GEREJA DAN TANGGUNG JAWABNYA

Church of Saint Primus in Jamnik Croatia
Sumber gambar: https://jessomewhere.com/ultimate-two-week-balkans-itinerary/

Berbicara mengenai Gereja—jika dilihat dari perspektif dan pemahaman zaman sekarang—kita tentu akan mendengar berbagai pendapat yang telah terkontaminasi dengan situasi-situasi yang dialami Gereja, baik mencakup kesuksesan Gereja, perpecahan Gereja, perebutan kekuasaan, perebutan aset Gereja, perselisihan, pembunuhan hamba Tuhan, konflik berkepajangan, Gereja yang bermisi, Gereja yang mengutus, pengajaran sesat, pertumbuhan Gereja, Gereja yang berdoa, dan masih banyak lagi daftar kemajuan, kemunduran, dan keburukan Gereja.

Dari kenyataan yang ada—sebagaimana yang telah kita lihat di zaman kita, Gereja dipandang dari dua sisi: positif dan negatif; dan itu tidak dapat kita pungkiri, karena memang penilaian kita terhadap Gereja selalu bertolak dari fakta yang kita lihat sendiri. Namun, tidak adil jika kita menilai Gereja hanya dari konteks sekarang ini. Kita juga perlu melihat Gereja secara komprehensif yang dimulai sejak berdirinya (lahirnya) hingga perkembangannya, sampai kepada kita sekarang ini. Kita pun tahu bahwa suguhan dari berbagai buku yang membahas sejarah Gereja, tidak lepas dari sejarah perpecahan Gereja, konflik kepentingan, konflik pengajaran dan iman kepada Yesus Kristus, pengkultusan pemimpin, skandal-skandal, pembunuhan, dan masih banyak lagi. Kita juga akan menetaskan air, bahkan menangis terharu melihat perjuangan iman orang-orang Kristen di sepanjang sejarah yang mati martir; mereka dibunuh, dipenggal, dibakar, disiksa, dipenjara, didiskriminasi, diancam, dan sejumlah perlakukan tidak adil dari mereka yang memusuhi “Gereja” (orang-orang percaya).

Para martir adalah tokoh-tokoh Gereja yang melalui mereka iman kepada Yesus Kristus tetap kokoh, terjaga, dan terwariskan dari generasi ke generasi. Tak dapat disangkal bahwa peran para martir Kristen telah memperkuat sejarah kekristenan dan perkembangannya (ekspansi) ke berbagai belahan dunia, sehingga menjadi “agam” terbesar di dunia. Apa yang hendak kita katakan tentang mereka? Kita sendiri dapat menjawabnya berdasarkan apa yang kita pahami tentang mereka. Saya sendiri selalu berpikir bahwa “betapa kuat iman mereka kepada Yesus Kristus”. Meski kematian di depan mereka, meski penderitaan dan siksaan sedang mereka alami, meski sakit mereka rasakan, iman mereka tetap kokoh dan mereka pun tak menyangkal iman mereka.

Kita dapat menilai dan memahami Gereja dalam konteks bahwa sukacita dalam mengikut Yesus Kristus, dan penderitaan yang dialami sebagai konsekuensi dari beriman kepada Yesus Kristus, adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bahkan, di tengah maraknya isu-isu agama yang digoreng oleh oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu di baliknya, mengakibatkan relasi antar umat beragama menjadi tegang dan tidak terjamin keamanannya. Orang Kristen memang seringkali mendapat perlakuan yang tidak adil ketika mereka berada dalam posisi “minoritas”. Bahkan ada orang-orang tertentu yang menyalakan api permusuhan dengan mengedepankan isu minoritas agar mereka yang mayoritas menjadi terbakar emosinya dan melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan.

Melihat fenomena beragama dan bergereja sekarang ini, bahkan ketika kita melihat relasi Gereja dengan masyarakat secara umum, kita dapat membentuk pemahaman kita tentang apa dan bagaimana Gereja itu. Sejauh yang dapat kita pahami, sejarah mencatat bahwa “Gereja tetap eksis dan terus berkembang di satu sisi, dan mendapat perlakuan tidak adil, diskriminatif, tekanan, persekusi, intimidasi, di sisi lainnya”. Kita dapat membaca di banyak literatur yang membahas tentang Gereja, dan melihat bahwa suka-duka Gereja selalu berjalam berdampingan.

Apa makna dan pesan yang dapat kita ambil dari sejarah Gereja hingga fenomena Gereja dan bergereja sekarang ini? Kita sendiri dapat mendaftarkan sesuai dengan apa yang diamati dan dialami. Namun, satu hal yang penting di sini adalah, bahwa “Gereja yang sejati adalah Gereja yang tetap bersandar kepada Tuhan yang Mahakasih dan Mahakuasa dan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri Gereja, adalah kedaulatan dan kehendak Tuhan.” Gereja berkembang adalah karena pekerjaan Allah Tritunggal. Gereja yang bermisi dan terus berjuang mewartakan Injil, juga adalah dorongan dari kuasa Allah.

Dari Gerejalah kita belajar mengenai apa itu kesetiaan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, apa itu sukacita mengikut Yesus Kristus, apa itu menderita bagi Dia, apa itu kesabaran dalam menjalani tekanan, diskriminasi, dan tindakan ketidakadilan lainnya. Dari Gerejalah kita dapat melihat betapa iman kepada Yesus Kristus harus menerima konsekuensinya; kita dapat melihat bahwa Gereja harus terus bersaksi, menjadi garam dan terang dunia, menjadi pelaku-pelaku firman. Itulah tanggung jawab Gereja yang paling utama dan yang terus-menerus dikerjakan.

Salam Bae…

HARAPAN CINTA

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/848084173573387060/

Perjalanan kisah cinta membutuhkan kendaraan agar tetap ada di dalam kendaraan dan mencapai tujuan, yaitu kesetiaan yang di dalamnya terdapat kebahagiaan, kepuasan, dan kasih yang tulus. Ketika kita menemukan dan menetapkan bahwa “dialah” cinta yang harus kutancapkan dalam hidup, maka ketetapan itu harus menjadi panduan kendaraan yang dinaiki.

Bahan bakar kendaraan haruslah terus diperhatikan, jangan sampai kehabisan di tengah jalan. Kalau hampir habis, singgalah di tempat penjualan bahan bakar dan belilah. Lalu mulailah melanjutkan perjalanan “rumah cinta”.

Harapan cinta tidak muluk-muluk. Biasanya seseorang cukup dengan mengatakan bahwa “Aku mencintaimu. Aku akan membahagiakanmu. Aku akan menjagamu, dan Aku akan setia sampai kapan pun.” Ini sederhana tapi sulit untuk dilakukan. Meski demikian, tetap saja harapan cinta itu diucapkan dan diyakinkan.

Cinta tanpa penegasan keyakinan tentu tidak kuat, meski dalam perjalanan cinta, terbukti keyakinan itu tidak kuat, malahan seseorang membuat “kekuatan lain” yang ditancapkan pada hati yang lain. Seyogianya tidaklah demikian. Ketika keyakinan cinta itu diucapkan, harapan terkandung di dalamnya. Tugas seseorang (atau kedua belah pihak) adalah menjaga harapan itu hingga terwujud sampai maut memisahkan mereka.

Harapan cinta itu kuat; lebih kuat dari orang yang makan Biskuat.

Harapan cinta itu membahagiakan; lebih Bahagia dari mereka yang menang lotre.

Harapan cinta itu meneguhkan hati, perasaan, dan nafsu.

Namun, harapan cinta itu pudar dan bahkan hilang ketika “ada harapan lain yang masuk mengganggunya”. Berhati-hatilah dalam menjalani kehidupan cinta; pegang teguh cinta itu; mintalah hikmat dan kekuatan dari Tuhan agar Ia menguatkan dan menyadarkan kita tentang bahayanya “harapan palsu” yang mengganggu harapan asli yang telah diikrarkan di depan sang kekasih, maupun di depan umum sehingga menjadi pengumuman.

Harapan cinta itulah yang mengarahkan langkah kita dalam menggapai bahagia, kepuasan, kesetiaan, dan pengorbanan. Jika kita tak memiliki harapan cinta bersama dengan orang yang kita kasihi dan cintai, atau bahkan harapan cinta itu hilang ditelah harapan dan tawaran cinta yang lain (yang hadir di tengah jalan), maka bahaya akan mengancam keutuhan ikatan cinta yang telah terbina.

Katakan kepada sang kekasih: “Aku tetap bersamamu, menggapai harapan cinta yang telah kita ikrarkan Bersama”. Aku akan tetap menjagamu; aku ada untukmu; akulah tulang rusukmu; dan akulah cinta sejatimu.

Salam Bae.

JANGAN BERIKAN HATIMU KEPADA YANG LAIN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/129689664257712079/

Cinta itu sederhana; juga kadang-kadang rumit. Rumit bisa dilihat dari lika-liku jalan cinta itu sendiri, atau jalan cinta yang lain: mencari cara lain untuk menciptakan jalan lain agar mendapatkan cinta yang tidak semestinya.

Proses mencintai dan dicintai memang memiliki gumul juang dari masing-masing pelakunya. Kadangkala, prosesnya berakhir menyedihkan dan memilukan. Betapa tidak, harapan cinta yang digenggam selama ini, terlepas karena ternyata orang yang kita harapkan telah “memegang” cinta yang lain—dan itu sangatlah menyakitkan.

Apalagi jika kita mendengar “celana” ikut bermain di sana—dan terciptalah kisah cinta yang terjerumus dalam pelubang dosa; ya, dosa yang umum terjadi, yaitu “terbukanya celana”. Padahal, dari sederet fakta, para pelakunya adalah orang-orang yang terlihat “rohani”, bahkan rohani sekali; tak disangka-sangka ternyata mereka ada golongan pembuka celana dan golongan merelakan celananya terbuka. Sudahlah, kita lupakan mereka itu. Kita beralih kepada konteks yang lebih tajam lagi.

Dalam menjalani percintaan, harapan-harapan dalam hati dan pikiran seketika menjadi kuat. Salah satunya adalah: “JANGAN BERIKAN HATIMU KEPADA YANG LAIN”. Pikir seorang laki-laki atau perempuan yang terpaut hatinya karena cintanya. Ungkapan “Jangan berikan hatimu kepada yang lain” secara sadar dan kuat hadir ketika cinta mulai bersemi dan mengeluarkan harum mewanginya.

Rasanya, cinta itu tak bisa diambil oleh yang lain atau pula diberikan kepada yang lain; cukup diberikan kepadaku. Cinta itu kuat seperti maut karena ada orang yang rela menerima maut demi cintanya; cinta kuat seperti perasaan memiliki karena ada orang yang rela melepaskan apa yang dimilikinya untuk berharap cintanya dimiliki oleh pasangannya. Cinta itu bersifat “mengorbankan” dan “dikorbankan”; cinta itu aneh tetapi kadang menggairahkan.

Tak jarang, cinta menjadi begitu liar ketika “nafsu” merasukinya. Apalagi merasuk “celana”. Pikiran seringkali dibutakan oleh “sesuatu” di balik celana. Memang bagi mereka yang bernafsu untuk mengorbankan sesuatu memiliki orientasi pada sesuatu di balik celana; mereka itu menghalalkan segala cara. Meski sudah terikat, masih saja berjuang untuk mendapatkan sesuatu di balik celana.

Celana, oh celana; engkau menyimpan keindahan dan kenikmatan, sampai-sampai dosa menjadi kesukaan dari mereka yang menginginkan menikmati sesuatu di balik celana; iman menjadi luntur ketika celana turun. Ada apa dengan cinta? Apakah cinta dibalut dengan nafsu sehingga membiarkan dosa seksual bertakhta di pikiran dan di celana?

Cinta itu suci; perasaan itu suci; nafsulah yang mengotorinya; nafsulah yang merusaknya. Nafsu seksual yang liar mengakibatkan “dosa” menjadi kesukaan, bahkan dipelihara dengan baik. Harapan cinta yang kuat itu seketika menjadi hancur berkeping-keping; dosa membuatnya tanpa harapan yang pasti; bahkan menjadi manusia seperti kubur yang dilabur putih tetapi isinya tulang-belulang.

Ketika menjalin cinta, maka pastikan bahwa cinta yang kita miliki tidak diserahkan kepada yang lain; ketika cinta didasari pada hawa nafsu, kecantikan atau kegantengan, maka cinta itu tak dapat bertahan lama. Cinta itu murni melihat hati dan kebaikan yang terpancar dari hati dan hidup seseorang.

Hanya kebaikan yang menjadikan cinta itu kuat, bermakna, dan bertahan. Oleh sebab itu, “jangan berikan hatimu kepada yang lain”. Jadikan cinta itu bertumbuh dan berbuah; singkirkan nafsu liar yang menggagalkan niat baik.

Akhir kata, “Di dalam Kebaikan Terdapat Cinta yang Kuat dan Bermakna; dan Hanya Komitmen yang Layak Tinggal Serumah dengan Cinta Itu.”

Salam Bae

AKU BERHARAP ENGKAU SETIA

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/777222848186057672/

Tak ada kata yang begitu kuat dan mengesankan selain “Aku berharap engkau setia”. Kesetiaan itu adalah proses dan bukan tujuan. Ketika kesetiaan menjadi sebuah tujuan, maka seseorang akan terbentur dengan berbagai pilihan yang dapat saja membawanya kepada sebuah kegagalan dalam mempertahankan cinta.

Setia adalah proses yang membawa kedewasaan dan kebahagiaan ke dalam kehidupan yang dijalani. Saya rasa, hampir semua—dan bahkan semua pasangan yang menjalani dan menikmati cintanya—menginginkan, mengharapkan pasangannya untuk “setia kepadanya”. Begitu sebaliknya. Harapan itu sangat kuat, masih segar. Tetapi, akan segera menjadi layu dan lemah, ketika ada cinta lain yang kuat dan segar, menawarkan diri, mencari gara-gara, mencari perhatian, dan merayu menampilkan keseksian-kegantengan yang menawan-mempesona.

Oh cinta, adakah engkau sanggup setia tinggal dalam rumah hatiku dan memegang erat pikiran untuk berjuang menjaga harapan itu tetap ada dan kuat? Bagaimana aku menghadapi kuatnya hasutan nafsu dan godaan yang datang silih berganti, menawarkan pesona dan daya tariknya?

Perjuangan dalam cinta memang menyisahkan banyak problem, baik ekonomi, waktu, harta, pekerjaan, perhatian, keluarga, gaji, pangkat atau jabatan, potensi, talenta, wajah, postur tubuh, dan masih banyak lagi. Adakah perkataan “Aku berharap engkau setia” menguatkan rasa cinta dan komitmen untuk tetap mencintai dan saling menjaga?

Hanya waktu dapat membuktikannya. Itu sebabnya, ke[-setia-]an itu adalah proses dan bukan tujuan. Tujuan dicapai ketika seseorang melewati proses yang panjang dan menantang. Seorang istri berharap “suaminya setia padanya”; “seorang wanita/pria berharap pasangannya setia padanya”. Terkesan memang logis—karena itulah konsekuensinya. Sejatinya, ketika cinta itu datan, harapan untuk “setia” itu ada, meskipun motivasinya ingin merusak cinta. Setidaknya, seseorang akan setia sampai ia mendapatkan apa yang ada di balik celana, apa yang ada di dalam dompet (tabungan), dan apa yang ada di dalam rumah (harta benda atau kekayaan). Hal ini dilakukan karena didasari pada motivasi yang merusak, hipokrit, dan menipu.

“AKU BERHARAP ENGKAU SETIA” adalah pernyataan yang menyuguhkan sebuah prinsip untuk mempertahankan apa yang sudah diikrarkan, dijanjikan, diucapkan, disumpahkan. Janganlah mengorbankan sesuatu cinta hanya demi cinta yang lain; atau hanya demi “celana seksi” yang lain. Memang seringkali manusia tidak puas dengan apa yang ia miliki, sehingga memaksanya untuk memiliki atau memegang cinta yang lain sementara tangan yang satu memegang cinta yang ia miliki sebelumnya.

Kita juga jangan mengharapkan pasangan kita setia, sementara kita bebas dari komitmen itu. Hal ini sangatlah tidak seimbang. Justru akan merusak hubungan. Hanya mereka yang berkomitmen untuk setia yang layak mengungkapkan “Aku Berharap Engkau Setia”, sebab mereka yakin bahwa dengan kestiaan yang ia miliki, ia dapat mempengaruhi pasangannya untuk tetap setia.

Kesetiaan itu diwujudkan dari kata dan perbuatan—keduanya harus selaras dan terus konsisten dilakukan. Tak ada cinta tanpa tindakan pembuktian; cinta butuh bukti dan bukan janji melulu; cinta itu nyata dan bukan angan-angan.

Sekiranya cinta dalam berbicara, ia akan menegur kita untuk setia dan tetap setia menjaga rasa cinta itu hingga di kemudian hari menghasilkan buah-buah yang segar.

Bangunlah “rumah sederhana”, yang di dalamnya terdapat enam kamar. Satu kamar untuk kita dan istri/suami, bersama “cinta”. Satu kamar untuk komitmen, satu kamar untuk kasih, satu kamar untuk harapan, satu kamar untuk pengorbanan, dan satu kamar untuk bahan makanan.

Sedangkan bagi yang belum menikah, bangunlah “rumah perasaan” yang di dalamnya terdapat WAKTU (yang menguji cinta), PERASAAN (rindu, kangen, mimpi, berkhayal, dan berharap), KOMITMEN (yang menguatkan rasa cinta meski melewati badai cobaan), HARAPAN (tetap yakin cinta yang dipertahankan mendapatkan rumah baru yang terdiri atas enam kamar), dan PENGORBANAN, yaitu selama proses waktu itu, kita dapat saling memberi pengertian, memberi bantuan, dan memberi motivasi.

Akhir kata: Aku Berharap Engkau Setia haruslah diucapkan oleh kedua pasangan; katakanlah itu dengan yakin; jangan pikirkan yang lain karena akan berpotensi mengganggu, merayu, menggoda, dan mengakibatkan celana terbuka. Berhatilah-hatilah dalam memilih dan menjalani cinta. Pilihlah yang dapat berkomitmen membangun “rumah perasaan” hingga akhirnya membangun “rumah sederhana”.

Salam Bae… Salam Setia

OTAK PELACUR: Kebodohan yang Telanjang

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/276971445823110150/

Manusia memikir-mikir jalannya. Bermodalkan pikiran, ia mengarahkan hidupnya ke [berbagai] arah yang dikehendakinya. Ia memiliki keyakinan yang didapatkan dari pengalamannya sendiri; ia selalu berharap bahwa apa yang dia tahu adalah benar dan selalu merasa benar di jalan logika yang salah.

Karena terbiasa dengan “merasa benar”, ia sama sekali tidak tahu bahwa ia di jalan logika yang salah. Kebodohannya telah membawa dirinya di tengah jalan ramai, di mana ia dalam keadaan telanjang; kebodohannya tak bisa ditutupi. Ada banyak orang yang memberikan dia hadiah pakaian, namun karena kebodohannya, ia tidak mau dan merasa bahwa ia berpakaian.

Otak pelacurnya ikut bermain. Kebodohan yang dirasakannya begitu tinggi sampai-sampai “kebenaran Tuhan” dianggap salah dengan logikanya yang salah di jalan yang salah dalam keadaan bodoh yang mencolok.

Otak pelacur adalah penista kebenaran; mulutnya penuh caci maki; hatinya penuh kebencian, dan apa yang dipikirkannya selalu dirasa benar di jalan yang salah. Ia hanya mempertontonkan kebodohannya, pelacurannya dengan dusta, kebencian, kesesatannya. Logika selalu bermain “seks” dengan wanita-wanita dusta, kebencian, dan kesesatan; logikanya setiap hari bernafsu tinggi dan sering orgasme tak terkendali.

Otak pelacur telah menyerahkan dirinya kepada jalan Setan dan mengungkapkan berbagai ketelanjangan. Aibnya terlihat; auratnya terlihat; itulah kebodohan dan kesesatannya. Ia seakan-akan kesetanan, tak terkendali, dan merasa menang sendiri.

Otak pelacur telah menunjukkan eksistensinya di jalan hidup khalayak ramai; kebenaran yang hakiki dijadikannya olok-olok. Hingga akhirnya ia sendiri beranak paralogisme.

Kebodohan yang telanjang begitu terlihat. Ia senang dan bangga meski kelaminnya tampak aneh dan menyedihkan. Orang semacam ini memang tak mendapat tempat di jalan kebenaran, karena ia telah membuat jalannya sendiri, jalan yang memang mulus dan lurus dalam pandangannya tetapi ujugnya menuju kesesatan.

Raja Salomo pernah menulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”. Apa yang terjadi dengan si otak pelacur? Ia sendiri telah hampir berada di ujung jalannya sendiri, meski di sepanjang jalan ia terus mengoce dan mempertontonkan kebodohannya yang telanjang.

Otak pelacur adalah lawan kita semua. Ketika kebenaran yang kita sodorkan ditolaknya, itu bukan masalah pada kita, melainkan pada otaknya yang pelacur itu. Sejauh kita menyuapinya dengan kebenaran, sejauh itulah ia menolaknya, karena ia mempunyai makanannya sendiri. Ia makan dari dusta bercampur kebodohan, dan melahirkan kesesatan dan kematian.

Jenis kebenarannya adalah kebenaran yang dianggapnya “benar” pada jalan dusta, suatu kebodohan yang telanjang, kebodohan yang menyesatkan. Itulah makanan dan pekerjaan sehari-hari. Kebenaran Tuhan diputarbalikkan untuk memuaskan libido paralogisme. Ia menyediakan harapan sesat bagi para pendengarnya, dan menyerahkan dirinya sendiri pada orgasme sesaat.

Ingatlah, bahwa Tuhan—pada waktu-Nya—akan menyatakan kuasa dan kedaulatan-Nya bagi mereka yang terus memelihara “otaknya” menjadi pelacur. Tuhan menghancurkan mereka; Tuhan menaruh mereka di tempat yang licin, mereka terpeleset dan jatuh, hingga Tuhan menempatkan mereka di dalam perapian yang menyala-nyala.

Tuhan telah disediakan tempat yang layak dengan kebodohannya yang menyesatkan. Meskipun hari-hari yang dilaluinya dirasakan puas, tetapi tibalah waktunya bagi si otak pelacur untuk beberes, sebab Tuhan sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya, menghukumnya, dan menggilasnya.

Jangan mengikut jalan-jalan otak pelacur. Jangan memberikan mutiara kepada babi, itu tidak layak; sama sekali tidak. Babi tak makan mutiara, ia makan kotoran yang menjijikkan.

Teruslah hidup dalam kebenaran Tuhan. Jangan berdusta; nyatakanlah apa yang benar. Ingatlah pesan Rasul Yohanes: “TIDAK ADA DUSTA YANG LAHIR DARI KEBENARAN”. Tetaplah berada di jalan kebenaran Yesus, maka kita akan menerima apa yang dijanjikan-Nya.

Salam Waras

HARAPAN DAN HIDUP YANG TEDIUS

Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/meditation-franz-fotografer.html

Warna-warni kehidupan manusia yang tampak ke permukaan disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut bisa berupa kondisi identitas, jumlah kekayaan, pekerjaan, relasi, kekuasaan, politik, harta milik, nama baik, dan lain sebagainya. Dari sekian faktor yang dijalani, dilakoni, dan dilakukan manusia seringkali muncul rasa yang tedius atau membosankan. Kebosanan hidup banyak penyebabnya. Biasanya karena salah satu faktor di atas, atau karena alasan lainnya, misalnya relasi yang tidak baik dengan sesama, kurangnya jumlah uang di dompet, kurangnya pendapatan, dan lainnya.

Dalam kondisi yang demikian, kadangkala harapan itu mulai pupus, atau bahkan pupus sama sekali. Padahal, harapan itu dapat dipandang sebagai penguat semangat hidup, tergantung apa isi dari harapan itu. Pada kenyataannya, semua manusia berjuang (berusaha) menggapai harapan-harapannya. Entah harapan yang telah lama dipikirkan, atau harapan yang muncul dadakan karena situasi dan kondisi.

Sikap melihat fakta sebagai sebuah hal yang tedius bergantung pada apa yang dilakukan, dipikirkan, dan diusahkan. Jika yang dilakukannya hanya itu-itu saja, maka sikap menjadi tedius dapat muncul. Jika yang dipikirkan selalu tak dapat diwujdukan, maka sikap menjadi tedius dapat muncul. Dan jika yang diusahkan selalu mengalami jalan buntu, kesusahan, dan kegagalan, maka sikap menjadi tedius juga dapat muncul. Lalu bagaimana  sikap yang seharusnya? Tentu tetap sama, yaitu melakukan segala sesuatu dengan bersyukur dan memohon kekuatan kepada Tuhan agar dalam melakukannya secara benar dan bermanfaat. Proses memikirkan masa depan adalah alami, tetapi usaha untuk mencapainya bukanlah hal yang mudah. Meski demikian, teruslah berpikir. Kita juga perlu dan penting untuk berusaha dalam menghidupi diri dan orang lain (yang dikasihi). Dengan begitu, rasa tedius akan hilang dengan sendirinya.

Hal-hal di atas adalah bersifat umum. Setiap manusia dapat merasakan dan mengalaminya, entah dia merasa bahwa hidup itu tedius, tergantung dari apa yang dia lakukan, pikirkan, dan usahakan. Namun, ada hal lain lagi yang juga penting, yang berbentuk pertanyaan: “Adakah Anda merasa bahwa dosa adalah sesuatu yang tedius?” atau sebaliknya, “apakah dosa adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Anda?” Jawabannya tergantung dari karakter dan pengalaman hidup Anda. Jika Anda memilih pertanyaan pertama, maka tanda-tanda pertobatan sudah diambang itu. Anda tinggal melanjutkannya: memutuskan untuk bertobat dan percaya kepada Allah. Jika Anda memilih pertanyaan kedua, maka Anda akan terpisah dari Allah, dan akan menghalalkan segala cara untuk menutupi dosa agar tidak ketahuan.

Memang terlihat—dan itu fakta umum—bahwa manusia-manusia di bumi dengan segala pergumulan dan kesenangannya menempatkan harapannya setiap hari pada hati, pikiran, dan pandangan mata. Harapan itu ada di hati, dan pikiran memikirkan bagaimana untuk mengupayakan harapan itu, sementara mata melihat setiap kesempatan yang ada dan menilai segala situasi dan kondisi agar dapat memulai masuk ke dalamnya dan berproses menggapai harapan itu. Baik orang-orang benar maupun para pendosa memiliki hari dan jam yang sama, bahkan udara yang sama dalam mengikuti proses hidup dan berjuang menggapan harapan. Bedanya adalah pribadi mereka (karakter), tujuan hidupnya di dunia, dan tujuan akhir hidupnya pasca mati.

Siapa saja dapat merasakan hidup sebagai sesuatu yang tedius. Itu alami dan bergantung pada hidup seperti apa yang dijalaninya. Harapan di masa depan dapat muncul di setiap detik dan menit hidup manusia. Hidup itu sendiri sangat singkat jika diukur berdasarkan “waktu” Tuhan. Menjalani hidup yang tedius boleh-boleh saja, tetapi sikap seperti itu tidak dapat mendorong seseorang untuk maju dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi sesama.

Terkadang, beban hidup yang begitu berat, membuat seseorang merasa bosan akan apa yang dijalaninya. Keletihan dan kepenatan hidup, bahkan hati dan pikiran juga, membuat manusia yang berjuang menjalani hidup, harus beristirahat sejenak dan memikirkan langkah selanjutnya. Terkadang pula, beban-beban yang berat itu, membuat seseorang mengakhirinya hidupnya; tak sanggup menjalaninya, ia kemudian berpikir: “untuk apa saya hidup jika saya tak mampu menanggung beban hidup yang begitu berat”. Tentu masih ada kasus lain yang terjadi, terkait dengan kondisi hidup manusia, baik yang berbeban berat, maupun yang merasa hidup itu sangat tedius.

Tak dapat dipungkiri bahwa memang menjalani hidup memiliki suka dan dukanya, dan setiap orang juga memiliki proses yang berbeda. Mereka ditempa (dibentuk) oleh hidup dan menempa (mendidik dan melatih) hidup mereka sendiri. Hasil dari ditempa dan menempa, keduanya diserahkan untuk menggapai harapan di masa mendatang. Ada yang kecewa, merasa tedius, ada yang mengakhiriya di tengah jalan, ada yang putus harapan, dan ada yang mengakhiri hidupnya sendiri, karena merasa tak sanggup melewati proses hidup itu.

Di tengah kondisi hidup yang sedemikian sulit, tidak mudah menggapai harapan apalagi dalam konteks hidup yang tedius. Meski demikian, semangat untuk tetap meneruskan perjuangan dalam menggapai harapan masih ada. Bahkan jika kita menyadari sejak awal, bahwa kita membutuhkan Tuhan untuk menjalani hidup ini. Kita tak mungkin bisa berjalan sendiri. Tanpa Tuhan, kita terasing, dan tak dapat berbuat banyak. Kita ingat tapa yang dikatakan Yesus: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Kita hidup harus menghasilkan buah, dan jika demikian, kita harus tinggal di dalam Yesus. Itulah maksud dari perkataan Yesus di atas.

Menghasilkan buah dalam kehidupan tidaklah mudah. Dunia juga menawarkan buah-buahnya untuk mengganggu kita, dan bahkan menjerumuskan kita. Dunia menawarkan hal-hal yang kadang menggiurkan, tetapi pada akhirnya mengecewakan dan menghancurkan. Jika tidak ingin kecewa, maka tinggallah di dalam Yesus, pasti kita berbuah banyak.

Kita berjuang untuk hidup dan menghasilkan banyak buah. Di dalamnya kita juga berharap bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan memberikan kekuatan agar kita sanggup menjalaninya, meski kita merasa letih, lesu, dan berbeban berat. Mereka letih, lesu, dan berbeban berat adalah fakta umum dari kehidupan manusia, tetapi mereka yang membutuhkan Yesus, akan menjadi berbeda hidup dan karakternya. Yesus melihat bahwa beban dunia sangat menyiksa, itu sebabnya Dia menawarkan solusinya: “Marilah kepadak-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:28-30).

Jika kita mau mengikut Yesus, maka beban dunia harus dilepaskan, dan kita mendapatkan kuk yang baru dari Yesus. Tetapi perlu diingat bahwa kuk dan beban yang kita pikul itu enak dan ringan, karena Yesus memampukan kita untuk memikulnya. Yesus tahu batas kemampuan kita; Ia memberikan kuk sesuai dengan kemampuan kita. Mengikut Yesus, selain memikul kuk dari Dia, kita diberikan jaminan bahwa kuk itu enak dan ringan; tidak membuat kita tersiksa dan merasa tedius. Jika ada dari antara kita yang merasa bahwa kuk dari Tuhan itu menyiksa, maka sebenarnya yang kita pikul adalah beban dunia, dan bukan beban dari Tuhan. Tuhak tidak menyiksa kita ketika kita melayani-Nya (gambaran dari kuk dan beban yang kita pikul).

Yesus menawarkan jalan kebahagiaan, yaitu memiliku kuk yang Dia pasang pada kita. Jika kita memikul beban dunia, kita akan tersiksa, bahkan mungkin akan menjadi budaknya. Kita harus menanggalkan beban-beban dunia, dan memikul kuk yang diberikan Yesus. Kita harus memutuskan apakah kita mau memikul beban dunia yang bisa membuat kita merasa tedius, karena dunia tidak mengenal dan memahami kita yang berimbas pada beban yang kita pikul itu “over capacity”, ataukah kita memutuskan untuk mengikut Yesus dan memikul kuk yang dipasang (diberikan) kepada kita sesuai dengan kemampuan kita.

Keputusan-keputusan kita sangat menentukan proses kehidupan itu berjalan dengan baik, asalkan prinsip-prinsip yang Tuhan tetapkan, kita dapat menerima, memegangnya, dan tetap menggunakannya sebagai “cahaya” pada setiap langkah hidup kita. Ada harapan di dalam hidup yang tedius, dan harapan itu hanya ada di dalam Yesus. Ikutlah Dia, pikullah kuk yang Dia pasang, karena kuk itu enak dan bebannya pun ringan. Mengapa? Karena Yesus tidak hanya memberikan kuk kepada kita, tetapi Ia juga yang memberikan kemampuan, kesabaran, dan kebijaksanaan untuk memikulnya. Bersama Yesus kita pasti bisa.

Salam Bae…..

HARAPAN DI TENGAH KEBERDOSAAN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/741968107360208778/

Dalam pandangan pendosa, perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukannya dipandang sebagai harapan tersendiri dan tertentu (tersembunyi) yang sedapat mungkin ditutupi rapat-rapat sehingga tidak ada orang lain yang tahu. Pendosa memiliki harapan terkuat, yaitu dosa-dosa yang dilakukannya aman dan terkendali, tak ada tahu, dan berharap dosa-dosa tersebut tidak mendapat hukuman, entah dari orang lain, maupun dari Tuhan.

Di hadapan Tuhan—sebagaimana yang diklaim Allah—segala sesuatu tak ada yang tersembunyi; semua terbuka di mata-Nya. Pendosa tak ada yang lolos atau terlewatkan. Bahkan hukuman menantinya di ujung jalan Allah. Pendosa tak dapat bersembunyi dan menyembunyikan dosa-dosanya. Ia harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Kecuali mereka yang menyadari dan mengakuinya kepada Allah, maka ia akan mendapatkan pengampunan-Nya. Hal inilah yang ditegaskan Rasul Yohanes:

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:8-9).

Harapan terbaik dari pendosa yang “mengakui” dosanya kepada Allah adalah “pengampunan” dan “perkenanan” Allah atas diri dan hidupnya. Harapan terburuk dari pendosa adalah ketika ia merasa aman dalam dosanya. Itu pasti harapan yang dia jaga dan tetap dijaga. Akan tetapi, hal itu akan menjerumuskan dia ke dalam pelbagai kehidupan yang kotor, najis, dan penuh hipokrit.

Allah menyediakan harapan di tengah keberdosaan manusia. Tangan kasih-Nya terulur bagi manusia. Ia berfirman kepada mereka untuk memperlihatkan kepedulian dan kekuatan firman yang keluar dari diri-Nya. Ia menyapa sekaligus mengasihi; Ia mengasihi sekaligus menolong; dan Ia menolong sekaligus mengajak manusia yang berdosa itu kembali pulang kepada-Nya.

Pada Allah, harapan di tengah keberdosaan mengarahkan manusia untuk hidup kudus dan kembali kepada-Nya, sedangkan pada pendosa, harapan di tengah keberdosaannya mengarahkan dirinya untuk hidup terus dalam dosa dan kembali menyembunyikan dosa-dosa supaya aman, tersembunyi, dan dapat dipelihara dengan baik. Kedua harapan tersebut sangatlah berkontradiksi. Allah menyediakan pengampunan bagi mereka yang mengakui dosa-dosanya, sedangkan pendosa menyediakan kehancuran bagi dirinya sendiri.

Kita melihat bahwa Allah berulang kali memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengaku dosa, bertobat, dan kembali kepada-Nya. Dari situlah harapan itu terbit dan menyinari totalitas pikiran, hidup, dan relasi kita dengan orang lain. Harapan itu kuat, karena manusia menghendaki sesuatu terjadi dan dialami dalam kehidupannya sendiri. Dan harapan di tengah keberdosaan adalah pilihan utama, apakah akan berharap kepada Allah ataukah berharap pada pikiran dan kekuatan sendiri.

Alkitab, secara khusus kitab Amsal 3:5-7, menyatakan bahwa: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.”

Tampak bahwa kekuatan sendiri yang diandalkan manusia akan tetap menjadikan dirinya sebagai budak dosa dan kejahatan jika bukan budak nafsu diri sendiri. Justru Allah mengarahkan manusia berdosa untuk percaya kepada-Nya dan bersandar pada firman Allah yang kuat itu, bukan pada pengertian sendiri. Manusia tak dapat meluruskan jalannya tanpa intervensi Allah. mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara hidup, akan berdampak pada bagaimana Allah mengatur dan mengarahkan langkah manusia. Hal ini jelas dikatakan oleh pemazmur:

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mzm. 37:23-24)

Ketika kita mempersembahkan dan mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, maka hanya ada satu pilihan yaitu “kita selalu berharap dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal”. Ketika kita mempercayakan hidup kepada Tuhan, maka bukan lagi kita bersandar pada pengertian kita sendiri melainkan pada kehendak Allah sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab.

Pada saat yang bersamaan, kita juga tidak menganggap diri kita sendiri bijak, melainkan tetap mengandalkan Tuhan dan penuh rasa takut—yaitu taat dan setia—kepada TUHAN. Jika ini terwujud maka sudah pasti kita akan menjauhi kejahatan. Harapan ini begitu indah. Cita-cita untuk menjadi seperti yang Tuhan kehendaki adalah iman kita. meski kita tahu bahwa ada berbagai tantangan dan hambatan yang dapat saja mengganggu, atau menggoda kita, tetapi keputusan untuk tetap percaya kepada Allah akan menyingkirkan dan menolak godaan dosa yang menggiurkan itu. Tentu ada harapan di baliknya. Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap berada di jalan-Nya.

Ada dua pilihan yang tersedia bagi kita: menjadi orang yang berkenan kepada Allah yaitu orang yang mengandalkan Allah dalam segala hal dan hidup yang “mengakui” segala dosa, pelanggaran, dan kesalahan, atau menjadi orang yang mengandalkan diri sendiri, menyembunyikan dosa-dosa dalam lemari kemunafikan, dan tidak mau mengakuinya di hadapan Allah. Pada akhirnya, kita akan menerima hadiah dari Allah atas perbuatan-perbuatan baik kita, dan bagi para pendosa, juga akan menerima “hadiah” selaras dengan perbuatan-perbuatannya, yaitu “hukuman”.

Jika para pendosa ingin mengubah hidupnya sendiri, maka ia harus tahu bagaimana jalan menuju pertobatan. Kesadaran—yaitu akal budinya—seharusnya mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan jahat tak akan memberikan hal-hal baik: “Anda tentu tidak berharap perahu Anda terbawa arus ketika Anda sedang mendayung melawan arus.” Demikian juga “Anda tentu tidak berharap hidup Anda terbawa arus dosa ketika Anda sedang mendayung [berjuang] melawan arus dosa.” Ketika kita berjuang melawan arus dosa, kita harus tahu bahwa tanpa Allah yang memampukan kita untuk mendayung, maka sia-sialah usaha kita. Harapan terbaik dalam situasi demikian adalah memohon pertolongan dari Allah untuk memampukan kita mendayung melawan arus dosa.

Allah telah menyediakan harapan yang lebih baik yaitu “ketika dosa-dosa kita diampuni-Nya, Allah menyelamatkan kita, dan menguduskan kita melalui firman-Nya yang berkuasa”. Problem terbesar manusia, yaitu “melawan dosa” hanya mampu dilawan ketika Allah memampukan kita untuk melawannya. Usaha dan kerja keras kita tak akan mampu melawan arus dosa; kita bahkan terseret olehnya. Kita mampu berjuang melawan dosa karena kita dimampukan Allah untuk melawannya dan menolaknya.

Allah menyediakan harapan di tengah keberdosaan, yaitu pengampunan dosa. Berbagai cara telah Allah lakukan di zaman lampau, dan Ia pun menunjukkan cara yang lain, yaitu mengutus Yesus Kristus—Sang Logos Ilahi—untuk datang ke dalam dunia, diam di antara manusia, dan menyatakan Allah: pengajaran-Nya, kerajaan-Nya, dan hukum-hukum-Nya secara terbuka. Yesus telah menebus manusia dari dosa-dosa mereka, dan Ia memberikan kekuatan untuk hidup kudus sekaligus memberikan kekuatan untuk menolak hidup najis, hidup yang berdosa.

Harapan itu telah ada dan datang ke dalam dunia. Harapan di tengah keberdosaan telah terbit. Allah menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia, dan Allah menghadapkan wajah-Nya kepada kita—melalui Yesus Kristus—dan memberikan kita damai sejahtera, “Karena Dialah [Yesus] damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua belah pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2:14).

Ketika manusia hidup dalam dosa, ia mati, terpisah dengan Allah; perbuatan-perbuatan dosanya justru menjauhkan dirinya dari Allah. Jadi, bukan Allah yang menjauh, melainkan manusialah yang menjauhkan diri dari Allah dengan melakukan dosa. Di mata Allah, di dalam dosa tidak ada harapan, kecuali Ia sendiri datang dan mengangkat manusia dari ikatan dosa; manusia tak sanggup keluar, harus ada “tangan lain” yang terulur untuk memegang dan mengangkatnya. Itulah yang Allah lakukan. Ketika Allah mengangkat manusia, maka kita hidup.

Harapan di tengah keberdosaan manusia memberikan pengertian bahwa “harapan” itu datang dari luar manusia yang berdosa, yaitu Allah yang menawarkan anugerah melalui uluran tangan-Nya kepada manusia, maka secara simultan harapan itu diberikan kepada manusia, dan menguatkan dia untuk—mengakui bahwa Allah telah menolongnya—keluar dari ikatan dosa. Manusia dibebaskan oleh Allah.

Rasul Paulus secara tepat menggambarkan hal ini: “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih karunia-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Efesus 2:4-5).

Semuanya adalah kasih karunia. Dosa manusia dapat teratasi karena Allah menunjukkan kasih karunia-Nya. Melalui Yesus Kristus—Firman-Nya yang kekal—Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang dahsyat yaitu menebus manusia dari dosa-dosa mereka dan membawa mereka ke dalam Kerajaan-Nya. Sama seperti di zaman PL, Allah—melalui Firman-Nya—memanggil, menegur, mengarahkan, dan menolong manusia untuk keluar dari keberdosaan mereka dan menerima damai sejahtera. Kini, di zaman PB, Allah melakukan hal yang sama tetapi dengan cara yang berbeda. Logos Allah menjadi manusia dan menyatakan bahwa manusia harus kembali kepada Allah, kembali kepada “Terang Allah”.

Dosa membuat hidup manusia gelap. Yesus memberi terang (bdk. Yoh. 1:9; 3:19; 8:12; 9:5). Yesus sendiri menegaskan: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh. 12:46). Ada harapan di tengah keberdosaan manusia, yaitu ketika “terang” itu datang menerangi hati manusia yang telah digelapkan oleh dosa-dosanya. Yesus adalah Terang. Ia mengajak kita datang kepada-Nya; Ia mau, kita hidup dalam Terang-Nya, meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan (dosa). Ketika kita memilih datang kepada Terang itu, maka hidup kita berbuahkan kebenaran dan damai sejahtera. Hidup kita aman dan tenang, selama-lamanya.

Salam Bae.

TERBUKA KEPADA TUHAN ATAU KEPADA FACEBOOK?: Fenomena Simpatetik dan Impetus Logika

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/732046114407633379/

Manusia memiliki beragam cara berpikir. Cara berpikir dituangkan melalui kata (dicta) dan perbuatan (gesta) ke dalam lautan kehidupan dengan beragam konteksnya. Kata dan perbuatan yang dituangkan bergantung pada “hasrat untuk….” yang pada gilirannya tampak jelas seperti apa identitas seseorang tersebut.

Fenomena yang terjadi adalah maraknya pengguna media sosial, misalnya Facebook yang secara terang-terangan mempertontonkan gagasan personal yang mencakup enam alasan: pertama, ingin dikenal; kedua, ingin mencari perhatian; ketiga, ingin terlihat rohani; keempat, ingin terlihat jalan-jalan atau sibuk [pelayanan, dan sebagainya]; kelima, ingin terlihat butuh dukungan tetapi sebenarnya hanya sebuah pretensi (berpura-pura); dan keenam, ingin meminta dukungan (doa, nasihat, dan sebagainya) yang serius.

Dari keenam hal di atas, ada fakta yang sering kita lihat pada status seseorang. Ia sering memohon kepada Tuhan dengan menulis status: “Tuhan lindungilah kami dalam perjalanan ini”, dan kalimat seragam dengan itu dalam banyak versi. Intinya, seseorang hanya ingin menunjukkan bahwa, entah dia sedang bergegas pelayanan, atau kerja naik sepeda motor, bus, kapal laut, kapal terbang, kereta api, dan sebagainya. Dengan demikian, semuanya dilatari oleh sebuah motivasi.

Fenomena “terbuka kepada Facebook” menjadikan seseorang atau beberapa orang mengalami masalah serius, baik secara psikologi maupun secara spiritual. Muncullah yang disebut dengan “kesombongan” yang pada gilirannya seseorang hanya ingin memamerkan dirinya. Memang, media sosial dapat menjadi “sarana positif” untuk saling mendukung satu dengan yang lain. Tetapi, semuanya itu tergantung pada “motivasi” seseorang.

Kadang-kadang, seseorang lebih suka terbuka kepada Facebook ketimbang kepada Tuhan. Seperti judul tulisan singkat ini: “Terbuka kepada Tuhan atau kepada Facebook?” adalah gambaran dari fenomena di zaman Millennial ini. Ini bukan berbicara soal benar atau salah, tetapi lebih kepada motivasinya. Jika hanya ingin terlihat rohani dengan memamerkan segala sesuatunya, maka nikmatilah itu, dan kesombongan akan muncul secara perlahan.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah benar doa kepada Tuhan yang dituliskan di Facebook lahir dari hati yang tulus? Hanya si penulis status yang tahu. Tetapi, apakah “Tuhan punya Facebook”? Ataukah doa itu hanyalah slogan atau cara untuk seseorang dianggap rohani, atau butuh pertahatian? Bibit-bibit kesombongan dan haus perhatian dapat menyelinap dalam setiap publikasi “caper: cari perhatian” di Facebook. “Ah, Anda hanya ngomong saja. Itu kan urusan pribadi.” Gumam orang-orang yang merasa tersinggung.

Benar, itu urusan pribadi. Tetapi perlu diketahui, status di Facebook bukanlah urusan pribadi, tetapi urusan banyak orang, karena itu adalah media sosial, media yang dilihat oleh banyak orang. Bagaimana bisa disebut urusan pribadi sedangkan seseorang giat mempublikasikan “doanya” kepada Tuhan yang bertujuan—entah caper, atau butuh dikasihani, ataukah memang butuh dukungan doa, dilihat dan dibaca banyak orang? Sekali lagi: motivasi melatari status seseorang. Motivasi yang baik menyingkirkan kesombongan. Motivasi yang ingin caper, akan muncul tunas-tunas kesombongan.

Fenomena ini saya sebut dengan “simpatetik” yaitu bekenaan dengan sistem saraf, yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks ini, simpatetik dapat bertujuan untuk mencari simpatik atau daya tarik. Dengan perkataan lain, disebut dengan “caper: cari perhatian”. Seseorang dapat secara mekanis yaitu dapat segera “tergerak” untuk mempublikasikan segala sesuatu dan kemudian disertai dengan doa; entah doa itu hanya pamer atau caper, atau tujuan lain, hanya penulis status yang tahu. Tetapi, jika mau jujur, dugaan saya tertuju kepada “caper: cari perhatian”. Toh bukannya ia bisa berdoa langsung kepada Tuhan tanpa perantara Facebook, bukan? Ah… sudahlah.

Fenomena kedua adalah disebut dengan impetus logika yaitu daya pendorong, di mana seseorang merasa tidak sabar untuk segera berdoa kepada Facebook agar segera pula dapat respons (baca: perhatian) dari orang lain. Kedua gejala psikologi ini yakni simpatetik dan impetus begitu menggejala di dunia per-Facebook-an. Maklum, motivasi caper, pamer, kuper (kurang perhatian), dan ingper (ingin diperhatikan) begitu kuat melandasi pribadi seseorang. Tapi bukankah tidak semua bertindak demikian? Memang benar. Seperti yang saya tegaskan di atas bahwa “motivasi” adalah dasar dari segala status di dunia Facebook. Sekali lagi, “motivasi”.

Coba kita perhatikan, baru tergores sedikit di tangan atau kaki, langsung buat status. Itu motivasinya apa? Baru lecet atau teriris sedikit di tangan atau di kaki, langsung buat status. Motivasinya apa? Bahkan, boarding pass pesawat pun difoto dan dibumbui dengan doa singkat: “Tuhan, lindungilah perjalanan hamba-Mu ini.” Motivasinya apa?

Jadi, kita mau terbuka kepada Tuhan atau kepada Facebook? Apakah kita memiliki gejala psikologi simpatetik dan impetus logika? Hanya kita yang dapat mengatur diri kita. Tetapi berusahalah agar bibit-bibit kesombongan dan rasa haus perhatian janganlah merajai hati dan hidup kita. Gejala per-Facebook-an telah menjadikan manusia haus perhatian sehingga curhat di Facebook; mulai dari urusan makanan, urusan keluarga, urusan pelayanan, maupun urusan pekerjaan. Apalagi jika ada orang yang memaki-maki orang lain di Facebook, bukankah dia sedang mencari perhatian?

Renungkanlah motivasi kita dalam menggunakan Facebook. Jangan semua urusan pribadi, keluarga, pekerjaan dipublis di Facebook. “Jangan jual diri Anda di media sosial”. Juallah dagangan pemikiranmu, dagangan motivasimu, dagangan kepedulianmu, dan masih banyak lagi yang bersifat positif. Kurangi, bahkan hentikan cara-cara yang mudah dibaca orang, bahwa Anda kurang diperhatikan, cari perhatian, dan ingin perhatian, hingga Anda harus pamer segala sesuatu untuk mendatangkan pujian semu nan merdu.

Terbukalah kepada Tuhan, dan bukan kepada Facebook. Jadikanlah diri terang bagi dirimu sendiri hingga akhirnya Anda dapat menjadi terang bagi sesamamu, kapan pun, dan di mana pun, termasuk di dunia per-Facebook-an.

Salam Bae!

TANGAN SANG KHALIK YANG TERULUR

Sumber gambar: https://honourinrevenge.tumblr.com/image/133484282673

Harapan terkuat dari orang percaya adalah ketika Allah “turun tangan” atas segala sesuatu yang membuat mereka terdesak, terhina, tertekan, dan tercaci maki. Lebih dari pada itu, harapan untuk Allah “turun tangan” terhadap berbagai persoalan hidup, ibarat seorang yang lapar dan mendapatkan makanan gratis tanpa dia berusaha sedikit pun. Allah turun tangan pertanda Ia sedang menyatakan sesuatu, entah hukuman, entah teguran, entah berkat, entah penguatan, entah penghiburan, entah topangan, entah penyadaran dan pembelajaran.

Dalam sejarah manusia tak terhitung banyak Allah turun tangan. Sejak awal manusia jatuh ke dalam dosa, tangan-Nya terulur untuk menutupi ketelanjangan dan rasa malu Adam dan Hawa. Tangan Allah, Sang Khalik, yang terulur itu, pertanda kasih dan sayang-Nya kepada manusia. Meski mereka telah mengecewakan-Nya dengan melakukan tindakan yang “melawan” (melanggar) peritah-Nya, Ia tetap menunjukkan uluran tangan-Nya untuk manusia, serta melawat mereka sedemikian rupa.

Dalam pengertian yang lain, tangan yang terulur, dipahami sebagai “tangan Allah yang teracung” untuk menolong umat-Nya. Allah segera menyatakan pertolongan bagi umat-Nya untuk membebaskan mereka, memberi kemenangan, dan bahkan menghukum umat-Nya yang berdosa kepada-Nya (lihat Keluaran 3:20, “Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir….”; Keluaran 7:4, 5; 9:15; Yesaya 50:2; 51:5).

Tangan Allah juga menggambarkan kekuasaan atas alam semesta. Tangan-Nya yang memegang penghukuman (Ulangan 32:41; Yesaya 51:25; Yehezkiel 6:14; 13:9; 14:9; 25:7, 13, 16; 35:3; Amos 1:8; Zefanya 1:4; Zakharia 2:9), tangan-Nya yang menciptakan (Yesaya 19:25; 45:11-13; 66:2), tangan-Nya yang memegang kuasa (Yesaya 43:13), tangan-Nya yang melukiskan kehidupan orang yang dipilih-Nya (Yesaya 49:16) tanda bahwa Allah yang memegang kendali (lih. Yesaya 18:6, “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel”; Amos 9:2); tangan- Nya pula yang menaungi orang pilihan-Nya (Yesaya 51:16), tangan-Nya yang menyatukan suku-suku Israel (Yehezkiel 37:19).

Ketika tangan Sang Khalik terulur, Ia menyapa umat-Nya, mendidik, mengarahkan, menolong, dan menopang mereka. Tangan-Nya yang terulur adalah bukti bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya bagi umat-Nya yang telah berdosa; Ia menanti pertobatan sejati dari mereka; Ia sabar. Dalam kitab Yesaya 65:2-16, khususnya ayat 2, sangat jelas dinyatakan mengenai kesabaran Allah dengan mengulurkan tangan-Nya: “Sepanjang hari Aku telah ‘mengulurkan’ tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri….”

Kesabaran Allah dibuktikan dengan mengulurkan tangan-Nya, melalui “waktu” dan “proses” yang Ia berikan kepada mereka yang berdosa untuk segera kembali, bertobat kepada-Nya. Ketika manusia tak berdaya menghadapi kuatnya desakan dosa, tangan-Nya terulur untuk menolong. Dari sini kita belajar bahwa tangan yang terulur—adalah tanda bahwa Ia menyatakan sesuatu sesuai dengan kondisi yang dialami manusia.

Puncaknya, tangan Allah yang diulurkan itu terlihat jelas pada diri Sang Logos yang berinkarnasi menjadi “daging” (sarks); Ia tinggal di dunia, berbaur dengan manusia, mengajar dan menolong manusia, membebaskan yang terbelenggu dan kerasukan setan; Ia mengarahkan manusia untuk “kembali pulang” Sang Bapa. Dia adalah YESUS KRISTUS.

Sungguh luar biasa penyataan tangan Allah. Ia telah mengulurkan tangan-Nya melalui cara yang ajaib. Kelahiran Sang Logos ke dalam dunia, adalah bukti bahwa kasih Allah yang berkesudahan. Ia telah menyatakan kasih-Nya di sepanjang sejarah manusia, pada bangsa Israel, dan kemudian Ia menyatakan kasih-Nya dalam cara lain yang lebih spektakuler, yaitu Logos yang ada di dalam diri-Nya sendiri, “turun”—terulur bagi dunia untuk memanggil mereka pulang kepada Bapa. Rasul Yohanes begitu jelas menyatakan ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Kata “mengaruniakan” dapat dipahami sebagai “tangan Allah yang diulurkan” untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yoh. 3:17). Yesus Kristus adalah “tangan Allah yang terulur” untuk memberikan konfirmasi bahwa keselamatan itu ada, dan keselamatan itu disediakan bagi mereka yang percaya.

Dalam Perjanjian Lama Allah telah menyatakan (mengulurkan) tangan-Nya bagi umat-Nya dan dalam konteks Perjanjian Baru Allah melakukan hal yang sama tetapi dengan cara yang berbeda: “Logos menjadi manusia”. Ini luar biasa. Tangan yang berkuasa dan memegang kendali itu, kini telah hadir dalam sejarah manusia. Itulah sebabnya, Yesus Kristus—tangan Allah yang terulur” menyediakan jalan pulang, dan Ia mengkonfirmasi kepada kita:

“Akulah JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalan tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Konfirmasi di atas menjelaskan bahwa “tidak ada seorang pun yang datang kepada Allah jika Allah tidak berfirman (tidak menyatakan bagaimana manusia harus kembali kepada-Nya), jika Allah tidak mengulurkan tangan-Nya untuk mengambil manusia dari lumpur dosa.” Allah berfirman melalui Logos-Nya sendiri untuk menyatakan bahwa manusia harus bertobat dan kembali pulang kepada-Nya, dan Allah mengulurkan tangan-Nya melalui cara yang ajaib, Logos-Nya (Firman-Nya) menjadi “manusia” untuk menyatakan kasih, kemurahan, pengampunan, dan penebusan. Itulah yang dilakukan Yesus Kristus. Inkarnasi-Nya menyatakan kepenuhan, ya, kepenuhan kasih, kemurahan, pengampunan, dan penebusan Allah.

Dengan demikian, kita harus bersyukur bahwa Yesus Kristus telah menyediakan jalan pulang kepada Bapa; Ia telah mengulurkan tangan-Nya untuk mengajar, mengarahkan, dan menunjukkan jalan pulang itu. Yang dapat menunjukkan “jalan” hanyalah Yesus Kristus karena Ia telah menyatakan hal itu. Sebagaimana Allah (dalam PL) telah berfirman kepada Nabi Yesaya, bahwa “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.’”

Jika demikian, konfirmasi bahwa Allah adalah penunjuk jalan yang benar, maka Yesus adalah Allah. Hal ini dijelaskan melalui dua bukti, yaitu: Yesus adalah Logos Allah secara ontologi, dan Yesus menyatakan bahwa identitas ontologi-Nya itu dikonfirmasi melalui pernyataan bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup, mengarahkan dan menuntun manusia berdosa ke jalan yang seharusnya, yaitu jalan menuju Bapa.

Tangan Sang Khalik yang terulur telah mengubah umat-Nya, bahkan mengubah dunia. Yesus Kristus, tangan Allah yang terulur, telah menyatakan bahwa Diri-Nya adalah jalan keselamatan, dan manusia berdosa diarahkan untuk bertobat, kembali kepada Bapa-Nya, untuk menikmati kehidupan yang berbahagia, kehidupan yang kekal, dan kehidupan yang memberi faedah selama-lamanya. Tetaplah percaya kepada Yesus Kristus.

Salam Bae.

ALLAH DAN MANUSIA: Ia Menebus dan Mengampuni Kita

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/820710732086642699/

Dosa, kejahatan, dan pemberontakan terhadap Allah hanya dapat dibereskan melalui penebusan dan pengampunan dari Allah saja. Manusia sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari dosa jika Allah tidak memberikan kemampuan kepadanya. Kemampuan yang Allah berikan tidak hanya kemampuan iman untuk tetap kuat menghadapi godaan dan cobaan, melainkan juga kemampuan mempertimbangkan segala sesuatu, baik-buruknya.

Iman mengarahkan kita kepada bagaimana kita melihat Tuhan sebagai “Yang Kudus” dan menerapkan kekudusan kepada diri kita. Allah pernah menegaskan: “Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah kudus”. Manusia yang memilih—dengan kebebasannya—untuk berdosa kepada Allah karena ia menolak untuk taat kepada perintah Allah, termasuk untuk hidup dalam kekudusan. Hidup kudus adalah “tanggung jawab iman” yang tak boleh diabaikan.

Kekudusan menuntun kita untuk pulang kepada Bapa melalui “jalan pulang” yang ditetapkan Bapa bagi kita yaitu Yesus Kristus. Dalam proses melewati jalan pulang itu, Allah menyediakan kita kedamaian dan kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Tak jarang, kita berjuang mati-matian menghadapinya. Bersama Allah kita dapat melewatinya, melakukan perkara-perkara yang besar setelah kita “setia” kepada Allah di dalam perkara-perkara yang kecil.

Jalan pulang yang disediakan Allah bagi manusia berdosa menuntun mereka kepada penebusan dan pengampunan yang sejati. Pasca menerima dan merasakan penebusan dan pengampunan, manusia harus mengikuti apa yang dikehendaki-Nya: “hidup kudus”. Dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap dosa; dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap pemberontakan; dan dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap tindak kejahatan.

Ketika Allah memulihkan kita, Ia mendorong kita untuk hidup di dalam firman-Nya (kehendak-Nya). Kita yang hidup di dalam firman-Nya mustahil untuk hidup bagi dosa, mustahil hidup terpisah dari Allah, mustahil  hidup dalam kejahatan dan pemberontakan. Ketika kita berkomitmen hidup bagi Allah, maka secara konsisten kita pun harus menjaga diri dari segala kenajisan, kemunafikan, kejahatan, dan berbagai perilaku menyimpang. Allah adalah kudus, maka Ia akan memuji kita yang hidup dalam kekudusan. Kita “meneladani” Allah.

Penebusan dan pengampunan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus menggiring kita kepada kehidupan yang benar, bersih, dan suci. Kita tidak sedang menggiring tanggung jawab ke pinggir jurang dan mendorongnya jatuh, melainkan kita menggiring dosa, kejahatan, dan pemberontakan ke pinggir jurang yang sama, dan mendorongnya jatuh. Itulah tanggung jawab iman. Tanggung jawab yang benar; tanggung jawab yang bebas mendorong “dosa” menemukan tempat yang seharusnya, yaitu “jurang maut”.

Kita hidup bagi Dia. Kita hidup dan bergerak karena Dia, dan kita hidup untuk menyenangkan Dia melalui realisasi tanggung jawab yang benar yaitu menolak dosa dan kejahatan “masuk ke dalam hati dan pikiran”; kita hidup untuk memuliakan Dia melalui perbuatan-perbuatan baik kita supaya setiap orang yang melihatnya memuliakan Bapa yang di surga (Matius 5:16).

Hanya Allah yang dapat menyediakan segala sesuatu untuk kepentingan kita. Segala sesuatu tersedia, tinggal kita yang datang menjemputnya. Allah telah menyediakan “kendaraan” bagi kita, tinggal kitalah yang bergegas untuk menaikinya menuju kasih yang sejati dan sempurna. Allah telah menebus dan mengampuni kita dari segala dosa kita, masihkah kita menolak untuk merealisasikan tanggung jawab iman? Masihkah kita menolak untuk hidup merdeka dalam kasih dan kemurahan-Nya?

Penebusan dan pengampunan Allah yang mengubah hidup kita adalah fakta yang tak terbantahkan. Setiap orang yang merasakan kasih dan kemurahan Allah melingkupi hidupnya adalah orang yang sadar (menyadari) bahwa Allah telah menebus dan mengampuninya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain kita tahu bahwa kita telah ditebus dan diampuni Allah melalui Yesus Kristus.

Yesus Kristus datang memperlihatkan kasih dan kepedulian Allah atas manusia yang berdosa. Untuk memulihkan manusia yang berdosa, Allah tidak hanya menggunakan satu cara saja. Justru dengan cara-cara yang berbeda tetapi substansinya sama, Allah menunjukkan bahwa Ia tak kehilangan cara atau kekurangan cara. Cara-cara tersebut menggiring manusia untuk berhadapan langsung dengan “kasih karunia-Nya” yang dahsyat itu.

Inkarnasi Logos ke dalam dunia adalah puncak cara Allah untuk menebus dan mengampuni manusia. Inkarnasi bersifat suprematif dan melaluinya, Allah dengan leluasa menyatakan kehendak-Nya kepada manusia. Ketika Allah menyampaikan Logos-Nya secara langsung, melalui para malaikat, melalui bapa-bapa leluhur, melalui nabi-nabi, hakim-hakim, raja-raja, dan orang-orang pilihan-Nya, Allah juga menyampaikan firman-Nya melalui konsep “menjadi”: “Logos “menjadi” daging (“ho Logos sarks egeneto”). Allah begitu luar biasa memperlihatkan cara-cara yang ajaib di sepanjang sejarah dan berpuncak pada Yesus Kristus.

Allah benar-benar memperlihatkan finalitas kasih-Nya melalui Logos-Nya sendiri hadir dalam sejarah manusia dalam wujud “manusia”. Bukankah ini sangat luar biasa? Jika Allah hanya berfirman (berbicara) melalui para malaikat dan orang-orang yang ditetapkan-Nya, itu sudah biasa, tetapi ketika Ia datang dan berbicara melalui Logos-Nya yang menjadi manusia, maka itu luar biasa.

Allah menunjukkan cara yang lain yang tidak biasanya dan tidak pernah terjadi dalam sejarah Israel, bahkan dalam sejarah umat manusia. Inkarnasi Allah adalah finalitas cara Allah untuk memperlihatkan kemahakuasaan-Nya. Allah menggabungkan dua cara menjadi satu: “Firman Allah” yang dibuat menjadi Kitab Suci dan “Firman Allah” yang menjadi manusia.

Pada “Firman Allah” menjadi Kitab Suci dapat terjadi pada agama-agama lain, sebab mereka juga memiliki kitab suci yang dipercayai sebagai “sabda” Tuhan atau Dewa yang mereka imani, dan kemudian menjadi kitab suci. Akan tetapi pada “Firman Allah” yang menjadi manusia, tidak terdapat pada agama manapun, kecuali dalam Kristen, agama yang lahir dari rahim Yudaisme yang bertitik tolak dari inkarnasi Logos menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Inilah letak keunikan agama Kristen, agama yang berpusat pada Yesus Kristus.

Melalui Yesus Kristus, manusia sejati dan Allah sejati, kita mendapatkan ketenangan dan menikmati kebenaran Allah dalam rasa takut akan Dia, dalam sikap menghormati dan mengasihi-Nya dengan sepenuh hati. “Jalan” yang ditawarkan Allah melalui Yesus hanya dapat ditempuh melalui keputusan untuk “beriman” dan “percaya” kepada-Nya (bdk. Yohanes 3:16). Tawaran-tawaran menarik di dalam “jalan” itu, mendidik kita untuk tetap setia dan hidup benar di hadapan-Nya.

Kita telah menemukan “jalan pulang” kepada Bapa melalui Yesus Kristus. Dialah yang menunjukkan “jalan menuju Bapa” (Yoh. 14:6). Jalan itu adalah jalan kebenaran, jalan kehidupan, jalan kekudusan. Kita yang telah ditebus dan diampuni-Nya layak melewati jalan itu dengan kebebasan yang sudah dikuduskan melalui darah Kristus.

Oleh sebab itu, kita dapat memahami betapa besar kasih Allah bagi kita, sejauh kita tetap berada di “jalan pulang” itu. Yakinlah bahwa kita tak mungkin tersesat karena Yesus menjamin kita; kita tak mungkin terhilang; kita ada di dalam tangan-Nya, berada dalam kedaulatan-Nya. Tetaplah berada di jalan pulang, dan temukanlah berkat-berkat melimpah karena Yesus Kristus telah berjanji bahwa Ia akan menyertai kita “senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai