FILOSOFI KETAKUTAN

Filosofi ketakutan berbicara tentang fakta bahwa manusia menyadari keterbatasannya dan menginginkan sesuatu di balik keterbatasannya itu (the philosophy of fear speaks of the fact that man is aware of his limitations and wants something behind it) — Stenly R. Paparang

Ketakutan adalah bagian dari diri manusia dan merupakan sifat alami manusia. Ada kejadian atau situasi tertentu yang membuat manusia menjadi takut. Biasanya apa yang tidak diinginkan, apa yang tidak disukai, apa yang tidak harapkan, apa yang tidak dipikirkan, apa yang mengakibatkan sesuatu, dan apa yang bisa menghilangkan sesuatu, menimbulkan rasa takut.

Ada berbagai dampak yang ditimbulkan ketika manusia merasa takut. Manusia dapat melakukan segala sesuatu ketika perasaan takut menyelimuti dirinya. Pikiran akan terus berpikir mencari jawaban dan jalan keluar dari rasa takut. kadang, apa yang dimiliki dihantui oleh rasa takut kehilangan. Apa yang selama ini dibangun dan dipertahankan, takut untuk roboh dan terlepas dari genggaman.

Ada fakta yang memberi kepada kita sepotong kisah mengenai rasa takut. Yesus, ketika Ia akan disalibkan, rasa takut hadir dalam diri-Nya (lih. Lukas 22:42-44). Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, sangat wajar Yesus merasa ketakutan, apalagi Dia menghadapi kematian. Ketika ada orang yang menghubungkannya dengan ke-Tuhanan Yesus, rasa takut yang dirasakan-Nya dipakai sebagai senjata untuk menegasikan ke-Tuhanan-Nya. Tapi orang Kristen jelas melihat rasa takut yang dialami Yesus dalam kondisi-Nya sebagai manusia, karena Ia jelas dalam wujud manusia. Mereka yang tidak melihat hal ini, tentu memiliki motivasi tersembunyi untuk menolak ke-Tuhanan-Nya.

Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa Ia takut? Seharusnya pertanyaan menjadi sebuah pernyataan: “karena Yesus adalah manusia, maka Ia merasa takut menghadapi kematian”. Lalu, ke-Tuhanan Yesus di mana? Tentu tidak kemana-mana. Karena Yesus memiliki dua natur, maka Ia tak mungkin melepaskan natur kemanusiaan-Nya secara permanen hanya untuk mempertahankan ke-Tuhanan-Nya. Karena Yesus adalah manusia yang unik—satu-satunya di dunia—maka kasus penggunaan natur secara alami dan sesuai konteksnya, hanya dapat dilakukan Yesus. Mengenai urusan kemanusiaan, maka apa yang dialami manusia pada umumnya, tentu dirasakan oleh Yesus. Sedangkan mengenai urusan ke-Tuhanan-Nya, maka apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah, tentu dapat dilakukan oleh Yesus. Hal-hal ini sangat jelas tampak dalam catatan Injil-Injil Perjanjian Baru.

Mengenai hal-hal tersebut, saya tidak membahasnya di sini. Saya hanya menyinggung mengenai rasa takut yang dialami Yesus ketika menghadapi kematian-Nya melalui penyaliban sebagaimana yang telah Ia nubuatkan (Mat. 16:21; 17:22-23; 20:18-19). Meski demikian, pada akhirnya Ia membuktikan bahwa apa yang dinubuatkan terjadi. Nubuat mengenai penderitaan, kematian-Nya (karena dibunuh), dan bangkit pada hari ketiga adalah sebuah konfirmasi bahwa perkataan-Nya benar. Ini sangat luar biasa. Meski rasa takut melingkupi diri Yesus, pada akhirnya Ia sanggup melewati semua tindakan yang membuat-Nya menderita kesakitan, dan mati. Ia justru mengubah rasa takut menjadi kemenangan yang luar biasa. Dengan rasa takut, Yesus menghadapi kematian-Nya.

Itulah sebabnya, dalam tulisan singkat ini, saya hendak memahami filosofi ketakutan yang dirangkum dari berbagai kisah. Saya mengamatinya secara mendalam dan menghasilkan beberapa pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan.

Pertama, ketakutan adalah upaya manusia untuk merasakan keselamatan tatkala ia berada dalam himpitan masalah yang berat. Di sini, ketakutan menghasilkan berbagai cara untuk lepas dan terbebas dari himpitan masalah. Yesus pernah mengalami hal ini, tetapi Ia kemudian tidak lari atau menghindar dari rasa takut akan kematian-Nya; justru Ia berkata: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu (Bapa) yang jadi.”

Kedua, ketakutan adalah rasa alami yang dirasakan manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang menantang, atau membuat dirinya terpuruk, terluka, terhukum, dan terancam (keselamatan dirinya atau orang-orang yang dia kasihi). Ia akan mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya dalam menghadapi ketakutan itu. Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Kadang, bunuh diri menjadi jalan pintasnya.

Ketiga, ketakutan adalah sebuah keputusan diri dan pikiran ketika berhadapan dengan rasa malu dan marah. Marah tidak selamanya berani. Ada kalanya, dalam keadaan marah justru seseorang merasa takut. Takut jika yang dimarahinya adalah orang yang lebih kuat, lebih tinggi jabatannya, lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih hebat dari dirinya.

Keempat, ketakutan adalah dampak dari sebuah perasaan ketika seseorang merasakan akan mengalami kematian.

Kelima, ketakutan adalah sebuah situasi di mana yang mayoritas merasa menjadi berkurang. Konteks ini sering terjadi dalam dunia agama. Ketika ada orang dari agama mayoritas menjadi penganut agama minoritas, maka rasa takut—artinya takut berkurang dan takut menjadi malu—bisa menyelimuti pengamut agama mayoritas.

Keenam, ketakutan adalah sebuah keputusan yang dalam waktu sekejap bisa menjadi tindakan membunuh orang lain. Konteks ini bisa juga terjadi dalam dunia agama. Ketika beberapa orang dari penganut agama mayoritas beralih keyakinan ke agama minoritas, maka rasa takut—takut berkurang, takut malu (dipermalukan), takut disaingi, dan takut menjadi sakit hati berkepanjangan, maka rasa takut diteruskan dengan tindakan brutal, yaitu membunuh penganut agama minoritas. Hal ini sering terjadi di bumi kita.

Ketujuh, ketakutan adalah kondisi keterbatasan manusia dalam menghadapi sesuatu. Misalnya seseorang melewati kuburan di tengah malam. Ia takut karena ia terbatas untuk bisa melawan “setan” yang dalam pemahamannya bisa melukai atau bahkan membunuhnya. Contoh kasus lainnnya adalah para murid Yesus. Ketika mereka melihat ada orang yang berjalan di atas air, mereka ketakutan. Mereka takut karena orang itu bisa saja mencelakai mereka dan menenggelamkan mereka. Ketika itu Yesus berkata: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:26-27; Mrk. 6:49-50; Yoh. 6:19-20).

Dari ketujuh pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan di atas, kita termasuk pada bagian yang mana? Apakah ketakutan yang selama ini kita rasakan telah menjadikan diri kita takut melangkah dan bertindak? Apakah ketakutan sering menyelimuti kita? Apakah kita perlu takut terus-menerus ketika berhadapan dengan fakta hidup?

Sebagai pengikut Yesus Kristus, haruskah kita merasa takut berkepanjangan? Sebagai minoritas di negara Indonesia, haruskah kita berhenti berbuat baik, mengasihi orang-orang yang membenci dan memusuhi kita sedemikian rupa sampai mencap kita sebagai “kafir” dan “penghuni neraka jahanam?” Haruskah kita berhenti mendoakan orang-orang yang memusuhi dan membenci kita? Tentu tidak. Yesus Kristus telah mengajarkan ajaran “tunggal” yaitu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45).

Para martir Kristen telah membuktikan bahwa kematian bukanlah ketakukan yang perlu mereka hindari. Meski ketakutan bisa saja menjadikan diri mereka menyangkal imannya kepada Yesus Kristus, tetapi mereka memilih setia dan mati demi Yesus Kristus. Ketakutan secara manusiawi memang ada, tetapi bagi pengikut Yesus Kristus, ketakutan telah digantikan dengan jaminan kehidupan yang kekal. Ketakukan boleh ada, tetapi janganlah ketakutan itu menjadikan diri kita terpuruk dan tidak lagi bangkit untuk berharap kepada Tuhan, serta menjadi terang dan garam dunia, menjadi pelaku-pelaku firman.

Ingatlah, Allah, yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hati kita dan memelihara kita terhadap yang jahat (1 Kor. 1:9; 1 Tes 5:24; 2 Tes. 3:3). Jika Tuhan itu setia, ketakutan bukan sesuatu yang harus dipelihara, melainkan kita harus bersyukur pada ketakutan—khususnya akan kematian—telah dijamin oleh Tuhan bahwa mereka yang mati bagi-Nya, akan diberikan kehidupan yang kekal dan makhota kehidupan.

Meski ketakukan bisa hadir di mana-mana, dalam segala situasi dan kondisi, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus menjaga hidupnya, hidup dalam kesucian. “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada Yesus Kristus, menyucikan diri sama seperti Yesus Kristus adalah suci.

Salam Bae.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/367747125812907606/

BAGAIMANA MENGHILANGKAN SIFAT EGOISME?

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/577868195930792327/

Sifat egois mungkin ada dalam diri kita atau mungkin orang yang kita kenal. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi egois dan bagaimana mengatasinya? Egoisme bisa dikikis atau bahkan dihilangkan dengan melihat secara cermat pada lima substansi hidup:

Pertama, setiap manusia harus melihat bahwa ia dan orang lain memiliki kesamaan hidup. Artinya, sama-sama menikmati hidup dan udara, atau bumi yang sama. Bedanya adalah soal kesempatan. Ketika seseorang dapat memahami hal ini, maka egoisme dalam konteks memandang kehidupan, akan segera luntur atau menurun, karena seseorang dapat menyadari bahwa dirinya adalah sama dengan orang lain: mendapat kesempatan hidup yang sama tetapi soal kesempatan menikmati hidup dengan berbagai cara adalah pembedanya.

Kedua, setiap manusia harus melihat bahwa dirinya dan orang lain sama-sama mempertahankan hidup. Setiap manusia memiliki potensi untuk mempertahankan hidupnya dan orang-orang yang dikasihi serta dicintainya. Jadi, egoisme terhadap konteks mempertahankan hidup membawa seseorang kepada rasa puas diri yang semu sebab ia sendiri tak bisa hidup tanpa orang lain. Jika seseorang merasa bahwa hanya dia yang dapat berbuat ini dan itu, seseorang tersebut melupakan prinsip substansial ini. Uang yang didapati, dimiliki, dicari, toh bukanlah karena usaha sendiri melainkan adanya kontribusi dari orang lain. Sebut saja seorang guru atau dosen. Mereka mengajar mendapatkan upah (gaji) dari penyelenggara pendididikan atau para murid/mahasiswa yang menyetor uang bayaran sebagai kewajibannya. Maka, di sini hendak ditegaskan bahwa sehebat-hebatnya dosen atau guru, jika tanpa murid atau mahasiswa, maka dosen atau guru bukanlah apa-apa, bahkan tak menghasilkan apa-apa.

Ketiga, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain sama-sama akan mati. Keegoisan untuk mau menang sendiri dalam hal hidup, mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Apa bedanya seorang direktur yang memiliki gaji besar, dengan seorang pemulung di jalanan? Mereka berbeda dalam hal pendapatan hidup, tetapi mereka sama dalam hal substansi hayatinya dan sama-sama akan mati. Entah direktur, entah pemulung semuanya akan mati. Soal siapa duluan mati, itu adalah kehendak Tuhan. Tidak ada jaminan bahwa karena pemulung adalah orang yang tidak terhormat, maka ialah yang dahulu mati. Memahami hal ini, akan menjadikan diri kita untuk tidak egois dengan apa yang kita miliki untuk disombongkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki haruslah menjadi berkat bagi orang lain dengan berbagai cara.

Keempat, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki potensi yang berbeda. Potensi-potensi menghasilkan karya-karya. Baik direktur dan pemulung, keduanya memiliki potensi. Seorang pemulung jika ia berhenti menjadi pemulung dan kemudian belajar dan berusaha, maka terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang direktur. Seorang direktur yang ketika bangkrut dan jatuh miskin, terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang pemulung. Potensi-potensi yang dimiliki manusia tidak perlu disombongkan atau menjadi sebuah egoisme yang tinggi. Memahami bahwa kita dan orang lain memiliki potensi yang berbeda, akan menghilangkan rasa egoisme.

Kelima, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Namun, setiap manusia juga memiliki prinsip hidup yang mengukuhkan iman dan pengharapannya. Di samping itu, kekurangan dan kelebihan adalah hal yang bersifat natural dalam diri manusia. Lalu untuk apa egois jika kita tahu bahwa setiap manusia memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan? Seorang yang memiliki uang banyak tidak lebih lama hidupnya dibanding seorang yang miskin. Seorang yang menggunakan uangnya untuk menghalalkan segala cara dan dianggap hebat oleh para pendukungnya, tidak lebih hebat dari seorang ibu yang penuh kesabaran merawat, mendidik, mengasuh, dan mengajar anak-anaknya meski ia sendiri tidak memiliki uang dalam jumlah banyak.

Orang yang berduit banyak memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan para pedagang asongan. Mereka yang berbuat jahat memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan mereka yang berbuat baik. Pembedanya adalah substansi dari kekurangan dan kelebihan dari masing-masing manusia.

Seringkali, egoisme lahir dari empat hal: pertama, karena seseorang merasa lebih kaya dari orang lain sehingga ia dapat mengendalikan, mengatur, dan menetapkan sesuka hati karena ia merasa bahwa karena dialah maka semuanya terjadi dan terwujud; kedua, karena seseorang merasa bahwa ia lebih berpengalaman dibanding lainnya, sehingga ia mau bahwa pendapatnya saja yang diterima; ketiga, karena seseorang merasa bahwa hanya dialah yang hebat dan pintar maka semua orang harus melihat kepada dirinya dan harus menerima setiap hal yang diusulkannya. Karena kepintarannya, maka pendapat dan gagasan orang lain dianggap tidaklah bermutu atau berguna; dan keempat, karena seseorang merasa bahwa dirinya adalah paling beriman, paling dekat dengan Tuhan, dan paling sering tampil di depan umum. Konteks ini memberikan data faktual bahwa seringkali mereka yang merasa paling dekat dengan Tuhan justru bertindak melawan Tuhan. Mereka yang merasa paling beriman justru yang melakukan hal-hal di luar iman. Keegoisan lahir dari kesombongan rohani dan menganggap bahwa hanya dia yang layak didengar dan ditakuti.

Untuk menghindari, meredam, dan mengikis sifat-sifat egois dalam diri, kelima hal yang substansial di atas adalah solusinya.

Selamat memahami, merenungkan, dan mencobanya, sehingga mendapatkan perubahan yang berarti dalam hidup.

Shalom

Salam Bae…

FILOSOFI PINTU

FAKTA DASAR

Perlindungan dan keamanan hidup manusia didapatkan dari serangkaian cara. Untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman dan aman, manusia secara bijak membuat “rumah”. Rumah adalah tempat tinggal yang paling disukai manusia. Ketika membuat rumah, “pintu” adalah bagian kecil dari konstruksi bangunan, bahkan yang megah sekalipun.

Rumah yang telah dibangun, didasarkan pada rancangan yang matang, atau hanya sekadar bangun saja. Dalam skema atau gambar rumah, pintu selalu digambar sebagai akses atau penghubung dari ruang satu ke ruangan yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, “pintu” adalah wacana untuk memasuki sebuah ruangan untuk menikmati segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Rumah dengan pekarangan yang luas, memiliki beberapa pintu. Pintu utama pasti ada—yaitu pintu masuk untuk melihat pekarangan dan rumah itu sendiri. Pintu kedua adalah pintu rumah atau pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Selain itu, ada pintu-pintu kamar tidur—tak lupa pula, pintu kamar mandi.

Apa sebenarnya makna dari pintu? Seindah-indahnya sebuah kamar, jika tidak memiliki pintu masuk, maka kamar hanyalah sebuah ruangan yang tak akan dinikmati selama-lamanya. Seindah dan semewah apa pun ruang tamu rumah, jika tidak ada pintu masuk ke dalammya, akan menjadi ruangan seperti kuburan. Lalu apa makna mendasar dan makna filosofis dari sebuah “pintu” rumah dan “pintu” hidup kita?

GAGASAN FILOSOFIS

Manusia yang lahir normal, keluar dari “pintu” rahim seorang perempuan. Permulaan hidup manusia ketika melihat dunia, muncul dari “pintu” mata. Perasaan akan kesenangan dan kesusahan hidup, dialami melalui “pintu” hati. Menikmati kebebasan berpikir dan menikmati keindahan kata-kata, dialami manusia dengan membuka “pintu” kesadaran logikanya. Keindahan sebuah  ruangan rumah dengan segala macam ornamen, kemewahan barang-barangnya, akan dilihat dan dikagumi ketika seseorang telah masuk melalui sebuah “pintu” yang menghubungkan ruangan luar dan ruangan dalam.

Bahkan, dalam arti negatif, dua sejoli yang ingin menikmati hawa nafsu liar di kamar hotel, harus berurusan dengan “pintu masuk”. Jika tidak ada pintu, nafsu tinggallah nafsu. Atau dalam arti yang positif, dua sejoli yang baru menikah dan ingin menikmati hotel mewah di Bali, harus juga berurusan dengan banyak pintu seperti pintu mobil, pintu pesawat, pintu toilet, pintu kapal laut, pintu masuk hotel, dan pintu masuk kamar hotel, tak lupa pula, pintu kamar mandi jika kebelet “pipis” atau sedang sakit perut.

“Pintu” adalah akses masuk keluar. Dengan pintulah kita dapat menikmati keindahan hidup baik secara positif maupun negatif. Ketika pintu tertutup, tak ada yang dapat dibanggakan oleh pemilik rumah. Dia mau lihat apa jika pintu rumah tertutup? Lalu apa makna seluas-luasnya dari sebuah “pintu”? Di sini, saya hendak menjelaskan filosofis dari pintu yang dikorelasikan dengan berbagai konteks. Berikut penjelasannya.

Konteks Rumah

Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa setiap rumah memiliki pintu, baik pintu utama akses masuk pekarangan rumah, pintu utama ruang tamu, pintu kamar, dan pintu kamar mandi. Semua pintu tersebut tidaklah sama. Pemilik rumah tidak akan berpikir untuk membuat bentuk dan jenis pintu di rumahnya itu sama. Ia akan mendesai atau menyesuaikan jenis dan bentuk pintu di setiap ruangan. Pintu gerbang lain dengan pintu kamar mandi, dan seterusnya.

Pintu rumah adalah sebuah kebanggaan bagi pemilik rumah sebab jika tidak demikian, ia akan kehilangan harta benda ketika pintu rumahnya tidak dibuat seaman mungkin sehingga pencuri dengan mudahnya masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang berharga. Dari sini kita belajar bahwa “pintu” adalah penutup rumah sebagai bentuk keamanan dan kenyamanan diri” dan sebagai pembuka rumah sebagai bentuk kenikmatan dan kepuasan hidup bersama orang-orang yang dikasihi. Yang jomblo tentu tidak termasuk. Tetapi para jomblo juga dapat menikmati hidup bersama sahabat-sahabatnya melalui sebuah pintu masuk ke dalam rumahnya sendiri atau rumah sewaan.

Konteks Hotel

Konteks ini kurang lebih memiliki kesamaan dengan konteks rumah. Akan tetapi, hotel sering memberikan nilai privasi dan keamanan yang lebih dalam konteks refreshing, liburan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Siapa pun yang masuk ke hotel akan selalu berurusan dengan pintu-pintu. Pintu memberikan kesan yang baik dan mengharukan bagi mereka yang menikmati liburan bersama keluarga dan orang yang dicintai dan dikasihi. Namun, di sisi lain, pintu juga akan menjadi malapetaka ketika ada orang yang “bunuh diri” di kamar hotel dengan berbagai cara. Pintu di satu sisi menghadirkan kebahagiaan, dan di sisi lainnya menghadirkan malapetaka. Ketika pintu terkunci dan tidak bisa dibuka, semua kebahagiaan akan pupus dan tak terwujud.

Konteks Alat Transportasi

Tidak hanya rumah, sekolah, perkantoran, atau  hotel yang memiliki pintu. Alat-alat transportasi juga didesain sedemikian rupa dengan memiliki pintu masuk yang nyaman. Mobil mewah seperti Mercedes memiliki pintu dan para penggunanya memiliki akses untuk menikmati kemewahan di dalamnya. Ketika semua orang telah berurusan dengan pintu masuk ke dalam alat-alat transportasi, maka mereka dapat menikmati berbagai keindahan alam dan sebagainya; mereka dapat mempercepat waktu “berada” dari lokus yang satu ke lokus lainnya; mereka dapat menikmati liburan yang menyenangkan sesuai jadwal yang ditetapkan. Semua dapat terwujud ketika “pintu” masuk ke dalam alat-alat transportasi tersebut berfungsi dengan baik. Jika tidak, semuanya akan kacau dan berantakan.

Konteks Logika

Logika menjembatani berbagai hal untuk dipikirkan, dianalisis, dan dipublikasikan. Dalam konteks yang sedang saya jelaskan, logika manusia mengimplementasikan apa yang dipikirkan manusia terkait dengan beragam konteks. “Pintu” logika saya samakan dengan “pengertian penuh” dari sebuah konteks. Ketika manusia tidak memahami segala sesuatu atau “sesuatu” maka hal itu dapat kita kategorikan sebagai “ia tak dapat mengerti sepenuhnya”. Pengertian yang penuh adalah bentuk keterpahaman seseorang terhadap sesuatu. Pintu logika merupakan gerbang yang besar untuk masuk ke dalam berbagai pengertian yang membuat manusia melihat kemenangan, keindahan, kebahagiaan, kesukacitaan, kepuasan, dan keberkatan. Manusia yang memahami atau mengerti adalah manusia yang telah membuka pintu logikanya untuk melihat ke dalam konteks-konteks yang dipikirkan yang dicerna dan dirasakan dengan hati tenang.

Pintu logika adalah pintu pengertian penuh di mana manusia dapat memahami dan melihat kekayaan kehidupan dengan ragamnya. Saya rasa, kebahagiaan dan rasa puas yang terdalam adalah ketika “kita mengerti sepenuhnya” tentang sesuatu hal  yang dengannya kita dapat menikmatinya, menjalaninya, melakukannya, membagikannya, dan menjaganya seumur hidup. Mengerti sepenuhnya tidak berarti bahwa “sesuatu atau objek” yang dipikirkan dapat sepenuhnya dipahami. Mengerti sepenuhnya juga berarti bahwa manusia menyadari bahwa sesuatu itu dapat saja tidak dipahami sepenuhnya (personalitas, gejala, dan sebagainya). Kesadaran bahwa manusia tidak dapat memahami sepenuhnya—misalnya personalitas Tuhan—dapat dikategorikan sebagai “mengerti sepenuhnya” keterbatasan logika, waktu, metode, dan sumber.

Konteks Kehidupan

Secara totalitas manusia menikmati dua pintu: pintu awal kehidupan dan pintu akhir kehidupan. Pintu kehidupan terbuka luas dan tinggal dinikmati sebebas-bebasnya. Akan tetapi, kebebasan yang tidak terkontrol dan tidak didasarkan pada kesadaran-kesadaran akan nilai kehidupan, akan menjerumuskan manusia kepada kematian atau sakit penyakit. Ketika manusia hidup, pintu-pintu kehidupan membuka peluang baginya untuk memilih pintu mana yang akan memberikan kebahagiaan atau kebebasan, kenyamanan atau keserakahan.

Setiap manusia memiliki potensi untuk membuka setiap pintu kehidupan: pilihan bebas manusia mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya yang dilaluinya melalui sebuah “pintu”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidupnya. Mereka yang beriman kepada Tuhan juga memiliki pilihan yang sama. ”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka. ketika hati dan logika menyatu (atau sekapat), maka pintu-pintu kehidupan akan terbuka dan memberikan berbagai jenis kebahagiaan dan kepuasan hidup di dalam Tuhan.

Pintu-pintu kehidupan menyediakan berbagai hidangan kehidupan bagi mereka yang “tahu bagaimana masuk ke dalamnya” melalui pintu yang dibuka dengan “kunci” yang tepat. Ketika kunci tidak tepat, seseorang akan memaksakan diri untuk masuk melalui pintu kehidupan dengan cara mendobrak atau merusaknya. Ketika pintu kehidupan telah rusak, maka terlihat bahwa motivasi seseorang akan membawa dirinya kepada berbagai-bagai duka.

Pintu-pintu kehidupan bukanlah bersifat fisik, melainkan spiritual. Spiritualitas kita diukur dari sejauh mana kita berpikir, berkata, dan berbuat. Tuhan telah menyediakan banyak pintu dan kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk meminta kunci yang tepat agar bisa membuka pintu-pintu tersbut. Tetapi, Tuhan juga memberikan kesadaran dan pengertian bagi kita untuk mempergunakan ruangan kehidupan di mana kita telah masuk di dalamnya (melalui pintu) untuk hal-hal yang memuliakan dan menyenangkan Tuhan.

Pintu-pintu kehidupan adalah akses memasuki dunia yang riil dan kita dituntut untuk menjadi para pelaku firman-Nya. Menjadi yang terbaik adalah tujuan Tuhan bagi kita. Dengan kunci-kunci kehidupan yang Tuhan berikan, kita dapat mengajak orang lain untuk masuk ke dalam dunia kebahagiaan, dunia di mana kasih, iman, dan pengharapan menjadi kesatuan yang mengikat manusia menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Ketika Tuhan mengizinkan kita menikmati dunia yang diberkatinya, sikap kita adalah tetap menjaga kemurnian diri; menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita selaras dengan kehendak Tuhan dan firman-Nya. Seperti yang diungkapkan Raja Daud dalam Mazmur 141:3, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku”, bahwa Daud memohon agar Tuhan memampukan dirinya berkata-kata yang benar dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kejahatan melalui pintu “bibir” adalah kejahatan yang sangat berisiko kareka akan berpengaruh buruk dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Daud tahu bahwa “bibir” adalah organ tubuh yang ketika terbuka (pintunya) akan dengan mudah mengeluarkan kata-kata, baik pujian maupun kutuk. Untuk itulah Daud memohon agar Tuhan “menjaga pintu bibirnya” agar terhindar dari kesombongan perkataan yang akan menjeratnya.

Ketika kita memohon kepada Tuhan agar Ia menolong dan melindungi diri kita, maka kita akan terhindar dari segala kesesatan pikiran dan perkataan yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Ajaklah sahabat-sahabat kita untuk masuk melalui pintu kehidupan yang telah Tuhan sediakan, dan turut menikmati kebahagiaan yang juga Tuhan sediakan kepada kita. Menikmati kebahagiaan haruslah melalui sebuah “pintu”. Pintu hati, pintu logika, pintu bibir, adalah pintu-pintu yang perlu dibuka untuk menikmati janji-janji Tuhan yang luar biasa.

Selamat membuat pintu, membuka pintu, dan menikmati ruangan kehidupan yang indah, yang Tuhan sediakan kepada kita. Ketika ruangan kehidupan yang di dalamnya tidak menyediakan kebahagiaan, maka patahkanlah kuncinya sehingga kita dan orang lain tidak ada yang memasukinya. Tuhan telah memberikan ruangan kehidupan kepada kita, dan kita diberikan kunci untuk membukanya. Gunakanlah kunci-kunci pintu kehidupan dengan baik dan membawa orang lain untuk turut merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa sebab Tuhan adalah adalah Pemurah dan penuh belas kasihan, serta cinta kasih yang tiada taranya.

Shalom. Salam Bae

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/688628599263791402/

FILSAFAT TEOLOGI: Karakter sebagai Empirikal Iman Kristen

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/52635889384629542/

Filsafat teologi yang sesungguhnya hanya dapat dijelaskan secara memuaskan oleh mereka yang telah mengalami kasih, kuasa, dan firman Tuhan, hidup dalam “kebenaran [doktrin]” yang sesungguhnya (tanpa ada penyimpangan doktrinal), dan oleh mereka yang telah diubahkan Tuhan (bertobat) dan hidup dalam kejujuran, keadilan, dan ketulusan.

Secara umum, filsafat teologi—khususnya teologi Kristen—dapat dirumuskan, dipikirkan, dikembangkan, dianalisis, oleh setiap orang Kristen. Akan tetapi, identitas “Kristen” tidak menjamin hasil dari sebuah filsafat teologi yang sesungguhnya. Filsafat teologi tidak hanya berangkat dari berbagai gagasan logikalisme dan doktrinal Kristen, melainkan juga dari “natur empirikal” iman Kristen dari mereka yang benar-benar hidup dalam firman dan berlaku jujur di hadapan Allah.

Jadi, filsafat teologi mencakup tiga aspek penting yaitu: gagasan logikalisme, doktrin, dan empirikal. Bagian-bagian dari tiga aspek ini akan dijelaskan kemudian, setelah saya menjelaskan sedikit tentang natur dari filsafat teologi.

NATUR FILSAFAT TEOLOGI

Natur atau ciri khas dari filsafat teologi adalah sebagai berikut:

Pertama, filsafat teologi memiliki harta karun yang sangat banyak yang bisa mencukupi—ketika semua manusia yang mengambil harta karun itu untuk kesinambungan kehidupan mereka. Harta karun itu memiliki kegunaannya masing-masing: berguna untuk memperbaiki hidup di hadapan Tuhan, berguna untuk memperbaiki hidup di hadapan sesama manusia, berguna untuk menyelaraskan diri dengan firman Tuhan, dan berguna untuk menampilkan sikap hidup yang benar kepada semua orang.

Kedua, filsafat teologi memiliki PESAN dan MAKNA yang beragam sesuai konteksnya masing-masing. Pada setiap konteks pesan dan makna mendorong setiap orang untuk bergerak dan berjuang mempertahankan hidup. Pada faktnya, para teolog menjadi tidak berguna ketika ia mengabaikan peran dan tanggung jawabnya untuk berjuang mempertahankan hidup. Teologi tidak hanya “berbicara tentang Tuhan” tetapi juga “berbicara tentang tanggung jawab bertahan hidup” sebab hidup itu sendiri adalah pemberian Tuhan dan tanggung jawab kita untuk menjalani dan mempertahankannya.

Ketiga, filsafat teologi memiliki POTENSI untuk MENGUBAHKAN ARAH HIDUP (tujuan) seseorang, dan doktrin yang menyimpang. Fakta lampau telah memperlihatkan kepada kita mengenai para martir yang hidupnya diubahkan Tuhan Yesus Kristus dan mereka berani berjuang bahkan rela mati bagi dan demi Dia. Fakta lampau juga telah memperlihatkan kepada kita mengenai berbagai doktrin yang menyimpang yang dipercayai oleh orang-orang yang menyesatkan, tersesat, dan disesatkan, sehingga terbukti bahwa pemahaman mereka tentang teologi yang menyoroti teks-teks Alkitab begitu dan sangat menyimpang.

Ada orang-orang yang mereka sesatkan dan mereka tidak tahu bahwa mereka itu sesat. Ini adalah sebuah paralogisme. Para penyesat ini masih ada hingga sekarang. Dengan keyakinan seadanya tetapi “ngotot”, mereka mempublikasikan gagasan-gagasan “unyil” dengan suara lantang, bahkan lebih menggelegar. Secara substansi isi dari publikasi gagasan-gagasan mereka telah gagal menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika dan historikal. Akibatnya, mereka semakin tersesat dan menyesatkan.

Peran filsafat teologi sangat dibutuhkan di zaman ini, mengingat maraknya doktrin-doktrin yang menyesatkan berseliweran (berjalan kian kemari) di berbagai tempat. Para teolog, penafsir, pemerhati teologi, dan pelayan Tuhan, memilik tugas yang berat: harus berjuang untuk berperang melawan serigala-serigala yang menyamar menjadi domba upahan. Bawa kembali domba-domba yang direbut mereka; bawa pulang ke tempat yang seharusnya yaitu “Gereja”.

Ketiga, filsafat teologi memiliki PEDOMAN untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Ada narasi-narasi teologis-filosofis, narasi-narasi etis-teologis, narasi-narasi humanitas hayati, narasi-narasi iman dan relasional, narasi-narasi kredibilitas iman, dan narasi-narasi eskatologis. Semua narasi tersebut merupakan narasi doktrinal. Jiwa kita dibentuk menurut narasi-narasi itu. Berbagai kesulitan tentu akan ditemui apabila memahami dan menerapkan narasi-narasi tersebut. Namun, yang pasti Tuhan akan menopang, menuntun, dan memberikan kekuatan untuk menghadapi dan keluar dari berbagai kesulitan.

Keempat, filsafat teologi memiliki CINTA KASIH TUHAN yang telah dinyatakan kepada manusia berdosa. Teologi seyogianya membicarakan dan merealisasikan cinta kasih Tuhan yang luar biasa itu.

Kelima, filsafat teologi memiliki HARAPAN untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih maju, mandiri, dan kredibel. Setiap orang percaya dicerahkan dan dikuatkan imannya karena ada harapan pasti dan petualangan mengikut dan percaya kepada Tuhan Yesus.

BAGIAN-BAGIAN FILSAFAT TEOLOGI:

Pertama, respons terhadap penyataan Allah (logikalisme dan doktrinal). Allah telah menyatakan diri-Nya baik dalam sejarah Bapak-Bapak leluhur, bangsa Israel, para hakim dan nabi, maupun kepada para rasul melalui Yesus Kristus. Secara logis, orang yang percaya kepada Allah haruslah merespons kebaikan-Nya dan penyataan-Nya melalui Yesus Kristus. Secara doktrinal, penyataan Allah adalah bagian terpenting dari iman Kristen yang menegaskan bahwa Allah—secara ajaib—menunjukkan kuasa-Nya yaitu “LOGOS menjadi daging [sarks] dan diam di antara manusia”.

Kedua, Iman yang bersandar pada Allah yang pra-historis dan pasca empirikal (logikalisme, doktrinal dan empirikal). Secara logis iman harus melihat pada Allah yang berkarya pra-historis dan pasca empirikal secara kontinu. Melihat pada Allah berarti mengandalkan Dia secara serius dan konsisten. Bersandar pada Allah adalah sebuah doktrin yang perlu dipahami dan dilakukan, serta dipertahankan. Secara empirikal, apa yang baik yang pernah dilakukan haruslah tetap dilakukan, apa yang terjadi di masa lampau haruslah tetap dipegang dan dipahami sehingga dapat diterapkan di masa kini dalam konteks relasi humanitas dan relasi spiritual dengan Tuhan. Ini adalah karakter yang substansial dari iman Kristen dan sebagai empirikal yang patut diperhatikan.

Ketiga, Kuasa Allah yang Mahaberdaulat: Solusi yang Suprematif (doktrinal). Kuasa Allah—ketika dinyatakan—maka tidak ada satu manusia pun yang dapat menahannya. Kuasa Allah harus dipegang sebagai doktrin; keyakinan bahwa Allah berkuasa dan Ia Mahaberdaulat atas semua ciptaan-Nya adalah bersifat doktrinal. Jika tidak, narasi-narasi doktrinal akan menjadi tak berarti karena kehilangan kuasa Allah yang hebat dan dahsyat itu.

Keempat, Logika: Pemahaman akan kebenaran (logikalisme dan doktrinal). Secara logis, kebenaran harus dipahami dan dihidupi. Kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam Alkitab adalah doktrin-doktrin yang dapat dipertanggung jawabkan. Dari padanya kita menyerap berbagai hal subsntasial untuk tetap menjaga dan melindungi diri kita dari serangan ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan. Karakter iman Kristen mengedepankan pemahaman akan kebenaran secara kredibel.

Kelima, Supremasi kasih yang tulus (doktrinal). Kasih terhadap Allah harus terealisasi ke dalam konteks kasih terhadap sesama. Secara substansial, supremasi kasih dipandang sebagai doktrin yang menghasilkan tatanan kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan. Doktrin yang benar adalah doktrin yang mengandung prinsip kasih Allah kepada manusia dan kasih manusia kepada Allah. Mengasihi Allah dan sesama adalah dasar dari karakter iman Kristen dan itu menjadi empirikal yang krusial.

Keenam, Konatif yang Unik (empirikal). Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Demikian pernyataan tegas Rasul Yakobus. Tindakan-tindakan etis-teologis adalah sebuah desakan empiris yang dengannya kita tahu dan menilai bahwa percaya kepada Tuhan Allah tak mungkin jika tidak menampilkan karakter dan konatif (kemauan untuk berbuat sesuatu) yang telah ditetapkan Tuhan. Konatif yang unik ada dua yaitu: “mengasihi musuh” dan “berdoa bagi musuh.” Filsafat teologi harus berani menunjukkan konatif yang unik ini, sehingga menjadi empirikal yang perlu diwariskan.

Ketujuh, Pengurbanan Kristus yang diteladani (doktrinal dan empirikal). Pengurbanan Yesus Kristus tidak hanya menjadi narasi doktrinal melainkan merupakan narasi empirikal. Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus tentu memiliki pengalaman tersendiri di mana mereka merasakan kasih, kuasa, dan jamahan Tuhan. Doktrin seharusnya menjadi sebuah empiris orang percaya, termasuk empiris di mana mendatang.

AKHIRNYA…

Filsafat teologi menjelaskan tentang prinsip dan pengajaran tentang Allah dan karya-Nya di dalam Yesus Kristus, menjelaskan tentang kasih dan kuasa Tuhan. Filsafat teologi mencakup tiga aspek penting yaitu: gagasan logikalisme, doktrin, dan empirikal dan ketiganya memiliki bagian-bagian signifikan yakni:

(1) respons terhadap penyataan Allah (logikalisme dan doktrinal). (2) Iman yang bersandar pada Allah yang pra-historis dan pasca empirikal (logikalisme, doktrinal dan empirikal). Secara logis iman harus melihat pada Allah yang berkarya pra-historis dan pasca empirikal secara kontinu. (3) Kuasa Allah yang Mahaberdaulat: Solusi yang Suprematif (doktrinal). Kuasa Allah harus dipegang sebagai doktrin; keyakinan bahwa Allah berkuasa dan Ia Mahaberdaulat atas semua ciptaan-Nya adalah bersifat doktrinal. (4) Logika: Pemahaman akan kebenaran (logikalisme dan doktrinal). Secara logis, kebenaran harus dipahami dan dihidupi. (5) Supremasi kasih yang tulus (doktrinal). Kasih terhadap Allah harus terealisasi ke dalam konteks kasih terhadap sesama. (6) Konatif yang unik (empirikal). Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Konatif yang unik ada dua yaitu: “mengasihi musuh” dan “berdoa bagi musuh”, dan (7) Pengurbanan Kristus yang diteladani (doktrinal dan empirikal). Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus tentu memiliki pengalaman tersendiri di mana mereka merasakan kasih, kuasa, dan jamahan Tuhan.

Filsafat teologi memiliki harta karun yang sangat banyak yang bisa mencukupi—ketika semua manusia yang mengambil harta karun itu untuk kesinambungan kehidupan mereka. Filsafat teologi memiliki PESAN dan MAKNA yang beragam sesuai konteksnya masing-masing.

Filsafat teologi memiliki POTENSI untuk MENGUBAHKAN ARAH HIDUP (tujuan) seseorang, dan doktrin yang menyimpang. Filsafat teologi memiliki PEDOMAN untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Filsafat teologi memiliki CINTA KASIH TUHAN yang telah dinyatakan kepada manusia berdosa.

Filsafat teologi memiliki HARAPAN untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih maju, mandiri, dan kredibel. Jika memiliki harapan, bergegaslah dari zona nyaman dan bergerak mencari jiwa-jiwa terhilang; ajar mereka, arahkan mereka, dan panggil mereka untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.

Filsafat teologi bukan hanya sebagai wacana (percakapan) intelektual (pengetahuan tentang doktrin-doktrin) saja, melainkan pula sebagai wacana empirikal yang dengannya kita telah menyeimbangkan dan menyelaraskan antara iman dan perbuatan. Dan itu menjadi fakta empirikal iman Kristen yang sangat berkesan, solid, dan patut dipertahankan sepanjang hayat.

Salam Bae.

FILSAFAT “WAKTU” (Philosophy of Time)

Manusia berpikir di dalam waktu. Manusia hidup dan bergerak di dalam waktu. Manusia berelasi dan bahagia di dalam waktu. Manusia menderita dan berjuang di dalam waktu. Manusia lahir dan mati di dalam waktu. Manusia berperang dan berdamai di dalam waktu. Di dalam waktu manusia berfilsafat. “Waktu” menciptakan “filsafat” dan dalam berfilsafat, manusia dapat memahami signifikansi “waktu.”

“Waktu” memiliki dua indikasi yakni: pertama, waktu yang menunjuk pada ketentuan yang tetap seperti jam, hari; dan kedua, waktu yang menunjuk pada suatu masa, saat, atau momentum yang tidak secara teratur terjadi dalam kehidupan manusia. Di sini, saya hendak menekankan pada jenis waktu yang kedua.

Filsafat waktu berbicara mengenai apa yang perlu dilakukan oleh manusia dalam waktu yang singkat ini. Artinya, kita dapat menduga atau bahkan meyakini bahwa hidup manusia itu sangat singkat. Alkitab menjelaskan bahwa hidup manusia itu sama seperti uap, sebentar saja kelihatan lalu hilang lenyap. Semarak manusia itu juga bersifat sementara. Namun ada perbedaan antara manusia yang dikenan Tuhan dan manusia yang tidak dikenan Tuhan.

Pada umumnya, setiap manusia perlu melakukan sesuatu. Sesuatu yang akan dilakukan, dilakukannya di dalam waktu. Bahkan, segala sesuatu memiliki tendensi waktu yang terbatas atau dibatasi. Karenanya, manusia berlomba-lomba mengerjakan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan, baik bagi dirinya sendiri, bagi orangtuanya, bagi keluarganya, bagi orang yang dikasihi dan dicintainya, dan bagi sahabatnya.

Filsafat waktu mendukung sepenuhnya mengenai unsur-unsur moralitas dan spiritualitas yang terkandung di dalam segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh setiap manusia. Tulisan ini akan mengkaji tiga hal: pertama, substansi filsafat waktu; kedua, unsur moralitas yang terkandung di dalam waktu sebagai bentuk kredibilitas manusia terhadap sesama; dan ketiga, unsur spiritualitas yang terkandung di dalam waktu sebagai bentuk kredibilitas manusia terhadap Tuhan, Sang Pencipta waktu.

Pertama: SUBSTANSI FILSAFAT WAKTU

Secara substansial, filsafat dipahami sebagai bentuk pemikiran yang memikirkan, mengkaji, dan menilai kebijaksaan. Kebijaksanaan itu sendiri bersifat abstrak dan mencakup keluasan materi baik tentang alam semesta, manusia, dan Sang Pencipta. Di dalam waktu, para filsuf bergelut tentang tiga hal tersebut. Ketiga-tiganya masih menjadi bahan perbincangan hingga sekarang ini. Alam semesta dipahami sebagai hasil ciptaan Tuhan di satu sisi, dan di sisi lain merupakan hasil nonpersonal (secara alamiah). Yang kedua merupakan bentuk pemikiran yang gagal total memahami substansi waktu dari materi yang menciptakan alam semesta secara kebetulan atau bersifat potensialitas.

Jadi, filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami alam semesta sebagai “rumah” bagi manusia untuk berkreasi, berdaya cipta, beranak cucu, berbahagia, berelasi, dan melakukan segala sesuatu, entah baik, entah buruk.

Filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami “manusia” sebagai “kawan” sekerja dalam segala hal dan “teman” yang memiliki rasa kemanusiaan, rasa memiliki, rasa memerlukan, rasa kebergantungan, rasa melindungi, rasa menghormati, dan rasa solidaritas.

Filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami personalitas Tuhan sebagai Sang Pencipta yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Dialah yang menciptakan alam semesta dan manusia di muka bumi ini. Dialah yang berhak menentukan segala sesuatu untuk dapat terjadi dalam totalitas proses kesinambungan alam semesta dan proses kehidupan manusia sejak ia dalam kandungan sampai ia menutup mata.

Ketiga hal tersebutlah yang mendasari substansi dari filsafat waktu. Manusia harus menjaga alam semesta; manusia harus saling mengasihi sesamanya; dan manusia harus bersyukur kepada Tuhan sebagai Pribadi yang memungkinkan manusia dapat melakukan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi manusia itu sendiri.

Kedua: UNSUR MORALITAS

Moralitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari substansi filsafat waktu sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Filsafat waktu mendorong manusia untuk menjaga tatanan hidup (konatif), pikiran, dan perkataan yang menciptakan sebuah moralitas yang agung yang dapat dinilai dan dirasakan manfaatnya oleh sesamanya. Itu sebabnya, moralitas menjadi tanggung jawab yang agung untuk menghasilkan karakter yang agung pula. Menenun moralitas membutuhkan ‘waktu’. Karenanya, filsafat waktu memberi desakan agar tenunan moralitas segera dikerjakan—dan bukan ditunda-tunda.

Ketiga: UNSUR SPIRITUALITAS

Spiritualitas adalah sahabat dari moralitas. Spiritualitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari substansi filsafat waktu. Filsafat waktu mendorong manusia untuk menjaga tatanan kerohanian (spiritualitas), pikiran, dan perkataan dalam hubungannya dengan Tuhan. Spiritualitas menciptakan sebuah karakter dan integritas yang agung yang dapat dinilai dan dirasakan manfaatnya oleh sesamanya. Itu sebabnya, spiritualitas menjadi tanggung jawab yang agung untuk menghasilkan karakter dan integritas yang agung pula. Menenun spiritualtias membutuhkan ‘waktu’. Karenanya, filsafat waktu memberi desakan agar tenunan spiritualtitas segera dikerjakan—dan bukan ditunda-tunda.

Relasi dengan Tuhan adalah bersifat personal. Setiap manusia memiliki rahasia tersendiri soal hubungannya dengan Tuhan. Ia dapat menciptakan “waktu” yang terbaik di mana ia hidup bersama Tuhan dalam arti bahwa ia mematuhi hukum-hukum Tuhan dan segala perintah-perintah-Nya. Bagaimana baiknya hubungan seseorang dengan Tuhan, bergantung pada seberapa banyak “waktu” yang ia gunakan untuk menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama-Nya.

Filsafat waktu dapat juga berarti bagaimana manusia mempergunakan waktu selama ia hidup untuk berkontribusi bagi alam semesta, bagi sesama, dan bagi pekerjaan atau pelayanan Tuhan. Dengan waktu yang digenggam manusia, ia perlu menumbuhkembangkan sikap menghargai waktu, dan di dalam waktu tersebut, ia terkubur di dalamnya. Kesadaran menilai dan mempergunakan waktu adalah sebuah kebijaksanaan, sebuah filsafat waktu. Manusia harus memahami, menghargai, dan mempergunakan waktu yang ada.

Konklusinya adalah bahwa filsafat waktu mendorong setiap manusia untuk memahami signifikansi waktu, menghargai waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi alam semesta dan sesama manusia, dan mempergunakan waktu yang dikaruniakan Tuhan untuk melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya dan memuliakan nama-Nya.

Di dalam waktu manusia memikirkan dan memahami filsafat waktu. Di dalam waktu , manusia menerapkan filsafat waktu, dan di dalam waktu, tulisan filsafat waktu saya akhiri.

Salam Bae…

Sumber gamba: https://id.pinterest.com/pin/827747606507369386/

LOGIKA ANALOGIKAL—KLASIFIKASI

Secara hakiki, cara berpikir manusia bersifat analogikal—klasifikasi. Bentuk ini adalah umum berlaku di segala bidang. Ada indikasi persamaan dalam suatu hal tetapi sekaligus dibedakan berdasarkan kategori-kategori internal maupun eksternal bahkan berdasarkan fakta. Manusia pada umumnya juga sering melakukan cara berpikir analogikal—klasifikasi yang pada gilirannya dia sendiri dapat memahami secara mendalam ketika ia berada dalam kasus yang sama.

Sampai di sini, pembaca masih belum memahami apa sebenarnya yang saya maksudkan dengan logika analogikal—klasifikasi. Saya pun tidak tahu. Jadi kita berhenti di sini saja. Ok? Anda tersenyum. Lalu—mungkin—berguman: “buat apa membahas atau menulis tentang logika analogikal—klasifikasi sedangkan anda/kamu (maksudnya ‘saya’ sebagai penulis) mau menulisnya? Kalau begitu, akhirnya saya pun jadi, malahan sebenarnya saya tahu tetapi bermain dalam komposisi penulisan untuk menggiring kuriositas-jika pembaca membaca sampai tulisan ini berakhir.

Saya lanjutkaan. Logika analogikal—klasifikasi adalah pola pikir manusia yang melihat persamaan kasus, sekaligus membuat klasifikasi dari apa yang dia lihat dari persamaan kasus tersebut. Sebagai contoh konkrit, saya membuat perumpamaan yang bersifat faktual, berikut ini:

“Jika kita melihat anak kecil berumur dua tahun, kencing dipinggir jalan, maka mayoritas yang melihatnya akan memiliki respons yang berbeda. Pertama, kita akan berkata, anak itu lucu ya, kencing di pinggir jalan. Kedua, kita berpikir bahwa tidak apa-apa anak kecil itu kencing di pinggir jalan. Ketiga, kita berpikir bahwa untuk apa dipikirkan ketika anak kecil kencing di pinggir jalan. Keempat, kita mungkin berkata: ‘di mana orangtuanya? mengapa anaknya dibiarkan kencing di pinggir jalan’”.

Sampai di sini, kadang kita tidak memusingkan apakah anak dua tahun itu melanggar etika atau tidak. Maklum, namanya juga anak kecil, jadi tidak apa-apa kencing di pinggir jalan. Kapan pun dan di mana pun, anak berumur dua tahun bisa kencing di mana saja. Tidak ada halangan. Toh, burungnya masih kecil, tidak mengganggu pemandangan mata, dan tidak menimbulkan hawa nafsu. Lalu bagaimana jika orang dewasa berumur tiga puluh tahun kencing di pinggir jalan?

Jika kita melihat orang dewasa berumur tiga puluh tahun, kencing dipinggir jalan, maka mayoritas yang melihatnya akan memiliki respons yang berbeda juga. Pertama, kita akan berkata, orang itu tidak tahu diri, kencing di pinggir jalan. Kedua, kita berpikir bahwa tidak baik orang itu kencing di pinggir jalan. Ketiga, orang itu tidak tahu malu. Keempat, dasar, kencing sembarangan. Kelima, dasar, orangtuanya mungkin tidak pernah mendidiknya dengan baik. Keenam, orang itu tidak punya perasaan, bagaimana jika ada orang lain melihat alat kelaminnya?”

Jika anak kecil berumur dua tahun bisa kencing di mana saja, maka tidak demikian dengan orang dewasa. Orang dewasa akan kencing berdasarkan klasifikasi tempat dan situasi. Jika malam hari, di tempat gelap, orang dewasa bisa kencing sepuasnya. Tidak demikian ketika di siang hari di tempat yang sama. Orang dewasa merasa malu kencing sembarangan karena “burungnya”, sedangkan anak kecil tidak.

Dari dua kisah di atas, yang secara faktual mungkin pernah atau sering kita lihat di sekitar kita atau di mana saja, adalah bentuk logika analogikal—klasifikasi. Kita melihat dua kasus yang sama yakni “kencing di pinggir jalan” dan sekaligus melakukan klasifikasi faktual—psikologi terhadap dua orang yang berbeda secara umur dan pengetahuan. Dengan demikian, ada banyak hal atau peristiwa yang memiliki natur logika analogikal—klasifikasi.

Contoh lain adalah: “Ada seorang pendeta berkata kepada jemaatnya: ‘sebagai orang percaya, tidak boleh merokok, tidak boleh mabuk-mabukkan.’ Di lain pihak, pendeta tersebut malah merokok dan mabuk-mabukan. Ketika sang pendeta ketahuan merokok dan mabuk-mabukan, ia berkata: ‘kalau pendeta merokok dan mabuk-mabukan, tidak apa-apa, dan tidak jadi masalah.’” Si pendeta sedang melakukan logika analogikal—klasifikasi. Ia mengklasifikasikan dirinya dengan jemaatnya dalam soal merokok dan mabuk-mabukan, bahkan dirinya dianalogikan sebagai “anak kecil yang kencing di pinggir jalan”, sedangkan jemaatnya dianalogikan sebagai “orang dewasa yang kecil di pinggir jalan.”

Contoh lainnya adalah: seorang pendeta mengatakan kepada jemaatnya: “janganlah kita berkata sombong, berkata kotor, berkata tipu muslihat, merendahkan orang lain dengan fitnah, dan menghina orang yang belum tentu orang yang dihina dan difitnah melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduh oleh si penuduh dan pemfitnah.” Namun, pada kenyataannya, para jemaat menemukan pendetanya justru melakukan hal-hal yang dilarangnya (sesuai Alkitab), seperti: ia berkata sombong, ia berkata kotor, ia berkata dengan penuh tipu muslihat, ia merendahkan orang lain dengan fitnah, dan ia menghina orang yang belum tentu orang yang dihina dan difitnah melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduh oleh si pendeta tersebut.

Ketika diklarifikasi, si pendeta berkata, “Tidak apa-apa, saya kan pendeta, jadi tidak masalah, karena Tuhan bisa mengampuni saya.” Akan tetapi, ketika dilihatnya para jemaat melakukan hal yang sama, ia menjadi marah dan geram, dan mengatakan bahwa: “Tuhan akan menghukum kalian karena telah berbuat yang tidak benar.” Mengenai contoh di atas, saya teringat dengan kisah Raja Daud yang mengambil istri Uria dengan cara yang tidak wajar. Nabi Natan memberikan perumpamaan soal kisah Daud, dan Daud menjadi sangat marah dan berkata: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati….” Daud mengklasifikasikan dirinya denga orang lain, padahal yang dimaksudkan Nabi Natan adalah Daud sendiri. Daud tidak menyadari tindakannya sehingga ia ditegur Tuhan. Sama halnya dengan pendeta yang merasa suci meski menghina dan merendahkan orang, dan berharap bahwa jemaat yang melakukan hal yang sama, haruslah dihukum. Lalu dirinya? Dirinya sendiri tidak masuk dalam kategori tersebut adalah dia sedang melakukan analogikal—klasifikasi.

Ketika seseorang memahami persoalan orang lain tetapi fokus pada orangnya dan bukan pada persoalannya, seseorang telah melakukan “argumentum ad hominen”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membedakan diri orang lain dengan dirinya)

Ketika seseorang memiliki anggapan buruk sebelum mengetahui sesuatu secara pasti dan faktual, seseorang telah melakukan hukum “a priori” (beranggapan sebelum mengetahui secara pasti). Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengganggap orang lain buruk dan dirinya tidak)

Ketika seseorang memfitnah dan kemudian menyadari bahwa apa yang difitnahkan tidaklah sesuai dengan kenyataan, maka seseoang telah mengalami “a posteriori”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa diri paling suci dan benar dibanding orang lain)

Ketika seseorang merasa benar hanya dari dirinya sendiri (baik hal negatif dan positif), ia telah melalukan “solipsisme”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa benar dibanding orang lain dan merasa tahu segala hal yang benar dibanding orang lain)

Ketika seseorang merasa suci dan benar di antara para pencemooh, ia telah mengkondisikan berada di “dunia khayalan yang di dalamnya ada bidadari yang kapan saja disetubuhi”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa suci dari semua pelaku fitnah dan suka membenci orang lain dan merasa bahwa orang lain dapat diperalat sesuai keingingan [nafsu])

Ketika seseorang merasa percaya dengan pengakuan orang yang berhalusinasi dengan kekayaan yang tak terbukti, ia telah “diperalat-memperalat” untuk tujuannya masing-masing. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membedakan dan membandingkan diri orang yang punya kekayaan dengan orang lain yang lebih miskin)

Ketika seseorang yang menjadi penjilat sana sini, ia telah menjadikan dirinya sebagai “pelacur sosial—religiositas”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengklasifikan orang-orang yang telah memberinya segalanya baik materi maupun uang)

Ketika seseorang mengukur dirinya yang diangap suci dengan orang yang dirasa paling kotor, maka ia telah melakukan “pelacuran-rasio-egoistik”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengklasifikasikan dirinya dengan orang lain yang dirasa paling kotor dan rendah)

Ketika seseorang berkoar-koar dengan sesuatu yang dia sendiri bermain di dunia sandi diksi, maka ia sebenarnya sedang mempublikasikan “ignorantiam—perspektivisme”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membandingkan orang lain dengan orang lain dengan menggunakan sandi diksi)

Ketika seseorang melakukan logika analogikal—klasifikasi terhadap kasus-kasus yang dilarang dan dia sendiri melakukan hal tersebut, maka seseorang tersebut telah melakukan “aproval—personalistik” (pembenaran pribadi).

Sampai di sini, konsep logika analogikal—klasifikasi telah menjerumuskan orang-orang dalam dunia yang kecil. Di dunia yang kecil manusia menganggap diri besar. Persamaan yang diklasifikasikan oleh seseorang dapat menjadi “standar ganda” .

Konsep logika analogikal—klasifikasi bisa kita terapkan sejauh hal itu masih berada di lingkungan analogi psikologi umur dan karakter antara anak kecil dan orang dewasa dalam hal “kencing di pinggir jalan.” Akan tetapi, ketika konsep logika analogikal—klasifikasi diterapkan kepada sesama orang dewasa, maka orang dewasa akan mengalami standar ganda. Jika seseorang mengatakan kepada seseorang: “Anda yang jangan menyalahkan orang lain”, maka standar gandanya adalah: “Anda juga yang menyalahkan saya (yang adalah lain dari diri anda).”

Oleh sebab itu, berhentilah melakukan konsep logika analogikal—klasifikasi terhadap orang lain dalam hal negatif, tetapi lakukanlah konsep logika analogikal—klasifikasi dalam hal tatanan moralitas, spiritualitas, kedudukan, jabatan, dalam relasi saling memahami, saling mengerti, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menopang.

Shalom. Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/5629568273793910/

PUPUR DAN SMENGKEN

Dulu, pupur (bedak) dan smengken adalah idola anak kecil dan anak remaja. Anak kecil, termasuk saya, selalu dipakaikan pupur oleh ibu saya. Pupur tersebut bermerek “Marcks”, “Purol”, “Herocyn” dan “Viva Cosmetics”. Keempat jenis pupur ini popular di zaman saya dulu. Penggunaannya tergantung kondisi. Marcks adalah pupur yang sering saya gunakan hingga sekolah menengah atas. Biar tampak putih (meski sedikit saja), pupur telah membawa pesona diri dari anak desa yang sering tak memakai kaos kaki ketika berangkat ke sekolah. Pupur memang hebat.

Pupur adalah pewarna wajah. Pupur telah menjadikan anak desa tampil bersinar meski kadang antara pipi kanan dan pipi kiri kurang seimbang. Kadang pupur di pipi sebelah kanan terlalu tebal. Tak jarang, pupur dipakai sampai di telinga, dan dipakai juga buat pengharum kile-kile (ketiak). Menarik bukan?

Lalu bagaimana dengan smengken? Smengken (lipstik) di kalangan anak remaja adalah pewarna bibir yang bisa menjadi daya tarik agar orang terpikat karenanya. Smengken menghasilkan gelora diri yang harus ditonjolkan demi meraup perhatian dari para anak muda; tak jarang lelaki tua ikut melihat penampilan remaja bersmengken.

Smengken memiliki citarasa tersendiri. Apalagi ketika malam minggu tiba. Sekejap, smengken menjadi popular. Untuk apa? Untuk menarik perhatian. Meski bentuk bibir kelihatan kurang menarik, tapi karena warna smengken yang terlampau merah, membuat mata para pelihat tersepona; tak jarang, banyak yang tertawa geli dan aneh. Para remaja putri memang suka menggunakan smengken meski kadang bibir terasa gatal akibat smengken dengan harga sepuluh ribu dapat empat. Tetapi, smengken telah membuat puas diri karena dianggap telah memberikan hasil yang maksimal. Smengken punya kisah tersendiri bagi mereka yang pernah merasa percaya diri ketika memakainya.

Lalu makna apa yang dapat kita petik dari kisah pupur dan smengken? Tentu ada. Berikut maknanya (dalam pemahaman saya):

Pertama, pupur adalah benda yang bisa memberikan rasa tersendiri pada wajah kita.

Kedua, pupur adalah tanda bahwa ibu kita mengasihi dan sayang kepada kita yang dengan setia memberikan pupur di pipi meski kadang tampak tak seimbang (sebelah tipis, sebelah tebal).

Ketiga, pupur adalah tanda bahwa kita tampil beda, wangi, menawan, dan menarik.

Keempat, smengken adalah benda yang memberikan rasa percaya diri.

Kelima, smengken adalah tanda bahwa kita sayang pada diri kita sendiri—sesuai takaran penggunaannya—untuk menunjukkan kecantikan wajah secara utuh.

Keenam, smengken adalah tanda bahwa kita ingin tampil beda dan memberikan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi, dan bagi para pelihat di mana pun mereka berada.D

Ketujuh, dari pupur dan smengken kita dapat belajar bahwa segala sesuatu yang kita gunakan adalah bagian dari realisasi diri untuk diperlihatkan kepada khalayak. Jika demikian, yang paling menarik dari hidup kita bukanlah pupur dan smengken, melainkan perilaku dan perkataan kita sehari-hari. Pupur dan smengken bisa menimbulkan daya tarik, akan tetapi ketika para pemakainnya memiliki perilaku yang buruk, maka pupur dan smengken akan menjadi luntur dari penilaian khalayak.

Jadikan diri kita menarik dengan mengembangkan potensi diri yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://cdn.idntimes.com/content-images/community/2018/06/55469a414a078fca25095cccf6c85bba.jpg

INFEKSI MORALITAS: Aproksimasi Impotensi Krestologia dan Karakter

Moralitas adalah ukuran umum yang dapat diamati oleh mayoritas manusia di bumi ini. Dengan mengamati moralitas, seseorang dapat menentukan asesmen atau aproksimasi (approximation, perkiraan) terhadap personal seseorang. Dengan begitu, biasanya asesmen tidak meleset jauh dari pengamatan yang dilakukan. Ukuran untuk menentukan moralitas seseorang tampak dalam empat hal: pertama, perkataan; kedua, pemikiran (tulisan[-tulisan]); ketiga, perbuatan; dan keempat, sahabat-sahabat dekatnya.

Alkitab sendiri menegaskan bahwa “pohon dikenal dari buahnya”. Frasa tersebut mengindikasikan bahwa faktalah yang menjadi ukuran asesmen. Fakta yang dimaksud adalah tindakan sehari-hari yang dilakukan oleh seseorang. Ketika seseorang menampilkan bentuk pemikirannya yang tertuang dalam tulisan atau perkataan, maka asesmen mengikutinya. Jika karakter seseorang baik, maka dampak dari pemikirannya juga baik. Atau dengan kata lain, pemikirannya baik disertai gagasan-gagasan normatif maupun edukatif, dan tak jarang bernada spritualisme.

Aproksimasi terhadap krestologia juga sebagai dampak dari pemikiran dan karakter seseorang. Krestologia [dalam bahasa Inggris disebut dengan dengan friendly speech yang berarti kemampuan berbicara ramah, atau cara berbicara (yang) ramah] menjadi daya tarik tersendiri dan sering memikat hati orang lain. Namun, potensi krestologia tidak menjamin karakter seseorang itu baik. Sebaliknya, karakter baik seseorang tidaklah diukur dari sebuah potensi krestologia. Karakter memasukkan potensi krestologia dan empat hal penentu moralitas (perkataan, pemikiran [tulisan(-tulisan), perbuatan, dan sahabat-sahabat dekatnya). Itu berarti, karakter menjadi ‘tajuk rencana’ gagasan kehidupan manusia pada umumnya. Dengan karakterlah, ‘value’ kehidupan seseorang diukur.

Dari deskripsi di atas, ada persoalan umum yang sering terjadi yaitu ‘infeksi moralitas’. Mengapa infeksi? Begini: infeksi bermakna “kemasukan bibit penyakit”. Dari makna tersebut, infeksi moralitas bermakna “pemikiran, perkataan, karakter, sifat, dan perbuatan kemasukan gagasan buruk, kebiasaan buruk, hipokrit, dan memiliki habitualisme invektiv (kebiasaan memaki, mencerca, atau mencacimaki). Infeksi moralitas mungkin merupakan pengamatan sehari-hari kita, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan organisasi, lingkungan pemerintahan, maupun lingkungan gereja.

Akibat dari infeksi moralitas, relasi dengan sesama, keluarga, rekan sejawat, dan relasi dengan Tuhan menjadi terhambat atau bahkan menjadi rusak. Infeksi moralitas menyeret sejumlah opini busuk yang tersistem, terencana dan bahkan berbayar. Implikasinya, identitas dan karakter seseorang menjadi lahan empuk untuk memicu munculnya asesmen terhadapnya. Hasil asesmen berbeda-beda. Bagi rekan sejawat dari mereka yang terinfeksi moralitasnya, dianggap sebagai kebanggaan, kesukaan, dan kesenangan. Mereka bangga dengan kubangan dosa infeksi moralitas di mana yang tidak menyadari dan ada pula yang menyadari bahwa hal itu bernada jelek atau busuk. Bagi mereka yang berkarakter baik dan memiliki hubungan baik dengan Tuhan, menganggap bahwa orang-0rang yang terinfeksi moralitasnya adalah alat setan, alat manusia penipu dan penghasut, alat dari oknum-oknum yang memiliki kepentingan, dan alat dari sesamanya yang saling menguntungkan (mutual simbiosis). Mereka itu perlu didoakan agar Tuhan menyatakan kehendak-Nya. Entah mereka dibuat-Nya bertobat, sakit, atau diakhiri hidupnya.

Infeksi moralitas telah cukup menyita waktu dan perhatian kita karena di sekitar kita – mungkin – hal itu menjadi makanan siap saji. Jika kita tidak memakannya, maka kita aman. Tetapi jika kita mencoba mencicipinya, di kemudian hari akan menjadi ketagihan. Kekristenan tidaklah mengajari dan merekomendasikan gagasan infeksi moralitas karena hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Alkitab. Ada fakta bahwa mereka yang mencoba mencicipi sedikit dari infeksi moralitas, pada akhirnya terjerumus ke jurang yang dalam di dasarnya terdapat “Sekolah Infeksi Moralitas”. Di sekolah tersebut mereka dididik, saling mendidik, saling menopang, dan saling melatih bagaimana melakukan serangan cemooh, hipokrit, dan menjalankan program habitualisme invektiv. Di sekolah itu, para murid tidak membayar tetapi mendapat beasiswa. Akibatnya, “Sekolah Infeksi Moralitas” menghasilkan lulusan-lulusan yang siap pakai oleh pengguna lulusan di lingkungan mereka yang adalah cabang dari “Sekolah Infeksi Moralitas”.

Hal ini bertolak belakang dengan identitas Kristen di mana identitas yang substansial dari kekristenan adalah menghadirkan “Eirēnē” dan “Kerajaan Allah” bagi sesamanya ketimbang menghadirkan infektiv, kutuk [iusiurandum], kutukan [maledictionem; a curse] dan aib [obprobrium; a taunt] orang lain yang bersifat fitnah. Kebiasaan menghadirkan dan menaburkan infektiv, kutuk, kutukan, dan aib menjadi makanan atau santapan harian dari mereka yang terinfeksi moralitasnya. Ketika situasi seperti ini terus-menerus terjadi dan dilakukan oleh mereka yang terinfeksi moralitasnya, maka akan menimbulkan bahaya pandemik (tersebarnya secara luas penyakit [penyakit kerusakan moral, karakter, dan iman]). Kita yang waras dan memiliki hidup kudus akan menolak secara tegas hal tersebut dan bahkan melawan mereka yang menyebarkan infeksi moralitas di lingkungan kita, sebab kekristenan substansial (asali) tidaklah mengajarkan hal tersebut.

Kekristenan yang asali memasukkan dan mewariskan sifat dan potensi krestologia, karakter, dan moralitas yang murni, tulus, dan kudus. Alkitab secara tegas menekankan kekudusan hidup dibarengi dengan potensi krestologia, karakter dan moralitas sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup kudus. Berikut adalah teks-teks pendukungnya:

Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan yang ramah itu suci (Ams. 15:26)

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Ef. 4:32).

Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya (1 Tes. 2:7).

Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar (2 Tim. 2:24)

Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati (Mzm. 7:11)

Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya (Mzm. 11:7)

Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati! (Mzm. 36:11)

Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya (Mzm. 73:1)

Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati (Mzm. 97:11)

Lakukanlah kebaikan, ya TUHAN, kepada orang-orang baik dan kepada orang-orang yang tulus hati (Mzm. 125:4)

Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat (Ams. 10:29)

Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus (Im. 19:2)

Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 20:7)

Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku (Im. 20:26)

Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Ptr. 1:16)

Dari teks-teks di atas tampak bahwa Alkitab mengajarkan pentingnya memiliki potensi krestologia, karakter yang baik, hati yang tulus, dan hidup yang kudus. Semuanya saling terkait (koherensi) dan saling menopang, melengkapi, dan menguatkan. Identitas Kristen ternilai dari hal-hal tersebut. Infeksi moralitas merusak tatanan relasi sesama dan relasi dengan Tuhan. Ketika relasi dengan Tuhan menjadi rusak, maka secara otomatis, relasi dengan sesamanya menjadi rusak. Mereka yang terinfeksi moralitasnya adalah mereka yang lemah iman, lemah pemikiran, dan minimnya pengetahuan. Bahkan pengaruh terbesarnya disebabkan oleh sahabat-sahabatnya yang memiliki infeksi moralitas.

Kita dapat menetapkan aproksimasi impotensi krestologia kepada mereka yang telah menampilkan secara akrobatik sikap, sifat, perkataan, pemikiran (tulisan), dan perilaku yang jauh dari prinsip-prinsip Alkitab. suka mencemooh dan menghina orang lain adalah “kesukaan” mereka, bahkan telah menjadi kekasih hati mereka. Kita juga dapat menetapkan aproksimasi impotensi karakter kepada mereka yang telah menampilkan sikap, sifat, perkataan, pemikiran (tulisan), dan perilaku yang jauh dari prinsip-prinsip Alkitab. Karakter atau sifat adalah alasan mengapa topik karakter menjadi menarik karena dari situlah lahir manusia-manusia tangguh, hebat, baik, ramah, brutal, hipokrit, pencemooh, pemfitnah, dan penghina Tuhan dan sesama.

Infeksi moralitas disebabkan karena “karakole” (melompatkan) dan mengabaikan (underestimate) empat aspek signifikan yakni: hidup kudus, teman yang berkarakter baik, relasi dengan Tuhan dalam ibadah, potensi krestologia. Untuk potensi krestologia, menghasilkan cara berpikir yang baik yang dihasilkan oleh cara berpikir yang baik pula. Maka, cara berpikir seseorang menentukan apa yang akan tampak dalam sikap, sifat (karakter), relasi dengan sesama dan Tuhan, dan potensi krestologia.

Milikilah cara berpikir yang baik dan didasari pada prinsip-prinsip Alkitab, niscaya gaya dan cara hidup Anda menghasilkan pengaruh yang luar biasa. Teladan adalah buah darinya. Potensi krestologia adalah warisan yang tak ternilai harganya. Karakter yang baik memberi dampak kepada mereka yang mengikuti Anda. Jadilah ‘terang’ dalam perilaku, perkataan, dan pemikiran. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Shalom.

Salam Bae

Sumber Gambar: Pinterest (https://id.pinterest.com/pin/103512491419730534/)

TERSAKITI KARENA CINTA: Sebuah Catatan bagi Mereka yang Hancur Hati

Tertarik dengan seseorang dan kemudian terpenuhilah niat, emosi, rasa tertarik, kehendak, dan keinginan hati, maka seseorang dapat mengkategorikan hal itu dengan sebutan “CINTA”. Namun, penamaan tersebut dapat saja menuai pro dan kontra. Tak selamanya niat, emosi, rasa tertarik, kehendak, keinginan hati ingin memilikinya dapat disebut dengan perasaan “CINTA”. Terserah apa yang dapat didefinisikan oleh setiap orang. Gagasan perasaan “CINTA” pada prinsipnya bernatur alamiah sebagai luapan emosional seseorang. Jika hal ini dibawa ke dalam konsep agama, maka “CINTA” pada prinsipnya bernatur kehendak atau anugerah Tuhan.

Keinginan dan rasa untuk mencintai merupakan implikasi dari gejolak hati yang bisa saja tak terkendali, baik oleh waktu, harta, tenaga, pikiran, dan faktor-faktor lainnya. Karena “CINTA” didapatkan dari berbagai cara, maka banyak cara pula untuk mengakhirinya. Terkadang, “CINTA” yang diakhiri, tak dapat diduga sebelumnya. Bahkan, beberapa orang menganggapnya aneh ketika “CINTA” yang mereka jalani selang waktu yang lama, kemudian berakhir begitu saja.

Pengertian dan pemahaman tentang “CINTA” sangat beragam. Hal itu tergantung dari pola pikir, pengalaman seseorang, iman seseorang, pergaulan seseorang, keluarga dan tetangga seseorang. Konstruksi pengertian dan pemahaman “CINTA” paling murni dibangun berdasarkan pola pikir dan pengalaman seseorang. Seringkali, konsep “CINTA” yang dihasilkan berujung sama. Bila konsep “CINTA” berangkat dari pola pikir yang kudus (terpisah dari gagasan duniawi dan hawa nafsu) maka tiang-tiang penyanggah “CINTA” dipastikan kuat dan tahan lama. Bila konsep “CINTA” berangkat dari pola pikir yang didasari pada gagasan duniawi dan hawa nafsu maka tiang-tiang penyanggah “CINTA” dipastikan tidak tahan lama. Kalau pun tahan lama, itu sangat jarang.

Mereka yang mandi dan berenang di dalam kolam “CINTA” tentu akan menikmati air jernih sebagaimana mereka melihat “CINTA” itu jernih. Mereka (dua insan yang saling mencintai) dapat saling bercanda, tersenyum, dan saling menunjukkan kebahagiaan hati mereka. Di sini, hati mereka belum patah alias hancur berkeping-keping. Di kemudian hari, kolam “CINTA” ternyata memiliki air yang kotor dan keruh. Kotor dan keruhnya air disebabkan oleh proses cuaca dari waktu ke waktu. Perasaan “CINTA” juga demikian. Proses dan waktu akan mengujinya dan menjadikan—apakah hati itu tetap jernih atau hati itu menjadi kotor dan keruh seperti air kolam “CINTA”—yang kemudian hati seseorang akan menjadi “sesuatu”.

Dalam perjalanan “CINTA”, segala sesuatu dapat dirasakan indah dan berkesan tatkala suasana hati terpenuhi dengan segala keingingan atau kehendak. Apa saja yang diinginkan dalam menjalani “CINTA” adalah wajar bagi sebagian orang, dan tidak wajar bagi sebagian orang, jika yang diinginkan melampaui batas-batas normatif dan prinsip-prinsip Kitab Suci. “CINTA” dapat membuat dunia menjadi indah; jarak tempuh yang jauh terasa dekat; kesulitan yang sulit dirasa mudah; dan tantangan yang berat dirasa ringan. Ya, semuanya disebabkan karena “CINTA”. “CINTA” dapat menimbulkan kekuatan emosi yang melebihi dari emosi biasa. “CINTA” dapat menimbulkan kekuatan pikiran dan taktik untuk memikirkan berbagai cara untuk “menyenangkan”, “memenuhi”, dan “memuaskan” rasa “CINTA”.

Namun, ada saja orang-orang yang terjebak dalam definisi “CINTA” yang disusunnya. Ketika seseorang salah mendefisikan “CINTA” maka konsekuensi harus diterima. Di sini, definisi “CINTA” kita tempatkan pada porsinya yang murni dan kudus sebagaimana yang kita dapatkan dan kita pahami dari pemahaman “CINTA” berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci. Pada faktanya, ada yang mencoba melanggar definisi “CINTA” yang sebenarnya ia sendiri tahu. Tetapi karena alasan keselamatan hawa nafsu, maka pengkhianatan “CINTA” dapat terjadi.

Pengkhianatan terhadap “CINTA” terjadi karena komitmen seseorang dapat saja berubah di tengah jalan. Berbagai alasan dapat dipahami secara logis yaitu: (1) dia lebih ganteng; (2) dia lebih cantik; (3) dia lebih seksi; (4) dia lebih montok; (5) dia lebih mapan; (6) dia lebih perhatian; (7) dia lebih kaya; (8) dia/saya sudah hamil/menghamili; (9) dia/saya sudah dijodohkan; (10) dia/saya sudah ditunangankan; (11) dia/saya terpaksa (untuk alasan apa saja); dan (12) dia/saya dijebak/terjebak).

Mereka yang berkhianat dan mereka yang dikhinati, atau dengan kata lain, mereka yang menyakiti dan mereka yang tersakiti adalah fakta yang menjadi catatan pemikiran kita untuk menafsirkan ada latar dari peristiwa tersebut. Namun, saya coba mengkondisikan diri saya untuk turut merasakan “hati yang hancur” atau “hati yang tersakiti” karena pengkhianatan “CINTA”.

Hati memang tidak berbuat dari semen, kayu, batu, kaca, atau plastik. Hati adalah sebuah totalitas tubuh manusia di mana ketika hati tersakiti, maka seluruh tubuh  ikut merasakan sakit tersebut. Ketika hati dirasakan hancur (tersakiti), tak dapat dibayangkan bagaimana rasa sakit itu didefinisikan. Memang, hati yang hancur atau tersakiti tak dapat dibandingkan dengan ketika durian jatuh di kepala kita. Lain sakitnya, lain rasanya, lain kasusnya, lain pelakunya.

Mereka yang tersakiti karena “CINTA” tentu memiliki sejumlah alasan untuk hancur hati atau sakit hati. Kemarahan, dendam, jengkel, emosi meledak-ledak, lepas kendali, pikiran panas, balas dendam, hilang ingatan, stress berat, adalah implikasi dari hancur hati karena “CINTA”. Ketika mereka yang tersakiti karena “CINTA” baik laki-laki maupun perempuan dapat mengontrol diri, maka mereka sudah dapat pasrah dan memiliki pemikiran ke depan untuk menerima kenyataan dan bergerak untuk secara perlahan melupakan gundah gulana dan sakit hati akibat pengkhianatan.

Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa mereka yang mengalami pengkhianatan (tersakiti) mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara dan salah satunya adalah “BUNUH DIRI”. Bunuh diri—dalam anggapan mereka—adalah sebuah langkah terakhir untuk membunuh rasa tersakiti dan hati yang hancur. Dengan kondisi mati, tentu tidak ada lagi rasa luka dalam hati. Ini sudah berakhir. Begitu kira-kira keputusan terakhirnya.

Bagi mereka yang tidak memilih jalan bunuh diri—dapat mengontrol diri—dan memandang bahwa masih ada harapan dan kehidupan di masa mendatang, adalah mereka yang masih dapat menahan diri dan memaksa untuk merangkul kepingan-kepingan rasa hati yang sakit dan hancur itu. Mereka berusaha untuk sabar, pasrah, dan berkomitmen. Itulah hiburan mereka.

Tersakiti karena “CINTA” bukanlah hal yang diinginkan oleh seseorang. Namun peristiwa tersebut dapat berpeluang terjadi bagi mereka yang sedang menjalin cinta, berpacaran, dan akan bertunangan. Faktanya ada yang berpacaran dengan seseorang tetapi akhirnya menikah dengan orang lain, padahal masih terasa segar suasana hati mereka dengan “CINTA” yang selama ini dipupuk dan dipetik untuk dibagikan satu sama lain.

Tapi sudahlah Pak Stenly. Anda tidak mengerti dan memahami hati mereka yang hancur dan tersakiti. Pak Stenly tidak perlu protes. Cukup mengerti saja apa yang mereka alami. Ya, memang saya tidak punya hak untuk protes. Memang saya tidak mengerti apa yang mereka alami. Akan tetapi, apa yang hendak saya paparkan dalam tulisan ini setidaknya mewakili atau menjawab kebutuhan, perasaan, suasana hati dari mereka yang hancur lebur karena “CINTA”.

Di balik “CINTA” ada banyak peristiwa terjadi. Di dalam “CINTA”, ada proses pendewasaan, proses pembacaan karakter dan sifat dari masing-masing pelaku pacaran, proses saling mengenal dan saling memahami, proses saling pengertian, proses menunjukkan kemampuan dan kelebihan diri, dan proses lainnya. Di luar “CINTA” ada pengkhianatan terjadi. “CINTA” yang dekat dan jauh melibatkan emosi dan perasaan untuk menuangkan rasa rindu di dalam gelas-gelar kebahagiaan agar dapat dinikmati bersama.

Namun, pada akhirnya “CINTA” yang sejati dan “CINTA” yang tulus adalah milik dari mereka yang berkomitmen, setia, dan saling melengkapi dari berbagai perbedaan yang ada. Kalau begitu, apa definisi “CINTA” menurut Pak Stenly? “CINTA” itu adalah: “Cukupkan Impianmu dan Naimkan Tujuan Akhirmu” [Naim berarti nikmat, nyaman, senang]. Itu jika didefinisikan berdasarkan huruf per huruf.

Jika ingin mendapatkan gambaran yang lebih soal “CINTA”, saya perlu menjelaskan sedikit di sini. Ada berbagai definisi “cinta” – semuanya bergantung pada apa yang pernah dialami oleh seseorang atau bagaimana seseorang itu menilai kisah cinta dari sesamanya. Biasanya, kita mendefinisikan cinta sebagai suatu perasaan [suka – sayang] terhadap seseorang dan disertai dengan ungkapan cinta, tindakan cinta dan perhatian cinta. Semuanya berawal dari suatu pertemuan tatap muka atau dengan cara yang lain, lalu kita menjadi tertarik, suka, senang, simpati, kagum dan terpesona dengannya.

Cinta adalah suatu ketertarikan yang kuat terhadap seseorang dengan latar belakang yang beragam – tergantung dari masing-masing orang yang merasakannya

Cinta adalah perasaan suka sesaat – jika tidak disertai dengan penyelidikan terhadap pribadi yang disukai – dan kemudian menjadi suatu perasaan yang kuat lalu menghasilkan cinta yang sejati

Cinta adalah bentuk pembuktian akan jati diri kita, dan kemampuan kita untuk mencintai seseorang meskipun belum sepenuhnya dibuktikan

Cinta adalah suatu tindakan amoral bagi orang yang terbiasa dengan tindakan amoral

Cinta adalah bentuk rasa penasaran terhadap seseorang ketika baru saja melihatnya lalu tiba-tiba menghilang

Cinta adalah bentuk pertanggungjawaban sikap seseorang kepada orang yang disukai; sebagai rasa kesetiaan dan kejujuran dalam membina suatu hubungan; sebagai suatu keputusan yang terburu-buru dalam menentukan pilihan seseorang – ini disebut dengan cinta prematur

Cinta adalah kekuatan perasaan untuk menyayangi dan mengasihi orang yang kita cintai dan berusaha untuk dapat dibuktikannya secara terus-menerus; sebagai tindakan keterpaksaan dikarenakan situasi dan kondisinya; sebagai suatu perasaan suka karena didasari pada hawa nafsu seks

Dalam cinta, penyesalan adalah bagian di dalamnya, atau bisa merupakan dampak dari sebuah cinta. Sakit hati, kecewa, cemburu, putus asa, marah, geram, menangis, tidak mau mengampuni adalah juga merupakan serangkaian dampak dari cinta. Jadi, memaknai cinta bergantung pada dampak yang dirasakan atau dialami oleh seseorang, terlepas dari dampak positif atau negatif – makna cinta bergantung padanya

Memang cinta menghadirkan berbagai kerumitan dan kesulitan tersendiri. Ada yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang ia kagumi, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Cinta itu unik. Cinta itu murni. Cinta itu sifatnya mengubah. Cinta itu sifatnya mencerdaskan. Berusahalah untuk tetap setia terhadap pilihan cinta kita – dan kita akan tahu kemudian, setelah melewati semua tantangan, apa artinya “cinta sejati”

Cinta yang pantas dinikmati adalah cinta yang “memberi”. Memberi sesuatu untuk cinta ada batasannya. Batasan itu adalah batasan moral, hukum dan kebenaran. Moral, berkenaan dengan aspek seksualitas yang semestinya; hukum, berkenaan aspek peraturan yang mengikatnya dan kebenaran adalah pengontrol semuanya apakah sudah sesuai dengan “tindakan yang benar” tanpa menyalahi aturan yang ada.

Pada prinsipnya, manusia memiliki cinta – terlepas dari murni tidaknya cinta itu. Cinta memang menghadirkan beragam makna, dampak dan tujuan akhir dan dengannya banyak kisah cinta yang menginspirasi banyak orang, banyak kisah yang membuat orang lain sedih, geram, marah, kecewa, memfitnah, membunuh, cemburu dan lain-lain. Begitu beragamnya cinta itu sehingga sulit bagi kita untuk dapat menilai dengan cermat apa yang ada di balik cinta itu. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak cinta yang putus di tengah jalan. Mencoba bertahan – tapi karena keegoisan dan kecemburuan, juga pengkhianatan cinta dan kesakithatian terhadapnya, membuat semua berakhir dengan berbagai situasi dan kondisi

Kita semestinya berbuat baik terhadap kekasih kita – menjaganya sebaik mungkin. Menjalaninya pun harus dengan penuh pemahaman yang matang tentang apa itu cinta, yang dengannya, setiap orang dapat memenangkan semua tantangan cinta ketika ia dan kekasihnya bertemu dalam suatu ikatan yang khusus.

Cinta perlu dimaknai sebagaimana ia harus dimaknai dengan makna yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut harus dinilai dari perspektif yang jujur dan setia. Memaknai cinta perlu bijaksana yang cukup, bahkan pula dibutuhkan suatu pengalaman berharga. Artinya, pengalaman bisa dijadikan pedoman untuk memaknai cinta itu dan selalu tidak mengulang kesalahan yang sama dan mengulang kebaikan yang sama. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam mempertahankan cinta – kemudian tindakan tersebut harus dilandasi dengan cinta dan kasih yang murni. Murni tidaknya bersumber dari hati dan pikiran kita masing-masing. Cara-cara untuk mendapatkan cinta juga bersumber dari hati dan pikiran kita. Tak banyak yang dapat dilakukan jika kita tidak mempunyai kemamuan yang tinggi untuk menggapai dan menggenggam cinta itu erat-erat

Setiap pasangan memiliki berbagai kenangan manis dan pahit. Keduanya berdiri berdampingan dengan cinta. Yang manis menjadikan kita bahagia; yang pahit menjadikan kita sakit hati, marah dan sedih.

Tak jadi soal, seberapa banyak kita mendapatkan kenangan yang manis dan berbuahkan kebahagiaan, tak jadi soal seberapa banyak kita mendapatkan kenangan pahit dan berbuahkan perpisahan, air mata, sakit hati dan kebencian – yang paling penting adalah: menjalani cinta dengan hati yang bersyukur dan merasa puas dengan apa yang ada, tetap setia pada pasangan kita dan menghargainya.

Mereka yang tersakiti oleh “CINTA” mungkin perlu menyediakan waktu untuk memaknai cinta. Memaknai cinta biasanya didasari pada pengalaman pribadi. Memaknai cinta, memungkinkan kita dapat berkiprah dalam cinta kasih yang murni, menghasilkan tingkat kesadaran dan penghargaan terhadap cinta itu sendiri, dan berdampak pada seberapa banyak kita memberi perhatian, menolong, menopang, mengasihi, mengampuni, mencari solusi, bersikap bijak hati, bertindak sesuai norma etis. Yakinlah, segala sesuatu dapat kita nikmati dalam terang kasih dan cinta Tuhan. Milikilah “CINTA” sejati dan saling mengasihi di antara kedua pasangan.

Semoga, mereka yang tersakiti karena cinta yang berdampak pada hancur hati dan sakit hati, dapat memberi diri untuk sabar dan pasrah serta memaknai kejadian pengkhianatan sebagai langkah awal memulai langkah baru menapaki “CINTA” yang sedang menunggu Anda di tempat pemberhentian “BUS CINTA” berikutnya.

Salam

Sumber Gambar: https://i.pinimg.com/originals/19/a7/4e/19a74e003c75c6c5822f559499f9d716.jpg

TRITUGAS ORANG KRISTEN

Menjadi Kristen tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai hal akan dialami, entah baik, entah buruk. Di satu sisi, menjadi Kristen adalah sebuah “gaya hidup kudus, mengasihi, mengampuni, peduli, dan berkorban bagi orang lain.” Ketika orang Kristen tidak menampakkan kelima hal tersebut, maka nilai kekristenannya tidaklah memenuhi syarat untuk menjadi pengikut Yesus Kristus yang sejati, sungguh-sungguh, dan setia. Dalam terapannya, kelima hal tersebut telah menjadi bagian dari salah satu dari tiga tugas orang Kristen, yang akan saya paparkan berikut ini.

Untuk melihat hal-hal substansial dalam hidup dan perilaku Kristen, saya mencatat ada tiga hal yang menjadi “TRITUGAS” orang Kristen. Tiga tugas tersebut adalah akumulasi dari semua inti iman Kristen. Berikut pemaparannya.

PENGERTIAN

Pengertian mencakup mengerti kehendak Tuhan, perintah, hukuman, dan larangan. Apa yang kita lakukan seyogianya berangkat dari pengertian yang benar tentang Tuhan dan kehendak-Nya. Tugas ini adalah tugas yang penting mengingat bahwa semua tindak-tanduk orang Kristen, berangkat dari pengertiannya tentang Tuhan dan kehendak, perintah, hukuman, dan larangan-Nya. Baik buruknya perilaku Kristen, bergantung pada pengertiannya. Pengertian berimplikasi pada dua hal yaitu meloloskan pengertian yang salah untuk melakukan dosa (memuaskan hawa nafsu), dan menjaga diri dari tindakan-tindakan salah (berlawanan dengan kehendak Tuhan).

PEMBACAAN (membaca)

Pembacaan mencakup pembacaan Kitab Suci, pembacaan diri (pribadi) Yesus Kristus, kesaksian orang-orang kudus, kehidupan orang lain, kehidupan diri sendiri, dan buku-buku pelajaran. Pembacaan Kitab Suci melatih kita untuk memahami firman-Nya dan menerapkan prinsip-prinsip di dalamnya, pada perjalanan kehidupan kita. Membaca pribadi Yesus Kristus berarti kita belajar dan mengikuti teladan ketaatan Yesus. Di samping itu, kita dapat belajar dari pengajaran-pengajaran Yesus tentang sikap hidup di hadapan Allah, dan sikap hidup di hadapan manusia yang selaras dengan kehendak Allah.

Membaca kesaksian orang-orang kudus memberi kita harapan dan kekuatan untuk berjalan bersama Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kudus. Kita belajar dari sikap hidup mereka, pengajaran dan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus. Sikap hidup belajar dari orang-orang kudus adalah hal yang sangat baik dan membangun iman kita. Kita mengikuti teladan mereka karena mereka telah mengikitu teladan Yesus Kristus dan setia kepada-Nya hingga akhir hayat mereka.

Membaca kehidupan orang lain juga perlu sebab dengannya kita dapat belajar memahami dan menerapkannya dalam kehidupan kita, entah sebagai proses pembelajaran, atau sebuah sikap kehati-hatian untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang orang lain lakukan. Kita dapat membuat demarkasi di sini. Orang lain adalah ladang pembentukan diri kita, selain dari pada usaha untuk membentuk diri sendiri.

Membaca kehidupan diri sendiri merupakan tanggung jawab setiap orang. Diri kita bisa secara mandiri melakukan segala sesuatu, atau bergantung pada orang lain ketika melakukan sesuatu. Diri sendiri perlu menyadari bahwa ada tangung jawab dan tugas yang menjadi “daya tarik” untuk maju dan mandiri. Kurang paham dengan tugas pribadi menjadikan kita pincang dan tak berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Tugas kita adalah menyadari diri dan tugas yang melekat pada diri kita.

Membaca buku-buku pelajaran adalah hal juga penting. Meski tidak semua orang suka membaca buku-buku tetapi ada manfaat yang luar biasa bagi mereka yang suka dan tertarik membaca buku. Kita bisa mengembangkan potensi pikiran, perilaku, dan komunikasi dengan membaca buku-buku pelajaran. Ada korelasi antara kemajuan berpikir, berkata, dan bertindak dengan kesukaan dan proses membaca buku-buku.

Pada konteks teologi, mereka yang tertarik dan serius membaca buku-buku teologi (tentang Allah dan manusia) akan memberi nilai tambah pengetahuan dan wawasan dalam memperlihatkan jati diri—yang tentunya harus sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Ada buku-buku yang sifatnya membangun iman dan mendorong penggunaan talenta dan potensi yang direalisasikan dalam sikap hidup sehari-hari.

Pembacaan akan kehidupan kita dan orang lain, Kitab Suci dan Yesus Kristus, memberikan keuntungan yang tiada taranya. Kita akan menikmati kebahagiaan yang diberikan Tuhan. Meski dunia seringkali menawarkan kebahagiaan, tetapi mereka yang paham tentang bagaimana membaca sesuatu, akan terhindar dari segala kenikmatan dan kebahagiaan yang dunia yang sifatnya menjerumuskan dan menjadikan kita berdosa di hadapan Tuhan.

PENGUNGKAPAN (realiasasi)

Pengungkapan mencakup kesaksian iman, hidup bersyukur, bertahan dalam pergumulan, bersukacita, hidup kudus, mengasihi, mengampuni, peduli, dan berkorban bagi orang lain. Pengungkapan adalah realisasi dari PENGERTIAN dan PEMBACAAN. Setiap orang yang beriman tak bisa tidak menampilkan imannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Tuhan. Dalam segala hal, kita harus bersyukur kepada Tuhan, baik suka maupun duka, ungkapan syukur tetap disuarakan kepada-Nya.

Pergumulan dalam hidup tentu ada dan mungkin akan menguji diri kita. Mereka yang percaya kepada-Nya akan bertahan dalam menghadapi pergumulan; mereka meyakini pula bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan menghadapinya. Jika Tuhan menguji kita, ia akan memberikan kekuatan dan keberanian untuk menghadapinya. Tuhan punya rencana tersendiri. Ia ingin kita hidup dalam ketekunan dan kepasrahan kepada-Nya dalam segala hal.

Bersukacita adalah sahabat dari bersyukur. Di dalam Tuhan adalah sukacita. Meskipun yang diinginkan tidak terjadi, tetaplah bersukacita.

Hidup kudus adalah upaya menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Yang Tuhan dikehendaki adalah umat-Nya hidup kudus, tidak melakukan dosa-dosa yang dibenci Tuhan, dan menjauhkan diri dari segala kejahatan dan kecemaran. Mengasihi adalah realisasi dari iman yang sesungguhnya. Tuhan telah mengasihi kita maka kita pun harus saling mengasihi.

Mengampuni adalah realisasi dari pengampunan Tuhan kepada kita, manusia yang berdosa. Tuhan telah mengampuni kita, maka kita pun harus saling mengampuni. Sikap peduli terhadap sesama dibarengi dengan sikap berkorban bagi orang lain. Tak ada kasih yang tanpa pengorbanan dan kepedulian. Jika kita peduli, maka kita telah menunjukkan kasih yang tulus dan murni. Itulah tugas yang kita terima dari Tuhan Yesus Kristus.

Melakukan Tritugas tentu ada tantangan. PENGERTIAN, PEMBACAAN, dan PENGUNGKAPAN harus menjadi “pakaian baru” yang dikenakan ke mana pun kita pergi. Hambatan dan tantangan akan selalu ada. Kita melihat bahwa dosa-dosa yang terjadi diakibatkan karena “mata [penglihatan] dan telinga [pendengaran]” kita tertuju pada kenikmatan dosa yang jelas-jelas bisa menjerumuskan dan membelenggu kita.

Kita perlu menguasai diri dari jeratan dosa-dosa. Lingkungan yang buruk bisa mempengaruhi kita; pengajaran-pengajaran sesat bisa menggoda kita untuk mengikutinya dan hidup kita dihantui rasa bersalah dan menjadi penyesat. Pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan baik kita.

AKHIRNYA…

Ketika menerapkan Tritugas (menjadikan nyata), kita membutuhkan Tuhan untuk menguatkan, menopang, dan memberkati, agar Tritugas tersebut dapat terealisasi secara baik. Tak ada perjuangan tanpa hambatan dan tantangan. Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana kita bersandar dan berhadap kepada Tuhan untuk dapat menyelesaikan sampai tuntas Tritugas tersebut, yang dengannya kita dapat menikmati dan merasakan sukacita dan kebahagiaan dari Tuhan—hati kita pun dihibur-Nya; iman kita pun dikuatkan; dan perbuatan-perbuatan kita dibalas-Nya dengan segala kebaikan.

Perjuangan untuk merealisasikan Tritugas bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan semangat dan keyakinan bahwa Tuhan yang memampukan kita mencapai apa yang Dia kehendaki. Dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Dia yang menguji kita, Dia juga yang menguatkan kita untuk menghadapinya. Oleh Dia kita sanggup melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya; dan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya, kita berikan kepada-Nya: memuliakan Dia dan menyenangkan hati-Nya.

Salam Bae.

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/p90szoOBYgk (Cassidy Dickens. @cassidykdickens [Graphic designer at Workshop])

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai