PELAYANAN YANG BERKENAN KEPADA TUHAN

Refleksi Singkat

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/820710732079079615/

PERTAMA:

BERDASARKAN PANGGILAN (tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya)

Abraham “dipanggil” Tuhan untuk bekerja bagi Dia.

Panggilan tersebut mengarahkan Abraham untuk taat, setia, dan tunduk kepada Tuhan. Jika bukan karena panggilan Tuhan, mungkin Abraham tidak akan patuh dan taat pada perintah Tuhan.

KEDUA:

MEMILIKI KERINDUAN BERBAGI “berkat”: potensi, pengetahuan, sikap hidup

Pelayanan tak mungkin tanpa potensi, pengetahuan dan sikap hidup, sebab ketiganya merupakan fakta yang paling mendasar dari mereka yang turun ke ladang pelayanan.

Potensi digunakan untuk bekerja, mengembangkan pelayanan.

Pengetahuan digunakan untuk mengajarkan hal-hal yang benar, kasih Tuhan, pengampunan dan keselamatan dari Tuhan.

Sikap hidup adalah finalisasi dari potensi dan pengetahuan. Sikap hidup seorang pelayan haruslah berpadanan dengan Alkitab.

KETIGA:

MENGANDALKAN TUHAN dalam segala hal (mengutamakan Dia untuk melakukan segala sesuatu dalam pelayanan.

Tidak ada jaminan bahwa pelayanan kita akan mulus dan tanpa tantangan. Oleh karena itu, kita harus bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Di sini, kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Dialah yang memberikan kuasa dan kemampuan kepada kita untuk melayani, menghadapi segala tantangan dan hambatan yang datang.

Karena kita melayani ‘Tuhan’ di hadapan manusia, maka kita harus mengandalkan Dia. Dialah yang memberikan kekuatan, waktu, kesempatan, perlindungan, pemeliharaan, dan penghiburan dalam segala situasi saat kita melayani-Nya

KEEMPAT:

MEMAHAMI FIRMAN-NYA dengan baik dan bertanggung jawab (pengajaran [doktrin], pemahaman tentang karya Allah, keselamatan, dan penebusan).

Tak ada pelayanan tanpa pemberitaan firman Tuhan. •Firman Tuhan adalah dasar iman dan perbuatan kita. Pemahaman yang baik terhadap firman-Nya memberi kita tanggung jawab yang besar untuk terus mengabarkannya

KELIMA:

TETAP SETIA

Kesetiaan itu mahal harganya.

Melayani tanpa kesetiaan [kepada Tuhan] bukanlah pelayanan yang sesungguhnya, bahkan mengabaikan “panggilan” dari Tuhan.

Kesetiaan berarti tetap konsisten pada janji dan pengakuan iman bahwa kita terpanggil untuk melayani manusia di hadapan Tuhan dan melayani Tuhan di hadapan manusia.

Salam Bae…

BENDERA ARASTAMAR TERTANCAP DI TANAH BALI

Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Purnama Pasande, Pelayan Muda yang Berhasil

“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.

Hampir sekitar 4000 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, diundang untuk menghadiri acara PERTEMUAN PIMPINAN PERGURUAN TINGGI SE-INDONESIA dengan tema “AKSI KEBANGSAAN PERGURUAN TINGGI MELAWAN RADIKALISME, di mana dalam kegiatan tersebut dihadiri Bapak Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Pertemuan itu membahas isu dan agenda kebangsaan dalam menghadapi arus radikalisme dan terorisme “berwajah agama” yang “membonceng agama” dalam ideologi separatisnya. Pertemuan diadakan di Nusa Dua Bali tanggal 25-26 September 2017.

Ada yang menarik dari pertemuan tersebut di samping isu-isu terorisme berwajah agama dan isu kebangsaan dalam wadah musyawarah dan kebersamaan. Hal menarik itu adalah diundangnya Purnama Pasande, M.Th. selaku Ketua Sekolah Tinggi Teologi STAR’S Lub Luwuk Banggai yang mewakili deretan Sekolah-sekolah Arastamar dalam wadah PRESTASI (Perhimpunan Sekolah-Sekolah Tinggi Arastamar Setia Indonesia). Arastamar yang dulu pernah diuji coba untuk dibumihanguskan oleh mereka yang berlatar “infeksi moralitas” kini membuahkan hasil dan menorehkan sejarah bahwa Arastamar layak diacungi jempol.

Di tengah maraknya hasutan, hinaan, cacian, dan upaya merusak nama baik pendiri Arastamar, yaitu Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., Ketua STT STAR’S Lub, Purnama Pasande sebagai anak didik dan asuhan Pendeta Matheus Mangentang justru memunculkan sebuah cahaya gemilang di level nasional – dan bahkan level internasional. Dengan diundangnya Purnama Pasende selaku ketua STT STAR’S Lub, menambah daftar panjang prestasi yang ditoreh oleh anak didik dan asuhan Pendeta Matheus Mangentang. Hampir semua pimpinan perguruan tinggi dalam wadah PRESTASI dipimpin oleh anak-anak muda. Purnama Pasande adalah salah satunya, dan menjadi pemimpin termuda di level nasional dalam wadah PRESTASI. Saya menyebut rekan-rekan saya yang memimpin perguruan tinggi yang adalah buah dari pelayanan Pendeta Matheus Mangentang: Sensius Amon Karlau, Jeffrit K. Ismail, Jansakti Saddu Saly, Jimmy Novianto, Narsing L. Marriba, Aris D. Rimbe, Marinus Gulo, Terah Y. Manu, Yos Adoni Sesatonis, Nataeli Gea, Yusuf L. Marriba, Yahya Mailani, dan lain-lain.

Apa yang dapat dilihat dari perwakilan Arastamar oleh STT STAR’S Lub di tanah Bali? Selain mengikuti kegiatan sebagai agenda resmi, bendera sebagai lambang identitas STT STAR’S Lub ditancapkan di tanah Bali di antara ribuan bendera perguruan tinggi seluruh Indonesia. Di bendera tersebut tergambar “salib”. Maknanya adalah “kasih Yesus memungkinkan kita melakukan hal-hal yang pernah kita pikirkan.” STT STAR’S Lub sebagai bagian dari Arastamar telah membuktikan bahwa meski sering dipandang sebelah mata, toh akhirnya buah pekerjaan yang membuktikannya.

Lagipula, sosok Purnama Pasande dapat disebut sebagai pelayan dan pemimpin muda yang berhasil. Ia mewujudkan berbagai kegiatan di Kampus STT STAR’S Lub sebagai bukti bahwa sekolah tersebut memiliki keragaman kegiatan yang mengundang rasa kagum dari masyarakat Luwuk, meski di satu sisi, nama beliau menjadi pergunjingkan di Kota Luwuk dalam konteks pendidikan tinggi. Beliau yang masih tergolong muda, tidak membuat dirinya dihambat oleh tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh untuk menghambatnya, malahan justru tumbuhan-tumbuhan penghambat itu, lambat laun mulai layu.

Kehadiran Purnama Pasande di tanah Bali sebagai perwakilan dari wadah PRESTASI membuat rekan-rekannya turut berbangga hati. Merasakan bahwa Arastamar semakin merambatkan akarnya, memunculkan semangat baru bagi rekan-rekan untuk terus berprestasi meski hambatan datang silih berganti. Pendeta Matheus Mangentang tentu bangga melihat anak-anak didiknya berhasil di usia muda. Sebagai orang tua, beliau sangat dihormati oleh anak-anak didiknya yang berhasil memimpin sekolah tinggi. Yang lain sibuk menjatuhkan beliau, anak-anaknya justru terus mengangkat beliau dengan buah karya yang tidak main-main.

Arastamar yang terus berbuah di mana-mana membuktikan bahwa visi yang beliau sosialisasikan dan tanamkan di hati para alumni SETIA telah berbuahkan hasil. Purnama Pasende sebagai anak muda juga telah membuktikannya. Tak mudah menjadi pemimpin. Tetapi ketika pola kepemimpinan dinikmati dengan penuh rasa percaya diri, kredibel, dan integritas, kepemimpinan dilakukan ibarah berselancar di atas ombak hambatan duniawi. Ada makna di balik keberhasilan kepemimpinan Purnama Pasande. Beliau yang selalu sibuk dengan kegiatan kampus untuk menggali potensi para mahasiswa, kini ia pun dihargai oleh lembaga-lembaga lain dalam bentuk diundang sebagai pembicara di berbagai acara di kota Luwuk. Ia pun terus menggali potensi kepemimpinannya dengan belajar dan belajar.

Sebagai sahabat dan rekan kerja, saya pun turut berbangga hati atas keberhasilan yang diraihnya. STT STA’RS Lub yang dipimpinnya telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) baik Program Studinya maupun Institusinya. Ini justru sangat membanggakan. Ada lain yang lebih membanggakan. Purnama Pasande telah meluluskan mahasiswa hingga angkatan yang ke-6 yang diselenggarakan dalam acara Wisuda ke-6 dan Dies Natalis STT STAR’S Lub ke-10 tanggal 27 September 2017 dengan tema: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mazmur 136:1), di mana saya dipercayakan menyampaikan orasi ilmiah untuk menggantikan Pendeta Matheus Mangentang.

Masih ada lagi prestasi yang dicapai dan ditorehkan Purnama Pasande. Namun yang saya catat di sini hanyalah beberapa di antaranya. Jika ingin menyusun daftar prestasi, bisa langsung berkomunikasi dengannya atau langsung berkunjung ke Kampus STT STAR’S Lub di Kota Luwuk. Sembari memberikan dukungan bagi peningkatan kualitas dan pengembangan ke depannya. Percayalah, “ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata.” Itulah yang dialami Purnama Pasande. Dulu beliau dipandang sebelah mata, kini ia dipandang dengan dua mata.

Sebagai penutup dari catatan singkat saya, tak lupa pula saya menyampaikan terima kasih kepada Purnama Pasande di mana beliau telah memberikan testimoni pada kamus saya. Saya mengutipnya: “Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa ini merupakan karya yang mengagumkan oleh karena menjawab kebutuhan para dosen/guru dan siswa/mahasiswa dalam mengajar dan belajar.” (Purnama Pasande, M.Th., Ketua [termuda] STT STAR’S LUB Luwuk Banggai Sulawesi Tengah). Testimoni tersebut ditulis tahun 2013. Itu berarti, beliau berumur kurang lebih 28 tahun. Waktu memimpin STT STAR’S Lub tahun 2007, Purnama Pasande berumur 22 tahun (kelahiran 1985). Beliau masih sangat muda, tetapi memiliki potensi untuk memimpin meski harus dimulai dari awal. Ia telah membuktikan bahwa apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya, telah ia kerjakan dan akan terus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.

Intinya, bendera STT STAR’S Lub yang berkibar di tanah Bali, mengungkapkan makna bahwa orang yang dipakai Tuhan pasti diberkati. Diberkati tidak melulu materi, tetapi sering bertentuk karya, kepercayaan, jabatan, harkat dan martabat yang dimuliakan, dan lain sebagainya. Sebagai Pelayan dan Pemimpin Muda yang berhasil, ada banyak agenda yang telah ia siapkan untuk kemajuan dan peningkatan mutu (kualitas) STT STAR’S Lub. Kami dan rekan-rekan siap menanti gebrakan baru dari sosok Purnama Pasande, “Yang Muda Yang Berani Menembus Batas.”

Sukses selalu dalam karya dan kepemimpinan. Tuhan Yesus Memberkati kita semua, pelayan yang setia hingga akhir. Jayalah Arastamar di bumi Nusantara tercinta.

Salam Bae…

ARASTAMAR BERGEMA DI TANAH GRIMENAWA – PAPUA

Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Jeffrit K. Ismail: Pemimpin yang Bepikir Cepat, Bergerak Cepat

“Tulisan ini diterbitkan beberapa tahun lalu di Facebook saya. Jika ada perubahan konteks dalam di masa sekarang, bukan berarti apa yang dituangkan dalam tulisan singkat ini adalah salah, melainkan hanya karena adanya perubahan situasi dan kondisi”

“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.

Ketika misi tertancap kuat di hati, maka segera pekerjaan nyata ada hasilnya. Inilah yang dikerjakan oleh Jeffrit K. Ismail, pemimpin muda berdarah Rote. Dengan berbekal pengalaman melayani di berbagai pedalaman Papua bersama rekannya, Sensius Karlau, Jeffrit menunjukkan bahwa pengalaman di berbagai pedalaman tersebut, tidaklah sia-sia. Ia kemudian “banting stir” (tepa di bok) dan masuk ke dunia pelayanan pendidikan.

Ia masih tergolong muda, sama halnya dengan “Anak-Anak Arastamar” lainnya seperti Gihon, Purnama, Jansakti, Sensius, Yopi, Yosia, Adi, James, Heri, Yahya, dan lainnya (yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu), tetapi semangat melayani begitu tinggi—tak sebanding dengan mereka yang hanya memburukkan nama “Arastamar” dan berharap Arastamar lenyap. Mereka—yang adalah pengganggu dan perusak pelayanan Arastamar tentu tidaklah menyurutkan motivasi pelayanan dari Anak-Anak Arastamar, dan Jeffrit salah satunya.

Ia melayani di bidang pendidikan di tanah Papua bersama Sensius dengan tujuan membangun masyarakat Papua dan mengharapkan bahwa akan berkembangnnya perekonomian dan tingkat pemikiran yang mapan, mumpuni, konstruktif, dan aplikatif. Dengan segudang pelayanan bersama rekannya, Jeffrit menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk bersaing di dunia pendidikan.

Tak kalah penting dari itu, Jeffrit dikenal dengan berbagai gagasan yang mendasar di bidang pendidikan. Pelayanan ini telah dibuktikan dengan dibentuknya SMTK Firdaus Jayapura di Grimenawa dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenewa. Kepiawaian dalam bekerja mencuatkan sejumlah opini bahwa memang sahabat saya yang satu ini layak disebut sebagai seorang “Pemimpin yang Bepikir Cepat, Bergerak Cepat”. Nyatanya, hasil goresan tangannya dan didukung oleh rekan-rekannya yang memiliki spirit dan kerja keras, menghasilkan akreditasi bagi STAK Arastamar Grimenewa. Bukankah ini adalah perjuangan yang luar biasa?

Bercermin dari hal ini, saya semakin menyadari bahwa “Anak-Anak Arastamar” didikan dan arahan Bapak Pendeta Matheus Mangentang, semakin di depan mengalahkan motor Yamaha. Anak-Anak Arastamar adalah anak-anak desa yang sederhana tetapi memiliki pemikiran yang perlu diperhitungkan. Mereka yang hanya iri kepada Anak-Anak Arastamar hanyalah menyisahkan duka yang mendalam karena tak tahu harus berbuat apa. Mereka yang tidak giat bagi pekerjaan Tuhan hanyalah sibuk mengganggu dan merusak pekerjaan Tuhan. Anak-Anak Arastamar akan selalu membuktikan komitmen pelayanan (melayani Tuhan) dan bahkan menyingkirkan orang-orang yang mengganggu pekerjaan Tuhan.

Jeffrit siap menggulingkan “batu raksana pendidikan” yang akan melindas mereka yang hanya pintar bicara tapi otak “tra ada isi”. Ia telah membuktikan bahwa pelayanan yang dirintis di tanah Papua bersama rekan-rekannya telah membuahkan hasil. Yang pasti, dari fakta ini, menambah deretan prestasi “Anak-Anak Arastamar” yang patut dibanggakan.

Saya sendiri menaruh respek terhadap beliau. Bagi saya, apa yang telah dihasilkan dari pelayan kita seyogianya “memuliakan Tuhan”—dan itu telah terbukti. Jeffrit, dengan kepiawaiannya dalam mengolah “masakan dan bumbu-bumbu pendidikan” membangkitkan semangat juang bagi rekan-rekan saya yang akan melakukan hal yang sama pada institusi yang mereka pimpin.

Saya berharap, kita semua dapat bergandeng tangan untuk memajukan misi di tanah Papua sebagai bukti bahwa kita mengasihi mereka sebagaimana Yesus mengasihi mereka. Saya sendiri kagum dengan Jeffrit atas prestasi yang telah dicapainya. Dan dari fakta ini, tentunya berbagai pemikiran dan gagasan ideal bagi dunia pendidikan akan terus digulirkan dan dikembangkan bagi kemajuan Arastamar yang kita cintai. “Jikalau bukan kita yang memberitakan Injil, lalu siapa lagi? Jikalau bukan kita yang melayani Tuhan di bidang pendidikan, siapa lagi? Jikalau Tuhan sudah memberikan talenta dan potensi diri yang luar biasa kepada kita, masihkah kita melalaikannya?

Bekerjalah selagi ada waktu. Jangan bersantai-santai. Anak-Anak Arastamar adalah bukti dari kepedulian terhadap saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan kita—dan Grimenawa telah menerima sentuhan tangan Tuhan melalui hambaNya, Jeffrit Ismail, yang telah membangun sekolah-sekolah sebagai bagian dari kepeduliannya. Marilah bekerja, selagi masih siang.

Semoga catatan singkat ini dapat menjadi pendorong semangat bagi kita semua untuk semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama yang diwujudkan melalui dunia pendidikan.

Salam Arastamar

ARASTAMAR MENANCAPKAN MISI DI TANAH WAMENA – PAPUA

Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Sensius Amon Karlau: Pemimpin Kecil, Bernalar Besar

“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.

Sahabat yang satu ini tergolong unik. Apa yang unik? Uniknya adalah meski ia berbadan kecil tetapi memiliki penalaran yang besar. Sensius Amon Karlau, pemimpin muda berdarah Alor ini, masuk dalam daftar “ANAK-ANAK ARASTAMAR” yang sukses dan berhasil. Sensius Karlau adalah kakak tingkat saya di SETIA. Beliaulah yang membawa saya dan rekan-rekan ke tanah Papua untuk menjalani masa pelayanan selama satu tahun. Dari tangan beliaulah, hasil misi di tanah Papua terus berkembang.

Arastamar pertama kali menancapkan misinya (secara khusus bidang pendidikan), di Kota Merauke tahun 2005. Dengan rekan-rekannya, Sensius Karlau memustuskan untuk membuka sekolah tinggi teologi. Misi terus berlanjut. Beliau sebagai tenaga survei [lapangan] dari salah satu yayasan, telah banyak menorehkan hasil dalam membangun desa. Sebelum pemerintah memiliki program membangun dari desa, SETIA Arastamar telah memiliki misi ke pedesaan dan membangunnya melalui pendidikan, kesehatan, dan kerohanian, dan Sensius Karlau adalah salah satu “tokoh kota yang peduli desa”.

Apa yang ia tabur dulu, kini sudah menuai hasil. Bersama rekannya, Jefrit K. Ismail, Sensius Karlau membangun dan mengembangkan tanah Papua. Apa yang menarik dari misi yang dikerjakan Sensius Karlau? Saya mengamati bahwa substansi misi yang sedang dikerjakan (ia bersama Jefrit K. Ismail bersama rekan-rekan lainnya) adalah menciptakan potensi kemanusiaan (masyarakat Papua) untuk memahami pentingnya hidup, pentingnya pendidikan, dan pentingnya percaya kepada Tuhan sebagai Sang Pemilik dan Sang Pencipta alam semesta. Jika pengamatan saya ini benar, maka saya patut menaruh hormat kepada beliau. Jika pengamatan saya ini kurang benar, toh apa yang dikerjakan beliau tidak jauh dari pengamatan saya selama ini. Saya pun tetap menaruh hormat kepada beliau.

Dengan strategi sepuluh langkah lebih cepat dari rekan-rekannya, Sensius Karlau mencontohkan gagasan-gagasan yang selama ini ia kaji dan terapkan yang kemudian membuahkan hasil alias “berhasil”. Ia sangat peduli dengan pelayanan dan pendidikan yang kemudian ia tuangkan dalam kebijakan-kebijakan pelayanan dan pendidikan di institusi yang ia pimpin. Rekan-rekannya pun memuji kepiawaian beliau. Tapi beliau selalu merendah, apalagi tubuhnya tidak terlalu tinggi. Jadi untuk apa meninggikan diri? (hehehe). Kerendah-hatian beliau patut dicontohi. Maka tak salah jika saya menyebut beliau dengan sebutan: “PEMIMPIN BERBADAN KECIL TETAPI MEMILIKI PENALARAN YANG BESAR”. Apa yang ia gagas, berbuahkan hasil yang besar. Tidak hanya itu, masyarakat Papua yang ia bantu, pun merasakan manfaatnya.

Sekilas dari kisah hidupnya, Sensius Karlau pernah mengalami depresi yang berat. Ia pun memutuskan untuk bunuh diri. Tetapi apa yang terjadi dengannya? Tuhan menolongnya dan kemudian “memuliakannya” dengan agenda-agenda yang telah ia pikirkan, kerjakan, raih, bahkan ia tularkan kepada rekan-rekannya; salah satunya adalah Jefrit K. Ismail. Kita tidak tahu rencana Tuhan sepenuhnya atas hidup kita, dan hidup sahabat saya ini, pun dibentuk dan dijadikan indah oleh-Nya. Saya pun merasa terhormat ketika menjadi bagian dari agenda-agenda beliau. Merasakan manfaat dari buah pikiran dan strategi beliau adalah sebuah kehormatan.

Tentu, apa yang dicapai sekarang ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Proses-proses awal yang begitu menyakitkan dan menyedihkan adalah makanan yang ia nikmati bersama rekan-rekan dan keluarganya. Ia pun bertutur kepada saya bahwa awal mendirikan Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Wamena (STT SARANA) adalah pergumulan yang sangat berat. Berhadapan dengan berbagai caci maki dan kondisi yang merendahkan dan menjatuhkan beliau, adalah duri-duri pelayanan yang kemudian ia sendiri telah “membersihkan” duri-duri tersebut dengan cara memangkas duri-duri tersebut dan kemudian menjadi tumpul.

Berbagai tanaman duri yang dulunya mengganggu pertumbuhan STT SARANA, kini menjadi tumbuhan yang mencoba bergabung dan mencoba memberikan kontribusi baginya. Mata terbuka bukan dengan cara bagaimana menyuap orang-orang yang menutup mata terhadap STT SARANA, melainkan mata tersebut dibuka dengan buah karya yang indah dan mulia. Bukankah ini sebuah strategi yang sangat baik dan berwibawa?

Sebagai seorang pemimpin, Sensius Karlau terus memikirkan, mengkaji, dan mengaplikasikan buah-buah pemikirannya yang semata-mata bertujuan untuk kemajuan dan perluasan misi dan pendidikan Kristen di tanah Papua. Meski kecil tapi jangan anggap enteng pemikiran dan strateginya. Badan bukanlah ukuran keberhasilan tetapi pikiranlah yang menentukan arah langkah hidup seseorang. Itulah yang dilakukan dan dibuktikan oleh Sensius Karlau.

Seperti yang saya nyatakan dalam tulisan saya tentang “FILSAFAT “WAKTU” bahwa “Filsafat waktu berarti bagaimana manusia mempergunakan waktu selama ia hidup untuk berkontribusi bagi alam semesta, bagi sesama, dan bagi pekerjaan atau pelayanan Tuhan. Dengan waktu yang digenggam manusia, ia perlu menumbuhkembangkan sikap menghargai waktu. Kesadaran menilai dan mempergunakan waktu adalah sebuah kebijaksanaan, sebuah filsafat waktu. Manusia harus memahami, menghargai, dan mempergunakan waktu yang ada.” Apa yang saya tuliskan di atas secara faktual terlihat dalam proses kehidupan sabahat saya yang berbadan kecil ini, Sensius Karlau.

Saya menilai bahwa apa yang dikerjakan Sensius Karlau adalah bagian penting dari pemahamannya tentang memahami dan menggunakan waktu, menghargai waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesamanya secara khusus bagi masyarakat Papua. Ia telah “berbuah” dan buahnya telah dinikmati banyak orang. Tapi ia tidak menahan dirinya untuk berpuas diri dengan buah yang telah dihasilkannya, melainkan terus “membeli bibit baru” untuk menjadi tumbuh-tumbuhan pelayanan dan pendidikan di mana depan yang dengannya masyarakat Papua dapat diberkati, dapat mengembangkan potensi alam Papua yang sangat kaya dan mengembangkan serta meningkatkan potensi sumber daya manusia Papua yang luar biasa.

Semoga buah pelayanan dan pendidikan yang telah dikerjakan dan dihasilkan oleh Sensius Karlau, dapat diserap dan diteladani oleh rekan-rekan yang tergabung dalam “ANAK-ANAK ARASTAMAR” untuk mengembangkan Visi dan Misi SETIA di mana pun kita berada.

Salam Bae…

ARASTAMAR BERGEMA DI TANAH SOE

Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Petrus Yopi Karhom: Sahabat dan Pemimpin yang Membaca dan Memanfaatkan Peluang

“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.

Sahabat yang satu ini adalah sosok yang terkenal di kalangan alumni SETIA. Pasalnya, beliau sendiri adalah ketua Persekutuan Kasih Antar Keluarga dan Alumni SETIA (PERKAKAS) yang dipilih berdasarkan rekam jejak, karya, dan komitmennya untuk membangun misi di tanah Indonesia. Saya sendiri mengenal beliau cukup lama. Dalam Seminar Sepekan bagi Staf Dosen Cabang-Cabang Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) di Seluruh Indonesia dengan tema “MEMPERTAJAM AZAS-AZAS PENGAJARAN REFORMED dengan para pembicara dari negeri Belanda, perwakilan Groninger Zendings Deputaten (GZD) yang diselenggarakan pada tanggal 7-11 Mei 2007 bertempat di Wisma Pondok Remaja PGI Cipayung, Petrus Yopi Karhom hadir bersama istri tercinta (Handayani Telaumbanua). Dalam seminar tersebut kami bertukar pikiran bagi kemajuan misi di Indonesia dan mulai membangun komunikasi dengan beliau. Maklum, saya adalah peserta temuda saat itu karena baru saja lulus ujian skripsi yang belum memiliki pengamalan.

Sebelum datang ke Jakarta untuk menghadiri Seminar Sepekan tahun 2007, Yopi Karhom bersama rekan-rekannya telah merintis Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) Arastamar Soe yang secara resmi berdiri pada tanggal 4 September 2006. SMTK yang dirintis penuh pergumulan dan perjuangan. Yopi Karhom dan rekan-rekannya masuk kampung keluar kampung untuk mensosialisasikan, mempromosikan, dan meyakinkan orangtua dan masyarakat Soe dan sekitarnya, bahkan sampai di tempat yang sangat jauh, mereka pun pergi.

Dengan semangat misi yang kental, mereka pun menuai hasil. Seringkali, “PERJUANGAN YANG BERAT DIBARENGI DENGAN HASIL YANG MANIS” dan Yopi Karhom telah telah membuktikannya. Saya teringat tentang sedikit kisah beliau. Ketika datang di Soe, beliau menumpang di rumah seorang kenalan, kurang lebih selama dua minggu. Ia membawa keluarganya untuk bermisi dan “membaca serta memanfaatkan peluang”. Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari situ, ia melangkah terus bersama Tuhan dan berharap Tuhan memampukannya untuk bekerja di ladang misi. Buah-buah pelayanan beliau telah dinikmati banyak orang.

Selang tujuh tahun kemudian, beliau dan rekan-rekannya memulai Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Arastamar Soe yang resmi berdiri pada tanggal 20 Juli 2013. Ini adalah “buah yang manis dari misi yang manis dan dikerjakan oleh mereka yang berhati manis”. Mengapa manis? Saya melihatnya pada ‘buah’ dari sekolah ini. Selain SMTK Arastamar, STAK Arastamar Soe telah berbuah lebat dan manis. Anak-anak desa yang kurang mampu ditolong dan ditopang selama proses pembelajaran. Membaca dan memanfaatkan peluang yang ada bukanlah slogan semata-mata melainkan sebuah kebijaksaan untuk bermisi di mana Tuhan menempatkan kita untuk bekerja bagi-Nya.

Dengan prestasi tersebut, menambah daftar panjang torehan prestasi “ANAK-ANAK ARASTAMAR” yang adalah anak-anak didik dan asuhan Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Anak-anak muda seperti Sensius A. Karlau, Jeffrit K. Ismail dan Yahya Mailani telah menorehkan hasil di tanah Papua; Pdt. Markus Amid menorehkan hasil di tanah Borneo; Purnama Pasande menorehkan hasil di tanah Luwuk, Sulawesi Tengah; Matius Bongngi menorehkan hasil di tanah Talaud dan Siau, Sulawesi Utara; Marinus Gulo (bersama rekan-rekannya) menorehkan hasil di tanah Nias; Aris D. Rimbe menorehkan hasil di tanah Mamuju, Sulawesi Barat. Masih banyak lagi anak-anak Arastamar yang telah menorehkan karya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui berbagai jenis pelayanan di bidang teologi dan pendidikan, bahkan pemerintahan.

Karena kekompakan dan saling menopang, Arastamar kian melesat bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya, sementara itu, masih ada orang-orang yang ingin menghambat pekerjaan Tuhan yang telah dan sedang dikerjakan oleh “ANAK-ANAK ARASTAMAR”.

Dalam perkembangannya, Yopi Karhom adalah salah satu pemimpin muda berdarah Alor, yang terus menuangkan gagasan dan idenya dalam sebuah “karya nyata”. Karya nyata yang dihasilkan adalah karena keyakinan beliau dalam “membaca dan memanfaatkan setiap peluang.” Apa yang disampaikan Pendeta Matheus melalui diskusi pribadi, diaplikasikan dalam karya nyata di tanah Soe. Visi dan misi yang ditanamkan oleh Pendeta Matheus Mangentang menginspirasi Yopi Karhom untuk mengembangkan misi di tanah Soe pada khususnya dan NTT pada umumnya.

Meski Yopi Karhom tahu bahwa orang tua rohaninya, Pendeta Matheus Mangentang, terus digerus oleh caci maki dan hinaan, ia berusaha menjaga hubungannya dengan orang tua rohaninya agar tetap terjalin indah. Beliau pernah mengatakan kepada saya bahwa “kita harus menghargai orang tua, meski kita tahu ia punya kelemahan”. Kelemahan orang tua bukanlah senjata bagi kita untuk mencaci maki, menghina, dan merendahkannya. Saya meyakini bahwa gagasan yang diusung Yopi Karhom untuk tetap menghargai orang tua yang telah mendidik dan membuat kita berhasil adalah bagian dari didikan kedua orangtuanya. Setahu saya, mayoritas budaya Indonesia Timur adalah “menaruh penghormatan tertinggi pada orangtua.”

Ketika yang lain sibuk merendahkan, memfitnah, mencaci maki, meludahi Pendeta Matheus Mangentang, Yopi Karhom justru tetap menghargai karya dan nasihat dari orang tua rohaninya. Dia pun tahu kondisi yang dialami oleh Pendeta Matheus Mangentang. Ia tetap mendoakan dan mendukung pelayanan Pendeta Matheus Mangentang. Dari kondisi tersebut, tampak bahwa “MEREKA YANG TIDAK MELUPAKAN JASA ORANG TUA, ADALAH MEREKA YANG BERHASIL DAN DIBERKATI TUHAN.” Sering Yopi Karhom menyampaikan kepada saya “Kita jangan melupakan jasa orang tua yang telah membawa kita sampai kepada keberhasilan saat ini.” Apa yang dirasakan dan dialami, serta dimiliki oleh Yopi Karhom saat ini, tidak lepas dari proses awal yang penuh pergumulan dan nasihat dari Pendeta Matheus Mangentang. Sebagai alumni SETIA, ia tetap mencintai alamamaternya yang telah membesarkan namanya. Sementara di sisi lain, ada alumni SETIA malah ikut-ikutan untuk menghina dan merendahkan almamaternya sendiri.

Kini, ARASTAMAR TELAH BERGEMA DI TANAH SOE. Yopi Karhom adalah salah satu pribadi yang menjadikannya bergema. Sebagai seorang sahabat, Yopi Karhom adalah “Kakak” bagi saya. Dengan gaya bicaranya yang meyakinkan, membuat ia dikagumi oleh istri dan anak-anaknya, bahkan rekan-rekan sejawatnya. Sebagai pemimpin, Yopi Karhom telah menorehkan hasil. Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah mengumpulkan pengikut dengan cara dibayar supaya memuji-muji pemimpinnya setinggi langit, tetapi ukurannya adalah menghasilkan karya nyata yang dapat bermanfaat bagi banyak orang dalam bidang pendidikan, sosial, dan kerohanian.

Dengan kepiawannya “Membaca dan Memanfaatkan Peluang”, hasilnya telah terlihat. Saya selalu berbicara tentang “hasil” dan bukan “wacana”. Wacana tinggal wacana ketika seseorang hanya terus berupaya menggunakan uangnya untuk mempengaruhi orang lain untuk menjadi salah satu pengikut tanpa menorehkan hasil yang bermanfaat bagi banyak orang. Kalau pun ada, itu adalah bagian dari strategi. Antara hasil dan karakter seorang pemimpin ada korelasinya. Pemimpin berkarakter, memiliki visi. Visi yang ditampilkan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Pemimpin tidak perlu menggunakan uang untuk meraup pengikut agar ambisi terpuaskan. Sebab dengan cara demikian, justru kejahatan dan kebodohan yang muncul sebagai hasilnya. Ketika seseorang menabur kasih, pasti ia menuai jiwa. Gagasan ini sangat melekat dengan jiwa “ANAK-ANAK ARASTAMAR”. Meski dalam kondisi serba kekurangan, “ANAK-ANAK ARASTAMAR” tetap maju dan berjuang untuk merintis sekolah-sekolah. Saya rasa, Yopi Karhom sudah banyak “makan garam” dalam perjuangannya (bersama rekan-rekannya) di bidang pendidikan terutama dalam hal merintis sekolah-sekolah di tanah Soe.

Sosok Yopi Karhom adalah sahabat dan pemimpin yang membuahkan hasil yang manis. Sebagai sahabat, ia ramah dan menghormati orang lain. Ia sangat dihormati karena ia pun menghormati orang lain. Bukan tugasnya untuk mencaci dan merendahkan orang lain. Tugasnya adalah bekerja bagi Tuhan. Secara pribadi, saya pun menaruh hormat kepadanya dan menghargai buah-buah karya yang dihasilkan. Sebagai pemimpin, ia merangkul yang lain dan bekerja sama bagi pekerjaan Tuhan. Berbekal kegigihan dalam melayani dan bekerja, ARASTAMAR TELAH BERGEMA DI TANAH SOE. STAK Arastamar Soe pun telah diakreditasi. Bukankah ini adalah buah yang manis?

Bersama-rekannya, Yopi Karhom berkomitmen untuk terus mengumandangkan Misi Arastamar di bidang pendidikan terus digulirkan di seluruh Indonesia untuk mendidik putra-putri desa yang kurang mampu secara ekonomi. Komitmennya adalah menolong dan menopang masyarakat, meski di satu sisi ada orang yang memperalat orang lain sebagai alat politik untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Di tengah kesibukannya sebagai pejabat pemerintahan, beliau tetap mencintai pekerjaan Tuhan yang terus dikerjakannya. Beliau tetap meluangkan waktu untuk bekerja di ladang Tuhan. Sebagai Ketua PERKAKAS, ada harapan-harapan yang telah terwujud dan ada pula harapan-harapan yang belum terwujud. Namun hal itu menjadi tugas bersama untuk dapat mewujudkannya.

Kiranya tulisan ini dapat menginspirasi alumni SETIA untuk semakin mencintai almamaternya dan bukan menghinanya. Jangan lupa pada orang yang telah berjasa atas hidupmu. Kebaikan masa lalu itu manis rasanya. Kebencian masa kini merusak kebaikan masa lalu. Jangan mudah terprovokasi. Hal inilah yang sering disampaikan Yopi Karhom kepada saya. Ada suara-suara yang ingin mempengaruhi Yopi Karhom tetapi beliau tetap pada prinsipnya untuk mendukung SETIA dan GKSI pimpinan Pendeta Matheus Mangentang. Memang ini adalah pertaruhan kita dengan musuh dari dalam, musuh dari alumni SETIA yang telah dipengaruhi. Tetapi kita harus tahu bahwa musuh dari dalam itu sangat berbahaya. Cara yang digunakannya adalah selalu ‘berteriak’ karena ia merasa kesepian, kurang pendukung. Ciri-ciri orang-orang yang kesepian adalah ‘berteriak’. Berteriak dengan cara menghina orang lain adalah ciri khas mereka yang memiliki kebencian di dalam hatinya.

Sosok Yopi Karhom tidak banyak suara supaya kelihatan berteriak. Ia sedikit bicara banyak bekerja, dan ada hasilnya pula. Di banding mereka yang banyak berteriak tapi “sonde ada hasil”, Yopi Karhom memilih untuk terus fokus pada pekerjaan Tuhan dan memberkati banyak orang. Ia tahu bahwa ia berada pada jalur yang benar dan terus mengerjakan bagiannya yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya. Meski tawaran demi tawaran terus berdatangan, ia selalu menolak. Sebab kekayaan dan uang bukanlah syarat untuk bahagia. Kekayaan dan uang bukanlah syarat untuk dicintai dan dikasihi. Kekayaan dan uang bukanlah syarat untuk menciptakan integritas di hadapan Tuhan. Kekayaan dan uang adalah syarat yang digunakan oleh mereka yang ingin mendapatkan dukungan untuk mulianya yakni “menghancurkan diri mereka sendiri.”

Kiranya Tuhan Yesus memberkati pelayanan Yopi Karhom. Kami siap mendukung pengembangan pendidikan di tanah Soe. Apalagi bersama rekan-rekan yang handal seperti Sensius A. Karlau, Jefftrit K. Ismail, Purnama Pasande, Yahya Mailani, Markus Amid, Marinus Gulo, Pendeta Waharman, Syarah Faot, dan rekan-rekan lainnya dalam wadah PRESTASI.

Teruslah maju bersama Tuhan, Pak Yopi Karhom. Singkirkan debu yang ditiup ke muka hamba-Nya. Kibaskan dan tendang kekayaan dan uang yang mencoba mempengaruhi karakter dan dedikasi hamba-Nya. Jadilah mercu suar di tanah Soe dan bagi alumni SETIA di seluruh Indonesia. Kami bangga memiliki sahabat dan pemimpin seperti Anda.

Tuhan memberkati kita semua. Shalom.

“MENGAPA TUHAN REPOT-REPOT TURUN DARI SORGA?”

Pernah ada salah seorang yang mengajukan pertanyaan demikian: “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya.”

Ketika membaca pertanyaan ini, saya tertawa. Mengapa? Karena secara substansial, yang menanyakan “telah” menjawab “pertanyaannya sendiri”. Bagaimana bisa? Jawabannya, bisa! Ketika seseorang membaca secara logis pertanyaan di atas, maka akan menemukan jawaban dan kontradiksi dalam pertanyaan tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan membaginya dalam tiga kategoi: (1) Kategori Logika (kontruksi kalimat pertanyaan); (2) Kategori Analogi Dokumentatif—Faktual; dan (3) Kategori Biblikal. Setiap kategori, saya mengutip kembali pertanyaan di atas supaya alur pemahaman akan jawabannya, akan dengan mudah dicerna.

(1) KATEGORI LOGIKA (KONSTRUKSI KALIMAT PERTANYAAN)

“Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya”

Secara logis, pertanyaan di atas sudah terjawab. Jawaban tersebut mengandung makna logis dan teologis. Untuk mencerna secara baik, saya akan membagi pertanyaan di atas tiga bagian:

Pertama, “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan”. Pertanyaan ini menggiring opini bahwa Tuhan memiliki cara lain untuk mengampuni (memaafkan) manusia dari dosa mereka. pertanyaannya: Manusia berdosa kepada siapa? Ini pertanyaan mendasar. Ketika pertanyaan mendasar dipahami, maka pertanyaan di atas tak akan muncul. Manusia tentu berdosa kepada Allah, dan oleh sebab itu, manusia secara pasif menerima cara Allah mengampuninya. Karena manusia berdosa kepada Allah, maka Allah secara mutlak dan berdaulat menentukan “bagaimana caranya” mengampuni manusia. Implikasinya, penebusan adalah “cara” Allah untuk mengampuni manusia karena manusia berdosa kepada Allah.

Allah dapat saja hanya “memaafkan” manusia. Akan tetapi, cara memaafkan akan tergolong murahan dan sangat tidak manusiawi. Coba bayangkan, ada seorang yang membantai satu keluarga, dan sanak keluarganya hanya perlu “memaafkan” saja orang yang membunuh keluarganya. Lalu di mana keadilan dan hukum? Bukankah meski kita telah memaafkan pembunuh, proses hukum tetap berjalan? Jadi, penebusan itu memuaskan Allah secara keadilan, hukum, dan kasih, dan memuaskan manusia secara keadilan dan hukum. Manusia tidak dipuaskan secara kasih, karena kasih itu hanya milik Allah. Ingatlah tulisan Yohanes: “Karena Allah begitu ‘mengasihi’ dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3;16).

Kedua, “kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya”. Nah, secara logis, pernyataan ini sudah menjawab pertanyaan tersebut. Jawabannya ada pada klausa “tidak ada yang mustahil bagi-Nya”. Bukankah ketika mengatakan “tidak ada yang mustahil bagi-Nya”, penanya sedang menjawab pertanyaannya sendiri? Karena “tidak ada yang mustahil bagi-Nya” maka kita harus menerima “cara” Allah menebus dosa melalui “pengurbanan Yesus Kristus”. Bukankah “tidak ada yang mustahil bagi-Nya?” Tuhan tentu berhak menentukan cara apa pun untuk menebus karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya bukan?

Ketiga, “kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya”. Pernyataan ini juga menjawab pertanyaan si penanya. Kalau Allah itu Imanen dan Transenden, bukanlah Yesus adalah Allah yang imanen (di dalam) ciptaan-Nya untuk menebus dosa manusia? Frasa “tidak terbatas ruang dan waktu” justru meneguhkan bahwa cara penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, karena Allah tidak terbatas ruang dan waktu; Ia dapat melakukan cara-cara yang tidak dapat diintervensi manusia. Karena Ia tidak terbatas ruang dan waktu, maka Ia berhak mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk tujuan menebus umat-Nya dari dosa-dosa mereka.

Frasa “di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya” juga menjawab pertanyaan si penanya. Mengapa? Karena Allah bisa di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya, maka keberadaan Yesus di dalam dunia meneguhkan imanensi Allah itu sendiri. Allah ingin menyapa manusia secara relasional  tanpa ada batasan ruang dan waktu; dan Yesus Kristus adalah bukti bahwa Allah peduli kepada dunia dengan cara yang tidak lazim, “INKARNASI”. Dengan demikian, penebusan itu adalah hak mutlak Allah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa yang mengikatnya. Manusia berdosa dan berutang kepada Allah, maka Ia berhak menebus manusia dengan cara-Nya sendiri dan membayar utang dosa dengan cara-Nya sendiri pula.

(2) KATEGORI ANALOGI DOKUMENTATIF—FAKTUAL

Pertanyaan “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya” secara analogi dokumentatif—faktual sebenarnya telah “gagal” pada dirinya sendiri. Pertama, setiap pertanyaan harus melihat apakah peristiwa itu sudah terjadi atau belum. Mengatakan “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan” sebenarnya tidak perlu karena peristiwa “pengurbanan Yesus di kayu salib” sudah terjadi. Sama halnya dengan mengatakan “mengapa Adam dan Hawa makan buah yang dilarang Tuhan”? Peristiwa berdosanya Adam dan Hawa karena makan buah yang dilarang Tuhan adalah peristiwa yang telah terjadi, maka tidak perlu membuat pertanyaan semacam itu, karena tidak akan mengubah sejarah itu sendiri. Kedua, berdasarkan pemahaman pertama, maka pernyataan berikutnya dari pertanyaan di atas mengalami hal yang sama.

(3) KATEGORI BIBLIKAL

Pertanyaan “Kenapa Tuhan tidak memaafkan saja manusia tanpa harus perlu pengorbanan; kenapa repot-repot turun dari sorga, padahal tidak ada yang mustahil bagi-Nya.. kan Allah yang Imanen dan Transenden, tidak terbatas ruang dan waktu, di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-Nya” adalah pertanyaan bersayap. Di satu sisi mempertanyakan dan sekaligus menawarkan cara lain untuk menghindar dari cara Allah yaitu “pengurbanan”, dan di sisi lain, memahami pengurbanan Yesus sebagai cara yang tidak perlu karena ada cara lain yang lebih baik yaitu hanya dengan cara “memaafkan” saja dosa-dosa manusia.

Penebusan adalah tata cara Allah untuk mengajar manusia bahwa dosa berakitab fatal. Ketika dosa hanya diampuni dengan cara memaafkan, maka sebenarnya itu bukan cara Allah, melainkan cara manusia untuk memperingan hukuman atas dosanya. Sebagaimana manusia berdosa kepada Allah, maka tentu kedaulatan menentukan bagaimana cara menebus manusia dari dosa-dosa terletak pada kedaulatan dan hak Allah itu sendiri.

Alkitab secara gamlang menjelaskan bahwa kurban-kurban dalam PL merupakan tata cara penebusan dosa, kesalahan, dan pelanggaran mausia. Kurban-kurban dalam PL diwujudnyatakan dalam diri Yesus Kristus. Darah dan nyawa dipersembahkan kepada Allah sebagai syarat untuk menunjukkan kasih, keadilan, dan hukum Allah, sehingga dengan itu, manusia dapat melakukan keadilan dan hukum bagi manusia yang telah berbuat dosa, kesalahan, dan pelanggaran. Sebagaimana yang kita lihat bahwa ketika manusia melanggar hukum, maka ia harus dihukum. Ketika manusia melanggar hukum dan hanya dimaafkan saja, maka kejahatan manusia akan bertambah banyak. Dengan cara menebus saja manusia makin berdosa, bagaimana nasibnya jika dosa manusia hanya dimaafkan saja?

Pengurbanan Yesus saja kadang tidak dihargai, bagaimana nasibnya dengan pengampunan dengan cara memaafkan yang tidak ada sesuatu pun yang dikorbankan?

Salam Bae….

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/632615078903497400/

SUPREMASI IMPLIKASI ALKITAB DALAM SEJARAH

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/gGbuETcoKjw (Ben White@benwhitephotography)

Supremasi Alkitab terletak pada tiga aspek: Pertama, pengaruhnya yang mengubah manusia (dari jahat menjadi baik) untuk percaya kepada Yesus Kristus, Juruselamat Dunia. Kedua,  beritanya, yaitu mengembalikan manusia kepada Sang Khalik, hidup kudus, benar, adil, penuh kasih, dan suka mengampuni. Ketiga,  penyebarannya  yang sangat masiv dilakukan oleh murid, orang-orang percaya, penginjil, teolog, pelayan Gereja, guru, dan lain sebagainya. Sejarah telah membuktikan hal itu.

Supremasi tersebut tetap konsisten dan bertahan hingga sekarang ini. Miliaran umat Kristen menerapkan konteks suprematif Alkitab pada dunia mereka masing-masing, mempengaruhi budaya, menata kehidupan yang kudus dan benar, dan masih banyak lagi. Kita sendiri mungkin menyadari bahwa tanpa Alkitab, hidup kita menjadi liar, tak terkendali, atau bahkan hilang dari jalan Tuhan.

Jika Alkitab sedemikian rupa mengubah kita, sudah selaknyalah kita hidup dalam perenungan akan firman-Nya, hidup di dalam-Nya dan mengikuti anjuran serta prinsip iman yang ditetapkan oleh Alkitab. Tuhan mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya harus hidup di dalam firman-Nya, bertumbuh, berakar, dan berbuah lebat, dalam seluruh aspek kehidupan yang dijalani.

W. Gary Crampton menyatakan, “hanya Alkitab yang menyatakan jalan keselamatan (1 Kor. 15:3, 4; Kis. 11:13, 14). Alkitab memberi seseorang pengetahuan tentang Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12). Alkitab juga merupakan firman Allah yang membawa individu untuk menyetujui kebenaran dari berita Alkitab (Yoh. 4:41; Kis. 17:11, 12). Alkitab adalah apa yang meyakinkan manusia tentang dosa mereka dan memimpin mereka kepada Kristus, menyebabkan mereka beriman kepada Kristus (Ibr. 4:12; Gal. 3:22-24). Melalui Alkitab seseorang lahir kembali (1 Ptr. 1:23; Yak. 1:18).”

Prinsip-prinsip Alkitab selalu menekankan cara hidup yang berkenan kepada Allah. Bagi Crampton, Alkitab merupakan sarana utama pengudusan dalam kehidupan orang Kristen. Roh Kudus bekerja di dalam dan melalui Alkitab yang dihembuskan Allah untuk menguduskan anak-anak Allah (2 Tes. 2:13). Tanpa suatu pemahaman mengenai firman Allah tidak mungkin seorang Kristen mengetahui bagaimana ia harus dengan suatu sikap yang menyenangkan Tuhan. Crampton juga menegaskan bahwa Alkitab memberi aturan iman dan hidup bagi kita. Alkitab merupakan sumber dari semua pengetahuan (Mzr. 19:7; Ams. 2:6). Alkitab mengajar orang kudus bagaimana berjalan dalam jalur kebenaran (Mzr. 23:3). Alkitab menjadi sumber kekuatannya (Mat. 4:4; Kis. 20:32).

Michael Keene menegaskan: Alkitab merupakan batu pijakan dari dua agama, Yudaisme dan Kristianitas, dan merupakan satu karya sastra klasik agung dunia…. Pengaruh Alkitab terhadap dunia tak dapat terhitung banyaknya. Alkitab berisi puisi-puisi sangat indah, kisah-kisah sengsara, dan karakter yang mengesankan. Pengaruhnya atas seni dan sastra Barat meluas melampaui bidang agama. Alkitab merupakan buku yang paling luas diterjemahkan, dicetak, didistribusikan, dan paling laku sepanjang segala masa. Alkitab telah bertahan ribuan tahun. Dan providensia Tuhan atasnya telah menjadia bagian terhadap bertahannya Alkitab. Alkitab adalah pesan Tuhan bagi seluruh umat manusia dan oleh karena itu, Alkitab telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa agar makna dan pesan-pesan moral serta keselamatan dapat dipahami oleh semua orang di seluruh dunia. Menurut Keene, Alkitab adalah sekumpulan buku yang ditulis pada zaman berbeda dan oleh banyak pengarang yang berbeda. Tidak satu pun dari manuskrip asli masih bertahan. Para ahli telah mencoba menemukan teks Alkitab yang paling awal dan paling dapat dipercaya.

Berkenaan dengan konteks tersebut, Keene menjelaskan signifikansi dari terjemahan Alkitab:

Terjemahan kitab suci Yahudi paling awal adalah Septuaginta (juga dikenal dengan LXX), yakni terjemahan dari bahasa Ibrani ke Yunani untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia yang berbicara bahasa Yunani dan sudah tidak dapat berbicara bahasa Ibrani. Terjemahan ini menjadi dasar bagi banyak penerjemahan sesudahnya, terutama versi Vulgata dari bahasa Latin oleh St. Hieronimus tahun 382 SM yang begitu berpengaruh. Penerjemahan kitab suci Yunani yang menggunakan teks Ibrani secara umum diambil dari versi Masoretes. Masoretes adalah sekelompok ahli Yahudi yang bekerja antara tahun 500 – 1000 M, yang menambah huruf-huruf vokal pada teks Ibrani yang, sampai saat ini, terdiri dari huruf konsonan. Untuk mempertahankan kemurnian teks kuno para ahli Masorete menambah tanda baca di atas dan di bawah baris-baris tulisan sehingga tidak mengganggu teks. Karya Masorete dapat diuji dengan membandingkannya pada beberapa gulungan-gulungan Kitab dari Laut Mati – manuskrip-manuskrip yang kira-kira 1000 tahun lebih tua daripada versi kitab suci Ibrani apa pun. Perbandingan itu hanya berfungsi untuk mempertinggi penghormatan kita bagi kepercayaan akan teks lain, yang jauh lebih tua, yakni teks Ibrani yang kita miliki.

Berkenaan dengan teks PB, Keene mengemukakan:

Ada beribu-ribu manuskrip Perjanjian Baru. Sebenarnya manuskrip yang sungguh-sungguh paling tua sampai sekarang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Ada juga penggalan-penggalan papirus yang berasal dari abad ke-2 dan ke-3 M. Manuskrip-manuskrip lain terdapat pada perkamen dan semuanya itu dijilid dalam bentuk buku (naskah kuno/codex). Manuskrip-manuskrip itu melengkapi teks terus-menerus, baik dalam bentuk huruf kapital (upper-case-letters) maupun huruf kecil (lower-case-letters). Dalam naskah-naskah kuno ini tidak ada ruang antarkatam tanpa tanda-tanda baca, dan tanpa pemisahan ke dalam bab dan ayat. Huruf kapital yang paling penting adalah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus dari abad ke-4. Codex Bezae berisi teks keempat Injil dan Kisah Para Rasul berbahasa Yunani maupun Latin. Penggalan-penggalan paling awal dari manuskrip papirus adalah kutipan singkat dalam Yohanes 18 yang ditemukan di Mesir dan diterbitkan tahun 1935; penggalan ini kira-kira berasal dari tahun 135 M.

Mengenai penerjemahan Alkitab, Keene menguraikan:

Setiap terjemahan Alkitab merupakan suatu interpretasi. Tidak ada naskah tunggal asli yang oleh para penerjemah diterjemahkan secara sama. Bahkan teks-teks yang paling awal pun sering memberikan beberapa kemungkinan terjemahan kata-kata, frase atau bagian tunggal. Para ahli terus-menerus membuka kemungkinan baru. Para penerjemah selalu perlu membuat penilaian yang didasarkan pada kejelasan yang ada. Inilah salah satu alasan mengapa begitu banyak terjemahan yang berbeda telah dibuat.

Terjemahan-terjemahan Awal

Lama sebelum kanon-kanon Perjanjian Lama dan Baru disetujui, terjemahan telah dibuat ke dalam bahasa-bahasa lain. Yang paling penting adalah Septuaginta (dari Ibrani ke Yunani), Peshitta (dari Ibrani ke Syria), dan Vulgata (dari Ibrani ke Latin). Targum adalah terjemahan dari Ibrani ke Aram.

Terjemahan ke dalam Bahasa Inggris

Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris memberi perhatian besar pada karya William Tyndale (1494–1536). Persaingan antara Alkitab Para Uskup dan Alkitab Geneva telah membawa Raja James I ke komisi Versi Alkitab yang Berwibawa, yang muncul tahun 1611. Versi yang direvisi, tahun 1881, mencoba memperbaiki Versi yang Berwibawa, dan Versi Standar yang Direvisi, pada tahun 1952, yang menyingkirkan beberapa arkhaisme. Jerusalem Bible, yang digunakan Gereja Katolik Roma, diterbitkan tahun 1966, sementara Alkitab Inggris Baru, pertama kali diterbitkan 1961, kemudian direvisi sebagai Alkitab Inggris yang Direvisi tahun 1989. Good News Bible (1976) dan New International Version (1978) keduanya terbukti menjadi begitu populer di antara para pembaca Evangelis.

Hingga sekarang ini, Alkitab memiliki banyak terjemahan. Pesan dan maknanya tidak berubah. Perbedaan terjemahan adalah lazim dalam dunia tulis-menulis. Namun, fokusnya bukan pada perbedaan satu atau dua kata, melainkan pada skema besar yang mengandung pesan dan makna dari kasih, kuasa, dan kemurahan Allah di dalam Kristus Yesus bagi manusia berdosa. Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa Alkitab memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memberikan pengaruh kepada banyak orang untuk datang kepada Yesus, mengubah perilakunya sesuai dengan prinsip dan ajaran Alkitab. Dan Alkitab memiliki implikasi kokoh bagi kehidupan orang percaya.

Salam Bae….

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU: Masturbasi Teologi dan Proposisi Negatif Ignoransi Muhammad Yahya Waloni (Bagian 15)

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/NaWKMlp3tVs (Samantha Sophia@samanthasophia)

Banyak kesalahan, kebodohan, dan “ketololan” yang disampaikan oleh Waloni dalam bukunya. Dia mencampur adukan berbagai teori yang dia ciptakan sendiri dan membuat pembaca sulit mencernanya, sebab cara menulisnya seperti “kutu loncat”. Klaim-klaim yang disodorkan Waloni adalah klaim-klaim lepas tanpa dasar sama sekali. Kesulitan mencerna ajaran-ajaran Waloni merupakan gambaran dari citra diri yang paling kotor dari seorang akademis yang menyandang doktor, apalagi Waloni adalah mantan pendeta.

Saya mengkaji dan menjawab berbagai tuduhan Waloni berkenaan dengan kredibilitas Alkitab, mengklaim bahwa Alkitab omong kosong, penuh tipuan dan sebagainya. Kita tidak menemukan ulasan atau tuduhan Islam yang baik mengenai Alkitab. Distorsi-distorsi argumen tampaknya menjadi “makanan siap saji” bagi para penganut Islam. Waloni mengaitkan Nasrani yang dibawa oleh Isa, lalu Saulus yang merekayasa menjadi Kristen. Waloni menjelaskan pendapat dari E. Lolowang mengenai PB, menegaskan kata “Nasrani”, mengutip Kisah Para Rasul 11:26, ia kemudian menjelaskan, lalu menegaskan bahwa Injil telah direkayasa oleh Paulus, dan kemudian menyinggung soal Naskah Laut Mati lalu mengutip beberapa tokoh yang menolak Injil dan ajaran Kristen. Berikut saya kutip pernyataannya (halaman 75-80):

“…. Dan sebaliknya, beliau [Pdt. Dr. Willy E. Lolowang, M.Th. – jika Waloni mengutip secara benar pernyataan Lolowang, maka ulasan saya berikut akan menyanggah argumentasi Waloni dan Lolowang, karena saya tahu persis apakah Lolowang menyatakan demikian atau tidak. Tetapi karena demikianlah yang ditulisakan oleh Waloni dalam bukunya, maka sanggahan saya juga sangat keras] banyak menyalahkan sekaligus menvonis bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus dalam “Bibel Kristen” tidak “Rasional”. Bahkan beliau pernah mengatakan bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus adalah merupakan pernyataan orang “SINTING”. Menurut beliau, Bibel Kristen sukar dipahami dan terkesan ambisius, ekstrimis, dan egoistis, dalam memperjuangkan maksud serta rencananya untuk membangun agama atau keyakinan yang tanpa izin dari Allah.

…. Dan Islam (yang diajarkan oleh nabi dari Bani Ismail) adalah untuk semua bani/keturunan di dunia. Sedangkan kitab Perjanjian Baru, menurut beliau, hanya untuk umat Kristen…. Tapi “Nasrani yang dimaksud adalah menunjukkan pada keyakinan umat Israel yang dibawa oleh Nabi Isa As…. Kemudian dia [Saulus] merekayasa sekaligus memutar-balikkan fakta sejarah agama “Nasrani” dengan agama yang dibangunnya sendiri yaitu Kristen. Agama ini pertama kali diresmikan di Antiokhia (Syria) sebagaimana tertulis dalam kitab suci Kristen (Perjanjian Baru) “Kisah Para Rasul 11:26” yang berbunyi:

Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kali disebut kristen. (Kisah Para Rasul 11:26)

Kata “murid-murid” dan kata “banyak orang” di dalam ayat ini sama sekali bukan menunjukkan pada murid-murid Isa As dan Pengikutnya, melainkan “suatu perkumpulan orang-orang yang telah berhasil dicuci otak” oleh Saulus. Saulus kemudian mengubah namanya menjadi Paulus…. Mereka [Kristen] tanpa rasa malu terus menerus membawa-bawa cerita dongeng, seolah-olah Kristen adalah sebuah agama lanjutan dari Nabi Isa As. Begitu juga, dengan isi berita Injil Isa. Injil juga direkayasa olehnya (Paulus) sehingga menjadi Perjanjian Baru (New Testament). Kitab ini (Perjanjian Baru) adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul.

Dengan demikian, agama yang dibawa Isa As. dan para mengikutnya lenyap dari muka bumi karena telah diganti dengan agama Paulus yaitu “Kristen”… tanpa sadar mereka [pengikut Paulus] menyebut-nyebut kitab buatan Paulus (Perjanjian Baru/Bibel Kristen) seolah-olah Injil Isa As. padahal yang sebenarnya, kitab tersebut hanyalah rekayasa dan omong kosong para ahli kitab (filsuf) dari Yahudi dan Yunani….

Yahudi adalah bangsa yang tidak punya pendirian. Mereka dengan mudah menjual hak keselamatan kepada bangsa Romawi. Akibatnya mereka menjalin kerja sama dengan bangsa Romawi untuk mengubah kitab Musa As. dan para nabi lainnya menjadi “Perjanjian Lama”. Apabila ditelusuri, hanya 30% (tiga puluh persen) cerita di dalamnya hampir mirip dengan Al-Qur’an, sedangkan yang tujuh puluh persennya adalah “dusta belaka”.

Dari kenyataaan ini, muncul ide (dalam otak Paulus) untuk membangun agama baru yang menyerupai agama yang dibawa oleh Nabi Isa As (Nasrani) dengan cara merekayasa semua tulisan pada murid Isa As. yang berisi perkataan Nabi Isa As yang pernah disampaikan kepada para murid-Nya. Namun sayang, kitab Injil tersebut telah hilang dimusnahkan. Itu sebabnya, ketika ditanyakan disimpan di manakah naskah asli Kitab Suci Injil? Manusia-manusia pengikut Paulus menjawab: “Naskah asli Injil disimpan di Laut Mati.”

Berikut ini adalah beberapa tokoh ternama di kalangan Kristen yang menyimpulkan bahwa ajaran Kristen tidak memiliki bukti-bukti yang kuat/akurat yang diusung Waloni.

Uskup Agung Profesor Jenkins, pemimpin Gereja tertinggi keempat di Inggris, yang tidak takut kehilangan jabatan dengan menyatakan: kebangkitan Yesus dari kubur, sesungguhnya tidak pernah terjadi.

Jhon Alegro, anggota tim pencari Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrools) dipecat karena mengemukakan naskah yang dianggap rawan dan dapat mengguncangkan keimanan umat Kristen.

Rev. Dr. Charles Francis Potter, yang membuktikan bahwa dari Naskah Laut Mati bahwa Roh Kudus sebagai oknum yang disembah, tidak dikenal di zaman Yesus.

Robert W. Funk, Profesor Ilmu Perjanjian Baru di Universitas Harvard bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang dihujat umat Kristen Amerika dan dunia karena membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli.

Dr. Barbara Thiering, Guru besar Universitas Sidney Australia yang dihujat para umat Kristen karena dari hasil penelitiannya selama 20 tahun terhadap Naskah Laut Mati, menemukan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib.

Prof. Davis Freedrich Strauss, yang dipecat seumur hidup sebagai guru besar agama Kristen karena mengatakan bahwa kitab Perjanjian Baru Kristen adalah fakta dongeng dan khayalan.

Masih banyak kisah sejarah para teolog Kristen yang memfonis Kitab Suci Kristen “bukan firman dari Tuhan.” Akhirnya, dengan keputusan yang benar mereka pergi meninggalkan “Iman Kristen” dan memeluk agama “Islam” sebagai agama dari Allah SWT.

Analisis ini didasarkan pada kutipan pernyataan Waloni di atas:

Pertama.

“…. Dan sebaliknya, beliau [Pdt. Dr. Willy E. Lolowang, M.Th.] banyak menyalahkan sekaligus menvonis bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus dalam “Bibel Kristen” tidak “Rasional”.

Sanggahan saya adalah Willy E. Lolowang tidak memahami natur dari Alkitab itu sendiri apalagi dengan mengatakan bahwa argumentasi Paulus tidak rasional. Saya mau bertanya, apakah semua tulisan Paulus tidak rasional? Tentu orang Kristen tidak mempercayainya semudah Lolowang mempercayainya sebab dasar pijakan Lolowang berbeda dengan saya dan sangat disayangkan, doktor seperti Lolowang berani mengambil kesimpulan terbodoh di dunia yang juga diikuti oleh Waloni. Sebaiknya belajar lebih dalam lagi mengenai Paulus. Jangan hanya belajar sedikit lalu bicaranya banyak dan mengklaim ini dan itu. Apakah perkataan Paulus berikut ini tidak rasional?

“dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4)

Bukankah ayat di atas yang dimaksudkan Paulus bahwa setiap jemaat di Filipi tidak boleh egois? Mengatakan bahwa tulisan Paulus tidak rasional sebaiknya didasari pada penelitian sejarah, teologi dan logika sehingga Lolowang dan Waloni tidak mengambil kesimpulan prematur yang dapat berakibat buruk bagi jati diri dan nama baik seorang doktor

Kedua.

Bahkan beliau [Lolowang] pernah mengatakan bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus adalah merupakan pernyataan orang “SINTING”.

Sebenarnya yang sinting itu Lolowang, dan yang lebih sinting lagi adalah Waloni karena percaya pada ucapan orang sinting. Jika mengatakan sinting, sebaiknya dijabarkan hal-hal apa saja yang dianggap sinting oleh Lolowang terhadap tulisan-tulisan Paulus. Apakah orang sinting dapat mengatakan hal-hal berikut ini?

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu.

Roma 2:6-11. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Roma 12:9-10. Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

Roma 12:14, 17. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Roma 12:19-21. Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Efesus 4:28-29. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Efesus 6:1-4. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

Hanya orang sinting yang menganggap ayat-ayat di atas ditulis oleh orang sinting. Dan orang sinting itu adalah Lolowang dan Waloni.

Ketiga.

Menurut beliau [Lolowang], Bibel Kristen sukar dipahami dan terkesan ambisius, ekstrimis, dan egoistis, dalam memperjuangkan maksud serta rencananya untuk membangun agama atau keyakinan yang tanpa izin dari Allah.

Memang Alkitab sulit dipahami jika seseorang yang otaknya ada pasir dan kerikil. Saya kira, orang seperti itu hanya mencari sensasi dan kurang kerjaan. Tidak ada yang ambisius, ekstrimis dan egoistis. Justru Al-Qur’an adalah egoistis, ambisius dan ekstrimis yakni menganggap orang Kristen adalah kafir (egoistis dan ekstrimis) dan memancung batang leher orang kafir di mana pun dijumpai (ekstrimis), dan masih banyak lagi. Saya kira, klaim Lolowang yang dikutip Waloni adalah keliru dan mengeneralkan Alkitab. Semua kitab suci agama manu pun perlu dipelajari sebaik mungkin untuk menghindari kesalahpahaman sejarah, maksud dan tujuan dari penulisannya. Maka, kita harus bijaksana dalam memahami isi Alkitab sebab zamannya berbeda, budayanya berbeda, situasi dan kondisinya berbeda, bahasanya berbeda, dan sebagainya.

Keempat.

…. Dan Islam (yang diajarkan oleh nabi dari Bani Ismail) adalah untuk semua bani/keturunan di dunia. Sedangkan kitab Perjanjian Baru, menurut beliau [Lolowang], hanya untuk umat Kristen….

Ini pernyataan yang aneh. Islam untuk semua keturunan dunia? Bukankah dalam Al-Qur’an juga dimuat kisah-kisah dalam PL dan PB, dan dengan demikian menjadikan PL dan PB adalah untuk semua keturunan di dunia? Ini kesimpulan apa? Kristen adalah untuk semua umat di dunia, suku bangsa di dunia sesuai dengan perintah Yesus: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kesimpulan Lolowang ini terlalu dipaksakan dan berdampak pada munculnya kebodohan. Mengatakan bahwa PB untuk orang Kristen saja, sama saja dengan mengatakan bahwa AL-Qur’an hanya untuk orang Islam saja. Sebaiknya Lolowang dan Waloni merenung dulu di pinggir pantai.

Kelima.

Tapi “Nasrani yang dimaksud adalah menunjukkan pada keyakinan umat Israel yang dibawa oleh Nabi Isa As….

Kesimpulan Waloni di atas tidak ada dasar sejarahnya. Jika saja Waloni menunjukkan sumber-sumbernya maka saya akan menggunakan sumber-sumber sebagai pembuktiannya. Nama “Nasrani” muncul satu kali dalam Alkitab yakni di Kisah Para Rasul 24:5

Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani.

Mari kita melihat beberapa tafsiran dari ayat di atas. C. van den Berg menjelaskan:

Tertulus menyebut Paulus sebagai: Pengacau yang menghasut semua orang Yahudi di seluruh dunia supaya memberontak…. Pembawa aliran baru, seorang tokoh dari aliran Nasrani, yakni sekte pengikut Yesus orang Nazaret itu. Nada ejekan terdengar dalam kata “Nasrani” itu. Apakah mungkin sesuatu yang baik datang dari Nazaret (bdk. Yoh. 1:14; 7:41).

Dari tafsiran van den Berg, tampak bahwa “Nasrani” diidentikan dengan “sekte” [bidat] pengikut Yesus dari Nazaret. Maka, tuduhan Waloni bahwa “Nasrani” diganti oleh Paulus menjadi “Kristen” sama sekali salah, karena Waloni tidak menjelaskan dasar sejarahnya. Bagaimana mungkin Paulus menggantikan “Nasrani” dengan “Kristen” sedangkan ia sendiri dijuluki Nasrani, sekte pengikut Yesus dari Nazaret?

Menurut H. v. d. Brink, sebutan Nasrani adalah sebuah partai, begitu juga dengan Simon J. Kistemaker.  Kistemaker menjelaskan:

“the word Nazarene is usually rendered ‘of Nazareth’. The Jews identified Christians as followers of Jesus the Nazarene, but why did Tertullus speak of the Nazarene sect? ‘It is conjectured that in pre-Christian times a Nazorean party of Jewish sectaries was  known for a close observance of ascetic rules of conduct. Perhaps this party was taunted with the name Nazoraioi by orthodox Jews, who by Christian times applied the term of disrespect, knowingly or ignorantly, to the new Christian sect’ (David H. Wallace, “Nazarene”, International Standard Bible Encyclopedia, rev. ed., Volume 3, p. 500, dikutip oleh Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Acts, [Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007, sixth printing], 837).

Tertullus attempts to portray the so-called Nazarene sect as a political party, but he fails, because Felix is acquainted with the Christian faith (v. 22). (Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Acts, (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007, sixth printing), 837)

David G. Peterson menjelaskan, “the term ‘Nazorean’ was normally applied to Jesus (2:22; 3:6; 4:20; 6:14; 22:8; 26:9), but here in the plural to his followers (David G. Peterson, The Acts of the Apostles, The Pillar New Testament Commentary [PNTC], [Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company; Norton Street, Nottingham England: APOLOS, 2009], 632).

Ναζωραίων (Yun. [Nazoraion]) berarti orang Nazaret, nama bagi pengikut Yesus dari Nazaret juga dipahami sebagai: an inhabitant of Nazareth, a title given to Jesus in the NT dan a name given to Christians by the Jews (Ac. 24:5) (OLB Lexicon-Greek, dalam Sabda 4 versi Elektronik.). R. S. Rayburnmenjelaskan: “According to Tertullian (Against Marcion iv, 8), it continued to serve Jews as a name for Christians. Later it was used by the Persians and Muslims” (R. S. Rayburn, dalam Walter A. Elwell, Evangelical Dictionary of Theology: Second Edition), dalam Stenly R. Paparang, Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa, [Jakarta: Delima, 2013], 187).

Itu berarti, Nasrani (Nazoraios) memiliki arti yang sama dengan sebutan “Kristen” (Christian). H. H. Schaeder juga menjelaskan latar belakang Nazōraíos (Nazarenós [of Nazareth], atau Nazarene), termasuk sebutan Nasrani kepada Paulus dalam Kisah Para Rasul 24:5 di mana kata tersebut memiliki makna yang sama dengan sebutan “Kristen”. Jadi kedua kata tersebut sebenarnya tidak perlu dipersoalkan sebab keduanya memiliki sumber yang sama yakni Yesus Kristus. Menyebut Nasrani berarti pengikut Yesus dari Nazaret (sebutan Yesus yang umum dipakai dalam PB) dan menyebut Kristen berarti pengikut atau pengiring [Yesus] Kristus:

Jesus is called Nazarēnós in Mark 1:24; 10:47; Luke 4:34, and Nazōraíos in Matthew 2:23; 26:69; Luke 18:37. Paul is linked to the sect tn Nazōraíōn in Acts 24:5. A connection with Nazareth is presupposed in Mark, Luke, and John (also Nazarét and Nazará; cf. Mt. 4:13; Lu. 4:16). Comparison of Matthew 26:69; 26:71 shows that Nazōraíos and Galilaíos mean much the same thing (cf. Ac. 1:11)…. Whether or not the use of Nazarēnós or Nazōraíos for Jesus and the first Palestinian Christians underlies the term adopted by Christians in Syria, Persia, Armenia, etc. is much debated, and attempts have been made to trace an earlier sect of Nasaraíoi…. The pre-Christian Jewish sect of Nasarenes is known only from Epiphanius (Against 80 Heresies 18, 29.6), who carefully distinguishes them from the Jewish Christian Nazōraíoi…. One may conclude that the term Nazōraíos derives from the city of Nazareth as the hometown of Jesus (H. H. Schaeder, IV, 874-79, dalam Software Sabda 4 versi Elektronik.).

F. F. Bruce menafsirkan Kisah Para Rasul 24:5 (tentang sekte orang Nasrani): penjelasan yang paling baik untuk ini ialah bahwa orang Kristen mendapat nama itu dari nama Yesus orang Nazaret. Dalam  bahasa Ibrani dan Arab sampai sekarang orang Kristen masih disebut orang Nasrani. Dengan demikian, kata “Kristen” sama artinya dengan “Nasrani” (Nazarene atau Nazoraean), di mana kedua kata tersebut diartikan sebagai “the followers of Jesus” (Bruce) (para pengikut Yesus [dari atau orang Nazaret, Nazoraios (Stanley E. Porter, Jeffrey T. Reed, and Matthew Brook O’Donnell)] seperti yang tampak dalam elaborasi PB).

F. D. Wellem menyebutkan bahwa “Nazaren” atau “Nasrani” menunjuk pada kota kelahiran Yesus. Di sini Nazaren sama dengan Nazaret. Istilah ini juga dipergunakan untuk orang-orang Kristen pada mulanya (Kis. 24:5) dan terus dipergunakan untuk beberapa abad kemudian. Menurut Wellem, orang-orang Islam masih terus mempergunakan sebutan Nasrani kepada orang-orang Kristen. Tulisan-tulisan Yahudi memakai istilah Nozerin. Istilah ini juga dikenakan pada sekelompok orang Kristen Yahudi di Siria.

A. F. Walls juga menjelaskan mengenai kata ini:

Menurut Markus, sebutan ‘orang Nazaret’ (Nazarenos) digunakan untuk Tuhan Yesus oleh roh-roh jahat (Mrk. 1:24), orang banyak (Mrk. 10:47) hamba perempuan (Mrk. 14:67), dan kurir kebangkitan (Mrk. 16:6). Tapi Matius, Lukas dan Yohanes biasanya memakai Nazoraios (Mat. 26:71; Luk. 18:37; Yoh. 18:5 dan seterusnya; Yoh. 19:19; Kis. 2:22; 3:6; 4:10; 6:14; 22:8; 26:9). Kedua istilah itu diterjemahkan ‘orang Nazaret’ dalam Alkitab. Nazoraios dipakai juga untuk Yesus dalam Matius 2:23, dan sebagai sebutan populer untuk ‘sekte’ Kristen dalam Kisah Para Rasul 24:5. Istilah ini terus hidup dalam pemakaian Yahudi (bdk. bentuk Palestina tertua dari Shemoneh ‘Esreh, di mana kira-kira pada tahun 100 M kutukan diucapkan terhadap notsrim) dan dalam bahasa Arab, tampaknya sebagai sebutan umum untuk orang Kristen (bdk. R. Bell, The Origin of Islam in its Christian Environment, 1926, pp. 147 dst.).

Dalam Al-Qur’an, orang Kristen disebut dengan istilah yang sama yakni “Nasrani”, seperti dalam Surah 2:62,

“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berduka cita.”

Dari penjelasan beberapa tokoh di atas, maka klaim Waloni bahwa “Nasrani” adalah keyakinan umat Israel yang dibawa oleh Isa As. adalah keliru sebab istilah tersebut hanyalah sebutan bagi para pengikut Yesus Kristen termasuk Paulus, dan kata tersebut sama artinya dengan kata “Kristen” yang berarti “para pengikut Kristus [Yesus]”. Dengan demikian, Paulus tidaklah mengganti nama Nasrani dengan Kristen sebab Paulus sendiri dijuluki sekte Nasrani (Kis. 24:5). Dalam penjelasan Waloni pun, ia tidak menyertakan sumber-sumber mengenai penggantian Nasrani ke Kristen oleh Paulus.

Saya merasa perlu memuat juga tentang latar belakang nama Kristen sebagai pengetahuan tambahan kepada para pembaca. Elaborasi di bawah ini dikemukakan oleh A. F. Walls.

Sebutan ini muncul 3 kali dalam Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 11:26; 26:28; 1 Petrus 4:16. Ketiganya mengandung gagasan bahwa Kristen adalah gelar yang diakui umum pada zaman Perjanjian Baru (PB), sekalipun jelas ada sebutan-sebutan lain yang dipakai oleh orang Kristen sendiri, yang barangkali lebih disukai. Pembentukan sebutan itu agaknya berasal dari bahasa Latin, di mana kata benda jamak yang berakhir pada –iani mungkin menunjuk kepada serdadu dari seorang perwira khusus (umpamanya, “Galbiani”, berarti orang-orang Galba, Tacitus, History 1. 51), dan oleh karenanya berarti pendukung seseorang. Di dalam Injil-injil kita menjumpai istilah “Herodianoi”, yang mungkin adalah pendukung-pendukung atau orang-orang yang dibela Herodes. Karena itu, istilah “Christian(o)I, mungkin mulanya menggambarkan “serdadu-serdadu Kristus”, atau “rumah tangga Kristus”, atau “pendukung-pendukung Kristus”.

Lukas menunjukkan bahwa Antiokhialah jemaat pertama dengan suatu unsur murni non-Yahudi, bekas penyembah berhala; artinya: Yahudi melihat agama Kristen lain dari mazhab Yahudi. Bagaimana pun juga sebutan “Kristen” telah baku pada tahun 60-an. Herodes Agripa yang licik itu memakainya (Kis. 26:28), pasti untuk menyindir Paulus (Mattingley menerjemahkannya, “Segera kamu akan meng-gerakkan aku untuk mendaftarkan diri sebagai Christianus, (H. B. Matingley, Journal of Theological Studies, 9, 1958, pp. 26 etc.). Menurut Tacitus (Annales 15.44 – [Annales adalah suatu sastra kuno]) Nero melancarkan tuduhan-tuduhan palsu terhadap suatu mazhab yang masyarakat umum sedang menyebutnya ”Orang Kristen.”

Walls menguraikan, kata “Chrematisai” dalam Kisah Para Rasul 11:26 ditafsirkan bermacam-macam. Bickerman, dengan menerjemahkannya “menyebut diri mereka”, berpendapat bahwa “Kristen” adalah sebutan yang diciptakan di jemaat Antiokhia (E. J. Bickerman, Harvard Theological Review, 42, 1949, pp. 109 etc.). Terje-mahannya memang mungkin, tapi tidak harus begitu. Agak-nya lebih sesuai jika masyarakat non-Kristen Antiokhialah yang menciptakan sebutan itu. “Chrematisai” sering diter-jemahkan “disebut di depan umum” untuk menunjuk kepada perbuatan resmi dalam mendaftarkan mazhab baru di bawah nama ‘orang-orang Kristen.’ Barangkali Lukas bermaksud tidak lebih dari menunjukkan, bahwa sebutan itu dipakai umum di kota pertama, di mana sebuah sebutan yang menunjukkan perbedaan sangat diperlukan. Dari sini mungkin dengan  cepat dan mudah menjadi resmi dan umum.

Keenam.

Kemudian dia [Saulus] merekayasa sekaligus memutarbalikkan fakta sejarah agama “Nasrani” dengan agama yang dibangunnya sendiri yaitu Kristen. Agama ini pertama kali diresmikan di Antiokhia (Syria) sebagaimana tertulis dalam kitab suci Kristen (Perjanjian Baru) “Kisah Para Rasul 11:26” yang berbunyi: Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kali disebut kristen. (Kisah Para Rasul 11:26). Mengenai klaim Waloni di bagian Keenam ini, sudah terjawab dalam ulasan di bagian Kelima.

Ketujuh.

Kata “murid-murid” dan kata “banyak orang” di dalam ayat ini (Kis. 11:26) sama sekali bukan menunjukkan pada murid-murid Isa As dan Pengikutnya, melainkan “suatu perkumpulan orang-orang yang telah berhasil dicuci otak” oleh Saulus.

Waloni keliru membaca teks Kisah Para Rasul 11. Waloni melupakan ayat 25: Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Paulus ke Antiokhia diajak oleh Barnabas dan mereka berdua tinggal bersama-sama dengan jemaat di situ. Apakah Paulus mencuci otak para murid Antiokhia? Lalu Barnabas di mana? Apakah dia hanya diam saja mendengarkan ceramah cuci otak Paulus selama satu tahun? Waloni, Waloni… ngelantur lagi.

Kedelapan.

Saulus kemudian mengubah namanya menjadi Paulus….

Tidak ada indikasi dalam PB bahwa Saulus mengubah namanya menjadi Paulus. Waloni ternyata buta Alkitab. Kesalahan Waloni bersumber dari keamburadulannya menyampaikan sesuatu yang tidak ada sumber dukungannya. Sayangnya, kebiasaan ini telah merasuki pikiran Waloni yang kotor dan membabi buta. Saulus adalah nama dari dialek Ibrani: “sya’ul” yang berarti “yang diminta”. Paulus adalah nama Romawi. Tidak ada indikasi apa pun dalam Alkitab bahwa Saulus mengubah namanya menjadi Paulus. Nama Saulus pertama kali disebut dalam Kisah Para Rasul 7:50, Paulus pertama kali disebut dalam Kisah Para Rasul 13:9. Saulus terakhir kali disebut dalam Kisah Para Rasul 26:14. Baik Saulus maupun Paulus, sama saja, tergantung dari konteks mana kita melihatnya.

Kesembilan.

Mereka [Kristen] tanpa rasa malu terus menerus membawa-bawa cerita dongeng, seolah-olah Kristen adalah sebuah agama lanjutan dari Nabi Isa As. Begitu juga, dengan isi berita Injil Isa.

Cerita dongeng? Jika PB cerita dongeng, bagaimana mungkin Waloni dan teolog Islam lainnya mengklaim bahwa Muhammad dinubuatkan dalam PB? Waloni keliru memahami sejarah. Waloni berpikir bahwa Isa mendirikan sebuah agama sehingga ia berasumsi bahwa seolah-olah Kristen adalah agama lanjutan dari Nabi Isa As. Sebaiknya Waloni perlu belajar sejarah terlebih dahulu.

Kesepuluh.

Injil juga direkayasa olehnya (Paulus) sehingga menjadi Perjanjian Baru (New Testament).

Tuduhan ini sama sekali tidak ada dasar sejarahnya apalagi sumber yang akurat. Ini hanyalah omong kosong Waloni yang buta sejarah. Saya memakluminya sebab sejak awal saya sudah mengetahui bahwa memang Waloni bukanlah orang yang akuntabel dalam soal tafsir Alkitab dan memahami doktrin Kristen. Istilah Perjanjian Baru bukanlah rekayasa Paulus. Ini kebodohan Waloni tingkat tinggi. Ini membuat saya tertawa. Apakah ilmu seorang doktor Waloni hanya asumsi belaka? Waloni juga tidak menyebutkan hal-hal apa saja dari Injil yang direkayasa Paulus sehingga menjadi PB. Hal ini menambah tingkat kebodohan Waloni sendiri.

Kesebelas.

Kitab ini (Perjanjian Baru) adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul.

Kitab PB terdiri dari 27 kitab. Itu berarti, sesuai dengan klaim Waloni, maka hampir keseluruhan kitab-kitab tersebut dibuat oleh Paulus, sedangkan Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes bukan ditulis oleh Paulus. Kisah Para Rasul bukan ditulis oleh Paulus. Surat Yakobus bukan ditulis oleh Paulus, apalagi surat 1 dan 2 Petrus, 1, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu bukanlah ditulis oleh Paulus. Maka klaim Waloni di atas hanyalah omong kosong belaka. Maklum, orang yang tak memiliki dasar pijakan dan referensi ilmiah, hanyalah mengumbar omong kosong dan asumsi semata. Tuduhan Waloni bahwa Paulus mempertuhankan Isa dan yang di-Yesus-Tuhankan, juga tidak memiliki dasar sejarah. Ini adalah ciri khas orang buta sejarah.

Keduabelas.

Dengan demikian, agama yang dibawa Isa As. dan para mengikutnya lenyap dari muka bumi karena telah diganti dengan agama Paulus yaitu “Kristen”….

Lihat ulasan di bagian Kelima. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya bahwa Yesus tidak mendirikan agama, sehingga tuduhan Waloni di atas sama sekali omong kosong.

Ketigabelas.

“… tanpa sadar mereka [pengikut Paulus] menyebut-nyebut kitab buatan Paulus (Perjanjian Baru/Bibel Kristen) seolah-olah Injil Isa As. padahal yang sebenarnya, kitab tersebut hanyalah rekayasa dan omong kosong para ahli kitab (filsuf) dari Yahudi dan Yunani….

Ada dua keteledoran Waloni: (1), Di bagian Kesebelas, Waloni mengatakan bahwa PB, 99,9% adalah buatan tangan dan otak Paulus, tetapi kemudian dia mengatakan bahwa yang sebenarnya, kitab tersebut hanyalah rekayasa dan omong kosong para ahli kitab (filsuf) dari Yahudi dan Yunani. (2), Waloni mengklaim, “tanpa sadar mereka [pengikut Paulus] menyebut-nyebut kitab buatan Paulus seolah-olah Injil Isa As….” Jelas bahwa asumsi Waloni merupakan tindak lanjut dari keteledoran pertama di atas. Tidak ada orang Kristen yang menduga bahwa kitab buatan Paulus seolah-olah Injil Isa karena Injil-injil bukanlah tulisan Paulus. Ini hanyalah pengakuan yang tidak keruan dan omong kosong Waloni saja.

Keempatbelas.

Yahudi adalah bangsa yang tidak punya pendirian. Mereka dengan mudah menjual hak keselamatan kepada bangsa Romawi. Akibatnya mereka menjalin kerja sama dengan bangsa Romawi untuk mengubah kitab Musa As. dan para nabi lainnya menjadi “Perjanjian Lama”. Apabila ditelusuri, hanya 30% (tiga puluh persen) cerita di dalamnya hampir mirip dengan Al-Qur’an, sedangkan yang tujuh puluh persennya adalah “dusta belaka”.

Klaim Waloni di atas tidak ada dasar sejarahnya. Itu hanya karangan Waloni saja. Istilah Perjanjian Lama bukanlah hasil pemalsuan antara Yahudi dan Romawi. Jika Waloni menuduh bahwa kitab Musa dan kitab para nabi telah diubah, maka tentunya Waloni harus tahu apa saja yang diubah itu, kapan diubah dan siapa nama pelakunya. Sampai kapan pun Waloni tidak dapat menjawabnya berdasarkan kajian ilmiah. Dijamin!

Menurut Waloni, hanya 30% (tiga puluh persen) cerita di dalamnya hampir mirip dengan Al-Qur’an, sedangkan yang tujuh puluh persennya adalah “dusta belaka”. Ini aneh. Sebelumnya Waloni menuduh bahwa Yahudi dan Romawi telah mengubah kitab Musa dan para nabi lainnya, tetapi di sisi lain ia mengakui bahwa 30% mirip Al-Qur’an. Ini membuat saya tertawa geli. Kebodohan Waloni semakin memuncak. Pak Waloni, yang ada lebih dahulu kitab-kitab Musa dan para nabi atau Al-Qur’an? Al-Qur’an-lah yang mirip PL, dan bukan sebaliknya. Itu sama saja mengatakan bahwa ayah mirip anaknya, padahal ayahnya yang lahir lebih dahulu baru anaknya, maka yang benar adalah: anak mirip ayahnya.

Yang rasional saja Waloni tidak dapat mencerna, bagaimana mungkin ia mengakui bahwa ia adalah orang rasional tetapi hukum logika (rasio) saja tidak bisa dipahami? Selanjutnya, menurut Waloni bahwa sisanya (70%) adalah dusta belaka. Sebaiknya pembaca [kita] bertanya kepada Waloni, apa saja yang dusta belaka itu, kapan didustakan dan siapa pelakunya.

Kelimabelas.

Dari kenyataaan ini, muncul ide (dalam otak Paulus) untuk membangun agama baru yang menyerupai agama yang dibawa oleh Nabi Isa As (Nasrani) dengan cara merekayasa semua tulisan pada murid Isa As. yang berisi perkataan Nabi Isa As yang pernah disampaikan kepada para murid-Nya.

Mengenai Nasrani, lihat ulasan di bagian Kelima. Lagi-lagi tuduhan bahwa Paulus merekayasa semua tulisan para murid Isa As. Tuduhan ini, seperti yang saya kemukakan di atas adalah tidak memiliki dasar sejarahnya. Mungkin ini sejarah dari tanah Arab. Perhatikan baik-baik klaim Waloni di atas. Di nomor 11, Waloni mengakui bahwa Perjanjian Baru adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus, tetapi kemudian Waloni mengatakan bahwa Paulus merekayasa tulisan para murid Isa? Tidak “nyambung” otak Waloni. Injil-injil tidak pernah dipalsukan oleh Paulus.

Keenambelas.

Namun sayang, kitab Injil tersebut telah hilang dimusnahkan. Itu sebabnya, ketika ditanyakan disimpan di manakah naskah asli Kitab Suci Injil? Manusia-manusia pengikut Paulus menjawab: “Naskah asli Injil disimpan di Laut Mati.”

Waloni mengutak-atik kalimatnya sampai ia memaksa kalimat-kalimat (klaim-klaimnya) dikaitkan dengan Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls). Tidak ada seorang pun yang bertanya bahwa Injil disimpan di Laut Mati. Sebaiknya kita bertanya: kira-kira menurut Waloni, siapa pelaku yang menyimpan naskah Injil di Laut Mati?

Ketujuhbelas.

Berikut ini adalah beberapa tokoh ternama di kalangan Kristen yang menyimpulkan bahwa ajaran Kristen tidak memiliki bukti-bukti yang kuat/akurat.

Uskup Agung Profesor Jenkins, pemimpin Gereja tertinggi keempat di Inggris, yang tidak takut kehilangan jabatan dengan menyatakan: kebang-kitan Yesus dari kubur, sesungguhnya tidak pernah terjadi.

Jhon Alegro, anggota tim pencari Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrools) dipecat karena mengemukakan naskah yang dianggap rawan dan dapat mengguncangkan keimanan umat Kristen.

Rev. Dr. Charles Francis Potter, yang mem-buktikan bahwa dari Naskah Laut Mati bahwa Roh Kudus sebagai oknum yang disembah, tidak dikenal di zaman Yesus.

Robert W. Funk, Profesor Ilmu Perjanjian Baru di Universitas Harvard bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang dihujat umat Kristen Amerika dan dunia karena membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli.

Barbara Thiering berpendapat, dari hasil pene-litiannya selama 20 tahun terhadap Naskah Laut Mati, menemukan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib.

Prof. Davis Freedrich Strauss, yang dipecat seumur hidup sebagai guru besar agama Kristen karena mengatakan bahwa kitab Perjanjian Baru Kristen adalah fakta dongeng dan khayalan.

Masih banyak kisah sejarah para teolog Kristen yang memfonis Kitab Suci Kristen “bukan firman dari Tuhan.” Akhirnya, dengan keputusan yang benar mereka pergi meninggalkan “Iman Kristen” dan memeluk agama “Islam” sebagai agama dari Allah SWT.

Dari keenam tokoh di atas (dalam pembahasan bagian 24), tak satu pun disebutkan sumbernya dari mana, meskipun saya tahu teori-teori dari beberapa tokoh di atas. Ini adalah kelemahan pertama. Kelemahan kedua adalah, Waloni sama sekali tidak menyinggung mengenai apa saja pembelaan Kristen yang melawan argumen tokoh-tokoh di atas, seperti Jesus Seminar. Banyak buku Kristen yang valid dan jujur yang telah menjawab tuduhan dari Jesus Seminar. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah itu ucapan Yesus atau bukan. Siapa mereka dan apa otoritas mereka? Berikut sanggahan saya terhadap enam tokoh yang disebutkan Waloni di atas (saya mengutip kembali argumen mereka agar pembaca dapat menyerap secara baik sanggahan saya:

PERTAMA:

Uskup Agung Profesor Jenkins yang menyatakan bahwa kebangkitan Yesus dari kubur, sesungguhnya tidak pernah terjadi. Pertama, pernyataan Jenkins adalah pernyataan klasik dan dusta palsu. Mungkin Waloni baru tahu. Argumen bahwa Yesus tidak bangkit dari kubur telah ada sejak peristiwa kebangkitan Yesus, yakni dalam Matius 28:11-15, di mana para penjaga kubur Yesus memberitahukan peristiwa hilangnya Yesus dari kuburan. Tentu dalam konteks ini, peristiwa tersebut adalah peristiwa kebangkitan Yesus dari kubur. Lalu berundinglah imam-imam kepada dan tua-tua dan kemudian menyogok para penjaga untuk menyebarkan berita kehobongan bahwa Yesus tidak bangkit. Saya tidak kaget ketika Profesor Jenkins mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit. Kedua, jika yang dimaksud Waloni adalah Philip Jenkins, maka saya mengutip pernyataan Jenkins dalam mengomentari Apokrifa. Sebelumnya saya menguraikan pendapat dari Origen yang berkaitan dengan konteks tersebut: 

Origen, seorang Bapa Gereja pada abad ketiga, menyampaikan pendapat mayoritas dari kekristenan pada zamannya mengenai Apokrifa PB yang dibandingkan dengan empat Injil: Aku mengetahui sebuah injil tertentu yang disebut “Injil menurut Thomas” dan sebuah “Injil menurut Matthias”, dan banyak lagi yang lainnya yang telah kami baca – supaya kami tidak dianggap orang yang tidak tahu karena orang-orang yang mengasumsikan bahwa mereka memiliki pengetahuan jika mereka paham dengan injil-injil ini. Meskipun demikian, di antara semua injil ini kami hanya mengakui apa yang telah diakui oleh Gereja, yaitu bahwa hanya keempat Injil yang seharusnya diterima.

Philip Jenkins, dalam studi yang lengkap mengenai semua karya ini [kitab-kitab Apokrifa], memberikan kesimpulan yang memiliki banyak kemiripan dengan Origen, “Karena sama sekali bukan merupakan pendapat-pendapat alternatif dari para pengikut Yesus mula-mula, sebagian besar injil yang hilang seharusnya dipandang sebagai tulisan para penentang yang muncul kemudian dan yang memisahkan diri dari Gereja tradisional yang muncul kemudian.

Jadi, menurut Jenkins, injil-injil yang hilang dianggap sebagai “injil” penentang yang memisahkan diri dari Gereja. Tentu kita tahu bahwa “injil” yang lain dari pada pengakuan Gereja bahwa Yesus adalah Tuhan, dianggap sebagai “injil sesat/bidat”, dan harus ditolak dan dibuang.

KEDUA:

Jhon Alegro, anggota tim pencari Naskah Laut Mati dipecat karena mengemukakan naskah yang dianggap rawan dan dapat mengguncangkan keimanan umat Kristen.

Ada beberapa pertanyaan saya kepada Waloni: pertama, naskah apa yang dianggap rawan? kedua, kira-kira tahun berapa Jhon Alegro dipecat? ketiga, apakah hanya Allegro saja ahli Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls)? Penemuan-penemuan terbaru soal Dead Sea Scrolls sudah begitu banyak dan iman Kristen sudah terbiasa dengan penemuan-penemuan tersebut termasuk penemuan-penemuan gadungan. Mungkin beberapa buku Allegro berikut ini yang dimaksud Waloni:

J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Harmondsworth: Penguin, 1956)

J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Pelican A376; Baltimore: Penguin, 1956; 2d ed., 1964)

J. M. Allegro, The Mystery of the Dead Sea Scrolls Revealed, (New York: Gramercy, 1981)

J. M. Allegro, The People of the Dead Sea Scrolls, (London: Routledge and Kegan Paul, 1959).

KETIGA:

Charles F. Potter, yang membuktikan bahwa dari Naskah Laut Mati bahwa Roh Kudus sebagai oknum yang disembah, tidak dikenal di zaman Yesus.

Pertama, sebenarnya kesimpulan Potter tidak begitu penting sebab penemuan Naskah Laut Mati dari Potter sebenarnya meneguhkan Injil-injil PB. Memang Roh Kudus di zaman Yesus bukan sebagai oknum yang disembah, melainkan Yesuslah yang disembah (lihat catatan-catatan Injil). Kedua, dari beberapa buku rujukan (standar) mengenai The Dead Sea Scrolls, saya tidak menemukan nama Charles F. Potter. Mungkin nama tersebut ada di buku yang Waloni rujuk. Buku-buku yang saya periksa adalah:

John Kampen, Wisdom Literature: Eerdmans Commentaries on the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011).

Lawrence H. Schiffman, Qumran and Jerusalem: Studies in the Dead Sea Scrolls and the History of Judaism, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2010).

James C. VanderKam, The Dead Sea Scrolls and the Bible, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2012).

Joseph A. Fitzmyer, A Guide to the Dead Sea Scrolls and Related Literature, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2008).

Michael E. Stone, Ancient Judaism: New Visions and Views, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011).

Yang saya temukan adalah nama Frank C. Porter. Frank C. Porter disinggung oleh Michael E. Stone dalam Ancient Judaism: New Visions and Views, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011), 91 di catatan kaki nomor 5. Judul buku Porter adalah The Messages of the Apocalyptic Writers, (New York: Scribners, 1905). Ada lagi Stanley E. Porter, Profesor Perjanjian Baru di McMaster Divinity College, Hamilton, Ontario Canada, tetapi nama Charles F. Potter tidak saya temukan.

Berikut adalah buku-buku rujukan standar mengenai The Dead Sea Scrolls:

Michael Wise, Martin Abegg Jr., and Edward Cook, The Dead Sea Scrolls: A New Translation, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005).

Martin Abegg Jr., Peter Flint, and Eugene Ulrich, The Dead Sea Scrolls Bible: The Oldest Known Bible Translated for the First Time into English, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1999).

Martin G. Abegg Jr., The Dead Sea Scrolls Concordance, Volume 1: The Non-Biblical Texts From Qumran. One volume in 2 parts, (Leiden: Brill, 2003).

Florentino Garcia Martinez and Eibert J. C. Tigchelaar, The Dead Sea Scrolls: Study Edition, 2 vols., (Leiden: Brill; Grand Rapids: Eerdmans, 1997-98).

Ben Zion Wacholder, Martin G. Abegg, and James Bowley, A Preliminary Edition of the Unpublished Dead Sea Scrolls: The Hebrew and Aramaic Texts from Qumran, 4 vols., (Washington, DC: Biblical Archaelogy Society, 1991-96).

James C. VanderKam, The Dead Sea Scrolls and the Bible, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2012).

James C. VanderKam, The Dead Sea Scrolls Today, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1994).

J. C. VanderKam and P. Flint, The Meaning of the Dead Sea Scrolls: Their Significance for Understanding the Bible, Judaism, Jesus and Christianity, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 2002).

Joseph A. Fitzmyer, A Guide to the Dead Sea Scrolls and Related Literature, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2008).

Joseph A. Fitzmyer, The Dead Sea Scrolls: Major Publications and Tools for Study, (Society of Biblical Literature Sources for Biblical Study [SBLSBS] 8 Missoula, MT: Scholars, 1975).

George J. Brooke, The Dead Sea Scrolls and the New Testament, 217-34, (Minneapolis: Fortress, 2005). Revised edition of “The Wisdom of Matthew’s Beatitudes (4Qbéat) and Mt. 5.3-12.” ScrB 19 (1988-89): 35-41.

R. Eisenman, James the Brother of Jesus: The Key to Unlocking the Secrets of Early Christianity and the Dead Sea Scrolls, (New York: Viking, 1997).

Craig A. Evans, “The Dead Sea Scrolls and the Canon of Scripture in the Time of Jesus”, in Flint, The Bible at Qumran.

D. K. Falk, The Parabiblical Texts: Strategies for Extending the Scriptures among the Dead Sea Scrolls. Companion to the Qumran Scrolls [CQS] 8. Library of Second Temple Studies [LSTS] 63. London: T. & T. Clark, 2007).

Florentino Garcia Martinez and E. J. C. Tigchelaar, “Bibliography of the Dead Sea Scrolls”, Revue de Qumran 18 (1997-98).

Florentino Garcia Martinez, The Dead Sea Scrolls Translated: The Qumran Texts in English, (trans. W. G. E. Watson; Leiden: Brill, 1994).

M. Yizhar, Bibliography of  Hebrew Publications on the Dead Sea Scrolls 1948-1964, (Harvard Theological Studies 23; Cambridge, MA: Harvard University Press, 1967).

R. A. Cloward, The Old Testament Apocryphal and Pseudepigrapha and The Dead Sea Scrolls: A Selected Bibliography of Text Editions and English Translations, (Provo, UT: F.A.R.M.S., 1988).

L. H. Schiffman, Reclaiming the Dead Sea Scrolls: The History of Judaism, the Backround of Christianity, the Lost Library of Qumran, (Philadelphia, PA: Jewish Publication Society, 1994; repr. New York: Doubleday, 1995).

N. A. Silberman, The Hidden Scrolls, Christianity, Judaism & the War for the Dead Sea Scrolls, (New York: Putnam’s Sons, 1994).

R. Price, Secret of the Dead Sea Scrolls, (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1996).

M. Pearlman, The Dead Sea Scrolls in the Shrine of the Book, (Jerusalem: Israel Museum, 1988).

S. Hodge, The Dead Sea Scrolls Rediscovered, (Berkeley, CA: Seastone, 2003).

J. Campbell, The Dead Sea Scrolls: The Complete Story, (Berkeley, CA: Ulysses, 1998).

P. R. Davies, G. J. Brooke, and P. R. Callaway, The Complete World of the Dead Sea Scrolls, (London: Thames & Hudson, 2002).

G. Vermes, The Dead Sea Scrolls: Qumran in Perspective, (rev. ed.; London: Collins, 1977; Philadelphia: Fortress, 1981).

E. Wilson, The Dead Sea Scrolls 1947-1969, (New York: Oxford University Press, 1969).

Lawrence H. Schiffman, Qumran and Jerusalem: Studies in the Dead Sea Scrolls and the History of Judaism, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2010).

Martin G. Abegg, “The Hebrew of the Dead Sea Scrolls”, in The Dead Sea Scrolls after Fifty Years: A Comprehensive Assessment, ed. Peter W.  Flint and J. C. VanderKam, (Leiden: Brill, 1998).

R. de. Vaux, Archaeology and the Dead Sea Scrolls, Schweich Lectures 1959, (London: Oxford University Press, 1973).

J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Harmondsworth: Penguin, 1956).

J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Pelican A376; Baltimore: Penguin, 1956; 2d ed., 1964)

J. M. Allegro, The Mystery of the Dead Sea Scrolls Revealed, (New York: Gramercy, 1981).

J. M. Allegro, The People of the Dead Sea Scrolls, (London: Routledge and Kegan Paul, 1959).

F. F. Bruce, Second Thoughts in the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans, 1977).

M. Burrows, The Dead Sea Scrolls, (New York: Viking, 1955).

E. M. Cook, Solving the Mysteries of the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids: Zondervan, 1994).

John Kampen, Wisdom Literature: Eerdmans Com-mentaries on the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011).

KEEMPAT:

Robert W. Funk, Profesor Perjanjian Baru bersama 74 pakar Alkitab lainnya membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli.

Saya tahu bahwa orang-orang di atas adalah termasuk dalam tim “Jesus Seminar”. Sebelum saya menguraikan ulasan menarik tentang Jesus Seminar dari Douglas Groothuis, saya mengutip pendapat dari James M. Boice mengenai kepastian historis Yesus yang berseberangan dengan “penentuan petak umpet” ala Jesus Seminar:

Yesus adalah seorang sosok historis yang hidup dan ajaran-ajaran-Nya dapat diselidiki dengan teknik-teknik akademik yang normal. Jika kebenaran itu hilang, maka kekristenan sendiri akan hilang, karena kekristenan itu adalah dan pasti historis. Namun kehidupan Kristus bahkan lebih daripada ini – kehidupan Kristus adalah sejarah yang menentukan. Makna seluruh sejarah disingkapkan dalam sejarah Tuhan Yesus Kristus, dan pilihan antara komitmen kepada-Nya atau penolakan terhadap-Nya dan sejarah-Nya menetapkan tujuan-tujuan kita.

Douglas Groothuis, dalam bukunya “Jesus in An Age of Controversy” membahas mengenai topik Jesus Seminar. Berikut ulasan dari Groothuis yang akan membungkamkan mulut Waloni, membuat jantungnya berdebar-debar – dan menambah sesuatu di dalam otaknya yakni bara tempurung, selain dari pasir, kerikil, paku payung dan jarum pentul. Jesus Seminar dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan ekspres yakni: mendidik orang-orang Kristen yang tidak terpelajar mengenai apa yang “studi-studi ilmiah” dapat memberii tahu kita tentang Perjanjian Baru dan Yesus. Robert Funk, otak dan juru bicara Jesus Seminar berkata: “Kami ingin membebaskan Yesus. Satu-satunya Yesus yang kebanyakan orang inginkan adalah Yesus khayalan. Mereka tidak menginginkan Yesus sejati. Mereka ingin Yesus yang dapat mereka sembah. Sang Yesus Kultis.” (Dalam Los Angeles Times, 24 Februari 1994; dikutip dalam Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, [San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996], p. 7. Dikutip kembali oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi.).

Roy Hoover, anggota Jesus Seminar menyatakan bahwa misinya adalah untuk “membebaskan Yesus dari orang-orang” yang menyusun Kitab-kitab Injil.”

Para anggota Jesus Seminar mengadakan pertemuan 2 kali dalam setahun untuk membukukan opini-opini mereka mengenai perkataan-perkataan Yesus. Kelompok ini semula mempunyai kurang lebih 200 orang anggota, tetapi berkurang menjadi 74 anggota pada saat publikasi The Five Gospels (1993). Mereka dengan saksama dan mempelajari keempat Injil yang alkitabiah dan Injil Tomas dan mereka berusaha untuk menentukan autentisitas setiap perkataan Yesus. Seorang anggota Jesus Seminar dengan popular meringkas pemilihan warna-warni itu seperti berikut ini:

Warna merah: itu perkataan Yesus

Warna merah muda: itu kedengarannya seperti perkataan Yesus

Warna abu-abu: itu mungkin perkataan Yesus

Warna hitam: telah terjadi kesalahan

Penilaian Luke Timothy Johnson terhadap Jesus Seminar:

Jesus Seminar menginginkan ulasan pers! Mereka berusaha mendapatkan ulasan pers! Mereka memahami berita utama! Mereka meminta respons media! Yang terutama, mereka menyediakan manik-manik berwarna, dan hal yang paling ketat (di luar vatikan) adalah bahwa agama menyediakan pemilihan yang aktual, ditambah pernyataan-pernyataan provokatif yang dibuat dengan keterampilan khusus! Sebagai bonusnya, mereka tidak berhubungan dengan isu-isu yang sulit untuk ditutup-tutupi seperti dosa dan anugerah, tetapi dengan personalitas, sang sosok pendiri, Yesus. Dan mereka menjanjikan bentuk serangan yang memalukan pada dasar-dasar kekristenan. Keterampilan Jesus Seminar itu diterima oleh segmen media yang tidak diberi kesempatan untuk mengerjakan berita yang riil.

Media yang kelaparan terkadang langsung menelan pernyataan-pernyataan Jesus Seminar tanpa mencernanya terlebih dahulu. Walaupun para anggota Jesus Seminar mempresentasikan diri mereka sebagai wakil dari keseluruhan komunitas sarjana, namun hal ini tidak benar. Mereka hanyalah sekelompok kecil sarjana Perjanjian Baru dan seperti yang ditunjukkan oleh para kritikus, mereka tidak mewakili dunia kesarjanaan Perjanjian Baru yang lebih luas. Meskipun ada 74 sarjana yang berkontribusi pada karya final The Five Gospels, tetapi ada 6900 anggota Society of Biblical Literature dan setidaknya setengah dari mereka adalah pakar-pakar Perjanjian Baru. Dua organisasi akademis studi Alkitab terkemuka, yakni: Society of Biblical Literature dan Society for the Study of the New Testament, tidak bergabung secara resmi dengan Jesus Seminar.

Jesus Seminar didanai oleh Weststar Institute. Menurut Johnson, meskipun Jesus Seminar membanggakan beberapa sarjananya yang bereputasi tinggi, daftar nama para cendekiawan itu sama sekali tidak mewakili tokoh-tokoh terbaik dari kesarjanaan Perjanjian Baru. Sarjana Perjanjian Baru, Craig Blomberg mencatatat bahwa 36 dari 74 Jesus Seminar memperoleh gelar mereka dari atau mengajar di salah satu dari tiga “departemen studi-studi Perjanjian Baru yang paling liberal” seperti Harvard, Claremont dan Vanderbilt. Para sarjana Eropa juga tidak termasuk di dalamnya. 40 pesertanya “adalah orang-orang yang relatif tidak dikenal” yang secara akademis tidak dapat dibuktikan. (Craig L. Blomberg,”The Seventy-four ‘Scholars’: Who Does the Jesus Seminar Really Speak For?” Christian Research Journal [Musim Gugur 1994], 34. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi)

Profesor Perjanjian Baru, Richard Hays mengatakan dengan sesungguhnya: “Pada kenyataannya, sebagian besar sarjana Alkitab professional sangat skeptis dengan metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan kelompok akademis ini.” Meskipun ada sarjana-sarjana yang dihormati dan berkualitas di dalam kelompok itu, usaha mereka untuk menghadirkan pandangan-pandangan mereka sebagai hasil-hasil kesarjanaan kritis yang meyakinkan – harus  kita katakan – adalah penipuan yang patut dicela (Richard Hays, The Corrected Jesus: A Review of The Five Gospels, First Things, [Mei 1994], 47. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).

Jesus Seminar memasukkan pandangan-pandangannya sendiri yang pesimistik tentang natur Kitab-kitab Injil dan bukan pandangan-pandangan kesarjanaan Perjanjian Baru pada umumnya. Karena menolak hal-hal supernatural, maka Jesus Seminar harus mere-konstruksi sebuah gambar Yesus yang baru melampaui apa yang dinyatakan oleh Kitab-kitab Injil itu sendiri. Karena telah mendekonstruksi pandangan Yesus sejarah, maka mereka merasa bebas untuk mengontruksi sosok Yesus yang asing sama sekali. Prinsip yang digunakan oleh Jesus Seminar adalah meng-hilangkan banyak perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Prinsip ini dikenal sebagai criteria ketidaksamaan (criterion of dissimilarity). Perkataan Yesus dianggap autentik jika perkataan itu berbeda dengan tradisi Yahudi zaman itu dan pandangan-pandangan gereja Kristen perdana. Pernya-taan Jesus Seminar yang aneh: “Berhati-hatilah bila anda menemukan sosok Yesus yang seluruhnya cocok dengan anda.” (ini tentu saja adalah apa yang telah mereka lakukan sendiri).

Groothuis menutupnya dengan: Ingatlah pesan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat. 5:11), dan “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38). Isu-isu miring tentang Yesus sudah menjadi “santapan harian” orang Kristen dan iman Kristen tetap teguh. Kesimpulannya, dengan mencoba meyakinkan pembaca mengenai pendapat dari Jesus Seminar bahwa hanya 18 persen ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli adalah kesimpulan yang bodoh sebab tindakan Jesus Seminar adalah tindakan “kurang kerjaan” dan mencari sensasi, tindakan tersebut tidaklah terpuji dalam dunia akademis. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah Alkitab (Injil-injil) itu asli atau palsu, melaikan didasari pada fakta yang telah disaksikan oleh para murid Yesus. Oleh karena itu, para murid tentu lebih tahu ucapan Yesus ketimbang Jesus Seminar apalagi Waloni.

KELIMA:

Barbara Thiering: Yesus tidak mati di tiang salib. Beberapa penemuan Thiering: Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scrolls, (San Francisco: HarperCollins, 1992), The Qumran Origins of the Christian Church; Jesus the Man: A New Interpretation from the Dead Sea Scrolls (1992; edisi AS, The Riddle of the Dead Sea Scrolls), Jesus of the Apocalypse: The Life of Jesus After the Crucifixion (1995), dan The Book That Jesus Wrote: John’s Gospel (1998). Profesor Craig A. Evans menjelaskan mengenai penafsiran berdasarkan telik sandi yang dilakukan Thiering (seorang dosen Australia yang sudah pensiun dan penulis) berdasarkan beberapa bukunya yang sudah disebutkan di atas. Inilah beberapa dari penemuannya:

Minggu, 1 Maret 7 SM, Yesus dilahirkan di Mird, dekat Laut Mati, tidak jauh dari Qumran.

Pada usia 12 tahun, Yesus terpisah dari ibunya.

Saat remaja Yesus mungkin pergi ke Aleksandria, Mesir, tempat ia dipengaruhi oleh Buddhisme.

Minggu 25 Maret 15 M, pada usia 21 tahun, Yesus dibaptis di Yerusalem.

Pada 20 M, Yusuf, ayah Yesus meninggal.

1 Maret 29 M, saat ultah ke-35 Yesus memulai persiapan pelayanan; Yohanes Pembaptis mengambil otoritas Yesus untuk membaptis.

Selasa 6 Juni 30 M, Yesus dan Maria Magdalena bertunangan. Mereka menikah Sabtu, 23 September 30 M. Simon Magus memimpin upacara itu. Ini adalah pernikahan percobaan. Pernikahan kedua yang mengikat terjadi pada 18 Maret 33 M.

Jumat 20 Maret 33 M, Yesus disalibkan, bersama dengan Simon Magus dan Yudas Iskariot. Namun Yesus dibius, jatuh pingsan dan diolok-olok tentara Romawi, dan diturunkan dari salibnya dalam keadaan masih hidup (meskipun luka parah). Kehidupannya diselamatkan melalui obat khusus yang diselundupkan ke dalam kuburan bersamanya. Yesus sembuh.

Sabtu 15 September 36 M, Yesus kembali ke “panggung”.

Senin 29 Februari 40 M, Saulus (Paulus) bertemu Yesus, untuk memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap Kaisar Romawi, Gaius Caligula.

3 September 45 M, Yesus mengajar di Antiokhia.

Selasa 17 Maret, 50 M, di Filipi, Yesus menikah lagi, kali ini dengan Lydia.

Selasa 7 Maret, Yesus, Lukas dan Paulus berkumpul di Tesalonika untuk merayakan ultah ke-25 Perjamuan Malam dan penyalibannya.

Daftar di atas hanya sebagian dari penemuan Thiering. Mantan dosen University of Sydney School of Divinity ini telah menyingkap cukup banyak hal. Dan ya, Yesus punya anak dari istri-istrinya Maria dan Lydia. Mungkin Anda bertanya, bagaimana “fakta” yang mengherankan ini ditemukan? Menurut Thiering: Dengan membaca Gulungan Laut Mati, meneliti tulisan Perjanjian Baru, dan tentu saja dengan mengandaikan bahwa semua itu ditulis dalam bentuk sandi dan karena itu perlu diuraikan.

Menurut Thiering, Yesus menikah. Pertanyaannya: Jika Yesus menikah, mengapa Petrus, Yohanes dan murid-murid lainnya tidak mengetahui pernikahan tersebut, atau mengapa mereka tidak diundang. Yesus selalu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan tentu isu pernikahan Yesus harusnya disinggung di kitab-kitab yang mereka tulis, seperti surat Petrus (1 dan 2 Petrus), surat Yakobus, surat Yohanes (Injil Yohanes; 1, 2, 3 Yohanes dan juga Wahyu). Dalam surat-surat mereka, tidak satu pun indikasi bahwa Yesus menikah. Dengan demikian, telik sandi “gadungan” ala Thiering sama sekali omong kosong – dan Waloni menjadi pengusung penemuan gadungan Thiering lebih bodoh daripada Thiering sendiri.

Menurut Evans bahwa ia tidak mengenal satu pun sarjana yang berkompeten akan setuju dengan kesimpulan Thiering. Berkenaan dengan hal ini, bagi Evans, sebagian besar ahli mengabaikan tulisan Barbara Thiering karena begitu subjektif dan aneh. Untungnya, seorang ahli memberikan kritik pada karyanya sesuai yang layak ia dapatkan, yakni N. T. Wright, Who Was Jesus? (Grand Rapids: Eerdmans, 1992), pp. 19-36. Menurut Wright, sarjana yang setuju dengan pendapat Thiering adalah Thiering sendiri. Itu berarti, Thiering dapat saya katakan sebagai dosen yang “bodoh” karena tergesa-gesa mencari sensasi mengenai makna dari Naskah Laut Mati yang ditelitinya. Dengan mengorbankan integritasnya sebagai peneliti, Thiering berani menyimpulkan kesimpulan yang aneh – dan Waloni adalah orang yang paling bodoh karena percaya kepada kesimpulan dosen yang bodoh.

Di samping itu, Evans menjelaskan, orang bisa membaca setiap baris Perjanjian Baru, Gulungan Laut Mati, dan literatur lainnya dari periode waktu itu dan tidak menemukan apa pun yang terkait dengan pemikiran (penemuan) Thiering. Mengapa tidak? Karena tidak ada satu pun penemuannya disebutkan di dalamnya.” Bagi Evans, tulisan Thiering adalah tulisan yang paling aneh.

KEENAM:

Profesor Davis Freedrich Strauss, yang dipecat seumur hidup sebagai guru besar agama Kristen karena mengatakan bahwa kitab Perjanjian Baru Kristen adalah fakta dongeng dan khayalan.

Saya menemukan dalam salah satu buku, bahwa David Strauss (jika yang dimaksud Waloni adalah ini) adalah seorang penentang yang gigih terhadap Kristen, maka dengan demikian saya mengutip pernyataan Wilbur Smith dalam buku Josh McDowell. Profesor Wilbur Smith menulis, “Bahkan David Strauss, penentang tergigih dari unsur adikodrati Injil yang tulisan-tulisannya telah merusak lebih banyak iman Kristen daripada semua orang lain di zaman modern – bahkan Strauss, dengan segala kecamannya yang pedas, cerdik, ganas dan penolakannya atas segala sesuatu yang berbau mukjizat, terpaksa mengakui, menjelang akhir hayatnya, bahwa di dalam Yesus ada kesempurnaan moral. ‘Kristus ini … mempunyai nilai historis, bukan mistis; adalah seorang pribadi, bukan sekadar simbol…. Dia tetap meru-pakan model agama yang terjangkau oleh alam pikiran kita; dan tidak mungkin ada kesalehan sempurna tanpa keha-diran-Nya di dalam hati.

Sekali lagi, jika yang dimaksudkan Waloni adalah David Strauss, maka sangat disayangkan bahwa Waloni hanya mengutip pernyataan Strauss secara berat sebelah, sebab seperti yang dikatakan oleh Smith, bahwa Strauss pada akhirnya mengakui pribadi Yesus Kristus yang dituliskan oleh para penulis Injil – mempunyai nilai historis. Jika “Yesus mempunyai nilai historis”, maka tentu Injil-injil adalah akurat sesuai dengan fakta sejarah, bukan cerita dongeng dan omong kosong belaka.

Masih berkaitan dengan apologetika saya terhadap klaim-klaim murahan Waloni mengenai Alkitab. Di halaman 87, klaim amburadul-irasional, didengungkan Waloni: “Ketahuilah, walaupun Alkitab Perjanjian Baru Kristen hanya 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan, tetapi tidak pernah terungkap dari mulut Yesus bahwa dirinya adalah TUHAN atau ALLAH atau BAPA yang patut disembah!! Beliau tidak pernah mengaku dirinya sebagai “Juruselamat” apalagi sebagai “Tuhan”

Klaim Waloni di atas sebenarnya tidak “nyambung” dengan klaim bahwa Yesus tidak pernah mengakui bahwa Ia adalah Tuhan, karena dalam Alkitab juga tidak ada ucapan Yesus bahwa Dia mengaku: “Aku bukan Tuhan”. Tuduhan 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan, sebenarnya tidak ada dasar sejarahnya. Jika hanya 5% fakta, apakah hal itu termasuk nubuat Yesus tentang datangnya Muhammad? “Dari mana sumbernya bahwa hanya 5% yang adalah fakta dalam Perjanjian Baru? Apa saja fakta tersebut (yang 5%)? Apa saja dongeng dan khayalan yang 95% itu? sumber manakah yang menyebutkan demikian?

Tuduhan-tuduhan Waloni di atas, sebenarnya dengan sendirinya gugur dalam dapur ilmiah. Ia pun tidak bisa memberikan sumber, sebagaimana dalam dunia akademis bahwa argumen harus didasari bukti-bukti ilmiah dan saya tidak dapat menemukan secara valid dalam buku Waloni.

Di halaman 100, Waloni mengatakan bahwa keempat Injil ditulis ± tahun 120 M. benarkah? Waloni pun tidak menyebutkan sumbernya yang menyatakan demikian. Injil-injil kanonik (berdasarkan kanon) ditulis tidak lebih dari abad pertama. Itu berarti, Injil-injil kanonik tidak ditulis lebih dari tahun 100 M, kecuali “Injil-injil Gnostik”, ditulis setelah abad pertama.

Di halaman 111-112, Waloni mengemukakan: Menurut umat Kristen, keempat kitab dar MATIUS hingga YOHANES adalah “Injil”. Padahal yang sebenarnya bukan injil. Adapun kebenaran ucapan Nabi “Sang pembawa Injil” yaitu Isa as, yang tertulis dari dalam ke empat kitab ini, kebenarannya hanya 5% saja. Selanjutnya 45% “tahayul”, dan 50% adalah “dongeng”. Formulasi matematikanya adalah: “Tahayul + dongeng = “OMONG KOSONG”.

Sebelum saya menjawab klaim di atas, ada hal yang lucu yang perlu saya jelaskan di sini. Di halaman 111-121, saya melihat gaya penulisan bahasa Ibrani, Indonesia dan Inggris mengenai nama-nama kitab dan kata-kata lainnya yang dipaparkan oleh Waloni.

Kitab Yohanes, ditulis (dalam bahasa Inggris): Bible according to Jhon. Seharusnya kata “Jhon” ditulis dengan “John”. (mungkin salah ketik)

Galatia, ditulis “Galations”. Seharusnya ditulis Galatians.

Efesus ditulis “Ephesions”. Seharusnya ditulis Ephesians.

Filipi ditulis “Filippions”. Seharusnya ditulis Philippians.

Kolose ditulis “Klose” dan “Colossing”. Seharusnya ditulis Kolose dan Colossians.

1 Korintus ditulis I Korintas. Begitu juga dengan 2 Korintus: II Korintas.

1 Tesalonika ditulis “Thessalonions”. Seharusnya ditulis Thessalonians. Sedangkan 2 Tesalonika ditulis “Thessalenions.”

1 Timotius ditulis “I Timotios”. 2 Timotius ditulis “II Timottos”.

Filemon ditulis “Filemon”. Seharusnya Philemon (dalam bahasa Inggris).

Yakobus ditulis “Yakobbus” dan “The Geneal Epistle of James”. Seharusnya ditulis “James”.

1 Petrus ditulis “The first Epistle Geneal of Peter”. Seharusnya ditulis “1 Peter” saja.

2 Petrus ditulis “The Second Epistle Geneal of Peter. Seharusnya ditulis “2 Peter” saja.

1 Yohanes ditulis “The first Epistle Geneal of Jhon”. Seharusnya ditulis “Epistle of John” (sudah termasuk 2 dan 3 Yohanes).

Wahyu ditulis “The Revelation of saint Jhon the Divne”. Seharusnya ditulis “Revelation” saja. Untuk nama “Jhon”, seharusnya ditulis “John”.

Di halaman 114, kitab Yakobus ditulis “Yakobas”.

Di halaman 114, kata “Ortodoks” ditulis “Ortodok”, padahal dalam bahasa Inggrisnya: Orthodox (ada huruf “ks” di belakang karena kata tersebut adalah serapan).

Di halaman 115, kitab Bilangan ditulis “Nambers”. Seharusnya “Numbers”.

Kitab Yosua ditulis “Yasak”. Seharusnya “Yusak”.

Di halaman 116, kitab Ester ditulis “Eser”. (Mungkin salah ketik).

Di halaman 117, kitab Amos ditulis “Aos”. Mungkin salah ketik.

Di halaman 119, kitab Keluaran ditulis “Weelah Syemot”: Inilah Namanya. Seharusnya ditulis “Elah syemot”: inilah nama-nama.

Di halaman 119, kitab Ulangan ditulis “Elleh hadebarim”: inilah perkotaan. Apakah kitab ulangan berbicara mengenai “perkotaan?” Tentu tidak. Kitab Ulangan berbicara mengenai pengulangan hukum, undang-undang.

Di halaman 119, kitab Hakim-hakim ditulis “Syofetim”. Seharusnya ditulis “Syopetim”.

Kitab Yesaya ditulis (dalam bahasa Ibrani) “Yesyayahu”. Memang benar bacaaannya tetapi salah penulisannya. Seharusnya ditulis yesya’yahu (Yahweh adalah keselamatan).

Di halaman 120, kitab Yehezkiel ditulis “Yehezqel” (Ibr.). Seharusnya ditulis (bahasa Ibraninya) yekhezqé’l (Allah menguatkan).

Di halaman 120, kitab Zefanya ditulis “Zetanya”. Mungkin salah ketik.

Di halaman 120, di poin C Waloni menuliskan mengenai Ketubim yang adalah “kitab-kitab” orang Yahudi Helenis. Dalam bahasa Yunani kitab-kitab ini dikenal dengan istilah “Hagiographi” (hagiografi). Waloni keliru dalam membedakan antara hagiografi dan hagiografa. Saya jelaskan perbedaan kedua istilah tersebut:

Hagiografa (Yun. agiographa – dari kata agios, agio yang artinya ‘kudus’; jamak ‘orang-orang kudus’) adalah tulisan-tulisan suci, bagian kanon Yahudi yang ketiga dan terakhir, sedangkan kata hagiografi berarti tulisan tentang kehidupan orang-orang suci. Sumber-sumber penulisannya adalah kisah  para martir, berbagai biografi dan naskah liturgi. Kumpulan hagiografi yang pertama ditulis oleh Eusebius dari Kaisarea pada abad ke-3. Karena Waloni menyinggung kitab-kitab (Ketubim) Yahudi, maka seharusnya ditulis hagiografa dan bukan hagiografi.

Di halaman 120, Waloni menulis nama kitab Ayub dengan “Yob”. Mungkin yang Waloni maksud adalah dalam bahasa Ibrani. Tapi sayang, penulisannya juga salah. Seharusnya ditulis ´Iyyôb (Yun. Iob).

Kitab Amsal ditulis Mesyalim. Seharusnya ditulis misylé (amsal dari), yang adalah singkatan dari misylé syelomoh (amsal-amsal Salomo).

Kitab Kidung Agung ditulis “Syir Hasyirim”. Seharusnya “Syir hasysirim”.

Kitab Ratapan ditulis Eica. Seharusnya ditulis ‘ékha.

Sekarang saya akan menjawab klaim ignoran Waloni di atas. Waloni mengklaim bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes bukanlah Injil. Apa alasan Waloni mengklaim demikian? Jawabnya: Wallaahua’lam…. Tuduhan-tuduhan seperti demikian, membanjiri buku Waloni. Selanjutnya, ke empat kitab ini (Injil-injil), kebenarannya hanya 5% saja. Selanjutnya 45% “tahayul”, dan 50% adalah “dongeng”. Formulasi matematikanya adalah: “Tahayul + dongeng = “OMONG KOSONG”. Mengenai klaim ini, kita hanya patut bertanya kepada Waloni: apa saja kebenaran yang 5% itu, apa saja 45% takhayul itu dan apa saja 50% dongeng itu. Sampai tikus beranak unta Arab, Waloni tidak akan dapat menjawabnya.

Di halaman 113-114, Waloni mengungkapkan (klaim ini sudah diulang-ulang) dari 27 kitab PB terdapat 4 kitab yang mengatasnamakan “Injil” (padahal bukan “Injil). Kitab-kitab tersebut adalah: “Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.” Selain itu, terdapat juga 14 surat kiriman Paulus dari kitab Roma sampai kitab Ibrani. Ada juga 9 buah karangan: Lukas (Kisah Para Rasul), Yakobus, I-II Petrus, I-III Yohanes Yudas, Wahyu kepada Yohanes (katanya!!!).

Di halaman 118, setelah Waloni memaparkan susunan kitab-kitab versi Kristen, Katolik dan Ortodoks Timur, Waloni menyimpulkan bahwa “dari sini kita dapat melihat bahwa ‘kitab suci Kristen bukanlah Firman Tuhan, melainkan buatan tangan dan otak manusia, tanpa bukti-bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tentu ini hanyalah klaim kosong tanpa dasar sama sekali.

Kita perlu bertanya kepada Waloni: pertama, jika Alkitab bukan firman Tuhan, bagaimana mungkin Waloni mengklaim bahwa Muhammad telah dinubuatkan di dalamnya? kedua, tangan dan otak manusia mana yang membuat Alkitab yang bukan firman Tuhan? Jelas bahwa kitab-kitab suci mana pun adalah buatan tangan manusia. Jika kitab-kitab Kristen tanpa bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, maka untuk membuktikan hal tersebut, sebenarnya Waloni juga membutuhkan sejarah yang mengatakan demikian. Untuk membuktikan bahwa Om Paulus adalah pembohong, maka Anda harus mempunyai bukti-bukti ilmiah.

Di halaman 231, Waloni menyatakan bahwa: Sebaliknya, kitab suci Kristen adalah kitab buatan tangan dan otak manusia. Segala yang tertulis di dalamnya mengandung 10% kebenaran dan 90% omong kosong.

Klaim ini sudah saya jawab sebelumnya. Akan tetapi, saya tambahkan sedikit bahwa Waloni lupa bahwa Al-Qur’an juga adalah buatan manusia Muhammad dan para pengikutnya. Waloni juga lupa bahwa AL-Qur’an disusun berdasarkan otak manusia. Tak ada wahyu yang dicerna dan diturunkan dari Tuhan tanpa menggunakan otak manusia. Menurut Waloni, Alkitab mengandung 10% kebenaran dan 90% omong kosong. Kita perhatikan bahwa hampir seratus persen Waloni percaya bahwa Muhammad dinubuatkan dalam Alkitab PL dan PB. Dengan yakin seyakin-yakinnya Waloni mengklaim bahwa Muhammad adalah Nabi Islam yang dinubuatkan oleh Nabi Musa dan Yesus. Jika Alkitab mengandung 10% kebenaran, apakah 10% itu adalah nubuatan untuk Nabi Muhammad?

Di halaman 231-233, Waloni mengemukakan,

“Adapun fakta yang membenarkan kitab suci Kristen adalah buatan tangan dan otak manusia adalah sebagai berikut. Pertama, apa yang tertulis di dalamnya bukanlah wahyu dari Tuhan, tetapi anggapan manusia yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah. Kedua, ia ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia. Sebaliknya, ia menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka. Ketiga, penulisan kitab Perjanjian Lama bukan lagi murni kitab Taurat Musa dan para nabi. Apa yang dikisahkannya telah menyimpang dari fakta sejarah, bahkan wibawa para nabi Allah SWT telah direndahkan. Misalnya, Daud difitnah berzina, Luth difitnah berzina dengan anak kandungnya sendiri, Sulaiman dituduh menyembah berhala, Harus difitnah memimpin bani Israil menyembah berhala, dan lain-lain.

Keempat, kitab Perjanjian Baru Kristen intinya menjelaskan bahwa hukum Taurat dan kitab para nabi sudah berlalu sebab sudah diganti dengan kehadiran Yesus ke dunia melalui proses kematian di tiang salib. Contohnya dalam Matius 5:18-19. Kelima, penulisan kitab Perjanjian Baru dimulai kurang lebih empat ratus tahun kemudian setelah dimuliakannya nabi Isa as (yang di-Yesus-tuhankan). Makanya, sampai hari ini tidak ada satu manusia pun yang mampu menunjukkan naskah atau kitab asli Injil Isa as. Tetapi anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.

Argumen dan klaim amburadul Waloni di atas, saya analisis sebagai berikut: berdasarkan pijakan berpikir Waloni, ia mendefinisikan bukti bahwa Alkitab adalah buatan tangan dan otak yang didasari pada:

Pertama, apa yang tertulis di dalamnya bukanlah wahyu dari Tuhan, tetapi anggapan manusia yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah.

Klaim Waloni ini sebenarnya menjadikan Kitab Sucinya (Al-Qur’an) adalah pembohong semata-mata karena di dalam Al-Qur’an dituliskan bahwa ia membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Jika Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab yang bukan wahyu dari Tuhan dan tidak dapat dibuktikan dengan fakta sejarah, maka AL-Qur’an sedang melakukan penipuan. Dan jelas, Waloni tertipu dengan argumennya sendiri. Mari kita lihat apa klaim Al-Qur’an mengenai “pembenarannya terhadap kitab-kitab sebelumnya:

Surat Al Baqarah [2]:136, … “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya.”

Surat Ali ‘Imran [3]:3, Dia menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.

Surat Al Maa-idah [5]:48 – Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu….

Surat Al An’aam [6]:92, “Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya….”

Surat Faathir [35]:31, Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

Bukankah dengan mengatakan bahwa Alkitab penuh dengan omong kosong bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Waloni pasti menjawab bahwa Al-Qur’an membenarkan­­nya sebelum dipalsukan dan diedit. Pertanyaannya: Kapan dipalsukan dan diedit? Jika Alkitab bukanlah wahyu dari Tuhan maka jelas bahwa nubuat mengenai Nabi Muhammad dalam Alkitab juga gugur dengan sendirinya sesuai dengan klaim Waloni.

Di pihak lain (dalam buku Waloni), ia mengakui bahwa Muhammad telah dinubuatkan dalam Alkitab, tetapi anehnya, Waloni mengklaim bahwa Alkitab bukanlah wahyu dari Tuhan. Jika Alkitab merupakan anggapan manusia yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah, maka apakah Waloni dapat membuktikan secara ilmiah dan sesuai dengan fakta sejarah bahwa Alkitab adalah merupakan anggapan manusia belaka? Apakah Waloni dapat membuktikan secara ilmiah dan sesuai dengan fakta kebenaran sejarah, apa saja yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah?

Kedua, ia [Alkitab] ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia. Sebaliknya, ia menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka.

Klaim Waloni di atas sama sekali salah total. Menurut Waloni, Alkitab ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia, padahal, dalam seluruh Alkitab, keselatan umat manusia (umat pilihan-Nya) mendominasi secara total. Dalam PL, konsep keselamatan yang digagas Allah adalah melalui pencurahan darah dan mempersem-bahkan korban. Keselamatan dari Tuhan yang ditujukan kepada para nabi dan para hamba-Nya, keselamatan yang dinantikan oleh umat-Nya, keselamatanlah yang menjadi tajuk utama dari berita Alkitab (PL dan PB). Tanpa Tuhan, manusia berdosa tak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sendiri sekalipun betapa salehnya ia dan betapa baiknya ia. Berita keselamatan adalah berita penuh sukacita di mana Allah yang menjadi sumber keselamatan itu, mencurahkan keselamatan kepada umat-Nya, dengan cara-Nya sendiri dan dengan ketentuan yang Ia tetapkan sendiri.

Dalam PB, Yesus mencurahkan darah-Nya untuk keselamatan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Kalau menurut Waloni bahwa Alkitab ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia, hal itu justru menunjukkan kebalikkannya. Betapa kayanya firman Allah: Alkitab, yang menekankan relasi kasih, relasi pengampunan dan relasi keselamatan antara Allah dan umat pilihan-Nya.

Kemudian, sesuai dengan pernyataan Waloni bahwa Alkitab menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka, maka mengapa Waloni berani berkata bahwa Muhammad dinubuatkan Alkitab? Bukankah klaim tersebut akan mengakibatkan Muhammad adalah nabi sesat dan masuk neraka karena Alkitab ternyata menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka?

Orang Kristen tidak mungkin menerima pernyataan Waloni tersebut sebab Alkitab adalah firman Allah yang hidup, yang mengubah hidup manusia menjadi hidup yang memberi arti dalam kehidupan bersama di mana ia berada.

Kembali ke soal “keselamatan” yang dianggap Waloni tidak menjadi alasan kepenulisan Alkitab. Dalam Alkitab, keselamatan menjadi tema utama, karena manusia telah jatuh dalam dosa. Akibat dosa, maka manusia harus diselamatkan. Untuk diselamatkan, didamaikan dan dikuduskan oleh Allah, umat Israel harus mempersembahkan “sesuatu” kepada Allah. Tuntutan ini adalah berdasarkan tuntutan Allah. Yang akan menyelamatkan [Allah] menuntut cara-Nya untuk menye-lamatkan yang akan diselamatkan [manusia], maka, hanya Allah yang dapat menentukan bagaimana seharusnya “menyelamatkan” manusia yang berdosa. Ia pula yang menentukan batas-batas sesuatu demi kepentingan kese-lamatan. Jelas bahwa konsep keselamatan Alkitab, tidak dipahami oleh Muhammad (dan penganut Islam di seluruh dunia), sebab mereka menolak, terutama karya penebusan Yesus di kayu salib. Bagi mereka, hal itu tidak masuk akal. Masakan Allah mau menyelamatkan manusia harus turun menjadi manusia dan mati di antara para penjahat? Ini suatu penghinaan terhadap Tuhan sendiri. Akan tetapi, dengan cara demikian, Yesus sanggup menyelamatkan semua orang yang telah dipilih sejak kekekalan:

Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus. (Ef. 1:4-9)

Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. (Ibr. 7:25)

Topik-topik mengenai keselamatan, adalah bagian terpenting dari isi Alkitab, baik melalui cara mengorbankan sesuatu seperti yang diperintahkan Tuhan kepada umat-Nya atau keselamatan jiwa dan rohani yang dikerjakan oleh Tuhan. Berikut ayat-ayat yang menyatakan tentang aspek keselamatan dari Allah yang menjadi kesukaan dan bagian terpenting bagi umat pilihan-Nya, yang bertolak belakang dengan klaim Waloni bahwa keselamatan tidak menjadi alasan kepenulisan Alkitab:

Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN (Kej. 49:18)

Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya (Kel. 14:13)

Untuk keselamatan mereka Aku akan mengingat perjanjian dengan orang-orang dahulu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir di depan mata bangsa-bangsa lain, supaya Aku menjadi Allah mereka; Akulah TUHAN (Im. 26:45)

Sebab itu katakanlah: Sesungguhnya Aku berikan kepadanya perjanjian keselamatan yang dari pada-Ku (Bil. 25:12)

Supaya aku menceritakan segala perbuatan-Mu yang terpuji dan bersorak-sorak di pintu gerbang puteri Sion karena keselamatan yang dari pada-Mu (Mzr. 9:14)

Tetapi aku bersorak-sorak karena TUHAN, aku girang karena keselamatan dari pada-Nya (Mzr. 35:9)

Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya (Mzr. 50:23)

Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita (Mzr. 85:9)

Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! (Mzr. 118:25)

Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu (Luk. 1:69)

Untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka (Luk. 1:77)

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12)

Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Tes. 5:9)

Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita (Why. 12:10)

Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita (Why. 19:1)

Dari uraian ayat-ayat di atas, apakah kepenulisan Alkitab tidak menekankan keselamatan? Apakah Alkitab tidak menuntun umat-Nya kepada keselamatan?

Ketiga, menurut Waloni, penulisan kitab Perjanjian Lama bukan lagi murni kitab Taurat Musa dan para nabi. Apa yang dikisahkannya telah menyimpang dari fakta sejarah, bahkan wibawa para nabi Allah SWT telah direndahkan. Misalnya, Daud difitnah berzina, Luth difitnah berzina dengan anak kandungnya sendiri, Sulaiman dituduh menyembah berhala, Harun difitnah memimpin bani Israil menyembah berhala, dan lain-lain. Mengatakan bahwa kitab Taurat Musa dan para nabi tidak murni lagi, sebenarnya menjadikan Al-Qur’an menyimpang dari maksud mula-mula. Mengapa? Sebab dalam Al-Qur’an, semua perilaku para nabi dan rasul termasuk Muhammad dibela mati-matian, atau diterangkan yang baik-baiknya saja. Alkitab tahu siapa para nabi. Mereka adalah manusia biasa – tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Nuh mabuk, Musa berdosa, Abram berdusta, Lot disetubuhi oleh kedua anaknya, Daud berzina, Salomo memiliki istri yang banyak, Yunus tidak taat pada Tuhan.

Dalam Al-Qur’an memang tidak disebutkan berbagai skandal dari nabi-nabi, misalnya Ibrahim, Daud, Sulaiman (Salomo) dan lainnya. Masalahnya, Al-Qur’an terlalu tinggi menjunjung nabi-nabi padahal mereka juga adalah manusia. Daud adalah raja Israel, tetapi Alkitab tidak menyembunyikan dosa-dosanya, tapi membeberkannya. Untuk apa “membungkus” dosa-dosa para nabi jika memang faktanya demikian. Waloni menuduh Paulus penyesat dan pembohong padahal Waloni sendiri memiliki asumsi yang negatif tentang Paulus, dan berangkat dari presuposisi yang subjektif sekali tentang Paulus. Semua argumen Waloni mengenai Paulus bukanlah ajaran standar dari orang Kristen.

Tidak ada Kitab Suci selain Alkitab yang menjelaskan berbagai dosa, kelemahan, kesalahan, skandal dan sebagainya dari orang-orang yang dipilih TUHAN. Mereka adalah manusia – yang memiliki kecenderungan untuk berdosa. Tujuan Waloni dengan mengusung kasus-kasus besar dari pada nabi TUHAN dalam Alkitab adalah sebenarnya sedang membandingkan dengan Al-Qur’an, di mana di dalamnya tidak dijelaskan mengenai skandal Daud, Salomo dan lainnya. Waloni mau mendeteksi Kitab Suci dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Dia lupa bahwa TUHAN membenarkan orang yang tidak benar, TUHAN mengampuni orang yang berdosa – dan itulah mereka: Nuh, Abram, Daud, Salomo dan lainnya. Jelas Alkitab lebih fair ketimbang Al-Qur’an.

Keempat, kitab Perjanjian Baru Kristen intinya menjelaskan bahwa hukum Taurat dan kitab para nabi sudah berlalu sebab sudah diganti dengan kehadiran Yesus ke dunia melalui proses kematian di tiang salib. Contohnya dalam Matius 5:18-19.

Waloni salah memahami konteksnya. Saya memakluminya. Dengan modal pengetahuan teologi sejengkal, mau memahami kekayaan Alkitab yang begitu dalam. Hukum Taurat tidak dibatalkan tetapi digenapi. Dalam referensi yang Waloni usulkan (Mat. 5:18-19), Waloni keliru memahaminya. Ayat 17 jelas mengatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”

Yesus tidak meniadakan hukum Taurat – atau seperti usulan Waloni: berlalu dan diganti – adalah keliru. Ini merupakan tafsir bebas tanpa pemahaman yang utuh terhadap teks dan konteks yang dimaksudkan Matius.

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 7:12)

Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan (Rm. 3:21-22)

Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya (Rm. 3:28-31)

Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya” (Rm. 10:4-5)

Jika hukum Taurat berlalu dan diganti [dalam pengertian Waloni], maka Yesus tidak konsisten dengan perkataan-Nya [Yesus datang tidak meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapinya]. Paulus juga meneguhkan perkataan Yesus bahwa hukum Taurat tidak dibatalkan melainkan diteguhkan. Maka, Waloni memang salah total dalam memahami maksud dari teks Matius 5 yang ia rujuk. Demikian juga, bahwa tentu orang Kristen yang mengasihi, tidak memenuhi hukum Taurat sebab dalam  Roma 13:8-10 di atas, tidak berlaku (jika menjawab pendapat Waloni). Kasih adalah pemenuhan hukum Taurat; dan orang Kristen diperintahkan untuk saling mengasihi. Hukum Taurat tidak dibatalkan atau ditiadakan karena jelas teks dalam Matius 5 jelas menyatakan demikian.

Dari teks-teks di atas, jelas bahwa kasih adalah pemenuhan hukum Taurat – dan Taurat tidak dibatalkan atau dihilangkan seperti dugaan Waloni. Memang pema-haman yang keliru yang dilakukan Waloni berimbas kepada kebodohannya dalam mengerti maksud Alkitab.

Kelima, penulisan kitab Perjanjian Baru dimulai kurang lebih empat ratus tahun kemudian setelah dimuliakannya nabi Isa as (yang di-Yesus-tuhankan). Makanya, sampai hari ini tidak ada satu manusia pun yang mampu menunjukkan naskah atau kitab asli Injil Isa as. Tetapi anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.

Perhatikan baik-baik pernyataan Waloni di atas. Menurutnya, penulisan kitab Perjanjian Baru dimulai kurang lebih empat ratus tahun kemudian setelah dimuliakannya nabi Isa as (yang di-Yesus-tuhankan). Waloni memang salah besar. Dari mana bukti bahwa Injil atau PB ditulis kurang lebih 400 tahun setelah Yesus dimuliakan? Aduh, astaga. Jika Waloni menyebutkan Perjanjian Baru, maka ada 27 kitab yang terdiri empat Injil, Kisah Para Rasul, tiga belas surat Paulus, Ibrani, Yakobus, dua surat Petrus, tiga surat Yohanes, surat Yudas dan wahyu kepada Yohanes. Injil pertama (Markus) ditulis kurang lebih selang waktu tidak sampai ± 35 tahun setelah Yesus naik ke surga yaitu sekitar tahun 60-an. Oleh karena Irenaeus bersaksi bahwa Markus menulis setelah kematian Petrus dan Paulus dan karena Paulus kemungkinan besar mati pada musim panas atau musim gugur tahun 66 AD, maka Markus sangat mungkin menulis Injilnya pada tahun 66 atau 67 AD. Karena penghancuran Yerusalem tidak disebut, maka pasti Markus menulis sebelum tahun 70 AD.

Lalu datanglah Waloni, sang teolog kelas teri dengan teori barunya bahwa PB (termasuk Injil-Injil) ditulis kurang lebih empat ratus tahun sesudah Yesus dimuliakan [naik ke surga]. Ini teori seorang doktor yang rendahan, yang tidak ada sumber yang pendukungnya. Kitab-kitab PB, selesai ditulis pada akhir tahun 90-an Masehi. Kitab itu adalah kitab Wahyu. Tidak ada satu pun kitab PB yang ditulis lebih dari empat ratus tahun. Jika ada, maka itu adalah kitab khayalan Waloni.

Selanjutnya, sambungan dari pernyataan Waloni di atas adalah: Makanya, sampai hari ini tidak ada satu manusia pun yang mampu menunjukkan naskah atau kitab asli Injil Isa as. Tetapi anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.

Ada dua kesalahan total dari pernyataan Waloni di atas. (1) Waloni mengakui bahwa tidak ada naskah asli Injil Isa, padahal Isa [Yesus] sama sekali tidak menulis Injil satu pun. Tidak ada profesor mana pun yang menyatakan bahwa Yesus pernah menulis Injil. Yang menulis Injil adalah murid-murid Yesus dan orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menulis dan melayani-Nya. (2) Waloni menuduh dan membuat kesimpulan sendiri bahwa “anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.” Perhatikan, Waloni menyatakan bahwa kitab Perjanjian Batu disebut Injil Yesus. Pertanyaannya adalah: Siapa yang menyatakan atau mengklaim bahwa kitab Perjanjian Baru adalah Injil Yesus? Tidak ada satu pun ahli yang menyatakan demikian. Kecuali dengan menyebutkan “Injil tentang Yesus Kristus”. Kalau pun menyebutkan “Injil Yesus”, hal itu dimaksudkan merujuk pada kisah tentang Yesus, dan bukan Injil yang ditulis oleh Yesus. Jika yang Waloni maksudkan bahwa “Injil yang ditulis Yesus”, maka ia keliru.

Kitab-kitab PB adalah kitab-kitab yang menceritakan tentang hidup dan karya Yesus Kristus serta kedatangan-Nya yang kedua kali. Ini adalah benar.

Kesimpulan saya mengenai klaim kelima Waloni adalah bahwa Isa tidak pernah menulis Injil – yang menulis Injil adalah para murid Yesus. Yesus menulis Injil adalah ajaran Al-Qur’an, bukan Alkitab.

Salam Bae…

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU: PEMBUKTIAN INTERNAL (Bagian 14)

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/TNlHf4m4gpI (Aaron Burden@aaronburden)

Josh McDowell memaparkan berbagai keunikan Alkitab dibanding dengan buku-buku lainnya. Salah satunya adalah “unik dalam kemampuannya bertahan”. Ia menjelaskan: Meskipun ditulis di atas bahan-bahan yang mudah rusak, harus disalin dan disalin ulang selama ratusan tahun sebelum teknik pencetakan ditemukan, gaya, ketepatan dan keberadaannya tetap dapat dipertahankan. Alkitab, dibandingkan dengan karya sastra kuno lainnya, didukung oleh lebih banyak bukti naskah daripada 10 karya sastra digabungkan menjadi satu (Josh McDowell, Apologetika: Bukti yang Meneguhkan Kebenaran Alkitab, volume 1, (Malang: Gandum Mas, 2007), hlm. 46. Judul asli Evidence That Demands a Verdict, (United States: Here’s Life Publishers, 1981). Michael Keene menegaskan: Alkitab merupakan batu pijakan dari dua agama, Yudaisme dan Kristianitas, dan merupakan satu karya sastra klasik agung dunia…. Pengaruh Alkitab terhadap dunia tak dapat terhitung banyaknya. Alkitab berisi puisi-puisi sangat indah, kisah-kisah sengsara, dan karakter yang mengesankan. Pengaruhnya atas seni dan sastra Barat meluas melampaui bidang agama. Alkitab merupakan buku yang paling luas diterjemahkan, dicetak, didistribusikan, dan paling laku sepanjang segala masa. (Michael Keene, Alkitab: Sejarah, Proses Terbentuk, dan Pengaruhnya, diterjemahkan oleh Y. Dwi Koratno, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 6)

Berkenaan dengan konteks tersebut, Keene mengemukakan:

Ada beribu-ribu manuskrip Perjanjian Baru. Sebenarnya manuskrip yang sungguh-sungguh paling tua sampai sekarang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Ada juga penggalan-penggalan papirus yang berasal dari abad ke-2 dan ke-3 M. Manuskrip-manuskrip lain terdapat pada perkamen dan semuanya itu dijilid dalam bentuk buku (naskah kuno/codex). Manuskrip-manuskrip itu melengkapi teks terus-menerus, baik dalam bentuk huruf kapital (upper-case-letters) maupun huruf kecil (lower-case-letters). Dalam naskah-naskah kuno ini tidak ada ruang antarkatam tanpa tanda-tanda baca, dan tanpa pemisahan ke dalam bab dan ayat. Huruf kapital yang paling penting adalah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus dari abad ke-4. Codex Bezae berisi teks keempat Injil dan Kisah Para Rasul berbahasa Yunani maupun Latin. Penggalan-penggalan paling awal dari manuskrip papirus adalah kutipan singkat dalam Yohanes 18 yang ditemukan di Mesir dan diterbitkan tahun 1935; penggalan ini kira-kira berasal dari tahun 135 M.

Paul Enns menegaskan bahwa Alkitab adalah firman Allah karena berasal dari Allah: Sebanyak 3800 kali Alkitab menyatakan “Allah berfirman” atau “Demikianlah firman Allah”. Contohnya dalam Keluaran 14:1; 20:1; Imamat 4:1; Bilangan 4:1; Ulangan 4:2; 32:48; Yesaya 1:10,24; Yeremia 1:11; Yehezkiel 1:3 dll. Paulus juga mengakui bahwa hal-hal yang ia tulis merupakan perintah Tuhan (1 Korintus 14:37) dan semua itu diakui oleh orang percaya (1 Tesalonika 2:13). Petrus memproklamasikan kepastian dari Kitab Suci dan keharusan untuk memperhatikan ketidakberubahan dan kepastian dari Firman Allah (2 Petrus 1;16-21). Yohanes juga mengakui bahwa pengajarannya berasal dari Allah; apabila orang menolak ajarannya berarti ia menolak Allah (1 Yohanes 4:6). Alkitab berasal dari 40 penulis yang berbeda (41 penulis?), dengan berbagai profesi dalam kehidupan mereka. Misalnya Musa, seorang pemimpin politik; Yosua, seorang pemimpin militer; Daud, seorang gembala; Salomo, seorang raja; Amos, seorang penjaga ternak dan pemetik buah; Daniel, seorang perdana menteri; Matius, seorang pemungut cukai; Lukas, seorang dokter medis; Paulus, seorang rabi dan Petrus, seorang nelayan. Alkitab juga ditulis diberbagai lokasi yang berbeda dan di tengah situasi yang beragam. Pada kenyataannya, Alkitab ditulis di tiga benua: Eropa, Asia, Afrika. Paulus menunis dari penjara di Roma dan dari kota Korintus, keduanya terletak di Eropa; Yeremia (dan mungin Musa) menulis di Mesir, di Afrika. Musa kemungkinan besar menulis di padang gurun; Daud menyusun Mazmurnya di pinggir kota, Salomo mengkontemplasikan Amsal di kerajaan, Yohanes menulis sebagai seorang buangan di pulau Patmos dan Paulus menulis lima kitab  dari penjara.

Menurut Enns, alasannya cukup jelas bahwa hal itu terlihat bahwa banyak dari para penulis tidak mengenal penulis Kitab Suci lainnya dan mereka tidak mengetahui tentang tulisan lainnya. Hal itu dikarenakan para penulis yang menulis dalam jangka waktu lebih dari 1500 tahun. Namun demikian Alkitab secara menakjubkannya, merupakan suatu kesatuan yang utuh. Dan dalam kesatuannya (Roh Kudus adalah penyatu dari ke 66 kitab tersebut), kitab-kitab ini mengajarkan ketritunggalan Allah, keilahian Yesus Kristus, Pribadi Roh Kudus, kejatuhan dan kecemaran manusia, demikian pula keselamatan karena anugerah.

Sebagai pembuktian realibilitas dari PL dan PB, Enns menerangkan sebagai berikut:

Beberapa sumber kuno yang menunjukkan reliabilitas dari teks PL yakni:

NASKAH LAUT MATI. Sebelum penemuan naskah Qumran, manuskrip yang paling tua tertanggal kira-kira 900 AD. Beberapa manuskrip dari Naskah Laut Mati, termasuk di dalamnya Yesaya, Habakuk dan yang lain, tertanggal lebih jauh ke belakang yaitu 125 BC. Berarti manuskrip itu 1000 tahun lebih tua dari yang semula tersedia. Konklusi utama adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan antara gulungan Yesaya di Qumran dengan teks Masoretik yang tertanggal 1000 kemudian.

SEPTUAGINTA. Terjemahan bahasa Yunani dari PL Ibrani untuk mengakomodasi orang Yahudi yang tersebar, yang tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Tradisi mengatakan bahwa sekitar 70 sarjana Ibrani menerjemahkan terks Ibrani ke Yunani (Septuaginta berarti “tujuh puluh”, jadi itu disebut LXX). Teks itu diterjemahkan di Aleksandria, Mesir, antara 250-150 BC. Sebagai suatu terjemahan hal itu tidaklah pas tetapi teks itu menolong dalam melihat bahwa itu berdasar pada teks Ibrani yang berusia 1000 tahun lebih tua dari manuskrip Ibrani yang kita miliki sekarang.

PENTATEUKH ORANG SAMARIA. Terjemahan dari kitab-kitab Musa dibuat untuk menfasilitasi ibadah di Samaria di gunung Gerizim (sebagai saingan Yerusalem). Terjemahan itu berdiri sendiri dari teks Masoretik dan karena itu tertelusur jauh ke belakang, yaitu abad ke-4 BC, maka terjemahan itu merupakan saksi yang bernilai untuk teks PL. meskipun ada sekitas 6000 perbedaan dengan teks Masoretik, kebanyakan dari perbedaan itu adalah hal yang tidak berarti, yaitu berhubungan dengan tata bahasa dan pelafalan (David Ewert, From Ancient Tablets to Modern Translations, (Grand Rapids: Zondervan, 1983), p. 100.).

TARGUM ARAMAIK. Setelah Israel kembali dari pembuangan di Babel, orang Yahudi pada umumnya telah meninggalkan bahasa Ibrani dan memakai Aramaik. Hal itu menjadi suatu kebutuhan untuk menyediakan Kitab Suci bagi orang Yahudi dalam bahasa sehari-hari mereka. Hasilnya adalah Targum. Targum artinya “terjemahan” atau “parafrasa” (menulis dengan kata-kata sendiri), dan mereka cukup bebas dalam menceritakan kembali catatan Alkitab; namun demikian, mereka “memberikan latar belakang yang bernilai untuk studi PB selain memberikan kesaksian untuk teks PL (David Ewert).

RELIABILITAS TEKS PB. Manuskrip Papirus. Manuskrip-manuskrip ini tua dan merupakan kesaksian yang penting. Misalnya: Papirus Chester Beatty tertanggal abad ke-2.

Manuskrip Uncial. Kira-kira 240 manuskrip disebut manuskrip uncial dan dapat dikenali dengan huruf-huruf besar. Codex (artinya “kitab”) Sinaiticus berisi semua PB dan tertanggal 331 AD. Codex Vaticanus berisi hampir keseluruhan PB, tertanggal dari abad ke-4 dan diperhitungkan sebagai salah satu manuskrip yang paling penting. Alexandrinus, tertanggal abad ke-5, berisi semua PB kecuali bagian dari Matius dan adalah menolong untuk menentukan teks Wahyu. Yang lain termasuk Codex Ephraemi (abad ke-5), Codex Bezae (abad ke-5 dan 6), dan Codex Washington (abad ke-4 dan 5).

Manuskrip Minuscule. Ada sekitar 2800 manuskrip manuskrip dalam huruf-huruf kecil. Secara umumnya tidak setua dari manuskrip uncial. Sebagian dari minuscule menyatakan tipe teks yang sama dan menunjukkan memiliki suatu hubungan “keluarga.” Demikianlah manuskrip itu dikategorikan.

Versi-versi. Sejumlah versi-versi yang terdahulu dari PB juga menolong dalam mengerti teks yang benar. Beberapa versi Syriac yang ada, di antaranya Diotessaron Tatian (170 AD), Old Syriac (200 AD), Peshitta (abad ke-5), dan Syriac Palestina (abad ke-5). Latin Vulgate, diterjemahkan oleh Jerome (400 AD), mempengaruhi gereja Barat. Terjemahan Koptik (diterjemahkan dalam abaf ke-3), termasuk versi Sahidic dan versi Bohairic, mempengaruhi Mesir.

Kesimpulan Enns adalah sebagai berikut: “Melalui studi manuskrip Yunani dan versi-versi yang mula-mula, kritik teks telah mampu menentukan teks yang dengan substansial dari tulisan-tulisan asli. Adalah nyata bahwa tangan Allah telah memelihara macam-macam teks sepanjang abad untuk memampukan para ahli untuk menyusunnya dan merekonstruksi teks itu sedekat mungkin pada tulisan aslinya.”

NASKAH-NASKAH TULIS TANGAN (NNT)

J. N. Birdsall mengelaborasikan mengenai naskah-naskah tulis tangan. Menurutnya, sumber paling utama ialah dalam naskah-naskah tulis tangan Yunani, yang dibuat dari sejumlah bahan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah papyrus (sarana menulis dibuat dari semacam gelagah, yang  dapat tahan lama). Papyrus ini dipakai di seluruh dunia kuno, tapi yang tersimpan dengan paling baik adalah papyrus yang ditemukan di lahan-lahan pasir Mesir. Dari 68 papirus PB yang terkenal itu (yang ditandai dalam daftar Gregory-von-Dobschuetz-Aland dengan “p” dalam bentuk huruf Gotik, dan disusul dengan bilangan) adalah yang berikut.

Pertama.

Papirus Kitab-kitab Injil. P45 (Papyrus  Chester-Beatty, dengan kitab-kitab Injil, Dublin), kira-kira 250 M, dalam 17 lembar memuat 30 bagian terbesar dari Lukas dan Markus, sedikit berkurang bagian-bagian Matius dan Yohanes; P52 (Perpustakaan John Rylands, Manchester, UK) kira-kira 100-150 M,  adalah serpihan PB yang paling tua yang ditemui; P66 (Papirus Bodmer dari Yohanes, Genewa, Swiss), kira-kira 200 M memuat Injil Yohanes dengan beberapa tempat kosong dalam pasal 14-21.

Kedua.

Papirus Kisah. P38 (Papirus Michigan 1571, Ann Arbor, AS) yang oleh beberapa ahli ditemukan bertarikh abad 3 oleh ahli lain abad ke-4, memuat Kisah Para Rasul 18:27-19:6; 19:12-16; P45 (Chester Beatty, seperti di atas) 13 halaman memuat bagian-bagian dari Kisah Para Rasul 5:30-17:17; P48 (Florence) bertarikh abad ke-3, hanya satu lembar, memuat Kisah Para Rasul 23:11-29.

Ketiga.

Surat-surat Paulus. P46 (Papirus Chester Beatty dengan surat-surat, Dublin), kira-kira 250 M dalam 90 lembar memuat bagian-bagian Surat Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, dalam urutan tersebut.

Keempat.

Kitab Wahyu. P47 (Papirus Chester Beatty dengan Wahyu, Dublin) 10 lembar, memuat Wahyu 9:10-17:2.

Semua papyrus di atas sangat menolong dalam hal menetapkan teks PB. Bahan kedua untuk membuat naskah-naskah tulis tangan Yunani adalah “Perkamen.” Perkamen adalah kulit biri-biri atau kambing yang dikeringkan dan dilicinkan dengan batu apung; kulit ini merupakan sarana menulis yang tahan lama dan tahan terhadap segala macam iklim. Perkamen dipakai sejak zaman kuno sampai akhir abad pertengahan Eropa, karena kertas mulai menggantikan-nya.

NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Curt Fletemier menyebutkan bahwa lebih dari 5.300 naskah kuno Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Sebelumnya sudah ada 15.000 salinan naskah kuno lainnya yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Syria dan Koptik. Naskah yang paling tua adalah naskah yang penting. Naskah-naskah itu disebut UNCIALS dan PAPYRI. Saat ini, ada 268 naskah dengan huruf besar, tetapi kebanyakan di antaranya berasal dari abad ke-5 dan abad-abad setelahnya. Naskah-naskah tertua, UNCIALS yang cukup diakui keasliannya dan dipakai menjadi dasar terjemahan Alkitab pada masa kini.

Codex Vaticanus, 325-350 M (Roma, Itali)

Codex Sinaiticus, 350 M (London, Inggris)

Codex Alexandrinus, 400 M (London, Inggris)

Codex Ephraemi, 400 M (Paris, Perancis)

Codex Bezae, 450 M (Cambridge, Inggris)

Salah satu naskah kuno yang lengkap memuat seluruh Kitab PB yakni Codex Sinaiticus, yang berasal dari tahun 350 M. Terjemahan Alkitab pada masa kini sebagian besar berdasarkan Codex Vaticanus dan Sinaiticus, tetapi ketika Alkitab versi KJV (King James Version) dicetak, Codex Vaticanus dan Sinaiticus  sudah tidak dapat dipakai lagi. Naskah-naskah yang tua usianya adalah Papyrus karena ditulis di atas lembaran papyrus berbentuk lembaran kertas kuno yang masih kasar. Beberapa di antaranya memuat sepuluh surat-surat Paulus sedangkan yang lainnya memuat Injil Yohanes, Matius dan lainnya. Fragmen 7Q5 ditemukan di gua nomor tujuh di Qumran. Gua Qumran dihancurkan oleh Romawi pada tahun 68 M dan tidak pernah dipugar kembali, sehingga naskah ini pasti ditulis sebelum tahun 68 M. Delapan belas huruf yang terdapat di dalamnya telah dideteksi dan sangat sesuai ketika dibandingkan dengan naskah dalam Markus 6:52-53. Berikut adalah daftar lengkap papyrus tertua yang kita miliki (dalam bahasa Yunani):

P32 (Nomor Papyrus), tahun penulisan, 175 M, isinya adalah Surat-surat Paulus (Manchester, Inggris).

P45, tahun penulisan 150 M, isinya 4 Injil dan Kisah Para Rasul (Dublin, Irlandia)

P46, tahun penulisan antara tahun 81-96 M, isinya surat-surat Paulus (Ann Arbor, Michigan). P46, Papirus Beatty II, adalah salah satu naskah tertua. Naskah ini telah dicetak kembali seluruhnya dalam satu volume, bagian dari seri naskah Chester Beatty Biblical Papyrus. Cakupan dari Papirus ini (secara berurutan) adalah: Roma, Ibrani, 1&2 Korintus, Efesus, Galatia, Filipi, Kolose, 1&2 Tesalonika. Tentu saja, karena dimakan waktu, satu atau dua bagian hilang dari tiap halaman bawah. Seperti 17 ayat bagian pertama dari surat Roma, 6:14 sampai 8:15, dan sedikit bagian dari surat Tesalonika.

P66, tahun penulisan antara tahun 100-150 M, isinya Injil Yohanes (Cologny, Swiss). P66, Papirus Bodmer.

P70, tahun penulisan antara tahun 150-200 M, isinya Matius 1,2,3,12 dan 24 (Florence, Itali).

P77, tahun penulisan 150 M, isinya Kitab-kitab Injil (Oxford, Inggris).

P87, tahun penulisan 125 M, isinya surat-surat Paulus (Cologne, Jerman)

P90, tahun penulisan 150 M, isinya Kitab-kitab Injil (Oxford, Inggris).

FRAGMEN-FRAGMEN YANG ADA (BAGIAN KECIL DARI NASKAH PAPYRUS):

P1 (nomor papyrus), tahun penulisan 100 M, isinya Mat. 1:19 dan 12:14-20 (Philadelphia, Pensylvinia).

P4, tahun penulisan antara tahun 85-100, isinya Lukas 3:23; 5:36 (Paris, Perancis).

P29, tahun penulisan antara tahun 180-220, isinya Kisah Para Rasul 26:7-8 (Oxford, Inggris).

P52, tahun penulisan antara tahun 117-138, isinya Yohanes 18:31-33 (Manchester, Inggris).

P64, tahun penulisan sebelum 66 M, isinya Mat. 26:7-8; 10:14-15,22-23,31 (Oxford, Inggris). Ini adalah Fragmen Papirus Magdalena. Carsten Thiede menemukan tiga bagian kecil yang terlupakan dari Injil Matius dalam sebuah kotak kaca yang sudah lama (tempat penyimpanan barang berharga), di sebuah perpustakaan kecil, di Inggris. Pada saat ia melihatnya, dari bentuk tulisan Yunaninya ia langsung mengenali bahwa fragmen ini berasal dari naskah Yunani sekitar abad pertama.

7Q4, (sebelum 66 M), isinya 1 Tim. 3:16 (Barcelona, Spanyol).

7Q5 (50 M), isinya Mar. 6:52-53 (Barcelona, Spanyol). 7Q4 dan 7Q5 ditemukan di gua Qumran, bersamaan dengan Naskah Laut Mati.

P67 (sebelum 66 M), isinya Mat. 3:9,15; 5:20-22,25-28 (Barcelona, Spanyol)

P69 (antara tahun 80-120 M), isinya Luk. 22:41,45-48,58-61 (Oxford, Inggris).

Salam Bae

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU: Masturbasi Teologi dan Proposisi Negatif Ignoransi Muhammad Yahya Waloni (Bagian 13)

Sumber gambar: https://www.imagensbonitas.com.br/2018/03/ressurreicao-de-jesus-cristo-nosso.html

Salah seorang mualaf, Dr. Muhammad Yahya Waloni, dalam bukunya “Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta:, menulis (halaman 87) sebuah klaim yang sang amburadul-irasional: “Ketahuilah, walaupun Alkitab Perjanjian Baru Kristen hanya 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan….“

Tuduhan 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan, sebenarnya tidak ada dasar sejarahnya. Dari mana sumbernya bahwa hanya 5% yang adalah fakta dalam Perjanjian Baru? Apa saja fakta tersebut (yang 5%)? Apa saja dongeng dan khayalan yang 95% itu? Mumber manakah yang menyebutkan demikian? Tuduhan-tuduhan Waloni di atas, sebenarnya dengan sendirinya gugur dalam “dapur” ilmiah. Di halaman 111-112, Waloni mengemukakan sebuah pernyataan yang mencengangkan saya: Menurut umat Kristen, keempat kitab dar MATIUS hingga YOHANES adalah “Injil”. Padahal yang sebenarnya bukan injil. Adapun kebenaran ucapan Nabi “Sang pembawa Injil” yaitu Isa as, yang tertulis dari dalam ke empat kitab ini, kebenarannya hanya 5% saja. Selanjutnya 45% “tahayul”, dan 50% adalah “dongeng”. Formulasi matematikanya adalah: “Tahayul + dongeng = “OMONG KOSONG”.

Pernyataan Waloni di atas perlu diklarifikasi: 1) apa saja kebenaran yang 5% itu; 2) apa saja 45% takhayul itu; dan 3) apa saja 50% dongeng itu. Saya meyakini bahwa Waloni tak akan sanggup menjawabnya. Tuduhan Waloni sama sekali tidak ada dasar sejarahnya, dan itu membuktikan bahwa Waloni bukanlah sarjana yang jujur dan kredibel, justru malah mempertontonkan kebodohannya sendiri yang bercampur dengan “kesakithatiannya” terhadap Kristen. Tidak ada metodologi yang digunakan Waloni. Semuanya hanya berdasarkan asumsi semata, dan penuh dengan caci maki. Entah, setan apa yang ada dalam pikirannya sampai menimbulkan kebodohan tingkat tinggi yang tertuang dalam seluruh celotehannya di dalam bukunya yang tidak ilmiah sama sekali.

Kredibilitas dan Reliabilitas Alkitab: Kredo Iman Kristen Sepanjang Sejarah

Alkitab adalah firman Allah yang berotoritas. Alkitab benar-benar merupakan sebuah buku yang luar biasa. Alkitab menuntun kita untuk beriman kepada Yesus Kristus, memupuk pertumbuhan iman, membimbing, membentuk, dan mengoreksi iman itu sepanjang hidup kita (Philip Johnston (editor), Pengantar untuk Mengenal Alkitab: Memahami Alkitab Berdasarkan Sejarah, Tema, dan Penafsirannya, (Bandung: Kalam Hidup, 2011), hlm. 11). Mark Strauss menjelaskan bahwa Alkitab muncul dalam beragam konteks sejarah serta budaya dan memakai bentuk-bentuk penulisan yang bervariasi: prosa, puisi, silsilah, hukum (perintah serta peraturan), mazmur, amsal, sejarah, filsafat, nubuat, Surah-Surah kiriman, dan sebagainya. Keberagaman tersebut dapat dilukiskan sebagai sisi manusiawi dari Alkitab, sebab mencakup aneka pengalaman dan sudut pandang yang luas jangkauannya (Mark Strauss, “Mengenal Alkitab”, dalam Johnston, Pengantar untuk Mengenal Alkitab, hlm. 15).

Alkitab memiliki “keragaman” yang tiada tara – Alkitab menjadi inspirasi hidup kudus dan suci di hadapan Tuhan, karena demikianlah naturnya. Alkitab tidak digunakan sebagai senjata untuk membenarkan pembunuh-an terhadap manusia. Alkitab tidak mencetuskan kaum “teroris”. Alkitab menuntun kepada hidup yang penuh kasih dan pengampunan. Tidak ada kasih dan pengampunan yang ajaib dan tulus selain daripada kasih dan pengampunan yang diajarkan Tuhan Yesus yang dengannya, orang Kristen dapat menjadi terang dan garam dunia, mengasihi sesama, mengasihi musuh dan mendoakan musuh mereka. Tidak ada perintah dan demikian berani, yang dikumandangkan oleh para pemimpin agama selain daripada Yesus Kristus. Tidak ada yang berani mengatakan kasihilah dan doakan musuhmu, selain daripada Yesus Kristus.

Strauss berpendapat, walaupun ada banyak perbedaan, Alkitab menyajikan sebuah kisah yang agung atau meta-narasi. Kisah ini dapat dirangkum sebagai tindakan-tindakan Allah untuk menyelamatkan dunia. Kesatuan itu tercapai karena Alkitab bukanlah sekadar buku karya manusia. Alkitab bukanlah sekadar buku karya manusia. Alkitab adalah firman Allah yang diilhamkan dan berkuasa. Strauss juga menjelaskan bahwa, “Pengilhaman atau inspirasi berarti bahwa Alkitab bukanlah sekadar catatan mengenai perenungan-perenungan rohani atau pengalaman-pengalaman manusia dengan Allah, melainkan penyataan diri Allah (Wahyu), komunikasi-Nya yang sarat makna kepada umat manusia. Alkitab sendiri menyatakan pengilhaman mengenai isinya tersebut, baik secara implisit (tidak langsung) maupun secara eksplisit (langsung).”

Alkitab adalah firman Allah didasari pada apa yang dikatakannya sendiri – ia berasal dari Allah; Allah yang mewahyukannya kepada manusia, maka sifat atau natur manusiawi ikut menghiasi atau mewarnai Alkitab itu sendiri. Strauss menjelaskan, “Penulisan nubuat dalam Alkitab PL memakai istilah ‘Beginilah firman TUHAN….’ Para penulis Alkitab PB juga sering mengutip Alkitab PL dengan menyatakan, ‘Berfirmanlah Allah…’ atau ‘Berfirmanlah Roh Kudus….’ Sebuah contoh yang baik ialah Kisah Para Rasul 4:25 yang mengutip Mazmur 2:1-2 dari Alkitab PL dengan pendahuluan, ‘Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau (Tuhan) telah berfirman’ di sini kita melihat keselarasan yang manusiawi dan ilahi dalam pengilhaman Alkitab. Strauss menambahkan, pengilhaman itu tidak bergantung pada sumber-sumber atau tradisi-tradisi di balik naskah itu, tetapi pada penulis dan naskah yang dihasilkannya. Seleksi, peredaksian, dan komposisi penulis yang diilhami itu dibimbing dan dituntun “oleh Roh Kudus yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu” (1 Ptr. 1:12) sehingga hasilnya adalah Alkitab yang berkuasa – firman Allah.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa klaim Waloni bahwa Alkitab isinya 10% kebenaran dan 90% omong kosong adalah sebuah klaim tanpa dasar dan paling konyol di bawah kolong langit ini. Waloni sama sekali hanya mengeluarkan bualan sentimen personal dan sama sekali tidak memiliki bukti apa pun. Modal Waloni hanyalah “celoteh penipuan dan kebohongan.”

Kristen tidak memalsukan PL, tidak ragu dengan PL, malahan dijadikan sebagai Kitab Suci yang berotoritas. Kristen tidak mengubah kisah atau sejarah PL melainkan meneguhkannya – dan atau mengutipnya sebagai bagian dari pengakuan bahwa PL berotoritas dan adalah firman yang telah diwahyukan Allah.

Salam Bae

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai