Pendahuluan
Tema “Ikutlah Aku [Yesus]” sangatlah menarik. Alasannya, karena tema ini merupakan perwujudan totalitas iman kita kepada Yesus yang terlihat dari keseharian kita. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan: “Aku percaya dan mengikut Yesus” dan di waktu yang bersamaan dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus?
Tema ini juga bisa menjadi “pertanyaan” dan “pernyataan”. Kita disuguhkan dengan pertanyaan: “Sudahkah kita mengikut Yesus secara benar?”, “Apakah kita masih mengikuti Yesus?”, dan “Bagaimana kita mempertahankan iman untuk tetap mengikut Yesus?” Kita dituntut untuk menyatakan iman: “Saya telah mengikut Yesus secara benar”, “Saya tetap mengikut Yesus dengan setia”, dan “Saya akan terus mempertahankan iman untuk mengikut Yesus dalam segala situasi, entah baik, entah buruk.
Baik pertanyaan dan pernyataan, keduanya sangat penting untuk terapkan (dilakukan) dalam kehidupan setiap hari. “Pertanyaan” diajukan untuk memotivasi kita melihat proses perjalanan iman dan pelayanan (pengabdian) kita kepada Allah. “Pernyataan” diajukan untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi iman kita di hadapan Allah.
Kita pun yang hadir saat ini tentu adalah orang-orang yang “telah” mengikut Yesus. Kesaksian demi kesaksian dalam mengikut Yesus, telah menjadi berkat bagi orang lain. Suka duka mengikut Yesus dapat dilalui dengan penuh iman dan harap. Jatuh bangun dialami; berdoa, berpuasa, dan menangis di hadapan Allah juga dialami. Setiap orang memiliki pengalaman hidup bersama dengan Allah; tidak sama, tetapi semuanya mendapat kelepasan dan kebahagiaan dari Allah yang sama.
Makna dan Konteks “Ikutlah Yesus”
Setelah Yesus bertanya dan mengatakan sesuatu kepada Petrus tentang bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Tuhan, Yesus kemudian mengatakan: “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:15-19). Konteks “Ikutlah Aku” telah dilakukan Yesus sebelumnya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19-22, Mrk 1:17, pemanggilan para murid: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes; Mat. 9:9, pemanggilan Matius; bdk. Mrk. 2:14; Luk. 5:27; pemanggilan Filipus, Yoh. 1:43).
Pemanggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bertujuan untuk melakukan transformasi sosial; dulunya Petrus dan kawan-kawan sebagai bekerja sebagai penjala ikan yang bisa dikonsumsi sendiri, keluarga, dan atau dijual secara terbatas kepada beberapa orang saja (kepada masyarakat mikro), “kini” mereka dipanggil Yesus mengikuti-Nya menjadi ‘penjala manusia’, yang mana mereka mendapat tugas yang lebih besar, lebih berat, dan lebih luas wilayahnya. Ini adalah sebuah kejutan bagi mereka dan sekaligus mengajar mereka untuk mentransformasi sosial dalam lingkup makro.
Jadi, mengikut Yesus selalu terkait dengan tugas untuk melakukan transformasi sosial yang bersifat makro—dan kita telah menjadi ‘penjala manusia’. Mengikut Yesus adalah sebuah “pilihan iman” yang bersifat optatif (harapan di masa depan).
Kita akan melihat signifikansi dari mengikut Yesus sebagaimana tema kita hari ini. Frasa “Ikutlah Aku [Yesus]” secara logis dapat diajukan beberapa pertanyaan mendasar: pertama, untuk apa mengikut Yesus?; kedua, apa pentingnya mengikut Yesus?; ketiga, tujuannya apa?; keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? dan kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Saya akan menjelaskan kelima pertanyaan di atas.
Pertama, untuk [alasan] apa mengikut Yesus? Sama seperti murid-murid Yesus yang pertama dipanggil, tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengikut Yesus ketika Yesus menawarkan mereka untuk mengikuti-Nya. Mereka melihat pribadi Yesus sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Alasan mengikut Yesus adalah karena Yesus “menyuguhkan sebuah kondisi yang lebih faktual, lebih besar, dan lebih bernilai transformatif”. Pilihan untuk mengikut Yesus bukan karena pekerjaan yang ditawarkan itu enak, nyaman, aman dan terkendali, bukan pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang bernilai kekal: membawa orang lain kepada Yesus Kristus. Itu transformasi. Yang ditransformasikan (diubah) adalah kondisi spiritual dan humanitas sosial ke arah yang Tuhan kehendaki. Bukankah Tuhan menghendaki semua orang hidup dalam kehendak dan rencana-Nya?
Kedua, apa pentingnya mengikut Yesus? Mengikut Yesus akan mendapatkan/menerima “damai sejahtera” dari Dia [Yesus]—bukan dari dunia. Yesus mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Mengikut Yesus bukanlah tanpa hambatan, tantangan, aniaya, dan penderitaan. Selalu ada risiko ketika mengikut Yesus. Namun, kita perlu melihat jaminan yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya yang dapat kita jadikan pegangan dalam mengikut Yesus: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).
Ketiga, tujuannya apa? Kita mendapatkan jaminan kelegaan (ketenangan), hidup kekal, dan makhota kehidupan. Kelegaan diberikan Yesus bagi siapa saja yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Dalam Matius 19:29 (bdk. Mrk. 10:30; Luk. 18:29-30) Yesus menegaskan, mereka yang mengikut Dia akan menerima kembali seratus kali lipat dari apa yang mereka tinggalkan, dan akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh. 3:16, 36; 5:24; 6:40, 47; 10:28 [“Aku memberikan hidup yang kekal”]; 17:3). Tujuan mengikut Yesus adalah mendapatkan sesuatu yang bersifat spiritual yang tertuang dalam sikap hidup sehari-hari, mewujudkan teladan iman, dan memancarkan kasih serta pengampunan dari Yesus kepada sesama kita. Untuk mencapai tujuan, ada proses yang harus ditempuh. Kesetiaan akan berbuahkan makhota kehidupan (bdk. Why. 2:10b). Menempuh perjalanan hidup yang panjang, membutuhkan bekal bagi tubuh kita, baik jasmani maupun rohani.
Keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? Ketika kita memilih untuk mengikuti seseorang, kita pun—setidaknya sebagai gambaran awal—harus mengetahui “siapa dia” yang akan kita ikuti. Jika Yesus memanggil kita dan kita harus mengikuti-Nya, lalu siapakah Dia? Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menyebutkan identitas Yesus (termasuk pengakuan Yesus sendiri): (1) Yesus adalah “roti [ke]hidup”[an] (Yoh. 6:35, 48, 51); (2) Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5); (3) Yesus adalah “pintu” (Yoh. 10:7, 9); (4) Yesus adalah “Gembala yang baik” (Yoh. 10:11, 14); (5) Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25; (6) Yesus adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6); (7) Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1; (8) Yesus adalah pemberi “air kehidupan” (Yoh. 4:10, 14); (9) Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia; dan masih banyak lagi yang dapat kita sebutkan tentang Yesus.
Kalau Yesus memanggil, segeralah terima panggilan-Nya dan jadilah pelayan-Nya. Mengikut Yesus bukan supaya berebut untuk menjadi yang terbesar, tetapi justru harus menjadi pelayan sesama: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11; Luk. 22:26, “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”).
Sampai di sini saya teringat dengan satu lagu yang diterjemahkan oleh Yamuger tahun 1979, yang berjudul “Yesus Memanggil” (Kidung Jemaat No. 355, Come to the Savior, George F. Root [1820-1895]). Syairnya berbunyi demikian:
(1) Yesus memanggil, “Mari seg’ra!”
Ikutlah jalan s’lamat baka;
jangan sesat dengar sabda-Nya,
“Hai marilah seg’ra!”
Refrein:
Sungguh, nanti kita ‘kan senang,
bebas dosa, hati pun tentr’am
bersama Yesus dalam terang
di rumah yang kekal
(2) Hai marilah, kecil dan besar,
biar hatimu girang benar.
Pilihlah Yesus – jangan gentar.
Hai mari datanglah!
(3) Jangan kaulupa, Ia serta;
p’rintah kasih-Nya patuhilah.
Mari dengar lembut suara-Nya,
“Anak-Ku, datanglah!”
Kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Kalau pada bagian keempat kita melihat identitas personal Yesus, kini kita melihat apa saja yang harus diikuti dari Yesus. Matius 11:29 menyebutkan: Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dalam catatan Injil-Injil PB, Yesus menunjukkan kepedulian-Nya kepada semua golongan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Ia peduli kepada mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak dianggap dalam status sosial, mereka yang penyakitan, mereka yang miskin, mereka yang tidak diperhatikan oleh kelompok elit agama Yahudi, dan masih banyak lagi. Setidaknya, apa yang telah saya sebutkan tadi bisa menjadi poin penegasan bahwa mengikut Yesus sangatlah beruntung. Mungkin kita ingat akan sebuah lagu dari Nafiri Kemenangan (NK 46) “Untung Besar” (atau dalam terjemahan lainnya disebut “Besarlah Untungku” dalam NKB 197; syair dan lagu oleh J. Uktolseja/Tim Nyanyian GKI).
Ya, untungku besar kar’na Yesus milikku
Jiwaku bergemar dapat damai yang sungguh
Di tengah ribut k’ras, ombak dunia menderu
Hatiku tak gentar, kar’na Yesus sertaku
Benar, benar, ya untungku besar
Benar, benar, ya untungku besar
Benar, benar, ya untungku besar
Kar’na kudapat Yesus sungguh untung besar
Penutup
Ikutlah Yesus. Tetap setia kepada-Nya. Di tengah ribut dunia yang menderu, jangan gentar, sebab Yesus telah berjanji akan “menyertai kita senantiasa” sampai kepada akhir zaman.
Soli Deo Gloria
Salam Bae
Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/follow-to-jesus

