
Dunia berpikir adalah dunia di mana manusia menuangkan berbagai hal yang dipikirkan, dirasakan, diamati, diselidiki, diteliti, disiasati, dan dialami. Semua hal ini dapat dengan mudah dipublikasikan, terutama melalui media sosial. Media sosial yang cukup populer adalah “Facebook”, di samping WhatsApp, Instagram, BBM, Messenger, Twoo, Twitter, Zorpia, dan lain sebagainya. Seseorang dengan “sesuka hati” mempublikasikan—maklum, namanya juga media sosial—sebuah media yang dapat dilihat banyak orang. Namun, apakah semua yang dipublis memiliki batasan-batasan?
Akhir-akhir ini, publikasi segala sesuatu melalui media Facebook dinilai cukup masiv. Publikasi tersebut sudah tidak lagi memiliki batasan kecuali otoritas Facebook telah membatasinya. Namun, karena setiap orang memiliki potensi berpikir yang independen maka apa yang dipublikasikan tidak dapat diganggu gugat. Bercermin dari hal ini, sebagai pengguna Facebook, saya meneliti dan menyimak apa saja sebenarnya yang dipublikasikan. Seperti yang saya katakan bahwa setiap orang memiliki potensi berpikir yang independen, namun independensi berpikir sering dipengaruhi oleh aspek lain di luar pikiran seseorang seperti pengaruh pikiran orang lain, pengaruh publikasi orang lain, pengaruh emosional orang lain, pengaruh persaingan. Sedangkan dari aspek pribadi, publikasi independen pikiran yang tertuang dalam Facebook dilatari oleh berbagai tipe (akan saya jelaskan kemudian).
Berbagai kasus terjadi akibat kurang cerdasnya menggunakan media Facebook. Pemerkosaan, penculikan, pembunuhan, penganiayaan, perang antar agama, kisruh politik, pelecehan agama, pembunuhan karakter, caci maki, fitnah, ujuran kebencian, dan sebagianya, terjadi karena penggunaan media sosial Facebook yang tidak bijaksana dan tidak cerdas. Media sosial bisa berdampak positif tetapi sekaligus dampak negatif mengikutinya. Memang kita tidak bermaksud buruk, tetapi orang lain yang menafsirkan apa yang dipublikasikan dapat saja menganggapnya sebagai perbuatan buruk terhadapnya. Apalagi status yang menyudutkan orang lain yang belum tentu benar dan sesuai fakta. Fitnah menjadi makanan sehari-hari. Siapa pelaku fitnah? Pastinya adalah mereka yang memiliki karakter yang tidak beres, mereka yang dibayar untuk itu, mereka yang pernah tersakiti, dan lain sebagianya.
Dari penelitian media sosial Facebook yang saya lakukan sejak tahun 2015, saya merangkum berbagai pandangan umum dan tipe dari pengguna Facebook. Untuk penjelasan tipe pengguna Facebook, tentu terkait dengan pandangan umum tentang Facebook di mana setiap orang dapat mempublikasikan sesuatu.
Pandangan umum soal media sosial (tertuang dalam bentuk publikasinya):
Mempublikasikan iklan (jualan berbagai jenis barang dan jasa)
Mempublikasikan diri sendiri (foto-foto kegiatan)
Mempublikasikan tulisan-tulisan kritis dan satiris terkait isu sosial, ekonomi, agama, kemanusiaan, negara, pemerintahan, konflik global, dan sebagainya
Mempublikasikan karya-karya orang lain (buku, artikel, dan sebagainya)
Mempublikasikan karya-karya sendiri (buku, artikel, dan sebagainya)
Mempublikasikan kegiatan terkini (kuliah, berangkat ke tempat lain [naik kapal, perahu, pesawat, motor, mobil, dan sebagainya], olahraga, ceramah, diskusi, seminar, lokakarya, hari raya keagamaan, tamasya dan sebagainya)
Mempublikasikan kegiatan yang telah lampau
Berkomunikasi dengan sahabat dan orang lain (membicarakan soal kabar terkini, tinggal di mana, kerja di mana, sudah berkeluarga atau belum, sudah punya pacar atau belum, sudah menikah atau belum, siapa yang sudah meninggal, siapa yang sudah berhasil, dan sebagainya)
Mempublikasikan tindak kekerasan terhadap sesama, pembunuhan, pelecehen seksual, konten pornografi, ucapan-ucapan ancaman
Mempublikasikan kemarahan terhadap sesama, keluarga, anak, pimpinan
Ajang pameran kegiatan, diri sendiri, organisasi, atau hewan-hewan peliharaan dan sebagainya
Ajang curhat (kadang curhat kepada Tuhan, curhat kepada temannya, curhat kepada siapa saja yang mau melihat statusnya)
Ajang menjelekkan orang lain, suami, istri, anak, tetangga, dan organisasi atau lembaga lainnya
Suka cari perhatian (membuat status yang menggantung, bertanya yang tidak jelas, foto sehabis mandi, pakai bedak dan lipstik, dan sebagainya)
Pamer keindahan bagian tubuh tertentu
Ajang memuaskan hawa nafsu (mempublis gambar-gambar senonoh)
Ajang penipuan (mempublikasikan sesuatu untuk tujuan menipu)
Ajang publikasi kejahatan (menyombongkan diri dengan tindakn kejahatan yang dilakukan secara pribadi atau komunal)
Ajang perkenalan (memperkenalkan diri)
Ajang cari pacar (jodoh)
Ajang berkelahi lewat kata-kata (ancam-mengancam)
Ajang mencari dukungan (politik, pilkada, organisasi, dan dalam situasi konflik)
Promosi program dan kegiatan yang sedang berjalan
Ajang mencari popularitas diri
Ajang untuk mengukur berapa jumlah orang yang LIKE statusnya
Ajang berdialog, berdiskusi dan berdebat
Ajang berbagi informasi, berita duka, berita kelahiran, dan sebagainya
Dari berbagai pandangan umum di atas yang tertuang dalam bentuk publikasinya, semuanya dilakukan dalam bentuk: kata, foto/gambar, situs/website/link, video, audio (tanpa tampilan menarik) dan simbol-simbol tertentu.
Berdasarkan pandangan umum di atas, maka saya mengelompokkannya ke dalam berbagai “tipe psikologi” Facebook. Pengelompokkan ini akan berimplikasi pada dua hal yakni implikasi positif dan implikasi negatif. Dari sini kita dapat belajar memahami karakter kita sendiri dan karakter orang lain (setidaknya asesmen terhadap pengguna Facebook terbuka lebar, maklum, namanya juga media sosial, pasti melibatkan banyak orang, pengguna, penilai, dan pengamat). Berbagai tipe psikologi Facebook saya sebutkan berikut ini:
TIPE MARKETING. Tipe jenis ini adalah mempublikasikan hal-hal yang berbau ekonomis dan keuntungan. Segala sesuatu dipasarkan asalkan menguntungkan dan memberi pemasukan. Lumayan, untuk bertahan hidup dan memperjuangkan hidup.
TIPE BERBAGI. Tipe jenis ini adalah tipe yang selalu membagikan segala sesuatu terkait: Cerita Petualangan, Cerita Anak yang lucu (entah anak sendiri atau anak orang lain), Cerita Keluarga, Cerita Kesaksian hidup (pribadi, keluarga, dan orang lain), Ayat-ayat Alkitab, Artikel (kehidupan, kesehatan, agama, dan sebagainya, entah menyejukkan maupun yang menyesakkan).
TIPE KURANG KERJAAN. Tipe jenis ini adalah tipe yang selalu berorientasi pada pola meramaikan Facebook. Dari pada sepi, mendingan diramaikan dengan publikasi-publikasi dalam bentuk-bentuk yang disukai.
TIPE HANDPHONE BARU. Tipe jenis ini adalah tipe yang oleh karena memiliki handphone (smarphone) yang baru, maka niat mempublikasikan segala sesuatu tak terbendung lagi. Apa saja dipublikasikan, entah kenang-kenangan, kegiatan, dan sebagainya.
TIPE MEKANIS. Tipe jenis ini tergolong unik dan kadang dinilai membosankan. Tipe ini dikatakan mekanis karena pikiran dan hatinya tertuju kepada segala sesuatu itu harus dipublikasikan. Ketika memasak, dipublis. Ketika makan dipublis. Sehabis makan dipublis. Mau mandi dipublis. Setelah mandi dipublis. Berangkat kerja dipublis. Macet di jalan dipublis. Sampai di tempat kerja, kantor, sekolah, dan sebagainya, dipublis. Sedang bekerja dipublis. Sedang mengajar dipublis. Sedang ujian dipublis. Sedang istirahat makan dipublis. Pulang kerja dipublis. Jalanan macet dipublis. Sampai di rumah dalam keadaan letih dipublis. Mau mandi malam dipublis. Makan malam dipublis. Sebelum “bobo” [tidur] dipublis. Tempat tidur dipublis. Bangun pagi dipublis. Mandi pagi dipublis. Sarapan pagi dipublis, meski hanya makan “IndoeMie” dan rekan-rekannya satu kelas, seperti “SuperMIe, “SariMie”, dan “PopMie”. Minum teh/kopi/susu/air putih dipublis. Berangkat kerja/sekolah dipublis, dan seterusnya, dan setiap harinya.
Segala jenis kegiatan selalu dipublis. Jika dalam seminggu, segala sesuatu dipublis, maka pengguna Facebook yang lain sudah dapat mengetahui, jadwal kehidupan dan jadwal pekerjaan seseorang, karena ternyata Facebook menjadi “media mencatat kegiatan sehari-hari” tanpa ada batasan privasi yang dapat saja dibaca orang lain.
Dalam kasus yang lain, biasanya tipe ini, misalnya mempublikasikan foto dalam jumlah yang banyak tetapi foto yang sama (gayanya, senyumnya dan sebagainya) dalam jumlah yang banyak pula. Foto dengan gaya yang sama—entah ada motif apa di dalamnya—kadang atau selalu membuat orang menilai bahwa “lain kali kalau publis foto, dipilih dulu mana yang bagus. Jangan semua foto yang sama dipublis. Bosan lihatnya”. Kira-kira itulah curahan hati para penilai foto-foto yang dipublis dalam bentuk yang sama.
TIPE CURHAT. Tipe jenis ini adalah tipe yang suka mencurahkan isi hatinya. Pokoknya segala kejadian yang terjadi di dunia ini, dipublikasikan. Kaki kesenggol batu, dipublis. Kaki kena knalpot dipublis. Mata merah dipublis. Badan lemas dipublis. Tangan kena air panas dipublis. Terbaring di rumah sakit dipublis. Terbaring di jalanan dipublis. Pantat tumbuh bisul dipublis. Kaki bisulan, dipublis. Anak sakit dipublis (“cepat sembuh ya anak kesayangan mami….”). Konflik keluarga dipublis. Salah paham dengan teman atau tetangga dipublis. Ada masalah dipublis. Kadang curhatnya ke Tuhan, kadang pula ke teman[-teman] lama, kadang ke siapa saja yang perhatian kepada curhatannya di Facebook.
TIPE SOK JAGOAN. Tipe jenis ini adalah tipe yang “berani” sekaligus “konyol”. Penggunanya menggunakan kata-kata, gambar-gambar, atau video untuk menunjukkan kebolehannya, kejagoannya, dan agamanya. Kadang, tipe model ini beraninya keroyokan, dianggap karena mayoritas, dianggap hebat karena banyak dukungan dan sebagainya. Tipe ini bisa terjadi di kalangan geng, anak sekolahan, ormas-ormas yang tidak jelas, suku-suku tertentu, kelompok atau organisasi tertentu. Tipe ini bisa menimbulkan gesekan dan konflik sosial.
TIPE CAPER (CARI PERHATIAN). Tipe jenis ini adalah tipe yang lucu dan kadang tidak jelas. Biasanya suka mempublikasikan pribadinya yang sedang dirundung masalah, sedang sakit flu, batuk, dan pilek. Atau dalam kondisi senang dan ingin orang lain tahu bahwa ia sedang gembira. Setelah mandi dipublis. Setelah pake bedak dan lipstik dipublis. Sedang berkhotbah di hari Minggu dipublis. Melayani di hari Minggu dipublis. Sebelum berkhotbah “selfie dulu” lalu dipublis, dan hal-hal lain yang terjadi pada hari itu juga.
TIPE PAMER. Tipe ini beda-beda tipis dengan tipe cari perhatian. Ada yang pamer sepatu baru, baju baru, pacar baru, motor baru, mobil baru, cincin batu akik maupun batu kali. Pamer di sini dalam arti bahwa “substansi” dari publikasinya sangat kelihatan (mencolok). Banyak hal yang menjadi ajang pamer di media sosial. Bahkan belakangan, pamer agama pun turut meramaikan media sosial Facebook.
TIPE KRITIS (kritik-kritik terhadap kesenjangan sosial, pemerintah, diskriminasi, dan sebagainya). Tipe ini sering menunjukkan pemikirannya (dalam bentuk tulisan dan atau gambar disertai penjelasan) dan kritik terhadap hal-hal yang dinilai menyimpang dan menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan.
TIPE INFORMATIF. Tipe ini suka berbagi informasi terkait dengan berbagai hal.
TIPE MUSIMAN. Tipe ini muncul sesuai dengan musimnya. Jarang muncul di Facebook. Jika musim hujan, dia “nongol”.
TIPE SITUASIONAL. Tipe ini hampir sama dengan tipe musiman. Namun tipe bisa muncul lebih cepat dari musiman. Ketika situasi berubah, pengguna Facebook tipe ini langsung muncul.
TIPE GAYA-GAYAAN. Tipe ini mirip dengan tipe pamer dan caper. Suka bergaya di mana-mana dan dipublis. Gaya di tempat tidur, di kamar mandi, di ruang tamu, di wastafel, di toilet, di atap rumah, di pinggir pantai, dan sebagainya. Tipe ini beranggapan bahwa “saya ingin berbagi cerita dan pengalaman”. Tapi jika keseringan mempublikasikan segala sesuatu yang bermotif “gaya” maka ia termasuk pada tipe ini.
TIPE PENIPUAN. Tipe ini jelas sekali motifnya. Namun sering orang-orang tertipu karenanya. Substansi dasarnya adalah menipu dan meraup keuntungan, jika bermotif jualan dan pemasaran; ingin memperkosa dan mencelakai perempuan, jika motifnya pasang foto ganteng dan curi perhatian, berkenalan, memuji-muji perempuan, buat janji, dan “sikat” jika sudah ketemu.
TIPE ESKATOLOGIS. Tipe ini memiliki pemikiran ke masa depan. Apa yang dipublikasikan adalah cerminan dari buah pemikirannya tentang kegelisahan, dan keresahan, bahkan antisipasi terhadap sesuatu yang bisa menjadi ancaman. Dengan berbagai publikasi, tipe ini berharap bahwa para pembaca dapat memahami bahwa di masa depan perlu kehati-hatian dan kesiapan. Jika tidak, bencana, situasi yang tidak diinginkan dapat terjadi.
Dari berbagai tipe pengguna Facebook di atas, saya menutup deskripsi ini dengan fungsi media sosial dan implikasinya. Fungsi (positif dan negatif) Facebook: 1) Mempengaruhi orang lain dengan kata-kata bijaksana maupun dengan kata-kata hujatan, caci maki, dan provokatif; 2) Mempengaruhi orang lain dengan tulisan atau artikel; 3) Mempengaruhi orang lain dengan foto-foto/gambar-gambar tentang kehidupan atau kepedulian atau kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan (penganiayaan); 4) Mempengaruhi orang lain dengan kata-kata motivasi; 5) Mempengaruhi orang lain dengan rasa kepedulian dan rasa kebencian; dan 6) Mempengaruhi orang lain dengan foto-foto lucu (menghibur) atau foto-foto sindiran, hinaan, dan perendahan martabat.
Implikasi Facebook terdiri atas implikasi positif dan negatif. Apa yang kita kira berimplikasi positif, tetapi bisa juga sebaliknya. Apa yang kita publikasikan bisa saja menurut kita itu tidak membosankan, tetapi di sisi lainnya, membuat orang bosan melihat publikasi yang hanya itu-itu saja. Bisa saja menurut kita apa yang dipublis tidak menyinggung perasaan orang lain, tetapi dalam waktu bersamaan, hal itu dapat menyinggung perasaan orang lain. Intinya, kita perlu memahami “makna” dan “substansi” dari apa yang kita publikasikan, sebab yang melihat, menilai, dan mengomentari adalah masyarakat luas. Jika tidak mau dilihat, dinilai, dan dikomentari, maka buatlah Facebook sendiri yang tidak ada teman sama sekali.
Jika demikian, bijaksanalah dalam menggunakan Facebook. Tak ada salahnya mempublikasikan segala sesuatu karena itu bersifat pribadi. Namun, bentuk-bentuk kejahatan dan pembunuhan serta kesalahpahaman dapat terjadi melalui publikasi tersebut.
Sebagai penutup dari tulisan ini, saya hendak menyimpulkan lima hal implikasi dari menggunakan Facebook. Pertama, menggunakan Facebook itu bersifat preokupi (memeras pikiran); kedua, menggunakan Facebook itu bersifat menghibur; ketiga, menggunakan Facebook itu bersifat prosaik (menjenuhkan, membosankan); keempat, menggunakan Facebook itu bersifat berbagi (sharing); dan kelima, menggunakan Facebook itu bersifat mempengaruhi.
Salam Facebook
Sumber Gambar:










