MENERIMA, MENJALANI, DAN MENSYUKURI KEMURAHAN TUHAN

Apa yang kita miliki dalam hidup ini, semuanya adalah pemberian Allah. Kita menerimanya dari Dia, sebab “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36). Apa yang kita miliki di sepanjang tahun ini, syukurilah sebagai pemberian Allah. Kita patut mensyukuri kebaikan Allah.

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun yang baru. Tahun ini juga adalah tahun yang baru (kita menyebut saat tanggal 1 Januari sebagai tahun baru. Tentu tahun baru tidak ada terletak pada tanggal 1 Januari melainkan pada keseluruhan bulan di tahun tersebut). Tahun yang baru berakhir, akan dilanjutkan dengan tahun yang baru pula. Kita pun mengakui bahwa: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Ratapan 3:22-23). Penyertaan Tuhan selalu baru setiap waktu. Begitu pula dengan kasih setia dan rahmat-Nya. Ini luar biasa.

Jika kita menerima segala sesuatu dari Tuhan, maka pastilah kita bersyukur akan hal itu. Jika tidak, kita adalah orang-orang yang tamak dan sombong. Akibatnya ditanggung sendiri. Kita perlu menyadari hal ini. Tuhan telah menunjukkan rahmat, kasih setia, dan kebaikan-Nya. Masakan kita tidak bersyukur kepada-Nya? Jika tidak bersyukur, ini penipuan terhadap diri kita sendiri. Kita menerima dari Allah tetapi kita melupakan kebaikan-Nya.

Saya teringat dengan tulisan Raja Daud, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mazmur 103:2-5).

Apa yang kurang dari kebaikan TUHAN pada kita? Tentu tidak kurang. Tetapi kitalah yang selalu merasa kurang karena apa yang kita mau adalah hanya ingin memuaskan hawa nafsu kita. Kita telah menerima segala sesuatu dari Tuhan, maka patutlah kita bersyukur.

Sebagai komitmen iman kita kepada Tuhan, kita perlu memperhatikan beberapa aspek berikut ini:

PERTAMA, kita menyadari bahwa segala sesuatu kita terima dari Allah adalah bukti kasih dan kemurahan-Nya. Apakah di tahun ini kita telah menerima hal-hal yang baik dari Allah, dan apakah kita bersyukur akal ahal itu? Jika ya, yakinlah bahwa hal yang sama akan kita terima di tahun berikutnya. Meskipun demikian, ada tanggung jawab iman yang harus kita kerjakan, bukan cuma menerima hal-hal baik dari Allah. Tanggung jawab iman itu direalisasikan dalam kata, perbuatan, dan pemikiran.

Jika bukan kemurahan Tuhan, kita tak dapat berbuat apa-apa. Mungkin saja ada orang yang berkata: “Saya hidup dan berhasil bukan karena kemurahan Tuhan, tetapi karena usaha dan kerja keras saya sendiri.” Kelihatannya benar, tetapi apakah ia tahu bahwa hidup yang ia terima adalah kemurahan Tuhan? Apakah ia dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Tentu tidak! Jangan sombong dengan apa yang engkau miliki. Hidupmu tidak berguna jika engkau kehilangan nyawamu.

Ingatlah apa yang Yesus katakan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Jadi, tak ada yang dapat dibanggakan dan tak ada yang dapat menggantikan ketika nyawa kita hilang. Kesombongan menghancurkan kehidupan.

woman in beige blazer sitting on white bed

Kasih yang telah Tuhan nyatakan kepada sudah terlampau besar, bahkan kita sendiri tak sanggup untuk mengungkapkan kasih-Nya itu lewat kata-kata. Kita hanya dapat melayani-Nya, berbuat kasih kepada sesama, dan hidup dalam kebenaran-Nya. Berbagai ungkapan syukur tentu juga dapat mewarnai kehidupan kita, karena Tuhan itu baik dan telah berbuat baik kepada kita.

KEDUA, kita yang menjalani kehidupan harus sadar bahwa kita berada dalam pengamatan (pengawasan) Allah. Penulis kitab Amsal menulis: “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik”. Tak ada yang dapat kita sembunyikan di hadapan-Nya. Dan kita harus mempertanggungjawabkannya: “Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13).

Segala tindak-tanduk kita haruslah benar, sebagaimana yang Allah kehendaki. Perbuatan baik yang kita lakukan akan mendapat upah ketika di surga nanti. Ia yang menjanjikannya adalah setia. Ia akan memberikan upah bagi mereka yang setia dan  melakukan kehendak-Nya. Ia konsisten. Apa yang dijanjikan pasti ditepati. Itulah Allah kita. Dengan demikian, kesadaran tentang apa yang kita perbuat diawasi Allah membawa kita kepada kesimpulan bahwa “perbuatan baik yang kita lakukan semata-mata memuliakan Allah” dan Allah disenangkan.

Apa yang telah kita lakukan di sepanjang tahun ini, patut kita pikirkan kembali, dan melihat ke dalam diri kita, apakah kita telah memuliakan dan menyenangkan hati Allah melalui perbuatan-perbuatan kita? Jika ya, maka jadikanlah itu sebagai pegangan untuk tetap tinggal di dalam kebenaran Allah yang dengannya segala perbuatan kita berangkat dari kebenaran itu sendiri.

KETIGA, kita mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Apa yang telah disyukuri di sepanjang hidup, kiranya menjadi dasar bahwa kita juga dapat melakukan hal yang sama di setiap waktu yang bergulir. Tidak ada kata berhenti untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan. Kebaikan-Nya tak terukur dan tak terhitung. Kita hanya mampu untuk merasakan kebaikan-Nya dan berucap: “Terima Tuhan. Engkau baik dan telah berbuat baik”.

grayscale photo of man in crew-neck shirt raising both hands

Kita menerima, menjalani, dan mensyukuri hari-hari yang telah dilewati. Fakta bahwa kebaikan Tuhan itu nyata, dan kita merasakannya adalah konfirmasi bahwa Tuhan itu Mahakasih dan memberikan yang terbaik bagi mereka yang mengasihi-Nya. Jika kita menerima segala sesuatu dari Tuhan, apakah balasan kita kepada-Nya? Bukankah Ia menghendaki kita untuk hidup bersyukur, berterima kasih, dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya? Ya, itu adalah bagian dari tanggung jawab iman kita.

Marilah menyambut hari-hari hidup kita dengan percaya bahwa kita pasti akan menerima berkat-berkat Tuhan, asalkan kita hidup bagi Dia, bersyukur di setiap waktu, memuji-Nya dengan sepenuh hati. Kita perlu menjalani kehidupan itu dan tetap percaya bahwa apa yang Tuhan buat selalu indah pada waktunya.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/surrender
  2. https://unsplash.com/s/photos/work

INJIL YANG MENYELAMATKAN: Refleksi Roma 1:16-17

Kebutuhan akan “keselamatan” dalam konteks teologi agama-agama adalah sebuah berita substansial yang mendorong setiap penganutnya untuk memahami duduk perkara keselamatan itu sendiri. Keselamatan dibutuhkan karena manusia pada akhirnya menuju kepada “kematian”, sehingga “kehidupan setelah kematian” yang dikaitkan dengan keselamatan menjadi rujukan utama dari iman yang dimiliki oleh setiap penganut agama.

Kekristenan memiliki konteks iman yang menempatkan “anugerah Allah” sebagai dasar dari keselamatan. Iman sebagai pemberian Allah adalah media di mana manusia dapat merespons anugerah itu. Dalam terang Soteriologi, berita Injil adalah bagian di mana “iman dan keselamatan” menjadi satu pondasi untuk membangun sebuah teologi yang biblikal.

Pada dasarnya, Injil yang menyelamatkan berdiri pada konteks di mana Allah yang beranugerah memberi diri-Nya dikenal, diimani, dan disembah. Allah menyatakan kasih dan keselamatan-Nya bagi manusia berdosa. Manusia tak dapat menyelesaikan masalah dosa itu sendiri; hanya Allah saja yang dapat menyelesaikan.

Berita keselamatan menjadi dasar dan sukacita iman Kristen. Sebagai dasar, berita keselamatan adalah pekerjaan Allah yang dinyatakan kepada manusia berdosa. Keberdosaan manusia menjadikan mereka mengalami jatuh bangun dalam menerapkan (melakukan) perintah Allah. Akibatnya, manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari murka-Nya. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan manusia karena manusia telah berdosa kepada-Nya. Dosa menjadi pemisah antara Allah dan manusia. Dosa dapat menjadi dukacita bagi mereka yang menyadari keterpisahan itu, dan dosa juga dapat menjadi sukacita bagi mereka yang merasa tidak membutuhkan Allah dalam hidup mereka.

Mereka yang menyadari bahwa dosa adalah sesuatu yang dibenci Allah, akan mengubah kehidupan mereka untuk kembali kepada Allah – Allah yang telah memanggil mereka dengan kasih-Nya, menghendaki agar mereka dapat hidup benar di hadapan-Nya. Mereka yang telah hidup di dalam Injil Yesus Kristus, akan menemukan sukacita iman yang luar biasa. Berita keselamatan tertuang di dalam firman-Nya. Injil-Injil PB adalah salah satu bagian yang koheren dengan Perjanjian Lama, ketika kita melihat kesatuan penyataan Allah atas umat-Nya, sehingga pemahaman akan “keselamatan” dan “berita keselamatan” akan menjadi sempurna.

Berita keselamatan itu menghasilkan kondisi manusia yang terbebas dari belenggu legalisme hukum Torat, belenggu dosa, dan belenggu kejahatan. Tuhan—yang telah menebus itu—memberikan kemerdekaan kepada orang percaya untuk hidup dalam firman-Nya, hidup dalam kasih yang tulus.

Teks Roma 1:16-17 merupakan sebuah konfirmasi, keyakinan, dan pengalaman dari seorang Rasul Paulus. Konfirmasi Injil terletak pada pesan mendalam dari sebuah karya Tuhan bagi keselamatan, penebusan, pembenaran, dan pengampunan di dalam Kristus Yesus.

Keyakinan terhadap Injil terletak pada pengaruh yang ditimbulkannya, yang mengubahkan hidup orang berdosa—hidup lama, menjadi “hidup yang baru di dalam Kristus Yesus, dan pengalaman iman di dalam dan melalui Injil terletak pada kesadaran diri bahwa hidup yang berdosa tak mungkin berkenan kepada Tuhan, kecuali hidup yang diubahkan oleh Injil Yesus Kristus. Pengalaman itu kemudian dituangkan ke dalam sikap “memberitakan Injil”, menjadi saksi Kristus, dalam pelayanan di mana pun berada.

girl reading book

Injil harus diberitakan; tidak dinikmati sendiri; tidak hanya untuk kalangan sendiri; Injil harus disebarluaskan dengan berbagai cara yang selaras dengan kehendak-Nya, baik melalui perkataan, pikiran, maupun perilaku kita dalam totalitas kehidupan yang dijalani.

Kita melihat bahwa Injillah yang menyelamatkan jiwa yang berdosa, dan bukan kekuatan serta pemikiran manusia yang terlepas dari firman-Nya. Di sini, bukan berarti orang tidak perlu percaya kepada Yesus dan hanya percaya kepada Injil supaya selamat, melainkan di dalam Injil kita melihat Yesus, karya-karya-Nya dan cinta kasih-Nya; di dalam Injil kita melihat kemurahan Allah Bapa yang mengaruniakan anak-Nya yang tunggal itu.

Klausa “Injil yang menyelamatkan” adalah sebuah konfirmasi atas predestinasi Allah bagi setiap orang yang dipilih-Nya sejak kekekalan; orang percaya diubah hidupnya oleh Allah dan harus hidup sesuai firman-Nya. Injil adalah kekuatan Allah yang mendorong orang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Injil sungguh-sungguh menunjukkan kekuatan Allah sebagaimana tampak dari pertobatan dan perubahan manusia berdosa menuju kepada kehidupan yang benar.

Kita yang sekarang hidup di zaman ini, menjadi percaya karena Injil itu sendiri. Orang-orang di zaman Yesus menjadi percaya karena berita Injil (baik tentang norma-norma kehidupan yang Allah kehendaki, perintah-perintah, larangan-larangan, maupun mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus sebagai konfirman ke-Tuhanan dan ke-Allahan-Nya). Para Rasul mewartakan berita Injil – Yesus Kristus yang adalah Mesias dan Juruselamat umat manusia. Orang-orang percaya berikutnya yang telah menerima Kitab Suci dalam bentuk seperti yang kita miliki sekarang ini, juga menjadi percaya karena berita yang terkandung di dalamnya, dan keselamatan mereka terima sebagai bukti konfirmasi pemilihan Allah atas hidup mereka.

person holding book while standing on field

Kita dipanggil oleh Tuhan untuk menerima anugerah keselamatan. Roh Kudus mendorong kita untuk kembali kepada Sang Bapa yang kekal, menikmati anugerah keselamatan-Nya.

Injillah yang mengarahkan manusia untuk melihat kepada Yesus Kristus, karya-Nya, melihat kasih dan kuasa-Nya. Injil adalah kekuatan Allah yang membawa manusia kepada-Nya, dan menjadikan mereka bertobat, hidup baru, dan hidup berkemenangan.

Beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut:

Pertama: Injil adalah berita keselamatan dari Allah yang menyatakan bahwa manusia membutuhkan Juruselamat dari dosa-dosa mereka, dan mereka—melalui Juruselamat itu, diselamatkan, ditebus, diampuni, dan dibenarkan.

Kedua: Juruselamat itu adalah Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan yang menyatakan kuasa-Nya untuk menebus, menyelamatkan, mengampuni, mendamaikan, dan membenarkan.

Ketiga: Injil adalah kekuatan Allah yang “menyelamatkan”. Injil yang menyelamatkan ini tentu diperkuat dengan dua hal, yaitu perkataan tentang isi Injil, dan kuasa Allah yang menyertai pemberitaan Injil itu.

man holding his hands on open book

Keempat: Injil menyatakan kebenaran Allah yang bertolak (berpangkal) dari iman. Kebenaran Allah hanya bisa dipahami, dipercaya berdasarkan “iman” dari-Nya. Itulah makna “bertolak dari iman dan memimpin kepada iman”. Semua karena anugerah Allah: Ia menyelamatkan manusia, memberikan kebenaran, memberikan iman agar orang-orang yang percaya kepada-Nya dapat memahami kebenaran dan mengimaninya sebagai kebenaran-Nya.

Kelima: Injil yang menyelamatkan manusia adalah berita atau kabar baik yang memiliki kuasa. Injil bukan hanya sekadar kata-kata semata, melainkan di dalam kata-kata tersebut ada kuasa yang mengubahkan, mengarahkan, mempertobatkan, dan menyadarkan manusia dari segala dosa dan pemberotakannya di hadapan Allah.

Keenam: Injil adalah kekuatan Allah yang mengarahkan kita untuk mewartakan Injil itu sendiri, berbagi dengan sesama, peduli kepada mereka, dan membawa mereka kepada Yesus Kristus.’

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/bible

ALLAH, FIRMAN, DAN NARASI KITAB SUCI

“Allah berfirman” mengempasis tiga fakta: pertama, Allah ada [eksis]; kedua, Allah menyatakan kehendak-Nya; dan ketiga, Allah menghendaki sebuah relasi yang berkesinambungan. Allah ada merupakan realitas utama dari sebuah konteks teologi biblika. Pasalnya, eksistensi Allah sedari awal telah dinyatakan dalam narasi Kitab Suci: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Mulanya Allah itu ada, dan Ia mencipta dengan kuasa-Nya.

Kesinambungan eksistensi Allah dinyatakan secara progrestif kepada orang-orang pilihan dan umat-Nya sendiri. PL menandaskan eksistensi Allah yang tampak dari “Allah berfirman”. Dengan berfirman Allah dapat dikenal, tidak hanya eksistensi-Nya, tetapi juga kualitas karya-Nya, rencana-Nya, kehendak-Nya, kasih-Nya, pengampunan-Nya, penghukuman-Nya, murka-Nya, keselamatan-Nya.

Kehendak Allah semata-mata untuk tujuan yang terbaik. Bagi para pelaku kejahatan, tujuan mereka adalah dihukum Allah selaras dengan tindakan-tindakan mereka. Bagi para pelaku kebenaran, tujuan mereka adalah diberikan kehidupan kekal, kehidupan yang terbaik yang disediakan Allah. Kehendak Allah itu sendiri tertuang dalam Ktiab Suci atau yang disebut dengan Alkitab.

Alkitab adalah bukti dan konfirmasi bahwa Tuhan yang kita percayai adalah pribadi yang berkuasa atas segala sesuatu. Kekuasaan-Nya pun terhubung dengan konteks penyelamatan, penebusan, dan pengampunan, di mana Ia – dengan kasih dan kemurahan-Nya, serta anugerah-Nya – memberikan yang terbaik bagi manusia berdosa agar mereka diterima-Nya dalam Kerajaan-Nya.

Tanggung jawab iman orang percaya terhadap Kitab Suci adalah bagaimana mereka memahaminya dan hidup di dalam firman-Nya. Gerak-gerik orang percaya selalu terkontrol oleh firman Allah. Proses kehidupan, relasi, dan spiritual mendapat pondasi terkuatnya di dalam Kitab Suci, firman-Nya.

opened book on brown field during daytime

Pemahaman akan Kitab Suci membutuhkan media-media yang dengannya kita mendapatkan kesadaran bahwa pesan-pesan dan makna dalam Kitab Suci seyogianya memberi suguhan terbaik yang akan memoles, mengubah, mengkritik, mengarahkan totalitas kehidupan kita menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.

Kitab Suci (Alkitab) yang kita baca sekarang ini memiliki latar yang variatif, sehingga ada hal-hal tertentu yang memang sulit dipahami, kecuali kita mencari media atau alat bantu untuk mendapatkan pemahanan yang lebih mendalam. Berbagai masalah yang timbul dalam memahami Alkitab hanya terkait dengan “bahasa” yang mencakup proses penulisan dan penyalinan, tetapi secara fakta historis, Tuhan tetap konsisten: Ia mengasihi umat-Nya, menyelamatkan, menebus, mengampuni, mendamaikan, dan membenarkan mereka.

Itulah dasar iman mengapa kita percaya kepada Tuhan yang telah memberikan “diri-Nya” dinarasikan dalam sebuah Kitab Suci. Narasi itu sendiri telah mengubah milyaran manusia untuk melihat bahwa Sang Khalik, tidak hanya memberikan diri-Nya dinarasikan dalam Kitab Suci melainkan Ia sendiri “dialami” oleh manusia-manusia yang memberikan dirinya untuk dipimpin dan dibimbing oleh Dia, Sang Khalik yang berkuasa.

Sejatinya, pengalaman iman adalah kekuatan yang tak terkalahkan. Pengalaman iman dari mereka yang percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus juga dinarasikan dalam Kitab Suci. Dari sini kita melihat bahwa narasi tentang Allah dan narasi mereka yang percaya kepada-Nya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Itulah alasan mengapa di dalam narasi Kitab Suci kita menemukan pengalaman dan kisah yang demikian.

Allah begitu luar biasa menyatakan kehendak-Nya bagi manusia berdosa. Ia tidak hanya menyatakan diri dalam sejarah, membentuk umat-Nya, menghukum mereka, memimpin mereka kepada tujuan yang dikehendaki-Nya, mendidik dan mengajar mereka, dan masih banyak lagi, tetapi juga menghendaki kisah-kisah yang terjadi di bawah kedaulatan-Nya dituangkan dalam narasi Kitab Suci. Tak terhitung perbuatan Allah kepada umat-Nya, bahkan kepada kita semua, entah melalui pengalaman langsung bersama Allah atau melalui pemahaman narasi Kitab Suci.

Narasi Kitab Suci telah cukup memberikan gizi bagi kerohanian kita. Allah dengan begitu limpahnya menyatakan kasih-Nya agar kita sadar dan tetap bersandar pada-Nya bahwa hidup yang dikaruniakan-Nya patutlah dijalani selaras dengan firman-Nya yang tertuang dalam narasi Kitab Suci. Peganglah firman-Nya. Tinggallah di dalam firman-Nya.

Hingga puncaknya, Firman Allah menjadi daging, menjenguk manusia di dunia, hidup bersama dengan manusia, menyatakan kehendak Bapa-Nya bagi kesinambungan kehidupan mereka yang dipilih-Nya sejak kekekalan. Firman itu telah menyatakan diri-Nya. Ia berkuasa, Ia Pencipta, Ia penuh kasih dan mau mengambil kita yang berdosa untuk ditempatkan pada tempat yang kekal, Kerajaan-Nya sendiri.

Allah, Firman yang telah menyatakan diri-Nya, dan narasi Kitab Suci adalah bukti nyata dari pleroma-revelatio – kepenuhan penyataan [pewahyuan] Allah bagi manusia. Kita menemukan kehidupan yang sejati hanya di dalam Yesus Kristus, Firman yang Kekal, yang telah datang ke dalam dunia dalam rupa manusia.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/bible

MESIAS, JURUSELAMAT: Memahami Mikha 5:1-4a

Pendahuluan

Personalitas Mesias dan apa yang dilakukannya menegaskan sebuah konteks nubuatan Mesianik Davidik. Teks Mikha 5:1-4a ditinjau dari empat aspek: pertama, darimu (Betlehem-Efrata) akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel; kedua, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala; ketiga, (ay. 3) Mesias akan menggembalakan Israel dalam kekuatan Tuhan, dalam kemegahan nama Tuhan; dan keempat, (ay. 4a), Mesias menjadi damai sejahtera.

Ralph L. Smith, profesor Perjanjian Lama, mengamati bahwa Mikha menubuatkan seorang raja Israel yang ideal, dan ini berbicara mengenai nubuatan tentang keselamatan Israel yang akan dipimpin oleh Raja yang Ideal. Pernyataan tersebut—dalam perspektif Kristen dipahami sebagai nubuatan bagi Mesias dan Raja yang luar biasa (bdk. Luk. 19:38). Dengan demikian, Mesias dan Raja yang luar biasa hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan, bukan oleh manusia.

Diskursus Singkat

Sebagaimana yang dipahami Kristen bahwa nubuat Mikha merujuk kepada personalitas Yesus. Mikha sedang menjelaskan tentang datangnya seorang mesias [teks Mikha bersifat mesianik] yang menurut Smith, bagian ini telah secara luas disebut sebagai “mesianis” dan mirip dengan janji Yesaya tentang kelahiran seorang raja baru dalam Yesaya 7:4 (Smith, World Biblical Commentary, 43).

Untuk melihat penjelasan lebih lanjut, teks Mikha akan saya kaji berdasarkan empat aspek sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas:

Pertama, darimu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel. Nubuat tentang bangkit-Nya seorang yang akan memerintah Israel memberikan sebuah kekuatan pengharapan atas Israel bahwa “akan ada Raja yang Ideal”. Jika demikian, maka gagasan Raja yang Ideal yang akan memberikan keselamatan kepada Israel memiliki dua pemahaman: (1) pemahaman sosial kenegeraan (yang terkait dengan kondisi yang dialami oleh Israel, sehingga orientasi dari pekerjaan Raja yang Ideal adalah memimpin mereka dan memenangkan mereka atas belenggu penjajahan dan penderitaan); dan (2) pemahaman keselamatan jiwa yang berdosa.

Pemahaman kedua—dalam pengamatan saya—hanya ditekankan oleh Kristen yang kemudian diteropong melalui karya Yesus Kristus di kayu salib. Identifikasi Raja yang Ideal berorientasi kepada imensitas (luasnya) jangkauan penebusan yang tidak hanya ditujukan kepada umat Israel (bdk. Yes. 45:17; 62:11), melainkan juga kepada bangsa-bangsa lain yang menjadi “umat” berdasarkan kedaulatan dan pemilihan Tuhan (Yes. 49:6; Kis. 13:26, 47; 28:28;  Rm. 11:11; 1 Tes. 2:16). Jadi, di sini ada semacam kontinuasi (kelanjutan) dari nubuatan PL yang terwujud dalam PB—secara khusus melalui diri Yesus Kristus.

Sebagai Raja yang Ideal, Ia tentu adalah seorang yang memiliki kuasa [Penguasa], dan hal ini ada dalam diri Yesus. Beberapa teks berikut ini akan memberikan cukup bukti tentang Yesus sebagai Raja.

  • Lukas 23:3 (pengakuan implisit di mana ketika Pilatus bertanya: “Engkaukah raja orang Yahudi” Yesus menjawab: “Engkau sendiri mengatakannya”; bdk. Yoh. 18:37);
  • Yohanes 1:49 (pengakuan Natanael: “Engkau Raja orang Israel”)
  • Yohanes 12:13 (pengakuan orang banyak: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”)
  • Yohanes 18:36 (pengakuan Yesus bahwa Ia memiliki Kerajaan: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini…”) (bdk. Kis. 1:3, pengakuan akan fungsi Kerajaan Tuhan ; 17:7, pengakuan sekunder; 28:31, pengakuan tentang identitas Kerajaan Tuhan dan Rajanya; Efesus 5:5; Kolose 1:13; 2 Timotius 4:1; 2 Timotius 4:18; Ibrani 1:8; 2 Petrus 1:11; Wahyu 11:15; Wahyu 15:3; Wahyu 17:14; 19:16 (pengakuan Yesus sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya); 1 Timotius 6:15 (pengakuan kualitas dan supremasi Raja).

Perjanjian Baru merupakan imensitas (keluasan) jangkauan nubuatan. Meski bersifat imensitas, pokok personalitasnya jelas dan tertuju kepada satu personal saja yaitu Yesus Kristus. Tidak ada transmutasi (perubahan) dalam penggenapan nubuatan Perjanjian Lama sebab secara data dan konteks data historis, Yesus memenuhi semua kriteria nubuatan PL. PB adalah kontinuasi (kelanjutan) dari PL.

Kedua, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Pernyataan ini menyebutkan sebuah kondisi imutabilitas (keabadian, kekekalan) dari Sang Mesias yang dijanjikan. Mesias yang bersifat Ilahi dan Kekal seperti ini tidak pernah dijumpai dalam Alkitab selain mengacu kepada pribadi Yesus. Karena nubuatan ini menegaskan natur ke-Ilahian Sang Mesias, maka tak ada jalan lain selain bahwa ayat ini adalah menubuatkan Sang Mesias Ilahi.

Meski bisa ditafsirkan secara lebih imajinatif—maksudnya mungkin saja Sang Mesias yang Ilahi ini mengimplikasikan sifat dari pengajaran-pengajarannya yang mana pengajaran-pengajarannya tentu berasal dari Bapa yang adalah Kekal, namun, pemahaman seperti ini tidak mendapat dukungan sama sekali dari Kitab Suci itu sendiri.

Dalam interpretasi Kristen, seorang Mesias yang permulaannya [eksistensinya] sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala, merupakan sebuah indikasi yang kuat bahwa hanya Yesus yang memenuhi standar ini. Rasul Yohanes secara jelas mengungkapkan konteks ini (Yoh. 1:1).

Mesias yang Ilahi tentu memiliki natur yang imutabilitas—dan dengan demikian, Mesias adalah Juruselamat, yaitu Tuhan sendiri. Natur ini tidak mungkin dimiliki oleh mesias yang biasa, mesias manusiawi. Dibutukan seorang Mesias yang “Theanthropik” [dari kata Theos dan Anthropos]—yang dapat saya artikan sebagai “Mesias yang Ilahi tapi berdwi-natur [Tuhan-Manusia]” dan “Mesias manusia [inkarnasi] tetapi memiliki natur Ilahi” untuk menjamin bahwa otoritas dan kuasa-Nya memiliki kedaulatan sepenuhnya atas alam semesta dan semua ciptaan-Nya. Inkarnasi Yesus adalah wujud dari “Theanthropik” [Tuhan-Manusia]. Fakta ini tidak dapat disangkal karena memiliki sederetan bukti-bukti faktual—historis.

Eksistensi kekal Sang Mesias membawa kita kepada pemahanan bahwa Mesias itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Tuhan sendiri. Hanya Tuhan yang bernatur kekal dan hanya Tuhan saja yang sanggup memerintah atas Israel sampai selama-lamanya, kuasa dan kasih-Nya tak berkesudahan, dan hanya Tuhan saja yang memerintah umat manusia termasuk Israel, dengan keadilan dan kebenaran. Hanya Tuhan saja yang memberikan damai yang kekal—damai yang tak berkesudahan. Dengan demikian, ke-Ilahian Yesus sebagai Sang Mesias dan Juruselamat yang permulaannya sudah sejak purbakala sejak dahulu kala tidak menyingkirkan identitas-Nya sebagai “Huios tou Theou”—Anak Tuhan yang kekal.

Ketiga, (ay. 3) Mesias akan menggembalakan Israel dalam kekuatan Tuhan, dalam kemegahan nama Tuhan. Konteks ini hanya dipenuhi oleh Yesus Kristus. Yesus adalah Gembala yang baik (Yoh. 10).

Keempat, (ay. 4a), Mesias menjadi damai sejahtera. Para peristiwa kelahiran Yesus, sejumlah besar bala sorga yang memuji: Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14). Yesus adalah sumber Damai Sejahtera dan dengan demikian Ia berotoritas memberikan damai sejahtera (bdk. Luk. 24:36 [damai sejahtera bagi kamu]; Yoh. 14:27 [damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu]; 16:33 [semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku]).

Aplikasi

Yesus adalah Mesias dan Juruselamat yang dinubuatkan oleh Tuhan. Kedatangan Mesias dan Juruselamat itu adalah menunjukkan kasih Tuhan yang luar biasa kepada manusia berdosa. Sebagai Juruselamat, Yesus menyatakan kasih-Nya melalui penebusan manusia yang berdosa. Juruselamat berarti hanya Dia yang menyatakan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan.

Yang berhak menyelamatkan manusia adalah Tuhan sendiri. Inilah makna dari Mesias, Juruselamat, yang tidak lain adalah Tuhan sendiri yang datang dalam wujud manusia (Yoh. 1:14). Yesus adalah Raja yang Ideal yang memerintah dunia dan orang-orang percaya, Raja yang kekal [yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala].

Yesus datang sebagai Mesias dan Juruselamat untuk memberikan keselamatan bagi jiwa yang berdosa. Hanya Tuhan saja yang dapat mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka sebab manusia telah berdosa kepada Tuhan. Dengan demikian, Tuhan pula yang dapat menentukan bagaimana cara menebus. Itulah sebabnya, Mesias yang dijanjikan dalam Mikha 5:1 digenapi oleh Yesus Kristus. Dialah Juruselamat yang akan menyelamatkan umat-Nya.

Salam Bae.

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/jesus-christ

KERENDAH-HATIAN: Sikap Hidup yang Bijaksana

Kerendah-hatian adalah konteks kehidupan manusia yang tak lekang oleh waktu, hingga sekarang ini. Dalam setiap percakapan, mungkin kita menyisipkan pokok kerendah-hatian di dalamnya dibarengi dengan lawan katanya: “kesombongan”. Kerendah-hatian merupakan sebuah topik yang sangat penting. Kepentingannya terletak pada proses waktu yang bergulir di mana setiap orang percaya dituntut untuk memperlihatkan sikap tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa ketika muncul kesombongan dalam diri seseorang, maka tertindaslah rendah hati. Semakin sombong seseorang, maka hilanglah sikap rendah hati, apalagi sikap bijaksana.

Seringkali, sikap rendah hati menjadi tersingkirkan ketika seseorang merasa sudah dikenal, terkenal, dekat dengan seseorang dengan tujuan menjadi penjilat, merasa menjadi bahan pembicaraan, pula merasa sudah berbuat banyak bagi orang lain. Padahal, berbuat baik tidak perlu untuk digembar-gemborkan dengan tujuan mencari popularitas diri. Berbuat baik tidak perlu “mencari nama”. Perbuatan baik akan mencari “jalannya sendiri” untuk memberikan kemuliaan dan nama baik kepada mereka yang dengan tulus melakukannya: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Amsal 22:1).

Alkitab menegaskan bahwa sikap hidup yang benar adalah perbuatan-perbuatan yang dikehendaki TUHAN. Mikha 6:8 menyebutkan, bahwa “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Perbuatan-perbuatan yang dituntut TUHAN mengandung kualitas sorgawi—artinya perbuatan-perbuatan itu merefleksikan diri-Nya.

Menjadi orang yang rendah hati adalah pilihan yang sangat baik dan berkualitas. Ketika kita menggunakan kebijaksanaan, maka secara tepat kita menilai segala sesuatu dengan baik, entah dalam menghadapi berbagai situasi, kesulitan, dan sebagainya. Orang bijaksana berarti dia yang menggunakan akal budinya secara tajam dan jernih untuk mempertimbangkan baik buruknya sesuatu tindakan atau situasi.

Kerendah-hatian adalah sikap yang bijaksana. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, merupakan impian banyak orang. Kemanfaatan itu sendiri mengandung sikap rendah hati. Mereka yang rendah hati tentu bermanfaat bagi sesamanya. Ia sabar, bijaksana, dan penyayang, tidak mau menipu dan mencari keuntungan yang rakus, selalu mengutamakan perkataan yang membangun, dan mendorong orang lain untuk mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.

Mazmur 25:9 menyebutkan, “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” Tuhan mengasihi dan memperhatikan, serta mengajarkan orang-orang yang rendah hati. Bahkan lebih dari itu, Mazmur 149:4 menyebutkan “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.”

Orang yang rendah hati adalah yang berhikmat. Penulis Amsal menjelaskan, “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Amsal 11:2). Tinggi hati atau kesombongan merupakan awal kehancuran, sedangkan mereka yang mengutamakan kerendah-hatian akan menerima kehormatan. Amsal 18:12 menyatakan “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendah-hatian mendahului kehormatan.” Bahkan “Ganjaran kerendah-hatian dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan” (Amsal 22:4).

Sebagaimana orang sombong menerima pujian dari orang-orang yang “dikendalikan atau dibayarnya”, demikian juga orang yang rendah pasti menerima pujian dari Tuhan dan manusia yang baik. Amsal 29:23 menyatakan “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”

Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya rendah hati. Jaminan mengikut-Nya adalah “mendapat ketenangan”. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29). Tuhan Yesus mengundang setiap orang untuk belajar pada-Nya, sebab Dia lemah lembuh dan rendah hati. Ia layak diteladani, Ia layak diikuti, Ia layak dipuji. Kita MENGIMITASI Tuhan, maka kualitas hidup yang kita nyatakan dalam keseharian, sangatlah tinggi dan kuat.

Yesus Kristus adalah Tuhan yang layak kita teladani. Ini sungguh luar biasa. Oleh sebab itu, sikap rendah hati adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap pengikut Yesus Kristus. Rasul Petrus menegaskan, bahwa “… hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati” (1 Petrus 3:8). Rendah hati berada di lingkungan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki Tuhan.

white arrow signage on black wall

Rasul Paulus menyatakan prinsip dan kualitas yang sama. Ia mengarahkan jemaat di Efesus untuk selalu rendah hati, dan menunjukkan kasih yang tulus: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (Efesus 4:2). Dan dengan demikian, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya—menurut Paulus—untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendah-hatian, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kolose 3:12).

Kita telah melihat bahwa kerendah-hatian memiliki kualitas yang tinggi, bersama dengan sikap hidup lainnya yang dikehendaki Tuhan. Kebijaksanaan akan memimpin kita kepada kehati-hatian terhadap kesombongan yang dapat saja muncul ketika kita menjadi “lupa daratan”. Sikap rendah hati mengarahkan kita untuk melihat Tuhan Yesus sebagai teladan yang telah membuktikan diri-Nya bahwa Ia adalah lemah lembuh dan rendah hati. Begitu juga dengan para rasul.

Dengan demikian, sebagai orang percaya, kita wajib memiliki sikap rendah hati, dan menunjukkannya dalam totalitas hayati dan dalam relasi humanitas di mana pun dan kapan pun. Marilah kita hidup di dalam kasih-Nya, dan tetap setia memperlihatkan kualitas hidup yaitu rendah hati. Tuhan Yesus memberkati dan memampukan kita menjadi pribadi yang rendah hati dan menggunakan bijaksana untuk menunjukkan sikap yang berkenan kepada-Nya.

Salam Bae.

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/right-action

SIDANG SINODE AM V GKSI 2021: EKSIS, DINAMIS, DAN MISIONER

Penyelenggaraan Sidang Sinode Am V GKSI Tahun 2021 yang berlokasi di Jimbaran, Bali (Jimbaran Bay Beach Resort) dimulai sejak tanggal 22 November 2021 dan ditutup pada tanggal 25 November 2021, menghasilkan keputusan-keputusan paripurna termasuk pemilihan KSB: Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum.

Dalam ibadah pembukaan Sidang Sinode Am V GKSI Tahun 2021, khotbah disampaikan oleh Bishop I Nyoman Agustinus, M.Th., (dari GPKB) selaku Ketua PGIW Bali. Beliau mengatakan bahwa Bali sangat terbuka bagi siapa pun dan denominasi mana pun untuk datang melayani jiwa di Bali. Meskipun GPKB telah 90 tahun namun adalah baik jika bergandengan melayani agar lebih cepat dan lebih besar pelayanan kita bersama.

Pada pembukaan sidang, BPS GKSI sebagai pemimpin sidang, menyatakan bahwa peserta SSAM V memenuhi kuorum dan sah karena jumlah peserta sidang yang memiliki HAK SUARA memenuhi persyaratan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GKSI.

Dengan mengusung tema: “Menjadi Gereja yang Eksis, Dinamis, dan Misioner serta Relevan di Atas Dasar Kristus, dalam Menghadapi Tantangan Digital Global guna Mewujudkan VIM 2030 (Mat. 16:13-20), dan Sub Tema: “Dengan Persidangan Sinode Am V GKSI Tahun 2021 ini, Mari Kita Teguh dalam Iman, Setia dalam Kebenaran, Erat dalam Kesatuan dan Maju dalam Karya Pelayanan untuk Memenangkan Jiwa bagi Kemuliaan Tuhan”, penyelenggaraan SSAM V kali ini menitikberatkan pada sebuah konteks dan upaya pengembangan pelayanan (dinamis), menjalankan organisasi secara sehat (eksis), dan tetap setia menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus (misioner).

Di hari kedua persidangan tanggal 23 November 2021, BPS GKSI menetapkan susunan Majelis Persidangan Sidang Sinode Am V GKSI sebagai berikut: Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. (BPW Jabodetabek), Pdt. Simeon Sau, M.Th. (BPSW Sulseltrateng), Pdt. Wasti E. Betty, S.Th. (BPW Jatim), Pdt. Lajib, M.Pd. (BPW Landak), Pdt. Atong Cancera, MA. (BPW Sumatera Utara) dan Majelis Pendamping Persidangan yaitu: Dr. Purnama Pasande, M.Th. (PRESTASI), dan Yusuf L. M., M.Th. (PRESTASI).

Majelis Persidangan kemudian menetapkan Tata Tertib Persidangan untuk menjadi panduan bagi semua peserta sidang dalam pelaksanaan SSAM V. Di dalam Tata Tertib Persidangan tersebut, khususnya pada bagian IV tentang HAK SUARA DAN KETENTUAN PEMUNGUTAN SUARA nomor 1 dan 2 dinyatakan sebagai berikut:

  1. Setiap yang hadir dalam Sidang yaitu: BPS, BPSW, BPW, Sektor, dan Utusan Jemaat serta Mitra PERKAKAS dan PRESTASI mempunyai satu hak suara.
  2. Hak suara digunakan dalam pemungutan suara/Voting apabila suatu permasalahan tidak dapat diputuskan melalui musyawarah.

Peserta sidang yang memiliki hak suara adalah: BPS, BPW, PRA BPW, SEKTOR, UTUSAN JEMAAT, PERKAKAS, PRESTASI, dan Mitra Misi GKSI yakni Yasabas.

Pencalonan Ketum, Sekum, dan Bendum diusulkan oleh peserta sidang yang memiliki hak suara. Calon Ketum yang diusulkan berjumlah 3 (tiga) orang, sebagai berikut: Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., Pdt. Pieter Maspaitella, M.Th., dan Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. Setelah memeriksa persyaratan administratif (syarat minimal), maka Pdt. Pieter Maspaitella, M.Th., dan Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. dinyatakan tidak memenuhi syarat minimal karena hanya didukung kurang dari 5 (lima) BPW untuk pencalonan Ketum, sehingga yang terpilih sebagai Ketum adalah Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th.

Calon Sekum yang diusulkan berjumlah 5 (lima) orang, sebagai berikut: Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th., Pdt. Dr. Nicodemus Sabudin, MA., M.Th., Pdt. Pieter Maspaitella, M.Th., Pdt. Dr. Jonidius Illu, M.Th., dan Pdt. Filmon Berekh, M.Pd.K. Setelah memeriksa persyaratan administratif, maka Pdt. Dr. Jonidius Illu, M.Th., dan Pdt. Filmon Berekh, M.Pd.K. dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk pencalonan Sekum. Majelis Persidangan melakukan pemungutan suara bagi kedua calon Sekum yang memenuhi persyaratan administratif, dan yang terpilih sebagai Sekum adalah Pdt. Dr. Nicodemus Sabudin, MA., M.Th.

Calon Bendum yang diusulkan berjumlah 2 (dua) orang, sebagai berikut: Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th., dan Ibu Yane H. Keluanan, M.Pd.K. Dalam persidangan Ibu Yane H. Keluanan menyatakan mengundurkan diri dalam pencalonan Bendum, sehingga sidang paripurna menetapkan Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. sebagai Bendum.

Proses pemilihan dan hasil pemilihan BPS GKSI Tahun Pelayanan 2021-2026 dituangkan dalam dua Keputusan, sebagai berikut: Pertama: KEPUTUSAN SIDANG SINODE AM V GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) NOMOR: A1.06/SSAM-V-GKSI/XI/2021 TENTANG SUKSESI PEMILIHAN BADAN PENGURUS SINODE SINODE GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) TAHUN PELAYANAN 2021-2026 tanggal 24 November 2021. Kedua: KEPUTUSAN SIDANG SINODE AM V GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) NOMOR: A1.07/SSAM-V-GKSI/XI/2021 TENTANG PENETAPAN BADAN PENGURUS SINODE SINODE GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) TAHUN PELAYANAN 2021-2026 tanggal 25 November 2021.

Dengan demikian, prosesi pemilihan Ketum, Sekum, dan Bendum, dilakukan berdasarkan Tata Tertib yang ditetapkan oleh Majelis Persidangan dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga GKSI Tahun 2021.

Tampak bahwa pada prosesi pemilihan kali ini para peserta sidang sangat antusias dan menyampaikan berbagai pendapat serta mengusulkan calon-calon KSB yang mereka nilai layak untuk duduk dalam jajaran BPS GKSI lima tahun ke depan, dan proses tersebut berjalan dengan baik. Panitia menyadari bahwa semua ini dapat terlaksana dan berjalan dengan baik karena campur tangan Tuhan Yesus sungguh luar biasa. Penyelenggaraan SSAM V di Bali pada akhirnya berjalan dengan baik dan demokratis.

Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. menyatakan, bahwa:

“Organisasi Gereja adalah sebuah sistem manajemen yang memperlihatkan eksistensi dan kemandirian dalam konteks pelayanan, misi, pengembangan Gereja, penyelesaian masalah, dan fitur-fitur (karakteristik khusus) lainnya yang tercakup dalam organisasi itu sendiri. Pada kenyataannya, Gereja tidak dapat melepaskan diri dari konteks kepemimpinan, manajemen, dan pengembangan organisasi. Hal ini membuktikan bahwa GKSI menerapkan aspek oikumenikal dengan melibatkan denominasi lain dalam perhelatan GKSI.

BPS GKSI berkomitmen untuk tetap setia pada panggilan dan tanggung jawab iman untuk menunjukkan eksistensi organisasi yang solid, dinamis dalam konteks pelayanan, dan misioner dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus. Hal ini sejalan dengan perintah Tuhan Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20, ‘Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’

Kami menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang mengiring langkah pelayanan dan misi yang dikerjakan oleh seluruh hamba Tuhan GKSI, baik di kota-kota maupun di desa-desa. Pelayanan yang sejati berarti mengutamakan Tuhan dalam segala hal; mengandalkan Dia dalam setiap gumul-juang pelayanan. Kita pun menyadari bahwa tantangan dan hambatan dalam pelayanan akan selalu muncul. Akan tetapi, iman kepada Yesus Kristus menjadikan kita dewasa dalam menyikapi hal-hal tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan untuk kemajuan GKSI. Harapan kami, di masa pelayanan 2021 sampai 2026, ada kemajuan dan perkembangan di tubuh GKSI dalam mewujudkan Vission In Messiah (VIM) 2030. BPS GKSI terpilih akan terus mengupayakan hal-hal yang mendukung terwujudnya pelayanan yang berkenan kepada Tuhan. Harapan kami agar GKSI tetap konsisten dalam bermisi, dinamis dalam mengolah dan mengembangkan pelayanan, dan setia pada panggilan Tuhan.”

Terselenggaranya SSAM V GKSI Tahun 2021 merupakan bukti bahwa Tuhan Yesus, Sang Pemilik Gereja, telah memimpin dan menopang GKSI untuk tetap berjalan dalam terang firman-Nya, menjangkau yang belum terjangkau, melayani yang belum terlayani, dan mengasihi yang belum terkasihi.

Saya sendiri sangat optimis dengan BPS GKSI periode 2021-2026 dalam mengemban tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan. Iman dan Integritas merupakan pegangan dan prinsip hidup yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. GKSI tetap eksis, dinamis, dan misioner. Tuhan Yesus memberkati kita semua yang setia dan berintegritas dalam melayani-Nya.

Salam Bae

Via Salutis – Epignosis

Stenly R. Paparang

FILSAFAT “KERENDAH-HATIAN”

Kesombongan adalah bentuk antonim dari rendah hati. Orang yang sombong berarti orang yang meninggikan hatinya (meninggikan diri), karena merasa bahwa ia “memiliki” sesuatu yang juga dia rasa melebihi dari orang lain. Kesombongan menghasilkan sebuah karakter yang “terpaksa” karena seseorang yang sombong itu harus berusaha memenuhi apa yang akan dia sombongkan. Rendah hati menjadi musuh baginya.

Kebalikannya, orang yang rendah hati adalah orang yang memperlihatkan sikap hidup bahwa apa yang dia miliki bukanlah sesuatu yang dapat dibawa mati (maksudnya benda-benda yang dinikmati selama hidupnya). Rendah hati menjadi simbol bahwa seseorang begitu memahami “kehidupan sebagai kemurahan dari Tuhan”—artinya, Tuhanlah yang memberikan kehidupan itu, dan segala sesuatu yang didapatkan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Menjadi rendah hati tentu tidak mudah. Kita perlu membuang ego (mau menang sendiri), kesombongan, dan kemunafikan (hipokrisi). Sebaliknya, kita perlu menampilkan kebaikan, kepedulian, ketulusan (berdasar kasih) dan kejujuran dalam bersikap. Sikap rendah hati adalah wujud dari perilaku yang mengenal dan memahami Tuhan, bahwa Dialah yang membuat kehidupan itu lebih bermakna, berguna, berbuah.

Ketika sikap rendah hati pudar, maka kesombongan akan muncul. Kesombongan seringkali menggerogoti jatidiri sehingga lambat laun menjadi buruk. Siapa yang sombong, tidak melakukan kebenaran di hadapan Tuhan; siapa yang sombong menghasilkan kecongkakan. Sebaliknya, siapa yang rendah hati, dialah orang berhikmat, dialah orang yang dikasihi Tuhan, dialah orang yang akan dihormati, dialah yang menerima pujian, dan dialah yang akan menerima kekayaan, kehormatan, dan kehidupan dari Tuhan (Amsal 22:4).

Terkadang menjadi rendah hati mendapat tantangan dan hambatan tersendiri. Kerasnya perjuangan untuk menghidupi “hidup” membuat beberapa orang—setelah berhasil—menjadi sombong dan merasa bahwa apa yang dia dapatkan setelah menempuh perjuangan yang lama, adalah usahanya sendiri. Kesombongan lahir dari mereka yang merasa bahwa ia dapat bertindak dan berusaha sendiri tanpa Tuhan.

Namun, mereka yang berhasil setelah menempuh perjuangan yang panjang, dan masih tetap rendah hati, adalah mereka yang hatinya begitu kuat dalam prinsip, dan benar-benar memahami bahwa Tuhan di atas segala-galanya. Seperti yang penulis Amsal katakan: “berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Amsal 10:22). Atau dalam Terjemahan Lama, dikatakan: “Bahwa berkat Tuhan juga yang menjadikan kaya, dan tiada disertainya dengan kedukaan”. Juga terjemahan Versi Mudah Dibaca: “Berkat TUHAN membuat engkau sejahtera dan tidak mendatangkan kesulitan.”

Hanya Tuhanlah yang memberikan kita kehidupan, kekuatan, dan kesempatan untuk mendapatkan (meraih) berkat-berkat-Nya. Jikalau Ia tidak memberikan kehidupan, “mustahil kita dapat bergerak”; jikalau Ia tidak memberikan kekuatan, “mustahil kita dapat bekerja”; jikalau Ia tidak memberikan kita kesempatan, mustahil kita dapat meraih berkat”. Semua itu mendidik kita menjadi pribadi yang “rendah hati”. Itulah filsafat kerendah-hatian.

Filsafat kerendah-hatian memperlihatkan kondisi kehidupan manusia di mana di dalam kondisi tersebut, manusia berjuang untuk hidup sekaligus mengasah diri untuk tetap menjadi rendah hati. Kita terus belajar tentang hidup, tentang kekuatan, dan tentang kesempatan. Ketiganya menyatu untuk mendidik kita menjadi orang yang benar di hadapan Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama.

Filsafat kerendah-hatian mengajarkan kita tujuh hal penting:

Pertama, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita terbatas dalam segala hal, membutuhkan Tuhan dan mengandalkan Dia senantiasa.

Kedua, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita juga memerlukan bantuan orang lain.

Ketiga, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Kita harus membangun komunikasi dan relasi dengan sesama, karena dari merekalah kita belajar rendah hati.

Keempat, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki potensi yang tak terduga untuk menggapai apa yang kita harapkan. Potensi ini haruslah melihat bahwa kehidupan, kekuatan, dan kesempatan adalah pemberian Tuhan yang dengannya kita dapat mencapai tujuan.

Kelima, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki bagiannya masing-masing, untuk diusahakan (dalam proses hidup), sebab Tuhan memberikan segala sesuatu kepada setiap orang sesuai keperluannya; apa yang dibutuhkan orang lain, belum tentu itu yang kita butuhkan. Tuhan itu adil dan penuh kasih.

Keenam, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita mendapat upah dari apa yang kita kerjakan. Tuhan memberkati orang yang terus berusaha; dan hanya mereka yang percaya kepada-Nya, diberikan kelimpahan. Orang yang bekerja keras dan mengandalkan Tuhan, pasti akan diberkati berlimpah-limpah.

Ketujuh, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita akan mempertanggung jawabkan apa yang kita perbuat (hukum tabur tuai). Ketika kita menabur kebaikan, kita menuai (menerima) kebaikan; ketika kita menabur kesombongan, kita menuai kesombongan; ketika kita menabur kejahatan, kita menuai kejahatan.

Tuhan itu Mahatahu dan Mahaadil; Ia melihat perbuatan-perbuatan yang kita tabur, dan Ia adil karena memberikan kepada kita berdasarkan apa yang kita tabur.

Tetaplah rendah hati meski hidup kita berlimpah-limpah kebajikan, harta kekayaan, dan sebagainya. Tetap andalkan Tuhan dalam segala hal, karena dari Dialah kita mendapatkan kehidupan, kekuatan, dan kesempatan.

Salam Bae

FILSAFAT “MATA”

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu”—demikian pernyataan Yesus Kristus (Matius 6:22). Pernyataan tersebut terkait dengan keinginan mata untuk mendapatkan “segala sesuatu”, dikumpulkan, dan dipakai untuk diri sendiri. Itulah sebabnya, “mata” menjadi “pintu masuk” bagi segala sesuatu untuk menjadikan diri kita sebagai orang baik tetapi dewasa dalam mengelola yang kita miliki, atau menjadi orang yang tamak akan segala sesuatu.

Mata adalah pelita, karena ia melihat segala sesuatu; kita membutuhkan sesuatu ketika kita melihat sesuatu; kita menginginkan sesuatu ketika kita melihat sesuatu. Mata menerawang sesukanya, tapi seringkali dipandu dan diarahkan oleh hati nurani.

Mata menghasilkan dosa, ketika ia tidak dapat mengontrol dirinya; mata bisa menghasilkan kejahatan, ketika ia ingin “memiliki, merasakan, dan menikmati yang bukan miliknya sendiri”. Mata menimbulkan harapan ketika ia berkomitmen (setelah melihat orang sukses) untuk bekerja keras untuk meraih kesuksesann.

Mata adalah pelabuhan hidup, selain pintu masuk. Sebagai pelabuhan, mata menambatkan banyak hal untuk tetap berlabuh di pelabuhan. Seolah-olah mata tidak dapat merelakan kapal-kapal keangkuhan untuk pergi berlayar. Atau sebaliknya, mata tidak merelakan kapal-kapal kebajikan pergi berlayar meninggalkannya. Tetapi penting juga ketika kapal-kapal kebajikan pergi berlayar untuk memberi makan kepada banyak orang; dan kemudian menjadi berkat.

Mata melihat dengan tajam berbagai kebaikan dan kejahatan. Mata kita seringkali tidak puas dengan segala sesuatu. Bahkan mata dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai-bagai pencobaaan dan dukacita.

Mata memiliki sejumlah mutiara. Ketika mutiara bersinar, mata menjadi menyala dan menghasilkan kilauan-kilauan cahaya yang memukau. Akan tetapi, bahaya pun muncul, ketika hati nurani padam dan disingkirkan dari takhtanya.

Mata dapat menangis ketika melihat kejahatan merajalela. Mata dapat menangis ketika terharu melihat berkat-berkat Tuhan turun atas kita. Air mata adalah sahabat mata. Keduanya tak bisa dipisahkan. Memang Tuhan telah menempatkan air di dalam mata sehingga mata dapat mengerti bagaimana ketika air di dalam dirinya mengalir (menetes) tanpa ada sesuatu yang dirasakan dan dipahami.

Oh… mata. Engkau memang adalah pelita hidup manusia. Engkau kadang mengarahkan hidup seorang ke arah yang baik, kadang ke arah yang jahat, kadang ke arah yang abu-abu. Oh… mata. Engkau seringkali bekerja sama dengan hati nurani untuk melihat hal-hal ajaib yang Tuhan perbuat; tetapi sebaliknya, engkau menyingkirkan hati nurani untuk memuaskan hawa nafsunya.

Mata, adakah engkau berubah dan berbuah? Adakah engkau berubah ke arah yang lebih baik ketika engkau tersesat di jalan yang kau ciptakan sendiri? Adakah engkau berbuah setelah berubah?

Hal terpenting dari filsafat mata adalah bahwa kita sendiri dapat mengajar dan mengarahkan mata kita untuk melihat hal-hal baik dan kemudian berkomitmen untuk melakukan hal yang sama.

close-up photo of persons eye

Filsafat mata mengajarkan kita lima hal:

Pertama, mata adalah pelita tubuh. Itu sebabnya, cahaya mata bisa menerangi jalan kita—jika kita menjaga cahayanya. Sebaliknya, jika kita menyembunyikan cahayanya, atau bahkan memadamkannya, maka jalan kita menjadi gelap gulita, dan kita mencari jalan, menciptakan jalan baru, dan kemudian kita tersesat olehnya. Jika mata kita gelap, maka gelaplah seluruh tubuh kita. Kita hidup dalam ketidakpastian dan ketidakjelasan.

Kedua, mata adalah pintu masuk terhadap segala sesuatu. Ketika kita membiarkan mata kita masuk segala hal buruk, maka kita menyimpan dan mengundang “dosa” masuk bertama, duduk, dan menginap di dalam rumah kita. Ketika dosa menginap, hati nurani dibiarkan tidur di luar, tanpa selimut dan obat nyamuk. Mata telah membiarkan pintunya dibuka dan dosa masuk. Mata telah salah mengambil keputusan. Hati nurani menangis dan tersingkirkan.

Ketiga, mata adalah pelabuhan yang dapat mengundang banyak kapal, entah kapal keangkuhan atau kapal kebajikan. Ketika mata bekerja sama dengan hati nurani, maka kapal kebajikanlah yang berlabuh. Tetapi ketika mata ingin berkuasa sendiri (egois) dan tidak mengundang hati nurani, maka kapal keangkuhanlah yang berlabuh. Dengan demikian, kita harus tetap memadukan kerja sama antara mata dan hati nurani agar kapal-kapal kebajikan dapat berlabuh dan sekaligus memuat barang-barang berharga, buah-buah segar, untuk dibagikan kepada orang lain, di pulau-pulau yang jauh.

woman's left eye

Keempat, mata adalah anugerah Tuhan bagi kita. Kita harus menjaganya sedemikian rupa sehingga dari mata, kita dapat berkarya bagi Tuhan, dan melayani-Nya dengan sepenuh hati. Arahkanlah mata kita untuk melihat sekeliling kita, pandanglah ke ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai (Yohanes 4:35). Arahkan mata kita kepada Tuhan. Jangan biarkan mata kita melihat segala keangkuhan dan kesombongan; jangan biarkan mata memuaskan keinginannya yang justru dapat mencelakakan kita sendiri. Hargailah mata kita, dan bijaklah dalam menggunakan mata, sebab mata kita adalah pelita hidup kita.

Kelima, mata adalah sahabat hati nurani. Jalin kerja sama yang baik dengan hati nurani, karena jika mata berjalan sendiri, maka ia akan mudah tersesat. Ketika hati nurani diajak dalam kendaraan iman, maka pasti kita dapat sampai di tujuan yang Tuhan kehendaki. Jika mata dan hati nurani berjalan bersama dalam satu kendaraan iman, maka kita dapat “membawa berkat bagi orang lain”.

woman doing chin gesture while taking photo

Keenam, mata adalah pabrik air mata. Ia dapat meneteskan air mata ketika memahami dan merasakan sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, air mata adalah sahahat mata, dan dengan demikian juga adalah sahabat hati nurani. Mereka dapat bersama-sama merasakan segala sesuatu yang menyentuh perasaan dan hati. Mereka mengerti dan memahami apa makna hidup, makna prjuangan, makna dukacita, dan makna kepedulian.

Ketujuh, mata adalah “wajah karakter” pribadi kita. Kita bergumul dan berjuang di dalam waktu, dan melihat betapa sulitnya kehidupan yang dijalani, betapa hebatnya tantangan dan cobaan di depan mata kita. karakter yang kuat di dalam iman, akan mengarahkan mata untuk melihat—menengadah—kepada Sang Khalik, seraya memohon pertolongan, pernyerataan, dan kekuatan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan.

Akhirnya, marilah kita memakai mata kita sebagai alat untuk mengarahkan hidup kita kepada jalan Tuhan, kepada hal-hal baik, dan mengajak orang lain untuk turut dalam jalan Tuhan itu—bersama-sama menggapai masa depan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita. Cintailah matamu, dan jadikanlah hati nurani sebagai sahabatnya, selamanya.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/eyes

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untuk sombong. Di sini, wajar bukan berarti kita setuju dengan sikap sombong, tetapi kesombongan itu sifatnya natural: ada alasan di baliknya.

Keputusan seseorang untuk menyombongkan diri karena ia merasa—dalam penilaian dan perasaannya sendiri—bahwa ia masih lebih baik dari orang lain, masih lebih berkuasa dari orang lain, dan masih lebih hebat dari orang lain, dan sederet alasan kontekstual lainnya. Semua jenis kesombongan itu wajar karena kesombongan lahir dari diri manusia yang memiliki alasan tertentu.

Jenis-jenis kesombongan itu beragam. Saya menyebutnya di sini:

Ada yang sombong karena ia merasa berjasa bagi orang lain

Ada yang sombong karena ia merasa ia lebih aman dan nyaman hidupnya dibanding yang lain

Ada yang sombong karena ia memiliki jabatan yang tinggi

Ada yang sombong karena ia memiliki kekayaan yang besar

Ada yang sombong karena ia memiliki uang yang banyak

Ada yang sombong karena ia mobil atau rumah mewah

Ada yang sombong karena ia telah lulus dari perguruan tinggi dengan nilai yang  tinggi

Ada yang sombong karena ia merasa hebat dari yang lain

Ada yang sombong karena ia pintar dan sangat pandai

Ada yang sombong karena ia telah membenci seseorang

Ada yang sombong karena ia merasa lebih baik dari orang lain

Ada yang sombong karena ia lebih sehat dari yang lain

Ada yang sombong karena ia dipercaya dibanding yang lain

Kesombongan muncul dari banyak faktor. Salah satu faktor yang mendominasi mayoritas pikiran manusia adalah disebabkan oleh “kondisi diri sendiri”. Mengapa harus kondisi diri sendiri? Memang demikian adanya.

Kondisi diri seseorang mengharuskan ia untuk membandingkannya dengan diri orang lain. Ini sifatnya mutlak. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang lain. Hanya esensinya yang membedakannya. Apa yang dibandingkan? Tentu sangat variatif. Tergantung seseorang mau menilai dan membandingkannya dengan apa yang ia miliki dan ia percayai

Kondisi kesombongan manusia tercermin dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Tiga hal tersebut adalah “buah” nyata dari hidup manusia. Filsafat kesombongan adalah sebuah filsafat yang mencermati kesombongan manusia secara bijaksana. Artinya, kesombongan dapat dipahami sebagai bagian yang ada dalam diri manusia yang didasari pada apa yang dimiliki seseorang. Dalam pandangan umum, orang boleh sombong asalkan berbanding lurus dengan apa yang ia miliki, apa yang ia hasilkan, dan apa yang ia harapkan, jika memang itu dapat diraihnya.

Filsafat kesombongan—atau dapat diartikan sebagai pengetahuan mengenai seluk-beluk kesombogan—adalah cara memikirkan alasan-alasan kesombongan manusia yang “pada tempatnya” dan “tidak pada tempatnya”.

Kesombongan yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah kesombongan karena seseorang memiliki uang, harta, dan kekayaan yang banyak. Di samping itu, kesombongan yang satu ini juga tidak kalah terkenalnya yaitu kesombongan karena “telah berjasa”. Telah berjasa ini pun beragam. Ada yang berjasa karena telah menolong orang lain baik materi maupun fisik

Yang lebih menonjol kesombongannya adalah berjasa telah menolong dari segi materi.

Ada orang yang karena pernah menolong orang lain dalam hal materi maka dia berkoar-koar dan dengan sombongnya mengatakan bahwa “kalian pernah mencicipi bantuan saya, jadi tahu dirilah”. Kesombongan ini ada benarnya. Artinya bahwa jika seseorang pernah ditolong atau dibantu oleh orang lain, haruslah berterima kasih dan menurutnya, berterima kasihlah kepadanya telah menolong Anda. Hanya saja, orang yang menolong menekankan hal yang berbeda, dan motivasinya juga berbeda. 

Akan tetapi, kesombongan jenis ini juga ada salahnya. Artinya, orang yang pernah membantu dan menolong mengharuskan orang yang ditolongnya untuk selalu sadar dan tahu diri bahwa ia pernah ditolong olehnya. Kata “mengharuskan” seolah-olah menyatakan bahwa jika tanpa bantuannya, seseorang tidak akan hidup atau tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam alam pemikiran semacam ini, kita perlu mencermati alur situasi dan kondisi yang sebenarnya. Orang yang pernah membantu, mengharapkan bahwa orang yang dibantunya harus selalu ingat dalam segala situasi dan kondisi bahwa ia pernah ditolong, meskipun tidak dalam konteks itu.

Orang semacam ini sedang menggariskan bahwa orang yang pernah berhutang (ditolong) kepadanya haruslah diingat dan disadari sesadar-sadarnya bahwa dia pernah menolong. Apa pun alasannya. Kesombongan macam ini adalah tidak pada tempatnya. Tentu, dari aspek komprehensif hayati manusia, tak seorang pun yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk orang yang sombong tadi – atau pun orang-orang kaya, sekaya-kayanya di dunia ini. Maka, memaksakan dan menggariskan seseorang untuk selalu tahu diri dan sadar bahwa ia pernah ditolong, harus juga diterapkan kepada orang yang sombong itu. Sebab jika tidak, maka ia akan dengan leluasa menyombongkan diri.

Hidup ini ada keseimbangan. Seseorang dapat dikatakan kaya karena ada yang miskin. Seseorang dapat katakan pintar karena ada yang bodoh. Seseorang dapat dikatakan sombong karena ada yang rendah hati. Itu sebabnya, orang yang sombong boleh sombong tetapi kesombongannya itu tidak berdiri sendiri. Ia harus membutuhkan pendamping sebagai padanan kata dan situasi yang sesuai fakta.

Filsafat kesombongan adalah buah pemikiran manusia yang mendalami akar permasalahan kesombongan manusia. Latar belakang kesombongan manusia perlu menjadi sinosur [pusat perhatian, “cynosure”] untuk mendapatkan alasan-alasan yang akurat dan spesifik.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa ditekan dengan rendah hati. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa diabaikan oleh akal budi yang sehat.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihilangkan dengan kesabaran. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dialihkan kepada hal yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dicegah dengan selalu menghargai orang lain. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihentikan dengan ketegasan prinsip dan kualitas diri.

Kesombongan yang over dosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang merasa dirinya paling suci, paling mulia, paling benar, dan paling rohani – seolah-olah dia tidak pernah berbuat dosa. Kesombongan over dosis ini sering dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai pola pikir yang kerdil. Dia merasa bahwa orang-orang telah berhutang budi selamanya kepada dirinya. Kesombongan ini dipunyai oleh orang yang menaruh kebencian terhadap seseorang yang dianggap telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni. Alasan dia menganggap orang tersebut telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni disebabkan oleh hasutan-hasutan dan fitnah-fitnah dari teman sejawatnya atau musuh yang telah menjadi sahabatnya karena keduanya memiliki musuh yang sama.

Berbagai kesombongan yang dia luapkan ke permukaan. Dan karena kesombongannya itu, hal-hal yang tidak terkait dengan “karena jasanya” selalu ia kait-kaitkan. Ini disebut dengan argumentum ad homine – sebuah argumentasi yang dibangun bukan berdasar pada persoalan tetapi kepada personalitas seseorang yang berperan sebagai lawan atau musuhnya.

Filsafat kesombongan sebenarnya secara esensial menghadirkan bentuk-bentuk pemikiran yang membawa seseorang kepada kedewasaan berpikir dan bertindak. Kedewasaan berpikir artinya seseorang memberikan waktu untuk menyelidiki akar persoalan kesombongan manusia. Kedewasaan bertindak artinya seseorang bertindak bukan pada jalur kesombongan atau pada jalur keangkuhan hidup, melainkan pada jalur yang normal dan benar.

Tak jadi soal ketika kita melihat ada orang yang sangat sombong. Tinggal bagaimana kita menilainya berdasarkan buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang sombong itu.

Tentu orang yang menyombongkan diri memiliki beragam alasan di baliknya. Kesombongannya menjadikan diri kita sabar dalam menghadapinya, menjadikan kita belajar berpikir jernih tanpa terpancing kesombongannya yang over dosis.

TUHAN memang adil dan benar. Ia tahu bahwa orang-orang yang sombong akan menerima upah. Upah adalah “hadiah” dari-Nya. Hadiah tersebut berbeda-beda, tergantung dari apa yang telah diperbuat manusia selama hidupnya. Yang hidup dan berbuat sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling terindah dan menyenangkan. Yang hidup dan berbuat tidak sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling mengerikan dan menyiksakan.

Kesombongan adalah soal persepsi yang terkait erat dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi ini juga terkait erat dengan kondisi diri seseorang. Persepsi dapat membentuk karakter seseorang. Karakter yang berkembang dipengaruhi oleh persepsi yang berulang-ulang. Artinya, persepsi tentang dirinya telah menjadi semacam habituasi sedemikian rupa.

Memikirkan kesombongan merupakan hal yang rendah dan merendahkan diri sendiri. Pasalnya, tidak ada manusia yang dapat mengklaim bahwa dirinya yang paling hebat di seluruh dunia. Meskipun ada yang bisa mengklaim demikian, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Klaim tersebut tidaklah universal karena pengklaimannya tidak melibatkan semua orang di seluruh dunia. Kehebatan seseorang hanya terjadi di zamannya, dan bukan di zaman-zaman lainnya.

Manusia, meski sombong, tetap ia terbatas: ia bisa mati kapan saja, bisa sakit, bisa lemah, geger otak, stroke, kejang-kejang, gila, stres, bunuh diri, dan lain sebagainya.

Banyak orang sombong di sepanjang sejarah yang hidupnya berakhir stragis. Namun tetap saja kesombongan menjadi “trending topic” dari zaman ke zaman.

Keangkuhan adalah sahabat kesombongan. Selain keangkuhan, rasa percaya diri yang berlebihan yang pada faktanya tidak berbanding lurus dengan apa adanya dirinya sendiri. Rasa percaya diri ini dapat dimunculkan tatkala ia dengan segala kekayaaannya dapat membayar atau mengatur orang lain. Dengan pengalaman membayar dan mengatur orang lain, dia berpikir bahwa dia bisa mengatur orang-orang lain yang dianggap penting. Ini adalah kesombongan yang tak terkendali dan merupakan sebuah omong kosong. Apalagi, ketika dia mengatakan demikian, secara logika sudah tidak masuk akal.

Nah, kesombongan macam ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak beres kerohaniannya dengan Tuhan, suka mencaci maki, suka memalsukan kebenaran, memfitnah, menggiring opini, berbohong dan menjelek-jelekkan orang lain.

Di sisi lain, orang yang sombong seperti ini, tidak akan pernah berhenti memamerkan kehebatannya di bidang membayar dan mengatur orang, memfitnah orang lain, melakukan penipuan dengan cara memfitnah, menciptakan sejarah dengan mengutamakan dirinya sendiri yang sebenarnya tidaklah demikian.

Filsafat kesombongan yang sedang kita bicarakan ini, dapat memberikan informasi yang bagus bagi pemahaman kita tentang kesombongan seseorang yang secara nyata menyita perhatian, menguras tenaga dan pikiran kita.

Dalam pandangan psikologi, kesombongan dapat terjadi pada orang-orang yang biasa tetapi ketika bergaul dengan orang yang tidak beres pikirannya. Sebut saja ketika orang-orang biasa bergabung dengan para pemberontak, atau perancang kudeta dalam suatu organisasi, mereka disuguhkan dengan berbagai makanan yang berisi racun pikiran di mana makanan tersebut disuap kepada para pengikutnya yang di dalamnya terdiri dari fitnah, pembohongan, pendustaan, pemalsuan data dan fakta, sehingga para pengikut ini dengan berani menentang orang-orang yang telah difitnahkan secara tidak manusiawi. Mereka menjadi sombong karena menganggap tahu segalanya, dan didukung oleh orang[-orang] yang merasa diri hebat, punya uang banyak, dan dianggap memiliki pengaruh yang kuat.

Kesombongan dari para pengikut pemberontak memang cukup beralasan. Mereka sombong karena mereka tahu bahwa ada orang-orang yang punya uang banyak dan lebih hebat dari diri mereka sendiri. Jarang sekali ditemukan bahwa ada orang miskin dan tak punya apa-apa merasa sombong karena mempunyai pemimpin yang juga tidak punya apa-apa. Apa yang mau disombongkan dan dibanggakan?

Itu sebabnya, para pengikut pemberontak akan merasa leluasa meluberkan kesombongannya karena dia anggap pasti ada yang akan membelanya. Ini dinamakan kesombongan berlapis.

Dengan memahami filsafat kesombongan, mengantar kita kepada kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Kita bisa mengetahui banyak hal. Kita bisa mempelajari banyak hal.

Kita pun tahu, bahwa ada orang yang sombong karena punya uang dan jabatan. Orang yang sombong ini menganggap dirinya bisa berbuat semaunya karena yang dibawahinya adalah orang-orang kecil yang dianggap tidak tahu apa-apa. Orang yang sombong ini menggunakan ancaman, di mana ancaman tersebut bisa berakibat bahwa ia bisa melakukan apa saja karena menganggap orang-orang kecil tidak bisa melawannya. Orang seperti ini tidaklah memiliki karakter yang baik. Ia hanya merasa bangga dengan kepunyaannya yang sifatnya fana. Apa yang bisa dipertahankan darinya?

Ini merupakan gejala-gejala ketidakberesan rohani (spiritual) di hadapan Tuhan dan menjelaskan bahwa orang yang sombong itu, memiliki banyak sekali persoalan hidup yang belum diselesaikannya secara tuntas.

Sombongnya seseorang menciptakan siklus ketidaktertarikan atau ketidaksukaan orang lain terhadapnya. Sombong memiliki makna yang sama dengan “belagu”. Belagu adalah perasaan diri seseorang yang dimunculkan tatkala pengalamannya dijadikan dasar untuk bangga diri yang berlebihan. Penekanannya tentu berbeda dengan memaparkan pengalaman sebagai “contoh”. Tetapi, menjadikan pengalaman sebagai seolah-olah sudah tahu banyak, sudah lebih hebat, sudah tambah hebat dan lain sebagainya, membuat seseorang tersebut dicap sebagai “belagu” atau “sombong”, bisa karena harta, uang, telah berjasa, karena pintar, merasa kuat, dan lain sebagainya.

Ingatlah, janganlah kita menyombongkan diri. Alkitab telah memperingatkan kita untuk tidak sombong, karena itu dibenci oleh Dia.

Enam perkara ini yang paling dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara (Amsal 6:16-19).

Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji (1 Samuel 2:3)

Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13)

Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga (Amsal 21:24)

Jagalah diri kita untuk tetap bersyukur atas apa yang Allah berikan. Hanya ucapan syukur yang membuat kita puas, membuat kita sadar bahwa berkat itu datangnya dari Allah. Bersyukur adalah keputusan terbaik untuk menekan kesombongan, bahkan menghancurkannya. Tetaplah rendah hati: “Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahhatian mendahului kehormatan” (Amsal 15:33; 18:12), “Ganjaran kerendahhatian dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan” (Amsal 22:4), dan “Keangkuhan [congkak] merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima [meraih] pujian [kemuliaan, kehormatan]” (Amsal 29:23).

Salam Bae.

CINTA KASIH KRISTUS YANG MENGGERAKKAN PERSAUDARAAN: Refleksi 1 Petrus 1:22

Τὰς ψυχὰς ὑμῶν ἡγνικότες ἐν τῇ ὑπακοῇ τῆς ἀληθείας εἰς φιλαδελφίαν ἀνυπόκριτον ἐκ καθαρᾶς καρδίας ἀλλήλους ἀγαπήσατε ἐκτενῶς

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.”

Prolegomena

Kehidupan Kristen memiliki tiga aspek yang saling koheren: pertama, aspek sikap iman; kedua, aspek sikap hidup; dan ketiga, aspek sikap doktrinal. Sikap iman berbicara tentang keterhubungan antara kita dengan Tuhan yang diwujudkan dalam doa, ibadah, puji-pujian, puasa, kerohanian totalitas diri, dan kesaksian hidup. Sikap hidup berbicara tentang relasi kita dengan orang lain, yang tertuang dalam “kasih persaudaraan” tanpa melihat latar sosial, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya. Sikap doktrinal berbicara tentang pengajaran-pengajaran yang dapat mengarahkan kehidupan orang percaya tetap pada kebenaran Tuhan, serta terhubung dengan pemberitaan Injil Yesus Kristus yang mencakup karya-karya-Nya.

Ketiga aspek tersebut koheren dengan orang percaya dalam perjalanan kehidupan mereka. Ketiganya adalah sahabat orang percaya. Ada harapan dalam pelaksanaan ketiga aspek tersebut. Harapan itu membentuk kita menjadi pribadi yang konsisten dalam melakukan cinta kasih kepada sesama anggota Gereja maupun kepada masyarakat luas. Tak dapat dipungkiri bahwa harapan merupakan kekuatan untuk hidup di dalam Kristus. Mayoritas manusia memiliki pengharapan. Tetapi semua orang percaya pasti memiliki pengharapan di dalam Kristus Yesus. Tak ada orang percaya yang tidak memiliki harapan. Harapan tersebut dibarengi dengan ketaatan kepada kebenaran Kristus, sehingga dengan demikian orang percaya dapat menerapkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, kapan pun dan di mana pun. Semua itu diikat oleh kasih yang murni.

Kita melihat bahwa Rasul Petrus memberikan wejangan kepada orang-orang pendatang (jemaat Kristen) yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia. Alasan untuk “mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas dan saling mengasihi dengan segenap hati” karena mereka itu adalah “orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah Bapa, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Ptr. 1:2). Tampak bahwa orang-orang pilihan Allah harus memperlihatkan gaya hidup yang berbeda dari dunia dan orang kebanyakan (orang-orang di luar Kristus). Orang-orang pilihan Allah harus taat kepada Yesus Kristus dan dengan demikian saling mengasihi secara sungguh-sungguh serta mengamalkan kasih persaudaraan tanpa melihat perbedaan suku, ras, agama, dan budaya.

Wilayah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia tentu memiliki ragam latar belakang sosial. Oleh sebab itu, menurut Rasul Petrus, penting bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus menunjukkan “teladan iman” (setia kepada Kristus, taat akan kebenaran-Nya), “teladan sikap” (relasi sosial dalam konteks mengamalkan kasih persaudaraan dan saling mengasihi), serta “teladan pengajaran” yakni apa yang diajarkan turun-temurun perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Teladan pengajaran inilah yang mendamping teladan iman dan teladan sikap sebagaimana tampak pada jemaat Kristen yang ada di wilayah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia. Dari situlah tampak bahwa “Cinta Kasih Yesus Kristus menggerakkan mereka (jemaat Kristen) untuk mengamalkan kasih persaudaraan”.

Konteks Surat 1 Petrus dan Diskursus Teks

Secara menyeluruh surat ini difokuskan kepada pernyataan: “Kamu yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (1Ptr. 2:10). Hal ini terjadi karena Allah telah memilih mereka, sehingga mereka disebut “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr. 2:9).

Pemilihan Allah atas orang-orang tertentu dimaksudkan untuk “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah di dalam Kristus Yesus”. Ada keterhubungan antara sikap hidup mengamalkan kasih persaudaraan dan relasi pemberitaan perbuatan-perbuatan Allah yang besar, termasuk karya-karya Yesus Kristus: kematian dan kebangkitan, serta teladan Kristus. Ada berbagai relasi yang muncul di sini, yakni: relasi persaudaraan membuka peluang terjadinya relasi pemberitaan Injil. Relasi saling mengasihi membuka peluang terjadinya relasi daya tarik orang-orang di luar Kristus untuk datang dan percaya kepada Kristus. Rasul Petrus memiliki pola pemikiran yang luar biasa. Ia menekankan tidak hanya pada soal ajaran yang benar, melainkan pada sikap hidup yang benar dan iman yang benar.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Asia Kecil pada abad pertama (lima daerah yang disebut oleh Petrus terletak di Asia Kecil) berada di bagian tengah atau utara. Sebagian penduduk daerah tersebut menganut budaya Yunani, sebagian lagi mengikuti budaya penduduk di bagian timur (sekarang Iran). Sejumlah besar orang Yahudi juga tinggal di daerah tersebut. Rasul Paulus memberitakan Injil di wilayah Galatia dan beberapa tempat di wilayah Asia, namun tidak disebutkan bahwa ia mengunjungi daerah-daerah yang disebut dalam 1 Petrus 1 ini. Mungkin Rasul Petrus sudah mengunjungi daerah-daerah ini beberapa waktu sebelum Paulus memulai memberitakan Injil. Dalam suratnya ini, Petrus memberikan pemahaman bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan menanggung penderitaan karena iman mereka (2:19-21; 3:13-15; 4:1-2, 12-19; 5:9-11). Akan tetapi, penderitaan tidak akan mengalahkan mereka karena Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk mengampuni dosa mereka, dan karena Allah telah membangkitkan Dia dari kematian. Dalam diri Yesus Kristus, Allah berkarya untuk membentuk umat yang baru bagi-Nya (1:3-25; 3:4-12). Sebagai umat Allah yang baru, jemaat dipilih untuk hidup kudus sebagai bangsa yang kudus (1:13-2:17; 3:1-7; 4:1-11; 5:1-11). Umat Allah yang baru harus menaati hukum dan pemerintah Romawi (2:13-17). Namun, mereka harus menghormati Kristus dan menaati Allah lebih dari segala sesuatu (3:15-17), bahkan jika hal itu mengakibatkan mereka mengalami penderitaan dan kehilangan sahabat-sahabat (4:1-4).

boy in black t-shirt hugging girl in red and white polka dot dress

Dalam Alkitab Edisi Studi (LAI) menjelaskan bahwa surat ini agaknya ditulis ketika pemerintah Romawi mulai menganiaya jemaat Kristen (Gambaran jemaat Kristen dalam surat ini mirip dengan gambaran dalam surat 1 Yohanes. Surat 1 Petrus juga menyerupai surat Ibrani yang menggambarkan sikap para lawan. Karena kebencian dan ketakutan terhadap jemaat, mereka menganiaya jemaat Kristen dan berusaha menyingkirkan orang Kristen dari masyarakat). Sebelum pemerintahan Kaisar Domitianus (tahun 81-96), kekaisaran Romawi tidak menganiaya orang Kristen karena menganggap kekristenan sebagai bagian dari agama Yahudi yang dilindungi oleh pemerintah (penganiayaan orang Kristen oleh kaisar Nero, sekitar tahun 64, adalah satu kekecualian). Pada masa kaisar Domitianus, agama Kristen sudah terpisah sama sekali dari agama Yahudi. Pemerintah Romawi mulai menganiaya orang-orang Kristen yang menolak menyembah kaisar yang menganggap dirinya sebagai dewa [tuhan, karena ia merasa memiliki kuasa tertentu].

Dijelaskan pula, bahwa meski umat Allah sedang menghadapi penganiayaan, Allah yang memiliki mereka, akan melindungi mereka sampai pada hari penghakiman ketika Yesus Kristus datang kembali (1:7). Jemaat akan mengalami keselamatan sesuai dengan rencana Allah (1:5). Rasul Petrus menasihati jemaat Kristen tentang bagaimana sikap hidup mereka dalam memperlakukan sesamanya, juga bagaimana bersikap terhadap masyarakat di sekitar mereka yang sering tidak menerima cara hidup mereka yang baru. Tampaknya, perhelatan cara hidup duniawi dan cara hidup rohani terus bergejolak. Jemaat Kristus harus benar-benar hidup dalam kekudusan dan kasih persaudaraan. Artinya, cara hidup yang baik, meski berhadapan dengan cara hidup yang tidak baik, akan menjadi pembeda sekaligus teladan bagi orang lain. Dalam tindakan-tindakan yang baik dan kudus, terkandung kehidupan dan kedamaian. Itulah sebabnya kasih Kristus mendorong semua orang percaya untuk hidup dalam “kasih persaudaraan” yang dilandasi pada ketaatan dan kebenaran [ἀληθεία – alētheia] Kristus.

Mengamalkan kasih persaudaraan didahului oleh prinsip “kesucian”, sehingga ketika orang percaya “menyucikan dirinya oleh ketaatan kepada kebenaran [atau ketaatan yang benar]”, maka mereka secara sadar, penuh iman dan kasih dalam menerapkan “persaudaraan” di tempat mereka yang memiliki ragam budaya dan kepercayaan. Kata menyucikan (ἡγνικότες) – verb participle perfect active nominative masculine plural kata dari ἁγνίζω [agnizō] secara literal diartikan sebagai of ceremonial washings and purifications (upacara pencucian dan pemurnian) dan secara figuratif diartikan sebagai of moral cleansing, purify (pembersihan moral, memurnikan). Menyucikan diri tidak berhenti pada tindakan satu kali saja, melainkan pada tindakan “aktif” di sepanjang hidup orang percaya. Tantangan dan hambatan, bahkan godaan selalu ada. Itu sebabnya, tindakan menyucikan tidak pernah dilakukan satu kali, tetapi secara kontinu. Tampak bahwa tanggung jawab iman orang percaya adalah menyucikan dirinya – atau dengan perkataan lain: memisahkan dirinya dari kehidupan duniawi yang tidak berkenan kepada Allah, dan hidup dalam kasih Kristus hari demi hari.

two man laughing at each other

Kata ketaatan (ὑπακοῇ: obedience, submission, compliance [kepatuhan]) pada 1:22 adalah noun dative feminine singular common dari kata ὑπακοή (hupakoē). Datif adalah objek tidak langsung dari kata kerja dan kata kerjanya di sini adalah “menyucikan”. Artinya menyucikan tidak dapat dilepaskan dari konteks ketaatan kepada kebenaran atau ketaatan yang [secara] benar kepada Sang Kebenaran. Mereka yang menyucikan dirinya pasti memiliki landasan ketaatan kepada kebenaran Kristus.

Kata kebenaran (ἀληθείας dari kata ἀλήθεια) diartikan: of what has certainty and validity truth; of the real state of affairs, especially as divinely disclosed truth; of the concept of the gospel message as being absolute truth; of true-to-fact statements truth, fact; of what is characterized by love of truth truthfulness, uprightness, fidelity (apa yang memiliki kepastian dan keabsahan kebenaran; keadaan sebenarnya, terutama sebagai kebenaran yang diungkapkan secara ilahi; konsep pesan Injil sebagai kebenaran mutlak; pernyataan benar-ke-fakta kebenaran, fakta; dari apa yang dicirikan oleh cinta akan kebenaran, kejujuran, kesetiaan) “Kebenaran” yang dimaksudkan adalah genitif – kepemilikan – dan berarti kebenaran itu adalah milik Allah (kebenaran di sini berbicara tentang karya penebusan Kristus melalui kematian-Nya dan karya kebangkitan-Nya (1Ptr. 1:18-21). Kebenaran mendasar ini menggiring orang percaya kepada konteks kehidupan plural (majemuk), sebagaimana Kristus telah berkurban bagi mereka karena kasih-Nya yang luar biasa itu, demikianlah orang percaya (jemaat Kristen) harus mengamalkan kasih yang tulus kepada masyarakat di mana mereka tinggal. Cinta kasih dan pengurbanan Kristus menjadi patron (teladan, pola) bagi tindakan dan iman jemaat Kristen perdana.

Frasa tulus ikhlas dipahami sebagai tidak munafik (ἀνυπόκριτον dari kata ἀνυπόκριτος) yang diartikan without hypocrisy; hence genuine, sincere: tanpa kemunafikan; itu sebabnya tulus). Di sini, sikap persaudaraan yang dilandasi cinta kasih Kristus tidak akan pernah bernatur “hipokrit” atau munafik, sebaliknya persaudaraan itu adalah murni, tulus ikhlas dan tidak mengandung hipokrisi. Jemaat Kristen tidak boleh munafik dan mencari keuntungan dalam relasi persaudaraan. Jangan karena ingin mengamalkan kasih persaudaraan supaya dapat keuntungan, maka kasih tersebut bercampur dengan kemunafikan (hipokrisi). Itu bukan ajaran Kristus. Jemaat Kristen yang telah menyucikan diri karena ketaatan kepada kebenaran Allah, tidak akan ada ruang bagi kemunafikan dalam mengamalkan kasih persaudaraan. Jika cinta kasih Kristus menggerakkan persaudaraan, maka tak ada alasan bagi jemaat Kristen untuk mencari keuntungan dalam relasi sosial tersebut, sehingga menciptakan hipokrisi.

Kata mengasihi (ἀγαπήσατε) adalah kata kerja imperatif aoris aktif, dari kata ἀγαπάω yang diartikan sebagai love, especially of love as based on evaluation and choice, a matter of will and action; be loyal to, regard highly; from God (kasih, terutama kasih yang berdasarkan penilaian dan pilihan, soal kemauan dan tindakan; setia kepada, sangat menghormati; dari Allah). Bentuk “imperatif aoris aktif” pertanda bahwa tindakan mengasihi yang sudah dilakukan (terjadi secara aktif) sebelumnya menjadi dasar yang sama untuk terus dilakukan). Aorist adalah salah satu aspek yang menunjukan sebuah tindakan yang terjadi pada masa lampau, sehingga kata Ἀγαπήσατε dapat diterjemahkan: “hendaklah kamu mengasihi” sebagaimana dulunya kamu telah mengasihi Yesus Kristus. Mengasihi sesama tak bisa dilakukan jika jemaat Kristen tidak mengasihi Yesus dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, mengasihi Yesus adalah dasar dari semua tindakan mengasihi sesama. Itu adalah “ketetapan suatu tindakan” yang diberikan oleh Tuhan, tak bisa dilanggar, tak bisa ditawar-tawar.

Frasa kasih persaudaraan (φιλαδελφίαν dari kata φιλαδελφία) diterjemahkan: brotherly love, love for brother or sister; as a religious technical term in the New Testament, restricted to love for fellow members of a religious group affection for a fellow believer (kasih persaudaraan, kasih untuk saudara laki-laki atau perempuan; sebagai istilah teknis agama dalam Perjanjian Baru, terbatas pada kasih untuk sesama anggota kelompok agama kasih sayang untuk sesama orang percaya). Tindakan mengasihi sesama saudara adalah sebuah pola hidup mereka yang percaya. Objek untuk dikasihi adalah “sesama jemaat Kristus”. Itulah makna kasih persaudaraan.

Dalam konteks ini kasih persaudaraan dipahami sebagai “tulus ikhlas” (Yun. καθαρᾶς καρδίας) atau sesuai dengan hati yang bersih [clean]; ketika menggunakan preposisi “ek”, maka diterjemahkan dengan: “dari hati yang bersih”. Puncak dari itu semua: menyucikan diri, taat kepada kebenaran, mengamalkan (melakukan) kasih persaudaraan dari hati yang tulus [bersih] adalah “mengasihi dengan segenap hati” sebab Kristus telah memerintah dalam hati mereka.

Penegasan kedua selain dari “karena kamu telah menyucikan diri” (ay. 22), Rasul Petrus menulis: “Karena kamu telah dilahirkan kembali” (ay. 23) sebagai landasan kehidupan yang berkenan kepada Allah. Jemaat Kristen dinyatakan telah dilahirkan kembali dari yang tidak fana, oleh firman Allah (selaras dengan ay. 22, “ketaatan kepada kebenaran Allah/Kristus), firman yang hidup dan kekal. Ini sangat luar biasa. Orang pilihan Allah tidak hanya dilahirkan kembali tetapi dijamin bahwa proses kelahiran (diperanakkan) kembali benih yang hidup dan kekal, yaitu firman Allah. Hal ini ditegaskan kembali pada ay. 25 bahwa firman Tuhan itu tetap untuk selama-lamanya. Itulah kabar (firman) yang diberitakan kepada jemaat Kristen (ay. 25), dan harus menjadi landasan dari totalitas kehidupan, iman, dan doktrinal mereka dalam mengikut Yesus Kristus.

Dibanding hidup seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput itu menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan itu kekal, tidak gugur, tetapi terus memberikan pengaruh yang luar biasa. Jika kasih persaudaraan dilandasi oleh firman Tuhan, itu berarti kita telah sampai kepada fase tertinggi dari sikap iman kita, di mana melalui firman Tuhan pula, sikap hidup dan sikap doktrinal dapat menjadi sempurna. Kemudian, kita menyatakan kasih persaudaraan dan secara sungguh-sungguh saling mengasihi dengan sepenuh hati, tidak munafik.

Tampak bahwa totalitas kehidupan yang berkenan kepada Allah adalah sebuah konteks perubahan total pada diri orang percaya; mereka hidup suci, taat kepada kebenaran Kristus, taat secara benar di hadapan-Nya, memanifestasikan kasih persaudaraan yang dilandasi dengan hati yang bersih, sungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati, dan dilahirkan kembali oleh Tuhan melalui firman-Nya yang hidup dan kekal. Pada akhirnya, cinta kasih Kristus secara radikal mengubah kehidupan orang percaya untuk hidup bagi Kristus dan dapat secara bertanggung jawab dalam melakukan hal-hal disebutkan di atas.

Penutup

Cinta kasih Kristus secara mutlak menggerakan semua orang percaya untuk merealisasikan kasih persaudaraan baik di lingkungan jemaat (internal) maupun di lingkungan masyarakat (eksternal). Sebagai pendatang, jemaat Kristen dituntut untuk hidup suci, taat kepada kebenaran Kristus, mengamalkan kasih persaudaraan dari hati yang bersih, dan mengasihi sepenuh hati.

Jika Kristus telah mengasihi kita, maka tak ada alasan apa pun untuk menunda sikap mengasihi; tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk menyingkirkan sikap mengasihi. Sebaliknya, sebagai orang percaya, kita dituntut untuk hidup bagi Kristus dan menunjukkan cinta kasih kepada sesama.

Natal yang kita rayakan tahun ini, sejatinya tetap menerapkan prinsip saling mengasihi (aorist aktif) dan terus melakukan hal yang sama dalam segala situasi. Kita sebagai orang percaya telah menyucikan diri dan harus secara terus-menerus hidup dalam kesucian. Kita yang hidup dalam kesucian disebabkan karena ketaatan kita kepada kebenaran Allah. Sebagai buahnya, kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan dengan hati yang bersih (tulus ikhlas), dan secara konsisten memanifestasikan sikap hidup saling mengasihi dengan segenap hati, sikap iman, dan sikap doktrinal, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Salam Bae……

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/brothers-love

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai