TEGURAN TUHAN

Refleksi Keluaran 9:13-35

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/185562447119685197/

Pendahuluan

Setiap orang selalu menunjukkan “dicta (perkataan-perkataan) dan “gesta (perbuatan-perbuatan) dalam totalitas hayati humanitas yang dijalani. Ada yang suka berkata-berkata dan berbuat selaras dengan perkataannya; ada yang berbuat tidak selaras dengan perkataannya; ada yang berkata tetapi tidak melakukannya sama sekali. Firaun adalah contohnya. Dalam Kejadian 8:8, Firaun berjanji bahwa jika katak-katak itu dijauhkan TUHAN darinya, maka ia (Firaun) akan melepaskan bangsa Israel. Apa yang terjadi? Sampai tulah kesembilan, Firaun tidak melepaskan bangsa Israel.

Teks Keluaran 9:13-35 menjelaskan kelanjutan dari kekerasan hati Firaun (ketidakkonsistenannya) dengan tidak melepaskan bangsa Israel meskipun ia telah berjanji kepada Musa. Teks ini pula menjelaskan dua hal, teguran TUHAN melalui tulah “hujan es” dan “kekerasan hati Firaun”.

Pokok-pokok Penting

Pertama, frasa “Berfirmanlah TUHAN” menandakan bahwa Ia hendak menyatakan sesuatu (ay. 13). Frasa “Berfirmanlah TUHAN” kadang hanya dilewati begitu saja seolah-olah tidak ada apa-apa dengannya. Padahal, justru di situlah letak inti dari semua kejadian yang mengikutinya (bdk. ay. 22 “Berfirmanlah TUHAN” kepada Musa yang menjelaskan peristiwa turunnya tulah).

Musa diperintahkan untuk bangun pagi-pagi, berdiri menantikan Firaun, dan mengatakan “Beginilah firman TUHAN”, biarkanlah umat-Ku ‘pergi’ supaya mereka ‘beribadah’ kepada-Ku. Perintah TUHAN yang ditujukan kepada Firaun sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk beribadah kepada TUHAN.

Kedua, tulah “hujan es” ditujukan kepada Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Tujuan diberikan tulah adalah supaya Firaun mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN di seluruh bumi. Maksud di balik tujuan tersebut adalah TUHAN hendak menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang hebat, berkuasa, berdaulat, berotoritas di antara ilah-ilah lain termasuk ilah yang dipercayai oleh Firaun. Di sini TUHAN sedang membandingkan—selain dari pada menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak—diri-Nya dengan ciptaan. Dalam konteks ini, memahami pribadi TUHAN bersumber dari dua hal yakni dalam kaitannya dengan ciptaan dan  dalam kaitannya dengan ontologis (eksistensi personal TUHAN).

Ketiga, setiap tulah (tulah sebelumnya: air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah) hingga tulah ketujuh tidak menyadarkan Firaun akan teguran TUHAN. Dia ayat 27-28 Firaun menyesal tetapi untuk sementara waktu, sebagaimana Musa menegaskannya (ay. 30), bahwa Firaun dan para pegawainya, belum takut kepada TUHAN. Mengenai teguran TUHAN kepada Firaun juga dibuktikan dengan tulah-tulah berikutnya yang menyatakan bahwa Firaun masih belum sadar akan teguran TUHAN sebab di pasal 10-12 masih ada tiga tulah (belalang, gelap gulita selama tiga hari, dan anak sulung orang Mesir, mati). Bahkan, di ayat 34-35 dijelaskan bahwa Firaun dan para pegawainya, terus berbuat dosa, berkeras hati. Ia pun tidak melepaskan orang Israel pergi.

Kematian menyadarkan Firaun?

Hingga akhirnya, “kematian” menyadarkan Firaun (12:29-33). Teguran TUHAN melalui tulah-tulah (pertama sampai kesembilan) belum menyadarkan Firaun. Ia berkeras hati, ia terus berbuat dosa, ia terus tidak menepati janjinya untuk melepaskan bangsa Israel sebagaimana yang dikatakan Musa kepadanya. Dan pada akhirnya, pasca kematian anak sulungnya dan semua anak sulung rakyatnya, barulah ia sadar dan mengakui bahwa memang TUHAN orang Israel itu hebat.

Firaun sebenarnya banyak mendapat kemurahan dari TUHAN, hanya saja karena ia berkeras hati dan ingin menunjukkan kekuasaannya yang hanya secuil untuk menantang kekuasaan TUHAN atas seluruh bumi. Firaun malahan diberikan kesempatan sampai sembilan kali oleh TUHAN, tetapi ia membuangnya dengan percuma.

Butir-Butir Permenungan

Ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa, sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam yang harus keluar (dikeluarkan).

“Keras hati” adalah sebuah frasa yang menegaskan bahwa niat seseorang untuk mengabaikan TUHAN, masa bodoh dengan teguran TUHAN, bahkan lebih dari itu, ada orang yang merasa “nyaman” dalam dosa, disimpan rapi dalam dirinya. Ini sangat berbahaya. Jangan sampai kita asyik dengan dosa “keras hati” dan tidak mau berbalik kepada TUHAN (metanoia).

Teguran TUHAN itu ada bermacam-macam. Tinggal bagaimana kita memahami dan memaknainya serta mengkorelasikan dengan apa yang telah kita buat selama ini. Sebagaimana kebaikan tidak pernah terbuang percuma, maka kejahatan juga tidak pernah terbuang percuma. Kebaikan yang kita buat akan dibalas oleh TUHAN, demikian juga dengan kejahatan.

Taburlah kebaikan selagi masih ada waktu. Buanglah keras hati dan masa bodoh dengan TUHAN; jadilah pelaku-pelaku firman yang menyelaraskan antara dicta dan gesta seumur hidup kita. Amin.

Salam Bae…

JANGAN MENYOMBONGKAN DIRI

Refleksi Keluaran 18:1-12

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/807340670674924817/

Pendahuluan

“Kesadaran” adalah bagian dari kehidupan kita. Dengan kesadaran kita dapat menempuh jalan hidup kita, menjaganya, dan mempertahankannya. Kita tidak dapat memisahkan identitas kita dengan bagaimana caranya kita bersikap. Artinya, meskipun kita memiliki identitas yang terpandang dan terhormat, tetapi moralitas dan sikap rendah hati tak bisa tidak harus dilakukan dan ditunjukkan. Itulah makna kesadaran diri, tidak menyombongkan diri. Antara kesadaran diri dan identitas sangatlah koheren jika ditinjau dari aspek biblika.

“Jangan menyombongkan diri” hendak menegaskan sebuah sikap “agere contra (bertindak sebaliknya), di mana kesadaran dan identitas bukan digunakan sebagai “alat pembenaran diri” dan “alat untuk menyombongakan diri. Jangan karena kita memiliki sesuatu maka kita bertindak melampaui batas dan menunjukkan sikap yang tidak terpuji, memamerkan diri yang tak terkendali, bermotif kesombongan, entah teologi, gelar, harta, kekayaan, atau relasi.

Salah satu tokoh yang tidak memamerkan kesombongannya adalah Musa. Ia tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” [tidak mempergunakan apa yang dimilikinya sebagai senjata untuk sombong] melainkan justru menunjukkan identitas moral dan hormatnya kepada Yitro, mertuanya. Musa sadar akan statusnya sebagai menantu. Hal inilah yang kemudian menjadi warisan bagi kita sebagai orang Kristen hingga sekarang sebagai sebuah kesadaran iman. Kita tak mungkin melepaskan moralitas ketika kita menjadi orang yang memiliki jabatan tinggi. Kitab Suci justru menunjukkan bahwa siapa pun kita, sikap “bermoral” dan “rendah hati” tetap menjadi hal yang utama dan tak bisa disingkirkan begitu saja.

Ketika manusia menunjukkan sikap “mentang-mentang” (menyombongkan diri) maka ia sedang merendahkan dirinya sendiri dan tidak menampilkan gaya hidup yang bermartabat, bermoral, dan rendah hati. Orang Kristren perlu memperhatikan identitasnya dan sedapat mungkin menunjukkan kegemilangan imannya melalui iman dan karya. Orang Kristen perlu menyadari identitas dan statusnya yang sebenarnya.

Teks Keluaran 18:1-12 hendak menegaskan Musa dan sikap hidupnya yang sangat baik dan menunjukkan kesadarannya bahwa meski ia adalah seorang nabi, tetapi ia juga sadar bahwa statusnya adalah sebagai menantu Yitro.

INTISARI

PERTAMA: “Jangan menyombongkan diri” hendak menjelaskan sebuah fakta bahwa apa yang dipunyai, identitas yang dimiliki, tidak perlu disombongkan karena semuanya bisa hilang kapan saja. Seperti Musa yang adalah seorang nabi, menunjukkan sikap hormat dan rendah hati kepada mertuanya. Musa sebagai nabi yang dipilih Tuhan telah menunjukkan sikap hidup yang baik dan bermoral (berintegritas). Itulah kesadaran Musa.

KEDUA: Musa tidak melihat jabatannya sebagai nabi untuk dijadikan sebagai rasa “kesombongan” diri. Ia menyadari bahwa itu adalah pemberian Tuhan dan digunakan sesuai perlunya.

KETIGA: Musa tidak melupakan statusnya sebagai seorang menantu dari Yitro. Musa tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” (yaitu hanya karena merasa Nabi, maka ia tidak menghargai mertuanya). Musa tidak melakukan hal itu. Ia tahu, bahwa orangtua harus tetap dihargai meski ia dihargai oleh begitu banyak orang Israel. Musa sadar secara moral. Dengan demikian, ia tidak menyombongkan dirinya.

KEEMPAT: dalam ayat 7, sikap Musa adalah ia sujud dan mencium mertuanya ketika mereka bertemu. Sungguh ini adalah sikap yang rendah hati. Ia tetap menghargai “orang tua” meski ia adalah seorang nabi yang hebat.

KELIMA: baik Musa maupun Yitro, keduanya sama-sama menunjukkan sikap saling menghargai. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita berbuat baik dan menghargai secara ideal kita juga mengharapkan tindakan sebaliknya. Akan tetapi, seringkali kita tidak menerima perlakukan yang sama. Apa pun situasinya, kita tetap berbuat baik dan menghargai orang lain.

APLIKASI

Kesadaran akan identitas dan status, akan menunjukkan bahwa diri kita bermoral dan rendah hati. Kesadaran menjadikan hidup kita tertib dan selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita tahu bahwa kita adalah umat Tuhan, seyogianya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.

Tidak perlu menyombongkan diri dengan identitas atau status kita sebab itu bukanlah realisasi dari iman kepada Tuhan, bukan pula koheren dengan kehendak Tuhan. Justru Tuhan menghendaki kita untuk rendah hati dan saling menghormat, menghargai sesama.

Musa adalah teladan dalam bersikap bermoral dan rendah hati. Ia tidak menunjukkan sikap mentang-mentang, tidak menyombongkan dirinya, melainkan menunjukkan kebalikkannya; ia memperlihatkan rasa hormat kepada mertuanya, Yitro.

Sikap Musa yang menghargai dan memperlihatkan rasa hormatnya, dapat kita contohi untuk diterapkan kepada orangtua atau siapa saja yang berhak menerima penghormatan kita.

Kita harus sadar dan menunjukkan identitas kita dengan cara merealisasikan cara hidup yang menghormati, bermoral, dan rendah hati. Dengan demikian, kesombongan akan tersingkirkan dari hidup kita.

Salam Bae…

DUSTA MELAWAN ROH KUDUS

Refleksi Kisah Para Rasul 5:1-11

Sumber gambar: dianaleaghmatthews.com/ananias-and-sapphira/#.YDzF2U7is_7

Pendahuluan

Pada setiap konteks kehidupan, berkata “dusta”, atau saling “mendustai” adalah fakta yang tak bisa terhindarkan, entah kita sendiri sebagai pelakunya, entah orang lain, atau bahkan orang-orang terdekat kita. Atau barangkali, kita pernah mendengar dan melihat bahwa ada ‘pelayan-pelayan Tuhan’ yang hidup dalam dusta dan saling mendustai satu sama lain, sehingga menimbulkan berbagai penderitaan, salah paham, kebencian, dan bahkan saling memusuhi.

Sejatinya, sikap atau perilaku dusta berpotensi mencemarkan nama baik kita, terlebih nama baik Tuhan yang kita percayai. Dusta tidak pernah lahir dari kebenaran. Dusta lahir dari penolakan terhadap fakta yang sesungguhnya. Atau dengan perkataan lain, dusta lahir dari ketakutan atau bahkan dari kekerasan hati dan kebencian (terhadap seseorang) untuk tidak mau mengakui kesalahan. Pada kasus Ananias dan Safira, dusta yang mereka lakukan terkait dengan penolakan atas fakta yang terjadi. Mereka “ingin” mencari keuntungan di balik hasil penjualan tanah, yang pada gilirannya justru membawa mereka kepada kematian.

Apakah berkata dusta diperbolehkan? Ada yang mengatakan: “Tergantung situasi dan kondisinya”. Tetapi jelas, Kitab Suci menolak untuk berkata dusta, bahkan Tuhan membenci dusta (perkataan tidak benar).

Salah satu hukum Tuhan dalam PL menegaskan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Kel. 20:16). Petunjuk lainnya adalah: “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta…” (Kel. 23:7); “Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya” (Ams. 12:17); “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya” (Ams. 12:22); “Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik memalukan dan memburukkan diri” (Ams. 13:5); “Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan, adalah saksi dusta” (Ams. 14:5); “Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran” (Ams. 26:28).

Perjanjian Baru juga menegaskan hal yang sama. Orang percaya harus “membenci dusta”: “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” (Kol. 3:9); “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” (Ef. 4:25); “Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran” (1 Yoh. 2:21); dan “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!” (Yak. 3:14).

Kita melihat bahwa Kitab Suci secara tegas menempatkan dan menyatakan bahwa “dusta” sebagai perilaku yang dibenci Tuhan. Kita mungkin pernah melihat beberapa orang yang karena dustanya, mengalami penderitaan dan kematian.

Bahkan yang lebih aneh lagi adalah, ada orang yang karena “dusta” malahan ia mengalami hidup makmur dan sejahtera, terbebas dari penderitaan, dan kondisi kehidupan yang baik-baik saja, seolah-olah dusta telah menjadi sahabat dekatnya yang membawa keuntungan. Mungkin itulah yang mau dirasakan oleh suami-istri: Ananias dan Safira. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dengan cara “berdusta” tentang hasil penjualan tanah. Meski mereka menyerahkan sejumlah uang hasil penjualan tanah, namun mereka justru menahan sejumlah uang untuk tujuan mencari keuntungan tadi. Motivasilah yang melatari lahirnya “dusta”.

Hal lainnya adalah dusta lahir dan terjadi karena dilatari berbagai motif, situasi, dan kondisi. Berbagai dusta telah terjadi mengakibatkan relasi sesama manusia menjadi rusak dan hancur. Relasi yang rusak masih bisa diperbaiki, tetapi kematian itu sendiri, yang ditakuti itu, tak dapat diperbaiki. Siapakah yang dapat memperbaiki kematian yang ia telah mati? Itulah yang terjadi dengan Ananias dan Safira, mereka tidak dapat memperbaiki apapun karena kematian telah menghampiri mereka.

Korelasi dan Konteks

Pertama, orang-orang percaya dalam komunitas “Gereja mula-mula” adalah mereka yang menunjukkan hidup yang egaliter (sama derajatnya [di hadapan Tuhan]). Dikatakan bahwa mereka “hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi; segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama—selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45). Cara hidup yang memberi pada Gereja mula-mula menghasilkan sisi positif di masyarakat: “mereka disukai semua orang”.

Kedua, pasal 4 menjelaskan, bahwa mereka menampilkan hidup yang berbagi: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ay. 32). Bukti nyata adalah ada yang menjual tanah dan hasilnya dinikmati oleh semua anggota Gereja (ay. 34). Pola hidup egaliter menghasilkan sebuah kondisi dan relasi yang baik. Bahkan “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (4:34-37, Yusuf, dan lainnya).

Ketiga, tetapi mengapa Ananias dan Safira berkata dusta melawan Roh Kudus? Apakah mereka tidak rela untuk berbagi dengan sesama anggota Gereja lainnya? Apakah mereka pelit? Apakah mereka tulus mengikut Yesus Kristus? Apakah mereka terpaksa berdusta ataukah mereka ingin terlihat baik dengan cara ikut-ikut jual tanah seperti yang lain?

Berdasarkan teks yang kita baca, Ananias memiliki ide untuk menahan sebagian hasil penjualan tanah pribadi. Ide tersebut diketahui istrinya. Di sini, suami istri sepakat untuk merencanakan dusta dan mencari keuntungan. Ini kerja sama yang baik, tetapi pada konteks yang salah. Kerja sama boleh-boleh saja, asalkan jangan kerja sama untuk merencanakan dosa dan dusta. Itu berbahaya dan dibenci Tuhan.

Keempat, hingga waktunya tiba setelah tanah dijual, Ananias menahan “sebagian” hasil penjualan tanah mereka. Dan dengan semangat (mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang peduli dan ingin berbagi dengan sesama anggota Gereja, sama seperti yang lainnya), Ananias membawa uang yang sisa (dari hasil “tilap” sebagian) dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul (5:2). Mengapa harus diletakkan di kaki para rasul? Pada pasal 4:34-35, 36-37, hasil penjualan diletakkan di bawa kaki rasul-rasul sebagai bukti bahwa hal itu diketahui bersama, bukan diserahkan secara sepihak kepada salah satu rasul. Hal ini menghindari tindak “korupsi”.

Kelima, pada akhirnya tindakan dusta—yaitu tilap (menggelapkan) sebagian uang hasil penjualan tanah diketahui oleh Rasul Petrus. Tidak hanya tilap uang, tetapi Ananias justru mengatakan dusta bahwa itulah hasil penjualan tanah mereka. Kita tidak tahu apakah sebelumnya Ananias dan Safira telah berjanji kepada para rasul atau minimal di depan anggota Gereja lainnya bahwa mereka akan menjual sebidang tanah, sama seperti yang telah dilakukan oleh anggota Gereja yang lain. Kita pun tidak tahu motivasi awalnya. Tetapi dugaan saya bahwa memang motivasi Ananias dan Safira adalah mencari nama (popularitas) dan mencari muka (ingin dihormati dan disanjung).

Keenam, tindakan Ananias kemudian dikaitkan dengan “dipenuhi” [πληρόω, plērō] oleh Iblis (Satan). Iblis adalah musuh Tuhan. Dan yang pasti ia melawan Tuhan dengan dusta perkataan. Secara kuasa, Iblis tentu jauh panggang dari api jika diperhadapkan dengan Sang Penciptanya. Ia tak mungkin melawan Tuhan dengan kuasa yang dimilikinya. Justru Iblis menggunakan yang lain, yaitu dengan “dusta” melawan kebenaran. Petrus menegaskan bahwa perbuatan Ananias adalah mendustai Roh Kudus. Konsekuensinya adalah “mati”.

Ketujuh, Safira datang setelah suaminya mati karena dustanya sendiri yang dirancang sebelumnya. Ia datang tanpa mengetahui bahwa suaminya sudah mati. Petrus menginterogasinya. Safira mengiyakan bahwa ia dan suaminya telah menjual tanah dan uang yang dipersembahkan di kaki para rasul adalah hasil utuh dari penjualan tanah mereka (ay. 8). Kongkalikong (perihal tahu sama tahu) antara Ananias dan Safira telah menimbulkan masalah kematian bagi mereka sendiri.

Kedelapan, ada kemungkinan bahwa Petrus tahu harga jual tanah. Indikatornya adalah karena telah terjadi sebelumnya bahwa ada anggota Gereja mula-mula menjual milik mereka dan hasilnya diletakkan di kaki para rasul (2:44-45) dan mungkin salah satunya adalah tanah milik. Pasal 4:34-37 ada yang menjual tanah dan hasilnya diletakkan di kaki para rasul. Pengalaman ini yang mungkin dipakai Petrus untuk menginterogasi Ananias dan Safira. Integrogasi Petrus berbuahkan hasil. Ternyata suami istri tersebut telah “berdusta” terhadap Roh Kudus. Mereka telah tilap uang dan kongkalikong soal hasil jual tanah. Seandainya mereka jujur, pasti mereka tidak mati.

Kesembilan, dusta melawan Roh Kudus bukanlah jenis perbuatan yang ringan, justru itu adalah tindakan makar (akal busuk atau tipu muslihat) baik terhadap para rasul maupun terhadap Roh Kudus. Hasilnya: “kematian mendadak”.

Terapan dan Pesan kepada Kita

Jangan hanya karena ingin terlihat baik dan peduli terhadap orang lain, kita mencari nama dan muka dengan cara-cara kompromistis dengan dusta dan kejahatan. Tuhan membenci dusta dan kejahatan, apalagi kejahatan rohani.

Bersikaplah jujur meski kerugian bisa kita alami. Toh, Tuhan tahu kejujuran kita. Ia akan membalas dengan cara-Nya sendiri dan hasilnya akan memberkati kita. Mencari nama dan popularitas di Gereja hanya akan menyisahkan konflik, perpecahan, kebencian, penderitaan, dendam, permusuhan, dan kematian. Buanglah itu jauh-jauh.

Hidup dalam dusta dan mengusahakan dusta adalah tindakan berdosa di hadapan Roh Kudus. Ananias dan Safira adalah contoh keluarga yang mau memberi dengan motivasi yang keliru: memberi tapi tidak rela kehilangan. Kita pun diingatkan, bahwa berkata dusta bukanlah pilihan yang tepat dalam konteks hidup di hadapan Tuhan. Dusta hanya melahirkan dusta dan keburukan, bahkan kematian.

Jagalah hati dan mulut kita untuk tetap setia mengatakan kebenaran Tuhan, setia mewujudkan sikap hidup yang jujur, sebab dengan berbuat demikian, kita akan dimuliakan Tuhan dengan cara yang ajaib.

Salam Bae…

HIDUP SEBAGAI SAKSI YESUS KRISTUS

Refleksi Kisah Para Rasul 1:6-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/401594491752716967/

Frasa “hidup sebagai saksi Kristus” memberi pemahaman kepada kita bahwa “dalam totalitas kehidupan yang dijalani, kita, sebagai ‘saksi-Nya’ , harus menunjukkan (mewujudkan) iman kepada Yesus melalui kata, perbuatan, dan pikiran.” Tidak ada yang tersisa dalam kehidupan kita selain hanya untuk Kristus. Pertaruhan hidup-mati kita hanya bagi dan demi Yesus Kristus dalam hal melayani, memberitakan Injil, hidup benar, beriman, dan berkarya.

Lalu bagaimana dengan kesenangan dan kebebasan kita untuk menikmati hidup? Sama sekali terganggu? Tidak! Yang merasa terganggu adalah mereka yang belum sepenuhnya memahami bagaimana seharusnya mengikut Yesus dan menjadi saksi-Nya. Adalah baik bagi kita untuk memahami apa makna menjadi pengikut dan saksi Kristus. Pemahaman itu sendiri akan menggiring kita kepada “jalan kekudusan dan tanggung jawab moral, bahkan spiritualitas untuk semakin berani bersaksi melalui kata, perbuatan, dan pikiran.

Teks Kisah Para Rasul 1:6-11 menjelaskan tentang fokus pelayanan para murid; mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi Yesus Kristus” (ay. 8). Ayat 8 hendak mengkonfirmasi bahwa “menjadi saksi dalam memberitakan Injil Yesus Kristus” membutuhkan kuasa [Yun. dunamis] dari Tuhan. Kuasa ini menjadi media bagi orang-orang percaya (para murid Yesus) yang berdampingan erat (koheren) dengan pemberitaan Injil.

Sejarah iman Kristen membuktikan bahwa pemberitaan Injil yang berbarengan yang manifestasi kuasa Tuhan telah menjadikan berita Injil bukanlah semata-mata hanya perkataan-perkataan saja, melainkan perkataan-perkataan yang mengubahkan manusia berdosa menjadi “manusia baru” di dalam Kristus. Kuasa Tuhan yang diberikan kepada para penginjil, mengkonfirmasi bahwa “Tuhan yang disembah oleh orang-orang Kristen” adalah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat. Berapa banyak orang yang telah diubahkan oleh Tuhan? Berapa banyak orang yang bertekuk lutut di hadapan-Nya?

Pekabaran Injil adalah realisasi dari iman yang terpahami secara baik. Siapa saja bisa mengklaim bahwa ia beriman, tetapi pertanyaan mendasarnya adalah: “apakah iman itu terpahami dengan baik, ataukah hanya iman di mulut saja?” Orang Kristen yang mengabarkan Injil adalah orang yang memahami mengapa ia beriman kepada Yesus Kristus.

Teks Kisah Para Rasul 1:8 menyebutkan beberapa pokok penting yang perlu kita pahami.

Pertama, Roh Kudus menjadi pribadi yang memimpin kita untuk bergerak dan merealisasikan iman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus diberikan Bapa kepada setiap orang percaya. Roh Kudus akan berdiam di dalam diri orang percaya.

Kedua, implikasi dari berdiamnya Roh Kudus dalam diri orang percaya adalah “menerima kuasa”, “mendapatkan kuasa”.

Ketiga, implikasi dari berdiamnya Roh Kudus dan penerimaan kuasa adalah para murid menjadi “saksi Yesus Kristus di segala tempat”, kapan pun dan di mana pun. Kita yang hidup sekarang ini mewarisi berita Injil yang diwartakan oleh para rasul Yesus Kristus.

Lalu, Apa yang Dapat Kita Lakukan di Zaman Ini?

Iman yang terpahami mendorong setiap orang percaya menyadari peran dan tanggung jawabnya dalam melayani. Orang percaya memerlukan “kuasa” dari Tuhan untuk menyertai proses pemberitaan Injil Yesus. Tantangannya adalah kuasa-kuasa kegelapan yang membelenggu orang-orang berdosa dan orang-orang yang hidup dalam berbagai jenis kejahatan.

Tuhan memanggil kita untuk melakukan tugas mulia ini. Ketika beriman, bukan berarti kita berhenti di tempat dan kemudian hanya menikmati karunia Tuhan secara pribadi. Tuhan telah menyatakan kepada kita dalam sejarah bahwa Ia telah berbagi dengan manusia, berbagi keselamatan, kasih, dan pengampunan. Karena itulah, kita juga mendapat tugas yang sama, yaitu berbagi kasih dan pengampunan, agar orang-orang yang berdosa, yang jauh dari Tuhan, diselamatkan oleh-Nya.

Roh Kudus yang telah berdiam di dalam diri kita merealisasikan kehendak-Nya dalam konteks pemberitaan Injil dan manifestasi kuasa-Nya yang dahsyat dan luar biasa. Jika demikian, masihkah kita berlambat-lambat untuk melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Tuhan?

Jangan berlambat-lambat untuk melayani-Nya. Waktu ini sangat singkat. Pergunakanlah waktu yang Tuhan berikan. Para murid Yesus telah menunjukkan bahwa mereka sangat serius dengan pemberitaan Injil. Mereka berani karena ada jaminan Roh Kudus yang berdiam dalam diri mereka dan mereka diberikan kuasa yang luar biasa.

Hidup sebagai saksi Yesus Kristus adalah hidup yang melayani, hidup yang berbagi, dan hidup yang memberi diri untuk pemberitaan Injil.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

BERTOBATLAH

Refleksi Kisah Para Rasul 2:14-40

Sumber gambar: https://www.thesacredartgallery.com/artists/ch-pabst/the-rosary/

PENDAHALUAN

Bertobat adalah sebuah keputusan yang memiliki alasan tertentu. Seseorang dapat berikhtiar untuk “bertobat” ketika ada sesuatu yang menggerakkan pikirannya untuk melakukan pertobatan. Berbagai alasan pertobatan seseorang menjadi dasar mengapa seseorang itu “berubah” atau “berbalik” kepada sesuatu yang lain.

Dalam konteks ini, pertobatan sering dipahami sebagai tindakan meninggalkan (memutuskan) sesuatu yang menjadi jerat dosa dan pemberontakan, bahkan segala jenis kejahatan, untuk mendekati dan memegang kehidupan yang lebih baik, bersih, jujur, penuh kasih, dan sukacita. Pertobatan sering membawa seseorang kepada kondisi bahagia, bebas dari tekanan dan ikatan dosa dunia.

Kitab Suci menggunakan istilah metanoeō dan metanoia: bertobat, berubah pikiran, merasakan penyesalan yang mendalam, menyesal, mengubah pikiran, berbalik meninggalkan dosa, perubahan pikiran, hal berpaling (dari dosa). Arti mendasar dari metanoia adalah: perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Tuhan dan pengabdian kepada-Nya.

Berangkat dari arti tersebut, konteks ajakan Rasul Petrus kepada para pendengar khotbahnya dalam peristiwa Pentakosta, adalah hendak “mengubah pikiran” mereka (mengenai konsep pemahaman nubuatan) dan berpaling dari dosa-dosa mereka, sebagaimana tampak dalam ayat 38 dan 40: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk ‘pengampunan dosamu’, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”, dan “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Pada pemahaman tentang nubuatan, Rasul Petrus mengaitkan Yesus dan fenomena bahasa lidah yang terjadi pada diri para rasul pasca Roh Kudus turun ke atas mereka dalam bentuk nyala api, dan mengaitkan Yesus dengan nubuatan Perjanjian Lama. Artinya, untuk menjembatani pemahaman akan fenomena bahasa lidah dan Yesus Kristus yang mati, bangkit, dan naik ke surga, Petrus menggunakan teks-teks PL sebagai konfirmasi bahwa fenomena yang terjadi dan sekaligus pemberitaan tentang Yesus Kristus dapat dipertanggung jawabkan.

Roh Kudus mengkonfirmasi firman Tuhan dalam PL, karena orang-orang Yahudi mengakui otoritas Kitab Suci mereka. Dengan demikian, mereka mengetahui dan sekaligus melihat fakta di depan mata bahwa nubuatan-nubuatan Kitab Suci mereka tergenapi. Kita dapat membayangkan ketika kurang lebih 3000 orang menyerahkan diri bertobat (metanoia) dan dibaptis serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan di sini, peran Roh Kudus sangatlah penting sekali. Jika Roh Kudus bekerja maka segala sesuatu menjadi mungkin. Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Roh Kudus, sebab Ia adalah Tuhan yang berkuasa.

KONTEKS

Keberanian Petrus berdiri di depan orang banyak (yaitu orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit) adalah fakta bahwa Roh Kudus bekerja, memberikan keberanian kepada Petrus untuk berbicara. Tidak hanya itu, kemampuan Rasul Petrus untuk berbicara menjadi hal menarik (lihat 2:1-13). “Penuh dengan Roh Kudus” (ay. 4) menghasilkan potensi berbicara dalam bahasa-bahasa lain (bdk. ay. 7-11). Hal ini adalah bukti kuasa Roh Kudus yang ajaib dan luar biasa.

Berikut ini adalah beberapa pokok penting mengenai konteks dari teks di atas.

Pertama, Roh Kudus mengurapi orang berbicara tentang “kebenaran Tuhan” dan perkataan orang tersebut menghasilkan “kuasa yang mengubahkan”. Hal ini terlihat pada ayat 37: “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” Kemudian Petrus mengarahkan para pendengar yang bertanya untuk bertobat. Hal ini dijelaskan pada ayat 38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”

Kedua, apa yang menyebabkan Petrus menganjurkan para pendengar khotbahnya untuk bertobat? Di sini kita perlu melihat “isi” khotbahnya (ay. 14-36) karena ternyata setelah mendengar isi khotbah Rasul Petrus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa, “hati mereka sangat terharu” (ay. 37).

Ketiga, isi khotbah Petrus mencakup:

1. penegasan bahwa nubuatan Nabi Yoel bahwa: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu” (ay. 17-20). Khotbah pertama Petrus menegaskan bahwa kondisi yang dialami para rasul yaitu “dipenuhi Roh Kudus” adalah bukti penggenapan nubuatan Nabi Yoel. Di sini, orang-orang Yahudi yang saleh melihat pemahaman yang kuat dari nubuatan itu sendiri.

2. Petrus kemudian mengarahkan para pendengar untuk menunjukkan sikap bahwa: “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (ay. 21). Petrus sedang mengarahkan mereka kepada Yesus Kristus (ay. 22-24), yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan mereka dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah mereka, seperti yang mereka ketahui. Yesus membuktikan bahwa Ia datang dan berasal dari Bapa (bdk. Yoh. 7:28, “Aku diutus oleh Dia yang benar”; 7:29, “Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”; 8:42, “Aku keluar dan datang dari Tuhan”; 16:28, “Aku datang dari Bapa”; 17:8, “Aku datang dari pada-Mu”). Di samping itu, dalam wujud manusia-Nya, Yesus disalibkan (dibunuh) (ay. 23) dan dibangkitkan Tuhan dengan melepaskan Dia dari sengsara maut (ay. 24). Dengan demikian, “kebangkitan Yesus” adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

3. Petrus kembali mengaitkan Yesus dengan nubuatan Raja Daud (ay. 26-28) dan menegaskan bahwa: Yesus yang bangkit selaras dengan perkataan Daud bahwa “TUHAN tidak membiarkan Orang Kudus-Nya melihat kebinasaan.”

4. Petrus kemudian memberikan analogi (ay. 29) bahwa Daud telah mati, tetapi Tuhan telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan “seorang” dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (ay. 30). “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Tuhan, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (ay. 31-32). Jadi, korelasi nubuatan Daud dengan fakta bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati sudah sesuai dengan nubuatan Daud. Dan korelasi ini bukanlah dibuat-buat atau dicocok-cocokkan, melainkan sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus: mati dan bangkit dari kematian. Ini sangat luar biasa.

5. Di ayat 33, “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Tuhan dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.” Tidak hanya mati dan bangkit, Yesus Kristus juga naik ke surga. Hal ini terlihat pada ayat 34-35, “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

6. Terakhir (ay. 36), Petrus menutup dengan penegasan dan ajakan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Keempat, ayat 37 menjelaskan respons dari khotbah Petrus: “hati mereka sangat terharu”. Selain terharu, mereka melanjutkan dengan bertanya. Inilah yang mengarahkan mereka kepada sebuah “metanoia” (pertobatan). Ayat 38 dan 40, menjelaskan ajakan Petrus: “Bertobatlah” dan memberi diri untuk diselamatkan.”

Kelima, kita melihat bahwa “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (ay. 41), suatu jumlah yang fantastis. Kuasa dan urapan Roh Kudus sangatlah ajaib dan luar biasa bukan? Kelanjutannya adalah “Mereka ‘bertekun dalam pengajaran’ rasul-rasul dan ‘dalam persekutuan’. Dan mereka selalu ‘berkumpul’ untuk memecahkan roti dan ‘berdoa’” (ay. 42).

Keenam, kuasa dan urapan Roh Kudus tidak berhenti pada dua fenomena ajaib yaitu para rasul “berbahasa lidah” dan Rasul Petrus “berkhotbah di depan ribuan orang Yahudi yang kemudian mereka terharu dan ingin mengubah pikiran mereka”, melainkan “mengadakan banyak mujizat dan tanda” (ay. 43), dan mendorong hidup bersama dalam persekutuan dan berbagi dengan sesama anggota Gereja: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (ay. 44-45).

Roh Kudus juga mengarahkan umat-Nya untuk hidup dalam persekutuan dan sehati, sebagaimana tampak dalam ayat 46-47: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

PENUTUP

Roh Kudus bekerja untuk mendorong kita memahami firman-Nya dan kemudian bertobat, menyerahkan diri untuk taat dan setia kepada Tuhan, sebagaimana terjadi pada orang-orang Yahudi ketika Petrus selesai berkhotbah.

Roh Kudus memimpin kita untuk menyatakan firman-Nya dan menjadi saksi Injil di mana pun, dan kapan pun.

Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan keberanian kepada kita seyogianya dipakai bagi pelayanan kepada sesama, baik dalam komunitas Gereja, maupun dalam pekerjaan misi.

Roh Kudus juga mengarahkan kita untuk bertekun dalam firman-Nya dan mengutamakan persekutuan dengan sesama anggota Gereja. Kita pun harus saling peduli satu dengan lainnya, saling mendoakan, dan saling berbagi; tidak memandang perbedaan dan status sebagai ajang untuk menyombongkan diri. Roh Kudus memimpin kita untuk dalam kebenaran-Nya, hidup kudus, dan hidup yang bersaksi bagi Yesus Kristus.

Salam Bae…

TEOLOGI “UCAP-TINDAK”

Refleksi Iman dan Diri

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/349732727311832908/

Tindak (perbuatan) seseorang seringkali diukur dari apa yang diucapkan. Dengan perkataan lain, ucapan lahir dari pikiran yang kemudian terealisasi dalam sebuah tindak. Ukuran kualitas ucap (ujar) seseorang tampak pada tindaknya, sehingga lahirlah slogan: “berani berkata, berani bertindak”, “siapa yang berkata hendaklah ia berbuat”, “apa yang dikatakan harus dilakukan”, dan “tindakan lahir dari pikiran atau ucapan”.

Acapkali kita tersendat dengan tindak nyata. Berucap itu mudah, yang sulit adalah bertindak. Adakah kita mengalaminya? Kita bahkan terbiasa, piawai, atau seperti akrobat di permainan sirkus dalam hal ucapan-ucapan. Kita bahkan menyembunyikan segala dosa tindakan dengan sederet kata-kata indah nan suci bahwa kita tidak berdosa. Laburan marmer putih mengkilap menutupi busuknya tindakan kita sendiri. Kemunafikan menjadi raja di pikiran kita.

Apakah itu mencerminkan sikap hidup Kristen yang baik? Tentu tidak. Ucap yang baik menghasilkan tindak yang baik. Jangan memoles tindak kita yang tidak seberapa dengan ucap yang bombastis. Ada kalanya seseorang berbuat sedikit tapi berbicara besar tentang tindakannya. Ini tidak jujur. Sebaliknya, ada yang berbicara bombastis tapi tindakannya nol besar. Ini kemunafikan belaka.

Lalu apa yang akan dipikirkan, pahami, dan lakukan? Di sini peran Teologi “ucap-tindak” menjadi relevan dan kuat untuk mengoreksi diri kita. Teologi “ucap-tindak” memiliki dasar yang sama dengan apa yang salah jelaskan di atas: “berani berkata, berani bertindak”, “siapa yang berkata hendaklah ia berbuat”, “apa yang dikatakan harus dilakukan”, dan “tindakan lahir dari pikiran atau ucapan”.

Jika kita pernah membaca pernyataan Rasul Yakobus: “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”, maka kita tahu navigasi logika mengarah kepada konsistensi iman yang harus melahirkan perbuatan.

Teologi “ucap-tindak” menegaskan prinsip yang sangat fundamental (mendasar), sebab luaran dari ucap seseorang adalah tindakannya. Artinya, seseorang dinilai bukan hanya dari ucapnya, apalagi jika ucapnya itu terkesan mantap, berbobot, dan menarik. Akan tetapi, koherensi ucap-tindak menjadi relevan dan itulah dasar penilaian terhadap seseorang.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah berucap lalu lupa bertindak? Apakah tindak yang kita nyatakan lahir dari apa yang kita ucapkan? Apakah iman yang kita ucapkan kepada Tuhan diteruskan dengan tindakan nyata? Ataukah kita hanya bertindak tanpa iman dan beriman tanpa tindakan? Teologi “ucap-tindak” memberi ruang kepada kita untuk melihat dan menilai diri kita sendiri apakah tindak kita selaras dengan ucap kita, ucap kita melahirkan tindak nyata.

Teologi “ucap-tindak” menegaskan beberapa prinsip yang perlu kita perhatikan:

Pertama, ucapan kita seyogianya benar, sesuai fakta, tidak menyimpangan kebenaran, dan ucap kita berdasar pada Alkitab.

Kedua, ucap kita tidak hanya berhenti pada menariknya ucap itu sendiri melainkan dilanjutkan pada realisasi sebab ucap bisa menarik, tapi lebih menarik lagi jika dilakukan.

Ketiga, tindakan kita bukanlah sembarang tindakan. Tindakan itu haruslah dilandasi iman kepada Yesus Kristus. Di sini, antara iman dan perbuatan haruslah solid. Ada banyak perbuatan yang dilakukan oleh orang Kristen, tetapi apakah itu semua berdasar pada iman? Belum tentu. Ada banyak orang Kristen mengaku beriman, tetapi tindak-tanduknya tidak mencerminkan iman itu sendiri.

Keempat, ucap kita menentukan identitas kita. Lebih-lebih lagi tindakan kita. Ada orang yang manis perkataannya tetapi busuk hatinya. Ada orang yang berbicara mengesankan tetapi ia sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap kita. Ada orang yang berbicara dengan tujuan untuk menipu, dan tindakannya yang akan tampak ke permukaan untuk memperlihatkan penipuannya.

Kelima, tindakan kita akan lebih fulgar dinilai ketimbang ucap kita. Jika tindakan kita kotor dan jelek, maka itu akan menjadi luka seumur hidup. Akan tetapi, ketika ucap kita salah, seringkali masih bisa dimaklumi. Lain halnya dengan tindak. Itu akan berbicara lebih kuat di sepanjang sejarah dan tak bisa diralat. Ucap yang salah bisa diralat di kemudian hari, tetapi tindak membunuh orang lain tak bisa diralat di kemudian hari. Keduanya, bisa diselesaikan dengan cara “mengampuni”.

Keenam, Teologi “ucap-tindak” tidak membiarkan pengampunan berjalan sendiri. Justru Teologi “ucap-tindak” menempatkan pengampunan sebagai senjata utamanya. Sesama yang berucap salah, kita ampuni. Sesama yang bertindak salah, kita ampuni. Mungkin kita pernah berucap: marilah kita saling mengampuni, tapi kemudian sulit bagi kita untuk mengampuni sesama. Ini tidak konsisten. Iman Kristen tidak menempatkan tindak balas dendam, melainkan tindak mengampuni karena itulah yang diajarkan Yesus Kristus.

Ketujuh, kehidupan Kristen yang beriman sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus menyatakan koherensi dan konsistensi antara ucap dan tindak. Dalam konteks biblika: iman dan perbuatan haruslah konsisten. Kita mengaku beriman kepada Tuhan dan oleh karena itu kita perlu bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Adakah kita menyadari bahwa selama ini kita telah salah di hadapan Tuhan dan sesama? Adakah selama ini kita telah berbuat selaras dengan iman kita kepada Tuhan? Teruslah menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain; teruslah berbenah diri sebelum membenahi orang lain; dan teruslah bertindak di dalam iman sebab itulah yang berkenan kepada Tuhan.

Salam Bae…

MEMBACA ZAMAN: Refleksi Kejadian 4:17-26

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/316729786297091702/

Di mana kita hidup di situ kita “membaca”. Apa yang dibaca? Yang dibaca adalah kehidupan dan perilaku di zaman itu, termasuk diri dan hidup kita. Apa maknanya? Maknanya adalah hal itu dapat menjadi kekuatan teladan dan warisan sekaligus “tanda awas” untuk mengoreksi diri kita. Berapa lama pengaruh bacaan zaman? Lamanya adalah seumur hidup kita dan bergantung kepada seberapa paham diri kita akan proses hidup dan apa yang terjadi di dalamnya. Artinya, apa yang kita pegang—mungkin itu adalah hasil dari “membaca zaman”.

Membaca zaman bergantung pada bijaksana. Bijaksana itu bisa kita terima langsung dari Tuhan atau melalui Firman-Nya. Sejatinya, bijaksana mempengaruhi totalitas hidup kita, memimpin hidup kita untuk tetap bertahan pada keyakinan kita kepada Sang Khalik.

Di setiap zaman, setiap manusia dapat melakukan tiga hal: pertama, membaca zaman dan bertindak dengan bijaksana (buku karya John Stott dapat mewakili hal ini); kedua, membaca zaman dan bodoh amat (tidak menanggapi secara serius situasi zaman dan melakukan hal lain sebagai gantinya); dan ketiga, membaca zaman dan tidak berbuat apa-apa (tidak memiliki niat untuk bergerak melakukan sesuatu).

Kita akan melihat beberapa konteks yang terjadi di zaman Adam dan Hawa serta generasi yang dilahirkannya dari teks yang kita baca. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat terjadi (atau terulang kembali) di zaman kita sekarang ini. Membaca zaman memang perlu. Ada asosiasi-asosiasi internal yang dapat muncul dalam pikiran. Artinya, kita tidak boleh lupa di mana dan dalam situasi seperti apa kita hidup dan mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa lampau yang bisa menjadikan diri kita semakin lebih baik. Hal ini tampak dalam asosiasi teks dengan zaman kita yang akan saya jelaskan kemudian.

Banyak buku yang membahas mengenai Generasi Millennial, Generasi Z, dan sejumlah nama lain yang dikarang sendiri berdasarkan bacaaan zaman. Bahkan, muncul buku-buku yang membahas revolusi industri 4.0. Sementara itu, kita masih tetap setia kepada Tuhan dalam bentuk beribadah di Gereja, dan di tempat lainnya, memohon agar Tuhan melindungi kita, keluarga, anak-anak, dan lainnya, dalam menghadapi kemajuan teknologi.

Salah satu buku yang merepresentasikan (mewakili) pembacaan zaman adalah buku yang berjudul “Homo Deus” karya Yuval N. Harari. Buku tersebut mengkaji sebuah pembacaan zaman. Harari menyinggung peristiwa-peristiwa historis dan melihat kekuatan tekonologi masa kini, kemudian meramal masa depan, apa yang akan terjadi dengan kemajuan teknologi tersebut. Buku ini begitu kuat membaca zaman dan generasi yang akan datang. Jika demikian, apakah yang perlu kita kerjakan ketika kita hidup di zaman yang begitu maju teknologinya? Apakah bisa kita mengkorelasikan zaman dulu kepada zaman sekarang ini? Tentu bisa.

Kita melihat bahwa generasi dan situasi zaman yang dijelaskan dalam teks bacaan kita, menggambarkan adanya korelasi. Apa yang terjadi di zaman kita, dulu sudah terjadi. Artinya, kita dapat melihat zaman dulu untuk dijadikan “alasan dan keputusan” untuk menjalani hari ini dan dapat memberi pengaruh di masa depan.

Berdasarkan teks yang kita baca, terdapat peristiwa-peristiwa yang terbingkai dalam konteks “situasi zaman”; di dalam zaman itu terdapat “generasi-generasi”. Hal ini menjadi menarik karena setiap zaman, generasinya berbeda, peristiwa berbeda, dan kadang terulang kembali, dan lain sebagainya.

Membaca zaman di mana kita hidup adalah sebuah kebijaksanaan (kecakapan/kepandaian) untuk mengambil makna terhadapnya. Sebagaimana yang akan kita amati, bahwa dalam bacaan kita, tampak hal-hal yang menarik, sebagai berikut:

  1. Penamaan kota berdasarkan nama anak (ay. 17b).
  2. Poligami (ay. 19).
  3. Penemuan kecapi dan suling (ay. 21).
  4. Lahirnya pakar tembaga dan besi (ay. 22).
  5. Pembunuhan beralasan (ay. 23-24): “lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Alasan Lamekh membunuh adalah karena dirinya dilukai oleh orang lain, membunuh karena dirinya dipukul sampai bengkak.
  6. Pembelaan diri dari segala serangan. Hal ini dilakukan Lamekh.
  7. Kasih karunia Tuhan terhadap Adam dan Hawa. Pasca matinya Habel, Tuhan memberikan anak kepada mereka dan menamainya Set (ay. 25).
  8. Kerinduan generasi di zaman itu untuk memanggil nama TUHAN (ay. 26).

Di sini, saya memfokuskan pada “kerinduan memanggil nama TUHAN”. Situasi atau kondisi yang terjadi di zaman Adam dan Hawa dan keturunannya, mendorong sebuah kesadaran untuk datang kepada Tuhan. Memang tidak disebutkan secara luas mengenai gambaran situasi di zaman itu, tetapi apa yang kita baca dirasa cukup merepresentasikan kondisi zaman di mana mereka hidup.

Di zaman ini, di tengah lajunya teknologi, masih adakah yang rindu dan peduli memanggil nama Tuhan? Tentu masih ada ada. Lihat saja semua yang hadir di Persekutuan Doa Paramount Enterprise hari ini: semuanya datang karena rindu memanggil (memuji, berdoa, memohon, dan bersyukur) nama Tuhan. Lihat saja di Gereja, masih ada orang-orang yang datang bersyukur dan memohon kepada Tuhan dalam ibadah.

Di tengah maraknya pengguna media sosial, nama Tuhan pun ikut dipanggil-panggil. Ada yang buat status: “Tuhan Yesus, tolonglah saya”. Memangnya Tuhan Yesus punya Facebook? Sekarang, ada orang-orang tertentu kelihatan rohani di media sosial, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Selalu berdoa di dunia maya, tetapi selalu berdosa di dunia nyata. Lalu apa yang seharusnya kita pahami dari konteks rindu “memanggil nama Tuhan?” Memanggil nama Tuhan dapat bermakna:

  1. Menyadari akan fananya hidup manusia dan manusia membutuhkan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan.
  2. Mengakui bahwa hidup manusia berada dalam kedaulatan-Nya, segala sesuatu dapat terjadi jika Ia berkenan: manusia memanggil nama Tuhan dan mengakuinya. Hal ini tampak dalam peristiwa di man Tuhan mengaruniakan anak kepada Adam dan Hawa, ganti Habel, yaitu Set dan kemudian Set memperanakkan Enos di mana di zaman itulah orang mulai memanggil nama Tuhan.
  3. Mensyukuri bahwa segala sesuatu yang baik adalah karena kemurahan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur kepada-Nya.
  4. Menyadari bahwa Tuhan itu adil dan akan memberikan keadilan kepada mereka yang berseru dan bersandar kepada-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur.
  5. Menyadari bahwa setiap dosa yang dilakukan pasti akan menerima hukuman dari Tuhan dan karenanya seseorang harus “memanggil” nama-Nya, berseru dan memohon ampun.
  6. Mengakui bahwa Tuhan adalah Sang Pembela manusia, dan Ia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan memohon pembelaan-Nya.
  7. Menyadari bahwa kasih karunia Tuhan melampaui segala sesuatu yang kita usahakan dan harapkan: manusia memanggil nama Tuhan dan menyadari keterbatasannya.

Di zaman Adam dan Hawa serta keturunannya (secara khusus pada generasi Enos), “memanggil nama Tuhan” membuktikan iman kepada Tuhan yang diyakini bahwa Ia mengatur dan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Di zaman kita, memanggil nama Tuhan juga seyogianya dilakukan sebagai bukti bahwa kita beriman kepada-Nya. Kita dapat menarik makna dari zaman Adam dan Hawa dan menempatkan makna itu di hidup kita sekarang ini.

Menarik makna berarti kita telah mampu “membaca zaman”. Ada orang-orang yang berlomba-lomba menulis tentang masa depan Generasi Millennial, Generasi Z, dan sebagainya, bahkan tentang pengaruh kuat Revolusi Industri 4.0. Profesor Harari menyebutkan bahwa manusia dapat menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, yang dengannya manusia bisa bebas menentukan pilihan hidupnya. Sementara ada segelintir orang Kristen yang sibuk berteologi “silat lidah” dan menghasilkan ajaran-ajaran yang aneh, menyimpang, dan sesat.

Diharapkan kita menyadari bagaimana situasi zaman sekarang ini dan membacanya dengan iman yang dari Tuhan, serta menyadari bahwa “kita tetap membutuhkan Tuhan, kemudian memanggil nama-Nya, berseru, memohon kekuatan, bimbingan, dan pertolongan-Nya”.

Bisa saja seseorang hidup tanpa iman kepada Tuhan, dan dia bahagia. Tetapi ingatlah, kematian bisa datang secara tak terduga dan merobohkan kesombongannya. Bisa saja kita merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi ingat, ketika mati, kita membutuhkan orang lain untuk memikul jenazah kita. Bisa saja kita merasa tidak perlu memanggil nama Tuhan, tetapi ingatlah bahwa suatu saat, Tuhan akan memanggil kita.

Bijaksanalah dalam hidup. Bijaksanalah dalam membaca zaman. Rindukanlah perubahan diri. Rindukanlah Tuhan, rindukanlah kasih dan kuasa-Nya. Panggillah nama-Nya, setiap waktu, free and unlimited. Hiduplah dalam terang firman Tuhan, dan rasakan jamahan kuasa Tuhan.

Soli Deo Gloria……

KESOMBONGAN DAN IMPLIKASI MEDIA SOSIAL FACEBOOK: Manusia Mekanis Menghasilkan Penindasan terhadap Karakter Personal

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/1548181099931171/

Setiap manusia memiliki potensi untuk menyombongkan diri karena potensi itu nyata dan ada dalam diri manusia. Kesombongan adalat natur alamiah. Kita tidak perlu “memasukkan” ke dalam diri, karena potensi kesombongan sudah melekat secara alamiah. Kesombongan tentu memiliki latar belakang. Latar belakang ditengarai oleh sejumlah hal yakni: situasi, kondisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik, kekayaan, harta, strata hidup, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, bangsa, budaya, dan karakter.

Dalam budaya populer yang terkontaminasi sekarang ini, di mana hampir segala sesuatu dipublikasikan, maka kesombongan dapat saja ikut bermain di dalamnya. Publikasi melalui media sosial—dalam hal ini: facebook, dapat mencakup banyak hal, termasuk kesombongan. Kesombongan terwujud dalam karya cetak dan noncetak, verbal, tindakan fisik, gestikulasi, dan raut wajah. Di dunia maya, kesombongan begitu marak marak. Meski kadang tidak tampak atau tidak secara terang-terangan, indikasi ke arah kesombongan dapat dengan mudah “terbaca”.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/694680311259161909/

Kesombongan sering “menyamar” dalam bentuk publikasi-publikasi personal maupun komunal. Maraknya pengguna media sosial facebook menyeret karakter manusia menjadi “karakter mekanis”. Tangan dan hati manusia menjadi tak terkendali dan bahkan seringkali menjadi liar. Ketika tangan dan hati tertuju pada facebook, maka dampak yang ditimbulkan cukup beragam:

Pertama, relasi sesama manusia menjadi berkurang. Misalnya kita berada di bus Transjakarta, bus Mayasari Bakti, Kopaja, atau berada di rumah sakit, puskesmas, di tempat-tempat umum, atau di tempat lainnya, mayoritas kita melihat manusia sibuk menggunakan handphone dan saya menduga di antaranya sibuk dengan media sosial termasuk facebook. Seorang ibu sibuk menggunakan facebook meski anaknya merengek meminta susu atau dibuatkan susu. Relasi ibu-anak menjadi terabaikan. Facebook memiliki implikasi untuk mengganggu relasi antar sesama.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/149322543883182270/

Kedua, manusia sibuk dengan dunianya, dan jarang memperhatikan dunia sekitar. Meski tidak selalu demikian, tetapi berdasarkan pengamatan saya, seseorang yang sibuk dengan dunianya adalah pokoknya apa yang saya lakukan, entah di dalam kamar, di dapur, di ruang tamu, di depan rumah, di kebun, di pohon, di pantai, di dalam pesawat, dan di berbagai tempat umum, semuanya “harus” dipublikasikan. Tak jarang, anak bayi yang tak tahu apa-apa pun dipublikasikan. Meski dengan tujuan berbagi cerita, tetapi kita pun tidak tahu apakah ada orang yang sedang mengincar bayi tersebut atau tidak. Semuanya dalam pandangan si facebooker adalah baik, dan sering melupakan dampak negatifnya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/810225789202848901/

Dalam rapat juga demikian. Seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, dan lupa bahwa ia sedang rapat. Anggota jemaat juga demikian. Ketika sedang ibadah, mereka sibuk mengurus dunianya (menggunakan handphone untuk mengamati, mengomentari, menyukai status), ketimbang berelasi dengan Tuhan dan sesama. Facebook memiliki implikasi untuk menjadikan manusia sibuk dengan dunianya dan kurang memperhatikan dunia sesamanya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/354940014386041101/

Ketiga, tidak adanya batasan “berbagi” di facebook. Contoh kasus adalah persoalan keluarga atau rumah tangga dipublikasikan. Ketika dipublikasikan, beberapa harapan yang saya duga ikut di dalamnya seperti mencari perhatian (caper), meminta belas kasihan, ingin memberitahukan bahwa saya ada masalah, ingin melihat berapa banyak yang peduli, komentar, dan “like” statusnya. Bahkan tak jarang, seseorang mengumbar emosi dan caci maki di facabook, padahal sebenarnya hal itu justru menindas karakter personal. Psikologi semacam ini sudah begitu menggejala di kalangan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang kurang memahami makna media sosial. Facebook memiliki implikasi untuk seseorang sesuka hati mempublikasikan apa yang dia sukai dan inginkan sehingga tidak adanya batasan tertentu sebagai seleksi informasi, gambar, dan sebagainya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/299067231477852402/

Keempat, ajang permusuhan dipublikasikan di facebook. Adanya kesalahpahaman ditimbulkan karena publikasi permusuhan dan caci maki sering menjadi “tajuk rencana” dari isu-isu atau fakta permusuhan, pertikaian, perselisihan, baik bersifat personal maupun komunal. Tak jarang nama salah satu suku pun dibawa-bawa. Ini bisa memicu timbulnya konflik antar suku. Bahkan yang lebih masiv adalah publikasi permusuhan antar agama. Agama yang satu merasa paling hebat di negeri ini yang kemudian menyombongkan diri seolah-olah agama-agama lainnya kafir dan tidak ada apa-apanya.

Dari pengamatan saya, model publikasikan berbau agama atau lebih tepatnya SARA sudah banyak memakan korban. Mereka yang hanya memiliki “otak sejengkal” merasa paling benar dan arah pemikirannya sudah sepanjang “jalan tol Jakarta—Merak”, padahal justru merupakan otak sumbu pendek yang mudah meledak. Facebook memiliki implikasi untuk mengganggu tatanan hidup beragama yang damai dan tentram, tanpa adanya provokasi masiv untuk menghancurkan agama-agama lain yang tidak sepaham dengan agama tertentu.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/514395588684284766/

Kelima, ajang pamer-memamerkan sering menjadi perhatian setiap hati. Para pengguna facebook sering tidak menyaring sesuatu tetapi main hantam saja asalkan “gue senang”. Memang tidak ada yang melarang seseorang mempublikasikan apa yang dia mau, tetapi sekali lagi, ada batasan yang perlu diperhatikan. Seringkali kita melihat seseorang memamerkan: sepatu baru, celana baru, baju baru, kiriman baru, handphone baru, tas baru, pacar baru, agama baru, makanan (saat makan di salah satu rumah atau warung makan), menonton bioskop, pelayanan gerejawi, daging ayam, daging babi, daging rw, tiket pesawat, surat lamaran, sedang mengajar, sedang berkhotbah, sedang santai bareng, duduk di dalam pesawat, sedang tamasya, sedang berada di hotel, di kamar mandi, di kamar tidur, sedang berlibur ke luar negeri, sedang berenang, dan kegiatan lainnya. Facebook memiliki implikasi untuk memamerkan segala sesuatu untuk tujuan agar diri seseorang dipuji, dielu-elukan, di-ok-kan, dan kemudian kesombongan dapat muncul karenanya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/259027416044128252/

Perhatikan, mungkin dari berbagai kegiatan yang saya sebutkan di atas dapat disalahpahami. Tetapi tujuan saya di sini adalah memberikan gambaran bahwa publikasi-publikasi berbagai kegiatan adalah hak setiap orang (privasi). Saya setuju pada poin tersebut. Akan tetapi, dampak atau indikasi kesombongan dapat muncul di dalamnya. Seperti judul tulisan ini: “Kesombongan Media Sosial Facebook” adalah sebuah indikasi bahwa kesombongan seseorang terlihat dari apa yang dia publis. Meski tidak bermaksud menyombongkan diri, tetapi hati manusia tidak ada yang tahu. Yang dapat kita nilai adalah frekuensi dari sesuatu yang dia publis secara berulang-ulang. Karakter manusia menjadi “Karakter Mekanis”—ia tahu bahwa kapan ia akan mempublikasikan sesuatu yang “itu-itu melulu”. Hati, pikiran, dan tangan sudah terkontaminasi secara mekanis sehingga “sedikit-sedikit foto sesuatu dan publis” sehingga apa saja dipublis. Berciuman dengan pacar dipublis. Berciuman dengan hewan dipublis. Berciuman dengan sesama jenis, juga dipublis.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/265219865543882313/

Keenam, seseorang menindas karakternya. Implikasinya dari penindasan karakter seseorang adalah banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuka dan mengamati facebook. Bahkan hampir setiap menit seseorang membuka facebooknya (ketika menggunakan smartphone, karena dianggap lebih mudah). Karakter manusia menjadi ditekan untuk memenuhi dan memuaskan diri sendiri serta pelanggan facebook. Jumlah para “liker” sering diamati. Tangan dan hati sudah terkoneksi dengan keinginan: “semoga status saya [entah tulisan, celoteh, curhat, caci maki, marah-marah, gambar/foto” banyak yang ‘like’ sehingga hati ini merasa senang karena banyak yang peduli (menurut dia) dan banyak yang menyukainya. Inilah yang saya sebut dengan “karakter mekanis.”

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/103019910203602573/

KARAKTER MEKANIS

Karakter mekanis ditandai dengan tujuh fakta:

(1) penggunaan waktu yang terlalu banyak untuk ber-facebook-an;

(2) tangan dan hati yang selalu tergerak untuk membuka, melihat, mengamati, dan berkomentar tentang isi facebook (baca: status). Rasa-rasanya hati dan tangan telah terpikat oleh “MAGNETISASI FACEBOOK”. Sepertinya ada spekulasi perasaan, di mana seseorang merasakan bahwa ia harus “membuka” dan “melihat” facebook, entah melihat jumlah “liker” atau hanya sekadar melihat status lainnya;

(3) ketika naik bus atau mobil, yang pertama dibuka adalah facebook;

(4) ketika melakukan berbagai aktivitas seperti makan, naik pesawat, mengajar, berkhotbah, tamasya, dan sebagainya, yang paling pertama dilakukan adalah kegiatan tersebut difoto dan dipublis. Misalnya foto makanan dengan status: “yang mau makan silakan merapat”. Yang lebih aneh adalah tulang ayam pun difoto, dan tak jarang, berdoa sebelum makan adalah “second time” sesudah foto makanan (“first time”);

(5) ada persoalan sedikit, langsung dipublikasikan di facebook, entah persoalan pribadi, pelayanan, gereja, keluarga/rumah tangga, pemimpin, dan sebagainya. Hati dan pikiran selalu terkontak dengan facebook;

(6) ada kegiatan, langsung dipublikasikan. Biasanya, manusia mekanis seperti ini tidak tahu membedakan mana kegiatan yang bersifat penting (kegiatan organisasi dan sebagainya) dan mana kegiatan yang tidak bersifat penting (seperti makan, minum, tidur, mandi, pakai bedak, pakai lipstik, pakai sepatu, pakai baju, dan sebagainya); dan

(7) kelihatan agak berbeda (situasi dan kondisi), langsung dipublikasikan. Model seperti ini misalnya sesudah mandi, sudah pakai bedak, sudah pakai lipstik, sudah make-up, sudah pangkas rambut, baru dari salon smoothing rambut dan sebagainya, dan sudah-sudah lainnya. Manusia mekanis model ini, sering mencari perhatian dan mencari popularitas. Sering yang dipublikasikan adalah tidak memandang umur, mulai dari bayi dalam kandungan, bayi baru lahir, dan sampai orang mati. Meski tujuannya hanya sekadar informasi, tetapi dapat dinilai dari seberapa banyak waktu yang digunakan untuk mempublis sesuatu. Biasanya, informasi atau berita kelahiran dan kematian merupakan sebuah bentuk pemberitahuan dan kepedulian terhadap sesama. Itu justru baik. Tetapi, jangan sampai orang yang mempublis kelahiran dan kematian, juga masuk dalam daftar manusia mekanis.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/829014243892498215/

KONKLUSI

Kesombongan Media Sosial Facebook adalah sebuah pemikiran mendasar tentang karakter manusia, latar belakang manusia, dan potensi negatifnya. Kita mengetahui bersama bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk menyombongkan diri karena potensi itu nyata dan ada dalam diri manusia. namun rasanya tidak adil jika hanya potensi kesombongan yang dimunculkan. Benar, potensi positif dan kerendah-hatian juga tampak dalam perilaku psikologi media sosial facebook. Namun, dalam tulisan ini, saya memfokuskan pada potensi kesombongan, di mana kesombongan memiliki latar belakang seperti: situasi, kondisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik, kekayaan, harta, strata hidup, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, bangsa, budaya, dan karakter.

Menggunakan facebook tentu sah-sah saja. Tidak ada yang mengusik perilaku psikologi para penggunanya, kecuali ada batasan-batasan yang ditetapkan oleh perusahaan facebook itu sendiri. Salah memahami penggunaan facebook bisa berdampak pada sebuah kesombongan maya yang nyata. Kesombongan sering “menyamar” dalam bentuk publikasi-publikasi personal maupun komunal. Maraknya pengguna media sosial facebook menyeret karakter manusia menjadi “karakter mekanis”. Tangan dan hati manusia menjadi tak terkendali dan bahkan seringkali menjadi liar.

Dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan facebooka adalah: (1) relasi sesama manusia menjadi berkurang; (2) manusia sibuk dengan dunianya, dan jarang memperhatikan dunia sekitar; (3) tidak adanya batasan “berbagi” di facebook (apa saja dipublikasikan tanpa memikirkan nilai-nilai etis dan moral; (4) ajang permusuhan dipublikasikan di facebook; (5) ajang pamer-memamerkan sering menjadi perhatian setiap hati; dan (6) seseorang menindas karakternya. Implikasinya dari penindasan karakter seseorang adalah banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuka dan mengamati facebook.

Akibatnya, manusia menjadi seperti mekanis. Maka layaklah jika disebut dengan manusia berkarakter mekanis yang ditandai tujuh fakta: (1) penggunaan waktu yang terlalu banyak untuk ber-facebook-an; (2) tangan dan hati yang selalu tergerak untuk membuka, melihat, mengamati, dan berkomentar tentang isi facebook (baca: status); (3) ketika naik bus atau mobil, yang pertama dibuka adalah facebook; (4) ketika melakukan berbagai aktivitas seperti makan, naik pesawat, mengajar, berkhotbah, tamasya, dan sebagainya, yang paling pertama dilakukan adalah kegiatan tersebut difoto dan dipublis; (5) ada persoalan sedikit, langsung dipublikasikan di facebook; (6) ada kegiatan, langsung dipublikasikan; dan (7) kelihatan agak berbeda (situasi dan kondisi), langsung dipublikasikan.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/651403533576462554/

Menggunakan media sosial facebook perlu bijaksana/hikmat untuk mempertimbangkan untung ruginya dan implikasi yang muncul karenanya. Oleh sebab itu, marilah menggunakan facebook untuk kegiatan-kegiatan seperti: menyampaikan informasi atau berita tentang hal-hal yang baik, menunjukkan rasa kepedulian terhadap sesama, menunjukkan sikap beragama yang sehat meski dalam konteks perdebatan, menunjukkan sikap kedewasaan dengan tidak mempublikasikan kelemahan dan persoalan keluarga, rumah tangga, atau tetangga, menunjukkan sikap kedewasaan dengan tidak marah-marah, mencaci maki orang lain yang belum tentu memiliki facebook, dan menunjukkan sikap bijaksana dalam memberikan solusi, rasa belangsungkawa, dan rasa humanisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran.

Pengguna yang cerdik, cerdas, dan bijak, akan menuai implikasi dan hasil yang baik. Mencari pujian di media sosial facebook boleh-boleh saja, asalkan tindakan-tindakan yang dipublis memiliki nilai dan karakter kemanusiaan, karakter kepedulian terhadap alam semesta dan karakter yang mencintai Tuhan yang terwujud dalam rasa saling mengasihi dan mengampuni satu dengan lainnya.

Salam Bae…

MEMAHAMI KETIDAKADILAN

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/ujkG7mTs7IM

Proses hidup yang kita jalani selalu muncul kebenaran, dan ketidakadilan. Kebenaran, sebagai lawan dari kepalsuan dan kebohongan, merupakan sebuah natur yang paling banyak disukai manusia.

Kebenaran selalu bersifat menenangkan jiwa, memuaskan jiwa, memberikan pengharapan yang penuh, dan memberikan sukacita berlimpah

Ketidakadilan merupakan sebuah natur yang juga paling banyak disukai manusia.

Ketidakadilan selalu bersifat menggangu jiwa, melaparkan jiwa, memberikan pengharapan yang kosong, dan memberikan dukacita.

Ketidakadilan adalah hasil dari kebenaran yang diselewengkan; hasil dari ketidakpedulian terhadap sesama; hasil dari kesombongan dan keangkuhan manusia; hasil dari hawa nafsu manusia yang inggin menguasai banyak hal untuk pemuasan diri sendiri baik secara fisikal, maupun secara psikologikal.

Ketidakadilan adalah wujud dari penipuan, pemalsuan, ketidakseimbangan, korupsi, nepotisme, pilih kasih, dan kecenderungan membela yang sepaham, sesuku, dan segama.

Marilah berbuat kebenaran. Nyatakan apa yang benar, dan tegorlah yang salah. Tugas kita adalah “tinggal” di dalam kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita.

Salam Bae..

MEMAHAMI KESERAKAHAN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/126241595784350057/

Serakah adalah sebuah kata yang merangkum sikap dan habitat seseorang dalam menginginkan lebih dari apa yang telah ia miliki dengan cara yang tidak layak.

Kata yang sama dengan serakah adalah “tamak”, “loba”, dan “rakus”. Indikasi keserakahan manusia adalah menginginkan sesuatu dengan cara-cara yang tidak layak, atau cara-cara yang brutal agar tujuannya tercapai.

Tidak hanya orang duniawi yang serakah. Para pendeta Kristen juga sering terlihat sebagai seorang yang serakah. Ia ingin mendapatkan jumlah uang yang fantastis dan merangkul sejumlah pendeta lainnya yang “bodoh”—“domba yang pandir” yang siap dibodohi

Domba-domba tersebut tentu akan diberi makan. Meski makanan yang diberikan adalah makanan tipu muslihat, namun bagi si serakah, ia akan terus mendukung dan menjaga domba-domba pandirnya untuk dihidupi, diberi makan dan diberi minum dari mata air kematian. Domba-domba siap membela si serakah karena si serakah telah berjasa terhadap mereka. Si serakah terus mengeruk keuntungan yang dapat ia raih. Dengan berbagai cara ia lakukan, ia yakin akan mendapatkan jumlah uang yang fantastis itu

Keserakahan telah menutupi lemak hatinya. Matanya telah tertutup dengan uang kertas. Pikirannya telah dibungkus dengan kejahatan dan ketamakan. Ia hidup hanyalah bagaimana supaya mendapat kekayaan yang besar. Bahkan, tidak segan-segan ia menghabisi orang-orang yang menjadi penghalangnya.

Si serakah yang adalah para pendeta, telah mencurangi sebanyak mungkin orang. Ia bergelagat “sok suci” dan “tak bersalah”, mengendus suara-suara Alkitab untuk dijadikan jimat kebohongan dan kemunafikan terselubung. Dia merasa yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar-benar Tuhan berkati. Domba-domba pandirnya juga ikut menyuarakan berkat-berkat semu agar si serakah menjadi bangga dan yakin bahwa mereka ternyata masih setia. Si serakah yang tak akan pernah puas, sampai ia mati dalam keadaan yang menjadi musuh Allah.

Kita pun melihat bahwa perkara mengenai serakah dan keserahkan terjadi di sekitar kita. Tak jarang, juga di gereja kita.

Pada akhirnya, kita dapat menilai bahwa keserakahan dapat menjerumuskan siapa saja—tak pandang bulu.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa apa yang kita miliki sekarang ini, dinikmati dengan ucapan syukur, karena Tuhanlah yang menjadi sumber berkat kita; Ia memberikan kepada kita apa yang diperlukan; Ia mencukupkan segala sesuatu bagi kebaikan kita, orang-orang yang kita kasihi, dan bagi sesama yang membutuhkan.

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai