Kebaikan adalah penyejuk hati, penetral pikiran, dan penyeimbang hidup.
Berbuat baik adalah unsur spiritual manusia yang secara alami telah tertanam dalam dirinya.
Kebaikan yang ditaburkan dalam damai menghasilkan kesejukan dan sukacita tak terkira.
Kebaikan yang ditaburkan dalam konflik menghasilkan peredaman emosi dan amarah.
Kebaikan yang ditaburkan dalam perselisihan menghasilkan kedamaian yang kuat.
Kebaikan yang ditaburkan dalam perang menghasilkan penyesalan dan pertobatan.
Kebaikan yang ditaburkan dalam kebencian menghasilkan kesadaran jiwa bahwa membenci itu tidak ada gunanya dan merusak pikiran, hati, relasi, dan hidup itu sendiri.
Kebaikan yang ditaburkan dalam permusuhan menghasilkan kelegaan dan sukacita.
Kebaikan yang ditaburkan dalam kehinaan menghasilkan kehidupan yang mulia dan bermartabat.
Kebaikan yang ditaburkan dalam kelemahan menghasilkan kekuatan dan keyakinan.
Tetaplah berbuah baik dan bagikanlah kebaikan kita kepada orang lain selagi masih ada waktu.
Orang yang berbuat baik, menaburkan kebaikan, menciptakan kebaikan, dan meluaskan kebaikan. Ia pasti akan menerima kebaikan dari Sang Khalik.
Dalam diri manusia terdapat banyak kemungkinan yang bisa menjadikan dirinya dihina, dicaci maki, dimuliakan, ditinggikan, disanjung, diteladani, dan dihindari.
Keadaan munafik adalah keadaan di mana seseorang sering melakukan pembohongan, mengumbar janji palsu, meyakinkan orang lain dengan iming-iming uang, jabatan, fasilitas, kenyamanan, dan kehancuran orang lain yang menjadi musuhnya.
Kemunafikan adalah habitualisme seseorang yang di dalam dirinya telah melekat berbagai kehidupan dan natur duniawi. Rasul Paulus telah menegaskan bahwa perbuatan daging itu ialah: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, perzinaan, perburitan (persebutuhan antara laki-laki dengan laki-laki), pencurian, kikir, fitnahan dan penipuan.
Kemunafikan adalah musuh dari kejujuran dan sahabat dari kekotoran hati. Kemunafikan adalah musuh dari kebaikan dan sahabat dari kejahatan.
Kemunafikan adalah musuh dari keadilan dan sahabat dari ketidakadilan. Kemunafikan adalah musuh dari cinta kasih yang tulus dan sahabat dari perusak kesucian hidup.
Kemunafikan adalah musuh dari kebenaran dan sahabat dari kepalsuan. Kemunafikan adalah musuh dari welas asih dan sahabat dari kepura-puraan dan mencari muka.
Kemunafikan adalah musuh dari pengorbanan dan sahabat dari egoism. Kemunafikan adalah musuh dari kesucian dan kekudusan hidup dan sahabat dari kekotoran dan kenajisan hidup.
Kemunafikan adalah sesuatu yang dibenci Tuhan dan sahabat dari Iblis (setan). Kemunafikan dilakukan oleh mereka yang tidak mengasihi sesama; mereka yang tidak jujur pada diri sendiri; mereka yang ambisius dan egoisme; mereka yang hidupnya tidak beres; mereka yang relasi dengan Tuhan tidak beres; dan mereka yang selalu menipu, membohongi, dan memperalat orang lain.
Janganlah munafik. Jauhkanlah diri kita dari kemunafikan.
Kebencian yang brutal adalah fakta yang terlihat dari mereka yang membenci seseorang yang dianggap tidak bernilai, dianggap sebagai sampah atau kotoran, dianggap sebagai orang yang kurang ajar, dianggap sebagai musuh utama, dianggap sebagai penipu luar biasa, dianggap sebagai seorang yang layak mati dan celaka, dianggap sebagai seorang pendosa besar.
Kebencian yang brutal dilakukan oleh mereka yang rata-rata memiliki uang yang banyak. Mereka (para pembenci) berani melakukan segala sesuatu karena ditunjang dengan kekayaan (uang) mereka. Mereka dapat menjadi sangat jahat hanya karena tujuan mereka untuk menyingkirkan, mencelakakan, membunuh musuh utama mereka.
Kebencian telah menjadi makanan mereka setiap hari. Yang mereka pikirkan adalah kira-kira bagaimana melakukan usaha-usaha yang jitu agar musuh mereka segera dihancurkan atau pun dipermalukan bahkan dilenyapkan. Mereka seolah-olah menjadi sahabat dekatnya Iblis, Bapa segala dusta dan sang Pembunuh manusia sejak mulanya. Para pembenci yang brutal tidak mengenal usia dan jabatan. Para pendeta pun bisa ikut nimbrung di dalam kandang “kebencian”. Mereka merasa diri mereka paling suci dan benar. Mereka merasa bahwa merekalah yang tidak berdosa sedangkan musuh mereka adalah pendosa besar.
Mereka merasa bahwa “Tuhan berpihak kepada mereka” meski dengan cara-cara yang menipu, memalsukan kebenaran, pembohongan publik, mengadopsi cara-cara preman (menakut-nakuti, atau mengancam siapa pun yang tidak mau mengikuti mereka). Tuhan dibajak oleh mereka. Omongan mereka seperti tidak berdosa. Nama Tuhan diserukan, tetapi orang lain dijuhat dan direndahkan. Nama Tuhan dipajang sebagai penguat argumentasi dan kepura-puraan mereka. Mereka merasa suci karena mereka telah menyucikan diri dari hal-hal duniawi meski cara-cara yang mereka lakukan persis duniawi. Nama Tuhan dipakai sebagai ornament doa mereka dan merasa bahwa Tuhan akan menjawab doa mereka. Mereka berdoa dengan mengatakan orang lain berdosa dan mereka tidak, suci tanpa noda, cela, dan dosa. Luar biasa kesucian dan kekudusan mereka
Bahkan, jika semut pun mendengarkan identitas mereka, semut akan jatuh terpeleset karena goncangan yang dahsyat yang didengar oleh semut. Semut akan terheran-heran dengan kesucian dan ketakberdosaan mereka. Menuduh orang lain berdosa, sedangkan mereka tidak. Wow.. luar biasa hebatnya. Langit pun tak sanggup melihatnya dan menggunakan awan untuk menutupi matanya. Bahkan awan yang menutupi mata langit tak sanggup menahan pedihnya hati mereka, sehingga mereka, akhirnya mencucurkan air mata ke bumi.
Kebencian telah memenuhi semua ruangan hati mereka. Tiada tempat bagi kebaikan, kesadaran, dan kesucian diri. Kebencian telah menjadi raja hati mereka. Anak buah kebencian yaitu: kesombongan, tipu muslihat, kepalsuan, intimidasi, roh pemecah, penipuan, premanisme, memperalat orang lain dengan uang dan kekuasaan, dan kemunafikan. Mereka setiap hari berolah raga untuk memperkuat tubuh mereka agar siap berperang melawan orang yang diurapi Tuhan, siap melawan siapa saja yang menjadi musuh dari kebencian yang brutal
Tak ada waktu bagi mereka untuk merenung sejenak akan fananya hidup ini, akan penghakiman dan pengadilan Tuhan yang Mahakuasa. Kebencian telah menguburkan kebaikan dan kekudusan hidup dirinya dan orang lain. Kebencian membawa kematian.
Kebencian yang brutal seringkali menjadi sesuatu yang menggelikan di telinga kita. Betapa tidak, orang yang menamakan dirinya Kristen, toh masih juga memiliki kebencian yang brutal yang dampaknya adalah “menghalalkan” segala cara untuk memuaskan hawa nafsu yang tak terkendali itu – meskipun rugi, ia tetap saja memelihara kebenciannya. Hanya ada tiga cara yang dapat menyadarkan orang itu yakni: kecelakaan, jatuh sakit, dan hampir mati. Dan hanya ada satu cara untuk menghentikan kebrutalannya itu: “kematian mendadak”.
Dengan kematian mendadak, di mana secara bersamaan dia sedang dalam kondisi membenci orang lain secara brutal, bisa saja juga menyadarkan kawan-kawan karibnya yang juga melakukan hal yang sama, atau mendukung apa yang dilakukan orang tersebut.
Dari sudut ini, TUHAN masih memberikan kesempatan untuk bertobat, dan mengubah diri menjadi orang yang menebarkan cinta kasih dan pengampunan yang dari TUHAN. Seringkali, tanpa kita duga, para pendeta terjebak atau sengaja menjebakkan dirinya ke dalam gerakan kejahatan untuk menghancurkan orang lain. Dengan bermodalkan “menghalalkan segala cara”, pada pendeta tersebut dengan gencar akan melalukan banyak hal agar banyak orang-orang, atau para pendeta lainnya yang mengikuti dan percaya akan omong kosong mereka. Mereka pintar merayu dan menebarkan cinta kasih semu, cinta kasih yang sebenarnya brutal tetapi dibalutkan dengan emas. Mereka pintar mengungkapkan kecantikan dan kebersihan diri mereka (meskipun hatinya kotor) – ibarat seorang pelacur yang senantiasa merayu dan menebarkan senyum semu agar dirinya dilacuri oleh sekian banyak laki-laki yang haus akan seks dan kenikmatannya.
Menebarkan kebencian yang brutal sama saja menaburkan benih-benih kematian dan benih-benih kehancuran. Hidup ini tidak akan berarti jika hanya kebencian yang pelihara dan besarkan dalam hati dan pikiran kita. Kebencian merusak hati dan pikiran. Kebencian mengambil dan menyita banyak waktu kita untuk hidup dalam kubangan dosa. Kebencian adalah praktik hidup dari orang-orang yang tidak beres secara moralitas dan spiritualitas. Kebencian adalah kesukaan dari orang-orang yang suka mencelakakan orang lain; kesukaan dari mereka yang sombong, baik sombong secara kekuasaan, maunpun sombong secara kekayaan.
Kebencian adalah matinya nurani, matinya kebaikan, matinya cinta kasih, matinya kesadaran diri. Tidak ada yang dapat dibanggakan manusia selain menyadari bahwa dirinya ada dalam pemeliharaan Tuhan.
Hidup manusia, sejak awal, adalah sebuah pembatasan. Pembatasan tersebut adalah naturnya. Tuhan telah menetapkan sebuah ciptaan yakni “manusia” sebagai makhluk bermoral, berpendidikan, berlogika, berkembang biak, berkesadaran tinggi, berperasaan, beremosi, berketetapan, berkehendak, berkemauan, berkeinginan, berhasrat, berelasi, berkasih sayang, dan beradab. Pembatasan yang dimaksud adalah pembatasan potensi dan kehidupan manusia di bumi. Akibat dari pembatasan tersebut, kematian merupakan salah satu implikasinya. Kematian adalah natur kewajaran manusia. Kematian memiliki latar belakang pembatasan natur manusia. Kematian berdampak pada kesedihan, kebahagiaan, sukacita, pesta pora, kepuasan, pelunasan hutang, tindakan diperalat, tindakan siasat dan tipu muslihat, penipuan dan lain sebagainya.
Kematian manusia adalah sebuah fenomena hidup yang sudah Tuhan atur. Kematian tidak memandang siapa pun. Natur pembatasan melingkupi semua jenis manusia. Tak ada yang dapat melarikan diri dari kematian. Kematian melanda semua belahan dunia. Ada kematian wajar, ada kematian tak disengaja, ada kematian yang disengaja, ada kematian karena hukuman, ada kematian karena pembalasan dendam, ada kematian karena iri hati, perselisihan, permusuhan, peperangan, kecelakaan, gempa bumi, sakit menyakit, penanganan medis, pembunuhan, pembantaian, stroke, diguna-guna, dan lain sebagainya.
Menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang bernatur pembatasan, seharusnya kita menjaga pola hidup dan kesehatan; menjaga perilaku dan pola pemikiran; menjaga identitas dan jatidiri kita; menjaga keamanan dan kenyamanan hidup kita. Kematian adalah sebuah hadiah bagi mereka yang mencintai Tuhan untuk bertemu dengan-Nya. Kematian adalah hadiah bagi mereka yang secara sadar telah melakukan berbagai tindak kejahatan, melakukan pemalsuan kebenaran, melakukan penipuan, melakukan penghinaan, melakukan kebohongan, melakukan intrik-intrik politik busuk, dan melakukan berbagai cara yang jahat dan tak berperi kemanusiaan.
Kematian melanda semua manusia tanpa terkecuali. Hidup mati dikuasai lidah, demikian ungkapan Raja Salomo. Lidah bijak mendatangkan hidup, tetapi lidah dusta mendatangkan celaka dan kematian. Hidup benar di hadapan Tuhan mendatangkan hidup, hidup buruk dan membenci sesama mendatangkan kematian yang wajar. Hidup yang suci mendatangkan pujian dan kemuliaan. Hidup yang kotor dan nista mendatangkan hinaan dan kematian yang tanpa disengaja. Hidup yang peduli dengan sesama mendatangkan kedamaian dan keriangan. Hidup yang kudus mendatangkan kebersihan diri dan terhindar dari jerat-jerat duniawi
Memahami kematian berarti memahami kehidupan. Memahami kehidupan berarti memahami kefanaan hidup – pembatasan hidup yang telah menjadi ketetapan Tuhan. Namun, Tuhan juga telah menyediakan hidup yang tak terbatas—sebuah kehidupan bersama Dia, kehidupan kekal. Mereka yang bersama Dia adalah mereka yang telah setia, telah taat, dan telah bertahan dalam kekudusan, bertahan dalam menghadapi goncangan-goncangan dunia, bertahan menghadapi manisnya rayuan dunia: seks, perzinaan, kemabukan, pesta pora, kekayaan besar tapi harus membenci dan menjatuhkan orang lain yang tidak bersalah, kenikmatan seks, obat-obat terlarang, dan minuman keras.
Kematian merupakan pembatasan hidup. Bagi orang jahat, kematian menghadiahkan kematian kekal, dan bagi orang benar dan setia, kematian menghadiahkan kehidupan kekal.
Pendeta pelacur adalah pendeta yang terlibat dalam kasus-kasus yang lumrah: percabulan, kudeta, perebutan jabatan, penipuan, mau mendapatkan jatah pembagian harta kekayaan, memperalat orang lain untuk kepentingan dan pemuasan hawa nafsu pribadi. Kasus-kasus tersebut menjadi ukuran betapa brutalnya pendeta – dengan menghalalkan segala cara – ia mulai mencari dukungan di mana-mana dan mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang dapat dirayunya, yang dapat dipeluknya, yang dapat diciumnya, yang dapat dibayarnya, yang dapat dilacurinya.
Dengan bermodalkan jabatan “pendeta” dan ditambah dengan pemalsuan “suara Tuhan”, pendeta pelacur tersebut akan rela mengeluarkan apa saja termasuk uangnya untuk berjuang mencapai apa yang menjadi tujuannya. Pendeta pelacur akan menggunakan berbagai cara seperti kekerasan, ancaman, sogokan, pembohongan, kemunafikan, provokasi, dan penipuan. Anehnya, orang-orang yang ditipu adalah anggota jemaatnya, bahkan ada juga yang berstatus pendeta dan pelayan Tuhan. Jadi, pendeta menipu pendeta.
Para pendeta dan pelayan yang ditipu atau dirayu oleh pendeta pelacur adalah pendeta dan pelayan yang matanya hanya berfungsi sebelah. Mengapa? Karena mata sebelahnya telah ditutupi dengan “iming-iming” harta kekayaan, uang, seks, dan sebagainya. Para pendeta yang telah terkena racun penipuan yang dahsyat digambarkan sebagai pendeta-pendeta pandir yang tidak dapat berbuat apa-apa.
Mungkinkah mereka disebut orang baik dan akan berbuat baik? Dalam anggapan saya, tidak mungkin. Nabi Yeremia pernah berujar: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hal orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat? (Yeremia 13:23).
Di sini jelas bahwa habitualisme seseorang yang berbuat jahat, tidak dapat berbuat baik karena perbuatan jahat telah menjadi kebiasaan mereka setiap hari. Tak mungkin satu sumber mata air memancarkan air tawar dan air pahit. “Pohon yang baik menghasilkan buat yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Matius 7:17). “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik” (Lukas 6:43), dan “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari penbendaharaannya yang baik dan orang-orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Matius 12:35)
Rasul Petrus pernah berujar: “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’” Gagasan ini sebenarnya berangkat dari natur manusia itu sendiri. Jika naturnya selalu berbuat jahat semata-mata, maka dia akan tetap kembali ke kubangannya. Mereka akan memakan apa yang pernah mereka muntahkan. Ucapan mereka tidaklah dapat dipercaya karena bersumber dari hati yang mau mencari kepentingan diri sendiri.
Sebelum Rasul Petrus, penulis kitab Amsal menegaskan bahwa: “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” Raja Daud juga menjelaskan konteks yang sama. Ia menuturkan, “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya” (Mazmur 36)
Mengapa dikatakan pendeta pelacur? Alasannya sederhana, sesuai dengan apa yang diperbuatnya yakni:
(1) Melacurkan dirinya untuk diikuti oleh para domba pandir.
(2) Dirinya siap digunakan oleh para domba pandir dengan cara meminta sesuatu dari pendeta pelacur untuk memuaskan keinginan mereka.
(3) Para domba pandir memiliki sejumlah alasan untuk menjadi pengikut pendeta pelacur, dan salah satunya adalah pendeta pelacur harus memberi makan dan minum sebagai imbalan atas lacurannya.
(4) Melakukan apa saja dengan siapa saja agar keinginannya terpuaskan.
(5) Siap membayar siapa saja agar hasrat dan kesombongannya terpenuhi.
(6) Siap bekerja sama dengan siapa saja asalkan memberikan keuntungan kepada dirinya meski dengan cara-cara yang tidak ia sukai.
(7) Terus mencari dukungan, mencari mangsa yang dapat ditelannya dengan rayuan manisnya
Pendeta pelacur adalah mereka yang telah mengesampingkan gagasan-gagasan moral dan spiritual demi pemuasan ambisi dan egonya. Mereka adalah orang-orang yang durhaka. Mungkinkah kita melihat mereka? Mungkinkah klta telah mengikuti mereka? Mungkinkah kita telah terperangkap dalam jaringnya?
Keluarlah! Tinggalkanlah dia! Jangan merusak dirimu dengan berbagai-bagai duka akibat dari pergaulan dengan pendeta pelacur. Hidup itu begitu berharga untuk diserahkan kepadanya. Jangan ragu untuk pergi dan meninggalkannya, sebab kehidupanmu sangatlah berarti dan masih dapat dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih mulia, lebih baik, lebih lurus dan berkenan kepada Tuhan Yesus.
Kekristenan berkembang dan menjadi agama terbesar di dunia adalah fakta yang mengejutkan. Hal ini disebabkan karena pekabaran Injil terus dilakukan, yang menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, mengasihi, menebus, mengampuni, mendamaikan, menguduskan, dan menyelamatkan manusia-manusia yang berdosa. Dalam catatan sejarah, sejak abad pertama hingga sekarang ini, gerakan misi terus dilakukan. Meski berbagai ancaman, kekejaman, dan pembunuhan terhadap para pekabar Injil, bahkan juga bagi para pengikut Yesus, telah menimbulkan kesedihan yang mendalam. Para martir Kristen dibunuh, dipenggal, dijadikan tontonan umum tatkala mereka dimakan binatang buas, disalibkan, dibakar hidup-hidup untuk dijadikan lampu taman. Apakah kemudian orang Kristen lainnya menuntut balas? Tentu tidak. Tuhanlah yang akan membalasnya, karena para martir mati demi Tuhan yang telah memberikan iman yang kuat; mereka tetap mempertahankan iman hingga mati. Itu adalah sebuah upaya rekursif dalam menghadapi tantangan di zaman mereka.
Rekursif adalah sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang berulang-ulang, berasal dari bahasa Latin “recursus” yang berarti “berulang-ulang”, atau “berulang”. Jika dikaitkan dengan tindakan misi, maka pola bermisi sejak awal di zaman para rasul terus dilakukan secara “berulang” sampai sekarang ini.
Dalam kaitannya dengan upaya rekursif tersebut, tidak hanya keberhasilan para misionaris yang membawa jiwa kepada Kristus Yesus, tetapi sejarah juga mencatat bahwa muncul juga gerakan perlawanan untuk meredam dan menghalangi proses pekabaran Injil. Gerakan perlawanan terhadap iman Kristen bermuara pada dua tujuan yaitu menghambat berita Injil dan memusnahkan ajaran-ajaran Kristen tentang Yesus (sebagaimana termaktub dalam Alkitab). Upaya untuk memusnahkan pengikut Yesus dan Alkitab masih terus terjadi. Namun ketika Injil tidak lagi diberitakan karena hambatan dan halangan tersebut, Tuhan kemudian membuat “mukjizat” yang luar biasa. Mukjizat adalah suara Tuhan yang berbicara melalui tindakan (perbuatan ajaib) ketika para pekabar Injil dilarang berbicara. Maka di sini, kekristenan berkembang karena tiga hal: pertama, karena pemberitaan Injil mengandung kasih dan keselamatan dari Tuhan; kedua, karena mukjizat yang Tuhan lakukan untuk meneguhkan berita Injil atau karena Tuhan ingin menunjukkan kuasa-Nya, baik kepada pekabar Injil maupun kepada mereka yang menentang Injil; dan ketiga, karena perbuatan-perbuatan kasih yang dilakukan oleh orang-orang Kristen termasuk para penginjil.
Dalam sejarahnya, Kristen adalah agama yang diiringi dengan penderitaan. Oleh para lawan mereka, pengikut Yesus Kristus dibuat menderita bahkan dibunuh karena mereka mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Ancaman demi ancaman, halangan demi halangan, hambatan demi hambatan, pembunuhan demi pembunuhan, persekusi demi persekusi, tidak mengecilkan peran para pekabar Injil untuk menyatakan bahwa keselamatan yang telah dikerjakan Yesus dan penebusan manusia dari dosa-dosa mereka telah secara sempurna digenapi oleh Yesus melalui kematian-Nya sebagai “manusia” di kayu salib (bdk. Filipi 2:8). Berita ini tetap ada dan bertahan di sepanjang sejarah. Pengampunan dosa adalah berita yang cukup menggelisahkan atau menggentarkan para pelaku dosa bahwa mereka membutuhkan Juruselamat untuk memberi mereka kedamaian, kelepasan, dan kebahagiaan.
Kristen, selain Yudaisme (Israel) adalah agama yang sering mengalami penderitaan. Yudaisme dalam sejarahnya diwarnai dengan penindasan dan kesengsaraan. Dalam bingkai “Perjanjian Lama” versi Kristen, bangsa Israel yang adalah cikal bakal agama Yudaisme, bangsa yang hidup dalam tekanan, penindasan, perbudakan, kesengsaraan, dan terutama berada di bawah hukuman Tuhan akibat dari berbagai bentuk penyelewengan dan kenajisan hidup yang melawan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Kristen yang lahir dari rahim Yudaisme adalah agama yang memiliki perspektif yang sedikit berbeda dengan Yudaisme. Terutama dalam soal tafsir “Mesias”. Percabangan tafsir yang muncul dalam konteks ini menjadikan Kristen sebagai “agama” yang lahir, berdiri, dan berkembang dalam wadah “Inkarnasi Allah menjadi daging [manusia]—ο λογος σαρξ εγενετο [ho logos sarks egeneto]” yaitu “Yesus Kristus”.
Yesus, sebagai pijakan dan tolok ukur ajaran-ajaran kasih dan keselamatan telah menjadi “trending topic” dari arus orang-orang percaya yaitu para pengikut-Nya. Mereka adalah para penyembah Yesus, menaruh harapan pada-Nya sebagai Juruselamat: Penebus dan Penyelamat. Keselamatan yang diwujudkan dalam peristiwa kematian-Nya disalib sebagai manusia telah menjadi peristiwa yang sangat berkesan. Allah yang menjadi manusia (inkarnasi) adalah satu-satunya cara yang diperlihatkan Allah kepada dunia. Meski ada orang-orang dunia yang tidak menerima cara tersebut, namun cara itu pula yang menjadikan Kristen sebagai agama yang kuat dan dikagumi di sepanjang sejarah.
Dalam perkembangannya melalui penginjilan, berita yang dikumandangkan adalah tentang “Allah yang begitu mengasihi manusia berdosa dan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai ‘jalan penebusan’” dan “kasih Yesus yang luar biasa: rela mati di kayu salib untuk maksud penebusan dan realisasi keselamatan.” Konsep keselamatan yang ditetapkan Allah didasarkan pada dua hal yakni kasih karunia dan pencurahan darah. Dua konsep ini kemudian diwujudkan dalam inkarnasi [ho logos sarks egeneto]: Allah yang mewujud dalam tubuh manusia secara alamiah. Allah menetapkan “cara” menebus yang lain dan unik. Mereka yang tidak paham tentu akan mengumpulkan sejumlah opini dan keberatan untuk mempertanyakannya dan menggembar-gemborkan konsep atau paham yang tidak benar (menyimpang).
Berita bahwa “Allah yang begitu mengasihi manusia berdosa dan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai ‘jalan penebusan’” dinyatakan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya yang ditulis berdasarkan fakta bahwa ia sendiri adalah pengikut Yesus Kristus; ia sendiri melihat dan merasakan kuasa dan mukjizat yang diperlihatkan Yesus; ia pula yang mendengar dan melihat bukti klaim-klaim spektakuler Yesus mengenai diri-Nya: Tuhan dan Allah, Sang Juruselamat dunia:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16-18)
Mereka yang percaya kepada Yesus berarti sama dengan percaya kepada Sang Bapa yang mengaruniakan Yesus bagi dunia yang berdosa. Lalu bukankah pernyataan Rasul Yohanes mengindikasikan bahwa “Allah punya Anak” atau “Allah beranak?” Mereka yang memahami “Allah beranak” pasti pikirannya tumpul; ya, memang tumpul. Istilah “Anak” di sini tidak dipahami sebagai sebagai konsep biologis bahwa istri Allah hamil dan beranak. Ini jelas pikiran dari yang bodoh; bodoh karena tidak memahami konsep bahwa Allah memiliki sejumlah kualitas kuasa yang tak dapat dipahami oleh manusia. Istilah “anak” memiliki beberapa pemahaman: pertama, anak secara biologis (status sebagai anak karena dilahirkan dari orangtuanya); kedua, anak secara pengakuan (misalnya Israel adalah ‘anak kesayangan Allah’. Itu berarti Israel diakui oleh Allah sebagai yang disayang, dijaga, dan diberkati. Yesus Kristus, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, dinyatakan ‘diakui’ oleh Allah sebagai ‘Anak-Nya yang tunggal’ yang kepada-Nya Ia berkenan [Mat. 3:17; 17:5; Mrk. 1:11; bdk. Yoh. 1:14, 18; 3:16, 18; 1Yoh. 4:9]); ketiga, anak secara adopsi (seseorang dapat disebut sebagai anak karena ia telah ‘diadopsi’ oleh seseorang. Dalam istilah sekarang, disebut dengan ‘anak angkat’); keempat, anak secara atau dalam konteks silsilah (misalnya: Yesus Kristus anak Daud, anak Abraham [Mat. 1:1]); dan kelima, anak secara identitas turunan [penyebutan] yang sama, satu substansi yang setara, misalnya penyebutan atau pengakuan “Anak Allah”. Konteks ini seringkali dipakai Yesus untuk menyebut diri-Nya sebagai “Anak Allah” (Yoh. 5:25, “…orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah”; Luk. 22:70, “Jawab Yesus: ‘Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah’”; Yoh. 11:4, “…sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan”), atau pengakuan Yohanes (Yoh. 1:18, “…tetapi Anak Tunggal Allah….; 1:34, “Ia inilah Anak Allah”; 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal….”; 3:17-18, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya … sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”; 20:31, “…supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah….”), pengakuan Iblis untuk mencobai Yesus (Mat. 4:3, 6; Luk. 4:3, 9), pengakuan setan-setan, roh-roh jahat (Mat. 8:29; Mrk. 3:11; 5:7; Luk. 4:41; 8:28), terlebih para murid yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Mat. 14:33; 16:16), pengakuan kepala pasukan (Mrk. 15:39), pernyataan Markus (Mrk. 1:1), peryataan (pengakuan) malaikat terkait kelahiran Yesus, Sang Juruselamat (Luk. 1:32, “disebut Anak Allah Yang Mahatinggi”; 1:35, “sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”), pengakuan Natanael (Yoh. 1:49, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”).
Dalam terang inkarnasi Logos menjadi daging [manusia], Allah merealisasikan kovenan yang baru untuk menunjukkan kepada manusia berdosa bahwa “cara penebusan dalam PL secara penuh dan final dikerjakan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, di mana kurban dalam PL hanya mati tapi tidak bangkit dari kematian, sedangkan Yesus melampaui dari kurban PL. Itulah cara Allah yang dipilih-Nya tanpa meminta persetujuan manusia. Berita tentang “kasih Yesus yang luar biasa itu: rela mati di kayu salib untuk maksud penebusan dan realisasi keselamatan yang ditetapkan-Nya sejak kekekalan” menjadi topik utama dalam tulisan-tulisan para rasul. Sebut saja dua di antaranya: Rasul Petrus dan Rasul Paulus. Rasul Petrus menegaskan,
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah (1Ptr. 1:18-21).
Penegasan Rasul Petrus di atas adalah sebuah fakta yang terjadi. Konsep “darah” menjadi familiar dalam kaitannya dengan penebusan. Petrus mengkorelasikan “darah” dalam PL dengan “darah” Yesus Kristus di Perjanjian Baru. Darah sebagai media adalah cara Allah, sekali lagi: cara Allah — dan bukan cara manusia — untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Darah adalah simbol pengurbanan. PL hanya memperlihatkan darah binatang untuk membereskan ketidakberesan bangsa Israel. PB memperlihatkan darah Yesus untuk menebus manusia yang berdosa (bdk. Mat. 1:21). Di sini sangat terlihat konsep pengurbanan yang luar biasa. Seperti pemahaman yang diungkapkan Rasul Paulus, bahwa “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21) adalah benar, sama seperti konsep pengurbanan dalam PL. Binatang-binatang tidak mengenal dosa bangsa Israel, tetapi binatang-binatang itu jadi “pengganti” bangsa Israel. Itulah cara Allah: mengganti Israel untuk ditebus dengan binatang yang darahnya harus dicurahkan. Binatang itu mati menggantikan mereka. Yesus pun demikian: Ia adalah “pengganti” manusia berdosa; Ia tidak berdosa, tetapi dibuat Allah menjadi dosa karena kita, sama dengan binatang-binatang (dalam PL) yang tidak bersalah apa-apa tetapi dijadikan sebagai dosa untuk menebus bangsa Israel. Binatang adalah “pengantara” antara Allah dan bangsa Israel, demikian pula Yesus: Ia adalah Pengantara yang sempurna. Ia mati sebagai kurban yang sempurna, dan bangkit dari kematian. Teks-teks berikut meneguhkannya:
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan (1 Tim 2:5-6)
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibr. 7:25)
Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama (Ibr. 9:15)
Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil (1 Yoh. 2:1)
Rasul Paulus juga menegaskan konteks kematian Yesus dalam rangka penebusan yang bertolak dari kesaksian Kitab Suci (maksudnya PL): “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor. 15:3-4). Ada nubuat-nubuat yang cukup menegaskan bahwa penderitaan, kematian, kebangkitan Mesias diwujudkan dalam diri Yesus Kristus. Karya-karya Yesus meneguhkan nubuatan-nubuatan PL. Itu berarti konsep penebusan PL yang melibatkan darah binatang terealisasi secara sempurna dalam kematian Yesus yang mencurahkan darah dan mengalami kematian sebagai manusia sebagaimana yang ditegaskan Paulus berikut ini: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).
Kematian Yesus adalah bukti cinta kasih-Nya kepada manusia berdosa. Allah menggunakan cara yang ajaib dan luar biasa. Yesus menjadi manusia untuk membereskan ketidakberesan manusia. Lalu bukankah Allah itu Mahakuasa? Bukankah Ia dapat mengampuni manusia berdosa tanpa harus melalui cara penyaliban Yesus? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berangkat dari ketidakmengertian akan kedaulatan Allah. Saya dapat mengajukan pertanyaan untuk menyeimbangi pertanyaan tersebut: “Yang berhak menebus itu siapa?”; “Apakah manusia berdosa berhak mengatur Allah yang Maha Berdaulat?”; “Apakah Allah kurang pandai untuk menebus manusia dari dosa, sehingga manusia harus memberikan saran kepada-Nya soal cara yang paling baik untuk menebus manusia?” Kematian adalah cara yang paling baik yang dilakukan Allah untuk memberikan kehidupan kekal kepada mereka yang ditebus Allah. Binatang-binatang (dalam PL) darahnya dicurahkan dan mati; Yesus Kristus (dalam PB) darah-Nya dicurahkan dan mati. Dua prinsip ini sama tetapi “medianya” berbeda.
Berangkat dari dua prinsip tersebut, saya memahaminya sebagai cara Allah yang luar biasa. Kalau darah binatang yang dikurbankan hanya menebus bangsa Israel sebagai umat pilihan, darah Yesus yang dicurahkan justru membuktikan bahwa darah Yesus cukup untuk menebus semua umat pilihan yang tersebar di seluruh dunia. Allah menampilkan kehebatan kuasa-Nya sebagai realisasi dari rencana kekal-Nya untuk menyelamatkan manusia di seluruh dunia—umat yang telah dipilih-Nya. Dari situlah ide untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa sebagai gerakan “Kasih dan Keselamatan” yang telah diwariskan Yesus kepada para pengikut-Nya.
Selain keberhasilan dari para pekabar Injil, ada pula aliran penentang kekristenan. Arus ini sering mengandalkan otot ketimbang otak. Meski juga otak sering dipakai untuk melawan gagasan-gagasan doktrinal Kristen. Otot digunakan untuk membuat kekerasan, intimidasi, pengusiran, pembakaran, pembunuhan kepada orang-orang Kristen dan tempat ibadahnya. Karena otak mereka tidak dapat menerima ajaran-ajaran Kristen, maka ototlah yang lebih berperan. Bukan karena Kristen tidak bisa berperang atau melawan, tetapi karena tidak ada teks rujukan yang pernah Yesus ajarkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak sama sekali.
Arus penentang kekristenan di sepanjang sejarah sering melakukan tiga hal: pertama, menghambat pergerakan misi dan perkembangan populasi Kristen dengan berbagai cara; kedua, membunuh atau membantai orang-orang Kristen dengan cara-cara yang sadis sehingga menimbulkan ketakutan bagi orang Kristen lainnya; dan ketiga, menafsirkan ajaran-ajaran Alkitab sesuka hati tanpa didasari oleh pengkajian hermeneutik yang kredibel dan solid. Pada kasus pertama, kedua, dan ketiga, hingga sekarang masih dilakukan. Ketika kasus pertama dan kedua tidak dapat dijalankan, maka kasus ketiga dijalankan. Sekarang ini, ada sejumlah orang atau kelompok yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab dengan model tafsiran sesuka hati [tafsir dengkul] dan kemudian menyodorkan kepada orang-orang Kristen yang kurang terpelajar atau yang bahkan kurang memahami ajaran-ajaran Kristen, sehingga bisa berpotensi mempengaruhi mereka.
Arus jenis ini yaitu menggunakan tafsir bebas sesuka hati terhadap teks-teks Alkitab, cukup marak di Indonesia. Mereka suka sekali menafsirkan Alkitab dari kacamata agama mereka dan kemudian menjadikan seolah-olah agama mereka yang benar sesuai harapan mereka tentunya. Arus jenis ini juga sudah dimulai sejak lama. Sebut saja dari kalangan Islam adalah Ahmed Deedat dan dilanjutkan oleh Zakir Naik yang memiliki pola yang sama yaitu menggunakan teks-teks Alkitab lalu menafsirkannya sesuka hati sesuai kepentingan. Demikian juga dengan Irena Handono, Ustadz Kainama, Yahya Waloni, dan lain sebagainya yang tipenya sama. Bahkan yang lebih bodoh/konyol lagi adalah ada yang mengatakan bahwa: “Alkitab dinyatakan benar kalau Alquran menyatakannya benar”. Ini lucu sekali, dan terkesan sangat bodoh.
Berangkat dari arus penentang tersebut, tugas orang Kristen adalah terus mendalami kekayaan ajaran-ajaran Alkitab, sehingga dapat mempertanggungjawabkan iman di hadapan semua orang yang meminta, mengingingkan, menanyakan penjelasan tentangbya. Tidak perlu takut ketika ada pertanyaan-perntayaan sulit untuk dijawab, sebab iman itu kadang tidak bisa dijelaskan dengan perkataan (secara logis), sebab catatan penting di sini adalah “Tuhan tidak dipahami secara penuh oleh manusia yang terbatas”. Yang dipahami adalah apa yang telah difirmankan-Nya kepada manusia. Kritik-kritik atas Alkitab wajar saja dilakukan, tetapi para pengkritik juga harus memahami jawaban yang diberikan. Tidak hanya suka mengkritik, tetapi juga suka menerima penjelasan atas kritik tersebut.
Gerakan kasih dan keselamatan harus terus dilakukan dan dikumandangkan. Kekristenan akan terus berkembang ketika gerakan kasih dan keselamatan menjadi bagian penting untuk dilakukan. Kasih tentu lebih dari sekadar berbuat baik secara normatif. Pemberitaan Injil berisikan kasih dan keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada manusia berdosa. Gerakan kasih adalah saat orang Kristen mempublikaskan perbuatan-perbuatan terang (baik dan selaras dengan kehendak Allah), melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Penginjilan adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman Kristen. Penginjilan telah menjadi sahabat karib iman Kristen. Penginjilan bukanlah pemaksaan untuk menjadi Kristen, tetapi lebih kepada bagaimana manusia memahami dirinya yang berdosa dan membutuhkan Tuhan sebagai Penebus yang menebusnya dan memberikan keselamatan yang kekal.
Keselamatan yang diberikan Tuhan hanya bagi mereka yang percaya kepada-Nya dan setia melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Mengapa harus keselamatan? Pasalnya, manusia itu mati, dan setelah mati ia ke mana? Tuhan justru menawarkan kehidupan setelah kematian dan manusia yang ditebus-Nya dapat menikmati kehidupan dan kebahagiaan dalam Surga-Nya. Penghiburan bagi orang percaya adalah karena mereka diyakinkan menerima kehidupan kekal, mahkota kehidupan, dan ikut tinggal dalam Surga-Nya. Maka, kematian bukanlah ketakutan yang membelenggu iman, tetapi justru iman itulah yang memberikan pengharapan dan kelegaan bahkan kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan meletakkan semua proses kehidupan ke dalam tangan kuasa Tuhan. Tentu Tuhan sanggup mengatur kehidupan semua orang yang percaya kepada-Nya.
Sebagai gerakan kasih melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, Kristen haruslah menjadi garam dan terang dunia di mana pun berada. Keselamatan yang Tuhan berikan haruslah diwartakan dengan cara damai, bukan dengan cara perang. Mewartakan kasih dan keselamatan Tuhan telah menjadi tugas utama kita sebagai orang percaya. Tugas kita hanyalah mewartakannya, dan selebihnya Tuhan yang akan mengerakkan hati setiap orang yang telah mendengar kabar tentang kasih dan keselamatan yang Tuhan lakukan dalam sejarah kemanusiaan.
Yesus Kristus adalah Juruselamat—dengan darah-Nya, Ia menebus manusia berdosa—dan kehendak-Nya adalah manusia hidup dalam kebenaran, hidup dalam kekudusan dan kesucian, menjadi pembawa damai, sebagaimana yang diajarkan-Nya: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Meski kadang penderitaan dan aniaya terjadi bagi kita oleh mereka yang membenci kita karena beriman kepada Yesus Kristus, tetap bersabar dan ingat pesan-Nya:
“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).
Kristen sebagai gerakan kasih dan keselamatan harus terus menjadi berkat meski sering dihujat. Teruslah menjadi terang meski sering dianggap berpikiran gelap. Teruslah menjadi pelayanan Tuhan meski ada hambatan di depan. Teruslah lemah lembut, meski kadang sering dianggap kurang ajar. Teruslah mencari kebenaran, memahaminya, dan tinggal di dalamnya, meski kebenaran sering disalahpahami oleh mereka yang membenci kita. Teruslah bermurah hati meski sering dicurigai. Teruslah menjaga kesucian hati, meski kadang godaan dan tawaran menggiurkan dikipaskan di depan mata kita. Teruslah membawa damai, meski kadang diintimidasi dan ditekan bahkan didiskriminasikan. Teruslah bertahan dan bersabar dalam penderitan dan aniaya oleh sebab kebenaran iman kepada Yesus KRistus, meski ketidakadilan dan diskriminasi kita terima. Teruslah sabar dan berdoa bagi mereka yang mencela, menganiaya, dan yang memfitnah segala yang jahat kepada kita.
Dan ingatlah keagungan rahasia ibadah kita, bahwa “Dia [Yesus Kristus], yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan” (1 Tim. 3:16). Inilah yang menjadi isi berita Injil sebagai bentuk kasih kita kepada sesama, dan keselamatan yang telah diberikan Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib akan terus menjadi pemberitaan bagi bangsa-bangsa lain. Tugas kita adalah memberitakan Injil-Nya, dan Tuhan akan meneguhkan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
Air mata, meskipun tidak kelihatan di mata kita, tetapi ia seringkali menjadikan manusia bertobat dari tingkah lakunya yang jahat
Air mata, seringkali menjadikan manusia iba dengan sesamanya
Air mata, seringkali menjadikan manusia merenungkan betapa sulit dan fananya hidup ini
Air mata, seringkali menjadikan manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berbagi rasa dan simpati, berbagi keceriaan, dan penderitaan
Air mata, seringkali menjadikan manusia yang sombong dan jahat, yang kuat dan lemah, yang kaya dan miskin, yang pelacur dan rohaniwan, yang pemfitnah dan pemberontak, berlutut di hadapan Tuhan meminta kasih dan pengampunan-Nya
Air mata memiliki sahabat karibnya yakni “hati”, sebab segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia disebabkan karena “hati” yang turut merasakan segala sesuatu yang ia lihat, ia raba, ia dengar, ia gumuli, ia doakan, ia lakukan, dan ia mimpikan.
Secara faktual, manusia memiliki banyak hal yang mendukung perealisasian karakter, pembawaan diri, prinsip hidup, dan habitualisme diri. Biasanya, mereka yang mau hidupnya “diubah” oleh Tuhan, dengan rela dan lapang dada, meninggalkan semua kenikmatan dunia, semua jenis karakter (tabiat, watak) yang buruk, semua pembawaan diri yang negatif, pembawaan diri yang tidak menguntungkan orang lain (egoisme), semua prinsip hidup yang tidak etis, moralis, dan spiritualis, dan semua habitualisme (paham yang dipegang erat terkait dengan kebiasaan diri) yang tidak memberikan dampak positif.
Kita memerlukan Tuhan untuk mengubah hidup kita. Tuhan akan memberikan kekuatan (potensi) bagi kita ketika kita berkomitmen untuk hidup bagi Dia, hidup melayani Dia, dan hidup dalam terang firman-Nya. Hidup yang diubahkan adalah cerminan dari kekayaan sukacita yang Tuhan berikan kepada mereka. Tuhan sanggup mengubah hidup manusia yang brutal sekalipun.
Mereka yang digerakkan hatinya untuk berubah, perlu untuk menanggalkan pakaian lama (manusia lama) dan mengenakan pakaian baru (manusia baru) yang terus dibarui oleh Roh Kudus. Tuhan mengubah mereka yang telah Ia tetapkan. Mereka yang telah diubahkan harus setia dan taat kepada Tuhan. Mereka yang diubahkan harus siap menderita dalam segala hal, siap menderita untuk dimusuhi dunia, siap untuk dihina, siap untuk tidak masuk hitungan dunia.
Namun, sebaliknya, mereka yang telah diubahkan Tuhan harus bersukacita karena Tuhan tetap memberkatinya; mereka harus siap untuk dipakai Tuhan dalam menggenapi seluruh rencana-Nya; siap melayani-Nya di mana saja; siap melihat berbagai keajaiban dan mukjizat Tuhan; siap untuk dimuliakan; siap untuk memerintah bersama Tuhan di surga-Nya yang mulia; siap untuk menerima upah dari hasil pekerjaan selama di dunia.
Tuhan mengubahkan hidup, Tuhan pula yang menjaganya, Tuhan pula yang menjaminnya, Tuhan pula yang meneguhkannya, Tuhan pula yang memeliharnya, Tuhan pula yang menopang dan menyokongnya. Yakinlah bahwa hidup yang diubahkan adalah suatu natur hidup yang diberkati, dimuliakan, dan dijamin.
Hidup yang diubahkan menandakan bahwa kita telah dipanggil Tuhan untuk berbagi dalam pekerjaan-Nya yang mulia. Tugas kita adalah melakukan kehendak-Nya, menyenangkan hati-Nya dan memuliakan nama-Nya, selamanya…
Kita membutuhkan wasit ketika bermain bola; kita membutuhkan wasit ketika bermain tinju;
Kita membutuhkan angin ketika ketika memasang layar perahu kita; kita membutuhkan air ketika kita haus;
Kita membutuhkan makanan ketika kita lapar; kita membutuhkan jari untuk memasangkan cincin;
Kita membutuhkan tangga untuk mencapai puncak; kita membutuhkan jalan untuk menjalankan kendaraan kita;
Kita tidak membutuhkan penjahat untuk tinggal di dalam rumah kita; kita tidak membutuhkan pengkhianat dalam organisasi kita;
Kita tidak membutuhkan penjilat dalam Gereja kita; kita tidak membutuhkan penipu dan pelahap dalam pelayanan kita;
Kita tidak membutuhkan orang-orang yang brutal dan najis bibir dalam menjalankan organisasi [lembaga] kita; kita tidak membutuhkan orang-orang yang sombong dan angkuh dalam memberitakan Injil;
Kita tidak membutuhkan para perusak dan pemecah belah persatuan untuk duduk dalam jabatan organisasi; kita tidak membutuhkan orang-orang bermental pelacur dan plin-plan untuk menjalankan sebuah visi;
Kita tidak membutuhkan orang-orang yang miskin rohani untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar; kita tidak membutuhkan para pemalsu kebenaran dan pemfitnah untuk mengajar dan mendidik orang lain;
Kita tidak membutuhkan para pencuri dan pecundang rohani untuk mewujudkan sebuah mimpi yang besar; kita membutuhkan Tuhan untuk menolong dan membimbing, dalam mewujudkan iman dan harapan kita;
Kita membutuhkan pemfitnah dan peleter untuk menguji kesabaran kita; kita membutuhkan kesalahan untuk diampuni;
Kita membutuhkan sebuah ujian hidup untuk mendapatkan harapan yang terwujud; kita membutuhkan seorang yang pencaci maki untuk menguji kematangan emosional kita;
Kita membutuhkan nafas hidup untuk dapat melakukan semuanya…
Setiap manusia diberikan kemampuan untuk hidup, bertahan hidup, memelihara hidup, memupuk hidup, menumbuhkembangkan hidup, memperjuangkan hidup, dan mengasihi sesama oleh Sang Pencipta, dalam bentuk relasi sosial, kemanusiaan, agama, moralitas, dan relasi keibaan.
Kita telah berproses hingga berada dalam kondisi sekarang ini, adalah kita yang telah banyak tahu—atau setidaknya tahu tentang apa arti hidup, apa arti berjuang, apa arti doa, harapan, mukjizat, air mata, kesabaran, dan apa arti kegagalan.
Kita selalu diberi kesempatan. Kesempatan sering datang tanpa kita duga. Beberapa orang “menangkap” kesempatan, sementara lainnya membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja. Memang jenis-jenis kesempatan sangatlah menentukan, yang pada akhirnya, kesempatan yang baik dan dilakukan dengan sebaik mungkin menghasilkan keterpahaman tentang apa artinya mencintai dan bertahan hidup.
Kehidupan ini indah; kehidupan ini keras; kehidupan ini tidak adil; kehidupan ini membahagikan; kehidupan ini membosankan; kehidupan ini mengecewakan. Semua definisi konten hidup bersumber dari kondisi hidup seseorang. Tak jarang, beberapa orang terjerumus dalam kubangan dosa dan menjadikan diri mereka hina dan ternoda
Kehidupan sering tidak berpihak pada orang-orang miskin. Malahan justru dalam anggapan banyak orang, kehidupan sering berpihak kepada orang-orang kaya. Artinya, mereka dapat memiliki segala sesuatu yang hendak mereka inginkan, sukai, dan butuhkan, sedangkan orang-orang miskin hanya berharap bahwa ia bisa menikmati hidup di hari ini saja sudah cukup dan sangat disyukuri.
Orientasi pemikiran dari kedua jenis orang: kaya dan miskin, tentu sangatlah berbeda. Yang kaya—jika berhati sosial dan murah hati, ia akan dengan senang hati membantu dan mendukung orang-orang miskin. Ia bahagia karena bisa berbagi dengan orang lain yang berbeda statusnya dengan dia. Perbuatannya sungguh mulia. Hatinya pasti lembut dan pemurah
Yang kaya—jika hatinya begitu sombong, akan dengan mudah memperalat orang lain, menekan orang miskin, menghina, dan melakukan berbagai cara untuk menambah kekayaannya. Bahkan tidak segan-segan ia akan menghabisi nyawa orang lain jika memang mereka menjadi penghalang rencana dan tujuannya yang ambisius
Yang miskin selalu berharap mendapat makanan secukupnya. Persis seperti doa yang diajarkan oleh Yesus: “Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya”. Tuhan sampai turun tangan untuk menolong orang miskin. Ia ada di pihak mereka. Ia peduli; Ia penyayang; Ia pemurah. Hari demi hari tangan kasih-Nya terulur untuk menolong mereka yang susah dan kesulitan. Cinta kasih-Nya tak berkesudahan. Ia rindu bahwa orang-orang yang dikasihi-Nya melakukan perbuatan-perbuatan mulia tanpa pandang bulu
Harapan hidup dapat terpenuhi, ketika dorongan semangat juang terus dikobarkan. Kehidupan dalam pengharapan dan pengharapan dalam kehidupan adalah dua mutasi (perpindahan) pemikiran kita dari yang abstrak menjadi riil. Sanggupkah kita memahami hidup ini? Sanggupkah kita menjalani kehidupan dalam pengharapan dan pengharapan dalam kehidupan? Dalam hidup ada harapan, dan dalam harapan ada hidup.
Memahami hidup sebagai mutasi pemikiran, diharapkan dapat menjembatani berbagai kesenjangan, kesempatan, dan harapan di masa mendatang. Mutasi pemikiran kita menjadi jalan-jalan yang terbaik yang telah dipikirkan matang-matang untuk menghasilkan kehidupan yang bermutu (berbobot) sebagai sebuah harapan yang kita genggam. Mutasi pemikiran lainnya yang sejalan dengan itu adalah pengharapan dalam kehidupan di mana setiap jejak langkah iman kita, tetap berada dalam koridor pengharapan (pada Kristus dan di dalam Kristus) agar kehidupan kita menjadi bernilai kekal.
Mutasi pemikiran adalah perjuangan untuk menjadikan nyata segala sesuatu yang kita harapkan. Yesus Kristus akan menopang kita senantiasa ketika kita tahu menempatkan diri pada setiap kesempatan yang Ia berikan. Takan ada mutasi pemikiran jika kesadaran akan kehidupan tidak memberi nilai pada diri kita sendiri. Justru kesadaran diri mendorong kita memutasikan pemikiran ke dalam tindakan-tindakan riil, di mana semua tindakan tersebut adalah harapan yang telah kita pegang dan imani selama ini.
Kehidupan dalam harapan dan harapan di dalam kehidupan memang benar-benar memberi bobot bagi “tindakan dan perkataan kita” agar mereka yang menilai diri kita, mendapatkan berkat dan kemudian memuliakan Tuhan Yesus Kristus, kini, dan selamanya.