Ketika memperhatikan kehidupan manusia pada umumnya, di mana kejahatan manusia semakin hari semakin bertambah, kita mungkin seringkali bertanya: “Di manakah Allah?” Mengapa Allah membiarkan kejahatan terus terjadi dan bahkan merajalela pada lokus-lokus tertentu. Apakah Allah dapat dianggap sebagai pribadi yang tidak berkuasa, atau bahkan tidak ada, karena tidak sanggup menangani dan menghentikan kejahatan manusia?
Atau barangkali kita pernah berpikir bahwa Allah selalu terlambat menolong umat-Nya. Padahal, Allah memiliki kuasa untuk menghambat atau menggagalkan kejahatan yang ditujukan kepada umat-Nya. Bukankah lebih baik jika Allah menghancurkan kejahatan atas umat-Nya?
Ada banyak pertanyaan dan kekesalan hati manusia terhadap Allah, terutama ketika bersentuhan dengan penderitaan, kejahatan, dan persoalan (kemiskinan, tekanan, dan lain sebagainya). Dan semua pertanyaan itu sebenarnya sudah terjawab, entah melalui peristiwa-peristiwa yang dialami oleh mereka yang bertanya dan kesal, atau melalui orang lain, melalui alam, melalui pemerintah, dan lain sebagainya.
Masih tersisa juga beberapa pertanyaan mendasar, terutama mengenai kejahatan: “Jika Allah ada, mengapa masih ada kejahatan di muka bumi?” Pertanyaan dalam bentuk analogi ini seharusnya ditujukan kepada manusia itu sendiri. Jika yang berbuat kejahatan adalah manusia, mengapa Allah yang diajukan ke meja hijau? Apalagi kejahatan dikaitkan dengan eksistensi-Nya. Pertanyaan tersebut tidak tepat, karena manusialah sumber kejahatan dan dengan kebebasannya, manusia dapat melakukan segala cara untuk memuaskan keinginannya, memenuhi kewajiban dan tuntutan agama yang dianutnya, membahagiakan pemimpinnya, dan memuluskan agenda politiknya.
Kesabaran Sang Khalik tak dapat dibaca oleh manusia yang dibaca Allah (masa depan dan hidupnya). Ketika kita berpikir: “mengapa Allah membiarkan kejahatan terjadi?” kita sedang melupakan tuntutan moral kita sendiri. Mengapa kita tidak berusaha menyadarkan mereka? Mengapa kita tidak berusaha membawa mereka kembali kepada Tuhan? Mengapa kita hanya suka berkomentar ketimbang berbuat sesuatu bagi mereka? Mengapa kita selalu menyalahkan Allah?
Kesabaran Allah sebenarnya menunjukkan kepada kita bahwa Ia bertindak bukan berdasarkan kehendak dan emosi kita, melainkan bertindak sesuai dengan kedaulatan-Nya. Adakah Allah terlambat menolong mereka yang percaya kepada-Nya? Bukankah Ia berkuasa atas hidup mereka? Jika mereka ditimpa kejahatan dan kematian, bukan berarti Allah tidak menolong mereka; Allah telah menyediakan “tempat” yang terbaik bagi mereka dalam kerajaan-Nya.
Kita ambil contoh kisah mengenai Nabot dan Izebel. Izebel menghasut beberapa orang untuk memfitnah Nabot, sang pemilik kebun anggur. Sebelumnya, suami Izebel, Raja Ahab menginginkan kebun anggur Nabot, tetapi Nabot tidak menjualnya atau memberikannya kepada Ahab. Akhirnya, Nabot mati dirajam batu karena dituduh telah mengutuk Allah dan raja (1 Raja-Raja 21:13).
Dalam kisah tersebut, seolah-olah kematian Nabot terlewati oleh Allah: Allah tidak menolongnya. Ada yang beranggapan bahwa mengapa orang baik seperti Nabot mati dengan cara dirajam karena difitnah, dan kemudian Allah tidak berbuat sesuatu, atau setidaknya membatalkannya pada saat itu. Bukankah Izebel telah merasa dirinya hebat dan berkuasa menghasut siapa saja dengan menggandengkan dirinya dengan kekuasaan raja Ahab, suaminya?
Tunggu dulu. Allah itu sabar. Ia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Kita lihat pada kisah berikutnya; apa yang terjadi dengan Izebel sebagai provokator pembunuhan Nabot? Pada 1 Raja-Raja 21:23, TUHAN telah berfirman (melalui Nabi Elia) mengenai Izebel: “Anjing akan memakan Izebel di tembok luar” (bdk. 2 Raj. 9:10, 36).
Dalam 2 Raja-Raja 9:30-37, menceritakan tentang kematian Izebel. Ia dijatuhkan dari jendela, sehingga darahnya memercik ke dinding dan ke kuda; mayatnya pun terinjak-injak. Bahkan menurut Yehu, Izebel adalah orang terkutuk (2 Raj. 9:34). Ya, memang terkutuk, karena Izebel melakukan banyak kejahatan. Mayatnya tersisa hanya kepala dan kedua kaki dan kedua telapak tangannya, yang lainnya dimakan anjing.
Kisah di atas mengajar kita mengenai kesabaran Allah atas para pelaku kejahatan. Jangan mudah menyalahkan Allah. Meski kita tahu dari sejarah bahwa banyak orang-orang percaya dibunuh, dipenggal, dibakar (dijadikan lampu taman), disiksa sedemikian rupa, dan berbagai proses kematian mereka yang begitu mengerikan, namun Allah telah membuktikan kesabaran-Nya sampai sekarang. Buktinya, Kekristenan adalah “agama” [sistem kepercayaan] yang terbesar di dunia. Persebarannya bukan melalui peperangan, pedang, dan ancaman, melainkan melalui pemberitaan Injil Yesus Kristus, melalui sikap kasih yang tulus: mendoakan dan mengampuni musuh.
Dalam proses persebarannya, kuasa dan kasih Tuhan begitu nyata. Ancaman tidak lagi menjadikan mereka takut, melainkan mereka berani bersaksi bagi Yesus Kristus. Kekristenan berkembang ke seluruh dunia disebabkan oleh kasih dan kuasa Tuhan yang begitu dahsyat. Ketika Tuhan melawat hati setiap manusia yang berdosa, maka mereka merasakan perubahan yang luar biasa yang tak dapat terkatakan.
Kesabaran Sang Khalik adalah bukti bahwa Ia mengasihi manusia berdosa; Ia menghendaki manusia untuk bertobat, dan kembali pulang kepada-Nya. Sampai di sini saya teringat dengan pernyataan Rasul Petrus:
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia SABAR terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9).
Kita melihat bahwa tujuan dari KESABARAN ALLAH adalah untuk kebaikan kita. Dengan demikian, jika kesabaran Allah mendatangkan kebaikan bagi kita, maka kita harus “mengikuti” Allah. Mengikuti Allah berarti mengikuti (menuruti) kehendak-Nya, yaitu hidup kudus di hadapan-Nya, mengasihi Dia dan mengasihi sesama; dan bersaksi bagi nama-Nya.
Apa yang terjadi dalam kehidupan kita, meski itu menyakitkan, pahamilah itu sebagai bentuk dari kesabaran Allah. Kita telah merasakan kesabaran Allah di sepanjang hidup kita. Jika demikian, kita juga layak untuk bersabar. Hal inilah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus: “Kasih itu bersabar, kasih itu bermurah hati….” Kita diberikan kehidupan oleh Tuhan, dan dalam proses menjalani kehidupan tersebut, kita harus tetap ingat bahwa segala sesuatu ada dalam tangan kuasa Allah. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
Jalanilah hidup ini dengan penuh kesabaran tanpa mengabaikan kerja keras dan mengucap syukur. Allah pasti memampukan kita yang siang malam berseru kepada-Nya. Kesabaran Allah adalah kehidupan kita; kesabaran Allah mengajar kita untuk menyadari bahwa ada kebaikan-kebaikan yang Dia sediakan bagi kita; ya, bagi kita yang setia kepada-Nya.
Adam and Eve are Driven out of Paradise (Genesis 3, 21-24). Chromolithograph, published in 1886.
Tak ada kasih yang melebihi kasih Allah, dan tak ada kemurahan yang dapat melebihi kemurahan Allah, Sang Khalik yang kita percayai. Kasih-Nya yang nyata dirasakan oleh mereka yang percaya, melihat kebaikan-Nya setiap hari. Kasih Allah terlihat pada tiga peristiwa besar dalam sejarah manusia.
Pertama, terlihat pada cara mula-mula untuk menutupi rasa malu manusia pasca mereka berdosa kepada Allah. Allah menutupi ketelanjangan mereka dengan “kulit binatang”. Cara ini adalah bentuk kepedulian Allah karena Ia tahu bahwa manusia tak mampu untuk keluar dari masalah malu dan ketelanjangan. Manusia yang berdosa tak mampu keluar dari dosa itu. Manusia menciptakan pelanggaran terhada perintah Allah, secara simultan telah mewariskan “sikap” mencoba melawan Allah dengan cara “tidak mematuhi perintah-Nya”. Sikap inilah yang masih terlihat di sepanjang zaman, termasuk di zaman ini.
Cara ini—yaitu menutupi dosa, malu, dan ketelanjangan manusia, berlanjut hingga pada zaman Abraham, Musa, hingga para nabi. Substansinya sama, bahwa Allah memilih “darah” sebagai media penebusan dan pengampunan karena keduanya begitu mahal, bukan murahan. Di kemudian hari, kita melihat dalam catatan Rasul Petrus yang menegaskan prinsip ini: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah DITEBUS dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak dan emas, melainkan dengan DARAH YANG MAHAL, yaitu DARAH KRISTUS yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).
Kedua, kasih Allah terlihat pada cara Dia memelihara, memberkati, menopang, menolong umat-Nya, dalam berbagai situasi. Perlu dicatat di sini bahwa kasih Allah terkait dengan konteks tersebut, selalu didasarkan pada “kedaulatan-Nya” dan bukan pada kehendak manusia. Allah bertindak—untuk menolong, memelihara, memberkati, dan menopang—sesuai dengan apa yang Dia kehendaki untuk dialami oleh umat-Nya. Dengan perkataan lain, “providensia” Allah berlaku bagi semua orang di dunia ini. Ia tidak hanya memelihara manusia, tetapi juga bumi yang kita diami ini.
Ketiga, kasih Allah terlihat pada peristiwa Logos menjadi “daging” [manusia]. Peristiwa tersebut merupakan realisasi kuasa dan kedaulatan-Nya bagi umat manusia. Logos tidak hanya diam di dalam diri Allah sejak kekal, tidak hanya “keluar” (berfirman) ketika Allah menciptakan dan menaburkan firman-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tetapi Logos itu sendiri—karena kuasa-Nya yang luar biasa itu—“keluar” dan “menjadi” manusia. Yesus menegaskan kondisi ini: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku ‘keluar’ dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yohanes 8:42).
Dalam konteks inkarnasi, Yesus—Logos Allah—menunjukkan berbagai hal mengenai Allah, kehendak Allah, kasih Allah, Kerajaan Allah, keselamatan, pengampunan, kemurahan, kehidupan yang benar, hukuman bagi manusia berdosa, dan lain sebagainya. Kedatangan Logos Allah ke dalam dunia memperlihatkan kuasa, kasih, dan kedaulatan Allah atas hidup manusia termasuk kedaulatan-Nya untuk “menebus” umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21), “mengampuni” mereka, “menyelamatkan mereka dari hukuman kekal”, dan “memberikan kehidupan kekal” bagi mereka yang percaya dan setia kepada-Nya (bdk. Yoh. 3:16).
Kasih Allah sungguh menakjubakan, menggairahkan, mengarahkan, membahagiakan, memuaskan dahaga akan kebenaran, menguatkan iman dan pengharapan. Kasih itu pula yang menjadikan hidup damai, hidup tanpa kekerasan, hidup tanpa kemunafikan. Kasih itu benar-benar mengarahkan hidup manusia untuk mengasihi Allah dan sesama.
Kemurahan Allah pun tampak dalam sejarah manusia sejak awal mereka diciptakan. Kemurahan diartikan sebagai “kebaikan” yang tampak melalui tindakan-tindakan Allah. Sejak awal Allah memberikan tempat yang layak kepada manusia—Adam dan Hawa—Ia pun menyatakan kemurahan-Nya. Dengan bebas mereka dapat memakan dan menikmati buah-buahan di dalam taman itu, tetapi kemurahan itu ada batasannya, yaitu batasan untuk mengajar manusia supaya tidak serakah. Jika demikian adanya, manusia akan merasakan berbagai konsekuensi, baik kesehatan, relasi, spiritual, maupun moralitas.
Kemurahan Tuhan bersifat mendidik; mendidik kita agar menjadi manusia yang menikmati segala sesuatu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Sang Khalik tahu bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk kehidupan. Oleh sebab itu, Ia menyatakan kasih dan kemurahan-Nya setiap hari. Benarlah apa yang dikatakan penulis kitab Ratapan: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23).
Tak ada yang dapat menggantikan kedudukan “kasih” dan “kemurahan” [kebaikan] Tuhan dalam hidup kita. Kita hidup dan bergerak adalah karena kasih Allah; kita dapat bekerja dan berusaha, berjuang, menikmati hidup dan berbahagia, adalah karena kemurahan-Nya.
Kebahagiaan yang tertinggi dan melagakan (menyenangkan, menenteramkan) adalah ketika kita merasakan kasih dan kemurahan Allah dalam setiap nafas kehidupan kita. Kasih Allah itu telah terbukti, dan dunia diubahkan oleh pengaruh kasih-Nya, yaitu Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia. Ia menyatakan kebenaran, kasih, dan kemurahan Bapa-Nya. Ia juga yang menyatakan kasih Bapa melalui pengurbanan diri-Nya: “mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia” menjadi tebusan bagi banyak orang. Allah menerapkan cara-Nya sendiri—sebagai kelanjutan dari konteks penebusan dan pengampunan dalam Perjanjian Lama.
Yesus Kristus adalah perwujudan final dari kasih dan kemurahan Allah bagia manusia yang berdosa. Yesus menyediakan “jalan pulang” menuju Bapa-Nya, yaitu percaya kepada-Nya dan mengikuti kehendak-Nya.
Allah membuktikan eksistensi-Nya melalui “berfirman”. Kitab Kejadian pasal 1 menjelaskan mengenai eksistensi Allah dalam konteks penciptaan. “Allah menciptakan langit dan bumi” adalah sebuah pernyataan eksistensi Allah “dari manusia”, yaitu penulis kitab Kejadian, berdasarkan fakta bahwa memang Allah adalah Pencipta, sedangkan Allah berfirman: “Jadilah terang” adalah bukti eksistensi dari diri-Nya sendiri, yang kemudian dituliskan oleh penulis kitab Kejadian melalui inspirasi dari Allah sendiri. Berfirman bukan hanya sekadar berkata-kata saja, tetapi di dalamnya terkandung kekuatan kuasa Allah, baik kuasa eksistensi-Nya, maupun kuasa untuk mengubah segala sesuatu, termasuk mengubah kehidupan manusia.
Ketika Allah berfirman berarti Ia menghendaki sesuatu terjadi. Firman-Nya tak pernah gagal, tak pernah hambar. Firman-Nya mengubah segala sesuatu. Lebih dari itu, firman-Nya memberikan harapan bagi kesinambungan hidup umat-Nya. Alkitab secara jelas menuliskan kisah-kisah menarik di mana Allah menyatakan kehendak-Nya melalui firman yang “keluar” dari diri-Nya sendiri kepada mereka yang dikenan-Nya. Mereka merasakan pengalaman berharga bersama Allah.
Kekuatan Firman Allah tiada tandingannya. Manusia, jatuh-bangun, hidup-mati, gembira, dihukum, disemangatkan, dipimpin, diarahkan, diangkat derajatnya, semua terjadi oleh Firman Allah. Manusia terus berjuang untuk menikmati hidup, mengubah hidup, dan memenuhi tujuan hidupnya. Tetapi jika Allah tidak memberikan kepadanya kesempatan dan waktu untuk melakukan itu semua, maka kesia-siaan akan diraihnya.
Dalam sejarah, tak sedikit pengakuan manusia mengenai kekuatan Firman Allah yang telah mengubah hidup mereka; mengubah keluarga mereka dari yang rusak menjadi baik kembali; mengubah perilaku buruk menjadi baik; mengubah pikiran jahat menjadi pikiran yang dilandasi dengan kesucian, dan masih banyak lagi hal-hal yang tak dapat disebutkan di sini.
Yang terpenting adalah kesadaran dan pengakuan kita tentang bagaimana Firman Allah mengubah kita, sehingga kita memiliki kesinambungan menjalani hidup. Tak ada yang dapat dibanggakan jika kita jauh dan menjauh (memisahkan diri) dari Allah; tidak ada yang dapat kita salami kekayaan karya Allah ketika kita sengaja melupakan Dia; dan tidak ada yang dapat kita wartakan tentang Dia ketika kita lebih mementingkan diri kita dan kisah kita.
Ketika dulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara—atau “berfirman”—kepada nenek moyang dengan perantaraan para nabi, maka Allah memperlihatkan cara yang baru, yaitu melalui perantaraan Logos-Nya yang menjadi manusia, yang disebut dengan “Anak”, yaitu Yesus Kristus. Hal inilah yang ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani (1:1-2). Ada korelasi ontologis antara peryataan Rasul Yohanes dan penulis kitab Ibrani mengenai Logos (Firman) Allah yang “menjadi” manusia. Pada konteks ini, Firman Allah yang dulu dinyatakan melalui bagaimana ia berkata-kata (berfirman) dalam penciptaan, dalam memanggil orang-orang pilihan-Nya, dalam menetapkan peraturan, hukum, larangan, dan prinsip kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya, kini Ia menyatakan Firman-Nya dengan cara yang penuh kuasa. Allah tidak kekurangan cara. Ia meneguhkan bahwa setiap cara yang dilakukan-Nya, memiliki tujuannya masing-masing.
Jika sebelumnya kita hanya memahami Firman Allah hanya sebatas Allah yang berkata-kata saja, tetapi dalam konteks inkarnasi, Logos benar-benar menjadi daging, menjadi manusia seutuhnya. Ini sangat spektakuler. Kekuatan Firman Allah benar-benar diperlihatkan. Kekuatan itu pula yang akan menebus, mengampuni, menyelamatkan, dan menguduskan umat pilihan-Nya.
Kedatangan Yesus ke dunia membawa pengharapan akan kehidupan yang berkesinambungan: “Setia orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Firman Allah telah menyejarah dalam kehidupan manusia berdosa; Ia (Logos) mewujud menjadi manusia. Melalui Logos, Allah menjadikan alam semesta (Yohanes 1:3; Ibrani 1:2). Logos yang menjadikan segala sesuatu, kini Ia “menjadi” manusia. Hal ini tak dapat dibayangkan sama sekali. Ini luar biasa.
Identitas yang melekat pada Firman Allah yang menjadi manusia itu adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibrani 1:3). Allah itu mulia dan penuh kemuliaan, dan secara konsekuensi, Allah memiliki kemuliaan yang dipancarkan-Nya kepada dunia. Yesus—cahaya kemuliaan Allah—memancarkan kemuliaan itu melalui kasih, kuasa, dan pengampunan. Tidak hanya itu, Yesus—Firman itu—adalah gambar wujud Allah, yang merujuk pada kekuasaan untuk mengampuni dan menebus, dan kekuasaan untuk menyatakan kasih-Nya yang besar itu (bdk. Yoh. 3:16). Yesus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan, dan Ia duduk di sebelah kanan Allah—tanda Dia diterima dan kembali ke tempat asal-Nya.
Firman yang berkuasa, selain menyejarah, Ia juga mengubah dunia. Hal ini telah berulang kali saya tegaskan sebelumnya. Allah telah memperlihatkan itu semua dalam Perjanjian Lama, dan Yesus, dalam Perjanjian Baru, juga memperlihatkan hal yang sama. Kesetaraan ontologis antara Allah dan Firman-Nya sejak kekekalan, tidak akan berubah kualitas-Nya ketika Firman-Nya itu “menjadi manusia”. Natur (tubuh) manusia hanyalah media di mana Logos itu berdiam sebagaimana Logos berdiam dalam diri Allah. Perbedaannya adalah Allah, tempat berdiamnya Logos, adalah kekal, tak diciptakan, sedangkan (tubuh) manusia, tempat berdiamnya Logos dalam inkarnasi-Nya, tidak kekal, dan diciptakan.
Kekuatan Firman Allah telah nyata. Ia telah datang dalam wujud manusia, dan mengarahkan manusia untuk pulang kepada Sang Bapa. Manusia diajar untuk memahami kehidupan sebagai hadiah baginya. Lebih dari itu, manusia mendapatkan jaminan yang luar biasa tatkala mereka percaya dan menerima Yesus Kristus—Logos Allah—di dalam hati dan hidup mereka.
Firman itu berkuasa. Itu sebabnya, sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan kuasa dan tak seorang pun dapat melawan atau menolaknya. Yesus adalah Firman Allah, dan Ia menawarkan kepada kita sebuah kehidupan yang berkesinambungan. Kita percaya bahwa meletakkan harapan kita pada Yesus sangatlah tepat; kita tidak rugi. Seperti Rasul Paulus, ketika Ia percaya dan melihat kepada Kristus, yang lain, termasuk masa lalunya, dianggap sampah demi Kristus.
Kita pun dapat melakukan hal yang sama seperti Rasul Paulus. Ketika Yesus menjadi yang utama di dalam hidup kita, maka keinginan dan kemunafikan menjadi sampah yang tak perlu didaur ulang, melainkan harus dibuang atau dibakar sehingga tidak lagi tersisa bentuknya. Perjuangan melawan dosa dan kemunafikan memang tergolong sulit, tetapi Yesus memberikan kita kekuatan dan iman untuk dapat menolaknya, menangkalnya, dan membuangnya jauh-jauh dari hati, pikiran, dan hidup kita.
Marilah kita berserah kepada Firman itu, dan melakukan apa yang Dia kehendaki. Pastinya, yang Dia kehendaki itu adalah kita mengimitasinya dengan cara saling mengasihi, saling mengampuni, dan saling mendoakan. Hidup kita akan berkesinambungan ketika kita melekat pada Yesus Kristus. Caci maki dan hinaan bukanlah apa-apa; itulah yang bagian dari kebodohan mereka yang menolak kuasa, kasih, dan pengampunan Yesus Kristus. Biarkanlah mereka yang menghina kita berurusan dengan Yesus. Tentunya, Ia akan menunjukkan kuasa-Nya yang tak tertandingi itu, kepada mereka yang merendahkan dan menghina-Nya.
Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Bukankah ini adalah berita sukacita? Hingga sekarang, kita masih merasakan penyertaan Yesus, bukan? Ia tinggal di antara kita melalui kuasa-Nya. Ia pun telah berjanji: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Percayalah kepada Firman yang menguatkan itu, dan terimalah uluran tangan kasih-Nya yang membalut luka-luka hidup kita, dan menyembuhkan segala kesakitan yang kita alami.
Di dalam Dia, hidup kita berkesinambungan sampai selama-lamanya.
Kau datang dengan ketulusan dan itulah yang terlihat dari hatimu
Dengan cinta yang kau bawa untukku telah membuat hatiku merasakan tulus dan setianya apa yang kau berikan
Dengan cintamu, kau menghadirkan kasih dan sayang yang begitu dalam
Terkadang hatiku ragu
Terkadang hatiku sakit
Terkadang hatiku cemburu dengan apa yang terjadi selama ini
Tetapi engkau memberikan sebuah hadiah untukku yang menghapus semua keraguan, kesakitan dan kecemburuan itu
Hadiah itu adalah sebuah “senyuman yang manis”, “kehadiran dirimu” dan “kepercayaanmu” terhadap cintaku
Semua yang telah kita lalui selama ini telah menjadikan diri kita dewasa dan berjiwa besar di saat begitu banyak ujian dan cobaan yang menghadirkan ketakutan di antara kita
Kita berdua telah sepakat bahwa ketakutan itu suatu saat akan hilang bersama waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita
Cinta tanpa ujian, bagaikan perahu di tengah sungai yang mati
Cinta, selalu diperhadapkan dengan cobaan; ia bagaikan perahu di tengah lautan yang menderu; jika tidak mau menghadapi cobaan, maka ia bagaikan perahu yang tidak pernah dibawa ke lautan
Cinta patut mendapat penghargaan di saat dia mampu bersabar, berjuang dan bertahan menghadapi cobaan dan ujian
Cinta sejati telah melewati dan akan melewati semua itu sebagai pemurniannya
Engkau adalah cintaku yang sejati, karena keyakinanku telah mengatakannya demikian.
“Kita, cinta dan tantangan adalah tiga hal yang dimiliki oleh setiap manusia. Kita, adalah pelaku: pemberi dan penerima cinta. Cinta, adalah perasaan terhadap seseorang atau sesuatu yang memiliki kekuatan tersendiri. Tantangan, adalah proses dari perjalanan hidup manusia yang memiliki cinta – dan dengan tantangan itu, kita dan cinta kita dapat merasakan apa itu artinya kasih, apa itu pengertian, apa itu kesabaran dan kesetiaan, apa itu doa, apa itu air mata, apa itu pengorbanan dan apa itu pengampunan.”
“Cinta yang pantas dinikmati adalah cinta yang “memberi”. Memberi sesuatu untuk cinta ada batasannya. Batasan itu adalah batasan moral, hukum dan kebenaran. Moral, berkenaan dengan aspek seksualitas yang semestinya; hukum, berkenaan aspek peraturan yang mengikatnya dan kebenaran adalah pengontrol semuanya apakah sudah sesuai dengan “tindakan yang benar” tanpa menyalahi aturan yang ada.”
KITA, CINTA, DAN TANTANGAN
Manusia seringkali menciptakan puisi yang indah mengenai kisah cintanya, perasaan cintanya, kehidupan cintanya, masalah dalam cintanya, keinginan untuk mencintai, menolak cinta, belum mau untuk mencintai dan ragam-ragam cinta yang lain
Dengan puisi tersebut, kita seringkali memaknai cinta kita bahwa dialah satu-satunya cinta kita yang sejati, sehidup semati, setia selamanya dan ungkapan lainnya yang mewarnai cinta itu
Kalimat-kalimat dalam puisi tersebut hanya akan tinggal kata-kata kosong jika kita tidak pernah menjalani hidup bersama dengan cinta dalam hati dan genggaman kita
Sebelum menghadapi segala macam tantangan, godaan dan ujian, kita belum bisa memastikan apakah puisi itu benar atau tidak. Jika kita menganggap bahwa dialah satu-satunya, bersiaplah anda untuk kecewa dan menangis
Waktu… akan menjawab semuanya dan kita tentunya dapat memahaminya…
Aku pernah berkata bahwa “Engkau adalah cinta sejatiku karena keyakinanku mengatakannya demikian” dan kalimat itu ditujukan kepada seseorang yang aku sayangi, cintai dan kasihi
Tetapi, pada prinsipnya, kalimat ini mengandung janji dan harapan yang menembusi waktu ke depan dan meniadakan tantangan, godaan dan ujian, seakan-akan aku tidak akan mengalami itu semua
Akhirnya, tibalah waktunya bagiku untuk menghadapi itu semua dan aku kalah, perasaanku telah berubah karena kehadiran seseorang, kehadiran satu hati bahkan dua hati. Aku tertipu oleh perasaan, keadaan, jarak, waktu dan kesempatan
Aku ingin bersembunyi darinya tetapi kata hatiku harus jujur untuk mengatakan kepada cintaku bahwa aku telah mengalami perubahan perasaan dengan seseorang
Di saat aku jujur, aku telah mengalahkan sedikit dari perubahan perasaanku itu, dan langkah selanjutnya adalah melupakan dia selamanya
Aku tahu apa itu “kesetiaan”, apa itu “kejujuran”, apa itu “godaan”, apa itu “kemunafikan”, apa itu “berdusta”, apa itu “keterbukaan”, apa itu “kepercayaan”, apa itu “penantian”.
Semua itu telah aku alami sebagai bagian dari cinta dan kehidupan kedagingan manusia. Kita memang tidak bisa menolak bila godaan itu datang, bila cinta kedua datang, bila perasaan terasa lain datang, dan ujian itu datang. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mempertimbangkannya sebaik mungkin dan risiko apa yang akan kita tanggung dari tindakan kita
Jarak, merupakan suatu hal yang menjadi batu ujian bagi cinta aku dan dia. Dengan cinta yang kami bawa, kami seakan-akan berjalan sendiri-sendiri. Terkadang cinta itu ingin diserahkan kepada orang lain yang pernah datang menawarkan senyuman manis
Tapi… semua itu berlalu dengan waktu dan kesetiaan
Aku ingin menggapai cinta sejatiku sampai waktunya tiba. Aku berharap dengan tanganku sendiri, aku ingin memegang erat-erat cinta yang telah diserahkan kepadaku
Dan… aku tahu, bahwa masih ada lagi cinta-cinta yang lain yang ada di depanku untuk menawarkan janjinya kepadaku dengan segala harapan-harapannya
Bila itu terjadi, apa yang akan kulakukan? Mungkin anda mempunyai jawabannya! Aku meminta sedikit jawabannya. Bolehkah? Jika boleh, maka aku akan mengungkapkan lebih dahulu jawabanku…
Jawabanku adalah… aku harus mempertimbangkannya, menolaknya dan menjadikan itu semua sebagai batu ujian yang memperkokoh cinta sejatiku.
Dan pada akhirnya, aku hanya tahu hal-hal ini…. Cinta tanpa ujian, bagaikan perahu di tengah sungai yang mati
Cinta, selalu diperhadapkan dengan cobaan; ia bagaikan perahu di tengah lautan yang menderu; jika tidak mau menghadapi cobaan, maka cinta itu bagaikan perahu yang tidak pernah dibawa ke lautan
Cinta patut mendapat penghargaan di saat dia mampu bersabar, berjuang dan bertahan menghadapi cobaan dan ujian
Cinta sejati telah melewati dan akan melewati itu semua sebagai pemurniannya
“Engkau adalah cintaku yang sejati, karena keyakinanku telah mengatakannya demikian.”
Pada prinsipnya, manusia memiliki cinta – terlepas dari murni tidaknya cinta itu. Cinta memang menghadirkan beragam makna, dampak dan tujuan akhir dan dengannya banyak kisah cinta yang menginspirasi banyak orang, banyak kisah yang membuat orang lain sedih, geram, marah, kecewa, memfitnah, membunuh, cemburu dan lain-lain. Begitu beragamnya cinta itu sehingga sulit bagi kita untuk dapat menilai dengan cermat apa yang ada di balik cinta itu
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak cinta yang putus di tengah jalan. Mencoba bertahan – tapi karena keegoisan dan kecemburuan, juga pengkhianatan cinta dan kesakithatian terhadapnya, membuat semua berakhir dengan berbagai situasi dan kondisi
Pada akhirnya, banyak orang mencoba memulai dengan cinta yang baru dan memulai cerita dan kisahnya. Meskipun sifatnya tidak menentu, cinta, setidaknya telah menjadikan manusia berbalik arah: dari yang buruk menjadi baik dan dari yang baik menjadi buruk – semua bergantung kepada keputusan dan moral seseorang
Kita pun adalah pelaku cinta – tantangan demi tantangan mulai datang sebagai bagian dari pemurnian kesetiaan terhadap cinta. Tak banyak hal yang dapat dilakukan jika cinta itu tidak pernah dimanfaatkan sebagai wadah bagi kita untuk saling berbagi kasih dan kebahagiaan, berbagi waktu dan kesempatan untuk menikmati semua tindakan baik dari cinta pada jalur yang lurus
Kita semestinya berbuat baik terhadap kekasih kita – menjaganya sebaik mungkin. Menjalaninya pun harus dengan penuh pemahaman yang matang tentang apa itu cinta, yang dengannya, setiap orang dapat memenangkan semua tantangan cinta ketika ia dan kekasihnya bertemu dalam suatu ikatan yang khusus
Banyak hal aneh yang terjadi seputar cinta. Banyak pula yang belajar mengambil pelajaran dari kisah cinta yang pernah ia rasakan. Meskipun ia pernah dikecewakan kekasihnya, masih saja ia memberikan kesempatan untuk dapat berbagi cinta dan kasih. Ada pula yang menutup hatinya untuk beberapa waktu lamanya
Kita selalu terlibat dalam intrik cinta, dalam tulusnya cinta, dalam munafiknya cinta, dalam setianya cinta, dalam pengorbanan cinta, dalam perebutan cinta. Semuanya bisa berdampak bagi perilaku kita, yang bisa juga kembali dilakukan kepada kekasih kita yang berikutnya setelah mengakhiri hubungan dengan kekasih sebelumnya
Cinta perlu dimaknai sebagaimana ia harus dimaknai dengan makna yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut harus dinilai dari perspektif yang jujur dan setia.
Saya tidak menyangkal adanya perbedaan makna cinta yang tentunya bisa bersifat membangun dan merusak. Semuanya bergantung pada cara berpikir dan pribadi masing-masing orang. Tak seharusnya kita menilai cinta dan menghasilkan makna yang keliru bahkan bersifat negatif. Menilai cinta secara baik, jujur dan setia, menghasilkan makna cinta yang luar biasa – dan membawa pasangan yang saling cinta kepada situasi dan kondisi yang romantis, bahagia dan menyenangkan
Tatkala kita sibuk dengan cara-cara untuk mendapatkan cinta, ada hal lain yang sering dilupakan orang, yakni: “perlu menilai diri sendiri, apakah cinta yang akan diberikan kepada orang lain adalah cinta yang tulus dan setia atau tidak”.
Biasanya, penilaian itu dilewatkan atau bahkan dilupakan. Yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pujaan hati “dengan berbagai cara”. Dibutuhkan usaha yang giat untuk mendapatkan cinta – entah harus mengorbankan yang satu untuk mendapatkan yang lain atau mengorbankan semuanya untuk mendapatkan “satu cinta”
Memaknai cinta perlu bijaksana yang cukup, bahkan pula dibutuhkan suatu pengalaman berharga. Artinya, pengalaman bisa dijadikan pedoman untuk memaknai cinta itu dan selalu tidak mengulang kesalahan yang sama dan mengulang kebaikan yang sama. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam mempertahankan cinta – kemudian tindakan tersebut harus dilandasi dengan cinta dan kasih yang murni.
Murni tidaknya bersumber dari hati dan pikiran kita masing-masing. Cara-cara untuk mendapatkan cinta juga bersumber dari hati dan pikiran kita. Tak banyak yang dapat dilakukan jika kita tidak mempunyai kemamuan yang tinggi untuk menggapai dan menggenggam cinta itu erat-erat.
Ada banyak hal yang perlu dibenahi ketika kita menjalani suatu hubungan cinta yang pasangan kita. Hal-hal tersebut sebenarnya dapat dideteksi oleh para pelaku hubungan cinta – tidak hanya mau menjalani hubungan cinta, melainkan perlu untuk memikirkan apa baiknya yang dikerjakan sebagai bagian dari bertahannya cinta.
Setiap pasangan memiliki berbagai kenangan manis dan pahit. Keduanya berdiri berdampingan dengan cinta.
Yang manis menjadikan kita bahagia; yang pahit menjadikan kita sakit hati, marah dan sedih
Tak jadi soal, seberapa banyak kita mendapatkan kenangan yang manis dan berbuahkan kebahagiaan, tak jadi soal seberapa banyak kita mendapatkan kenangan pahit dan berbuahkan perpisahan, air mata, sakit hati dan kebencian – yang paling penting adalah: menjalani cinta dengan hati yang bersyukur dan merasa puas dengan apa yang ada, tetap setia pada pasangan kita dan menghargai orang lain termasuk perempuan cantik dan menawan atau laki-laki ganteng dan keren, hanya sebatas pada kekaguman dan menghargai mereka sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia
Jika melewati batas-batas itu, dan itu seringkali terjadi, maka suatu hubungan akan rusak dan retak – hadirnya orang ketiga – dan berimbas pada penyesalan semata. Kita semestinya tahu dan menyadari akan hal itu, sebab dengan demikian, kita sudah menjaga kemurnian dan ketulusan cinta yang kita ciptakan sendiri dengan pasangan kita. Dan maknanya adalah “tak ada kebahagiaan lain selain merasakannya dengan pasangan kita dalam cinta, kasih dan sayang yang tulus dan suci”
Itu adalah dasar dari segala hati dan pikiran kita untuk menapaki kisah atau perjalanan cinta kita. Memang, terkadang kita baru melangkah beberapa tapak cinta, maka hambatan dan tantangan, godaan dan gangguan datang. Datang dengan kita duga atau tanpa kita duga sebelumnya
Bila kita dengan cermat menilainya, maka kita bisa bertindak dengan bijaksana dan menang atas semuanya. Memaknai cinta terkadang mengalami berbagai persoalan.
Memaknai cinta biasanya didasari pada pengalaman pribadi. Memaknai cinta, memungkinkan kita dapat berkiprah dalam cinta kasih yang murni. Memaknai cinta dapat dengan tepat didefinisikan. Memaknai cinta menghasilkan tingkat kesadaran dan penghargaan terhadap cinta itu sendiri.
Memaknai cinta berdampak pada seberapa banyak kita memberi perhatian, menolong, menopang, mengasihi, mengampuni, mencari solusi, bersikap bijak hati, bertindak sesuai norma etis dan segalanya dapat kita nikmati dalam terang kasih Tuhan.
Tulisan ini diambil dari buku: KITA, CINTA, DAN TANTANGAN
Hatiku adalah lambang diriku. Cintaku adalah lambang hatiku. Dari hatilah, aku memupuk cinta yang datang dan hadir menghiasinya.
Senyumku adalah buah dari hatiku. Kesedihanku adalah luka di hatiku
Kekecewaanku adalah goresan di hatiku. Hatiku, adalah mahkotaku dan di situlah cintaku menumpuk satu demi satu.
Cinta yang menumpuk itu disebabkan oleh tatapan mata, perhatian, sentuhan kecil, senyuman tipis dan lebar, pertemuan yang jarang dan keseringan.
Cinta bertumpuk di hatiku: mau dibawa kemana? Aku hanya ingin seorang pujaan hati yang dengannya aku akan memupuk dan menumpuk cintaku.
Cinta yang kurasakan, hari demi terasa ada yang bertambah. Ketika kurasakan indahnya momen bersamanya, perasaan cinta itu kembali hadir dan menumpuk di hatiku.
Aku ingin memberikan rasa cinta itu satu demi satu sampai aku membuktikan bahwa cinta yang menumpuk itu adalah luapan perasaan keinginrinduanku padanya.
Jika memang ia adalah milikku – oh Tuhan – aku menginginkan dia jadi milikku – aku dapat mencurahkan cinta yang menumpuk selama aku hidup bersamanya. Itulah yang tersimpan dalam pikiran dan sanubariku.
Cinta, oh cinta, betapa engkau mengubah hidupku. Betapa engkau memberi secercah harapan dan bahkan harapan itu lambat laun dapat menjadi kekuatan dalam diriku. Cintaku yang tumbuh mekar di hatiku menebarkan pesona kecantikan dan kelembutan hatiku.
Aku ingin dia tahu bahwa pesona kecantikan dan kelembutan hatiku dapat ia nikmati dan rasakan tatkala ia selalu bersamaku. Memang, dalam membuktikannya selalu ada saja tantangan, godaan, dan rayuan yang menghalanginya. Namun, perjuangan cintaku tak mudah pudar – sering, ia hampir pudar.
Tekadku tetap kuat: perasaan ini harus terungkap dalam sikap, tutur kata, dan relasi keintiman bersamanya.
Sampai kapan aku harus menumpuk cintaku? Oh cinta, dapatkah kau merasakan betapa aku membutuhkanmu untuk memiliki dirinya?
Aku mau dia tahu bahwa cinta ini adalah bukan cinta biasa tapi luar biasa yang mampu meredam dan menyingkirkan segala perbedaan di antara kami
Cinta itu pula yang akan menyertai panggung cinta kami. Kami ingin juga memperlihatkan keharmonisan dan keromantisan cinta kasih di antara kami agar yang lainnya juga tahu bahwa cinta kamilah yang membuat kami saling mengerti dan memahami
Tumpukan cinta itu kini sudah mulai berkurang. Sebab aku telah mencoba membawanya ke ruang hati sang pujaan hati.
Hari demi hari aku selalu berusaha membawa dan memberi cintaku padanya. Namun, di balik semuanya, ada harapan bahwa aku ingin membagi cintaku itu dalam ikatan yang lebih kuat, lebih mantap, dan lebih harmonis tanpa ada yang melarangnya.
Aduh, hatiku begitu kuat ingin secepatnya menyerahkan cintaku ini. Dan berharap dapat berbagi suka dan duka bersama dengan kekasih hatiku. Bilakah dalam waktu cepat ini hal itu dapat terwujud?
Oh Tuhan, kangennya diriku merasakan pelukan hangat penuh kasih dan sayang. Dialah pujaan hatiku yang selalu kurindu
Meski seringkali aku merasa bahwa tak pastaslah diriku buat dirinya, namun, kata hati taku bisa kubohongi bahwa aku sangat mencintainya.
Dan kuberharap – di waktu yang tepat – aku dapat memberikan cintaku pada orang yang tepat, setepat cintanya yang menusuk di hatiku, tempat di mana kutaburi semua cinta yang aku tumpuk sekian lamanya
Semoga, akhir dari pengembaraan cintaku, dilabuhkan pada pelabuhan cintanya dan kuingin berlayar bersamanya di lautan cinta yang luas, agar kami dapat berbagi kasih sayang, berbagi perhatian dan pemahaman, berbagi suka dan duka, berbagi berkat dan kehidupan, dalam ikatan yang Tuhan tetapkan bagi kami.
Akhirnya…. cintaku yang menumpuk di hatiku, kubawa kepadanya, kuserahkan kepadanya, menikmati bersamanya….
Dan aku tahu, di dalam perjalanan pelayaran cinta kami, pasti ada gelombang dan angin badai datang menghempas; tapi dengan “satunya” cinta dan komitmen kami, kami yakin dapat melaluinya.
Kadang salah paham dan salah pengertian menggerogoti cinta kami. Kadang emosi dan perasaan menang sendiri menghantui cinta kami. Kadang orang luar dapat mengganggu cinta kami.
Tetapi, ku yakin selalu ada jalan terbaik yang disediakan Tuhan, dan kami dituntut untuk selalu berharap kepada-Nya, mengandalkan Dia.
Kerendah-hatian, kesetiaan, kejujuran, dan ketulusan dalam memupuk cinta diharapkan dapat membangun rumah kasih sayang yang dapat memberikan keteduhan bagi cinta kami dan berbahagia di dalam rumah kasih sayang itu
Tuhan, kumohon, jagalah cinta ini, cinta yang sekian lama menumpuk di hatiku agar kekasihku dapat menampung cintaku dan membagikannya bersama dengan aku, dalam rumah tangga yang bahagia dan romantis.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mempertemukan aku dengan dia. Harapanku, dia yang kucintai – akan setia bagiku, dan aku yang juga setia – selamanya…
Di salah satu video yang saya terima dari grup WhatsApp, seorang muda bertanya kepada bapak yang sudah tua: “Adakah Yesus menganggap Tuhan sebagai Triniti atau sebagai taudid?” Sepintas pertanyaan ini seakan mempertentangkan dua hal, yaitu antara Tuhan yang tauhid (esa) dan Tuhan yang Triniti, yang tak mungkin dipercaya oleh orang Kristen. Pasti salah satu darinya adalah benar. Inti pertanyaan tersebut adalah menggugurkan konsep Trinitas Kristen “melalui” anggapan Yesus. Jika Pak Tua mengatakan “Tuhan itu tauhid” maka konsep Trinitas dengan sendirinya gugur.
Pertanyaan di atas menarik karena memberi kesan bahwa orang Kristen akan mengalami kebuntuan logis mengenai iman mereka kepada Allah Trinitas, ketika ternyata Yesus mengakui bahwa Allah (Tuhan) itu tauhid, dan bukan Trinitas. Namun, pertanyaan tersebut secara substansial haruslah “diklarifikasi”: “apa yang tauhid (esa) dari Tuhan?” dan “apa yang Trinitas dari Tuhan?”. Dengan pertanyaan lain: “tauhid yang bagaimana yang dimaksudkan?” dan “Trinitas yang bagaimana yang dimaksudkan?”
Dalam pengalaman pribadi, saya sering memahami bahwa dalam pandangan beberapa orang Islam (apalagi tipikal pesorak [hanya suka bersorak tapi tanpa isi dari klaimnnya]), Allah SWT itu esa [tauhid] adalah satu-satunya dan tidak ada yang lain. Secara artifisial, klaim tersebut adalah benar. Tetapi ada pertanyaan yang muncul: “apanya yang tauhid dari Allah SWT?” apakah tauhid diri-Nya atau tauhid penyembahan? Hal ini akan saya jawab kemudian secara simultan dengan pertanyaan utama di atas.
Lalu, apa jawaban atas pertanyaan tersebut? Pak Tua menjawab—sebelumnya menarik nafas karena dirasa pertanyaan tersebut sangatlah sulit dijawab—: “Saya rasa keduanya”. Apakah jawaban Pak Tua itu salah? Menurut saya, benar! Benar, ketika ada penjelasan yang mengikutinya. Di mana letak benarnya? Berikut penjelasannya.
Ada dua substansi dari jawaban Pak Tua di atas.
Pertama: Tuhan [Allah] itu adalah “esa [tauhid] secara penyembahan (dalam konteks satu-satunya yang disembah dari semua ilah yang ada di dunia ini). Artinya ketika dikaitkan dengan ciptaan (manusia), maka Allah (Tuhan) adalah esa [tauhid] yang “harus disembah”.
Kedua, Tuhan itu trinitas secara ontologis: Tuhan [Allah] memiliki Logos dan Roh-Nya. Ketiga-Nya satu, tetapi berdistingsi. Berbicara mengenai esa [tauhid] tidak dapat ditempatkan pada “PRIBADI ALLAH SECARA ONTOLOGIS” karena hal ini bukanlah merupakan konsistensi logis. Keesaan Allah hanya ditempatkan pada konteks “RELASINYA DENGAN CIPTAAN ALLAH”, sedangkan berbicara mengenai Trinitas hanya dapat ditempatkan pada pribadi Allah secara ontologis. Alkitab menegaskan bahwa: “hanya TUHAN saja yang disembah, tidak ada yang lain.” Sekali lagi, esa (tauhid) tidak berbicara Allah adalah “berapa” tetapi berbicara mengenai “hanya Allah saja” yang disembah, dan bukan ilah-ilah lain.
Secara logis, pertanyaan tersebut di atas: “ADAKAH YESUS MENGANGGAP TUHAN SEBAGAI TRINITAS ATAU SEBAGAI TAUHID?” dapat diajukan juga kepada Allah SWT, Allah orang Islam. Pertanyaannya menjadi begini: “Adakah Allah SWT menganggap diriNya trinitas atau tauhid?” Mengapa pertanyaannya demikian? Alasannya adalah karena setiap orang bisa mengajukan pertanyaan yang sama. Jika demikian, apakah Allah Kristen juga bisa diajukan pertanyaan yang sama? Tentu juga bisa; dan secara substansial, baik esa dan trinitas yang saya jelaskan di sini adalah konteks ajaran Kristen yang diterapkan kepada konsep personalitas Allah Islam.
Iman Kristen menegaskan bahwa Allah menyatakan diri-Nya sebagai “Yang Esa” dalam kaitannya dengan penyembahan yaitu ciptaan-Nya mengarahkan penyembahan dan iman mereka “hanya” kepada diri-Nya (satu-satunya), dan sebagai “Trinitas” dalam kaitan-Nya dengan ontologis, keberadaan diri-Nya sejak kekal: Logos dan Roh Allah ada sejak kekal bersama-sama dengan Allah.
Allah itu esa jika dipahami dalam relasinya dengan ciptaan, dan Allah itu Trinitas jika dipahami dalam relasinya dengan ontologis. Dengan demikian, Allah sebagai “satu” (esa) karena berbeda dengan eksistensi ilah-ilah lainnya. Allah harus disembah; sedangkan Trinitas adalah “kepenuhan kepribadian”: Allah, Logos, dan Roh. Manusia juga merefleksikan fakta ini: manusia, logika, dan roh.
Lalu, apakah Yesus menganggap Tuhan sebagai Trinitas atau tauhid (esa)? Jawabannya: “dua-duanya”. Secara ontologis (hukum yang sama dengan Allah Kristen), Allah SWT yang dipercaya dan diimani umat Islam adalah trinitas: kalam, dzat, dan Allah (nama yang ada pada diri-Nya sendiri). Lalu bagaimana Allah SWT dinyatakan sebagai “tauhid”? Apanya yang tauhid? Beberapa rekan muslim tak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Bagi mereka Allah SWT itu tauhid, tidak ada yang lain. Allah itu satu-satunya, tidak ada yang lain.
Memang benar klaim seperti itu, tetapi “tauhid dalam hal apa” Allah SWT itu? Apakah tauhid pribadi atau penyembahan? Allah SWT adalah satu-satunya, tidak ada yang lain? Benar, tetapi satu-satunya dari apa? Pasti ciptaan-Nya karena untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya, harus ada yang dibandingkan dengan yang lain, dan yang lain itu adalah ciptaan-Nya.
Dalam konteks Kristen, Allah tidak memungkiri adanya ilah-ilah lain yang disembah oleh bangsa-bangsa di luar Israel. Bbahkan Israel sendiri pernah jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Itu sebabnya mereka harus kembali kepada Allah dan menyembah-Nya sebagai “satu-satunya” (esa) dari sekian banyak ilah. Dengan demikian, tauhid terkait erat dengan penyembahan yang dilakukan oleh umat pilihan-Nya: kepada-Nya umat-Nya menyembah, dan bukan ilah-ilah lain. Karenanya, hanya Allah saja yang disembah (monoteisme) dari sekian banyak ilah di dunia (henoteisme). Artinya, Allah adalah pribadi satu-satunya (esa) dalam hal penyembahan, sedangkan dalam hal personalitas ontologis, Allah itu trinitas: Bapa (adalah wujud Allah), Anak (adalah Firman/Logos Allah), dan Roh Kudus (adalah Roh Allah). Ketiga-Nya adalah “satu” dalam esensi dan distingsi dalam pribadi: tiga pribadi satu esensi.
Allah tak mungkin tanpa Logos; Allah tak mungkin tanpa Roh-Nya. Jika demikian, Allah itu esa (tauhid) hanya dalam konteks penyembahan, dan Allah itu Trinitas dalam hanya konteks ontologis (kepenuhan kepribadian). Konsep dan fakta ini, jika diterapkan kepada Allah SWT yang dipercayai Islam, akan memiliki konsistensi logis yang sama.
Iman Kristen memiliki kekuatan logika yang paling kuat di dunia ketika berbicara mengenai personalitas Allah. Mereka memahami bahwa Allah, Logos, dan Roh Allah adalah kesatuan esensial yang tak dapat dipisahkan. Trinitas adalah “KEPENUHAN KEPRIBADIAN” yang dinyatakan dalam sejarah. Pribadi manusia adalah representasi dari Pribadi Allah. Manusia adalah makhluk yang hidup (memiliki roh) dan memiliki pikiran (logika). Penjelasan ini justru menegaskan trinitas. Ketika seseorang mengatakan bahwa Allah memiliki Logos (kalam) dan Roh-Nya (Dzat), maka hal itu menegaskan Trinitas: tiga pribadi satu esensi. Menjelaskannya saja sudah terlihat secara Trinitas, apalagi secara ontologis [“self-condition” Allah]? Setiap orang tidak bisa menghindari dari rumusan ini, sebab konteks Trinitas adalah sebuah konsistensi logis.
Islam memang menolak formulasi Trinitas Kristen, tetapi mereka sendiri seharusnya berpikir sama dengan Kristen bahwa di dalam Allah SWT yang mereka imani berdiam Kalam sejak kekal dan Allah yang sama adalah Dzat yang sejak dari kekal bersama-sama dengan Allah SWT. Jadi, mustahil menyangkal Allah SWT itu trinitas jika mengaitkannya dengan konteks ontologis-Nya. Tauhid itu ada konteksnya, bukan “semua disapu rata”.
Model sapu rata sering terjadi pada muslimers tipikal pesorak. Bagi mereka, sekali tauhid tetap tauhid. Benar, tetapi apanya yang tauhid? Mereka menjawab: “Pribadi”. Justru pribadi Allah SWT itu trinitas: Allah SWT, Kalam, dan Dzat. Bukankah itu ada “tiga”? Ya! Tetapi tetap satu pribadi. Benar, tetapi bukankah kita tetap berpikir bahwa Allah itu memiliki Kalam dan Dzat, bukan? Memisahkan ketiga-Nya sangatlah mustahil. Lalu, yang disembah Islam adalah Allah SWT, Kalam-Nya, atau Roh-Nya? Tentu yang disembah adalah “satu” karena ketiga-Nya adalah satu dalam kedirian-Nya. Secara substansial, konsep tersebut adalah konsep Kristen yang saya diterapkan secara logis kepada pribadi Allah SWT.
Anggapan bahwa Trinitas adalah ajaran sesat, ajaran setan, dan ajaran tidak masuk di akal, sebenarnya memungkiri logikanya sendiri. Trinitas adalah supremasi konsistensi logis dan bukan konsekuensi logis. Konsistensi logis berarti secara ontologis kita melihat bahwa personalitas Allah memanglah demikian: tiga pribadi satu esensi. Allah tak mungkin disebut pribadi jika Ia tak memiliki Logos. Allah tak mungkin disebut pribadi jika Ia tak memiliki Roh. Semua ilah yang diyakini oleh pengikutnya sebagai pribadi yang “pernah berkata, berfirman atau berbicara”, pasti bernatur trinitas: ilah (namanya), pikirannya (logos, kalam), dan rohnya (dzatnya). Allah adalah esa dan trinitas; tergantung dari konteks yang mengikatnya.
Pertanyaan “ADAKAH YESUS MENGANGGAP TUHAN SEBAGAI TRINITAS ATAU SEBAGAI TAUHID?” bisa diterapkan kepada Allah SWT. Jika jawabannya sama dengan Kristen sebagaimana yang telah saya paparkan di atas, maka tidak perlu lagi mempertanyakan Trinitas dan Tauhid kepada Kristen karena ternyata konsep konsistensi logisnya adalah sama. Jawaban Pak Tua—meskipun dianggap sebagai lelucon oleh mereka yang berpaham tauhid dan dianggap isi otaknya keluar semua—namun jawabannya adalah benar: Tuhan itu tauhid dan trinitas. Tinggal bagaimana kita menjelaskannya sesuai konteksnya. Tauhid memiliki konteks yang selalu dikaitkan dengan ciptaan-Nya, sedangkan trinitas memiliki konteks yang selalu dikaitkan dengan ontologis.
Dalam konteks kehidupan, manusia memperlihatkan jati dirinya ke dalam pelbagai bidang, misalnya: pendidikan, kesehatan, pelayanan, ilmu pengetahuan, politik, budaya, agama, dan lain sebagainya. Bidang-bidang tersebut mengasah potensi diri untuk menghasilkan sesuatu, di mana “hasil hidup” tersebut dapat mempertahankan tiga hal: integritas, relasi, dan spiritualitas.
Guliran waktu menghadirkan berbagai fenomena dalam kehidupan kita. Integritas, relasi, dan spiritualitas kita diasah sedemikian rupa hingga menjadikan diri kita kuat menghadapi badai hidup. Inilah yang dialami oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Dalam pergumulannya menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, integritas, relasi, dan spiritualitas beliau tetap seimbang, bahkan tak tergoyahkan.
Saat berada dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang Jakarta Timur, beliau tidak berhenti menebarkan (membuktikan) integritas, relasi, dan spiritualitas. Ada hasil dari semuanya itu. Matheus Mangentang tulus memberi dan tak takut rugi (kekurangan): memberi diri menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengabarkan Injil selama di dalam tahanan melalui PA (Pendalaman Alkitab) dan konseling. Alhasil, banyak di antara mereka yang bertobat dan berkomitmen bahwa kelak ketika mereka bebas akan belajar di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta untuk menjadi hamba Tuhan. Agus adalah salah satu tahanan yang mendampingi beliau selama di dalam Lapas, dan saat ini ia sudah berada di SETIA, ikut beliau.
Fenomena saat Putusan Peninjauan Kembali (PK) Para Pemohon PK, I. Matheus Mangentang, S.Th dan II. Ernawaty Simbolon dikabulkan serta Putusan Mahkamah Agung (MA) No. 3319 K/Pid.Sus/2018 tanggal 13 Februari 2019 dibatalkan, maka dengan demikian dinyatakan, lepas dari segala segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging); memulihkan hak Para Terpidana dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya; memerintahkan Para Terpidana dibebaskan seketika.
Keputusan PK tersebut diputuskan melalui rapat musyawarah Majelis Hakim Pada Hari Kamis tanggal 20 Februari 2020, No. 45 PK/Pid. Sus/ 2020 oleh Dr. Sofyan Sitompul, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Maruap Dohmatiga Pasaribu, S.H., M.Hum dan Dr. Desnayeni M., S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota.
Berdasarkan Putusan PK tersebut, bahwaMatheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon dibebaskan dari Lapas Cipinang dan Lapas Pondok Bambu tanggal 09 Maret 2020, menghadirkan luapan sukacita tidak hanya bagi Matheus sendiri melainkan bagi keluarganya, bagi SETIA Jakarta, BPS- GKSI, para alumunus SETIA, dan masih banyak lagi. Fenomena ini patut disyukuri.
Ketika menyimak integritas, relasi, dan spiritualitas yang diperlihatkan Matheus Mangentang, kita mendapati bahwa ketiganya tetap sama, konsiten, tak berubah. Pasca bebas murni beliau tetap seperti dulu: melayani tanpa pamrih, menebar kasih, dan tetap konsisten dengan pelayanan yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Ia rela memberi dirinya tanpa merasa rugi (kekurangan) karena hal itu dibuktikan selama beliau menjalani masa tahanan; beliau tetap berkarya bagi Tuhan, memberi diri menjadi pelayan Tuhan untuk terus berbuat baik, menyatakan kasih dan kemurahan Tuhan kepada siapa saja yang ditemuinya. Itulah kekuatan iman beliau.
Prinsip hidup: “memberi tanpa merasa rugi”, patut kita lakukan, sebab Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi dan memberikati kita. Oleh sebab itu, ketika kita memberi dengan sukacita, hal itu tak pernah terbuang percuma. Tuhan mencukupkan segala sesuatu bagi kita dengan caranya sendiri. Pelayanan yang dikerjakan Matheus Mangentang sebenarnya menegaskan prinsip ini: “memberi [diri dan segala sesuatu yang kita miliki] tanpa merasa rugi”. Matheus Mangentang tak pernah merasa rugi atas kebaikan yang telah ia taburkan selama hidupnya melayani Tuhan.
Rumah tahanan tidak menjadi alasan baginya untuk tidak memberi dirinya menjadi saksi bagi Yesus Kristus. Hal itu justru menjadi syukur karena Tuhan telah menempanya selama kurang lebih 7 bulan (di rumah tahanan). Meski demikian imannya tidak menjadi kecut-ciut. Matheus Mangentang telah memperlihatkan ketegaran imannya meski dalam masa-masa sulit. Doa siang malam disampaikan kepada Sang Khalik. Akhirnya, datanglah “keputusan dari-Nya”: memberikan pertolongan dan kelegaan serta syukur yang luar biasa karena Matheus Mangentang dinyatakan “bebas murni” dari kasus yang menjeratnya.
Keadilan dan kuasa Tuhan tidak selalu datang pada saat kita memintanya. Tuhan memproses kita; Tuhan melatih iman dan harap kita; Tuhan membentuk pribadi dan karakter kita menjadi kuat dan solid. Matheus Mangentang melihat bahwa “tangan Tuhan” teracung untuk menyatakan keadilan dan kuasa-Nya; tak satu pun manusia sanggup melawannya. Jangan melawan Tuhan. Ia dahsyat tak tertandingi; Ia membenci orang yang berbuat kejahatan, tetapi memberkati orang benar, orang yang setia kepada-Nya.
Matheus Mangentang telah menorehkan sejarah pelayanan di SETIA dan GKSI, juga di lembaga lainnya. Sampai sekarang ia masih tetap bersyukur dan memberi dirinya bagi pekerjaan Tuhan tanpa merasa rugi atau kekurangan. Satu tahun sudah beliau “bebas murni” (tanggal 09 Maret 2021). Semangat beliau dalam melayani Tuhan tak pernah pudar. Ia bahkan senantiasa memberikan wejangan-wejangan pelayanan bagi generasi muda.
Ucapan syukur yang luar biasa ini menandai kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Tak ada apa pun yang dapat membalas semua kebaikan Tuhan. Kita diberikan hati dan pikiran untuk “mengucap syukur kepada-Nya”. Pilihan terbaik kita adalah “mengucap syukur dalam segala hal di dalam Kristus Yesus”. Matheus Mangentang telah melakukannya. Satu tahun sudah menikmati kebebasan yang diberikan Tuhan dan itu harus disyukuri.
Apa yang dapat kita simak dari kisah Matheus Mangentang di atas? Kita harus melihat bahwa cara Tuhan bekerja dalam hidup manusia tidak seperti yang kita duga. Meski duka dan tekanan melanda, biarkanlah Tuhan bekerja di dalamnya. Kita tak dapat melawan Dia. Kita hanya dapat berserah dan memohon kepada-Nya agar kasih dan kemurahan datang pada kita sesuai dengan waktu yang Ia tentukan: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…” (Pengkhotbah 3:11).
Bersyukurlah karena Tuhan masih memberikan kita “waktu dan kesempatan” untuk menikmati kebaikan-Nya dalam situasi apa pun, dalam suka dan duka. Kita tahu bahwa hidup dalam Tuhan ada sukacita, damai, dan sejahtera. Matheus Mangentang menunjukkan ketegaran hatinya untuk tetap melihat kepada Tuhan sebab ia tahu bahwa Tuhan akan bekerja sesuai dengan kehendak-Nya, dan beliau telah merasakannya. Beliau pun menaikkan rasa syukur bersama keluarga, juga bersama dengan Ibu Ernawaty Simbolon. Rasa syukur itu adalah tanda bahwa iman yang diberikan Tuhan kepada mereka telah terkonfimasi saat mereka menjalani kehidupan di masa-masa yang sulit sekalipun.
Kehidupan yang kita jalani mengungkapkan sebuah fakta bahwa Tuhan itu adil dan menyatakan keadilan-Nya sesuai dengan waktu yang Ia tentukan. Tuhan itu juga pemurah; Ia memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya; Ia membalut luka-luka kehidupan kita; Ia merangkul orang-orang yang tidak perhatikan; Ia menguatkan mereka yang lemah dan memberikan harapan bagi mereka yang putus asa. Ia memberi hati yang kuat menghadapi berbagai tantangan. Dan Ia juga mengangkat mereka yang jatuh, dan menjadikannya sebagai alat bagi kemuliaan nama-Nya.
Jika Matheus Mangentang telah memberi teladan dalam “memberi tanpa merasa rugi” ketika ia melayani Tuhan dalam segala situasi dan kondisi, demikianlah kita melakukan itu, dan menyadari bahwa melayani Tuhan jangan pernah merasa rugi atau kekurangan. Apa yang kita lakukan, lakukanlah dengan tulus ikhlas, bukan karena ingin mendapat imbalan atau uang banyak. Melayani Tuhan itu indah dan berkesan. Kadang, ungkapan syukur tak mampu menampung kebaikan dan kemurahan Tuhan. Meski demikian, tetaplah mengucap syukur dalam segala hal karena Tuhan itu baik dan telah berbuat baik.
Salam Bae…
Catatan:
Saya dan rekan-rekan pernah membuat dua buku untuk beliau. Buku yang pertama dibuat waktu beliau berada dalam lapas.
KATA PENGANTAR
Setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus menyadari bahwa dirinya harus mengimplementasikan imannya ke dalam perbuatan-perbuatan yang selaras dengan firman Allah. Artinya, apa yang diberikannya (dilakukan) adalah “yang terbaik” sesuai kehendak Tuhan.
Dalam perjalanan kehidupan, ada berbagai hal yang kita jumpai, dan secara simultan, hal-hal tersebut dapat berpotensi membentuk karakter kita menjadi seperti yang dikehendaki Allah. “Memberikan yang terbaik kepada Tuhan” bukanlah slogan semata; memberikan yang terbaik didasarkan pada pengenalan kita akan Tuhan dan sikap kasih kita kepada-Nya.
Tak ada satu pun orang percaya yang mengasihi Tuhan tanpa memberikan—segala perbuatannya—yang terbaik kepada-Nya. Di sini, konsistensi iman menjadi yang utama. Ketika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjalani dan menikmati kehidupan, maka secara simultan tanggung jawab iman yang kita miliki seyogianya diejawantahkan ke dalam kehidupan itu sendiri. Kita harus tetap konsisten memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Buku ini adalah kumpulan tulisan yang merupakan refleksi (kesaksian) iman dan pelayanan dari para hamba Tuhan, yang didedikasikan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, seorang pendeta, pendidik, dan teolog, yang telah berkarya bagi Tuhan, baik di sekolah, gereja, maupun ladang misi. Meskipun beliau berada dalam penjara, hal itu tak menyurutkan kerinduan beliau untuk melayani Tuhan dan menyatakan kasih kepada sesama.
Semangat beliau dalam melayani dan bermisi tak pernah surut. Bahkan beliau telah menjadi teladan bagi “anak-anak Arastamar” di seluruh Indonesia, yang juga mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan (pelayanan) Tuhan. Tak kenal lelah, dan kenal menyerah adalah komitmen beliau. Kini, “taburan-taburan benih pelayan” yang telah dikerjakannya sejak dulu, telah berbuah lebat, dan telah memberkati banyak orang, baik lewat pendidikan, gereja, maupun pekerjaan misi ke pedalaman-pedalaman.
Dengan “semangat untuk berbagi berkat bagi sesama”, maka ide untuk membuat buku yang didedikasikan kepada Pdt. Matheus Mangentang, memiliki dasar yang sama. Ide tersebut muncul dalam pikiran saya beberapa minggu sebelum beliau merayakan tanggal kelahirannya yaitu 6 Oktober 2019. Saya pun bergerilya untuk mengumpulkan berbagai naskah khotbah dari para hamba Tuhan. Ide ini disambut baik oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, Pdt. Dr. Soegeng A. Hardiyanto, dan Pdt. Dr. Thobias A. Messakh; dilanjutkan dengan rekan-rekan sepelayanan dan sahabat-sahabat saya yang bersedia berkontribusi untuk menerbitkan buku ini.
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua hamba Tuhan yang telah bersedia memberikan kontribusinya melalui refleksi iman dan pelayanan—dalam bentuk khotbah—sehingga buku ini dapat diterbitkan.
Semoga buku ini dapat memberikan kekuatan dan semangat kepada Bapak Pdt. Matheus Mangentang dalam menjalani kehidupan yang dianugerahkan Tuhan; dan juga kepada para pembaca sekalian. Kami tetap berdoa, agar kasih setia dan pertolongan Tuhan tetap menyertai Bapak. Amin!
Salam,
Pdt. Dr. Stenly R. Paparang. Penggagas Pembuatan Buku “Tuhan Meminta yang Terbaik”
DAFTAR ISI
Orang Benar Berbelas Kasih: Mazmur 37:12-26. Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe
Tuhan Yesus – Gembala yang Baik: Yohanes 10:11-18. Pdt. Dr. Soegeng A. Hardiyanto
Pilihlah pada Hari ini kepada Siapa Kamu Beribadah: Yosua 24:1-16. Pdt. Dr. Thobias A. Messakh
Tuhan Meminta yang Terbaik: Refleksi Imamat 3:1-117. Pdt. Dr. Stenly R. Paparang
Dan Siapapun yang Memaksa Engkau BerjalanSejauh Satu Mil, Berjalanlah Bersama Dia Sejauh Dua Mil: Matius 5:41. St. Dr. Hasahatan Hutahaean
Tuhan yang Baik adalah Dia yang Rela Menderita: Menggantikan Umat-Nya: Yesaya 53:1-6. Pdt. Heri Anderson, M.Th.
Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan: Roma 12:9-21. Pdt. Dr. Antonius Missa
Memperoleh Keadilan dengan Hidup Benar: Mazmur 26:1-8. Novida Dwici Yuanri Manik, M.Pd.K.
Bahagiakanlah Orang Lain, Maka Engkau Akan Bahagia: Kolose 3:18-25. Fredik Masneno, M.Th.
Jujur dalam Ucapan: Matius 26:69-75. Pdt. Aris D. Rimbe, M.Th.
Pertolongan Tuhan Tidak Pernah Berakhir: Yesaya 40:28-31. Pdt. Dr. Sensius A. Karlau
Menjadi Saksi Kristus: Kisah Para Rasul 1:8: Pdt. James A. Lola, M.Th.
Memimpin dan Mengganti Pemimpin: Ulangan 32:44-52. Pdt. Dr. Youke Singal
Hidup yang Berpusat pada Kristus: Efesus 5:15-17 dan Mazmur 90:12. Pdt. Dr. (c) Yeremia Hia, M.Th.
Kasih Allah pada Manusia Berdosa. Pdt. Djanne Tando, M.Th.
Kemerdekaan Orang Kristen: Galatia 5:13-15. Pdt. Aris D. Rimbe, M.Th.
Harapan dalam Kristus: 1 Petrus 1:3-9. Novida Dwici Yuanri Manik, M.Pd.K.
Merdeka Menuju Kemuliaan: Roma 8:18-21. Pdt. Dr. Stenly R. Paparang
Mempertahankan Kelakuan: Mazmur 119:9. Dr. Purnama Pasande, M.Th.
Christynata dan Gilchrist Paparang
BUKU KEDUA dibuat oleh Saya dan rekan-rekan saat beliau merayakan hari ketambahan usia yang ke-64. Buku ini saya serahkan pada hari Rabu tanggal 7 Oktober 2020 pada saat ibadah bersama (Beliau berhari ulang tahun pada tanggal 6 Oktober).
KATA PENGANTAR
Ada proses yang harus ditempuh oleh setiap orang Kristen untuk menunjukkan kualitas imannya kepada Tuhan dan sesama. Hal ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana kekuatan kesetiaan seseorang kepada Tuhan, dan bagaimana dalam totalitas proses kehidupannya menghasilkan buah atau tidak.
Pada akhirnya, semua orang percaya hanya memperlihatkan buah-buah dari pemikirannya, perkataannya, dan perbuatannya. Asesmen terhadap buah-buah merupakan konsekuensi logis dari proses kehidupan setiap orang. Oleh karena itu, tak adil jika kita yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak berbuat apa-apa; atau mungkin hanya berbuat sesuatu ketika hal itu mendatangkan keuntungan semata ketimbang memikirkan bagaimana menghasilkan pengaruh totalitas diri kita dalam lautan kehidupan yang multiiman dan multikulturalisme.
Kenyataannya, kita seringkali terperangkap dalam kesibukan kita tanpa membuka jendela pemikiran untuk berbagi dengan orang lain. Kita lebih suka berpuas diri dengan pemikiran kita, jabatan, karya kita, yang hanya berputar pada ego diri, ketimbang memikirkan keseimbangan antara karya pribadi dan karya “bagi” orang lain. Pada tataran ini, saya dan sahabat-sahabat yang sepaham mengenai hal ini, sepakat untuk “berbagi” dengan sesama melalui buah-buah pemikiran. Hal ini memiliki tujuan bahwa kita hidup untuk berbagi, jika tidak, kita hanya puas dengan diri sendiri dan tidak puas dengan relasi serta kepedulian terhadap orang lain.
Selagi kita masih hidup, jangan menikmati kelebihan diri sendiri secara sendiri-sendiri; jangan pelit ilmu dan pemikiran, apalagi merasa bahwa berbagi dengan sesama melalui tulisan tidak banyak menguntungkan. Hal itu benar, tetapi bagi mereka yang pelit ilmu dan hanya menikmati kepiawannya sendiri di kamar pribadi. Saya tidaklah demikian. Saya mengajak sahabat-sahabat saya untuk giat berbagi, giat melayani, meski lelah dan peluh bercucuran. Tentu Tuhan tahu apa yang kita kerjakan, dan kita juga tahu apa motivasi yang kita pegang untuk berbagi dengan sesama.
Dari sini kita melihat bahwa buah-buah iman tampak dalam kehidupan yang kita jalani, termasuk di dalamnya karya-karya pribadi maupun karya-karya yang bersifat “berbagi”. Melihat fakta ini, saya memiliki orientasi bahwa segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita sejatinya terejawantah dalam karya nyata, karya bagi kita, bagi sesama, bagi Gereja, dan bagi dunia secara luas.
Buku ini lahir dari skema tersebut. Sudah berulang kali saya membuat buku sejenis ini. Membuatnya didasari pada ketulusan. Saya tak kekurangan cara untuk bekerja, berelasi, dan terlebih mencari jalan untuk dapat membuat proyek semacam ini. Dan saya yakin bahwa ketulusan yang kita buat, pasti akan dibalaskan oleh Tuhan. Termasuk para sahabat dan kenalan saya yang telah berkontribusi dalam menuliskan artikel/khotbah di buku ini.
Saya pun bersyukur bahwa sahabat-sahabat saya memang memiliki komitmen yang sama: berbagai berkat melalui tulisan. Mereka adalah orang-orang super sibuk. Saya menyadari hal itu. Namun, ada sebuah fakta yang saya amati, yaitu jika kita hanya menghitung kesibukan-kesibukan kita sendiri, pada akhirnya kita tak dapat membuka jendela logika untuk menghirup harumnya persaudaraan dan indahnya kehidupan yang berbagi. Berbagi itu memberikan kebahagiaan. Kata-kata tak mampu untuk meng-ungkapkan kebahagiaan ini.
Dengan mengulang kembali proyek buku yang sejenis, saya dan dibantu oleh Yosia Belo, bergerilya untuk menghubungi orang-orang tertentu, sahabat dan rekan sepelayanan, agar mereka dapat berbagi pemikiran, yang dimuat dalam buku ini. Di bawah judul “BERSAMA TUHAN AKU SETIA, KUAT, DAN BERBUAH: Kumpulan Tulisan dalam Rangka Mensyukuri Ulang Tahun Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., ke-64”,buku ini menyuguhkan berbagai pemikiran, pengalaman, konsep, dan edukasi—biblikal yang dapat menjadi makanan siap saji bagi para pembaca sekalian.
Buku ini dirancang khusus untuk dipersembahkan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, yang merasakan kasih dan kemurahan Tuhan karena Ia telah menambahkan umur setahun kepada beliau. Apa yang beliau kerjakan dalam kaitannya dengan pelayanan kepada Tuhan, telah membuktikan kesetiaannya, tetap kuat di dalam kuasa-Nya, dan telah menghasilkan buah-buah dari iman. Ini suatu hal yang luar biasa. Di usianya yang ke-64, semangat melayani dan bekerja di ladang Tuhan masih begitu kuat dan tetap menjadi prioritas.
Beberapa tulisan dalam buku ini, secara khusus menyebutkan nama beliau sebagai sosok yang patut diteladani. Dalam pengalaman hidup bersama Tuhan, beliau telah membuktikan bahwa kekuatan, kesetiaan, dan buah-buah pelayanan dapat dirasakan, dialami, dan dihasilkan, semuanya adalah karena kemurahan Tuhan semata. Tepatlah jika dikatakan: “Bersama Tuhan Aku Setia, Kuat, dan Berbuah” sebagai gambaran faktual dari pelayanan Pdt. Matheus Mangentang.
Itu sebabnya, dengan berbagai tema dan fitur teologis-aplikatif dalam buku ini, memperkaya khazanah pengetahuan dan pemahaman kita tentang hidup. Tulisan-tulisan dalam buku ini juga memiliki nuansa dan fitur-fitur iman yang secara substansial menunjukkan jati diri kualifikasi, tendensi keilmuan, dan pengalaman hidup para penulis, bersama Sang Khalik.
Pada kesempatan ini, saya patut mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya dan rekan sepelayanan, yang telah meluangkan waktu dan kesempatan untuk menulis. Tuhan memberkati kalian semua. Terima kasih kepada Yosia Belo dan Pangeran Manurung, tim editor yang luar biasa; meski dalam waktu yang sangat mepet, kita dapat bekerja secara cepat agar buku ini dapat diterbitkan, terlepas dari kekurangan di sana-sini. Kiranya Tuhan yang akan membalas kebaikan hamba-hamba-Nya.
Akhirnya, semoga buku ini memberikan berkat tersendiri kepada para pembaca, terlebih kepada Bapak Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Selamat Ulang Tahun Bapak Matheus. Tuhan memberkati Bapak dalam pelayanan, pekerjaan, dan keluarga.
Salam Bae
Gading Serpong, 15 September 2020,
Stenly R. Paparang. Penggagas buku “Bersama Tuhan Aku Setia, Kuat, dan Berbuah”
DAFTAR ISI
TEKNOGOGI:Jarak Teori, Pengetahuan Hidup, dan Pengalaman Hidup. Dr. Elia Tambunan
JADILAH BERIMAN — JANGAN HANYA BERAGAMA!Refleksi Kisah Para Rasul 15:1-21.Dr. Soegeng A. Hardiyanto
HAMBA YANG BAIK DAN SETIA. Dr. Edu Arto Silalahi
DISKURSUS IMAN DAN PERGUMULAN HIDUP: ORANG KRISTEN: Proaktif Masa Kini, Antisipasi Masa Depan. Refleksi 1 Petrus 4:7-19. Dr. Marde Christian Stenly Mawikere
ALLAH MENEROBOS UNTUK MEMBEBASKAN. Dr. Thobias A. Messakh
URGENSI KEBANGUNAN ROHANI ZAMAN EZRA: Mengintip Intrik Politik Persia, Mengkaji Spiritualisme. Dr. Pangeran Manurung
KUAT OLEH KASIH KARUNIA: MENGGAPAI VISI TO REACH THE UNREACH PEOPLE: Refleksi 2 Timotius 2:1-7. Dr. Junior Natan Silalahi
TINJAUAN TERHADAP KITAB “YESUS BIN SIRAKH”. Dr. Heryson T. M. Butar-Butar
KEBENARAN BERASAL DARI HIKMAT ALLAH,BUKAN PENGETAHUAN: Mendemonstrasikan Karakter Ilahi di Masa Pagebluk. Dr. Maria Patricia Tjasmadi, M.Pd.K.
MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKANKARAKTER KRISTEN YANG KUAT. Pdt. Samuel T. Gunawan, S.Th., S.E., M.Th.
HIDUP BERSAMA TUHAN. Pdt. Jimmy Kambey, M.Th.
INKARNASI KRISTUS SEBAGAI PATRON HIDUP BERJEMAAT: Homili Filipi 2:1-11. Hendy Graciano Puttileihalat
GENERASI PILIHAN ALLAH. Dr. Aan, M.Th.
YESUS MEMBERITAKAN KEMATIAN-NYA: Kajian Yohanes 12:20-36. Pdt. Henni Somantik, M.Th.
GEMBALA-GEMBALA ZAMAN. Yosep Belay
MENELUSURI MAKNA אֱלהֵׄינוּבְּשֵׁם־יְהוׇה ךְנֵלֵ DALAM MIKHA 4:5b DAN IMPLIKASINYA BAGI UMAT ALLAH. Susten Bako
API TUHAN DAN TRAGEGI DALAM KELUARGA HARUN: Refleksi Imamat 10:1-20. Pdt. Dr. Youke Singal, M.Th.
HIDUP YANG BERBUAHDALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN. Refleksi Yakobus 1:17-27. Pdt. Febrianto Sutomo Rompis, M.Th.
Kehidupan Kristen tidak lepas dari sebuah kesadaran untuk “berdoa” kepada Tuhan. Kehidupan Kristen selalu melibatkan dan mengutamakan doa—sebuah sikap tunduk dan bersandar kepada Tuhan. Dua senjata yang mengubah segala sesuatu dan mematikan adalah “doa [bersandar kepada Tuhan dan wujud dari mengasihi Dia dan sesama yang tertuang dalam doa]” dan “Tuhan turun tangan [kuasa-Nya]”. Dua senjata ini telah berlangsung ribuan tahun yang membuktikan bahwa kekristenan dapat bertahan hingga kini.
Meski orang Kristen dihina, dicaci maki, dibunuh, dibakar hidup-hidup, dimakan binatang buas, dan sebagainya, tetapi apa yang terjadi? Kristen adalah agama terbesar di dunia dan membuatnya besar adalah “doa” dan “Tuhan turun tangan”. Itu sebabnya, “doa” itu penting. Yesus, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia berdoa kepada Bapa-Nya; implikasinya adalah kita pun harus berdoa. Para rasul berdoa, maka Gereja harus berdoa. Lalu apa kepentingan dan tujuan doa? Hal ini akan saya jelaskan kemudian.
Ketika saya membaca tujuh ayat dalam 1 Timotius 2, saya merasa apa yang dituangkan Rasul Paulus sangatlah luas sekali. Tidak hanya tema “doa orang percaya” yang dibahas, melainkan pokok-pokok dasar dari iman Kristen pun ditegaskan Paulus di dalam pasal ini (misalnya penebusan yang dikerjakan Yesus Kristus menjadikan kita sebagai ciptaan baru, yang kudus, dan berkenan kepada Tuhan). Tetapi kita tidak membahasnya di sini, melainkan fokus pada konteks “doa orang percaya”.
Saya mencatat beberapa pokok penting—selain dari pada tema kita “Doa Orang Percaya”—sebagai berikut:
Pertama, orang percaya dinasihatkan untuk menaikkan “permohonan”, doa “syafaat” dan “ucapan syukur” atas semua orang termasuk raja-raja, dan semua pembesar. Tujuannya adalah agar orang percaya dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Mendoakan pemerintah adalah wujud dari iman karena orang percaya hidup di dalam sistem pemerintahan. Meski di zaman sekarang, orang Kristen mengalami banyak kesulitan untuk beribadah, namun mendoakan pemerintah adalah sebuah keharusan. Ini adalah tindakan yang berkenan kepada Tuhan.
Kedua, Paulus menyambung dari pokok keharusan orang percaya berdoa, dengan “karya Tuhan sebagai Juruselamat” umat manusia (ay. 3 dst). Tuhan menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Kebenaran tentang apa? Tentu kebenaran tentang bagaimana Ia menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa.
Ketiga, Paulus mengaitkan “konteks keselamatan dengan Allah sebagai yang ‘esa’” [Yun. eis] dan Yesus Kristus sebagai yang “esa” [Yun. eis] yang menjadi perantara (Yun. mesitēs, mediator). Di sini, ada dua konteks ‘esa’ yang ditegaskan Paulus. Keesaan Allah dipahami dari dua aspek yaitu aspek kreasi (dunia ciptaan yang diciptakan Allah) dan aspek ontologis (hakikat yang ada [eksis] pada diri Allah sendiri). Keesaan Allah yang terkait dengan kreasi (ciptaan) merujuk pada “satu” sebagai “yang disembah” dari semua kekuatan dan kekuasaan dunia. Yesus sebagai yang esa berarti “hanya Dia saja Perantara tunggal” yang menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua manusia. Tidak ada perantara lain yang juga menyerahkan dirinya untuk mati bagi orang lain. Jadi, Yesus tidak ada bandingnya, Ialah yang esa.
Keempat, Paulus menyatakan bahwa ia “tidak berdusta dalam iman dan kebenaran”; ia ditetapkan sebagai pemberita, rasul, dan pengajar untuk menyampaikan kebenaran Allah yang sesungguhnya.
Dari keempat pokok di atas yang terangkum dalam tujuh ayat, maka pokok pertama akan menjadi tujuan kita dalam memahami pesan dan makna tentang “doa” dan “berdoa”.
DOA ORANG BENAR
Berbicara mengenai “doa”, kita perlu memahami enam hal: pertama, siapa dan apa identitas pendoa; kedua, apa isi doa; ketiga, kapan berdoa; keempat, bagaimana posisi berdoa; kelima, berdoa di mana; dan keenam, berapa lama berdoa. Untuk menjelaskan tema hari ini, maka saya akan menjelaskan poin yang pertama dan kedua.
Pertama, siapa yang berdoa. Berdasarkan teks yang kita baca, Paulus menasihatkan Timotius untuk berdoa. Jadi, Timotius mendapat kesempatan untuk berdoa di mana doa dipandang sebagai senjata yang tak terlihat namun hasilnya nyata. Timotius adalah seorang muda yang penuh kasih sayang (2 Tim. 1:4) tapi sangat penakut (2 Tim. 1:7); ia adalah seorang yang taat (1 Kor. 16:10; Flp. 2:19; 2 Tim. 3:10). Ia adalah seorang percaya dari Listra (ibunya seorang wanita Yahudi dan ayahnya seorang Yunani, [Kis. 16:1; 2 Tim. 1:5]). Ia bersama dengan Paulus pada perjalanan misi kedua (Kis. 16:1-4; 17:14-15; 18:5; 20:4). Ia diutus untuk mengurus persoalan-persoalan di Korintus (1 Kor. 4:17; 16:10), dan memimpin Gereja di Efesus (1 Tim. 1:3).
Dari beberapa identitas Timotius, maka layaklah jika ia dikatakan sebagai “orang benar” yang “berdoa”. Ia diminta untuk berdoa karena dengan doa yang tulus, Allah berkenan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak-Nya, yang terbaik bagi orang-orang percaya. “Doa adalah jembatan terbaik”. Meski badai sebesar apapun melanda orang percaya, jembatan itu tak pernah putus. Justru malahan jembatan itu tetap kokoh.
Bagaimana dengan kita? Setiap orang Kristen harus berdoa, tetapi tidak semua orang Kristen memiliki identitas yang benar di hadapan Tuhan. Setiap orang Kristen dapat berdoa, tetapi tidak semua memiliki waktu untuk berdoa. Berdoa bukan hanya sekadar bicara, memohon kepada Tuhan, melainkan harus menunjukkan identitas yang benar di hadapan Tuhan. Semua orang Kristen memiliki kesempatan untuk berdoa, tetapi tidak semua doa dijawab Tuhan.
Persoalan utamanya adalah “apakah kita sudah benar di hadapan Tuhan atau tidak”. Boleh kita berdoa, tapi harus sadar, apa yang telah kita buat untuk Tuhan. Jangan hanya berdoa ketika berada dalam kesesakan, tetapi pada saat keadaan senang dan nyaman, dengan sengaja kita lupa untuk berdoa. Pada faktanya, ada orang-orang yang jarang atau malas berdoa ketika situasi dan kondisi hidupnya aman, nyaman, bahagia, dan tanpa ada halangan/hambatan sedikit pun. Rasa nyaman dengan kondisi hidup membuat orang-orang lupa untuk berdoa dan bersyukur. Sebaliknya, ketika situasi dan kondisi hidup serba sulit, muncul berbagai masalah, barulah ingat untuk berdoa.
Kedua, apa isi doa. Dari bacaan kita tadi, tampak bahwa Paulus mendeskripsikan apa saja yang perlu didoakan oleh Timotius. (1) Timotius diminta untuk menaikkan “permohonan” kepada Tuhan, untuk raja-raja dan semua pembesar; (2) berdoa “syafaat” (sebagai perantara) untuk raja-raja dan semua pembesar, agar orang percaya dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan; (3) “mengucap syukur” untuk raja-raja dan semua pembesar. Mengucap syukur di sini adalah karena pemerintah (raja-raja dan pembesar) pemimpin yang mengatur ketenangan dan ketenteraman hidup rakyatnya.
Timotius tidak hanya diminta berdoa syafaat bagi raja-raja dan semua pembesar, tetapi hidup dalam segala kesalehan dan kehormatan. Dengan demikian, Timotius tidak hanya berdoa tetapi harus menjaga hidupnya selaras dengan kehendak dan kebenaran Allah. Hidup dalam kesalehan dan kehormatan adalah perilaku yang berkenan kepada-Nya. Alasannya adalah karena dengan kesalehan dan kehormatan, orang percaya dinilai dan dipuji perilakunya. Paulus menegaskan bahwa berdoa untuk raja-raja dan para pembesar adalah berkenan kepada Tuhan. Bukan saja berkenan, tetapi orang percaya didorong untuk menjadi teladan dalam kesalehan dan kehormatan. Bukankah ini sangat indah?
APLIKASI
Pertama, kita semua adalah pendoa, dan Tuhan menghendaki semua orang percaya adalah pendoa bagi pekerjaan-Nya, bagi pemerintah, dan bagi semua orang.
Kedua, Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk berdoa; waktu berdoa tidak ada batasnya; kapan saja dan di mana saja. Kesempatan yang Tuhan berikan harus dipakai dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, doa adalah senjata yang tak terlihat namun hasilnya nyata.
Keempat, doa adalah jembatan terbaik yang tak pernah putus meski dilanda badai sebesar apa pun.
Kelima, setiap orang Kristen dapat berdoa, tetapi tidak semua orang Kristen memiliki identitas yang benar di hadapan Tuhan. Boleh kita berdoa, tapi harus tahu kita telah berbuat apa untuk Tuhan. Jangan hanya berdoa ketika berada dalam kesesakan, tetapi pada saat keadaan senang dan nyaman, dengan sengaja kita lupa untuk berdoa.
Keenam, hiduplah dalam segala kesalehan dan kehormatan. Seorang Kristen tidak hanya hebat dalam berdoa, tetapi juga hebat dalam teladan iman dan perbuatan. Kita tidak hanya berdoa tetapi harus menjaga hidup ini agar selaras dengan kehendak dan kebenaran Tuhan.