IKUTLAH  AKU: Refleksi Yohanes 21:15-19

Pendahuluan

Tema “Ikutlah Aku [Yesus]” sangatlah menarik. Alasannya, karena tema ini merupakan perwujudan totalitas iman kita kepada Yesus yang terlihat dari keseharian kita. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan: “Aku percaya dan mengikut Yesus” dan di waktu yang bersamaan dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus?

Tema ini juga bisa menjadi “pertanyaan” dan “pernyataan”. Kita disuguhkan dengan pertanyaan: “Sudahkah kita mengikut Yesus secara benar?”, “Apakah kita masih mengikuti Yesus?”, dan “Bagaimana kita mempertahankan iman untuk tetap mengikut Yesus?” Kita dituntut untuk menyatakan iman: “Saya telah mengikut Yesus secara benar”, “Saya tetap mengikut Yesus dengan setia”, dan “Saya akan terus mempertahankan iman untuk mengikut Yesus dalam segala situasi, entah baik, entah buruk.

Baik pertanyaan dan pernyataan, keduanya sangat penting untuk terapkan (dilakukan) dalam kehidupan setiap hari. “Pertanyaan” diajukan untuk memotivasi kita melihat proses perjalanan iman dan pelayanan (pengabdian) kita kepada Allah. “Pernyataan” diajukan untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi iman kita di hadapan Allah.

Kita pun yang hadir saat ini tentu adalah orang-orang yang “telah” mengikut Yesus. Kesaksian demi kesaksian dalam mengikut Yesus, telah menjadi berkat bagi orang lain. Suka duka mengikut Yesus dapat dilalui dengan penuh iman dan harap. Jatuh bangun dialami; berdoa, berpuasa, dan menangis di hadapan Allah juga dialami. Setiap orang memiliki pengalaman hidup bersama dengan Allah; tidak sama, tetapi semuanya mendapat kelepasan dan kebahagiaan dari Allah yang sama.

Makna dan Konteks “Ikutlah Yesus”

Setelah Yesus bertanya dan mengatakan sesuatu kepada Petrus tentang bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Tuhan, Yesus kemudian mengatakan: “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:15-19). Konteks “Ikutlah Aku” telah dilakukan Yesus sebelumnya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19-22, Mrk 1:17, pemanggilan para murid: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes; Mat. 9:9, pemanggilan Matius; bdk. Mrk. 2:14; Luk. 5:27; pemanggilan Filipus, Yoh. 1:43).

Pemanggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bertujuan untuk melakukan transformasi sosial; dulunya Petrus dan kawan-kawan sebagai bekerja sebagai penjala ikan yang bisa dikonsumsi sendiri, keluarga, dan atau dijual secara terbatas kepada beberapa orang saja (kepada masyarakat mikro), “kini” mereka dipanggil Yesus mengikuti-Nya menjadi ‘penjala manusia’, yang mana mereka mendapat tugas yang lebih besar, lebih berat, dan lebih luas wilayahnya. Ini adalah sebuah kejutan bagi mereka dan sekaligus mengajar mereka untuk mentransformasi sosial dalam lingkup makro.

Jadi, mengikut Yesus selalu terkait dengan tugas untuk melakukan transformasi sosial yang bersifat makro—dan kita telah menjadi ‘penjala manusia’. Mengikut Yesus adalah sebuah “pilihan iman” yang bersifat optatif (harapan di masa depan).

Kita akan melihat signifikansi dari mengikut Yesus sebagaimana tema kita hari ini. Frasa “Ikutlah Aku [Yesus]” secara logis dapat diajukan beberapa pertanyaan mendasar: pertama, untuk apa mengikut Yesus?; kedua, apa pentingnya mengikut Yesus?; ketiga, tujuannya apa?; keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? dan kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Saya akan menjelaskan kelima pertanyaan di atas.

Pertama, untuk [alasan] apa mengikut Yesus? Sama seperti murid-murid Yesus yang pertama dipanggil, tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengikut Yesus ketika Yesus menawarkan mereka untuk mengikuti-Nya. Mereka melihat pribadi Yesus sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Alasan mengikut Yesus adalah karena Yesus “menyuguhkan sebuah kondisi yang lebih faktual, lebih besar, dan lebih bernilai transformatif”. Pilihan untuk mengikut Yesus bukan karena pekerjaan yang ditawarkan itu enak, nyaman, aman dan terkendali, bukan pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang bernilai kekal: membawa orang lain kepada Yesus Kristus. Itu transformasi. Yang ditransformasikan (diubah) adalah kondisi spiritual dan humanitas sosial ke arah yang Tuhan kehendaki. Bukankah Tuhan menghendaki semua orang hidup dalam kehendak dan rencana-Nya?

Kedua, apa pentingnya mengikut Yesus? Mengikut Yesus akan mendapatkan/menerima “damai sejahtera” dari Dia [Yesus]—bukan dari dunia. Yesus mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Mengikut Yesus bukanlah tanpa hambatan, tantangan, aniaya, dan penderitaan. Selalu ada risiko ketika mengikut Yesus. Namun, kita perlu melihat jaminan yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya yang dapat kita jadikan pegangan dalam mengikut Yesus: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Ketiga, tujuannya apa? Kita mendapatkan jaminan kelegaan (ketenangan), hidup kekal, dan makhota kehidupan. Kelegaan diberikan Yesus bagi siapa saja yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Dalam Matius 19:29 (bdk. Mrk. 10:30; Luk. 18:29-30) Yesus menegaskan, mereka yang mengikut Dia akan menerima kembali seratus kali lipat dari apa yang mereka tinggalkan, dan akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh. 3:16, 36; 5:24; 6:40, 47; 10:28 [“Aku memberikan hidup yang kekal”]; 17:3). Tujuan mengikut Yesus adalah mendapatkan sesuatu yang bersifat spiritual yang tertuang dalam sikap hidup sehari-hari, mewujudkan teladan iman, dan memancarkan kasih serta pengampunan dari Yesus kepada sesama kita. Untuk mencapai tujuan, ada proses yang harus ditempuh. Kesetiaan akan berbuahkan makhota kehidupan (bdk. Why. 2:10b). Menempuh perjalanan hidup yang panjang, membutuhkan bekal bagi tubuh kita, baik jasmani maupun rohani.

Keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? Ketika kita memilih untuk mengikuti seseorang, kita pun—setidaknya sebagai gambaran awal—harus mengetahui “siapa dia” yang akan kita ikuti. Jika Yesus memanggil kita dan kita harus mengikuti-Nya, lalu siapakah Dia? Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menyebutkan identitas Yesus (termasuk pengakuan Yesus sendiri): (1) Yesus adalah “roti [ke]hidup”[an] (Yoh. 6:35, 48, 51); (2) Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5); (3) Yesus adalah “pintu” (Yoh. 10:7, 9); (4) Yesus adalah “Gembala yang baik” (Yoh. 10:11, 14); (5) Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25; (6) Yesus adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6); (7) Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1; (8) Yesus adalah pemberi “air kehidupan” (Yoh. 4:10, 14); (9) Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia; dan masih banyak lagi yang dapat kita sebutkan tentang Yesus.

Kalau Yesus memanggil, segeralah terima panggilan-Nya dan jadilah pelayan-Nya. Mengikut Yesus bukan supaya berebut untuk menjadi yang terbesar, tetapi justru harus menjadi pelayan sesama: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11; Luk. 22:26, “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”).

Sampai di sini saya teringat dengan satu lagu yang diterjemahkan oleh Yamuger tahun 1979, yang berjudul “Yesus Memanggil” (Kidung Jemaat No. 355, Come to the Savior, George F. Root [1820-1895]). Syairnya berbunyi demikian:

(1) Yesus memanggil, “Mari seg’ra!”

Ikutlah jalan s’lamat baka;

jangan sesat dengar sabda-Nya,

“Hai marilah seg’ra!”

Refrein:

Sungguh, nanti kita ‘kan senang,

bebas dosa, hati pun tentr’am

bersama Yesus dalam terang

di rumah yang kekal

(2) Hai marilah, kecil dan besar,

biar hatimu girang benar.

Pilihlah Yesus – jangan gentar.

Hai mari datanglah!

(3) Jangan kaulupa, Ia serta;

p’rintah kasih-Nya patuhilah.

Mari dengar lembut suara-Nya,

“Anak-Ku, datanglah!”

religious concert performed by a band on stage

Kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Kalau pada bagian keempat kita melihat identitas personal Yesus, kini kita melihat apa saja yang harus diikuti dari Yesus. Matius 11:29 menyebutkan: Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dalam catatan Injil-Injil PB, Yesus menunjukkan kepedulian-Nya kepada semua golongan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Ia peduli kepada mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak dianggap dalam status sosial, mereka yang penyakitan, mereka yang miskin, mereka yang tidak diperhatikan oleh kelompok elit agama Yahudi, dan masih banyak lagi. Setidaknya, apa yang telah saya sebutkan tadi bisa menjadi poin penegasan bahwa mengikut Yesus sangatlah beruntung. Mungkin kita ingat akan sebuah lagu dari Nafiri Kemenangan (NK 46) “Untung Besar” (atau dalam terjemahan lainnya disebut “Besarlah Untungku” dalam NKB 197; syair dan lagu oleh J. Uktolseja/Tim Nyanyian GKI).

Ya, untungku besar kar’na Yesus milikku

Jiwaku bergemar dapat damai yang sungguh

Di tengah ribut k’ras, ombak dunia menderu

Hatiku tak gentar, kar’na Yesus sertaku

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Kar’na kudapat Yesus sungguh untung besar

Penutup

Ikutlah Yesus. Tetap setia kepada-Nya. Di tengah ribut dunia yang menderu, jangan gentar, sebab Yesus telah berjanji akan “menyertai kita senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/follow-to-jesus

WARTAKAN KABAR DAMAI: Refleksi Markus 16:15

PENDAHULUAN

Kehidupan Kristen sifatnya aktif; sebuah kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai aspek humanitas dan spiritualitas. Di samping itu, kehidupan yang aktif itu ditandai oleh tujuh aspek sebagai berikut: pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus; kedua, kehidupan yang memberkati orang lain; ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekukudusan; keempat, kehidupan yang menampakkan terang perbuatan; kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi; keenam, kehidupan yang siap menderita; dan ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil (Kabar Baik).

Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen. Layak tidaknya seseorang dalam melayani Tuhan dapat diukur oleh tujuh aspek tersebut. Ketujuh aspek itu adalah perintah Tuhan sendiri. Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, semuanya harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan orang percaya.

person's hand holding book page

Itulah sebabnya, mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius dan Markus mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.

SUBSTANSI KABAR BAIK

Kabar Baik adalah kabar damai—di mana berita keselamatan yang dikerjakan Tuhan direalisasikan dalam sejarah inkarnasi Yesus Kristus. Perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang dicatat Markus:

Pertama, Kabaik Baik mengumandangkan “kebangkitan Yesus” (ay. 14).

Kedua, Kabar Baik mengumandangkan bahwa orang-orang harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay. 16).

person holding black smartphone during night time

Ketiga, Kabar Baik mengumandangkan bahwa Yesus yang dipercaya itu memiliki kuasa yang tak terbatas, kuasa mengusir setan yang diberikan kepada orang-orang percaya; mereka yang mewartakan Kabar Baik tidak akan takut terhadap ancaman: memegang ular, minum racun maut, tidak akan mendapat celaka (ay. 17-18).

Kempat, Kabar Baik untuk menyertakan kepedulian terhadap orang-orang sakit (ay. 18).

Kelima, Kabar Baik mengumandangkan “kenaikan Yesus ke surga” (ay. 19) tanda bahwa Yesus yang menderita, disalibkan, dan mati, bukanlah peristiwa yang menindas iman Kristen melainkan merupakan kesatuan peristiwa yang tuntas di mana Yesus telah menyelesaikan kehendak Bapa untuk menebus serta mendamaikan manusia dengan diri-Nya.

silhouette of man and woman standing beside cross during sunset

Penjelasan ayat 15 berikut ini merupakan kesatuan perintah mewartakan Kabar Baik yang mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Kata “pergilah” [πορευθέντες, poreuthentes] dari kata πορεύομαι [poreuomai], πορεύω [poreuō] adalah kata kerja partisip yang menjadi pendukung dari “pemberitaan Injil”. Kata “beritakanlah” [κηρύσσω, kērussō, to proclaim, preach, memproklamasikan, mengajarkan (Kabar Baik)] adalah kata kerja aoris aktif. Aoris adalah sebuah “tindakan yang terjadi pada masa lampau”. Ini mengacu kepada tindakan yang telah Yesus lakukan dan Ia menghendaki para murid melakukan hal yang sama. Perbuatan yang telah terjadi yakni “memberitakan Injil” sebagaimana yang telah Yesus lakukan, haruslah terus dilakukan secara ‘aktif’. Itulah hidup Kristen yang sesungguhnya sebagaimana telah saya sebutkan di awal. Yesus memberitakan Injil dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Kita pun demikian.

white book page on black metal frame

WARTAKAN KABAR DAMAI: KERJA IMAN, KERJA NYATA

Mewartakan kabar damai sebagai bagian dari tugas pekabaran Injil adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Di sinilah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan. Perbuatan mengabarkan Injil adalah konsekuensi dari iman; iman yang ada haruslah diwujudnyatakan dalam kerja nyata, aktif bersaksi, dan memberitakan Injil dengan berbagai cara. Kerja iman adalah kesadaran diri untuk melakukan apa yang diimani. Itu berarti, seorang Kristen telah melakukan kerja nyata sebagai bagian signifikan dari kehidupan Kristen yang aktif.

Tak ada cukup alasan untuk menolak keaktifan kehidupan Kristen. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Timotius bahwa, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). Apa yang ditegaskan Rasul Paulus mengikuti prinsip Yesus Kristus: “pergi dan mengabarkan Kabar Baik”.

Mewartakan Kabar Baik adalah sebuah tugas mulia sebab kita adalah Lux Mundi [Terang Dunia] (Mat. 5:14, 16). Mewartakan Kabar Baik adalah tugas mulia di mana kita perlu membagikan cinta kasih Tuhan yang telah kita alami kepada sesama, sebagaimana yang ditegaskan Yesus: “pohon yang baik menghasilkan buah yang baik”. Pohon yang baik memberikan buah tanpa memandang bulu; tak peduli siapa yang lewat atau melihat buahnya; tetap berproses untuk menghasilkan buah; memberikan buah yang baik dan membagikan hasil tanpa merasa rugi atau tersakiti. Berbagi Injil tidak menyakiti kita, tetapi justru memberikan sukacita dan kebahagiaan. Itulah kehidupan Kristen yang aktif.

black microphone on book page

PENUTUP

Beberapa hal yang perlu kita pahami dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut:

Pertama, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Karena itu wartakanlah Kabar Baik kepada manusia.

Kedua, perintah Yesus untuk pergi dan memberitakan Injil adalah perintah aktif dan merupakan teladan Yesus yang diwariskan kepada para murid. Yesus sendiri telah melakukan pekabaran Injil semasa pelayanannya.

Ketiga, perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial: kebangkitan, percaya kepada Yesus, Yesus yang berkuasa dan memberi kuasa kepada orang percaya, kepedulian terhadap sesama, dan kenaikan Yesus ke surga.

Keempat, mewartakan kabar damai adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Ini adalah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/gospel

AKU DAN TUHAN: Cristianismo é um Acontecimento

“Cristianismo é um acontecimento – Kekristenan adalah sebuah peristiwa”

Manusia pada umumnya memiliki sikap relasional. Segala sesuatu dapat direlasikan dengan sesuatu yang lain. Manusia tak bisa tidak harus membuat dirinya terkoneksi dengan yang lain, entah benda, waktu, kesempatan, materi, dan pikiran. Imajinasi dan proses berpikir seringkali membentuk hidup manusia menjadi sesuatu yang berarti, bertumbuh, yang merusak, mengganggu, kejam, brutal, dan lain sebagainya.

Dalam setiap kasus atau kejadian yang terjadi, bisa dikatakan bahwa manusia langsung mengaitkannya (menghubungkannya) dengan sesuatu yang lain. Cara ini menjadi sebuah habit permanen di sepanjang sejarah. Dalam konteks agama pun demikian. Ketika kita—orang yang percaya kepada Tuhan—mengalami suatu kejadian, maka kita langsung merelasikannya dengan Tuhan.

Bahkan lebih dari itu, ketika ada musuh yang menghina kita, lalu ia mengalami kejadian buruk, maka kita langsung mengatakan: “Itu karena ia menghina saya”. Lebih buruknya lagi, ketika kasus bom bunuh diri di beberapa gereja yang mengakibatkan banyak orang mati, serentak semua kaum beragama berkomentar. Ada yang senang, dan ada yang sedih. Ada yang pura-pura simpati dan lain sebagainya.

“Aku dan Tuhan” seolah-olah menjadi kekuatan logika untuk membenarkan segala perbuatan keji yang membunuh banyak orang—dan orang-orang tertentu bangga bahwa “Tuhan”-nya membalaskan dendam pribadinya atau dendam agamanya. Kita senang jika agama di luar kita mengalami sengsara, dan bahkan mensyukurinya. Sikap arogansi beragama menjadi sesuatu yang melekat dalam diri orang-orang munafik dan sombong rohani. Mereka ibarat binatang buas yang kelaparan.

Propaganda-propaganda agama dan ayat-ayat kitab suci yang menjadi “jualan kecap” marak terjadi. Berbagai ujaran kebencian yang membabi buta menghiasi ladang kehidupan beragama. Ada yang senang dengan mengucapkan ujaran kebencian dan penghinaan, dan ada yang marah karena dianggap bisa merusak relasi humanitas.

“Aku dan Tuhan” adalah sikap pribadi yang ingin menjadikan diri kita baik terhadap diri kita dan terhadap sesama. “Aku dan Tuhan” bisa juga berpotensi untuk menjadi sombong rohani dan kaku dalam keyakinan dogmatis. Sikap balas dendam dan mengajak perang bisa terjadi di sekitar kita dengan berbagai alasan. Agama menjadi senjata untuk membunuh, menyalahkan, menghina dan mencaci maki. Hal itu dapat dianggap benar bagi mereka yang pikirannya dibutakan oleh “ilah” zaman ini; ya, “ilah” yang mendorong manusia menjadi jahat.

Pula, “Aku dan Tuhan” berpotensi menciptakan kedamaian dan kesejukkan hidup dan relasi keagamaan. Siapa pun kita dapat memiliki pemikiran untuk menciptakan segala sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, “Aku dan Tuhan” merupakan keputusan iman (keyakinan) dan keputusan pikiran (pemahaman) akan “hidup dan Tuhan”. Hidup, selalu melibatkan relasi humanitas, dan Tuhan, selalu diyakini sebagai Penolong, Pembebas, Penghibur, Penyayang, dan Pembalas.

Kekristenan hadir di dunia untuk memberikan pemikiran dan pemahaman yang baru. Dua senjata yang mematikan dosa dan kesombongan adalah: KASIH dan KUASA TUHAN. Dua senjata ini juga diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Kekristenan kuat, tangguh, tak terkalahkan, karena ia menggunakan dua senjata ini di sepanjang sejarah – senjata pemberian Yesus Kristus (bdk. Matius 28:18-20).

KASIH, mengisahkan tentang pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, untuk menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, menguduskan, dan menyelamatkan manusia-manusia berdosa. Mengapa harus ditempuh dengan cara demikian? Hanya Allah yang tahu. Jika Allah sudah mengetahui bahwa tidak ada cara lain yang lebih mujarab (ampuh) untuk menyelamatkan manusia-mansia berdosa, maka tentu tidak ada cara lain yang muncul dalam sejarah selain dari pada cara pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ingat, Allah Mahatahu; Ia tahu masa depan manusia. Kita manusia yang terbatas dan tidak tahu masa depan kita.

Bukankah manusia berdosa kepada Allah? Jika demikian, bukankah Allah berhak menentukan bagaimana cara untuk menebus manusia? Lalu mengapa Allah harus menggunakan cara salib yang mengerikan? Bukankah bertolak belakang antara cara Allah untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus tapi dengan cara penyaliban yang sadis? Sama sekali tidak. Tentu Allah juga bisa bertanya kepada kita: “Apakah ada cara lain untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri Allah?” Dan kita mungkin menjawab: “Ada”. Persoalannya adalah bukan Allah yang berhutang kepada kita, melainkan kitalah yang berhutang kepada Allah. Jadi, Allah berdaulat menentukan bagaimana cara-Nya menebus manusia.

Itulah KASIH Allah yang besar yang diberikan kepada kita (Yoh. 3:16), dan KASIH itulah yang menjadi sarana persebaran Kristen di seluruh dunia hingga sekarang ini. Di pihak Allah, KASIH adalah supremasi dari pengampunan, penebusan, pembenaran, pendamaian, pengudusan, dan penyelamatan manusia berdosa. Di pihak orang percaya, KASIH adalah supremasi dari sikap hidup berelasi dengan sesama, mengampuni sesama yang telah berbuat jahat kepada mereka, mewartakan bahwa YESUS KRISTUS adalah wujud KASIH Bapa yang mengasihi dan menyelamatkan kita yang berdosa. KASIH itulah yang tak bisa dirobohkan oleh apa pun. Ingatlah perkataan Rasul Paulus:

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:35-39)

Dunia bertahan karena ada KASIH Allah dan KASIH manusia-manusia yang percaya kepada-Nya, dan Kekristenan adalah Pelopor KASIH.

KUASA adalah senjata kedua yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa, berdaulat, dan bertoritas atas hidup manusia. Orang Kristen yang mengalami penindasan, pembunuhan, pembantaian, dan penderitaan, tetap bertahan dalam iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tak takut menghadapi kematian. Bagi mereka, KUASA Tuhan yang telah mengubahkan hidup mereka menjadi hidup yang berkenan kepada-Nya, lebih dari apapun juga.

KUASA Tuhan adalah pengubah hidup manusia. Seringkali Tuhan menunjukkan kuasa kepada mereka yang percaya, dan mereka selamat dari malapetaka dan kecelakaan. Bahkan dengan KUASA itu pula, orang-orang yang dulunya membenci Kekristenan, kita diubahkan oleh Tuhan.

Tuhan juga memperlengkapi orang percaya dengan KUASA-NYA. Pekabaran Injil dan perluasan ajaran-ajaran Yesus sangat cepat tersebar karena Tuhan seringkali menunjukkan KUASA-Nya melalui orang-orang yang dipilih-Nya. Para pelayan Tuhan diberikan KUASA untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan, serta kuasa-kuasa lainnya. Sampai sekarang KUASA itu tetap ada.

KASIH dan KUASA adalah alat di tangan Tuhan untuk mengubahkan dunia tanpa menggunakan kekerasan, perang, pembunuhan, intimidasi, dan lain sebagainya. Ketika ketika mengatakan bahwa kita adalah orang yang percaya kepada Tuhan, maka wujudkanlah KASIH dan KUASA itu dalam totalitas kehidupan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubahkan orang-orang jahat dan sombong, melalui KASIH dan KUASA yang kita tunjukkan.

“Aku dan Tuhan” harus diwujudnyatakan dalam KASIH dan KUASA yang mengubahkan hidup sesama kita setelah kita diubahkan Tuhan.

Itu adalah “peristiwa” yang luar biasa, yang Tuhan nyatakan bagi kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kekristenan adalah [sebuah] peristiwa di mana Allah datang dan bermurah hati kepada manusia yang berdosa. Yesus Kristus adalah “Peristiwa” itu sendiri. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita.

Benar, bahwa: “Cristianismo é um Acontecimento” – Kekristenan adalah sebuah peristiwa”. Nyatakanlah peristiwa itu kepada dunia. Pengalaman bersama Tuhan adalah bagian terpenting dalam hidup kita, juga sebuah peristiwa berharga. Jadilah pribadi yang tangguh, senantiasa bersandar pada-Nya dan nikmati setiap peristiwa bersama Kristus Yesus dalam rentang waktu yang dikaruniakan-Nya kepada kita.

Peristiwa-peristiwa dalam hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Rasul Paulus menegaskan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Roma 8:28-30).

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/i-and-lord

AKU DAN SEPATU: TEMAN SETIA KETIKA AKU TAMPIL DAN BEKERJA

Bagi mereka yang sering tampil di depan umum atau sedang menjalani pekerjaan kantoran, “sepatu” adalah teman setianya. Mengapa bisa? Ya, karena sepatu selalu menemaninya dan bahkan bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Ya, memang sepatu bisa menumbuhkan rasa percaya diri selain dari kemeja dan celana yang kita kenakan—asal jangan resleting celana rusak atau terbuka dan kancing kemeja lepas dari kainnya saat tampil di depan umum.

Yang menarik dari sebuah sepatu adalah ia menemani kita ke mana pun kita pergi kecuali kita melepaskannya untuk sesaat. Ia menjadi teman yang siap sedia ketika kita melangkahkan kaki. Kita sibuk, dia pun sibuk. Kita istirahat sejenak, dia pun istirahat. Setelah kita pulang ke rumah, kita melepaskannya dan menyimpannya. Kadang kita menaruhnya dengan sembarangan; ia pun tidak mengeluh; ia hanya diam menunggu kapan ia digunakan lagi.

Aku dan sepatuku memiliki sejumlah pengalaman menarik. Ketika saya membelinya, saya merasa nyaman ketika memakainya saat bekerja, mengajar, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan untuk menunjang hayatiku. Rasa percaya diri pun tumbuh saat memakainya. Dipakai pun harus hati-hati. Tidak boleh digunakan untuk menendang bola yang keras.

Sepatuku telah menorehkan sejarahku; berbagai kegiatan telah saya jalani; ia pun menemaniku dengan setia. Kebanggaanku adalah kebanggaannya. Kadang orang melihatnya dan merasa kagum. Aku harus memutuskan untuk menggantikannya saat kulihat ia sudah mulai rusak.

Sepatuku adalah sahabat yang terbatas. Meski terbatas, ia telah menjadi bagian dari proses kerja, penampilan, dan pencarian “hayati”. Ia akan segera pensiun karena sudah hampir lepas alasnya.

Sepatuku, meski nanti engkau akan dibuang di tempat sampah dan kemudian diangkut oleh para petugas kebersihan di mobil kebersihan, meski engkau tidak lagi kulihat, meski engkau tidak akan kembali lagi ke rumahku, dan engkau tidak lagi mengikutiku untuk tampil di depan umum, di mimbar Gereja, di kantor tempat ku bekerja, namun kenangan bersamamu akan dikenang—dan salah satunya adalah tulisan singkat ini.

unpaired red Nike sneaker

Mungkin mereka yang membaca tulisan ini sebagai penjelasan tentang dirimu dan kerja yang telah kau buktikan—memiliki pengalaman yang sama denganku, mereka akan merasakan hal yang sama dengan sepatu yang mereka gunakan. Teman-temanmu yang lain yang berada di kaki manusia-manusia lain memperlakukanmu dengan baik; dan mungkin ada yang memperlakukanmu dengan kasar, menendang bola yang bukan haknya, mengotorinya dengan mengarahkanmu kepada perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, perbuatan yang jahat di mata Tuhan, perbuatan yang menipu dan merusak jati diri pemakainya.

Sepatuku, aku telah membawamu begitu jauh dan perjalanan kita berdua penuh makna. Orang lain tak mengingatmu; hanya aku yang mengingatmu; demikian pula dengan sepatu orang lain; aku tidak mengingatnya. Biarkanlah mereka yang menuliskan kisah mereka dengan sepatu-sepatu mereka.

green and black nike athletic shoe

Sepatuku, sahabat-sahabatmu yang dua orang itu akan menggantikan posisimu. Mereka akan bekerja bersamaku; mereka akan tampil bersamaku bersama kemeja dan celana. Mereka berdua adalah sahabatmu yang turut berkontribusi atas prestasi yang kucapai selama ini.

Sepatuku… andai kau bisa bicara, tentu engkau akan menangis kita engkau tak lagi dibutuhkan karena sudah cukup rusak. Memaksamu untuk tampil bersamaku akan merusak citraku dan bahkan dirimu akan ditertawakan. Engkau hanya bisa digunakan tatkala engkau dalam kondisi baik. Lebih dari itu—jika dalam keadaan rusak—kita berdua sama-sama akan malu dan ditertawakan.

Terima kasih sepatuku. Selamat tinggal. Meski nanti engkau akan hancur di bumi ini, tetapi mereka yang membaca kisahmu di sini, akan mengingat pula sahabat-sahabatmu di kaki-kaki mereka masing-masing, dan memperlakunnya dengan sebaik mungkin.

pair of brown leather lace-up boots

Alangkah baiknya dunia ini menetapkan suatu hari untuk mengingatmu yaitu: “HARI SEPATU SEDUNIA”. Sepatuku, saya hanya bercanda. Tetapi jika memungkinkan, maka engkau akan menjadi pelopor ditetapkanya “HARI SEPATU SEDUNIA”. Atau, mungkin tingkat nasional saja. Jika masih terasa berat, tidak apa-apa jika hanya tingkat lokal saja karena siapa pun mereka yang bergelut di dunia kerja, model (penampilan) dan pelayanan, akan merasa senang karena ada “saya”—sahabatmu—yang menuliskan tentangmu untuk dikenang selalu.

Salut buat sepatuku.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://lh6.googleusercontent.com/proxy/6YcrIzoGaIizoQaBCwEa2F9ZoddwQMLI5WO8G88C1rcpLnl583_Yt80RhCGxUA6AtSJQI-z87PgiUpbzP9-R68H6CJExVShaZVWuUlnWMC5aWb762_vnCV85-wCd_FLmz2lf3iPCz30NpX1rmsbqjF_cSvczsT4Wqzg0r1sVcenfXHyC=w1200-h630-p-k-no-nu
  2. https://unsplash.com/photos/mWYhrOiAgmA
  3. Https://unsplash.com/s/photos/shoes

KEMERDEKAAN KRISTEN: Refleksi Galatia 5:1-15

fiver person running on the field near trees

Pendahuluan

Secara fakta, hampir semua manusia menginginkan kehidupan yang merdeka, dalam pengertian “bebas” melakukan apa yang diinginkan. Sejalan dengan itu, dengan kebebasan yang dimiliki, manusia seringkali lupa bahwa kondisi yang “bebas” itu sebenarnya ia tidak benar-benar bebas. Manusia tetap akan berurusan dengan segala macam “aturan main” seperti hukum, peraturan, ketentuan, waktu, dan ketetapan. Jadi, mindset (pola pikir) manusia tentang “kebebasan” akan berbenturan dengan segala sesuatu, sehingga ia tidak dapat sepenuhnya merasa bebas. Ini disebut dengan kondisi ketidakbebasan mutlak.

Pertanyaannya: adakah manusia yang benar-benar bebas atau merdeka dalam hidupnya? Tentu tidak. Jika demikian, kemerdekaan seperti apa yang dimaksudkan Rasul Paulus? Pertanyaan ini akan dijawab kemudian. Dalam iman Kristen, manusia menjadi “merdeka” bukan berarti merdeka dari “segala sesuatu” yang ada di dunia ini, melainkan merdeka dalam arti substansialnya: “dimerdekakan Kristus dari tuntutan legalisme agama Yahudi”. Perikop Galatia 5 berfokus pada persoalan legalisme Yahudi. Kemerdekaan Kristen dalam arti yang luas tentu memiliki banyak aspek. Kemerdekaan yang Yesus berikan adalah berstandar tinggi, berbeda dengan standar dunia. Kemerdekaan Kristen menyentuh aspek spiritualitas, moralitas, relasi, kasih, dan aspek iman. Aspek-aspek tersebut secara nyata terlihat dalam totalitas kehidupan orang percaya.

Sejatinya, kemerdekaan Kristen adalah sebuah kondisi di mana setiap orang percaya mendapatkan kemurahan Tuhan; dari statusnya sebagai orang berdosa dan pendosa, dimerdekakan Tuhan untuk menikmati hidup kudus, hidup berkemenangan (merdeka), dan menikmati segala berkat-Nya. Oleh sebab itu, legalisme menjadikan manusia berfokus pada gerak-gerik ritualisme dan seringkali melupakan relasi yang benar dengan Tuhan. Sedangkan hidup di bawah kasih karunia menekankan pada pola hidup yang selaras dengan firman Tuhan, mengasihi, dan mengampuni sesama.

Kasih karunia mendorong seseorang untuk tahu dan sadar bahwa dirinya dikasihi Tuhan dan Tuhan mengampuni dia. Kasih karunia membawa seseorang kepada wilayah di mana ia dikelilingi oleh kasih dan sayang Tuhan. Hidup di bawah kasih karunia adalah hidup yang merdeka, merdeka dari segala kuk perhambaan, beban-beban legalisme, dan merasakan setiap waktu pernyertaan Tuhan. Lebih dari itu, dalam setiap waktu, seseorang terus menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan memuji, menyembah Dia.

Pesan dan Makna Kemerdekaan

Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus di ayat 1, bahwa Yesus Kristuslah yang memberikan kemerdekaan, maka kemerdekaan yang dimaksudkan adalah “kemerdekaan di dalam Kristus”. Di dalam Kristus berarti kita mengetahui dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Dia, mengakui kasih, kuasa, dan karya-karya. Konsistensi logis dari kemerdekaan yang diberikan Yesus adalah berdiri teguh (dalam iman kepada-Nya), dan jangan mau dikenakan (oleh orang lain) kuk perhambaaan (dari konsep legalisme yang menjadikan manusia “budak hukum” yang tidak memberikan faedah). Hal ini tampak pada persoalan “sunat lahiriah”. Jika mereka—menurut Paulus—menyunatkan dirinya, ketika mereka sudah dimerdekakan Yesus Kristus, maka Kristus menjadi tidak berguna (ay. 2). Legalisme sunat menjadi incaran orang Yahudi untuk tetap menjaga perintah dalam PL. Padahal, kemerdekaan yang diberikan oleh Yesus Kristus adalah “kasih karunia”. Sunat bukanlah sebuah prinsip pembenaran. Pembenaran hanya ditemui dalam kasih karunia Tuhan (bdk. ay. 4).

Jika masih mempersoalkan sunat tidak bersunat, bukankah orang percaya masih belum merdeka? Jika masih memfokuskan pada hal-hal lahiriah dan mengabaikan yang rohaniah, bukankah orang percaya masih berada pada level “dibelenggu?” Pertanyaannya: “Apakah sunat masih berlaku atau tidak? Apakah sunat yang diberikan Tuhan di zaman Musa, memiliki makna yang lain?

silhouette photo of man on cliff during sunset

Sunat—dalam konteks kasih karunia, tidak lagi menjadi syarat diterimanya seseorang dalam komunitas Yahudi, karena Yesus Kristus telah menyatakan bahwa bangsa-bangsa lain yang memperoleh keselamatan di dalam nama-Nya, tidak lagi berurusan dengan sunat Yahudi, melainkan berada di bawah kasih karunia. Artinya, Tuhan tidak menetapkan sunat sebagai tanda percaya kepada-Nya, melainkan sebagai tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham. Jika sunat dipahami sebagai sarana “keselamatan”, maka Adam dan Nuh serta keturunan mereka tentu tidak selamat.

TUHAN sendiri juga menegaskan bahwa selain sunat lahiriah; TUHAN menginginkan sunat hati (bdk. Yeremia 4:4, “Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu…). Jauh sebelum Yeremia, TUHAN memberi perintah kepada orang Israel melalui Musa, bahwa Ia akan menyunat hati umat Israel, dan hati keturunan mereka, sehingga mereka mengasihi DIa dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, dan supaya mereka hidup (Ulangan 30:6). Jadi, memang sunat hati jauh lebih penting dalam konteks “mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa”. Sunat lahiriah adalah tanda pembeda antara Israel dengan bangsa lain, dan tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham.

Kemerdekaan Kristen tentu tidaklah berkutat pada persoalan sunat lahiriah, sebab TUHAN telah menetapkan bahwa umat-Nya akan disunat hatinya, tanda bahwa Tuhan membentuk umat-Nya untuk mengasihi Dia dengan segenap hati mereka.

Sunat hati berbicara mengenai perubahan dan pertobatan hidup, mengakui Tuhan sebagai pribadi yang berkuasa, yang menyelamatkan manusia dari dosa. Dengan demikian, kemerdekaan yang dimaksudkan Paulus adalah bentuk kemerdekaan dari kuk perhambaan sunat yang terlalu dipaksakan oleh beberapa orang di Galatia. Paulus menegaskan bahwa yang ada artinya adalah menjadi ciptaan baru (bdk. Gal. 6:15; Kol. 2:11).

Ketika jemaat Galatia sudah merdeka, maka tidak perlu ada lagi soal perdebatan sunat dan tidak bersunat. Fokus bukan pada hal-hal lahiriah melainkan pada hal rohaniah, hal-hal terkait iman dan kasih. Tidak ada gunanya jika seseorang disunat lalu merendahkan orang yang belum disunat yang kemudian justru tidak menyatakan iman dan kasihnya kepada sesamanya (bdk. ay. 6). Ingat saja bahwa Yesus menyelamatkan manusia bukan karena ia telah bersunat, melainkan karena Ia bermurah hati kepada siapa Ia mau bermurah hati. Keselamatan adalah karena kemurahan (anugerah) Tuhan, dan bukan soal sunat tidak bersunat secara lahiriah.

woman hands up in front of green meadows

Di Galatia ternyata ada orang-orang tertentu yang mencoba menghalangi yang lain untuk tetap bersunat dan mengabaikan kebenaran dan kemerdekaan di dalam Kristus (bdk. ay. 7-10). Persoalan sunat adalah sebuah ragi yang dapat “mengkhamirkan” seluruh adonan. Satu perkara kecil yang dibesar-besarkan, apalagi ditambah hasutan (ay. 12) akan menjadi besar, dan dapat merusak dan mengacaukan relasi orang percaya di Galatia.

Kemerdekaan dari Kristus seyogianya menjadikan orang percaya hidup dalam iman, saling mengasihi, dan kekudusan (ay. 13-14), dan bukan hidup dalam dosa perselisihan, permusuhan, kepentingan diri sendiri, dan sebagainya. Perselisihan, salah paham dapat saja terjadi di dalam komunitas Gereja di Galatia, tetapi jangan sampai hal itu membawa kebinasaan satu sama lain.

Makna dan pesan dari kemerdekaan Kristen adalah bahwa Kristus telah memberikan kemerdekaan dari segala sesuatu yang memberatkan orang percaya, memerdekakan dengan segala urusan legalisme, atau hal-hal lain yang mengekang. Justru kemerdekaan yang diberikan oleh Yesus Kristus menandakan adanya sukacita yang dirasakan, tetapi harus hidup dalam terang-Nya. Jika hidup dalam terang Tuhan, kegelapan (dosa) akan tersingkirkan. Kita harus mengakui dosa-dosa kita dan meninggalkannya. Tuhan adalah terang kita, dan dengan demikian, dosa haruslah dibuang karena terang firman-Nya telah menerangi hati kita yang gelap. Itulah kemerdekaan Kristen yang sesungguhnya.

man standing on top of rock mountain during golden hour

Penutup

Dari pemaparan di atas, tampak bahwa kemerdekaan Kristen berbicara mengenai hal-hal sebagai berikut: pertama, hidup yang dibebaskan dari belenggu dosa. Artinya manusia tidak lagi dibelenggu dosa dan diperbudak olehnya, melainkan hidup di bawah kasih karunia Allah; kedua, hidup yang merdeka dari belenggu legalisme; ketiga, hidup yang penuh syukur kepada Allah; keempat, hidup yang menciptakan perdamaian, kedewasaan, dan mengasihi; kelima, hidup yang mengupayakan kebersamaan dalam semangat kasih dan sukacita; keenam, hidup yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal karena Ia telah menjadikan kita merdeka; dan ketujuh, hidup yang setia pada firman-Nya dan melakukan kehendak-Nya dalam pelayanan dan totalitas kehidupan.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/freedom-of-christian

DIALOG IMAJINATIF PDT. BENAR DAN UST. OMDO

Dalam ruang teologi, para mualaf dan polemikus Islam seringkali mengajukan pertanyaan yang sama sejak dulu: Apakah Yesus adalah Tuhan? Bukankah Ia hanyalah manusia seperti kita? Masakan Tuhan itu mati disalibkan? dan sederet pertanyaan yang sebenarnya sudah ada jawabannya sejak dulu. Hanya, karakter mereka tidak pernah memperhatikan ulasan teologis-historis-dogmatis yang berdasarkan biblika tentang status atau identitas Yesus Kristus.

Itu sebabnya, ketika kita berhadapan dengan mereka, selalu saja pertanyaan yang sama, atau bahkan klaim-klaim absurd, sering dikumandangkan. Bukan karena mereka tertarik dengan jawaban, melainkan karena mereka bodoh (dungu) yang tak mau menerima ulasan biblika.

Mungkin, jika narasi teologis-historis-dogmatis tak mampu membuat otak mereka sedikit bergizi dalam memahami status atau identitas Yesus, maka begini saja: kita adu perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus dengan “Allah” yang mereka percayai. Jika Yesus pernah membangkitkan orang mati, apakah “Allah” yang mereka percayai pernah membangkitkan orang mati dan dituliskan dalam kitab suci mereka? Jika Yesus pernah berjalan di atas air, apakah “Allah” mereka pernah melakukan hal yang sama? Jika Yesus menyebuhkan berbagai penyakit dari orang-orang yang sakit: yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, apakah “Allah” yang mereka percayai pernah melakukan hal sama dan dituliskan dalam kitab suci mereka?

Dialog imajinatif berikut ini cukup mewakili status atau identitas Yesus sebagai Allah dan Tuhan yang berkuasa. Mari kita simak bersama.

Omdo: mengapa kalian menyembah Yesus yang bukan Tuhan?

Benar: oya? Memangnya kenapa Omdo?

Omdo: karena memang Yesus bukan Tuhan! Ia hanyalah manusia yang kalian jadikan Tuhan. Ia hanyalah Nabi dan Rasul utusan Allah SWT.

Benar: ok. Begini saja. Kita mulai dari definisi kata “Tuhan”. Menurut anda, apa definisi Tuhan?

Omdo: Tuhan itu berarti dia yang berkuasa, Dia yang mengampuni dosa

Benar: ok. Jika demikian, apakah anda percaya jika Yesus mengatakan bahwa Ia berkuasa dan mengampuni dosa, bahwa Dia adalah Tuhan?

Omdo: oke. Saya percaya

Benar: betul?

Omdo: betul dong.

Benar: mari kita lihat teks-teks pendukung. Teks Matius 9:6, Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa“. Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah?

Omdo: kok bisa begitu ya? (sambil jantung mulai berdebar-debar)

Benar: kita lanjut ke teks berikutnya. Teks Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat?

Omdo: tapi itu kan “Anak Manusia”, bukan Tuhan secara langsung

Benar: memang benar. Tetapi Anak Manusia merujuk pada Yesus sendiri bukan?

Omdo: o iya ya… kok saya baru sadar.

Benar: kita lanjut pada teks berikutnya. Teks Matius 13:41 menegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya?

Omdo: benar demikian.

Benar: jika demikian, bukankah Yesus memiliki kuasa sebagaimana Allah memilikinya yang dibuktikan dari memerintahkan malaikat-malaikat-Nya?

Omdo: o iya ya…kok bisa begitu ya? (mulai keringat dingin)

Benar: teks berikutnya adalah Matius 16:27 di mana Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi. Bukan begitu Omdo?

Omdo: o iya ya….kok bisa begitu ya? (mulai korek-korek telinga)

Benar: kita lihat beberapa teks penguat konteks ini: Yohanes 5:22, Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. Yohanes 5:27, Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Yohanes 9:39, Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Roma 2:16, Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Omdo: wah… saya semakin penasaran dengan Yesus.

Benar: teks berikutnya adalah Matius 16:28 di mana Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dalam teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja.

Omdo: bukankah dengan demikian ada 2 raja?

Benar: tidak. Dalam doktrin Kristen, Baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis [maksudnya satu esensi] yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru sebab Bapa, Firman dan Roh Kudus adalah satu esensi, setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan [pikiran] Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal.

Dalam Doktrin Trinitas, ada disebut dengan istilah “Trinitas-Koeksistensi” yang diartikan sebagai “hidup bersama atau pada saat yang sama (sejak kekal)” – konteks ini menolak theogonie. Juga disebut dengan “Trinitas-Konsubstansial” yakni Bapa, Firman, dan Roh Kudus: of the same substance (dari substansi yang sama). Ketiganya “Homoousios”, “kodrat yang sama atau setara”. Bapa, Firman, dan Roh Kudus memiliki kodrat yang satu dan sama. Pribadi-Pribadi bersifat konsubstansial. Dalam Trinitas ada kodrat Ilahi: substansi yang satu dan sama dalam setiap Pribadi; hal yang mempersatukan dalam Allah

Dengan demikian, orang Kristen tidak percaya adanya dua Allah atau tiga Allah, tidak mempercayai ada dua Raja, melainkan satu Raja saja. Satu Allah [Raja], Tiga Pribadi yang kekal, berperikhoresis (tinggal bersama, atau berada bersama dan saling meresapi. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat [Yogyakarta: Kanisius, 2004], 172).

Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal (Yohanes 1:1-3, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”).

Allah mustahil tanpa Firman. Yesus pernah berkata bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu.

Omdo: bukankah itu hanyalah satu tujuan?

Benar: tidak hanya satu tujuan, melainkan satu hakikat [substansi]. Malaikat tak mungkin satu tujuan dengan Allah, karena Allah lebih tinggi dan menetapkan segala sesuatu. Hanya Allah saja yang dapat memiliki satu tujuan dengan Firman-Nya.

Omdo: kok bisa begitu ya? (sambil merasa heran)

Benar: kita lanjutkan ya. Teks berikutnya adalah Matius 19:28, yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Dari teks tersebut, Yesus berhak menghakimi kedua belas suku Israel. Dengan demikian, sebagaimana Allah adalah hakim, maka ketika Yesus mengklaim bahwa diri-Nya adalah hakim, maka Ia adalah Allah yang berkuasa menghakimi. Bukan begitu Omdo?

Omdo: kok bisa begitu ya? (sambil mulai garuk-garuk kepala)

Benar: jika definisi Tuhan sudah terbukti sesuai dengan apa yang Anda definisikan, dan Yesus memenuhi kriteria tersebut, apakah Anda keberatan untuk memahami dan percaya kepada-Nya?

Omdo: saya tidak keberatan.

Benar: jika demikian, untuk memahami setiap gagasan ketuhanan atau keallahan Yesus haruslah berangkat data biblikal secara utuh dan bukan sepotong-sepotong seperti yang telah Anda lakukan sebelumnya.

Omdo: iya… saya paham maksud Anda.

Benar: mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi Pak Ust. Omdo

Omdo: baik Pak Pdt. Benar. Nanti kita lanjut pada diskusi berikutnya. Bagaimana Pak Benar?

Benar: Ok. Saya setuju.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/dialogue

AGENDA RELASI

“Tak ada hidup tanpa relasi”. Relasi itu sendiri dapat terdiri atas empat fakta, yakni: relasi dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan terakhir, relasi dengan Tuhan. Relasi-relasi tersebut mewarnai setiap kehidupan manusia, membentuk karakter dan jati dirinya.

Adakah relasi membentuk karakter dan pola hidup kita selaras dengan apa yang Tuhan kehendaki? Ataukah karakter dan pola hidup justru menjerumuskan hidup kita dalam kubangan keburukan? Bukankah kita hidup bukan untuk diri kita sendiri? Bukankah hidup kita seharusnya menjadi berkat bagi orang lain? Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan pakaian?

Apa yang harus kita cari dalam hidup ini? Tentu relasi adalah salah satu dari sekian hal yang harus kita usahakan—kita cari. Ada kendala-kendala yang telah dan akan kita hadapi; ada pula kesempatan-kesempatan yang hadir di depan kita; kita menilai dan menentukan pilihan hidup dan kemudian memutuskan untuk menjalaninya, entah dengan cara yang baik maupun dengan cara yang kurang baik, atau buruk sama sekali.

Kita pun terdorong untuk melihat sejauh mana relasi yang kita bangun atau terbangun yang dapat mempengaruhi karakter dan pola kehidupan kita. Dari relasi itu kita menemukan berbagai hal termasuk di dalamnya kebahagiaan, sukacita, kesenangan. Sejatinya, agenda relasi yang kita susun atau nanti akan disusun, memasukkan gagasan-gagasan yang mendukung sepenuhnya perkembangan karya-karya, pelayanan, dan relasi itu sendiri.

Berangkat dari konteks tersebut, maka saya menyebutkan tiga relasi yang secara umum sudah kita pahami, untuk dilakukan di hari-hari mendatang.

Pertama, menciptakan relasi yang harmonis. Ketika relasi yang dibangun atau terbangun dengan orang lain menjadi harmonis, ada banyak manfaat yang dapat kita ambil dan nikmati. Oleh karena relasi yang harmonis dapat menciptakan dan menghadirkan banyak manfaat dan “pertumbuhan”, maka seyogianya kita tetap menciptakan relasi yang harmonis, menjaganya agar tetap terjalin indah. Niscaya, harapan-harapan dapat diwujudkan satu demi satu.

Kedua, mengajukan berbagai hal-hal baik untuk dilakukan. Dalam relasi yang telah terjalin, sedapat mungkin kita mengajukan hal-hal baik untuk dilakukan. Artinya, relasi tersebut akan lebih bermanfaat dan berpengaruh secara luas ketika ada hal-hal baik yang dilakukan. Jika kejahatan dapat berpotensi berpengaruh dan bermanfaat bagi para pelaku kejahatan, masakah kebaikan tidak memiliki pengaruh dan manfaat bagi para pelaku kebaikan? Berbuat baik adalah kehendak Tuhan, dan kita diarahkan untuk berbuat kebaikan serta menikmati hasil dari kebaikan-kebaikan yang kita taburkan dalam relasi yang terjalin indah. Relasi tanpa menciptakan dan mengajukan hal-hal baik untuk dilakukan adalah relasi yang buruk, tak perlu dipertahankan.

Ketiga, menjaga relasi untuk menghasilkan karya-karya bermanfaat. Relasi-relasi yang telah terbangun selama ini perlu dilanjutkan untuk menghasilkan karya-karya bermanfaat. Hidup harus jadi berkat bagi orang lain. Sudah berapa banyak relasi yang kita bangun dengan orang lain yang hanya sebatas relasi saja, tanpa ada karya yang dihasilkan? Karya-karya itu beragam bentuknya, termasuk perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan. Karya-karya adalah kerja-kerja nyata yang kita berikan bagi diri sendiri, orang lain, dan terlebih kepada Tuhan.

girl's left hand wrap around toddler while reading book during golden hour

Sungguh merupakan suatu sukacita ketika dalam relasi-relasi di mana kita ada di dalamnya, dapat menciptakan, mengusulkan, dan menghasilkan hal-hal baik yang bermanfaat secara luas. Dan ketika kita telah menjadi berkat, maka hal ini harus terus dibawa dan diupayakan di hari-hari mendatang.

Jangan menjadi teladan berkat musiman, tetapi jadilah teladan berkat kapan pun, dan di mana pun. Tuhan pasti memberkati dan menyertai orang-orang yang tulus menciptakan relasi yang membangun dan menjadi berkat bagi orang banyak. Tuhan mengasihi orang-orang yang hidup secara benar dan membangun serta mempertahankan relasi yang benar.

crowd lifting their hands watching concert

Tanggung jawab kita—dalam relasi yang terjalin indah—adalah terus mengembangkan potensi diri melalui hal-hal baik yang bermanfaat bagi orang lain, yang di dalamnya kita menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Agenda relasi di atas semoga menjadi agenda kita semua dan pada akhirnya, kita menjadi teladan bagi orang lain.

Alangkah indahnya hidup yang berelasi yang di dalamnya kita dapat berbagi, terlebih menjadi berkat dan teladan. Selamat berbuat baik dan menjadi teladan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Jadilah pelopor relasi yang Tuhan kehendaki.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/service-to-god
  2. https://unsplash.com/photos/gktFjKSWAmA

PELAYANAN YANG SEJATI

Melayani Tuhan adalah hal yang terindah. Kita dapat berbagi berkat, pengalaman, talenta, dan karunia. Pelayanan yang telah kita kerjakan selama ini, mungkin kurang baik, kurang maksimal, atau sangat memuaskan. Kita dapat menilai pelayanan yang kita kerjakan. Apa pun hasil dan kondisinya, kita harus tetap bersyukur karena kesempatan melayani itu masih ada.

Apa yang kita tabur dalam pelayanan itulah yang akan kita tuai di kemudian hari. Pelayanan-pelayanan yang telah dikerjakan tentu mendatangkan sukacita tersendiri. Kita merasakan bahwa tangan Tuhan menyertai kita. Dalam keadaan-keadaan yang sulit sekalipun, kita merasakan kuasa Allah bekerja atas pelayanan yang dikerjakan. Ini adalah pengalaman menarik. Tak sedikit dari kita yang—pada akhirnya—merasakan jamahan dan lawatan kuasa Allah dalam pelayanan. Kita tentu sangat bersyukur dan berterima kasih, sambil memuji Allah yang telah berkarya dalam pelayanan kita.

Seperti dengan iman yang kita miliki, pelayanan juga perlu mendapat perhatian serius terutama dalam hal merealisasikan perbuatan-perbuatan baik yang Allah kehendaki. Kita dapat mewariskan pelayanan yang baik itu kepada orang lain yang juga ingin melayani Tuhan sama seperti kita. Mereka juga perlu dilatih untuk melayani. Dan kita dapat menjadi “pengajar” yang mengajarkan mereka bagaimana melayani Tuhan secara benar, dengan motivasi yang benar pula.

Di sini, saya menyuguhkan tiga aspek pelayanan yang sejati; aspek-aspek tersebut dapat dijadikan sebagai komitmen untuk semakin giat melayani, semakin meningkatkan pelayanan, dan semakin menyadari bahwa melayani itu indah dan mengesankan.

Pertama, melayani dengan sepenuh hati. Pelayanan yang sesungguhnya dilakukan dengan sepenuh hati, bukan setengah hati, atau tanpa melibatkan hati (yang rela). Di dalam pelayanan yang sesungguhnya kita memberikan hati kita untuk berbagi dengan sesama. Jika di tahun ini kita telah melakukannya, maka di tahun yang akan datang kita juga tetap melakukannya dan semakin giat melakukannya. Pelayanan yang kita kerjakan tidak pernah terbuang percuma.

Kedua, melayani dengan kasih. Selain melayani dengan sepenuh hati, pelayanan itu sendiri harus dilandasi dengan kasih. Sebagaimana Yesus Kristus telah mengasihi kita, maka kita juga harus menunjukkan sikap mengasihi kepada sesama kita dalam wadah pelayanan. Kasih adalah dasar dari segala sesuatu. Itulah yang Allah nyatakan kepada kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Rasul Paulus menandaskan: “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Ketiga, melayani bersama dan membangun bersama. Ketika kita melayani dengan sepenuh hati yang dilandasi kasih Kristus, maka kita—secara substansial—sedang melayani bersama dan membangun bersama pelayanan yang dipercayakan Allah. Kita tidak melayani sendiri. Kalau pun kita pernah melayani sendiri dan meletakkan dasar pelayanan itu, maka pasti ada orang lain yang Tuhan persiapkan untuk melanjutkan pelayanan tersebut. Tuhan tak membiarkan pelayanan bagi-Nya hilang begitu saja. Dan dengan demikian, kita melayani bersama dan membangun bersama.

Berapa banyak dari kita yang telah melayani dan membangun bersama? Tentu sangat banyak. Kita pun berbahagia akan pencapaian itu. Kiranya pencapaian-pencapaian yang telah terwujud di tahun ini, akan terus berkembang dan meluas di tahun-tahun yang akan datang.

Melayani itu indah. Kita terpanggil untuk itu. Kita dipersiapkan Allah untuk menyatakan kasih dan kemurahan-Nya dalam berbagai bentuk pelayanan. Tak ada alasan untuk tidak mau melayani Tuhan. Kita telah diselamatkan, dan ungkapan syukur atas hal itu adalah dengan melayani Tuhan.

Betapa bahagianya melayani Tuhan. Mereka yang telah puluhan tahun melayani, atau giat melayani meski baru beberapa bulan dan tahun, dapat merasakan bahwa pelayanan itu adalah berkat. Kita dapat merealisasikan iman dan kasih kita dalam pelayanan. Semua pelayanan bagi Tuhan sama pentingnya, sama berkatnya, dan sama kasihnya. Kasih tidak membeda-bedakan pelayanan. Pelayanan yang kecil dan besar, keduanya sama-sama dilakukan untuk Tuhan.

Kita teringat akan pesan Rasul Paulus, bahwa: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 3r:17), “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Luar biasa bukan?

Jangan bersedih hati ketika pelayanan kita dipandang sebelah mata. Bersyukurlah, karena mereka yang memandang dengan sebelah mata membuktikan dua hal: pertama, mereka masih punya mata untuk memandang pelayanan kita; dan kedua, mereka melihat bahwa kita masih melayani. Tetap semangat dalam melayani Tuhan.

Ingatlah, bahwa: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28) sebab “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

Mari kita melayani dan membangun bersama pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan kepada kita. Saling bekerja sama untuk memajukan pelayanan yang dilandaskan pada kasih Yesus Kristus adalah tindakan yang terpuji. Kita dipanggil untuk bekerja bagi Dia karena Dialah kemuliaan kita, Dialah kehidupan kita, kini, dan sampai selama-lamanya.

Melayanilah dengan kasih; lanjutkanlah pelayanan yang telah kita kerjakan di tahun ini; di tahun yang akan datang kiranya kita tetap setia melayani dengan penuh semangat dan sepenuh hati. Kasih Tuhan menyertai kita semua.

Salam Bae……

MEREALISASIKAN IMAN

honeybee perched on yellow sunflower in close up photography during daytime

Iman adalah prinsip yang mendorong kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Di dalam hidup itu terdapat segala sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk direalisasikan dalam pelayanan, karya, dan hubungan dengan sesama. Dalam hubungan dengan sesama, iman itu direalisasikan melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Dalam pelayanan juga demikian. Sedangkan dalam karya, iman itu direalisasikan melalui pemikiran yang didasarkan pada prinsip-prinsip Kitab Suci.

Tak dapat dipungkiri bahwa mereka yang beriman adalah orang-orang yang setia dalam melayani Tuhan. Iman dan pelayanan adalah dua hal yang koheren, karena baik iman maupun pelayanan, keduanya sejalan dalam arti bahwa Tuhan menginginkan mereka yang melayani Dia adalah pribadi-pribadi yang telah dianugerahkan iman dan memelihara iman itu.

Kita yang telah merealisasikan iman setiap hari, masih akan terus melanjutkan realisasi iman itu di hari-hari berikutnya. Artinya, merealisasikan iman itu adalah pekerjaan yang tidak pernah berhenti. Ketika seseorang berhenti beriman, maka ia berhenti berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan di dalam iman memiliki bobot tersendiri dengan perbuatan baik yang dilakukan di luar iman.

girl sitting on daisy flowerbed in forest

Pada kenyataannya, iman yang kita realisasikan kadang belum sepenuhnya terwujud. Jika demikian, iman itu—yang harus kita lakukan dengan tiada henti—masih tetap dilanjutkan di lain waktu dan kesempatan. Hari esok perlu untuk merealisasikan iman. Yang terpenting adalah iman yang direncanakan akan direalisasikan, haruslah bertumpu pada prinsip kasih (kepada Tuhan dan sesama) sebagaimana yang Tuhan ajarkan.

Sejatinya, iman yang kuat berarti terus mengupayakan hal-hal baik untuk dapat direalisasikan, termasuk melalui pelayanan dan karya. Berikut ini saya menyebutkan tiga agenda iman yang mungkin juga merupakan agenda Anda.

Pertama, tetap menjaga iman agar tetap teguh meski berbagai hambatan melanda kita. Misalnya, muncul berbagai larangan untuk merayakan Natal seperti yang terjadi akhir-akhir ini; muncul berbagai fitnah bahwa kita adalah orang-orang kafir, dan masih banyak lagi. Agenda iman kita harus tertumpuh pada kuasa Allah Tritunggal, agar iman kita tetap terjaga dalam naungan kuasa-Nya. Tanpa Allah, mustahil kita dapat menjaga iman tetap teguh. Kita harus bersandar sepenuhnya kepada Allah; melalui Dia kita merasakan lawatan kuasa dan mukjizat-Nya. Kita teguh karena Allah menopang dan menguatkan kita.

man in black long sleeve shirt raising his hand

Kedua, iman yang memahami karya Allah di dalam Yesus Kristus. Iman yang kita miliki adalah pemberian Allah, dan terkorelasi erat dengan karya Yesus Kristus. Beriman kepada Yesus Kristus sama dengan beriman kepada Allah. Setiap orang yang percaya bahwa Allah dan Firman sama-sama kekal (pros ton Theon) pasti percaya kepada Firman yang kekal itu, karena Allah dikenal melalui Firman-Nya (yang keluar dari diri Allah). Jika ada orang yang menolak percaya kepada Firman Allah, ia sedang merumuskan bahwa Allah tanpa Firman. Bukankah kita semua menjadi percaya kepada Allah karena Ia menyatakan Firman-Nya dan menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya?

Iman yang benar berarti melihat Allah secara penuh. Kepenuhan diri Allah itulah yang kita Imani: Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah sama-sama kekal, berperikoresis (tinggal bersama, berada bersama dan saling meresapi [Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 172]). Percaya kepada Allah berarti percaya bahwa Ia adalah Roh yang Kudus, percaya bahwa Firman berdiam sejak kekal di dalam diri Allah.

Apa yang kita imani sekarang ini tentang Yesus Kristus, Juruselamat yang ajaib dan Tuhan kita, haruslah dipertahankan, dipegang sepanjang hayat. Hari-hari yang akan datang kita masih memiliki agenda iman yang sama dengan hari-hari yang telah kita lewati. Iman selalu bersifat progresif. Iman itu terus bertumbuh ketika kita dekat dengan Tuhan. Agenda iman ini kiranya menjadi komitmen sepanjang hidup kita.

Ketiga, iman yang dinyatakan lewat perbuatan. Tak ada iman yang bertumbuh ketika ia tidak bergerak, berbuat sesuatu, dan menghasilkan sesuatu. Iman adalah komitmen untuk meyakini apa yang Allah nyatakan kepada kita, dan dikorelasikan dengan perbuatan-perbuatan yang lahir dari iman itu. Iman adalah pengakuan bahwa Allah telah bertindak bagi kita. Jika demikian, apa yang harus kita persembahkan kepada Allah sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada-Nya? Bukankah hanya dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya?

Marilah kita memandang hidup ini sebagai sebuah sikap yang dapat secara kredibel merealisasikan iman yang kita miliki. Tuhan pasti memampukan kita untuk dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Agenda-agenda di atas bisa dijadikan pegangan hidup. Tantangan atas iman kita tentu tak pernah sepi, bahkan lebih dari itu, kita justru menjadi kuat ketika tantangan datang. Kita menjadi “matang” dan “dewasa” dalam iman ketika segala sesuatu Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita. Tuhan membentuk iman kita sesuai dengan kemampuan kita. Ia tahu kemampuan kita.

Kita pun melihat bahwa kasih dan kemurahan Tuhan Allah yang melingkupi hidup kita, menyadarkan bahwa kita bukanlah apa-apa. Jika bukan Tuhan yang memimpin dan memampukan kita, maka sia-sia segala sesuatu. Jika Anda memiliki harapan semoga harapan itu terkait dengan agenda iman seperti yang telah saya jelaskan di atas.

people at concert

Tetaplah hidup dalam iman. Ketika kita berada di dalam iman kepada Yesus Kristus, kita dapat melihat dan merasakan perbuatan-perbuatan-Nya yang luar biasa memulihkan kehidupan dan relasi yang rusak karena dosa dan keegoisan kita sendiri. Kita dapat melihat bahwa pengalaman hidup bersama Tuhan menumbuhkan iman dan bahkan kita dapat “menghasilkan” buah-buah iman dalam totalitas hidup, karya, relasi, dan pelayanan.

Melayanilah dengan iman. Berelasilah dengan iman. Berkaryalah dengan iman, dan hiduplah selaras dengan firman Tuhan. Ia akan memberkati kita, menopang, dan memberikan apa yang perlu bagi kebaikan kita, hari ini, dan hari yang akan datang.

Selamat menjalani kehidupan setiap hari. Andalkanlah Dia senantiasa. Tuhan memberkati kita semua.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/acts
  2. https://unsplash.com/s/photos/surrender

AGENDA HIDUP DAN KARYA

Rencana adalah sebuah keputusan yang dilandasi oleh kesadaran akan masa depan yang harus ditempuh dengan pola hidup sesuai dengan yang diinginkan manusia. Rencana menjadi bagian penting dari sederet keinginan manusia saat ini. Rencana mengisyaratkan bahwa ada tujuan dan sesuatu di masa depan yang akan dicapai. Jika tanpa rencana, maka seseorang hanya hidup tanpa tujuan dan arah yang jelas.

Rencana demi rencana telah disusun sedemikian rupa untuk dapat menikmati hari-hari menuju masa depan. Kita telah melewati waktu yang panjang dan pengalaman hari demi hari, kesempatan demi kesempatan. Kenangan manis masih berbekas di benak kita; dan mungkin sudah ada rencana yang telah terwujud di tahun ini. Meskipun demikian, agenda hidup dan karya di hari-hari berikutnya tetap penting direncanakan.

person walking holding brown leather bag

Agenda hidup yang dapat saya berikan di sini adalah sebagai berikut:

Pertama, hidup benar di hadapan Tuhan. Ketika kita mendasarkan hidup pada kasih Tuhan, maka secara konsisten kita harus hidup benar di hadapan Tuhan. Menghindari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan adalah sikap yang tepat agar hidup kita tetap terjaga sesuai dengan kebenaran Allah.

Kedua, hidup kudus di hadapan Tuhan dan sesama. Pola hidup kudus ditandai dengan bagaimana kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mencemarkan nama baik Allah dan diri sendiri, bahkan keluarga kita. Dalam relasinya dengan sesama, kehidupan yang kudus juga menjadi pegangan hidup yang tak bisa ditawar-tawar. Menjaga diri dari segala kenajisan dan kekotoran moralitas, adalah pilihan yang tepat yang tentunya ditunjang oleh komitmen dan iman yang teguh.

Ketiga, hidup yang memberi dan mengasihi sesama. Kehidupan yang memberi akan tampak ke permukaan jika kita mengasihi mereka. Tak ada kasih yang tak memberi. Memberi waktu untuk berkomunikasi; memberi waktu untuk melayani sesama (misalnya pelayanan di daerah pedalaman); memberi waktu untuk mengajar, mendidik, dan mengarahkan orang-orang berdosa; memberi waktu untuk mengkonseling orang-orang yang bermasalah, dan masih banyak lagi.

people sitting down near table with assorted laptop computers

Sedangkan Agenda karya yang dapat kita pikirkan bersama adalah:

Pertama, melanjutkan karya yang sudah ada. Ada karya yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan kita masih mendapat kesempatan dan waktu—selagi masih hidup—untuk berkarya bagi diri kita, bagi sesama, bagi keluarga, bagi organisasi, dan terlebih bagi Tuhan.

Kedua, menciptakan karya baru. Setelah karya-karya lainnya selesai, maka kita dapat menciptakan karya yang baru, menampilkan hal-hal baru dalam berbagai konteks kehidupan. Kita dapat berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Ketiga, mempublikasikan karya-karya bermanfaat. Tidak hanya berkarya, kita pun terpanggil untuk mempublikasikan, membagikan karya-karya kita secara luas. Artinya, karya itu tidak dinikmati sendiri tetapi lebih kepada memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Hal inilah yang patut kita kerjakan untuk kemajuan potensi diri, dan terlebih kemajuan karya-karya kita sendiri (dalam pengertian kuantitas).

Hidup hanya sekali di dunia ini. Berbuat yang berbaik bagi Tuhan akan mendatangkan sukacita tersendiri. Berbuat untuk menghasilkan banyak karya adalah hal yang sangat baik, positif, dan membangun. Pilihan itu ada pada kita; kita perlu sesegera mungkin untuk menetapkan rencana, menyusun langkah-langkah untuk mencapainya.

Mari, terus berkarya. Susunlah agenda hidup dan karya kita di sepanjang hidup yang dikaruniakan Tuhan Yesus. Jika kita menabur kebenaran, kita akan menuai kebenaran; apa yang kita lakukan dengan cermat dan tulus, akan memberi hasil yang memuaskan. Jadilah teladan dalam berkarya dan teladan dalam menjalani kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dan sesama.

Percayalah, buah-buah yang enak akan diberikan Tuhan ketika saatnya kita menuai apa yang kita tabur.

Salam Bae.

Sumber gambar: google image & https://unsplash.com/images

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai