Bagaimana kita memahami dan menjalani hidup? Bagaimana kita bersikap dan bertahan hidup? Bagaimana kita memperlihatkan ketangguhan dan perjuangan hidup?
Ada beragam pertanyaan yang lazim kita dengar, atau bahkan kita sendiri mengungkapkannya, baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, maupun kepada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena disebabkan oleh sesuatu hal. Biasanya disebabkan oleh “hidup tidak seperti yang diharapkan”. Apa yang diharapkan? Tentu banyak: sesuai kadarnya, atau sesuai keingingan dan harapan, sesuai kehendak, atau sesuai nafsu; semuanya sah untuk diungkapkan. Akan tetapi tidak semua pertanyaan layak diajukan. Kita harus membaca diri dan melihat apa yang kita miliki (potensi internal).
Tak salah jika kita melihat dan membaca diri. Sebab dengan berbuat demikian, kita dapat memulai menentukan hal apa, atau pekerjaan apa yang harus dan dapat dikerjakan semaksimal mungkin. Membaca diri adalah sebuah tingkat kedewasaan yang baik, yang telah memahami betul, bahwa hidup itu membutuhkan perjuangan dan kerja keras.
Kita harus berani “menguliti” hidup kita sendiri, mengingat bahwa “mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Amsal 15:3), dan “Dan tidak ada satu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13).
Ketika kita menyembunyikan sesuatu, ingatlah, bahwa Tuhan melihat itu semua. Maka, tidak perlu bersembunyi; nyatakanlah apa yang benar dan salah di hadapan Tuhan, kulitilah hidup kita sendiri, sebab Tuhan Maha Melihat.
Apa yang dikuliti? Tergantung apa yang hendak kita kuliti, asalkan kita jujur di hadapan Tuhan. Ketika kita telah jujur di hadapan Tuhan, maka kita tak mungkin berbohong kepada “sesama kita”. Kita perlu mengoreksi diri: apa yang telah kita lakukan itu benar atau tidak; apa yang kita pikirkan itu benar atau tidak, dan apa yang ucapkan itu benar atau tidak. Ukurannya untuk menyatakan apakah itu benar atau tidak, adalah ALKITAB. Mereka yang rajin membaca dan mendengar orang berbicara tentang Alkitab, tentu tidak akan mengalami kesulitan melakukannya, kecuali memang dia mengabaikannya sama sekali.
Bagaimana kita memahami dan menjalani hidup? Memahami hidup adalah sebuah tanggung jawab hakiki dari setiap manusia. Ia memahami hidup karena ia sedang [menjalani] hidup. Ada sesuatu yang harus dipegang, dijalani, dan dituju. Hidup itu punya tujuan dan tujuan itu tergantung dari kita yang mencapainya. Mencapai tujuan bergantung pada apa yang kita pegang yaitu “prinsip hidup”.
Menjalani hidup adalah bagian penting dari memahami hidup. Mereka yang paham soal hidup dan liku-likunya, pasti akan berani menjalani hidup, meski mereka tahu bahwa ada tantangan, hambatan, dan gumul juang terbentang di hadapannya. Mereka yang menjalani hidup berarti mereka telah siap berjuang dan mempertahankan hidup.
Bagaimana kita bersikap dan bertahan hidup? Bersikap dalam hidup adalah sebuah dorongan dan pilihan. Menyikapi hidup tergantung dari jenis hambatan, tantangan dan gumul juang. Kita harus bersikap dan menentukan sikap. Karena dari ketetapan untuk bersikap kita dapat bertahan, dan tangguh menjalani hidup. Memang tidak mudah, tetapi tidak ada pilihan lain.
Bertahan hidup merupakan natur hayati manusia. Kita dapat menggambarkannya seperti para pendaki Mount Everest (pegunungan Himalaya), gunung tertinggi di dunia. Mereka yang tiba di puncaknya, adalah yang bertahan hidup; mereka yang mati karena kelelahan, karena kedinginan, dan lain sebagainya, adalah yang berjuang untuk bertahan, tetapi mereka tidak sanggup. Itu adalah risiko yang harus mereka tanggung. Dari situ kita dapat belajar bahwa “bertahan hidup” adalah tanggung jawab setiap orang.
Bertahan hidup memiliki konteksnya masing-masing, tetapi intinya tetap sama: manusia memerlukan potensi untuk bertahan dalam segala situasi di mana ia berada. Ia harus berani menguliti hidupnya dan membacanya, menakar apakah dirinya sanggup berjuang dan bertahan hidup atau tidak. Harapan tentu ada; dan itu perlu diperjuangkan dengan segala potensi yang ada.
Bagaimana kita memperlihatkan ketangguhan dan perjuangan hidup? Ketangguhan hidup adalah kondisi dan bukti dari mereka yang memahami, menjalani, bersikap, dan bertahan hidup. Dan mereka itulah yang terus memperlihatkan perjuangan hidupnya.
Apakah kita termasuk di dalamnya? Sudah pasti. Tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Meskipun kita tahu bahwa masa depan itu ada, kita tahu bahwa tantangan itu ada—dan seringkali kita berharap tantangan tidak perlu ada, supaya perjalanan hidup mulus—namun, yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan “potensi” yang Tuhan berikan untuk memahami, menjalani, bersikap, dan bertahan hidup. Potensi itu juga kita gunakan untuk menguliti hidup yang artinya kita berani membaca hidup dan melihat diri kita seutuhnya, kemudian mengoreksi, membenahi, membangun, menguatkan, mendorong, dan memperjuangkannya.
Selamat menjalani hidup. Tetapkan komitmen untuk berjuang dan bertahan hidup, niscaya harapan dan kebahagiaan dapat kita capai dan rasakan.
Salam Bae….
Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/surrender


























