MEMBANGUN KARAKTER

Secara faktual, setiap orang mewakili karakter yang ada dalam dirinya sendiri. Seseorang tidak mewakili karakter orang lain. Lain orang lain karakter. Imbasnya, setiap orang bertanggung jawab atas karakter yang dimilikinya. Melihat fakta dalam kehidupan Kristen, seringkali kita disuguhkan atau dipertontonkan dengan berbagai macam karakter. Di gereja misalnya; para jemaat akan dengan mudah melihat dan mengasesmen karakter pendetanya atau gembala jemaatnya. Pendeta/Gembala Jemaat yang baik akan dipuji dan diteladani. Tak lupa pula, jemaat siap mempublikasikan dan mengkomunikasikan kepada orang lain. Maklum, itu kan pendeta/gembala jemaat yang diidolakan.

Tetapi, ada pilihan lain yang tak kalah pentingnya. Pendeta/Gembala Jemaat yang tidak baik akan direndahkan, ditinggalkan, dan dihina. Apa alasannya? Sudah jelas bahwa pendeta/gembala jemaat model demikian tak layak dipuji atau diteladani. Apalagi sehari-harinya hanya sibuk mengurusi orang lain yang dia anggap bahwa dialah yang suci dan tak berdosa. Jemaat akan dengan sangat mudah melihat gelagat sang pendeta/gembala jemaat. Mereka adalah “juri” dalam perlombaan pertunjukan karakter. Namun, satu hal tak boleh dilupakan bahwa pendeta/gembala jemaat juga dapat mengasesmen jemaatnya. Bedanya, jemaat tersebut harus dikonselingkan dan ditegur, dididik, dibina, dan dirangkul, sedangkan pendeta yang bermulut “ember” dan berkarakter buruk akan segera ditinggalkan.

Fenomena ini mencuat ke permukaan di mana berbagai akses teknologi dengan mudah untuk segera mempublikasikan atau mengetahui gerak gerik pendeta maupun jemaat. Ada pendeta yang selalu mempublikasikan dirinya sendiri ketika hendak berkhotbah atau melayani. Ada pula jemaat yang ber”selfie ria” di dalam gereja. Tidak hanya saat sebelum ibadah, tetapi ketika ibadah sedang berlangsung pun ikut ber”selfie ria”. Aneh tapi nyata. Nyata tapi lucu. Itulah carut marut karakter pendeta dan jemaatnya. Masing-masing mempublikasikan diri sendiri dalam konteks ibadah. Bukankah harusnya Tuhan dan cinta kasihNya yang dipublikasikan?

Tidak ada salahnya ketika seseorang mempublikasikan pelayanannya. Bukankah itu adalah dorongan bagi orang lain untuk melayani Tuhan juga? Benar. Di satu sisi ketika seseorang mempublikasikan pelayanannya maka orang lain dapat terhibur, termotivasi, dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama meski di tempat yang berbeda. Tentu ini sangat bermanfaat dan memberikban pengaruh yang luar biasa. Di sisi lain, ada orang yang mempublikasikan pelayanannya dengan tujuan supaya mendapat pujian. Jadinya ia menjadi “besar kepala”. Syukur jika tidak demikian. Tetapi mengingat media sosial menjadi ajang berbagai informasi, berbagi cerita, ajang adu pamer dan adu keunggulan maka baik pendeta dan jemaat juga tak mau ketinggalan. Kesempatan harus dimanfaatkan. Tetapi apakah karakter kita dapat terbangun dengan cara demikian?

Ada orang yang saat melayani tak tertarik untuk mempublikasikan pelayanannya seperti yang dilakukan oleh yang lain sampai meluap-luap. Sedangkan ada pula orang yang senang berbagi cerita tentang pelayanannya dan memberkati banyak orang. Lain pula dengan mereka yang hanya pamer pelayanan dan berharap mendapatkan pujian. Sudah pasti itu. Tetapi motivasinya kurang mantap. Karakter seseorang dapat terbangun bukan melalui publikasi personal dengan tujuan tertentu tetapi terbangun dengan publikasi oleh dan dari orang lain, orang yang meneladaninya.

Pada kasus tertentu, ada orang yang hanya mempublikasikan kebodohan dan keburukan moralitas. Mulutnya menjadi “besar” tatkala yang dibicarakan dan dipublikasikan adalah orang lain yang dijelek-jelekkan sedangkan otaknya mengecil. Perangainya terlihat jelas bahwa memang otaknya yang kecil terisi dengan hal-hal negatif dan berharap dialah yang tersuci dan terkudus seantero bumi. Apalagi jika orang model begini berstatus pendeta.

Celakanya, memang pendetalah yang sering mempertontonkan kebodohan dan keburukan moralitasnya. Yang dia pikir adalah bagaimana menghina orang dan jemaatnya menjadi penonton setia. Jemaat berkata: “Apa tidak salah dengan pendeta kami? Bukankah dia sering berkhotbah di kebaktian minggu dan kebaktian lainnya? Apakah pendeta kami masih waras dan sehat sedangkan ucapan mulutnya penuh sumpah serapah dan caci maki? Apa bedanya mulutnya dengan kloset? Gawat kalau begini terus pendeta kami. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana jalan keluarnya. Semoga Tuhan menghukumnya.” Mungkin seperti itulah curahan hati para jemaat dari berbagai tingkatan umur.

Karakter seseorang adalah surat terbuka. Setiap orang akan dengan mudah mencari alamat sang karakter sebab dari totalitas hidupnya sangat terlihat jelas kebaikan, kesantunan, kemurahan, dan kehangatan kasihnya. Membangun karakter adalah tindakan bijaksana dan memberi dampak yang luar biasa. Membangun karakter berarti kita memberi diri untuk belajar; belajar dari pengalaman, belajar dari orang lain, belajar dari Tuhan melalui firmanNya.

Karakter yang terbangun tampak dari beberapa hal berikut ini:

Pertama. Berjuang untuk terus membangun diri dalam hal kata, pikiran dan perbuatan selaras dengan kehendak Tuhan.

Kedua. Berjuang untuk terus mendorong dan menolong orang lain agar menemukan kebahagiaan.

Ketiga. Berjuang menjadi teladan dan panutan bagi orang lain. Pengaruh yang ditampilkan di depan umum adalah karakter yang solid dan mantap.

Keempat. Berjuang mewujudkan cinta kasih dan damai sejahtera di mana pun ia berada. Dengan cinta kasih dan damai sejahtera yang ditaburkan di lahan-lahan hati sesama, akan tercipta kerukunan dan rasa saling menghormati dan menghargai. Dengan demikian, kebencian dan caci maki reda dengan sendirinya.

Kelima. Berjuang melayani Tuhan dalam berbagai bidang kehidupan dan pekerjaan. Dengan bekerja yang baik kita menampilkan sosok yang pemurah dan kredibel. Dengan melayani kita menunjukkan kesetiaan dan ketaatan kita kepada Sang Khalik.

Keenam. Berjuang mempertahankan hidup dengan cara-cara yang sesuai prosedur. Mendapatkan keuntungan dari kerja keras menuntun seseorang menemukan kebahagiaan yang sejati. Mereka yang meraup dan mencari keuntungan dari cara-cara yang licik dan saling memperalat akan terjatuh ke dalam berbagai-bagai duka.

Ketujuh. Berjuang untuk berusaha mewariskan sesuatu yang bernilai tinggi kepada generasi berikutnya. Karakter seseorang yang baik mewajibkan dirinya untuk mewariskan sesuatu. Sebab dengan warisan yang bernilai tinggilah kita mendapatkan penghargaan yang tak ternilai harganya.

Membangun karakter ibarat menaiki anak-anak tangga. Proseslah yang akan membentuk seseorang hingga menjadi pribadi yang kuat dan solid. Kepadanya layak disematkan piagam penghargaan hidup yang dengan tulus dan rendah hati serta penuh kemurahan membangun diri sendiri dan orang lain. Para jemaat harus meneladani pendetanya dan pendeta juga perlu meneladani Tuhannya. Pendeta yang bermulut sampah layak ditinggalkan sedangkan pendeta yang bermulut pemurah layak diteladani. Karakterlah yang menentukan seperti apa diri kita yang sebenarnya. Dan seorang yang berkarakter baik dan solid, lihat pula sahabat-sahabatnya.

Mereka yang telah membangun karakter pasti memiliki sahabat-sahabat yang berkarakter sama. Pendeta yang berkarakter buruk, lihatlah pula sahabat-sahabatnya. Dari sahabat-sahabatnyalah kita dapat menilai seperti apa pendeta kita. Akhirnya, marilah membangun karakter sejak dini dan nantikanlah hasilnya di kemudian hari. Hanya mereka yang berhasil membangun karakter yang akan disebut berbahagia, sebab merekalah pelaku-pelaku firman Tuhan.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://www.patientcentra.com/patient-recruitment-insights/recruiting-patients-for-alzheimers-clinical-trials

BERPIKIR MELAWAN ARUS

Komitmen Melayani Tuhan

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/73887250120994600/

Kondisi kehidupan manusia seringkali menjadi alasan mengapa seseorang bisa tetap bertahan untuk mencintai kondisi tersebut, atau sebaliknya, seseorang justru meninggalkan kondisi yang bisa menyenangkannya seumur hidupnya. Dalam banyak kasus, ketika kondisi ‘kekayaan’ dirasa dapat memberikan nilai lebih bagi dirinya atau orang yang dikasihinya, maka ia bisa menetapkan untuk berpegang teguh pada kondisi tersebut. Artinya, kekayaan dapat mengikat seseorang untuk tetap setia kepada apa yang dikerjakannya.

Bertolak belakang dengan hal tersebut, ada pula orang yang berpikir melawan arus—berpikir sebaliknya—rela meninggalkan zona nyaman yang ia rasa dapat memberikan kesejahteraan lebih. Zona di mana ia nyaman dengan segala yang ia dapati: jabatan, kedudukan, gaji, dan sebagainya. Ini adalah kejadian yang langka. Seorang dengan gaji 1 milyar per tahun, rela meninggalkan pekerjaannya untuk tujuan yang lain—sebuah tujuan yang berlawanan dengan pola pikir kebanyakan orang. Ia memilih melayani Tuhan meski dengan gaji yang kecil. Tak mengapa, karena baginya, ia dapat berbagi dengan sesama dan menyenangkan hati Tuhan.

Berpikir melawan arus tidak hanya terjadi pada kondisi pekerjaan seseorang. Konteks ini dapat terjadi pula dalam bidang-bidang yang lain. Ketika seseorang (atau sekelompok orang) sibuk mempergunjingkan orang lain maka jangan berharap dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Jika tindakan tersebut dipelihara, justru malah dapat berpotensi mengerami kejahatan, kesombongan, dan kebencian yang siap menetas untuk bereksistensi melawan kebenaran dan kebajikan. Hasilnya adalah menetaskan pertikaian, perselisihan, perkelahian, kematian, dan caci maki tiada tara. Bahkan ia (mereka) hidup dalam kandang keberdosaan yang begitu kotor.

Pokok pelayanan Kristen tidaklah mengizinkan orang-orang yang bertelur kesombongan, kejahatan, dan kebencian untuk hidup bersama dengan orang-orang percaya. Mereka tidak termasuk dalam “gereja” yang mana di dalamnya adalah orang-orang yang telah ditebus dan rela meninggalkan keduniawian mereka. Kedamaian ada pada mereka. Tak mungkin Tuhan memberikan damai kepada mereka yang bermulut sampah, kotor, najis, dan suka mencaci. Tak ada harapan pada bibir mulut penuh sumpah serapah.

Pelayanan Kristen adalah pelayanan yang penuh tantangan sekaligus mengaharuskan penyangkalan diri, pelepasan kebebasan diri yang liar dan mau dibentuk oleh Tuhan menjadi pribadi yang mendatangkan sukacita dan berkat bagi sesamanya. Pelayan Kristen adalah mereka yang kesehariannya memuji Tuhan, bukan memuji manusia pendusta dan najis. Pelayan Kristen adalah mereka yang kesehariannya membicarakan kasih dan kuasa Tuhan, serta kebaikan-Nya.

Tuhan terlalu agung dan baik bagi mereka yang mengasihi-Nya. Tuhan Tuhan terlalu rendah bagi mereka yang meninggikan dirinya dan memegahkan diri. Tuhan terlalu aneh bagi mereka yang merasa hebat dan memiliki segalanya. Tuhan begitu hebat dan penuh kasih bagi pelayan yang setia.

Pelayanan Kristen adalah pengorbanan. Apa yang dikorbankan bukanlah untuk kehebatan diri, bukanlah untuk kemasyhuran diri, dan bukanlah menambahkan kemuliaan diri, melainkan berkorban supaya nama Tuhan dimuliakan. Mereka yang meninggalkan zona nyaman dan bertaruh hidup di ladang Tuhan, berlomba untuk menyenangkan hati Tuhan; mereka menabung (mengumpulkan) karya-karya bernilai kekal. Pelayanan Kristen berorientasi pada kekekalan. Apa yang mereka cari? Tentu bukan harta, melainkan jiwa baru yang dibawa kepada Tuhan. Apa yang mereka dapatkan? Tentu bukan harta kekayaan, melainkan semangat memberitakan Injil untuk terus menyuarakan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia. Segala sesuatu yang mereka terima, semuanya adalah anugerah dan kemurahan Tuhan.

Tak ada yang mereka banggakan untuk dipamerkan. Mereka yang selalu menuduh dan curiga kepada orang-orang yang tulus melayani Tuhan sebenarnya memupuk iri hati yang berlebihan. Mereka pikir bahwa apa yang mereka pikir tentu benar, padahal tidaklah demikian. Meski tantangan dan hambatan datang pada mereka yang melayani Tuhan dengan tulus hati, mereka tetap maju dan semangat. Tuhan menjaga sahabat-sahabat-Nya, menjaga mereka yang taat dan setia kepada-Nya. Mereka yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan duniawi, pastilah tidak memiliki waktu membicarakan kebaikan Tuhan; mereka terbuang dari hadapan Tuhan. Tetapi kita yang menetapkan diri untuk melayani Tuhan meski tantangannya berat, tak usah berkecil hati sebab Ia yang menjanjikannya adalah setia. Ia setia bukan sekadar setia, tetapi melindungi mereka yang tulus dan percaya kepada-Nya.

Pengorbanan yang telah dinyatakan sebagai bagian dari berpikir melawan arus, tentu akan berbuahkan hasil. Komitmen untuk setia kepada Tuhan bukan hanya di saat hidup serba ada, serba berlimpah, tetapi di saat hidup berkekurangan, mengalami tantangan dan hambatan. Para pelayan Tuhan dengan serta merta akan tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka; Tuhan tidak pernah berdusta akan janji-Nya. Ia begitu luar biasa melawat umat-Nya. Sekali Ia bertindak, dunia gemetar. Sekali Ia murka, para pendusta dan peleter serta penabur kebencian, akan tumbang, bertekuk lutut, atau bahkan terlempar dari muka bumi ini.

Para pelayan Tuhan tahu bahwa bukan kehendak mereka yang terjadi, melainkan kehendak Tuhan saja. Berpikir melawan arus adalah komitmen para pelayan Tuhan untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati. Mereka bangga tatkala mereka melayani.

Sungguh, Tuhan itu luar biasa. Ia tahu bahwa mereka yang berpikir melawan arus—berpikir untuk meninggalkan zona nyaman demi pelayan dan kesempatan mengajar orang lain—adalah mereka yang siap diberkati secara luar biasa. Mereka, meski menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Mereka yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih kebenaran Tuhan, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6).

Adakah kita ragu melayani Tuhan? Pastikan pilihan hidupmu untuk melayani Tuhan adalah sebuah komitmen yang teguh. Yakinlah bahwa Tuhan itu memperhatikan, memberkati, menyertai, dan menopang orang-orang pilihan-Nya, yang setia melayani di mana saja Ia utus. Melakukan kehendak-Nya adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman kita. Apa yang kita terima dari Sang Khalik seyogianya dibagikan kepada sesama. Kita dipanggil oleh-Nya untuk melayani dengang setia dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, sampai akhir hayat.

Shalom. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Salam Bae

ANTROPOLOGI SOSIAL AGAMA

Sumber gambar: https://www.behance.net/gallery/53935173/Diversity-Illustration (Diversity Illustration Hope McConnell)

Jiwa agama dan sosiologi di Indonesia kurang lebih merepresentasikan pernyataan Karl Marx bahwa “agama adalah candu bagi masyarakat.” Pernyataan Marx memiliki dua implikasi: pertama, implikasi positif. Artinya, ketika masyarakat mengalami penindasan, tidak mendapat perlakukan yang layak dari dunia (pemerintah), kehilangan perasaan hidup, maka agama menjadi penyembuh luka-luka batin dan menawarkan kedamaian dan kesabaran. Masyarakat menjadi nyaman ketika agama berhasil men-”candu”-i mereka; kedua, implikasi negatif. Misalnya ketika masyarakat memasuki pesta demokrasi, isu agama akan seketika menjadi candu yang dapat membius penganut agama tertentu untuk menyatakan sikap protes, ketidaksetujuan, dan kebencian kepada mereka yang berbeda agama dengannya. Dan itu terjadi di Indonesia.

Dalam memahami agama, kita dapat meninjau beberapa aspek: pertama, aspek pengajaran; kedua, aspek tafsiran teologis; ketiga, aspek fenomenologis; keempat; aspek relasional; kelima; aspek pemahaman; keenam, aspek ritual; ketujuh, aspek cita-cita. Semua aspek ini dapat terjadi dan berkembang dalam kelompok sosial.

ASPEK PENGAJARAN berbicara tentang bagaimana manusia mengimplementasikan ajaran-ajaran Kitab Suci dalam relasinya dengan Sang Pencipta dan sesamanya. Pengajaran-pengajaran agama dalam berkembang menjadi perekat sekaligus pemisah dalam konteks relasi antar agama dan sosial masyarakat yang lebih masiv.

ASPEK TAFSIRAN TEOLOGIS sering memunculkan berbagai spekulasi pemikiran yang cenderung menyesatkan. Akan tetapi, gagasan tafsiran teologis perlu dikumandangkan asalkan tidak melenceng dari maksud asli Kitab Suci. Memang sulit merealisasikannya namun hal ini sangat perlu bagi kesinambungan keimanan pemeluk agama masing-masing.

ASPEK FENOMENOLOGIS diwujudkan dalam sejumlah empiris penganut agama yang mengulang berbagai fenomena yang terjadi di masa lampau. Tetapi, ada bahaya-bahaya yang dapat muncul ke permukaan ketika perubahan beradaban agama telah begitu terbuka bagi ilmu pengetahuan dan teknologi.

ASPEK RELASIONAL adalah hal-hal praktis yang dapat dipahami secara rasional tanpa memerlukan tafsiran teologis.

ASPEK PEMAHAMAN adalah aspek dasar bagi setiap orang beragama dalam mengkaji dan mengaplikasikan ajaran-ajaran dalam Kitab Suci.

ASPEK RITUAL merupakan aplikasi dari pemahaman keagamaan yang tertuang dalam bentuk ibadah, sembahyang, doa, dan sebagainya.

ASPEK CITA-CITA adalah perwujudan harapan agama-agama akan masa depan yang lebih baik. Apa yang dilakukan di masa kini dengan berangkat pada peristiwa historis dijadikan sebagai wacana (pemikiran) bahwa ajaran-ajaran agamanya tetap menjadi prioritas iman dan pemikiran dalam membentuk manusia menjadi berkarakter baik dan relasional.

Orang yang beragama secara prinsipil memiliki beberapa kelompok. Ada yang memahami agama secara artifisial (positif dan negatif). Ada yang memahaminya secara parsial (positif dan negatif). Ada yang memahaminya secara historis—radikal. Ada yang memahaminya secara historis—teologis. Ada yang memahaminya secara historis—aplikatif. Ada yang memahaminya secara harfiah. Ada yang memahaminya secara maknawi—relasional—humanis.

Franz Magnis Suseno menjelaskan, dalam tulisannya Karl Marx menyatakan bahwa pada dasarnya manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia. Agama adalah perealisasian hakikat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa manusia justru belum berhasil merealisasikan hakikatnya. Agama adalah tanda keterasingan dari dirinya sendiri. Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisioner (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), 72.
Berangkat dari hal-hal tersebut, antropologi sosial agama berbicara mengenai tujuh hal yakni:

Pertama, MANUSIA YANG BERSOSIAL TERIKAT DENGAN SISTEM AGAMA YANG DIANUTNYA. Aspek-aspek normatif, moralitas, iman, ibadat, dan sebagainya, semuanya diatur dalam agama itu sendiri. Terikat dalam arti bahwa manusia perlu “mengikuti” pola historis yang tertuang dalam ajaran agama itu sendiri. Sebagai makhluk sosial, manusia berkesempatan memilih agama tertentu sebagai pilihan bebasnya atau dengan cara lain, sehingga kesinambungan konsep sosial agama dapat terus dijaga dan dilestarikan serta terus menjaga dan menciptakan perdamaian di lingkungan sosialnya.

Kedua, MANUSIA MEMILIKI TANGGUNG JAWAB SOSIAL TERHADAP SESAMANYA SEBAGAI PERWUJUDAN AJARAN AGAMANYA MASING-MASING. Konteks ini kadang lebih mengedepankan aspek-aspek kesamaan paham atau ideologi ketimbang adanya perbedaan dengan paham atau ideologi yang dipercaya dalam agama tersebut. Tetapi, pada faktanya, justru seringkali perbedaan agama tidak menjadikan seseorang atau kelompok sosial untuk menutup diri dan bersifat curiga melainkan turut mengimplementasikan ajaran agamanya sebagai ajaran yang baik yang dapat diuji ketika mereka berbuat kepada orang lain meski berbeda iman.

Ketiga, MANUSIA MEMILIKI TANGGUNG JAWAB UNTUK MENYEBARKAN AJARAN AGAMANYA. Dalam banyak kasus, konflik internal maupun eksternal dalam setiap agama muncul atau diakibatkan oleh aspek ini. Konflik antar agama, antar suku, antar ras seringkali dipicu karena ada pihak-pihak tertentu yang mau menonjolkan ajaran agama mereka tanpa memikirkan dampak yang timbuk karenanya. Kasus Ahok tahun 2017 lalu telah menyita perhatian masyarakat Indonesia yang berimbas kepada generalisasi bahwa Kristen itu kafir dan layak masuk neraka. Gagasan-gagasan sepihak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan telah merusak relasi antar agama dalam kelompok sosial. Dengannya, kita dapat bercermin bahwa meski manusia yang beragama memiliki kewajiban atau tanggung jawab dalam menyebarkan ajaran agamanya, tetapi ada konteks-konteks khusus yang perlu diperhatikan sehingga tidak menibulkan gejala-gejala kecurigaan atau gejala-gejala konflik antar agama dalam kelompok sosial.

Keempat, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP PENGEMBANGAN BUDAYA YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AGAMANYA. Agama dan budaya dapat saling berdampingan untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang mandiri, peduli, pekerja keras, dan rohani. Budaya-budaya yang ada di masyarakat perlu mendapat perhatian khusus dan melihat (menilainya) berdasarkan kacamata agama. Yang baik diteruskan, yang buruk ditinggalkan.

Kelima, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA TATANAN LINGKUNGAN (ALAM). Agama tidak hanya melulu berhubungan dengan Tuhan tetapi juga berhubungan dengan lingkungan. Mereka yang percaya kepada Tuhan tentu tahu bahwa alam semesta diciptakan Tuhan untuk didiami manusia. Tidak hanya mendiami alam, manusia diberikan tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan mengola lingkungan bagi keberlangsungan hayati mereka. Tanggung jawab manusia beragama justru kadang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak kurang beragama atau tidak beragama (secara resmi). Itu sebabnya, antroplogi sosial agama mengidentifikasi pokok-pokok persoalan manusia ke dalam berbagai kategori sehingga manusia dapat melihat dirinya berada pada kategori yang mana. Ketika manusia bertanggung jawab terhadap lingkungan, maka hal itu membuktikan bahwa ia sadar dan peduli terhadap hidupnya sendiri dan sesamanya.

Keenam, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB MEMPERTAHANKAN AJARAN AGAMANYA. Sudah menjadi kewajiban penganut agama untuk mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam konteks ini, keyakinan terhadap agamanya, menjadi sebuah pegangan hidup. Kehidupannya telah dibentuk oleh ajaran-ajaran agamanya, dan menjadi teladan dalam kata, pikiran, dan perbuatan. Ini telah menjadi sejarah bagi mereka yang telah berjuang mempraktikan ajaran-ajaran agamanya dan memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain dan keberlangsungan hayati orang banyak.

Ketujuh, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS DIRINYA SENDIRI BERDASARKAN AJARAN AGAMANYA. Manusia yang telah mempercayai ajaran-ajaran agamanya, bergerak, bertindak, berpikir, dan bertanggung jawab harus sesuai dengan ajaran-ajaran itu sendiri. Potensi diri dibarengi dengan keseimbangan dan pemenuhan ajaran-ajaran agamanya. Pribadi yang baik berangkat dari konsep agama yang baik pula. Akan tetapi, konsep “baik” menurut agama yang satu, berbeda definisi dan aktualisasinya (penerapannya) dengan agama lain. Tanggung jawab pribadi terhadap agama adalah hal umum terjadi di lingkungan masyarakat.

Salam Bae

JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?

Kita perlu mengetahui bahwa dalam segala hal, dibutuhkan sebuah cara memahami (proses pemahaman) supaya apa yang diselidiki, dibaca, diimani, dan dianalisis dapat dipertanggungjawabkan. Ini adalah persoalan mendasar. Sekali lagi, untuk mengetahui segala sesuatu, kita harus memiliki memulai dengan “CARA MEMAHAMI”.

Nah, iman Kristen harus dipahami dengan menggunakan cara memahami sesuai dengan prinsip Alkitab, sehingga pertanyaan mengenai “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” akan dapat dipahami secara baik. Kesalahan orang memahami personalitas Yesus dikarenakan ia salah memahami. Untuk mendasari statement (pernyataan) saya, maka saya menyebutkan lima cara memahami iman Kristen. Dua di antaranya adalah memahami secara salah, dan dua cara tersebut seringkali dipakai oleh kaum Islam termasuk pertanyaan di atas.

Pertama, memahami secara FRAGMENTARIS. Memahami dengan cara ini adalah bagaimana sesorang melihat sesuatu secara terpecah-pecah (tidak utuh). Yesus mati bukan hanya sekadar mati, melainkan ada rencana sebelumnya yang ditetapkan Allah bagi penebusan manusia atas dosa-dosa mereka. Jadi, yang mati bukan “Tuhan” melainkan manusia Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Dalam keadaan [Yesus] sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8). Lagipula tidak ada konsep “Tuhan” mati dalam iman Kristen. Misalnya, seorang bupati mati, maka yang mati tentu bukan jabatan “bupati” melainkan orang yang menjabat sebagai bupati. Kesalahan Islam memahami bahwa “Tuhan mati” tentu secar fragmentaris bukan secara komprehensif (menyeluruh). Yesus mati menebus manusia dari dosa karena manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah yang berhak menentukan bagaimana cara menebus manusia.

Perjanjian Lama menegaskan bagaimana ritual-ritual penebusan dosa dan salah manusia melalui pengorbanan binatang. Cara ini kemudian dipakai Allah yang lebih suprematis (lebih unggul) dari cara-cara lama sebab jika semua manusia berdosa dan mengorbankan binatang, berapa banyak binatang yang harus diperlukan. Allah yang hanya mengutus Yesus Kristus—satu untuk semua—agar manusia ditebus dari dosa dan pemberontakannya. Yang ditebus adalah mereka yang telah dipilih sejak kekekalan dan mereka yang ditebus pasti dipanggil Allah untuk menikmati anugerah keselamatan, melakukan kehendak-Nya, hidup dalam kasih dan pengampunan selama kehidupannya.

Jadi, kesalahan memahami personalitas Yesus secara fragmentaris akan menghasilkan kekeliruan dan kesesatan karena tidak memahami makna kematian Yesus. Tuhan tidak mati sebab Tuhan adalah bersifat substansi. Yang mati adalah manusia Yesus Kristus.

Lalu mengapa Dia disebut Tuhan? Kita harus memahami bahwa Yesus memiliki dua natur yaitu Ilahi dan Manusia. Yesus sebagai Tuhan harus dipahami dari apa yang diklaim atau dikerjakan-Nya. Yesus mengampuni dosa. Jika demikian maka Ia adalah Allah. Bagaimana bisa Yesus adalah Allah? Kita harus melihatnya bahwa Yesus—sebelum berinkarnasi (menjadi manusia)—Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah: “Pada mulanya Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).

Dengan demikian, Yesus adalah Tuhan karena Ia telah ada sejak kekekalan; Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal; Ia menjadi terbatas karena Ia menjadi manusia; Ia lahir, bertumbuh, layaknya manusia biasa. Memang Yesus menggunakan natur manusia maka semua unsur manusiawi berjalan seperti biasanya. Namun, karena Yesus adalah Logos Kekal Allah yang menjelma jadi manusia, maka kita tidak dapat memahami pribadi Yesus hanya secara fragmentaris melainkan secara utuh. Kesalahan menempatkan pemahaman kita tentang Yesus yaitu secara fragmentaris akan menghasilkan keraguan dan penolakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Kematian Yesus harus dilihat secara “Sejarah Penebusan” Allah bagi manusia berdosa yang menjamin keselamatan dan kehidupan yang kekal. Mereka yang memahami Yesus secara utuh akan dengan mudah melihat bahwa kematian Yesus bukan berarti “Tuhan mati” melainkan kemanusiaan-Nya yang mati. “Tuhan” bukanlah bersifat fisik. “Tuhan” itu substansi dan substansi tak mungkin mati. Manusia bisa mati jasmaninya tetapi rohnya tetap ada.

Kedua, memahami secara PARSIAL. Cara memahami ini adalah mengabaikan sebagian kebenaran. Kebenaran itu utuh. Jika memahaminya secara sebagian maka hal itu akan memberi kesan bahwa pemahaman itu benar tetapi bisa menyesatkan. Pertanyaan: “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” bukanlah sebuah kebenaran utuh, karena mengabaikan konteks lain. Islam selalu bersikukuh menegaskan bahwa Yesus bukan Tuhan, padahal “Tuhan” menurut pemahaman mereka berbeda dengan “Tuhan” dalam pemahaman Kristen. Ini disebut sebuah sesat pikir yaitu “Straw Man” di mana seorang Islam menolak Yesus sebagai “Tuhan” (dalam sudut pandang mereka) dan berharap orang Kristen memahami seperti apa yang mereka pahami. Ini menyesatkan. Pemahaman Yesus sebagai Tuhan, berbeda dengan pemahaman “Yesus bukan Tuhan” dalam pemahaman Islam. Yesus bukan “Tuhan” benar jika dipahami dari perspektif Islam, tetapi menjadi sesat jika dipahami dari perspektif Kristen.

Jika Yesus bukan “Tuhan”, “Tuhan” seperti apa yang Islam maksudkan? Di sini perlu sebuah definisi. Tuhan itu berarti pribadi yang berkuasa dan pribadi yang mengampuni dosa. Jika demikian, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia berkuasa dan mengampuni dosa, maka konsekuensi logisnya adalah Yesus adalah Tuhan. Sebagai buktinya, mari kita lihat teks-teks berikut. Hal ini hendak menjelaskan kita tidak sedang memahami Yesus secara PARSIAL melainkan secara komprehensif.

Teks Matius 9:6, Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”. Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Kita tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa dan Yesus menegaskan bahwa Ia mengampuni dosa, maka Ia adalah Allah dan Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa.

Teks Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat? Anak Manusia di sini merujuk pada Yesus sendiri.

Teks Matius 13:41 menegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Yesus memiliki kuasa sebagaimana Allah memilikinya yang dibuktikan dari memerintahkan malaikat-malaikat-Nya.

Matius 16:27 di mana Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi.

Matius 16:28 di mana Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dalam teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja. Dalam doktrin Kristen, Baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatua ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman. Yesus pernah berkata bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu.

Kesatuan Yesus dan Bapa adalah kesatuan tujuan dan hakikat. Malaikat tak mungkin satu tujuan dengan Allah, karena Allah lebih tinggi dan menetapkan segala sesuatu. Hanya Allah saja yang dapat memiliki satu tujuan dengan Firman-Nya.

Teks Matius 19:28, yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Dari teks tersebut, Yesus berhak menghakimi kedua belas suku Israel. Dengan demikian, sebagaimana Allah adalah hakim, maka ketika Yesus mengklaim bahwa diri-Nya adalah hakim, maka Ia adalah Allah yang berkuasa menghakimi.

Jika definisi Tuhan sudah terbukti sesuai dengan definisi di atas, dan Yesus memenuhi kriteria tersebut, maka tidak ada keberatan untuk memahami dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang berkuasa. Untuk memahami setiap gagasan ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus haruslah berangkat data biblikal secara utuh dan bukan sepotong-sepotong (fragmentaris) atau parsial.

Ketiga, memahami secara KOMPREHENSIF. Cara memahami ini adalah yang mutlak dilakukan oleh setiap orang yang mengenal dan memahami personalitas Yesus Kristus. Soal Yesus sebagai manusia, mati, makan, lahir, dan sebagainya haruslah dipahami secara utuh. Ketika seseorang menolak memahami secara utuh, maka ia akan tersesat kepada cara berpikir fragmentaris atau parsial yang tidak akan menemukan makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Yesus Kristus ke dalam dunia sebagai cara Allah menebus manusia. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:14) bukan asal jadi manusia tetapi ada latar belakang yang membingkainya. Allah ingin menebus manusia dengan cara-Nya sendiri, sekali untuk selamanya. Jika dulu bangsa Israel yang berdosa harus mengorbankan binatang dan mencurahkan darahnya sebagai lambang bahwa kesalahan dan dosanya telah ditebus oleh Tuhan, kini, Allah menentukan cara-Nya menebus manusia yaitu mengutus LOGOS [Firman] ke dunia dalam rupa manusia. Soal bagaimana ini bisa diterima oleh akal manusia, kita harus melihat akan maksud dan rencana Allah bagi manusia. Mereka yang menolak cara penebusan Allah, maka ia tidak mengenal Allah Israel. Boleh saja ia menolak karena ia mempercayai “Ilah” yang lain, maka ia harus berjuang memahami bagaimana “Ilah” yang dipercayainya itu mengampuni dosa-dosanya.

Dalam Islam tidak ada konsep penebusan sehingga mereka binggung memahami konsep penebusan, apalagi konsep penebusan dosa. Mereka yang tidak paham dengan sendirinya akan menuduh cara penebusan dosa versi Kristen tidak masuk akal padahal mereka tidak memahami cara penebusan versi Kristen. Karena ketidakpahaman tersebut, mereka memaksa Kristen untuk memahami seperti yang mereka pahami, padahal cara demikian adalah sesat. Jika ingin memahami doktrin Kristen, maka yang dilakukan adalah memahami berdasarkan cara pandang Alkitab, dan bukan al-Qur’an.

Keempat, memahami secara JUKSTAPOSISI. Cara memahami ini adalah menempatkan satu teks sejajar dengan teks lain. Artinya, teks nubuatan Mesias Ilahi dalam Perjanjian Lama (PL) yang digenapi dalam Perjanjian Baru (PB) maka keduanya harus dipandang sejajar karena saling melengkapi. Yang satu tak mungkin berdiri tanpa yang lainnya. Ada penyejajaran konteks dan teks Alkitab terkait pokok tertentu. Contoh lain adalah dalam Mazmur 23 Daud menegaskan bahwa TUHAN adalah Gembala (juga beberapa teks lainnya) dan di dalam Yohanes 10:11 Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Gembala yang baik. Ini dipahami sejajar antara TUHAN dalam PL yang adalah Gembala dan Yesus dalam PB yang juga adalah Gembala. Itu berarti, Yesus adalah Allah tetapi yang berinkarnasi mewujud manusia dalam rangka realisasi cara penyelamatan Allah kepada manusia yang berdosa.

Kelima, memahami secara DEMARKASI. Cara memahami ini adalah bagaimana seseorang melihat konteks yang sedang dibicarakan. Ketika kita membahas tentang penyaliban Yesus, maka ada konteks yang mengikatnya. Kita tidak dapat melihat secara acak sebuah peristiwa kecuali melihatnya berdasarkan demarkasi konteks. Kesalahan Islam yang sering diulang-ulang adalah mengatakan bahwa “Yesus itu adalah utusan dan utusan tidak bisa menjadi Tuhan”. Memang pada beberapa kesempatan Yesus mengatakan bahwa Ia diutus Allah, sedangkan pada kesempatan lain Ia mengatakan bahwa Ia keluar dan datang dari Allah. “Diutus”, “keluar”, dan “datang” dari Allah memiliki konteksnya masing-masing. Tidak bisa dicampur-adukkan karena akan menimbulkan cara berpikir fragmentaris. Yesus memang diutus Bapa-Nya karena Ia adalah manusia. Tetapi Yesus adalah Logos Allah yang setara dengan Bapa-Nya. Keduanya memiliki demarkasi.

Untuk menjawab pertanyaan “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” haruslah ditempuh dengan cara memahami personalitas Yesus secara komprehensif, juktaposisi, dan demarkasi. Tidak ada “Tuhan” yang mati karena “Tuhan” itu bukan fisik melainkan substansi. Tidak ada “bupati” yang mati karena “bupati” adalah jabatan. Yang mati adalah yang menjabat sebagai bupati.

Kematian Yesus bukan asal mati tanpa tujuan. Kematian Yesus adalah untuk menebus manusia yang telah berdosa kepada Allah. Penebusan hanya dapat dipahami dalam teologi Kristen sedangkan Islam tidak memiliki konsep tersebut. Yesus mati bagi manusia berdosa. Ia mendamaikan antara Allah dan manusia. Mereka yang ditebus dosa-dosanya adalah mereka yang telah ditetapkan Allah sejak kekekalan dan tentu mereka yang dipanggil Allah untuk menerima dan menikmati keselamatan yang dianugerahkan-Nya, akan hidup kudus, hidup dalam kebenaran, hidup dalam kasih dan pengampunan.

Benarlah perkataan Rasul Paulus, bahwa

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Soli Deo Gloria. Salam Bae…

Sumber gambar:

  1. https://promovillagecom.blogspot.com/2012/03/pencil-sketch-of-christ.html?m=1
  2. https://id.pinterest.com/pin/914862410296100/

JIN KAFIR DI MULUT PARA PENCACI YESUS?

Sumber gambar: https://weheartit.com/entry/6401507 (joao gabriel
@VanJounes)

Frasa “jin kafir” keluar dari seorang “public figure” (tokoh masyarakat) Islam, Abdul Somad. Video yang berdurasi pendek, seketika menjadi viral di berbagai media sosial. Lalu, berbagai respons muncul. Ada yang membuat tanggapan, termasuk teman-teman saya; ada yang memosting ayat-ayat tentang salib, tentang gambar salib, tentang drakula yang takut dengan salib, gereja-gereja yang ada salibnya, dan sederet komentar dan pernyataan tentang salib Yesus.

Ketika saya melihat video tersebut, yang saya pahami adalah gestikulasi Bang Somad, terkesan “meremehkan” salib, terkesan merendahkan salib. Tak jadi soal mengenai apa yang saya pahami terhadap gaya komunikasi Bang Somad, tetapi jika mau fair, Bang Somad juga perlu merenung bahwa standar ganda bisa digunakan untuk membuat lelucon seputar iman Islamnya Bang Somad. Jangan berpikir bahwa Kristen tidak memiliki sejumlah potensi untuk mendengungkan kegagalan pemahaman logika Bang Somad mengenai salib.

Dengan gaya “mayoritas” seperti yang dilakukan Bang Somad, tentu menimbulkan berbagai respons baik positif (para pendengarnya jangan ikut tertawa, meski saya menduga tidak semua yang mendengar celoteh Bang Somad, setuju dengan beliau) maupun negatif (respons dari internal Islam dan respons dari Kristen).

Dari segi logika dan pengetahuan, Bang Somad sama sekali tidak memahami makna dan sejarah salib Yesus. Saya tahu, bahwa Bang Somad sendiri menolak peristiwa penyaliban Yesus, di mana Yesus tidak disalibkan melainkan ada orang yang diserupakan Allah SWT mirip Yesus. Tapi itu hanya soal keyakinan dogmatis saja. Masing-masing meyakini soal salib. Namanya juga keyakinan; ya, harus yakin dong. Bukan begitu Bang Somad?

Ucapan-ucapan Bang Somad mengenai di salib ada jin kafir, sama sekali diucapkan “tanpa pengetahuan apa-apa” mengenai makna dan kuasa salib. Bahkan, tidak ada kontribusi pengetahuan doktrinal di dalamnya. Saya menyebut itu sebagai celoteh sentimen agama yang Anda rasakan sebagai “salah” di pihak Kristen karena percaya pada Yesus yang disalib, dan sebagai benar “di pihak Anda” karena merasa bahwa di dalam salib Kristen ada jin kafir (karena Kristen dicap sebagai kafir. Bukan begitu Bang Somad?).

Untuk kepentingan penjelasan seperlunya dari saya karena celoteh-celoteh Bang Somad tidak memiliki bobot apa-apa—hanya soal ketidaktahuannya mengenai salib—maka saya memakluminya, dan memberikan beberapa catatan.

Pertama, Bang Somad, apa yang Anda ucapkan bukanlah sebuah pengetahuan yang benar tentang salib. Anda hanya menggaungkan prinsip tidak logis tentang salib. Pengetahuan Anda sangat dangkal. Saya memakluminya. Konsekuensi logis dari apa yang Anda lakukan, adalah bahwa jangan Anda berpikir bahwa Kristen tidak memiliki alasan untuk melontarkan celoteh-celoteh tentang anda dan iman yang anda imani. Kami bisa menggunakan standar ganda di sini. Tetapi untuk apa? Memperkeruh suasana? Tentu tidak! Jika anda tertarik mengkritisi iman Kristen, sila pakai sumber dan data historis, bukan modal celoteh.

Kedua, Bang Somad, apa yang Anda sampaikan kepada para pendengarmu adalah “benar” menurut keyakinan dogmatismu, dan “salah” menurut makna substansial dari salib yang diimani Kristen. Jika demikian, sebaiknya—jika Anda ingin mengkritisi makna dan historisitas salib, maka ruang akademis menjadi ruang bagi Anda untuk memulai penelitian, pencarian sumber rujukan, dan menghasilkan kritikan yang kredibel, otentik, dan akuntabel.

Ketiga, Bang Somad, kalau merasa mayoritas, jangan sesuka hati menebar pemahaman yang salah tentang iman Kristen. Bukan berarti minoritas tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan standar yang sama. Tetapi karena alasan sensitivisme agama di negara Indonesia sangatlah tinggi, maka sedapat mungkin celoteh-celoteh yang tidak penting, diredam. Jika berbicara dalam ranah akademis (ilmiah), maka sah-sah saja mengkritisi iman Kristen, tetapi harus ditempuh dengan jalur akademis pula, bukan dengan modal celoteh jalanan, demo, persekusi, dan lain sebagainya.

Keempat, Bang Somad, ruang pengetahuan tentang iman Kristen terbuka lebar dan seluas-luasnya. Anda tidak perlu takut karena kekurangan sumber. Dibutuhkan hanyalah niat untuk melakukan penelitian ilmiah (akademis), ketimbang Anda membodohi para pendengar Anda dengan celoteh-celoteh (yang bukan pengetahuan akademis). Jika Anda tertarik untuk mendalami makna salib, apakah ada jin kafir di dalamnya, sila melakukan penelitian ilmiah soal itu. Pintu terbuka lebar untuk Anda, dan bahkan bagi para pendengar celoteh Anda. Eh, ngomong-ngomong, Bang Somad tahu dari mana ada jin kafir di salib? Apakah Anda bisa melihat jin?

Kelima, Bang Somad, dalam pemahaman Kristen, salib memang adalah tanda kebodohan, tetapi kebodohan bagi mereka yang akan binasa. Salib adalah tanda bahwa Allah mengasihi manusia berdosa dan mendamaikan mereka melalui Yesus Kristus yang disalibkan. Tidak mudah bagi Anda untuk memahami makna salib dan keselamatan dari perspektif iman Kristen. Keselamatan yang diyakini Kristen bukanlah keselamatan yang tanpa sejarah, tanpa ketentuan; bukan pula keselamatan yang muncul tiba-tiba tanpa dasar bagaimana Allah ingin manusia diselamatkan dari belenggu dosa; bukan pula keselamatan yang muncul dari seorang malaikat dan berkata ini dan itu. Keselamatan yang dipahami Kristen adalah berangkat dari kejatuhan manusia dalam dosa dan manusia, dengan segala potensinya, tidak dapat membereskan dosa-dosa mereka. Hanya Allah yang dapat membereskannya. Jika Anda memasuki ranah doktrin keselamatan, seumur hidup Anda tidak cukup untuk mempelajarinya.

Keenam, Bang Somad, semua celoteh yang pernah Anda sampaikan kepada siapa pun, tidaklah memberikan kontribusi akademis apa-apa. Jika para pendengarmu bukanlah orang-orang yang berpikir kritis dan akademis, maka saya takut, mereka akan menjadi tersesat sedemikian jauh, ketika Anda, dengan lantangnya merendahkan iman Kristen. Atau barangkali, ketika Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, sebenarnya Anda sedang mencaci iman [salib] Kristen? Hanya Anda dan jin kafir yang tahu soal itu. Tetapi, jika saya dimintai tanggapan, saya hanya akan menanyakan begini: “Dari cara Anda menjawab dan gerak tubuh Anda (gestikulasi), bukankah terlihat sepertinya Anda meremehkan salib dengan cara memperagakannya pula?

Ketujuh, Bang Somad, Kristen itu adalah pabrik pembuat kacamata. Jika Anda mau memahami iman Kristen yang begitu besar itu, Anda harus menggunakan kacamata yang sesuai dengan konteksnya. Sayangnya, kemarin, waktu Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, Anda salah pakai kacamata. Jika ingin memahami salib, pergilah ke pabrik pembuat kacamata. Dijamin, Anda tidak akan tersesat seperti sekarang ini ketika Anda berbicara mengenai iman Kristen.

Dari beberapa catatan respons saya terhadap celoteh Bang Somad, maka pertanyaan saya: “Apakah celoteh bahwa ‘di salib ada jin kafir’, hanya ada dan keluar dari mulut para pencaci Yesus? Selamat merenung.

Salam Bae….

Catatan: tulisan singkat ini telah dipublikasikan pada tanggal 18 Agustus 2019 di Facebook saya.

YESUS DI MULUT PARA PENCACI

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/593278950892886729/

Caci maki terhadap Yesus memuncak pada saat penyaliban-Nya. Caci maki dan perendahan diri Yesus sangatlah menyakitkan, apalagi ketika Yesus dalam keadaan tersalib. Saya menyebut salah satu di sini: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baikla Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” Hinaan ini melebihi dari caci maki. Mengapa? Karena ucapan di atas diucapkan oleh orang-orang ber-Tuhan yaitu imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua (Matius 27:41-42).

Lalu apa yang terjadi? Apakah ketika mereka menghina dan menantang Yesus untuk turun dari salib, kemudian Yesus bergegas turun dari salib? Sama sekali tidak! Mengapa? Sabar dulu! Ada hal yang lebih spektakuler dan tak bisa dilawan, yaitu: “Kebangkitan” Yesus Kristus. Mengapa harus kebangkitan? Karena dalam kebangkitanlah, semua caci maki, hinaan, perendahan terhadap Yesus luntur. Apa mau dikata, Yesus yang dulunya dihina dan dicaci maki, pada hari yang ketiga Ia bangkit dari antara orang mati.

Ada dua peristiwa yang sangat merendahkan Yesus yaitu: pertama, caci maki dan hinaan, dan kedua, kematian-Nya. Dua peristiwa ini sangatlah menyesakkan dada. Bahkan para murid Yesus menjadi sangat malu sekali, kecewa, dan takut. Bagaimana mungkin Yesus yang adalah Guru mereka, biasa melakukan mukjizat, membangkitkan orang mati, menyembuhkan berbagai penyakit, kini Ia terhina dan tersalib? Bukankah ini sangat memalukan? Bukankah ini sangalah menyakitkan?

Tunggu dulu! Ada hal yang lebih spektakuler dari pada itu. Pertama, kebangkitan Yesus dari antara orang melunturkan semua ucapan caci maki, hinaan, dan perendahan diri Yesus. Ia telah bangkit dari antara orang mati, Ia telah mengalahkan maut, dan jaminan-Nya adalah bahwa mereka yang percaya kepada-Nya akan juga dibangkitkan (bdk. Yoh. 11:25). Kedua, kenaikan-Nya ke surga menandakan bahwa semua orang percaya akan diterima Tuhan Yesus dalam kerajaan Bapa-Nya. Yesus pernah mengatakan: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal”. Yesus pergi menyediakan tempat bagi saleh-saleh-Nya. Dan ketiga, Yesus mengutus para murid untuk memberitakan Injil (Mat. 28:18-20). Karena pengutusan inilah, maka dunia diubahkan oleh Yesus. Diubahkan hanya dengan dua hal: KASIH dan KUASA. Sampai sekarang, Kasih dan Kuasa masih menjadi kekuatan tak terkalahkan oleh siapa pun, termasuk Iblis (Setan).

Meskipun demikian, Yesus menjadi bahan cacian di sepanjang sejarah. Mengapa? Karena Dia adalah manusia yang dalam anggapan para pencaci, tidak layak disembah dan dijadikan Tuhan. Sabar dulu. Yesus disembah bukan karena Dia manusia, tetapi Dia adalah pribadi yang lain dari pada yang lainnya. Untuk memahami ini, saya berikan contoh. Semua manusia yang makan nasi bukan karena nasi akan menjadi kotoran setelah dimakan yang dibuang melalui dubur, tetapi karena nasi merupakan salah satu bahan makanan yang bisa menjadikan perut terisi atau kenyang. Pertanyaannya: “mengapa manusia masih makan nasi jika ia tahu bahwa nasi akan berubah menjadi kotoran yang sangat bau saat dibuang melalui dubur?” Mungkin ada yang menjawab: “manusia bukan makan kotoran melainkan nasi, dan kemudian nasi diproses dalam tubuh, dan menjadi kotoran.” Artinya, nasi diproses menjadi kotoran.

Lalu bagaimana dengan Yesus? Begini: Yesus disembah karena Dia adalah Tuhan. Meski Dia manusia, ke-Tuhanan-Nya bukan dilihat dari tubuh manusiawi-Nya melainkan dari “kuasa yang diperlihatkan-Nya”. Para pencaci Yesus tidak memahami hal ini. Mereka akan terus melakukan caci maki bahwa Yesus hanyalah manusia biasa dan bukan Tuhan. Memang benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi—sekali lagi—ke-Tuhanan Yesus diukur dari kuasa yang diperlihatkan-Nya. Saya perlihatkan di sini, bahwa Yesus berkuasa dan mengampuni dosa. Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Matius 9:6). Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Saya lanjutkan. Dalam Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat?

Dalam teks Matius 13:41 ditegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Konsekuensinya, Yesus adalah Allah bukan?

Saya tambahkan dua teks lagi. Dalam Matius 16:27 Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi (bdk. Matius 19:28). Dalam Matius 16:28 Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dari teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja, bukan?

Dalam doktrin Kristen, baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan (para pencaci) bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatuan ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman.

Namun, di mata para pencaci, penjelasan di atas tidaklah cukup berarti, sebab mereka dungu, tak mau memahami secara kredibel. Bagi mereka, Yesus adalah manusia dan utusan. Yesus hanyalah seorang Nabi dan Rasul Allah. Maaf, orang Kristen melihat Yesus sebagai Tuhan bukan pada manusia-Nya melainkan pada kuasa-Nya; sama dengan analogi di atas, bahwa manusia tidak melihat pada nasi yang akan menjadi kotoran, melainkan pada nasi yang riil nasi. Jika demikian, apakah orang Kristen salah memahami Yesus? Tentu tidak. Yang salah adalah para pencaci-Nya. Karena kedunguan mereka, maka mereka akan terus mencaci sampai akhir zaman; karena pemahaman mereka hanya terpaku pada kemanusiaan Yesus maka sampai kapan pun mereka akan berpendirian sama pula.

Para pencaci akan melancarkan serangannya untuk menjatuhkan Yesus. Alasannya sederhana, sekali lagi: Yesus adalah manusia biasa dan Dia adalah utusan Allah. Yang diutus tidak lebih tinggi dari yang diutus. Tunggu dulu! Saya berikan analogi. Jika Allah memberikan firman-Nya, apakah Allah lebih tinggi dari firman yang Dia berikan? Tentu tidak. Jika seseorang menulis buku dan bukunya dikirim ke beberapa orang untuk dibaca, apakah si penulis lebih tinggi dari tulisannya? Tentu tidak. Firman dan tulisan merepresentasikan kesetaraan si pemberi firman dengan firmannya, dan si penulis dengan tulisannya.

Nah, Yesus Kristus adalah utusan Bapa. Yesus adalah Logos Bapa yang keluar dari diri-Nya. Pertanyaannya: Logos yang diutus Bapa ke dalam dunia (bdk. Yohanes 6:29, 35, 37, 39-40) apakah lebih rendah dari Bapa? Tentu tidak. Yesus adalah Logos yang menjadi manusia, diutus Bapa. Yesus—Logos Ilahi—keluar dari Bapa: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku ‘keluar’ dan ‘datang dari’ Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yohanes 8:42).

Para pencaci sebaiknya menyadari kedunguan yang ada pada diri mereka. Memahami lebih baik daripada menghindarnya. Yesus yang dicaci bukanlah problem baru. Sejak Yesus melayani dan disalibkan, Ia dimusuhi, dibenci, dicaci, direndahkan, dan dianggap menghujat Allah. Sebagai Anak Allah, Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa. Anak Allah bukanlah anak dipahami secara biologis—karena orang-orang Yahudi memahami bahwa ketika ada orang yang mengakui sebagai “Anak Allah” maka ia harus dihukum mati (bdk. Yohanes 19:7)—frasa Anak Allah bukanlah Allah beranak secara biologis, melainkan pada pengakuan “kesetaraan dengan Allah”. Itulah makna yang sebenarnya dari frasa Anak Allah.

Yesus dimulut para pencaci akan menjadi Yesus tak berdaya, Yesus tak menebus, Yesus yang manusiawi, Yesus tak tersalib (versi Islam), Yesus yang tersalib mati terhina (disaksikan oleh imam-imam kepala, tua-tua Yahudi, dan lainnya), Yesus yang bukanlah Tuhan, sedangkan Yesus dimulut para pemuji-Nya adalah Yesus yang berkuasa, Yesus yang mati dan bangkit, Yesus yang naik ke surga menyediakan tempat bagi saleh-saleh-Nya, Yesus yang adalah Logos Ilahi menjadi manusia, Yesus yang adalah setara dengan Bapa yang dari-Nya Logos keluar.

Yesus tetaplah Yesus sesuai dengan apa yang disaksikan oleh murid-muridNya dan semua orang yang mengalami kasih dan kuasaNya. Meski para pencaci akan tetap eksis hingga akhir zaman, semuanya akan dihakimi-Nya. Semua persoalan dan keyakinan dogmatis agama-agama akan berakhir di akhir zaman. Keyakinan Kristen menyebutkan bahwa Yesus akan datang kembali menjemput saleh-saleh-Nya, menyediakan tempat, memberikan makhota kehidupan, dan menerima kehidupan kekal. Betapa bahagianya menjadi murid Yesus, murid yang mengasihi sesama, mengasihi musuh, mendoakan musuh, menolong sesama, bahkan berkorban bagi sesama. Ajaran-ajaran ini tidak ada dalam agama mana pun selain Kristen.

Bersyukurlah jika kita telah dan akan menjadi pengikut Yesus Kristus. Pujian kepada-Nya hanyalah keluar dari mulut para pemuji. Sebaliknya, caci maki dan hinaan kepada Yesus hanya keluar dari mulut para pencaci dengan berbagai jenisnya. Tidak perlu kuatir dan benci kepada para pencaci. Kelak, jika Tuhan Yesus berkenan, mereka hanya akan mengalami dua hal: pertama, percaya kepada-Nya, dan kedua, mati dalam dosa mereka.

Semoga Tuhan Yesus memberikan kita hikmat dan bijaksana untuk menjalani kehidupan ini dan bertanggung jawab di hadapan-Nya, melakukan apa yang dikehendaki-Nya, hidup kudus, saling memberkati dan mendoakan, dan selalu peduli (mengasihi) sesama, apa pun latar belakangnya.

Salam Bae

TEGURAN TUHAN

Refleksi Keluaran 9:13-35

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/moytQ7vzhAM (Kyle Fiori@navy99)

Pendahuluan

Setiap orang selalu menunjukkan “dicta” (perkataan-perkataan) dan “gesta” (perbuatan-perbuatan) dalam totalitas hayati humanitas yang dijalani. Ada yang suka berkata-berkata dan berbuat selaras dengan perkataannya; ada yang berbuat tidak selaras dengan perkataannya; ada yang berkata tetapi tidak melakukannya sama sekali. Firaun adalah contohnya. Dalam Kejadian 8:8, Firaun berjanji bahwa jika katak-katak itu dijauhkan TUHAN darinya, maka ia (Firaun) akan melepaskan bangsa Israel. Apa yang terjadi? Sampai tulah kesembilan, Firaun tidak melepaskan bangsa Israel.

Teks Keluaran 9:13-35 menjelaskan kelanjutan dari kekerasan hati Firaun (ketidakkonsistenannya) dengan tidak melepaskan bangsa Israel meskipun ia telah berjanji kepada Musa. Teks ini pula menjelaskan dua hal, teguran TUHAN melalui tulah “hujan es” dan “kekerasan hati Firaun”.

Pokok-pokok Penting

Pertama, frasa “Berfirmanlah TUHAN” menandakan bahwa Ia hendak menyatakan sesuatu (ay. 13). Frasa “Berfirmanlah TUHAN” kadang hanya dilewati begitu saja seolah-olah tidak ada apa-apa dengannya. Padahal, justru di situlah letak inti dari semua kejadian yang mengikutinya (bdk. ay. 22 “Berfirmanlah TUHAN” kepada Musa yang menjelaskan peristiwa turunnya tulah). Musa diperintahkan untuk bangun pagi-pagi, berdiri menantikan Firaun, dan mengatakan “Beginilah firman TUHAN”, biarkanlah umat-Ku ‘pergi’ supaya mereka ‘beribadah’ kepada-Ku. Perintah TUHAN yang ditujukan kepada Firaun sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk beribadah kepada TUHAN.

Kedua, tulah “hujan es” ditujukan kepada Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Tujuan diberikan tulah adalah supaya Firaun mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN di seluruh bumi. Maksud di balik tujuan tersebut adalah TUHAN hendak menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang hebat, berkuasa, berdaulat, berotoritas di antara ilah-ilah lain termasuk ilah yang dipercayai oleh Firaun. Di sini TUHAN sedang membandingkan—selain dari pada menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak—diri-Nya dengan ciptaan. Dalam konteks ini, memahami pribadi TUHAN bersumber dari dua hal yakni dalam kaitannya dengan ciptaan dan dalam kaitannya dengan ontologis (eksistensi personal TUHAN).

Ketiga, setiap tulah (tulah sebelumnya: air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah) hingga tulah ketujuh tidak menyadarkan Firaun akan teguran TUHAN. Dia ayat 27-28 Firaun menyesal tetapi untuk sementara waktu, sebagaimana Musa menegaskannya (ay. 30), bahwa Firaun dan para pegawainya, belum takut kepada TUHAN. Mengenai teguran TUHAN kepada Firaun juga dibuktikan dengan tulah-tulah berikutnya yang menyatakan bahwa Firaun masih belum sadar akan teguran TUHAN sebab di pasal 10-12 masih ada tiga tulah (belalang, gelap gulita selama tiga hari, dan anak sulung orang Mesir, mati). Bahkan, di ayat 34-35 dijelaskan bahwa Firaun dan para pegawainya, terus berbuat dosa, berkeras hati. Ia pun tidak melepaskan orang Israel pergi.

Kematian menyadarkan Firaun?

Hingga akhirnya, “kematian” menyadarkan Firaun (12:29-33). Teguran TUHAN melalui tulah-tulah (pertama sampai kesembilan) belum menyadarkan Firaun. Ia berkeras hati, ia terus berbuat dosa, ia terus tidak menepati janjinya untuk melepaskan bangsa Israel sebagaimana yang dikatakan Musa kepadanya. Dan pada akhirnya, pasca kematian anak sulungnya dan semua anak sulung rakyatnya, barulah ia sadar dan mengakui bahwa memang TUHAN orang Israel itu hebat.

Firaun sebenarnya banyak mendapat kemurahan dari TUHAN, hanya saja karena ia berkeras hati dan ingin menunjukkan kekuasaannya yang hanya secuil untuk menantang kekuasaan TUHAN atas seluruh bumi. Firaun malahan diberikan kesempatan sampai sembilan kali oleh TUHAN, tetapi ia membungnya dengan percuma.

Refleksi

Ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam.

“Keras hati” adalah sebuah frasa yang menegaskan bahwa niat seseorang untuk mengabaikan TUHAN, masa bodoh dengan teguran TUHAN, bahkan lebih dari itu, ada orang yang merasa “nyaman” dalam dosa, disimpan rapi dalam dirinya.

Jangan sampai kita asyik dengan dosa “keras hati” dan tidak mau berbalik kepada TUHAN (metanoia). Teguran TUHAN itu ada bermacam-macam. Tinggal bagaimana kita memahami dan memaknainya serta mengkorelasikan dengan apa yang telah kita buat selama ini. Sebagaimana kebaikan tidak pernah terbuang percuma, maka kejahatan juga tidak pernah terbuang percuma. Kebaikan yang kita buat akan dibalas oleh TUHAN, demikian juga dengan kejahatan.

Taburlah kebaikan selagi masih ada waktu. Buanglah keras hati dan masa bodoh terhadap TUHAN; jadilah pelaku-pelaku firman yang menyelaraskan antara dicta dan gesta seumur hidup kita. Amin.

Salam Bae

IDENTITAS KRISTEN

Sebuah Pemahaman Relasi dan Konatif

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/9CMUPez8wLo (Priscilla Du Preez@priscilladupreez)

“Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” – Daud, Mazmur 40:10 –

Pendahuluan

Orang Kristen yang sejati adalah pribadi yang memahami identitasnya, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Identitas, dalam pandangan umum merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan hidup, nilai etis-relasional, etis-edukasional, dan etis-spiritual yang paling dibutuhkan dan dianggap krusial. Betapa tidak, identitas seseorang akan memberi nilai kepada dirinya sendiri, memberi kekuatan kepercayaan dalam sebuah komunitas masyarakat mikro maupun makro.

Dalam konteks ini, identitas seseorang memainkan peran penting bagi suatu keberlangsungan hidup, bahkan sistem kepercayaan seseorang. Memahami identitas kita bukanlah merupakan perkara elusif (sukar), sebab setiap orang pasti tahu siapa dirinya sendirinya karena ia adalah makhluk yang berpikir. Identitas adalah bersifat inheren (melekat) dengan personalitas manusia. Jika ia inheren, maka tentu dapat dipahami dan diterapkan.

Melihat perkembangan zaman sekarang ini, dalam penilaian saya, identitas merupakan sesuatu yang hampir langka, mengingat maraknya kasus-kasus yang terjadi (korupsi, KDRT, pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, narkoba, pembunuhan) di berbagai bidang kehidupan manusia. Ada orang-orang yang mempertaruhkan identitasnya hanya demi sebuah “tujuan” yang menurutnya dapat menjadikan hidupnya lebih baik. Persoalan perebutan harta kekayaan gereja, perebutan kekuasaan, dan lain sebagainya, sering mengorbankan identitas. Pendeta tidak terkecuali. Bahkan ada pendeta yang begitu lihai dalam mempermainkan identitasnya, sampai-sampai ia lupa identitasnya tersebut.

Dalam pandangan Alkitab, identitas memiliki makna yang dalam. Identitas tersebut akan menampakkan siapa diri kita sebenarnya. Identitas bahkan merupakan “emblematic” (symbol) spiritualitas tatkala Tuhan menyebut kita sebagai “umat pilihan-Nya”, dan “biji mata-Nya”. Menyimak akan kutipan ayat di atas, saya menyoroti dan mengkajinya dari perspektif identitas sebab menurut saya, perkataan-perkataan Daud dalam pasal 40 tersebut, kental dengan berbagai wujud identitas yang semestinya kita pahami secara mendalam sehingga ketika secara tepat memahami identitas tersebut, maka dalam menerapkan konasi spiritualitas kita, tanpa ragu, kita dapat memberikan pengaruh positif bagi orang lain di mana pun kita berada.

Kajian Mazmur 40

Jika kita membaca secara keseluruhan, maka kita akan mendapati banyak hal yakni: apa yang TUHAN lakukan dan apa yang Daud lakukan. Di sini, penekanan saya terletak pada dua identitas yaitu identitas TUHAN dan identitas Daud. Identitas TUHAN terdiri dari dua hal yaitu siapa [diri] TUHAN dan apa yang dikerjakan TUHAN. Sedangkan identitas Daud juga terdiri dari dua hal yaitu siapa [diri] Daud dan apa yang dikerjakan atau dilakukan Daud. Dua orientasi identitas ini, akan menjadi kajian saya dalam tulisan singkat ini. Perlu dicatat bahwa ayat 10 yang telah saya kutip di atas tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari kedua identitas (TUHAN dan Daud) yang akan saya kaji kemudian.

Pertama: Identitas TUHAN

Seperti yang telah saya singgung di atas, bahwa orang Kristen adalah pribadi yang memahami identitasnya. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, seorang Kristen secara sadar harus memahami dan mengenai siapa TUHAN [identitasnya]. Dalam perjalanan hidup Daud, ia telah banyak bergumul dan berujuang melawan musuh-musuhnya yang mengejek dan menghinanya, bahkan menghina TUHANnya Daud. Tidak segan-segan pula, para musuhnya berikhtiar untuk membunuhnya dan menginginkan ia mati binasa selama-lamanya. Kisah hidpnya ia tungkan dalam bentuk tulisan yang kita sebut dengan “Mazmur”. Ia hidup mengalami pahit getirnya hidup. Ia terus mengandalkan TUHAN dan bersandar sepenuhnya kepada TUHAN. Dalam tulisan-tulisan Daud, ia memperkenalkan siapa TUHAN itu dan apa yang telah diperbuat-Nya. Berikut penjelasannya.

Siapa TUHAN

Mengenal dan memahami TUHAN, tidak dapat dicapai oleh pikiran dan pengetahuan manusia. Alasan klasiknya adalah “karena manusia terbatas”. Alasan tersebut ada benarnya, namun dalam keterbatasan manusia, kita juga perlu tahu bahwa itu juga adalah “hasil” ciptaan TUHAN. Dari sini kita berangkat dan memahami bahwa “TUHAN itu adalah Pencipta”. Sebagai Pencipta, Ia memiliki hak atau kedaulatan penuh atas ciptaan-Nya. Dengan begitu, Ia dengan kehendak-Nya sendiri dapat “memperkenalkan” diri-Nya kepada manusia yang terbatas itu. Kekristenan percaya bahwa manusia tidak bisa dapat mengenal TUHAN tanpa Ia memperkenalkan – atau sebutan normatifnya adalah: “mewahyukan diri-Nya” – kepada manusia. Alasan ini bersumber dari Alkitab – firman Allah.

Dalam pasal 40 kitab Mazmur, Daud memperkenalkan identitas TUHAN kepada kita. Saya menyebutkannya berikut ini:

(a) TUHAN itu lebih tinggi dari siapa pun dari segala ciptaan-Nya (ay. 6, tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau). Itu berarti, Ia tidak ada bandingan dan tandingan-Nya. Hal ini dapat dipahami sebagai konsekuensi logisnya.

(b) TUHAN itu mahatahu. Ia mengetahui apa pun di dunia ini (ay. 10, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN) (bdk. Mzm 37:18; 38:10; 39:5; 44:22; 69:6; 94:11; 139:2; 142:4; 103:14).

(c) TUHAN itu Pengasih, Penolong, adil, penuh rahmat, setia, dan sumber keselamatan kebenaran (ay. 11, keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatika, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan….). Ayat berbicara mengenai “apa yang diterima Daud dari pada TUHAN”, dan apa yang diterimanya itu, ia “lakukan” secara bertanggung jawab. Keadilan tidaklah disembunyikan Daud. Artinya, TUHAN itu telah berlaku adil kepadanya, dan ia juga harus berlaku adil kepada orang lain. Dengan demikian, semua yang telah diberikan TUHAN yakni yang telah disebutkan di atas, harus menjadi bagian integral dalam diri Daud yang patut dikerjakan (dilakukan) dalam sepanjang hidupnya.

Selain itu, “Keadilan adalah salah satu atribut Allah yang paling menonjol dalam Alkitab. Berkali-kali Allah diperlihatkan sebagai suara keadilan, khususnya dalam kitab para nabi (Yes. 28:6; 51:4-5; 61:8; Yer. 9:24; 21:12; Yeh. 34:16). Segala jalan Allah adalah adil: ‘Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia’ (Ul. 32:4; lih. Juga Neh. 9:13, 33; Yes. 58:2; Yoh. 5:30; 2 Tes. 1:6). Orang benar dipanggil untuk mencerminkan keadilan Allah, sebab Tuhan mengasihi oran adil (Mzm. 37:28)” (Leland Ryken, James C. Wilhoit, dan Tremper Longman III, The Dictionary of Biblical Imagery. Kamus Gambaran Alkitab, terj. Elifas Gani, Grace Purnamasari, Irwan Tjulianto, dan Peter Suwadi Wong [Surabaya: Momentum, 2011], 12). Pernyataan yang bersifat biblis ini, selaras dengan pernyataan Daud “Aku mengabarkan keadilan.”

(d) TUHAN itu [maha] besar (ay. 17, … TUHAN itu besar). TUHAN itu besar berarti Ia tidak dapat dipahami, dijangkau, dan dimengerti oleh akal budi manusia (bdk. Mzm 40:6; 139:17). Tidak hanya pribadi-Nya saja, tetapi sifat-sifat-Nya (atau atribut-atribut-Nya), dan semua pekerjaan TUHAN itu besar. Jadi, pengakuan Daud bahwa TUHAN itu besar berarti mencakup totalitas diri, sifat, kuasa, dan karya TUHAN.

Beberapa bukti bahwa TUHAN itu besar yang mengacu pada pribadi-Nya, sifat-sifat-Nya, kuasa, dan karya-karya-Nya: Mzm 96:4  Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah (lih. Mzm 99:2; 135:5; 35:27; 95:3; 96:4). Mzm 70:5 Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: “Allah itu besar!” (lih. Mzm 77:14; 86:10; 104:1). Mzm 5:8 Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau (lih. Mzm 57:11; 69:14; 86:13). Mzm 18:51 Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya…. Mzm 47:3 Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (lih. Mzm 48:3). Mzm 51:3 Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! (lih. Mzm. 69:17). Mzm 66:3 Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Mzm 71:19 Keadilan-Mu, ya Allah, sampai ke langit. Engkau yang telah melakukan hal-hal yang besar, ya Allah, siapakah seperti Engkau? Mzm 99:3 Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Mzm 108:5 sebab kasih-Mu besar mengatasi langit, dan setia-Mu sampai ke awan-awan. Mzm 111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Mzm 126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Mzm 136:4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Mzm 138:5 mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN. Mzm 145:8 TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.

Apa yang dikerjakan [karya] TUHAN

Dalam keseluruhan pasal 40, Daud memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan TUHAN, termasuk pekerjaan TUHAN yang dapat ia rasakan semasa hidupnya: Ia menjenguk dan mendengar (ay. 2); mengangkat, menempatkan, dan menetapkan (ay. 3); memberikan (ay. 4); melepaskan dan menolong (ay. 14, 18); memperhatikan dan meluputkan (ay. 18). Semua pekerjaan TUHAN berbentuk kata kerja. Itu berarti bahwa TUHAN aktif dalam memelihara, menjaga, menopang, memperhatikan, menolong, mengawasi dan memberikan berkat-berkat-Nya kepada umat pilihan – umat yang berserah dan bersandar kepada-Nya. mungkinkah TUHAN pasif? Sangat tidak mungkin. Daud tahu siapa TUHAN.

Kedua: Identitas Daud

Daud adalah seorang raja yang besar dan hebat. Ia adalah raja pilihan TUHAN dan bukan manusia. Dengan demikian, ia harus bertanggung jawab penuh kepada TUHAN semasa pemerintahannya dan semasa hidupnya. Ia harus mewariskan segala sesuatu yang dia alami bersama dengan TUHAN kepada keturunannya dan kepada kita sekarang ini melalui sebuah kitab. Dalam pasal 40, identitas Daud sangat unik, padahal ia adalah seorang raja yang hebat dan diurapi TUHAN. Meskipun demikian, ia tetap tidak patah semangat dan mau meninggalkan TUHAN tetapi dalam identitasnya tersebut, ia terlibat begitu kuat dalam mempertahankan imannya kepada TUHAN.

Siapa Daud

Daud mengidentifikasikan dirinya sebagai berikut: ia terlihat sebagai seorang yang penuh pergumulan sehingga mengancam nyawanya (ay. 2-3); ia terlihat sebagai seorang yang memiliki kerinduan memuji Allah di tengah himpitan pergumulan, tekanan, dan masalah (ay. 4); ia terlihat sebagai seorang yang kuat kepercayaannya kepada TUHAN, dan konsisten dengan apa yang ia yakini. Ia tidak mudah terpengaruh meskipun dalam kondisi yang sangat terdesak sekalipun (ay. 5); ia terlihat sebagai seorang melakukan pekerjaan, tahu melihat pekerjaan dan bahkan merasakan kuasa TUHAN (ay. 6-11); ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang yang sengsara dan miskin (NKJV, AV, ESV, dan RSV menerjemahkan ‘poor’ [malang, sial, miskin] dan ‘needy’ [miskin]).

Apa yang dikerjakan Daud (terkait dengan hubungannya dengan TUHAN dan identitas TUHAN)

Daud menyebutkan hal-hal yang ia lakukan (dalam pasal 40), di mana identitasnya sebagai hamba TUHAN memberinya kesadaran penuh untuk dapat melakukannya meskipun dalam tekanan berat sekalipun dan nyawanya menjadi taruhnnya. Di samping itu, ia juga menyandarkan diri kepada TUHAN dalam menjalani dan menggumuli segala persoalan yang ia hadapi. Dalam pasal 40, ia memperlihatkan dirinya, memperlihatkan tanggung jawabnya, dan mempelihatkan TUHAN yang bertindak.

Berikut segala tindakan Daud: ia sabar menantikan pertolongan TUHAN (ay. 2); ia memuji Allah (ay. 4); ia percaya kepada TUHAN dan konsisten (ay. 5); ia melakukan kehendak dan Taurat TUHAN (ay. 9); ia memberitakan [melakukan] keadilan (ay. 10); ia membicarakan keadilan, kesetiaan, keselamatan, kasih, dan kebenaran TUHAN kepada orang banyak (ay. 11); ia setia kepada TUHAN dalam kondisi apa pun (ay. 13-18).

IDENTITAS KRISTEN

Di atas telah saya sebutkan identitas Daud di mana dalam pergumulan dan perjuangannya menjalani hidup yang penuh tantangan, hambatan, ancaman, dan sebagainya, ia tetap menunjukkan identitasnya di hadapan TUHAN dan sekaligus ia dengan penuh semangat dan kerendahhatian memperkenalkan identitas TUHAN. Tidak biasanya– ketika kita diperhadapkan dengan kondisi dan situasi yang sangat mencekam, nyawa kita terancam, harga diri kita tercoreng, integritas dan iman kita dipertaruhkan – lalu kita menunjukkan identitas kita sekaligus menunjukkan identitas TUHAN.

Dalam kondisi yang demikian, kita justru makin jauh dari identitas kita yang sebenarnya. Bahkan TUHAN pun tidak lagi menjadi prioritas kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dan sulit untuk diselesaikan. Namun, sebesar apa pun ujian bagi hidup kita, jangan melupakan TUHAN. Sehebat apa pun musuh kita, jangan lupa bahwa TUHAN lebih hebat – Ia tak tersaingi, tak terkalahkan, dan terbandingkan. Identitas Kristen akan menjadi semakin kuat dan bernilai ketika itu dibawa ke ranah relasi dan konatif. Seperti kata Rasul Yakobus: “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (2:17); “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (2:26).

Identitas terbaca ketika manusia berelasi dan berperilaku (konatif). Identitas memberi pengaruh ketika manusia berelasi dan berperilaku. Daud menunjukkan identitasnya dalam bentuk relasi dan konatif. Ia berelasi dengan TUHAN karena ia tahu identitasnya dan identitas TUHANnya. Bahkan identitas musuhnya ia juga tahu. Tetapi ia lebih mengutamakan identitas TUHAN disbanding yang lain karena ia tahu hanya TUHANlah yang sanggup menyelamatkannya, meluputkannya, membebaskannya dari jerat maut dan malapetaka bahkan ancaman musuh-musuhnya.

Relasi kita dengan TUHAN menjadikan identitas kita semakin kuat dan kita diberkati. Relasi kita dengan sesama manusia menjadikan identitas kita bernilai dan membangun orang lain – memberikan pengaruh positif dalam setiap komunitas di mana pun kita berada. Konatif kita di hadapan TUHAN menunjukkan ketataan dan kesetiaan kita kepada kehendak dan perintah TUHAN yang termaktub dalam Alkitab. Perilaku kita di hadapan TUHAN membentuk karakter kita menjadi semakin baik, semakin rohani, dan semakin memperkokoh iman. Perilaku kita di hadapan manusia membentuk relasi sosio-spiritual dalam menjalin hubungan keakraban, menunjukkan cinta kasih yang murni, kebenaran dan keadilan TUHAN diperbincangkan dan diberitakan sehingga orang lain dapat mengenal dan percaya kepada TUHAN.

“MENGABARKAN KEADILAN”: IDENTITAS ETIS-YURIDIS

Secara khusus, ayat 10 yang berbunyi: “Aku mengabarkan keadilan” menjadi arti yang kuat bagi identitas Kristen. Mengabarkan keadilan membutuhkan objek, dan Daud menulis, “dalam Jemaah yang besar”. Alasannya sederhana, bahwa karena Allah itu adil, dan Dia telah menyatakan keadilan-Nya, maka ‘saya’ harus berlaku adil. Daud pun menegaskan bahwa “tidak kutahan bibirku”. Berarti kerinduan yang tinggi akan keadilan yang harus dikabarkan, diberitakan, dilakukan, menjadi sifat konatif mutlak dari seorang hamba TUHAN, kapan pun dan di mana pun.

Paul Enns menegaskan, “Keadilan Allah berarti bahwa Allah secara keseluruhan benar dan adil dalam semua urusan-Nya dengan umat manusia; lebih dari itu, tindakan keadilan ini sesuai dengan hukum-Nya. Hukum Allah merefleksikan standar Allah, maka Allah adalah benar dan adil pada waktu Ia menghakimi manusia pada waktu mereka melanggar hukum Allah yang diwahyukan” (Paul Enns, The Moody Handbook if Theology, alih bahasa Rahmiati Tanudjaja [Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003], 240). Daud telah belajar banyak dari TUHAN soal keadilan. Jika ia mau menyatakan keadilan yang adil, maka ia harus mencari sumber keadilan yang paling adil yakni TUHAN.

Seperti yang diungkapkan Cornelius van Til, “Allah mendistribusikan keadilan di antara manusia dan pada akhirnya akan mendistribusikan keadilan seutuhnya di antara mereka. Dia menghukum ketidakadilan dan memberikan imbalan kepada keadilan. Jika menginginkan adanya keadilan di dalam dunia orang-orang berdosa, keadilan itu dengan demikian harus diberikan kepada mereka. Ini pastilah merupakan karunia dari anugerah Allah (Cornelius van Til, Pengantar Theologi Sistematik: Prolegomena, dan Doktrin Wahyu, Alkitab, dan Allah, ed. Edisi bahasa Inggris Willam Edgar, terj. Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2010], 444).

Keadilan versi dunia telah terkontaminasi dengan dosa dan kerusakan manusia, meskipun tetap ada usaha untuk adil. Namun masih ada “keadilan” yang sifatnya bisa mengambang dan bahkan menciptakan ketidakadilan itu sendiri. Sedangkan keadilan versi TUHAN, adalah keadilan di atas semua keadilan, supremasinya mengungguli semua keadilan yang manusia buat dan usahakan. Tentu Daud mengabarkan keadilan bukanlah keadilan dari dirinya sendiri tetapi keadilan “hasil” dari persekutuannya dengan TUHAN.

Catatan: artikel ini pernah diterbitkan di salah satu jurnal sekolah tinggi teologi.

Salam Bae

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai