M E N G U L I T I   H I D U P

man in black jacket lying on floor

Bagaimana kita memahami dan menjalani hidup? Bagaimana kita bersikap dan bertahan hidup? Bagaimana kita memperlihatkan ketangguhan dan perjuangan hidup?

Ada beragam pertanyaan yang lazim kita dengar, atau bahkan kita sendiri mengungkapkannya, baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, maupun kepada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena disebabkan oleh sesuatu hal. Biasanya disebabkan oleh “hidup tidak seperti yang diharapkan”. Apa yang diharapkan? Tentu banyak: sesuai kadarnya, atau sesuai keingingan dan harapan, sesuai kehendak, atau sesuai nafsu; semuanya sah untuk diungkapkan. Akan tetapi tidak semua pertanyaan layak diajukan. Kita harus membaca diri dan melihat apa yang kita miliki (potensi internal).

Tak salah jika kita melihat dan membaca diri. Sebab dengan berbuat demikian, kita dapat memulai menentukan hal apa, atau pekerjaan apa yang harus dan dapat dikerjakan semaksimal mungkin. Membaca diri adalah sebuah tingkat kedewasaan yang baik, yang telah memahami betul, bahwa hidup itu membutuhkan perjuangan dan kerja keras.

Kita harus berani “menguliti” hidup kita sendiri, mengingat bahwa “mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Amsal 15:3), dan “Dan tidak ada satu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13).

woman standing with hands spread on side facing lake at sundown

Ketika kita menyembunyikan sesuatu, ingatlah, bahwa Tuhan melihat itu semua. Maka, tidak perlu bersembunyi; nyatakanlah apa yang benar dan salah di hadapan Tuhan, kulitilah hidup kita sendiri, sebab Tuhan Maha Melihat.

Apa yang dikuliti? Tergantung apa yang hendak kita kuliti, asalkan kita jujur di hadapan Tuhan. Ketika kita telah jujur di hadapan Tuhan, maka kita tak mungkin berbohong kepada “sesama kita”. Kita perlu mengoreksi diri: apa yang telah kita lakukan itu benar atau tidak; apa yang kita pikirkan itu benar atau tidak, dan apa yang ucapkan itu benar atau tidak. Ukurannya untuk menyatakan apakah itu benar atau tidak, adalah ALKITAB. Mereka yang rajin membaca dan mendengar orang berbicara tentang Alkitab, tentu tidak akan mengalami kesulitan melakukannya, kecuali memang dia mengabaikannya sama sekali.

Bagaimana kita memahami dan menjalani hidup? Memahami hidup adalah sebuah tanggung jawab hakiki dari setiap manusia. Ia memahami hidup karena ia sedang [menjalani] hidup. Ada sesuatu yang harus dipegang, dijalani, dan dituju. Hidup itu punya tujuan dan tujuan itu tergantung dari kita yang mencapainya. Mencapai tujuan bergantung pada apa yang kita pegang yaitu “prinsip hidup”.

woman in brown coat with black beaded necklace

Menjalani hidup adalah bagian penting dari memahami hidup. Mereka yang paham soal hidup dan liku-likunya, pasti akan berani menjalani hidup, meski mereka tahu bahwa ada tantangan, hambatan, dan gumul juang terbentang di hadapannya. Mereka yang menjalani hidup berarti mereka telah siap berjuang dan mempertahankan hidup.

Bagaimana kita bersikap dan bertahan hidup? Bersikap dalam hidup adalah sebuah dorongan dan pilihan. Menyikapi hidup tergantung dari jenis hambatan, tantangan dan gumul juang. Kita harus bersikap dan menentukan sikap. Karena dari ketetapan untuk bersikap kita dapat bertahan, dan tangguh menjalani hidup. Memang tidak mudah, tetapi tidak ada pilihan lain.

red and pink flower headdress on woman's head

Bertahan hidup merupakan natur hayati manusia. Kita dapat menggambarkannya seperti para pendaki Mount Everest (pegunungan Himalaya), gunung tertinggi di dunia. Mereka yang tiba di puncaknya, adalah yang bertahan hidup; mereka yang mati karena kelelahan, karena kedinginan, dan lain sebagainya, adalah yang berjuang untuk bertahan, tetapi mereka tidak sanggup. Itu adalah risiko yang harus mereka tanggung. Dari situ kita dapat belajar bahwa “bertahan hidup” adalah tanggung jawab setiap orang.

Bertahan hidup memiliki konteksnya masing-masing, tetapi intinya tetap sama: manusia memerlukan potensi untuk bertahan dalam segala situasi di mana ia berada. Ia harus berani menguliti hidupnya dan membacanya, menakar apakah dirinya sanggup berjuang dan bertahan hidup atau tidak. Harapan tentu ada; dan itu perlu diperjuangkan dengan segala potensi yang ada.

Bagaimana kita memperlihatkan ketangguhan dan perjuangan hidup? Ketangguhan hidup adalah kondisi dan bukti dari mereka yang memahami, menjalani, bersikap, dan bertahan hidup. Dan mereka itulah yang terus memperlihatkan perjuangan hidupnya.

man in black long sleeve shirt raising his hand

Apakah kita termasuk di dalamnya? Sudah pasti. Tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Meskipun kita tahu bahwa masa depan itu ada, kita tahu bahwa tantangan itu ada—dan seringkali kita berharap tantangan tidak perlu ada, supaya perjalanan hidup mulus—namun, yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan “potensi” yang Tuhan berikan untuk memahami, menjalani, bersikap, dan bertahan hidup. Potensi itu juga kita gunakan untuk menguliti hidup yang artinya kita berani membaca hidup dan melihat diri kita seutuhnya, kemudian mengoreksi, membenahi, membangun, menguatkan, mendorong, dan memperjuangkannya.

Selamat menjalani hidup. Tetapkan komitmen untuk berjuang dan bertahan hidup, niscaya harapan dan kebahagiaan dapat kita capai dan rasakan.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/surrender

H I D U P   D A N    H A R A P A N

Semua yang hidup memiliki harapan, baik harapan yang diberikan Tuhan melalui alam semesta dan harapan yang diberikan-Nya pada diri manusia melalui logika (yang mencakup pula perasaan, kehendak, emosi). Harapan-harapan itu secara faktual terlihat dalam tujuh kerja manusia:

Pertama. Kerja untuk diri sendiri. Manusia bekerja untuk mempertahankan hidup, gengsi, identitas (predikat), dan jatidiri.

Kedua. Kerja untuk orang terdekat. Manusia bekerja dan berjuang karena ia ingin berbagi dengan yang lain, dan orang-orang terdekatnya adalah salah satunya.

Ketiga. Kerja untuk orang lain. Hal yang sama dilakukan pada orang terdekat, manusia dapat bekerja bagi orang lain untuk menyambung hidup, memperjuangkan hidup, dan dari pada itu, ia juga memperkuat posisinya untuk mempertahankan identitasnya.

Keempat. Kerja untuk organisasi/perusahaan/instansi. Ketika manusia ingin bekerja di berbagai organisasi, perusahaan, dan atau instansi, maka tentu ia akan bekerja semaksimal mungkin karena dari situ ia mendapatkan upah, dan konsekuensinya, ia dapat bertahan hidup. Selebihnya ia menikmati kebahagiaan.

girl sitting on daisy flowerbed in forest

Kelima. Kerja untuk negara. Sebagai bagian dari negara, manusia adalah warga negara dan dengannya ia harus bekerja bagi negara dalam banyak aspek. Alasannya adalah karena manusia juga diatur oleh negara dalam aspek hayati humanitas, geografis, keyakinan, dan lain sebagainya.

Keenam. Kerja untuk keluarga. Manusia secara hakiki mempunyai keluarga. Dan karena alasan itulah, ia dapat berjuang dan bekerja bagi keluarga (bagi orangtua, suami, istri, anak-anak, cucu, dan kakek-nenek).

Ketujuh. Kerja untuk Tuhan. Yang terakhir adalah kerja untuk Tuhan. Dalam konteks ini, manusia—sebagaimana ia tahu bahwa harapan dari kehidupan yang ia jalani adalah dari Tuhan—bekerja dan melayani Tuhan dalam konteks-konteks pelayanan kategorial. Dengan demikian, ia menyandarkan dirinya, keluarganya, orang terdekatnya, tempat ia bekerja untuk mendapatkan upah, hanya kepada Sang Khalik yang telah memberikannya kesempatan hidup, bernafas, dan bekerja, serta menikmati hidup.

man holding his hair against sunlight

HIDUP dan HARAPAN adalah milik mereka yang sadar bahwa ia tidak hanya hidup dan memiliki harapan, melainkan ia harus bekerja dan berusaha untuk mencapai harapan-harapan yang terpatri dalam hatinya.

Ketika hidup dan harapan menjadi bagian penting dari proses menjalani kehidupan ini, maka manusia, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus berjuang dan mempertahankan apa yang ia miliki, mempertahankan apa yang menjadikan dirinya berguna (bermanfaat), berpengaruh, dihargai, dihormati, dicintai, dan dikasihi.

grayscale photo of man in crew-neck shirt raising both hands

Selamat menjalani hidup ini. Yakinlah bahwa harapan-harapan yang kita miliki dapat terwujud ketika Tuhan campur tangan dan kita—secara sadar dan yakin (beriman)—benar-benar bersandar pada-Nya.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/surrender

DICTA DAN GESTA: MUARA TEOLOGI

Sebagus apa pun konsep atau pemikiran tentang teologi, tidak akan menjadi lebih baik ketika hal itu tidak ditunjukkan melalui perilaku, karakter, dan relasi. Teologi perlu direalisasikan dalam perilaku sehari-hari; teologi harus membentuk karakter yang didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab, dan teologi harus membangun relasi humanitas dan kemasyarakatan (sosial) mikro maupun makro. Teologi tanpa relasi adalah “omong kosong”. Teologi yang demikian hanyalah menunjukkan “kesombongan logika” dan ingin mencari popularitas.

Lalu siapa yang layak berteologi? Tentu yang berteologi itu adalah semua orang yang memiliki iman dan mengakui bahwa Tuhan adalah penolong-Nya dan tempat baginya untuk menyampaikan segala sesuatu yang menyangkut kehidupan dan masa depan. Teologi bukanlah milik para pendeta dan para mahasiswa teologi. Tidak. Bahwa semua orang percaya layak berteologi adalah natur dari iman kepada Tuhan. Sebab beriman menghasilkan respons terhadap Tuhan, karya, kasih, kuasa, dan pemeliharaan-Nya.

Lalu, teologi seperti yang apa yang layak dipikirkan dan diperbincangkan? Jawabannya adalah teologi yang mengarahkan kehidupan manusia kepada kehendak Tuhan, teologi yang secara serius mengenal dan mengalami (kasih, kuasa, pemeliharaan) Tuhan dalam totalitas kehidupan yang dijalani, dan teologi yang memuliakan Tuhan dalam kata/perkataan (dicta), pikiran, dan perbuatan/tindakan (gesta).

white book pge

Teologi haruslah bermuara pada realisasi (respons) dari iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Dicta dan gesta adalah muara teologi. Perkataan dan perbuatan adalah ukuran faktual dari teologi seseorang. Kendati demikian, pengalaman hidup bersama dengan Tuhan akan membentuk karakter, relasi, dan perilaku seseorang secara nyata.

Kita semua yang pernah dan sedang berteologi membutuhkan “orang lain” untuk mempercakapkan teologi, mengajar, dan belajar (timbal-balik). Bertukar pengalaman dan pikiran menguatkan karakter, relasi, dan perilaku kita. Kita tak mungkin mengabaikan “orang lain” dalam proses berteologi. Akan tetapi, dalam konteks tersebut, kokoh dalam prinsip Alkitab adalah pegangan utama. Pengaruh yang timbul dari interaksi teologi dengan “orang lain” memiliki potensi mengubah, menyesatkan, meragukan, mempertimbangkan, atau memperkokoh posisi teologi kita.

Perlu dipikirkan bahwa dicta dan gesta sebagai muara teologi mendatangkan berkat bagi kita dan bagi orang lain di mana teologi itu diterapkan. Kemuliaan seseorang didapatkan ketika teologi yang dibangunnya dapat membangun orang lain, teologi yang dapat “menghidupkan” (menyemangatkan) orang lain, teologi yang berbagi rasa dengan mereka yang membutuhkan penghiburan dan pertolongan kita, dan teologi yang mengutamakan “kasih” sebagai landasan.

Dicta dan gesta bukanlah tanpa alasan menjadi muara teologi. Marilah kita melihat beberapa pokok yang mendukung pemahaman tersebut.

woman in blue and white striped long sleeve shirt holding black book

Pertama, kita berteologi bukan karena hendak menonjolkan logika (pemikiran) kita, melainkan karena kita telah diberikan iman oleh Tuhan, dan dengan demikian merespons segala perbuatan dan kehendak-Nya dalam konteks kehidupan (sejatinya, kita memperlihatkan perbuatan/perilaku, relasi, dan karakter).

Kedua, kita berteologi karena dipanggil Tuhan untuk menunjukkan perkataan yang membangun, dan perbuatan yang penuh kasih, kejujuran, dan pengampunan.

Ketiga, teologi yang sehat berarti memberikan asupan gizi kepada diri kita dan orang lain. Teologi tersebut membawa kita dan orang lain melihat kebaikan, kasih, kemurahan, dan kuasa Tuhan secara nyata, empirikal, dalam segala situasi dan kondisi.

Keempat, dicta dan gesta adalah wujud dari iman yang hidup dan sejati. Mereka yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk hal-hal yang tidak berguna, hal-hal yang merusak teologi, perilaku, karaker, dan relasinya. Sebaliknya, mereka akan terus menebarkan keharuman iman di segala waktu dan kondisi.

man in blue and white striped crew neck shirt reading book during daytime

Kelima, dicta dan gesta memperlihatkan diri kita sebagai pengikut Yesus Kristus yang serius menggumuli proses kehidupan (suka dan duka), menyandarkan imannya kepada Yesus, dan berharap secara teguh bahwa “Ia akan membuat segala sesuatunya indah pada waktunya”.

Selamat berteologi, dan jangan lupa untuk menunjukkan dicta dan gesta, sehingga karakter kita menjadi semakin kuat, relasi kita tetap terjaga, dan memberi manfaat bagi diri kita dan orang lain.

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. Pinterest
  2. https://unsplash.com/collections/1180633/bible
  3. https://unsplash.com/collections/4858217/bible

KURVA KEHIDUPAN

Kehidupan adalah sebuah kesadaran bahwa ada gerak, rasa, dan bentuk di dalamnya. Gerak adalah tanda kehidupan di mana setiap manusia berjuang mendapatkan sesuatu, dari waktu ke waktu, dari kesempatan ke kesempatan lain, dari titik satu ke titik yang lain; manusia berusaha menghasilkan sesuatu dengan berbagai cara.

Rasa adalah tanda bahwa manusia – karena keadaan atau kondisi yang dialami – dapat mengungkapkan kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, kesengsaraan, tangisan, keceriaan, dukacita, kesakithatian, kemarahan, kejengkelan, kebodohan, keteledoran, kesombongan, kemunafikan, kebencian, permusuhan, pertikaian, dan lain sebagainya. Rasa itu adalah “jiwa dari kehidupan manusia”. Tanpa rasa, mustahil manusia dapat menikmati kehidupan ini.

Bentuk adalah tanda bahwa manusia “menafsir kehidupan”. Apa yang ditafsirkan dan kesukaan untuk menafsir bergantung pada “bentuk”. Semua jenis pekerjaan tidak hanya melibatkan rasa, tetapi juga bentuk. Manusia menghendaki bentuk-bentuk tertentu dari segala pekerjaan dan usahanya untuk mendapatkan dan menikmati sesuatu. Benda dan manusia dapat ditafsirkan sesuai bentuk yang kita inginkan dan kemudian mengambil maknanya.

Secara fakta manusia memperlihatkan gerak, rasa, dan bentuk. Ketiganya adalah “kurva kehidupan”, seringkali berjalan bersamaan; kadang pula berjalan berduaan: gerak dan rasa, sedangkan bentuk berjalan sendiri. Atau gerak dan bentuk berjalan bersama, sedangkan rasa menyepi; rasa dan bentuk bertemu, dan gerak menyingkir. Baik gerak, rasa, maupun bentuk, semuanya memiliki “tujuan” yang hendak dicapai.

Tujuan memandu manusia untuk menjalani setiap proses kehidupan. Kurva akan membentuk kesatuan yang memberi kita pengalaman, kedamaian, hasil maksimal, kegagalan, kesedihan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, manusia yang sampai pada tujuannya telah berurusan dengan gerak, rasa, dan bentuk. Dengan demikian, kurva kehidupan adalah hadiah bagi setiap orang karena ia berhasil menyatukan satu peristiwa dengan peristiwa-peristiwa lainnya.

black road near trees at daytime

Kurva adalah garis yang terdiri atas persambungan titik-titik atau grafik yang menggambarkan variabel (misalnya yang memperlihatkan perkembangan) yang dipengaruhi oleh keadaan. Dalam konteks kehidupan, kurva dipahami sebagai sebuah kondisi yang menyatukan satu kejadian dengan kejadian lain, sehingga membentuk suatu prinsip kehidupan, yang olehnya dapat dibagikan kepada yang lain. Di sini, kita menjadi teladan karena kurva kehidupan itu sendiri telah memperlihatkan gerak, rasa, dan bentuk tadi.

Setiap hari ada peristiwa. Kita ada di dalam peristiwa itu. Minimal peristiwa kita sendiri. Hidup ini tak mungkin tanpa peristiwa. Jika bukan kita yang menciptakan peristiwa, maka orang lain, benda, atau alam yang menciptakan peristiwa untuk manusia pada umumnya, dan diri kita sendiri pada khususnya.

Menghasilkan kurva kehidupan yang bermakna bergantung pada apa dan bagaimana diri kita di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Di hadapan Tuhan, kita diarahkan untuk bersandar dan berharap kepada-Nya, sebab Dialah hidup kita; Dialah yang memberi kita kehidupan, waktu, kesempatan, kekuatan, kesehatan, untuk dapat menikmati dan mempertanggungjawabkan kehidupan ini kepada-Nya. Tampak bahwa Alkitab memberi dukungan yang serius tentang bersandar, berharap, dan kebergantungan kita kepada Sang Khalik.

white and brown concrete building near green mountains during daytime

Kisah Rasul 17:28, Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

Roma 14:8, Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.   

Mazmur 42:6, Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!   

Mazmur 130:7, Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.   

Mazmur 131:3, Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!   

1 Korintus 8:6, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Galatia 5:25, Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,   

Efesus 2:10, Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.   

1 Tesalonika 5:9-10, Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.   

Titus 2:12, Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.

1 Yohanes 1:7, Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.   

1 Yohanes 4:9, Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.   

2 Tawarikh 14:11, … “Ya TUHAN, selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya TUHAN, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar dan dengan nama-Mu kami maju melawan pasukan yang besar jumlahnya ini….

2 Tawarikh 16:8, … Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya.   

Amsal 3:5, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.   

Apa yang diutarakan oleh Tuhan di dalam firman-Nya di atas cukup memberi landasan bagi kita agar menghasilkan kurva kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya. Itulah kurva kurva kehidupan di hadapan Tuhan

Kurva kehidupan di hadapan manusia menandakan bahwa ada relasi-relasi yang tercipta. Relasi humanitas, relasi religiositas, relasi pekerjaan, pelayanan, keluarga, percintaan, persekutuan, politik, ekonomi, pendidikan, persabatahan, perselingkuhan, persekongkolan, budaya, adalah kurva yang akan menjadi kesatuan dan membentuk kisah kita sendiri, entah positif [baik] entah negatif [buruk]. Dalam relasi-relasi tersebut tentu ada peristiwa-peristiwa yang di dalamnya ada gerak, rasa, dan bentuk. Semua dapat kita lakukan untuk menciptakan kurva kehidupan personal.

brown and green grass field near mountain under white clouds and blue sky during daytime

Pada akhirnya, kurva kehidupan adalah diri kita sendiri di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Kita berhadapan dengan kurva kehidupan orang lain: baik dan buruk. Kita dapat menarik makna pada setiap peristiwa untuk ditempelkan pada kurva kehidupan kita sendiri.

Waktu terus bergulir. Sementara kita masih sibuk merangkai kurva hidup kita. Tidak hanya kita, orang lain juga sedang melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, kurva kehidupan memberi kita lima prinsip:

Pertama: kurva kehidupan melibatkan “waktu” dan “kesempatan” yang Tuhan berikan. Gunakanlah waktu sebaik mungkin (hargailah waktu yang Tuhan berikan), raih setiap kesempatan yang ada, asalkan kesempatan itu berpotensi memberi nilai (mutu) pada gerak, rasa, dan bentuk. Tuhan senantiasa memberi kita waktu dan kesempatan, tinggal bagaimana kita mempergunakannya.

green and white mountains under white sky during daytime

Kedua: kurva kehidupan melibatkan diri kita. Kitalah yang bergerak, merasakan, dan menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan kita sendiri. Mereka yang tidak mengandalkan Tuhan memiliki perbedaan kurva dengan kita yang mengandalkan Tuhan. Dengan demikian, mengandalkan Tuhan (bersandar dan berharap pada-Nya) adalah terbaik yang dapat kita genggam untuk menghasilkan kurva kehidupan yang selaras dengan firman-Nya. Di sini, kita tidak boleh melupakan Tuhan.

Ketiga: kurva kehidupan melibatkan orang lain. Kehidupan yang indah adalah proses penyatuan pelaku-pelaku kehidupan: kita dan orang lain. Tak ada makna hidup yang lebih berarti ketika orang lain terlibat dalam hidup kita. Keterlibatan orang lain janganlah dipandang sebagai sebuah proses di mana segala kejahatan dan keburukan membentuk kurva kehidupan kita, sebaliknya keterlibatan orang lain haruslah mencakup tindakan-tindakan yang baik, bermoral, dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Keempat: kurva kehidupan melibatkan potensi yang mencakup potensi relasional, potensi komunikasi, dan potensi intelektual.

Kelima: kurva kehidupan melibatkan lingkungan di mana kita berpijak. Semua kisah manusia memiliki perbedaan karena dibentuk oleh lingkungannya sendiri. Mereka yang tinggal di wilayah pegunungan memiliki kisah kehidupan yang berbeda dengan mereka yang tinggal di wilayah pesisir pantai. Lingkungan adalah salah satu aspek yang membentuk kurva kehidupan kita.

gray concrete road between green grass field under blue sky and white clouds during daytime

Jika menginginkan kurva kehidupan kita bermakna dalam pandangan Tuhan, maka lima prinsip di atas perlu menjadi perhatian dan dapat diterapkan dari waktu ke waktu. Selamat menjalani hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Bentuklah kurva kehidupan yang terbaik. Pergunakanlah waktu yang ada. Raih setiap kesempatan, dan pada akhirnya kurva kehidupan kita akan memuaskan dan menyenangkan kita sendiri, orang yang kita kasihi, terlebih menyenangkan hati Tuhan.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/hTtK6tvTRY0
  2. https://unsplash.com/s/photos/curva
  3. https://unsplash.com/photos/qZ3x2op5t-U

SAHABAT YANG DIKIRIM TUHAN: Menabur Kebaikan, Menuai Bahagia

“Persahabatan adalah sebuah untaian perhiasan dengan beragam manik-manik. Ketika terjalin ragam manik-manik itu, akan tampak indah dan menarik. Persahabatan adalah relasi yang meluapkan rasa kasih, peduli, sukacita, dan harapan. Kita tampil dalam persahabatan tidak hanya menampilkan apa yang kita miliki, tetapi lebih dari itu, menampilkan diri kita apa adanya. Tampaknya, setiap persahabatan yang kuat, ditandai oleh ‘relasi humanitas-spiritual’ di mana setiap sahabat tidak hanya memberikan apa-apa yang perlu sebagai hadiah atau kebutuhan melainkan saling mendoakan satu dengan lain.” – Stenly R. Paparang. LAKONISME

Tidak bermaksud mengabaikan sahabat-sahabatku yang lain, yang baik dan luar biasa, tulisan singkat ini dibuat sebagai “tanda perpisahan kerja” (bukan tanda berakhirnya persahabatan) dengan rekan kerja saya di salah satu institusi teologi. Saat saya menyampaikan permohonan “pamit” kepadanya, ia menulis: “tetapi kita tetap bersahabat ya pak”. Sudah pasti akan tetap bersahabat, karena persahabatan yang terbangun selama ini, perlu dihargai, patut diapresiasi, terlebih – meski terpisah oleh lokus, tindakan saling mendoakan satu dengan lainnya harus tetap dilakukan.

Sesuai dengan janji saya, bahwa di akhir tahun saya akan membuat satu tulisan untuk beliau sebagai rasa terima kasih karena beliau telah menabur kebaikan selama kami bekerja di satu institusi. Meski begitu, perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebaikan yang ada dalam diri kita. Perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebahagiaan, bukanlah akhir dari “kasih yang telah kita tabur”. Kasih itu sendiri akan menjadi pegangan seumur umur dan akan terus ditaburkan selama kita hidup. Ini prinsip yang hakiki bagi seorang Kristen.

Saya mengenal Ibu Santi Meilawati semenjak beliau diangkat menjadi Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan pada bulan Agustus 2020. Waktu itu saya juga diangkat menjadi Wakil Ketua I Bidang Akademik bersama senior saya, Edward E. Hanock sebagai Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan. Saya menjabat Waket I hanya selang tiga belas bulan dan kemudian diganti.

Meski kami bersahabat dalam konteks kerja hanya dalam waktu singkat, tetapi Ibu Santi telah menunjukkan karakter dan kebaikan kepada kami. Pembacaan terhadap karakter dan kebaikan seseorang adalah hal yang sering saya lakukan dalam setiap persahabatan. Hal itu dilihat dari komunikasi, relasi, dan bagaimana membicarakan hal-hal tertentu. Terlebih lagi, “bercanda” menjadi khas dari setiap persahabatan yang terjalin.

group of people sitting on bench near trees duting daytime

Ibu Santi adalah tipe orang yang serius tapi sekaligus suka bercanda. Dengan karakter beliau yang tangguh dalam bekerja, memegang prinsip kerja secara berintegritas, membuat saya kagum dengan beliau. Bacaan-bacaan hidup terhadap segala situasi dan kondisi selama kami bersahabat di satu institusi, membuat saya mengambil kesimpulan yang demikian. Tak salah jika beliau adalah: SAHABAT YANG DIKIRIM TUHANbagi saya, dan juga bagi sahabat-sahabat saya yang lainnya. Ibu Santi telah membuktikan bahwa taburan kebaikan yang ia kerjakan telah membuat para sahabatnya menuai bahagia. Dan tentu juga Ibu Santi merasa bahagia karena telah menabur kebaikan pada jalan-jalan kebenaran.

Kita tidak akan pernah tahu karakter seseorang sampai “sesuatu terjadi”, entah baik, entah buruk. Setiap peristiwa yang terjadi akan mengeluarkan karakter seseorang sebagai respons atas kejadian atau peristiwa tersebut. Artinya, “persahabatan yang terbaik tidak dapat dipastikan sampai kita berada di titik terendah dan melihat tangan mana yang terulur menolong, kaki mana yang datang melihat kondisi kita, mulut mana yang mendoakan kita, dan telinga mana yang siap mendengar keluh kesah kita.” Prinsip ini telah teruji di sepanjang sejarah, bahwa seorang sahabat yang baik adalah dia yang senantiasa memberikan dorongan, bantuan, doa, perhatian, dan terlebih saling menguatkan satu dengan lainnya, dan bukan menjauhi kita bahkan menganggap kita sebagai “orang asing.”

Saya pernah mengalami hal buruk dan menyesakkan dada. Saya bersahabat dengan seseorang, tapi seketika ia berubah dan tidak lagi menegor saya, malah menjauhi saya. Ia sudah memiliki sahabat baru, dan saya pun adalah orang asing baginya. Ini karakter buruk karena terkesan menjadi “penjilat” – hanya mau bersahabat saat kondisinya aman, tapi pada saat ada ancaman bagi dirinya, sahabatnya pun ia korbankan; ia rela mencari tempat baru yang aman yang menjaga posisinya agar tetap aman. Ini pribadi yang buruk.

Ada satu kalimat yang ditulis seseorang: “Saya tidak menyesal jadi orang baik, tetapi menyesal pernah berbuat baik kepada orang yang salah”. Maksud dari kalimat tersebut adalah kadang-kadang kebaikan kita tidak dihargai tatkala seseorang mendapatkan sesuatu. Ia seketika berubah dan menganggap kita sebagai sosok asing, terasa tak dikenalnya, tak ditegurnya, dan dijauhinya. Ini pengalaman yang buruk bagi saya.

Seringkali orang mengukur persahabatan dengan atau dari materi. Ini bukanlah jenis persahabatan yang baik. Karena seketika kita tidak punya apa-apa, maka sahabat-sahabatmu yang hanya memperalat materi kita, akan meninggalkan kita. Sebaliknya, sahabat yang selalu menopang dan mendoakan kita, akan tetap menemani pada titik terendah sekalipun.

Ketika persahabatan dibalut dengan “sikap saling mendoakan” barulah persahabatan itu mencapai puncak kesuksesannya. Itulah prinsip yang selama ini saya pegang. Saling mendoakan adalah hal yang indah karena Tuhan menghendaki kita saling mendoakan.

Fragmen persabahatan mencakup kepedulian, saling menopang dan menguatkan, saling mendukung, saling menasihati, saling memperhatikan satu dengan yang lain dalam hal-hal kerohanian, dan saling menyatakan integritas. Ini adalah fragmen yang penting bagi kita yang menjalin persahabatan, agar tercipta persahabatan yang baik, yang terpuji, dan berkesan.

woman in white dress walking on pathway between trees during daytime

Fragmen tersebut kudapati dalam persahabatan dengan Ibu Santi (juga dengan beberapa sahabat saya di satu institusi). Hal penting yang dapat saya simpulkan adalah bahwa “persahabatan yang berkesan dan berkualitas ketika karakter dan integritas kita memiliki persamaan”. Persahabatan seperti ini akan menjadi kuat dan bertahan di sepanjang hidup.

Ada satu pepatah yang mengatakan: “Jangan bermimpi [mendapatkan] bintang di langit, jika rumput di bumi engkau tak tahu. Jangan berkhayal [mendapatkan] mutiara di lautan, jika pasir di pantai engkau lupakan.” Pepatah ini sangat menarik dan memberi kita pesan bahwa “untuk mencapai persahabatan yang terbaik, jangan melupakan proses yang membentuknya.” Jangan memimpinkan hal-hal yang tinggi jika kita melupakan hal-hal yang rendah, di mana kita berpijak. Melihat bintang di langit tidak salah, tetapi jangan melupakan “rumput” yang kita pijaki. Jangan berharap mendapatkan perilaku yang baik dari orang lain sedangkan dirimu memberi perilaku buruk kepada sahabatmu. “Jangan bermimpi mendapatkan perhatian, jika dirimu tak lagi menegurku. Jangan berkhayal mendapatkan mutiara, jika dirimu menabur kerikil pada jalanku”.

Pesan-pesan persabatan yang demikian setidaknya mendorong kita untuk memperhatikan karakter kita masing-masing dan kemudian memperlihatkan karakter yang terbaik, yang didapatkan dari proses yang panjang, agar sabahat-sahabat kita dapat mengikuti teladan hidup kita. Ibu Santi adalah sahabatku. Meski terpisah secara institusi atau lembaga atau kantor, hal itu bukanlah pertanda bahwa persahabatan berakhir. Ibu Santi adalah satu satu SAHABAT YANG DIKIRIM TUHAN kepada saya. Saya sangat bersyukur akan hal itu.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya menandaskan sebuah prinsip penting: Pertama, semua proses pembelajaran dan pengetahuan yang kita miliki akan berguna bagi kehidupan kita yang dengannya kita memberi diri untuk dinilai, dikasihi, dan dicintai oleh orang lain. Bahkan dari situlah kita menciptakan “kehidupan” yang layak “dihidupi”. Persahabatan adalah kehidupan yang layak dihidupi. Kita membutuhkan sahabat, tetapi sahabat yang baik, berintegritas, dan penuh kasih.

Kedua, “persahabatan adalah fragmen iman; di dalam persahabatan kita meluapkan kasih, sukacita, harapan, dan damai sejahtera.”

Ketiga, dalam persahabatan, jangan meninggalkan integritas kita, sebab dialah yang membawa kita ke puncak karakter yang sesungguhnya. Karena dengan integritaslah, persahabatan kita menjadi kuat, bermakna, dan bertahan.

Semoga kenangan yang tercipta selama ini – dalam persahabatan – mendorong kita untuk semakin lebih baik, semakin menyemai kasih dan kemurahan di setiap jalan hidup kita, di setiap persahabatan kita, hari ini, besok, dan seterusnya.

Terima kasih Ibu Santi atas kesediaan Ibu untuk bersahabat dengan saya. Kasih dan kebaikan Ibu menjadi kisah menarik dalam hidup saya dan sekaligus menjadi “buah bibir” yang patut diceritakan kepada mereka yang ingin membangun dan memahami apa itu persahabatan.

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/friends-together
  2. https://unsplash.com/photos/MJNbBLx9W5U

GURATAN HATI BUAT SAHABAT-SAHABAT TERBAIK

“Persahabatan adalah proses pertunjukkan karakter dan pembentukan karakter. Di dalamnya ada proses saling mempengaruhi, saling meneladani, dan saling mengasihi. Tak ada persahabatan yang lebih baik selain dari bagaimana tercipta rasa kasih yang tulus dan perwujudan integritas yang dituangkan di gelas-gelas hati para sahabat kita.” – Stenly R. Paparang. LAKONISME.

Ada saatnya kita bertemu, ada pula saatnya kita berpisah. Bagi seorang sahabat, perpisahan bukanlah akhir dari perealisasian kasih dan kebaikan. Selalu tersedia waktu dan kesempatan bagi kita untuk dapat memperlihatkan kasih dan kebaikan, ditaburkan dalam sukacita dan menyediakan harapan di masa mendatang bahwa kasih dan kebaikan yang telah ditaburkan akan menghasilkan kuncup-kuncup bunga kebenaran yang menguatkan karakter kita. Ia akan mekar mewangi. Dan itu sangat indah.

Guratan hati yang singkat ini adalah refleksi persahabatan yang terjalin indah sejak saya masuk STT Moriah. Dua Ibu yang menyambut saya pertama kali adalah Ibu Youke Singal dan Ibu Maria Patricia Tjasmadi. Mereka berdua ibarat Alfamart dan Indomaret yang menyediakan berbagai jenis makanan dan kebutuhan lainnya saat saya masuk bertamu ke ruangan mereka. Menyusul Ibu Carol Nababan, Ibu Peni Hestiningrum, dan Ibu Roce.

Suka duka terjalin indah dalam proses waktu selama empat tahun. Ada canda, ada tawa, ada konflik kecil-kecilan. Semuanya menarik untuk dibahas sekaligus sedang membentuk karakter untuk semakin kuat dan berpengaruh. Tapi ini bukan akhir dari persahabatan. Tetap akan berjalan seperti biasanya, hanya beda lokus kerja saja.  Tidak ada akhir dari persahabatan yang tulus.

Di akhir masa kerja di STT Moriah, saya berkeinginan membuat satu tulisan untuk sahabat-sahabat saya, yang semuanya adalah perempuan-perempuan hebat, peduli, dan sangat baik. Penilaian tersebut adalah fragmen yang saya kumpulkan selama empat tahun. Tak salah jika saya menyebut mereka adalah “SAHABAT-SAHABAT YANG TUHAN KIRIMKAN” untuk saya.

Perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebaikan yang ada dalam diri kita. Perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebahagiaan, bukanlah akhir dari “kasih yang telah kita tabur”. Kasih itu sendiri akan menjadi pegangan dan akan terus ditaburkan selama kita hidup. Ini prinsip yang hakiki bagi seorang Kristen.

Saya mengenal Ibu-Ibu yang hebat bukanlah sebuah kebetulan. Semuanya karena kemurahan Tuhan semata. Saling memahami, saling mengenal adalah proses dalam sebuah persahabatan. Meski persahabatan yang terjalin hanya dalam konteks pekerjaan, tetapi Ibu-Ibu hebat telah menunjukkan karakter dan kebaikan. Semuanya ditaburkan dengan ketulusan.

Suatu saat, semua yang ditaburkan akan berbuah lebat, dan kita tinggal memetiknya, kemudian kita berbagi dengan yang lain, memberi makan bagi yang lapar, memberi minum bagi mereka yang dahaga, dan memberi penghiburan bagi mereka yang berduka cita. Dan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang percaya bahwa semua yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan. Kita bertindak atas nama Tuhan, Sang Khalik, yang telah menolong, dan memberi kehidupan. Demikian pula kita mendasari setiap gerak dan tindakan kita dari apa yang telah Tuhan buat bagi kita secara pribadi.

Setiap persahabatan yang terjadi akan mengeluarkan karakter seseorang sebagai respons atas kejadian atau peristiwa tersebut. Saya bersyukur karena dapat menjadi bagian dari persahabatan ini; bersahabat dengan Ibu-Ibu yang hebat tadi.

Setiap sahabat memiliki karakter yang berbeda, tetapi di satu sisi, karakter itu menjadi menyatu antara satu dengan lainnya pada aspek “kasih dan kebaikan”. Kita berbuat baik bukan karena terpaksa, tetapi karena Tuhan telah menyatakan kebaikan-Nya pada kita. Tak ada alasan untuk menahan kebaikan bagi orang yang layak menerima kebaikan kita. Itu prinsip yang sangat mendasar.

Persahabatan jangan diukur dari materi. Jika demikian, pasti kita akan kecewa. Ukurlah persahabatan itu dari kasih dan kebaikan yang tulus diberikan kepada sesama sahabat. Saling menolong dan menopang adalah tanda persahabatan sejati. Ada fragmen lainnya yang saling mengikat untuk membentuk persahabatan menjadi semakin kokoh. Kita dapat mendaftarkannya di sini.

Bersahat juga perlu saling mendoakan. Itu jauh lebih baik, ketimbang saling memanfaatkan satu dengan lainnya. Ada sahabat yang menjauh saat ia menemukan temannya yang baru, dan kita pun dianggap sebagai “orang asing”. Tidak demikian dengan Ibu-Ibu hebat ini. Mereka secara tulus berbagi kasih, kisah, kepedulian, dan berbagi teladan. Pembelajaran terbaik bisa didapatkan dari proses bersahabat. Dan itulah yang terjadi dan yang saya alami.

Setiap hal yang akan kita kerjakan, haruslah sepenuhnya “benar” menurut kehendak Tuhan. Janganlah membiarkan masuk segala cara yang tidak baik dalam persahabatan. Itu akan menodainya. Yakinlah bahwa persahabatan yang terbaik adalah saat kita sadar bahwa lokus bukanlah hambatan atau halangan untuk berbagi kisah, kasih, dan kebaikan.

Kisah, kasih, dan kebaikan tidak pernah dipasung oleh jarak atau lokus. Mereka [kisah, kasih, dan kebaikan] akan senantiasa datang pada waktu yang tidak kita duga. Taburan-taburan kisah, kasih, dan kebaikan, pada saatnya akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan kita.

Kita pun tak boleh melupakan bahwa kasih setia Tuhanlah yang menjadikan kita menemukan sahabat-sahabat terbaik, sahabat-sahabat yang peduli, sahabat-sahabat yang mengerti kondisi kita dan mendukung kita dalam doa-doa mereka. “Persahabatan adalah kehidupan yang layak dihidupi. Kita membutuhkan sahabat, tetapi sahabat yang baik, berintegritas, dan penuh kasih.”

Semoga kenangan yang tercipta selama ini – dalam persahabatan – mendorong kita untuk semakin lebih baik, semakin menyemai kasih dan kemurahan di setiap jalan hidup kita, di setiap persahabatan kita, hari ini, besok, dan seterusnya.

Melalui guratan hati ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Youke Singal, Ibu Maria Patricia Tjasmadi, Ibu Peni N. Hestiningrum, Ibu Carol Nababan, dan Ibu Roce Marsaulina atas kesediaan kalian semua dalam berbagi kisah, kasih, dan kebaikan. Terima kasih juga telah menjadi sahabat-sahabatku yang keren dan baik, serta peduli. Kiranya kisah, kasih, dan kebaikan yang telah tertabur dalam persahabatan ini akan menjadi “buah bibir” yang patut dibagikan kepada mereka yang ingin membangun dan memahami apa itu persahabatan yang sejati. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Salam Bae….

SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA

“Jangan tinggalkan integritasmu, sebab dialah yang membawamu ke puncak karaktermu yang sesungguhnya” – S. R. Paparang

“Persahabatan adalah fragmen iman; di dalam persahabatan kita meluapkan kasih, sukacita, harapan, dan damai sejahtera” – S. R. Paparang

Pikiran membawa kita kepada sebuah kesimpulan atau keputusan untuk melakukan sesuatu, melupakan sesuatu, menyenangkan sesuatu, menjadi penjilat terhadap orang tertentu, pura-pura tidak mengenal orang lain yang dikenal, bersikap munafik (hipokrit), membenci, memfitnah, dan masih banyak lagi. Kesimpulan atau keputusan tersebut adalah akumulasi dari serangkaian asumsi-asumsi pikiran terhadap fakta yang terjadi.

Setiap fakta menghasilkan proses penilaian, entah baik, entah buruk. Di ruang publik, kita memberikan cermin agar orang dapat melihat kita sebagai pencipta dan pembawa cermin. Cermin yang dibawa dihadapkan ke depan, sedangkan bagian belakang cermin menghadap ke diri kita. Kita menyembunyikan identitas dan perangai kita agar tampak menarik di depan khalayak.

Dalam persahabatan juga demikian. Kita mempunyai cermin masing-masing. Pada kita cermin itu seharusnya menghadapi ke diri kita supaya kita siap tampil apa adanya di depan sahabat-sahabat kita.

Cermin itu ada tiga jenis: cermin yang jernih, cermin yang kabur (buram), dan cermin yang hitam. Tiga jenis cermin tersebut adalah lambang persahabatan.

Cermin yang jernih adalah tanda persahabatan yang jujur, terbuka, tetapi tetap menjaga rahasia-rahasia yang sangat rahasia. Artinya, kita tidak membeberkan hal-hal tersebut dengan tujuan menjatuhkan sahabatnya. Cermin jernih pertanda bahwa ada masa depan bagi persahabatan. Keterbukaan menghasilkan kilauan manik-manik yang variatif, di mana setiap sahabat dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sahabat-sahabat lainnya yang terbuka menyatakan gumul-juangnya.

Cermin yang kabur atau suram adalah tanda persahabatan yang kurang baik, hadir saat butuh (misalnya saat meminta bantuan sahabatnya), dan hilang saat tak dibutuhkan (misalnya sudah meresa enjoy sendiri). Sesekali saja dia menyapa, setelah itu lama menghilang, lalu muncul kembali saat “ada maunya”. Jenis sahabat seperti cermin yang kabur (buram) ini tidak secara tulus bersahabat. Paling hanya menyapa biasa saja, setelah itu lewat. Dia menganggap dialah yang penting dan merasa dibutuhkan. Padahal tidaklah demikian adanya. Merasa sibuk sendiri dan ingin menjadi pusat perhatian, sehingga persahabatan itu menjadi kabur (tak jelas): siapa butuh siapa.

Pula persahabatan cermin kabur ini sering memanfaatkan keadaan, sehingga suasana persahabatan menjadi kabur (tidak jelas). Ia ingin cari aman sendiri; mengaburkan pesona persahabatan itu sendiri. Alasannya karena ia ingin mencari aman pada posisinya, maka ia menjaga jarak yang berlebihan dan seolah-seolah tidak mengenal sahabatnya sendiri. Sahabatnya menjadi “orang asing” baginya demi memuaskan egonya sendiri.

Cermin yang hitam adalah tanda persahabatan yang sama sekali buruk. Jenis ini sarat dengan berbagai kepentingan. Perbedaan paham, dukungan, partai, Gereja, mazhab (denominasi), dan pemimpin, menciptakan jurang pemisah yang dalam dan gelap. Persahabatan tiba-tiba menjadi gelap, terputus, dan ambruk. Fenomena jenis ini sering terjadi. Semua memiliki kepentingan maka kepentingan-kepentingan itu sendiri bertabrakan, berbeda haluan, berbeda donatur (atau sponsor), dan berbeda komplotan.

Lalu bagaimana dengan “SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA?” Dari tiga jenis cermin di atas, tampak bahwa cermin jenis kedualah yang merepresentasikan “SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA”. Alasannya sederhana: ia – saat bersahabat dulu – secara tiba-tiba menjaga jarak untuk kepentingannya sendiri. Dia hanya melihat “masa kini” dan mengabaikan “masa depan”. Padahal persahabatan itu tidak hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga masa depan.

Sahabat yang tidak mengenal sahabatnya biasanya ada berbagai kepentingan dan rasa tertentu. Kepentingannya sering terkait dengan keamanannya melakukan atau menjalin sesuatu, sehingga ia tiba-tiba lupa sahabatnya untuk mencari aman sendiri. Rasa tertentu mewakili pola pemikirannya bahwa masa kini ia rasa aman, padahal belum tentu juga di masa mendatang, apakah rasa itu tetap sama atau tidak.

Karena kepentingan dan rasa tersebutkah seseorang rela menggadaikan persahabatan, bahkan integritasnya. Apa yang dikorbankan untuk merasa aman sendiri sangatlah mendukung posisinya saat itu, tetapi belum tentu rasa aman itu terjaga di kemudian hari.

Selalu ada perubahan situasi dan kondisi, tetapi sahabat yang baik akan selalu memberikan topangan, bantuan, dan perhatian sesuai perlunya. Kini, kita melihat bahwa tidak semua persahabatan akan terjaga saat “kepentingan” dan “rasa tertentu” hadir menyelinap pada mereka yang tidak kuat integritasnya, tidak kuat karakternya, dan tidak kuat imannya.

Pada akhirnya, kita hanya melihat proses persahabatan itu terjalin erat, atau tiba-tiba retak dan putus di tengah jalan. Jangan mencari aman sendiri, jangan hanya merasa sendiri dan tidak lagi menganggap sahabat kita yang dulu dekat, tetiba berubah hanyak karena ada teman yang baru, hanya karena jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya.

Saya sendiri memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya ikhlas membantu mereka saat mereka membutuhkan pertolongan. Bantuan itu tidak lahir dari niat mencari keuntungan, melainkan karena ketulusan dalam persahabatan itulah yang mendorong untuk siap menolong sahabat-sahabat yang butuh bantuan kita.

Persahabatan tidak dibangun hanya dalam satu dua hari. Proses “membaca karakter” sahabat kita tentu tidaklah cepat. Butuh waktu yang lama untuk saling mengenal, saling melihat karakter kita masing-masing. Tuhan selalu memberi sahabat-sahabat yang terbaik bagi mereka yang memang baik dan berintegritas. Tuhan itu adil. Ia selalu menyelamatkan mereka yang dikhianati sahabatnya sendiri. Ia menyediakan antrian sahabat-sahabat baik lainnya untuk saling berbagi, saling menopang dalam pelayanan, dan masih banyak lagi.

“SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA” adalah orang-orang yang tidak memiliki bacaan akan masa depan. Padahal, setiap persahabatan yang terjalin indah sebelumnya, yang didasari pada sikap saling menerima satu dengan yang lain, akan berpengaruh pada diri dan karakter kita sendiri. Kita membawa cermin kehidupan kita sendiri dalam persahabatan, yang darinya kita dikenal, diterima, diteladani.

“SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA” belum seberapa. Alkitab mencatat kondisi bangsa Israel yang terparah: “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya” (Yesaya 1:3). Kondisi ini sangatlah memprihatinkan. Allah adalah SAHABAT TERBAIK bangsa Israel, tetapi mereka tidak MENGENAL-NYA. Jika saat ini kita mengalami hal serupa, maka ingatlah bahwa ada suatu bangsa yang pernah melupakan SAHABAT TERBAIK yang peduli dan mengasihi mereka, yaitu Tuhan Allah. Bukankah kita seringkali berdosa kepada-Nya dan membutuhkan-Nya seperti kita membutuhkan seorang SAHABAT dan JURUSELAMAT atas hidup kita?

Jika kita menjalin persahabatan yang intim dengan TUHAN, maka pastilah persahabatan tersebut dapat diturunkan kepada persahabatan kita dengan orang-orang yang jujur, peduli, dan penuh kasih.

Jadilah sahabat yang baik meski sering dilukai. Jadilah sahabat yang baik meski sering tidak dianggap. Jadilah sahabat yang baik meski sering dicuekin. Jadilah sahabat yang baik yang tidak terkontaminasi dengan hipokrisi. Dan jadilah sahabat yang baik yang meneladani Yesus Kristus, karena Dialah Sahabat yang Sejati.

Selamat Bersahabat!

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/unfriend

MENGUMPULKAN HARAPAN DALAM GENGGAMAN IMAN

closeup photography of woman wearing floral skirt holding red gas lantern at brown grass field

Ada saat di mana sebuah peristiwa (kondisi) yang terjadi, membuat kita mengerutkan kening, menghela napas, menundukan wajah, menengadah ke langit, memejamkan mata, meneteskan air mata, menggerutu, naik darah, geram, pasrah (berserah), merenung, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi sesuai dengan ringan-beratnya peristiwa itu sendiri.

Ragam pergumulan setiap orang berbeda-beda. Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang Bapak di mana istrinya sedang mengalami kanker serviks. Beliau berkisah bahwa biaya pengobatan istrinya sangatlah mahal. Bahkan harga popok untuk istrinya adalah satu juta lebih untuk satu bungkus yang isinya 8 buah. Belum lagi kebutuhan lainnya yang mendesak. Tampak bahwa Bapak tersebut berada dalam pergumulan yang berat. Saya hanya mengatakan: semoga ibu segera pulih kembali. Dan beliau mengatakan: Terima kasih Pak.

Kami berdua bertetangga, berbeda agama. Tetapi keramahan beliau dan istrinya tersebut patut saya hargai. Tentu, dalam pergumulan yang dihadapinya, ada fragmen harapan yang sedang ia kumpulkan berdasarkan imannya kepada Tuhan yang ia percayai. Kita pun sama. Kita meyakini bahwa “Tuhan yang kita sembah” sanggup menolong, menopang, memulihkan, memberkati, dan menyertai kita. Meski demikian, Tuhan seringkali mendidik kita melalui berbagai gumul juang; iman kita menjadi kuat; fragmen harapan segera kita genggam dalam iman kita kepada-Nya.

person in black long sleeve shirt holding book

Kita melihat di sekitar hidup kita, atau bahkan melihat secara luas tentang kehidupan manusia pada umumnya. Ternyata kesulitan-kesulitan hidup bukanlah milik orang-orang miskin, susah, terhimpit, atau orang-orang yang tertekan, depresi, dan putus harapan. Semua orang tanpa terkecuali menemui dan menerima kesulitan-kesulitan hidup. Virus Corona cukup memberi kita pelajaran bahwa kesulitan-kesulitan itu menghampiri semua jenis orang, semua orang beragama, orang baik, orang jahat, orang munafik, orang atheis, dan lainnya. Pembelajaran hidup seperti itu haruslah mendorong kita untuk melihat kepada Tuhan dalam segala keadaan. Dugaan saya, saat pandemik Covid-19 melanda seluruh dunia, semua orang beragama berdoa kepada Tuhannya masing-masing agar terlindung dari serangan Covid-19. Mereka yang dulunya malas berdoa, seketika menjadi rajin berdoa.

woman wearing red sweatshirt looking at top between trees near grass during daytime

Fenomena hidup seperti itu adalah fakta bahwa manusia itu rapuh dan tak boleh sombong. Tidak juga merasa bahwa kita dapat dengan leluasa berbuat kejahatan, penipuan, kebohongan, dan sederet amoralitas lainnya. Mereka yang menyadari akan hal ini, setidaknya bersegera memutuskan untuk melihat Sang Khalik, berdoa dan memohon ampun pada-Nya.

Kesulitan-kesulitan yang menghampiri hidup kita, mengalihkan fokus dari pekerjaan kita. Terkadang, justru mengganggu segala yang penting dalam hidup kita. Ditambah lagi dengan tekanan dari berbagai pihak, kesakithatian atas tindakan amoralitas, kejahatan dan semacamnya. Rasa hidup menjadi hambar karena kita diperlihatkan dengan fakta yang tidak kita inginkan terjadi.

man raising his arms on sea under black clouds

Dalam keadaan yang demikian, mereka yang beriman, akan tetap melihat Tuhan sebagai Penolong yang setia. Di situ mereka mengumpulkan harapan dalam genggaman iman. Harapan itu berisi tentang bagaimana Tuhan melindungi mereka, menjaga dari segala jenis kejahatan, dari segala kenikmatan dunia yang dapat saja melunturkan iman mereka, menjaga mereka dari segala marabahaya, dan lainnya.

Pada proses waktu, orang-orang beriman tadi ditempa oleh Tuhan sesuai kadar imannya masing-masing. Tuhan senantiasa mendidik dan mengajar mereka melalui kesulitan-kesulitan hidup, berbagai masalah, dan tekanan hidup yang tak biasa. Pada akhirnya, Tuhan Yesus telah menyiapkan “hadiah” bagi para pemenang kehidupan, yaitu mereka yang bersandar dan mengandalkan Tuhan setiap waktu.

Ternyata Alkitab memberikan kebahagiaan bagi mereka yang senantiasa bersandar, berlindung, dan mengandalkan Tuhan, mereka yang ditegur-Nya, mereka disebut berbahagia, mereka yang hidup benar, suci, dan kehidupan mereka dijamin oleh Tuhan, Sang Khalik:

sun rays through white cumulus clouds

2 Tawarikh 13:18, Demikianlah orang Israel ditundukkan pada waktu itu, sedang orang Yehuda menjadi kokoh, karena mereka mengandalkan diri kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.   

Yeremia 17:7, Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!   

Ayub 5:17, Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.   

Mazmur 1:1-2, Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Mazmur 2:12, …. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!   

Mazmur 34:9, Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!   

Mazmur 40:5, Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!   

Mazmur 84:6, Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!   

Mazmur 84:13, Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!   

Mazmur 106:3, Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!   

Mazmur 112:1, Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.   

Mazmur 119:1  Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.

Mazmur 119:2, Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,   

Mazmur 128:1, Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!   

Mazmur 146:5, Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:  

Amsal 16:20, Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.   

Amsal 20:7, Orang benar yang bersih kelakuannya — berbahagialah keturunannya.   

Amsal 28:14,  Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.   

Matius 5:5, Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.   

Matius 5:7, Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.   

Matius 5:8, Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.   

Matius 5:9, Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.   

Matius 5:10, Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.   

Matius 5:11, Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.   

Matius 11:6, Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.

Lukas 6:21, Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.   

Lukas 6:22, Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.   

Yakobus 1:12, Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.   

1 Petrus 4:14, Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.   

Wahyu 16:15,  “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.”   

Semua hal yang diberikan dan dijamin oleh Tuhan, menghasilkan harapan-harapan yang kemudian dikumpulkan dalam genggaman iman. Perjanjian Lama mengisahkan tentang bagaimana Allah membentuk dan mendidik Israel supaya menjadi seperti yang Ia kehendaki. Harapan-harapan Israel seringkali terhalang oleh kedegilan hati mereka, tetapi Allah tetap mengulurkan tangan-Nya bagi mereka yang bersedia bertobat dan kembali kepada-Nya. Selebihnya, Allah menghukum mereka yang keras kepala, bejat, najis, dan sering melawan Dia.

person holding white printer paper

Perjanjian Baru menegaskan bahwa mengikut Yesus memiliki jaminan dan konsekuensi. Jaminannya adalah kehidupan kekal, dan konsekuensinya adalah mereka dihina, dicaci, sehingga mereka dikucilkan, dibunuh. Meski demikian, harapan orang-orang percaya pasca Yesus naik ke surga, tetap dipegang dalam genggaman iman. Mereka tetap setia untuk beriman kepada Yesus Kristus. Tak ada yang dapat menggantikan Yesus di hati mereka, meski nyawa taruhannya. Mereka tidak menyangkal Yesus, tetapi hidup bagi Yesus.

Di konteks kita sekarang ini, mengumpulkan harapan dalam genggaman iman adalah perlu dan tetap dikerjakan. Iman kepada Yesus Kristus membawa kita kepada kekayaan kasih karunia-Nya yang mengantarkan kita kepada kemuliaan dan sukacita sorgawi.

Berbagai kesulitan dan tekanan hidup bisa saja muncul, tetapi hal-hal itu janganlah menjadi alasan untuk kita menyerah dan patah semangat. Yakinlah, bahwa Yesus Kristus senantiasa memberikan kekuatan, kebahagiaan, sukacita, dan kedamaian dalam hidup kita, asalkan kita setia kepada-Nya, dan berkomitmen hidup di dalam firman-Nya, niscaya harapan-harapan yang kita kumpulkan dalam genggaman iman akan diwujudnyatakan oleh Tuhan dalam kehidupan kita, senantiasa, dan selamanya.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/faith

MENIKMATI HIDUP BERDASARKAN BIJAKSANA YANG TUHAN BERIKAN: Catatan Reflektif Mazmur 112:1-10

Secara umum manusia menyukai apa yang dinamakan dengan bahagia dan jaminan. Apa saja dapat dilakukan manusia yang penting bahagia dan memiliki jaminan. Manusia berlomba-lomba mempertahankan hidup. Mereka yang kalah dalam lomba kehidupan bisa tersingkirkan. Perlombaaan kehidupan seringkali menggunakan berbagai cara, entah baik, entah buruk. Tetapi, mereka yang berintegritas tentu mempergunakan integritasnya dalam lomba tersebut; mereka setia pada komitmen untuk hidup benar di hadapan Tuhan meskipun rugi. Sedangkan mereka yang menipu, memalsukan apa yang bisa dipalsukan, menunjukkan kemunafikan untuk mencari keuntungan, berbuat kejahatan untuk meraup banyak hal yang tidak halal, tidak akan terluput dari hukuman Tuhan.

Orang-orang yang berintegritas, meski mereka dapat disingkirkan, mereka tetap dipelihara oleh Tuhan. Sedangkan mereka yang menipu dan melakukan kejahatan untuk “menang”, akan disingkirkan oleh Tuhan di kemudian hari. Di sisi lain, mereka yang malas mempertahankan hidup juga akan tersingkirkan. Mereka yang hanya menanti segala sesuatu tanpa mengusahakannya, akan masuk ke dalam perangkap hidup yang ia sendiri ciptakan.

Bahagia itu sendiri adalah kombinasi dari empat hal: PELUANG, TUJUAN HIDUP, BERKAT, dan KEWAJIBAN. Peluang berbicara mengenai kondisi hidup yang harus kita upayakan atau usahakan. Ketika seorang mahasiswa ingin menjadi sarjana yang berintegritas, kapabel, dan kredibel, ia harus mengupayakan atau mengusahakan peluang yang ada di depannya (belajar dan mengerjakan apa yang harus dikerjakannya) dan kemudian menjalani prosesnya.

Tujuan hidup berbicara tentang apa yang ingin dinikmati dalam kondisi bahagia itu. Ketika manusia tidak memikirkan tujuan hidupnya, maka bahagia dapat dirasakan tetapi tidak secara penuh karena masih ada hal-hal lain yang belum tercapai. Tujuan hidup ingin dicapai manusia tetapi ia harus menjalani prosesnya sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Berkat berbicara tentang hal-hal yang tanpa kita duga datang pada kita. Artinya, selain peluang dan tujuan hidup, manusia dapat menikmati bahagia karena adanya berkat dari Tuhan yang datang tanpa kita duga sebelumnya, tanpa kita sangka-sangka.

Kewajiban berbicara tentang apa yang harus kita lakukan untuk menangkap peluang, untuk meraih tujuan hidup, dan apa yang dilakukan untuk menerima berkat-berkat yang datang pada kita.

Keempat hal tersebut (peluang, tujuan hidup, berkat, dan kewajiban) sangatlah penting dan secara nyata tampak dalam teks-teks Mazmur 112:1-10. Saya akan menguraikannya demikian:

Alkitab terjemahan LAI secara baik memberi perikop pada Mazmur 112 ini dengan: “Bahagia Orang Benar. Fokus saya ada pada dua kategori yaitu “bahagia” dan “orang benar”.  Secara garis besar, Alkitab memberikan perbedaan antara orang benar dan orang fasik. Keduanya sama-sama ada dalam dunia dan menikmati hidup. Keduanya memiliki bijaksana atau pertimbangan. Namun secara substansial keduanya berbeda. Orang bijaksana belum tentu adalah orang benar. Benar yang dimaksudkan adalah benar secara moralitas dan spiritualitas. Orang benar pasti berhikmat karena ia sendiri menjadi benar karena ia berhikmat dalam menentukan arah hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Mazmur 112 menyebut “berbahagialah orang yang takut akan TUHAN”. Ucapan pernyataan ini adalah sebuah dampak dari mereka yang takut akan TUHAN (orang yang berhikmat dan melakukan perintah-Nya berdasarkan petunjuk Tuhan), yang percaya kepada kuasa-Nya. Alasan berbahagia didukung oleh sebuah jaminan dari TUHAN. Di sini, saya memandang jaminan sama dengan berkat. Setiap orang yang berbahagia, jika tidak ada jaminan atau berkat, akan menempuh perjalanan hidup yang melelahkan, atau bahkan tanpa harapan.

Untuk menjelaskan secara aplikatif teks-teks Mazmur 112, maka menyebut kembali empat hal yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Pertama: PELUANG

Sebagai orang benar, peluangnya adalah “berbahagia”. Bahagia harus diusahakan dan bukan ditunggu (ay. 1); mujur: dalam segala hal TUHAN sering dan selalu memberi kemujuran kepada orang benar karena apa yang dia lakukan menyenangkan hati TUHAN; Memberi pinjaman kepada sesamanya, dan peduli kepada orang miskin (ay. 9)

Kedua: TUJUAN-TUJUAN HIDUP

Orang benar memiliki tujuan yaitu taat pada segala perintah TUHAN (suka) (ay. 1) sepanjang hidup; berbuat kebajikan seumur hidup (ay. 3, 9); dan menjadi terang dalam hidupnya (ay. 4)

Ketiga: BERKAT

Orang benar mendapat berkat dari TUHAN yaitu harta dan kekayaan (ay. 3); Orang benar mendapat jaminan dari TUHAN yaitu anak cucunya akan perkasa di bumi (ay. 2); angkatan orang benar akan diberkati (ay. 2); ia takkan goyah selama-lamanya (ay. 6); ia dijaga dan dilindungi TUHAN (ay. 7-8); dan dimuliakan oleh TUHAN (ay. 9).

Keempat: KEWAJIBAN

Orang benar wajib takut akan TUHAN (ay. 1); adil bagi sesamanya (ay. 4); pengasih dan penyayang (ay. 4); mengurus urusannya dengan wajar (ay. 5); dan berani melawan orang fasik (ay. 10).

Bahagia orang benar terletak pada peluang, tujuan-tujuan hidup, berkat-berkat TUHAN dan kewajibannya sebagai orang benar.

Kita yang hidup di zaman ‘now’ perlu memperhatikan empat hal di atas. (1) Setiap peluang yang diberikan Tuhan haruslah dimanfaatkan; (2) Kita perlu menetapkan apa saja tujuan hidup kita. Saya sudah menyebutkan beberapa hal, tinggal saudara yang tambahkan sesuai kehendak masing-masing; (3) Yakinlah bahwa Tuhan pasti memberkati kita dan mencurahkan berkat-Nya; dan (4) Dan jangan lupa, ada kewajiban yang harus kita lakukan seumur hidup kita untuk taat dan setia kepada Tuhan. Kita patut bersyukur dan menyukakan hati Tuhan dengan melakukan perintah-perintah-Nya, hukum-hukum-Nya, titah-titah-Nya.

Niscaya, bahagia menjadi milik kita. Tidak hanya itu saja, jaminan dari Tuhan pasti berlaku atas kita dan anak cucu kita.

Tuhan memberkati, menyertai, dan menopang kita. Amin

Salam Bae.

Sumber gambar: Foto Yan Suhendra, Unsplash, Pinterest, Google Image.

DAMAI SEJAHTERA DI BUMI

82042.jpg

Masih tersisa perdebatan soal tanggal berapa Yesus dilahirkan ke dunia ini, sampai ada yang melupakan apa yang terjadi dalam peristiwa Natal, apa tujuannya, dan apa landasan historisnya. Kita perlu mengakui bahwa jika Yesus datang dalam dunia dalam rupa manusia melalui peristiwa inkarnasi (Yoh. 1:14) – Logos menjadi daging yang dilahirkan dari perawan Maria, maka pasti ada “waktu” Ia dilahirkan. Pencarian dan pengesahan tanggal kelahiran Yesus bagi sebagian orang itu penting, bagi sebagian orang kurang penting, dan bagi sebagian orang lagi tidak dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu perayaan Natal Yesus Kristus. Dengan demikian, secara substansial, pemahaman dan pemaknaan Natal haruslah dilihat dari aspek kovenan Allah dengan manusia, aspek nubuatan Sang Mesias (identitas-Nya), dan aspek penggenapannya.

Pada aspek penggenapannya, ada peristiwa yang spektakuler yang terjadi di tanah Yudea, di kota Daud yang bernama Betlehem. Para gembala didatangi oleh seorang malaikat Tuhan (Luk. 2:8-9). Kedatangan malaikat Tuhan adalah mewartakan suatu berita: “…kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:10-12). Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Kisah di atas diawali dengan peristiwa kelahiran Yesus (Luk. 2:6-7), dan kemudian seorang malaikat Tuhan memberitakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa kepada para gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (Luk. 2:8-10), sementara orang-orang Majus bersukacita melihat “bintang Sang Raja” di Timur, dan mereka datang (melalui perjalanan yang cukup jauh) untuk menyembah Raja, yang baru dilahirkan itu (Mat. 2:1-2).

three shepherds 85041.jpeg

Jika malaikat Tuhan memberitakan KESUKAAN BESAR, maka kita melihat konfirmasinya dalam teks-teks Lukas pasal 2.

Pertama: “Hari ini telah lahir bagimu JURUSELAMAT, yaitu KRISTUS, TUHAN, di kota Daud.” pernyataan ini – sebagai kesukaan besar – didasarkan pada penggenapan Mikha 5:1, yang mana teks tersebut memperlihatkan permulaan dari Sang Mesias yang akan datang itu sebagai “Mesias yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Jika Mesias itu permulaannya sejak purbakala, sejak dahulu kala, maka hal itu tidak dapat merujuk pada mesias yang biasa, melainkan merujuk pada Mesias Ilahi. Hanya Mesias Ilahi yang dapat memerintah Israel sampai selama-lamanya, karena teks Mikha 5 menyebutkan “permulaan Sang Mesias” sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sepanjang sejarah Israel atau pun Yudaisme, tak ada sebutan Mesias yang permulaannya sejak purbakala, sejak dahulu kala. Kecuali Yesus Kristus saja yang dinyatakan dan menyatakan identitas kekalnya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1-3, 14). Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh. 8:42).

Identitas itu begitu kuat dan konfirmatif bahwa Mesias Ilahi adalah pemilik umat-Nya dan memerintah sampai selama-lamanya. Ia juga adalah Juruselamat umat-Nya. Allah adalah Juruselamat, dan Yesus Kristus meneguhkan identitas tersebut. Dengan demikian, tepatlah berita malaikat kepada para gembala: “hari ini telah lahir bagimu JURUSELAMAT, yaitu KRISTUS, TUHAN, di kota Daud”, sebab hanya Allah – sebagai yang Ilahi – yang dapat disebut sebagai Juruselamat dan Tuhan, karena Dia telah membuktikannya dalam sejarah.

Kedua: Malaikat tidak hanya menyampaikan kabar kesukaan besar, tetapi mengarahkan para gembala untuk MENGKONFIRMASI apa yang telah dikatakannya: “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:12). Para gembala kemudian pergi untuk menemui Yusuf, Maria, dan bayi Yesus. Mereka perlu bukti, karena memang itulah petunjuk yang diberikan oleh malaikat tersebut. Malaikat itu datang dari sorga dan kembali ke sorga (Luk. 2:15). Artinya, malaikat itu bukanlah hantu yang datang dari pepohonan, bebatuan, atau kuburan, atau yang lainnya. Tidak. Justru Lukas mencatat bahwa malaikat Tuhan datang dari sorga untuk memberitakan kabar sukacita yang besar, Logos [yang kekal di surga] datang menjadi daging [manusia, dan diam di bumi, di antara manusia].

Mendengar petunjuk malaikat Tuhan, para gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena SEGALA SESUATU YANG MEREKA DENGAR DAN MEREKA LIHAT, SEMUANYA SESUAI DENGAN APA YANG TELAH DIKATAKAN KEPADA MEREKA. (Luk. 2:15-20).

Ketiga: Tidak hanya sukacita bagi Yusuf dan Maria, serta para gembala, tetapi juga ada kesukaan besar di sorga yang dinyatakan oleh sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

musical angels 85042.jpeg

Kemuliaan Allah dinyatakan melalui peristiwa Natal. Memang kemuliaan hanya ditujukan kepada Allah di tempat yang maha tinggi, sedangkan damai sejahtera diberikan Allah kepada manusia [di bumi] yang berkenan kepada-Nya. Sorga dan bumi dipertemukan di dalam Yesus Kristus, dan peristiwa itu hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Konfirmasi ini sangatlah luar biasa. Allah memperlihatkan kekuasaan dan kedaulatan-Nya dalam sejarah Inkarnasi, Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

Keempat: “Manusia yang berkenan kepada-Nya” adalah umat-Nya sendiri. Kita melihat dalam teks Matius 1:21, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Rasul Yohanes menegaskan hal yang sama, bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Dengan demikian, mereka yang percaya adalah orang-orang yang mana Allah menyatakan kasih-Nya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:16). Ini juga adalah “kesukaan besar”.

Semua manusia yang berkenan kepada-Nya karena dikenan oleh Allah, akan menerima “damai sejahtera” [εἰρήνη – eirēnē] dari Allah. Mereka adalah umat pilihan-Nya. Ini adalah DAMAI SEJAHTERA yang terbesar yang berpadu dengan KASIH [ἠγάπησεν] Allah yang terbesar. Sorga dan bumi berpadu dalam peristiwa Natal. Allah menghubungkan keduanya, melampaui dari perjumpaan Allah dengan umat-Nya dalam Perjanjian Lama.

Dalam Natal, ada kemuliaan Allah dan ada “damai sejahtera” yang dikaruniakan bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Kita yang telah diperkenankan-Nya, harus mendengarkan suara-Nya sebab Ia mengenal kita dan kita mengikut Dia, Yesus Kristus. Dia memberikan hidup yang kekal kepada kita dan kita pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut kita dari tangan Yesus Kristus (Yoh. 10:27-28). Natal membawa damai di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Hal ini menandaskan bahwa tak ada manusia yang berkenan kepada Allah jika Allah tidak memperkenankan kita untuk datang menyembah Dia. 

Madonna Painting - Madonna and Child by Giuseppe Maria Crespi

Kelima: Natal adalah pertemuan dua natur yaitu: Ilahi dan manusia. Ia – Sang Logos – datang dalam rupa manusia. Rasul Paulus menegaskan hal ini: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:6-7). 1 Timotius 3:16, “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” Ini adalah kesukaan besar tidak hanya di surga, tetapi juga di bumi. Hal ini tampak dalam Lukas 2:10-12, “…Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Pertemuan dua natur menciptakan sejarah yang spektakuler.

Konteks ini adalah pertanda bahwa Allah datang dalam rupa manusia dan membawa kembali manusia kepada gambar-Nya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah: Kejadian 1:26, “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”; Yakobus 3:9, Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah”.

Manusia yang berdosa telah merusak gambar Allah dalam dirinya. Itulah sebabnya, tujuan Natal (Inkarnasi) tidak hanya menggenapi nubuatan, kovenan, dan menyelamatkan umat-Nya, tetapi juga memulihkan gambar Allah yang telah rusak karena dosa (pemberontakan, perlawanan, penentangan). Kemudian, pemulihan dan pengembalian gambar Allah juga menjadi pokok penting dalam Teologi Perjajian Baru. Teks-teks representatif dan konfirmatif berikut ini memberi ruang pemahaman yang kuat: Roma 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” 2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2Kor. 3:18).

Sukacita Natal memadukan kasih dan damai sejahtera dari satu-satunya Sumber Kehidupan. Allah begitu mengasihi umat-Nya, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, yang lahir dari perawan Maria. Mukjizat ini menandai proses ketaatan Sang Anak dalam kemanusiaan-Nya untuk menderita, mati, bangkit, dan naik ke surga. Ia dari surga datang ke bumi, dan kembali ke surga. Malaikat Tuhan yang membawa kabar kesukaan besar datang dari surga dan kembali ke surga. Fakta ini begitu ajaib dan luar biasa. Kita tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.

Madonna Painting - Our Lady Worshipping the Child by Correggio

Kita hanya patut bersyukur tatkala Allah datang mengunjungi manusia dalam rupa manusia. Sesungguhnya, kabar kesukaan besar yang telah dikumandangkan ribuan tahun yang lalu bahwa: telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud, merupakan penyediaan “iman kepada Sang Logos” yang lahir dengan sederhana, dibungkus dengan lampin, dibaringkan dalam palungan. Iman yang diberikan Allah kepada kita membawa kita kepada kekayaan kasih karunia dan anugera-Nya, bahkan damai sejahtera yang telah diturunkan Allah pada peristiwa Natal Yesus Kristus, tetap melingkupi umat-Nya, dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

Pujian yang pernah dikumandangkan oleh sejumlah besar bala tentara sorga, kita kumandangkan kembali bahwa: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://www.advocate-art.com/daniel-rodgers/82042-jpg?query=angel
  2. https://i.pinimg.com/originals/ed/71/d6/ed71d67182ce35f2224ec00092b74440.jpg
  3. https://fineartamerica.com/featured/madonna-and-child-giuseppe-maria-crespi.html. Madonna and Child is a painting by Giuseppe Maria Crespi which was uploaded on October 26th, 2015.
  4. https://fineartamerica.com/featured/our-lady-worshipping-the-child-correggio.html?epik=dj0yJnU9UjllTk5RRVBfU2JGcE12Q19GbElrR20wS0hZRFBxVEcmcD0wJm49c2V1VGVHLXBVTzlETWt2Qkc3VS1nQSZ0PUFBQUFBR0hHcVl3. Our Lady Worshipping the Child is a painting by Correggio which was uploaded on December 11th, 2013
  5. https://www.advocate-art.com/daniel-rodgers/three-shepherds-85041-jpeg?query=angel
  6. https://www.advocate-art.com/daniel-rodgers/musical-angels-85042-jpeg?query=angel
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai