KEKUATAN SEBUAH RENCANA: Refleksi Keluaran 2:12-20

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/87820261457695936/

Pendahuluan

Kekuatan sebuah rencana secara substansial diukur oleh tujuh hal: pertama, siapa yang merencanakan; kedua, merencanakan apa; ketiga, situasi dan kondisi hidup yang menjadi pendorong rencana itu direncanakan; keempat, apa tujuannya merencanakan sesuatu; kelima, siapa saja yang terlibat dalam mewujudkan rencana itu; keenam, berapa lama rencana itu bertahan; dan ketujuh, apa yang dibutuhkan dalam mewujudkan rencana itu. Hampir semua orang merencanakan sesuautu untuk hari depan. Tetapi tak sedikit yang gagal mewujudkan rencana itu. Akan tetapi, bagi orang percaya, setiap rencana yang dibuat, harus melibatkan Tuhan di dalamnya. Kisah Musa adalah sebuah potret kehidupan yang cukup mencekam mengingat bahwa anak laki-laki yang lahir dari orang Ibrani haruslah dibuang ke sungai Nil. Meski demikian, Musa akhirnya dipimpin Tuhan menjadi pemimpin besar bangsa Israel. Ia menjadi pemimpin, tidak lepas dari campur tangan Tuhan melalui rencana-rencana kecil yang mendahului rencananya yaitu rencana ibunya dan rencana kakaknya.

Implikasi “Rencana” Berdasarkan Teks Bacaan

Pada teks yang dibaca, “rencana” yang dimaksudkan sesuai dengan tema khotbah adalah “rencana dari Ibu Musa”, “kakak Musa”, dan “Musa”. Memang, dalam teks tersebut, tidak terlihat di mana rencana mereka. Tetapi saya berusaha memahami kisah kelahiran Musa hingga ia dewasa.

Pertama, rencana ibu Musa (ay. 2-3, 9-10): ia memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam peti dan diletakkan di tepi sungai Nil. Ia kemungkinan besar ia merencanakan agar anaknya tetap selamat, mengingat Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya bahwa segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani, dilemparkan ke dalam sungai (1:22). Ibu Musa merencanakan keselamatan anaknya meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Ibu Musa merencanakan untuk meletakkan bayinya di tepi sungai Nil karena situasi dan kondisi yang menakutkan, karena perintah Firaun untuk melemparkan semua anak laki-laki orang Ibrani ke dalam sungai Nil. Ibu Musa melibatkan anaknya (kakak dari bayi itu) untuk menjaga agar rencananya tidak gagal; rencana itu berjalan dan selang beberapa waktu, datanglah puteri Firaun dan dayang-dayang yang melihat peti di sungai Nil (ay. 5). Ibu Musa hanya membutuhkan peti dan anaknya (kakak Musa). Di sini, rencana ibu Musa didasarkan pada sikap pasrah. Ia pun dapat kesempatan menyusui Musa hingga beberapa tahun, dan dikembalikan kepada putri Firaun setelah Musa menjadi besar. Meski demikian, implikasi dari rencananya adalah Musa, abdi Tuhan, menjadi tokoh yang luar biasa. Rencana yang seadanya, ternyata berdampak besar.

Kedua, rencana kakak Musa (ay. 4, 7-8). Kakak Musa merencanakan keselamatan adiknya, di mana ia berdiri agak jauh dari posisi peti. Ketika ia melihat ada putri Firaun yang mengambil adiknya, ia menawarkan agar anak itu disusui oleh seorang inang penyusu yang dia rujuk kepada ibunya sendiri. Rencana ini berjalan mulus hingga ibunya mendapat kesempatan menyusui Musa selama beberapa tahun. Rencana kakak Musa cukup strategis dengan melihat kondisi yang terjadi pada saat itu. Ketika adiknya menangis, ia segera menemui putri Firaun dan menawarkan bantuan. Rencana tidak selalu harus ditulis panjang-panjang; rencana dapat muncul ketika situasi dan kondisi tidak berpihak kepada kita. Tetapi, dengan keberanian melawan situasi dan kondisi, maka kakaknya Musa berhasil meyakinkan putri Firaun. Itu berarti, rencana boleh saja dibuat dan dipikirkan, tetapi tanpa keberanian, mustahil bisa terwujud. Orang penakut hanya menghasilkan rencana di atas kertas, sedangkan orang berani menghasilkan rencana pada tataran fakta dan langsung bertindak.

Kakak Musa berhasil mewujudkan rencana singkatnya (sesuai situasi); ia merencanakan agar adiknya kembali kepada ibunya, disusui, dan dididik hingga besar; ia merencanakan sesuatu karena situasi dan kondisi hidup yang mendorongnya untuk berani mewujudkan rencananya; ia hanya ingin bahwa adiknya selamat; ia melibatkan ibunya untuk mewujudkan rencananya; ia berhasil menjadikan rencananya bertahan selama beberapa tahun.

Ketiga, rencana Musa (ay. 11-12, 14). “Musa takut perkaranya ketahuan, maka ia melarikan diri” (ay. 15). Melarikan diri adalah sebuah rencana, entah dadakan atau terencana dengan baik. Di sini, rencana terbaik Musa adalah “melarikan diri”. Ia takut dibunuh Firaun karena ia telah membunuh seorang Mesir (ay. 11). Rencana melarikan diri berbuah manis (pada akhirnya ia diberikan oleh Rehuel, Zipora, anaknya). Ia tiba di tanah Midian dan duduk-duduk di tepi sumur. Datanglah perempuan-perempuan yang hendak menimba air. Mereka diusir oleh gembala-gembala, dan Musa (langsung merencanakan sesuatu) menolong tujuh anak perempuan Yitro, seorang imam di Midian (disebut juga Rehuel) (ay. 17). Rencana Musa untuk menolong anak-anak Yitro mendatangkan penerimaan bagi dirinya oleh calon mertua.

Rencana Musa yaitu melarikan diri adalah sebuah rencana penyelamatan diri. Rencana ini adalah sebuah bijaksana yang logis. Kemudian, rencana untuk menolong pada akhirnya menuai hasil yang baik. Musa mendapatkan isteri yaitu Zipora hasil dari rencana pendeknya untuk menolong anak-anak Yitro. Pertolongan meski itu kecil, akan berbuahkan hasil yang besar. Rencana, sekecil dan secepat apa pun itu, asalkan memiliki tujuan yang baik, akan berbuahkan hasil yang baik pula.

Implikasi Faktual Kekinian

Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai seorang anak bernama Johanis Adekalla Gama Marshall, siswa kelas VII SMPN I, Silawan Desan Mota’ain, Kabupaten Belu, NTT, perbatasan Indonesia dengan Timor Leste yang secara spontan (rencana dadakan dan singkat) untuk memperbaiki tali bendera yang tersangkut di ujung tiang. Ia seketika menjadi terkenal; ia diundang oleh Presiden Jokowi, mendapat beasiswa dan berbagai hadiah lainnya. Rencana singkat yang mungkin sederhana, pada akhirnya berbuahkan hasil yang sangat besar. Rencana yang baik, meski sederhana, dan dilakukan dengan motivasi yang tulus, akan mendapatkan hasil yang luar biasa.

Bermisi juga demikian. Meski yang kita rencanakan itu kecil, tetapi jika dikerjakan, akan berbuahkan hasil yang besar. Rencana yang besar tetapi yang mengerjakannya tidak ada, maka menjadi rugi. Merencanakan sesuatu haruslah sesuai dengan konteks dan tujuan yang hendak dicapai. Kekuatan rencana bukan terletak pada berapa banyak yang direncanakan, melainkan pada kondisi, situasi apa hal itu direncanakan. Ibu dan kakak Musa memiliki rencana yang sederhana. Demikian juga dengan Musa. Mereka berencana hanya untuk “menyelamatkan orang lain dan diri sendiri”. Dikaitkan dengan konteks misi maka rencana yang kita buat adalah untuk “menolong, mengasihi, dan menyelamatkan orang lain, ya, orang lain yang membutuhkan pertolongan dan kasih kita”. Orang Kristen seringkali hanya suka berencana tetapi sangat lemah dalam pelaksanaannya. Bahkan yang direncanakan tidak mendukung pengaktualisasian iman untuk mengasihi yang tak terkasihi, melayani yang tak terlayani. Syukur kepada Tuhan, Moriah Ministry telah membuktikan bahwa “rencana yang disusun” adalah sebuah aktualisasi iman kepada mereka yang membutuhkan, kepada mereka yang belum terlayani. Dan kiranya ini terus berlanjut dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Penutup

Pertama, rencana tidak melulu disiapkan di belakang meja (secara aplikasi kekinian). Rencana harus berangkat dari fakta yang sebenarnya dan kita terdorong untuk memberikan perhatian dan pelayanan misi kepada mereka yang membutuhkan. Kedua, rencana tidak perlu yang muluk-muluk, tetapi harus terukur. Dampaknya sangat besar (contoh, rencana Ibu dan kakak Musa). Ketiga, rencana haruslah bernilai strategis dengan melihat kondisi yang terjadi pada saat itu. Apa yang hendak dicapai haruslah didasari pada kondisi. Rencana melayani, misalnya, haruslah terdorong dari rasa kasih yang tulus untuk melayani mereka yang membutuhkan. Keempat, rencana harus diwujudkan dengan keberanian melawan situasi dan kondisi. Kelima, rencana perlu mewujudkan untuk mendatangkan penerimaan dari orang lain terhadap diri kita. Keenam,rencana juga perlu mempertimbangkan unsur keselamatan kita dan orang lain yang dilayani.

Tuhan memberkati kita semua

Salam Bae…

TERHITUNG DI ANTARA PEMBERONTAK-PEMBERONTAK: Lukas 22:24-38

Sumber gambar: https://www.amazon.com/gp/product/B00YRHZRAU/?tag=co77-20 dan https://id.pinterest.com/pin/814307176344096160/

Pendahuluan

Yesus adalah Nabi. Ia sendiri menubuatkan penderitaan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan-Nya kembali. Semua nubuatan sudah tergenapi kecuali yang terakhir, kedatangan-Nya, karena hal itu masih dalam pengharapan iman Kristen: Kristus akan datang pada kali yang kedua sebagaimana yang dikatakan malaikat-malaikat pasca Yesus naik ke surga dengan disaksikan para murid-Nya di bukit Zaitun: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis. 1:11).

Nubuatan-nubuatan Yesus, termasuk nubuatan mengenai “Terhitung di antara pemberontak-pemberontak” merupakan konteks nubuatan Nabi Yesaya 53:12 yang berbunyi: “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.”

Nubuatan ini ditegaskan kembali oleh Yesus (Luk. 22:37) untuk memperlihatkan bahwa nubuatan Yesaya berbicara mengenai Mesias yang menderita, dan itu adalah Yesus Kristus. Meski beberapa kali Yesus menubuatkan penderitaan, dan kematian-Nya, para murid belum sepenuhnya memahami, termasuk Petrus. Bahkan dalam teks yang kita baca, tampak bahwa para murid ribut tentang siapa yang dianggap terbesar di antara mereka (ay. 24).

Konteks

Ayat 24-38 berada di bawah perikop “Percakapan waktu Perjamuan Malam”. Apa yang dipercakapkan?

Pertama, para murid bertengkar (ribut) mengenai siapa yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Hal ini terjadi karena popularitas Yesus terus menanjak. Pastinya, para murid kena imbasnya. Akan tetapi, pada pasal 22:22-23, para murid ribut soal siapa yang akan menyerahkan Yesus. Mereka tidak berhenti di situ, malahan mereka melanjutkan ke percakapan lainnya soal siapa yang lebih besar.

Kedua, akhirnya Yesus menjawab mereka: “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayanan….”

Ketiga, Yesus memperingatkan dan mendoakan Petrus (31-32). Tetapi Petrus dengan yakin mengatakan bahwa “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau.” Yesus pun menjawab: “Aku berkata padamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

Keempat, Yesus kemudian menjelaskan mengenai fakta bahwa mengikut Dia akan tidak kekurangan (ay. 35-36) dan direspons para murid. Yesus juga akhinya menubuatkan kematian-Nya: “terhitung di antara pemberontak-pemberontak” sebagai penggenapan dari nubuatan Nabi Yesaya.

Berangkat dari konteks tersebut di atas, penegasan Yesus bahwa diri-Nya nanti akan “terhitung di antara pemberontak-pemberontak” memberi kita pemahaman bahwa Yesus dianggap sebagai pemberontak terhadap pemerintah Romawi, dan atau dianggap sebagai pemberontah terhadap tradisi Yahudi, sebagaimana kita tahu bahwa Yesus selalu diincar untuk dicari kesalahan-Nya untuk dipersalahkan, dijebak, dan atau dibunuh.

Hingga akhirnya, nubuatan Yesus mengenai diri-Nya adalah tanda bahwa Ia setia menjalani dan menyelesaikan misi penyelamatan Tuhan bagi penebusan dosa-dosa umat-Nya, pembenaran, pengudusan, dan hingga puncaknya menganugerahkan keselamatan kepada umat pilihan-Nya.

Makna dan Pesan

Kisah di atas tampaknya merupakan sebuah konteks di mana Tuhan Yesus menggenapi nubuatan tentang diri-Nya—sebagaimana yang diklaim-Nya—bahwa penderitaan dan kematian-Nya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari totalitas rencana keselamatan Tuhan, sehingga dari teks bacaan di atas, kita dapat mengambil makna dan pesannya.

Pertama, mengikut Yesus haruslah secara tulus. Mengikut-Nya perlu pemahaman yang bahwa bukan soal siapa yang terbesar di antara kita melainkan siapa yang mau melayani meski ia—secara faktual—adalah “orang besar” atau “orang penting”. Analogi yang tepat yang digunakan Yesus: yang paling besar apakah yang duduk makan atau yang melayani? Tentu yang duduk makan. Meski demikian Yesus yang lebih besar melayani para murid-Nya.

Kedua, dalam proses mengikut Yesus, hindarilah percakapan-percakapan yang tidak penting, tidak berarti, dan tidak berdampak pada perubahan karakter, pemahaman tentang iman kepada Yesus, dan soal siapa yang lebih penting. Pelayanan adalah sebuah “kesatuan” (unity) dan bukan “individual”. Tak ada orang yang melayani jika ia sendirian, dan tidak ada orang yang dilayani. Pula tidak perlu merasa hebat sendiri, seperti Rasul Petrus ketika ia mengatakan bahwa ia siap dipenjara dan mati bagi Yesus, padahal Yesus sudah mengetahui bahwa ia akan menyangkal Yesus tiga kali.

Ketiga, mengikut Yesus berarti harus siap menderita bagi Injil-Nya. Meski kita tahu bahwa para pengikut Yesus bisa dianggap sebagai kaum pemberontak, kafir, pendusta, dan atau sebutan lainnya yang sinis dan membabi buta, kita harus tetap menjalani dengan tetap setia beriman kepada Yesus Kristus sebagaimana Ia telah menunjukkan teladan yang baik. Tentu hambatan dan tantangan akan ada, tetapi yang terpenting adalah kesiapan dan keteguhan kita untuk mengikut Yesus dan siap dalam segala hal dalam melayani Sang Raja kita, Yesus Kristus Juruselamat dunia. Amin

Salam Bae…

MENYATU DENGAN KRISTUS, MENYATU DALAM KASIH-NYA: Refleksi Roma 8:31-35

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/340584790568281709/

PENDAHULUAN

Salah satu pokok penting dari iman Kristen adalah “kasih”. Kasih Tuhan telah dinyatakan kepada kita melalui serangkaian kemurahan dan karunia-Nya serta kuasa-Nya yang mengubahkan hidup dan hati kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Pada setiap konteks kehidupan, kasih Tuhan—sadar atau tidak sadar, tahu atau tidak tahu—selalu nyata bagi kita. Kasih Tuhan melampaui dari segala sesuatu yang kita miliki. Apalah gunanya kita memiliki segala sesuatu tetapi kita kehilangan kasih kepada Tuhan dan kehilangan kasih dari Tuhan?

Tulisan ini berbicara tentang persatuan dengan Yesus Kristus yang digambarkan sebagai persatuan dalam kasih-Nya. Kasih kepada Yesus berarti kita memahami dan menjadi satu dalam kasih-Nya. Kasih Yesus menuntun dan mengarahkan langkah, serta pikiran kita untuk menjadi serupa dengan-Nya. Puncak pemahaman dan aplikasi iman kita kepada Tuhan adalah dengan “mengasihi Tuhan” dan “mengasihi sesama”. Hal ini selaras dengan ajaran Yesus (yang mengutip PL): “Kasihilah Tuhan, Sesembahanmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22:37-39; bdk. Ul. 6:5; Im. 19:18; Mrk. 12:30).

DESKRIPSI SIGNIFIKAN

Teks Roma 8:31-39 menjelaskan pokok-pokok penting mengenai implikasi dari Kristologi Rasul Paulus. Untuk melihat kedalaman Kristologi Paulus, saya mencatatya sebagai berikut:

Pertama, pernyataan Paulus pada ayat 31 merupakan korelasi dengan ayat 28-30 bahwa orang-orang dimuliakan Allah adalah orang-orang yang ditentukan-Nya dari semula, yang dipanggil dan dibenarkan melalui Yesus Kristus. Artinya, setiap orang yang datang kepada Allah adalah mereka yang telah ditetapkan-Nya sejak semula (sejak kekekalan). Bukan kita yang mencari Allah, tetapi Allah-lah yang mencari kita. Bukan kita yang memanggil Allah, tetapi Allah-lah yang memanggil kita. Bukan kita yang menyelamatkan diri kita melainkan Allah yang menyelamatkan kita. Prinsip ini harus benar-benar dipahami.

Dalam kondisi demikian, kita harus yakin bahwa jika Allah di pihak kita—artinya keselamatan dan perlindungan Allah sudah nyata—siapakah yang akan melawan (menantang) kita? Sebagai jawabannya, Paulus menegaskan (ay. 32) bahwa Allah telah menyerahkan Yesus Kristus bagi penebusan kita, maka Ia pasti mengaruniakan segala sesuatu kepada kita. Meski penderitaan dapat dialami oleh orang percaya, tetapi ada jaminan dari Allah (bdk. ay. 18). Persatuan dengan Kristus menjadikan orang percaya kuat dalam kasih kepada-Nya.

Kedua, meski orang-orang pilihan menerima berbagai hinaan dan gugatan, tetapi Allah akan melindungi dan bahkan menyelamatkan mereka dengan cara dan tujuan-Nya. Karya Allah dalam Kristus Yesus yaitu membenarkan orang-orang berdosa, merupakan karya yang luar biasa agungnya. Kristus mati, bangkit dan menjadi Pembela orang-orang percaya.

Kuasa Yesus Kristus sungguh ada dan nyata. Tak ada yang dapat melawannya. Itu sudah terbukti di sepanjang sejarah. Meski orang-orang percaya menderita, mereka akan dilindungi dengan dua cara yaitu: Tuhan menyelamatkan mereka dan mereka dapat memberikan kesaksian akan pertolongan Tuhan selagi mereka hidup, dan Tuhan menyelamatkan mereka dengan memberikan kehidupan baru dalam kerajaan-Nya (Tuhan mengakhiri kehidupan mereka di dunia untuk melanjutkan kehidupan bersama Dia di kerajaan-Nya). Persatuan dengan Kristus menjadikan orang percaya kuat dalam kasih kepada-Nya, baik dalam penderitaan, aniaya, kelaparan, kematian, dan sebagainya.

Ketiga, mereka yang percaya kepada Yesus Kristus berarti mereka yang mengasihi-Nya secara sungguh-sungguh, tak tergoyahkan. Ayat 35 menegaskan hal ini. Baik penindasan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang tidak akan mampu memisahkan kita dari dari kasih Kristus. Kristus menjamin orang-orang percaya; Ia menguatkan dan memampukan orang-orang percaya menghadapi penderitaan, ancaman, bahaya, pedang, kelaparan, penindasan dan kondisi lainnya. Yesus Kristus berdaulat atas kehidupan umat-Nya. Ayat 37-39 juga merupakan penegasan Rasul Paulus mengenai kuatnya kasih Tuhan kepada umat-Nya. Meski orang percaya dianggap kalah di dunia (maksudnya mereka menderita, dianiaya, dibunuh, dan sebagainya), namun di mata Tuhan mereka adalah orang-orang yang lebih dari pada orang-orang yang menang (ay. 37). Mereka yang membunuh dan menganiaya orang percaya memang menang tetapi mereka kalah—mereka akan dihukum Tuhan di kemudian hari, sedangkan orang-orang percaya yang dibunuh dan dianiaya oleh mereka, meskipun dianggap kalah, tetapi mereka berbahagia dalam keyakinan iman dan kasih mereka kepada Tuhan, mereka mendapat upah dan jaminan kehidupan kekal di Kerajaan-Nya.

Penegasan Paulus sangatlah kuat yaitu: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (ay. 38-39). Kasih kita kepada Yesus Kristus adalah implikasi faktual dari kasih Yesus kepada kita. Bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang mengasihi kita. Kasih kita kepada-Nya yang begitu kuat (menyatu) disebabkan karena kita dimampukan oleh-Nya. Kita dimampukan untuk tetap setia meskipun penderitaan dan segala sesuatu datang mengganggu iman dan kasih kita kepada-Nya.

Keempat, pemahaman Kristologi dari teks Roma 8 tadi mengantar kita kepada kedalaman karya dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Ia telah menetapkan kita menjadi umat-Nya dan Ia meneguhkan itu dengan panggilan surgawi. Ia memanggil kita karena Ia menghendaki agar kita dibenarkan di dalam Yesus Kristus melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, agar kita dimuliakan-Nya. Ini sangat luar biasa.

Mengikut Yesus berarti mengasihi Dia dengan sepenuh hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Ketika kita berkomitmen untuk mengasihi-Nya, maka secara langsung kita menjadi satu dengan Kristus—satu di dalam kasih. Kita dijaga-Nya, disayang, dikasihi, dilindungi, dan dimuliakan. Penderitaan bukanlah penghalang bagi kita untuk tidak mengasihi-Nya, tetapi justru dalam penderitaanlah, kasih kita kepada Yesus Kristus semakin kuat dan kokoh, tak tergoyahkan.

Ia tetap menjaga dan berdaulat atas kehidupan kita. Apakah kita masih ragu? Bukankah penderitaan, aniaya, kelaparan, pedang, penindasan, ketelanjangan, dan bahaya adalah kondisi-kondisi yang kadang membuat orang-orang yang tahu dan kenal Yesus meninggalkan imannya, menyangkal-Nya, dan mengkhianati-Nya? Bukankah mereka lebih memilih aman dan nyaman meski menyangkal imannya kepada Yesus Kristus? Itulah yang sering terjadi. Itulah fakta hidup yang mungkin pernah kita lihat.

PENUTUP

Kasih merupakan merupakan media pemersatu antara kita dengan Allah. Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi kita, barulah kita mengasihi-Nya sebagai respons iman. Rasul Yohanes menegaskan: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yoh. 4:10), dan “Kita mengasihi, karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Menyatu dengan Kristus berarti kita menyatakan kasih kita kepada-Nya dan kuat dalam iman.

Kondisi hidup bisa saja tidak sesuai atau tidak seperti yang kita harapkan, dan semua manusia dapat mengalaminya tanpa terkecuali, tetapi yakinlah bahwa Allah mengasihi kita. Ia menjamin dan menjaga kita. Apa pun di dunia boleh terjadi tetapi kasih Kristus kepada kita tak mungkin pudar atau hilang. Ia begitu mengasihi mereka yang ditetapkan, dipanggil, dan dibenarkan-Nya. Ia setia dan kita pun harus setia; Ia mengasihi kita dan kita pun harus mengasihi-Nya, selamanya.

KELUARGA YANG MEMBERI ATAS DASAR KERELAAN: Refleksi Kisah Para Rasul 5:1-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/417920040397453997/

Pendahuluan

Hidup dalam Tuhan merupakan suatu konteks kehidupan yang “menerima” dan “memberi”. Kita menerima secara benar (sikap hidup) dan menerima segala sesuatu yang benar dari Tuhan meskipun kadang kala kita sendiri tidak mengakuinya. Singkatnya, kita “memberi” dari apa yang Tuhan berikan kepada kita. Dua model kehidupan ini secara faktual dialami dan dilakukan oleh orang-orang Kristen dan Gereja di seluruh dunia. Dua model kehidupan ini pula menandai sebuah konteks di mana “mereka yang tahu bahwa segala sesuatu yang diterimanya adalah pemberian Tuhan, mampu bertindak memberi kepada sesamanya.”

Kekuatan sebuah relasi kehidupan dalam komunitas Gereja bergantung pada kedua hal ini. Gereja mula-mula menunjukkan bahwa “mereka hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi; segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama—selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45). Konsekuensi logis dari kondisi faktual kehidupan Gereja mula-mula adalah bahwa “mereka disukai semua orang”.

Ternyata, untuk menjadikan “Gereja itu disukai” bukan karena berapa banyak jumlah anggotanya, melainkan terletak paca “cara hidup yang menerima dan memberi”. Kondisi ini terus berlanjut. Kisah Para Rasul 4 mencatat bahwa: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ay. 32). Mungkin ini adalah dasar bahwa hasil dari menjual sebidang tanah, dapat dinikmati oleh semua anggota Gereja karena keadaan mereka adalah “hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah” (ay. 33).

Kemudian, Lukas mencatat bahwa “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Salah satunya contohnya adalah Yusuf (disebut Barnabas) menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkan di depan kaki rasul-rasul” (Kis. 4:34-37).

Pokok Bahasan

Judul artikel ini adalah bentuk “agere contra(bertindak sebaliknya) dari teks yang kita baca, karena keluarga Ananias telah bersepakat untuk menahan sebagian hasil penjualan sebidang tanah milik mereka, dan “tidak mencerminkan sikap memberi atas dasar kerelaan.” Keluarga yang diberkati Tuhan—adalah keluarga yang memberi atas dasar kerelaan—tetapi yang ditemukan dalam teks Kisah Para Rasul 5, justru sebaliknya (agere contra): keluarga Ananias tidak tulus memberi kepada Tuhan.

“Memberi” adalah sikap hidup Gereja mula-mula. Menurut saya, sikap hidup “menerima dan memberi” telah berlangsung secara sehat di Gereja mula-mula. Ketulusan untuk “berbagi” dengan sesama anggota Gereja mendasari tindakan menjual tanah, ladang, dan rumah: hasilnya dibagikan kepada sesama sesuai keperluannya masing-masing, tidak lebih tidak kurang. Tidak ada yang mendapat lebih karena perbuatan pilih kasih melainkan, setiap anggota Gereja mendapatkan sesuatu sesuai keperluannya.

Jadi, motivasi menjual tanah, ladang, dan rumah, bukan untuk gaya-gayaan atau menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi—“memberi”—karena mereka telah “menerima segala sesuatu” dari Tuhan. Akan tetapi, dalam keadaan demikian, muncul satu keluarga yaitu Ananias dan Safira yang juga ingin menunjukkan kebaikan mereka—menjual sebidang tanah—dengan motivasi yang berbeda seperti sedia kala.

Kita melihat beberapa fakta berikut ini:

PERTAMA: Ananias dan Safira menjual sebidang tanah. Ide Ananias untuk menahan sebagian hasil penjualan diketahui istrinya. Artinya, mereka “sepakat”. Ini contoh suami istri yang sepakat tapi dalam hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Suami tanya istri dan istri setuju, sebuah contoh kerja sama dalam berbuat kejahatan terhadap Roh Kudus.

KEDUA: Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan tanah dan sisanya dibawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul (ay. 2). Seperti sedia kala (bdk. Kis. 4:34-35, 36-37), hasil penjualan diletakkan di bawa kaki rasul-rasul sebagai bukti bahwa hal itu diketahui bersama, bukan sebaliknya, diberikan secara sembunyi-sembunyi. Para rasul juga menjaga identitas dan kekudusan hidup mereka. Mereka tidak membuat peluang untuk menerima hasil penjualan tanah secara personal, melainkan secara komunal. Setidaknya, ide untuk mengkorupsi hasil penjualan tanah, jauh dari pandangan para rasul.

KETIGA: Petrus tahu kemunafikan Ananias. Soal bagaimana Petrus mengetahui kemunafikan Ananias, tentu itu adalah pekerjaan Roh Kudus, meski dalam teks tidak disebutkan. Petrus menegaskan bahwa hati Ananias “dipenuhi” [πληρόω, plēroō] oleh Iblis (Satan). Akibatnya, Ananias mendustai Roh Kudus [pseusasthai se to pneuma to hagion]. Kehendak Satan bertentangan dengan kehendak Roh Kudus. Ketika seseorang dipenuhi (dikuasai) Iblis, maka ia pasti akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Roh Kudus.

KEEMPAT: Petrus kemudian memberikan penegasan (ay. 4): Jika tanah belum dijual, itu adalah hak milik Ananias dan Safira. Demikian juga sesudah dijual, masih tetap dalam kuasa Ananias dan Safira. Lalu apa persoalannya? Mereka mendustai Roh Kudus”. Kemungkinan besar mereka “telah berjanji” akan mempersembahkan uang hasil penjualan tanah mereka kepada para rasul untuk kepentingan bersama, sebagaimana yang sedia kala terjadi dalam Gereja mula-mula. Atau mungkin karena mereka ingin “mencari nama” (atau mau dipuji-puji karena telah memberikan uang hasil jual tanah mereka) tetapi dengan motivasi yang tidak tulus.

KELIMA: Apa akibatnya dari motivasi yang tidak tulus itu? Akibatnya adalah pasca mendengar perkataan Petrus, Ananias rebah dan putuslah nyawanya (ay. 5). Safira juga demikian. Meski ia tidak tahu soal kematian suaminya karena telah mendustai Roh Kudus, tetapi ia meneguhkan pertanyaan Petrus mengenai harga tanah yang dipersembahkan oleh Ananias (ay. 8). Safira sebenarnya tahu bahwa harga tanah bukanlah sejumlah uang yang dipersembahkan oleh suaminya, tetapi karena mereka telah sepakat menahan sebagian hasilnya, maka Safira menjawab “betul”, harga tanah sesuai dengan yang dipersembahkan suaminya. Mungkin Petrus juga tahu harga jual tanah (sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya oleh anggota Gereja mula-mula yang menyerahkan uang hasil penjualan tanah mereka). Jadi ketika diserahkan uangnya, maka Petrus curiga jangan-jangan mereka telah mengurangi uang hasil jual tanah. Akhirnya, Safira rebah dan putus nyawanya.

KEENAM: Andai kata mereka tulus, pasti mereka tidak mati. Kematian mereka disebabkan ketamakan, kesombongan, dan tidak rela berbagi. Hanya karena ingin terlihat bahwa mereka peduli dengan sesama anggota Gereja, mereka mau menipu Roh Kudus. Mereka tidak tulus dan tidak sepenuh hati melayani Tuhan.

KETUJUH: Kejahatan dalam Gereja dapat timbul karena ingin mencari nama, ingin dipuji-puji tetapi tidak tulus melayani. Hanya ingin terlihat sibuk melayani, hanya ingin terlihat suka memberi supaya dilihat orang.

KEDELAPAN: Dua peristiwa tersebut menimbulkan “ketakutan” di Gereja mula-mula (ay. 5 dan 11). Tuhan seringkali menggunakan mukjizat dan kematian untuk menegur manusia agar mereka tidak main-main dengan Tuhan.

KESEMBILAN: Keluarga Ananias dan Safira tidak memberi atas dasar kerelaan: “mereka ingin memberi tapi tidak rela kehilangan.” Memberi memang akan kehilangan tetapi Tuhan akan memberkati orang yang suka memberi. Pendek kata, mereka tidak tulus memberi. Memberi hanya ingin terlihat dermawan, tetapi sebetulnya mereka munafik. Memberi hanya ingin terlihat mereka peduli, tetapi justru menipu Roh Kudus.

Aplikasi

Apa yang dapat dipetik dari kisah keluarga Ananias? Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh keluarga Kristen untuk memberi dengan dasar kerelaan?

Pertama, hidup dalam Tuhan merupakan kehidupan yang “menerima” dan “memberi”. Keluarga Kristen adalah keluarga yang harus memberi secara tulus kepada Tuhan karena Tuhan terlebih dahulu memberkati keluarga Kristen.

Kedua, Keluarga Kristen harus menunjukkan pola hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi. Keluarga yang diberkati adalah keluarga yang menyadari bahwa mereka telah menerima segala sesuatu dari Tuhan, dan mereka harus “memberi” kepada sesama anggota Gereja.

Ketiga, Keluarga Kristen harus menunjukkan bahwa memberi kepada sesama menghasilkan penilaian orang lain dan dapat membuka peluang bahwa keluarga Kristen disukai oleh orang lain, dan tidak menutup kemungkinan, mereka menjadi tertarik untuk bergabung ke dalam komunitas Gereja di mana keluarga Kristen itu berada.

Keempat, keluarga Kristen yang berniat untuk berbagi (membagi) sesuatu kepada sesama anggota Gereja, harus dilandasi dengan kerelaan, ketulusan, dan kasih yang murni, agar hati Tuhan disenangkan dan nama-Nya dimuliakan. Keluarga Kristen adalah keluarga yang menunjukkan “cara hidup yang menerima dan memberi”.

Kelima, keluarga Kristen: suami dan istri, bahkan anak-anak, haruslah satu hati (sepakat) untuk menyatakan sikap hidup “memberi” tanpa ada motivasi yang keliru, bukan untuk tujuan supaya dikenal dan dipuji-puji, melainkan supaya sesama anggota Gereja mendapatkan manfaat dari apa yang dibagikan.

Soli Deo Gloria. Salam Bae

TENTANG KITA DAN KEHIDUPAN

Pernahkah kita terlihat ambisius terhadap sesuatu? Pernahkah kita menonjolkan diri mengenai hal-hal tertentu? Pernahkah kita menjadi sedikit tinggi hati ketika orang lain memuji-muji kita? Atau pernahkah kita terlihat hebat padahal sebenarnya tidak?

Ada serentetan pertanyaan yang dapat diajukan terutama mengenai “kita dan kehidupan”. Apa yang menarik dari diri kita? Apa yang menarik dari kehidupan yang kita jalani? Bukankah ragam kehidupan telah menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kerohanian kita? Apa yang harus kita kerjakan bagi kemuliaan nama Tuhan? atau mungkin selama ini kita justru mengerjakan sesuatu bagi kemuliaan diri kita?

Kita dan kehidupan telah menyeret logika, emosi, dan jati diri kita agar terlihat di depan umum. Ragam percakapan juga menjadi bagian realisasi potensi yang kita miliki. Kita hidup dalam dunia yang majemuk pada segala bidang. Lalu, dengan pongah kita merasa di atas angin, tahu segalanya. Apakah ini kehidupan kita?

Faset kehidupan menyita perhatian kita, dan kita ada di dalamnya. Kita bergerak, jatuh bangun, dan menjatuhkan orang lain, di samping membangunkan orang lain. Jatuh bangun adalah hal lumrah; itulah yang menyatakan bahwa pada faset tertentu kita kuat, dan pada faset lainnya kita lemah. Kita merangkum semua makna dan pesan hidup sesuai dengan kesadaran dan tendensi.

Pada kenyataannya, kita diperhadapkan dengan banyak faset dan di situ kita melihat, menarik kesimpulan, mengumpulkan makna dan pesan, membuang sesuatu, memikirkan masa depan, dan masih banyak lagi. Kita dan kehidupan menjadi fakta yang harus dilalui yang dengannya asa digapai.

Pada akhirnya, kita terus bergumul dengan kehidupan. Tak ada yang bebas dari pergumulan. Faset-faset yang kita maknai juga menjadi bagian dari pergumulan. Alhasil, iman dan pengetahuan kita dibentuk dan terbentuk melalui faset-faset tersebut.

Kita kemudian menawarkan segala sesuatu sesuai harapan dan kehendak kita kepada orang lain dan berharap mereka menemukan sesuatu dari tawaran kita. Akan tetapi, seyogianya kita tawarkan dulu kepada diri kita sendiri, berbenah diri, dan mengembangkan potensi diri untuk mengisi faset-faset hidup yang kita inginkan. Di sana kita akan berbahagia karena kita telah “menjadi berkat bagi orang lain”.

Lihatlah diri kita sebelum melihat diri orang lain. Pikiran dan perkataan kita adalah “cermin kehidupan” yang bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk pada faset-fasetnya. Jika ini yang menjadi perjuangan kita, maka kita dan kehidupan yang diberikan Tuhan, haruslah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, membangun, dan memperkuat kualitas iman, kasih, dan pengetahuan. Di situlah kita “berbuah” bagi Tuhan.

Niscaya, Tuhan menolong, menopang, dan memberkati upaya yang kita lakukan bagi kemuliaan nama-Nya. Tuhan semakin besar, dan kita semakin kecil.

Kita dan kehidupan memperlihatkan fakta yang menarik, mendorong kita untuk berjuang, bergumul, dan berkisah tentang segala sesuatu yang terhubung dengan Tuhan, diri kita sendiri, lingkungan, masyarakat (mikro dan makro), dan orang-orang yang kita kasihi. Jadilah manusia-manusia yang “hidup” – memandang anugerah dan kemurahan Tuhan sebagai “hadiah” terindah yang patut disyukuri dan dikisahkan, selamanya.

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/432064157977052225/

UNTUKMU, KEKASIH HATI

Sumber Gambar: https://www.shaadidukaan.com/blog/pre-wedding-photoshoot-ideas.html

Kita terbiasa memberikan sesuatu untuk dan kepada orang lain, dan dengan kebiasaan itu, kita pun menyatakan bahwa “CINTA INI UNTUKMU SAYANGKU”, atau ungkapan lain yang senada. “Untukmu, kekasih hati” adalah pernyataan umum dalam dunia percintaan, baik yang baru menjalin hubungan (berpacaran), yang telah menjalaninya dalam kurun waktu yang cukup lama, hingga mereka yang telah menikah.

Tak ada problem dalam pernyataan itu. Itu lumrah dan bahkan perlu diungkapkan. Lebih dari itu, kata “untukmu” mengindikasikan adanya sesuatu yang diberikan, entah perasaan cinta, cincin (harga murah dan mahal), barang tertentu, cokelat, buku, handphone, lemari, dan sebagainya. “Untukmu” adalah ungkapan kasih yang terdalam; sebuah kasih yang memberi, kasih yang berkorban. Kecuali dengan motivasi yang berbeda dan tersembunyi, maka kata “Untukmu” hanyalah slogan semata dan berpotensi merusak dan menghancurkan diri dan masa depan.

Kata “untukmu” bisa berakibat fatal ketika kita tahu belakangan bahwa orang yang mengatakan “untukmu” ternyata hanyalah memperalat kita, hanya memuaskan hawa nafsunya setelah dia mengambil sesuatu yang berharga dalam hidup (maksudnya celana terbuka, dan seterusnya, silakan dilanjutkan sesuai selera dan pengalaman [?]), sesuatu yang mewah (rumah, mobil, dan sebagainya), dan lain sebagainya. Kata “Untukmu” jangan mudah dipercaya dalam konteks tertentu. Seseorang harus paham “siapa” yang mengatakan dan memberinya. Memang, manusia tidak memiliki potensi membaca masa depan, apa yang akan terjadi di kemudian hari dengan cinta yang dijalaninya, tetapi setidaknya manusia punya potensi untuk mengantisipasi segala sesuatu dengan pertimbangan yang dia pilih.

Ungkapan “UNTUKMU, KEKASIH HATI” menegaskan bahwa kasih yang memberi itu telah diwujudkan; ya, diwujudkan oleh kita yang tulus mengasihi, mencintai, dan menyanyangi pasangan kita. Apa saja bisa kita berikan kepada kekasih hati, sebagai bukti betapa kuatnya dan seriusnya cinta yang diberikan. Dengan demikian, kita tahu dan kekasih hati pun tahu bahwa ternyata cinta itu adalah “memberi”—ya, memberi sesuatu dengan ketulusan dan harapan bahwa paduan kasih dan cinta semakin lengket kayak prangko.

Tantangan dan hambatan tentu ada; itu tak dapat kita duga sebelumnya. Eksistensi “rasa-rasa yang lain” bisa saja berkeliaran di sekitar kita; ia menawarkan senyuman, keseksian, ketampanan, kenafsuan yang menggoda, celana kurang bahan, belahan dada, dan sederet kelebihan yang berpotensi merusak nafsu kudus menjadi nafsu liar tak terkendali.

Kita yang masih sadar akan munculnya bahaya dan tantangan yang begitu menggoda, perlu menjaga diri, berdoa, dan berpegang teguh pada janji cinta, pada harapan cinta yang didambakan sejak awal menaiki perahu hidup, dan telah bersama-sama mendayungnya untuk berhadap sampai di tujuan yang diharapkan.

Dayunglah perahu hidup (baca: cinta); kemudikanlah dengan baik, sesekali belok kanan belok kiri supaya semakin asyik dan mengesankan; apalagi disertai canda tawa, goresan tinta atau arang di pipi, dan senyuman sang kekasih. Aduhai…. Mana tahan. Pasti bisa ditahan. Tunggulah waktu yang tepat untuk melabuhkan perahu cinta.

Hanya kitalah pemegang harapan cinta, karena kita sendiri yang berjanji, mengakui, dan menyatakan bahwa “UNTUKMU, KEKASIH HATIKU”, untukmu cinta, harapan, dan kebahagiaan agar kita—bersama-sama—menggapai masa depan. Berilah kepada kekasih hati kita apa yang perlu, apa yang menguatkan hati dan perasaan, selamanya….

Salam Cinta…

GEREJA YANG MEMBAWA INJIL KE SEBERANG: Refleksi Singkat Kisah Para Rasul 16:4-47

Sumber gambar: https://thebowyerbiblegospels.wordpress.com/2018/04/22/philip-de-vere-presents-a-print-from-the-bowyer-bible-sacrifices-are-brought-for-paul-and-barnabas-acts-14_13-1-marillier/

Gereja adalah alat Roh Kudus untuk menyampaikan maksud dan rencana-Nya ke dalam kehidupan orang-orang yang ditentukan-Nya untuk percaya (mendengar dan menerima berita Injil Yesus Kristus). Para Rasul (Paulus dan rekan-rekannya) dipakai Roh Kudus sebagai alat-Nya untuk menyampaikan Kabar Baik. Dalam konteks Kisah Para Rasul 16, Roh Kudus mengarahkan perhatian mereka kepada orang-orang yang telah ditetapkan oleh Roh Kudus, termasuk kepada orang-orang di Makedonia.

Pekabaran Injil terus mengalami perkembangan. Ajaran-ajaran tentang Yesus yang dikabarkan ternyata membawa pengaruh besar terhadap pertobatan manusia yang berdosa dan rindu mendapatkan lawatan Tuhan dalam kehidupan mereka. Ayat 4-5 menegaskan bahwa perkembangan jumlah anggota Gereja, dan juga iman yang diteguhkan disebabkan oleh pengajaran dan konsistensi mengikuti ajaran tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh para rasul.

Dalam proses pekabaran Injil Roh Kudus memimpin para rasul untuk berjuang dalam segala hal agar berita Injil sampai di tempat-tempat yang tidak diperhatikan. Akan tetapi, dalam beberapa kesempatan, Roh Kudus mencegah dan tidak mengizinkan para rasul untuk memberikan Injil di Asia, Misia (ay. 5-7). Roh Kudus mencegah pekabaran Injil karena alasan tertentu.

Alasan tersebut adalah karena Roh Kudus menggerakkan mereka untuk mengabarkan Injil di Makedonia. Ayat 8-10 menyebutkan bahwa Roh Kudus memberikan penglihatan kepada Paulus: “ada seorang berdiri dan berseru: “Menyeberanglah ke mari, dan tolonglah kami!” Orang-orang membutuhkan Injil, membutuhkan pertolongan. Ayat 11-12, menjelaskan bahwa mereka mengikuti petunjuk penglihatan itu. Memang tidak dijelaskan apa yang dilakukan di Makedonia, tetapi berdasarkan fakta sebelumnya, membuktikan bahwa Paulus dan rekan-rekannya melalukan pekabaran Injil, mengajarkan tentang Yesus Kristus, sebagaimana yang mereka lakukan di Filipi.

Paulus pun tiba di Filipi (ay. 13-15) dan melakukan pekabaran Injil rumahan; hal ini membuahkan hasil. Lidia, penjual kain ungu dari Tiatira, menjadi semakin percaya dan dibaptis. Ia sebelumnya beribah kepada Allah (ay. 15) dan Tuhan membuka hatinya sehingga ia paham tentang apa yang disampaikan Paulus.

Konsekuensi dari mengabarkan Injil adalah selalu datang gangguan-gangguan yang tidak diduga sebelumnya. Ayat 16-18, Paulus yang dipimpin Roh Kudus memiliki kuasa untuk mengusir roh jahat (roh tenung) yang merasuki seorang hamba perempuan yang kemudian mengganggu mereka.

Ayat 19-40, menjelaskan mengenai Paulus dan Silas ditangkap karena alasan “hoax”. Mereka dipenjara, tetapi Roh Kudus tetap bekerja melalui mereka di dalam penjara. Kepala penjara menjadi percaya; ia dan seisi rumahnya juga menjadi percaya. Paulus dan Silas dilepaskan.

Buah dari pekabaran Injil mengantarkan kita kepada kondisi bahwa selalu ada lokus yang menjadi prioritas untuk menaburkan benih-benih Injil. Jika demikian, Gereja harus membawa Injil itu ke “seberang”—ke tempat-tempat yang membutuhkan Injil, membutuhkan pertolongan.

Gereja yang benar berarti Gereja itu menunjukkan semangat dalam mengabarkan Injil dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Gereja tidak boleh diam, tidak boleh berpuas diri dengan apa yang dimilikinya; Gereja harus menjadi berkat melalui perkataan dan perbuatan.

Gerena harus mengabarkan Injil ke “seberang”. Masih banyak orang yang membutuhkan pelayanan,  bahkan pertolongan Gereja . Gereja jangan tinggal diam. Seperti yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya: “Kamu harus memberi makan!” Dengan demikian Gereja juga “harus memberi makan” melalui pengajaran, aturan-aturan Gereja, dan melalui bentuk-bentuk kepedulian sosial.

Salam Bae…

ANAK MANUSIA DI TANGAN MANUSIA: Refleksi Matius 17:22-23

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/292522938303092388/

PENDAHULUAN

Teks Matius 17:2-23 menegaskan jabatan Yesus sebagai Nabi. Alasannya sederhana: “Ia menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya.” Dan itu terjadi. Dalam jabatan-Nya sebagai Nabi, Yesus—Anak Manusia—menampilkan sebuah keberanian untuk menubuatkan penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kedatangan-Nya di awan-awan. Tidak ada nabi mana pun yang pernah menubuatkan penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kedatangan di awan-awan. Di sini, hanya Yesus saja yang melakukannya. Pertanyaannya: mengapa Yesus begitu berani melakukan demikian?

Jawaban atas pertanyaan di atas sangatlah rumit dan mendalam. Tidak hanya sekadar kita mengatakan bahwa karena Yesus memiliki misi khusus yaitu menebus dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Tetapi lebih dari itu; Yesus—selain menegaskan identitas misi-Nya ke dunia, Ia juga menegaskan identitas personalitas-Nya: Logos menjadi daging, Logos yang hadir dalam sejarah manusia. Ini luar biasa.

Akan tetapi, yang menjadi pokok diskusi dan percakapan teologis adalah bagaimana bisa Yesus yang adalah Anak Allah dan yang berkuasa, bisa mati? Di satu sisi Ia dipercaya sebagai Anak Manusia dan di sisi lainnya Ia dipercaya sebagai Allah yang berkuasa. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan utama dari mereka yang menegasikan ke-Tuhanan (ke-Allahan) Yesus. Seperti yang dicatat dalam Injil-Injil, Yesus sebagai Anak Manusia menegaskan kondisi faktual bahwa Ia adalah manusia seperti pada umumnya. Bedanya adalah Ia berkuasa atas hidup manusia, Ia berkuasa mengampuni dosa, berkuasa membangkitkan orang mati, dan lain sebagainya.

Persoalan kematian Yesus yang dicap oleh non-Kristen bahwa bagaimana mungkin Tuhan bisa mati?, kita tentu akan memberikan jawaban yang benar yaitu: “yang mati adalah kemanusiaan Yesus”. Jadi, apakah ada Tuhan yang mati? Tentu tidak ada. Lalu Yesus yang adalah Tuhan, bukankah Ia mati disalib? Benar, Ia mati disalib, tetapi ke-Tuhanan-Nya tidak ikut mati bersama kemanusiaan-Nya. Sebagai kekuatan dari argumentasi ini, saya menyuguhkan tiga teks penegasnya:

Filipi 2:8, Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ibrani 9:27-28, Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

1 Petrus 3:18, Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.

Kematian Yesus dalam kemanusiaan-Nya menggenapi konsep dan ketentuan penebusan dosa dalam PL sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa Israel. Kurban binatang yang darahnya dicurahkan terepresentasikan dalam diri Yesus, Anak Domba yang kudus dan tak bercacat cela. Jadi, frasa “Anak Manusia di tangan manusia” merupakan sebuah penegasan bahwa Yesus datang untuk tujuan penebusan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (bdk. Mat. 1:21) dan menderita dan mati disalibkan karena “tangan-tangan manusia”.

Substansi Anak Manusia di Tangan Manusia

Teks Matius 17:22-23 menceritakan tentang Yesus dan para murid-Nya di mana Yesus pasca pemuliaan-Nya di atas gunung (Mat. 17:1-13), menegaskan misi-Nya yang besar untuk dituntaskan. Pada pasal 17:12, Yesus sudah menegaskan bahwa Anak Manusia akan menderita. Dalam kondisi yang sangat terkenal, Yesus—sebelumnya Yesus dimuliakan dan menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan (17:14-18), bahkan jauh sebelum itu ada banyak mukjizat yang dilakukan Yesus—Yesus malahan menubuatkan penderitaan, penyaliban, kematian, dan kebangkitan-Nya kepada para murid. Dan respons para murid adalah “sedih sekali” (17:23).

Rasa sedih tentu wajar karena mereka sebenarnya tidak menginginkan Yesus menderita dan mati meskipun Yesus menegaskan pula bahwa Ia akan bangkit. Justru para murid tidak melihat kehebatan Yesus di sini, yaitu Ia akan bangkit pada hari yang ketiga. Lalu mengapa mereka sedih? Mungkin karena mereka telah melihat Yesus sangat terkenal dan banyak membuat mukjizat. Padahal, sebagai Anak Manusia, Yesus telah menegaskan kematian-Nya melalui “tangan-tangan manusia”.

Nubuatan Yesus mengenai kematian-Nya merupakan penggenapan nubuatan PL (lihat Yesaya 53). Anak Manusia merujuk pada sebuah identitas inkarnasi (Yoh. 1:14) di mana Logos Ilahi masuk dan tinggal dalam dunia (sejarah manusia). Anak Manusia di tangan manusia adalah sebuah pernyataan bahwa Yesus tidak terpaksa mati melainkan Ia datang untuk misi yang mulia dan agung: menderita, mati, dan bangkit, bagi penebusan, penyelamatan, dan pengampunan umat-Nya.

Penutup

Melalui teks yang kita baca, dapat dipahami bahwa sebagai Anak Manusia, Yesus sekaligus menunjukkan dan memperlihatkan dua identitas (dwi natur) yaitu sebagai Allah (Logos Ilahi) yang berkuasa atas segala sesuatu (atas kematian, atas laut, atas makanan [hidup], atas cipaan-Nya; dan kedua, sebagai Anak Manusia yang akan memberikan diri-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang, mencurahkan darah-Nya dan mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia untuk misi penebusan, penyelamatan, dan pengampunan umat-Nya.

Kepada kita telah diberikan anugerah yang besar ini. Dan seyogianya kita memperhatikan, memahami, dan merasakan kuasa Tuhan Allah yang menjamah dan mengubah diri dan hidup kita. Menjadi saksi bagi-Nya adalah kewajiban kita. Yesus telah menyelesaikan misi surgawi: Anak Manusia yang mati bagi umat-Nya; Ia bangkit dari kematian, dan Ia kembali kepada Bapa-Nya.

Kitapun mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang sama: menjadi anak-anak Allah yang taat dan setia kepada-Nya; tetap menjadi berkat, menolong, menopang, dan menyatakan kepedulian kepada sesama sebagaimana Yesus telah melakukannya.

Soli Deo Gloria

WARTAKAN KABAR DAMAI: Refleksi Markus 16:15

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/mO9vKbG5csg

PENDAHULUAN

Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Di samping itu, kehidupan yang aktif ditandai oleh tujuh aspek yakni: pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus; kedua, kehidupan yang memberkati orang lain; ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekudusan; keempat, kehidupan yang menampakkan terang perbuatan; kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi; keenam, kehidupan yang siap menderita; dan ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil sebagai Kabar Baik.

Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen—kita dlayakkan Tuhan untuk mampu melakukan tujuh aspek tersebut. Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, semuanya harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan kita. Itulah mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius dan Markus mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.

SUBSTANSI KABAR BAIK

Kabar Baik adalah kabar damai—di mana berita keselamatan yang dikerjakan Tuhan direalisasikan dalam sejarah inkarnasi Yesus Kristus. Perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang dicatat Markus: pertama, Kabaik Baik mengumandangkan “kebangkitan Yesus” (ay. 14); kedua, Kabar Baik mengumandangkan bahwa orang-orang harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay. 16); ketiga, Kabar Baik mengumandangkan bahwa Yesus yang dipercaya itu memiliki kuasa yang tak terbatas, kuasa mengusir setan yang diberikan kepada orang-orang percaya; mereka yang mewartakan Kabar Baik tidak akan takut terhadap ancaman: memegang ular, minum racun maut, tidak akan mendapat celaka (ay. 17-18); keempat, Kabar Baik untuk menyertakan kepedulian terhadap orang-orang sakit (ay. 18); kelima, Kabar Baik mengumandangkan “kenaikan Yesus ke surga” (ay. 19) tanda bahwa Yesus yang menderita, disalibkan, dan mati, bukanlah peristiwa yang menindas iman Kristen melainkan merupakan kesatuan peristiwa yang tuntas di mana Yesus telah menyelesaikan kehendak Bapa-Nya untuk menebus dan mendamaikan manusia dengan Sang Bapa.

Penjelasan ayat 15 berikut ini merupakan kesatuan perintah mewartakan Kabar Baik yang mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Kata “pergilah” [πορευθέντες, poreuthentes] dari kata πορεύομαι [poreuomai], πορεύω [poreuō] adalah kata kerja partisip yang menjadi pendukung dari “pemberitaan Injil”. Kata “beritakanlah” [κηρύσσω, kērussō, to proclaim, preach, memproklamasikan, mengajarkan (Kabar Baik)] adalah kata kerja aoris aktif. Aoris adalah sebuah “tindakan yang terjadi pada masa lampau”. Ini mengacu kepada tindakan yang telah Yesus lakukan dan Ia menghendaki para murid melakukan hal yang sama. Perbuatan yang telah terjadi yakni “memberitakan Injil” sebagaimana yang telah Yesus lakukan, haruslah terus dilakukan secara ‘aktif’. Itulah hidup Kristen yang sesungguhnya sebagaimana telah saya sebutkan di awal. Yesus memberitakan Injil dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Kita pun demikian.

WARTAKAN KABAR DAMAI: KERJA IMAN, KERJA NYATA

Mewartakan kabar damai sebagai bagian dari tugas pekabaran Injil adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Di sinilah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan. Perbuatan mengabarkan Injil adalah konsekuensi dari iman; iman yang ada haruslah diwujudnyatakan dalam kerja nyata, aktif bersaksi, dan memberitakan Injil dengan berbagai cara. Kerja iman adalah kesadaran diri untuk melakukan apa yang diimani. Itu berarti, seorang Kristen telah melakukan kerja nyata sebagai bagian signifikan dari kehidupan Kristen yang aktif.

Tak ada cukup alasan untuk menolak keaktifan kehidupan Kristen. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Timotius bahwa, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). Apa yang ditegaskan Rasul Paulus mengikuti prinsip Yesus Kristus: “pergi dan mengabarkan Kabar Baik”.

Mewartakan Kabar Baik adalah sebuah tugas mulia sebab kita adalah Lux Mundi [Terang Dunia] (Mat. 5:14, 16). Mewartakan Kabar Baik adalah tugas mulia di mana kita perlu membagikan cinta kasih Tuhan yang telah kita alami kepada sesama, sebagaimana yang ditegaskan Yesus: “pohon yang baik menghasilkan buah yang baik”. Pohon yang baik memberikan buah tanpa memandang bulu; tak peduli siapa yang lewat atau melihat buahnya; tetap berproses untuk menghasilkan buah; memberikan buah yang baik dan membagikan hasil tanpa merasa rugi atau tersakiti. Berbagi Injil tidak menyakiti kita, tetapi justru memberikan sukacita dan kebahagiaan. Itulah kehidupan Kristen yang aktif.

PENUTUP

Pertama, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Karena itu wartakanlah Kabar Baik kepada manusia.

Kedua, perintah Yesus untuk pergi dan memberitakan Injil adalah perintah aktif dan merupakan teladan Yesus yang diwariskan kepada para murid. Yesus sendiri telah melakukan pekabaran Injil semasa pelayanannya.

Ketiga, perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial: kebangkitan, percaya kepada Yesus, Yesus yang berkuasa dan memberi kuasa kepada orang percaya, kepedulian terhadap sesama, dan kenaikan Yesus ke surga.

Keempat, mewartakan kabar damai adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Ini adalah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan.

Salam Bae

KRISTUS DIHAKIMI DAN DIRENDAHKAN KARENA KITA: Refleksi Matius 20:17-19

Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/the-scourging-tissot.html?product=art-print

Pendahuluan

Allah menyatakan diri dalam sejarah manusia. Kitab Suci mengisahkan bahwa Allah yang transenden menyatakan diri, dan menjadi Allah yang imanen—ada dalam pengalaman manusia. Yang menjadi catatan penting di sini adalah “pengalaman hidup mengenal dan merasakan kasih dan kuasa Tuhan” adalah sebuah kesaksian pribadi setiap orang yang dengannya ia dapat berbicara, mengajar, dan mewartakan tentang Tuhan, kasih, dan kuasa-Nya. Dengan demikian, tanpa pengalaman hidup bersama Tuhan, iman kita menjadi kosong.

Secara kontinuitas, Tuhan Allah terus-menerus membentuk umat-Nya menjadi manusia-manusia yang mengasihi-Nya dan mengasihi sesama dan Kitab Suci mencatat bahwa “orang-orang yang dipanggil-Nya “telah memiliki pengalaman” hidup bersama-Nya. Tuhan menginginkan umat-Nya agar merealisasikan “kasih, keadilan, dan kebenaran” dalam totalitas hidupnya. Hingga akhirnya, mereka mengalami kegagalan demi kegagalan memenuhi tuntutan dan hukum-hukum-Nya. Kegagalan yang mereka alami terkait dengan kuatnya dosa yang mengikat, membelenggu, mendorong mereka untuk melakukan segala bentuk kejahatan di hadapan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini Allah memberikan cara untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka yaitu melalui konsep “pengurbanan anak domba” yang tidak bercacat cela. Konsep penebusan ini berlanjut hingga zaman PB. Pada finalnya, Allah menyatakan diri dengan menjadi manusia (Yoh. 1:14). Yesus Kristus adalah Logos Ilahi yang datang ke dalam dunia ciptaan-Nya. Tak ada yang mustahil untuk membuat diri-Nya menjadi sama dengan manusia. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus bahwa Yesus Kristus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:7-8).

Terkait dengan hal ini, teks yang kita baca (Mat. 20:17-19) menampilkan gambaran tentang nubuatan Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dalam konteks itu pula, secara kasat mata “Kristus dihakimi dan direndahkan karena manusia berdosa”. Ia yang adalah Allah yang menjadi manusia, dan kemudian dihina, direndahkan, dicaci (diolok-olok). Fakta ini sekaligus menjadi bagian yang koheren dengan para pengikut Yesus di sepanjang sejarah, bahkan hingga hari ini.

Konteks

Pada pasal 19:27-30 (bdk. Luk. 18:28-30) Yesus menyatakan bahwa diri-Nya—sebagai Anak Manusia—bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikuti Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Tidak hanya soal kedudukan dan kemuliaan yang akan diterima oleh para pengikut-Nya, malahan Ia menegaskan tentang jaminan dari mereka yang “rela”—karena nama Yesus—meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akna memperoleh hidup yang kekal.

Selanjutnya, pasal 20:1-16 dijelaskan mengenai tuan yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya, sebuah gambaran tentang mereka (para pekerja) yang berkomitmen (sepakat) untuk melayani Tuhan di dalam ladang pelayanan yang dipercayakan kepada para pekerja-Nya, tanpa merasa “iri hati” kepada mereka yang juga dipanggil Tuhan untuk melayani dengan giat.

Hingga akhirnya, dari serangkaian perbuatan-perbuatan mukjizat, kepedulian, ketegasan, dan prinsip yang Yesus lakukan dan ajarkan, Ia kemudian menubuatkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Ini adalah nubuat Yesus yang ketiga. Nubuat pertama terdapat dalam Matius 16:21; nubuat kedua dalam Matius 17:22-23. Semua nubuatan ini substansi dan tujuan sama yaitu Yesus akan menderita, mati disalibkan, dan bangkit pada hari ketiga. Ini sangat luar biasa. Yesus secara rela dihakimi dan direndahkan. Yang terakhir—yaitu kebangkitan-Nya—adalah cara Tuhan menunjukkan kemuliaan dan kekuasaan-Nya atas maut.

Kita tidak hanya berfokus kepada kematian-Nya, sebagaimana yang dirasakan oleh para murid bahwa mereka sedih ketika mendengar nubuatan Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya: “Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: ‘Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan. Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali’” (Mat. 17:22-23). Para murid melupakan nubuatan Yesus tentang kebangkitan-Nya. Padahal, sebelumnya mereka begitu bahagia dan bangga melihat berbagai perbuatan mukjizat yang dilakukan Yesus; rasanya kebahagiaan dan kebanggaan mereka sirna dan bahkan menimbulkan rasa malu ketika Yesus, Guru mereka, akan mati secara tidak terhormat; bagi mereka, hal itu tidak berbanding lurus dengan ketenaran Yesus karena berbagai perbuatan mukjizat yang dilakukan-Nya.

Para murid puas dengan apa yang Yesus lakukan sampai-sampai mereka melupakan misi yang harus dituntaskan Yesus. Meski Ia mati, Ia akan bangkit. Itulah nubuatan Yesus tentang diri-Nya. Meski kematian-Nya merupakan hal buruk bagi para murid—bahkan sampai Iblis, yang merasuki Petrus pun, harus menggagalkan kematian Yesus. Matius 16:21-23 mencatat, bahwa “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan “menanggung banyak penderitaan” dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu “dibunuh” dan “dibangkitkan” pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, ‘kiranya Bapa menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “’Enyahlah Iblis’. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Kematian (yang bermakna perendahan) Kristus bukanlah sebuah kabar buruk bagi kita, melainkan sebuah kabar baik, sebab melalui kematian-Nya, Kristus bangkit dari antara orang mati. Maut telah dikalahkan oleh Yesus Kristus, sehingga mereka yang percaya pada-Nya memiliki jaminan bahwa mereka juga akan dibangkitkan oleh Kristus.

Makna dari Kristus dihakimi dan Direndahkan

Dari penjelasan di atas, saya merangkum beberapa makna sebagai berikut: pertama, “Kristus dihakimi” bukan karena Ia lemah dan tak berdaya, melainkan Ia harus menyelesaikan misi penyelamatan manusia dari dosa-dosa mereka; “kelak Ia akan menghakimi dunia” (salah satu klausa dalam Pengakuan Iman Rasuli: “dan Ia akan datang dari sana, untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati [bdk. 2 Tim. 4:1; 4:8; Yoh. 5:22, 27, 30; 8:16; Kis. 10:42; 17:31; 1 Ptr. 4:5); kedua, “Kristus direndahkan” bukan karena Ia rendah, melainkan karena Ia dianggap sebagai orang yang melawan keyakinan agama Yahudi (Yesus juga dilawan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua Yahudi, dan orang-orang Farisi) pada waktu itu; akibatnya, Kristus dihina, disiksa, dan kemudian disalibkan; kebalikannya, Kristus ditinggikan (Yoh. 3:14; 12:32, 34; Kis. 2:33; 5:31; Flp. 2:9); “kelak Ia akan meninggikan” orang-orang yang percaya kepada-Nya (Luk. 1:52; Yak. 4:10); ketiga, “Kristus adalah jaminan keselamatan dan pengampunan” umat-Nya; Ia telah menyerahkan diri-Nya menjadi kurban penebusan dosa yang sempurna, satu kali untuk selama-lamanya.

Lalu, apa yang dapat kita perbuat untuk Kristus? Jadilah garam dan terang dunia, jadilah teladan, dan jadilah pelaku firman, mewartakan Yesus Kristus, keselamatan, pengampunan dan penebusan yang telah dikerjakan-Nya. Itulah tanggung jawab iman yang melekat erat dalam diri orang-orang percaya. Melakukan hal-hal tersebut tentu ada tantangannya. Meski demikian, kita harus meyakini bahwa Tuhan menyertai, menopang, dan memberkati kita semua hingga akhir zaman. Amin!

Salam Bae….

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai