“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.” (Amsal 19:9)

“Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh” (Pengkhotbah 9:17)
Banyak kesalahan dan kebodohan yang muncul ke permukaan tatkala sekelompok orang membicarakan tentang naskah-naskah Perjanjian Baru, yang dianggap telah dipalsukan oleh para penyalin. Alasan ini disebabkan karena dalam naskah-naskah PB ada banyak varian yang berbeda satu dengan lainnya. Dan bahkan, beberapa orang mendeteksi akan adanya kerusakan secara radikal atas naskah-naskah PB, sehingga mereka menyimpulkan bahwa Alkitab adalah kitab omong kosong dan telah dipalsukan. Kita tentu dapat bertanya: Apa saja yang omong kosong? Apa definisi omong kosong? Dan siapa yang menciptakan omong kosong? Apakah omong kosong yang dituduh kepada Alkitab memiliki sejumlah sumber rujukan atau materi dasarnya sebagai pembuktiannya? Siapa yang memalsukan, kapan dipalsukan, apa saja yang dipalsukan, apa persis bunyi teks aslinya, di mana teks yang asli?
Lebih parahnya lagi, ada yang menuduh bahwa Paulus mengubah atau merekayasa Injil-Injil menjadi Perjanjian Baru (New Testament). Kitab ini (Perjanjian Baru), menurut Muhammad Yahwa Waloni adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul. Ada yang mencoba mengutip pernyataan Robert W. Funk, Profesor Perjanjian Baru bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli. Hampir secara keseluruhan kritik teks PB, sepakat untuk mendongkel personalitas Yesus yang terdiri dari dua bagian besar: mendongkel ketuhanan-Nya dan mendongkel klaim-klaim-Nya. Dua hal ini telah dilakukan oleh banyak pakar bahkan para skeptis dan sebagainya.
“Jesus Seminar” adalah kelompok yang mengusung teori pendongkelan Yesus dari naskah-naskah PB. Sebelum saya menguraikan ulasan menarik tentang Jesus Seminar dari Douglas Groothuis, saya mengutip pendapat dari James M. Boice mengenai kepastian historis Yesus yang berseberangan dengan “penentuan petak umpet” ala Jesus Seminar:
“Yesus adalah seorang sosok historis yang hidup dan ajaran-ajaran-Nya dapat diselidiki dengan teknik-teknik akademik yang normal. Jika kebenaran itu hilang, maka kekristenan sendiri akan hilang, karena kekristenan itu adalah dan pasti historis. Namun kehidupan Kristus bahkan lebih daripada ini – kehidupan Kristus adalah sejarah yang menentukan. Makna seluruh sejarah disingkapkan dalam sejarah Tuhan Yesus Kristus, dan pilihan antara komitmen kepada-Nya atau penolakan terhadap-Nya dan sejarah-Nya menetapkan tujuan-tujuan kita.” James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), (Surabaya: Momentum 2011), 622.
Douglas Groothuis, dalam bukunya Jesus in An Age of Controversy membahas mengenai topik Jesus Seminar. Berikut ulasan dari Groothuis:
Jesus Seminar dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan ekspres yakni: mendidik orang-orang Kristen yang tidak terpelajar mengenai apa yang “studi-studi ilmiah” dapat memberi tahu kita tentang Perjanjian Baru dan Yesus. Robert Funk, otak dan juru bicara Jesus Seminar berkata: “Kami ingin membebaskan Yesus. Satu-satunya Yesus yang kebanyakan orang inginkan adalah Yesus khayalan. Mereka tidak menginginkan Yesus sejati. Mereka ingin Yesus yang dapat mereka sembah. Sang Yesus Kultis” (Sumber: Los Angeles Times, 24 Februari 1994; dikutip dalam Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996), p. 7. Dikutip kembali oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi). Roy Hoover, anggota Jesus Seminar menyatakan bahwa misinya adalah untuk “membebaskan Yesus dari orang-orang” yang menyu-sun Kitab-kitab Injil.” (Sumber: Dikutip dalam Kenneth L. Woodward, “The Death of Jesus,” Newsweek, 4 April 1994, p. 49. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Para anggota Jesus Seminar mengadakan pertemuan 2 kali dalam setahun untuk membukukan opini-opini mereka mengenai perkataan-perkataan Yesus. Kelompok ini semula mempunyai kurang lebih 200 orang anggota, tetapi berkurang menjadi 74 anggota pada saat publikasi The Five Gospels (1993). Mereka dengan saksama dan mempelajari keempat Injil yang alkitabiah dan Injil Tomas dan mereka berusaha untuk menentukan autentisitas setiap perkataan Yesus. Seorang anggota Jesus Seminar dengan popular meringkas pemilihan warna-warni itu seperti berikut ini:
Warna merah: itu perkataan Yesus
Warna merah muda: itu kedengarannya seperti perkataan Yesus
Warna abu-abu: itu mungkin perkataan Yesus
Warna hitam: telah terjadi kesalahan
(Robert Funk, Roy Hoover, dan Jesus Seminar, The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus, (New York: Macmillan Publishing Company, 1993), 37. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Penilaian Luke Timothy Johnson terhadap Jesus Seminar: Jesus Seminar menginginkan ulasan pers! Mereka berusaha mendapatkan ulasan pers! Mereka memahami berita utama! Mereka meminta respons media! Yang terutama, mereka menyediakan manik-manik berwarna, dan hal yang paling ketat (di luar vatikan) adalah bahwa agama menyediakan pemilihan yang aktual, ditambah pernyataan-pernyataan provokatif yang dibuat dengan keterampilan khusus! Sebagai bonusnya, mereka tidak berhubungan dengan isu-isu yang sulit untuk ditutup-tutupi seperti dosa dan anugerah, tetapi dengan personalitas, sang sosok pendiri, Yesus. Dan mereka menjanjikan bentuk serangan yang memalukan pada dasar-dasar kekristenan. Keterampilan Jesus Seminar itu diterima oleh segmen media yang tidak diberi kesempatan untuk mengerjakan berita yang riil. Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996), p. 10. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi.
Groothuis mengamati bahwa media yang kelaparan terkadang langsung menelan pernyataan-pernyataan Jesus Seminar tanpa mencernanya terlebih dahulu. Walaupun para anggota Jesus Seminar mempresentasikan diri mereka sebagai wakil dari keseluruhan komunitas sarjana, namun hal ini tidak benar. Mereka hanyalah sekelompok kecil sarjana Perjanjian Baru dan seperti yang ditunjukkan oleh para kritikus, mereka tidak mewakili dunia kesarjanaan Perjanjian Baru yang lebih luas. Meskipun ada 74 sarjana yang berkontribusi pada karya final The Five Gospels, tetapi ada 6900 anggota Society of Biblical Literature dan setidaknya setengah dari mereka adalah pakar-pakar Perjanjian Baru. Dua organisasi akademis studi Alkitab terkemuka, yakni: Society of Biblical Literature dan Society for the Study of the New Testament, tidak bergabung secara resmi dengan Jesus Seminar. Jesus Seminar didanai oleh Weststar Institute (Yang didirikan Robert Funk (1926–2005)). Menurut Johnson, meskipun Jesus Seminar membanggakan beberapa sarjananya yang bereputasi tinggi, daftar nama para cendekiawan itu sama sekali tidak mewakili tokoh-tokoh terbaik dari kesarjanaan Perjanjian Baru. Sarjana Perjanjian Baru, Craig Blomberg mencatat bahwa 36 dari 74 Jesus Seminar memperoleh gelar mereka dari atau mengajar di salah satu dari tiga “departemen studi-studi Perjanjian Baru yang paling liberal” seperti Harvard, Claremont dan Vanderbilt. Para sarjana Eropa juga tidak termasuk di dalamnya. 40 pesertanya “adalah orang-orang yang relatif tidak dikenal” yang secara akademis tidak dapat dibuktikan (Craig L. Blomberg,”The Seventy-four ‘Scholars’: Who Does the Jesus Seminar Really Speak For?” Christian Research Journal (Musim Gugur 1994), 34. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Profesor Perjanjian Baru, Richard Hays mengatakan dengan sesungguhnya: “Pada kenyataannya, sebagian besar sarjana Alkitab professional sangat skeptis dengan metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan kelompok akademis ini.” Meskipun ada sarjana-sarjana yang dihormati dan berkualitas di dalam kelompok itu, usaha mereka untuk menghadirkan pandangan-pandangan mereka sebagai hasil-hasil kesarjanaan kritis yang meyakinkan – harus kita katakan – adalah penipuan yang patut dicela (Richard Hays, The Corrected Jesus: A Review of The Five Gospels, First Things, [Mei 1994], 47. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi). Jesus Seminar memasukkan pandangan-pandangannya sendiri yang pesimistik tentang natur Kitab-kitab Injil dan bukan pandangan-pandangan kesarjanaan Perjanjian Baru pada umumnya. Karena menolak hal-hal supernatural, maka Jesus Seminar harus mere-konstruksi sebuah gambar Yesus yang baru melampaui apa yang dinyatakan oleh Kitab-kitab Injil itu sendiri. Karena telah mendekonstruksi pandangan Yesus sejarah, maka mereka merasa bebas untuk mengontruksi sosok Yesus yang asing sama sekali.
Prinsip yang digunakan oleh Jesus Seminar adalah menghilangkan banyak perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Prinsip ini dikenal sebagai criteria ketidaksamaan (criterion of dissimilarity). Perkataan Yesus dianggap autentik jika perkataan itu berbeda dengan tradisi Yahudi zaman itu dan pandangan-pandangan gereja Kristen perdana. Pernya-taan Jesus Seminar yang aneh: “Berhati-hatilah bila anda menemukan sosok Yesus yang seluruhnya cocok dengan anda.” (ini tentu saja adalah apa yang telah mereka lakukan sendiri). Groothuis menutupnya dengan: Ingatlah pesan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat. 5:11), dan “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).
Isu-isu miring tentang Yesus sudah menjadi “santapan harian” orang Kristen dan iman Kristen tetap teguh. Lain halnya dengan Islam, ketika mengkritk Muhammad, telinga mereka sudah gatal, marah dan emosi (naik darah). Kesimpulannya, dengan mencoba meyakinkan pembaca mengenai pendapat dari Jesus Seminar bahwa hanya 18 persen ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli adalah kesimpulan yang ignoran sebab tindakan Jesus Seminar adalah tindakan “kurang kerjaan” dan mencari sensasi, meskipun tindakan tersebut tidaklah terpuji dalam dunia akademis. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah Alkitab (Injil-injil) itu asli atau palsu, melaikan didasari pada fakta yang telah disaksikan oleh para murid Yesus. Oleh karena itu, para murid tentu lebih tahu ucapan Yesus ketimbang Jesus Seminar.
Salam Bae…









