“Waktu” telah menyediakan kepada kita berbagai hal yang di dalamnya kita turut berjuang menggunakan waktu agar bisa hidup (eksis), bisa mempertahankan hidup, bisa menolong hidup diri sendiri dan orang lain, bisa mengembangkan potensi, talenta, dan sebagainya, bisa menikmati hidup, bisa merenungi hidup, menekan hidup, dan membenci hidup.
Semua hal di atas adalah konsekuensi hidup. Manusia yang hidup menikmati, merasakan, menjalani, dan menghadapi “konsekuensi hidup”. Di samping konsekuensi hidup, ada juga konsekuensi logika. Apa yang kita pikirkan dan katakan, akan berkonsekuensi pada perbuatan (tindakan) kita. Semua tindakan manusia ditentukan dari konsekuensi logika; manusia yang berpikir akan menghasilkan berbagai hal, entah dalam bentuk ucapan (perkataan), perbuatan (tindakan), atau khayalan semata (tak pernah diwujudkan).
Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup adalah hasil dari konsekuensi hidup dan logika. Kita yang hidup sekarang ini terus mengaplikasikan dan mengimplikasikan kedua konsekuensi tersebut untuk berjuang dan mempertahankan hidup. Mereka yang gagal bisa bangkit lagi, atau bahkan tidak sama sekali. Mereka yang kecewa akan kembali gembira, atau tidak sama sekali. Mereka yang bertahan hidup akan melakukan berbagai cara untuk terus bertahan, atau tidak sama sekali. Mereka yang berjuang mencapai sesuatu akan terus berusaha, atau tidak sama sekali.
Raja Salamo (Sulaiman) menulis: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Artinya, rentetan peristiwa kehidupan yang terjadi dalam diri kita dan orang lain, memang berada dalam masa atau waktunya. Ada waktu lahir; ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yan ditanam. Ada waktu perang; ada waktu damai, dan sederet waktu dan kejadian lainnya yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam kehidupan kita.
Hidup dapat dinikmati, tetapi selalu ada konsekuensi. Peperangan menghasilkan kematian; kecelakaan menghasilkan kematian; kesakitan (sakit penyakit) menghasilkan kematian; pertarungan menghasilkan kematian; kebencian menghasilkan kematian; permusuhan menghasilkan kematian; sakit hati menghasilkan kematian; dendam membara menghasilkan kematian; cemburu menghasilkan kematian; beda keyakinan menghasilkan kematian; mulut kotor dan caci maki menghasilkan kematian. Masih banyak konsekuensi hidup dan logika yang dapat menghasilkan kematian.
Akan tetapi, baik konsekuensi hidup dan logika, juga membawa kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang, cinta kasih, syukur, sukacita, sukaria, senang hati, dan kondisi lainnya yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan bagi manusia. Tetapi kita perlu mengingat pesan-pesan Tuhan melalui firman-Nya yang saya kutip berikut ini (mencakup konsekuensi hidup dan konsekuensi logika):
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21).
Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu (Ulangan 23:21)
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23)
Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti jerat (Lukas 21:34)
Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai (Ulangan 24:17)
Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya (Mazmur 62:11)
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan (Amsal 3:7)
Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya (Amsal 3:27)
Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat (Amsal 4:14)
Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkhotbah 7:9)
Konsekuensi hidup tak bisa dihindari. Oleh karena itu, bertindaklah bijaksana dan mendasari semua perbuatan pada kehendak (firman) Allah. Mereka yang berbuat baik akan menuai kebaikan. Jika tidak sekarang, pasti di kemudian hari. Begitu pula dengan konsekuensi logika, yang tidak bisa dihindari tetapi dijalani. Apa yang dipikirkan jangan sampai bertentangan dengan prinsip-prinsip firman Allah. Pikiran yang baik haruslah dituangkan ke dalam perbuatan-perbuatan sehingga kita dapat menerima buah-buahnya. Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup akan terus kita jalani dan hadapi selagi kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Khalik. Jadilah teladan dalam segala perbuatan baik, pikiran baik, niscaya, konsekuensi hidup dan logika akan menjadi bagian kita—ya, konsekuensi yang baik pula yang kita dapatkan, meski tak menutup kemungkinan bahwa konsekuensi yang tidak baik dapat kita alami juga. Tetapi Tuhan tahu itu semua dan Ia akan menolong, bahkan memberikan upah setimpal dengan apa yang kita kerjakan, pikirkan, lakukan, dan bagikan kepada orang lain sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya.
“Tanpa Allah bermisi ke dalam dunia, penginjilan terhadap dunia tidaklah mungkin. Tanpa Allah membuktikan kasih-Nya yang luar biasa bagi manusia berdosa, penginjilan terhadap dunia menjadi kosong dan tidak memiliki tujuan akhir. Tanpa Allah mengampuni dan menebus manusia berdosa, penginjilan terhadap dunia tak mungkin ada”
Pemazmur menuliskan sebuah pernyataan yang luar biasa dan memiliki kedalaman makna terkait dengan apa yang dikerjakan TUHAN. Pemazmur bertutur: “Ia [TUHAN] takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel” (Mzm. 121:3-4). Ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa TUHAN tetap bekerja—bukti bahwa Ia Mahakuasa dan berdaulat sepenuhnya atas langit dan bumi; bukti Ia aktif dalam memelihara umat-Nya. Di samping itu, penjagaan dan penyertaan-Nya membuktikan Ia tidak terlelap sedikitpun dan sedetikpun. Tuhan tidak tertidur apalagi pulas dalam istrihat-Nya; Ia sama sekali tidak pernah terlelap, lupa, atau keasyikan beristirahat. Tuhan tetap mengawasi dunia ini dan pergerakan di dalamnya tanpa terlelap atau tertidur sedikitpun. Ini yang dinamakan dengan “providensia” [pemeliharaan].
Terkait dengan konteks tersebut, Yesus pun menyatakan hal yang secara substansial sama: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Lalu apa kepentingannya dua kutipan di atas? Dua kutipan di atas sebenarnya menegaskan bahwa orang percaya (Kristen) harus aktif bekerja bagi Tuhan, bermisi bagi Tuhan. Tak ada alasan bagi setiap orang Kristen untuk tidak bekerja bagi Tuhan; untuk tidak bermisi bagi Tuhan; Tuhan sendiri telah menyatakan kehendak-Nya dan cara kerja-Nya kepada umat-Nya, maka selayaknyalah umat Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Jika Tuhan begitu aktif bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama: bekerja aktif untuk menjadi berkat bagi orang lain, memberitakan Injil dan menyatakan sikap hidup yang baik dan berkenan kepada Tuhan? Inilah yang membawa kita pada pokok “mewartakan kabar baik, misi kita bersama” di mana kegiatan tersebut adalah sebuah aktivitas iman yang direalisasikan dalam tindakan nyata.
Bermisi adalah perintah dan kehendak Tuhan, wujud ketaatan kita kepada Tuhan, dan merupakan kegiatan yang harus dilakukan di dalam setiap konteks dan situasi kehidupan kita. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Di samping itu, kehidupan Kristen yang aktif selalu dan harus ditandai dengan tujuh aspek yang signifikan yakni:
Pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus. Berkata dan berbuat berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab; menyingkirkan segala bentuk kemunafikan dan mengampuni sesama manusia—termasuk mendoakan musuh-musuh dan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. Tindakan ini bukanlah sebuah tindakan yang lemah melainkan justru merupakan tindakan yang paling kuat di dunia. Membunuh orang yang membunuh; berbuat jahat kepada orang yang berbuat jahat bukanlah sebuah kekuatan yang patut dibanggakan. Justru mengampuni yang orang telah membunuh, mengampuni mereka yang telah berbuat jahat, dan mendoakan mereka yang telah menganiaya kita, merupakan KEKUATAN TERBESAR; sebab dibutukan iman dan pengertian yang tinggi, dibutuhkan ketulusan dan keikhlasan yang luar biasa, dan dibutuhkan pengampunan yang total untuk melakukan hal-hal demikian. Ketika hidup orang Kristen menyatakan kasih yang tulis “misi Tuhan melalui gesta” telah menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengampun sebagaimana Ia telah mengampuni kita yang berdosa ini, maka patutlah kita juga mengampuni orang bersalah kepada kita.
Kedua, kehidupan yang memberkati orang lain. Prinsipnya: diberkati [oleh Tuhan] untuk menjadi berkat bagi sesama manusia tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan, warna kulit, dan latar belakang lainnya. Menjadi berkat dilakukan melalui dicta, gesta, dan nous.
Ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekudusan. Pola kehidupan Kristen selalu mengutamakan kehidupan yang kudus: terpisah dari dosa-dosa dunia, terpisah dari segala bentuk kejahatan, kemunafikan, seks liar, korupsi, penipuan, kepalsuan, kedengkian, perselisihan, percek-cokan, dan sebagainya. Kekudusan hidup ditandai dengan komitmen untuk hidup dalam terang firman Tuhan, menyatakan apa yang benar, dan menegor yang salah. Tidak hanya dalam konteks menjauhi hal-hal duniawi tetapi bagaimana kehidupan Kristen yang melawan ketidakbenaran dan menyatakan apa yang salah. Misi Kristen juga demikian; menjadi terang dan garam dunia—terang yang menerangi kegelapan, menyatakan yang benar dan salah; garam yang meleburkan diri menjadi berkat dan mendatangkan sukacita dan kebahagiaan di mana pun kita berada.
Keempat, kehidupan yang menampakkan terang dalam perbuatan. Apa yang dilakukan oleh orang Kristen adalah perbuatan-perbuatan terang. Artinya, tidak ada faktor perbuatan yang perlu disembunyikan; kita adalah ‘surat terbuka’ yang dapat dibaca semua orang; iman dan perbuatan berjalan beriringan, menyatu, dan saling mendukung serta meneguhkan; yang satu membutuhkan lainnya, dan sebaliknya: iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (pernyataan Rasul Yakobus).
Kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi. Sebagaimana yang Yesus tegaskan bahwa: “kamu adalah garam dunia”—mengindikasikan bahwa orang percaya [Kristen] harus menampakkan sikap dan pola hidup yang bersahabat, ramah, pengasih, pengampun, penyayang dan pemberi solusi yang baik bagi sesama; menggarami kehidupan menandakan kedewasaan berpikir dan bertindak di mana level kehidupan jenis ini adalah bukti bahwa seseorang telah memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan, merasakan jamahan kuasa-Nya yang mengubahkan kehidupan seseorang, melihat bagaimana pentingnya sebuah hidup yang berkenan kepada Tuhan. Dengan begitu, setiap situasi dan kondisi di mana kita berada, misi melalui “perilaku [gesta, konatif] kita” dapat terlihat dengan jelas (dan terang).
Keenam, kehidupan yang siap menderita. Yesus pernah menderita dalam keadaan-Nya sebagai manusia; tidak hanya itu, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia disiksa, dicambuk, diludahi, dicaci maki, dan kemudian mati salibkan. Penderitaan Yesus adalah gambaran faktual bahwa ketika para pengikut-Nya menderita, Yesus telah mengalaminya terlebih dahulu. Yesus pernah menyatakan sebuah prinsip “penderitaan” yang akan dialami oleh para murid:
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu” (Yoh. 16:1-4a)
Namun, pernyataan tentang penderitaan tersebut selalu berbanding lurus dengan providensi dan penyertaan Yesus bagi semua orang percaya di segala zaman dan abad: “Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20b).
Ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil sebagai Kabar Baik. Kehidupan ini adalah kehidupan yang menandakan bahwa seseorang telah menyadari peran, iman, dan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Konsekuensi logis dari percaya kepada Yesus Kristus adalah “mewartakan Kabar Baik” dalam berbagai bentuk: melalui pemikiran, melalui dicta, dan melalui gesta. Kehidupan yang berbuah adalah kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Tidak hanya itu, kehidupan yang mewartakan Injil merupakan bukti kerinduan yang luar biasa dan mendalam untuk menyatakan kasih dan kebaikan Tuhan, pengampunan dan pemulihan hidup yang dikerjakan Tuhan melalui pesan-pesan Alkitab.
Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen—seseorang yang layak di hadapan Tuhan diukur oleh tujuh aspek tersebut. Mengapa layak? Karena ketujuh aspek itu adalah perintah Tuhan sendiri yang termaktub dalam Alkitab:
(1) Kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus ditegaskan dalam beberapa teks: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39); “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu” (Mrk. 11:25); “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk. 6:37); “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia” (Luk. 17:3); “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44); “hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 19:19); “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39); “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk. 6:27); “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Luk. 6:35); “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh. 15:17)
(2) Kehidupan yang memberkati orang lain ditegaskan dalam teks Roma 12:14, “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”
(3) Kehidupan yang menunjukkan kekudusan ditegaskan dalam teks-teks berikut:
“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi” (Im. 11:44); “Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Im. 11:45); “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2); “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku” (Im. 20:26); “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rm. 12:1); “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1 Tes. 4:7); “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:15-16); “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1 Ptr. 2:5); “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (1 Ptr. 2:9-10)
(4) Kehidupan yang menampakkan terang dalam perbuatan ditegaskan dalam teks-teks berikut ini:
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal. 6:9); “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal. 6:10); “Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (2 Tes. 1:11); “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” (Ibr. 13:16); “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,’ kamu berbuat baik” (Yak. 2:8); “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:17); “Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh” (1 Ptr. 2:15); “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah” (1 Ptr. 2:20); “Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?” (1 Ptr. 3:13); “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat” (1 Ptr. 3:17); “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1 Ptr. 4:19); “Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah” (3 Yoh. 1:11); dan “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26).
(5) Kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi ditegaskan dalam teks-teks berikut:
“Kamu adalah garam dunia” (Mat. 5:13a); “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32); “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar, dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan…” (2 Tim. 2:24-25); “Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Tit. 3:2); “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk. 6:37); dan “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol. 3:13).
(6) Kehidupan yang siap menderita ditegaskan dalam teks-teks berikut ini: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:17); “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29); “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah” (2 Tim. 1:8); “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2 Tim. 2:3); “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Tim. 3:12)
(7) Kehidupan yang mewartakan Injil sebagai Kabar Baik, ditegaskan dalam teks-teks berikut ini:
“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 10:7); “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15); “…tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9:60); “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2); dan “…siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Ptr. 3:15-16).
Prinsip-prinsip (atau aspek signifikan) hidup Kristen seperti yang telah dijelaskan di atas, harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan kekristenan kita. Itulah mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius maupun Markus, keduanya mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.
Penderitaan Yesus adalah bagian dari kemanusiaan-Nya. Yesus berulang kali menubuatkan penderitaan dan kematian-Nya, karena hal ini merupakan konteks penebusan dan penyelamatan bagi orang-orang yang berdosa. Nubuatan mengenai kematian Yesus bernatur “penyelamatan” dan “jaminan dari kematian-Nya di salib”. Jika kematian Yesus tanpa memiliki jaminan, maka itu sia-sia. Kematian Yesus memiliki jaminan. Hal ini meneguhkan apa yang dituliskan dalam Injil Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kita harus memahami bahwa penderitaan Yesus tidak dapat dipisahkan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Mereka yang memisahkan fakta tersebut akan menjadi sama dengan pemahaman Islam bahwa Yesus tidak mati disalib. Itu berarti, Yesus hanya mengalami penderitaan, lalu kemudian Allah menyelamatkan Yesus dari peristiwa salib dan menyerupakan orang lain mirip Yesus, untuk disalibkan. Pemahaman ini sama sekali menyesatkan dan tidak ada dasar sejarahnya, kecuali karangan dan rekayasa semata. Dengan perkataan lain, penolakan terhadap kematian Yesus disalib merupakan sebuah kesimpulan ahistoris.
Teologi Kristen menegaskan bahwa Yesus benar-benar menderita, disalibkan, mati, dikuburkan, pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga. Hal ini begitu jelas diungkapkan dalam PENGAKUAN IMAN RASULI yang merupakan rumusan iman Kristen. Fakta ini menjadi dasar bagi kita untuk melihat bahwa penderitaan dan kematian Yesus di salib, terkait erat dengan “Sejarah Penebusan” yang telah Allah lakukan dalam Perjanjian Lama, dan memiliki kesinambungan pada masa Perjanjian Baru, yang digenapi oleh Yesus Kristus.
Teks Matius 16:21-25 (perikop utuhnya ay. 21-28) adalah salah satu bagian yang menjelaskan mengenai konteks nubuatan bahwa Mesias (Yesus) akan mengalami penderitaan, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Deskripsi singkat berikut ini, setidaknya dapat memberikan pemahaman bahwa penderitaan dan kematian Yesus, serta kebangkitan-Nya adalah kesatuan peristiwa yang utuh, dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Pakar Perjanjian Baru, Leon Morris, dalam bukunya Injil Matius, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2016), menjelaskan mengenai teks Matius 16:21-24 sebagai berikut:
Pertama, frasa “sejak waktu itu” menunjukkan peristiwa pada ayat 13-20 teramat penting; peristiwa itu mengubah seluruh arah instruksi Yesus kepada kedua belas murid. Setelah jelas bahwa kelompok kecil ini mulai memahami bahwa Ia (Yesus) adalah Mesias yang telah lama dijanjikan, Yesus mulai mengajar mereka tentang arti dari kemesiasan-Nya. Bagi orang Yahudi pada umumnya, menjadi Mesias sama dengan kemuliaan yang tak terkira. Mesias bisa saja menghadapi perlawanan dan kesulitan, tetapi semua ini tidak lebih dari sekadar ketidaknyamanan yang harus dilalui untuk mencapai kemuliaan dan kemegahan.
Kedua, bagi Yesus, penderitaan adalah esensi kemesiasan (bdk. 17:9, 12, 22-23; 20:18-19; 21:38-39). Mempelajari “Mesias harus menderita” merupakan proses yang akan terbukti sangat sulit bagi para murid. Yesus memberi tahu bahwa Ia harus menderita. Di Yerusalem Yesus harus menderita, yang bisa meliputi berbagai-bagai kesukaran. Penderitaan yang Yesus alami disebabkan oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat. Ketiga kelompok ini merujuk pada keseluruhan pemimpin Yahudi. Tua-tua tampaknya merujuk pada Sanhedrin, dewan legislatif tertinggi orang Yahudi. Imam-imam kepala merujuk pada posisi tertinggi dalam rumah ibadat, tetapi istilah ini juga bisa berarti anggota keluarga imam besar. Sedangkan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang mendalami Taurat; mereka merupakan bagian penting dari Sanhedrin.
Ketiga, Petrus mengkritik Yesus (ay. 22). Petrus menganggap dirinya lebih tahu dari Yesus tentang apa yang harus Mesias lakukan. Ia tidak bisa menerima apa yang baru Yesus katakana (ay. 21). Klausa “kiranya Allah menjauhkan hal itu!” merupakan suatu penolakan keras Petrus atas apa yang Yesus nubuatkan. Petrus telah melihat keagungan Yesus dan karena itu, ia tidak bisa memahami jika Mesias akan menjalani penghinaan seperti yang Yesus katakan. Bagi Petrus, tidak bisa dipahami jika seorang yang baru saja ia nyatakan sebagai “Mesias, Anak Allah yang hidup” harus ditolak dan dibunuh.
Keempat, Yesus menegur secara keras terhadap Petrus. Kata “enyahlah” [hupagō] merupakan kata yang keras. Kata ini bisa diartikan sebagai “pergi”, “pergi sana”. Yesus menolak usulan Petrus. Tetapi usulan Petrus ini berasal dari Iblis. Kematian Yesus (dalam kemanusiaan-Nya) begitu penting di dalam rencana Allah sehingga berusaha mencegah Yesus (untuk mati) sama dengan melakukan pekerjaan Iblis. Petrus mencobai Yesus seperti Iblis mencobai-Nya di padang gurun. Iblis berupaya membujuk Yesus untuk mengambil jalan yang mudah dan luas biasa, serta menghindari jalan penderitaan. Pada dasarnya, inilai yang Petrus nasihatkan.
Kelima, mencegah Yesus dari kematian, merupakan “batu sandungan” karena rencana Allah adalah bagi keselamatan manusia yang berdosa melalui kematian Yesus yang telah dinubuatkan, haruslah digenapi (bdk. ay. 21, dan teks-teks paralelnya di dalam Injil-Injil lainnya). Menolak kesengsaraan (penderitaan) dan kematian Mesias, adalah jalan pikiran manusia yang tidak memahami rencana Allah.
Keenam, sebagaimana Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia mengalami penderitaan, para murid yang mengikut Yesus, juga harus menderita. Kata “setiap” merujuk bukan hanya pada murid-murid, tetapi merujuk kepada siapa saja yang akan menjadi murid Yesus. “Menyangkal diri” berarti meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri, sikap mempromosikan diri sendiri, dan sikap mencari keuntungan diri sendiri. “Memikul salib” berarti melakukan penyangkalan diri, mengorbankan diri, dan tidak memusingkan kepentingan diri sendiri.
Dari apa yang telah dijelaskan Morris, saya menambahkan beberapa hal yang korelatif dan suplementatif:
Pertama, salib juga berarti “beban” yang harus dipikul. Beban itu bukanlah beban dosa, melainkan “beban ketaatan, kesetiaan, dan keberanian mengikut Yesus.
Kedua, penderitaan dalam mengikut Yesus adalah sebuah konsekuensi logis: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”, dan konsistensi logis: “karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (ay. 25). Hal ini menandaskan bahwa Yesus juga akan mati, tetapi Ia akan bangkit pada hari ketiga (bdk. ay. 21). Jadi, jika Yesus mati, maka para pengikut-Nya yang mati karena imannya kepada Yesus, juga akan dibangkitkan sebagaimana Yesus bangkit dari antara orang mati. Ini adalah sebuha prinsip konsistensi dari Yesus. Dan kita menerima prinsip ini.
Ketiga, penderitaan dan kematian Yesus—sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (ay. 16)—terjadi secara fakta karena Yesus benar-benar manusia sejati. Kemanusiaan-Nya layak menderita, dan bukan menolaknya, sebagaimana yang dilakukan Petrus dan Iblis yang merasukinya.
Keempat, penderitaan Yesus adalah bagian dari totalitas Inkarnasi Logos Allah menjadi daging (sarks), sehingga, dengan demikian fakta ini menancapkan keyakinan bahwa Yesus bukanlah manusia setengah dewa, atau hanya tampaknya seperti manusia, melainkan Ia benar-benar manusia sejati (bdk. Flp. 2:6-8).
Kelima, penderitaan Yesus terkait erat dengan penggenapan nubuatan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya (ay. 21). Kesatuan peristiwa yang utuh ini, harus tetap dipegang dan diimani sebagai sebuah peristiwa historis. Hal ini membawa kita kepada karya penebusan dan penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang final. Itulah sebabnya, kita mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat satu-satunya yang menjembatani hubungan antara Allah dan manusia di mana manusia telah merusak hubungan itu sendiri karena dosa-dosa mereka.
Keenam, kematian Yesus Kristus adalah kehendak Allah, sedangkan mengupayakan agar Yesus tidak jadi mati, seperti yang diusulkan Petrus adalah murni kehendak Iblis. Jika ada agama yang menolak dan mengupayakan bahwa Yesus tidak mati disalib, itu adalah kehendak (pikiran) Iblis.
Yesus Kristus adalah Juruselamat yang mati—dalam keadaan-Nya sebagai manusia—untuk menebus dan menyelamatkan umat-Nya. Ia menjamin dan memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Setiap orang memiliki keyakinan terhadap sesuatu, baik bersumber dari dirinya sendiri, maupun bersumber dari luar dirinya. Keyakinan itu mendorong setiap orang untuk memperlihatkan tingkah lakunya, menunjukkan kualitas, dan memberi pengaruh pada orang lain.
Dalam konteks ini, iman Kristen mengetengahkan (mengemukakan) sebuah prinsip hidup yang telah diubahkan oleh Yesus Kristus. Secara substansial, setiap orang yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus haruslah menyatakan dirinya sebagai seseorang yang “diubahkan” (oleh Yesus Kristus melalui pengalaman dan pemahaman akan firman-Nya) dan “berubah” (oleh komitmen pribadi untuk menyelaraskan pilihan hidup dengan kehendak Tuhan Yesus).
“Diubah” dan “Berubah” adalah fakta bahwa seseorang telah mengenakan manusia baru, karena telah menanggalkan manusia lama. Pada titik ini, seseorang telah melakukan dan mengalami perubahan. Pilihan hidup seseorang untuk mengikut Yesus Kristus dan beriman kepada-Nya merupakan sebuah keputusan yang dibarengi dengan “kredo”. Kredo itu sendiri lahir karena Yesus telah memberikan iman kepadanya untuk meneruskan kehidupan tetapi dengan cara yang berbeda. Jika ia telah mengenakan manusia baru maka cara hidupnya tentu berbeda ketika ia masih mengenakan manusia lama. Perubahan ke arah yang lebih baik belum terjadi dan belum dilakukan ketika seseorang masih mengenakan manusia lama.
Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan iman, di mana iman itu sendiri diberikan oleh Yesus: “dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia”. Dialah yang layak menerima pujian dan sembah, hormat serta ungkapan syukur dari mereka yang setia dan beriman kepada-Nya. Mengikut Yesus mendorong seseorang untuk melihat kehidupan sebagai “KASIH KARUNIA” yang luar biasa dari Yesus Kristus; sebuah kehidupan yang melihat sesama sebagai objek kasih Allah dan layak menerima pengampunan dan keselamatan dari-Nya.
Kendatipun dalam proses mengikut Yesus terdapat berbagai macam hambatan, tantangan, tekanan, dan hinaan, hal itu tidak menyurutkan komitmen kita untuk melihat bahwa Yesus Kristus akan tetap menyertai dan memberikan kekuatan dalam menghadapi semuanya itu. Tak jadi soal dunia membenci kita, sebab Yesus terlebih dahulu dibenci. Tak jadi soal dunia memandang rendah kita, sebab Yesus terlebih dahulu direndahkan dunia.
Sejatinya, mengikut Yesus adalah sebuah pilihan yang tepat sekaligus bermasalah. Bermasalah karena dunia menghina dan merendahkan Yesus, dan imbasnya, pengikut-Nya pasti hina dan rendah. Tentu tidaklah demikian. Jika kita menggunakan standar yang sama, maka kita dapat mengatakan bahwa “perbuatan-perbuatan duniawi adalah jenis perbuatan yang rendah, hina, dan kotor, maka siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan duniawi, pasti dirinya adalah rendah, hina, dan kotor.”
Mengikut Yesus juga menimbulkan masalah bagi diri kita sendiri. Masalahnya terletak pada bagaimana kita berkomitmen untuk melakukan tindakan “solvinatia” dan mengenakan manusia baru, merasakan kehidupan yang baru, yang diubahkan Yesus Kristus. Jika kita tidak dapat mengatasi masalah tersebut, maka sikap hidup kita akan menunjukkan kebalikannya: di satu sisi mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus (yang harus hidup dalam kesucian dan kekudusan), tetapi di sisi lain perilaku, karakter, dan relasinya sangat buruk dan tidak terpuji. Ini adalah dua hal yang kontradiksi dalam diri seseorang.
Itu sebabnya, seseorang harus melakukan tindakan “solvinatia” agar terlihat jelas hidupnya berubah karena Yesus Kristus. Dengan menetapkan prinsip hidup di dalam Yesus Kristus, kita—secara simultan—menentukan apa dan bagaimana kehidupan di dalam Yesus. “Apa” menyangkut komitmen untuk setia kepada-Nya, sedangkan “bagaimana” menyangkut segala sesuatu yang kita persembahkan kepada-Nya sebagai persembahan yang hidup.
Ketika kita memilih jalan hidup kita untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka kita perlu berkomitmen melakukan “solvinatia”. Kata “solvinatia” berasal dari kata “solvi” dan “nativo”. Kata “solvi” berarti “memecahkan”—jika diambil artinya dari bahasa Esperanto (bahasa antar bangsa yang netral; bahasa artifisial, buatan, yang diciptakan oleh seorang Polandia, Dr. Ludwig Lazarus Zamenhof [1851-1917], yang masa mudanya tinggal di lingkungan multietnis; esperanto adalah bahasa yang diciptakan untuk mempermudah komunikasi antar [berbagai] bangsa di dunia). Sedangkan dalam bahasa Latin, “solvi” diartikan sebagai “terlepas”.
Kata “nativo” berasal dari bahasa Itali, yang berarti “asli”. Kata lain yang bisa digunakan adalah “natia” (dalam bahasa Polandia) yang berarti “harapan”. Berangkat dari arti dua kata tersebut, maka “solvinatia” berarti “memecahkan [yang] asli”, atau “melepaskan [yang] asli”. Jika menggunakan kata “natia”, maka dapat dipahami sebagai “melepaskan harapan”. Kedua kata bisa dipakai dalam pengertian yang sama dalam konteks tertentu sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.
Dalam konteks iman Kristen, seseorang yang mengikut Yesus Kristus, haruslah “melepaskan [memecahkan] sifat yang asli, maksudnya sifat yang dilakukan sebelum menjadi pengikut Yesus Kristus (sifat buruk) atau “melepaskan harapan” yang lama; dengan perkataan lain sifat asli dari “manusia lama” dan harapannya harus dibuang dan dilepaskan. Jika seseorang telah melepaskan atau memecahkan kehidupan lamanya dan harapannya, maka ia diberikan oleh Yesus sebuah “kehidupan (manusia) dan harapan yang baru.” Yesus bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya: Ia mengubahkan mereka; Ia memperlengkapi mereka dengan segala perbuatan baik.
Ada standar pembeda antara manusia lama dan manusia baru. Menjadi manusia baru—menjadi pengikut Yesus Kristus—berarti berani melakukan “solvinatia”, yaitu melepaskan manusia lama (sifat asli yang buruk) dan harapan semunya, untuk hidup dalam kasih Tuhan. Menjadi pengikut Yesus, harus berbeda (tampil beda); beda kehidupan, beda cara hidup. Cara hidup harus selaras dengan firman-Nya. Kehidupan yang benar dan kudus adalah ciri khas dari mereka yang telah berkomitmen untuk melakukan “solvinatia”.
Solvinatia adalah komitmen iman dari seseorang yang memilih menyandarkan hidupnya kepada Yesus Kristus. Komitmen iman itu akan membentuk perilaku, karakter, dan relasi humanitas. Tak ada pilihan lain bagi kita jika kita menyatakan kredo kepada Yesus Kristus selain “melepaskan sifat asli kita”—solvinatia—dan mengenakan sifat yang baru yang diberikan (dan ditetapkan) oleh Yesus Kristus: hidup kudus, mengasihi Tuhan dan sesama, dan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan dan berkenan kepada Tuhan Yesus.
Mari, lakukanlah tindakan “solvinatia” jika kita mengaku sebagai pengikut YESUS KRISTUS. Jika Saudara sudah melakukannya, ajaklah sahabat-sahabatmu, atau orang-orang yang anda kenal dan kasihi, untuk melakukan hal yang sama: Solvinatia dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang telah teruji dan terbukti mengubahkan milyaran manusia jahat menjadi manusia yang baik sesuai dengan kehendak-Nya.
Tentu ada “natia” [harapan] di dalam Yesus Kristus, dan harapan itu bukanlah harapan untuk menikmati seksualitas di surga, tetapi menikmati kemuliaan dan kebahagiaan kehidupan kekal, yang Tuhan Yesus berikan kepada mereka yang taat dan setia kepada-Nya.
“Manusia memancarkan jati dirinya (identitasnya) sendiri dan dengan demikian, ia dapat dinilai dari jati diri itu.” Apa yang menarik dari pernyataan tersebut? Begini: setiap manusia secara sadar dan tidak sadar menunjukkan (memancarkan) siapa dirinya melalui perkataan, perbuatan, dan pemikiran, sehingga orang lain dapat memahami, menilai, menetapkan, “apa dan bagaimana” manusia itu.
Apakah yang dilakukan seseorang melalui perkataan, perbuatan, dan pemikiran itu akan tetap konsisten dilakukannya? Ataukah hanya sebatas gaya-gayaaan, cari perhatian, mencari popularitas, dan atau mencari kesenangan belakan? Hanya kita sendiri yang tahu apa sebenarnya “motivasi” yang terkandung dari realisasi perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang ditunjukkan.
Bagaimana dengan teologi yang kita sampaikan, atau yang menjadi pegangan kita? Apakah akan tetap bertahan dan bercahaya di sepanjang zaman, ataukah hanya TERANG SESAAT LALU PUDAR KEMUDIAN? Apakah terang Kristus yang ada di dalam diri kita hanya bercahaya saat kita masih kuat melayani-Nya, dan pudar ketika kita lemah? Ataukah kita semangat melayani Tuhan ketika kita masih kekurangan, dan mengabaikan pelayanan ketika kita telah menjadi kaya dan berhasil?
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sebuah dorongan bagi kita untuk melihat komitmen kita dalam mengikut Yesus dan melayani-Nya. Kita mengetahui dari tulisan Rasul Paulus bahwa Allah telah “membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Korintus 4:6), dan melalui tulisan Rasul Yohanes, ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah “Terang Dunia”: Dalam Dia [Logos] ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya … Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya (Yohanes 1:4-5, 9-10).
Dalam satu kesempatan, Yesus menegaskan identitas-Nya sebagai terang dunia: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yohanes 8:12). Dengan demikian, setiap orang yang percaya dan mengikut Yesus, mempunyai “terang” hidup yang dipancarkan dalam kehidupannya, lingkungannya, dan relasinya.
Dalam konteks ini, “kita” adalah pembawa dan pemancar terang Kristus. Terang itu sendiri tampak dalam perbuatan, perkataan, dan pemikiran. Ketiganya sejalan dan secara simultan dilakukan. Ini menjadi identitas penegas dan pembeda antara orang yang percaya kepada Yesus, dan “orang-orang duniawi” yang tidak percaya kepada-Nya. Orang-orang percaya memancarkan terang; itulah yang diperitahkan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Cahaya—yaitu perbuatan, perkataan, pemikiran—haruslah secara konsisten dilakukan sepanjang hayat, bukan hanya terang di awal, lalu pudar kemudian; bukan seperti “lumen” yang lama-kelamaan menjadi pudar.
Kita memahami bahwa ada orang-orang tertentu yang menganut paham “Teologi Lumen”. Teologi ini hendak menegaskan posisi seseorang yang dengan semangat tinggi untuk menunjukkan “teologinya” kepada publik. Teologinya kelihatan bercahaya di depan mata orang-orang bodoh, tetapi di waktu kemudian, teologinya ternyata bermasalah dan pudar di telan waktu. Tipikal orang yang demikian, tidak menaruh simpati kepada “pemahaman doktrinal yang alkitabiah dan telah teruji waktu, dan dipegang oleh Gereja-gereja secara resmi yang telah dipertahankan sejak abad pertama sampai sekarang”. Orang-orang yang mengusung Teologi Lumen adalah mereka yang ingin mencari sensasi, kuat berimajinasi, tetapi mengorbankan jati diri dan harga diri.
Teologi Lumen adalah jenis teologi yang menekankan pada “cahaya awal” tetapi “memudar” kemudian, ketika melewati proses waktu. Lumen adalah sebuah istilah fisika yang berarti “satuan ukuran kekuatan cahaya”. Lumen sering kita kenal terdapat dalam LCD (Liquid Crystal Display) proyektor, di mana pada proyektor tersebut, lumen yang pada awalnya terlihat terang dan jelas, lama-kelamaan akan memudar, kabur, dan kemudian menjadi tidak jelas. Konteks ini saya tarik ke dalam sebuah identitas teologi seseorang yang memang hanya menonjolkan “cahaya awal” untuk sensasi dan imajinasi (liar).
Teologi Lumen diusung oleh orang-orang yang dengan tujuan tertentu, ingin menunjukkan kekuatannya, meski secara prinsip “menyesatkan”. Teologi yang dibangunnya bukanlah mempertahankan apa yang telah diwariskan oleh para rasul (dan semua orang percaya yang telah menunjukkan ajaran [pengajaran] dalam sikap dan kehidupan mereka). Teologi Lumen tidak konsisten tetapi inkonsisten, dan cenderung menampilkan ajaran-ajaran yang menyesatkan, terutama pada konteks Kristologi. Tiga sahabat saya telah menunjukkan sikap mereka untuk melawan jenis teologi ini: Deky H. Y. Nggadas (Verbum Veritatis), Samuel T. Gunawan, dan Albert Rumampuk. Kita dapat belajar dari mereka.
Lalu teologi apa yang harus kita pegang dan dapat bertahan lama sampai akhir hayat? Tentu bukanlah Teologi Lumen, apalagi Teologi Sukses, Teologi Kemakmuran, yang tidak jelas dan hanya meraup keuntungan semu. Kita dapat memegang “Teologi Konsinyasi”—yaitu teologi yang melarang orang-orang percaya untuk meninggalkan pekerjaan dan pelayanannya dan harus menyelesaikan pertandingan iman sampai akhir hayat. Tugas mereka adalah menggarap pekerjaan Tuhan dan tetap setia sampai akhir. Teologi Konsinyasi mengusung prinsip: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10b).
Teologi yang kita bangung mencerminkan (memancarkan) jati diri kita. Berteologi secara sehat mendorong kehidupan yang sehat dan menyehatkan orang lain. Jika kita sehat, maka potensi untuk menyehatkan orang lain dapat terjadi. Mari membangun Teologi Konsinyasi melalui keputusan untuk konsisten antara perkataan, perbuatan, dan pemikiran, di sepanjang hayat kita. Dan ingatlah pesan Rasul Paulus:
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23)
“dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 3:17).
“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu” (2 Timotius 4:5)
Berteologilah dengan penuh komitmen kepada Tuhan. Jangan menyesatkan dan menebarkan cahaya yang tampak terang di awal, tetapi kemudian pudar dan tidak jelas, seperti Teologi Lumen. “Kita dipanggil Tuhan Yesus untuk setia kepada-Nya, untuk melayani-Nya, menjadi garam dan terang dan pelaku-pelaku firman sepanjang hayat”. Itulah prinsip Teologi Konsinyasi.
Salam Bae
Sumber gambar: 3.bp.blogspot.com/-W616HLhjkcs/TXlJ1CBzQ8I/AAAAAAAADVY/Jl1nXLqynB8/s1600/BenQ%2BMX710%2BLCD%2BProjector.jpgIklan
Ada berbagai pemikiran untuk memahami personalitas Allah. Dalam pengamatan saya, dua hal yang paling sering dilakukan oleh manusia dalam konteks ini adalah: memahami bagaimana sesungguhnya Allah dan memahami bagaimana seharusnya Allah. Pada pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah manusia mendasarinya dengan berangkat pada “apa yang dinyatakan Allah tentang diri-Nya”. Konteks ini adalah secara substansial memiliki bukti-bukti sejarah di mana Ia telah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang pilihan dalam kaitannya dengan realisasi rencana dan kehendak-Nya bagi kebaikan manusia; dan di sisi lainnya, Ia menghukum manusia yang berdosa yang dengannya Allah dapat dipahami sebagai Allah yang baik dan Allah yang adil yaitu menghukum mereka yang bersalah. Semuanya ini memiliki sumber rujukan atau yang saya sebut dengan “dokumentasi”. Oleh karenanya, pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah secara iman dapat diargumentasikan, didukung oleh dokumentasi dan peristiwa historis. Ketiganya yaitu argumentasi, dokumentasi, dan historis, saya sebut dengan filsafat iman.
Sedangkan pada pemahaman bagaimana seharusnya Allah, manusia menggunakan berbagai konsekuensi logis untuk merumuskan tentang apa yang harus dimiliki, dilakukan, dan ditetapkan Allah. Manusia cenderung memahami Allah berdasarkan konsep logis bahwa jika Allah tidak begini, maka Ia tidak begitu. Berbagai hipotesis logis dikumandangkan untuk memuluskan pemahaman mereka tentang Allah.
Kekuatan logika dalam memahami personalitas Allah bukanlah hal yang baru. Logika memang diperlukan untuk memahami-Nya karena itu adalah pemberian-Nya. Ini berlaku pada mereka yang percaya bahwa Allah yang menciptakan manusia; dan tidak berlaku bagi mereka yang tidak percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam arti khusus. Jurang pemisah dalam memahami personalitas Allah bukanlah pada bukti-bukti penyataan Allah, melainkan pada konsep logis, analogis, hipotesis, dan lain sebagainya. Memang, secara substansial, logika, analogi dan hipotesis diperlukan dalam memahami personalitas Allah, hanya saja penggunaan ketiganya haruslah melihat demarkasi konteks, bukti-bukti penyataan, dan dokumentasi historis. Kesalahan menggunakan ketiganya—artinya karena berangkat dari “a priori” ketimbang “aposteriori”, berakibat pada negasi personalitas Allah dan menggunakan pemahanan bagaimana seharusnya Allah.
Secara historis, Kristen memahami Allah konsep bagaimana sesungguhnya Allah. Allah yang sesungguhnya adalah Allah yang menyatakan diri dan berdasarkan penyataan itulah, bukti bahwa konsep memahami Allah dipandang sebagai dapat dipercaya, bersifat historis, dapat diargumentasikan, dan memiliki dokumen pendukung (bukti-bukti penyataan itu sendiri). Berangkat dari pemikiran yang sangat mendasar ini, maka doktrin Allah Tritunggul (atau disebut secara singkat dengan Trinitas), adalah doktrin yang memahami Allah sebagai “Allah yang sesungguhnya.” Namun, patut diakui bahwa personalitas Allah tetap menyisahkan misteri. Alasannya adalah karena keterbatasan logika yang tak mungkin menjangkau Allah dengan logika (pengertian, pemahaman, analisis, dan sebagainya) sehingga apa yang dinyatakan itulah yang menjadi dasar pijakan pengetahuan tentang diri-Nya. Memaksa memahami Allah berdasarkan bagaimana seharusnya Allah membawa seseorang kepada “rasa puas semu dan penyesatan”.
Bagaimana bisa dikatakan rasa puas semu? Puas, karena manusia dengan segala macam rumusan pikirannya menggunakan bukti analogis—dan bukan bukti penyataan—untuk merumuskan dan menyusun formula tentang bagaimana “seharusnya” Allah. Lalu bagaimana bisa disebutkan sebagai penyesatan? Alasannya karena rumusan dan formula tentang personalitas Allah yang bukan didasarkan pada penyataan bukanlah sebuah pemahaman yang kredibel. Permainan logika bisa dianggap logis tetapi tidak berarti itulah yang sesuai dengan fakta penyataan.
Pada kasus Trinitas, beberapa orang memiliki pemahaman yang dangkal bukan karena mereka memahami personalitas Allah yang “sesungguhnya” melainkan karena mereka menggunakan cara berpikir tentang bagaimana “seharusnya Allah” yang terlihat cocok dengan logika mereka. Di sini, catatan pentingnya adalah “Allah tidaklah tunduk pada rumusan logika yang menyimpang tanpa bukti penyataan apa pun.” Sebaliknya, dalam pemahaman Kristen (yang menerima Trinitas) Allah dipahami sesuai dengan apa yang Ia nyatakan. Meski dipandang sebagai sesuatu yang sulit dan hampir tidak masuk di akal, Trinitas pada dirinya sendiri adalah fakta historis dan kesimpulan logisnya adalah “Allah ada sebagaimana Ia ada, dan Allah dipahami sejauh Ia menyatakan diri-Nya”. Soal bagaimana Ia dipahami sebagai Trinitas, tentu ada jalur berpikirnya yang didasarkan pada fakta historis, dokumentasi pendukung, dan dapat diargumentasikan (isi-isi argumen berdasarkan historisitas dan dokumentasi).
Berbicara mengenai doktrin Trinitas, bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Ada orang-orang Kristen maupun non-Kristen beranggapan bahwa doktrin Trinitas sulit dipahami dan tidak masuk akal. Anggapan tersebut di satu sisi ada benarnya dan di sisi lainnya ada salahnya. Mengapa demikian? Alasannya adalah memahami pribadi Allah tidak semudah yang kita bayangkan. Oleh karena itu, mengatakan bahwa belajar Trinitas tidak masuk akal, sama saja dengan mengatakan bahwa doktrin keesaan Allah juga tidak masuk akal. Mengapa bisa tidak masuk di akal? Keesaan Allah diukur atau dinilai dengan apa? Apakah hanya diukur dari pernyataan bahwa “Allah itu esa”? lalu kita merumuskan bahwa “Allah itu satu saja”—maksudnya, diri-Nya hanya ada satu saja, bukan dua atau tiga, dan seterusnya? Tidak semudah itu.
Mereka yang menganggap bahwa doktrin Trinitas menimbulkan banyak problem, sebenarnya juga menyatakan bahwa doktrin Unitarian memiliki problem yang sama. Kita perlu memahami dan mengakui bahwa Allah itu tidak terbatas – dan manusia terbatas pikirannya. Perumusan Trinitas tentu berdasarkan pada penalaran logis yang disertai bukti.
Sebagai langkah awal, saya hendak menyatakan demikian, bahwa “Allah tidak menyatakan diri-Nya sebagai “satu” secara numerik, melainkan “satu” di antara ilah-ilah yang lain.” Maksudnya adalah, Allah sendiri menegaskan bahwa “objek” penyembahan “haruslah” hanya kepada Dia, dan bukan kepada ilah-ilah yang ada di bumi atau di sekitar bangsa Israel yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Jika hal ini dipahami secara baik dan benar, maka personalitas Allah yang kita pahami tidak membawa kita pada kancah perdebatan yang panjang.
Tetapi perdebatan terus berlanjut. Pada substansinya, memahami ‘keesaan Allah’ haruslah dilihat dari konteks di mana Allah menyatakan bahwa hanya Diri-Nya yang ‘esa’—satu di antara ilah-ilah lain, bukan “satu secara numerik” tanpa melihat konteks eksistensi ilah-ilah lain di dunia. Di sini, titik berangkat prapemahaman seseorang akan pribadi Allah menentukan aspek pengetahuannya tentang Allah. Dan pada hakikatnya bahwa prapemahaman tersebut harus didasari pada wahyu Allah, bukan pada asumsi logika manusia.
Dari sini kita melihat bahwa memahami Allah sebagai yang esa mencakup dua hal: esa dalam hal penyembahan, dan esa dalam hal esensi. Keduanya berbeda. Islam masuk dalam ranah “esa penyembahan”, sehingga ketika orang Kristen menyembah Yesus, maka mereka mengira bahwa orang Kristen menduakan Allah, berlaku syirik, dan dianggap kafir. Padahal yang disembah oleh orang Kristen adalah Yesus yang tidak dipisahkan dari status ontologi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal (Yoh. 1:1-3).
Keesaan Allah dalam arti “esa penyembahan” merujuk pada “seharusnya” Allah yang disembah dan bukan ilah-ilah ciptaan Allah. Keesaan Allah dalam arti “esa esensi [ontologi] merujuk pada “sesungguhnya” Allah itu tiga pribadi: Bapa, Firman, dan Roh Kudus sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab.
Ada problem pemahaman yang muncul: apakah Allah Tritunggal memiliki tiga roh (dari masing-masing pribadi) ataukah hanya satu roh? Kita pun di sini tergerak untuk melihat tiga pribadi dari Trinitas secara terpisah. Dengan demikian, asumsi filosofi-teologis berangkat dari skema pemahaman natural kita sendiri. Jika esensi Allah adalah Roh, maka mungkinkah esensi Allah memiliki “roh”?
ALLAH TRITUNGGAL: SATU ROH ATAU TIGA ROH?
Posisi saya adalah Trinitas memiliki “satu Roh”. Satu Roh merujuk pada tidak ada perbedaan kualitas kehendak, sehingga menggiring opini bahwa ketiga Pribadi Trinitas memiliki roh-Nya masing-masing. Tidak ada indikasi soal ini dalam Alkitab.
Perbedaan esensi dan pribadi haruslah dipahami secara baik. Sebagaimana yang diungkapkan Herman Bavink bahwa, “Kitab Suci juga jelas mengenakan natur ilahi dan kesempurnaan-kesempurnaan ilahi kepada Anak dan Roh dan menempatkan Mereka setara dengan Bapa. Maka Bapa, Anak dan Roh adalah subjek-subjek yang berdistingsi di dalam satu esensi ilahi.” Saya memahami esensi ilahi sebagai “Roh yang kekal” sebab natur Allah adalah “Roh” yang dapat dipahami sebagai “esensi hakiki” (self-condition) dan mutlak. Mutlak bukan karena kita yang melekatkannya melainkan “demikianlah adanya”.
Bavink berpendapat bahwa “di dalam Allah tidak ada pemisahan atau pembagian”, yang dapat saya pahami bahwa “Pribadi-pribadi Trinitas tidak memisahkan diri Mereka karena memiliki roh-Nya masing-masing apalagi ‘membagi’ distingsi roh Mereka masing-masing. Karena Trinitas memiliki ‘satu Roh’ maka tidak ada perbedaan kehendak, emosi, dan pikiran, sebagaimana yang tertuang dalam narasi-narasi Alkitab. Emosi, pikiran, dan kehendak Mereka—secara filosofis ‘ada dalam Roh yang satu itu’ sehingga berimplikasi kepada tidak adanya perbedaan kualitas emosi, pikiran, dan kehendak.” Lagipula, tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Pribadi-Pribadi Trinitas saling bertolak belakang dalam kehendak. Sama sekali tidak.
Memang, Pribadi-Pribadi Trinitas memiliki eksistensi-Nya tersendiri yang disting, tetapi hal itu bukan berarti eksistensi dipahami sebagai “satu roh dimiliki Yesus, satu roh dimiliki Roh Kudus, dan satu roh dimiliki Bapa. Eksistensi hanyalah mengacu pada “ke—ada—an” personalitas Mereka. Eksisten dan esensi memiliki perbedaan. Eksistensi mengacu pada kondisi “ada” dan “adanya” Pribadi-Pribadi Trinitas adalah sejak kekal yang tak terpahami, tak berawal. Ketika seseorang mengatakan: “kapan Allah mulai ada?” maka kita dapat bertanya juga dengan pertanyaan: “kapan manusia mulai berpikir”. Tidak ada jawaban atas dua pertanyaan di atas. Maka, secara faktual, tidak perlu ditanyakan.
Distingsi-distingsi antara ketiga Pribadi secara jelas tampak dalam relasi-relasi yang menghasilkan diferensiasi di dalam keberadaan ilahi (Bavink). “Setiap Pribadi adalah diri-Nya sendiri dalam suatu cara yang kekal, sederhana, dan mutlak, Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Dan karena ketiga-Nya adalah Allah, Mereka semua berbagian dalam “satu natur ilahi”. Maka, hanya ada satu Allah (Bavink).
Pemahaman saya mengenai “satu natur ilahi” merujuk kepada “satu Roh” yang dimiliki oleh tiga Pribadi, sehingga tidak ada perbedaan kualitas pendapat, pikiran, dan kehendak.
Mungkin, kesalahan mereka dalam memahami konteks “tiga roh” terjebak dalam kelogisan demarkasi personal sebagaimana yang diambil dari analogi manusia. Secara logis, ketiga Pribadi dalam Trinitas saling berdingsi, dan konsekuensi logisnya (maksudnya di sini saya hanya memahami makna logis, bukan menjelaskan pandangan saya) adalah Bapa punya roh, Yesus punya roh, dan Roh Kudus punya roh, jadinya ada tiga roh. Sampai di sini memang logis. Tetapi pertanyaan-Nya, apakah “roh” dari masing-masing Pribadi berbeda atau sama? Jika berbeda, bagaimana ukuran untuk sampai pada kesimpulan demikian? Bagaimana “roh”-Nya Roh Kudus bisa berbeda dengan roh Bapa yang dari-Nya Ia keluar? Bagaimana “roh”-Nya Yesus bisa dikatakan berbeda dengan roh Bapa padahal ia dilahirkan dari Bapa? Jika sama, maka implikasinya adalah hanya “ada satu roh” saja meski ada tiga Pribadi yang disting.
Oleh sebab itu, kesimpulan saya adalah: “hanya ada satu roh dalam Trinitas yang dengannya tidak ada perbedaan kualitas pikiran, emosi, dan kehendak karena tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah Trinitas berkelahi dan berbeda pendapat karena masing-masing meliki tiga roh. Justru Alkitab menjelaskan keselarasan dan kesamaan kehendak di antara Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Seperti pernyataan dalam Pengakuan Iman Westminter: “Di dalam Allah yang esa, terdapat tiga Pribadi, yang adalah satu dalam substansi, kuasa, dan kekekalan….” dan seperti yang diungkapkan A. A. Hodge sebagaimana dikutip oleh Cornelius Van Til, bahwa “Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang tunggal itu, dan bahwa esensi yang tidak bisa dibagi-bagi dan segala kesempurnaan dan prerogatif ilahi, adalah kepunyaan dari masing-masing Pribadi di dalam pengertian dan derajat yang sama”, dengan demikian, tidak ada perbedaan kehendak dalam Trinitas. Ketika kita beranjak memahami Allah dengan tanpa bukti, maka kita terjerumus dalam konsep memahami “bagaimana seharusnya Allah”.
Salam Bae
Mengenai Allah Tritunggal: Satu Roh atau Tiga Roh, telah dimuat di: https://teologiareformed.blogspot.com/2018/10/allah-tritunggal-satu-roh-atau-tiga-roh.html oleh Admin Teologi Reformed. Konteks tersebut saya muat di Facebook dalam diskusi soal Trinitas. Tetapi tulisan Allah Tritunggal: Satu Roh atau Tiga Roh adalah bagian dari topik dalam artikel singkat ini.
Pada komunitas tertentu, salib dipahami secara berbeda dengan apa yang dipahami oleh umat Kristen. Salib dipandang sebagai penghinaan dan tanda kutuk Allah sehingga umat Kristen—sebagai imbasnya—dianggap sebagai orang-orang yang aneh. Sejatinya, bukanlah orang-orang Kristen yang aneh, melainkan orang-orang yang melihat salib secara bertolak belakang dengan doktrin salib Kristen.
Salib memang terlihat hina, terlihat sadis dan kejam, terlihat sebagai tanda kutuk. Tetapi salib justru memiliki makna yang jauh lebih dalam dari pemahaman dan penglihatan (cara pandang seseorang) yang tidak sepenuhnya memahami konteks dan latar belakangnya. Terkadang, mereka yang salah dan secara sesat memahami salib justru merasa yang paling tahu tentang salib. Kebiasaan paralogisme seperti telah menjamur di komunitas tertentu, dan orang-orang yang membenci salib. Kita melihat bahwa salib adalah cara Allah untuk menyatakan kasih, penebusan, pengampunan, dan keselamatan. Dalam catatan Perjanjian Lama, pengampunan (dan penyelamatan) yang Allah kerjakan terlihat dalam dua cara:
Pertama, pengampunan Allah berdasarkan kasih karunia (kerelaan Allah untuk mengampuni manusia berdosa). Hal ini terlihat pada kejahatan pertama yang dilakukan Kain, yaitu membunuh Habel, adiknya. Kejadian 4:8-15, Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu … Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.
Tuhan mengampuni Kain berdasarkan kasih karunia-Nya dan tidak memerintahkan Kain untuk mempersembahkan kurban sebagai pengampunan dosanya yitu membunuh adiknya. Kasih karunia ini berlaku bagi Adam, Hawa, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan lainnya sebelum masa di mana Musa diperintahkan Allah untuk mempersembahkan berbagai kurban (kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, dan lainnya).
Kedua, pengampunan Allah berdasarkan persembahan kurban, yang terkait erat dengan darah dan kematian. Musa diperintahkan Tuhan untuk mengadakan persembahan kurban-kurban, dan yang terkait dosa adalah kurban penghapus dosa (Kel. 29:14; 29:36; 30:10; Im. 4:3; 4:14; 4:20; 4:24-25; 4:29; 4:33; dan lain-lain). Konsep ini kemudian digenapi dalam diri Yesus Kristus; Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Perjanjian Lama menegaskan bahwa kurban pengganti terkait dengan darah dan kematian; kurban keselamatan dan pengampunan juga memiliki makna yang sama. Dalam Kejadian 22:8 Abraham dengan yakin berkata anaknya: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya.” Dan kita melihat bahwa seharusnya Ishak yang dipersembahkan Abraham, kita Allah menggantinya dengan seekor domba jantan (Kej. 22:13). Baik lembu jantan maupun domba jantan bertujuan untuk pengudusan, penebus salah, yang dengannya Allah menghendaki umat-Nya diselamatkan (bdk. Kel. 29:1-28; Kel. 5:16-19).
Kini, dalam Perjanjian Baru, Allah mengganti domba jantan dengan Yesus Kristus; darah-Nya dicurahkan dan tubuh-Nya mengalami kematian. Depiksi (penggambaran) ini adalah perwujudan dari cara Allah—berdasar pada kedaulatan-Nya untuk menebus dan menguduskan umat-Nya—harus berurusan dengan “darah dan kematian”. Darah adalah lambang kehidupan dan kematian adalah lambang kebangkitan. Yesus secara tepat menegaskan hal ini: “Akulah kebangkitan dan hidup”. Yesus juga menegaskan: “Matius 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28). Di dalam Yesus tergabung kasih karunia dan pengurbanan untuk pengampunan, penebusan dan pengudusan. Rasul Paulus menegaskan bahwa: Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 3:3-10).
Di saliblah, Allah menunjukkan kekerasan dan kebejatan manusia dan Yesus tuntas menyelesaikannya. Di saliblah, manusia mempertontonkan kehebatan kekerasan yang luar biasa yang dengannya Kristus tak gentar hingga kematian-Nya. Di saliblah, Allah menyatakan bahwa kejahatan sebesar apa pun, semuanya diampuni-Nya di dalam dan melalui Yesus Kristus. Allah, dengan kasih-Nya yang besar telah menunjukkan kebesaran karunia dan pengampunan-Nya untuk menyelamatkan umat yang berdosa. Salib adalah cara Allah membela dan menyelesaikan masalah dosa. Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, semuanya melihat kepada Kristus yang telah menderita, mati, dan bangkit dari kematian.
Yesus Kristus adalah pusat iman Kristen. Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan umat-Nya melalui kematian Anak Domba. Hal ini adalah kelanjutan dari PL dan sekaligus penggantian dari “domba” ke “manusia”. Sebelumnya Allah menggantikan dari “manusia” ke “domba” yang terjadi pada peristiwa Abraham mempersembahkan Ishak. Kini, kita patut bersyukur, Allah dengan kasih-Nya telah menunjukkan kepada kita bahwa Ia mengasihi dan mengampuni kita dari segala kejahatan kita.
Tapi mengapa harus “salib”? Begini: manusia seringkali mengajukan keberatan terhadap cara Allah menebus. Kita melihat bahwa dalam PL, darah dan kematian menjadi simbol penebusan, pengudusan, penghapus dosa, dan lainnya. Musa dan segenap bangsa Israel tetap menjalankan itu sebagai perintah Allah, karena mereka telah berdosa bukan kepada sesama manusia, tetapi berdosa kepada Allah. Singkatnya, hanya Allah yang berhak mengampuni dosa dan menentukan bagaimana caranya umat yang berdosa untuk diampuni, ditebus, dikuduskan, dan diselamatkan.
Orang-orang yang menolak salib sebenarnya adalah orang-orang yang tidak memahami dosa dan pemberontakannya sendiri. Mereka mengira bahwa Allah dapat saja menebus dan menyelamatkan manusia dengan cara lain. Tetapi apa dasarnya? Lalu kapan itu terjadi? Seperti yang telah saya kemukakan di atas bahwa penyelamatan dan pengampunan Allah dilakukan dengan dua cara yaitu kasih karunia dan pengurbanan. Jika demikian, mengapa masih meragukan pengampunan dan penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang disalibkan?
Yesus dan salib adalah fakta sejarah yang telah ditetapkan Allah. Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus melihat kepada salib sebagai lambang kehinaan, tetapi di baliknya, adalah pengampunan dan keselamatan yang Allah siapkan. Yesus dan salib adalah depiksi anugerah Allah yang luar biasa. Ketika manusia dapat melihat kejahatan dan pemberontakannya di hadapan Allah, maka salib yang dilihatnya akan benar-benar dipahami. Salib memang terlihat hanya sebagai penyiksaan dan kebrutalan penyiksaan. Akan tetapi, Kristus melihat salib sebagai jalan penyelematan dan pengampunan yang harus Dia lewati. Ia pun secara tuntas melewatinya dan mengatakan: “Sudah Selesai!”
PL melihat kepada Allah sebagai Pribadi yang mengampuni dan mengasihi; Allah menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya melalui kasih karunia dan persembahan kurban-kurban. Umat PB (termasuk kita) melihat kepada Yesus Kristus—Logos Allah yang menjadi daging [manusia] sebagai Pribadi yang mengampuni dan mengasihi; Kristus menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya melalui kasih karunia dan persembahan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna di hadapan Allah.
Melihat Yesus yang disalibkan tidak menjadikan Yesus rendah dan terhina sedemikian rupa meskipun pada peristiwa penyaliban Yesus dihina, diejek, direndakan, dan ditertawakan. Tetapi, Yesus membalikkan semua itu melalui penggenapan nubuat-Nya sendiri bahwa “Anak Manusia akan bangkit pada hari yang ketiga”. Memang, penyaliban dan kematian Yesus begitu menyakitkan hati para murid Yesus; tetapi Yesus telah memberitahukan lebih dahulu berulang kali bahwa Ia akan diserahkan, disiksa, disalibkan, dan mati. Tetapi tidak berhenti di situ: “Ia akan bangkit pada hari ketiga”.
Salib adalah karya yang luar biasa; meski terhina tetapi salib adalah yang termulia; meski dipandang rendah, salib menjadikan kita ditinggikan; meski ditertawakan, mereka yang menertawakannya dan menolaknya sebenarnya menertawakan diri sendiri, menertawakan dosa dan pemberontakannya di hadapan Tuhan. Salib, meski ditolak oleh mereka yang merasa suci dan sempurna, tetapi Tuhan Yesus tidak menolak mereka yang menyadari dosa dan pemberontakannya dan melihat kepada salib-Nya.
Salib telah menyelamatkan dunia. Kekerasan dibalas dengan pengampunan. Perkataan Yesus adalah perkataan yang menyadarkan dunia bahwa pengampunan adalah jalan utama untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Hingga sekarang, kekerasan dan kekejaman terhadap para pengikut Yesus hanya dapat dibalas dengan pengampunan, karena Yesus telah memberitakan teladan ini.
Mari melihat salib sebagai kasih karunia dan pengampunan Allah di dalam Yesus Kristus. Kita harus sadar akan dosa dan pemberontakan kita di hadapan Allah. Yesus Kristus yang tersalib bukan karena Dia lemah dan tak berdaya. Sama sekali tidak! Yesus yang tersalib karena Ia harus melewati “jalan itu” untuk menyatakan kasih-Nya yang luar biasa, hingga akhirnya, mereka yang ditebus-Nya beroleh damai sejahtera, kasih, dan pengampunan. Dunia ini diubah oleh kasih dan pengampunan Yesus Kristus.
Salam Bae
Artikel ini sudah diterbitkan di Harmoni Indonesia: https://harmoni.or.id/y-e-s-u-s-d-a-n-s-a-l-i-b-oleh-stenly-r-paparang/ tanggal 19 April 2019 (bertepatan dengan perayaan Wafat Isa Almasih. Penerbitan artikel singkat ini di link di atas diminta oleh sahabat saya, Pdt. Dr. Sapta Siagian, M.Th.
Sejumlah klaim dan celoteh non-logis-teologis yang dikumandangkan oleh para negator Kristologi—terutama pada aspek-aspek ke-Ilahian, ke-Tuhanan, dan ke-Allahan Yesus—telah memperlihatkan berbagai jenis cara memahami. Yang sering terjadi adalah para negator menggunakan cara memahami parsial, fragmentaris, dan paralogisme, sehingga kebodohan menginap dengan tenang di otak mereka.
Jenis pemahaman paralogisme menghasilkan—secara konsekuensi logis—sebuah konteks “erorisme”, di mana baik proses awal berpikir, memahami, dan merumuskan [sesuatu] sampai pada hasil akhir dari proses tersebut bersifat “error”. Mengapa demikian? Karena memang cara memahaminya menggunakan paralogisme. Lama-lama kelamaan, jika seseorang tidak melatih cara berpikirnya, maka kebodohan akan selamanya menginap di otaknya.
Erorisme adalah sebuah paham yang tampak pada cara berpikir dan hasil berpikir yang salah (Ing. ‘error’) pada seseorang, baik secara penalaran logis, hermeneutis, eksegetis, teologis, dan historis. Bagaimana pun pendekatan yang digunakan, tetap saja salah karena pada dasarnya sudah ada presaposisi internal yang melekat pada pikiran dan keyakinannya, sehingga secara langsung menutup pintu penalaran logis, pembuktian historis, dan penafsiran yang kredibel.
Erorisme dijumpai pada mereka yang mengakui bahwa Yesus tidak disalibkan, Yesus bukan Tuhan, dan yang menganggap Yesus sebagai Anak Allah dalam pengertian biologis. Erorisme adalah konsekuensi logis dari paralogisme di mana kebodohan telah menginap lama di otak, sehingga otak itu menjadi “rusak”.
Di sini, saya hanya menjelaskan beberapa pokok mengenai gelar “Anak Allah” bagi Yesus yang disalahpahami secara erorisme. Penjelasan ini saya kutip dari buku saya yang berjudul: “Yesus Anak Allah: Sebuah Tinjauan Filsafat Logika” yang diterbitkan oleh Pustaka Star’s Lub tahun 2019.
PERTAMA, pada teks Matius 16:16, Simon Petrus mengaku: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Petrus (dan para murid yang lain) memiliki pemahaman yang sama yakni memahami Yesus sebagai “Anak Allah” dengan melihat aspek dan fakta tentang “kualitas tindakan Yesus” yang membuktikan bahwa apa yang dilakukan Yesus, setara dengan apa yang dilakukan Allah. Artinya, perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan yang dilakukan Allah, dapat juga dilakukan oleh Yesus. Morris menegaskan, “Yesus adalah Yang Diurapi oleh Allah, Ia diutus untuk menggenapi kehendak Allah dalam cara yang istimewa. Tidak ada gelar yang bisa lebih tinggi dari Anak Allah yang Hidup. Jawaban Petrus menyatakan natur esensial dari Tuhan kita di dalam bahasa yang paling komprehensif” (Morris, Injil Matius, 430). Penegasan Morris memberikan pengertian bahwa Yesus bukanlah Anak Allah dalam arti biologis melainkan Anak dalam arti yang esensial: Yesus adalah Yang Ilahi.
KEDUA, pada teks Matius 26:63, perkataan Imam Besar kepada Yesus mengenai apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak, dipahami bukan secara biologis, karena pemahaman akan sebutan “Anak Allah” dalam konteks ini adalah “menyamakan diri dengan Allah” atau menyetarakan diri Yesus dengan Allah. Secara definisi indikasi penyebutan “Anak Allah” kepada Yesus seperti yang dilakukan Imam Besar didasarkan pada sikap Yesus yang mau menyamakan diri dengan Alllah, dan bukan menyatakan bahwa Allah beranak secara biologis.
Morris menjelaskan, “pertanyaan Imam Besar ini sulit dijawab karena Kemesiasan Yesus sangat berbeda dengan konsep Mesias Imam Besar. Menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ bisa sama-sama menimbulkan salah paham. Karena itu Yesus berkata, ‘Itu adalah ucapanmu, bukan ucapan-Ku’ (H. Melinsky, Matthew, [London, 1965], ‘Ya, tetapi bukan seperti yang kau maksudkan’). Yesus seolah mau mengatakan, ‘Saya tidak akan berkata seperti itu, tetapi karena engkau yang mengatakannya, Saya tidak bisa menyangkalnya’” (Morris, Injil Matius, 696-97). Analisis Morris sangat tepat. Apa yang dipandang oleh Imam Besar terkait sebutan “Anak Allah” sangat jelas bukanlah dalam pengertian biologis.
KETIGA, pada teks Matius 27:40, perkataan orang banyak “…selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” memiliki indikasi yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Besar di atas. Arti dari “Anak Allah” menegaskan sebuah analogi bahwa jika Yesus adalah Anak Allah maka Ia pasti dapat menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya yaitu turun dari salib secara luar biasa. Konteksnya tidak dipahami sebagai Allah yang memiliki anak secara biologis. Anak Allah disamakan dengan Allah dalam hal kuasa-Nya.
KEEMPAT, pada teks Matius 27:43, frasa “Anak Allah” menunjukkan bahwa jika Yesus berkenan kepada Allah karena Ia menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah, maka konsekuensi logisnya adalah “Allah akan menyelamatkan Dia”. Di sini pemahaman “Anak Allah” adalah sebagai sebuah relasi yang kuat antara Allah dan Yesus (sebagai Anak Allah) yang berkonsekuensi logis yaitu Allah akan menolong, menyelamatkan “Anak-Nya” (yang dipercayai, diberikan hak) ketika Ia berada dalam keadaan sukar. Maka, Allah tidak dipahami sebagai memiliki “Anak” secara biologis.
Menurut Morris, mereka yang menyimpulkan “karena Ia (Yesus) telah berkata: Aku adalah Anak Allah” secara tepat menyadari Yesus telah mengklaim relasi yang istimewa dengan Allah (Morris, Injil Matius, 732). Konsekuensi logisnya adalah “Anak Allah” dimaksudkan adalah dalam arti relasi atau kuasa dan kesetaraan dengan Allah, bukan dalam pengertian biologis di mana Yesus dianggap lahir dari rahim Allah.
KELIMA, pada teks Matius 27:54 (lih. Juga Mrk. 15:39), perkataan kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya bahwa “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” menegaskan relasi yang kuat antara Allah dan Anak-Nya bahwa ada konsekuensi logis yang muncul ketika Yesus, sebagai Anak Allah yang mengalami sengsara, dibela oleh Allah. Allah tidak dipahami sebagai yang ber-Anak secara biologis melainkan sebagai pribadi yang menjaga pribadi yang dikasihi, diakui sebagai Anak-Nya dalam pengertian relasi.
Morris berpendapat, bahwa “pengakuan ini (maksudnya ‘Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah’) menyerupai pengakuan para murid sebelumnya (14:33). Sungguh menunjuk pada kepastian; mereka tidak sedang menduga. Mereka paham kematian Yesus menunjukkan Ia adalah Anak Allah. Bahkan bagi orang-orang non-Yahudi, kematian Yesus berikut peristiwa-peristiwa sesudahnya menunjukkan Ia bukan sekadar seorang yang lain. Yesus memiliki relasi khusus dengan Allah” (Morris, Injil Matius, 739).
Jika demikian, pengertian Anak Allah secara biologis bukanlah maksud dari sebutan tersebut. Mereka yang mengganggap bahwa sebutan Anak Allah dalam pengertian biologis, secara faktual mengabaikan atau buta terhadap definisi itu sendiri yang secara konteks sangat jelas sekali maknanya.
KEENAM, teks Markus 3:11, memiliki indikasi yang sama dengan teks Matius 8:29 di atas. Van Bruggen menjelaskan, roh-roh jahat mengakui Yesus sebagai Anak Allah (mereka meneriakkan pengakuan itu). Kendati begitu, pengakuan mereka itu bukan pengakuan yang mencari perlindungan. Mereka mengakui realitas kedatangan Anak Allah, dan mereka gemetar ketakutan (Jacob van Bruggen, Markus, 124).
KETUJUH, pada teks Yohanes 1:49, Natanael berucap: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Natanael tentu tidak bermaksud menyebut Yesus sebagai Anak Allah dalam arti biologis. Tetapi hendak menegaskan bahwa “Anak” dalam pengertian kuasa (sebagai Raja orang Israel), kehendak (selaras dengan kehendak Allah), dan adanya kesetaraan antara Yesus dengan Allah. Sebutan “Anak” menjelaskan posisi kemanusiaan-Nya, dan sebutan “Allah” yang mengikuti kata “Anak” menjelaskan identitas Yesus yang sesungguhnya. Menurut Robert H. Gundry, “Nathanael’s recognition of Jesus as also ‘the Son of God’ echoes the Baptist’s testimony in 1:34. And as truly an Israelite, Nathanael recognizes Jesus as ‘the king of Israel’” (Pengakuan Nathanael tentang Yesus sebagai “Anak Allah” menggemakan kesaksian Yohanes Pembaptis di 1:34. Dan sebagai seorang Israel sejati, Natanael mengakui Yesus sebagai “raja Israel”) (Robert H. Gundry, Commentary on the New Testament: Verse-by-Verse Explanations with a Literal Translation [Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 2010], 355).
Pengakuan Natanael, dilihat dari aspek substansi-nya, mengacu kepada pengakuan imaniah di mana iman Natanael sangat berdasar sesuai dengan yang ia lihat. Pengakuan ini pada waktu-waktu kemudian, dibuktikan; bahkan hingga sekarang ini. Tidak ada aksentuasi biologis di sini.
Penjelasan di atas menyangkup erorisme soal gelar “Anak Allah” bagi Yesus, telah ditegaskan melalui prinsip penalaran yang mengaitkan definisi frasa tersebut dengan konteks dan identitas Yesus. Artinya, pola erorisme telah menjadi habitualisme para negator (termasuk muslims) yang melakukan “hibridisasi antara paralogisme teologis dengan ketidakpahaman doktrin Kristen” dan kemudian berkoar-koar mengatakan doktrin Kristen itu salah untuk meraup pembenaran teologi mereka. Hal ini tentu merupakan proses bernalar secara sesat dan mengandung erorisme.
Jadi, berpikirlah secara jernih. Lihatlah doktrin Kristen bukan dari perspektif “imaniah-personal” (yang buta historis), atau keyakinan dogmatis pribadi, tetapi lihatlah secara komprehensif dan mengikuti proses berpikir logis, teologis, historis, eksegetis, dan hermeneutis. Jangan biarkan kebodohan menginap di otak. Usirlah dia karena masa kontraknya sudah berakhir dan undanglah kepandaian serta kejujuran; engkau akan dibuatnya berbahagia–selamanya…
Matius 27:3-10 mencatat penyesalan mendalam Yudas karena telah mengkhianati Yesus kepada para penguasa Yahudi. Yudas mula-mula berusaha mengembalikan tiga puluh mata uang perak yang telah mereka bayarkan kepadanya sebagai penunjuk jalan bagi para pengawal Bait Allah ke Getsemani di mana Yesus ditangkap.
Tetapi, imam-iman dan para pejabat Bait Allah tidak mau menerima uang itu kembali, sebab itu adalah uang darah, dan karenanya tidak pantas sebagai persembahan kepada Allah.
Maka Yudas melemparkan kantong berisi uang itu ke lantai perbendaharaan Bait Allah, lalu meninggalkan kota itu, dan “menggantung diri” (apēnxato [ἀπήγξατο]—kata kerja bentuk lampau untuk orang ketiga tunggal dari “apanchō” [ἀπάγχω], yaitu kata kerja yang dipakai dengan arti spesifik tersebut sejak abad kelima SM). Ini membuktikan fakta bahwa Yudas mengikat simpul tali ke lehernya dan meloncat dari dahan di mana ujung yang lain dari tali tersebut diikatkan.
Dalam Kisah Para Rasul 1:18 Rasul Petrus mengingatkan murid-murid yang lain akan akhir hidup yang memalukan dari Yudas serta kekosongan jabatan yang dia tinggalkan di antara Dua Belas Murid, sehingga diperlukan seorang murid yag lain untuk mengisi tempatnya. Petrus menceritakan yang berikut ini: οὗτος μὲν οὖν ἐκτήσατο χωρίον ἐκ μισθοῦ τῆς ἀδικίας καὶ πρηνὴς γενόμενος ἐλάκησεν μέσος καὶ ἐξεχύθη πάντα τὰ σπλάγχνα αὐτοῦ. Ini dapat berarti bahwa Yudas telah membuat perjanjian dengan pemilik dari tanah yang semula ingin dibelinya dengan memakai uang hasil pengkhiatannya; atau – yang lebih memungkinkan menurut konteks di sini—Petrus sedang berbicara dengan gaya ironis, dengan menyatakan bahwa Yudas memang memperoleh sebidang tanah, namun itu hanya berupa satu tempat untuk penguburan [χωρίον, khōrion, juga bisa mencakup konsep ini], yaitu sebidang tanah tempat tubuhnya yang sudah tak bernyawa dimasukkan.
Selanjutnya Kisah Para Rasul 1:18 menyatakan: “Lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar.” Ini menunjukkan bahwa pohon di mana Yudas menggantung diri tumbuh menggantung di tepi tebing yang curam. Jika dahan di mana dia menggantung diri sudah mati dan mengering—kenyataannya banyak pepohonan yang cocok dengan gambaran ini yang bahkan sampai sekarang ada pada tepi jurang yang secara tradisional diidentifikasikan sebagai tempat di mana Yudas mati—maka hanya diperlukan satu kali hembusan angin keras untuk merenggut mayat yang berat ini dan mengoyakkan dahan di mana ia tergantung lalu keduanya rontok dengan hentakan keras ke dasar jurang di bawah.
Terdapat petunjuk bahwa angin keras muncul pada saat kematian Yesus sehingga membela tabir besar di dalam Bait Allah dari atas ke bawah (Matius 27:51, Καὶ ἰδοὺ τὸ καταπέτασμα τοῦ ναοῦ ἐσχίσθη ἀπ᾽ ἄνωθεν ἕως κάτω εἰς δύο καὶ ἡ γῆ ἐσείσθη καὶ αἱ πέτραι ἐσχίσθησαν, [Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah]). Ini disertai gempa bumi yang memecahkan karang atau padas dan tak disangsikan juga disertai badai petir, yang biasanya terjadi setelah awan dan kegelapan menyatu untuk waktu yang cukup lama (Matius 27:45 Ἀπὸ δὲ ἕκτης ὥρας σκότος ἐγένετο ἐπὶ πᾶσαν τὴν γῆν ἕως ὥρας ἐνάτης [Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga]).
Berbagai keadaan memungkinkan bagi apa yang telah dimulai hanya sebagai suatu tindakan bunuh dengan cara menggantung diri itu berubah menjadi perusakan mengerikan pada mayat itu ketika dahan pohon tersebut terkena hantaman angin keras dan runtuh ke dasar jurang. Demikian penjelasan Gleason L. Archer, Jr. “Encyclopedia of Bible Difficulties”.
Daniel Lucas Lukito menjelaskan:
Usaha penyelidikan yang lebih meyakinkan lagi ialah penelitian salinan kuno berdasarkan teks bahasa aslinya lelalui leksikonnya yang cukup dikenal, G. A. Abbott Smith, menjelaskan bahwa kata ‘prēnēs’ [πρηνὴς] dari Kisah Para Rasul 1:18, yang sejak dahulu dianggap hanya berarti ‘Jatuh tertelungkup’ ternyata dapat pula berarti ‘membengkak. Dari data yang lebih akurat ini, rekonstruksi kematian Yudas dapat diperlihatkan sebagai berikut: Yudas memang menggantung dirinya hingga ia menemui ajalnya. Mayatnya kemungkinan tidak dapat ditemukan hingga beberapa saat sampai organ di perutnya membusuk, dan khusus pada bagian perutnya membengkak. Oleh karena bagian perut adalah bagian yang rawan rusak, masuk akal bahwa Yudas yang masih tergantung itu pecah isi perutnya. Rekonstruksi seperti ini sesuai dengan bunyi teks aslinya yang mengatakan bahwa tubuh Yudas itu [ἐλάκησεν μέσος, ‘elakēsen mesos’] yang artinya ‘membengkak di bagian tengahnya.’”
Penjelasan lainnya saya kutip dari Ensiklopesi Alkitab Masa Kini, bahwa Alkitab melaporkan penyesalannya yang memilukan itu, tetapi hanya Matius dari keempat Injil yang menceritakannya (27:3-10). Melengkapi laporan penyesalan dan peristiwa Yudas bunuh diri, yang didahalui oleh pergumulan batin dalam dirinya harus ditambahkan berita Kis. 1:18-19. Dan untuk melengkapi data sebagai bukti, perlu ditambahkan kejelasan fantastis Papias, fragmen 3, yang disimpan oleh Apollinarius, orang Laodikia. Menurut Papias, tubuh Yudas mengembung (ini bisa berarti “prēnēs”, tertelungkup, Kis. 1:18…Ada beberapa usaha untuk menyelaraskan Matius 27:3-10, dengan Kisah Para Rasul. 1:18, umpamanya pendapat Agustinus, bahwa tali yang digunakan Yudas untuk gantung diri putus dan ia mati terjatuh, sesuai Kisah Para Rasul 1:18 [καὶ πρηνὴς γενόμενος ἐλάκησεν μέσος, καὶ ἐξεχύθη πάντα τὰ σπλάγχνα αὐτοῦ (lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar)]; dengan demikian Matius dan Lukas sepakat.
Iman Kristen tumbuh dan berkembang karena Alkitab. Prinsip hidup yang mengandung moralitas dan spiritualitas secara gamblang dituliskan dalam Alkitab. Kehidupan Kristen yang baik dan berkenan kepada Tuhan didasarkan pada firman-Nya: Alkitab. Pemahaman akan personalitas Allah dan karya-Nya, keselamatan, hukuman, ajaran, perintah, ketetapan, dosa, dan aspek-aspek penting dari pengajaran iman Kristen semuanya termaktub dalam Alkitab.
Dalam perkembangan pemikiran teologi, aksentuasi pada bagaimana memahami Alkitab merupakan salah satu bagian dari iman kita kepada Tuhan Yesus. Mengapa ini menjadi aksentuasi?
Pertama, Alkitab adalah “sumber pengetahuan” kita tentang Tuhan dan dengan Alkitab pula, kita memiliki “pengalaman” hidup beriman kepada dan di dalam Tuhan.
Kedua, Alkitab adalah warisan Tuhan dalam bentuk yang sangat manusiawi yaitu ditempuh melalui proses penulisan dan penyesuaian konteks di mana firman itu dituliskan: “verba patens scripta manens”. Pada konteks ini, pesan dan makna Alkitab tidak difokuskan pada kata-kata semata yang secara teknis dapat secara salah ketika disalin, disalin, disalin, dan disalin.
Ketiga, Alkitab adalah “wajah Kristen” yang dengannya totalitas aspek kehidupan, iman, harap, dan keselamatan termaktub di dalamnya. Mengabaikan Alkitab dapat mengakibatkan kita jauh dari Tuhan dan mungkin akan terpisah selamanya. Alkitab sebagai “wajah Kristen” dilihat oleh banyak orang dan mereka yang melihatnya memiliki beragam respons. Ada yang curiga, ada yang percaya, ada skeptis, ada yang mengkritiknya, ada yang menolaknya, ada yang menghinanya, dan lain sebagainya.
Keempat, Alkitab yang kita percaya melewati proses yang panjang hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Proses tersebut mencakup penulisan dan penyalinan. Naskah-naskah asli Alkitab telah rusak total. Jalan keluar yang harus dilakukan adalah “menyalinnya”. Proses penyalinannya dilihat dari kondisi atau konteks di mana penyalin itu hidup.
Hingga kini, ada yang berasumsi dua hal yaitu naskah-naskah asli Alkitab mayoritas telah rusak total dan proses penyalinan merupakan solusinya, dan Alkitab yang sekarang adalah salinan dari salinan dari salinan dari salinan dan seterusnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Inilah yang saya sebut dengan klausa (sudah saya sebut di atas): “Alkitab adalah warisan Tuhan dalam bentuk yang sangat manusiawi”.
Mengapa sangat manusiawi? Alkitab ditulis oleh manusia, diberikan kepada manusia untuk menjamin, mengubah, mendidik, dan mengatur kehidupan manusia, disalin oleh manusia, dinilai berdasarkan kehidupan manusia, dan aspek-aspek lainnya yang terkait dengan manusia.
Mungkin ada yang bertanya: Mengapa Tuhan tidak bisa menjaga firman-Nya dari kerusakan? Pertanyaan ini tidak memahami substansi firman yang diberikan kepada manusia. Kalau firman itu tidak rusak maka firman itu tidak boleh ditulis di bahan yang mudah rusak, seperti perkamen, papyrus dan sebagainya. Semua firman yang diberikan kepada manusia tentu ditulis pada bahan yang ada di dunia ini. Dua loh batu yang bertuliskan 10 Perintah Allah saja bisa pecah karena dibanting Musa. Bukankah 10 Perintah adalah berasal dari Allah?
Kelima, Alkitab adalah “media iman” yang membawa kita dekat pada Tuhan, membentuk hidup kita selaras dengan firman-Nya. Alkitab sebagai media iman dapat menjadi pegangan bagi iman itu sendiri. Mereka yang mati demi Yesus Kristus (tidak menyangkal-Nya) adalah buah dari keyakinan mereka kepada Yesus Kristus sebagaimana diajarkan Alkitab.
Oleh sebab itu, berdasarkan kelima alasan aksentuasi di atas, kita didorong untuk mendalami Alkitab dengan berbagai pendekatan untuk mendidik, menguatkan, memberikan pengharapan, memberi sukacita, dan memberi arah bagi kehidupan kita di dunia ini hingga akhirnya kita bertemu dengan Sang Khalik dalam kemuliaan surga-Nya.
Teolog-teolog “tertentu” yang muncul kemudian, merasa bahwa Alkitab memiliki banyak masalah yang seolah-olah melunturkan autentisitasnya, isinya dan lain sebagainya. Berbekal “bernalar” tanpa merujuk pada dokumen awal—Bapa-Bapa Gereja—para teolog tersebut merasa apa yang dipikirkan dan dikritiknya adalah hebat, padahal mereka hanya perlu menelisik lebih jauh ke dokumen-dokumen awal sejarah Kekristenan, dan bukan berkutat pada hasil pemikiran teologi pada abad ke-18, 19 atau 20.
Sejatinya, kita diajar untuk melihat “dokumen sejarah” pada abad-abad awal Kekristenan dan bukan pada hasil pemikiran yang terlepas dari dokumen sejarah awal tersebut. Kekristenan itu memiliki sejarah dan penulisan kitab-kitab juga demikian, apalagi para pembaca awal dan penafsir awal, yang kadang kita lupakan untuk memuaskan arogansi teologi dan masturbasi teologi yang kita rasa itu cukup untuk membanting Kekristenan di lantai.
Padahal—di sini—kita harus jujur melihat alur sejarah kepenulisan Alkitab dan para pembaca awal. Pada titik ini kita akan tahu apa dan bagaimana prosesnya. Pengaruh pemikiran “liberal”—sebagaimana yang sering dijuluki kepada mereka yang kritis terhadap Alkitab—telah menyita perhatian kita, dan kadangkala orang-orang tertentu merasa bangga ketika mengutip pemikiran mereka yang adal produk yang belakangan.
Marilah kita belajar memahami proses bagaimana Allah hadir di dunia ini dan menggunakan manusia untuk menulis firman-Nya, kisah-Nya, hukum dan kekuatan-Nya, pengampunan dan kasih-Nya, penebusan dan penyelamatan-Nya pada media-media yang mudah rusak atau akan rusak. Jangan terlalu arogan berpikir dengan mengatakan bahwa mengapa Allah tidak dapat menjaga firman-Nya? Apakah ada kitab-kitab dari agama di dunia ini yang tidak ditulis pada media yang mudah dan akan rusak?
Jangan merasa bahwa ketika mengkritik Alkitab maka sudah hebat dan selevel dengan Barth Ehrman dan lainnya. Itu hanyalah membuktikan bahwa kita adalah pecundang teologi yang tidak dapat melihat balok yang ada di mata sendiri, malahan menuduh ada selumbar di dalam Alkitab. Bukankah ini adalah ironi teologi kita?
Mampukah kita melihat karya Allah secara utuh dan tersungkur di depannya seraya berkata: “Terima kasih atas anugerah-Mu, ya Alah, karena Engkau telah menyatakan diri dan menetapkan diri-Mu dituliskan dalam bahan-bahan yang mudah rusak, tetapi ajaran-ajaran tentang-Mu, kasih, kuasa, keadilan, dan mukjizat-Mu, tak rusak oleh waktu dan proses. Manusia-manusia yang telah Engkau ubahkan tentu hanya meneguhkan apa yang tertulis dalam Alkitab.”