
Topik keselamatan menjadi menarik untuk diperbincangkan ketika ada pertanyaan demikian: “Apa yang didapatkan seseorang dalam totalitas kehidupannya termasuk akhir dari kehidupannya?” Pertanyaan ini akan menghasilkan beragam jawaban. Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada orang-orang Kristen maka minimal jawabannya [akan] mengandung tiga hal: pertama, kehidupan kekal; kedua, keselamatan; dan ketiga, surga. Jika digabungkan ketiga jawaban tersebut, maka akan menjadi demikian: “Setiap orang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus telah ‘diselamatkan’ dan akan menerima ‘kehidupan kekal’ di dalam ‘surga-Nya’ yang kudus.”
Dari perspektif agama-agama, “keselamatan” menjadi bagian penting dan bahkan menjadi tujuan mengapa percaya kepada Yahweh, Allah, Tuhan, Dewa, Ilah, dan lainnya. Maraknya pemahaman keselamatan menggiring pada beragam tafsir terhadapnya. Lebih parahnya lagi, Ada yang dengan murah meriah mempublikasikan keselamatan dengan cara “menjual tiket ke surga”, “memilih gubernur yang tidak seiman, masuk neraka, sedangkan memilih guberner seiman akan masuk surga [selamat tentunya]”, dan sejumlah “jualan kecap politik” yang membonceng agama sebagai obat bius yang dianggap paling mujarab.
Dengan sekejap, tawaran surga menjadi obat bius yang secara masiv merambah ke masyarakat di seluruh Indonesia. Padahal, untuk mencapai surga, haruslah mengikuti ketentuan Tuhan. Anehnya, manusia dengan sesuka hati menggunakan cara yang nyeleneh (asal-asalan) untuk membodohi masyarakat. Tentu “surga” yang dijanjikan itu bukanlah surga yang Tuhan maksudkan. Itu surga khayalan para politikus yang ingin meraup keuntungan. Sayangnya, ada juga masyarakat yang percaya dengan “jualan kecap politik” tersebut.
Keselamatan dalam perspektif Kristen bukanlah keselamatan hasil politik Tuhan; bukan pula sebuah rekayasa yang semu. Keselamatan yang Tuhan berikan adalah keselamatan yang direncanakan sejak kekal, keselamatan yang penuh kuasa, bukan hanya perkataan semata, melainkan keselamatan yang menjamin kekudusan dan kemerdekaan orang-orang percaya dalam Kerajaan Tuhan.
Mungkin kita pernah mengatakan: “kalau ikut Yesus, saya dapat apa?”, atau bahkan pertanyaan ini ditanyatakan langsung kepada Tuhan: “Tuhan, saya ikut Engkau, dapat apa?” Malahan ada yang kecewa dengan Yesus. Mengapa? Karena waktu dia percaya kepada Yesus, dia kecewa karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, dia mendapatkan caci maki, mendapatkan penderitaan, dan lain sebagainya. Kemudian dia bertanya: “Tuhan, mengapa waktu saya memutuskan untuk percaya dan mengikut Engkau, justru penderitaanlah yang saya dapatkan?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan klasik, yang terus ada dan bergulir dari waktu ke waktu.
Ada berbagai motivasi ketika seseorang mengikut Yesus. Motivasilah itulah yang menjadi ukuran seberapa besar ia mengasihi Yesus dan seberapa mampu ia mengikut Yesus di tengah cercaan dunia yang semakin menggila ini. Akan tetapi, ada satu hal yang paling suprematif ketika kita percaya dan mengikut Yesus, yaitu “keselamatan”.
Teks Kisah Para Rasul 4:12 adalah fokus dari tema khotbah ini: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Tuhan adalah “Juruselamat” satu-satunya. Jika Rasul Petrus mengatakan bahwa di dalam Yesus ada keselamatan, maka secara langsung Petrus menyatakan bahwa Yesus itu adalah “Tuhan”—Juruselamat umat manusia.
Jika kita melihat konteksnya, Petrus dan Yohanes didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Tuhan serta orang-orang Saduki, ketika mereka sedang berbicara kepada orang banyak (ay. 1). Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Akhirnya Petrus dan Yohanes ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam (ay. 3). Pekabaran Injil mereka menghasilkan orang-orang yang menjadi percaya. Pada keesokan harinya, Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang di Yerusalem yang dihadiri pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat, Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.
Dalam sidang itu terjadi tanya jawab. Tetapi Petrus menjawab pertanyaan dengan sangat berani (bdk. ay. 13), dan ayat 12 adalah puncak jawaban Petrus. Para peserta sidang tidak dapat membantah Petrus karena mereka melihat orang yang disembuhkan Petrus dan Yohanes berdiri di samping kedua rasul itu (ay. 14, 22, orang yang sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya).
Tidak ada yang dapat membantah kuasa nama Yesus. Yesus sendiri telah membuktikan bahwa para pengikut-Nya dibekali dengan kuasa untuk mengadakan mukjizat sesuai kehendak-Nya. Kesempatan bagi Petrus untuk bersaksi di depan banyak orang, membuka peluang bagi siapa saja untuk mempertimbangkan apakah yang diucapkan Petrus benar atau tidak. Dan ternyata benar, Petrus berbicara sesuai fakta bahwa dalam nama Yesus, orang lumpuh disembuhkan.
Sebagai Juruselamat, Yesus adalah Tuhan. Berbicara mengenai ‘Tuhan’ berarti berbicara tentang ‘kuasa’. Benarkah Yesus berkuasa? Tentu benar. Sebab kematian-Nya berkuasa menebus manusia dari dosa, kebangkitan-Nya berkuasa memberikan jaminan kebangkitan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan bukanlah fisik sebagaimana yang dipahami Islam. Mereka berpikir bahwa “Tuhan Kristen mati, makan, dan sebagainya” yang mengarah kepada kondisi fisik manusia. Tuhan itu berbicara substansi dari perbuatan-perbuatan yang berkuasa. Yesus berkuasa mengampuni dosa, maka hal itu menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa. Pemahaman Islam tentang “Tuhan” yang dipahami secara fisik membawa mereka kepada sebuah kesesatan logika yaitu “PALOGISME”, sebuah jenis sesat pikir yang mana yang menyatakan sesuatu tidak tahu bahwa dirinya sesat.
Yesus menunjukkan karya yang luar biasa untuk menyatakan diri sebagai Juruselamat. Sebagaimana Perjanjian Lama menyatakan bahwa unsur penting dalam “keselamatan” dan “pengampunan dosa” adalah “darah” dan “kematian” anak domba (binatang). Mengapa bisa demikian? Karena manusia berdosa kepada Tuhan, dan karena itu, hanya Tuhan yang berdaulat menentukan dan menetapkan bagaimana cara manusia diselamatkan dan diampuni.
Yesus Kristus adalah wujud sempurna dari Juruselamat itu. Ia mati dan mencurahkan darah-Nya bagi keselamatan dan penebusan manusia. Benarlah yang dikatakan Rasul Petrus bahwa: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan “darah yang mahal”, yaitu “darah Kristus yang sama seperti darah anak domba” yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Ptr. 1:18-19).
Teks di atas berbicara mengenai “darah” dan “kematian” Yesus. Darah menegaskan sebuah “kehidupan” dan kematian menegaskan sebuah “kebangkitan”. Mengenai hal ini Yesus mengatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Jika demikian, keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus”. Mungkin ada yang berkata: “bukankah keselamatan berasal Tuhan, Bapa yang kekal?” Ketika berbicara mengenai hal ini, mau tidak mau kita berurusan dengan teologi Trinitas.
Trinitas memang menimbulkan kebingungan tersendiri. Tidak hanya di kalangan non-Kristen, tetapi di kalangan Kristen pun, Trinitas masih menimbulkan problem. Terkait dengan keselamatan menurut teologi Kristen, maka kita akan berurusan dengan Trinitas, kecuali Yudaisme yang tidak percaya akan Trinitas. Allah yang kekal itu tidak sendirian. Ia kekal bersama Firman-Nya [Logos] dan Roh-Nya. Allah tanpa Firman dan Roh bukanlah Allah. Disebut Allah karena Ia memiliki Firman dan Roh [kata ‘memiliki’ tidak mengindikasikan bahwa Allah sebelumnya tidak memiliki Firman dan Roh. Kata tersebut hanyalah derivasi dari cara memahami yang terbatas terhadap diri Allah. Logika kita hanya dapat merumuskan dengan kata-kata yang terbatas]. Jadi, yang kekal di surga ada tiga: Allah, Firman, dan Roh.
Dalam konteks keselamatan, baik Allah, Firman, dan Roh merepresentasikan satu sama lain. Mengatakan bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Logos Ilahi), hal itu sama dengan mengatakan keselamatan berasal dari Allah [Bapa] dan Roh Kudus. Bapa, Firman, dan Roh Kudus tak bisa dipisahkan. Kita selalu melihatnya berpola trinitarian. Yudaisme tak dapat mengesampingkan Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah. Jika percaya kepada Allah, maka harus percaya kepada Firman Allah. Jika percaya Allah menyelamatkan, maka kita harus percaya kepada Firman Allah yang menyelamatkan. Dapatkah Allah menyelamatkan tanpa menyatakan Firman-Nya?
Teks Kisah Para Rasul 4 ayat 12 merupakan pernyataan Rasul Petrus bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah membuktikan bahwa Ia telah berkuasa menebus, mendamaikan, menguduskan, membenarkan kita, orang berdosa. Apa yang kita dapatkan ketika kita mengikut Yesus? Tentu keselamatan, kehidupan kekal, dan surga-Nya yang mulia. Ini adalah pengharapan iman kita. KESELAMATAN HANYA DALAM NAMA YESUS.
Salam Bae…









