
Filosofi ketakutan berbicara tentang fakta bahwa manusia menyadari keterbatasannya dan menginginkan sesuatu di balik keterbatasannya itu (the philosophy of fear speaks of the fact that man is aware of his limitations and wants something behind it) — Stenly R. Paparang
Ketakutan adalah bagian dari diri manusia dan merupakan sifat alami manusia. Ada kejadian atau situasi tertentu yang membuat manusia menjadi takut. Biasanya apa yang tidak diinginkan, apa yang tidak disukai, apa yang tidak harapkan, apa yang tidak dipikirkan, apa yang mengakibatkan sesuatu, dan apa yang bisa menghilangkan sesuatu, menimbulkan rasa takut.
Ada berbagai dampak yang ditimbulkan ketika manusia merasa takut. Manusia dapat melakukan segala sesuatu ketika perasaan takut menyelimuti dirinya. Pikiran akan terus berpikir mencari jawaban dan jalan keluar dari rasa takut. kadang, apa yang dimiliki dihantui oleh rasa takut kehilangan. Apa yang selama ini dibangun dan dipertahankan, takut untuk roboh dan terlepas dari genggaman.
Ada fakta yang memberi kepada kita sepotong kisah mengenai rasa takut. Yesus, ketika Ia akan disalibkan, rasa takut hadir dalam diri-Nya (lih. Lukas 22:42-44). Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, sangat wajar Yesus merasa ketakutan, apalagi Dia menghadapi kematian. Ketika ada orang yang menghubungkannya dengan ke-Tuhanan Yesus, rasa takut yang dirasakan-Nya dipakai sebagai senjata untuk menegasikan ke-Tuhanan-Nya. Tapi orang Kristen jelas melihat rasa takut yang dialami Yesus dalam kondisi-Nya sebagai manusia, karena Ia jelas dalam wujud manusia. Mereka yang tidak melihat hal ini, tentu memiliki motivasi tersembunyi untuk menolak ke-Tuhanan-Nya.
Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa Ia takut? Seharusnya pertanyaan menjadi sebuah pernyataan: “karena Yesus adalah manusia, maka Ia merasa takut menghadapi kematian”. Lalu, ke-Tuhanan Yesus di mana? Tentu tidak kemana-mana. Karena Yesus memiliki dua natur, maka Ia tak mungkin melepaskan natur kemanusiaan-Nya secara permanen hanya untuk mempertahankan ke-Tuhanan-Nya. Karena Yesus adalah manusia yang unik—satu-satunya di dunia—maka kasus penggunaan natur secara alami dan sesuai konteksnya, hanya dapat dilakukan Yesus. Mengenai urusan kemanusiaan, maka apa yang dialami manusia pada umumnya, tentu dirasakan oleh Yesus. Sedangkan mengenai urusan ke-Tuhanan-Nya, maka apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah, tentu dapat dilakukan oleh Yesus. Hal-hal ini sangat jelas tampak dalam catatan Injil-Injil Perjanjian Baru.
Mengenai hal-hal tersebut, saya tidak membahasnya di sini. Saya hanya menyinggung mengenai rasa takut yang dialami Yesus ketika menghadapi kematian-Nya melalui penyaliban sebagaimana yang telah Ia nubuatkan (Mat. 16:21; 17:22-23; 20:18-19). Meski demikian, pada akhirnya Ia membuktikan bahwa apa yang dinubuatkan terjadi. Nubuat mengenai penderitaan, kematian-Nya (karena dibunuh), dan bangkit pada hari ketiga adalah sebuah konfirmasi bahwa perkataan-Nya benar. Ini sangat luar biasa. Meski rasa takut melingkupi diri Yesus, pada akhirnya Ia sanggup melewati semua tindakan yang membuat-Nya menderita kesakitan, dan mati. Ia justru mengubah rasa takut menjadi kemenangan yang luar biasa. Dengan rasa takut, Yesus menghadapi kematian-Nya.
Itulah sebabnya, dalam tulisan singkat ini, saya hendak memahami filosofi ketakutan yang dirangkum dari berbagai kisah. Saya mengamatinya secara mendalam dan menghasilkan beberapa pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan.
Pertama, ketakutan adalah upaya manusia untuk merasakan keselamatan tatkala ia berada dalam himpitan masalah yang berat. Di sini, ketakutan menghasilkan berbagai cara untuk lepas dan terbebas dari himpitan masalah. Yesus pernah mengalami hal ini, tetapi Ia kemudian tidak lari atau menghindar dari rasa takut akan kematian-Nya; justru Ia berkata: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu (Bapa) yang jadi.”
Kedua, ketakutan adalah rasa alami yang dirasakan manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang menantang, atau membuat dirinya terpuruk, terluka, terhukum, dan terancam (keselamatan dirinya atau orang-orang yang dia kasihi). Ia akan mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya dalam menghadapi ketakutan itu. Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Kadang, bunuh diri menjadi jalan pintasnya.
Ketiga, ketakutan adalah sebuah keputusan diri dan pikiran ketika berhadapan dengan rasa malu dan marah. Marah tidak selamanya berani. Ada kalanya, dalam keadaan marah justru seseorang merasa takut. Takut jika yang dimarahinya adalah orang yang lebih kuat, lebih tinggi jabatannya, lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih hebat dari dirinya.
Keempat, ketakutan adalah dampak dari sebuah perasaan ketika seseorang merasakan akan mengalami kematian.
Kelima, ketakutan adalah sebuah situasi di mana yang mayoritas merasa menjadi berkurang. Konteks ini sering terjadi dalam dunia agama. Ketika ada orang dari agama mayoritas menjadi penganut agama minoritas, maka rasa takut—artinya takut berkurang dan takut menjadi malu—bisa menyelimuti pengamut agama mayoritas.
Keenam, ketakutan adalah sebuah keputusan yang dalam waktu sekejap bisa menjadi tindakan membunuh orang lain. Konteks ini bisa juga terjadi dalam dunia agama. Ketika beberapa orang dari penganut agama mayoritas beralih keyakinan ke agama minoritas, maka rasa takut—takut berkurang, takut malu (dipermalukan), takut disaingi, dan takut menjadi sakit hati berkepanjangan, maka rasa takut diteruskan dengan tindakan brutal, yaitu membunuh penganut agama minoritas. Hal ini sering terjadi di bumi kita.
Ketujuh, ketakutan adalah kondisi keterbatasan manusia dalam menghadapi sesuatu. Misalnya seseorang melewati kuburan di tengah malam. Ia takut karena ia terbatas untuk bisa melawan “setan” yang dalam pemahamannya bisa melukai atau bahkan membunuhnya. Contoh kasus lainnnya adalah para murid Yesus. Ketika mereka melihat ada orang yang berjalan di atas air, mereka ketakutan. Mereka takut karena orang itu bisa saja mencelakai mereka dan menenggelamkan mereka. Ketika itu Yesus berkata: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:26-27; Mrk. 6:49-50; Yoh. 6:19-20).
Dari ketujuh pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan di atas, kita termasuk pada bagian yang mana? Apakah ketakutan yang selama ini kita rasakan telah menjadikan diri kita takut melangkah dan bertindak? Apakah ketakutan sering menyelimuti kita? Apakah kita perlu takut terus-menerus ketika berhadapan dengan fakta hidup?
Sebagai pengikut Yesus Kristus, haruskah kita merasa takut berkepanjangan? Sebagai minoritas di negara Indonesia, haruskah kita berhenti berbuat baik, mengasihi orang-orang yang membenci dan memusuhi kita sedemikian rupa sampai mencap kita sebagai “kafir” dan “penghuni neraka jahanam?” Haruskah kita berhenti mendoakan orang-orang yang memusuhi dan membenci kita? Tentu tidak. Yesus Kristus telah mengajarkan ajaran “tunggal” yaitu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45).
Para martir Kristen telah membuktikan bahwa kematian bukanlah ketakukan yang perlu mereka hindari. Meski ketakutan bisa saja menjadikan diri mereka menyangkal imannya kepada Yesus Kristus, tetapi mereka memilih setia dan mati demi Yesus Kristus. Ketakutan secara manusiawi memang ada, tetapi bagi pengikut Yesus Kristus, ketakutan telah digantikan dengan jaminan kehidupan yang kekal. Ketakukan boleh ada, tetapi janganlah ketakutan itu menjadikan diri kita terpuruk dan tidak lagi bangkit untuk berharap kepada Tuhan, serta menjadi terang dan garam dunia, menjadi pelaku-pelaku firman.
Ingatlah, Allah, yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hati kita dan memelihara kita terhadap yang jahat (1 Kor. 1:9; 1 Tes 5:24; 2 Tes. 3:3). Jika Tuhan itu setia, ketakutan bukan sesuatu yang harus dipelihara, melainkan kita harus bersyukur pada ketakutan—khususnya akan kematian—telah dijamin oleh Tuhan bahwa mereka yang mati bagi-Nya, akan diberikan kehidupan yang kekal dan makhota kehidupan.
Meski ketakukan bisa hadir di mana-mana, dalam segala situasi dan kondisi, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus menjaga hidupnya, hidup dalam kesucian. “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada Yesus Kristus, menyucikan diri sama seperti Yesus Kristus adalah suci.
Salam Bae.
Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/367747125812907606/









