NATAL YESUS KRISTUS: Kepedulian Tuhan dan Sukacita Bagi Manusia

Tulisan ini terinspirasi dari seorang rekan yang ketika itu (dalam ibadah Paramount Fellowship tanggal 11 Desember 2018 di Paramount Plaza) sedang menyanyikan lagu yang berjudul “Angels We Have Heard on High”. Pada bagian refreinnya: “Gloria, in excelsis Deo”, antara ekpresi pemimpin pujian dengan lantunan klausa “Gloria, in excelsis Deo” yang dinyanyikan sangatlah membangkitkan “sukacita”. Saya kemudian berpikir: “Mengapa Allah datang ke dunia?” Saya pun menjawab: “Karena Allah ingin berbagi sukacita dengan manusia dan manusia diberikan hak untuk merasakan dan menikmati sukacita yang Ia berikan.”

Klausa “Gloria, in excelsis Deo” memberikan kesadaran kepada saya bahwa: “Allah itu sungguh luar biasa; Ia memberikan sukacita kepada manusia untuk bernyanyi memuji Dia karena telah memberikan Yesus Kristus kepada dunia”; Tuhan itu sungguh luar biasa karena Ia telah berbagi sukacita “Surgawi” kepada manusia agar manusia dapat mengekspresikan sukacita hatinya untuk bersyukur atas kebaikan, kasih, anugerah, dan kemurahan Tuhan yang telah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia (bdk. Yoh. 1:14).

Apa yang menarik dari klausa “Gloria, in excelsis Deo”? Demikian: bahwa Tuhan Allah yang adalah Sumber Sukacita itu, telah berbagi sukacita surgawi-Nya kepada manusia. Kepedulian Allah kepada manusia tampak dalam peristiwa Natal Yesus Kristus. Rasanya lengkap sudah sukacita umat Kristen. Selain dari pada sukacita memuji, menyembah Allah, Sang Khalik, kita juga diberikan sukacita surgawi untuk mengekspresikan kemerdekaan di dalam Kristus Yesus. Kita diberikan porsi yang sesuai dengan natur kita. Manusia tidak dapat mengambil sucakita Surgawi, tetapi Allah memberikannya berdasarkan anugerah semata dan manusia dapat merasakan bagaimana sesungguhnya bersukacita dalam merespons kasih-Nya yang luar biasa itu.

Sukacita Tuhan dibagikan kepada umat-Nya. Tuhan tidak menyimpan sukacita-Nya sendiri, melainkan membagi sukacita-Nya kepada umat manusia melalui Natal Yesus Kristus. Itulah wujud dari kepedulian (kasih) Tuhan. Kepedulian Tuhan bukanlah tanpa alasan. Ia melawat manusia dengan cara-Nya sendiri. Dan implikasi dari lawatan Tuhan bagi manusia adalah sukacita merayakan Penebus dan Juruselamat datang ke dunia. Penebus itu sesungguhnya adalah Tuhan sendiri tetapi Ia membuat cara yang berbeda seperti yang terjadi di dalam Perjanjian Lama. Tuhan berhak dan berdaulat penuh atas manusia dan atas cara bagaimana Ia menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia berdosa. Dengan demikian, Natal Yesus Kristus adalah finalitas Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa yang membelenggu mereka.

Berikut ini penjelasan lima pokok penting yang terkait dengan Natal Yesus Kristus. Pokok-pokok tersebut merupakan rangkaian karya Tuhan bagi manusia dalam bingkai “Historical of Redemption.”

NATAL YESUS KRISTUS: ALLAH MENEBUS KITA

Dosa adalah musuh terbesar manusia dan tak ada satupun manusia yang dapat mengalahkannya, entah raja, imam, nabi, rasul, gembala gereja, majelis, presiden, penjual sayur, tukang ojek, direktur, pengusaha, pastor, pendeta, bupati, walikota, camat, dan lain sebagainya. Mengapa dosa begitu kuat dan manusia tak dapat melawannya atau bahkan mengalahkannya? Ada beberapa jawaban (sekaligus problem manusia) yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan:

Pertama, dosa dilakukan Adam dan Hawa pertama kali di dunia. Pasca kejatuhan manusia pertama dalam dosa, pengaruh dosa merambat hingga sekarang ini. Dosa adalah sebuah pelanggaran serius kepada perintah dan peraturan Allah. Sekuat apa pun manusia berjuang, ia tak akan mampu membereskan masalah dosa. Ia hanya dapat berbuat dosa, bertobat, dan berbuat dosa lagi. Ia tak dapat menyelesaikannya; ia butuh sesuatu di luar dirinya agar dosa dapat dibereskan.

Kedua, dosa berkaitan dengan hati, pikiran, dan perbuatan. Tiga unsur manusiawi ini sangat kuat dalam memahami, memikirkan, dan melakukan dosa. Jika seseorang tidak melakukan dosa dalam perbuatan, maka ia dapat saja berdosa dalam melalui pikiran. Dosa yang tampak dan tak tampak tidak akan dapat diselesaikan oleh manusia. Ia membutuhkan sesuatu di luar dirinya agar dosa dapat dibereskan.

Ketiga, manusia telah dibelenggu oleh dosa. Dalam kondisi terbelenggu manusia memang hidup tapi tak bisa bebas menikmati kemurahan dan kebaikan Allah; ingin berespons tetapi tak dapat mencapainnya, jika bukan Allah yang memberikannya; belenggu dosa menjadikan manusia pasif, dan oleh sebab itu manusia butuh kekuatan dan kuasa dari luar dirinya untuk membebaskannya dari belenggu dosa itu.

Keempat, dosa adalah problem manusia yang paling besar. Dalam kondisi terbelenggu, manusia tak dapat menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan sesama secara murni. Manusia mutlak membutuhkan kasih Tuhan, kasih dari surga yang akan melepaskannya dari belenggu dosa, sehingga ia dapat dengan sukacita dan leluasa menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan sesama.

Kelima, dosa adalah masalah kehidupan di dunia dan kehidupan sesudah kematian. Manusia yang berdosa (atau terbelenggu dengan dosa) tak akan mampu menikmati kehidupan yang dikehendaki Tuhan; tak dapat menikmati kehidupan yang penuh bahagia dan kekudusan setelah kematian. Meski di satu sisi ada peristiwa diangkatnya beberapa orang, tetapi itu kasus khusus yang dilakukan Tuhan. Intinya adalah manusia yang berdosa, jika Tuhan tidak turun tangan maka ia bukanlah apa-apa, ia tak berdaya, dan ketika Tuhan turun tangan, ia menjadi baru karena diperbarui, dilayakkan, dan dikuduskan oleh Allah. Allah menjamin kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian karena Dialah Penguasa satu-satunya yang melimpahkan rahmat dan kemurahan bagi manusia agar layak di hadapan-Nya.

Yesus Kristus yang datang ke dunia telah membereskan kelima problem manusia di atas. Yesus Kristus menebus kita. Allah menetapkan cara untuk menebus dan melepaskan kita dari belenggu dosa. Ketika Allah menebus, kita dibebaskan dari belenggu dosa; kita dapat merespons kasih-Nya dengan tindakan yang benar. Tuhan Allah mengambil alih kehidupan kita (yang dulunya terbelenggu dosa) dan mengarahkan kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya.

Natal Yesus Kristus memberi harapan bagi manusia untuk menatap masa depan. Manusia dijaga dan ditopang Allah untuk tetap berada pada jalur-Nya. Kita telah ditebus, dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuh kita dan melakukan kehendak-Nya. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan dan karena Allah telah menebus kita?

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENGAMPUNI KITA

Ketika manusia ditebus, Allah mengampuninya. Menebus manusia berarti Ia mengambil alih dan memberikan kondisi baru pada manusia. Allah yang memanggil dan menjadikan kita sebagai milik-Nya; Ia pun menjadikan kita “manusia baru”, manusia yang telah menanggalkan kehidupan lama penuh dosa dan mengenakan manusia baru yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ia mengampuni berarti Ia pula menguduskan kita untuk hidup bagi-Nya.

Rasul Paulus menyatakan, bahwa “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:19-20). Ketika kita telah ditebus dan diampuni Tuhan, maka yang kita lakukan bukanlah kemauan kita (yang dapat berpotensi melahirkan dosa), melainkan karena dorongan Allah untuk melakukan kehendak-Nya yang sempurna; Ia mendidik kita untuk menjadi pribadi yang benar dan jujur, layak dan kudus di hadapan-Nya. Makna pengampunan Allah bagi kita adalah kita melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Natal Yesus Kristus adalah realisasi dari kehendak Allah untuk tujuan penebusan, pengampunan, pendamaian, pembenaran, dan penyelamatan. Tak ada manusia yang cukup syarat untuk menyatakan dirinya bahwa ia mampu menyelesaikan dosa-dosanya sendiri. Sekuat dan sehebat apa pun manusia, ia tak akan pernah bisa menyelesaikan dosa-dosanya di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan menebus kita, maka implikasinya adalah Ia menjadikan kita sebagai milik-Nya sendiri. Dengan demikian, bukan lagi kita yang berkuasa atas diri kita, melainkan Kristus. Penebusan bertujuan untuk mengampuni pribadi kita yang terbelenggu dosa. Ia melepaskan kita dan mengampuni kita. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan dan karena Tuhan telah mengampuni kita?

man standing in the middle of field

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENYELAMATKAN KITA

Penebusan dan pengampunan Tuhan adalah bertujuan untuk menyelamatkan kita. Keselamatan dilakukan Tuhan dengan cara menebus dan mengampuni umat-Nya. Rencana keselamatan Tuhan telah ditetapkan sejak kekekalan sebagaimana yang ditegaskan Rasul Paulus dalam dua suratnya yaitu Efesus 1:4-10 dan Roma 8:28-30 berikut ini:

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.”

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

person holding Holy Bible

Keselamatan hanya ada dan diberikan oleh Tuhan. Natal Yesus Kristus adalah ketetapan Tuhan dan cara Dia menyelamatkan manusia. Natal dan Salib adalah dua peristiwa penting dalam sejarah iman Kristen (selain dari kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga) yang terkait erat dengan “Historical Redemption”.

Dalam Perjanjian Lama keselamatan yang Tuhan kehendaki berangkat dari “Kasih Karunia-Nya” yang terdiri atas dua hal yaitu: pertama, murni karena Tuhan secara langsung memberikan kasih karunia-Nya; dan kedua, Tuhan menghadirkan media penebusan dan pengampunan (darah kurban yang tak bercacat cela) agar umat-Nya menerima keselamatan. Perjanjian Baru menggenapi dua hal tersebut: keselamatan itu murni karena karena kasih karunia Tuhan (Efesus 1:8) dan keselamatan ditempuh melalui salib Yesus Kristus: DARAH dan KEMATIAN. Darah adalah lambang kehidupan dan kematian adalah lambang kebangkitan. Untuk itulah Yesus menegaskan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yohanes 11:25-26).

Lalu mengapa Tuhan harus menunjukkan cara penyelamatan melalui DARAH dan KEMATIAN? Kita perlu memperhatikan bahwa cara ini adalah ketetapan dan kedaulatan Tuhan; Ialah yang berhak menetapkan cara menebus dan menyelamatkan manusia. Konsep keselamatan menurut iman Kristen benar-benar berangkat dari titik awal manusia berdosa dan inisiatif Tuhan untuk menyelamatkan manusia yang telah berdosa kepada-Nya.

Sekarang ada agama-agama yang berjuang untuk mengumpulkan pengikutnya ketimbang memikirkan bagaimana hidup bagi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya sebagai realisasi dari hidup yang ditebus, diampuni, dan diselamatkan oleh Tuhan. Kekristenan tidak berpusat pada berapa banyak orang yang mengaku Kristen, tetapi berpusat pada pemahaman bahwa “MANUSIA TELAH BERDOSA KEPADA TUHAN DAN TUHAN TELAH MENYATAKAN CARA UNTUK MENYELAMATKANNYA DARI DOSA-DOSA MEREKA YAITU MELALUI ‘DARAH’ DAN ‘KEMATIAN [SALIB]’”.

Dalam pandangan agama-agama dan kepercayaan lain, salib atau kematian Yesus merupakan suatu kebodohan, batu sandungan dan tidak masuk akal. Tetapi cara ini telah membuktikan bahwa Tuhan itu hebat dan luar biasa. Ia menggunakan salib yang dianggap bodoh untuk membungkamkan hikmat manusia; cara yang dianggap tidak masuk akal dipakai Tuhan untuk menyatakan bahwa manusia, dengan akal budinya, dengan rasionya tidak dapat membebaskan diri dari dosa yang membelenggunya; cara yang dianggap sebagai batu sandungan justru sekarang menjadi “BATU PENJURU”.

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENGUDUSKAN KITA

Tuhan tidak hanya menebus dan mengampuni kita untuk menerima keselamatan yang Ia berikan, tetapi juga menguduskan kita. Tuhan itu kudus dan setiap orang percaya harus hidup kudus di hadapan-Nya. Tuhan membenci dosa dan Ia mengasihi orang berdosa. Itu sebabnya, ketika Ia menebus dan mengampuni kita (kita telah menjadi miliki-Nya), maka kita harus melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, dan bukan sebaliknya.

Rasul Petrus menegaskan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:115-16). Kudus berarti “terpisah” dari dunia [dosa]. Ketika kita menjadi milik Kristus, maka segala sesuatu yang kita lakukan dan pikiran harus selaras dengan firman-Nya (kehendak-Nya). Hidup kudus adalah kehendak Tuhan dan hanya mereka yang kudus yang diperkenankan Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Dalam Ibrani 12:14 dituliskan: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.”

Kekudusan adalah milik Tuhan; Ia telah menetapkan supaya kita hidup kudus dan berkenan kepada-Nya. Kekudusan adalah bagaimana cara kita hidup di hadapan-Nya. Kelahiran Yesus sebagai Anak Allah yang Kudus mengimplikasikan bahwa Ia akan menguduskan umat pilihan-Nya yang ditebus, diampuni, didamaikan, dibenarkan, dan diselamatkan. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan Tuhan dan karena Tuhan telah menguduskan kita?

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MEMBENARKAN KITA

Pada akhirnya, Tuhan membenarkan kita. Ia tidak hanya menebus, mengampuni, menyelamatkan dan menguduskan kita, tetapi Ia membenarkan atau menyatakan benar di hadapan-Nya. Iblis selalu menuduh kita sebagai manusia berdosa dan pendosa, tetapi Tuhan menyatakan bahwa “kita sudah dibenarkan dalam Kristus Yesus”. 

Natal Yesus Kristus adalah tanda bahwa selain menebus, mengampuni, menyelamatkan, dan menguduskan kita, Ia juga yang membenarkan kita. Natal Yesus Kristus tidak hanya dipahami sebatas Natal saja, melainkan dipahami secara komprehensif dari perspektif Sejarah Penebusan.

Yesus Kristus telah membenarkan kita. Sejak peristiwa Natal-Nya, Yesus Kristus melayani tiada henti. Ia mempublikasikan kasih dan kuasa-Nya sebagai Anak Allah Yang Kudus—Sang Logos Ilahi yang menjadi manusia dan tinggal di antara manusia. Kasih dan kuasa-Nya begitu mengagumkan. Meski pada akhirnya Yesus disalibkan, orang-orang menganggapnya sebagai sebuah kebodohan dan batu sandungan, namun peristiwa kematian Yesus tidak berakhir di situ. Ia bangkit dari kematian. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Yesus mati untuk penebusan dan pengampunan: darah dan kematian-Nya menunjukkan bahwa ada kehidupan dalam darah yang dicurahkan-Nya dan ada kebangkitan dari kematian-Nya. Itu sangat luar biasa.

Rasul Petrus menegaskan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Penebusan juga menghasilkan pembenaran. Yang dapat membenarkan manusia hanyalah Tuhan saja. Manusia tidak dapat membenarkan dirinya sendiri. Tuhan telah membuktikan bahwa mereka yang telah ditebus, diampuni, diselamatkan, dan dikuduskan, telah “dibenarkan”. Mengenai hal ini, Rasul Paulus menjelaskan mengenai pembenaran umat-Nya oleh Kristus Yesus:

Roma 3:24, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Roma 5:9, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”

Roma 8:30, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

1 Korintus 6:11, “… Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”

Galatia 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat….”

Titus 3:7, “supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.”

Kita dibenarkan dari berbagai kesalahan; kita dibenarkan dari segala sesuatu yang menyimpang; kita dibenarkan dari rasa benar pada diri sendiri. Sekarang kita menjadi milik Kristus. Kita diberikan sukacita dan kedamaian.

Natal adalah sukacita yang dibagikan Tuhan kepada kita. Sukacita itu meluap dari hati yang memahami bahwa Tuhan telah menyatakan kasih dan kuasa-Nya melalui Natal Yesus Kristus. Ia memberikan sukacita agar kita bernyanyi memuji Dia. Kita dapat mengekspresikan sukacita itu dalam bentuk ungkapan syukur.

Kepedulian Tuhan kepada manusia tampak dalam peristiwa Natal Yesus Kristus. Lengkap sudah sukacita umat Kristen. Kita telah dimerdekakan di dalam Kristus Yesus. Tuhan mengambil alih kehidupan kita dan mengarahkan kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya. Natal Yesus Kristus memberi harapan bagi manusia untuk menatap masa depan.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan mengampuni kita. Ketika manusia ditebus, Tuhan mengampuninya. Penebusan bertujuan untuk mengampuni dan melepaskan kita dari segala yang jahat.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan menyelamatkan kita. Penebusan dan pengampunan Tuhan bertujuan untuk menyelamatkan kita. Keselamatan hanya ada dan diberikan oleh Tuhan.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan menguduskan kita. Kita tahu bahwa Tuhan itu kudus dan setiap orang percaya harus hidup kudus di hadapan-Nya.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan membenarkan kita. Ia menyatakan benar kepada kita yang bersalah di hadapan-Nya.

Natal adalah kepedulian Tuhan Allah bagi manusia yang berdosa; Ia memberikan sukacita Surgawi kepada kita. Marilah kita bersukacita dan menyanyikan pujian bagi Yesus Kristus. “Gloria, in Excelcis Deo”.

Soli Deo Gloria

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/christmas-celebrate
  2. https://unsplash.com/collections/4663346/jesus
  3. https://unsplash.com/s/photos/jesus

SEMUA KARENA ANUGERAH-NYA: Refleksi Atas Efesus 2:8-10

PENDAHULUAN

Dalam pemahaman iman Kristen, apa yang dimiliki, apa yang dialami, dan apa yang dijalani oleh orang-orang percaya adalah murni karena anugerah dan kemurahan Tuhan. Boleh saja ada orang yang beranggapan bahwa semua yang dia miliki, alami, dan jalani adalah kekuatan dan kehebatannya, tetapi pemahaman seperti itu bukanlah berasal dari Alkitab.

Tuhan itu sungguh luar biasa. Ia yang dulunya transenden (jauh dari jangkauan manusia), kini Ia menyatakan diri-Nya sebagai pribadi yang imanen (berada di antara manusia; bdk. Yoh. 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia [ho logos sarks egeneto], “diam di antara kita”, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”).

Peristiwa Yesus—Sang Logos Allah—datang ke dunia adalah peristiwa bahwa Allah menyatakan diri secara imanen. Allah yang kita sembah itu, telah berbagi sukacita surgawi kepada manusia. Kita tidak hanya dituntut Allah untuk taat dan menyembah-Nya, melainkan menikmati sukacita yang diberikan Allah. Itu memang menjadi bagian kita untuk mensyukuri anugerah, kasih karunia, dan kemurahan-Nya.

Hampir semua orang berlomba-lomba mencari kesenangan hidup dengan berbagai cara. Mulai dari mengumpulkan harta, membangun rumah mewah, meningkatkan usaha, menjalin berbagai relasi dengan orang-orang tertentu, dan lain sebagainya. Akan tetapi, mereka yang percaya kepada Tuhan akan melakukan berbagai hal yang selaras dengan prinsip Alkitab dan melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan. Semua orang percaya akan bersukacita dengan keadaannya tanpa merasa iri hati kepada yang lain. Tuhan memberikan rezeki kepada setiap orang sesuai dengan kadarnya masing-masing. Itu adalah anugerah dan kemurahan yang sangat adil.

Kita tidak boleh memaksakan diri untuk menjadi seperti orang lain. Bersyukur atas apa yang Tuhan berikan dan anugerahkan adalah ciri khas orang-orang yang imannya dewasa dan tahu bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan sesuai dengan kadarnya masing-masing. Di momen Natal ini, Tuhan telah memberikan berkat kepada semua orang. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya. Kita tahu bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan.

selective focus photography of girl an woman hugging each other in front of christmas tree

ANUGERAH DAN KESELAMATAN

Dalam Efesus 2:8-10, Rasul Paulus mengaitkan kasih karunia sebagai anugerah keselamatan dari Allah. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (ay. 8-9). Iman menjadi sarana keselamatan. Iman itu adalah pemberian Tuhan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh memegahkan atau menyombongkan diri.

Anugerah Tuhan itu mendorong kita untuk bersyukur karena Tuhan itu baik. Ia baik karena Ia mengasihi kita sebagai manusia yang berdosa. Ia memberikan anugerah-Nya untuk dinikmati dengan penuh sukacita yang berlimbah. Mereka yang bersukacita karena anegerah Tuhan adalah mereka yang memahami bahwa Allah mengasihi mereka.

Manusia telah ditebus dari dosa-dosa mereka dan dituntut untuk hidup dalam kekudusan, melawan dosa, dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Mereka yang percaya kepada Tuhan harus menjaga dirinya dari berbagai jenis kejahatan; mereka harus berjuang melawan kedagingan dengan meminta kekuatan dari Tuhan; mereka harus menjaga hati dan pikiran, sikap dan perilaku agar sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Sebagaimana di ayat 10 dikatakan bahwa “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita yang diselamatkan oleh Yesus Kristus adalah untuk melakukan perbuatan baik. Artinya, kita berbuat baik bukan supaya diselamatkan ‘melainkan’ kita berbuat baik karena sudah diselamatkan. Ini dinamakan dengan “kesadaran akan anugerah Tuhan” dan harus direalisasikan dalam kehidupan nyata secara sadar, kredibel, dan jujur.

body of water

Keselamatan adalah anugerah yang terindah. Manusia yang berjuang melawan dosa tak mungkin dapat mengalahkan dosanya sendiri, kecuali Tuhan turut campur tangan. Hanya Yesus yang dapat dan telah melepaskan kita dari belenggu dosa; Ia memerdekakan kita dan membebaskan dari belenggu dosa itu. Kita yang telah dilepaskan dari belenggu dosa dan dimerdekakan-Nya harus sungguh-sungguh hidup dalam kasih dan kekudusan (menjauhkan diri dari berbagai jenis dosa dan kenajisan, kekotoran dan perbuatan-perbuatan jahat).

Mereka yang diselamatkan adalah orang yang dibenarkan. Orang benar akan diberkati Tuhan. Pemazmur menyatakan bahwa “Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai” (Mazmur 5:13). Tidak hanya diberkati, tetapi juga dijaga (dipagari, dilindungi) dengan anugerah. Ini sangat luar biasa.

Firman yang kekal itu telah menjadi Juruselamat dalam momen inkarnasi. Hal itu bukan berarti bahwa Firman Allah dulunya belum menjadi Juruselamat, tetapi di sini penekanannya adalah Allah secara konsisten menunjukkan kualitas kuasa dan anugerah-Nya dalam PL hingga ke zaman PB, dan di PB Allah melanjutkan konteks tersebut dengan menggenapi janji-Nya bahwa ada Mesias Ilahi yang akan memerintah (bdk. Mikha 5:1; lih. Yes. 9:5-6) dan menjadi Juruselamat. Sebagaimana Allah adalah Juruselamat, maka Firman-Nya juga adalah Juruselamat. Allah menyatakan keselamatan melalui Firman-Nya.

Allah dan Firman-Nya adalah kekal. Firman menjadi manusia adalah tindakan final (terakhir) Allah kepada manusia. Manusia telah berdosa kepada Allah dan Allah menentukan bagaimana caranya menebus mereka. Penebusan Allah melalui kematian Yesus Kristus disalib menyatakan dua hal yaitu: pertama, darah yang ditumpahkan saat penyaliban dan kematian-Nya, merupakan simbol dari kehidupan; dan kedua, kematian Yesus disalib menyatakan bahwa semua orang percaya yang mati bagi Dia akan dibangkitkan sebagaimana Ia bangkit dari kematian. Dua hal ini adalah kunci memahami mengapa Yesus datang ke dunia, mati untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

3 wooden cross on top of the mountain

Yesus pernah mengatakan, bahwa “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Ini adalah sebuah pernyataan yang menegaskan karya-Nya ketika Ia datang ke dalam dunia. Rasul Paulus menyatakan dalam Roma 5:17 bahwa “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan ‘kasih karunia’ dan ‘anugerah kebenaran’, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.”

Anugerah Allah itu tidak terbuang percuma tetapi terealisasi secara penuh dalam sejarah manusia. Anugerah itulah yang memerdekakan dan menyadarkan kita bahwa kita telah ditebus—yaitu kita yang dulunya adalah “hamba” atau “budak” dosa, menjadi “anak-anak Allah yang kudus” yang secara konsisten dan sadar melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran (perbuatan-perbuatan terang).

Anugerah Allah menjadikan kita dewasa dalam iman; tidak membalas kejahatan dengan kejahatan; tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan dan caci maki dengan doa yang tulus. Anugerah Allah sungguh mengubah hidup kita. Kita yang merasakan sukacita itu adalah karena anugerah Allah. Itu sebabnya, dengan iman dan keyakinan kita dapat berkata: “SEMUA KARENA ANUGERAH-NYA.” Apa yang kita dapatkan, semuanya adalah anugerah. Janganlah kita menyombongkan diri sebab apa yang kita miliki (yaitu benda-benda) tidak dapat kita bahwa ketika kita mati. Kita hanya membawa perbuatan-perbuatan kita untuk menerima upah dari Tuhan.

PENUTUP

Berbuat baik setiap hari tentu ada upahnya. Tuhan melihat segala yang kita lakukan. Keyakinan ini akan mendorong kita semua untuk semakin giat dalam melayani dalam pekerjaan Tuhan; pula giat dalam berbuat baik kepada sesama kita tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan. Kalau Tuhan Yesus mengasihi kita, maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi orang lain. Kalau Tuhan Yesus sudah menyatakan anugerah keselamatan-Nya kepada kita, maka tak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri.

Jika kita menyadari bahwa semua yang kita miliki di dunia ini adalah anugerah-Nya, marilah kita menikmatinya dengan rasa sukacita dan syukur. Dan juga jika segala sesuatu yang kita dapatkan di dunia ini berdasarkan cara-cara yang layak dan selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab, maka Tuhan akan memberkati kita.

person holding white printer paper

Semua adalah anugerah. Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk menyapa dan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, adalah anugerah terindah dan terbesar sepanjang sejarah yang tak mungkin terulang kembali. Kita dituntut untuk bersukacita dan bersyukur kepada karena Ia telah berbuat baik kepada kita. Apa yang telah Tuhan buat bagi kita sungguh merupakan karya yang luar biasa hebatnya.

Yesus telah datang ke dunia dan memberikan kehidupan kekal bagi orang-orang yang dikenan-Nya. Yesus adalah kebangkitan dan kehidupan. Jangan ragu menerima Yesus. Tantangan dunia memang seringkali menghambat kita datang kepada Yesus, tetapi ketika kita berkomitmen untuk percaya, maka Tuhan akan memampukan kita untuk percaya kepada-Nya dan menerima segala berkat surgawi yang telah disediakan. Bukankah itu juga adalah anugerah Tuhan yang luar biasa?

Bersyukurlah kepada Tuhan karena Ia baik.

Soli Deo Gloria.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/jesus
  2. https://unsplash.com/collections/4663346/jesus
  3. https://unsplash.com/s/photos/christmas

YESUS: HARAPAN KEKRISTENAN

text

Kristen adalah agama yang sejak awal kelahirannya ditandai dengan banyak hal. Perjuangan para rasul dalam mengabarkan Injil Kristus mendapat perlawanan dari sejumlah pihak. Dan pada akhirnya mereka dibenci, lalu dihindari, dihalangi, dan bahkan hendak dimusnahkan. Alasan membenci kekristenan adalah karena dalam pemahaman para pembencinya, Kristen menyembah “manusia”. Ya, kelihatannya begitu, tapi tidak sesederhana itu. Yang perlu diperhatikan di sini adalah: peristiwa ‘LOGOS’ menjadi daging [manusia], menderita, mati disalibkan, bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga, dan naik ke surga, merupakan fakta tuunggal, yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Yesus itu tidak sesederhana yang dipikirkan. Ada sejumlah alasan mengapa Kristen menyembah Yesus, Logos yang Kekal yang menjadi manusia.

Lalu mengapa para pembenci Kekristenan semakin memuncak? Alasannya masih tetap sama. Begini: Kristen adalah agama yang melihat pada KASIH dan PENGAMPUNAN Yesus Kristus yang berkurban bagi umat-Nya. Di dalam kasih-Nya, manusia menemukan kedamaian di tengah ancaman, ketenangan di tengah keributan riuh kebencian, baik terhadap Yesus, maupun terhadap pengikut-Nya.

Di dalam pengampunan-Nya, manusia menemukan bahwa pengampunan adalah syarat perdamaian dan alat untuk meredam konflik berkepanjangan. Tetapi mengapa konflik antar agama masih terus terjadi? Hal itu bisa disebabkan karena dua hal: pertama, karena pembenci Kristen tidak memiliki dan memahami konsep pengampunan Kristen—mereka memiliki sistem kebencian yang permanen, mendarah daging, dan ingin agar Kekristenan musnah dari muka bumi ini; dan kedua, mereka yang mengaku Kristen belum sepenuhnya memahami tentang pengampunan yang sejati.

Mengapa bisa demikian? Memang tidak ada jaminan permanen bahwa orang Kristen yang memahami tentang pengampunan dapat dipertahankan secara konsisten hingga akhir hayatnya. Hanya mereka yang sungguh-sungguh telah diubahkan oleh Yesus Kristus yang dapat menerapkan PENGAMPUNAN kepada siapa saja termasuk kepada mereka yang telah melukai, membenci, mencaci, bahkan membunuh orang-orang yang mereka kasihi. Tak ada hal apapun yang dapat menghalangi kuatnya kasih dan pengampunan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen; mereka telah mengikuti teladan Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah harapan kekristenan yang dengannya orang-orang percaya menaruh pengharapan akan kehidupan yang kekal sebagaimana yang dijanjikan-Nya.

Yohanes 3:36, Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.

Yohanes 5:24, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

Yohanes 6:40, Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.

Yohanes 10:28, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Di dalam Yesus Kristus, orang Kristen melihat dunia sebagai objek kasih Allah, dan didorong untuk menyatakan kasih Allah kepada sesamanya, bahkan musuh sekalipun. Saya teringat akan perkataan Yesus, sebagaimana yang dicatat dalam Injil Matius dan Lukas berikut ini:

Matius 5:44, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Lukas 6:27, Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.

Lukas 6:35, Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Pengajaran Yesus Kristus di atas bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Yesus telah melakukannya. Kita melihat ucapan Yesus ketika Ia disalibkan: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dalam kondisi terhina, tersalib, direndahkan, dicaci maki, dikatakan penghujat Allah, Yesus masih menunjukkan kasih dan pengampunan yang luar biasa. Itulah sebabnya, mengapa orang Kristen yang sejati bisa mengampuni musuh-musuhnya, bahkan lebih dari itu, mendoakan musuh-musuhnya. Ini ajaran yang sungguh luar biasa. Jika saja Yesus mengajarkan sebaliknya, maka dunia ini akan kacau balau.

Jesus engrave text

Di dalam Yesus Kristus, dunia memiliki pengharapan bagi mereka yang berharap dan percaya kepada-Nya. Yesus adalah harapan Kekristenan di mana orang-orang percaya dapat merealisasikan kasih dan pengampunan Allah dalam totalitas kehidupan mereka. Meski pada beberapa catatan sejarah, orang-orang percaya dibunuh karena iman mereka kepada Kristus. Mereka tidak menukar iman hanya karena harta benda, uang, dan lain sebagainya. Sebut saja Perpetua, seorang perempuan muda yang mati dipancung. Ia tidak mau menukar imannya dengan apa pun. Ia tidak gentar sedikit pun ketika kematian sudah di depan mata. Ia memiliki pemahaman bahwa pengampunan Yesus atas dirinya telah mengubah hidupnya menjadi hidup yang bahagia dan merasakan kasih Tuhan. Harta benda tidaklah abadi, tetapi iman kepada Yesus Kristus, menjadikan Perpetua berubah dan begitu mengasihi Tuhan dan sesamanya.

Hingga saat ini, kebencian terhadap Kekristenan masih tetap ada dan bahkan telah diupayakan oleh sekelompok orang yang memiliki paham radikal—yang hanya menggunakan tafsir ala kadarnya dan tak memiliki cukup ilmu untuk melihat dunia yang luas. Bagi mereka, Kristen adalah “kafir” dan darahnya halal untuk ditumpahkan. Ini ajaran yang aneh dan mengundang munculnya potensi perang. Tetapi, apakah orang Kristen di seluruh dunia merasa terganggu dengan sebutan tersebut? Tentu ada, tetapi tidak banyak. Meskipun demikian, orang Kristen tetap menunjukkan teladan mereka dalam hal “mengasihi” dan “mengampuni”—sebuah ajaran yang suprematif dalam iman Kristen. Tak ada yang dapat mengalahkan kedua hal itu. Yesus telah membuktikannya.

Jika Yesus yang menerapkan kasih dan pengampunan dan tidak berhasil maka Kekristenan tidak ada di dunia ini. Sebaliknya, kasih dan pengampunan sangat efektif dan telah terbukti dalam sejarah. Hingga sekarang, tak ada yang dapat menghambat dan melawan gerakan kasih dan pengampunan yang dikerjakan oleh pengikut Yesus Kristus.

Yesus pernah berkata: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yohanes 12:25). Perkataan Yesus ini hendak menegaskan bahwa jika kematian karena Dia, maka ada jaminan, yaitu kehidupan kekal. Ini adalah harapan iman Kristen. Jika tidak demikian, untuk apa percaya kepada Yesus? Jaminan tersebut telah mengubah dunia dan Kristen telah menunjukkan identitas dirinya sebagai agama yang menunjukkan dan mewartakan kasih dan pengampunan.

blue and brown painted wall

Yesus adalah harapan Kekristenan. Tak ada yang dapat dibanggakan di dunia ini selain bagaimana sikap kita untuk menyatakan kasih dan pengampunan. Memang kelihatannya sulit dilakukan, tetapi mereka yang menancapkan imannya secara kokoh kepada Yesus Kristus, tidak akan mengalami kendala tentang hal ini, melainkan bersemangat dalam menampilkan perilaku hidup yang penuh kasih dan pengampunan.

Marilah kita mengubah dunia di sekitar kita dengan menunjukkan dan mewartakan kasih dan pengampunan. Sebagai pengikut Yesus Kristus, seyogianya kita mengasihi sesama termasuk musuh yang membenci kita, mengampuni orang yang bersalah kepada kita, dan mendoakan orang-orang yang kita kasihi dan yang membenci kita.

Yesus Kristus adalah harapan kita. Lihatlah kepada-Nya dan temukan hidup yang kekal: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:27-28).

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/jesus

NATAL DAN PANEGIRIK

Merry Christmas signage

Natal Yesus Kristus adalah peristiwa sejarah, yang dalam perkembangan pemahaman terhadapnya, telah mengubah dunia. Sosok “Yesus Kristus” yang lahir di Betlehem, di tempat yang biasa saja—palungan—menampakkan fakta bahwa bukan soal di tempat mana Ia dilahirkan, melainkan pada apa yang akan Dia lakukan dalam totalitas kehidupan-Nya di kemudian hari.

Natal telah menyita perhatian dunia. Mulai dari kegembiraan umat Kristen menyambutnya, sampai mereka yang bergeliat untuk melarang mengucapkan “Selamat Natal”. Kebencian dan kebodohan membuat manusia-manusia dengan otak sejengkal yang merasa bahwa perayaan Natal sebagai “ancaman gangguan kejiwaan” bagi mereka yang merasa “beragama” tetapi hati dan pikirannya berisi kebencian dan kebodohan semata.

Dualisme perayaan Natal selalu secara simultan berjalan. Di satu sisi Natal diungkapkan dengan “panegyric” [tulisan yang berisi puji-pujian] dan di sisi lain, Natal dianggap sebagai gangguan tertentu sehingga bagi mereka yang merasa terganggu, mengucapkan “Selamat Natal” dianggap haram. Atau yang lebih parahnya, menggunakan ornamen-ornamen Natal, pun dianggap tidak baik. Ya, sudahlah. Kami yang merayakan Natal, mengapa “mereka” yang menggeliat tanda turun bero?

Kita melihat bahwa Natal tak hanya sekadar perayaan atau seremoni belaka. Natal menghadirkan sebuah pemahaman dan kesadaran. Pemahaman yang menekankan bahwa Sang Logos Ilahi—dengan kuasa-Nya yang luar biasa itu—datang “menjadi” daging, masuk ke dalam kehidupan manusia di dunia, hidup, melayani, dan menghadirkan damai sejahtera sorgawi.

Yesus Kristus yang telah lahir melalui rahim Maria, meskipun ini merupakan tanda ajaib dari surga, masih meninggalkan tanda tanya bagi mereka yang “tidak menyukai iman Kristen” atas konteks inkarnasi. Namun, sepanjang sejarah, Natal menjadi kekuatan tersendiri, tidak hanya bagi umat percaya, tetapi juga bagi mereka yang terhilang, papa (miskin, sengsara), terabaikan, Natal menjadi kesukaan dan sukacita, di mana Tuhan melawat mereka melalui “tangan-tangan kasih” yang diutus-Nya.

Pada momen Natal, terbit berbagai panegirik—tulisan berisi puji-pujian kepada Yesus Kristus—di berbagai media di seluruh dunia. Panegirik adalah tanda kesukacitaan umat Allah akan kasih-Nya yang besar. Mereka mengungkapkan anugerah Allah atas manusia yang berdosa dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal—Logos yang kekal bersama-sama dengan Allah, Bapa yang kekal—datang memasuki daging manusia—Maria—dan menjadi manusia sejati. Betapa kuasa Allah dinyatakan bagi manusia dan fakta ini telah melahirkan begitu banyak panegirik. Selain mengungkapkannya melalui pengajaran, khotbah, puji-pujian, tari-tarian, momen Natal pun diungkapkan melalui panegirik.

Memang, secara mutlak, hanya Allah yang layak dipuji dan disembah. Orang Kristen memuji Yesus Kristus dan menyembah-Nya karena Ia menunjukkan perbuatan-perbuatan yang hanya dilakukan Allah. Kita tahu  bahwa peristiwa inkarnasi-Nya begitu ajaib: tanpa ada hubungan seksual. Logos menjadi manusia di dalam rahim Maria adalah karena “Roh Kudus turun atas dia dan kuasa Allah yang Mahatinggi yang menaunginya” (Lukas 1:35). Dari konteks ini, maka istilah “Anak Allah” diperteguh dan diperjelas.

Jadi, Yesus sebagai Anak Allah bukan karena Allah beranak, melainkan karena Logos yang menjadi manusia, dilahirkan melalui rahim perawan Maria, di mana intervensi penuh dari Allah Tritunggal itu sendiri memperlihatkan kepada kita kenyataan mengenai kuasa-Nya yang luar biasa. “Anak”, karena Sang Logos “menjadi daging dan dilahirkan”—sebab semua manusia yang dilahirkan disebut ‘anak’. “Allah”, karena memang Logos adalah Allah yang kekal (Yoh. 1:1-3).

Kita tahu bahwa Yesus memiliki dua natur. Sebagai manusia Ia dilahirkan, maka disebut “Anak”. Sebagai Allah, Ia menyatakan diri melalui peristiwa ajaib: Maria mengandung karena Roh Kudus dan kuasa Allah menaunginya, sebab tak mungkin seorang perempuan muda yang belum menikah, bisa mengandung. Di samping itu, terlihat jelas sejak awal bahwa proses pembuahan dalam rahim Maria bukanlah hasil dari hubungan biologis, melainkan murni intervensi kuasa Allah yang luar biasa itu.

Alkitab secara tegas menjelakan fakta ini: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Lukas 1:31-33).

Berita Natal itu kini masih tetap dan akan tetapi menjadi “trending topic” di seluruh dunia. Perayaannya, meski dilakukan dengan berbagai cara, tapi substansinya menghasilkan berbagai “buah bibir” [percakapan teologis dan aplikatif], berbagai panegirik, berbagai pelayanan dan pemberitaan Injil, dan berbagai kesaksian hidup dari mereka yang percaya dan diubahkan oleh Yesus Kristus.

Kita harus mengakui bahwa Natal adalah supremasi kuasa Allah Tritunggal, yang menyatakan bahwa Ia berkuasa untuk “menjadi” manusia, berkuasa menebus, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia-manusia berdosa. Dan semuanya diwujudkan karena Ia “mengasihi” manusia. Kasih Allah adalah dasar dari inkarnasi Yesus Kristus yang setiap tahun kita rayakan Natal-Nya. Natal Yesus Kristus mendorong kita untuk terus menciptakan panegirik bagi kemuliaan nama-Nya.

Panegirik—tulisan-tulisan yang memuji dan memuliakan nama-Nya—tetap menjadi bagian dari pewartaan kabar Natal, kabar sukacita bahwa Allah telah menyatakan kasih-Nya untuk datang mengunjungi dunia dan manusia ciptaan-Nya. Ia datang untuk mengajar dan mengarahkan manusia untuk melihat Allah dan kehendak-Nya, bagi sebuah tujuan keselamatan yang dianugerahkan-Nya melalui diri-Nya sendiri, yaitu Logos yang menjadi manusia.

Logos Allah itu yang datang membawa kabar baik bagi manusia berdosa. Menyembah Logos Allah sama saja dengan menyembah Allah. Tak mungkin kita menyembah Allah yang tanpa Logos. Kesalahan fatal bagi para negator ketuhanan Yesus adalah “melihat dengan kacamata kuda yang sudah buram” yaitu pada kemanusiaan Yesus dan mengabaikan natur ontologi-Nya.

red bauble

Allah di dalam daging (God in flesh) merupakan wujud kekuasaan-Nya. Kita hanya dapat berucap: “Engkau hebat, Allahku. Engkau sungguh dahsyat. Engkau telah mengasihi manusia berdosa, dan mengutus Yesus Kristus, Sang Logos yang kekal, untuk menyatakan kuasa, kehendak, kasih, keselamatan, jalan, kebenaran, kehidupan yang benar di hadapan Allah, di mana semuanya adalah ANUGERAH TERINDAH dalam kehidupan manusia.

Sungguh, Natal membawa perubahan, membawa kebahagiaan. Ia yang datang dalam rupa manusia, menyejarah dalam kehidupan manusia, kehidupan kita semua, sepanjang zaman. Natal adalah hadiah bagi kita; Natal adalah anugerah, dan Natal adalah kekuatan untuk menyadarkan bahwa kitalah yang membutuhkan Allah untuk menyelamatkan kita, dan Dialah yang datang membawa kita kepada kerajaan-Nya yang kekal, terlebih membawa kita untuk menerima kehidupan kekal sebagaimana yang Ia janjikan.

Di momen Natal, marilah kita merenungi segala kebaikan Tuhan. “Make up your mind” (ambil keputusan) untuk setia melayani, setia hidup dalam kebenaran, dan setia menjadi saksi Kristus kapan pun dan di mana pun. Tindakan tersebut didukung dengan prinsip “make up one’s mind” (membulatkan hati) bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di jalan Tuhan, akan senantiasa mendapat pertolongan dan berkat dari Dia, Allah yang sejati dan Maha Penolong itu. Ia mengubahkan kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Dan itu sangatlah indah.

red Merry Christmas text overlay

Selamat Merayakan Natal, Saudaraku.

Salam Bae……

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/merry-christmas

NATAL: MENYAMBUT SANG JURUSELAMAT

Nativity Poster featuring the painting La Nativita' by Guido Borelli

Iman Kristen tidak bisa dipahami secara fragmentaris (terpecah-pecah); tidak bisa juga dipahami secara parsial (sebagian), melainkan harus dipahami secara komprehensif (menyeluruh). Ketika memahami makna Natal Yesus Kristus, dibutuhkan sebuah pemahaman yang komprehensif yaitu melihat kesatuan aspek-aspek sejarah penebusan (historical of redemption), profetis, penggenapan, teologis, dan mesianis Davidik. Kedatangan (Kelahiran) Yesus Kristus adalah realisasi dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Natal menyatakan bahwa Allah yang Mahakasih itu berkehendak menyelamatkan manusia dengan cara-Nya sendiri.

Natal adalah sebuah konteks di mana Allah menyatakan kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yohanes 3:16). Cara Allah memang lain yaitu mengaruniakan Anak-Nya [Logos menjadi manusia] ke dalam dunia. Meski dipandang sebagai batu sandungan Yesus Kristus sampai sekarang ini telah menjadi “batu penjuru”:

Mazmur 118:22-23. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Yesaya 28:16. Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah! 

Matius 21:42. Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Markus 12:10-11. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Lukas 20:17. Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: “Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?”

Kisah Para Rasul 4:11. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri ,namun ia telah menjadi batu penjuru.

Efesus 2:19-20. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

1 Petrus 2:6-7. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.”

Yesus sebagai batu penjuru adalah penggenapan  nubuatan PL (Mazmur 118:22-23 dan Yesaya 28:16). Itu adalah “perbuatan ajaib” yang luar biasa. Tuhan memang hebat dan luar biasa. Ia memperlihatkan kedaulatan dan kuasa-Nya yang besar kepada manusia dalam hal “menyelamatkan”, yang secara progresif – dari PL ke PB – tergenapi (finalitasnya) dalam diri Kristus Yesus, Juruselamat yang berkuasa.

Cara ini – Inkarnasi Logos – adalah cara yang paling spektakuler karena ternyata Allah sanggup menjadikan cara yang dianggap bodoh dan menjadi batu sandungan malahan telah mengubah dunia, menguasai dunia, dan memberkati dunia. Dari Kristus kita dibenarkan, ditebus, dan diselamatkan. Luar biasa bukan?

Natal [kelahiran] Yesus Kristus adalah sebuah fakta sejarah bahwa Allah begitu mengasihi kita yang berdosa; Ia menebus dan menyatakan kemurahan dan pengampunan-Nya. Itulah HIKMAT ALLAH. Karena manusia berdosa kepada Allah, maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana seharusnya Ia menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Natal Yesus Kristus tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan Allah yang melalui Yesus Kristus—yang mati disalibkan—menebus manusia. Cara ini dianggap oleh manusia sebagai cara yang bodoh, tetapi Allah mengubah yang bodoh itu menjadi sebuah karya yang luar biasa hebatnya: Ia “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia.

Beberapa teks berikut ini, akan menjelaskan sedikit mengenai konteks Natal dan maknanya.

PERTAMA: MATIUS 1:21

Teks Matius 1:21 adalah bukti bahwa Allah telah mengunjungi dunia melalui Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Bagaimana Allah bisa menjadi manusia? Tentu Allah bisa. Bukankah itu dianggap tidak masuk akal? Tentu tidak. Allah itu Pencipta dan Mahakuasa, jadi tidak ada yang mustahil bagi Dia.

Natal berbicara tentang totalitas kehidupan kemanusiaan Yesus. Ia lahir, Ia mati menebus manusia, Ia bangkit dan menyatakan bahwa kematian yang dianggap sebagai kondisi terkutuk, namun kondisi tersebut dipakai Allah untuk tujuan yang mulia dan luar biasa yaitu manusia diselamatkan dan memperoleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Dalam keadaan-Nya sebagai manusia sejati, Yesus juga memperlihatkan identitas ontologi-Nya: Ia berkuasa membangkitkan, menyembuhkan berbagai jenis penyakit, berjalan di atas air, memberi makan banyak orang, dan lain sebagainya. Yesus, meski secara manusia Ia sama dengan manisia lainnya, tetapi Ia sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan manusia lainnya; Ia menunjukkan identitas ontologi-Nya.  

KEDUA: 1 KORINTUS 1:30A

Yesus yang adalah hikmat bagi kita merupakan perluasan makna dari “hikmat Allah”. Penekanan di sini adalah pada soal bagaimana “Cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Melalui “Salib” (bdk. 1:18 [pemberitaan tentang salib]; 1:23) Allah merealisasikan keselamatan-Nya. Pemberitaan tentang Yesus yang disalibkan, untuk tujuan penyelamatan—dan ini adalah hikmat Allah atau cara Allah menyelamatkan manusia yang dianggap sebagai kebodohan oleh orang Yunani dan batu sandungan oleh orang Yahudi.

Cara Allah justru bertolak belakang dengan cara manusia memahami keselamatan. Cara Allah dianggap bodoh oleh dunia yaitu “penyaliban dan kematian Yesus sebagai Mesias”; Yesus yang dianggap sebagai Tuhan, ternyata tidak berdaya saat disalibkan. Pandangan ini sama sekali mengabaikan kebangkitan-Nya. Justru Yesus itu hebat tak tertandingi; saat Ia disalibkan, orang menganggap Dia tak berdaya dan kalah. Tapi saat Ia bangkit, tak ada yang dapat berkata bahwa Ia kalah. Lawan-lawan-Nya bertindak lucu: menganggap Yesus kalah, tapi tak bisa melawan kebangkitan-Nya. Ia memang berkuasa. Yesus hebat.

Allah memilih yang lemah yaitu bagaimana caranya Yesus mati disalib tanpa perlawanan. Kematian Yesus yang tanpa perlawanan (dari Yesus dan murid-murid-Nya) justru dikalahkan oleh kebangkitan Yesus yang juga tanpa perlawanan dari pihak mereka yang membenci dan memusuhi Yesus. Ini impas. Mereka yang membunuh Yesus tak berkutik sedetik pun untuk menghalangi kebangkitan-Nya.

Yesus Kristus dijadikan Allah sebagai “HIKMAT” bagi kita yaitu ketika kita “MEMAHAMI” bahwa kematian Yesus disalib menghasilkan pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan kita. Kelahiran Yesus Kristus adalah tanda awal “HIKMAT” Allah bagi manusia berdosa; Allah menyatakan kasih dan kemurahan-Nya untuk menebus manusia.

Kelahiran Yesus adalah cara Allah menggenapi janji-Nya. Meski cara ini dianggap tidak berarti, hina, lemah, suatu kebodohan dan sebagai batu sandungan, tetapi hikmat Allah tak dapat dilawan oleh siapa pun juga. Manusia tidak dapat melawan dosa; malahan manusia selalu melakukan dosa, terikat oleh dosa; terbelenggu oleh dosa, dan bahkan menyatu dengan dosa. Tak ada satu manusia pun yang dapat melepaskan diri dari dosa; ia pasti membutuhkan Juruselamat. Yesus telah membuktikan bahwa Ia “menebus” dan menawarkan kehidupan kekal bagi mereka yang telah ditebus-Nya. Itulah HIKMAT ALLAH yang dibuktikan kepada manusia.

Yesus adalah HIKMAT ALLAH yang melalui Dia ‘KITA DISELAMATKAN DARI DOSA, PELANGGARAN, DAN KESALAHAN”. Ini sangat luar biasa, menjadi sukacita dan penghiburan bagi kita. Dosa kita telah ditebus; layaklah kita hidup dalam kebenaran-Nya dan kekudusan.

MAKNA NATAL

Natal membawa damai sejahtera dari Sang Khalik. Dialah sumber damai sejahtera, dan Ia ingin damai itu tinggal menetap dalam kehidupan manusia. Damai sejahtera itu juga telah menjaga bumi dari kerusakan dosa (kejahatan) manusia dan orang-orang pilihan-Nya memperlihatkan sikap hidup yang penuh damai. Yesus yang pernah tinggal menetap di bumi, mewariskan damai sejahtera yang Ia bawa dari tempat-Nya kepada umat pilihan-Nya agar bumi tetap terjaga.

Natal membawa pengaruh yang luar biasa dalam dunia ini. Kita tahu bahwa Yesus tidak hanya sekadar manusia biasa; Ia memiliki dua natur: Ilahi dan manusia. Ia menjadikan dunia sebagai ladang misi Allah, menyadarkan manusia akan dosa-dosa mereka, mengarahkan mereka kembali kepada Allah, memberikan jaminan kehidupan yang akan datang.

Kita mengaku bahwa Yesus adalah Logos yang datang mengunjungi manusia. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Sebagai manusia Yesus menunjukkan eksistensi humanitas-Nya, dan sebagai Logos, Ia juga menunjukkan eksistensi ontologi-Nya dari perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya. Allah telah “menghadapkan” wajah-Nya kepada manusia dan memberikan mereka damai sejahtera. Hanya pada “wajah” Allah—Yesus Kristus—damai itu terberi kepada kita.

Kedatangan Yesus ke dunia bukan tanpa tujuan sehingga orang mengira bahwa Ia hanyalah manusia biasa yang lahir lalu mati. Sebagaimana Allah menyatakan kehendak-Nya melalui Firman-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya di zaman dulu (PL), maka Ia juga menyatakan kehendak-Nya melalui Firman-Nya sendiri yang menjadi manusia, untuk mengarahkan dan membawa pulang ke jalan kebenaran-Nya. Dalam bingkai Sejarah Penebusan, kita melihat bahwa runut historis mengenai kejatuhan manusia dalam dosa dan proses yang dilakukan Allah untuk menebus manusia dari dosa mereka berlanjut hingga di zaman Yesus Kristus. Aspek teologis ini menjadi penting bagi kita yang mau melihat Natal Yesus dari bingkai Sejarah Penebusan tadi.

Hasil dari proses memahami hal itu mengantarkan kita kepada pemahaman dan kesimpulan bahwa Natal adalah cara Allah yang spektakuler untuk menunjukkan kasih-Nya. Tanpa kasih, tak mungkin ada penebusan dan pengampunan, bahkan keselamatan. Karena kasih, Logos menjadi manusia (bdk. Yoh. 3:13). Karena kasih, Allah mau mengambil manusia dari lumpur dosa.

13395.jpg

Bukankah kita patut bersyukur jika Allah datang mengunjungi manusia dan hidup di antara kita? (bdk. Yoh. 1:14). Natal Yesus Kristus adalah harapan bagi para pendosa. Ia membawa mereka—kepada Bapa-Nya—setelah menyelesaikan tugas-Nya, yaitu mati menggantikan manusia berdosa, menjadi Pendamai yang sempurna, dan menjadi Penebus yang tak berdosa bagi manusia manusia berdosa. Ia adalah Pengantara yang sempurna.

Hikmat Allah begitu tinggi, yaitu: Logos yang memasuki dunia manusia dengan menjadi manusia. Ia adalah Juruselamat. Manusia diselamatkan “melalui” Firman-Nya. Ia menyatakan kasih, kemurahan, dan anugerah yang tak terkatakan. Yesus telah melakukan itu semua.

Natal-Nya yang kita rayakan setiap tahun merupakan alasan bagi kita untuk terus “menyambut Sang Juruselamat” yang telah berkarya bagi kita. Tanpa Dia, kita hampa, hidup dalam kegelapan, hidup dalam dosa dan kenajisan. Di dalam Dia kita merasakan terang yang sesungguhnya, merasakan damai sejahtera, dan hidup dalam kekudusan. Tak ada imbalan yang dapat kita balaskan kepada-Nya, atau hadiah Natal yang kita persembahkan pada-Nya; kita hanya diberikan hati, ya, hati untuk bersyukur, untuk menyadari keterbatasan, hati yang mau datang setiap waktu kepada-Nya, hati yang mengandalkan Dia, dan hati yang mau setia kepada-Nya, sampai akhir hayat.

Soli Deo Gloria

Sumber gambar:

  1. https://fineartamerica.com/featured/la-nativita-guido-borelli.html?product=poster
  2. https://www.wayfair.com/outdoor/pdp/toland-home-garden-star-of-bethlehem-28-x-40-inch-house-flag-btq4289.html?utm_source=pinterest&utm_medium=social
  3. https://www.kohls.com/product/prd-5505008/master-piece-mary-joseph-shepherd-boy-wall-decor.jsp?skuid=76934394
  4. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/13395-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  5. https://mcwglenys.blogspot.com/2020/08/the-donkey-decree-was-issued-by-caesar.html?spref=pi
  6. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/screen-shot-2020-09-29-at-4-22-36-pm-png

NATAL ADALAH KESUKAAN BAGI KITA

Berita Natal Yesus Kristus—bagi mereka yang percaya kepada-Nya—dipandang sebagai berita yang memiliki makna terdalam. Natal tidak hanya sebuah berita kesukaan besar bagi seluruh bangsa tetapi juga mengandung pesan bahwa “manusia membutuhkan Juruselamat untuk menolongnya dari keterpurukan, keterpisahan dengan Allah karena dosa-dosa manusia”; dosa menjadi persoalan mendasar manusia yang tak dapat diselesaikan oleh manusia. Allah adalah Juruselamat dan dengan “cara-cara” tertentu, Allah menampilkan kualitas kasih, kuasa, dan pengampunan-Nya. Tak ada yang dapat membendung cara Allah menyelesaikan masalah dosa manusia. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memperlihatkan cara-cara tersebut: penebusan dan pengampunan melibatkan “darah” – kehidupan yang dipertaruhkan sebagai “substitusi” [pengganti]. 

Pada kenyataannya, semua manusia—tanpa terkecuali—menghadapi masa-masa sulit, menyenangkan, dan membosankan. Hal itu disebabkan karena dosa. Mereka yang menghadapi masa-masa sulit karena dosa telah berada pada tingkat konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Dalam kondisi ini, dibutuhkan kesadara untuk memahami bahwa hidup dalam dosa menyisahkan kepedihan dan luka yang mendalam, tak terobati. Tidak hanya itu, dosa membuat relasi dengan sesama menjadi rusak. Jembatan spiritual-moralitas pun perlahan memudar dan pada akhirnya padam.

Mereka yang menghadapi masa-masa menyenangkan karena dosa masih tetap merasakan bahwa dosa itu nikmat dan memberikan kepuasan. Tetapi mereka melupakan bahwa kehidupan yang bersih dan kudus adalah lebih baik ketimbang merasa bersih di dalam kubangan dosa. Orang-orang yang merasakan kesenangan karena dosa akan menimbulkan banyak persoalan-persoalan baik relasi, keluarga, pekerjaan, spiritual, dan lain sebagainya. Akibatnya, mereka berhadapan dengan tuduhan, tekanan, dan bahkan ancaman serius bagi keberlangsungan hayati mereka.

Mereka yang menghadapi masa-masa membosankan karena dosa telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih baik. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dapat muncul dalam kondisi ini. Mereka dapat sadar dan memikirkan bahwa sebaik apapun dosa itu, tetap akan menimbulkan masalah serius. Kecuali, mereka tergerak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa ada jalan yang lebih baik, lebih bahagia, ketimbang berada dalam ikatan dosa.

Pretty girl with long hair in knitted hat and warm sweater on wooden background. She holds christmas present with phone in gloves and looks astonished to camera

Dalam kondisi demikian, selalu ada cara Allah yang ditunjukkan-Nya untuk memberikan manusia pengampunan sekaligus mengundangnya datang kepada-Nya. Dari cara-cara yang tampak dalam Perjanjian Lama, Allah kemudian memperlihatkan cara-Nya tentang bagaimana Ia mengasihi dan menyelamatkan manusia melalui penebusan, pengampunan, pengudusan, pendamaian, dan pembenaran. Semua itu digenapi, dipenuhi, dan dilakukan oleh Yesus Kristus.

Dengan demikian, ketika malaikat Tuhan mengatakan kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11), maka “kesukaan besar” itu meliputi karya-karya Yesus Kristus yang akan menebus, mengampuni, menguduskan, mendamaikan, dan membenarkan.

Natal adalah kesukaan bagi kita, dan Natal itu sendiri adalah awal dari Kekristenan. Natal diawali dengan kuasa Allah yaitu dengan mengandungnya Maria dari [kuasa] Roh Kudus (bdk. Lukas 1:31, 35 “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki…, Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau…”; Matius 1:20-21). Dengan demikian, Kekristenan identik dengan penyataan kuasa Allah, dan itu terbukti di sepanjang sejarah hingga saat ini.

Sebagai “Kesukaan Besar”, Natal mengarahkan hidup yang dipimpin oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana kehamilan Maria adalah karena kuasa Roh Kudus dan naungan Allah Yang Mahatingi. Kesukaan Besar itu seharusnya menjadi dasar bagaimana kita menjalani hidup. Dan di atas segalanya, kita mengandalkan Allah yang berkuasa, untuk menjadikan hidup kita kudus, bermakna, dan memuliakan Dia.

Sungguh luar biasa Allah kita yang telah menunjukkan kasih dan kemurahan-Nya. Tak cukup kata-kata untuk mengungkapkannya. Natal Yesus Kristus memperlihatkan kekuatan kasih dan kemurahan Allah. Dari-Nya kita melihat berbagai keajaiban hidup. Mengapa? Allah yang menyatakan kasih dan kemurahan-Nya secara ajaib pada peristiwa Natal Yesus Kristus, adalah Allah yang sama, yang juga menunjukkan keajaiban bagi kehidupan kita.

Natal yang adalah kesukaan besar itu seyogianya dijadikan “pelita” bagi langkah-langkah kita. Kita yang berjalan di jalan Allah pasti dituntun dan diterangi-Nya. Kita menenun kehidupan di dalam kasih Tuhan, dan menempatkan semua kesadaran akan hidup serta tanggung jawabnya di dalam kuasa-Nya. Ketika Natal secara baik kita pahami, maka kehidupan yang kita nikmati dan jalani akan menghasilkan buah-buah yang baik.

Jika menggunakan empat kriteria yang digunakan oleh Ravi Zacharias, seorang apologet terkenal, mengenai kekuatan kebenaran Kristen sebagai salah satu agama di dunia, maka kita akan melihat bahwa pilihan kita untuk percaya kepada Yesus Kristus adalah pilihan yang tepat. Empat kriteria yang diusulkan Zacharias adalah asal-usul, makna hidup, moralitas, tujuan akhir. Keempat kriteria ini harus dijawab secara berkorespondensi dengan kebenaran dan koheren satu sama lain.

Ketika kita melihat ASAL-ASUL kekristenan dan kebenarannya, ternyata dimulai dari kuasa dan keajaiban yang Allah perlihatkan kepada Maria, Elizabeth, para gembala, dan orang-orang majus. Bahkan juga kepada para malaikat dan bala tentara surga. Kekristenan dimulai dari Allah yang menjadi manusia, diawali dengan Natal yang ajaib yang menghadirkan JURUSELAMAT YANG AJAIB yaitu YESUS KRISTUS. Bukankah malaikat Tuhan telah menyatakan bahwa “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11) kepada para gembala dan juga kepada kita?

Ketika kita melihat MAKNA HIDUP Kristen ternyata totalitas hidupnya dipersembahkan kepada Allah, memuliakan dan menyenangkan hati-Nya. Hidup yang dipersembahkan kepada Allah adalah makna hidup yang suprematif dari Kristen. Dipersembahkan kepada Allah bukan untuk membunuh sesama, bukan pula merusak relasi dan tatanan sosial, bukan menghina dan merendahkan orang, bukan membenci dan memaki-maki, melainkan mengasihi dan mendoakan semua orang, termasuk musuh-musuh yang memusuhi Kristen. Natal Yesus Kristus juga mengajarkan kepada kita makna hidup, yaitu Maria dan Yusuf tunduk dan dengan penuh iman kepada Allah yang menyatakan kuasa-Nya bagi mereka berdua.

Ketika kita melihat MORALITAS Kristen maka semuanya dilandasi pada pengajaran-pengajaran Allah sendiri. Sebagaimana Allah membenci dosa, maka moralitas Kristen didasari pada konsep itu. sebagaimana Allah adalah kudus, maka Ia menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus, sebuah moralitas yang paling tinggi sesuai standar yang Allah tetapkan. Allah berkata: “Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah kudus”.

Ketika melihat TUJUAN AKHIR Kristen ternyata—baik awal maupun akhir—hanya di dalam Yesus Kristus. Jika Yesus adalah Alfa dan Omega—Yang Awal dan Yang AKhir—maka tujuan akhir hidup Kristen adalah kehidupan yang dipimpin oleh Yesus Kristus sebagaimana di awal hidup juga demikian. Tujuan akhir dari kehidupan yang dibarui oleh Yesus Kristus adalah kehidupan yang memuliakan Dia di dalam Kerajaan-Nya kelak. Natal adalah awal dari sebuah harapan yang disediakan Allah bagi manusia berdosa, manusia yang rusak moralitasnya karena dosa menjadi kesukaannya. Ketika hidup kita diubahkan Tuhan, maka pasti, akhir hidup kita juga akan tetap berada dalam kasih-Nya, dan menikmati kehidupan kekal yang penuh kekudusan dan kemenangan.

NATAL ADALAH KESUKAAN BAGI KITA—dan kita patut bersyukur untuk hal itu. Yesus—Logos Allah—telah menyejarah dalam kehidupan manusia hingga saat ini. Natal adalah asal usul Kekristenan. Natal menghadiahkan makna hidup yang benar di hadapan Allah, hidup yang bersandar pada-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya.

Natal adalah panduan moralitas yang Allah kehendaki yaitu hidup dalam kekudusan. Maria melahirkan Anak yang Kudus. Hidupnya kudus; hidupya terjaga, karena dijaga oleh Roh Kudus. Dirinya dinaungi kuasa Allah yang Mahatinggi. Kita tahu di kemudian hari, seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “…mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh…keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Roma 8:5-6). Allah adalah kudus, maka umat-Nya harus kudus.

Natal mengarahkan kehidupan Kristen kepada tujuan akhir dari hidup, yaitu memuliakan Allah dan menyenangkan hati-Nya.

Jika demikian halnya, marilah kita mengaku dan percaya bahwa NATAL YESUS KRISTUS ADALAH KESUKAAN BAGI KITA. Soli Deo Gloria

Salam Bae

NATAL DAN BAJU BARU

person holding gift box

Mereka yang pernah mempunyai “baju baru” di perayaan Natal tentu merasa senang, bahagia, dan sulit untuk diungkapkan. Ternyata, momen perayaan Natal tidak hanya berbicara soal pemahaman yang substansial: Allah di dalam daging [manusia] dalam kerangka penyelamatan, melainkan dapat diterjemahkan sampai kepada hal-hal kecil, misalnya mendapatkan hadiah “baju baru” dari orang-orang yang dikasihi, ataupun “baju baru” yang dibeli sendiri, pakai uang sendiri, bukan uang hasil korupsi.

Mendapatkan baju baru adalah impian hampir semua anak-anak Sekolah Minggu. Sukacita Natal rasanya tak lengkap jika tanpa mengenakan baju baru. Ditambah lagi dengan sepatu baru, kaos kaki baru, ikat pinggang baru. Sukacitanya makin memuncak dan kadang hanya dapat diterjemahkan dengan “air mata”. Rasa syukur bercampur senang adalah pengalaman menarik. Kita yang pernah mengalaminya, tentu berucap terima kasih kepada orangtua, paman, bibi, oma, opa, atau siapa saja yang berkenan membeli dan memberikan baju baru kepada kita. Singkatnya, sukacita Natal menjadi berkesan ketika kita mendapatkan sesuatu yang baru, termasuk baju baru.

Jika kita melihat pengalaman menarik soal mendapatkan baju baru dalam perayaan Natal, maka—menurut saya—ada dua hal yang sangat mendalam yang dapat kita maknai:

Pertama, Natal adalah “hadiah baru” bagi manusia berdosa, di mana Allah, dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, menyatakan kekuasaan-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Ketika “hadiah baru” itu diberikan, seyogianya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Kasih-Nya yang begitu besar—tak dapat kita ungkapkan—telah mengubah dunia; Allah mengubahnya dengan cara menaburkan damai sejahtera bagi keselamatan umat-Nya melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal. Ia lahir sebagai manusia, dan itu adalah konsistensi logis bahwa Logos Allah menempati daging (manusia) dalam sejarah penyataan dan sejarah keselamatan.

Jika Natal adalah “hadiah baru” bagi manusia berdosa, maka kita selayaknya sadar bahwa kita terhilang, papa [miskin], dan bahkan lebih dari itu, kita adalah manusia celaka di hadapan Allah. Melihat kondisi ini, maka syukur kepada Allah yang mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya—yang digerakkan Roh Kudus untuk menerima hadiah baru itu—tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kelahiran Sang Penebus: Yesus Kristus, menghadirkan damai sejahtera bagi dunia yang berdosa. Misteri Allah yang agung ini menjadi warisan iman bagi setiap zaman sampai akhir zaman. Sebagai Penebus, Yesus adalah Allah. Alkitab secara jelas mengungkapkan identitas ontologi-Nya. Allah menyelamatkan manusia melalui Firman-Nya. Ia berfirman dan menyatakan bahwa kehendak-Nya adalah “menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Di kemudian hari, Firman Allah itu mewujud menjadi “manusia”—masuk dalam sejarah dan “menjadi” manusia. Kekuasaan Allah tampak secara spektakuler di sini.

Natal adalah pertunjukkan kekuasaan Allah secara logis dan historis. Logis, karena Allah yang Mahakuasa itu mewujudkan kuasa-Nya melalui proses Logos yang kekal, bersama-sama dengan Allah, menjadi manusia. Jika kita mempercayai Allah sebagai Juruselamat, maka layaklah bagi kita untuk mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, karena Ia adalah Logos yang keluar dan datang [Yohanes 8:42] dari diri Allah yang kekal.

Itu sebabnya, Natal Yesus Kristus sangat tepat dikatakan sebagai “hadiah baru” bagi kita. Jika kita merasa senang dan bersukacita ketika menerima hadiah baju dari orang-orang yang mengasihi kita, masakan kita tidak bersukacita ketika menerima “hadiah baru” dari Allah? Rayakanlah Natal dengan rasa syukur, bukan dengan pesta pora atau hura-hura.

Kedua, sebagai “hadiah baru”, Natal Yesus Kristus juga menjadi momen di mana kita meninggalkan “manusia lama” yang berlumuran dosa, dan mengenakan “manusia baru”, yang telah dibarui oleh Allah. Jika kita merasakan kesenangan karena mengenakan baju baru, bukankah lebih lagi jika kita mengenakan manusia baru?

Natal tidak hanya sekadar seremoni belaka. Natal lebih dari itu. Bahkan Natal seharusnya menyentuh hal-hal substansial dalam hidup kita. Allah telah menyejarah dalam kehidupan manusia; Ia telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar. Bukan saja Ia menyelamatkan kita, tetapi juga menyediakan tempat yang terindah, penuh bahagia, yaitu di dalam Kerajaan-Nya.

Kita dapat mengambil makna terdalam dari perasaan kita ketika menerima “baju baru”. Natal Yesus Kristus yang setiap tahun kita rayakan, adalah hadiah baru dari Allah. Meski kita—dalam proses mengikuti-Nya—memiliki banyak kelemahan dan dosa, tetapi Allah selalu memberikan waktu bagi kita untuk mengintrospeksi diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

person holding red and brown gift box infront of Christmas tree inside the room

Sudah sepantasnya bagi kita untuk “tahu diri” bahwa Allah telah menganugerahkan kehidupan melalui Yesus Kristus. “Tahu diri” itu tercermin dari sikap kita setiap hari, apalagi dalam momen menyambut perayaan Natal. Baju “manusia lama” harus dibuang (dilepaskan) dari tubuh kita, kemudian kita mengenakan baju “manusia baru”—hadiah dari Allah bagi mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai Tuhan Ia berkuasa menyelamatkan, mengampuni, dan menebus kita dari dosa-dosa, dan sebagai Juruselamat Ia mengarahkan kita—melalui diri-Nya sendiri sebagai “Jalan, Kebenaran, dan Hidup—menuju kepada Bapa di surga.

Kebahagiaan tentu akan menghiasi dan mewarnai kehidupan manusia setiap hari ketika manusia menyadari bahwa dalam kondisinya yang berdosa, manusia masih mendapatkan “hadiah baru” dari Allah: Yesus Kristus, yang mengarahkan dan menyadarkan kita untuk menanggalkan baju manusia lama, serta mengenakan baju manusia baru seperti yang dikehendaki-Nya.

woman sitting on black soil during daytime

Natal dan baju baru memberikan kita pemahaman bahwa ada sukacita yang tak terkirakan. Tetapi tidak berhenti sampai di situ: dalam konteks Natal, kita harus melihat dalam ketidakmampuan untuk keluar dari masalah dosa, dan ketidakmampuan kita untuk dapat menyelamatkan diri dari murka Allah, hanya dapat dilakukan dan dipenuhi oleh YESUS KRISTUS.

Ia telah lahir bagi kita, umat-Nya. Ia mau, kita hidup di dalam kasih-Nya dan menghasilkan buah-buah pertobatan, kita dapat menjadi saksi bagi-Nya dan mewartakan bahwa “kasih Allah telah mengubahkan dunia [manusia] melalui Natal Yesus Kristus, mengarahkan dunia kepada kehidupan yang kekal, karena hanya Dialah yang mengakui sebagai “JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”. Itulah arti hakiki dari Logos menjadi daging: Logos Allah menjadi penunjuk jalan menuju kepada Allah Bapa, yang dari-Nya Logos itu berasal (bdk. Yoh. 14:6).

Ketika kita percaya kepada-Nya, maka hidup kita diubahkan; kita dimampukan-Nya untuk saling mengampuni, dan saling mengasihi, sebab Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

Salam Bae……..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/MCm43tSNVhY
  2. https://unsplash.com/s/photos/christmas-tshirt
  3. https://unsplash.com/photos/p3fjhzseClE

NATAL: MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG: Refleksi Yohanes 15:14-15

Dalam pandangan Kristen, berbuat baik didasarkan pada kasih. Menjadi sahabat bagi orang lain, dan bahkan bagi semua orang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kasih yang tulus. Konsep ini adalah dasar dari perilaku Kristen, yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Tidak ada seorang Kristen yang benar-benar percaya kepada Yesus, kemudian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Seorang Kristen sejati adalah pribadi yang memiliki kasih di dalam Yesus Kristus. Ini prinsip yang sangat mendasar.

Kasih yang dimiliki oleh seorang Kristen tidak bisa dipendam dan disimpan begitu saja. Kasih itu sifatnya “keluar dari sumber”. Jika demikian, untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, maka kita harus hidup “MENJADI SEBAGAI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG”. Ini sangat menarik. Ternyata untuk hidup menjadi “sahabat bagi semua orang” tidaklah mudah. Kita seringkali disalahpahami, dicaci maki, dihina, direndahkan, padahal niat kita tulus untuk menjadi sahabat bagi sesama. Risiko ini harus diterima. Tetapi bukan berarti kita berhenti menjadi sahabat bagi orang lain, melainkan semakin menunjukkan kasih dan terlebih menjadi berkat bagi semua orang.

Tema “MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG” adalah sebuah konsep etika dan iman yang disatukan menjadi sebuah prinsip hidup yang penuh kasih. Dalam teks Yohanes 15:9, Yesus menegaskan bahwa “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Penegasan Yesus yang pertama adalah bahwa para murid (dan semua orang percaya) “harus” tinggal di dalam kasih Yesus.

Penegasan kedua adalah tentang “cara” untuk tinggal di dalam kasih Yesus. Bagaimana caranya? Yesus menegaskan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya (ay. 10).

Penegasan ketiga adalah “saling mengasihi”. Mengasihi dapat dilakukan ketika orang percaya telah “hidup dan tinggal di dalam kasih Yesus” (ay. 12).

Penegasan keempat adalah pengorbanan karena kasih (ay. 13). Kasih sifatnya berkorban bagi yang lain. Mustahil mengasihi tanpa memberikan sesuatu dan kehilangan sesuatu. Kasih selalu “memberi” dan rela “kehilangan” karena di balik kehilangan, kita dapat “menerima kembali” dari Tuhan yang Mahakasih itu.

Penegasan kelima adalah “menjadi sahabat Yesus” (ay. 14-15). Kita yang menuruti perintah Yesus, tinggal di dalam kasih-Nya, pasti adalah “Sahabat” dari Yesus dan Yesus menjadi “Sahabat Sejati” kita. Ada kedekatan yang luar biasa ketika kita dijadikan sahabat oleh Yesus karena Ia sendiri yang melekatkan identitas baru kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya, yaitu mereka melakukan perintah-perintah-Nya, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Ini merupakan totalitas (kepenuhan) kehidupan orang-orang percaya.

Penegasan keenam adalah “menghasilkan buah” (ay. 16). Tidak hanya sampai pada kebahagiaan hidup dalam kasih Yesus, tinggal di dalam kasih-Nya, melalukan perintah-perintah-Nya, dan menjadi Sahabat-Nya, melainkan semua orang percaya harus menghasilkan buah. Hal ini secara substansial mengikuti apa yang telah dilakukan Yesus; Ia telah menghasilkan banyak buah melalui kata dan perbuatan-Nya. Dengan demikian, kita pun harus meneladani Kristus dalam hal berbuat baik, mengasihi, berkorban, menyatakan kebenaran, melawan kesesatan, dan peduli kepada sesama yang membutuhkan.

Penegasan ketujuh adalah konfirmasi kembali tentang mengasihi sesama (ay. 17). Konfirmasi untuk mengasihi satu dengan lainnya adalah wujud dari kepenuhan kasih ada di dalam diri seseorang. Mereka yang memiliki kasih, hidup dan tinggal di dalam kasih, akan merasa tanpa belenggu yang mengikatnya, tidak merasa sedih, tidak munafik, pada saat mereka menerapkan “kasih” kepada yang lain. Dengan demikian, menjadi sahabat Yesus berarti harus mengikuti apa yang diperintahkan-Nya yaitu: “SALING MENGASIHI”.

Untuk hidup sebagai sahabat bagi semua orang, penegasan-penegasan di atas menjadi pedoman-pedoman penting yang harus dipahami dan direalisasikan.

Melihat pada teks rujukan yaitu Yohanes 15:14-15 yang berbunyi: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”, maka penegasan-penegasan di atas adalah konteks utuh dari tema “Menjadi Sahabat bagi Semua Orang”. Mereka yang hidup bersahabat dengan semua orang hanya dapat ditempuh dan dipenuhi ketika mereka tinggal dan hidup di dalam kasih Yesus, serta mengejawantahkan kasih itu “KELUAR” dari diri kita melalui perbuatan-perbuatan kasih.

Yang disebut “Sahabat Yesus” adalah mereka yang berbuat selaras dengan apa yang dikehendaki Yesus, yang mencakup mengasihi sesama, menjadikan mereka sebagai sahabat dalam perdamaian, sukacita, dan pengampunan. Menjadi sahabat haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

MENGASIHI APA ADANYA

PEDULI DENGAN KEKURANGAN ORANG LAIN

MENGARAHKAN MEREKA KEPADA KEHIDUPAN YANG DIKEHENDAKI TUHAN

MENJADIKAN DIRI KITA TELADAN DALAM BERBUAT BAIK

MENJADIKAN TUHAN SAHABAT KITA

MENJADIKAN SESAMA SEBAGAI SAHABAT KITA

MEMBAWA DAMAI DI BUMI AGAR SEMUA MANUSIA DAPAT HIDUP BERDAMPINGAN, SALING MENGHARGAI MESKI BERBEDA SUKU, AGAMA, DAN RAS.

Kita adalah “sahabat” bagi sesama; kita adalah sahabat Yesus Kristus, dan Yesus Kristus bersahabat dengan kita karena kita telah hidup dalam kasih-Nya, tinggal di dalam kasih-Nya, serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Hidup saling mengasihi mencegah kerusakan di bumi, mencegah pertikaian, keburukan moralitas, kebusukan jatidiri dan kemunafikan, perpecahan, kejahatan, dan mencegah kesalahpahaman. Sebaliknya, hidup saling mengasihi satu dengan lainnya adalah bentuk upaya untuk mengarahkan diri kita dan sesama yang kita kasihi kepada jalan Tuhan yang peduh damai, kasih, dan pengampunan.

Hidup dengan cara menjadi sahabat bagi semua orang adalah upaya kita merealisasikan kasih Kristus kepada siapa saja. Tak ada batasan bagi kita untuk mengasihi; siapa pun harus dikasihi sebagaimana Yesus telah mengasihi kita semua.

Semoga di dalam momen Natal di tahun ini, kita menyadari bahwa ketika hidup kita terpisah dari kasih Allah, maka kita tak akan mampu mengasihi sesama kita, mengasihi musuh kita, dan tak akan mampu mengasihi mereka yang membenci dan mengutuk kita. Ketika kita hidup dan tinggal di dalam Allah maka kita pasti sanggup mengasihi siapa pun, dan sanggup menjadi sahabat bagi siapa pun juga.

Natal adalah di mana Allah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi dunia yang berdosa, kemudian Ia memulihkan manusia-manusia yang berdosa itu dengan kasih-Nya yang luar biasa hebatnya melalui inkarnasi Sang Logos Allah menjadi manusia. Itu sungguh luar biasa. Allah yang transenden (di luar segala kesanggupan manusia untuk memahami-Nya) kini menjadi imanen (berada di antara manusia). Yesus menyatakan Allah kepada manusia, mengajarkan kasih dan pengampunan. Ia adalah teladan kasih dan pengampunan.

person holding gift box

Kita menjadi sahabat bagi sesama karena Yesus telah menjadikan diri-Nya sahabat bagi manusia yang berdosa dan Ia memulihkan mereka; jika demikian, kita yang menjadi sahabat bagi sesama kita, meski mereka memiliki berbagai kekurangan, maka kitalah yang harus menambahkan pada kekurangan mereka sehingga mereka hidup berkelimpahan, ya, berkelimpahan dalam segala kebaikan, kemurahan, kasih, sukacita, dan damai sejahtera.

Hiduplah dengan cara menjadi sahabat bagi semua orang karena Yesus telah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi semua orang dan memberikan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna untuk menebus, mengampuni, dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Yesus telah menjadikan kita sahabat-Nya dan kita menjadikan sesama kita sebagai sahabat kita—sahabat yang diikat dalam kasih dan pengampunan.

Dengan demikian, seyogianya Natal menyadarkan kita akan pentingnya kasih dan pengampunan ketika kita menjadi sahabat bagi sesama.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/christmas-celebrate
  2. https://unsplash.com/photos/MCm43tSNVhY

NATAL: ALLAH MENJADI MANUSIA

birth of Jesus Christ with three kings and angel painting

Dalam pemahaman mengenai “Allah menjadi [daging – sarks] manusia”, ternyata menghadirkan dan menghasilkan dua arus pemikiran yaitu: “Allah bisa dan menjadi manusia”, dan “Allah tak mungkin menjadi manusia.” Pada arus pertama diimani oleh mayoritas Kristen yang mengakui—berdasarkan kesaksian Kitab Suci—bahwa Yesus Kristus adalah Logos Allah yang kekal, bersama-sama dengan Allah, mencipta (Yoh. 1:1-3) dan kemudian menjadi daging [manusia] (Yoh. 1:14), dan hal itu adalah fakta sejarah. Pada arus yang kedua, sama sekali tidak ada bukti, hanya asumsi atau disebut dengan demarkasi negatif. Dasar berpikirnya bukan pada fakta “kekuasaan Allah” melainkan pada konsep negatifnya.

Di sini kita melihat bahwa segala sesuatu yang dipikirkan memiliki dua alasan utama:

Pertama, berpikir pada tataran faktual. Artinya hasil atau kesimpulan yang diambil berdasarkan pada fakta yang telah terjadi. Mengingat bahwa Allah menjadi manusia merupakan fakta yang telah terjadi, dan karena itu kita melihat wujud “kekuasaan Allah”, maka kesimpulan bahwa Kristen beriman kepada Yesus Kristus sebagai Allah, Tuhan, dan Juruselamat yang ajaib, adalah karena “memang demikian faktanya”.

Kedua, berpikir pada tataran konseptual. Artinya hasil atau kesimpulan yang diambil berdasarkan pada konsep negatifnya dan tidak didasarkan pada bukti apa pun. Tataran konsep sama sekali tidak akan memiliki bukti dan menemukan bukti apa pun mengenai Allah dapat menjadi manusia, karena memang dasar pijakannya sudah bernuansa negatif. Di sini, para negator sedang berpikir dalam boks (“think in the box”), atau dengan pengertian lain, “berpikir dalam ketiadaan fakta”. Negator “terkungkung” dalam absennya fakta. Maka, hasilnya adalah “tidak ada apa-apa yang dapat dibuktikan”.

Ketika berbicara Natal Yesus Kristus, maka pola berpikirnya dimulai dari fakta, lalu kita mundur untuk melihat ontologi Allah yang menjadi manusia itu. Allah dan Logos ada sejak kekek. Kekekalan Allah adalah kekekalan Logos. Ketika Logos menjadi manusia, Ia memberi diri-Nya dikenal, melampaui dari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Konteks tersebut dapat diterima bukan karena konsep, melainkan karena fakta dan bukti tertulisnya.

The Nativity figurine closeup photography

Secara logis, orang Kristen menyembah Allah yang “penuh.” Artinya penyembahan itu melibatkan totalitas personal Allah: Bapa, Firman, dan Roh Kudus. Apakah ada umat yang ber-Tuhan, dan menyembah-Nya kemudian memisahkan Logos dan Roh-Nya yang kekal itu? Apakah konteks penyembahan menggunakan prinsip partisi logika? Apakah ketika seseorang menyembah Allah, ia sekaligus menyembah Firman Allah dan Roh Allah? Ataukah ia hanya menyembah Allah saja, dan mengabaikan Firman dan Roh-Nya?

Kristen tidak menyembah Allah hanya sebagai “nama” belaka. Memang, problem muncul—bagi mereka yang menolak Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang Mahakuasa—karena mereka melihat pada natur kemanusiaan-Nya. Titik berangkat mereka “sudah dikunci hanya pada kemanusiaan Yesus” dan tidak melihat secara komprehensif natur ontologi Yesus: Logos sebelum berinkarnasi. Ketimpangan berpikir model demikian, sering terjadi dan bahkan dijadikan patokan oleh para negator yang menolak pra-eksistensi Yesus dan ke-Tuhanan-Nya.

Fakta telah membuktikan bahwa Allah benar-benar menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan menjadi daging—“ho Logos sarks egeneto”—sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Demikianlah pernyataan malaikat Gabriel kepada Maria (Lukas 1:37). “Allah” yang ditolak untuk menjadi manusia adalah konsep berpikir dari mereka yang memiliki dasar pijakan non-faktual. Konsep ini berimplikasi pada dua kebodohan, yaitu “allah dijadikan terkurung dalam ketidakmampuannya sendiri untuk menyatakan kuasanya”, dan “manusia mengatur dan mengukur allah untuk tidak menjadi manusia berdasarkan ketidakmampuannya melihat kemahakuasaan allah.”

Ketika kita melihat dan memahami Natal sebagai Allah [yang] menjadi manusia, maka di situlah kita mengakui bahwa kemahakuasaan Allah, kehebatan, dan keajaiban Allah menjadi nyata dan faktual – tidak berhenti sampai di situ, pula dituliskan dalam Kitab Suci. Ini sangat otentik. Kita juga melihat peristiwa kelahiran dari seorang perawan yang bernama Maria. Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus. Ini peristiwa ajaib. Peristiwa ajaib berimplikasi pada Logos yang ajaib. Allah konsisten dengan menunjukkan kekuatan kuasa-Nya.

Natal Yesus Kristus dalam terang fakta “Allah menjadi Manusia” memberikan ruang terbuka bagi kita untuk melihat tanpa batas kuasa dan kasih Allah bagi manusia berdosa. Kebenaran ini sangat koheren dengan bagaimana cara Allah menebus dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka di zaman Perjanjian Lama. Di zaman itu, Allah hadir dengan berbagai cara, baik melalui awan, atau melalui orang-orang pilihan-Nya (nabi, hakim-hakim, raja-raja, dan lainnya). Dan di zaman Perjanjian Baru—zaman di mana Allah mengutus Yesus Kristus sebagai Juruselamat satu-satunya: Firman-Nya sendiri—Allah memperlihatkan tiga kekuasaan-Nya sekaligus.

Pertama: Ia benar-benar mengasihi manusia “dengan” menjadi manusia (Yohanes 1:14).

Kedua, Ia diam [ἐσκήνωσεν – eskēnōsen: live, dwell (temporarily: tinggal, berdiam); literally live or camp in a tent; figuratively in the NT dwell, take up one’s residence, come to reside (among)] “dengan” [di antara] kita—“Imanuel” (Matius 1:23) yang ditandai dengan berdiamnya Logos dalam kandungan Maria secara ajaib.

Ketiga, kehamilan perawan Maria ditandai dengan turunnya Roh Kudus ke atas Maria dan kuasa Allah Yang Mahatinggi yang menaungi Maria (Lukas 1:31-35).

Dengan demikian, berdasarkan fakta historis tersebut—yang telah terdokumentasikan—kita percaya bahwa Natal sebagai fakta bahwa Allah menjadi manusia tidak hanya membuktikan tiga kekuasaan Allah sekaligus, tetapi juga kuasa Allah melalui Yesus Kristus yang “mengubah” manusia dan diwujudkan melalui enam fakta, yaitu: (1) menebus kita dari dosa-dosa kita (Markus 1:21; Galatia 3:13; 4:5; Ibrani 9:15; Matius 20:28; Markus 10:45; 1 Timotius 2:6), (2) menyelamatkan kita dari murka Allah (Kisah Para Rasul 4:12; Roma 5:9; Matius 1:21; Yohanes 3:17; 12:47; 1 Tesalonika 1:10; 1 Timotius 1:15; 2 Timotius 1:9; Ibrani 7:25), (3) mengampuni (Matius 9:6; Efesus 4:32; Kolose 2:13; 3:13; Matius 9:2; Markus 2:5; 1 Yohanes 2:12), (4) menguduskan (1 Korintus 1:30; Efesus 5:26; 1 Tesalonika 5:23; Titus 2:14; Ibrani 2:11; 13:12; 1 Korintus 6:11), (5) membenarkan (1 Korintus 1:30; 6:21; Roma 3:24; 5:9; 8:30; Galatia 2:16; Titus 3:7), dan (6) mendamaikan (Roma 3:25; 5:10).

Dari enam fakta di atas, semuanya dilakukan Allah oleh karena kasih-Nya: Ia mengasihi kita semua. Bersama Rasul Yohanes kita mengakui, bahwa: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Karena kasih-Nya, maka Allah menjadi manusia, diam [tinggal] di antara manusia, beserta dengan manusia, menunjukkan kasih, kuasa, dan kemurahan-Nya. Luar biasa bukan? Itulah makna Natal bahwa Allah Allah telah menjadi manusia dengan cara yang ajaib. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.

Salam Bae……

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/jesus-born
  2. https://unsplash.com/photos/eeFMC1UG_k8
  3. https://unsplash.com/photos/Y_XS34BFX00

NATAL DAN MASA DEPAN MANUSIA

Berharap dapat menikmati kehidupan masa depan adalah impian dari mayoritas manusia. Setiap harapan yang dipikirkan dan dipahami, selalu berangkat dari kerinduan terdalam manusia untuk merasa bahagia, tanpa gangguan, ancaman, merasakan sukacita yang memuaskan dahaga dan problem hidup. Harapan itu terpatri dalam hati manusia, meski di satu sisi, manusia masih “memikir-mikir jalannya sendiri”. Apa yang terjadi di masa depan, masih merupakan misteri.

Mereka yang hidup “di dalam” Allah mengakui bahwa masa depan itu ada dan harapan itu tidak hilang. Allah menjamin semuanya. Tetapi, kadangkala harapan itu sirna ketika dosa merajai hati manusia. Atau barangkali harapan itu dapat diwujudkan meski harus melakukan dosa—menghalalkan perbuatan-perbuatan jahat agar memuluskan pencapaian harapan. Tentu, tidak berhenti sampai di situ. Ada konsekuensi yang harus terima manusia yang menghalalkan dosa untuk mencapai harapannya bagi kepuasan dan hasrat dirinya sendiri.

Masa depan boleh cerah dengan diperkuat oleh cara-cara yang kotor: merasa halal supaya terwujud harapan itu. Tetapi bagaimana dengan kesudahannya? Apakah masa depan cerah yang didapatkan dari penghalalan dosa, dapat jadikan pembenaran diri di hadapan Allah? Tentu tidak. Sebaliknya, Allah justru melawan mereka yang berbuat sesuatu dengan menghalalkan dosa.

Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Allah menghadiahkan sesuatu yang “menjadi kenyataanbagi mereka yang berharap dan bersandar pada-Nya. Itu adalah hadiah dari nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama. Yang pasti, hadiah itu tak akan mengecewakan, kecuali bagi mereka yang tamak, sombong, rakus, dan pelaku kejahatan. Apa yang Allah berikan selalu terkait dengan bagaimana Ia mendidik dan mengarahkan kita untuk melihat hidup sebagai anugerah, melihat bahwa tangan kasih-Nya selalu terulur menopang, menolong, dan menguatkan kita.

Masa depan memang misteri, tetapi bagi kita yang berharap dan bersandar pada-Nya, masa depan menjadi harapan yang mendatangkan sukacita karena kita tahu bahwa tangan Allah akan menopang, menolong, dan menguatkan kita untuk dapat menikmati masa depan itu sesuai dengan waktu yang Ia tentukan. Berbahagialah.

Dalam masa-masa sulit hidup manusia, tidak ada yang sesulit untuk bergumul dan keluar dari dosa. Bagi mereka yang menikmati dosa, keluar dari dosa itu bukan menjadi harapan, melainkan menjadi kehidupan yang mematikan di waktu mendatang. Mereka yang “suka” dengan dosa tentu tidak memikirkan bagaimana keluar dari dosa tersebut, melainkan terus memikirkan bagaimana dosa-dosa itu dirancang sedemikian rupa, sehingga tampak canggih, mengesankan, tetap terjaga kenikmatannya, dan kerahasiaannya.

Mereka yang membenci dosa—meski pernah berdosa—akan berupaya mencari jalan keluar untuk menemukan kehidupan di masa depan. Mereka menyadari bahwa upaya sendiri untuk keluar tak akan berbuahkan apa-apa. Sebaliknya, mereka membutuhkan Allah untuk menolong dan menguatkan mereka agar dapat keluar dari dosa.

Pertolongan dan kemampuan yang Allah berikan tampak dalam peristiwa sejarah umat-Nya. Ia selalu bertindak dengan kasih dan keadilan. Kasih-Nya menunjukkan bahwa Ia ingin mendidik dan mengarahkan umat-Nya untuk hidup benar dan kudus, sedangkan keadilan-Nya menunjukkan bahwa Ia menghukum mereka yang berdosa terhadap-Nya. Ia mengasihi orang berdosa tetap membenci dosa.

Dalam Perjanjian Lama, baik kasih dan keadialan terus diwujudkan Allah bagi umat-Nya. Sejarah telah memberikan pelajaran berharga bagi kita di masa kini. Kita memahami—pada akhirnya—bahwa mereka yang hidup berkenan kepada-Nya akan menikmati “masa depan” sebagaimana yang Ia janjikan.

Kisah penyataan kasih dan keadilan terus berlanjut, hingga tibalah waktunya bagi Allah untuk mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak (Galatia 4:4-5). Di dalam Kristus kasih dan keadilan ditegakkan. Allah konsisten bertindak atas dasar kasih-Nya yang luar biasa dan secara simultan juga menyatakan keadilan-Nya pada berbagai konteks kehidupan manusia.

Masa depan yang Allah berikan kepada manusia berdosa dipenuhi di dalam Inkarnasi Sang Logos menjadi daging. Rasul Yohanes kemudian menulis: “Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16, Terjemahan Lama); “Di dalam inilah kasih Allah itu sudah diberi nyata kepada kita, bahwa Allah sudah menyuruhkan anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia ini, supaya dengan Dia itu kita boleh hidup” (1 Yoh. 4:9, Terjemahan Lama).

Masa depan manusia berdosa hanya ada pada Allah saja; dan Natal Yesus Kristus adalah salah satu cara untuk menjawab masa depan manusia yang berdosa. Matius mencatat perkataan malaikat Tuhan kepada Yusuf mengenai Maria: “Ia akan melahirkan anak laki-lakidan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Di kemudian hari, Rasul Paulus menegaskan fakta ini: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:24); “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya….” (Roma 3:25); “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8); “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23); “….Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30); “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan Diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka….” (2 Kor. 5:19); “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita….” (Galatia 3:13).

Dalam Natal Yesus Kristus ada masa depan, yaitu hidup yang kekal dalam di Kerajaan-Nya (Yoh. 3:16), menerima mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25), mahkota kebenaran (2 Tim. 4:8), mahkota kehidupan (Yak. 1:12; Why. 2:10), mahkota kemuliaan (1 Ptr. 5:4). Natal membawa perubahan, pengampunan, penebusan, dan pendamaian. Perubahan itu hanya terjadi ketika Allah berkenan mengubah manusia berdosa menjadi manusia yang kudus, dan mereka yang telah dikuduskan harus menyatakan komitmennya untuk hidup bagi Dia.

Pengampunan itu dapat terjadi karena Allah menetapkan kasih-Nya kepada mereka yang berdosa untuk memberikan kehidupan lebih lanjut, baik di dunia maupun di dalam Kerajaan-Nya. Tanpa pengampunan, manusia “mati”; manusia akan bertindak sewenang-wenang, dan pada akhirnya binasa. Pengampunan Allah di dalam Kristus benar-benar mengubahkan hidup dan relasi kita dengan sesama.

Penebusan itu dapat terjadi karena Allah menghendaki agar manusia dapat menikmati sukacita dan kebahagiaan di dalam Kerajaan-Nya, yang didahului oleh kehidupan di dunia ini. Lihatlah, mereka yang telah ditebus Allah melalui Yesus Kristus, telah memperlihatkan kehidupan yang benar, kehidupan yang dewasa dan bersahabat dengan sesamanya, kehidupan yang damai dan selalu mengampuni, serta mengasihi orang lain, siapa pun itu.

Pendamaian itu dapat terjadi karena Allah berkehendak untuk memberikan kehidupan yang damai, penuh sukacita dan tinggal di dalam kasih-Nya. Manusia yang memusuhi Allah, yaitu dengan melawan perintah-perintah-Nya, tidak mengindahkan Allah, memilih jalannya sendiri dan bertindak sesuka hati. Dengan kondisi yang memusuhi Allah, maka Allah yang Mahamurah melalui Yesus Kristus, telah mendamaikan kita dengan-Nya (2 Kor. 5:19).

Cara Allah bekerja adalah tuntas dan total, termasuk memberikan solusi (jalan keluar) bagi manusia dari dosa-dosa. Manusia diberikan Allah lingkungan yang baru, yaitu komunitas orang percaya, dan juga pakaian baru, yaitu manusia baru, manusia yang telah dibarui di dalam Kristus Yesus.

Natal mengungkapkan secara total kasih dan keadilan Allah bagi manusia berdosa. Kita patut bersyukur. Dulunya kita adalah pelaku-pelaku kejahatan dan suka melanggar perintah-perintah Allah. Dulunya kita dengan sesuka hati melakukan apa yang kita inginkan meski nyatakan hal itu bertentangan dengan kehendak Allah. Dulunya kita senang melakukan dosa, baik dosa terbuka maupun tersembunyi. Kita menyimpan borok dosa, tetapi Allah melihatnya. Kita menipu diri kita; kita munafik; kita manusia celaka; kita telah mati karena dosa-dosa kita.

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:4-10).

Sudahkah kita menyadari kekayaan kasih karunia Allah di dalam Kristus Yesus? Sudahkah kita memahami keadilan Allah bagi manusia berdosa? Kita selayaknyalah dihukum, tetapi syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan kita oleh Yesus Kristus.

Pada Allah ada masa depan, dan Natal Yesus Kristus adalah masa depan itu. Waktunya tepat: Allah menghadiahkan sesuatu kepada kita yang berdosa – hadiah itu telah menjadi kenyataan yang – Allah datang menjadi manusia. Sang Logos melawat dunia ciptaan-Nya. Dialah Yesus Kristus. Hadiah itu tak pernah mengecewakan, justru menghadirkan sukacita yang tak terkira.

Salam Bae.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai