KESELAMATAN HANYA DALAM NAMA YESUS: Refleksi Kisah Para Rasul 4:12-22

Sumber gambar: https://www.kunsthalle-karlsruhe.de/kunstwerke/Matthias-Grünewald/Christus-am-Kreuz-zwischen-Maria-und-Johannes/BFA3025441F9DC4AEF4D8A93E3A788D0/#

Topik keselamatan menjadi menarik untuk diperbincangkan ketika ada pertanyaan demikian: “Apa yang didapatkan seseorang dalam totalitas kehidupannya termasuk akhir dari kehidupannya?” Pertanyaan ini akan menghasilkan beragam jawaban. Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada orang-orang Kristen maka minimal jawabannya [akan] mengandung tiga hal: pertama, kehidupan kekal; kedua, keselamatan; dan ketiga, surga. Jika digabungkan ketiga jawaban tersebut, maka akan menjadi demikian: “Setiap orang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus telah ‘diselamatkan’ dan akan menerima ‘kehidupan kekal’ di dalam ‘surga-Nya’ yang kudus.”

Dari perspektif agama-agama, “keselamatan” menjadi bagian penting dan bahkan menjadi tujuan mengapa percaya kepada Yahweh, Allah, Tuhan, Dewa, Ilah, dan lainnya. Maraknya pemahaman keselamatan menggiring pada beragam tafsir terhadapnya. Lebih parahnya lagi, Ada yang dengan murah meriah mempublikasikan keselamatan dengan cara “menjual tiket ke surga”, “memilih gubernur yang tidak seiman, masuk neraka, sedangkan memilih guberner seiman akan masuk surga [selamat tentunya]”, dan sejumlah “jualan kecap politik” yang membonceng agama sebagai obat bius yang dianggap paling mujarab.

Dengan sekejap, tawaran surga menjadi obat bius yang secara masiv merambah ke masyarakat di seluruh Indonesia. Padahal, untuk mencapai surga, haruslah mengikuti ketentuan Tuhan. Anehnya, manusia dengan sesuka hati menggunakan cara yang nyeleneh (asal-asalan) untuk membodohi masyarakat. Tentu “surga” yang dijanjikan itu bukanlah surga yang Tuhan maksudkan. Itu surga khayalan para politikus yang ingin meraup keuntungan. Sayangnya, ada juga masyarakat yang percaya dengan “jualan kecap politik” tersebut.

Keselamatan dalam perspektif Kristen bukanlah keselamatan hasil politik Tuhan; bukan pula sebuah rekayasa yang semu. Keselamatan yang Tuhan berikan adalah keselamatan yang direncanakan sejak kekal, keselamatan yang penuh kuasa, bukan hanya perkataan semata, melainkan keselamatan yang menjamin kekudusan dan kemerdekaan orang-orang percaya dalam Kerajaan Tuhan.

Mungkin kita pernah mengatakan: “kalau ikut Yesus, saya dapat apa?”, atau bahkan pertanyaan ini ditanyatakan langsung kepada Tuhan: “Tuhan, saya ikut Engkau, dapat apa?” Malahan ada yang kecewa dengan Yesus. Mengapa? Karena waktu dia percaya kepada Yesus, dia kecewa karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, dia mendapatkan caci maki, mendapatkan penderitaan, dan lain sebagainya. Kemudian dia bertanya: “Tuhan, mengapa waktu saya memutuskan untuk percaya dan mengikut Engkau, justru penderitaanlah yang saya dapatkan?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan klasik, yang terus ada dan bergulir dari waktu ke waktu.

Ada berbagai motivasi ketika seseorang mengikut Yesus. Motivasilah itulah yang menjadi ukuran seberapa besar ia mengasihi Yesus dan seberapa mampu ia mengikut Yesus di tengah cercaan dunia yang semakin menggila ini. Akan tetapi, ada satu hal yang paling suprematif ketika kita percaya dan mengikut Yesus, yaitu “keselamatan”.

Teks Kisah Para Rasul 4:12 adalah fokus dari tema khotbah ini: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Tuhan adalah “Juruselamat” satu-satunya. Jika Rasul Petrus mengatakan bahwa di dalam Yesus ada keselamatan, maka secara langsung Petrus menyatakan bahwa Yesus itu adalah “Tuhan”—Juruselamat umat manusia.

Jika kita melihat konteksnya, Petrus dan Yohanes  didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Tuhan serta orang-orang Saduki, ketika mereka sedang berbicara kepada orang banyak (ay. 1). Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.  Akhirnya Petrus dan Yohanes ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam (ay. 3). Pekabaran Injil mereka menghasilkan orang-orang yang menjadi percaya. Pada keesokan harinya, Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang di Yerusalem yang dihadiri pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat, Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.

Dalam sidang itu terjadi tanya jawab. Tetapi Petrus menjawab pertanyaan dengan sangat berani (bdk. ay. 13), dan ayat 12 adalah puncak jawaban Petrus. Para peserta sidang tidak dapat membantah Petrus karena mereka melihat orang yang disembuhkan Petrus dan Yohanes berdiri di samping kedua rasul itu (ay. 14, 22, orang yang sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya).

Tidak ada yang dapat membantah kuasa nama Yesus. Yesus sendiri telah membuktikan bahwa para pengikut-Nya dibekali dengan kuasa untuk mengadakan mukjizat sesuai kehendak-Nya. Kesempatan bagi Petrus untuk bersaksi di depan banyak orang, membuka peluang bagi siapa saja untuk mempertimbangkan apakah yang diucapkan Petrus benar atau tidak.  Dan ternyata benar, Petrus berbicara sesuai fakta bahwa dalam nama Yesus, orang lumpuh disembuhkan.

Sebagai Juruselamat, Yesus adalah Tuhan. Berbicara mengenai ‘Tuhan’ berarti berbicara tentang ‘kuasa’. Benarkah Yesus berkuasa? Tentu benar. Sebab kematian-Nya berkuasa menebus manusia dari dosa, kebangkitan-Nya berkuasa memberikan jaminan kebangkitan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan bukanlah fisik sebagaimana yang dipahami Islam. Mereka berpikir bahwa “Tuhan Kristen mati, makan, dan sebagainya” yang mengarah kepada kondisi fisik manusia. Tuhan itu berbicara substansi dari perbuatan-perbuatan yang berkuasa. Yesus berkuasa mengampuni dosa, maka hal itu menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa. Pemahaman Islam tentang “Tuhan” yang dipahami secara fisik membawa mereka kepada sebuah kesesatan logika yaitu “PALOGISME”, sebuah jenis sesat pikir yang mana yang menyatakan sesuatu tidak tahu bahwa dirinya sesat.

Yesus menunjukkan karya yang luar biasa untuk menyatakan diri sebagai Juruselamat. Sebagaimana Perjanjian Lama menyatakan bahwa unsur penting dalam “keselamatan” dan “pengampunan dosa” adalah “darah” dan “kematian” anak domba (binatang). Mengapa bisa demikian? Karena manusia berdosa kepada Tuhan, dan karena itu, hanya Tuhan yang berdaulat menentukan dan menetapkan bagaimana cara manusia diselamatkan dan diampuni.

Yesus Kristus adalah wujud sempurna dari Juruselamat itu. Ia mati dan mencurahkan darah-Nya bagi keselamatan dan penebusan manusia. Benarlah yang dikatakan Rasul Petrus bahwa: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan “darah yang mahal”, yaitu “darah Kristus yang sama seperti darah anak domba” yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Ptr. 1:18-19).

Teks di atas berbicara mengenai “darah” dan “kematian” Yesus. Darah menegaskan sebuah “kehidupan” dan kematian menegaskan sebuah “kebangkitan”. Mengenai hal ini Yesus mengatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Jika demikian, keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus”. Mungkin ada yang berkata: “bukankah keselamatan berasal Tuhan, Bapa yang kekal?” Ketika berbicara mengenai hal ini, mau tidak mau kita berurusan dengan teologi Trinitas.

Trinitas memang menimbulkan kebingungan tersendiri. Tidak hanya di kalangan non-Kristen, tetapi di kalangan Kristen pun, Trinitas masih menimbulkan problem. Terkait dengan keselamatan menurut teologi Kristen, maka kita akan berurusan dengan Trinitas, kecuali Yudaisme yang tidak percaya akan Trinitas. Allah yang kekal itu tidak sendirian. Ia kekal bersama Firman-Nya [Logos] dan Roh-Nya. Allah tanpa Firman dan Roh bukanlah Allah. Disebut Allah karena Ia memiliki Firman dan Roh [kata ‘memiliki’ tidak mengindikasikan bahwa Allah sebelumnya tidak memiliki Firman dan Roh. Kata tersebut hanyalah derivasi dari cara memahami yang terbatas terhadap diri Allah. Logika kita hanya dapat merumuskan dengan kata-kata yang terbatas]. Jadi, yang kekal di surga ada tiga: Allah, Firman, dan Roh.

Dalam konteks keselamatan, baik Allah, Firman, dan Roh merepresentasikan satu sama lain. Mengatakan bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Logos Ilahi), hal itu sama dengan mengatakan keselamatan berasal dari Allah [Bapa] dan Roh Kudus. Bapa, Firman, dan Roh Kudus tak bisa dipisahkan. Kita selalu melihatnya berpola trinitarian. Yudaisme tak dapat mengesampingkan Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah. Jika percaya kepada Allah, maka harus percaya kepada Firman Allah. Jika percaya Allah menyelamatkan, maka kita harus percaya kepada Firman Allah yang menyelamatkan. Dapatkah Allah menyelamatkan tanpa menyatakan Firman-Nya?

Teks Kisah Para Rasul 4 ayat 12 merupakan pernyataan Rasul Petrus bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah membuktikan bahwa Ia telah berkuasa menebus, mendamaikan, menguduskan, membenarkan kita, orang berdosa. Apa yang kita dapatkan ketika kita mengikut Yesus? Tentu keselamatan, kehidupan kekal, dan surga-Nya yang mulia. Ini adalah pengharapan iman kita. KESELAMATAN HANYA DALAM NAMA YESUS.

Salam Bae…

GEREJA YANG BERDIAKONIA: Homili Kisah Para Rasul 2:41-47

Sumber gambar: https://www.countryliving.com/life/g3727/amazing-photos-of-autumn-leaves/

Pendahuluan

“Melayani” adalah ciri khas Kristen (baca: Gereja). Prinsip melayani menekankan bahwa semua orang percaya perlu melayani dan dilayani. Melayani berarti kita peduli kepada orang lain. Dilayani berarti kita membutuhkan pelayan gereja bagi keberlangsungan gereja itu sendiri. Ketika gereja mengabaikan tugas “diakonia” maka ia bukan lagi gereja yang sesungguhnya tetapi gereja palsu—mengatasnamakan Tuhan, tetapi tidak melakukan kehendak Tuhan.

Kitab Suci menjelaskan bahwa Tuhan sangat peduli dengan umat-Nya; Ia mengasihi, mengampuni, bahkan memberkati umat-Nya. Tuhan pula yang memerintahkan kepada umat-Nya untuk melayani-Nya dan menerapkan prinsip cinta kasih dan pengampunan kepada sesama manusia (eksternal) termasuk sesama umat Tuhan (internal).

Dalam konteks ini, gereja diberikan mandat oleh Tuhan untuk melakukan pelayanan. Jenis-jenis pelayanan tentu berbeda tetapi substansinya sama: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Gereja mula-mula adalah contoh praktis dan substansial dalam hal ber-“diakonia”. Gereja yang melayani bukan hanya secara penampilan luarnya, kelihatan sibuk sana-sini, tetapi melayani di dalam persekutuan itu sendiri. Pelayanan bersifat internal dan eksternal. Internal adalah bagi sesama anggota gereja, dan keluar (eksternal) bagi sesama manusia yang perlu ditolong, didoakan, dan diperhatikan, agar mereka turut merasakan jamahan cinta kasih dan pengampunan Yesus Kristus; hidup mereka berubah menjadi hidup yang kudus, penuh syukur, dan menjadi berkat bagi orang lain pula.

Dari teks yang kita baca, dua pelayanan yakni internal dan eksternal secara nyata dipublikasikan: pertama, bertekun (internal); kedua, bersekutu (internal); dan ketiga, memancarkan sikap hidup yang baik (eksternal). Dari ketiga jenis pelayanan tersebut, dua pelayanan internal yang dimaksudkan untuk memperkokoh pemahaman dan iman kepada Yesus Kristus, kemudian setelah matang dalam pemikiran (pemahaman) dan iman, maka para pelayan (anggota gereja) diperintahkan keluar untuk melayani sesama.

Gereja yang Berdiakonia

  1. Bertekun (ay. 42).

Prinsip bertekun yang dilakukan oleh para pengikut Yesus adalah “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul”. Pengajaran adalah pondasi dari pelayanan. Apalah gunanya melayani tapi kita tidak tahu apa makna dari pelayanan? Pengajaran-pengajaran itu sangat dibutuhkan karena kita hendak memberikan pertanggungan jawab kepada orang lain tentang iman kepada Yesus.

  • Bersekutu/berkumpul (ay. 46).

Bersekutu tanda adanya “persatuan” (bdk. ay. 44). Bersekutu tanda kesehatian. Di mana ada kesehatian di situ ada perkembangan dan kemajuan penginjilan. Ketika persatuan terjadi, maka semangat berjuang dalam memberitakan Injil akan semakin membara. Persekutuan adalah wadah yang sangat baik bagi kemajuan Injil dan kekuatan iman. Di situ sesama anggota gereja bisa saling mendoakan, menopang, menyatakan kepedulian (saling berbagi, sebagaimana tampak dalam ayat 44-45). Ini sungguh luar biasa. Kasih mempersatukan dalam persekutuan dan kasih menjadi tampak ketika kepedulian terjadi.

  • Memancarkan sikap hidup yang baik (ay. 47).

Frasa “mereka disukai semua orang” adalah tanda bahwa gereja mula-mula telah melakukan dan merealisasikan hidup yang penuh kasih, cinta damai, hidup yang peduli, dan hidup yang kudus. Gereja tidak hanya sibuk memperkaya diri sendiri dan sibuk membesarkan pelayanan di dalam, melainkan gereja juga harus sibuk untuk membawa keluar kekayaan dalam persekutuan kepada sesama manusia yang membutuhkan, baik di kota-kota maupun di desa-desa. Gereja menjadi gereja yang sesungguhnya ketika ia terlihat melayani “keluar” dari kandangnya. Gereja tidak hanya “berani kandang”, tetapi siap berlaga di medan yang lebih besar dan lebih luas, bahkan lebih liar. Ajaran-ajaran Kitab Suci tidak hanya menjadi beku dalam kulkas hati kita, tetapi ajaran-ajaran tersebut harus dicairkan—yang berarti pintu kulkas hati dibiarkan terbuka.

Penutup

Gereja yang berdiakonia adalah gejera yang bertekun dalam pengajaran, gereja yang bersekutu, dan gereja yang menampakkan teladan (sikap hidup yang baik). Kekristenan tidak akan semakin dihina ketika gereja melayani dengan benar, menampilkan hidup kudus. Meski ada kasus-kasus tertentu yang mencoreng wajah Kristen, tetapi itu bukanlah ajaran Yesus. Hidup kudus berarti hidup yang terjauhkan dari segala jenis kejahatan.

Meski beberapa hari lalu ada kasus pembunuhan yang dilakukan seorang Pendeta bernama Henderson Sembiring terhadap keponakannya yang bernama Rosalia Siahaan, dibunuh di kamar mandi Gereja Sidang Roh Kudus Indonesia (GSRI) Limau Manis, Deliserdang, Kamis 31 Mei 2018, hal itu bukanlah menyatakan bahwa semua pendeta pembunuh dan tidak hidup dalam kekudusan. Itu oknum, bukan agama. Kitab Suci tidak mengajarkan demikian, tetapi justru mengajarkan untuk hidup kudus. Gereja yang menjaga kekudusan hidupnya dari segala macam hawa nafsu jahat dan berbagai jenis kejahatan adalah wujud dari gereja yang bertekun dan bersekutu serta melayani sepanjang waktu.

Gereja yang berdiakonia seyogianya menampakkan wajahnya yang mengasihi, mengampuni, cinta damai, dan hidup kudus. Marilah semua umat Tuhan untuk setia kepada Tuhan, bertekun dalam pengajaran-pengajaran Kitab Suci, rajin bersekutu, dan menjadi garam dan terang dunia di mana pun kita berada. Soli Deo Gloria.

Salam Bae…

KESETIAAN KEPADA TUHAN SANGATLAH MAHAL HARGANYA: Refleksi Hakim-Hakim 2:6-23

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/370421138071690355/

PENDAHULUAN

Kitab Suci menyatakan bahwa “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). Jika kita merenungkan pernyataan tersebut, maka secara sadar—dengan iman—kita mengakui bahwa memang Tuhan itu berlimpah kasih setia. Mereka yang mengakuinya adalah orang-orang yang telah merasakan bahwa Tuhan itu berlimpah kasih setia. Pengalaman hidup bersama-Nya adalah “saksi” bahwa Ia begitu mengasihi dan menunjukkan kasih setia-Nya.

Di sisi lain, kasih setia Tuhan yang berlimpah itu seringkali tidak ditanggapi secara serius oleh orang-orang Kristen tertentu. Mereka mengalihkan kesetiaannya bukan lagi kepada Tuhan, melainkan pada sesuatu hal. Fenomena ini menjadi catatan penting untuk mengoreksi diri kita dan sedapat mungkin menyadari serta berbalik kepada Tuhan yang berlimpah kasih setia itu.

Kesetiaan kepada Tuhan memang mahal harganya. Konteks ini merefleksikan kondisi bangsa Israel dan juga kita yang hidup di zaman sekarang ini. Kita dapat belajar dari bangsa Israel, dari diri kita, dan sesama yang hidup di zaman ini. Proses belajar menjadi konteks yang signifikan. Dari belajar itulah kita mendapatkan banyak hal yang bisa mempengaruhi pola pikir dan pola hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Bertolak dari sejarah bangsa Israel, secara khusus dalam konteks Hakim-Hakim 2:6-23, kita memahami bahwa bangsa Israel tidak menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Allah. Mereka mengingkari komitmen untuk setia kepada-Nya; mereka memberontak, melawan Dia, berzina dengan menyembah ilah lain, tetapi Allah tetap menunjukkan kasih setia dan pengampunan-Nya.

KONTEKS DAN MAKNA

Bacaan Hakim-Hakim 2:6-23 memberikan kisah yang menarik yang memiliki kandungan edukasi bagi kita di zaman ini. Bangsa Israel yang adalah umat pilihan Allah tidak lepas dari “jatuh bangun dalam mengikuti-Nya”. Di satu sisi mereka menyatakan pertobatan kepada Allah, dan di sisi lain—karena pengaruh ketidaktahuan tentang sejarah penyataan dan penyertaan Allah bagi Israel—mereka akhirnya menyembah para Baal (ay. 10-11), dan dengan demikian mereka berzina, mengingkari kesetiaan dan kekudusan mereka terhadap-Nya.

Tidak hanya berzina, mereka malahan meninggalkan Allah dan mengikuti ilah lain (dari sekeliling mereka). Lebih dari itu, mereka menggantikan penyembahan mereka yang dulunya kepada Tuhan Allah, dialihkan kepada ilah-ilah lain, sehingga mereka menyakiti hati-Nya (ay. 12).

Dikatakan di ayat 7 bahwa bangsa Israel beribadah kepada Allah sepanjang zaman Yosua. Itu berarti “kepemimpinan dan ketegasan serta teladan Yosua memberikan pengaruh bagi bangsa Israel yang dipimpinnya.” Yosua adalah salah satu contoh pemimpin yang mengarahkan umat Israel untuk setia kepada Tuhan (bdk. Yos. 24:14-15, “…. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Pasca Yosua menegaskan bagaimana prinsip untuk setia dan berkomitmen kepada Tuhan, maka bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada ilah lain!” (Yos. 24:16) dan disusul dengan pernyataan: “Tidak, hanya kepada Tuhan saja kami akan beribadah” (Yos. 24:21).

Berangkat dari ikrar mereka di atas, maka pada Hakim-Hakim 2 terutama ayat 7, dituliskan bahwa bangsa itu beribadah kepada Tuhan. Jika melihat fenomena peralihan dari penyembahan dari Tuhan ke para Baal maka penyebabnya adalah adanya pengaruh dari “orang-orang Israel yang tidak mengenal Tuhan dan karya-karya-Nya yang dilakukan-Nya bagi orang Israel”. Kita melihat faktanya bahwa ternyata “pengetahuan tentang Tuhan” memiliki pengaruh luar biasa bagi kehidupan manusia yaitu mengarahkannya untuk taat dan setia kepada-Nya; dan “ketidaktahuan tentang Tuhan” juga memiliki pengaruh yang menjadikan manusia “raja” bagi dirinya sendiri, memuaskan hawa nafsunya, dan ingin bebas melakukan apa saja, termasuk melakukan apa yang dilarang Tuhan.

Ini menjadi semakin menarik. Antara memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah ketika ada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan tetapi perilakunya menipu, merendahkan orang lain, dan melakukan tindak kejahatan. Singkatnya, memiliki perilaku yang bertentangan dengan firman Tuhan. Ini tentu sangat berbahaya.

Mereka yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan, yang mengalami kuasa dan kasih-Nya, mendapat kesempatan melihat segenap perbuatan Tuhan yang besar. Bangsa Israel pun demikian. Yosua telah berjuang seumur hidupnya untuk menyenangkan hati Tuhan dan menjaga kesetiaannya kepada Tuhan. Dia tahu, kesetiaan itu mahal harganya. Tak bisa digantikan dengan yang lain yaitu baal-baal dan ilah-illah lain.

Yosua mati umur 110 tahun (ay. 8), dan pastinya, ia telah memberikan teladan kesetiaan; ia setia mengikut Tuhan dan berbakti pada-Nya. Ia dan seisi rumahnya telah menjadi contoh yang kuat dalam hal komitmen untuk tetap setia kepada Tuhan. Apa yang ditabur Yosua memiliki pengaruh yang luar biasa bagi generasi di zamannya. Meski pada akhirnya, muncul problem yang serius yaitu bangkitnya angkatan lain yang tidak mengenal Tuhan (ay. 10); mereka memberontak melawan Tuhan. Hal itu disebabkan memang mereka tidak mendengar atau mengetahui mengenai perbuatan-perbuatan Tuhan (kontra dengan tradisi Israel pada Ulangan 6:4). Atau ada kemungkinan lainnya yaitu mereka mungkin saja tahu tentang Tuhan tetapi kehidupan yang mereka alami tidak seperti yang mereka “harapkan”. Biasanya mereka ini kecewa dengan Tuhan. Tapi itu hanyalah kemungkinan saja.

Yang dilakukan generasi yang baru adalah meninggalkan Tuhan, menyembah para baal dan ilah-ilah lain (mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan [ay. 11-12]). Di sini, penekanannya adalah “ketika seseorang beribadah kepada baal atau ilah lain, maka karakter (yang dilekatkan padanya) atau identitasnya akan menjadi panutan bagi mereka yang menyembahnya. Sebaliknya, mereka yang menyembah Tuhan akan mengikuti identitas dan sifat-sifat Tuhan untuk mereka aplikasikan dalam kehidupan mereka.

Angkatan yang baru melupakan sejarah tentang Allah (yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir), dan mengikuti ilah lain; mereka menyakiti hati-Nya. Tentu Ia tidak tinggal diam. Ia murka (ay. 14-15). Ia bertindak. Dosa memiliki konsekuensi. Jangan dikira bahwa setelah melakukan dosa maka tidak terjadi apa-apa. Israel merasakan konsekuensi dari dosa dan pemberontakan mereka. Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh (ay. 14-15).

Dalam kondisi kekalahan bangsa Israel, Allah tetap menunjukkan kepedulian-Nya dengan cara menolong mereka (ay. 16-19): “membangkitkan hakim-hakim.” Tetapi mereka malahan lebih memilih memberontak dan melawan Allah. Padahal Ia telah menyelamatkan mereka. Malahan mereka menunjukkan sikap tegar tengkuk: sadar, menyesal, lalu berbuat lagi, sadar, berbuat dosa lagi. Mereka tidak benar-benar menjaga kesetiaannya kepada-Nya. Di sini kita melihat bahwa Tuhan juga menunjukkan bentuk kemarahan-Nya, bukan karena Ia tidak mengasihi melainkan bangsa Israel “menolak” didikan-Nya (ay. 20-23).

Tuhan selalu datang dengan kasih dan pengampunan-Nya, tetapi seringkali umat-Nya tidak mengindahkannya dan memilih jalannya sendiri. Tuhan seringkali membuka pintu pertobatan, tetapi umat-Nya kadang-kadang menolaknya. Tuhan menyatakan pertolongan-Nya dengan mengutus hakim-hakim, tetapi mereka tidak dihiraukan. Setelah hakim-hakim mati, mereka kembali berbuat jahat. Mereka sadar sementara, dan kambuh lagi, sadar lagi, kambuh lagi. Seolah-olah komitmen dan kesetiaan menjadi barang mainan. Lebih dari itu semua, kasih setia Tuhan itu berlimpah; meski Ia mengasihi umat-Nya, tapi Ia juga menghukum mereka yang tidak taat dan tidak setia (melawan) kepada-Nya.

CATATAN REFLEKSI

  1. Mengingkari janji atau komitmen adalah fakta yang kita lihat pada orang lain maupun pada diri kita sendiri. Ada alasan tertentu mengapa “kita atau orang lain” mengingkari atau tidak menepati janji maupun komitmen kita. Dalam bingkai kehidupan manusia, kadang-kadang hal tersebut dianggap biasa. Tetapi bagaimana ketika kita mengingkari janji kita kepada Tuhan?
  2. Jika bangsa Israel mengalihkan penyembahannya kepada para baal dan ilah lain, apakah di zaman ini, kita juga berpotensi—secara sadar—mengalihkan penyembahan kita kepada “teknologi”?
  3. Satu hal yang pasti, kasih dan rahmat Tuhan tiada henti-hentinya dirasakan oleh umat-Nya, termasuk kita yang hidup di zaman ini. Kesetiaan itu sangatlah mahal harganya. Ada komitmen dalam sebuah kesetiaan; ada harapan masa depan di dalam sebuah kesetiaan; dan ada keyakinan di dalam kesetiaan.
  4. Kesetiaan itu bukanlah barang mainan; kesetiaan itu adalah keputusan tertinggi kita, ketika kita menyatakan bahwa “Tuhan, aku akan tetap setia kepada-Mu”.
  5. Ingatlah pernyataan dalam sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Grezia Epiphania yang berjudul “Tetap Setia”: “Sampai akhir ku menutup mata, ku tetap setia menanti janji-Mu, sampai kudapatkan makhota kehidupanku; ku tetap setia ‘tuk melayani-Mu.” TETAPLAH SETIA KEPADA TUHAN; IA TELAH BERBUAT BAIK KEPADA KITA

Salam Bae….

JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK: Refleksi Galatia 6:1-10

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/789537378418852913/

PENDAHULUAN

Melakukan perbuatan baik memiliki alasan tertentu. Ada berbagai alasan yang dapat dipegang seseorang ketika ia berbuat baik. Berbuat baik memiliki konteks dan definisi tersendiri. Kadang kala, latar budaya, agama, dan lingkungan menjadi bagian penting dari bagaimana seseorang mendefinisikan apa itu “berbuat baik”.

Dalam pandangan Kitab Suci, berbuat baik itu, didasarkan pada apa yang dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, kita mengikuti standarnya Tuhan. Perbuatan baik memiliki konsekuensi yang dapat menjadikan totalitas kehidupan orang percaya. Dengan berbuat baik, maka kita telah memperlihatkan konsistensi dari pemahaman kita tentang firman Tuhan: pemahaman melahirkan tindakan; berbuat baik lahir dari pemahanan akan firman Tuhan.

Pada tataran berbuat baik, Tuhan mengajarkan umat-Nya untuk taat akan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Umat percaya diarahkan Tuhan untuk tetap berada pada jalur yang benar. Namun, dalam proses berbuat baik, ada halangan dan hambatan yang bisa mengganggu atau menghambat perbuatan-perbuatan baik kita.

Meski demikian, umat Tuhan harus tetap berbuat baik, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Apa  yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 6:1-10 dapat menjadi dasar bagaimana kita—sebagai umat Tuhan—untuk berbuat baik dengan tidak jemu-jemu (tidak bosan). Kepentingan berbuat baik bukan karena kita mendapatkan sesuatu, melainkan karena kita “diciptakan dalam Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya” (Efesus 2:10).

POKOK-POKOK PENTING

       Tidak mudah untuk berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Kadang, perbuatan baik kita terjadi secara musiman dan berkondisi, ketimbang tulus dan murni, tanpa mengharapkan imbalan. Apalagi ketika kita berbuat baik lalu disalahpahami. Ini sangat menyakitkan.  Ada pula mereka yang berbuat baik dengan motivasi terselubung malahan mendapat pujian yang berlebihan. Ini adalah kesalahpahaman yang juga sangat menyakitkan.

       Meskipun kita tahu bahwa ada berbagai masalah dalam kehidupan manusia di mana yang jahat seringkali mengganggu mereka yang berbuat baik, namun yang pasti perbuatan baik kita tidak terbuang percuma. Tuhan memperhitungkan segala perbuatan baik kita. Hal ini membawa kita kepada pokok-pokok penting mengenai perbuatan baik seperti yang tampak dalam bacaan kita.

  1. Ketika ada seorang yang melakukan suatu pelanggaran, maka seorang yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga diri supaya jangan kena pencobaan (ay. 1). Anggota Gereja yang bermasalah atau yang menimbulkan masalah (membuat pelanggara) tidak boleh dibiarkan, melainkan diarahkan, dibimbing untuk kembali jalan yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan.
  2. Bertolong-tolong dalam menanggung beban sesama anggota Gereja di Galatia, sebagai realisasi dari hukum Kristus (ay. 2) adalah jenis perbuatan baik yang umum. Arinya, perbuatan baik yang pertama-tama dilakukan dalam komunitas Gereja adalah kepada anggota Gereja itu sendiri. Jangan “bergaya” ingin berbuat baik kepada orang lain di luar Gereja padahal anggota Gereja sendiri engkau lupakan. Ada pepatah berbunyi begini: “Jangan bermimpi bintang di atas langit, rumput di bumi engkau tak tahu; jangan berkhayal mutiara di lautan, pasir di pantai kau lupakan”. Pepatah tersebut hendak menegaskan bahwa jangan bermimpi untuk melalukan sesuatu di luar lingkungan kita, sedangkan lingkungan kita sendiri dilupakan (diabaikan), atau dalam konteks pelayanan Kristen: “jangan bermimpi berbuat hal besar di luar Gereja sedangkan di dalam Gereja dilupakan.”
  3. Mereka yang merasa bahwa ia berarti tetapi pada kenyataannya ia tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri (ay. 3). Demikian juga mereka yang memiliki potensi tetapi tidak menerapkan potensinya maka ia dianggap menipu dirinya sendiri. Jadi, berbuat baik haruslah didasarkan pada kesadaran diri apakah sudah baik atau belum.
  4. Setiap orang harus menguji pekerjaannya sendiri dan puas dengan apa yang ada pada dirinya ketimbang iri dengan apa yang dimiliki orang lain (ay. 4). Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya dan pekerjaannya sendiri (ay. 5). Jika seseorang merasa sudah menerapkan tugas dan tanggung jawab, barulah ia dapat menyatakan hal ini di luar dirinya. Dengan demikian, kita adalah adalah teladan dalam berbuat baik bagi orang lain.
  5. Berbagi dengan orang yang mengajar dalam Firman (ay. 6). Kita harus berbuat baik dengan orang pernah berjasa kepada kita, apalagi kepada mereka yang pernah mengajarkan kita tentang firman Tuhan.
  6. Kebaikan ditabur, kebaikan pula yang dituai: “Apa yang ditabur itulah yang dituai” (ay. 7-8). Artinya seorang yang menabur kebaikan akan menuai (menerima) kebaikan pula. Jangan jemu-jemu berbuat baik (ay. 9) disebabkan karena jika kita menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan. Oleh sebab itu, sangatlah tepat jika terus berbuat baik dengan tidak jemu-jemu.
  7. Dalam waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan, kita harus selalu berbuat baik kepada semua orang, dan terutama kepada kawan-kawan seiman dalam komunitas Gereja (ay. 10). Jangan berpikir bahwa kita akan dapat berbuat baik kepada orang lain di luar komunitas dengan mengabaikan sesama di dalam komunitas Gereja. Itu sangat buruk. Jika mau berbuat baik, dimulailah dulu dari dalam Gereja sendiri. Jangan dibalik. Jangan munafik.

DASAR BERBUAT BAIK DENGAN TIDAK JEMU-JEMU

Untuk dapat berbuat baik dengan tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan), maka orang Kristen harus memahami secara benar mengenai hal-hal berikut:

Pertama, percaya kepada Injil Yesus Kristus yaitu Injil yang memberikan pedoman tentang iman dan iman kepada Tuhan yang hidup dan berkuasa, pedoman bagaimana mengasihi sesama dan mendoakan musuh-musuh, pedoman berbuat baik dan masih banyak lagi (bdk. Gal. 1:6-10).

Kedua, iman kepada Yesus Kristus (bdk. Gal 3:26).

Ketiga, hidup dalam iman kepada Yesus yaitu hidup sebagai ahli waris (bdk. Gal. 4:1-7).

Keempat, hidup dalam kemerdekaan karena Yesus Kristus (bdk. Gal. 5:13). Artinya hidup yang mengutamakan kasih terhadap Tuhan dan sesama.

Kelima, hidup dalam pimpinan Roh Kudus (bdk. Gal. 5:16-26), di mana orang percaya harus menampilkan gaya hidup yang kudus, yaitu menghindari dan menolak hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, dan sebagainya (Gal. 5:19-21a).

Ketika kelima aspek di atas dipahami dan dilakukan maka dijamin, kita pasti dapat berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Di sini, berbuat baik bukan karena ada maksud tertentu untuk mencari dan mendapatkan keuntungan melainkan karena dorongan dari kelima aspek di atas.

PENUTUP

       Tuhan telah berbuat baik kepada kita, maka kita mendapatkan dasar penting tentang mengapa kita berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Tuhan memampukan kita untuk melalukan perbuatan-perbuatan baik yang selaras dengan kehendak-Nya, dan dengan demikian, hati Tuhan disenangkan, dan nama Tuhan dimuliakan. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

       Teruslah berbuat baik dengan tidak jemu-jemu, meski kadang kita diperlakukan tidak baik. Yesus telah menunjukkan teladan yang sempurna: Ia berbuat teramat baik, meski Ia sendiri pada akhirnya harus dibunuh. Para rasul, termasuk Rasul Paulus, telah menunjukkan teladan dalam berbuat baik, meski pada akhirnya mereka dibunuh. Perbuatan baik memiliki pengaruh yang besar. Di dalam perbuatan baik, terdapat kasih yaitu kasih yang memberi dan kasih yang mengampuni. Karena itu, “jangan jemu-jemu berbuat baik”. Tuhan menetapkan kita untuk menjadi pelaku-pelaku kebaikan.

Soli Deo Gloria

MENJADI SERUPA DENGAN DIA: Refleksi Filipi 3:4-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/384494886916988013/

Pendahuluan

Menjadi “serupa dengan Yesus” adalah harapan orang-orang percaya. Tetapi ketika menjadi serupa dengan Yesus yang dimaksudkan adalah “serupa [summorphizomenos, being conformed, menjadi sesuai/selaras] dalam kematian-Nya” (3:10), maka mungkin saja harapan itu menjadi berubah. Apalagi ini soal kematian. Hal itu tergantung pada kita yang memahami panggilan dan kesetiaan kepada Tuhan Yesus.

Pertanyaannya: kematian seperti apa yang dimaksudkan Rasul Paulus? Apakah “serupa dalam kematian Kristus mengindikasikan proses Yesus mati, proses penderitaan Yesus hingga kematian-Nya, proses penyaliban yang kemudian Dia menyerahkan diri-Nya kepada Bapa dan Ia mati? Ataukah frasa “serupa dengan Yesus” adalah konfirmasi faktual—imaniah bahwa hal itu dapat diwujudkan ketika Rasul Paulus mengenal Yesus secara baik, mengenal dan memahami kuasa kebangkitan Yesus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya?

Kita akan melihat bagaimana konteks ini menjadi begitu penting ketika iman kepada Yesus digiring kepada “pengenalan akan pribadi Yesus” dan “pemahaman akan karya-karya Yesus” bagi orang percaya. Sejatinya, pribadi dan karya Yesus menjadi tolok ukur iman Kristen yang pada gilirannya, setiap orang percaya akan berurusan dengan “penderitaan”, “perjuangan”, dan “penerapan kasih” yang tulus.

Menjadi “serupa dengan Yesus” tidak bisa dilepaskan dari kesadaran iman bahwa kita harus melakukan segala sesuatu dengan baik dan sesuai dengan kehendak (firman) Tuhan (bdk. 2:14-15) sehingga kita memacarkan sikap hidup yang benar dan tidak bercela (bdk. Mat. 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga). Ketika kita menjadi serupa dengan Kristus maka itu berarti kita tinggal di dalam Kristus (ἐν Χριστῷ).

Bahkan, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti bersukacita dalam keadaan apa pun (bdk. 2:16-18), “mencari kepentingan Kristus Yesus” di atas kepentingan yang lain (2:21). Kristus telah berkarya dalam kehidupan umat-Nya, dan dengan demikian, ketika mencari kepentingan Kristus di atas segalanya, kita sedang menempatkan iman kita kepada sebuah harapan yang mulia. Menduakan Kristus dalam hidup akan menjadikan kita sengsara.

Rasul Paulus pernah berkata: “Pikirkanlah perkara yang di atas, dan bukan yang di bumi.” Meski kita hidup di bumi, tidak semata-mata hanya memikirkan soal makan minum, tetapi lebih dari itu—seperti yang Yesus katakan: “Carilah dahulu kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”.

Menjadi Serupa dengan Yesus dalam Perjuangan Injil

Pertama, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti setia dalam segala hal termasuk menolong sesama yang membutuhkan terutama dalam pelayanan Injil. Pula rela melewati berbagai tantangan yang berat sekalipun (Rasul Paulus memberi contoh mengenai dua orang yang melakukan hal ini yaitu Timotius [2:19-21] dan Epafroditus [2:25-30]).

Kedua, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti tahu dan sadar bahwa tantangan internal maupun eksternal selalu dan pasti ada. Mengapa demikian? Sebab pelayanan dan pekabaran Injil akan menjadi berbuah dan berpengaruh ketika tantangan dan hambatan datang menghadang. Bahkan lebih dari itu, Tuhan seringkali mengizinkan tantangan dan hambatan hadir dalam pelayanan dan pekabaran Injil-Nya sehingga konsep dan konteks “berjuang”, “berusaha”, “semangat”, “berdoa dan berhadap” akan muncul secara otomatis.

Rasul Paulus mencermati fenomena ini. Ia berkata (3:2): “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu.” Bukankah pada setiap konteks kita masing-masing, selalu ada hambatan dan tantangan?

Ketiga, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti mengutamakan Kristus dalam segala sesuatu. Memang kita butuh segala sesuatu, tetapi jangan sampai fokus dan arah hidup bahkan pelayanan kita tertuju pada segala sesuatu. Ada orang yang mengatakan: “segala sesuatu butuh uang”. Tetapi harus diingat bahwa: “uang bukanlah segala sesuatu”. Kristus di atas segala-galanya. Ini yang terpenting (bdk. 3:7-9, di mana Paulus menggangap rugi segala sesuatu yang dia alami dan miliki di masa lampau dan dianggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu dianggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya).

Keempat, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti mengenal Yesus dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.

Kelima, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu (yang bisa menjadi jerat dan dosa bagi kita ketika melayani Tuhan), dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita (faktual dan harapan), dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Penutup

Menjadi “serupa dengan Yesus” dalam kematian-Nya dapat dipahami sebagai sebuah proses untuk mengikuti Yesus hingga akhir hayat. Situasi dan kondisi yang dijalani dan dialami adalah bagian internal bagi pembentukan karakter, iman, dan komitmen kita untuk tetap ‘setia’ kepada ‘Yang Setia’, hingga saatnya akan tiba bahwa kita akan menuai (bangkit) dari penderitaan dan pergumulan untuk menerima upah dari Sang Khalik.

Pergumulan dan penderitaan merupakan sebuah ‘konsekuensi’ dari mengikut dan menyerupai Kristus. Upaya yang ditempuh untuk menjadi “serupa dengan Yesus” adalah konfirmasi faktual—imaniah bahwa hal itu dapat diwujudkan ketika kita mengenal Yesus secara baik, mengenal dan memahami kuasa kebangkitan Yesus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.

Akhirnya, kepada kita diberikan iman dan kuasa untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan hidup serta pelayanan. Mereka yang kuat dalam iman akan menunjukkan kuasa sebagai anak-anak Tuhan untuk terus menyatakan kebenaran dalam segala situasi. Dengan demikian, pada saatnya kita akan menjadi serupa dengan Kristus; mengikut Yesus dan menjadi serupa dengan-Nya bukanlah tanpa penderitaan. Dibutuhkan sikap setia dan siap melewati berbagai perguluman dan tantangan; melayani Sang Khalik dan menerima mahkota kehidupan.

Ps. Stenly Paparang

“IKUTLAH AKU”: Refleksi Yohanes 21:15-19

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/542191242614876636/

Pendahuluan

Tema “Ikutlah Aku [Yesus]” sangatlah menarik. Alasannya, karena tema ini merupakan perwujudan totalitas iman kita kepada Yesus yang terlihat dari keseharian kita. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan: “Aku percaya dan mengikut Yesus” dan di waktu yang bersamaan dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus?

Tema ini juga bisa menjadi “pertanyaan” dan “pernyataan”. Kita disuguhkan dengan pertanyaan: “Sudahkah kita mengikut Yesus secara benar?”, “Apakah kita masih mengikuti Yesus?”, dan “Bagaimana kita mempertahankan iman untuk tetap mengikut Yesus?” Kita dituntut untuk menyatakan iman: “Saya telah mengikut Yesus secara benar”, “Saya tetap mengikut Yesus dengan setia”, dan “Saya akan terus mempertahankan iman untuk mengikut Yesus dalam segala situasi, entah baik, entah buruk.

Baik pertanyaan dan pernyataan, keduanya sangat penting untuk terapkan (dilakukan) dalam kehidupan setiap hari. “Pertanyaan” diajukan untuk memotivasi kita melihat proses perjalanan iman dan pelayanan (pengabdian) kita kepada Tuhan. “Pernyataan” diajukan untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi iman kita di hadapan Tuhan.

Kita pun (yang mengaku percaya) adalah orang-orang yang “telah” mengikut Yesus. Kesaksian demi kesaksian dalam mengikut Yesus, telah menjadi berkat bagi orang lain. Suka duka mengikut Yesus dapat dilalui dengan penuh iman dan harap. Jatuh bangun dialami; berdoa, berpuasa, dan menangis di hadapan Tuhan juga dialami. Setiap orang memiliki pengalaman hidup bersama dengan Tuhan; tidak sama, tetapi semuanya mendapat kelepasan dan kebahagiaan dari Tuhan yang sama.

Makna dan Konteks “Ikutlah Yesus”

Setelah Yesus bertanya dan mengatakan sesuatu kepada Petrus tentang bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah, Yesus kemudian mengatakan: “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:15-19). Konteks “Ikutlah Aku” telah dilakukan Yesus sebelumnya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19-22, Mrk 1:17, pemanggilan para murid: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes; Mat. 9:9, pemanggilan Matius; bdk. Mrk. 2:14; Luk. 5:27; pemanggilan Filipus, Yoh. 1:43).

Pemanggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bertujuan untuk melakukan transformasi sosial; dulunya Petrus dan kawan-kawan sebagai bekerja sebagai penjala ikan yang bisa dikonsumsi sendiri, keluarga, dan atau dijual secara terbatas kepada beberapa orang saja (kepada masyarakat mikro), “kini” mereka dipanggil Yesus mengikuti-Nya menjadi ‘penjala manusia’, yang mana mereka mendapat tugas yang lebih besar, lebih berat, dan lebih luas wilayahnya. Ini adalah sebuah kejutan bagi mereka dan sekaligus mengajar mereka untuk mentransformasi sosial dalam lingkup makro.

Jadi, mengikut Yesus selalu terkait dengan tugas untuk melakukan transformasi sosial yang bersifat makro—dan kita telah menjadi ‘penjala manusia’. Mengikut Yesus adalah sebuah “pilihan iman” yang bersifat optatif (harapan di masa depan).

Kita akan melihat signifikansi dari mengikut Yesus sebagaimana tema kita hari ini. Frasa “Ikutlah Aku [Yesus]” secara logis dapat diajukan beberapa pertanyaan mendasar: pertama, untuk apa mengikut Yesus?; kedua, apa pentingnya mengikut Yesus?; ketiga, tujuannya apa?; keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? dan kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Saya akan menjelaskan kelima pertanyaan di atas.

Pertama, untuk [alasan] apa mengikut Yesus? Sama seperti murid-murid Yesus yang pertama dipanggil, tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengikut Yesus ketika Yesus menawarkan mereka untuk mengikuti-Nya. Mereka melihat pribadi Yesus sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Alasan mengikut Yesus adalah karena Yesus “menyuguhkan sebuah kondisi yang lebih faktual, lebih besar, dan lebih bernilai transformatif”. Pilihan untuk mengikut Yesus bukan karena pekerjaan yang ditawarkan itu enak, nyaman, aman dan terkendali, bukan pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang bernilai kekal: membawa orang lain kepada Yesus Kristus. Itu transformasi. Yang ditransformasikan (diubah) adalah kondisi spiritual dan humanitas sosial ke arah yang Allah kehendaki. Bukankah Tuhan menghendaki semua orang hidup dalam kehendak dan rencana-Nya?

Kedua, apa pentingnya mengikut Yesus? Mengikut Yesus akan mendapatkan/menerima “damai sejahtera” dari Dia [Yesus]—bukan dari dunia. Yesus mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Mengikut Yesus bukanlah tanpa hambatan, tantangan, aniaya, dan penderitaan. Selalu ada risiko ketika mengikut Yesus. Namun, kita perlu melihat jaminan yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya yang dapat kita jadikan pegangan dalam mengikut Yesus: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Ketiga, tujuannya apa? Kita mendapatkan jaminan kelegaan (ketenangan), hidup kekal, dan makhota kehidupan. Kelegaan diberikan Yesus bagi siapa saja yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Dalam Matius 19:29 (bdk. Mrk. 10:30; Luk. 18:29-30) Yesus menegaskan, mereka yang mengikut Dia akan menerima kembali seratus kali lipat dari apa yang mereka tinggalkan, dan akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh. 3:16, 36; 5:24; 6:40, 47; 10:28 [“Aku memberikan hidup yang kekal”]; 17:3). Tujuan mengikut Yesus adalah mendapatkan sesuatu yang bersifat spiritual yang tertuang dalam sikap hidup sehari-hari, mewujudkan teladan iman, dan memancarkan kasih serta pengampunan dari Yesus kepada sesama kita. Untuk mencapai tujuan, ada proses yang harus ditempuh. Kesetiaan akan berbuahkan makhota kehidupan (bdk. Why. 2:10b). Menempuh perjalanan hidup yang panjang, membutuhkan bekal bagi tubuh kita, baik jasmani maupun rohani.

Keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? Ketika kita memilih untuk mengikuti seseorang, kita pun—setidaknya sebagai gambaran awal—harus mengetahui “siapa dia” yang akan kita ikuti. Jika Yesus memanggil kita dan kita harus mengikuti-Nya, lalu siapakah Dia? Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menyebutkan identitas Yesus (termasuk pengakuan Yesus sendiri): (1) Yesus adalah “roti [ke]hidup”[an] (Yoh. 6:35, 48, 51); (2) Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5); (3) Yesus adalah “pintu” (Yoh. 10:7, 9); (4) Yesus adalah “Gembala yang baik” (Yoh. 10:11, 14); (5) Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25; (6) Yesus adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6); (7) Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1; (8) Yesus adalah pemberi “air kehidupan” (Yoh. 4:10, 14); (9) Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia; dan masih banyak lagi yang dapat kita sebutkan tentang Yesus.

Kalau Yesus memanggil, segeralah terima panggilan-Nya dan jadilah pelayan-Nya. Mengikut Yesus bukan supaya berebut untuk menjadi yang terbesar, tetapi justru harus menjadi pelayan sesama: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11; Luk. 22:26, “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”).

Sampai di sini saya teringat dengan satu lagu yang diterjemahkan oleh Yamuger tahun 1979, yang berjudul “Yesus Memanggil” (Kidung Jemaat No. 355, Come to the Savior, George F. Root [1820-1895]). Syairnya berbunyi demikian:

(1) Yesus memanggil, “Mari seg’ra!” Ikutlah jalan s’lamat baka;

Jangan sesat dengar sabda-Nya, “Hai marilah seg’ra!”

Refrein:

Sungguh, nanti kita ‘kan senang, bebas dosa, hati pun tentr’am

Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal

(2) Hai marilah, kecil dan besar, biar hatimu girang benar.

Pilihlah Yesus – jangan gentar. Hai mari datanglah!

(3) Jangan kaulupa, Ia serta; p’rintah kasih-Nya patuhilah.

Mari dengar lembut suara-Nya, “Anak-Ku, datanglah!”

Kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Kalau pada bagian keempat kita melihat identitas personal Yesus, kini kita melihat apa saja yang harus diikuti dari Yesus. Matius 11:29 menyebutkan: Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dalam catatan Injil-Injil PB, Yesus menunjukkan kepedulian-Nya kepada semua golongan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Ia peduli kepada mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak dianggap dalam status sosial, mereka yang penyakitan, mereka yang miskin, mereka yang tidak diperhatikan oleh kelompok elit agama Yahudi, dan masih banyak lagi. Setidaknya, apa yang telah saya sebutkan tadi bisa menjadi poin penegasan bahwa mengikut Yesus sangatlah beruntung. Mungkin kita ingat akan sebuah lagu dari Nafiri Kemenangan (NK 46) “Untung Besar” (atau dalam terjemahan lainnya disebut “Besarlah Untungku” dalam NKB 197; syair dan lagu oleh J. Uktolseja/Tim Nyanyian GKI).

Ya, untungku besar kar’na Yesus milikku

Jiwaku bergemar dapat damai yang sungguh

Di tengah ribut k’ras, ombak dunia menderu

Hatiku tak gentar, kar’na Yesus sertaku

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Kar’na kudapat Yesus sungguh untung besar

Penutup

Ikutlah Yesus. Tetap setia kepada-Nya. Di tengah ribut dunia yang menderu, jangan gentar, sebab Yesus telah berjanji akan “menyertai kita senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

KETANGGUHAN HATI

Sumber gambar: photoshopcctutorial.com/vijay-mahar-manipulation-backgrounds-download-pack-1/

Problem hidup menyisahkan tanda tanya bagi kita, entah terhadap diri kita sendiri, keadaan, orang terdekat kita, atau bahkan tanda tanya kita terhadap Tuhan. Problem hidup dapat menimpa siapa saja; dia tidak pandang bulu. Akan tetapi, problem hidup yang kita alami, di mata Tuhan bertujan “melatih kita” untuk tetap kuat dalam iman dan pengharapan agar menghasilkan ketaatan kepada-Nya. Singkatnya: “ketangguhan hati”.

Apa yang menarik dari ketangguhan hati? Tentu hal ini sangatlah menarik dan inspiratif. Ada berbagai kisah yang mendorong kita untuk kuat menghadapi berbagai problem. Kisah-kisah tersebut juga menginspirasikan kita untuk meneladani bagaimana “hati yang tangguh” itu dapat menggiring kehidupan seseorang kepada kehidupan yang berkemenangan, kehidupan yang berhasil dan penuh berkat.

Ada satu kisah menarik. Seorang Ibu yang mengalami depresi berat karena tekanan dan problem hidupnya sangatlah rumit. Ia berkeputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan bayinya yang baru dilahirkan. Bayi tersebut divonis dokter hanya hidup selama beberapa bulan. Suami dari Ibu tersebut pergi meninggalkannya. Pula problem lainnya menggerogoti harapannya untuk bertahan hidup.

Ia hanya sempat berucap, Tuhan, jika Engkau ada, buktikan bahwa saya dapat keluar dari masalah-masalah yang saya hadapi. Singkat cerita, ia tidak jadi bunuh diri bersama bayinya. Ia kemudian dipulihkan Tuhan. Proses hidupnya telah menempa hati dan pikirannya. Hatinya yang tangguh menghadapi problem-problem hidup—meski sempat putus asa karena beratnya tekanan hidup dan rasa kecewa dan sakit luar biasa yang menyelimuti hatinya—telah membawanya kepada kebahagiaan yang kemenangan. Tuhan benar-benar memulihkannya.

Ketangguhan hati seringkali diperhadapkan dengan pilihan hidup atau mati. Seringkali kata hati mengikuti pertimbangan akal budi. Sebaliknya, akal budi mengikuti kata hati. Semuanya bergantung konteks dan pilihan kita.

Terkadang, problem hidup menjadi “media” bagi kita untuk semakin kuat dalam iman dan harap kepada Tuhan. Problem hidup menguatkan sendi-sendi dalam tubuh kita; tak jarang, mendorong kita untuk menunjukkan potensi diri, segala upaya dikerahkan untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan.

Tuhan tahu batas kemampuan kita. Ia melatih kita untuk setia dan taat akan firman-Nya. Ia menolong kita; Ia menopang kita. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kami dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13). Pencobaan itu bisa bermacam-macam. Tetapi intinya adalah: “Tuhan menopang dan menolong kita”.

Kisah Ibu di atas adalah salah satu contohnya. Mungkin kita juga pernah merasakan topangan dan pertolongan Tuhan. Kita bersyukur atas kebaikan dan kemurahan-Nya. Hati kita menjadi tangguh disebabkan karena kita telah melewati berbagai problem dan gumul juang hidup ini. Tak ada bukti ketangguhan hati tanpa melalui proses keluar dari problem dan gumul juang hidup. Hati yang tangguh adalah bukti bahwa seseorang telah berhasil keluar dari problem dan gumul juang hidup.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melihat kepada Tuhan saat kita tertekan, bergumul, dan berjuang? Sudahkah kita berhadap dan bersandar pada-Nya? Perjuangan kita berbeda-beda. Gumul juang kita juga berbeda-beda. Yang sama adalah “Juruselamat kita” yaitu Yesus Kristus. Ia memberikan kelegaan, sukacita, damai sejahtera, dan jalan keluar dari setiap problem dan gumul juang.

Ketaatan kita kepada-Nya menjadi kunci kehidupan. Kita yang senantiasa berhadap dan bersandar pada-Nya akan diberikan kelegaan dan sukacita. Ketika itu terjadi, kita dapat membagikannya kepada sesama kita; kita menjadi teladan dan berkat bagi mereka. Kita telah dipulihkan Tuhan, kini, kita pun menolong memulihkan kehidupan dari mereka yang hancur, tertekan, dan hampir binasa.

Ketika kita telah ditolong dan dipulihkan Tuhan, jangan lupa untuk menjadi penolong dan pemulih bagi sesama kita. Kita tidak hidup sendiri; kita hidup bersama di dunia ini. Kita yang taat kepada-Nya haruslah menjadi orang yang rendah hati dan peduli. Ketaataan kita sangatlah penting karena Tuhan menghendaki demikian.

Nantikanlah pertolongan-Nya dengan hati yang taat. Kita akan ditempa oleh-Nya untuk menghasilkan hati yang tangguh. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?

Salam Bae

TETAPLAH SETIA: Refleksi Wahyu 2:8-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/806355508282238686/

Tuhan selalu menunjukkan kepedualian-Nya melalui berbagai cara, dan dalam konteks ini, Tuhan memberikan “firman”—sebuah konfirmasi faktual dan solusi yang diberikan-Nya—kepada Gereja di Smirna (modern: Izmir). Alasan pemberian firman kepada mereka adalah karena Tuhan ingin mengingatkan tentang bagaimana proses mempertahankan dan menjaga iman secara konsisten kepada-Nya dalam lingkungan (dunia) di mana mereka hidup; lingkungan bisa menjadi media bagi pertumbuhan iman sekaligus menjadi media yang merusak iman—tergantung dari apa yang terjadi di sana.

Dari konteks tersebut, kita dapat bercermin melihat diri (baca: Gereja) kita; apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita lalaikan. Sejatinya, proses mempertahankan iman dalam bentuk konsistensi. Memang tidak mudah, tetapi komitmen dan kesetiaan, serta pandangan kita ke depan akan sangat menentukan bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan ini. Iman memang akan terus berhadapan dengan “dunia” dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Pertarungan iman akan menjadi kondisi yang menegangkan sekaligus menentukan; seperti apa komitmen dan kesetiaan kita kepada Yesus Kristus sangat bergantung pada konteks relasi, tantangan, dan hambatan.

Dengan melihat pada Gereja di Smirna, setidaknya kita dapat mengambil beberapa kesimpulan mengenai kehidupan, kondisi, dan perjuangan mereka dalam mempertahankan kesetiaan (keimanan) mereka kepada Yesus Kristus.

  1. Smirna (terletak di pantai barat Asia Kecil, memiliki pelabuhan dan menjadi kota perniagaan, maju pesat. Menurut Simon J. Kistemaker, penduduk Yahudi di Smirna cukup besar dan memusuhi Gereja lokal (bdk. ay. 9). Permusuhan ini membuat mereka terlibat dalam kematian Polikarpus (yang menjadi Uskup Smirna selama bertahun-tahun) pada 23 Februari 155 karena dia (Polikarpus) menolak menyangkal nama Yesus Kristus. Polikarpus tetap setia hingga akhir hayatnya. Ini sebuah fakta yang menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Yesus tidak hanya diluapkan melalui kata-kata atau pelayanan semata, tetapi ketika berhadapan dengan penderitaan, tantangan, hingga kematian.
  2. Ay. 8 membuktikan bahwa konfirmasi sumber firman itu sangatlah menentukan. Bukan hanya soal isi, tetapi otoritas dari yang memberikan firman. Sumber firman berasal dari “Yang Awal dan Yang Akhir”, yang telah mati dan hidup kembali. Keutuhan dari personalitas sumber firman merujuk kepada Yesus Kristus. Ia yang mati dan bangkit menunjukkan otoritas-Nya atas semua Gereja termasuk Smirna.
  3. Ay. 9. Yesus tahu kesusahan dan kemiskinan  Gereja di Smirna. Namun mereka kaya, meski difitnah. Kesusahan berarti hidup dalam penganiayaan dan berbagai kesulitan. Kemiskinan yang dialami oleh Gereja Smirna merujuk pada kemiskinan yang hina dari seorang pengemis. Meski demikian, mereka “kaya” secara rohani.
  4. Orang Yahudi di Smirna menolak mengakui Yesus sebagai Mesias; mereka memaki Yesus dan pengikut-Nya. Itu sebabnya Yesus menyebut mereka (orang Yahudi) sebagai jemaat Iblis.
  5. Ay. 10, Yesus memberikan penguatan kepada Gereja Smirna: “Jangan takut”. Orang Kristen di Smirna sedang berhadapan dengan peperangan rohani melawan Iblis. Mereka diminta waspada karena Iblis akan menghasut penguasa supaya beberapa anggota Gereja dipenjara dan kemungkinan besar akan dibunuh. Meski demikian, iman kepada Yesus harus tetap dipertahankan. Meski mengalami tekanan dan kesusahan, namun Tuhan tetap ada di pihak mereka dan menjamin kehidupan kekal bagi mereka yang mati bagi Dia.
  6. Menderita “selama sepuluh hari” adalah symbol bagi lengkapnya periode penderitaan, yang bukannya lama atau singkat tetapi penuh, karena akhirnya sudah pasti (tafsiran Isbon T. Beckwith).
  7. Penguatan dari “Sumber Kekuatan” adalah dengan berkata: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Mereka diperintahkan bukan setia kepada pengauasa Yunani atau pemerintahan Romawi, melainkan kepada Kristus Yesus.
  8.  “Hendaklah engkau setia sampai mati” adalah konfirmasi bahwa baik hidup maupun mati, ada dalam kehendak dan kedaulatan Yesus Kristus. Ada jaminan yang teramat luar biasa dari mereka yang setia sampai mati, yaitu “Mahkota Kehidupan”—sebuah kepenuhan hidup, melambangkan sukacita dan kegembiraan kemuliaan dan kekekalan yang paling tinggi (Richard C. Trench, Synonyms of the New Testament). Menurut Kistemaker, jika orang-orang kudus di Smirna membayar kesaksian Kristus dengan hidup mereka, maka mereka akan beroleh hidup yang tidak bisa binasa dalam kemuliaan kekal.
  9. Ay. 11, konsekuensi logis dari orang percaya yang memiliki telinga adalah “mendengar apa yang dikatakan Roh kepada Gereja-Gereja.” Mendengar adalah salah satu bagian penting dari bagaimana seseorang menjadi “paham” mengenai beriman kepada Yesus. Ya, mendengar firman-Nya, tentunya, dan bukan yang lain, yaitu ajaran-ajaran yang menyesatkan. Telinga dipakai untuk mendengar firman dan lebih dari itu, memahaminya, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  10. Jika Gereja Smirna yang telah menunjukkan kesetiaannya kepada Yesus, tentu kesetiaan itu juga didasarkan pada bagaimana mereka mendengar ajaran-ajaran yang benar mengenai Yesus Kristus.
  11. Siapa yang setia pasti akan menang, dan meski ia menderita, bahkan mati pada proses merealisasikan iman di dunia di mana ia tinggal, ia tidak akan mengalami penderitaan pada kematian yang kedua.

Gereja Smirna adalah salah satu gambaran penting yang bisa diteladani oleh Gereja di masa sekarang. Tantangan yang dihadapi Gereja, bahkan hambatan yang dialami seharusnya mendorong Gereja untuk tetap setia, semangat, dan berjuang melayani Tuhan. Kita dapat belajar dari mereka, belajar dari Polikarpus; kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus telah meninggalkan jejak-jejak iman untuk kita teladani dan wartakan.

Melayani tak pernah tanpa hambatan dan tantangan. Justru melalui hal-hal tersebut, Gereja semakin kuat, setia, dan menunjukkan identitasnya kokoh dalam firman Tuhan. Gereja adalah agen pelayanan, agen kesetiaan, dan agen keteladanan.

Amin

Salam Bae…

MEMAHAMI MAKSUD TUHAN DALAM KONTEKS “KORBAN”: Refleksi Imamat 7:22-27

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/295478425555643313/

PENDAHULUAN

Teks yang kita baca berbicara mengenai “konteks korban api-apian bagi TUHAN” (yakni korban penebus salah, yaitu korban untuk menebus dosa yang sengaja dilakukan) yang dengannya, korban tersebut memiliki aturan main tersendiri yang ditetapkan Tuhan. Akan tetapi, dalam teks ini pula, tercipta ruang perdebatan antara kalangan yang menolak memakan darah dan kalangan yang bisa memakan darah. Dua kalangan ini hingga sekarang masih eksis untuk mempublikasikan pemikiran mereka mengenai “darah”: apakah darah bisa dimakan atau tidak. Tapi di sini saya tidak mempertunjukkan perdebatan itu secara elaboratif.

KONTEN

Secara kasat mata, teks ini berbicara mengenai larangan makan lemak dan darah. Dua pertanyaan muncul di sini: lemak dan darah yang mana, dan lemak dan darah dalam hal apa? Untuk pertanyaan pertama, dalam teks dijelaskan bahwa lemak yang dilarang untuk dimakan adalah segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing. Lemak bangkai atau lemak binatang yang mati diterkam boleh dipergunakan untuk segala keperluan, tetapi jangan sekali-kali kamu memakannya (ay. 23-24).

Pertanyaan kedua, dapat dijawab dengan menjelaskan bahwa lemak dan darah yang dilarang untuk dimakan adalah karena lemak dan darah tersebut adalah bagian dari korban api-apian yang diberikan kepada TUHAN (ay. 25). Konteks ini menjadi “pemahaman mendasar” dari larangan memakan lemak dan darah.” Artinya, segala sesuatu ada konteksnya.

Lalu bagaimana dengan darah? Darah apa yang dilarang untuk dimakan? Ayat 26 menjelaskannya: janganlah memakan darah apapun di segala tempat kediamanmu, baik darah burung-burung ataupun darah hewan. Pertanyaannya, mengapa dilarang? Kita harus kembali memahami konteksnya. Jangan memisahkan kesatuan konteks dari teks yang kita baca. Jika kita memisahkannya, maka hasilnya adalah pemahaman yang keliru dan bisa berpotensi pada kesalahpahaman konteks. Darah yang dimaksud masih tetap sama, yang itu darah dari korban yang dipesembahkan kepada TUHAN, tidak boleh dimakan. Itu saja.

Pertama, setiap korban yang ditujukan kepada TUHAN, haruslah murni hanya diberikan kepada TUHAN. Jangan mencuri dari korban persembahan itu atau jangan mencari keuntungan dari korban itu (bdk. 7:2-5). Dalam hal ini adalah korban penebus salah, yang jelas-jelas korban itu adalah korban untuk menebus dosa umat Israel yang secara sengaja melakukan dosa (kontra korban penghapus dosa). Itulah maksud dari korban api-apian kepada Tuhan.

Kedua, korban penebus salah yang dipersembahkan kepada TUHAN sebagaimana dijelaskan di atas, diperuntukkan—pasca dibakar—bagi imam yang mengadakan pendamaian itu (lih. ay. 6-8).

“Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus. Seperti halnya dengan korban penghapus dosa, demikian juga halnya dengan korban penebus salah; satu hukum berlaku atas keduanya: imam yang mengadakan pendamaian dengan korban itu, bagi dialah korban itu. Imam yang mempersembahkan korban bakaran seseorang, bagi dia juga kulit korban bakaran yang dipersembahkannya itu.”

Ketiga, TUHAN menetapkan bahwa apa pun persoalan umat-Nya, TUHAN menjadi yang utama, tidak boleh dicampur dengan kepentingan pribadi, seolah-olah TUHAN setuju dengan tindakan kemunafikan umat-Nya.

Keempat,  persembahan yang untuk TUHAN harus dipahami secara baik dan mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan-Nya. Tentu setiap korban ada maksud TUHAN di dalamnya, dan setiap korban yang dipersembahkan kepada-Nya, memiliki konteksnya masing-masing, baik korban keselamatan, korban sajian, korban penebus salah, korban penghapus dosa, dan korban bakaran.

PESAN BAGI KITA

Pertama, segala sesuatu yang telah kita tetapkan untuk diberikan kepada Tuhan, maka harus murni diberikan kepada Tuhan terlebih dahulu. Jangan mencuri dari apa yang telah dipersembahkan kepada Tuhan dan jangan mencari keuntungan dari segala sesuatu yang telah kita berikan kepada Tuhan. Ia lebih tahu apa yang kita butuhkan (perlukan). Tetapi Tuhan harus diutamakan terlebih dahulu.

Kedua, apa yang telah kita berikan kepada Tuhan, pasti Tuhan akan membalasnya dengan memberikan berkat-Nya yang melimpah.

Ketiga, TUHAN menetapkan bahwa apa pun persoalan kita, Tuhanlah yang menjadi utama, tidak boleh bimbang atau ragu; yakinlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, memberikan yang terbaik bagi kita, dan pertolongan-Nya tak pernah terlambat.

Keempat,  apa yang kita persembahkan kepada Tuhan haruslah yang terbaik; jangan berikan kepada Tuhan yang jelek dan buruk. Tuhan telah memberikan yang terbaik kepada kita, bagaimana mungkin kita memberikan yang terburuk kepada-Nya?

Salam Bae…

KESETIAAN MEMBAWA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL: Homili Wahyu 3:1-20

Sumber gambar: https://twitter.com/In2itiveLB/status/533061249068982272/photo/1

LATAR BELAKANG

Rasul Yohanes menulis tujuh surat kepada jemaat di Provinsi Asia. Tujuh surat kepada jemaat di Provinsi Asia tampaknya menunjukkan Yohanes telah mengenal kondisi rohani setiap jemaat. Di sepanjang Kitab Wahyu, Yohanes menyinggung penganiayaan yang dihadapi umat Allah. Ia memberi tahu jemaat Smirna, “Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu akan dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari (2:10). Ia berbicara tentang orang kudus yang dibunuh (2:13), dan memperingatkan jemaat akan hari pencobaan (3:10). Nero memang melampiaskan amarahnya kepada orang Kristen pada tahun 60-an, sementara pendukung penanggalan akhir (Kitab Wahyu) merujuk penganiayaan Domitianus pada pertengahan tahun 90-an.

Klemen dari Aleksandria di awal abad ketiga mencatat hanya Nero dan Domitianus, para kaisar yang memfitnah dan menuduh orang Kristen (Eusebius, Ecclesiastical History, terj. Kirsopp Lape dan J. E. L. Oulton. 2 Vol. Loeb Classical Library. London: Heinemann; Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1980. 4.26.9), dikutip Kistemaker, “Tafsiran Kitab Wahyu”, 37.

Tidak dapat disangkal bahwa Kitab Wahyu berbicara tentang aniaya dan penderitaan. Kitab ini menyajikan sejarah dan nubuat, realisme dan idealisme, fakta dan ketidakpastian. Penerima pertama Kitab Wahyu telah atau sedang mengalami tekanan, dan mereka harus siap untuk menerima siksaan yang lebih berat. Kistemaker, “Tafsiran Kitab Wahyu”, 37-38.

Rasul Yohanes menulis suratnya kepada 7 jemaat: Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia

JEMAAT SARDIS (3:1-6)

  1. Sardis: kota benteng yang kokoh di puncak sebuah tanjung dan kota yang makmur karena perdagangan, hasil pertanian, dan industri.
  2. Sardis hanya bisa dicapai dari selatan, dengan melalui dataran yang sempit dan menanjak. Jurang yang curam melindungi kota ini sehingga tak bisa didaki. Pertahanan ini membuat Sardis menjadi ibukota Lidia tetapi sekaligus menghalangi perluasan kota ini dan memaksanya tetap kecil. Kota ini sepenuhnya menggantungkan kebutuhan hidup dari lembah subur di bawahnya untuk dibawa ke kota.
  3. Ketujuh Roh Allah (ay. 1): melukiskan kepenuhan Roh Kudus yang diutus Bapa dalam nama Yesus (Yoh. 14:26). Ia mengutus Roh Kudus untuk membuat orang percaya dan tidak percaya mengenal Dia.
  4. Ketujuh bintang (ay. 1): muncul juga di surat kepada jemaat di Efesus (2:1). Tetapi, jika orang percaya di Efesus telah kehilangan kasih semula dan jatuh dari ketinggian rohani mereka (2:4-5), jemaat di Sardis dikatakan mati secara rohani, yang berarti jauh lebih buruk. Tetapi oleh Roh, mereka akan dibangkitkan rohaninya.
  5. Tuhan memegang ketujuh bintang di tangan kanan (1:16); merekalah utusan-Nya untuk memberitakan firman yang membangkitkan hidup baru dalam jemaat.
  6. Ay. 1b: pekerjaan mereka tidak sempurna (bdk. Ay. 2). Allah tidak tertarik dengan pelayanan setengah hati. Mereka dipengaruhi oleh budaya: mereka—hampir secara keseluruhan—telah menyerah pada Yudaisme dan dunia berhala di sekitarnya. Maka Tuhan menyebut mereka “mati” (rohani—tidak dapat membedakan mana yang berkenan kepada Allah, dan mana yang tidak; Sardis membutuhkan pertobatan.
  7. Ay. 2 Waspadalah (berbentuk present continuous tense), menunjukkan jemaat harus selalu waspada akan bahaya dari dalam dan luar: guru palsu dari dalam dan dari luar.
  8. Ay. 2 b (tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku): ada problem pelayanan di jemaat Sardis. Indikasinya adalah kurangnya amalan iman dan kasih secara seimbang, kurang bersyukur, dan masih kurang serius dalam mempersembahkan pelayanan yang terbaik kepada Tuhan.
  9. Ay. 3: ingatlah, apa yang telah kau “terima” menunjukkan waktu yang cukup lama yang telah berlalu. Mengarahkan kepada sikap “mengingat” berita Injil yang dulu pernah diwartakan, dari generasi ke generasi. Di sini pertobatan adalah tindakan yang final untuk mengoreksi diri dan pelayanan, termasuk sikap “berjaga-jaga”.
  10. Ay. 4. Meski demikian, masih ada dari mereka yang “setia” [tidak mencemarkan pakaiannya]-tidak dipengaruhi budaya sekuler masa itu. Pakaian melambangkan kehidupan moral [bdk. Yes. 64:6, perbuatan baik mereka seperti kain kotor] dan perilaku rohani. Mereka tidak tercemar oleh penyembahan berhala dan percabulan. Mereka tidak kompromi.
  11. Ay. 5. Pakaian putih: dikaitkan dengan konsep menang (2:7). Orang yang bertekun sampai akhir akan selamat dan beroleh kemenangan di dalam Kristus. Pakaian putih adalah hasil dari berjalan bersama Tuhan, perbuatan kebenaran orang-orang kudus (19:8). “Putih” menyatakan kemurnian.

YANG PERLU DIPAHAMI:

  1. Melayani Tuhan harus dengan sungguh hati
  2. Melayani Tuhan harus setia, tidak kompromi
  3. Melayani Tuhan berarti hidup beriman kepada-Nya

JEMAAT FILADELFIA (3:7-13)

  1. Jemaat ini menunjukkan model “setia” kepada Yesus Kristus (ay. 8, …namun engkau telah memegang [menuruti] firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku).
  2. Jemaat ini aktif mengajar dan memberitakan Injil. Hal ini diperkuat oleh klausa “suatu pintu yanag terbuka, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun”. Jika Tuhan sudah membukan pinta bagi “penginjilan”, maka orang percaya haruslah melakukan penginjilan. Meski kekuatan mereka tidak seberapa—sebuah kondisi bahwa mereka dianggap tidak penting oleh orang Yahudi, bahkan dianggap tidak berarti. Namun, Tuhan Yesus tetap menjaga mereka.
  3. Jemaah Iblis menunjuk pada perilaku yang tidak benar di hadapan Tuhan, berdusta, menolak Yesus, menolak pengikut Yesus. Orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen tidak lagi diterima dalam sinagoge setelah Bait Suci dan Yerusalem dihancurkan pada 70 M. Dua dekade kemudian, para pemimpin Yahudi berkumpul di Jamnia untuk mengakui kanon Kitab Suci dan merumuskan apa yang dikenal sebagai Delapan Belas Rangkaian Doa. Petisi kedua belas dalam doa ini mengutuk orang-orang yang murtad:

“bagi orang-orang murtad biarlah tidak ada harapan, biarlah kerajaan keangkuhan Engkau tumbangkan secepatnya pada masa ini, dan biarlah orang-orang Kristen (noserim) dan bidat (minim) binasa dalam satu kesempatan, biarlah mereka dihapus dari kitab kehidupan dan biarlah mereka tidak ditulis bersama orang benar. Terpujilah Engkau, oh Tuhan, yang merendahkan orang-orang angkuh.” William Horbury, “The Benedictions of the Minim and Early Jewish-Christian Controversy”, JTS, n.s. 33.1 (1982): 19-61, khususnya hlm. 20-21 dan 59-60. Kutipan diambil dari hlm. 20.

  • Sejak pertengahan abad pertama, orang Yahudi menyebut Kekristenan sebagai “Sekte orang Nasrani” (Kis. 24:5). Setelah kutukan atas bidat dirumuskan, orang Yahudi mencela orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi dalam ibadah di sinagoge mereka.
  • Meski mereka dimusuhi, Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada mereka dan menjadikan orang-orang yang memusuhi mereka menjadi percaya bahwa Tuhan mengasihi mereka.
  • Ay. 10 meneguhkan iman mereka: mereka memegang perintah Tuhan, mereka bertekun. Ay. 11. “Mahkota” tanda kemenangan dan upah. Mereka yang setia berarti mereka mempertahankan makhotanya.
  • Ay. 12-13 adalah janji Tuhan. Sokoguru berarti “tiang”. Berarti penyanggah, tanda kekuatan dan kemegahan, serta kehormatan. Mereka yang setia dan menang atas penderitaan dan pencobaan akan memberikan kesaksian mereka kepada yang lain sehingga yang lain itu dikuatkan, diteguhkan, dihiburkan. Kita teringat dengan kisah seorang mahasiswa bernama Dominggus Kenjam, leher hampir putus tapi masih diberikan kehidupan oleh Yesus Kristus.

YANG PERLU DIPAHAMI:

  1. Setia kepada Yesus adalah wujud dari iman yang sejati.
  2. Meski dimusuhi dan “tidak dianggap” kita harus tetap bersyukur menjadi pengikut Yesus.
  3. Percaya kepada Yesus berarti harus semangat dalam memberitakan Injil.

JEMAAT LAODIKIA (3:14-22)

  1. Firman dari Amin (istilah ini berdari teks Ibrani PL yang berarti layak dipercaya, teguh, kokoh, apa yang benar), Saksi yang setia dan benar: merujuk kepada Yesus Kristus. Artinya, percaya kepada-Nya bukanlah suatu kebodohan melainkan suatu “jaminan”. Istilah setia dan benar merupakan terjemahan dari istilah Ibrani yang sama, yaitu “Amin”.
  2. Ay. 15-16. Suam-suam kuku. Kondisi ini berbahaya. Akan dimuntahkan dari mulut Tuhan (ay. 16). Yesus menyukai orang yang bersemangat melaksanakan perintah-Nya.
  3. Ay. 17-18 dosa kesombongan: kaya dan merasa tidak membutuhkan apa-apa, tetapi justru sebaliknya, mereka melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang. Dosa sombong rohani menjadikan iman dan keyakinan di dalam Yesus Kristus tidak lagi berfungsi dengan baik (Simon J. Kistemaker).

Melarat: menyatakan keduniawian jemaat yang mengabaikan perkara-perkara ilahi. Dengan demikian, mereka malang. Mereka miskin karena dibutakan oleh materi (ilustrasi para mualaf). Mereka telanjang berarti mereka tidak dapat menutupi kondisi dan rasa malu mereka. Ingin keluar dari kondisi ini, haruslah kembali kepada Tuhan.

  • Ay. 19. Mereka yang dikasihi pasti dihajar Tuhan (Ibr. 12:5-6). Ketika jatuh, bertobat. Panggilan pertobatan disebutkan di ayat 20.
  • Ay. 20. Panggilan kesadaran iman (pertobatan). Menyadari bahwa Tuhan selalu mengetuk pintu hati kita melalui hati nurani maka kehidupan jemaat Laodikia menjadi penuh sukacita.
  • Ay. 21 jaminan.

YANG PERLU DIPAHAMI:

  1. Percaya kepada Yesus bukanlah bencana melainkan sebuah jaminan
  2. Melayani Tuhan janganlah suam-suam kuku
  3. Jauhkan diri dari dosa “sombong rohani”
  4. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang dikasihi Tuhan pasti akan ditegur dan dihajar-Nya.

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus, maka sikap “setia” adalah koheren dengan keputusan itu. Itu sebabnya “KESETIAAN MEMBAWA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL” adalah konteks di mana Tuhan menghendaki kita untuk menikmati sukacita dalam Kerajaan-Nya, menikmati segala kasih dan kemurahan-Nya yang tak terkatakan itu.

Tuhan menempa dan membentuk tidak hanya pada orang percaya yang hidup di abad pertama, kedua, dan ketiga, melainkan pada keseluruhan abad di mana orang percaya hidup. Kita juga demikian.

Tetaplah setia hingga akhir….

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai