak-Nya bagi kebaikan kita semua.
Selamat Jalan Adikku tercinta. Tuhan menyambutmu dalam kemuliaan-Nya. Air mata tak mampu mengungkapkan kesedihan tetapi iman kepada Yesus Kristus sanggup mengobati hati yang sedih dan air mata yang mengalir, karena kepergianmu. Akhirnya, dari fakta kepergianmu yang menorehkan kesedihan bagi kami keluarga besar Paparang—Israel, aku hendak berucap:
Tuhan yang setia, lindungi kita dan selalu hadir memberi penghiburan.
Tuhan yang kuasa, berkati kita selalu di sepanjang hidup, Dia menguatkan kita
Bersyukurlah dan pujilah Tuhan. Kemurahan-Nya tercurah bagi kita yang percaya. Tuhan Yesus telah membuktikan cinta kasih-Nya
Mengampuni kita, selamatkan kita, dan berikan kehidupan kekal. Amin
Logika memainkan peran penting dalam setiap percakapan (wacana), diskusi, perdebatan, dan dalam setiap konteks pemikiran dan penegasan dari suatu objek. Ada berbagai jalan yang dapat ditempuh ketika terjadi proses berpikir (mengkaji, merumuskan, dan memahami). Di satu sisi, logika digunakan untuk mendasari setiap argumentasi, dan di sisi lain, logika mengalami kesesatan (mencoba memikirkan dan memahami sesuatu).
Pada setiap konteks, pemikiran seseorang dapat memberikan poin-poin penegasan. Di samping itu, bisa muncul juga—bukan poin-poin penegasan yang absah—melainkan poin-poin “sesat pikir”. Bagaimana bisa? Kita dapat melihatnya dari struktur pemikirannya dan penyuguhan “bukti” yang dianggap sebagai “bukti” tetapi sama sekali “tidak ada buktinya”. Bahkan, seseorang dapat memberikan kesimpulan terlebih dahulu ketimbang menyuguhkan premis-premis (dasar-dasar pemikiran; alasan).
Bisa saja kesimpulan diberikan terlebih dahulu lalu menyusul premis-premis. Ketika premis-premis sangat lemah maka konsekuensi logisnya adalah kesimpulan tadi dianggap tidak absah atau tidak didukung oleh bukti-bukti yang mendukung kesimpulan tersebut. Letak kelemahan premis dan kesimpulan dapat dibuktikan dengan menggunakan konteks dan klarifikasi. Keduanya merupakan ‘senjata’ yang paling andal dan kuat.
Proses memahami konteks dan mengklarifikasi baik premis maupun kesimpulan sangat penting. Maka, apologetika yang hendak saya sajikan di sini adalah sebuah rasiosinasi (proses berpikir logis) yang memenuhi standar filsafat logika yaitu: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi. Dalam ketiga aspek filsafat logika ini, konteks dan klarifikasi merupakan bagian koheren.
Ketika seseorang mengkritik iman Kristen, kita harus meminta kepadanya konteks apa yang sedang dibicarakan sehingga menemukan titik “konteks” yang dimaksud. Artinya, sah-sah saja bila seseorang mengatakan bahwa ajaran Paulus dan Yesus bertentangan, dan menganggap bahwa Yesus mengajarkan keesaan Allah sedangkan Paulus mengajarkan Trinitas. Di sini, konteks perlu diajukan: pada konteks apa ajaran Paulus bertentangan dengan ajaran Yesus, dan pada konteks apa Yesus berbicara keesaan dan Paulus berbicara Trinitas? Bukankah Paulus juga berbicara mengenai keesaan Allah? Maka konteks yang hendak kita ajukan akan membingkai pokok pembicaraan atau perdebatan.
Selain itu, klarifikasi menjadi “sahabat karib” dari konteks. Dalam kasus yang sama di atas, kita dapat mengajukan klarifikasi yaitu: ajaran mana saja yang bertentangan antara Paulus dan Yesus? Apakah bisa berikan bukti-bukti tekstualnya?; keesaan yang bagaimana yang dipahami ketika mengklaim bahwa Yesus mengajarkan keesaan? Apakah keesaan ontologi atau keesaan dalam kaitannya dengan penyembahan?
Dalam apologetika, “konteks” adalah sebuah demarkasi problem, kritik, analisis, teks, lokus, situasi, kondisi, dan segala sesuatu yang diajukan. Artinya, setiap orang harus secara internal menetapkan konteks yang sedang ia dibicarakan. Mungkin kita melihat bahwa ada yang terbiasa dengan mengajukan kritik (atau pertanyaan) tanpa memahami konteksnya terlebih dahulu. Asal dianggap bernada polemis dan menguntungkan dia, maka dengan semangat “paralogisme” ia merasa gembira dengan ajuan (hasil pengajuan) kritik atau pertanyaannya; ia berbahagia dalam kebodohannya (ignorance is bliss).
“Klarifikasi”adalah cara penting untuk melihat dan membuktikan apakah klaim atau pernyataan seseorang itu kuat atau tidak, berdasar atau tidak. Dalam beberapa kasus, pada akhirnya klaim atau pernyataan seseorang ternyata tidak bisa diklarifikasi.
Dalam penjelasan berikutnya, saya akan memberikan beberapa pokok pikiran dan penegasan soal kegunaan konteks dan klarifikasi yang merupakan bagian dari logika apologetika. Kita yang beriman tentunya mempergunakan logika—sebagai pemberian Tuhan—untuk menyatakan kebenaran, membuktikan kesalahan, menegur kesalahan, membawa orang kepada kebenaran, dan mendidik orang agar mencintai dan mengasihi Tuhan.
Natur Logika Apologetika
Ada beberapa hal yang menjelaskan mengenai natur logika apologetika. Hal-hal tersebut menjelaskan korelasi antara logika dengan pemahaman doktrinal. Memahami doktrin adalah dasar dari berlogika apologetika. Pasalnya, doktrin yang kita pahami mengajak kita untuk melihatnya sebagai “imanen”—ada dalam pikiran kita untuk diterapkan.
Natur pertama adalah bahwa logika apologetika adalah diskursif—yaitu iman Kristen dapat disimpulkan secara logis. Secara logis didasarkan pada fakta penyataan dan empirikal (orang-orang yang merasakan kasih dan kuasa Tuhan Allah)
Natur kedua adalah bahwa logika apologetika adalah sebuah rasiosinasi (proses pemikiran logis) untuk berteologi, menampilkan sebuah konstruksi berpikir logis. Artinya, rasiosinasi dapat ditempuh dengan berbagai cara (maksudnya untuk berteologi) tanpa meninggalkan asas-asas iman Kristen. Kita tahu bahwa proses berteologi telah menghasilkan dua arus, yaitu arus yang benar (tetap berpegang pada kebenaran), dan arus yang menyimpang (menghasilkan teologi-teologi yang serampangan dan asal simpul demi ketenaran dan motivasi lainnya yang terselubung).
Natur ketiga adalah bahwa logika apologetika mendasari dirinya pada Filsafat Logika: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi. Segala sesuatu yang bicarakan dan diklaim, harus memperlihatkan materi dasarnya melalui definisi, konteks, dan klasifikasi. Pada tataran ini, logika apologetika menjadikan dirinya kuat secara logis. Ada banyak pertanyaan yang diajukan kepada iman Kristen, tetapi jika mau dikaji berdasarkan filsafat logika, saya rasa, mayoritas akan gugur dengan sendirinya.
Aspek Logika Apologetika
Logika Apologetika mengandung beberapa aspek penting (interpretasi materi dasar sebagai pertimbangan). Di antaranya adalah:
Pertama, aspek klaritas (kejelasan). Apologetika menyuguhkan klaritas dan meminta klaritas (kepada lawan). Artinya, keduanya harus adil (standar gandar). Iman Kristen menunjukkan klaritasnya, sedangkan kritik terhadap iman Kristen harus juga menunjukkan klaritasnya. Misalnya kritik Ateis yang menyatakan bahwa bahwa tidak ada “Allah”, dan tidak mempercayai eksistensi Tuhan. Harus dijelaskan secara jelas, Tuhan seperti apa yang tidak eksis, atau Allah yang bagaimana yang tidak ada.
Kedua, aspek asertif (tegas). Apologetika menjelaskan ketegasan dan meminta ketegasan (posisi) lawan. Artinya, lawan harus menentukan posisinya secara tegas, apakah ia mendukung gagasan pemikiran salah satu denominasi dalam kekristenan, atau menganut paham salah satu (atau lebih) bidat Kristen. Ketegasan posisi menentukan kritik dan pemikiran kita selanjutnya.
Ketiga, aspek klarifikasi. Apologetika selalu mengklarifikasi salah paham tentang iman Kristen dan meminta klarifikasi atas tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar. Misalnya ada yang mengatakan bahwa kekristenan sebagai “tolma barbarikon”, suatu ketololan biadab. Jika kita meminta klarifikasinya, ketololan seperti apa yang dimaksud, dan mengapa ketololan itu biadab?
Keempat, aspek deskriptif (menjelaskan yang sesungguhnya). Apologetika harus secara kuat menerapkan deskriptif. Hal ini penting karena iman Kristen sangat kaya dan terkadang sulit dipahami. Sulit dipahami bukan berarti tidak dapat dipahami. Sebaliknya, kesulitan tersebut disebabkan karena natur dari iman Kristen itu sendiri memang sulit dipahami. Dengan demikian kepentingan untuk menjelaskan hal yang sesungguhnya, adalah tugas yang amat penting.
Kelima, aspek komprehensivitas memahami. Memahami sesuatu tidak mudah. Selalu ada hal-hal lain yang dipakai untuk melengkapi pemahaman kita. Apologetika harus menampilkan bagaimana memahami dan menjelaskan secara komprehensif tentang iman Kristen. Komprehensivitas memahami bukanlah milik Kristen saja, tetapi semua konteks iman agama lain, menempuh upaya yang sama.
Dalam konteks ini, apologetika bisa saja berhadapan dengan paham rasionalisme, yaitu doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan atau didapatkan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, bukan berasal dari pengalaman inderawi. Ada kesalahpahaman di sini. Jika memahami kebenaran tidak berasal pengalaman indrawi, maka kebenaran seperti apa yang tidak membutuhkan indrawi? Di sini, rasionalisme gagal memahami secara komprehensif mengenai kebenaran.
Apologetika juga bisa berhadapan dengan Solipsisme (Lat. Solus yang berarti ‘sendirian’ dan ipse yang berarti ‘diri’), yaitu pandangan yang menyatakan bahwa pengalaman pribadi seseoranglah yang merupakan satu-satunya fakta yang dapat dipercaya. Dengan perkataan lain, seseorang tidak memiliki landasan untuk percaya akan hal lain kecuali dirinya sendiri. Solipsisme—dipandang berasal dari pemikiran Gorgias, seorang sofis (memandang bahwa kebenaran itu relatif adanya—menutup ruang validasi atas fakta yang terjadi di luar dirinya. Bahkan solipsisme menjadikan setiap manusia, dengan pengalamannya sendiri, menafikan pengalaman orang lain (alasan logis [standar ganda]). Dengan demikian, tidak ada kebenaran di luar diri manusia selain kebenaran yang diukur berdasarkan pengalaman diri sendiri.
Kesalahan dan kelemahan solipsisme adalah tidak memiliki pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan manusia secara umum dan hanya menempatkan pengalaman pribadinya sebagai data fakta. Jika semua orang berpikiran sama, maka tidak ada kebenaran umum; yang ada kebenaran versi diri sendiri.
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa logika apologetika—dalam relasinya dengan konteks pluralisme agama, pertanggungjawaban iman, relasi-imaniah mikro dan makro, dan melawan ajaran-ajaran sesat, maka logika apologetika perlu menampilkan prinsip diskursif, rasiosinasi, dan aspek-aspek filsafat logika: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi.
Dalam geraknya, logika apologetika, ketika berhadapan dengan “lawan-lawan”—dalam hal mereka mengklaim “pemikiran” tertentu sebagai serangan terhadap iman Kristen, menyimpulkan segala sesuatu tentang iman Kristen, dan menegasikan pokok-pokok iman Kristen, maka menerapkan aspek-aspek logika apologetika—klaritas, asertif, klarifikasi, deskriptif, dan komprehensivitas memahami—sangatlah penting dan krusial (esensial).