BERIMAN SECARA DEWASA: Menanggapi Isu dan Kritik terhadap Iman Kristen

Sumber gambar: https://www.artstation.com/artwork/a8x38 atau https://id.pinterest.com/pin/388928117813686019/

Ada cukup fakta yang kita lihat (jika pernah) bahwa iman Kristen menjadi bahan olok-olokkan di sepanjang sejarah. Akibatnya, banyak pengikut Yesus menjadi martir. Dengan kekejaman yang kadang melampaui batas, para pengikut Kristus—hingga matinya—tidak menyangkal imannya kepada Yesus Kristus. Para rasul Yesus Kristus pun mengalami kekejaman dan penyiksanaan hingga mereka mati sebagai martir: iman mereka tidak goyah sedikitpun.

Bukannya Kekristenan merosot, malahan terus berkembang dan menjadi agama terbesar di dunia. Perkembangan Kekristenan bukan terjadi hanya dengan modal “senjata dan perang”. Tidak. Para penginjil hanya bermodalkan Injil (yang akan diwartakan) dan dirinya sebagai surat Kristus yang terbuka. Mereka tidak menggunakan sihir, pedang, tombak, atau senjata mematikan. Tidak sama sekali! Mereka memiliki iman yang dewasa, tidak takut mati, tidak takut menghadapi ancaman, bahaya, pedang, kelaparan, tantangan, hambatan, diskriminasi, dan intimidasi. Mereka dengan berani menyatakan kedewasaan dalam beriman—tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan caci maki dengan caci maki, meski caci maki datang bertubi-tubi. Mereka telah membuktikan bahwa “kasih [kebaikan]” telah mengalahkan kejahatan yang paling jahat sekalipun. Ada kuasa dalam kasih yang dilakukan orang-orang Kristen di sepanjang sejarah.

Apa yang menjadikan Kekristenan semakin berkembang? Jawabannya adalah: “karena Kekristenan memiliki iman yang dewasa”. Iman itulah yang menjadikan mengapa Kekristenan dipandang sebagai agama yang memiliki nilai kasih yang paling tinggi, rela berkorban bagi sesama, mengasihi tanpa pamrih, dan siap menderita bagi Yesus Kristus.

Sejarah telah membuktikan bahwa iman Kristen ditaburi dengan “darah”. Pertama-tama, darah Yesus Kristus yang tercurah bagi pengampunan dosa. Darah yang mahal itu telah menyucikan kita dari segala dosa dan kejahatan kita. Penulis Ibrani menegaskan, bahwa “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).

Rasul Yohanes juga menegaskan hal yang sama: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7).

Di kemudian hari, para rasul Yesus Kristus pun mencurahkan darah mereka sebagai bukti bahwa iman mereka kuat [dewasa] dan rela mati demi Yesus Kristus. Mereka telah melihat bahwa Kristus telah meninggalkan teladan yang luar biasa—meski mati disalibkan, Ia kemudian mempertontonkan kuasa Allah yang luar biasa dengan cara: “bangkit dari antara orang mati”. Adakah hinaan dan perendahan terhadap Yesus telah mengalahkan kebangkitan-Nya? Sama sekali tidak. Para pengikut Yesus Kristus pun tahu bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, karena mereka yakin bahwa mereka akan dibangkitkan sebagaimana Yesus bangkit dari antara orang mati. Ada harapan dan jaminan hidup kekal dari kematian mereka. Kedewasaan iman mereka membawa mereka kepada ketaatan dan kesetiaan kepada Yesus Kristus, meski kematian di depan mata mereka yang siap mereka hadapi.

Perjuangan iman dan kesetiaan kepada Kristus masih terus berlanjut. Para martir di sepanjang sejarah telah menorehkan catatan dan kisah iman yang kuat dan tak tergoyahkan. Api, kematian, penyiksaan, pedang, penderitaan, pembantaian, dan perlakuan tidak adil, tak sanggup memisahkan mereka dengan kekuatan kasih Yesus Kristus. Yesus mengubah hidup mereka dan ketakutan, bahkan kematian adalah pilihan yang tepat ketika mereka tahu bahwa percaya kepada Yesus Kristus akan menerima risiko tersebut.

Tak terbilang jumlah martir-martir Kristen. Darah mereka membasahi perjalanan perkembangan dan kemasyhuran Kristen hingga saat ini. KASIH dan KUASA adalah senjata mematikan—senjata yang mematikan dosa dan kesombongan para pencaci, pengina, dan pembunuh orang Kristen. Tak ada yang bisa melawan dan menolak kasih Tuhan ketika Ia melawat seseorang. Dari pendosa besar, diubahkan menjadi penginjil besar. Dari pembunuh hebat, diubahkan Tuhan menjadi pengasih hebat. Dari pencaci tingkat tinggi, diubahkan Tuhan menjadi pemuji Tuhan yang luar biasa. Tak ada satupun yang dapat melawan Tuhan ketika Ia bekerja. Itulah rahasia mengapa Kekristenan menjadi agama termasyhur di dunia.

Dalam kisah perjalanan Kristen, telah terbukti bahwa kedewasaan beriman (atau dewasa dalam iman) membawa Kristen pada puncak perwujudan kasih dan anugerah Tuhan kepada setiap orang di segala zaman. Meski dibarengi—hingga saat ini—dengan kritikan yang kurang ajar, caci maki terhadap Yesus, pengikut-Nya dianggap kafir dan menyembah manusia, dianggap darahnya halal oleh orang-orang beringas, dianggap sebagai agama yang salah dan palsu, dan hinaan tingkat tinggi lainnya, namun Kristen tetap menjadi idola manusia-manusia yang ingin hidupnya “PENUH KASIH DAN PENGAMPUNAN.”

Dari fakta tersebut, saya menyimpulkan tujuh “SIKAP DEWASA DALAM BERIMAN” yang tertuang melalui sikap (sudah dibuktikan): “Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan”, “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan”, “mengasihi dan mendoakan musuh serta orang-orang yang menganiaya orang Kristen”, dan “mengampuni orang yang bersalah”.

Pertama, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik iman Kristen tidak paham sepenuhnya (artifisial). Kesalahan utama terkait dengan para pencaci yang mengkritik iman Kristen adalah karena mereka memahami iman Kristen hanya sepotong (artifisial), tidak secara mendalam. Kalaupun paham, itu pun hanya ajaran sesat Kristen. Karena alasan inilah, kadang-kadang Kristen dirasa tidak perlu menanggapi orang-orang jenis ini. Mereka lihai dalam berceloteh yang mengandung caci maki dan hinaan. Dan hingga akhirnya mereka mati dalam kegilaan ini, jika tidak bertobat.

Kedua, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik sengaja mencari gara-gara. Untuk alasan keamanan, orang-orang jenis ini tidak perlu diladeni. Yang ada hanyalah menguras emosi. Namanya juga mencari gara-gara. Ketika diserang balik, justru kebakaran jenggot. Itulah tipikal orang-orang yang bermental kerupuk. Mudah tersulut emosinya ketika diserang balik.

Ketiga, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik adalah orang bermental “Paralogisme” yaitu seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya sesat. Karena alasan inilah, kadang caci maki mereka hanya patut ditertawakan. Maklum, ia sesat dan tidak tahu bahwa dia sesat adalah sebuah kesesatan yang paling sesat. Cukup dimaklumi saja; doakan dia supaya Tuhan menjamah hatinya dan percaya kepada-Nya. Di luar itu, urusan Tuhan.

Keempat, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik bukanlah pribadi yang kompeten dan mengerti doktrin Kristen. Seperti yang terjadi di sepanjang sejarah, para pengkritik dan pencaci iman Kristen adalah orang-orang yang tidak mengerti tapi merasa mengerti tentang iman Kristen. Hasilnya adalah kesesatan doktrinal, hermeneutikal, dan biblikal. Tipikal ini bisa dilawan dengan mengajukan berbagai substansi iman Kristen meski kadang tidak diterima. Maklumi saja; namanya juga tidak kompeten dan tidak mengerti. Mereka kadang bahagia dengan ke-idiot-an mereka. Doakan mereka.

Kelima, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik masih kanak-kanak dalam pemikiran. Ini sering terjadi ketika hinaan dan kebencian terhadap orang Kristen semakin memuncak dalam relasi keagamaan. Ada fakta yang terjadi bahwa para pengkritik dan pembenci iman Kristen menuduh bahwa orang Kristen menyembah atau mempunyai tiga Allah: Allah Bapa, Allah Anak [Yesus Kristus], dan Allah Roh Kudus. Sabar dulu. Kristen tidak menyembah tiga Allah tetapi satu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi.

Mustahil seseorang menyembah Allah tetapi tidak menyembah Firman dan Roh-Nya (Dzat-Nya). Percaya kepada Allah yang “esa” berarti percaya pada Firman dan Roh-Nya. Kekristenan lebih maju dan terbuka dalam memahami personalitas Allah dibanding Yudaisme dan Islam. Ketika Islam menyembah “Allah swt” sebagai yang esa, mereka tidak bisa menafikan Kalam dan Dzat Allah swt”. Tentu antara “Allah swt”, dengan Kalam dan Dzat-Nya adalah setara dan kekal karena Islam percaya bahwa “Allah swt” adalah kekal. Baik Yudaisme maupun Islam, mereka berkutat pada Allah yang esa hanya pada tataran relasional yaitu Allah berelasi dengan ciptaan-Nya yang mana ketika memahami Allah yang esa, tentu esa dalam arti bahwa hanya Dia yang disembah dari sekian bahwa ilah di dunia. Akan tetapi, pada tataran ontologis, mereka lupa bahwa Allah itu dapat disebut Pribadi karena Ia memiliki Firman dan Roh. Allah tak mungkin disebut Pribadi jika Ia tidak memiliki Firman, kecuali Allah yang bisa dan tak memiliki Firman.

Menyembah Allah berarti menyembah Firman-Nya dan Roh-Nya. Ketiganya setara dan sama-sama kekal. Mustahil seseorang percaya kepada Allah di satu sisi, dan menolak Firman dan Roh-Nya di sisi lain. Semua ilah dan Tuhan di dunia ini bernatur Trinitas, kecuali bagi ilah atau Tuhan yang tidak berfirman sama sekali. Jadi, sangat keliru jika menuduh Kristen menyembah tiga Allah. Itu justru adalah cara berpikir kekanak-kanakan.

Keenam, orang Kristen tahu bahwa ada saatnya berbicara, ada saatnya berdiam diri. Ketika caci maki dibalas caci maki, hinaan dibalas hinaan, maka caci maki dan hinaan akan terus hidup dalam mulut para pencaci dan penghina. Ketika melihat situasi yang semberawut dan kita tahu bahwa para pencaci, pengkritik dan penghina memiliki pengetahuan yang minim, seadanya, itupun sesat, kita perlu berdiam diri. Dan jika saatnya untuk berbicara, maka berbicaralah untuk menyampaikan kebenaran dalam konteksnya masing-masing. Jika saatnya berdiam diri, berdiam dirilah, untuk menghindari perbantahan dan permusuhan.

Ketujuh, orang Kristen tahu bahwa ada saatnya tegas dan menasihati. Ketika doktrin-doktrin Kristen diolah oleh tangan-tangan penyesat, pembenci, pencaci, pengkritik, dan penghina, maka nasibnya tentu menjadi tak berbentuk. Saatnya kita tegas dan menasihati. Jika diterima, syukurilah; jika ditolak, maklumilah. Orang-orang bodoh yang merasa diri benar memang sulit diluruskan. Tetapi orang-orang yang tahu bahwa dirinya bodoh akan dengan mudah dinasihati. Doakan mereka.

Dari serangkaian serangan, kritikan, dan caci maki serta sahabat-sahabatnya, Kekristenan telah membuktikan bahwa upaya untuk merendahkan Kristen dan terlebih merendahkan Yesus Kristus—di satu sisi berbuahkan kondisi yang mengecewakan, tetapi di sisi lain  berbuahkan buah-buah yang manis yaitu mereka yang menyerang, mengkritik, mencaci maki, dan menertawakan iman Kristen dan Yesus Kristus, justru dipanggil-Nya untuk menerima keselamatan dan pengampunan dosa-dosanya.

Beriman secara dewasa adalah wujud keimanan yang kuat kepada Yesus Kristus. Kita perlu memahami latar belakang atau tipikal para pengkritik, pencaci, penghina, dan lain sebagainya, sehingga tidak terjebak dalam kelicikan mereka. Kebijaksanaan dan hikmat yang Tuhan berikan seyogianya dipergunakan sesuai perlunya.

Tetaplah beriman secara dewasa dan menjadi teladan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; janganlah membalas caci maki dengan caci maki; jadilah teladan dalam perbuatan baik; tetaplah sabar menghadapi para penyesat yang tersesat dan tidak tahu ia tersesat. Nyatakan kasih kita dalam hal saling mengasihi, mengampuni, dan mendoakan.

Pengikut Yesus Kristus yang sejati adalah mereka yang memiliki iman yang kuat, kasih yang besar, pengampunan yang tiada batas, dan doa yang mengubahkan segala sesuatu. Ketika iman itu bertumbuh dewasa, maka segala sesuatu haruslah diberikan kepada Tuhan dan biarkanlah Tuhan bekerja sesuai dengan kehendak dan kedaulatan-Nya.

Salam Bae.

NATALKU YANG DISALAHPAHAMI DAN DICACI MAKI: Inkarnasi Yesus yang Menuai Polemik

Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak [Yesus] ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan (Lukas 2:34)

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/kotomi-jewelry/22748776644/in/photostream/

Sejarah membuktikan bahwa kekristenan telah berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan sebuah kepercayaan yang unik dan luar biasa. Uniknya adalah Yesus Kristus yang datang ke dunia, yang mengenakan jubah “kemanusiaan” layaknya manusia di dunia, telah menjadi objek penyembahan. Tetapi mengapa Ia disembah? Bukankah Ia adalah manusia belaka? Bukankah orang Kristen itu aneh dan gila karena menyembah seorang manusia? Bukankah orang Kristen adalah kafir karena menyembah manusia? Kata siapa? Kata Kitab Suci agama tertentu. Tetapi mengapa Kitab Suci agama tertentu dapat menilai dan menganggap benar apa yang ia nyatakan sedangkan para penafsir kitab suci tersebut tidak paham soal gagasan inkarnasi Yesus Kristus?

Penyembahan kepada Yesus sering disalahpahami. Bagi pemikiran sebagian orang, manusia tak layak disembah. Saya sepakat dengan pemikiran seperti ini. Akan tetapi, “manusia” seperti apa yang dimaksudkan? Tentu manusia yang dipahami oleh mereka yang berpikir bahwa “manusia tidak bisa disembah” adalah manusia yang dalam kemanusiaannya sangat terbatas—ia dapat mati; ia makan; ia dilahirkan; ia menyusui; ia mengenakan pakaian; ia haus; mati, lelah, letih, menderita—yang kemudian dilekatkan kepada Yesus sehingga implikasinya adalah “manusia dengan ciri-ciri seperti itu tak mungkin dapat disembah dan tak mungkin dia adalah Tuhan. Lalu, apakah Yesus sama dengan ciri-ciri manusia seperti itu? Ada yang mengatakan, Ya! Tetapi perlu digarisbawahi di sini adalah kemanusiaan Yesus memenuhi kemanusiaan kita, tetapi kemanusiaan kita tidaklah memenuhi personalitas Yesus sebab Yesus itu berbeda. Di dalam diri-Nya terdapat dua natur: Ilahi dan manusiawi. Jadi, tentu ada pertimbangan lain selain dari gagasan bahwa Yesus adalah manusia biasa.

Kita melihat bahwa kisah atau peristiwa kelahiran Yesus sangatlah berbeda dengan manusia pada umumnya, sehingga kelirulah jika menganggap bahwa orang Kristen adalah sesat karena menyembah manusia Yesus. Injil-Injil Perjanjian Baru menyebutkan bahwa:

Yesus yang lahir adalah dikandung dari Roh Kudus

Yesus yang lahir adalah Juruselamat (menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka)

Yesus yang lahir adalah Kristus

Yesus yang lahir adalah Tuhan

Yesus yang lahir adalah Raja Yahudi

Yesus yang lahir adalah Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya

Yesus yang lahir adalah sesuai dengan nubuatan Perjanjian Lama

Yesus yang lahir adalah Anak Allah Yang Mahatinggi

Yesus yang lahir adalah Imanuel

Yesus yang lahir adalah Anak Kudus

Jadi, tuduhan orang-orang bermental rendahan, bernalar tidak tuntas, berpola pikir pesimis, berpola pikir sentimental, tidak dapat memahami metode berpikir komprehensif tentang personalitas Yesus Kristus. Saya tidak mempersoalkan tuduhan sepihak tentang penolakan penyembahan kepada Yesus. Hanya saja, mereka yang menolaknya, tidak membuka mata lebar-lebar dan tidak membuka pikiran mereka untuk melihat bahwa Alkitab menyediakan bukti-bukti yang melimpah baik kemanusiaan Yesus maupun keilahian Yesus.

Lalu apa tanggapan Kristen terkait tuduhan bahwa orang Kristen itu kafir karena menyembah Yesus yang adalah manusia belaka? Sudah barang tentu, kualitas pemikiran dan pemahaman Kristen melampaui dari mereka yang berpikir sebaliknya yaitu mereka yang berpikiran bertentangan dengan data biblika. Tetapi saya memastikan di sini bahwa memang tidak semua orang Kristen yang dapat memiliki pemahaman sebegitu rumit terkait inkarnasi Yesus Kristus. Di akar rumput hanya dapat dipastikan bahwa Yesus adalah “Allah yang menjadi manusia”. Soal bagaimana Allah dapat menjadi manusia bukanlah doktrin yang perlu dipahami sampai sebegitu dalam. Sedangkan di kalangan akademis, memahami konteks inkarnasi perlu pemikiran ilmiah berdasarkan data biblika sehingga bisa memberikan jawaban yang valid terhadap berbagai kritikan yang mencoba mengais rejeki dari popularitas Yesus Kristus.

Namun, saya dapat memastikan bahwa semua kritikan yang ditujukan kepada kemanusiaan Yesus tidaklah secara cermat melihat disparitas natur personalitas Yesus. Kelemahan atau bahkan kebodohan dari mereka yang mengkritik inkarnasi Yesus mencuat ke permukaan dan mendapatkan sambutan dari mereka yang kurang lebih sepaham. Namun Kristen tidak kehilangan taji untuk menunjukkan bentuk-bentuk “logical fallacy” dan ignoransi doktrinal biblikal.

Berikut ini saya hendak memaparkan berbagai pemikiran yang salah paham, bahkan sesat, terkait inkarnasi Yesus dan alasan Kristen menyembah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia.

Pertama, Yesus lebih rendah dari Sang Bapa (Logos yang keluar dari Sang Bapa)

Pemahaman atau pandangan seperti ini melihat disparitas kronologis dari inkarnasi. Artinya, karena Yesus diutus Bapa ke dalam dunia, maka Sang Pengutus tentu lebih tinggi dari pada yang diutus. Memang, secara kronologis-historis, Yesus datang dalam sejarah manusia yang dapat dipahami bahwa Yesus memiliki awal sejarah. Tetapi secara substansial tentu tidaklah demikian. Yesus disebut sebagai “Logos Ilahi”—Logos Sang Bapa [Allah] yang kekal. Jika seseorang berpikir bahwa firman Allah lebih rendah dari Allah maka implikasinya adalah Allah juga rendah, sebab tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Allah selain Firman-Nya. Firman keluar dari dalam diri Sang Bapa — Sang Bapa itu kekal — sejak kekal Sang Bapa memiliki Firman — Firman tidak diciptakan — Firman berdiam dalam diri Sang Bapa — Firman tidak memiliki awal sebagaimana Sang Bapa tidak memiliki awal dalam konteks penciptaan, maka Firman itu adalah kekal.

Ketika Firman [Logos] berinkarnasi ke dalam dunia dan mengambil bentuk manusiawi, itu tidak berarti bahwa esensi—eksistensi Logos menjadi berawal. Yang berawal adalah natur ragawi manusiawi di mana Logos menempatkan diri-Nya di dalam natur tersebut, sedangkan natur keilahian dan eksistensi kekekalan Logos tetaplah kekal. Maka, semua tuduhan bahwa Yesus lebih rendah dari Sang Bapa pasti berpatokan pada natur ragawi Yesus—selain dari pada pemahaman disparitas kronologis yang saya sebutkan di atas.

Lagipula, manusia Yesus dan manusia pada umumnya memiliki disparitas substansial. Mereka yang memahami bahwa Yesus tak mungkin disembah karena Ia adalah manusia belaka berangkat dari pemahaman yang dangkal soal natur “manusia” biasa (seperti kita) yang dilekatkan pada Yesus. Tetapi, manusia Yesus tentu berbeda. Proses historisnya berbeda. Eksistensinya berbeda. Proses pembentukannya berbeda: tanpa hubungan seksual. Manusia biasa menempuh jalur hubungan seksual, sedangkan kelahiran Yesus tidak. Jadi memang benar bahwa Yesus adalah manusia, tetapi kita tidak berhenti sampai di situ. Masih ada banyak implikasi dan latar belakang yang harus digali untuk menemukan kualitas penyembahan kepada Yesus. Mereka yang masih berdebat soal mengapa Yesus disembah karena alasan bahwa Ia hanyalah manusia biasa (seorang Nabi), adalah mereka yang masih berpikiran dangkal dan tak melihat komprehensivitas data biblika.

Yesus setara dengan Sang Bapa bukan dilihat dari konteks kemanusiaan-Nya melainkan dari substansi (eksistensi-Nya) sebagaimana yang ditegaskan Rasul Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:1-3). Perhatikan penegasan-penegasan Rasul Yohanes yang akan saya jelaskan berikut ini.

(1) Pada mulanya adalah Firman [Logos]. Pernyataan ini menunjukkan dan membuktikan bahwa Firman memiliki eksistensi kekal. Pada mulanya Firman itu telah ada. Artinya, sebelum segala sesuatu ada (diciptakan), Firman itu telah ada. “Ada”-nya Sang Logos tidak dapat diprediksi. Awal Logos bukanlah dimaksudkan sebagai awal dari ciptaan, melainkan penegasan bahwa Logos itu kekal dan ada. Jika manusia dapat mengetahui kapan ia mulai berpikir maka mungkin saja ia dapat memahami bahwa Logos itu memiliki awal sebagaimana ia tahu kapan ia mulai berpikir.

(2) Firman itu bersama-sama dengan Allah. Secara tegas Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Allah dan Firman “ada” sejak kekal. Artinya, Firman dan Allah “sama-sama”—tidak ada yang mendahului. Kata “bersama-sama” menegaskan keberdiaman satu sama lain. Allah tidak mendahului Firman dan Firman tidak mendahului Allah. Allah di sini merujuk kepada “Bapa” yang kekal seperti yang nyata di ayat 14 dan 18:

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Penegasan Rasul Yohanes di atas menandai kualitas Logos dan kekekalan Logos. Logos ini yang kemudian “menjadi manusia”. Ia diam di antara kita—diam di dunia, hidup di dunia, mengenakan kemanusiaan manusia seperti kita. Sebagai tingkat disparitas kemanusiaan Yesus dengan kemanusiaan kita pada umumnya, maka Rasul Yohanes menyebutkan supremasi-supremasi personal Yesus untuk meneguhkan bahwa Yesus layak disembah sebab Dia adalah Allah dan Tuhan.

(a) Yesus adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Pencipta. Allah—Sang Bapa—mencipta dengan Logos-Nya, maka tanpa Logos tak mungkin Allah mencipta. Maka alasan penyembahan kepada Yesus bukanlah sebuah kebodohan dan bukanlah sebuah “gagal paham” seperti yang dituduhkan oleh mereka yang sebenarnya “tidak belajar baik-baik” tentang data biblika. Justru sebaliknya, “gagal paham” soal Kristen memenuhi pola pemikiran mereka.

(b) Yesus [Logos yang menjadi manusia] memiliki kemuliaan yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa. Ada dua supremasi di sini yaitu “diberikan kemuliaan” dan disebut sebagai “Anak Tunggal Bapa”. Yesus “diberikan kemuliaan” bukan berarti Dia tidak memiliki kemuliaan. Kemuliaan yang diterima-Nya berada dalam konteks inkarnasi-Nya (menjadi manusia), dan bukan dalam eksistensi kekekalan-Nya (bdk. Yoh. 1:1). Maka, di sini, kemanusiaan Yesus berbeda dengan kemanusiaan pada umumnya.

Itu sebabnya, penyembahan kepada Yesus sangatlah pantas. Sebutan sebagai “Anak Tunggal Bapa” menjelaskan sumber dari mana Anak (Yesus dalam inkarnasi-Nya). Kata “tunggal” digunakan kata μονογενοῦς dari kata μονογενής yang berarti “only” (satu-satunya, tunggal), unique (unik, khusus).

Jika menggabungkan arti tersebut, maka tentu Yesus itu unik (khas) yang berbeda kualitas kemanusiaan-Nya denga kemanusiaan kita. Sebutan Anak Tunggal Bapa juga menegaskan “kepemilikan” yang artinya Yesus “lahir” dan “keluar” dari pribadi Sang Bapa. Lalu apakah Dia tidak layak disembah tatkala kualitas kemanusiaan-Nya berbeda dengan manusia pada umumnya dan bahkan Ia secara esensi berbeda dengan kita? Mereka yang masih bergulat dengan negasi keilahian (atau ke-Tuhan-an Yesus) hanya karena Ia manusia, adalah mereka yang masih memiliki pola pemikiran “merayap”. Globalnya, tidak ada satu manusia pun “yang sama” dengan Yesus. Jadi, negasi penyembahan kepada-Nya tidak memiliki cukup alasan logis dan ilmiah sebagaimana telah saya buktikan di atas.

(c) Yesus penuh kasih karunia dan kebenaran. Manusia biasa mustahil penuh kasih karunia dan kebenaran. Hanya pribadi yang bersifat ilahi (yang disembah) dan pribadi yang memiliki natur ke-Tuhan-an (yang berkuasa) yang memiliki kebenaran dan kasih karunia. Itu sebabnya, jika tuduhan Yesus hanya manusia biasa dan tak layak disembah, maka itu salah kaprah. Jelas, bahwa Yesus adalah manusia yang memiliki kualitas ilahi yang substansial seperti yang nyata dalam catatan Rasul Yohanes.

(d) Yesus dalam inkarnasi-Nya menyatakan Sang Bapa kepada manusia: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (1:18). Kata “pangkuan” (Yun. κόλπος  memiliki  beragam arti [dan terjemahan]: bosom, side, heart). Pemahaman tentang karya Yesus dalam inkarnasi-Nya tidak dapat dipisahkan dengan rencana kekal Sang Bapa di mana Ia berkenan kepada Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Istilah “pangkuan” dapat dipahami sebagai “perkenanan”. Artinya, Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa, adalah Anak yang berkenan kepada Sang Bapa. Pemahaman ini dipertegas dengan suara dari langit yang menyatakan:

Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5)

Kata “Anak” bukan dipahami sebagai “Allah yang beranak” seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang yang tak tahu akar persoalan penyebutan frasa “Anak Allah” kepada Yesus. Mereka memahaminya secara biologis padahal hal itu justru menunjukkan betapa bodohnya pola pikir seperti itu. Kristen tidak percaya bahwa Allah bisa beranak layaknya tuduhan sebagian orang. Allah beranak justru pola pikir kafir. Maka Kristen bukanlah kafir seperti yang dituduhkan. Sayangnya, ada yang bersikeras untuk menyatakan bahwa Kristen itu kafir karena menganggap Yesus sebagai Anak Allah. Jadi, sebagian orang mengukur kesalahan Kristen berdasarkan kitab sucinya, padahal cara demikian tidaklah ilmiah dan bukan sebuah sikap yang jujur. Anak Allah yang dipahami Kristen tidaklah biologis sebab Alkitab tidak mengajarkannya. Model “straw man” adalah ciri khas kelompok yang logikanya sedang dirasuk oleh cara berpikir kafir.

(3) Firman [Logos] itu adalah Allah. Alasan Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Logos itu adalah adalah berangkat dari identitas bahwa Logos itu ada pada mulanya dan Ia ada bersama-sama dengan Allah dalam kekekalan. Hanya pribadi yang kekal (tak berawal) yang adalah pribadi yang ilahi (yang disembah). Yesus—Sang Logos—layak disembah karena Ia bersifat ilahi. Bukti-bukti yang telah saya paparkan cukup untuk membuktikan penyembahan kepada Yesus.

(4) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Kesetaraan Logos dengan Sang Bapa didasari pada “eksistensi” yang kekal di antara keduanya. Jika di ayat 1 disebutkan bahwa “pada mulanya adalah Firman” maka di ayat 2 disebutkan bahwa “Allah juga ada pada mulanya”. Konsekuensi logisnya adalah baik Allah dan Logos, keduanya sama-sama kekal dan ada pada mulanya. Dengan demikian, Logos yang menjadi manusia bukanlah Logos yang biasa. Sudah jelas bahwa identitas Logos baik sebelum berinkarnasi maupun dalam inkarnasi-Nya, telah begitu terang dijelaskan Rasul Yohanes.

(5) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dengan Logos, Allah—Sang Bapa—mencipta. Keharusan Bapa memiliki Logos bukanlah karangan manusia melainkan pernyataan Bapa itu sendiri dan melalui Inkarnasi Logos menjadi manusia membuktikan bahwa peristiwa Natal adalah bersifat unik—dan itu pasti—sehingga mereka yang salah paham soal ini dapat segera gulung tikar dan mengikuti petunjuk Alkitab. “Allah berfirman” membuktikan Allah memiliki firman sejak kekal. Kekekalan Allah adalah kekekalan Firman. Kekekalan Firman adalah kekekalan Allah sebab Firman berdiam dalam diri Allah yang kekal. Pernyataan Rasul Yohanes bahwa “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia [Logos] dan tanpa Dia [Logos] tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” justru semakin memperteguh identitas Yesus sebelum inkarnasi dan menambah daftar panjang bahwa Yesus adalah pribadi yang layak disembah.

Mereka yang salah paham soal peristiwa Natal (inkarnasi Logos) dan bahkan tak mau mengucapkan “Selamat Hari Natal” adalah menunjukkan sentimen keagamaan yang rendah. Sudah salah paham, pakai sumber yang salah, tafsir yang salah, dan menuduh sepihak dan juga salah. Masihkah mereka yang mencaci maki dan salah paham soal Natalku yang aku yakini adalah anugerah Sang Bapa bagi manusia berdosa? Bukankah manusia berdosa kepada Bapa dan hanya Bapa saja yang dapat mengampuni dengan cara-Nya sendiri? Jika demikian, mengapa memprotes dan menegasikan inkarnasi Yesus Kristus ke dunia?

Mungkin mereka yang menolak akan menjawab: “Bukan karena itu kami menolak, tetapi karena kalian menyembah Yesus yang hanyalah manusia”. Jika itu jawabannya, maka pertanyaan klarifikasinya adalah: “Manusia seperti apa yang kalian maksudkan?” Jelas bahwa kualitas kemanusiaan Yesus sangatlah berbeda dengan kemanusiaan manusia pada umumnya. Benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi dengan mengabaikan bukti-bukti lain, rasanya tidak adil dan bahkan justru mencoreng pola hermeneutik biblika. Mereka yang hanya bermodalkan tafsir seadanya apalagi didasari pada sumber-sumber yang tidak jelas, menghadirkan pemahaman yang rendah dan seadanya pula. Alkitab begitu tegas menguraikan supremasi-supremasi kemanusiaan dan bahkan keilahian Yesus. Tak ada yang dapat menyanggahnya.

Kedua, Jika Yesus Anak Tuhan, Bidannya Siapa?

Topik ini menarik. Menarik bukan karena pertanyaannya karena yang bertanya memperlihatkan keanehan yang amat sangat. Ini sekaligus lucu dan menggelikan. Pertanyaan tersebut muncul karena pemahaman sang penanya sangat rendah dan tidak memahami Alkitab secara baik. Saya memakluminya. Pola pikir yang hanya diisi dengan konsep kebencian, konsep kafir, dan konsep ahistoris, maka hasilnya juga demikian. Sentimen agama begitu kental sehingga pertanyaan di atas lebih menunjukkan logika rendahan atau logika kelas jalanan bahkan sentimen agama, ketimbang logika ilmiah dan pola pikir yang berkualitas.

Jelas bahwa pertanyaan tersebut berangkat dari kebodohan bersalutkan sentimen dan kebencian terhadap Kristen. ketidakmampuan mengolah data biblika dan cara memahami doktrin Kristen yang rumit menjadikan mereka yang hobi menyudutkan Kristen hanya bermodalkan mulut yang tanpa gigi. Hanya bisa bicara tapi tidak bisa mengunyah. Alkitab tidak menjelaskan bahwa Yesus itu anak Tuhan. Yesus adalah Anak Allah yang Hidup sebagaimana yang disebutkan dalam catatan Injil-Injil berikut ini:

Mat. 8:29. Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

Mat. 14:33. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Mat. 16:16. Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Mat. 27:54. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”

Mrk. 1:1. Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.

Mrk. 3:11. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.”

Mrk. 5:7.  dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

Mrk. 15:39. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Luk. 1:32. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya

Luk. 1:35. Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Luk. 4:3. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”

Luk. 22:70. Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”

Yoh. 1:34. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Yoh. 1:49. Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

Yoh. 10:36. masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?

Yoh. 11:27. Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Yoh. 20:31.  tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Semua teks di atas, tidak ada satupun yang memahami Yesus sebagai Anak Allah (termasuk Yesus sendiri) dari perspektif biologis sebagaimana yang dipahami oleh mereka yang melakukan tuduhan bahwa “Allah tidak beranak” dan berpikir bahwa ungkapan tersebut ditujukan kepada Yesus padahal jarak tempuh pemahaman mereka terhadap Alkitab sangatlah jauh. Gelar “Anak Allah” adalah gelar yang menegaskan kuasa, kemuliaan, dan kebenaran, yang dilakukan Yesus, dan bukan “anak” dalam arti biologis di mana ada hubungan antara Allah dengan istrinya, seperti yang tampak dalam negasi-negasi murahan yang dilakukan oleh mereka yang membenci Kristen. Alkitab menegaskan bahwa Allah itu roh. Jadi istilah “Anak Allah” haruslah dipahami dalam konteks tersebut. Malaikat Tuhan menyatakan: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi (Luk. 1:32). Penyebutan Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi jelas tidak menunjukkan unsur biologis melainkan unsur mukjizat di mana rahim Maria dipakai Allah untuk menyatakan dan mempertunjukkan mukjizat yang luar biasa itu.

Jadi, mereka yang menganggap Yesus sebagai “Anak Tuhan” tentulah salah kaprah. Mereka yang menganggap Yesus sebagai “Anak Allah” dalam arti biologis juga salah kaprah. Kalau Kristen tidak memahami bahwa “Anak Allah” tidaklah dalam arti biologis, lalu mengapa ada agama yang memahaminya sebagai anak dalam arti biologis? Tentu ini sangat lucu dan menggelikan. Rasanya tidak habis pikir. Yang punya Kitab Sucia siapa, yang menolak siapa, dan yang menuduh siapa. Bukankah hal ini terkesan sangat aneh?

Oleh sebab itu, “Jika Yesus Anak Tuhan, bidannya siapa? adalah sebuah pertanyaan yang didasari pada sebuah kebodohan, sebuah sentimen agama, sebuah kesalahan tafsir, sebuah tindakan salah alamat, dan sebuah pemikiran yang sangat dangkal karena dengan bertanya seperti itu, orang Kristen kemudian dianggap kafir. Tidak, sama sekali tidak. Justru mereka yang menuduhnya secara sembarangan dan tanpa dasar yang solid dan konkret, merekalah yang kafir—kafir karena mereka menutup diri dari lautan pengajaran Alkitab yang mengundang siapa saja untuk mandi dan berenang, menikmati keindahan ajaran Inkarnasi: Logos menjadi manusia, menawarkan damai sejahtera, menebus, dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Adakah manusia yang merasa dirinya tidak berdosa? Jika ada yang merasakannya, maka pasti dia adalah manusia berdosa.

Ketiga, Yesus Bukan Tuhan, Dia adalah manusia.

Di atas saya telah menjelaskan disparitas kemanusiaan Yesus dan kemanusiaan kita pada umumnya. Di sini saya hanya menambahkan beberapa pengertian tentang topik ini. Yesus disebut Tuhan karena Ia memiliki kuasa atas segala sesuatu. Berikut adalah teks-teks bukti:

Yoh 10:18  Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Mat. 9:6. Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa….

Yoh. 5:21. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.

Luk. 24:19. Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.

Mat. 10:28. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Mat. 3:11. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Mat. 7:29. Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Mrk. 1:7. Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.

Mrk. 1:22. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

Mrk. 2:10. Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa….

Luk. 3:16. Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Luk. 5:24. Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa….

Berdasarkan teks-teks di atas, Yesus yang adalah Tuhan, layak disembah karena Ia berkuasa (memiliki kuasa). Kuasa yang dimiliki Yesus adalah sama dengan Bapa (Yoh. 5:21). Jadi, benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi mereka yang menolak ke-Tuhan-an-Nya perlu menggaruk kepala, bertapa, dan dalam pertapaannya tersebut ia perlu merenungkan kekayaan Alkitab dan memberi diri melihat secara terang bahwa Yesus adalah Logos Allah yang berinkarnasi. Ia menyatakan Sang Bapa. Ia adalah sosok yang unik, satu-satunya, tak ada yang lain. Ia adalah manusia sejati dan Allah sejati. Kemanusiaan-Nya terlihat jelas. Begitu pula dengan keilahian dan ke-Tuhan-an-Nya. Manusia yang dikenakan Sang Logos adalah fakta. Begitu pula dengan keilahian dan ke-Tuhan-an-Nya adalah fakta juga. Kelahiran Yesus adalah unik dan mengesankan. Bapa yang begitu peduli dengan manusia berdosa dan Ia mengaruniakan Sang Logos untuk menempati dunia dan tinggal di dalamnya. Merasakan bagaimana ciptaan-Nya merasa. Itulah Yesus Kristus yang luar biasa. Penyembahan kepada-Nya adalah konsekuensi logis yang dapat dilihat, dirasakan, dan dipikirkan oleh manusia yang percaya sepanjang zaman. Tidak hanya itu, para penulis Alkitab mencermati, mengamati, melihat, merasakan, mengalami, hidup bersama Sang Logos. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes bahwa:

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa (1 Yoh. 1:1-7).

Keempat, Natal itu perayaan kafir

Mungkin telah sering kita mendengar bahwa perayaan Natal adalah perayaan kafir. Memang, ada banyak bentuk ritual yang terwariskan dari berbagai perayaan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Namun bukan berarti bahwa bentuk-bentuk ritual kafir itu masih dipertahankan ketika seseorang telah menjadi percaya kepada Tuhan. Kita perlu mengetahui bahwa manusia pasca jatuh dalam dosa, telah bebas menciptakan segala sesuatu yang bisa memuaskan hasrat hati dan keinginannya termasuk dalam hal penyembahan.

Hari Natal, dalam pemahaman sebagian orang dianggap sebagai warisan ritual kafir. Ada berbagai sumber yang saling tumpang tindih soal ini. Tapi di sini saya tidak membahas dan menganalisisnya. Saya hanya menegaskan bahwa Natal tetaplah Natal. Kristen tidak sedang berfantasi soal ilah-ilah yang tidak jelas. Kristen justru malah menegaskan hal-hal yang benar-benar jelas dan terang. Natal adalah peristiwa bersejarah, di mana Sang Bapa—Sang Pencipta itu memberi diri-Nya melalui Logos untuk datang mengunjungi, diam, menetap di dunia ciptaan-Nya. Natal bukanlah perayaan kafir. Natal secara jelas adalah wujud kecintaan Allah pada manusia yang berdosa dan kemudian sebagai wujud manusia yang mengasihi-Nya. Merayakan Natal dengan berbagai ornamen mewah dan sebagainya, tidaklah menyatakan bahwa pada waktu peristiwa Natal, semuanya serba mewah. Tidak. Natal adalah kesederhanaan. Lalu mengapa orang Kristen merayakannya dengan mewah dan penuh sukacita? Kita perlu melihat bahwa zaman telah berubah dan berbeda. Ungkapan syukur karena Natal membawa perubahan bagi dunia berdosa adalah salah satu alasan mengapa orang Kristen merayakannya dengan berbagai cara.

Namun, saya tentu tidak setuju dengan orang Kristen yang merayakan Natal dengan segala kemewahan hanya bertujuan memamerkan kekayaan atau untuk hura-hura, pesta pora yang tidak jelas, dan ajang untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Natal adalah ungkapan syukur atas kasih Bapa yang luar biasa. Tak ada yang dapat menandingi ungkapan syukur Kristen di dalam perayaan Natal. Mereka yang berada di luar kandang syukuran ini, hanya dapat merendahkan, mencaci maki, menghina, dan melakukan berbagai aksi untuk menolak perayaan Natal. Semua ornamen Natal tidak identik dengan Natal Yesus Kristus. Apa yang dilakukan dalam memeriahkan Natal tentu dengan menggunakan berbagai ornamen. Hanya sebatas ornamen, dan bukan sebagai penyembahan berhala.

Kelima, Pohon Natal itu penyembahan berhala

Ada yang menyatakan bahwa pohon Natal adalah bentuk penyembahan kafir yang terwariskan dalam perayaan Natal Kristen. Namun, sebagaimana telah saya katakan di atas bahwa semua ornamen Natal hanyalah bentuk ungkapan hati. Soal pohon Natal yang disembah tentu saya sangat tidak setuju. Pohon dalam perayaan Natal tidaklah mewakili Natal itu sendiri. Pohon tersebut hanyalah bagian dari hiasan untuk menambah suasana sukacita. Berbagai ornamen yang dipasang dan digantung di pohon tersebut semakin mempercantik pohonnya. Meski ada yang menganggap bahwa pohon Natal adalah tata cara yang diikuti dari ritual penyembahan berhala terhadap pohon dan kemudian orang Kristen mengambil alih ritual tersebut dan menggantikannya dengan ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah lahir ke dalam dunia. Namun, sampai sekarang, sejauh pengetahuan saya, tidak ada orang Kristen yang menyembah pohon Natal dan menjadikannya berhala.

Keenam, Orang Kristen kafir karena menyembah Yesus

Ada agama tertentu yang menuduh orang Kristen itu kafir karena menyembah Yesus. Tuduhan tersebut didasari pada kitab sucinya. Ini tergolong aneh. Mereka yang menuduh tidak membaca Alkitab secara baik, malah menuduh Alkitab telah dipalsukan. Ini makin lebih aneh lagi. Semakin menuduh dan mengkritik, semakin sesat dan menyesatkan. Saya sudah menjelaskan di atas soal bagaimana Yesus sebagai manusia dan Tuhan, yang disembah. Ada kualitas disparitas yang mencolok antara kemanusiaan Yesus dan kemanusiaan kita.

Penyembahan kepada Yesus didasarkan pada data biblika (data historis). Jika hendak mengetahui lebih dalam mengapa orang Kristen menyembah Yesus, maka bacalah Alkitab secara baik. Pahami konteksnya, pahami metodologi hermeneutik, pahami konteks korelasi antar teks dan antar perjanjian, pahami saksi mata, pahami para murid Yesus, pahami klaim-klaim Yesus, pahami perbuatan-perbuatan mukjizat Yesus. Niscaya kualitas pengetahuan tentang Inkarnasi Yesus dan dua natur personalitas Yesus akan dipahami dengan baik. Tidak perlu mencaci maki lebih dahulu. Tidak perlu curiga terlebih dahulu. Tidak perlu sentimen terlebih dahulu. Hanya sediakan waktu untuk belajar Alkitab.

Natalku yang disalahpahami oleh mereka yang membenci Yesus dan membenci Kristen sebenarnya menggenapi perkataan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat” (Luk. 6:22); “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yoh. 15:18-19).

Dengan Natal, saya dapat memahami bahwa Sang Bapa telah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa bagi saya yang adalah manusia berdosa. Surga—Sang Bapa bersemayam bersama Sang Logos yang kekal—telah turut mengambil bagian dalam sejarah. Luar biasa kasih Sang Bapa. Saya dapat merasakan cinta kasih yang besar untuk dibagikan kepada semua orang termasuk kepada mereka yang menghina Yesusku, menghina dan merendahkan Natalku, mencaci maki ajaran-ajaran Kitab Suciku. Mereka juga adalah objek kasih Sang Bapa melalui Sang Logos. Bapa mengasihi dunia termasuk mereka yang menolak Sang Logos sebagai Allah dan Tuhan, serta Juruselamat dunia. Semoga ada berkat yang luar biasa bagi kita semua yang memahami Natal sebagai wujud cinta kasih dan sayang Bapa kepada dunia yang berdosa.

Bagikanlah damai sejahtera Natal kepada sesama kita. Hendaklah damai sejahtera Kristus bertahta (memerintah, mengontrol, menguasai, dan mengendalikan) di hati kita. Kita satu di dalam Tuhan. Satu dalam damai sejahtera, meski berbeda suku, bahasa, warna kulit, budaya, dan adat istiadat. Kiranya Natal memberikan pencerahan bagi pikiran dan hati kita untuk semakin mengasihi Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Berdoalah bagi mereka yang menghina dan mencaci maki Natal kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Shalom. Salam Bae.

NATAL: KRISTUS YANG TERTOLAK, NAMUN MENAWARKAN DAMAI DAN KESELAMATAN

Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia

– 1 Yohanes 4:14 –

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/54958057928946425/

Iman Kristen memiliki empat prinsip dasar: pertama, iman kepada penggenapan nubuat-nubuat PL tentang datangnya seorang Mesias yang terwujud dalam diri Yesus Kristus; kedua, iman kepada kematian Yesus Kristus yang bersifat substitutif yang berarti bahwa Ia [Yesus] menebus umat pilihan-Nya dari dosa-dosa lampau, dosa-dosa masa kini, dan dosa-dosa akan datang; ketiga, iman kepada kebangkitan Yesus dari kematian yang melalui peristiwa tersebut, ada konfirmasi bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati. Jaminan ini menandai kekuatan iman mengapa orang Kristen rela menderita dan mati demi Kristus; dan keempat, iman kepada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, yang melalui peristiwa tersebut, pengharapan Kristen akan dikonfirmasikan dan digenapi bahwa Yesus yang datang memberikan jaminan dan menepati janji-Nya dan orang-orang yang percaya kepada-Nya akan ikut memerintah bersama-Nya di dalam kerajaan-Nya yang kekal.

Keempat dasar di atas telah dipertahankan sejak Yesus naik ke surga. Hingga sekarang tak terhitung berapa banyak martir Kristen yang siap mati demi Kristus. Mereka dianggap sebagai “binatang yang tak berakal budi” dan dianggap sebagai pengganggu tatanan kenegaraan. Tapi anehnya, mereka tidak berbuat kejahatan; mereka tidak membunuh; mereka justru mendoakan musuh-musuhnya; mereka mendoakan pemerintah dan berdoa bagi kesejahteraan kota tersebut; mereka rajin berbuat baik. Tetapi, karena kebencian mereka terhadap iman kepada Yesus Kristus, menjadikan orang Kristen sebagai sasaran empuk untuk diperlakukan secara tidak adil, diskriminatif, dan sering diburu untuk dibunuh.

Apa yang menarik dari iman Kristen? Apa yang unik dari iman Kristen? Mengapa mereka tidaka membalas kejahatan dengan kejahatan? Mengapa mereka tidak membuat gerakan balas dendam bagi pemerintah yang mendiskriminasikan mereka? Mengapa mereka begitu tabah dihina, dicaci maki, dikatakan manusia kafir, dikatakan penghuni neraka jahanam, tetapi tidak terganggu dengan semua ucapan fitnah dan tak berakal budi tersebut? Bukankah semua tuduhan fitnah yang ditujukan kepada Kristen adalah cerminan hati dan pikiran dan para pelaku fitnah dan pencaci maki? Jawabannya adalah “Karena Kristus telah mewariskan kasih yang luar biasa; kasih yang tak menuntut balas dan kasih tanpa pamrih”. Kristus telah mendahului pengikut-Nya: Ia dihina, Ia dicaci maki, Ia direndahkan, Ia difitnah, dan pada akhirnya Ia dibunuh secara kejam. Pertanyaannya adalah: “Bukankah Ia adalah Tuhan?” Mengapa Tuhan bisa dibunuh?” Memang benar Ia adalah Tuhan. Tetapi yang dibunuh bukanlah substansi keilahian-Nya (ke-Tuhanan-Nya) melainkan tubuh ragawi-Nya (tubuh manusiawi-Nya) karena memang yang disalibkan adalah tubuh-Nya dan bukan natur ke-Tuhanan-Nya.

Hal ini diperjelas sejak awal Yesus datang ke dunia: Natal. Kelahiran Yesus ke dunia (Natal). Peristiwa Natal itu sendiri adalah peristiwa bahagia sekaligus menyedihkan. Natal menceritakan Kristus yang tertolak, namun Ia menawarkan damai dan keselamatan. Yohanes menegaskan peristiwa tersebut dengan menulis: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Natal yang menyedihkan adalah ketika Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat yang layak (dalam pandangan manusia), tetapi hanya mendapatkan tempat istirahat binatang, dan bayi Yesus ditempatkan di tempat minum binatang: palungan. Apakah ini layak? Saya merasa bahwa dalam pandangan Allah Bapa, itulah tempat yang layak karena Yesus dibaringkan di palungan. Lalu mengapa harus palungan? Mengapa tidak di kasur yang empuk atau tempat yang layak dan nyaman? Yesus yang berasal dari tempat yang tertinggi, namun Ia rela turun dan menempati tempat yang paling terendah. Ini adalah sebuah paradoks. Ini adalah teladan pertama dari peristiwa Natal Yesus Kristus. Ini adalah warisan bagi para pengikut-Nya. Ketika orang Kristen mengalami hal serupa, ingatlah kisah Natal.

Penolakan pertama adalah ketika tidak ada tempat yang layak bagi Yusuf dan Maria yang sedang mengandung. Siapa yang menolak? Lukas mencatat, “dan ia [Maria] melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk. 2:7). Tempat yang layak itu sebenarnya ada yaitu “rumah penginapan”. Tetapi Lukas tidak mencatat apakah rumah penginapan itu penuh; apakah karena Yusuf dan Maria tidak memiliki cukup uang untuk membayar penginapan, atau apakah karena Yusuf dan Maria kelihatan tidak meyakinkan untuk menginap di rumah penginapan. Lagipula, jika kita melihat dari aspek humanitas, apakah pemilik penginapan tidak merasa kasihan dengan Maria yang sedang mengandung dan akan segera melahirkan? Di mana rasa humanitas pemilik penginapan atau orang-orang yang tinggal di dalam penginapan tersebut? Penolakan ini membawa bayi Yesus ke tempat palungan, tempat di mana Ia dibaringkan.

Hal ini sangat menarik. Dalam kondisi tersebut, Maria melahirkan dengan selamat dan tidak terjadi apa-apa. Pertanyaannya: siapakah yang membantu Yusuf dan Maria dalam proses persalinan? Tidak ada indikasi apa pun di dalam catatan Injil-Injil. Namun dugaan saya, salah satu atau lebih pengurus penginapan, turut membantu proses persalinan jika kita tidak memikirkan opsi tunggal bahwa Yusuf sendirilah yang membantu proses persalinan istrinya. Tetapi, intinya adalah Maria menjalani proses persalinan secara sempurna dan bayinya lahir dengan selamat.

Penolakan kedua adalah ketika Raja Herodes dengan diam-diam memanggil orang-orang majus dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia” (Mat. 2:7-8). Apakah Herodes murni akan menyembah bayi Yesus? Tidak! Herodes justru “menolak” Sang Bayi Yesus yang adalah “Raja” sebagaimana pernyataan orang Majus tentang penglihatan mereka mengenai Bintang di Timur yang merupakan fenomena langka:

“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: ‘Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia’” (Mat. 2:1-2).

Herodes mungkin merasa takut, merasa tersaingi, dan merasa terancam kedudukannya lain sebagainya. Herodes menolak kelahiran Yesus, Raja orang Yahudi. Orang-orang Majus bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah ahli-ahli nujum. Mereka melihat sebuah fenomena langkah mengenai “Bintang di Timur” sebagai indikasi dan konfirmasi mengenai datangnya seorang raja. Pesan Herodes kepada orang-orang Majus untuk mengabarkan hal ikhwal Anak [Yesus] yang lahir itu dengan tujuan supaya ia datang menyembah Dia adalah bukti penolakannya dengan menggunakan strategi licik. Syukurlah orang-orang Majus diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain (Mat. 2:12). Lalu malaikat Tuhan mengkonfirmasi bahwa niat Herodes adalah bukan untuk menyembah Yesus, melainkan untuk membunuh-Nya:  “Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ‘Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia’” (Mat. 2:13).

Dua penolakan di atas diseimbangkan dengan dua penerimaan dengan diperteguh oleh pernyataan malaikat-malaikat surga. Penerimaan pertama adalah oleh Yusuf dan Maria. Yusuf menerima Maria dalam kondisi “mengandung dari Roh Kudus”. Peristiwa mengandung dari Roh Kudus adalah peristiwa ajaib karena “Kuasa Allah yang Mahatinggi” telah menaungi Maria dan Roh Kudus turun atasnya. Peristiwa ini menandai mukjizat kelahiran Yesus yang supranatural. Dalam kondisi tersebut, Yusuf sebagai seorang yang tulus hati, tidak mau mencemarkan nama Maria, hendak menceraikannya secara diam-diam. Akan tetapi, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:20-21). Lalu Yusuf pun menerima Maria yang telah mengandung dari Roh Kudus sebagai tanda bahwa ia telah “menerima Yesus” sebagai Anak Allah yang Kudus yang dikandung oleh Maria, seperti yang ditegaskan Matius (1:24-25): “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”

Jikalau Yusuf menerima Maria dan bayi yang dikandungnya, maka Maria terlebih dahulu menerima “Yesus [nama yang diberi oleh malaikat Tuhan] dalam rahimnya. Penerimaan Maria terhadap Yesus yang adalah Anak Allah yang Kudus adalah bukti risiko yang besar yang harus diterimanya terutama dari pihak tunangannya, Yusuf  dan kemudian tetangga-tetangganya. Maria, meski mungkin ia merasa tersiksa dengan mengandung dari Roh Kudus, namun Allah memberikan jalan keluar baik bagi Maria maupun bagi Yusuf sehingga peristiwa kelahiran Yesus bukan tanpa ayah (bukan dalam pengertian biologis) melainkan ada ayah sebagai bukti “keluarga yang sah”: istri yang mengandung didampingi oleh suaminya. Allah tetap menjaga kemurnian dan kekudusan hubungan suami-istri antara Yusuf dan Maria hingga Yesus dilahirkan. Maka penerimaan Yusuf dan Maria berimplikasi kepada dua hal penting: pertama, penerimaan terhadap Yesus sebagai perwujudan dari nubuatan Perjanjian Lama; dan kedua, penerimaan terhadap Yesus sebagai perwujudan dari keluarga yang sah: bayi Yesus lahir memiliki ayah dan ibu. Kehormatan Yesus diwujudkan oleh hadirnya Yusuf yang mendampingi istrinya, Maria, dalam proses persalinan dan pemeliharaan Yesus sejak bayi hingga tumbuh dewasa. Kesimpulannya, penerimaan Yusuf dan Maria terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat menjaga Kehormatan Yesus yang akan dilahirkan “dari keluarga yang sah”: ada ayah dan ibu.

Penerimaan kedua adalah oleh para gembala. Lukas (2:8-20) mencatat demikian:

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Para gembala pergi menjumpai Yusuf dan Maria dan bayi Yesus sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang malaikat Tuhan. Para pergi untuk mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh malaikat Tuhan tersebut (ay. 20): (1) benar bahwa ada bayi yang dilahirkan pada hari itu; (2) benar bahwa bayi yang dilahirkan adalah “Juruselamat”; (3) benar bahwa bayi yang dilahirkan adalah “Kristus”; (4) benar bahwa bayi yang dilahirkan “Tuhan”; (5) benar bahwa bayi yang dilahirkan adalah di kota Daud: Betlehem sesuai dengan nubuat nabi Mikha (5:1); (6) benar bahwa bayi yang dilahirkan dibungkus dengan lampin; dan (7) benar bahwa bayi yang dilahirkan terbaring di palungan. Implikasinya adalah “mereka memuji dan memuliakan Allah”. Apa yang mereka dengar dan lihat semuanya konsisten sebagaimana Lukas mencatat (ay. 20): “Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” Kesimpulannya, penerimaan para gembala terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat mengkonfirmasi berita malaikat Tuhan bahwa Yesus yang dilahirkan adalah berasal dari “surga” yang disampaikan oleh malaikat Tuhan dari surga.

Penerimaan ketiga adalah oleh orang-orang Majus dari Timur. Matius 2:9-11 disebutkan bahwa “Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Apa yang dialami oleh orang-orang Majus memiliki substansi yang sama dengan apa yang dialami oleh para gembala. Orang-orang Majus melihat bintang di Timur lalu dikonfirmasi bahwa “memang ada bayi yang lahir tepat di mana bintang itu mengarahkan mereka.” Mereka berjalan selama berbulan-bulan mengikuti petunjuk bintang Timur tersebut. Apa yang menarik dan membuat mereka terkesan sehingga rela berjalan selama berbulan-bulan untuk mencari Raja Yahudi yang dilahirkan?

Mereka pun dengan penuh keyakinan akan bertemu dengan “Raja yang lahir itu” sekaligus membawa persembahan yang luar biasa. Bagaimana mereka bisa yakin bisa bertemu dengan Raja yang dilahirkan serta mempersembahkan persembahan kepada-Nya? Keyakinan seperti apa yang mereka miliki? Bukankah ini hal yang luar biasa? Berjalan selama berbulan-bulan yang keyakinan bahwa bintang Timur adalah pertanda lahirnya seorang Raja? Ini sungguh penerimaan yang melampaui dari penolakan Yusuf dan Maria karena tidak mendapatkan tempat penginapan. Yusuf dan Maria tidak berkecil hati karena tidak memiliki tempat untuk bersalin. Mereka memilih tempat “apa adanya” untuk melahirkan bayi yang dikandung oleh Maria. Justru apa  yang mereka keluarkan tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka terima dari orang-orang Majus. Ada empat hal yang dilakukan orang-orang Majus yakni sebagai tanda penerimaan mereka: (1) menyembah Yesus; (2) mempersembahkan emas; (3) mempersembahkan kemenyan; dan (4) mempersembahkan mur.

Kesimpulannya, penerimaan orang-orang Majus terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat pembuktian bahwa Yesus adalah “Raja yang dilahirkan” berdasarkan nubuatan PL dan membuktikan karya-karya-Nya sebagai Raja di bumi dan di surga. Ingat, peristiwa kelahiran seorang Raja Yahudi yaitu Yesus, ditandai oleh bintang-Nya di Timur (di langit) dan Raja dilahirkan di Betlehem (di bumi). Artinya jelas, bahwa Yesus berasal dari surga (konfirmasi dari berita yang didengar oleh para gembala) dilahirkan berdasarkan petunjuk bintang di langit di mana langit adalah takhta Allah. sebagai seorang Raja, Yesus patut mendapat “penyembahan”. Orang-orang Majus langsung memberitahukan kepada Herodes bahwa mereka akan menyembah Yesus sebagai raja orang Yahudi, yang baru dilahirkan itu (Mat. 2:2).

Penerimaan yang keempat adalah berbentuk konfirmasi “pujian bala tentara surga [malaikat surgawi] kepada Allah”. Dua penolakan di bumi dan tiga penerimaan di bumi ditengahi oleh satu konfirmasi pujian surgawi. Allah memiliki agenda terbaik untuk membuat kisah Natal dalam konteks penerimaan menjadi lebih unggul. Penolakan tidak sebanding dengan penerimaan Yesus sebagai inkarnasi Allah menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο [ho logos sarks egeneto]). Pujian agung oleh para malaikat surgawi menandai kemenangan dan keagungan inkarnasi Yesus Kristus. Meski hanya Lukas yang mencatatnya, namun catatan Lukas merupakan konfirmasi bahwa memang bayi yang dilahirkan adalah: Juruselamat, Kristus, dan Tuhan. Inilah bunyi pujiannya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Pertanyaanya: apakah pujian itu ditujukan kepada Allah Bapa atau kepada Yesus yang adalah Allah? Menurut saya pujian itu ditujukan kepada Yesus (bayi yang telah lahir itu) karena hal ini kemudian diteguhkan oleh Rasul Yohanes bahwa Allah (di surga) mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (dilahirkan di dunia). Kemuliaan bagi Yesus yang adalah Allah “di tempat yang mahatinggi” (setara dengan Allah Bapa yang mengaruniakan Yesus kepada manusia) dalam inkarnasi-Nya membawa [memberikan, menawarkan] “damai sejahtera” di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Hal ini didahului oleh pernyataan malaikat Tuhan bahwa: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ὅτι ἐτέχθη ὑμῖν σήμερον σωτὴρ ὅς ἐστιν χριστὸς κύριος ἐν πόλει Δαυίδ [hoti etekhthē humin sēmeron sōtēr hos estin khristos kurios en polei Dauid]). Pujian bala tentara surga—dalam pemahaman saya—merupakan konfirmasi inkarnasi Yesus kepada para gembala bahwa “bayi yang lahir pada hari ini, adalah bayi yang ilahi; bayi yang adalah Juruselamat karena Ia adalah Allah (secara substansi) yang menggunakan tubuh ragawi untuk menyatakan maksud dan rencana-Nya bagi keselamatan umat manusia.

Tepatlah jika dikatakan bahwa Natal adalah di mana Kristus ditolak tetapi sekaligus menawarkan damai dan keselamatan bagi manusia sebagai tanda penerimaan-Nya atas dunia yang telah menerima-Nya (para gembala dan orang-orang Majus). Orang-orang percaya di sepanjang zaman yang telah melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria, para gembala, dan orang-orang Majus dalam arti substansialnya, adalah mereka yang menerima kesahajaan Yusuf dan Maria ketika hendak menjalani proses persalinan Sang Bayi Kudus dan tetap meyakini seperti yang diyakini oleh Yusuf dan Maria, para gembala dan orang-orang Majus dari Timur bahwa:

Yesus yang lahir adalah dikandung dari Roh Kudus

Yesus yang lahir adalah Juruselamat (menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka)

Yesus yang lahir adalah Kristus

Yesus yang lahir adalah Tuhan

Yesus yang lahir adalah Raja Yahudi

Yesus yang lahir adalah Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya

Yesus yang lahir adalah sesuai dengan nubuatan Perjanjian Lama

Yesus yang lahir adalah Anak Allah Yang Mahatinggi

Yesus yang lahir adalah Imanuel

Yesus yang lahir adalah Anak Kudus

Natal, meski sering disalahpahami, tetapi makna substansialnya secara historis dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan catatan-catatan Injil-Injil PB dan catatan-cataan nubuatan PL. Salah kaprah dan kritikan terhadap peristiwa Natal (baca: Inkarnasi) wajar-wajar saja sebab ketika seseorang memiliki prapaham, prakonsepsi, sentimen agama, sentimen rasisme, dan aspek-aspek negatif lainnya, sudah pasti akan berujung pada penolakan, baik penolakan Yesus sebagai Anak Allah yang Kudus, penolakan Yesus sebagai Allah yang berinkarnasi, penolakan Yesus sebagai Juruselamat, penolakan Yesus sebagai Raja orang Yahudi, penolakan Yesus sebagai Kristus [Mesias], penolakan Yesus sebagai Tuhan, penolakan Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, dan penolakan Yesus sebagai Imanuel. Cukup banyak yang menolaknya dari berbagai perspektif. Namun, hal itu bukan menjadikan iman Kristen kecut ciut oleh segelintir kebodohan, caci maki, dan hujatan salah kaprah, dan sebagainya.

Dalam catatan Kisah Para Rasul (catatan yang dikumpulkan oleh Lukas) dan catatan-catatan para rasul Yesus Kristus, peristiwa Natal menjadi momen penting bagi pewartaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, pewartaan bahwa Yesus membawa damai dan keselamatan bagi umat-Nya yang ditebus-Nya. Saya mencatatnya di sini.

Kisah Para Rasul 12:11-12, Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri —, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Kisah Para Rasul 5:31,  Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.

Kisah Para Rasul 13:23  Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.

Filipi 3:20, Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat

2 Timotius 1:10, dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Titus 1:4, Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.

Titus 2:13, dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

Tit 3:4, 6, Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia … yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita

2 Petrus 1:1, Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

2 Petrus 1:11, Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

2 Petrus 2:20, Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.

2 Petrus 3:18, Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

1 Yohanes 4:14, Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.

Yudas 1:25, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Lukas 2:14, Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.

Lukas19:38, Kata mereka: Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!

Yohanes 14:27,  Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Yohanes 16:33, Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Yohanes 20:19, Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Yohanes 20:21, Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Yohanes 20:26, Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Kisah Para Rasul 10:36, Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.

Roma 5:1, Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

Efesus 2:14-15, Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.

Efesus 2:17, Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”

Kolose 3:15, Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

2 Tesalonika 3:16, Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.

Markus 16:8, … Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.

Lukas 1:77,  untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka

Lukas 2:30, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu

Lukas 3:6, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Kisah Para Rasul 13:47, Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 15:11, Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.

1 Tesalonika 5:9, Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

2 Timotius 2:10, Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

2 Timotius 3:15, Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Ibrani 2:10, Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah  —  yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan  — , yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

Ibrani 5:9, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya

Ibrani 9:28, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Berdasarkan catatan Kisah Para Rasul dan catatan-catatan para rasul Yesus Kristus, maka saya menutup tulisan ini dengan menegaskan kembali iman Kristen yang berdiri atas empat dasar dan tentang penolakan serta penerimaan terhadap peristiwa kelahiran (Inkarnasi) Yesus Kristus sebagaimana telah saya jelaskan di atas.

Pertama, iman kepada penggenapan nubuat-nubuat PL tentang datangnya seorang Mesias yang terwujud dalam diri Yesus Kristus.

Ketepatan nubuatan PL tidaklah direkayasa. Maka iman Kristen sangat dapat dipertanggungjawabkan dari aspek teks-teks nubuatan dan historisismenya berdasarkan pemahaman dan penggalian biblika secara kredibel (eksegetis). Penolakan terhadap gagasan penggenapan nubuatan PL terhadap Yesus merupakan kebodohan yang paling konyol yang pernah ada sebab data biblika terkait nubuatan dan penggenapannya tersedia di depan mata.

Kedua, iman kepada kematian Yesus Kristus yang bersifat substitutif yang berarti bahwa Ia [Yesus] menebus umat pilihan-Nya dari dosa-dosa lampau, dosa-dosa masa kini, dan dosa-dosa akan datang.

Inkarnasi Yesus harus dipahami dari komprehensivitas historisnya. Pengampunan hanya datang dari Allah. Itu sangat wajar, sebab manusia “berdosa terhadap Allah”. Dalam PL, hanya Allah yang menetapkan bagaimana umat-Nya ditebus dan diampuni. Kini, dalam PB, Allah menetapkan cara-Nya sendiri—sebab Ia berdaulat menentukan cara apa saja—menebus dan mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka. Penegasan Rasul Petrus sangatlah tepat dijadikan dasar di sini (1 Ptr. 1:18-21):

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

Ketiga, iman kepada kebangkitan Yesus dari kematian yang melalui peristiwa tersebut, ada konfirmasi bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati.

Jaminan ini menandai kekuatan iman mengapa orang Kristen rela menderita dan mati demi Kristus. Iman kepada dan demi Yesus adalah kekuatan orang Kristen. Mereka tahu persis bahwa “Yesus yang disembah adalah Yesus yang berkuasa menolong, menguatkan, menopang, menyelamatkan, melegakan, dan memberi kekuatan dalam menghadapi berbagai ancaman dan penderitaan. Yesus secara tegas menyatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25).

Keempat, iman kepada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, yang melalui peristiwa tersebut, pengharapan Kristen akan dikonfirmasikan dan digenapi bahwa Yesus yang datang memberikan jaminan dan menepati janji-Nya dan orang-orang yang percaya kepada-Nya akan ikut memerintah bersama-Nya di dalam kerajaan-Nya yang kekal.

Penderitaan, intimidasi, diskriminasi, dan pembunuhan terhadap orang Kristen tidak menyurutkan iman mereka kepada Yesus bahwa Ia akan datang kedua kali dan menunjukkan kuasa-Nya yang dahsyat terhadap musuh-musuh-Nya, serta memberikan kemenangan kepada umat-Nya. Umat-Nya akan tinggal bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya yang kekal.

Natal adalah awal mula iman Kristen. Natal adalah cakupan dari serangkaian kasih dan pengharapan Kristen. Iman Kristen bertumpu dan berkembang di dalam Yesus. Yesus tetaplah Yesus meski segelintir pengkritik dengan dalil prapaham dan ketidakmatangan mempelajari Perjanjian Baru mencoba menyodorkan dalil-dalil palsu dan bernatur eisegesis, untuk melawan iman Kristen. Kritikan demi kritikan tetap menjadi makanan sehari-hari. Saya mengajak semua orang Kristen untuk meyakini bahwa Natal adalah kebenaran hakiki yang bersifat kekal. Kebenaran inilah yang memerdekakan kita semua. Iman Kristen tetap kuat dan tak tergoyahkan ketika orang Kristen telah dimerdekakan oleh kebenaran Injil, kebenaran Yesus Kristus. Ini adalah kunci utamanya. Rasul Yohanes dan Rasul Paulus menegaskan hal ini:

Yohanes 8:32, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan [membebaskan] kamu [καὶ γνώσεσθε τὴν ἀλήθειαν, καὶ ἡ ἀλήθεια ἐλευθερώσει ὑμᾶς].

Yohanes 8:36, Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka [ἐὰν οὖν ὁ υἱὸς ὑμᾶς ἐλευθερώσῃ, ὄντως ἐλεύθεροι ἔσεσθε].

Roma 8:2, Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan [membebaskan] kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut [ὁ γὰρ νόμος τοῦ πνεύματος τῆς ζωῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ ἠλευθέρωσέν σε ἀπὸ τοῦ νόμου τῆς ἁμαρτίας καὶ τοῦ θανάτου]

Galatia 5:1, Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan [Τῇ ἐλευθερίᾳ ἡμᾶς Χριστὸς ἠλευθέρωσεν· στήκετε οὖν καὶ μὴ πάλιν ζυγῷ δουλείας ἐνέχεσθε].

Akhirnya, ketika Natal dirayakan, kita memahaminya sebagai “memory” bahwa Yesus “pernah” lahir ke dunia. Orientasi perayaan bukan seperti merayakan Hari Ulang Tahun yang umum dilakukan manusia. Memahami bahwa orang Kristen merayakan Ulang Tahun Yesus adalah salah kaprah. Yang dirayakan adalah “kesadaran iman yang bersifat historis bahwa Yesus yang pernah lahir di dunia adalah Raja yang memberi kemenangan dan yang telah menebus serta mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka dan menjamin keselamatan manusia tebusan-Nya untuk memperoleh kehidupan kekal.” Inilah makna dan substansi perayaan Natal Yesus Kristus. Kekurangmengertian soal ini membawa para kaum hipokrit, kaum pengkritik terjerumus ke dalam kubangan kebodohan mereka sendiri.

Natal adalah keyakinan iman bahwa Yesus menyatakan kebenaran-Nya dan kita yang percaya kepada-Nya dimerdekakan (dibebaskan) dari segala keraguan, segala dosa dan kesalahan, dan dari segala macam perilaku buruk yang mencemarkan nama baik kita. Yesus menyucikan dan menguduskan kita. Maka seyogianya kita hidup dalam kesucian dan kekudusan. Meski di satu sisi Yesus Kristus ditolak, tetapi ingatlah, yang menerima-Nya justru malah lebih banyak. Segelintir orang yang mencaci maki dan menghina doktrin Inkarnasi dan Keilahian Yesus bukanlah sebuah ancaman yang serius. Hanya saja, orang Kristen perlu dimerdekakan oleh Yesus di mana ia harus percaya sepenuhnya kepada Kebenaran tentang Yesus Kristus sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab. Barulah orang Kristen dapat menjelaskan tentang Yesus yang sesungguhnya berdasarkan histosisisme biblika dan bukan berdasarkan kitab suci agama lain atau pikiran para kritikus yang gagal paham.

Kita tahu bahwa Natal menceritakan Kristus yang tertolak, namun Ia menawarkan damai dan keselamatan. Natal yang menyedihkan adalah ketika Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat yang layak (dalam pandangan manusia), tetapi hanya mendapatkan tempat istirahat binatang, dan bayi Yesus ditempatkan di tempat minum binatang: palungan. Penolakan dari Herodes pun terjadi. Ia sendiri merasa tersaingi dengan lahirnya Yesus Kristus. Ia ingin membunuh-Nya (lih. Mat. 2:13). Namun, penerimaan Yesus juga menjadi agenda penting dalam pemahaman iman Kristen. Penerimaan Yusuf dan Maria terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat menjaga Kehormatan Yesus yang akan dilahirkan “dari keluarga yang sah”: ada ayah dan ibu. Penerimaan para gembala terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat mengkonfirmasi berita malaikat Tuhan bahwa Yesus yang dilahirkan adalah berasal dari “surga” yang disampaikan oleh malaikat Tuhan dari surga. Penerimaan orang-orang Majus terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat pembuktian bahwa Yesus adalah “Raja yang dilahirkan” berdasarkan nubuatan PL dan membuktikan karya-karya-Nya sebagai Raja di bumi dan di surga.

Penerimaan berbentuk konfirmasi “pujian bala tentara surga [malaikat surgawi] kepada Allah” menandai kemenangan dan keagungan inkarnasi Yesus Kristus: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Natal begitu indah ketika kita melihatnya sebagai “hadiah” bagi manusia yang dipedulikan Allah. Kepedulian Allah tidak hanya menganugerahi “Anak-Nya yang Tunggal” melainkan juga damai sejahtera dan keselamatan. Maka Natal harus mengumandangkan bahwa: Yesus adalah Juruselamat, Kristus, Tuhan, Raja Yahudi, Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Anak Allah Yang Mahatinggi, Imanuel, dan Anak yang Kudus. Kepada-Nyalah segala hormat, puji-pujian, dan penyembahan.

Salam Bae…

AKU DAN TUHAN

Manusia secara utuh memiliki sikap relasional. Segala sesuatu dapat direlasikan dengan sesuatu yang lain. Manusia tak bisa tidak harus membuat dirinya terkoneksi dengan yang lain, entah pribadi, benda, waktu, kesempatan, materi, dan pikiran. Imajinasi dan proses berpikir seringkali membentuk hidup manusia menjadi sesuatu yang berarti, bertumbuh, yang merusak, mengganggu, kejam, brutal, dan lain sebagainya.

Dalam setiap kasus atau kejadian yang terjadi, bisa dikatakan bahwa manusia langsung mengaitkannya (menghubungkannya) dengan sesuatu yang lain. Cara ini menjadi sebuah habit permanen di sepanjang sejarah. Dalam konteks agama pun demikian. Ketika kita—orang yang percaya kepada Tuhan—mengalami suatu kejadian, maka kita langsung merelasikannya dengan Tuhan.

Bahkan lebih dari itu, ketika ada musuh kita yang menghina kita, lalu ia mengalami kejadian buruk, maka kita langsung mengatakan: “Itu karena ia menghina kita”. Lebih buruknya lagi, ketika kasus bom bunuh diri di beberapa gereja yang mengakibatkan banyak orang mati, maka serentak semua kaum beragama berkomentar. Ada yang senang, dan ada yang sedih. Ada yang pura-pura simpati dan lain sebagainya.

“Aku dan Tuhan” seolah-olah menjadi kekuatan logika untuk membenarkan segala perbuatan keji yang membunuh banyak orang—dan orang-orang tertentu bangga bahwa “Tuhan”-nya membalaskan dendam pribadinya atau dendam agamanya. Kita senang jika agama di luar kita mengalami sengsara dan bahkan mensyukurinya. Sikap arogansi beragama menjadi sesuatu yang melekat dalam diri orang-orang munafik dan sombong rohani. Mereka ibarat binatang buas yang kelaparan.

Propaganda-propaganda agama dan ayat-ayat kitab suci menjadi “jualan kecap” agama itu sendiri, yang marak terjadi. Berbagai ujaran kebencian yang membabi buta menghiasi ladang kehidupan beragama. Ada yang senang dengan mengucapkan ujaran kebencian dan penghinaan, dan ada yang marah karena dianggap bisa merusak relasi humanitas.

“Aku dan Tuhan” adalah sikap pribadi yang ingin menjadikan diri kita baik terhadap diri kita dan terhadap sesama. “Aku dan Tuhan” bisa juga berpotensi untuk menjadi sombong rohani dan kaku dalam keyakinan dogmatis. Sikap balas dendam dan mengajak perang bisa terjadi di sekitar kita dengan berbagai alasan. Agama menjadi senjata untuk membunuh, menyalahkan, menghina dan mencaci maki. Hal itu dapat dianggap benar bagi mereka yang pikirannya dibutakan oleh “ilah” zaman ini; ya, “ilah” yang mendorong manusia menjadi jahat.

Pula, “Aku dan Tuhan” bisa berpotensi menciptakan kedamaian dan kesejukkan hidup dan relasi keagamaan. Siapa pun kita dapat memiliki pemikiran untuk menciptakan segala sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, “Aku dan Tuhan” merupakan keputusan iman (keyakinan) dan keputusan pikiran (pemahaman) akan “hidup dan Tuhan”. Hidup, selalu melibatkan relasi humanitas, dan Tuhan, selalu diyakini sebagai Penolong, Pembebas, Penghibur, Penyayang, dan Pembalas.

Kekristenan hadir di dunia untuk memberikan pemikiran dan pemahaman yang baru. Dua senjata yang mematikan dosa dan kesombongan adalah: KASIH dan KUASA TUHAN. Dua senjata ini juga diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Kekristenan kuat, tangguh, tak terkalahkan, karena ia menggunakan dua senjata ini di sepanjang sejarah.

KASIH, mengisahkan tentang pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, untuk menebus, mengampuni, membenarkan, dan menyelamatkan manusia-mansia berdosa. Mengapa harus ditempuh dengan cara demikian? Hanya Allah yang tahu. Jika Allah sudah mengetahui bahwa tidak ada cara lain yang lebih mujarab (ampuh) untuk menebus, mengampuni, membenarkan, dan menyelamatkan manusia-mansia berdosa, maka tentu tidak ada cara lain yang muncul dalam sejarah selain dari pada cara pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ingat, Allah Mahatahu; Ia tahu masa depan manusia. Kita manusia yang terbatas dan tidak tahu masa depan kita.

Bukankah manusia berdosa kepada Allah? Jika demikian, bukankah Allah berhak menentukan bagaimana cara untuk menebus manusia? Lalu mengapa Allah harus menggunakan cara salib yang mengerikan? Bukankah bertolak belakang antara cara Allah untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus tapi dengan cara penyaliban yang sadis? Sama sekali tidak. Tentu Allah juga bisa bertanya kepada kita: “Apakah ada cara lain untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri Allah?” Dan kita mungkin menjawab: “Ada”. Persoalannya adalah bukan Allah yang berhutang kepada kita, melainkan kitalah yang berhutang kepada Allah. Jadi, Allah berdaulat menentukan bagaimana cara-Nya menebus manusia.

Itulah KASIH Allah yang besar yang diberikan kepada kita (Yoh. 3:16), dan KASIH itulah yang menjadi sarana persebaran Kristen di seluruh dunia hingga sekarang ini. Di pihak Allah, KASIH adalah supremasi dari pengampunan, penebusan, pembenaran, dan penyelamatan manusia berdosa. Di pihak orang percaya, KASIH adalah supremasi dari sikap hidup berelasi dengan sesama, mengampuni sesama yang telah berbuat jahat kepada mereka, mewartakan bahwa YESUS KRISTUS adalah wujud KASIH Bapa yang mengasihi dan menyelamatkan kita yang berdosa. KASIH itulah yang tak bisa dirobohkan oleh apa pun. Ingatlah perkataan Rasul Paulus:

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:35-39)

Dunia bertahan karena ada KASIH Allah dan KASIH manusia-manusia yang percaya kepada-Nya, dan Kekristenan adalah Pelopor KASIH.

KUASA adalah senjata kedua yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa, berdaulat, dan bertoritas atas hidup manusia. Orang Kristen yang mengalami penindasan, pembunuhan, pembantaian, dan penderitaan, tetap bertahan dalam iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tak takut menghadapi kematian. Bagi mereka, KUASA Tuhan yang telah mengubahkan hidup mereka menjadi hidup yang berkenan kepada-Nya, lebih dari apapun juga. KUASA Tuhan adalah pengubah hidup manusia. Seringkali Tuhan menunjukkan kuasa kepada mereka yang percaya, dan mereka selamat dari malapetaka dan kecelakaan. Bahkan dengan KUASA itu pula, orang-orang yang dulunya membenci Kekristenan, kita diubahkan oleh Tuhan.

Tuhan juga memperlengkapi orang percaya dengan KUASA-NYA. Pekabaran Injil dan perluasan ajaran-ajaran Yesus sangat cepat tersebar karena Tuhan seringkali menunjukkan KUASA-Nya melalui orang-orang yang dipilih-Nya. Para pelayan Tuhan diberikan KUASA untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan, serta kuasa-kuasa lainnya. Sampai sekarang KUASA itu tetap ada.

KASIH dan KUASA adalah alat di tangan Tuhan untuk mengubahkan dunia tanpa menggunakan kekerasan, perang, pembunuhan, intimidasi, dan lain sebagainya. Ketika ketika mengatakan bahwa kita orang yang percaya kepada Tuhan, maka wujudkanlah KASIH dan KUASA itu dalam totalitas kehidupan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubahkan orang-orang jahat dan sombong, melalui KASIH dan KUASA yang kita tunjukkan.

“Aku dan Tuhan” harus diwujudnyatakan dalam KASIH dan KUASA yang mengubahkan hidup sesama kita setelah kita diubahkan Tuhan.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/3U7HcqkIbb4 (Samuel Martins@samuelmartins7)

MENJALANI, MENAKAR HIDUP, DAN KEPUASAN HATI

Semua orang punya hak yang sama, yaitu hak “untuk menjalani hidup”, hak “menakar hidup”, dan hak “memuaskan hati”. Ketiga hak tersebut dapat secara bergantian atau berproses dalam diri kita. Kita dapat terus memperjuangkan dan mempertahankan hak-hak itu, meski kita juga tahu bahwa “hambatan” dan “tantangan” bisa datang kapan saja, hingga akhirnya kemenangan didapatkan (diraih) karena telah melewati hambatan dan tantangan.

Setiap proses “melewati” segala bentuk hambatan dan tantangan biasanya—pada akhirnya—memberikan kesenangan, kepuasan, kebahagiaan, dan sukacita tersendiri. Apa yang dirasakan seseorang dapat saja merupakan takaran (ukuran) yang selaras dengan apa yang dijalani dan digelutinya. Dan kepuasan hati adalah bagian koheren di dalamnya. Siapa pun kita, mendambatan kepuasan hati yang dimotivasi oleh berbagai hal. Baik dan buruk perbuatan seseorang, tetap “kepuasan hati” akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan itu juga menjadi takaran yang dia diinginkan.

Semua orang menakar dirinya sendiri. Apa yang ditakarnya adalah potensi-potensi, pemikiran-pemikiran, dan lain sebagainya yang terus-menerus diasa, digeluti, diperjuangkan, dibangkitkan, dipaksakan. Dalam kancah hidup, tak ada yang bisa mengabaikan takaran dirinya sendiri karena dari proses dan memperjuangkan takaran diri, setiap orang akan tiba pada tujuannya masing-masing, menerima “upah”—dan merasa “puas”. Yang tidak puas bisa saja protes dan mengeluh. Tapi itu juga adalah takaran bagi dirinya sendiri atau takaran yang “di-tidak-adilkan” oleh orang lain. Tetapi, bersyukurlah, dan meminta pertolongan Tuhan.

Hak “untuk menjalani hidup” adalah Hak Asasi Manusia yang melekat secara permanen pada setiap orang. Menjalani hidup bukan hanya sekadar menjalaninya saja. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dipenuhi, ditaati, dan diselesaikan. Kita tak sekadar hidup dan bergelut (bergumul) dan berjuang di dalam hidup itu, melainkan kita harus tahu bahwa hidup itu berharga dan mendorong, bahkan memaksa kita untuk bertahan dan berjuang untuk merasakan dan menikmati hidup.

Baik-buruk, mujur-malang, senang-kecewa, sehat-sakit, dan sebagainya, adalah ornamen-ornamen mutlak dan permanen yang diberikan Tuhan untuk menghiasi pohon kehidupan kita. Kita pun mengetahui bahwa kita terbatas. Dalam kondisi ini, ada manusia-manusia yang menciptakan berbagai “situasi” yang berpotensi untuk memecah-belah keutuhan relasi manusia dengan cara-cara yang egois dan sentimen. Hak hidup orang lain direnggut dan dianggap sebagai sampah, bahkan binatang yang tak berguna.

Itulah yang terjadi di sekitar kita atau mungkin kita melihat dan mendengar hal itu terjadi di tempat lain. Manusia menjadi pembunuh sesamanya; manusia menjadi musuh sesamanya; manusia menjadi pongah karena keyakinan agama dan dikuasai nafsu membunuh sesamanya; manusia menjadi buas dan menajamkan gigi taringnya untuk memangsa sesamanya; dan manusia menjadi budak kejahatan yang mau tidak mau ia harus menuruti hawa nafsu kejahatan. Meskipun demikian, kita harus ingat, bahwa mereka yang cinta kejahatan dan dikuasai olehnya, juga akan mati. Mereka boleh berbangga diri, tetapi toh pada akhirnya, kematian tak bisa mereka singkirkan.

Kepada kita diberikan bijaksana oleh Tuhan untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di kehidupan ini. Kita tidak perlu turut dalam kancah “balas dendam” karena keyakinan dogmatis agama yang liar dan tak terkendali. Kita semua tahu bahwa ketidakadilan, kejahatan, kebencian, dan permusuhan selalu ada dan menghiasa pohon kehidupan manusia seantero dunia. Tapi bukan itu poin pentingnya. Kita dipanggil untuk menjalani hidup dengan memperhatikan hidup, berhati-hati, dan menghindar dari segala bentuk perbuatan jahat yang dapat merugikan orang lain.

Dalam berbagai peristiwa, kita, secara bersamaan melakukan hak untuk “menakar hidup”. Menakar hidup dilatari berbagai hal. Ada yang menakarnya dengan kebaikan; ada yang menakarnya dengan kejahatan; ada yang menakarnya dengan kepongahan; ada yang menakarnya dengan kejujuran; ada yang menakarnya dengan ketulusan dan keikhlasan; ada yang menakarnya dengan agama; ada yang menakarnya dengan bahasa; ada yang menakarnya dengan pendidikan; ada yang menakarnya dengan gelar; ada yang menakarnya dengan suku; ada yang menakarnya dengan pemikiran yang kritis; ada yang menakarnya dengan negara; ada yang menakarnya dengan iman; ada yang menakarnya dengan ketekunan; ada yang menakarnya dengan kegantengan dan kecantikan; ada yang menakarnya dengan tinggi dan pendeknya tubuh; ada yang menakarnya dengan harta kekayaan; ada yang menakarnya dengan persahabatan; ada yang menakarnya dengan seks; ada yang menakarnya dengan hawa nafsu; ada yang menakarnya dengan mulut kotor; ada yang menakarnya dengan perangai; ada yang menakarnya dengan uang; ada yang menakarnya dengan pekerjaan, ada yang menakarnya dengan keluarga.

Hak menakar hidup tak bisa dihindari, tetapi harus dijalani dan diselesaikan, dinikmati dan dirasakan, digeluti dan diperjuangkan. Malas-malasan bukanlah pilihan yang baik, tetapi rajin dan semangat menjalani hidup mendorong kita untuk mencapai takaran hidup yang kita tentukan sendiri.

Dari semua yang kita lakukan, tujuannya selalu untuk “memuaskan hati”. Kepuasan hati adalah puncak tertinggi dari semua kegiatan dan proses menjalani dan menakar hidup. Hati yang puas memang tak bisa diungkapkan. Setiap orang punya definisi tersendiri dan pengalamannya. Hati yang terpuaskan sungguh membahagiakan, entah puas karena hal baik, atau puas karena hal buruk (jahat). Hanya itu pilihan dan hasil yang mendukung kepuasan hati.

Akhirnya, menjalani hidup yang adalah hak setiap orang, perlu dijalani dengan sebaik mungkin. Hak menakar hidup perlu menjadi pendorong untuk menjadikan hati kita terpuaskan. Oleh sebab itu, jalanilah hidup ini, takarlah hidup ini, agar hati kita terpuaskan. Jangan lupa untuk bersyukur kepada Tuhan karena Dialah yang memberikan hikmat dan kekuatan kepada kita, dan Dialah yang turut campur tangan di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Salam Bae

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/432697476705528550/

PONGAHNYA HIDUP

Pada kesempatan tertentu—atau bahkan hampir pada setiap kesempatan, ada orang-orang tertentu yang menampilkan, entah dengan sengaja atau sudah diatur, kepongahan hidupnya. Yang ditampilkan tentu adalah sesuatu yang “dianggap” sebagai sesuatu yang lain dari pada yang lainnya, sesuatu yang memiliki harga yang dirasa lebih mahal dari lainnya, sesuatu yang dirasa lebih banyak dari lainnya, dan sesuatu yang dirasa lebih benar dari lainnya.

Mungkin dalam pengalaman hidup, sering melihat berbagai jenis kepongahan yang terjadi di sekitar kita—atau bahkan di berbagai media sosial. Berbagai prediksi dapat dilakukan untuk mencari tahu apa motif di balik kepongahan yang ditunjukkan oleh seseorang.

Kita pun dapat menafsir bahwa mereka yang menunjukkan pongah hidupnya (dirinya) adalah orang-orang yang memiliki problem pada dirinya. Problem itu mencakup: egoisme, tamak, kekayaan (miliknya dan bukan miliknya), pendidikan, sahabat, pekerjaan, keluarga, harta, dan lain sebagainya. Pada umumnya, egoisme dan kekayaan bisa menjadi alasan utama mengapa pongah begitu terlihat jelas dan eksis di sekitar kita dan atau di media sosial.

Pongah kadang muncul ketika seseorang merasa iri hati dengan orang lain. Bahkan masing-masing menunjukkan pongah secara berbalas-balasan untuk mencari sensasi dan perhatian. Pada akhirnya, yang tersisa adalah dosa-dosa spektakuler yang memang dengan sengaja dipentaskan di dunia persilatan—ya, persilatan lidah, pamer diri, pamer harta, di berbagai wadah publikasi.

Pongahnya hidup bukanlah pilihan baik kita yang tahu bahwa segala harta benda (materi) yang kita miliki tidak menjamin hidup kita bahagia selamanya. Kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kita pegang, miliki, gunakan, dan rasakan. Kebahagiaan terletak pada waktu, kesempatan, hati, kasih, dan kebersamaan. Pongah dapat menggerogoti kebahagiaan kita dan bahkan yang didapatkan adalah bahagia “semu daya” (tipuan) dan dipaksakan.

Waktu berjalan terus tanpa istirahat sejenak. Kita yang hidup di dalam waktu bisa beristirahat sejenak dari letihnya perjalanan hidup. Tangan kita terulur untuk menggapai segala sesuatu untuk menjadikan atau bahkan memaksakan hidup kita menjadi bahagia, senang, puas, rindu, dan mempesona (menarik perhatian atau mengagumkan).

Meski acap kali kita lalai untuk mendorong diri kita untuk bergerak menggapai sesuatu yang diinginkan, tapi waktu dan kesempatan kadang masih membuka kedua tangannya untuk mempersilakan kita menggapainya dan menjaknya menuju ke tujuan (dari sesuatu) yang kita inginkan. Di sini, pongah hidup haruslah disingkirkan dan memulai sebuah langkah awal untuk bergegas langkah demi langkah agar tiba di perkebunan buah-buah hidup yang menjadi milik kita.

Kita adalah nakhoda bagi kapal (kehidupan) yang diarungi. Lautan hidup telah terbentang luas di depan mata kita. Segala sesuatu “ada” dan tersedia. Kita melihatnya dan harus bergerak memulai kembara hidup dan dengan tangan terulur merindukan tujuan dari kembara hidup itu sendiri.

Keyakinan akan “mampu mengarungi lautan hidup” dapatlah menjadi salah satu faktor berhasilnya kembara hidup. Di proses kembara, kita masih bisa bebas berpikir dan merenungkan apa yang telah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan. Entah apakah diperlukan introspeksi, kesadaran penuh, keyakinan kembali, emendasi karakter dan sikap, kitalah yang menentukan dan memutuskannya.

Hidup telah menyediakan lapangan yang sangat luas bagi setiap manusia; ia dapat menikmatinya sesuka hati, atau dengan bijaksana mengaturnya. Waktu dan kesempatan pun demikian. Mereka hadir dalam setiap tarik dan hembusan nafas kita. Mereka selalu ada. Kita yang perlu sadar dan menarik kesimpulan dari fakta ini.

Pongah hidup memang dapat saja terlihat dan terjadi di sekitar kita. Pada faktanya, hal itu sering terjadi. Kita dapat belajar dari mereka yang pernah mempertontonkan kepongahannya dan kemudian bertobat serta mengubah (memperbaiki) diri (kehidupan) dan relasi mereka. Kita pun tetap waspada dan menjaga diri serta menjaga iman kita kepada Tuhan. Penjagaan diri dan iman ditempuh melalui cara yang selaras dengan prinsip Alkitab.

Kita pun diberikan kesempatan—selama masih bernafas—untuk memperhatikan diri, hidup, hati, pikiran, lingkungan, dan orang lain. Pongah-pongah akan hadir dan mengganggu kita. Kebaikan hati kita—kebaikan yang selaras dengan kehendak Tuhan—adalah senjata ampuh untuk menyingkirkan pongah-pongah diri sendiri dan mungkin juga orang lain.

Sudahkah kita menyingkirkan sikap pongah-pongah diri? Atau menyingkirkan sikap pongah-pongah diri orang lain, orang di sekitar kita? Hanya kita yang telah berubah dan berhasil memperbaiki diri menjadi baik, penuh kasih, hati yang tulus, dan merindukan dan menjadi inisiator kebersamaan, yang dapat menyingkirkan pongah-pongah itu. Dari kitalah lahir berbagai hal baik jika diri kita adalah pohon yang baik. Semoga.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://twitter.com/Margiela/status/578518986276601857/photo/1

PEMUDA KRISTEN DAN MEDIA SOSIAL: Mempengaruhi atau Dipengaruhi?

PENDAHULUAN

Perkembangan informasi dan teknologi telah merambah ke seluruh dunia. Kecanggihan teknologi dibarengi juga dengan sikap konsumtif dari manusia itu sendiri. Meski teknologi serba canggih, tetap saja kelemahan teknologi itu tetap ada. Meski sedemikian canggih, tetap saja teknologi tidak dapat memenuhi semua tuntutan hidup, keinginan, dan hawa nafsu manusia.

Merambahnya pengguna media sosial, telah banyak menimbulkan persoalan, di samping berbagai kemudahan dan kenyamanannya. Persoalan-persoalan yang muncul terkait dengan penggunaan media sosial adalah menyangkut beberapa indikasi sekaligus faktualitasnya. Manusia pada umumnya bersikap publikatif. Sikap publikatif ini memiliki buah yang sangat banyak. Buah itulah yang akan ditelusuri dan diamati dalam kajian ini. Sebagaimana kita tahu dari Alkitab bahwa “dari buahnyalah kamu mengenal mereka”, maka implikasinya dengan penggunaan media sosial adalah “dari media sosiallah kita dapat mengenal diri kita dan diri orang lain”.

Beberapa teks pendukung untuk memperkuat indikasi saya dalam hal ini adalah sebagai berikut:

Mat 7:16  Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

Mat 7:17  Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

Mat 7:18  Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Luk 6:43  “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.

Mat 7:20  Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Identifikasi ini telah saya nilai sejak  beberapa bulan belakangan ini. Artinya, identifikasi yang saya dapati dari penelusuran penggunaan media sosial dapat dikategorikan baru—meski implikasi dari penggunaan media sosial sudah terkesan sangat lama. Status, informasi, dan curahan hati, dapat terlihat dari konten media sosial, yang mana, setiap pembaca dapat menilainya berdasarkan cara pandangnya masing-masing.

Seperti yang telah saya kemukakan di atas bahwa setiap manusia bersikap publikatif. Dengan sikap inilah, segala sesuatu—bahkan sampai kepada hal-hal pribadi pun dipublikasikan. Media sosial adalah media penilaian. Di mana seseorang menuliskan sesuatu atau memamerkan sesuatu, mempublikasikan sesuatu, langsung saja para pengguna atau pembaca memberikan nilai. Setelah penjelasan berikut ini, saya akan menjelaskan sikap publikatif manusia terkait dengan media sosial. Maraknya penggunaan media sosial menjadikan alat-alat yang memuat media sosial, seperti komputer, laptob, handphone, televisi (menggunakan jaringan internet), dan sebagainya, menjadi semakin tinggi pemakaiannya. Pembayaran listrik pun meningkat. Pembelian peralatan elektronik yang menawarkan terkoneksinya alat-alat tersebut dengan jaringan internet menjadi sangat laku di pasaran.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial telah memasuki “lahan Gereja” yang dengan berbagai perspektif, dipakai sebagai sarana atau media dalam mempermudah peribadatan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sekarang, saya ingin menguraikan sikap publikatif manusia terkait dengan penggunaan media sosial dengan berbagai aplikasi, tanpa terkecuali. Namun, di akhir kajian ini, saya ingin memfokuskan pada satu media sosial saja yakni Facebook—media sosial yang sangat familiar di berbagai kalangan, dari kecil sampai besar, dari muda sampai tua, di samping media InstraGram, Youtube, Likee, Tik-Tok, Twitter, dan lainnya.

JENIS-JENIS PUBLIKASI

Sikap publikatif manusia terdiri dari berbagai latar belakang atau jenis publikatif yang didasari pada latar belakangnya untuk mempublikasikan sesuatu. Analisis saya berikut ini adalah pengamatan secara pribadi dan pengalaman pribadi dalam memantau penggunaan media sosial selama beberapa tahun belakangan ini.

  1. Publikasi ilmiah. Terdiri dari tulisan-tulisan ilmiah, foto-foto penelitian, arkeologi, artikel-artikel kesehatan, pertanian, teknologi, agama, budaya, sosial, dan sebagainya. Publikasi ilmiah adalah wujud dari kepedulian seseorang, sekelompok orang [peneliti], lembaga/organisasi/gereja, dan sebagainya. Tujuannya adalah memberikan data faktual dan dianggap bisa memberikan kontribusi positif bagi perubahan sesuatu atau peningkatan sesuatu.
  2. Publikasi lembaga, perusahaan, gereja, yayasan, sekolah, institusi, rumah sakit, dan sebagainya. Terdiri dari kekuatan, kelebihan, keindahan, kenyamanan, keuntungan, kemutakhiran, kelengkapan, dan sebagainya dari lembaga itu sendiri. Tujuannya adalah memberikan daya tarik kepada masyarakat luas agar lembaga itu dapat dikunjungi dan sebagainya. Seperti publikasi sekolah, biasanya terkait dengan penerimaan siswa atau mahasiswa baru.
  3. Publikasi Agama. Terdiri dari kelebihan dan kehebatan, keuntungan dan kemananan ketika seseorang masuk atau menjalankan ajaran agama tersebut. Publikasi ini sering menyembunyikan borok dari para petinggi agamanya dan memamerkan kelebihan-kelebihan yang faktual dan imajinatif maupun yang fiktif.
  4. Publikasi Iklan. Terdiri dari penawaran produk-produk (bahan elektronik, bahan makanan, pakaian, otomotif, bunga, tanah, kucing, sapi, kuda, ular, dan sebagainya) dengan harga dan keuntungannya, meski sering terjadi ketidakcocokkan dengan publikasi keuntungannya. Publikasi iklan terkait dengan pencarian keuntungan dari hasil penjualan. Tak heran, toko online begitu marak dilakukan, sekaligus penipuan mengikutinya dari belakang.
  5. Publikasi Amoral. Terdiri dari publikasi tindakan-tindakan kriminal, pemerkosaan, pembunuhan, pelecehan seksual, pornografi, pornoaksi, film porno, perendahan martabat orang lain, penghinaan, dan sebagainya. Publikasi model ini sering dijumpai di berbagai situs remsi dan non resmi. Pengunjungnya juga tak kalah hebat—membludak.
  6. Publikasi Politik. Terdiri dari isu-isu politik, partai-partai, kejelekan partai lain dan kelebihan partai sendiri. Tak jarang, gereja juga terjebak dari publikasi seperti ini. Publikasi ini juga dimanfaatkan oleh para terorisme dengan mengusung kekejaman kemanusiaan yang diidentifikasikan sebagai publikasi yang bersifat politis atau politisasi.
  7. Publikasi Sosial. Terdiri dari pemaparan pola hidup, struktur kemasyarakatan, kegiatan-kegiatan sosial, dan sebagainya. Publikasi ini mencermati berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sosial, baik secara mikro maupun secara makro. Selain itu, publikasi sosial mengetengahkan manfaat dari kebudayaan, adat istiadat, dan bahkan keunikan yang ada di dalam kelompok masyarakat tertentu.
  8. Publikasi Personal. Publikasi ini ada yang bersifat positif maupun negatif. Publikasi inilah yang akan menjadi fokus saya dalam kajian ini. Publikasi personal terdiri dari tindakan-tindakan yang mempublikasikan diri sendiri atau bersama dengan orang lain. Diri sendiri terkait dengan kegiatan yang dilakukan, di mana dia berada, apa yang sedang dipikirkan, apa yang sedang disesalkan, apa yang sedang ditunggu, apa yang sedang didoakan, persoalan-persoalan yang dialami, gesekan dengan tetangga atau sahabat, makan sendiri, makan bersama, memasak, mencuci, menjemur pakaian, naik mobil, naik pesawat, berdoa, berkhotbah, berenenag, naik kapal, memancing, tidur, mandi, dan sebagainya.

Publikasi personal negatif adalah publikasi yang melanggar aturan etis dan moralitas juga spiritualitas. Publikasi personal negatif memperlihatkan atau mempertontonkan keseksian bagian tubuh tertentu. Bahkan tak jarang seluruh tubuh pun dipublikasikan. Publikasi seperti ini memancing situasi pengguna yang melihatnya untuk berhalusinasi, berseks melalui pikiran, berzina melalui pikiran, dan berujung pada pemerkosaan dan pembunuhan. Kasus pemerkosaan, sering diasumsikan berasal dari mereka yang ketagihan seksualitas, baik melalui video maupun gambar.

LANDASAN-LANDASAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL

Dalam pengamatan saya, menggunakan media sosial memiliki enam landasan. Landasan-landasan tersebut akan mengidentifikasikan posisi pemuda Kristen, di mana ia berada. Sebenarnya, delapan jenis publikasi di atas, mungkin merupakan publikasi yang selama ini dilakukan pemuda Kristen. Entah yang bersifat ilmiah, personal, iklan, lembaga, agama, dan sebagainya.

  1. Landasan Pijak [Pengguna tanpa Batas]

Landasan ini adalah sebuah kebebasan bagi pengguna media sosial. Tidak ada batasan dalam mengakses internet dan sebagainya. Batasan tersebut adalah batasan umur. Meski dalam beberapa situs, ada permintaan bagi para pengguna di atas 17 tahun. Namun karena dunia maya, bisa saja pengguna memberikan informasi yang menipu alias bohong. Seperti misalnya Facebook, yang telah memakan korban dari aspek pemerkosaan (setidaknya itu yang saya baca). Akun FB seseorang disamarkan dan dipasang foto laki-laki ganteng, lalu seorang perempuan berpikir bahwa ia bisa menikmati masa berkenalan dan berpacaran dengan laki-laki tersebut. Dan pada akhirnya mereka berjanji untuk bertemu, lalu perempuan diperkosa. Kasus ini belum saya konfirmasi (informasi dari FB itu sendiri memang terlihat perempuan itu selesai diperkosa). Kalaupun tidak benar, setidaknya kita dapat lebih berhati-hati dengan berbagai akun palsu di FB.

Meski para pengguna tidak dibatasi, namun sebaiknya pemuda Kristen perlu memperhatikan rambu-rambu dalam menggunakan media sosial.

  • Landasan Teori

Memahami landasan teori terkait dengan penggunaan media sosial adalah sebuah tindakan yang baik. Dikatakan baik artinya bahwa pengguna media sosial harus tahu secara teoretis makna dan implikasi dari media sosial. Untuk mendapatkan makna dan implikasinya, diperlukan sebuah teori secara elaborative (deskriptif) tentang sebuah manual system atau otomatic system. Teori-teori tentang media sosial dapat dikembangkan oleh siapa saja yang memiliki waktu yang cukup untuk mengamati, menyelidiki, menelusuri konten internal dari media sosial. Teori-teori tersebut didapatkan melalui sebuah pengalaman atau pun asumsi positif rasionalistik.

  • Landasan Psikologi

Psikologi media sosial sama halnya dengan sifat manusia yang publikatif. Artinya, manusia menginginkan segala sesuatu tentang dirinya, orang lain, lembaga, partai, agama, yayasan, sekolah, pemerintahan, provinsi, negara, dan sebagainya, perlu dipublikasikan dengan berbagai tendensi personal atau komunal, bahkan sampai kepada hidden agenda. Psikologi media sosial adalah sebuah pengamatan bahwa manusia cenderung memiliki berbagai lapisan perasaan. Pada prinsipnya, secara psikologi, manusia ingin dikenal, ingin diperhatikan, ingin popular, ingin terkenal, merasa sombong, merasa hebat, merasa tertekan, merasa kecewa, merasa disakiti, merasa peduli dan simpati, bahkan empati, merasa dendam dan marah, dan sebagainya, entah kepada orang lain, tetangga, sahabat, suami, istri, orangtua, guru, ketua, kepala sekolah, rektor, pendeta, dan sebagainya.

Psikologi media sosial dapat dinilai dari konten (isi) yang dipublikasikan. Dari situ kita dapat menilai mengenai siapa sebenarnya pengguna media sosial tersebut. Jika memberikan contoh—sebut saja media sosial Facebook, mayoritas pengguna FB ingin merasa dikenal, ingin merasa diperhatikan, ingin memberitahukan bahwa saya ada di sini (di tempat di mana pernah atau sedang pergi dan sebagainya), ingin menyombongkan diri, kurang kerjaan, publikasi tanpa pertimbangan, publikasi menggoda, publikasi provokatif, publikasi kepedulian tak terarah dan terarah, memperkenalkan anak, istri, suami, tetangga, pendeta, gembala, ketua sinode, majelis, pelayanan hari minggu, rekreasi, anak bayi, makanan, minuman, kekayaan, gaji, pekerjaan, penerimaan pegawai, mengajar di salah satu sekolah, jumlah gaji, piring, lemari es, televisi, tempat tidur, kulit kaki, cincin, batu akik, mobil, menu hari ini, kue, toples, kuku, bibir, pipi, senyuman, pantat, paha, pakaian, sepatu, kaos kaki, gelang, cincin pertunangan dan pernikahan, kalung, dan lain sebagainya.

Dari apa yang dipublikasikan, tampak bahwa penilaian terhadap psikologi media sosial secara nyata dapat dipertanggungjawabkan. Meski mungkin saja kita dapat keliru menilai orang lain (pengguna media sosial), tetapi secara logis, kesimpulan kita berangkat dari apa yang dipublikasikan. Jika setiap hari, sebelum makan, makanan difoto, kita tahu bahwa model seperti ini membawa seseorang kepada cara berpikir yang mekanis. Artinya, secara mekanis, ketika melihat makanan, yang ada di pikirannya adalah bagaimana makanan tersebut bisa dipublikasikan. Metode berpikir seperti ini cenderung kaku dan mengabaikan berbagai pertimbangan.

  • Landasan Iman

Pemuda Kristen adalah pemuda yang beriman. Meski kita tahu jenis iman itu ada bermacam-macam. Namun, saya membatasi ruang gerak analisis ini kepada pemuda Kristen yang beriman saja.  Pemuda Kristen yang beriman sungguh-sungguh, harus tahu menempatkan dirinya di mana saja. Ketika bersentuhan dengan dunia media sosial, iman kita janganlah disingkirkan atau dipinggirkan, lalu ego dan nafsu kita yang dikedepankan. Ini menjadi keliru. Perlu dicatat bahwa media sosial adalah media khalayak ramai. Artinya, apa yang kita publikasikan, akan dilihat, diamati, dibaca, ditafsirkan, dianalisis oleh banyak orang. Nah, sasaran saya di sini adalah perlunya kesadaran iman untuk menilai apakah yang saya publikasikan itu bersifat publikatif, bermoral, bermartabat, bermanfaat, dan menjadi berkat bagi orang lain atau tidak.

Meski seringkali, orang yang tidak beriman, atau imannya lemah, dianggap menjadi orang yang paling rohani ketika statusnya di media sosial berbau spiritual. Setiap hari statusnya adalah: Terima kasih Yesus; Thank You Lord; Help Me My Jesus; bersyukur kepada Tuhan; Tuhan tolong saya; Sertai perjalananku ini ya Tuhan Yesus; kepada-Mu aku berserah yang Tuhan; Oh My God; Tuhan lindungilah keluargaku; Tuhan sembuhkanlah anakku; semoga cepat sembuh sayangku, Tuhan Yesus menyembuhkanmu; dan ucapan kepada Tuhan dengan berbagai versi.

Iman tidak meniadakan logika. Dengan iman, kita bisa mengarahkan logika kita kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Dengan iman, kita bisa mengarahkan logika kita untuk berbagi dengan sesama melalui status-status yang baik dan mencerahkan. Sering, persoalan rumah tangga, persoalan pacaran, persoalan konflik gereja, konflik lembaga, yayasan, dan sebagainya, dibawa-bawa ke media sosial. Iman yang kuat adalah iman yang mempertimbangkan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, berkat, penghiburan, sukacita, damai sejahteran, kepada orang lain.

  • Landasan Identitas

Landasan ini berbicara mengenai identitas kita. Tak jarang, status di media sosial seringkali tidak mencerminkan identitas kita yang sebenarnya. Seorang ibu rumah tangga sering membuat status tentang keburukan suaminya di salah satu jenis media sosial. Seorang mantan pacar juga mempublikasikan kasus yang sama. identitas kita memperlihatkan apa yang kita publikasikan. Dengan demikian, identitas perlu dipahami dan disadari dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak sembarangan membuat sesuatu, mempublikasikan sesuatu, mengatakan [menulis] sesuatu di media sosial apa pun jenisnya. Kalau seseorang beridentitas tukang jual online,  sudah pasti publikasinya adalah barang-barang yang akan dijual. Jika jualan sapi, maka yang dipublish adalah foto sapi bukan buaya atau kambing.

  • Landasan Privasi

Yang terakhir adalah landasan privasi. Banyak orang berpendapat bahwa apa pun yang saya publish di media sosial adalah “hak” saya, media sosial saya, dan kesukaan saya untuk menyampaikannya. Ini tentu benar. Kita punya hak untuk mempublish sesuatu melalui media sosial. Tetapi ingat, ada landasan identitas yang telah saya jelaskan di atas. Coba anda bayangkan, seorang yang berstatus Guru Agama, lalu publish statusnya atau fotonya yakni kalimat atau foto yang tidak senonoh. Aneh bukan?

Privasi memang menjadi pengikat dan kewenangan dari apa yang dipublikasikan. Namun ada beberapa hal penting yang perlu dicatat di sini untuk meluruskan pemahaman privasi di atas:

  1. Identitas perlu menjadi pembatas, pengukur, penyelaras atas apa yang kita publikasikan.
  2. Media sosial adalah media umum yang bisa menimbulkan multi tafsir, multi pengamatan, multi nafsu, multi dosa, multi seks, multi asumsi, multi emosi dan sebagainya.
  3. Media sosial adalah media yang dipakai untuk mempublikasikan sesuatu yang baik, sesuai dengan tatanan moralitas, tatanan agama, dan tatanan masyarakat berdasarkan hukum dan undang-undang.
  4. Mempublikasikan sesuatu memang tidak dilarang, tetapi kesadaran iman seharusnya mengarahkan logika untuk mempertimbangkan untung ruginya, baik buruknya, etis tidaknya, dan sebagainya.
  5. Sebaiknya yang kita publikasikan adalah hal-hal yang bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi sesama kita. Selain itu, publikasi melalui media sosial sebaiknya menghindari agenda kesombongan yang terselubung, agenda sok cari perhatian, agenda pamer kekayaan, wajah cantik dan ganteng, anak yang gemuk dan menggemaskan, uang, rumah, tempat tidur, jenis-jenis makanan, bibir, senyuman, paha, pantat, buah dada, gigi, jenis rambut, warna kulit, pakaian, sepatu, pekerjaan, dan sebagainya.

Publikasi yang hanya sekadar iseng bisa saja dilakukan asalkan dinilai terlebih dahulu apa untungnya, apa manfaatnya. Jika ingin menghibur orang lain, publikasi iseng-isengan, saya rasa cukup bermanfaat. Tetapi jenis publikasinya harus dicermati terlebih dahulu, jangan sampai melukai orang lain.

TANGGUNG JAWAB PEMUDA KRISTEN

Tanggung jawabnya sederhana saja. Pahami Alkitab secara baik dan kredibel, lalu terapkan itu di dalam kehidupan setiap hari. Teks-teks berikut ini mencerminkan sebuah tanggung jawab orang Kristen—termasuk pemuda Kristen

  1. Matius 7:17, Demikianlah setiap pohon yang baik (αγαθον καρπους) menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
  2. Roma 12:2, Janganlah kamu menjadi serupa (συσχηματιζεσθε: suskematizesthe, terbentuk oleh, disesuaikan dengan, meneladani) dengan dunia ini, tetapi berubahlah (μεταμορφουσθε) oleh pembaharuan (ανακαινωσει) budimu (tou νοος), sehingga kamu dapat membedakan (δοκιμαζειν, menguji, menganggap layak, menilai, menyatakan) manakah kehendak Allah: apa yang baik (αγαθον, berguna, cocok, sempurna), yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (τελειον, matang, dewasa, lengkap).
  3. 1 Yohanes 2:15-17, Janganlah kamu mengasihi (αγαπατε, dari kata agapao, merindukan, mencintai, menyukai. Kata ini berbentuk “Modus-Imperatif” atau kata kerja utama) dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

μη αγαπατε τον κοσμον μηδε τα εν τω κοσμω εαν τις αγαπα τον κοσμον  ουκ εστιν η αγαπη του πατρος εν αυτω

me agapate ton kosmon mede ta en to kosmo ean tis agapa ton kosmos ouk estin he agape tou patros en auto

Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan (επιθυμια, kerinduan, nafsu, hasrat) daging  dan keinginan mata serta keangkuhan (αλαζονεια) hidup (βιου, harta kekayaaan, nafkahnya, penghidupannya, harta milik), bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Dan dunia ini sedang lenyap (παραγεται, lewat, pergi, berlalu) dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

  • Ibrani 4:13, Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang (γυμνα, tidak berpakaian) dan terbuka (τετραχηλισμενα, tetrakelismena, dibuka, ditelanjangi) di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab (memberi tanggung jawab, bertanggung jawab kepada Allah).

Pertanyaan-pertanyaan kasuistik dan tentang hak dalam menggunakan media sosial:

  1. Apakah yang kita publikasikan bermanfaat?
  2. Dalam kategori apa bermanfaat?
  3. Bermanfaat bagi siapa?
  4. Apakah yang kita publikasikan mengandung unsur spiritualitas atau iman Kristen?
  5. Apakah hak kita untuk publikasi sesuatu di media sosial merupakan hak sepenuhnya atau hak bersama?
  6. Bukankah media sosial adalah media umum?
  7. Apa batasan hak kita dalam menggunakan media sosial?
  8. Memang benar, bahwa apa yang kita publikasikan dalam media sosial berangkat dari hak kita. Tetapi perlu diingat bahwa media sosial bukanlah milik personal melainkan komunal. Setiap hal yang dipublikasikan, dimungkinkan bahwa kita berharap ada yang merespon. Apalagi foto makanan, kaki, bibir, pantat, paha, dada, keseksian tubuh, dan sebagainya.
  9. Dunia dan keinginan memang sedang menyelinap di antara iman anak-anak muda Kristen. Dunia selalu menawarkan sebuah gagasan dan fakta yang menarik dan menggiurkan. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan ketika melihat teks-teks Alkitab di atas yang berbicara mengenai tanggung jawab pemuda Kristen?
  10. Apakah perlu bagi kita untuk merumuskan langkah-langkah konkret untuk mewartakan Injil melalui media sosial?
  11. Apakah perlu bagi pemuda Kristen untuk bersatu dalam mewartakan Injil Yesus Kristus melalui talenta yang diberikan Tuhan dan kemudian dituangkan ke dalam media sosial?

BAHAYA-BAHAYA YANG MUNCUL

Bahaya-bahaya ini sebenarnya sudah jelas dari pemaparan teks-teks Alkitab di atas. Saya menyebutkan beberapa kata kerja yang kira-kira memiliki indikasi kuat tentang adanya habitualisme pemuda Kristen dalam menggunakan media sosial.

  1. Janganlah kamu menjadi serupa (συσχηματιζεσθε: suskematizesthe, terbentuk oleh, disesuaikan dengan, meneladani) dengan dunia ini
  2. Berubahlah (μεταμορφουσθε) oleh pembaharuan (ανακαινωσει) budimu (tou νοος)
  3. Membedakan (δοκιμαζειν, menguji, menganggap layak, menilai, menyatakan)
  4. Janganlah kamu mengasihi (αγαπατε, dari kata agapao, merindukan, mencintai, menyukai)
  5. Melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
  6. Kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab (memberi tanggung jawab, bertanggung jawab kepada Allah).

KEINGINAN-KEINGINAN DAGING

Μοιχεια. Adultery, berbuat zina, perzinaan

Πορνεια. Fornication, percabulan, perzinaan

Ακαθαρσια. Uncleanness, cemar, kecemaran, kenajisan, kotoran, maksud yang tidak murni

Ασελγεια. hawa nafsu, ketidaksopanan

Ειδωλολατρεια. Idolatry, penyembahan berhala

Φαρμακεια. Sihir, ilmu sihir

Εχθραι. enmity, bermusuhan, permusuhan, perseteruan

Eρεις. strife, debate, contention, cidera, percekcokan, perselisihan

Ζηλοι.  indignation, jealousy, emulation, cemburu, sangat iri hati

Θυμοι. fierceness, indignation, amarah, geram, kegeraman, murka

Εριθειαι. contention, kepentingan (mementingkan) diri sendiri

Διχοστασιαι. sedition, percideraan, perpecahan

Αιρεσεις. sect, heresy, golongan, mazhab, pengajaran-pengajaran sesat, percideraan, perpecahan, sekte

Φθονοι (phthonoi). envy, cemburu, dengki, kedengkian

Φονοι. murder, membunuh, pembunuhan

Μεθαι. Drunkenness, kemabukan

Κωμοι. revelling, rioting, pesta pora

TERAPKAN BUAH ROH

Αγαπη. kasih

Χαρα. Sukacita, kegirangan, kebahagiaan, kesukaan

Ειρηνη. Damai sejahtera, keserasian

Μακροθυμια. Kesabaran, ketekunan

Χρηστοτης. kebaikan, kemurahan, belas kasihan; apa yang benar

Αγαθωσυνη. kebaikan

Πιστις. iman

Πραοτης. Lemah lembut, kerendah-hatian

Εγκρατεια. Temperamen, penguasaan diri

DISPARITAS FACEBOOK DAN THE BOOK OF LIFE

FacebookThe Book of Life
Dibuat manusiaDibuat Tuhan
Dipakai manusiaDipakai Tuhan
Manusia buat statusTuhan telah menulis pembuat status dan tidak menulis pembuat status
Membuat status tentang TuhanMenulis status tentang manusia
Pamer dan bisa dihapusTidak bisa dihapuskan karena telah dipilih dan ditetapkan
Makanan difotoMengamati yang foto makanan dan apa yang dimakannya
Cari perhatian (caper)Mencari yang perhatian dengan sesamanya
Bawa perasaanMeneguhkan perasaan bahwa mereka diselamatkan
Menjelekkan orang lainMemuliakan dan mengangkat mereka yang ditulis di buku kehidupan
Banyak komentarTidak banyak komentar
Sok pintarMemberkati orang pintar yang dipilih-Nya
Modus (Modal Dusta)Tak pernah berdusta—Ia menjamin bahwa mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan, akan diberkati dan dipelihara
Mempublikasikan apa saja sesuka hati, sesuai hak, semaunya, sekehendak hati, dan sebagainyaTuhan mempublikasikan orang-orang yang telah ditulis namanya dalam Buku/Kitab Kehidupan dengan cara-cara yang sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya
Marah dan mempublikasikan status tersebut. Marah pada dunia maya dan bukan dunia fakta (terbatas dan sesuai konteksnya)Marah tetapi tidak menghapus namanya dalam Kitab Kehidupan
Bisa menambahkan dan mengurangkan pertemananNama-nama yang tertulis dalam Kitab Kehidupan adalah mereka yang telah dipilih sejak kekekalan dan tak akan dihapus

PENUTUP

  1. Media sosial berdampak positif dan negatif
  2. Media sosial dapat menjadi berkat dan menjadi kutuk
  3. Media sosial adalah wadah untuk menyampaikan aspirasi untuk suatu kemajuan
  4. Media sosial adalah wadah aktif untuk menjalin kerja sama, persahabatan antar bangsa, negasa, dan benua (bersifat global)
  5. Media sosial adalah wadah untuk berjualan
  6. Media sosial adalah wadah untuk menipu
  7. Media sosial adalah wadah untuk mencari mangsa perempuan atau laki-laki untuk melakukan aksi kejahatan, pemerkosaan, penipuan, hipnotisisme, dan sebagainya
  8. Media sosial adalah wadah pencarian jodoh
  9. Media sosial adalah wadah untuk mempromosikan sesuatu, tentang diri, perusahaan, sekolah, dan sebagainya
  10. Media sosial adalah wadah untuk memberitakan Injil
  11. Media sosial adalah wadah untuk menghemat pembelian buku
  12. Media sosial adalah sarana pemborosan listrik
  13. Media sosial adalah sarana untuk berkomunikasi/tegur sapa
  14. Media sosial adalah mempublikasikan kegiatan-kegiatan gereja, kegiatan-kegiatan pelayanan (dengan tendensi kesombongan, sok caper [cari perhatian], tendensi positif, tendensi pemberitahuan, tendensi pamer, dan sebagainya)
  15. Media sosial adalah wadah untuk menyatakan syukur kepada Tuhan
  16. Media sosial adalah wadah untuk berbagi rasa: sukacita dan dukacita
  17. Media sosial adalah sarana ajang pamer kekasih, istri, milik, dan sebagainya

MEDIA SOSIAL: MEMPENGARUHI ATAU DIPENGARUHI?

Media sosial yang kita gunakan berdampak pada dua hal: mempengaruhi atau dipengaruhi. Mempengaruhi adalah publikasi yang kita lakukan. dipengaruhi adalah publikasi yang orang lain lakukan. Dua kemungkinan ini menjadi pusat perhatian kita. Apa gunanya media sosial? Di atas sudah saya jelaskan. Konten-konten publikatif di media sosial berimplikasi kepada mempengaruhi dan dipengaruhi.

Pemuda Kristen perlu memikirkan dua implikasi tersebut. Sebagai Kristen, perlunya pemuda Kristen meninjau ulang gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran kita tentang penggunaan media sosial. Jika kita mulai membenahi cara penggunaan media sosial dan orientasi tujuan dan pemikiran kita, maka saya yakin bahwa ada semacam kegerakan positif bagi pekabaran Injil. Kita perlu bergerak dalam mewartakan Injil—mumpung media sosial adalah media yang paling banyak digunakan manusia. Mulai dari yang kecil sampai yang besar, dari yang anak-anak sampai kepada orang tua. Pemuda Kristen perlu menjadi barisan pekabaran Injil melalui media sosial, sebab kesulitan kita dalam melakukan pekabaran Injil disebabkan adanya para separatis dan radikalisme agama dari mereka yang ingin memecah belah persatuan. Di Indonesia, para separatis memang tumbuh subur dan bahkan dipelihara oleh orang-orang tertentu yang memiliki kepentingan politik—religius.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk melalukan pekabaran Injil melalui media sosial. Dan kiranya hikmat dan kebijaksanaan akan terus ditambahkan kepada kita—para pelaku firman—yang senantiasa peduli dengan mereka-mereka yang terhilang.

Soli Deo Gloria

Sumber gambar: Pinterest: https://colorlib.com/wp/free-flat-social-media-icons-sets/

SPIRITUALITAS

Antara Iman dan Pengalaman Hidup Ditinjau dari Mazmur 90:12[1]

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/yykbf9LiS50 (Fa Barboza@fan11)

PENDAHULUAN

Secara umum, manusia memiliki empat jenis hubungan: pertama, dengan Tuhan; kedua, dengan sesama; ketiga, dengan alam (lingkungan); dan keempat, dengan diri sendiri. Keempat jenis hubungan ini bisa menjadi baik, bisa menjadi rusak. Baik-rusaknya suatu hubungan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu: pemahaman akan kehidupan, pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi), dan pemahaman akan iman.

Pemahaman akan kehidupan berbicara mengenai apa maka kehidupan bagi manusia. Manusia menjadi baik ketika ia memahami hidup secara baik pula; dan manusia menjadi rusak ketika ia memahami hidup hanya sebagai pemuasan nafsu belaka. Pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi) berbicara mengenai bagaimana sikap dan perilaku manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya; dan pemahaman akan iman berbicara tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan manusia yang beriman kepada-Nya.

Mazmur 90:12 mengandung tiga aspek di atas. Umat Tuhan menyadari bahwa mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di bawah pimpinan dan kuasa-Nya, melalui Musa, nabi-Nya. Umat-Nya beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari lokus-lokus di mana mereka lewat atau pun menetap. Dan mereka juga bergumul untuk melakukan kehendak Allah agar hidup mereka tertuju hanya kepada Allah.

Tiga aspek di atas tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan, tetapi juga berbicara mengenai spiritualitas. Hari-hari yang dilalui, justru mengajar umat Tuhan untuk melihat bahwa Tuhan tetap mengasihi mereka dan menghajar ketika mereka melawan, memberontak, dan berdosa di hadapan-Nya.

Klausa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami” adalah sebuah spiritualitas yang menyadarkan umat-Nya bahwa setiap hari, ada tangan Tuhan yang menuntun mereka. Manusia dididik Tuhan untuk menjadi “bijaksana”—tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya segala sesuatu. Dari situ, umat Tuhan bergerak dari spiritualitas kepada realitas—melihat kehidupan secara bijaksana—dan menemukan konsistensi penyertaan Tuhan bagi mereka sendiri.

Konteks tersebut menyuguhkan dua fakta bahwa dalam hari-hari yang dilalui manusia, mereka melihat apa yang dilakukan Allah, dan melihat apa yang mereka lakukan bagi Allah.

Allen P. Ross dalam A Commentary On The Psalms  menyatakan bahwa, selama sekitar 3000 tahun Mazmur telah menjadi inti dari kehidupan rohani umat Allah. Susunan doa, pujian, nyanyian pujian, renungan, dan liturgi dalam koleksi mencakup semua aspek hidup bagi Allah di dunia yang “antagonistic [menentang] to the faith”.[2] Bagi orang Kristen awal, Mazmur  juga dihargai karena nilai mereka dalam doa dan pujian dari umat, tap  i lebih lagi karena aplikasi mereka kepada Kristus dalam tulisan perjanjian baru.[3]

Mazmur 90 adalah ungkapan “Doa Musa, Abdi Allah” di mana ia, dalam proses mengikut Tuhan Allah dan memimpin Israel, memiliki sejumlah pengalamaan yang berharga. Doa yang benar, lahir dari pengalaman bersama Tuhan, di mana manusia mengungkapkan apa yang ia rasakan (alami), gumuli, dan apa yang akan diharapkan.

Ayat 12 sebagai bagian dari spiritualitas Kristen—maksudnya sebagai dasar bahwa hanya Tuhan yang dapat mengajar kita tentang kehidupan, pergumulan, sukacita, dukacita, tekanan hidup, dan lain sebagainya. Doa adalah solusi dan sekaligus merupakan ungkapan spiritualitas antara manusia  dengan Tuhan.

Di bagian berikutnya—setelah menjelaskan substansi Mazmur secara umum dan secara khusus—saya akan menyebutkan tiga aspek spiritualitas terkait dengan Mazmur 90:12.

SUBSTANSI MAZMUR 90

Augustinus, J. Calvin, C. S. Lewis, N.T. Wright, dan para teolog lainnya telah memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka rasakan dari kitab Mazmur. Tidak hanya soal tafsiran mereka, melainkan kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh kitab Mazmur. Spiritualitas mereka menjadi kuat tatkala memahami dan melakukan teks-teks dari kitab Mazmur dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan sesamanya.

James Hely Hutchinson (teolog asal Irlandia), menyatakan bahwa, Mazmur adalah ungkapan hati yang menjauhkan keegoisan dan mengarahkan diri pada objek kenikmatan tertinggi yaitu Allah Pencipta, Penebus Israel, Yahweh sendiri.[4] Berangkat dari pernyataan Hutchinson

Profesor Perjanjian Lama, Rolf A. Jacobson dan Karl N. Jacobson, dalam Invitation to the Psalm : A Reader’s Guide for Discovery and Engagement menyatakan bahwa, kitab Mazmur adalah, pertama dan terutama, merupakan kumpulan puisi Ibrani.  Dalam membaca mazmur, kita melatih pemikiran kita secara logis — dalam arti bahwa kata, frasa, dan kalimat disatukan menurut asas yang diatur oleh cara berpikir (logika).[5] Puisi secara keseluruhan adalah jenis bahasa yang memiliki logika yang berbeda dari jenis tulisan lainnya. Dan puisi Ibrani, khususnya, memiliki set yang lebih khusus.[6]

Mazmur adalah puisi alkitabiah. Kata bahasa Inggris “Mazmur” berasal dari bahasa Yunani psalmos, yang pada gilirannya digunakan untuk menerjemahkan kata mizmor Ibrani, yang secara harfiah berarti “lagu.” Jadi dalam pengertian yang paling mendasar, Mazmur adalah sebuah nyanyian atau puisi alkitabiah.[7]

Dalam sejarah Israel, ketika mereka menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, mereka melakukannya dengan dua cara: berdoa (memohon, menyampaikan) dan menyanyi. Dua hal ini dapat dilakukan di berbagai kondisi (krisis, bahagia, sukacita, tertekan, dll), dan kitab Mazmur mencerminkan dua tindakan ini. Nyanyian syukur mencerminkan pengalaman orang-orang percaya yang telah melewati berbagai krisis.

Kitab Mazmur itu sendiri memiliki beberapa genre. Genre Mazmur yang diklasifikasikan menurut konten tematiknya:

  1. Mazmur kerajaan (Royal psalms) yang ada hubungannya dengan raja Israel.
  2. Mazmur penobatan atau pelantikan (Enthronement psalms) ada hubungannya dengan Tuhan sebagai raja Israel.
  3. Mazmur kebijaksanaan atau hikmat (Wisdom psalms) menggambarkan tradisi hikmat Israel dan berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca (atau khalayak).
  4. Mazmur penciptaan (Creation psalms), berbicara tentang Allah sebagai Pencipta dan bumi sebagai ciptaan Tuhan.
  5. Mazmur sejarah (Historical psalms) menceritakan kembali sebagian sejarah Israel.
  6. Mazmur Sion (Zion psalms) berbicara tentang Yerusalem (dan khususnya tentang Bait Suci) sebagai tempat di mana Allah berdiam.
  7. Mazmur kutukan (Imprecatory psalms) yaitu meminta Tuhan untuk menghukum mereka yang menindas pemazmur atau komunitas pemazmur.
  8. Mazmur penitensial (Penitential psalms) yaitu meminta pengampunan.
  9. Mazmur liturgi (Liturgical psalms) memberikan petunjuk untuk ritual penyembahan.[8]
  10. Mazmur Taurat. Sebuah jenis Mazmur kebijaksanaan yang memuji Torat  Allah yang diberikan kepada kita. (Taurat berarti “hukum” atau “instruksi.”) Mazmur 1 adalah Mazmur Taurat.[9]

Setiap pasal dalam kitab Mazmur dapat kita identifikasi berdasarkan genrenya.

C. Hassell Bullock menjelaskan bahwa, dalam kitab mazmur tertuang sisi kemanusiaan (humanitas) kita. Masalah pribadi, krisis, dan ketika kegembiraan tak terungkapkan, rasa sakit kita tak terucapkan. Dalam kondisi demikian, kita merasa benar-benar ditinggalkan, ketika ke  tegangan hidup datang ke kehidupan kita dan tak terelakkan, atau ketika jiwa kita mengatasi puncak pencapaian manusia.[10] John Calvin berpendapat bahwa mengenali Mazmur akan memaksa kita untuk menjadi jujur tentang diri kita di hadapan Tuhan.[11] Memang, konteks yang disuguhkan dalam kitab Mazmur sangatlah kental dengan kehidupan nyata manusia, relasinya dengan Tuhan dan sesama, dan pergumulan, permusuhan, kebencian terhadap musud, dan permohonan.

James L. Mays menyatakan bahwa, Mazmur adalah puisi keagamaan dari komunitas tertentu (the religious poetry of a particular community).[12] Komunitas tersebut tentu adalah umat Tuhan itu sendiri yang melihat kehidupan (dengan suka dukanya) dan sekaligus melihat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia, termasuk mereka sendiri. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, orang percaya (Gereja) menggumulkan berbagai konteks kehidupan dan dari hal tersebut, Gereja melihat bagaimana tangan Tuhan menopang dan menolong mereka.

Gereja dituntut dengan mendorong kehidupan doa, membantu orang yang berdoa mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kesadaran yang lebih luas akan apa yang dibutuhkan dunia. Satu rintangan untuk berdoa yang setia semacam itu adalah gagasan yang lazim diadakan bahwa doa hendaknya bebas dari kemarahan dan frustrasi.[13] Lalu bagaimana gereja dapat berdoa dalam keadaan trauma dan ketidakadilan? Gereja—meskipun dalam kondisi tersulit—harus tetap berdoa dan menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Allah.

Walter Brueggemann berpendapat. Pertama, Mazmur menyatakan bahwa kita harus melihat dunia dan kehidupan kita dengan cara yang sebenarnya, tidak berpura-pura, tidak ada penyangkalan. Dan kedua, mereka bersikeras bahwa semua pengalaman seperti kekacauan dan kekecewaan adalah subjek yang tepat dari wacana dengan Allah. “Realitas dunia, kebenaran tentang diri kita sendiri dapat dibawa dalam doa.[14]

Dalam konteks penafsiran, kitab Mazmur diteropong dari berbagai konteks. Pertama, Historical Interpretations (problem Interpretasi): “Interpretasi lain dari Mazmur yang tidak tepat adalah bahwa mereka (para pemazmur) hanyalah produk dari konteks sejarah. Mereka tidak selalu memaksudkan untuk mengajarkan apa-apa, atau setidaknya tidak perlu menjadi model untuk doa hari ini.” Artinya, pola doa-doa dalam Mazmur tidak menjadi contoh bagi kita sekarang ini. Model penafsiran historis (menyangkal inpirasi Kitab Suci)[15] Kedua, penafsiran alegoris: dijelaskan dalam istilah fenomenologis. Ketiga, penafsiran sosio-historis yang menyangkal pewahyuan Kitab Suci.

Bagi kita, penafsiran Mazmur tidak dapat dipisahkan dari pengakuan bahwa kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. Singkat kata, kitab Mazmur diwahyukan oleh Allah sendiri.

SPIRITUALITAS DALAM AYAT 12

Melihat hari-hari hidup kita, tidak lepas dari gumul juang serta bahagia yang diberikan Allah. Kesadaran akan betapa fananya hidup kita mengantar kita pada sebuah pemahaman dan keputusan bahwa “kita membutuhkan Tuhan”. Itulah spiritualitas sejati. Ketika kita merasa kuat dan hebat, maka spiritualitas menjadi hilang sama sekali. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa kita fana dalam waktu, dan Tuhan kekal dan hebat, maka spiritualit  as kita terkonfirmasi dalam fakta hidup.

Spiritualitas kita tak bisa tampak kuat ketika menghindari dari gumul juang hidup. Justru ayat 12 menegaskan konteks ini. Mengitung hari-hari sama berarti memohon kepada Tuhan bahwa dalam hari-hari yang dilalui, kiranya Tuhan menguatkan, menopang, menuntun, dan memberkati. Apa pun yang kita terima dari Allah, baik atau buruk, harus mengakui bahwa itu adalah kehendak-Nya. Kita berdoa, Allah menjawab. Menurut N. T. Wright, nilai apa pun yang mungkin kita miliki datang dari kebaikan Allah, bukan kendali kita terhadap keadaan kita.[16] Doa lahir dari pengalaman, dan melalui doa, iman kita mendorong untuk menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Allah berdaulat, dan Ia menghendaki agar kita secara bijaksana menilai hidup kita sendiri.

Melalui bijaksana dari Tuhan, kita “menghitung”—dengan perkataan lain: memperhatikan dan menilai hari-hari hidup mengenai apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang kita buat bagi Tuhan. Yang kita buat bagi Tuhan mencakup dua aspek: aspek menyenangkan hati Tuhan—bertindak sesuai dengan firman-Nya, dan aspek menyakiti hati Tuhan—bertindak sesuka hati tanpa peduli dengan firman-Nya.

Robert Alter menyatakan bahwa, ayat 12 menggambarkan keterbatasan eksistensi manusia yang kontras dengan keberadaan Allah yang abadi.[17] Karena terbatas, maka manusia membutuhkan Allah untuk memberinya pengajaran dalam menilai, mengamati, menghitung hari-hari yang dijalani, mencapai bijaksana yaitu tahu bahwa dalam hari-hari itu, manusia melihat apa yang Tuhan buat bagi diri mereka, dan melihat (mengakui) apa yang mereka buat bagi Tuhan, entah baik, entah buruk. Seperti di ayat 9, “kami menghabiskan tahun-tahun kami “like a sigh” [seperti keluh, ungkapan kesusahan] (Ibr. hegeh also means “murmur”—bisikan).[18]

Menghitung hari-hari berarti dalam hari-hari tersebut—sebagaimana tercatat pada ayat 9—mengandung suka dan duka. Dengan demikian, manusia bergantung pada Allah sepenuhnya untuk melihat hari-hari hidup yang ada dalam kedaulatan-Nya. Pengalaman untuk melihat perbuatan Tuhan adalah bagian dari spiritualitas (ay. 16). Pengalaman turunannya adalah “perbuatan-perbuatan tangan manusia” (ay. 17). Jadi, spiritualitas mencakup merasakan dan menikmati perbuatan tangan Tuhan dan sekaligus menikmati perbuatan tangan kita yang selaras dengan kehendak-Nya.

Hidup itu berlalu buru-buru (ay. 10). Ada penderitaan, kesukaraan, dan lain sebagainya. Kematian bisa disebabkan oleh kemarahan Allah (ay. 11). Kemarahan Allah memang mengagumkan bagi orang percaya dan menyedihkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Ay. 13 adalah permohonan untuk memohon kemurahan Tuhan (bdk. ay. 11). Permohonan tersebut sekaligus mencakup: mengenyangkan manusia dengan kasih setia di waktu pagi (ay. 14), supaya ada sorak-sorai. Memohon agar Tuhan membuat manusia bersukacita seimbang dengan hari-hari saat mana Tuhan mengajar (mendidik) mereka (ay. 15). Spiritualitas orang percaya menempatkan diri mereka sebagai manusia yang lemah, bergumul, berjuang, dan dengan demikian, membutuhkan Allah. Spiritualitas berarti “menyadari” kondisi hidup, sekaligus “menginginkan” intervensi Allah dalam hidup.

Hidup manusia di dunia hanya sementara (fana). Kesadaran inilah yang hendak ditegaskan Musa. Karena fana, maka Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memberikan jaminan dan kebahagiaan, serta kekuatan untuk menjalani, menghadapi suka-duka hidup.

ASPEK SPIRITUALITAS

        Berdasarkan elaborasi di atas, kita sampai pada aspek spiritualitas. Ada beberapa aspek spiritualitas yang perlu kita cermati berikut ini:

Pertama, tetap beriman di masa sukar; tidak hanya memanfaatkan masa yang bahagia, tetapi juga menyeimbangkan “iman” dalam dua, tiga, atau bahkan empat kondisi (bahagia, duka, gelisah, tekanan).

Kedua, spiritualitas yang benar adalah menyeimbangkan antara iman dan pengalaman hidup bersama Tuhan dalam konteks bijaksana menilai, memahami, menghitung “hari-hari” yang dijalani, yaitu mengakui dan melihat apa yang Tuhan buat bagi kita, dan mengakui dan menilai apa yang  kita buat untuk Tuhan.

Ketiga, menyanyi (memuji-muji Tuhan) merupakan perintah Tuhan, sebab ekspresi iman tidak hanya melalui tindakan untuk berjalan pada jalan Tuhan, tetapi juga “menyanyikan” syukur, kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, permohonan kepada Tuhan, dan lain sebagainya.

Keempat, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dalam hari-hari yang dijalani.

Kelima, selalu mengandalkan (membutuhkan) Tuhan dalam segala hal, dalam hari-hari yang dilalui, melalui doa dan pujian. Dari sini kita menemukan konsistensi penyertaan Tuhan di sepanjang hidup.

Berdasarkan elaborasi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa spiritualitas Kristen adalah aspek signifikan yang terbentuk dari kualitas iman dan pengalaman yang diterapkan dalam konteks empat hubungan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Spiritualitas Kristen adalah level iman yang membawa seseorang kepada sikap hidup yang mengakui apa yang Tuhan buat bagi kita dan mengakui serta menyadari apa yang kita buat untuk Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari pada firman dan disadari sebagai tanggung jawab iman.

Hari-hari yang kita lalui—sama seperti Musa dan umat Israel yang dipimpinnya—tidak hanya merasakan manisnya hidup, tetapi juga pahitnya hidup. Artinya, Tuhan mendidik umat-Nya untuk menikmati keseimbangan hidup—suka dan duka—di mana Tuhanlah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Spiritualitas Kristen adalah jalan yang ditempuh dan dihasilkan dari berbagai kondisi di mana Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk dapat “menghitung”, dan menilai” kehidupan sebagai karunia dari Tuhan yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh iman kepada-Nya.


Salam Bae


[1] Artikel ini masih bersifat bahan mentah, belum dilakukan pengkajian eksegetis, melainkan hanya pada tataran aplikatif. Artikel ini bisa digunakan sebagai bahan perenungan atas hidup, iman, pengalaman, dan spiritualitas Kristen.

[2] Allen P. Ross, Kregel Exegetical Library: A Commentary On The Psalms. Volume 1 (1—41) (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 2011), 25.

[3] Ross, A Commentary On The Psalms, 25.

[4] James Hely Hutchinson, “The Psalms And Praise”, dalam David Firth and Philip S. Johnston (eds.), Interpreting The Psalms: Issues and Approaches (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2005), 85-86.

[5] Rolf A. Jacobson and Karl N. Jacobson, Invitation to the Psalm: A Reader’s Guide for Discovery and Engagement (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), versi pdf.

[6] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[7] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[8] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[9] Jerome F. D. Creach, Six Themes Everyone Should Know: Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).

[10] C. Hassell Bullock, Encountering  the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2018)

[11] John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, trans. Henry Beveridge (Grand Rapids: Baker, 1979), 1:xxxvii.

[12] James L. Mays, Psalms Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), 8, dikutip Creach, Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).

[13] Creach, Psalms.

[14] Walter Brueggemann, The Message of the Psalms (Minneapolis: Fortress, 2002), 52 dikutip Daniel Michael Nehrbass, Praying Curses: The Therapeutic and Preaching Value of the Imprecatory Psalms (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 2013)

[15] Nehrbass, Praying Curses.

[16] N. T. Wright, The Case for the Psalms: Why They Are Essential (EPUB Edition JULY 2013).

[17] Robert Alter, The Book of Psalms: A Translation with Commentary (New York: W. W. Norton & Company, 2009).

[18] Alter, The Book of Psalms.

KESETIAAN

Kesetiaan memiliki makna terdalam. Kehidupan dan relasi manusia mencerminkan sikap ‘setia’ kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan tampak dalam totalitas hidup yang dijalani. Setia menenkankan prinsip ketaatan, komitmen, dan kesediaan menerima segala sesuatu dari Tuhan—apa pun itu—bagi kebaikan kita.

Ada fakta menarik yang dapat kita lihat di kehidupan kita sendiri. Terkadang, fakta itu sering diabaikan, sering dianggap remeh bahkan tak pernah terlintas di pikiran kita. Apakah itu? Kita merasakan bagaimana kehidupan ini baik-baik saja; bagaimana kita meraih segala sesuatu yang kita inginkan dan kehendaki. Kita mendapati diri kita masih bernafas, mendapati diri kita masih bergerak, membuka mulut untuk makan dan minum, kita bekerja untuk menyambung hidup. Dari semuanya itu, sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan? Sudahkah kita menyadari bahwa hidup itu adalah anugerah?

Dapatkah kita sejenak merenung bahwa hidup itu penting dan berharga dan mengakui bahwa ada ‘tangan Tuhan yang kuat’ yang sedang menopang, memberkati, dan menyertai kita setiap waktu? Apakah Tuhan pernah alpa menolong dan memelihara kita? Apakah Tuhan lalai menepati janji-Nya? Apakah Tuhan hanya menjadi tujuan doa ketika kita sedang sekarat, tak berdaya? Bukankah dalam situasi suka dan duka kita tetap mengucap syukur kepada-Nya?

Hanya mereka yang setia kepada Tuhan yang dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Hanya mereka yang menyadari dengan hikmatnya bahwa kebaikan Tuhan itu tak pernah pudar dan kemurahan Tuhan selalu baru tiap hari, selalu mengiringi langkah hidup kita.

Tak ada yang dapat kita berikan kepada-Nya selain rasa syukur dan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati-Nya. Kesetiaan membawa hidup kita semakin dekat dengan Tuhan. Kesetiaan memberi kita sukacita yang luar biasa. Tuhan telah menyuguhkan kehidupan yang bermakna bagi kita; kita tinggal menyantapnya sambil mengucap syukur.

Kesetiaan kepada Tuhan mahal harganya. Kita terpanggil untuk melihat dan menyadari bahwa kasih Tuhan tak terbatas pada saat kita senang, melainkan juga saat kita dalam keadaan sedih, berduka, dan kecewa. Kita datang kepada-Nya dalam berbagai kondisi—dan Tuhan tetap menerima kita, menerima keluh kesah. Tuhan itu setia akan janji-Nya. Sudahkah kita menyatakan kesetiaan kita kepada-Nya?

Kesetiaan kita kepada Tuhan mencakup dua aspek: pertama, apa yang kita pertahankan; dan kedua, apa yang kita pertaruhkan.

Kita harus memperlihatkan iman kita dan lebih dari itu, mempertahankannya. Godaan dan cobaan adalah bumbu-bumbu kehidupan yang dapat mendorong kita untuk memperlihatkan kesetiaan iman kita kepada Tuhan.

Kita harus bertaruh segala sesuatu: waktu, tenaga, pikiran, uang, harta benda, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita setia kepada Tuhan karena Dialah yang mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.

Kesetiaan Tuhan kepada kita dibuktikan melalui tiga hal: pertama, Ia berdaulat atas hidup dan mati manusia; kedua, Ia memelihara semua ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya; dan ketiga, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Tuhan adalah setia; Ia telah menyatakan kesetiaan-Nya, dan Ia mengasihi kita. Ya, kita yang senantiasa berharap dan bersandar kepada-Nya.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/6jYoil2GhVk (Aaron Burden@aaronburden)

HIDUP DI DALAM DAN BAGI TUHAN

Dosa adalah masalah serius. Tak ada manusia yang kebal dosa. Dosa menjadi penjara kenikmatan demi memuaskan kesenangan. Dosa menjatuhkan banyak orang; dosa memalukan banyak orang; dosa merendahkan banyak orang; dosa mematikan banyak orang; dosa menghilangkan kepercayaan banyak orang, dan dosa merebak, mempengaruhi banyak orang.

Kadang-kadang dosa dipandang sebagai kesenangan, bahkan kenikmatan tersendiri. Dosa disembunyikan, kadang dipertontonkan. Ada banyak cara bagi manusia untuk melakukan dosa, tetapi Tuhan menyediakan satu cara untuk menyelesaikannya. Ia begitu mengasihi manusia yang meski berdosa, Ia menyediakan pertobatan, pengampunan, dan keselamatan.

Adakah yang dapat menyadari bahwa kemurahan dan kasih Tuhan begitu luar biasa? Adakah di antara kita yang melihat bahwa Tuhan menyediakan banyak waktu bagi kita untuk menyadari dosa-dosa, pelanggaran, dan kejahatan kita? Adakah di antara kita yang bergegas untuk kembali pulang kepada Tuhan ketika hendak merasakan kebebasan dan sukacita surgawi?

Sungguh, manusia menjadi “raja” atas dirinya sendiri ketika ia menyingkirkan Tuhan dan kursi hatinya. Kita lebih menuruti keinginan daging kita ketimbang menuruti kehendak Tuhan. Kita terbiasa dan bahkan ahli dalam melakukan dan menyembunyikan dosa-dosa, baik kecil, besar, maupun yang spektakuler.

Adakah kita menyadari betapa terhilangnya kita dari hadapan Tuhan Allah ketika kita berteman dengan dosa, pelanggaran, dan kesalahan kita? Bukankah kita sendiri yang menjauhkan diri dari Tuhan? Bukankah kita sendiri yang membuang Tuhan dari hati dan pikiran kita? Bukankah kita yang tidak mau membaca dan merenungkan firman-Nya untuk mengarahkan hidup kita kepada kebaikan, kasih, dan kemurahan Tuhan?

Ada yang hilang dari diri manusia ketika dosa merajai hati dan pikirannya. Keterhilangan dalam diri manusia terkait dengan “apa” dan “bagaimana”.

“Apa” berbicara tentang apa yang menyebabkan sesuatu terjadi. Apa yang seharusnya dipertahankan, runtuh ketika dosa dilakukan. Apa yang harus dijaga dengan sebaik mungkin, terbuka dengan sendirinya atau bahkan karena paksaan. Apa yang seharusnya tidak dilakukan (dilarang Tuhan), justru karena dosa, itu pun dilakukan dengan kesadaran bahwa “semoga tidak ada yang tahu dan tidak terjadi apa-apa”. Apa yang telah diikrarkan, runtuh dan tercecer ketika “dosa merasuki hati dan pikiran”.

“Bagaimana” berbicara tentang apa yang harus dilakukan. Bagaimana kita bergerak untuk keluar dari masalah dosa; bagaimana seharusnya kita menarik diri dari kesibukan dosa dan berjuang untuk menata hidup dengan lebih baik, berdasarkan apa yang Tuhan kehendaki.

Fakta telah mengajarkan kita banyak hal: Seharusnya hidup benar di hadapan Tuhan, malahan menjadi runtuh ketika dosa dilakukan. Seharusnya berjalan lurus di jalan Tuhan, malahan menyimpang ke kanan atau ke kiri untuk berbuat dosa.

Apa yang kita amati dari dualisme fakta di atas? Tentu kita harus menyadari bahwa ketika kita menyatakan “KREDO” kepada Tuhan, maka secara konsisten kita juga harus hidup bagi Dia dan di dalam [kasih] Dia. Kita tak bisa menyatakan hidup bagi Dia jika tidak tinggal di dalam Dia. Seseorang tak dapat mengatakan bahwa “Saya hidup dalam rumah itu”, jika ia sendiri tak pernah masuk dan tinggal di dalamnya.

Siapa yang dipimpin oleh Tuhan pasti hidup di dalam Tuhan; siapa yang dipanggil Tuhan untuk tinggal dalam kasih-Nya, pasti akan hidup—secara konsisten—bagi Tuhan. Jika demikian, apa yang harus kita perjuangkan dan pertahankan?

Pertama, kita harus memperjuangkan hidup kudus yang mencakup banyak aspek signifikan di dalamnya. Sikap berjuang adalah sebuah kesadaran dan keaktifan untuk melihat Tuhan sebagai Pemimpin Hidup sekaligus melihat diri kita sebagai seorang yang bertanggung (bekerja dan berjuang) bagi Tuhan dalam segala hal termasuk moralitas dan spiritulitas.

Dengan menyibukkan diri melayani Tuhan, dosa dapat disingkirkan. Kita bekerja bagi Tuhan seyogianya hidup dalam kebenaran dan kekudusan; dosa menjadi musuh utama yang harus dilawan, hindari, dan dibuang.

Kedua, kita harus mempertahankan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ia telah memberikan iman, kasih, dan pengharapan. Jagalah dan peliharalah itu agar kehidupan yang di jalani, tetap berada pada koridor Tuhan; dengan mempertahankannya, kita tak akan menyimpang ke kanan atau ke kiri, apalagi berbuat dosa.

Kiranya Tuhan memberkati kita dan memampukan kita melakukan kebaikan, kasih, kemurahan kepada sesama. Bahkan kita menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dibenci Tuhan dan menegor mereka yang hidup dalam kegelapan dosa, membawa mereka kepada terang Yesus Kristus.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/EMZxDosijJ4 (Ben White@benwhitephotography)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai