
Pendahuluan
Kekuatan sebuah rencana secara substansial diukur oleh tujuh hal: pertama, siapa yang merencanakan; kedua, merencanakan apa; ketiga, situasi dan kondisi hidup yang menjadi pendorong rencana itu direncanakan; keempat, apa tujuannya merencanakan sesuatu; kelima, siapa saja yang terlibat dalam mewujudkan rencana itu; keenam, berapa lama rencana itu bertahan; dan ketujuh, apa yang dibutuhkan dalam mewujudkan rencana itu. Hampir semua orang merencanakan sesuautu untuk hari depan. Tetapi tak sedikit yang gagal mewujudkan rencana itu. Akan tetapi, bagi orang percaya, setiap rencana yang dibuat, harus melibatkan Tuhan di dalamnya. Kisah Musa adalah sebuah potret kehidupan yang cukup mencekam mengingat bahwa anak laki-laki yang lahir dari orang Ibrani haruslah dibuang ke sungai Nil. Meski demikian, Musa akhirnya dipimpin Tuhan menjadi pemimpin besar bangsa Israel. Ia menjadi pemimpin, tidak lepas dari campur tangan Tuhan melalui rencana-rencana kecil yang mendahului rencananya yaitu rencana ibunya dan rencana kakaknya.
Implikasi “Rencana” Berdasarkan Teks Bacaan
Pada teks yang dibaca, “rencana” yang dimaksudkan sesuai dengan tema khotbah adalah “rencana dari Ibu Musa”, “kakak Musa”, dan “Musa”. Memang, dalam teks tersebut, tidak terlihat di mana rencana mereka. Tetapi saya berusaha memahami kisah kelahiran Musa hingga ia dewasa.
Pertama, rencana ibu Musa (ay. 2-3, 9-10): ia memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam peti dan diletakkan di tepi sungai Nil. Ia kemungkinan besar ia merencanakan agar anaknya tetap selamat, mengingat Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya bahwa segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani, dilemparkan ke dalam sungai (1:22). Ibu Musa merencanakan keselamatan anaknya meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Ibu Musa merencanakan untuk meletakkan bayinya di tepi sungai Nil karena situasi dan kondisi yang menakutkan, karena perintah Firaun untuk melemparkan semua anak laki-laki orang Ibrani ke dalam sungai Nil. Ibu Musa melibatkan anaknya (kakak dari bayi itu) untuk menjaga agar rencananya tidak gagal; rencana itu berjalan dan selang beberapa waktu, datanglah puteri Firaun dan dayang-dayang yang melihat peti di sungai Nil (ay. 5). Ibu Musa hanya membutuhkan peti dan anaknya (kakak Musa). Di sini, rencana ibu Musa didasarkan pada sikap pasrah. Ia pun dapat kesempatan menyusui Musa hingga beberapa tahun, dan dikembalikan kepada putri Firaun setelah Musa menjadi besar. Meski demikian, implikasi dari rencananya adalah Musa, abdi Tuhan, menjadi tokoh yang luar biasa. Rencana yang seadanya, ternyata berdampak besar.
Kedua, rencana kakak Musa (ay. 4, 7-8). Kakak Musa merencanakan keselamatan adiknya, di mana ia berdiri agak jauh dari posisi peti. Ketika ia melihat ada putri Firaun yang mengambil adiknya, ia menawarkan agar anak itu disusui oleh seorang inang penyusu yang dia rujuk kepada ibunya sendiri. Rencana ini berjalan mulus hingga ibunya mendapat kesempatan menyusui Musa selama beberapa tahun. Rencana kakak Musa cukup strategis dengan melihat kondisi yang terjadi pada saat itu. Ketika adiknya menangis, ia segera menemui putri Firaun dan menawarkan bantuan. Rencana tidak selalu harus ditulis panjang-panjang; rencana dapat muncul ketika situasi dan kondisi tidak berpihak kepada kita. Tetapi, dengan keberanian melawan situasi dan kondisi, maka kakaknya Musa berhasil meyakinkan putri Firaun. Itu berarti, rencana boleh saja dibuat dan dipikirkan, tetapi tanpa keberanian, mustahil bisa terwujud. Orang penakut hanya menghasilkan rencana di atas kertas, sedangkan orang berani menghasilkan rencana pada tataran fakta dan langsung bertindak.
Kakak Musa berhasil mewujudkan rencana singkatnya (sesuai situasi); ia merencanakan agar adiknya kembali kepada ibunya, disusui, dan dididik hingga besar; ia merencanakan sesuatu karena situasi dan kondisi hidup yang mendorongnya untuk berani mewujudkan rencananya; ia hanya ingin bahwa adiknya selamat; ia melibatkan ibunya untuk mewujudkan rencananya; ia berhasil menjadikan rencananya bertahan selama beberapa tahun.
Ketiga, rencana Musa (ay. 11-12, 14). “Musa takut perkaranya ketahuan, maka ia melarikan diri” (ay. 15). Melarikan diri adalah sebuah rencana, entah dadakan atau terencana dengan baik. Di sini, rencana terbaik Musa adalah “melarikan diri”. Ia takut dibunuh Firaun karena ia telah membunuh seorang Mesir (ay. 11). Rencana melarikan diri berbuah manis (pada akhirnya ia diberikan oleh Rehuel, Zipora, anaknya). Ia tiba di tanah Midian dan duduk-duduk di tepi sumur. Datanglah perempuan-perempuan yang hendak menimba air. Mereka diusir oleh gembala-gembala, dan Musa (langsung merencanakan sesuatu) menolong tujuh anak perempuan Yitro, seorang imam di Midian (disebut juga Rehuel) (ay. 17). Rencana Musa untuk menolong anak-anak Yitro mendatangkan penerimaan bagi dirinya oleh calon mertua.
Rencana Musa yaitu melarikan diri adalah sebuah rencana penyelamatan diri. Rencana ini adalah sebuah bijaksana yang logis. Kemudian, rencana untuk menolong pada akhirnya menuai hasil yang baik. Musa mendapatkan isteri yaitu Zipora hasil dari rencana pendeknya untuk menolong anak-anak Yitro. Pertolongan meski itu kecil, akan berbuahkan hasil yang besar. Rencana, sekecil dan secepat apa pun itu, asalkan memiliki tujuan yang baik, akan berbuahkan hasil yang baik pula.
Implikasi Faktual Kekinian
Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai seorang anak bernama Johanis Adekalla Gama Marshall, siswa kelas VII SMPN I, Silawan Desan Mota’ain, Kabupaten Belu, NTT, perbatasan Indonesia dengan Timor Leste yang secara spontan (rencana dadakan dan singkat) untuk memperbaiki tali bendera yang tersangkut di ujung tiang. Ia seketika menjadi terkenal; ia diundang oleh Presiden Jokowi, mendapat beasiswa dan berbagai hadiah lainnya. Rencana singkat yang mungkin sederhana, pada akhirnya berbuahkan hasil yang sangat besar. Rencana yang baik, meski sederhana, dan dilakukan dengan motivasi yang tulus, akan mendapatkan hasil yang luar biasa.
Bermisi juga demikian. Meski yang kita rencanakan itu kecil, tetapi jika dikerjakan, akan berbuahkan hasil yang besar. Rencana yang besar tetapi yang mengerjakannya tidak ada, maka menjadi rugi. Merencanakan sesuatu haruslah sesuai dengan konteks dan tujuan yang hendak dicapai. Kekuatan rencana bukan terletak pada berapa banyak yang direncanakan, melainkan pada kondisi, situasi apa hal itu direncanakan. Ibu dan kakak Musa memiliki rencana yang sederhana. Demikian juga dengan Musa. Mereka berencana hanya untuk “menyelamatkan orang lain dan diri sendiri”. Dikaitkan dengan konteks misi maka rencana yang kita buat adalah untuk “menolong, mengasihi, dan menyelamatkan orang lain, ya, orang lain yang membutuhkan pertolongan dan kasih kita”. Orang Kristen seringkali hanya suka berencana tetapi sangat lemah dalam pelaksanaannya. Bahkan yang direncanakan tidak mendukung pengaktualisasian iman untuk mengasihi yang tak terkasihi, melayani yang tak terlayani. Syukur kepada Tuhan, Moriah Ministry telah membuktikan bahwa “rencana yang disusun” adalah sebuah aktualisasi iman kepada mereka yang membutuhkan, kepada mereka yang belum terlayani. Dan kiranya ini terus berlanjut dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Penutup
Pertama, rencana tidak melulu disiapkan di belakang meja (secara aplikasi kekinian). Rencana harus berangkat dari fakta yang sebenarnya dan kita terdorong untuk memberikan perhatian dan pelayanan misi kepada mereka yang membutuhkan. Kedua, rencana tidak perlu yang muluk-muluk, tetapi harus terukur. Dampaknya sangat besar (contoh, rencana Ibu dan kakak Musa). Ketiga, rencana haruslah bernilai strategis dengan melihat kondisi yang terjadi pada saat itu. Apa yang hendak dicapai haruslah didasari pada kondisi. Rencana melayani, misalnya, haruslah terdorong dari rasa kasih yang tulus untuk melayani mereka yang membutuhkan. Keempat, rencana harus diwujudkan dengan keberanian melawan situasi dan kondisi. Kelima, rencana perlu mewujudkan untuk mendatangkan penerimaan dari orang lain terhadap diri kita. Keenam,rencana juga perlu mempertimbangkan unsur keselamatan kita dan orang lain yang dilayani.
Tuhan memberkati kita semua
Salam Bae…









