NATAL DAN KEUTAMAAN YESUS KRISTUS

81357.jpg

Sejak Natal-Nya dan kemudian pelayanan-Nya, serta karya penebusan-Nya, Yesus Kristus menjadi tokoh sentral dalam seluruh pembahasan Perjanjian Baru. Konsep mengenai Kristologi menjadi sangat jelas dalam seluruh PB. Inkarnasi-Nya memberi pemahaman baru bahwa Allah datang dalam rupa manusia (Flp. 2:6 dst.) guna mendamaikan antara Allah dan manusia. Kristus menjadi pengantara-Nya. Berdasarkan apodeiktik (penjelasan, pemaparan), kesaksian, dan protestasi (pernyataan) Kitab Suci, Yesus Kristus adalah Allah, dan pra-eksistensi-Nya adalah kekal.

Untuk melihat keutamaan (suprematif) Yesus Kristus, kita perlu memahami beberapa bukti berikut ini.

PERTAMA: YESUS ADALAH GAMBAR ALLAH (KOLOSE 1:15)

Dalam teologi Paulus, dia mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian prahistoris dan suprahistoris. Kristologi yang dielaborasikan secara sentripetal oleh Paulus mencakup banyak hal. Hal ini merupakan aposteriori dari Paulus secara pribadi dan merupakan destinasi yang paling sentral dalam Perjanjian Baru. John Drane mengatakan: Batu penjuru iman Paulus adalah pengalamannya sewaktu bertemu dengan Kristus yang bangkit itu … perjumpaan tersebut mengilhami Paulus untuk menyampaikan kepada orang lain berita hidup tentang Yesus, yang telah mengubah hidupnya secara begitu radikal … bahkan merupakan sumber pemikirannya sebagai seorang penginjil dan teolog Kristen. Ia bertobat secara intelektual, emosional dan spiritual (John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 407-08).

82358.jpg

Dalam kitab-kitabnya, Rasul Paulus mendeskripsikan mengenai totalitas karya Kristus yang menjadi manusia (inkarnasi-Nya), menderita, bangkit dan naik ke sorga dan memimpin semua umat-Nya yang rela mati bagi Dia (bdk. Gal. 4:4; Rm. 8:3; 2 Kor. 8:9; Flp. 2:6; Kol 1:15; Rm. 8:32).

Dari pemahaman Perjanjian Lama mengenai kata “gambar”, Anthony Andrew Hoekema, pendeta Calvinis, teolog, dan profesor teologi sistematika di Calvin Theological Seminary, menjelaskan bahwa kata yang diterjemahkan sebagai “gambar” adalah “tselem (sedangkan kata yang diterjemahkan sebagai “rupa” adalah “demuth). Kata “tselem”—ketika diterapkan kepada manusia—maka kata tersebut mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah; artinya manusia merupakan suatu representasi Allah (Hoekema, Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah, 17-18).

Pada konteks “gambar Allah” yang dikenakan pada Yesus, menurut Hoekema, “jika kita ingin mengetahui mengetahui seperti apa sebenarnya gambar Allah di dalam diri manusia, kita harus melihat pada Kristus. Ini berarti, apa yang sentral di dalam gambar Allah bukanlah rasio atau inteligensi melainkan kasih, karena di dalam kehidupan Kristus, tak ada yang lebih menonjol dibandingkan dengan kasih-Nya yang ajaib. Dengan kata lain, di dalam Kristus kita melihat dengan jelas apa yang tersembunyi di dalam Kejadian 1, yaitu seperti apakah seharusnya manusia sebagai gambar Allah yang sempurna” (Hoekema, Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah, 94).

Kata “gambar” dalam Perjanjian Baru digunakan katan “eikōn”, yang setara dengan kata Ibrani “tselem” (Hoekema). Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan” merujuk pada aspek substansial, dan bukan fisik. Allah tidak berwajah sama seperti wajah manusia. Manusia sebagai gambar Allah juga bukan merujuk pada aspek fisik, melainkan pada representasi Allah dalam hal kuasa (Kejadian 1:28), kehendak, dan otoritas, yang diberikan Allah kepada manusia.

Knox menjelaskan, bahwa “sebelum menjadi manusia. Kristus berada ‘dalam rupa Allah’ (Flp. 2:6a), yaitu ‘serupa dengan Allah’ (2:6b) – kedua istilah ini menyatakan perbedaan Kristus dari Allah (Theos) sekaligus menegaskan keilahian-Nya.” Kata yang digunakan di sini adalah “morphē”, yang menurut J. H. Moulton dan George Milligan, selalu merujuk kepada suatu bentuk atau rupa yang betul-betul dan sepenuhnya mengekspresikan keberadaan yang melandasinya (Knox, Paulus dan Diri, 62).

Aspek substansial dalam konteks “eikōn” Allah yang ada pada diri Yesus, adalah kuasa-Nya atas hidup manusia, atas maut, atas alam semesta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17). Menurut Hoekema, ada hubungan antara inkarnasi Yesus dengan gambar Allah yang melekat pada diri-Nya, sehingga ia berkesimpulan bahwa “inkarnasi menegaskan doktrin gambar Allah” (Hoekema, 28-29). Konsep bahwa Kristus sebagai gambar Allah berhubungan dengan doktrin inkarnasi, juga dipahami oleh E. K. Simpson dan F. F. Bruce.

Hoekema menambahkan: “inti dari gambar Allah adalah apa yang menjadi inti di dalam kehidupan Kristus: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Jika benar bahwa Kristus secara sempurna menggambarkan Allah, maka inti dari gambar Allah pastilah kasih karena taka da manusia yang pernah mengasihi seperti Kristus mengasihi.” (Hoekema, 29).

39070.jpg

Apa yang diungkapkan Hoekema di atas adalah perluasan pemahaman dari teks Yohanes 3:16, “Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Terjemahan Lama). Kasih Allah menjadi dasar dari inkarnasi Logos, dan karena itu, sebagai gambar Allah, Yesus Kristus menyatakan kasih Allah untuk menebus, menyelamatkan, menguduskan, mendamaikan, dan membenarkan kita.

Dalam pemahaman J. Knox Chamblin, profesor Perjanjian Baru di Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississipi, “kasih Allah merupakan dasar bagi rencana keselamatan-Nya. Kasih yang mula-mula terekspresikan dalam pra-pengetahuan Allah akan suatu umat, selanjutnya dinyatakan dalam penetapan mereka: ‘Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula (mempredestinasikan kita)’” (Efesus 1:4-5) (Knox, 58). Singkatnya, “Allah menggenapkan rencana-Nya dan mewujudkan kasih-Nya melalui kebesaran kuasa-Nya yang tak terukur” (Efesus 1:19) (Knox, 59).

82586.jpg

Masih dalam konteks “gambar Allah”, dalam Kolose 1:15-20, Paulus memulai dengan aksentuasi bahwa Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Ada  beberapa bagian Alkitab yang menuliskan mengenai hal ini: Pertama: …Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Kor. 4:4); Kedua: Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:5); dan Ketiga: …yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap….(Flp. 2:6). Ketiga rumusan ini penting karena cara Paulus menyatakan kemuliaan ilahi Kristus sangat bermakna dan mencirikan Kristologinya. Dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah”, Paulus menunjukkan bahwa kemuliaan Kristus adalah kemuliaan Allah sendiri, serta menjelaskan pra-eksistensi-Nya. Ayat-ayat di atas menunjukkan sampai sejauh mana Kristologi Paulus digarisbawahi oleh kemuliaan ilahi yang telah Kristus sandang dalam pra-eksistensi-Nya bersama Allah, sebelum Ia menyatakan diri untuk melakukan karya penebusan-Nya di kayu salib.

Di lain pihak, pemaparan kemuliaan ilahi Kristus ini memberikan petunjuk baru bagi karakter sejarah penebusan dari Kristologi Paulus. Salah satu sumber menyebutkan bahwa: sebutan Kristus sebagai “gambar Allah” jelas mengingatkan kita kepada Adam yang di Kejadian 1:27; 5:1 dst.; 9:6, disebut diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah.” Saat Paulus menyebutkan Kristus sebagai “Adam kedua” (1 Kor. 15:45 dst.), ia menyebut Kristus sebagai “manusia kedua.”  Tetapi dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah”, setidaknya dalam Kolose 1:15 (dan Flp. 2:6), Paulus menyebut Kristus sebagai yang berpra-eksistensi dalam kemuliaan ilahi-Nya. Bahkan sebutan “gambar Allah” di sini bisa dipakai untuk menunjukkan  bahwa Paulus bermaksud menjelaskan “relasi kekal antara Bapa dan Anak”.

 Istilah Gambar Allah menekankan keilahian Yesus, walaupun kemanusiaan-Nya juga tampil ke depan dalam beberapa ayat surat-surat Paulus yang menggunakan istilah yang sama. Yesus memiliki Gambar Allah karena Ia sama dengan Allah dan memiliki natur ilahi secara penuh: “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9), dan “…tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan….” (Filipi 2:6; bdk. Roma 9:5).

KEDUA: YESUS KRISTUS ADALAH “YANG SULUNG” (KOLOSE 1:15)

Donald Guthrie menjelaskan, arti kata “sulung”—prōtotokos—mesti dimengerti dalam arti “terutama” (Guthrie, 642). Artinya Kristus bukanlah diciptakan, karena ayat 16 justru meneguhkan bahwa “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu”. Frasa “yang sulung” menunjuk kepada dua hal: Keberadaan Kristus mendahului keberadaan ciptaan (ay. 17: “Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu”) dan Ia sebagai “Yang Sulung” (“firstborn”) adalah Tuhan dan ahli waris pertama dari segala sesuatu (ayat 16: “segala sesuatu diciptakan…untuk Dia”). 

Frasa “yang sulung”, lebih utama dari segala yang diciptakan merujuk kepada Adam kedua, yaitu Yesus Kristus dengan mengacu pada pembandingannya dengan Adam pertama sebagai yang sulung dari ciptaan Allah (Adam lebih dahulu diciptakan, barulah Hawa, istrinya). Kaitan ini tidak hanya menunjukkan waktu penciptaan, tetapi ordo dan posisi, sehingga mengingatkan kita pada posisi Adam dibandingkan dengan semua ciptaan lain, karena ia diciptakan menurut  gambar dan rupa Allah. Yang lebih penting, Paulus juga menyebut Adam kedua sebagai yang sulung. Aposisi (ungkapan penjelas) dari “yang sulung” (Yun. prototokos) adalah “yang ada sebelum” dan “yang lebih tinggi” (Sutanto, PBIK, 1068).

Nama ini [yang sulung] muncul dalam Kolose 1:18 ketika Kristus disebut sebagai yang sulung yang pertama bangkit dari antara orang mati (bdk. Rm. 8:29), di mana dalam kaitan dengan “gambar Allah”, Kristus sekali lagi disebut sebagai yang sulung di antara banyak saudara. Selain itu, kaitan antara Kristus sebagai yang sulung dan “gambar Allah”, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, ini pula yang membuat Paulus mengontraskan Kristus sebagai manusia kedua, dengan Adam sebagai manusia pertama (1 Kor. 15:45). Jadi, menurut Ridderbos, dalam Kolose 1:15, Paulus sekali lagi mengenakan kategori “Adamitis” yang sama (“Gambar”, “Yang Sulung”; yang ia pakai untuk menjelaskan makna Kristus dalam “eskatologi”) untuk menjelaskan “protologi”-nya.

Kristus sebagai Gambar Allah, Yang Sulung, memang tidak semata-mata berasal dari lukisannya akan Kristus sebagai Adam kedua dalam 1 Korintus 15 dan Roma 5. Jika dalam 1 Korintus 15 dan Roma 5, Kristus adalah Adam yang akhir, yang dalam sejarah penebusan datang setelah Adam pertama, maka dalam Kolose 1:15, sebagai Yang Sulung Gambar Allah, Ia mendahului Adam pertama sehingga dalam pengertian ini, Adam pertama tidak bisa dilihat sebagai “gambaran” Kristus sebagaimana dalam Roma 5 dan 1 Korintus 15. Meski kita dapat memakai hal ini untuk mengatakan bahwa perepresentasian Kristus sebagai Adam bersifat rangkap dua tetapi dalam Kolose 1:15, tempat Kristus dalam ciptaan pertama jelas beranalogi dengan makna Kristus sebagai Adam kedua dalam ciptaan baru.  

Three wisemen cross stitch pattern Christmas cross stitch image 2

KETIGA: DI DALAM DIA, OLEH DIA DAN UNTUK DIA SEGALA SESUATU DICIPTAKAN (KOL. 1:16)

Di dalam Dia (en autoi) berarti: keberadaan segala sesuatu yang diciptakan hanya mungkin karena Yesus Kristus  (itu juga berlaku  bagi kuasa-kuasa yang tidak kelihatan). Segala sesuatu juga diciptakan oleh Yesus Kristus (di autou) dan untuk Dia (eis auton). Kedua istilah ini (oleh Dia dan untuk Dia), bersama-sama dengan istilah “di dalam Dia” menegaskan bahwa kuasa Kristus mencakup segala sesuatu (bdk. 1 Kor. 3:21-23 dan Roma 8:38-39).

Dalam pengertian ini, kita dapat menyebut Kolose 1:15-20 sebagai batu penjuru Kristologi Paulus; meski kita perlu menambahkan bahwa apa yang membuat Paulus menulis perikop ini, bukan spekulasi teologis, tetapi perhatian pastoralnya bagi jemaat dan usahanya menangkis ajaran yang menentang makna sejati dan keselamatan yang dinyatakan dalam Kristus (bdk. Ef. 3:18; Kol. 2:2-3). Yesus lebih unggul daripada segala kuasa yang ada, karena Dia sendiri tidak diciptakan. Asal-asal usul Kristus tidak dibicarakan. Dia ada sebagai Anak Allah dan mencerminkan dalam diri-Nya natur Allah Bapa.

Mengapa Yesus lebih unggul dari segala kuasa yang ada? Ada beberapa alasan yang mendasari-Nya:

(1) Dalam seluruh Kitab Suci, tidak pernah ada satu kuasa pun yang pernah mengalahkan kuasa Yesus.

(2) Iblis yang mencobai Ayub pada akhirnya harus mengakui ketaatan Ayub dan kuasa Allah atas hidup Ayub. Iblis juga kalah pada saat tindakan pencobaan yang dilakukannya kepada Yesus di padang gurun. Ia mundur dari Yesus.

(3) Kuasa maut dikalahkan oleh kebangkitan Yesus Kristus. Juga kuasa-kuasa manusia.

(4) Yesus menunjukkan kuasa-Nya kepada banyak orang, kepada para murid-Nya dan berlanjut kepada para rasul yang diutus-Nya. Tidak ada indikasi satupun mengenai kekalahan Yesus terhadap segala kuasa yang ada di dunia.

(5) Keunggulan Kristus dan kuasa-Nya dalam Kitab Suci telah cukup untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang kekal, berotoritas, berdaulat, berkehendak, berkuasa atau mati hidupnya manusia.

(6) Allah Tritunggal telah menyatakan segala kuasa dan kehendak-Nya atas seluruh ciptaann-Nya yang membungkamkan semua kemunafikan manusia. Di manakah manusia yang bisa melawan-Nya? jika ada, manusia pun jatuh (kalah) ke dalam jerat Iblis. Itu berarti manusia kalah terhadap Iblis. Jika Iblis kalah terhadap kuasa Allah, apalagi manusia, yang hanyalah debu?

(7) Seluruh keunggulan Kristus, sangat dijamin kebenarannya dalam Kitab Suci. Kitab Kolose telah menyatakan kepada kita.  

Dari elaborasi di atas, kita dapat memahami karya Allah di dalam Yesus Kristus dan karya keselamatan yang telah dikerjakan-Nya dengan sempurna. Berkenaan dengan hal itu, kita tidak dapat memisahkan karya-Nya dengan keunggulan-Nya, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Jika tidak, maka Ia bukanlah Allah yang sempurna. Dia yang menciptakan manusia dengan tujuan kekal-Nya, Dia pula yang menolong manusia dari keberdosaannya. Dialah yang memilih dan menyelamatkan kita dari segala kejahatan dosa, untuk menerima kehidupan kekal yang telah dijanjikan-Nya.

Holy Family-Lo-res.jpg

Paulus telah memberikan eksplikasi yang baik sehingga teologinya mengenai Kristologi juga merupakan egalisasi (penyelesaian) akhir dari segala keraguan manusia mengenai Kristus. Dengan demikian, keutamaan Kristus berawal—jika dipahami dari konteks inkarnasi-Nya—dari kelahiran-Nya, dan kemudian pelayanan serta karya-Nya.

Natal-Nya adalah awal keajaiban dan kekuasaan Allah atas manusia. Kedatangan Sang Logos ke dalam dunia memiliki tujuan yang sangat baik: menyelamatkan manusia. Peristiwa Natal Yesus Kristus adalah momen sejarah yang tidak hanya ajaib, tetapi juga spektakuler. Pengaruhnya begitu mendunia. Hal ini didahului oleh pujian bala tantara sorga kepada Allah:

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14).

Tidak ada yang dapat mengalahkan damai sejahtera Allah bagi manusia di bumi ini. Jika bukan damai sejahtera Allah yang menguasai dan mempengaruhi bumi, pasti manusia akan mati dalam dosa. Yesus adalah DAMAI SEJAHTERA kita. Dialah JURUSELAMAT yang AJAIB, Gambar Allah yang sempurna, yang menyatakan Allah kepada manusia sekaligus menjadi Imanuel: Allah yang bersama-sama dengan manusia. Ia diam (eskēnōsen, menetap, tinggal dalam kemah) di antara kita. Bersyukurlah.

Selamat Menyambut Natal

Salam Bae.

84124.jpg

Referensi:

Ridderbos, Herman, Paulus: Pemikiran Utama Theologinya (Surabaya: Momentum, 2008).

Mak, Dick, Sejarah Penyataan Allah PB I (Jakarta: SETIA, 2008).

Drane, John, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996).

Sutanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru. Jilid I (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006).

Hoekema, Anthony, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya: Momentum, 2008).

Chamblin, J. Knox, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi (Surabaya: Momentum, 2011).

Guthrie, Donald, “Tafsiran Kolose”, terj. P. D. Latuihamallo dan P. S. Naipospos, dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini 3. Matius-Wahyu (Jakarta: YKBK, 2012).

Sumber gambar:

  1. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/81357-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  2. https://i.pinimg.com/originals/5b/0e/cd/5b0ecd8cbc920b6fc9a670ed88fd9776.jpg
  3. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/84124-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  4. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/holy-family-lo-res-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  5. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/80761-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  6. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/39070-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  7. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/82586-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  8. https://www.etsy.com/listing/616125768/three-wisemen-cross-stitch-pattern?ga_order=most_relevant&ga_search_type=all&ga_view_type=gallery&ga_search_query=christian+cross+stitch+pattern&ref=sr_gallery-2-7&organic_search_click=1&epik=dj0yJnU9MFJQd1JFRDF4UXFXZWVRUUZNaDFjekstLTI5UXlPZWomcD0wJm49ZWJpQUdaUV9LV1g0YVhFY1VVV2ZWQSZ0PUFBQUFBR0dvUGk0

NATAL: MENERIMA ATAU MENOLAK DIA?

Persoalan terbesar manusia adalah dosa. Tak ada satu pun manusia yang terbebas dari dosa; tak ada satu pun manusia yang dapat menolak (menampik) dosa dan membebaskan dirinya dari dosa. Tak satupun manusia yang cukup kuat untuk bisa menyingkirkan dosa, baik dosa perbuatan, perkataan, maupun pikiran. Melihat kondisi ini, kita dapat mengajukan pertanyaan: “Jika manusia tidak mampu keluar dari masalah dosa, maka siapa yang dapat menyelamatkan mereka dan membawa mereka keluar dari dosa tersebut?

Kitab Suci menjelaskan fakta mengenai masalah ini, bahwa hanya Allah yang sanggup menyelesaikan masalah dosa manusia. Dengan begitu, kita melihat bahwa Allah telah membuktikan kuasa-Nya atas hidup manusia dengan membebaskannya dari belenggu dosa; manusia dimerdekakan, ditebus, diselamatkan, dan dikuduskan oleh-Nya. Hasil akhir dari itu semua adalah “kehidupan kekal” bersama Dia dalam Kerajaan-Nya.

Kita melihat bahwa apa yang dilakukan Tuhan Allah di dalam masa Perjanjian Lama mengenai fakta penebusan yang mengandung aspek penting, yaitu: kehidupan, darah, dan kematian,  kini Ia lakukan juga di masa Perjanjian Baru, yaitu melalui Yesus Kristus—Logos Allah yang menjadi manusia. Di sini Allah memperlihatkan “cara” tertentu untuk menyatakan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya bagi manusia yang berdosa. Memang benar, di masa PL, Alah dengan setia menyatakan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya melalui tata cara penebusan bagi keselamatan umat-Nya, dan cara itulah yang dilakukannya melalui Yesus Kristus.

Keberdosaan manusia menjadikannya terpisah dari Allah, dan Yesus Kristus, dalam inkarnasi-Nya menjadi “mediator” antara Allah dan manusia. Tidak hanya itu, Ia menjadi “pendamai”. Manusia yang berdosa harus bertobat dan kembali kepada-Nya. Manusia harus hidup dalam kebenaran, yang berarti “menerima Yesus Kristus” sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ia, yang adalah “Terang”, menerangi hati manusia untuk melihat kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya.

Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Sang Logos adalah Terang Surgawi yang “sedang datang, telah ada di dalam dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya” (Yohanes 1:9-10). Peristiwa inkarnasi Logos yang menempati (memasuki) “daging” manusia menjadi peristiwa besar yang kita sebut dengan “Natal”.

Terang Surgawi itu pasti menerangi. Itu adalah konsistensi logis dari ketetapan Allah. Ia menerangi kegelapan hidup (hati dan pikiran) manusia karena dosa-dosa. Ketika Sang Terang itu datang ke dunia, “dunia tidak mengenal-Nya” (ay. 10). Bahkan, lebih parahnya, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi mereka tidak menerima-Nya” (ay. 11). Dunia—yang ditutupi dosa—tidak dapat melihat Terang itu, kecuali Terang itu datang dan menyapa mereka. Penolakan dunia atas Terang adalah fakta bahwa “kebenaran” dapat ditolak, di samping diterima dan diimani.

Natal yang kita rayakan adalah bukti bahwa kita “menerima” Dia—Yesus Kristus. Meski inkarnasi-Nya adalah sebuah misteri yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia, kita tetap memilih menerima Dia; kita menerima-Nya juga adalah karena kuasa-Nya yang memampukan kita untuk memilih Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat kita.

“Menerima atau menolak Dia” ada sebuah pilihan, tetapi ketika sebuah fakta yang sungguh meneguhkan iman, maka fakta itu jangan kita ditolak. Yesus—Firman menjadi daging (ho logos sarks egeneto)—adalah sebuah fakta dan sekaligus misteri. Allah memulai inkarnasi-Nya dengan menunjukkan kuasa-Nya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Jika Allah memulai inkarnasi Logos-Nya dengan penuh kuasa, apalagi yang kita ragukan? Sepanjang sejarah kekristenan, kuasa Allah begitu nyata. Tanpa itu, kekristenan telah lama lenyap. Allah konsisten menunjukkan kuasa-Nya, baik dalam sejarah di Perjanjian Lama, maupun pada peristiwa inkarnasi, sampai kepada kita sekarang ini. Ia adalah Tuhan yang berkuasa membawa manusia keluar dari dosa, keluar dari “kegelapan dunia”; sebagai Terang, Ia menerangi hati dan pikiran mereka untuk melihat kepada-Nya, Juruselamat itu.

Mengenal Dia adalah tuntutan untuk mendapatkan dan menerima terang dari-Nya. Dosa menjadi kendala dan penghambat utama, sehingga Terang itu ditolak. Baik yang menolak dan menerima Terang itu, ada konsekuensi yang terjadi. Menolak berarti binasa; menerima berarti menikmati kehidupan bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Rasul Yohanes (1:12) menyebutkan bahwa “mereka yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Percaya adalah dasar utama untuk menikmati kasih Tuhan. Menjadi anak-anak-Nya berarti mengikuti petunjuk dan perintah-Nya, tidak menyimpang dari kehendak-Nya. Ketika hati kita tertambat pada-Nya, maka segala sesuatu yang dilakukan, haruslah selaras dengan kehendak-Nya. Dia menyatakan bahwa Ia adalah Juruselamat yang berdaulat atas hidup manusia. Dia menggerakkan hati kita untuk menerima Dia, dan oleh sebab itu, kita harus berkomitmen “menerima Dia” sebagai Juruselamat yang mengarahkan hidup kita kepada kekudusan dan kebahagiaan.

Rasul Yohanes menunjukkan fakta mengenai inkarnasi Logos [Firman] yang “keluar” dari diri Allah dan “menjadi” daging [manusia] seperti yang dikehendaki-Nya. Itu adalah murni kuasa dan kedaulatan-Nya yang terkait dengan “historical of redemption”. Kedatangan Yesus ke dunia didasarkan pada kerinduan-Nya untuk memanggil manusia menerima anugerah keselamatan yang telah Ia tetapkan; Ia diam di antara kita; Ia benar-benar hadir dan menyapa manusia. Ia seutuhnya [plērōma] manusia, dan bukan setengah dewa.

Kita pun mengetahui bahwa peristiwa besar itu—inkarnasi Sang Firman—adalah fakta ontologi-Nya (Yoh. 1:15) yang telah ada sejak kekekalan, ada bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 1:1), dan Ia juga adalah Pencipta (Yoh. 1:3), tetapi “menyatakan diri-Nya” dalam wujud manusia, datang kepada manusia, menebus, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia, agar mereka diterima dalam Kerajaan-Nya.

Yesus tidak menjadi pribadi yang setengah Ilahi dan setengah manusia. Ia benar-benar “penuh” menjadi pribadi manusia: lahir, bertumbuh, makan, minum, haus, dan sebagainya. Logos secara “penuh” [plērōma] menjadi seperti manusia. Rasul Paulus menekankan hal ini: “…telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7).

Dengan menjadi manusia, Yesus memberikan kasih karunia yang luar biasa kepada manusia. Rasul Yohanes (Yoh. 1:16) menegaskannya: “Karena dari kepenuhan-Nya [plērōmatos] kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”. Tuhan menggunakan firman-Nya, para nabi, dan lainnya untuk menyatakan keselamatan; kini Ia menjadikan diri-Nya sendiri sebagai sarana penyampai kebenaran dan keselamatan. Kasih karunia datang oleh Firman-Nya, Yesus Kristus (Yoh. 1:17). Logos yang menjadi daging (manusia), menyatakan Bapa kepada kita (Yoh. 1:18), karena Logos keluar dari diri Bapa. Logikanya sederhana namun konsisten: Pikiran Allah merepresentasikan diri-Nya sendiri. Bahkan lebih dari itu, “menyatakan diri Allah sendiri”.

Kedatangan Sang Logos ke dalam dunia, selain menyatakan diri Allah, juga bertujuan untuk mengubah dunia (manusia). Inkarnasi Sang Logos, Terang Allah yang ajaib itu, menyatakan kemuliaan Bapa kepada manusia yang berdosa; kasih karunia yang diberikan-Nya, menjamin manusia dapat menikmati keselamatan itu dalam kehidupan (pelayanan dan kesaksian) di dunia dan di dalam Kerajaan-Nya kelak.

Janganlah kita menolak kasih karunia itu. Natal adalah kasih karunia Allah. Terimalah, dan pasti hidupmu akan mendapat ketenangan, kebahagiaan, keselamatan, dan kehidupan yang kekal (bdk. Yoh. 3:16). Terimalah Yesus Kristus yang telah lahir. Ia telah berbuat baik; Ia telah menyelamatkan kita, menebus dan menguduskan kita, Ia pula yang membenarkan kita; jika tidak, kita pasti sudah binasa. Tetapi syukur kepada Bapa. Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Natal yang telah dirayakan ribuan tahun, masihkah dapat mengubah diri kita? Masihkah kita menerima Natal sebagai sebuah kesadaran iman bahwa peristiwa tersebut sungguh ajaib dan luar biasa, tak dapat dipahami sepenuhnya? Kita pun harus mengakui bahwa perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib dan luar biasa, tak dapat dijangkau oleh akal kita. Sebaliknya, ketika Allah berulang kali menunjukkan kuat kuasa-Nya, mengapa kita masih ragu menerima-Nya?

Mari merayakan Natal. Terimalah Yesus, Sang Logos, yang menyatakan kehendak Bapa-Nya bahwa manusia berdosa membutuhkan “Juruselamat” di luar diri manusia; dia adalah Yesus Kristus, seperti yang diklaim-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://altusfineart.com/products/for-unto-us-a-child-is-born-minicard?utm_medium=social&utm_source=pinterest
  2. http://www.lookinggoodlicensing.com/content/itmcxm1591
  3. https://i.pinimg.com/originals/b2/cd/0a/b2cd0a3383fa9741fcc023d20d855abd.jpg
  4. https://altusfineart.com/collections/nativity-art?page=2&utm_source=pinterest&utm_medium=social

PEMAHAMAN MENDASAR DAN DISPARITAS LOGIS TENTANG TRINITAS

PENDAHULUAN

Ada berbagai pemikiran untuk memahami personalitas Allah. Dalam pengamatan saya, dua hal yang paling sering dilakukan oleh manusia dalam konteks ini adalah: memahami bagaimana sesungguhnya Allah dan memahami bagaimana seharusnya Allah. Pada pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah, manusia mendasarinya dengan berangkat pada “apa yang dinyatakan Allah tentang diri-Nya”. Konteks ini secara substansial memiliki bukti-bukti sejarah di mana Ia telah menyatakan diri-Nya terkait dengan realisasi rencana dan kehendak-Nya bagi kebaikan manusia; di sisi lain, Ia menghukum manusia yang berdosa yang dengannya Allah dapat dipahami sebagai pribadi yang baik dan adil yaitu menghukum mereka yang bersalah. Semuanya ini memiliki sumber rujukan atau “dokumentasi”. Oleh karenanya, pemahaman tentang bagaimana sesungguhnya Allah secara iman dapat diargumentasikan, didukung oleh dokumentasi dan peristiwa historis. Ketiganya yaitu argumentasi, dokumentasi, dan historis, saya sebut dengan filsafat iman.

Pada pemahaman bagaimana seharusnya Allah, manusia menggunakan berbagai konsekuensi logis untuk merumuskan tentang apa yang harus dimiliki, dilakukan, dan ditetapkan Allah. Manusia cenderung memahami Allah berdasarkan konsep logis bahwa jika Allah tidak begini, maka Ia pasti begitu. Berbagai hipotesis logis dikumandangkan untuk memuluskan pemahaman mereka tentang Allah.

01dk_B

Kekuatan logika dalam memahami personalitas Allah bukanlah hal yang baru. Logika memang diperlukan untuk memahami-Nya. Ini berlaku pada mereka yang percaya bahwa Allah yang menciptakan manusia; dan tidak berlaku bagi mereka yang tidak percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia (dalam pengertian khusus). Jurang pemisah dalam memahami personalitas Allah bukanlah pada bukti-bukti penyataan Allah, melainkan pada konsep logis, analogis, hipotesis, dan lain sebagainya. Memang, secara substansial, logika, analogi, dan hipotesis diperlukan dalam memahami personalitas Allah, hanya saja penggunaannya haruslah melihat demarkasi konteks, bukti-bukti penyataan, dan dokumentasi historis. Kesalahan menggunakan ketiganya — artinya karena berangkat dari a priori ketimbang aposteriori — berakibat pada negasi personalitas Allah dan menggunakan pemahanan bagaimana seharusnya Allah.

Secara historis, Kristen memahami Allah berdasarkan konsep bagaimana sesungguhnya Allah. Allah yang sesungguhnya berarti menyatakan diri; berdasarkan penyataan itulah, bukti bahwa konsep memahami Allah dipandang sebagai dapat dipercaya, bersifat historis, dapat diargumentasikan, memiliki dokumen pendukung (bukti-bukti penyataan itu sendiri). Berangkat dari pemikiran ini, maka doktrin Allah Tritunggul (atau disebut secara singkat dengan Trinitas), adalah doktrin yang memahami Allah yang sesungguhnya. Namun, patut diakui bahwa pemahaman akan personalitas Allah tetap menyisahkan misteri. Alasannya adalah karena keterbatasan logika yang tak mungkin menjangkau Allah yang tak terbatas itu (pengertian, pemahaman, analisis, dan sebagainya), sehingga apa yang dinyatakan itulah yang menjadi dasar pijakan pengetahuan tentang diri-Nya. Memaksa memahami Allah berdasarkan bagaimana seharusnya Allah, membawa seseorang kepada “rasa puas semu dan penyesatan”.

Bagaimana bisa dikatakan rasa puas semu? Puas, karena manusia dengan segala macam rumusan pikirannya menggunakan bukti analogis—dan bukan bukti penyataan—untuk merumuskan dan menyusun formula tentang bagaimana seharusnya Allah. Lalu bagaimana bisa disebutkan sebagai penyesatan? Alasannya karena rumusan dan formula tentang personalitas Allah yang bukan didasarkan pada penyataan bukanlah sebuah pemahaman yang kredibel, dan berpotensi mengusung pemahaman yang menyesatkan (mengasikan bukti penyataan). Permainan logika bisa dianggap logis tetapi tidak berarti itu sesuai dengan fakta penyataan.

Pada kasus Trinitas, beberapa orang memiliki pemahaman yang dangkal bukan karena mereka memahami personalitas Allah yang sesungguhnya melainkan karena mereka menggunakan cara berpikir tentang bagaimana seharusnya Allah yang terlihat cocok dengan logika mereka. Di sini, catatan pentingnya adalah “Allah tidaklah tunduk pada rumusan logika yang menyimpang tanpa bukti penyataan apa pun.” Sebaliknya, dalam pemahaman Kristen (yang menerima Trinitas) Allah dipahami sesuai dengan apa yang Ia nyatakan. Meski dipandang sebagai sesuatu yang sulit dan hampir tidak masuk di akal, Trinitas pada dirinya sendiri adalah fakta ontologis dan historis; kesimpulan logisnya adalah “Allah ada sebagaimana Ia ada, dan Allah dipahami sejauh Ia menyatakan diri-Nya”. Soal bagaimana Ia dipahami sebagai Trinitas, tentu ada jalur berpikirnya yang didasarkan pada fakta historis, dokumentasi pendukung, dan rgumentasi (isi-isi argumen berdasarkan historisitas dan dokumentasi).

Berbicara mengenai doktrin Trinitas, bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Ada orang-orang Kristen maupun non-Kristen beranggapan bahwa doktrin Trinitas sulit dipahami dan tidak masuk akal. Anggapan tersebut di satu sisi ada benarnya dan di sisi lainnya ada salahnya. Mengapa demikian? Alasannya adalah memahami pribadi Allah tidak semudah yang kita bayangkan. Oleh karena itu, mengatakan bahwa belajar Trinitas tidak masuk akal, sama saja dengan mengatakan bahwa doktrin keesaan Allah juga tidak masuk akal. Mengapa bisa tidak masuk di akal? Keesaan Allah diukur atau dinilai dengan apa? Apakah hanya diukur dari pernyataan bahwa “Allah itu esa”? lalu kita merumuskan bahwa “Allah itu satu saja”—maksudnya, diri-Nya hanya ada satu saja, bukan dua atau tiga, dan seterusnya? Tidak sesederhana itu. Mereka yang menganggap bahwa doktrin Trinitas menimbulkan banyak problem, sebenarnya juga menyatakan bahwa doktrin Unitarian memiliki problem yang sama. Kita perlu memahami dan mengakui bahwa Allah itu tidak terbatas – dan manusia terbatas pikirannya. Perumusan Trinitas tentu berdasarkan pada penalaran logis berdasarkan bukti ontologis dan historis.

02dk_B

Sebagai langkah awal, saya hendak menyatakan demikian, bahwa “Allah tidak menyatakan diri-Nya sebagai satu secara numerik, melainkan satu di antara ilah-ilah yang lain.” Maksudnya adalah, Allah sendiri menegaskan bahwa “objek” penyembahan haruslah hanya kepada Dia, dan bukan kepada ilah-ilah yang ada di bumi (ilah-ilah bangsa-bangsa lain di luar Israel). Jika hal ini dipahami secara baik, maka pemahaman akan personalitas Allah tidak membawa kita pada kancah perdebatan yang panjang. Pada dasarnya, memahami “keesaan Allah” haruslah dilihat dari konteks di mana Allah menyatakan bahwa hanya Diri-Nya yang ‘esa’—satu di antara ilah-ilah lain, bukan satu secara numerik tanpa melihat konteks eksistensi ilah-ilah lain di dunia ini. Di sini, titik berangkat prapemahaman seseorang akan pribadi Allah menentukan aspek pengetahuan kita tentang Allah. Dan pada hakikatnya, prapemahaman tersebut harus didasari pada wahyu [revelation, penyataan] Allah, bukan pada asumsi logika manusia semata.

TRINITAS: SATU ROH ATAU TIGA ROH?

Posisi saya adalah Trinitas memiliki “satu Roh”. Satu Roh merujuk pada tidak ada perbedaan kualitas kehendak, sehingga menggiring opini bahwa ketiga Pribadi Trinitas memiliki roh-Nya masing-masing. Tidak ada indikasi soal ini dalam Alkitab.

Perbedaan esensi dan pribadi haruslah dipahami secara baik. Sebagaimana yang diungkapkan Herman Bavink bahwa, “Kitab Suci juga jelas mengenakan natur ilahi dan kesempurnaan-kesempurnaan ilahi kepada Anak dan Roh dan menempatkan Mereka setara dengan Bapa. Maka Bapa, Anak dan Roh adalah subjek-subjek yang berdistingsi di dalam satu esensi ilahi.” Saya memahami esensi ilahi sebagai “Roh yang kekal” sebab natur Allah adalah “Roh” yang dapat dipahami sebagai “esensi hakiki” (self-condition) dan mutlak. Mutlak bukan karena kita yang melekatkannya melainkan “demikianlah adanya”.

Bavink berpendapat bahwa “di dalam Allah tidak ada pemisahan atau pembagian”, yang dapat saya pahami bahwa “Pribadi-pribadi Trinitas tidak memisahkan diri Mereka karena memiliki roh-Nya masing-masing apalagi ‘membagi’ distingsi roh Mereka masing-masing. Karena Trinitas memiliki ‘satu Roh’ maka tidak ada perbedaan kehendak, emosi, dan pikiran, sebagaimana yang tertuang dalam narasi-narasi Alkitab. Emosi, pikiran, dan kehendak Mereka—secara filosofis ‘ada dalam Roh yang satu itu’ sehingga berimplikasi kepada tidak adanya perbedaan kualitas emosi, pikiran, dan kehendak.” Lagipula, tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Pribadi-Pribadi Trinitas saling bertolak belakang dalam kehendak. Sama sekali tidak.

Memang, Pribadi-Pribadi Trinitas memiliki eksistensi-Nya tersendiri yang disting, tetapi hal itu bukan berarti eksistensi dipahami sebagai “satu roh dimiliki Yesus, satu roh dimiliki Roh Kudus, dan satu roh dimiliki Bapa. Eksistensi hanyalah mengacu pada “ke—ada—an” personalitas Mereka. Eksisten dan esensi memiliki perbedaan. Eksistensi mengacu pada kondisi “ada” dan “adanya” Pribadi-Pribadi Trinitas adalah sejak kekal yang tak terpahami, tak berawal. Ketika seseorang mengatakan: “kapan Allah mulai ada?” maka kita dapat bertanya juga dengan pertanyaan: “kapan manusia mulai berpikir”. Tidak ada jawaban atas dua pertanyaan di atas. Maka, secara faktual, tidak perlu ditanyakan.

Distingsi-distingsi antara ketiga Pribadi secara jelas tampak dalam relasi-relasi yang menghasilkan diferensiasi di dalam keberadaan ilahi (Bavink). “Setiap Pribadi adalah diri-Nya sendiri dalam suatu cara yang kekal, sederhana, dan mutlak, Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Dan karena ketiga-Nya adalah Allah, Mereka semua berbagian dalam “satu natur ilahi”. Maka, hanya ada satu Allah (Bavink).

Pemahaman saya mengenai “satu natur ilahi” merujuk kepada “satu Roh” yang dimiliki oleh tiga Pribadi, sehingga tidak ada perbedaan kualitas pendapat, pikiran, dan kehendak.

Mungkin, kesalahan mereka dalam memahami konteks “tiga roh” terjebak dalam kelogisan demarkasi personal sebagaimana yang diambil dari analogi manusia. Secara logis, ketiga Pribadi dalam Trinitas saling berdingsi, dan konsekuensi logisnya (maksudnya di sini saya hanya memahami makna logis, bukan menjelaskan pandangan saya) adalah Bapa punya roh, Yesus punya roh, dan Roh Kudus punya roh, jadinya ada tiga roh. Sampai di sini memang logis. Tetapi pertanyaan-Nya, apakah “roh” dari masing-masing Pribadi berbeda atau sama? Jika berbeda, bagaimana ukuran untuk sampai pada kesimpulan demikian? Bagaimana “roh”-Nya Roh Kudus bisa berbeda dengan roh Bapa yang dari-Nya Ia keluar? Bagaimana “roh”-Nya Yesus bisa dikatakan berbeda dengan roh Bapa padahal ia dilahirkan dari Bapa? Jika sama, maka implikasinya adalah hanya “ada satu roh” saja meski ada tiga Pribadi yang disting.

Oleh sebab itu, kesimpulan saya adalah: “hanya ada satu roh dalam Trinitas yang dengannya tidak ada perbedaan kualitas pikiran, emosi, dan kehendak karena tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah Trinitas berkelahi dan berbeda pendapat karena masing-masing meliki tiga roh. Justru Alkitab menjelaskan keselarasan dan kesamaan kehendak di antara Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Seperti pernyataan dalam Pengakuan Iman Westminter: “Di dalam Allah yang esa, terdapat tiga Pribadi, yang adalah satu dalam substansi, kuasa, dan kekekalan….” dan seperti yang diungkapkan A. A. Hodge sebagaimana dikutip oleh Cornelius Van Til, bahwa “Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang tunggal itu, dan bahwa esensi yang tidak bisa dibagi-bagi dan segala kesempurnaan dan prerogatif ilahi, adalah kepunyaan dari masing-masing Pribadi di dalam pengertian dan derajat yang sama”, dengan demikian, tidak ada perbedaan kehendak dalam Trinitas. Ketika kita beranjak memahami Allah dengan tanpa bukti, maka kita terjerumus dalam konsep memahami “bagaimana seharusnya Allah”.

Salam Bae

Sumber Gambar:

  1. hjttps://iconreader.files.wordpress.com/2011/02/rublev-angels-at-mamre-trinity.jpg
  2. https://icoana.wordpress.com/2016/03/14/mihail-alivizakis/
  3. http://www.holyhillcross.com/NOVENA%20TO%20THE%20HOLY%20SPIRIT.htm
  4. https://www.crossroadsinitiative.com/media/articles/sacrament-of-confirmation-its-importance-and-meaning-to-the-early-church-fathers/
  5. https://rainbowtwo.tumblr.com/image/88756294699
  6. https://regenerationandrepentance.files.wordpress.com/2014/09/1.jpg
  7. https://www.scottishstainedglass.com/wp-content/uploads/2019/12/Church-scottish-stained-glass-shape.jpg

NATAL DAN PENGAMPUNAN

Jika kita berbicara tentang “agama” dalam konteks yang lebih substansial, maka “pengampunan” adalah hal yang signifikan. Pengampunan dihasilkan dari “kasih” yang sangat luar biasa. Sepanjang sejarah, Allah telah menyatakan pengampunan-Nya bagi mereka yang telah berdosa kepada-Nya, yang diungkapkan melalui tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kehendak-Nya, dan apa yang telah Ia tetapkan. Manusia lebih jalannya sendiri.

Pemazmur menulis, bahwa “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mzm. 18:30), “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10), dan “TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mzm. 145:17).

Pernyataan-pernyataan pemazmur di atas, menyuguhkan prinsip-prinsip yang kuat mengenai “jalan Allah”. Jalan Allah itu sempurna, karena memang Allah mengarahkan manusia untuk menjadi sempurna dalam kekudusan dan kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya. Kesempurnaan itu tampak pada perilaku manusia yang telah ada dan berjalan di jalan Allah.

Segala jalan TUHAN mengarahkan manusia untuk menerima kasih setia-Nya. Artinya, Ia menjamin mereka yang berjalan di jalan-Nya. Kasih setia akan dirasakan oleh mereka yang setia berada pada jalan-Nya. Tidak hanya kasih setia, mereka yang berjalan di jalan Allah, akan menerima dan menikmati “kebenaran-Nya”. Manusia diarahkan untuk memahami kebenaran dan menuai hasilnya. Allah tidak hanya mengarahkan manusia untuk berada pada jalan-Nya, melainkan Ia juga menjamin mereka dengan kasih setia dan kebenaran: manusia dipuaskan oleh-Nya, yaitu mereka yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

Mereka yang berada di jalan Tuhan, pasti menerima keadilan-Nya. Meski terkadang manusia merasa bahwa Tuhan tidak adil, tetapi toh pada akhirnya, keadilan Tuhan itu tampak ke permukaan, bersinar cemerlang, memberikan kepuasan sejati. Dalam sejarah Israel, Tuhan telah menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada mereka untuk—tidak hanya menerima berkat-berkat-Nya—melainkan menerima keadilan, kasih, dan pengampunan-Nya. Hal itu dibuat-Nya karena Ia begitu mengasihi mereka. Pengampunan Allah yang luar biasa mengubah arah hidup manusia ke jalan yang Ia kehendaki.

Pada prosesnya, di kemudian hari, kasih, pengampunan, dan penebusan Allah menjadi “satu dan penuh” yang dibuktikan melalui penyataan-Nya sendiri—sesuai dengan waktu yang ditentukan-Nya—yaitu Firman [Logos] yang berinkarnasi: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Galatia 4:4-5).

Yesus Kristus adalah kepenuhan Allah di dalam daging kemanusiaan-Nya. Logos benar-benar “menjadi” manusia penuh, dan bukan “setengah manusia”. Natur ke-Allahan-Nya tidak ditelan untuk kemanusiaan-Nya. Ajaib! Itu sebabnya, inkarnasi adalah bukti bahwa kuasa Allah melampaui dari apa yang kita pikirkan. Pada zaman dahulu Allah berfirman melalui orang-orang pilihan-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya, termasuk kasih, pengampunan, dan penebusan. Kini, saat Ia berinkarnasi menjadi manusia, Ia sendiri yang menyatakan kehendak-Nya yaitu mengasihi, mengampuni, dan menebus umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Itulah kasih karunia yang luar biasa dari Allah.

«Sainte Marie-Madeleine essuie les pieds du Christ», 1808.

Hal ini yang ditegaskan Rasul Yohanes: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yohanes 1:16). Allah mencurahkan kasih karunia-Nya melalui Firman-Nya: Yesus Kristus. Kepenuhan-Nya begitu memukau: Allah-Manusia, dua natur dalam satu pribadi, tidak bercampur, tidak tertukar, dan tidak terbagi. Aspek penting dari inkarnasi ini, yaitu “kepenuhan [plērōma]” Allah di dalam daging manusia. Kepenuhan itu pun bukan teori belaka. Kepenuhan itu terbukti dari apa yang Yesus lakukan (kerjakan). Ia pun menampilkan kuasa atas segala sesuatu; selain itu Ia disembah.

Teolog asal Inggris, John Stoot mengkonfirmasi konteks ini. Ia menulis dalam Global Pastors Network Newsletter, 3 Agustus 2004 bahwa: “Pada dasarnya kekristenan adalah Kristus. Pribadi dan karya Kristus adalah batu yang menjadi landasan dibangunnya agama Kristiani. Jika Dia bukan seperti yang Dia katakan  mengenai Diri-Nya; dan tidak melakukan apa yang Dia katakan akan dilakukan-Nya, dasar itu akan lemah dan keseluruhan bangunan akan runtuh….” (dikutip Dave Earley, 21 Pertanyaan Paling Berbahaya di dalam Alkitab, [Yogyakarya: Gloria Grafa, 2011], 21).

Kemudian, Dave Earley menyatakan: 

Yesus melakukan hal-hal yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah. Yesus berjalan di atas air dalam keadaan badai (Mat. 14:25). Dia menghardik angin yang mengamuk dan angin itu taat kepada-Nya (Luk. 8:24; perhatikan bahwa Dia tidak meminta Allah untuk menanangkan laut tersebut; Dia melalukannya sendiri).

Yesus mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:6-11) dan menyembuhkan hamba seorang perwira tanpa pertemuan langsung dengan orang yang sakit (Mat. 8:5-13). Dia memberi makan banyak orang dengan dengan menggunakan jatah makan siang seorang anak (Mat. 14:15-21; 15:34-38).

Di kolam Betesda di Yerusalem, Yesus menyembuhkan seorang laki-laki yang tidak bisa berjalan selama tiga puluh delapan tahun (Yoh. 5:1-9). Dia mengusir setan-setan (Mat. 17:15-21; 15:22-28; Mrk. 1:23-28; 5:1-19), menyembuhkan yang sakit (Mat. 8:14-16; 9:20-22; Mrk.7:32-37), mentahirkan orang yang sakit kusta (Mat. 8:2-4; Luk. 17:11-19), membuat orang lumpuh berjalan (Mat. 9:2-8), dan membuat orang buta melihat (Mat. 12:22; Mrk. 8:22-26). Yesus bahkan membangkitkan orang mati (Mat. 9:18-26; Luk. 7:12-16; Yoh. 11:1-46)! 

Yesus menerima penyembahan: Seorang penderita kusta menyembah Yesus (Mat. 8:2-3); murid-murid-Nya menyembah Yesus (Mat. 14:33); seorang wanita Kanaan (Mat. 15:25), dan seorang laki-laki yang buta sejak lahir (Yoh. 9:38). Yesus mengetahui segala sesuatu (Yoh. 16:30; 4:16-19; Mrk. 2:8; Luk. 5:22; Yoh. 2:24-25). (Earley, 21 Pertanyaan Paling Berbahaya di dalam Alkitab, 26-27).

Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus, bahwa “Karena seluruh kepenuhan [πληρωθῆτε dari kata πληρόω] Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kolose 1:19) maka apa yang disimpulkan Stoot dan Earley mengenai Yesus—berdasarkan data Perjanjian Baru—adalah benar. Tidak hanya benar, tetapi terbukti dan memiliki pengaruh sampai sekarang. 

“Plērōma” (atau plēroō) Allah di dalam tubuh jasmaniah Yesus tidak mengurangi ke-Allahan-Nya. Segala keterbatasan Yesus hanya menunjukkan natur kemanusiaan-Nya dan bukan natur ke-Allahan-Nya. Ia lahir sebagai manusia membuktikan bahwa Ia manusia. Ia lahir sama dengan manusia pada umumnya. Tetapi kemudian orang salah paham dan bertanya: “Apa mungkin Tuhan dilahirkan?” Dari pertanyaan tersebut, tampak bahwa “Tuhan” dianggap sebagai fisikal (badani), padahal bukan. Tuhan itu adalah “gelar”. Gelar itu dibuktikan dari “kuasa” yang dimiliki Yesus (pengakuan dari orang lain maupun dari diri-Nya sendiri, berdasarkan fakta dan menjadi fakta):

“…tetapi Ia [Yesus] yang datang kemudian dari padaku lebih ‘berkuasa’ dari padaku” (Matius 3:11);

“Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia [Yesus] ‘berkuasa’ mengampuni dosa” (Matius 9:6; Markus 2:10; Lukas 5:24);

“….Dia adalah seorang nabi, yang ‘berkuasa’ dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami” (Lukas 24:19);

“Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikan menurut kehendak-Ku sendiri. Aku ‘berkuasa’ memberikannya dan ‘berkuasa’ mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku” (Yohanes 10:17-18)

“… Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18).

“…bahwa Ia adalah Anak Allah yang ‘berkuasa’, Yesus Kristus Tuhan kita” (Roma 1:4)

Melihat dua natur Yesus (kepenuhan ke-Allahan [secara ontologi] dan manusia [secara inkarnatif]), harus dibarengi dengan bagaimana membedakan “hasil perbuatan” dari kedua natur itu. Mereka yang gagal melihat perbedaan ini, berakhir pada kesimpulan bahwa Yesus bukan Allah. Kita maklumi saja. Dua natur Yesus ditegaskan oleh Rasul Paulus: “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Penegasan tersebut merupakan konfirmasi fakta yang sesungguhnya.

Ketika kita berbicara mengenai Natal Yesus Kristus, maka pasti melihatkan dua natur Yesus yang menyatu dalam satu pribadi: tidak bercampur, tidak tertukar, dan tidak terbagi. Dari situ kita beranjak untuk melihat bahwa dalam Natal terbitlah pengampunan Allah yang dilandasi oleh kasih-Nya yang kekal,  yang menghendaki semua orang yang dipilih-Nya sejak kekekalan diselamatkan. Itulah jalan yang Tuhan tetapkan bagi manusia. Jalan Tuhan itu, seperti yang dituliskan oleh pemazmur di atas, mengarahkan manusia untuk “kembali kepada Allah” dan dengan maksud yang sama, inkarnasi Yesus juga mengarahkan manusia kembali kepada Allah sebagaimana yang Yesus katakan: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”.

Inkarnasi adalah jalan Tuhan yang sempurna, karena Yesus sendiri telah menyelesaikan tugas-Nya secara sempurna, tuntas. Sebagai Jalan Keselamatan, Yesus mengumandangkan kebenaran Allah: “bahwa manusia tak bisa lepas dari dosa jika Allah tidak berkarya di dalamnya untuk melepaskan manusia”, menunjukkan kasih setia kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya, dan mengarahkan manusia kembali—dari kehidupan yang penuh dosa—kepada kehidupan yang penuh berkat dan pengampunan. Ketika kita kembali pulang kepada Allah, maka kita diampuni-Nya.

Natal tidak hanya sebagai bukti kasih Allah yang luar biasa itu, melainkan juga sebagai bukti bahwa Allah—dengan KERELAAN kehendak-Nya—mengampuni kita. Rasul Paulus menyatakan: “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh PENEBUSAN, yaitu PENGAMPUNAN dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana KERELAAN-Nya, yaitu rencana KERELAAN yang dari semula tetah ditetapkan-Nya di dalam Kristus” (Efesus 1:7-9).

Natal dan pengampunan adalah dua hal yang koheren. Dan dari situlah kita mengenal Allah yang mengasihi kita. Itulah sebabnya Rasul Yohanes menulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16)

Untuk menyelamatkan manusia, Allah bertindak penuh, bukan setengah-setengah; Allah sangat serius, dan bukan main-main. Ia tegas tetapi penuh kasih; Ia mengampuni, sekaligus mendorong manusia untuk menyadari dosa-dosanya, dan lebih dari itu: mengarahkan manusia untuk pulang kepada-Nya melalui Yesus Kristus.

Salam Bae…….

Sumber gambar:

  1. https://www.allposters.com/-sp/The-Woman-Who-Touched-the-Hem-of-His-Garment-Illustration-from-Women-of-t-Posters_i9852239_.htm
  2. https://rebekahbethany.com/2018/06/29/lavenlair-a-hidden-gem-in-upstate-new-york/
  3. http://farfalline.blogspot.com/2014/11/apresentacao-de-maria-santissima.html?spref=pi
  4. https://www.patrimoine-histoire.fr/Patrimoine/Paris/Paris-Notre-Dame-des-Blancs-Manteaux.htm
  5. https://www.flickr.com/photos/tachidin/9956346895/
  6. http://calltoprayer.blogspot.com/2014/09/pondering-angelus15.html
  7. https://ldsart.com/products/though-your-sins-be-as-scarlet-by-howard-lyon?variant=35305953656985
  8. https://ldsart.com/collections/howard-lyon/products/i-am-a-child-of-god-by-howard-lyon?variant=39667429048473
  9. https://ldsart.com/collections/howard-lyon/products/a-thread-of-faith-by-howard-lyon?variant=39667327205529
  10. https://www.patrimoine-histoire.fr/images/Patrimoine/Paris/e04NDdesBlancsManteaux/ParNDdBM17.JPG
  11. Pinterest

NATAL: MESIAS YANG DIJANJIKAN DAN PENGGENAPAN NUBUAT

Kedatangan Sang Mesias ke dalam dunia merupakan penggenapan nubuatan dalam Perjanjian Lama (PL). Kedatangan-Nya merupakan “tanda” bagi manusia bahwa Allah berkenan memperlihatkan kekuasaan-Nya atas umat Israel. Karena Israel adalah umat pilihan Allah, maka ada sebuah prinsip yang digunakan untuk melakukan kepemimpinan yang mengarahkan mereka pada kehendak Allah. Orang-orang tertentu dipilih Allah untuk menegakkan kehendak-Nya atas umat-Nya dan bangsa-bangsa lain. Sebut saja dua di antaranya adalah Musa dan Yosua. 

Dalam kepemimpinan Musa dan Yosua, umat Israel didorong dan diingatkan untuk selalu mendengar firman Allah, taat kepada-Nya. Mereka juga menjalani proses edukasi dan pembentukan karakter oleh Allah sendiri. Hal itu dituangkan dalam peraturan-peraturan dan hukum-hukum, serta ketetapan-ketetapan. Proses edukasi dan pembentukan karakter bangsa Israel tersebut dilanjutkan oleh Hakim-hakim, lalu Raja-raja, dan terakhir, Nabi-nabi. Semua kepemimpinan mereka, tetap berpedoman pada kehendak dan kedaulatan Allah. Mereka memimpin Israel—berdasarkan petunjuk dan firman Allah—untuk menjadi bangsa yang kuat dan setia kepada-Nya.

Ketika para pemimpin menyampaikan firman (petunjuk, peraturan, hukum, ketetapan) Allah kepada Israel, ada nubuatan-nubuatan yang juga disampaikan. Nubuatan tersebut menyangkut datangnya seorang Raja, Mesias, dan Pemimpin yang akan memimpin Israel. Raja tersebut adalah kekal yang tak tertandingi yang diturunkan dari keturunan Daud. Daud memiliki kerajaan di bumi, sedangkan Mesias memiliki kerajaan di sorga yang menguasai langit dan bumi, seluruh alam semesta.

Dalam PL, ada nubuatan-nubuatan mengenai datangnya seorang Mesias bagi Israel. Tetapi, Mesias yang dijanjikan sekaligus dinantikan bukanlah Mesias yang biasa-biasa saja. Identitasnya berbeda. Hal ini tampak dari isi nubuatan-nubuatan tersebut. Secara fungsi, mesias—sebagai [orang] yang diurapi—melakukan misi Allah bagi kebaikan manusia. “Dalam pemikiran Yahudi, Sang Mesias akan menjadi raja orang Yahudi, pemimpin politik yang akan mengalahkan musuh mereka dan membawa era keemasan perdamaian dan kemakmuran. Dalam pemikiran Kristen, term Mesias mengacu pada peran Yesus sebagai pembebas spiritual, yang menetapkan umat-Nya bebas dari dosa dan kematian.” Ronald F. Youngblood, F. F. Bruce & R. K. Harrison, Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, 1995), 826.

Jesus stamp

J. A. Motyer dan F. F. Bruce (profesor Kritik Biblikal dan Eksegesis, Universitas Manchester) menjelaskan, bahwa “istilah Mesias, yang dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari Yudaisme masa kemudian. Tentu pemakaian istilah itu dikukuhkan oleh PB, tapi dalam PL hanya terdapat dua kali (Dan. 9:25-26). Pemikiran tentang mengurapi, dan pemikiran tentang orang yang diurapi, adalah lazim dalam PL…. Dalam Yesaya 45:1 Koresy, raja Persia, disapa sebagai (mesyikho) ‘yang Ku-urapi’. Di sini ada lima unsur yang jika ditinjau dengan terang Alkitab bagian yang lain, jelas menentukan garis pikiran utama tertentu mengenai mesianisme PL. Koresy ialah orang yang dipilih Allah (Yes. 41:25), ditetapkan untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umat Allah (Yes. 45:11-13), dan menggenapi hukuman terhadap musuh-musuh-Nya (Yes. 47). Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa (Yes. 45:1-3); dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak ialah Yahweh sendiri (Yes. 45:1-7) (Motyer & Bruce, “Mesias”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jilid II: M–Z, 2011: 57).

Dari penjelasan di atas, Mesias bertindak atas nama Allah karena ia adalah orang yang dipilih untuk melakukan misi Allah bagi penyelamatan umat pilihan-Nya. Motyer dan Bruce memahami Mesias sebagai “Yahweh” dalam semua tindakannya. Itulah sebabnya, Mesias dalam pandangan PB mengacu kepada Yesus Kristus. Sebutan “Kristus” dalam bahasa Yunani disebut “khristos” yang memiliki konotasi (atau arti) yang sama dengan kata “mesias” (dalam PL) yaitu “yang diurapi”.

Jika berurusan dengan masalah dosa dan kerajaan yang menguasai seluruh dunia, maka Mesias yang dinubuatkan tentu adalah Mesias yang ilahi. Penggenapan nubuatan tentang Sang Mesias yang hebat tergenapi dalam inkarnasi Sang Logos yang menjadi daging, diam di antara manusia, kekal, dan berkuasa (bdk. Mat. 28:18). Untuk melihat nubuatan mengenai Yesus, saya memiliki tiga teks sebagai representatifnya.

Pertama: nubuat dalam Yesaya 7:14 dan digenapi oleh Yesus dalam Matius 1:23. “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” [καὶ καλέσουσιν τὸ ὄνομα αὐτοῦ Ἐμμανουήλ]. Sebutan Imanuel hanya muncul dua kali dalam PL (Yes. 7:14 dan 8:8). Meskipun secara konteks, nubuatan ini disampaikan kepada raja Ahas, tetapi karena sifatnya adalah nubuat, maka hal ini harus dilihat dari penggenapannya. Hanya Yesus yang disebut Imanuel. Para nabi dalam PL tidak pernah disebut dengan Imanuel. Penggenapannya jelas bahwa: Yesus—Imanuel itu—membuktikan Allah “dengan” kita, dan Rasul Yohanes sangat tepat menulis: “Firman itu telah menjadi daging, dan ‘diam’ [dengan] di antara kita”. Kata ‘diam’ mengisyaratkan ‘kebersamaan Allah’ dalam kehidupan manusia, yang selaras dengan arti dari Imanuel.

Imanuel pertanda bahwa Allah tidak berhenti menyertai umat-Nya. Dia adalah Raja yang sesungguhnya. Hanya Allah saja yang dapat menyertai umat-Nya sampai selama-lamanya. Identitas Mesias yang adalah Allah yang kekal tampak dalam nubuatan yang kedua berikut ini. Yesus “menyertai umat-Nya” sampai kepada akhir zaman”.

Kedua: Mikha 5:1 yang digenapi Yesus dalam Matius 2:6. “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Untuk melihat penggenapannya, kita perhatikan pernyataan terakhir dari teks tersebut: “yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Adakah Mesias yang lahir sebelum Yesus yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala? Tidak ada. Dengan demikian, pada peristiwa Natal yang sangat ajaib itu, dimulai dari pertunjukkan kuasa Allah atas rahim Maria, Mesias itu datang [lahir] ke dunia. Cara Ia datang sangat ajaib. Ini membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang luar biasa. Rasul Yohanes menulis eksistensi Mesias ilahi tersebut: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh. 1:1-2). “Ia adalah permulaan dari ciptaan Allah; tanpa Dia, tidak ada permulaan dari semua ciptaan yang ada. Ciptaan tidak mungkin bermula, jika tidak ada Logos yang menciptakannya.

Ketiga: Yesaya 9:6 dan digenapi Yesus dalam Lukas 1:32-33. “Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”

Lukas mencatat penggenapannya: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

birth of Jesus Christ with three kings and angel painting

Kita melihat aspek-aspek fakta atas penggenapan nubuatan Yesaya di atas:

(1) “Besar kekuasaannya” telah dibuktikan oleh Yesus. Sampai sekarang kekuasaan Yesus tetap teruji, terbukti, dan terealisasi bagi umat-Nya seperti menyertai mereka sampai kepada akhir zaman dan melakukan berbagai mukjizat melalui hamba-hamba-Nya. Di zaman Yesus sendiri, Ia menunjukkan secara gamblangg kekuasaan-Nya atas sakit penyakit, kematian, dan sebagainya.

(2) “damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya”. Sampai sekarang, kita mengakui bahwa Natal Yesus Kristus membawa kedamaian, terutama mendamaikan Allah dengan manusia yang berdosa. Proses mendamaikan itu Dia lakukan dengan mengurbankan diri-Nya sendiri bagi tebusan banyak orang. Damai sejahtera yang diberikan Yesus Kristus, sampai sekarang masih tetap ada bahkan hingga akhir zaman, dan berlanjut di dalam Kerajaan-Nya.

(3) “kerajaan-Nya didasarkan dan dikokohkan dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya.” Dalam Kerajaan-Nya, keadilan dan kebenaran menjadi dasarnya. Ia adil dan benar; Ia membenarkan manusia berdosa secara adil: menggantikan manusia berdosa dengan diri Yesus Kristus. Ia menjadi “jalan pendamaian” (Roma 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan KEADILAN-NYA….”; bdk. Roma 5:11; Kolose 1:20; 1 Yohanes 2:2; 4:10).

Tiga teks nubuat di atas: Yesaya 7:14 (Imanuel), Mikha 5:1 (permulaannya sejak dahulu kala dan purbakala), dan Yesaya 9:6 (besar kuasanya) hanya digenapi dalam diri Yesus Kristus. Dialah Mesias ilahi yang luar biasa. Eksistensi-Nya sejak kekal dan Ialah yang menyelasaikan masalah dosa manusia. Konsekuensi logisnya, jika hanya Allah yang dapat menyelesaikan masalah dosa, maka Yesus Kristus adalah Allah, tidak hanya dari ucapan-Nya, tetapi juga dari tindakan-tindakan spektakuler-Nya. Hal ini tidak hanya didukung dari penalaran logis (konsekuensi fakta), melainkan dari pernyataan Yesus sendiri dan kesaksian para rasul, serta pengikut-pengikut-Nya pasca para rasul.

Yesus—Mesias yang dijanjikan dan dinantikan—telah datang ke dunia, diam di antara kita, dan menjadi Imanuel; Ia menyatakan Allah bagi kita dan sekaligus menyertai kita selama-lamanya: “Dan ketahuilah, Aku MENYERTAI KAMU SENANTIASA sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

man carrying girl

Yesus yang lahir ke dunia menyatakan keadilan dan kebenaran Allah, sebagaimana yang telah Allah tunjukkan di zaman PL. Ini adalah keyakinan Kristen yang dipegang (dipercaya) selama ribuan tahun, abad demi abad. Alasan penggenapan nubuatan PL dilihat dari fakta yang terjadi. Artinya, antara isi nubuatan dan fakta yang terjadi, keduanya tidak bertentangan; dan Yesuslah yang menggenapi nubuat-nubuat itu. Ajaib bukan? Tidak salah jika kita mengatakan: Yesus Kristus adalah JURUSELAMAT YANG AJAIB. Mengapa? Proses kelahiran-Nya ajaib; Logos yang menjadi daging, ajaib; Maria yang belum menikah bisa hamil, ajaib. Ajaib pertanda Allah itu berkuasa dan benar-benar mempertunjukkan kuasa-Nya atas dunia. Sejumlah bala tantara sorga menyanyikan pujian bagi Allah atas peristiwa kelahiran Yesus, Sang Mesias yang dinantikan itu (Lukas 2:13-14).

Mesias itu menebus dosa secara ajaib yang tak dapat dilakukan manusia mana pun. Ia menguduskan kita secara ajaib, membenarkan kita secara ajaib. Dan apa yang dilakukan-Nya, sama sekali tak dapat diikuti, diciptakan, dan dilakukan oleh siapa pun juga. Hanya Yesus saja yang dapat melakukannya.

Jika demikian, mengapa kita masih ragu akan kuasa dan keajaiban-Nya yang telah diwariskan ribuan tahun lamanya? Bukankah Alkitab telah memuatnya untuk menjadi bacaan “ajaib” bagi kita yaitu “mengubah kehidupan buruk kita menjadi kehidupan yang berkenan kepada-Nya?”

person wearing two silver-colored rings on left fingers

Natal Yesus Kristus adalah ungkapan kuasa dan keajaiban Allah bagi kita semua. Jika kita terheran-heran akan keajaiban dunia (dengan segala kemewahan dan kecanggihannya), mengapa kita tidak terheran-heran dengan dosa-dosa kita yang telah diampuni oleh Sang Mesias Ilahi itu? Mengapa kita tidak bersyukur karena Ia telah lahir, hadir, diam, dan bersama dengan kita? Bukankah Ia adalah Imanuel yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala? Ajaib bukan?

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/jesus-born
  2. https://unsplash.com/photos/d6zztdJ1VDE
  3. https://unsplash.com/photos/Y_XS34BFX00
  4. https://unsplash.com/photos/lDoOtrFubEM
  5. https://unsplash.com/photos/vcX5AhBwk6s

KEJAHATAN DAN PEMBERONTAKAN MANUSIA

closeup photo of person's hand

Ketika manusia memilih untuk terpisah dari Allah, maka kejahatan dan pemberontakan menjadi bagian dalam hidupnya. Bukan Allah yang memusuhi manusia melainkan manusialah yang memusuhi Allah. Allah mengasihi manusia tetapi membenci dosa-dosanya. Sebaliknya, manusia memusuhi Allah karena peraturan-peraturan-Nya dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasannya. Manusia yang memusuhi Allah “membuang tanggung jawabnya” untuk setia dan taat pada Allah.

Kejahatan adalah fakta bahwa manusia “bebas” memilih apa yang dikehendakinya. Kejahatan adalah dibuangnya tanggung jawab terhadap Allah, yaitu tanggung jawab untuk tetap berada pada jalur Allah. Kejahatan adalah “jalan baru” yang diciptakan manusia untuk menunjukkan bahwa ia bebas dan menentukan jalannya sendiri; ia merasa otonom terhadap hidupnya.

grayscale photo of man covering his face under tree

Dengan kekuatannya, kegemilangan diri pun dapat diraih (dicapai) manusia. Lebih dari itu, kegemilangannya dirasakan sebagai bagian dari kebebasannya untuk menentukan pilihan yang terlepas dari Allah. Kondisi ini menumpuk kesombongan manusia menjadi sebuah “bukit pemberontakan”. Mengikuti pendahulunya, yaitu manusia-manusia pembuat “Menara Babel”, menumpuk kesombongan mereka untuk “mencari nama” dan supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kejadian 11:4).

Ide untuk tetap “bersatu” justru dibuat Allah menjadi terbalik. Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka menjadi “terserak”. Kesombongan manusia untuk mencari “nama” bertujuan agar mereka tidak ke mana-mana; mereka inging terkenal dan berkembang di satu wilayah saja, dan mengabaikan tanggung jawab yang penting: “beranak cuculah dan penuhilah bumi” yang Allah berikan kepada nenek moyang mereka: Adam dan Hawa.

Melupakan tanggung jawab yang Allah berikan adalah sebuah kejahatan dan pemberontakan. Kebebasan untuk melakukan kejahatan dan pemberontakan adalah wujud dari perlawanan terhadap tanggung jawab yang Allah berikan. Kebebasan jenis ini sangat merusak diri manusia itu sendiri.

macro photography of brown sunflower

Setiap kejahatan menemukan dirinya sebagai bentuk perlawanan terhadap Allah dan kehendak-Nya. Perlawanan berdampak pada keburukan hidup, terpisah dari Allah. Lambat laun, kejahatan yang akan berbuahkan kelaliman dan kesesatan; manusia “lupa jalan pulang”. Ketika tersesat, jalan menuju kebahagiaan dan kedamaian “ditutup” oleh kebebalan hati manusia. Allah telah menyediakan jalan yang terbaik untuk menikmati kebahagiaan dan kedamaian yang luar biasa, berbeda dengan kebahagiaan dan kedamaian yang dunia berikan.

cracked brown soil

Allah menjamin mereka yang hidup dalam lingkup firman-Nya. Allah menyediakan apa yang kita butuhkan bagi “kebaikan” kita (kehidupan dan masa depan). Allah memperhatikan kehidupan umat-Nya. Dibanding “dunia”, Allah menyediakan kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki, yang mendorong manusia untuk hidup dalam kasih karunia-Nya, menikmati apa yang layak dinikmati sesuai keperluan yang telah Allah sediakan bagi kita. Ingatlah apa yang dinyatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Allah mendandani kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi sempurna di dalam kasih-Nya. Tak ada yang dapat menggantikan “kasih Allah” bagi kehidupan manusia. Kasih Allah bersifat “membalut” luka batin, membalut luka relasi dengan orang-orang terdekat, dan membalut goresan-goresan hidup. Kasih Allah bersifat “mengarahkan” kehidupan kita seperti yang apa yang dikehendaki-Nya. Kasih Allah bersifat “memurnikan” hidup kita, sehingga menjadi kuat dan dewasa dalam iman.

Kasih Allah menjadikan manusia mengingat kebaikan-Nya dan menjauhkan diri dari segala kejahatan. Kejahatan semata-mata memisahkan diri kita dari Allah. Apalagi ketika kejahatan dibarengi dengan pemberontakan terhadap perintah-perintah Allah. Itu sangat mematikan, mendatangkan maut selama-lamanya.

Kasih Allah menguatkan kita untuk menempuh hari-hari yang penuh misteri. Kasih Allah menyertai kita sepanjang jalan, dan setiap tapak-tapak kaki yang kita jejaki di bumi ini meninggalkan warisan berharga bagi generasi berikutnya.

Finalnya, kasih Allah dicurahkan bagi manusia melalui inkarnasi Logos Allah ke dalam dunia dengan “menjadi manusia”—hidup bersama-sama dengan kita, penuh kasih karunia dan kuasa. Yesus Kristus—Logos Allah yang kekal—mengarahkan hidup kita untuk setia kepada Allah dan firman-Nya, dan menjamin bahwa “mereka yang percaya kepada-Nya [Yesus Kristus] beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Adakah hatimu penuh kejahatan? Adakah perilakumu memberontak terhadap Allah? Kembalilah kepada-Nya. Ia akan menyambutmu dengan kelembuhan kasih dan kemurahan-Nya; Ia menjamin hidupmu, menjamin masa depanmu, dan menjamin kehidupanmu dalam kerajaan-Nya.

Yesus Kristus adalah Logos Allah yang “keluar” dari diri Allah. Ia (Logos) diutus ke dalam dunia untuk menawarkan kehidupan yang penuh damai dalam kerajaan-Nya, kehidupan yang bebas dari kejahatan dan pemberontakan. Manusia yang dulunya terhilang dan terpisah dari Allah, kini, di dalam Yesus Kristus, semuanya disatukan dan disempurnakan di dalam kasih-Nya yang kekal.

Di dalam Yesus ada kasih yang sempurna; kasih yang memberi ketimbang menerima; kasih yang menolong yang lemah; kasih yang mengampuni; kasih yang menguatkan sesama; kasih yang dewasa menyikapi caci maki dan hinaan terhadap Yesus maupun terhadap firman-Nya. Tak perlu ragu dan takut jika kita hidup dalam kasih-Nya.

Percayalah, Yesus itu berkuasa dan mahakuasa. Ia lebih dari sanggup untuk menghancurkan para pembenci diri-Nya dan pembenci pengikut-Nya. Tak ada yang dapat melawan-Nya. Maut saja Dia kalahkan apalagi mengalahkan manusia yang dikalahkan maut? Kejahatan Dia kalahkan dan mereka yang menjadi umat pilihan-Nya, tidak akan dikuasai kejahatan, apalagi pemberontakan. Umat-Nya hidup dalam kasih dan kuasa-Nya, dijamin dan dipuaskan dalam menikmati kemurahan dan kebaikan-Nya.

Jangan lagi membiarkan hidup kita dikuasai kejahatan dan pemberontakan. Jauhkan itu dari hadapan kita, dan hiduplah dalam kasih Tuhan Yesus, kasih yang begitu kuat dan mengarahkan kita untuk hidup dalam kekudusan dan kebenaran-Nya. Jangan menjadi pelaku kejahatan tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan; kebaikan yang lahir dari kasih yang murni, kasih yang berasal dari Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah “jalan pulang” kepada Bapa. Hal ini diteguhkan oleh Yesus sendiri: “Aku jalan, kebenaran, dan hidup, tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Firman (Logos) Bapa adalah “jalan pulang”. Logos itu telah menjadi manusia dan mengajak kita kembali “pulang” menuju kerajaan-Nya. “Jalan pulang” itu masih tersedia di depan mata kita, dan kita diberikan kebebasan untuk memilih ke berjalan “melalui” jalan pulang itu. Yesus Kristus adalah “jalan” yang mengarahkan manusia menemukan “kebenaran” Allah Bapa, yang di dalamnya terkandung sebuah kualitas “kehidupan” yang tidak seperti dunia berikan.

Bersediakah kita kembali kepada Allah melalui “jalan pulang” yaitu Yesus Kristus?

Salam Bae

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/NMk1Vggt2hg
  2. https://wordpress.com/post/stenlyreinalpaparang.home.blog/2901
  3. https://unsplash.com/photos/Cuujm8Yad7A
  4. https://unsplash.com/photos/HxxmKwvUbgI
  5. https://unsplash.com/s/photos/jesus-christ
  6. https://unsplash.com/s/photos/cross

TANGGUNG JAWAB DAN KEBEBASAN

Melalui Kitab Suci kita percaya bahwa Allah menciptakan manusia menurut “gambar dan rupa-Nya”. Hal ini menandakan bahwa ada aspek-aspek tertentu dari Allah yang diberikan kepada manusia, ciptaan-Nya yang paling mulia.

Keutuhan diri manusia mencakup tanggung jawab dan kebebasan. Melalui tanggung jawab, manusia menyuguhkan kesadaran dirinya untuk melakukan segala sesuatu yang “menjadi” tanggung jawabnya. Artinya, manusia bergerak untuk memenuhi sesuatu untuk kepentingan dirinya dan kepentingan sesamanya. Manusia tak dapat memisahkan dirinya dari tanggung jawab hidup. Ia akan berjuang untuk memenuhi segala sesuatu agar dirinya terpuaskan dan merasa senang.

opened book on brown field during daytime

Sedangkan kebebasan yang diberikan Allah digunakan untuk “memilih” apa yang berkenan di hati manusia bagi keberlangsungan hidupnya. Di sini, pilihan bebas manusia bisa bermuara pada tiga aspek: pertama, untuk memenuhi egonya sendiri; kedua, memenuhi dan memuaskan orang lain; dan ketiga, untuk menyenangkan Allah.

Jika ada aspek-aspek tertentu yang Allah berikan pada diri manusia, maka sudah pasti manusia harus bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kebergantungan manusia kepada Allah bukan tanpa alasan. Jadi, mutlak bagi Allah untuk meminta pertanggungan jawab dari manusia atas apa yang dilakukannya.

Melalui kebebasan dan tanggung jawab, manusia menciptakan ruang kehidupannya sendiri dan sesamanya. Tanggung jawab untuk hidup dan menghidupi diri sendiri dan orang yang dikasihinya, menjadi tongkat pengarah baginya agar dapat sampai pada tujuan, yaitu terpenuhinya segala kebutuhan hidupnya.

Pada peristiwa taman Eden, pertemuan antara tanggung jawab dan kebebasan telah menyita perhatian kita. Tanggung jawab disingkirkan oleh kebebasan, dan pada akhirnya: “manusia jatuh dalam dosa”. Manusia memilih masuk ke dalam dunia yang diciptakannya sendiri yaitu “menerapkan kebebasan sesuka hati” yang berdampak pada risiko besar yang harus mereka terima; dunia di mana tanggung jawab terhadap Allah disingkirkan.

Memang, tanggung jawab yang diberikan Allah kepada mereka adalah mengusahakan taman itu, dan mematuhi perintah Allah untuk tidak makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Dengan memberikan perintah tersebut, manusia sebenarnya telah diberikan pengetahuan yang baik dan yang jahat karena perintah yang Allah berikan memiliki konsekuensinya, yaitu: “mati”.

Kebebasan memilih “untuk tidak taat” pada perintah Allah, telah membuang tanggung jawab mereka terhadap Allah. Kebebasan telah menindas tanggung jawab, menyingkirkan tanggung jawab. Bahaya ini pun melanda keturunan Adam dan Hawa di kemudian hari. Hingga pada akhirnya, “dosa” telah membuat manusia mengabaikan tanggung jawabnya sendiri. Seharunya manusia menyadari tanggung jawabnya, tetapi dengan mempergunakan kebebasannya, maka manusia merasa bebas untuk tidak bertanggung jawab kepada Allah.

Akibat kejatuhan ke dalam dosa, mereka dituntut untuk menjalani konsekuensi yang Allah berikan. Ternyata, mereka telah memenuhi egonya sendiri. Hawa memuaskan suaminya dengan cara menawarkan buah kepadanya sehingga Adam memakan buah yang ditawarkan Hawa kepadanya. Adam memuaskan istrinya dengan mengambil dan memakan buah yang diberikannya. Buah itu adalah buah “dilarang” Allah untuk dimakan. Tanggung jawab mereka untuk tidak makan buah tersebut justru dilanggar. Dengan demikian, kebebasan yang melawan kehedak Allah berarti meniadakan tanggung jawab di hadapan Allah.

Allah kemudian memberi hukuman karena mereka telah “berdosa”—mereka tidak mencapai apa yang Allah perintahkan; mereka memilih jalannnya sendiri dengan kebebasan yang mereka miliki; tanggung jawab diabaikan. Nafsu “bebas” telah menggiring tanggung jawab ke jurang dan mendorongnya jatuh. Ada bahaya yang muncul akibat tragedi ini.

Allah kemudian menyediakan penebusan melalui “darah”. Ia mengenakan pakaian dari kulit binatang kepada Adam dan Hawa, yang mengindikasikan bahwa “darah” binatang telah dicurahkan, lalu kulitnya diambil, dijadikan sebagai pakaian untuk menutupi ketelanjangan mereka. Adam dan Hawa sama-sama saling memuaskan, tetapi dalam bingkai kebebasan yang tidak pada tempatnya, kebebasan yang melawan perintah Allah.

Mereka bukan bermaksud menyenangkan hati Allah, melainkan menyenangkan hati mereka sendiri. Dosa adalah konsekuensi dari kebebasan yang menolak tanggung jawab. Dengan demikian, ketika kebebasan merajalela, maka tanggung jawab menjadi tidak penting. Di sinilah letak kejahatan manusia di sepanjang sejarah. Tanggung jawab dan kebebasan sebenarnya sama-sama saling menopang dan melengkapi. Tapi pada faktanya, justru kebebasan menendang tanggung jawab keluar dari “ring pertandingan”.

Allah menghukum manusia yang berdosa, manusia yang mempergunakan kebebasannya untuk menolak kehendak-Nya. Allah juga menyatakan kasih dan pengampunan-Nya agar manusia dapat kembali kepada Allah, menerima dan menjalankan tanggung jawabnya. Di sisi lain, Allah memberikan “kebebasan yang terbatas” bukan untuk melakukan dosa, melainkan untuk menyatakan ekspresi iman melalui perbuatan-perbuatan yang benar dan kudus.

Dosa adalah musuh Allah, dan mereka yang percaya kepada Allah harus memusuhi dosa. Hingga di kemudian hari, Yesus Kristus memberikan jaminan bagi umat pilihan-Nya bahwa dosa tidak lagi membuat manusia terpisah dari Allah, melainkan membawa manusia kepada Allah dan menikmati kehidupan kekal dalam Kerajaan-Nya.  

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Efesus 1:5-8.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/bible
  2. https://unsplash.com/photos/4uX_r8OhJ_o
  3. https://unsplash.com/s/photos/mercy-of-god
  4. https://unsplash.com/s/photos/dead

REFORMASI DAN TEODENSIA: Didikan Allah bagi Orang Percaya

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu

― Yesaya 55:8-9 ―

Prolegomena

Ada makna dan pesan dalam setiap peristiwa sejarah, di mana Allah berkarya untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya. Semua peristiwa terbingkai dalam konteks providensia dan ketentuan (ketetapan) Allah. Segala sesuatu bergantung pada-Nya. Makna dan pesan tersebut adalah bukti dari kasih, kuasa, dan kedaulatan Allah yang disatukan menjadi Teodensia. Tentu, dalam providensia-Nya, Allah menyatakan kasih, kuasa, dan kedaulatan-Nya. Guliran waktu telah menata pola pemahaman kita tentang Allah dan providensia-Nya. Kita sadar bahwa kesenangan dan kebahagiaan, pergumulan dan kemerdekaan, adalah hal-hal yang dipakai Allah untuk melatih dan mendidik kita untuk kuat dalam iman, kasih, dan pengharapan.

Dalam waktu yang panjang, sejarah telah memperlihatkan kepada kita signifikansi dari peristiwa-peristiwa yang membentuk iman, kasih, dan pengharapan kita. Konteks sosial yang di dalamnya mencakup pemahaman akan doktrinal, magisterium (pihak yang berwenang untuk menentukan [mengawasi] pengajaran), kedudukan dalam masyarakat dan gereja, penafsiran, adalah fragmen-fragmen yang membingkai munculnya berbagai peristiwa, termasuk reformasi. Tak dapat dipungkiri bahwa disparitas pemahaman (termasuk penafsiran) telah menjadi pemicu konflik internal di tubuh Gereja sejak dulu. Singkatnya, disparitas tersebut masih menjadi trend dari berbagai denominasi hingga menimbulkan gesekan teologis, ketegangan relasi, dan bahkan adu domba antar sesama pemimpin dan anggota jemaat.

Dalam memaknai dan mengambil pesan dari peristiwa reformasi, tulisan ini menyugukan sebuah paradigma (kerangka berpikir atau cara pandang) yang terhubung dengan konteks Teodensia, yakni semua peristiwa yang terjadi bermuara pada “didikan Allah bagi orang percaya”. Setidaknya, kita mengetahui poin-poin penting dari peristiwa reformasi dan mengambil bagi diri kita sendiri pembelajaran tertentu sebagai “benih-benih” yang ditaburkan dalam jalan-jalan iman kita, sehingga di kemudian hari, bertumbuh dan berbuah lebat. Kita menjadi saksi-Nya.

Memahami Term “Reformasi”

Alister E. McGrath mengamati bahwa, ada empat unsur yang terdapat dalam definisi tentang Reformasi: Lutheranisme, Gereja Reformed (sering dirujuk sebagai Calvinisme), Reformasi radikal (sering dirujuk sebagai Anabaptisme), dan Kontra-Reformasi atau Reformasi Katolik. Dalam artinya yang paling luas, istilah Reformasi dipergunakan untuk merujuk pada keempat gerakan itu (Alister E. MacGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, terj. Liem Sien Kie [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 6-7]). 

Linda Smith dan William Raeper menjelaskan bahwa pada awal abad keenam belas, suatu jeritan diteriakkan di seluruh Eropa. Jeritan ini adalah ‘pembaruan di kepala dan anggota-anggota’ Gereja Katolik Romawi – dan muncullah perdebatan. Perdebatan bukanlah mengenai kebenaran ajaran Roma Katolik melainkan mengenai cara Gereja bertingkah laku. Akibatnya adalah kawah perubahan dan pembaruan, yang sekarang disebut “Reformasi”. (Linda Smith & William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama: Dulu dan Sekarang, terj. P. Hardono Hadi [Yogyakarta: Kanisius, 2004]). Dalam tulisan singkat ini, saya tidak menjelaskan konteks reformasi tersebut secara panjang lebar, melainkan hanya mengempasis pada makna reformasi, tanpa mengurangi substansi dari reformasi itu sendiri.

Lih. David Bagchi dan David C. Steinmetz, The Cambridge Companion to Reformation Theology (Cambridge: Cambridge University Press, 2004); Aaron Maurice Saari, Renaissance and Reformation RL. Biographies (U·X·L, 2002); Will Durant, The Reformation (Simon & Schuster, 1980); Christopher Ocker, Michael Printy, Peter Starenko, dan Peter Wallace, Politics and Reformations: Histories and Reformations. Studies in Medieval and Reformation Traditions (BRILL, 2007); Owen Chadwick, The Early Reformation on the Continent (USA: Oxford University Press, 2002); Robert D. Linder, The Reformation Era. Greenwood Guides to Historic Events 1500-1900 (Greenwood, 2007); Ronald K. Rittgers, The Reformation of the Keys: Confession, Conscience, and Authority in Sixteenth-Century Germany (Harvard University Press, 2004); Michael Mullett, Historical Dictionary of the Reformation and Counter-Reformation (The Scarecrow Press, 2010); R. Po-chia Hsia, A Companion to the Reformation World (Wiley-Blackwell, 2004).

Memahami Term “Teodensia”

Teodensia berasal dari kata “teologi” dan “providensia”, yang mengacu pada konteks Allah memelihara ciptaan-Nya (Mzm. 148:6, “Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar”). Kata “ketetapan” memiliki koherensi mutlak dengan providensia Allah. Ia yang menetapkan mutlak memeliharanya. Dalam providensia-Nya, Allah menunjukkan kasih, kuasa, dan kedaulatan. Teologi Providensia tidak hanya memahami hal-hal tersebut, melainkan juga mencakup tiga fitur karya Allah dalam Sejarah Penyataan, yaitu: penebusan, pengampunan, dan keselamatan. Karena kasih-Nya Allah menebus. Karena kuasa-Nya Allah mengampuni. Karena kedaulatan-Nya Allah menyelamatkan kita. Allah secara sempurna menyatakan kehendak-Nya dalam sejarah, dan orang percaya menantikan penggenapannya dalam konteks eskatologis.

Thomas Jay Oord menyatakan bahwa, para teolog menyebut aktivitas Allah di dunia sebagai providensia. Tetapi mendefinisikan pemeliharaan secara tepat adalah sulit. Kitab Suci jarang menggunakan istilah itu, dan ketika kita menemukannya dalam tulisan suci, pemeliharaan dapat berarti berbagai hal (Thomas Jay Oord, The Uncontrolling Love of God: An Open and Relational Account of Providence [Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2015]). Memang, aktivitas Allah yang dipahami sebagai “pemeliharaan” memiliki konteksnya masing-masing. Allah yang mencipta, secara logis pasti Ia akan memeliharanya; Allah yang menetapkan aspek-aspek tertentu pada ciptaan-Nya, pasti akan memelihara dan menjaganya. Itu sebabnya, providensia memiliki pemaknaan yang kompleks. Bahkan bisa menjadi sebuah perdebatan teologis.

Term providentia (Lat.) dipahami sebagai tindakan kekuatan Ilahi yang berkelanjutan, setelah tindakan penciptaan, dengan sarana di mana Allah memelihara segala sesuatu dalam wujud, mendukung tindakan mereka, mengatur mereka sesuai dengan tatanannya yang mapan, dan mengarahkan mereka menuju tujuan yang telah Allah ditetapkan (Richard A. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms: Drawn Principally Ffom Protestant Scholastic Theology [Grand Rapids, MI: Baker Academic, 1985]). Dalam hal decretum (dekrit atau keputusan) abadi dan voluntas Dei (will of God), penciptaan dan pemeliharaan adalah satu tindakan (Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms). Ketetapan abadi (Providentia Eternalis) dan pelaksanaannya (yang diaktualisasikan, Providentia actualis) dalam waktu, merupakan ciri dari doktrin predestinasi Reformed. Keputusan dan kehendak Allah dalam penciptaan dan pemeliharaan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana Allah berkehendak mencipta, demikian pula Allah berkehendak untuk memeliharanya.

Menurut John Calvin, semua kejadian adalah bagian dari providensia rahasia Allah (John Calvin, The Secret Providence of God, ed. Paul Helm, trans. Keith Goad [Wheaton, IL: Crossway, 2010]), sehingga dalam cara yang indah dan tak terlukiskan tidak ada yang terjadi bertentangan dengan kehendak-Nya (Calvin, The Secret Providence of God, 81). Paul Kjoss Helseth menyatakan bahwa, hanya Allah yang memelihara dan mengatur segala sesuatu (omnicausality ilahi). Bagi Helseth, kita dipanggil untuk menempatkan keyakinan kita pada karakter dan janji-janji Bapa kita, bahkan ketika kita tidak tahu persis apa yang Dia lakukan saat Dia mengerjakan hal-hal khusus dari kehendak-Nya yang berdaulat (Paul Kjoss Helseth, “God Causes All Things,” in Four Views on Divine Providence, ed. Dennis W. Jowers [Grand Rapids: Zondervan, 2011], 52). Jika demikian, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Allah mendesain dunia dan kehidupan di dalamnya, semata-mata didasarkan pada kasih, kuasa, dan kedaulatan-Nya. Hal ini meneguhkan posisi Teodensia.

Kita dapat menilai apa yang diungkapkan Matt R. Jantzen, bahwa providensia berkaitan dengan pelestarian sejarah penciptaan, bukan penyingkapan sejarah keselamatan (Matt R. Jantzen, God, Race, and History Liberating Providence [Lanham, Maryland: Lexington Books, 2021], 20). Hal tersebut memperlihatkan dua konteks yang saling terhubung tetapi berbeda. Sejarah Keselamatan memiliki kontruksi historis-teologis tentang mesianis dalam kaitannya dengan Kristologi dan Kerajaan Allah, sedangkan providensia yang terkait dengan pelestarian sejarah penciptaan, menempatkan kasih Allah atas dunia ciptaan-Nya; Ia menjaga, memelihara, dan menjamin kesinambungannya. Jantzen menegaskan, bahwa “doktrin providensia memberikan visi keteraturan yang kuat tentang Allah dan ciptaan, waktu dan ruang, diri dan orang lain (Jantzen, God, Race, and History Liberating Providence, 3-4). Jika kita memahami hal ini, ada sebuah keyakinan bahwa kesadaran kita akan providensia Allah membawa kita kepada sebuah konteks tentang betapa luar biasanya Allah dalam menata, memelihara, menjamin kesinambungan seluruh ciptaan-Nya dan dari semua peristiwa yang terjadi, Ia mendidik, mengarahkan orang percaya pada rencana kekal-Nya yang akan dikonfirmasi-Nya dalam sejarah. Itu sebabnya, providensia (pemeliharaan) Allah dapat mencerahkan pikiran kita untuk berhati-hati menjalani hidup, setia pada panggilan Allah, dan hidup dalam kebenaran firman-Nya.

David Fergusson berpendapat bahwa dalam sejarah gereja, konsep pemeliharaan Ilahi telah tersebar luas. Ruang lingkupnya meliputi tatanan alam, arah sejarah, cara-cara di mana kehidupan orang-orang tunduk pada bimbingan ilahi, hasil akhir dari alam dan sejarah, dan lainnya. Sebuah tema yang luas, pemeliharaan Allah diilustrasikan oleh kisah-kisah Kitab Suci dan telah diteorikan oleh para teolog sepanjang sejarah gereja. David Fergusson, Current Issues in Theology: The Providence of God A Polyphonic Approach (Cambridge: Cambridge University Press 2018), 1. Lih. ulasan lainnya dari Fergusson: Creation (Grand Rapids: Eerdmans, 2014); ‘Providence’ in Paul Dafydd Jones and Paul T.  Nimmo (eds.), Oxford Handbook of Karl Barth (Oxford: Oxford University Press, in press); ‘Providence and its secular displacements’ in George Pattison, Graham Ward and Nick Adams (eds.), Oxford Handbook of Theology and Modern European Thought (Oxford:  Oxford University Press, 2013), pp. 655– 74; ‘The Reformed Doctrine of Providence: From Calvin to Barth’ in Theo Boer, Heleen Maat, Alco Meesters and Jan Muis (eds.), Van God Gesproken: Over Religieuze taal en Relationele Theologie (Zoetermeer: Uitgeverij Boekencentrum, 2011), pp. 233– 45; ‘Theology of Providence’, Theology Today, 67 (2010), 261–78; The Providence of God (London: T&T Clark, 2009), pp. 326–33; ‘Divine Providence and Action’ in Michael Welker and Miroslav Volf (eds.), God’s Life in Trinity (Minneapolis: Fortress Press, 2006), pp. 153– 65

Fergusson menambahkan, bahwa

Istilah providensia secara harfiah mengacu pada pandangan ke depan dan ketentuan ilahi tetapi makna historisnya lebih luas – ini mencakup tujuan, arahan, aturan, dan panggilan. Dalam teologi Kristen, pemeliharaan adalah lanjutan dari penciptaan. Setelah menciptakan dunia, Tuhan memelihara dan mengarahkannya untuk memenuhi tujuan Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan dan memiliki tujuan tertentu – tidak ada yang berada di luar lingkup kehendak dan kesengajaan ilahi. Meskipun Providentialisme terkait erat dengan pemikiran dan kesalehan Reformed, hal itu diekspresikan dengan kuat dalam teologi abad pertengahan. Terlepas dari beberapa kesalahpahaman populer, doktrin pemeliharaan bukanlah monopoli Calvinis. Fergusson, Current Issues in Theology, 1.

Dengan melihat pada pemaknaan tentang providensia di atas, termasuk ragam pemahaman, setidaknya konteks tersebut akan mengerucut pada substansi pemahaman bahwa segala sesuatu ada dalam kedaulatan Allah. Proses kehidupan, termasuk peristiwa Reformasi dalam sejarah Kekristenan, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kedaulatan Allah. Kesadaran akan hal ini, membuka nalar kita untuk melihat bahwa peristiwa Reformasi tidak terjadi di luar kontrol Allah. Di sini, koridor Teodensia menggiring jejak-jejak iman kita kepada kasih, kuasa, dan kedaulatan Allah yang tetap terealisasi di sepanjang sejarah umat manusia.

Teologi Providensia mengarahkan orang percaya untuk terus melihat karya Allah dalam hidup mereka di mana Ia memberikan waktu dan kesempatan agar mereka tetap hidup di dalam firman-Nya, setia melayani, mengasihi Dia dan sesama. Teologi Providensia mengarahkan hidup orang percaya kepada anugerah-Nya dan menuntun mereka agar dapat membagikan pesan dan makna perbuatan-perbuatan Allah kepada yang belum percaya kepada-Nya.

Reformasi dan Teodensia

Dari sejarah reformasi, kita dapat mengaitkannya dengan Teodensia dalam arti teologisnya. Sejatinya, latar belakang terjadinya reformasi tidak lepas dari kesadaran akan kepentingan pemahaman yang benar akan firman Tuhan. Ketika muncul penyimpangan – terutama pada pemaknaan tekstual yang dihasilkan dari proses menafsir – maka langkah yang harus diambil adalah memberikan pemahaman yang benar, pelurusan akan hal-hal yang telah dibengkokan, dan penegasan pola penafsiran yang benar [memahami konteks, melihat korelasi tekstual, dan komprehensifitas ajaran-ajaran Alkitab].

Reformasi di tubuh Gereja tidak hanya terjadi sekali dalam sejarah. Kita dapat mengumpulkan fragmen-fragmen sejarah tentang hal tersebut untuk melihat bahwa Gereja tidak hanya menjadi garam dan terang dunia, tetapi juga bisa berubah menjadi “sarang penyamun”. Di situ berkumpul para pengajar sesat, para pelaku kejahatan, para penipu, para penggelap uang jemaat, dan masih banyak lagi. Jika dulu Yesus melakukan reformasi di Bait Allah (Mat. 21:12-17; Mrk. 11:15-19; Luk. 19:45-48; Yoh. 2:13-16), karena hadirnya para penjual, penukar uang, pedagang merpati yang “nongkrong asyik” di dalam Bait Allah. Tindakan Yesus spektakuler dan menggagetkan. Otoritas yang dimiliki-Nya ditunjukkan pada berbagai peristiwa. Reformasi terjadi hanya ketika ada penyimpangan, penyelewengan, pemutarbalikkan kebenaran, pemalsuan ajaran-ajaran Alkitab, kesalahan penafsiran, politik kotor dalam Gereja, dan sederet perbuatan tercela yang dibenci Tuhan. Reformasi menawarkan solusi keteraturan hidup, kekudusan hidup, dan tanggung jawab yang benar di hadapan Tuhan. Yesus telah menunjukkan hal itu, dan Martin Luther (dan para reformator lainnya) memiliki pola yang sama dengan apa yang dilakukan Yesus.

Hingga saat ini, providensia Allah sangat terbukti dan konsisten. Allah senantiasa memperlihatkan kemurahan-Nya bagi semua orang percaya di kolong langit ini. Namun, orang percaya dituntut untuk berkata-kata tentang Dia dan kebenaran-Nya: “berteologi” dan “berapologetika” [berani menyatakan kebenaran]. Gagasan Teodensia sebagai kesadaran berteologi untuk terus melakukan perintah Tuhan, tanpa mengeluh, tanpa putus asa, dan tanpa keraguan, adalah wujud dari semangat Reformasi. Artinya, tidak ada upaya yang lebih berharga selain dari kita berteologi untuk mengisi dunia ini dengan ajaran Alkitab, kasih Allah, dan penginjilan. Reformasi tidak hanya berbicara soal satu atau dua aspek saja, melainkan banyak aspek yang mengarahkan hidup orang percaya kepada kesetiaan terhadap Allah dan firman-Nya. Ia memelihara kita dan menjamin bahwa kita tetap aman dalam pelukan-Nya.

Dalam konteks tersebut, gagasan Teodensia menyuguhkan sebuah skema iman yang harus ditampakkan pada setiap waktu dan kesempatan untuk berbagi “berita kesukaan” kepada sesama. Sebagaimana problem pemahaman mengenai doktrin-doktrin tertentu pada peristiwa Reformasi, menggerakkan kita untuk melakukan autokritik – berani mengkritik diri sendiri. Sekilas kita melihat – sebagaimana yang dicatat oleh Smith dan Raeper mengenai latar belakang terjadi reformasi, bahwa ada penyimpangan kewenangan yang dilakukan oleh para pejabat Gereja, seperti menuntut pajak, menjual harta-harta rohani demi uang, dan lain sebagainya. Fakta tersebut adalah bentuk dari penyimpangan atas ajaran Alkitab.

Sejalan dengan fakta tersebut, Smith dan Raeper mencatat, bahwa

Paus adalah kepala Gereja Katolik Roma, tetapi bertindak seperti pangeran duniawi. Banyak orang menyebut Gereja bejat. Dalam kondisi seperti ini, gerakan Reformasi diperlukan. Reformasi adalah memperbarui Gereja yang bobrok. Reformasi dimulai dengan letupan yang segera menjadi kebakaran. Ada beberapa kejadian penting yang menjadi latar belakang timbulnya Reformasi. Paus Leo X terus-menerus menghadapi kebangkrutan. Pada tahun 1513 ia berhutang sekurang-kurangnya 125.000 dukat, dan ia perlu juga mengumpulkan uang dengan cepat untuk membayar Katedral St. Petrus. Satu cara untuk mengumpulkan uang adalah menjual indulgensi.

Martin Luther, seorang profesor Kitab Suci di Universitas Wittenberg tidak senang dengan praktek indulgensi. Ia terdorong untuk menerbitkan sembilan puluh lima Tesisnya tentang penjualan dokumen-dokumen indulgensi yang menjamin penyelamatan jiwa-jiwa dari api penyucian. Indulgensi ini dijual untuk mengumpulkan uang bagi pembangunan Katedral St. Petrus Roma. Luther melihat ini sebagai penolakan lengkap atas kebenaran pokok – ia percaya kita selamat hanya dengan menempatkan iman kita pada Yesus.

Uskup Agung Albert dari Mainz menggunakan pertapa Dominikan yang bernama Tetlzel untuk menjual indulgensi. Ia berpendapat bahwa bila orang-orang biasa membeli indulgensi, mereka tidak melihat lagi perlunya mengubah tingkah laku mereka. Luther terkejut ketika salinan dari instruksi Uskup Agung kepada Tetlzel ditunjukkan kepadanya. Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan sebuah plakat pada pintu Gereja puri di Wittenberg, ditulisi “Sembilan puluh lima Tesis mengenai Indulgensi.” Bahkan Luther sendiri tidak menyadari bahwa pada waktu itu Reformasi telah dimulai. 95 Tesis atau dalil yang dipaparkan Luther dipublikasikan dan diedarkan dan pandangannya memperoleh dukungan massa dan ia menjadi pahlawan hampir dalam waktu semalam.

Ia menjadi berbahaya bagi Tetlzel untuk berjalan di jalanan. Pemerintah setempat, Elector Frederick dari Saxony, memutuskan untuk melindungi Luther. Frederick lelah dengan paus-paus Itali yang campur tangan terhadap urusan Jerman dan senang karena dan senang karena menjengkelkan Uskup Agung. Begitulah Reformasi menjadi gabungan yang sangat kuat antara agama dan politik (Smith & Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama).

Reformasi itu sendiri lahir dari kegelisahan akan bahaya-bahaya serta dampak-dampak yang ditimbulkan oleh Gereja. Didikan Allah melalui Alkitab justru diabaikan. Tentu Luther memiliki kerinduan bahwa Gereja itu harus murni, hidup selaras dengan Alkitab. Kita melihat bahwa

Luther tidak mau menarik kembali pandangan-pandangannya yang mengkritik Gereja Katolik. Ia memilih memberontak ketimbang otoritas Paus. Demikian pula dengan perdebatannya dengan John Eck pada tahun 1519 di Leipzig. Eck menyudutkan Luther untuk memilih Roma atau Kitab Suci. Tetapi Luther memilih Kitab Suci. Luther mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja, seperti penyelewengan surat penghapusan siksa, dan kepausan. Reformasi menekankan untuk kembali kepada Gereja mula-mula. Luther menyerang ajaran transsubstansiasi, selibat para klerus dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman. Pada tanggal 15 Juni 1520 Roma mengeluarkan Bulla Exsurge Domine, yang mengutuk Luther sebagai seorang bidaah. Luther dicekal dan dinyatakan sebagai buron. Ia bersembunyi di sebuah puri yang disebut Wartburg. Di sana ia mulai menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Jerman. Ia menyelesaikan pekerjaan tersebut pada tahun 1534. Sebelumnya Kitab Suci dalam bahasa Latin dan hanya diperuntukkan bagi para imam dan ahli. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diterbitkan dengan mesin cetak, sekarang setiap orang Kristen dapat membaca Kitab Suci (Smith & Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama).

Reformasi adalah bagian dari providensia Allah. Jika bukan karena Allah memelihara orang percaya dalam mempertahankan kebenaran, menjalankan kebenaran, dan memegang erat kebenaran, maka sia-sialah segala usaha yang dilakukan oleh orang-orang percaya. “Kita percaya, bahwa Dia tidak hanya telah menciptakan segala sesuatu, tetapi juga memerintah dan mengendalikannya, sambil mengatur dan menetapkan sekehendak-Nya segala sesuatu terjadi dalam dunia ini.” “Pengakuan Iman Gereja Perancis”, dalam Th. van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 5

 “Kita percaya, bahwa Allah yang baik itu, setelah menciptakan segala sesuatu, tidak membiarkannya, dan tidak menyerahkannya kepada peruntunngan atau kepada nasib. Sebaliknya, Dia mengendalikan dan memerintah segala sesuatu menurut kehendak-Nya yang kudus, begitu rupa, sehingga dalam dunia ini tidak terjadi sesuatu apa pun tanpa aturan-Nya.” “Pengakuan Iman Gereja Belanda”, dalam Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, 29.

Kita pun mengakui, bahwa “Sebagaimana pemeliharaan Allah secara umum menjangkau semua makhluk, begitu juga dengan cara yang sangat istimewa pemeliharaan itu mengasuh Gereja-Nya dan mengatur segala sesuatu hal untuk mendatangkan kebaikan bagi Gereja itu.” “Pengakuan Iman Westminster”, dalam Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, 104.

Jika Allah sedemikian rupa memelihara kita, maka sudah sepatutnyalah kita bersyukur dan menyembah-Nya, mengasihi-Nya, dan memuliakan-Nya seumur hidup kita. Kebaikan yang ditunjukkan-Nya telah menyita perhatian kita untuk serius merenungkan bahwa “tidak ada hal apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya”. Reformasi dan Teodensia telah cukup memberikan kepada kita asupan gizi – meski sangat sederhana penyuguhannya – tetapi kandungan gizi yang ada di dalamnya cukup menguatkan tulang-tulang kerohanian kita. Marilah kita berpikir secara sehat bahwa tak ada Reformasi tanpa Providensi. Tak ada kemajuan dan perubahan dalam Gereja ketika tidak melibatkan Allah.

Masih ada kesempatan bagi kita untuk melihat ke dalam diri kita (baca: Gereja) dan sedapat mungkin melakukan tindakan reformasi jika ditemukan hal-hal yang menyimpang, yang tidak selaras dengan firman Allah. Kita berjuang demi kebenaran bukanlah hal yang mudah. Tantangan yang kuat – entah dari dalam Gereja ataupun dari luar Gereja – adalah fakta yang tak dapat disangkal. Sejarah telah memberi kita banyak bukti soal itu. Tinggal bagaimana kita secara serius, kredibel, dan solid untuk mewartakan kebenaran Allah dalam segala situasi dan kondisi.

Konteks ini mengangkat kita kepada puncak pemahaman bahwa Teodensia adalah bagian koheren yang ada dan tetap dimaknai dalam setiap tarikan napas kita. Beryukurlah atas segala kebaikan Allah yang telah membentuk pikiran, iman, dan pengajaran kita tentang Teodensia, terutama melalui peristiwa reformasi. Itulah didikan Allah bagi kita: dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

Penutup

Ada rancangan Allah yang baik dari setiap peristiwa yang terjadi, termasuk Reformasi, karena dampaknya dapat kita rasakan sampai sekarang ini. Sejatinya, providensia Allah tetap ada dan nyata di setiap waktu di sepanjang sejarah. Ia mendidik kita, selalu, dan selalu. Jika “tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, demikian juga dengan didikan-Nya. Reformasi telah membuka mata kita bahwa rancangan Allah diwujudkan dalam sejarah untuk membersihkan hati nurani kita dari segala kekotoran, dan di dalamnya, didikan Allah mengubah pola berpikir, berkata, dan bertindak agar selaras dengan kehendak-Nya.

Pada akhirnya, Teodensia (teologi [pemahanan] tentang providensia) Allah, menyadarkan kita bahwa reformasi tidak berkutat pada “pengajaran” dan “kewenangan menentukan pengajaran”, melainkan juga pada moralitas dan spitualitas. Reformasi berbicara keutuhan dari fragmen-fragmen doktrinal, sehingga iman kita kepada Allah menjadi semakin kuat. Dari didikan Allah kita tahu apa artinya perubahan, kesadaran, dan kasih kepada Allah dan sesama.

Salam Bae.

Artikel ini telah dimuat di EBulletin Reformed Bible Study (RBS) Vol 3 – Oktober 2021

Sumber gambar:

https://unsplash.com/s/photos/bible

TINIS V. LAIA DAN THOBIAS A. MESSAKH – JURNAL DIDACHE

Jurnal Teologi & Pendidikan Kristen Vol. I No. 1, Desember 2019e-ISSN 2715-2758

Dewan Redaksi

Pembina: Dr. Daniel Nuhamara dan Dr. Andreas A. Yewangoe

Penanggung Jawab: Jenry E. C. Mandey

Pimpinan Redaksi: Stenly R. Paparang

Penyunting Ahli: Edward E. Hanock

Anggota Penyunting: Andreas Christanto & Tirsa Budiarti

Kesekretariatan: Anen Mangapul Situmorang

Artikel-Artikel:

BIARLAH ORANG MATI MENGUBURKAN ORANG MATI: Investigasi Latar Kultural Matius 8:21-22/Lukas 9:59-60

Deky Hidnas Yan Nggadas 1

POTENSI DIRI & GAMBAR-RUPA ALLAH

Edward E. Hanock 24

KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENURUT KITAB KEJADIAN 1:26-27 DAN 2:18-23 SERTA IMPLIKASINYA DALAM MASYARAKAT DAN GEREJA NIAS

Tinis Vivid Laia dan Thobias A. Messakh 35

Korelasi TEOLOGIS ANTARA ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς: Komitmen Kristen untuk Berjuang dan Bersaksi bagi Kristus

Stenly R. Paparang 67

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PEMIMPIN GEREJA: Pokok-Pokok Pikiran Keluaran 18:13-26

Soegeng A. Hardiyanto 82

PRA EKSISTENSI YESUS: Analisis Bukti-Bukti Injil Yohanes

Adi Putra 94

PERDEBATAN PARA AHLI MENGENAI PENGARUH SASTRA HIKMAT TERHADAP SASTRA APOKALIPTIK

Jenry E. C. Mandey 103

MODEL RANCANG BANGUN TEOLOGI GEREJA CHARISMATIC WORSHIP SERVICE JAKARTA DALAM MENGHADAPI TREND ISU-ISU TEOLOGI PERTUMBUHAN GEREJA MASA KINI

Wasis Suseno 111

Tinjauan Buku:

Munawir Aziz, Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017)

Stenly R. Paparang 134

KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENURUT KEJADIAN 1:26-27 DAN 2:18-23 SERTA IMPLIKASINYA DALAM MASYARAKAT DAN GEREJA NIAS

ABSTRACT
Substantial inequalities between the sexes still exist in the society as well as Church of Nias. These inequalities are social-cultural construction and are supported by theological understanding of the Genesis 2:18-23, that is man was previously created by God and woman was created by God from man’s rib.  This social fact pushed the writers to do a library research on the Genesis 1 :26-27 and Genesis 2:18-33 and to do a field research in the society and the Church of Nias. There are two research questions: Is there any equality between men and women according to the Genesis 1:26-27; 2:18-23? How is the inequality in the society and the Church of Nias? The writers used the Qualitative-descriptive methode to do this research and find that there is no inequality between men and women in the message of Genesis 1:26-27; 2;18-23. On the contrary the writers find that men and women are equal. Men and women are different in order to complete each other . Therefore it is wrong absolutely to use the Genesis 1:26-27 and 2:18-23 to support these gender inequalities  in the society and the Church of Nias.  Genesis 1:26-27; 2:18-23 should be used to control and to remove the gender inequalities in the society and the Church of Nias. The writers interviewed ten people of Nias. They are also the members of the Church of Nias in Tangerang. We find that they do not know that actually there is an equality between men and women according to the message of the Genesis 1:26-27;2:18-23. Although they realize that inequlity between men and women is not good but they cannot release themselves from the social tradition undertanding that men and women are not equal. Men should be positioned higher than women. The writers also find that the society and the Church of Nias not yet has any plan to control the inequalities in order to establish the equality between men and women in the social sphere  and in the Church sphere, in the public sphere as well as in the domestic sphere. The sugestion should be proposed is that the Church of Nias should has a plan to control and to remove the inequalities between men and women in the society and the Church of Nias and to establish the equality between men and women based on the Genesis 1:26-27; 2:18-23.  In this case the leaders of the Church of Nias and the traditional figures of Nias should collaborate.

Key words: equality, tradition, Nias community, Nias church

ABSTRAK

Realitas sosial masyarakat dan gereja Nias dalam pengamatan awal penulis, menunjukkan bahwa perempuan dihargai lebih rendah dari laki-laki karena faktor budaya, dan adanya pehamaman yang salah terhadap Kejadian 2:18-23, sebab laki-laki dicipta terlebih dahulu daripada perempuan. Pengamatan awal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian pustaka tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan menurut Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23, serta penelitian lapangan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan Gereja Nias. Ada dua pertanyaan penelitian, yaitu: Bagaimana kesetaraan laki-laki dan perempuan menurut Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23? Bagaimana kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan Gereja Nias? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif-deskriptif (data diperoleh dari penelusuran tulisan para pakar Perjanjian Lama dan para penafsir Kejadian 1:26-27; 2:18-23). Dalam penelitian ini, penulis mewawancarai sepuluh orang Nias yang adalah warga BNKP Tangerang.

Dalam penelusuran penulis terhadap eksegese Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23 tidak terdapat pendapat bahwa laki-laki dicipta lebih tinggi daripada perempuan. Mereka berbeda untuk saling melengkapi demi mewujudkan kemanusiaan yang sempurna sebagaimana yang Allah kehendaki. Ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan adalah pandangan yang bertentangan dengan pesan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23. Ditemukan bahwa masyarakat maupun gereja Nias belum sepenuhnya memahami dan menganut kesetaraan laki-laki dan perempuan secara teori dan praktik. Hambatannya ialah adat yang masih sangat mendukung ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan, serta gereja Nias yang belum secara berencana mengajarkan pesan firman Tuhan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Karena itulah, adat harus dinilai untuk dibaharui dan gereja harus secara berencana mengajarkan warganya tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, teori, dan praktik berdasarkan Alkitab.  Dalam hal ini, kerjasama tokoh adat dan para pemimpin gereja sangat diperlukan.

Kata kunci: kesetaraan, adat, masyarakat Nias, gereja Nias.

PENDAHULUAN

Kata kesetaraan berasal dari kata setara yang berarti sederajat, sepadan, seimbang, sejajar, sama tingkatnya dan kedudukannya, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah antara satu dengan yang lain. Dalam konteks kesetaraan laki-laki dan perempuan, keduanya diartikan sepadan, seimbang, sejajar, sama derajatnya, tingkatnya, dan kedudukannya. Akan tetapi, pada kasus tertentu, tidak ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan; laki-laki dipandang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih berkuasa daripada perempuan, sedangkan perempuan dipandang lebih rendah dan lebih lemah daripada laki-laki. Perempuan bahkan dikuasai laki-laki.

Widdwissoeli M. Saleh membahas “40 Kisah tentang Upaya mengenai Kesetaraan dan Keadilan Gender dari Perspektif Kristian” dengan judul Perempuan Kok Naik Ke Atap? Ia mengamati bahwa dalam sebuah seminar mengenai pendidikan anak, yang diundang sebagai peserta hanya para ibu. Dalam budaya patriarkat, pendidikan anak diserahkan kepada istri. Hal ini dikaitkan dengan kodrat perempuan, yaitu: bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Dalam budaya patriarkhi, merawat dan mendidik anak dipahami sebagai kodrat perempuan. Akibat pemahaman tersebut, baik buruknya tingkah laku dan kehidupan anak dibebankan kepada istri. Di lembaga-lembaga pendidikan keadaannya lain lagi. Para guru TK dan SD didominasi oleh perempuan; semakin naik ke atas (tingkat SMP-SMU), guru perempuan semakin sedikit. Ini menunjukkan bahwa perempuan hanya kebagian di level bawah. Memang dapat dimengerti, bahwa untuk ke jenjang yang lebih tinggi, orang harus memiliki ijazah yang lebih tinggi. Sementara untuk memperoleh ijazah yang lebih tinggi, dituntut adanya studi lanjut. Untuk hal studi lanjut inilah, para istri merasa tidak mampu, karena mereka masih dibebani oleh berbagai pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya, bagi kaum laki-laki, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga tidak menjadi beban, sehingga laki-laki dapat dengan mudah meniti kariernya.

Dalam masyarakat Nias, perempuan dihargai sebagai warga kelas dua. Perbedaan penghargaan sosial itu terlihat jelas dalam beberapa bidang, antara lain: pertama, yang menjadi ahli waris (dalam bahasa Nias disebut sokho harato) keluarga hanyalah laki-laki; kedua, perempuan yang sudah berkeluarga tidak bisa mengambil keputusan apapun tanpa suaminya; ketiga, perempuan sering disamakan dengan barang/harta/kekayaan laki-laki; keempat, anak yang diharapkan dalam keluarga hanyalah anak laki-laki. Bila anak laki-laki belum ada, maka orang Nias biasanya merasa belum memiliki anak; dengan perkataan lain, belum memiliki keturunan (dalam bahasa Nias disebut nga’oto). Anak laki-laki adalah penerus marga serta disebut sebagai “hidup itu sendiri”(?), karena laki-laki merupakan tulang punggung dalam keluarga secara finansial.

Kedudukan perempuan sebagai nomor dua membuka kesempatan kepada pihak laki-laki untuk berlaku sewenang-wenang terhadap perempuan. Perempuan bukan tidak diperlukan, tetapi perempuan dilihat sebagai jenis kelamin kedua yang berasal dari warga kelas yang lebih rendah. Pandangan yang dipaparkan di atas dianut pula oleh warga Gereja di Nias dan mendasarkan pandangan pada Alkitab (Kej. 2), tentang penciptaan perempuan. Tuhan menciptakan laki-laki lebih dahulu, baru kemudian perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga ia layak dihargai sebagai kelas nomor dua dan lebih rendah daripada laki-laki. Lalu, apakah agama Kristen mendukung adanya perbedaan penghargaan kedudukan terhadap laki-laki dan perempuan? Realitas sosial masyarakat dan Gereja Nias dalam pengamatan awal penulis, menunjukkan bahwa perempuan dihargai lebih rendah dari laki-laki. Karena itu penulis terdorong untuk melakukan penelitian pustaka dan lapangan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan menurut.

Terkait dengan latar belakang masalah di atas, maka ada tiga pertanyaan penelitian yang perlu dijawab dalam artikel ini: pertama, bagaimana kesetaraan laki-laki dan perempuan menurut Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23?; kedua, bagaimana kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan Gereja Nias?; dan ketiga, bagaimana implikasi kesetaraan laki-laki dan perempuan menurut Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23 terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan gereja Nias?

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah kualitatif. Menurut Creswell, penelitian kaulitatif adalah suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral. Untuk mengerti gejala sentral tersebut peneliti mewawancarai partisipan dengan mengajukan pertanyaan yang umum dan agak luas. Denzin and Lincoln (2000) juga mengemukakan bahwa penelitian kualitatif menggunakan dua pendekatan, yaitu intrepretative dan naturalistic. Dalam arti mempelajari sesuatu dalam setting alami mereka, dan mencoba membuat pengertian dan interpretasi fenomena dalam konteks makna mereka. 

Moleong menjelaskan, metode kualitatif bersifat deskriptif, yaitu meng-gambarkan, menjelaskan peristiwa, sehingga data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, dan tidak menekankan pada angka. Data-data tersebut dapat diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, dan dokumen resmi lainnya. Dengan demikian, dalam penelitian ini, penulis memperoleh data dari hasil wawancara, ditambah dengan literatur untuk meninjau makna “kesetaraan laki-laki dan perempuan”.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. Wawancara adalah aktivitas tanya jawab yang dilakukan oleh beberapa orang. Satu orang berperan sebagai orang yang memberikan pertanyaan, dan orang lainnya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berg (2005), berpendapat bahwa wawancara adalah percakapan yang memiliki tujuan untuk mengumpulkan data.

Dalam penelitian ini, penulis melakukan wawancara terhadap sepuluh orang Nias warga jemaat BNKP Tangerang. Tetapi tidak dimaksud sebagai perwakilan atau sampel dari warga gereja BNKP Tangerang. Mereka adalah narasumber yang bergereja di BNKP Tangerang. Selain itu, para responden ini adalah orang Nias yang berdomisili di Tangerang. Mereka masih mengetahui keadaan masyarakat Nias di Nias sampai sekarang. Mereka adalah orang Nias yang lahir dan dewasa di Nias yang sampai saat ini masih mengikuti berbagai kegiatan di Nias.

Sepuluh responden itu terdiri atas: Laki-laki 4 (empat) orang dan perempuan 6 (enam) orang. Pekerjaan dan tingkat pendidikan setiap responden yang berjumlah sepuluh orang tesebut berbeda-beda. Responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga berjumlah 3 (tiga) orang, wiraswasta 3 (tiga) orang, sekretariat Yayasan PAUD 1 (satu) orang, pensiun 1 (satu) orang, anggota DPR 1 (satu) orang, Pembina Credit Union 1 (satu) orang. Tingkat pendidikan sebagai berikut: Dr. 1 (orang), ME 1 (satu) orang, S.Th. 1 (satu) orang, SMA/SMK 4 (empat) orang, SMP 2 (dua) orang, SD 1 (satu) orang.

Tempat penelitian dilakukan di BNKP Jemaat Tangerang, yang merupakan salah satu jemaat (bagian) dari BNKP. BNKP Tangerang sebagai satu Jemaat ditetapkan pada tanggal 1 Desember 1999 oleh Badan Pengurus Harian Majelis Sinode (BPHMS) BNKP. Sebelumnya, BNKP Tangerang statusnya sebagai Pos Pelayanan dimulai sejak tahun 1991. Dengan jumlah pelayan: pendeta jemaat 1 orang, pendeta fungsional 1 orang dan majelis terdiri dari beberapa orang, yakni Satua Niha Keriso (SNK) 35 orang, ketua komisi 9 orang dan anggota BPMJ: 8 orang (termasuk anggota majelis). Alamatnya berada di jalan Teuku Umar, Shinta Griya Blok C 1 No. 10, Kelurahan Nusa Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Banten, Indonesia; Kode Pos 15116.

Waktu Penelitian dilakukan selama tiga minggu lebih, dimulai tanggal 21 Mei 2018 sampai pada tanggal 10 Juni 2018. Selama proses penelitan, peneliti mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pihak Gereja.

TEORI DAN DATA MENGENAI KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Pengantar Kitab Kejadian

Lima kitab pertama dalam Alkitab dikenal dengan nama “Pentateukh”, sebuah kata yang berasal dari kata Yunani, penta (“lima”) dan teuchos (“sebuah wadah untuk membawa gulungan-gulungan papirus, tetapi kemudian kata ini digunakan untuk gulungan naskah itu sendiri”). Kitab Kejadian … membawa para pembaca kembali melihat kesempurnaan dan kemuliaan Allah di sana. Namun demikian, kitab Kejadian adalah kitab yang tidak mudah dimengerti. Robert Alter seorang tokoh penting dalam penelitian terhadap bentuk-bentuk sastra Ibrani modern, menyatakan, bahwa

Setiap kebudayaan, bahkan setiap era dalam suatu kebudayaan tertentu, mengembangkan sistim makna sendiri yang khas dan kadang rumit untuk menyampaikan cerita-ceritanya. Jarak sejarah, budaya, dan sastra antara kita dan zaman penulis, membuat Kitab Kejadian sulit untuk dipahami tanpa studi. Salah satu kesalahan terbesar yang kita buat dalam penafsiran adalah membacanya seolah ia ditulis untuk kita sekarang ini.”

Dalam bahasa Ibrani, kata-kata pertama sebuah kitab Taurat digunakan sebagai nama kitab itu. Jadi, kitab Kejadian dikenal sebagai “pada mulanya” (בְּרֵאשִׁ֖ית/bere’sit), sebuah nama yang sangat cocok mengenai penekanannya tentang asal-usul. Judul bahasa Ingrisnya “Genesis” berasal dari kata Yunani “Geneseos,” artinya “permulaan”. Untuk memahami isi kitab Kejadian, perlu memanfaatkan karya para profesional, yaitu mereka yang dipanggil Allah untuk mengabdi dalam studi tentang Alkitab. Hanya sedikit orang dapat membaca kitab kejadian tanpa pertolongan para ahli.

Penjelasan Singkat Teori Sumber

Dalam kitab Kejadian bahasa Ibrani ada dua nama yang berbeda untuk menyebut Allah, yaitu Yahwe (YHWH) untuk menunjuk nama diri Allah Israel (TB [Terjemahan Baru] menerjemahkan “Tuhan Allah)” dan Elohim diterjemahkan menjadi Allah,  para ahli mulai menaruh perhatian kepada pembentukan atau penulisan kitab Pentateukh. Berdasarkan analisis itulah, para ahli menemukan bahwa ada empat sumber yang membentuk kitab Pentateukh, yaitu sumber Yahwis (Y), Imam (P atau Priest), Elohis (E) dan Deutoronomis (D) atau Ulangan. Namun dalam kitab Kejadian hanya terdapat tiga sumber, yakni: sumber Yahwis, sumber Elohis dan sumber Priest.

Sumber Yahwis menyebut Allah dengan YHWH. Inilah sumber yang tertua, berasal dari abad X sM, zaman Daud dan Salomo. Cerita-cerita tradisi Yahwis biasanya ditandai dengan gaya cerita rakyat yang hidup dan pelukisan tokoh-tokoh yang bervariasi. Hal ini mengisyaratkan bahwa penulis Yahwis mempunyai keterampilan tinggi. Penulis membiarkan tokoh-tokoh berbicara melalui tindakannya dan jarang memberikan penilaian atas kelakuan tokoh-tokoh itu. Penggambaran Tuhan secara manusiawi dalam tradisi Yahwis memberi ciri yang amat pribadi tentang Allah.

Sumber Elohis (E) menggunakan sebutan “Elohim” bagi Allah Israel sampai Keluaran 3:14 di mana nama Yahwe diwahyukan kepada Musa. Pada umumnya sumber ini diadakan pada abad IX sM dan berasal dari kerajaan Utara. Sumber Elohis terjalin demikian erat dengan Yahwis sehingga sukar sekali memisahkan keduanya. Elohis lebih suka meng-gunakan “mimpi” dan malaikat sebagai sarana komunikasi ilahi daripada menggambarkan hubungan langsung dengan Allah seperti yang dilakukan Yahwis. Elohis terkenal karena kepekaannya terhadap nilai-nilai moral. Hal itu kelihatan dari usahanya menilai, menjelaskan, dan memberi catatan pada tindakan–tindakan yang salah dari nenek moyang Israel. 

Sumber Priest (P) juga lebih suka menggunakan sebutan “Elohim” untuk Allah sampai zaman Musa (Keluaran 6). Walaupun karya tradisi P yang sebenarnya diduga berasal dari masa pembuangan Babel (tahun 550 sM), sumber-sumber yang dipergunakan oleh penulis ini berasal dari masa jauh sebelumnya. Gaya tradisi P cenderung mengulang-ulang dan cerita-ceritanya disusun secara kaku, sehingga ada kesan resmi di dalam karyanya. Penulis Priest melestarikan ciri transendensi Allah dengan menghindari penggambaran Allah secara manusiawi. Kitab Kejadian dimulai dengan kisah penciptaan karya tradisi P.

Penulis dan Waktu Penulisan

Secara teknis, kitab Kejadian adalah sebuah kitab yang tidak ada satu bagian pun dalam isinya menyebut siapa penulisnya. Meski demikian, kita perlu memperluas usaha pencarian penulisnya dengan mengikutsertakan keseluruhan kitab Pentateukh, karena kelima kitab ini menampilkan diri sebagai suatu kesatuan yang padu. Jika demikian kasusnya, apa petunjuk yang mendukung ide bahwa Musa adalah penulis kitab Kejadian? 

Pertama, di berbagai bagian dalam Pentateukh kita mendengar bahwa Musa adalah penerima wahyu dan saksi dari berbagai tindakan penyelamatan Allah. Di dalamnya dituliskan mengenai sejarah (Kel. 17:14; Bil. 33:2), hukum taurat (Kel. 24:4; 34:27) termasuk juga sebuah pujian (Ul. 31:22; lih. Ul. 32). Meskipun petunjuk ini jauh dari meyakinkan tentang penulisan seluruh kitab Pentateukh, namun cukup sulit untuk berkata bahwa Musa tidak ada sangkut pautnya dengan penulisan kitab-kitab ini, terutuma menyangkut hukum Taurat, di mana teksnya mengatakan bahwa Musa menerima dan meneruskan-nya kepada generasi sesudah dia.

Kedua, sudah sejak awal dalam sejarah Alkitab muncul sebuah tradisi yang mengaitkan Pentateukh dengan Musa. Para ilmuwan boleh saja tidak sepakat dengan teks-teks Alkitab ini berasal, tetapi tetap informasi itu penting untuk disebutkan. Contoh, Yosua 1. Musa telah meninggal dan Yosua yang menggantinya memimpin bangsa Israel sementara mereka bersiap memasuki tanah perjanjian. Allah menguatkan hati Yosua di saat kritis dan berpotensi bahaya ini dengan berkata:

Engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, kemanapun engkau pergi. (Yos. 1:6-7).

Kalimat “seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa” boleh jadi secara khusus tetap menunjuk kepada hukum-hukum dalam Keluaran sampai Ulangan; ini tetap menunjukkan bahwa Musa telah mempercayakan tradisi tekstual tertentu kepada generasi berikutnya. Meski memang benar bahwa tidak satu pun dari rujukan ini mengacu secara spesifik kepada bagian tertentu dalam kitab Kejadian, tetapi semua rujukan ini mengaitkan Musa dengan penyusunan kitab-kitab berikutnya dalam Pentateukh yang terhadapnya kitab Kejadian menjadi pendahuluannya.

Petrus M. Handoko, seorang imam dalam gereja Katolik Malang menyatakan, bahwa

kitab pentateukh tidak ditulis oleh Musa, karena banyak tulisan dalam kitab-kitab itu yang menunjukkan asal-usulnya bukan dari masa hidup Musa. Musa sendiri kemungkinan hidup pada abad XIII sebelum Masehi. Seperti halnya tentang kematiannya dalam (Ul. 34), ini salah satu contoh bahwa tidak mungkin Musa sendiri yang menulis tentang kematiannya. Selain itu, adanya cara penyebutan Allah yang berbeda. Beberapa bagian menyebut nama Allah sebagai Yahweh (YHWH), sedangkan lainnya menyebut Allah sebagai Elohim. Masing-masing merupakan ungkapan pemikiran yang khas dari masing-masing “sumber”, yang kemudian disebut Yahwista (Y) dan Elohista (E) sampai akhirnya masuk ke dalam suatu cerita yang lebih luas tentang hubungan Israel dengan Allah.

Berdasarkan ciri khas masing-masing “sumber” tersebut, maka waktu penulisan kitab Kejadian ialah:

  1. Sumber yang menggunakan nama “Yahwe” (Y). Kurang lebih ditulis sekitar tahun 900 sebelum Masehi. Ini ditemukan dalam Kejadian 2:4b-31, yang memberi-kan corak pada keseluruhan kisah bapa-bapa leluhur (Kejadian 12-50), terutama dalam kisah pengembaraan di padang Gurun. Allah disebut dengan nama Yahwe, dan kedekatan hubungan Yahwe dengan orang pilihannya digambarkan secara anthropo-morfisme.
  2. Sumber yang menggunakan nama “Elohim” (E). Kurang lebih ditulis sekitar tahun 750 sebelum Masehi yang lahir di Kerajaan Utara, dengan mengutamakan hubungan atau relasi khusus antara Allah dengan bangsa Israel (umat pilihan-Nya), sehingga teologinya bersifat particular-isme
  3. Sumber yang dipelopori oleh imam-imam “Priester Codex” (P). Kurang lebih ditulis sekitar tahun 500 sebelum Masehi, yang diyakini lahir dari situasi pembuangan di Babilonia untuk melestarikan dan mengumpulkan tradisi keimaman. Dengan  maksud agar bangsa Israel mengingat kembali status mereka sebagai bangsa yang kudus bagi Allah nenek moyang mereka.   

Kejadian 1 Dan 2

Teks Kejadian pasal satu dan dua merupakan teks yang berisi kisah penciptaan. Menariknya adalah adanya dua versi penciptaan: pertama, Kejadian pasal 1-2:4a dan yang kedua, versi penciptaan menurut Kejadian pasal 2:4b-25. Mengapa dua versi? Menurut para teolog, teori yang paling tepat untuk mengungkapkan ini adalah teori sumber (Yahwist, Elohist, Deutronomist, dan Priest). Teori yang diperkenalkan oleh Jean Astruc (1684-1766) kemudian banyak dikembangkan oleh Julius Wellhausen dengan berusaha melihat teks berdasarkan perbedaan-perbedaan penulisan yang ada.

Kejadian 1:1-2:4a secara keseluruhan merupakan kisah asal mula penciptaan versi pertama yang diakui berasal atau ditulis oleh kaum Priest (Imam) yang menyebut nama Tuhan mereka dengan sebutan Elohim. Dari ayat 1-5 Allah menciptakan terang dan itulah hari pertama, ayat 6-8 Allah menciptakan cakrawala yang memisahkan air yang ada di atas dan di bawahnya, itulah hari kedua. Pada hari ketiga (ayat 9-13) Allah menciptakan bumi serta tumbuh-tumbuhan, dan ayat 14-19 Allah menciptakan benda-benda penerang di langit dan itulah hari keempat.

Selanjutnya (ayat 20-23) Allah menciptakan burung-burung serta ikan-ikan di dalam laut, dan pada hari keenam (ayat 24-31) Allah menciptakan binatang-binatang darat dan manusia. Ayat 2:1-4a, pada hari ketujuh Allah berhenti dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu dan menguduskannya. Dengan melihat gaya bahasa yang rapi dan sitematis dari Kejadian pasal 1-2:4a, maka bukan hal yang aneh jika ini ditulis oleh para Imam (P). Pada masa itu, para Imam memperoleh pendidikan taurat di dalam bait suci. Jadi, mereka memiliki kompetensi dalam hal sastra dan baca tulis. Selain itu, penekanan pada Allah yang mencipta dengan Firman seolah hendak menekankan pentingnya Firman Tuhan bagi kepentingan umat pada masa itu. 

Kejadian 2:4b-25 secara keseluruhan merupakan kisah asal mula penciptaan yang merujuk kepada sebutan bagi Tuhan yang khas yaitu YHWH, berbeda dengan sebutan dari kaum Priest (Imam) yakni, Elohim. Kaum Y menggambarkan Tuhan Allah secara anthromorphic di mana Tuhan seolah-olah bekerja, sama seperti manusia. Ketika Allah berfirman: “tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Hal ini tentunya sangat kontras dengan Tuhan dalam sumber P yang menegaskan: “Tuhan berfirman, maka jadilah”. Penciptaan sumber P menekankan Tuhan yang transenden, sedangkan penciptaan menurut sumber Y sangat menekankan Tuhan yang imanen, yang ada bersama manusia. Isu teologis yang hendak dibawa sumber Y dalam konteks Kejadian ini adalah karakter YHWH sebagai Allah yang hidup, yang selalu hadir dan bertindak dalam menghakimi maupun dalam menyelamatkan umat-Nya.

EKSEGESE KEJADIAN 1:26-27

26וַיֹּ֣אמֶר אֱלֹהִ֔ים נַֽעֲשֶׂ֥ה אָדָ֛ם בְּצַלְמֵ֖נוּ כִּדְמוּתֵ֑נוּ וְיִרְדּוּ֩ בִדְגַ֙ת הַיָּ֜ם וּבְע֣וֹף הַשָּׁמַ֗יִם וּבַבְּהֵמָה֙  וּבְכָל־הָאָ֔רֶץ וּבְכָל־הָרֶ֖מֶשׂ הָֽרֹמֵ֥שׂ עַל־הָאָֽרֶץ׃

Transliterasi: 26Wayomer ‘Elohim na’aseh ‘Adam betsal’menu kid’mutenu weyir’du wid’gat hayam uwe’of hashamayim uwabehemah uwekhol-ha’arets uwekhol-haremes haromes ‘al-ha’arets. LAI menerjemahkan: 26Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kata “kita” adalah terjemahan dari bahasa Ibrani אֱלֹהִים (Elohim).

Para ahli berpendapat bahwa “kita” dalam Kejadian 1:26 adalah bentuk “pluralis majestatis (=jamak untuk menyatakan sesuatu dalam suasana resmi). Hal itu berdasarkan kenyataan bahwa kata untuk Allah dalam bahasa Ibrani אֱלֹהִים (Elohim) bentuknya jamak. Akan tetapi penggunaannya dalam bentuk tunggal yang artinya, kata Elohim itu dimaksudkan sebagai kata benda tunggal. Diandaikan karena Allah itu begitu agung dan berkuasa, orang-orang Ibrani kuno menyebut Allah mereka dalam bentuk jamak, sehingga para ahli sependapat bahwa kata “kita” merupakan contoh pluralis majestatis. Sosipater mengatakan istilah Elohim yang diterjemahkan dengan kata “kita” sewaktu Allah menciptakan manusia adalah bentuk jamak, yang menunjuk pada Tritunggal. Selanjutnya kata Elohim diterjemahkan dengan kata “Allah”. Kata Allah berasal dari bahasa Arab “Al-ilah” yang maksudnya menunjuk kepada penguasa besar dan di luar jangkauan manusia. “Elohim” adalah bentuk jamak dari bentuk tunggal “El” atau “Eloah” yang asal katanya menunjuk pada makna “awal” atau “terutama”. Dalam bahasa Aram dipakai kata “Elah”, bahasa Yunaninya “Theos”, dan dalam bahasa Latinnya adalah “Deos”.

Berdasarkan pendapat para teolog di atas, penulis menyimpulkan bahwa kata “kita” (Elohim) digunakan untuk melukiskan betapa agungnya Allah yang disembah umat Israel. Kata “kita” juga, dapat digunakan untuk menjelaskan Allah Tritunggal dalam ajaran Kristen.

Kata “manusia” bahasa Ibraninya adalahאָדָם  (Adam) yang artinya manusia. Sosipater mengemukakan bahwa kata “manusia” menunjuk kepada laki-laki dan perempuan, tetapi secara umum mengandung arti kemanusiaan. Mengapa? karena manusia diciptakan Allah sebagai “makhluk sosial, berpribadi, dan bermoral”, sehingga manusia tidak dapat hidup sendirian. Kemanusiaan laki-laki dan perempuan sama dan sederajat, bahkan harus dipandang sebagai satu kesatuan. Kemanusiaan laki-laki tanpa perempuan tidak lengkap, begitu pun sebaliknya. Jadi, kalimat itu sebenarnya bisa diterjemahkan menjadi “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya” yang artinya sifat kekudusan dan kebenaran Allah terpancar dalam kehidupan manusia melalui sikap hidup dan perilaku. Ketika Allah menciptakan manusia itu paling akhir, dengan tujuan agar manusia menguasai dan mengatur ciptaan yang telah dicipta Allah.

Menurut Jerman Mensch, “manusia” pada ayat ini, bukan laki-laki dalam keberbedaanya dengan perempuan, melainkan manusia (laki-laki dan perempuan) dalam keberbedaannya dari ciptaan yang nonmanusia. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa kata “manusia” yang bahasa Ibraninya adalah אָדָם  (Adam) pada ayat ini tidak hanya tertuju kepada laki-laki, melainkan laki-laki dan perempuan. Laki-laki tanpa perempuan, kemanusiaannya belum lengkap sebagai manusia. Demikian pula sebaliknya, perempuan tanpa laki-laki kemanusiaannya belum lengkap sebagai manusia. Apabila kata “manusia” hanya tertuju kepada laki-laki, maka ia akan menggunakan kata lain, yakni ish atau zakhar yang artinya orang laki-laki atau jantan. Sedangkan perempuan menggunakan bahasa Ibrani ishshah atau neqebah yang artinya perempuan atau betina. Jadi, menurut penulis, kata “manusia” di sini tidak hanya berbicara keberbedaan laki-laki dan perempuan dengan ciptaan lain seperti yang dikatakan Mensch, melainkan keberbedaan laki-laki dan perempuan yang sama-sama membentuk kemanusiaan.

Kata gambar dan rupa, בְּצַלְמֵ֖נוּ כִּדְמוּתֵ֑נוּ  (betsal’menu kid’mutenu).  בְּצַלְמֵ֖נוּ (betsal’menu) dengan particle preposition בְּ dari akar kata צֶלֶ (tsele) dengan akhiran dagesh ם yang artinya gambar. Sedangkanכִּדְמוּתֵ֑נוּ  (kid’mutenu) yang berasal dari kata דְּמוּת (demuth) yang artinya rupa yang mirip, rupa yang sama, atau yang menyerupai. Jadi, בְּצַלְמֵ֖נוּ כִּדְמוּתֵ֑נו (betsal’menu kid’mutenu) lebih tepat diterjemahkan dengan kalimat “gambar rupa”. Menurut Karris, untuk menentukan ciptaan seperti apakah manusia itu, perlu dipahami dulu apa yang dimaksud oleh istilah “gambar”. Di dunia kuno, “gambar” mengacu pada patung raja yang dikirim ke segala penjuru kerajaan, untuk menjadi wakil raja di tempat itu. Apabila hal ini diterapkan dalam Kejadian, diciptakan sebagai gambar Allah berarti laki-laki dan perempuan sama-sama wakil Allah di bumi. Hal ini, digarisbawahi oleh kalimat “manusia diberi kekuasaan atas bumi”. Sebagaimana Allah memerintah alam surgawi, begitu pula manusia memerintah alam duniawi sebagai wakil Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:24). 

Anthony A. Hoekema berpendapat bahwa, “gambar rupa” dalam ayat ini menjelaskan manusia sebagai representasi Allah yang bereksistensi, dalam persekutuan dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Manusia menyerupai Allah dalam hal mereka adalah makhluk berpribadi dan bertanggung jawab, yang bisa diajak berbicara oleh Allah dan bertanggung jawab kepada Allah sebagai Pencipta dan Penguasa atas mereka. Allah adalah pribadi yang mampu memberi keputusan dan memerintah, maka manusia adalah pribadi yang mampu membuat keputusan dan memerintah.

Sebagai “gambar rupa” Allah, manusia—laki-laki dan perempuan—mampu mempresentasikan gambar Allah melalui sikap hidup, moralitas dan ketaatan akan kehendakNya. Karena itu, laki-laki dan perempuan dalam kesatuannya sebagai manusia adalah wakil Allah.

Ayat 27:

27וַיִּבְרָ֙א אֱלֹהִ֤ים׀ אֶת־הָֽאָדָם֙ בְּצַלְמ֔וֹ בְּצֶ֥לֶם אֱלֹהִ֖ים בָּרָ֣א אֹת֑וֹ זָכָ֥ר וּנְקֵבָ֖ה בָּרָ֥א אֹתָֽם׃

Transliterasi: Wayiv’ra ‘Elohim ‘et-ha’adam betsal’mo betselem ‘Elohim bara ‘oto zakhar uneqevah bara ‘otam. LAI Menerjemahkan: Maka Allah mencipta-kan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Kata “menciptakan”, Ibr. בָּרָ֥א  (bara) artinya menciptakan sesuatu yang baru dari yang tidak ada menjadi ada secara luar biasa dan lain dari yang lain. Kata ini dipakai untuk menyatakan pekerjaan yang hanya dilakukan oleh Allah. Berdasarkan kodratnya sebagai ciptaan, manusia tidak ilahi. Manusia diciptakan pada tingkat yang lebih rendah Allah dan tergantung kepada Allah (bdg. Mazm 8:6). Menurut Wenham, istilahבָּרָ֥א  (bara) menekankan “kebebasan dan kekuasaan seorang seniman”, dan ia mengutip kata-kata W. H. Schmid yang mengatakan bahwa istilah “בָּרָ֥א (bara) menggarisbawahi “pekerjaan Allah menciptakan tanpa kesukaran, karena Ia mutlak bebas dan tidak terbatas dalam kedaulatan-Nya”. Bagi Atkinson, istilah בָּרָ֥א  (bara) dalam ayat ini adalah Allah menciptakan sesuatu yang sangat baru tanpa memakai benda apa pun sebagai bahan dasar. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa ketika Allah mencipta bumi dan segala isinya dalam pasal ini, diciptakanNya dari yang tidak ada menjadi ada atau ex-nihilo. Ia mencipta hanya dengan firman-Nya. Ia menciptakan tanpa kesukaran, Ia bebas dan tidak terbatas dalam kedaulatan-Nya. Jadi, jelas bahwa laki-laki dan perempuan tidak diciptakan dari sesuatu yang telah ada sebelumnya, dengan kata lain perempuan tidak diciptakan dari laki-laki.

Kata Laki-laki dan perempuan digunakan זָכָ֥ר וּנְקֵבָ֖  (zakhar uneqevah).  זָכָ֥ר (zakhar) artinya laki-laki atau jantan, dengan maksud tertuju kepada satu pribadi yang gagah dan pemberani. Sedangkan וּנְקֵבָ֖ה (uneqevah) artinya perempuan atau betina, dengan maksud tertuju kepada satu pribadi yang bisa hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Menurut Tafsiran Wyclife, זָכָ֥ר וּנְקֵבָ֖  dalam ayat ini menjelaskan hakikat ciptaan Allah yang sangat berbeda dari semua jenis makhluk ciptaan lainnya. Manusia laki-laki dan perempuan, memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dari ciptaan lainnya. Allah menciptakannya untuk menjadi tidak fana, yaitu menjadikannya sebagai gambar khusus dari keabadian-Nya sendiri. Manusia “laki-laki dan perempuan” adalah makhluk yang dapat dikunjungi serta berhubungan dan bersekutu dengan Khaliknya. Sebaliknya, Tuhan dapat mengharapkan mereka menang-gapi-Nya dan bertanggung jawab kepada-Nya. Laki-laki dan perempuan diberi kuasa untuk memiliki hak memilih, bahkan hingga ke tingkat tidak menaati khaliknya. Laki-laki dan perempuan menjadi wakil dan penatalayan Allah yang bertanggung jawab di bumi, melaksanakan kehendak Allah dan menggenapi maksud sang Khalik.

Anthony Hoekema menjelaskan,זָכָ֥ר וּנְקֵבָ֖  pada ayat ini, menunjukkan fakta bahwa laki-laki membutuhkan pendamping seorang perempuan. Perempuan meleng-kapi laki-laki dan laki-laki melengkapi perempuan, untuk melakukan perintah atau mandat dari sang khalik. Abineno juga berpendapat bahwa,זָכָ֥ר וּנְקֵבָ֖  pada ayat ini, menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Tetapi perbedaan itu, bukanlah perbedaan kualitatif. Laki-laki tidak lebih tinggi atau lebih mulia daripada perempuan, dan perempuan tidak lebih hina atau rendah daripada laki-laki. Keduanya memiliki derajat yang sama. Bedanya ialah: yang seorang bereksistensi sebagai laki-laki dan yang lain berseksistensi sebagai perempuan. Maksud Allah dengan perbedaan ini ialah supaya mereka saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi. Perempuan bukan pelayan atau hamba yang dapat dimiliki oleh laki-laki, ia adalah partner yang sama-sama diciptakan menurut gambar Allah.

Berdasarkan penjelasan para teolog di atas, penulis menyimpulkan bahwaזָכָ֥ר וּנְקֵבָ֖  pada ayat ini, tidak berbicara siapa ciptaan yang paling tinggi dan paling rendah, melainkan menjelaskan bahwa laki-laki tanpa perempuan dan perempuan tanpa laki-laki bukan manusia, sesuai dengan kodratnya sebagai ciptaan Allah. Hal ini terlihat ketika Allah melihat segala sesuatu yang dijadikanNya itu, “sungguh amat baik” yang mencakup juga manusia (laki-laki dan perempuan).

Kesimpulan Kejadian 1:26-27

Kejadian 1:26-27 merupakan cerita manusia (laki-laki dan perempuan), diciptakan menurut gambar rupa Allah dalam posisi setara tanpa hierarki dengan sungguh amat baik, dari yang tidak ada menjadi ada. Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah setara meski berbeda, setara dalam keberadaan sebagai manusia, berbeda dalam keberadaan jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama martabatnya di hadapan Allah sebagai manusia penyandang gambar Allah. Kesetaraan laki-laki dan perempuan juga terlihat dalam mandat yang sama dari Allah untuk beranak cucu dan memelihara segala ciptaan Allah di bumi. Dengan demikian, sangat jelas bahwa laki-laki tidak diciptakan untuk berada di atas perempuan atau perempuan di atas laki-laki. Kesetaraan laki-laki dan perempuan, telah dimulai sejak manusia diciptakan. Laki-laki dan perempuan sama-sama berharga, agung dan mulia di mata Tuhan. Namun, dalam perkembangan sejarah hidup manusia terjadi penyimpangan, yaitu perempuan dihargai lebih rendah dari laki-laki. Penyimpangan ini adalah ciptaan manusia yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Eksegese Kejadian 2:18-23

Ayat 18:

18 וַ֙יֹּאמֶר֙ יְהוָ֣ה אֱלֹהִ֔ים לֹא־ט֛וֹב הֱי֥וֹת הָֽאָדָ֖ם לְבַדּ֑וֹ אֶֽעֱשֶׂהּ־לּ֥וֹ עֵ֖זֶר כְּנֶגְדּֽוֹ׃

Transliterasi: Wayyomer YHWH Elohim lo’tov hayot ha’adam lefaddo asehh-lo ezer kenagdo. LAI menerjemahkan: TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Frasa “tidak baik” dalam bahasa Ibrani לֹא־ט֛וֹב  (lo’tov), bermaksud untuk menunjukkan sesuatu yang tidak lengkap, sesuatu yang belum selesai dengan baik. Ini merupakan suatu kisah pertama kalinya dalam sejarah penciptaan Allah berfirman “tidak baik”. Abineno menjelaskan bahwa, kata “tidak baik” (לֹא־ט֛וֹב [lo’tov]) pada teks ini adalah suatu pernyataan bahwa hal itu tidak sesuai dengan maksud penciptaan Allah. Penciptaan-Nya baru baik dan cocok sesuai dengan maksud-Nya apabila manusia itu tidak sendiri, tetapi bersama-sama dengan manusia lain yaitu sesamanya manusia. Karena itu, Allah tidak hanya mencipta laki-laki, tetapi mencipta laki-laki dan perempuan. David Atkinson berpendapat bahwa, kata “tidak baik” (lo’tov) pada teks ini menunjukkan ada sesuatu yang masih Allah persiapkan untuk Adam dan yang pasti lebih baik dari makhluk ciptaan yang lain.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa kata “tidak baik” merupakan bentuk kepedulian Allah bagi manusia. Allah yang Mahasempurna itu, melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Apa yang telah Ia lakukan itu belum sempurna atau belum sesuai dengan yang Ia kehendaki, maka Ia menyem-purnakannya sesuai dengan kehendakNya, dan berkata “sungguh amat baik.” Kesempurnaan manusia terletak dalam laki-laki dan perempuan, yang berdampingan dan menyatu untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

Kataעֵ֖זֶר  (ezer) dalam bahasa Ibrani artinya penolong, teman atau rekan. Penolong di sini berarti kawan hidup, partner, yang dijadikan begitu rupa sehingga “yang menolong dan yang ditolong menyatu menjadi manusia yang utuh dan lengkap. Davis John berpendapat bahwa, kata “penolong” (Ibr. עֵ֖זֶר  [ezer]), menunjukkan narasi penciptaan Allah yang sangat indah dan intim.” Sedangkan menurut Atkinson, kata “penolong” berarti seorang yang membantu, memberi semangat dan melengkapi kekurangan dari orang yang dibantunya. Istilah ini sering dipakai dalam Perjanjian Lama berkenaan dengan bantuan dari Allah.

Berdasarkan pandangan di atas, penulis menyimpulkan bahwa kata “penolong” merupakan suatu petunjuk bahwa laki-laki tidak bisa hidup sendirian. Ia butuh teman hidup yang mendampingi dan melengkapinya untuk menjalankan tugas atau mandat dari Allah.  Penolong tidak boleh diartikan sebagai yang lebih rendah dari yang ditolong. Sebaliknya harus diartikan sebagai yang tanpa dia, manusia tidak sempurna sebagai manusia.

Kata “sepadan” (Ibr. כְּנֶגְדּֽוֹ  [kenegdo]) yang artinya di hadapan atau di depan. Atkinson menjelaskan bahwa, penolong yang sepadan adalah penolong yang pasti layak berdiri di hadapan manusia (laki-laki dan perempuan) sebagai imbangannya, temannya dan pelengkapnya. Bukan diperuntukkan sebagai budak, melainkan seorang yang mirip dengan dia tapi “kebalikan dari dia”. Menurut Abineno, kata “sepadan” tertuju kepada pribadi manusia yang komplit. Adam yang tidak komplit itu, akan mejadi komplit ketika ia bersama-sama dengan perempuan. Berdasarkan pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa “sepadan” menunjukkan suatu pribadi yang sama-sama diberi kuasa oleh Tuhan untuk berkuasa atas segala sesuatu yang diciptakanNya. Ia layak berdiri di hadapan manusia sebagai imbangannya, temannya dan pelengkapnya, serta diberi tanggung jawab untuk memelihara segala ciptaan Allah.

Ayat 19-20:

19 וַיִּצֶר֩ יְהוָ֙ה אֱלֹהִ֜ים מִן־הָֽאֲדָמָ֗ה כָּל־חַיַּ֤ת הַשָּׂדֶה֙ וְאֵת֙ כָּל־ע֣וֹף הַשָּׁמַ֔יִם וַיָּבֵא֙ אֶל־הָ֣אָדָ֔ם לִרְא֖וֹת מַה־יִּקְרָא־ל֑וֹ וְכֹל֩ אֲשֶׁ֙ר יִקְרָא־ל֧וֹ הָֽאָדָ֛ם נֶ֥פֶשׁ חַיָּ֖ה ה֥וּא שְׁמֽוֹ׃

20 וַיִּקְרָ֙א הָֽאָדָ֜ם שֵׁמ֗וֹת לְכָל־הַבְּהֵמָה֙ וּלְע֣וֹף הַשָּׁמַ֔יִם וּלְכֹ֖ל חַיַּ֣ת הַשָּׂדֶ֑ה וּלְאָדָ֕ם לֹֽא־מָצָ֥א עֵ֖זֶר כְּנֶגְדּֽוֹ׃

Transliterasi: 19Wayitser YHWH ‘Elohim min-ha’adamah kal-khayat hassadeh we’et kal-‘of hasysyamayim wayave ‘el-ha’adam lirot mah-yiqra-lo’ wekhol ‘asyer yikra-lo’ ha’adam nefesy khayah hu syemo. 20Wayiqra ha’adam syemot lekhal-hakhehamah ul’uf hasyamayim ul’kol hayyat hasysya’dah ul’adam lo-matsa ezer kenegiddo. LAI menerjemahkan: 19Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 20Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Kata “tidak menjumpai” (Ibr. לֹֽא־מָצָ֥א [lo-ma’tsa]) berarti tidak menemukan atau tidak mendapatkan, yang menunjukkan kesadaran Adam bahwa hanya dirinya sendiri yang tidak mempunyai pasangan. Luther menjelaskan, bahwa “ketika Allah memerintahkan Adam untuk memberi nama kepada semua binatang sebelum Ia menciptakan pasangan hidup bagi Adam, Allah memiliki maksud atau tujuan tersembunyi di balik itu, yakni, agar Adam bisa mengetahui bahwa semua binatang memiliki pasangan masing-masing dan hal itu sungguh amat baik. Begitupun dengan dirinya, pasti amat baik ketika ia memiliki pasangan yang sepadan dengan dia. Menurut Dyrness, istilah “tidak menjumpai” menjelaskan bahwa ketika Adam mengetahui dirinya sebagai pemerintah dan pekerja, pada saat yang sama ia merasakan jurang pemisah yang hakiki dalam dirinya dengan seluruh ciptaan yang lain. Jurang pemisah itu merupakan sifat bawaan paling dalam, dari kepribadian manusia. Bart menjelaskan bahwa, manusia harus menyadari dirinya sebagai ciptaan yang tidak lengkap tanpa ada satu pribadi lain dalam melengkapinya untuk merespon kasih Allah sang pencipta segalanya.

Dari pendapat di atas, penulis menyim-pulkan bahwa istilah “tidak menjumpai” merupakan petunjuk bahwa manusia tidak bisa menjadi ciptaan yang sempurna sebelum ia menemukan satu pribadi yang lain dari dirinya, namun mampu melengkapinya. Ciptaan lain yang telah ada, tidak layak menjadi penolong yang sepadan bagi manusia. Allah sendiri mencipta ciptaan baru, yang Ia pandang punya kualitas yang mampu menyem-purnakan manusia sebagai ciptaan-Nya.

Ayat 21-22:

21 וַיַּפֵּל֩ יְהוָ֙ה אֱלֹהִ֧ים׀ תַּרְדֵּמָ֛ה עַל־הָאָדָ֖ם וַיִּישָׁ֑ן וַיִּקַּ֗ח אַחַת֙ מִצַּלְעֹתָ֔יו וַיִּסְגֹּ֥ר בָּשָׂ֖ר

 תַּחְתֶּֽנָּה׃

 22 וַיִּבֶן֩ יְהוָ֙ה אֱלֹהִ֧ים׀ אֶֽת־הַצֵּלָ֛ע אֲשֶׁר־לָקַ֥ח מִן־הָֽאָדָ֖ם לְאִשָּׁ֑ה וַיְבִאֶ֖הָ אֶל־הָֽאָדָֽם׃

Transliterasi: 21Wayappel YHWH ‘Elohim tarad’demah al-haadam wayyi’syan wayi’dath ahtah mitsalata’yw wayyisggor basar ttaha’tennah. 22Wayyiven YHWH ‘Elohim et-hatsala asyer-laqah min-ha’adam loisysyah wyvi’eha el-haadam. LAI menerjemahkan: 21Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Frasa “tidur nyenyak” (Ibr. תּרְדֵּמָ֛ה  [tarddemah]) adalah tidur yang tingkat kesadaran akan dunia luar dan eksistensi diri sendiri hilang. Davis berkata, istilah ini bisa juga berarti tidur yang disebabkan oleh sesuatu yang lain termasuk keadaan yang amat letih. Menurut Von Rad, sebagaimana dikutip Atkinson, “tidur nyenyak” menjelaskan bahwa Allah tidak boleh diamati ketika sedang menciptakan. Artinya, manusia tidak boleh melihat bagaimana Allah berkarya, manusia hanya dapat mengagumi hasil ciptaan-Nya. Dianne berpendapat, “tidur nyenyak” adalah petunjuk bahwa tidak ada yang menyaksikan karya penciptaan itu. Karya penciptaan perempuan merupakan suatu misteri ilahi. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa frasa “tidur nyenyak” menjelaskan karya penciptaan perempuan oleh Allah adalah sesuatu yang bersifat misteri. Manusia tidak bisa melihat, melainkan mengagumi hasil dari karya Allah itu sendiri. Penciptaan perempuan untuk melengkapi dan menyempurnakan Adam merupakan misteri Allah sendiri.

Kata  מִצַּלְעֹתָ֔יו (mitsalata’yw) berarti tulang rusuk. Apa yang dilambangkan dengan tulang rusuk pada kisah ini, tidak diketahui secara pasti dalam mitologi Timur Dekat Kuno. Namun, dalam bahasa Sumeria, “tulang rusuk” dan “kehidupan” adalah kata yang sama. Hal ini menarik untuk diperhatikan pada bagian akhir pasal 3, di mana laki-laki menyebut istrinya Hawa yang berarti kehidupan. Luther sebagaimana dikutip Park, menyatakan bahwa מִצַּלְעֹתָ֔יו  (mitsalata’yw) hendak menekankan bahwa pasangan itu (perempuan) adalah pribadi yang harus dikasihi. Tulang rusuk berdekatan dengan jantung di dalam tubuh manusia yang harus dilindungi dengan benar. Menurut Obbink rusuk (Ibr. צֵלָע  [tsala]) memiliki arti ‘sisi yang satu’. Tidak ada kata rusuk yang berarti tulang rusuk selain pada teks ini (Kej. 2:21). Jadi, ini bisa berarti manusia pertama ciptaan Allah adalah androgyn (manusia yang berjenis kelamin ganda), sehingga, hal itu berarti laki-laki dan perempuan diciptakan sama-sama tanpa urutan (perkiraan).

Menurut Matthew Henry, “tulang rusuk”,מִצַּלְעֹתָ֔יו  menjelaskan bahwa wanita memiliki kesepadanan dengan pria untuk memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan bagi manusia. Selain itu, pengertian lain kata ‘rusuk’ adalah ‘sisi’ atau ‘lereng’. Ini memberikan penegasan kesejajaran laki-laki dan perempuan, dalam mencintai, melindungi dan dalam melengkapi satu dengan yang lain. Berdasarkan pandangan para teolog di atas, penulis menyimpulkan bahwa frasaמִצַּלְעֹתָ֔יו (mitsalata’yw) adalah penjelasan tentang perempuan sebagai “belahan” atau “sisi” laki-laki. Laki-laki tanpa perempuan tidak lengkap dan perempuan tanpa laki-laki tidak lengkap, karena mereka satu tubuh yang saling melengkapi, saling melindungi, saling menghormati dan tidak bisa dipisahkan.

Kata dibangun-Nyalahוַיִּבֶן֩  (wayyiven) yang artinya “membangun, mendirikan”. Menurut Karris, kata ini bermaksud untuk menunjukkan bahwa wanita diciptakan secara misterius oleh Allah dengan memakai bahan dari manusia. Menurut von Rad, istilah “dibangun-Nyalah” adalah tindakan yang melambangkan bahwa Allahlah pendiri lembaga perkawinan di dunia. Meskipun di dalam diri manusia ada hasrat untuk menikah, yakni laki-laki dan perempuan bersatu dalam satu komitmen seumur hidup, dasarnya adalah kehendak Allah yang dilembagakan. Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa istilah “dibangun-Nyalah” menjelaskan bahwa Allah bekerja secara misteri dalam mendirikan lembaga persatuan laki-laki dan perempuan dalam hubungan perkawinan di dunia.

Ayat 23:

23וַיֹּאמֶר֘ הָֽאָדָם֒ זֹ֣את הַפַּ֗עַם עֶ֚צֶם מֵֽ

Transliterasi: 23 Wayyomer ha’adam zo’th happa’am etsem ma’atsamay uvasar mibasar lezo’th yiqra ishshah kki me’iysh lekhatah-zo’th. LAI menerjemahkan: 23Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

Klausa “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Ibr. עֶ֚צֶם מֵֽעֲצָמַ֔י [etsem ma’atsamay]) וּבָשָׂ֖ר מִבְּשָׂרִ֑י [uvasar mibasar]) ditafsirkan Wenham sebagai ungkapan yang menyatakan hubungan manusia yang paling akrab. Menempatkan laki-laki dan perempuan pada derajat yang sama, yang berbeda derajatnya dari binatang-binatang. Mathew Henry menjelaskan bahwa, klausa tersebut sebagai petunjuk bahwa perempuan itu tidak dibuat dari kepala laki-laki supaya jangan mengepalainya, tidak dibuat dari kakinya supaya jangan diinjak-injak olehnya, melainkan dibuat dari sisinya supaya sederajat dengan dia, di bawah lengannya supaya dilindungi dan di dekat hatinya untuk dicintai. Menurut Abineno, ungkapan “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” adalah suatu sambutan sukacita dari Adam atas surprise yang dari Allah untuk dirinya. Berdasarkan pandangan para teolog di atas, penulis menyimpulkan bahwa klausa “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” merupakan ungkapan sukacita Adam karena perempuan yang diberikan Allah kepadanya. Adam telah menyadari bahwa dirinya telah menjumpai seorang penolong yang sepadan dengan dia, pribadi yang sederajat dengan dia, dan melekat di hatinya, dan lebih menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya setara, melainkan satu adanya. Laki-laki dan perempuan menurut kodrat penciptaannya “setara menyatu.”

Kesimpulan Kejadian 2:18-23

  1. Perempuan dicipta sebagai penolong terhadap Adam. Kata penolong tidak boleh dipahami sebagai yang lebih rendah dari yang ditolong, karena kata penolong juga digunakan untuk Allah sebagai penolong.
  2. Kata sepadan bukan soal siapa yang direndahkan dan siapa yang ditinggikan, melainkan mereka saling melengkapi, dan layak berdiri di hadapan manusia sebagai imbangan-nya, yang juga diberi tanggunggung jawab untuk memelihara segala ciptaan Allah.
  3. Perempuan dicipta dari rusuk, jelas bahwa perempuan dan laki-laki satu adanya. Relasinya bagaikan tulang dengan daging dan tidak bisa dipisahkan. Hanya dalam keber-satuannya, manusia menjadi manusia yang sempurna. Kejadian 2:18-23 adalah awal mula adanya lembaga pernikahan yang Allah dirikan. Sehingga dalam rumah tangga tidak boleh dipahami bahwa, perempuan dicipta dari rusuk maka ia lebih rendah.
  4. Pengakuan Adam ketika ia menyam-but perempuan yang diberikan Allah kepadanya, “inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”, adalah penegasan bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya setara, melainkan satu adanya. Jadi kalau laki-laki sekarang merendahkan perempuan dalam masyarakat pat-riarkhal, sesungguhnya itu adalah penyimpangan dari apa yang dikehendaki Allah.
  5. Ketika perempuan dicipta dari rusuk laki-laki, Alkitab tidak menjelaskan bahwa laki-laki mengetahuinya. Kita mengetahui perempuan diambil dari tulang rusuk, karena Alkitab yang mengatakan “Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki”. Kisah penciptaan perempuan pada konteks ini, merupakan misteri Allah sang pencipta.  

Rangkuman Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23

Kejadian 1:26-27 laki-laki dan perempuan diciptakan Allah setara meski berbeda, setara dalam keberadaan sebagai manusia, berbeda dalam keberadaan jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama martabatnya di hadapan Allah sebagai manusia penyandang gambarNya. Kesetaraan laki-laki dan perempuan terdapat pula dalam Allah memberi mandat kepada laki-laki dan perempuan untuk beranak cucu dan memelihara segala ciptaan Allah di bumi.

Dalam Kejadian 2:18-23, perempuan dicipta sebagai penolong terhadap Adam. Kata “penolong” tidak dimaksudkan bahwa yang menolong lebih rendah dari yang ditolong, karena kata penolong juga digunakan untuk Allah sang penolong. Kata “sepadan” sama sekali tidak bermakna ada yang direndahkan dan ada yang ditinggikan, melainkan mereka saling melengkapi, sebagai manusia dalam imbangannya untuk memelihara segala ciptaan Allah. Perempuan dicipta dari rusuk; jelas bahwa perempuan dan laki-laki satu adanya. Relasinya bagaikan tulang dengan daging dan tidak bisa dipisahkan. Hanya dalam kebersatuannya, manusia menjadi manusia yang sempurna. Teks Kejadian 2:23-28 adalah awal mula berdirinya lembaga pernikahan dari Allah.

Jadi, tidak ada pesan laki-laki lebih tinggi dari perempuan dalam Kejadian 2:23-28, sehingga dalam rumah tangga tidak boleh dipahami, bahwa perempuan dicipta dari rusuk maka ia lebih rendah. Klausa “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya setara, melainkan satu adanya. Dari interpretasi Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23, tidak terdapat pendapat bahwa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Keduanya tidak hanya sekedar setara dalam keberbedaan, karena mereka berbeda tetapi tidak berpisah. Berbeda untuk saling melengkapi demi mewujudkan kemanusia yang sempurna sebagaimana yang Allah kehendaki.

HASIL PENELITIAN 

Pandangan tentang penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara, ada tujuh dari sepuluh responden mengatakan bahwa penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga adalah laki-laki dan perempuan harus dihargai sama, sederajat, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah baik antara suami dengan istri maupun antara anak laki-laki dan anak perempuan. Pandangan ini, antara lain, dikemukankan oleh I. L: “Penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga adalah: “Baik laki-laki maupun perempuan harus dihargai sama. Suami terhadap istri dan istri terhadap suami serta terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.”  Selanjutnya N. R lebih menegaskan sebagai berikut: “penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga adalah: “Adanya sikap saling menghargai antara suami dan istri serta terhadap anak-anak dalam keluarga tanpa membedakan derajat dan siapa yang paling penting.”

Ada dua dari sepuluh responden yang mengatakan bahwa laki-laki harus dihargai lebih tinggi, karena laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga dan berdasarkan kodrat penciptaannya laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan sebab ia lebih dahulu diciptakan daripada perempuan. Selain itu, laki-laki adalah penerus marga keluarga. Di sisi lain, anak laki-laki dan perempuan dihargai setara. S. Z mengatakan:

Antara suami dan istri secara kodratnya laki-laki sebagai kepala keluarga. Jikalau suami dan istri sama, siapa yang akan memimpin keluarga? Secara kodrat yang dimaksud disini adalah pada waktu penciptaan laki-laki diciptakan lebih dahulu daripada perempuan, dengan waktu penciptaan itulah saya melihat laki-laki dan perempuan tidak setara. Dalam hubungan dengan anak, laki-laki dan perempuan sama.” 

Selanjutnya berdasarkan pandangan S. L,

laki-laki dihargai lebih tinggi karena ia sebagai pemimpin dan lebih dahulu diciptakan sedangkan perempuan hanyalah seorang penolong. Dan anak yang lebih diutamakan adalah laki-laki karena dengan adanya laki-laki, keluarga memiliki keturunan (pewaris marga) tidak seperti anak perempuan (tidak menjadi pewaris marga keluarga).”

Jadi menurut analisis penulis, meskipun dua responden itu telah berdomisili di kota Tangerang (jauh dari Nias), namun tetap berpandangan bahwa dalam rumah tangga sudah sepatutnya laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan. Meskipun, ketika laki-laki dan perempuan masih kecil, dianggap setara, namun ketika sudah besar dan berkeluarga, laki-laki dianggap lebih tinggi daripada perempuan. Alasannya, laki-laki dalam Alkitab diciptakan lebih dahulu daripada perempuan, untuk menjadi pemimpin keluarga. Ada satu dari sepuluh responden, mengakui laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga. Namun hal itu tidak berarti laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Kepemimpinan dalam keluarga tidak tertuju pada kedudukan mana yang lebih tinggi atau yang lebih rendah, melainkan pada fungsinya. Fungsi suami sebagai pemimpin dalam keluarga tidak memberi peluang untuk ia dihargai lebih tinggi daripada istri. Demikian pula anak-anak laki-laki karena berperan sebagai penerus keturunan tidak harus berarti laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan. Pandangan ini dikemukakan oleh A. N: “Laki-laki dan perempuan sederajat. Meskipun suami sebagai kepala keluarga dan anak laki-laki mewarisi marga, bukan berarti perempuan lebih rendah.”

Penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan dalam rumah tangga, ladang atau kantor

Berdasarkan data dari hasil wawancara, sembilan dari sepuluh responden mengatakan bahwa pekerjaan dalam rumah tangga dan pekerjaan di kantor atau di ladang dalam masyarakat Nias dihargai sama. Sebab, perempuan juga bekerja di luar rumah untuk membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan keluarga. R. L menjelaskan bahwa “pekerjaan dalam rumah tangga dengan pekerjaan di ladang atau di kantor dihargai sama. Karena perempuan juga bekerja di ladang atau di luar rumah untuk membantu suami.” Kemudian satu dari sepuluh responden menjelaskan bahwa, pekerjaan di ladang dan dikantor (di luar rumah) dihargai lebih tinggi daripada pekerjaan di dalam rumah tangga dengan alasan pekerjaan di kantor berhubungan dengan finansial keluarga, sedangkan pekerjaan dirumah hanya berhubungan dengan pengolahan apa yang ada. Pandangan ini dikemukakan oleh S. L: “Pekerjaan dalam rumah tangga tidak dihargai sama dengan pekerjaan di ladang atau di kantor. Alasannya, pekerjaan di luar rumah sudah pasti berhubungan dengan finansial “mencari kebutuhan (uang) untuk nafkah hidup keluarga.” 

Menurut analisis penulis, meskipun beban pekerjaan dalam rumah tangga sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan pekerjaan di ladang atau di kantor, namun tetap dihargai lebih rendah. Akibatnya, perempuan sebagai istri meskipun berlelah mengerjakan tugas-tugas dalam rumah tangga tetap dihargai lebih rendah dari laki-laki sebagai suami yang bekerja di luar rumah. 

Selain itu, sepuluh responden berpendapat bahwa yang harus melakukan pekerjaan rumah tangga dalam masyarakat Nias ialah perempuan, karena keharusan budaya nias dan perempuan jauh lebih terampil dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Perempuan lebih sesuai dengan pekerjaan rumah tangga. Itulah sebabnya masyarakat Nias mengkategorikan pekerjaan rumah tangga sebagai tugas utama wanita bukan pekerjaan bersama antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang sepadan.

A. N menjelaskan bahwa yang harus bekerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”, karena itu sudah menjadi “budaya” masyarakat Nias. Menurut M. L: “Sampai sekarang yang harus bekerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”. Karena perempuanlah yang lebih teliti tentang pekerjaan dalam rumah tangga.” Jadi, keharusan budaya dan keterampilan perempuan dalam melaksanakan tugas-tugas di dalam rumah tangga menjadi alasan agar hanya perempuan yang patut bekerja di dalam rumah tangga. Namun, menurut penulis apakah budaya tidak dapat diubah. Sementara perempuan bisa terampil dalam melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, karena diajarkan kepadanya sejak kecil dan terus dilakukannya hingga dewasa. Itu berarti laki-laki juga dapat terampil mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.

Kesetaraan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan dalam masyarakat   dan gereja Nias

Berdasarkan data hasil wawancara, empat dari sepuluh responden berpendapat bahwa belum ada kesetaraan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias. Hal ini nampak jelas dalam proses pernikahan, anak laki-laki harus menanggung semua biaya dalam pernikahan (jujuran) sesuai permintaaan keluarga perempuan dan dalam proses pembagian warisan, anak perempuan tidak berhak mendapatkan warisan orang tua, serta sampai sekarang perempuan masih dianggap sebagai beli gana’a (harta kekayaan).

R. G mengemukakan bahwa “sampai sekarang ketika anak perempuan menikah, anak laki-laki yang mau menikahinya harus membayar semua jujuran sesuai dengan permintaan dari pihak keluarga perempuan untuk melangsungkan acara pernikahan. Selanjutnya, I. L lebih menegaskan bahwa “perempuan dalam masyarakat Nias masih dianggap sama seperti harta atau barang yang disebut “beli gana’a (harta kekayaan)” dan C. G  menjelaskan bahwa “perempuan tidak bisa menjadi ahli waris keluarga.

Berdasarkan data di atas, orang Nias di Nias masih menghargai laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Sementara, lima dari sepuluh responden menjelaskan bahwa kesetaraan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias sudah dimulai dalam bidang pendidikan, namun belum sepenuhnya dalam hal mengkategorikan perempuan sebagai kaum lemah. Pandangan ini dikemukakan oleh  R.  G: “Kesetaraan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias sudah dimulai, dengan memberi hak kepada anak perempuan untuk berpendidikan tinggi, namun ia tetap di pandang sebagai kaum lemah yang harus dilindungi.” Itu berarti lima responden ini, secara tidak langsung, berpendapat bahwa meskipun pendidikan yang setara bagi anak laki-laki dan anak perempuan sedang berlangsung, namun tidak dengan sendirinya mampu mengubah pandangan  bahwa perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Selain itu, satu dari sepuluh responden mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan di kota di luar Nias sudah dihargai setara, tetapi di desa  laki-laki dan perempuan belum dihargai setara. Menurut M. L: “Masyarakat Nias yang tinggal di kota, kesetaraan penghargaan laki-laki dan perempuan sudah ada, tetapi yang di desa masih belum.” Tentu kita bertanya mengapa demikian? Menurut penulis, kelihatannya adat Nias lebih kuat mengikat orang Nias di Nias daripada orang Nias di  kota (di luar Nias). 

Sementara hasil dari wawancara tentang persetujuan terhadap perlu adanya kesetaraan penghargaan laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat Nias, sembilan dari sepuluh responden menjawab “setuju adanya kesetaraan penghargaan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias.” Alasannya, laki-laki dan perempuan adalah ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa dengan Dia, yang saling melengkapi, saling membutuhkan. Laki-Laki dan perempuan adalah sama-sama ciptaan Allah tanpa ada yang direndahkan. Mereka adalah ciptaan paling mulia dan ciptaan yang sepadan. M. L mengatakan:

Saya setuju adanya kesetaraan peng-hargaan terhadap laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias, mengapa? Karena Tuhan menciptakan perempuan dan laki-laki segambar serupa dengan Dia namun saling kebergantungan. Perempuan adalah penolong yang sepadan dari karya Allah sendiri, jika perempuan tidak setara dengan laki-laki itu artinya perempuan bukanlah penolong yang sepadan.”

Selanjutnya R menjelaskan bahwa dalam penghargaan yang setara antara   laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat Nias: “laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi. Laki-laki itu manusia yang tidak sempurna dan perempuan pun begitu, jadi laki-laki dan perempuan itu harus dihargai setara.” Tetapi ada satu dari sepuluh responden “setuju dengan yang sudah terbiasa dalam masyarakat.” Mengapa? Karena itu adalah budaya Nias turun temurun dan tidak mudah untuk diubah. Pandangan ini dikemukakan oleh S2: “Saya setuju dengan yang sudah terbiasa dalam masyarakat” mengapa? Karena itu sudah menjadi budaya. Untuk merubah keadaan itu  bukanlah sesuatu yang mudah, karena itulah saya setuju saja dengan yang sudah terbiasa dalam masyarakat Nias.

Berdasarkan kesetujuan dan ketidak-setujuan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan yang dikemukakan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Orang Nias yang sudah berdiam di luar Nias setuju terhadap penghargaan yang setara terhadap laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias di Nias, meskipun senyatanya masih harus diperjuangkan. Kisah penciptaan manusia dalam Kejadian 1 dan 2 sebagai dasar pandangan mereka. Akan tetapi ada satu yang tidak setuju terutama karena menurut dia, adat yang mendukung penghargaan yang tidak setara terhadap laki-laki dan perempuan sulit diubah.

Jadi, sesungguhnya ia belum tegas menolak penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan. Ia setuju dengan ketidak-setaraan penghargaan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana yang diharuskan adat Nias, bukan karena ketidak-setaraan laki-laki dan perempuan dinilai lebih baik daripada kesetaraan laki-laki dan perempuan, tetapi karena adat sulit di ubah. Sedangkan dalam gereja Nias, sepuluh responden menegaskan bahwa kesetaraan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan sudah terlaksana. Meskipun dahulu kesetaraan penghargaan terhadap laki dan perempuan dalam gereja belum terlaksana. Tetapi sekarang gereja menyadari bahwa Tuhan bisa pakai siapa saja untuk melakukan pekerjaanNya, tanpa melihat jenis kelamin serta memberikan potensi melayani kepadanya. Persoalan dalam pelayanan adalah persoalan panggilan untuk memiliki hati yang mau melayani, dengan memegang erat hukum dalam penciptaan yaitu laki-laki dan perempuan sama-sama menerima mandat dari Tuhan untuk melakukan perintahNya.

F. D mengemukakan bahwa “dalam memimpin suatu jemaat, perempuan sudah bisa yang dulu tidak bisa. Sekarang yang dilihat bukan lagi jenis kelaminnya, melainkan panggilan dan hati untuk melayani serta potensi yang Tuhan berikan baginya dalam memimpin dan juga dalam melayani jemaat”. Selanjutnya A menjelaskan:

Mengapa dulu kesetaraan penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan dalam gereja belum terlaksana? karena budaya sangat kuat mempengaruhi gereja, tetapi sekarang tidak lagi. Sebab, banyak perempuan yang sudah perpendidikan dan berpotensi dalam bidang pelayanan seperti laki-laki. Contoh: dalam berkhotbah, memimpin jemaat dan sebagainya. Selain itu, dalam hukum penciptaan laki-laki dan perempuan sama-sama menerima mandat dari Tuhan untuk melakukan perintahNya.

Berdasarkan jawaban para responden di atas, penulis menyimpulkan bahwa penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam pelayanan gereja Nias telah tumbuh. Mengapa? Pertama, karena perempuan telah memiliki pendidikan yang memampukannya mengerjakan pelayanan gereja. Kedua, adat tidak sebegitu kuat berpengaruh dalam pelayanan gereja Nias.

Aasan laki-laki dihargai lebih lebih tinggi daripada perempuan dalam  masyarakat Nias

Berdasarkan data dari hasil wawancara, ada dua dari sepuluh responden menjelaskan bahwa laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan dan perempuan dihargai lebih rendah daripada laki-laki, karena masyarakat Nias menganggap perempuan sebagai Beli Gana’a (Harta Emas/harta kekayaan laki-laki) melalui pemberian bowo dalam pernikahan. Karena bowo itulah perempuan ketika menikah diberikan nasehat-nasehat untuk harus tunduk kepada suaminya. Pandangan ini didapatkan dari I. L yakni:

karena dalam budaya Nias perempuan disebut sebagai Beli Gana’a (Harta Emas/harta kekayaan) dan sebagai pribadi yang bernilai harta ia harus tunduk kepada pemiliknya dalam arti suami. Ketika anak perempuan menikah, laki-laki yang mau menikahinya harus bisa membayar bowo (mahar) sejumlah yang diminta dari keluarga perempuan. Karena bowo itulah perempuan saat menikah diberikan nasehat-nasehat bahwa ia harus tunduk kepada suaminya sebab suaminya sudah membelinya.”

Sedangkan enam dari sepuluh responden mengatakan bahwa, laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan karena garis keturunan keluarga hanya bisa dihitung dari sisi laki-laki. Dikemukakan dari C. G yaitu “garis keturunan hanya bisa dari sisi laki-laki (garis keturunan dihitung dari sisi laki-laki).” Satu dari sepuluh responden berpendapat bahwa laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan karena kodratnya ketika Tuhan menciptakan manusia, laki-laki dicipta mendahului perempuan.

Dikemukakan dari S1, karena pada waktu penciptaan laki-laki dan perempuan tidak diciptakan setara, buktinya laki-laki dicip-takan lebih awal baru kemudian perem-puan.” Selain itu, ada satu dari sepuluh responden mengatakan laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan karena kurangnya pemahaman tentang perempuan dalam masyarakat Nias yang disebabkan rendahnya tingkat pendidikan orang tua. Pandangan ini dikemukakan dari M, alasan laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan dalam masyarakat Nias ialah “kurangnya tingkat pemahaman tentang perempuan dalam budaya Nias. Mengapa demikian? Karena tingkat pendidikan orang tua masih rendah.”

Alasan laki-laki dan perempuan harus dihargai setara dalam masyarakat dan gereja Nias menurut Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23.

Berdasarkan data dari hasil wawancara, enam dari sepuluh responden berpendapat bahwa menurut Kejadian 1:26-27, baik laki-laki maupun perempuan diciptakan Tuhan  segambar dan serupa dengan Tuhan.  F. D mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan harus dihargai setara “karena perempuan dan laki-laki sama-sama ciptaan Tuhan yang segambar-serupa dengan Dia.” Sedangkan empat dari sepuluh responden mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan harus dihargai setara berdasarkan Kejadian 2:18-23, yakni perempuan diciptakan sebagai penolong yang sepadan bukan sebagai pribadi yang lebih rendah atau yang lebih lemah. Hal ini diungkapkan dengan jelas oleh S2: 

Karena Firman Tuhan berkata perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sebagai penolong yang sepadan. Kata sepadan memberi penjelasan bahwa perempuan diciptakannya sebagai partner yang cocok, sesuai dengan laki-laki. Bukan pribadi yang lebih rendah, remeh, lemah atau pribadi yang harus dikuasai oleh laki-laki.

Berdasarkan jawaban para responden di atas, penulis menyimpulkan bahwa mereka memahami dengan benar pesan Kejadian 1:26-27; 2:18-23. Kejadian 2:18-23 biasanya dimanfaatkan sebagai dasar untuk menghargai laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Namun empat responden  di atas tidak memahami Kejadian 2:18-23 sebagaimana biasanya dipahami untuk mendukung penghargaan yang lebih tinggi terhadap laki-laki. Mereka justru berpandangan bahwa berdasarkan Kejadian 2:18-23, laki-laki dan perempuan saling melengkapi tanpa saling merendahkan.

Hambatan terhadap adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam budaya Nias serta solusinya

Berdasarkan data dari hasil wawancara, ada tiga dari sepuluh responden mengatakan bahwa hambatan terhadap adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias ialah tingkat persentase pendidikan perempuan rendah karena budaya. Perempuan tidak mendapat kebebasan untuk melihat dunia luar, karena orang tua membatasi, sehingga perempuan tidak bisa berpikir maju. Maka solusinya ialah, pendidikan perempuan harus ditingkatkan, diberi kebebasan untuk melihat dunia luar dan memperoleh tinggi pendidikan dalam bidang apapun sesuai kemampuannya. Pandangan ini, antara lain, dikemukakan oleh I. L: “Banyaknya perempuan tidak berpendidikan karena budaya dan kehidupannya hanya berfokus dalam urusan rumah tangga ‘tidak mendapat kesempatan untuk melihat dunia luar’. Jadi solusinya adalah perempuan harus diberi kebebasan untuk melihat dunia luar dan juga diberi pendidikan yang sama dengan laki-laki sesuai dengan kemampuannya”. Sedangkan tiga dari sepuluh responden mengatakan, hambatan terhadap adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias ialah faktor budaya yang beranggapan bahwa perempuan adalah kelas dua dan kaum yang lebih lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa jikalau laki-laki tidak mendampingi. Solusinya, perempuan tidak boleh hanya mengandalkan laki-laki. Perempuan harus bisa mengerjakan apa yang ingin ia kerjakan tanpa bergantung kepada laki-laki.

Perempuan harus berpikir maju dan menunjukkan bahwa dia tidak lemah serta orang tua harus bersikap adil terhadap anak-anaknya, laki-laki dan perempuan. Ketua-ketua adat diharapkan mampu memperbaiki adat yang melestarikan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan. A. N mengatakan: “Masyarakat Nias beranggapan bahwa perempuan kelas nomor dua”. Selanjutnya R. L menegaskan bahwa hambatan dan solusi terhadap kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias, ialah: “Perempuan itu dianggap lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa laki-laki”. Solusinya perempuan tidak boleh bergantung kepada laki-laki, perempuan harus bisa mengerjakan apa yang ingin dan harus ia kerjakan tanpa bergantung kepada laki-laki. Selain itu, ada empat dari sepuluh responden mengatakan bahwa hambatan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Nias ialah budaya masyarakat Nias terlalu berpihak kepada laki-laki, dengan alasan laki-laki yang bisa meneruskan marga keluarga dan lebih kuat daripada perempuan. Solusinya, para tokoh-tokoh adat harus membuat keputusan untuk merefisi kembali nilai-nilai budaya Nias yang tidak adil terhadap perempuan. Yaitu nilai budaya yang dengannya perempuan di hargai sebagai kelas dua dan manusia lemah. Pandangan ini dikemukakan dari S2, yakni “masyarakat Nias menganggap bahwa keturunan keluarga adalah laki-laki dengan alasan laki-laki yang menjadi pewaris marga keluarga.” Solusinya, orang Nias harus bepikir kritis bahwa perempuan dan laki-laki itu saling membutuhkan dan harus saling melengkapi. Selanjutnya M dan R menegaskan solusinya sebagai berikut: “Laki-laki dan tokoh-tokoh adat harus menyadari bahwa tanpa perempuan keturunan juga tidak akan ada. Karena itulah budaya harus adil terhadap perempuan. Perempuan jangan hanya dijadikan tempat hunian keturunan semata.”

Usaha gereja dalam memberlakukan kesetaraan laki-laki dan perempuan (pengertian-praktik) serta hambatannya

Berdasarkan data dari hasil wawancara, sepuluh responden mengatakan bahwa di dalam gereja sudah ada usaha dalam tingkat pengertian dan praktik agar warga gereja menganut dan melaksanakan kesetaraan laki-laki dan perempuan. A. N menjelaskan bahwa, gereja sudah berusaha memberlakukan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam tingkat pengertian dan praktik, dengan memberi kesempatan yang sama kepada perempuan dan laki-laki untuk melayani di dalam gereja. Namun demikian masih ada hanbatan. Enam dari sepuluh responden menjelaskan bahwa warga gereja dalam kehidupan sehari-hari,  lebih taat pada budaya yang merendahkan perempuan daripada kebenaran Firman Tuhan yang mengharuskan adanya penghargaan yang setara terhadap laki-laki dan perempuan. Menurut N. D “budaya masih lebih kuat mempengaruhi konsep pemikiran warga jemaat daripada kebenaran Firman Tuhan dengan alasan itu sudah aturan hidup dan Alkitab tidak menjadi tolak ukur budaya melainkan budayalah yang menjadi tolak ukur Alkitab.”

Selain itu, tiga dari sepuluh responden mengatakan bahwa hambatan terhadap adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam ruang lingkup kehidupan warga gereja ialah warga gereja memandang, mempelajari Firman Tuhan secara mendalam adalah tugas pendeta dan hamba-hamba Tuhan, bukan tugas warga gereja. Akibatnya, warga gereja hanya sekedar beribadah tanpa memperhatikan khotbah dan renungan yang disampaikan. Pandangan ini didapatkan dari S1, yaitu “jemaat masih banyak yang belum membuka hati dan pikirannya untuk mengerti akan kebenaran Firman Tuhan. Mereka berpandangan bahwa pengertian dan pemahaman akan kebenaran Firman adalah tugas para hamba-hamba Tuhan.” Menurut penulis, sikap ini mengakibatkan tidak ada perluasan pengetahuan warga gereja terhadap pesan Firman Tuhan yang mencakup keharusan menghargai laki-laki dan perempuan secara setara. Sementara satu dari sepuluh responden berpendapat bahwa hambatan terhadap adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam gereja ialah, warga gereja memperoleh pengajaran Firman Tuhan hanya pada hari ibadah yang serba terbatas. M. L menjelaskan bahwa “pendeta dan pengurus jemaat membatasi diri dalam melayani jemaat.

Selanjutnya menurut F. D menjelaskan “pendeta dan hamba-hamba Tuhan lainnya dalam gereja jangan melayani hanya pada hari minggu karena warga jemaat membutuhkan uluran tangan mereka setiap hari.” R. G menegaskan pula bahwa “pendeta dan hamba-hamba Tuhan lainnya harus memiliki hubungan yang lebih dekat lagi kepada jemaat sebagai strategi untuk memberi pemahaman yang benar kepada setiap mereka yang masih kuat memegang budaya yang merendahkan perempuan.”

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa penghargaan yang setara terhadap laki-laki dan perempuan sudah ada di dalam gereja. Namun hanya sebatas di dalam menjalankan pelayanan gereja. Padahal warga gereja dalam kehidupannya sehari-hari tetap menganut budaya yang menghargai laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Itu berarti warga gereja masih berpandangan dan berperilaku ganda yang sesungguhnya saling bertentangan satu dengan yang lain.

Di dalam pelayanan gereja mereka berpandangan dan berperilaku menghargai laki-laki dan perempuan secara setara. Sementara di dalam kehidupan bermasyarakat warga gereja berpandangan dan berperilaku menurut tuntutan budaya yang menghargai laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Karena itu, para pemimpin gereja dan tokoh adat harus bekerja sama dalam usaha menanamkan pandangan dan perilaku yang menghargai laki-laki dan perempuan secara setara kepada warga gereja yang juga adalah warga masyarakat.

Kesimpulan Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Masyarakat dan  Gereja Nias 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dikemukakan di atas, penulis mengemukakan dua orang berpendapat bahwa laki-laki sebagai suami dihargai lebih tinggi daripada perempuan sebagai istri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, dalam rumah tangga dan masyarakat Nias masih saja ada pandangan bahwa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Meskipun demikian pandangan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara jauh lebih kuat. Itu berarti, secara teoritis orang Nias dalam masyarakat dan Gereja sedang terbuka bagi adanya pandangan bahwa laki-laki dan perempuan setara. Pandangan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan justru di dasarkan pada Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23. Kejadian 2:18-23 yang cenderung dipahami sebagai dasar penghargaan yang lebih tinggi terhadap laki-laki dan perempuan dihargai lebih rendah justru ditentang.  Orang Nias, dalam masyarakat dan gereja, terutama yang berdiam di kota sudah memahami pesan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Kejadian 1:26-23 dan 2:18-23.

Hambatan bagi orang Nias, dalam masyarakat dan gereja untuk memahami dan melaksanakan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam lingkungan rumah tangga dan masyarakat adalah: Pertama, adat yang mendukung ketidak-setaraan laki-laki dan perempuan masih sangat kuat menguasai orang Nias dalam masyarakat dan gereja; Kedua, Gereja Nias belum secara berencana mengajarkan pesan Firman Tuhan kepada warga gereja tentang keharusan orang Kristen, terutama antara laki-laki dan perempuan, untuk saling menghargai sebagai yang setara di dalam gereja dan di dalam masyarakat. 

Yang menjadi faktor penentu dalam menanamkan dan meluaskan pandangan serta praktik dari kesetaraan laki-laki dan perempuan di masyarakat dan gereja Nias, ialah: gereja, tingkat pendidikan perempuan dan tokoh adat. Ketiga faktor inilah yang berperan untuk memajukan pandangan dan praktik yang menghargai laki-laki dan perempuan secara setara. Dengan demikian maka budaya yang menghargai laki-laki lebih tinggi daripada perempuan akan melemah  dan  budaya yang menghargai laki-laki dan perempuan secara setara semakin menguat.

IMPLIKASI KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan

Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23 memberitakan dengan sangat jelas bahwa Allah mencipta manusia, laki-laki dan perempuan, setara meski berbeda. Setara dalam keberadaan sebagai manusia, berbeda dalam keberadaan jenis kelamin. Perempuan dicipta sebagai penolong, tidak berarti perempuan lebih rendah dan hanya layak di hargai sebagai kelas dua. Ia dicipta sepadan dengan laki-laki supaya mereka saling melengkapi, saling mengimbangi demi terciptanya kemanusiaan yang sempurna sesuai kehendak Allah sang pencipta.

Relasi antara laki-laki dan perempuan bagaikan tulang dengan daging yang tidak terpisahkan. Hanya dalam kebersatuannya itulah, manusia mampu menjadi manusia sempurna. Dalam kesetaraan martabat itulah manusia menyandang gambar Allah. Sebagai ciptaan yang segambar dengan Allah, laki-laki dan perempuan dalam kesatuannya sebagai manusia adalah wakil Allah. Dalam rumah tangga, masyarakat dan gereja, perempuan tidak boleh dihargai sebagai pribadi yang lemah dan hanya layak menempati posisi sosial kelas dua.

Kesalah-pahaman terhadap Kejadian 2:18-23

Kisah penciptaan perempuan menurut Kejadian 2:18-23, sering kali dijadikan pembenaran terhadap ketidak setaraan laki-laki dan perempuan dalam budaya patriarkhi. Yakni, laki-laki yang lebih dahulu diciptakan untuk menjadi kepala. Karena itu ia lebih tinggi daripada perempuan. Sementara perempuan yang diciptakan kemudian sebagai penolong, dihargai lebih rendah daripada laki-laki. Laki-laki adalah wakil Allah sedangkan perempuan hanya sebagai wakil laki-laki dalam memelihara segala ciptaan. Dalam budaya patriarkhi laki-laki menjadi manusia kelas satu-perempuan kelas dua. Ketidak setaraan laki-laki dan perempuan dalam budaya patriarkhi yang didasarkan pada Kejadian 2:18-23 adalah ciptaan manusia yang menyimpang dari kehendak Allah. Masyarakat dan gereja Nias, masih kuat dipengaruhi budaya patriarkhi.

Dalam rumah tangga, masyarakat dan gereja Nias masih ada pandangan bahwa laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan. Meskipun demikian sejauh penelitian penulis pandangan bahwa laki-laki dan perempuan harus dihargai setara, jauh lebih kuat. Bahkan Kejadian 2:18-23 yang cenderung dipahami sebagai dasar penghargaan yang lebih tinggi terhadap laki-laki dan perempuan dihargai lebih rendah justru ditentang.

Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyimpulkan bahwa orang Nias sedang terbuka bagi adanya pandangan bahwa laki-laki dan perempuan setara berdasarkan Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang berdiam di kota-kota. Dalam penelitian ini juga, penulis menemukan bahwa pandangan tentang kesetaran laki-laki dan perempuan itu telah dipraktikkan dalam bentuk suami istri bekerjasama menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Ada beberapa faktor yang menghambat orang Nias di dalam rumah tangga, masyarakat dan gereja, untuk memahami dan melaksanakan kesetaraan laki-laki dan perempuan di lingkungan domestik dan publik. Faktor yang pertama adalah adat yang masih kuat mendukung ketidak-setaraan laki-laki dan perempuan. Kedua, gereja Nias belum secara berencana melakukan penjemaatan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai keharusan bagi orang Kristen dalam rumah tangga, masyarakat dan gereja. Untuk meluaskan pandangan tentang kesetaraan laki dan perempuan serta praktiknya, maka diperlukan peran tokoh adat untuk merefisi nilai-nilai adat yang melestarikan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan serta mendukung pandangan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Selanjutnya gereja diharapkan menjadi yang terkemuka dalam mengembangkan pandangan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan serta praktiknya disemua lingkup kehidupan warga masyarakat dan gereja.

Pandangan Para Teolog

Jarot Winajarko menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan adalah satu adanya. Yang tidak ada pada laki-laki ada pada perempuan demikian pula sebaliknya, yang tidak ada pada perempuan ada pada laki-laki. Tetapi, budaya patriarkhi sangat menguasai dan mewarnai kehidupan laki-laki dan perempuan. Hampir di segala bidang dominasi dan kontrol laki-laki terhadap perempuan sangat terasa. Banyak orang beranggapan bahwa laki-laki dilahirkan untuk berkuasa dan perempuan untuk dikuasai.

Laki-laki dan perempuan adalah ciptaan yang sama di hadapan Allah. Laki-laki tidak boleh mendominasi perempuan. Laki-laki yang biasanya dihargai sebagai yang bekerja di luar rumah sementara perempuan sebagai yang bekerja dalam rumah tangga. Pandangan ini seharusnya ditinggalkan. Sebab baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bisa bekerja di lingkungan domistik dan publik. Diharapkan melalui proses sosialisasi yang panjang tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, budaya patriarkhi bisa tergantikan dengan budaya masyarakat yang lebih adil bagi seluruh ciptaan. Laki-laki dan perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak sama dengan makhluk-makhluk lain. Ia tidak berasal dari dunia binatang-binatang, seperti yang diajarkan oleh bangsa-bangsa tertentu pada waktu dahulu. Ia mempunyai persekutuan dengan Allah dan ditempatkan di atas makhluk-makhluk yang lain. Kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai manusia dalam Mazmur 8, dinyanyikan sebagai manifestasi dari kasih dan anugerah Allah yang mengherankan. 

Laki-laki dan perempuan adalah manusia yang utuh yang Allah ciptakan dan yang Ia selamatkan. Laki-laki dan perempuan sebagai manusia memiliki tiga relasi tanggungjawab, yaitu dengan Allah, dengan sesamanya manusia dan dengan bumi. Relasi dengan Allah adalah relasi yang paling penting dan yang paling menentukan. Sungguhpun demikian tanpa relasi yang baik dengan sesama manusia dan dengan bumi, tidak mungkin ada relasi yang baik dengan Allah. Relasi yang baik dengan Allah harus nyata dalam relasi yang baik dengan sesama dan dengan bumi. John Gray sebagaimana dijelaskan oleh Rubin Adi Abraham, menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan bagaikan Mars dengan Venus, keduanya berbeda. Namun, perbedaan itu harus dipahami bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi. Manusia diperlengkapi Allah dengan rasa sayang, benci, suka dan tidak suka, sifat lembut, kasar, pengasih, pemarah, melayani dan memerintah. Sifat yang seperti ini tidak menjadi monopoli satu jenis kelamin. Jadi, jika perempuan dikategorikan sebagai pelayan yang penuh kasih, itu karena perempuan telah dikondisikan seperti itu bukan berdasarkan kodratnya.

 Laki-laki dan perempuan memiliki kodratnya masing-masing yang tidak dapat dipertukarkan tanpa ada unsur saling merendahkan atau saling meninggikan. Yusak Tanasya menjelaskan, laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah adalah cerminan eksistensi manusia terdalam. Sambutan yang diikrarkan Adam “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” ialah penegasan laki-laki dan perempuan sebagai suatu kesatuan yang utuh tanpa ada yang lebih rendah atau yang lebih tinggi. 

Kesimpulan

Kejadian 1:26-27 laki-laki dan perempuan diciptakan Allah setara meski berbeda, setara dalam keberadaan sebagai manusia, berbeda dalam keberadaan jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama martabatnya di hadapan Allah sebagai manusia penyandang gambarNya. Kesetaraan laki-laki dan perempuan juga terlihat dalam mandat yang sama dari Allah untuk beranak cucu dan memelihara segala ciptaan Allah di bumi.

Dalam Kejadian 2:18-23, perempuan dicipta sebagai penolong terhadap laki-laki. Sebagai penolong tidak berarti ia lebih rendah dari yang ditolong, karena kata penolong juga digunakan untuk Allah sebagai sang penolong. Ia diciptakan sepadan bukan soal siapa yang direndahkan dan siapa yang ditinggikan, melainkan mereka saling melengkapi, sebagai manusia imbangannya untuk memelihara segala ciptaan Allah. Perempuan dicipta dari rusuk, jelas bahwa perempuan dan laki-laki satu adanya. Relasinya bagaikan tulang dengan daging dan tidak bisa dipisahkan. Hanya dalam kebersatuannya, manusia menjadi manusia yang sempurna.

Masyarakat dan Gereja Nias, sedang terbuka bagi adanya pandangan bahwa laki-laki dan perempuan setara. Pandangan ini didasarkan pada Kejadian 1:26-27 dan 2:18-23. Bahkan, Kejadian 2:18-23 yang cenderung dipahami sebagai dasar penghargaan yang lebih tinggi terhadap laki-laki dan perempuan dihargai lebih rendah justru ditentang. Namun dalam kenyataannya, masyarakat dan gereja masih bisa dikategorikan lain kata, lain tindakan. Penyebab utamanya adalah adat lebih kuat mempengaruhi masyarakat dan gereja Nias. Gereja Nias belum secara berencana mengajarkan pesan Firman Tuhan kepada warga gereja tentang keharusan orang Kristen, terutama antara laki-laki dan perempuan, untuk saling menghargai sebagai yang setara.

Selanjutnya untuk mengembangkan pandangan dan praktik dari kesetaraan laki-laki dan perempuan berdasarkan Kej 1:26-27 dan 2:18-23, maka penulis menyarankan:

Pertama, mengingat para tokoh adat di Nias adalah juga merupakan anggota gereja di Nias, maka para pemimpin gereja perlu bekerjasama dengan para tokoh adat dalam mengembangkan pemahaman tentang kese-taraan laki-laki dan perempuan serta wujudnya dalam perilaku.

Kedua, Gereja harus menjadi yang terkemuka dalam mengembangkan pema-haman tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan serta praktiknya di semua ligkup kehidupan masyarakat dan gereja. Sebab gerejalah yang memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan pesan tentang kesetaraan laki-kaki dan perempuan berdasarkan kejadian 1:26-27 dan 2:18-23. Tugas gereja ini dapat dilakukan melalui kurikulum katekisasi sidi, kurikulum katekisasi pranikah, khotbah-khotbah gereja dan media pendidikan gereja lainnya.

CATATAN KAKI

 Gramedia Kompas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008).

 Widdwissoeli M. Saleh, Perempuan Kok Naik ke Atap? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 91.

 Saleh, Perempuan Kok Naik ke Atap?, 92.

 http://novelaoli.blogspot.co.id/2008/07/kedu-dukan-perempuan-niasdalam.html.

  J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010), 7.

 Yusuf A Muri, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan Penelitian Gabungan (Kencana: Perpustakaan Nasional- KDT, 2014), 329.

 Moleong J. Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 11.

 Manzilati Asfi, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma, Metode, dan Aplikasi (Malang: UB Press, 2017), 70. Sarantakos (1995) mengemukakan karakter spesifik dalam hal wawancara, antara lain: (1) Menggunakan pertanyaan terbuka (open- ended question); (2) Wawancara dilakukan secara tunggal, yakni melakukan wawacara satu orang di satu waktu. (3) Struktur pertanyaan tidak tetap ataupun rigid, memungkinkan tambahan atau pengurangan pertanyaan jika di perlukan. (4) Memungkinkan peneliti bertanya dengan cara dan ekspresi yang beragam dengan prinsip tujuan yang perlu ditanyakan tercapai. Asfi, Metodologi Penelitian Kualitatif, 71.

 Gereja BNKP Tangerang yang didirikan pada hari minggu tanggal 1 Desember tahun 1999 ini memiliki pusat Sinode: Gereja BNKP Gunungsitoli Nias dan merupakan anggota Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Jumlah warga jemaat dimulai dari: laki-laki 528 orang, perempuan 433 orang, anak-anak 295 orang, dan jumlah rumah tangga atau kepala keluarga 282. Dengan visi “Semakin bertumbuh dewasa dalam iman (Ef. 4:11-16), menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat sebagai wujud jemaat yang missioner” dan misinya adalah: a) Marturia: (melayani dan menjadi berkat dalam bidang kesaksian dan pekabaran Injil); b) Didaskalia: (melayani dan menjadi berkat dalam bidang pembinaan dan pendidikan); c) Koinonia: (melayani dan menjadi berkat dalam persuekutuan ke dalam dan keluar/ekumenis); d) Diakonia: (melayani dan menjadi berkat dalam bidang pelayanan pengasihan); e) Oikonomia: (melayani dan menjadi berkat dalam bidang penatalayanan).

 Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Gandum Mas, 2004), 103.

 Wolf, Pengenalan Pentateukh, 23.

 Wolf, Pengenalan Pentateukh, 104.

 Longman Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah (Jakarta: Yayasan Panar Pijar Alkitab, 2010), 19-22.

 Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah, 31-32.

 Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah, 32-33.

 Dianne Bergant & Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 33. Bagi Yahwis, Allah terlibat secara aktif dalam sejarah manusia, khususnya sejarah umat Israel. Tradisi Yahwis memulai ceritanya dengan kisah penciptaan (Kej. 2:4b-31), menyajikan sejarah umat manusia sebagai latar belakang YHWH memanggil Abraham dan memberikan janji-Nya. Perjanjian ini baru menjadi kenyataan dalam Keluaran dan penaklukan tanah Kanaan. Tema perjanjian dan pemenuhannya sangat ditonjolkan dalam penyajian sejarah bapa-bapa bangsa oleh penulis Yahwis. Bergant & Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 33-34.

 Bergant & Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 35.

 J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2007), 19.

 Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, 36. Silsilah yang merupakan kerangka kitab Kejadian adalah buah karya tradisi P. Begitu pula dengan urutan waktu yang ada dalam Pentateukh berasal dari tradisi P. Pada umumnya diakui bahwa “penulis” P bertanggung jawab atas peredaksian terakhir kitab Kejadian. Menurut teori, tradisi P menggabungkan kisah-kisah Yahwis dan Elohis yang lebih kuno. Namun, beberapa bukti mengisyaratkan bahwa redaktur atau editor yang kemudian menggabungkan tulisan-tulisan Yahwis, Elohis, dan Imam (Priest). Hal ini terlihat jelas dalam penyebutan beberapa nama Allah yang berdasarkan pada dua “sumber”.

 Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah, 49.

 Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah, 50.

 Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah, 50. 

 Petrus M. Handoko, Siapakah Sesungguhnya Penulis Kitab Pentateukh (Jakarta: Kanisius. 2001), 85.

 Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, 18.

 Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, 18-20.

 Wismoady S. Wahono, Di Sini Kutemukan (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1990), 56.

 Andre & John, Penciptaan d an Sejarah Keimaman (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1987), 34-46

 T. M. Marthinus, Perjanjian Lama Dan Teologi Kontesktual (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2012), 185

 Edgar Krenz, Sastra dari tradisi kritik sejarah, (Jakarta: Gunung Mulia, 1971), 21.

 T. M Marthinus, Perjanjian Lama dan Teologi Kontesktual (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2012), 168.

 Bergant & Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 35.

 Karel Sosipater, The Old Testment: Etika Perjanjian Lama (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2010), 2.

 Sosipater, Etika Perjanjian Lama, 10-11.

 Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya: Momentum, 2012), 17.

 Achenbach Reinhard, Kamus Ibrani-Indonesia: Perjanjian Lama (Jakarta: YKBK, 2008).

 Bergant & Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 36

 Hoekema, Manusia, 19.

 Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian (Jawa Timur: Departemen Literature YPPII, 2002), 6.

 G. Wenham, Genesis 1-15 (World Biblical Commentary: Word Books, 1987), 14.

 David Atkinson, Kejadian Mendukung Bertumbuhnya Sains Modern: Kejadian 1-11 (Jakarta: YKBK, 1996), 19.

 Anchenbach Reinhard, Kamus Ibrani-Indonesia (Jakarta: YKBK, 2012).

 Tafsiran Wyclif, 111.

 Hoekema, Manusia, 19-20.

 J. L. Ch Abineno, Sekitar Etika dan Soal-soal Etis (Jakarta: Bpk. Gunung Mulia, 2015), 33.

 Davis J. John, Eksposisi Kitab Kejadian (Malang: Gandum Mas, 2001), 81

 Abineno, Sekitar Etika dan Soal-soal Etis, 34.

 Atkinson, Op. Cit., 84.

 Abineno, Sekitar Etika dan Soal-soal Etis.

 Davis, 81.

 Atkinson, 82-83.

 Atkinson, 83.

 Abineno, Sekitar Etika dan Soal-soal Etis, 34.

 BibleWorks8.

 Yune Sun Park, 24.

 Dryness William, Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2013), 70

 William, Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama, 71.

 Davis, 81.

 Atkinson, 84.

 Bergant & Karris, 38.

 BibleWorks8.

 Bergant & Karris.

 Park, 24-25.

 Park, 25.

 Prasetyo, Art, 5.

 BibleWorks8

 Bergant & Karris.

 Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), 57.

 BibleWorks8

 J. Wenham, Genesis 1-15. Word Biblical Commentary, 1987, 70.

 Atkinson, 85.

 Abineno. Lok. Cit

 I. L Pendidikan S2, Pekerjaan Pensiun, Wawancara 27/05/2018.

 N. D Pendidikan SMP. Pekerjaan Pembina Credit Union, Wawancara 27/05/2018.

 S. Z  Pendidikan S3, Pekerjaan Wiraswasta, Wawancara 27/05/2018.

 S. L  Pendidikan SMP, Pekerjaan Wiraswasta. Wawancara 08/06/2018.

 A. N Pendidikan S.Th. Pekerjaan Sekretariat Yayasan PAUD. Wawancara 25/05/2018

 R. L Pendidikan SD. Pekerjaan Ibu Rt. Wawancara 08/06/2018.

  Sesungguhnya, pekerjaan dalam rumah tangga jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan pekerjaan di luar rumah atau dikantor. Mengapa? Karena pekerjaan rumah tidak terbatas pada satu jenis pekerjaan saja, sedangkan di kantor ia hanya mengerjakan apa yang menjadi bagiannya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sehingga, jika urusan finansial dijadikan tolak ukur dalam menghargai setiap pekerjaan, tanpa disadari ketidakdilan menjadi nilai yang telah ditanamkan dalam keluarga.

  M. L Pendikan SMA, Pekerjaan Ibu RT, Wawancara, 06/06/2018.

 R. G Pendidikan SMK, Pekerjaan Ibu RT. Wawancara 09/06/2018.

 C. G Pendidikan SMA, Pekerjaan Wiraswasta, Wawancara 27/05/2018.

 Menurut penulis, penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dalam bidang pendidikan melainkan dalam segala bidang, baik laki-laki dan perempuan harus di hargai setara.

  Mengapa masyarakat yang masih tinggal di desa? Karena budaya sangat ketat menguasai masyarakat yang tinggal di desa. Sedangkan masyarakat yang tinggal di kota, adat sudah mulai pudar, wawasannya sudah mulai terbuka, bisa berpikir maju dan banyak belajar dari orang-orang di berbagai suku yang berbeda-beda.

  Sepadan adalah pribadi yang sama-sama diberi kuasa oleh Tuhan untuk berkuasa atas segala sesuatu yang diciptakanNya. Ia layak sebagai imbangannya, temannya dan pelengkapnya, bukan sebagai budak atau pribadi yang memiliki eksistensi lebih rendah dari laki-laki.

  Setara karena mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, dan saling mengimbangi dalam menjalankan mandat dari Allah.

  Menyerah dengan keadaan yang membuat kita kehilangan harapan, bukanlah jalan keluar yang benar dalam memperbaiki keadaan. Jangan takut dengan budaya, tetapi takutlah ketika diri sendiri tidak bisa memperbaiki budaya itu ke jalan yang benar semasih kita ada kesempatan untuk memperbaikinya.

 F. D Pendidikan SMA, Pekerjaan DPR. Wawancara 03/06/2018.

 Inilah efek buruk tersembunyi dalam proses pemberian mahar yang besar dalam pernikahan anak-anak Nias,  yang selama ini tidak disadari oleh kebanyakan pihak keluarga perempuan. Ada orang tua yang malah bangga, ketika nilai mahar pernikahan anak perempuannya semakin tinggi. Ini adalah suatu keanehan nyata dalam kehidupan masyarakat Nias.

 Dalam mempertahankan ego, orang sering kali menjadi buta untuk melihat dan merenungkan makna-makna teologis yang di sampaikan Tuhan dalam firmanNya. Sebenarnya bukan itu maksud yang disampaikan, namun dipahami sesuai yang apa adanya saja, tanpa ada perenungan akan makna teologis di balik firman tersebut.

 Dalam hal ini tingkat pendidikan orang tua yang rendah tidak bisa di jadikan sebagai alasan. karena orang tua juga adalah korban dari budaya yang seperti itu.  Selain itu, kita harus tahu bahwa tingkat pendidikan tinggi tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi lebih tahu, lebih berhikmat dalam bertindak dan lebih berpengetahuan. Hanya eksen dari ilmu yang didapat dalam pendidikan itulah yang menjamin. Mengapa?  Karena meskipun berpendidikan tinggi, tetapi tidak ada eksen, ia sama seperti orang yang tidak pernah mau berpikir maju untuk menjadi berkat bagi orang lain.

 Berdasarkan pengamatan penulis tentang gereja Nias, pendeta serta hamba Tuhan lainnya tidak memiliki program pelayanan jemaat di luar hari minggu. Karena itu juga tidak ada pembentukan tim penjemaatan.

 Jarot Wijanarko, Pernikahan (Tangerang Banten: PT. Happy Holy Kids, 2004), 8   

  Asnath Niwan Natar, Ketika Perempuan Berteologi (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2012), 25-26   

 Ibid., 28  

 J. L Ch Abineno, Manusia Dan Sesamanya Dalam Dunia (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), 35  

 Ibid.,43  

 Adi Rubin Abraham, Prinsip-Prinsip Membangun Keluarga Yang Kokoh Dan Diberkati (Yogyakarta: IKAPI, 2003), 51  

 Asnath Natar N, Perempuan Kristiani Indonesia Berteologi Feminis Dalam Konteks (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2017), 50  

 Yusak Tanasyah, Perempuan Yang Dipakai Tuhan (Jakarta: YWAM Publising Indonesia, 2006), 22  

 Idealis Lase. Pendidikan S2, Pekerjaan Pensiun, Wawancara 27/05/2018.

 Cibarich Gulo. Pendidikan SMA, Pekerjaan Wiraswasta, Wawancara 27/05/2018.

 Marlianti Lombu. Pendikan SMA, Pekerjaan Ibu RT, Wawancara, 06/06/2018.

 Nibati Ndruru. Pendidikan SMP. Pekerjaan Pembina Credit Union, Wawancara 27/05/2018.

 Rosmawati Laia. Pendidikan SD. Pekerjaan Ibu Rt. Wawancara 08/06/2018.

 Faonasekhi Daeli. Pendidikan SMA, Pekerjaan DPR. Wawancara 03/06/2018.

 Rifati Gulo. Pendidikan SMK, Pekerjaan Ibu RT. Wawancara 09/06/2018.

 Sibadina Laia. Pendidikan SMP, Pekerjaan Wiraswasta. Wawancara 08/06/2018.

 Adilina Ndruru. Pendidikan S.Th. Pekerjaan Sekretariat Yayasan PAUD. Wawancara 25/05/2018.

 Saroziduhu Daeli. Pendidikan S3, Pekerjaan Wiraswasta, Wawancara 27/05/2018.

DAFTAR PUSTAKA

Abineno J. L. Ch, Sekitar Etika & Soal-Soal Etis, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015

Abineno J. L Ch, Manusia Dan Sesamanya Dalam Dunia, Jakarta: Gunung Mulia, 2003

Adi Rubin Abraham, Prinsip-Prinsip Membangun Keluarga Yang Kokoh Dan Diberkati, Yogyakarta: IKAPI, 2003

Anchenbach Reinhard, Kamus Ibrani-Indonesia, Jakarta: YKBK, 2012

Andre & John, Penciptaan Dan Sejarah Keimaman, Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1987

Asfi Manzilati, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma, Metode, Dan Aplikasi, Malang: UB Press, 2017

Bergant Dianne & Karris J. Robert, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002

Creegan Hoggard Nicola & Pohl D. Christine, Perempuan Di Perbatasan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010  

Blommendaal J, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2007

Dyrness William, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2013

Davis J. John, Eksposisi Kitab Kejadian (Malang: Gandum Mas, 2001

Atkinson David, Kejadian Mendukung Bertumbuhnya Sains Modern: Kejadian 1-11, Jakarta: YKBK, 1996.

Edgar Krenz, Sastra dari tradisi kritik sejarah, Jakarta: Gunung Mulia, 1971

Gramedia Kompas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Hoekema Anthony, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, Surabaya: Momentum, 2012

Handoko M. Petrus, Siapakah Sesungguhnya Penulis Kitab Pentateukh, Jakarta: Kanisius. 2001.

Irianto Sulistyowati, Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum Yang Berperspektif Kesetaraan Dan Keadilan. Jakarta: Obor Indonesia, 2006.

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009

Longman Tremper, Panorama Kejadian-Awal Mula Sejarah, Jakarta: Yayasan Panar Pijar Alkitab, 2010.

Moltmann-Wendel Elisabeth, Emansipansi Wanita Dalam Gereja Dan Masyarakat, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.

Marthinus T. M, Perjanjian Lama Dan Teologi Kontesktual, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.

Yusuf A. Muri, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, Kencana: Perpustakaan Nasional- KDT, 2014.

Natar N. Asnath, Perempuan Kristiani Indonesia Berteologi Feminis Dalam Konteks, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017.

Natar N. Asnath, Ketika Perempuan Berteologi, Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2012.

Napel, Henk t., Kamus Teologi Inggris-Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Park Sun Yune, Tafsiran Kitab Kejadian, Jawa Timur: Departemen Literature YPPII, 2002.

Raco R. J., Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010.

Saleh  Widdwissoeli M., Perempuan Kok Naik Ke Atap?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Sosipater, Karel, Etika Perjanjian Lama, Jakarta: PT. Suara Harapan Bangsa, 2016.

Sugiarto, Eko, Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif: Skripsi Dan Tesis, Yogyakarta: Suaka Media, 2015.

Tanasyah, Yusak, Perempuan Yang Dipakai Tuhan, Jakarta: YWAM Publising Indonesia, 2006.

Karman, Yonky, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: Gunung Mulia, 2007.

Wenham, J., Genesis 1-15, Word Biblical Commentary, 1987.

Wahono Wismoady S., Disini Kutemukan, Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1990.

Wolf, Herbert, Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 2004.

Wijanarko, Jarot, Pernikahan, Tangerang Banten: PT. Happy Holy Kids, 2004.

LAMPIRAN

Bagaimana pandangan ibu/bapak tentang penghargaan yang setara antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga?

  • Menurut Idealis Lase, “baik laki-laki maupun perempuan harus dihargai sama. Suami terhadap istri dan istri terhadap suami serta terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.” 
  • Menurut Cibarich Gulo, “laki-laki dan perempuan harus dihargai sama, baik suami maupun istri, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.” 
  • Menurut Marlianti Lombu,“suami istri saling menghargai dan anak laki-laki maupun perempuan semuanya sama.” 
  • Menurut Nibeati Ndruru, “Adanya sikap saling menghargai antara suami dan istri serta terhadap anak-anak dalam keluarga tanpa membedakan derajat dan siapa yang paling penting.” 
  • Menurut Rosmawati Laia, “istri dan suami, anak laki-laki dan perempuan harus dipandang setara tanpa ada yang ditinggikan dan yang direndahkan.” 
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “laki-laki dan perempuan harus sama, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah.” 
  • Menurut Rifati Gulo, “laki-laki dan perempuan dihargai sama. Baik antara suami dan istri maupun antara anak laki-laki dan anak perempuan.”
  • Menurut Sibadina Laia, “laki-laki dihargai lebih tinggi karena ia sebagai pemimpin dan lebih dahulu diciptakan sedangkan perempuan hanyalah seorang penolong. Dan anak yang lebih diutamakan adalah laki-laki karena dengan adanya laki-laki, keluarga memiliki keturunan (pewaris marga) tidak seperti anak perempuan (tidak menjadi pewaris marga keluarga).”
  • Menurut Adilina Ndruru, “laki-laki dan perempuan sederajat. Meskipun suami sebagai kepala keluarga dan anak laki-laki mewarisi marga, bukan berarti perempuan lebih rendah.”
  • Menurut Saroziduhu Daeli, “antara suami dan istri secara kodratnya laki-laki sebagai kepala keluarga. Jikalau suami dan istri sama, siapa yang akan memimpin keluarga? Secara kodrat yang dimaksud disini adalah pada waktu penciptaan laki-laki diciptakan lebih dahulu daripada perempuan, dengan waktu penciptaan itulah saya melihat laki-laki dan perempuan tidak setara. Dalam hubungan dengan anak, laki-laki dan perempuan sama.” 

Apakah pekerjaan dalam rumah tangga dihargai sama dengan pekerjaan diladang atau dikantor? Lalu, siapakah yang harus bekerja dalam rumah tangga? Apakah pandangan tersebut masih dianut?

  • Menurut Idealis Lase, pekerjaan dalam rumah tangga dihargai sama dengan pekerjaan diladang atau dikantor. Tetapi yang harus bekerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”. Mengapa? Karena itu sudah menjadi “adat istiadat” orang Nias.
  • Menurut Sibadina Laia, “dihargai sama”. Tetapi yang bekerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”. Mengapa? Karena itu adalah “kebiasaan orang Nias dari nenek moyang kita.”
  • Menurut Cibarich Gulo, “dihargai sama”. Namun, yang harus bekerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”. Karena itu sudah “adat istiadat” orang Nias. Menurut N, pekerjaan dalam rumah tangga dihargai sama dengan pekerjaan diladang atau dikantor. Tetapi yang kerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”. Karena itu sudah menjadi “budaya” orang Nias.
  • Menurut Rifati Gulo, “dihargai sama”, tetapi yang harus bekerja di dalam rumah tangga sampai sekarang ialah “perempuan”. Sebab, itu sudah menjadi “budaya Nias.”
  • Menurut A, “dihargai sama”, tetapi yang harus bekerja di dalam rumah tangga ialah “perempuan”. Karena itu sudah menjadi “budaya” orang Nias.
  • Menurut M, “dihargai sama”, namun, yang harus bekerja di dalam rumah tangga sampai sekarang ialah “perempuan”. Karena perempuanlah yang lebih teliti tentang pekerjaan dalam rumah tangga.”
  • Menurut Rosmawati Laia, “dihargai sama”, tetapi yang harus bekerja di dalam rumah tangga ialah “perem-puan”. Sebab,  itu sudah menjadi “tugas seorang wanita.”
  • Menurut inisial Faonasekhi Daeli, “dihargai sama”, tetapi yang harus bekerja di dalam rumah tangga sampai sekarang ialah “perempuan”. Sebab, perempuan itu “lebih cenderung pada pekerjaan rumah tangga.”
  • Menurut inisial Sibadina Laia, “dihargai sama”. Alasannya, pekerjaan di luar rumah sudah pasti berhubungan dengan finansial “mencari kebutuhan (uang) untuk nafkah hidup keluarga.” Sementara pekerjaan dalam rumah tangga hanya berhubungan dengan pengolahan apa yang ada. Tetapi yang harus bekerja di dalam rumah tangga sampai sekarang dalam budaya Nias ialah “perempuan”. Mengapa? Karena itu sudah menjadi “kebiasaan dari nenek-nenek kita sejak dahulu kala.”

Apakah penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan sudah setara dalam masyarakat Nias?

  • Menurut Idealis Lase, “Belum” buktinya perempuan masih dianggap sama seperti harta atau barang yang disebut “beli gana’a
  • Menurut Cibarich Gulo, “belum” buktinya: perempuan tidak bisa menjadi ahli waris keluarga.
  • Menurut Rifati Gulo, “belum” buktinya adalah sampai sekarang ketika anak perempuan menikah, anak laki-laki yang mau menikahinya harus membayar semua jujuran sesuai dengan permintaan dari pihak keluarga perempuan untuk melangsungkan acara pernikahan.
  • Menurut Sibadina Laia, “belum” hal ini terbukti dalam hal pembagian warisan dalam keluarga. Walaupun anak perem-puan dan anak laki-laki sama-sama bekerja semasa masih muda untuk semua kepemilikan orang tua, pada akhirnya hanya anak laki-lakilah yang mendapat-kannya.
  • Menurut Saroziduhu Daeli, “sudah” buktinya ialah: perempuan banyak yang berpendidikan bahkan sampai tingkat S3 Internasional, yang dulunya hanya didominasi oleh laki-laki.
  • Menurut Nibeati Ndruru, “sudah” seperti halnya dalam berpendidikan, laki-laki dan perempuan sama-sama disekolahkan.
  • Menurut Adilina Ndruru, “sudah” seperti halnya dalam dunia pendidikan laki-laki dan perempuan sama-sama mendapatkan hak untuk mencapai jenjang pendidikan yang ia mau.”
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “sudah” buktinya: anak laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki peluang untuk berpendidikan tinggi.
  • Menurut Rosmawati Laia, “sudah mulai (belum sepenuhnya)” buktinya: anak-anak perempuan memang sudah diberi hak untuk berpendidikan tinggi, namun ia tetap di pandang sebagai kaum lemah yang harus dilindungi.”
  • Menurut Marlianti Lombu, “untuk masyarakat Nias yang dikota sekarang sudah setara, tetapi yang di desa masih belum.”

Apakah bapak/ibu setuju dengan yang setara atau dengan yang sudah terbiasa dalam masyarakat? Mengapa?

  • Menurut Idealis Lase, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan Tuhan serupa dengan Dia. Menurut S, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena laki-laki dan perempuan diciptakan sama-sama segambar dan serupa dengan Tuhan.
  • Menurut Rifati Gulo, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena laki-laki dan perempuan adalah sama-sama ciptaan Tuhan. 
  • Menurut Cibarich Gulo, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena Tuhan tidak berkata Ia menciptakan laki-laki lebih tinggi dan perempuan lebih rendah.
  • Menurut Nibeati Ndruru, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena perempuan itu juga adalah ciptaan Tuhan, bukan ciptaan manusia. Laki-laki dan perempuan merupakan hasil dari karya Allah yang Maha Agung.
  • Menurut Adilina Ndruru, “setuju dengan yang setara” mengapa? sebab laki-laki dan perempuan tidak diciptakan lebih rendah atau lebih tinggi satu dengan yang lain. Mereka “manusia” diciptakan Tuhan segambar dan serupa dengan Dia.
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena Tuhan menciptakan manusia baik laki-laki maupun perempuan sebagai makhluk yang paling mulia. Tuhan tidak berkata hanya laki-laki saja atau hanya perempuan saja.
  • Menurut Marlianti Lombu, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena Tuhan menciptakan perempuan dan laki-laki untuk saling kebergantungan. Perempuan adalah penolong yang sepadan, jika perempuan tidak setara dengan laki-laki itu artinya perempuan bukanlah penolong yang sepadan.
  • Menurut Rosmawati Laia, “setuju dengan yang setara” mengapa? karena laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi. Laki-laki itu manusia yang tidak sempurna dan perempuan pun begitu, jadi laki-laki dan perempuan itu harus dihargai setara.
  • Menurut Sibadina Laia, “saya setuju dengan yang sudah terbiasa dalam masyarakat” mengapa? karena itu sudah menjadi budaya, untuk merubah keadaan itu  bukanlah sesuatu yang mudah, karena itulah saya setuju saja dengan yang sudah terbiasa dalam masyarakat Nias.

Mengapa laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan? dan perempuan dihargai lebih rendah daripada laki-laki?

  • Menurut Idealis Lase, karena dalam budaya Nias perempuan disebut sebagai Beli Gana’a (Harta Emas/harta kekayaan), dan sebagai pribadi yang bernilai harta ia harus tunduk kepada pemiliknya dalam arti suami. Sehingga ketika anak perempuan menikah, laki-laki yang mau menikahinya harus bisa membayar bowo (mahar) sejumlah yang diminta dari keluarga perempuan. Karena bowo itulah perempuan saat menikah diberikan nasehat-nasehat bahwa ia harus tunduk kepada suaminya sebab suaminya sudah membelinya.”
  • Menurut Adilina Ndruru, karena ketika laki-laki dan perempuan menikah, yang membayar mahar hanyalah laki-laki sebesar apapun jumlah yang diminta keluarga perempuan.”
  • Menurut Rifati Gulo, karena yang bisa menjadi pewaris marga keluarga hanyalah laki-laki.”
  • Menurut Cibarich Gulo, karena garis keturunan hanya bisa dari sisi laki-laki (garis keturunan dihitung dari sisi laki-laki).”
  • Menurut Nibeati Ndruru, karena laki-laki yang mewarisi marga dan juga yang menjadi ahli waris keluarga.”
  • Menurut Faonasekhi Daeli, karena yang menjadi penerus marga keluarga dan yang menetap disamping orang tua ialah laki-laki. Sedangkan perempuan tidak menetap disamping otangtua dikarenakan ia ikut suaminya.”
  • Menurut Sibadina Laia, karena garis keturunan keluarga itu laki-laki.”
  • Menurut Rosmawati Laia, karena anak-anak dari perempuan mengikuti marga laki-laki (suami).”
  • Menurut Marlianti Lombu, alasan laki-laki dihargai lebih tinggi daripada perempuan dalam masyarakat Nias ialah “kurangnya tingkat pemahaman tentang perempuan dalam budaya Nias. Mengapa demikian? Karena tingkat pendidikan orang tua masih rendah.”
  • Menurut Saroziduhu Zebua, karena pada waktu penciptaan laki-laki dan perempuan tidak diciptakan setara, buktinya laki-laki diciptakan lebih awal baru kemudian perempuan.”

Mengapa laki-laki dan perempuan harus dihargai secara setara menurut Kejadian 1:26-28; 2:18-23 dan gereja?

  • Menurut Idealis Lase, “baik laki-laki maupun perempuan sama-sama diciptakan Tuhan segambar dan serupa dengan Dia serta perempuan diciptakanNya sebagai penolong yang sepadan dengan laki-laki” 
  • Menurut Saroziduhu Zebua, “karena Tuhan juga menciptakan perempuan segambar dan serupa dengan Dia, bukan hanya laki-laki saja yang serupa dan segambar dengan Dia.”
  • Menurut Nibeati Ndruru, “sebab perempuan dan laki-laki diciptakan segambar dan serupa dengan Dia.”
  • Menurut Adiliona Ndruru, “perempuan dan laki-laki diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan.” 
  • Menurut Rifati Gulo, “karena perempuan juga diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan.” 
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “karena perempuan dan laki-laki sama-sama ciptaan Tuhan yang segambar-serupa dengan Dia.”
  • Menurut Cibarich Gulo, “karena perempuan diciptakan sebagai penolong yang sepadan dengan laki-laki, bukan sebagai budak, bukan juga sebagai pembantu.”
  • Menurut Sibadina Laia, “karena Firman Tuhan berkata perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sebagai penolong yang sepadan. Kata sepadan memberi penjelasan bahwa perempuan diciptakan-nya sebagai partner yang cocok, sesuai dengan laki-laki. Bukan pribadi yang lebih rendah, remeh, lemah atau pribadi yang harus dikuasai oleh laki-laki.” 
  • Menurut Marlianti Lombu, “laki-laki dan perempuan diciptakanNya sepadan, segambar dan serupa dengan Dia. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan saling membutuhkan, saling melengkapi bukan saling merendahkan atau meninggikan.”
  • Menurut Rosmawati Laia, “karena perempuan adalah penolong yang sepadan, dan tanpa perempuan laki-laki juga tidak bisa disebut sebagai garis keturunan.”

Hambatan terhadap adanya kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam budaya Nias beserta solusinya.

  • Menurut Idealis Lase, hambatannya ialah banyaknya perempuan tidak berpen-didikan karena budaya dan kehidupannya hanya berfokus dalam urusan rumah tangga “tidak mendapat kesempatan untuk melihat dunia luar”. Jadi solusinya adalah perempuan harus diberi kebebasan untuk melihat dunia luar dan juga diberi pendidikan yang sama dengan laki-laki sesuai dengan kemampuannya.
  • Menurut Saroziduhu Zebua, Hambatan ialah “faktor pendidikan.” Jadi, supaya perempuan tidak terus menerus jadi korban ketidaksetaraan, nilai pendidikan harus dijunjung tinggi dalam arti pendidikan luas, seperti pendidikan mengenai budaya, pendidikan mengenai ilmu sosial dan sebagainya.
  • Menurut Cibarich Gulo, Hambatannya ialah “karena faktor budaya dan rendahnya persentase orang tua yang berpendidikan.” Solusinya adalah, orang tua harus bisa berpikir maju untuk kebaikan anak-anaknya tanpa membeda-bedakan dan budaya-budaya yang seperti itu dihapus oleh para pemimpin-pemimpin adat.
  • Menurut Adilina Ndruru, Hambatannya “masyarakat Nias beranggapan bahwa perempuan kelas nomor dua”. Solusinya ketua-ketua adat harus bertindak adil antara laki-laki dan perempuan serta orang tua harus bersikap adil sama anak-anaknya.
  • Menurut Nibeati Ndruru, Hambatan ialah “orang Nias membudidayakan perempuan lebih lemah daripada laki-laki.” Solusinya perempuan harus berpikir maju dan menunjukkan bahwa dia tidak lemah dengan cara, melakukan apa yang bisa ia lakukan tanpa membedakan ini dan itu harus laki-laki yang melakukannya.
  • Menurut Rifati Gulo, Hambatannya “perempuan itu dianggap lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa laki-laki”. Solusinya perempuan tidak boleh bergantung kepada laki-laki, perempuan harus bisa mengerjakan apa yang ingin dan harus ia kerjakan tanpa bergantung kepada laki-laki.
  • Menurut Faonasekhi Daeli, Hambatannya “masyarakat Nias sangat menjunjung tinggi martabat laki-laki daripada perempuan.” Solusinya, budaya seperti itu harus ditiadakan dan perempuan harus mendapatkan pengakuan akan kesetaraannya sebagai ciptaan yang paling mulia dengan laki-laki, di mulai dari keluarga sendiri.
  • Menurut Sibadina Laia, Hambatannya ialah “masyarakat Nias menganggap bahwa keturunan keluarga adalah laki-laki.” Solusinya, orang Nias harus bepikir kritis bahwa perempuan dengan laki-laki itu saling membutuhkan dan harus melengkapi. 
  • Menurut Marlianti Lombu, Hambatannya “budaya masyarakat Nias tentang penerus marga keluarga hanyalah laki-laki.” Solusinya, laki-laki dan tokoh-tokoh adat harus menyadari bahwa tanpa perempuan laki-laki dan keturunan juga tidak akan ada.
  • Menurut Rosmawati Laia, Hambatan ialah “masyarakat Nias lebih berpihak kepada laki-laki” solusinya, budaya harus adil dengan berpihak juga kepada perempuan. Perempuan jangan hanya dijadikan tempat hunian keturunan semata.

Apakah penghargaan terhadap laki-laki dan perempuan seperti dalam masyarakat berlaku juga dalam gereja?

  • Menurut Idealis Lase, “dulu ia, tapi sekarang tidak lagi” contohnya: dulu perempuan tidak ada yang bisa menjadi pendeta jemaat, tetapi sekarang sudah bisa.
  • Menurut Nibeati Ndruru, “dulu ia, tetapi sekarang tidak” contohnya: dulu perempuan tidak bisa ditahbiskan jadi pendeta, tetapi sekarang sudah bisa.
  • Menurut Rifati Gulo, “dulu ia tetapi sekarang tidak,” contohnya: yang menjadi pendeta sekarang bukan hanya laki-laki tetapi perempuan juga.
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “dulu ia tetapi sekarang tidak” contoh: dalam memimpin suatu jemaat, perempuan sudah bisa. Yang dilihat bukan lagi jenis kelaminnya melainkan potensi yang Tuhan berikan baginya dalam mempimpin dan juga dalam melayani jemaat. 
  • Menurut Sibadina Laia, “dulu ia tetapi sekarang tidak” contoh: yang bisa berkhotbah di mimbar sekarang ini bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan.
  • Menurut Marlianti Lombu, “dulu ia tetapi sekarang tidak” contoh: yang mengambil keputusan dalam gereja sekarang bukan hanya laki-laki melainkan juga perem-puan. Kenapa? Karena pengurus dan pelayan dalam gereja bukan hanya laki-laki saja, jadi apapun keputusan dalam gereja harus keputusan bersama para pengurus dan para pelayan gereja.
  • Menurut Adilina Laia, “dulu sempat seperti itu” tetapi sekarang tidak. Mengapa dulu bisa seperti itu? karena faktor budaya yang kuat mempengaruhi gereja, tetapi sekarang tidak lagi. Sebab, banyak perempuan yang sudah perpendidikan dan berpotensi dalam bidang pelayanan seperti laki-laki. Contoh: dalam mengambil bagian pelayanan, perempuan sudah terlibat.
  • Menurut Saroziduhu Zebua, “tidak” contohnya: dalam  kepengurusan gereja, tidak hanya terdiri dari laki-laki, tetapi juga perempuan serta dalam mengambil bagian pelayanan bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. 
  • Menurut Cibarich Gulo, “tidak” contoh-nya perempuan juga bisa melayani dalam gereja, berkhotbah, memimpim pujian dan sebagainya.  
  • Menurut Rosmawati Laia, “tidak” contoh: pendeta jemaat, pengurus gereja bukan hanya laki-laki, tetapi banyak perempuan yang terlibat didalamnya. Walaupun ketua sinode gereja tidak pernah perempuan, bukan karena perempuan diperlakukan seperti dalam masyarakat melainkan karena perempuan belum ada yang berani.

Apakah gereja setuju dengan penghargaan yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan?

  • Menurut Idealis Lase, “tidak” alasannya adalah persoalan dalam melayani bukanlah soal jenis kelamin, melainkan persoalan panggilan dan hati untuk mau melayani. 
  • Menurut Saroziduhu Zebua, “tidak” alasannya: gereja tahu bahwa yang diberi tugas dan potensi dalam melayani bukan hanya laki-laki saja melainkan juga perempuan.
  • Menurut Cibarich Gulo, “tidak” alasan-nya: gereja memahami bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaannya.
  • Menurut Adilina Laia, “tidak” alasan: hamba-hamba Tuhan sudah semakin memahami bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama menerima mandat dari Tuhan untuk melakukan perintahNya.
  • Menurut Nibeati Ndruru, “tidak” alasannya: Tuhan bisa pakai siapa saja untuk melakukan pekerjaanNya tanpa melihat jenis kelamin. 
  • Menurut Rifati Gulo, “tidak” alasan: gereja mengerti bahwa dalam melayani tidak ada persoalan jenis kelamin melainkan hati yang mau melayani. 
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “tidak” alasan: Tuhan memberikan potensi dalam melayani kepada siapapun yang merespon panggilannya.
  • Menurut Sibadina Laia, “tidak” alasan: Tuhan itu maha adil, jadi dalam melakukan tugas yang diberikanNya pun Ia tetap adil. 
  • Menurut Rosmawati Laia, “tidak” alasan: Tuhan itu maha tahu dan tidak ada yang mustahil bagiNya untuk memakai siapa saja dalam melayani umatNya. 
  • Menurut Marlianti Lombu, “tidak” alasan: gereja tahu bahwa pelayan umat adalah pilihan Tuhan dan Tuhan itu adil kepada umatNya.

Apakah gereja sudah ada usaha dalam tingkat pengertian dan praktik agar warga gereja menganut dan melaksanakan kesetaraan laki-laki dan perempuan? Apa hambatan dan solusinya?

  • Menurut Idealis Lase, tingkat pengertian dan praktik “sudah” contohnya dalam berkhotbah. Hambatannya adalah warga jemaat masih banyak yang menjadi Kristen namun masih kuat memegang budaya daripada kebenaran Firman. Jadi, solusinya adalah pelayan jemaat tidak boleh bosan untuk memberikan pengertian dan mempraktikan kesetaraan itu.
  • Menurut Nibeati Ndruru, “sudah” tetapi hambatannya adalah budaya masih lebih kuat mempengaruhi konsep pemikiran warga jemaat daripada kebenaran Firman Tuhan dan Alkitab tidak menjadi tolak ukur budaya melainkan budayalah yang menjadi tolak ukur Alkitab. Solusinya, hamba-hamba Tuhan harus lebih lagi bersemangat dalam melayani guna memberikan pemahaman bagi warga jemaat.
  • Menurut Adilina Ndruru, “sudah” contohnya sama-sama diberi kesempatan dalam mengambil bagian untuk melayani. Hambatannya ialah jemaat masih mem-pertahankan budaya. Solusinya, gereja harus lebih respek dalam membuat kelompok-kelompok doa, PA dan pesekutuan-persekutuan lain bagi jemaat.
  • Menurut Rifati Gulo, “sudah” hambatan: jemaat masih kuat dipengaruhi oleh budaya. Solusinya, jemaat harus diperhatikan, diayomi, dibimbing, dalam pertumbuhan imannya.
  • Menurut Saroziduhu Zebua, “sudah” hambatan: jemaat masih banyak yang mengikat diri dengan budaya dengan alasan itu sudah aturan hidup. Solusi, jemaat harus diberikan pendalaman Alkitab lebih lagi.
  • Menurut Rosmawati Laia, “sudah” hambatan: pendeta dan para pelayan seakan memiliki jarak pemisah dengan jemaat. Karena jemaat masih kuat mempertahankan budaya. Solusi, pendeta dan hamba-hamba Tuhan lainnya harus memiliki hubungan yang lebih dekat lagi sebagai strategi untuk memberi pemahaman yang benar kepada setiap jemaat yang masih kuat memegang budaya.
  • Menurut Sibadina Laia, “sudah” hambatan: jemaat masih banyak yang belum membuka hati dan pikirannya untuk mengerti akan kebenaran Firman. Mereka berpadangan bahwa pengertian dan pemahaman akan kebenaran Firman adalah tugas para hamba-hamba Tuhan. Jadi, solusinya warga jemaat harus diberikan tugas untuk terlibat dalam tugas pelayanan. 
  • Menurut Cibarich Gulo, “sudah” hambatan: Jemaat masih belum terbuka pikirannya. Solusinya, pengurus gereja dan pendeta harus lebih dekat dan memperhatikan warga jemaatnya. 
  • Menurut Faonasekhi Daeli, “sudah” hambatan: banyak jemaat hanya berfokus pada rutinitas bukan makna yang dapat diambil dari dalam rutinitas tersebut. Solusinya, jemaat dan hamba-hamba Tuhan dalam gereja jangan melayani hanya pada hari minggu melainkan setiap hari dan setiap warga jemaat membutuhkan uluran tangan.
  • Menurut Marlianti Lombu, “sudah” hambatan: pendeta dan pengurus jemaat membatasi diri dalam melayani jemaat. Solusi, jemaat harus dilayani tidak hanya dalam gereja tetapi juga dalam kehidupan keseharian mereka.

ADI PUTRA – JURNAL DIDACHE

Jurnal Teologi & Pendidikan Kristen Vol. I No. 1, Desember 2019e-ISSN 2715-2758

Dewan Redaksi

Pembina: Dr. Daniel Nuhamara dan Dr. Andreas A. Yewangoe

Penanggung Jawab: Jenry E. C. Mandey

Pimpinan Redaksi: Stenly R. Paparang

Penyunting Ahli: Edward E. Hanock

Anggota Penyunting: Andreas Christanto & Tirsa Budiarti

Kesekretariatan: Anen Mangapul Situmorang

Artikel-Artikel:

BIARLAH ORANG MATI MENGUBURKAN ORANG MATI: Investigasi Latar Kultural Matius 8:21-22/Lukas 9:59-60

Deky Hidnas Yan Nggadas 1

POTENSI DIRI & GAMBAR-RUPA ALLAH

Edward E. Hanock 24

KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENURUT KITAB KEJADIAN 1:26-27 DAN 2:18-23 SERTA IMPLIKASINYA DALAM MASYARAKAT DAN GEREJA NIAS

Tinis Vivid Laia dan Thobias A. Messakh 35

Korelasi TEOLOGIS ANTARA ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶςKomitmen Kristen untuk Berjuang dan Bersaksi bagi Kristus

Stenly R. Paparang 67

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PEMIMPIN GEREJAPokok-Pokok Pikiran Keluaran 18:13-26

Soegeng A. Hardiyanto 82

PRA EKSISTENSI YESUSAnalisis Bukti-Bukti Injil Yohanes

Adi Putra 94

PERDEBATAN PARA AHLI MENGENAI PENGARUH SASTRA HIKMAT TERHADAP SASTRA APOKALIPTIK

Jenry E. C. Mandey 103

MODEL RANCANG BANGUN TEOLOGI GEREJA CHARISMATIC WORSHIP SERVICE JAKARTA DALAM MENGHADAPI TREND ISU-ISU TEOLOGI PERTUMBUHAN GEREJA MASA KINI

Wasis Suseno 111

Tinjauan Buku:

Munawir Aziz, Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017)

Stenly R. Paparang 134

PRA-EKSISTENSI YESUS BERDASARKAN BUKTI-BUKTI INJIL YOHANES

ABSTRACT
This paper discusses the pre-existence of Jesus based on some evidences in the Gospel of John. This subject discusses two things, namely: the divinity of Jesus and rejects views that do not approve of Jesus’ pre-existence.  In this paper uses a qualitative approach with the method of exegesis of several texts or passages in the Gospel of John, and based on some evidence from the Gospel of John, all of them confirm the pre-existence of Jesus, where He was even before the world was created.

Key words: pre-existence, evidence, divinity

ABSTRAK

Artikel ini mendiskusikan pra-eksistensi Yesus didasarkan pada beberapa bukti dalam Injil Yohanes. Topik ini mendiskusikan dua hal, yaitu: keilahian Yesus dan pandangan-pandangan yang tidak mengakui pra-eksistensi Yesus. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis dari beberapa teks atau bagian-bagian (pasal-pasal) dalam Injil Yohanes, dan didasakan pada beberapa bukti dari Injil Yohanes, semua menegaskan pra-eksistensi Yesus, di mana Ia bahkan ada sebelum dunia diciptakan.

Kata-kata kunci: pra-eksistensi, bukti, keilahian

PENDAHULUAN

Topik tentang pra-eksistensi Yesus merupakan topik yang krusial bagi setiap orang Kristen. Oleh karena topik ini langsung menyinggung inti iman Kristen, yakni keberadaan Yesus sebelum inkarnasi-Nya. Dengan kata lain, pra-eksistensi Yesus bisa juga dipahami sebagai pra-inkarnasi Yesus. Topik ini merupakan salah satu fondasi inti bagi iman Kristen. Itulah sebabnya ketika keliru dalam memahaminya, maka akan sangat berbahaya. Karena dapat mendistorsi seluruh ajaran yang lain, khususnya yang memiliki hubungan langsung atau masih berada dalam ranah kristologi. Oleh karena kristologi yang alkitabiah harusnya diawali dengan sebuah konsep yang benar tentang pra-eksistensi atau kekekalannya. Pokok pra-eksistensi Yesus memiliki kaitan yang erat dengan doktrin trinitas dan doktrin keilahian Yesus (baca: Kristologi). Meskipun secara spesifik, topik ini memuat dua fakta yang krusial yang perlu klarifikasi tuntas dalam kaitannya dengan pra-eksistensi Yesus, yakni: (1) fakta yang berhubungan dengan pra-inkarnasi berdasarkan bukti-bukti Alkitab (dalam tulisan ini spesifik kepada PB); dan (2) fakta yang berhubungan dengan kekekalan-Nya.

Dengan demikian, secara sederhana topik pra-eksistensi Yesus bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan skeptis tentang keilahian (kekekalan) Yesus. Apakah Yesus benar-benar adalah Anak Allah? Apakah Dia benar pribadi kedua dalam Allah Tritunggal? Ataukah Yesus hanyalah manusia yang memiliki moral dan keteladanan yang patut dicontoh? Dengan kata lain, Yesus bukan Allah? Tulisan ini akan menjawab dan memberikan klarifikasi berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari Injil Yohanes.

APA PRA-EKSISTENSI YESUS ITU?

Donald Macleod mengatakan, “The pre-existence of Christ is clearly affirmed in the Nicene Creed: he was ‘begotten of the Father before all worlds’. The doctrine clearly implies that originally Christ was not like us; that he came to be like us only by voluntarily sharing our life; that, as the particular individual he was, he existed before creation; and that his existence as a man was continuous with his earlier existence as a heavenly being”. Jadi bagi Macleod, pra-eksistensi Kristus dengan jelas telah ditegaskan dalam Pengakuan Iman Nicea: ia ‘ telah diperanakkan oleh Bapa sebelum seluruh dunia (diciptakan)’. Ajaran ini dengan jelas menyatakan bahwa pada mulanya Kristus tidak seperti kita; bahwa Dia kemudian menjadi seperti kita hanya dengan secara sukarela membagikan hidup kita; bahwa, sebagai individu dia telah ada, dia ada sebelum penciptaan; dan bahwa keberadaan-nya sebagai manusia terus-menerus dengan keberadaan-Nya terdahulu sebagai makhluk surgawi.

Beberapa teolog lain juga memberikan pemahaman atau pengertian tentang pra-eksistensi Yesus. Secara umum, mereka berpendapat bahwa Yesus telah ada sebelum dilahirkan, sebelum penciptaan, dan sebelum adanya waktu (kekal). Seperti yang dikatakan oleh Charles C. Ryrie, “Pra-eksistensi Kristus berarti Kristus telah ada sebelum dilahirkan”. Sedangkan J. Knox Chamblin menjelaskan, “Sebelum menjadi manusia, Kristus berada ‘dalam rupa Allah’ (Flp. 2:6a), yaitu ‘serupa dengan Allah’ (Flp.2:6b) – kedua istilah ini menyatakan perbedaan Kristus dari Allah (Theos) sekaligus menegaskan keilahian-Nya. Ekspresi ayat 6a melukiskan pra-eksistensi Kristus dalam jubah kemuliaan dan kemegahan ilahi. Ia dalam rupa Allah, berbagi kemuliaan Allah”. Ditambahkan oleh Ryrie, “Kekekalan tak hanya berarti bahwa Kristus sudah ada sebelum kelahiran-Nya atau bahkan sebelum penciptaan, dan adanya waktu, tetapi bahwa Ia selalu ada, selama-lamanya”. 

AJARAN YANG MENOLAK PRA-EKSISTENSI YESUS

Ebionisme. Paham ini merupakan bidat yang berkembang pada abad kedua dan ketiga. Mereka juga dikenal dengan paham adopsianisme yang lahir pada abad kedua. Tokohnya seperti Cerinthus dan Carpocrates berpendapat, Yesus hanyalah anak Yusuf, itulah sebabnya dia tidak lebih dari manusia yang lain. Tidak hanya menolak konsep pra-eksistensi Yesus, tetapi juga keilahian Yesus. Paham ini juga menekankan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa, sehingga tidak mungkin memiliki pra-eksistensi. Argumen ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Millard J. Erickson, “Yesus adalah manusia biasa yang dikaruniai sifat-sifat kebenaran dan hikmat yang luar biasa tetapi tidak adikodrati. Memang Dia ditakdirkan menjadi Mesias sekalipun hanya dalam pengertian alamiah dan manusiawi”.

Arianisme. Arianisme adalah bidat yang berkembang pada abad keempat dipelopori Arius dari Alexandria. Arius menolak konsep Alexandria tentang konsep “homoousios” yang mengakui bahwa Bapa dan Anak sehakekat atau setara. Sebaliknya ia berpendapat bahwa hanya Bapa sebagai Allah yang sejati, sedangkan Anak, yaitu Yesus atau Logos dilahirkan dan diciptakan oleh Bapa. Menurut Arius, Kristus adalah manusia yang dapat berdosa dan yang tidak sempurna.

Pandangan Arianisme yang secara langsung menolak pra-eksistensi Yesus adalah ketika mereka menganggap “hanya Allah (maksud Arius hanya Allah Bapa saja) yang tidak pernah diciptakan serta kekal sifatnya. Semua yang lain adalah makhluk ciptaan-Nya”. 

Socinianisme. Paham ini mempengaruhi Unitarianisme Inggris dan Deisme Inggris. Kebanyakan penganut unitarianisme bukan penganut Deisme, tetapi semua penganut Deisme mempunyai konsep unitarian tentang Allah. Garis bidatnya adalah Arianisme ke Socinianisme ke Unitarianisme ke Deisme.   

Socinianisme mengajarkan hanya ada satu zat ilahi yang terdiri hanya satu pribadi. Walau mengikuti Arius, tetapi Socinus melampaui Arianisme dalam penyangkalan-nya tentang pra-eksistensi Anak (baca: Yesus) dan menganggap Anak hanya seorang manusia.

Saksi Yehova. “Saksi Yehuwa percaya Yesus Kristus sebagai “suatu allah” yaitu ciptaan Allah, tidak satu hakekat dengan Allah Bapa alias bukan Allah sejati. Dengan demikian setiap Saksi Yehuwa tidak memberikan penyembahan kepada Yesus sebagai Allah. Hanya Allah Bapa saja adalah Allah yang benar dan sejati. Konsep ini dikenal dengan istilah Unitarian.”

BUKTI-BUKTI DARI INJIL YOHANES

  1. Yohanes 1:1 

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Ayat ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian; di mana ketiga-tiganya menekankan tentang pra-eksistensi Yesus. Seperti: Yesus sudah ada sejak semula, Yesus bersama-sama dengan Allah Bapa, dan Yesus sendiri juga adalah Allah (pribadi kedua dalam doktrin Allah Tritunggal).

Ada tiga ungkapan atau frasa dalam ayat ini yang merujuk kepada pra-eksistensi Yesus. Ketiga ungkapan itu adalah Ἐν ἀρχῇ (pada mulanya), ἦν (ada/adalah), dan θεὸς ἦν ὁ λόγος (Firman itu adalah Allah).  Ἐν ἀρχῇ atau seringkali diterjemahkan dengan in the beginning atau pada mulanya pertama kali muncul dalam Kejadian 1:1 dalam konteks penciptaan langit dan bumi. Menurut Carson, “Both in Genesis and here, the context shows that the beginning is absolute: the beginning all things, the beginning of the universe. The Greek word behind ‘beginning’, arche, often bears the meaning ‘origin’ (cf. BAGD), and there may be echoes of that here, for the Word who already was ‘in the beginning’ is soon shown to be God’s agent of creation (vv.3-4), what we might call the ‘originator’ of  all things”..

Maksudnya, bagi Carson baik di Kejadian dan di Injil Yohanes, konteksnya menunjukkan bahwa beginning adalah mutlak: permulaan segala sesuatu, permulaan alam semesta. Kata Yunani dibalik ‘beginning’, arche, sering mengandung makna ‘asal/sumber/asal-usul’ (band. BAGD), dan mungkin saja ada gema tersebut di Yohanes 1:1, yang menunjuk kepada Firman yang telah ada sejak semula akan segera terbukti menjadi agen penciptaan Allah (ay. 3-4), yang kita boleh sebut ‘pencetus’ dari segala sesuatu.

Kemudian istilah ἦν merupakan bentuk indikatif imperfek dari verba εἶμι. Yang menarik karena dalam tiga frasa pada ayat 1, verba εἶμι selalu muncul dalam bentuk yang sama. Carson mengatakan,

Although meaning of ēn (was) and egeneto (rendered ‘were made’ in v. 3, ‘came’ in v. 6 and ‘became’ in v. 14) often overlap, John repeatedly uses the two verbs side by side to establish something of a contrast. For example, in 8:58 Jesus insists, “[Before] Abraham was born [a form of the second verb], I am [a form of the first verb]. In other words, when John uses the two verbs in the same context, ēn frequently signals existence, whereas egeneto signals ‘coming into being’ or ‘coming into use’. In the beginning, the Word was already in existence.

Menurut Carson, meskipun arti ēn dan egeneto seringkali tumpang tindih, akan tetapi Yohanes seringkali menggunakan kedua verba ini secara berdampingan untuk membangun suatu hal yang kontras, misalnya dalam 8:58. Dengan kata lain, ketika Yohanes meng-gunakan kedua kata kerja ini dalam konteks yang sama, ēn sering mengisyaratkan tentang ‘keberadaan’, sedangkan egeneto meng-isyaratkan ‘datang menjadi’ atau ‘mulai digunakan’. Pada mulanya, Firman itu sudah ada.

Dengan demikian, kata kerja ἦν juga hendak menegaskan eksistensi Firman (Yesus) yang telah ada sejak kekekalan. Jauh sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Sekaligus meruntuhkan asumsi dari Arius yang menegaskan, ada pada suatu waktu di mana Firman itu tidak ada. Oleh karena berdasarkan kata kerja ini Firman itu tidak berawal – Dia tidak diciptakan. Karena sejak semula Firman itu sudah ada.

Terakhir frasa θεὸς ἦν ὁ λόγος (Firman itu adalah Allah). Frasa ini menimbulkan banyak perdebatan dalam kalangan ahli biblika. Perdebatan itu terutama menyangkut nomina θεὸς. Seperti dijelaskan oleh Daniel Wallace, ada kelompok yang mengartikan θεὸς  sebagai ‘a god’, oleh karena predikat nominatif di sini adalah  indefinite (tak tentu). Ungkapan tersebut termaktub dalam pendapat Wallace, “The indefinite notion is the most poorly attested for anarthrous pre-verbal predicate nominatives. Thus, grammatically such a meaning is improbable. Also, the context suggests that such is not likely, for the Word already existed in the beginning. Thus, contextually and grammatically, it is highly improbable that the Logos could  be ‘a god’ according to John”.

Menurut Wallace, gagasan indefinite adalah pembuktian yang paling buruk untuk anarthrous nominatif predikat sebelum verba. Dengan demikian makna yang seperti itu adalah hal yang mustahil. Juga berdasarkan konteksnya hal itu tidak mungkin, karena Firman telah muncul di awal. Maka, berdasarkan konteks dan gramatikalnya, Firman bisa menjadi ‘sebuah allah’ sangat tidak mungkin.

Berdasarkan pendapat Wallace, maka dapat dikatakan gagasan ini adalah sesuatu yang mustahil. Oleh karena hal ini bertolak belakang dengan prinsip kristologi yang diusung oleh keempat Injil, di mana Yesus Kristus diidentifikasikan sebagai Allah. Oleh karena apabila kata θεὸς dipahami sebagai indefinite dengan memberikan arti ‘a god’, maka implikasi teologinya akan menjadi sama dengan bentuk politeisme.

Ada juga kelompok yang menyebutnya sebagai predikat nominatif definite (tertentu). Wallace memberikan kelemahan dari pandangan ini, “The problem of this argument is that the θεὸς 1: 1b is the Father. Thus to say that the θεὸς 1:1c is the same person is to say that the Word was the Father. This, as the older grammarians and exegetes pointed out, is embryonic Sabellianism or modalism”.

Dengan demikian, bahaya dari pandangan yang kedua ini adalah adanya kemungkinan untuk terjerumus ke dalam konsep Sabelianime dan Modalisme, di mana secara garis besar kedua-duanya tidak membedakan antara Firman (Yesus Kristus) dan dengan Allah (Bapa). Apabila memahami kata θεὸς definite, maka hal ini menjadi embrio bagi kedua pandangan yang keliru di atas.

Tidak salah apabila θεὸς di sini dikategorikan ke dalam predikat nominatif yang kualitatif. Oleh karena prinsip ini (kualitatif) benar secara gramatikal dan teologi. Wallace menjelaskan demikian, “There is a balance between the Word’s diety, which was already present in the beginning (Ἐν ἀρχῇ….. θεὸς ἦν [1:1], and humanity, which was added later (σὰρξ ἐγένετο [1: 14]). The grammatical structure of these two statements mirrors each other; both emphasize the nature of the Word, rather than his identity. But θεὸς was his nature from eternity (hence, eimi is used), while σὰρξ was added at the incarnation (hence, ginomai is used)”.

Dengan demikian, berdasarkan pandangan Wallace di atas, terdapat keseimbangan antara keilahian Firman, yang hadir sejak semula (Ἐν ἀρχῇ….. θεὸς ἦν [1:1], dan kemanusiaan yang ditambahkan kemudian (σὰρξ ἐγένετο [1: 14]). Struktur gramatikal dari kedua pernyataan di atas saling mencerminkan satu dengan yang lain, keduanya menekankan sifat Firman, bukan identitasnya. Tapi θεὸς adalah sifat-Nya dari kekekalan (maka, eimi digunakan), sementara σὰρξ ditambahkan pada inkarnasi (maka, ginomai digunakan).

Pendapat Wallace di atas dibenarkan oleh J. Ramsey Michaels. Michaels mengatakan,

At the same time, the absence of the article alerts the reader that ‘the Word’ and ‘God’, despite their close and intimate relationship, are not inter-changeable. While the Word is God, God is more than just the Word. Even though it stands first in its clause, ‘God’ is the predicate noun and not the subject in the clause, that is, ‘the Word was God’, not ‘God was the Word’ (compare 4:24, God is Spirit, not ‘Spirit is God’).

Pada saat yang sama, ketika kata sandang tidak ada maka itu memperingatkan pembaca bahwa ‘Firman’ dan ‘Tuhan’, meskipun hubungan mereka yang akrab dan intim, tidak dapat saling dipertukarkan. Sementara Firman itu adalah Allah, dan Allah lebih dari hanya Firman. Meskipun ia berdiri pertama dalam klausulnya, ‘Allah’ adalah kata benda utama dan bukan subjek dalam klausa itu, yaitu, ‘Firman itu adalah Allah’, bukan ‘Allah adalah Firman’ (bandingkan 4:24, Allah adalah Roh), bukan ‘Roh adalah Tuhan’. Pandangan Michaels ini memperkuat argumentasi Wallace di atas.

Dengan demikian, melalui frasa yang ketiga ini dapat dikatakan bahwa Firman (Yesus) memiliki sifat ilahi – Allah yang dalam Pribadi-Nya berbeda dari Bapa. Keilahian Yesus sudah dimiliki-Nya sejak kekekalan. Maka sekali lagi bagian ini mempertegas doktrin pra-eksistensi, sekaligus keilahian Yesus dan menolak dan meruntuhkan tuduhan saksi Yehova yang menganggap Yesus hanyalah ciptaan.

2. Yohanes 1:14; 1:18; 3:16; dan 3:18

Pada empat ayat di atas muncul istilah monogenēs. Menurut Tenney, istilah monogenēs dalam Injil Yohanes (ay.14 dibentuk dari genos, sehingga akan lebih tepat diartikan sebagai one of a kind, only, atau unique, sebaliknya tidak tepat untuk diterjemahkan dengan only begotten. Karena, konsep pemikiran di balik monogenēs adalah Kristus sebagai Anak Tunggal Allah, Ia tidak setara dengan yang lain dan dalam diri-Nya Allah sebagai Bapa dapat dengan seutuhnya dinyatakan. Singkat kata, penyataan Allah melalui Kristus adalah satu-satunya dan tidak berulang.

Kemudian ditambahkan oleh Leon Morris, kita jangan terlalu sering membaca ‘yang diperanakkan’. Karena, bagi yang berbahasa Inggris, kata ini terdengar seperti hubungan metafisik. Padahal, istilah Yunaninya berarti ‘hanya’, ‘unik’. Sebagai contoh, kata ini yang digunakan dalam cerita janda Nain:  ini ‘hanya’ anak (Luk. 7:12 lih. juga Luk. 9: 38). Kata yang sama juga digunakan dalam cerita Yairus (Luk. 8:42) ‘hanya’ Putri. Mungkin bahkan lebih instruktif adalah penggunaan istilah yang mengacu pada Ishak (Ibr. 11:17) sebagai Ishak yang bukan anak tunggal Abraham. Tapi, dirinya ‘unik’.  Ishak adalah satu-satunya anak yang diberikan kepada Abraham dengan janji Allah. Dalam penggunaannya di sini, kata monogenēs tidak selalu menunjukkan hubungan metafisik, tetapi mau menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah dengan cara yang unik. Dan, ciri unik dari hubungan antara Bapa dan Anak adalah salah satu tema besar Injil Yohanes.

Hal yang serupa pun dikemukakan oleh Andreas J. Kostenberger: “The introduction to John’s gospel refers to Jesus as the monogenēs or ‘one and only Son’ from the Father (John 1:14) and stresses his unique relationship with him (1:18)” (Pengantar Injil Yohanes merujuk pada Yesus sebagai monogen atau ‘Anak satu-satunya’ dari Bapa (Yohanes 1:14) dan menekankan hubungannya yang unik dengannya (1:18)). Bahkan disimpulkan oleh Kostenberger, “Monogenēs, therefore, means in all likelihood, not ‘only begotten’ but ‘one-of-a-kind’ son” (Karenanya, monogenes berarti dalam segala kemungkinan, bukan ‘anak yang diperanakkan’ tetapi ‘anak yang unik’).  

Carson menambahkan, “The glory displayed in the incarnate Word is the kind of glory a father grants to his one and only, best-loved Son – and this ‘father’ is God himself”( Kemuliaan yang ditampilkan dalam Firman yang berinkarnasi adalah jenis kemuliaan yang diberikan Bapa kepada Putranya satu-satunya, yang paling dicintai – dan ‘Bapa’ ini adalah Allah sendiri). 

J. Ramsey Michaels memberikan komentar yang identik dengan Kostenberger dan Carson tentang makna istilah monogenēs menurut Injil Yohanes dengan mengatakan, “It is widely recognized that the synoptic term ‘beloved’ (agapetos; compare Mt. 12:18; Mk. 12:6; Lk. 20:13) and the Johannine ‘One and Only’ (monogenēs, compare 1:18; 3:16,18; 1Jn. 4:9) and almost equivalent terms, both accenting the uniqueness of Jesus’ relationship to the Father” (Secara luas diakui bahwa istilah sinoptik ‘terkasih’ (agapetos; bandingkan Matius 12:18; Markus 12: 6; Luk 20:13) dan Yohanes ‘Satu-Satunya’ (monogenes, bandingkan 1:18; 3 : 16,18; 1Yoh. 4: 9) dan istilah yang hampir setara, keduanya menekankan keunikan hubungan Yesus dengan Bapa.).

Dengan demikian, makna monogenēs dalam Injil Yohanes hendak menekankan sebuah relasi yang unik antara Yesus (Anak) dengan Allah, bukan hendak menekankan sebuah hubungan metafisik. bahkan seperti yang dikemukakan Michaels bahwa ungkapan monogenēs sepadan dengan ungkapan agapetos dalam Injil Sinoptik. Penggunaan istilah monogenēs dalam Injil Yohanes hendak menegaskan relasi yang unik antara Yesus Kristus dengan Allah Bapa. Di mana relasi itu tidak harus berada dalam konteks hubungan secara metafisik atau diperanakkan, karena bukan makna itu yang hendak ditekankan oleh istilah monogenēs. Kata bentukan monogenēs dipakai untuk menggambarkan keunikan relasi antara Allah dan Yesus Kristus; bahwa Yesus adalah sama dengan Allah. Jadi, sekali lagi dari istilah ini juga hendak menekankan tentang pra-eksistensi dan keilahian Yesus.

  • Yohanes 8:58

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi (γενέσθαι), Aku telah ada (ἐγώ εἰμι). Ungkapan γενέσθαι merupakan bentuk infinitif aoris dari kata γίνομαι. Pada penjelasan sebelumnya telah dikatakan oleh Carson bahwa ungkapan γίνομαι tidak menegaskan eksistensi yang kekal melainkan “menjadi” atau “mulai digunakan”. Dalam pengertian bahwa Abraham tidak memiliki pra-eksistensi karena dia juga diciptakan atau memiliki awal. Ungkapan ini seolah-olah dipertentangkan dengan ungkapan yang mengikutinya, yakni: ἐγώ εἰμι. Carson mengatakan,

Abraham looked forward to the messianic age, the age that was, in John’s understanding, inaugurated by the incar-nation of the Word who already was ‘in the beginning’ (1:1), like God, eternal. In conformity with John’s Prologue, Jesus takes to himself one of the most sacred of divine expressions of self-reference, and make assumption of that expression the proof of his superiority over Abraham.”

Jadi, menurut Carson, dalam konteks ini Abraham memandang ke depan ke zaman mesianik, zaman yang menurut pemahaman Yohanes, diteguhkan oleh inkarnasi Firman (Yesus) yang sudah ada ‘pada mulanya’ (1:1), seperti Allah (Bapa), Yesus juga kekal. Sesuai dengan Prolog Yohanes, Yesus mengambil bagi dirinya sendiri salah satu ekspresi ilahi yang paling sakral dari rujukan diri, dan menjadikan asumsi ungkapan itu sebagai bukti keunggulan Yesus jauh melampaui Abraham.

Dalam Injil Yohanes, Yesus mengguna-kan bentuk Ego Eimi yang muncul sebanyak 7 kali. Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah “Roti” (Yoh 6:35 “Ego eimi ho Artos”), “Terang Dunia” (Yoh 8:12, “Ego eimi to Phos tou kosmou”), “Pintu” (Yoh 10:7, “Ego eimi he Thura ton Proba-ton”),”Gembala” (Yoh 10:11, “Ego eimi ho Poimen ho Kalos”) “Kebangkitan dan Hidup” (Yoh 11:25 “Ego eimi he Anastasis kai he Zoen”), “Jalan, Kebenaran, Hidup” (Yoh 14:6, “Ego eimi ho Hodos kai he Aletheia kai he Zoen”), “Anggur” (Yoh 15:1, “Ego eimi he Ampelos he alethine”).

Donald Guthrie juga memberikan komentar tentang ungkapan  ἐγώ εἰμι dalam Injil Yohanes dengan berkata, “Melalui perkataan ‘Aku adalah’, Yesus membuat hal-hal yang masih abstrak dalam pendahuluan Injil menjadi nyata dalam pribadi. Hal ini menyangkut hidup, kebenaran dan juga terang. Yohanes memperlihatkan bahwa Yesus menyatakan diri sebagai perwujudan dari semua cita-cita tertinggi yang pernah dicari orang”. 

Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas melalui ungkapan ini Yesus sedang mengklaim keilahian-Nya – secara tidak langsung hendak menegaskan tentang pra-eksistensinya. Selain Yesus menegaskan bahwa Dia sudah ada jauh sebelum Abraham ada (menjadi), Dia juga menegaskan pra-eksistensi dan keilahian-Nya.

KESIMPULAN

Setelah memberikan penjelasan panjang-lebar tentang topik Pra-eksistensi Yesus yang didasarkan pada bukti-bukti dari Injil Yohanes, maka berikut ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan yakni:

  1. Dari beberapa bukti dari Injil Yohanes, maka semuanya menegaskan tentang pra-eksistensi Yesus. Dia sudah ada bahkan jauh sebelum dunia diciptakan Dunia diciptakan oleh Dia.
  2. Yesus adalah (Anak) Allah atau pribadi kedua dari Allah Tritunggal.
  3. Semua ajaran yang menolak ajaran pra-eksistensi Yesus terbantahkan dan gugur apabila didasarkan pada bukti-bukti dari Injil Yohanes.

Catatan Kaki:

 Seiring berkembangnya waktu, para teolog kembali mulai mempertanyakan akan kebenaran dari pengajaran ini. Banyak pendapat yang mulai dikemukakan oleh para theolog mengenai pra-eksistensi Kristus. Salah satunya seperti, ideal preexistence. Pengajaran ini berkata bahwa Kristus memiliki eksistensi di dalam pikiran Tuhan sebelum inkarnasi, namun tidak benar–benar ada sebagai sebuah entitas. Pandangan ini mengklaim bahwa tidak ada satu waktu pun ketika Kristus tidak berada dalam rencana Bapa. Kristus sama tuanya dengan rencana keselamatan Tuhan: yaitu rencana-Nya yang menyatakan keme-nangan-Nya atas kematian dan direncanakan sejak dalam kekekalan sebagai bagian dari kehendak Tuhan yang agung. Sepertinya hal ini kelihatan benar, tetapi jika demikian apa bedanya dengan engkau dan saya. Kita juga sudah berada dalam rencana Bapa sejak kekekalan. Banyak lagi interpretasi mengenai pra-eksistensi Kristus yang berkembang mulai abad-abad terakhir. Hal ini sangat disebabkan oleh worldview kita. (Sumber: http://www.buletinpillar.org/artikel/pauls-writing-on-preexistence-of-christ//03/03/2019//)

 Donald Macleod, The Person of Christ: Contours of Christian Theology, (USA: InterVarsity Press, 1998), 45.

 Charles C. Ryrie, Teologi Dasar Jilid 2, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 1991), 321.

 J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi, (Surabaya: Momentum, 2011), 62.

 Ryrie, Teologi Dasar Jilid 2, 322.

 Millard J. Erickson, Teologi Kristen.  Volume Dua (Malang: Gandum Mas, 2015), 333.

 Erickson, Teologi Kristen, 335.

 Charles C. Ryrie, Teologi Dasar Jilid 1, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 1991), 78.

https://teologiareformed.blog-spot.com/2018/09-/pra-eksistensi-dan-kekekalan-kristus.html//03/03/-2019//

 https://saksi-saksi-yehuwa.blogspot.com/2014/05/siapakah-yesus-menurut-ajaran-saksi-yehuwa.html//02/03/2019//Pukul. 23.14 WIB.

 Carson, The Gospel According to John. The Pillar NTC (Leicester/Grand Rapids: Eerdmans, 1991), 114.

 Carson, The Gospel According to John, 114.

 Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond and Basics: An Exegetical Syntax of The New Testament, (Grand Rapids: Zondervan, 1996), hlm.267.

 Wallace, Greek Grammar Beyond and Basics, 267-68.

 Wallace, Greek Grammar Beyond and Basics, 268.

 J. Ramsey Michaels, The Gospel of John (NICNT), (Grand Rapids: Zondervan, 2010), 48.

 TDNT menegaskan penggunaan istilah monogenēs dalam konteks PB sebagai berikut: “ (1) In the NT the term occurs only in Luke, John, and Hebrews. Isaac is monogenēs in Heb. 11:7, and the son of the widow at Nain (Lk. 7:12), the daughter of Jairus (8:42), and the demoniac boy (8:42) are all only children; (2) Only John uses the term for Jesus. John calls Christians the tekna of God rather than his huioi (cf. 1:12; 11:52; 1 Jn. 3:1 ). Jesus is the only huios; his unique relation to God is thus given emphasis. God is the pater idios of Jesus; no others stand in the same relationship (Jn. 5:18). It is thus that Jesus is monogenes (Jn. 1:14; 3:16; 1 Jn. 4:9). Because he is the only-begotten Son, his sending into the world is a supreme proof of God’s love (Jn. 3:16). But it also means that decision for life or death takes place in relation to him (3:18). As the only-begotten Son he shares all things with the Father. His glory is not merely like that of an only child; it is that of the only-begotten Son (1:14). He is not just unique; he is the Son, for combined with huios the term describes his origin. The risen Lord is also the preexistent Lord, who is with God, is loved by him, and shares his glory from all eternity (17:5, 24). Whether or not this implies actual begetting by God is debated by some, but 1 Jn. 5:18 definitely teaches this, for sonship is here presented in terms of begetting. John does not lift the veil of mystery that lies over the eternal begetting, for he aims to awaken faith rather than give systematic knowledge.”

 BDAG menjelaskan istilah monogenēs mengacu kepada dua hal: (1) pert. to being the only one of its kind within a specific relationship, one and only, only; (1) pert. to being the only one of its kind or class, unique (in kind) of something. (1)untuk menjadi satu-satunya dari jenisnya dalam hubungan tertentu, satu-satunya, hanya; (1) untuk menjadi satu-satunya dari jenis atau kelasnya, unik (sejenis) dari sesuatu.).

 Leon Morris, The International Commentary On The New Testament: The Gospel According To John. (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1971), 105.

 Andreas J. Kostenberger, A Theology John’s Gospel and Letters: The Word, the Christ, the Son of God, Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2009), 381.

 Carson, The Gospel According to John, 128.

 Michaels, The Gospel of John, 80.

 Carson, The Gospel According to John, 358.

 Kata ini muncul pertama kalinya dalam Kitab Septuaginta untuk menerjemahkan pernyataan YHWH  yang menyingkapkan nama-Nya pada Musa sbb: “Firman Tuhan kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Frasa “Aku adalah Aku” dalam bahasa Ibrani adalah Ehyeh asyer Ehyeh yang secara literal diterjemahkan dengan “Aku ada yang Aku ada”. Dalam naskah Septuaginta (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani) diterjemahkan, Ego eimi ho on. (Sumber: http://bet-midrash.blog-spot.com/2017/02/makna-pernyataan-ego-eimi-oleh-yesus.html//03/03/2019//)

 Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1 (Allah, Manusia, Kristus), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 375.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Bauer’s, Walter, A Greek-English Lexicon of The New Testament And Other Early Christian Literature (BDAG) Third Edition, Chicago: The University of Chicago Press, 2000, Diedit oleh: Frederick William Danker.

Carson, D.A., The Gospel According to John (The Pillar NTC), Leicester/Grand Rapids: Eerdmans, 1991.

Chamblin, J. Knox, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi, Surabaya: Momentum, 2011.

Erickson, Millard J., Teologi Kristen Volume Dua, Malang: Gandum Mas, 2015.

Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 1 (Allah, Manusia, Kristus), Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Kittel-Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (TDNT).

Kostenberger, Andreas J., A Theology John’s Gospel and Letters: The Word, the Christ, the Son of God, Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2009.

Macleod, Donald, The Person of Christ: Contours of Christian Theology, USA: InterVarsity Press, 1998.

Michaels, J. Ramsey, The Gospel of John (NICNT), Grand Rapids: Zondervan, 2010.

Morris, Leon, The International Commentary On The New Testament: The Gospel According To John, Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1971.

Ryrie, Charles C., Teologi Dasar Jilid 1. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 1991.

Ryrie, Charles C., Teologi Dasar Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 1991.

Wallace, Daniel B., Greek Grammar Beyond and Basics. An Exegetical Syntax of The New Testament, Grand Rapids: Zondervan, 1996.

Internet:

http://www.buletinpillar.org/artikel/paul-s-writing-on-preexistence-of-christ//

https://teologiareformed.blogspot.com/2018/09/pra-eksistensi-dan-kekekalan-kristus.html//

https://saksi-saksi-yehuwa.blogspot.com/2014/05/siapakah-yesus-menurut-ajaran-saksi-yehuwa.html//

http://bet-midrash.blogspot.com/2017/02/makna-pernyataan-ego-eimi-oleh-yesus.html//

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai