MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU: Proposisi Negatif Jesus Seminar: Kegagalan Memahami “Autonomous Sources” (Bagian 12)

“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.” (Amsal 19:9)

Sumber gambar: https://radioteopoli.tumblr.com/image/61661447804

“Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh” (Pengkhotbah 9:17)

Banyak kesalahan dan kebodohan yang muncul ke permukaan tatkala sekelompok orang membicarakan tentang naskah-naskah Perjanjian Baru, yang dianggap telah dipalsukan oleh para penyalin. Alasan ini disebabkan karena dalam naskah-naskah PB ada banyak varian yang berbeda satu dengan lainnya. Dan bahkan, beberapa orang mendeteksi akan adanya kerusakan secara radikal atas naskah-naskah PB, sehingga mereka menyimpulkan bahwa Alkitab adalah kitab omong kosong dan telah dipalsukan. Kita tentu dapat bertanya: Apa saja yang omong kosong? Apa definisi omong kosong? Dan siapa yang menciptakan omong kosong? Apakah omong kosong yang dituduh kepada Alkitab memiliki sejumlah sumber rujukan atau materi dasarnya sebagai pembuktiannya? Siapa yang memalsukan, kapan dipalsukan, apa saja yang dipalsukan, apa persis bunyi teks aslinya, di mana teks yang asli?

Lebih parahnya lagi, ada yang menuduh bahwa Paulus mengubah atau merekayasa Injil-Injil menjadi Perjanjian Baru (New Testament). Kitab ini (Perjanjian Baru), menurut Muhammad Yahwa Waloni adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul. Ada yang mencoba mengutip pernyataan Robert W. Funk, Profesor Perjanjian Baru bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli. Hampir secara keseluruhan kritik teks PB, sepakat untuk mendongkel personalitas Yesus yang terdiri dari dua bagian besar: mendongkel ketuhanan-Nya dan mendongkel klaim-klaim-Nya. Dua hal ini telah dilakukan oleh banyak pakar bahkan para skeptis dan sebagainya.

“Jesus Seminar” adalah kelompok yang mengusung teori pendongkelan Yesus dari naskah-naskah PB. Sebelum saya menguraikan ulasan menarik tentang Jesus Seminar dari Douglas Groothuis, saya mengutip pendapat dari James M. Boice mengenai kepastian historis Yesus yang berseberangan dengan “penentuan petak umpet” ala Jesus Seminar:

“Yesus adalah seorang sosok historis yang hidup dan ajaran-ajaran-Nya dapat diselidiki dengan teknik-teknik akademik yang normal. Jika kebenaran itu hilang, maka kekristenan sendiri akan hilang, karena kekristenan itu adalah dan pasti historis. Namun kehidupan Kristus bahkan lebih daripada ini – kehidupan Kristus adalah sejarah yang menentukan. Makna seluruh sejarah disingkapkan dalam sejarah Tuhan Yesus Kristus, dan pilihan antara komitmen kepada-Nya atau penolakan terhadap-Nya dan sejarah-Nya menetapkan tujuan-tujuan kita.” James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), (Surabaya: Momentum 2011), 622.

Douglas Groothuis, dalam bukunya Jesus in An Age of Controversy membahas mengenai topik Jesus Seminar. Berikut ulasan dari Groothuis:

Jesus Seminar dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan ekspres yakni: mendidik orang-orang Kristen yang tidak terpelajar mengenai apa yang “studi-studi ilmiah” dapat memberi tahu kita tentang Perjanjian Baru dan Yesus. Robert Funk, otak dan juru bicara Jesus Seminar berkata: “Kami ingin membebaskan Yesus. Satu-satunya Yesus yang kebanyakan orang inginkan adalah Yesus khayalan. Mereka tidak menginginkan Yesus sejati. Mereka ingin Yesus yang dapat mereka sembah. Sang Yesus Kultis” (Sumber: Los Angeles Times, 24 Februari 1994; dikutip dalam Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996), p. 7. Dikutip kembali oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi). Roy Hoover, anggota Jesus Seminar menyatakan bahwa misinya adalah untuk “membebaskan Yesus dari orang-orang” yang menyu-sun Kitab-kitab Injil.” (Sumber: Dikutip dalam Kenneth L. Woodward, “The Death of Jesus,” Newsweek, 4 April 1994, p. 49. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).

Para anggota Jesus Seminar mengadakan pertemuan 2 kali dalam setahun untuk membukukan opini-opini mereka mengenai perkataan-perkataan Yesus. Kelompok ini semula mempunyai kurang lebih 200 orang anggota, tetapi berkurang menjadi 74 anggota pada saat publikasi The Five Gospels (1993). Mereka dengan saksama dan mempelajari keempat Injil yang alkitabiah dan Injil Tomas dan mereka berusaha untuk menentukan autentisitas setiap perkataan Yesus. Seorang anggota Jesus Seminar dengan popular meringkas pemilihan warna-warni itu seperti berikut ini:

Warna merah: itu perkataan Yesus

Warna merah muda: itu kedengarannya seperti perkataan Yesus

Warna abu-abu: itu mungkin perkataan Yesus

Warna hitam: telah terjadi kesalahan

(Robert Funk, Roy Hoover, dan Jesus Seminar, The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus, (New York: Macmillan Publishing Company, 1993), 37. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).

Penilaian Luke Timothy Johnson terhadap Jesus Seminar: Jesus Seminar menginginkan ulasan pers! Mereka berusaha mendapatkan ulasan pers! Mereka memahami berita utama! Mereka meminta respons media! Yang terutama, mereka menyediakan manik-manik berwarna, dan hal yang paling ketat (di luar vatikan) adalah bahwa agama menyediakan pemilihan yang aktual, ditambah pernyataan-pernyataan provokatif yang dibuat dengan keterampilan khusus! Sebagai bonusnya, mereka tidak berhubungan dengan isu-isu yang sulit untuk ditutup-tutupi seperti dosa dan anugerah, tetapi dengan personalitas, sang sosok pendiri, Yesus. Dan mereka menjanjikan bentuk serangan yang memalukan pada dasar-dasar kekristenan. Keterampilan Jesus Seminar itu diterima oleh segmen media yang tidak diberi kesempatan untuk mengerjakan berita yang riil. Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996), p. 10. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi.

Groothuis mengamati bahwa media yang kelaparan terkadang langsung menelan pernyataan-pernyataan Jesus Seminar tanpa mencernanya terlebih dahulu. Walaupun para anggota Jesus Seminar mempresentasikan diri mereka sebagai wakil dari keseluruhan komunitas sarjana, namun hal ini tidak benar. Mereka hanyalah sekelompok kecil sarjana Perjanjian Baru dan seperti yang ditunjukkan oleh para kritikus, mereka tidak mewakili dunia kesarjanaan Perjanjian Baru yang lebih luas. Meskipun ada 74 sarjana yang berkontribusi pada karya final The Five Gospels, tetapi ada 6900 anggota Society of Biblical Literature dan setidaknya setengah dari mereka adalah pakar-pakar Perjanjian Baru. Dua organisasi akademis studi Alkitab terkemuka, yakni: Society of Biblical Literature dan Society for the Study of the New Testament, tidak bergabung secara resmi dengan Jesus Seminar. Jesus Seminar didanai oleh Weststar Institute (Yang didirikan Robert Funk (1926–2005)). Menurut Johnson, meskipun Jesus Seminar membanggakan beberapa sarjananya yang bereputasi tinggi, daftar nama para cendekiawan itu sama sekali tidak mewakili tokoh-tokoh terbaik dari kesarjanaan Perjanjian Baru. Sarjana Perjanjian Baru, Craig Blomberg mencatat bahwa 36 dari 74 Jesus Seminar memperoleh gelar mereka dari atau mengajar di salah satu dari tiga “departemen studi-studi Perjanjian Baru yang paling liberal” seperti Harvard, Claremont dan Vanderbilt. Para sarjana Eropa juga tidak termasuk di dalamnya. 40 pesertanya “adalah orang-orang yang relatif tidak dikenal” yang secara akademis tidak dapat dibuktikan (Craig L. Blomberg,”The Seventy-four ‘Scholars’: Who Does the Jesus Seminar Really Speak For?” Christian Research Journal (Musim Gugur 1994), 34. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).

Profesor Perjanjian Baru, Richard Hays mengatakan dengan sesungguhnya: “Pada kenyataannya, sebagian besar sarjana Alkitab professional sangat skeptis dengan metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan kelompok akademis ini.” Meskipun ada sarjana-sarjana yang dihormati dan berkualitas di dalam kelompok itu, usaha mereka untuk menghadirkan pandangan-pandangan mereka sebagai hasil-hasil kesarjanaan kritis yang meyakinkan – harus  kita katakan – adalah penipuan yang patut dicela (Richard Hays, The Corrected Jesus: A Review of The Five Gospels, First Things, [Mei 1994], 47. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi). Jesus Seminar memasukkan pandangan-pandangannya sendiri yang pesimistik tentang natur Kitab-kitab Injil dan bukan pandangan-pandangan kesarjanaan Perjanjian Baru pada umumnya. Karena menolak hal-hal supernatural, maka Jesus Seminar harus mere-konstruksi sebuah gambar Yesus yang baru melampaui apa yang dinyatakan oleh Kitab-kitab Injil itu sendiri. Karena telah mendekonstruksi pandangan Yesus sejarah, maka mereka merasa bebas untuk mengontruksi sosok Yesus yang asing sama sekali.

Prinsip yang digunakan oleh Jesus Seminar adalah menghilangkan banyak perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Prinsip ini dikenal sebagai criteria ketidaksamaan (criterion of dissimilarity). Perkataan Yesus dianggap autentik jika perkataan itu berbeda dengan tradisi Yahudi zaman itu dan pandangan-pandangan gereja Kristen perdana. Pernya-taan Jesus Seminar yang aneh: “Berhati-hatilah bila anda menemukan sosok Yesus yang seluruhnya cocok dengan anda.” (ini tentu saja adalah apa yang telah mereka lakukan sendiri). Groothuis menutupnya dengan: Ingatlah pesan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat. 5:11), dan “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).

Isu-isu miring tentang Yesus sudah menjadi “santapan harian” orang Kristen dan iman Kristen tetap teguh. Lain halnya dengan Islam, ketika mengkritk Muhammad, telinga mereka sudah gatal, marah dan emosi (naik darah). Kesimpulannya, dengan mencoba meyakinkan pembaca mengenai pendapat dari Jesus Seminar bahwa hanya 18 persen ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli adalah kesimpulan yang ignoran sebab tindakan Jesus Seminar adalah tindakan “kurang kerjaan” dan mencari sensasi, meskipun tindakan tersebut tidaklah terpuji dalam dunia akademis. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah Alkitab (Injil-injil) itu asli atau palsu, melaikan didasari pada fakta yang telah disaksikan oleh para murid Yesus. Oleh karena itu, para murid tentu lebih tahu ucapan Yesus ketimbang Jesus Seminar.

Salam Bae…

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 11)

Sumber gambar: 365bibles.blogspot.com/2011_02_01_archive.html

Ehrman mengatakan, “Tentunya sebagian besar dari ratusan ribu perubahan teks antarmanuskrip adalah perubahan yang sama sekali tidak signifikan, tidak penting, dan tidak berguna selain untuk memberikan petunjuk bahwa para penyalin adalah manusia yang sering mengalami kesulitan ejaan atau mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi sama seperti orang-orang lain pada umumnya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 207).

Ehrman menjelaskan, “Para ahli modern telah menemukan bahwa para penyalin di Alexandria … cukup teliti, bahkan untuk ukuran saat itu, dan di Alexander juga ada dokumen Kristen purba yang sangat murni dan dipertahankan dari satu dekade ke dekade berikutnya oleh para penyalin Kristen yang relatif baik” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 72).

Analisis:

Pertama, jika Ehrman mengakui bahwa “Tentunya sebagian besar dari ratusan ribu perubahan teks antarmanuskrip adalah perubahan yang sama sekali tidak signifikan, tidak penting, dan tidak berguna selain untuk memberikan petunjuk bahwa para penyalin adalah manusia yang sering mengalami kesulitan ejaan atau mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi sama seperti orang-orang lain pada umumnya”, mengapa ia berkesimpulan terlalu dini untuk menyatakan bahwa naskah-naskah PB telah rusak sedemikian rupa seolah-olah tak terpulihkan? Bukankah Ehrman sendiri telah mengakui bahwa perubahan-perubahan tersebut tidak signifikan dan tidak berguna? Bukankah Ehrman juga mengakui bahwa naskah-naskah asli sudah tidak ada lagi? Lalu dengan apa membandingkan naskah-naskah salinan untuk mengetahui bahwa itu telah diubah sedemikian rupa?

Kedua, jika Ehrman yakin bahwa di Alexander juga ada dokumen Kristen purba yang sangat murni dan dipertahankan dari satu dekade ke dekade berikutnya oleh para penyalin Kristen yang relatif baik, mengapa kemudian ia berkesimpulan terbalik? Di sinilah letak kebingungan Ehrman sendiri. Bock dan Wallace mengamati bahwa “tulisan Ehrman mengesankan seolah-olah keyakinan iman ortodoks akan guncang jika perikop-perikop tersebut dihilangkan dari Alkitab.” Padahal, Ehrman sendiri yang goncang imannya karena ia sendiri tidak menaruh sistem penemuan dan pemikirannya kepada standar berpikir itu sendiri (lihat analisis saya sebelumnya).

KESIMPULAN

Pertama, gagasan-gagasan, klaim-klaim Ehrman sebenarnya hanya berkutat pada sebuah keyakinannya bahwa karena naskah asli tidak ada, maka yang ada adalah salinan dari salinan dan seterusnya, yang telah banyak diubah oleh para penyalin, sehingga isi beritanya tidak lagi seortodoks yang kita kira. Ehrman beranggapan bahwa karena banyaknya varian maka Alkitab tak dapat dapat dikategorikan sebagai firman Allah yang tanpa salah. Tetapi, apa yang salah dengan Alkitab? Apakah penulisannya atau inti beritanya? Kesalahan penulisan adalah hal lumrah dalam dunia tulis-menulis, akan tetapi yang sering menjadi substansial adalah “pesan” yang ingin disampaikan kepada para pembaca

Kedua, Ehrman gagal dalam hal uji materi pernyataan dengan menggunakan prinsip filsafat logika yang salah satunya adalah standar ganda bagi setiap klaim-klaimnya. Juga, mayoritas pernyataan Ehrman hanyalah sebuah asumsi yang dia anggap sebagai solipsisme, padahal justru sebaliknya, setiap gagasan dan pernyataan Ehrman, dengan mudah ditampik tanpa harus berkeringat membasahi tubuh.

Ketiga, karena firman Allah diberikan kepada manusia, maka Allah sungguh luar biasa menghargai manusia yang bisa salah tetapi tidak harus salah dalam menyampaikan pesan-pesan pokok yang mencakup lima hal: (1) terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; (2) tanggung jawab moralitas; (3) tanggung jawab kemanusiaan; (4) tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan (5) tanggung jawab keselamatan.

Keempat, ajaran-ajaran pokok tersebut hingga sekarang tidak berubah dan itulah sebabnya, Kristen menjadi agama nomor satu di dunia, meski hujan kritik tak pernah sepi dalam setiap zaman. Jawaban demi jawaban yang diberikan oleh para teolog dan pemerhati teologi, telah cukup membungkam para pengkritik, kaum skeptis, dan kaum negator. Alkitab adalah buku dari Tuhan yang telah menghasilkan peradaban yang bermoral, tanpa peperangan, tanpa balas dendam, dan memberikan keleluasaan pada Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya seperti yang tampak dalam tulisan Rasul Paulus: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Roma 12:19).

Sumber kutipan:

Sumber: Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace, Mendongkel Yesus dari TakhtaNya: Upaya Mutakhir untuk Menjungkirbalikkan Iman Gereja mengenai Yesus Kristus, terj. Helda Siahaan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009).

Salam Bae…

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 10)

Apakah Semua Manuskrip Penuh Kesalahan?

Ehrman menegaskan, “Variasi antarmanuskrip bahkan lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 90). Ia memperkirakan ada 400.000 variasi, sedangkan PB berbahasa Yunani saat ini rata-rata terdiri atas 138.162 kata. Implikasinya, setiap kata dalam PB memiliki kemungkinan 3 variasi. Betapa menyedihkan!

Ia juga menyatakan, “Manuskrip-manuskrip yang kita miliki… penuh dengan kesalahan yang diulang dan semakin lama semakin banyak. Kadang-kadang kesalahan tersebut dikoreksi, dan kadang-kadang meningkat. Demikian seterusnya selama berabad-abad….” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 57).

Ehrman menyimpulkan, “Melihat begitu banyak masalah [kerusakan manuskrip], bagaimana kita mengharapkan dapat mengetahui isi teks asli, teks yang sebenarnya ditulis oleh pengarang? Tentu sangat sulit; sedemikian sulit sehingga sejumlah ahli kritik teks telah mulai menyarankan kita untuk tidak mendiskusikan teks ‘asli’ karena tidak memiliki akses terhadapnya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 58).

Analisis:

Pertama, jika Ehrman meragukan teks-teks PB yang ada sekarang yang dianggap sebagai teks-teks yang diubah atau disalin dengan ribuan variannya, bagaimana ia bisa berkesimpulan bahwa teks-teks ada sekarang telah diubah sedangkan ia sendiri mengakui bahwa tidak ada akses ke “teks” asli?

Kedua, atas dasar apa Ehrman menyimpulkan bahwa naskah-naskah PB telah diubah dengan begitu banyaknya sedangkan ia sendiri tidak mengetahui seperti apa naskah-naskah asli tersebut?

Ketiga, bukankah Ehrman sendiri menabrak argumentasinya sendiri? Ini membuktikan bahwa Ehrman tidak secara matang mengambil kesimpulan atas tuduhan perubahan secara masiv selama berabad-abad lamanya.

Keempat, Profesor Perjanjian Baru Craig Blomberg mengatakan, “Hal yang membuat buku “Misquoting Jesus” sangat berbeda adalah kesan yang ditimbulkan oleh Ehrman melalui data dan kecenderungannya untuk berfokus pada perubahan-perubahan paling drastis dalam sejarah teks, sehingga pembaca awam mengira bahwa masih banyak dan beragam contoh fenomena lain di luar yang ia paparkan, padahal sebenarnya tidak ada lagi” (Review of Misquoting Jesus, by Bart D. Ehrman. Denver Journal vol. 8. http://www.denverseminary.edu/dj/articles2006/0200/0206) (Dikutip Bock & Wallace)

Kelima, Ehrman sendiri mengakui, “Perubahan terbanyak adalah perubahan karena kesalahan murni dan sederhana, seperti salah tulis, pengurangan atau penambahan yang tidak disengaja, kesalahan ejaan, dan kesalahan-kesalahan kecil lain” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 55) (Dikutip Bock & Wallace).

Keenam, Metzger dan Ehrman mendaftarkan beberapa jenis kesalahan karena penglihatan atau pendengaran kurang baik, dan kesalahan karena cara berpikir. (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 250-59) (Dikutip Bock & Wallace). Contoh variasi teks. Naskah 1 Tesalonika 2:7 mengandung masalah teks yang sulit. Paulus dan Silas menggambarkan sikapnya terhadap orang yang baru bertobat dalam kunjungan mereka ke Tesalonika. Beberapa manuskrip mengatakan “Kami lembut terhadap kamu”, sedangkan yang lain mengatakan “Kami seperti anak kecil di antara kamu.” Perbedaan kedua variasi ini hanya satu huruf dalam bahasa Yunani, yaitu “nepioi” versus “epioi”. Bahkan ada satu salinan abad pertengahan yang mengatakan “Kami seperti kuda di antara kamu”! Ini karena kata kuda dalam bahasa Yunani adalah “hippoi”yang tulisannya mirip dengan dua kata tadi (Bock & Wallace).

Ketujuh, Bock & Wallace menjelaskan, variasi-variasi yang ditemukan dalam manuskrip dapat dibagi menjadi beberapa kategori berikut: (1) Perbedaan ejaan; (2) Perbedaan minor karena merupakan sinonim atau perbedaan kata yang tidak mempengaruhi terjemahan; (3) Perbedaan berarti tetapi tidak masuk akal kalau diikuti; dan (4) Perbedaan berarti dan masuk akal untuk diikuti.

Kedelapan, Bock & Wallace menjelaskan Perjanjian Baru juga mengandung variasi karena sinonim (persaman kata). Jenis variasi ini dapat mempengaruhi terjemahan tetapi tidak mempengaruhi makna dasar. Apakah Yesus dipanggil “Tuhan” atau “Yesus” dalam Yohanes 4:1 tidak mengubah makna dasar, karena yang dimaksud tetap sama. Sebuah ilustrasi dari variasi yang berarti dan masuk akal atau “bisa jalan” adalah Roma 5:1. Apakah Paulus mengatakan “Kami memiliki damai” (echomen) atau “Mari kita memiliki damai (echōmen)? Dalam bahasa Yunani, “Kami memiliki damai” bernuansa indikatif, sedangkan “Mari kita memiliki damai” adalah subjunktif. Perbedaan antara dua bentuk kata kerja tersebut ditandai oleh penggunaan “o” pendek (omicron) dalam indikatif, dan penggunaan “o” panjang (omega) dalam subjunktif. Pertanyaan penting adalah: Apakah salah satu variasi tersebut berkontradiksi dengan ajaran Kitab Suci? Tidak. Keduanya “bisa jalan”.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/b6/ef/c6/b6efc66781ddb042e50f3328b188a567.jpg

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 9)

Sumber gambar: https://www.ancient-origins.net/artifacts-ancient-writings/oxyrhynchus-papyri-largest-cache-early-christian-manuscripts-discovered-020982

Tertullianus, seorang Bapa Gereja pada awal abad ketiga, mengecam lawan-lawannya yang meragukan isi naskah asli dengan mengatakan: “Marilah, hai engkau yang memerlukan lebih banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-Gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka (Prescription Again Heretics, bab 36).

Bock dan Wallace menjelaskan, jika “otentik” berarti asli, seperti makna bahasa Latinnya, maksud Tertullianus adalah mengatakan bahwa beberapa buku asli PB masih ada pada saat itu, lebih dari 1 abad setelah ditulis. Maksudnya tentulah surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Filipi, Tesalonika, Efesus, dan Roma. Ia menganjurkan mereka mengunjungi Gereja-Gereja tersebut untuk melihat tulisan asli tersebut. Tetapi jika “otentik” tidak berarti dokumen asli, setidaknya berarti salinan-salinan yang ditulis dengan teliti.

Irenaeus, uskup agung dari Lyons pada akhir abad kedua mencatat bahwa ia telah memeriksa salinan-salinan kitab Wahyu dan mencatat manuskrip-manuskrip mana yang lebih awal untuk memastikan teks-teks yang otentik. Ia berusaha memelihara isi teks asli, tetapi tidak menyatakan bahwa dokumen asli masih ada. Namun, usaha Irenaeus memelihara isi teks asli dan membandingkan salinan dengan manuskrip yang lebih awal tentu menggambarkan praktik dan usaha yang dilakukan oleh para penulis dan Bapa Gereja.

Dua manuskrip tertua yang kita miliki saat ini, yaitu Papyrus 75 (P75) dan Codex Vaticanus (B), memiliki kesamaan yang luar biasa. Keduanya termasuk manuskrip paling akurat yang ada saat ini. P75 lebih tua 125 tahun daripada B, namun bukan merupakan sumber teks B. Sebaliknya, B disalin dari sumber yang lebih tua daripada P75. Kombinasi dua naskah ini tentu dapat membawa kita kembali ke awal abad kedua.

Misquoting Jesus karya Bart Ehrman, lupa membandingkan salinan-salinan PB dengan literatur kuno Latin atau Yunani lainnya. Keraguan terhadap teks PB mestinya sama dengan keraguan terhadap buku kuno lain. Manuskrip PB jauh lebih dekat kepada aslinya dan jauh lebih banyak daripada literatur lain pada era yang sama. PB jauh lebih tahan uji daripada literatur kuno Yunani atau Latin mana pun.

Telah ditemukan sekitar 5.700 manuskrip PB dalam bahasa Yunani. Jumlah sumber ini terus bertambah. Setiap dekade ada penemuan manuskrip baru. Sedangkan rata-rata naskah penulis klasik ditemukan hanya dalam 20 manuskrip. Naskah PB berbahasa Yunani saja lebih dari 300 kali lipatnya. Selain bahasa Yunani, manuskrip PB juga ada dalam bahasa Latin, Koptik, Syria, Armenia, Gothik, Georgia, Arab, dan banyak versi lain. Manuskrip Latin ada lebih dari 10.000. Secara  keseluruhan PB memiliki sekitar 1.000 kali lipat jumlah manuskrip dari rata-rata penulis klasik lain. Bahkan jumlah salinan karya penulis terkenal seperti Homerus dan Herodotus sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan PB.

Bruce Metzger dan Bart Ehrman menulis dalam The Text of the New Testament. Selain bukti tertulis manuskrip PB berbahasa Yunani dan versi-versi lebih awal, para ahli kritik teks dapat membandingkan banyak kutipan Alkitab dalam tafsiran, khotbah, dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Begitu banyaknya kutipan ini sehingga seandainya pun seluruh sumber pengetahuan yang lain mengenai teks PB dimusnahkan, tetap akan ada cukup sumber untuk merekonstruksi hampir seluruh PB (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 126).

Para ahli kritik teks PB memiliki sangat banyak sumber dibandingkan dengan literatur Yunani dan Latin lain. Meskipun kita tidak memilik dokumen-dokumen asli, pernyataan bahwa kita tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan dari dokumen asli tanpa klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang kita miliki adalah pernyataan yang menyesatkan. Pernyataan seperti ini mengungkapkan kesalahan penting Misqouting Jesus: bukan apa yang Ehrman katakan yang menjadi masalah, melainkan apa yang tidak dikatakannya. Ia tidak mengatakan betapa banyak sumber yang kita miliki untuk dapat merekonstruksi teks PB, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah kita tidak memiliki petunjuk apa pun mengenai isi teks asli PB karena semua manuskrip telah rusak. Faktanya tidak demikian. Isi teks asli memang tidak mudah dipastikan, tetapi dapat ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang kita miliki. Kita sama sekali tidak perlu menduga-duga isi teks tanpa dasar manuskrip. Jadi, terlepas dari apakah kita memiliki atau tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan, saat ini kita memiliki salinan yang secara kolektif cukup layak untuk membawa kita pada isi teks asli, kecuali dalam beberapa bagian yang sangat kecil (Bock & Wallace)

Analisis:

Saya merangkum penjelasan yang sangat baik dari Profesor Bock dan Wallace sebagai berikut:

Pertama, dari pernyataan Tertullianus bahwa, “Marilah, hai engkau yang memerlukan lebih banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-Gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka” telah membuktikan bahwa di zamannya ada “tulisan-tulisan otentik dari para rasul” yang tentunya bertarikh lebih awal dan sangat mungkin adalah naskah asli atau salinan pertama atau kedua dari naskah asli.

Kedua, Bock dan Wallace yakin (berdasarkan pernyataan Tertullianus) bahwa beberapa buku asli PB masih ada pada saat itu, lebih dari 1 abad setelah ditulis (surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Filipi, Tesalonika, Efesus, dan Roma).

Ketiga, dari data bahwa “Irenaeus, uskup agung dari Lyons pada akhir abad kedua mencatat bahwa ia telah memeriksa salinan-salinan kitab Wahyu dan mencatat manuskrip-manuskrip mana yang lebih awal untuk memastikan teks-teks yang otentik. Ia berusaha memelihara isi teks asli, tetapi tidak menyatakan bahwa dokumen asli masih ada. Namun, usaha Irenaeus memelihara isi teks asli dan membandingkan salinan dengan manuskrip yang lebih awal tentu menggambarkan praktik dan usaha yang dilakukan oleh para penulis dan Bapa Gereja” justru meneguhkan bahwa teks-teks otentik—dalam hal ini—bisa mencakup dua hal yaitu: (1) bahwa naskah-naskah asli yang terpelihara (kontra Ehrman); (2) inti berita (pesan) tidak berubah (tetap ortodok, kontra Ehrman)

Ketiga, dari “dua manuskrip tertua yang kita miliki saat ini, yaitu Papyrus 75 (P75) dan Codex Vaticanus (B), memiliki kesamaan yang luar biasa dan keduanya termasuk manuskrip paling akurat yang ada saat ini”, justru membuktikan bahwa—jika seandainya bukan teks asli—maka paling tidak adalah salinan dari teks asli, sehingga hal ini menampik spekulasi yang sangat galau versi Ehrman.

Keempat, sebagaimana yang diungkapkan Bock dan Wallace bawhwa, “’Misquting Jesus’ karya Bart Ehrman, lupa membandingkan salinan-salinan PB dengan literatur kuno Latin atau Yunani lainnya. Keraguan terhadap teks PB mestinya sama dengan keraguan terhadap buku kuno lain. Manuskrip PB jauh lebih dekat kepada aslinya dan jauh lebih banyak daripada literatur lain pada era yang sama. PB jauh lebih tahan uji daripada literatur kuno Yunani atau Latin mana pun” membuktikan bahwa gagasan-gagasan spekulatif Ehrman sangat berat sebelah. Itu sebabnya, klaim-klaim Ehrman sebenarnya “gugur” ketika diuji dalam dapur filsafat logika di mana salah satunya adalah penggunaan standar ganda, dan unsur-unsur lain yang penting dalam filsafat logika adalah: terdefinisi, terkonteks, terklasifikasi, dan terklarifikasi.

Kelima, dari penjelasan Metzger dan Ehrman dalam “The Text of the New Testament”, bahwa, “… begitu banyaknya kutipan ini sehingga seandainya pun seluruh sumber pengetahuan yang lain mengenai teks PB dimusnahkan, tetap akan ada cukup sumber untuk merekonstruksi hampir seluruh PB” mengindikasikan dua hal: (1) isi berita PB masih tetap dipertahankan dna dipercaya; dan (2) hal-hal teknis tidak menjadi yang paling mendasar untuk menyatakan bahwa naskah-naskah PB telah secara masiv berubah total sehingga tidak seortodoks yang Ehrman kira.

Keenam, Bock dan Wallace benar ketika menyatakan bahwa, “meskipun kita tidak memilik dokumen-dokumen asli, pernyataan bahwa kita tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan dari dokumen asli tanpa klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang kita miliki adalah pernyataan yang menyesatkan”. Ini sebenarnya menjelaskan bahwa Ehrman itu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan yang ketika diukur dari prinsip filsafat logika langsung gugur. Karena inti persoalannya adalah ada pada “naskah asli” yang dipersoalkan sehingga berbagai spekulasi muncul. Seperti yang diungkapkan pula oleh Bock dan Wallace bahwa, “pernyataan seperti ini mengungkapkan kesalahan penting Misquoting Jesus bukan apa yang Ehrman katakan yang menjadi masalah, melainkan apa yang tidak dikatakannya. Bagi saya ini merupakan bagian dari cara berpikir yang dilupakan Ehrman.

Saya sepakat dengan Bock dan Wallace bahwa, “Isi teks asli memang tidak mudah dipastikan, tetapi dapat ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang kita miliki.” Artinya, inti berita merupakan hal fundamental,  yang masih terjaga hingga sekarang ini. Buktinya, Kristen adalah agama terbesar di dunia dan menghasilkan sebuah sistem kehidupan yang baik dan bahkan suprematif: mendoakan musuh. Jadi, pada dasarnya, Ehrman hanya mempersoalkan hal-hal teknis dan melupakan hal-hal yang substansial.

Salam Bae…

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Bagian 6

Ehrman mengatakan, “variasi antar manuskrip-manuskrip itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 90). Ia mengatakan, “Semua naskah ini saling berbeda, dalam ribuan bagian… Perbedaan tersebut sedemikian banyak sehingga kita bahkan tidak tahu berapa jumlahnya” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 10).

Analisis:

Pertama, Ehrman harus mengakui bahwa jika diuji melalui penelitian ilmiah dengan mengajukan 20 penulis terkait dengan topik atau fakta yang mereka lihat, maka perbedaan varian diksi, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf “mutlak” berbeda, sehingga ketika fakta ini terjadi, maka fakta pada penyalinan manuskrip-manuskrip akan mutlak menghasilkan varian-varian. Soal jumlah “varian itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” bukanlah jadi soal yang substansial sebab toh inti beritanya tidak berubah, sebagaimana telah saya sampaikan di awal bahwa ada lima pokok utama dalam Alkitab: pertama, terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; kedua, tanggung jawab moralitas; ketiga, tanggung jawab kemanusiaan; keempat, tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan kelima, tanggung jawab keselamatan.

Kedua, kita semua, termasuk Ehrman tidak mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan bahwa variasi antar manuskrip-manuskrip itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan di atas bahwa faktor logislah yang memastikan bahwa adanya perbedaan tersebut yakni karena setiap penyalin memiliki perspektif (cara berpikir, konteks yang mengikat) yang berbeda, sehingga—sekali lagi—bukan hal-hal yang substansial yang menjadi varinnya. Inti berita (lima pokok) tetap terjaga. Meski 10 orang menulis satu peristiwa dengan kata-kata atau kalimat sendiri-sendiri, tetapi inti peristiwanya tetap sama.

Ketiga, pernyataan Ehrman bahwa, “semua naskah ini saling berbeda, dalam ribuan bagian… Perbedaan tersebut sedemikian banyak sehingga kita bahkan tidak tahu berapa jumlahnya” mengindikasikan perbedaan-perbedaan teknis sebagaimana para pakar PB berpendapat demikian. Poinnya adalah “inti berita” tetap tidak berubah meski varian-varian dalam manuskrip-manuskrip begitu masiv.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Bagian 7

Ehrman menyimpulkan, “Kita salah jika menganggap perubahan-perubahan tersebut tidak berdampak nyata terhadap makna atau kesimpulan teologis dari teks tersebut… Dalam beberapa kasus, makna inti dari teks dipertaruhkan karena tergantung pada bagaimana kita mengatasi suatu masalah teks.” “Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 208).

Efek kumulatif dari semua argumentasi Ehrman adalah: bukan hanya tidak ada kepastian mengenai isi teks asli, melainkan juga seandainya kita yakin akan isi teks, teologi intinya tidak seortodoks yang kita sangka (Bock & Wallace)

Analisis:

Pernyataan Ehrman di atas saya bagi dua:

Pertama, pernyataan Ehrman bahwa, “Kita salah jika menganggap perubahan-perubahan tersebut tidak berdampak nyata terhadap makna atau kesimpulan teologis dari teks tersebut” justru salah sebab hingga sekarang makna yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip yang memiliki varian-varian (atau perubahan-perubahan) tidaklah menimbulkan tindakan-tindakan anarkis-anarkis dari mayoritas Kristen. Hingga sekarang  Kristen adalah agama terbesar di dunia, dengan milyaran orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Alkitab adalah firman Allah. Seandainya spekulasi Ehrman benar, maka tentu jumlah penganut Kristen menempati posisi terendah dari jumlah agama-agama di dunia. Pada faktanya tidaklah demikian. Oleh sebab itu, pernyataan Ehrman bukanlah hal yang perlu dirisaukan karena pernyataan Ehrman justru berangkat dari kerisauannya yang tak mampu menggunakan logikanya untuk melihat secara standar ganda dan data faktual.

Kedua, Ehrman menyatakan (sebagai sambungan dari pernyataan sebelumnya) bahwa, “dalam beberapa kasus, makna inti dari teks dipertaruhkan karena tergantung pada bagaimana kita mengatasi suatu masalah teks”, memang menimbulkan persoalan-persoalan heremenetis pada teks-teks tertentu. Tetapi, pengaruh yang ditimbulkanya tidak sebesar kerisauan Ehrman. Orang Kristen hingga sekarang tidaklah memusingkan hal-hal teknis dalam konteks perbedaan varian-varian sebagaimana muncul dalam terjemahan-terjemahan, karena—seperti yang telah saya tegaskan di atas—bahwa inti berita tidak berubah. Yang berubah adalah “perasaan galau” Ehrman.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bock & Wallace terkait dengan gagasan Ehrman bahwa, efek kumulatif dari semua argumentasi Ehrman adalah: bukan hanya tidak ada kepastian mengenai isi teks asli, melainkan juga seandainya kita yakin akan isi teks, teologi intinya tidak seortodoks yang kita sangka. Gagasan Ehrman ini sudah terjawab dalam penjelasan saya di atas. Justru malah ajaran Kristen sangat ortodoks hingga sekarang. Tak ada yang berubah pesan Alkitab dalam kelima pokok penting yang telah saya sebutkan di awal.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Bagian 8

Bock dan Wallace menganalisis argumentasi Ehrman dan berpendapat, jika Ehrman menegaskan bahwa “kita bahkan tidak memiliki salinan generasi ketiga atau keempat selain salinan-salinan yang ditulis jauh setelah itu memberikan kesan yang menyesatkan. Bagaimana ia tahu seperti apa salinan-salinan generasi awal? Kita memiliki 10 sampai 15 salinan yang ditulis dalam kurun waktu satu abad sejak PB selesai; tidak mungkinkah beberapa di antaranya adalah salinan generasi ketiga atau keempat, atau bahkan generasi kedua? Memang benar, semua berbentuk salinan fragmental, tetapi sebagian cukup substansial. Ehrman sendiri mengakui salah satu dari manuskrip tersebut mungkin merupakan salinan langsung dari naskah yang ditulis ratusan tahun sebelumnya (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 91).

Bock dan Wallace memberikan uraian tentang penulisan PB sebagai berikut:

Pertama, berita disampaikan secara tertulis, bukan lisan.

Kedua, berita diteruskan melalui beberapa jalur, tidak hanya satu. Jalur-jalur ini berfungsi untuk memeriksa dan menyeimbangkan hasil penyampaian berita.

Ketiga, ahli kritik teks biasanya tidak hanya mengandalkan penerima berita terakhir, tetapi juga bertanya kepada beberapa orang yang lebih dekat dengan sumber berita.

Keempat, sepanjang sejarah penyampaian berita, para penulis (dikenal sebagai Bapa-Bapa Gereja) memberikan komentar terhadap teks, dan jika ada kesenjangan kronologis antarmanuskrip mereka mengisinya dengan mencatat apa yang dikatakan oleh teks dalam konteks waktu dan tempat saat itu.

Kelima, dalam permainan telepon, pemain yang baru selesai membisikkan cerita tidak lagi ikut campur dalam kelanjutan penyampaian cerita, sedangkan PB asli disalin lebih dari satu kali dan masih dikonsultasikan sampai beberapa generasi salinan sesudahnya.

Analisis:

Jika ada yang bertanya: bagaimana jika yang menyalin adalah mereka yang ingin memalsukan inti berita Injil-Injil PB? Jawabannya sederhana: Injil-Injil PB disalin oleh banyak penyalin. Hal ini tampak dalam banyaknya varian teks. Namun dari sejumlah perbedaan varian teks, substansi dari Injil sama sekali tidak berubah. Poin utama dari hal ini adalah karena yang menyalin adalah manusia, maka kemungkinan untuk salah menyalin [yang tidak disengaja] adalah hal yang lumrah, sebagaimana yang terjadi di dunia percetakan. “Manusia bisa salah, tetapi ‘tidak harus’ salah”. Kira-kira itulah moto Kristen untuk menampik gagasan-gagasan Ehrman.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/306737424622820460/

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/37999190583933870/

Bagian 1

Pakar Perjanjian Baru, Profesor Barth Ehrman adalah seorang yang meninggalkan imannya menjadi skeptis terhadap Perjanjian Baru (Alkitab). Pernyataannya yang mengguncang dunia kritik teks, kritik sumber, dan sebagainya, telah menyita perhatian dunia khususnya bidang penelitian teks-teks PB. Telah beredar ulasan-ulasan dan kajian-kajian terhadap pernyataan Ehrman. Profesor PB Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace telah mengulas pernyataan Ehrman. Berikut ini adalah beberapa klaim Ehrman sebagaimana yang dikutip oleh Bock & Wallace, dan kemudian saya memberikan analisis terhadap setiap pernyataan Ehrman dari perspektif filsafat logika dan secuil gagasan doktrinal (jika dipandang perlu). Agar lebih mendetail (spesifik), maka saya menguraikan ulasan ini secara fragmentaris-korelasional (tetap saling terkait)

Ehrman menyatakan keraguannya: “Saya terus-menerus kembali kepada pertanyaan mendasar: bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tak mungkin salah padahal faktanya kita tidak memiliki kata-kata yang diinspirasikan oleh Allah tanpa kemungkinan salah, melainkan hanya kata-kata yang ditulis oleh para penyalin—kadang-kadang dengan tepat dan kadang-kadang (sering kali) dengan tidak tepat?” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 7).

Analisis:

Ehrman tidak memahami secara mendalam mengenai klausa “tanpa kemungkinan salah”. Kalimat ini tidaklah berorientasi pada hal-hal teknis melainkan kepada lima pokok utama dalam Alkitab yang adalah firman Allah: pertama, terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; kedua, tanggung jawab moralitas; ketiga, tanggung jawab kemanusiaan; keempat, tanggung jawab spiritualitas, ibadah, doa; dan kelima, tanggung jawab keselamatan.

Jelas, bahwa frasa “Firman Allah tanpa salah” tidak bermaksud atau tidak berfokus pada hal-hal penulisan sebuah peristiwa yang kemudian diidentifikasikan sebagai sesuatu yang berkontradiksi melainkan pada isi dari peristiwa tersebut yang mencakup lima pokok utama di atas. Bahkan frasa “firman Allah tanpa salah” dalam Alkitab tidaklah mengindikasikan adanya pemahaman bahwa yang dimaksudkan dengan klaim tersebut adalah hal-hal teknis atau proses penyalinan naskah. Yang menjadi fokus utama bahwa firman Allah tanpa salah selalu berorientasi pada “hubungan kovenan” Allah terhadap manusia, serta “apa yang menjadi tanggung jawab manusia kepada Allah karena manusia telah berdosa kepada Allah.”

Jadi, Ehrman sendiri tidak mendefinisikan gagasan “tanpa kemungkinan salah” yang ditujukan kepada Alkitab. Dengan demikian, asumsi subjektif Ehrman bukanlah bersifat radikal melainkan hanyalah letupan emosi dan ketikdaktercapaian cara berpikir logis dalam memahami totalitas Alkitab yang adalah karya Allah yang paling ajaib di dunia yang telah mengubah miliyaran manusia berdosa, menjadi hidup secara benar di hadapan Allah sesuai dengan firman-Nya.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 2)

Karena hasil penelitian Ehrman atas Markus 2:26, ia kemudian mulai berpikir bahwa Alkitab mengalami perubahan seismik [yang sangat besar]. Ehrman kemudian menulis, “Bagi saya, Alkitab mulai tampak sebagai buku yang sangat manusiawi… Buku ini adalah karya manusia dari awal sampai akhir” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 11).

Analisis:

Pertama, Alkitab memang adalah buku manusiawi karena ditujukan kepada manusia.

Kedua, Alkitab adalah karya manusia dalam konteks bahwa memang manusia yang menulis Alkitab, dan bukan kambing. Ehrman benar dalam hal ini bahwa Alkitab adalah karya manusia dari awal sampai akhir. Allah bukanlah penulis sebagaimana yang kita pahami bahwa Allah seperti manusia yang menulis memegang alat tulis. Tidak. Allah adalah sumber pengilhaman; Allah menghargai manusia sebagai penulisnya sebab firman-Nya ditujukan [dikhususkan] bagi manusia, maka sebagai wujud penghargaan Allah kepada manusia adalah mengizinkan manusia menggunakan logikanya untuk menuliskan firman-Nya.

Ketiga, Alkitab adalah buku untuk manusia yang berisi tentang pedoman dari Allah yang mencakup lima pokok utama: (1) terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; (2) tanggung jawab moralitas; (3) tanggung jawab kemanusiaan; (4) tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan (5) tanggung jawab keselamatan.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 3)

Dalam acara “The Daily Show”, Ehrman diundang dan menjadi bintang tamu. Acara tersebut dipandu oleh Jon Stewart. Atas dasar hasil presentasi Ehrman, Stewart mengatakan bahwa Alkitab yang sengaja dirusak oleh para penyalin ortodoks justru terlihat “lebih menarik… nyaris lebih ilahi.”

Analisis atas pendapat Stewart di atas:

Pertama, Stewart harus mendefinisikan kata “sengaja” yang merujuk kepada penyalin ortodoks, bahwa mereka telah merusak Alkitab.

Kedua, Stewart harus menyuguhkan naskah asli untuk membuktikan argumentasinya bahwa Alkitab yang telah dirusak itu “nyaris lebih ilahi.”

Ketiga, klaim “nyaris lebih ilahi” harus ada pembanding dengan yang “bukan ilahi” atau “sedikit ilahi” sehingga klaim Stewart tersebut dapat diklarifikasi secara solid dan kredibel.

Keempat, Stewart tak mungkin dapat membuktikannya, sebab Ehrman sendiri menyadari bahwa tidak ada lagi naskah asli. Jika naskah asli tidak ada, bagaimana mungkin Stewart dapat membuktikan naskah asli yang [mungkin] “kurang ilahi” atau “sedikit ilahi” untuk dibandingkan dengan naskah PB yang dirusak itu sebagai “nyaris bersifat ilahi”?

Kelima, argumentasi Stewart adalah menunjukkan skeptisismenya yang ignoran tingkat [level] merayap (creep).

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 4)

Bock dan Wallace meringkas argumentasi Bart Ehrman, demikian:

(1) Naskah PB ditulis ulang jauh setelah naskah aslinya, sehingga menimbulkan keraguan mengenai apa sebenarnya isi naskah asli;

(2) Begitu banyak perbedaan teks di antara naskah-naskah yang ditemukan, terutama manuskrip-manuskrip yang tertua, sehingga menimbulkan dugaan bahwa teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti;

(3) Para penyalin “ortodoks” telah mengubah secara signifikan teks PB, bahkan mengubah berita intinya.

Analisis:

(1) pernyataan Ehrman bahwa “naskah PB ditulis ulang jauh setelah naskah aslinya” tidak dapat dibuktikan secara memadai oleh Ehrman dan meskipun—seandainya—naskah tersebut disalin ulang jauh setelah naskah aslinya, tidak merupakan jaminan bahwa “naskah aslinya” perlu diragukan. Ini hanya soal asumsi dan bukan pada persoalan fakta historis. Ehrman sedang asyik bermain di dunia persepsi logis tetapi tidak logis sebab ada celah dalam logika untuk berpikir sebaliknya (standar ganda). Jadi, pernyataan Ehrman bukanlah bersifat ilmiah melainkan bersifat spekulatif.

(2) kalimat “begitu banyak perbedaan teks di antara naskah-naskah yang ditemukan, terutama manuskrip-manuskrip yang tertua, sehingga menimbulkan dugaan bahwa teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti” yang diungkapkan Ehrman memiliki natur yang sama dengan pernyataan pertama: ia hanya berspekulasi tanpa bukti. Namanya asumsi yang tetap asumsi. Tak ada yang istimewa dari klaim Ehrman tersebut. Hanya saja, karena kepakarannya, maka mungkin orang tidak perlu membedakan mana yang terkait dengan klaim ilmiah dan mana klaim yang hanya bersifat spekulatif. Di sini, Ehrman merasa dirinya sedang ber-“solipsisme” atau “bermasturbasi” sesuka hati.

Pemikiran Ehrman kemudian menghasilkan dugaan bahwa “teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti” merupakan sebuah proses analogi yang tak mutlak alias spekulatif. Karena hanya bersifat “dugaan” maka pernyataan Ehrman bukanlah sebuah pernyataan yang perlu dipikirkan secara matang. Itu hanyalah gagasan ringan tak berbobot. Lagipula, definisi “disalin dengan sangat teliti” sebenarnya hanyalah sebuah keinginan dan latar belakang Ehrman bahwa Alkitab “seharusnya” disalin secara teliti, padahal pesan Alkitab tidak berbicara soal “seharusnya” melainkan “sesungguhnya”; bukan soal teknis penulisan, tetapi pesan yang ingin disampaikan.

(3) Dugaan Ehrman bahwa “para penyalin “ortodoks” telah mengubah secara signifikan teks PB, bahkan mengubah berita intinya” juga merupakan klaim spekulatif. Tak ada bukti mengenai “pengubahan teks-teks” oleh penyalin ortodoks. Ehrman tidak memahami natur dari Firman Allah, dan ia hanya ingin berpikir bahwa seharusnya penyalinan teks-teks tersebut “harus tidak salah kata demi kata dan huruf demi huruf”. Jika Ehrman menganggap bahwa para penyalin ortodoks telah melakukan perubahan-perubahan signifikan terhadap teks PB, dari mana analogi antara teks-teks asli dan teks-teks perubahan yang dilakukan oleh para penyalin ortodoks dapat diukur? Ehrman di sini sedang bermimpi di siang bolong.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 5)

Ehrman menyatakan: “Bukan hanya tidak memiliki naskah asli, kita bahkan tidak memiliki salinan dari naskah asli. Kita bahkan tidak memiliki salinan dari salinan dari naskah asli, atau salinan dari salinan dari salinan dari naskah asli. Kita hanya memiliki salinan yang ditulis jauh setelah naskah aslinya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 10).

Dasar atas klaim Ehrman di atas, selaras dengan klaimnya bahwa “Fakta bahwa kita memiliki ribuan manuskrip PB tidak berarti kita dapat yakin bahwa kita tahu apa yang tertulis dalam naskah aslinya. Jika kita hampir tidak memiliki naskah-naskah awal, bagaimana kita dapat tahu apakah teks PB tidak pernah diubah secara signifikan sebelum diperbanyak?” (Lost Christianities: The Battles for Sripture and the Faiths We Never Knew, Oxford: Oxford University Press,2003, 219).

Analisis:

Petama, jika tidak adanya naskah asli, dan yang ada hanyalah salinan dari salinan dan seterusnya, maka apakah perbedaan varian yang ribuan itu dapat disimpulkan bahwa Alkitab telah mengalami perubahan seismik? Apakah tidak ada ruang pemikiran lain bahwa “minat” yang sangat besar dari penganut Kristen Ortodoks untuk menyalin “berita yang sangat baik dan memberikan perubahan pada kehidupan mereka” kemudian disebarluaskan meski secara substansi perbedaan varian bukanlah unsur yang esensial ketimbang unsur pokok-pokoknya?

Kedua, klausa “kita bahkan tidak memiliki salinan dari salinan dari naskah asli” adalah klaim keyakinan dan bukan klaim ilmiah karena tidak ada bukti bagi Ehrman bahwa naskah-naskah yang ada adalah bukan naskah-naskah asli. Untuk menyeimbangkan klaim keyakinan Ehrman, maka saya juga menggunakan klaim keyakinan bahwa “sangat mungkin dari ribuan naskah, satu, lima, atau sepuluh, adalah salinan dari naskah. Ini adalah standar ganda: klaim keyakinan sepadan dengan klaim keyakinan.

Ketiga, klausa “kita hanya memiliki salinan yang ditulis jauh setelah naskah aslinya” lebih bersifat spekulatif ketimbang ilmiah. Dan klausa tersebut masuk dalam kategori klaim keyakinan. Maka, sebagai balasannya, mungkin saja salinan dari naskah asli disalin sangat dekat waktunya dengan naskah asli.

KELUARGA HOSEA DAN KELUARGA MASA KINI

Konteks: Fiman Tuhan datang pada Hosea pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia,-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.

Apa yang terjadi dengan Yehuda dan Israel? Di zaman Uzia dan Yotam, bangsa mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan.

Di zamannya, Ahas, raja Yehuda, anak Yotam melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, hidup menurut kelakukan raja-raja Israel. Ia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang dihalau Tuhan dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.

Di zamannya, Hizkia raja Yehuda, melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Dia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Di zamannya, Yerobeam bin Yoas, raja Israel, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Tetapi Tuhan menolong Israel melalui Yerobeam bin Yoas untuk melepaskan kesenggsaraan Israel.

Berangkat dari kondisi Israel dan Yehuda, maka Tuhan ingin menunjukkan kasih sayang-Nya sekaligus kekecewaan-Nya atas Israel. Dosa-dosa penyembahan berhala dan keserakahan manusia membawa mereka pada level dosa dan kejahatan tingkat tinggi. Untuk menggambarkan situasi ini, Tuhan-melalui pernikahan Hosea dan Gomer-memberikan contoh faktualnya. Gomer dilambangkan sebagai Israel, pelacur rohani, pelaku dosa-dosa zina rohani dan fisik, membelakangi Tuhan, dan Hosea menggambarkan Tuhan yang mau mengasihi Gomer [Israel].

Perhatikan frasa “membelakangi Tuhan”. Ini kondisi yang sangat parah dan menyakitkan. Misalnya, ketika seorang pendeta berkhotbah lalu jemaatnya membelakangi pendeta, meski tahu bahwa ada pendeta di depan yang sedang berkhotbah, tetapi jemaat tidak mengindahkannya. Bukankah ini sangat menyakitkan dan kurang ajar? Itulah yang dilakukan Israel terhadap Tuhan. Tuhan dengan setia menunjukkan cinta kasih-Nya, malahan sering dilupakan. Padahal mereka tahu bahwa Tuhan itu ada, dan berkuasa, dan bahkan menolong umat-Nya. Mungkin kondisi ini dapat diwakilkan dengan kalimat: “Tuhan itu baik, Ia akan mengampuni; itu kan pekerjaan-Nya”

Isi

Hosea menikahi seorang pelacur. Pelacur memiliki dua arti: pertama, pelacur jalanan, dan kedua, pelacur kuil (pelacur bakti)—pelacur di kuil penyembahan berhala. Ada perbedaan tafsir soal ini. Apa pun maksud dari pelacur, yang pasti identitas yang dilekatkan pada Gomer adalah “pelacur”. Artinya, personalitas Gomer dianggap sebagai kondisi di mana Gomer memiliki kedudukan dalam arti relasi sosial yang rendah.

Lalu mengapa Tuhan memilih Gomer untuk dinikahkan dengan Hosea? Apakah tidak ada perempuan cantik lainnya yang lebih terhormat? Begini, kita sering berfokus pada kata “pelacur” sebagaimana yang dilekatkan pada Gomer. Kita lupa, bahwa Tuhan memerintahkan Hosea untuk mengambil Gomer sebagai “istrinya” secara sah. Bukan dengan cara yang sembrono. Hal ini terkait dengan proses “pembelajaran” dan “kode” dari Tuhan untuk memberitahukan bahwa Ia kecewa dengan Israel. Kondisi orang Israel dijelaskan di pasal 4. Sedangkan maksud pernikahan Hosea dengan Gomer dan perempuan lainnya dijelaskan di pasal 3.

NAS  Hosea 1:2 When the LORD first spoke through Hosea, the LORD said to Hosea, “Go, take to yourself a wife of harlotry, and have children of harlotry; for the land commits flagrant harlotry, forsaking the LORD.”

NAB  Hosea 1:2 When the LORD began to speak with Hosea, the LORD said to Hosea: Go, get for yourself a woman of prostitution and children of prostitution, for the land prostitutes itself, turning away from the LORD.

NIV  Hosea 1:2 When the LORD began to speak through Hosea, the LORD said to him, “Go, marry a promiscuous woman and have children with her, for like an adulterous wife this land is guilty of unfaithfulness to the LORD.”

NJB  Hosea 1:2 The beginning of what Yahweh said through Hosea: Yahweh said to Hosea, ‘Go, marry a whore, and get children with a whore; for the country itself has become nothing but a whore by abandoning Yahweh.’

λαβ verb imperative aorist active 2nd person singular from λαμβάνω

BGT  Hosea 1:2 ἀρχὴ λόγου κυρίου πρὸς Ωσηε καὶ εἶπεν κύριος πρὸς Ωσηε βάδιζε λαβ σεαυτῷ γυναῖκα πορνείας καὶ τέκνα πορνείας διότι ἐκπορνεύουσα ἐκπορνεύσει ἡ γῆ ἀπὸ ὄπισθεν τοῦ κυρίου (Hos 1:2 BGT)

Implementasi:

Pertama, tidak ada manusia yang tanpa dosa. Tidak ada keluarga yang tanpa masalah. Tidak ada pasangan kita yang suci dan tak berdosa. Semuanya berstatus orang orang berdosa. Meski Gomer mendapatkan julukan atau sebutan yang kurang baik, karena ia seorang pelacur, lalu siapa kita yang mengusik keluarga Hosea di mana Hosea mendapat firman secara langsung dari Tuhan? Di sini penekannya bukan pada siapa dalam anggota keluarga yang paling bersih, suci, dan kudus, melainkan terletak pada “kehadiran Tuhan dalam keluarga” tanpa memandang status masa lampau. Hosea menikahi Gomer dalam status yang kurang baik di mata masyarakat. Jika demikian, meski menurut kita, istri atau suami kita baik, tetap saja terbuka peluang bagi orang lain untuk menafsirkan yang lain

Kedua, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang diberkati Tuhan. Pernikahan Hosea atas dasar perintah Tuhan sebagai analogis dan pembelajaran bagi Israel bahwa meskipun mereka berzina menyembah ilah lain, namun Tuhan masih menunjukkan belas kasihan kepada mereka dan menerima mereka.

Ketiga, keluarga yang diberkati Tuhan adalah keluarga yang memberi teladan kepada yang lain. Pernikahan dan keluarga Hosea adalah teladan bagi bangsa Israel bahwa meski Gomer mendapat status yang kurang baik, namun itulah faktanya, tak seorang pun yang merasa dirinya paling suci tanpa dosa. Kesadaran inilah yang sehusnya dimiliki keluarga Kristen untuk semakin mencintai dan mengasihi Tuhan. Dampaknya adalah kita dapat mengasihi istri, suami, anak-anak kita, dan sesama kita.

KEEMPAT, keluarga yang diberkati oleh Tuhan adalah keluarga yang mengalami hidup bersama dengan Tuhan: mendoakan orang lain dan menjadi berkat bagi orang lain.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/325525879320518527/

MALAM NATAL DI BANDARA SUPADIO PONTIANAK: Membagikan Damai Sejahtera Kristus kepada Sesama Melalui Tulisan Singkat

Beberapa berita belakangan ini mencuat ke permukaan soal perayaan Natal. Ada yang senang dengan Natal, ada yang sedih, ada yang alergi dan ada yang berbahagia. Yang alergi dengan Natal, baik mengucapkan “Selamat Natal” kepada orang Kristen maupun tulisan ucapan selamat Natal di kue telah menunjukkan bahwa Natal Yesus Kristus menuai dukacita dan kebencian di hati mereka. Alasannya mengikuti ajaran agama, tetapi tidak ada satupun ajaran agama yang secara persis menulis: “Jangan mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen karena kita akan ikut menjadi kafir”. Cari saja di semua kitab suci agama apa pun, kalimat seperti itu tidak akan ditemukan. Sudahlah, tak jadi soal dengan mereka yang alergi dengan Natal dan mengucapkan selamat Natal. Iman Kristen tidak bergantung pada ucapan mereka. Itu hanya soal persepsi dan sentimen agama yang berdiam di hati mereka yang sama sekali tidak mengerti nilai-nilai “damai sejahtera”.

Damai sejahtera adalah sebuah pilihan hidup untuk menghadirkan keindahan hidup dan kualitas hidup dalam relasi dengan sesama manusia, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Natal Yesus justru menyatukan berbagai perbedaan. Ada para gembala—yang bukan orang terpandang—mengunjungi bayi Yesus di palungan dan turut bergembira dengan Yusuf dan Maria. Ada orang Majus dari timur—orang-orang terpandang dan kaya—turut mempersebahkan emas, dupa (kemenyan) dan mur kepada “Sang Raja” yang telah lahir sesuai dengan petunjuk Bintang. Ada lagi para malaikat—ciptaan Tuhan yang berbeda dengan manusia—turut mengambil bagian dalam menyambut Natal Yesus Kristus. Ungkap mereka: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Itu sebabnya, Natal Yesus Kristus adalah penyatuan berbagai perbedaan untuk memuji Allah Bapa, Sang Pemberi Anugerah yang paling besar dalam sejarah dunia ini. Natal Yesus Kristus adalah kehadiran situasi dan kondisi yang baru, yang tidak biasanya. Itulah Bapa kita. Bapa yang berdaulat, berhak menentukan cara apa yang hendak Dia tunjukkan sebagai bukti bahwa Ia mengasihi kita manusia berdosa: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh. 3:16-17).

Natal Yesus Kristus adalah peran Bapa melalui Sang Logos untuk menyelamatkan dengan cara baru. Kita yang dipanggil Tuhan, perlu memahami substansi Natal dengan melihat kepada kasih dan kedaulatan Sang Bapa yang kekal. Melalui hal tersebut, barulah kita dapat memahami sepenuhnya bahwa meski Natal kita disalahpahami, dihina, menimbulkan alergi, kita perlu memberikan obat penawar yaitu: TUNJUKKANLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS YANG TELAH MEMERINTAH (MENGUASAI) HATI KITA kepada semua orang termasuk mereka yang alergi.

Mereka yang mengerti makna Natal Yesus Kristus, Sang Putra Bapa mengunjungi dunia yaitu bukan dengan cara yang telah Dia lakukan pada zaman lampau, melainkan Sang Bapa menetapkan cara yang tak pernah diduga manusia yaitu INKARNASI, suatu cara yang luar biasa hebatnya: “Logos menjadi manusia”.

Apa yang menarik dengan INKARNASI? INKARNASI adalah perwujudan kemahakuasaan Bapa yang dipublikasikan secara terang melalui pribadi Yesus Kristus. Sang Logos yang kekal “menjadi manusia” [ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο]. Cara inilah yang kemudian ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani (1:1-6):

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?” Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”

Perwujudan cara Sang Bapa kepada dunia telah terjadi dalam peristiwa sejarah: Natal Yesus Kristus membawa perubahan, damai, dan pertentangan. INKARNASI Yesus merupakan ketetapan Sang Bapa. Ia [Yesus], meski dalam kondisi-Nya sebagai manusia, masih memiliki kuasa dan kemuliaan. Ini berarti bahwa—sebagaimana yang Yesus nyatakan: “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yoh. 17:5)—bahwa eksistensi Yesus baik sebelum INKARNASI maupun dalam INKARNASI tetap memiliki substansi kekal dan tak mengurangi kualitas kuasa dan kemuliaan-Nya. Bedanya, Ia menjadi manusia.

Penulis Ibrani menegaskan bahwa “oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta”. Ini selaras dengan apa dinyatakan oleh Rasul Yohanes (Yoh. 1:3): “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Sebagai “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”, Yesus Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Kekuasaan yang ada pada diri Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan. Jadi, kelirulah mereka yang suka mencari cara dan membodohi orang lain dengan mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan. Sudahlah, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, tidaklah menjadikan Yesus tiba-tiba berubah menjadi bukan Tuhan. Yang pasti, Ia adalah Logos yang kekal (Yoh. 1:1), pencipta segala yang ada (Yoh. 1:3).

Natal Yesus Kristus juga bertujuan untuk “mengadakan penyucian dosa”. Cara Sang Bapa ini menuai pro dan kontra. Ada yang tidak setuju dengan cara seperti ini. Ya sudahlah. Mungkin mereka yang tidak setuju punya cara lain untuk ditawarkan kepada Sang Pencipta. Pikirku: “Ya sudah, mereka saja yang jadi Tuhan” supaya bisa mengganti cara yang lain untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Yesus Kristus yang telah lahir telah menjadi puji-pujian seluruh umat Kristen. Nama Yesus telah menjadi popular. Popular karena Ia unik dan satu-satunya pribadi yang menyatakan Sang Bapa kepada manusia. Mati dan menebus manusia. Menawarkan damai sejahtera kepada mereka yang mau percaya. Dan satu lagi. Yesus adalah Tuhan yang layak disembah. Ini bukan karangan saya tetapi pernyataan Allah seperti yang dituliskan oleh penulis kitab Ibrani: “Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia’” (Ibr. 1:6). Jadi, mereka yang menegasikan bahwa Yesus bukan Tuhan, tentu harus menyerah karena malaikat-malaikat diperintahkan untuk menyembah Yesus.

Ingat, malaikat-malaikat diperintahkan menyembah Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia saja sudah diperintahkan untuk disembah, apalagi dalam keadaan-Nya sebagai Logos Ilahi yang kekal? Mari berpikir jernih.

Itulah beberapa kualitas Natal Yesus Kristus yang kita rayakan di tahun ini. Meski dalam proses perjalanan kembali ke Jakarta, saya hendak menuliskan sedikit makna Natal agar kita semua diajak untuk melihat kekayaan Alkitab dan kekayaan cara Sang Bapa untuk menunjukkan kasih dan sayangnya. Tulisan ini belumlah cukup untuk menyatakan kekayaan Natal Yesus Kristus.

Selamat Natal saudara-saudaraku di mana pun kalian berada

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Jadilah terang meski dijadikan objek caci maki. Jadilah pembawa damai, meski ada yang alergi untuk mengucapkan selamat Natal. Damai sejahtera Kristus yang telah memerintah dalam hati kita, kiranya menjadi pegangan hidup sampai selama-lamanya.

Shalom

Tulisan ini ditulis pada malam tanggal 24 Desember 2017.

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/26/4b/1a/264b1a986c554fef8060dca0fa799eb1.jpg

KRISTEN DAN ANCAMAN TERORIS DAN PEMBUNUHAN YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA: Menanggapi Tragedi Bom Bunuh Diri di Gereja GKI Diponegoro, Gereja SMTK Ngagel dan Gereja HKY

Kekristenan adalah agama yang paling disering dicaci maki, dihina, direndahkan, dibunuh, dicerca, ditertawakan, didiskriminasikan, dan tak lupa, sering dikritik. Meskipun demikian, Kristen adalah agama terbesar di dunia; berkembangnya Kekristenan bukan melalui ancaman, bukan melalui pembunuhan, bukan melalui fitnah dan kebencian, bukan pula dengan menggunakan bom bunuh diri di sana sini; Kekristenan berkembang karena cinta, kasih, dan sayang Tuhan yang diejawantahkan dalam pemberitaan Injil, pengajaran, pemikiran, dan tindakan.

Secara faktual, sedemikian besar gelombang cobaan dan hambatan tersebut tidak mengecilkan peran untuk “MENDOAKAN MUSUH DAN MENDOAKAN MEREKA”. Mengapa demikian? Karena Yesus Kristus telah mengajarkan bahwa, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:44-45).

Terkait dengan kasus pemboman di gereja-gereja sejak dulu; bahkan hingga hari ini, 13 Mei 2018 di beberapa gereja di Surabaya, para pelakukanya “mengatasnamakan Islam”. Apakah dengan demikian kita menyimpulkan bahwa semua yang beragama Islam memiliki pandangan yang sama dengan para teroris? Tentu tidak! Di sini, kita perlu memahami demarkasi ideologi dan demarkasi iman antara para pelaku teror dan para penyembah yang cinta damai yang ada dalam Islam.

Menyimak maraknya tindakan-tindakan yang mengatasnamakan agama, saya memberikan beberapa alasan (asumsi) berikut ini:

Pertama, para pelaku pembunuhan (bom bunuh diri dan sebagainya) yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang gagal memahami narasi dan konteks Kitab Sucinya. Akibatnya, pikiran mereka diracuni dan dibius oleh kebencian yang membabi buta sehingga menghalalkan segala cara.

Kedua, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang diindoktrinasi oleh para pemimpin mereka yang memiliki “ideologi Iblis” untuk memuluskan agenda rahasia mereka untuk menciptakan sistem pemerintahan—atau sistem keagamaan yang berpusat pada ajaran Islam yang mereka pahami secara keliru.

Ketiga, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang selalu melihat sisi negatif dari agama-agama lain berdasarkan fakta yang tidak berimbang (gagasan tunggal yang diusung oleh para pemimpin mereka) sehingga pikiran mereka dihipnotis untuk membunuh agama lain yang tidak sepaham, tidak seiman, dan tidak se-Tuhan.

Keempat, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang mengingingkan kekerasan dan pembunuhan adalah jalan utama untuk memuluskan agenda rahasia mereka, pahadal justru sebaliknya, kekerasan dalam sepanjang sejarah selalu kalah dengan prinsip “hidup damai dan toleran” terhadap sesama manusia.

Kelima, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang tidak dapat membedakan antara ideologi dan iman.

Keenam, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang gagal paham soal iman agama lain.

Ketujuh, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang dirasuki ujaran-ujaran kebencian terhadap salah satu agama yang menjadi sasaran pembunuhan.

Dari alasan-alasan tersebut, tampak bahwa mereka yang mengatasnamakan agama justru merusak citra Islam di mata publik; sebaliknya, para pecinta Islam yang toleran dan cinta damai harus pula mengumandangkan kedamaian dan rasa kemanusiaan terhadap sesama dan bukan malah mengumandangkan HAM ketika pihak kepolisian menindaki para pelaku teror. Jika demikian, kita sedang beromong kosong ria soal HAM. Yang mati tidak dipikirkan HAM-nya, sedangkan para pelaku bom bunuh diri yang telah membunuh, malahan dibela HAM-nya. Ini negara apa? Syukurlah, dalam beberapa kesempatan saya melihat bahwa para intelektual muslim telah menyatakan sikap bahkan mengutuk tindakan kekerasan dan pembunuhan yang mengatasnamakan Islam atas kasus bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya yaitu Gereja GKI Diponegoro, Gereja SMTK Ngagel dan Gereja HKY.

Kalau seandainya masjid yang dibom, entah apa jadinya pluralisme di negara ini; ketika gereja dibom, orang Kristen tetap tabah dan tak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kalau ada satu ayat saja di mana Yesus berkata: “Bunuhlah mereka yang membunuh umat-Ku; bunuhlah mereka yang menghina nama-Ku”, maka para teroris bukanlah apa-apa. Sayangnya, tidak pernah terucap sedikitpun dari mulut Yesus yang memerintahkan pengikut-Nya untuk membunuh musuh Kristen, membunuh mereka yang menghina dan mencaci maki Yesus dan pengikut-Nya; yang ada malahan Yesus memerintahkan untuk berdoa dan mengasihi mereka yang menganiya dan berbuat jahat kepada pengikut-Nya.

Benarlah apa yang dikatakan Yesus ribuan tahun yang lalu:

“Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu. Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu” (Yohanes 16:2-4)

Tragedi bom bunuh diri diri gereja-gereja di Surabaya adalah “wajah buruk” kehidupan pluralisme di Indonesia. Kalau beberapa hari lalu, di Mako Brimob Kelapa Dua Depok terjadi insiden yang menewaskan beberapa orang, yang juga pelakunya mengatasnamakan agama, kini kasus yang menimpa Kristen juga bermotif sama: “membunuh atas nama agama”. Ancaman demi ancaman dan pembunuhan demi pembunuhan atas nama agama telah mencoreng sifat hakiki dari agama: “membawa manusia kepada Tuhan”.

Saudara-saudaraku, ingatlah selalu ajaran Yesus: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Jika kita menjadi pengikut Yesus Kristus, ingatlah hal-hal ini:

Pertama, Yesus itu tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak pernah memerintahkan para pengikut-Nya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan;

Kedua, Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk berperang, membunuh, dan mencaci maki orang lain;

Ketiga, Yesus tidak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk membenci orang lain, membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru malah Ia memerintahkan untuk mengasihi musuh-musuh dan berdoa bagi mereka.

Keempat, Yesus menjamin para pengikutnya dengan kehidupan kekal dan sukacita yang lua biasa dalam Kerajaan-Nya.

Meski menjadi pengikut Yesus Kristus sering disalahpahami, dan bahkan sering dicaci maki dan diburu untuk dibunuh, namun tidak ada seorang pun yang dapat menyamai dan menyaingi Yesus, baik dalam hal personalitas dan ajaran-ajaran-Nya. Salam Damai Indonesiaku. Semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan kesabaran dari Tuhan; kiranya kejadian ini terwujud solidaritas agama-agama untuk melawan terorisme. Saya turut bersedih atas korban jiwa akibat tindakan bom bunuh diri dari mereka yang mengaku beragama, tetapi otaknya adalah ideologi Iblis dan bukan iman kepada Allah swt. yang penuh kasih dan sayang atas umat manusia.

Shalom. Soli Deo Gloria

Sumber gambar: https://simponinews.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG-20180513-WA0055.jpg

PRINSIP-PRINSIP DASAR APOLOGETIKA

Dunia berpikir, selain luas, juga bersifat bebas. Siapa saja bebas untuk berpikir apa saja (secara luas) — sesuka hatinya. Begitu juga dalam dunia teologi; siapa saja bebas berpikir dan berpendapat dari apa yang dia rasa dan dia pikir itu baik, mengandung sebuah pernyataan bagi posisinya. Kebebasan berpikir dianggap sebagai otonomi manusia untuk menentukan posisinya. Bahkan tak jarang ada orang yang merasa bahwa sistem pemikirannya terhadap iman Kristen dianggap valid dan tak terbantahkan. Ada yang beranggapan bahwa agama Kristen memiliki ‘Allah yang kelihatan’ sedangkan Islam memiliki ‘Allah yang tidak kelihatan’; kemudian ditarik kesimpulan bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan adalah benar’, padahal belum ada bukti bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan itu siapa, dan bagaimana personalitasnya.’ Implikasinya, Allah orang Kristen kelihatan, jadi pasti bukan Tuhan.

Kesimpulan tersebut selain tidak memiliki bukti, juga bersifat imajinatif. Pemahaman akan Allah dalam teologi Kristen selalu bersumber dari penyataan diri-Nya, sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci. Teologi Kristen tidak membicarakan Allah dalam konsep angan-angan dan imajinasi. Sama sekali tidak! Penyataan diri Allah menjadi dasar dan bukti keimanan Kristen terhadap Dia yang menyatakan diri-Nya. Itu sebabnya, iman Kristen memiliki bukti terkuat bukan berdasarkan logika imajinatif, atau logika mengarang bebas, tetapi berdasarkan logika penyataan diri Allah.

Untuk melihat kejelasan mengenai hal ini, ada beberapa pertanyaan sebagai potensi keseimbangan berpikir analogikal.

Pertama: apa keuntungan dan keunggulan jika Tuhan tidak kelihatan, dan apa keuntungan dan keunggulan jika Tuhan kelihatan

Kedua: jika Tuhan tidak kelihatan, maka ‘Tuhan’ seperti apa yang diproyeksikan dalam pikiran Anda ketika Anda berdoa?

Ketiga: apakah mutlak Tuhan itu harus tidak kelihatan?

Keempat: apakah Tuhan yang tidak kelihatan adalah ‘Tuhan yang menyatakan diri-Nya?”

Kelima: jika jawaban dari pertanyaan keempat adalah ‘Ya’ dengan dalil bahwa soal Tuhan menyatakan diri dengan cara tidak kelihatan itu adalah kedaulatan-Nya, maka dari mana Anda tahu bahwa “Tuhan yang tidak kelihatan” diyakini adalah Tuhan yang benar? Apakah Ia telah menyatakan diri-Nya untuk membuktikan bahwa Ia tidak kelihatan?

Keenam: Apakah ukuran atau standar bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah Tuhan yang benar?

Memahami ‘Allah yang kelihatan dan tidak kelihatan’ memiliki problem yang sama yakni: ‘Allah seperti apa yang diproyeksikan pikiran manusia ketika mereka sedang berdoa?’ Setiap manusia, agama apa pun dia, memiliki proyeksi tentang ‘Allah’ atau ‘Tuhan’ yang diyakininya. Jadi, ketika seseorang mengklaim bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan itulah yang benar’ maka dia pun harus membuktikan bahwa ‘Allah seperti apa yang tidak kelihatan?’

Klaim tersebut bermain di ranah ‘logika’ dan ‘analogikal’. Ada pula yang mengklaim bahwa orang Kristen tidak bisa menghapal Alkitab sedangkan orang Islam bisa menghapal al-Qur’an. Padahal, dia tidak tahu bahwa Alkitab dan al-Quran tingkat ketebalannya berbeda. Alkitab ditulis dalam dua bahasa, sedangkan al-Quran hanya satu. Jadi sebenarnya orang Kristen tidak diperintahkan untuk menghapal kitab sucinya, melainkan diperintahkan untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum, perintah-perintah, ketetapan-ketetapan Tuhan Allah, menantikan janji-janji Tuhan, menikmati cinta kasih dan kebaikan-Nya. Domain menghapal bukanlah perintah Tuhan Allah. Jadi, tidak ada kewajiban untuk menghapal Alkitab tetapi ada kewajiban untuk hidup sesuai prinsip-prinsip Alkitab.

Dasar-dasar pemikiran terdiri atas: daya nalar untuk menganalisis (pengamatan), konseptual, faktual, dokumentarial, skriptural atau Kitab Suci, rasionalitas, dan analogikal. Dasar-dasar tersebut memandu kita untuk dapat memahami dan menghidupi kebenaran. Untuk menjawab berbagai keberatan terhadap iman Kristen, maka kita juga harus menyodorkan sesuatu sesuai dengan konsep dasarnya. Misalnya, ketika seseorang mengatakan: “Tidak ada neraka”, maka kita perlu bertanya: apakah “Tidak ada neraka” didasarkan pada “daya nalar untuk menganalisis (pengamatan), konseptual, faktual, dokumentarial, skriptural atau Kitab Suci, rasionalitas, atau analogikal?”

Jika negasi mereka berangkat dari data Kitab Suci atau dokumentarial, maka sebagai pembuktian terbalik adalah mereka yang menegasikan ‘Tidak ada neraka’ harus juga menyuguhkan sumber atau data yang sama. Jika para negator menggunakan data ‘analogikal’ dengan menyatakan: ‘Tidak mungkin Allah yang baik dan maha kasih menciptakan neraka atau menghukum manusia di perapian yang menyala-nyala’.

Kita dapat memberikan sanggahan sebagai berikut: “Kalau tidak mungkin Allah menciptakan neraka karena Ia baik dan maha kasih, lalu bagaimana tanggapan Anda atas berbagai jenis kejahatan yang terjadi di dunia ini?” Menurut Anda, ‘orang-orang yang berbuat jahat seharusnya mendapat hukuman atau tidak, atas segala yang dilakukan terhadap manusia lain, seperti membunuh, mendustai, dan melakukan perbuatan jahat lainnya”? 

Apakah dengan adanya kejahatan di dunia ini maka Anda berkesimpulan bahwa tidak mungkin Allah menciptakan neraka? Pernyataan bahwa Allah tidak mungkin menciptakan neraka tidaklah mendahului fakta bahwa Allah telah menciptakan neraka. Pembuktian bahwa neraka itu ada karena didasarkan pada skriptural yang di dalamnya memuat tentang kesaksian penglihatan-penglihatan dari mereka yang dikenan Tuhan.

Intinya adalah: Pertama. Kita harus memahami terlebih dahulu sumber atau data apa yang digunakan. Jika para negator menolak Kitab Suci [Alkitab] sebagai wahyu Allah, maka para negator diminta untuk menunjukkan dokumen yang sama dengan Kitab Suci [Alkitab] sebagai bukti bahwa di dalamnya membuktikan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah. Dokumen tersebut harus memenuhi unsur keakuratan historis. Kedua. Bedakan antara negasi konseptual atau analogikal dengan negasi faktual dan dokumentarial, dan hal-hal lainnya sebagaimana telah disebutkan di atas.

Ketiga. Setiap bentuk negasi, kita perlu memiliki cara berpikir analogikal. Artinya, setiap bentuk negasi selalu memiliki dua sisi. Jangan terpaku pada satu sisi saja. Misalnya: para negator menyatakan bahwa ‘Yesus itu hanyalah mitos’. Maka kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan: Apa definisi mitos? Apa klasifikasi mitos? Apa saja konteks mitos? Dokumen apa saja yang menolak historisitas Yesus? Apa dasar hakiki yang menguatkan klaim bahwa Yesus hanyalah mitos?

Hal ini juga memiliki natur yang sama dengan mereka yang menegasikan bahwa ‘Yesus bukan Tuhan’: Pertama, kita dapat bertanya, ‘apa definisi Tuhan menurut Anda? Kedua, apa saja yang dilakukan Tuhan? Ketiga, apakah definisi dan perbuatan yang dilakukan Tuhan didukung oleh sebuah dokumen? Keempat, jika seorang pribadi dapat melakukan apa yang bisa dilakukan oleh ‘Tuhan’, maka apakah seorang tersebut dapat disebut Tuhan? Kelima, jika seseorang mengatakan bahwa ‘Tuhan tak mungkin mati’, maka kita dapat bertanya apakah ada bukti bahwa Tuhan pernah mati?

Jika mereka mengatakan: Yesus adalah Tuhan, dan Ia mati disalibkan, bukankah Tuhan itu telah mati? Pertanyaan analogikal: menurut Anda, apakah ‘Tuhan’ itu fisik atau ‘substansial’ [roh]? Apakah ketika manusia mati maka rohnya juga ikut mati? Jika ya, maka apa buktinya bahwa roh manusia itu mati, dan mati seperti apa yang Anda ketahui?

Dalam menjawab setiap pertanyaan, kita dapat menggunakan prinsip klarifikasi dalam bentuk memperjelas klaim atau negasi yang diajukan terhadap iman Kristen. Hal ini disebabkan adanya demarkasi, baik demarkasi negatif, maupun demarkasi positif. Demarkasi negatif adalah bentuk klaim dan negasi yang sama sekali tidak ada hubungannya, seperti iman Islam yang menolak ketuhanan Yesus. Demarkasi positif adalah bentuk klaim dan negasi yang bertolak dari teks-teks Alkitab yang cenderung melakukan penafsiran secara ‘amburadul’ dan ‘sesuka hati’ sehingga menghasilkan nilai berpikir yang tidak doktrinal maupun dogmatis.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/499336677410649266/

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai