Tulisan ini terinspirasi dari seorang rekan yang ketika itu (dalam ibadah Paramount Fellowship tanggal 11 Desember 2018 di Paramount Plaza) sedang menyanyikan lagu yang berjudul “Angels We Have Heard on High”. Pada bagian refreinnya: “Gloria, in excelsis Deo”, antara ekpresi pemimpin pujian dengan lantunan klausa “Gloria, in excelsis Deo” yang dinyanyikan sangatlah membangkitkan “sukacita”. Saya kemudian berpikir: “Mengapa Allah datang ke dunia?” Saya pun menjawab: “Karena Allah ingin berbagi sukacita dengan manusia dan manusia diberikan hak untuk merasakan dan menikmati sukacita yang Ia berikan.”
Klausa “Gloria, in excelsis Deo” memberikan kesadaran kepada saya bahwa: “Allah itu sungguh luar biasa; Ia memberikan sukacita kepada manusia untuk bernyanyi memuji Dia karena telah memberikan Yesus Kristus kepada dunia”; Tuhan itu sungguh luar biasa karena Ia telah berbagi sukacita “Surgawi” kepada manusia agar manusia dapat mengekspresikan sukacita hatinya untuk bersyukur atas kebaikan, kasih, anugerah, dan kemurahan Tuhan yang telah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia (bdk. Yoh. 1:14).
Apa yang menarik dari klausa “Gloria, in excelsis Deo”? Demikian: bahwa Tuhan Allah yang adalah Sumber Sukacita itu, telah berbagi sukacita surgawi-Nya kepada manusia. Kepedulian Allah kepada manusia tampak dalam peristiwa Natal Yesus Kristus. Rasanya lengkap sudah sukacita umat Kristen. Selain dari pada sukacita memuji, menyembah Allah, Sang Khalik, kita juga diberikan sukacita surgawi untuk mengekspresikan kemerdekaan di dalam Kristus Yesus. Kita diberikan porsi yang sesuai dengan natur kita. Manusia tidak dapat mengambil sucakita Surgawi, tetapi Allah memberikannya berdasarkan anugerah semata dan manusia dapat merasakan bagaimana sesungguhnya bersukacita dalam merespons kasih-Nya yang luar biasa itu.
Sukacita Tuhan dibagikan kepada umat-Nya. Tuhan tidak menyimpan sukacita-Nya sendiri, melainkan membagi sukacita-Nya kepada umat manusia melalui Natal Yesus Kristus. Itulah wujud dari kepedulian (kasih) Tuhan. Kepedulian Tuhan bukanlah tanpa alasan. Ia melawat manusia dengan cara-Nya sendiri. Dan implikasi dari lawatan Tuhan bagi manusia adalah sukacita merayakan Penebus dan Juruselamat datang ke dunia. Penebus itu sesungguhnya adalah Tuhan sendiri tetapi Ia membuat cara yang berbeda seperti yang terjadi di dalam Perjanjian Lama. Tuhan berhak dan berdaulat penuh atas manusia dan atas cara bagaimana Ia menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia berdosa. Dengan demikian, Natal Yesus Kristus adalah finalitas Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa yang membelenggu mereka.
Berikut ini penjelasan lima pokok penting yang terkait dengan Natal Yesus Kristus. Pokok-pokok tersebut merupakan rangkaian karya Tuhan bagi manusia dalam bingkai “Historical of Redemption.”
NATAL YESUS KRISTUS: ALLAH MENEBUS KITA
Dosa adalah musuh terbesar manusia dan tak ada satupun manusia yang dapat mengalahkannya, entah raja, imam, nabi, rasul, gembala gereja, majelis, presiden, penjual sayur, tukang ojek, direktur, pengusaha, pastor, pendeta, bupati, walikota, camat, dan lain sebagainya. Mengapa dosa begitu kuat dan manusia tak dapat melawannya atau bahkan mengalahkannya? Ada beberapa jawaban (sekaligus problem manusia) yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan:
Pertama, dosa dilakukan Adam dan Hawa pertama kali di dunia. Pasca kejatuhan manusia pertama dalam dosa, pengaruh dosa merambat hingga sekarang ini. Dosa adalah sebuah pelanggaran serius kepada perintah dan peraturan Allah. Sekuat apa pun manusia berjuang, ia tak akan mampu membereskan masalah dosa. Ia hanya dapat berbuat dosa, bertobat, dan berbuat dosa lagi. Ia tak dapat menyelesaikannya; ia butuh sesuatu di luar dirinya agar dosa dapat dibereskan.
Kedua, dosa berkaitan dengan hati, pikiran, dan perbuatan. Tiga unsur manusiawi ini sangat kuat dalam memahami, memikirkan, dan melakukan dosa. Jika seseorang tidak melakukan dosa dalam perbuatan, maka ia dapat saja berdosa dalam melalui pikiran. Dosa yang tampak dan tak tampak tidak akan dapat diselesaikan oleh manusia. Ia membutuhkan sesuatu di luar dirinya agar dosa dapat dibereskan.
Ketiga, manusia telah dibelenggu oleh dosa. Dalam kondisi terbelenggu manusia memang hidup tapi tak bisa bebas menikmati kemurahan dan kebaikan Allah; ingin berespons tetapi tak dapat mencapainnya, jika bukan Allah yang memberikannya; belenggu dosa menjadikan manusia pasif, dan oleh sebab itu manusia butuh kekuatan dan kuasa dari luar dirinya untuk membebaskannya dari belenggu dosa itu.
Keempat, dosa adalah problem manusia yang paling besar. Dalam kondisi terbelenggu, manusia tak dapat menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan sesama secara murni. Manusia mutlak membutuhkan kasih Tuhan, kasih dari surga yang akan melepaskannya dari belenggu dosa, sehingga ia dapat dengan sukacita dan leluasa menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan sesama.
Kelima, dosa adalah masalah kehidupan di dunia dan kehidupan sesudah kematian. Manusia yang berdosa (atau terbelenggu dengan dosa) tak akan mampu menikmati kehidupan yang dikehendaki Tuhan; tak dapat menikmati kehidupan yang penuh bahagia dan kekudusan setelah kematian. Meski di satu sisi ada peristiwa diangkatnya beberapa orang, tetapi itu kasus khusus yang dilakukan Tuhan. Intinya adalah manusia yang berdosa, jika Tuhan tidak turun tangan maka ia bukanlah apa-apa, ia tak berdaya, dan ketika Tuhan turun tangan, ia menjadi baru karena diperbarui, dilayakkan, dan dikuduskan oleh Allah. Allah menjamin kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian karena Dialah Penguasa satu-satunya yang melimpahkan rahmat dan kemurahan bagi manusia agar layak di hadapan-Nya.
Yesus Kristus yang datang ke dunia telah membereskan kelima problem manusia di atas. Yesus Kristus menebus kita. Allah menetapkan cara untuk menebus dan melepaskan kita dari belenggu dosa. Ketika Allah menebus, kita dibebaskan dari belenggu dosa; kita dapat merespons kasih-Nya dengan tindakan yang benar. Tuhan Allah mengambil alih kehidupan kita (yang dulunya terbelenggu dosa) dan mengarahkan kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya.
Natal Yesus Kristus memberi harapan bagi manusia untuk menatap masa depan. Manusia dijaga dan ditopang Allah untuk tetap berada pada jalur-Nya. Kita telah ditebus, dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuh kita dan melakukan kehendak-Nya. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan dan karena Allah telah menebus kita?
NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENGAMPUNI KITA
Ketika manusia ditebus, Allah mengampuninya. Menebus manusia berarti Ia mengambil alih dan memberikan kondisi baru pada manusia. Allah yang memanggil dan menjadikan kita sebagai milik-Nya; Ia pun menjadikan kita “manusia baru”, manusia yang telah menanggalkan kehidupan lama penuh dosa dan mengenakan manusia baru yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ia mengampuni berarti Ia pula menguduskan kita untuk hidup bagi-Nya.
Rasul Paulus menyatakan, bahwa “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:19-20). Ketika kita telah ditebus dan diampuni Tuhan, maka yang kita lakukan bukanlah kemauan kita (yang dapat berpotensi melahirkan dosa), melainkan karena dorongan Allah untuk melakukan kehendak-Nya yang sempurna; Ia mendidik kita untuk menjadi pribadi yang benar dan jujur, layak dan kudus di hadapan-Nya. Makna pengampunan Allah bagi kita adalah kita melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Natal Yesus Kristus adalah realisasi dari kehendak Allah untuk tujuan penebusan, pengampunan, pendamaian, pembenaran, dan penyelamatan. Tak ada manusia yang cukup syarat untuk menyatakan dirinya bahwa ia mampu menyelesaikan dosa-dosanya sendiri. Sekuat dan sehebat apa pun manusia, ia tak akan pernah bisa menyelesaikan dosa-dosanya di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan menebus kita, maka implikasinya adalah Ia menjadikan kita sebagai milik-Nya sendiri. Dengan demikian, bukan lagi kita yang berkuasa atas diri kita, melainkan Kristus. Penebusan bertujuan untuk mengampuni pribadi kita yang terbelenggu dosa. Ia melepaskan kita dan mengampuni kita. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan dan karena Tuhan telah mengampuni kita?
NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENYELAMATKAN KITA
Penebusan dan pengampunan Tuhan adalah bertujuan untuk menyelamatkan kita. Keselamatan dilakukan Tuhan dengan cara menebus dan mengampuni umat-Nya. Rencana keselamatan Tuhan telah ditetapkan sejak kekekalan sebagaimana yang ditegaskan Rasul Paulus dalam dua suratnya yaitu Efesus 1:4-10 dan Roma 8:28-30 berikut ini:
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.”
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Keselamatan hanya ada dan diberikan oleh Tuhan. Natal Yesus Kristus adalah ketetapan Tuhan dan cara Dia menyelamatkan manusia. Natal dan Salib adalah dua peristiwa penting dalam sejarah iman Kristen (selain dari kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga) yang terkait erat dengan “Historical Redemption”.
Dalam Perjanjian Lama keselamatan yang Tuhan kehendaki berangkat dari “Kasih Karunia-Nya” yang terdiri atas dua hal yaitu: pertama, murni karena Tuhan secara langsung memberikan kasih karunia-Nya; dan kedua, Tuhan menghadirkan media penebusan dan pengampunan (darah kurban yang tak bercacat cela) agar umat-Nya menerima keselamatan. Perjanjian Baru menggenapi dua hal tersebut: keselamatan itu murni karena karena kasih karunia Tuhan (Efesus 1:8) dan keselamatan ditempuh melalui salib Yesus Kristus: DARAH dan KEMATIAN. Darah adalah lambang kehidupan dan kematian adalah lambang kebangkitan. Untuk itulah Yesus menegaskan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yohanes 11:25-26).
Lalu mengapa Tuhan harus menunjukkan cara penyelamatan melalui DARAH dan KEMATIAN? Kita perlu memperhatikan bahwa cara ini adalah ketetapan dan kedaulatan Tuhan; Ialah yang berhak menetapkan cara menebus dan menyelamatkan manusia. Konsep keselamatan menurut iman Kristen benar-benar berangkat dari titik awal manusia berdosa dan inisiatif Tuhan untuk menyelamatkan manusia yang telah berdosa kepada-Nya.
Sekarang ada agama-agama yang berjuang untuk mengumpulkan pengikutnya ketimbang memikirkan bagaimana hidup bagi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya sebagai realisasi dari hidup yang ditebus, diampuni, dan diselamatkan oleh Tuhan. Kekristenan tidak berpusat pada berapa banyak orang yang mengaku Kristen, tetapi berpusat pada pemahaman bahwa “MANUSIA TELAH BERDOSA KEPADA TUHAN DAN TUHAN TELAH MENYATAKAN CARA UNTUK MENYELAMATKANNYA DARI DOSA-DOSA MEREKA YAITU MELALUI ‘DARAH’ DAN ‘KEMATIAN [SALIB]’”.
Dalam pandangan agama-agama dan kepercayaan lain, salib atau kematian Yesus merupakan suatu kebodohan, batu sandungan dan tidak masuk akal. Tetapi cara ini telah membuktikan bahwa Tuhan itu hebat dan luar biasa. Ia menggunakan salib yang dianggap bodoh untuk membungkamkan hikmat manusia; cara yang dianggap tidak masuk akal dipakai Tuhan untuk menyatakan bahwa manusia, dengan akal budinya, dengan rasionya tidak dapat membebaskan diri dari dosa yang membelenggunya; cara yang dianggap sebagai batu sandungan justru sekarang menjadi “BATU PENJURU”.
NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENGUDUSKAN KITA
Tuhan tidak hanya menebus dan mengampuni kita untuk menerima keselamatan yang Ia berikan, tetapi juga menguduskan kita. Tuhan itu kudus dan setiap orang percaya harus hidup kudus di hadapan-Nya. Tuhan membenci dosa dan Ia mengasihi orang berdosa. Itu sebabnya, ketika Ia menebus dan mengampuni kita (kita telah menjadi miliki-Nya), maka kita harus melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, dan bukan sebaliknya.
Rasul Petrus menegaskan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:115-16). Kudus berarti “terpisah” dari dunia [dosa]. Ketika kita menjadi milik Kristus, maka segala sesuatu yang kita lakukan dan pikiran harus selaras dengan firman-Nya (kehendak-Nya). Hidup kudus adalah kehendak Tuhan dan hanya mereka yang kudus yang diperkenankan Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Dalam Ibrani 12:14 dituliskan: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.”
Kekudusan adalah milik Tuhan; Ia telah menetapkan supaya kita hidup kudus dan berkenan kepada-Nya. Kekudusan adalah bagaimana cara kita hidup di hadapan-Nya. Kelahiran Yesus sebagai Anak Allah yang Kudus mengimplikasikan bahwa Ia akan menguduskan umat pilihan-Nya yang ditebus, diampuni, didamaikan, dibenarkan, dan diselamatkan. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan Tuhan dan karena Tuhan telah menguduskan kita?
NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MEMBENARKAN KITA
Pada akhirnya, Tuhan membenarkan kita. Ia tidak hanya menebus, mengampuni, menyelamatkan dan menguduskan kita, tetapi Ia membenarkan atau menyatakan benar di hadapan-Nya. Iblis selalu menuduh kita sebagai manusia berdosa dan pendosa, tetapi Tuhan menyatakan bahwa “kita sudah dibenarkan dalam Kristus Yesus”.
Natal Yesus Kristus adalah tanda bahwa selain menebus, mengampuni, menyelamatkan, dan menguduskan kita, Ia juga yang membenarkan kita. Natal Yesus Kristus tidak hanya dipahami sebatas Natal saja, melainkan dipahami secara komprehensif dari perspektif Sejarah Penebusan.
Yesus Kristus telah membenarkan kita. Sejak peristiwa Natal-Nya, Yesus Kristus melayani tiada henti. Ia mempublikasikan kasih dan kuasa-Nya sebagai Anak Allah Yang Kudus—Sang Logos Ilahi yang menjadi manusia dan tinggal di antara manusia. Kasih dan kuasa-Nya begitu mengagumkan. Meski pada akhirnya Yesus disalibkan, orang-orang menganggapnya sebagai sebuah kebodohan dan batu sandungan, namun peristiwa kematian Yesus tidak berakhir di situ. Ia bangkit dari kematian. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Yesus mati untuk penebusan dan pengampunan: darah dan kematian-Nya menunjukkan bahwa ada kehidupan dalam darah yang dicurahkan-Nya dan ada kebangkitan dari kematian-Nya. Itu sangat luar biasa.
Rasul Petrus menegaskan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).
Penebusan juga menghasilkan pembenaran. Yang dapat membenarkan manusia hanyalah Tuhan saja. Manusia tidak dapat membenarkan dirinya sendiri. Tuhan telah membuktikan bahwa mereka yang telah ditebus, diampuni, diselamatkan, dan dikuduskan, telah “dibenarkan”. Mengenai hal ini, Rasul Paulus menjelaskan mengenai pembenaran umat-Nya oleh Kristus Yesus:
Roma 3:24, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
Roma 5:9, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”
Roma 8:30, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
1 Korintus 6:11, “… Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Galatia 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat….”
Titus 3:7, “supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.”
Kita dibenarkan dari berbagai kesalahan; kita dibenarkan dari segala sesuatu yang menyimpang; kita dibenarkan dari rasa benar pada diri sendiri. Sekarang kita menjadi milik Kristus. Kita diberikan sukacita dan kedamaian.
Natal adalah sukacita yang dibagikan Tuhan kepada kita. Sukacita itu meluap dari hati yang memahami bahwa Tuhan telah menyatakan kasih dan kuasa-Nya melalui Natal Yesus Kristus. Ia memberikan sukacita agar kita bernyanyi memuji Dia. Kita dapat mengekspresikan sukacita itu dalam bentuk ungkapan syukur.
Kepedulian Tuhan kepada manusia tampak dalam peristiwa Natal Yesus Kristus. Lengkap sudah sukacita umat Kristen. Kita telah dimerdekakan di dalam Kristus Yesus. Tuhan mengambil alih kehidupan kita dan mengarahkan kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya. Natal Yesus Kristus memberi harapan bagi manusia untuk menatap masa depan.
Natal Yesus Kristus berarti Tuhan mengampuni kita. Ketika manusia ditebus, Tuhan mengampuninya. Penebusan bertujuan untuk mengampuni dan melepaskan kita dari segala yang jahat.
Natal Yesus Kristus berarti Tuhan menyelamatkan kita. Penebusan dan pengampunan Tuhan bertujuan untuk menyelamatkan kita. Keselamatan hanya ada dan diberikan oleh Tuhan.
Natal Yesus Kristus berarti Tuhan menguduskan kita. Kita tahu bahwa Tuhan itu kudus dan setiap orang percaya harus hidup kudus di hadapan-Nya.
Natal Yesus Kristus berarti Tuhan membenarkan kita. Ia menyatakan benar kepada kita yang bersalah di hadapan-Nya.
Natal adalah kepedulian Tuhan Allah bagi manusia yang berdosa; Ia memberikan sukacita Surgawi kepada kita. Marilah kita bersukacita dan menyanyikan pujian bagi Yesus Kristus. “Gloria, in Excelcis Deo”.
Soli Deo Gloria
Sumber gambar:















