PENDAHULUAN
Kehidupan Kristen membutuhkan aspek-aspek berikut: kualitas pemikiran, kualitas komitmen, kualitas hati, dan kualitas perbuatan. Pada faktanya, ada orang-orang Kristen yang “gagal” melakukan, menjalankan, dan mempertahankan aspek-aspek tersebut. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya desakan, godaan, rayuan, tekanan, dan pengaruh dari kehidupan duniawi yang mengandung nilai-nilai kejahatan yang luar biasa. Berbagai perbuatan kedagingan (hawa nafsu) telah menodai dan merusak iman Kristen. Tak bisa dipungkiri, ini adalah fakta yang mengejutkan sekaligus menyedihkan.
Memang ada cukup tantangan yang diperhadapkan dalam hidup kekristenan kita. Tantangan tersebut datang dari berbagai motif. Bahkan kita sendiri yang menciptakan motif tersebut dengan maksud mencoba membuat sesuatu yang berdosa dengan sedikit memperhalus caranya. Apa pun alasannya, motif-motif yang diciptakan untuk menyembunyikan dosa, tidaklah benar dalam pandangan Tuhan. Kehidupan yang benar di hadapan Tuhan adalah kehidupan yang “kudus”; sebuah kehidupan yang “terpisah” dan “memisahkan diri” dari keinginan duniawi, perbuatan-perbuatan jahat — dan sebuah kehidupan yang telah menanggalkan “manusia lama dengan segala hawa nafsunya yang liar” dan kemudian “mengenakan manusia baru dengan segala sukacita dan kesuciannya” untuk hidup dalam kasih, kemurahan, kelemahlembutan, kerendah-hatian, kesabaran, dan penguasaan diri.
LATAR BELAKANG
Hal-hal demikian tampak dalam sejumlah pengamatan Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. Terkait dengan judul tulisan ini, saya hendak menjelaskan konteksnya berdasarkan apa yang dipaparkan oleh Paulus tentang perpaduan antara hati dan pikiran orang percaya yang telah percaya kepada Yesus Kristus. Hal ini sebenarnya menjelaskan konstruksi pemikiran Paulus untuk memberikan pemahaman yang bersifat komprehensif ontologis (eksistensi, esensi, kenyataan) iman kepada Yesus Kristus. Ia melihat bahwa komitmen dan konsekuensi dari percaya kepada Kristus menjadi sebuah pilihan hidup sekaligus substansi dari iman itu sendiri.
Komitmen Paulus dituangkan ketika ia berbicara tentang pengakuan kepada Tuhan bahwa apa yang telah Ia buat (menebus, menguduskan, menyelamatkan) merupakan sesuatu yang sangat luar biasa yang memberi dampak bagi kualitas pemikiran, kualitas hati, dan kualitas perbuatan sebagaimana yang tampak dalam elaborasi Paulus dalam tiga pasal (1, 2, dan 3) yang mendahului konteks pasal 3:15 yang akan dibahas di sini. Pengakuan tersebut berangkat dari karya-karya Tuhan Yesus dalam totalitas kehidupan jemaat Kolose yang dulunya hidup dalam segala kecemaran dan hawa nafsu yang liar. Saya mencatat hal-hal penting tentang komitmen Paulus mengenai perbuatan Tuhan terhadap orang percaya di mana di dalamnya, mereka perlu menetapkan sebuah komitmen (sebagai implikasinya) teguh untuk tetap mengikuti Dia, dan berjalan bersama-Nya serta meniggalkan perbuatan-perbuatan kedagingan (hawa nafsu). Mengenai ini akan saya jelaskan sedikit setelah komitmen dan konsekuensi:
1. Komitmen dasar adalah bahwa jemaat Kolose disebut kudus dan yang percaya dalam Kristus (1:2). Percaya kepada Yesus berarti harus hidup kudus dan Tuhan sajalah yang menguduskannya.
2. Jemaat Kolose telah beriman kepada Kristus (1:4). Iman jemaat Kolose disebabkan oleh Injil Kristus “yang” disampaikan oleh para Rasul.
3. Jemaat Kolose mengasihi semua orang kudus (1:4). Mengasihi adalah wujud nyata dari mereka yang telah dipanggil oleh Tuhan Yesus.
4. Jemaat Kolose telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan Allah ke dalam Kerajaan Yesus Kristus (1:13). Allah melepaskan mereka dari [kuasa] kegelapan dan diterima dalam Kerajaan Yesus Kristus.
5. Jemaat Kolose telah ditebus dan diampuni dosanya (1:14).
6. Jemaat Kolose diperdamaikan dengan diri-Nya melalui darah salib Kristus (1:20-22).
7. Jemaat Kolose telah menerima Kristus Yesus Tuhan (2:6)
8. Jemaat Kolose telah dipenuhi di dalam Dia (Yesus) (2:10)
9. Jemaat Kolose telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (2:11)
10. Jemaat Kolose telah dikuburkan dalam baptisan Kristus (2:12)
11. Jemaat Kolose turut dibangkitkan oleh kepercayaan mereka sendiri kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia [Yesus] dari orang mati (2:12)
12. Jemaat Kolose telah dan dibebaskan dari roh-roh dunia (2:20)
13. Jemaat Kolose terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (3:10).
14. Jemaat Kolose telah dibebaskan dari sekat-sekat identitas (suku dan sebagainya) (3:11)
Dari komitmen (pengakuan) Paulus di atas mengenai karya-karya Tuhan, ia mengharapkan sebuah komitmen dari orang percaya sebagai implikasinya. Implikasi tersebut merupakan sebuah komitmen hidup kudus dan konsekuensi dari iman kepada Kristus. Artinya, beriman kepada Kristus tidak membuka peluang bagi orang percaya (jemaat Kolose) untuk hidup secara bebas dalam dosa yang begitu merusak moralitas dan spiritualitas mereka di hadapan-Nya. Sebaliknya, ketika mereka telah percaya kepada Yesus Kristus, mereka harus menyatakan komitmen untuk hidup di dalam Tuhan sebagaimana Tuhan telah memanggil dan menguduskan mereka.
Konsekuensi tersebut tampak dalam penegasan Paulus kepada jemaat Kolose bahwa mereka harus hidup kudus dan menanggalkan kemanusiaan yang terkungkung dalam dosa dan kemunafikan dunia (bdk. Gal. 5:19-21). Kemunafikan terkait dengan pemikiran bahwa menjadi orang percaya “masih bisa bermain dalam air keruh dosa” yang dianggap jernih dan menggairahkan serta memuaskan. Dosa memang menarik dan memuaskan. Menarik kemasannya tetapi kemudian meruntuhkan identitas, moralitas, dan imannya. Berikut konsekuensi yang ditempuh oleh orang percaya:
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (3:5)
Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (3:8)
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (3:9)
Kemudian, dari konsekuensi tersebut, jemaat Kolose diminta untuk perlu mengupayakan nilai-nilai spiritualitas dalam bentuk tindakan nyata. Tindakan tersebut sebenarnya merupakan “balasan” dari apa yang dulu dilakukan oleh jemaat Kolose sebagai solusi yang baik:
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (3:12)
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (3:13)
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (3:14)
Dengan demikian, komitmen (pengakuan) Paulus tentang karya-karya Yesus Kristus terhadap dirinya, jemaat Kolose, dan orang percaya lainnya, konsekuensi yang harus dialami oleh jemaat Kolose dan upaya jemaat Kolose untuk mewujudkan nilai-nilai spiritualitas dalam bentuk tindakan nyata, adalah kesatuan yang saling terkait (terkonstruksi) untuk masuk ke dalam kontkeks pasal 3:15 berikut ini.
TEKS DAN PENDALAMAN
καὶ ἡ εἰρήνη τοῦ Χριστοῦ βραβευέτω ἐν ταῖς καρδίαις ὑμῶν, εἰς ἣν καὶ ἐκλήθητε ἐν ἑνὶ σώματι· καὶ εὐχάριστοι γίνεσθε [kai hē eirēnē tou Khristou brabeuetō en tais kardiais humōn, eis hēn kai eklēthete en heni sōmati. Kai eukharistoi ginesthe].
ASV And let the peace of Christ rule in your hearts, to the which also ye were called in one body; and be ye thankful.
KJV And let the peace of God rule in your hearts, to the which also ye are called in one body; and be ye thankful.
MGI And the peace of Christ will govern your hearts, for to him you were called in one body. And be thankful to Christ,
NAB And let the peace of Christ control your hearts, the peace into which you were also called in one body. And be thankful.
NAS And let the peace of Christ rule in your hearts, to which indeed you were called in one body; and be thankful.
NIV Let the peace of Christ rule in your hearts, since as members of one body you were called to peace. And be thankful.
NJB And may the peace of Christ reign in your hearts, because it is for this that you were called together in one body. Always be thankful.
Dari beberapa terjemahan di atas, ada kata-kata yang digunakan untuk menerjemahkan “memerintah”: rule, will govern, control, dan reign. Arti dari kata-kata tersebut kurang lebih bersubstansi sama: memerintah, menentukan, mengarahkan, mengontrol, memandu, menuntun, menguasai, mengendalikan. Dari terjemahan (kata-kata) di atas, saya lebih memilih kata βραβεύω [brabeuō] dalam arti sebagai “menguasai atau mengendalikan. Artinya “damai sejahtera εἰρήνη [eirēnē]” Kristus menguasai/mengendalikan hati (pusat hidup manusia) sehingga apa yang keluar (output) dari hati dituangkan dalam bentuk tindakan nyata (lihat mengupayakan nilai-nilai spiritualitas dalam bentuk tindakan nyata, di atas).
Kata βραβευέτω adalah kata kerja imperatif present active (dari βραβεύω, judge, control, to be an umpire, to decide, determine, to direct, control, rule). Di sini, Paulus sedang menegaskan bahwa pola kehidupan jemaat Kolose jangan sampai dikuasai atau dikendalikan oleh manusia lama (bandingkan konsekuensi yang telah saya jelaskan di atas). Sebaliknya, hendaklah damai sejahtera Kristus tersebut mengendalikan/menguasai hati dan pikiran agar implikasi yang timbul, adalah implikasi yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Hati, sebagai pusat damai sejahtera Kristus yang menguasai/mengendalikan merupakan sebuah titik pertemuan antara pikiran dan perasaan (emosi atau kehendak) untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Di sini, Paulus menetapkan hati [καρδία] sebagai “the seat of physical life” (pusat dari kehidupan jasmani). Penetapan (komitmen) bahwa damai sejahtera Kristus harus menguasai/mengendalikan hati jemaat Kolose selaras (sesuai) dengan konsep “panggilan” mereka. Artinya, mereka (jemaat Kolose) yang menjadikan damai sejahtera Kristus menguasai hati mereka adalah mereka yang telah dipilih untuk “dipanggil” oleh Kristus sebagai terapan dari keterpanggilan mereka. Apa yang Tuhan tetapkan, pasti terwujud. Jemaat Kolose telah ditetapkan dan dipanggil, maka mereka harus mewujudkan kehidupan yang penuh damai, dan bukan perselisihan, kemarahan, dan sebagainya.
KORELASI
Ayat 15 memiliki korelasi kuat dengan ayat 16: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Korelasi tersebut memadukan dua unsur penting dalam hidup manusia yaitu: hati dan tindakan. Tindakan dinyatakan dalam bentuk “mengajar” dan “menegur”.
Damai sejahtera berbicara mengenai suasana hati, sedangkan perkataan Kristus berbicara mengenai tindakan yang harus dilakukan untuk meyakinkan orang lain bahwa pilihan untuk percaya kepada Kristus adalah pilihan yang benar yang disertai dengan perubahan radikal di mana kehidupan dikuasai atau dikendalikan oleh firman Tuhan (perintah-perintah, aturan-aturan, dan prinsip-prinsip) untuk menghasilkan kehidupan yang berkualitas (kualitas pemikiran, kualitas komitmen, kualitas hati, dan kualitas perbuatan).
Kualitas pemikiran merupakan cara orang Kristen untuk menghasilkan perenungan atas firman-Nya dengan menuangkannya dalam tulisan. Pemikiran Kristen haruslah mencakup pengajaran, iman, moralitas, relasi manusia dengan Tuhan dan sesama, dan bagaimana menjaga iman agar tetap kuat hingga akhir hidup.
Kualitas komitmen adalah iman yang direalisasikan dalam totalitas kehidupan dan berhadapan dengan berbagai tantangan, cobaan, godaan bahkan konsekuensi-konsekuensi yang muncul akibat kuatnya komitmen kita—tak berubah meski tawaran uang, harta, dan kenikmatan dosa yang menggiurkan. Komitmen adalah langkah-langkah iman yang terus dijaga dan dipelihara agar tidak ada kompromi iman yang bisa masuk menginap di ruang hati dan ruang pikiran kita. Perkuat kualitas pemikiran agar komitmen tetap teguh. Berpegang pada firman Tuhan dan terus bersandar pada Tuhan yang penuh kuasa.
Kualitas hati berbicara tentang kesadaran bahwa “hati” merupakan bagian internal yang signifikan dan bersifat menentukan. Hati yang terjaga (dijaga dengan baik) merupakan perjuangan seumur hidup kita. Dari hati kita dapat menyatakan syukur dengan ungkapan-ungkapan yang kepada Tuhan yang tak terkirakan. Sikap bersyukur lahir dari kualitas hati yang mapan dan telah mengecap kebaikan-kebaikan Tuhan.
Kualitas perbuatan adalah sebuah hasil dari berbagai upaya kualitas iman, komitmen, dan hati. Ukuran iman adalah perbuatan. Seperti yang dinyatakan Rasul Yakobus: “Iman tanpa perbuatan, pada hakikatnya adalah mati”. Apa yang harus diperbuat tentu harus selaras dengan firman Tuhan.
Keempat kualitas tersebut mengantar kita pada kesimpulan bahwa damai sejahtera Kristus, seyogianya juga berpengaruh kepada lingkungan mikro maupun makro. Damai sejahtera Kristus harus menguasai dan memerintah kehidupan kita sehingga perluasan pemikiran, komitmen, kualitas hati, dan perbuatan, dapat dirasakan oleh banyak orang. Tuhan tentu menopang dan menyertai mereka yang terus-menerus berjuang melakukan kehendak-Nya dalam segala aspek kehidupan—menghadirkan dan menyebarkan damai sejahteran-Nya dalam segala situasi dan tempat.
PENUTUP
Klausa “HENDAKLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS MEMERINTAH DALAM HATIMU” diwujudkan dalam tindakan dan relasi yang nyata. Kehidupan jemaat Kolose sebagaimana yang dikehendaki Rasul Paulus, perlu memperhatikan relasi internal maupun eksternal. Internal dikuasai oleh damai sejahtera Kristus untuk menjadi satu, sedangkan eksternal dikuasai oleh perkataan Kristus untuk mengajar dan menegur orang lain, siapa pun mereka.
Komprehensifitas ontologis (esensi) iman Kristen dinampakkan dalam perilaku setiap hari. Perilaku harus selaras dengan hati di mana hati telah dikuasai oleh damai sejahtera Kristus. Dalam konteks kehidupan keseharian kita, damai sejahtera Kristus dan perkataan Kristus seyogianya “memerintah”—sebagai pemberi perintah yang menguasai atau mengendalikan—semua orang percaya yang telah menyatakan komitmen (pengakuannya) bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia dan menawarkan keselamatan bukan dengan cara “menggertak orang dengan pedang atau dengan hasutan (intimidasi)”, melainkan dengan berita bahwa “dosa-dosa manusia telah diampuni”. Bukankah ini adalah berita yang luar biasa? Yesus yang datang sebagai Logos Ilahi dalam rupa manusia, menjelaskan apa sebenarnya makna pengurbanan; makna penebusan melalui unsur darah; Yesus menyatakan bahwa kebangkitan-Nya sangat mampu menjamin kehidupan kekal bagi mereka yang rela mati bagi-Nya; bagi mereka yang menderita bagi-Nya; bagi mereka yang setia hingga akhir hidup mereka.
Kehidupan yang kita jalani dengan menerapkan hal-hal baik yang sesuai dengan firman-Nya; seyogianya kehidupan kita membawa perubahan dan menjadikan damai sejahtera Kristus menguasai pola pikir, pola hidup, dan pola perkataan kita sebagai orang percaya. Di dalamnya, kita boleh menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, serta menyatakan ungkapan syukur kepada Allah yang hidup sebagai wujud dari kualitas pemikiran, kualitas komitmen, kualitas hati, dan kualitas perbuatan
Shalom. Salam Bae
Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/christ









