MORALITAS DAN AGAMA

Dalam tataran tertentu “agama” mendorong sebuah konteks moralitas yang “baik” berdasarkan kitab sucinya. Titik lemah dari manusia adalah salah memahami konteks tertentu di salah satu zaman dan kemudian menerapkannya pada konteks kini. Di satu sisi, manusia senang dengan agamanya, dan sisi lain manusia benci dengan orang seagamanya karena ulah dan moralitasnya yang sangat buruk. Tidak didapati teladan yang baik padanya.

Teladan adalah hal yang signifikan dalam kehidupan beragama. Tetapi bukan “teladan” dalam berbuat jahat, bukan teladan memaki-maki orang dan merasa paling suci—padahal moralitas dan mulutnya tidak sejalan. Agama kadang “menghalalkan” membunuh demi nafsu dan maksud menutupi segala macam dosa yang dilakukannya, dan dirasa bahwa itu dilakukannya bagi Tuhan yang dipercayainya.

Pembenaran-pembenaran diri sering muncul dengan menampilkan sejumlah teks kitab suci sehingga orang mengira bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhannya. Bahkan, para pelaku pembenaran diri pasca berbuat kejahatan, merasa senang karena telah berhasil menipu banyak orang. Kesenangan “merasa benar dan paling suci sendiri” di satu sisi, tetapi melupakan sisi lainnya adalah kondisi yang sering terjadi dari zaman ini. Agama menjadi “senjata” pembenaran diri dan kemunafikan menjadi “perisai” untuk menutupi dosa yang dilakukan.

Tak jarang, pembunuhan terjadi di mana-mana. Dan semuanya memiliki konteksnya masing-masing. Ada berbagai motivasi yang melatarinya, entah baik, entah buruk. Hanya pelakunya yang mengetahui apa motiv di balik tindakannya. Dalam sejarah agama-agama, setiap tindakan memiliki konteksnya. Tidak serta-merta seseorang melihat konteks zaman dulu (dalam agamanya) lalu secara gegabah menerapkannya di zamannya. Perlu dicatat bahwa yang diambil dari sejarah lampau adalah makna dan pesannya: pesan moralitas dan spiritualitas, sebuah makna bahwa relasi manusia dengan Tuhan akan berimbas kepada relasinya dengan manusia.

Kalau relasi seseorang dengan sesamanya begitu buruk, apakah relasinya dengan Tuhan sangat baik? Kalau keinginan hati seseorang hanya mau merusak tatanan yang ada, apakah relasinya dengan Tuhan menjadi baik? Kadang manusia memakai “Tuhan” untuk membenarkan tindakan yang dilakukannya. “Atas nama Tuhan” adalah slogan menipu dan buta ketika tindakan yang dilakukan seseorang begitu buruk, jahat, dan justru menunjukkan perangai yang brutal. Jika Tuhan Mahabaik, maka kebaikan-Nya diwujudkannyatakan dalam kehidupan manusia dan di situlah manusia merefleksikan kebaikan Tuhan. Lalu untuk apa manusia masih saling membenci dan mencaci-caci? Bukankah yang harus dibenci oleh manusia adalah dosa-dosa yang meracuni dan membelenggunya?

Moralitas dan ajaran agama sudah tidak sejalan. Kadang, kesalahan menafsir digunakan sebagai pembenaran diri—dan pada akhirnya, dosa jalan terus, kejahatan semakin tumbuh subur, dan kemunafikan dipelihara sebagai anak di luar pernikahan: pertemuan antara nafsu liar dan kemanafikan berbalutkan rohani. Sungguh menyedihkan kondisi manusia ketika dosa merajai hati dan pikirannya. Pikirannya melahirkan dusta, sumpah serapah, dan kesombongan. Mending kebaikan yang dilahirkannya setiap hari, malahan kebencian, kesombongan, dan hawa nafsunya yang dilahirkannya.

Manusia kadang mengalami gangguan mental “Paralogisme”—sebuah kesesatan bahwa manusia tidak tahu bahwa ia berada dalam kesasatan. Ia bangga dalam dosa, ia puas dalam kebodohannya (ignorance is satisfaction) ia puas dengan kesesatannya (fallacy is satisfaction). Tersesat dalam pikiran akan melahirkan perbuatan-perbuatan jahat, merasa ajaran agama paling benar secara persepsi, tetapi moralitasnya sangat buruk. Keyakinan akan ajaran yang benar tentulah harus didukung oleh moralitasnya. Agama dan moralitas adalah dua hal yang koheren dan signifikan.

Dalam fakta yang terjadi, ada orang-orang yang salah memahami iman Kristen. Memang, beberapa kasus yang terjadi di kalangan Kristen sangatlah memalukan. Tetapi Alkitab sangat jelas mengajarkan tentang hidup kudus di hadapan Allah dan manusia, menjaga diri dari segala kemunafikan, hidup selaras dengan firman-Nya, menjauhkan diri dari segala hawa nafsu, percabulan, dan lain sebagainya. Intinya, segala macam dosa dan kejahatan dilarang oleh Allah, dan orang-orang percaya harus mematikan dalam dirinya segala jenis “keinginan daging” yang berlawanan dengan kehendak-Nya.

Kristen menunjukkan moralitas yang tinggi sebagaimana yang Yesus ajarkan: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka menganiaya kamu”. Ajaran ini tidak dapat dilakukan oleh agama yang hanya bermodal pedang dan perang. Mengapa Yesus memerintahkan demikian? Kita harus tahu bahwa Tuhan menyukai kedamaian, dan Ia senantiasa mengarahkan manusia untuk hidup dengan dan dalam damai. Akan tetapi, selalu ada saja yang membuat keributan. Yang membuat ribut itu adalah manusia yang kurang berpikir dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Ketika kejahatan dibalas kejahatan maka keributan, pembunuhan, dendam akan terus ada, muncul (lahir), menikah, hamil, melahirkan, dan seterusnya hingga akhir zaman. Yesus menghentikan kejahatan dan dosa jenis ini. Ia mau, mereka yang percaya kepada-Nya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan mendoakan mereka (musuh) sebab doa adalah senjata yang paling mematikan dan paling mengubah manusia.

Doa adalah tindakan tanpa biaya, tanpa kekerasan, dan tanpa dendam atau kebencian. Moralitas jenis ini hanya ditemukan dalam pengajaran Yesus. Dengan demikian agama Kristen adalah warisan dari pengajaran Yesus yang telah menebus umat-Nya agar mereka menerapkan kasih dan pengampunan bagi musuh-musuh yang membenci, terlebih mendoakan mereka. Soal mematikan atau mengubahkan musuh-musuh Kristen, itu adalah urusan Tuhan Yesus.

Terapkanlah moralitas yang sesuai dengan ajaran Kitab Suci kita. Janganlah menabur kebencian jika tidak ingin menuai kematian dan malapetaka; jangan menabur fitnah dan tipu muslihat jika tidak ingin menuai bencana yang sama; dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan kalahkanlah kejahatan dengan melakukan berbagai kebaikan.

Kedamaian dan moralitas hanya dapat ditaburkan oleh mereka yang telah mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan. Siapakah dari kita yang tidak berdosa? Tuhan sudah mengampuni kita dan Ia begitu mengasihi kita. Tidak ada lagi kebencian dan dendam ketika Tuhan sudah bertakhta di hati kita. Moralitas dan agama memang koheren, tetapi jangan sampai dosa yang dilakukan ditutupi dengan modal celoteh agama agar kelihatan suci dan bersih di luar.

Sudahkah kita mengalami hidup bersama Tuhan? Sudah kita yakin bahwa Tuhan telah mengampuni dan mengasihi kita? Kiranya kasih dan kemurahan Tuhan melingkupi hidup kita dan menjadi saksi moralitas sesuai ajaran-ajaran Kitab Suci.

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/165155511321308342/

KITA DAN TUHAN: Faset, Konteks, dan Problem Hidup

Sumber gambar: andreaschristanto.com/wp-content/uploads/2019/10/IMG_0732.jpg

Kita diperhadapkan dengan berbagai faset kehidupan, sekaligus konteks dan problemnya masing-masing. Faset-faset, konteks, dan problem adalah “jembatan” yang terhubung dengan Tuhan. Dalam guliran waktu, kita menampilkan berbagai gaya hidup, menampilkan potensi diri, menampilkan kesombongan akademis, kegalauan atas sesuatu hal, menampilkan relasi yang kuat, menampilkan kepiawaian menipu dan menebar fitnah tentang orang lain, sehingga “jembatan” yang kita bangun sendiri akan memberi “rasa hidup” yang berpotensi membuat kita “dihargai”, “dihindari”, “dicaci maki”, “dihormati”, “dikagumi”, “disanjung [dipuji]”, “dibuang”, atau hal-hal lainnya yang selaras dengan apa yang kita taburkan dalam proses hidup.

“Kita dan Tuhan” adalah fakta bahwa semua jembatan yang kita bangun akan memperlihatkan jati diri kita sendiri untuk dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sedapat mungkin kita berjuang dan bekerja keras untuk menghasilkan segala sesuatu agar jembatan-jembatan hidup dapat terjaga dengan baik. Kita yang membangun, kita pula yang menjaganya.

Dengan berkaca pada faset-faset kehidupan, seyogianya kita menarik berbagai kesimpulan untuk melandasi langkah-langkah juang untuk mencapai tujuan. Kita terdorong untuk melihat dan memaknai hidup agar relasi, komunikasi, dan ekspansif iman, tersalurkan semuanya ke dalam ragam hidup. Kita berelasi tidak hanya dengan sesama, tetapi juga—secara khusus—dengan Tuhan melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Kita berkomunikasi tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan Tuhan melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Dan kita mengekspansikan iman kita yang didasarkan pada relasi dan komunikasi tadi.

Sebagaimana kita diperhadapkan dengan berbagai faset, konteks, dan problem kehidupan, maka pilihan-pilihan yang harus kita ambil akan berdampak pada masa depan kita yang mencakup relasi, komunikasi, dan ekspansif iman. Sejatinya Tuhan telah memberikan kepada kita ragam potensi yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya, dan dengan potensi itu pula kita memelihara jembatan yang telah kita bangun.

Sumber gambar: andreaschristanto.com/wp-content/uploads/2019/10/Screenshot_616.jpg

Ada masa di mana kita akan mengeluarkan potensi diri kita. Biasanya, ini dilakukan karena adanya pertaruhan hidup, akademis, teologi, pelayanan, denominasi, karya, relasi, komunikasi, dan ekspansif iman. Di dalam potensi kita bersinar dan sinar itu akan menerobos berbagai perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, dan geografi. Hasil dari potensi memiliki pengarah lokal, nasional, atau internasional, maupun global.

Kita telah menikmati atau akan menikmati segala hasil dari potensi yang diberikan Tuhan kepada kita. Jembatan yang telah dibangun harus tetap dijaga dan dipelihara. Faset, konteks, dan problem adalah bagian yang tak terpisahkan dari kembara iman kita. Jembatan yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah wajah iman yang di dalamnya kita jatuh dan bangun.

Selalu tersedia harapan, entah di dalam faset, konteks, atau pun problem. Harapan itu menavigasikan relasi, komunikasi, dan ekspansif iman. Kita dan Tuhan menandaskan kehidupan yang terberkati, terjalin indah, termaknai. Kita meresap semua kasih, kebaikan, dan kemurahan Tuhan, dan resapan itu membuat hidup kita berkenan kepada-Nya: hidup kudus dan mengasihi, serta melayani Dia dan sesama.

Kita dan Tuhan menyadarkan kita bahwa Tuhan senantiasa memberkati orang-orang yang setia dan bersandar pada-Nya dalam segala situasi. Tuhan menerima kita bukan karena kita hebat, tetapi karena Ia mengasihi kita dan memampukan kita untuk melakukan yang terbaik, yang berkenan kepada-Nya, dan melakukan hal-hal yang menopang masa depan kita.

Faset, konteks, dan problem hidup dapat mendewasakan kita. Semua jembatan hidup dapat dilalui dengan kebesaran hati dan harapan kita. Ia akan selalu menopang dan menyertai kita tatkala kita serius (sungguh-sungguh) memancarkan potensi-potensi diri. Jangan menyimpan ataupun mengubur potensi-potensi yang telah Tuhan berikan. Kita harus tahu mempergunakan dan mengembangkan potensi. Dari situlah terpancar jati diri kita. Kemudian kita menjadi pribadi yang rendah hati, dan bukan menjadi tinggi hati.

Ada kalanya kita berhadapan dengan tantangan yang lebih besar. Dari situ pun kita tahu bahwa Tuhan tak akan membiarkan kita melainkan memampukan kita untuk menghadapinya dan keluar dari tantangan tersebut. Tantangan yang besar sering berbarengan dengan cara Tuhan mendidik dan membentuk kita menjadi pribadi yang kuat dalam iman dan memiliki harapan di dalam kuasa-Nya.

“Kita dan Tuhan” adalah sebuah fakta yang menyadarkan kita bahwa hanya di dalam dan bersama Dialah kita teguh berdiri menghadapi faset, konteks, dan problem hidup. Dari-Nya kita mendapatkan ketenangan, kekuatan, dan harapan, bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari pemeliharaan-Nya, didikan-Nya, dan keadilan-Nya.

Salam Bae…

IDENTITAS KRISTEN: Realisasi Pemikiran dan Tingkah Laku

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/560135272411309605/

Selain pemikiran, tingkah laku adalah koheren dengan karakter seseorang. Pemikiran seseorang menjembatani dirinya dengan konteks relasi terhadap Tuhan, alam (lingkungan), budaya, agama, humanisme, teologi, iman, pengharapan, pendidikan, ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan tertentu (filsafat, dan lainnya). Melalui pemikiran, karakter seseorang dapat dipahami; sedangkan tingkah laku seseorang menambah konfirmasi dan kekuatan dari karakter seseorang hingga tampak ke permukaan secara faktual, samar-samar, hipokrit, atau misterius.

Pemikiran biasanya lebih menonjol ketimbang tingkah laku. Bahkan, tak jarang kita lebih memperkenalkan pemikiran seseorang ketimbang apa yang menjadi tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemikiran memang lebih asyik dipikirkan. Lebih dari itu, hampir semua studi kritis atau analisis selalu terkait erat dengan buah pemikiran seseorang, sebut saja Plato, Aristoteles, dan lain sebagai. Dalam dunia teologi, pemikiran menempati tingkat atas dibanding tingkah laku seseorang. Patut diakui, memang kita lebih sering menyebarkan pemikiran dan bukan tingkah laku. Ada yang tak mau peduli dengan tingkah laku seseorang, yang penting pemikirannya di atas segalanya.

Fakta sebaliknya, ada orang-orang yang berusaha untuk meneladani tingkah laku seseorang ketimbang pemikirannya. Baik yang mengunggulkan pemikiran maupun tingkah laku, semuanya tergantung pada apa yang menjadi realitas pemikiran dan tindakan seseorang. Pemikiran hanyalah sebuah pemikiran jika tidak menyentuh wilayah pribadi, relasi, dan harapan di masa depan. Banyak orang berlomba-lomba untuk mencapai harapan di masa depan dengan berpijak pada semua pemikiran atau tingkah laku. Seolah-olah, pemikiran dan tindakan tidak dapat dipisahkan. Bukanlah untuk menjadikan pelita tetap menyala, kita harus menyediakan minyak? Lihatlah kisah tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh dalam Matius 25:1-13.

Orang boleh berpikir untuk menentukan apa-apa saja yang akan dicapai di masa mendatang. Akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan tindakan (tingkah laku), maka belum tentu atau bahkan tidak dapat diwujudkan apa yang menjadi capaian (target) yang ditetapkan. Itu berarti, ada keseimbangan antara pemikiran dan tindakan. Bertindak adalah langkah terbaik dari sebuah pemikiran, dan sebuah pemikiran mendorong terjadinya tindakan untuk mewujudkan apa yang dipikirkan.

Orang Kristen yang sejati adalah pribadi yang memahami identitasnya, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Identitas, dalam pandangan umum merupakan salah satu dari sekian banyak ketubuhan hidup, nilai etis-relasional, etis-edukasional, dan etis-spiritual, yang paling dibutuhkan dan dianggap krusial. Betapa tidak, identitas seseorang akan memberi nilai kepada dirinya sendiri, memberi kekuatan kepercayaan dalam sebuah komunitas masyarakat mikro maupun makro.

Dalam konteks ini, identitas seseorang memainkan peran penting bagi keberlangsungan hidup, bahkan sistem kepercayaan seseorang. Memahami identitas kita bukanlah merupakan perkara elusif (yang sukar), sebab setiap orang pasti tahu siapa dirinya sendirinya karena ia adalah makhluk yang berpikir. Identitas adalah bersifat inheren (berhubungan erat) dengan personalitas manusia. Jika ia inheren, maka tentu dapat dipahami dan diterapkan.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa pemikiran dan tingkah laku saling terkait dan harus seimbang, maka identitas Kristen menancapkan kedua hal tersebut sebagai realisasi iman yang benar. Ada bagian-bagian yang harus diisi, dikembangkan, dan diwartakan. Sejatinya, baik pemikiran maupun tingkah laku ada bagian-bagian yang harus diisi pada tempat yang seharunya (hidup, relasi, pekerjaan, pelayanan, dan lain sebagainya), yang harus dikembangkan agar dapat memberi rasa pada hidup, relasi, pekerjaan, dan pelayanan, dan harus diwartakan sebagai bagian dari “peyorasi hayati” yaitu “hidup yang dulunya jauh, terpisah dari Tuhan, kita menjadi hidup yang baik, menyenangkan Tuhan“. Ini merupakan suatu “konasi” – yaitu bagian dari kehidupan manusia yang mengandung usaha untuk memperbaiki tingkah laku yang buruk menjadi baik, sebagaimana yang ditegaskan Alkitab: “Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efesus 4:21-24).

Realisasi pemikiran dan tingkah laku adalah identitas Kristen yang paling jelas untuk dinilai dan diteladani. Keselarasan antara pikiran dan perbuatan adalah hal yang dikehendaki Tuhan. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang tertentu yang pemikiran dan tingkah lakunya tidak sejalan. Pada kasus ini, Yesus memberi solusi yang paling bijak: Ikutlah ajaran mereka, dan jangan ikuti tingkah laku mereka”. Jika kita menemukan orang yang konsisten antara pemikiran dan perbuatannya, mengapa kita tidak meneladaninya? Itu pasti lebih baik, bukan?

Yesus adalah Teladan yang sempurna. Apa yang Ia katakan, dilakukan-Nya dengan konsisten. Kita yang telah meneladani Yesus, dapat mewariskan teladan-Nya kepada generasi-generasi mendatang. Identitas Kristen harus menjadi “trending topic” di segala zaman dan waktu. Jangan berhenti menjadi “Kristen” – jangan berhenti menjadi pribadi yang benar di hadapan Tuhan. Kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan, hambatan, dan godaan. Namun, apa pun situasi dan kondisinya, identitas kita yaitu merealisasikan pemikiran dan perbuatan haruslah menjadi “persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan”.

Kiranya kita dimampukan oleh Yesus Kristus untuk merealisasikan identitas kita. Niscaya, nama-Nya dipuji dan dimuliakan. Ialah yang harus menjadi pokok puji-pujian kita, penyembahan, dan pengagungan, selamanya. Apa yang telah Tuhan berikan kepada kita harus dengan bijaksana ditampilkan secara kredibel di depan semua orang, tampil bersinar bak bintang-bintang di langit. Bukankah Yesus pernah berkata: “Kamu adalam garam dan terang dunia?”

Salam Bae…

TEOLOGI BERCELANA DAN TAK BERCELANA

Sumber gambar: 1.bp.blogspot.com/-RzJ-_eTHDk8/UPpzdXoOL6I/AAAAAAAAAgw/RaIpRzGnm4k/w1200-h630-p-k-no-nu/No-Pants-Subway-Ride.jpg

Fenomena berteologi marak terjadi di sepanjang sejarah dan zaman. Fakta ini mengindikasikan bahwa proses berpikir dan berespons terhadap sesuatu yang bersifat teologis (dengan faset-fasetnya) begitu diminati. Ini patut diacungi jempol. Akan tetapi, soal “pengaruh” dan kekisruhan serta penilaian terhadap teologi tidak berhenti pada tataran pemikiran dan proses logis dari merangkum semua nuansa teologisnya, melainkan dilanjutkan pada tataran perilaku (moralitas) atau perbuatan nyata.

Keselarasan kata dan perbuatan menjadi identik dengan bagaimana seseorang berpikir dan bertindak. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena dualisme hasil atau pengaruh dalam berteologi menjejaki proses kehidupan seseorang, yaitu antara berkata (berpikir) tanpa bertindak dan berkata disertai (dibuktikan) dengan perbuatan sangatlah mencolok. Kita memperlihatkan diri kita sekaligus diperlihatkan tentang diri orang lain untuk dinilai, diteladani, dan dihindari (dibenci).

Pesona teologi dan berteologi menampilkan ragam makna. Ada yang tampak merona tapi tidak ada kekuatan substansi doktinal. Ada teologi yang tampak biasa tapi kedalaman doktrinalnya sangatlah mantap. Ada yang merana dengan teologinya; dan ada yang terpanah dengan teologi orang lain. Merona, jiwa merana, kekosongan moralitas dan spiritualitas, bertumbuh dalam iman, sukacita menjalani hidup, tabah menghadapi pergumula dan penderitaan, semuanya adalah hasil “teologi” dan “berteologi”.

Orang-orang Kristen yang hanya memiliki teologi merona tanpa isi yang solid, akan menjadikan jiwa mereka merana, menderita selamanya. Mereka yang di satu sisi bicara tentang Tuhan dan di sisi lain menghina sesama dan mengeluarkan sumpah serapah, ibarat seseorang yang setelah mandi lalu lupa pakai celana. Memang teologi merona terlihat sangat mempesona, tetapi ketika lupa “pakai celana” setelah “buka celana” yaitu mengumbar aib teologi yang tidak beres, maka hasilnya menyedihkan.

Teologi yang beres adalah teologi yang bercelana; ya, celana yang terbaik, dibeli dengan hasil kerja keras yang jujur dan kredibel. Teologi yang buruk adalah teologi yang ingin terlihat merona, tetapi sayang “tanpa celana.” Berteologi berarti kita tahu apakah kita terlihat menggunakan “celana” atau “tanpa celana dan busana” (lalu menuduh orang lain mencuri “celana”).

Berhatilah-hatilah ketika berjalan, karena saat berjalan kita sedang menampilkan gaya berteologi melalui sikap (perbuatan), pemikiran, dan perkataan. Jangan sampai kita terlihat tanpa celana dan busana.

Berhati-hati juga terhadap mereka yang terlihat berpendidikan tetapi mengusung teologi merona tanpa isi; sebenarnya ingin mencari pesona, memperlihatkan kelana logika bernanah (tanda kebusukan dari dalam diri), dan memperlihatkan panorama logika tanpa asa (semangat) biblika.

Jadilah pengusung dan penyuara teologi kemala (seperti batu yang indah dan bercahaya) melalui kata, pikiran, dan perbuatan, yang selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab.

S. R. Paparang. TEOLOGI MERONA, JIWA MERANA: Fenomena Beriman Tapi Tanpa Perbuatan

DELAPAN DASAR APOLOGETIKA

Sumber gambar: https://www.pinterest.ca/pin/281543703508449/

Ada delapan hal yang mendasari apologetika Kristen sebagai reliabilitas (kebenaran) protestasi alkitabiah terhadap ajaran-ajaran palsu yakni:

Protestasi Iman
Dalam pengakuan Iman Rasuli, diuraikan tentang kepercayaan kepada Allah Tritunggal. Kristologi menjadi dominan dalam pengakuan ini. Protestasi iman seharusnya mempengaruhi pola pikir, tindakan nyata dan perkataan penuh kasih (Kol. 4:6), kemudian direalisasikan. Pernyataan ini harus tegas dan tetap memperlengkapi diri dengan membaca Alkitab (bdk. 1 Tim. 4:13 dan 2 Tim. 3:16-17) sehingga iman menjadi kokoh, tidak tergeserkan oleh ajaran palsu dan menyesatkan (Kol. 1:23).

Disklaim Ajaran Baru
Penolakan ini akan terjadi bila protestasi iman terus dikerjakan melalui kogitasi doktrinal. Kebenaran baru yang muncul dapat dengan jelas ditolak bila konseptualisasi iman terjadi dalam diri orang percaya baik secara internal (diri/pribadi) maupun eksternal (gereja/persekutuan).

Defensif Dogma
Mempertahankan kepercayaan adalah bagian yang signifikan selain hal-hal di atas. Mempertahankan dogma berarti “bertekun di dalamnya”, sehingga kemurnian iman dan pengetahuan Alkitab menjadi senjata utama dalam melawan ajaran-ajaran palsu (1 Tim. 4:12,16).

Afirmasi Doktrinal
Dari keseluruhan Alkitab, ada beberapa doktrin yang menjadi destinasi teologi misalnya: Allah Tritunggal, Kristologi, Soteriologi, dan lain sebagainya. Afirmasi doktrinal dan tindakan iman adalah untuk membekali semua orang percaya tentang pengetahuan Alkitab secara komprehensif. Kurangnya afirmasi doktrinal mengakibatkan keterpurukan rohani dalam lingkungan Gereja, keluarga maupun pribadi. Hal ini harus diperjuangkan dengan usaha dan kerja keras (bdk. 2 Ptr. 1:3-9).

Akuitas Apologetika (ketajaman apologetika)
Di sini perlu melihat dengan cermat apa dasar-dasar iman dalam Alkitab, sehingga kita mempunyai pegangan atau pondasi yang kuat. Ketika diperhadapkan dengan pemunculan ajaran-ajaran palsu, dapat dengan jelas melihat perbedaan dari keduanya. Jika kontras dengan dasar iman Kristen, maka hal itu ditolak dan dianggap sesat.

Afirmasi Alkitab (penegasan Alkitab)
Kita harus tegas tanpa kompromi dengan kesesatan. Jika ada ajaran yang jelas-jelas menyimpang (tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab), maka harus dilawan dan ditolak.

Kogitasi Doktrinal (pertimbangan/pemikiran yang mendalam mengenai doktrin)
Sebelum melakukan apologetika, maka setiap orang percaya harus membekali dirinya dengan kogitasi doktrinal. Ini adalah bukti iman, sehingga dapat membedakan mana doktrin yang benar dan mana yang salah atau sesat (bdk. Rm. 12:2).

Konseptualisasi Hermeneutika
Menerapkan konsep hermeneutika atau interpretasi (penafsiran) Alkitab sangat penting bagi setiap orang percaya, sehingga dapat mengerti esensi dari iman Kristen. Dan bila ada ajaran atau kitab baru yang muncul, orang percaya dapat juga memberlakukan konseptualisasi hermeneutika ini.

FILSAFAT “KEMUNGKINAN”

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/446560119271944665/

Faset (segi) kehidupan menempati ruang pemikiran manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri manusia. Pada kenyataannya, ada banyak faset yang tak mungkin dipahami, apalagi dicapai. Meski demikian, dorongan dan ambisi manusia untuk mencapai sesuatu masih menjadi fakta yang umum.

Ada hal menarik dari proses berkehidupan, di mana berbagai kemungkinan dapat saja terjadi atau bahkan kita lakukan untuk menemukan sesuatu, mencapai sesuatu, dan mempertahankan sesuatu. Pada gilirannya, masih juga tersisa ruang “kemungkinan” lain yang bisa menjadi penghalang, pendobrak, atau penghancur segala kemungkinan yang ada dalam benak kita.

Sejatinya, kita merenungkan berbagai kemungkinan di sepanjang kehidupan yang dijalani. Kemungkinan menjadi sebuah patron (pola) hidup dan logika, di mana manusia bergerak dari kemungkinan yang satu kepada kemungkinan lainnya. Kita diperhadapkan dengan berbagai kemungkinan dan di dalamnya kita bergerak, bekerja, berusaha, gigih, berdoa, berkisah, bermain, dan lain sebagainya.

Koridor kehidupan telah menyediakan halte-halte di mana kita harus berhenti sejenak, menarik napas, bergumam, berdoa, bernyanyi, berpikir, berkhayal. Perhentian kita pada halte-halte tersebut bukanlah tanpa alasan. Itu disebabkan karena kita membutuhkan “istirahat” yang cukup, melepas letih, penat, dan kekesalan, atau bahkan melepas kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam proses perjalanan berikutnya.

Setelah kita diperhadapkan dengan variasi-variasi hidup, kita bergegas menuju tujuan. Ada segenggam harap dan doa yang mengarahkan langkah-langkah agar tiba di tujuan. Kita bergerak dari kemungkinan ke kemungkinan. Bagi kita, kepastian itu ada, tetapi selalu—di dalam kepastian itu—tersedia kemungkinan yang tidak kita tahu dan duga.

Di sini kita melihat bahwa ketika rasa dan kehendak memaksa kita untuk bergerak dan bertahan hidup, kemungkinan untuk berhasil sangatlah besar. Kita berjejak-jejak dari konteks yang satu ke konteks lainnya; kita melatih—jika bukan karena terpaksa—diri kita untuk mengembangkan potensi diri. Kita berharap bahwa kemungkinan-kemungkinan terkuat dapat segera terwujud.

Inilah yang menjadi dasar berpikir kita bahwa kehidupan itu sendiri tidaklah semudah yang kita bayangkan. Meski kita terbiasa dengan jalan hidup yang mulus, sedikit bergelombang, tetapi hingga gilirannya kemungkinan lainnya, misalnya cobaan, tekanan, problem, hasutan, kesedihan, kedukaan, dan lain sebagainya, dapat dengan segera menghampiri kita, meski hal-hal itu tidak kita inginkan.

Seringkali kita terperanjat (terkejut) akan apa yang terjadi. Kemudian kita berupaya keluar untuk menghindar atau menyelesaikannya. Kemungkinan lain pun muncul menambah kegelisahan dan kekuatiran kita. Lebih dari itu, ketakutan untuk menghadapinya menjadi mengendap dalam logika kita. Ketakutan itu beralasan sebab kemungkinan-kemungkinan terasa tertutup dan menutupi jalan-jalan keluar kita.

Masalah yang besar pun datang. Kita tidak siap menghadapinya. Kita terdesak; kita merasa tak berdaya; kita putus asa; kita sedih dan tertekan. Kemungkinan lain pun datang: naikkan doa kepada Sang Khalik. Ia senantiasa ada dan memperhatikan kita. Segala kemungkinan tersedia bagi-Nya dan Ia akan bertindak memberi pertolongan kepada kita.

Tekanan demi tekanan, kekuatiran demi kekuatiran, kesedihan demi kesedihatan, ketakutan demi ketakutan, kegelisahan demi kegelisahan, air mata demi air mata, kedukaan demi kedukaan, putus asa demi putus ada, semuanya adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam hidup kita. Kita tak tahu kapan kemungkinan itu datang, tetapi kita harus meyakini bahwa Tuhan di atas segala kemungkinan dan Ia selalu memberi kepastian yang terbaik dalam hidup kita.

Filsafat “Kemungkinan” mengajari kita tentang bagaimana melihat hidup dan melihat Sang Khalik berkarya, menolong, dan menopang kita. Kita perlu berbenah dan berserah diri kepada-Nya; biarkan Dia mengatur hidup kita dan memberikan kepastian-kepastian yang melegakan hidup kita. Ia adalah harapan kita; Ia adalah hidup kita; dan Ia adalah kekuatan, serta perisai kita.

Bagi Dia segala sesuatu mungkin. Kita dipanggil untuk hidup di dalam kasih-Nya. Kemungkinan-kemungkinan yang buruk bukanlah menjadi orientasi iman kita, melainkan iman kita diarahkan untuk melihat pekerjaan-Nya dan siap melayani-Nya. Selalu ada harapan terbaik yang disediakan Tuhan bagi kita yang setia kepada-Nya. Kita ditempa sedemikian rupa untuk menghasilkan kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang menjadi berkat bagi yang lain dan memberikan jawaban (solusi) atau segala kemungkinan yang tidak kita inginkan terjadi.

Filsafat “Kemungkinan” adalah bagian dari proses kehidupan kita. Menjalani hidup dengan penuh syukur dan takut akan Tuhan, memberi ruang bagi hati kita untuk diajari apa artinya berserah, berterima kasih, dan memuji-Nya. Segala kemungkinan dapat kita hadapi jika Tuhan di pihak kita. Ia adalah “Imanuel”—Ia adalah Sang Penghibur, Pelepas, dan Penolong. Ia membuat kita tertawa, membuat kita berbahagia, tersenyum, dan merasa damai.

Adakah hati kita ragu menghadapi berbagai kemungkinan? Bersama Yesus kita sanggup menghadapi segala kemungkinan, segala sesuatu. Siapkanlah hati kita untuk senantiasa berhadap dan bersandar pada-Nya. Ingatlah: masa depan sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang jika kita hidup di dalam-Nya.

Salam Bae….

BERTARUH IMAN: Catatan Singkat tentang Matheus Mangentang

Sosok Matheus Mangentang begitu dikenal di kalangan alumni Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia. Beliau adalah sosok yang sederhana, tapi berjiwa penuh kasih. Taburan kebaikannya telah bertumbuh di mana-mana dan menghasilkan banyak buah. Beliau juga adalah tokoh pendidikan yang telah menghasilkan banyak pemimpin baik di gereja-gereja maupun di sekolah-sekolah.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau pernah menerima perendahan martabat dan cemooh. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk pergi melayani ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Di kalangan alumni SETIA dan para pendeta (pelayan) Gereja Kristen Setia Indonesia, bahkan seluruh jemaat GKSI, jasa-jasa beliau yang telah mendidik dan menyekolahkan ribuan anak-anak desa (termasuk saya) patut diacungi jempol. Bahkan studi doktoral saya adalah buah tangan beliau. Beliaulah yang merekomendasikan saya untuk studi doktoral. Saya juga mendapatkan bantuan dana dari beliau. Tak hanya itu, beliau dan istrinya, Ibu Ester Kristanto pernah membantu saya untuk membayarkan uang kontrakan rumah saya.

Ada banyak kisah yang saya alami bersama beliau, termasuk kisah perintisan Sekolah Tinggi Teologi Trinitas Arastamar Talaud pada tahun 2008. Beliau hadir selang beberapa tahun untuk meresmikannya. Saya dan senior saya, Matius Bongngi merintis stt di Talaud adalah atas dorongan dan persetujuan beliau.

Mengenai beliau, dua kutub yakni positif dan negatif terus bertanding menunjukkan eksistensinya di dua media sosial terpopuler di Indonesia yakni Facebook dan WhatsApp. Dua kutub ini tetap eksis hingga sekarang. Tapi bukan itu cerita utamanya. Ada kisah menarik dari hidup beliau, yakni kesederhanaan dan ketulusan dalam melayani, serta pertaruhan imannya. Jejak-jejak pelayanannya masih berbekas di bumi ini, pertanda bahwa jejak-jejak Injil Kristus akan selalu dikenang dan dilanjutkan, bahkan dikembangkan.

Dukungan terhadap beliau masih eksis juga hingga sekarang. Doa terus dipanjatkan kepada Sang Khalik, Yesus Kristus, agar Visi dan Misi yang beliau tanamkan, akan tetapi disiram, diberi pupuk, dirawat, dbersihkan, hingga menghasilkan buah-buah yang segar. Pertolongan Tuhan selalu beliau rasakan. Di saat-saat terdesak sekalipun, tangan Tuhan terulur untuk menopang dan memberinya kelegaan. Karakter beliau dibentuk dan ditempa Tuhan dalam sepanjang proses pelayanannya di seluruh Indonesia, hingga ke luar negeri.

Ada pepatah lama yang mengatakan demikian: “Ketika karakter seseorang tampak kurang jelas bagi Anda, lihatlah para sahabatnya”. Pepatah ini mengingatkan pada kita bahwa untuk mengenal karakter seseorang, lihatlah siapa sahabat mereka. Matheus Mangentang memiliki sahabat-sahabat yang berkarakter kuat dan berjiwa pemberani dalam melayani Tuhan. Konteks ini memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang diwariskan oleh Matheus Mangentang, dan ada yang hendak meneladani beliau, sehingga mewariskan dan mengikuti (meneladani) adalah dua hal yang secara simultan terjadi.

Pernyataan-pernyataan Raja Salomo dapat kita simak dalam teks-teks berikut ini:

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Amsal 13:20)

Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut (Amsal 20:19)

Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah (Amsal 22:24)

Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka (Amsal 24:1)

Teks-teks di atas memberi ruang berpikir kepada kita bahwa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, melayani bersama-sama dengan orang yang tulus, menjadikan kita untuk belajar tulus. Bekerja di ladang Tuhan dengan orang yang bersemangat, membuat kita bersemangat. Siapa yang bergaul dengan pendusta, akan menjadi pendusta, bergaul dengan orang yang bocor mulut, akan menjadi sama seperti dia. Bergaul dengan orang yang pemarah, tentu akan membuat kita menjadi pemarah. Artinya, setiap pergaulan memberikan pengaruh.

Pengaruh yang diberikan Matheus Mangentang sangatlah kuat terutama dalam hal melayani Tuhan. Tak ada yang diragukan dari prinsip pelayanan beliau. Banyak orang telah menyatakan terima kasih kepada beliau karena telah memberikan pengaruh terhadap pelayanan mereka. Buah-buah pelayanan telah dirasakan (dinikmati) oleh banyak orang. Hingga sekarang euforia terhadap pelayanan beliau masih bergema di bumi Indonesia.

Kita pernah mendengar dan melihat bahwa beliau pernah “dihakimi”. Akan tetapi peristiwa tersebut bukanlah menjadi “tsunami kehidupan” beliau, melainkan dipandang sebagai proses penempaan Tuhan agar iman dan harap beliau tetap kuat dan tak tergoyahkan. Seperti yang Alkitab katakan bahwa: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2), maka teks tersebut “cukup” menjadi dasar bahwa suatu saat Tuhan akan menghakimi kita semua. Lebih dari itu, “penghakiman” yang pernah dipakai untuk menghakimi orang lain, akan dapat digunakan untuk menghakimi kita.

Beberapa tahun lalu, saya dan beliau bercakap-cakap melalui telepon selular, soal misi ke tanah Papua. Kami berdua tertawa lepas ketika keasyikan ngobrol. Saya tahu bahwa beliau tidak gentar sedikit pun menghadapi persoalan yang sedang dihadapi. Kekuatan dan keberanian tampak dalam setiap percakapan kami. Meski serangan bertubi-tubi, ia tetap meyakini akan pimpinan Tuhan. Seakan ia tetap tersenyum meski di depan harimau yang sedang membuka mulutnya dan mempertontonkan taring-taringnya.

Baginya, harimau dengan taringnya yang mencoba mencabik-cabik harga dirinya, bukanlah sesuatu yang menakutkan, bukan pula “kiamat” yang mengerikan. Itu hanyalah cara Tuhan mendidik dan mengajari beliau untuk mempergunakan setiap waktu dan kesempatan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, kapan pun dan di mana pun.

Pernah satu kali beliau berkata kepada saya: “Stenly, Bapak sudah mati. Harga diri Bapak sudah mati, dan tak perlu lagi merasa hidup. Mereka telah membunuh karakter Bapak, membunuh harga diri dan nama baik Bapak.” Pernyataan ini memberi arti bahwa jika sudah mati, maka tak perlu lagi merasa ada yang memberatkan hati.

Memang, beliau kelelahan menghadapi berbagai persoalan. Ia sangat kuatir akan misi yang sedang ia kerjakan. Namun, dukungan doa dari anak-anak desa yang telah mengenyam studi di SETIA, ia serasa mendapatkan kekuatan dan siap menjalani kembara iman dan persoalan-persoalan yang menghadangnya. Baginya, perjuangan untuk bermisi dan mengasihi anak-anak desa adalah yang utama. Pelayanan di desa yang terjauh sekalipun, tak menyurutkan semangatnya untuk melayani.

Di dalam guliran-guliran waktu, doa dan doa terus disampaikannya kepada Sang Khalik. Hanya itu senjata ampuhnya. Ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Benarlah perkataan nabi Yesaya: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya….” (Yesaya 40:31). Kekuatan sayap diberikan TUHAN dan itulah penghiburan beliau.

Dengan prinsip “kita doa saja”, telah membawa beliau sampai kepada kondisi sekarang ini. Jikalau bukan “doa”, situasi akan menjadi lain. Ada respek kepada beliau yang masih bertahan dari mereka yang tidak dipengaruhi oleh ilah zaman ini. Mereka yang pernah ditolongnya, masih mengingatnya.

Sebagai pelayan Yesus Kristus, Matheus Mangentang terus mengandalkan Tuhan dalam segala perkara. Tuhan tidak pernah lupa akan kerja kerasnya dalam membangun pelayanan melalui SETIA dan GKSI. Ia telah bertaruh iman dalam menghadapi berbagai tekanan dan persoalan. Ia bertaruh iman dalam mengembangkan pelayanan SETIA dan GKSI. Ia bertaruh iman dalam mempertahankan identitasnya sebagai hamba Tuhan yang setia. Dan ia bertaruh iman demi masa depan anak-anak desa yang membutuhkan uluran tangan dalam melanjutkan studi hingga di perguruan tinggi.

Teruslah melayani Pak Matheus Mangentang. Kami, “ANAK-ANAK ARASTAMAR” terus mendukung dan mendoakanmu siang malam.

Salam Bae.

DESTITUSI MANUSIA DAN JALAN KELUAR

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/34340015895610848/

Secara umum destitusi manusia terbagi atas enam konteks: Pertama, destitusi manusia yang terkait dengan moralitas. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada hal-hal yang tidak dimiliki, tidak dilakukan, dan diabaikan manusia. Destitusi moralitas menandakan bahwa seseorang itu tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kedua, destitusi manusia yang terkait dengan spiritualitas. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada hal-hal yang diperhatikan yaitu relasi pribadi dengan Tuhan, dalam konteks ibadah, pelayanan, dan penerapan perbuatan baik seperti yang dikehendaki-Nya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/224405993913156723/

Ketiga, destitusi manusia yang terkait dengan berbagi. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada orang-orang yang hanya mau menikmati segala sesuatu secara personal. Memang benar, jika sesuatu yang kita miliki dan nikmati sendiri adalah hak personal, akan tetapi ada sesuatu hal yang dipandang perlu untuk dibagikan kepada yang lain. Berbagi dengan sesama adalah hal penting karena kita tidak dapat merasa lebih penuh dan lengkap dalam “hidup” tanpa bantuan orang lain.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/277182552035414589/

Keempat, destitusi manusia yang terkait dengan relasi. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada orang-orang yang tidak ingin menjalin relasi. Relasi adalah hal penting dalam menjalani hidup karena kita pasti membutuhkan bantuan dan peran dari orang lain. Memang, pada beberapa orang menjalin relasi dilakukan secara selektif, tetapi jika menekankan pada sikap selektif secera berlebihan, maka kita menutup pintu-pintu lain yang mungkin saja dapat memberikan kita sesuatu yang bermanfaat. Menjalin relasi secara baik, adalah hal yang baik, asalkan kita tahu dan memahami bahwa relasi itu sendiri bukan didorong oleh motivasi “mencari untung” melainkan oleh motivasi “berbagi dan saling tolong-menolong”.

Kelima, destitusi manusia yang terkait dengan harta kekayaan. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa manusia memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal kepemiliki harta kekayaan. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ini hal umum. Destitusi pada konteks ini seringkali menimbulkan kesenjangan sosial, bahkan kesedihan yang mendalam. Contoh praktis adalah ketika orang miskin pergi ke rumah sakit, mereka tak punya cukup uang untuk membiayai pengobatan sakit-penyakit mereka; malahan ada di antara mereka yang diperas, dan dipaksa membayar mahal untuk sebuah pengobatan. Destitusi ini sangatlah menyedihkan dan memilukan hati. Yang miskin ditindas oleh yang kaya; yang kaya merasa di atas angin, dan kesombongan menjadikan mereka terjerumus dalam rasa puas diri.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/214413632232880231/

Keenam, destitusi manusia yang terkait dengan dosa. Artinya, karena dosa-dosa tertentu yang dilakukan, maka manusia mengalami destitusi. Pada konteks ini, dosa membawa malapetaka yang menjerumuskannya pada kehidupan yang buruk. Memang, dosa memberikan kenikmatan bahkan kepuasan, tetapi dosa berdampak pada destitusi; bisa destitusi moralitas, spiritualitas, relasi. Dosa merusak banyak hal. Ketika destitusi dialami karena dosa, maka kehidupan seseorang akan menghasilkan berbagai hal yang menyiksa dirinya sendiri. Dosa nikmat, tapi menyiksa. Jika tidak tersiksa dalam waktu dekat, maka pasti dalam waktu yang lama, akan mengalami perasaan tersiksa.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/161918549079197543/

Destitusi (kemiskinan, kemelaratan) yang dapat kita amati di sekitar kita, memberikan pelajaran bahwa hidup harus diperjuangkan, ditata sedemikian, dan diperbaiki—jika terdapat kesalahan, apalagi destitusi moral, spiritual, dan lainnya. Mungkin kita tergolong pada salah satu dari enam destitusi di atas (moralitas, spiritualitas, berbagi, relasi, harta kekayaan, dan dosa). Meski demikian, kita juga dapat berjuang untuk keluar dari destitusi tersebut.

Tuhan memberikan kita jalan untuk keluar dari destitusi—terutama karena dosa—dan memilih kehidupan yang layak di hadapan Tuhan; kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Destitusi karena dosa sangatlah mengerikan. Tidak hanya menerima hukuman saat masih hidup di dunia, di penghakiman kekal—setelah ia mati—akan menerima hukuman yang sangat berat setimpal dengan dosa-dosa yang dilakukannya. Jalan yang diberikan Tuhan adalah “mengakui dosa” dan “pertobatan”. Ia akan mengampuni mereka yang mengakui dan bertobat. Setelah itu, dilanjutkan dengan komitmen untuk setia kepada-Nya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/620652392389904694/

Jika kita ingin berjalan di jalan Tuhan, maka kita harus memulai dengan Tuhan. Artinya, pengakuan, pertobatan, dan berkomitmen, merupakan titik awal kita melangkah bersama-Nya. Ada banyak jalan yang tersedia dan disediakan “dunia”, tetapi semuanya tidak memiliki kepastian; bisa berubah atau hancur, bisa menyesatkan bahkan membinasakan.

Yesus pernah berkata: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku”. Jalan itu telah tersedia. Kita harus bergegas ke sana. Destitusi karena dosa akan dibereskannya, dan Ia mengangkat kita, menjadikan kita kaya dalam kebenaran, kekudusan, kemurahan, dan berkat.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/533676624596966175/

Destitusi moralitas, spiritualitas, berbagi, relasi, harta kekayaan, dan dosa, dapat dipulihkan Yesus jika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Kita harus berharap dan bersandar pada-Nya. Jangan menunda-nunda waktu. Tangan-Nya selalu terbuka menerima kita; waktu masih tersedia bagi kita untuk datang pada-Nya; kesempatan juga tetap ada. Itulah jalan keluar dari destitusi moralitas, spiritualitas, berbagi, relasi, harta kekayaan, dan dosa.

Jika Yesus adalah Jalan kehidupan dan kebahagiaan—dan itu sudah terbukti selama ribuan tahun—mengapa kita masih ragu untuk datang kepada-Nya? Adakah kita rindu hidup di dalam firman-Nya? Adakah kerinduan untuk menikmati kebahagiaan yang telah Ia sediakan bagi mereka yang percaya dan setia? Adakah rindu untuk berkomitmen melayani Dia dalam suka dan duka?

Memang, setiap manusia—tanpa terkecuali—bergumul dengan kehidupannya. Yang miskin bergumul, yang kaya juga; yang lemah bergumul, yang kuat juga; yang bodoh bergumul, yang pintar juga; yang tak punya “pekerjaan” bergumul, yang punya pekerjaan juga. Semuanya merasakan keletihan, kelesuan; semuanya dapat merasakan “beban” hidup. Tak sedikit yang mengakhirinya dengan “bunuh diri.” Apalagi jika mengalami destitusi harta kekayaan.

Hidup memang berat; setiap manusia berjuang untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang-orang yang dia kasihi. Perjuangan demi perjuangan ditempuh, keringat bercucuran, semangat naik turun, dan masih banyak lagi kondisi yang dialami manusia untuk bertahan hidup. Destitusi dapat melanda kapan saja jika kita salah melangkah. Mengupayakan kehidupan yang bermakna dan menjadi berkat adalah sebuah pekerjaan yang baik. Dan itulah yang dikehendaki Yesus Kristus.

Masih ada harapan ketika kita memilih kembali kepada-Nya. Masih ada jalan yang terbuka yang kapan saja dapat kita lalui; jalan itu telah disediakan Yesus, bagi mereka yang berserah, mengaku dosa, bertobat, dan berkomitmen untuk hidup dalam kasih-Nya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/429390145719752800/

Meski letih dan lelah, serta berbeban berat, tetap datanglah pada Yesus. Berdoalah, minta kekuatan dan hikmat untuk menjalani hidup ini. Ada jalan terbaik yang disediakan oleh-Nya. Komitmen kita menentukan masa depan kita. Komitmen untuk percaya kepada Yesus mengantarkan kita pada jalan dan kehidupan yang berbahagia. Destitusi apa pun yang kita rasakan, jika kita datang pada-Nya, maka Ia pasti akan memulihkan dan menjadikan kita “berkat” bagi banyak orang.

Salam Bae…

MEMAHAMI DAN MENILAI MANUSIA

Braceletes sustentáveis da Bottletop (Foto: Jerome Duran/Vogue UK)
Sumber gambar: https://vogue.globo.com/moda/moda-news/noticia/2019/04/bottletop-lanca-braceletes-sustentaveis-da-amizade-feitos-partir-do-metal-de-armas-derretidas-e-plastico-do-lixo-oceanico.html

Ada berbagai pemahaman dan penilaian tentang “manusia” yang dilihat dari perspektif tertentu. Dengan perkataan lain, setiap orang mengusulkan bagaimana cara ia memahami dan menilai manusia dan menjawab mengenai “apa” dan “bagaimana” manusia itu.

“Apa itu manusia?” dan “bagaimana memahami manusia?” adalah dua pertanyaan yang telah dijawab dari berbagai bidang ilmu pengetahuan yang diciptakan manusia. Yang terpenting di sini adalah bagaimana seseorang melakukan klasifikasi (pembagian) perspektif mengenai apa dan bagaimana manusia itu.

Di sini, saya hendak memberikan beberapa klasifikasi mengenai pemahaman dan penilaian tentang manusia.

Pertama: ONTOLOGI (hakikat hidup); dari kata “ontos” yang berarti “ada” atau “keberadaan”. Manusia pada suatu waktu pernah “tidak ada” dalam arti fisikal. Namun, secara ontologi, manusia “ada” dalam pikiran Allah sebelum Ia menciptakannya. Dalam konteks ini, kita tidak dapat memahami dan menilai manusia secara utuh sebagaimana yang kita lihat pada diri kita sendiri. Tetapi kemudian kita mendapat gambaran yang utuh mengenai manusia ketika Allah merealisasikan manusia melalui penciptaan dan secara alamiah, manusia dapat kita lihat, kenal, pahami, dan menilainya.

Kedua: PENCIPTAAN. Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah (materi ciptaan Allah) dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej. 2:7). Di sini, manusia hanya dapat dipahami sebagai dikotomi yang terdiri atas “tubuh jasmani manusia yang dibentuk Allah” dan “nafas hidup” yang dihembuskan Allah ke dalam hidung manusia. Dan konsekuensi logisnya adalah: “manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Di sini, manusia dipahami dan dinilai sebagai makhluk yang hidup karena ia diberikan nafas hidup oleh Allah, dan memiliki tubuh dan unsur-unsur lain yang mengikat dalam tubuh itu. Hal ini juga berlaku bagi Hawa (Kej. 2:21-23).

Ketiga: KEHIDUPAN PASCA PENCIPTAAN. Manusia—setelah ia diciptakan—memiliki tanggung jawab kehidupan yang diberikan Allah. Dalam Kejadian 1:26-30 disebutkan beberapa aspek penting:

(1) manusia memiliki kuasa atas ikan-ikan di laut dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi
disebabkan oleh karena manusia “diciptakan” menurut “gambar” dan “rupa” Allah—yang memiliki potensi berpikir dan bekerja.

(2) manusia memiliki potensi beranak cucu karena ada perbedaan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan (Kej. 1:27).

(3) manusia memiliki potensi untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi (populasi)

(4) manusia memiliki potensi untuk menaklukan bumi (aspek-aspek yang mengandung kehidupan di dalamnya).

(5) manusia memiliki potensi untuk bertahan hidup: makan dari segala tumbuh-tumbuhan yang diberikan Allah (Kej. 1:29).

Potensi yang diberikan Allah sangatlah penting bagi cara kita memahami dan menilai diri kita sendiri sebagai “manusia ciptaan Allah”.

Keempat: KUALITAS. Secara kualitas, manusia berbeda dengan ciptaan lainnya, misalnya binatang. Potensi manusia menentukan kualitasnya.

Kelima: PROBLEM. Biasanya, pada pemahaman dan penilaian seseorang terhadap manusia yang dikaitkan dengan dosa dan kematian, adalah bagian dari problem. Dosa dipandang sebagai problem dari ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah. sedangkan kematian haruslah dipahami dari dua aspek, yaitu: kematian karena keterbatasannya (karena ia ciptaan), dan kematian karena akibat dari keberdosaannya kepada Allah.

Keenam: PENGARUH. Ada yang memahami dan menilai manusia dari aspek pengaruh. Maka, seringkali fokus pemahaman dan penilaian tertuju pada potensi dan kualitas pikiran dan kekuatan (kerja) manusia.

Ketujuh: ESKATOLOGI. Memahami dan menilai manusia dari aspek eskatologis, yaitu masa depan kehidupan manusia. Di sini, Alkitab memberikan gambaran mengenai manusia yang bergantung pada Allah, percaya dan setia kepada-Nya, akan mendapatkan kehidupan yang kekal dalam kerajaan-Nya.

Dengan demikian, ketika kita melihat manusia secara klasifikatif, akan memberikan pemahaman demarkatif dan ketika melihatnya secara utuh, maka kita mendapatkan gambaran yang utuh (pemahaman dan penilaian) bahwa manusia diciptakan Allah untuk menerima potensi dan anugerah-Nya dalam menjalani kehidupan yang dikaruniakan kepada manusia.

Kita bergantung pada Allah; karena kita sendiri terbukti tidak mampu hidup sendiri. Allah telah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa; Ia peduli, dan dengan demikian, Ia berbagi dengan kita tidak hanya dengan kuasa dan kedaulatan yang ditunjukkan-Nya, melainkan Ia sendiri datang dan tinggal sebagai manusia di bumi ciptaan-Nya:

“Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita….”

Tugas kita adalah “melakukan pekerkaan baik selaras dengan kehendak Allah, karena itulah kita diciptakan.

Efesus 2:10. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Salam Bae

TELADAN PELAYANAN MEMBUAHKAN HASIL: Catatan Singkat untuk Pdt. Matheus Mangentang


Kita melihat bahwa kehidupan itu memiliki beragam makna; setiap makna terjalin satu dengan lainnya yang dapat membentuk pribadi kita, entah baik, entah buruk. Hingga pada akhirnya, apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Mereka yang setia “melayani Sang Khalik” akan menerima mahkota kehidupan; mereka yang merasa melayani Sang Khalik sambil menumpuk dosa, memperlihatkan keburukan dan kenajisan, akan juga menerima “hadiah” terbaik di akhir kehidupannya. Soal bentuk hadiah tersebut, tentu hanya Tuhan yang tahu.

Dalam proses melayani Tuhan, kita diperhadapkan dengan banyak pilihan: mau jadi penumpuk kebaikan, atau penumpuk sumpah serapah dan dosa, serta kejahatan moral, spiritual, dan pikiran. Melayani memang terlihat keren, tetapi bukan itu substansinya; melayani itu adalah perwujudan kasih kepada Tuhan dan sesama. Jika kita melayani Tuhan dan secara simultan membenci bahkan menyumpahi orang lain, maka pelayanan itu menjadi tidak murni.

Dalam sejarah pelayanan Pdt. Mangentang, kepedulian terhadap kaum papa, marginal, kaum yang tak terlayani dan terkasihi telah dia buktikan sendiri. Jika Anda berbicara dengan beliau soal pelayanannya, maka Anda harus menyiapkan waktu yang lama untuk menyerap berbagai makna dan pesan dari pelayanannya di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan-kesempatan tertentu ketika saya berbicara dengan Beliau, pesan dan makna pelayanan begitu indah dan kuat, sehingga dari situlah saya “meneladani” beliau. Tanyakanlah kepada sahabat-sahabat saya, semisal Sensius Amon Karlau, Purnama Pasande, Jeffrit Kalprianus Ismail, Jansakti Saddusaly, Gihon Nenabu, Narsing M, Hendrik Sanda, Yopi Alfalor Karhom, Aris Rimbe, atau para senior saya: Yane Henderina Keluanan, Safira Mau, Aprianus Moimau, Yosia Belo, dan sederet alumni SETIA dari berbagai angkatan, tentang bagaimana pengalaman Beliau dalam melayani. Pelayanan beliau sungguh luar biasa. Visi dan Misi yang Beliau tanamkan di hati para alumni SETIA sangatlah kuat dan satu persatu telah terjadi dan diaplikasikan.

Melihat kontribusi pelayanan beliau di bidang kerohanian (Gereja) dan Pendidikan (Sekolah-sekolah di berbagai jenjang), maka tak ada alasan yang cukup untuk tidak menyatakan dan meneladaninya. Dalam setiap perayaan hari ulang tahunnya, selalu ada kejutan. Kejutan dari saya selalu dalam bentuk buku atau sebuah artikel singkat. Hal itu didasari pada pengalaman beliau dalam pelayanan dan wejangan-wejangan yang baik bagi kemajuan pelayanan ke depannya.

Memang, teladan pelayanan Beliau tidak bisa dilupakan. Setiap orang dapat melihat sikap hidup dan motivasi melayani Tuhan, termasuk melihat teladan dan sikap hidup Pdt. Mangentang. Beliau melayani dengan tulus dan bahkan seringkali rugi; ketulusan seringkali berjalan beriringan dengan kerugian. Tetapi Tuhan akan membalasnya berlipat kali ganda.

Di sisi lain, kita pun tahu bahwa ada orang yang terlihat melayani Tuhan tetapi tidak tulus; bahkan lebih dari itu, dari mulutnya pujian kepada Tuhan dan dari mulut yang sama keluar caci maki dan kesombongan. Mengenai ini, kita tidak perlu ragu karena orang yang sombong akan direndahkan Tuhan; tinggal menunggu waktunya saja.

Dari pengalaman beliau kita belajar apa arti berserah kepada Tuhan, apa arti iman yang kuat ketika menghadapi problem dan hambatan, apa arti berbagi dengan orang lain, dan apa arti ketulusan dalam melayani Tuhan. Setiap taburan kebaikannya patut kita ingat.

Dalam ketegarannya menghadapi cobaan dan tantangan, bahkan tekanan, tak mengurung niatnya untuk terus menjadi berkat bagi orang lain. Tak ada hambatan yang cukup berarti baginya ketika hendak berbagi firman Tuhan dengan orang lain. “Tembok-tembok” bukanlah penghalang melainkan sebuah kesempatan untuk menerobos agar Injil diberitakan. Tugas inilah yang patut kita teladani.

Dalam sejarah pelayanannya, banyak hal yang telah terjadi. Beliau pernah dihina, tetapi ia hanya membalas dengan doa dan berkat. Ia tahu bahwa hinaan tersebut tak membuatnya hina dina; tidak juga membuatnya tersingkirkan dari dunia pelayanan. Apa yang telah ditaburkan, sekarang telah berbuah: pelayanan-pelayanan dari yang dikerjakan oleh para alumnus SETIA di seluruh Indonesia telah membuktikannya.

Doa kami kiranya Tuhan menyertai, menopang dan memberkati Bapak.

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai