Setiap manusia mempunyai sahabat, entah sahabat fisik, benda, spiritual, atau pun binatang. Sahabat tersebut menjadi bagian dalam proses kehidupan, menunjang potensi, memberikan perhatian, kesenangan, kebahagiaan, kepuasaan, sukacita, menopang hidup kita, menolong dan peduli, dan lain sebagainya.
Riak-riak hidup mendatangkan rasa tersendiri bersama dengan sahabat[-sahabat]-nya. Bersama menjalin waktu demi waktu dan menyatukannya menjadikan satu kesatuan yang utuh, menggapai masa depan di dalam alur desahan nafas. Selama ada hidup yang diberikan Tuhan di dunia ini, kita dapat melakukan banyak hal, termasuk bersama sahabat-sahabat kita.
Sejatinya, pola hidup yang kita tunjukkan di ruang publik, menginsyaratkan sebuah pilihan kita sendiri, karakter, integritas, keburukan moral dan habit, kekurangmengertian dampak dari tindakan tertentu, kesombongan, hipokrisi, kepura-puraan, kualitas pikiran, relasi, dan kekuasaan, dan masih banyak lagi. Kita mungkin pernah dan sering mengisi ruang persahabatan dengan hal-hal tersebut sesuai konteks, kondisi, tujuan tertentu. Pada akhirnya, ada dampak yang ditimbulkannya, entah baik, entah buruk.
Kita menyelinap di sela-sela waktu luang, menghadirkan kekuatan dari sebuah persahabatan, kepedulian, dan saling menopang. Kesulitan-kesulitan yang muncul tak cukup kuat untuk melunturkan persahabatan. Bahkan, lebih dari itu, kita melihat sendiri bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran – demikian pernyataan Raja Salomo.
Teladan-teladan baik dan berkualitas yang hadir dalam bingkai persahabatan, sepatutnya mendapat tempat dalam hidup kita. Ternyata, persahabatan itu sendiri menciptakan kebahagiaan tersendiri; menghiasi setiap rasa, menaburkan benih-benih kasih; menguatkan identitas dan karakter kita; mengisi setiap ruang kosong; memberi makna khusus, dan terlebih mengikatkan kita pada sebuah ketulusan, kejujuran, dan kemurahan. Semuanya tak lepas dari campur tangan Sang Khalik.
Ada hal menarik yang kita simak dari hidup kita sendiri. Kita memiliki sahabat-sahabat yang peduli, yang seru dan menceriakan. Mereka hadir mengisi waktu-waktu kita, menawarkan berbagai “produk kepedulian” agar kita dapat menikmatinya secara bersama. Sahabat adalah pelangi yang menghiasi langit – tampak indah. Sahabat adalah hujan yang menyejukkan. Sahabat adalah matahari yang memberi kehangatan. Sahabat adalah air yang menghilangkan rasa dahaga. Sahabat adalah orang-orang yang keren.
Sahabat yang keren itu tidak melupakan kita saat kita ada dalam keadaan terpuruk atau titik terendah. Ia tidak lari meninggalkan kita, dan tidak datang saat hanya membutuhkan kita. Sahabat yang keren itu datang mengisi sesuatu dalam hidup kita dan berusaha mendorong serta mengembangkan potensi yang kita miliki. Ia tidak menjerumuskan kita ke dalam berbagai duka ataupun kecelakaan. Ia tidak menipu dan mencari keuntungan. Sahabat sejati itu terlihat sederhana dalam perkataan, tetapi memberi rasa dan nilai pada kehidupan kita.
Lalu apa makna persahabatan itu? Apakah hanya sebatas saling mendukung dan mendoakan? Atau lebih dari itu? Makna persahabatan adalah: melakukan sesuatu yang bertujuan untuk menghiasi hidup dengan benih-benih kasih, menunjukkan kepedulian dalam bentuk menguatkan identitas dan karakter, ketulusan, kejujuran, dan kemurahan. Makna tersebut mencakup totalitas hidup yang kita jalani.
Dari guliran waktu, kita terus bergumul dengan berbagai keadaan. Di situ Tuhan pun selalu hadir memberikan kekuatan, hikmat, dan topangan. Kita perlu bersyukur bahwa Tuhan mendidik dan membentuk kita dengan cara-Nya, termasuk Ia menyediakan kepada kita sahabat-sahabat yang luar biasa, peduli, dan siap menolong kita dalam kondisi yang terpuruk, berada di titik terendah.
Kita perlu tahu bahwa ketika persahabatan terjalin indah, kita didorong untuk terus mempertahankan siklus kasih yang Tuhan berikan. Dengan kasih Tuhan, kita dapat merasakan lawatan-Nya. Dengan kasih Tuhan, kita dapat berbagi kebaikan dengan sahabat-sahabat kita, menaburkan sukacita, kedamaian, dan kebenaran-Nya.
Kita hidup karena kasih-Nya. Demikian pula kita secara terbuka dan jujur untuk menyatakan kasih kepada yang lain, termasuk dalam persahabatan yang terjalin indah. Makna persahabatan menjadi sebuah fakta yang bernilai tinggi, sebab kita sendiri ikut berperan menjadi pribadi-pribadi yang baik yang berjalan dalam terang firman Tuhan.
Tak ada persahabatan yang sejati jika tidak dilandasi dengan kebenaran firman-Nya. Kita dibekali dengan hal-hal yang terbaik dari Tuhan, maka sedapat mungkin merealisasikannya dalam konteks persahabatan yang tanpa pamrih.
Entah kita dapat melewati atau tidak, tantangan kehidupan yang hadir dalam ruang dan waktu menyentuh, melukai, menyusahkan, menguatkan, mendorong, memaksa, menyesakkan, dan menyadarkan kita bahwa segala potensi yang ada pada kita, dapat tersalurkan sesuai konteksnya. Pada gilirannya, potensi itu tertuang, entah secara alami atau ajaib, setidaknya memberi rasa pada ruang-ruang pikiran kita tatkala kita berjuang untuk keluar dari tantangan kehidupan.
Ada fase di mana kita berada pada titik terendah dalam hidup. Saya rasa, setiap manusia yang memiliki daya juang untuk bertahan hidup dan mengembangkan hidup, bisa merasakan titik terendah itu. Ada yang berhasil bangkit dan melihat “titik balik”, berupaya semampunya untuk meyakinkan dirinya, orang-orang yang dikasihinya, atau bahkan musuhnya sekalipun, bahwa “titik balik” berpihak padanya.
Titik terendah dan titik balik adalah dua hal yang disediakan Tuhan kepada kita. Adam dan Hawa mengalami titik terendah, yaitu “kejatuhan dalam dosa”, dan mereka menemukan titik balik, yaitu menjalani kehidupan yang telah dikutuk Tuhan, di mana Tuhan tetap menyertai mereka hingga mereka beranak cucu. Titik balik adalah bukti bahwa Tuhan masih menyediakan jalan bagi kita untuk dilalui. Meski titik terendah dapat saja membuat kita hilang harapan, patah kemudi, dan melemahkan daya juang hidup, akan tetapi titik balik itu sendiri adalah sebuah kesempatan untuk kembali melihat Tuhan sebagai Sang Khalik, Pemilik dan Penolong kita, kemudian melihat pula diri kita yang telah dibekali Tuhan dengan segala potensi yang ada.
Musa pernah mengalami titik terendah, dan ia menyadari titik baliknya. Ia tetap dipelihara Tuhan hingga akhir hayatnya. Daud pernah mengalami titik terendah, yaitu saat mana ia mengambil istri Uria, Batsyeba, dan tidur dengannya. Ia kemudian menyadari bahwa titik balik itu adalah pemberian Tuhan sebagai kesempatan untuk mengakui dan bertobat dan dosa-dosanya.
Ada banyak konteks titik terendah dan titik balik dalam kehidupan manusia. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing. Berbagai kesempatan kita rasakan dan alami. Tetapi sekaligus juga berbagai tantangan kita hadapi. Pada tataran tertentu, fase-fase kehidupan mendorong dan menyadarkan kita bahwa “hidup tak selamanya berjalan seperti yang kita harapkan”. Ada orang yang terbiasa menipu, memalsukan dokumen, memfitnah, merencanakan sesuatu untuk mencari dan meraup banyak uang, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang; bahkan ia aman dan sentosa dengan perbuatan-perbuatan itu. Ia ingin – tentunya – agar perbuatan-perbuatannya tetap awet muda, tak pernah tua (baca: ketahuan), dan dapat menikmati segala keuntungannya.
Adakah titik terendah bagi orang tersebut? Tentu ada. Tetapi mengapa tak kunjung tiba? Belum waktunya! Kita harus melihat hal ini dalam pandangan Tuhan. Ia punya kesabaran yang tak tertandingi. Tetapi, sekali Ia bertindak dengan kuasa dan kedaulatan-Nya, semuanya pasti BERES, tak berkutik. Ada saatnya Ia memberikan kesempatan untuk menyadari dosa-dosa, ada saatnya Ia sabar dan memanggil untuk kembali pada-Nya. Jika berbagai kesempatan yang Tuhan berikan tak digubris (tak diindahkan), tak pula menyadarkannya, maka jalan satu-satunya adalah “memukul”. Tuhan memukul bukan seperti kita memukul. Pukulan-Nya tak ada lawan-Nya. Semuanya akan terlihat saat pukulan itu “turun dan meluncur cepat”. Kita terperanjat dibuat-Nya. Titik baliknya dari kondisi orang yang demikian hanya ada tiga: pertama: bertobat; kedua: mengalami sakit-penyakit; dan ketiga: kematian.
Masih ingat dengan kasus Yudas Iskariot? Bukankah ia bunuh diri dengan cara menggantung dirinya? Ia mengalami titik terendah saat melihat Yesus akan disalibkan, Yesus seolah-olah terdesak dan tiada harapan, sebab Ia akan segera dieksekusi mati. Ia kemudian berkhianat dan menjual Yesus. Itu adalah awal dari titik baliknya. Kemudian, kelanjutannya adalah ia mengembalikan uang hasil penjualan Sang Gurunya, dan pergi menggantung diri.
Saulus juga demikian. Ia adalah salah satu penganiaya murid-murid Kristus. Ia sendiri mengalami titik terendah: ia buta saat hendak berkobar-kobar membunuh pengikut Jalan Tuhan [Yesus]. Kemudian, ia mengalami titik balik, menjadi Rasul yang hebat, rela menderita demi Kristus Yesus hingga akhir hayatnya. Para rasul yang lainnya pun mengalami titik terendah – dalam arti positif karena mereka rela menderita dan mati demi Kristus – dan dalam kondisi demikian, mereka mengalami titik balik, meski maut di depan mati, mereka yakin bahwa titik balik itu adalah sebuah jalan masuk menuju kepada Yesus Kristus, agar dapat menerima janji-janji-Nya, serta kehidupan yang kekal di dalam Kerajaan Allah.
Titik terendah itu bervariasi. Titik ini mengindikasikan sebuah kondisi yang sulit, menyiksa, menyakitkan, menggelisahkan, menakutkan, kondisi yang membuat stress atau depresi, kondisi yang menyisahkan duka mendalam, rusaknya sebuah hubungan, ditinggalkan orang-orang terdekat, dikhianati, disakiti, ditipu, kondisi yang membuat kita menangis, dan tak tahu harus berbuat apa, kondisi yang mengalami jalan buntu. Sedangkan titik balik mengindikasikan sebuah proses pemulihan kehidupan, kesehatan, mental, relasi, bangkitnya semangat juang, sadar bahwa hidup itu berharga ketimbang disesali, keyakinan akan janji Tuhan, iman yang dipulihkan, iman yang mengarahkan kita kepada Tuhan yang tetap setia memelihara dan menyertai, serta menopang, pertobatan, pengampunan, diampuni, diberkati, dan mengalami kebahagiaan dari Tuhan.
Jalan-jalan hidup mengarahkan kita kepada berbagai kondisi. Ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri, pasti akan berada pada ujung jalan yang menyedihkan. Ketika kita bersandar dan mengandalkan Tuhan, pasti kita akan berada di ujung jalan yang membahagiakan; ada Tuhan di sana; Ialah yang memimpin dan menyertai sejak awal kita melangkah. Ia menjamin kita dari awal sampai akhir.
Titik terendah memang menyusahkan, bahkan menyakitkan. Akan tetapi, selalu Tuhan sediakan titik balik. Para sahabat yang sejati, ketika melihat kita berada dalam titik terendah, mereka akan menawarkan bantuan tanpa pamrih; kepedulian mereka beralasan. Karena mereka tahu bahwa Tuhan itu baik kepada mereka, maka tak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk berbuat baik kepada sahabat-sahabatnya. Kesulitan hidup itu normal. Semua manusia mengalaminya. Yang berbeda adalah respons dari orang-orang di sekitar kita, bahkan para sahabat kita. Hanya mereka yang menjadi sahabat sejati, akan memahami titik terendah yang kita alami, dan mereka menjadi bagian dari titik balik kita.
Sahabat sejati akan memberikan waktu mereka untuk dinikmati bersama, bukan mengambil waktu kita untuk dia nikmati sendiri. Sahabat sejati akan segera tergerak oleh belas kasihan ketika melihat kita berada pada titik terendah. Bukan seperti sahabat-sahabat Ayub yang memang peduli dengan apa yang dialami Ayub, tetapi kemudian mereka mencela Ayub. Syukurlah Ayub mendoakan mereka. Ayub pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, sangat menyedihkan dan memilukan; ia pun dipulihkan, diberkati Tuhan secara luar biasa. Itulah titik balik dari Ayub. Semuanya terjadi karena ada campur tangan Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah mengalami titik terendah? Apakah kita juga pernah mengalami titik balik? Apakah ada dari sahabat-sahabat kita yang ikut ambil bagian untuk membawa kita kepada titik balik saat mengalami titik terendah? Adakah kita berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan titik balik? Adakah kita mengalami titik terendah akibat dari orang-orang yang serakah, sombong, dan menyalahgunakan kewenangan? Apakah dalam kondisi titik terendah tersebut, kita tetap berharap dan berserah kepada Tuhan?
Kita tentu punya jawaban dan pengalaman masing-masing. Kiranya, pengalaman yang kita rasakan dapat dibagikan kepada orang lain yang mengalami hal serupa, atau bahkan lebih berat dari apa yang kita rasakan. Yang terpenting adalah “jangan menghilangkan rasa peduli dan humanitas kita, dan berpura-pura tidak mampu untuk menolong padahal sebenarnya kita mampu orang lain.” Jangan berpikir bahwa kita akan bebas dari berbagai problem hidup yang bisa membuat kita berada pada titik terendah. Ingatlah, Tuhan selalu melatih iman kita melalui berbagai kesulitan dan tekanan hidup. Jangan berpikir bahwa ketika kita beriman maka kita bebas dari kesulitan dan tekanan hidup. Itu salah!
Kita mampu karena Tuhan memberikan kekuatan dan iman agar dapat melihat kepada-Nya, berserah dan berharap saat dalam keadaan titik terendah. Kita ditopang-Nya dan beranjak menuju titik balik – dari sana kita bernyanyi, menyanyikan kasih dan kemurahan Tuhan yang telah menopang, menolong, dan menyertai kita. Ia bahkan menyediakan sahabat-sahabat yang peduli dengan kita. Mereka disediakan Tuhan untuk saling mengisi, menguatkan, dan mendukung. Bersyukurlah ketika kita memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Mereka adalah pemberian Tuhan bagi kita untuk bersama-sama memberi dukungan saat kita berada pada titik terendah dan titik balik.
Buku “NOT THE WAY IT’S SUPPOSED TO BE” karya Cornelius Plantinga, Jr. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: “Tidak Seperti Maksud Semula” yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum.
Buku ini memaparkan sejumlah pemahaman tentang dosa yang dilakukan manusia di satu sisi, dan di sisi lain mereka mempercayai adanya Tuhan. Plantinga mengamati bahwa, dalam kelompok pengakuan dosa zaman sekarang, orang semakin sulit untuk mengaku dosa. Di mana dosa disinggung, orang zaman sekarang akan mengomel.
Bagi Plantinga, mengingat dan mengakui dosa bagaikan mengeluarkan sampah: sekali tidak cukup. Memang benar, bahwa dosa harus dikeluarkan sebanyak yang dilakukan. Atau barangkali, sekali dosa ditumpuk, maka sekalian dibakar (dikeluarkan dari dalam diri). Di sini, saya mencoba memahami apa yang hendak diamati Plantinga, bahwa problem utama manusia adalah sulitnya mengakui dan mengeluarkan dosa dari dalam diri mereka.
Saya sendiri pernah berucap pada satu kesempatan bahwa ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa, sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam. Ketika dosa terus dimasukkan ke dalam diri, maka kebaikan menjadi ditindas, kebaikan ditumpuk dengan dosa, sulit bernapas, dan kemudian mati secara perlahan.
Pada faktanya, seperti yang diamati Plantinga, bahwa tergelincirnya kesadaran kita akan dosa, bisa menyenangkan namun bisa juga menghancurkan. Menipu diri sendiri akan realitas dosa sama saja dengan membius diri, sebuah tekanan yang menenangkan sekaligus sistem syaraf pusat rohani kita. Yang fatal adalah ketika kita tidak mengenal nada-nada yang salah dalam hidup kita, sehingga kita tidak dapat memainkan not-not yang benar dan bahkan tidak dapat mengenalinya ketika orang lain memainkannya.
Apa yang dinyatakan Plantinga di atas sangatlah faktual. Memang dosa itu menyenangkan atau memuaskan birahi seseorang, baik birahi seksual (kepuasan tubuh) maupun birahi emosional (kepuasaan perasaan [dan rencana]). Hingga akhirnya dosa menghancurkan kita sendiri; rasa malu dan sesal kemudian mengikutinya dari belakang. Kita tidak bisa lepas dari adanya fakta dosa dan kita dapat was-awas terhadapnya. Kesadaran akan adanya fakta dosa memberikan kita kebahagiaan dan tidak menciptakan masalah dengan diri sendiri maupun sesama. Ibarat melantunkan nada-nada dan not-not seperti yang ilustrasikan Plantinga, kita secara sadar harus tahu mana nada-nada dan not-not yang buruk yang tidak perlu kita bunyikan (tampakkan, lakukan), dan mana nada-nada dan not-not yang baik (pas) yang harus kita bunyikan.
Menurut Plantinga, “dosa adalah akar dari kesengsaraan seperti kesepian, keresahan, keterasingan, rasa malu, dan ketiadaan makna. Dosa adalah penyebab dan akibat dari kesengsaraan.” Dengan demikian, dosa adalah penyebab kesengsaraan sebagaimana kebaikan adalah adalah penyebab kebahagiaan. Dosa adalah menimbun rasa malu dan makna moralitas menjadi pudar dan lama-kelamaan hilang.
Namun, ada hal yang menarik juga – sebagai perluasan dari pernyataan Plantinga di atas – bahwa dosa [dalam pengertian kesadaran untuk berbuat di luar dari segala kehendak Tuhan, yang merencanakan segala sesuatu untuk tujuan memuaskan hawa nafsu dan egoisme diri] adalah akar dari segala hipokrisi, penyalahguaan kewenangan, ketersaingan, kebencian terhadap orang, kesakithatian, ketidaksukaan, gila hormat, penipuan, pembunuhan, perzinaan, dan kepongahan. Di sini, tindakan-tindakan manusia didasarkan pada sebuah rencana untuk suatu tujuan yang “negatif” dan berpotensi menimbulkan perpecahan, perselisihan, dan kebencian lanjutan.
Berangkat dari pengamatan Plantinga di atas, saya mendefinisikan dosa dalam kaitannya dengan segala tindakan manusia, sebagai berikut:
“Dosa adalah ketidakmampuan atau gagalnya seseorang untuk menolak keinginan atau kemauan yang bertentangan dengan kehendak Allah atau dengan kata lain, dosa adalah suatu keputusan yang tidak kokoh untuk menyerahkan diri kepada kepuasan dan hawa nafsu.”
“Ketidakmampuan untuk menolak dosa melibatkan hasrat yang mengandung nafsu yang kuat yang menggagalkan niat baik kita untuk menggantikannya dengan kenikmatan sesaat.”
Kebanyakan dari kita tahu bahwa Iblis adalah penggoda manusia hingga mereka jatuh, bermain, dan tidur dengan dosa. Manusia adalah eksekutor atas apa yang hendak dia lakukan. Ketidakmampuan atau gagalnya seseorang untuk menolak keinginan atau kemauan yang bertentangan dengan kehendak Allah, adalah dosa yang berdampak luas pada relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Suatu keputusan yang tidak kokoh untuk menyerahkan diri kepada kepuasan dan hawa nafsu adalah sebuah fakta di mana manusia tidak dapat memutuskan untuk menolak dosa, bahkan siap menerima dosa menginap dalam hatinya.
Benar bahwa ketika kita tidak mampu untuk menolak dosa, maka hasrat kita secara kuat mengandung nafsu untuk menikmati kebebasan dosa di mana pun dan kapan pun. Hasrat kita menindas hati nurani dan dosa kemudian keluar dari himpitan keduanya dan membebaskan dirinya sebebas-bebasnya. Kita bahkan membiarkan dosa—seperti layang-layang yang terbang dengan benang hawa nafsu kita – dosa akan tampak menarik di udara ketika pendosa memegang kuat-kuat benangnya dan bahkan memaikannya mengikuti irama angin dunia.
Di sini, Plantinga menegaskan, bahwa “Dosa artinya meleset dari sasaran, menyimpang dari jalan, terpisah dari kelompok. Dosa merupakan sikap keras hati dan tegar tengkuk. Dosa itu buta dan tuli.” Dosa memisahkan kita dari kondisi baik sebuah relasi dan dosa bisa mempererat hubungan di antara sesama pendosa. Dosa kadang diberi pendengaran untuk mendengar panggilan Sorgawi, tetapi dosa menjadikan manusia tuli ketika ia keasyikan menikmati lumpur kotor tetapi membuat manusia senang dan memuaskan.
Di samping itu, menurut Plantinga, dosa merupakan tindakan melampaui batas dan kegagalan untuk mencapai batas itu – baik melalui pelanggaran maupun kekurangan kita. Dosa adalah monster yang mengancam di depan pintu. Dalam dosa, orang menyerang, mengelak atau mengakibatkan kerusakan moral (bdk. Yes. 2:2-4; 11:1-9; 32:14-20; 42;1-12; 60; 65:17-25; Yoel 2:24-29; 3:17-18). Bagaimana kita menanggapinya? Kita harus menolak membuka pintu bagi dosa supaya ia jangan bertamu, duduk, menginap, dan tinggal selamanya dalam hati. Ketika hati kita kehilangan damai (shalom) maka dosa dengan segera masuk untuk menggantikan posisi damai itu.
Kita adalah pembawa “shalom”; kita adalah pengusaha damai untuk menawarkan dan menjual produk-produk damai kepada orang lain. Tidak mencari keuntungan sendiri melainkan menawarkan dan menjualnya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Apa maksudnya? Tuhan telah menetapkan bahwa kita harus “menghasilkan buah” dan “membawa damai” karena kita adalah anak-anak-Nya.
Plantinga menjelaskan, dalam Alkitab, shalom berarti kelancaran, keutuhan dan sukacita. Suatu kondisi berlimpah yang di dalamnya kebutuhan alami dipuaskan dan karunia alami dipakai untuk menghasilkan kondisi yang membangkitkan ketakjuban yang penuh sukacita ibarat Yesus yang membuka pintu dan menyambut siapa yang dikenan-Nya. Shalom,sebagaimana yang dijelaskan Plantinga, memberi kita ruang yang sejuk di mana kita duduk dan menikmati kesejukannya, dalam damai, menghadirkan damai dalam hati, memahami damai, membawa damai, dan memberitakan damai.
Perjuangan melawan dosa tidak bisa dilakukan sekali seumur hidup. Justru seumur hidup kita berjuang melawan dan menolak dosa. Sebagaimana kebaikan adalah tindakan, maka dosa, menurut Plantinga adalah “tindakan, pikiran, keinginan, emosi, perkataan atau perbuatan apapun atau kelalaian untuk melakukan tindakan yang tidak berkenan kepada Allah dan layak dipersalahkan.” Dosa itu membelenggu seseorang untuk aktif melancarkan keinginannya yang buruk dan najis (kotor).
Benarlah apa yang dikatakan Plantinga, bahwa “Dosa memang terkadang menyebarkan atau menyebabkan penyakit seks bebas yang menyebabkan penyakit kelamin. Sebaliknya, penyakit terkadang memuluskan atau bahkan mendorong orang untuk berdosa, seperti orang cacat yang membenci orang yang sehat. Tetapi keduanya berbeda, karena dosa merupakan kejahatan rohani dan moral, sedangkan penyakit merupakan kejahatan fisik. Dosa membuat kita bersalah, penyakit membuat kita sengsara.”
Jadi, menurut Plantinga, “kita membutuhkan anugerah untuk dosa tetapi belas kasihan dan penyembuhan untuk penyakit kita.” Allah tentu selalu memberika kesempatan kepada manusia untuk bertobat, dan kembali kepada-Nya:
“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya” (Yes. 55:6-7).
Bukankah Allah akan memberi pengampunan dengan limpahnya kepada mereka yang kembali kepada TUHAN dan bertobat? Di sini, menurut Plantinga, “Allah membereskan dosa sedemikian rupa sehingga dosa yang menjadi kegembiraan bagi manusia tatkala mereka melakukannya, menjadi alat Allah tatkala Dia menghukum manusia.” Meski Allah menghukum manusia karena dosa mereka, namun Ia memberikan kasih dan pengampunan ketika manusia sadar dan kembali kepada-Nya. Jangan lain kita mencemari diri kita dengan rupa-rupa perbuatan kotor dan najis. Mencemari berarti mengotori (akar kata ini dalam bahasa Latin berarti menyeret sesuatu menuju lumpur). Ketika kita sudah bersih, tidak perlu lagi kembali bermain di lumpur dosa; bukankah kita kembali menjadi kotor? Komitmen untuk tetap setia dan berada pada jalan Tuhan adalah hal yang paling penting.
Kita juga memerlukan hikmat dari Tuhan. Di samping menjaga diri kita dari segala serangan dosa, kita perlu mewartakan Injil Yesus Kristus sebagai kebenaran yang memerdekakan, membuka ruang hati manusia untuk mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalamnya; Injil tidak hanya menawarkan jalan keselamatan tetapi menegur dosa dan menyatakan bahwa dosa sangat membuat manusia sengsara dan akhirnya menerima hukuman dari Tuhan.
Plantinga menyatakan bahwa, kebenaran sejati tanpa penyingkapan dosa sepenuhnya, menjadikan Injil anugerah tidak relevan, tidak penting dan pada akhirnya tidak menarik. Itu berarti, kebenaran tidak melulu yang baik-baik saja, yang dipakai untuk memuaskan telinga orang, melainkan Injil itu sendiri menegur dosa, menghancurkan dosa dan menawarkan pengampunan serta pemulihan dari TUHAN. Hingga akhirnya kita terus dilatih untuk memperkuat kerohanian dengan berbagai cara. Salah satunya adalah “berdoa”. Bagi Plantinga, “Semakin kurang kita berdoa, semakin Allah tampak kurang nyata bagi kita. Dan semakin Dia kurang nyata bagi kita, rasa tanggung jawab kita semakin terkikis, dan itu membuat kita semakin mengabaikan Dia.”
Jangan mengabaikan “doa”. Kekuatan terbesar orang Kristen adalah “doa”, yang tak membutuhkan pedang, tak membutuhkan uang banyak, tak membutuhkan tatap muka dengan musuh; tak membutuhkan peralatan perang. Doa adalah kata-kata penuh kuasa ketika Tuhan mendengar dan menjawabnya. Dosa membuat orang malas berdoa, dan rajin berdoa membuat orang merasa hidupnya jauh dari dosa: Ia mengutamakan Tuhan dalam segala hal.
Dosa jangan lagi menjadi habit. Dosa harus ditinggalkan. Undanglah dan usahakanlah kebaikan dan kesucian serta kekudusan hidup. Hidup dalam terang firman-Nya, menjauhkan diri dari godaan Iblis yang mempengaruhi kita untuk melakukan dosa. Teruslah menjadi pelopor doa dan pelaku firman. Niscaya, ada kuasa Tuhan yang akan menyertai dan memulihkan kita serta orang-orang yang kita kasihi dan injili. Shalom
Kehidupan menyediakan banyak hal, relasi, dan kejadian; entah yang kita rindukan, inginkan, butuhkan, entah yang tidak kita butuhkan, yang kita benci, yang tidak kita sukai, dan lain sebagainya. Kenyataannya, kita telah berproses dalam kehidupan itu sendiri, sehingga membentuk jati diri, relasi, pekerjaan, dan karakter.
Kita telah melalui berbagai jembatan kehidupan. Jembatan-jembatan itu menghubungkan diri kita dengan yang lain. Di situ tercipta relasi, entah suka atau tidak suka, relasi itu tetap saja hadir tanpa kita duga sebelumnya. Yang satu menyingkirkan yang lain agar relasinya dengan orang-orang tertentu menjadi baik dalam pandangannya sendiri; sementara itu, yang lain masih tetap menjaga relasinya dengan sahabat-sahabatnya; semuanya memperlihatkan bahwa “ruang sosial kita” terukur oleh waktu. Kita mencoba menciptakan ruang khusus agar dapat bergembira dengan orang-orang yang kita kenal baik. Lebih dari itu, relasi-relasi yang terbentuk membuat kita menikmatinya, terus mengupayakan sebuah kehidupan yang benar di mata Tuhan.
Kita menemukan diri kita ada dalam sangkar waktu, yang setiap gulirannya mendorong kita untuk sadar dan sekaligus berjuang, bertahan hidup, menunjukkan kekuatan identitas, atau menunjukkan kekuatan hipokrisi dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan.
Ruang-ruang relasi sosial mempertontonkan berbagai jenis karakter. Kepongahan (keangkuhan), kerendah-hatian, kejujuran, kelamahlembutan, hipokrisi, kekejaman, kebaikan, ketulusan, adalah fakta “tindakan manusia” yang terpampang jelas di dalam sangkar waktu.
Mungkin kita pernah melihat ada orang-orang tertentu yang menunjukkan wajahnya yang berseri dalam setiap perkataan yang dia ucapkan. Tetapi kita tidak tahu apakah perkataan-perkataan tersebut benar-benar tulus atau ada “udang di balik batu?” Kita hanya dapat melihat faktanya selang beberapa waktu atau barangkali kita langsung mendengar apa rencananya yang telah ia susun saat kita mendapat bocorannya atau mendengar secara langsung (tanpa disengaja).
Memang, tampilan wajah bisa menipu orang lain, tetapi isi hati siapa yang tahu? Soal isi hati, akan diketahui dalam fakta itu sendiri. Artinya, semua akan terungkap ke permukaan waktu rencana-rencana yang dilandasi hipokrisi. Klausa “WAJAH BERSERI, HATI BERMANIK-MANIK HIPOKRISI” memang melekat pada seseorang atau orang-orang yang secara alami merasa dirinya hebat, berkuasa, dan menggunakan wewenangnya dengan sesuka hati. Ia tidak melihat bahwa waktu-waktu mendatang masih merupakan misteri di mana mungkin dia akan bertemu dengan mereka yang pernah ia sakiti, ia anggap remeh, dan ia anggap sampah hidup.
Sejatinya, orang-orang yang menunjukkan wajahnya yang berseri, tetapi hatinya bermanik-manik hipokrisi akan sampai pada titik waktu di mana ia menjadi tidak berdaya, menjadi orang yang terhina (yang dulunya ia anggap dirinya paling mulia), menjadi orang yang malang (yang dulunya ia tidak peduli dengan mereka yang ia hina, dan rendahkan). Tuhan tidak tinggal diam, meski waktu yang kita nantikan mengenai kejatuhannya sangat lama. Semuanya kembali kepada kuasa dan kedaulatan-Nya.
Yang terpenting dari fakta tersebut, kita tetap menjaga integritas kita. Jangan melupakan integritasmu sebab dialah yang membawamu ke puncak karakter yang sesungguhnya. Orang-orang yang memiliki manik-manik hipokrisi dalam hatinya, akan menampakkan perilaku hipokrit dan ingin memuaskan hawa nafsunya, menyingkirkan mereka yang tampak kuat, dan mencari pendukung sebanyak mungkin. Tipe orang seperti ini mudah ditinggalkan orang pengikutnya, sebab ia hanya bermodal kelihaian berbicara tanpa teladan yang benar. Ia akan tersiksa dengan perbuatannya sendiri dan menuai apa yang ia taburkan.
Ia menjadi pemimpin dari para pengikut yang juga hipokrit. Para pengikutnya menjadi “penjilat”, pura-pura berbuat baik dan peduli dengannya, menyetujui segala rencana dan tindak-tanduknya, menyanjungnya setinggi langit, dan mereka suka berpura-pura lucu saat dia bertindak tidak lucu. Pada akhirnya, yang tersisa adalah ruang kosong yang akan diisi oleh dia dan para pengikutnya. Ruang kosong tersebut tak akan pernah penuh sebab ternyata para penyanjungnya hanya meluberkan kepura-puraan dan memanfaatkannya. Baik dia dan para pengikutnya sama-sama saling memanfaatkan. Pokoknya simbiosis mutualistis.
Kita dapat belajar dari fakta ini, bahwa integritas yang kita miliki harus tetap diperhankan karena integritas yang menentukan karakter kita. Jangan mengubah atau menjual integritas hanya karena kita dibuai sesuatu yang “wah”. Ketika kita menjual integritas, kita ternodai, kita terluka dan akan menjadi luka batin berkepanjangan. Orang mungkin berpikir: “Ah, tidak apa-apa menjual integritas, asalkan saya mendapatkan untung, mendapatkan apa yang saya inginkan. Toh saya bisa memperbaikinya.” Kelemahan dari pikiran semacam ini, berpotensi untuk terus melakukan hal yang sama, dan pada akhirnya, integritasnya menjadi barang murahan, atau menjadi “pelacur” yang siap meluncur saat dibutuhkan. Lambat-laun, tak ada integritas yang dimilikinya; yang tersisa adalah lubang-lubang hipokrisi, yang terisi dengan nanah, yang menimbulkan bau tak sedap.
Hipokrisi memang bermanfaat (dalam arti negatif) bagi mereka yang tergolong “orang-orang berhati mulia dalam pandangan mereka sendiri, atau dalam pandangan orang yang menjadi pemimpin mereka”. Akan tetapi, ini hanya terjadi dalam rentang waktu yang singkat. Orang yang selalu menampilkan wajah berseri, tetapi hatinya terdapat manik-manik hipokrisi akan menjadi “bos” dari para penjilatnya yang sejati. Meraup berbagai keuntungan adalah rencana terbesar mereka. Segala cara akan dilakukan asalkan nyaman, aman, dan tidak ketahuan.
Manik-manik hipokrisi mengental tatkala kenyamanan yang mereka rasakan semakin menyenangkan mereka. Kita yang terkesima (tercengang) dengan “politik cat duco” – cara menyemprotkan fakta buruk yang sebenarnya dengan cat duco agar tampak mengkilat, menutupi semua keburukan yang dimiliki oleh pemimpin hipokrit maupun para pengikutnya yang juga hipokrit – yang pada tataran tertentu akan lapuk termakan waktu, kuasa, dan kedaulatan Tuhan, Sang Maha Melihat.
Kita yang hidup dengan hati yang jujur di hadapan Tuhan, tetap akan mendapatkan kemuliaan melebihi kemuliaan yang kotor yang didapatkan oleh para hipokrit. Ketika Tuhan mengangkat kita, integritas kita semakin kuat. Pertaruhan integritas menghadapi fakta hidup yang kadang tak sejalan dengan apa yang kita pikirkan, menyisahkan ruang berpikir bagi kita untuk tetap konsisten di hadapan Tuhan, bertahan pada kebenaran dan tetap jujur kepada-Nya.
Tak ada yang perlu ditakutkan. Tuhan pasti menyertai orang-orang yang berserah dan bersandar pada-Nya. Kebenaran tetaplah kebenaran; hipokrit tak bisa berubah menjadi kebenaran. Kita yang adalah pelaku kebenaran mendapatkan “waktu berharga” dari Sang Khalik, sebab Ia mendidik dan membentuk kita dari guliran waktu yang terpampang di depan mata kita.
Hargai waktu, hargai integritas, sebab karakter kita akan terbentuk menjadi bejana yang indah, bejana yang dibuat langsung oleh Tuhan. Jangan kompromi dengan hipokrisi demi meraup sesuatu, tetapi tetap setia pada Tuhan, karena Dialah yang membuat kita bahagia, membuat kita menikmati segala kemurahan-Nya, membuat kita menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah, sehingga kita tidak menyia-nyiakannya. Tetaplah bersyukur kepada Tuhan sebab Ia bertindak dan memberkati, serta menolong kita tanpa kita duga.
Fakta hidup membuka mata dan pikiran kita untuk merenungkan sekaligus mendesak cara berpikir dalam menemukan sesuatu, mengembangkan sesuatu, dan menyelesaikan sesuatu sesuai konteksnya. Di ruang teologi, setiap orang percaya dapat merumuskan sesuatu, mempercayai sesuatu, memahami dan menafsir sesuatu, menerima dan atau menolak sesuatu. Dari fakta ini, kita kembali melihat dan menilai diri kita sendiri; kita berada pada titik mana: apakah merumuskan sesuatu, mempercayai sesuatu, memahami dan menafsir sesuatu, menerima dan atau menolak sesuatu. Itulah yang dinamakan “berteologi”.
Berteologi itu adalah sebuah tindakan aktif untuk menemukan sesuatu, mengembangkan sesuatu, dan menyelesaikan sesuatu sesuai konteksnya. “Menemukan sesuatu” berarti kita telah melihat berbagai kepentingan dalam hidup, relasi sosial, relasi teologis (doktrinal), dan relasi kultural (konteks) pada saat itu. Apa yang ditemukan tidak lepas dari konteks yang mengikat. Pertanyaannya: apa yang ditemukan? Saya mencatat ada lima hal:
Pertama, kita menemukan diri kita sendiri dalam ruang teologi untuk kepentingan diri kita sendiri (sikap berteologi). Ini disebut dengan “persuasif internal” (internal persuasive) yaitu sebuah tindakan membujuk diri sendiri untuk menunjukkan – atau setidaknya membangun – potensi diri yang telah Tuhan berikan kepada kita. Di sini, kita harus yakin dengan potensi diri sebab Tuhan memakai setiap orang dengan cara yang berbeda sesuai dengan potensinya masing-masing. Oleh sebab itu, menemukan diri sendiri adalah langkah mendasar dalam berteologi dan memahami teologi.
Kedua, kita menemukan makna teologi dan berteologi. Ada makna pada setiap teologi dan sikap berteologi kita. Makna itupun dapat menjadi fragmen (bagian) yang koheren (menyatu) dari teologi itu sendiri. Makna terdalam dari teologi adalah pemahaman yang baik tentang Allah dan karya-karya-Nya yang meresap ke dalam totalitas kehidupan orang beriman di mana mereka memiliki tanggung jawab untuk menghidupi teologi itu dalam sikap hidup (relasi), perkataan, dan perbuatan sehari-hari. Berteologi memiliki makna yaitu mengarahkan kita kepada kehidupan yang dikehendaki Yesus Kristus. Berteologi bukan sekadar mempertontonkan kepiawaian berbicara, unjuk keilmuan, tetapi bagaimana sikap yang terbaik yang Tuhan kehendaki terwujud dalam kehidupan di dunia nyata, bukan kehidupan di dunia maya.
Ketiga, kita menemukan signifikansi (kepentingan) teologi dan berteologi. Teologi berkepentingan untuk membawa manusia berdosa memahami betapa Allah mengasihi mereka dan menyediakan keselamatan yang luar biasa, sebagaimana yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia. Fitur-fitur teologi yang signifikan lainnya, menyusun kerangka hidup orang percaya untuk mencapai puncak iman: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Berteologi memiliki kepentingan yang juga sama. Kita berteologi menandakan sebuah kesadaran bahwa kita harus berbicara, memberi teladan, dan mengusahakan sebuah siklus kehidupan beriman yang mengarah kepada puncak iman: mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Keempat, kita menemukan tanggung jawab teologi dan berteologi. Tanggung jawab teologi adalah menguatkan iman, meningkatkan pemahaman yang benar tentang Allah dan karya-karya-Nya, dan menyadarkan orang percaya tentang bahaya-bahaya dosa, penyesatan, dan penyangkalan terhadap Yesus Kristus. Tanggung jawab berteologi adalah menyelaraskan iman dan perbuatan dan membuat keduanya tetap stabil, seimbang, dan aplikatif. Teologi yang terbaik adalah ketika kita berhasil membuat iman dan perbuatan berjalan beriringan dalam kestabilan dan keseimbangannya. Berteologi yang baik adalah ketika kita mampu menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Kelima, kita menemukan harapan teologi dan berteologi. Teologi dan berteologi bukan sekadar terjadi di setiap konteks kita tanpa memikirkan kelanjutannya (harapannya). Sebagaimana iman itu sendiri memiliki harapan yang bersifat eskatologis, demikianlah dengan teologi dan berteologi. Harapan teologi adalah kemurnian ajaran-ajaran Alkitab tetap terjaga, dipertahankan, dan terus direalisasikan di sepanjang hayat. Sedangkan harapan berteologi adalah menjaga konsistensi antara iman dan perbuatan di sepanjang hayat.
Setelah melihat konteks “Menemukan sesuatu”, kita melihat konteks “Mengembangkan sesuatu”. Teologi bersifat “mengembangkan” yang tertuang dalam perumusan-perumusan doktrinal dalam bentuk elaborasi, sehingga menghasilkan pemahaman yang baik. Pemahaman tersebut dapat dikonsumsi oleh jemaat awam. Berteologi juga sama. Berteologi berarti “mengembangkan” gagasan doktrinal, biblikal, historis, dalam bentuk elaborasi atau penegasan-penegasan tertentu. Pengembangan tersebut pasti menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang percaya. Sedapat mungkin tindakan mengembangkan ini berdiri di atas dasar kebenaran. Artinya, tidak semua pengembangan teologi berdiri di atas kebenaran. Penyimpangan-penyimpangan teologi, doktrinal, historis, masih terus terjadi di berbagai mazhab atau denominasi Gereja. Kebenaran Alkitab menavigasikan teologi dan sikap berteologi, bukan sebaliknya.
Konteks “Menyelesaikan sesuatu” adalah tugas berteologi dengan menggunakan isi teologi. Kita yang berteologi perlu mengumpulkan fragmen-fragmen doktrinal menjadi satu kesatuan dan kemudian dibagikan (diajarkan) kepada orang-orang percaya (termasuk kaum awam di dalam Gereja) dalam bingkai “menyelesaikan sesuatu” sesuai kondisi atau konteksnya. Salah satu aspek penting dari sikap berteologi yang benar adalah kita dapat menyelesaikan sesuatu sesuai perlunya, dan atau sesuai konteksnya.
APA ITU THEOREGIUM?
Deskripsi sikap berteologi sebagai tindakan aktif untuk menemukan sesuatu, mengembangkan sesuatu, dan menyelesaikan sesuatu, yang telah dijelaskan di atas adalah fitur-fitur dari Theoregium. Theoregium adalah sebuah istilah yang terdiri atas dua kata, yakni: Theologi dan Egregium yang berarti outstanding (terkenal), exceptional (luar biasa), extraordinary (luar biasa), remarkable (luar biasa, hebat, baik sekali) atau amazing (mengagumkan). Egregium (Ing. egregious) dipahami sebagai terhormat atau terkemuka, sangat baik (dalam hal sikap atau tindakan, bahkan pribadi). Dengan demikian, makna praktis dari Theoregium adalah teologi [yang sangat] luar biasa; teologi yang terhormat [terpandang], sangat baik. Artinya, teologi yang terpandang dan sangat baik itu, adalah rumusan yang “keluar dari” pemahaman yang benar, komprehensif, dan kredibel. Dari aspek lain juga dipahami bahwa rumusan yang baik (tentang ajaran) yang keluar dari kritisisme terhadap kumpulan yang tidak baik atau bermutu rendah. Hal ini tampak misalnya pada kumpulan pengajaran bidat, di mana ada orang-orang tertentu yang keluar dari kumpulan pengajaran tersebut, karena berpikir kritis untuk menghasilkan “teologi yang sangat baik” itu.
Setiap proses berteologi kita – mau tidak mau, suka tidak suka – akan berurusan dengan berbagai “kumpulan pengajaran” lain (asing) yang dapat saja mengganggu lalu lintas pengajaran yang kita anut. Atau dengan perkataan lain, kita yang hidup dalam satu mazhab maupun denominasi akan merasa terganggu ketika muncul di dalamnya ajaran-ajaran asing yang menyimpang, kecuali kita sendiri “dibayar” untuk tetap ada dalam ajaran-ajaran asing itu.
Fenomena “bayar-membayar” kepada seseorang untuk hidup dalam ajaran asing itu, bisa saja terjadi di Gereja atau persekutuan di mana kita ada. Desakan ekonomi misalnya, dapat menjadi pemicu utama bagi orang-orang tertentu yang terpaksa mengimani dan mempercayai ajaran asing itu, yang penting “ada uang untuk beli semen” sebagai upaya untuk membangun pondasi harga diri yang telah ternodai itu.
Hingga pada akhirnya, Theoregium dapat dicapai dengan hati yang bulat. Di sini, saya hendak menyuguhkan fitur-fitur dari Theoregium yang sejatinya menjadi dasar tentang bagaimana kita mengajar diri sendiri dan orang lain. Konteks ini juga meneropong fakta yang terjadi bahwa mereka yang berusaha untuk menyatakan dan mewartakan Theoregium adalah pribadi-pribadi yang sadar bahwa panggilan Tuhan terhadap mereka bukanlah sebuah panggilan untuk menyesatkan, melainkan untuk menyelamatkan “otak [logika]” dari orang-orang yang belum percaya maupun yang sudah percaya tetapi terkontaminasi dengan ajaran-ajaran asing (menyimpang).
Secara khusus, Theoregium menampilkan lima fitur yang signifikan. Berikut fitur-fiturnya:
Pertama, Theoregium (teologi yang baik, terpandang, yang luar biasa) harus menciptakan ruang pemahaman agar orang lain dapat memahami isi teologi tersebut. Artinya, kita memberikan kesempatan kepada siapa saja yang mendengar dan memahami deskripsi teologi (pengajaran-pengajaran biblikal dan dogmatis). Jangan sampai kita hanya terkesan mau berbicara terus, tetapi tidak memberikan kesempatan kepada para pendengar untuk mencerna (memahami) secara baik isi dari teologi yang kita bicarakan.
Kedua, Theoregium harus menyentuh wilayah spiritualitas dalam pengertian bahwa isi teologi mengarahkan manusia untuk membangun relasi yang kuat dengan Tuhan. Teologi yang hanya bermain di ranah “kutip ayat untuk kepentingan tertentu” dan tidak mengarahkan orang lain untuk semakin mengasihi Tuhan dalam bentuk relasi spiritual, bukanlah teologi yang terpandang, melainkan teologi kesombongan.
Ketiga, Theoregium harus menyentuh wilayah kondisi kehidupan materi dalam pengertian yang seimbang dengan wilayah spiritualitas. Ada fakta bahwa orang-orang tertentu seringkali menciptakan kepincangan antara spiritualitas dengan materi. Penekanan pada materi dalam arti negatifnya adalah kecenderungan mengajak manusia untuk berusaha meminta kepada Tuhan berbagai materi yang tidak selaras dengan kehidupan manusia itu sendiri. Ada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Theoregium memperlihatkan posisinya untuk memberikan pemahaman yang baik tentang kehidupan. Kita butuh materi, tetapi jangan sampai menjadi materialisme. Kita butuh relasi spiritual, tetapi jangan sampai menjadikan kita malas bekerja untuk mendapatkan materi sebagai upah kehidupan. Tangan yang rajin akan menerima berkat dari Tuhan, tangan yang malas akan membuat hidup menderita.
Keempat, Theoregium harus menciptakan “pembelaan iman” karena kita berhadapan dengan ragam ideologi, pemikiran, filsafat, klaim-klaim keagamaan, dan lain sebagainya. Karena kita diperhadapkan dengan situasi tersebut, maka Theoregium sedapat mungkin memberi pemahaman ekstra bagi orang-orang percaya agar mereka siap tidak hanya menjadi pewarta dan pelaku firman Tuhan, tetapi juga menjadi para pembela iman tatkala ada yang meminta pertanggungan jawab, sekaligus kita melawan segala bentuk kesesatan dan penyesatan.
2 Korintus 10:3-6, “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.”
1 Petrus 3:15-16, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”
Kelima, Theoregium harus memberikan penguatan akan eskatologis. Theoregium itu, selain mengandung harapan, ia juga mengarahkan manusia kepada pengharapan di dalam Kristus Yesus. Ada harapan di dalam teologi dan teologi itu membawa kita kepada Kristus yang kita harapkan kedatangan-Nya yang kedua kali. Theoregium mengkoherensikan antara iman dan pengharapan, yang diikat oleh kasih (lih. Kolose 3:14).
PERMENUNGAN MENUJU GESTA
Wacana (pertukaran ide, kemampuan berpikri secara sistematis) dalam berteologi mendorong semua orang percaya untuk tampil bersinar dalam kata, pikiran, perbuatan. Kita tidak dapat menolak penilaian atas hidup kita melalui kata, pikiran, dan perbuatan, sebab dari ketiganya kita dinilai oleh orang lain dalam makna positif maupun negatif sebagai: orang yang berpengaruh, orang yang mempengaruhi, menjadi teladan, menjadi perusak, penyesat, peleter, dan lain sebagainya.
Dari fakta hidup, kita tidak dapat melepaskan diri dari iman dan pemahaman tentang iman yang terkandung dalam “teologi”. Dalam prosesnya kita perlu meracik, merangkum, dan merumuskan sebuah Theoregium yang darinya kita dapat merealisasikan fitur-fiturnya yakni: Theoregium harus menciptakan ruang pemahaman agar orang lain dapat memahami isi teologi tersebut, Theoregium harus menyentuh wilayah spiritualitas dalam pengertian bahwa isi teologi mengarahkan manusia untuk membangun relasi yang kuat dengan Tuhan, Theoregium harus menyentuh wilayah kondisi kehidupan materi dalam pengertian yang seimbang dengan wilayah spiritualitas, Theoregium harus menciptakan “pembelaan iman” karena kita berhadapan dengan ragam ideologi, pemikiran, filsafat, klaim-klaim keagamaan, dan Theoregium harus memberikan penguatan akan eskatologis.
Kita harus berteologi dan mewartakan teologi yang sehat, Theoregium. Setiap kita diberikan potensi oleh Tuhan. Kita terpanggil untuk melayani Tuhan dalam berbagai aspek, dan salah satunya adalah aspek “berteologi”. Jika demikian, Theoregium adalah desakan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Kita harus berdiri mewartakan Theoregium, menyatakan bahwa kehidupan ini tak dapat lepas dari intervensi dan providensi Tuhan. Dengan demikian, sikap untuk menjadi pelaku Theoregium sangatlah diperlukan di zaman ini. Kitalah yang memulai agar banyak orang memiliki pemahaman yang benar tentang Yesus Kristus dan apa yangg telah diperbuat-Nya bagi kita, dulu, kini, dan selamanya.
Judul tulisan singkat ini mungkin kurang menarik dibanding judul-judul tulisan pada jurnal terindeks Scopus yang bergengsi itu. Tetapi substansi dari judul tulisan ini sangatlah kuat, bersifat historis, dan teologis. Pasalnya, “doa telah mengubah dunia” dan kekristenan berlari serta mengembangkan pelayanannya di seantero dunia ini, itu semua tidak lepas dari peran “doa”.
Apa yang menarik dari “saling mendoakan”? Apakah generasi muda post milenial ini masih tergerak untuk berdoa, atau mereka lebih suka mengekpresikan diri mereka dengan gerakan lompat-lompat di kasur tanda kepenuhan roh kudis? Ataukah mereka lebih suka berbuat apa saja (tanpa batasan) untuk menunjukkan jatidiri mereka? Lalu masihkah generasi yang sudah tua tergerak untuk berdoa? Ataukah mereka lebih suka kumur-kumur teologi untuk mencari sensasi?
Masihkah Gereja (orang percaya) memikirkan tentang gerakan “saling mendoakan” di segala situasi? Apalagi era pandemik Covid-19 telah membuka mata kita bahwa “kematian karena Covid-19” sangat memprihatinkan sekali. Kematian karena Covid-19 sudah mencapai angka 3.834.951 per tanggal 17 Juni 2021 (versi Wikipedia). Pergumulan dan kegelisahan karena pandemik ini sangatlah tinggi. Setiap orang perlu waspada atas persebaran virus ini. Masihkah kita berdoa? Tentu!
Apakah doa dapat menghentikan persebaran Covid-19? Tidak! Doa tidak cukup, tapi dibutuhkan tindakan kita untuk selalu waspada dan sadar bahwa ketika kita lalai terhadap mekanisme (protokol) kesehatan, maka kita bisa terpapar Covid-19. Tuhan tidak menjawab doa seseorang yang meminta uang segepok turun dari langit tanpa bekerja. Tuhan tidak pernah memberkati orang pemalas, justru pemalas harus disuruh bekerja untuk mendapatkan hasil. Petani ubi jalar tidak menanti ubi jalar turun dari langit. Ia harus mencangkul tanah dan menanam batangnya.
Demikian juga dengan kita. Kita berdoa kepada Tuhan, sembari bekerja. Ketika kita saling mendoakan, kita pun harus bekerja, tidak menunggu. Tuhan menunjukkan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya kepada kita yang berserah, bersandar, dan berharap pada-Nya di dalam doa setiap hari. Doa adalah harapan kita untuk menanti uluran tangan Tuhan menolong kita dan orang-orang yang kita doakan. Doa adalah tanda penyerahan diri kita kepada Tuhan dan menanti lawatan kasih-Nya.
Dengan doa, kita peduli terhadap sesama kita. Di masa pandemik Covid-19, kita mendengar banyak orang yang terpapar virus Corona. Kita harus mendoakan mereka, apalagi terhadap sesama kita yang seiman. Kita terus berharap agar Tuhan memulihkan dan menyembuhkan mereka. “Tuhan berbuat sesuai kehendak-Nya, bagi kebaikan kita semua”.
Saling mendoakan adalah wujud dari kepedulian yang dibungkus dengan iman yang sejati. Alkitab memberikan kepada kita fakta menarik tentang hal ini. Dalam Kisah Para Rasul 12:5 disebutkan, bahwa “Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” Doa adalah bentuk kepedulian dan pengharapan kepada Tuhan, karena Dialah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Ia berbuat sesuai maksud dan rencana-Nya yang indah bagi kita semua. Di dalam pandemik Covid-19, pasti ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.
Dalam konteks Yakobus 5:14-16, orang sakit perlu didoakan dan saling mendoakan satu dengan yang lain. Kekuatan kebersamaan itu sangatlah penting. Tujuan dari saling mendoakan adalah karena kita percaya bahwa Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Kita hanya berharap bahwa Allah-lah yang dengan kuasa-Nya menyembuhkan dan memulihkan kita dan orang yang kita doakan. Sahabat dan kenalan kita yang terpapar Covid-19 harus kita doakan. Karena itu, kepedulian kita tidak hanya dalam bentuk materi, melainkan juga dengan doa kita kepada Sang Khalik. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.
Yang terakhir, dalam 2 Korintus 1:10-11 dituliskan demikian: “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.” Tantangan bagi orang percaya selalu ada. Rasul Paulus mengalami banyak penderitaan demi Kristus, bahkan beberapa kali ia terancam kematian. Tetapi ia tahu bahwa Yesus Kristus memiliki rencana yang indah bagi dia, sehingga bertolak dari hal itu, ia dengan gigih memberitakan Injil Kristus. Paulus juga tahu bahwa orang-orang percaya turut mendoakan ia dan rekan-rekannya dalam perjalanan memberitakan Injil.
Paulus tahu bahwa segala macam penderitaan dengan penghiburan, diterima dari Allah (2Kor. 1:4). Ia meyakini bahwa Allah Bapa adalah sumber segala penghiburan yang menghibur dalam segala penderitaan yang dialami (2Kor. 1:3-4). Allah menggerakan orang-orang tertentu untuk mendoakan kita atau sebaliknya, Allah menggerakan kita untuk mendoakan bagi orang-orang tertentu. Di sini kita mengetahui bahwa Allah menghendaki kita untuk saling mendoakan agar Ia menunjukkan kasih, kemurahan, dan kuasa-Nya bagi kita dan bagi orang-orang yang kita doakan. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.
Dari teks-teks di atas, kita menyadari akan kepentingan “saling mendoakan”. Kita beriman bahwa Allah akan memulihkan dan menyembuhkan sahabat-sahabat kita yang terpapar Covid-19. Kita pun tahu bahwa dunia ada dalam erangan (rintih) pandemik Covid-19. Kita yang beriman kepada-Nya memiliki harapan bahwa Allah akan memulihkan erangan itu dan menyediakan segala kelimpahan sukacita karena Ia telah menyatakan kebaikan bagi kita semua. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.
Kepada sahabat-sahabat saya yang terpapar Covid-19, doa kami untuk kalian. Tuhan memulihkan dan menyembuhkan kalian semua.
Sejak saya pelayanan di Desa Damau, Pulau Kabaruan, Kabupaten Talaud pada tahun 2008 hingga bertahun-tahun kemudian, saya menggeluti pelayanan di bidang pendidikan teologi. Saya bersama rekan senior saya, Matius Bongngi, yang mengajak saya untuk merintis SMTK dan STT di Kabupaten Talaud, telah menunjukkan dan membuktikan kepedulian kami kepada masyarakat Talaud.
Dalam prosesnya, berbagai kesulitan kami alami, tetapi karena kebaikan beberapa keluarga Kristen yang tinggal di Melonguane, Beo, Desa Alo, dan Desa Damau, maka kami dapat melalui dan keluar dari berbagai kesulitan tersebut. Hingga pada akhirnya berdirilah SMTK dan STT secara bersamaan. Belakangan, SMTK ditutup dan beberapa muridnya kami pindahkan ke SMTK Setia Jakarta, sedangkan STT—karena dirasa tidak ada perkembangan dan sulit berkembang, maka sebelum sekolah ini akan ditutup, kami (saya, Pak Matius Bongngi, dan Hendrik Sanda) berinisiatif untuk memindahkan beberapa mahasiswa di dua STT yaitu STT STAR’S Lub (Sulawesi Tengah) dan STTIS Siau (Sulawesi Utara).
Sebelum kami berencana menutup dan memindahkan murid dan mahasiswa ke beberapa sekolah, saya sendiri, dalam pergumulan pelayanan di bidang pendidikan. Akhirnya dalam benak saya terlintas untuk menuliskan tentang “Teologi Kulkas”. Ide ini muncul sekitar tahun 2009 dalam konteks pelayanan tadi. Teologi Kulkas berangkat dari akumulasi penilaian saya terhadap pelayanan yang dikerjakan oleh para pendeta, dan juga para pelayan Tuhan dengan berbagai motivasi di belakangnya. Dalam penilaian saya: “ada orang-orang yang merasa melayani Tuhan tetapi tidak sepenuh hati untuk ‘mengeluarkan’ apa yang dimilikinya, yaitu ilmu dan pengetahuan teologi, pengalamannya, kepada masyarakat yang membutuhkan.” Mereka lebih senang untuk menyimpannya secara pribadi dan merasa tak perlu untuk berjuang membagikan apa yang dimilikinya.
Teologi Kulkas yang saya tuliskan ini, ditujukan kepada para pendeta berjiwa “sekuler” yang bertopeng rohani, di mana mereka bergelar akademik, berpendidikan, bisa berkhotbah, dan menganggap dirinya sudah melayani Tuhan tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak sepenuhnya mempergunakan talenta dan karunia yang diberikan Tuhan; mereka menganggap dirinya pintar, berkuasa, dan hebat tetapi cara hidupnya sama dengan manusia-manusia “duniawi”.
Makna Teologi, Keluasan [Ekspansi] dan Substansi
Teologi, dalam perkembangannya telah menjadi luas pemahamannya. Berbagai respons telah disuguhkan ke publik menghasilkan berbagai konsep (pemikiran), dan pernyataan-pernyataan teologis atas segala sesuatu yang diteliti dan dipahami. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Charles C. Ryrie, bahwa “Secara sederhana teologi berarti memikirkan mengenai Allah dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran tersebut dalam suatu cara tertentu” (Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1, peredaksi Antoni Stevens, Hariyono, Xavier Q. P [Yogyakarta: ANDI, 2014], 9). Pada kenyataannya, berbagai pemikiran yang mengekpresikan teologi seseorang telah meramaikan dunia teologi terkait isu-isu, doktrin-doktrin, dan konteks iman, baik di kalangan kampus teologi, keluarga, institusi atau lembaga-lembaga Kristen, dan di kalangan luas: antar budaya, bangsa, dan agama.
Terkait dengan teologi dalam lingkup khusus, seyogianya kita melihat pada suatu pola atau model berteologi dan teologi itu sendiri. Saya menyebut satu istilah yang bisa digunakan untuk melihat signifikansi teologi, yaitu term “arketipal”. Maksudnya, teologi harus bertitik tolak dari Allah sebagai Pribadi yang berdaulat dan menetapkan segala sesuatu, termasuk ketetapan untuk kita melakukan apa dikehendaki-Nya.
Jika menelisik secara etimologi, term arketipal berasal dari kata Yunani Kuno, arche, yang berarti permulaan, tipe, pola, atau model. Arketipe diartikan sebagai model atau pola yang mula-mula. Berdasarkan pola atau model ini dibentuk atau dikembangkanlah hal yang baru.
Teologi yang kita pahami haruslah menghasilkan hal-hal baru dalam konteks di mana kita hidup. Artinya, teologi itu harus terendam dan memberikan pengaruh kehangatan bagi totalitas kehidupan manusia di mana ia hidup dan berelasi. Dengan tidak mengabaikan arketipal tadi, para teolog dan pemerhati teologi, harus melihat pola dasar dari teologi itu sendiri dengan menempatkan Allah sebagai pusat dari teologi dan kemudian dikembangkan berdasarkan konteks-konteksnya.
Teologi itu adalah pemahaman yang terkait dengan Allah dan tindakan-tindakan-Nya. Dua pemahaman ini diresapi secara ekspresif dalam empiris kehidupan manusia. Dengan demikian, Teologi Kulkas yang akan saya jelaskan secara singkat dalam tulisan ini, adalah bagian dari ekspresi berteologi.
Menurut Nico Syukur Dister, teologi itu ilmu iman, maka caranya untuk memperoleh pengetahuan bukan hanya melalui sensus, ratio, intellectus, yaitu masing-masing pengalaman indrawi, akal budi, dan intuisi rohani. Sebagai ilmu iman, teologi masih mempunyai cara lan untuk memperoleh pengetahuan, yakni melalui revelatio dan fides, yaitu wahyu dan iman (Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat [Yogyakarta: Kanisius, 2004], 35). Harianto GP, menyebutkan beberapa unsur teologi sebagai berikut (sebagai catatan simpulan atas elaborasi pengertian teologi oleh Yulia Oeniyati): (1) dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional; (2) menuntut adanya penjelasan secara metodologis. (3) menyajikan kebenaran; (4) mempunyai nilai yang universal; dan (5) memiliki objek yang diteliti (Harianto GP, Teologi Misi: Dari Missio Dei Menuju Missio Ecclesia [Yogyakarta: ANDI, 2017], 3).
Namun, teologi tidak hanya sekadar teori belaka, melainkan sebuah konsep yang dapat mengubah hidup kita sendiri dan bahkan orang lain. Theos [Allah] dan Logos (perkataan, pikiran, ilmu, uraian, kata-kata, ucapan, wacara [percakapan]) dimulai dari apa yang ada [materi] baik alam, maupun pikiran (logika). Logika tidak bisa berdiri sendiri jika tidak membutuhkan perasaan dan emosi. Keduanya mendukung terwujudnya sebuah kesimpulan logis dan non-logis, berdasarkan bukti dan berdasarkan asumsi.
Materi teologi itu sendiri adalah Allah, manusia, dan ciptaan. Semuanya tercantum dalam Alkitab. Dengan demikian, teologi perlu memperhatikan aspek-aspek dari ketiga materi tersebut dan mengaitkannya dengan tanggung jawab iman kepada Allah. Sebagaimana yang diungkapkan Ryrie, bahwa “Bagaimana teologi mempengaruhi hidup saya atau hidup Anda merupakan tanggung jawab pribadi dan individu kita masing-masing” (Ryrie, Teologi Dasar 1, 12). Ryrie menambahkan, bahwa “Membahas tentang teologi sekaligus berarti juga membicarakan sesuatu mengenai luas jangkauan, fokus, dan keterbatasan-keterbatasan. Kata “teologi” berasal dari kata Yunani theos yang artinya Allah dan logos yang berarti pernyataan yang rasional. Jadi, kata ini berarti suatu interpretasi yang rasional tentang iman keagamaan. Dengan demikian, teologi Kristen berarti suatu interpretasi yang rasional mengenai iman Kristen” (Ryrie, Teologi Dasar 1, 15).
Teologi Kulkas, sebagaimana yang akan saya jelaskan secara singkat di sini, adalah teologi yang didasarkan pada analogi. Ryrie hanya menyebutkan tiga macam teologi, seperti yang tampak beriktu ini:
Macam-macam teologi: (1) berdasarkan era: antara lain, teologi partristik para Bapa Gereja, teologi abad pertengahan, teologi reformasi, teologi modern; (2) berdasarkan sudut pandang: antara lain teologi Arminian, teologi Calvinis, teologi Katolik, teologi Barth, dan sebagainya; (3) berdasarkan fokus; antara lain: teologi historis, teologi Alkitab, teologi sistematika, teologi apologetis, teologi eksegetis, dan lain-lain (Ryrie, Teologi Dasar 1, 16).
Saya perlu menambahkan apa yang disebutkan Ryrie di atas, sebagai yang keempat yaitu teologi berdasarkan analogi, yaitu teologi yang melihat sebuah prinsip tertentu yang kemudian dapat dikaitkan dengan sesuatu yang dapat merepresentasikan prinsip tertentu tadi; misalnya Teologi Kulkas yang akan saya bahas sekarang. Di sini, kita dapat saja mencari analogi dari teologi yang hendak kita bangun, sebagaimana yang akan saya lakukan pada teologi kulkas dalam tulisan ini.
Teologi juga memiliki keluasan atau ekspansi pemahaman, pembahasan, dan pemikiran. Mengenai hal ini tidak perlu saya jelaskan di sini. Cukup dengan kita mengamati perkembangan teologi sekarang ini di berbagai negara sudah cukup untuk membuktikan bahwa teologi sangatlah ekspansif dalam berbagai bidang kehidupan, pekerjaan, pelayanan, moralitas, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.
Mengenai substansi teologi, saya menyebutkan beberapa di antaranya. Pertama, teologi hendaklah menunjukkan etika dan moralitas di dalamnya. Artinya, moralitas seseorang dapat tampak pada teologi tertentu. Kedua, teologi hendak memperlihatkan kuasa dan kasih Allah kepada manusia berdosa dengan tidak berspekulasi tingkat tinggi sampai-sampai menjadikan teologi Alkitab menjadi tawar dan tidak memiliki rasa lagi. Ketiga, teologi perlu memperlihatkan wacana iman yang empirikal, iman yang kuat, dan iman yang dewasa. Terapan Teologi Kulkas adalah wujud dari iman yang empirikal, iman yang kuat, dan iman yang dewasa. Keempat, teologi perlu melihat manusia sebagai bagian terpenting dan utama untuk menjembatani pemahamannya tentang Allah yang telah berkarya menyatakan kasih, pengampunan, dan menganugerahkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Abraham Calovius. Menurut Calovius, sebagaimana dikutip oleh Bavink, bahwa “Objek yang sesungguhnya dari teologi adalah manusia ‘sejauh dia harus dibawa kepada keselamatan’, atau agama yang dirumuskan oleh Allah dalam Firman-Nya (Abraham Calovius, Isagoge ad Summa Theologia. Wittenberg A. Hartmann, typis J. S. Fincelli [1652], 252, 280, 299, 324. Calovius adalah teolog Lutheran abad ke-17, dikutip Herman Bavink, Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2011], 31). Manusia menjadi objek keselamatan Allah yang dengannya Kristus Yesus mati bagi mereka, untuk menebus, menguduskan, membenarkan, dan menyelamatkan mereka. Terkait dengan teologi, maksudnya berkaitkan dengan konteks penyataan, menurut Bavink, “agar Allah dapat diketahui, Ia harus menyatakan diri-Nya tidak hanya dalam perbuatan-perbuatan, tetapi juga dalam perkataan-perkataan-Nya. Isi di dalam penyataan itu adalah pengetahuan tentang Allah dalam arti yang objektif, dan pengetahuan tentang Allah dalam arti objektif inilah yang menjadi objek dari teologi” (Herman Bavink, Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2011], 40).
Apa yang diungkapkan Bavink di atas sangat tepat, dengan melihat pada fakta biblika bahwa teologi hendak menyatakan penyataan Allah dalam konteks penebusan dosa melalui Yesus Kristus. Baik perbuatan-perbuatan Allah maupun perkataan-perkataan-Nya, semuanya telah rampung dalam perjalanan sejarah hingga tiba bagi Allah untuk mengutus Logos-Nya menjadi manusia (Yoh. 1:14) bagi realisasi sempurna dari rencana keselamatan-Nya. Pemahaman ini tentu juga merupakan bagian penting untuk dinyatakan kepada semua orang—sejauh yang dapat dijangkau oleh mereka yang benar-benar ingin memberitakan Injil. Dengan itulah, Teologi Kulkas menjadi nyata.
Iman juga merupakan aspek penting dalam berteologi. Meskipun perdebatan teologis masih mencuat ke permukaan, tetapi iman janganlah diabaikan. Ada orang-orang tertentu yang memang memiliki pemikiran yang tajam, tapi soal imannya, masih dipertanyakan. Menurut Bavink, “Kitab Suci berfungsi sebagai aturan iman dan fondasi dari semua teologi” (Bavink, Dogmatika Reformed, 63). Di samping itu,
teologi muncul dari gereja ketika orang-orang percaya memikirkan ajaran-ajaran utama iman. Teologi adalah sumber iman; “objek”-nya hanya dapat diakses melalui iman, teologi berefleksi pada isi dari iman, dan harus dilakukan dalam iman. Keduanya saling membutuhkan. Iman menjaga teologi dari sekularisasi; teologi menjaga iman dari separatisme (Bavink, Dogmatika Reformed, 732).
Teologi Kulkas itu sendiri berbicara mengenai “kesadaran Kristen” yang mencakup aspek tanggung jawab iman, kesadaran iman, dan realisasi iman. Ketika kita sadar bahwa kita beriman, maka konsistensi logisnya adalah kita pun harus menyatakan iman itu kepada orang lain. Kesadaran Kristen merupakan bagian dari “metode dogmatika”, dan di sini saya mengikuti Bavink.
Menurut Bavink, metode dogmatika, harus dipahami sebagai cara bahan dogmatika diperoleh dan diperlakukan. Tiga faktor memainkan peran dalam pemerolehan ini: Kitab Suci, pengakuan iman Gereja, dan kesadaran Kristen (Bavink, Dogmatika Reformed, 66). Dengan demikian, dalam pemahaman saya, kesadaran Kristen adalah kesadaran dogmatis—yang mana seorang Kristen yang beriman kepada Yesus Kristus mampu memahami kedalaman karya-karya Allah, termasuk karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan “dogmatis” yang solid, untuk kemudian “dicairkan” ke dalam relasi humanitas kita setiap hari.
Fakta dan Substansi Teologi Kulkas
“Mencairkan” keyakinan dogmatis adalah wujud nyata dari Teologi Kulkas yang hendak saya paparkan di sini. Oleh sebab itu, duduk perkara yang sebenarnya adalah adanya fakta bahwa ‘kemalasan’, ‘sikap acuh tak acuh’, ‘sikap cari aman sendiri’, ‘sikap merasa pintar dan hebat sendiri’ telah menjadikan berita Injil menjadi beku dalam kulkas hati mereka yang malas, acuh tak acuh, cari aman sendiri, merasa pintar dan hebat sendiri; dan para pendeta, dan para pelayan pun tidak lepas dari kondisi semacam ini. Dengan melihat pada fakta yang terjadi dan berkembangnya sikap beku seperti es dalam kulkas, maka diperlukan kritik internal agar setiap orang yang telah dipercayakan pelayanan, untuk merealisasikan iman dan pengetahuannya kepada orang lain.
Teologi Kulkas menjelaskan kepada kita bahwa, “dunia Gereja” bukanlah suatu hal yang tersembunyi melainkan sesuatu hal yang bisa dilihat dan dikerjakan sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan. Dan anehnya, para pendeta sekuler yang berkecimpung di dunia pelayanan (dan Gereja) merasa selalu paling benar dan paling suci. Ada lagi yang merasa dirinya dipanggil Tuhan sehingga ia melayani-Nya dengan semangat tetapi pada akhirnya, bertahun-tahun kemudian, gelar sarjana teologinya hanya berakhir pada daftar calon legislatif. Dari “buah-buah perbuatan mereka” kita dapat mengetahui seperti apa motivasinya.
Pendeta adalah sebuah profesi rohani karena yang dinamakan pendeta, dalam berbagai Gereja, harus melewati suatu acara penahbisan oleh pendeta senior atau orang-orang yang dianggap lebih tua di kalangan Gereja tersebut. Jabatan pendeta dalam sebuah jemaat bukanlah suatu jabatan yang tanpa syarat. Salah satu syarat menjadi pendeta adalah penguasaan prinsip-prinsip Alkitab, penafsiran, pelayanan, iman, kasih dan tanggung jawab dalam setiap tugas dan penggilannya untuk menjadi hamba Tuhan. Kalau dalam istilah salah satu Gereja, pendeta dan hamba Tuhan memiliki suatu perbedaan. Kalau dikatakan orang itu adalah pendeta, maka ia adalah hamba Tuhan (tergantung pada konteksnya). Kalau orang itu disebut sebagai hamba Tuhan, ada kemungkinan ia bukan pendeta tetapi seorang yang melayani full time di Gereja lokal, semisal pengerja, majelis, diaken, dan lain sebagainya (di luar jabatan pendeta). Hamba Tuhan adalah orang-orang yang giat dalam pekerjaan Tuhan dan selalu mau berkorban bagi pekerjaan Tuhan.
Pendeta lebih identik dengan pelayanan gerejawi di tempatnya sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan ia juga dapat melayani di berbagai tempat, termasuk “pergi menginjil” di tempat lain. Tetapi kalau melihat fakta yang ada maka pendeta lebih dekat dengan jemaatnya sendiri karena ia adalah gembala sidang bagi Gereja yang dipimpinnya. Sedangkan hamba Tuhan lebih luas jangkauan pelayanannya dan tidak terlalu diikat oleh organisasi Gereja.
Dalam konteks pelayanan, memang kedua istilah ini, tidak dibedakan menurut fungsinya, karena kedua-duanya sama-sama melayani Tuhan. Yang membedakannya adalah wilayah kerjanya. Memang hal ini tidak terlalu menjadi patokan tetapi minimal hal ini sudah menjadi fakta di tempat di mana kita melayani. Pendeta, Gereja, dan pelayanan tidak dapat dipisahkan. Di mana ada pendeta, pasti di situ ada Gereja; di mana ada pendeta, pasti berkhotbah kepada jemaat dalam salah satu gereja atau di berbagai denominasi gereja. Pendeta (dalam konteks tertentu) melewati proses penahbisan. Pendeta dan Gereja sama-sama berkembang, sama-sama bergumul, menangis, berdoa, berjuang, menginjil, teguh dalam iman dan lain sebagainya.
Ada juga pendeta yang menghancurkan Gerejanya, menghancurkan jemaatnya, menghancurkan keuangan Gereja, menghancurkan nama baik Gereja dan dirinya sendiri, memecahbelah jemaat, menimbulkan kecurigaan, menimbulkan perselisihan, perbantahan, percekcokkan, kemunafikan dan sebagainya. Sedangkan kalau kita melihat dari sisi positifnya adalah: ada pendeta yang membentuk jemaat yang dari kecil (jumlahnya sedikit sekali) dan menjadi besar, menyaingi Gereja-gereja mainstream.
Yang menjadi masalah dalam konteks “Teologi Kulkas” adalah para pendeta, yang sudah ditahbiskan, sudah belajar, sudah diutus untuk melayani, tetapi pada faktanya, ia tidak menjadi hamba Tuhan yang sungguh-sungguh, ia menjadi malas melayani dan meluangkan waktu berbagi iman dan pengetahuannya, mengabaikan domba-domba yang sudah Tuhan berikan untuk dipelihara dengan baik (diajar, dididik, dibimbing). Mereka lebih menyukai “membekukan ilmunya [atau pengetahuannya]” di dalam dirinya tanpa berpikir untuk “mencairkannya”. Untuk mencairkan es batu di dalam kulkas, maka kulkas harus dibuka. Ketika pendeta membuka dirinya, maka pengetahuan pun akan mencair—terbagi untuk mereka yang dilayaninya di Gereja, dan persekutuan lainnya.
Memang berbagai kejadian aneh di gereja sering terjadi. Para pelayan tidak lagi sibuk mencairkan ilmu dan pengetahuannya—membuka pintu hatinya agar semuanya menjadi mencair: orang lain yang dahaga menjadi terpuaskan, tetapi sibuk dengan hah-hal yang sama sekali tidak substansial. Teologi yang ada pada dirinya menjadi seperti kulkas yang tidak dibuka. Hanya dibekukan begitu saja. Mereka lebih suka mencari sensasi di Gereja; mencari kedudukan dan gelar semata-mata. Mereka tidak tertarik pada bagaimana berbagi (mencairkan) pengetahuan teologinya.
Apakah ini yang terjadi di sekitar kita? Berusahalah untuk tidak menjadikan ilmu dan teologi kita berada dalam kulkas dan membeku selamanya, melainkan harus dicairkan dan dibagikan kepada siapa saja dalam bentuk kesaksian pribadi, khotbah dan pelayanan pribadi, penginjilan di mana saja. Tuhan pasti memberkati dan menguatkan orang-orang yang demikian.
Relasi Pendeta dengan Sikon (Situasi dan Kondisi)
Kita melihat bahwa ada relasi yang kuat antara pendeta dengan gereja. Maksudnya, pelayanan pendeta dapat direalisasikan di dalam Gereja. Dalam perealisasiannya, pendeta perlu mencairkan ilmu teologinya kepada semua orang sejauh yang dapat ia sampaikan. Relasinya dengan masyarakat luas memungkinkan ia dengan cepat “menjangkiti” kehebatan dan kekuatan teologinya kepada sesamanya. Meski demikian, ada bahaya-bahaya yang perlu diwaspada dan dijauhi, yang bisa saja menjerumuskan para pendeta ke lubang dosa. Bahaya-bahaya tersebut bisa berupa jabatan, politisasi, uang, harta, seks, korupsi, dan lain sebagainya.
Apa yang dipelajari selama ini yaitu “teologi” akan menjadi terbuang percuma ketika mereka terperangkap atau sengaja memperangkapkan dirinya sendiri. Padahal, teologi yang benar mendorong seseorang untuk menjaga dirinya dari segala bentuk kesesatan dan dosa; Tuhan menghendaki para pelayan-Nya hidup kudus, berbuat baik, dan menjadi teladan dalam hal-hal baik yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Dalam pengertian yang lebih sempit, teologi adalah miliki semua orang percaya. Jadi, pada dasarnya teologi adalah untuk semua jemaat Tuhan yang mau belajar tentang Alkitab. Tetapi, ada pemahaman yang berkembang bahwa “teologi” hanyalah milik para pendeta, para akademisi, dan bukan jemaat awam. Padahal, teologi adalah milik semua orang yang merespons kasih dan anugerah Tuhan atas hidupnya. Hingga implikasinya, baik pendeta maupun kaum awam, sama-sama mempunyai tugas yang sama—jika sudah belajar teologi dengan tingkat frekuensinya masing-masing—haruslah “mencairkan” teologinya ke dalam relasi humanitas, relasi persekutuan orang percaya, dan relasi lainnya yang sesuai konteksnya. Teologi Kulkas hendak mengetengahkan gagasan faktual yang terealisasi ke dalam relasi, ketika seseorang membuka dirinya untuk mencairkan pengetahuan teologinya dalam segala situasi.
Substansi dan Terapan Teologi Kulkas
Berdasarkan penjelasan-penjelasan singkat di atas, ditambah beberapa fakta yang terjadi, maka di akhir tulisan ini, saya hendak menyimpulkan substansi dan terapan Teologi Kulkas untuk dapat dijadikan teguran, sapaan, dorongan, dan semangat dalam melayani Tuhan. Kesadaran Kristen sebagaimana yang disebutkan Bavink sebagai bagian dari metode dogmatik perlu mendapat perhatian penting di sini, mengingat adanya fakta bahwa para pelayan Tuhan, para pendeta tidak menjalankan tugasnya dengan baik, hanya menyimpan iman dan pengetahuan Alkitab dalam hati mereka; mereka hanya “membekukan” tetapi lupa untuk mencairkannya.
Pertama, secara substansi Teologi Kulkas bisa bermakna positif dan negatif. Pada makna negatif, seseorang yang telah memiliki konsep teologi yang benar, ia tidak bergerak membuka dirinya untuk menjadi teladan (layaknya kulkas yang dibuka kemudian es yang ada di dalamnya mencair); ia tidak membuka dirinya untuk mencairkan pengetahuan teologinya dan dibagikan kepada sesama yang dilayani.
Kedua, pada makna positif, Teologi Kulkas melihat fakta bahwa ketika seseorang membuka dirinya dalam rangka “berbagi” (mencairkan) pengetahuan teologi maka ada pengaruh positif yang dapat ditularkan kepada orang lain. Pencairan teologi seseorang dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai media, mengingat sekarang adalah era industry 4.0 di mana segala sesuatu menggunakan system teknologi.
Ketiga, pengaruh positif berbicara tentang sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia, hidup beretika, hidup beryukur dan sabar, hidup penuh kasih dan pengampunan, hidup yang setia dan senantiasa berdoa.
Keempat, Teologi Kulkas membekukan (menyimpan) pengetahuan di dalam diri sehingga ketika dibuka dan isinya dibagikan, maka “rasa teologi” akan menjadi lebih enak dimakan dan dikunyah oleh kaum awam, atau oleh siapa saja yang mendapatkan teologi itu, dengan cara yang lebih kontekstual.
Kelima, Teologi Kulkas pada hakikatnya membicarakan tentang sikap hidup para pendeta (dan atau pelayan Tuhan); mereka dipanggil untuk menjadi berkat dalam segala sesuatu, termasuk menjadi berkat melalui “teologi” yang dimilikinya. Artinya, teologi itu menyenangkan dan rasa menyenangkan itu janganlah dinikmati sendiri (masturbasi teologis) tetapi bagikanlah (cairkanlah—sebagaimana mencairkan isi kulkas) kepada orang lain.
Keenam, Teologi Kulkas adalah analogi umum untuk menjelaskan apa dan bagaimana kita, sebagai teolog (para pendeta, pelayan, aktivis gereja, dan pemerhati iman Kristen) dalam merealisasikan iman. Ada banyak waktu yang diberikan Tuhan kepada kita, dan rasanya tak adil jika waktu yang banyak itu hanya dipakai untuk memuaskan diri sendiri dengan teologi yang dimiliki, ketimbang berbagi teologi dengan yang lain: “Jangan pelit ilmu”.
Ketujuh, Teologi Kulkas adalah wacana (percakapan) melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Itulah konstruksi dasar dari iman Kristen. Darinya buah-buah diri dan teologi yang kita miliki akan dikonsumsi oleh orang-orang yang menerima dari kita atau mereka yang meminta kepada kita.
Pada akhirnya, janganlah kita berpuas diri dengan ilmu pengetahuan Alkitab yang kita miliki, melainkan merasa puaslah ketika kita telah berbagi ilmu pengetahuan tersebut dengan sesama kita, sesama yang kita layani, baik di gereja, persekutuan doa, dan lain sebagainya. Jangan merasa sombong dengan ilmu yang dimiliki; jangan meresa lebih hebat dari lainnya, tetapi tetaplah rendah hati, tetap mencairkan iman (pengalaman bersama Tuhan), mencairkan teologi yang selama ini dipelajari. Jangan menyebarkan teologi yang aneh-aneh dan merasa sudah “liberal” dalam berpikir.
Hanya perlu diingat bahwa berbagai gagasan teologi yang “liberal” bukanlah merupakan gagasan tunggal. Masih ada gagasan lainnya yang bisa dibuktikan berdasarkan historisitas dan dokumen-dokumen yang kredibel. Apalagi ketika berbicara mengenai teologi biblika. Liberalisme memang sangat dekat dengan spekulasi-spekulasi bahkan spekulasi-spekulasi liar, tetapi tidak semua bernatur demikian.
Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi “saksi-Nya” dan sebagai konsekuensi logisnya adalah kita harus “berbicara dan mencairkan” apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan begitu, kita telah menerapkan dan merealisasikan Teologi Kulkas secara sadar dan bertanggung jawab. Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria!
Referensi
Bavink, Herman. Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum, 2011.
GP, Harianto. Teologi Misi: Dari Missio Dei Menuju Missio Ecclesia. Yogyakarta: ANDI, 2017.
Ryrie, Charles C. Teologi Dasar 1, peredaksi Antoni Stevens, Hariyono, Xavier Q. P. Yogyakarta: ANDI, 2014.
Artikel ini sudah diterbitkan di buku Antologi dalam rangka mesyukuri ulang tahun Pong Kembong Mallisa’ ke-69 yang diterbitkan oleh Penerbit VIEWS pada tahun 2020.
Pada setiap kesempatan, di ruang keluarga maupun publik kita diperhadapkan dengan ragam karakter orang lain, sekaligus kita memperlihatkan karakter kita sendiri. Dalam relasi dan komunikasi, kita menciptakan sebuah fenomena harga diri yang dibaluti dengan emosi. Harga diri dan emosi adalah depiksi (penggambaran atau pelukisan) dari karakter seseorang. Dari situ kita dapat menilai orang lain dan menilai diri sendiri.
Dari berbagai kejadian atau fenomena hidup di mana kita hadir dan ikut ambil andil di dalamnya, serentetan potensi diri tampak ke permukaan. Kepiawaian potensi, keberanian diri, kuatnya komunikasi, harga diri yang dipertahankan, dan relasi yang terbangun rapi, adalah buah-buah dari depiksi karakter kita sendiri. Memang, ada fakta bahwa seseorang menyembunyikan karakter aslinya. Ia adalah seorang munafik. Kebaikan, senyum manis, fasih lidah, dan sederet nuansa (variasi) positif diri tampaknya meyakinkan, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Kemunafikan adalah tindakan menyembunyikan keburukan diri dengan cara menampilkan sesuatu yang tampak etis, baik, benar, dan ditunjang dengan perkataan yang terkesan rohani. Depiksi karakter semacam itu, tidaklah mendapat tempat di hati dan hidup dari orang-orang yang “tahu kebenaran Tuhan dan hidup jujur dalam kebenaran itu sendiri”.
Emosi dan harga diri adalah luapan karakter. Ketika seseorang sangat emosi karena ada alasan di baliknya, itu wajar. Harga dirinya tidaklah menjadi kolaps seketika. Asalkan emosi itu tepat sasaran, bukan membabi buta. Emosi dan harga diri sangatlah koheren. Itulah depiksi dari karakternya. Emosi itu sendiri netral, dan akan terlihat ke permukaan sebagai respons terhadap segala sesuatu.
Emosi diartikan sebagai perasaan atau reaksi psikologis dan fisiologis yang diwujudkan dalam bentuk kegembiraan, kesedihan, kesenangan, kecintaan, dan lain sebagainya. Artinya, emosi itu tampak dari raut wajah, perkataan, dan sikap hidup dalam kaitannya dengan respons positif atau negatif terhadap sesuatu. Emosi juga dipahami sebagai keberanian [diri] yang bersifat subjektif.
Harga diri dipahami sebagai kesadaran tentang kualitas atau potensi yang dimiliki oleh diri kita yang dipandang sebagai “berharga” atau “memiliki harga [nilai]”. Seberapa besar harga diri kita, kitalah yang menentukannya. Orang lain hanya meneguhkan atau memuji harga diri kita. Lain halnya dengan mereka yang memiliki harga diri rendah, yang disanjung setinggi-tingginya karena alasan tertentu. Itu adalah kemunafikan dan kompromi. John MacArthur pernah menyatakan, bahwa orang-orang tahu pasti ada sesuatu yang salah, tetapi demi perdamaian, mereka menutupi kebenaran. Itulah kompromi.
Kompromi dengan ketidakbenaran adalah penipuan diri dan menurunkan harga diri. Emosi memang ikut bermain di dalamnya, tetapi emosi tersebut telah mengkhianati hati nurani. Ketika ada sesuatu yang salah, tetapi karena ingin menjaga rasa persahabatan, kekeluargaan, rasa menjilat, rasa kagum, dan rasa perdamaian di antara para penipu, kompromi adalah pilihannya. Profanasi (perbuatan tak suci) yang tampak sangatlah berpengaruh pada emosi positif dan harga diri. Depiksi karakter seseorang menjadi jelas: menjadi penjilat dan menjadi penipu.
Demolisi (perusakan) harga diri dan emosi semacam ini berdampak pada relasi sekarang dan mendatang. Syukur jika di kesempatan berikutnya seseorang menjadi sadar bahwa sikap kompromi yang telah dilakukannya adalah “salah” dan berpotensi merusak emosi dan harga dirinya. Jika itu terjadi, ada masa depan baginya. Fakta itu adalah depik (menggambarkan) karakternya.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita turut larut dalam kompromi yang akan berpotensi merusak emosi positif kita dan bahkan menurunkan harga (nilai) diri kita? Bukankah kita yang terbiasa dengan mengatakan kebenaran dari bibir mulut kita, harus hidup perkataan itu? Ataukah kita sedang asyik menipu diri kita dan orang lain, sehingga menghasilkan fakta: “lain di bibir lain di hati”?
Ketika hidup yang kita jalani tak seperti yang kita bayangkan (harapkan), bukankah hal itu akan menguras emosi kita? Kita pun tahu bahwa Tuhan tak akan membiarkan kita menghadapi persoalan hidup secara sendiri. Ia ada dan menyatakan kasih, kemurahan, dan kuasa-Nya bagi kita yang mengasihi Dia. Burung di udara Dia pelihara, pasti kita juga dipelihara. Ia baik dan telah berbuat baik, bahkan tetap berbuat baik. Kasihilah Dia dengan segenap hati, akal budimu, dan kekuatan kita. Ia membentuk kita melalu berbagai kejadiaan dalam hidup agarr menjadi pribadi yang kuat. Emosi dan harga diri perlu kita jaga. Jangan mengandalkan diri sendiri, tetapi andalkanlah Tuhan senantiasa.
Emosi dan harga yang baik dan stabil depik (menggambarkan) karakter kita sendiri. Apa dan bagaimana emosi kita dibaca orang lain, itu adalah fakta yang tak terhindarkan. Begitu pula dengan harga diri kita. Guliran waktu yang terpampang di mata kita mengisyaratkan sebuah fenomena yang Tuhan berikan kepada kita untuk melatih emosi dan menjaga harga diri tetap stabil. Jika perlu, harga diri kita menjadi meningkat. Semua itu adalah pemberian Tuhan. Ini luar biasa.
Di setiap koridor kehidupan kita, tersedia aspek-aspek yang signifikan (bermutu tinggi) dan inferior (bermutu rendah) dengan fitur-fiturnya (karakternya) masing-masing. Kita dapat memilih di antara keduanya. Pilihan kita akan menopang dan mengembangkan emosi serta harga diri kita. Pilihan yang salah, menurunkan harga diri dan mempermainkan emosi kita; kita disibukkan dengan berganti peran, berpura-pura, menampilkan kemunafikan, dan topeng-topeng keburukan lainnya. Depiksi karakter pun tak bisa dihindari dari penilaian publik.
Jika kita menghendaki yang baik datang pada kita, seyogianya kita semakin giat melakukan hal-hal yang baik. Emosi dan harga diri membawa kita kepada fase-fase kehidupan dan pergumulan, melatih kita untuk kuat, tabah, dan bijaksana. Bijaksana adalah rangkuman fragmen-fragmen identitas dan potensi diri kita termasuk emosi dan harga diri. Di dalam bijaksana ada kebahagiaan, solusi, relasi, kesenangan, kepuasan, cinta kasih, dan komitmen hidup. Rohani kita bertumbuh dan berbuah lebat.
Akhirnya, kita perlu menjaga dan mengembangkan emosi dan harga diri. Proses hidup yang kita jalani memberikan nilai lebih bagi diri dan hidup kita. Tuhan akan senantiasa menyertai dan menopang orang-orang yang menjaga dan mengembangkan emosi dan harga dirinya sesuai dengan kehendak-Nya.
Bagi kita tersedia banyak kesempatan untuk melatih emosi dan memperlihatkan harga diri sebagai depiksi karakter. Pada setiap kesempatan, di ruang keluarga maupun publik, hal-hal yang bermanfaat tetap dilakukan dan diusahakan secara simultan. Ada fakta yang emotif (mengharukan) orang lain ketika kita secara tegas dan benar memperlihatkan emosi dan harga diri sesuai jalur yang dikehendaki Tuhan.
Teruslah melatih emosi melalui ragam fenomena. Kita dapat belajar dari kehidupan agar harga diri kita tetap terjaga dan bertambah nilainya. Jauhkan kompromi dengan ketidakbenaran; jauhkanlah kemunafikan (hipokrit), dan jauhkanlah segala jenis kejahatan. Jaga emosi dan harga diri kita dengan sebaik mungkin, karena dari situlah depiksi karakter kita dilihat dan dinilai oleh orang lain.
Ada fase di mana manusia melakukan kembara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hal itu dilakukan untuk mencari sesuatu, menunjukkan sesuatu, dan membuktikan sesuatu. Kemudian, ada fase di mana manusia menghentikan kembara tersebut ketika ia berhasil menetapkan pilihannya untuk memegang suatu “agama”. Di dalam agama, ada fase di mana seseorang harus belajar “teologi”, karena pada teologi terdapat fitur-fitur menarik yang mengarahkan seseorang kepada prinsip kitab suci yang dipercayainya. Dalam Kekristenan, teologi mengarahkan seseorang pada iman yang benar, perbuatan yang benar, dan tujuan akhir yang benar, karena itu adalah jaminan yang disediakan Tuhan bagi mereka yang setia kepada-Nya.
Agama sering dipahami sebagai pajangan gengsi intelektual dan kefasihan berbicara. Itu salah; itu tidak menjadi ukuran dari sebuah “tujuan akhir”. Jika agama yang benar dipandang sebagai sebuah wadah untuk menjadi yang terbaik dan menjadi lebih baik, ukuran menjadi lebih baik itu apa? Apakah hanya welas asih? Apakah hanya berbuat tindakan-tindakan yang benar? Tetapi tujuan akhirnya apa? Ketika agama menandaskan ajarannya hanya pada konteks welas asih dan berbuat baik, itu sama sekali memisahkan diri dari karya Allah bagi manusia yang berdosa. Lebih-lebih lagi dari bagaimana Allah menebus, mengampuni, dan menyelamatkan manusia berdosa dan pendosa.
Menempatkan ruang teologi pada setiap fragmen (bagian) hayati dan humanitas, menggiring kita kepada skema fakta bahwa “ada Tuhan yang senantiasa mengamati, memelihara, menolong, dan memberkati umat-Nya” yang setia serta mengasihi-Nya. Kita dapat melihat dengan jelas apa yang diungkapkan Rasul Paulus berikut ini: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
Kekuatan teologi memperlihatkan sayap-sayap pemahaman yang benar tentang Allah dan karya-Nya. Dari situ kita melihat bahwa dengan sayap-sayapnya “teologi itu harus menerbangkan dirinya” (memberi pengajaran dan penginjilan [lih. Mat. 28:19-20]) dan sanggup hinggap di mana saja karena kekuatannya terletak pada sayap-sayap itu. Teologi harus berani menembus batas geografis, dan itu telah dibuktikan oleh Yesus dan para rasul di kemudian hari. Kita pun demikian. Teladan itu harus menjadi kekuatan terbang dari teologi yang kita pahami dan yakini.
Teologi mengarahkan agama menjadi sebuah wadah di mana setiap manusia melihat Allah yang telah berkarya, yaitu membawa manusia kepada tujuan akhir: kehidupan kekal. Dosa adalah masalah serius. Di sini, hanya Allah yang sanggup menyelesaikan masalah dosa manusia. Manusia tak cukup kekuatannya untuk keluar dari problem yang serius ini. Uluran tangan kasih Allah dibutuhkan manusia. Sebab Dialah yang memiliki kuasa dan kedaulatan atas dunia ciptaan-Nya termasuk manusia.
Agama yang menekankan welas asih dan perbuatan baik, seolah-olah melupakan masalah dosa: pikiran dan perbuatan. Dosa perbuatan bisa tampak ke permukaan, sedangkan dosa pikiran menyelinap dalam hati dan tindakan-tindakan tersembunyi. Dapatkah kita menyatakan bahwa kita benar-benar berbuat baik sedangkan pikiran kita dipenuhi dengan berbagai jenis kemunafikan dan kejahatan?
Dapatkah kita menyatakan bahwa agama akan membawa kita menjadi lebih baik dan memisahkan diri dari karya Allah yang menyelamatkan manusia dari kungkungan dosa? Dapatkah agama menawarkan sesuatu yang lebih baik, jika tidak melibatkan Allah di dalamnya? Memang pada dasarnya hampir setiap agama memiliki iman kepada “Yang lebih Tinggi dan Berkuasa dari manusia”. Akan tetapi, letak problemnya bukan pada yang lebih tinggi dan berkuasa, tetapi pada cara untuk “membereskan masalah krusial manusia, yakni ‘dosa’”.
Tugas teologi adalah meracik setiap konteks (berdasarkan prinsip biblika) dan menawarkan serta membagikan pengajaran-pengajaran dari hasil racikan tersebut kepada khalayak (mengikuti perintah Yesus: ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu). Teologi itu sifatnya “keluar” – menjadi berkat bagi orang lain. Teologi itu bergerak maju, bukan jalan di tempat. Teologi itu melindas kesesatan dan menghancurkannya. Perjuangan untuk berteologi secara benar dan sehat, menjadi isu penting di setiap zaman termasuk di zaman kita sekarang ini.
Teologi yang dikemas secara sederhana memang tampak masuk akal, seperti agama yang terbaik adalah membawa manusia menjadi lebih baik. Jika demikian, konteks ini hanya berkutat pada masalah etis dan moralitas, ketimbang menyentuh aspek keselamatan manusia dari dosa-dosa mereka.
Teologi Kristen lebih dari pada itu; ia melihat secara komprehensif bahwa manusia tak dapat membawa dirinya kepada tujuan akhir yang Allah tetapkan. Manusia berurusan dengan masalah dosa. Kesalehan manusia seperti kain kotor; kebaikan yang ditaburkan hanya tampak di permukaan saja; manusia butuh sentuhan kuasa Allah yang mengubah hidup lamanya menjadi manusia baru. Identitas manusia baru mencakup semua aspek yang Allah kehendaki dilakukan oleh mereka yang telah dibentuk-Nya, telah diubahkan-Nya.
Kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan teologi. Akan tetapi, kita harus melihat apakah teologi itu benar-benar membawa kita kepada tujuan akhir, ataukah memuaskan kita hanya dalam waktu sesaat? Teologi yang sehat bukan berarti membuat para penganutnya buncit perutnya, bukan berarti menjadikan pipi para penganutnya tembem, bukan berarti menjadikan uang di rekening para penganutnya bertambah terus, bukan berarti menjadikan para pemimpinnya memiliki aset tertentu untuk memperkaya diri dan “gaya-gayaan”. Bukan, bukan itu.
Teologi itu sendiri menciptakan proses beriman, berpikir, dan bertindak untuk mencapai tujuan akhir: kehidupan kekal. Kita, teologi, dan tujuan akhir adalah rentetan peristiwa yang harus dimaknai sebagai faset (bagian) yang melekat (koheren) dengan predestinasi. Predestinasi Allah secara faktual direalisasikan secara penuh dalam kehidupan manusia yang dipilihnya saat berada di dunia ini, hingga kemudian menemukan kepenuhannya di dalam Kerajaan Allah.
KITA, TEOLOGI, DAN TUJUAN AKHIR adalah sebuah pemahaman signifikan bahwa kesadaran berteologi bukan hanya mempertontonkan gelar akademik, racikan teologi tertentu, bukan pula kekritisan mengulas fragmen dari pemikiran tokoh-tokoh Kristen atau pun tokoh-tokoh yang melawan iman Kristen, melainkan “memahami, menghidupi, dan melakukan teologi secara serius dan bergairah.” Teologi yang sehat memberikan asupan gizi bagi pertumbuhan iman, kasih, dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, yang dikontrol oleh Allah.
Ketika kita memahami dan menerima teologi, usahakanlah ia tetap tinggal di dalam hidup kita. Mintalah Roh Kudus untuk memimpin kita agar realisasi teologi yang sehat, membawa kita kepada tujuan akhir yang Allah tetapkan bagi kita di dalam Kristus Yesus.
Frasa “di bawah matahari” adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan konteks hayati segala sesuatu yang ada di atas bumi. Kita bergerak di bawah matahari; kita bekerja dan berusaha di bawah matahari; kita menangis dan bergembira di bawah matahari; kita berjerih lelah di bawah matahari; kita berharap dan berserah kepada Tuhan di bawah matahari; kita berbuat dosa dan menindas orang lain di bawah matahari; kita menyombongkan diri dan menipu orang lain di bawah matahari; kita bersenang-senang di bawah matahari; kita mendapat upah di bawah matahari; kita berduka di bawah matahari; kita dilahirkan di bawah matahari; kita mati di bawah matahari; dan segala sesuatu yang terjadi di atas bumi, terjadi di bawah matahari.
Pengkhotbah menampilkan sebuah catatan kehidupan yang pada faktanya menuju pada kesia-siaan di bawah matahari. Pengamatan Pengkhotbah terhadap hidup memberikan pelajaran bagi kita tentang upaya dan kesia-siaan dalam hidup.
“Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Pengkhotbah 1:14
“Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.” Pengkhotbah 2:11
“Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.” Pengkhotbah 2:17-18
“Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?” Pengkhotbah 2:20, 22
“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” Pengkhotbah 3:16
“Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan.” Pengkhotbah 4:1
Manusia yang mengharapkan kehidupan yang ideal harus ditopang oleh usaha dan kerja keras. Jika tidak, apa yang dikerjakan menjadi sia-sia. Tak ada usaha, tak ada kehidupan; tak ada kerja keras, tak ada hasil yang dapat menunjang kehidupan, bahkan kebahagiaan kita. “Matahari” telah menyediakan sinarnya untuk menggerakkan kita dalam bekerja dan berusaha. “Matahari” membiri dirinya dilihat kapan saja agar manusia dapat melihat “Sang Khalik” sebagai Sumber kekuatan, kehidupan, dan kebahagiaan.
“Di bawah matahari” adalah frasa yang menegaskan kedaulatan Allah sebab Dialah yang menciptakan matahari. Kita yang hidup tak mungkin dapat menolak gerakan waktu dan matahari. Yang dapat kita buat adalah berusaha menggapai tujuan dalam rasa takut akan Allah di bawah matahari ciptaan Allah itu.
Kita terus bergerak, menuangkan potensi diri dalam pekerjaan, entah itu pekerjaan yang baik, atau pekerjaan yang buruk, yang mencelakakan dan menipu orang lain untuk memperkaya diri. Segala upaya tipu muslihat yang dirancang sedemikian rupa akan mengalir kembali kepada para pelakunya. Seperti kata Pengkhotbah: “Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri” (Pengkhotbah 5:12).
Kita harus berhati-hati dan bijaksana dalam menjalani kehidupan di bawah matahari. Jika kita masih melihat “matahari”, berarti kita masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki diri, melakukan kehendak-Nya, dan berupaya (bekerja keras) memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap bersandar pada Allah, Sang Pemberi Berkat yang tak tertandingi. Kata Pengkhotbah: “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya” (Pengkhotbah 5:17).
Allah menghendaki kita mengucap syukur atas segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari. Oleh sebab itu, kata Pengkhotbah: “aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari” (Pengkhotbah 8:15).
Kita harus sadar bahwa hidup kita di bawah matahari ini sangatlah terbatas. Menyombongkan diri sama saja membuat kita berhenti melihat matahari yang menyinari kita. Merasa di atas angin karena kekuasaan dan berupaya menyingkirkan orang yang membuat dia terusik adalah sebuah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Tuhan melihat tindak tanduk manusia di bawah matahari. Ingatlah kata-kata Pengkhotbah: “Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati” (Pengkhotbah 9:3). Mereka yang memelihara kejahatan dan kebebalan akan menerima kematian di dunia yang disediakan Tuhan bagi mereka. Oleh sebab itu, tinggalkanlah cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan; nikmatilah hidup dengan hikmat yang Tuhan berikan kepada kita; syukuri apa yang Ia berikan.
Intensi (tujuan) Tuhan dalam memberikan yang terbaik bagi mereka yang mengasihi Dia, adalah agar mereka mengetahui bahwa hidup yang terberkati adalah semata-mata karena kemurahan dan kebaikan Tuhan. Tak ada yang dapat kita banggakan untuk tujuan menyombongkan diri sebab pada akhirnya kita tidak dapat “menggenggam apa pun” dalam tangan kita saat kita mati. Kita hanya membawa “perbuatan-perbuatan” kita untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Lihatlah segala sesuatu yang terjadi “di bawah matahari”. Tuhan telah menyediakan banyak pelajaran darinya. Kita ada di dalam waktu di bawah matahari dalam kontrol Tuhan. Apa yang dapat kita berikan kepada-Nya? Tentu segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya, mengasihi Dia dan sesama, berjuang menyatakan kebenaran, tidak kompromi dengan kejahatan, penipuan, dan keserakahan.
Kita hidup di bawah matahari yang sama, di bumi yang sama, hanya beda tempat saja. Kita perlu melihat dan menilai hidup apakah kita telah menyatakan apa yang menjadi kehendak Tuhan, ataukah kita hendak menonjolkan kehendak kita sendiri untuk memperkaya diri dan merugikan orang lain? Apakah kita sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang jahat, yang kita rencanakan di bawah matahari adalah hal yang dibenci Tuhan? Masihkah kita melanjutkan kejahatan kita, atau berhenti sebelum terlambat dan mati?
Sungguh, kejadian-kejadian yang terjadi di bawah matahari bisa menjadi menyenangkan atau menyedihkan; bisa menjadi membahagiakan, bisa menjadi kedukaan, bisa menjadi kecelakaan, bisa menjadi kemunafikan, bisa menjadi kesombongan. Seringkali, jika manusia ingin mencari aman, ia menjadi penjilat, dengan berbagai cara agar dirinya tetap aman. Sayangnya, kita terjerat dalam kemunafikan dan bahkan melupakan Tuhan sebagai Sumber Kehidupan. Haruskah kita meragukan kuasa Tuhan untuk membereskan kejahatan yang terjadi di bawah matahari? Haruskah kita melupakan Tuhan dan mengandalkan manusia agar hidup kita aman dan terhindar dari kerugian? Tuhan adalah sandaran yang kokoh; manusia adalah sandaran yang rapuh. Kita tinggal memilihnya. Jika salah pilih, kita tak dapat melihat “matahari” lagi.
“Di bawah matahari” menyadarkan kita bahwa kehidupan yang disediakan Tuhan layak diperjuangkan, dipertahankan, dan dikembangkan agar menghasilkan “buah-buah yang manis” yang memberikan kesegaran dan kekuatan bagi kehidupan kita dan orang-orang yang kita kasihi. “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah 9:10).
Berbuat baiklah dan berusahalah sebelum terlambat. Mintalah hikmat dari Tuhan agar langkah dan pikiran kita terarah kepada kehendak-Nya. Kita adalah benih-benih yang baik yang jatuh di tanah yang subur. Ingatlah perumpamaan yang dikatakan Yesus mengenai “Seorang Penabur”. Benih-benih yang jatuh di tanah yang subur (yang baik) akan berbuah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat.
“Buah-buah kehidupan yang manis” hanya dapat dihasilkan dari mereka yang memiliki sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan; mereka yang tahu mengucap syukur atas segala kebaikan dan kemurahan Tuhan; mereka yang suka menolong dan tidak menindas orang lain; mereka yang mengupayakan segala kebaikan bagi sesama; mereka yang tidak memperkaya diri dengan segala tipu muslihat; mereka yang tidak menyombongkan diri; dan mereka yang menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan. Sebab “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan [kehendak untuk mengetahui hari depan] dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).
Tak ada yang perlu kita sombongkan; tak ada yang perlu kita bangga-banggakan karena semuanya akan berlalu; kita harus kembali kepada-Nya, menyadari segala keterbatasan kita. Lanjutannya adalah kita mengucap syukur kepada-Nya karena Ia mencurahkan kasih dan kemurahan-Nya dengan begitu limpahnya. Masakan kita memungkiri segala kebaikan Tuhan? Dapatkah kita menggeser matahari? Dapatkah kita menahan sinarnya? Demikian pula kita tidak dapat memungkiri segala kekuasaan dan kebaikan Tuhan yang terpampang di depan mata kita.
Kita diarahkan-Nya menuju kehidupan yang benar, penuh berkat, penuh kebaikan, dan penuh kejujuran di bawah matahari. Jadi, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
Segala sesuatu yang dilakukan Allah di bawah matahari akan tetap ada untuk selamanya; itu tidak dapat ditambah dan tak dapat dikurang; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia, dan menyadari bahwa manusia yang terbatas membutuhkan Allah yang tidak terbatas, sebab dari-Nya segala kuasa, hidup, dan kebahagiaan, serta berkat yang disediakan bagi mereka yang setia dan mengasihi Dia dengan segenap hati, akal budi, dan segenap kekuatan.