Mungkin ada banyak hal atau agenda yang akan kita lakukan saat sebelum merebaknya Corona Virus secara luas di Indonesia pada tahun 2020. Tetapi, hampir semuanya berubah dan tidak jadi dilakukan. Beberapa di antara kita menundanya sampai menunggu kondisinya membaik. Ada yang membatalkan sama sekali. Ada yang memaksakannya. Ada yang melakukannya tetapi dengan sangat hati-hati.
Terlepas dari semua tindakan kita, seringkali mungkin keabaian dan kelengahan atas mekanisme kesehatan di masa pandemik Corona telah membuat kita terkena Corona atau menularkan Corona ke orang lain. Kita sendiri melihat dan mendengar, banyak orang yang telah meninggal karena Corona ini. Kita terkelu, tak dapat berbuat banyak; kita lemah, tak berdaya. Kita menangis kehilangan orang-orang yang kita sayangi, para sahabat, para hamba Tuhan, para tokoh masyarakat, dan lainnya. Rasanya pedih karena kepergian mereka dan menyisahkan duka mendalam. Kita berada dalam suasana genting. Kita selalu berharap “Tangan Tuhan kiranya terus terulur bagi kita untuk memberikan pertolongan, kekuatan, dan penghiburan”.
Kita diperhadapkan dengan waktu yang sangat genting. Saat-saat mana kita mengalami situasi mencekam, menggelisahkan, dan bahkan menakutkan. Kita menyimak bahwa kehidupan saat ini begitu rapuh, meskipun beberapa di antara kita melihat fenomena Corona hanyalah biasa-biasa saja. Bahkan ada yang tidak mempercayai bahwa Corona itu ada. Tetapi bukan itu poin saya. Di sini, kita perlu memperhatikan diri kita dan waktu yang digunakan saat ini.
Fenomena pandemik Corona telah menyita banyak waktu. Pihak pemerintah terus berjuang untuk menekan angka penyebaran Corona di berbagai wilayah. Penerapan pembatasan sosial dan kegiatan masyarakat terus dilakukan. Tidak hanya itu, pemberian vaksin untuk masyarakat Indonesia masih berjalan hingga saat ini. Dalam skema pemerintah, upaya vaksinasi setidaknya memberikan peningkatan terhadap daya tahan tubuh untuk dapat melawan Corona. Kita perlu menyadari bahwa hidup itu berharga. Jangan sampai ketika kita yang terpapar Corona, barulah sadar bahwa kesehatan itu mahal.
Kita merenungi hidup dan menemukan bahwa waktu yang terus bergulir, tanpa kita sadari telah membawa kita sampai kepada kondisi saat ini. Di dalam waktu kita hidup, bergumul, berjuang, dan berdoa. Adakalanya, kita menampilkan egoisme diri. Kita berdoa untuk diri sendiri tapi melupakan orang-orang di luar sana. Hidup ini patut direnungkan. Ada saat di mana kita melihat tangan Tuhan yang kuat menolong dan menopang kita; ada saat di mana Ia juga yang menguatkan kita, serta menghibur kita saat berduka, kehilangan orang-orang yang dikasihi.
Waktu yang tersedia, patut kita jalani. Kita tak tahu kapan “waktu” kita berakhir. Yang pasti adalah “Tuhan senantiasa menyediakan yang terbaik bagi mereka yang mengasihi Dia”. Ketika kita menyadari betapa berartinya hidup, kita pun perlu memperlihatkan kualitas tindakan dan waktu Hentikan tindakan-tindakan yang tidak mendatangkan berkat bagi kita dan orang lain. Kita terpanggil untuk memperlihatkan potensi diri secara benar dan berada pada jalur yang Tuhan kehendaki.
Kita menilai fenomena Corona, menarik kesimpulan, kemudian kita merenungkan hidup ini. Akankah waktu yang kita miliki dipakai untuk hal-hal yang berkenan kepada Tuhan? Ataukah kita “cuek bebek” terhadap waktu dan potensi yang Tuhan berikan kepada kita? Sejatinya, mereka yang menyadari betapa pentingnya potensi dan waktu akan berus berjuang untuk bertahan hidup dan memberikan pengaruh terhadap yang lain.
Kita terus bergerak berpacu di dalam waktu. Sementara itu, kita pun tetap waspada terhadap Corona. Spiritualitas jangan sampai kendor. Kita yang masih setia menyatakan cinta kasih kepada Allah, akan menerima upah dari-Nya. Meski di satu sisi kita waspada terhadap Corona, di sisi lain kita tetap mempergunakan waktu sebaik mungkin untuk memperlihatkan kualitas-kualitas tindakan yang dikerjakan di dalam terang firman-Nya.
Kita, Corona, dan Waktu, sama-sama ada dalam kedaulatan Allah. Dalam benak kita, ada harapan bahwa Ia akan mengakhiri Corona ini. Yang pasti, Tuhan selalu melakukan dan menyediakan yang terbaik bagi kita yang mengasihi-Nya. Berdasarkan kasih dan kedaulatan-Nya, Ia menunjukkan segala kebaikan dan kemurahan-Nya tak terhingga, tak terduga.
Jangan lupa bersyukur sebab Tuhan itu baik dan telah berbuat baik.
Barangkali, kata “cacing” sangat familiar di telinga kita. Bagi petani yang suka mencangkul tanah untuk tujuan bertani (menanam berbagai jenis tumbuhan), cacing adalah sahabat yang sering ditemukan. Tanah menjadi subur ketika banyak cacing ditemukan di dalamnya. Di sini, cacing memiliki nuansa (adanya makna) positif.
Lain halnya dengan cacing yang ada di dalam perut manusia. Nuasanya sangatlah negatif. Apalagi jika dikatakan: “kamu kok cacingan ya?”. Cacing dalam tanah memberikan kesuburan pada tanah; sedangkan cacing dalam perut manusia mengganggu kesehatan tubuh manusia.
Cacing adalah hewan tak bertulang punggung (jenis hewan invertebrata), tidak berkaki, tubuhnya bulat, panjang, dan tidak memiliki anggota tubuh (misalnya tangan atau kaki). Sesuai jenisnya, ia hidup di tanah, air, dalam perut manusia, atau perut binatang.
Dalam Alkitab, cacing adalah sejenis ulat dan sejenis serangga pengerat. Dalam zaman purba di antara masyarakat paling primitif penggunaan kata “cacing” sangat kabur. Penggunaan kata ‘cacing’ dalam Alkitab kebanyakan bersifat kiasan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini).
Cacing berhubungan erat dengan kematian dan kebusukan (Yesaya 14:11, “Ke dunia orang mati sudah diturunkan kemegahanmu dan bunyi gambus-gambusmu; ulat-ulat dibentangkan sebagai lapik tidurmu, dan cacing-cacing sebagai selimutmu”; Kisah Para Rasul. 12:23, “Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing”).
Cacing juga dipahami sebagai kiasan. Misalnya dalam Yesaya 41:14, dituliskan sebagai berikut: “Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel.”
Dari beberapa pengertian dan penggunaan kata “cacing” di atas, saya menarik beberapa implikasi ke dalam konteks teologi. Lokus dan jenis cacing akan menambah daya tarik tersendiri ketika diterapkan ke dalam konteks teologi.
Pertama, teologi cacing tanah (dalam nuansa positif) bertujuan untuk memberikan kesuburan bagi iman, pengertian progresif, dan tindakan. Bagi iman, teologi cacing memberikan asupan-asupan segar untuk memperkuat imun dari iman itu sendiri. Iman tidak hanya sekadar milik dari mereka yang percaya saat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melaikan iman itu sendiri perlu diberikan asupan-asupan gizi agar terus berkembang dan terus berbuah.
Asupan-asupan gizi tersebut berbentuk kesaksian hidup yang berpadanan dengan Injil Yesus Kristus, persekutuan (beribadah), dan kontemplasi personal (berdoa secara pribadi). Kita harus menyerap berbagai makna dan fakta dari kesaksian sesama orang percaya. Kita tidak hanya mendengar khotbah saja, melainkan mendengar apa dan bagaimana kehidupan serta pergumulan orang percaya lainnya dalam mempertahankan iman. Pula membangun persekutuan yang kuat dengan sesama orang beriman, dan meningkatkan relasi pribadi dengan Tuhan.
Memberikan kesuburan bagi pengertian progresif, adalah gerakan kontinuitas bagi orang percaya untuk selalu menambah pengertian-pengertian baru teks teks-teks Alkitab. Kita butuh pengertian yang mendalam tentang firman Tuhan. Dan tentunya, mengerti firman Tuhan tidak terjadi hanya dalam satu kali mendengar, membaca, atau menafsir. Kita butuh proses yang berkelanjutan. Selalu ada hal-hal baru yang Tuhan singkapkan kepada kita melalui orang lain, perenungan pribadi, perjalanan hidup, dan lain sebagainya.
Memberikan kesuburan bagi tindakan, adalah sebuah konteks di mana teologi cacing (tanah) mendorong agar tindakan-tindakan kita menghasilkan buah-buah yang segar. Sebagaimana cacing memberikan kesuburan bagi tanah agar tanaman-tanaman menjadi tumbuh subur berbuah, demikianlah tindakan-tindakan kita yang lahir dari iman menampakkan buah-buah kehidupan yang selaras dengan firman-Nya.
Kedua, teologi cacing mengharuskan tubuh kita bergerak aktif dalam melayani Tuhan. Sebagaimana cacing dalam tanah bergerak terus untuk memberikan kesuburan, dan petani menanami berbagai jenis tanaman di tanah tersebut, demikianlah kita harus aktif dalam melayani Tuhan yang didasarkan pada pengertian yang benar tentang doktrin-doktrin fundamental, agar dapat bertumbuh dan berbuah.
Teologi sifatnya menggerakan kita. Ketika teologi tidak membuat kita bergerak untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain, tinggalkanlah teologi itu. Itu pasti bukanlah cacing tanah, melainkan cacing yang ada di dalam perut manusia, menggerogoti kesehatan kita sendiri. Jika kita salah memahami dan memberikan teologi kepada yang lain, maka dapat berpotensi membawa kebusukan hidup, dan pada akhirnya menikmati kematian. Ini adalah plus minusnya.
Ketiga, teologi cacing tidak menonjolkan diri. Dia bergerak di dasarnya, bekerja siang malam, tetapi memberikan hasil yang maksimal. Cacing tidak bekerja di atas tanah, melainkan di dalam tanah. Teologi yang kuat, tidak memamerkan diri di atas tanah, melainkan bergerak dan memperkuat dasar (pondasi) di dalam tanah. Sampai di sini kita dapat melihat beberapa teks yang menyentuh dan memberikan penguatan atas konteks yang sedang dibicarakan.
Misalnya dalam Filipi 2:5, dikatakan, bahwa “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Teks ini memberikan pengertian mendasar bahwa segala tindak-tanduk kita didahului dengan sebuah tindakan untuk menaruh pikiran dan perasaan seperti Yesus Kristus yang begitu rendah hati, tak memandang status ontologi-Nya. Jika dasarnya kuat, maka tindakan kita kuat pula dan sangat bermakna.
Filipi 4:5, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Teks ini memberikan penguatan terhadap teologi cacing tanah. Kebaikan hati ada di hati. Untuk menjadikan terlihat, maka harus diperlihatkan. Begitulah runut logisnya.
Kolose 2:6, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” Teks ini memberikan pengertian bahwa ketika pemahaman teologi kita berdasar pada Yesus Kristus, maka segala tindakan kita haruslah tetap di dalam Dia, tidak boleh bergesert lokus menjadi teologi cacing [dalam] perut manusia.
Kolose 2:7, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Teks ini sangatlah merepresentasikan makna dari teologi cacing tanah. Ketika kita berakar di dalam Yesus Kristus, maka gerakan selanjutnya adalah kita membangun kehidupan. Setelah itu, kita menyatakan kelimpahan syukur karena kita menjadi manusia baru yang hidup di dalam (berakar) Yesus Kristus.
Kolose 3:15, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” Teks ini memberikan pengertian bahwa teologi yang kita pelajari dan pahami, haruslah memerintah (menjadi penentu) dalam hati kita sekaligus menilai dan menolak teologi-teologi yang buruk yang berpotensi menjerumuskan kita ke dalam kesesatan dan penyesatan.
Kolose 3:16, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Teks ini juga memberikan penguatan terhadap teologi cacing tanah. Perkataan Kristus yang berdiam di dalam diri kita, haruslah direalisasikan ke dalam bentuk pengajaran, teguran, puji-pujian, dan nyanyian. Kita harus selalu mengucap syukur sebagai puncak dari tindakan-tindakan kita.
Keempat, teologi cacing [dalam] perut manusia bukanlah teologi yang mumpuni. Itu hanyalah sebuah teologi yang memperlihatkan raut wajah menarik, padahal sedang menggegoti kita dari dalam (kontras dengan teologi cacing tanah). Ajaran-ajaran yang tampaknya menarik di luar, belumlah menjamin memiliki dasar yang kuat. Malahan ketika diuji di dapur hermeneutika (dogmatika, biblika, historika, apologetika), ajaran-ajaran tersebut berpotensi menyesatkan. Lokus teologi sangatlah menentukan apakah itu teologi cacing perut manusia, atau teologi cacing tanah.
Kelima, teologi cacing adalah gambaran besar dari pola kehidupan beriman, bersekutu, dan berelasi secara luas. Kita memegang yang mana, itu adalah pilihan kita sendiri. Sedapat mungkin kita sadar dan menilai mana teologi yang benar-benar berakar kuat di dalam Kristus Yesus, dan mana teologi yang tampak segar di permukaan tetapi memiliki akar (dasar) yang rapuh. Kita tinggal memilih teologi cacing yang mana yang akan kita ciptakan, pelajari, dan adopsi. Kemampuan bernalar secara baik dengan memperhatikan fitur-fitur hermeneutika, akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran Allah.
Bukankah kita dipanggil Allah untuk melakukan kehendak-Nya? Bukankah segala sesuatu dilakukan Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita? Allah telah bekerja dan membuktikan itu semua. Sekarang giliran kita yang membuktikan iman kitat kepada-Nya melalui pemahaman tentang teologi, penalaran yang sehat tentang teologi, dan perealisasian teologi cacing tanah ke dalam totalitas kehidupan kita, sekarang, dan sampai selamanya.
Segala bentuk realisasi diri [iman] kepada khalayak dilatari oleh doktrin, denominasi, dan gengsi (entah dalam arti positif maupun negatif). Sejatinya, Gereja adalah “gerakan manusiawi-spiritual” yang hendak menunjukkan jatidirinya (doktrin dan denominasi) serta mengkonfirmasi keduanya sebagai “gengsi intelektual”. Gengsi intelektual dipahami sebagai kehormatan dan pengaruh yang tampak ke permukaan sebagai “wajah atau identitas” yang disebabkan oleh cara berpikir dan meramu doktrin-doktrin internal menjadi kemasan yang menarik.
Dalam proses berteologi, setiap denominasi memperlihatkan kekuatan doktrinalnya dan disertai gengsi intelektual. Problem internal dan eksternal sedapat mungkin diracik bumbu-bumbunya, sehingga menjadi makanan siap saji. Soal rasa, nanti dulu. Soal kemasan dan promosi, keduanya menjadi pasukan “frontliner” [garis depan]. Pasukan garis depan pasti dilengkapi dengan pedang, panah api, baju zirah, korek api, dan kertas kosong.
“Pedang” [ajaran, logika, penokohan, dan pengalaman] digunakan untuk melawan musuh dari jarak dekat (berhadapan langsung). Konteks ini menggambarkan dua fakta, yakni: pertama, fakta bahwa pekabaran Injil menjadi media penting bagi Gereja untuk merealisasikan ajaran-ajarannya termasuk denominasinya (bisa dalam bentuk perlawanan terhadap berbagai ideologi, ajaran-ajaran di luar Alkitab), dan kedua, fakta bahwa Gereja harus berhadapan dengan penyesat dan penyesatan dari dalam tubuhnya sendiri.
“Pedang” adalah senjata utama Gereja. Gereja berperang melawan segala kesesatan dan penyesatan dari dalam dan dari luar. “Pedang” adalah “bukti kita siap bertempur melawan musuh iman [pemikiran] Kristen, musuh yang menegasikan doktrin-doktrin fundamental kita.”
Lain halnya dengan Gereja yang pemimpinnya sesat dan tersesat. Dalam konteks ini, para pengikutnya yang harus mengasa kembali “pedang-pedangnya” – mungkin sudah berkarat oleh perkembangan zaman – dan menghasilkan sebuah “pedang baru” yang segar bugar dan masuk akal tentunya. Selain pemimpin Gereja yang sesat dan tersesat, anggota jemaat bisa mengalami hal serupa. Upaya yang sama juga dilakukan agar Gereja menjadi murni kembali dan menghadirkan makanan (ajaran) yang sehat bergizi tinggi, baik untuk sumsum tulang belakang dan tempurung kepala.
Panah api digunakan untuk melawan musuh dari jarak jauh. Sama halnya dengan pedang, panah api juga mencakup ajaran, logika, penokohan, dan pengalaman, yang siap ditembakkan sesuai sasarannya. Media-media sosial bertaburan di mana-mana. Gereja harus menggunakannya sebagai “panah api” agar mampu melawan musuh dari yang jauh sekalipun. Perang media sosial sekarang ini adalah zaman di mana kita sedang ada di dalamnya, dan terus menggempur serangan terhadap iman Kristen (internal maupun eksternal).
Baju zirah adalah perlengkapan diri Gereja agar mampu menangkal serangan musuh. Baju zirah itu adalah iman kepada Yesus Kristus. Kita ingat pesan Rasul Petrus: “Kuduskanlah Kristus dalam hatimu sebagai ‘Tuhan’”. Jika demikian, Gereja pertama-tama harus tahu bahwa ia beriman kepada Tuhan Yesus atau tidak. Gereja tidak boleh ragu dalam hal ini. Ketika Gereja menampilkan “Yesus yang Lain”, maka baju zirah yang digunakannya tentu terbuat dari kain pel: berusaha memberi pencerahan (pembersihan) kepada orang lain, tetapi ia sendiri menjadi kotor.
Baju zirah adalah benteng yang kokoh. Iman kepada Yesus Kristus tak bisa ditawar-tawar. Para mualaf yang doyan jualan tentang “Yesus yang Lain” dengan mengais teks-teks Alkitab, lupa bahwa Isa dalam kitab suci mereka bersifat ahistoris dan bukan fakta yang sebenarnya. Para mualaf percaya “Yesus yang Lain” (berdasarkan kitab sucinya sendiri) dan berusaha menyanyi di depan Gereja untuk mengatakan bahwa “Yesus yang kalian sembah bukanlah Tuhan, bukanlah Yesus yang sesungguhnya. Sebaliknya Yesus yang kami ketahui adalah yang benar sesuai dengan kitab suci kami”. Piye toh? Wong kitab sucinya beda, kok malahan jualan kecap?
Dari pengalaman ini, baju zirah harus tetap dipakai dan terus dipakai untuk mempertahankan iman dan ajaran-ajaran yang benar tentang Yesus. Prinsipnya adalah Alkitab menyatakan Yesus yang sesungguhnya, jadi jangan menerima “Yesus yang Lain” yang berasal dari kitab suci lain. Itu bukan iman kita.
Korek api adalah alat untuk menyalahkan benda-benda yang ada di sekitar kita untuk menerangi. Dua aspek penting menjadi sasaran kita.
Pertama, korek api dipakai untuk merebus ajaran-ajaran para bidat di dalam belanga, secara perlahan. Korek api adalah pemantik, dan selanjutnya terserah Anda (kayak iklan aja, ya). Untuk mengeluarkan ular dari semak-semak, maka semak-semak itu harus dibakar, barulah kita tahu ada ular di dalamnya. Gereja harus dipanas-panasi supaya tampaklah siapa yang bidat, siapa yang benar. “Bidat” di sini berpusat pada cara memahami ajaran-ajaran Alkitab secara salah (menyimpang).
Kedua, korek api dipakai untuk situasi-situasi tertentu tatkala kita hendak menolong diri sendiri dan orang lain dalam kegelapan dunia. Korek api harus membakar benda-benda di sekitarnya untuk tujuan menerangi agar bisa melihat jalan pulang.
Terakhir, “kertas kosong.” Apa maksudnya? Gereja harus selalu membawa kertas kosong yang akan digunakan untuk mencatat kehidupannya sendiri, kehidupan orang lain, dan pengetahuan-pengetahuan baru yang didapatkan dalam kembara imannya pada proses pekabaran Injil. Mencatat kehidupan pribadi sangatlah penting sebagai warisan; mencatat kehidupan orang lain dalam konteks pekabaran Injil adalah bukti bahwa Gereja itu aktif; bukankah kita melihat bahwa buku-buku Sejarah Gereja begitu banyak? Sedangkan mencatat pengetahuan-pengetahuan baru berarti Gereja didorong untuk terus bejalar kapan pun dan di mana pun, menggali sejarah dan penerapan doktrin dari masa ke masa.
Gereja yang mengupayakan realisasi doktrin-doktrin yang benar, akan menjadi mercu suar di zamannya. Gereja yang mengupayakan untuk menjadi garam dan terang dunia adalah Gereja yang hidup, yang peduli, dan yang diberkati Tuhan Yesus. Gereja tidak boleh berpuas diri, bermasturbasi teologi secara sembunyi-sembunyi. Gereja adalah “Penjala Manusia” bukan “penjala angin”. Gereja harus tampil memukau dengan pedangnya, panah apinya, baju zirahnya, korek apinya, dan kertas kosongnya.
Proses berteologi tidak bisa lepas dari konteks denominasi (label) Gereja dan tidak bisa dihindari begitu saja. Setiap teolog dan pelayan Tuhan selalu menunjukkan “label” teologinya. Kesalahan pandang terhadap konteks ini berujung pada jemawa [congkak] denominasi, meski doktrin yang mereka miliki amburadul. Ada Gereja yang hanya kuat di organisasi tetapi lemah di doktrin, dan sebaliknya. Hampir selalu, dalam diskusi teologi, standar ganda mengenai pola pikir denominasi digunakan. Artinya, setiap luapan teologi yang diucapkan, harus juga distandar gandakan supaya adil.
Gengsi intelektual didasarkan pada doktrin dan atau denominasi. Setiap pemimpin Gereja dan atau teolog, pasti memperlihatkan gengsi intelektualnya. Di sini kita menilai dan melihat bahwa proses berteologi seringkali bergeser dan menuju pada sebuah kesombongan. Kita harus membedakan antara menyatakan kebenaran dengan menyatakan kesombongan (tapi menggunakan kebenaran). Hanya mereka yang “dewasa dalam berpikir dan bertindak” akan memahami apa yang sedang dibicarakan di sini.
Pada akhirnya, realisasi iman Gereja kepada dunia menampilkan tiga lukisan besar yakni: DOKTRIN, DENOMINASI, dan GENGSI INTELEKTUAL. Apa yang kita cari dalam kembara iman kita? Itulah mungkin salah satu pertanyaan Tuhan kepada kita sekarang ini.
Selamat berteologi untuk menunjukkan kekuatan doktrin, denominasi, dan gengsi intelektual kita masing-masing. Jangan gegabah, andalkanlah Tuhan Yesus; jangan jemawa, andalkanlah Roh Kudus, dan jangan berhenti bekerja, sebab Bapa di surga terus bekerja sampai sekarang, untuk mendatangkan kebaikan bagi Gereja yang mengasihi-Nya dengan sepenuh hati, jiwa, dan pikiran.
Kita hidup dan bergerak di dalam “waktu” dan secara sadar menempatkan waktu dalam setiap alur kehidupan kita untuk menikmati hidup, berjuang, melakukan segala sesuatu yang disukai (entah karena terpaksa atau karena dorongan sesuatu), bersenang-senang, bergumul atas segala sesuatu, menyatakan kasih, dan berbahagia.
Waktu menjadi semacam penentu pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Di dalam waktu kita tersadar, dan di dalam waktu juga kita terbuai. Di dalam waktu kita hidup, dan di dalam waktu juga kita mati. Di dalam waktu kita tertawa, dan di dalam waktu juga kita menangis. Di dalam waktu kita terluka, dan di dalam waktu juga kita dipulihkan. Di dalam waktu kita sakit, dan di dalam waktu juga kita sembuh. Di dalam waktu kita berjuang, dan di dalam waktu juga kita berhasil. Di dalam waktu kita menipu, dan di dalam waktu juga kita menerima imbalannya. Di dalam waktu kita bersama, dan di dalam waktu juga kita kehilangan. Di dalam waktu kita tersakiti, dan di dalam waktu juga kita dikasihi.
Ada banyak kisah menarik dan sedih yang terjadi di dalam waktu. Guliran waktu seakan-akan menyeret kita menuju tujuan akhir hidup kita. Tak ada yang tahu kapan waktu itu berakhir. Yang kita tahu bahwa hidup kita akan berakhir. Waktu dan kehidupan menjadi dua hal yang secara sadar mengingatkan kita akan keterbatasan kita.
Kerapuhan hidup seharusnya membawa kita kepada Sang Khalik, yang dengan rahmat-Nya dan kemurahan-Nya telah “membentuk kehidupan” agar kita dapat menikmatinya dengan rasa syukur dan tahu diri. Tangan-Nya terulur bagi kita: menolong, menopang, memimpin, menyertai, dan memberkati. Ia setia menunjukkan kasih-Nya agar kita terlatih untuk bersyukur kepada-Nya dalam segala hal.
Terkadang kita melupakan keterbatasan kita. Kita berupaya untuk selalu senang, bahkan senang di atas penderitaan orang lain. Kita acuh tak acuh dengan “rasa peduli”. Apalagi ketika kita merasa di atas angin, tindakan-tindakan kita “dihalalkan” untuk mencapai tujuan tertentu.
Terkadang pula, kita menutup mata dengan kondisi di sekitar kita. Berbagai pertimbangan membuat kita sulit untuk berbuat baik. Ini dan itu menjadi prasyarat untuk menolong orang lain. Pada akhirnya, setelah semuanya terjadi, kita menyesal; menyesal karena perbuatan baik yang seharusnya kita lakukan, malahan disimpan jadi beku dalam benak. Kita punya banyak waktu untuk menolong atau menyatakan rasa peduli terhadap sesama, tetapi kita mengabaikan “waktu-waktu” itu, sehingga kebaikan kita tersimpan, membusuk, dan hancur, tak ada gunanya.
Kehidupan itu rumit. Tersedia bagi kita pilihan-pilihan yang dengannya diri kita bernilai, dinilai, dihargai, diindahkan, dan diabaikan. Kesulitan-kesulitan dalam hidup pun menjadi kekuatiran tersendiri bagi mereka yang serba terbatas. Di tengah pandemik Corona Virus saat ini, kehidupan menjadi serba sulit. Waktu-waktu yang dijalani dibarengi dengan kekuatiran, ketakutan, kewaspadaan, kepenatan, kepelitan, kesombongan, dan masih banyak lagi.
Pada akhirnya, manusia berjuang untuk bertahan hidup. Toko-toko obat pun menjadi wisata kesehatan yang ramai dikunjungi. Indomaret dan Alfamart pun tak ketinggalan. Manusia berlomba-lomba membeli berbagai jenis obat untuk menjaga kondisi tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh. Singkatnya, semua itu dilakukan untuk bertahan hidup.
Sayangnya, ada orang-orang yang tidak terselamatkan. Waktu hidup mereka begitu singkat. Demikian kita memahaminya. Mereka yang serba terbatas akhirnya harus pasrah dan tabah menerima kenyataan hidup. Mereka kehilangan orang-orang terdekat yang mereka cintai, kasihi, dan sayangi. Di sini kita melihat bahwa “segala sesuatunya ada waktunya”.
Waktu dan kehidupan menjadi titik sadar kita untuk melakukan lima hal: pertama, senantiasa bersyukur atas hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada kita; kedua, bergerak dan bekerja untuk mempertahankan hidup (menghidupi diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi, cintai, dan sayangi); ketiga, menyatakan rasa peduli kepada sesama kita; keempat, mengembangkan potensi diri untuk meraih masa depan; dan kelima, tetap mengandalkan Tuhan (berserah, berhadap, dan beriman) dalam segala hal.
Kelima hal di atas terjadi di dalam waktu dan harus direalisasikan dalam kehidupan kita. Kita perlu mempergunakan waktu sebaik mungkin, menempatkan diri secara bijak di dalam segala situasi. Tuhan telah memberikan waktu kepada kita untuk dinikmati (dijalani) dengan penuh iman dan hikmat. Raja Salomo pernah menulis, bahwa “setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:13). Kesadaran kita membawa kita kepada sikap rendah hati, mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah untuk kebaikan kita semua. Allah merencanakan kebaikan dan masa depan penuh bahagia. Semuanya terjadi di dalam “waktu”. Ingatlah selalu, bahwa “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1).
Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, saya mengutip kitab Pengkhotbah 3. Ayat-ayat ini menyadarkan kita bahwa “WAKTU DAN KEHIDUPAN” menyediakan rentetan peristiwa yang harus kita sadari dan maknai, untuk menjadikan hidup kita berkenan kepada Tuhan, menjadi berkat bagi sesama. Kita sadar bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan bagi kita.
“Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.”Pengkhotbah 3:2-8
Dari semua yang terjadi di bawah kolong langit ini, kita harus tahu bahwa Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati manusia. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkhotbah 3:11). Meski dalam keterbatasan, kita harus senantiasa memahami bahwa segala sesuatu memiliki tujuan tersendiri yang Allah tetapkan bagi kita. Waktu dan kehidupan disediakan-Nya agar kita menjalaninya dengan rasa takut akan Dia.
Kita diberikan kebahagiaan dan kesadaran oleh Allah agar di dalam kebahagiaan itu, Ia mengingatkan kita untuk selalu sadar bahwa ada orang-orang yang merindukan kebahagiaan; kita berbagi dengan mereka dalam terang kasih Yesus Kristus.
Dari semua yang kita alami “di dalam waktu”, menjalani kehidupan ini, marilah kita menyadari, bahwa “segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” (Pengkhotbah 3:14).
Rentetan peristiwa dalam hidup manusia memiliki alasan tentang apa dan bagaimana rasa peduli itu dinyatakan. Pada faktanya, kehidupan tanpa kepedulian bukanlah kehidupan yang sesungguhnya dari mereka yang beriman kepada Yesus Kristus. Sedangkan kepedulian tanpa dikaitkan dengan konteks kehidupan sesama hanya menyisahkan rasa puas diri dan ego yang sangat buruk.
Di masa pandemik Corona Virus (CoVir), rasa kepedulian menjadi terealisasi dan membuktikan “siapa diri kita sebenarnya”. Ada banyak hal yang dapat kita nilai dan lihat sendiri dalam bingkai pandemik ini. Kita bergerak dari kepedulian yang satu ke kepedulian yang lain, sembari kita juga “menjaga diri” dari serangan CoVir.
Bukan alasan bagi kita untuk tidak berbuat sesuatu bagi sesama kita, bagi orang-orang yang kita kasihi, sayangi, dan cintai. Kita mungkin dan bahkan telah membuktikan rasa peduli itu yang darinya kita menengadah ke langit dan berkata: “Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memakai aku sebagai saluran berkat (kepedulian) bagi sesamaku. Aku juga memohon kepada-Mu, kiranya Engkau melindungiku di masa pandemik ini, melindungi orang-orang terdekatku, yang aku kasihi, cintai, dan sayangi.”
Luapan rasa syukur dari mereka yang telah sembuh dari CoVir patutlah kita syukuri juga. Mereka bisa berbagi testimoni kepada yang lain agar dapat menguatkan dan saling menopang. Itulah kehidupan yang sejati, sebuah kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang koheren dengan kepedulian dan kepedulian yang mengikat kehidupan itu sendiri.
Kita telah beranjak cukup jauh dari pandemik ini. Perjalanan kita untuk terus menjaga kesehatan tubuh masih menjadi prioritas. Pergulatan dan pergumulan untuk sembuh, terhindar dari CoVir, adalah harapan kita semua, sambil terus waspada terhadap segala bentuk penyebaran CoVir di lingkungan kita.
Sedari awal kita tahu bahwa tangan Tuhan selalu terulur bagi kita yang terpuruk, tertekan, yang bergumul dengan hidup, depresi, apalagi saat pandemik CoVir melanda dunia. Mungkin kekuatiran dan kegelisahan kita semakin meningkat saat ini karena CoVir belum juga usai. Gejala psikologi menjadi tampak ke permukaan karena banyak kebutuhan yang ingin kita penuhi tetapi tidak terpenuhi semuanya.
Lalu kita bergegas untuk terus mewaspadai diri sebagai langkah antisipasi agar tetap aman dari CoVir, menjaga agar orang-orang di sekitar kita tetap aman dan tidak terpapar. Kita merenungkan hidup ini; hidup yang dikungkung oleh pandemik yang belum juga usai. Kehidupan kita menjadi tidak normal, meski kadang-kadang dipaksakan untuk normal. Kita tidak dapat “membaca” sepenuhnya tentang pandemik CoVir ini. Namun yang pasti adalah kita dapat “membaca” apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita, yakni: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39)
Perkataan Yesus di atas berlaku untuk semua konteks humanitas kita. Di sini, kehidupan dan kepedulian menjadi koheren dan menyatu (solid). Dalam kecamuk gelisah dan kuatir, hadir juga kecamuk peduli. Kita terdorong untuk memperlihatkan kepedulian kita kepada yang lain. Doa, bantuan, dan penguatan, adalah bentuk-bentuk kepedulian yang selama ini kita lakukan.
Tentu Tuhan melihat apa yang kita kerjakan. Kita tahu bahwa Tuhan itu menghendaki perbuatan-perbuatan yang demikian. Kita tidak mengharapkan apa-apa supaya terkesan kita “baik dalam pandangan orang lain”, tetapi kita tahu bahwa apa yang kita berikan dengan tulus akan digantikan oleh Tuhan sendiri. Tuhanlah yang menilai dan memberkati kita; Dialah yang menguatkan kita senantiasa agar dapat melakukan kehendak-Nya: mengasihi Dia, mengasihi diri sendiri, dan mengasihi sesama kita.
KEHIDUPAN DAN KEPEDULIAN mengajari kita tentang makna kehidupan. Kita diajar untuk melihat Tuhan sebagai Sang Pemberi Kehidupan, yang dari-Nya kita bergerak dan menikmati segala kemurahan-Nya. Saat kita melihat Sang Pemberi Kehidupan, kita sadar bahwa kita tidak hidup sendiri, ada orang lain yang perlu kita kasihi dan sekaligus kita menunjukkan kualitas iman kita di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
Kita diajar untuk melihat potensi diri kita dan bersyukur bahwa apa yang kita miliki, semuanya karena kemurahan Tuhan. Kita bergerak untuk merealisasikan potensi-potensi itu dalam ruang kepedulian, di mana kita tidak memikirkan untung-ruginya, melainkan karena kita tahu segala perbuatan baik kita lahir dari iman yang Tuhan berikan kepada kita. Kita dapat mengaku, bahwa: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia”.
Kita juga diajar untuk melihat sesama kita yang membutuhkan uluran (pertolongan) tangan kita. Kasih kita kepada Tuhan dan diri sendiri menjadi solid ketika kasih itu juga direalisasikan kepada sesama kita, sebagaimana kita lihat dari perkataan Yesus di atas. Saat kita peduli dan menolong orang lain, kita tidak sedang menghitung berapa banyak kekayaan kita, berapa banyak uang yang kita miliki, melainkan kita menghitung berapa banyak pertolongan Tuhan bagi kita dan karena itu kita harus menolong orang lain.
Di masa pandemik ini, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan, saling mendoakan, saling peduli, dan terus memarcarkan kemuliaan Tuhan melalui tindakan-tindakan kita. Terima kasih kepada mereka yang telah menunjukkan kepedulian yang tulus untuk menolong sesama di masa-masa yang sukar ini. Tuhan senantiasa memberkati kita dan menunjukkan kemurahan-Nya hari demi hari.
Ada pergulatan hidup yang dialami manusia pada umumnya. Pergulatan tersebut tidak hanya pada masa-masa tertentu, tetapi hampir pada setiap waktu dialami dan dilalui manusia. Pergulatan demi pergulatan memaksa setiap manusia yang mengalaminya untuk bertaruh hidup.
Berbagai kesulitan dan ancaman, bahkan hambatan, turut mewarnai pola hidup manusia. Di satu sisi, ada manusia yang merasa semuanya aman karena ia memiliki kekayaan yang besar, penjaga yang siang malam menjaga rumahnya, memiliki rumah mewah, dan fasilitas-fasilitas yang diinginkannya, dipenuhinya.
Di sisi lain, ada manusia yang serba kekurangan, yang merasa takut kehilangan apa yang ada padanya, memiliki pinjaman yang belum terbayarkan. Mereka kesulitan dengan pekerjaannya, ada yang malahan di PHK, dan sederet pergulatan hidup mereka.
Dua kondisi di atas tampaknya mengalami konteks yang sama di masa pandemik Corona Virus (CoVir). Baik kaya dan miskin, dua-duanya harus berjuang melawan CoVir, menjaga protokol kesehatan. Kematian demi kematian melanda manusia secara global karena pandemik ini. CoVir tak mengenal kaya dan miskin; siapa saja yang lengah, imunnya tidak kuat, akan terpapar CoVir.
Ketika kematian melanda, harta dan segala jenis kekayaan menjadi tak berharga sama sekali. Dulu, kekayaan dan harta menjadi kebanggaan, di mata CoVir itu tidak menjadi ukuran kehidupan. Ada yang menjual segalanya untuk memperoleh kesehatan dan kesembuhan; mengorbankan harta dan segala jenis kekayaannya agar ia sembuh. Sementara itu, di tempat lain, ada orang-orang yang sederhana, menanti uluran tangan kuasa Tuhan agar mereka sembuh dari CoVir.
Tak memandang siapa pun, pergulatan hidup di masa pandemik CoVir adalah sebuah fakta yang terpampang di depan mata kita. Ketika kita lengah, kita terjangkit; atau menjadi pembawa virus ke orang lain. Pertaruhan yang cukup menegangkan ini memaksa kita untuk kembali melihat Sang Khalik. Kalau dulu kita mungkin seringkali melupakan-Nya, sibuk dengan segala urusan kita, hampir tak ada waktu untuk berdoa, tak ada waktu berbagi firman Tuhan dengan sesama, kini, justru banyak waktu yang Tuhan sediakan bagi kita untuk berdoa dan merenungkan serta membagikan firman Tuhan kepada orang lain.
Di awal CoVir pada tahun 2020, orang-orang tertentu menggunakan berbagai jenis ayat Kitab Suci untuk menghibur manusia; bahkan ada yang “jualan kecap agama” untuk meraup keuntungan diri (popularitas, dan lain sebagainya). Sekarang, jualan ayat-ayat Kitab Suci bukanlah dasar bagi kita berharap orang lain menjadi kuat dan sembuh, melainkan kepedulian kita berbagi makanan, vitamin, biaya, berdoa bagi mereka, dan lain sebagainya, menjadi dasar iman kita untuk memohon belas kasihan Tuhan.
Ketakutan manusia pun memuncak. Gejala ringan saja langsung divonis CoVir. Batuk dan flu biasa, divonis CoVir. Spekulasi karena terkontaminasi dengan konteks pandemik membuat manusia kadang lupa untuk berpikir bahwa sebelum CoVir, batuk dan flu itu menjadi pengalaman hampir pada setiap orang. Kini, gejala tersebut dicurigai, dan bahkan divonis. Ketakutan manusia dan sikap “sok tahu” menjadi fakta bahwa kita seringkali merasa peduli untuk menetapkan seseorang bahwa ia terpapar CoVir meski hanya mengalami gejala ringan, ketimbang berbagi beras, pisang barangan (dan buah-buahan lain), vitamin C, minuman kesehatan, biaya beli minyak kayu putih, masker, tes antigen, dan lain sebagainya.
Kita terkesan sangat rohani ketika jualan ayat-ayat Kitab Suci untuk disuap kepada mereka yang terpapar CoVir. Padahal, yang dibutuhkan adalah tindakan berdoa bagi mereka, menolong, membantu (meski tak seberapa) mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mereka butuh doa kita; mereka butuh makanan, buah-buahan, dan lain sebagainya.
Pada masa pandemik ini, kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan testimoni dari mereka yang sembuh dari CoVir. Kita tinggal memilih testimoni mana yang mudah bagi kita untuk dilakukan, tidak memberatkan kantong (duit). Kita berjuang untuk sembuh, dan tetap bersukacita karena Tuhan masih memelihara kita. Di balik itu semua, kita perlu menyadari bahwa Tuhan mendidik kita dalam ragam siatuasi dan konteks. Ia menghendaki agar kita mengingat Dia, mengandalkan Dia, dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati.
Bertaruh hidup di masa pandemik sangatlah nyata. Perjuangan untuk tetap sehat dan hidup adalah upaya yang maksimal dilakukan dan diharapkan oleh setiap orang. Di masa ini, kewaspadaan terus ditingkatkan. Sementara beberapa orang menganggapnya sepeleh. Upaya pemerintah untuk menekan angka kasus CoVir terus dilakukan. Kita semua pun harus sadar bahwa pandemik ini sangatlah berbahaya. Jika demikian, kewaspadaan menjalankan protokol kesehatan masih tetap yang utama. Kita harus waspada setiap saat.
CoVir melanda dan tak kenal waktu. Manusia harus membatasi diri: pertemuan, salaman, berpelukan, dan lain sebagainya, harus dihindari. Persebaran CoVir agar tidak meluas adalah upaya kita bersama. Imun tubuh menjadi properti utama diri untuk tetap kuat melawan CoVir. Mereka yang memiliki imun tubuh yang rendah (lemah) rentan terkena CoVir.
Perjuangan untuk tidak terpapar CoVir menandai pergulatan hidup manusia yang ditambah dengan berbagai kesulitan lainnya. Apakah ada harapan dalam hidup kita? Tentu ada! Kita yang masih mempertahankan iman kepada Tuhan, secara konsisten menuangkan iman itu ke dalam gumul juang, kepedulian, doa, dan kasih terhadap Tuhan, diri sendiri, dan sesama kita.
Bertaruh hidup di masa pandemik CoVir adalah perjuangan kita bersama. Kita terus berhadap kepada Tuhan bahwa Ia akan mengakhiri persebaran CoVir ini. Harapan itu harus menjadi landasan hidup kita bahwa segala sesuatu memiliki rencana dan tujuan tersendiri yang disediakan Tuhan bagi kita.
Marilah kita terus saling mendoakan, tetap peduli bukan karena memvonis gejala ringan sebagai CoVir, tetapi peduli berbagi materi, karena yang dibutuhkan sesama kita adalah “barang yang dibutuhkan” bukan vonis yang menjatuhkan.
Yang perlu diingat adalah pertaruhan hidup di masa pandemik adalah perjuangan kita semua. Tetaplah waspada. Jangan lengah. Ikuti protokol kesehatan. Saling peduli, saling mengingatkan, saling menopang dan mendoakan.
Tuhan Yesus memberkati dan melindungi kita semua. Terlebih, Ia menghibur mereka yang berdukacita, kehilangan orang-orang yang mereka kasihi karena CoVir.
Kasih Tuhan selalu hadir dan rahmat-Nya selalu baru tiap pagi. Tetaplah bersyukur dan bergembira karena Tuhan. Hati yang gembira adalah obat yang manjur bagi kehidupan kita setiap hari.
Kasihku, aku tak bisa menahan rasa maafku terhadapmu. Aku berulang kali mengucapkan “maafku” sebagai bukti bahwa aku tidaklah berpikir untuk menyakiti atau melukai perasaan dan hatimu.
Aku melakukan itu semua dengan tujuan “sampai engkau memaafkanku”. Upaya itu telah kulakukan.
Tapi biarlah dirimu yang memutuskannya, memaafkanku atau mengabaikan maafku.
Kasihku, aku tahu hati dan perasaanmu terluka; aku berusaha mengobatinya dengan pertama-tama meminta maaf atas kesalahanku.
Jika hal itu tak dapat mengobati luka di rasa dan hati, aku, sekali lagi: meminta maaf padamu.
Jika tidak cukup juga untuk mengobati luka di rasa dan hati, aku undur diri: aku tak mau lagi mengganggumu; aku tak mau lagi menyakitimu.
Jika “undur diri” ini menjadi pilihan untuk dapat menjadi situasi yang terbaik agar aku dimaafkan, aku merelakannya.
Sekaligus aku hendak bergegas menyendiri, merenungkan kesalahanku terhadapmu yang telah melukai, menyakiti rasa dan hatimu… Akhirnya, kulakukan semua ini “sampai engkau memaafkanku”….
Jika tak termaafkan, aku akan melupakanmu, selamanya….
Bukan maksud hatiku untuk melukai perasaanmu; bukan pula niatku untuk membuatmu merasa sesak dada karena ulah perkataanku. Tidak sama sekali.
Aku tidak sedang berusaha memperlihatkan “kata-kata” dengan tujuan melukai dan menggelisahkan hatimu. Tidak sama sekali. Pada pikiranku, aku hanya bersenda gurau; sedangkan pada pikiranmu, mungkin aku “sengaja” melukai perasaanmu.
Sungguh, aku tidak seperti itu; aku hanya ingin membuat suasana menjadi cair; meski pada akhirnya “kesalahpahaman” yang terjadi.
Jika memang sikapku dan kata-kataku melukai hatimu, “AKU MINTA MAAF”. Maafkanlah aku yang dengan tulus mengungkapkannya kepadamu. Jikalau pun tidak mendapat “apa-apa” dari permohonan maafku, aku tetap menyatakan diriku bersalah atas perkataanku.
Kelemahan-kelemahanku mungkin menjadi “racun” bagimu ketika aku salah menempatkan diri di hadapanmu dan di hadapan banyak orang. Biarlah “racun” itu kembali padaku; aku meminumnya sebagai permohonan maafku yang paling tinggi terhadapmu.
Biarlah aku belajar dari situasi dan fakta ini, yang pada gilirannya aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, tidak lagi melukai hati dan perasaan orang lain, termasuk dirimu.
Maafkanlah diriku.
Permohonan ini pada akhirnya akan menentukan guliran waktu di kemudian hari tentang fakta yang akan terjadi.
Ungkapan maaf pada tulisan singkat di atas adalah contoh yang mungkin pernah kita alami, entah sebagai pelaku yang melukai hati dan perasaan orang lain (sengaja atau tidak sengaja [tidak bermaksud untuk melukai]), atau sebagai orang yang terlukai.
Pernahkah kita melukai perasaan orang lain?
Pernahkah kita melukai hati orang lain?
Pernahkah kita dengan sengaja melukai hati dan perasaan orang lain?
Permohonan maaf adalah tanda kesadaran dan kedewasaan.
Kita belajar dari fakta hidup bahwa kita sering disalahpahami atas ucapan atau senda gurau kita; tetapi biarlah dari fakta itu pula kita ditegur untuk tidak menyinggung perasaan orang lain sebab penilaian dan rasa orang lain terhadap kata-kata kita, belum tentu sama.
Setiap respons terhadap kata-kata kita, tentu berbeda. Jadi, perhatikanlah situasi, kondisi, dan pribadi-pribadi di sekeliling kita, agar tidak menyinggung perasaan dan melukai hati mereka.
Pendidikan adalah bagian koheren dengan proses kehidupan yang di dalamnya tercakup tentang apa dan bagaimana bertahan hidup, merealisasikan karya dan potensi, bertaruh kehidupan dan identitas, memperjuangkan hak dan keadilan, membebaskan diri dari kebodohan, dan masih banyak lagi.
Pendidikan secara signifikan menempati ruang hidup manusia dalam banyak konteks. Dengan pendidikan, agenda hidup manusia dapat diwujudkan. Ada ruang-ruang kosong yang harus diisi oleh pendidikan. Gerak pendidikan cukup ekspansif, dan secara global, pendidikan tidak dapat diabaikan begitu saja; pendidikan tidak boleh dibelenggu oleh unsur politik dan agenda buruk lainnya. Tumbuh kembang perekonomian suatu negara tidak lepas dari peran pendidikan. Pengembangan teknologi dan informasi juga menjadi bagian koheren dengan pendidikan itu sendiri.
Manusia berlomba-lomba mendapatkan pendidikan, memperjuangkan hak-hak pendidikan, bekerja untuk pendidikan, dan mengembangkan pendidikan. Di satu sisi manusia mengupayakan adanya sistem pendidikan bermutu, dan di sisi lainnya, manusia tidak cukup memadai untuk mendidik dan atau mengembangkan sistem pendidikan. Kolaborasi antara mekanisme akademis dengan potensi humanitas menjadi “syarat utama” bagi terwujudnya pendidikan yang bermutu.
Pula, relasi dan komunikasi dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan pendidikan di berbagai bidang. Sejatinya, pertemuan dan perpaduan antara akademis, potensi (terkait dengan karya dan keahlian tertentu), relasi, dan komunikasi menjadi peluang bagi kita untuk mengembangkan dan memperkuat sistem pendidikan. Kita dapat menerapkan berbagai konteks di lingkungan masing-masing untuk memperkuat sistem sosial-kemasyarakat, relasi antar ras dan budaya, relasi humanitas dan religiositas, dan lain sebagainya.
Bangunan pendidikan perlu melihat pada cara meramu tujuh bahan berikut ini: pertama, prisip dasar (setiap momen membangun pendidikan, perlu sekali dimulai dari prinsip dasarnya: apa dan bagaimana membangun pendidikan, dan dipadukan dengan hal-hal fundamen lainnya untuk mengokohkan serta mendorong terwujudnya nilai, visi, dan misi pendidikan); kedua, prinsip konseptual (merancang konsep-konsep untuk memulai pembagunan pendidikan); ketiga, prinsip kerja sama tim; keempat, prinsip manajemen; kelima, prinsip relasional (perlu menciptakan dan mengupayakan relasi internal maupun eksternal); keenam, prinsip komitmen (mencapai tujuan); dan ketujuh, prinsip pengembangan (merencanakan apa yang akan terus dilakukan bagi kemajuan pendidikan).
Dari bahan di atas, kita dapat menambahkan hal-hal yang kontekstual untuk memberikan penguatan internal dan eksternal sebab setiap lokus memiliki tantangan, keuntungan, peluang, dan hambatan yang berbeda-beda. Tetapi tujuh bahan di atas merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan dengan sebaik mungkin.
Dalam skema global, kita melihat bahwa dunia pendidikan adalah dunia di mana konsep, konteks, dan konten (isi), merupakan kesatuan yang saling mengikat dan keluar secara bersamaan dalam prosesnya. Beberapa kata (dalam bahasa Belanda) berikut ini adalah suplemen optatif dari konsep, konteks, dan konten pendidikan, di mana pendidikan dapat terwujud secara nyata dan komprehensif:
voortduwen (mendorong ke depan),
voorthelpen(membantu terus untuk maju),
wanten (memperbaiki),
zwoegen (berjerih payah),
uitzettingsvermogen (daya muai [daya mengembangkan keilmuan]),
Bekerja adalah sebuah tindakan. Tindakan adalah sebuah usaha. Usaha untuk bekerja menghasilkan sesuatu adalah sebuah tujuan. Tujuan dapat dicapai dengan bekerja keras. Bekerja keras biasanya membutuhkan sebuah prinsip hidup dan prinsip kerja. Itulah pencapaian tertinggi dalam hidup manusia.
Kita perlu berhati-hati dalam bekerja. Lingkungan kerja akan mempengaruhi cara kita bekerja. Cara bekerja bergantung pada ‘cara berpikir’. Cara berpikir dipengaruhi oleh apa yang telah ‘dipelajari’ seseorang. Konten ‘belajar’ dipengaruhi oleh pendidikan, sekolah, sahabat, dan komunitas. Baik buruknya cara berpikir dan tindakan seseorang bergantung pada pendidikan, sekolah, sahabat, dan komunitas
Kita bekerja adalah baik, jika kita memiliki kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang dipercayakan kepada kita tanpa mudah dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang tidak mendukung cara kita bekerja. Bahayanya adalah ketika kita menyesuaikan integritas kerja untuk memuaskan seseorang yang kita anggap lebih tinggi jabatannya dari kita, lebih banyak kekayaannya dan lain sebagainya. Tindakan menyesuaikan integritas kerja adalah penyelewengan prinsip diri atau dasar kerja manusia.
Integritas itu ada dalam diri kita dan tidak perlu dikorbankan meskipun kita berada dalam berbagai situasi, kondisi, jabatan atau kedudukan. Secara sederhana integritas berarti kejujuran, ketangguhan. Dalam pemahaman yang lebih luas, integritas diartikan sebagai jujur dan bermoral. Dalam pemahaman Alkitab integritas dapat disimpulkan sebagai: berlaku ramah (tidak menciptakan permusuhan, tidak mencari musuh, tidak mendendam, mandiri (tidak berusaha untuk menyusahkan orang lain atau membebani orang lain), saleh (spritualitas, mengutamakan Tuhan dalam segala hal, menunjukkan jati diri yang sesungguhnya, tidak membauri dirinya dengan dua bidang spiritul [baik dan jahat], tahu membedakan antara yang baik dan jahat), adil (etika, memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang dilakukan kepada kita, tahu diri), tak bercacat (moralitas, pikiran dan mulut konsisten, mengeluarkan kata-kata yang baik, tanpa memfitnah orang lain), dan berani menasihati (kapabilitas, menasihati atau menegur orang lain yang telah berbuat salah, mengetahui kesalahan orang lain dengan benar tanpa ada asumsi negatif yang mendahuluinya).
Dalam hal integritas, ada dua hal yang perlu dipahami: pertama, menggunakan integritas dalam bekerja, dan kedua, bekerja dengan integritas.
Hal pertama, menggunakan integritas dalam bekerja adalah mereka yang memiliki integritas dan dipanggil Tuhan untuk bekerja (atau tindakan lainnya). Mereka harus belajar memahami ‘KERJA’ yang sesungguhnya. Tidak ada kesulitan yang cukup berarti bagi mereka yang telah memiliki integritas untuk bekerja. Integritas itu dapat langsung melebur dalam pekerjaan seseorang.
Hal kedua yakni bekerja dengan integritas adalah mereka yang bekerja untuk menghadirkan integritas sehigga sebuah pekerjaan dapat menumbuhkan hal-hal baru yang didapatkan yang lain dari pada bekerja tanpa integritas. Bekerja tanpa integritas menjadikan seseorang ‘tidak dipercaya’. Ada cukup kesulitan bagi mereka yang mau belajar berintegritas. Integritas itu harus dikejar dan diusahakan.
Banyak orang yang mampu bekerja tapi tidak semua yang memiliki kejujuran dan moralitas yang baik di hadapan Tuhan dan manusia. Bekejar dengan integritas mendorong kita semua untuk bekerja dengan ‘arah’ yang jelas dengan prinsip moralitas dan spiritualitas yang kuat. Bekejar dengan integritas berarti apa pun yang dialami sebagai orang Kristen, kita tetap menunjukkan jati diri yang tetap, tidak berubah meski tawaran harta dan materi sudah di depan mata. Ia tidak mengorbankan integritasnya hanya karena tawaran uang, harta, jabatan, dan sebagainya. Mereka yang tidak berubah integritasnya adalah mereka yang ‘konsisten’.
Bekerja dengan integritas berarti berlaku ramah, jujur, mandiri, saleh (spritualitas), adil (etika), tak bercacat (moralitas), dan berani menasihati (kapabilitas). Bekerja dengan integritas berarti apa yang dipercayakan oleh Tuhan harus dilakukan dengan sepenuh hati.
Mengorbankan integritas untuk menyenangkan seseorang adalah tindakan membunuh diri sendiri sejenak untuk kepuasan sementara. Mengorbankan atau menyesuaikan integritas untuk menyenangkan seseorang bisa membuka peluang bagi diri kita untuk diperalat, ditipu atau dikhianati oleh orang yang disenangkan. Menyesuaikan dan mengorbankan integritas kita untuk menyenangkan orang lain biasanya melupakan atau mengesampingkan “etika”, “hormat”, “kebaikan orang lain” dan lebih melancipkan ‘kekurangan orang lain’ atau ‘memburukkan nama baik orang lain’ meski ia sendiri tidak mendapatkan klarifikasi atau informasi yang berimbang.
Kita menghormati dan menghargai orang yang akan kita senangkan sejauh kita dapat memuaskan berbagai tuntutan yang diminta oleh mereka dan kita membiarkan diri kita menerimanya demi “kesenangan” yang akan kita berikan kepadanya. Rasa hormat dan menghargai mereka hanya dijadikan alasan utama di saat kita menjalani apa yang mereka mau, meskipun kadang kita diminta untuk tidak menghargai orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita.
Kita seharusnya tahu bahwa apa yang kita kerjakan adalah bagian dari apa yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Menertibkan atau mendisiplinkan diri dalam bekerja akan mendidik diri kita dan pikiran serta sikap kita menjadi seorang pribadi yang mandiri, yang berintegritas dan berdedikasi – terlebih ia menjadi seorang yang tahu diri di mana ia berada.
Berintegritas berarti ‘menghargai’ diri sendiri, ‘menghargai’ pimpinan, ‘menghargai’ waktu bekerja, ‘menghargai’ aturan atau hukum kerja dan menghargai kualitas kerja yang kita miliki.
Menyenangkan orang lain adalah hal yang baik. Tetapi “baik” itu bergantung pada natur dari “tindakan menyenangkan” tersebut. Seorang suami harus menyenangkan istrinya, demikian sebaliknya. Seorang bawahan harus menyenangkan atasannya, demikian sebaliknya. Seorang budak harus menyenangkan majikannya, demikian sebaliknya. Akan tetapi, tindakan menyenangkan antara bawahan dan atasan, antara budak dan majikannya, secara natur sangatlah berbeda. Berbeda karena adanya pembedaan status, kedudukan, kekayaan, tingkat pendidikan, strata hidup dan sebagainya yang dapat dibedakan.
Kadang-kadang tindakan menyenangkan dapat melampaui batasnya – di mana harga diri, norma-norma, keluarga, jabatan, kedudukan, kekayaan juga dapat menjadi korbannya. Menyenangkan orang lain ada jalurnya. Jalur tersebut diikat oleh natur manusia, natur hukum, natur hidup dan natur hidup manusia. Seseorang yang menyenangkan orang lain seringkali dilakukan dengan cara-cara yang layak. Dan itu benar. Tetapi yang menjadi persoalannya adalah ketika seseorang menyenangkan orang lain dengan cara yang tidak layak – atau dengan kata lain, ia rela melakukan apa saja asalkan orang itu senang. Dari pernyataan tersebut, tersirat maksud untuk menghalalkan segala cara – apa pun itu, jika orang itu senang, maka saya akan melakukannya dengan segala risiko yang ada.
Integritas yang disesuaikan menandakan bahwa seseorang itu tidak memiliki prinsip integritas diri atau tidak mempunyai landasan hidup secara benar di hadapan Tuhan. Di samping itu, seseorang itu sebenarnya mencari muka atau “menjadikan” dirinya taat dan patuh pada pemimpin yang sifatnya sementara. Orang seperti ini adalah orang yang munafik tapi strategis.
Menyesuaikan integritas kepada seseorang atau orang lain bukanlah ciri khas dari seorang yang berintegritas tinggi. Orang yang berintegritas tinggi adalah orang yang menyatakan integritasnya dalam segala situasi dan kondisi meskipun situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Orang yang mencari muka adalah orang yang tidak akan bertahan lama – dan ia pun akan menuai apa yang ia kerjakan.
Integritas tidak perlu disesuaikan dengan kemauan dari seseorang tertentu tetapi pada hukum dan aturan yang mengikat dalam suatu instansi atau organisasi apa pun. Menyesuaikan integritas adalah tindakan yang menghasilkan pujian sementara – dan kemudian ia akan ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya. Seperti yang dikatakan oleh penulis Amsal, “Duri dan perangkap ada di jalan orang yang serong hatinya; siapa ingin memelihara diri menjauhi orang itu.”
Integritas yang disesuaikan adalah sesuatu yang pasif karena seseorang mau atau rela menyesuaikan integritas atau apa yang dipunyai berkenaan dengan cara kerjanya kepada seseorang yang lain yang adalah lebih tinggi dari jabatannya sehingga ia dapat dianggap sebagai orang yang taat pada aturan dan kepada pemikiran seseorang itu – ia dianggap sebagai budak kerja, karena seorang budak, mau tidak mau, ia harus taat dan patuh sepenuhnya kepada tuannya atau majikannya.
Integritas kita tidak perlu disesuaikan dalam konteks tertentu. Integritas itu perlu diterapkan dalam segala situasi, kepada siapa saja, dalam pemikiran apa pun dan dalam segala sesuatu.
Kita sebagai orang Kristen perlu menerapkan integritas dalam tujuannya untuk menembusi segala batasan pekerjaan, batasan waktu, batasan jabatan atau kedudukan, batasan jam kerja dan batasan-batasan lainnya yang akan mempengaruhi integritas kita.
R. C. Sproul pernah mengikuti pengajaran dari seorang profesor tentang Paulus. Berkenaan dengan hal itu, Profesor itu menjelaskan bahwa: “Orang-orang yang menyesuaikan integritas mereka untuk memuaskan hati orang lain, tidak melalukannya karena mereka mengasihi orang lain. Mereka melakukan hal itu mungkin karena takut terhadap orang lain atau ingin agar orang lain mengasihi dirinya.” ( R. C. Sproul, Sifat Allah: Mencari dan Menemukan Allah, [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011], 178).
Integritas pada prinsipnya adalah ‘kita tidak membengkokan sifat, jati diri, kejujuran, dan moralitas kita untuk menyesuaikan diri dengan orang lain yang tidak beres, penipu, pemfitnah, pelaku kejahatan, sombong, tamak akan uang dan harta, dan yang jauh dari Tuhan. Milikilah integritas sebab integritas merupakan hal yang sulit dicapat, sulit dipertahankan, di tengah zaman yang sulit ini, zaman di mana kejahatan dan kenikmatan dunia bebas terbang ke sana ke mari. Mereka yang ‘tahu diri’ bahwa mereka adalah ‘hamba Tuhan’ adalah mereka yang pertama menciptakan dan mempertahankan integritas secara konsisten dan tidak ‘mengubah dirinya’ untuk menyenangkan orang lain.