Untuk memahami persoalan apa yang dilakukan Yesus pasca kematian-Nya, kita harus menggunakan kerangka berpikir komprehensif dari semua karya Allah di dalam Yesus Kristus. Alkitab menjelaskan bahwa “manusia telah berdosa kepada Allah”—ini ditegaskan karena Allah tidak berhutang dosa kepada manusia, sebaliknya, manusia berhutang dosa pada Allah. Oleh sebab itu, karena manusia berdosa kepada Allah, maka hanya Allah saja yang layak, yang patut, yang mutlak, dan yang berdaulat menetapkan “bagaimana” cara menebus manusia.
Perjanjian Lama menegaskan berbagai tata cara penebusan dosa yang ditetapkan dan disetujui Allah agar bangsa Israel, umat-Nya, mengetahui bahwa untuk mendapatkan pengampunan, penyucian, pembebasan dari segala dosa, kesalahan, dan pelanggaran, mereka harus mempersembahkan kurban-kurban, yang mengindikasikan adanya dua hal yakni “kematian” dan “darah”. Hal inilah yang kemudian digenapi dan dikerjakan Yesus di kayu salib: Ia mencucurkan darah dan kemudian Ia mati sebagai tanda “substitusi”—mengganti manusia dengan diri-Nya agar manusia diselamatkan dari murka Allah.
Inilah yang ditegaskan Rasul Petrus (1 Petrus 1:18-19)
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
Dan Rasul Paulus menegaskan konteks ini dalam Roma 8:32:
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Singkatnya, penebusan dilakukan karena ketetapan Allah yakni mempersembahkan kurban-kurban, dilakukan juga oleh Yesus di zaman Perjanjian Baru.
Lalu apa yang terjadi pasca kematian Yesus? Mengenai ini, hanya Rasul Petrus yang menuliskannya yaitu dalam 1 Petrus 3:18-20:
Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
Dari teks di atas, tidak disebutkan kapan harinya di mana Yesus pergi kepada roh-roh dalam penjara untuk “memproklamirkan” kemenangan-Nya atas maut. Kata yang diterjemahkan “memproklamirkan” adakah “ekēruksen” [ἐκήρυξεν] dari kata “kērussō” [κηρύσσω]. Jadi, entah pada hari Jumat malam, atau hari Sabtu secara keseluruhan, yang pasti, atas keterangan Rasul Petrus, Yesus pergi ke penjara di mana terdapat roh-roh manusia yang hidup pada zaman Nuh.
Dengan demikian, apa yang terjadi pada hari Sabtu, pasca kematian Yesus di hari Jumat? Jawabannya adalah “Yesus pergi memproklamirkan kemenangan-Nya atas maut”. Soal berapa lama Ia memproklamirkan kemenangan-Nya di dalam penjara, Alkitab tidak menjelaskannya. Dari sini kita paham, bahwa ketika Allah menyelamatkan manusia, Ia tidak setengah-setengah; Ia secara total menyelesaikan dan mengerjakannya melalui Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus. Hanya mereka yang menyadari betapa ia adalah manusia berdosa yang telah ditetapkan Tuhan, dipanggil, dan ditebus oleh Yesus, yang dapat memahami betapa ajaibnya dan betapa kasihnya Allah pada manusia berdosa.
Berbicara tentang “Injil”, tentunya bukan merupakan hal yang baru bagi orang Kristen, karena dengan Injil-lah orang Kristen tahu dan mengenal siapa Yesus dan karya keselamatan-Nya. Keempat Injil (kitab-kitab) dalam Perjanjian Baru merupakan satu-satunya sumber informasi utama mengenai Yesus Kristus, selain dari pada kitab-kitab lain terutama kitab-kitab yang ditulis oleh Rasul Paulus. Menurut J. I. Packer, Merrill C. Tenney dan William White, keempat Injil [kitab-kitab] itu tidaklah menyajikan sebuah biografi lengkap mengenai kehidupannya, cuma gambaran tentang pribadi-Nya dan pekerjaan-Nya. J. I. Packer, Merrill C. Tenney dan William White, Dunia Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 1995), 121. Selanjutnya dijelaskan bahwa kitab-kitab Injil, sesungguhnya merupakan penafsiran-penafsiran dari pada sekedar catatan rentetan peristiwa, tetapi tidak ada alasan sedikitpun untuk meragukan bahwa segala hal yang mereka kemukakan adalah sepenuhnya benar. Packer, Tenney dan White, Dunia Perjanjian Baru, 121.
Di samping itu, keempat penulis Injil memberikan aksentuasi yang berbeda-beda, berdasarkan maksud yang hendak disampaikan kepada para penerima Injil itu. Matius menekankan Yesus sebagai Raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai Anak Manusia, dan Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Yesus Kristus adalah tokoh utama dalam Injil-Injil. Penulis-penulis lain selain dari penulis Injil-injil kanonik, yang menekankan Yesus dengan cara yang berbeda, mungkin juga ada yang mencampuradukan ajaran Kristen dengan paham yang lain sehingga menghasilkan sebuah kitab atau injil yang sangat berbeda.
Menurut Joel B. Green, “Sebenarnya ada banyak ‘injil’ yang ditulis pada abad-abad pertama keberadaan Gereja. Lukas sendiri menyadari adanya beberapa upaya untuk menyampaikan kisah Yesus yang telah dilakukan sebelum upayanya ini (Luk. 1:1).” Joel B. Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005), 20. Dengan adanya penyampaian berita-berita yang disampaikan melalui sebuah “Injil” [kitab] yang memfokuskan ajarannya pada pribadi Yesus maka pada abad pertama, Gereja mengalami suatu perlawanan tentang ajaran-ajaran yang berkembang pada saat itu, yang juga termasuk di dalamnya adalah paham-paham Gnostik. Curt Fletemier mengomentari masalah ini dan menyimpulkan, “Tapi satu hal yang kita tahu pasti adalah selama abad kedua, ketika umat Kristen mulai menyebarkan Injil (berita) tentang Yesus di daerah Romawi, Gnostik menjadi salah satu pesaing terberat kekristenan. Beberapa orang Yahudi, Roma, dan Yunani menjadi orang kristen, yang lainnya menjadi Gnostik.” Curt Fletemier, Injil Yudas: Dusta Berkepanjangan, 3. Dalam Perjanjian Baru, Gnostik telah menyebar di kalangan jemaat-jemaat di Kolose, Korintus dan lain-lain. “Bidat Gnostik dalam Perjanjian Baru adalah bidat di Kolose yang menggabungkan spekulasi-spekulasi filosofis, kuasa perbintangan, ketakutan kepada perantara, tabu terhadap makanan dan praktik-praktik bertapa dengan unsur yang dipinjam di Yudaisme (Kolose 2:8-23). Bidat di Korintus menyangkal kenyataan kebangkitan (1 Kor. 15:12). Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes, yang menyangkal kemanusiaan Kristus (1 Yoh. 4:3; 2 Yoh. 1:7). Mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi Gnostik ‘seluk-beluk Iblis’ digunakan (Why. 2:24), surat-surat penggembalaan mencela pengajaran yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah (1 Tim. 1:4 dst, [lih. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, tentang Gnostik, 343]).
Dalam masa pelayanan Yesus selama di bumi, Ia memberitakan kabar keselamatan, kerajaan Allah, berita pengampunan dosa, juga Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit, berjalan berkeliling di kota dan desa dan masih banyak hal yang dilakukan. Pada masa itu juga banyak orang yang mengetahui tentang Yesus, dan apa yang Ia lakukan. Ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, orang-orang Saduki dan orang-orang yang ada sekitar Yesus di mana Ia melayani (Mat. 4:23-25 [Yesus mangajar dan menyembuhkan banyak orang dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh Siria], dan konteks yang sama ditulis oleh Lukas dalam Luk. 6:17-19 [Yesus mengajar dan menyembuhkan orang-orang yang sakit juga yang dirasuk oleh roh jahat].
Konteks yang lebih luas lagi adalah tentang khotbah di bukit, di mana ada begitu banyak orang yang mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Yesus (Mat. 5:1-12; Luk. 6:20-23). Yesus dan orang-orang Farisi (Mat. 12:22-37; Mrk. 3:20-30; Luk. 11:14-23). Yesus dan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (Mat. 15:1-20; Mrk. 7:1-23). Yesus dan orang-orang Farisi dan juga orang-orang Saduki (Mat.16:4; Mrk. 8:11-13). Yesus memberikan kesaksian tentang diri-Nya dan menimbulkan pertentangan di antara orang banyak (Yoh. 7:14-24), dan masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Yesus seperti yang dikatakan oleh Yohanes, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya harus dituliskan satu persatu, maka agaknya dunia tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25). Injil adalah kabar yang baik bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang diutus Bapa ke dalam dunia.
MAKNA “INJIL”
Menurut John Drane: “Kata ‘Injil’ adalah padanan dalam bahasa Indonesia untuk kata Yunani, ‘euanggelion’, yang dipakai Markus, dan mula-mula dipilih sebab kedua-duanya mempunyai arti yang sama: “Kabar Baik.” Jadi, Markus menulis mengenai “Permulaan kabar baik.” Apa artinya itu? Markus dan para penulis kitab Injil lainnya telah mendengar “Kabar Baik” tentang Yesus. John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Pengantar Historis – Teologis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 184.
Ola Tulluan berpendapat bahwa Kata euangelium berasal dari bahasa Yunani, artinya adalah “Kabar Baik.” Dalam Perjanjian Baru, istilah ini tidak pernah dipakai untuk kitab-kitab Injil, tetapi senantiasa tentang “berita keselamatan”. Baru pada abad ke-2 istilah ini dipakai dalam arti “Kitab Injil. Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru, (Malang: Departemen Literatur YPPI, 1999), 27.
Gerald O’Colllins dan Edward Farrugia juga menjelaskan tentang kata “Injil”, yaitu: Injil (Yun. “Kabar Gembira”). Warta bahwa kerajaan Allah sudah dekat (Mrk. 1:14-15) dan bahwa Yesus dinyatakan sebagai putera Allah dan Tuhan karena kematian dan kebangkitan-Nya (Rm. 1:3-4; 1 Kor. 15-1-11). Kabar gembira ini mendatangkan keselamatan…. (Rm. 1:16) dan mendorong manusia untuk rela berkorban (Mrk. 8:35; 10:29). Pada abad kedua “Injil” menjadi nama untuk menunjuk empat tulisan dalam Perjanjian Baru yang mengisahkan pengajaran, karya wafat, serta kebangkitan Yesus. Demikianlah kita mempunyai Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Gerald O’ Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), 117.
Joel B. Green juga menjelaskan: “Di dalam dunia Helenistis, istilah Injil atau kabar baik terutama dihubungkan dengan pengumuman kemenangan dalam pertempuran. Dalam Perjanjian Lama terjemahan bahasaYunani yang ditulis sekitar abad ketiga masehi, kata benda eunggelion muncul bebrapa kali. Walaupun demikian…kata tersebut mengandung makna “kabar baik.” (Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 61-62). Sebagai contoh, lihat 2 Samuel 4:10; 18:22, kata ini tidak menampilkan nuansa keagamaan yang eksplisit. Di sisi lain kata kerja euanggelizomai, “memberitakan kabar baik”, di dalam Yesaya 52:7, dihubungkan dengan proklamasi keselamatan … karena itu, Injil adalah berita keselamatan dari Allah….(Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 62).
Kabar Baik memiliki serangkaian perjalanan Yesus dalam “setting” (kejadian atau latar belakang cerita) yang menarik yang menghadirkan perdebatan teologis dengan para ahli Taurat dan lain-lain. Polemik yang berkepanjangan dengan orang-orang Yahudi (atau penganut agama Yahudi) terletak pada diri Yesus yang adalah Mesias yang juga memberi penebusan dosa manusia di mana hal itu tidak mau diakui oleh agama Yahudi. Green menjelaskan bahwa, “Bagi kita, sebuah Injil adalah sebuah buku yang memberikan narasi tentang kehidupan Yesus – yang secara khusus memfokuskan diri pada pelayanan-Nya kepada orang banyak, kematian serta kubur yang kosong” (Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 61).
Profesor Agustinus Gianto memberikan penjelasan tentang kata “Injil.” Dia mengemukakan bahwa, “menjelang zaman Yesus, kata ‘injil’, yang berasal dari bahasa Yunani ‘euaggelion’, secara umum dipakai dalam arti kabar baik, berita yang melegahkan karena bala bantuan telah tiba atau musuh telah tersingkir. Di kalangan orang Yahudi zaman itu pengertiannya menjadi lebih khas, yakni kabar baik bahwa sudah dekatlah pembebasan dari pembuangan di negeri asing dan penindasan oleh kuasa asing. Inilah yang melatari pemakaian kata ‘injil’ di kalangan para murid Yesus … yaitu bahwa Yang Mahakuasa kini bertindak memerdekakan seluruh kemanusiaan dari kungkungan keberdosaan. Gagasan yang tadinya berkembang di kalangan umat Yahudi tadi kini mulai meluas menjadi warta rohani bagi semua orang. Untuk itu Yesus memakai gagasan yang mudah dimengerti oleh para pendengarnya waktu itu, yakni ‘kerajaan Tuhan telah datang’ … yakni pemberitahuan mengenai kerahiman ilahi serta ajakan untuk menerimanya. Itulah ‘Injil’ pada mulanya.” Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, dan Gregor Wurst, The Gospel of Judas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), viii-ix.
Gianto menambahkan, di kalangan para murid generasi berikutnnya, gagasan tadi juga dipakai untuk menyebut pelbagai tulisan mengenai tindakan Yesus dalam mewujudkan “Kabar Gembira” tadi, yakni penyembuhan, pengusiran setan, serta pengajaran bagaimana hidup menurut Kabar Gembira itu, termasuk pula kejadian-kejadian menjelang akhir hidup-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya. Kumpulan yang paling utuh dari semua ini terdapat dalam keempat Injil di dalam Alkitab sekarang. Boleh dikatakan bahwa Injil-Injil dalam Alkitab mengabadikan berita gembira –Injil – yang dibawakan oleh Yesus. Kitab-kitab itu kemudian dikeramatkan dalam pelbagai kalangan umat Kristen sejak awal abad kedua. Kasser, Meyer, dan Wurst, The Gospel of Judas, ix.
Eksplikasi di atas bisa dikaitkan dengan pelayanan Yesus yang menyatakan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga yang diceritakan oleh Matius (5:10; 6:33; 7:21; 9:35), Markus (10:15), Lukas (9:11). Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dalaam pelayanan-Nya. Artinya, kedamaian, kuasa, keadilan, dan kemurahan Allah dinyatakan-Nya. Dengan demikian, Injil juga mewartakan Kerajaan Allah (Mat. 11:28-30) yang penuh kasih, keadilan, damai dan kuasa Allah bagi orang-orang berdosa.
Jacob van Bruggen menjelaskan bahwa, “nama Injil tidak menunjukkan gaya, tetapi mencirikan isinya. Kitab itu berisi kabar baik mengenai Kristus…. Bagaimanapun, di sini istilah Injil mengandung arti: ‘riwayat hidup Yesus Kristus di bumi.’ Riwayat hidup itulah yang dibicarakan sebagai ‘kabar baik.’ Jacob van Bruggen, Markus: Injil Menurut Petrus (BPK Gunung Mulia, 2006), 6-7.
Keempat penulis Injil Perjanjian Baru menceritakan riwayat hidup Yesus dengan tujuan yang sama yaitu Yesus sebagai penebus. Dalam riwayat inilah Yesus menjalankan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya (Yohanes 13:3, “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah”; bdk. Yoh. 14:24). Dengan berbagai hal yang Ia lakukan, banyak orang yang percaya akan pengajaran-Nya dan mujizat yang diperbuat-Nya (Yoh. 10:40-42; 2:23; 3:1; 19:39; Mat. 7:28; Luk. 7:16; Mrk. 5:20).
Injil-Injil kanonik menceritakan tentang Yesus. Injil-Injil kanonik ditulis berdasarkan fakta sejarah (ada saksi mata kejadian, dan melalui kuasa Roh Kudus yang mewahyukan kebenaran tersebut, menjadikan Injil-Injil PB bersifat mengubahkan kehidupan dan memberikan informasi tentang Kerajaan Allah serta keselamatan yang dikerjakan-Nya). Fakta merupakan dasar utama untuk setiap kebenaran yang termaktub dalam Injil-Injil PB. Kemudian fakta tersebut dapat diteguhkan oleh penemuan-penemuan arkeologi, jika fakta itu memiliki keterkaitan dengan sesuatu hal yang disampaikan, baik itu daerah, kota, orang yang memerintah, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu dan lain sebagainya.
Tentang fakta, Bruce Chilton menjelaskan, kata ‘fakta’ dipakai untuk unsur-unsur dalam kitab-kitab Injil yang pertama-tama mencerminkan apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus (setidaknya sejauh kita dapat mengetahuinya). Fakta hanya mengacu pada apa yang ada di dunia pengalaman, pada apa yang didengar orang atau diajarkan oleh Yesus. “Fiksi”, langsung mengacu pada dunia kepercayaan pada bahan yang ditulis orang Kristen untuk mengungkapkan kepercayaannya kepada Kristus. Dokumen yang dianggap berdasarkan fakta dalam menyampaikan laporan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau harus memiliki hubungan yang dapat dibuktikan dengan peristiwa yang bersangkutan…. Tetapi, jika satu dokumen menyajikan pembahasan yang panjang lebar atas nama Yesus – seperti halnya dengan “injil-injil apokrif”, abad ke-2 – tetapi hampir tidak ada kaitannya dengan ajaran-Nya sebagaimana dapat diketahui dari sumber-sumber terdahulu, maka sewajarnya dokumen-dokumen itu dianggap fiksi. Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru bagi Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 23-24. Lebih lanjut Bruce menjelaskan bahwa, “Kitab-kitab Injil tidak sepenuhnya menempati salah satu posisi, sehingga sulit untuk memasukkannya dalam salah satu kategori. Pada satu pihak, dokumen-dokumen ini menyampaikan bahwa atas nama Yesus, tetapi pada pihak lain memberi kesaksian tentang iman Gereja Purba. Bagi kita, untuk mengerti seberapa jauh Injil-injil itu berdasarkan fakta, kita harus tahu bagaimana erat kaitannya dengan Yesus dari sejarah dalam hal tuntutan Injil itu mengenai Dia”. Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula, 24.
Keempat Injil adalah fakta sejarah yang dapat dipercaya dan akurat. Dalam penjelasannya, keempat Injil kanonik bersifat saling melengkapi satu sama lain dan patut disebut sebagai suatu “konklusi” nyata dari Allah. Lee Strobel mengutip pernyataan Benjamin Warfield, dalam bukunya yang berjudul Introduction to Textual Criticism of the New Testament:
“Jika kita membandingkan keadaan kini dari teks Perjanjian Baru dengan keadaan kini dari teks tulisan kuno lainnya, kita harus … mengumumkannya sebagai sesuatu yang benar secara sungguh-sungguh mengagumkan. Ketelitian dalam bagaimana Perjanjian disalin juga demikian – suatu ketelitian yang pasti bertumbuh dari perujukan yang benar atas kata-kata kudusnya … Perjanjian Baru tak tertandingi di antara tulisan-tulisan kuno dalam kemurnian teksnya sebagaimana yang benar-benar diteruskan dan tetap digunakan. Lee Strobel, Pembuktian atas Kebenaran Kristus (Batam: Gospel Press, 2002), 89.
Kitab-kitab Perjanjian Baru, khususnya kitab-kitab Injil, telah mengalami berbagai bentuk-bentuk kritik yang mencoba menggugurkan kewibawaan Alkitab bahwa di dalamnya memiliki data atau informasi yang kontras satu dengan yang lainnya. Memang ada beberapa teks dari Injil Sinopsis dan Injil Yohanes yang sangat mencolok perbedaanya dan orang langsung mengambil kesimpulan bahwa hal sangat kontradiksi. Padahal, kalau dilihat secara akurat dan berdiri pada prosedur interpretasi obyektif maka dapat sebenarnya isi dalam Injil-Injil memberi keragaman atau keharmonisasian tentang teks (meski dianggap berkontradiksi), dan tetap pada kesimpulan bahwa keempat Injil ini saling melengkapi. Berita “Injil” mengacu pada berita keselamatan, anugerah Allah, kerajaan Allah, pengampunan dosa, pertobatan dan lain sebagainya. Rasul Paulus, dalam teologinya mengelaborasikan mengenai Kristologi yang mendalam. Ia menjadikan Injil sebagai pegangan hidupnya (bdk. Rm. 1:1-4, 16-17; 2 Kor. 6:1-10).
Orang-orang Kristen pada abad pertama mengalami pergolakan iman tentang Yesus. Banyak muncul ajaran-ajaran tentang Yesus yang tujuannya menghancurkan inti kepercayaan Kristen tentang Yesus (bdk. Flp. 3:2-4, Kol. 2:16-20, 2 Tes. 3:6-9, 1 Tim. 1:3-10, 6:9-10 dan lain-lain). Menurut S. T. France, sumber-sumber Kristen di luar Perjanjian Baru juga tidak dapat banyak membantu. Sebagian besar “kitab-kitab Injil” yang dihasilkan selama abad kedua dan sesudahnya jelas-jelas didasarkan atas keempat Injil dalam kanon, kemudian dilengkapi dengan cerita dongeng yang makin bertambah. S. T. France, Yesus Sang Radikal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 181.
Curt Fletemier, dalam Injil Yudas: Dusta Berkepanjangan, halaman 13, menjelaskan bahwa, “ratusan tahun setelah penyaliban Yesus, dan masa setelah para rasul tiada, ada kemungkinan bahwa beberapa orang Kristen dipengaruhi oleh pengajaran Gnostik, menulis beberapa injil baru. Tentu saja mereka akan memalsukan nama mereka dan menaruhkan nama para Rasul yang sudah lama tiada pada tulisan mereka. Mereka tahu bahwa dengan menaruhkan nama para Rasul di dalam tulisannya akan membuat orang menganggapnya lebih serius.”
ANTARA INJIL DAN KITAB-KITAB INJIL
Di atas telah dijelaskan soal makna kata “Injil” [euanggelion] yang berarti kabar baik. Yesus memberitakan Injil bukan berarti Ia memberitakan isi kitab-kitab Injil. Injil yang diberitakan bersifat verbal dan menekankan pada “isi”. Isi Injil adalah terkait dengan berita keselamatan, Kerajaan Allah, dan aspek-aspek penting tentang pertobatan kepada Allah, kasih Allah, dan pengampunan Allah. Sedangkan kitab-kitab Injil adalah dokumen-dokumen yang mengisahkan tentang pribadi Yesus Kristus dalam keseluruhan pelayanan-Nya dalam konteks Inkarnasi-Nya.
Jadi, sangat keliru jika memahami bahwa Injil yang diberikan Yesus adalah Injil yang merupakan kitab-kitab. Ada yang keliru memahami definisi Injil yang diberitakan Yesus. Mereka berpikir bahwa Injil yang diberitakan Yesus adalah sebuah ‘kitab’, padahal antara Injil yang diberitakan Yesus yang menekankan pada ‘isi berita’ dan Injil yang merupakan sebuah kitab, tentulah berbeda dari segi bentuk dan kronologis.
Karena kesalahpahaman inilah, beberapa orang telah “salah kaprah” terhadap Injil, baik yang diberitakan Yesus maupun Injil yang ditulis oleh para murid Yesus (Matius, Yohanes, dan Petrus [melalui Markus]) dan Lukas, seorang dokter dan seorang rekan kerja Rasul Paulus. Persoalan salah kaprah ini mengantarkan kita pada kitab suci Islam: al-Qur’an yang dalam beberapa kitab menyebutkan bahwa ia “membenarkan kitab-kitab sebelumnya” termasuk Injil. Nah, pertanyaannya, Injil yang mana yang dibenarkan al-Qur’an? Untuk menghindari pembenaran al-Qur’an terhadap kitab-kitab Injil PB, beberapa orang berdalih bahwa Injil yang dibenarkan oleh al-Qur’an adalah “Injil Yesus Kristus”, padahal al-Qur’an sendiri berbicara mengenai kitab Injil dan bukan berita Injil. Karena ketidakjujuran muslimers, maka tak ada yang mau mengakui bahwa al-Qur’an membenarkan Injil PB, dengan dalih bahwa Injil PB telah dipalsukan. Jika dipalsukan, mengapa al-Qur’an membenarkannya?
Mungkin mereka berdalih bahwa yang dibenarkan adalah Injil yang asli. Pertanyaannya: Injil asli yang mana? dan kita dapat terus bertanya ketika mereka memberikan jawaban. Pada akhirnya, tak ada yang mengakui keabsahan Injil-Injil PB ketika al-Qur’an membenarkannya, kecuali mereka yang telah mendalami kekayaan dan keakuratan historis. Bagi saya, mereka yang tidak mau jujur dan belajar tentang kekayaan Injil sebagaimana yang dibenarkan al-Qur’an, dan berdampak pada keengganan untuk mencari dan mendalami pengetahuan tentang Injil-Injil PB itu sendiri, menganggap dirinya bahagia meski tidak tahu apa-apa. Kondisi seperti ini saya sebut dengan “IGNORANCE IS BLISS”—ketidaktahuan adalah anugerah [kebahagiaan]. Sudah tidak tahu, tetapi tidak mau belajar dari pengajaran Kristen; suka mengkritik doktrin-doktrin Kristen, tetapi menolak penjelasan ilmiah yang dikemukakan Kristen; suka mengutak-atik teks-teks Alkitab tanpa konteks, tetapi ketika dijelaskan kontesknya, malah menolaknya dan bahkan tidak menerimanya. Itulah makna sesungguhnya dari peribahasa “IGNORANCE IS BLISS”—ketidaktahuan adalah anugerah [kebahagiaan].
Jika ada muslimers yang bertanya mengapa Injil-Injil PB ada banyak terjemahan, kita hanya bertanya: Injil terjemahan yang mana yang dibenarkan al-Qur’an. Ketika para muslimer bertanya: Injil-Injil PB sebenarnya ditulis dalam bahasa apa: Yunani, Aram, atau Ibrani? Kita hanya bertanya: Injil dalam bahasa apa yang dibenarkan al-Qur’an? Dijamin, pasti tidak tahu dan tidak bisa menjawab.
Saya mengutip pernyataan salah satu pengagung Yahweh (kutipan ini diambil dari catatan Pendeta Budi Asali), yaitu Kristian Sugiyarto yang berpendapat, “Saya setuju bahwa nama (Yahweh) identik dengan pribadi-Nya itu sendiri, … Jika Nama identik dengan pribadi maka mengganti nama bisa berarti mengganti pribadi atau tidak mungkin melukiskan pribadi Yahweh dengan nama selain Yahweh. .. ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20: “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,… “), sedangkan TUHAN dan ALLAH jelas nama buatan LAI (NIV)”.
Saya sedikit mengomentari pendapat Sugiyarto mengenai pernyataannya bahwa: “ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20)”. Dari pernyataannya tersebut, sebenarnya simpel saja, pertanyaan saya yang kedua di atas layak dijawab: apakah kata “Yahweh” yang diwahyukan-Nya ataukah “YHWH” yang diwahyukan-Nya? Sebagai catatan di sini adalah “Apakah Sugiyarto memiliki bukti manuskrip atau papyrus Yeremia 32:20 yang menegaskan bahwa terjemahan “Yahweh”-lah yang benar-benar diwahyukan, padahal terjemahan ‘Yahweh’ berangkat dari empat huruf mati ‘YHWH’
Kedua, Sugiyarto menyatakan: “kyrios adalah kata Yunani yang salah atau minimal tidak tepat untuk menggantikan YHWH”. Pertanyaannya, apa dasarnya bahwa kata ‘kyrios’ tidak tepat untuk menggantikan YHWH? Lagipula, jika YHWH tidak diterjemahkan atau ditransliterasikan dengan menggunakan tambahan vokal ‘a’ dan ‘e’, maka apakah nama ‘Yahweh’ dapat mewakili empat huruf tersebut sebagai mana yang diwahyukan?
Ketiga, Sugiyarto menyatakan: “Jadi pada mulanya Septuaginta tetap mempertahankan YHWH. Namun belakangan memang diganti dengan Kyrios, Tuhannya orang Yunani!”. Jika dugaan Sugiyarto benar, maka ia harus membuktikan dengan menggunakan data ilmiah bahwa ‘belakangkan memang diganti dengan kyrios’ sehingga tidak menimbulkan klaim semata tanpa ada dasar sama sekali. Kata ‘belakangan’ harus jelas: kapan, di mana, dan oleh siapa yang menggantinya, sehigga Sugiyarto tidak terkesan hanya berasumsi tingkat tinggi di sini.
Keempat, Sugiyarto menyatakan: “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! … Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi/mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority. … Mereka yang memberi atau mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi/diganti nama.”
Pernyataan Sugiyarto sangat kontradiktif. Buktinya adalah: 1) Pernyataan “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti” merupakan kepercayaan yang terlampau tinggi dan melampaui dari data historis itu sendiri. Pertanyaanya: dari mana Sugiyarto yakin bahwa nama ‘Yahweh’ itulah yang diwahyukan padahal dia sendiri menulis nama tersebut berasal dari empat huruf YHWH? Implikasinya, pertanyaan kedua saya di atas belum terjawab. 2) Ini pernyataan yang lebih aneh lagi: “Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi/mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority”. Jika asumsi saya benar, maka pernyataan Sugiyarto di atas mengindikasikan bahwa hanya Yahweh saja yang berotoritas mengubah nama-Nya, akan tetapi, Yahweh tidak mengubah nama-Nya: dengan demikian, terjemahan ‘Yahweh’-lah yang benar karena Yahweh tidak menggantinya sama sekali. Akan tetapi, pertanyaan kedua saya di atas harus dijawab: mana yang diwahyukan, apakah Yahweh atau YHWH? Jika ini terjawab, maka kita semua akan memiliki landasan kuat bahwa Ia sendiri yang menyatakan nama-Nya.
Para Yahwehisme menyuguhkan teks pendukung terkait dengan nama ‘Yahweh’ yang tak boleh diubah:
Keluaran 3:15, Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.
Yesaya 42:8, Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
Teks Keluaran 3:15 menegaskan bahwa “itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”. Pertanyaannya: nama yang mana? Yahweh atau YHWH? Jika ada yang mengatakan ‘Yahweh’ implikasinya dia mengakui bahwa nama ‘Yahweh’-lah yang diwahyukan.
Mari kita lihat firman-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3:14:14, “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Jika demikian, nama ‘Dia’ yang original adalah ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh. Harusnya ini yang dipertahankan, bukan dengan arogan memaksakan nama ‘Yahweh’ dipertahankan dengan menuduh nama ‘Allah’ adalah warisan Islam Arab. Untuk hal ini secara khusus saya akan membahas mengenai nama ‘Elohim’ yang digunakan oleh pengagung Yahweh dalam Alkitab terjemahan mereka. Standar ganda akan saya gunakan di sini.
Mari kita lihat berbagai varian terjemahan tentang teks Keluaran 3:14 berikut ini:
NET Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM that I AM.” And he said, “You must say this to the Israelites, ‘I AM has sent me to you.'”
NIV Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM. This is what you are to say to the Israelites: ‘I AM has sent me to you.'”
NJB Exodus 3:14 God said to Moses, ‘I am he who is.’ And he said, ‘This is what you are to say to the Israelites, “I am has sent me to you.” ‘
NKJ Exodus 3:14 And God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And He said, “Thus you shall say to the children of Israel,`I AM has sent me to you.'”
RSV Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And he said, “Say this to the people of Israel, `I AM has sent me to you.'”
TNIV Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM. This is what you are to say to the Israelites: ‘I AM has sent me to you.’ “
YLT Exodus 3:14 And God saith unto Moses, ‘I AM THAT WHICH I AM;’ He saith also, ‘Thus dost thou say to the sons of Israel, I AM hath sent me unto you.’
Nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh adalah nama original Allah. Herman Bavink [Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012)] menyebutkan bahwa nama Allah ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh adalah Dia yang punya nama tetapi sekaligus tidak punya nama. Berikut penjelasannya soal YHWH:
Bangsa Yahudi menyebutnya nama yang terutama, nama yang mendeskripsikan esensi Allah, nama diri Allah, nama yang mulia, nama empat huruf (tetragrammaton), dan yang menyimpulkan dari Imamat 24:16 dan Keluaran 3:15 (di mana mereka membaca kata “selamanya” sebagai kata “menyembunyikannya”, [le‘allēm] sehingga mereka dilarang untuk melafalkannya. Kita tidak tahu kapan persisnya ide ini muncul di antara bangsa Yahudi. Namun yang pasti LXX telah membaca “Adonai” di sini dan karenanya menerjemahkannya dengan “Kurios” (Yun. kyrios). Terjemahan selanjutnya mengikuti contoh ini dan mereproduksinya dengan “Dominus” (Latin), “Lord” (Inggris), “der Herr (Jerman), HEERE (Belanda) (Acts of Synod of Dort, bagian 2), l’Eternal (Prancis). Oleh karena kegentaran orang Yahudi untuk melafalkan nama ini, pengucapan orisinal dan benar telah hilang atau karena cara pelafalan yang benar dalam kenyataannya telah hilang (lih. Bernhard de Moor, Commentarius perpetuus in Johannis Marckii Compendium theologiae christianae didactico-elencticum, I, 534; Johann Franz. Buddeus, Institutiones theologiae dogmaticae variis observationibus illustratae, [Leipzig: T. Fritsch, 1723] I, 188).
Dengan berpegang pada tradisi Yahudi, beberapa pakar, Joachim dari Floris dalam karyanya Evangelium Aeternum, misalkan, melafalkan nama tersebut [YHWH] dengan “Yewe”, dan memang vokalisasi ini dapat ditemukan dalam karya Samuel B. Meir dan kemudian masih dipertahankan oleh Hottinger, Reland, dan yang lainnya (Franz Delitzsch, Neuer Commentar über die Genesis, [Leipzig: Dörffling & Franke, 1887], pp. 546 etc). Pelafalan “Jehovah” memiliki asal-usul yang belum lama. Pelafalan ini diterima secara luas melalui dukungan Peter Galatinus, seorang Fransiscan, namun ia ditentang oleh banyak pakar (lih. Dionysius Petavius, “De Deo”, dalam De theologicis dogmatibus, [Paris: Vivès, 1865-67], VIII, bab 9). Di kemudian hari, Drusius, Amama, Scaliger, Vriemoet, dan yang lain, mempertanyakan bahwa pengucapan “Jehovah” mungkin tidak benar dengan menyatakan bahwa vokalisasi telah diderivasi dari kata “Adonai” (Gisbert Voetius, Selectae disputationes theologicae, [Utrecht, 1648-69], V, 55; Campegius Vitringan, Doctrina christianae religionis, [Leiden: Joannis le Mair, 1761-86], I, 130).
Bahkan vokalisasi ini sangat dipertanyakan. Yang pertama, kata YHWH adalah sebuah “Qere perpetuum” dalam Alkitab Ibrani, yang kadang-kadang memiliki huruf vokal dari “Adonai” dan di waktu lain memiliki huruf vokal dari “Elohim”. Selanjutnya, bentuk “Yehōwāh” adalah tidak-Ibrani dan tidak dapat dijelaskan. Akhirnya, vokalisasi ini berasal dari waktu ketika pendapat bahwa nama itu seharusnya tidak pernah dilafalkan telah mengakar di dalam tradisi Yahudi.
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa menurut Friedrich Delitzsch, nama YHWH telah muncul dalam dua nama diri [gabungan] yang ditemukan dalam loh tanah liat dari masa Hammurabi,´”Ya-a’-ve-elu” dan “Ya-u-um-ilu”. Dari penemuan ini dia menyimpulkan bahwa nama YHWH mula-mula berasal dari Kanaan dan bahwa suku Hammurabi membawanya dari Kanaan ke Babel. Delitzsch keliru jika berpikir bahwa nama YHWH berasal dari Kanaan, sebab asal-usul Semitis bangsa Kanaan dan emigrasi suku Hammurabi dari Kanaan ke Babel adalah hipotesis yang tidak dapat dibuktikan, dan kita tidak menemukan jejak dalam masa kuno tersebut tentang satu allah Kanaan yang bernama YHWH. Mengenai etimologi nama tersebut, umumnya diasumsikan bahwa etimologinya merujuk kembali ke akar hwh atau hyh, dan hanya ada ketidaksepakatan mengenai pertanyaan apakah akar itu berbentuk “imperfect tense” orang ketiga dari “Qal” atau “Hiphil”.
Jika penjelasan di atas dipahami secara terang, maka memahami nama ‘Yahweh’ sebagai tindakan pemaksaan maka secara tegas hal itu bertentangan data historis dan data biblika. Kita pun melihat bahwa kaum Israel dan Yahudi menggunakan kata ‘Adonay’ kepada Sang Khalik, Yahwe, untuk menggantikan nama yang kudus itu. Meski mereka juga menggunakan Yahweh, tetapi mereka tidak getol untuk memaksakan—sebagaimana lazimnya para agoran Yahwehisme—penyebutan nama ‘Yahweh’ sebagai yang benar. Implikasinya justru menjadikan nama tersebut menjadi tidak kudus dan terkesan sembarangan.
Hal ini mengingatkan saya pada Keluaran 20:7 yang menyatakan: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Nah, apakah kaum Yahwehisme termasuk mereka yang menyebut nama ‘Yahweh’ dengan sembarangan atau tidak? Bahkan mereka mengumbar-ngumbar nama ‘Yahweh’ dengan sesuka hati sehingga menimbulkan asumsi bahwa ‘mereka telah menyalahgunakan nama Yahweh’ itu sendiri. Jika nama ‘Yahweh’ itu kudus, maka apakah nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh tidak kudus dan perlu dilupakan? Bukankah nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh yang diwahyukan kepada Musa waktu di semak yang terbakar?
Lalu bagaimana dengan kata ‘Allah’ atau ‘God’? Untuk kata ‘Allah’, akan saya jelaskan di akhir tulisan ini setelah melewati beberapa bagian penting termasuk nama ‘Elohim’.
Berikut ini saya memberikan bukti-bukti bahwa penggunaan nama ‘God’ tidak menjadi sebuah keberatan terhadap mereka yang bergelut di dunia historis dan agama, baik dari kalangan non Yahudi maupun Yahudi.
Pertama: dalam NEW EDITION OF THE “BABYLONIAN TALMUD: Original Text, Edited, Corrected, Formulated and Translated into English oleh Michael L. Rodkinson, (Boston: The Talmud Society, 1918), menggunakan kata “God” dan “Lord”.
Kedua: Salah seorang Rabbi Yahudi, Joseph Telushkin, dalam bukunya Jewish Wisdom: Ethical, Spiritual, and Historical Lessons from the Great Works and Thinkers, (New York: William Morrow and Company, 1994), tidak keberatan menggunakan kata God, meski ia sendiri adalah orang Yahudi asli, yang memiliki Kitab Ibrani, sebagai landasan kata YHWH dan Yahweh. Meski demikian, Teluskhin tidak seperti orang Indonesia yang ke-Yahudi-yahudian untuk mengusung gagasan nama ‘Yahweh’ seolah-olah pertanyaan kedua saya di atas “sudah” terjawab.
Saya memberikan beberapa bukti penggunaan kata ‘God’
(halaman 5): Both the Bible’s prophets and the greatest figures of talmudic Judaism have also expressed the view that ethical behavior is God’s central demand of human beings: He has told you, O man, what is good, and what the Lord requires of you: Only to do justice, to love goodness, and to walk modestly with your God. – Micah 6:8 (eighth century B.C.E.)
(halaman 6): That Hillel, one of the greatest figures of talmudic Judaism, was willing to convert a non-Jew on the basis of his accepting this ethical principle surely proves that ethical behavior constitutes Judaism’s essence (in the same way that Protestant fundamentalists would insist on a would-be convert’s acceptance of what they see as Christianity’s essence, that Jesus Christ was the son of God who died to atone for mankind’s sins).
(halaman 9): additional statement of Judaism’s essence the world endures because of three activities: Torah study, worship of God, and deeds of loving-kindness (Ethics of the Fathers 1:2)
(halaman 10) the Torah’s central message is the belief in one universal and moral God. Idolatry, with its insistence on a multitude of gods and its denial of a universal morality, negates Judaism’s essence.
(halaman 129): Rabbi Akiva’s statement notwithstanding, the article on Song of Songs in the Encyclopedia Judaica (15:143-152) clearly suggests the book’s unusual character: “The Song of Songs is unique in the Bible, for nowhere else within it can be found such a sustained paean to the warmth of love between man and woman. It is completely occupied with that one theme. No morals are drawn: no propethic preachments are made. God receives no mention, and theological concerns are never discussed. While the Book of Esther also fails ti mention God, an unmistakable spirit of nationalism permeates its pages; but the Song of Song lacks even this theme.” The Rabbis of the Talmud claimed that Song of Songs was allegorical in nature, that it used the model of a man and a woman to explain the love between God and the Jewish people. The very use of such a model suggests the high regard Judaism had for male-female love and sexuality.
(halaman 212): God did not build Auschwitz and its crematoria. Men did…. The Holocaust may make faith in God difficult, but it makes faith in man impossible (Dennis Prager and Joseph Telushkin, The Nine Question People Ask About Judaism, page 35).
(halaman 283): if I knew God, I would be God. (Medieval Jewish proverb)
(halaman 287): Evidence of God I have found in the existence of [the people] Israel.
(halaman 287): Sh’ma Yisra’el, Adonai Eloheinu Adonai Ekhad (Hear, O Israel, the Lord is our God, the Lord is One).
(halaman 358): these six Hebrew words come the closest to constituting Judaim’s basic credo; the equivalent of Christianity’s statement that Jesus is the Son of God who died to atone for humankind’s sins, and of Islam’s declaration that “There is no God but God, and Mohammed is his prophet.”
(halaman 397): The Seven No Ahide Laws (Judaism’s basic principles of morality for a non-Jewish Society): 1) Not to deny God (i.e. idolatry); 2) Not to blaspheme God; 3) Not the murder; 4) Not to engage in forbiden sexual activities (e.g. incest); 5) Not to steal; 6) Not to eat a limb torn from a living animal; 7) To set up courts to ensure obedience to the other (See Babylonian Talmud, Sanhedrin 56a).
Ketiga: Jack R. Lundbom dalam bukunya Deuteronomy: A Commentary, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2013), menggunakan dua-duanya (Yahweh dan God). 1) halaman 309: The Shema, taking in at least 6:4-5, sums up and renders positively the first and second commandments, which affirm the oneness of Yahweh and deny the plurality of others gods (P. D. Miller 1984, “The Most Important Word: The Yoke of the Kingdom.” Iliff Review 41/3:18). The two themes dominate the remaining sermonic material in chs. 6-11; 2) halaman 309-310: Yahweh our God, Yahweh is one. The four Hebrew words can be translated in different ways, as one can see from the Targums and modern English Versions:
The Lord is our God, the Lord is one (Targum Onqelos)
The Lord is our God, one Lord (New English Bible)
The Lord is our God, the Lord our one God (Revised English Bible)
The Lord our God, the Lord is one (Targum Pseudo-Jonathan]; New International Version)
The Lord our God is one Lord (Targum Neofiti; Authorized KingJames Version, 1611; Revised Standard Version)
The Lord is our God, the Lord alone (Tanakh: A New Translation of the Holy Scriptures According to the Traditional Hebrew Text. Philadelphia, 1985; New American Bible; New Revised Standard Version)
Yahweh our God is the one Yahweh (Jerusalem Bible)
Yahweh our God is the one, the only Yahweh (New Jerusalem Bible)
Ketiga: Charles H. H. Scobie, The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology, (Grand Rapids, Michigan: Wm. Eerdmans Publishing Co.: 2003) menggunakan kedua-duanya. Charles H. H. Scobie is Cowan Professor Emeritus of Religious Studies and former head of the Departement of Religious Studies at Mount Allison University, Sackville, New Brunswick:
1) halaman 107-108: “Hear, O Israel” The Lord our God (YHWH ’elōhēnû) is one Lord (YHWH ’echādh); and you shall love the Lord your God with all your heart, and with all your soul, and with all your might” (Deut. 6:4-5 RSV). These key passages take us to the very core of the OT understanding of God:
a God who is known by name,
a God who is one, and
a God who is above all a personal God.
2) halaman 108: God’s name is an expression of his essential nature. God’s nature is made known not only to Israel but also throughout creation: O LORD, our Sovereign how majestic is your name in all the earth! (Ps. 8:1); 3) in both the Decalogue and the Shema, God is named in two ways: (a) by the term ’elōhîm, a word that means “God” in a general sense and can be used with reference to the whole created order to designate the “gods” of peoples other than Israel; (b) by a proper name, YHWH, that is used only within the historical order to denote the God who makes himself known and enters into a special relationship with his people Israel; 4) halaman 108-109: The term ’elōhîm is by far the most common general word for “God”, occuring some 2,500 times in the OT. The word is plural in form, but when used with reference to the God of Israel there is never any doubt that the reference is to the one God. The plural can be regarded as a “plural of majesty” or an “abstract plural” that “corresponds to our word ‘Godhead’ or ‘divinity’ and is thus suited to the task of summing up the whole of divine power in a personal unity” (Walter Eichrodt, Theology of the Old Testament. Vol. 1. Philadelphia: Westminster, 1961: 185).
Teluskhin sama sekali tidak menjadi radikal dengan penulisan atau penyebutan Yahweh dan God. Penggunaan kata yang merujuk pada ‘Allah’ dalam berbagai bahasa tidak menjadi masalah teologis maupun historis karena Allah tidak dibatasi oleh kata-kata tertentu dari suatu bangsa. Penggunaan sebutan lain masih bisa diterima tetapi personalitasnya merujuk kepada Allah Pencipta yang dikenal melalui penyataan diri-Nya hingga—dalam pandangan iman Kristen—kepada Yesus Kristus.
Arogansi kaum Yahweisme mendobrak bukan pada makna dan historis secara substansial melainkan kepada kebodohan relasional yaitu mengabaikan konteks budaya, pesan, dan objek penyembahan.
PENGGUNAAN SECARA VARIATIF: YHWH, YAHWEH, LORD, DAN GOD [ALLAH]
Berikut ini adalah penjelasan dan argumentasi mengenai pemakaian kata ‘Yahweh’, ‘Lord’, LORD dan ‘God’ [Allah] secara variatif. Hal ini merupakan sebuah ‘pintu’ untuk memasuki cakrawala pemahaman tentang personalitas Allah dalam peristiwa historis. Substansinya adalah memahami personalitas Allah [God, Elohim] bukanlah soal ‘nama-Nya’ melainkan ‘Pribadi-Nya’ (mengenai konteks ini, saya menulis artikelnya secara terpisah dengan judul: “Memahami Allah: Antara Nama dan Personalitas: Pemaknaan dan Serapan Nama-nama Allah sebagai Jukstaposisi Identitas dan Karya-karya-Nya”). Hal ini akan saya jelaskan dalam bagian selanjutnya mengenai pengadopsian nama ‘El’ oleh bangsa Israel (bentuknya jamaknya adalah ‘Elohim’) yang digunakan dalam Kitab Ibrani dan juga kitab para pengagung nama Yahweh.
Penjelasan akar kata ‘El’ merupakan ‘standar ganda’ bagi para pengagung nama Yahweh yang ‘menuduh’ sepihak bahwa nama ‘Allah’ adalah nama ‘ilah kafir’, padahal nama ‘El’ juga adalah nama Dewa bangsa Kanaan, bangsa kafir (selengkapnya akan saya ulas di bagian berikutnya). Karena pemahanan yang dangkal dan ignoran, para tokoh pengagung nama Yahweh cenderung menyuguhkan data yang tidak valid kepada pengikutnya sehingga mereka yang awam hanya menerima asupan gizi yang tidak seimbang antara akal atau logika mereka dengan data historis. Wajar saja jika kita mendapati bahwa klaim-klaim golongan awam dari para pengagung nama Yahweh menjadi ‘lepas kendali doktrinal’ dan menjurus kepada sikap arogan terhadap ‘bahasa Yunani’ di mana nama Yesus (terjemahan dari Yunani ‘Iēsou) bukanlah nama sah melainkan “Yeshua”-lah yang sah. Klaim ini mengarah kepada arogansi dan ketidaktetarikkan pada bahasa Yunani. Padahal, PB ditulis dalam bahasa Yunani. Sebagai tambahannya, Alkitab PL dituliskan dalam bahasa Yunani yakni Septuaginta karena naskah-naskah PL itu sendiri telah tiada. Penerjemahan PL (Ibrani) ke Yunani (Septuaginta) merupakan bukti sejarah bahwa bahasa Yunani adalah bahasa “Pemersatu” umat Yahudi (selain Ibrani), yang dalam pemahaman kaum pengagung nama Yahweh, nama Yunani untuk Yesus [‘Iēsou] tidaklah sah, melainkan nama Ibraninya yakni “Yeshua”. Karena kekurangan pengetahuan dan jarangnya belajar secara memadai, membawa kaum awal pengagung nama Yahweh ke dalam ‘lumpur hujat’ yang tak terkendali dan sama sekali menyimpang dari data dan konteks historis.
Terkait dengan penyebutan nama Allah yang variatif, membuktikan bahwa para pakar bukanlah mereka yang cenderung arogan untuk memaksakan penggunaan nama ‘Yahweh’—sebagaimana yang dilakukan para pengagung nama Yahweh—sebagai sebuah “take for granted” yang buta. Mengapa buta? Sebab tetragramaton (YHWH) yang kemudian ada vokal yang ditambahkan ke dalamnya, merupakan sebuah penelurusan historis yang tak berujung. Perbedaan penyebutan YHWH ketika ada vokal masuk di dalamnya bukanlah sebuah gagasan tunggal. Artinya, penyebutan atau pelafalan “Yahweh” bukanlah gagasan tunggal (satu-satunya) sehingga menggiring para penggagung Yahweh untuk berpendapat bahwa memang pelafalan Yahweh-lah yang diwahyukan. Padahal, ada ragam penyebutan lainnya yang menjadi perbedaan.
Saya telah mengutipnya di “Bagian Kedua” mengenai hal ini. Tapi saya menyebutnya kembali secara singkat (elaborasi dan Herman Bavink):
“Beberapa pakar, Joachim dari Floris dalam karyanya Evangelium Aeternum, misalkan, melafalkan nama tersebut [YHWH] dengan “Yewe”, dan memang vokalisasi ini dapat ditemukan dalam karya Samuel B. Meir dan kemudian masih dipertahankan oleh Hottinger, Reland, dan yang lainnya (Franz Delitzsch, Neuer Commentar über die Genesis, [Leipzig: Dörffling & Franke, 1887], pp. 546 etc) … Di kemudian hari, Drusius, Amama, Scaliger, Vriemoet, dan yang lain, mempertanyakan bahwa pengucapan ‘Jehovah’ mungkin tidak benar dengan menyatakan bahwa vokalisasi telah diderivasi dari kata ‘Adonai’ (Gisbert Voetius, Selectae disputationes theologicae, [Utrecht, 1648-69], V, 55; Campegius Vitringan, Doctrina christianae religionis, [Leiden: Joannis le Mair, 1761-86], I, 130). Bahkan vokalisasi ini sangat dipertanyakan. Yang pertama, kata YHWH adalah sebuah ‘Qere perpetuum’ dalam Alkitab Ibrani, yang kadang-kadang memiliki huruf vokal dari ‘Adonai’ dan di waktu lain memiliki huruf vokal dari ‘Elohim’. Selanjutnya, bentuk ‘Yehōwāh’ adalah tidak-Ibrani dan tidak dapat dijelaskan. Akhirnya, vokalisasi ini berasal dari waktu ketika pendapat bahwa nama itu seharusnya tidak pernah dilafalkan telah mengakar di dalam tradisi Yahudi.
Menurut Friedrich Delitzsch, nama YHWH telah muncul dalam dua nama diri [gabungan] yang ditemukan dalam loh tanah liat dari masa Hammurabi,’Ya-a’-ve-elu’ dan ‘Ya-u-um-ilu’. Dari penemuan ini dia menyimpulkan bahwa nama YHWH mula-mula berasal dari Kanaan dan bahwa suku Hammurabi membawanya dari Kanaan ke Babel. Delitzsch keliru jika berpikir bahwa nama YHWH berasal dari Kanaan, sebab asal-usul Semitis bangsa Kanaan dan emigrasi suku Hammurabi dari Kanaan ke Babel adalah hipotesis yang tidak dapat dibuktikan, dan kita tidak menemukan jejak dalam masa kuno tersebut tentang satu allah Kanaan yang bernama YHWH. Mengenai etimologi nama tersebut, umumnya diasumsikan bahwa etimologinya merujuk kembali ke akar hwh atau hyh, dan hanya ada ketidaksepakatan mengenai pertanyaan apakah akar itu berbentuk ‘imperfect tense’ orang ketiga dari ‘Qal’ atau ‘Hiphil’”.
Sebagai penyeimbang penjelasan Bavink di atas, saya mengutip beberapa dasar mengenai perdebatan ini. Alkitab Edisi Studi (LAI, 2012) menjelaskan dan memberikan argumentasi sebagai berikut:
“Dalam Alkitab Ibrani, Tetragrammaton telah digunakan dalam syair-syair kuno seperti nyanyian Miryam (Kel. 15) dan Nyanyian Debora (Hak. 5) yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-12 SM. Berdasarkan keterangan dalam Alkitab Ibrani, sudah lama diusulkan bahwa YHWH awalnya disembah orang Midian. Musa dikisahkan menggembalakan ternak Yitro, mertuanya, di Midian (Kel. 2:15-22). Di gunung Sinai (atau Horeb) yang berada di wilayah Midian, Musa bertemu dengan YHWH di balik belukar menyala (Kel. 3). Kemungkinan ia mengambil alih kultus Midian itu dari mertuanya yang seorang imam. Salah satu indikasinya ialah pujian dan kurban yang dipersembahkan Yitro kepada YHWH setelah menyaksikan kemajuan yang dicapai menantunya (Kel. 18). Kesamaan kultus ini diperkirakan telah memungkinkan orang Keni, salah satu klan Midian, bersatu dengan orang Yehuda untuk menduduki Kanaan (Hak. 1:16). Akan tetapi, berdasarkan teks-teks lainnya, ada pula yang memperkirakan bahwa YHWH berasal dari Edom dan sekitarnya. YHWH digambarkan berasal dari Edom, Seir, Paran, Sinai atau Téman (Hak. 5:4; Ul. 33:2; Hab. 3:3). Jadi, kendati banyak pakar yang berpendapat bahwa kultus YHWH berasal dari luar Israel, jejaknya yang persis sulit ditelusuri.
Pelafalan yang tepat untuk YHWH tidak diketahui lagi. Bentuk ‘Yahweh’ yang sekarang umum dikenal sebenarnya merupakan hasil rekonstruksi terhadap Tetragrammaton. Rekonstruksi ini didasarkan pada pelafalan kata yang mirip dalam teks-teks Amorit dan pelafalan yang dicatat dalam beberapa teks Yunani. Patut dicatat, setelah masa pembuangan di Babel, umat Yahudi amat segan menyebut Tetragrammaton yang sakral itu secara langsung. Dengan rasa hormat yang mendalam mereka menguncapkan ‘Adonay’ yang berarti Tuanku atau Tuhan(ku) (sebagai sebutan pengganti dari YHWH).
Salah satu bukti tradisi pengucapan ini adalah Septuaginta, Perjanjian Lama berbahasa Yunani yang diterjemahkan dari Alkitab Ibrani. Terjemahan Alkitab perdana ini dikerjakan di Alexandria, Mesir, sejak abad ketiga SM. Pada masa itu, mulai dari masa pemerintahan Aleksander Agung, bahasa Yunani menjadi bahasa pengantar di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk Palestina dan sekitarnya. Dalam Septuaginta, ternyata istilah Yunani yang dipakai sebagai padanan Tetragrammaton adalah ‘Kyrios’ yang berarti ‘Tuan’ atau ‘Tuhan’. padanan ini jelas sekali mencerminkan tradisi pengucapan Tetragrammaton sebagai ‘Adonay’.
Kaum Masoret pun, yang terkenal amat setia menjaga kesahihan teks Ibrani, mempertahankan tradisi yang sama. Para penyalin Yahudi itu menyisipkan vokal a-o-a dari kata ‘A-do-nay’ ke dalam YHWH. Dengan cara itu, mereka ingin mengingatkan para pembaca Yahudi untuk menyebut ‘Adonay’ setiap kali menemukan Tetragrammaton dalam teks Ibrani yang mereka baca. Ironisnya, maksud kaum Masoret ini justru keliru dipahami atau tidak dipedulikan oleh umat Kristen di kemudian hari. Alhasil, YHWH disalin sebagai ‘Yahowa’ atua ‘Yehuwa’. Salah kaprah ini mulai muncul pada abad pertengahan, konon sejak masa Paus Leo X, lalu diikuti oleh berbagai terjemahan Alkitab dari abad-abad lalu.”
Dari penjelasan dan argumentasi historis di atas, tampak bahwa YHWH telah disalahpahami oleh mereka yang memang tidak mempelajari data historis. Jadi, bukan soal ‘nama-Nya’ tetapi ‘personalitas-Nya’ sebagaimana tampak dalam pengucapan Tetragrammaton yang diganti dengan ‘Adonay’. Apakah pribadi Allah berubah ketika umat Israel menggantikannya dengan ‘Adonay’? Tentu tidak. Substansinya jelas dan pribadi yang disembah juga jelas. Maka mereka yang mencoba memunculkan ‘gagasan tunggal’ sebenarnya menciptakan ‘makna dan pribadi yang baru’ yang menggiring kepada perbedaan substansial antara mereka yang mempersoalkan nama ‘YHWH’ dan mereka yang setia kepada ‘Pribadi Yang Ilahi’ meski disebut dengan nama lain, seperti ‘Adonay’ dan sebagainya.
Untuk menambah data terkait dengan penggunaan atau penyebutan nama YHWH secara variatif, saya mengutip beberapa sumber berikut ini:
Pertama. J. Weingreen, M.A., Ph.D., Emeritus Fellow of Trinity College, Dublin, Emeritus Professor of Hebrew University Of Dublin, dalam bukunya A PRACTICAL GRAMMAR FOR CLASSICAL HEBREW. SECOND EDITION (Oxford: Clarendon Press & New York: Oxford University Press, Great Clarendon Street, 1959) menggunakan varian: Yahweh dan Lord: YHWH Yahweh, the Lord … Menurut Weingreen, “Another type of deliberate change in reading due, in this case, to reverence, is the Divine name Yah¦weh or Yahweh. The Divine name was considered too sacred to be pronounced; so the consonants of this word were written in the text (Kethibh), but the word read (Qere) was Adonay (meaning ‘Lord’). The consonants of the (Kethibh) YHWH were given the vowels of the (Qere) Adonay namely … producing the impossible form Yehōwâ. Since, however, the Divine name occurs so often in the Bible, the printed editions do not put the reading required (Qere) in the margin or footnote; the reader is expected to substitute the Qere for Kethibh, without having his attention drawn to it every time it occurs. For this reason it has been called Qere Perpetuum, i.e. permanent Qere.” Weingreen cenderung menggunakan terjemahan ‘Lord’ ketimbang ‘God’.
Kedua. E. Kautzsch, Professor of Theology in the University of Halle, dalam Gesenius’ Hebrew Grammar, Second English Edition Revised in Accordance with the Twenty-Eighth German Edition (1909) by A. E. Cowley, with a Facsimile of the Siloam Inscription By J. Euting, and a Table of Alphabets by M. Lidzbarski Clarendon Press. Oxford (Oxford University Press, Walton Street, Oxford, 1910), menggunakan penyebutan nama secara variatif: “Yahweh”, “God” dan “Lord”:
… Godhead, God (to be distinguished from the numerical plural gods, Ex 12:12, & c.)… (whenever it denotes one God), is proved especially by its being almost invariably joined with a singular attribute (cf. § 132 h)…
… supremus (of God) is doubtful; according to others it is a numerical plural…
On the other hand, we must regard as doubtful a number of participles in the plural, which, being used as attributes of God, resemble plurales excellentiae…
… Gn 1:3and God said, Let there be light: verse 4and God saw the light…
… God is not a man, that he should lie, and (i. e. neither) the son of man, that he should repent…
.. forasmuch as God hath showed thee all this; Dt 21:16.
… it pleased the Lord … to magnify… which the Lord commanded (that) ye should do…
… may learn, and fear the Lord, i. e.to fear the Lord…
… instance of the same kind is Gn 30:27I have divined and the Lord hath blessed me, & c., i. e. that the Lord hath blessed me for thy sake.
Ketiga, Mark D. Futato, dalam bukunya Beginning Biblical Hebrew, (Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns, 2003), menyebutkan tiga kata yakni “God”, “Lord” dan “LORD”.
Translate the following from Psalm 136:1–3, 26.
Give thanks to the LORD, for he is good;
for his faithfulness endures forever. Give thanks to the God of Gods,
for his faithfulness endures forever. Give thanks to the lord of Lords,
for his faithfulness endures forever Give thanks to the God of heaven,
for his faithfulness endures forever.
In that day, the holy prophet will pray and prophesy, and the servants of the king will listen. Then they will cling to the commandments and statutes which are written in the book of the law of God.
When they lie down at night, they will not be afraid, because their God will guard their souls.
… The letters hwhy are the Lord’s covenantal name, often translated LORD, in contrast to Lord, and are referred to as the Tetragrammaton, “four letters.” According to Jewish tradition, which wishes to revere the divine name, the Tetragrammaton should not be pronounced. The edition of the Hebrew Bible you are…
Translate the following from Judges 7:4, 5, 7.
(4) The LORD said to Gideon, “The people are still too numerous. Bring them down to the water . . . (5) He brought the people down to the water. (7) The LORD said to Gideon, “With three hundred men I will save you.”
Keempat. Bruce K. Waltke and M. O’Connor dalam An Introduction to Biblical Hebrew Syntax (Eisenbrauns: Winona Lake, Indiana 1990, 2004), menggunakan empat kata yakni “Yahweh”, “YHWH”, “God” dan “Lord”
… because “this is not the way Moses usually addresses Yahweh,” and “the following sentence shows that speech proceeds in the respectful third person, not the second.”…
… despite the standard translation of the hÌy phrase as a protasis and of the Àm clause as its apodosis (‘As Yahweh lives, may … ‘).
The Lord YHWH swears by his holiness: “Surely, the time will come …”
I am YHWH, your God. (Exod. 20:2)
The first of these two utterances represents a situation with God as the agent and the sea as the object of the splitting action. The second utterance represents God as the agent and the rocks as having been caused to be put into the state of being split up.
YHWH … is God of gods and Lord of lords.
YHWH is our Lord (Deut. 10:17).
Teks-teks di atas menggunakan kata terjemahan ke dalam satu bahasa: Inggris. Para penulis tidak menjadi radikal dengan menyingkirkan kata “God” dalam buku atau tulisan mereka. Kesalahan melihat relasi teologis—historis dari sejarah penyataan Allah mengabaikan makna terdalam dari konteks karya Allah di sepanjang perjalanan kehidupan umat-Nya. Kaum Yahweisme adalah sekolompok orang yang mengurung diri dengan ideologi “Yahwe” yang diikat dengan sentimen teologis untuk menyingkirkan nama “Allah” di mana kata itu menjadi tidak bermasalah, malahan telah menorehkan sejarah kuasa dan kepedulian-Nya terhadap umat manusia di dunia ini. Klaim bahwa Yesus adalah Allah (Jesus is God) telah tercatat dalam sejarah kekristenan yang panjang. Sedangkan kaum Yahweisme, anak kemarin sore, mau mencoba menyingkirkan penggunaan kata “Allah”, “God” dan sebagainya, dari dunia teologi.
Akhirnya, kita hanya melihat dualisme jalur devosi: kaum Yahweisme tetap dengan penyebutan kata tersebut, sedangkan Kristen mayoritas tetapi menggunakan nama Allah sesuai dengan konteks budaya, bahasa, dan relasi mereka di sepanjang sejarah, dan tetap merasakan kasih, kemurahan, dan kebaikan Tuhan Yesus, dalam segala situasi. Bukan berarti mereka yang menyebut nama ‘Allah’ tidak diberkati. Toh, sebelum kemunculan kaum Yahweisme, orang-orang percaya di sepanjang zaman telah menikmati buah-buah dari iman mereka kepada Tuhan Yesus, Allah yang menjadi manusia.
Salam Bae.
Sumber gambar: breslovcenter.blogspot.com/2012/10/hitbodedut-and-hashems-name.html
Persoalan yang muncul di permukaan denominasi Kristen adalah penyebutan nama ‘Yahweh’ dan ‘Allah’ yang dilihat dari berbagai aspek. Penganut Yahwehisme (pengagung nama Yahweh) menyatakan secara tegas bahwa nama “Allah” adalah bukanlah terjemahan yang tepat bagi nama Elohim, karena ada perbedaan antara nama diri dan gelar bagi Sang Pencipta. Bahkan mereka mengusung bahwa empat huruf mati: YHWH harus tetap dipertahankan. Mereka mengusung berbagai dokumen untuk membuktikan asumsi mereka. Kata ‘Allah’ ditetapkan sebagai milik Islam Arab. Meski tidak melakukan penelusuran historis yang memadai, pokoknya mereka tetap bersikukuh bahwa ‘Allah’ adalah milik agama Islam. Benarkah demikian?
Pada proses dan perjalanan ‘beda paham’ ini kemudian mengerucut sampai kepada sedikit atau bahkan parahnya relasi antar denominasi Kristen. Kaum arogansi penentang kata ‘Allah’ yakni kaum Yahwehisme menegaskan bahwa ‘pemaksaan’ nama Yahweh diterjemahkan menjadi ‘TUHAN’ dan ‘Elohim’ menjadi ‘Allah’ merupakan sebuah langkah yang tidak benar. Namun, perlu diingat bahwa gagasan kaum arogan Yahwehisme tidak memperhitungkan konteks diakronis nama YHWH, di mana empat huruf mati YHWH (tetragramaton) harus diterjemahkan dengan “Yahweh”, memiliki asal asul yang tidak pasti. Saya akan mengajukan enam pertanyaan saya yang mustahil dijawab oleh kaum arogan Yahwehisme. Enam pertanyaan tersebut sebenarnya hanya sebagai bentuk penurunan tensi ‘panas tinggi’ kaum Yahwehisme yang semakin tak terkendali.
Alih-alih menggunakan kata-kata Ibrani, namun pada hakikatnya mayoritas tidak mengerti secara mendalam analisis leksikon dan gramatikal bahasa Ibrani. Pokoknya, jika sudah bunyi bahasa Ibrani, mereka serasa terbang bagaikan burung rajawali. Tapi tidak tahu mereka terbang ke mana. LAI menerjemahkan atau mentransliterasikan YHWH dengan “TUHAN”, namun ditolak secara tegas oleh kaum arogan ini. Meski perdebatan ini hanyalah perdebatan linguistik dan historis, tetapi relasi yang terjadi di antara keduanya menjadi sedikit terganggu. Pasalnya, kaum Yahwehisme bertindak seolah-olah mereka yang menyebut nama “Allah” adalah mereka yang sangat terkutuk, padahal, mereka juga dulunya adalah orang yang menyebut dan menggunakan nama “Allah” sebagai “Bapa” yang Kekal.
Saya mengutip beberapa pernyataan dan penjelasan serta argumentasi penting dari LAI terkait polemik ini:
Pertama: Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dengan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya Gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya?
Kedua: Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik mapun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ‘ELOHIM, ‘ELOAH, dan ‘EL dalam Alkitab Ibrani:
Kejadian 1:1: “Pada mulanya Allah (‘ELOHIM) menciptakanlangit dan bumi.”
Ulangan 32:17: “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (‘ELOAH).”
Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ‘ELOHIM, ELOAH, dan ‘EL berkaitan dengan akar kata ‘L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU, atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.
Ketiga: Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang berpendapat, kata itu tidak boleh hadir di dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ‘EL, ‘ELOAH, dan ‘ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania, dan Libanon tetap memakai “Allah” dlam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.
Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ‘ELOHIM, ‘ELOAH, dan ‘EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM., merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta menggunakan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: “Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor. 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan polities.
Keempat: Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (‘ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU,’ (‘EHYEH ‘ASHER ‘EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kau katakana kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (“EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.
Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah, umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ‘ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: “KYRIOS menggembalakan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm. 23:1).
Kelima: Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pencobaan di padang gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat. 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.
Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ‘ADONAY (‘TUHAN”) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.
Keenam: Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani perdana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mengingatkan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang sengaja dibedakan dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ‘ADONAY yang tidak merepresentasikan YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku (‘ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes. 49:14). Perbedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian baru yang tidak mempertahankan penulisan YHWH.
Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (EinHeitsubersetzung; die Bible nach der Ubersetzung Martin Luthers); Belanda: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumenique de la Bible).
Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:
(1) Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjanjian Baru) dan tafsirannya. (2) Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. (3) Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman. (4) Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam perserikatan lembaga-lembaga Alkitab sedunia (United Bible Societies). (5) Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pemimpin dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.
Ketujuh: LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampak bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.
Setelah melihat pernyataan dan penjelasan serta argumentasi LAI di atas, tampak bahwa kaum arogan Yahwehisme memiliki sejumlah asumsi yang belum teruji kebenarannya. Meski mereka menunjukkan sejumlah dokumen pendukung tentang nama ‘Allah’ tetapi mereka sendiri melupakan kata ‘Elohim’ dalam terjemahan Alkitab mereka. Apa sebenarnya latar belakang kata ‘Elohim’ itu? Hal ini juga masuk dalam daftar pertanyaan saya yang akan dituliskan kemudian.
Kita perlu melihat kondisi terkini dari kaum Yahwehisme yang di satu sisi, arogansi yang muncul mendorong para pengikutnya yang awam, menjadi seolah-olah tahu bahasa Ibrani dan merasa bahwa ketika menggunakan bahasa Ibrani, mereka menjadi lebih superior dari yang lain. Padahal, penggunaan bahasa Ibrani yang mereka paparkan, hanyalah secara artifisial, tanpa ada tendensi akademis yang mumpuni. Atau dengan kata lain, mereka yang menggunakan beberapa kata Ibrani, merasa seolah-olah di atas angin ketimbang mereka yang tidak mendukung gagasan Yahwehisme.
Akan tetapi, penelitian yang cermat, menghasilkan berbagai gagasan yang menarik untuk dikaji dan dipikirkan bersama. Terlepas dari setuju atau tidak, penelitian yang cermat tersebut, mengantar kita kepada sikap terbuka secara akademis untuk melihat adanya keragaman terjemahan dan dalil yang dapat menjadi tolok ukur mengapa seseorang bisa menggunakan kata ‘Yahweh’ dan ‘Allah’ di satu sisi, dan pula di sisi lainnya(lihat deskripsi LAI di atas). Saya sendiri pernah mengusulkan beberapa pertanyaan terkait dengan terjemahan YHWH untuk “Yahweh”, baik dari sisi historis atau pun dari sisi logika.
Secara subtansi, teks-teks Alkitab (Kitab Ibrani—Kitab Suci Yudaisme) menyebutkan hanya empat huruf: YHWH [yod, he, waw, he]. Kemudian, empat huruf tersebut ditransliterasikan menjadi “Yahweh”. Nah, terkait soal ini, maka beberapa pertanyaan muncul.
Pertama, dari mana asal usulnya dua vocal ‘a’ dan ‘e’ muncul dalam tetragramaton
Kedua, apakah penyebutan ‘Yahweh’ adalah benar langsung diwahyukan-Nya ataukah hanya empat huruf ‘YHWH’ yang diwahyukan-Nya?
Ketiga, siapa yang menetapkan dua vokal itu dalam tetragramaton. Dan atas dasar apa memasukkannya dalam tetragramaton.
Keempat, jika manusia yang menetapkan dua vokal tersebut maka pertanyaan kedua di atas muncul kembali.
Kelima, apa dasarnya sehingga harus disebut ‘Yahweh’? Mengapa tidak yang lainnya?
Keenam, apakah sebutan ‘elohim’ itu murni milik Israel atau hasil dari asimilasi dewa bangsa lain?
Keenam pertanyaan di atas sebenarnya bertujuan untuk menurunkan ‘sakit panas’ dari para pengagung Yahweisme yang getol memaksakan bahwa memang terjemahan yang tepat adalah ‘Yahweh’ meski mereka tidak mengetahui secara pasti dari mana kedua vokal ‘a’ dan ‘e’ masuk dalam empat huruf mati. Saya sendiri tidak keberatan menyebut nama ‘Yahweh’, namun tidak sefanatik kaum Yahweisme. Alasan saya tidak keberatan untuk menyebut atau menggunakan nama ‘Yahweh’ berangkat dari tradisi yang berkembang dari bangsa Israel itu sendiri, meski tidak ada data yang pasti mengenai masuknya dua vokal ‘a’ dan ‘e’ ke dalam YHWH.
Bisa saja empat huruf tersebut menggunakan vokal lainnya. Alasannya karena tidak ada data pasti mengapa harus “Yahweh” dan bukan yang lainnya. Ketika mereka yang ngotot menyatakan bahwa ‘harus’ Yahweh yang harus diterjemahkan, maka pertanyaan-pertanyaan saya di atas haruslah dijawab. Terkait dengan peryataan kedua di atas, tidak ada data yang pasti apakah terjemahan ‘Yahweh’ yang diwahyukan ataukah hanya ‘YHWH’ yang diwahyukan sebagaimana tampak dalam deskripsi LAI di atas. Semuanya masih menjadi tanda tanya. Namun, untuk alasan warisan historis, mayoritas menggunakan ‘Yahweh’ ketimbang terjemahan yang lainnya.
Jadi, sebenarnya kita berdiri pada posisi yang dual: mengakui bahwa terjemahan Yahwehlah yang benar dan terjemahan YHWH lah yang benar dan diwahyukan. Untuk mengurangi kadar kecurigaan satu sama lain, berikut ini saya akan memaparkan banyak contoh para pakar atau ahli dari berbagai kalangan. Mulai dari pakar Grammar of Biblical Hebrew, pakar doktrin Yudaisme, pakar historis, juga Rabbi Yahudi, dan para teolog lainnya, yang mana penyebutan Yahweh, God, Lord, LORD, Elohim, Allah, (dan terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris lainnya) digunakan atau diterima secara bersamaan, tanpa ada tendensi pemaksaan bahwa terjemahan ‘Yahweh’ lah yang diwahyukan. Artinya, mayoritas menerima penyebutan ‘Yahweh’ tetapi tidak dengan tendensi untuk ‘mengkafirkan’ mereka yang menyebut nama ‘Allah’—seolah-olah kaum arogan Yahwehisme ‘tahu’ bahwa nama ‘Yahweh’-lah yang diwahyukan padahal mereka sendiri mengakui bahwa nama itu didasarkan pada empat huruf (tetragramaton). Lalu yang mana sebenarnya diwahyukan-Nya?
Penggunaan kata “Yahweh” atau “Yahwe” oleh para sejarawan, teolog, penafsir, tidak berada dalam tendensi tertentu, apalagi menekankan arogansi teologis. Paul Joüon dan T. Muraoka, A Grammar of Biblical Hebrew [Subsidia Biblica – 27], Editrice Pontificio Intituto Biblico – Piazza della Pilotta, Roma 2006, menggunakan baik kata ‘Yahweh’ maupun ‘God’ (terjemahan Indonesia adalah “Allah”). Saya akan mengutipnya di sini, dan pembaca bisa melihat penggunaan nama Yahweh, Lord, dan God yang digunakan Paul Joüon dan T. Muraoka. Sebelum saya mengutipnya, saya memperkenalkan salah satu dar keduanya, yakni Profesor Muraoka. Muraoka studi BA (1960) di Tokyo Kyoiku University in English Philosophy; studi MA (1962), bidang Greek, Hebrew and general linguistic dan Ph.D (1970) Hebrew dan Semitic linguistic di Hebrew University in Jerusalem. Tahun 1970-1980, ia belajar bahasa Ibrani, Aramaik, Siria dan Etiopia di University of Manchester, U.K. Ia adalah profesor Bahasa Ibrani di Leiden University, The Netherlands (1991-2003). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Profesor Muraoka bukanlah orang biasa, melainkan pakar di bidang bahasa Ibrani, Aramaik dan sebagainya.
Dalam bukunya, Muraoka menyebutkan “Lord” bagi kata YHWH dalam teks 2 Raja-raja 8:13, “the Lord showed you to me”. Penggunaan kata “Yahweh”, “God”, dan “Lord” tidak dipandang sebagai arogansi teologis melainkan bermain di tataran elaboratif tekstual—historis dan pemaknaan atas teks dimaksud. Juga tanpa ada tendensi pemaksaan makna literal sebagaimana dijumpai dalam kasus Yahwehisme.
“Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela” (Amsal 9:7)
Dunia perkataan bersifat luas, liar, terkontrol, dan longgar. Longgarnya perkataan merupakan hal wajar sekaligus tidak wajar. Kesukaan seseorang untuk berkata-kata bergantung pada karakter dan personalitasnya. Mulut kotor penuh gusto hipokrit dan “verbal abuse” (bahasa [perkataan] kasar dan menghina yang ditujukan pada seseorang) didorong oleh banyak faktor. Faktor utama adalah lingkungan. Seseorang menjadi bermulut kotor dan penuh sumpah serapah ditenggarai berasal dari lingkungan di mana ia berada. Tak heran jika ada pendeta yang bermulut kotor karena disebabkan oleh lingkungan yang mendukung identitasnya sebagai sang pencemooh.
Perkataan yang terkontrol adalah bagian dari penguasaan diri seseorang. Meski bisa saja seseorang memiliki kapabilitas untuk berkata-kata secara longgar tetapi karena penguasaan diri yang tinggi maka setiap perkataannya menjadi terkontrol. Baik perkataan yang longgar dan terkontrol semuanya ditandai oleh aspek-aspek internal seseorang. Sebagaimana kita ketahui bahwa lingkungan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam “baskom demoralitas” dan juga mengangkat martabat seseorang dalam sebuah “baskom moralitas yang tinggi”.
Di lingkungan pencemooh, siapa pun yang tak bisa menguasai dirinya akan termakan oleh arus gusto hipokrit dan “verbal abuse”. Dalam lingkungan tersebut, tak ada personal yang dapat dijadikan panutan karena karakter personal yang ada di sekitarnya memiliki identitas yang sama. Bahkan lebih dari itu. Gusto hipokrit adalah sebuah konteks yang menjelaskan tentang “semangat” (dan antusiasme) sebagai sebuah rasa individual yang mengandung penampilan palsu, sehingga menghasilkan tindakan yang bertentangan dengan keyakinan atau perasaannya yang sesungguhnya. Singkatnya, semangat untuk melakukan kemunafikan.
Gusto hipokrit mengetengahkan sebuah fakta bahwa hipokrit dapat dipupuk dan dilatih oleh pelatih yang tentu memiliki rating tertinggi di antara komunitas mereka. Hipokrit menjadi jualan persuasif yang meyakinkan sembari pikirannya dibumbui dengan hawa nafsu dan keserakahan. Gusto “verbal abuse” adalah gandengan dari gusto hipokrit. Keduanya adalah kakak beradik hanya beda darah dan tanah kelahiran. Keduanya menyatu ibarat rokok dan asbak.
Gusto “verbal abuse” sama dengan “mencemooh” (atau menyalahgunakan perkataan [lisan]), muncul dan dimunculkan oleh orang-orang yang hatinya tidak memiliki kemurnian kasih dan tidak memiliki pengertian yang tinggi alias pencemooh. Gusto “verbal abuse” dilakukan oleh mereka yang otaknya miring dan sering tak terkendali. Mereka kerap mencerminkan pribadi yang suci dan bersih dalam pandangannya sendiri di kandang sendiri. Di antara mereka ada berbagai level jabatab. Ada yang bagian keuangan, ada bagian pendoa sumpah serapah, ada yang provokator, ada yang pengamat, ada yang bagian tagih uang, ada yang bagian pemerataan keuangan, ada yang bagian lobi atau manuver licik dan lainnya adalah bagian “cleaning service” atau bagian sapu-sapu jalan para pelaku gusto “verbal abuse” seolah-olah mereka adalah pelayan yang membersihkan dosa-dosa para pencemooh.
Pencemooh yang lepas kendali sering disebabkan oleh adanya bayaran yang cukup tapi rutin. Setiap kali uang bayaran melekat di tangan dan ditambah bonus, maka secara otomatis gusto “verbal abuse” akan mengalir deras. Sang Hipokrit sering pula tidak tahu bahwa para pencemooh (pelaku “verbal abuse”) bisa berjiwa “hipokrit”. Artinya, dalam lingkungan setan mereka saling memperalat. Yang punya uang senang dan yang dibayar juga senang. Senang dalam dosa adalah “surganya” para pelaku kejahatan dan pelaku cemooh. Di sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa mereka akan bangga dengan kehandalan mereka dan akrab dalam lingkungan keburukan dan kesombongan. Mereka saling mendukung dan menasihati dalam kegelapan logika dan kebutaan rohani.
Agenda mereka hanyalah bagaimana meraup uang, kekuasaan, jabatan, pengikut yang dapat dibeli, dan bagaimana menjatuhkan serta mengancam orang lain. Hati dan pikiran mereka menjadi satu dan diikat oleh gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse”. Karena saling menyatu mereka kemudian mengandung dan melahirkan seorang “anak-anak” ingusan yang siap membabi buta, tabrak sana tabrak sini dan sering tabrak lari. Mereka piawai dengan kelicikan dan omongan manis. Membaca mereka sangatlah mudah. Cukup lihat perilaku dan perkataan mereka setiap hari dan apa yang mereka hasilkan. Sebagaimana Alkitab tegaskan: “Pohon dikenal dari buahnya”.
Selaras dengan fakta di atas, kita perlu menjaga diri dari pengaruh buruk mereka. Hati dan pikiran kita harus tetap murni, mengasihi Tuhan dan sesama. Kita tidak perlu meniru hal-hal buruk yang dikumandangkan oleh para pencemooh. Alkitab memberikan rambu-rambu peringatan, nasihat, kecaman, dan kesinambungan kehidupan manusia yang baik dan yang buruk (para pencemooh alias pelaku “verbal abuse”). Seperti yang ditegaskan oleh Alkitab bahwa kumpulan pencemooh adalah memiliki perilaku yang buruk.
Berikut ini adalah teks-teks selektif menyangkut pelaku “verbal abuse” dan tanggung jawab orang benar yang berperilaku lurus dan baik.
Mazmur 1:1-3. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Melalui pengamatan, di kehidupan yang normal sering muncul perilaku abnormal yang melekat pada dosa. Kurangnya pengetahuan membuat seseorang menjadi pakar dalam hal gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse”. Amsal 1:22 mengutarakan kondisi tersebut: “Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?”
Di konteks pertikaian dan perselisihan yang terjadi dapat muncul secara tiba-tiba atau dengan teknik yang telah dirancang sebelumnya, orang-orang yang berperilaku “verbal abuse” dan “hipokrit”. Mereka ini sebaiknya jangan dididik karena hal itu sama dengan melempar mutiara kepada babi. Karakter pencemooh yang telah mendarah daging menyulitkan perubahan pada seseorang.
Upaya untuk mendidik atau menyadarkan bisa menjadi upaya yang sia-sia. Amsal 9:7 menyatakan: “Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela.” Sulit bagi pencemooh untuk mencari hikmat karena pikirannya telah ditutupi oleh pasir sumpah serapah dan dusta serta tipu muslihat. Amsal 14:6 menegaskannya: “Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.” Bahkan dalam Amsal 15:12 dijelaskan karakter nya: “Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak.”
Ciri khas lainnya dari pencemooh di nyatakan ole Amsal 21:24 sebagai berikut: “Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga.” Memang si pencemooh itu angkuh. Padahal ia sendiri sedang menumpukkan dosa dalam hidupnya. Tetapi perlu diingat bahwa pada saat yang ditentukan Tuhan, si pencemooh akan habis sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Yesaya: “Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan” (29:20).
Ketiga di lingkungan kita muncul para pencemooh yang mengakibatkan pertikaian atau pertengkaran, seyogianya kita melakukan nasihat Salomo: “Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh” (Amsal 22:10).
Kita perlu melihat diri kita dan menilai secara jujur apakah saya termasuk dalam kategori orang yang gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse” atau kita termasuk dalam kategori orang yang berintegritas dan memiliki kasih yang tulus dan murni? Jika kita mengaku sebagai abdi Allah, maka selayaknyalah kita hidup dalam kemurnian kasih dan komitmen. Tidak mudah dibeli oleh para pembeli pengikut untuk menjadi penduduk lingkungan hipokrit dan “verbal abuse” melainkan hidup sebagai warga Kerajaan Allah yang mengenakan senjata terang.
Kita pun dinasihati oleh Rasul Paulus bahwa: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:12-14).
“Pemahaman” dan cara memahami” adalah dasar dari logika. Semua kehidupan, filsafat, ilmu pengetahuan dengan segala bidangnya, konsep, kritik, sikap diri, dan lain sebagainya, bergantung pada sebuah “pemahaman”. Setiap pemahaman menghasilkan berbagai hal: ada yang baik, dan ada yang buruk; ada yang bermanfaat, dan ada merusak; ada yang menguntungkan, dan ada yang merugikan; ada yang melegakan, dan ada yang menyesakkan dada; ada yang menuai pujian, dan ada yang menuai cacian (makian); ada yang memuluskan jalan hidupnya, ada ada yang menghambat jalan hidupnya.
Ada “banyak” kisah manusia yang dihasilkan dari sebuah “pemahaman”—entah pemahaman tunggal, ganda, maupun jamak. Setiap kesempatan yang dimiliki, dapat ditempuh dan diolah melalui sebuah pemahaman tentang “waktu”—yang mendorong setiap kita untuk dapat melakukan apa yang dapat dilakukan. Itulah “pemahaman”.
Di dunia “hermeneutik” [menafsir; memahami], segala sesuatu yang ditempuh perlu memahami aspek-aspek signifikan yang terkandung di dalam hermeneutik itu sendiri. Para Voyager (orang yang mengadakan pelayaran) di kapal logika mengedepankan pemahaman yang utuh dari sebuah konteks yang hendak dibicarakan (dipikirkan). Para Voyager akan dapat menemukan konstruksi yang benar-benar kuat ketika beberapa aspek signifikan dari substansi hermeneutik ditempuh dengan kritis dan jujur.
Ruang pemahaman kadang tak bisa dibendung. Selalu ada saja “ruang baru” di mana para Voyager bermain keluar dari kapal logika. Hingga akhirnya, berbagai kesimpulan atau gagasan bermunculan mempengaruhi para nelayan yang sedang berada di sekitar kapal logika mereka. “Pengaruh” adalah tujuan dari hermeneutik. Jika tanpa pengaruhi, percuma seseorang melakukan penafsiran. Pengaruh itu sendiri ada berbagai bentuknya. “Pengaruh” secara substansial mengandung rasa percaya, pemahaman, rasa yakin, rasa ragu, dan sebagainya—yang semuanya bergantung pada “penafsiran [cara menafsir]”.
Di sini, untuk memahami anatomikal (uraian tentang sesuatu) hermeneutik, diperlukan konstruksi—setidaknya ini yang saya pahami—sebagai dasar untuk mencapai tujuan dari apa yang ditafsirkan, semisal teks Kitab Suci.
Pertama, GERMINAL: TEKS DAN KONTEKS
Sebagai tindakan germinal (mula-mula) dalam menafsir, maka teks (yang dibaca) harus dipahami dengan melihat konteks yang terkandung dalam teks. Tindakan tindakan adalah tindakan umum dalam dunia tafsir Kitab Suci. Dasarnya jelas, teks dan konteks menjadi tindakan logis germinal. Namun, seringkali “prapemahaman” seringkali mendahului konteks dari teks yang sedang ditafsirkan.
Kedua, PERSEPTIVITAS. Tindakan germinal dilanjutkan dengan perseptivitas (daya pemahaman atau pengamatan). Tingkat pemahaman terhadap teks dan konteks berbeda-beda. Para Voyager di dalam kapal logika pasti memiliki tingkatan perseptivitas dalam hal menafsir. Mereka—dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keilmuan mengunggulkan hal-hal tersebut sebagai dasar pijak membangun konstruksi hermenetisnya. Tentu, hasil akhir akan menjadi penentu perseptivitas hermeneutis teks dan konteks.
Ketiga, IMAGINABEL (yang dapat dipikirkan). Kadangkala, gerak imaginabel muncul saat menafsir teks-teks sulit. Imaginabel sebenarnya membuka ruang pemikiran yang lain ketika konteks-konteks yang dipahami dari sebuah teks sulit untuk ditentukan latar belakangnya, budaya, politik, geografis, maksud dan tujuan penulis, dan lain sebagainya. Namun, secara substansial tindakan imaginabel membuka beberapa pemahaman yang tidak lazim untuk menjembatani kurangnya informasi konteks yang terkandung dalam teks.
Keempat, IMPERSONASI (perbuatan meniru; peniruan). Para Voyager tententu kadang melakukan impersonasi yaitu mendaur ulang cara dan hasil menafsir para penafsir pendahulu mereka atau yang sezaman dengan mereka. Tindakan ini dilakukan untuk tetap mempertahankan natur hermeneutik ketika berhadapan dengan berbagai kesulitan menafsir. Meniru bisa memungkinkan terciptanya konsistensi hermeneutis di satu sisi, dan mempertahankan isi kebenaran dari teks dan konteks di sisi lainnya.
Kelima, BAHAYA IMPERTINEN (tidak ada hubungan, tidak mengenai pokok persoalannya; di luar pokok persoalan; menyimpang dari pokok). Dalam proses hermeneutis ada bahaya yang bisa terjadi. Bahaya tersebut adalah impertinen. Dalam kalangan internal Kristen, tindakan impertinen sering terjadi. Bahkan belakangan ini, para teolog, ilmuwan, dan intelektual agama lain, sering melakukan impertinen. Mereka menafsir sesuka hati dengan menonjolkan asumsi dan opini subjektivisme yang liar untuk memuaskan pemahaman dangkal mereka tentang iman Kristen. Ahmed Deedat dan Zakir Naik adalah dua teolog Islam yang ignoran yang menafsir teks-teks Alkitab dan menghasilkan impertinen liar. Anehnya, ada orang-orang yang percaya pada cara menafsir mereka yang sangat impertinen. Bahaya ini akan menjalar ketika germinal (teks dan konteks) dan perseptivitas diabaikan. Apalagi mengabaikan aspek-aspek hermeneutis kredibel.
Keenam, BAHAYA PERMISIF (suka atau serba membolehkan). Permisif memiliki kaitan dengan impertinen. Artinya tindakan permisif dapat mengizinkan terjadinya tindakan impertinen. Namun, secara positif, tindakan permisif juga dapat berpotensi untuk melihat sisi lain dari sisi yang sudah ada—yang lazim. Apa maksudnya? Maksudnya adalah para Voyager dapat mengajukan cara lain untuk melihat kedalaman teks dan membolehkan metodologi atau pendekatan yang berpeluang menghasilkan gagasan baru dari teks yang ditafsirkan.
Dari deskripsi di atas, anatomikal hermeneutis adalah dasar bagi para Voyager yang berada di kapal logika. Meski penjelasannya sangat sederhana, diharapkan dapat membuka ruang diskusi mengenai konteks dan perkembangan hermeneutika saat ini. Yang pasti, hukum internal dari dunia tafsir adalah perlu memahami “konteks”—memahami kedalaman dan jembatan-jembatan yang menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lain, sehingga para Voyager di kapal logika mereka—ketika singgah di salah satu pulau, mereka menemukan bahwa konteks dari sebuah teks telah terdapat di sana, dan kemudian tinggal menggalinya, mengembangkannya, dan membagikannya kepada para nelayan yang mencari ikan di sekitar pulau-pulau hermeneutika.
Para Voyager di kapal logika akan menjadi petualang yang membawa berbagai pengalaman mereka mengarungi lautan “teks dan konteks” untuk dibagikan kepada para nelayan, memberikan “pengaruh”, menciptakan kehidupan yang berkenan kepada Allah, menaburkan benih-benih kebenaran Allah, dan menjadi teladan dalam perbuatan baik di mana perbuatan baik diambil dari teks dan konteks Kitab Suci yang telah mereka kunyah-kunyah menjadi makanan bergizi.
“Engkau telah melepaskan kami, ya TUHAN, dari ketakutan akan kematian. Engkau telah membuat akhir kehidupan di dunia ini, menjadi awal kehidupan sejati kami. Engkau menebus kami dari kutuk dosa, dan telah mengembalikan nama kami menjadi baik. Engkau telah meremukan kepala ular yang telah merenggut manusia di rahangnya karena jurang ketidaktaatan kami. Engkau telah membuka bagi kami jalan untuk kebangkitan, setelah terlebih dahulu merobohkan gerbang kematian. Dan Engkau memberikan kepada mereka yang takut akan Engkau tanda yang terlihat, yakni tanda salib Kudus-Mu, untuk menghancurkan musuh-musuh kami dan untuk perlindungan kehidupan kami.”
Js. Makrina(Kristen Orthodox)
Sumber gambar: Pinterest
Pendahuluan
Kekristenan berdiri dilandasi oleh iman kepada Yesus Kristus. Pengajaran tentang Yesus Kristus tertuang dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (PB). Para rasul telah memberikan warisan pengajaran tentang Yesus dan iman mereka kepada Yesus. Baik Yesus maupun para rasul (murid-murid) meninggalkan dua hal: pengajaran dan teladan. Yang kita warisi dari mereka adalah yang sedang kita lakukan dan rasakan.
Kekristenan berdiri karena pengajaran tentang Yesus yang dipublikasikan kepada dunia secara global dan masiv. Sepanjang sejarah, orang-orang Kristen berjuang memberitakan Injil meski berbagai tantangan, halangan, hambatan, dan ancaman kematian menanti mereka. Istilah “martir” menjadi popular di kalangan Kristen yang merujuk kepada mereka yang secara sederhana diartikan sebagai “mati demi Kristus”. Sepanjang sejarah tak terhitung jumlah martir Kristen. Mereka telah berjuang hingga akhir; mereka setia sampai mati; mereka bertahan sampai mati; mereka tidak menyangkal iman mereka untuk kompromi; dan mereka berani melawan ketidakadilan dan keserakahan dosa melalui tindakan kasih dan persebaran kebenaran Injil [Alkitab].
Tidak hanya di luar dari kekristenan yang membunuh orang-orang Kristen. Secara internal, Katolik Roma dan Prostestan menorah “jalan darah” yang dicurahkan demi berbagai kepentingan. Agama dan darah adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sejak awal, gagasan untuk mementingkan diri sendiri telah muncul sejak Kain membunuh Habel. Persoalannya adalah karena persembahan kepada Tuhan yang diterima adalah persembahan Habel, sedangkan Kain tidak. Ini tentu berbicara soal Tuhan dan persembahan. Maka, gagasan Agama dan Darah sebagai dua hal yang tak bisa dipisahkan merupakan catatan sejarah yang penting bagi kita di zaman ini untuk melihat signifikansi keduanya.
Zaman modern, dengan perkembangan teknologi dan informasi, menambah daftar panjang para penegak hukum dan juga agama-agama di dunia mengenai mengenai meningkatnya angka kejahatan dengan berbagai motif. Pemerkosaan, pembunuhan bermotif seks dan pelecehan seksual disebabkan oleh maraknya penggunaan internet di berbagai kalangan. Para pemuda dan pemudi Kristen terjerumus ke dalam dosa-dosa seksualitas dan berujung kepada pencemaran nama baik agama itu sendiri.
Ada pula karena kasus seksualitas, berujung pada saling bunuh. Darah pun tertumpah. Moralitas Kristen sering tidak menjadi pajangan utama di mimbar-mimbar Kristen, tetapi lebih menekankan kepada cara hidup penuh kasih dan saling mengampuni. Gagasan moral Kristen yang dibarengi dengan pendisiplinan anggota gereja dirasa belum cukup dan belum memadai untuk menekan angka pelanggaran moralitas dan seksualitas terutama di kalangan anak muda. Spirtualitas Kristen menjadi second class setelah tindakan-tindakan amoral dan masa bodoh atas peraturan gerejawi termasuk tata cara pendisiplinan. Masihkah relevan disiplin gereja? Saya rasa masih dan harus. Tetapi, apakah ada gereja yang masih melakukan hal tersebut? Saya rasa masih ada. Tetapi mungkin jumlahnya tidak banyak.
Maraknya pelecehan seksual, seks bebas (free sex), hamil di luar nikah, pembunuhan janin (bayi) atau aborsi, pembunuhan terhadap pasangan hidup atau pun pacar, bunuh diri karena putus asa dan putus cinta, rusaknya moralitas pemuda dan pemudi gereja, dan berbagai tindakan buruk dan amora lainnya, menjadikan gereja sebagai sorotan publik dan sering dipertanyakan program-program gereja tersebut yang pro spiritualitas Kristen. Dalam pengamatan saya secara kecil-kecilan di beberapa gereja, program-program gereja yang diusung ternyata sangat kurang menekankan level spiritualitas atau iman para pemuda dan pemudi. Yang ada hanyalah mayoritas kegiatan-kegiatan yang bersifat komunal dalam konteks kemah bakti, ret-retreat, bakti sosial, lomba paduan suara (koor dan vokal grup), pesparawi (pesta paduan suara gerejawi), lomba gerak jalan, sepak bola, tenis meja, dan lain sebagainya. Sebagian gereja lainnya, mengusung kegiatan-kegiatan KTB (kelompok tumbuh bersama) atau Konsel, persekutuan doa, dan sejenisnya.
Berbagai cara dan program digulirkan oleh gereja-gereja untuk mendidik generasi muda agar mencintai dan menjaga kekudusan hidup, menjaga hubungan di masa pacaran sampai menuju ke jenjang pernikahan. Namun, pada kenyataannya, dalam analisis saya, bahwa cukup banyak gereja yang gagal untuk mengamati perkembangan dan arus teknologi dan informasi yang mana para generasi muda lebih banyak mengakses informasi melalalui media internet atau smart phone. Tak hanya generasi muda, hubungan pernikahan pun diancam bubar—akibat melalukan chatting via media sosial dan kemudian berujung pada perselingkuhan.
Di beberapa kota besar di Indonesia, dari berbagai sumber yang saya dapatkan terkait informasi mengenai semberawutnya moralitas generasi muda Kristen, mayoritas dosa seksual menjadi peringkat nomor satu. Dosa seksual adalah dosa yang terdiri dari dosa berhubungan seksual pra nikah, dosa perselingkuhan atau perzinaan yang tidak pada tempatnya. Seorang sahabat saya, yang adalah seorang pendeta, pernah mengkonseling sepuluh pasangan yang akan menikah. Dan hasil dari konseling pranikah tersebut didapatkan informasi tentang pengakuan pasangan-pasangan tersebut adalah dari sepuluh pasangan yang akan menikah, ternyata hanya dua pasangan yang belum melakukan hubungan seks. Delapan pasangan mengaku telah melakukan hubungan seks pra nikah.
Tahun 2008, ketika saya berkunjung ke salah satu kantor kementerian agama RI di Manado, saya membaca sebuah Koran yang berisi tentang seorang gadis muda (mungkin duduk di bangku SMA) direkam oleh seseorang ketika ia melakukan hubungan seks dengan salah seorang aparat pemerintah. Di Talaud, beredar video perempuan dan salah seorang aparat kepolisian yang berciuman dan saling raba meraba. Di Manado, dari hasil survey salah satu lembaga, didapatkan bahwa lebih dari 60% para perempuan muda (anak-anak SMP dan SMA—belum termasuk yang kuliah) dan mayoritas adalah pemudi Kristen, telah melakukan hubungan seks. Bagi mereka, berhubungan seks tak jadi masalah, asalkan mereka mendapatkan bayaran untuk membeli smart phone, atau bahkan sebelum berhubungan seks bebas, mereka meminta dibelikan smart phone untuk bergaya.
Pertanyaannya adalah: di mana tugas gereja? Kemerosotan moral dan spiritual bukanlah persoalan baru di dalam Gereja. Gereja perlu memperhatikan masalah ini mengingat perkembangan teknologi dan informasi menjadi dorongan dan desakan kepada kaum muda untuk memiliki sebuah life style yang jika tidak terpenuhi, mereka akan mencoba mengorbankan diri dan keperawanannya agar mendapatkan apa yang diinginkan.
Bercermin dari persoalan ini, saya mencoba menggagas sebuah pemahaman yang krusial dan substansial terkait dengan “Teladan Iman”. Teladan iman berpusat pada prinsip meneladani iman dari para pendahulu kita—atau dengan sebutan “para martir Kristen” yang rela mati demi Kristus. Para martir patut diteladani. Iman dan keyakinan mereka membawa mereka pada nilai-nilai sejarah yang patut dipelajari sekaligus diteladani. Generasi muda telah—dalam pengamatan saya—kehilangan teladan iman. Mereka mendapati diri mereka hanya sebatas apa yang dipahami berkenaan dengan kondisi kekinian, kondisi rohani yang berbarengan dengan maraknya demoralisasi; maraknya perselingkuhan, maraknya pergaulan bebas; maraknya penggunaan narkoba, free sex, dan kekerasan seksual.
Menjadi Kristen hanya sebayas nama dan slogan belaka, tetapi nilai untuk berkorban bagi pelayanan dan Injil menjadi menipis dan bahkan padam sama sekali. Teladan iman dalam kajian ini, akan saya paparkan terkait dengan beberapa martir Kristen yang setia hingga akhir. Teladan iman perlu diwariskan kepada generasi demi generasi agar mereka tahu bahwa perjuangan menjadi Kristen begitu berat. Tindakan ini sebenarnya bertujuan untuk menekan angka kemerosotan moralitas dan spiritualitas Kristen dan membawa generasi muda pada puncak kejayaan untuk setia melayani Tuhan, menjadi pelopor kesucian dan kekudusan hidup dan terlebih lagi menjadi pioneer dalam menggagas gerakan cinta teladan iman dari para martir Kristen.
Alasan ini sekaligus menjadi tujuan utama saya untuk memberikan semangat kepada kaum muda bahwa menjadi pengikut Yesus dan menjadi pelayan Injil merupakan sebuah penghargaan dan sukacita tersendiri. Memang kita perlu meneladani tokoh-tokoh Kristen yang masih hidup, tetapi sekaligus juga tak boleh kita melupakan tokoh-tokoh Kristen yang telah mati demi Kristus. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Alkitab bahwa:
“…. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 16:24-25)
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. (Filipi 1:29)
DASAR ALKITAB
Kita perlu melihat dasar-dasar untuk mencontohi pendahulu kita yang telah berjuang dan mati demi Injil. Saya membandingkan dengan gagasan dari Gereja Orthodox di mana mereka membacakan kisah mereka yang patut dihormati di dalam iman karena mereka telah setia sampai akhir hidup mereka di dalam iman. Cara menghormati mereka adalah dengan cara menyalakan api (pendupaan atau lilin).[1] Dasar mereka adalah Yeremia 34:5.[2]
Dalam Ibrani 13:7, sangat jelas menunjukkan adanya perintah untuk meneladi mereka yang telah setia hingga akhir:
“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.
Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan betapa pentingnya untuk mengingat sejarah tentang perbuatan TUHAN dan kesetiaan umat-Nya untuk dijadikan pembelajaran iman yang juga disebut sebagai teladan iman agar umat percaya tahu bahwa sejak dulu, dalam berbagai peristiwa-peristiwa spektakuler, TUHAN telah banyak dan terus-menerus berkarya di dunia ini.
Mazmur 78:1-8
Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
Ulangan 7:18
Maka janganlah engkau takut kepada mereka; ingatlah selalu apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap Firaun dan seluruh Mesir,
Ulangan 8:2
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
Ulangan 32:7
Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.
1 Tawarikh 16:12
Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,
Mazmur 105:5-6
Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!
Lukas 17:32,
Ingatlah akan isteri Lot!
2 Tim 3: 15
Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Ibrani 10:32
Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat
Ibrani 12:3
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Ibrani 13:3
Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.
PARA MARTIR KRISTEN: TELADAN IMAN YANG PERLU DIKETAHUI
Susan Bergman[3] menguraikan berbagai kisah tentang para martir dari berbagai generasi dan tempat. Bergman secara tepat menuliskan kisah-kisah tersebut sebagai warisan yang semestinya perlu dipelajari dan direnungkan serta diingat kembali. Agustinus menyatakan: “Martyrem non facit poena, sed causa”, yang berarti: Bukan penderitaan yang membuat orang menjadi martir sejati, melainkan alasannya (Epist. 89.2).[4] menurut Bergman, istilah martir membuat pikiran kita melayang pada pemandangan di arena Romawi Kuno di mana orang-orang Kristen yang mula-mula diadu dengan binatang buas.[5] Melihat fenomena para martir Kristen, Bergman menulis, “dengan angka kematian orang-orang Kristen yang meningkat di seluruh dunia dalam tahun-tahun terakhir, pikiranku ditarik kepada titik persimpangan antara iman dan kematian.
Selanjutnya, Bergman menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi seputar kematian orang-orang Kristen demi Injil dan keimamanan mereka terhadap Yesus Kristus. Sebelumnya ia menjelaskan tentang makna martir, seperti yang diungkapkan berikut ini:
Martir, yang arti dasarnya adalah “saksi”, pertama kali dipakai sebagai rujukan bagi orang-orang Kristen mula-mula yang dibunuh karena pengakuan iman mereka kepada Allah sejati dan esa. Para saksi ini bukan saja mengungkapkan apa yang telah mereka lihat dengan hati mereka. Mereka menanggung penderitaan sekarang sebab mereka yakin akan pemerintahan Allah di bumi dan pengharapan yang akan menempatkan mereka dalam kehidupan surgawi yang akan datang.[6]
Polikarpus, uskup dari gereja di Smirna, karena menolak untuk menyebut kaisar sebagai “Allah”, maka ia membiarkan para lawannya mengikatnya di tiang dan membakarnya hidup-hidup. Para penangkapnya mendesak, “Coba lihat, mana ruginya hanya berkata Kaisar itu Tuhan, dan membakar dupa, dan selanjutnya, kalau itu dapat menyelamatkan hidupmu?” Polikarpus menyahut, “sudah delapan puluh enam aku melayani-Nya, dan belum pernah Ia menyakitiku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Raja dan Juruselamatku?”[7] Bergman menjelaskan, “Di abad kita saat ini, ada catatan-catatan yang jelas tentang orang-orang Kristen yang diperhadapkan dengan pilihan antara iman dan hidup di Pakistan, bekas Uni Soviet, Armenia, Sudan, Cina, Cile, Iran – daftarnya masih bisa diperpanjang.”[8] Kisah lainnya dituturkan Bergman,
Di abad ke-20 mulai dengan demam karena pemberontakan Boxer di Cina, di mana Lizzie Atwater, seorang perempuan muda Amerikan sambil menanti untuk dihukum mati, membuat coretan-coretan kepada saudara perempuannya: “Mereka memenggal kepala sebanyak tiga puluh tiga orang dari kami, minggu lalu di Taiyuan. Aku merasa gelisah dan panic, ketika kusangka ada kesempatan untuk hidup.”[9] Ratu Boneka dari para Boxer, Tz’u-shi, mengeluarkan dekrit yang isinyamemerintahkan semua orang asing hidukum mati (“Mampuslah setan-setan asing … basmilah agama asing”), dan pada bulan Juni dan Juli tahun 1900, di Provinsi Shansi utara saja, Gubernur Yu-hsien telah membantai 159 orang misionaris dan anak-anak mereka.[10]
Berita martir lainnya, Bergman menyebutkan bahwa: “Di seluruh San Salvador[11] bertebaran pamflet yang berkata, “haga patria, mate un Cura!” “Jadilah patriot, bunuhlah seorang imam!” Sebelas orang telah dibunuh antara tahun 1977 dan 1980, juga ikut terbunuh empat perempuan gereja dari Amerika Utara, dan misionaris Lutheran, Episkopal, Menonit, dan Baptis, siapa saja di antara mereka yang meneladani Kristus dalam bentuk keberpihakan kepada orang miskin.[12] Dietrich Bonhoeffer, pendeta Jerman dari Gereja Yang Mengaku (Confessing Church), memimpin doa pagi untuk sesama tawanan dan sesudahnya segera digiring ke tiang gantungan Nazi bersama lima orang komplotannya yang lain karena melawan Hitler. Seorang rekan senasibnya asal Inggris merekam kata-kata perpisahan Bonhoeffer, yang diucapkan dalam bahasa Inggris sebelum ia digantung, “Inilah akhirnya – bagiku, awal kehidupan.”[13]
Menurut tradisi yang beredar, dikatakan bahwa Rasul Petrus disalibkan terbalik. Itu berarti ia sendiri mati martir. Rasul Paulus juga mati martir dan diduga ia mati di zaman pemerintahan kaisar Nero. Rasul-rasul lainnya juga mati martir. Di generasi berikutnya, kondisi yang sama juga dialami oleh orang-orang Kristen, tokoh-tokoh Kristen yang memiliki iman yang kuat, tak luput dari kekejaman pembunuhan dan pembantaian bahkan politik. Tidak dapat disangkal bahwa banyak dari orang-orang percaya yang memperjuangkan imannya demi Kristus, rela mati untuk Dia, dibunuh, dibakar, dipenggal, dan mengalami penderitaan yang sangat berat. Michael Collins dan Matthew A. Price menulis, “Sejak pemerintahan Romawi ketika mereka yang menolak untuk menyembah berhala harus dihukum mati; tak terhitung orang Kristen dari semua benua di dunia memperoleh keberanian untuk menghadapi maut dan mati bagi Kristus dari pada melepaskan iman mereka. Sejak kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus, kristianitas telah menjadi salah satu agama yang paling terkemuka di dunia. Tak terhitung banyaknya martir yang telah memberikan hidup mereka untuk menyebarkan Injil ke setiap benua.”[14]
Yustinos Martir menulis, “Sekalipun kami umat Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, diserahkan sebagai makanan binatang buas, atau disiksa dengan dibakar api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin besar penyiksaan yang kami terima, semakin banyak pula orang yang bertobat dan menjadi kudus di dalam nama Yesus.” Dalam Holy Nine Children of Kola:Guarami, Adarnasi, Bakari, Vache, Bardzini, Dachi, Djuansheri, Ramazi, and Parsmani (6th c.) (Georgia)—9 Martir Anak-anak dari diceritakan mengenai kisah martir kecil. Kisah ini kemudian diperingati oleh Gereja Orthodox pada tanggal 7 Maret. Anak-anak ini adalah berasal dari keluarga (orangtua) pagan. Mereka kemudian memaksakan diri mengikuti ibadah di gereja. Mereka diterima dengan syarat-syarat yang berat sebagaimana yang disampaikan sang imam. Orangtua mereka marah dan melaporkan kepada penguasa.
Orangtua mereka memaksa penguasa untuk membunuh anak-anak mereka dengan cara dirajam. Dan lubang besar digali bagi para pemuda yang telah dibaptis tersebut, dan dilemparkan ke dalamnya. “Kami adalah orang Kristen, dan kami akan mati bagi-Nya, di dalam Siapa kami dibaptis!” Demikian kata mereka. Orangtua mereka mengambil batu dan kemudian beberapa orang lain ikut bergabung. Mereka memukuli juga sang imam hingga mati. Kisah ini terjadi pada abad ke-6 di wilayah bersejarah bernama Tao di Georgia bagian selatan.
Kisah martir lainnya adalah martir Rahibah Paraskeva (+ 138 M). Ia adalah seorang putri semata wayang dari pasangan Kristen. Dia banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan mempelajari Kitab Suci. Pasca kematian orangtuanya, ia memilih kehidupan monastisisme. Ia kemudian rajin menginjil. Ia kemudian diseret ke pengadilan. Ia dijatuhi hukuman dengan siksaan mengerikan. Ini adalah konsekuensi dari imannya kepada Yesus. Di kepalanya diberi helm besi yang tengah membara dan mereka melemparkannya ke dalam kuali dengan cairan tir mendidih. Tapi dengan kuasa Allah, sang martir kudus ini tak juga terluka. Ketika kaisar menengok ke dalam kuali di mana Paraskeva di dalamnya, wajahnya terkena percikan dari tar merah-panas, dan ia ikut terbakar. Lalu kaisar, memohon martir kudus ini untuk menyembuhkannya dan ia menyembuhkannya dan kaisar membebaskannya. Suatu ketika Paraskeva tiba di kota, di mana gubernur bernama Asclepius berkuasa, Paraskeva dianiaya dan dijatuhkan hukuman mati. Ia dibawa ke sebuah ular besar di sebuah gua, dengan harapan ular itu akan melahapnya. Tetapi Paraskeva membuat tanda salib di atas ular itu dan ular itu mati. Asclepius dan warga yang tahu kisah ini berbalik beriman kepada Kristus dan Paraskeva dibebaskan. Ia melanjutkan khotbah penginjilannya hingga sampai di kota, di mana gubernur Tarasius berkuasa. Paraskeva menerima kematiannya sebagai martir pada abad ke-2 setelah mengalami penyiksaan yang mengerikan dan berakhir dengan dipenggal kepalanya.
KORELASI TELADAN IMAN DENGAN MORALITAS DAN SPIRITUALITAS KRISTEN
Ada beberapa hal yang menjadi analisis saya untuk mengusulkan gagasan teladan iman diterapkan di berbagai gereja. Tujuannya jelas bahwa generasi muda perlu mengingat perjuangan iman para martir yang mati demi Kristus Yesus. Mereka telah meninggalkan teladan iman yang tak berkompromi meski nyawa taruhannya. Konsep ini dalam anggapan saya setidaknya akan memberikan sebuah pemahaman yang baik bahwa iman Kristen bukanlah iman yang biasa-biasa saja, atau suatu iman yang gampangan saja, melainkan iman yang penuh risiko yang besar karena sering nyawa menjadi bayarannya.
Anak muda yang kurang memahami sejarah akan dengan gampang melihat kekristenan sebagai sebuah agama yang bebas—bahkan mungkin diangap sebagai agama yang bebas berbuat dosa bahkan dosa seksual dan perzinaan sekalipun karena toh tidak ada hukuman atau disiplin dari Gerejanya. Pola pikir yang gampangan seperti ini mengantar mayoritas anak muda untuk mengambil jalan pintas dalam melakukan kenikmatan dosa seksual, narkoba, dan lain sebagainya. Mereka yang buta sejarah yang tidak tahu bahwa iman Kristen didasari pada sebuah konsep “darah” mulai dari darah Yesus dan kemudian darah para murid dan seterusnya. Memahami sejarah teladan iman para martir—saya rasa—para pemuda/pemudi gereja akan merasakan betapa kuatnya iman mereka yang walaupun ditawarkan kebebasan dan kekayaan, mereka tetap memilih setia kepada Yesus, dan tidak menyangkalnya, meski kematian sebagai konsekuensinya. Berikut adalah gagasan awal saya untuk mendorong generasi muda agar meneladani iman para martir yang sebagian kecil saja telah saya paparkan di atas.
Belajar sejarah tentang kehidupan dan iman para martir membentuk pola pemikiran kita bahwa mereka memilih setia kepada Yesus ketimbang menyangkalnya meski mereka ditawarkan banyak hal.
Generasi muda yang belajar sejarah para martir diharapkan mendapatkan teladan iman dalam menjalani kehidupan sebagai orang Kristen yang melayani di berbagai bidang dan berbagai profesi.
Teladan iman dirasa perlu untuk menyadarkan generasi muda bahwa kekristenan bukanlah agama yang bebas melakukan dosa dan kebejatan moralitas sehingga mengakibatkan merosotnya spiritualitas Kristen.
Teladan iman membawa kesadaran bahwa menjadi pengikut Kristus akan mengalami banyak hambatan, tantatangan dan lain sebagainya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat di atas.
Teladan iman mempengaruhi pola pikir generasi muda untuk semakin mencintai Tuhan dan pekerjaan-Nya ketimbang berpesta pora dalam dosa dan kenikmatan seksual dan perbuatan dosa lainnya.
Padamnya teladan iman di dalam gereja menjadikan generasi muda miskin sejarah dan miskin teladan iman yang patut dicontohi.
Gereja tidak memadai mengusung program yang pro generasi muda.
Para pelayan menyibukkan diri dengan pelayanan mimbar tanpa atau kurang melakukan pendekatan historis tentang para martir Kristen yang rela mati demi Yesus.
Jika pemahaman akan teladan iman para martir dipahami secara baik, saya rasa angka kemerosotan moral dan spiritualitas Kristen akan terus menurun. Setidaknya ini harapan saya.
Pembinaan kerohanian bagi generasi muda hanya berputar dalam aspek normative. Jarang sekali membahas mengenai teladan iman para martir Kristen.
Teladan iman adalah bagian penting dari semua gereja untuk melihat bahwa di dalam peristiwa matinya para martir, ada kuasa Tuhan yang bekerja. Meski demikian, Tuhan selalu mengingatkan umat-Nya untuk percaya bahwa segala sesuatu adalah rencana-Nya.
Sebagai penutup dari kajian ini, saya mengutip pernyataan Bunda Teresa yang sangat menarik dan inspiratif. Setidaknya, pernyataan Bunda Teresa akan mendorong generasi muda untuk terus berkarya bagi Tuhan dan menggunakan seluruh kemampuan dan talenta dalam melayani Tuhan.
[2] Engkau akan mati dengan damai. Dan sebagaimana dinyalakan api untuk menghormati bapa-bapa leluhurmu, raja-raja dahulu, yang hidup sebelum engkau, demikianlah orang akan menyalakan api untuk menghormati engkau, dan akan meratapi engkau dengan berkata: Aduhai, tuan! Sungguh, Akulah yang mengucapkan firman ini, demikianlah firman TUHAN.”
[3] Susan Bergman (peny.), Para Martir: Kisah-kisah Kontemporer Pergumulan Iman dalam Dunia Modern (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012). Judul asli Martyrs: Contemporary Writers on Modern Lives of Faith (Maryknoll: Orbis Books, 1996)
Konsep monoteisme (tauhid, dalam Islam) adalah sebuah pemikiran yang berangkat dari dua sumber: pertama, dari kitab suci, dan kedua, dari respons manusia terhadap Tuhan yang dipercaya. Monoteisme adalah paham yang mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan (Allah) yang layak disembah dan dipercayai.
Pada faktanya, keesaan Allah berangkat dari relasi Allah dengan ciptaan yang dengannya Allah menyatakan bahwa “tidak ada yang lain selain Aku”. Frasa “tidak ada yang lain” hanya merujuk pada ciptaan. Ini dinamakan dengan esa dalam relasinya dengan ciptaan (keesaan ekonomi).
Esa dalam relasinya dengan ciptaan hanya berlaku bagi manusia saja karena manusia harus memilih dan menyatakan imannya kepada Tuhan Allah sebagai Pribadi yang berkuasa, mahatahu, dan berdaulat. Keesaan ekonomi menjadi relatif. Artinya, Allah menjadi relatif dengan ciptaan-Nya. Manusia masih memiliki kesempatan untuk melihat, mempercayai, dan menyembah ilah lain. Konsep esa ini merupakan wujud utama dari bagaimana manusia memilih Allah sebagai “satu-satunya” dari semua ciptaan yang ada di dunia, untuk dipercaya dan disembah.
Keesaan Allah dalam relasinya dengan ciptaan tidak mendengungkan siapa diri-Nya secara ontologis (ada, eksis pada diri-Nya sendiri, dan bagaimana Ia secara personal). Monoteisme Yudaisme dan Kristen memiliki perbedaan secara substansial dan hermeneutis. Yudaisme menolak kejamakan dalam diri Allah sebagaimana mereka menolak Trinitas. Itulah perbedaan hermeneutis karena pada beberapa teks PL, muncul gagasan adanya kejamakan dalam diri Allah. Dengan demikian, Yudaisme belum dapat memahami personalitas Allah secara ontologis yaitu seperti apakah Allah pada diri-Nya sendiri.
KONSEP MONOTEISME ISLAM
Monoteisme (Tauhid) Islam hanya bersumber dari keesaan dalam relasinya dengan ciptaan dan bukan pada ontologis. Konsep ontologis berbicara mengenai identitas Allah pada diri-Nya sendiri dan ketika Islam memahami keesaan secara ontologis, mereka tidak dapat menjawab pertanyaan berikut ini: “Jika Allah itu esa secara numerik, maka dengan apakah Allah membandingkan diri-Nya sebagai satu-satunya?” Catatan penting di sini adalah keesaan yang saya maksudkan adalah keesaan secara ontologis, dan bukan ekonomi (relasi-Nya dengan ciptaan). Hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa konsep tauhid Islam tidak dapat masuk ke dalam konsep ontologis karena mereka hanya tahu bahwa “Allah itu tauhid (esa)” tanpa mengetahui bahwa esa tersebut hanya terkait dengan ciptaan.
Islam terus menyatakan bahwa hanya “hanya Allah satu-satunya” yang mereka pikir bahwa itu merujuk kepada Allah secara numeris, satu secara angka. Padahal, konsep itu hanya berlaku bagi Allah dalam relasinya dengan ciptaan, sedangkan secara ontologis, mereka tidak dapat menjawabnya. Beberapa teks tauhid Islam saya kutip di sini:
Surat Ash Shaaffaat [37]:4, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Surat Al Ikhlash [112]:1, Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa” (bandingkan Sura 5:72, 73, Sura 72:3).
Surat Al Anbiyaa’ [21]:108, Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).”
Surat An Nahl [16]:22, Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.
Kita memperhatikan bahwa konteks esa di atas adalah esa dalam kaitannya dengan ciptaan karena mengingat di zaman Muhammad ada banyak ilah yang disembah. Sekali lagi, esa dalam versi Islam hanya menjawab secara ekonomi dan bukan ontologis (konsep ini akan saya jelaskan kemudian sebagai kekuatan argumentasi saya).
Konsep esa dalam relasinya dengan ciptaan dapat dilihat dalam esai Nurcholish Madjid yang berjudul “Islam Agama Kemanusiaan, di mana ia menyatakan bahwa “… maka manusia … pun tidaklah diciptakan Tuhan melainkan dengan kewajiban tunduk dan menyembah kepada-Nya saja, yaitu menganut paham Ketuhanan Yang Maha Esa, tawhid (Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia [Jakarta, 1995], 179, dikutip Nicholas J. Woly, Perjumpaan di Serambi Iman, 158).
Konsep yang sama dijelaskan Syamsul Rijal Hamid bahwa, kata “Tauhid” berasal dari bahasa Arab, bentuk masdar dari kata wahhada yuwahhidu yang secara etimologis, berarti keesaan. Yakni percaya bahwa Allah SWT itu satu. Dengan demikian yang dimaksudkan tauhid di sini, tidak lain adalah tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Jadi pernyataan/pengakuan, bahwa Allah SWT itu esa atau satu: Laa Ilaaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah). Allah SWT memerintahkan agar kita memeluk ajaran/agama tauhid (QS. 21/Al Ambiya’:92; 2/Al Baqoroh:133) (Hamid, Buku Pintar Agama Islam, 64).
Konsep Hamid bahwa “mengesakan Allah SWT” merupakan respons manusia terhadap Allah yang dipercayainya yang berangkat dari teks quran. Konsep Hamid bahwa “percaya bahwa Allah SWT itu satu” mungkin merujuk pada esa dalam relasinya dengan ciptaan (lihat teks-teks qurn di atas). Memeluk ajaran/agama tauhid adalah sebuah pilihan bahwa Allah itu adalah pribadi yang disembah dan dipercayai umat Islam, meski—menurut saya—mereka tidak paham soal esa dalam konteks ontologis. Karena ketidaktahuan inilah, maka mereka terus memaksakan pemahaman tauhid mereka kepada semua orang. Padahal jelas sekali bahwa esa yang mereka pahami adalah esa dalam kaitannya dengan ciptaan. Hal ini pun berimbas kepada negasi mereka terhadap Yesus yang mereka anggap bahwa orang Kristen menyembah manusia Yesus yang adalah ciptaan Allah. Padahal, dalam konsep biblika, Yesus tidak diciptakan melainkan pencipta segala sesuatu (Yohanes 1:1-3).
Akibat konsep tauhid yang menjukstaposisi konsep keesaan Kristen, maka mereka mengira bahwa Kristen menyembah manusia yang mereka mereka anggap itu adalah dosa syirik. Mereka sibuk mengurusi agama orang lain padahal konsep keesaan mereka bermasalah secara ontologis. Perhatikan, jika Allah adalah satu secara numeris (konsep Islam), maka secara ontologis, dengan apakah atau dengan siapakah Allah membandingkan diri-Nya, atau dibandingkan dengan diri-Nya? Jika Islam menjawab: “dengan ciptaan”, maka itu tidak menjawab secara ontologis, dan jika mereka menjawab: “tidak dengan apa-apa, atau siapa-siapa”, maka hal itu gagal secara ontologis.
ANALOGI KEESAAN
Keesaan secara ekonomi hanya bisa menjawab konteks “membandingkan” sedangkan konsep “menyamakan” tidak dapat dipaksakan ke dalamnya karena Allah tidak dapat disamakan dengan ciptaan. Trinitas dapat menjawab keduanya, baik membandingkan maupun menyamakan. Akan tetapi, meski percaya kepada Trinitas (Tiga Pribadi Satu Esensi, personalitas Allah secara ontologis), keesaan secara ekonomi pun dipercayai Kristen sebagaimana teks-teks PL menegaskannya.
Dalam Ulangan 6:4, terlihat bahwa Musa menegaskan keesaan Tuhan dalam kaitannya dengan ciptaan sebagaimana mereka sebelumnya berada di tanah perbudakan, Mesir, yang notabenenya adalah bangsa penyembah berhala. Hal ini jelas bahwa pembuatan patung ‘Anak Lembu Emas’ (Keluaran 32) mengisyaratkan adanya pengaruh dari konteks penyembahan bangsa Mesir. Hal ini dijelaskan dalam Ulangan 12:29-13:18 soal larangan menyembah illah lain:
“…maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadap-anmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Akupun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahnya ataupun menguranginya.
Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi…dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan per-kataan nabi atau pemimpin itu….
Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat maupun jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia!…Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu….Sebab dengan demikian engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, untuk berpegang pada segala perintah-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dengan melakukan apa yang benar di mana TUHAN, Allahmu.”
Namun, keesaan Allah yang bernatur ekonomi dan henoteisme dijelaskan dalam teks-teks berikut ini (juga merupakan analogi [pembandingkan] dengan ilah-ilah dunia yang mana Tuhan Israel sangat suprematif dan tak tertandingi):
Ulangan 4:39, “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”
2 Samuel 7:22-23, “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Nya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umat-Nya?
Yesaya 44:6, “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”
Yesaya 44:8, “…Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!”
Yesaya 45:5-7, “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”
Yesaya 45:18, “Sebab beginilah firman TUHAN, yang men-ciptakan langit, – Dialah Allah – yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, – dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia mem-bentuknya untuk didiami – : ‘Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.’”
Yesaya 45:21, “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasan-mu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah adalah Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”
Yesaya 45:22, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”
Yesaya 46:9-10, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal-hal kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana…”
Zakharia 14:9, “Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya.”
1 Tawarikh 17:20, “Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.”
Mazmur 89:7-8, “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.”
1 Samuel 2:2, Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.
Dari teks-teks tersebut, baik Yudaisme dan Kristen menjunjung tinggi “Keesaan Allah” tetapi teks-teks tersebut hanya bermakna keesaan ekonomis, dan bukan ontologis.
Ada sumber Islam yang menjelaskan soal tauhid dalam zat, yang mungkin dalam pemikiran Islam bahwa taudih tersebut menjelaskan secara ontologis. Mari kita lihat kutipannya (saya mengutip bagian pertama saja):
“Tauhid dalam Zat: Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan; tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Zat Allah yang suci tidaklah tersusun dari bagian-bagian seperti jasad mahluk hidup. Zat-Nya sangat sempurna dan tidak serupa dengan zat-zat lainnya” (sumber: http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/25/keesaan-allah/. Di-akses tanggal 3 Oktober 2011).
Kutipan di atas sebenarnya hanya menegaskan keesaan ekonomi: klausa “Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan” dapat kita ajukan pertanyaan: “jika Allah tidak mempunyai sekutu dan tandingan, maka dengan apa Allah dibandingkan? Pasti dengan ciptaan. Jika keesaan ontologis yang dimaksudkan, maka pertanyaan yang sama juga diajukan. Secara ontologis, klausa “Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan” tidak masuk hitungan. Klausa tersebut hanya berlaku bagi relasinya dengan ciptaan.
Klausa kedua adalah “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”. Ini juga bernatur ekonomi. Hal ini tampak dalam penjelasan berikutnya yaitu “Zat Allah yang suci tidaklah tersusun dari bagian-bagian seperti jasad ‘mahluk hidup’”. Bukankah sumber tersebut hendak menjelaskan keesaan secara ekonomi? Mari kita perhatikan pernyataan Nasruddin Razak untuk mendukung kesimpulan di atas. Menurutnya, “Suatu kepercayaan yang menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menciptakan, memberi hukum-hukum, mengatur dan mendidik alam semesta ini (disebut Tauhid Rububiyah). Sebagai konsekuensinya, maka hanya Tuhan itulah yang satu-satunya yang wajib disembah, dimohon petunjuk dan pertolongannya, serta yang harus ditakuti (disebut Tauhid Uluhiyah) (Nasruddin Razak, Dienul Islam: Penafsiran Kembali Islam sebagai Suatu Aqidah dan Way of Life [Bandung: Alma’arif, 1996], 39).
Secara ontologis, monoteisme Islam tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya memahami bahwa Allah itu esa (tauhid) secara numerik; dan itu benar jika direlasikan dengan ciptaan. Sedangkan dalam konteks ontologis, Islam tidak dapat menjawab dengan apakah Allah membandingkan diri-Nya jika Ia adalah esa pada diri-Nya sendiri.
Dengan demikian, hanya konsep Trinitas yang dapat menjawab keesaan secara ontologis. Mengapa? Karena masing-masing pribadi dapat merepresentasikan yang lain. Ada pribadi lain yang dapat dibandingkan sebagai wujud dari kesatuan esensial, dan kesetaraan ilahi. Tidak hanya membandingkan, tetapi menyamakan (menyetarakan, mensejajarkan) pribadi satu dengan lainnya muncul dalam konsep ontologis. Jika pemazmur menulis: “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? (Mazmur 89:7-8), maka hanya Trinitas yang dapat menjawabnya. Teks tersebut hendak menjelaskan bahwa TUHAN tidak dapat disejajarkan dengan ciptaan-Nya. Penghuni sorgawi—malaikat-malaikat—adalah ciptaan TUHAN. Hanya Bapa, Firman, dan Roh Kudus yang sejajar dan setara dalam esensi dan kekekalan.
Jadi, keesaan secara ontologis, hanya Trinitas yang dapat menjawab personalitas Allah pada diri-Nya sendiri, sedangkan keesaan dalam relasinya dengan ciptaan (ekonomi), tidak dapat menjawab personalitas Allah pada diri-Nya sendiri melainkan hanyalah menunjukkan objek penyembahan kepada Allah saja di antara ilah-ilah lain (henoteisme) yang ada di dunia, di mana ilah-ilah tersebut adalah ciptaan Allah.
Muhammad Yahya Waloni pernah menolak ketuhanan Yesus dengan merujuk pada teks Yesaya 43:10-11, “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” Waloni mengira bahwa teks itu merujuk bahwa Allah tidak membentuk Yesus menjadi Allah, sehingga orang Kristen sudah salah menyembah dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan karena bertentangan dengan teks Yesaya tersebut. Dan menurut Waloni, sekaliber pendeta pun tak akan sanggup menjelaskan ayat di atas, kecuali dengan cara berbohong dengan melandaskan pemahaman pada surat-surat Paulus yang sarat dengan “omong kosong”. Jawaban dari Waloni berkenaan dengan hal ini adalah: “temui tukang kayu yang sedang membuat perabot dari kayu. Tanyakan, apakah pernah si tukang kayu menjadi “PERABOT” walau hanya sedetik saja? Kalau ada, saya siap mempertuhankan “tukang kayu” itu.
Saya sudah menyanggah komentar konyol ala Waloni di atas dalam buku saya yang berjudul “Menjawab dan Menertawakan Argumen Teolog Kelas Teri”, dan saya kutip sanggahan saya di sini:
Waloni menggunakan teks di atas untuk menolak bahwa Yesus sebagai Allah karena ia mengira bahwa “sebelum Allah, tidak ada Allah dibentuk”, yang berarti tidak ada “Allah” lain “selain Allah”, dan jika Yesus dipercaya sebagai Allah, maka itu berarti bertentangan dengan Yesaya 43:10 di atas. Akan tetapi, teks di atas tidak berbicara soal “Allah menciptakan Allah”. Teks tersebut memaksudkan bahwa sebelum Allah, Allah tidak membentuk “ilah” lain untuk disembah. Artinya, Allah tidak menyediakan ‘ilah’ lain untuk disembah seperti Ia disembah. Hal ini dapat dipahami berdasarkan teks Yesaya 42:8, “Aku ini TUHAN, itulah nama-KU’ Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung”. Allah tak mungkin membentuk ilah lain agar kemuliaan-Nya diberikan kepada ilah tersebut. Sebagaimana bangsa Israel sering membuat patung yang disembah, maka Allah hendak mengkonfirmasi bahwa sebelum Ia, tidak ada ilah lain yang Ia bentuk yang sama dengan diri-Nya.
Sedangkan frasa “sesudah Aku tidak akan ada lagi” menandaskan bahwa bangsa Israel harus setia kepada Allah sebagai Pencipta (43:1, 15), Penebus (43:1, 14), Berdaulat memanggil dan memilih (43:1), Penjaga (43:2), Juruselamat (43:3, 11-12), Pengasih (43:4), Raja (43:15). Frasa tersebut tidak mengindikasikan bahwa Yesus bukan Allah, sebab konteksnya tidak berbicara mengenai Yesus. Ayat 10 sebenarnya menjelaskan bahwa Israel tidak boleh mencari juruselamat selain Allah yang adalah Juruselamat mereka (ayat 11), dan menegaskan pula bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan Israel dan bukan ilah asing yang ada di antara mereka (ayat 12). Pula menegaskan bahwa hanya Allah yang adalah Allah sejati dan Juruselamat satu-satunya, serta berdaulat atas hidup Israel (ayat 13).
Jadi, teks Yesaya 43:10 memberikan pemahaman bahwa sejak dulu, Allah tidak pernah membentuk ilah lain untuk diberikan kepada Israel. Ia mau bahwa hanya Dialah yang menjadi Pribadi satu-satunya yang harus ditaati dan disembah karena Ia sendiri yang memilih dan membentuk Israel.
Jika saya memahami alur berpikir Waloni, teks Yesaya 43:10 sebenarnya menggiring bahwa “Allah tidak membentuk Yesus menjadi Allah” atau “Allah tidak menciptakan Yesus untuk menjadi Allah”. Yesaya 43:10 menegaskan bahwa TUHAN tidak membentuk atau menciptakan ilah dan sesudahnya juga tidak, untuk menandingi diri-Nya. Tuduhan Waloni pasti menyatakan bahwa Yesus adalah dibentuk oleh Allah, artinya diciptakan Allah. Dengan melihat konteksnya, maka pertanyaan dan tantangan Waloni sudah disanggah dan dijawab.
TRINITAS KRISTEN (KEESAAN ONTOLOGIS)
Kembali ke konsep keesaan ontologis. Lalu, bukankah ketika membandingkan pribadi satu dengan lainnya akan menghasilkan perbedaan kualitas pribadi? Begini, konteks membandingkan dalam konsep Trinitas dipahami sebagai sebuah kesetaraan esensi antara Bapa, Firman, dan Roh Kudus. Secara ontologis, ada pribadi lain yang dapat dibandingkan yang mana Yesus sering menyatakannya. Dan pada kesempatan lain, Yesus menyatakan kesetaraa, kesamaan, kesejajaran antara Bapa, diri-Nya, dan Roh Kudus. Secara ontologis, pribadi yang satu menjelaskan pribadi lainnya. Inilah yang disebut dengan keesaan ontologis. Keesaan jenis ini tidak ditemukan dalam Yudaisme dan Islam sehingga “Allah” dalam pemahaman mereka menjadi pribadi yang kesepian dan egois (mengasihi diri sendiri).
Keesaan Ontologis menjelaskan kasih yang ada dalam diri Bapa, Yesus [Anak] dan Roh Kudus dapat saling memberi dan menerima, mereka berperikhoresis, saling memenuhi satu dengan lainnya. Trinitas bukanlah Allah yang kesepian karena kasih dalam diri-Nya terealisasi secara kekal, seperti yang Yesus nyatakan: “…sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (Yoh. 17:24). Tidak hanya itu, Alkitab menyediakan banyak bukti mengenai konsep Trinitas, sebagaimana akan kita lihat dalam penjelaskan pola rangkap tiga.
Berikut ini, saya menjelaskan pola rangkap tiga, yang saya ambil dari tulisan saya di Jurnal Arastamar SETIA Jakarta Volume VII Nomor 1 Tahun 2015 (ISSN: 2085-9627). Menurut Herman Bavink menjelaskan, bahwa
Benih yang bertumbuh menjadi bunga trinitarian yang mekar di dalam Perjanjian Baru telah ditanamkan sebelumnya di dalam Perjanjian Lama. Elohim, Allah yang hidup, mencipta dengan berfirman dan mengutus Roh-Nya. Dunia menjadi ada karena penyebab rangkap tiga. Demikian pula, YHWH, Allah kovenan, menjadikan diri-Nya diketahui oleh umat-Nya, menyelematkan, dan memelihara mereka dengan firman dan Roh-Nya. Dalam wujud malaikat Tuhan, entah itu malaikat yang diciptakan atau Logos, Allah, khususnya firman-Nya, hadir secara unik dan berkuasa. Herman Bavink, Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012), 319.
Kejadian 1:1-3 menyebutkan pola rangkap tiga dalam konteks penciptaan. Ayat 1 menyebutkan bahwa “Allah menciptakan langit dan bumi.” Ayat 2 menyebutkan bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” dan ayat 3 menyebutkan bahwa “Berfirmanlah Allah: Jadilah terang, maka terang itu jadi!” Pola rangkap tiga membuka peluang bagi adanya kejamakan dalam diri Allah. Kejamakan ini bukanlah rumusan Kristen melainkan fakta yang Allah nyatakan kepada kita. Seringkali, kita mau menentukan “berapa” Allah itu. Alasan unitarianisme bahwa Allah sendiri menyatakan diri-Nya “esa” – namun alasan keesaan tersebut tidaklah dilihat secara komprehensif dan kontekstual, melainkan mengukur kesimpelan penyembahan kepada “satu Allah” ketimbang “tiga Allah” sebagaimana yang dituduhkan kepada Kristen.
Tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah adalah salah sasaran, karena yang disembah hanyalah satu Allah meskipun dalam pemahaman sejarah ada tiga personalitas yakni Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, yang secara berdistingsi dapat dipahami dari karya-karya Mereka. Dalam catatan Alkitab, pola rangkap tiga begitu kental, seperti yang tertuang dalam teks-teks di bawah ini:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19)
Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Luk. 1:35)
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh. 14:16-17)
Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. (Yoh. 15:26)
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” (Yoh. 16:13-15)
Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, (Rm. 15:30)
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Gal. 4:4-6)
sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat,” karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (Ef. 2:15-18).
Pola rangkap tiga mengantar kita pada konsep indentitas kesetaraan. Alkitab menyebutkan bahwa Allah adalah Pencipta. Kitab Kejadian menggunakan kata “elohim” yang memiliki indikasi “jamak” (bentuk akhiran im adalah jamak). Lalu pada Kejadian 1:26, digunakan kata “Kita” yang juga berindikasi jamak. Ada yang menafsirkan sebagai plural majestic [jamak kemuliaan] dan ada yang menafsirkan jamak personalitas. Dua arus utama penafsiran dalam kitab Kejadian memainkan disparitas personalitas diri Allah. Yang pasti, Allah diakui sebagai Pencipta seperti yang dinyatakan oleh penulis kitab Kejadian.
Falibilitas (kekeliruan) seseorang dalam memahami Trinitas berangkat dari ketidakterpahaminya personalitas Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam alam pemikiran penganut unitarian (menegasikan Trinitas), Allah dipahami sebagai personalitas dan bukan sebagai “esensi”. Identitas kesetaraan dipahami oleh kaum Trinitarian sebagai kesetaraan esensi yang dimiliki oleh ketiga Pribadi. Anak berasal dari Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Baik Anak dan Roh Kudus mendapatkan esensi Mereka dari Bapa. Jika ada menganggap Bapa lebih tinggi dari kedua-Nya, bukankah kedua-Nya memiliki esensi dari Bapa? Bagaimana mungkin Bapa lebih tinggi dari pada esensi yang keluar atau berasal dari diri-Nya sendiri?
Keesaan ontologis menegaskan kesetaraan antara tiga Pribadi dalam Trinitas sebagaimana tampak dari bukti-bukti berikut ini (diambil dari artikel saya dalam Jurnal Arastamar SETIA Volume VII Nomor 1 Tahun 2015):
Bapa sebagai Pencipta (1 Kor. 8:6; Yes. 41:20; 45:12); Bapa sebagai Penebus (Yes. 43:3; 44:22; 48:17; 41:14; 47:4); Bapa sebagai Hakim (yang menghakimi) dan Pengampun (Mzm. 9:9; 96:13; 98:9; Yer. 36:3; Mzm. 32:1; Yes. 22:14); Bapa sebagai Pewahyu (memperkenalkan diri-Nya) (Yes. 48:12; Kel. 6:2; Yes. 30:27; Bilangan 12:6; 1 Samuel 2:27; 3:21; Yesaya 19:21; Yesaya 22:14; Yehezkiel 20:5, 9; 35:11; 38:23). Yesus sebagai Pencipta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17); Yesus sebagai Penebus (Pemberi Hidup) (Mat. 1:21; Yoh. 1:29; Mrk. 10:45; Mat. 26:28; Luk. 24:47); Yesus sebagai Hakim dan Pengampun (Kis. 10:42; 2 Tim. 4:8; Mat. 9:2; Luk. 5:20; Luk. 7:48); Yesus sebagai Pewahyu (Menyatakan diri) (Yoh. 1:18; Mat. 11:27; Yoh. 14:21). Roh Kudus sebagai Pencipta (Ayb. 33:4; 26:13 menegaskan tentang nafas sebagai Roh dari Allah); Roh Kudus sebagai Penebus (pemberi hidup baru yang bebas dari dosa dan kematian) (Rm. 8:1-2; 8:11; Yoh. 16:13); Roh Kudus sebagai Hakim dan Pengampun (Mrk. 3:29; Luk. 12:10; Mat. 12:31-32. Ada dua pribadi yang disinggung di atas yakni Yesus dan Roh Kudus. Yesus sebagai pribadi yang menggenapi rencana kekal Allah [Bapa] tentang keselamatan [bdk. Ef. 1:4], dapat saja ditolak karya-Nya disalib sebagaimana yang tampak di sepanjang sejarah dan Roh Kudus sebagai pribadi yang meneguhkan dan menawarkan keselamatan sebagai “rencana kekal Allah” lalu kemudian tawaran itu ditolak, maka seseorang tersebut telah berbuat [melakukan] dosa kekal – suatu dosa yang menyangkal karya Allah yang kekal yakni “misi penyalamatan atas manusia-manusia yang berdosa”. Roh Kudus yang berhak mengampuni dosa dan tidak mengampuni dosa bertindak sebagai “Hakim” atas manusia yang telah berdosa. Dengan demikian, Roh Kudus dalam teks-teks di atas, bertindak sebagai Hakim dan Pengampun); Roh Kudus sebagai Pewahyu (2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21)
Melihat bukti-bukti di atas, maka keesaan ekonomi adalah keesaan yang umum dipahami dalam setiap agama sebagai sebuah pilihan bagi manusia untuk mempercayai Allah sebagai “satu-satunya” pribadi yang disembah dan diimani, dibanding dengan ilah-ilah lainnya (patung, batu, pohon, matahari, sungai, benda-benda keramat, dan sebagainya). Maka, keesaan Allah dalam kaitannya dengan ciptaan merupakan relativisme bagi manusia untuk menentukan pilihannya kepada pribadi yang dipercayai dan disembah. Keesaan ekonomi sangat membantu manusia untuk mengarahkan hidupnya kepada satu pribadi saja di samping ilah-ilah lainnya yang menjadi daya tarik tersendiri (bersifat henoteisme). Akan tetapi keesaan ontologis adalah sebuah konsep terapan “kasih yang murni dan tulus” dari pribadi satu kepada pribadi lainnya. Sebagaimana Allah menegaskan bahwa “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Allah mengajar manusia untuk mengasihi-Nya karena Allah, secara ontologis telah menerapkan kasih itu kepada pribadi lainnya yang setara (akan saya kutip teks-teks Injil Yohanes sebagai pembuktiannya). Di samping itu, sebagai realisasi kasih manusia terhadap Allah, maka manusia juga harus mengasihi sesamanya (Imamat 19:18, Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN; Imamat 19:34, Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu).
Dalam Injil Yohanes, konsep keesaan ontologis (yang dipahami dalam arti lain sebagai Trinitas ontologis) sangat melimpah. Baik Pribadi Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, sama-sama setara, saling merepresentasikan, dan sama-sama kekal. Untuk lebih jelasnya, teks-teks berikut ini dapat memberikan pemahaman yang kuat mengenai personalitas Allah ditinjau dari aspek ontologis.
Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Yohanes 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (bdk. 3:35; 5:17)
Yohanes 5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah (bdk. 5:19-23, 36-37).
Yohanes 5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Yohanes 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
Yohanes 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Yohanes 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
Yohanes 6:44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.
Yohanes 6:45 Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.
Yohanes 6:46 Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.
Yohanes 6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (bdk. 8:18, 38)
Yohanes 8:53-54 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami
Yohanes 10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku (bdk. 10:17-18)
Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.”
Yohanes 10:36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?
Yohanes 10:38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
Yohanes 12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Yohanes 14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (bdk. 14:9-11, 13)
Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yohanes 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Yohanes 14:23 Jawab Yesus: Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.
Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Yohanes 15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
Yohanes 15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yohanes 15:23 Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku.
Yohanes 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
Yohanes 16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
Yohanes 16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
Yohanes 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yohanes 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Yohanes 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yohanes 17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Yohanes 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
PENUTUP
Keesaan Ontologi merupakan sebuah pemahaman bahwa Allah hanya dapat dipahami berdasarkan Trinitas yang menegaskan konsep “kasih”, “kesetaraan”, “kesamaan”, dan “kekekalan”. Ketika Yesus membandingkan diri-Nya dengan Bapa, maka Ia hendak menyatakan bahwa Ia setara dan sama dengan Bapa, dan sudah ada sejak kekekalan (Yoh. 1:1).
Keesaan secara ekonomi memang bermanfaat bagi kita tatkala kita menunjukkan komitmen kita kepada Tuhan sebagai pribadi yang layak dipercaya dan disembah. Meski Islam juga mengadopsi konsep yang sama, tapi beberapa di antara mereka terlalu memaksakan konsep monoteisme ekonomis kepada agama lain dengan cara-cara yang tidak layak dan menghalalkan kekerasan dan pembunuhan hanya karena berbeda konsep monoteismenya.
Seyogianya keesaan Tuhan dalam relasinya dengan ciptaan mendorong untuk semakin mengasihi sesama sebagai wujud nyata dari mengasihi Tuhan. Alangkah tidak masuk akal ketika seseorang berbicara monoteisme tetapi melakukan perbuatan-perbuatan yang busuk, jijik, dan jahat. Justru, ketika kita percaya bahwa hanya Tuhan sebagai pribadi yang satu-satunya disembah dan dipercaya, maka kita harus menunjukkan kasih kita (sebagai pilihan) kepada Tuhan dalam bentuk lainnya yang setara yaitu mengasihi sesama.
Keesaan ontologis hanya dapat dijelaskan oleh Trinitas dan di dalamnya kasih yang kekal itu berperikhoresis; dan kasih dalam Trinitas itu melimpah keluar: kepada manusia sebagaimana Yesus tegaskan bahwa “…supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34); “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15); “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12).
Trinitas adalah finalitas dari personalitas Allah secara ontologis yang menegaskan supremasi “kasih-Nya” dan direalisasikan dalam dunia ciptaan. Tidak ada yang dapat mengalahkan “kasih” sampai akhir zaman. Kasih adalah wujud nyata dari kepedulian Allah yang terungkap dalam Inkarnasi Yesus Kristus. Allah yang dipahami sebagai ‘satu’ secara numerik dan dipaksakan ke dalam konteks ontologis akan berimbas kepada Allah yang kesepian dan egois. Oleh sebab itu, Trinitas adalah jawaban bagi manusia bahwa “kasih Allah” yang dinyatakan kepada kita melalui Yesus Kristus adalah kasih yang menghasilkan penebusan dan keselamatan sebagaimana yang Ia janjikan. Inilah yang Rasul Yohanes (Yoh. 3:16-18) tegaskan:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
Merebaknya Virus Corona di banyak negara, menimbulkan sikap waspada, takut, sedih, panik, antisipatif, sombong, dan bahagia. Sejak Covid-19 dinyatakan “ada” di Indonesia, membuat rakyat panik, tetapi tidak terlalu masiv; beberapa wilayah menyatakan sikap waspada. Ini baru tahap awal.
Kemudian disusul dengan berbagai berita yang meramaikan kancah media sosial. Muncullah beragam respons. Karena di Indonesia mayoritas rakyatnya adalah kaum “beragama”, maka ketika Corona menyergap, kaum beragama “sesegera” mungkin menjual kecap. Ada yang berulah: “lebih baik mati karena Virus Corona, daripada membeli alat penangkal Virus Corona buatan kafir”. Yang lain berkata: “tidak apa-apa bergereja, toh Tuhan bisa kapan saja memanggil kita untuk mati. Ada yang mati duduk santai, mati berdiri, dan mati model lainnya. Kita tidak perlu takut yang berlebihan terhadap Virus Corona”.
Yang lain menimpali: “tidak perlu takut bersalaman dan berpelukan, Tuhan tahu apa yang kita lakukan”, “berbahasa lidah meningkatkan imun tubuh”, dan “memakai minyak urapan bisa terbebas Virus Corona.” Lebih aneh lagi, munculnya Covid-19 di Wuhan, dikaitkan dengan “Tentara Allah”, ada pula yang mengaitkannya dengan sosok yang berada di Arab sana; karena ia tidak bisa pulang ke Indonesia, maka Allah mengirimkan Corona ke Indonesia.
Terdengar nubuatan di sana sini, klaim di sana sini. Lebih dari itu, ada yang mau telan Virus Corona. Antara kebodohan, kesombongan, dan jualan kecap agama, beda-beda tipis. Sementara Corona terus menyergap. Manusia sibuk berkomentar, Corona sibuk dengan perjalanannya dari satu manusia ke manusia lainnya, tanpa biaya, tanpa suara.
Masih banyak klaim yang bernada jualan kecap dari kaum beragama yang terkesan superior; sebenarnya mereka ingin mengunggulkan Tuhan, tetapi pada akhirnya antara iman dan self-confidence menjadi beda-beda tipis dan sulit dipahami. Akibatnya, karena jualan kecap tersebut, korban pun berjatuhan.
Serentak, beberapa pemimpin gereja, dan bahkan jemaat gereja-gereja tertentu, mengutip teks-teks Alkitab. Serentak pula ilmu tafsir cocokologi menjadi trend di muka bumi ini. Celoteh dan nyeleneh menjadi ajang pertandingan mengunggulkan “Tuhan siapa yang hebat”, sekaligus “diri siapa yang hebat”. Kembali berulah: antara “Tuhan” dan “diri [yang mengklaim] disodorkan ke publik untuk adu ketangkasan. Akibatnya, korban pun berjatuhan, sementara Tuhan masih tetap menjadi pokok pengharapan, doa-doa disampaikan kepada-Nya. Air mata dan kerinduan terus mengalir menuju Tuhan yang ada di sorga.
Bencana tetap berlanjut. Fenomena Corona menyergap bumi, menyisahkan kesedihan yang mendalam. Jumlah korban yang mati terus diamati, bahkan dimanipulasi; ada pula yang mengaitkannya dengan “Tuhan kok tak bisa membela dan menyelamatkan umat-Nya”, mengapa banyak yang mati, di mana Tuhanmu? Agama menjadi racun bagi pikiran dengan mencari titik bahagia ketika “agama lain” yang mati, apalagi banyak, apalagi pendeta, apalagi pemimpin agama. Agama menjadi pabrik menjual kecap; ya, kecap keangkuhan, kecap kesombongan, tapi sedikit yang menjual kebijaksanaan.
Sikap waspada, takut, sedih, panik, adalah normatif, dilakukan oleh mayoritas manusia di bumi. Belakangan, di Indonesia, hampir secara keseluruhan masyarakat melakukan sikap waspada dan antisipatif. Pihak pemerintah telah memberikan imbauan dan mengeluarkan perintah untuk bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan ibadah di rumah. Perintah ini masih berlanjut sampai sekarang.
Sistem kerja menjadi berubah, peribadatan pun juga ikut berubah. Corona menggetarkan dunia, menyergap dunia, dan manusia panik, takut, waspada, lelah, terus berjuang. Secara global, Covid-19 menjadi pokok pembicaraan, baik tentang pencegahannya, pengobatannya, jumlah yang sembuh, yang mati, dan yang terdampak. Setiap hari kita disuguhkan dengan berita tentang Covid-19. Ya, Covid-19 mendapat panggung utama di hampir seantero dunia yang kita pijaki ini.
Memang, sikap antisipatif dengan slogan: “stay at home”, “di rumah aja”, menjadi bagian dari sikap kebijaksanaan kita. Segala sesuatu menjadi berubah. Kendati demikian, ada saja “suara-suara kesombongan” yang menyeruak ke permukaan, menguap, dan ingin mendapat panggung seperti Corona. Parahnya lagi, jumlah kematian yang banyak—terutama dari agama tertentu—dijadikan sebuah rasa bahagia, karena bagi beberapa orang, kematian mereka yang berbeda agama menandakan bahwa agama yang dianutnya lebih hebat.
Kekeliruan semacam ini mungkin telah mampir dan menginap dalam pikiran kita. Akan tetapi, ingatlah, Virus Corona menyergap kepada semua manusia, entah beragama atau tidak, entah yang merasa suci atau tidak, entah yang merasa hebat atau tidak. Corona adalah virus yang menjalar sedemikian cepat dan masiv. Sekarang ini, manusia berperang melawan Corona, perang senyap, tetapi “mulut-mulut kesombongan ikut menampilkan cuplikan-cuplikan kebodohan” ke udara; Corona membunuh banyak orang, tak peduli tua atau muda, kaya atau miskin, orang berpangkat atau tidak, pendeta atau jemaat, pemimpin agama atau pengikutnya; semuanya “sama di mata Corona”.
Sebaliknya, dari kisah yang menyedihkan dan menakutkan ini, kita harus tetap waspada, menjaga diri, dan berserah kepada Tuhan. Pandemik Covid-19 bukanlah perkara gampang; ini perang senyap, jangan kaitkan dengan agama-agama tertentu. Hentikan celoteh, tapi berbuatlah sesuatu untuk sesama. Hentikan jualan kecapmu, tapi berikanlah “makanan” kepada sesama. Jangan bangga dengan kematian sesama gegara Corona, sebab kapan saja engkau bisa mati. Engkau boleh bangga dengan kematian sesamamu, KECUALI engkau tidak akan mati. Engkau fana, jangan jual kecap. Hentikanlah itu!
Pada akhirnya, manusia jangan sombong; jangan merasa hebat. CORONA TAK TERLIHAT, TETAPI IA NYATA BERBUAT.
Bukankah seringkali kita mendengar bahwa: “lakukanlah kebaikan dengan tangan kanan, dan jangan diketahui oleh tangan kirimu”? Lakukanlah sesuatu, baik untuk diri sendiri, keluargamu, dan sesamamu.
Jadikan fakta sergapan Corona sebagai “pelajaran untuk menjadikan kepalamu menghadap ke langit, melihat Sang Pencipta, dan menjadikan kepalamu ke bawah, melihat sesamamu.”
Hentikan jualan kecap, sebab kecapmu akan habis. Jualah kebijaksanaan, karena itu akan membuatmu menjadi berkat bagi orang lain.
Berusaha menggapai dan menemukan cinta berdampak pada kepemilikan cinta itu sendiri. Dalam menjalani cinta, muncul dampak-dampak kecil maupun besar. Dampak-dampak tersebut terkait erat dengan tujuan mengapa seseorang itu mencintai. Secara prinsip dampak-dampak itu sendiri adalah sebuah usaha untuk semakin mempekuat rasa cinta, semakin mengokohkan prinsip mencintai, atau sebaliknya, mencoba untuk menghindar dari pasangannya tatkala didapati ada ketidakcocokkan dalam banyak hal.
Dari kasus-kasus yang terjadi, rasa cemburu adalah hal yang paling banyak dirasakan oleh orang-orang yang berpacaran. Dan rasa cemburu itu sendiri, saya rasa adalah faktor penting bagi keutuhan, kekuatan, dan juga merupakan bumbu-bumbu dari cinta. Cemburu adalah rasa hati yang sedikit marah, sedikit kesal (perasaan di tengah-tengah); merasakan sakit hati karena apa yang menjadi milikinya, apa yang menjadi kesukaannya, apa yang menjadi kepunyaannya, apa yang menjadi pujaan hatinya, beralih tempat, beralih fungsi, dan beralih perasaan.
Selaras dengan rasa cemburu itu, ada orang-orang yang merasa bahwa cinta yang telah ia berikan dan terima patut diperjuangkan dan dipertahankan. Itulah fungsi rasa cemburu. Rasa cemburu merupakan rasa kepemilikan seseorang kepada pasangannya.
Cinta dan rasa cemburu ada dua sisi mata uang yang saling melekat, terkait, dan terpadu. Terkadang, rasa cemburu melampaui rasa cinta itu. Itu tidak baik. Cinta harus lebih besar ketimbang rasa cemburu, sebab rasa cemburu yang muncul harus disesuaikan dengan fakta yang ada, sedangkan cinta itu tak harus disesuaikan dengan fakta yang ada melainkan melampaui ruang dan waktu: cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu. Di mana saja ia berada, ia tetap cinta dan terus memberikan perhatian kepada yang dicintainya.
Setelah menjelaskan sedikit tentang rasa cinta dan cemburu (bagian dari rasa cinta dan rasa kepemilikan [posesif]), sekarang kita beralih soal “celana”. Mengapa harus celana? Semua manusia yang normal dan beretika dalam konteks kebudayaan yang telah maju, memakai atau menggunakan celana sebagai usaha kesadaran untuk menutupi alat kelamin. Lain halnya dengan suku-suku primitif yang telanjang. Kita tidak membahas soal itu.
Celana adalah simbol identitas manusia. Bayangkan saja jika semua orang yang bekerja di kantor tanpa menggunakan celana. Atau bekerja di kantor hanya menggunakan kantong plastik. Kalau pun terjadi, itu bisa membuktikan bahwa manusia tidak memiliki rasa malu. Celana dapat meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus meruntuhkan harga diri. Celana yang terbuka menghadirkan nafsu, entah liar atau sistematis, tergantung konteksnya.
Dalam berbagai kasus pelampiasan hawa nafsu seks, perbuatan suka sama suka, atau pemerkosaan, celana harus disingkirkan dan diluncurkan dari tempatnya. Banyak laki-laki yang mempunyai satu pasangan tetapi telah banyak membuka celana perempuan yang bukan seharusnya. Banyak perempuan, yang meskipun memiliki satu pasangannya, ia rela membuka celananya bagi orang lain yang bukan pasangannya – dan tindakan itu memang tidak baik, tidak bermoral dan melanggar prinsip-prinsip iman. Saya tahu bahwa ada budaya atau suku yang mengizinkan pasangan dalam masa pacaran atau fase sebelum menikah, melakukan hubungan seksual. Tetapi jika itu dilakukan maka nilai kepemilikan akan cinta dan pribadi yang dicintainya menjadi tidak bernilai. Kita bisa berbeda paham di sini, tetapi nafsu liar tetaplah nafsu liar yang ingin menggerogoti kenikmatan yang tak layak dinikmati.
Orang yang saling mencintai pun dalam masa pacaran sering membuka celana – suatu perbuatan yang salah – yang tidak terhormat dan tidak menghormati kesucian diri dan cinta. Yang sudah menikah pun tidak luput dari teknik atau cara membuka celana yang bukan pasangannya. Seorang suami mencari cara untuk membuka celana dan menikmati sesuatu di balik celana itu. Seorang istri rela membiarkan celananya dibuka oleh laki-laki yang bukan suaminya. Itu adalah fakta yang terjadi. Para “PELAKOR” bergentayangan di mana-mana. Para “PERISOR” pun melakukan hal yang sama. Sama-sama berjuang mengejar dan membuka celana.
Mereka yang dikuasai nafsu seksual, sedang dibius oleh sesuatu di balik celana. Celana yang sepotong membangkitkan nafsu untuk menikmati sesuatu di baliknya. Tak jarang, para pemuka agama yang hebat jatuh dalam perangkap “celana”: lihat, pikir, buka, dan nikmati. Dosa semakin menyemangati nafsu liar dan terus keasyikan dengan air dosa: mandi di dalam air dosa, berenang, dan bersalto ria. Pelakor dan Perisor sama-sama eksis menunjukan kemampuan membuka celana. Kapan ini akan berakhir? Kecuali bumi musnah. Itu saja.
Ajaran agama tak mampu membendung gerakan pembuka celana dan pencinta celana. Apa yang mereka harapkan? Kepuasan dan kenikmatan ilegal. Apa yang didapatkan? Kenikmatan sejenak dan kemudian mati. Kita tidak bisa menutup mata, sebab kasus-kasus seperti ini marak terjadi di seluruh dunia. Di mana moralitas mereka? Di mana rasa cinta mereka yang pada awalnya begitu menggebu-gebu?
Ada beberapa persoalan yang menjadi pemicu terbukanya celana-celana liar yang bukan haknya untuk dibuka.
Pertama: Adanya hubungan yang tidak baik, hubungan yang retak di antara kedua pasangan baik yang belum menikah dan yang sudah menikah.
Kedua: Adanya perasaan ingin menikmati kenikmatan seksual dari laki-laki atau perempuan yang bukan pasangannya baik yang belum menikah dan yang sudah menikah
Ketiga: Adanya pengaruh pikiran yang terkontaminasi dengan hal-hal negatif terutama dalam soal seks (dari televisi, majalah, koran, film, video dan sebagainya)
Keempat: Adanya rasa ingin menikmati hubungan seks dengan alasan suka sama suka. Keduanya sama-sama puas.
Kelima: Adanya usaha untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan alasan paksaan atau rayuan manis dan gombal dari seorang laki-laki kepada perempuan entah yang dicintainya secara serius atau hanya pura-pura mencintai (hanya mau menikmati tubuhnya dalam hubungan seksua saja).
Keenam: Adanya pemaksaan tingkat tinggi meskipun salah satu pasangannya tidak mau melakukan hubungan seksual, tetapi karena tidak bisa melawan maka terjadilah pembukaan celana.
Ketujuh: Adanya jaminan masa depan, jaminan kekayaan, jaminan harta, jaminan-jaminan lainnya yang dianggap dapat menguntungkannya, maka ia rela membuka celananya tanpa disuruh atau rela membiarkan celananya siap dibuka.
Kedelapan: Adanya rasa senang dan bahagia ketika pasangannya memiliki kelebihan-kelebihan fisik, materi, talenta, kreativitas, dan lain sebagainya sehingga ia merasa terjamin bahkan merasa tidak rugi jika celananya dibuka dan kemudian melakukan hubungan sekssual.
Kesembilan: Adanya kemampuan diri dalam melampiaskan nafsu seksualnya kepada orang-orang yang menjadi sasarannya
Lalu bagaimana hubungan antara cinta dan celana? Cinta menghasilkan rasa cemburu. Dan itu pasti. Dan tak lupa pula, seringkali rasa cinta dan cemburu berakhir dengan terbukanya celana. Celana adalah “ikon” kesucian, kesungguhan, kenikmatan, kebahagiaan, kebejatan, kenajisan, dan kekotoran.
Di dalam jantung Cinta terdapat rasa cemburu, kasih sayang, dan hasrat yang menggebu-gebu untuk mengungkapkan semuanya kepada pasangannya – entah dalam wilayah cinta yang wajar-moral dan sesuai dengan prinsip agama, ataukah dalam wilayah cinta yang buas-tak terkendali dan sesuai dengan dorongan libido yang amoral yang berakibat pada dibukanya sebuah celana.
Di dalam jantung Cemburu terdapat terdapat rasa ketidakpuasan cinta, amarah yang meledak, kegelisahan, kesakithatian, dan nekat – yang akan termanifestasikan pada tindakan-tindakan yang agak aneh, entah dengan cara menggunakan orang lain untuk menunjukkan bahwa dia juga bisa membuat pasangannya cemburu, entah dengan cara menyusun strategi untuk menyingkirkan satu atau keduanya, atau dengan cara bersabar, berdoa, dan menyusun cara yang baik untuk meminta pertanggungjawaban atas tindakan yantg menimbulkan rasa cemburu. Tetapi kadang-kadang, jika rasa cemburu itu terlampau besar dan sakit hati, maka “celana” akan menjadi sasaran empuk dan tak bisa dikendalikan secara moral-etis
Di dalam jantung Celana terdapat simbol seks yang bisa menghasilkan sebuah kebahagiaan yang sewajarnya berdasarkan prinsip moral-etis dan agama, atau menghasilkan sebuah kebahagiaan dan kenikmatan sesaat dan mencelakakan dan merusak kesucian orang lain. Celana adalah simbol baik atau tidak baik. Tergantung pada siapa yang membukakanya dan dalam waktu apa. Jika yang bukan semestinya membuka celana, maka musibah akan melanda mereka.
Para penjual celana akan mendapat keuntungan ketika celana-celana yang terbuka sudah tidak dipakai lagi. Beli celana mahal-mahal, kalau hanya untuk dibuka dalam menikmati dosa-dosa seksual, akan sangat merugikan diri sendiri. Kematian, dan akhirnya penghakiman tak akan mendapat jatah celana tetapi jatah kematian kekal yang secara terus-menerus (mati, hidup, mati, hidup, mati, dan seterusnya).
Pergunakanlah celana dengan sebaik mungkin. Sebagus-bagusnya baju, jika celananya tidak bagus, akan terlihat aneh dan kocak. Celana adalah simbol yang unik tetapi menantang. Celana yang terjaga adalah celana yang kudus yang selayaknya dinikmati oleh pasangan yang sah secara agama: menikah dan menjalin kasih sayang yang murni tanpa ada celana-celana lain yang harus diurus dan diperjuangkan.
Berjuanglah untuk menjaga celana dan berusahalah memberi celana baik untuk diri sendiri maupun sebagai hadiah kepada orang yang dikasihi. Layakanlah celana pada tempatnya, pada jalurnya. Jangan umbar celana, jangan buka celana, jangan goyang celana, karena akan menimbulkan gempa bumi dalam tubuh manusia yang mengingingkan celana terbuka untuk meraih isi di dalamnya.
Tuhan mengasihi manusia yang menjaga kekudusan hidupnya, termasuk menjaga agar celana jangan sampai dibuka secara paksa, dibuka karena pasrah, atau membuka sendiri karena ketagihan, terangsang, atau karena kerasukan setan.
Kiranya hidup kita tetap dijaga dari segala gerakan pembuka celana-celana yang hidupnya najis dan kotor bersimbah lumpur dosa. Jadikan hidup dan diri kita suci dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dan jangan lupa, jagalah celanamu agar tetap pada posisinya, sampai tiba waktunya, orang yang berhak dan layak membukanya—jika bukan anda yang membukanya—dan merasakan kasih dan sayang yang tulus dalam lingkup kesetiaan dan kekudusan.