
Dalam tataran tertentu “agama” mendorong sebuah konteks moralitas yang “baik” berdasarkan kitab sucinya. Titik lemah dari manusia adalah salah memahami konteks tertentu di salah satu zaman dan kemudian menerapkannya pada konteks kini. Di satu sisi, manusia senang dengan agamanya, dan sisi lain manusia benci dengan orang seagamanya karena ulah dan moralitasnya yang sangat buruk. Tidak didapati teladan yang baik padanya.
Teladan adalah hal yang signifikan dalam kehidupan beragama. Tetapi bukan “teladan” dalam berbuat jahat, bukan teladan memaki-maki orang dan merasa paling suci—padahal moralitas dan mulutnya tidak sejalan. Agama kadang “menghalalkan” membunuh demi nafsu dan maksud menutupi segala macam dosa yang dilakukannya, dan dirasa bahwa itu dilakukannya bagi Tuhan yang dipercayainya.
Pembenaran-pembenaran diri sering muncul dengan menampilkan sejumlah teks kitab suci sehingga orang mengira bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhannya. Bahkan, para pelaku pembenaran diri pasca berbuat kejahatan, merasa senang karena telah berhasil menipu banyak orang. Kesenangan “merasa benar dan paling suci sendiri” di satu sisi, tetapi melupakan sisi lainnya adalah kondisi yang sering terjadi dari zaman ini. Agama menjadi “senjata” pembenaran diri dan kemunafikan menjadi “perisai” untuk menutupi dosa yang dilakukan.
Tak jarang, pembunuhan terjadi di mana-mana. Dan semuanya memiliki konteksnya masing-masing. Ada berbagai motivasi yang melatarinya, entah baik, entah buruk. Hanya pelakunya yang mengetahui apa motiv di balik tindakannya. Dalam sejarah agama-agama, setiap tindakan memiliki konteksnya. Tidak serta-merta seseorang melihat konteks zaman dulu (dalam agamanya) lalu secara gegabah menerapkannya di zamannya. Perlu dicatat bahwa yang diambil dari sejarah lampau adalah makna dan pesannya: pesan moralitas dan spiritualitas, sebuah makna bahwa relasi manusia dengan Tuhan akan berimbas kepada relasinya dengan manusia.
Kalau relasi seseorang dengan sesamanya begitu buruk, apakah relasinya dengan Tuhan sangat baik? Kalau keinginan hati seseorang hanya mau merusak tatanan yang ada, apakah relasinya dengan Tuhan menjadi baik? Kadang manusia memakai “Tuhan” untuk membenarkan tindakan yang dilakukannya. “Atas nama Tuhan” adalah slogan menipu dan buta ketika tindakan yang dilakukan seseorang begitu buruk, jahat, dan justru menunjukkan perangai yang brutal. Jika Tuhan Mahabaik, maka kebaikan-Nya diwujudkannyatakan dalam kehidupan manusia dan di situlah manusia merefleksikan kebaikan Tuhan. Lalu untuk apa manusia masih saling membenci dan mencaci-caci? Bukankah yang harus dibenci oleh manusia adalah dosa-dosa yang meracuni dan membelenggunya?
Moralitas dan ajaran agama sudah tidak sejalan. Kadang, kesalahan menafsir digunakan sebagai pembenaran diri—dan pada akhirnya, dosa jalan terus, kejahatan semakin tumbuh subur, dan kemunafikan dipelihara sebagai anak di luar pernikahan: pertemuan antara nafsu liar dan kemanafikan berbalutkan rohani. Sungguh menyedihkan kondisi manusia ketika dosa merajai hati dan pikirannya. Pikirannya melahirkan dusta, sumpah serapah, dan kesombongan. Mending kebaikan yang dilahirkannya setiap hari, malahan kebencian, kesombongan, dan hawa nafsunya yang dilahirkannya.
Manusia kadang mengalami gangguan mental “Paralogisme”—sebuah kesesatan bahwa manusia tidak tahu bahwa ia berada dalam kesasatan. Ia bangga dalam dosa, ia puas dalam kebodohannya (ignorance is satisfaction) ia puas dengan kesesatannya (fallacy is satisfaction). Tersesat dalam pikiran akan melahirkan perbuatan-perbuatan jahat, merasa ajaran agama paling benar secara persepsi, tetapi moralitasnya sangat buruk. Keyakinan akan ajaran yang benar tentulah harus didukung oleh moralitasnya. Agama dan moralitas adalah dua hal yang koheren dan signifikan.
Dalam fakta yang terjadi, ada orang-orang yang salah memahami iman Kristen. Memang, beberapa kasus yang terjadi di kalangan Kristen sangatlah memalukan. Tetapi Alkitab sangat jelas mengajarkan tentang hidup kudus di hadapan Allah dan manusia, menjaga diri dari segala kemunafikan, hidup selaras dengan firman-Nya, menjauhkan diri dari segala hawa nafsu, percabulan, dan lain sebagainya. Intinya, segala macam dosa dan kejahatan dilarang oleh Allah, dan orang-orang percaya harus mematikan dalam dirinya segala jenis “keinginan daging” yang berlawanan dengan kehendak-Nya.
Kristen menunjukkan moralitas yang tinggi sebagaimana yang Yesus ajarkan: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka menganiaya kamu”. Ajaran ini tidak dapat dilakukan oleh agama yang hanya bermodal pedang dan perang. Mengapa Yesus memerintahkan demikian? Kita harus tahu bahwa Tuhan menyukai kedamaian, dan Ia senantiasa mengarahkan manusia untuk hidup dengan dan dalam damai. Akan tetapi, selalu ada saja yang membuat keributan. Yang membuat ribut itu adalah manusia yang kurang berpikir dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Ketika kejahatan dibalas kejahatan maka keributan, pembunuhan, dendam akan terus ada, muncul (lahir), menikah, hamil, melahirkan, dan seterusnya hingga akhir zaman. Yesus menghentikan kejahatan dan dosa jenis ini. Ia mau, mereka yang percaya kepada-Nya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan mendoakan mereka (musuh) sebab doa adalah senjata yang paling mematikan dan paling mengubah manusia.
Doa adalah tindakan tanpa biaya, tanpa kekerasan, dan tanpa dendam atau kebencian. Moralitas jenis ini hanya ditemukan dalam pengajaran Yesus. Dengan demikian agama Kristen adalah warisan dari pengajaran Yesus yang telah menebus umat-Nya agar mereka menerapkan kasih dan pengampunan bagi musuh-musuh yang membenci, terlebih mendoakan mereka. Soal mematikan atau mengubahkan musuh-musuh Kristen, itu adalah urusan Tuhan Yesus.
Terapkanlah moralitas yang sesuai dengan ajaran Kitab Suci kita. Janganlah menabur kebencian jika tidak ingin menuai kematian dan malapetaka; jangan menabur fitnah dan tipu muslihat jika tidak ingin menuai bencana yang sama; dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan kalahkanlah kejahatan dengan melakukan berbagai kebaikan.
Kedamaian dan moralitas hanya dapat ditaburkan oleh mereka yang telah mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan. Siapakah dari kita yang tidak berdosa? Tuhan sudah mengampuni kita dan Ia begitu mengasihi kita. Tidak ada lagi kebencian dan dendam ketika Tuhan sudah bertakhta di hati kita. Moralitas dan agama memang koheren, tetapi jangan sampai dosa yang dilakukan ditutupi dengan modal celoteh agama agar kelihatan suci dan bersih di luar.
Sudahkah kita mengalami hidup bersama Tuhan? Sudah kita yakin bahwa Tuhan telah mengampuni dan mengasihi kita? Kiranya kasih dan kemurahan Tuhan melingkupi hidup kita dan menjadi saksi moralitas sesuai ajaran-ajaran Kitab Suci.
Salam Bae…..
Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/165155511321308342/

















